Blue POV 

Aku hampir tercekik mati ketika Harry meneriakiku. Teralalu sakit. Terlalu dalam. Terlalu benar. Ia benar atas segalanya, andai aku tak datang kemari untuk berlibur atau Ayahku tak perlu bercerai dengan Ibuku lalu menikah dengan Ibunya, kami tak akan saling mengenal satu sama lain.  

Harry benar. Aku yang salah. Aku tak seharusnya masuk ke dalam kehidupan Harry ataupun Edward. 

"Aku akan pergi. Aku akan nyalakan pemanasnya, kau tambah parah jika kau terus-terusan menyalakan AC-nya sedingin ini" Dia tak menggubrisku. Hanya diam mematung disana sembari menatapi wajahku yang basah. "Mau kubuatkan susu hangat? Akan kutaruh dimeja makan, oke? Aku hanya akan pergi sebentar saja" 

Aku melenggang keluar dari kamar Harry masih dengan perasaan terpukul. Aku gemetaran. Sienna bilang Harry hanya bermain-main, namun mengapa dia terlihat begitu marah denganku sejak peristiwa itu? 

Setelah menyalakan pemanas dan membuatkan Harry segelas susu hangat, segera ku temui Ansel yang tampaknya bosan menunggu. Wajahnya malas sembari memandangi ponsel, semoga saja Ia masih mau mengajakku berjalan-jalan. 

"Hei" Sapaku ragu yang membuat Ansel agak terkejut. "Maaf jika menunggu lama, aku kehilangan beberapa barang yang harus kubawa tadi, jadi aku mencarinya terlebih dahulu. Semoga kau tak marah denganku" 

Dia tertawa. Dia tampan. Aku tahu dia tampan. 

Ansel mengulurkan tangannya padaku, aku tersenyum ragu padanya. Serius dia memintaku menggandeng tangannya? "Kuharap kau mau menyambut tanganku" Ucapnya manis. Aku suka pria manis. 

"Tentu"  

Kugapai tangannya itu, awalnya ada perasaan lega dan gembira tetapi lama kelamaan rasa itu berganti dengan perasaan yang janggal. Yang tak biasa. Perasaan tak enak hati kurasa? 

"Jadi kita akan pergi kemana? Kau ingin melihat-lihat Sydney, atau menonton opera, atau berjalan di pantai, atau__" 

"Terserah kau saja" Potongku. Dia pasti terlalu bersemangat. 

Bagaimana dengan Harry disana? Aku mengkhawatirkannya. Sedang apa dia? Sudahkan Ia bangkit untuk mengambil susunya di meja makan?

Menghabiskan waktu dengan Ansel cukup menyenangkan seharian ini. Kami pergi ke opera Sydney untuk melihat pertunjukkan musik klasik disana, cukup menyenangkan walau sebenarnya aku tak terlalu mengerti tentang musik. Ia membawaku ke tepi pantai untuk melihat-lihat pemandangan sore. Sydney begitu manis, walau Amerika tetap yang termanis.  

"Disini indah bukan? Mengapa kau tak tinggal saja disini? Apa kau harus kembali ke Amerika akhir minggu ini?" Tanya Ansel serius. Matanya tampa menunggu-nunggu kepastian dariku, jelas aku harus kembali ke Amerika. Aku punya kehidupan disana. 

Mataku teralih pada laut yang mulai berwarna oranye. Berusaha untuk menarik nafasku dalam-dalam walau sebenarnya aku tak bisa selalu menarik nafasku dalam-dalam. 

"Ada satu hal di dunia ini, Ansel. Namanya hukum temu-jumpa, kau akan bertemu banyak orang, menghabiskan waktu bersama orang-orang tersebut yang tak pernah membuatmu bosan. Namun disetiap pertemuan bukankah selau ada perpisahan?" 

Ansel memandangku dalam. Matanya berbinar walau ada kekecewaan disana. "Aku baru saja berjumpa dengan seseorang. Ia bahkan telah membuatku bertekuk lutut padahal aku baru beberapa mengenalnya" 

Aku bisa rasakan hembusan hangat disekitar wajahku. Tepat ketika kami hendak berciuman seseorang tiba-tiba saja menghantam Ansel.  

"Ya Tuhan, Ansel!" Celetukku terkejut melihat Ansel sudah tersungkur dipasir. Aku mencoba membantunya berdiri tetapi seseorang telah menarik tangan kiriku hingga aku terhempas kepelukkannya. 

Aku mungkin tak melihat wajahnya yang berada beberapa centimeter diatasku. Namun aku bisa merasakannya, detak jantungnya, aromanya, bahkan pelukannya. Harry. 

Harry tertawa sarkastik melihat Ansel yang tersungkur dipasir. "Keparat kau. Kau hampir mencium seorang gadis yang saudara sepupumu sukai, bodoh!"  

"Dia saudara tirimu, kau tidak bisa bersama dengannya. Apa salahnya jika aku mencoba?" Balas Ansel dengan santai. 

Aku mencoba melepaskan diriku dari dekapan Harry yang amat kuat. Tidak bisa. Tetap tidak bisa. "Harry! Lepaskan aku!" 

"Fuck!" Harry melepaskanku dan membiarkan aku terjatuh dipasir sedangkan dirinya berjalan meninggalkan kami berdua dalam kebisuan. 

Ansel bangkit untuk menolongku. Aku menerima jabat tangannya yang hendak membantuku berdiri. Ansel pasti saudara yang buruk hingga Harry berkata seperti itu tadi. Aku tahu dia pria yang manis dan suka bertutur kata baik tak seperti itu. 

Namun sekali lagi, Harry hanya Harry yang akan selalu sulit ditebak hatinya. 

Ini lanjutan yang kemarin ya guys. Maaf gue ga bisa update pnjang" gue lagi sakit gegara capek mikirin harry lol. Vomment

The Triplets // harry stylesBaca cerita ini secara GRATIS!