1.Mata-mata

816 93 9
                                              

Jangan lupa tambahkan cerita ke library kalian! 🤗🤗

Happy Reading...

"Btw, lo jadi kan nemenin gue nonton?" tanya Alinda pada temannya, keduanya berjalan di koridor menuju parkiran.

Keyra meliriknya sekilas. "Gue belum jawab permintaan lo btw, sebenarnya gue males sih. Tapi gue tau, walaupun gue nolak lo pasti akan tetap maksa."

Memang benar, kemarin Alinda meminta Keyra untuk menemani gadis itu ke bioskop, tanpa Keyra mengiyakan permintaannya, gadis itu sudah memutuskannya sendiri jika ia akan pergi bersamanya.

Alinda terkekeh, gadis itu tiba-tiba berdiri di hadapannya seraya berjalan mundur. "Gini deh! Nanti sehabis nonton kita ke toko buku, gimana?" tutur Alinda berusaha membuat kesepakatan.

Alinda tau temannya ini sangat suka membaca, itu sebabnya ia yakin jika apa pun yang berhubungan dengan toko buku maka gadis itu tidak mungkin bisa menolak.

Keyra menatapnya. "Ke toko buku?"

"Iya," jawab Alinda antusias. Apa kan dia bilang? Gadis itu pasti nggak akan bisa menolak, membujuk Keyra memang semudah itu.

"Ngapain?"

Alinda melengos, secepat itu binar di matanya menghilang. "Ngapain? Lo nanya ngapain ke toko buku? Kita beli seblak di sana, puas lo?" Alinda berbalik dan melangkah menuju motornya. "Nyebelin banget sih. Untung teman," ucapnya menggurutu.

Keyra tidak menanggapi ocehan Alinda saat netranya menangkap sesuatu di luar gerbang, dan itu cukup menarik perhatiannya. Gadis itu lantas mengeluarkan ponselnya dari saku dan memotret-nya.

Keyra tersenyum puas saat melihat hasil jepretannya yang sangat jelas. Gadis itu pun kembali menyimpan ponselnya di saku dan menerima uluran helm yang di sodorkan kepadanya.

"Jadi nonton nggak?" Keyra bertanya pada Alinda.

"JADI LAH, YAKALI NGGAK!" jawabnya nggas.

Keyra yang hendak menaiki motornya termundur kaget. "Heh! Biasa aja dong, kok ngamuk. Atau gue batalin aja nih perginya?"

"Eh jangan dong, sorry barusan refleks." ujarnya cengengesan.

Memutar bola matanya, lantas Keyra duduk di boncengan Alinda. Keduanya pun pergi meninggalkan area sekolah dan bergabung dengan kendaraan lain di jalanan.

****

Di luar gerbang, seorang pria duduk di atas motor besarnya dengan satu tangan menempelkan ponsel di telinga.

"Pokoknya lo harus ikutin kemanapun dia pergi! Lo nggak boleh pergi sebelum lo memastikan kalau dia udah benar-benar aman, lo juga harus lapor sama gue apakah dia langsung balik ke rumah atau pergi ke suatu tempat, satu lagi! Jangan sampai ketahuan, karna gue nggak mau dia ngerasa terkekang dan merasa hidupnya nggak bebas. Lo ngerti kan?"

Pria itu mengurut keningnya, kepalanya tiba-tiba terasa berdenyut karena mendengar suara kicauan di sebrang sana. Ini bukan untuk pertama kalinya, ia juga sudah tau dengan apa yang harus dia lakukan. Tapi manusia itu selalu mengatakannya lagi dan lagi sehingga membuat dia bosan mendengarnya.

"Halo, lo dengerin gue kan?"

"Hm,"

"Thanks, gue percaya sama lo."

"Oh iya jelas dong, tapi di sini kenapa kesannya gue kayak pegawai yang sedang lo suruh untuk memata-matai, dan gue harus lapor setiap pergerakan dari orang itu."

Terdengar suara kekehan di sebrang sana. "Anggap aja begi---"

"Mending lo cepet kelarin urusan lo di sana terus balik kesini, udah cukup lo ngerepotin gue."

Possessive BrothersTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang