11'열하나

127 24 3
                                              

Bada POV.

11:11

Ini adalah mimpi, apa benar?
Kau muncul di waktu yang selalu ku tanyakan.
Apakah kau nyata?
Kau selalu bisa membuatku tenang.
Bagaimana cara kita bertemu?
Kau tahu kita saling mengenal.
Apa kau akan selalu ada?
Atau ini semua memang tak pernah terjadi.

Ajarkan aku mempelajari semua hal membingungkan ini.
Sungguh aku tak pernah mengerti bagaimana bisa aku berada disini.
Sungguh aku ingin mengenal segala hal yang terjadi.

Namun, jika aku mengetahuinya dan kehilangan segalanya.
Aku ingin semua tetap seperti ini.
Saat aku tidak lagi sendirian.

Namun juga, aku harus merelakan.

Tapi sayangnya, dia datang.
Dia datang.
Dia.

❀❀

Jeonju duduk di sebelah ranjangku saat kami tiba di rumah. Ia melipat lengan bajunya sembari menoleh memperhatikan tidak ada orang yang masuk ke dalam kamar. Incheon sedang mandi, dan Leo sedang memasak makan malam.

Ia menatapku takut-takut membuatku mendekat dan duduk di sebelahnya.

"Terima kasih," katanya.

"Untuk?"

"Tidak bertanya apapun."

Aku mengerutkan keningku. Ia sangat berbeda dengan perempuan yang berbicara denganku di siang hari. Ia ingin sekali aku bertanya, namun kali ini pemuda ini berterima kasih karena aku tak bertanya padanya.

"Tapi,"

Aku membesarkan kedua bola mataku.

"Aku akan lebih berterima kasih jika kau bertanya."

Baiklah, aku menelan ludahku. Aku salah menilai. Kenapa beberapa orang ingin sekali di tanya? Apakah itu tanda bahwa-

"Hyung, bisa kau bertanya?"

Jika di dalam cerita yang ku tuliskan, aku memang bertanya. Tapi aku ingin mengubah alurnya sedikit lagi. Sedikit lagi aku ingin semuanya tak sesuai dengan cerita yang aku tuliskan, hanya untuk memastikan sesuatu yang menyiksaku. Sesuatu yang selalu yang mengganjal di hatiku.

Aku tahu apa yang terjadi dengan Jeonju. Aku paham. Aku yang menuliskan cerita hidupnya. Aku hanya tak ingin mengetahui kebenarannya, karena aku takut... ia terluka karena cerita yang ku tuliskan.

"Hyung, kau harus bertanya agar semuanya berjalan semestinya."

Aku menggeleng pelan.

"Hyung, ku mohon bertanya padaku."

Aku melepaskan kacamataku, kemudian menekan kedua mataku. Aku tidak bisa bertanya, dan aku tidak ingin ia menjawab. Kenapa ini sangat sulit?

"Aku sudah menjadi dewasa jauh sebelum seharusnya."

Kata-kata Jeonju membuatku terdiam. Seolah tak bisa bernapas. Kalimatnya sudah sangat tepat tanpa ada tambahan satu katapun.

"Ketika aku menyadari bahwa usiaku mungkin tidak akan begitu panjang."

"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Love For LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang