Halaman sebelumnya of 52Halaman selanjutnya

Naga Beracun 2

spinner.gif

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
(Lanjutan Naga Sakti Sungai Kuning)
Karya : Kho Ping Hoo
Scan djvu oleh Syaugy_ar
Ebook by Dewi KZ & Sukanta
http://kangzusi.com/
Jilid 7
"Cin Cin. jangan membikin aku marah. Engkau memang anak yang tidak mengenal budi. Selama
tiga tahun aku memperlakukan engkau seperti anak sendiri. Entah berapa banyaknya biaya yang
kukeluarkan untuk keperluanmu. Dan sekarang, sebagai ibu yang baik, aku telah mencarikan
tempat yang terhormat dan baik untukmu. Bahkan ibu kandungmu sendiri belum tentu akan
mampu mencarikan tempat yang demikian mulia untukmu. Dan engkau berani menolak?"
“Terserah pendapatmu, Cia Ma. Pendeknya, aku tidak mau diserahkan kepada pembesar itu
atau kepada siapapun. Kalau engkau sudah tidak mau aku tinggal di sini, biarlah aku pergi mencari
ibuku." Cin Cin bersikeras.
Cia Ma kini tidak berpura-pura lagi, tidak bersikap manis dan lembut seperti biasa. Ia marahmarah
dan percecokan itu segera terdengar oleh Coa Tai-Jin yang segera memerintahkan
pengawalnya untuk bersiap-siap meninggalkan tempat pelesir itu. Dia merasa malu kalau selagi dia
berada di situ terjadi percekcokan. Pengawalnya segera mendatangi Cia Ma, menegurnya karena
keributan itu.
"Tidak perlu ribut-ribut. Besok harus kauantarkan anak perempuan itu ke Lok-yang, ke gedung
Coa Tai-Jin. Beliau tidak ingin mendengar ribut-ribut. Awas, kalau sampai gagal, engkau akan
dihukum berat!"
Menggigil tubuh Cia Ma mendengar ancaman itu dan iapun mengangguk-angguk seperti ayam
makan jagung. Rombongan pembesar itu segera meninggalkan rumah pelesir Ang-hwa dan setelah
rombongan pergi, Cia Ma mengeluarkan semua rasa hatinya yang panas dan penuh kemarahan
terhadap Cin Cin. Ia mengurung gadis cilik itu di dalam kamarnya dan menyuruh tukang-tukang
pukulnya untuk menjaga agar anak itu jangan sampai melarikan diri. Kemudian, ia membuat
persiapan, menyewa sebuah kereta dan mempersiapkan pasukan pengawal yang terdiri dari
sepuluh orang, dengan Hek-gu (Kerbau Hitam) dan Pek-gu (Kerbau Putih) sebagai pemimpin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Hek-gu dan Pek-gu memaksa Cin Cin yang sudah
didandani sebagai seorang puteri naik ke dalam kereta. Anak itu meronta dan melawan, akan tetapi
dua orang tukang pukul itu meringkusnya dan memondongnya ke dalam kereta.
Karena khawatir anak itu memberontak terus, Hek-gu lalu tinggal di dalam kereta, sedangkan
Pek-gu yang memimpin pasukan terdiri dari sepuluh orang tukang pukul itu. Kereta lalu dijalankan,
meninggalkan Cia Ma yang sambil senyum-senyum menghitung lagi uang yang ia terima dari Coa
Tai-Jin.
ooo0000ooo
"Lepaskan aku! Aku tidak sudi diberikan pembesar itu!" Cin Cin mencoba untuk meloncat keluar
dari dalam kereta, akan tetapi Hek-gu menangkap kedua lengannya. Anak itu meronta-ronta, akan
tetapi apa dayanya seorang anak perempuan berusia delapan tahun menghadapi seorang tukang
pukul yang kuat seperti Hek-gu. Kedua lengan itu dipegang oleh tangan kiri dan tidak mampu
meronta lagi, apa lagi melepaskan diri.
"Heran, setelah terdidik selama tiga tahun engkau kelihatan seperti seorang gadis cilik yang
lemah lembut dan pandai menari, ternyata pada dasarnya masih liar," kata Hek-gu dan karena tidak
ingin selama dalam perjalanan harus menjaga anak itu dan meringkusnya terus menerus, dia lalu
mengeluarkan sabuk sutera dan mengikat kedua lengan anak itu dengan sabuk sutera.
"Nah, engkau tidak akan dapat meronta lagi sekarang," katanya setelah mengikat pula kedua
kaki Cin Cin dan mendorong anak itu terduduk di sudut bangku kereta. Dia sendiri lalu melendut di
sudut lain, merasa aman karena gadis cilik itu kini tidak dapat membuat ulah lagi. Nanti kalau
sudah dekat kota raja, dia harus melepaskan ikatan kakai-tangan Cin Cin. Tentu saja tidak berani
dia menghadapkan gadis cilik itu dengan kaki tangan terbelenggu kepada Coa Tai-Jin.
Setelah tiba di tepi selatan Sungai Huang-ho, perjalanan dilanjutkan dengan penyeberangan
sungai itu, menggunakan perahu besar. Cin Cin masih dibelenggu dan belenggu kedua tangannya
baru dilepas kalau ia dipersilakan untuk makan dan minum. Akan tetapi, anak itu selalu menolak,
tidak mau makan atau minum walaupun kini ia diam saja, tidak memberontak

Halaman sebelumnya of 52Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Siapa yang Membaca

Disarankan