Dua Puluh

6.9K 1.4K 724
                                                  

Jempolnya pada kenapa sih, susah banget cerita ini mencapai 1000 vote 😭😭😭 kalo targetnya komen, nanti pada spam 😥

Yowes... Makasih yang udah selalu vote dan komen, jangan bosen-bosen!

Apakah Om Gagal akan ngamuk? Ataukah Naka akan disuntik mati. Cuss!!!

Happy reading🐣

*****

Manusiawi kalau rasa menyesal datang di saat kita melakukan kesalahan sekecil apa pun itu, bukan? Maksudku, dalam hidup yang manusia jalani selalu ada penyesalan bahkan untuk hal-hal yang kecil, tapi efek yang ditimbulkannya cukup menyita pikiran

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Manusiawi kalau rasa menyesal datang di saat kita melakukan kesalahan sekecil apa pun itu, bukan? Maksudku, dalam hidup yang manusia jalani selalu ada penyesalan bahkan untuk hal-hal yang kecil, tapi efek yang ditimbulkannya cukup menyita pikiran. Aku lupa menghubungi Renaldi tadi pagi, dan aku menyesalinya. Pikiranku hanya terfokus pada ujian, tidak ingin melakukan kesalahan di ujian SOCA pertamaku.

Sepanjang perjalanan menuju parkiran Fakultas Teknik, aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri. Kenapa hubungan ini nggak bisa dibuat sederhana? Seperti Satria yang nggak peduli pandangan orang tentang dirinya yang sering gonta-ganti pacar. Seperti jalan Renaldi yang mulus dan sudah bisa berbaur akrab dengan keluarga Rasti meskipun mereka baru dekat akhir-akhir ini. Mengapa Naka nggak bisa gitu sama Papa? Padahal dari cerita Naka, aku bisa menangkap kalau Papa akrab sama Naka sejak kecil. Tapi apa yang menyebabkan hubungan itu terkikis selain karena karakter Naka yang nggak banyak bicara sampai sekarang ini.

Semua akan lebih terasa mudah, kalau sejak awal Papa nggak menunjukkan tanda kurang sukanya dengan kedekatanku dan Naka. Kalau saja Papa nggak memberi ultimatum padaku untuk nggak menerima Naka dulu jika sewaktu-waktu dia mengajakku pacaran, aku nggak mungkin sejauh ini untuk nggak mengakui hubungan kami ke Papa. Apalagi dulu Papa bilang, kalau ada yang menyukaiku harus lapor.

Dan semua beban itu menyumpal ruang oksigen dalam paru-paruku, menjadikan dadaku sesak. Serta kepala yang nyaris pecah karena nggak menemukan jawaban, kenapa gestur tidak suka dari Papa untuk Naka sangat jelas sekali.

"Papa serem kalau marah," kataku berbisik. Setelah keheningan yang tercipta. Naka pun nggak berkomentar apa-apa karena ucapan Renaldi tadi. Sedangkan aku sibuk merutuki diri sendiri. Bisa-bisanya aku lupa kongkalikong dengan Renaldi, dan Renaldi yang nggak mengerti kalau aku masih butuh bantuannya.

"Ya justru karena itu, Elea. Justru karena papa kamu serem mending kita jujur dari sekarang."

"Aku takut."

"Bareng-bareng, El." Aku terhenyak saat jari-jari Naka menyusup di antara ruas jemariku, aku terpaku memandangi tanganku yang digenggamnya. Sementara kami masih dalam perjalanan menuju Fakultas Teknik untuk mengambil mobilnya. Lalu, kepalaku mendongak, menghadap wajahnya. Sinar matahari yang tertuju pada wajahnya semakin memperjelas warna cokelat keemasan dari bola matanya.

"Aku ngajak kamu pacaran pun tahu risikonya. Tahu Om Gagal nggak akan gitu aja ngelepasin kamu, tahu kalau bakalan susah gini. Tapi aku nggak suka kamu terus ngulur waktu, El."

That Should Be MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang