01 - Poor Zea

21.5K 3.3K 2.3K
                                                  

Mata Zea tak berkedip menatap jam dinding di depan kelas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mata Zea tak berkedip menatap jam dinding di depan kelas. Setiap detiknya seolah berarti. Di tangan gadis itu sudah ada sebotol air mineral yang tengah digenggamnya erat. Kakinya tak bisa diam, ia tengah gugup. Detik jam dinding itu seolah berbalapan dengan detak jantung Zea.

Tepat, saat jarum jam berada di angka dua belas, bel berbunyi sangat nyaring. Sebagian anak melemaskan bahu seolah merasa lega, sebagian juga memilih mengistirahatkan kepala mereka dengan cara meletakkannya di atas bangku, ada juga yang sudah mengode teman sebangku untuk ke kantin. Namun berbeda dengan Zea. Guru matematika di depan kelas saja baru mengucapkan, "Sampai sini pelajaran kita hari ini." Namun Zea seperti kesetanan malah berdiri dan langsung berlari meninggalkan kelas, mendahului guru matematika yang baru saja berdiri dari kursinya yang ada di muka kelas.

Sekelas dibuat bungkam, terlebih guru matematika yang cukup heran. Naura dan Ira sudah nyengir, "Zea kebelet pipis, Bu." Ujar Ira menetralkan suasana yang sempat hening beberapa detik itu.

Bu Susan, selaku guru matematika kelas sepuluh mengangguk paham. Ia keluar kelas tanpa bertanya-tanya lagi. Sekelas juga mulai gaduh, seperti pasar. Ada yang keluar untuk ke kantin, ada yang makan bekal, ada juga yang sibuk mencatat materi di papan.

"Kali ini Zea ke mana?" tanya Naura.

"Pasti ke lapangan, Kak Alvarez kan pelajaran olahraga hari ini," balas Ira.

"Kasihan Zea."

"Tapi lebih aman kita nggak usah ikut campur. Tahu 'kan ancaman Kak Alvarez waktu itu. Kalo kita ikut campur, Zea bakal lebih menderita."

"Bener juga. Lagian Zea ceroboh banget. Bisa-bisanya dia tabrak Kak Alvarez yang ganteng nan galak itu. Rusakin jam tangan mahalnya lagi. Apes banget."

Naura dan Ira kompak membuang napas. Miris pada nasib temannya yang cantik tapi ceroboh itu.

Kejadian jam tangan Alvarez yang rusak itu sudah berjalan sebulan. Dan selama sebulan Zea menjadi asisten Alvarez, kata kasarnya pembantu, atau yang lebih kasar babu.

Zea yang selalu datang terlambat, berubah menjadi anak paling rajin di antara dua temannya. Jam setengah tujuh sudah sampai sekolah, ia menunggu Alvarez di parkiran untuk sekadar membawakan tas punggung pria itu sampai ke kelas.

Belum lagi saat makan siang, Zea diwajibkan untuk makan bersama Alvarez di kantin. Tentu bersama dua teman Alvarez, Bilal dan Caka. ABC, julukan mereka di sekolah.

Alvarez Atmaja, si tampan, si pintar, si mulut pedas, dan si galak. Meski banyak yang mengagumi dan ingin dipacari pria itu, namun tak ada satu pun perempuan yang mau dan berani dekat-dekat Alvarez. Apalagi kalau tidak ingin terkena tatapan tajam, semprotan pedas mulut seksinya, atau yang lebih penting sikap galaknya. Mereka lebih ingin hidup aman, nyaman, dan tentram.

Berbeda lagi dengan Bilal, dia adalah teman Alvarez yang paling friendly. Saking friendly-nya, dia dijuluki sebagai pria termodus sepanjang sejarah Internasional High School.

ALVAREZTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang