Real Enemy!

18.2K 930 177
                                    

Happy Reading.

*

Lingkungan baru, suasana baru dan orang-orang baru. Itulah yang Aliya rasakan saat kakinya memijak London, memilih diam dan tidak bertanya apapun. Aliya diam dalam posisi bisunya. Percaya pada ayahnya sepenuhnya. Seorang ayah tidak akan memberikan hal yang buruk pada anaknya. Itu yang terjadi.

Duduk diam sambil melihat jalanan yang tampak luas. Ayahnya masih diam sambil mengemudi mobil. Kendaraan keluaran terbaru itu membelah jalanan London. Aliya menikmati ini.

"Sayang?"

Kebisuan ini berakhir karena Jung Woon bertanya, Aliya masih diam tanpa merespon, hanya bernafas dan sesekali mengedipkan matanya. Fikiran Aliya terbagi kemana-mana hanya saja memilih bungkam.

Jung Woon menarik nafas dalam-dalam, jemarinya mencengkram kuat kemudi. Reaksi bisu Aliya membuatnya semakin gagal menjadi seorang ayah. Dimana hancurnya hidup sang anak bungsu. Keadaan menciptakan ini, menciptakan kebisuan dan kebencian. Laki-laki yang membuat Aliya jadi bisu. Bisakah Jung Woon membunuhnya. Menghapus takdir Aliya dari laki-laki itu. Tuhan begitu tidak adil.

Aliya tidak pernah aneh-aneh dan selalu menurut akan semua kata-katanya, tetapi penderitaannya paling banyak, kenapa tidak dirinya yang nyata-nyata seorang pendosa.

Apakah ini hukum alam, dimana yang baik justru paling menderita, dimana yang tulus selalu dipermainkan oleh takdir dan yang baik selalu terluka?

Dunia sudah tidak sebaik itu.

"Kau akan melahirkan disini. Bagaimana?"

"Hem" mata Jung Woon terpejam sesaat dan mengulur untuk mengusap kepala anaknya. Gadis kecilnya akan jadi ibu, gadis kecil yang suka merengek jika diganggu anak laki-lakinya. Gadis kecil yang selalu menurut dan mengadu kini sudah dewasa. Waktu cepat sekali berlalu.

Jung Woon tersenyum tipis dan kembali fokus pada jalan, mereka harus cepat sampai untuk istirahat dan lagi ini sudah malam. Aliya butuh tidur tidur.

"Ayah?"

"Ya sayang?"

"Apa kematian itu sakit?" Dan jangan salahkan Jung Woon jika langsung menginjak pedal rem, membuat mobil mereka berhenti mendadak dijalan pedesaan ini. Sorot mata Jung Woon berubah kosong dan tidak ber ekspresi. Diam seribu bahasa melihat jalan depan yang sangat sepi.

Aliya bilang mati?

Anaknya ingin mati?

*

Steven sibuk dengan informasi yang dirinya dapat, laki-laki Keparat yang dirinya bunuh adalah kaki tangan Bianca dan Jimin bodoh karena percaya begitu saja. Jelas laki-laki itu menjadi muka dua, seolah menuntun Jimin mendapatkan informasi padahal laki-laki itu bekerja untuk Bianca. Steven bingung, bagaimana bisa Jimin sebodoh itu dan mudah percaya padanya.

Aliya.

Pasti karena nama Aliya yang dibawa-bawa, hingga Jimin jadi super bodoh dan tidak tau apapun. Idiot. Jimin memang idiot.

Steven memperhatikan ponsel laki-laki itu. Jelas menunggu balasan dari Bianca, Steven sudah mengirimkan pesan. Berharap Bianca merespon. Steven mengamankan segala hal, termasuk mayat bedebah itu.

Ting!

Jemari Steven bergerak cepat, ada satu pesan masuk. Membukanya dengan gesit.

"Aku akan mulai dalam beberapa hari ini. Siapkan saja kuburan Bianca"

All About Sex! 21+Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang