Tempat Rahasia

575 114 21
                                                  

Viona berjalan cepat menuju parkiran, mengabaikan panggilan Levin yang berusaha menyusulnya dari belakang.

"Vio." Levin mengusap kasar wajahnya, bingung dengan sikap Viona yang berubah jadi aneh setelah keluar dari bioskop.

Apa mungkin karena ciuman tadi?

Apa salahnya dengan hal itu?

Levin tak mengerti kenapa Viona harus marah akan hal itu. Bukankah wajar jika sepasang kekasih saling berciuman? Oke, mungkin di sini memang Levin yang salah tempat saja.

"Hei." Levin meraih tangan Viona, menariknya ke belakang hingga gadis itu tertarik dan menabrak dadanya.

"Levin!" pekik Vio, matanya melotot karena kaget. "Lepas!" Dia berusaha melepaskan rengkuhan Levin dari tubuhnya. Tapi sepertinya Levin enggan untuk melakukannya. "Levin, malu!"

"Biarin." Levin mulai keras kepala dan cuek dengan sekitarnya. Keduanya yang berada di parkiran jelas menarik perhatian beberapa pengunjung yang melintas di dekat mereka.

"Levin, lepasin!" Viona terus menarik tubuhnya, mendorong dada Levin agar menjauh. Tapi tenaganya tak sebanding dengan tenaga cowok itu. "Levin, please, lepasin. Malu dilihatin orang-orang." Akhirnya Viona merengek, wajahnya sudah merah padam merasakan malu luar biasa. Bagaimana tidak, jika beberapa orang melirik sinis secara terang-terangan ke arahnya. Pasti mereka berpikir yang tidak-tidak dan berspekulasi negatif tentangnya. Tentu saja, lagipula orang waras mana yang akan berpelukan di tempat umum.

"Levin!!" Habis sudah kesabaran Viona, dia mengerahkan seluruh tenaganya. Tapi sia-sia saja, tubuh Levin bagaikan tembok besar yang tak bisa dia runtuhkan. "Levin, lepas!"

"Aku bakal lepasin, asal kamu jawab dulu pertanyaanku. Kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba ngambek? Marah, karena aku cium kamu?" Viona memalingkan wajahnya saat Levin memiringkan kepala ke samping kepalanya. "Hei, look at me, girl." Levin menarik dagu Viona, menghadapkan wajah kekasihnya itu ke hadapannya. Mata mereka saling beradu. "Marah, hm?"

"Levin, lepasin." Bukannya menjawab Viona malah kembali merengek, mencoba melepaskan diri. Walau hasilnya tetap percuma saja.

"Kamu kalau marah lucu ya, jadi gemes mau cium lagi," ucap Levin diiringi kekehan kecil.

Spontan Viona mendongak, memberikan tatapan tajam seraya membentak. "Heh. Nggak ya! Awas aja kamu berani ci ...." Dia seketika menjeda ucapannya, memalingkan wajah ketika sadar ucapannya semakin menarik perhatian orang-orang. "Udah ah, aku mau pulang!" Dengan sekali dorongan, Viona berhasil memukul mundur Levin. Lantas dia segera berlari ke mobil yang tak jauh dari tempatnya berdiri dan langsung masuk, mengabaikan Levin yang memanggil namanya seraya tertawa geli melihat kelakuannya.

"Lucu banget si Vi, makin gemas 'kan, jadi pengen ke KUA," gumam Levin, lalu berjalan ke mobilnya.

"Maaf," ucap Levin saat masuk ke mobilnya. "Aku khilaf."

Viona mendesis, melipat tangan  di dada dan memalingkan wajah ke luar jendela, tampak enggan menanggapi Levin.

"Sayang, please. Maafin ya." Levin mencondongkan tubuhnya ke depan Viona, matanya berkedip-kedip layaknya anak kecil yang sedang memohon dengan ekspresi sangat lucu. "Sayang, maafin dong. Masa nggak dimaafin si. Nangis nih."

"Ih, apaan si Vin. Geli tahu." Viona menoyor wajah Levin, geli melihat ekspresi Levin.

"Makanya maafin dulu." Levin masih berusaha meluluhkan Viona. "Maafin ya, besok nggak lagi-lagi. Tapi kalau nggak khilaf." Levin terkekeh geli, mencoba mencairkan suasana.

"Auk amat, udah ah. Ayo pulang, buruan!" Viona jadi salah tingkah dan mendorong Levin dari depannya. Jarak yang sangat dekat membuat degupan jantung Viona kembali berpacu di luar kendali. "Aku ngantuk." Alibi Viona agar Levin cepat mau pulang.

Dangerous Boy : VIONA 🌹Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang