Part 1 - Cold Woman

107 78 43
                                    

Masalalu membuatnya tak membuka hati untuk siapapun.

Nisa Azkana Naira, seorang karyawan manajemen pemasaran produk di salah satu perusahaan di Jakarta. Senin hingga Jumat adalah hari yang cukup melelahkan baginya. Bagaimana tidak, sebagai orang bawahan ia harus bolak-balik lantai hanya untuk mengurus sebuah dokumen dari data konsumen dan meminta tanda tangan dari pemilik perusahaan. Belum lagi ia harus mengatur strategi promosi yang baik agar mampu menarik minat pelanggan.

Seperti hari ini, ia terlihat tengah sibuk mencatat keperluan meeting di ruangan boss-nya, Pak Abram Mahesa.

"Nisa, berapa persen keuntungan yang akan kita peroleh dari produk baru ini?" tanya sang boss sembari membaca dokumen berisi data-data dari konsumen.

"Hanya tujuh puluh satu persen, Pak. Mengingat bahwa perusahaan kita ini mulai terkucilkan karena jarangnya peng-update-an, Pak," sahut Nisa menerangkan.

"Lalu apa yang harus dilakukan? Bagaimana agar perusahaan kita kembali maju," keluh sang boss.

"Sepertinya kita harus turun langsung ke lapangan, Pak. Kita akan mengadakan diskon besar-besaran untuk menarik minat pelanggan. Saya rasa orang-orang akan dominan menyukai hal yang mengandung promo dalam beberapa waktu. Mungkin kita bisa melakukannya selama dua hari, Pak?" Nisa mengusulkan sebuah saran yang akhirnya disetujui juga oleh sang boss.

"Kamu yakin?" Pak Abram menatap lekat pada manik milik Nisa.

"Sangat yakin, Pak," jawabnya sembari mengangguk-angguk kecil, yang begitu meyakinkan di mata sang boss.

"Kalau begitu hubungi beberapa karyawan HRD, kita akan lakukan bersama."

"Baik, Pak." Senyum merekah terbit dari sudut bibirnya.

Setelah menerima perintah dari sang boss, Nisa kembali menuju lantai satu dan menemui resepsionis. Hentakan demi hentakan membuat lantai marmer menggema hingga ke sudut ruangan. Saat tiba di lorong, Nisa bertemu dengan anak pemilik perusahaan.

"Nisa," panggil anak sang boss.

"Iya, Pak?" sanggah Nisa.

"Papa saya ada?"

"Ada, Pak."

"Oh, ini kamu mau ke mana?"

"Resepsionis, Pak."

"Saya antar?"

"Nggak perlu, Pak," tolak Nisa dengan lembut.

Gior Gio Mahesa, anak dari pemilik perusahaan tempat Nisa bekerja. Ia seorang mahasiswa teknik sipil berusia 23 tahun. Hampir setiap Minggu, ia selalu mengunjungi perusahaan ayahnya hanya untuk bertemu dengan Nisa, salah satu karyawan ayahnya yang menarik bidang pandangnya. Gio telah berkali-kali mengajak Nisa untuk makan siang bersama, dan sebanyak ajakan itu pula Nisa selalu menolaknya.

"Ya udah, tapi nanti makan siang di luar sama aku, ya?" pinta Gio.

"Nggak pak, saya bawa bekal."

"Bekalnya sekalian dibawa."

"Maaf, Pak. Saya buru-buru harus menemui resepsionis," tangkas Nisa sembari berjalan meninggalkan Gio.

The Past [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang