Halaman sebelumnya of 223Halaman selanjutnya

Tangan Geledek 2

spinner.gif

1
(PEK LUI ENG)
Karya:
Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Scan djvu : syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XV
KARENA tertarik, Tiang Bu cepat menyelinap di antara
pepohonan dan menuju tempat pertempuran. Dan di dekat
sungat ia melihat pemuda tampan dan gadis jelita itu benarbenar
tengah bertempur melawan seorang pemuda tampan
yang lain yang hebat sekali kepandaiannya. Pemuda itu
tampan, bertubuh jangkung kurus, dahinya lebar seperti
botak, mulutnya tersenyum-senyum mengejek dan mata
yang bersinar-sinar aneh! Yang hebat, ia mainkan senjata
yang luar biasa sekali, yaitu sebatang huncwe (pipa
tembakau) yang panjangnya dua kaki, terbuat dari pada
bambu badan batangnya dan tempat apinya dari tanah.
Akan tetapi ia mainkan huncwe itu secara luar biasa sekaIi.
Jelas kelihatan oleh Tiang bu bahwa pemuda tampan ini
mainkan senjata huncwenya seperti orang mainkan pedang
dan ilmu pedangnya inilah yang hebat.
"Eh, seperti Soan-hong-kiamsut (llmu Pedang Angin
Puyuh) …… eh, mengapa begitu? Itu seperti Soan-lian
kiamsut (Ilmu Pedang Teratai Saju') .....” Tiang Bu berkata
seorang diri ketika matanya mengikuti permainan pedang
yang dilakukan dengan huncwe itu. Apalagi ketika tiba- tiba
2
ia merasa sambaran huncwe itu mendatangkan hawa dingin,
ia tidak ragu lagi bahwa tentu pemuda ini mengerah tenaga
dalam Ilmu Pedang Teratai Salju, semacam ilmu pedang
disertai lweekang tinggi yang asalnyn dari Omei-san!
"Siapa dia yang begini lihai .....?” Tiang Bu dalam hati,
membuat ia ragu untuk mencampuri pertempuran itu. Akan
tapi kakak beradik itupun ternyata memiliki kepandaian
yang tidak rengah. Hebat sekali adalah dara jelita itu, karena
ia menghadapi lawannya dengan senjata yang lebih luar
biasa lagi, yaitu dua ekor ular belang di kedua tangan kanan
kiri. Melihat senjata aneh di tangan dara cantik ini, Tiang
Bu, melengong dan seperti dibuka matanya. Teringatlah
akan peristiwa di puncak Gunung Omei-san ketika ia
melihat dua orang gadis kecil bertempur, yang seorang
adalah Lee Goat adiknya dan gadis kedua bukan lain adalah
gadis ini. Tak salah lagi! Dan pemuda itu ...... pemuda yang
sekarang mempergunakan pedang dengan amat indahnya
mengeroyok pemuda berhuncwe itupun bukan lain adalah
pemuda yang kemudian datang melerai adiknya yang
berkelahi. Akan tetapi, pendapat ini tetap saja tidak
mendatangkan keyakinan di hati Tiang Bu apakah ia harus
membantu mereka. Ia tidak mengenal mereka, juga tidak
mengenal pemuda lihai berhuncwe itu, kalau tanpa
mengetahui urusannya ia membantu sefihak, itu tidak adil
sekali. Akan tetapi kalau didiamkanya saja. juga tidak betul
karena ia merasa khawatir sekali akan keselamatan gadis
itu.
Selagi ia ragu ragu, terdengar pemuda berhuncwe itu
tertawa, suara ketawanya sungguh-sungguh berlawanan
dengan wajahnya yang tampan dan sikapnya yang halus.
Suara ketawanya parau, kasar dan kurang ajar. Apalagi
ucapannya yang menyusul ketawanya itu, "Ha, ha ha,
menurut patut aku harus membikin mampus kalian ini,
budak-budak bangsa Kin! Akan tetapi ...... aduh sayang
sekali kau, gadis manis. Mari ikut dengan aku mengejar
3
kebagiaan, dan aku akan mengampuni jiwa budak yang
menjadi kakakmu ini.”
Kata-kata ini saja cukup bagi Tiang Bu untuk mengambil
keputusan membantu gadis itu. Bukan karena ia kini tahu
bahwa gadis dan kakaknya itu bangsa Kin, ia tidak
mempunyai hubungan dengan bangsa Kin, akan tapi
kenyataan bahwa pemuda berhuncwe itu ternyata cabul dan
jahat cukup membuat ia menganggapnya bersalah.
“Setan pemadatan jangan kau menjual lagak,” bentak
Tiang Bu dan begitu ia menyerbu, pemuda berhuncwe itu
terkejut setengah mati. Tadinya ia sudah melihat datangnya
pemuda sederhana ini, akan tetapi tidak memperhatikannya
dan tidak memandang sebelah mata, mengira bahwa
pemuda itu bukan lain adalah seorang di antara "kuli-kuli"
pemuda dan gadis itu. Kiranya sekarang begitu membentak
dan menyerbu dengan tangan kosong angin dorongan
tangannya menyambar hebat dan hampir saja huncwenya
terlepas dari pegangan dan hampir terampas kalau saja
tidak cepat-cepat melompat mundur.
Dara jelita dan pemuda

Halaman sebelumnya of 223Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Siapa yang Membaca

Disarankan