1. HAI, PUTIH ABU-ABU!

27 5 0
                                              

"Akhh.... Pergi sana dasar cowok jahat!!!"

Umpatan Nana di pagi hari menjadi salam pagi darinya untuk menyambut hari. Padahal sudah beberapa minggu berlalu, kejadian memalukan sekaligus menyedihkan itu masih saja muncul dalam mimpi.

"Anara Langit kurang ajar! Enyah kauuuu!" Nana melampiaskan rasa kesalnya pada bantal dipelukannya. Beberapa tinju melayang dengan kencang. Nana menyapu rambutnya kebelakang dengan puas. "Rasain!"

"Ayana, bangun. . . Ini hari pertama kamu masuk sekolah, nak." Seru Seruni dari balik pintu.

"Iya, Bunda. Nana udah bangun, kok. Ini lagi siap-siap."

"Oke. Bunda akan siapkan sarapan spesial untuk putri tercinta Bunda yang hari ini resmi sebagai siswi putih abu-abu."

"Oke, bos."

"Siap, bos."

Mustika Ayana atau yang sering dipanggil dengan panggilan Nana itu bergegas bangun dari tempat tidur. Membereskan tempat tidur lalu mandi. Semangatnya untuk menyambut hari pertama masa SMA tidak akan rusak hanya karna mimpi buruk tentang Anara Langit.

Lembaran baru suduh dimulai. Nana akan menutup rapat-rapat masa menyedihkan saat kelulusan SMP kemarin. Sekolah baru, teman baru, dan tentunya kisah cinta yang baru. Nana pasti tidak akan salah lagi saat jatuh cinta kepada seseorang nanti. Anara Langit adalah pembelajaran untuk tidak jatuh cinta lagi pada orang yang tidak dikenal dengan baik. Dan Nana juga tidak akan lagi menulis surat. Rasanya jadi mual setiap berhubungan dengan hal-hal kejadian itu.

Gadis dengan rambut hitam legam sebahu itu menatap pantulan dirinya dalam cermin. Ia sudah memakai seragam putih abu-abu lengkap. Ia berpikir untuk merubah penampilannya sedikit. Tidak ada lagi rambut kuncir dua yang dulu selalu identik padanya. Mulai sekarang Nana akan membiarkan rambutnya tergerai bebas. Sebagai pemanis ia akan memakai bandana atau jepit rambut.

"Bunda...Nana udah siap berangkat sekolah."

"Cantik sekali anak Bunda pakai seragam abu-abu. Sini cepat sarapan dulu Bunda sudah buatkan nasi goreng spesial buat kamu."

Nana duduk dengan mata penuh binar. "Dari baunya aja udah bikin aku lapar, Bun. Aku makan ya, Bun..."

"Makan habiskan kalau kurang bagian Bunda juga buat kamu." Kata Seruni dengan cengir jahil.

"Memangnya perutku perut karet. Bunda juga buruan makan. Nanti Bunda telat masuk kerjanya."

"Karena kamu belum mau pakai motor sementara Bunda antar aja, ya?"

Nana menggeleng cepat. "No. Nana mau naik angkutan umun aja, Bunda. Mau belajar mandiri sekalian siapin tekad buat pakai motor nanti. Lagian arah kita berlawanan."

"Hem, oke. Anak Bunda sudah dewasa ternyata. Jangan cepat-cepat punya pacar, ya. Bunda belum siap kehilangan kamu..." Rajuk Seruni bak anak kecil.

Hampir saja Nana tersedak mendengar ucapan Bunda. "Bunda apaan, sih. Siapa juga yang mau pacar-pacaran!"

Seruni paling gemas jika melihat Nana salah tingkah. "Ya, Bunda bukan tipe orang tua yang kaku, kok. Jadi kalau nanti kamu misalkan suka sama lawan jenis kamu cerita-cerita ke Bunda, ya. Bunda akan jadi penasihat cinta kamu. Duh... Bunda enggak sabar dengar cerita cinta kamu." Hebohnya.

"Ihhhh... Bunda apaan, deh! Udah, ah, aku mau berangkat."

Seruni cengengesan senang. "Yuk, Bunda juga sekalian berangkat."

"Seperti biasa pulang sekolah aku yang cuci piring, Bun."

"Oke, bos."

Begitulah setiap pagi Seruni dan Nana melewati pagi. Walau mereka tinggal berdua saja namun rumah tetap terasa hangat karena hubungan antara ibu dan anak yang selalu terjaga. Kurang lebih sudah lima tahun lamanya Raga, suami Seruni sekaligus ayah Nana meninggal dunia. Semenjak itu Seruni dan Nana saling mengandalkan dan menguatkan satu sama lain. Mereka akan membuktikan bahwa mereka akan hidup baik-baik saja agar almarhum bisa tenang di sana.

MY LOVELY NANATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang