Chapter 16

106 37 154
                                              

Happy Reading❤️

"Sekian dari saya ... wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."

"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh," jawab serempak murid satu kelas.

Pak Dedy, yang sebelumnya bertugas mengajar di kelas XII IPS-1, berjalan ke luar setelah jam mata pelajarannya selesai.

Murid satu kelas menjadi riuh setelah kepergian pak Dedy, anak laki-laki ada yang memukuli meja, dan bahkan ada yang menyanyi sampai berteriak tak jelas.

"Kantin, yuk." Rakha berdiri dari tempat duduknya, yang diikuti Geovan serta Radit.

Mereka bertiga berjalan beriringan menuju kantin. Radit yang dicap sebagai playboy tingkat sultan, ia terlihat tebar pesona sana-sini setiap ada siswa perempuan lewat.

"Ganteng kagak, kerjaannya cuma caper doang," celetuk Rakha yang merasa risih dengan kelakuan Radit.

Geovan juga ikut mengeluarkan suaranya. "Emangnya lo pikir, lo ganteng gitu?" Geovan bermaksud membalas ucapan Rakha.

"Kemana-mana juga gantengan gue, lah," sombong Geovan yang membuat Rakha serta Radit memutar bola matanya jengah. Untung ucapan Geovan benar, kalau dia memang ganteng. Jadi, seenggak dia gak malu ngomong gitu.

Mereka melanjutkan perjalanan menuju kantin dengan diselingi perbincangan ringan. Hampir saja sampai di kantin, mereka berpapasan dengan Qeyra dan kedua sahabatnya. Radit tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini, apalagi ketiga orang tersebut memiliki kecantikan di atas rata-rata. Ia terlihat menyisir rambut dengan jari-jemarinya bermaksud menarik perhatian mereka. anehnya, Viola malah melongo tak berkedip dan berhenti di dekat Radit yang sedang caper.

"Vi ... ngapain di situ? Ayo ke kelas." justru malah Qeyra yang malu dengan sikap Viola. Malu-maluin emang Si Viola itu, dasar.

"Udahlah, biarin aja," kata Diandra tak ingin ambil pusing. Ia menuntun Qeyra dan mengajaknya ke kelas, membiarkan Viola yang masih berdiam di tempat.

Viola masih melongo melihat ketampanan Radit. Tampan? Sebenarnya sih enggak, tapi di mata Viola, Radit itu tampan pake banget. Sedangkan Rakha dan Geovan, mereka memilih pergi ke kantin berdua, daripada menunggu satu sahabatnya yang tak jelas itu.

"Kak Radit ganteng banget sih," ungkap Viola yang terpesona terang-terangan tanpa rasa malu.

Mendengar kata Viola, Radit semakin percaya diri. Ia meneliti tubuh Viola dari atas hingga bawah. "Makasih, lo juga cantik kok, cantik banget malah," ucapnya mengedipkan mata genit.

Viola tampak malu-malu, tapi aslinya sih, mau. Ia terlihat membenahi tatanan rambutnya dengan sesekali tersenyum manis ke arah Radit.

"By the way, nama lo siapa?"

"Viola, Kak." Viola mengulurkan tangan dan tersenyum manis pada Radit.

Radit membalas uluran tangan Viola,
"Cantik, ikut gue, yuk," ujar Radit tiba-tiba seraya menggandeng tangan Viola dan pergi meninggalkan tempat.

Tanpa ragu-ragu lagi, Viola mengikuti jalan Radit dengan satu tangan yang digandeng. Ragu mah enggak, malah dalam hati Viola seneng banget tuh. Mantap nih! Playboy dan Playgirl mulai beraksi.

©©©

Bel pulang sekolah berbunyi lima menit lalu. Para siswa beramai-ramai meninggalkan sekolah untuk pulang. Namun masih ada segelintir orang yang berada di koridor seperti Qeyra saat ini, dia bersama kedua sahabatnya terlihat terkekeh bersama saat mendengar salah satunya melontarkan lelucon.

QEYRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang