Jaka Lola

spinner.gif

<P>Jaka Lola <BR>Serial Raja Pedang (4)<BR>Lanjutan Pendekar Buta<BR>Kho Ping Hoo </P>

<P>Bagian I</P>

<P>The Sun memasuki dusun Ling-chung dengan langkah seenaknya.           <BR>Pemandangan di sepanjang perjalanan tadi amat indah, mendatangkan rasa tenang dan tenteram di hati, menggembirakan perasaannya.           <BR>Setelah bertahun- tahun berkecimpung di kota dan sibuk dengan urusan kerajaan, pertempuran dan peperangan, sekarang keadaan di dusun-dusun terasa amat aman dan tenteram baginya.           <BR>Musim panen sudah hampir tiba, padi dan gandum di sawah sucsah hamil tua, siap untuk dipotong.           <BR>Pencuduk dusun, tua muda laki perempuan agaknya enggan meninggalkan sawah ladang yang mereka pelihara setiap hari seperti memelihara anak-anak sendiri, enggan meninggalkan harta pusaka yang juga me-rupakan penyambung nyawa mereka, tu padi-padi menguning.           <BR>Mereka siang malam menjaga keras terhadap gangguan burung di waktu siang dan tikus- tikus di waktu malam.           <BR>The Sun adalah anak murid Go-Bi-san, putera mendiang The Siu Kai seorang pembesar militer Mongol yang sekeluarganya terbasmi habis oleh Ahala Beng, kecuali The Sun yang dapat menyelamatkan diri.           <BR>Di dalam cerita PENDEKAR BUTA, diceritakan betapa The Sun yang cerdik, lihai dan bercita-cita tinggi berhasil menjadi orang kepercayaan Kaisar Hui Ti atau Kian Bun Ti, akan tetapi dalam perang saudara antara Hui Ti dan pamannya, Raja Muda Yung Lo, Hui Ti kalah dan kerajaan dirampas oleh Raja Muda Yung Lo.       Dalam pertempuran hebat, The Sun dan teman-temannya kalah oleh Pendekar Buta dan teman-temannya, nyaris dla tewas kalau saja dia tidak ditolong oleh kakek gurunya, .           <BR>Hek Lojin, yang berhasil membawanya lari.           <BR>Namun Hek Lojin, tokoh Go-bi itu, juga terluka oleh Pendekar Buta, lengan kirinya menjadi buntung! Peristiwa itu baru beberapa bulan saja terjadi.           Setelah nnengantar kakek gurunya yang terluka itu ke puncak Go bi-san, The Sun yang tidak betah tinggal di puncak gunung yang sunyi dan dingin, lalu turun gunung.           <BR>Akan tetapi amat jauh bedanya The Sun dahulu dan sekarang. la masih tetap tampan dan gagah, gerak-geriknya lemah-lembut, namun pakaian-nya kini adalah pakaian sederhana, bukan pakaian pembesar maupun pelajar yang pesolek lagi.           <BR>Malah dia tidak membawa-bawa pedang.la harus menyamar se-bagai seorang penduduk biasa, karena tentu saja dia merupakan seorang yang dicari oleh pemerintah baru, yaitu pe-merintah Kaisar Yung Lo atau yang sekarang disebut Kaisar Cheng Tsu.           <BR>Biar- pun kota raja sudah dipindahkan ke u'tara (Peking), namun masih banyak orang-orangnya kaisar baru ini yang akan me-ngenalnya dan akan senang menangkapnya untuk mencari pahala.           <BR>Oleh karena inilah, The Sun tidak berani ke selatan, dan klni dia hendak  perantauan ke utara.           <BR>Seenak-nya dia melakukan perjalanan, menikmati ketentraman dusun- dusun dan diam-diam dia merasa betapa bodohnya dia dahulu, mencari keributan dan kesenangan hanpa belaka di kota raja.           <BR>Alangkah indahnya pemandangan di gunung- gunung, sawah-sawah hijau segar, gadis-gadis dusun yang memiliki kecantikan segar dan wajar, sehat dan pipinya merah jambu tanpa yanci (pemerah pipi).           <BR>Penyamarannya ynembuat dia berlaku hati-hati sekali.           <BR>Biarpun hatinya masih jungkir balik kalau melihat gadis-gadis dusun yang manis segar itu, namun tidak seperti dulu kalau Jnelihat wanita cantik dia terus saja berusaha mendapatkannya secara kasar maupun halus, dia sekarang hanya me-nelan ludah, menekan perasaan dan kalau gadis itu terlalu cantik dan membalas senyumannya, dia sengaja membuang muka dan mempercepat langkah meninggalkannya.           <BR>The Sun sesungguhnya adalah keturunan orang besar la menjadi rusak dan dahulu berwatak sombong, mau menang sendiri, mata keranjang, adalah karena pengaruh lingkungan dan hubungannya.           <BR>Buktinya sekarahg setelah dia berkelana seorang diri, tidak mempunyai kedudukan dan tidak mempunyai senderan, tidak ada sesuatu yang boleh dia andalkan, dia dapat menguasai perasaan dan nafsunya.           <BR>Memang betul kata-kata orang bijak bah-wa KESEMPATAN-lah yang membuat orang menjadi LEMAH, yaitu lemah ter-hadap dorongan nafsu-nafsu buruk.           <BR>Setiap perbuatan maksiat, pertama kali dilaku-kan orang tentu karena mendapat ke-sempatan inilah.           <BR>Kemudian menjadi kebiasaan dan membentuk watak.           <BR>Dusun King-chung tampak sunyi kare-na sebagian besar penghuninya pada sibuk menjaga sawah dengan wajah gembira penuh harapan.           <BR>The Sun melihat ke kanan kiri, mencari-cari sebuah warung nasi dengan pandang matanya, karena pagi hari itu dia amat lapar setelah melakukan perjalanan semalam suntuk tanpa berhenti.           <BR>Mendadak dia mendengar lapat-iapat suara wanita menjerit.           <BR>Telinganya yang terlatih dapat menangkap ini dan seketika dia meloncat dan lari menuju ke utara, ke arah suara itu.           <BR>Di sebelah utara dusun ini sunyi sekali, tak tampak seorang pun manusia, bahkan bagian ini merupakan bagian yang tidak subur dari dusun itu, banyak terdapat rawa yang tak terurus.           <BR>Di sudut sana tampak se-buah rumah tua yang agaknya tidak ditinggali orang.           <BR>"Tolong!" sekali lagi terdengar jeritan lemah dan The Sun segera mempercepat larinya menuju ke rumah tua karena dari sanalah pekik itu datangnya.           Dengan gerakan seperti seekor burung garuda melayang, dia melompat dan se-tibanya di dalam rumah tua melalui pintu yang tidak berdaun lagi, dia tertegun dan matanya membelalak memandang ke dalam.           <BR>Mukanya seketika menjadi merah dan matanya mengeluarkan sinar berapi-api.           <BR>Apa yang tampak olehnya di sebelah dalam rumah rusak itu benar-benar membuat The Sun marah sekali.           <BR>Di atas lantai yang kotor duduk me-nangis seorang wanita muda yang pakai-annya robek robek di bagian atas se-hingga tampak pundak dan sebagian dadanya, yang berkulit putih seperti salju, Wanita ini cantik jelita dan mukanya pucat, rambutnya awut-awutan.           <BR>Di sana- sini kelihatan robekan kain pakaiannya, dan sebagian daripada robekan kain ma-sih berada di tangan seorang laki-laki yang berdiri membungkuk di depan wa-nita itu.           <BR>Laki-laki yang menyeramkan.Tinggi besar seperti raksasa, rambut panjang terurai, mukanya buruk dan si- kapnya kasar dan canggung sekaii, se-pasang matanya membuat orang bergidik, karena mata seperti itu biasanya hanya terdapat pada muka orang gila.          <BR> Mata yang liar, bodoh dan aneh. "Bangsat kurang ajar! Berani kau mengganggu wanita?" bentak The Sun sambil meloncat ke dalam.           <BR>Laki-laki tinggi besar itu, tiba-tiba membalikkan tubuh dan mengeluarkan suara menggereng seperti harimau, tiba-tiba dia tertawa bergelak dan suaranya seperti gembreng pecah.           <BR>"Pergi kau! jangan ikut campur, dia milikku, heh-heh-hehi" The Sun termangu dan meragu, lalu menoleh kepada wanita itu.           <BR>Mungkinkah si jelita ini milik orang gila itu? Isterinya? Sambil tertawa-tawa si gila itu kem-bali mendekat, tangannya yang besar dan kasar hendak meraih si cantik.           Wanita itu bergidik dan berseru lemah, "Jangan sentuh aku! Kang Moh, jangankau kaubunuh saja aku " The Sun makin bingung.           "Nona.          eh, Nyonyadia siapakah? Apakah suamimu?" öBukan.          .! Sama sekali bukan! Dia orang gila di dusun ini..           ah, Tuan, tolonglah, suruh dia  pergi dan jangan biarkan dia ganggu aku.. lebih baik aku mati, ya Tuhan.,.          ," Ia menangis sedih sekali.           "Keparat! Mundur dan minggat kau!" The Sun kini maju dengan hati tetap.           Lega hatinya bahwa wanita ini bukan isteri si gila ini dan kemarahannya timbul kembali, malah lebih hebat daripada tadi.           Kang Moh buaya gila itu tiba-tiba memekik keras dan menerjang maju, menghantam The Sun.           Gerakannya kuat sekali, membayangkan tenaga yang luar biasa, sedangkan gerakan tangan kakinya menunjukkan bahwa sedikit banyak orang ini pernah h+elajar silat.           Namun yang diserang kini adalah The Sun.           Orang sekampung itu boleh takut kepadanya, akan tetapi menghadapi The Sun, dia seperti menghadapi kakek gurunya.           Sekali dia miringkan tubuh dan menggeser kaki ke kiri, The Sun sudah menghindarkan diri dari terjangan lawan, kemudian dua kali tangannya bergerak+.           sekali menotok leher, kedua kalinya me-nusuk ulu hati dengan jari-jari terbuka.          <BR>                   Terdengar suara "ngekkk!" dan tubuh Kang Moh yang tinggi besar itu roboh terjengkang seperti pohon ditebang dan..           dia tidak bergerak-gerak lagi karena dua kali pukulan tadi ternyata sudah mengirim nyawanya meninggalkan badan Ma½ tanya mendelik dan dari mulut, hidung dan telinganya keluar darah! The Sun bekerja cepat.           Sekali reng-gut dia telah membuka jubah si gila itu.           "Nona, kaupakailah ini, untuk sementara lumayan guna menutupi pundakmu.          " Wanita itu berdiri dengan lemah, mukanya yang tadinya pucat n.          enjadi agak merah, tampak gugup dan malu-malu.           Kemudian, setelah menutupkan jubah yang berbau apek itu ke atas pundaknya, ia menjatuhkan diri berlutut di depan The Sun.           "Terima kasih..           terima kasih, Tuan..           tapi tiada gunanya.          .,.           ah, tiada gunanya aku hidup..          " la menangis terisak-isak dan tak dapat melanjutkan kata-katanya.           Sementara itu, The Sun sudah mendapat kesempatan memandang.           Wanita ini bukan main cantik jelitanya dan aneh sekali, jantungnya berdegup tidak karuan.           Banyak dia mengenal wanita cantik, akan tetapi agaknya baru kali ini ada seorang wanita yang dapat membuat dia marah bukan main tadi, dan kini membuat jan-tungnya berdebar keras.           Wajah manis itu seperti pisau belati menikam ulu hatinya, mendatangkan rasa kasihan yang tiada dasarnya.           Mata itu, hidung dan muiut itu, seakan-akan menggurat-gurat kalbu-nya, menggores- gores jantungnya, minta dikasihani.            Dengan kedua kaki lemas, The Sun lalu berlutut pula di depannya.           "Jangan berduka, Nona.           Kesukaran apakah yang kauhadapi? Dia itu kurang ajar kepadamu? Lihat, sudah kubikin mampus dia! Manusia macam dia berani mengganggumu? Biar ada seratus orang macam dia, semua akan kubasmi kalau mereka berani mengganggumu!" Mendengar ucapan yang penuh ke-marahan ini, wanita itu mengangkat mu-ka memandang.           Muka yang kini pucat kembali, yang amat ayu dan patut dikasihani, yang basah air mata.           "Saya berterima kasih sekali bahwa Tuan telah menolong saya dari tangan Kang Moh yang gila itu, akan tetapi..           Inkong (Tuan Penolong) semua itu percuma..           tak dapat membebaskan diri saya daripada kesengsaraan..           dan jalan satu-satunya bagi saya hanya mati..          " "Tidak ada kesulitan di dunia ini yang tak dapat diatasi.           Memilih jalan kematian adalah pikiran sesat.           Nona, percaya-lah kepadaku, aku The Sun siap untuk menolongmu sampai titik darah terakhir.           Kauceritakan saja kepadaku kesukaran apa yang kauderita.          " Mendengar ucapan yang tegas dan sikap yang sungguh-sungguh ini, wanita itu menjadi terharu sekali, lalu erisak-isak ia menceritakan penderitaamya.           la bernama Ciu Kim Hoa,semenjak kecil ia sudah diberikan oleh ayah bundanya kepada seorang pamannya, karena ayah bundanya bercerai dan kawin lagi.           Pamannya bukanlah orang baik-baik, selama hidup di rumah pamannya, ia diperas tenaganya, bekerja kasar dan berat.           Beberapa kali ia mencoba untuk minggat, akan tetapi selalu gagal dan hasilnya hanya gebukan dan tendangan.            "Kekejaman itu masih dapat saya tahan, Inkong, karena kadang-kadang paman itu pun bersikap baik dan keduka-an saya terhibur.           Akan tetapi, setahun yang lalu dia telah menjual saya kepada keluarga Lee di dusun ini dan mulailah penderitaan batin yang tak tertanankan lagi..          " la menangls terisak-isak.            Diam-diam The Sun menaruh kasihan.           Wanita begini lemah dan cantik jelita, mengapa nasibnya demikian buruk? la membiarkan nona itu menangis sejenak, lalu menghibur, "Sudahlah, Nona.           Semua penderitaan itu takkan terulang kembali, ceritakan selanjutnya, mengapa kau men-derita di rumah keluarga Lee?" Setelah menghapus air matanya, wanita itu melanjutkan, "Kalau di rumah paman saya hanya menderita lahir, di rumah ini saya menderita lahir batin.           Mula-mula kedua orang tua dari keluarga itu balk terhadap saya, akan tetapi tiga bulan kemudian saya dijadikan permainan oleh tiga orang anak laki-lakl keluarga Lee.           Usia mereka antara dua puluh sampai tiga puluh tahun, mereka laki-laki yang kejam.           Saya tak dapat menolak, tak dapat melarikan diri, beberapa kali mencoba membunuh diri juga mereka halang-ihalangi, ah..           In-kong..           apa artinya 'lagi hidup ini..          ?" The Sun menggigit gigi sampai mengeluarkan bunyi berkerot.           Selain kasihan ! kepada wanita inj, dia pun merasa hati-'nya panas dan marah sekali.           "Teruskan.. teruskan..          !" Desaknya dengan suara keras dan napas memburu.           "In-kong..           betapa hancur hati saya ketlka saya mendapatkan diri saya..           mengandung!  Saya ceritakan kepada mereka dan menuntut supaya dikawin dengan sah.           Tapi apa yang saya dapatkan? Mereka marah-marah.           Saya diusir dengan tuduhan main gila dengan laki-lak luar, padahal mereka bertigalah yang memaksa dan mempermainkan saya.           "Keparat jahanann!!" The Sun memakl, akan tetapi tiba-tiba mukanya merah sekali dan dia termenung.           Teringatlah dia ketika dia masih dalam keadaan jaya dahulu, entah berapa banyak wanita yang dia permainkan tanpa mempedulikan aki-batnya.           Heran sekali.           Biasanya mendengar cerita macam ini baginya malah terasa lucu, dan biasanya mungkin dia akan mentertawakan wanita yang mengalami nasib demikian.           Akan tetapi mengapa sekarang, di depan wanita ini, timbul rasa kasihan dan marah? Apakah ini kemarahan karena dia tak senang men-dengar orang melakukan perbuatan jahat dan sewenang-wenang, ataukah kerftarah-an ini tlmbul justeru karena wanita ini-lah yang dipermainkan dia tidak tahu, pendeknya waktu itu dia marah sekali terhadap mereka yang telah memper-mainkan wanita                     5                      itu.           "Kemudian bagaimana, Nona? Teruskan'" "Saya diusir dari rumah mereka tanpa .           diberi apa-apa dan diancam akan dipukuli sampai  mati kalau tidak lekas pergi.           Dengan hati remuk saya terpaksa pergi dan sampai di rumah tua ini karena tidak ada lain tempat yang dapat saya datangi.           Tak lama kemudian datanglah Kang Moh ini..          " la memandang ke arah mayat itu dan bergidik ngeri.           "Dia ini juga orang- nya keluarga Lee, dan tadinya saya kira dia menyusul dengan pesan dan maksud baik daripada mereka.           Tidak tahunya Kang Moh hendak melakukan perbuatan keji dan melanggar susila.           Baiknya kau datang menolong, In-kong.. akan tetapi setelah In-kong menolong saya, apa arti-nya bagi saya? Keadaan saya masih belum terlepas daripada penderitaan, saya tiada sanak keluarga, tiada handai taulan, tiada sahabat.           Ke mana saya harus pergi? Bagaimana saya dapat hidup?" Ia menangis lagi sesenggukan.           The Sun bangkit berdiri.           Dalam sinar matanya tampak api yang penuh ancaman.           "Nona, di mana tempat tinggal keluarga Lee itu? Katakan di mana mereka itu, akan saya paksa mereka meneri-mamu kembali dan mengawinimu sebagai-mana mestinya.          " "Percuma, In-kong.           Mereka tidak akan mau dan harap In-kong jangan memandang rendah mereka.           Mereka itu orang-orang kejam dan ganas, pandai main silat dan di dalam dusun ini selain terkenal sebagai keluarga terkaya, memiliki tanah yang luas, juga terkenal sebagai jagoan-jagoannya.           Tiga orang itu ditakuti semua orang di dusun.           Jangan-jangan kau akan dipukuli, In-kong, dan kalau hal ini terjadi, ah, aku menyesal, karena kau tertimpa malapetaka oleh karena aku.          " The Sun tertawa.           "Anjing-anjing itu mampu memukul saya? Ha-ha-ha, Nona, boleh mereka coba! Kautunggu saja disini sebentar, Nona.           Aku tanggung bahwa mereka akan menerimamu secara baik-baik atau mampus, karena hanya itulah pilihan mereka.           Nah, di sebelah mana rumah mereka?" Nona itu menuding ke arah timur.           "Rumah mereka mudah dikenal, paling besar, merupakan gedung tembok dan di depannya banyak gentong-gentong tempat gandum.           Mereka siap menerima hasil panen dan gentong-gentong itu sudah dijajarkan di pekarangan depan.          "  "Nona tunggu saja sebentar di sini, aku akan segera datang lagi.          " The Sun berkata sambil melangkah lebar meng-hampiri mayat Kang Moh, kemudian dia mencengkeram rambut mayat itu dan menyeretnya ke luar dari dalam rumah tua.           Tentu saja orang-orang menjadi heran dan terbelalak memandang seorang laki-laki muda dan tampan berjalan cepat di jalan dusun sambil menyeret tubuh Kang Moh yang sudah menjadi mayat! Semua orang dusun mengenal siapa Kang Moh dan amat takut kepadanya, karena Kang Moh merupakantukang pukul keluarga Lee.           Siapa kira sekarang Kang Moh sudah mati dan mayatnya diseret-seret                     6                      seperti bangkai anjing saja oleh seorang pemuda yang tidak mereka kenal.           Apalagi melihat pemuda itu .          menuju ke rumah gedung keluarga Lee, keheranan mereka bertambah dan berbondong-bondong orang dusun mengikut The Sun dari belakang.           Akan tetapi, karena rasa ngeri, takut dan juga jerih akan kemarahan keluarga Le, mereka mengikuti dari jauh dan seeara setengah sembunyi.           Memang mudah mengenal geduhg keluarga Lee.           Di dalam pekarangan de-pan rumah itu terdapat banyak gentong yang masih kosong dan sebuah alat timbangan digantung di sudut.           The Sun me-nyeret mayat Kang Moh ke dalam peka-rangan yang masih sunyi itu, kemudian dia mengangkat mayat itu, dilernparkan ke ruangan dalam.           Mayat itu melayang ke depan menubruk pintu yang segera terbuka dan menimbulkan suara hiruk-pikuk.           Terdengar pekik kaget di sebelah dalam rumah.           "Kau kenapa, Kang Moh? He, dia..           dia mati..          ö Di dalam rumah menjadi ribut dan terdengar bentakan keras, "Siapa yang main gila di sini?" Lalu melompatlah sesosok bayangan orang tinggi kurus dari dalam.           Ketika tiba di luar dan melihat The Sun berdiri bertolak pinggang di dalam pekarangan, orang itu melangkah lebar, menghampiri.           The Sun memandang dengan senyum mengejek.           Orang ini usianya kira-kira tiga puluh tahun, kelihatan kuat dan gerak-geriknya geslt, tanda bahwa dia mengerti ilmu silat.           Teringat akan cerita nona itu, dia segera mendahului,  "Apakah kau putera keluarga Lee yang tertua?" "Jembel busuk, kau siapa? Benar, aku tuanmu adalah putera sulung.           Mau apa kau mencari  Lee-toaya? Eh, mayat Kang Moh itu..          " Orang itu ragu-ragu dan melirik ke dalam rumah.           "Tak usah bingung.           Mayat itu aku yang melemparkan ke dalam, malah akulah yang telah  membunuhnya.          " Orang she Lee Itu kaget setengah mati, juga marah sampai mukanya merah.           " Siapa kau dan  mengapa kau main gila di sini?" "Aku The Sun, kulihat anjing gila peliharaanmu itu hendak mengganggu nona yang  seharusnya menjadi nyonya rumah di sini.           Orang she Lee, kau dan dua orang adikmu, telah berlaku se-wenang-wenang kepada nona Ciu Kim Hoa.           Setelah kalian berbuat mengapa tidak berani bertanggung jawab? Mengapa kalian malah mengutus anjing gila peli-haraan kalian itu untuk menggigitnya?" Muka yang pucat itu kini berubah merah.           Kemarahan putera sulung Lee ini tidak dapat dikendalikannya lagi.           "Bangsat rendah, jembel busuk, beranl kau bicara begini di depanku? Berani kau mencampuri urusan kami? Setan, kau mau apa?"                    7                      Kalau menurutkan nafsu hatinya, ingih sekali pukul The Sun membinasakah orang ini.           Namun dia ingat akan Ciu Kim Hoa dan dia menahan kesabarannya.           "Orang she Lee, sekarang kaupilihlah salah satu.           Pertama, kau harus menerima kembali nona Ciu, mohon ampun kepadanya, kemudian mengawininya secara sah, menyerahkan hak kepadanya sebagai nyo-nya rumah dan diperlakukan sebagaimana mestinya.           Atau yang ke dua, kau dan adik-adikmu itu boleh memilih kematian di tanganku, karena demi roh nenek moyangmu, kalau kau tidak memenuhi tuntutanku itu, aku akan membunuh kalian bertiga!" "Keparat, kaukira aku takut akan ancamanmu yang kosong? Kau malah yang harus membayar hutangmu atas nyawa Kang Moh!" Orang she Lee itu lalu membentak keras dan menerjang maju, mengirim pukulan tangan kanan yang keras ke arah dada The Sun.           Me- Uhat gerakan ini, The Sun tersenyum.           Seorang ahli silat biasa saja.           Kalau dia mau, sekali sodok dia akan dapat membauat nyawa orang ini melayang ke neraka.           Akan tetapi dia tidak mau menuruti nafsu hattnya dan ingin memperlihatkan kepandaiannya agar orang ini kapok dan taat.           Dengan mudah dia mengelak dengan miringkan tubuh, kemudian tangan kirinya menyambar dan "plak-plak!" kedua pipi di muka orang she Lee itu dia tampar de-ngan keras.           Seketika kedua pipi itu menjadi bengkak dan orang itu mengusap-usap kedua pipinya dengan pringisan sa-king nyerinya.           Namun dia membentak lagi dan menerjang makin marah, malah dibarengi teriakan keras memanggil adik-adiknya.           Sebetulnya tak perlu dia berteriak karena dua orang adiknya itu setelah tadi ribut-ribut memeriksa tubuh Kang Moh, sekarang sudah berlari ke luar dan mereka marah sekali melihat betapa kakak mereka bertempur dengan seorang pemuda yang tak mereka kenal.           Siapa orangnya yang berani berkelahi, dengan Lee Kong, kakak mereka? Kurang ajar! Tanpa berkata apa-apa lagi dua orang pemuda yang usianya kira-kira dua puluh empat dan dua puluh delapan tahun ini serta merta menyerbu dan mengeroyok The Sun.           "Ha-ha-ha, jadi kalian bertiga inikah putera-putera keluarga Lee? Bagus, sekarang dapat kuberi hajaran sekaligus.          " Begitu ucapannya terhenti, terdengar pekik kesakitan tiga kali dan tiga orang muda itu terlempar ke belakang dan roboh bergulingan.           Baiknya The Sun ha-nya ingin memberi hajaran saja, maka mereka tidak terluka hebat, hanya di-lemparkan dan roboh saja.           "Nah, sekarang bersumpahlah untuk menerima kembali nona Ciu dan menga-wininya secara sah.           Kalau kalian tidak mau, sekali lagi robph kalian takkan mampu bangun lagi!" Dasar pemuda-pemuda hartawan yang sudah terlalu biasa semenjak kecil diberi kemenangan terus, tiga orang she Lee ini tentu saja enggah mengalah.           Pengalaman pahit ini baru mereka alami kali ini selama mereka hidup.           Biasanya, jangankan merobohkan mereka, melawan pun tidak ada yang berani.                              8                      "Jembel busuk, kaulah yang akan mampus!" teriak mereka dan seperti tiga ekor anjing galak, mereka menyerbu lagi, kinl' malah dengan senjata di tangan.           Kiranya mereka itu masing-masing me-nyimpan sebatang pisau panjang yang tadi mereka selipkan di ikat pinggang.           Habislah kesabaran The Sun.           la maklum bahwa andaikata mereka itu ter-paksa menerima kembali Kim Hoa kare-na dia tekan, kiranya nona itu kelak takkan terjamin keselamatan dan ke-bahagiaannya hidup di tengah orang-orang macam ini.           Kasihan nona itu kalau harus menjadi keluarga mereka, tentu hanya siksa dan derita saja yang akan dia alami selama hidupnya.           Kemarahannya memun-cak, apalagi melihat befkelebatnya tiga batang pisau panjang itu, baginya seperti seekor harimau mencium darah.           The Sun berseru panjang, melengking tinggi suara-nya dan gerakannya amat cepat sehingga tiba-tiba lenyaplah dia dari pandangan mata ketiga orang pengeroyoknya.           Jerit yang terdengar beruntun tiga kali sekarang amat mengerikan karena itulah jerit kematian dari tiga orang pengeroyok itu.           Tahu-tahu mereka telah roboh berkelojotan dan tepat di ulu hati mereka tertancap pisau masing-masing, amat dalam sampai ke gagangnya dan ujung pisau tembus sedikit di punggung! Adapun The Sun sudan tak tampak lagi di tempat itu! Gegerlah dusun itu.           Orang-orang yang tadi menonton sambil sembunyi, sekarang keluar dari tempat persembunyian.           Na-mun tiga orang muda itu tak tertolong lagi, begitu pisau dicabut nyawa mereka ikut tercabut.           Tinggal kakek dan nenek keluarga Lee yang menangis meraung-raung.           Tampak juga orang-orang dusun, terutama yang wanita, menangis karena terharu, akan tetapi banyak orang laki-laki dusun itu diam-diam terfawa, bahkan wanita- wanita itu setelah pulang ke gu-buk masing-masing juga tertawa lega.           Sudah terlalu banyak penderitaan lahir batin mereka alami dari tiga orang pemuda Lee itu.           The Sun sudah kembali ke dalam rumah tua.           Hatinya berdebar cemas, dan dia kembali merasa heran kepada dirinya sendiri.           Kenapa dia cemas dan takut kalau-kalau wanita itu tidak berada lagi di situ? Kenapa dia khawatir kalau-kalau Kim Hoa membunuh diri? Bagaikan ter-bang dia tadi kembali ke tempat ini dan kedua kakinya gemetar ketika dia memasuki rumah tua.           Wajahnya seketika berseri ketika dia lihat Kim Hoa masih berada di siu, berdiri di sudut dengan mata selalu memandang ke luar, agaknya mengharapkan kembalinya.           Memang betul dugaannya+ karena begitu melihat dla muncul, Kim Hoa segera lari menghampiri.           "Bagaimana, In-kong?" The Sun tersenyum dan hendak menggodanya.           "Mereka dengan senang hati suka  menerimamu kembali, Nona, malah bersedia mengawinimu.           Kau akan menjadi nyonya muda                     9                      di sana, dihormati dan disegani di samping nyonya tua ibu mereka.          " Tiba-tiba nona itu menangis sesenggukan dan menutupi mukanya.           The Sun mengerutkan  keningnya, namun sepasang matanya bersinar-sinar dan bibirnya ter-senyum karena dia senang melihat bahwa dugaannya benar.           la sudah menduga bahwa gadis itu pasti tidak suka kembali ke sana, biarpun dikawin sah, dijadikan nyonya rumah, karena memang watak tiga orang laki-laki itu amat buruk.           "Nona, kenapa kau menangis? Bukanlah hal itu baik sekali?" Kim Hoa menggeleng-gelengkan kepala sambil menangis, sukar baginya mengeluarkan  suara karena menangis tersedu-sedu itu.           Akhirnya ia dapat menguasai tangisnya dan berkata, "Tidak, 'In-kong..           saya tidak sudi kembali kesana.           Mereka mau menerima saya dan mengawini saya hanya karena kaupaksa.           Kalau In-kong sudah pergi, tentu mereka akan melampiaskan kemendongkolan hati kepada saya, ha..           ngeri saya memikirkan hal itu.          " öNona, apakah kau tidak..           tidak cinta kepada mereka? Kepada seorang di antara mereka?" "Tidak! Tidak! Aku benci kepada me-reka semua!" Aku benci kepada yang muda-muda, juga  benci kepada yang tua! Mereka orang-orang jahat dan keji!" The Sun mengerutkan kening dan ragu-ragu untuk mengeluarkan pertanyaan ini, namun  dipaksanya, "Maaf, Nona.           Tapi..           tapi..           bukankah mereka..           seorang diantara mereka adalah..           ayah daripada anak dalam kandunganmu?" Tiba-tiba Kim Hoa menjatuhkar dirl di atas tanah dan menangis dengan sedih.           "Biarkan aku mati..           biarlah aku mati saja..           ya Tuhan, apa dosa hamba sehingga harus  menanggung derita dan hinaan seperti ini?" Nona itu roengeluh panjang dan pingsanl', The Sun berlutut, menggeleng-geleng kepala.           "Kasihan..          " Dengan hati-hati dia lalu  mengurut jalan darah di leher dan punggung.           Kembali dia merasa heran dan tak mengerti mengapa dadanya ber-debar begitu keras ketika ujung jari ta-ngannya menyentuh kulit leher di pung-gung.           Apa, yang aneh dalam diri nona inl sehingga seakan-akan mempunyai besi sembrani yang menariknya amat kuat? Kim Hoa siuman kembali, mula-mula, termenung memandang kosong, kemudian dia mengeluh panjang.           "In-kong, pertanyaanmu tadi..           bagaimana saya harus menjawab? Saya dipaksa, saya tak berdaya..           saya benci mereka, saya benci diri sendiri dan saya benci anak dalam kandungan ini .ö.           "Hushhh, jangan bicara demikian .           Anak itu tidak berdosa.          "                    10                      "Lebih baik aku bunuh diri, biarlah anak ini tidak sempat terlahir.          " öHushhh, tidak boleh.           Kau harus hidup, hidup bahagia, juga anak itu harus lahir dalam  rumah tangga bahagia.          " "Bagaimana..          ? Apa maksudmu, In-kong . ? The Sun tidak tersenyum lagi sekarang, wajahnya yang tampan nampak sungguh-sungguh,  matanya menatap tajam ketika dia membantu Kim Hoa duduk.           "Nona, aku The Sun seorang laki-laki sejati, sekali bicara tidak akan kutarik kembali.           Aku juga hidup sebatangkara.           Terus terang saja, melihat kau, hatiku timbul kasihan dan cinta.           Aku cinta ke-padamu dan kalau kau sudi menerima, aku bersedia menjadi suamimu dan men-jadi ayah daripada anak di kandunganmu.           Sekarang juga, jawablah, kalau kau mau akan kubawa ke Go-bi-san di mana kita hidup bahagia di tempat yang jauh dari-pada dunia ramai.           Kalau kau tidak mau, terpaksa aku harus meninggalkanmu dan kau boleh pilih apa yang baik untukmu, aku tidak berhak mencampuri lagi.          " Dapat dibayangkan betapa sukar ke-adaan Kim Hoa di saat itu.           la belum mengenal The Sun, dan ia sama sekali tidak tahu bahwa di dunia ini ada se-orang seperti ini, yang tampan, gagah perkasa dan aneh.           la tahu bahwa ia ha-rus dapat menjawab sekarang juga, tanpa ragu-ragu.           Terang bahwa pemuda ini berbeda dengan keluarga Lee, berbeda dengan pamannya, berbeda dengan ayah-nya dahulu.           Pemuda ini tampan dan memiliki kepandaian luar biasa.           Hidup di sampingnya berarti hidup tenteram dan aman, bebas daripada gangguan orang-orang jahat.           Sebaliknya kalau ia menolak, jalan satu-satunya hanya membunuh diri.           la ngeri kalau memikirkan ini.           "Bagaimana, Nona?" The Sun mendesak.           "Aduh, In-kong, bagaimana saya harus menjawab? Saya seorang wanita..           bagaimana..            ah..          " The Sun mengangguk senang.           Keadaan lahir nona ini sudah dia lihat, dan dia amat tertarik  dan suka akan kecantikannya.           Keadaan batinnya belum dia ketahui, akan tetapi melihat sikap gadis ini, dia dapat menduga bahwa Kim Hoa berperasaan halus dan bersusila tinggi.           Hanya karena nasibnya yang buruk, tidak mem-punyai andalan di dunia ini, maka dia terjerumus ke dalam jurang kesengsaraan seperti itu.           "Aku tahu betapa sukarnya bagimu untuk menjawab, Nona.           Sekarang jawab-lah dengan anggukan saja.           Kalau kau mengangguk,  berarti kau sudi menerima tawaranku untuk hidup berdua.           Kalau kau menggeleng kepala, aku akan pergi sekarang juga dan tidak akan mengganggumu lebih lama lagi.          "                    11                      Dengari air mata bercucuran saking terharu dan juga bahagia karena baru sekarang selama hidupnya ia mendapat-kan orang yang begini memperhatikan nasibnya, Kim Hoa menganggukkan kepalanya sampai berulang-ulang! The Sun tertawa bergelak, menubruk maju dan di lain saat Kim Hoa sudah dipondongnya dan dibawa lari ke luar rumah tua.           Kim Hoa kaget sekali, apalagi merasa betapa ia seperti dibawa terbang.           Ngeri hatinya.           Sedetik ia curiga.           Manusia atau bukankah pemuda ini? Bagaimana bisa terbang kalau manusia? Akan tetapi ia menyerahkan diri kepada orang ini, yang dekapannya begitu kokoh kuat, begitu sentosa.           la meramkan dan merasa aman, desir angin yang mengaung di kedua telinganya makin lama makin merdu seperti dendang yang meninabobokkannya.           * * * Setelah bertemu dengan Ciu Kim Hoa, The Sun benar-benar telah berubah seperti seorang manusia lain.           la merasa hidupnya tenteram dan penuh damai tidak bernafsu untuk merantau lagi.           Kakek gurunya, Hek Lojin yang sudah buntung lengan kirinya, menerimanya dengan gi-rang dan The Sun bersama Kim Hoa yang ia aku sebagai isterinya, selanjut-nya tinggal di puncak Go-bi-san ini bersama Hek Lojin.           Beberapa bulan kemudian Kim Hoa melahirkan seorang anak perempuan yang sehat dan mungil.           The Sun menerima kehadiran anak ini dengan gembira dan bahagia, menganggapnya anak sendiri.           Anak itu diberi nama Siu Bi dan diberi nama keturunan The.           Juga Hek Lojin amat sayang kepada bayi ini, sehingga dalam masa tuanya kakek itu pun me- rasai kebahagiaan.           Memang, kebahagiaan dapat dinikmati dalam hal apa pun juga, dalam soal-soal sederhana, asalkan orang dapat mengenalnya.           Yang paling bahagia adalah Kim Hoa.           la bahagia, juga amat terharu akan sikap suaminya yang benar-benar menganggap Siu Bi seperti anak keturunannya sendiri.           la amat kagum akan kebijaksanaan sua-mmya dan bagi Kim Hoa, manusia yang paling mulia di dunia adalah suaminya, The Sun! Memang ganjil dunia ini.           Banyak sekali orang menganggap The Sun sebagai seorang manusia jahat, keji, pendeknya bukan manusia baik-baik.           Akan tetapi coba tanya Kim Hoa, apakah ada manusia yang lebih mulia daripada The Sun terhadap dirinya? Kelihatannya saja ganjil dan aneh.           Keganjilan yang tidak aneh, atau keanehan yang tidak ganjil bagi yang mau memperhatikan.           Hidup manusia dikuasai seluruhnya oleh egoism (ke-akuan).           Tidaklah mengherankan apa-bila pandangan orang terhadap orang iain juga terbungkus sifat ke-akuan ini.           Orang lain yang menguntungkan dirinya, tentu dipandang sebagai orang baik, sebaliknya orang lain yang merugikan dirlnya, tentu , dipandang sebagai orang tidak baik.           Dalam hal ini, keuntungan atau kerugian diartikan luas dan mengenai lahir batin, Sifat ke akuan yang sudah menyelubungi seluruh kehidupan manusia ini sudah men-jadi satu dengan penghidupan sehdiri, sehingga sifat ini dianggap umum.           Siapa menyeleweng daripada sifat ini, dianggap tidak umum, malah dianggap tidak normal!                     12                      Inilah dunia dan manusianya, pang-gung sandiwara dengan manusia sebagai badut- badutnya.           Dengan The Sun sebagai ayah dan Hek Lojin sebagai kakek guru, tentu saja semenjak kecil Siu Bi digembleng dengan ilmu silat.           Hek Lojin malah mengajarnya dengan sungguh- sungguh, sedangkan ayah-nya, The Sun, adalah seorang ahli dalam ilmu surat.           Oleh karena itu, semenjak kecil Siu Bi menerima gemblengan ilmu surat dan ilmu silat, malah oleh ibunya dilatih dalam ilmu kewanitaan, memasak dan menyulam.           Biarpun anak ini hidup di puncak gunung, tidak pernah melihat kota besar kecuali dusun-dusun di sekitar pegunungan, namun ia menerima pen-didikan anak kota, tidak hanya pandai bermain pedang, berlatih ginkang, Iwee-kang dan memelihara sinkang di dalam tubuh, akan tetapi juga tidak asing akan tata cara dan sopan santun, pandai me-nulis sajak, tahu akan sejarah, pandai meniup suling dan dapat pula mengganti pedang dengan jarum halus untuk menyulam! Siu Bi menjadi seorang gadis cantik, secantik ibunya.           Kecintaan yang dilim-pahkan kepadanya oleh ayah ibu dan kakeknya, membuat ia menjadi seprang gadis manja dan nakal, segala keinginannya selalu dituruti dan karenanya tidak biasa menghadapi penolakan terhadap keinginannya.           Apa yang ia kehendaki harus dituruti dan dipenuhi! Dalam hal Umu silat, ia telah mewarisi kepandaian ayahnya, bahkan Hek Lojin tidak tanggung-tanggung menurunkan ilmun a yang paling hebat, yaitu ilmu tongkat yang diubah menjadi ilmu pedang untuk disesuaikan dengan gadis itu.           "Ilmu ini kuberi nama Ilmu Pedang Cui-beng-kiam-hoat (Ilmu Pedang Pengejar Roh), cucuku.           Jangankan orang lain, ayahmu sendiri tak pernah kuwarisi ilmu pedang yang tadinya adalah ilmu tongkat-ku ini.          " "Kong-kong, apakah ilmu pedang ini tidak ada tandingannya lagi di dunia ini? Ibu bilang bahwa ayah adalah seorang yang sakti, malah katanya di dunia ini jarang ada yang bisa melawan.           Kong-kong sebagai gurunya tentu merupakan jago utama di dunia ini, maka aku ingin kauberi ilmu yang nomor satu di dunia, agar jangan ada orang lain dapat mengalahkan akuö.           "Ha-ha-ha-ha-ha, kau cerdik, kau pintar'.          " Dengan tangan kanannya, kakek hitam itu mengelus-elus hidungnya.           "Mari kau datang ke kamarku, jangan ketahuan ayah ibumu dan aku akan menurunkan ilmu yang paling hebat ini kepadamu.          " Siu Bi yang sudah berusia enam belas tahun itu berjlngkrak kegirangan, lalu menggandeng tangan kanan kakeknya dan menyeret orang tua itu ke dalam kamar , Hek Lojin yang lebar dan gelap                    13                      "Nah, sekarang kau harus berlutut dan 3 bersumpah, baru aku akan menurunkan Cui-beng- kiam-hoat.          " "Bersumpah segala apa perlunya, Kong-kong7 Apa kau tidak rela menurunkan ilmu itu kepadaku?" Siu Bi mulai merengek manja.           "Hisss, anak bodoh.           Mempelajari ilmu ini ada syaratnya, dan kalau kau mau bersumpah untuk memenuhi syarat itu kelak, baru aku mau menurunkannya dan mati pun aku akan meram.          " Kakek itu menghela napas panjang.           "Lho, kau susah, Kek? Ada apakah? Bilang saja,cucumu akan dapat menolongmu.          " Siu Bi menyombong "Kaulihat lengan kiriku ini?" Kakek itu menggerakkan sisa lengan kirinya yang buntung  sebatas siku.           Tentu saja Siu Bi yang sudah melihatnya sejak kecil tidak merasa ngeri dan sudah biasa.           "Bukankah kau dulu bilang karena kecelakaan maka lenganmu buntung, Kek? Ataukah ada cerita lain?" Siu Bi memang cerdik sekali orangnya, jalan pikirannya cepat dan mungkin karena hidup di tem-pat sunyi dan dekat dengan seorang sakti aneh seperti Hek Loj|in, sedikit banyak wataknya juga terbawa aneh dan gadis ini tidak pernah memperlihatkan perasa-an terharu.           Perasaannya kuat dan tidak mudah terpengaruh.           "Memang karena kecelakaan, akan tetapi kecelakaan yang dibuat oleh orang lain.           Lengan kiriku buntung oleh seorang musuhku yang bernama Kwa Kun Hong dan berjuluk Pendekar Buta.          " "Buta? Dia buta..          ? Wah, mana bisa hal ini terjadi? Aku tidak percaya, Kek.           Kau bohong!" Hek Lojin menghela napas panjang.           Ucapan cucunya yang manja dan sudah biasa bersikap  kasar terhadapnya itu pada saat lain tentu akan membuat dia terkekeh geli, akan tetapi saat itu dia menerimanya seperti sebuah tusukan pada jantungnya.           Memang memalukan sekali.           Dia, tokoh besar Go-bi-san yang namanya sudah sejajar dengan tokoh-tokoh kelas satu di dunia persilatan, menjadi buntung lengan kirinya menghadapi seorang lawan yang buta, dan masih muda lagi! "Aku tidak bodoh, dan memang dia i buta kedua matanya, tapi amat lihai.          " "Bagaimana kau bisa kalah, Kek? Bukankah kau orang pandai di kolong .           langit?" "Pada waktu itu, delapan belas tahun yang lalu, aku belum menciptakan Cui-beng-kiam-                    14                      hoat, ilmuku ini masih me-rupakan ilmu tongkat yang liar.           Juga aku belum menciptakan Ilmu Pukulan Hek-in-kang yang juga hendak kuajarkan ke-padamu sebagai imbangan dari Cui-beng-kiam-hoat.          "  "Sekarang kau sudah memiliki dua ilmu itu, kenapa tidak mencari dia dan balas membuntungi lengannya?" Karena semenjak kecil berada di puncak Go-bi dan tidak pernah menyaksikan sepak terjang Hek Lojin terhadap orang lain, hanya sehari-hari menyaksikan sikap ka-kek itu terhadapnya amat baik dan men-cinta, tentu saja Siu Bi juga menganggap kakek ini orang yang amat mulia dan baik hatinya.           Kembali Hek Lojin menarik napas panjang, tampak berduka.           "Aku sudah ma-kin tua, usiaku sudah delapan puluh le-bih, sudah lemah, tenaga sudah hampir habis, mana mampu membalas dendam? Musuhku itu sekarang paling banyak se-tua ayahmu, malah lebih muda lagi, ma-sih sedang kuat-kuatnya.           Selain itu, dengan hanya sebuah lengan, mana aku dapat menang? Untuk melawan ilmu pedangnya, dengan pedang yang bersem-bunyi dalam tongkat, dan menghadapi ilmu pukulannya yang mengeluarkan uap putih, harus mainkan Cui-beng-kiam-hoat dan sekaligus tangan kiri mainkan Hek-in-kang.           Bagiku tiada harapan lagl, harus kutelan kekalahan dan penghinaan ini dan aku akan mati dengan mata terbelalak kalau tidak ada orang yang dapat membalaskan dendamku.          " "Hemmm, kalau begitu, kau mau me-nurunkan kedua ilmu itu kepadaku dengan syarat bahwa aku harus membalaskan dendammu terhadap Pendekar Buta itu, Kek?" Dengan lengan kanannya, Hek Lojin memeluk pundak cucunya.           "Siu Bi, kau benar-benar menggembirakan hatiku.           Kau cerdik, kau pintar, kau tahu akan isi hatiku.           Benar, cucuku, kau bersumpahlah bahwa kelak kau akan membalaskan hina-an atas diriku ini kepada Pendekar Buta, dan sekarang juga aku akan wariskan kedua Umu itu kepadamu.          " "Kong-kong, tanpa hadiah apa pun juga, sudah menjadi kewajibanku untuk membalaskan sakit hatimu' Terlalu sekali Pendekar Buta.           Sudah buta matanya, buta pula hatinya, menghina orang se-sukanya.           Lengan orang dibuntungi, hemmm, padahal kau seorang tua yang baik dan tidak berdosa, apa dikiranya dia seorang saja yang paling pandai di dunia ini? Jangan khawatir, Kek, aku bersumpah, kelak kalau ada kesempatan tentu aku akan membuntungi lengan kirinya, persis seperti yang telah dia lakukan kepadamu.          " "Orang hutang harus ada bunganya, Siu Bi.           Keenakan dia kalau hanya dibuntungi lengan kirinya seperti aku, harus ada tebusan bagi penderitaanku belasan tahun ini.           Tidak hanya dia, juga kalau dia mempunyai anak, anak-anaknya harus kau buntungi pula lengan kirinya.          " "Bapaknya jahat anaknya pun tentu jahat.           Baik, Kek, akan kutaati permintaanmu itu.          " Bukan main girangnya hati Hek Lojin dan semenjak hari itu dia menurunkan Ilmu Pukulan                     15                      Hek-in-kang yang kalau dimainkan dengan sempurna, dari tangan si pemain akan keluar uap kehitaman yang mengandung racun Tanpa ia sadari, gadis yang bersih itu dikotori oleh ilmu silat yang mengandung ilmu hitam, tidak ini saja, malah di hatinya telah ditanamkan bibit permusuhan yang hanya dapat dipuaskan dengan alir-an darah dan buntungnya lengan entah berapa orang banyaknya! Tidak mudah mewarisi dua macam ilmu itu.           Biarpun Siu Bi sudah mempunyai dasar yang kuat, namun untuk memahami dua buah ilmu itu ia harus berlatih sampai setahun lebih lamanya! Bukan main cepatnya kemajuan gadis Itu setelah ia mewarisi dua macam ilmu silat ini dari kakeknya.           The Sun sama sekali tidak tahu akan hal ini, karena kakek dan gadis itu tidak memberi tahu kepadanya.           Memang keduanya merahasia-kan hal ini dan The Sun sama sekali tidak mengira bahwa kakek itu telah menciptakan ilmu silat yang demikian hebat dan dahsyat.            Pada suatu senja, secara iseng-iseng ayah ini mengintai kamar anaknya, kare-na dia merasa heran mengapa sekarang sore-sore gadis itu sudah masuk ke ka-mar sehabis makan sore.           Alangkah heran-nya ketika dia melihat gadis itu berjungkir balik di atas tempat tidurnya, kepala di atas kasur dan kedua kaki lurus ke atas, kemudian kedua tangannya bergerak- gerak aneh.           Yang amat mengagetkan hatinya adalah cara gadis itu berlatih pernapasan, mengapa secara berjungkir seperti itu? Diam-diam dia merasa herran, akan tetapi dia tidak mau meng-ganggu, hanya mengintai terus sampai jauh malam.           Ketika menjelang tengah malam anaknya itu melompat keluar jendela secara diam-diam dan pergi ke pekarangan belakang.           The Sun mengikutinya dengan hati tidak enak.           la melihat anaknya itu mencabut pedang dan bersilat di bawah sinar bulan purnama.           Bukan main hebatnya.           The Sun melongo ketika menyaksikan betapa pe-dang itu bergulung- gulung mengeluarkan hawa dingin dengan sinar menghitam, kemudian dia makin kaget ketika tangan kiri anaknya itu diputar-putar dan di-gerakkan sedermkian rupa sehingga mengeluarkan uap berwarna hitam pula! Tiba-tiba muncul bayangan hitam yang dikenal oleh The Sun biarpun keadaan remang- remang, karena orang ini bukan lain adalah Hek Lojin.           Kakek itu keluar sambil tertawa bergelak, "Bagus, bagus! Kau malah lebih hebat daripada aku sepuluh tahun yang lalu.           Cucuku yang pintar, cucuku yang manis, kaulah yang akan membikin aku dapat mati meram.           Sekarang tinggal aku menagih janji, kau harus memermhi janji dan sumpahmu.          " "Di mana adanya Pendekar Buta itu, Kek?" "Ha-ha-ha, dia manusia sombong itu berdiam di puncak Liong-thouw-san.           Dia sebetulnya  putera ketua Hoa-san-pai.           Kaucari dia di Liong-thouw-san, kalau tidak ada susul ke Hoa- san-pai, buntungi lengannya dan lengan isterinya, juga lengan anak-anaknya.           Ha-ha-ha,                     16                      aku akan mati meram.          " Tiba-tiba The Sun melompat ke luar, bulu tengkuknya berdiri.           "Suhu (guru)! Siu Bi! Apa  artinya ini semua? Dari mana kau mendapatkan ilmu setan itu?" "Ayah, ilmu warisan Kong-kong bagai-mana kau berani menyebutnya ilmu setan?" The Sun makin tercengang, lalu memandang kakek itu yang diam saja.           "Suhu, benarkah  Suhu yang mewariskan kedua ilmu itu?" "Hemmm, betul, Ilmu Pedang Cui-beng-kiam-hoat adalah perubahan dari ilmu tongkat  hitamku dan Ilmu Pukulan Hek-in-kang itu adalah inti sari Iweekang yang kupelajari.           Kedua ilmu ini perlu untuk menghadapi kepandaian Kun Hong si manusia buta.          " "Suhu!!" The Sun berseru keras, kct mudian dia berpaling kepada Siu Bi sann-bil membentak keras.           "Hayo kau kembali ke kamarmu!" Bentakan ini ketus dan marah.           Siu Bi selama hidupnya belum pernah dibentak seperti ini oleh ayahnya, maka dia terisak menangis sambil berlari masuk ke kamarnya! Akan tetapi, gadis yang amat cerdik ini tentu saja tidak merasa puas kalau harus mehangis begitu saja.           la amat penasaran dan diam-diam ia mempergunakan ginkangnya yang tinggi untuk keluar lagi dari dalam kamarnya, berindap- indap mengintai dan mendengarkan percakapan antara kakeknya dan ayahnya.           Dan apa yang ia dengar malam itu baginya merupakan tusukan-tusukan pedang beracun yang berkesan hebat dan menggores dalam-dalam di kalbunya.           "Suhu," la mendengar ayahnya men-cela, "bagaimanakah Suhu mempunyai niat yang begitu berbahaya? Mengapa Siu Bi Suhu bawa-bawa, Suhu seret ke dalam gelombang permusuhan pribadi? Saya nnenyesal sekali, karena menurut pen-dapat teecu (murid), permusuhan dengan Pendekar Buta bukan merupakan per-musuhan pribadi, melainkan permusuhan karena negara.           Teecu tidak suka dia diseret ke dalam permusuhan Suhu itu, malah teecu mempunyai keinginan untuk menjodohkan dia dengan seorang di antara para ksatria dari Hoa-san-pai atau Thai-san-pai, agar keturunan teecu kelak menjadi orang-orang gagah perkasa yang terhormat dan membuat nama besar di dunia.          "  "Huh, The Sun.           Kau sekarang mau pura-pura menjadi orang alim? Apa kau tidak melihat lenganku yang buntung ini? Apakah sakit hati ini harus didiamkan saja'? Bukankah ini berarti merendahkan nama besar Go-bi-san? The Sun, mana kegagahanmu? Mana baktimu terhadap guru? Ah, dia lebih gagah dari padaniu, lebih setla dan berbakti!" "Suhu, terang bahwa Pendekar Buta bukan musuh teecu.           Andaikata teecu tidak akan yakin betul bahwa teecu takkan mampu menandinginya, tentu teecu sudah lama mencarinya untuk diajak bertanding.           Kalau memang Suhu begitu menaruh dendam kepadanya, mengapa tidak Suhu sendiri turun gunung, men-i carinya dan menantangnya? Masa gadis remaja                     17                      seperti dia disuruh turun gunung? Teecu tidak setuju dan tidak boleh!" Suara The Sun mengeras.            "Hemmm, kau murid durhaka Aku sudah begini tua, bagaimana dapat membalas dendam sendiri? Apa artinya punya murid? Apa artinya menurunkan kepandaian? Kau sendiri dulu kalau tidak lekas-lekas kubawa lari, apakah juga tidak akan mampus di tangan Pendekar Buta? Sekarang, Siu Bi suka membalaskan dendam, mengapa kau ribut-ribut? Kalau kau tidak becus membalas budi guru, biarlah dia yang pergi.           Kau tidak mau ya sudah, tapi dia mau, perlu apa kau ribut lagi?" "Tapi dia puteriku, Suhu.           Dia anak tunggal.. seorang gadis lagi..          " "Siapa bilang dia puterimu? Ha-ha-ha, dia bukan anakmu!" "Suhu..          !!!" "Ha-ha-ho-ho-ho, kaukira Hek Lojin sudah pikun dan bermata buta? Ha-ha-ha, The Sun,  tentu saja aku tahu.           Tapi aku tidak akan membuka mulut kepada siapapun juga, asal kau membiarkan dia membalaskan dendam terhadap Pendekar Buta.          " "Tidak! Tidak boleh..          ! Suhu, jangan suruh dia!" "Ha-ha-ha, dia sudah bersumpah, tak mungkin menjilat ludah sendiri, tak mung-kin  keturunan jago Go-bi mengingkari Janji.          " "Teecu akan melarangnya!" teriak The Sun, kemarahannya" memuncak.           "Aku akan memaksanya, mengingat-kan dia akan sumpahnya!" Hek Lojin bersikeras.           "Kau..           kau jahat..          !" The Sun lupa diri dan menerjang kakek itu.           Hek Lepn cepat  menangkis, akan tetapi karena dia sudah amat tua, sudah hampir sembilan puluh tahun usianya, tangkisannya kurang kuat dan gerakannya kurang cepat.           "Bukkk..           bukkk!" Dua kali dadanva terpukul oleh The Sun dan dia terguling roboh.           "Ayahhh..          !'!" Siu Bi meloncat dan berlari menghampiri.           Sebutan ayah tadi tercekik di tenggorokannya karena la teringat akan kata-kata Hek Lojin bahwa dia bukan anak The Sun! Akan tetapi pada saat itu ta tidak peduli dan menubruk Hek Lojin yang rebah terlentang.           Kakek itu terengah-engah, memandang kepada Siu Bi dengan mata mendelik, lalu..           nyawanya melayang napasnya putus.           la tewas dalam pelukan Siu Bi, akan tetapi matanya tetap mendelik memandang gadis itu.           "Kong-kong..          !" Siu Bi menangis dan memeluki kakek itu yang mencintanya semenjak ia                     18                      masih kecil.           Di dekat telinga kakek yang sudah mati itu la berbisik perlahan, "Aku akan balaskan dendammu, Kek..          " Bisikan campur isak ini tidak terdengar oleh The Sun yang berdiri seperti patung dengan muka pucat.           Akan tetapi anehnya, kedua mata yang mendelik dari kakek itu tiba-tiba kini tertutup rapat setelah Siu Bi berbisik.           Hal ini terlihat oleh Siu Bi, di bawah sinar bulan.           la terharu dan menangis lagi, menggerung-gerung.           The Sun menyesal bukan main, namun penyesalan yang sudah terlambat.           Betapapun juga, hatinya lega karena rahasia tentang Siu Bi yang entah bagaimana telah diketahul oleh Hek Lojin itu, se-karang tertutup rapat-rapat.           Sama sekali ;tidak menduga bahwa Siu Bi telah mendengarkan percakapan tadi! Baru The Sun tahu akan hal ini ketika pada malam hari setelah jenazah Hek Lojin dikubur, secara diam-diam Siu Bi telah minggat tanpa pamit, meninggalkan puncak Go-bi-san! Tentu saja hal ini membuat The Sun hancur hatinya dan lebih-lebih ibu Siu Bi amat berduka sehingga berkali-kali ia jatuh pingsan.           The Sun menghibur isterinya dengan janji bahwa mereka juga akan turun gunung setelah masa berkabung habis, untuk mencari anak mereka yang tercinta itu.           Suasana bahagia di puncak ini sekeuka berubah menjadi penuh kedukaan.           Siapa kira, kehidupan yang serba bahagia itu sekaligus hancur berantakan.           Menang begitulah keadaan hidup di dunia ini! * * * Kita tinggalkan dulu keluarga di puncak Go-bi-san yang sedang dicekam kedukaan itu dan  marilah klta menengok Pendekar Buta, orang yang menjadi sebab timbulnya peristiwa menyedihkan di puncak Go-bi-san.           Para pembaca cerita "Pendekar Buta" tentu tahu siapakah pendekar yang cacat ini, seorang tuna netra (buta) yang memiliki ilmu kepandai- an dahsyat sehingga orang sakti seperti Hek Lojin dapat dibuntungi lengan kirinya .           Pendekar Buta adalah putera dari ketua Hoa-san-pai yang sekarang sudah sangat tua dan disebut Kwa Lojin.           Adapun Pendekar Buta sendiri bernama Kwa Kun Hong.           Seperti telah diceritakan dalam cerita "Pendekar Buta" yang ramai, setelah selesai pertempuran dan perang saudara antara Pangeran Kian Bun Ti dan pamannya, Raja Muda Yung Lo di mana Pendekar Buta membela Raja Muda Yung Lo sehingga mencapai kemenangan, Pendekar Buta lalu menikah dengan Kwee Hui Kauw, seorang gadis perkasa puteri Kwee-taijin yang semenjak kecil diculik oleh Ching-toanio dan dididik ilmu silat di Ching-coa-to (Pulau Ular Hijau).           Setelah menikah, Kun Hong bersama isterinya mendiami puncak Liong-thouw-san, puncak gunung di mana dahulu dia menerima warisan ilmu dari seorang sakti bernama Bu Beng Cu, ditemani oleh seekor burung rajawali berbulu emas.           Yang ikut ke Liong-thouw-san bersama suami isteri ini adalah seorang anak laki-laki berusia enam tahun yang menjadi muridnya.           Siapakah anak laki-laki ini?                    19                      Dalam cerita "Pendekar Buta" sudah dituturkan dengan jelas bahwa anak laki-laki yang menjadi murid Kun Hong ini adalah Yo Wan atau biasa dipanggil A Wan.           Dia anak keluarga petani sederhana, ayahnya tewas disiksa kaki tangan tuan tanah di dusunnya, sedangkan ibunya mati membunuh diri setelah membiarkan dirinya diperkosa oleh The Sun dalam usahanya menolong keselamatan Kun Hong yang ketika itu terluka di dalam rumahnya.           Karena pertolongan yang mengorbankan kehormatan dan nyawa inilah maka Kun Hong merasa berhutang budi kepada ibu Yo Wan dan dia lalu membawa anak yatim piatu ini sebagai muridnya.           Yo Wan seorang anak yang amat cerdik.           Dengan tekun dia mempelajari semua ilmu yang diturunkan oleh Kun Hong kepadanya dan setiap hari anak ini tidak mau bersikap malas, Ia rajin sekali melayani segala keperluan gurunya dan ibu gurunya.           Mencari kayu bakar, mengambil air dari sungai, membersihkan pondok, malah kelebihan waktu dia pergunakan untuk menanam sayur-mayur dan memeliharanya, juga segala keperlu-an Kun Hong dan isterinya jika mem-butuhkan sesuatu ke bawah gunung, dia-lah yang turun dari puncak dan pergi ke dusun-dusun.           Pendeknya, Yo Wan amat rajin dan patuh sehingga tidaklah meng- herankan apabila Kun Hong dan isterinya Hui Kauw, amat mencinta anak itu.           Dua tahun setelah menikah, Hui Kauw mengandung.           Kun Hong yang amat mencinta isterinya, merasa khawatir.           Dia sendiri seorang buta, sungguhpun dia ahii dalam hal pengobatan, namun belum pernah dia menolong wanita melahirkan dan tidak pernah pula dia mempelajari dalam kitab pengobatan.           Tempat tinggal mereka di puncak Liong-thouw- san yang tersembunyi dan jauh dari tetangga.           Bagaimana kalau sudah tiba saatnya isterinya melahirkan? "Sebaiknya kita pindah saja ke Hoa-san, isteriku," kata Kun Hong setelah isterinya mengandung tiga bulan lamanya.           Hui Kauw mengerutkan alisnya yang kecil melengkung panjang dan hitam.           Di dalam hatinya ia merasa tidak setuju.           Ia cukup maklum bahayanya hidup berdekatan dan tinggal bersama sanak keluarga.           Mudah sekali terjadi bentrokan.           Gedung besar orang lain kadang-kadang merupa-kan neraka, sebaliknya gubuk kecil nilik sendiri adalah sorga, apalagi di dekatnya ada suami yang tercinta.           Namun, ia nak-lum pula bahwa suaminya mengusulkan hal ini karena mengingat akan kepenting-an dan keselamatannya.           "Suamiku, perlukah kita pindah sejauh itu? Kurasa, kalau sudah sampai saatnya kita bisa minta bantuan seorang nenek dari dusun di bawah.           la mencoba untuk membantah.           Kun Hong memegang tangannya, mesra.           "Hui Kauw, alangkah akan gelisah hati kita kalau saat itu tiba dan di sini tidak ada orang lain kecuali kau, aku+ A Wan dan seorang nenek pembantu.           Se-baliknya, hati kita akan besar dan te-nang, apalagi kau melahirkan di                     20                      tengah-tengah keluargaku, keluarga besar Hoa-san-pai, di mana terdapat banyak paman dan bibi yang berpengalaman, juga dekat dengan orang tua.           Selain itu, kita harus memikirkan juga pertumbuhan anak kita+ kelak.           Tentu kau tidak ingin anak kitas tumbuh besar di tempat sunyi seperti ini.          + Aku ingin anak kita hidup bahagia, gembira setiap hari dan disayang baoyak orang.          " Hui Kauw amat nnencinta suaminya, juga amat taat.           Oleh karena itu, ia tidak mau membantah.           Akan tetapi ketika teringat akan A Wan ia bertanya, öBagaimana dengan A Wan?" "Tentu saja dia ikut! Mana bisa ting-||ga(lkari dia di sini seorang diri?" Di dalam hatinya, Hui Kauw mengkhawatirkan keadaan murid itu.           la cukup mengenal watak  A Wan setelah anak itu tinggai di situ selama dua tahun.           Anak itu pendiam dan taat, akan tetapi mem-punyai watak yang amat halus.           Belum tentu anak itu akan merasai kebahagiaan di Hoa-san-pai, karena merasa bahwa dia menumpang pada gurunya, sekarang guru-nya sendiri akan menumpang di tempat orang lain.           "Apakah dia suka?ö tanyanya ragu-ragu.           "Ha-ha-ha, isteriku, kenapa tidak akan suka? Coba panggil dia ke sini.          " A Wan segera datang berlari ketika i mendengar suara guru dan ibu gurunya memanggil.            Anak ini biarpun usianya baru delapan tahun lebih, namun tubun-nya tegap dan kuat, berkat kerja setiap hari di sawah ladang.           la cekatan sekali, wajahnya lebar dan terang, matanya memiliki sinar mata yang sayu tapi kadang-kadang mengeluarkan sinar yang tajam.           Dengan amat horrnat anak ini roenghadap.           suhunya.           "A Wan, kau bersiaplah.           Kita akan pindah ke Hoa-san-pai, ke rumah kakek gurumu, ayahku yang menjadi ketua; A Hoa-san-pai," kata Kun Hong singkat.           Berubah wajah A Wan dan hal ini tidak terlepas dari pandangan mata Hui Kauw.           "Bagaimana, A Wan? Kenapa kau diam saja?" Sedih hati A Wan.           la merasa bahagia hidup di Liong-thouw-san.           la merasa bahwa tempat itu  adalah tempat tinggalnya dan dia amat sayang kepada tempat yang sunyi itu.           la merasa bahagia dapat melayani kedua orang itu yang dia ang-gap sebagai pengganti orang tuanya, ba-hagia dapat belajar ilmu silat dari orang yang sejak dahulu dia anggap sebagai bintang penolongnya.           Tapi sekarang, guru-nya mengajak dia pindah dan gurunya akan mondok di rumah orang laln!                    21                      "Suhu..           tempat ini..           siapa yang akan mengurusnya? Kalau kita semua pergi..           tempat ini tentu akan rusak.,." Suaranya agak gemetar Kun Hong menarik napas panjang.           la pun tahu bahwa biarpun usianya masih kecil, namun A Wan sudah mempunyai pandangan yang jauh dan penuh pengerti-an, maka tak boleh dia diperlakukan sebagai anak kecil.           ôA Wan, kau harus tahu bahwa ibu gurumu membutuhkan bantuan sanak keluarga kalau adikmu lahir.           Untuk sementara tempat ini kita tinggalkan, kelak kita tentu dapat datang menengok.          " Wajah A Wan berubah gembira.           "Suhu, kalau begitu, biarlah teecu (murid) tinggal di sini merawat tempat ini.           Kelak kalau Suhu dan Subo (Ibu Guru) kembali ke sini, tempat ini masih dalam keadaan baik.           Pula, tanpa adanya teecu yang mengganggu perjalanan, Suhu dan Subo akan dapat melakukan perjalanan yang lebih cepat.          " Anak yang berpemandangan jauh, pikir Kun Hong kagum.           Memang+ dengan adanya A Wan, mereka berdua takkan dapat mempergunakan ilmu lari cepat tanpa menggendong anak itu.           "Tapi, mungkin kami akan lama di sana, entah kapan dapat kembali kesini.          " katanya meragu.           "Setahun dua tahun bukan apa-apa, Suhu.           Teecu dapat menjaga diri sendiri dan merawat tempat ini.           Sayur-mayur cukup, sebagian dapat teecu tukar gandum dan beras dengan penduduk di bawah.           Kelak kalau Suhu dan Subo kembali membawa..           adik yang sudah berusia setahun lebih, wah, alangkah akan senang-nya..          !" Kun Hong adalah seorang yang suka mendengar kegagahan dan keberanian.           Sikap muridnya ini benar-benar mengagumkan hatinya bukan sikap seorang anak kecil yang cengeng merengek-rengek.           Biarlah dia digembleng oleh alam, me-rasakan hidup sendiri tanpa sandaran.           Biarlah dia belajar hidup sendiri, karena hal ini akan memupuk rasa percaya ke- pada diri sendiri.           Malah sebaliknya dia ingin melihat ketekunan muridnya itu, bagaimana nanti hasil latihan-latihannya selama dua tahun tanpa pengawasan.           Bagaimana, isteriku, apakah kau setuju dengan permintaan A Wan untuk tinggal di sini?" la mengerti betapa isterinya amat sayang pula kepada A Wan maka tak mau dia melewati isterinya.           "Kalau dia menghendakl demikian, kurasa baik kita setuju.           Pula, memang sayang kalau tempat kita ini menjadi rusak.           Kelak kita kembali ke sini dan tempat ini dalam keadaan baik.           Aku setuju.          " Di dalam hatinya, Hui Kauw amat kasihan kepada A Wan, akan tetapi nyonya muda ini beranggapan bahwa kalau A Wan masih ditinggal di situ, sudah pasti suaminya kelak akan kembali ke Liong-thouw-san.           Dan inilah yang ia inginkan!                    22                      Kun Hong tertawa.           "Baiklah, A Wan.           Kau tinggal di sini dan kau harus melatih diri dengan jurus-jurus yang sudah kuajarkan kepadamu.           Latihan samadhi juga harus kaulatih dengan tekun.           Aku ingin mendengar tentang kemajuanmu beberapa tahun kemudian.           Andaikata sudah lewat dua tahun aku tidak datang ke sini, dan kau merasa kangen, kau boleh sewaktu-waktu melakukan perjalanan ke Hoa-san-pai seorang diri menyusul kami.          " "Anak sekecil ini..          ?" Hui Kauw mencela, kaget.           Kun Hong tertawa, "Beberapa tahun lagi dia sudah berusia belasan tahun, dan biarpun masih  kecil, apa artinya melaku-kan perjalanan dari sini ke Hoa-san bagi seorang murid kita? Ha- ha-ha, kau tentu akan berani bukan?" "Tentu saja, Suhu! Subo, harap jangan khawatir.           Teecu dapat menjaga diri dan kalau teecu kangen dan Suhu berdua belum pulang, teecu akan menyusul ke Hoa-san!" Dernikianlah, setelah memilih hari baik, Kun Hong dan Hui Kauw meninggal-kan Liong- thouw-san menuju ke Hoa-san, meninggalkan Yo Wan yang mengan-tar guru dan ibu gurunya sampai ke kaki gunung.           Beberapa kali Hu! Kauw menoleh dan sepasang mata nyonya muda yang cantik ini berlinang air mata ketika dia melihat dari jauh tubuh Yo Wan masih berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar dengan kedua tangan di belakang, sesosok bayangan bocah yang biarpun masih kecil sudah membayangkan ke-teguhan hati yang luar biasa dan nyali yang besar.           Sefelah suhu dan subonya lenyap dari pandang matanya, barulah A Wan merasa sunyi dan kosong rongga dadanya.           Namun dia menekan perasaannya dan mendaki puncak Liong- thouw-san.           Dahulu, puncak ini tak mungkin dapat dinaiki orang, apalagi orang biasa atau seorang anak kecil seperti A Wan.           Akan tetapl, se-menjak Kun Hong dan isterinya ber- tempat tinggal di situ, suami isteri pen-dekar yang memiliki kesaktian ini telah membuat jalan menuju ke puncak.           Bukan jaian biasa melainkan jalan yang juga amat sukar karena harus melalui dua ^buah jurang lebar dan amat dalam yang mereka pasangi jembatan berupa dua buah tali besar dan kuat.           Untuk menyeberangi jembatan-jembatan istimewa di atas dua buah jurang lebar ini orang harus berjalan di atas dua utas tali ini tanpa pegangan! Hanya orang-orang yang memiliki ginkang dan nyali besar saja berani menyeberangi jembatan istimewa ini.           Kemudian, setelah mendekati puncak, untuk mencapai dataran puncak itu jalan satu-satunya hanya memanjat sebuah tangga terbuat daripada tali pula, tinggi-nya seratus kaki dan amat terjal.           Tentu saja memanjat tangga ini lebih mudah karena kedua tangan dapat berpegangan, akan tetapi juga membutuhkan nyali yang cukup besar di samping syaraf rnembaja.           Namun, bagi Yo Wan semua ini bukan apa-apa lagi, sudah terbiasa dia oleh jembatan-jembatan dan tangga ini.           Se-menjak berusia enam tahun dia sudah dapat mempergunakan alat-alat penyebesi+ rangan itu.           Biarpun baru berlatih silat dua tahun lamanya, namun berkat bimbingan dua orang yang                     23                      memiliki kepandaian tinggi, Yo Wan sudah memperoleh kemajuan lumayan.           G^rak-geriknya gesit, napasnya panjang, daya tahan tubuhnya luar biastf^ dan dia sudah kuat bersamadhi sampai setengah malam lamanya.           Hebat dan luar biasa bagi seorang anak laki-liaki yang belum sembilan tahun usianya! Yo Wan memang seorang anak yang berhati teguh dan memiliki ketekadan hati yang besar.           Memang tadinya dia merasa kesunyian, begitu dia tiba di pon-dok suhunya dan melihat betapa tempat itu kosong, sekosong hatinya, dia terduduk di atas bangku depan pondok dan termenung.           Ketika matanya terasa panas oleh desakan air mata, dia menggigit bibirnya dan menggeleng-gelengkan ke-pala, melawan perasaannya sendiri.           Oleh gerakan kepala ini, dua titik air mata yang tadinya menempel di bulu matanya, meluncur turun melalui pipi, terus ke ujung kanan kiri bibir.           la menyecapnya.           Rasa asin air matanya membuat dia sadar.           "Heh, kenapa menangis? Cengeng! Sejak dahulu kau sudah yatim piatu, kau si jaka lola (anak laki-laki yatim piatu), hidup di .           dunia seorang diri, mengapa bersedih hati ditinggal suhu dan subo? Ihhh, kalau subo melihatmu, kau tentu akan ditampar! A Wan tertawa kepada diri sendiri, tertawa bahagia karena ter-ingat dia betapa selama dia berada di sini, belum pernah dia dibentak Kun Hong atau ditampar Hui Kauw.           Kedua orang itu amat baik kepadanya.           Mereka orang-orang mulia, aku tidak boleh mengganggu mereka.           Harus ku-pelihara baik- baik tempat ini, kelak ka-lau mereka kembali, tempat irii telah bersih dan terjaga! Setelah berpikir de-mikian, anak ini bangkit dan lari ber-loncatan ke ladangnya, mukanya sudah jernih kembali dan dia tertawa-tawa melihat burung-burung kaget beterbangan oleh loncatannya itu.            Yo Wan selalu teringat akan nasihat suhunya.           la tekun berlatlh ilmu silat.           Karena gurunya lebih mementingkan da-sar ilmu silat, maka selama ini dia tidak banyak diajar ilmu pukulan, lebih di-utamakan pelajaran pernapasan, samadhi dan mengatur jalan darah untuk meng-himpun kemurnian hawa dalam tubuhnya.           Juga ilmu meringankan tubuh diajarkan lebih dulu oleh subonya, karena hal ini amat perlu baginya untuk naik turun puncak.           Sebelum turun gunung suhunya mengajarkan ilmu langkah yang terdiri daripada empat puluh satu langkah.           Lang-kah-langkah ini merupakan perubahan-perubahan dalam kuda- kuda dan jika di-latih terus-menerus, selain dapat mem-pertinggi kegesitan dan memperkokoh kedudukan, juga dapat memperkuat tu-buh, terutama kedua kaki.           Suhunya hanya memberi tahu 'batTwa"-langkah-langkah ini dapat dilatih terus-menerus sampai belasan tahun, makin terlatih makin baik dan kelak akan hebat kegunaannya.           Kun Hong hanya rnemberi tahu bahwa langkah-langkah ini diberi nama Si-cap-it Sin-po (Empat puluh $atu Langkah Sakti).           Tentu saja Yo Wan sama sekali tidak pernah mimpi bahwa langkah-langkah ini adalah langkah-langkah ajaib yang gerakan-gerakannya mencakup se- luruh inti sari daripada gerakan Umu silat, karena biarpun jurusnya hanya em-pat puluh                     24                      satu, akan tetapi kalau dijalankan dan susunan jurusnya diubah-ubah, merupakan gerak jurus yang tak terhitung banyaknya! Dua tahun sudah Yo Wan hidup se-orang diri di puncak Liong-thouw-san.           Tekun bekerja dan berlatih.           Setiap hari dia mengharap-harapkan kedatangan suhu dan subonya, namun pengharapannya sia-sia belaka.           Setelah lewat tiga tahun, belum juga kedua orang yang dikasihinya itu puiang.           Ingin dia menyusul ke Hoa-san karena sudah amat kangen, akan tetapi dia takut kalau-kalau kedua orang itu akan menganggapnya kurang setia menanti.           la menanti terus, empat tahun, lima tahun! Waktu berjalan amat pesatnya, tanpa dia rasakan, lima tahun sudah dia hidup menyendiri di tempat sunyi itu.           Dan kedua orang yang dinanti-nantinya belum juga pulang! "Sudah amat lama aku menunggu, kenapa mereka belum juga pulang?" Yo Wan termenung duduk dl atas bangku depan pondok.           Bukan bangku lima tahun yanR lalu.           Sudah ada lima kali dia mengganti bangku itu dengan bangku baru buatannya sendiri.           Sudah penuh tlang pondok itu dengan guratan-guratannya.           Setiap bulan purnama dia tentu meng-gurat di tiang.           Tadi dihitungnya guratan-guratannya itu, sudah lebih dari enam puluh gurat! "Besok aku menyusul ke Hoa-san," demikian dia mengambil keputusan ka-rena sudah tidak kuat menanggung rindu-nya lagi.           Malam itu sibuk dia menambal pakaianya yang robek- robek.           Selama lima tahun ini, dia dapat mencari ganti pakai-an ke dalam dusun di bawah gunung dengan jalan menukarkan hasil ladangnya yang berupa sayur-sayuran segar yang tak mungkin tumbuh di bawah puncak.           Dasar watak Yo Wan polos, jujur dan tidak murka, dia hanya memilih pakaian sekedarnya saja, bersahaja asal kuat.          ^ Yang membuat dia kesal menanti lebih lama lagi, sesungguhnya adalah kalau dia teringat akan pelajaran ilmu silatnya.            Enam puluh bulan lebih dia ditinggal gurunya, hanya ditinggali ilmu langkah yang sudah dia latih setiap hari sampai dia menjadi bosan.           Padahal dia bercita-cita untuk mempelajari ilmu silat tinggi dari suhunya, karena dia masih ingat betul akan musuh besarnya, musuh besar yang menyebabkan kematian ibunya yang tercinta, The Sun! Muka orang ini masih selalu terbayang di depan matanya, dan dia mendengar dari gurunya bahwa The Sun memiliki kepandaian yang amat ting-gi.           Sekarang dia hanya diberi pelajaran langkah-langkah yang aneh, bagaimana mungkin dia dapat membalas kematian ibunya pada musuh besar yang lihai itu kalau dia hanya pandai melangkah? la ingin menyusul untuk mohon diberi pela- jaran ilmu silat selanjutnya, untuk bekal mencari musuh besar yang telah me-nyebabkan kematian ibunya yang me-ngerikan itu.           Masih terbayang di depan matanya betapa ketika dia masih kecil, dia melihat ibunya menggantung diri, dengan susah payah dia tolong, akan tetapi ibunya tak tertolong lagi.           Masih bergema di telinganya akan pesan ibunya, agar supaya dia memenuhi dua buah permintaan ibunya, dua buah tugas yang selama hidupnya harus dia usahakan pe-laksanaannya, yaitu pertama membalas budi kebaikan Kwa Kun.                               25                      Hohg Pendekar Buta, kedua membalas dendam kepada The Sun (baca cerita Penddcar Buta)! Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Yo Wan sudah menutup pir -u de-pan pondok dan  berjalan ke luar hc aman.           Di punggungnya terdapat sebuah buntalan pakaian dan dia melangkah lebar aenuju ke jurang di mana terdapat tangga tali itu.           Sebelum melangkahkan kaki ke tang-ga, dia memandang sekeliling seakan-akan merasa kasihan kepada punca^ yang akart ditinggalkan.           Tiga batang pohon cemara di depan pondok itu kini sudah besar, dia yang menanam semenjak suhu dan subonya pergi.           Tadinya dia ingin sekali melihat suhu dan subonya memuji dan girang melihat tiga batang pohon yang indah itu, bahkan dia sudah mem-beri "nama" pada tiga batang pohon itu, nama suhunya, nama subonya dan namanya sendiri! Setelah menarik napas partjang, Yo Wan lalu melangkah dan menuruni tangga tali dengan kecepatan yang amat luar biasa, seakan-akan dia melorot saja tan-pa melangkah turun.           Setibanya di bawah, dia berlari-lari menuju ke jembatan per-tama yang melintas jurang lebar.           Tiba-tiba dia mendengar suara aneh sekali, suara mendesis-desis keras bercampur aduk dengan suara melengking tinggi.           Suara itu datangnya dari seberang jurang pertama.           Cepat dia lalu meloncat ke atas tambang dan berlari-lari menyebe-rang.           Melihat bocah tiga belas tahun ini menyeberang dan jalan di atas tambang, benar-benar membuat orang terheran-heran dan ngeri, jurang itu dalamnya tak dapat diukur lagi.           Tambang itu sama sekali tak bergerak ketika dia berlari di atasnya, dan hebatnya, anak ini berlari seenaknya saja, sama sekali tidak melihat bawah lagi seakan-akan kedua kaki-nya sudah terlalu hafal dan dapat meng-injak dengan tepat.           Setelah meloncat di atas tanah di seberang.           Yo Wan dapat melihat apa yang menimbulkan suara aneh itu.           Kira-nya dua orang laki-laki sedang bertempur dengan hebat dan aneh.           Seorang di an-taranya, yang berdesis-desis, adalah se-orang laki-laki yang tinggi kurus dan kulitnya hitam, rambutnya yang keriting itu terbungkus sorban kuning, telinganya pakai anting-anting hitam, juga kedua pergelangan tangan ketika bergerak dan keluar dari lengan baju yang lebar, tam-pak memakai sepasang gelang hitam.           Orang asing yang aneh sekali.           Usianya kurang lebih lima puluh tahun.           Tangan-nya memegang cambuk kecil panjang dan agakpya cambuk inilah yang menerbitkan suara mendesis-desis aneh itu ketika digerakkan berputar-putar di udara.           Di depan orang bersorban ini tampak seorang kakek tua sekali, kakek yang agak bongkok, yang kadang-kadang ter-kekeh dan kadang-kadang mengeluarkan suara melengking tinggl rendah meng-getarkan lembah dan jurang.           Kakek ini pun bergerak-gerak, tapi tidak bersenjata, melainkan tubuhnya yang bergerak-gerak dengan tangan menuding dan menampar ke depan.           Yo Wan berdiri bengong.           Biarpun dia murid seorang sakti seperti Kwa Kun Hong Si Pendekar Buta, namun selama hidupnya belum pernah dia menyaksikan orang bertanding.           Apalagi kalau yang bertempur itu dua orang tingkat tinggi yang mempergunakan cara bertempur                     26                      yang begini aneh, seperti dua orang ba-dut sedang berlagak di panggung saja.           la masih menduga-duga, apakah yang dilakukan oleh dua orang itu, karena biarpun dia menduga mereka sedang bertempur, namun dia maslh ragu-ragu.           Tiba-tiba pandang matanya kabur dan cepat dia , menutup telinganya yang terasa perih ketika lengking itu makin meninggi dan desis makin nyaring.           Matanya dibuka lebar, namim tetap saja dia tidak dapat mengikuti gerakan mereka yang kini menjadi makin cepat.           Beberapa menit kemudian, gerakan kedua orang aneh itu begitu cepatnya sehingga tubuh mereka lenyap dari pandangan mata Yo Wan yang hanya dapat melihat gulungan sinar yang berkelebatan.           Tiba-tiba sinar itu seperti pecah, gulungan sinar lenyap dan dia melihat dua orang itu rebah telentang, terpisah antarasepuluh roeter.           ½eduanya terengah-engah dan terdengar mereka merintih perlahan.           "Bhewakala, kau hebat..          " Kakek tua itu berseru sambil terkekeh ketawa di antara rintihannya.           "Sin-eng-cu (Garuda Sakti), kau tua-tua merica, makin tua makin kuat..          " terdengar orang asing bersorban itu pun memuji dengan suara terengah-engah dan nada suaranya kaku dan lucu.           Melihat ke dua orang itu tak dapat bangun kembali, Yo Wan mengerti bahwa keduanya terluka.           la cepat berlari meng-hampiri, keluar dari tempat persembunyi-annya karena tadi dia menginta+ dari , balik batu gunung yang besar.           Tentu saja dia mengenal kakek itu.           Sin-eng-cu Lui Bok, paman guru dari suhunya, yang dulu membawanya ke puncak Liong-thouw-san (baca Pendekar Buta) dan yang kemudian pergi merantau membawa kim-tiauw (rajawali emas) bersamanya.           "Susiok-couw..           (Kikek Paman Guru)!" serunya sambil meloncat mendekati.           Akan tetapi Sin- eng-cu Lui Bok sudah tak bergerak-gerak lagi, malah napasnya sudah empas empis, tinggal satu-satu.           Yo Wan kaget dan bingung, diguncang-guncangnya tubuh kakek itu, namun tetap tak dapat menyadarkannya.           langkah kagetnya ketika dia mengguncang-guncang ini, dia melihat muka kakek itu agak biru dan tubuh bagian depan, dari leher sampai ke perut, terluka dengan guratan memanjang yang menghancurkan pakaiannya.           Selagi dia dalam bingung sekali, dia mendengar di belakangnya suara orang mengaduh-aduh.           Cepat dia bangkit dan membalik.           Dilihatnya orang itu pun mengerang kesakitan.           Suaranya begitu mendatangkan iba, maka tanpa ragu-ragu lagi Yo Wan lalu menghampirinya, dan berlutut di dekatnya.           Orang itu muka hitam, matanya lebar, dilihat dari jauh tadi amat menakutkan, aka" tetapi setelah dekat, sepasang mata yang agak biru itu ternyata mengandung sinar yang menyenangkan.           Tanpa diminta, Yo Wan lalu membantu orang itu bangkit dan duduk.           Terpaksa dia merangkul pundak orang asing ini karena begitu dilepaskan segera akan terguling kembali, begitu lemas dia.           Orang asing itu mengedip-ngedipkan matanya, melirik ke arah tu-buh Sin-eng-cu, lalu memandang kepada Yo Wan.                              27                      "Dia susiok-couwmu? 3adi kau ini murid Kwa Kun Hong Si Pendekar Buta?" Suaranya amat lemah, napasnya terengah-engah, agak sukar bagi Yo Wan untuk dapat menangkap arti kata-kata yang kaku dan asing itu.           Namun dia seorang bocah yang cerdik, maka dapat dia me-rangka! kata-kata itu menjadi kalimat yang berarti.           Yo Wan mengangguk, dan menjawab lantang, "Betul Locianpwe (Orang Tua Gagah).           Mengapa Locianpwe bertempur dengan susiok-couw? Dia terluka hebat, apakah Locianpwe terluka?"  Sejenak orang asing itu memandang tajam.           Yo Wan merasa betapa sinar ma-ta dari mata yang kebiruan itu seakan-akan menembus jantungnya dan men-jenguk isi hatinya.           Kemudian suara orang' itu terdengar makin kaku dan agak keras, "Kau murid Kwa Kun Hong? KaU.           melihat kami bertempur? Mengapa kau sekarang menolongku? Mengapa kau tidak segera menolong susiok-couwmu yang' pingsan itu?" Diberondongi pertanyaan-pertahyaan ini, Yo Wan tidak menjadi gugup, karena memang dia tidak mempunyai maksud hati yang bukan-bukan.           Semua yang dia lakukan adalah suatu kewajaran, tidak dibuat-buat dan tidak mengandung mak-sud sesuatu kecuali menolong.           Maka te-nang saja dia menjawab, "Sudah saya lihat keadaan susiok-couw, dia terluka dari leher ke perut, dia tidak bergerak lagi, saya tidak tahu bagaimana saya harus menolongnya.           Karena Locianpwe saya lihat dapat bergerak dan bicara, maka saya membantu Locianpwe sehingga nanti Locianpwe dapat mernbantu saya, untuk menolbtig susiok-couw.          " Sepasang mata itu masih menyorotkatt sinar bengis.           "Kau tadi melihat kami bertempur?" Yo Wan mengangguk, tangannya masih merangkul pundak orang asing itu dari belakang, menjaganya agar jangan roboh terlentang.           "Jadi kau tahu bahwa aku adalah musuh susiok-couwmu, musuh gurumu?" Yo Wan menggeleng kepala, pandang matanya penuh kejujuran.           "Kalau kami saling serang, tentu ber-arti kami saling bermusuhan.           Kenapa kau tidak  membantu susiok-couwmu, malah menolong aku? Hayo jawab, apa maksud-mu? Aku musuh susiok-couwmu, aku da-tang untuk memusuhi gurumu.           Nah, kau mau apa?" Yo Wan mengerutkan kening.           Orang asing ini kasar sekali, akan tetapi mung-kin kekasarannya itu karena bahasanya yang kaku.           "Locianpwe, saya tidak tahu urusannya, bagaimana saya berani turut campur? Suhu selalu berpesan agar supaya saya menjauhkan diri daripada per-musuhan-permusuhan, agar supaya saya jangan lancang mencampuri urusan orang lain, dan agar saya selalu siap menolong siapa saja yang patut ditolong, tanpa memandang bulu, tanpa pamrih untuk' mendapat jasa.           Saya lihat susiok-couw tak bergerak lagi, dan saya tidak tahu bagaimana harus menolongnya, maka saya segera membantu                     28                      Locianpwe.          " Sinar mata yang mengeras sekarang menjadi lunak kembali.           Kumis di atas bibir itu  bergerak-gerak.           "Wah, suhu-mu hebat! Kau patut menjadi muridnya.           Mana dia suhumu? Mengapa sampai se-karang dia belum muncul?" "Suhu tidak berada di sini, Locianpwe.           Sudah Uma tahun suhu pergi dari sini, ke Hoa-san.           Yang berada di sini hanya saya seorang diri.          " Mata yang kebiruan itu melotot, wa-jah itu berubah agak pucat.           "Celaka benar..          ! Heee, Sin-eng-cu, celakai Kwa Kun Hong tidak berada di sini!!" Yo Wan menoleh dan melihat susiok-couwnya bergerak-gerak hendak bangkit, namun sukar sekali dan mengeluh pan-jang.           "Maaf, Locianpwe, saya harus menolongnya.          " Orang asing itu mengangguk dan se-karang dia sudah bersila, kuat duduk sen-diri.           Yo Wan melepaskan rangkulannya dan tergesa-gesa menghampiri Sin-eng-cu Lui Bok, cepat merangkul dan membangunkannya.           Napas kakek ini terengah-engah dan dia terkekeh senang melihat Yo Wan.           "Wah, kau kan bocah yang dulu itu? 'Kau masih di swi?, Siapa namamu, aku kipa lagi.          " "Teecu (murid) Yo Wan , Susiok-couw..          " "Ha-ha-ha, kau terus menjadi murid Kun Hong? Selama tujuh tahun ini?" "Sin-eng-cu, kita  akan mampus di sini.           Pendekar Buta ternyata tidak berada di sini lagi.          " Sin-eng-cu Lui Bok menggerakkan alisnya yang sudah putih.           "Apa??" la memandang Yo Wan.            "Mana gurumu?" "Susiok-couw, suhu dan subo telah pergi semenjak lima tahun yang lalu, pergi ke Hoa-san  meninggalkan teecu seorang diri di sini.           Tadi teecu sedang turun dari puncak untuk menyusul karena sudah terlalu lama suhu dan subo pergi.          " "Lima tahun? Wah-wah, guru macam apa dia itu? Eh, Yo Wan, jadi kau menjadi muridnya hanya untuk dua tahun saja? Ha-ha-ha, kutanggung kau belum becus apa-apa.           Murid Pendekar Buta yang sudah belajar tujuh tahur belum becus apa-apa.           Ha-ha-ha, bukar main" Orang asing itu mencela dan mengejek.           Namun Sin-eng-cu tidak mempedulikannya.           "Yo Wan, apakah suhumu pernah mengajar ilmu pengobatan kepadamu Selama dua tahun itu?"                    29                      Yo Wan menggeleng kepalanya dan lagi-lagi orang asing itu yang mengeluar-kan suara mengejek, "Sin-eng-cu, kau sudah terlalu tua, maka menjadi pikun.           Lima tahun yang lalu anak ini paling-paling baru berusia delapan tahun.           Dari usia enam sampai delapan tahun, mana bisa belajar ilmu pengobatan? He, tua bangka, umurmu hampir dua kali umurku.           Apakah kau takut mampus? Tak usah takut, ada aku yang akan mehemanimu ke alam halus" Akan tetapi Sin-eng-cu sudah bersila dan diam saja, kakek ini sudah bersama-dhi untuk menyalurkan hawa sakti di dalam tubuh, mengobati lukanya.           Dalam hal ini Yo Wan mengerti maka :ia pun lalu mundur dan membiarkan kakek itu tanpa berani menanggungnya.           Ketika dia menoleh, orang asing yang tadinya bicara sambil bergurau itu pun sudah meramkan mata bersamadhi.           Yo Wan pernah mendengar keterangan Suhunya bahwa dengan hawa murni dalam tubuh yang sudah terlatih dengan samadhi, orang tidak hanya dapat memperkuat itubuh, namun juga dapat mencegah atau mengobati luka-luka sebelah dalam, maka dia maklum bahwa dua orang aneh ini sedang mengobati luka masing-masing, maka dia pun lalu duduk bersila, me-nanti dengan sabar.           Para pembaca cerita "Pendekar Buta" ! tentu mengenal dua orang ini.           Dua orang tokoh besar yang sakti.           Sin-eng-cu Lui Bok adalah seorang aneh yang suka merantau, dia adalah sute (adik seperguruan) Idari Bu Beng Cu, mendiang guru Kwa .          Kun Hong.           Tujuh tahun yang lalu dia Ifneninggalkan puncak Liong-thouw-san ini, pergi merantau dengan burung rajawali emas menuju ke utara.           Kakek aneh ini merantau ke bagian paling utara dari dunia, menjelajah daerah-daerah salju dan di tempat itulah burung rajawali emas yang sudah amat tua itu menemui kematiannya, tidak kuat menahan serangan salju yang dingin sekali.           Ketika kakek ini kembali ke Liong-thouw-san, di tempat ini dia berjumpa dengan Bhewakala.           Orang asing ini ada-lah seorang pendeta yang sakti pula, tokoh dari barat, seorang pertapa di puncak Anapurna di Pegunungan Hima-laya.           Dia adalah seorang pendeta ber-bangsa Nepal yang banyak rneiakukan perantauan di Tiongkok.           Tujuh tahun yang lalu pernah dia bertanding dengan Kwa Kun Hong dan dikalahkan.           Akan tetapi karena melihat sifat-sifat baik dari pendeta ini, Kun Hong tidak mem-bunuhnya dan Bhewakala yang amat ka-gum terhadap Kun Hong ini berjarus akan belajar lagi dan kelak mencari Kun Hong untuk diajak mengadu ilmu.           Keduanya adalah orang-orang sakti yang berwatak aneh.           Begitu bertemu, mereka tidak mau saling mengalah dan keduanya setuju untuk mengadu ilmu disitu.           Mereka adalah orang- orang yang selain sakti, juga mempunyai pribadi yang baik.           Tentu saja mereka tidak ber- maksud mengadu ilmu dengan taruhan nyawa.           Akan tetapi setelah bertempur dengan hebat dari tengah malam sampai pagi, belum juga ada yang kalah atau menang.           Akhirnya mereka setuju untuk mengeluarkan senjata dan menggunakan pukulan-pukulan yang dapat mendatang-kan luka hebat.                              30                      "Takut apa dengan luka hebat?" kata Bhewakala ketika Sin-eng-cu menolak.           "Bukankah PendekarButa berada di sini? Kalau seorang di antara kita terluka, dia pasti akan dapat menyembuhkan.          " Memang, di samping kepandaiannya yang amat tinggi, Kwa Kun Hong Si Pendekar Buta juga amat terkenal akan kepandai-annya mengobati.           Dengan jaminan inilah Sin-eng-cu menerima tantangan Bhewa-kala dan bertempurlah mereka dengan lebih hebat lagi karena kini Bhewakala menggunakan cambuknya yang beracun sedangkan Sin-eng-cu mempergukan pu-kulan-pukulan maut.           Dan seperti telah diketahui akibatnya, Sin-eng-cu terluka oleh cambuk sebaliknya Bhewakala juga terkena pukulan yang mendatangkan luka dalam hebat sekali.           Keduanya "ebah, namun tidak putus asa karena rnereka yakin bahwa Kun Hong akan dapat neng-obatr mereka.           Dan mereka meraso lega di samping penasaran, bahwa keadaan mereka tetap seimbang, tiada yang kalah tiada yang menang! Siapa sangka, Kun Hong tidak berada di situ! Hal ini berarti bahwa mereka akan mati, karena masing-masing cukup maklurn bahwa luka yang diabitatkan oleh pukulan masing-masing itu tak mungkin dapat diobati kalau tidak oleh Kuri Hong yang memiliki kepandaian luar biasa dalam hal pengobatan.           Maka, seperti telah diberi komando, keduanya lalu cepat-cepat mengerahkan sinkang di tubuhnya untuk menjaga agar luka itu ti-dak menjalar lebih hebat, setidaknya mereka dapat memperpanjang nyawa untuk tinggal lebih lama di dalam tubuh yang sudah terluka berat di sebelah dalam.           Kesabaran Yo Wan mendapat ujian pada saat itu.           Sudah tiga jam lebih dia bersila di situ menanti.           Tiba-tiba awan tebal menyelimuti tempat itu, menjadi halimun yang amat dingin.           Pakaian Yo Wan basah semua, juga pakaian dan tu-buh dua orang aneh itu.           Namun, Bhewa- kala dan Sin-eng-cu tetap duduk bersila seperti patung, tidak bergerak-gerak.           Berkali-kali Yo Wan merasa khawatir, jangan-jangan dua orahg itu sudah men-jadi mayat, pikirnya.           Akan tetapi tiap kali dia menjamah tubuh mereka masih hangat, malah sekarang wajah mereka tidak segelap tadi.           Setelah lewat enam jam, matahari sudah naik tinggi dan halimun sudah terusir habis, dua orang itu membuka mata dan menarik napas panjang.           Malah keduanya saling pandang.           "Bagaimana, Sin-eng-cu?" Bhewakala bertanya sambil tertawa lebar.           "Hebat pukulan cambukmu, Bhewa-kala.           Racun dapat kuhalau atau setidak-nya kucegah  untuk menjalar, akan tetapi-pukulanmu merusak pusat.           Karena Kun Hong tidak berada di sini, tamatlah su-dah riwayatku sebagai seorang ahli silat.           Tiap kali aku mengerahkan Iweekang untuk mengeluarkan tenaga, pusarku ter-pukul dan kalau kupaksa, tentu aku akan mampus.           Kau hebat! Dan bagaimana denganmu?" Bhewakala menggelehg kepala.           "Kau pun luar biasa.           Pukulanmu meremukkan tulang iga.           Hal ini masih tidak mengapa, akan tetapi menggetarkan pusat pengen-dalikan tenaga Kundalini.                               31                      Karena itu, tenagaku musnah dan mungkin akan da-pat kembali sesudah minum obat dan berlatih sedikitnya sepuluh tahun! Hemmm, apa artinya bagi seorang seperti aku?" Kini keduanya merasa menyesal, na-mun sudah terlambat.           Ketika rnereka menoleh dan melihat bahwa Yo Wan nnasih bersila tak jauh dari sltu, mereka tercengang.           "Kau masih berada di sini?" Sin-eng-cu bertanya kaget.           Yo Wan mengangguk dan menghampiri kakek itu.           "Ha-ha-ha, Sin-eng-cu, bocah ini hebatl Sayang bakat dan sifat begini baik tidak dipupuk oleh Pendekar Buta.           Ha-ha-ha, Pendekar Buta, kali ini benar-benar kau telah buta, menyia-nyiakan anak orang begini rupa.           Sin-eng- cu, kau jrnenjadi saksi, selama hidup aku tidak suka menerima murid, akan tetapi kali ani aku ingin sekali meninggalkan kepan-tdaianku kepada anak mi sebelum akin 'mampus.          "  Sin-eng-cu mengangguk-anggukkan kepalanya.           "Yo Wan, lekas kau berlutut menghaturkan terima kasih kepada Bhe-wakala Locianpwe, untungmu baik sekali.          " Yo Wan cepat berlutut di depan Bhe-wakala sambil berkata, suaranya nyaring dan tetap, "Saya menghaturkan banyak terima kasih atas maksud hati yang mu-lia dan kasih sayang Locianpwe kepada saya, akan tetapi saya tidak berani nrie-nerima menjadi murid Locianpwe, karena saya adalah murid suhu.           Bagaimana saya berani mengangkat guru lain tanpa perkenan suhu?" "Yo Wan, hal itu tidak apa-apa, adaJ taku di sini yang menjadi saksi!" kata Sin-eng-cu Lui Bok.           "Ha-ha-ha, anak baik, anak baik.           ini namanya ingat budi dan setia, teguh seperti gunung karang, tidak murkei dan tamak! Eh, Yo Wan, siapakah orang tuamu?" Yo Wan menggigit bibir, mafanya di-meramkan untuk menahan keluarnya dua butir air mata.           Pertanyaan yang tiba-tiba dan merupakan ujung pedang yang tnenusuk ulu hatinya.           Sampai lama dia tidak tnenjawab, kemudian dia membuka mata dan berkata periahan, "Saya yatim piatu, Locianpwe." Kedua orang tua ittl saling pandang, diam tak bersuara.           Mereka itu sudah kenyang akan pengalaman pahit getir, perasaan mereka sudah kebal.           Namun, membayangkan seorang bocah yang tinggal seorang diri di tempat sunyi itu+ bergulang-gulung dengan mega, tak ber-ayah ibu pula, benar-benar mereka nne-rasa kasihan "Yo Wan, aku pun tldak bermaksud mengambil murid kepadamu, hanya mgin meninggalkan atau mewariskan kepandai-anku saja.           Gurumu tentu takkan rnarah.          " "Mohon maaf sebesarnya, Locianpwe, Saya cukup maklum bahwa Locianpwe memiliki ilmu kepandaian yang hebat sekali dan hanya Tuhan yang tahu betapa ingin hati saya                     32                      memilikinya.           Akan tetapi, tanpa perkenan suhu, bagaimana saya berani menerimanya? Suhu adalah tuan penolong saya dan mendiang ibu saya, suhu adalah pengganti orang tua saya, harap Locianpwe maklum..          " suara Yo Wan tergetar saking terharu, dan kini tak dapat tertahan lagi olehnya, dua butir air matanya tergantung pada bulu matanya.           Namun cepat dia menggunakan punggung kepalan tangannya mengusap air mata itu.           Tiba-tiba Sin-eng-cu tertawa bergelak dan suaranya terdengar gembira sekali ketika dia berkata, "He! Bhewakala pen-deta koplok (goblok)! Dia seorang bocah yang tahu akan setia dan bakti, mana bisa dibandingkan dengan kau yang biar-pun bertapa puluhan tahun dan belajar segala macam filsafat, kekenyangan pengetahuan lahirnya saja tanpa berhasil menyelami dan melaksanakan isinya sedikit pun juga? Lebih baik kita lanjutkan adu ilmu.           Ingat, aku tua bangka belum kalah!" "Huh, tua bangka tak tahu diri.           Kau-kira aku pun sudah kalah? Hayo kita pergunakan tenaga terakhir untuk men-cari penentuan!" Bhewakala bangki ber-diri dengan susah payah, tapi berdirinya tidak tegak, punggungnya tiba-tiba men-jadi bongkok dan dia pringisan, menahan sakit.           juga Sin-eng-cu tertatih-tatih bang-kit berdiri, namun dia juga tidak bisa berdiri tegak, kedua kakinya meriggigij seakan-akan tubuh atasnya terlalu berat bagi tubuh bawahnya.           Yo Wan bingung dan gugup sekali.           "Susiok-couw.. Locianpwe.. ji-wi (Kalian) sudah terluka hebat, bagaimana mau bertempur lagi? Harap suka saling mengalah, harap sudahi pertempuran ini..          !" Yo Wan berdiri di antara mereka berdua dengan sikap melerai.           "Ha-ha-ha, cucuku.           Orang-orang ma-cam kami berdua ini hanya nafsunya saja besar tapi tenaganya kurang, malah su-dah habis tenaganya! Jangan khawatir, kami tak mungkin dapat bertempur lagi, akan tetapi kami belum dapat menentu-kan siapa lebih unggul.           He, Bhewakala, apa kau siap melanjutkan adu ilmu?" "Boleh!" jawab Bhewakala dengan suara digagah-gagahkan.           "Kalau belum ada yang kalah menang, tentu penasaran dan kelak kalau sama-sama ke alam baka, tak mungkin dapat melanjutkan pertandingan.          "  "Bagus, kau laki-laki sejati, seperti juga aku! Sekarang kita lanjutkan!" "Majulah kalau kau masih kuat Wte++ langkah!" tantang Bhewakala.           "Ho-ho-ho, sombongnya si pehdeta koplok! Apa kaukira aku tidak tahu bah-wa kau pun  tidak sanggup maju selang-kah pun? Ha-ha-ha, tertiup angin pun kau akan roboh.           Kita melanjutkan ilmu, bukan kepalan.           Ada Yo Wan di sini, apa gunanya?" Bhewakala tersenyum lebar, matanya yang besar itu berkedip-kedlp.           "Ha-ha-ha, kau benar, tua bangkotan.           Ada Yo Wan, biarlah anak ini yang menjadi alat pengukur tingginya ilmu.          "                    33                      "Yo Wan, cucuku! Kau benar sekali, jangan sudi menjadi murid pendeta ko-plok ini! Kalau kau tadi mau menerima-nya, aku yang tidak sudi, tidak mem-perbolehkan.           Tapi kau tentu mau menjadi alat kami untuk mengukur kepandaian, bukan? Kau harus menolong kami, kalau tidak, kami berdua takkan dapat mati meram.          " Yo Wan cepat berlutut di depan kakek itu.           "Susiok-couw, tak usah diperin-tah, teecu fentu bersedia menolong 7i-wi.           Katakanlah, apa yang harus teecy lakukan?" Selagi Yo Wan berlutut itu, Sin-eng-cu bertukar pandang dengan Bhewakala dan saling membe.          ri- isyarat dengan kedip-an mata.           "Yo Wan, lebih dulu bawa kami ke puncak.           Sanggupkah kau?" "Akan teecu coba.          " Ia menghampiri Sin-eng-cu dan berkata, "Maaf, teecu akan menggendong Susiok-couw.          " Anak ini membungkuk di depan Sin-eng-cu, membelakanginya.           Sin-eng-cu tidak sungkan-sungkan pula lalu menggemblok di punggung Yo Wan yang menggendongnya dan anak ini sendiri merasa heran, pada-hal tadinya dia meragu apakah dia akan kuat menggendong kakek itu.           la terkejut dan diam- diam merasa girang sekali ser-ta memuji kehebatan Susiok-couw ini, karena dia merasa yakin bahwa kakeknya ini tentu mempergunakan ginkang tingkat tinggi sehingga dapat membuat tubuhnya menjadi demikian ringannya! Dengan langkah lebar dan gerakan cepat dia lalu menyeberangi jurang melalui dua tam-bang, kemudian dia memanjat tangga tali itu ke atas puncak.            "Harap Susiok-couw beristirahat di sini lebih dulu, teecu akan menggendong Bhewakala Locianpwe ke sini.          " "Yo Wan, apakah suhumu pernah me-ngajar Kim-tiauw-kun (Ilmu Silat Raja-wali Emas) kepadamu?" tiba-tiba kakek itu bertanya kepada anak yang sudah akan lari keluar kembali dari dalam pon-dok itu.           Yo Wan berhenti, membalikkan òtubuh dan menjawab dengan sinar mata tidak mengerti dan kepala digelengkan.           Pertanyaan itu tak ada artinya bagi diri-nya, akan tetapi mengingatkan dia akan burung rajawali emas yang dahulu pergi bersama kakek ini, maka dia cepat bertanya, "Susiok-couw, mengapakah kim-tiauw (rajawali emas) tidak ikut pulang ber-sama Susiok- couw?" "la sudah terlalu tua dan tidak kuat menghadapi hujan salju di utara, dia telah mati dan kukubur dalam tumpukan salju.          " Yo Wan merasa menyesal sekaii se-hingga untuk semenit dia diam saja ter-menung.           Kemudian dla teringat akan tugasnya.           "Teecu pergi dulu, hendak men-jemput Bhewakala Locianpwe.          "                    34                      "Pergilah, tetapi kau harus waspada, siapa tahu pendeta Nepal itu di tengah jalan mencekik dan membunuhmu, ha-ha-ha!" Yo Wah terkejut, akan tetapi hanya sejenak saja dia terpaku dan ragu-ragu, kemudian kakinya melangkah lebar dan dia sudah berlari ke luar, terus menun oi puncak itu dan menyeberangi jurang per-tama.           Bhewakala masih berada di situ, duduk bersila.           Pendeta hitam ini tersenyum lebar ketika dia melihat Yo Wan.           "Kau sudah kembali?" Yo Wan mengangguk, lalu membela-kangi pendeta itu sambil berjongkok.           "Harap Locianpwe suka membonceng di punggung, tapi saya harap Locianpwe sudi  mempergunakan kepandaian ginkang seperti Susiok-couw tadi, kalau tidak, saya khawatir tidak akan kuat menggen-dong Locianpwe.          " Pendeta asing itu hanya mendengus, lalu merangkul pundak bocah ini dan menggemblok di punggungnya.           Yo Wan bangkit berdiri dan diam-diam dia men-|adi girang dan kagum.           Kiranya pendeta ini pun amat sakti, ginkangnya hebat sehingga tubuhnya yang jauh lebih besar dan tinggi daripada susiok-couwnya juga terasa ringan, hanya sedikit lebih berat daripada tubuh kakek tadi.           Ia mulai me-langkah maju setengah berlari ke depan.           "Yo Wan, kenapa kau mau menolong aku, seorang asing yang tidak kaukenal?" tiba-tiba pendeta Nepal itu bertanya.           "Suhu berpesan kepada saya bahwa menolong orang tak boleh melihat Siapa dia, hanya harusdilihat apakah dia benar-benar membutuhkan pertolongan dan apakah kita dapat menolongnya.           Locian-pwe terluka, perlu beristirahat, dan saya dapat membawa Locianpwe ke puncak untuk beristirahat di pondok kediaman suhu, kenapa saya tidak mau menolone Locianpwe?"  Diam-diam Bhewakala kagum, bukan saja oleh jawaban ini, juga melihat be-tapa bocah ini dapat menggendongnya sambil berjalan cepat dan ketika men.          ! jawab pertanyaannya, napasnya tidak memburu, kelihatan enak saja.           Ketika oia memandang ke arah kedua kaki bocah itu, dia terkejut.           Bocah itu menggunakan langkah-langkah yang luar biasa, kadane- kadang berlari di atas tumit, kadangA" kadang dengan kakl miring! "He, kau menggunakan langkah apa ini?" tak tertahan lag! Bhewakala ber-tanya nyaring.           Yo Wan menjadi merah mukanya.           Karena seJama iima tahun itu siang malam ,dia- berlatih  langkah-langkah Si-cap-it Sin-po, maka kalau dia berlari, tanpa dia sengaja kedua kakinya                     35                      melakukan gerak langkah-langkah itu secara oto-matis! "Bukan apa-apa, Locianpwe, saya lari biasa," jawabnya dan kedua kakinya kini berlari biasa.           Seperti juga dengan susiok-couwnya tadi, dia hendak membawa Bhewakala ke dalam pondok, akan tetapi pendeta Nepal ini tidak mau.           "Turunkan saja aku di luar sini, aku lebih senang duduk di luar menikmati pemandangan alam yang amat hebat dan indah ini.          "  Yo Wan menurunkan pendeta itu di atas bangku di depan rumah dan Bhewa-kala duduk bersila di situ dengan wajah berseri gembira.           "Yo Wan! Pendeta koplok itu sudah datang? Hayo, bawa aku ke luar!" terdengar teriakan Sin- eng-cu dari dalam pondok.           Yo Wan berlari masuk dan tak lama kemudian kakek tua itu sudah digendongnya keluar.           Sin-eng-cu minta diturunkan di atas sebuah batu halus yang memang dahulu menjadi tempat duduknya.           la pun bersila diatas batu ini, kurang lebih lima meter jauhnya dari bangku yang diduduki Bhewakala.           "Sin-eng-cu, cucu muridmu inl benar-benar membuat aku gembira sekali!" kata Bhewakala.           ,, ; "Betapa tidak? Kalau tidak h6bal;tlia bukan cucu muridku!" jawab Sin-eng-cu dengan nada suara bangga.            Yo Wan menjadi heran dan merasa malu.           Yang hebat adalah mereka, pikirnya, biarpun sudah terluka hebat masih mampu mengerahkan ginkang sehingga tubuh mereka demikian ringannya ketika dia membawa mereka mendaki tangga tali tadi.           Kalau tidak demikian, mana mungkin dia akan kuat? Anak ini sarna sekali tidak tahu bahwa dua orang itu sama sekali tidak menggunakan ilmil untuk membuat tubuh mereka ringan.           Hal ini tidak mungkin, apalagi mereka terluka hebat sehingga tak mampu memper-gunakan ilmu-ilmu mereka yang ber-hubungan dengan kekuatan di dalam tu-buh.           Yang membuat dia merasa ringan ketika menggendong mereka bukan lain adalah karena kekuatan yang terkandung dalam tubuhnya sendiri.           la telah melatih diri tujuh tahun dengan pekerjaan yang membutuhkan tenaga dan kegesitan, di samping ini dia pun dengan amat tekun berlatih samadhi dan pernapasan.           Hawa murni di dalam tubuhnya sudah terkum-pul, maka dia dapat mengerahkan tenaga besar luar blasa yang membuat dia dapat menggendong kakek-kakek itu secara mudah! "Yo Wan, kau tadi berjanjf hendak menolong kami dua orang-orang tua.           Apakah kau betul- betul suka menolong?" tanya Bhewakala dengan pandang mata penuh gairah.           "Betul, Yo Wan, kau harus menolong kami melanjutkan adu ilmu sampai ter-dapat                     36                      keputusan siapa yang lebih unggul.          " Yo Wan membungkuk, "Susiok-couw, teecu siap menolong dan membantu, akan tetapi  teecu seorang anak yang bodoh, mana bisa menjadi perantara dalam adu ilmu? Bagaimana caranya?" "Mudah saja asal kau mau menolong.           He, Bhewakala pendeta hitam! Di dalam pondok ini terdapat empat buah kamar cukup untuk kita seorang sekamar.           Kita lanjutkan adu ilmu.           Kau tinggallah di kamar kita, aku di kamar kanan, biar Yo Wan di kamar lain.           Kau kuberi kesempatan untuk menyerang lebih dulu.           Beri-tahukan jurus penyeranganmu kepada Yo Wan, dan kalau dia sudah memperlihatkan jurus itu, aku akan menghadapi dengan jurus pertahananku, lalu balas me nyerang dengan jurus istimewa.           Dua jurus itu kuberitahukan kepada Yo Wan yang akan menyampaikannya kepadamu.           Kau harus dapat memecahkannya dan boleh balas meniyerang.           Siapa yang tidak dapat memecahkan sebuah jurus serangan, dia itu harus mengakui keunggulan lawan.           Bagaimana?"  "Setuju! Itulah yang kukehendaki.           Hayo mulai sekarang juga!" "Yo Wan, kau mendengar perjanjlan kami untuk mengadu ilmu? Maukah kau menolong,  hanya menjadi perantara be-gitu?" Yo Wan adalah seorang anak yang baru berusia tiga belas tahun.           Apalagi dia kurang  pengalaman, semenjak kecil berada di tempat sunyi mengejar ilmu dan bekerja, mana dia mampu menandingi kelihaian otak dua orang sakti ini? Secara tidak langsung, selain dua orang itu dapat memuaskan hati mencari keunggul-an dalam ilmu silat, juga mereka ingin sekali menurunkan kepandaian masing-masing kepada bocah yang sudah me-nalukkan hati dan cinta kasih mereka itu, Yo Wan menganggap mereka berdua ini kakek-kakek yang lucu dan aneh.           Masa ada orang melanjutkan adu ilmu seperti itu? Seperti main-main saja.           Ke- duanya sudah terluka masjh tidak mau terima, masih ingin melanjutkan terus, benar-benar gila, pikirnya.           "Kalau kau kebera-tan pun tidak apa," sambung Sin-eng-cu, "kami bisa merangkak turun saling menghampiri, kemudian saling jcekik sampai mampus di sini!" sambil berkata demikian, Sin-eng-cu mengedipkan mata kepada Bhewakala.           "Jangan kira kau akan dapat men-cekik leherku, Sin-eng-cu tua bangka bangkotan.           Lebih dulu jari-jariku akan menusuk dadamu sampai bolong-bolong? Bhewakala mengancam, juga tersenyum dan mengedipkan mata pula.           "Jangan..          ! Harap ji-wi jangan ber-kelahi terus.           Baiklah, saya akan mentaati permintaan ji- wi, menjadi peran-tara.           Akan tetapi saya harap ji-wi betul-betul menghentikan adu ilmu ini kalau seorang di antara ji-wi ada yang tidate sanggup memecahkan sebuah jurus.           Se-                    37                      karang harap ji-wi sudi menanti sebentar, saya hendak menyediakan makanan.          " Tanpa menanti jawaban, Yo Wan lalu menuju ke ladang, memetik sayur-mayur, membawanya ke dapur dan memasak sayur-mayur dan ubi kentang.           Pandai dia memasak setelah berlatih lima tahun selama ini dan di situ tersedia lengkap pula bumbu-bumbu yang dia tukar dari penduduk dusun dengan hasil ladangnya.           Di luar tahu Yo Wan, dua orang ka-kek hu berunding.           Karena mereka amat suka kepada Yo Wan, dan maklum pula bahwa keadaan tubuh mereka sudah cacad akibat pertandingan semalam, agak-nya tak mungkin dapat tertolong lagi karena Kwa Kun Hong tidak berada.           di Situ, maka mereka mengambil keputusan Untuk menurunkan ilmu-ilmu mereka yang paling iihai kepada Yo Wan.           "Jangan kau terlalu bernafsu me-tobohkan aku," kata Sin-eng-cu, "Kita turunkan dahulu jurus-jurus yang pernah kita mainkan malam tadi sehingga ma-sing-masing tentu sudah mengenalnya dan dapat memecahkannya.           Setelah itu, baru-iah kita bertanding betul-betul, mengeluarkan jurus-jurus baru yang harus dapat dipecahkan.          " Bhewakala menyetujui usul kakek bekas lawannya ini.           Setelah masakan sayur-mayur sudah matang dan dihidang-'kan oleh Yo Wan, mereka bertiga makan dengan tenang dan lahap.           Kemudian dua 'orang sakti itu minta diantar ke kamar masing-masing dan mulai hari itu juga, Yo Wan menjadi perantara pertandingan yang aneh ini.           Mula-mula dia harus menghafal dan ^menggerakkan sebuah jurus yang diturunkan oleh Bhewakala dan oleh karena jurus ini harus dipergunakan untuk mt-nyerang, tentu saja Yo Wan diharuskan dapat memainkannya dengan baik.           Pada hari-hari pertama, amatlah sukar bagi anak ini untuk menghafal dan mainkan jurus-jurus itu, karena jurus yang di-turunkan itu adalah jurus ilmu silat ting-kat tinggi yang sukarnya bukan main.           Andaikata dia belum dlberi dasar Ilmu Si-cap-it Sin-po, yaitu langkah-langkah ajaib yang sudah mengandung inti sari daripada semua jenis gerak langkah da-lam persilatan, agaknya dia tidak mung-kin mampu melakukan gerakan jurus yang diturunkan oleh dua orang sakti ini.           3u-rus pertama yang diturunkan Bhewakala, baru dapat dia lakukan setelah dia latih selama dua minggu! Memang mengheran-kan bagl yang tidak tahu, akan tetapi kalau diingat syarat-syaratnya, memang berat.           Dalam setiap gerak dalam jurus ini, imbangan tubuh harus tepat+ bahkan keluar masuknya napas juga harus disesuaikan dengan setiap gerak! Biarpun Yo Wan belum dapat menikmati dan membuktikan sendiri kegunaan ilmu silat karena selama belajar di situ belum pernah dia menggunakan ilmu silat untuk bertempur, namun mengingat sukarnya jurus ini, dia mengira bahwa Sin-eng-cu tentu akan menjadi bingung dan tidak mudah memecahkannya.           3ari tengah dan telunjuk kanan menusuk mata diteruskan dengan siku kanan menghan-tam jalan darah di bawah telinga, di-barengi pukulan tangan kiri pada pusar yang disusul lutut kaki kanan menyodok anggauta kelamin kemudian dilanjutkan tendangan kaki kanan sebagai gerak ter-akhir.           Sebuah jurus yang                     38                      "berisi" iima buah gerak serangan berbahaya! Bhewa-kala menamakan jurus ini Ngo-houw- lauw-yo (Lima Harimau Mencari Kambing), sebuah jurus daripada ilinu silat ciptaan-nya yang paling lihai ketika dia bertapa di Gunung Himalaya, yaitu Umu silat yang dinamainya Ngo-sin-hoan-kun (Ilmu Silat Lima Lingkaran Sakti).           Akan tetapl alangkah herannya ketika Sin-eng-cu menyambut jurus yang dia mainkan di depan kakek ini dengan tertawa bergelak.           "Ha-ha-ha-ha-ha! Pendeta koplok! Jurus cakar bebek beginian dipamerkan dl depanku? Wah, terlalu gam-pang untuk memecahkannya!" Yo Wan hanya memandang dengan kagum dan diam-diam dia pun girang karena ternyata susiok-couwnya ini tidak kalah lihainya oleh Bhewakala.           Sudah tentu saja dalam adu Umu yang luar biasa ini se-dikit banyak dia berfihak kepada Sin-eng-cu dan mengharapkan kemenangan bagi kakek ini, karena betapapun juga kakek ini adalah paman guru daripada suhunya.           "Awas, dengarkan dan lihat baik-balk gerak tanganku.           Sekaligus aku akan pa-tahkan daya serang jurus cakar bebek ini.          " Dengan gerak tangan dan keterang-an yang lambat dan jelas Sin-eng-cu rnengajarkan jurusnya.           "Menghadapi serangan seorang beriimu seperti Bhewakala, kita harus bersikap waspada dan jangan mudah terpancing oleh gerak pertama, karena semua jurus ilmu silat tinggi selalu menggunakan pancingan dan makin tersernbunyi gerak pancingan ini lebih balfc.           Gerak pertama menyerang anggauta tubuh bagian atas jangan dihadapi dengan perhatian sepenuh-nya, melainkan harus dielakkan sambil tnenanti munculnya gerak susulan yang merupakan gerak inti.           Serangan tangan kanan ke arah mata dan leher, kita ha-dapi dengan merendahkan tubuh sehingga tusukan mata dan serangan siku kanan lewat di atas kepala.           Serangan pukul-an tangan kiri pada pusar kita tangkis dengan tangan kanan dan apabila dia berani nnenggunakan lututnya, kita mendahului dengan pukulan sebagai tangkisan ke arah sambungan lutut.           Inilah jurusku yang menghancurkan jurus Bhewakala itu, kunamai jurus Lo-han-pai-hud (Kakek Menyembah Buddha).          " Jurus ini dilatih oleh Yo Wan dengan susah payah, apalagi karena segera di-susul jurus ke dua yang merupakan se-rangan balasan dari Sin-eng-cu, yaitu jurus yang disebut Llong- thouw-coan-po (Kepala Naga Terjang Ombak).           Dua buah jurus ini adalah jurus-jurus dari' ilmu silat ciptaan kakek ini yang dia beri nama Liong-thouw-kun (nmu Silat KepaJa Naga) atau ilmu siiat darl Lione-thouw-san tempat dia bertapa di bekas kediaman mendiang kakak seperguruan-nya, Bu Beng Cu.            Untuk dua buah jurus ini Yo Wan menggunakan waktu dua puluh hari Ia bangga sekali terhadap kakek itu dan mengira bahwa Bhewakala tentu akan repot menghadapi LIong- thouw-coan-po.           Eh, kembali dia tercengang dan kecewa karena pendeta Nepal ini terkekeh- kekeh.           memandang rendah sekali jurus serangan balasan Sin-eng-cu ini.           "Uwah-hah-hahr- tua bangka bangkotan itu sudah gila kalau mengira bahwa jurusnya monyet menari ini bisa                     39                      menggertak aku.           Lihat baik-baik jurusku yang akan memecahkan rahasianya dan sekali ini dengan juru+ seranganku ke dua, dia pasti akan mat! kutu!" Kakek pendeta Nepal ini lalu mengajarkan dua buah jurus lain yang lebih sulit dan aneh lagi.            Demikianlah, setiap hari, siang malam hanya berhenti kalau mengurus keperluan mereka bertiga, makan dan tidur, Yo Wan melayani mereka berdua ganti-ber-eanti.           Mula-mula memang setiap jurus harus dia pelajari sampai hafal baru dapat dia mainkan setelah tekun mem-pelajarinya sampai beberapa hari, apalagi makin lama jurus-jurus yang dikeluarkan dua orang sakti itu makin sukar.           Akan tetapi setelah lewat tiga bulan, dia mulai dapat melatihnya dengan lancar, dan dapat menyelesaikan setiap jurus dalam waktu sehari saja! Yo Wan tidak hanya harus menghaial dan dapat mainkan jurus-jurus ini untuk dimainkan di depan kedua orang sakti itu, akan tetapi karena tingkat itu makin tinggi, terpaksa dia harus menerima la-tihan siulian (samadhi), pernapasan dan cara menghimpun tenaga dalam tubuh.           "Tanpa mempelajari Iweekang danku, tak mungkin kaumainkan jurus ini," de-mikian kata Bhewakala dan karena dia sudah berjanji untuk membantu kedua orang itu menjadi perantara dalam adu ilmu, terpaksa Yo Wan tidak dapat mem-bantah dan mempelajari Iweekang yang aneh dari kakek Nepal ini.           Demikian pula, dengan alasan yang sama, Sin- eng-cu menurunkan latihan Iweekang yang lain dan untuk latihan ini Yo Wan , ieng-alaml kelancaran karena Iweekang dari kakek ini sejalan dengan apa yang dia pelajari dari suhunya.           Tanpa terasa lagi, tiga tahun telah lewat! Ngo-sin-hoan-kun (Ilmu Silat Lima Lingkaran Sakti) dari Bhewakala yang berjumlah linna puluh jurus itu tela;, dia mainkan semua.           Demikian pula Liong-thouw-kun darl Sin-eng-cu Lui Bok yang berjumlah empat puluh delapan jurus Bukan ini saja, dengan alasan bahwa Umu pukufan tangan kosong tak dapat menen-tukan kemenangan.           Bhewakala menurun-kan ilmu cambuk yang dapat dimainkan dengan pedang telah dia ajarkan pula.           Karena ilmu pedang ini pun berdasar pada Ngo-sin- hoan-kun, maka tidak sukar bag! Yo Wan untuk menghafal dan me-mainkannya.           Sebagai imbangannya, Sin-eng-cu juga menurunkan ilmu pedangnya.           Pada bulan ke dua dari tahun ketiga, Sin-eng-cu yang keadaannya sudah amat payah saking tuanya dan juga karena kelemahan tubuhnya akibat pertempuran tiga tahun yang lalu, menurunkan jurus yang tadinya amat dirahasiakan.           "Yo Wan..           Bhewakala hebat me-mang.           Tapi coba kauperlihatkan jurus ini dan dia pasti akan kalah.           Jurus itu di-sebut Pek-hong-ci-tiam (Bianglala Putih Keluarkan Kilat), jurus simpananku yang tak pernah kupergunakan dalam pertan-dingan karena amat ganas.           Coba..           ban-tu aku berdiri, jurus ini harus kumainkan sendiri, baru kau dapat menirunya.           Ke sinikah pedangmu..          " Yo Wan yang tadinya berlutut menyerahkan pedangnya, pedang                     40                      dari kayu cendana yang sengaja dibuat untuk perang adu ilmu itu, sambil membantu kakek yang sudah tua ren-ta itu bangkit berdiri.           Diam-diam Yo Wan menyesal sekali mengapa kakek yang tua ini begini gemar mengadu ilmu.           Sudah sering kali selama tiga tahun itu dia membujuk-bujuk mereka untuk meng-hentikan adu ilmu, namun sia-sia belaka, dan selain itu, dia mulai merasa senang sekali dengan pelajaran jurus-jurus itu.           "Nah, kaulihat baik-baik..          '.          " Kakek itu menggerakkan pedang kayu dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya .          mencengkeram dari atas.           Memang gerak-an yang amat hebat dan dahsyat.           Bahkan kakek yang sudah kehabisan tenaga itu, ketika mainkan jurus iru, kelihatan me-nyeramkan.           Terdengar suara bercuitan dari pedang kayu dan tangan kirinya+ kemudian..           kakek itu roboh terguling.           "Susiok-couw..          !" Yo Wan cepat ne-nyambar tubuh kakek itu dan membantu-nya duduk sambll menempelkan telapak tangannya pada punggung kakek itu dan menyalurkan hawa murni sesuai dengan ajaran Sin-eng-cu.           "Sudah..           eh, balk sudah..           uh-uh-uh..           tua bangka tak becus aku ini..           Yo Wan, sudahkah kau dapat mengerti jurus tadl?" Yo Wan mengangguk, dan maklum akan watak kakek ini, seperti biasa se-telah kakek itu duduk bersila, dia meng-ambil pedang kayu dan mainkan jurus tadi.           Suara bercuitan lebih nyaring ter-dengar, dan kakek itu berseru gembira, tapi napasnya terengah-engah.           "Bagus, bagus! Nah, kalau sekali ini pendeta koplok itu dapat memecahkan jurusku Pek- hong-ci-kiam, dia benar-benar patut kaupuja sebagai gurumu!" Dengan napas terengah- engah kakek itu lalu melambaikan tangan, mengusir Yo Wan keluar dari kamarnya untuk segera mendemonstrasikan jurus itu kepada lawannya.           Dengan hati sedih karena ketika me-raba punggung tadi dia tahu bahwa kakek itu keadaannya amat payah, Yo Wan meninggalkan kamar, langsung memasuki kamar Bhewakala.           Keadaan pendeta Ne-pa! ini tidak lebih baik daripada Sin-eng-cu Lui Bok.           la pun amat payah ka-rena selain kekuatan tubuhnya makin mupdur akibat iuka dalam, juga dia harus mengerahkan tenaga dan pikiran setiap hari untuk mengajar Yo Wan.           Ketika Yo ' Wan memasuki kamarnya dan mainkan ' jurus Pek-hong-ci-tiam, dia terkejut sekali dan sampai lama dia bengong saja, menggeleng-geleng kepalanya.           Kemudian mengeluh.           "Hebat..           Sin-eng-cu Lui Bok henidak mengadu nyawa." Akan tetapi selanjutnya dia termenung, kedua tangannya bergerak-gerak menirukan gerak jurus itu, bicara perlahan seorang diri, menge-rutkan kening dan akhirnya menggeleng kepala seakan-akan pemecahannya tidak tepat.           la memberi isyarat dengan tangan supaya Yo Wan keluar dari kamarnya, pemuda ini lalu mengundurkan dir dan masuk ke kamar sendiri karena waku itu malam sudah agak larut.                              41                      Menjelang fajar, Yo Wan kaget men-dengar suara Bhewakala memanggij na-manya.           la bangun dan cepat menuju ke kamar pendeta itu.           Pintu kamarnya ter-buka dan pendeta itu duduk di atas pem-baringan.           Cepat dia maju menghampiri.           "Yo Wan, jurus Sin-eng-cu ini hebat! Tak dapat aku menangkis atau mengelak-nya..          " katanya dengan suara lesu.           Diam-diam Yo Wan menjadi girang.           Akhirnya Sin-eng-cu yang menang, se-perti yang dia harapkan.           "Kalau begitu, Locianpwe menyerah..          " katanya per-lahan.           Mata yang lebar itu melotot.           "Siapa menyerah? Karena Sin-eng-cu hendak mengadu nyawa, apa kaukira aku tidak berani? jurus itu memang tidak dapat kutangkis atau kuhindarkan, akan tetapi dapat kuhadapi dengan jurusku yang isti-mewa pula.           Mungkin aku mati oleh jurus-nya, akan tetapi dia pun pasti mampus kalau melanjutkan serangannya.           Kau lihat baik-baik!" Bhewakala lalu mengajarnya sebuah jurus sebagai imbangan daripada Pek-hong-ci-tiam.           Kemudian pendeta itu me-nyuruh Yo Wan mainkan cambuk dengan jurus itu.           Hebat bukan main jurus ini.           Cambuk melingkar-lingkar di atas udara kemudian melejit ke empat penjuru de-ngan suara nyaring sekali.           "Tar-tar-tar-tar-tar!" Terjangan cambuk ini diiringi gempuran tangan kiri yang penuh dengan tenaga dalam ke arah pusar lawan.           "Cukup! Lekas kauperlihatkan kepada Sin-eng-cu," kata Bhewakala setelah dia merasa puas dengan gerakan Yo Wan.           Pemuda ini keluar dari kamar Bhewakala memasuki kamar Sin- eng-cu.           Waktu itu matahari telah naik agak tinggi, akan tetapi lampu di dalam kamar kakek ini masih menyala.           "Susiok-couw, Locianpwe Bhewakata tidak dapat memecahkan Pek-hong-ci-tiam, akan tetapi menghadapi jurus IBM dengan jurus penyerangan pula, seperti ini," kata Yo Wan sambil mainkan cam-buk yang memang sengaja dibawanya ke daiam kamar itu.           Cambuknya melejit-i lejit dan tangan kirinya mengeluarkan angin yang mematikan lampu di atas meja ketika dia mainkan jurus itu.           Akan tetapi setelah dia berhenti main-kan jurus ini, Sin-eng-cu tidak memberi komentar apa-apa.           Kakek itu tetap dudulc^ bersila dengan tangan kanan terkepal di' atas pangkuan, telentang, dan tangan kiri diangkat ke depan dada jari-jari tfengah terbuka dan telapak tangan menghadap keluar.           "Susiok-couw, bagaimana sekarang..          ?" Yo Wan menegur lagi sambil maju mendekat dan berlutut.           "Susiok-couw..          !" la berseru agak keras sambil berdongak memandang.           Kakek itu masih                     42                      duduk bersila dengan mata meram.           Ketika Yo Wan melihat sikap yang tidak wajar ini, berubah air muka-' nya.           Dirabanya kepalan tangan kanan di atas pangkuan itu dan dia menarik kem-bali tangannya.           Kepalan itu dingin sekali.           Dirabanya lagi nadi, tidak ada denyutan.           Kakeknya itu -seperti orang tidur tanpa bernapas.           "Susiok-couw..          !" Tiba-tiba dia mendengar suara dt belakangnya, "Dia sudah mati.           Ah, Sin-eng-cu, kau  benar-benar hebat.           Dengan jurus terakhir itu kau telah mengalahkan aku.           Aku mengaku kalah!" Yo Wan menoleh dengan heran.           Bhe-wakala sudah berdiri di situ dan biarpun kelihatannya masih amat lemah, kiranya pendeta ini sudah dapat berjalan dengan ringan sehingga dia tidak mendengar kedatangannya.           Akan tetapi dia segera menghadapi Sin-eng-cu lagi, berlutut dan memberi hormat sebagaimana layaknya sambil berkata, "Harap Susiok-couw sudi mengampuni teecu yang tidak mampu menolong Susiok-couw yang terluka se^ hingga hari ini Susiok-couw meninggal dunia.          " la tidak dapat menangis karena memang dia tidak ingin menangis.           "Yo Wan, orang selihai dia mana bisa mati karena luka pukulanku? Seperti juga pukulannya, mana bisa membikin mati aku? Kami berdua hanya terluka yang akibatnya melenyapkan tenaga daiam karena pusat pengerahan sinkang di tu'-buh kami rusak akibat pukulan.           Tanpa pukulanku, hari ini dia akan mati uga, kematian wajar dari usia tua.          " Bhewakala maju menghampiri kakek yang masih duduk bersila itu, lalu tiba-tiba pendeta Nepal ini memeluknya.           "Sin-eng-cu, tua bangka..           terima kasih.           Be-lum pernah selama hidupku merasa be-gitu senang dan gembira seperti selama tiga tahun kita mengadu Umu ini.           Kau hebat, sahabatku, kau hebat.           jurusmu terakhir tak dapat kupecahkan, biarlah sisa hidupku akan dapat kupergunakan untuk memecahkan jurus itu agar kelak kalau kita bertemu kembali, dapat ku-mainkan di depanmu..          " Pendeta ini Salu membaringkan tubuh Sin-eng-cu.           Tangan dan kaki kakek itu sudah kaku, akan tetapi begitu disentuh Bhewakala pada jalan darah dan sambungan-sambungan tulang yang membeku itu, menjadi lemas kembali dan dapat ditelentangkan.           Kemudian pendeta hitam Tni berpaling kepada Yo Wan yang memandang semua itu dengan mata terbelalak heran.           Memang seorang yang aneh dan luar biasa pendeta hitam ini, pikirnya.           ôYo Wan, kau adalah murid Pendekar Buta akan tetapi tak pernah menerima warisan ilmu silatnya kecuali pelajaran langkah-langkah yang tiada artinya dalam menghadapi lawan.           Kau bukan murid kami namun kau telah mewarisi inti sari daripada ilmu silat kami berdua.           Memang lucu.           Akan tetapi ketahuilah bahwa di dalam hatiku, aku menganggap kau murid tunggalku dan selalu aku menanti kunjunganmu ke Anapurna di Himalaya.           Selamat tinggal, muridku.          " Setelah berkata demikiar, Bhe-wakala berjalan ke luar dari pondok itu, wajahnya muram seakan-akan kegembiraannya lenyap bersama nyawa Sin-eng-cu.                              43                      Yo Wan tiba-tiba merasa dirinya amat kesunyian.           Yang seorang menjadi mayat, yang seorang lagi telah pergi.           Kembali dia hidup seorang diri di tempat sunyi itu.           Namun dia segera dapat menguasai perasaannya.           la bukan kanak-kanak lagi.           Ketika suhu dan subonya pergi, delapan tahun yang lalu, dia baru berusia delapan tahun lebih.           Sekarang dia sudah menjadi seorang pemuda, enam belas tahun usianya seperti dikatakan Sin-eng-cu beberapa hari yang lalu.           Tadinya dia sendiri tidak tahu berapa usianya kalau saja bukan Sin-eng-cu yang menghitungnya.           Seorang jejaka.           Jaka Lola, tidak hanya yatim piatu, akan tetapi juga tiada sanak - kadang.           Di dunia ini hanya ada suhu dan subonya, akan tetapi kedua orang itu sudah pergi meninggalkannya sampai delapan tahun tanpa berita.           Dengan hati berat Yo Wan mengubur jenazah Sin-eng-cu di belakang pondok.           la tidak tahu bagaimana harus menghias kuburan ini, maka dia lalu mengangkuti batu-batu besar yang dia taruh berjajar di sekeliling kuburan.           la masih belum sadar bahwa kini dia dapat mengangkat batu-batu yang demikian besarnya, tidak tahu bahwa setiap batu yang diangkatnya dengan ringan itu sedikitnya ada seribu kati beratnya! "Aku harus menyusul suhu dan subo ke Hoa-san.          " Pikiran inilah yang pertama-tama memasuki kepalanya.           Tenngat akan niatnya pergi menyusul ke Hoa-san tiga tahun yang lalu, dia merasa me-nyesal sekali.           Mengapa dia dahulu ddak jadi menyusul? Kalau tiga tahun yang lalu dia sudah pergi ke Hoa-san, :entu saat ini dia sudah berada bersama suhu dan subonya.           Akan tetapi, dia tenngat lagi betapa dua orang kakek yang meng-adu ilmu itu mennbuat dia betah, malah selama tiga tahun ini dia tidak merasa rindu kepada suhu dan subonya, juga membuat dia tak pernah meninggalkan puncak karena kedua orang itu melarang-nya.           Biarpun bumbu-bumbu habis, mereka tidak membolehkan dia turun puncak, dan sebagai pengganti bumbu-bumbu itu, Bhe-wakala in6nyuruh dia mengambil ber- macain-macam daun di puncak yang ter-nyata dapat mengganti bumbu dapur.           Dengan pakaian penuh tambalan Yo Wan turun dari puncak.           Cambuk Bhewakala yang ditinggalkan oleh pendeta itu dia gulung melingkari pinggangnya, ter-sembunyi di balik bajunya yang penuh tambalan dan tidak karuan potongannya.           Juga pedang kayu buatan Sin- eng-cu yang .           dipakai untuk bermain jurus di depan Bhewakala, dia bawa pula, dia selipkan di balik ikat pinggang.           Berangkatlah Yo Wan si 3aka Lola irieninggalkan puncak Liong-thouw-san, berangkat dengan hati lapang dan penuh harapan untuk segera bertemu kembali idengan dua orang yang amat dikasihi, yaitu suhu dan subonya.           la tidak sadar ,sama sekali, betapa dirinya kini telah mengalami perubahan hebat berkat latihan Iweekang menurut ajaran Sin-eng-cu dan Bhewakala, betapa dirinya selain inemiliki tenaga sinkang yang hebat juga telah memiliki ilmu-ilmu silat tingkat tinggi yang tidak mudah didapat orang! Ketika penduduk sekitar kaki gunung yaog sudah mengenalnya melihat Yo Wan, mereka                     44                      segera menegur dan mempersilakan dia singgah.           Mereka menyatakan penyesalan mengapa pemuda itu selama tiga tahun ini bersembunyi saja.           Malah yang mempunyai kelebihan pakaian segera memberi beberapa buah celana dan baju kepada Yo Wan ketika dilihatnya betapa pakaian pemuda ini penuh tambalan.           Yo Wan, menerima dengan penuh syukur dan terima kasih.           la sendiri tidak ingin suhu dan subonya marah dan malu melihat dia berpakaian seperti jembel itu.           Segera dia menukar pakaiannya dan kini biarpun pakaiannya sederhana dan terbuat daripada kain kasar, namun cukup rapi dan tidak robek, juga tidak ada tambalan menghiasnya.            * * * Yo Wan melakukan perjalanan se-perti seorang yang linglung.           Dia seperti seekor anak  burung yang baru saja be-lajar terbang meninggalkan sarangnya.           Semenjak usia delapan tahun, dunia-nya hanya puncak Bukit Liong-thouw-san dan perkampungan sekitar kaki gunung.           Biarpun di waktu kecilnya dia per-nah melihat kota dan tempat-tempat ramai, namun selama delapan tahun dia seakan mengasingkan diri di puncak gu-nung, dan sekarang, melakukan perjalanan melalui kota-kota dan dusun-dusun yang ramai, dia seperti seorang dusun yang amat bodoh.           Bangunan-bangunan besar mengagumkan hatinya.           Melihat banyak orang membuat dia bingung.           Apalagi ilmu membaca dan menulis.           la seorang buta huruf yang melakukan perjalanan melalui tempat-tempat yang asing baginya, tanpa kawan tiada sanak kadang, tanpa bekal uang di saku! Akan tetapi kekurangan-kekurangan ini sama sekali tidak membuat Yo Wan menjadi khawatir atau susah.           Semenjak kecil dia sudah tergembleng oleh segala macam kesulitan hidup, biarpun masih muda, ji.          wanya sudah matang oleh asam garam dan pahit getir penghidupan, mem-buatnya tenang dan dapat menghadapi segala macam keadaan dengan tabah.           Tidak sukar baginya untuk mengatasi ke-kurangannya dalam perjalanan.           Kadang- kadang dia hanya makan buah-buahan dan daun-daun muda di dalam hutan untuk berhari- hari.           Ada kalanya dia makan dalam sebuah kelenteng bersama hwesio-hwesio yang baik hati dan yang tetap membagi hidangan sayur-mayur sekedarnya tanpa daging itu kepada Yo Wan.           Tentu saja Yo Wan belum mau pergi meninggalkan kelenteng sebelum dia me-lakukan sesuatu, mencari air, menyapu lantai, membersihkan meja sembahyang dan lain pekerjaan untuk membalas budi.           Kadang-kadang orang dusun atau kota ada yang mau menerima bantuan tenaga-nya untuk ditukar dengan makan sehari itu.           Dengan cara demikian, Yo Wan melakukan perjalanan sambil bertanya-tanya jalan menuju ke Hoa-san.           la berlaku hati-hati sekali, selalu menjauhkan diri daripada keributan, dan tak pernah dia memperlihatkan kepada siapapun )uga bahwa dia memiliki tenaga luar biasa dan kepandaian yang tinggi.           Yo Wan sendiri sebetulnya belum mengerti betul bahwa dia telah mewarisi inti sari kepandaian dua orang kakek berilmu sung-guhpun dia mengetahui bahwa dia memiliki tenaga dan keringanan tubuh yang melebihi orang lain.           Oleh karena inilah maka dia sama sekali tidak mempunyai keinginan mencari dan mernbalas musuhnya, The                     45                      Sun, sebelum dia bertemu de-ngan suhunya dan menerima pelajaran ilmu silat tinggi dari gurunya itu.            Setelah melakukan perjalanan berbulan-bulan, akhirnya pada suatu pagi sampai juga dia di kaki Gunung Hoa-san.           Dengan hati berdebar tegang dia berdiri memandang ke arah puncak gu-nung itu, sebuah gunung yang tinggi dan hijau, tidak liar seperti Gunung Liong-thouw- san.           membayangkan pertemuan dengan suhu dan subonya setelah berpisah selama delapan tahun, mendatangkan rasa haru dan membuatnya termenung di situ dengan jantung berdebar-debar.           Betapa-pun juga, dalam kegembiraan ini, ada rasa tidak enak di dalam hatinya, rasa bahwa dia adalah seorang tamu di Hoa-san.           Suhu dan subonya sendiri terhitung tamu di situ, bagaimana dia akan dapat merasa di rumah sendiri? Berpikir begiru,.           timbul kegetiran.           Mengapa suhunya membiarkan saja dia bersunyi sampai delapan tahun di Liong-thouw-san? Mengapa gurunya itu tidak kembali? Ya, mengapakah? Mengapa Kun Hong dan Hui Kauw tidak kembali ke Liong-thouw-san sampai delapan tahun lamanya, membiarkan murid mereka itu seorang diri saja di puncak gunung yang sunyi' Apakah terjadi sesuatu yang hebat atas, diri mereka? Sebetulnya tidak terjadi sesuatu yang buruk.           Tak lama setelah Kun Hong dan Hui Kauw tiba di Hoa-san, Hui KauW melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat.           Tentu saja peristiwa ini mendatangkan kegembiraan luar biasadi Hoa-san.          Oleh kakeknya, anak itu diberi namaKwa Swan Bu.           Ketua Hoa-san-pai sekarang adalah Kui Lok yang berjuluk Kui-san-jin, seorane tokoh Hoa- san-pai yang paling lihai karena dia dan isterinya (Thio Bwee) adalah sepasang suami isteri yang mewarisi ilmu Silat Hoa-san-pai yang paling tinggi.           Suami isteri ini memimpin Hoa- san-pai, dibantu oleh suhengnya bernama Thian Beng Tosu (Thio Ki) dan Lee Giok, dan diawasi oleh kakek Kwa Tin Siong dan isterinya.           Kwa Tin Siong sudah amat tua dan sudah bosan mengurus Hoa-san-pai, maka dia dan isterinya menyerahkan tugas ini kepada Kui- san-Jin dan mereka sendiri tekun bertapa.           Kedatangan putera tunggal mereka, Kwa Kun Hong dan isterinya, tentu saja menggirangkan hati kedua orang tua ini, apalagi setelah isteri Kun Hong melahirkan seorang putera, kebahagiaan suami isteri tua ini menjadi sempurna.           Perlu diketahui bahwa tokoh-tokoh Hoa-san-pai tidak ada yang mempunyai keturunan laki-laki kecuali Kwa Kun Hong seorang.           Thian Beng Tosu hanya mempunyai seorang anak perempuan bernama Thio Hui Cu yang sudah menikah dengan Tan Sin Lee putera Raja Pedang Tan Beng San yang menjadi ketua Thai-san-pai.           Juga Kui-san-jin hanya mempunyai seorang anak perempuan bernama Kui Li Eng yang sudah menikah pula dengan Tan Kong Bu, putera lain lagi dan Raja Pedang Tan Beng San.           Semua ini dapat dibaca dalam cerita Rajawali Emas dan dan Pendekar Buta.           Karena tidak ada keturunan lak.          -laki di Hoa-san, tentu saja lahirnya Kwa Swan Bu amat                     46                      menggirangkan hati Kakek Kwa.           Juga Thian Beng Tosu dan Kui san jin ketua Hoa-san-pai amat girang.           Orang-orang tua inilah yang minta dengan sangat kepada Kun Hong dan istrinya agar suami isteri itu tidak kembali ke Liong-thouw-san, setidaknya menanti kalau Swan Bu sudah besar.           Amat tidak baik membiarkan seorang anak laki-laki bersunyi d puncak bukit dengan kedua orang tuanya saja, kata Kwa Tin Siong kepada putera dan mantunya ôIa akan tumbuh besar dalam kesunnyian, kurang bergaul dengan sesama manusia.           Di Hoa san pai ini adalah tempat tinggalmu sendiri sejak kau kecil, Kun Hong karena itu sebaiknya kau memmbiarkan puteramu tinggal disini pula.           Disini merupakan keluarga Hoa san pai yang besar, dan puteramu tentu akan menerima kasih sayang dari semua orang.           Juga aku dan ibumu sudah tua, biarkan-lah kami menikmati hari-hari akhir kami dengan cucu kami Swan Bu.          " Inilah yang membuat Kun Hong dan isterinya tak dapat meninggalkan Hoa-san.           Kun Hong berunding dengan isteri-nya tentang Yo Wan.           Hui Kauw yang tentu saja menimpakan kasih sayang seluruhnya kepada puteranya, menyatakan bahwa Yo Wan tentu akan menyusul ke Hoa-san.           "Bukankah dahulu kau sudah meninggalkan pesan bahwa dia harus menyusul ke Hoa-san kalau dalam waktu dua tahun kita tidak pulang? Dia sudah besar, tentu dapat mencari jalan ke sini.           Pula, hal ini amat perlu bagi dia.           Murid kita harus menjadi seorang yang tabah dan tidak gentar menghadapi kesukaran.          " Kun Hong setuju dengan pendapat isterinya ini.           Akan tetapi hatinya gelisah juga setelah lewat dua tahun, bahkan sampai lima tahun, murid itu tidak datang menyusul ke Hoa-san.           "Jangan-jangan ada sesuatu terjadi disana?" Kun Hong menyatakan kekhawatirannya.           "Atau dia memang tidak ingin ikut dengan kita di sini," Hui Kauw berkata, keningnya  berkerut.           Diam-diam la merasa tidak senang mengapa Yo Wan tidak mentaati perintah suaminya.           Seorang murid harus Wntaati perintah guru, kalau tidak, dia bukanlah murid yang baik, "Sudahlah, kita tidak perlu memikirkan Yo Wan.           Kalau dia datang menyusul, berarti dia suka menjadi mund kita, kalau tidak, terserah kepadanya.           Lebih baik kita melatih anak kita sendiri.          " Demikianlah, setelah lewat delapan tahun, suami isteri ini sudah melupakan murid mereka yang mereka kira tentu sudah pergi dari Liong-thouw-san dan tidak mau ikut mereka di Hoa-san.           Sama sekali mereka tidak mengira bahwa murid mereka itu selama ini tak pernah meninggalkan puncak Liong-thouw-san.           Dan sama sekali mereka tidak pernah menduga bahwa pada pagi hari, orang muda tampan sederhana yang berdin termenung di kaki Gunung Hoa-san, adalah Yo Wan.                              47                      Yo Wan amat kagum melihat keadaan Gunung Hoa-san.           Alangkah jauh bedanya dengan Llong-thouw-san.           Gunung ini be-nar-benar terawat.           Tidak ada bagian yang liar.           Hutan- hutan bersih dan penuh pohon buah dan kembang.           Sawah ladang terpelihara, dhanami sayur-mayur dan pohon obat.           Malah jalan yang cukup le-bar dibangun, memudahkan orang naik mendaki gunung.            Derap kaki kuda dari sebelah kanan terdengar, diiringi suara ketawa yang nyaring, ketawa kanak-kanak.           Yo Wan mengangkat kepala memandang ke se-belah kanan dan dia menjadi kagum se-kali.           Ada tiga orang penunggang kuda.           Kuda mereka adalah kuda-kuda pilihan, tinggi besar dan nampak kuat.           Akan tetapi bukan binatang-binatang itu yang mengagumkan hati Yo Wan, melainkan penunggangnya yang berada di tengah-tengah, di antara dua orang penunggang kuda.           Penunggang kuda ini adalah se-orang anak laki-lakl yang kelihatannya ada sepuluh tahun usianya.           Seorang anak laki-laki yang amat tampan, yang pakaiannya serba indah, kepalanya ditutypi topi sutera yang bersulam kembang dan terhias burung hong dari mutiara.           Anak laki-laki itu pandai sekali menunggang kuda dan pada saat itu dia menunggang kuda tanpa memegang kendali, karena kedua tangannya memegangi sebuah gen-dewa dan beberapa batang anak panah.           Dua orang yang menglringi anak ini adalah dua orang laki-laki berusia empat puluhan, dandanannya seperti tosu dan kelihatannya amat mencinta anak itu.           "Ji-wi Susiok (Dua Paman Guru), lihat, burung yang paling gesit akan kupanah jatuh!" "Swan Bu.. jangan..          ! Itu bukan burung walet..          " Seorang di antara kedua tosu itu mencegah.           Akan tetapi anak itu sudah mengeprak kudanya dengan kedua kakinya yang kecil.           Kudanya lari congklang dengan cepat ke depan Dengan gerakan yang tenang namun cepat anak itu sudah memasang dua batang anak panah pada gendewanya, dan menarik tali gendewa, terdengar suara menjepret dan Yo Wan melihat seekor burung kecil melayang jatuh di dekat kakinya.           Ia merasa kasihan sekali melihat burung itu, sebatang anak panah menembus dada.           Burung kecil berbulu kuning amat cantik.           Yo Wan menekuk lutut, membungkuk untuk mengambil bangkai bucung itu.           Tiba-tiba berkelebat bayangan dan tahu-tahu sebuah tangan yang kecil telah mendahuluinya, me-nyambar bangkai burung itu.           Yo Wan berdiri dan melihat anak kecil yang pandai main anak panah tadi telah berdiri di depannya, bangkai burung di tangan kanan sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang.           "Eh, kau mau curi burungku? Burung ini aku yang panah jatuh, enak saja kau mau mengambilnya.           Hemmm, kau orang dari mana? Mau apa berkeliaran di sini?" Yo Wan tertegun.           Anak ini masih kecil, akan tetapi sikapnya amat gagah dan berwibawa, sepasang matanya tajam penuh curiga, akan tetapi juga membayangkan watak tinggi hati.           la tahu bahwa dia berada di tempat orang, karena Gunung Hoa-san tentu saja menjadi wilayah orang-orang Hoa-san-pai.           Dengan senyum sabar dia menjura dan berkata.           ôAku tidak bermaksud mencuri, hanya kasihan melihat burung ini..          "                    48                      Sementara itu, dua orang tosu juga sudah melompat turun dan kuda dan menghampiri.           ôSwan Bu, kau terlalu.           Ilmu ,memanah yang kau pelajari bukan untuk membunuh burung yang tidak berdosa.           Kalau ayah bundamu tahu, kau tentu akan mendapat marah," tegur seorang tosu.           ôSusiok, apakah urusan begini saja Susiok hendak mengadu kepada ayah dan ibu Kalau tidak melatih memanah burung kecil terbang, mana bisa mahir? Anggap saja burung ini seorang penjahat.           Susiok, orang ini mencurigakan, aku belum pernah melihatnya.           Jangan- jangan dia pencuriö.           Dua orang tosu itu memandang Yo Wan.           Tosu ke dua segera menegur, "Orang muda, kau siapakah ? Agaknya kau bukan orang sini . eh, apalagi kau pemuda yang hendak bekerja sebagai tukang mengurus kuda di Hoa-san? Kemarin kepala kampung Lung-ti-bun menawarkan tenaga seorang pemuda tukang kuda..          " Yo Wan menggeleng kepala.           Dia sejak kecil tinggal di gunung, tentu saja tidak tahu akan tata susila umum, dan gerak-geriknya agak kaku dan kasar.           "Aku bukan tukang kuda, akan tetapi kalau Lo-pek (Paman Tua) suka memberi pekerja-an, aku mau mengurus kuda, asal mendapat makan setiap hari.          "  Entah bagaimana, melihat anak laki-laki yang sombong dan yang dia tahu tentu anak Hoa- san-pai ini, tiba-tiba hati Yo Wan menjadi tawar untuk bertemu dengan suhunya.           Bukankah suhunya itu putera Hoa-san-pai dan sekarang mondok di situ? Bagaimana kalau orang- orang Hoa-san-pai memandang rendah kepadanya dan tidak suka mengangkatnya sebagai murid Pendekar Buta? Lebih baik dia menjadi tukang kuda dan tidak usah mengaku" sebagai murid gurunya agar tidak merendahkan nama gurunya.           De-ngan pekerjaan ini, dia hendak melihat gelagat, melihat dulu suasana, di Hoa san-pai sebelum mengambil keputusanuntuk menehadap suhunya.           "Baik, kau boleh bekerja men)adl pengurus kuda.           Setiap hari kau harus mencari rumput yang segar dan gemuk untuk dua belas ekor kuda, memberi makan dan menyikat bulu kuda.           Tidak hanya makan, kau juga akan diber pakaian dan upah.          Eh, siapa namamu? Di mana rumahmu?" "Namaku A Wan, Lopek, dan aku tidak mempunyai rumah.           Terima kasih atas kebaikanmu, aku akan merawat kuda dengan baik-baikö.           ôBekerjalah dengan baik, ketua kami tentu akan menaruh kasihan kepadamu.           Jangan sekali- kali suka mencuri, apalagi melarikan kuda," kata tosu ke dua.           "Susiok, kenapa takut dia mencuri dan lari? Kalau dia jahat, anak panahku akan                     49                      merobohkannya!" "Hush, Swan Bu, jangan bicara begitu .ö "Aku paling benci penjahat, Susiok, tiap kali melihat penjahat, pasti akan panah mampus.            Kelak kalau aku sudah besar, aku akan basmi semua penjahat di permukaan bumi ini.          " Hemmm, bocah manja dan amat besar mulut, pikir Yo Wan.           Heran sekali dia mendengar  omongan seorang anak kecil seperti itu.           Anak siapa gerangan bocah ini? Apakah anak ketua Hoa-san-pai? Akan tetapi dia tidak berani banyak bertanya, karena nanti pun dia akan tahu sendiri.           .' "Swan Bu kita pulang berlari sambll melatih ilmu lari cepat," kata tosu pertama kepada anak itu.           "Biar tiga ekor kuda ini dituntun naik oleh A Wan.           A Wan, kau tuntun kuda tiga ekor kuda ini ke puncak, sampai di sana bawa ke kandang, gosok badannya sampai kering dari keringat dan beri makan.          " Setelah berkata demikian, tosu itu memberikan kendali tiga ekor kuda itu kepada A Wan, kemudian dia mengajak tosu ke dua dan Swan Bu untuk berlari cepat.           Mereka berkelebat dan seperti terbang mereka lari mendaki gunung.           Memang tosu itu sengaja tidak memberi penjelasan karena hendak menguji kecerdikan kacung kuda itu, apakah mampu dan dengan baik mengantar binatang-binatang itu ke kandang ataukah tidak.           la masih ragu-ragu melihat pemuda yang bodoh itu.           Adapun Yo Wan sambil memegangi kendali tiga ekor kuda, melihat mereka berlari-lari cepat.           Biasa saja kepandaian mereka itu, pikirnya, lalu dituntunnya tiea ekor kuda mendaki gunung.           Sambil berjalan perlahan, dia bertanya-tanya dalam hati siapa gerangan bocan yang bernama Swan Bu itu.           Bocah tampan dan bersemangat, memiliki dasar watak yang eaeah dan pembenci penjahat, akan tetapi rusak oleh kemanjaan dan kesombongan.           Pertemuannya dengan anak laki-laki tadi membuat Yo Wan makin tidak enak lagi hatinya.           la merasa bahwa orang-orang Hoa-san-pai kurang bijaksana, terbukti dari watak bocah tadi yang agaknya terlalu manja.           Heran dia mengapa suhunya yang jujur dan budiman, subonya yang berwatak halus dan penuh pribudi itu bisa tinggal di situ sampai bertahun-tahun.           Akan tetapi dia teringat lagi bahwa suhunya adalah putera ketua Hoa-san-pai, tentu saja harus berbakti kepada orang tua, dan orang dengan watak sehalus subonya, tentu dapat menghadapi segala macam watak dengan penuh kesabaran.           la menank na-pas.           Dasar kau sendiri yang iri agaknya melihat bocah tadi demikian manja, pa-kaiannya demikian indah, dia mencela diri sendiri.           Betapapun juga, Yo Wan adalah seorang pemuda yang masih re- maja dan kurang sekali pengalaman, ku-rang pula pendidikan, maka rasa iri itu adalah wajar.           Iri karena dia tidak pernah merasa bagaimana dicinta orang tua, dimanja orang tua.           la teringat akan ke-adaan sendlri, seorang jaka lola yang tidak punya apa-apa di dunia ini.           Alang-kah jauh bedanya dengan Swan Bu tadi, bagai bumi dan langit.           Selagi dia melamun sambil menuntun kudanya di jalan yang cukup lebar tapi menanjak itu,                     50                      tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dari belakang dan disusul ben-takan nyaring, "Minggir..          ! Minggir..          !!" Lalu terdengar bunyi cambuk di udara.           Kalau saja A Wan tidak sedang melamun, agaknya dia tidak begitu ½aget dan dapat menuntun tiga ekor kuda itu ke pinggir.           Akan tetapi bentakan nyanng ini seakan-akan menyeretnya tiba-tiba dari dunia lamunan, membuat dia Kaget dan tak sempat menguasai seekor di antara kudanya yang kaget dan meion]ak ke tengah jalan.           Karena dua ekor kuda yang lain juga melonjak-lonjak ketakutan, terpaksa Yo Wan hanya menenangkan dua ekor yang masih dia pegang kendalinya, sedangkan yang seekor telah terlepas kendalinya dan kini berloncatan di te-neah jalan.           Pada saat itu, dua orang penuneeang kuda sudah datang membalap dekat sekali.           Yo Wan berteriak kaget, karena kudanya yang mengamuk itu tidak menghindar, malah meloncat dan me-nubruk ke arah seorang di antara pe-nunggang- penunggang kuda itu.           "Setan..          !" Penunggang kuda yang di'tubruk itu memaki, dia seorang laki-laki yang berkumis panjang, berusia ku-rane lebih empat puluh tahun, pakaiannya penuh tambalan, akan tetapi sepatunya baru dan mengkilap.           Sambil memaki, dia menggerakkah kakinya, menendang ke arah perut kuda yang menubruknya.           "Krakkk!" Tendangan itu keras sekali dan mendengar bunyinya, agaknya tulang-tulang rusuk kuda yang menubruknya itu telah ditendang patah.           Kuda itu meringkik, terjengkang ke belakang lalu roboh dan berkelojotan, tak mampu bangun lagi.           "Wah-wah-wah, Sute (Adik seperguruan), kau telah membunuh seekor kuda Hoa-san-pai!" tegur orang ke dua, usia-nya hampir lima puluh, rambutnya putih semua digelung ke atas, mukanya licin tanpa kumis, pakaiannya juga penuh tam-balan seperti orang pertama.           "Habis, apakah aku harus membiarkan kuda itu menubrukku, Suheng? Salahnya bocah ini, menuntun kuda kurang hati-hati!" Mereka berdua melompat turun dari kuda dan memandang kepada Yo Wan.           Bukan main kagetnya hati Yo Wan melihat betapa seekor di antara tiga kuda yang dia tuntun itu kini telah berkelojotan hampir mati di tengah jalan.           Baru saja dia diterima menjadi kacung kuda, sudah terjadi hal ini.           Karena kaget dan bingung, dia segera berkata, "Kau membunuh kudaku.           Hayo ganti kudaku!' Si kumis tersenyum.           "Bocah, ketahul-ijah.           Aku dan suhengku ini adalah dua orang utusan  dari Sin-tung-kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Sakti).           Urusan kuda adalah urusan kecil, tak perlu kau ribut-ribut.          " "Urusan kecil bagaimana?" Yo Wan berteriak.           "Mungkin kecil untuk kau, akan tetapi amat                     51                      besar bagiku.           Kau ha-rus mengganti kuda ini!" Muka si kumis menjadi merah.           la heran sekali.           Biasanya, orang-orang Hoa-san-pai tentu akan bersikap hormat kalau mendengar bahwa mereka adalah utusan '<iari Sin-tung-kai- pang.           Akan tetapi bocah ini, tentu hanya seorang anak murid yang masih rendah, sama sekali tidak meng-hormat, malah agak kasar sikap dan bicaranya.           "Kau siapa? Apakah kuda ini bukan milik Hoa-san-pai?" tanya si kumis.           "Memang kuda Hoa-san-pai, dan aku adalah kacung kuda yang baru.           Bagai-mana aku harus  pulang kalau kuda yang kutuntun berkurang seekor? Lopek, kau harus menggantinya!" Sambil berkata demikian, Yo Wan menuntun dua ekor kudanya di tengah jalan, menghadang perjalanan karena dia khawatir kalau dua orane itu akan melarikan diri.           Si kumis menjadi makin merah muka-nya karena marah ketika mendengar bahwa bocah ini hanya seorang kacung kuda saja'.           Seorang kacung kuda bagai-mana berani bersikap sekasar itu ter-hadap dia, anak murid Sin-tung-kai-pang vanesudah bersepatu baru? Di perkumpul-an pengemis ini terdapat peraturan yang aneh.           Tingkat seseorang ditandai dengan sepatu.           Yang terendah tidak memakai sepatu, yang iebih tinggi memakai alas kaki, makin tinggi .          makin baik, dan san-dal kayu sampai sepatu kulit yang meng-kilap seperti yang dipakai oleh kedua orang penunggang kuda ini.           Maklumlah, mereka berdua adalah murid-mund dan ketua Sin-tung-kai-pang, maka kepandaiannya sudah amat tinggi dan "pangkatnya" sudah pemakai sepatu baru.           "Hemmm, bujang rendah! Kau hanya1 tukang kuda, banyak cerewet.           Urusan seekor kuda saja kau ribut-ribut! Ming-gir! Biar nanti kubicarakan dengan orang-orang Hoa-san-pai tentang kuda ini, kau boleh pulang ke kandangmu!" "Betul kata-kata, Suteku, bocah tu-kang kuda, jangan kau takut.           Biar nanti kami bicarakan urusan kuda ini dengan majikanmu," sambung orang ke dua yang rambut putih.           "Tidak!" Yo Wan membantah karena dla takut kedua orang ini akan mengadu kepada ketua Hoa-san-pai dan membalik-kan duduknya perkara sehingga dia yang akan dipersalahkan.           "Kau harus ganti sekarang juga!" "Bujang rendah, kaubuka matamu j baik-baik dan lihat dengan siapa kau ' bicara!" bentak si kumis, marah sekali.           "Aku sudah melihat, kalian adalah dua orang pengemis aneh.          " Dua orang itu tertawa.           Memang aneh orang-orang dari Sin-tung-kai-pang.           Kalau orang lain  menyebut mereka pengemis, har itu berarti suatu penghormatan bagi me-reka! Inilah sebabnya mereka menjadi senang mendengar Yo Wan menyebut mereka pengemis aneh dan                     52                      hal ini me-reka anggap bahwa Yo 'Wan met^nai^ siapa mereka dan takut.           "Bocah! Kaulihat sepatu kami!" Yo Wan mendongkol juga.           Orang ini terlalu menghinanya, akan tetapi dia memandang juga  ke arah sepatu mereka.           "Ada apa dengan sepatu kalian? Sepatu baru, akan tetapi penuh debu!" jawabnya.           "Ha-ha-ha, anak baik, kau mengenal sepatu baru kami!" Si kumis tertawa senang.           "Hayo kaubersihkan debu sepatu kami, dan nanti kami akan minta kepada majikanmu agar kau jangan dihukum karena kelalaianmu menuntun kuda.          " Yo Wan menegakkan kepalanya, me-mandang tajam.           "Harap kalian tidak main-main.           Aku pun tidak ingin main-main dengan kalian.           Lebih baik sekarang kautinggalkan seekor di antara kudamu untuk mengganti kudaku yang mati, baru kalian melanjutkan perjalanan.          " ôApa..          ??" Dua orang itu berteriak kaget, heran dan juga marah.           "Kau ini kacung kuda berani bicara begitu kepada kami? Kami adalah dua orang utusan terhormat dari Sin-tung- kai-pang, tahu? Minggir dan jangan banyak cerewet kalau kau tidak ingin mampus seperti kuda itu!" Yo Wan adalah seorang yang memiliki watak suka merendah, hal ini terbentuk oleh keadaan hidupnya semenjak kecil.           la suka mengalah dan mempunyai rasa diri rendah dan bodoh, akan tetapi betapapun juga, dia adalah seorang muda yang berdarah panas.           Melihat sikap dan mendengar ucapan menghina itu, kesabarannya patah.           "Biarpun kalian utusan dari Giam-lo-ong (Malaikat Maut) sekalipun, karena kau membunuh kudaku, kau harus meng-gantinya!" Dua orang itu mencak-mencak saking marahnya.           Kalau saja mereka tidak ingat bahwa kacung itu adalah seorang bujang Hoa-san-pai dan bahwa mereka berada di wilayah Hoa- san-pai, tentu sekali pukul mereka membikin mampus bocah ini.           "Sute, jangan layani dia, Dorong minggir!" Si kumis tertawa dan melangkah maju mendekati Yo Wan, tangan kirinya men-dorong  pundak pemuda itu sambil membentak, "Tidurlah dekat bangkai kudamu!" la menggunakan tenaga setengahnya karena tidak ingin membunuh Yo War, hanya ingin membuat kacung itu terjeng-kang dekat bangkai kuda tadi.           Akan tetapi dia salah besar kalau mengira bahwa dengan hanya sebuah dorongan seperti itu saja dia akan mampu merobohkan Yo Wan.           Tangannya mendorong pundak Yo Wan yang                     53                      sengaja tidak mau mengelak, akan tetapi tenaga dorongannya bertemu dengan pundak yang kokoh kuat seperti batu karang.           Jangankan membuat kacung itu roboh, nnembuat pundak itu bergoyang saja tidak mampu! "Kau ganti kudaku yang mati kata Yo Wan tanpa bergerak.           Si kumis terheran, penasaran lalu timbul kemarahannya.           "Kau kepala batu", bentaknya dan kini dia menggunakan seluruh tenaganya untuk mendorong dada Yo Wan.           Yo Wan tidak mau mengalah sampai dua kali, apalagi sekarang yang didorong adalah dadanya.           Tak mungkin dia mau membiarkan dadanya didorong orang karena hal ini berbahaya.           Selama tiga ta-hun, terus-menerus siang malam dia ber-main silat menurut petunjuk Stn-eng-cu dan Bhewakala, Umu silat tingkat tinggi yang membuat Umu itu mendarah daging di tubuhnya dan di pikirannya, seluruh panca inderanya sudah matang sehingga segalanya bergerak secara oto-matis, karena memang demikianlah ke-hendak dua orang sakti itu.           Sekarang, menghadapi dorongan kedua tangan si kumis ke arah dadanya, secara otomatis kaki Yo Wan melangkah dengan gerak tipu Ilmu Langkah Si-cap-it Sin-po, yang dia warisi dari Pendekar Buta.           Ketika tubuh si kumis yang mendorongnya itu lewat dekat tubuhnya, otomatis pula tangannya bergerak ke punggung dan pantat.           Seperti sehelai layang-layang putus talinya, tubuh si kumis itu "melayang" ke depan dan memeluk bangkai kuda yang tadi ditendangnya!  "Bukkk! Uh-uhhh..          " Si kumis terbanting pada bangkai kuda, karena dia tadi mencium hidung kuda yang mancung dan keras, hidungnya mengeluarkan darah dan kepalanya menjadi pening.           Temannya yang berambut putih, se-jenak berdiri melongo.           Hampir saja dia tak dapat percaya bahwa sutenya begitu mudah dirobohkan.           Oleh seorang kacung kuda! Padahal dia makiun.           bahwa ilmu kepandaian sutenya itu sudah tinggi, patutnya kalau dikeroyok oleh dua puluh orang kacuftg seperti ini saja tak mungkin kalah.           Tapi mengapa sampai hidung- nya mengeluarkan kecap? "Kau berani melawan kami?" bentaknya marah setelah dia sadar kembali dar| keheranannya.           Sambil membentak begitUjj pengemis rambut putih ini pun menerjang maju.           la memukul ke arah muka Yo Wan dengan tangan kiri, sedangkan ta-ngan kanannya diam-diam melakukan gerakan susulan, yaitu serangan yang sesungguhnya dan tersembunyi di belakang serangan pertama yang merupakan pancingan.           Maksudnya hanya ingin mem-banting roboh Yo Wan sebagai pembalas-an atas kekalahan temannya, karena dia masih belum berani membunuh seorang bujang Hoa-san-pai.           Yo Wan tersenyum.           Setelah melatih diri dengan tipu-tipu yang luar biasa hebatnya secara berganti-ganti dari Sin-eng-cu dan Bhewakala, di mana dua orang sakti itu menggunakan gerakan-gerakan yang penuh tipu muslihat, penuh pancing-an dan amat tinggi tingkatnya,                     54                      jurus yang dipergunakan oleh si rambut putih ini baginya merupakan gerakan main-main yang tidak ada artinya sama sekali.           Agaknya boleh dikatakan bahwa Yo Wan telah mengetahui lebih dulu sebelum pengemis itu bergerak! Dengan tenang dia miringkan kepala dan tangannya men-dahului digerakkan ke depan menyambut tangan kanan kakek pengemis yang hen-dak membantingnya, dipegangnya per-gelangan tangan itu dan sekali tekan tangan itu seakan-akan nnenjadi lumpuh.           Di lain saat, tubuh pengemis rambut putih ini pun sudah melayang ke depan dan..           menimpa tubuh pengemis berkumis yang baru krengkang-krengkang hendak merangkak bangun.           Tentu saja dia roboh lagi dan keduanya bergulingan dekat bangkai kuda! "Lebih baik kalian pergi dart tinggal-kan seekor kuda untuk mengganti yang mati," kata Yo Wan menyesal dia sama sekali tidak ingin berkelahi, takut kalau-kalau hal ini akan membikin marah suhunya.           "Kalau kau merasa rugi boleh kau bawa bangkai kuda itu.           Aku tidak mau mencari perkara. Akan tetapi dua orang pengemls itu sudah memuncak kemarahannya.           Mereka adalah murid-murid yang terkenal dari ketua Sin-tung-kai-pang, maka apa yang terjadi tadi merupakan penghinaan yang hanya dapat dicuci dengan darah dan nyawa! Seorang kacung kuda membuat mereka jatuh bangun macam itu.           Mana mereka ada muka untuk memakai sepatu baru lagi?  "Keparat, lihat golok kami merenggut nyawamu!" bentak si kumis.           Sinar golok berkelebat ke arah leher Yo Wan, disusul bacokan golok si rambut putih ke arah pinggangnya.           Memang keistimewaan para anak murid Sin-tung-kai-pang adalah permainan golok.           Ketuanya terkenal dengan tongkatnya, maka perkumpulan pe-ngemis itu dinamakan Sin-tung (Tongkat Sakti), namun agaknya si ketua ini tidak mau menurunkan ilmu tongkatnya kepada para murid dan anggautanya.           Sebaliknya dia lalu menciptakan ilmu golok dari ilmu tongkat itu dan ilmu golok inilah yang dipelajari oleh semua murid dan anggauta Sin-tung-kai- pang.           Yo Wan menggerakkan kedua kakinya, mainkan langkah ajaib dan..           dua orang pengemis itu seketika menjadi bingung karena pemuda itu lenyap di belakang.           Kalau mereka membalik dan menerjang lagi, pemuda itu menggerakkan kedua kaki secara aneh, lenyap lagi dan tiba-tiba belakang siku kanan mereka ter-kena sentilan jari tangan Yo Wan.           Se- ketika kaku rasanya lengan itu dan golok mereka terlepas tanpa dapat dipertahan kan lagi.           Sebelum mereka tahu apa yang terjadi, untuk kedua kalinya tubuh mere-ka melayang karena kaki Yo Wan oto-matis telah mengirim dua buah tendangan.           "Aku tidak mau berkelahi, lebih baik kalian pergi.           Ganti kudaku dan perkara ini habis sampai di sini saja,ö kembali Yo Wan berkata.           Akan tetapi kedua orang pengemis itu menjadi begitu kaget, heran dan ketakut-an sehingga                     55                      tanpa berkata apa-apa iagi mereka berdua lalu merangkak bangun dan..           lari turun gunung! Yo Wan ber-diri tertegun, mengikuti mereka dengan pandang mata heran.           Kemudian dia meng-angkat pundak, lalu memegang kendali dua ekor kuda mereka itu.           Kini ada em-pat ekor kuda di tangannya.           Kuda-kuda itu dia cancang pada sebatang pohon dan dia segera menggali lubang di pinggir jalan untuk mengubur bangkai kuda tadi.           Setelah selesai, Yo Wan menuntun empat ekor kuda, melanjutkan perjalanannya mendaki puncak.           Kiranya jalan yang sengaja dibangun menuju ke puncak itu berliku-liku me-ngelilingi puncak.           Memang, satu-satunya cara untuk membuat jalan yang dapat dilalui kuda dan manusia biasa, hanya membuatnya berliku-liku seperti itu se-hingga jalan tanjakannya tidak terlalu sukar dilalui.           Dengan mempergunakan ilmu lari cepat, tentu saja dapat men- daki dengan melalui jalan yang lurus dan dapat cepat sampai di puncak.           Akan tetapi melalui jalan buatan ini, apalagi menuntun empat ekor kuda yang kadang-kadang rewel dan mogok di jalan, benar-benar memakan waktu setengah hari lebih.           Menjelang senja barulah Yo Wan tiba di pintu gerbang tembok yang me-ngelilingi Hoa-san-pai yang merupakan kelompok bangunan besar di puncak.           Seorang tosu yang menjaga pintu gerbang menyambut Yo Wan dengan pertanyaan, "Apakah kau tukang kuda baru?" Yo Wan mengangguk.           "Aku harus membawa kuda-kuda ini ke kandang.           Dapatkah kau menunjukkan di mana ada-nya kandang kuda?" Tosu itu kelihatan tidak senang mendengar kata-kata Yo Wan yang sederhana tanpa penghormatan sama sekali itu.           Benar-benar seorang anak muda dusun yang bodoh, pikirnya.           "Kandang kuda berada di luar tembok sebelah barat.           Kau kelilingi saja tembok ini ke barat, nanti akan sampai di sana," jawabnya lalu duduk kembali, sama sekali tidak mengacuhkan Yo Wan yang ber-peluh dan amat lapar itu.           Yo Wan me-mandang ke barat.           Benar saja, di dekat tembok sebelah sana kelihatan kandang kuda, terbuat daripada papan sederhana.           Tanpa mengucap terima kasih karena di-anggapnya tanya jawab itu sudah tB-mestinya, dia pergi dari situ, menuntun empat ekor kudanya.           Tosu yang menyambutnya di kandang kuda lebih peramah.           Tosu ini bertubuh gemuk pendek, mukanya bundar dan n+a-tanya seperti dua buah kelereng.            "Ha-ha-ha, ada tukang kuda baru! serunya.           "Orang muda, mana kuda tunggangan Swan Bu yang berbulu hitam? Dan ini ada empat ekor, eh, bagaimana ini, Bong-suheng tadi bilang bahwa kau membawa kuda mereka bertiga, kenapa sekarang ada empat ekor?" Kuda siapa yang dua ekor ini dan mana kuda Swan Bu?"                    56                      "Lopek, kuda yang hitam itu sudah kukubur di pinggir jalan sana," kata Yo Wan sambil menyusut peluh dengan ujung lengan baju.           la merasa lelah dan lapar sekali, juga amat haus.           Sejak kemarin dia tidak makan, dan tadi dia tidak be-rani berhenti untuk mencari buah atau air.           Sekarang dia masih menghadapi urus-an kuda dan tentu akan mendapat marah lagi.           Tosu gendut itu melongo, sepasang matanya makin bundar, memandangnya dengan bingung dan heran.           "Kaukubur? Bagaimana ini? Maksudmu, kaupendam kuda itu?" Yo Wan mengangguk, "Benar, karena dia mati.          " la berhenti sebentar lalu ber-kata, "Lopek, aku lapar dan haus, apa kau bisa menolong aku?" Tosu itu mengangguk-angguk, masih bingung.           "Ah, tentu..           tentu..           tunggu sebentar.           Aneh, bagaimana kuda bisa mati dan dikubur? Aneh..          " tapi dia berjalan memasuki kandang kuda sambil mengomel panjang pendek, keluar lagi membawa bungkusan makanan dan se-kaleng air minum.           Tanpa banyak sungkan lagi Yo Wan menerima kaleng air dan minum dengan lahapnya.           Tosu itu me-mandangnya penuh kaslhan dan tidak mengganggunya ketika Yo Wan mulai makan.           Berbeda dengan ketika minum tadi, kini Yo Wan makan dengan lambat dan tenang.           Melihat tosu itu memandangr nya, Yo Wan bercerita sambil makan.           "Kuda hitam dibunuh orang, Lopek.           Untungnya mereka berdua itu lari me-hinggalkan dua ekor kuda mereka ini, lalu kubawa ke sini dan bangkai kuda hitam itu kukubur di pinggir jalan.          " Tosu itu mendengarkan dengan melongo.           "Kuda dibunuh orang? Siapa mereka yang begitu berani main gila di Hoa san? "Mereka mengaku utusan-utusan dan Sin-tung-kai-pang.           Tadinya mereka tidak mau ganti, aku tetap tidak mau terima.           Akhirnya mereka mengalah dan lari pergi, meninggalkan dua ekor kuda ini.          " Tosu itu melebarkan matanya.           "Sin-tung-kai-pang? Mereka mengalah? Hem, kau masih untung, orang muda.           Mereka itu jahat.           Kalau mereka tidak memandang kebesaran Hoa-san- pai, kiranya bukan hanya kuda itu yang mereka bunuh dan saat ini kau takkan dapat makan minum lagi.          " Yo Wan diam saja, pikirannya melayang ke arah Swan Bu.           Jangan-jangan anak itu akan menjadi marah sekali karena kuda kesayangannya dibunuh orang dan akan membuat gara- gara dengan pembunuh kuda.           "Lopek, tadi aku sudah melihat anak yang bernama Swan Bu itu.           Dia tampan dan pandai main panah.           Si-apakah dia? Apakah putera Hoa-san-pai?"                    57                      Tosu itu menggeleng kepala.           "Kau orang baru, agaknya bukan orang sekitar Hoa-san.           Memang Swan Bu tampan dan gagah.           Ah, kasihan dia, tentu akan sedih dan marah kalau mendengar kudanya dibunuh orang..           hemmm, aku tidak akan tega menyampaikan berita ini ke-padanya.           Anak malang..          " Hemmm, benar-benar orang Hoa-san-pai amat memanjakan anak itu.           Lopek, kalau dia bukan putera Hoa-san-pai, apakah dia itu anak raja yang sedang bermain-main di sini?"  Tosu itu memandangnya dengan mata terbelalak.           "Putera raja? Ha-ha-ha, sama sekali bukan, tapi memang dia patut menjadi putera raja! Dia itu cucu tunggal dari Kwa-lo- sukong, jadi masih terhitung keponakan dari ketua kami yang sekarangö.           Berdebar jantung Yo Wan.           Cucu guru besar she Kwa? Suhunya juga she Kwa! Lopek, dia itu anak siapakah? Aku be-lum mengenal orang-orang di sini, keteranganmu tadi sama sekali tidak jelas.           Tosu itu kini tertawa dan mengangkat jempol tangan kanannya ke atas.           "Dia keturunan orang-orang gagah, karena itu, dia harus menjadi seorang calon tokoh Hoa- san-pai yang nomor satu' Ayahnya adalah tokoh sakti yang terkenal dengan julukan Pendekar Buta, ibunya juga memiliki kepandaian setinggi langlt.           Kakeknya adalah Hoa-san It-kiam.           Kwa Tin Siong bekas ketua Hoa-san-pai, pamannya adalah Kui-san-jin (Orang Gu- nung she Kui) yang sekarang menjadi ketua kami.           Paman-paman gurunya ada-lah orang- orang sakti di samping tokoh-tokoh sakti yang bersama-sama meng-gemblengnya, bukankah dia kelak akan menjadi jago nomor satu di dunia persilatan?" Tosu gendut itu nampak bangga sekali sehingga tidak tahu betapa wajah kacung kuda ini menjadi pucat.           Kiranya Swan Bu yang pagi tadi memakinya dan hendak memanahnya kalau dia lari, adalah putera suhunya! Pantas saja demikian gagah dan tampan.           Ah, aku kurang hati-hati, pikirnya.           Dia anak suhu, dan diam-diam dia merasa bangga Juga.           Akan tetapi dia kecewa sekali teringat bahwa kuda anak itu telah terbunuh.           "Malam sudah tiba..           eh, siapa nama-mu tadi?" "A Wan, Lopek.          " "A Wan, kau jaga baik-baik kuda di kandang ini.           Rumput masih cukup di sudut kandang  sana, kauberi makan mereka, lalu kau boleh tidur.           Kau bikin sendiri tempat tidurmu, banyak rumput kering di kandang kosong sebelah kiri.           Beberapa malam ini pinto (aku) juga tidur di sana, lebih enak danpada tidur di ranjang.           Kalau perlu mandi, tuh di bawah pohon besar itu ada sumber air.           Besok saja pinto ajak kau ke dalam, bertemu dengan para pemimpin.           Maiam ini kau mengaso saja.          "                     58                      "Baik, terima kasih, Lopek.          " Yo Wan berterima kasih sekali sekarang karena memang dia membutuhkan istirahat un-tuk memutar otak.           Bermacam perasaan teraduk di dalam hatinya.           Jadi suhunya sudah mempunyai putera yang demikian tampan dan gagah.           Putera itu dididik di Hoa-san-pai.           Mungkin saking senangnya mendapatkan putera ini, suhu dan subo-i nya sampai lupa kepadanya.           Besok dia I harus menghadap suhu dan subonya.           Ten-tu saja dia dapat bekerja di situ, men-jadi tukang kuda atau apa saja.           Tapi..           dia ragu-ragu apakah dia akan suka ting-gal di sini selamanya.           Apakah suhunya mau menurunkan Umu silat setelah mempunyai putera yang amat dlsayang? Bu-kankah tosu gendut tadi menyatakan bahwa cita-cita mereka semua adalah membuat Swan Bu menjadi jago nomor satu di dunia? Mungkin suhu dan subonya mau mengajarnya, dia cukup mengenal watak mereka yang budiman.           Akan tetapi apakah para orang tua di Hoa-san-pai akan suka menerimanya? Pusing pikiran Yo Wan.           Betapapun juga, besok aku akan menghadap suhu dan lihat saja bagaimana perkembangan-nya.           Kalau tak mungkin tinggal di situ, pikirnya, dia akan tanya kepada suhunya tentang musuh besarnya, The Sun.           Akan dicari dan dilawan dengan apa yang dia miliki sekarang.           Berpikir sampai di sini dia teringat akan pertempuran tadi dan diam-diam dia menjadi girang.           Tadinya dia menganggap bahwa dua orang itu ha-nya dua manusia sombong yang tidak becus apa-apa, orang-orang lemah yang hanya mengandalkan aksi dan mungkin kedudukan, yang sama sekali tidak me-miliki kepandaian silat yang berarti.           Apakah tosu gendut tadi yang melebih-lebihkan? Tidak mungkin dua orang yang begitu lemah bisa merajalela berbuat kejahatan.           Orang dengan kepandaian se- rendah itu mana bisa mengganggu orang / lain? Sampai dia tertidur pulas di atas rumput kering yang nyaman ditiduri, Yo Wan tidak dapat menjawab pertanyaannya sendiri itu.           Memang, pemuda mi sama sekali tidak tahu bahwa bukan dua orang itu yang terlalu lemah, melainkan dia sendirilah yang terlalu tinggi tingkat ilmunya bagi dua orang tadi.           la sama sekali tidak menyadari bahwa dalam diri-nya telah terkandung ilrnu silat tingkat tinggi yang sudah mendarah daging de-ngan dirinya.           la menganggap dirinya be-lum pandai silat, sama sekali tidak sadar bahwa setiap gerakannya adalah mengan-dung inti sari ilmu silat tinggi yang di-wariskan oleh Sin-eng-cu dan Bhewakala! Tentu saja Yo Wan yang sederhana jalan pikirannya ini tidak merasa pandai Umu silat karena ketika selama tiga tahun dia mainkan jurus-jurus sakti, sama sekali bukanlah "belajar", melainkan hanya menjadi perantara kedua orang sakti mengadu ilmu.           Tiba-tiba Yo Wan bangkit dari rumput kering.           Dia mendengar kuda meringkik dan menyepak-nyepak.           Kalau saja dia tidak ingat bahwa dia menjadi tukang kuda dan kewajibannya menjaga kuda, tentu dia tidur lagi.           la terlalu lelah.           Dengan malas dia bangun dan keluar dari kandang kosong yang menjadi kamar tidurnya, menghampiri kandang kuda.                               59                      Tidak ada sesuatu.           Malam gelap dan kuda-kuda itu masih berada di kandang.           "Ah, kiranya benar hanya tukang kuda..          " terdengar suara lirih, dari atas.           Yo Wan terkejut.           Kiranya ada orang di atas kandang kuda.           Mendadak dia mendengar  sambaran halus dari belakang.           Cepat dia miringkan tubuhnya dan "tak!" sebuah benda kecil menyambar lewat, menghantam tiang kandang dan mengeluarkan sinar.           Dia lain saat, tiang itu dan rumput kering di bawah yang terkena pecahan benda itu sudah terbakar.           Yo Wan kaget bukan main.           Cepat dia menggunakan rumput basah untuk memadamkan api.           Dengan marah dia menggerakkan tubuh melompat ke atas kandang.           Akan tetapi sunyi di situ, tidak ada bayangan orang.           la menduga bahwa orang yang menyambitnya tadi tentu sudah melarikan diri.           Kembaii dia memasuki kandang kosong, akan tetapi kali im dia tidak dapat tidur pulas.           Agaknya yang datang itu adalah dua orang Sin-tung-kai-pang tadl, atau boleh jadi teman temannya.           Mereka itu datang menyerangnya dengan benda yang dapat membakar tiang dan rumput, ataukah memang se-ngaja hendak membakar kandang? Tapi mendengar ucapan lirih tadi, agaknya mereka ingin pula melihat apakah ben ir-benar seorang tukang kuda.           Benar-benar aneh.           Apa artinya ini semua? Pada keesokannya, pagi-pagi sekali serombongan orang yang semua berpakaian tambalan mendaki puncak Hoa-san.           Yang berjalan di depan sendiri adalah seorang kakek berusia enam puluh tahun lebih, tubuhnya kurus kering seperti tinggal tulang terbungkus ktilit saja tanpa daging sedikit pun, namun tubuh itu ma-sih tegak berdiri kaku seperti perajurit bersikap di depan komandannya.           la memegang sebatang tongkat yang aneh.           Tongkat ini entah terbuat daripada bahan apa, tidak dapat dikenal begitu saja, tapi warnanya aneka macam, belang-bonteng ada warna hijau, merah, kuning, hitam dan putih.           Lebih hebat lagi sepatunya, karena sepatu ini pun terbuat daripada kulit mengkilap yang warnanya juga ma- cam-macam.           Dilihat begitu saja dia lebih pantas menjadi seorang pemain lawak di atas panggung wayang.           Akan tetapl, ja-ngan dikira bahwa dia itu orang gila atau seorang biasa saja, karena kakek ini adalah Sin-tung-kai-pangcu (Ketua Per-kumpulan Pengemis Tongkat Sakti) yang amat terkenal sebagai raja pengemis.           Permainan tongkatnya hebat dan ditakuti orang.           Memang ketua pengemis ini pandai sekali main tongkat dan dia menerima kepandaian ini fjari dua orang hwesio pelarian dari Siauw-lim-si yang terkenal dengan nama julukan Hek-tung Hwesio dan Pek-tung Hwesio, Si Hwesio Tongkat Hitam dan Hwesio Tongkat Putih.           Di kanan kirinya berjalan dua orang pengemis tua, lima puluh lebih usianya, yang seorang membawa sebatang pedang tergantung di pinggang, yang ke dua memegang sebatang toya panjang.           Kedua orang pengemis ini memakai sepatu yang berwarna, akan tetapi warnanya tidak sebanyak pada sepatu pangcu itu.           Ini menjadi tanda bahwa mereka itu seting-kat lebih rendah daripada pangcu mereka.           Mereka adalah kedua orang pembantu ketua itu, dan merupakan orang ke dua darfke tiga dalam Sin-tung-kai-pang.                              60                      Di belakang tiga orang tokoh Sin-tung-kai-pang ini, berbarislah murid-murid mereka bertiga yang jumlahnya lima belas orang, di antara mereka ini tampak dua orang yang kemarin ribut-ribut dengan Yo Wan.           Melihat cara mereka mendaki puncak dengan kecepatan luar biasa dapat diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi.          ! Memang sesungguhnya, delapan belas orang pengemis yang dengan muka marah mendaki puncak Hoa-san ini merupakan orang-orang terpenting dalam Sin-tung-kai-pang!  Para tosu yang beker)a di luar dan menjaga pintu, segera mengenal mereka dan tergesa- gesa para tosu yang melihat datangnya rombongan ini menyampaikan laporan ke dalam.           Kaget dan heran juga Kui-san-jin, ketua Hoa-san-pai ketika mendengar laporan ini.           Cepat dla keluar menyambut dan berturut-turut keluar pula isterinya, suhengnya yaitu Thian Beng Tosu, malah Kwa Kun Hong ber-sama isterinya, Kwi Hui Kauw, dan pu-teranya, Kwa Swan Bu, juga keluar untuk melihat apa kehendak rombongan pengemis itu.           Ketua Hoa-san-pai, Kui-san-jin, diam-diam merasa tidak enak hatinya.           Memang ada sesuatu antara Hoa-san-pai dan Sin-tung-kai-pang yang menjadi ganjalan hati.           Dimulai dengan bentrokan kecil antara seorang anak murid Hoa-san-pai yang pergi ke kota dengan seorang anggauta Sin-tung-kai-pang.           Sebrang pengemis yang sombong dan memandang rendah Hoa-san-pai telah bentrok dengan seorang aneeauta Hoa-san-pai yang berwatak keras.           Si pengemis dipukul roboh, datang banyak pengemis yang mengeroyok sehingga anak murid Hoa-san-pai itu ter-luka dan lari.           Akan tetapi urusan ini sudah diselesaikan oleh suhengnya, Thian Beng Tosu sehingga tidak menjalar lagi menjadi permusuhan antara kedua fihak.           Betapapun juga, diam-diam kedua fihak menaruh ganjalan hati.           Kini ketua Sin- tung-kai-pang beserta rombongan, paei-paei mendaki puncak Hoa-san, ada keperluan apakah"? Karena mendengar bahwa yang memimpin rombongan adaian ketuanya sendiri, maka Kui-san-jin sendiri menyambut ke luar, khawatir kalau anak murid yang menyambut, akan ter-jadi bentrokan yang lebih besar.           Senga)a dia menyambut di luar tembok, sesuai dengan keadaan tamu yang bukan merupakan sahabat.           Ketika melihat rombongan tuan rumah ke luar dari pintu gerbang.           Sin-tung-kai-pangcu memberi tanda kepada rombongannya untuk berhenti.           la melihat dua orang kakek yang berpakaian pendeta, seorang wanita tua yang masih cantik, seorang laki-laki muda yang buta di samping seorang wanita jelita, dan seorang anak laki-laki yang tampan dan membawa gendewa.           Di belakang rombongan ini tampak beberapa orang tosu yang meng- ikuti dari jauh, agaknya bukan anggauta-anggauta rombongan penyambut.           Ketua pengemis yang sebutannya Sin-tung Lo-kai (Pengemis Tua Tongkat Sak-ti) berdiri memandang dengan sikap galak dan angkuh.           la sama sekali tidak gentar biarpun dengan sudut.           matanya dia lihat betapa puluhan orang tosu kelihatan ke-luar pula seperti rayap.           Malah dia berdiri tegak saja, sama sekali tidak menghor" mat tuan rumah sebagai layaknya tamu+ Melihat sikap seperti ini, Kui-san-jin hanya tersenyum-senyum sabar dan be-gitu sampai di depan rombongan tamu, dia mengangkat tangan ke depan dada sebagai                     61                      penghormatan.           3uga suhengnya, Thian Beng Tosu, mengangkat kedua tangan memberi hormat.           Namun Sin-tung Lo-kai sama sekali tidak membalas penghormatan ini, malah langsung bertanya, suaranya kaku,  "Yang manakah ketua Hoa-san-pai?" Para tosu anak buah Hoa-san-pai marah sekali mendengar pertanyaan yang memandang  rendah ini, namun rombongan pemimpin Hoa-san-pai itu tersenyum sabar.           Hoa-san-pai adalah sebuah partai besar, patut mempunyai pimpinan yang bijaksana dan memiliki kesabaran tinggi, sikap orang-orang besar.           Kui-san-jin me-langkah maju dan menjawab, "Sayalah yang mendapat kehormatan menjadi ketua Hoa-san-pai.           Kalau saya tidak keliru sangka, sahabat ini tentu ketua dari Sin-tung-kai-pang, bukan?" Sin-tung Lo-kai tidak segera men-jawab, melainkan menatap tuan rumah penuh selidik. Seorang kakek kurang lebih enam puluh tahun, pakaiannya sederhana seperti pertapa, sikapnya lemah-lembut dan tidak kelihatan sesuatu yang aneh pada dirinya.           Biarpun demikian Sin-tung Lo-kai tidak berani memandang rendah karena dia sudah mendengar akan kebesaran Hoa-san-pai.            "Bagus! Ketua Hoa-san-pai, kami se-ngaja datang mengunjungimu dengan mak-sud hendak minta penjelasan mengapa Hoa-san-pai amat menghina Sin-tung-kai-pang? Apakah Hoa-san-pai merasa sebagai perkumpulan yang paling besar sehingga boleh malang-melintang dan melakukan penghinaan sesuka hatinya kepada perkumpulan lain?" Kui-san-jin mengerutkan alisnya, bertukar pandang dengan Thian Beng Tosu, lalu menjawab, "Sin-tung-kai-pangcu, saya harap kau suka bicara yang jelas, karena sesungguhnya kami tidak mengerti apa yang kaumaksudkan dengan penghinaan itu.           Memang harus kami akui bahwa telah terjadi bentrokan karena salah faham antara beberapa anak muridmu dengan anak murid kami, akan tetapi hal itu sudah diselesaikan dan didamaikan, malah oleh Suhengku ini, Thian Beng Tosu sendiri.           Kami anggap urusan kecil antara anak murid yang masih berdarah panas itu sudah selesai.           Mengapa kau sekarang datang menyatakan bahwa kami melakukan penghinaan? Penghinaan yang mana harap kaujelaskan.          " "Hemmm, bagus .          sekali! Hoa-san-pai kabarnya adalah perkumpulan yang besar dan berpengaruh, kiranya ketuanya tidak tahu apa yang terjadi di depan matanya sendiri! Paicu (Ketua) karena ingin mem-perbaiki hubungan antara perkumpulan kita yang pernah retak oleh perbuatan anak-anak murid kita, aku sengaja meng-utus dua orang anak muridku kemarin pagi untuk naik ke Hoa-san-pai dan me-nyampaikan undangan penghormatan dari Sin-tung-kai-pang kepadamu.          "                    62                      "Akan tetapi, kami tidak pernah menerimanya, Pangcu," jawab Kui-san-jin.           "Hemmm, tentu saja tidak pernah menerimanya!' Sin-tung-kai-pangcu ber-kata sambil  membanting ujung tongkatnya sampai menancap ke atas tanah berbatu di depan kakinya.           "Di tengah jalan, dua orang utusanku itu diserang oieh tukang kuda Hoa-san-pai, malah dua ekor kuda tiyzggangan mereka pun dirampas!" Semua orang menjadi kaget sekali mendengar ini.           "Ah, imana bisa terjadi hal itu?" Kul-san- jin berseru, tidak per-caya.           Tak mungkin anak muridnya ada yang berani melakukan perbuatan seperti itu.           Merampas kuda? Tidak bisa jadi! "Hemrnm, tentu saja tidak percaya!" Sin-tung Lo-kai mendengus, lalu melambaikan tangan kepada dua orang anak buahnya.           "Ceritakan kepada nnereka!" , perintahnya.           Dua orang pengemis melangkah maju dan berdiri membungkuk.           Seorang di antara mereka yang berkumis panjang lalu bercerita, sedangkan temannya yang berambut putih hanya menundukkan muka.           "Kami berdua sedang menunggang kuda mendaki kaki gunung ketika tiba-tiba seorang pemuda melepaskan kuda yang hampir menubruk kami.           Karena kaget dan untuk menyelamatkan diri daripada tubrukan, terpaksa saya meng-gerakkan kaki menendang kuda yang menubruk kami itu.           Kuda itu mati.           Tukang kuda Hoa-san-pai itu marah-marah, biarpun kami sudah berjanji hendak membicarakan hal itu dehgan kettia Hoa-san-pai, karena kami adalah utusan dari Sin-tung-kai-pang untuk menyampaikan un½ dangan.           Akan tetapi orang muda itu tetap tidak mau melepaskan kami, malah segera menyerang kami dan merampas dua ekor kuda tunggangan kami.           Ter-paksa kami kembali turun gunung dan melapor kepada ketua kami.          " Setelah berkata demikian, dua orang pengemis ini cepat-cepat mengundurkan diri lagi ke belakang ketua mereka, karena mereka merasa malu sekali harus bercerita bah-wa mereka kalah oleh seorang kacung kuda Hoa- san-pai.           Kui-san-jin tertegun.           Cerita ini benar-benar tidak masuk akal.           Dua orang per ngemis tadi dia lihat memiliki gerakan? gerakan yang tangkas dan kuat, dan sudah dapat menendang seekor kuda sekali saja mati cukup membuktikan kepandai-annya.           Masa mereka berdua kalah bleh tukang kuda Hoa-san-pai? Padahal tukang kuda Hoa-san-pai yang sudah tua telah meninggal dunia dan selama belum -nen-dapatkan tukang kuda baru, pekerjaan merawat kuida dilakukan oleh seorang tosu, kalau tidak salah Can Tosu yang gendut dan yang dia tahu- kepandaiannya rendah sekali.           Kui-san-jin menoleh ke belakang, nnencari-cari dengan pandang matanya, mencari Can- tojin, sedangkan mulutnya berkata, "Kami tidak mempunyai kacung kuda yang masih muda..          " Ketua Sin-tung-kai-pang mengeluarkan suara ketawa mengejek.           Pada saat Itu dua orang                     63                      tosu maju dan berlutut di depan Kui-san-jin.           Itulah dua orang tosu yang kemarin bersama Kwa Swan Bu menyerahkan kuda mereka kepada Yo Wan.           "Mohon ampun sebesarnya kepada Suhu," kata seorang di antara mereka, "sesungguhnya teecu berdua yang telah menerima kacung itu.           Kemarin pagi ketika teecu berdua mengantar Swan Bu berlatih panah dan sampai di kaki gunung, teecu melihat seorang pemuda yang keadaannya miskin dan seperti kelaparan.           Tadinya teecu kira dia itu tu-kang kuda baru yang dijanjikan oleh lurah dusun, akan tetapi ternyata bukan dan dia menyatakan suka bekerja mem-bantu kita.           Karena teecu kasihan kepada-nya, maka teecu lalu menerimanya se-bagai tukang kuda, dan teecu baru akan melaporkan hari ini kepada Suhu.           Siapa duga bocah itu menimbulkan onar.           Mo-hon ampun sebesarnya, Suhu.          " Kui-san-jin kaget mendengar ini.           Akan tetapi sebelum dia bicara, Swan Bu sudah melangkah maju dan dengan suara lantang berkata kepadanya, "Supek, benar kata kedua muridmu ini.           Memang tadinya sudah kucurigai dia.          " la lalu menoleh ke arah kakek pengemis dan berkata, suaranya tetap lantang, "Hai, Pangcu dari Sin-tung-kai-pang! Kau dengar sendiri, tukang kuda itu bukanlah anak murid Hoa-san-pai dan ketua kami tidak tahu-menahu tentang keributan itu.           Namun, kami dapat mem-beri hajaran kepada pengacau itu, jangan kau merembet-rembet nama Hoa-san-pai'.          " "Swan Bu, diam kau..          '.          " Kwa Kun Hong membentak dan seketika Swan Bu diam.           Akan tetapi tiba-tiba bocah ini meloncat ke depan, tangan kiri meraih anak panah, dipasangnya pada gendewanya dan menjepretlah tali gendewa dan anak panahnya meluncur ke kiri Yo Wan sejak tadi sudah mendengarkan semua pembicaraan itu.           Pagi-pagi tadi dia sudah pergi mencari rumput dan ketika dia melihat rombongan pengemis yang tampak marah mendaki naik puncak, hatinya berdebar tidak enak.           Tentu ada hubungannya dengan.          urusan kemarin, pikirnya.           Karena dia merasa bahwa dia yang menjadi biang keladinya, maka dia lalu pergi mengikuti mereka sampai ke puncak.           la bersembunyi di balik pohon dan mengintai semua perdebatan tadi.           Setelah dirinya di-sebut-sebut oleh dua orang tosu dan Swan Bu, dia segera muncul dengan maksud untuk mengakui kesemuanya dan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.           Dari balik batang pohon tadi Yo Wan merasa terharu dan sedih melihat suhu dan subonya.           Sekarang, maklum bahwa perbuatannya itu akan mengakibatkan keributan, dia mengambil keputusan untuk mempertanggungjawabkan sendiri agar Hoa-san-pai, terutama suhu dan subonya jangan sampai terbawa-bawa.           Dengan pikiran ini, dia lalu muncul keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan menuju ke tempat pertemuan.           Sama sekali tidak diduganya bahwa Swan Bu yang pertama melihat dan mengenalnya, malah bocah itu sudah melepaskan sebatang anak panah kepadanya.           Para tokoh Hoa-san-pai yang tidak mengenal siapa dia, hanya bisa tertegun dan heran, juga kaget melihat Swan Bu memanah orang muda itu, tanpa sempat mencegah lagi.                              64                      Yo Wan tentu saja akan dapat mengelak dengan mudah.           Namun dia sedang berduka bahwa dalam pertemuan dengan suhunya ini dia sudah mendatangkan keributan hebat, apalagi mengingat bahwa bocah itu adalah putera suhunya yang dibangga-banggakan, dia tidak tega untuk mengelak dan mendatangkan malu.           Sam-bil mengerahkan tenaga sinkang yang dia latih dari Sin-eng-cu dan Bhewakala, dia sengaja menerima anak panah itu dengan pundak kirinya, akan tetapi cepat-cepat dia menutup jalan darah pada bagian ini sehingga anak panah yang menancap satu dim dalamnya itu hanya melukai kulit daging saja.           Dengan anak panah menan-cap di pundak, dia berjalan terus meng-hampiri mereka.           "Swan Bu, kau lancang.lö.           Yo Wan mendengar subonya berteriak mencela puteranya.           Di dalam hatinya dia bersyukur bahwa subonya masih tetap seorang wanita budiman seperti dulu, dan lebih-lebih dia menjadi tidak tega untuk membiarkan suhu, subo dan putera mereka itu menanggung akibat daripada perbuatannya.           la pura-pura tidak melihat pandang mata subonya yang diarahkan kepadanya dan seakan-akan subonya itu hampir mengenalnya! la juga ndak peduli akan pandang mata semua orang di situ yang memandangnya dengan heran dan tercengang.           Yo Wan langsung menghampiri Kui-san-jin dan membungkuk sampai dalam sambil berkata, "Lopek (Paman Tua), memang betul seperti dikatakan oleh kedua Lopek tadi, saya menerima pekerjaan sebagai kacung kuda.           Di tengah jalan saya bertengkar dengan dua orang pengemis.           Akan tetapi hal itu adalah urusan saya sendiri, sama sekali tidak ada sangkut- pautnya dengan Hoa-san-pai.           Ini adalah urusan seorang kacung kuda dengan para pengemis, harap para lopek di sini legakan hati karena sekarang juga saya akan bereskan urusan ini dengan para pengemis.           "Dia..           dia..           A Wan..          " terdengar Kun Hong berseru.          " "Yo Wan..          !" Hui Kauw juga menahan teriakannya.           Akan tetapi Yo Wan yang kaget sekali mendengar suhu dan subonya telah mengenalnya,  cepat menghampiri rombongan pengemis dan dengan berdiri tegak dia berkata lantang, "Kakek pengemis, kalau benar kau ketua dari Sin-tung-kai-pang, sebaiknya kau memeriksa  keac'aan anak-anak murid-mu sendiri sebelur.          i menyalahkan orang lain.           Urusan anak muridmu dengan aku si kacung kuda sama sekali berada di luar tanggung jawab Hoa-san- pai karena aku belum diterima secara resmi menjadi tukang kuda Hoa-san-pai.           Kenapa kalian ini tak tahu malu membikin ribut di Hoa-san-pai? Akulah yang bertanggung jawab!" Sin-tung Lo-kai marah bukan main.           Ingin dia sekali gebuk membikin remuk kepala bocah itu, akan tetapi sebagai seorang ketua kai-pang yang tersohor, tentu saja dia tidak mau melakukan hal yang akan merendahkan namanya.           la hanya melotot memandang Yo Warr                     65                      lalu membentak, "Bocah setan! Apa kau mengaku telah merampas dua ekor kuda anak muridku?" Yo Wan menggeleng kepala, tersenyum mengejek.           "Siapa yang merampas? Aku sedang  menuntun tiga ekor kuda naik puncak, tiba-tiba dua orang pengemis itu membentak dari belakang.           Kuda yang kupegang kaget, seekor meloncat dan hampir menubruk pengemis kumis pan-jang.           Eh, si kumis itu memamerkan ke-pandaiannya, kuda itu ditendang mati.           Tentu saja aku minta ganti dan siapapun mereka itu, harus mengganti kuda yang mati karena aku bertanggung jawab atas keselamatan kuda-kuda itu.          " "Apa kau tidak dengar bahwa mereka itu utusan Sin-tung-kai-pang?" Ketua ini membentak.           "Baik mereka itu utusan dari raja pengemis atau raja neraka sekalipun, karena sudah  membunuh kuda yang men-jadi tanggung jawabku, mereka harus menggantinya.           Eh, mereka marah-marah sehingga terpaksa aku membela diri ka-rena mereka menyerangku.           Kemudian mereka berdua lari meninggalkan kuda mereka.           Apakah yang begini dapat di- sebut aku merampas kuda?" "Keparat, kau tukang kuda mulutmu besar dan sombong! Kau telah menghina rnurid- muridku, menghina Sin-tung-kai^ pang, apakah nyawamu rangkap?" "Kakek pengemis, kau mau menang sendiri.           Kau bilang aku yang menghina, tapi dua orang muridmu itu hendak mem-bunuhku, malahan malam tadi, siapa yang melepas api hendak membakar kandang kalau bukan orang-orangrnu? Hemmm, sebetulnya, kalau aku akan mempertanggungjawabkan perbuatan anak-anak muridmu.          " "Suheng, menghadapi anak anjing menggonggong seperti ini, mengapa pakai banyak aturan? Banting saja mampus, habis perkara!" tiba-tiba seorang penge-mis yang hidungnya bengkok ke kiri, yang memegang toya, berkata marah.           "Pangcu, harap kau bersabar," tiba-tiba Kui-san-jin berkata lembut.           "Setelah pinto (aku) mendengar omongan bocah ini, kiranya harus diselidiki duiu apakah betul dia yang bersalah.           Dalam segala hal, tidak baik untuk bertindak sembrono, menghukum orang yang tidak bersalah.          " Ternyata ketua Hoa-san-pai ini telah dibikin kagum oleh sikap Yo Wan.           la maklum bahwa pemuda itu adalah se-orang pemuda yang bodoh dan sederhana, agaknya tidak pandai ilmu silat karena kalau memang pandai Umu silat, bagai-mana tidak mampu mengelak dari anak panah yang dilepaskan Swan Bu tadi? Akan tetapi, jelas bahwa pemuda itu nnennlliki daya tahan yang amat luar biasa dan memiliki rasa tanggung jawab yang kiranya jarang dimiliki orang-orang yang mengaku dirinya gagah perkasa.           Buktinya, dengan anak panah menancap di pundak, pemuda itu sama sekali tidak mengeluh, bahkan tidak tampak nyeri, malah menghadapi para pengemis dengan penuh ketabahan dan penuh rasa                     66                      tang-gung jawab, agaknya jelas hendak mencuci nama Hoa-san-pai daripada urusan itu" "Hoa-san-ciangbunjin (ketua Hoa-san)! Apamukah bocah ini? Apakah anak murid Hoa-san- pai? Ataukah dia ini menjadi tanggung jawab Hoa-san-pai maka kau hendak membelanya?" bentak Sin-tung Kai-pangcu.           "Dia..           A Wan..          " kembali terdengar suara perlahan Kwa Kun Hong, "Ssttt..          " dengan sudut matanya Yo Wan melihat betapa subonya menyentuh lengan tangan  suaminya.           la melemparkan kerling penuh terima kasih kepada Hui Kauw yang memandangnya penuh pengertian.           Memang Hui Kauw amat cerdik dan haius perasaannya.           Agaknya nyonya muda inl sudah dapat menduga apa yang menjadi maksud hati murid itu, maka dia hendak rnembantu, memberi kebebasan kepada Yo Wan untuk melanjutkan mak- sud hatinya, akan tetapi tentu saja nyo-nya muda ini bersiap sedia untuk mem-bantu muridnya.           la dapat melihat lebih jelas daripada apa yang dapat didengar oleh telinga suaminya yang buta.           "Heh, Pangcu dari para pengemis! Kenapa kau selalu mendesak Hoa-san-pai? Agaknya kau jerih untuk menjatuh-kan hukuman kepada diriku, maka kau selalu berpaling dan mencari- cari ke-salahan kepada Hoa-san-pai! Huh, tak tahu malu.           Kalau kalian para pengemis hendak membalas dendam kepadaku, le-kas turun tangan.           Apa kaukira aku taku.          t menghadapi kematian?" "Sin-tung-kai-pangcu, jangan ladeni omongan seorang bocah nekat!" fiba-tiba Thian Beng Tosu berseru keras.           "He, bocah tak melihat keadaan, apakah kau sudah menjadi gila? Jangan main-niain terhadap Sin-tung-kai-pang!"  Akan tetapi dengan tenang Yo Wan memberi hormat sambil membungkuk kepadanya, lalu berkata, "Urusan ini adalah urusan saya sendiri, harap para lopek yang terhormat dari Hoa- san-pai jangan ikut campur.           He, pengemis kelaparan, masih tidak berani turun tangan terhadap kanak-kanak seperti aku? Memalukan benar!" Terdengar teriakan marah dan si pe-ngemis hidung bengkok yang memegang toya sudah melompat maju.           Dia ini ada-lah sute (adik seperguruan) dari ketua pengemis itu, lihai sekali permainan toya besinya dan dia diberi julukan Tiat-pang Sin-kai (Pengemis Sakti Bertoya Besi).           Wataknya lebih keras berangasan dari-pada para tokoh Sin-tung-kai-pang yang lain.           Mendengar ucapan yang menantang-nantang dari Yo Wan, dia tidak mau bersabar lagi.           "Ada hubungan dengan Hoa-san-pai atau tidak, kau bocah setan harus mam-pus sekarang juga!" bentaknya dan toya-nya yang berat itu menyambar cepat, mendatangkan desir angin gemuruh.                              67                      Yo Wan sudah bertekad tidak akan membawa-bawa suhu dan subonya, sungguhpun tadi dia bersikap seakan-akan hendak merribersihkan Hoa-san-pai, padahal sesungguhnya dia tidak hendak menyeret suami isteri itu.           Maka sekarang meng-hadapi sambaran toya, dia tidak mau mempergunakan langkah-langkah ajaib yang dia pelajari dari Kun Hong.           la siap menerima kematian karena memang ha-nya kematian yang dapat dia harapkan dalam menghadapi orang-orang berilmu tinggi seperti pimpinan Sin-tung-kai-pang ini.           Namun dia juga tidak mau mati konyol begitu saja tanpa perlawanan.           Melihat datangnya toya, otomatis kaki tangannya bergerak dan dengan amat mudah dia membiarkan toya itu menyam-bar lewat tanpa dapat menyentuh tubuh-nya sedikit pun juga.           Karena tanpa di- sadarinya dia sudah memiliki kesaktian ilmu silat yang mendarah daging, maka sesuai dengan .           daya tahan dan daya se-rang yang berganti-ganti diturunkan Sin-eng-cu dan Bhewakala kepadanya, tentu saja setlap kali menghadapi serangan, begitu mengelak terus saja Yo Wan membalas serangan itu.           Dan bukan hal kebetulan kalau pada saat itu dia meng- gunakan sebuah jurus dari Ilmu Silat Ngo-sin-hoan-kun (Lima Lingkaran Sakt!) yang dia pelajari atau lebih tepat dia "mainkan" menurut petunjuk Bhewakala.           Hal ini adalah karena jurus penyerangan toya yang dilakukan oleh Tiat-pang Sin-kai tadi sifatnya hampir sama dengan jurus-jurus penyerangan Sin-eng-cu, maka otomatis tubuhnya lalu bergerak mainkan jurus ilmu yang diturunkan oleh Bhewa-kala kepadanya sebagai lawannya.           Ilmu Silat Ngo-sin-hoan-kun adalah ilmu silat ciptaan pendeta Nepal pertapa Gunung Himalaya yang sakti itu, gerakannya dahsyat dan aneh, Tiat-pang Sin-kai me-lihat betapa kedua lengan pemuda itu membuat lingkaran-lingkaran yang me-ngaburkan pandangan matanya dan dia tidak tahu bagaimana harus menghadapinya.           Ingin dia memukul dengan toya, na-mun ujung toyanya seakan-akan terlibat oieh sebuah di antara lingkaran itu dan tak dapat digerakkan.           Tiba-tiba dia merasa tubuhnya berpusing seperti tenggelam dalam pusingan angin dan sebelum dia tahu apa yang terjadi dengan dirinya, tubuhnya itu terlempar sambil berputaran dan robohlah dia dengan kepala di bawah kaki di atas.           la menjadi pening, kepala-nya benjol, toyanya terlempar entah ke mana dan sampai lama dia hanya rebah sambil menggerak-gerakkan kepala mengusir kepeningan dengan mata menjadi juling!  "Ah..          !" "Hebat..          !" "Aneh..          !" Seruan-seruan ini keluar dari mulut para tokoh Hoa-san-pai.           Benar-benar mengejutkan  peristiwa itu.           Kui-san-jin dan yang lain-lain memang sudah siap untuk menolong orang muda yang tabah itu kalau fihak Sin-tung-kai-pang hendak membunuhnya.           Siapa tahu, dalam dua gebrakan saja seorang tokoh Sin-tung-kai-pang yang cukup lihai dibikin me- layang seperti itu dengan gerakan tangan dan kaki yang luar biasa, ilmu silat yang                     68                      membentuk lingkaran-lingkaran ajaib.           Ilmu apakah yang dipergunakan pemuda ini? Hanya Hui Kauw dan Kun Hong yang tidak mengeluarkan suara apa-apa- Hui Kauw  memandang kagum dan juga heran.           karena sepanjang pengetahuannya, murid ini hanya baru menerima dasar-dasar ilmu silat dan yang terakhir hanya ditinggali ilmu Langkah Si- cap-it Sin-po oleh Kun Hong.           Tadi Hui Kauw sengaja memperhatikan gerak kaki anak itu untuk melihat apakah Yo Wan sudah mahir rrielakukan langkah-langkah itu, karena kalau sudah mahir, tentu anak itu mampu menyelamatkan diri dengan langkah-langkah ajaib.           Anehnya, langkah yanc dipergunakan Yo Wan sama sekali bukan langkah ajaib ajaran Kun Hong, sungguh-pun gerak dan langkah yang dilakukan anak itu pun amat aneh dan asing! Ketika Hui Kauw melirik ke arah suaminya, ia melihat suami ini miringkan kepala me- ngerutkan kening dan bibirnya meng-gumam, "Hemmm..           hemmm..          ,.          " Sebetulnya, robohnya Tiat-pan Sin-kai hanya dalam di i jurus ini bukan semata-mata karena kelihaian Yo Wan, melainkan sebagian besar dikarenakan kesalahan pengemis itu sendiri.           la terlalu memandang rendah bocah itu, dianggap-nya sekali pukul dengan toya akan remuk kepalanya.           Oleh karena memandang ren-dah inilah maka sekali balas saja Yo Wan berhasil merobohkannya.           Andaikata pengemis itu lebih hati-hati, biarpun tak mungkin dia dapat mengalahkan Yo Wan yang sudah mewarisi ilmu-ilmu sakti, namun kiranya tidak akan roboh hanya dalam satu dua jurus saja! "Bocah setan! Berani kau menghina saudaraku?" Kakek pengemis di sebelah kiri ketua pengemis meloncat ke depan, menghadapi Yo Wan dengan mencabut pedang di pinggangnya.           "Hayo keluarkan senjatamu dan kaulawan aku!" Sikap pengemis inl jauh lebih gagah daripada Tiat-pang Sin-kai dan memang dia tidak memandang rendah kepada Yo Wan, karena dia menduga bahwa Yo Wan tentu memiliki kepandaian yang tinggi.           Memang dia seorang yang cukup ber-pengalaman dan tidak sembrono seperti temannya tadi.           Pengemis ini menjadi pembantu Sin-tung Lo-kai karena ilmu pedangnya membuat dia jarang menemu-kan tanding.           Dia bernama Souw Kiu, seorang ahli pedang dan ahli tenaga Iweekang.           Hati Yo Wan tergetar.           la tidak per-nah mengalami pertandingan-pertandingan, yaitu pertandingan yang sungguh-sungguh, karena pertandingan yang dia saksikan selama tiga tahun di puncak Liong-thouw-san adalah pertandingan "teori".           Ketika dia merobohkan dua orang pengemis ke-marin dan pengemis bertoya tadi, dia sama sekali tidak mengira bahwa demiki-an mudah dia mencapai kemenangan.           Disangkanya bahwa memang tiga orang pengemis itu hanya orang-orang sombong yang tidak ada gunanya.           Sekarang, meng-hadapi Souw Kiu yang tenang, fc+ermata tajam dan memegang pedang dengan sikap yang kokoh kuat, mau tak mau dia menjadi gentar puia untuk menghadapi-nya dengan tangan kosong.           '"Tukang kuda, kaupakailah pedangku ini!" Tiba-tiba Swan Bu berseru sambil mencabut pedangnya yang amat indah.                               69                      Yo Wan tersenyum.           Lenyap sudah rasa sakit d) pundaknya oleh anak panah yang masih menancap itu.           Sikap Swan Bu ini sekaligus telah menjatuhkan hatinya dan meluapkan maafnya terhadap putera dari suhunya itu.           la tersenyum lebar sambil menoleh ke arah Swan Bu.           "Tuan Muda, terima kasih.           Tidak berani aku merusakkan pedangmu," jawabnya dengan sungguh-sungguh dan jujur, sama sekall dia tidak tahu bahwa jawabannya ini membuat wajah Hui Kauw dan Kun Hong menjadi merah karena ayah dah ibu ini mterasa terpukul oleh jawaban muridnya kepada puteranya yang tadi memperlaku-kan Yo Wan dengan sewenang-wenang.           Yo Wan maklum bahwa untuk meng-hadapi pedang lawan, dia harus meng-gunakan senjata pula dan dia anggap bahwa senjata terbaik adalah melawan dengan pedang pula.           Lupa bahwa pedang-nya hanya sebatang pedang kayu saja, dia segera membuka jubah mengeluarkan pedang kayunya yang panjangnya hanya tiga puluh sentimeter, terbuat daripada kayu cendana yang harum itu.           Meledak suara ketawa dari anak buah Hoa-san-pai dan anak buah pengemis, akan tetapi tokoh-tokohnya sama sekali tidak tertawa, bahkan memandang dengan tercengang.           Gilakah anak ini? Ataukah memang dia begitu sakti sehingga cukup menghadapi lawan dengan pedang kayu saja? "Itukah senjatamu?" bentak Souw Kiu dengan suara kecewa.           "Apakah kau hen-dak main- main?" Dia seorang tokoh ilmu silat, mana enak hatinya kalau dihadapi seorang lawan begini muda yang mem-pergunakan pedang kayu? "Memang inilah senjataku dan aku tidak main-main, pengemis tua.          " "Jangan menyesal nanti dan bilang aku berlaku sewenang-wenang!" kata pula Souw Kiu, masih meragu.           Pertandingan ini disaksikan banyak tokoh Hoa-san-pai, dia harus memperlihatkan kegagahannya.           "Aku tidak akan menyesal.           Kalian memang sudah bertekad untuk membunuh-ku, tentu saja aku pun bertekad untuk mempertahankan nyawaku sedapat mungkin.           Aku tidak biasa memegang pedang tulen, biasa main-main dengan pedangku ini.           Kalau kau memang berkukuh hendak membunuhku, silakan.          "  "Awas pedang!" Dengan cepat setelah mengeluarkan bentakan ini, Souw Kiu menerjang dengan pedangnya.           Gerakan pedangnya amat cepat dan mengeluarkan suara berdesing mengerikan.           Namun bagi Yo Wan, gerakan pengemis itu tidaklah terlalu hebat, apalagi cepat.           Kalau di-bandingkan dengan jurus-jurus yang dikeluarkan Sin-eng-cu dan Bhewakala, gerakan itu seperti anak kecil main-main belaka! Dengan tenang, dia lalu mainkan jurus-jurus yang sesuai dengan pedang yang dipegangnya, yaitu Ilmu Silat Liong- thouw-kun yang ditucunkan oleh Sin-eng-cu kepadanya.           Memang pedang kayu itu adalah                     70                      senjata buatan Sin-eng-cu yang dahulu dia pakai untuk menghadapi cam-buk dari Bhewakala, maka ketika dia bersilat pedang dengan jurus-jurus dari Sin-eng-cu, seketika pedang kayu di ta-ngannya itu berubah menjadi puluhan batang banyaknya dalam pandang mata lawannya! Angin yang diterbitkan pedang kayu ini berbunyi "whir-whir-whirrr..          " dibarengi kilatan sinar pedang kayu yang membingungkan hati Souw Kiu.           Karena maklum bahwa bocah ini be-nar-benar pandai, Souw Kiu mengerahkan seluruh tenaga dalam dan mengeluarkan semua jurus simpanannya untuk r encapai kemenangan.           la sengaja hendak .          nengadu senjata, karena dia merasa yakin bahwa sekali pedang kayu itu bertemu dengan pedangnya, tentu akan patah dan dia akan mudah merobohkan lawan.           Hui Kauw memandang kagum sekali.           Ilmu pedang yang dimainkan Yo Wan itu benar-benar merupakan ilmu pedang yang selain indah, juga amat luar biasa.           Dia sendiri belum tentu dapat mainkan pedang kayu seperti itu!" Ketika dia melirik ke arah suaminya, wajah Kun Hong tegang sekali dan bibir Pendekar Buta ini menggumam lirih, " Ah..           mana mungkin..          ?" Memang, dapat dibavangkan keheranan hati Kun Hong ketika telinganya menangkap gerakan ilmu silat Yo Wan yang kali ini cara bersilatnya sama sekali berlawanan dengan dua gerakan ketika merobohkan lawan pertama tadi, tidak demikian saja, malah ilmu pedang yang dimainkan ini mengandung jurus-jurus Ilmu Silat Kim-tiauw-kun, yaitu ilmu silatnya sendiri! Padahal dia sama sekali belum pernah mengajarkan Umu itu meskipun hanya sejurus kepada muridnya.           Para tokoh Hoa-san-pai adalah tokoh-tokoh yang berilmu tinggi.           Apalagi ketuanya, Kui- san-jin terkenal sebagai se-orang ahli pedang Hoa-san-kiam-sut, di samping isterinya yang juga hadir di situ.           Mereka semua kini berdiri bengong, ka-gum bukan main.           Siapa orangnya yang tidak kagum kalau melihat betapa kacung kuda itu dengan hanya sebatang pedang kayu dapat menghadapi seorang ahli pe-dang seperti Souw Kiu? Dan kadang- kadang pedang di tangan pengemis itu dengan hebatnya menggempur pedang kayu, akan tetapi jangan kata pedang kayu menjadi patah karenanya, malah tampak jelas betapa lengan dan tangan Souw Kiu yang memegang pedang ter-getar hebat.           Ini hanya menjadi bukti bahwa bocah itu memiliki tenaga sinkang yang ampuh sekali, tenaga yang bukan sewajarnya dimiliki seorang pemuda tang-gung berusia enam belas tahun.           Diam-diam mereka menduga-duga murid siapa-kah gerangan pemuda ini dan apa maksud orang muda yang memiliki kesaktian itu naik ke Hoa-san-pai? dengan berpura-pura menjadi tukang kuda, mengandung maksud tersembunyi yang bagaimanakah? Mereka juga merasa gelisah, menduga bahwa tentu pemuda itu mengandung suatu maksud tertentu.           Yang paling bingung dan kaget setengah mati adalah Souw Kiu sendiri.           Pedang kayu di tangan bocah itu bukan main hebatnya, gerakannya aneh, daya tahannya amat kokoh kuat dan setiap kali beradu dengan pedangnya sendiri, tangannya tergetar hebat.           la menjadi penasaran sekali.           Masa dia harus meng-aku kalah terhadap seorang kacung kuda? Kalau dia dikalahkan oleh seorang tokoh Hoa-san-pai, masih tidak apa, akan tetapi oleh seorang                     71                      kacung kuda masih bocah lagi? Dua puluh jurus telah lewat dan da-lam penasarannya, Souw Kiu tiba-tiba mengeluarkan  bentakan nyaring sekali dan pedangnya melakukan terjangan kilat.           Hui Kauw menutup mulutnya dan seluruh urat tubuhnya menegang.           Sebagai seorang ahli pedang, ia maklum bahwa pengemis itu melakukan serangan nekat, mengajak adu nyawa.           la sudah siap untuk menyam-bar dan menolong muridnya, akan tetapi dia tidak mau tergesa-gesa karena kalau keadaan Yo Wan tidak berbahaya lalu ia menolongnya, hal itu akan merendahkan diri sendiri.           Yo Wan sudah mempelajarl banyak sekali jurus-jurus ampuh dan ada kalanya Sin-eng-cu maupun Bhewakala dalam keadaan terdesak pun mengeluarkan jurus-jurus yang nekat.           Karena itu, menghadapi serangan ini, dia tidak menjadi gugup.           Dari pada dia terluka atau terpaksa membunuh orang, lebih baik mengorbankan pedang kayunya, pikirnya cepat.           Melihat pedang lawan menyambar dengan babatan kilat, dia cepat menangkis de-ngan pedang kayunya, tapi dia sengaja tidak menyakirkan tenaga kepada pedahg kayu ini.           "Krakkk!" pedang kayu patah menjadi dua, tubuh Souw Kiu terdorong ke depan dan di lain saat dia sudah roboh ter-guling oleh pukulan tangan kiri Yo Wan yang tepat mengenai pundak kanannya sedangkan pedangnya entah bagaimana sudah berpindah ke tangan pemuda itu!  Souw Kiu bangkit berdiri, akan tetapi a tiba-tiba dia muntahkan darah merah.           Ternyata satu kali pukulan Yo Wan itu sudah mendatangkan luka parah di dalam dadanya.           Hal ini tidak mengherankan karena Yo Wan menggunakan pukulan Iweekang darl Sin-eng-cu sebagai timpal-an permainan pedangnya tadi.           Tak dapat ditahan lagi, para tosu Hoa-san-pai bertepuk tangan memuji.           Setelah ketua mereka berpaling dan me-mandang tajam, baru mereka berhenti.           Biarpun tokoh-tokoh Hoa-san-pai tidak ada yang terang-terangan memuji dan berfihak, namun wajah mereka yang ber-seri menjadi tanda bahwa mereka merasa puas melihat rom'-'onean Sin-tung-kai- pang yang sombong Ifu dttSeH hajaran oleh seorang luar yang mengaku sebagai kacung kuda Hoa-san-pai! Baru seorang pelamar kacung kuda saja sudah begini hebat, apalagi orang-orang Hoa-san-pai-nya sendiri! Biarpun tidak secara lang-sung, pemuda yang luar biasa itu telah mengangkat tinggi derajat dan nama Hoa-san-pai dengan sepak terjangnya menghadapi Sin-tung-kai-pang ini.           Yo Wan sendiri sarna sekali tidak mempunyai pikiran untuk memusuhi Sin-tung-kai-pang.           la tahu telah membuat onar kemarin dan hanya untuk menjaga agar nama suhu dan subonya jangan ter-bawa-bawa, maka dia mempertanggung-jawabkannya sendiri.           Akan tetapi tentu saja dia tidak mau dibunuh tanpa me-lawan.           Giranglah hatinya ketika dia ber- hasil mengalahkan dua orang lawan.           Se-mangatnya timbul dan dia mulai mengerti, mulai                     72                      terbuka mata hatinya bahwa kalau dia mau melawan, belum tentu orang-orang kasar ini mampu membunuhnya! Sementara itu, Sin-tung Lo-kai sampai menjadi pucat mukanya saking marah.           la merasa terhina sekali.           Dua orang pem-bantunya yang paling dia andalkan, roboh berturut-turut secara mudah- pleh seorang kacung kuda' "Orang-orang Hoa-san-pai!" bentak-nya sambil mengangkat tongkatnya ke depan dada.           "Apakah kalian diamkan saja bocah setan ini menghina kami?" "Urusanmu dengan anak ini tiada sangkut-pautnya dengan kami, Pangcu," kata Kui-san-jin dengan suara tenang.           Kakek ketua Hoa-san-pai ini sekarang timbul kepercayaannya terhadap Yo Wan.           Pantas saja bocah ini hendak membereskan sendiri, kiranya memiliki ilmu kepandaian yang begitu hebat.           la tidak mengerti mengapa bocah ini suka me-nutupi dan melindungi Hoa-san-pai, akan tetapi jalan satu-satunya bagi ketua Hoa-san-pai ini untuk membalas budi hanya membiarkan bocah itu melanjutkan mak-sud hatinya.           Inilah sebabnya maka dia sengaja menjawab seperti itu.           "Hemmm, biarlah kubikin mampus dulu bocah ini, baru kami akan bicara lagi dengan Hoa- san-pal!" Sin-tung Lo-kai berseru marah.           "Bocah setan, lekas kau merttilih senjata.           Aku tidak sudi menyerang lawan tanpa senjata.           Kalau kau butuh pedang, orang-orangku bisa memberi pinjam untukmu.          " Yo Wan maklum bahwa lawannya ini tentulah seorang yang pandai.           Kemantap-an gerakan tongkat itu saja sudah mem-bayangkan tenaga Iweekang yang hebat.           la tidak berani memandang ringan, maka dilolosnya cambuk peninggalan pertapa Bhewakala.           Cambuk ini hitam warnan'ya, panjang dan berat, tapi di tangan Yo Wan terasa ringan dan enak.           Maklum, selama tiga tahun dia main-main dengan .          cambuk ini.           "Ketua Sin-tung-kai-pang, sesungguh-nya aku tidak suka berkelahi dengan siapapun juga+ aku tidak ingin mencari perkara dengan siapa juga.           Akan tetapi kalau kau nekat hendak membunuhku, tentu saja aku akan berusaha menyelamatkan diri," jawabnya sambil memegang gagang cambuk dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya membelai- beliai ujung cambuk.           "Tak usah cerewet, lihat tongkatku!" Ketua pengemis itu menggerakkan tong-katnya dan berkelebatlah sinar beraneka warna seperti pelangi rnenyilaukan mata.           Yo Wan kaget dan bingung seketika ka-rena gerakan tongkat itu hebat serta menyilaukan warnanya.           Juga para tokoh Hoa-san-pai menahan napas.           Kali ini mereka benar-benar khawatir karena tingkat kepandaian Sin-tung Lo-kai benar-benar tak boleh dipandang ringan.           Anak muda remaja ini mana mampu mempertahankan diri?                    73                      "Tar-tar-tarrr..          !" Lecutan cambuk bertubi-tubi terdengar nyaring disusul berkelebatnya sinar cambuk yang hitam, bergerak-gerak macam ular naga hitam bermain di angkasa.           Yo Wan telah mainkan ilmu cambuknya Ngo-sin-hoan-kun dan ujung cambuk itu melecut- lecut, menyambar-nyambar setelah membentuk lingkaran-lingkaran aneh di udara Kagetlah semua orang dan Hui Kauw melihat betapa suaranya sambil mengerutkan kening telai mengepal tinjunya, "Bhewakala..           siapa lagi..           tentu Bhe-wakala..          " terdengar suaminya bersungut-sungut.           Yang paling kaget adalah Sin-tung Lo-kai sendiri.           Permainan cambuk lawannya amat hebat, bagaikan gelombang samudera sedang mengamuk.           Lingkaran-lingkaran yang bergelombang lima kali itu benar-benar amat dahsyat, menyem-bunyikan ujung cambuk yang kadang-kadang mematuk dan melecut bagaikan petir menyambar.           Inilah ilmu cambuk yang amat aneh, yang belum pernah disaksikan Sin-tung Lo-kai selama hidupnya.           la mengertak gigi, mengerahkan seluruh kepandaian dan mainkan ilmu tongkatnya untuk menahan gelombang dan petir itu.           Namun Yo Wan tidak mau memberi hati kepadanya.           Pemuda ini memilih jurus-jurus serangan dari Ngo-sin-hoan-kun sehingga belum tiga puluh jurus, ketua pengemis itu sudah mundur-mundur dan hanya dapat menangkis dan meng-elak ke sana ke mari, tak mampu mem-balas dan keadaannya repot sekali.           Tiba-tiba pengemis tua itu mengeluarkan ben-takan keras dan sinar-sinar hijau me-nyambar ke arah Yo Wan.           Inilah sinar senjata rahasia berupa paku-paku hijau beracun yang disambitkan secara diam-diam, merupakan senjata gelap yang amat berbahaya.           "Curang..          !" seru Hui Kauw, namun dia tahu bahwa dia sendiri tidak mampu menolong karena senjata-senjata gelap itu dilempar dari jarak yang amat dekat, yaitu selagi kedua orang itu bertanding berhadapan.           Yo Wan adalah seorang pemuda yang belum berpengalaman dalam hal bertempur, sungguhpun dia mewarisi ilmu-ilmu yang hebat, namun dia tidak tahu akan adanya akal- akal busuk dari lawan macam Sin-tung Lo-kai.           Namun dia seorang yang amat cerdik.           Melihat berkelebatnya sinar-sinar hijau dan mendengar seruan subonya, dia cepat menggunakan langkah ajaib.           Terpaksa dia membuka rahasia dirinya dan mainkan langkah- langkah yang dia pelajari dari suhunya karena maklum bahwa benda-benda yang menyambarnya itu amat herbahaya.           Benar saja, dengan langkah-langkah ajaib yang dia mainkan, tujuh buah benda kecil kehijauan itu meluncur lewat di samping tubuhnya, tak sebuah pun mengenai diri-nya.           Teringat akan bahaya ini, timbul kemarahan Yo Wan.           la mencabut anak panah dengan tangah kiri, pecutnya kembali menerjang maju dan dia barengi dengan sambitan anak panah.           Sin-tung Lo-kai tadi terkejut bukan main melihat pemuda aneh itu dapat menghindarkan diri dengan gerakan kaki seperti orang mabuk.           Selagi dia kecewa dan kaget, catrihiik                     74                      lawannya menerjang bagaikan hujan badai.           Cepat dia meng-angkat tongkat menangkis dan melompat mundur.           Tapi tiba-tiba dia berteriak keras dan roboh, anak panah itu menancap pada dadanya sebelah kanan! Baik-nya anak panah itu tidak terlalu dalam menembus kulit dada, namun cukup membuat ketua Sin-tung-kai-pang ttu mengerang kesakitan dan tidak mampu bangun kembali.           Anak buahnya cepat memberi, pertolongan dan tanpa pamit lagi Sin-tung Lo-kai menyuruh anak buahnya me-manggulnya turun gunung! Mereka itu bagaikan serombongan anjing yang di-siram air panas, lari tersaruk-saruk sambil tunduk, tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun lagi.           Andaikata mereka memiliki buntut, tentu buntut itu mereka kempit di antara kaki.           Kekalahan yang diderita kali ini benar-benar membuat mereka kuncup dan selamanya mereka takkan berani memusuhi Hoa-san-pai.           Baru melawan seorang kacung kuda saja, ketua mereka dirobohkan dengan mudah!  Setelah musuh pergi, Yo Wan tak dapat menyembunyikan diri lagi.           la menghampiri Kwa Kun Hong dan Kwee Hui Kauw, serta merta dia menjatuhkan diri berlutut dan berkata dengan suara geme-tar penuh keharuan.           "Suhu..          ! Subo..          !" la tinggal berlutut, meletakkan mukanya di atas tanah dan meramkan kedua matanya, mulutnya berkata lirih, " . teecu datang menyusul..          " "Wan-ji (anak Wan)! Kenapa baru sekarang kau datang..          ?" Hui Kauw berkata, siap merangkul murid itu.           Akan tetapi nyonya muda ini menahan kedua tangannya ketika melihat wajah suaminya.           Jelas bahwa suaminya kelihatan marah.           "A Wan, apa maksudmu datang seperti ini?" Yo Wan tak dapat menjawab dan pada saat itu, para tokoh Hoa-san-pa! sudah datang  menghampiri.           Dengan senyum lebar Kui-san-jin berkata, "Ah, kiranya murid Kun Hong anak ini? Pantas begini lihai! Ha-ha-ha, benar-benar Sin- tung-kai-pang tidak tahu diri, dan senang sekali hati pinto mengetahui bahwa anak yang memberi hajaran kepada mereka kiranya adalah orang sendiri! Ha-ha-ha!" Para tokoh Hoa- san-pai benar-benar merasa gembira dan bangga.           Kehebatan ilmu kepandaian Pendekar Buta tentu saja sudah mereka ketahui dengan baik, dan biarpun Pendekar Buta terhitung golongan muda di Hoa-san, namun dialah sebetulnya yang merupakan andalan untuk membikin besar nama Hoa-san-pai.           Kelihaian anak muda yang mengusir para tokoh Sin- tung-kai-pang ini merupakan bukti akan kehebatan ilmu kepandaian Pendekar Buta.           Tentu saja mereka tidak mengerti bahwa Pendekar Buta sendiri berpikir lain pada saat itu.           Tidak tahu bahwa Kun Hong amat marah kepada Yo Wan, hanya menahan hatinya karena dia tidak ingin memarahi murid-nya di depan banyak orang.           "A Wan kau ikut aku..          !" kata Kun Hong kepada anak muda itu.           Yo Wan mengerti bahwa suhunya marah, maka dengan kepala tunduk dia mengikuti guru-nya masu.          k ke dalam,                     75                      diikuti pula oleh Kwee Hui Kauw yang menggandeng ta-ngan Swan Bu.           Para toRoh Hoa-san- pai yang masih bergembira itu juga mengun-durkan diri, membiarkan guru dan murid itu menikmati pertemuan tanpa diganggu.           "Nah, sekarang ceritakan tentang sikapmu yang aneh itu, A Wan.           Aku ingin mendengar selengkapnya dan sejujurnya.           Apa sebabnya kau datang menyusul kami secara sembunyi dan pura-pura menjadi kacung kuda?" tanya Kun Hong suaranya perlahan, akan tetapi Yo Wan maklum bahwa suhunya tak senang hati.           Menggigil dia dan cepat-cepat dia berlutut di depan suhunya yang duduk di atas sebuah kursi lain, sedangkan Swan Bu berdiri memandang dengan matanya yang lebar tajam.           Dengan suara lirih Yo Wan lalu menceritakan pengalamannya semenjak suhu dan subonya turun gunung meninggalkan-nya seorang diri.           Tentang niatnya menyusul ke Hoa-san-pai tiga tahun yang lalu dan betapa dia bertemu dengan Sin-eng-cu dan BhewakaJa yang sedang bertanding dan keduanya terluka, betapa kemudian dia menolong mereka dan se- lama tiga tahun menjadi perantara dalam adu ilmu sampai Sin-eng-cu meninggal dunia karena tua dan Bhewakala kembali ke dunia barat.           "Kemudian teecu menyusul ke Hoa-san, Suhu, dan sungguh tidak teecu ke-hendaki telah terjadi keributan di sini, dan teecu yang menjadi biang keladinya.           Teecu mengaku salah dan siap menerima hukuman apa pun juga dari Suhu dan Subo.          " "Mengapa kemarin kau tidak langsung naik menemui kami, tapi bersembunyi dan menyamar sebagai tukang kuda?" suara Kun Hong masih bengis karena hatinya belum puas.           "Teecu merasa ragu-ragu..           dan takut kalau-kalau Suhu tidak menghendaki kedatangan teecu..           kebetulan teecu bertemu dengan dua orang tosu dan putera Suhu ini..           teecu ditawari pekerjaan tukang kuda, teecu lalu menerimanya, ingin melihat gelagat dulu sebelum teecu berani menghadap Suhu.           Celakanya, di tengah jalan seekor di antara tiga kuda yang harus teecu bawa ke puncak, dibunuh pengemis itu.           Teecu tidak ingin berkelahi, hanya minta ganti seekor kuda yang hidup, kiranya mereka marah dan menyerang teecu.           Akhirnya mereka lari dan meninggalkan dua ekor kuda mereka, terpaksa teecu bawa sekalian ke puncak, dan kuda yang mati teecu kubur di pinggir jalan.          " "Yang mati itu kudaku! Ayah, suruh murid Ayah ini mencarikan pengganti kudaku, dia yang bertanggung jawab karena dia yang membawanya Swan Bu berseru nyaring.           "Hushhh, diam kau'" Kun Hong mem-bentak puteranya lalu bertanya, "A Wan.           setelah kau tahu rombongan Sin-tung-kai-pang datang kenapa kau pura-pura tidak mengenal kami dan melayani mereka seorang diri mengandalkan ilmu silatmu? Apakah kau hendak pamerkan kepandaian di Hoa-san-pai?"                    76                      Yo Wan mengangguk-angguk mencium lantai.           ôAh tidak ..           suhu sama sekali tidak..           katanya gagap dan takut.           "Mana teecu berani begitu kurang ajar pa-merkan kepandaian sedangkan teecu tidak bisa apa-apa? Hanya kebetulan saja tee-cu dapat menang, padahal teecu tidak bermaksud demikian.           Setelah mellhat bahwa peristiwa kemarin itu menimbulkan keributan hebat, teecu menjadi takut kalau-kalau Hoa-san-pai terbawa-bawa.           terutama sekali kalau Suhu dan Sute terbawa-bawa oleh gara-gara yang teecu lakukan kemarin.           Maka dari itu, teecu sengaja pura-pura tidak ada hubungan dengan Suhu dan Subo, juga dengan Hoa-san-pai.           Teecu ingin mempertanggung-jawabkan sendiri, kalau perlu teecu rela mati untuk menebus kesalahan, asal jangan sampai menyeret Hoa-san-pai dan terutama Suhu berdua.           Akan tetapi, tentu saja teecu seberapa dapat hendak mempertahankan diri tefhadap penge-mis-pengemis yang jahat itu.          " Kun Hong mengangguk-angguk dan pada sepasang mata Hui Kauw tampak dua butir air mata.           Nyonya muda itu menjadi terharu sekali melihat murid yang amat setia itu.           Diam- diam dia mem-perhatikan dan menjadi kagum.           Muridnya ini sekarang bukanlah seorang anak kecil lagi, melainkan seorang jejaka tanggung yang tampan dan sederhana, pandai me-rendahkan diri walaupun memiliki kepan-daian yang amat tinggi.           "Yo Wan, apakah kehendakmu seka-rang?" Kun Hong bertanya, suaranya halus kini.           "Suhu, tidak ada keinginan lain dalam hati teecu semenjak dahulu selain ikut Suhu dan  Subo, bekerja untuk Suhu dan mengharapkan belas kasihan berupa pelajaran ilmu silat agar dapat teecu pakai kelak untuk membalas dendam terhadap The Sun.          " Kun Hong menggeleng kepala.           "Tidak mungkin, Yo Wan, tidak bisa kau ikut dengan kami di sini..          " "Suhu, biarlah teecu menjadi tukang kuda, menjadi kacung pelayan, teecu akan bekerja apa saja, biarkan teecu melayani Suhu berdua, dan adik..           adik Swan Bu, asal teecu boleh berdekatan dengan Suhu berdua..          " suara Yo Wan menggetar karena terharu dan khawatir kalau-kalau dia tidak akan diterima oleh suhunya.           "Yo Wan, kau bukan kanak-kanak lagi! Kau sudah dewasa, masa selama hidupmu hanya ingin menjadi kacung saja? Tidak, aku tidak mau menerimamu di sini, su-dah ttba waktunya kau hidup sendiri, mengejar ilmu dan pengalaman, mengisi hidupmu dengan perbuatan- perbuatan yang bsfguna bagi orang lain dan bagi dirimu sendiri, Kay tidak boleh tinggal di sini.          " "Suhu, teecu ingin menerima pelajaran ilmu silat dari Suhu..          " "Tidak bisa, Yo Wan.           Ilmu silat dariku tidak boleh dicampur aduk.           Kau sudah menerima  warisan ilmu sitat yang tinggi dan hebat dari susiok-couwmu dan dari Bhewakala.           Hanya                     77                      belum kauselami inti sarinya dan belum matang saja.           Kepandaianmu sudah cukup dan kalau kau menerima pelajaran dariku, salah-salah bisa rusak malah.          " "Suhu, teecu bukan murid kakek Sin-eng-cu, juga bukan murid Bhewakala locianpwe, teecu tidak belajar dari mere-ka.           Apa yang teecu ketahui dari mereka boleh teecu buang mulai saat ini juga dan teecu akan mulai belajar dari suhu.          " Tiba-tiba angin pukulan mendesir dari arah belakang menyerang tengkuk Yo Wan, disusul sinar pedang yang menusuk lambungnya.           Otomatis Yo Wan membuang diri, bergulingan dan cambuknya berbunyi nyaring melingkar-lingkar melindungi tubuhnya bagian belakang.           Alangkah kagetnya ketika dia melihat bahwa yang menyerangnya tadi adalah subonya sendiri, Kwee Hui Kauw yang kini sudah duduk kembali sambil menyarungkan pedangnya.           "Suhumu bicara benar, Yo Wan.           Ilmu silat kedua orang kakek sakti itu sudah mendarah daging padamu, tak mungkin dibuang begitu saja lalu mulai belajar ilmu silat baru.           Akan merusak segala-galanya.           Kaulihat sendiri tadi, begitu ada bahaya mengancam, otomatis tubuhmu melakukan gerakan sesuai dengan jurus-jurus kedua orang kakek itu.           Ilmu silat- mu sudah cukup tinggi, tak perlu belajar lagi dari kami.          " Yo Wan tertegun, lalu menjatuhkan diri berlutut, air matanya bertitik per-lahan.           "Suhu dan Subo.. biarkan teecu membalas budi Suhu berdua dengan pelayanan, tidak diberi pelajaran silat juga tidak apa, asal teecu dapat melayani Suhu berdua..          " Kun Hong meraba kepala Yo Wan dengan terharu, Hui Kauw menghapus dua butir alr matanya dengan saputangan.           "Yo Wan, kami mengusirmu bukan karena kami tidak cinta kepadamu.           Sama sekali tidak.           Semua peristiwa, baik yang terjadi di Liong-thouw-san maupun di sini, bukanlah salahmu.           Aku mengusirmu turun gunung sekarang juga bukan dengan maksud tak baik, muridku, melainkan dengan maksud untuk kebaikanmu sendiri.           Kau bukan anak murid Hoa-san-pai, juga tak bisa dibilang muridku dan kau sudah dewasa.           Kau harus mencari kedudukan dan membuat nama baik di dunia.          " "Apakah Suhu mengira bahwa teecu sudah boleh pergi mencari The Sun dan membalas sakit hati ibu?" Kun Hong menghela napas panjang.           "Dendam..           balas membalas..           tiada habisnya, takkan aman dunia ini selama" nya.           Yo Wan, mengapa kau tidak mem-balas dendam dengan kasih?" Yo Wan bingung, tidak mengerti apa.           yang dimaksudkan suhunya.           "Bagaimana, Suhu? The Sun menyebabkan kematian ibu, sudah seharusnya teecu .          mencarinya dan balas membunuhnya.          "                    78                      "Ha-ha-ha, anak bodoh.           Siapakah The Sun itu yang bisa mendatangkan kematian pada seseorang? la hanya menjadi lantaran, karena memang nyawa ibumu sudah semestinya kembali pada saat itu, sudah dikehendaki oleh Thian Yang Maha Kuasa!" Yo Wan makin bingung, menoleh kepada subonya.           Nyonya muda itu rriaklum bahwa suaminya sedang kambuh, yaitu tenggelam dalam lautan filsafat kebatin-an, maka ia lalu berkata halus, "Yo Wan ingin mendengar apa yang selanjutnya harusdia lakukan.           Bicara tentang filsa-fat yang tidak dimengerti olehnya, mem-buang waktu sia-sia saja.          " Kun Hong sadar daripada lamunannya, keningnya berkerut.           "Yo Wan, jangan kaukira bahwa akan mudah saja menghadapi seorang seperti The Sun.           Ilmu silatnya tinggi sekali, dan kepandaian yang kau warisi dari kedua orang kakek itu masih mentah.           Coba kau berdiri dan siap menghadapi seranganku, aku akan mengujimu!" Yo Wan girang karena ini berarti dia akan mendapat petunjuk.           Cepat dia bang-kit berdiri, dan secepat kilat Kun Hong sudah menerjang.           Yo Wan melihat gurunya memukul derifdn gerakan cepat namun pukulan itu amat lambat tampaknya.           la tidak berani berlaku sembrono, melihat betapa ilmu pukulan suhunya itu serupa benar dengan Liong-thouw-kun yang dia pelajari dari Sin-eng-cu, cepat dia mengeluarkan jurus-jurus Ngo-sin-hoan-kun dari Bhewakala.           Sampai lima jurus dia dapat mengimbangi gurunya, tapi pada jurus ke enam, suhunya melakukan gerakan serangan yang aneh sekali dan..           pundak kirinya terdorong.           Dorongan perlahan yang cukup hebat, membuat Yo Wan terpelanting.           "Aduhhh..          " Yo Wan menahan keluh-annya.           Dorongan itu semestinya tidak menimbulkan rasa nyeri, akan tetapl karena kebetulan yang didorong adalah pundak kiri yang tadi terluka oleh anak panah Swan Bu, terasa perih dan sakit sekali.           "..           ehhhhh, kenapa pundakmu..          ?" Kun Hong bertanya kaget, diam-diam dia kagum karena muridnya yang masih mentah ilmunya ini ternyata mampu mempertahankan diri sampai lima jurus! "..           ti..           tidak apa-apa, Suhu..           ö dorongan Suhu hebat bukan rpain, teecu rasa biar sampai seratus tahun teecu belajar, tanpa bimbingan Suhu, teecu takkan mampu menjadi seorang ahli..          " "Hushhh, goblok kau kalau berpikir begitu.           Kau hanya kurang matang, itulah.           Pundakmu kiri itu..           coba kau mendekat.          " Yo Wan mendekat dan Kun Hong meraba.           "Eh, terluka senjata? Kapan terjadinya? Dalam pertempuran tadi kau sama sekali tidak terluka, kan?" "Ayah, luka di pundaknya itu adalah terkena anak panahku!" Swan Bu berkata lantang.           "Ketika tadi dia muncul, kuanggap dia itu mengancau di Hoa-san, maka kupanah dia, kena                     79                      pundaknya.           Tapi dia memiliki ilmu sihir, Ayah, panahku terus menancap di pundaknya ketika dia bertempur tadi, malah ketika melawan Sin-tung Lo-kai, anak panahku itu dia pergunakan untuk melukai lawannya.           Apakah itu bukan ilmu hitam?" "Swan Bu..          ! Ah, bagaimana kau menjadi rusak oleh kemanjaan seperti ini? Setan, kau lancang sekali.           Hayo lekas minta maaf kepada Yo Wan koko!" Swan Bu bersungut-sungut.           "Aku tidak merasa salah, mengapa minta maaf?" "Suhu, sudahlah.           Adik Swan Bu masih kecil, dan dia memilikl watak gagah perkasa.           Kalau  tidak mengira bahwa teecu seorang jahat dan musuh Hoa-san-pai, kiranya dia tidak akan melepaskan anak panah.           Dia tidak bersalah, Suhu.          " Kun Hong menarik napas panjang.           "Yo Wan, setelah kau menerima semua ilmu itu, tak mungkin lagi kau menjadi muridku.           Hanya Thian yang tahu betapa kecewa hatiku, karena mencari murid seperti kau, agaknya selama hidupku takkan kutemukan.           Sekarang kauingat baik-baik pesanku.           Turunlah dari sini dan kaucarilah Bhewakala.           Hanya dia yang dapat menyempurnakan dan mematangkan ilmu yang berada padamu, karena selain sebagian ilmu itu dari dia datangnya, juga dalam pertandingan selama tiga tahun itu tentu dia dapat menyelami ilmu dari susiok-couwmu pula.           Kau harus matang-kan ilmu yang kaumiliki itu di bawah petunjuk Bhewakala.           Nah, setelah kepandaianmu matang, baru kau boleh datang kepadaku lagi untuk bicara tentang The Sun.          " Yo Wan merasa berduka sekali, akan tetapi dia tidak berani membantah.           Hui Kauw melangkah maju dan memegang kedua pundaknya.           Sepasang mata bening subonya itu berair.           "Yo Wan, kau tahu betapa besar kasih sayang kami kepada-mu.           Percayalah, semua pesan Suhumu adalah demi kebaikanmu sendiri.           Taati pesannya itu, Yo Wan.           Perjalanan men-cari pendeta barat itu tentu sukar dan jauh, akan tetapi untuk mencapaisesuatu, makin jauh dan makin sukar makin baik.           Terimalah ini untuk bekal di perjalanan.          " Hui Kauw meloloskan pedang dari ping-gangnya, memberikan pedangnya itu ke-pada Yo Wan, kemudian dia menyerahkan pula sekantung uang emas.           Bukan main terharunya hati Yo Wan.           Ingin dia menangis menggerung-gerung oleh kasih sayang yang besar, yang di-limpahkan mereka kepadanya.           Akan tetapi dia maklum bahwa suhunya tidak suka akan sikap cengeng macam ini, maka dia menekan perasaannya, lalu berpamit.           Takut kalau-kalau air matanya bercucuran, setelah mendapat ijin dia lalu melangkah ke luar dengan langkah lebar, lalu berlari-larian secepatnya me-ninggalkan tempat itu agar tidak ada orang melihat betapa air matanya bercucuran di sepanjang jalan.            Akan tetapi sepasang suami isteri yang sakti itu tahu akan hal ini.           Hui Kauw terisak menangis.           "Dia anak baik..          " katanya.                              80                      "Sebaliknya anak kita yang akan rusak kalau terus-terusan mendapat kemanjaan yang luar blasa di sini.           Hui Kauw, kita harus pergi dari sini, kembali ke Liong thouw-san, sekarang juga.          " Bukan main girangnya hati Hui Kauw mendengar ini.           Memang inilah yang men-jadi idam- idaman hatinya, namun tadinya Kun Hong menaruh keberatan karena dia ingin membiarkan puteranya hidup ba-hagia, dekat saudara-saudara di Hoa-san-pai yang amat mencinta anak itu.           Siapa tahu, terlalu banyak cinta kasih yang dilimpahkan membuat anak itu ti-dak pernah dan tidak mau tahu akan kesukaran, membuatnya manja dan selalu ingin dituruti kehendaknya karena semen-jak kecil tak pernah ada yang menolak keingmannya.           Perjalanan yang dilakukan Yo Wan amatlah sukar dan jauh.           la mentaati pesan Kun Hong, juga dia teringat akan pesan Bhewakala bahwa pendeta itu se-lalu menanti kedatangannya di Anap'irna, yaitu sebuah puncak di Pegunungar Hi-malaya.           Perjalanan yang amat jauh dan membutuhkan ketekadan yang bulat serta keuletan yang tahan uji.           Baiknya dia membawa bekal sekantung uang emas pemberian Hui Kauw, kalau tidak, tentu akan lambat perjalanannya kalau dia harus berhenti-henti untuk bekerja se-kedar mencari pengisi perut.           Kini dia dapat melakukan perjalanan dengan lan-car, terus ke barat, hanya mau berhenti kalau kemalarhan di jalan atau kalau sudah amat lelah.           Melakukan perjalanan ke timur atau ke selatan jauh lebih cepat daripada perjalanan ke barat atau ke utara.           Hal ini adalah karena semua sungai mengalir ke selatan atau ke timur, dan pada masa itu, di waktu perjalanan darat amatlah sukarnya, jalan satu-satunya yang paling cepat adalah perjalanan melalui air.           Namun Yo Wan adalah seorang pe-muda yang sudah memiliki kepandaian tinggi.           Larinya cepat seperti kijang dan setiap kali melalui hutan atau gunung yang sukar, dia masih dapat berlari ce-pat.           3uga sebagal seorang pemuda yang berpakaian sederhana, tidak membawa apa-apa, dia terbebas daripada gangguan para perampok yang hanya memperhati-kan orang-orang yang membawa barang+ barang berharga.           Setelah tiba di Pegunungan Himalaya, barulah pemuda itu mengalami kesukaran hebat.           Beberapa kali hampir saja dia celaka ketika perjalanannya sampai di bagian yang tertutup salju.           Dinginnya hampir tak tertahankan lagi.           Pernah ada gunung es longsor, gugur dan kalau dia tidak cepat melompat ke dalam jurang dan berlindung, tentu dia akan terkubur hidup-hidup dalam salju.           Kurang lebth sebulan dia melalui perjalanan yang amat sukar dan, sunyi ini.           Hanya kadang- kadang dia berjumpa ,ke-lompok pengembara atau singgah di gu-buk pertama.           Di tempat seperti ini, uang tidak ada artinya lagi, tidak dapat me-nolong seseorang daripada kesengsaraan.           Hanya sikap yang baik dapat menolong-nya, karena pertolongan datang dari orang-orangyang tidak terbeli oleh harta, melainkan oleh keramahan.                              81                      Dari para pertapa inilah Yo Wan akhirnya sampai juga di Anapurna, tem-pat pertapaan Bhewakala.           Pendeta Itu amat girang melihat kedatangan Yo Wan yang berlutut di depannya dan menceri-takan semua pengalamannya di Hoa-san.           "Ha-ha-ha, Pendekar Buta memang hebat dan dia cukup menghargai orang lain maka dia menyuruh kau datang ke sini, muridku.           Memang dia betul, biarpun ilmu-ilmu yang pernah kaulatih dan aku dan Sin-eng-cu telah mendarah daging pada tubuhmu, namun masih mentah karena kau belum dapat menyelami inti sarinya.           Nah, mulai hari ini kau belajar-lah baik-baik muridku.          " Ternyata Bhewakala tidak hanya menggembleng Yo Wan dalam ilmu silat untuk menyempurnakan ilmunya, akan tetapi juga memberi gemblengan-gemblengan ilmu batin kepada Yo Wan.           Makin lama makin betah pemuda ini tinggal di Hima-laya, makin meresap ke dalam hatinya.           pelajaran kebatinan dan biarpun dia ma-sih buta huruf karena tidak pernah mem-pelajarinya, namun kini mata hatinya sudah terbuka dan dapatlah dia menero- pong ke dalam penghidupan manusia.           Mengertilah dia kini akan ucapan Kun Hong tentang dendam dan balas-membalas, dan makin lama makin tipislah keinginan hatinya untuk mencari The Sun dan membunuhnya.           Lenyap pula hasratnya untuk merantau di dunia ramai kare-na di samping gurunya, di tempat yang sunyi dan dingin ini, dia telah menemukan ketenteraman hidup, kebahagiaan sejati manusia yang tidak digoda kehen-dak nafsu, sedikit demi sedikit melepas-kan diri daripada lingkaran karma.           Waktu berjalan pesat seperti anak panah terlepas daripada busurnya, Sembilan tahun lamanya Yo Wan berada di Himalaya dan pada suatu hari Bhewakala yang sudah tua itu jatuh sakit.           Pendcta ini maklum bahwa waktu hidupnya sudah tiba pada saat terakhir.           la tidak ingin muridnya yang terkasih itu menyia-nyia-kan hidup sebagai pertapa selagi masih begitu muda.           Dipanggilnya Yo Wan dan dengan suara lirih dan napas tinggal satu-satu pendeta inl meninggalkar pesan.           "Yo Wan, saat bagiku untuk mening-galkan dunia sudah hampir tiba.           Aku girang dengan peristiwa ini, karena se-lain berarti kebebasanku, juga kau akan terlepas daripada ikatanmu dengan aku.           Ilmu yang kaumiliki sudah cukup untuk bekal hidup.           Bertahun-tahun kau tetap menolak perintahku untuk turun gunung dan merantau, dengan alasan ingin me-layani aku yang sudah tua sebagai pembalas budi.           Kau masih terikat oleh budi, tentu tak mudah melepaskan diri daripada ikatan dendam.           Akan tetapi kau sudah masak sekarang, matang lahir batin.           Pesanku terakhir ini harus kautaati, Yo Wan.           Apabila aku meninggal dunia, kau harus bakar jenazahku di pondok ini, bakar semua yahg berada di sini.           Ke-mudian kau harus tinggalkan tempat ini, kembali ke timur.          " "Tapi.. Guru                    82                      "Tidak ada tapi, kau sebagai seorang anak tidak boleh menjadi anak yang pu-thouw (tidak berbakti).           Ada kuburan ayah-mu, ada kuburan ibumu di sana, siapa yang akan merawatnya? Pula, kau bukan ditakdirkan hidup menjadi pertapa.           Kau harus turun gunung, kembali ke dunia ramai, mencari jodoh, mempunyai turunan seperti manusia-manusia lain.           Soal The Sun, terserah kebijaksanaanmu sendiri.          " "Ah, Guru..          " Bhewakala tersenyum lebar.           "Biarkan dirimu menjadi permainan hidup, men-jadi permainan  kekuasan Tuhan, karena untuk itulah kau diberi hak hidup disertai kewajiban-kewajibannya.           Kalau kau meng-ingkari pesanku ini, selamanya kau tak-kan dapat tenteram, karena kau tentu tidak akan suka mengecewakan aku.          " Yo Wan tak dapat membantah lagi karena dia maklum bahwa apa yang dikatakan gurunya itu betul belaka.           la tidak mungkin mau mengecewakan orang yang sudah begitu baik terhadap dirinya, sungguhpun masa depan di dunia ramai tidak menarik hatinya, bahkan meng-gelisahkan.           Pada malam harinya, Bhewakala meng-hembuskan napas terakhir di depan Yo Wan.           Pemuda yang sekarang sudah ber-usia dua puluh lima tahun lebih hu menyambut kematian ini dengan wajar, tidak menangis, biarpun ada juga penyesalan akibat daripada perpisahan de- ngan orang yang disegani dan dihormati.           la melaksanakan pesan gurunya itu de-ngan baik- baik, membakar jenazah berikut pondok dan segala benda yang berada di situ.           Tiga hari tiga malam dia berkabung di tempat yang sudah menjadi gundul dan kosong itu, kemudian mulailah dia turun gunung, pagi-pagi berangkat ke arah munculnya matahari yang ke- merah-merahan.           Bergidik dia melihat keindahan ini, karena dia merasa seakan-akan dia sedang berjalan menuju ke api neraka yang merah, dahsyat dan akan menelannya! * * * Kita tinggalkan dulu Yo Wan yang sedang turun dari Pegunungan Himalaya, memulai  perjalanannya yang amat sunyi dan jauh serta sukar untuk mulai dengan perantauannya, dan mariJah kita kembali mengikuti perjalanan Siu Bi, gadis lincah dan berhati tabah itu.           Seperti telah dituturkan di bagian depan dari cerita ini, Siu Bi, puteri tunggal The Sun, meninggalkan Go-bi-san dengan hati sakit.           Setelah ia mengetahui bahwa la bukan puteri The Sun, bukan keturunan keluarga The, simpatinya tertumpah kepada mendiang Hek Lojin yang telah terbunuh oleh The Sun.           Ia merasa menyesal dan kecewa.           Kiranya ia bukan puterii The Sun.           Siapakah orang tuanya? Apakah ia bukan anak ibunya pula? Mengingat ini, menangislah Siu Bi di sepanjang jalan.          Ia amat mencinta ibunya, dan sekarang ia pergi tanpa pamit.           Biarpun orang yang selama ini mengaku ayahnya telah mengecewakan hatinya dengan me-mukul mati Hek Lojin dan dengan kenyataan bahwa orang itu bukan ayahnya                     83                      yang sejati, namun ibunya tak pernah melukai hatinya.           Ibunya selalu sayang kepadanya sehingga andaikata ia bukan ibunya yang sejati, Siy Bi tetap akan mencintanya Betapapun juga, Siu Bi dapat me-nguasai perasaannya dan melakukan perjalanan dengan tabah.           Tujuannya hanya satu, yaitu mencari dan membalas den-dam kepada Kwa Kun Hong! la akan inenantang Pendekar Buta itu sebagai wakil Hek Lojin dan berusaha sedapatnya untuk membuntungi sebelah lengan Pendekar Buta, juga lengan isterinya dan anak- anaknya.           la sudah bersumpah di dalam hati kepada kong-kongnya, Hek Lojin.           la merasa yakin akan dapat me-lakukan tugas ini.           Setelah mewarisi Ilmu Pedang Cui-beng Kiam-sut dan Ilmu Pu-ku.          lan Hek-in-kang, ia merasa dirinya cukup kuat dan tidak gentar menghadapl lawan yang bagaimanapun juga.           Ingat akan hal ini, Siu Bi menjadi bersemangat dan di bawah sebatang pohon besar ia berhenti lalu berlatih dengan kedua ilmu silat itu.           Memang hebat sekali ilmunya ini.           Pedangnya, hanya sebatang pedang biasa saja, berubah menjadi gulungan sinar putih yang naik turun menyambar-nyambar, di antara awan menghitam yang merupakan uap dari pukulan-pukulan Hek-in-kang.           Ketika ia berhenti berlatih sejam kemudian, di bawah pohon sudah penuh daun-daun pohon yang terbabat putus tangkainya oleh sinar pedangnya dan yang rontok oleh hawa pukulan Hek-in-kang! Siu Bi berdlri tegak, kepalanya tunduk memandangi daun-daun itu dengan hati puas.           Pendekar Buta, pikirnya, le-nganmu dan lengan-lengan anak isterimu akan putus seperti daun-daun ini!  Sebagai seorang gadis remaja yang baru berusia tujuh belas tahun lebih, Siu Bi melakukan perjalanan yang amat jauh dan sulit.           Go-bi-san merupakan pegunung-an yang luas dan jalan menuruni pegunungan ini sa'ma sukarnya dwgan jalan pendakiannya.           Namun, dengan kepandaiarl-nya yang tinggi Siu Bi tidak menemui kesukaran.           Tubuhnya bergerak lincah dan ringan, kadang-kadang dia harus me;lom-pat jurang.           Dengan ginkangnya yang ting-gi ia dapat melompat bagaikan terbang saja, tubuhnya ringan meluncur di atas jurang, dilihat dari jauh tiada ubahnya seorang dewi dari kahyangan yang ter-bang melayang turun ke dunia.           Pakaiah-nya yang terbuat daripada sutera halus berwarna merah muda, biru dan kuning itu berkibar-kibar tertiup angin ketika ia melompat.           Ronce-ronce pedang yang tergantung di punggungnya menambah kecantikan dan kegagahannya.           Berpekan-pekan Siu Bi keluar masuk hutan, naik turun gunung, melalui banyak dusun- dusun di kaki gunung dan rnelalui beberapa kota pegunungan.           Setiap kali dia bertemu orang, tentu dia menjadi pusat perhatian.           Apalagi kaum pria, rnelihat seorang gadis remaja demikian cantik jelitanya, memandang penuh kekaguman.           Namun tiada orang berani mengganggu, karena tidak hanya pedang di punggung Siu Bi yang membuktikan bahwa gadis remaja jelita itu seorang ahli silat, akan tetapi juga Siu Bi tidak menyembunyikan gerak-geriknya yang lincah dan ringan, sehingga setiap orang tahu bahwa dia adalah seorang pendekar wanita muda ;yang tidak boleh dibuat main-main!                    84                      Pada suatu hari sampailah ia di kota Pau-ling di tepi Sungai Huang-ho, setelah melakukan perjalanan sebulan lebih ke selatan.           Sebetulnya Pau-ling tidak patut disebut kota, melainkan sebuah dusun yang menghasilkan banyak padi dan gandum.           Tanah di lembah Sungai Huang-ho ini amat subur sehingga pertanian banyak maju, hasilnya berlimpah-limpah.           Karena letaknya dekat dengan sungai besar, maka dusun ini makin lama makin ramai dengan perdagangan melalui sungai.           Hasil- hasil sawah ladang diangkut melalui, sungai dengan perahu-perahu besar.           Ketika Siu Bi lewat di pelabuhan sungai, ia melihat banyak orang mengangkat padi dan gandum berkarung-karung ke atas perahu-perahu besar.           Orang-orang ini bekerja dengan wajah muram, tubuh mereka kurus-kurus dan pakaian mereka penuh tambalan.           Beberapa orang yang memegang cambuk dan berpakaian sebagai mandor, membentak-bentak dan ada kalanya mengayun cambuk ke punggung seorang pengangkut yang kurang cepat kerjanya.           Ada lima enam orang mandor yang galak-galak, dan melihat Siu Bi lewat, mereka tertawa-tawa dan memandang dengan mata kurang ajar.           Ada yang bersiul-siul dan menuding-nuding ke arah Siu Bi.            Panas hati Siu Bi.           Namun ia menahan sabar, karena ia tidak mau kalau per-jalanannya tertunda hanya karena ada beberapa orang laki-laki yang memperlihatkan kekaguman terhadap kecantikannya secara kurang ajar.           la mempercepat langkahnya dan sebentar saja ia sudah tiba di luar dusun Pau-ling.           Akan tetapi kembali di luar dusun, di kanan kiri jalan di mana sawah ladang membentang luas, ia disuguhi pemandangan yang amat menyolok mata.           Belasan orang laki-laki yang keadaannya miskin dan kurus seperti para kuli angkut karung gandum dan padi tadi, bekerja di sawah, menuai gandum.           Belasan orang wanita juga bekerja.           Mereka bekerja dengan penuh semangat, akan tetapi jelas bukan semangat yang mengandung kegembiraan, melainkan semangat karena ketakutan.           Beberapa orang mandor menjaga mereka dengan cambuk di tangart pula.           Di sana-sini terdengar cambuk berbunyi ketika melecut punggung, diiringi jerit kesakitan.           Siu Bi berdiri terpaku.           Hatinya mulai panas.           Akan tetapi ia kiranya tidak akan sembarangan mau mencampuri urusan orang kalau saja tidak melihat kejadian yang membuat wajahnya yang jelita menjadi kemerahan saking marahnya.           la melihat betapa seorang wanita setengah tua yang tampaknya sakit, roboh terpelanting setelah menerlma cambukan pada pung- gungnya.           Seorang gadis yang usianya sebaya dengan dia menjerit dar menubruk wanita itu, menangisi ibunya yang sudah pingsan.           Dua orang mandor cepat menghampiri mereka, yang seorang sekali sambar telah mengangkat tubuh gadis itu dan..           menciuminya sambil terkekeh-kekeh dan berkata, "Ha-ha-ha, jangan mau besar kepala setelah terpakai oleh majikan! Lain hari kau tentu akan diberikan kepadah .           Ha-ha-ha!"                    85                      Adapun mandor ke dua dengan marahnya menghajar wanita setengah tua itu dengan cambuk, memaki-maki, "Anjing betina! Siapa suruh kau pura-pura mampus di sini? Hayo berdiri dan bekerja, kalau tidalk kucambuki sampai hancur badanmu!" Siu Bi tak dapat menahan kesabarannya lagi.           "Keparat jahanam, lepaskan mereka!" Bagaikan seekor burung walet cepat dan ringannya, tubuh Siu Bi sudah melayang dekat orang yang menciumi gadis tani, sekali kakinya bergerak menendang terdengar suara "bukkk!" dan mandor yang galak dan ceriwis itu terlempar sampai empat meter lebih dan jatuh terbanting ke dalam lumpur.           Hanya beberapa detik selisihnya, tahu-tahu terdengar suara "ngekkk!" ketika orang ke dua yang mencambuki wanita setengah tua itu terlempar pula oleh tendangan Siu Bi, hampir menimpa kawannya yang baru merangkak-rangkak bangun.           Semua pekerja serentak menghentikan pekerjaan mereka, berdiri terpaku,.           Muka mereka pucat dan hampir saja mereka tidak percaya apa yang mereka lihat tadi.           Seperti dalam mimpi saja.           Siapakah orangnya berani melawan para mandor? Kiranya hanya seorang gadis yang cantik jelita, seorang gadis remaja.           "Kwan Im Pouwsat (Dewi Kwa" Im) menolong kita..          " bisik seorang laki-laki tua dan serentak mereka menjatuhkan diri berlutut menghadapi Siu Bi Pada masa itu, kepercayaan orang-orang, terutama orang-orang dusun, tentang kesaktian Dewi Kwan Im yang sering kali muncul atau menjelma untuk membersihkan kekeruhan dunia dan menolong orang- orang sengsara, masih amat tebal.           Dewi Kwan Im, terkenal sebagai Dewi Welas Asih, dewi lambang kasih sayang dan pe-nolong yang juga terkenal amat cantik jelita.           Kini melihat seorang dara jelita berani melawan dua orang mandor, dan sekali tendang dapat membuat dua orang mandor galak itu terpelanting dan roboh, otomatis mereka menganggap bahwa Dewi Kwan Im yang menolong mereka.           Akan tetapi dua orang mandor itu tidak berpendapat dermkian.           Mereka adalah orang-orang kang-ouw yang kasar, yang tahu akan wanita-wanita pandai ilmu silat seperti Siu Bi.           Mereka malu dan marah sekali, akan tetapi untuk beberapa menit mereka tak berdaya ka-rena ketika terbanting tadi, muka mere-ka mencium lumpur sehingga sibuk mereka membersihkan lumpur dari mata, hidung, dan mulut, meludah-ludah dan menyumpah- nyumpah.           Empat orang kawan mereka sudah datang berlari, diikuti para pekerja yang ingin melihat apa yang terjadi di situ.           Para pekerja ketika melihat teman-temannya berlutut menghadapi Siu Bi dan me-lihat dua orang mandor merangkak dengan muka penuh lumpur seperti monyet, segera mengerti atau dapat menduga duduknya perkara.           Tanpa banyak komen-tar lagi mereka segera menjatuhkan diri berlutut dan mengangguk-anggukkan ke-pala kepada Dewi Kwan Im yang menjelma sebagai gadis cantik dan sedang menolong mereka itu!                    86                      Empat orang mandor tadinya masih belum menduga apa yang terjadi, akan tetapi dua orang mandor yang merangkak di lumpur itu segera berkaok-kaok, 'Tangkap gadis setan itu, berikan padaku nanti'" Mendengar ini, empat orang mandor lari menghampiri Siu Bi.           Seorang di antara mereka yang berkumis tikus mem-bentak, "Bocah, siapa kau dan apa yang kaulakukan dl sini?" "Apa yang kalian lakukan, bukan apa yang aku lakukan, yang menjadi persoalan," suara Siu Bi merdu dan nyaring sehingga para pekerja miskin itu makin percaya bahwa dara ini, tentulah penjelmaan Kwan Im Pouwsat! "Kalian berenam ini manusia ataukah binatang- binatang buas, menekan orang-orang miskin ini, mencambuki mereka, menghina wanitanya.           Yang kulakukan tadi hanya menendang dua orang kawanmu itu sebagai pelajaran.           Kalau kalian serupa dengan mereka, kalian berempat pun akan kuberi tendangan seorang sekali.          " Dapat dibayangkan, betapa marahnya empat orang itu.           Mereka adalah mandor-mandor jagoan alias tukang-tukang pukul dari Bhong-loya (tuan tua she Bhong) yang menjadi lurah dan manusia paling kaya di Pau-ling.           Semua sawah ladang adalah milik Bhong-loya, semua perahu ! besar adalah milik Bhong-loya.           Siapa berani menentang Bhong-loya yang mempunyai pengaruh besar pula di kota raja? Para pembesar dari kota raja adalah teman- temannya, para buaya darat adalah kaki tangannya, dan para mandor adalah bekas-bekas jagoan dan perannpok yang memiliki kepandaian.           Kini anak perempuan yang masih hijau iru berani memandang rendah mereka? "Bocah setan, kau harus diseret ke depan Bhong-loya dan ditelanjangi, terus dipecut seratus kali sampai kau menjerit-jerit minta ampun, baru tahu rasa" bentak seorang di antara mereka.           Akan tetapi baru saja tertutup mulutnya, tu-buhnya sudah terlempar ke dalam lumpur oleh sebuah tehdangan kaki kiri Siu Bi! Gerakan Siu Bi tadi cepat bukan ma-in, tendangannya hanya tampak perlahan saja akan tetapi akibatnya terlihat oleh semua orang.           Tubuh si tukang pukul yang tinggi besar itu melayang bagaikan sehelai daun kering tertiup angin.           Tiga mandor yang lain dengan marah mener-kam maju.           Mereka tidak menggunakan aturan perkelahian lagi, karena di sam-ping kemarahan mereka, juga mereka kagum dan tergila-gila akan kecantik-jelitaan yang jarang bandingannya di ota Pau-ling.           Maka mereka berusaha mering-kus dan memeluk gadis galak itu untuk memuaskan kemarahan dan kegairahan mereka.           "Brukkk!" tiga orang itu mengaduh karena mereka saling tabrak dan saling adu kepala.           Dalam kegemasan tadi, mereka menubruk berbareng, seperti tiga ekor kucing menubruk tikus.           Tapi ang ditubruk hilang, yang menubruk saiing beradu kepala.           Siu Bi tidak mau bertindak kepalang tanggung.           Dengan gerakan yang cepat sekali kedua kakinya menendang dan di lain saat tiga orang tukang pukul itu juga sudah terpelanting masuk ke dalam lumpur                     87                      di sawah.           "Lopek, mengapa mereka itu amat kejam terhadap kalian?" Siu Bi bertanya kepada seorang  petani tua yang berlutut paling dekat di depannya, sama sekali ia tidak peduli lagi pada enam orang mandor yang kini sibuk berusaha membuka mata yang kemasukan lumpur.            "Pouwsat (Dewi) yang mulia.. kami adalah petani-petani dusun yang sengsara dan miskin..           tolonglah kami, karena sekarang sekedar untuk dapat makan kami telah diperas dan ditekan oleh Bhong-loya..           mereka itu adalah tukang-tukang pukul Bhong-loya..          " "Tan-pek, kenapa kau begitu lancang mulut..          ?" tegur seorang petani di belakangnya yang nampak ketakutan sekali.           "Apa kau tidak takut akan akibatnya kalau Pouwsat sudah kembali ke kahyangan?" Siu Bi menahan senyum geli hatinya mendengar bahwa ia disebut Pouwsat.           Dianggap Kwan Im! Mengapa tidak? Kwan Im Pouwsat adalah seorang dewi yang penuh kasih terhadap manusia.           Kata kong-kongnya, dunia kang-ouw banyak orang-orang pandai yang rnempunyai nama julukan.           Dia telah mewarisi kepandaian tinggi, sudah sepatutnya mempunyai nama julukan pula.           Kwan Im? Nama julukan yang baik sekali.           "Jangan takut.           Aku akan membela kalian dan memberi hajaran kepada mereka yang jahat.           Apakah mandor-mandor ini jahat terhadap kalian?"  "Jahat?" Petani tua yang disebut Tan-lopek oleh temannya tadi mengulang kata-kata ini, mukanya memperlihatkan bayangan kemarahan yang memuncak.           "Mereka itu lebih jahat daripada Bhong-loya sendiri! Mereka itu seperti serigala-serigala kelaparan, entah berapa banyak dl antara kami yang mereka bunuh, mereka aniaya menjadi manusia-manusia cacad dan selanjutnya hidup sebagai jembel.          " Makin panas hati Siu Bi.           Orang-orang jahat yang suka menganiaya dan mem-bunuh orang patut dihukum, pikirnya.           Ketika ia membalikkan tubuh ke arah enam orang mandor itu, ternyata rnereka sudah bangkit dari lumpur, berhasi? mencuci muka dengan air sawah, lalu kini mereka melangkah lebar sambil mencabut pedang.           Dengan sikap mengancann mereka menghampiri Siu Bi, pedang di tangan, nafsu membunuh tampak pada mata mereka yang merah.           "Setan betina.           Berani kau main gila dengan para ngohouw (tukang pukul) dari Bhong-loya? Bersiaplah untuk mampus dengan tubuh tercincang hancur!" teriak si kumis tikus sambil menerjang lebih dulu dengan ayunan pedangnya.           Melihat gerakan mereka, Siu Bi memandang rendah.           Mereka itu hanyalah orang-orang kasar yang mengandalkan kekuasaan saja, sama sekali tidak memiliki ilmu kepandaian yang                     88                      berarti.           Oleh karena ini ia merasa tak perlu harus menggunakan pedangnya.           Tanpa mencabut pedang, ia menghadapi serangan si kumis tikus.           Dengan ringan ia miringkan tubuh, tangan kirinya menyambar.           Pada waktu itu, tangan kiri Siu Bi telah terlatih dan penuh terisi hawa Hek-in-kang.           Ada bayangan sinar hitam berkelebat ketika tangan kirinya bergerak.           Tahu-tahu si kumis tikus berteriak keras dan terpelanting roboh, pedang di tangan kanannya sudah berpindah ke tangan Siu Bi.           Cepat bagaikan kilat menyambar, pedang itu membabat ke bawah dan buntunglah tangan kanan si kumis tikus itu sebatas siku.           Orangnya menjerit dan pingsan! Lima orang kawannya segera menerjang dengan marah.           Namun kali ini Siu Bi tidak inau memberi ampun lagi.           Pedang rampasan di tangannya berkelebatan dan .          lenyap bentuknya sebagai pedang, berubah menjadi sinar bergulung-gulung.           Jerit susul-menyusul dan dalam beberapa jurus saja, lima orang itu sudah kehilangan lengan kanan mereka sebatas siku.           Agaknya, teringat akan janjinya kepada kakeknya, Hek Lojin, gadis ini kalau marah terdorong oleh nafsu membuntungi lengan orang, terutama orang-orang jahat, seperti enam orang mandor inl, seperti Pendekar Buta Kwa Kun Hong dan anak isterlnya! Dengan tenang Siu Bi membalikkan tubuh menghadapi para petani yang masih berlutut dan yang kini semua pucat wajahnya karena ngeri menyaksikan peristiwa pembuntungan enam orang mandor itu.           Di dalam hati mereka puas karena ada "Sang Dewi" yang membalaskan dendam mereka terhadap mandor-mandor yang kejam itu, akan tetapi mereka juga amat takut akan akibatnya.           Alangkah akan marahnya Bhong-loya, pikir mereka.           "Para paman dan bibi, jangan kalian takut.           Sekarang mari antarkan aku ke rumah orang she Bhong yang sewenang-wenang itu, jangan takut, aku akan menanggung semua perkara ini, kalian hanya mengantar dan menonton saja.          " Mula-mula para petani itu ketakutan.           Mendatangi rumah Bhong-loya? Sama dengan mencari penyakit, mencari celaka.           Akan tetapi petani tua itu bangkit berdiri.           "Mari, Pouwsat, saya antarkan.           Biar aku akan dipukul sampai mati, aku sudah puas melihat ada yang berani membela kami dan memberi hajaran kepada manu-sia-manusia berwatak binatang itu.          " Melihat semangat, empek tua ini banyak pula yang ikut bangkit.           Akan tetapi hanya beberapa belas orang saja dan semua laki-laki.           Yang lain-lain tetap berlutut tak berani mengangkat muka.           Akan tetapi bukan maksud Siu Bi untuk mengajak banyak orang, karena yang ia kehendaki hanya petunjuk jalan agar ia tidak usah mencari-cari di mana rumah manusia she Bhong itu.           Dengan wajah membayangkan perasaan geram dan nekat, belasan orang laki-laki yang sebagian besar bertelanjang kaki dan berpakaian penuh tambalan itu mengantar Siu Bi menuju ke dalam dusun.           Rombongan ini tentu saja menarik perhatian banyak orang, apalagi ketika mereka mendengar dari para pengiring Siu Bi tentang perbuatan gadis jelita itu membuntungi lengan enam orang mandor di sawah.           Gempar seketika keadaan dusun Pau-                    89                      ling, lebih-lebih ketika para petani miskin itu menyatakan.           tanpa keraguan bahwa dara jelita yang mereka iringkan ini adalah penjelmaan Kwan Im Pouwsat! Segera banyak orang ikut meng-iringkan walaupun dari jarak agak jauh sebagai penonton karena mereka tidak ingin menimbulkan kemarahan Bhong-loya, maka tidak menggabungkan diri dengan rombongan petani itu, melainkan sebagai rombongan penonton.           Gedung besar yang menjadi tempat tinggal Bhong-loya memang amat besar dan amat menyolok kalau dibandingkan dengan kemelaratan di sekelilingnya.           Bhong-loya seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih, menjadi lurah di du-sun itu sudah bertahun-tahun.           Karena korupsi besar-besaran dan penghisapan atas tenaga murah para tani yang sebagian besar dahulunya merupakan pelari-an daripada banjir besar Sungai Huang-ho, maka dia menjadi kaya.          raya.           Betapa-pun juga, harus diakui bahwa Bhong-loya (tuan tua Bhong) yang sebenarnya ber-hama Bhong Ciat itu tidaklah seganas dan sekeji orang-orangnya.           Bukan menjadi rahasia lagi bahwasannya anjing-anjing peliharaan penjaga rumah jauh lebih ga-lak dan ganas daripada majikannya.           Para petugas rendahan merupakan serigala-serigala buas yang selalu mengganggu rakyat miskin, tentu saja dengan bersandar kepada kekuasaan dan pengaruh Bhong Ciat.           Ransum untuk para pekerja kasar yang sudah ditentukan oleh Bhong Ciat, hanya sebagian kecil saja sampai di tangan para pekerja itu.           Upah pun demikian pula, dicatut, dipotong, dikurangi banyak tangan-tangan kotor sebelum sisanya yang tidak berapa itu masuk ke kantong para pekerja.           Celakanya, Bhong Ciat sudah terlalu mabuk akan kesenangan dan kemuliaan, sama sekali tidak memperhatikan keadaan rakyatnya, sama sekali tidak tahu bahwa orang-orangnya melakukan tekanan yang amat keu,di-kiranya bahwa semua berjalan lancsr dan licin, dan dia merasa bahagia di dalam rumah gedungnya, setiap hari menikmati makanan lezat dilayani oleh .          selir-selir muda dan cantik.           Lebih celaka lagi bagi para penduduk miskin di Pau-ling, lurah Bhong itu mempunyai seorang anak laki-laki, bukan anak sendiri melainkan anak pungut karena Bhong Ciat tidak mempunyai keturunan sendiri, seorang anak laki-laki yang sudah dewasa bernama Bhong Lan.           Pe-muda inilah yang membuat keadaars men-jadi makin berat bagi para penduduk karena Bhong Lam merupakan pemuda yang selalu mengumbar nafsu-nafsu buruknya.           Tidak ada seorang pun wanita yang muda dan cantik di dusun itu yang dapat hidup aman.           Tidak peduli anak orang, isteri orang, siapa saja asal gadis itu termasuk keluarga miskin, pasti akan dicengkeramnya.           Untuk maksud-maksud keji ini, Bhong Lam tidak segan-segan menghambur-hamburkan uang ayah angkatnya.           Setiap hari dia berpesta-pora kadang- kadang kalau sudah bosan di dusun lalu pergi pesiar ke kota-kota lain diikuti rombongan tukang pukulnya dan di kota.           Inilah dia menghamburkan uang dan main gila.           Bhong Lam tidak hanya ditakuti karena dia putera angkat Bhong-loya, akan tetapi juga karena dia merupakan seorang pemuda yang lihai ilmu silatnya.           la pernah belajar ilmu silat pada seorang hwesio Siauw-lim perantauan, dan terutama sekali permainan toyanya amat kuat dan semua tukang pukul keluarga Bhong tidak seorang pun dapat mengalahkannya.           Agaknya kepandaian inilah yang membuat Bhong Lam makin bertingkah, merasa seakan-                    90                      akan dia sudah menjadi seorang pangeran! Sebagai keluarga yang paling berkuasa di Pau-ling, tentu saja banyak kaki tangannya.            Banyak pula petani-petani miskin yang berbatin rendah sehingga suka menjadi penjilat.           Oleh karena itu, peristiwa di sawah tadi sudah pula sampai kabarnya di rumah gedung Bhong Ciat sebelum rombongan yahg mengiringkan Siu Bi tiba di situ.           Ada saya petani mis- kin yang lari lebih dulu dan dengan mak-sud menjilat mencari muka, melaporkan kepada Bhong-loya.           Pada saat itu, ke-betulan sekali Bhong Lam juga berada di rumah.           Mendengar tentang peristiwa itu+ marahlah pemuda ini.           Cepat dia me-nyambar toyanya dan menyatakan kepada ayah angkatnya bahwa orang tua itu tidak perlu khawatir karena dia sendiri yang akan memberi hajaran kepada "dewi palsu" itu.           Dengan geram Bhong Lam melompat dan lari keluar dari dalam ge-dung ketika mendengar suara ribut-ribut di luar gedung karena rombongan petani itu memang sudah tiba di sana.           Kemarahan Bhong Lam memuncak.           Akan dia bunuh wanita jahat itu dan semua petani yang mengiringkannya.           Tak seorang pun akan diberi ampun karena hal ini perlu untuk menakuti hati para petani agar tidak memberontak lagi.           "Setan betina, berani kau main gila.?" Bhong Lam melompat keluar sambil menudingkan telunjuknya.           Akan tetapi tiba-tiba dia berdiri terpaku dan biarpun telunjuk kirinya masih menuding dan toyanya dipegang di tangan erat-erat, namun matanya terbelalak mulutnya ternganga.           la melongo tak dapat nnengeluar-s kan suara memandang wajah Siu Bi ba- gaikan terpesona dan kehilangan sema-ngat.           Sungguh mati dia tidak mengira sama sekali bahwa wanita yang telah membuntungi lengan enam orang man-dornya itu adalah dara secantik bidadari.           Pantas saja.           disebut-sebut sebagai Dewi Kwan Im! Belum pernah selama hidupnya dia melihat dara secantik ini, kecuali dalam alam mimpi dan dalam gambar.           Lebih suka dia rasanya untuk maju ber-lutut dan menyatakan cinta kasihnya daripada harus menghadapi dara ini sebagai lawan yang harus dibunuhnya.           Dibunuh? Wah, sayang Lebih baik ditangkap dan..           ah, belum pernah dia mendapatkan seorang dara pendekar'.           Alangkah baiknya kalau dia berjodoh dengan gadis yang pandai ilmu silat pula seperti dia! Senyum lebar menghias wajahnya yang tampan juga dan kini mulutnya dapat bergerak.           "Nona..           eh, kau siapakah dan..           eh, kudengar kau bertengkar dengan orang-orang kami? Kalau mereka.           berbuat salah terhadap Nona, jangan khawatir, aku yang akan menegur dan menghukum mereka!" Kalau saja Siu Bi dalam perjalanan ke rumah keluarga Bhong itu tidak men-dengar penuturan petani tua tentang keadaan Bhong Ciat dan putera angkat-nya, Bhong Lam, tentu ia akan terce-ngang dan heran menyaksikan sikap dan mendengar omongan pemuda ini.           Karena ia sudah mendengar bahwa pemuda yang menjadi putera angkat keluarga Bhong, seorang ahli main toya, adalah pemuda yang paling jahat dan yang mata kerajang, maka sikap Bhong Lam sekarang ini baginya merupakan sikap ceriwis, bukan sikap ramah tamah.                               91                      Berkerut aiisnya yang kecil panjang ketika Siu Bi menodongkan pedang rampasannya sambitt bertanya, "Kaukah yang bernama Bhong Lam?" "Aduh mati aku." Bhong Lam bersambat dalam batinnya mendengar suara yang merdu itu.            Bertanya dengan nada marah saja sudah begitu merdu, apalagi kalau suara itu dipergunakan untuk merayunya.           "Hayo jawab!" Siu Bi tak saba" lagl melihat pemuda itu memandangnya tak berkedip.           Bhong Lam sadar dan tersenyum di-buat-buat.           "Betul, Nona.           Silakan Nona masuk.          " Pada  para petani itu Bhong Lam berseru, "Kalian pergilah, kembali ke sawah.           Tidak ada urusan apa-apa di sini.           Nona ini adalah tamu agung kami, kesalahfahaman di sawah tadi habis sampai di sini saja.          " "Siapa sudi mendengar omongan manismu yang beracun?" Siu Bi membentak.           "Kau seorang yang amat jahat, mengan-dalkan kedudukan orang tua, mengandal-kan harta benda dan kekuasaan untuk melakukan perbuatan sewenang-wenang.           Orang macam engkau ini tidak ada harga-nya diberi hidup lebih lanna lagi.          " Memang Siu Bi amat marah dan benci kepada pemuda ini setelah tadi ia mendengar penuturan para petani betapa pemuda ini telah menghabiskan semua gadis muda dan cantik di dusun itu, me-rampasi isteri orang sehingga banyak timbul hal-hal yang mengerikan, banyak di antara wanita-wanita itu membunuh diri.           Sekarang melihat sikap pemuda ini yang ceriwis, matanya yang berminyak itu menatap wajahnya dengan lahap, kemarahannya memuncak.           "Nona, antara kita tidak ada permusuhan.           Aku mengundang Nona menjadi tamu..          " "Jahanam perusak wanita! Tak usah berkedok bulu domba karena aku sudah tahu bahwa  kau adalah seekor serigala yang busuk dan jahat!" Bhong Lam adalah seorang pemuda yang selalu dihormat dan ditakuti orang.           Selama  hidupnya, baru sekali ini dia dimaki-maki dan dihina.           Biarpun dia tergila-gila akan kecantikan Siu Bi, namun darah mudahnya bergolak ketika dia dimaki-maki seperti itu.           Mukanya menjadi merah sekali, apalagi melihat betapa para petani itu masih belum mau pergi, memandang kepadanya dengan mata penuh kebencian.           "Keparat, kau benar-benar lancang mulut, tidak bisa menerima penghormat-an orang.           Kaukira aku takut kepadamu? Kalau belum dihajar, belum tahu rasa kau, dan biarlah aku memaksamu tunduk kepadaku dengan jalan kekerasaan!" Se-telah berkata demikian, Bhong Lam menerjang maju sambil memutar toyanya.                              92                      Dengan senyum mengejek Siu Bi berkelebat, menghindarkan terjangan toya dan balas menyerang.           la mendapat ke-nyataan bahwa kepandaian pemuda ini memang jauh lebih tinggi daripada para mandor dan tukang pukul yang tiada gunanya tadi, namun baginya, pemuda inipun rherupakan lawan yang empuk saja.           Pada saat itu, terdengar suara berisik dan para tukang pukul berdatangan ke tempat itu sambil membawa senjata.           Tukang-tukang pukul keluarga Bhong ada dua puluh orang jumlahnya, kini mendengar berita bahwa gedung majikan mereka didatangi seorang wanita yang mengamuk, tergesa-gesa mereka lari mendatangi.           Ketika mendengar bahwa ada enam orang teman mereka yang dibuntungi lengannya, mereka itu marah sekali.           Apalagi ketika melihat betapa Bhong-siauw-ya (tuan muda Bhong) mereka sekarang sedang bertempur melawan wanita itu dan berada dalam keadaan terdesak, kemarahan mereka memuncak dan tanpa diberi komando lagi, empat belas orang tukang pukul itu serentak maju mengeroyok.           Siu Bi tadi sudah mendengar keterangan para petani bahwa lurah itu mem-punyai dua puluh orang tukang pukul, maka melihat serbuan ini, maklumlah ia bahwa mereka semua sudah lengkap berkumpul di situ.           Memang inilah yang ia kehendaki, maka tadi ia tidak lekas-lekas merobohkan Bhong Lam, yaitu hendak memancing datangnya semua tukang pukul, baru ia hendak turun tangan.           "Para paman, lihatlah aku membaias-kan dendam kalian!" terdengar bentakan merdu dan nyaring di antara hujan senjata itu.           Para petani sudah gelisah sekali dan menggigil, maka mereka menjadi girang mendengar suara ini.           Seiring dengan bentakan merdu dan nyaring itu, lenyaplah tubuh Siu Bi, berubah menjadi bayangan berkelebat dibungkus sinar kehitaman.           Pedang Cui-beng-kiam (Pedang Pengejar Roh) dan Ilmu Pukulan Hek-in-kang digunakan oleh gadls itu, dan akibatnya mengerikan se-kali.           Jerit dan tangis terdengar susul-menyusul.           Tubuh para tukang pukul roboh bergelimpangan satu demi satu dengan cara yang cepat sekali.           Paling akhir Bhong Lam yang tadinya mainkan toya dengan ganas itu pun roboh tersungkur tak dapat berkutik lagi.           Tidak sampai seperempat jam lamanya, empat belas orang tukang pukul itu roboh semua dengan lengan kanan terbabat putus sedangkan Bhong Lam sendiri roboh tak berkutik, darah mengucur dari dadanya yang sudah tertembus pedang.           Mandi darah dan hujan rintihan memenuhi halaman itu.           Para petani yang tadinya menonton dengan jantung berdebar, kini tidak be-rani memandang lagi.           Mereka adalah kor-ban-korban kekejaman dan sering kali mereka itu disiksa, akan tetapi menyak-sikan ini membuat mereka menggigil dan tidak berani memandang lagi.           Mereka memang menaruh dendam dan ingin sekali menyaksikan penyiksa-penyiksa' mereka itu terbalas dan terhukum, namun apa yang dilakukan oleh "Dewi Kwan Im" ini benar-benar amat menyeramkan.           Em-pat belas orang dan enam orang mandor di sawah, dibuntungi lengannya sedangkan Bhong-kongcu tewas.           Semua tukang pukul merihtih-rintih memegangi lengan kanan yang buntung dengan tangan kiri, bingung melihat darahnya sendiri mengucur se-perti pancuran.           Siu Bi seperti seekor harimau betina mencium darah.           Dengan sikap beringas karena mengira                     93                      bahwa akan datang antek-antek keluarga Bhong, ia menantang, "Hayo, kalau masih ada binatang-binatang keji penindas orang-orang miskin, majulah dan inilah lawanmu, aku Cui- beng Kwan Im!"  Seorang laki-laki setengah tua, Bhong-loya sendiri, yaitu lurah Bhong Ciat, diiringi isterinya, berlari tersaruk-saruk keluar gedung dan menangislah kedua suanm isteri ini setelah melihat putera tunggal mereka menggeletak mandj darah tak bernyawa lagi.           Pada saat itu terdengar derap kaki kuda dan datanglah serombongan orang berkuda.           Melihat pakaian mereka, terang bahwa mereka adalah perajurit-perajurit istana, berjumlah dua puluh empat orang, dikepalai oleh seorang muda yang amat gagah dan tampan.            "Minggir! Bun-enghiong (pendekar Bun) datang..          !" teriak orang-orang yang tadinya berkumpul memenuhi tempat itu, menonton kejadian yang hebat di depan gedung lurah Bhong.           Pemuda tampan itu memberi tanda dengan tangan menyufuh barisannya ber-henti.           Dia sendiri melompat turun dan atas kudanya dan lari memasuki pekarangan.           Alisnya yang tebal itu bergerak-gerak, matanya terbelalak heran menyaksikan empat belas orang tukang pukul merintih-rintih dengan lengan buntung serta Bhong-kongcu tewas ditangisi ayah bundanya.           " Adapun Bhong Ciat, ketika mendengar seruan orang-orang dan melihat pemuda gagah itu, segera menangis sambil menyambut dan berlutut di depan pemuda itu.           "Aduh, Bun-enghiong..           tolonglah kami..           malapetaka telah menimpa keluarga kami, anak kami tewas..           orang-orang karpi buntung semua lengan me-reka..           penasaran..           penasaran..          '.          " "Paman Bhong, siapa yang melakukan perbuatan keji itu?" Si pemuda tampan bertanya, pandang matanya mencari-cari.           "Aku yang melakukan!" tiba-tiba terdengar bentakan halus.           Pemuda itu cepat memandang dan dia melongo.           Sinar matanya yang tajam itu jelas tidak  percaya, dan sampai lama dia memandang Siu Bi.           Kemudian dia tersenyum, sama sekali tidak mau percaya ketika dia berkata,  "Nona, harap kau jangan main-main dalam urusan yang begini hebat.           Lebih baik Nona tolong memberi tahu siapa mereka yang telah melakukan pengamuk-an seperti ini.          " "Siapa main-main? Huh, memberi hajaran kepada anjing-anjing ini saja apa sih sukarnya?                     94                      Biar ada sepuluh kali mereka banyaknya, semua akan kurobohkan!" Siu Bi menyombong, pedangnya digerakkan melintang di depan dada, gerakan yang amat indah dan gagah.           Berubah wajah pemuda tampan itu, sinar matanya menyinarkan kekerasan dan kekagetan.           "Nona siapakah?" "Huh, baru bertemu tanya-tanya nama segala, mau apa sih? Kau sendiri siapa, lagaknya kaya pembesar, datang-datang main urus persoalan orang lain!" Pemuda itu memberi hormat sambil menjura, bibirnya tersenyum dan matanya untuk sedetik menyinarkan kegembiraan.           "Nona, ketahuilah, aku yang rendah bernama Bun Hui.           Bolehkah sekarang aku tahu, siapa Nona?" "Aku Cui-beng Kwan Im!" jawab Siu Bi berlagak, mengedikkan kepala membusungkan dada dan pandang matanya menantang, memandang rendah, sungguhpun diam-diam dia kagum melihat pemuda yang tampan dan gagah ini, Bun Hui tercengang.           la tahu bahwa +nona itu menggunakan nama samaran, .          atau nama julukan.           Julukan yang hebat.           Memang cantik jelita seperti Kwan Im, dan ganas seperti setan pengejar nyawa! la mengingat-ingat.           Sudah banyak dia mengenal tokoh-tokoh dunia kang- ouw, lebih banyak lagi yang sudah dia dengar namanya, namun belum pernah dia mendengar nama julukan Cui-beng Kwan Im! Apalagi kalau yang punya nama itu seorang dara jelita seperti ini! Sementara itu, petani tua yang tadi mempelopori kawan-kawannya kini mendekati Siu Bi dan berbisik, "Pouwsat (dewi), dia itu adalah Bun-enghiong, putera Bun-goanswe (Jenderal Bun) yang amat berkuasa di kota raja dan terkenal sebagai keluarga yang amat adil dan.          ditakuti pembesar macam Bhong-loya.          " Siu Bi mengangguk-angguk, akan tetapi hatinya mendongkol.           Jadi pemuda ini putera pembesar tinggi yang ditakuti semua orang? Hemmm, dia tidak takut! "Eh, orang she Bun, kiranya kau putera pembesar yang katanya adil? Huh, siapa sudi percaya? Kalau kau atau ayahmu benar adil, tentu tidak akan membiarkan para penduduk miskin dusun ini ditekan dan dicekik oleh lurah Bhong dan kaki tangannya.           Karena kau dan ayahmu, biarpun merupakan pembesar-pembesar tinggi, tidak becus memberi hajaran ke- pada bawahanmu macam anjing-anjing ini, maka aku yang turun tangan memberi hajaran.           Sekarang kau mau apa?' Mau membela mereka? Boleh! Aku tidak takut!" Bun Hui terheran-heran dan diam-diarn dia amat kagum di samping ke-marahannya akan kesombongan dara ini.           Ia menoleh ke arah Bhong Ciat yang masih berlutut, lalu bertanya, "Betulkah apa yang dikatakan Nona ini, paman Bhong?"                    95                      Bhong Ciat adalah seorang yang pandai mengambit hati, karena kekayaannya dia pandai bermuka-muka sehingga banyak pembesar di kota raja dapat dikelabuhi, mengira dia seorang baik dan pandai mengurus kewajibannya.           Tadinya Bun Hui juga mendapat kesan baik akan diri lurah ini, maka hari itu dia hendak membelokkan tugas kelilingnya ke dusun Pau-ling.           "Bohong, Bun-enghiong, Nona itu mengatakan fitnah!" Bhong Ciat cepat membantah.           "Siapa yang menindas orang? Harap tanyakan saja kepada para saudara petani.          " Akan tetapi belum juga Bun Hui me-lakukan pertanyaan, para petani itu serempak berteriak-teriak, "Memang betul ucapan Pouwsat! Bertahun-tahun kami ditindas dan hidup sengsara di bawah telapak kaki Bhong-kongcu dan kaki ta-ngannya yang kejam! Bhong- loya tidak tahu apa-apa, enak-enak saja di dalam gedung tidak peduli, akan keganasan puteranya, selalu berfihak kepada putera-nya!" Biarpun orang-orang itu bicara tidak karuan dan saling susul-menyusul, namun isi teriakan-teriakan itu adalah cukup bagi Bun Hui.           la kini menghadapi Siu Bi kembali, yang masih berdiri tegak menantang.           "Nah, apakah kau masih hendak me-mihak lurah yang bejat moralnya ini? Boleh, aku tetap berfihak kepada mereka yang tertindas!" "Sabar, Nona.           Aku tidak berfihak kepada siapa-siapa, melainkan berfihak kepada hukum.           Ketahuilah, oleh yang mulia kaisar, ayahku diberi tugas untuk meneliti dan mengawasi sepak-terjang para petugas negara.           Sekarang, sebagai wakil ayah, aku menghadapi peristiwa ini.           Bukanlah kewajibanku untuk mengambil keputusan di sini, khawatir kalau- kalau aku terpengaruh oleh salah satu fihak dan dianggap tidak adil.           Oleh karena itu, aku persilakan Nona suka ikut bersamaku, juga paman Bhong, dan beberapa orang saudara tani sebagai saksi.           Beranikah Nona menghadapi pemeriksaan pengadilan yang berwenang?" Biarpun masih muda, baru dua puluh lewat usianya, Bun Hui memiliki kecerdikan yang berhubungan dengan tugasnya mewakili ayahnya.           Oleh kecerdikannya ini dia dapat menghadapi Siu Bi.           la dapat menyelami watak dara lincah yang tidak mungkin mau mengalah itu, maka sengaja dia menantang apakah Siu Bi berani menghadapi pemeriksaan pengadilan.           Benar saja dugaannya, dengan mata berapa gadis itu membentaknya, "Mengapa tidak berani? Hayo, bia+ malaikat sendiri datang mengadili, aku tidak takut karena aku membela keadil-an!" serunya.           "Bagus sekali!" Bun Hui berseru girang, "Nona betul gagah perkasa.           Banyak orang kang-ouw yang tidak mau tahu akan pemeriksaan pengadilan negara, seakan-akan mereka itu tidak bernegara, dan tidak mengenal hukum.           Mereka suka menjadi hakim sendiri menurut kehendak hati, sehingga terjadilah balas-membalas dan permusuhan di mana-mana.          "                    96                      Siu Bi mengerutkan keningnya.           Ini tidak menyenangkan hatinya, karena ia sendiri menganggap dirinya seorang tokoh kang-ouw pula, biarpun belum ternarna.           "Karena mereka itu tidak berani!" seru-nya, ingin menang.           "Memang, karena nnereka itu tidak berani, dan Nona tentu saja berani menghadapi apa saja.          " "Tentu aku berani, takut apa? Kalau aku tidak bersalah, siapapun juga akan kulawan dan kuhadapi dengan pedangku!" Bun Hui tersenyum dan segera mem^ beri perintah kepada anak buahnya untuk menyiapkan kuda.           la sendiri lalu memberikan kudanya kepada Siu Bi.           "Mari, Nona, kita berangkat.          " Kepada para petani yang tidak ikut menjadi saksi, dia berkata, "Paman sekalian harap rawat mereka yang terluka.           Mulai saat ini di dusun Pau-ling tidak boleh terjadi keributan, tidak boleh ada yang mengguna-kan kekerasan.           Kalau terjadi sesuatu penasaran, harap lapor kepadaku.          " Berangkatlah rombongan itu.           Siu Bi naik kuda di samping Bun Hui, di depan barisan.           Lurah Bhong dan enam orang petani saksi berada di tengah rombongan.           Para penduduk Pau-ling mengantar rom-bongan itu dengan pandangan mata mereka.           Banyak yang berlinang air mata karena girang, terharu dan juga khawatir akan keselamatan Siu Bi.           Nama Cui-beng Kwan Im akan tetap terukir di sanubari para petani miskin di Pau-ling karena sesungguhnya, semenjak Siu Bi turun tangan, penderitaan mereka lenyap, se-telah di dusun itu diperintah oleh se-orang lurah baru yang adil sehingga tidak ada lagi terjadi pemerasan dan penindas- an di situ.           Tak seorang pun tahu bahwa semua peristiwa semenjak Siu Bi dikeroyok tadi, dilihat oleh sepasang mata yang amat tajam, yang tadi memandang kagum, kemudian memandang khawatir ketika melihat gadis itu ikut pergi bersama rombongan Bun Hui.           Tanpa diketahui siapa-siapa, pemilik sepasang mata ini diam-diam mengikuti rombongan.           Hebatnya, biarpun rombongan itu berkuda, dia dapat berlari cepat dan tetap mengikuti di belakang rombongan.           Dia seorang laki-laki muda, kurang dari tiga puluh tahun, pa-kaiannya sederhana, sikapnya halus dan pendiam.           Siapa lagi kalau bukan Si Jaka Lola, Yo Wan! Seperti kita ketahui, Yo Wan meninggalkan Pegunungan Himalaya, menuju ke timur dalam perantauannya.           Timbul pikirannya untuk mengunjungi Hoa-san.           Ketika dia mengenangkan peristiwa di Hoa-san beberapa tahun yang lalu, dia menyesalkan akan sikapnya sendiri yang telah mendatangkan gara-gara di sana.           la tidak perlu merasa takut, karena maksud kedatangannya sekarang hanya ingin mengunjungi suhu dan subonya, untuk memberi hormat dan melihat keadaan kedua orang tua itu.           Gembira juga hatinya kalau memikirkan bahwa tentu sekarang Swan Bu, anak yang dahulu amat manja itu, sekarang sudah menjadi seorang pemuda dewasa yang tampan dan gagah.           Tampan dan gagah, tak salah lagi.           Dahulu                     97                      di waktu kecil saja sudah memperlihatkan ketampanan dan kegagahan.           la akan merasa bangga melihat adik seperguruan ini.           Pada hari itu, secara kebetulan sekali dia tiba di dusun Pau-ling dan mendengar ribut-ribut.           Ketika dia memasuki dusun, tepat dilihatnya seorang gadis remaja dikeroyok banyak orang.           la tidak tahu akan persoalannya, maka ditanyakannya kepada seorang petani di antara banyak penonton itu.           Dan apa yang didengarnya benar-benar membuatnya kagum luar biasa.           Gadis itu, yang berjuluk Cui-beng Kwan Im, ternyata membela para petani miskin yang ditindas lurah, dan sekarang dikeroyok oleh tukang pukul-tukang pukui yang biasanya menyiksa penghidupan para petani miskin.           la kagum, akan tetapi juga khawatir kalau-kalau gadis pendekar itu akan celaka di tangan para tukang pukul yang galak.           Akan tetapi, alangkah kagumnya menyaksikan sepak-terjang gadis itu, sepak-terjang yang amat ganas dengan ilmu pedang serta ilmu pukulan yang dahsyat dan ganas pula.           Uap hitam yang keluar dari tangan kiri gadis itu! Terang merupakan ilmu pukulan yang mengandung hawa beracun, dan ilmu pedang yang juga bersinar hitam, semua ini membuktikan bahwa gadis itu memiliki ilmu kepandaian dari golongan hitarr, Akan tetapi harus diakui bahwa kepandaian gadis itu benar-benar luar biasa!  Munculnya pemuda bernama Bun Hui mengagumkan hatinya, juga gerak-gerik pemuda itu mendatangkan rasa suka di hatinya.           Sekali pandang saja Yo Wan dapat menduga bahwa pemuda ini bukanlah orang sembarangan, langkah kakinya yang mantap, gerak-geriknya yang ringan, terang menjadi tanda seorang ahli silat tinggi.           Maka diam-diam dia mentertawai gadis itu yang amat tinggi hati.           Kau terlalu memandang rendah pemuda ini, pikirnya.           Betapapun juga, dia mengkhawatirkan gadis perkasa yang agaknya masih hijau ini, dan diam-diam dia mengikuti dari jauh.           Gembira juga hati Siu Bi, kegembira-an yang timbul karena kebanggaan, keti-ka rombongan memasuki kota Tai-goan, sebuah kota besar di sebelah barat kota raja, rombongan itu menjadi tontonan banyak orang.           Dan terutama sekali, dirinya yang menjadi pusat perhatian para penonton.           Dengan lagak angkuh ia duduk di atas kudanya yang berendeng dengan kuda Bun Hui.           Di sepajang jalan tadi, ia tidak mempedulikan pemuda ini, juga Bun Hui tidak satu kalipun bicara dengan Siu Bi.           Biarpun di dalam hatinya Bun Hui amat kagum dan tertarik oleh gadis ini, .          namun dia adalah seorang pemuda gagah yang menjunjung tinggi kesopanan, maka dia menahan perasaannya dan tidak mau mengajak bicara Siu Bi di depan orang banyak.           Namun tidak sedetik pun per-hatiannya beralih dari diri gadis di sam- pingnya.           la heran sekali bagaimana se-orang gadis semuda dan sejelita ini bisa bersikap demikian ganas, dan diam-diam dia menduga-duga murid siapakah ge-rangan gadis ini, siapa pula namanya.           Ingin dla segera tiba di kota raja agar dalam pemeriksaan dla akan dapat men-dengar riwayat dara yang telah men-jatuhbangunkan hatinya itu.           Siapakah sebetulnya pemuda ini? Para pembaca cerita Pendekar Buta tentu telah mengenal ayah pemuda ini yang bukan lain adalah Bun Wan, putera tunggal dari ketua Kun-lun-pai! Di                     98                      dalam cerita Pendekar Buta telah dituturkan bahwa Bun Wan menikah dengan seorang gadis lihai puteri majikan Pulau Ching-coa-to (Pulau Ular Hijau) yang bernama Giam Hui Siang.           Kemudian, karena jasanya dalam perjuangan membantu Raja Muda Yung Lo yang mengalahkan keponakannya sendlri, setelah Yung Lo mengganti kedudukan sebagai kaisar dan memindahkan ibu kota dari selatan ke utara, Bun Wan diberi kedudukan tinggi sesuai dengan jasanya, malah pernah menjabat sebagai seorang jenderal.           Dari perkawinannya dengan Giam Hui Siang, dia memperoleh seorang putera yang diberi nama Hui.           Kemudian, melihat watak Jenderal Bun yang amat jujur keras dan adil, oleh kaisar Jenderal Bun diangkat menjadi pengawas dan pemeriksa semua alat negara.           Kekuasaannya amat tinggi sehingga dengan pedang kekuasaannya yang diberikan oleh kaisar, Jenderal Bun berkuasa memeriksa semua petugas, dari yang terendah sampai yang paling tinggi.           Inilah yang menyebabkan dia ditakuti dan disegani oleh para men-teri sekalipun, karena jenderal ini ter-kenal sebagai seorang yang berdisiplin, keras dan adil, tak mungkin disuap dan tidak mengenar ampun pada para pembesar yang korup.           Di samping keseganan, tentu saja Jenderal Bun ini mendapatkan banyak sekali musuh yang membencinya secara diam-diam.           Tapi siapakah orangnya berani menentangnya secara berterang? Jenderal Bun selain lihai ilmu silatnya, memiliki perajurit-perajurit pilihan, disayang dan dipercaya kaisar, di samping ini, masih ada Kun-lun-pai sebagai partai persilatan besar yang se-ratus prosen berdiri di belakangnya!  Jenderal Bun adalah seorang ahli silat Kun-lun-pai yang memiliki kepandaian tinggi, juga Giam Hui Siang isterinya adalah seorang , ahli silat tinggi yang mewarisi kepandaian Ching- toanio majikan Pulau Ching-coa-to.           Tentu saja sebagai putera Bun Hui semenjak kecil digem-bleng ayah bundanya sendiri sehingga memilikl kepandaian yang hebat.           Pemuda ini mewarisi watak ayahnya, keras, jujur dan adil.           Oleh karena inilah maka dia dipercaya oleh ayahnya dan sering kali dia mewakili ayahnya yang sibuk dengan pekerjaan di Tai-goan, untuk mengadakan pemeriksaan di wilayah yang dikuasakan oleh kaisar.           Pada hari itu, Bun-goanswe (Jenderal Bun) yang sedang sibuk di kamar kerja-nya, menjadi terheran-heran melihat puteranya pulang bersama seorang gadis cantik jelita yang sikapnya angkuh dan gagah, diiringkan pula oleh lurah Bhong dari dusun Pau-ling dan beberapa orang petani miskin.           Lurah Bhong dan para petani segera menjatuhkan diri berlutut di depan meja jenderal itu, akan tetapi Siu Bi tentu saja tidak sudi berlutut, malah berdiri tegak dan memandang laki-laki tinggi besar yang duduk di belakang meja.           la melihat seorang laki-laki yang gagah, berusia sepantar ayahnya, pakaian-nya seperti seorang pangllma perang matanya sebelah kanan buta, akan tetapi hal ini malah menambah keangkerannya.           Mau tidak mau Siu Bi menaruh segan dan hormat kepada orang tua ini, maka ia diam saja, hanya memandang.           Sejenak Bun-goanswe menatap wajah Siu Bi, maklum bahwa gadis ini tentulah seorang gadis kang-ouw yang tinggi hati dan merasa dirinya paling pandai, maka dia tersenyum di                     99                      dalam hati dan tidak menjadi kurang senang melihat gadis remaja itu tidak memberi hormat ke-padanya.           Dengan tenang dia mendengar-kan penuturan Bun Hui tentang keribut-an di dusun Pau-ling.           Mata yang tinggal sebelah itu bersinar marah dan alisnya yang tebal hitam berkerut.           Segera dia menoleh ke arah lurah Bhong yang masih berlutut tanpa berani mengangkat mukanya.           "Lurah Bhong, betulkah pendengaranku bahwa kau tidak memperlakukan penduduk desamu dengan adil, melakukan tindakan sewenang-wenang mengandalkan kedudukanmu?" "Mohon ampun, Taijin..           hamba..           hamba tidak merasa melakukan perbuatan sewenang- wenang.           Ham..           hamba sudah tua..           jarang bekerja di luar..           semua urusari hamba serahkan kepada petugass petugas hamba..          " "Hemmm, sudah keenakan lalu bermalas-malasan dan bersenang di dalam gedung saja, ya? Melalaikan kewajiban, tidak peduli akan keadaan penduduk, bersikap masa bodoh asal kau sendiri senang? Begitukah sikap seorang kepala kampung? Tentang keributan antara anakmu dan orang-orangmu dengan Nona ini, bagaimana?" "Hamba tidak jelas..           hanya gadis liar ini datang menyerang, membunuh anak hamba..           melukai semua petugas, membuntungi lengan mereka, tak seorang pun selamat.           Hamba..           hamba monon Taijin sudi menghukum gadis liar ini, dia jahat!" Bun-goanswe menoleh ke arah Siu Bi, sinar matanya penuh selidik.           la tak senang juga mendengar gadis ini telah membunuh orang dan membuntungi lengan dua puluh orang lebih.           Sungguh ganas! Akan tetapi Siu Bi menentang pandang matanya dengan berani, berkedip pun tidak.           Sepasang mata yang amat tajam dan penuh ketabahan dan kekerasan hati.           Seorang gadis berbahaya, apalagi kalau berkepandaian tinggi.           "Nona, kau siapakah?" "Orang-orang dusun menyebutku Kwan Im Pouwsat, akan tetapi aku lebih senang memakai  nama Cui-beng Kwan-im," jawab Siu Bi, suaranya merdu dan lantang.           Bun-goanswe tak dapat menahan senyumnya, senyum maklum dan setengah mengejek.           la  pernah muda, pernah dia melihat gadis-gadis kang-ouw seperti ini di waktu mudanya.           Malah isterinya sendiri, dahulu lebih ganas daripada gadis ini!  "Namamu siapa? Siapa orang tuamu dan siapa pula gurumu?" Siu Bi mengerutkan kening.           Untuk apa tanya-tanya orang tua ini, pikirnya.           Akan tetapi ia  tidak berani menjawab secara kurang ajar, hanya menjawab sewajarnya, "Tentang orang tuaku, kiranya tidak perlu disebut-sebut di sini.           Namaku Siu Bi, dan tentang guruku..                               100                      hemmm, mendiang guruku berjuluk Hek Lojin.          " Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Bun-goanswe mendengar nama ini.           Di dalam cerita  Pendekar Buta telah diceritakan betapa dia dan isterinya pernah bertemu dengan Hek Lojin dan terluka hebat, mungkin binasa kalau tidak ditolong oleh Kwan Kun Hong Si Pendekar Buta! Hek Lojin adalah seorang kakek iblis, yang dulu pernah hampir membunuh dia dan isterinya, dan sekarang muridnya, gadis ini yang tentu juga seorang gadis iblis pula, berdiri di depannya' Kalau saja Bun-goanswe bukan seorang tua yang sudah matang pengalamannya, berwatak adil dan pandai menyembunyikan perasaan, tentu dia sudah melompat untuk menerjang murid bekas musuhnya ini.           la menekan perasaannya dan mengangguk-angguk.           "Kenapa kau membunuh putera lurah Bhong dan membuntungi lengan banyak orang?" tanyanya, sikapnya tetap tenang akan tetapi suaranya sekarang tidak sehalus tadi, terdengar agak ketus sehingga Bun Hui yang mengenal watak ayahnya, nnengangkat muka memandang.           Siu Bi mengedikkan kepalanya, mengangkat kedua pundak, gerakan yang mem-bayangkan bahwa ia tidak peduli.           "Harap ,kau orang tua suka tanya saja kepada para petani ini bagaimana duduknya per-kara sebenarnya.           Kalau benar seperti yang kudengar dari paman tani bahwa kau seorang pembesar yang adil, tentu kau akan menghukum lurah brengsek ini, kalau tidak, akulah yang akan turun ta-ngan memberi hajaran kepadanya!" Siu Bi mengerling kepada lurah Bhong dengan pandang mata jijik.           Merah muka Bun-goanswe.           Seorang bocah bicara seperti itu di depan banyak orang, benar- benar hal ini amat merendahkannya.           Akan tetapi dia bertanya, "Dengan cara apa kau hendak menghajarnya?" Siu Bu menepuk gagang pedangnya.           "Dengan ini!, Mungkin akan kulepaskan kedua daun telinganya yang terlalu lebar itu.           Menggigil tubuh lurah Bhong mendengar ini, bahkan kedua telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci saking rigeri hatiriya.           Bun Hui yang otomatis, melirik ke arah telinga lurah itu, menahan geli hatinya.           Bun-goanswe lalu bertanya kepada para petani.           Mereka ini serta-merta, sambil berlutut dan menempelkan jidat pada lantai, menceritakan penderitaan mereka sedusun, tentang perbuatan sewenang-wenang dari Bhong-kongcu dan para kaki tangannya, tentang perampasar+ wanita, perampasan sawah ladang, pemerasan dan tentang upah yang tidak cukup mereka makan sendiri.           Kemarahan Bun-goanswe membuat mukanya makin merah lagi.           Ada seorang lurah macam ini di dalam wilayah yang dikuasakan kepadanya, benar-benar amat memalukan!                    101                      "Hemmm, urusan ini harus kuselidiki sendiri di Pau-ling.           Kalau betul lurah ini sewenang- wenang, akan kuhukum dan kuganti.           Sebaliknya, pembunuhan dan penganiayaan berat sampai membuntungi lengan dua puluh orang, bukanlah hal kecil seakan-akan di sini tidak ada hukum yang berlaku lagi.           Perkara ini diputuskan besok setetah aku meninjau ke sana.           Nona, kau harus ditahan semalam ini, serahkan pedangmu kepadaku.           Tidak ada tahanan yang boleh membawa pedang atau senjata lain.          "  Siu Bi merah mukanya, hendak marah.           Akan tetapi Bun Hui melangkah maju dan berkata halus, "Harap Nona suka mengindahkan peraturan dan hukum di sini, percayalah bahwa ayah akan memberi keadilan yang seadil-adilnya.           Melawan akan menjerumuskan Nona ke dalam urusan yang lebih besar lagi.           Pedang itu hanya ditunda di sini, tidak akan hilang.           Besok kalau urusan selesai, Nona tentu akan menerimanya kembali.          " Karena sikap Bun Hui ramah dan halus sopan, Siu Bi mengalah.           la pikir, tidak ada gunanya mengamuk di sini.           la melihat jenderal mata satu itu amat berwibawa, juga tampaknya gagah perkasa, demikian pula pemuda ini.           Dan di situ tampak barisan pengawal yang ber-senjata lengkap, sungguh tak boleh di-pandang ringan.           Melawan seorang pem-besar tinggi sama dengan memberontak, pengetahuan ini sedikit banyak ia dapatkan dari ayah dan mendiang kakek gurunya.           "Boleh, andaikata tidak dikembalikan, apakah aku tidak akan dapat mengambilnya kembali?" katanya sambil meloloskan pedang berikut sarung pedangnya.           Pedang Cui-beng-kiam ia letakkan di atas meja depan Bun-goanswe yang memandangnya penuh selidik.           Bun-goanswe memerintah orang-orangnya untuk menggiring Bhong Ciat dan enam orang petani ke dalam kamar tahanan, kemudian setelah semua orang itu dibawa pergi, dia berkata kepada puteranya, "Bawa Nona ini ke kamar tahanan di belakang, suruh jaga, jangan boleh dia bermain gila sebelum urusan ini selesai.          " Mendongkol juga hati Siu Bi mendengar ini, "Orang tua, kuharap saja besok urusan ini sudah harus selesai.           Aku tidak punya banyak waktu untuk tinggali sini, apalagi menjadi orang tahanan.           Aku mempunyai urusan penting di Liong thouw-san!" Mendengar ini .          nakin terkejutlah Bun-goanswe.           Liong-thouw-san adalah tempat tinggal Pendekar Buta, sahabat dan penolongnya.           Mau apa murid Hek Lojin ini pergi ke Liong- thouw-san? "Hemrnm, ke Liong-thouw-san, ada urusan apakah? Atau, kau tidak berani mengatakan kepadaku karena di sana hendak melakukan sesuatu yang jahat?" Ternyata jenderal ini mempergunakan akal seperti yang digunakan puteranya, memancing dengan menggunakan ketinggian hati gadis itu!                    102                      "Mengapa tidak berani? Apa yang hendak kulakukan di sana, siapapun di dunia ini tidak bisa melarangku! Aku akan..           membuntungi lengan beberapa orang di sana!" Gadis itu memandang Bun-goanswe dengan pandang mata berkata, "kau mau apa!" Bun-goanswe tercengang.           "Lengan siapa yang hendak kaubuntungi lagi? Agaknya kau mempunyai penyakit ingin membuntungi lengan orang!" serunya, akan tetapi tanpa dijawab dia sudah dapat menduga.           Lengan siapa lagi kalau bukan lengan Pendekar Buta yang akan dibuntungi gadis itu? la sudah mendengar tentang pertempuran hebat antara Pen-dekar Buta dan mUsuh-musuhnya, dan betapa lengan Hek Lojin buntung dalam pertandingan itu oleh Pendekar Buta.           Mengingat betapa gadis yang masih hijau ini mengancam hendak membuntungi lengan Pendekar Buta, tak dapat ditahan lagi Bun-goanswe tertawa bergelak.           "Ha-ha-ha, kau hendak membuntungi lengannya dengan pedang ini?" la mencabut pedang itu dan tiba-tiba dia terbelalak.           Pedang itu adalah pedang yang mempunyai sinar hitam dan mengandung hawa dingin yang jahat.           biam-diarr dia bergidik dan memasukkan kembali pedang itu ke dalam sarungnya.           "Hui-ji (anak Hui), antarkan ia ke dalam tahanan besar.          " "Mari, Nona," ajak Bun Hui yang mukanya berubah pucat.           Pemuda ini tadi juga kaget sekali mendengar maksud gadis ini pergi ke Liong-thouw-san untuk membuntungi lengan orang.           la telah mendengar dari ayahnya; tentang Pendekar Buta, pendekar besar yang menjadi sahabat dah penolong ayahnya, orang yang paling dihormati ayahnya di dunia ini.           Dan gadis ini hendak pergi ke sana membuntungi lengan pendekar itu! la mengerti kehendak ayahnya, gadis ini ber-bahaya dan merupakan musuh besar Pendekar Buta, harus ditahan di dalam ka-mar tahanan besar, yaitu kamar tahanan di belakang yang paling kuat, berpintu besi dengan jeruji baja yang amat kuat, cukup kuat untuk mengeram seekor harimau yang liar sekalipun! Bun Hui berduka.           la amat tertarik kepada gadis ini, ingin dia melihat gadis ini menjadi sahabat baik, melihat gadis ini berbahagia.           Siapa duga, keadaan meng-hendaki lain.           Gadis ini harus dikeram dalam kamar tahanan, dan justeru dia yang harus melakukannya.           la sedih, akan tetapi tanpa bicara sesuatu dia mengan-tarkan Siu Bi ke belakang.           Gadis itu pun tanpa banyak cakap mengikuti, menga-gumi gedung besar yang menjadi kantor dan rumah tinggal Jenderal Bun.           "Silakan masuk, Nona.           Jangan khawatir, ayah adalah seorang yang adil.           Nona akan diperlakukan dengan baik,"" katanya, akan tetapi suaranya agak gemetar karena dia tidak percaya kepada omongannya sendiri.           Begitu Siu Bi masuk, pintu ditutup dan dikunci dari luar oleh Bun Hui Siut Bi kaget dan marah.           "Kenapa harus dikurung seperti binatang liar? Tempat apa ini?" teriaknya.           Bun Hui menjawab sambil menunduk.           "Nona, aku menyesal sekali.           Akan tetapi, kau..                               103                      kau..          " Bun Hui tidak melanjutkan kata-katanya, melainkan segera lari pergi dari situ, wajahnya pucat, napasnya terengah dan dia langsung lari ke kamarnya untuk menenteramkan hatinya yang tidak karuan rasanya.           Siu Bi membanting-banting kedua kakinya.           Didorongnya daun pintu, akan tetapi daun pintu yang dicat seperti daun pintu kayu itu ternyata terbuat darH pada besi yang amat kuat.           la memeriksa ruangan tahanan itu, cukup luas, akan tetapi di kanan kiri tembok tebal di sebelah belakang terbuka dan dihaiangi jeruji baja yang besar dan kokoh Kuat.           Tak mungkin dia dapat merusak pintu atau jeruji untuk membebaskan diri hanya mengandalkan tenaganya saja.           Namun Siu Bi masih penasaran.           la mengerahkan tenaga Hek- in-kang, lalu menghantamkan kedua tangan ke arah jeruji.           Terdengar suara berdengung keras dan bergema, seluruh kamar tahanan itu tergetar, namun jeruji tidak menjadi patah.           la mencoba pula untuk menarik jeruji agar lebar lubangnya supaya ia dapat lolos keluar, namun sia-sia.           jeruji baja itu amat kuat dan tenaga gwakang (tenaga luar) yang ia miliki tidak cukup besar.           Tenaga Iweekang (tenaga dalam) memang tiada artinya lagi kalau menghadapi benda mati yang tak dapat bergerak seperti pintu dan jeruji yang terpasang mati di tempat itu.           Siu Bi membanting-banting kedua kakinya, berjalan hilir-mudik seperti seekor harimau liar yang baru saja di-masukkan kerangkeng.           Biarpun besok ia akan dibebaskan, ia merasa terhina de-ngan dimasukkan dalam kamar tahanan seperti kerangkeng binatang ini.           Sore hari itu, ttanya beberapa jam kemudian, seorang pengawal datang dan mengulur-kan sebuah baki terisi mangkok nasi dan masakan, juga nmnuman yang cukup ma-hal.           Namun hampir saja pengawal itu remuk lengannya kalau saja dia udak cepat-cepat menariknya keluar karena Siu Bi sambil memaki telah menerkam" tangan itu untuk dipatahkan! Siu Bi marah sekali, memaki-maki sambil menyambar baki dan isinya.           Mangkok dan sumpit beterbangan menyambar keluar dari sela-sela jeruji, menyerang pengawal itu yang lari tunggang-langgang! Siu Bi makin ? jengkel kalau mengingat betapa dia me-nyerahkan pedangnya kepada Jenderal Bun.           Andaikata pedang Cui-beng-kiam berada di tangannya, tentu dia dapat membabat putus jeruji-jeruji ini.           Malam tiba dan Siu Bi menjadi agak tenang.           la akhirnya berpendapat bahwa semua kemarahannya itu tiada gunanya sama sekali.           Tubuhnya menjadi letih, pikirannya bingung dan..           perutnya lapar! Mengapa ia tidak menerima sabar saja sampai besok.           Kalau ia sudah bebas dan mendapatkan pedangnya kembali, mudah saja baginya untuk mengumbar nafsu amarah.           Sedikitnya ia akan memaki-maki jenderal dan puteranya itu sebelum ia melanjutkan perjalanannya.           Pikiran ini membuat ia tenang.           Dibaringkannya tubuhnya yang amat lelah itu di atas sebuah dipan kayu yang berada di ujung kamar tahanan.           Lebih baik mengaso dan memulihkan tenaga, siapa tahu besok ia harus menggunakan banyak tenaga, pikirnya.           la lalu bangkit dan                     104                      duduk bersila, bersamadhi mengumpulkan tenaga dan mengatur pernapasan.           "Nona.. maafkan aku..          " Sejak tadi memang agak sukar bagi Siu Bi untuk dapat bersamadhi dengan tenang.           Perutnya  amat terganggu, ber-keruyuk terus! la membuka mata dan menoleh.           Biarpun tahanan itu buruk, sedikitnya di.           waktu malam tidak gelap, mendapat sinar .           lampu besar yang dipasang di luar.           Bun Hui berdiri di luar jeruji, membawa sebuah baki terisi makanan dan minuman.           "Mau apa kau?" bentak Siu Bi timbul kembali kemarahannya.           "Nona, maafkan kalau tadi pelayan yang mengantar makanan kurang sopan.           Sekarang aku  sendiri yang mengantar makanan dan minuman, harap Nona sudi menerima.           Tak baik membiarkan perut kosong.           Silakan, Nona.          " Dengan kedua tangannya Bun Hui mengulurkan dan memasukkan baki itu ke dalam kamar tahanan melalui sela-sela jeruji yanp cukup lebar untuk dimasuki baki yang, kecit panjang itu.           Sejenak timbul niat di hati Siu Bl untuk membikin celaka pemuda putera Jenderal Bun ini dengan menangkap dan mematahkan kedua lengannya.           Akan tetapi segera niat ini diurungkan ketika dia memandang wajah yang ramah, tampan dan kelihatan agak bersedih ini.           "Ayahmu menahanku dalam kerangkeng, mengapa kau pura-pura berbaik hati kepadaku? Jangan kira kau akan dapat menyuapku hanya dengan rnakanan dan minuman.           Apa artinya kau mengantar sendiri ini? Hayo katakan.           kalau hendak menyuap, lebih baik aku mati kelaparan!" "Ah, kau terlalu berprasangka yang bukan-bukan dan yang buruk terhadap diriku, Nona.           Di antara kita tidak ada permusuhan, mengapa kami akan mencelakakanmu? Hanya karena persoalan ini baru beres besok, terpaksa ayah menahanmu, juga lurah Bhong dan para saksi.           Harap Nona suka memaafkan aku dan suka bersabar untuk semalam ini.          " öHemmmm, begitukah? Muak aku akan segala aturan dan hukum ini!" kata Siu Bi, akan tetapi suaranya tidak seketus tadi.           Bun Hui girang hatinya, lalu berkata, "Silakan makan, Nona, aku tidak akan mengganggumu lagi.          " Dan pemuda itu segera pergi dari situ.           Andaikata pemuda itu tetap berada di tempat itu, agaknya Su Bi takkan sudi menyentuh makanan dan minuman itu.           Akan tetapi sekarang, ditinggalkan seorang diri, matanya mulai melirik baki dan melihat masakan mengebulkan uap yang sedap dan gurih, perutnya makin menggeliat-geliat.           Setelah celingukan ke kanan kiri dan yakin bahwa di situ tidak ada orang yang melihatnya, mulailah Siu Bi makar Setelah kenyang, ia sengaja melemparkan baki dan semua isinya keluar jeruji sehingga pecahlah mangkok-mangkok itu, isinya, yaitu sisa yang ia makan, tumpah tidak karuan.           Dengan begitu, takkan ada yang tahu apakah tadi ia makan dan minum isi baki ataukah tidak!                    105                      Suara berisik ini diikuti datangnya Bun Hui.           "Kenapa..          ! kenapa kau buang makanan dan minuman itu, Nona?" "Ih, siapa sudi?" Siu Bi tidak melanjutkan kata-katanya dan diam-diam ia mengusap pinggir mulutnya dengan lengan baju.           "Nona, maafkan aku.           Aku sengaja datang untuk bicara sedikit denganmu.          " "Mau bicara, bicaralah, mengapa ba-t' nyak cerewet?" Siu Bi sengaja bersikap galak.           Pemuda itu makin bingung dibuatnya, tampak maju mundur untuk mengeluarkan isi  hatinya.           "Nona Siu Bi, aku tidak tahu mengapa kau berniat mengacau ke Liong-thouw-san.           Akan tetapi, ketahuilah bahwa yang tinggal di sana adalah pendekar besar Kwa Kun Hong yang terkenal dengan julukan Pendekar Buta.           Beliau seorang pendekar besar yang menjagoi dunia persilatan, tidak hanya terkenal karena kesaktiannya, juga karena kegagahan dan pribudinya.           Oleh karena itu Nona, kuharap dengan sangat, apa pun juga alasan, kau batalkan niatmu itu.           Siu Bi melotot.           "Apa? Apa peduhmu? Apamukah Pendekar Buta?" "Bukan apa-apa, hanya dia satu-satunya manusia yang paling dihormati ayah! "Wah, celaka! Aku masuk perangkap musuh! He, orang she Bun.           kalau memang kau dan  ayahmu orang-orang gagah, kalau memang mau membela Pendekar Buta, hayo lepaskan aku, kembalikan pedangku dan kita bertempur secara orang-orang gagah.           Mengapa menggunakan akal curang untuk menahanku dsini?" "Wah, harap Nona bersabar dan jangan salah sangka.           Maksudku hanya untuk menolongmu keluar daripada kesulitan, Nona.           Aku tidak akan mencempuri urusanmu dengan siapapun juga, sungguhpun sedih hatiku melihat kau memusuhi Pendekar Buta di Liong-thouw-san.           Maksudku, kalau saja besok kau suka berkata kepada ayah bahwa kau membatalkan niatrnu memusuhi Pendekar Buta di Liong-thouw-san, tentu kau akan mudah dibebaskan.           Setelah bebas, terserah ke-padamu.           Ini hanya untuk menolongmu, Nona.          ,..          " "Ihhh, apa maksudmu dengan pertolonganmu ini? Hayo bilang, orang she Bun, jangan bersembunyi di balik kata-kata manis.           Kenapa kau begini ngotot hendak menolongku?" Wajah pemuda itu merah seluruhnya.           Sukar sekali menjawab pertanyaan yang merupakan penyerangan tiba-tiba ini.           "Kenapa? Ah.. kenapa, ya? Aku sendiri tidak tahu pasti, Nona.. hanya agaknya..           aku tidak suka melihat kau mendapatkan kesukaran.           Aku kagum ke-padamu, Nona..           aku..           aku ingin menjadi sahabatmu.           Nah, itulah! Aku ingin                     106                      menjadi sahabat baikmu karena aku kagum dan suka padamu.          " Kini Siu Bi yang tiba-tiba menjadi merah sekali wajahnya.           Celaka, pikirnya.           Pemuda ini  benar-benar tak tahu malu, terang-terangan bilang suka dan kagum dan ingin menjadi sahabat baik! Sekarang dia yang kebingungan dan tidak segera dapat membuka mulut.           "Sejak aku melihat kau menolong petani-petani miskin, dengan gagar kau melawan tukang- tukang pukul jahat di Pau-ling itu, aku amat kaguin dar tertarik kepadamu, Nona.           Aku tahu, juga ayah tentu yakin bahwa dalam urusan ini kau tidak bersalah malah kau berjasa bagi prikemanusiaan, bagi kebenaren dan keadilan, kau menolong yang tergeocet menghajar yang menindas.           Akan setapi, hukum tetap hukum yang harus dilaksa-nakan dengan tertib.           Kalau ayah meng-ambil keputusan begitu saja tanpa meng-adili terus membenarkan kau, apakah akan kata orang? Terhadap urusan di Pau-ling itu, aku tidak khawatir sama sekali.           Akan tetapi urusan ke dua im..           ah, kau tidak tahu, Nona.           Ayah pasti akan mencegah maksud hatimu itu, bukan hanya karena menjadi sahabat baik, melainkan masih ada ikatan keluarga.           Ke-tahuilah bahwa isteri Pendekar Buta adalah enci angkat dari ibuku.           Nah, kau tahu betapa tidak bijaksananya kau meng-, aku akan hal itu di depan ayah!"  "Ah, begitukah? Jadi kau masih ke-ponakan isteri musuh besarku? Wah, celaka, aku terjebak.           Tentu kau mengajak-ku ke sini untuk menipuku..           ah, ineng-apa aku begitu bodoh?" , "Nona, harap jangan bicara begitu.           Urusan itu baru kami ketahui setelah kau berada di sini dan mengaku di depan ayah.           Aku..           aku fidak memandang kau sebagai musuh, sebaliknya daripada itu.           Aku bersedia menolongmu, Nona.           Aku akan membujuk ayah untuk membebaskan-mu, asal saja kau suka berjanji kepada ayah bahwa kau takkan memusuhi Pen-dekar Buta..          " "Aku mau memusuhi siapapun juga, apa pedulinya dengan kau?" "Nona..          " suara Bun Hui penuh penyesalan, akan tetapi ia tidak melanjutkan kata-katanya  karena pada saat itu berkelebat bayangan orang dan seorang wanita setengah tua yang cantik telah berdiri di sebelah Bun Hui.           "Ibu.. kau di sini..          ?" Bun Hui bertanya gagap.          " "Hui-ji (anak Hui), aku mendengar dari ayahinu bahwa seorang gadis yang liar mengancam  hendak menyerbu Liong-thouw-san dan membuntungi lengan Kun Hong dan enci Hui Kauw? Mana dia? Apakah ini?" telunjuk yang runcing me-nuding ke arah Siu Bi yang memandang dengan bengong.           Wanita itu luar biasa cantiknya, suaranya nyaring, matanya bersinar-sinar, pakaiannya amat indah namun tidak mengurangi gerakannya yang gesit tanda bahwa nyonya ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.           Siu Bi kagum.           Alangkah jauh                     107                      bedanya dengan ibu-nya sendiri.           Ibunya wanita lemah.           "Betul, Ibu.           Aku..           aku sedang rnem-bujuknya supaya maksud hatinya itu tidak  dilanjutkan," kata Bun Hui sambil menundukkan muka, khawatir kalau-kalau ibunya akan dapat membaca isi hatinya.           Wanita itu adalah Giam Hui Siang.           Seperti telah diceritakan di bagian de-pan, wanita ini adalah puteri dari Ching-toanio, ilmu kepandaiannya tinggi dan di waktu mudanya la sendiri merupakan seorang gadis yang selain cantik dan lihai, juga amat ganas, malah pernah bentrok dengan cici angkatnya dan Kwa Kun Hong (baca Pendekar Buta).           Kini ia melangkah maju dan, rnemandang Siu Bi penuh perhatian.           "Kau anak siapa? Kenapa hendak memusuhi Pendekar Buta dan isterinya?" la bertanya memandang tajam.           Ditanya tentang orang tuanya, hati Siu Bi menjadi panas dan jengkel.           la bu-kan anak The Sun yang semenjak kecil ia anggap seperti ayah sendiri.           Semenjak rahasia balrwa ia bukan anak The Sun ia ketahui dari ucapan Hek Lojin, ia tidak mau mengaku The Sun sebagai ayahnya lagi.           la sendiri tidak tahu siapakah orang tuanya, atau lebih tepat lagi, siapa ayah- nya.           la tidak pernah meragu bahwa ia bukan anak ibunya.           Mudah saja diketahui akan hal ini.           Wajahnya serupa benar dengan wajah ibunya.           Akan tetapi ayah-nya? la tidak tahu! Karena pertanyaan itu membuatnya mendongkol, ia men-jawab seenaknya.           "Sudah kukatakan bahwa orang tuaku tak perlu disebut-sebut di sini.           Aku memusuhi Pendekar Buta karena aku benci kepadanya, karena ia memang musuhku.           Habis perkara'.          " Giam Hui Siang tercengang mendengar jawaban dan melihat sifat berandalan ini.           Teringat ia akan masa mudanya.           Dia dahulu juga seperti nona ini, penuh keberanian, penuh kepercayaan akan kepandaian sendiri.           Apakah nona ini selihal dia? Mungkinkah dapat mengalahkan Pendekar Buta dan cicinya yang amat lihai itu? Diam-diam ia mengharapkan akan ada orang yang dapat mengalahkan Pendekar Buta, kalau perlu dapat membuntungi lengannya dan lengan Hui Kauw! Diam-diam nyonya ini masih merasa mendendam dan benci kepada Pendekar ' Buta dan isterinya.           Hal ini ada sebabnya.           Pertama karena ketika ia masih muda, dua orang itu pernah menjadi musuhnya.           Kedua kalinya, karena suaminya, Bun Wan, menjadi buta sebelah matanya karena Pendekar Buta pula.           Sungguhpun suaminya itu membutakan sebelah mata sendiri karena malu dan menyesal atas perbuatannya sendiri yang menyangka buruk kepada Pendekar Buta, namun secara tidak langsung, suaminya buta karena Pendekar Buta (baca cerita Pendekar Buta)! Inilah sebabnya terselip rasa dendam di sudut hati kecil nyonya ini.           Akan tetapi, dara remaja yang masih setengah kanak-kanak ini, rnana mungkin dapat melawan Kun Hong? "Lihat senjata!" tiba-tiba Giam Hui Siang berseru nyaring, tangannya ber-gerak dan sinar                     108                      hijau menyambar ke arah Siu Bi, melalui sela-sela jeruji baja.           Itulah belasan batang jarum Ching-tok-ciam (Jarum Racun Hijau), senjata raha-sia maut dari Ching-coa-to yang aroat ditakuti lawan karena selain halus dan amat cepat menyannbarnya, juga racun-nya amat ampuh.           Lebih hebat lagi, serangan ini masih ia susul dengan pukulan jarak jauh oleh sepasang lengannya yang didorongkan ke depan! "Ibu..          !" Bun Hui terkejut bukan main, namun tidak sempat mencegah karena gerakan ibunya itu sama sekali tidak pernah diduga sebelumnya.           la maklum akan kehebatan serangan ibunya ini, maka dengan muka pucat ia melnandang kepada Siu Bi.           Siu Bi juga terkejut menghadapi Serangan mendadak itu.           Akan tetapi karena sejak tadi ia sudah mengambil sikap bermusuh, tentu saja ia waspada dan tidak kehilangan akal.           la mengerahkan Hek-in-kang dan menggerakkan kedua lengannya menyampok sambil mendoyong-kan tubuh ke kiri, kemudian ia susul dengan dorongan ke muka yang mengandung tenaga Hek-in-kang yang amaf kuat.           Giam Hui Siang dan Bun Hui hanya melihat uap menghitam bergulung darl kedua lengan Siu Bi dan di lain saat tubuh Hui Siang sudah terhuyung-huyung ke belakang.           Hampir saja nyonya ini roboh terjengkang kalau saja ia tidak lekas-lekas melompat dan berjungkir balik.           Wajahnya nienjadi pucat, akan tetapi mulutnya tersenyum.            "Hebat..          ! Kau cukup lihai untuk menghadapi dia! Hui-ji, hayo kita pulang.          " Bun Hui menghadapi Siu Bi, suaranya terdengar sedih, "Nona, harap Kau suka maafkan  ibuku yang sebetulnya hanya hendak mencoba kepandaianmu.          " "Hemmm..          !" Siu Bi mendengus, masih belum hilang kagetnya.           Nyonya itu benar-benar  ganas dan galak, juga lihai sekali.           Jarum-jarum yang lewat di dekat tubuhnya tadi mengandung hawa panas yang luar biasa, juga pukulan jarak jauh tadi amat kuat.           Baiknya ia memiliki Hek-in-kang, kalau tidak, tentu ia akan menjadi korban jarum atau pukulan sin- kang.           Setelah ibu dan anak itu pergi, Siu Bi kembali duduk di atas pembaringan di sudut, berusaha untuk istirahat mengum-pulkan tenaga.           la dapat duduk tenang, kemudian nnenjelang tengah malam yang sunyi, tiba-tiba ia berjungkir balik, ke-pala di bawah, kaki yang tetap bersila itu di atas, untuk melatih Iweekang me-nurut ajaran Hek Lojin.           Belum ada setengah jam ia berlatih, terdengar suara orang perlahan, "Selagi kesempatan lari terbuka, mengapa membiarkan diri terkurung?" Cepat sekali gerakan Siu Bi, tahu-tahu tubuhnya sudah meluncur ke dekat jeruji.           Di luar                     109                      jeruji berdiri seorang laki-laki yang mengeluarkan seruan kagum akan gerakannya yang memang luar biasa tadi.           Laki-laki ini berdiri tegak, bersedakap dan memandang kepadanya dengan alis berkerut.           Sukar menduga apa yang berada dalam pikiran laki-laki ini.           Siu Bi memandang tajam, memperhatikan dan siap untuk memaki atau menyerang melalui sela- sela jeruji.           Akan tetapi ia mendapat kenyataan bahwa laki-laki itu bukanlah seorang penjaga atau pengawal, pakaiannya serba putih sederhana, rambutnya digelung ke atas dan dibungkus kain putih.           Muka yang membayangkan ke-tenangan luar biasa dengan sepasang mata yang sayu, membayangkan kematangan jiwa dan penderitaan lahir batin.           Orang ini bukan lain adalah Si Jaka Lola, Yo Wan.           Seperti kita ketahui, Yo Wan melihat bagaimana gadis yang luar biasa dan mengagumkan hatinya itu merobohkan para tukang pukul, kemudian ikut dengan pemuda yang memimpin barisan.           la tidak turun tangan menolong karena ingin ia melihat apa yang hendak dilakukan oleh pemuda itu, dan apa pula yang akan dilakukan oleh gadis itu untuk menolong diri sendiri.           Alangkah herannya ketika ia mendapat kenyataan bahwa gadis itu membiarkan dirinya ditahan.           Malam tadi dia diam-diam memasuki bagian belakang gedung ini dan ia sem-pat melihat betapa ibu pemuda itu me-nyerang dengan jarum hijau dan pukulan sinkang.           la kaget sekali, akan tetapi kembali ia dibuat kagum oleh kepandaian Siu Bi.           la tidak sempat mendengar per-cakapan mereka tentang niat Siu Bi mem-buntungi lengan Pendekar Buta, karena kedatangannya tepat pada saat Giam Hui Siang melakukan penyerangan tadi.           la benar-benar merasa heran akan sikap tiga orang itu.           Lebih-lebih lagi rasa herannya mengapa gadis ini membiarkan dirinya dijebloskan kamar tahanan, maka ketika menyaksikan sampai jauh malam betapa gadis itu tidak berusaha melari-kan diri, melainkan berlatih Iweekang secara aneh, dia tidak dapat menahan keheranannya dan muncul sambil mengucapkan kata-kata tadi.           Mengapa ia terlambat muncul? Yo Wan tadi ketika berhasil memasuki gedung, diam-diam menculik seorang penjaga tanpa ada yang mengetahuinya.           la melompati tembok dan membawa lari penjaga itu ke luar kota, lalu memaksanya bercerita tentang gadis itu.           Si penjaga ketakutan setengah mati karena ia tidak dapat melihat siapa penculiknya dan baru dilepaskan ketika berada di tempat yang gelap dan sunyi di luar kota, di bawah pohon yang besar.           la, hanya merasa tubuhnya tak mampu berkutik dan seakan-akan dibawa terbang.           Saking takutnya, mengira bahwa ia diculik iblis tubuhnya menggigil dan tak berani ia membantah.           Dengan suara gemetar ia menceritakan betapa Bun-goanswe menahan gadis itu karena urusan ini akan diselidiki ke Pau-ling pada esok hari oleh Goanswe sendiri, dan besok baru akan diberi keputusannya.           Juga ia menceritakan betapa gadis itu tidak membantah, malah menyerahkan pedangnya.           Demikianlah, dengan penuh keheranan Yo Wan lalu kembali ke dalam gedung setelah menotok penjaga itu dan me-ninggalkan di tempat sunyi.           la tahu bahwa penjaga itu tak mungkin akan dapat melepaskan diri sebelum besok pagi.           la tidak langsung mencari tempat                     110                      gadis itu ditahan melainkan mencuri masuk secara diam-diam ke dalam kamar Bun- goanswe dan dengan kepandaiannya yang luar biasa ia berhasil mencuri pedang Siu Bi yang disimpan di dalam kamar itu! Setelah menyimpan pedang di balik jubah-nya, baru ia nnencari tempat tahanan di belakang dan tepat kedatangannya pada isaat Hui Siang menyerang Siu Bi.           Siu Bi kini berdiri dekat jeruji.           Mere-ka saling pandang dan gadis itu berdebar jantungnya karena merasa serem melihat laki-laki itu berdiri seperti patung di luar kamar tahanan.           "Kau siapa? Apa maksud ucapanmu tadi?" Akhirnya ia menegur, sambil menatap wajah yang tampan dan agak pucat, tubuhnya yang kurus sehingga tulang pundaknya tampak menjendul di balik bajunya yang sederhana.           "Maksud ucapanku tadi sudah jelas, Nona.           Selagi ada kesempatan untuk lari, mengapa membiarkan dirimu terkurung disiniö.           Siu Bi merasa heran.           Apa kehendak orang ini dan siapa dia? Apa yang diucapkan orang ini memang menjadi suara hatinya.           Memang ingin ia melarikan diri, tidak sudi ditahan seperti binatang buas.           Akan tetapi bagaimana ia dapat melari-kan diri kalau ia tidak kuat membongkar daun pintu dan jeruji baja? Bahkan pedangnya pun ditahan, bagaimana ia suka pergi tanpa mendapatkan pedangnya kembali? Akan tetapi untuk men]awab se-perti ini, tentu saja ia tidak sudi.           Hal itu hanya akan merendahkan dirinya sen-diri, mengakui kebodohan dan kelemah-annya.           Maka ia menjawab dengan suara ketus, "Kau peduli apa? Aku harus tunduk kepada hukum, aku bukan manusia liar yang tidak mengenal hukum.          " Laki-laki rnuda itu tertawa, hanya sebentar saja.           Akan tetapi dalam waktu beberapa detik itu, selagi tertawa, laki-laki itu dalam pandang mata Siu Bi kelihatan tampan dan lenyap semua kekeruhan pada mukanya.           Akan tetapi hanya sebentar saja, senyum dan tawa itu melenyap, kembali wajah itu tampak suram muram.           "Hukum, kau bilang? Nona, aku lebih banyak mengalami hal-hal mengenai hukum.           Semua pembesar bicara tentang hukum, bersembunyi di belakang hukum, dan tahukah kau apa arti hukum sebenarnya? Hukum hanya menjadi alat penye-lamat mereka belaka, bahkan alat penin-das mereka yang lebih lemah! Hukum dapat mereka putar balik, dapat ditekuk-tekuk ke arah yang menguntungkan dan memenangkan mereka.           Kau akan kecewa kalau kau mempercayakan keselamatan-mu kepada hukum, Nona.           Karena itu, pokok terpenting, kau tidak bersalah dalam suatu persoalan.           Perbuatanmu membela para petani miskin yang tertindas itu adalah perbuatan orang gagah, sama sekali tidak seharusnya dihukum atau ditahan.          "                    111                      Di dalam hatinya, Siu Bi setuju seribu prosen.           Akan tetapi bagaimana ia dapat menyatakan setuju kemudian menyatakan bahwa ia tidak mampu keluar? "Eh, kau ini siapakah, berlagak pandai dan membelaku? Hemmm, lagaknya saja hendak menolong.           Apa sih yang dapat kaulakukan untuk menolongku? Pula, aku pun tidak membutuhkan pertolonganmu, dan andaikata kau mau menolong, mengapa pula kau yang sama sekali tidak kukenal ini hendak menolongku? Apakah bukan maksudmu untuk mencari muka belaka?" Yo Wan tersenyum kecut.           la kagum menyaksikan sepak terjang gadis ini, juga senang menyaksikan ketabahan dan kelincahannya, akan tetapi watak gadis ini amat sombong.           Yo Wan sudah nnencapai tingkat tinggi, baik dalam ilnnu silat maupun ilmu batin, berkat gemblengan selama sepuluh tahun di puncak Pegunungan Himalaya.           Maka ia tidak menjadi marah oleh sikap kasar dan ketus dari gadis itu.           Dengan tenang ia lalu mengeluarkan pedang Cui-beng-kiam dari balik jubahnya, menaruh pedang itu di atas lantai, kemudian ia menggunakan kedua tangannya mernegang jeruji baja, menge-rahkan sedikit sinkang dan..           jeruji-jeruji itu melengkung, membuka lubang yang cukup lebar untuk dilalui tubuh orang! "Aku datang sekedar memenuhi kewajiban membantu yang benar, tak perlu bicara tentang pertolongan.           Tentang kau mau ke luar atau tidak, adalah menjadi haknnu untuk menentukan, Nona.           Pedangmu ini tadi kuambil dari kamar Bun-goanswe.           Tidak baik seorang gagah berjauhan dari senjatanya.           Selamat tinggal.          " Siu Bi bengong terlongong.           la berdiri seperti patung memandang bayangan laki-laki itu yang berjalan perlahan, mening-galkannya dan menghilang di dalam ge-lap.           Setelah bayangan orang itu tidak tampak, baru ia sadar.           Kerangkeng terbuka, pedangnya di situ, mau tunggu apa lagi? Cepat ia menyelinap ke luar di antara dua jeruji yang sudah melengkung, disambarnya pedang Cui-beng-kiam dan di lain saat ia sudah melompat ke atas genteng, memandang ke sana ke mari.           Namun sunyi di atas gedung itu, tidak tampak bayangan laki-laki tadi.           Hatinya bimbang.           Apakah ia akan pergi melarikan diri sekarang juga ke luar kota Memang sesungguhnya lebih baik dan lebih aman begitu.           Akan tetapi, setelah Jenderal Bun itu melakukan hal yang tak patut ter-hadapnya, mengurungnya dalam kerang- keng, seperti binatang, kemudian nyonya jenderal itu tanpa sebab menyerangnya dengan jarum dan pukulan, masa ia harus pergi begitu saja seperti orang lari ke-takutan? Tidak, tidak ada penghinaan yang tidak dibalas.           Sebelum ia pergi meninggalkan kelihaiannya dan memberi sedikit hajaran kepada Jenderal Bun dan isterinya yang galak.           Tentu saja Bun Hui tidak ä termasuk dalam daftarnya untuk diberi hukuman karena pemuda itu ber-sikap baik sekali kepadanya.           Pikiran ini mendorong Siu Bi membatalkan niatnya untuk melarikan diri.           la lalu bergerak-                    112                      gerak seperti seekor kucing ringannya, meloncati genteng di atas gedung itu menuju ke bangunan besar, kemudian ia mengintai untuk mencari di mana adanya kamar Jenderal Bun clan isterinya, mendekam dan mendengarkan.           la mendengar suara Jenderal Bun dan isterinya.           "Masa tengah malam begini hendak pergi? Urusan bagaimana pentingnya pun, kan dapat diurus besok pagi?" terdengar suara nyonya Jenderal Bun, suara yang merdu dan halus.           "Harus sekarang kuselesaikan.           Selain menyelidiki ke Pau-ling, aku juga harus cepat menyuruh seorang pengawal yang tangkas untuk mengabarkan kepada Kwa Kun Hong di Liong-thouw-san tentang ancaman gadis liar itu.          " suara yang berat dari Jenderal Bun ini mendebarkan hati Siu Bi yang mendengarkan terus.           "Ah, tentang urusan itu, apa sangkut pautnya dengan kita? Kalau dia mempunyai dendam pribadi dengan Kun Hong, biarlah ia menyelesaikannya sendiri.           Urusan pribadi orang lain, bagaimana kita dapat ikut campur?" Isterinya mencela.           "Orang lain? Kurasa Kwa Kun Hong dengan keluarganya tidaklah dapat dikata orang lain!" Bun-goanswe berseru keras, suaranya mengandung penasaran.           "Bukankah isterinya adalah cicimu (kakakmu)?" "Enci Hui Kauw hanyalah saudara pungut.          " Hening sejenak, lalu terdengar suara jenderal itu penuh penyesalan.           "Hui Siang, isteriku, harap kau jangan merusak perasaan hatiku dengan sikapmu seperti ini  terhadap mereka.           Aku tahu bahwa kau masih menaruh dendam akan urusan lama, bukankah itu - merupakan sifat kanak-kanak? Kita bukan kanak-kanak lagi.           Perbuatanmu tadi mendatangi kamar tahanan dan menyerang gadis itu, juga nnerupakan sisa daripada sifat waktu mudamu.           Ah, Hui Siang, aku dapet menduga isi hatimu, setelah kau menguji, gadis itu dan mendapat kenyataan bahwa dia cukup lihai, kau ingin sekali melihat dia itu mengacau Liong-thouw-san.           Begitukah?" Nyonya itu berseru kaget.           "Kau..           kau mengintai..          ?" Kemudian disusul suaranya menantang, "Betul, aku ..           aku memang masih benci kepada Kun Hong dan enci Hui Kauw!" Disusul isa tangis tertahan dan tarikan napas panjang Jenderal itu, "Hui Siang, mengapa kau masih juga belum dapat memadamkan api dendam terhadap mereka? Lupakah kau bahwa Kun Hong adalah penolong kita? Dia seorang pendekar besar yang telah terkenal kegagahan dan budi pekertinya.           Dia merupakan penolong kita!" Isak tangis itu makin keras.           "Aku..           aku pun tidak bisa lupa..           bahwa kau..           kau                     113                      membutakan mata kananmu karena dia ..          ?ö.           Bun-goanswe tertawa.           "Ha-ha-ha, itukah yang membuat dendammu tak dapat hilang? Tak usah dipusingkan, isteriku.           Kebutaan sebelah mataku dapat membuka kebutaan mata hatiku, bukankah itu baik sekali?" "Lalu.           apa yang hendak kaulakukan terhadap gadis itu?" "Aku akan membujuknya agar supaya ia membatalkan niatnya mengacau tem-pat tinggal Kun Hong.           Kalau ia bersikeras, apa boleh buat, aku akan memasukkannya ke dalam tahanan sampai ia bertobat.          " "Jenderal busuk, kau benar-benar hendak mempergunakan hukum untuk mencari kebenaran dan kemenangan sendiri.           Aku, Cui-beng Kwan Im, mana sudi kau perlakukan demikian?" Sesosok bayangan melayang turun dari jendela dan sinar pedang hitam menerjang Bun-goanswe, Jenderal ini kaget sekali, cepat dia menghunus pedangnya dan menangkis.           Adapun Hui Siang, isteri jenderal itu, kaget dan khawatir, untuk sejenak hanya dapat memandang dengan kaget.           Akan tetapi, beberapa menit kemudian nyonya im sudah mendapatkan pedangnya lalu menyerbu dan mengeroyok Siu Bi.           Dara ini tidak menjadi gentar, malah berseru keras dan segera pedangnya berubah menjadi gulungan sinar kehitaman, diseling pukulan-pukulannya yang mengandung tenaga Hek-in-kang! Memang hebat gadis ini, ilmunya tinggi nyalinya sebesar nyali harimau, akan tetapi dia terlalu memandang rendah orang lain.           Terjangnya yang dahsyat dan ganas memang , membuat suami isteri itu kaget dan terdesak mundur.           Akan tetapi, jenderal itu adalah Bun Wan putera tunggal ketua Kun-lun-pai, tentu saja ilmu kepandaiannya juga hebat.           Dan isterinya adalah puteri dari Ching-toanio yang memiliki ilmu silat segolongan dengan Siu Bi, yaitu goiongan hitam.           Biarpun tingkat ilmu silat kedua orang suami isteri ini tidak sedahsyat ilmu silat Siu Bi warisan dari kakek sakti Hek Lojin, namun gadis itu kalah ulet dan kalah pengalaman sehingga ter-jangan-terjangannya biarpun mendesak dan mengejutkan, namun belum mampu merobohkan mereka.           Pada saat itu, Bun Hui datang berlari-lari dengan muka pucat.           Cepat pemuda yang juga lihai ini memutar pedangnya menahan pedang Cui-beng-kiam, lalu berkata, suaranya menggetarkan penuh perasaan, "Nona..          ! Kenapa kau tidak memegang janji, malah melarikan diri dan menyerbu ke sini? Ah..           Nona, mengapa kau menyerang ayah bundaku? Mengapa kaulakukan hal ini..           Kau, yang kupandang gagah perkasa..          " Getaran suara yang terkandung dalam ucapan Bun Hui ini tidak menyembunyikan perasaannya.           Jelas terdengar dan terasa, baik oleh Siu Bi maupun oleh ayah bunda pemuda itu, bahwa Bun Hui menaruh hati cinta kepada gadis ini!  "Hui-ji, mundur kau!" bentak Jenderal Bun.                              114                      "Hui-ji, kenapa kau merengek-rengek kepada bocah ini?" seru pula ibunya penuh teguran dan suami isteri itu sudah me-nerjang Siu Bi dengan hebat.           Terpaksa Siu Bi mundur tiga langkah karena ter-jangan kedua orang itu dalam serangan balasan bukanlah main-main.           Namun de-ngan Hek-in-kang, ia dapat mengusir mundur lagi kedua orang pengeroyoknya.           Ternyata Hek-in-kang amat ampuh, hawanya saja cukup membuat kedua orang suami isteri tokoh persilatan yang ber-kepandaian tinggi itu tergetar mundur dan tidak berani terlalu mendekat.           Mendengar suara ribut-ribut ini, beberapa orang pengawal menerjang masuk dan melihat betapa Jenderal Bun dan isterinya bertempur melawan gadis ta-hanan yang entah bagaimana kini telah berada di situ, mereka cepat mencabut senjata masing-masing dan siap.           Semen-tara itu, dengan hati hancur saking me-nyesal dan kecewanya, Bun Hui menggunakan pedangnya membantu ayah bundanya sambil berkata lirih, "Betapapun berat bagiku, aku harus memihak ayah bundaku, Nona'.          " "Cih, cerewet amat'.           Mau keroyok, keroyoklah.           Hayo semua orang di sini boleh maS^  mengeroyokku.           Aku Cui-beng Kwan Ini tidak gentar seujung rambutpun!" Bukan main marahnya Bun-goanswe.           "Hayo tangkap dia! Jangan bunuh, tangkap kataku.            Mana akal kalian Masa tidak mampu menangkap hidup-hidup seorang bocah nakal?" Belasan orang pengawal yang cukup tinggi kepandaiannya datang, mereka membawa tali- tali yang besar dan kuat.           Dengan senjata ini mereka mengurung Siu Bi dari segala penjuru, kemudian mereka mengayunkan tambang itu ke arah kaki untuk merobohkan Siu Bi.           Gadis ini kaget sekali karena suami isteri yang kosen itu, dibantu puteranya yang tak boleh dipandang ringan, membuat ia cukup repot menjaga diri.           Sekarang ada tambang-tambang yang nnenyambar dari segala jurusan melibat dan menjegal kedua kaki.           la terpaksa berlonoatan untuk menyelamatkan diri, menendang sana-sini sambil tetap melayani tiga orang lawannya.           Akan tetapi, mana mungkin gadis yang kurang pengalamandbertempur ini memecah perhatiannya menghadapi serangan yang sekian banyaknya.           Tiga batang pedang dengan dahsyat mengurung-nya dan mengancamnya dari atas, ini saja sudah membutuhkan pemusatan perhatian karena tiga batang pedang itu digerakkan oleh tangan-tangan ahli.           Belasan jurus ia masih dapat bertahan, akan tetapi karena kebingungannya, akhirnya kakinya terlibat tambang dan tak dapat ia pertahankan lagi, kakinya kena dijegal dan ia terguling dengan pedang masih di tangan.           Pada saat itu, selagi Bun-goanswe dan para pengawalnya siap menubruk dan menangkap Siu Bi, mendadak mereka kelabakan karena lampu penerangan tiba-tiba menjadi padam.           Perubahan serentak antara keadaan terang benderang menjadi gelap hitam ini benar-benar membingung-.          g kan mereka.                              115                      "Pasang lampu..          ! Lekas pasang lampu..          !" bentak Bun-goanswe.           Tak seorang pun berani menubruk ke depan untuk meringkus Siu Bi.           Mereka cukup maklum akan kelihaian nona itu yang masih memegang pedang.           Di dalam keadaan gelap itu, mana ada yang berani mempertaruhkan nyawa? Setelah suasana gelap yang hiruk-pikuk ini diakhiri dengan penerangan lampu, keributan lain timbul ketika me-reka melihat bahwa gadis yang tadinya terguling miring itu sudah tiada di tem-patnya lagi.           Gadis itu lenyap seperti ditelan bumi, tidak meninggalkan bekas, Bun-goanswe cepat memerintah para pengawalnya melakukan pengejaran.           'Dia sendiri menjatuhkan diri di atas kursi, penasaran, malu dan marah.           Hui Siang dan Bun Hui saling pandang.           "Wah, dia dapat melarikan diri!" Kata Hui Siang, diam-diam girang karena sesungguhnya la ingin sekali mendengar gadis itu menyerbu rumah tangga Kun Hong apalagi setelah sekarang ia yakin benar akan kelihaian gadis itu.           "Siapa bilang lari?" Jawab jenderal itu marah.           "Terang ada orang sakti yang menolong dan membawanya lari.           Siapa yang memadamkan lampu serentak seperti itu tadi? Tentu bukan gadis itu.           Dan cara ia meloloskan diri, sama sekali 'tidak terdengar olehku.          " "Mudah-mudahan ia tidak membikin ribut lagi." Bun Hui menggumam seorang diri.           "He, kau Hui-ji'.           Sikapmu tadi sungguh memalukan! Apa maksudmu? Apakah kau sudah  tergila-gila kepada gadis liar itu?" Bentakan ayahnya ini membuat Bun Hui merah mukanya dan ia tergagap mencari jawaban, "Aku..           aku..           tidak begitu, Ayah.           Aku hanya..           kagum akan sepak terjangnya dan aku..           aku kasihan  "Hemmm, menilai seseorang, apalagi wanita, jangan sekali-kali dari kecantikan wajah atau kepandaiannya.           Akan tetapi wataknya! Gadis itu wataknya keranjing-an, seperti iblis betina.           Hui-ji, besoK kau berangkat pagi-pagi ke Liong-thouw-san, menemui pamanmu Kwa Kun Hong dan berikan sepucuk suratku.           Urusan ini terlampau penting untuk kuserahkan kepada seorang pengawal, maka harus kau sendiri yang membawanya ke Liong-thouw-san.          " "Baik, Ayah.          " Diam-diam pemuda ini menjadi girang juga, karena memang sudah amat lama ia ingin berten u de-ngan orang yang selalu disebut-sebut ayahnya dengan penuh penghormatan, yaitu Kwa Kun Hong Si Pendekar Buta.           * * * *                    116                      Siu Bi mencoba tenaganya untuk meronta dan melepaskan diri, akan tetapi sia-sia.           Orang itu memanggulnya dengan menekan tengkuk dan punggung, di mana pusat tenaganya ditekan dan menjadi hilang kekuatannya.           la merasa dibawa lari cepat sekali dan angin dingin membuat ia mengantuksekali.           Akhirnya, saking lelahnya bertempur tadi dan semalam tidak tidur sedikit pun juga, ia tertidur di atas pundak orang yang memanggulnya itu'.           Ketika Siu Bi sadar dari tidurnya, sedetik ia tertegun, hendak mengulet (menggeliat) tidak dapat, tubuhnya serasa kesemutan dan pipi kanannya yang ber-ada di atas panas.           Kiranya matahari sudah menyorot agak tinggi juga.           Segera ia teringat.           la masih berada di atas pun- dak orang, masih dipanggul! Sejak lewat tengah malam sampai sekarang, lewat pagi! Dan ia tertidur di dalam pondongari orang! Dan selama itu ia masih belum tahu siapa orangnya yang menculiknya ini, yang membawanya lari dari dalam gedung Jenderal Bun selagi ia roboh dalam keroyokan para pengawal.           "Hemmm, perawan apa ini? Dipondong orang sejak malam, enak-enak tidur men-dengkur.           Malas dan manja, ihhh, benar-benar celaka..          " Orang yang memanggulnya itu terdengar bersungut-sungut.           Kemarahan memenuhi kepala Siu Bi.           "Siapa mendengkur? Aku tidak pernah mendengkur kalau tidur.           Hayo lepasKan kau laki-laki kurang ajar!" "He? Kau sudah bangun? Nah, turunlah!" Dengan gerakan tiba-tiba orang itu melepaskan pondongan sambil mendorong sedikit sehingga Siu Bi terlempar dan jatuh berdiri di depannya dalam jarak dua meter.           Dapat dibayangkan betapa kaget, heran, dan marahnya ketika me-lihat bahwa orang yang memanggulnya tadi adalah laki-laki muda sederhana berpakaian putih yang semalam mengun-junginya di dalam kerangkengnya! "Heeeiiiii! Kenapa kau memondongku? Aku bukan anak kecil!" Siu Bi membanting kaki dengan gemas.           Yo Wan, orang itu, tersenyum kecil.           Matahari pagi serasa lebih gemilang cahayanya menghadapi seorang dara lincah nakal ini.           "Kau masih kanak-kanak," katanya tenang.           "Siapa bilang? Aku bukan anak Kecil, aku bukan kanak-kanak lagi!" Siu Bi bersitegang.            Disebut kanak-kanak baginya sama dengan penghinaan.           Masa dia yang sudah mempunyai julukan Cui-beng Kwan Im sekarang di "cap" kanak-kanak? "Aku Cui-beng Kwan Im, aku seorang dewasa.           Jangan kau main-main!" "Bagiku kau masih kanak-kanak," kata pula Yo Wan, memalingkan muka seperti seorang yang tidak acuh.           Padahal pemuda ini memalingkan muka karena merasa "silau" akan                     117                      kecantikan wajah Siu Bi.           Kebetulan sekali cahaya matahari yang menerobos melalui celah- celah daun pohon, menyoroti muka dan rambut itu, sehingga wajah gadis itu gemilang dan rambutnya membayangkan warna indah, benar-benar seperti Dewi Kwan Im turun melalui sinar matahari pagi.           Yo Wan memalingkan muka agar jangan melihat keindahan di depannya ini, yang membuat isi dadanya tergetar.           "Wah, kau ini kakek-kakek, ya? aksinya!" Siu Bi membentak gemas.           "Aku jauh lebih tua dari padamu.          " Suara Yo Wan perlahan, seperti berkata kepada diri  sendiri.           Memang ini suara hatinya yang membantah gelora di dalam dada, untuk memadamkan api aneh yang mulai menyala dengan peringatan bahwa dia jauh lebih tua daripada gadis remaja yang berdiri di depannya dengan sikap menantang itu.           "Hanya beberapa tahun lebih tua.           Hemmm, lagakmu seperti kakek-kakek berusia lima puluh tahun saja.           Kurasa kau belum ada tiga puluh.          "  "Dua puluh enam tahun umurku, dan kau ini paling banyak lima belas..          " "Siapa bilang? Ngawur! Sudah tujuh belas lebih, hampir delapan belas aku'" "Ya itulah, masih kanak-kanak kataku.          " "Setan kau.           Delapan belas tahun kau-anggap kanak-kanak? Kau baru umur dua puluh enam  tahun sudah berlagak tua bangka.           Biarlah kusebut kau lopek (paman tua) kalau begitu.           Heh, Lopek yang sudah pikun, kenapa kau tadi memondongku? Siapa yang beri ijin kepadamu?" Yo Wan panas perutnya.           Masa ia disebut lopek? Ngenyek (ngece) benar bo-cah ini! la mengebut-ngebutkan ujung lengan bajunya pada leliernya, seakan-akan kepanasan, memang ada rasa panas, tapi bukan di kulit melainkan di hati.           Lalu ia memilih akar yang bersih, akar pohon besar yang menonjol keluar dari tanah.           Didudukinya akar itu tanpa menjawab pertanyaan Siu Bi.           "He, Lopek' Apakah kau sudah terlalu tua sehingga telingamu sudah setengah tuli?" bentak Siu Bi dengan suara nyaring.           "Kau anak kecil jangan kurang ajar terhadap orang tua.           Duduklah, anakku, duduk yang baik dan kakekmu akan mendongeng, kalau kau mendengarkan baik-baik, nanti kuberi mainan.          " Siu Bi meloncat-loncat marah.           "Nak-nak-nak? Aku bukan anakmu, aku bukan cucumu.           Jangan sebut nak, aku bukan anak kecil'" la menjerit-jerit, kedua pipinya merah padam, kemarahannya melewati takaran.           Yo Wan bersungut-sungut, "Kalau kau bukan anak kecil, aku pun bukan kakek-kakek yang                     118                      sudah tua renta, kenapa kau-sebut aku lopek?" "Kau yang mulai dulu" "Siapa mulai? Kau yang mulai," jawab Yo Wan mulai mendongkol hatinya.           "Kau yang mulai.          " "Kau.          " "Kau! Kau! Kau! Nah, aku bilang seribu kali, kau yang mulai, mau apa?", Siu Bi menantang.           Yo Wan mengeluh, lalu menarik napas panjang, menggeleng-gelengkan kepalanya.           Benar- benar dara lincah nakal ini telah menyeretnya kembali ke alam kanak-kanak dan berhasil mengaduk isi dada dan isi perutnya menjadi panas.           Sepuluh tahun ia bertapa di Himalaya menguasai tujuh macam perasaan, sekarangperasaan-nya diawut-awut oleh gadis remaja ini.           "Dibebaskan dari bahaya, dipondong sampai setengah malam suntuk, tahu-tahu upahnya hanya diajak bertengkar.           Di dunia ini mana ada aturan bocengli tidak benar macam ini?" Ia mengomel panjang pendek.           "Siapa suruh kau mondong aku? Si-apa? Aku tidak sudi kaupondong, tahu?" "Tidak sudi masa bodoh, pokoknya aku gudah nnemondongmu sampai setengah malam,  tangan dan pundakku sampai njarem (pegel) rasanya.           Siu Bi makin marah, kedua tangannya dikepal, "Aku tidak sudi, tidak sudi, ti-dak sudi! Hayo  jawab, kenapa kau memondongku? Kalau kau tidak jawab, jangan menyesal kalau aku marah dan menghajarmu.           Aku Cui-beng Kwan Im, ingat?"  "Kenapa aku memondongmu? Habis kalau tidak dipondong, apa minta digendong? Atau harus kuseret? Kau dikepung, berada dalam bahaya maut, tapi masih membuka mulut besar.           Tak tahu diri benar!" "Biar aku dikepung, biar dicengkeram maut, apa pedulimu? Aku tidak sudi pertolonganmu, mengapa kau tolongaku?" "Aku pun tidak bermaksud menolongmu.           Aku hanya tidak senang melihat seorang gadis dikeroyok oleh para pengawal jenderal itu, maka aku berusaha menggagalkan pengeroyokan tnereka dah membawamu pergi.          "                    119                      Siu Bi seakan-akan tidak mendengarkan omongan Yo Wan, ia termenung lalu berkata penuh penyesalan, "Celaka betul, karena kau membawaku pergi, pedangku hilang! Ah, Cui-beng- kiam itu tentu ketinggalan di tempat pertempuran dan..          " Siu Bi menghentikan kata- katanya karena melihat sinar kehitaman ketika pedang itu dicabut oleh Yo Wan dari balik jubahnya.           Tanpa berkata sesuatu Yo Wan memberikan pedang kepada Siu Bi yang eepat menyambarnya.           "Juga kebetulan aku melihat pedang ini terlepas dari tanganmu, aku tidak ingin pengawal- pengawal itu merampasnya, maka kubawa sekalian.           Nah, kiranya cukup obrolan kita yang amat menyenangkan hati ini.           Aku tak pernah tolong kau dan kau tak pernah ada urusan denganku.           Kita sama-sama bebas, tidak ada urusan apa-apa.           Selamat tinggal.          " Yo Wan berdiri, lalu berjalan perlahan meninggalkan Siu Bi.           Seperti malam tadi, Siu Bi memandang dengan mata tak berkedip, ketika bayangan Yo Wan hampir lenyap di sebuah tikungan, ia teringat sesuatu dan cepat melompat mengejar sambil berseru, "Heee, berhenti dulu!!" Yo Wan berhenti dan membalikkan, tubuh perlahan.           Dilihatnya gadis itu ber-loncatan sambil  membawa pedang.           Hemm, jangan-jangan gadis itu akan menyerangnya, siapa dapat menduga isi hati gadis liar dan buas seperti itu? "Ada apa lagi? Hendak menghaJarku?" tanyanya.           Siu Bi menggelengkan kepala, tapi mulutnya masih cemberut.           "Tergantung dari jawabanmu,"  katanya, lalu disambungnya cepat-cepat, "Aku tidak pernah mendengkur kalau tidur.           Kau tadi bilang aku mendengkur, kau bohong! Aku tidak pernah mendengkur, memalukan sekali!" Hampir Yo Wan terbahak ketawa.           Benar-benar gadis yang liar dan aneh.           Masa menyusulnya hanya akan bicara tentang itu? "Tidak mendengkur, hanya..           ngo-rok..          " "Bohong! Kau berani sumpah? Aku tak pernah ngorok, mendengkur pun tidak.          " "Ngorok pun mana kau bisa tahu? Kan kau sedang tidur? Yang tahu hanya orang lain tentu.          " "Tidak, tidak! Aku tidak ngorok, hayo katakan, aku tidak pernah ngorok!" Siu Bi hampir  menangis ketika membanting-banting kaki di depan Yo Wan.           la marah dan malu sekali, kedua matanya sudah merah, air matanya sudah hampir runtuh.           la bukan seorang gadis                     120                      cengeng, jauh daripada itu, menangis sebetulnya merupakan pantangan baginya, hatinya keras, nyalinya besar, tak pernah ia mengenal takut.           Akan tetapi dikatakan ngorok dalam tidur, benar-benar merupakan hal yang menyakitkan hati, memalukan dan menjengkelkan.           Kasihan juga hati Yo Wan melihat keadaan gadis ini.           "Ya sudahlah, tidak ngorok ya sudah.           Agaknya karena terlampau lelah bertanding dan terlalu enak kau pulas, napasmu menjadi berat seperti orang mengorok.           Tidurmu memang enak sekali sampai aku tidak tega untuk mem-t bangunkan dan terpaksa memondongmu terus sampai kau bangun.          " Memang watak Siu Bi aneh.          Mana bisa tidak aneh watak gadis ini yang semenjak kecil hidup dekat Hek Lojin, manusia aneh yang terkenal di seluruh dunia kang-ouw? Kini ia memandang kepada Yo Wan dengan sinar mata berseri, melalui selapis air mata yang tidak jadi tumpah.           "Kau baik sekali..          " Yo Wan tertegun.           Alangkah bedanya dengan tadi.           Kini ia benar-benar melihat seorang Dewi  Kwan Im di depannya, seorang dewi yang cantik jelita, bersuara lembut dan bersinar mata mesra.           "Ahhh.. sama sekali tidak baik, biasa saja," katanya.           "Aku melihat kau menolong para petani miskin, tentu saja aku tidak suka melihat kau eelaka dalam tangan para pengawal.          " Hening sejenak, dan agaknya Yo Wan lupa sudah bahwa baru saja dia mengucapkan selamat tinggal.           Juga Siu Bi seperti orang termenung, tidak memandang Yo Wan, melainkan memandang ke tempat jauh di sebelah kiri.           Tiba-tiba ia menengok, agak berdongak untuk mencari mata Yo Wan dengan pandangannya, "Kau..           lapar..          ?" Yo Wan melongo beberapa detik.           "Lapar? Tetu saja..          " jawabnya otomatis, karena memang  perutnya terasa perih mlnta diisi.           Wajah Siu Bi berseri gembira.           "Kau tunggu di sini sebentar, kutangkap kelinci gemuk di sana  itu!" Tubuhnya berkelebat cepat sekali dan di lain saat ia telah menguber-uber seekor kelinci putih yang gemuk.           Yo Wan kembali tertegun, kemudian ia tersenyum geli dan menggaruk-garuk belakang telinganya yang tidak gatal.           Lalu ia mengumpulkan daun dan ranting kering dan duduk di atas sebuah batu, menunggu.           Siu Bi datang sambil berloncatan dan menari-nari kegirangan.           Seekor kelinci gemuk sekali                     121                      meronta-ronta di bawah pegangannya.           Siu Bi memegang kedua telinga itu.           "Lihat, wah gemuk sekali! Masih muda lagi!" teriaknya sambil tertawa-tawa.           Wajah Yo Wan berseri dan untuk sejenak lenyaplah kemuraman wajahnya.           öHemmmm, tentu lezat sekali dagingnya.           Biar kubuatkan api.          " la lalu membuat api dan  matanya melirik ke arah gadis itu yang dengan cekatan sekali menyembelih kelinci dengan pedangnya, lalu mengulitinya dengan cepat.           Sambil bekerja, Siu Bi bersenandung dan Yo Wan beberapa kali melirik ke arah gadis ini.           Seorang gadis yang benar-benar aneh, pikirnya.           Watak yang luar biasa dan sukar diselami.           "Lihat nih, gajihnya sampai tebal? Hemmm..' Makin lapar perutku," kata Siu Bi sambil mengangkat daging kelinci tinggi-tinggi.           "Lekas panggang, tak kuat lagi aku.          " Yo Wan berkata, menelanair ludah sendiri beberapa kali.           ' Seperti seorang anak kecil, sambil tertawa-tawa gembira Siu Bi lalu me-nusuk daging kelinci dengan bambu dan memanggangnya.           Bau yang sedap gurih memenuhi udara, menambah rasa lapar di perut.           Selama mengerjakah itu, Siu Bi tidak bicara, hanya beberapa kali melirik ke arah Yo Wan, akan tetapi kalau pemuda itu membalas pandangnya, ia mengalihkan kerling sambil tersenyum.           Biarpun mulutnya tidak berkata sesuatu, namun di dalam hatinya Siu Bi tiada hentinya berkata-kata.           Pikirannya diputar terus.           Pemuda ini baik, pikirnya.           Tidak kurang ajar, biarpun kelihatan agak tolol.           Terang bahwa dia itu lihai sekali, sudah berkali- kali dibuktikan biarpun tidak ber-terang.           Dapat memasuki rumah gedung Jenderal Bun tanpa diketahui, seperti setan saja, dapat membebaskannya dari kerangkeng, kemudian ia harus mengakui bahwa ketika ia roboh terjegal kakinya oleh tambang-tambang itu, keadaannya memang amat berbahaya.           Pemuda itu tiba-tiba muncul dalam gelap, dapat membawanya pergi tanpa diketahui se-mua pengeroyok, malah tidak lupa mem-bawa pula pedangnya.           Kalau tidak lihai sekali mana mungkin melakukan sernua itu? Kembali ia melirik Yo Wan duduk termenung, tapi lubang hidungnya kem-bang-kempis, kalamenjingnya naik turun, jelas bahwa dalam termenung, pemuda itu tergoda hebat oleh asap panggang kelinci yang sedap gurih.           Melihat ini, Siu Bi tertawa mengikik sehingga terpaksa menutupi mulutnya dengan tangan kiri.           Ibunya yang selalu marah kalau melihat ia ketawa tanpa menutupi mulutnya dan terlalu sering Siu Bi melupakan hal ini, baiknya sekarang ia tidak lupa, mungkin karena sadar bahwa ada orang lain, laki-laki pula, di dekatnya.           "Hemmm, mengapa kau tertawa?" 'Yo Wan bertanya, kaget dan ssadar daripada lamunannya.           "Tidak apa-apa, tak'bolehkah orane tertawa?" Siu Bi menjawab sambil me-link nakal,  tangannya memutar-mutar daging kelinci di atas api.                              122                      Jawaban ini merupakan tangkisan yang membuat Yo Wan gelagapan.           "A..           a..           aku tidak melarang..           tentu saja' siapapun boleh tertawa.           Kau mentertawai aku?" Siu Bi hanya tersenyum, lidak men-jawat+, melirik pun tidak.           Daging itu sudah hampir matang.           Yo Wan juga tidak mendesak, tapi cukup mendongkol hatinya.           Gadis remaja ini benar-benar pandai mengobrak-abrik hati orang dengan sikapnya yang aneh, sebentar marah, sebentar ramah, sebentar menggoda.           Pemuda ini terang pandai sekali, Siu Bi melanjutkan lamunannya.           Kalau aku berbaik kepadanya dan mendapat bantu-annya, agaknya akan lebih besar hasil-nya di Liong- thouw-san.           Menurut ucapan Bun Hui pemuda putera jenderal itu, Pendekar Buta adalah seorang yang sakti, yang amat tinggi kepandaiannya.           Tentu saja ia tidak takut, akan tetapi bagai-mana kalau ia gagal? Tentu akan menge-cewakan sekali jika ia tidak berhasfl membalaskan dendam kakek Hek Lojin.           Akan tetapi kalau mendapat bantuan pemuda ini, hemmm, kepandaian mereka berdua dapat disatukan untuk menghadapi dan mengalahkan Pendekar Buta.           Akan tetapi apakah benar-benar pemuda jni lihai? Kembali ia melirik.           Yo Wan tampak mengantuk sepasang matanya hampir meram dan kepalanya terangguk-angguk ke kanan kiri, seakan-akan lehernya tidak kuat pula menyangga kepalanya.           Kasihan! Tentu dia amat mengantuk, mengantuk dan lapar karena semalam tidak tidur sama sekali, memondongnya pergi sejauh ini.           Kalau sedang mengantuk dan "tidur ayam" begini sama sekali tidak patut menjadi seorang yang berkepandaian tinggi.           Juga tidak nampak membawa senjata.           Makin ia perhatikan, makin tidak me-muaskan kesan di hati Siu Bi.           Pemuda yang tidak muda lagi, sungguhpun belum tua.           Rambutnya kering tidak terpelihara baik-baik.           Wajahnya biarpun tampan, namun tampak muram seperti orang yang sedih selalu.           Pakaiannya yang serba putih itu tidak bersih lagi, juga ada beberapa bagian yang robek.           Pemuda miskin! Tiba-tiba Yo Wan yang benar-benar amat mengantuk itu terangguk ke depan, menjadi kaget dan membuka matanya, memandang bingung.           "Hi-hi-hik..          !" kembali Siu Bi terkekeh.           Lucu sekali keadaan pemuda itu, "Kenapa kau tertawa?" "Siapa tidak tertawa melihat kau terkantuk-kantuk seperti ayam keloren (menderita penyakit  kelor)? Hayo bangun, daging sudah matang!" Siu Bi mengangkat panggang daging kelinci dan menaruhnya di atas daun-daun bersih yang sudah disediakan di situ, depan Yo Wan.           "Wah, gurih baunya!" Yo Wan memuji.           "Hayo, kauambil dulu.          " "Kauambillah dulu.          " "Kau yang tangkap dan masak kelinci, masa aku harus makan dulu?"                    123                      "Sudahlah, kauambil dulu, mengapa sih? Aku tidak selapar engkau!" Yo Wan tidak berlaku sungkan lagi.           Dengan penuh gairah ia merobek daging itu, mengambil  bagian yang ada tulangnya, lalu langsung menggerogotinya dengan lahap.           "Wah, hebat..          ! Lezat bukan main..          !" katanya sambil mengunyah.           Memang gemuk kelinci itu, gajihnya ba- ,nyak sehingga begitu menggigit daging, gajih yang mencair oleh api itu menitik dari kanan kiri bibir Yo Wan.           "Sayang tidak ada arak..          Heee! Kau ke mana, Nona?" "Tunggu dulu sebentar, aku ambil air minum!" Cepat Siu Bi berlari meninggalkan Yo Wan.            Pemuda ini mengunyah lambat-lambat dan pikirannya rnakin penuh oleh keadaan Siu Bi.           Gadis itu benar-benar hebat, wataknya aneh sekali.           Sekarang amat ramah dan baik kepadanya.           Siapakah dia ini?  Siu Bi kembali membawa dua buah kulit labu yang penuh air jernih, dan selain air, juga ia membawa banyak buah-buah manis yang dipetiknya dari dalam hutan.           Dengan hati-hati agar jangan tumpah, ia menaruh kulit labu yang dipakai menjadi tempat air itu di atas tanah, kemudian ia pun mulai makan daging kelineL Keduanya makan dengan lahap, tanpa bicara, hanya kadang-kadang pandang mata mereka bertemu sebentar.           Yo Wan duduk di atas batu, Siu Bi duduk bersila di atas tanah berumput.           Api bekas pemanggang daging masih bernyala sedikit.           Tak sampai sepuluh menit habislahi daging kelinci, tinggal tulang-tulangnya.           Setelah minum air dan mencuci mulut dengan air, keduanya rnakan buah.           Barulah Yo Wan berkata, "Nona, kau baik sekali kepadaku.           Terima kasih, daging kelinci tadi gurih dan mengenyangkan perut airnya jernih segar sekali, dan buah-buah ini pun manis.           Kau memang baikö.           "Terima kasih segala, untuk apa? Tidak ada kau pun aku toh harus makan dan minum.           Kau berkali-kali nnenolongku, aku pun tidak bilang terima kasih padamu.          " Yo Wan tersenyum.           Dekat dan bicara dengan nona ini memaksanya untuk se-ring tersenyum.           "Aku tidak menolongrou, tak perlu berterima kasih, Nona.          " "Siapakah kau ini? Siapa namamu?" Yo Wan menggerakkan alisnya yang tebal.           Baru terasa olehnya betapa lucu dan janggal  keadaan mereka berdua.           "Ah, kita sudah cekcok bersama, makan minum bersama, mengobrol bersama, tapi masih belum saling mengenal.           Namaku orang menyebutku Jaka                     124                      Lola, Nona.          " "Jaka Lola? Ayah bundamu..           sudah tiada?" Yo Wan mengangguk sunyi.           Kemudian balas bertanya, "Kau sendiri? Siapakah namamu kalau  aku boleh bertanya?" "Orang-orang di dusun, para petani" itu menyebutku Cui-beng Kwan Im.           Adapun  namaku..           ah, kau tidak memperkenalkan namamu, masa aku harus menyebutkan namaku?" "Kembali Yo Wan tersenyum.           "Nama-ku Yo Wan, hidupku sebatangkara, tiada sanak tiada kadang, tiada tempat ting-gal tertentu, rumahku dunia ini, atapnya langit, lantainya bumi, dindingnya pohon, lampu-lampunya matahari, bulan dan bintang.          " Siu Bi tertawa, lalu bangkit berdiri dan menirukan lagak dan suara Yo Wan ia berkata, "Namaku Siu Bi, hidupku sebatangkara, tiada sanak kadang, tiada tempat tinggal tertentu,.           rumahku di mana aku berada, atap, lantai dan din-dingnya, apa pun jadi!" Dan ia tertawa lagi.           Yo Wan mau tidak mau ikut pula tertawa.           Kalau gadis ini sedang ber-jenaka, sukar bagi orang untuk tidak ikut gembira.           Suara ketawa dan senyum gadis ini seakan-akan menambah gemilangnya sinar matahari pagi.           "Nona, namamu bagus sekali.           Akan tetapi siapakah shemu (nama keturunan)" "Cukup Siu Bi saja, tidak ada tam-bahan di depan innaupun embel-embel di belakangnya.            Nah, sekarang kita sudah tahu akan nama masing-masing.           Kau siap dan keluarkan senjatamu!" kata Siu Bi sambil mencabut Cui-beng-kiam yang ia selipkan di ikat pinggangnya.           Pedang itu berada di tangannya, digerakkan di depan dada dengan sikap hendak menyerang.           Yo Wan terkejut.           "Eh, eh, eh, apa pula ini?" "Artinya, aku hendak menguji kepan-daianmu.           Gerak-gerikmu penuh rahasia, aku masih  belum yakin benar apakah kau memang memiliki kelihaian seperti yang kusangka.          " "Wah, aneh-aneh saja kau ini, nona Siu Bi.           Aku orang biasa, tidak punya kepandaian apa- apa, jangan kau main-main dengan pedang itu, Nona.          " "Tak usah kau pura-pura, kau mau atau tidak, harus melayani aku beberapa jurus.            Bersiaplah! Awas, pedang!" Serta merta Siu Bi menerjang dan mengirim tusukan secepat kilat.                              125                      "Wah, gila..          !" Yo Wan mengeluh di dalam hatinya.           la cepat membuang diri mengelak, maklum akan keampuhan pedang bersinar hitam itu.           Akan tetapi Siu Bi sudah menyerangnya secara bertubi-tubi, malah gadis itu mulai menggerakkan tangan kirinya sambil mengerahkan tenaga Hek-in-kang! Yo Wan yang menangkis sambaran tangan kiri ini terpen-tal dan merasa betapa lengannya yang menangkis terasa panas dan sakit.           la kaget sekali dan timbul rasa gemasnya.           Gadis ini benar-benar liar pikirnya.           Akan tetapi pedang bersinar hitam itu sudah datang lagi mengirim tusukan bertubi-tubi diseling dengan pukulan yang mem-bawa uap berwarna kehitaman.           Hebat! Gadis ini ternyata memiliki ilmu yang amat ganas dan dahsyat.           Kalau aku tidak memperlihatkan kepandaian, ia akan terus berkepala batu dan tinggi hati.           Cepat tangan kanan Yo Wan merogoh ke balik jubahnya dan di lain saat pedang kayu cendana sudah berada di tangannya, pedang buatannya sendiri di Himalaya.           Ketika sinar hitam menyambar dia menangkis.           "Dukkk!" Siu Bi melangkah mundur tiga tindak, tangannya linu dan pegal.           Heran ia mengapa pedang lawannya itu ketika bertemu dengan pedangnya terasa seperti benda lunak, seperti kayu, tidak menimbulkan suara nyaring.           Ketika ia rnemandang lebih jelas, betul saja bahwa pedang itu memanglah sebatang pedang kayu! Mukanya seketika menjadi merah sekali.           Penasaran ia.           Masa pedangnya, Cui-beng-kiam yang ampuh itu hanya dilawan oleh Yo Wan dengan sebatang pedang kayu? la mengeluarkan seruan keras dan menerjang lagi, mengerahkan seluruh tenaga Hek-in-kang untuk membabat putus pedang kayu itu.           Akan tetapi ia salah duga.           Pedang di tangan Yo Wan biarpun hanya terbuat daripada kayu cendana yang mengeluarkan bau harum kalau diayun, namun yang mengerahkan adalah tangan yang terisi ilmu, tangan yang mengandung nawa sinkang dan mempunyai tenaga dalam yang sudah amat tinggi tingkatnya.           Bukan saja pedang kayu itu tidak rusak, malah dia sendiri beberapa kali hampir melepaskan pedangnya karena tangannya terasa panas dan sakit apabila kedua senjata itu bertemu.           Ia mulai kagum bukan main.           Tidak salah dugaannya.           Pemuda ini lihai bukan main.           Akan tetapi di samping kekagumannya, ia pun penasaran dan tnarah sekali.           Masa dia, Cui-beng Kwan Im, hanya dilawan dengan pedang kayu? Bukan pedang sungguh-sungguh, melainkan pedang-pedangan yang patut dipakai mainan anak kecil.           Rasa penasaran dan marah membuat Siu Bi bergerak makin ganas dan dahsyat.           Yo Wan diam-diam mengeluh.           Kepandaian gadis ini kalau sudah matang, benar-benar berbahaya sekali, apalagi pukulan-pukulan tangan kiri yang melontarkan hawa beracun, benar-benar sukar dilawan kalau tidak menggunakan sinkang yang kuat.           la pun mengerahkan tenaga dan mengeluarkan ilmu pedangnya dari Sin-eng-cu.           Namun, ilmu pedangnya itu hanya sanggup menandingi Ilmu Pedang Cui-beng Kiam-sut dari Siu Bi dan perlahan-lahan gadis itu mendesaknya dengan pukulan-pukulan Hek-in-kang.           Kini Siu Bi tidak hanya menguji ilmu atau main-main, melainkan menyerang dengan seluruh tenaga dan kepandaiannya.           Kalau tidak dilayani dengan sepenuhnya, tentu akan lama pertandingan itu dan akaiu berubah menjadi pertandingan mati-matian.                              126                      '"Benar-benar kau aneh sekali.           Nonaö.           seru Yo Wan ketika dia terpaksa berjungkir balik untuk menghindarkan sebuah pukulan tangan kiri gadis itu.           Tangan kiri itu kini mengeluarkan uap hitam dan makin lama makin dahsyat pukulannya sehingga Yo Wan tidak berani menangkis, bukan takut kalau ia terluka, melainkan khawatir kalau-kalau tangkisannya vang terlalu kuat akan mencelakai nona itu.           Sambil berjungkir balik ini, la mencabut keluar cambuknya yang melmgkar di pinggang.           Kini tangan kirinya memegang cambuk dan "tar-tar-tar'" cambuk itu menyambar-nyambar bagaikan petir di atas kepala Siu Bi.           ôAyaaa..          !" Siu Bi kaget bukan main.           Apalagi ketika melihat betapa cambuk itu berubah menjadi lingkaran-lingkaran yang membingungkan.           Seketika itu juga keadaan menjadi berubah Dia terdesak hebat, beberapa kali pedangnya hampir terlibat cambuk lawan.           Namun, bukan watak Siu Bi untuk menjadi gentar.           Dia makin bersemangat.           "Wah, benar-benar keras hati dia.? pikir Yo Wan dan cepat ia mempergunakan langkah- langkah Si-Cap-it Sin-po.           Seketika lenyap dari depan Siu Bi dan gadis itu dalam kebingungannya, cepat berbalik ketika mendengar desir cambuk dari belakang.           Baru satu kali tangkis, pemuda itu lenyap lagi dan tahu-tahu sudah berada di belakangnya, lalu lenyap, muncul di sebelah kiri, lenyap lagi, muncul di sebelah kanannya.           Bingung ia dibuatnya dan kepalanya menjadi pening! "Sudahlah, cukup, Nona.           Kau lihai sekali..          " berkali-kali Yo Wan berseru, namun mana Siu Bi mau sudah dan mengalah? la menggigit bibir dan menerjang seperti seekor harimau gila, nekat dan tidak takut mati.           "Awas pedangmu!" Yo Wan berseru dan lenyap.           Ketika Siu Bi membalik, terasa sesuatu membelit pundaknya.           la merasa ngeri dan menggeliat seakan-akan ada ular yang melilit puncak.           Kiranya cambuk lawannya yang melilitnya, membuat ia sukar bergerak dan pada saat itu, ujung pedang kayu Yo Wan menotok pergelangan tangan kanannya.           Pedangnya jatuh! Dengan marah sekali, Siu Bi berdiri di depan Yo Wan, membanting-banting kaki dan memandang penuh kebencian.           ôMaaf, Nona, aku..           aku tidak sengaja.           Kau telah mengalah ."  Akan tetapi Siu Bi membanting kaki lagi, terisak lalu membalikkan tubuh dan lari cepat, tidak peduli lagi akan pedangnya yang tergeletak di atas tanah.           "He, nona Siu Bi.. tunggu..           pedangmu..          !" Yo Wan mengambil pedang itu dan cepat mengejar.           Akan tetapi Siu Bi sudah lari jauh dan menghilang di balik pohon-pohon di dalam hutan.                              127                      Yo Wan berhenti sebentar, menggeleng-geleng kepala dan menarik napas panjang.           "Wah, benar-benar luar biasa anak itu.           Wataknya seperti setan!" Akan tetapi diam-diam ia  mengagumi kepandaian Siu Bi yang memang jarang dicari bandingnya.           "Entah anak siapa dia itu, dan entah siapa pula yang mewariskan kepandaian dan watak segila itu.          " la lalu mengejar lagi, tidak bermaksud segera menyusul karena ia maklum bahwa agaknya membutuhkan beberapa lama untuk membiarkan gadis itu agak mendingin hatinya.           Kalau sedang panas dan.           marah seperti itu, agaknya tidak akan mudah dibujuk dan tentu sukar bukan main diajak bicara secara baik-baik.           Seorang gadis yang luar biasa masih amat muda.           Mengapa sudah merantau seorang diri di dunia ini? Betulkah dia pun sebatang-kara? Kasihan! Wataknya keras, berbahaya sekali kalau tidak ada yang mengamat-amati.           Sayang kalau seorang dara masih remaja seperti itu mengalaml malapetaka atau menjadi rusak.           Hati Yo Wan mulai gelisah ketika sudah mengejar seperempat jam lebih, belum juga ia melihat bayangan Siu Bi.           "Nona Siu Bi! Tunggu..          '" serunya aambil mengerahkan khikang sehingga suaranya bergema di seluruh hutan.           Namun tidak ada jawaban kecuall gema suaranya sendiri.           la mengejar lebih cepat lagi.           Tiba-tiba ia tersentak kaget dan ber-henti.           Di depan kakinya tergeletak sehelai saputangan sutera kuning.           Bukankah ini saputangan yang dia lihat tadi mengikat rambut Siu Bi? Dipungutnya saputangan itu dan jari-jari tangannya menggigil.           Saputangan itu berlepotan darah! Sepasang matanya menjadi beringas ketika ia menoleh ke kanan kiri, lalu dia meloncat ke atas pohon, memandang ke sana ke mari.           "Nona Siu Bi! Di mana kau..          !! ..          !" li berseru memanggil.           Tetap sunyi tiada jawaban.           "Celaka, apa artinya ini..          ?" Yo Wan meloncat turun lagi, memandangi sapu-tangan di  tangannya.           "Jangan-jangan..          " la tidak berani melanjutkan kata-kata hatinya, melainkan mengantongi kain sutera itu dan berkelebat cepat ke depan untuk melakukan pengejaran lebih cepat lagi.           Apakah yang terjadi dengan diri Siu Bi?.           Gadis itu merasa amat marah, penasaran, malu dan keeewa sekali setelah mendapat  kenyataan bahwa ilmu kepandaiannya jauh kalah oleh Yo Wan.           Memang Siu Bi berwatak aneh, mudah se-kali berubah.           Tadinya ia hendak menguji kepandaian Yo Wan dan kalau ternyata Yo Wan benar lihai, akan dijadikan sahabatnya menghadapi musuh besarnya.           Akan tetapi setelah ternyata ia kalah jauh, ia kecewa dan marah, lalu pergi sambil menangis! Malah ia tinggalkan begitu saja pedangnya yang terlepas dari tangan.                              128                      Siu Bi menggunakan ilmu iari cepat.           la maklum bahwa Yo Wan tentu akan mengejarnya, lari sekuat tenaga.           Kemudian, sampai di pinggir hutan ia melihat bahwa daerah itu banyak terdapat batu-batu besar yang merupakan dinding lereng gunung dan tampak bahwa tempat itu terdapat banyak guanya yang gelap dan terbuka seperti mulut raksasa.           Tanpa banyak pikir lagi ia lalu membelok ke daerah ini, memilih sebuah gua yang paling gelap dan besar, lalu menyelinap masuk.           Gua itu gelap sekali dan lebar.           Begitu masuk, tubuhnya diselimuti kegelapan, sama sekali tidak tampak dari luar.           la masuk terus dan ternyata terowongan j dalam gua itu membelok ke kiri selnngga | ia terbebas sama sekali daripada sinar matahari.           Terlalu gelap di situ, melihat tangan sendiri pun hampir tidak kelihatan.           Siu Bi meraba-raba dan ketika mencapatkan sebuah batu yang licin dan bersih, ia duduk di situ terengah-engah.           Disusutnyai air matanya dengan ujung lengan bajunya.           Tiba-tiba ia hampir menjerit saking kagetnya ketika terdengar suara orang tertawa, apalagi ketika disusul dengan dua buah tangan yang merangkul pundak-nya! Otomatis tangan kirinya bergerak, menghantam ke belakang.           Karena kaget, maka sekaligus ia mengerahkan Hek-in-kang.           Tangannya yang terbuka bertemu dengan bagian perut yang lunak.           "Bukkk!" orang yang punya perut itu merintih dan terlempar ke belakang.           Siu Bi melompat bangun, akan tetapi mendadak ia mencium bau harum yang luar biasa, yang membuat kepalanya pening dan matanya melihat seribu bintang terhuyung-huyung dan roboh dalam pelukan dua buah lengan yang kuat! Beberapa detik kemudian, dua orang laki-laki tinggi besar yang usianya ku-rang lebih empat puluh tahun, melompat keluar dari dalam gua.           Seorang di antara mereka, yang berjenggot kaku, memon-dong tubuh Siu Bi yang pingsan.           Setibanya di luar gua, mereka memandang wajah Siu Bi dan si pemondong tertawa, "Ha-ha-ha, luar biasa sekali, Bian-te (adik Bian).           Kita menangkap seorang bidadari!" Kawannya, yang mukanya pucat, tertawa masam.           "Bidadari tapi pukulannya seperti setan! Kalau aku tadi tidak cepat-cepat mengerahkan sinkang, kiranya isi perutku sudah hancur dan hangus.           Heran, gadis cilik secantik ini kepandaiannya hebat dan pukulannya dahsyat.          " "Dia tentu murid orang pandai.           Jangan-jangan berkawan yang lebih lihai lagi.           Mari kita cepat bawa pergi.           Gong-twako bersama perahunya tentu berada di pantai.           Hayo, cepat!" " Dua orang itu berlari cepat sekali menuju ke barat.           Tak lama kemudian mereka tiba di tepi Sungai Fen-ho.           Si muka pucat bersuit keras sekali dan tiba-tiba dari rumpun alang-alang muncul sebuah perahu kecil cat hitam yang di-dayung oleh seorang laki-laki berambut putih, berusia lima puluh tahunan.                              129                      "He, kalian membawa seorang gadis , untuk apa? Siapa dia?" Dua orang tinggi besar itu melompat ke dalam perahu dengan gerakan yang ringan.           Si  jenggot kasar merebahkan tubuh Siu Bi yang masih pingsan ke dalam bilik perahu, kemudian ia keluar lagi untuk bercakap-cakap dengan dua orang temannya.           "Kami tidak tahu dia siapa.           Seorang bidadari!" katanya.           "Bidadari yang pukulannya seperti setan!" sambung si muka pucat dan tiba-tiba meringis,  lalu muntahkan darah yang menghitam.           Dua orang temannya kaget.           Kakek rambut putih itu memandang -lengan kening berkerut.            "Bian-te, kau terluka dalam yang hebat.          " "Lekas kita pergi ke Ching-coa-to.           Gong-twako, gadis itu seorang yang cantik dan pandai,  tentu kongcu (tuan muda) akan senang sekali mendapatkannya, dan kita akan mendapat jasa besar.           Juga Bian-te perlu segera diobati.           Agaknya hanya toanio (nyonya) yang mampu meng-obatinya.           Pukulannya hebat dan agaknya mengandung racun yang aneh.          " Si rambut putih bersuit dan muncul-lah perahu ke dua, didayung seorang laki-laki muda.           "Kau menjaga di sini, kami akan ke pulau," pesannya dan didayunglah perahu hitam itu dengan cepat sekali, mengikuti aliran sungai sehingga meluncur dengan lajurtya.           Beberapa jam kemudian, si muka pucat muntah-muntah lagi, keadaannya makin payah.           Dua orang temannya ber-usaha untuk mengurut jalan darah dan menempelkan telapak tangan pada pung-gungnya untuk membantu pengerahan sinkang, namun hasilnya tidak banyak, hanya membuat si muka pucat itu dapat bernapas lebih leluasa.           Mukanya makin pucat dan matanya beringas.           "Keparat, aku harus membalas ini.          " la bangkit hendak memasuki bilik perahu.           "Bian-te, sabarlah," cegah si brewok.           "Perjalanan ini masih lama, agaknya aku takkan kuat.           Tak lama lagi aku mati, dan sebelum  mati, aku harus melampiaskan penasaran.          " "Jangan bunuh dia, Bian-te..          " eegah si rambut putih.           "Agaknya dia sudah ter-kena bius  racun inerah kita, ia tidak berdaya lagi.           Itu sudah merupakan pembalasan dan nanti kalau ia terjatuh ke tangan kongcu, ha-ha-ha, tentu tak lama lagi dihadiahkan kepadamu.           Masih banyak waktu untuk membalas penasaranmu.          " "Tidak bisa menunggu lagi.           Sesampai-nya di sana, aku sudah menjadi mayat.           Gong-twako,                     130                      lukaku hebat, aku merasa ini.           Biarkan aku memilikinya sebelum aku mati.          " "Bian-te, dia hehdak kami berikan kepada kongcu.           Kalau kau mendahuluinya, tentu kau  akan dihukum kongcu.          " "Kongcu tidak tahu tent.          ang dia, laginya, kalau sebentar lagi aku mati, kong-cu mau bisa  berbuat apa kepadaku?" Si muka pucat memasuki bilik dan dua orang kawannya hanya saling pandang.           "Dia terluka hebat dan agaknya betul-betul tidak akan dapat ditolong, biarkanlah dia menebus kekalahannya dan membalas dendam," kata si rambut putih sambil mengeluarkan pipa tembakaunya dan mengisap.           Si brewok juga mengangkat pundak.           Siu Bi telah terkena bubuk beracun Ang-hwa-tok (Racun Kembang Merah) yang membuatnya mabuk dan pingsan.           Akan tetapi gadis ini adalah murid dari Hek Lojin, seorang tokoh dunia hitam.           Ketika gadis ini mempelajari Iweekang, latihannya dengan berjungkir balik se-hingga dalam pengerahan Hek-in-kang, jalan darahnya membalik dan sinkang di tubuhnya membentuk hawa Hek-in-kang yang beracun hitam.           Oleh karena itu, ketika ia terkena pengaruh raeun Ang-hwa-tok, hanya sebentar saja ia tercengkeram dan pingsan.           Pada saat itu, ia sudah mulai bergerak, biarpun masih pening dan ketika ia membuka matanya, eepat ia merarokan lagi karena segala yang tampak berputaran sedangkan darahnya di kepala berdenyut-denyut.           Cepat ia mengerahkan sinkang untuk mengusir pengaruh memabukkan ini.           Untung bagi-nya, ketika tadi terkena racun Ang-hwa-tok, ia baru mengerahkan Hek-in-kang sehingga tenaga mujijat inilah yang me-nolak sebagian besar daripada pengaruh racun.           Kini dengan sinkang, ia berhasil mengusir hawa beracun, akan tetapi pikirannya masih belum sadar benar dan ia merasa seakan-akan melayang di angkasa, belum sadar benar dan belum ingat apa yang telah terjadi dengan dirinya.           la merasaseperti dalam alain mimpi.           Mendadak ada orang menubruk dan memeluknya sambil mencengkeram pundak.           Siu Bi kaget bukan main, cepat membuka matanya.           Hampir ia menjerit ketika melihat bahwa yang menmdihnya adalah seorang laki-laki bermuka pucat bermata beringas dan mulutnya men 'eri-ngai liar, dari ujung bibirnya bertetesan darah menghitam! la tidak tahu apa yang hendak dilakukan orang mengerikar ini terhadap dirinya, ia menyangka bahwa ia akan dibunuh dan dicekik, maka cepat Siu Bi mengerahkan seluruh tenaga Hek-in-kang yang ada pada dirinya, kemudian sambll meronta ia rnenggunakan kedua tangannya menghantam dengan pengerah-an Hek-in-kang.           Lambung dan leher orang yang bermuka pucat itu dengan tepat kena dihantam, dia memekik keras, tubuhnya terpental dan roboh terguling ke bawah dipan.           Ketika Siu Bi melompat bangun, ternyata orang itu sudah rebah dengan mata mendelik dan dari mulutnya bercucuran darah, napasnya sudah putus! Siu Bi bergidik mengenangkan bahaya yang hampir menimpa dirinya.           Dengan penuh                     131                      kebencian ia menendang mayat itu sehingga terlempar ke luar dari pintu bilik kecil.           Sementara itu, si brewok dan si ram-but putih yang sedang enak-enak duduk di atas  perahu, terkejut bukan main men-dengar pekik tadi.           Cepat mereka me-lempar pipa tembakau ke samping dan melompat, menyerbu ke dalam bilik.           Sesosok bayangan menyambar mereka.           Si brewok menyaropok dan bayangan itu adalah temannya sendiri, si muka pucat yang sekarang sudah menjadi mayat! Tentu saja di samping rasa kaget, mereka berdua marah sekali melihat seorang teman mereka tewas dalam ke-adaan seperti itu.           Bagaikan due ekor biruang, mereka berteriak keras dan menyerbu ke dalam bilik.           Siu Bi menjadi nekat.           la sudah siap dan telah mengerahkan Hek-in-kang un-tuk melawan.           Akan tetapi sedikit banyak racun Ang-hwa-tok masih mempengaruhi-nya.           la mencoba untuk menerjang kedua i orang yang menyerbu itu dengan pukulan Hek-in-kang.           Namun dua orang lavannya bukanlah orang lemah.           Mereka itu, ter-utama si rambut putih, adalah jagoan-jagoan dari 'Ching-coa-to dan riereka sudah tahu akan kelihaian ilmu pukulan Siu Bi, maka cepat mereka mengelak lalu balas menyerang.           "Gong-twako, kita tangkap hidup-hidup!" seru si brewok.           Si rambut putih maklum akan kehendak kawannya ini.           Memang, setelah gadis ini berhasil membunuh seorang kawan, kalau dapat menangkapnya dan menyerahkannya hidup-hidup kepada kongcu mereka di Ching-coa-to, bukanlah kecil jasanya.           Pertama, dapat menangkap musuh yang membunuh seorang anggauta Ang-hwa-pai (Perkum-pulan Kembang Merah), kedua kalinya, dapat menghadiahkan seorang gadis yang cantik molek kepada kongcu! Siu Bi melawan dengan nekat, menangkis sepenuh tenaga dan mencoba ! merobohkan mereka dengan pukulan Hek-in-kang.           Namun, kedua orang musuhnya amat kuat dan gesit, sedangkan kepalanya masih terasa pening.           Tiba-tiba tam-pak sinar merah dan Siu Bi cepat- cepat menahan napasnya, namun terlambat.           Kembali ia mencium bau yang amat harum dan tiba-tiba ia menjadi lemas dan roboh pingsan lagi! Ternyata bahwa si rambut putih telah berhasil meroboh-kannya dengan bubuk racun merah, senjata rahasia yang menjadi andalan para tokoh Ching-coa-to.           Siapa mereka ini? Mereka bukan lain adalah tokoh-tokoh yang menjadi anggauta sebuah perkumpulan yang disebut Ang-hwa-pai.           Sesuai dengan namanya, para tokoh ini mempunyai tanda setangkai bunga berwarna merah menghias sebagai sulaman pada baju yang menutup dada kiri.           Ang-hwa-pai bersarang di Pulau Ching-coa-to, yaitu Pulau Ular Hijau.           Kiranya para pembaca cerita Pendekar Buta masih ingat akan nama Ching-coa-to.           Pulau ini adalah tempat tinggal Ching-toanio, ibu dari Giam Hui Siang dan ibu angkat dari Hui Kauw isteri Pendekar Buta.           Setelah Ching-toanio meninggal dan kedua orang puterinya itu menikah dan meninggalkan Ching-coa-to, pulau itu menjadi kosong, hanya ditinggali bekas anak buah Ching-toanio yang hidup sebagai perampok dan bajak sungai.                              132                      Beberapa bulan kemudian, muncullah seorang wanita yang kulitnya agak kehitaman, pakaiannya serba merah, wanita yang galak dan genit, yang usianya sudah mendekati lima puluh tahun, akan tetapi masih kelihatan pesolek dan genit sekali.           Dia ini bukanlah wanita sembarangan dan para pembaca dari cerita Pendekar Buta tentu mengenalnya.           Dia merupakan seorang di antara tiga saudara Ang-hwa Sam-ci-moi yang amat lihai ilmu silat- nya.           Di dalam cerita Pendekar Buta, tiga orang kakak beradik ini bertanding hebat melawan Pendekar Buta.           Dua di antara mereka, yaitu Kui Biauw dan Kui Siauw, tewas dan yang tertua, Kui Ciauw, berhasil melarikan diri sambil membawa mayat kedua orang saudaranya.           Wanita yang datang ke Ching-coa-to adalah Kui Ciauw inilah.           Tentu saja para anak buah Ching- coa-to telah mengenalnya.           Di dunia hitam, siapa yang tidak mengenal Ang-hwa Sam-ci-moi yang malah lebih lihai daripada suci mereka, si wanita iblis Hek-hwa Kui-bo yang telah tewas pula? Karena percaya akan kelihaian Kui Ciauw, para anak buah Ching-coa-to mengangkat Kui Ciauw menjadi kepala dan wanita ini lalu mendirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama Ang-hwa-pai, sesuai dengan julukannya, yaitu Ang-hwa Nio-nio.           la sengaja mengumpulkan orang-orang dari golongan hitam, dipilih yang memiliki kepandaian tinggi, malah ia lalu melatih mereka dan menurunkan kepandaian melepas bubuk racun kembang merah kepada para pembantunya.           Setelah masa peralihan kekuasaan, menggunakan keadaan yang kacau, perkumpulan hitam ini merajalela, merampok membajak dan keadaan mereka makin menjadi kuat karena banyak perampok ternama dan lihai yang melihat kemajuan dan pengaruh Ang-hwa-pai, lalu menggabungkan diri.           Ang-hwa Nio-nio atau Kui Ciauw ini tak pernah melupakan dendam hatinya terhadap Pendekar Buta yang telah membunuh dua orang adiknya.           Akan tetapi maklum bahwa tidak mudah membalas dendam kepada orang sakti itu, ia tekun memperdalam ilmunya, bahkan ia nienyu-sun kekuatan partainya dengan imaksud kelak akan menyerang ke Liong-thouw san.           Ang-hwa Nio-nio, seperti lainnya para tokoh dunia gelap, biarpun sudah berusia hampir setengah abad, riamun masih merupakan seorang wanita cabul yang gila laki-laki.           Oleh karena itu, bu-kan rahasia lagi bagi para anak buahnya akan kesukaan ketua ini mengunnpulkan laki-laki yang masih muda dan tampan, menjadikan mereka itu kekasih atau "se-lir", tentu saja banyak di antara mereka yang melakukan hal ini karena dipaksa dengan ancaman maut.           Baru setelah muneul seorang pemuda tampan bernama Ouwyang Lam, kerakusannya mengumpulkan pemuda-pemuda tampan berhenti.           Ouwyang Lam adalah georang pemuda dari daerah Shan-tung, bertubuh tegap kuat berwajah tampan, anak seorang bajak tunggal.           Bersama ayahnya, Ouwyang Lam menggabungkan diri pada Ang-hwa-pai dan tentu saja pemuda tampan ini tidak terlepas dari incaran Ang-hwa Nio-nio.           Akan tetapi, jkali ini Ang- hwa Nio-nio "jatuh hati" betul-betul kepada Ouwyang Lam.           Agak-nya cinta tidak memilih                     133                      umur sehingga dalam usia hampir setengah abad, Ang-hwa Nio-nio benar-benar kali ini jatuh cinta! Segala kehendak Ouwyang Lain dituruti dan pertama-tama yang diminta oleh pemuda pintar ini adalah mengusir atau membunuhi puluhan orang "selir" laki-laki itu! la ingin memonopoli ketua Ang-hwa-pai, bukan karena cantiknya, melainkan karena kedudukannya yang mulia dan karena pemuda ini ingin mewarisi kepandaiannya.           Dan demikianlah kenyataannya.           Ouw-yang Lam diambil sebagai "putera angkat" oleh Ang- hwa Nio-nio, mendapat sebutan kongcu (tuan muda), dihormat oleh seluruh anggauta Ang- hwa-pai dan selain kedudukan yang tinggi ini, juga pemuda yang cerdik ini setiap hari memeras ilmu-ilmu kesaktian dari "ibu angkat" alias kekasihnya ini untuk dimilikinya.           Terdorong cinta kasih yang membuatnya tergila-gila, Ang-hwa Nio-nio tidak segan-segan menurunkan ilmu-ilmu simpanannya sehingga dalam waktu be-berapa tahun saja ilmu kepandaian Ouw-yang Lam amat hebat.           Bahkan Ilmu Pedang Hui-seng Kiam-sut (Ilmu Pedang Bintang Terbang) yang menjadi kebangga-an Ang-hwa Sam-ci-moi dahulu, telah diajarkan kepada Ouwyang Lam.           Dasar Ouwyang Lam memang pandai Tnengambil hati, maka dia bersumpah kepada kekasihnya bahwa kelak dia sen-diri yang akan membalaskan dendam kekasihnya itu kepada Pendekar Buta.           Tentu saja untuk ini dia niemerlukan ilmu kepandaian yang tinggi agar dapat berhasil? Tidak ini saja, malah pemuda tampan ini begitu dimanja sehingga se- gala pernuntaannya dituruti, termasuk kegemarannya akan wanita cantik.           Ang-hwa Nio-nio yang sudah setengah tua itu tidak mempunyai hati cemburu, bahkan rela membagi cinta kasih Ouwyang Lam.           Demikianlah sekelumit keadaan Ang-hwa-pai di Ching-coa-to.           Kalau kepalanya bergerak ke utara, tak mungkin ekornya menuju ke selatan demikian kata orang-orang tua.           Dengan pimpinan macam Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam, dapat ditwyangkan betapa bobroknya moral para anak buah dan anggauta Ang-hwa-pai.           Mereka ini seperti mendapat contoh dan demikianlah, seluruh wilayah di sebelah barat dan selatan kota raja, penuh oleh orang-orang Ang-hwa pai yang bergerak dan merajalela menjadi perampok atau bajak yang malang-melintang tanpa ada yang berani melawan mereka.           Asal ada penjahat yang mennakai tanda bunga merah di dada yang melakukan gerakan, tidak ada yang berani berkutik! Ouwyang Lam amat pandai sehingga untuk memperkuat kedudukannya, dia tidak segan-segan mempergunakan uang untuk me-nyuap sana-sini, menghubungi para pem- besar dan menghamburkan uang secara royal kepada para pembesar korup yang memenuhi negara pada masa itu.           Para pembesar korup amat berterima kasih dan menganggap orang- orang Ang-hwa-pai amat baik, tidak peduli mereka ini bahwa uang yang dipakai menyogok dan menyuap mereka itu adalah uang hasil rampokan! Siu Bi sungguh malang nasibnya, terjatuh ke tangan tiga orang tokoh Ang-hwa-pai.           Akan tetapi baiknya ia memiliki wajah yang amat jelita sehingga hal ini menggerakkan hati dua orang penawan-nya untuk mencari jasa hendak memper-sembahkan dia kepada Ouwyang                     134                      Lam! Tentu saja hal ini baik baginya, karena dalam keadaan pingsan di perahu itu, nasibnya sudah berada di tangan si ram-but putih dan si brew&k.           Namun, meng-ingat akan hadiah dan kedudukan yang mungkin dinaikkan, dua orang itu tidak berani mengganggu Siu Bi, ingin mem-persembahkan gadis ini pada kongcu me-reka dalam keadaan utuh! Mereka hanya mengikat kaki tangan Siu Bi dan cepat-cepat mereka mendayung perahu, lang-sung menuju ke Ching-eoa-to.           Dan inilah sebabnya mengapa Yo Wan sia-sia saja mengejar.           la tidak mengira bahwa Siu Bi ditangkap orang di dalam gua kemudian dilarikan dengan perahu.           Terlalu lama dia mencari- cari di dalam hutan, berputar-putar tanpa hasil.           Baru setelah menjelang senja, ia sampai di pinggir Sungai Fen-ho, berdiri termangu-mangu di tepi sungai.           Ketika sadar daripada pingsannya dan mendapatkan dirinya dalam keadaan ter-ikat kaki tangannya dan rebah di atas pembaringan dalam perahu, Siu Bi menjadi marah dan mendongkol sekali.           Ia merasa lega bahwa tubuhnya tidak terasa sesuatu, tidak menderita luka.           Akan te-tapi ketika ia mencoba untuk mengerahkan tenaga melepaskan diri daripada belenggu, ia mendapat kenyataan bahwa tali-tali yang mengikat kaki tangannya amatlah kuat, tak mungkin diputus mem-pergunakan tenaga.           la mengeluh dan mulailah ia menyesal.           Mengapa ia me-larikan diri, meninggalkan Yo Wan? Kalau ada Yo Wan di dekatnya, tak mungkin ia sampai mengalami bencana seperti ini.           Lebih menyesal lagi ia nnengapa pedangnya, Cui-beng-kiam, ia tinggalkan di depan kaki Yo Wan.           Kalau perginya membawa senjatanya yang ampuh itu, lebih baik lagi kalau ia tidak bertanding melawan Yo Wan, kalau..           kalau..           ah, tidak akan ada habisnya hal-hal yang sudah terlanjur dan sudah lalu disesalkan.           Sesal kemudian tiada guna.           Perahu itu dengan cepatnya meluncur sepanjang Sungai Fen-ho, sampai masuk Sungai Kuning di selatan kennudian membelok ke timur melalui Sungai Kuning yang lebar dan diam.           Selama beberapa hari melakukan perjalanan melalui air ini, Siu Bi tetap dalam belenggu.           Akan tetapi gadis ini tidak digariggu dan karena mengharapkan sewaktu-waktu mendapat kesempatan membebaskan diri, Siu Bi tidak menolak suguhan makan minum yang setiap hari diberi oleh dua orang penawannya.           la harus menjaga kesehatannya dan memelihara tenaga agar dapat dipergunakan sewaktu ada kesempatan.           Perjalanan dilangsungkan melalui darat.           Dua orang itu dengan mudah mendapatkan tiga ekor kuda dari kawan-kawan mereka yang memang banyak terdapat di sekitar daerah itu, meraja-lela dan boleh dibilang menguasai keada-an di sebelah selatan dan barat dan kota raja.           Akhirnya mereka menyeberang telaga dan mendarat di Pulau Ching-coa-to di tengah telaga.           Pulau ini sekarang berubah keadaannya jika dibandingkan belasan tahun yang lalu.           Setelah Ang-hwa-pai berdiri dan pulau ini dijadikan pusat, pulau ini dibangun dan darii jauh saja sudah tampak bangunan-bangunar yang besar dan megah.           Taman bunga yang da-hulu                     135                      menjadi kebanggaan Ching-toanio dan puteri-puterinya, terpelihare baik-baik, malah dilengkapi pondok-pondok mungil karena tempat ini terkenal se-bagai tempat Ang-hwa Nio-nio dan Ouw-yang Lam bersenang-senang.           Siu Bi merasa heran dan kagum Juga setelah ia dibawa mendarat dari perahu yang menyebepangi telaga.           Pulau itu benar indah, juga megah.           Apalagi ketika mereka mendarat di pulau, mereka" disambut oleh sepasukan penjaga yang ber-pakaian lengkap, seragam dan bersikap gagah.           Di dada kiri mereka tampak se-buah lencana, yaitu sulaman berbentuk bunga merah.           Si rambut putih yang agaknya memiliki kedudukan lumayan di pulau ini, segera menyuruh seorang penjaga lari melapor kepada pai-cu (ketua) dan kong-cu (tuan muda).           Penjaga itu beriari cepat.           Siu Bi digiring berjalan memasuki pulau dengan perlahan, diiringkan sepasukan penjaga dan diapit oleh kedua orang penawannya.            Tak lama kemudian rombongan ini berhenti dan dari depan tampak serom-bongan orang berjalan datang dengan eepat.           Siu Bi membelalakkan mata, memandang penuh perhatian.           la melihat barisan wanita-wanita muda cantik yang gagah sikapnya, memegang pedang telanjang di tangan, berjalan dengan teratur di kanan kiri.           Di tengah-tengah tampak berjalan dua orang.           Yang seorang adalah wanita tua yang berkulit hitam dan pakaiannya biarpun terdiri dari sutera ma-hal dan amat mewah, akan tetapi sungguh tidak serasi karena warnanya merah darah dan berkembang-kembang.           Amat tidak cocok dengan kulit hitam itu, apalagi karena muka itu biarpun dibedaki dan ditutupi gincu, tetap saja memperlihatkan keriput-keriput usia tua.           Seorang nenek yang amat pesolek dan sinar matanya tajam dan liar.           Akan tetapi langkah kakinya demikian ringan seakan-akan tidak menginjak bumi, menandakan bahwa ginkang dari nenek ini luar biasa hebatnya.           Orang kedua adalah seorang laki-laki muda, kurang lebih dua puluh tahun, tubuhnya tegap, agak pendek tapi wajahnya tampan sekalidengan kulit yang putih kuning, alis hitam panjang dan matanya bersinar-sinar.           Mereka ini bukan lain adalah Ang-hwa Nio- nio atau paicu, ketua dari Ang-hwa-pai, bersama Ouw-yang Lam atau kongcu yang sesungguh-nya memiliki kekuasaan tertinggi di situ karena si ketua itu berada di telapak tangan si pemuda ganteng! Tempat itu kini penuh dengan para anggauta Ang-hwa-pai dan semua orang memandang Siu Bi penuh perhatian.           Mereka bersikap hormat ketika ketua mereka muncul.           Si rambut putih dan si brewok juga segera berlututniemberi hormat, lalu berdiri lagi.           Pandang mata Ouwyang Lam unfuk sejenak menjelajahi Siu Bi dari rambut sampai ke kaki, kemudian menoleh ke-pada si rambut putih.           Adapun Ang-hwa Nio-nio segera menegur.           "Betulkah seperti yang kudengar bah-wa bocah ini telah membunuh A Bian? Mengapa kalian tidak segera membunuhnya dan perlu apa dibawa-bawa ke sini?"                    136                      "Maaf, kami sengaja menangkap dan tnembawanya ke sini agar mendapat pu-tusan sendiri tentang hukumannya dari Paicu dan Kongcu," kata si rambut putih dengan nada suara menjilat.           "Pula, bagai-mana kami dapat membuktikan tentang kematian A Bian kalau pembunuhnya Udak kami seret ke sini?" "Hemmm, bocah yang berani mem-bunuh seorang pembantuku, apalagi hu-kumannya selain mampus? Biar aku sen-diri membunuhnya!" Tangan nenek ini bergerak, terdengar angin bercuitan ketika angin pukulan meluncur ke arah dada Siu Bi.           Gadis ini kaget bukan main.           Hebat pukulan ini dan karena kedua tangannya masih dibelenggu, hanya kedua kakinya saja yang bebas, ia terpaksa melonipat cepat ke kiri.           "Srrrttt!" pinggir bajunya tersambar angin pukulan, pecah dan hancur beran-takan.           Wajah Siu Bi berubah.           la maklum bahwa nenek ini merupakan lawan yang berat, seorang yang amat lihai ilmunya.           "Ihhh, kau berani mengelak?" Nenek itu memekik, suaranya melengking tinggi dan kembali tangannya bergerak, sekarang angin yang berciutan itu menyambar ke arah leher Siu Bi.           Gadis ini kembali mengelak, akan tetapi kurang cepat sehingga pundaknya terhajar.           Baiknya ia telah siap dan mengerahkan Hek-in-kang di tubuhnya, maka ia tidak mengalami luka, hanya terhuyung dan roboh miring di atas tanah.           Muka nenek itu berubah.           Baru kali ini ia mengalami hal seaneh ini.           Biasanya, kalau pukulannya dilakukan, tentu se-orang lawan akan roboh binasa.           Apalagi kalau pukulannya yang mengandung hawa racun merah ini mengenai sasaran, tentu yang terkena akan terluka dalam.           Akan tetapi gadis ini hanya terhuyung dan roboh tapi tidak terluka.           Ini membukti- kan bahwa gadis ini "ada isinya".           Saking penasaran, ia mengerahkan tenaga dan hendak memukul lagi.           Akan tetapi Ouw-yang Lam mencegah, menyentuh lengan nenek itu sambil berkata, "Nio-nio, harap sabar dulu..          " "Apa?.           Kau masih belum puas dengan mereka itu dan hendak mengambil dia? Hati-hati, perempuan seperti ia bukan untuk hiburan, sekali ia lolos akan men-datangkan bencana!" kata Ang-hwa Nio-nio sambil menuding ke arah Siu Bi yang sudah melompat bangun lagi dan me-mandang mereka dengan mata terbelalak penuh kemarahan dan kebencian.           Sedikit pun gadis ini tidak memperlihatkan rasa takut.           "Bukan begitu, Nio-nio.           Ingat Nona ini memiliki kepandaian, akan tetapi meng-hadapi seorang nona nnuda, dua orang kita menawannya dan membelenggunya seperti itu, sudah merupakan hal yang meremehkan nama besar kita.           Apalagi sekarang kau hendak membunuhnya dalam keadaan terbelenggu, aku khawatir nama besarmu akan ternoda.           Nio- nio, biarkan aku menghadapinya setelah belenggunya dilepas, agaknya ia lihai, patut aku                     137                      ber-latih dengannya.           Eh, Nona, setelah kau lancang tangan membunuh seorang pem-bantu kami dan kau telah ditangkap ke sini, kau hendak berkata apa lagi?"  Siu Bi mengerutkan alisnya, matanya seolah-olah mengeluarkan api ketika memandang kepada wajah tampan itu.           "Mengapa banyak cerewet? Mau bunuh boleh bunuh, siapa takut mampus? Pura-pura akan membebaskan, hemmm, kalau benar-benar kedua kakiku bebas, BKU akan membunuhi kalian ini semua, tak seekor pun akan kuberi ampun!"  Inilah makian dan hinaan hebat.           Seaimi orang sampai melongo.           Alangkah berialt-nya bocah ini.           Sudah tertawan, berada di tangan musuh dan tidak berdaya, nyawa-nya tergantung di ujung rambut, masih begitu besar nyalinya.           Benar-benar hal yang amat mengherankan bagi seorang gadis remaja seperti ini.           Akan tetapi Ouwyang Lam tertawa girang.           Hatinya amat tertarik kepada gadis ini.           Cantik jelita dan gagah perkasa.           Biarpun baginya tidaklah sukar untuk mencari gadis cantik, malah boleh jadi lebih cantik daripada Siu Bi, na-mun takkan mudah mendapatkan seorang gadis yang begini gagah perkasa dan bernyali harimau.           Kalar dia bisa mendapat-kan seorang seperti im di sampingnya, selain dia mendapatkan pasangan yang setimpal, juga gadis ini dapat merupakan penambahan tenaga yang amat penting dan memperkuat kedudukan mereka.           Memang Ouwyang Lam orangnya cerdik, penuh tipu muslihat dan akal yang halus sehingga biarpun dia mempunyai niat di hatinya yang tidak baik, namun pada lahirnya dia bisa kelihatan amat baik dan peramah.           "Nona, kau seorang gagah, maka kuberi kesempatan untuk membela diri.           Kami dari Ang- hwa-pai juga orang-orang gagah dan menghargai kegagahan.           Nah, kau kubebaskan daripada belenggu dan boleh mennbela diri dengan kepandaianmu!" Tampak sinar berkelebat dan tahu-tahu belenggu pada kedua tangan Siu Bi sudah putus.           Kiranya itu tadi adalah sinar pedang di tangan Ouwyang Lam! Siu Bi kagum.           Maklum ia bahwa juga ä pemuda ini merupakan lawan yang berat.           Namun, mana ia menjadi gentar karena-nya? la tersenyum mengejek, menggerak-gerakkan kedua lengannya untuk mengusir rasa pegal.           Berhari-hari, ia dibelenggu dan hal ini membuat kedua lengannya terasa pegal.           la mengerahkan tenaga sin-kang untuk mendorong peredaran darahnya, terutama di bagian kedua lengan sehingga ia dapat mengusir semua rasa kaku dan dapat bergerak lincah kembali.           Setelah merasa dirinya sehat kembali, ia menghadapi Ouwyang Lam dan berkata, "Nah, aku siap.           Siapa akan maju menghadapi aku? Ataukah barangkali kalian mengandalkan kegagahan dengan cara pengeroyokan?" Ucapan ini merupakan tantangan yang mengandung ejekan.           Muka Ang-hwa Nio-nio yang hitam sampai berubah menjadi makin hitam saking marahnya.           Gadis ini benar-benar memandang rendah Ang-hwa-pai.           Akan tetapi Ouwyang Lam tersenyum dan melangkah maju.           Pedangnya masih berada di tangan,                     138                      akan tetapi dia tidak segera menyerang, melainkan berkata halus, "Nona, aku sudah siap dengan pedang-ku.           Harap kau suka mengeluarkan senjatamu.          " Diam-diam Siu Bi menghargai sikap pemuda tampan ini, setidaknya pemuda ini nnempunyai  watak yang gagah, tidak seperti nenek yang tak tahu malu menyerangnya ketika masih terbelenggu kedua tangannya tadi.           Akan tetapi pedang Cui-beng-kiam ia tinggalkan di depan kaki Yo Wan.           öAku mengandalkan kedua kepalan tangan dan kakiku.           Kalau pedangku Cui-beng-kiam berada di sini, mana orang-orangmu mampu menghinaku?" Ouwyang Lam makin besar rasa ka-gumnya dan dia yakin bahwa gadis ini tentulah seorang pendekar wanita yang gagah.           la segera menyimpan kembali pedangnya dan berkata, "Kalau begitu, marilah kita main-main dengan tangan kosong.           Majulah, Nona.          " Siu Bi tidak mau sungkan-sungkan lagi.           Setelah sekarang ia ditantang dan tidak dikeroyok, ini merupakan keuntung-annya dan ia harus membela diri sekuat tenaga.           Sambil berseru panjang ia lalu menerjang maju.           Akan tetapi betapapun juga, ia ingat akan budi pemuda ini.           Biarpun merupakan seorang musuh, pemuda ini harus ia akui telah menolong nyawanya tadi ketika ia hendak dibunuh dalam keadaan terbelenggu oleh nenek yang lihai itu.           Maka ia pun hanya ingin merobohkan pemuda ini saja, kalau mungkin tanpa melukainya, apalagi membunuh-nya.           Oleh karena inilah maka ia lalu mainkan ilnMi silat biasa yang ia pelajari dari ayahnya dan dari Hek Lojin.           Gerakannya gesit, serangannya ganas dan dahsyat, juga tenaga dalamnya amat kuat.           "Bagus!" Ouwyang Lam berseru ketika menyaksikan ketangkasan lawannyp la juga menggerakkan kaki tangannya, oer-silat dengan gaya yang indah.           Dalam sekejap mata saja, keduanya sudah saling terjang, saling serang dengan hebat, gerakan mereka begitu cepatnya sehingga sukar diikuti pandangan mata karena bayangan itu sudah menjadi satu.           Angin pukulan dan gerakan tubuh rnenyambar-nyambar ke kanan kiri dan empat puluh jurus lewat dengan amat cepatnya.           Diam-diam Ang-hwa Nio-nio mendongkol melihat murid dan kekasihnya itu tidak segera menggunakan jurus-jurus Ilmu Silat Hui-seng-kun-hoat, yaitu Ilmu Silat Bintang Terbang yang merupakan ilmu silat tertinggi yang dimilikinya.           Sementara itu, diam-diam Siu Bi mengeluh.           Kiranya pemuda ini benar-benar lihai sekali sehingga jangan bicara tentang merobohkan tanpa melukai, mengalahkan pemuda ini saja masih merupakan hal yang belum tentu kecuali kalau ia mainkan Hek-in-kang.           Akan tetapi kalau ia keluarkan ilmu ini, tak mungkin lagi mengalahkan tanpa membahayakan jiwa lawannya.           "Kenapa tidak keluarkan Hui-seng (Bintang Terbang)??" tiba-tiba nenek itu berseru menegur                     139                      murid dan kekasihnya.           Melihat Ouwyang Lam sampai puluhan jurus belum mampu mengalahkan lawan, Ang-hwa Nio-nio menjadi marah dan penasaran.           Hal ini akan menibikin malu padanya, merendahkan nama Ang-hwa Nio-nio sekaligus Ang-hwa-pai! Memang hal ini amat luar biasa bagi para anggauta Ang-hwa-pai.           Biasanya, Ouwyang- kongcu merupakan orang yang amat lihai, hanya kalah oleh Ang-hwa Nio-nio dan begitu ia turun tangan semua tentu beres.           Belum pernah para anggauta ini me-lihat ada lawan yang mampu melawan Ouwyang-kongcu lebih daripada sepuluh jurus.           Akan tetapi sekarang, dara remaja yang menjadi tawanan dua orang pem-bantu itu ternyata mampu menahan ter- jangan Ouwyang-kongcu sampai begitu lama tidak tampak terdesak! Tentu saja hal ini tidak mengherankan bagi Ouwyang-kongcu dan bagi Ang-hwa Nio-nio karena kedua orang ini cukup mahlum bahwa dua orang pembantu mereka sama sekali bukanlah lawan gadts ini.           Mereka capat melawannya tentu karena hasil daripada Ang-tok-san yaitu bubuk racun merah yang dapat membius lawan.           Mendengar seruan Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam ragu-ragu.           Betapapun juga, dia belum kalah dan biarpun dia tidak dapat mendesak gadis itu, namun sebalik-nya dia pun tidak terdesak.           Mereka sama kuat dan hal ini membuat hatinya gembira dan kagum bukan main.           Belum pernah selamanya ia bertemu dengan seorang gadis yang begini hebat.           Tadinya dia sama sekali tidak mengira bahwa Siu Bi akan begini kosen sehingga dapat mengimbangi permainan silatnya.           Tentu saja hal ini membuat rasa sayangnya terhadap Siu Bi makin menebal.           la tidak tega untuk mempergunakan ilmu silat yang lebih dahsyat, khawatir kalau- kalau melukai Siu Bi dan membikin gadis itu menjadi sakit hati.           la hendak membaiki gadis ini, hendak memikat hatinya karena dia betul-betul jatuh hati yang baru pertama kali ini dia alami.           Akan tetapi, di fihak Siu Bi, seruan itu merupakan tanda bahaya.           Kalau la-wannya mempunyai "simpanan" yang belum dikeluarkan, inilah berbahaya.           la tidak mau didahului, maka tiba-tiba Siu Bi mengeluarkan seruan nyaring seperti pekik burung elang dan kedua lengannya bergerak aneh, diputar-putar secara luar biasa.           Akan tetapi segera tampak sinar menghitann menyambar-nyambar, dari kedua lengan itu tampak uap hitam dan Ouwyang Lam merasai sambaran hawa pukulan yang amat dahsyat.           Ketika dia menangkis, lengannya terasa panas sekali dan nyensanipai menembus ke ulu hati Kagetlah dia dan terhuyung- huyung dia ke belakang dengan muka pucat.           Akan tetapi karena dia maklum bahwa lawan- nya ini benar-benar hebat, memiliki sim-panan ilmu dahsyat yang baru sekarang dikeluarkan, cepat dia mengerahkan te-naga mengusir rasa nyeri, berbareng dia membentak keras dan tubuhnya mumbul ke atas, lalu menukik ke bawah melakukan penyerangan balasan.           Inilah sebuah jurus dari Ilmu Silat Hui-seng-kun-hoat, Ilmu Sllat Bintang Terbang yang SfelBin hebat sekali gerak-geriknya, juga me-ngandung hawa pukulan beracun, racun ang-tok (racun merah)! Ketika Siu Bi menangkis dengan tenaga Hek-in-king, keduanya terhuyung mundur dengan muka berubah.           Tahulah mereka bahwa masing-masing kini telah mengeluarkan kepandaian dan tenaga simpanan.           Ilniu Pukulan Hek-in-kang yang mengandung racun hitam kini bertemu tanding dengan hawa pukulan                     140                      racun merah.           Akan tetapi keduanya menyesal bukan main karena kalau dilanjutkan, mereka berdua terpaksa akan mempergunakan dua macam ilmu dahsyat ini dan akibatnya, yang kalah tentu akan celaka, kalau tidak tewas sedikitnya tentu akan terluka parah di sebelah dalam tubuh! "Tahan dulu..          !" Tiba-tiba Ang-hwa Nio-nio berseru dan melayanglah tubuhnya menengahi kedua orang muda.           yang sedang bertanding itu.           Karena nenek ini menggunakan kedua tangan mendorong, kedua orang muda itu terpaksa meloncat ke belakang.           "Kau mau mengeroyok?" Siu Bi mendahului membentak.           Bentakan yang merupakan gertak belaka karena sesungguhnya di dalam hati ia merasa khawatir kalau-kalau nenek ini benar- benar mengeroyoknya.           Kalau benar demikian, biarpun ia tidak akan mundur, namun boleh dipastikan bahwa ia akan kalah dan roboh.           Dalam pertemuan tenaga dengan pemuda ku tadi saja sudah dapat ia bayangkan bahwa takkan mudah baginya mengalahkan Ouwyang Lam.           Apalagi kalau nenek ini yang agaknya malah lebih lihai lagi daripada si pemuda, turun tangan mengeroyoknya.           Akan tetapi Ang-hwa Nio-nio tidak bergerak menyerang.           Wajahnya keren dan suaranya berwibawa, "Bocah, jangan som-bong terhadap Ang-hwa Nio-nio! Kau tadi mainkan Hek- in-kang, orang tua Hek Lojin masih terhitung apamukah?" Siu Bi kaget.           Baru kali ini semenjak ia turun gunung, ada orang yang mengenal Hek-in- kang.           Banyak orang lihai ia temui, termasuk Jenderal Bun, isterinya, puteranya dan Si Jaka Lola.           Akan tetapi mereka itu tidak mengenal ilmunya.           Bagaimana nenek genit ini dapat mengenal Hek-in-kang? Malah tahu pula bahwa Hek-in-kang adalah ilmu mendiang kakeknya, Hek Lojin yang dikenalnya pula? Setelah nenek ini mengetahui semuanya, agaknya tidak perlu lagi berbohong, malah ia hendak menyombongkan kakeknya yang ia tahu amat lihai dan amat terkenal di dunia kang-ouw.           " "Hek Lojin adalah kakekku.           Mau apa kau tanya-tanya?" jawabnya dengan nada suara sombong dan tidak nnau kalah.            öKakekmu?" Keriput-keriput pada wajah nenek itu mendalam.           öBagaimana bisa jadi? Maksudmu kakek guru? Kau mengenal The Sun?" Berdebar jantung Siu Bi.           Terang bah-wa nenek ini bukan orang yang asing bagi ayah dan kakeknya.           Biarpun di da-lam hati ia tidak mau lagi mengakui The Sun sebagai ayahnya karena ia maklum sekarang bahwa The Sun memang bukan ayahnya, akan tetapi agaknya nama The Sun dan Hek Lojin akan dapat menolong-nya pada saat itu, Siu Bi biarpun seorang yang amat tabah dan tidak takut mati, namun ia bukan gadis bodoh.           la amat cerdik dan ia maklum bahwa saat ini ia berada di sarang harimau.           la berada di pulau orang, musuh- musuhnya lihai dan berjumlah banyak.           Nekat memusuhi me-peka berarti mati.           Maka ia lalu                     141                      menekan perasaannya dan menjawab, "Dia adalah ayahku.          " Segan hatinya menyebut nama The Sun, maka ia hanya menyebut "dia"  saja.           Tiba-tiba terjadi perubahan hebat pada muka nenek itu.           Sejenak ia memandang Siu Bi  dengan mata terbelalak, mulut ternganga, kemydian perlahan-lahan kedua mata itu menitikkan air mata dan ia lalu lari merangkul Siu Bi sambil menangis! Tentu saja Siu Bi jadi tercengang keheranan.           "Aihhh, siapa kira..           kita adalah orang-orang sendiri, anakku..          !" Meremang bulu tengkuk Siu Bi dan tiba-tiba perutnya menjadi mulas mendengar ini karena  timbul dugaan yang mengerikan di dalam hatinya.           Jangan jangan..           jangan-jangan..           la tidak saja bukan anak The Sun, akan tetapi ]uga bukan anak ibunya dan..           dan..           perem- puan mengerikan ini adalah ibu kandungnya! Dengan muka pucat diam-diam berdoa semoga dugaan ini tidak benar adanya.           Akan tetapi hatinya demikian risau, membuat tenggorokannya serasa tercekik dan ia tidak mampu bertanya apa yang dimaksudkan oleh nenek mi dengan kata-kata "orang-orang sendiri tadi.           Adalah Ouwyang Lam yang luga terheran-heran itu yang mengajukan pertanyaan, "Nio-nio, apakah artinya ini? Siapakah Nona ini?" Ang-hwa Nio-nio tersenyum dibalik air matanya, melepaskan pelukan dan menggandeng tangan Siu Bi.           "Mari kita pulang, mari..           kita adalah orang sendiri.           Mari dengarkan keteranganku di rumah.. ah, untung tadi kau keluarkan Hek-in-kang itu, anakku..          " Mual rasa perut Siu Bi mendengar nenek ini menyebutnya "anakku".           Akan tetapi karena bekas lawan bersikap begini ramah, tak mungkin ia memper-tahankan sikap bermusuhan lagi.           Betapa-pun juga, ia masih ragu-ragu.           Siapa tahu ada apa-apanya di balik sikap aneh ini.           Siapa tahu ada kepiting di balik batu! "Aneh sekali sikapmu, Paicu.           Kalau benar aku ini orang sendiri, masa orang-orangmu memperlakukan aku sedemikian rupa? Penghinaan besar yang tiada taranya, menjadikan aku tawanan berhari-hari dan membelenggu kaki tangan.           "Ohhh, mereka tidak tahu..          ,.          " "Kalau puh tidak tahu, sudah melakukan penghinaan kepada orang sendiri, apa yang akan  kaulakukan kepada mereka?" Ang-hwa Nio-nio sadar dan mengedikkan kepalanya, memutar tubuh memandang ke saha  ke mari mencari-cari.           Akhirnya ia menemukan mereka dengan pandang matanya, si rambut                     142                      putih dan sl brewok.           Seakan-akan dari pandang matanya itu keluar perintah, karena tanpa kata-kata lagi kedua orang ini sudah maju dan menjatuhkan diri berlutut! "Kami..           karti betul-betul tidak ta-hu..          " kata si rambut putih, suaranya sudah gemetar tidak karuan.           "Kalian menghina puteri sahabat baikku The Sun, kalian sudah menjadikai+ cucu murid orang tua Hek Lojin sebagai tawanan? Ahhh, kalau di Ang-hwa-pai masih ada orang-orang macam kalian, perkumpulan kita takkan dapat lama berdiri tegak.          " Tiba-tiba, tanpa peringatan lagi, kedua tangan Ang-hwa Nio-mo bergerak.           Terdengar jerit dua kali den tubuh dua orang pembantu itu terjengkang ke belakang, mata mereka mendelik, muka mereka berubah rnerah seperti darah dan napas mereka sudah putus! Mereka terkena pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga beracun ang-tok sepenuhnya! Ang-hwa Nio-nio tersenyum ketika menoleh kepada Siu Bi, "Nah, itulah hukuman mereka yang berani menghinamu, anakku.           Mari, niari.. mari ikut bibi Kui Ciauw, sahabat baik ayahmu..          " Siu Bi merasa begitu lega seakan-akan batu sebesar gunung yang menindih hatinya diangkat orang ketika mendengar ucapan terakhir itu.           Kiranya nenek ini yang bernama Kui Ciauw, berjuluk Ang-hwa Nio-nio, adalah sahabat baik "ayah-nya", jadi bukanlah ibu kandung seperti yang ia khawatirkan.           Karena hati yang lega dan puas ini, tidak membantah lagi ketika digandeng pergi, malah ia ter-senyum kepada "bibi Kui Ciauw" dan membalas senyum Ouwyang Lam yang berjalan di sebelahnya! Sikap Kui Ciauw atau Ang-hwa Nio-nio terhadap Siu Bi itu sebetulnya bukan dibuat-buat, juga tidaklah aneh.           Belasan tahun yang lalu wanita ini bersama dua orang saudaranya disebut Ang-hwa Sam-ci-moi (Tiga Kakak Beradik Bunga Merah), dan mereka bertiga bekerja sama dengan The Sun dan Hek Lojin, melakukan perang terhadap Pendekar Buta dan kawan-kawannya.           Kemudian mereka ini semua dikalahkan oleh Pendekar Buta, malah dua orang adiknya tewas, The Sun terluka hebat dan Hek Lojin buntung sebelah lengannya.           Oleh karena itulah, maka begitu mendengar bahwa gadis ini adalah puteri The Sun dan cucu murid Hek Lojin, sikap Ang-hwa Nio-nio seketika berubah.           la menganggap Siu Bi sebagai orang segolongan yang menaruh dendam kepada Pendekar Buta.           la tadi telah menyaksikan betapa kepandaian Hek Lojin telah diwariskan kepada gadi0 ini, maka sebagai orang segolongan, ten-tu saja ia menganggap gadis ini amat penting untuk bersama-sama menghadapi iriusuh besar mereka, Pendekar Buta.           Tentu saja mendapatkan tenaga bantuan seperti gadis ini jauh lebih berharg+ daripada orang-orang seperti si rambu putih dan si brewok, maka sebagai pengganti mereka, ia rela menerima Siu Bi dan menewaskan dua orang pembantu itu untuk menyenangkan hati Siu Bi.           Siu Bi kagum bukan main ketika melihat bangunan-bangunan indah di atas pulau dan memasuki gedung besar tempat tinggal Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam.           Perabot                     143                      rumah serba indah dan mahal, gambar-gambar indah, tulisan-tulisan dengan sajak-sajak kuno menghias dinding membuat gedung itu kelihatan seperti sebuah istana.            Setelah mereka bertiga duduk di ru-angan tengah dan para pelayan cantik menghidangkan minuman, Ang-hwa Nio-nio lalu bercerita, "Anak baik, ketahuilah, aku adalah Ang-hwa Nio- nio atau ketua dari Ang-hwa-pai, tapi kau boleh menyebutku bibi Kui Ciauw saja, karena aku adalah sahabat baik dan teman seperjuangan dengan ayahmu.           Dia ini ada-lah muridku, Ouwyang-kongcu atau Ouw-yang Lam, muridku yang tersayang, dan karenanya dia ini masih terhitung saudara segolongan denganmu.           Anak baik, siapakah namamu tadi?'' "Namaku Siu Bi.          " "The Siu Bi, hemmm, bagus sekali.           Tak kunyana bahwa The Sun bisa mempunyai seorang  anak secantik engkau, dan ilmu kepandaianmu juga hebat, agaknya malah lebih hebat daripada ayahmu sendiri.           Siu Bi, apakah ayah dan kakekmu tidak pernah bercerita tentang aku?" Dengan jujur Siu Bi menggeleng kepalanya, dan Ang-hwa Nio-nio mengerutkan alisnya.           "Ah, bagaimana mereka bisa begitu cepat melupakan aku? Tidak ingat akan perjuangan bersama dan penderitaan senasib? Siu Bi, anakku yang baik, apakah mereka juga tak pernah bicara tentang Pendekar Buta?" Bangkit semangat Siu Bi mendengar disebutnya musuh besarnya ini.           "Aku memang sengaja turun gunung untuk mencari Pendekar Buta, membalaskan dendam mendiang kakek dan membuntungi lengan tangan Pendekar Buta sekeluarga.          " Berubah wajah Ang-hwa Nio-nio, "Kau bilang..           mendiang kakek? Apakah Hek Lojin si orang tua sudah meninggal?" Siu Bi mengangguk dan wanita lu meramkan kedua matanya.           "Ah, sungguh sayang sekali.           Akan tetapi, kau penggantinya, anakku.           Biarlah, mari kita sama-sama menggempur Pendekar Buta, kita hancurkan kepalanya, cabut keluar jantungnya untuk kita pakai sembahyang kepada roh-roh yang penasaran!"  Siu Bi boleh jadi seorang gadis yang tabah, akan tetapi mendengar ancaman menyeramkan ini ia bergidik juga.           "Bibi, aku sudah bersumpah hendak mencarinya dan dengan tanganku sendiri aku akan membuntungi lengannya, lengan isterinya dan anak-anaknya.          " "Aku akan membantumu..          " "Aku tidak perlu bantuan, Bibi.           Aku sendiri cukup untuk menghadapinya.          "                    144                      "Dia lihai sekali.          " "Tidak peduli.           Aku tidak takut!" Ang-hwa Nio-nio membelalakkan kedua matanya.           la tak  berdaya menghadapi gadis ini yang begini sukar diajak berunding.           la mulai tidak sabar dan hal ini dapat dilihat oleh Ouwyang Lam yang segera berka-ta sambil tersenyum.           öTentu saja adik Siu Bi tidak takut.           Masa terhadap seorang musuh yang buta kedua matanya saja takut? Kalau takut kan bukan orang gagah namanya! Akan tetapi kami yang lemah memerlukan bantuan dan kami mohon bantuan adik Siu Bi yang gagah perkasa untuk Bersama-sama menghadapi Pendekar Buta.           Kita mempunyai kepentingan bersama dan kita sama-sama bersakit hati terhadap dia.          "  Enak didengar ucapan Ouwyang Lam ini dan seketika hati Siu Bi dapat dikalahkan.           Gadis ini menjadi tidak enak sendiri mendengar ia diangkat-angkat dan mereka berdua yang ia tahu tidak kalah lihai itu merendahkan diri.           Untuk menghilangkan rasa tidak enak ini ia bert'anya.           "Mengapakah kalian juga bermusuh de-ngan Pendekar Buta? Kalau kakek sudah terang dibuntungi lengannya.          " Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang rnemberi penjelasan, "Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu.           Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menang- kan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu.           Akan tetapi ter-nyata kakekmu juga kalah, malah di-buntungi lengannya.           Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempur-an itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil meriyelamat-kan diri.           Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalah-an para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu.           Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan se-golongan?" Siu Bi diam-diani terkejut sekali.           Tak disangkanya bahwa Pendekar Buta sedemikian lihainya sehingga dikeroyok begitu banyak orang sakti masih dapat menang! Makin ragu-ragu ia apakah ia akan dapat menangkap musuh besar itu, dan mulailah ia melihat kenyataan akan pentingnya bekerja sama dengan orang-orang pandai seperti Ang-hwa Nio-nio dan muridnya yajng tampan ini.           Apalagi dengan adanya Ang-hwa Nio-nio, akan lebih mudah mengenal kelemahan-kelemahan lawan karena Ang-hwa Nio-nio pernah bertempur menghadapi Pendekar Buta.           "Kau betul, Bibi.           Maafkan keraguanku tadi.           Kalau begitu, marilah kita berangkat ke Liong- thouw-san mencari musuh besar kita.          "                     145                      Ang-hwa Nio-nio tertawa.           "lii-hi-Hik, kau benar-benar seorang gadis yang keiras hati dan penuh semangat Siu Bi, tidak mudah menyerbu ke Liong-thouw-san.           Kita harus menghubungi teman-teme.          i segolongan.           Banyak yang akan suka ikut menyerbu ke sana untuk menyelesaikan perhitungan lama.           Di antaranya ada pamanku Ang Moko yang sudah menyang-gupi.           Di samping itu, kau harus mem-bantu kami lebih dulu, karena kami pada saat ini sedang menanti kedatangan mu-suh-musuh kami yang datang dari Kun-lun.           Sebagai orang segolongan, tentu kau tidak suka melihat kami dihina orang dan tentu kau mau membantu kami, bukan?" "Tentu saja, Bibi.           Akan tetapi tidak enaklah membantu sesuatu tanpa mengetahui persoalannya.           Mengapa kau ber-musuhan dengan orang-orang Kun-lun? Aku pernah mendengar dari kakek bahwa Kun-lun-pai adalah sebuah partai persilatan yang besar.          " Ang-hwa Nio-nio menarik napas pan-jang dan mengangguk-angguk, "Sebetul-nya, dengan Kun-lun-pai langsung kami tidak mempunyai urusan.           Yang menjadi biang keladinya adalah Bun-goanswe sehingga menyeret Kun-lun-pai berhadapan dengan kami.          " "Jenderal Bun di Tai-goan?" tanya Siu Bi, kaget.           Tercenganglah Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam mendengar ini.           "Kau kenal dia?" "Tidak kenal, tapi aku tahu.           Pernah aku dijadikan tahanan di sana karena aku membantu  para petani yang ditindas.          " "Dia memang sombong!" kata Ouw-yang Lam.           "Puteranya juga sombong sekali.           Dumeh  (mentang-mentang) jenderal itu sahabat baik Pendekar Buta dan putera dari ketua Kun-lun- pai, sama sekali tidak memandang mata kepada orang-orang seperti kita!" Mendengar bahwa Jenderal Bun 'itu adalah sahabat baik musuh besarnya, tentu saja Siu Bi menjadi makin tak senang kepada keluarga Bun.           "Apakah yang terjadi?" tanyanya.           "Ketahuilah, adik Siu Bi.           Karni dari Ang-hwa-pai selalu melakukan hubungan baik dengan para pembesar, malah kami tidak pernah berlaku pelit.           Semua pem-besar dari yang rendah sampai yang ting-gi dt wilayah ini, apabila mengalami ke-sukaran, tentu minta bantuan kami dan tidak pernah kami menolak mereka.           Akan tetapi, Jenderal Bun dan puteranye itu malah menghina kami, dan ada empat orang anak buah Ang-hwa-pai mereka tangkap dan mereka jatuhi hukuman.           Tiga orang anak buah kami yang me-lawan mereka bunuh.           Coba kaupikir, bu-kankah mereka itu bertindak sewenang-wenang mengandalkan kedudukan dan ke-pandaian?" "Hemmm, lalu apa yang terjadi?"                    146                      "Agaknya uruser' ini terdengar oleh ketua Kun-lun-pai yang menjadi ayah dari Jenderal Bun.           Kun-luri-paitnengirim utusan memberi teguran kepada partai kami, dinyatakan oleh partai Kun-lun bahwa setelah negara menjadi aman, kami tidak semestinya mengacau.           Tentu saja aku tidak dapat menahan kemarahan mendengar pernyataan yang amat memandang rendah ini, kumaki utusan itu dan terjadi pertandingan yang mengakibatkan utusan Kun-lun-pai itu tewas.           Dan dalam beberapa hari ini, kurasa .          akan datang pula utusan Kun-lun-pai ke sini.           Kalau terjadi keributan dengan fihak Kun-lun-pai yang sombong, kuharap saja kau suka membantu kami, adik Siu Bi.          " Siu Bi kembali mengangguk-angguk.           Dia sendiri memang tidak suka kepada Jenderal Bun, apalagi karena jenderal itu adalah sahabat musuh besarnya.           Dengan Kun-lun-pai ia tidak mempunyai hubung-an apa-apa, sedangkan orang-orang Ching-coa-to ini adalah orang segolongan de-ngannya, sama-sama musuh besar Pendekar Buta.           "Baiklah, tentu aku membantu.           Setelah melihat lurah Bhong yang jahat itu dan sikap Jendepal Bun, aku pun tidak suka kepada para pembesar itu.           Kalau mereka keterlaluan harus kita lawan.          " Hidangan yang mewah dikeluarkan oleh para pelayan cantik dan tiga orang ini berpesta- pora.           Siu Bi diam-diam merasa girang juga karena nenek dan pemuda itu benar-benar amat ramah kepadanya, malah pesta itu diadakan untuk menghormatinya! la merasa beruntung dapat bertemu dengan Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam, karena jelas bahwa pertemuan ini akan mendekatkan ia ke-pada hasil gemilang tujuan perjalanannya.           Juga di samping ini, ia tertarik dan suka kepada Ouwyang Lam yang tampan, gagah perkasa dan amat manis budi ter-hadapnya.           Tidak mengecewakan menipunyai seorang sahabat seperti dia, pikirnya.           Baru saja mereka seleisai makan mi-num, seorang penjaga berlari masuk, memberi laporan bahwa ada dua orang tosu menyeberangi telaga dan datang berkunjung ke pulau.           "Mereka mengaku datang dari Kun-lun-pai dan minta bertemu dengan Paicu," penjaga itu mengakhiri laporannya.           Ouwyang Lam meloncat berdiri.           "Bi-'' arkan aku yang pergi menemui mereka," katanya kepada Ang-hwa Nio-nio, kemudian menoleh kepada Siu Bi.           "Adik Siu Bi, adakah hasrat main-main dengan orang-orang Kun-lun-pai?" Dasar Siu' Bi berwatak nakal dan pemberani.           Mendengar bahwa dua orang Kun-lun-pai datang ke pulau ini, tentu dengan maksud mencari perkara, ia men-jadi ingin tahu dan gembira sekali kalau ia dipercaya mewakili tuan rumah.           la menoleh ke arah Ang-hwa Nio- nio yang tersenyum kepadanya dan berkata, "Pergilah, Siu Bi, dan bergembiralah bersama kakakmu Ouwyang Lam.          "                     147                      Pemuda itu sudah meloncat ke luar, diikuti Siu Bi dan dua orang muda ini berlari-lari menuju ke pantai.           Benar saja seperti yang dilaporkan oleh penjaga tadi, di pantai berdiri dua orang tosu setengah tua yang bersikap keren dan angker.           Perahu mereka yang kecil berada di darat dan tak jauh dari tempat itu tampak orang-orang Ang-hwa-pai berjaga-jaga sambil memasang mata penuh perhatian.           Semenjak terjadi peristiwa utusan Kun-lun-pai, mereka telah menerima perintah dari ketua mereka supaya jangan bertindak sembrono kalau bertemu dengan orang-orang Kun-lun-pai, akan tetapi langsung melaporkan kepada ketua, Inilah sebabnya mengapa para anggauta Ang-hwa-pai tidak mengganggu dua orang tosu itu.           Dua orang tosu itu ketika melihat munculnya dua orang muda-mudi yang tampan dan cantik jelita, menjadi tercengang dan saling pandang.           Apalagi ketika melihat dua orang muda itu langsung menghampiri mereka dan menatap mereka sambil tersenyum-senyum mengejek.           Ouwyang Lam segera bertanya, "Apakah Ji-wi (Kalian) tosu dari Kun-lun-pai?" Tosu yang mempunyai tahi lalat besar di bawah mulutnya menjawab, "Betul, Orang muda.            Pinto (Aku) adalah Kung Thi Tosu dan ini sute Kung Lo Tosu.           Kami berdua mentaati perintah ketue kami mengantar seorang suheng (kakak seperguruan) kami menyampaikan pesan ketua kami kepada Ang-hwa-pai.           Oleh karena itu, harap kau orang muda suka memberi tahu kepada Ang-hwa-pai bahwa kami datang berkunjung.          " Ouwyang Lam tertawa.           "Totiang berdua tak perlu sungkan-sungkan.           Kalau ada perkara, beritahukan saja kepadaku.           Aku Ouwyang Lam mewakili ketua kami, p.           dan segala urusan cukup kalian bicarakan dengan aku.          " "Hemmm, begitukah?" Kung Thi Tosu berkata sambil menatap wajah Ouwyang .           Lam tajam- tajam.           "Sudah lama pinto mendengar nama Ouwyang-kongcu.           Kedatangan kami ini tidak lain akan menanyakan tentang suheng kami yang be-berapa hari yang lalu datang ke sini.           Di manakah suheng kami itu?" Wajah yang tampan itu menjadi muram.           "Totiang, apa kaukira aku ini seorang pengembala keledai maka kau tanya-tanya kepadaku tentang keledai yang hilang? Sudahlah, lebih baik kalian pergi, cari di tempat lain.           Pulau kami bukan tempat bagi para tosu.          "  Jawaban ini biarpun terdengar hems namun amat menghina dan menyakitkan hati karena menyamakan suheng mereka dengan keledai! Kung Lo Tosu yang bermuka kuning menjadi makin pucat muka-nya ketika dia melangkah maju dan her-kata dengan suara keras.          ' "Orang muda she Ouwyang bermulut lancang! Kami dari Kun-lun-pai tidak biasa menelan                     148                      hinaan-hinaan tanpa sebab.           Ketua kami mendengar tentang sepak terjang Ang-hwa-pai yang mengancau ketenteraman, lalu ketua kami mengutus suheng dan kami berdua untuk datang mengunjungi kalian guna memberi per-ingatan secara halus, mengingat sama- 1 sama partai persilatan.           Akan tetapi suheng yang amat hati-hati dan tidak ingin kalian salah faham, menyuruh kami rne-nanti di seberang dan suheng seorang diri yang datang ke sini empat hari yang lalu.           Suheng tidak kelihatan kembali, maka kami datang menyusul.           Kirarya datang-datang kami hanya kau sambut dengan ucapan menghina.           Orang muda lekas katakan dimana adanya Kun Be Suhengö.           Berubah wajah 0uwyang Lam, agak merah karena dia menahan kemarahannya.           öAku tidak tahu yang mana itu suhengmu, akan tetapi beberapa hari yang lalu memang ada  seseorang kurang ajar mengacau disini.           Karena dia tidak mau disuruh pergi, terpaksa aku turun tangan dan dia sudah tewas.           öKeparat, Jadi kau..           kau membunuh suheng..          ?" Kun Thi Tosu kini pun menjadi marah sekali.           "Kalau begitu Ang-hwa-pai benar-benar jahat sekali, membunuh seorang utusan..          " Ouwyang Lam tertawa mengejek "Tosu bau, dengar baik-baik.           Kalau terjadi sesuatu pertengkaran dan pertempuran, jelas bahwa yang salah adalah orang yang datang menyerbu.           Aku membela tempatku sendiri yang dikacau orang, mana bisa dianggap jahat? Adalah kalian ini yang bukan orang sini, datang-datang mengeluarkan omongan besar, kalianlah yang jahat!"  "Ang-hwa-pai partai gurem yang baru muncul berani memandang rendah Kun-lun-pai! Benar-benar keterlaluan.           Bocah sombong, kau harus mengganti nyawa suheng! Ouwyang Lam menoleh ke arah Siu Bi.           "Kau lihat, betapa menjemukan.           Mau membantuku melempar mereka ke dalam telaga?" Siu Bi slidah biasa dengan watak aneh kasar dan liar.           Watak kakeknya, Hek Lojin, jauh lebih kasar, liar dan aneh lagi.           la pun tadi jemu menyaksikan lagak orang-orang Kun-lun-pai ini dan dalam pertimbangannya, Ouwyang Lam berada di fihak benar.           Orang dihargai karena sikapnya, karena kebenarannya, sama sekali bukan karena kedudukannya, atau karena partainya yang besar.           Dalam hal ini, Kun-lun-pai terlalu memandang rendah Ang-hwa-pai, tidak semestinya mencampuri urusan partai orang lain, apalagi menegur.           Orang-orang Kun- lun-pai men-cari penyakit sendiri dengan sikap tinggi hati dan tekebur.           "Mari..          !" kata Siu,Bi, juga dengan senyum mengejek.           Dua orang tosu ifu siidah marah sekali mendengar betapa suheng mereka yang datang di  pulau ini sebagai utusan, telah ditewaskan.           Serentak mereka menerjang maju, dengan maksud untuk menangkap pemuda sombong ini untuk ditawan dan dipaksa ikut mereka ke                     149                      Kun lun, dihadapkan kepada ketua mereka agar diadili.           Akan tetapi mereka keliru kalau mengira bahwa mereka akan dapat me-robohkan dan  menangkap Ouwyang Lam dengan mudah.           Begitu pemuda itu meng-gerakkan kaki tangan, dia telah irenyam-but terjangan kedua orang ini dengan pukulan dan tendangan yang dahsyat, memaksa dua orang tosu itu mengelak sambil menyusul dengan serangan dari samping.           Akan tetapi pada saat itu, Siu Bi sudah membentak nyaring dan inener-jang Kung Lo Tosu sehingga lerpaksa tosu ini bertanding melawan Siu Bi.           Hal ini tidak mengecilkan hati kedua orang tosu Kun-lun-pai.           Siu Bi hanya seorang gadis remaja, juga Ouwyang Lam yang mereka pernah dengar sebagai Ouwyang-kongcu yang terkenal kiranya hanya se- orang pemuda biasa saja.           Dengan cepat iTiereka memainkan kaki tangan, menge-luarkan Ilmu Sitat Kun-lun-pai.           Mereka adalah tosu-tosu tingkat ke empat di Kun-lun-pai, ilmu kepandaian mereka tinggi.           Biarpun mereka percaya bahwa suheng mereka tewas, akan tetapi me-reka mengira bahwa tewasnya sang suheng itu adalah karena pengeroyokan, sama sekali tidak pernah menyangka bahwa tewasnya Kung Be Tosu adalah karena bertanding satu lawan satu de-ngan pemuda ini! Setelah bergebrak beberapa jurus, barulah kedua orang tosu itu kaget dan mendapat kenyataan bahwa kedua orang lawannya ternyata lihai bukan main.           Ja-ngankan menangkap, menyerang saja mereka tidak mampu lagi, hanya dapat mempertahankan diri, menangkis dan mengelak ke sana ke mari karena kedua orang muda itu mendesak mereka dengan pukulan-pukulan yang cepat dan luar biasa.           Kung Lo Tosu menjadi kabur ma-tanya melihat sinar hitam bergulung-gulung dari kedua lengan lawannya, dan pukulan-pukulan gadis remaja ini me-ngandung hawa yang panas bukan main.           Adapun Kung Thi Tosu juga bingung menghadapi sinar merah dari pukulan Ouwyang Lam, kepalanya pening mencium bau harum yang aneh.            "Adik Siu Bi, kalau kita bunuh mereka, mereka tidak akan dapat mengingat-ingat akan kelihaian kita.           Hayo berlomba lempar mereka ke telaga!" kata Ouwyang Lam sambil tertawa.           Siu Bi memang tidak mempunyai maksud untuk membunuh lawannya karena ia sendiri tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan tosu Kun-lun-pai.           Mendengar ajakan ini, ia berseru keras dan tahu-tahu ia telah berhasil mencengkeram pundak lawannya dan dengan gentakan cepat ia melemparkan tubuh Kung Lo Tosu ke air telaga di depannya.           Tepat pada saat itu juga, Ouwyang Lam ber-hasil pula melemparkan lawannya sehing-ga tubuh kedua orang tosu Kun-lun-pai ini melayang dan terbanting ke dalam alr yang muncrat tinggi- tinggi.           Mereka ge-lagapan, tenggelam dan beberapa saat kemudian timbul kembali megap- megap, berusaha berenang akan tetapi tak berani ke pinggir karena para anggauta Anghwa- pai "sudah berdiri di situ sambil tertawa bergelak.           "Mereka sudah diberi hajaran, biarkan mereka pergi," kata Siu Bi, kakinya ber-gerak dan..           perahu, kecil itu sudah di-tendangnya sampai terbang melayang ke air, dekat kedua orang                     150                      tosu yang gela-gapan itu.           Cepat mereka berenang men-dekati, meraih perahu terus mendayung perahu dengan kedua tangan mereka di kanan kiri perahu.           Perahu bergerak per-lahan ke tengah telaga, diikuti sorak-sorai dan ejekan para anggauta Ang-hwa-pai.           Dapat dibayangkan betapa malunya Kung Thi Tosu dan Kung Lo Tosu, mereka terus berusaha sedapat mungkin meng-gerakkan perahu tanpa dayung, menjauhi pulau dengan niuka sebentar pucat sebentar merah.           Baru setelah perahu mereka bergerak sampai ke tengah telaga, jauh dari pulau, mereka menyuinpah-nyumpah dan meng-ancam akan melaporkan hal;im kepada ketua mereka.           "Pemuda jahanam, gadis liar'" Kung Thi Tosu memaki gemas.           "Awas kalian orang-orang Ang-hwa-pai, Kun-lun-pai takkan mendiamkan saja penghinaan ini!" "Sudahlah, Suheng.           Mari kita gerakkan perahu mendarat dan cepat-cepat kita kembali ke Kun-lun untuk lapor kepada sucouw (kakek guru).          " Kung Lo Tosu menghibur.           Mereka terus mendayung perahu mempergunakan kedua lengan.           Karena mereka berkepandaian tinggi dan tenaga mereka besar, biarpun perahu hanya didayung dengan tangan, perahu dapat meluncur cepat menuju ke darat.           Tiba-tiba dari sebelah kanan meluncur sebuah perahu kecil.           Penumpangnya ha-nya seorang wanita muda yang berdiri di tengah perahu dan menggerakkan dayung ke kanan kiri sambil berdiri saja.           Namun perahunya dapat meluncur laksana di-gerakkan tenaga raksasa! Melihat ini saja, dua orang tosu itu dapat menduga bahwa gadis yang cantik dan gagah ini tentulah seorang berilmu.           Sebaliknya gadis itu pun dapat mengerti bahwa dua orang tosu yang mendayung perahu hanya ; dengan tangan itu tentulah orang-orang berkepandaian tinggi.           Kung Thi Tosu dan Kung Lo Tosu tidak mempedulikan gadis itu, malah mereka segera membuang muka.           Mereka mengira bahwa gadis yang lihai ini ten-tulah orang Ang-hwa-pai, sebangsa de-ngan gadis remaja yang tadi merobohkan Kung Lo Tosu.           Mereka tidak mau men-cari penyakit, tidak mau mencari gara-gara, maka lebih aman membungkam dan.           pura-pura tidak melihat.           Akan tetapi, tidak demikian dengan gadis itu.           la se-ngaja memotong jalan, menghadang pe-rahu mereka.           Karena tidak ingin perahu mereka bertumbukan, terpaksa mereka menahan lajunya perahu dan memandang.           Yang berdiri di tengah perahu kecil itu adalah seorang gadis yang masih muda, seorang gadis yang cantik manis, senyumnya selalu menghias bibir, sepasang matanya tajam berpengaruh, dan di balik kecantikan itu tersembunyi kegagahan Tubuhnya ramping padat, pakaiannya sederhana dan rambutnya yang hita n itu,.           dikuneir ke belakang, melambai- lambai tertiup angin telaga.           Gadis itu menggunakan dayung menahan perahunya, memberihormat'sarri-bil membungkuk dalam dan mengangkat kedua tangan yang memegang dayung ke depan                     151                      dada, lalu berkata, suaranya halus merdu membayangkan watak yang halus pula' "Maaf, Ji-wi Totiang.           Bukan makslidku mengganggu Ji-wi, melainkan saya mo-hon bertanya,  telaga ini telaga apakah namanya dan pulau di depan itu pulau apa, siapa yang tinggal di sana?" Kung Thi Tosu dan sutenya saling pandang, kemudian Kung Thi Tosu ber-tanya, "Nona bukan orang sana? Bukan anggauta Ang-hwa-pai?" Kini gadis itu yang memandang heran, "Bukan, Totiang.           Kalau saya orang pulau itu, masa masih bertanya-tanya.           Saya seorang pelancong yang tertarik akan keindahan telaga ini, dan ingin sekali tahu nama telaga dan pulau itu.          " "Wah, kalau begitu, lebih baik Nona lekas-lekas pergi dari tempat ini.           Amat 'berbahaya, Nona.           Pulau di depan itu adalah Ching-coa-to, pusat perkumpulan Ang-hwa-pai.           Kami berdua tosu dari Kun-lun-pai baru saja terlepas daripada bahaya maut.          " "Akan tetapi tidak terlepas daripada" penghinaan hebat!" sambung KungLoTosu.           Gadis itu tampak mengerutkan alisnya yang hitam dan bagus bentuknya.           "Di sepanjang  perjalanan sudah banyak ku-dengar sepak terjang yang sewenang-wenang dari Ang-hwa- pai.           Siapa duga sampai-sampai berani melakukan penghinaan terhadap Kun-lun-pai.           Kiranya Ji-wi Totiang ini anak murid Kun-lun-pai? Harap Totiang sudi menceritakan kepada saya apakah yang telah terjadi antara Ji-wi dan Ang-hwa-pai?" "Nona siapakah? Pinto tidak dapat menceritakan hal ini kepada orang luar yang tidak pinto kenal, maaf," kata Kung Thi Tosu.           Nona itu mengangguk.           "Memang seharusnya begitulah.           Akan tetapi biarpun Ji-wi Totiang tidak mengenal saya, tentu Bun Lo-sianjin ketua Kun-lun-pai takkan asing nnendengar nama saya dan itakkan marah kepada Ji-wi kalau menaengar bahwa Ji-wi menceritakan urusan ini kepada seorang gadis bernama Tan Cui Sian dari Thai-san.          "  Dua orang tosu itu belum pernah mendengar nama Tan Cui Sian, akan tetapi tentu saja mereka tahu apa arti-nya Thai-san-pai bagi Kun-lun-pai.           Ketua Thai-san-pai yang berjuluk Bu-tek-kiam-ong (Raja Pedang Tiada Lawan) adalah sahabat baik ketua mereka dan kalau nona ini datang dari Thai-san, berarti seorang sahabat pula.           KungThi Tosu lalu menjura dan memberi hormat.           "Kiranya Nona dari Thai-san-pai, ma-af kalau tadi pinto ragu-ragu.           Di antara sahabat sendiri, tentu saja pinto, suka menceritakan urusan ini yang membuat hati menjadi sakit dan penasaran.          " Kung Thi Tosu lalu bercerita tentang semua peristiwa yang telah terjadi.                               152                      Suheng me-reka yang menjadi utusan Kun-lun-pai dibunuh, dan mereka sendiri menerima hinaan dari dua orang inuda yang ainat lihai.           Sepasang mata gadis itu bersinar tajam, kerut keningnya mendalam.           "Hemmm, terlalu sekali mereka itu.           Apakah yang Ji-wi Totiang hendak lakukan sekarang?" "Kami hendak pulang dan melaporkan hal ini kepada ketua kami.          " "Memang sebaiknya begitu.           Urusan inl.          " adalah urusan.           antara Kun-lun-pai dan Ang-hwa- pai, tentu saja saya tidak ber-hak mencampuri, akan tetapi ingin sekali saya bertemu dengan pemuda dan gadis yang telah menghina Ji-wi.           Mereka itu kurang ajar dan terialu mengandalkan kepandaian, hemmm..          "  "Harap Nona jangan main-main di sini.           Mereka itu benar-benar lihai.           Baru yang muda-muda saja begitu lihai, belum ketua mereka, Si nenek Ang-hwa Nio-nio.           Juga anggauta mereka banyak sekali, jahat-jahat pula.           Lebih baik Nona me-ninggalkan tempat ini agar jangan mengalami penghinaan.          " Gadis itu tersenyum.           "Saya justeru ingin mereka itu datang menghina saya.           Selamat jalan, Totiang.           Mendayung perahu dengan tangan tentu tidak dapat cepat.           Biarlah saya rnembantu sebentar! Setelah berkata demiidan, nona ini menggunakan dayungnya yang panjang itu untuk mendorong perahu kedua tosu.           Te-naga dorongannya bukan main kuatnya sehingga perahu ini seakan-akan digerak-kan tenaga raksasa, meluncur ke depan dengan amat cepatnya.           Kung Thi Tosu dan sutenya kaget, heran dan juga girang sekali.           Perahu nona itu sudah menyu-sul dan terus ia mendorong-dorong pe-rahu di depan.           Dengan cara begini, benar saja, kedua orang tosu itu dapat men-capai daratan dalam waktu singkat.           Me-reka meloncat ke darat, memberi hormat ke arah nona berperahu yang sudah meng-gerakkan perahunya ke tengah telaga lagi.           Kung Thi Tosu menarik napas pan-jang.           "Sute, benar-benar perjalanan kita kali ini membuka mata kita bahwa ke-pandaian kita sama sekali belum ada artinya.           Dalam waktu sehari kita telah bertemu dengan tiga orang muda yang memiliki kepandaian jauh melampaui kita.           Aku berjanji akan berlatih lebih tekun kalau kita sudah kembali ke gu- nung," Mereka lalu membalikkan tubuh dan melakukan perjalanan secepatnya pulang ke Kun-lun-pai.           Siapakah sebenarnya gadis lihai berperahu itu? Dia bukanlah seorang pelancong biasa.           Para pembaca cerita Pen-dekar Buta tentu masih ingat akan nama ini, Tan Cui Sian.           Gadis ini adalah puteri dari ketua Thai-san-pai, Si Raja Pedang Tan Beng San dan si pendekar wanita Cia Li Cu yang sekarang sudah menjadi kakek-kakek dan nenek-nenek, memimpin perkumpulan Thai-san-pai yang makin maju dan terkenal.           Suami isteri ini telah berusia empat puluh tahun lebih ketika Cui Sian terlahir, maka mereka sekarang menjadi tua setelah puteri mereka berusia dua puluh tiga tahun.                              153                      Sebagai puteri sepasang pendekar besar yang memiliki ilmu kesaktian, ten-tu saja semenjak kecilnya Cui Sian te-lah digembleng dan mewarisi kepandaian mereka berdua sehingga kini Cui Sian menjadi seorang gadis yang sakti.           Watak-nya pendiam seperti ayahnya, keras se- perti ibunya, cerdi'' dan luas pandangannya.           Hanya satu hal menjengkelkan ayah bunda Cui Sian dan yang membuat ibu-nya sering kali menangis sedih adalah kebandelan gadis ini tentang perjodohan.           Banyak sekali pendekar- pendekar muda, bangsawan-bangsawan berkedudukan ting-gi, yang tergila-gila kepadanya.           Banyak sudah datang lamaran atas dirinya dari orang-orang muda yang memenuhi syarat, baik dipandang dari watak yang baik, kepandaian tinggi dan kedudukan yang mulia.           Namun semua pinangan itu ditolak mentah-mentah oleh Cui Sian! "Ibu, aku tidak mau terikat oleh per-jodohan! Aku..           aku tidak mau seperti enci Cui Bi..          " demikian keputusan Cui Sian di depan ayah bundanya, lalu lari memasuki kamarnya.           Ketua Thai-san-pai bersanna isterinya saling pandang.           Di Raja Pedang meng-elus-elus jenggotnya yang panjang sambil menarih napas berkali-kali, memandang isterinya yang menjadi basah pelupuk matanya.           Teringatlah mereka kepada mendiang Tan Cui Bi, puteri mereka pertama yang tewas menjadi korban asmara gagal.           Di dalam cerita Rajawali Emas dituturkan betapa mendiang Cui Bi yang sudah ditunangkan dengan Bun Wan (sekarang Jenderal Bun di Tai-goan) ter-libat dalam jalinan asmara dengan Kwa Kun Hong (Pendekar Buta) sehingga kare-na gagal, Cui Bi lalu membunuh diri dan Kun Hong membutakan matanya serdiri! Cerita tentang Cui Bi inilah agaKnya yang membuat hati Cui Sian sekarang menjadi ngeri, membuat ia tidak mau bicara tentang perjodohan, bahkan membuat ia seperti membenci ,perjodohan.           "Dia menjadi takut bayangan sendiri, takut akan terulang kesedihan dan mala-petaka yang menimpa diri cicinya.           Biar-lah, kita serahkan saja kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena betapapun juga, Jodoh adalah kehendak Tuhan, tak dapat dipaksakan.           Kalau ia sudah ber- temu jodohnya, tak usah kita paksa iagi, ia tentu akan mau sendiri," demikian kata-kata hiburan ketua Thai-san-pai kepada isterinya.           "Tapi..           tapi..           tahun ini dia sudah berusia dua puluh tiga tahun..          " Isterinya tak dapat melanjutkah kata-katanya, menahan isak dan menghapus air mata.           Kembali Bu-tek Kiam-ong Tan Beng ;San menarik napas panjang.           "Di dalam perjodohan, usia tidak menjadi soal, is-teriku.           Beberapa kali anak kita itu mo-hon untuk diberi ijin turun gunung dan kita selalu melarangnya karena khawatir kalau-kalau terjadi hal seperti yang telah menimpa diri Cui Bi.           Kurasa inilah ke-salahan kita.           Biarkan ia turun gunung, biarkan ia mencari pengalaman, siapa tahu dalam perjalanannya, ia akan ber-temu |odohnya.           Dia sudah dewasa dan tentang kepandaian, kurasa kita tidak perlu mengkhawatirkan                     154                      keselamatannya.           Cui Sian mampu menjaga diri.          " Pernyataan suaminya bahwa si anak mungkin bertemu jodohnya dalam peran-tauan, melunakkan hati nyonya ketua Thai-san-pai , ini.           Dan alangkah girang hati Cui Sian ketika ibunya malam hari itu memberi tahu bahwa ia sekarang diperkenankan turun gunung melakukan perantauan.           Dari ibunya ia menerima pedang Liong-cu-kiam yang pendek dan dari ayahnya ia dibekali pesan, "Kau sudah mencatat semua alamat dari sahabat-sahabat ayah bundamu.           Jangan lupa untuk mampir dan menyampai-kan hormat kami kepada mereka.           Ter-utama sekali jangan lupa mengunjungi Liong-thouw-san, Hoa-san, Kun-lun dan jika kau pergi ke kota raja, jangan lupa singgah di rumah Jenderal Bun.          " "Bekas tunangan cici Cui Bi?" Cui Sian mengerutkan kening.           Ayahnya tertawa.           "Apa salahnya? Dahulu tunangan, akan tetapi sekaran'g hanya merupakan  sahabat baik, karena Bun Wan adalah putera Kun-lun, sedang-kan ketua Kun-lun-pai adalah satabat baikku.          "  Setelah menerima nasihat-nasihat dan pesan supaya hati-hati dari ibunya, be-rangkatlah Cui Sian turun gunung, mem-bawa bekal pakaian dan emas secukupnya, dengan hati gembira.           Demikianlah sekelumit riwayat gadis yang kini berada di telaga itu, dekat Ching-coa-to dan bertemu dengan kedua orang tosu .          Kun-lun-pai.           Karena Kun-lun-pai adalah partai besar yang bersahabat dengan ayahnya, tentu saja Cui Sian menganggap kedua orang tosu itu sebagai sahabat dan ia ikut merasa mendongkol sekali ketika mendengar hinaan yang di- derita orang-orang Kun-lun-pai dari dua orang muda Ching-coa-to.           Setelah me-ngantar kedua orang tosu Kun-lun itu ke darat, Cui Sian lalu mendayung perahu-nya kembali ke tengah telaga, menyebe-rang hendak melihat-lihat sekeliling pulau.           Sementara itu, Ouwyang Lam dan Siu Bi tertawa-tawa di pulau setelah berhasil nnelernparkan kedua orang tosu ke dalam air.           "Jangan ganggu, biarkan mereka pergi!" teriak Ouwyang Lam kepada para anggauta Ang- hwa-pai sehingga beberapa orang yang tadinya sudah berinaksud melepas anak panah, terpaksa membatal-kan niatnya. Siu Bi juga merasa gembira.           Ia Sudah membuktikan bahwa ia suka membantu Ang-hwa-pai dan sikap Ouwyang Lam benar-benar menarik hatinya.           Pemuda ini sudah pula membuktikan kelihaiannya, maka tentu dapat menjadi teman yang baik dan berguna dalam mepghadapi mu-suh besarnya.                               155                      "Adik Siu Bi, bagarmana kalau kita berperahu mengelilingi pulauku yang in-dah ini? Akan kuperlihatkan kepadamu keindahan pulau dipandang dari telaga, dan ada taman-taman air di sebelah selatan sana.           Mari!" Siu Bi mengangguk dan mengikuti Ouwyang Lam yang berlari-larian meng-hampiri sebuah perahu kecil yang berada di sebelah kiri, diikat pada sebatang pohon.           Bagaikan dua orang anak-anak sedang bermain-main, mereka dengan gembira melepaskan perahu dan nail- ke dalam perahu kecil ini.           Ouwyang -iam mengambil dua buah dayung, lalu kedlua-nya mendayung perahu itu ke terigah, diikuti pandang mata penuh maklum oleh para anak buah Ang-hwa-pai.           "Wah, kongcu mendapatkan seorang kekasih baru," kata seorang anggauta yang kurus kering tubuhnya, jelas dalam suaranya bahwa dia mengiri.           "Hemmm, tapi yang satu ini sungguh tak boleh dibuat main-main.           Ilmu kepan-daiannya hebat.           Saingan berat bagi paicu.,." kata temannya yang gendut.           "Sssttttt..           apa kau bosan hidup?" i cela si kurus sambil pergi ketakutan.           Ouwyang Lam dan Siu Bi tertawa-tawa gembira ketika mendayung perahu sekuat tenaga  sehingga perahu itu me-luncur seperti anak panah cepatnya.           Pe-muda itu menerangkan keadaan pulau dan Siu Bi beberapa kali berseru kagum.           Memang bagus pulau i+i+biarpun tidak berapa besar namun mempunyai bagian-bagian yang menarik.           Ada bagian yang penuh bukit karang, ada bagian yang nnerupakan taman bunga amat indahnya.           "Lihat, di sana itu adalah pusat ular-ular hijau.           Tidak ada musuh yang berani menyerbu Ching-coa-to, karena sekali karni melepaskan ular-ular itu, mereka akan menghadapi barisan ular yang lebih hebat daripada barisan manusia bersenjata.          " Siu Bi bergidik.           la melihat banyak sekali ular-ular besar kecil berwarna hi-jau, keluar masuk di lubang-lubang batu karang.           "Apakah binatang-binatang itu tidak berkeliaran di seluruh pulau dan membahayakan kalian sendiri?" tanyanya.           Ouwyang Lam tersenyum.           "Kami mempunyai minyak bunga yang ditakuti ular-ular hijau itu.           Sekeliling daerah batu karang telah kami sirami minyak dan para penjaga selalu siap menyiram roi-nyak baru jika yang lama sudah hilang pengaruhnya.           Dengan pagar minyak itu, ular hijau tidak berani berkeliaran.          " "Tapi..           apa perlunya memelihara ular sebanyak itu?" "Sebetulnya tenaga mereka tidak te-rapa kami butuhkan.           Hanya racunnya.. racun mereka  karni anibil dan Nio-nio artiat pandai membuat obat dan senjata dari racun-racun itu.          "                    156                      "Ahhh..           hebat kalau begitu'" Siu Bi berseru kagum.           Perahu digerakkan lagi.           "Lihat, di sana itu adalah taman bunga kami.           Bukan main senangnya beris-tirahat di sana,  hav'anya nyaman, baunya , harum dan keadae di situ benar-benar menenteramkan perasaan orang.          " "Aduh, bagusnya..           mari kita men-darat ke sana..           wah, indahnya seruni-seruni di ujung sana rtu.           Beraneka warna dan sedang mekar..          !" Ouwyang Lam melirik dengah hati gembira ke arah nona cantik di sebelah-nya ini.           Alangkah akan bahagianya kalau tiba saatnya dia dapat bersenang-senang dengan gadis ini di taman, sebagai ke-kasihnya! "Nanti, Moi-moi, kita keliling dulu dengan perahu.           Karena kau menjadi orang sendiri, seluruh pulau dan isinya ini ang-gaplah tempatmu sendiri.           Akan tetapi untuk dapat menikmati tempat kita ini, kau harus lebih dulu mengenal bagian-bagian yang indah, yang berbahaya dan lain-lain.           Jangan khawatir, masih banyak waktu untuk kau bermain sepuasmu di dalam taman itu.           Di sana terdapat be-berapa pondok kecil yang nyaman dan aku akan minta kepada Nio-nio agar kau diperbolehkan menempati sebuah di an-tara pondok-pondok di taman itu.           Aku juga tinggal di sebuah di antara pondok-pondok kecil di sana.          " Sambil berkata demikian, Ouwyang Lam melirik dengan tajam, ingin raelihat bagaimana reaksi dari gadis itu.           Akan tetapi, Siu Bi bersikap biasa saja, hanya ia amat gembira mendengar ini, akan tetapi sama sekali tidak memperlihatkan tanda bahwa ia mengerti akan isyarat dalam ucapan Ouwyang Lam.           Memang, ia seorang gadis remaja yang masih hijau, mana ia mengerti akan kata-kata menyimpang itu?  Perahu didayung lagi.           "Mari ktla se- 1 karang melihat taman air..          " ucapan Ouwyang Lam terhenti karena pada saat itu mereka berdua melihat sebuah perahu kecil yang meluncur laju dari depan.           Seorang gadis mendayung perahu itu sambil berdiri di tengah perahu, meman-dang kepada mereka dengan mata me-lotot.           Heran benar dia mengapa hari ini begitu baik untungnya sehingga matanya sempat melihat lagi seorang gadis yang begini cantik jelita setelah bertemu de-ngan Siu Bi.           Adapun Siu Bi sendiri juga kagum karena dalam pandang matanya gadis yang sendirian di perahu itu mem-bayangkan sifat yang gagah sekali dalam kesederhanaan pakaiannya.           Perahu mereka kini berhadapan dan kedua fihak menahan perahu dengan ge-rakan dayung.           Sejenak tiga orang ini saling pandang, penuh selidik.                               157                      Ouwyang Lam yang selalu tidak mau melewatkan kesempatan untuk mencari muka dan bermanis-manis terhadap gadis cantik, segera mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat sambil tersenyum dan menegur.           "Nona, aku Ouwyang Lam tidak per-nah berternu muka denganmu.           Agaknya Nona adalah seorang tamu yang hendak mengunjungi Ang-hwa-pai.           Kalau memang demikian halnya, dapat Nona bicara de-ngan aku yang mewakili ketua Ang-hwa-pai.          " Cui Sian .          sudah menduga bahwa tentu dua orang ini yang tadi menghina tosu-tosu Kun- lun-pai, sekarang mendengar pemuda itu memperkenalkan nama, ia tidak ragu-ragu lagi.           "Aku.          seorang pelan-cong, sama sekali tidak ada urusan dengan Ang-hwa-pai atau perkumpulan ja-hat manapun juga!" Sengaja ia menjawab ketus karena memang ia hendak mencari perkara dan memberi hajaran kepada orang-orang muda yang dianggapnya jahat itu.           Siu Bi mendengar ini, tak dapat me-nahan tawanya.           Memang Siu Bi wataknya aneh.           Senang ia melihat gadis itu berani menghina Ang-hwa-pai secara begitu terang-terangan di depan Auwyang Lam, maka ia tertawa, tentu saja mentertawa" kan pemuda itu.           Mendengar suara ketawa ditahan ini, Ouwyang Lam mendongkoLi Alisnya yang tebal berkerut dan matanyai memandang galak kepada Cui Sian, akan tetapi karena benar-benar gadis di de-pannya itu cantik jelita, tidak kalah oleh Siu Bi sendiri, dia masih menahan kemarahannya dan mempermainkan senyum pada bibirnya.           "Nona yang baik, ketahuilah bahwa telaga ini termasuk wilayah Ang-hwa-pai, jadi kau kini telah berada di dalarn wilayah kami.           Karena itu berarti kau sudah menjadi tamu kami, maka tadi aku sengaja bertanya.           Andaikata kau hanya pelancong biasa dan tidak mempunyai urusan dengan Ang-hwa-pai, akan tetapi karena tanpa kausadari kau telah men-jadi tamuku, tiada buruknya kalau kita menjadi sahabat.          " Kembali Siu Bi tersenyum dan meng-ejek, "Wah, kau benar-benar amat sabar dan ramah, Ouwyang-twako!" Kalau Siu Bi mengejek karena me-ngira Ouwyang Lam takut-takut dan jerih, adalah Cui Sian yang menjadi mu-ak perutnya.           la lebih berpengalaman atau setidaknya lebih mengenal watak pria daripada Siu Bi yang hijau maka ia dapat menangkap nada suara kurang ajar dalam ucapan Ouwyang Lam.           Dengan ketus ia menjawab, "Kau manusia sombong.           Kurasa telaga ini adalah buatan alam, bagaimana Ang-hwa-pai berani mengaku sebagai hak dan wilayahnya? 'Eh, bocah, apakah kau yang berani menghina bahkan membunuh tosu dari Kun-lun-pai?"                    158                      Ouwyang Lam terkejut dan hilang keramahannya.           Juga Siu Bi hilang senyumnya.           Mereka berdua bangkit berdiri dan memandang Cui Sian dengan curiga.           Ka-lau gadis ini datang membela Kun-lun-pai, berarti dia itu musuh! "Kalau betul begitu, kau mau apakah?" teriak Ouwyang Lam.           "Apakah kau anak nuirid Kun- lun-pai yang hendak menuntut balas?" öAku bukan anak murid Kun-lun-pal juga tidak tahu-menahu tentang permusuh-an kalian dengan Kun-lun-pai.           Akan te-tapi kebetulan sekali aku bertemu de-ngan dua orang tosu Kun-lun-pai yang telah kalian hina.           Tosu-tosu Kun-lun-pai bukanlah orang-orang jahat, maka kalau kalian sudah berani menghina mereka, kalian benar-benar merupakan orang- orang kurang ajar dan mengandalkan kepandaian.           Kalau bicara tentang kegagahan, agaknya aku lebih condong menganggap kalianlah yang bersalah dan jahat.          " "Heeei, orang liar dari mana datang-datang membuka mulut asal bunyi saja?" Siu Bi berseru marah.           "Dua orang tosu bau itu memang kami berdua yang melempar ke dalam air, habis kau mau apa ?ö.           "Hemmm, aku tidak akan mencampuri urusan orang lain.           Akan tetapi aku pun tidak biasa membiarkan orang berlaku sewenang-wenang.           Kau menghina dan melempar orang ke air, sekarang aku pun hendak melempar kalian ke dalam air!" "Sombong! Twako, mari kita lempar bocah sombong ini dari perahunya!" Siu Bi menggerakkan dayungnya, diikuti oleh Ouwyang Lam yang bermaksud meroboh-kan dan menawan gadis cantik yang som-bong itu.           "Plakkk-plakkkkk!" Siu Bi dan Ouwyang Lam berseru kaget sekali karena dayung mereka ter-tangkis oleh dayung di tangan Cui Sian.           Demikian kuat dan hebatnya tangkisan itu sehingga hampir saja Siu Bi dan Ouw-yang Lam tak dapat menahan dan me-lepaskan dayung.           Telapak tangan mereka terasa panas dan sakit-sakit.           Hal ini sama sekali tak pernah mereka duga karena tadi mereka memandang rendah sekali, dan sesaat mereka kaget dan bingung.           Sebelum mereka dapat memperbaiki kedudukan, perahu mereka tertum-buk oleh perahu Cui Sian dan dayung di , tangan Cui Sian secara dahsyat sekali telfih menerjang mereka.           Perahu miring, dua orang muda itu hampir terjengkang ,ke belakang dan oleh karena kedudukan yang buruk sekali dan lemah ini, sampaidayung di tangan Cui Sian tak dapat mereka tangkis lagi dan jalan satu-satunya bagi mereka untuk menyelamat-kan diri hanya melempar diri ke bela-kang.           Terdengar suara keras dan air memercik tinggi ketika dua orang itu ^terlempar ke dalam air juga perahu mereka telah terbalik! Ouwyang Lam yang pandai berenang itu cepat menyambar lengan tangan Siu Bi yang gelagapan dan menarik gadis itu ke arah perahu mereka lyang terbalik.           Karena dayung mereka terlempar dan mereka berada di bawah ancaman dayung Cui Sian, mereka tak dapat berbuat sesuatu kecuali memegangi                     159                      perahu yang terbalik dengan muka dan kepala yang basah kuyup! "Ketahuilah, aku bernama Tan Cui Sian, bukan anak murid Kun-lun-pai, hanya seorang  pelancong yang kebetulan' lewat dan tidak senang melihat kekurang-ajaranmu.           Harap kali ini kalian mengang-gap sebagai pelajaran agar lain kali ja-ngan kurang ajar dan sombong lagi.          " Setelah berkata demikian Cui Sian men-dayung perahunya pergi meninggalkan dua orang yang tak berdaya dan memegangi perahu terbalik itu.           "He, manusia curang!" Siu Bi berteriak marah, memaki-maki.           "Tunggu aku di darat kalau kau memang gagah dan kita bertanding sampai sepuluh ribu jurus! Tidak bisa kau menghina Cui-beng Kwan Im dan pergi enak-enak begitu saja!" Cui Sian menoleh dan tersenyum mengejek.           "Julukannya saja Cui-beng (Pengejar Roh), biarpun cantik seperti Kwan Im, tetap saja jahat.           Bocah masih ingusan, siapa takut padamu? Kutunggu kau di darat dan aku tanggung kau akan kulempar sekali lagi ke dalam air!" Siu Bi memaki-maki, akan tetapi apa dayanya? Mengejar perahu itu yang tak mungkin.           Lain dengan Ouwyang Lam biarpun amat mendongkol dan malu, namun segera bersuit nyaring memberi aba-aba kepada anak buahnya.           Beberapa buah perahu hitami meluncur cepat dari balik alang-alang, menghampiri Ouwyang Lam dan Siu Bi yang kini sudah berhasil membalikkan perahu dan melompat ke dalam perahu dengan pakaian basah ku-yup.           "Kejar iblis betina itu, gulingkan pe-rahunya dan tangkap dia.           Ingat, harus gulingkan perahunya lebih dulu!" perintah Ouwyang Lam ini segera ditaati oleh tiga buah perahu yang masing-masing berpenumpang tiga orang.           Sembilan orang ahli air Ang-hwa-pai melakukan penge-jaran.           Ouwyang Lam dan Siu Bi meng-ikuti dari belakang setelah Ouwyang Lam terjun dan berenang mengambil dayung-dayung mereka yang tadi terlempar.           Cui Sian yang sama sekali tidak men-duga bahwa la akan dikejar, dengan hati puas mendayung perahunya ke tengah telaga, tidak tergesa-gesa pergi men-darat karena ia ingin melihat-lihat pulau itu dari dekat.           Tak lama kemudian baru-lah ia melihat tiga buah perahu hitam meluncur cepat mendekati perahunya.           la dapat menduga bahwa mereka itu tentu-lah orang-orang Ang-hwa-pai, apalagi setelah dekat ia melihat bunga merah tersulam di baju mereka.           Akan tetapi tentu saja ia tidak takut, malah me-nanti kedatangan mereka dengan dayung di tangan, siap menghantam dan meng-hajar mereka yang berani mengganggunya.           Akan tetapi, ia mulai terkejut me-lihat sembilan orang di dalam tiga buah perahu itu semua melompat ke dalarp air dan tidak muncul lagi.           Mereka menyelatn! Cui Sian dapat menduga apa yang akan mereka lakukan.           Cepat ia mendayung perahunya meluncur pergi, namun ter- lambat.           Perahunya berguncang hebat.           la berdiri mempergunakan ginkangnya, meng-atur keseimbangan tubuh agar jangan sampai terjungkal ke dalam air.           Malah dayungnya berhasil mengemplang pung-gung seorang penyelam yang segere me-nyelam dan berenang- pergi                     160                      sambil me-rintih-rintih.           Akan tetapi akhirnya perahu-nya terguling! Namun dengan gerakan yang amat indah, tubuh Cui Sian mencelat ke atas dan dengan berjungkir balik beberapa kali, tubuhnya cukup lama ber-ada di atas sehingga ketika ia meluncur turun, perahunya sudah terbalik dan ter-apung lagi.           la mendarat di atas perahu-nya yang terbalik itu, siap dengan da-yungnya.           Para penyelam melihat ini men-jadi kagum sekali, juga penasaran.           Mere-ka menyelam lagi mendekati dan berusaha menggulingkan perahu yang sudah terbalik agar nona itu ikut tenggelam.           Akan tetapi Cui Sian dengan dayungnya nnempertahankan perahunya.           Dua orang penyelam kena dihaJ'ar tangan mereka sehingga tulangnya patah, seorang penye-lam lagi terpaksa dibawa pergi temannya karena kemplangan pada kepalanya mem-buat dia pingsan.           Ouwyang Lam dan Siu Bi sudah tiba di situ.           Melihat betapa gadis kosen itu masih belum dapat ditangkap, malah mengamuk menipertahankan perahu yang sudah terbalik itu, melukai beberapa orang penyelam, dia menjadi marah dan diam-diam kaget juga.           Gadis itu benar-benar lihai.           Hatinya tidak enak sekali.           Kemudian dia bersuit memberi tanda kepada ternan-temannya yang sudah mun-cul di permukaan air, tidak berani men-dekati perahu terbalik itu.           Kini hanya tinggal empat orang penyelam yang belum terluka, akan tetapi mereka jerih, tidak berani mendekat.           Setelah Ouwyang Lam bersuit, nnereka menyelam lagi.           Ouwyang Lam mendayung perahunya yang meluncur cepat mendekati perahu Cui Sian yang terbalik.           "Adik Siu Bi, kesempatan kita untuk membalas!" kata-nya, Siu Bi sudah bersiap dengan dayungnya.           Ketika perahu mereka sudah det-at, Ouwyang Lam dan Siu Bi menggerakkan dayung.           Kali ini mereka berlaku hati-hati, dayung mereka menerjang hebat dengan pengerahan tenaga.           Sebaliknya, Cui Sian berada dalam keadaan yang amat buruk.           Berdiri di atas perahu terbalik amat licin dan terlalu sempit, sedangkan dua buah dayung yang menye-rangnya itu pun tak boleh dibuat main-main.           Tadi pun ia sudah dapat kenyataan bahwa kedua orang muda ini memiliki kepandaian tinggi, hanya karena tadi memandang rendah kepadanya maka dalam segebrakan saja ia berhasil melempar mereka ke air.           la maklum bahwa ke-adaannya berbahaya sekali.           Namun, Cui Sian memiliki sifat yang amat tenang, juga tabah.           la tidak menjadi gentar, malah mengejek, "Beginikah cara orang gagah? Menge-royok dengan cara yang licik?" Merah muka Siu Bi.           Sesungguhnya ia benci akan cara dennikian ini, akan tetapi semua itu  yang mengatur adalah Ouwyang Lam, ia sebagai tamu tak da-pat berbuat lain.           Untuk diam saja tidak ikut mengeroyok juga tidak enak, apalagi ia tadi sudah' dibikin basah kuyup dan merasa amat marah kepada gadis ber-nama Cui Sian itu.           Dengan tenaga dalamnya yang murni dan amat kuat serta gerakan dayungnya yang hebat, Cui Sian masih dapat mem-pertahankan diri daripada desakan kedua buah dayung lawannya.           Akan tetapi tiba-tiba perahu yang diinjaknya berguncang hebat.           Kini ia tidak mungkin dapat melawan orang-orang yang berada di dalam air karena dua batang dayung                     161                      yang meng-aneamnya dari depan sudah cukup berbahaya.           la berusaha mempertahankan diri, akan tetapi ketika tiba-tiba perahu " yang diinjaknya itu tenggelem, tak mung-kin lagi ia mempertahankan diri.           la ikut tenggelam dan di lain saat ia gelagapan karena seperti juga Siu Bi, ia adalah seorang puteri gunung dan tak pandai berenang! Sungguhpun demikian, ketika dua orang penyelam berusaha menangkap dan memeluknya, mereka itu memekik kesakitan dan pingsan terkena sampokan tangannya! Melihat ini, Ouwyang Lam terjuft ke air.           Cui Sian sudah gelagapan dan me-helan air, tentu saja bukan lawan Ouw-yang Lam yang selain berkepandaian tinggi, juga ahli bermain di air.           Sebelum Cui Sian sempat mempertahankan diri, sebuah saputangan merah yang diambil pemuda itu dari saku bajunya, telah me-nutup mukanya.           la mencium bau harum dan..           tak ingat iiri lagi.           Ouwyang Lam menyeretnya san Jil berenang dan memondongnya naik ke perahu, melempar tubuh yang pingsan dan basah kuyup itu ke dalam perahu.           Siu Bi mengerutkan keningnya.           "Mau diapakan ia ini, Ouwyang-twako?" Mendengar pertanyaan ini dan me-lihat pandang mata Siu Bi yang tajam penuh selidik,  Ouwyang Lam menjadi agak gagap ketika menjawab.           "Diapakan? Dia..           eh, tentu saja ditawan.           Hal ini harus dilaporkan kepada Nio-nio.           Gadis ini mencurigakan sekali, Siauw-moi (Adik Kecil).           Kepandaiannya tinggi dan andai-kata dia benar-benar bukan orang Kun-lun- pai, mengapa ia memusuhi kita? Dan mengapa pula ia berperahu di sini?" "Kan ia sudah bilang bahwa ia se-orang pelancong..          " bantah Siu Bi, tidak setuju melihat gadis ini ditawan secara begitu.           Ouwyang Lam tersenyum, maklum bahwa gadis ini mulai menaruh curiga.           la harus berhati- hati, pikirnya.           "Jangan kau khawatir, Moi-moi.           Dia ini ditawan ha-nya untuk ditanyai kelak.           Kalau ternyata benar dia itu hanya seorang pelancong yang iseng dan gatal tangah, tentu saja kami akan membebaskannya.           Biarlah dia ditawan beberapa hari hitung-hitung membalas penghinaannya atas diri kita berdua.          " Puas hati Siu Bi dengan jawaban ini.           Sambil mendayung perahu kembali ke pulau, diam- diam Siu Bi mengagumi ke-cantikan gadis yang telentang di depan-nya.           Benar-benar cantik jelita dan manis sekali.           Sayang dia sombong, pikirnya, dan pernah menghinaku.           Kalau tidak, hemmm, senang juga mempunyai kawan yang.           juga memiliki kepandaian tinggi ini.           la melihat benda mengganjal di atas pinggang belakang.           Dirabanya, ternyata gagang pedang.           Dengan perlahan disingkapnya baju luar itu dan ditariknya pedang itu.           Sebuah pedang pendek akan tetapi begitU Siu Bi mencabutnya dari sarung, mata-nya silau oleh sinar yang putih gemerlapan.           "Wahhh, peaang yang hebat, pusaka ampuh!" seru Ouwyang Lam.           "Moi-nioi, kau benar.           Pedang itu harus dirampas, kalau ,tidak dia bisa mernbikin kacau setelah siuman.          "                    162                      Ucapan ini membikin muka Siu Bi makin merah.           Sama sekali ia tidak mem-punyai niat untuk merampas pedang orang, hanya ingin melihat.           Akan tetapi tiba-tiba ia berpikir.           Pedang pusakanya sen-diri ia tinggalkan kepada Jaka Lola.           la tidak bersenjata.           Tiada salahnya ia me-nyimpan dulu pedang ini, dan mudah kalau segala sesuatu beres, ia kembalikan kepada yang punya.           Dari pada dirampas oleh Ouwyang Lam.           Ia belum percaya.           penuh kepada pemuda ini atau kepada "bibi Kui Ciauw".           Dalam keadaan masih pirigsan, Cui Sian dibawa ke daratan pulau, dihadapkan kepada Ang- hwa Nio-nio.           Nenek ini me-ngerutkan alisnya ketika mendengar la-poran Ouwyang Lam.           la memeriksa bun-talan pakaian Cui Sian yang juga dibawa ke situ oleh anak buah yang menemukan-nya dari perahu yang terbalik.           Akan tetapi isinya hanya beberapa potong pa- kaian dan sekantung uang emas.           Tidak terdapat sesuatu yang membuka rahasia tentang diri gadis aneh itu.           Ang-hwa Nio-nio lalu mengeluarkan sehelai saputangan berwarna biru, mengebutkan saputangan itu ke arah hidung Cui Sian, kemudian dengan saputangan itu pula ia menotok belakang leher.           Ujung saputangan dapat dipergunakan untuk menotok jalan darah, hal ini saja membuktikan kelihaian ne' ek ini.           Kiranya saputangan biru itu mengin-dung obat pemunah racun merah.           Tak lama kemudian Cui Sian menggerakkan pelupuk matanya dan pada saat matanya terbuka, gadis ini sudah melompat ba-ngun dan berada dalam keadaan siap siaga! la memandang ke sekelilingnya, melihat muda-mudi bekas lawannya tadi berada di situ bersama seorang nenek berpakaian serba merah dan beberapa orang lak-laki setengah tua yang me-makai tanda bunga merah di dada.           Di pinggir berdiri pelayan-pelayan wanita.           Maklum bahwa dirinya dikepung musuh, Cui Sian meraba pinggangnya.           Pedangnya tidak ada! Akan tetapi gadis ini tenang-tenang saja, sama sekali tidak menjadi gentar atau gugup.           la malah tersenyum inengejek dan berkata, "Bagus! Kiranya Ang-hwa-pai penuh tipu muslihat.           Kalian secara curang ber-hasil menawan aku, mau apa?" Ang-hwa Nio-nio membentak ketus, "Bocah sombong, berani berlagak di de-panku! Sudah diampuni jiwanya masih sombong.           Kalau tadi kami turun tangan membunuhmu, kau akan bisa apa?" Cui Sian memandang nenek itu, pan-dang matanya tajam sekali membuat si nenek diam- diam tercengang dan menduga-duga, siapa gerangan gadis yang bernyali besar dan penuh wibawa ini.           "Agaknya kau adalah ketua Ang-hwa-pai.           Nah, katakan kehendakmu.           Soal mati hidup, kau membunuhku pun aku tidak takut, kau membebaskan aku pun tidak merasa berhutang budi.          "  "Bocah, lebih baik larutkan keangkuh-anmu ini dan lekas kau mengaku, siapa yang menyuruh kau datang memata-matai Ang-hwa-pai' dan membikin kacau? Kalau tidak ada yang menyuruh, apa maksud kedatanganmu? Jawab sebenarnya, jangan membikin aku habis                     163                      sabar.           Apa hubungan-niu dengan Kun-lun-pai?" "Tidak ada yang menyuruhku, Kun-iun-pai tiada sangkut-pautnya denganku.           Aku seorang  pelancong, kebetulan lewat dan pesiar di telaga, bertemu dengan dua orang tosu Kun-lun- pai.           Kuanggap dua orang bocah ini keterlaluan, maka aku sengaja hendak memberi hajaran.           Dengan curang mereka berhasil menawan aku, terserah kalian mau apa sekarang.           Mau bertanding sampai seribu jurus, hayo!" Kembali Ang-hwa Nio-nio tercengang dan diam-diam harus ia akui bahwft gadis 'seperti ini tentu tak boleh dipandcmg ri-hgan.           "Siapakah kau dan dari mana kau datang?" "Sudah kukatakan kepada dua orang 1 bocah ini, namaku Tan Cui Sian dan aku tbukan orang Kun-lun-pai, sungguhpun ;^ Kun-lun-pai merupakan partai segoiongan ;idengan Thai-san-pai.          " Berubah wajah Ang-hwa Nio-nio.           "Kau anak murid Thai-san-pai? Kau..           kau she Tan, apamukah Bu-tek Kiam-ong Tan Beng San si kakek ketua Thai-san-pai?" "Dia ayahku..          " "Keparat! Kiranya kau menyerahkan nyawa anakmu kepadaku, manusia she Tan?" Sambil  berseru keras Ang-hwa Nio-nio sudah menerjang maju, tangannya menghantam dan sinar merah membayang pada pukulannya ini.           Cui Sian sudah siap sejak tadi.           la maklum bahwa nenek ini tentulah se-orang sakti dan alangkah kecewanya bahwa ia tadi telah mengaku dan me-nyebut nama ayahnya dan Thai- san-pai.           Ternyata pengakuan itu hanya mendatang-kan bahaya bagi dirinya karena ternyata bahwa nenek ini kiranya adalah musuh ayahnya.           Ayahnya, Si Raja Pedang Tan Beng San, memang mempunyai banyak sekali musuh, terutama dari golongan hitam (baca cerita Raja Pedang dan Rajawali Emas).           Setelah terlanjur membuat pengakuan, ia sekarang harus menghadapi bahaya dengan tabah.           Cui Sian bukan seorang gadis nekat seperti Siu Bi.           Dia seorang yang berpemandangan luas, cer-dik dan dapat melihat gelagat.           Tentu saja ia maklum bahwa seorang diri, amat-lah berbahaya baginya untuk menghadapi orang-orang Ang-hwa-pai di tempat mereka sendiri.           Apalagi ia bertarigah ko-song, kalau ada Liong-cu- kiam di tangan-nya masih boleh diandalkan.           Maka, me-lihat datangnya pukulan maut yang me-ngandung sinar merah, ia cepat miring-kan tubuh dan mainkan jurus Im-yang-kun- hoat yang ia warisi dari ayahnya.           Kedua tangannya dengan pengerahan dua macam tenaga Im dan Yang, menangkis sambaran tangan Ang-hwa Nio-nio yang tak mungkin dapat dielakkan lagi itu.           "Dukkk!" Tubuh Cui Sian terlempar sampai ke luar dari pintu ruangan, sedangkan ketua Ang-hwa-pai itu kelihatan meringis kesakitan.           Terlemparnya tu-buh Cui Sian memang                     164                      disengaja oleh gadis itu sendiri karena pertemuan tenaga mujijat itu memberi kesempatan kepadanya untuk melarikan diri, atau setidaknya keluar dari ruangan yangsem-pit itu agar kalau dikeroyok, ia dapat melawan lebih leluasa di tempat yang luas di luar rumah.           "Bocah setan, lari ke mana engkau?" Ang-hwa Nio-nio berrseru, kemudian me-noleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata, "Kejar, ia dan ayahnya adalah sekutu musuh besar kita.           Pendekar Buta!" Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-hwa Nio-nio.           Juga para pembantu pengurus Ang-hwa-pai beramai-ramai ikut mengejar.           Tentu saja Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerak-annya sehingga para pembantu itu ter-tinggal jauh.           Ternyata Cui Sian memiliki ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang.           Akan tetapi karena ia tidak me-ngenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang.           Melihat ini, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang.           Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan me-ngetahui persoalannya.           Wajahnya seketika berubah pucat.           Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau! la bergidik dan diam-diam ia merasa tidak senang.           Boleh saja mendesak dan me-nyerang musuh, akan tetapi tidak secara pengeeut dan menggunakan akal busuk.           Melihat di depannya batu-batu karang yang sukar dilalui, dan tiga orang penge-jarnya masih terus mengejar dari be-lakang, Cui Sian terpaksa berhenti, mern+ balikkan tubuh dan tersenyum mengeje' "Kalian bertiga hendak mengeroyoKku yang bertangan kosong? Bagus, memang benar gagah orang-orang Ang-hwa-pai! Setelah merampas pedang, kini mengeroyok.          " Ouwyang Lam yang tadinya tertarik sekali akan kecantikan Cui Sian kini timbul kemarahannya.           la telah dibikin malu, dan sekarang tiba saat baginya untuk menibalas.           la memang pernah di-robohkan, akan tetapi hal itu terjadi karena dia memandang rendah dan ke-jadian itu hanya dapat dialami secara tidak tersangka-sangka.           Sekarang mereka berhadapan dan dapat mengandalkan ilmu kepandaian mereka.           la tidak percaya bahwa dia takkan dapat menangkan seorang gadis! Mendengar ejekan ini dia berkata, "Nio-nio, biarkan aku meng-hadapi gadis sombong ini!" la melompat maju dan dengan nada suara mengejek pula dia menjawab Cui Sian, "Perempuan sombong.           Kaukira di dunia ini tidak ada yang dapat mengalah+ kanmu? Kau bertangan kosong? Lihat, aku pun akan menghadapimu dengan ta-ngan kosong, kaukira aku tidak berani? Akan tetapi kalau nanti kau tidak berlutut dan minta-minta ampun tujuh kali kepadaku, aku takkan melepaskanmu!"                    165                      Cui Sian menggigit bibirnya saking gemas dan marahnya.           Baginya, ucapan ini pun mengandung arti yang kotor dan menghina.           Tak sudi ia banyak cakap lagi, tubuhnya segera nnenerjang maju dengan seruan nyaring.           "Lihat pukulan!" Seruan begini adalah lajim dilakukan oleh pen-dekar-pendekar yang pantang menyerang orang tanpa peringatan lebih dulu, ber--beda dengan sifat rendah tokoh-tokoh dunia hitam .          yang selalu menyerang se- cara sembunyi, malah mempergunakan kesempatan selagi lawan lengah untuk merobohkan lawan itu.           Ouwyang Lam cepat mengelak dan sambaran angin pukulan gadis ini cukup meyakinkan hatinya bahwa dia tidak boleh main-main menghadapinya.           Maka dia pun lalu cepat menggerakkan kaki tangan, mainkan Ilmu Silat Bintang Terbang sambil mengerahkan tenaga Ang-tok-ciang sehingga dari kedua tangannya itu menyambar-nyambar sinar merah karena hawa beracun Ang-tok sudah taK menuhi pukulan-pukulan itu.           Akan tetapi, Cui Sian bukanlah gadis sembarangan.           la puteri Raja Pedang dan ketua Thai- san-pai yang sakti, yang semenjak kecil telah menggemblengnya de-ngan ilmu-ilmu kesaktian.           Raja Pedang cukup mengenal ilmu-ilmu dari dun a hitam, maka pengertiannya tentang ini ia turunkan kepada puterinya semua sehing-ga kini, menghadapi pukulan- pukulan yang mengandung hawa beracun bersinar merah, Cui Sian sama sekali tidak rnenjadl gentar.           Kalau tadi ia dapat ditangkap, hnl itu adalah karena ia tidak pandai berenang.           Sekarang, sama-sama nieng-gunakan tangan kosong, jangan harap Ouwyang Lam akan dapat mengatasinya.           Dengan jurus-jurus Im-yang-sin-kun yang luar biasa, Cui Sian dapat menolak Se-mua terjangan lawan, bahkan mulai men-desak dengan hebat.           Ouwyang Lam terkejut setengah mati.           Selama ia menjadi murid dan kekasih Ang-hwa Nio- nio dan telah mewarisi ilmu kesaktian wanita ini, belum pernah ia menemui tanding yang begini hebat di samping Siu Bi.           la menjadi bingung oleh gerakan Cui Sian yang mengandung dua unsur tenaga yang berlawanan itu.           Di suatu saat, pukulan Cui Sian bersifat keras, di lain detik merupakan pukulan lunak tapi berbahaya.           Memang di sini letak kehebatan Im-yang- sin-kun, ilmu silat yang berbeda dengan ilmu silat lain.           Ilmu-ilmu yang lain hanya mempunyai satu sifat, lembek atau keras, kalau lem-bek mengandalkan tenaga Iweekang, ka-lau keras mengandalkan gwakang.           Akan tetapi gadis cantik ini mencampur-aduk Iweekang dan gwakang, mencampur aduk hawa Im dan Yang dalam terjangannya, pencampuradukan yang amat rapi karena memang menurut Ilmu Sakti Im-yang-sin-kun yang ia warisi dari ayahnya.           Setelah lewat lima puluh jurus, Ouw-yang Lam tidak kuat lagi.           Hendak men-cabut pedangnya, dia merasa malu ka-rena di situ terdapat Siu Bi yang ikut menonton.           Masa melawan seorang gadis, setelah dia menyombong tadi, sama-sama dengan tangan kosong dia harus mencabut pedang? Memalukan sekali, lebih menialukan daripada kalau dia kalah dalam pertandingan ini.           la mengerahkari tenaga mengumpulkan semangat dan me-nerjang dengan buas.           Kini dia menggunakan jurus Bintang Terbang Terjang Bulan, tubuhnya                     166                      melayang ke depan, kedua tangannya mencengkeram ke arah dada dan leher.           Serangan hebat yang mematikan! Seketika wajah Cui Sian menjadi merah.           Di samping kehebatannya, serangan ini pun tidak sopan.           la membiarkan kedua tangan lawan itu menyambar dekat, memperlihatkan sikap gugup dan bingung.           Ouwyang Lam girang sekali, akan ber-hasil agaknya dia kali ini.           "Awas.          ,..          !!" Ang-hwa Nio-nio berseru dan melompat ke depan.           Terlambat su-'dah, tubuh Ouwyang Lam terbanting dari samping dan pemuda ini roboh berguling+ an di atas tanah berbatu yang keras! Kiranya tadi sikap gugup dan bingung Cui Sian hanya merupakan pancingan belaka membiarkan lawan menjadi girang+ berbesar hati dan karenanya lemah ke-dudukannya.           Secepat kilat Cui Sian mem-buang diri ke kiri, hanya tubuh bagian atas saja yang meliuk ke kiri, sebatas lutut ke atas, namun kedua kakinya ma-sih memasang kuda- kuda yang kokoh kuat.           Gerakan yang amat indah.           Ketika kedua tangan Ouwyang Lam sudah me-nyambar lewat, Cui Sian menghantam dengan sampokan kedua lengannya dari samping, j'ari-jari tangannya terbuka dan kedua tangannya yang mengandung dua macarn tenaga.           Yang kiri menggentak dengan tenaga Im sedangkan yang kanan mendorong dengan tenaga Yang.           Tak kuat Ouwyang Lam mempertahankan diri dari serangan balasan yang mendadak dan tak terduga-duga ini sehingga dia ter-banting cukup hebat.           Untung baginya bahwa pada saat itu, Ang-hwa Nio-nio sudah melompat datang dan menerjang Cui Sian tanpa banyak cakap lagi.           Kalau tidak demikian halnya, dalam keadaan terbanting dan kepalanya masih pening tadi, dengan amat mudah Cui Sia? akan dapat menyusul serangan berikutnya yang membahayakan keselamatannya.           Ouwyang Lam bangun dengan muka merah.           Hatinya panas mendongkol, apalagi ketika dia menoleh ke arah Siu Bi dilihatnya gadis itu memandang ke arah Cui Sian dengan sinar mata penuh ke-kaguman.           la merasa malu di depan Siu Bi.           Terang bahwa dalam pertandingan tangan kosong tadi, dia kalah oleh gadis lihai puteri Raja Pedang ini.           Dalam ma-rahnya, ingin dia mencabut pedang dan menyerang lagi bekas lawannya, biarpun Cui Sian pada saat itu sedang bertanding melawan Ang-hwa Nio-nio dengan hebatnya.           Akan tetapi kehadiran Siu Bi di situ membuat Ouwyang Lam terpaksa me-nahan sabar dan tidak ada muka untuk melakukan pengeroyokan.           Sementara itu, pertandingan antara Cui Sian dan .          Ang-hwa Nio-nio -iudah berlangsung dengan hebatnya.           Dibandingkan dengan tingkat kepandaian Ouwyang Lam, tentu saja Ang- hwa Nio-nio jauh lebih tinggi.           Cui Sian maklum dan me-rasai hal ini, nannun gadis perkasa ini mengerahkan seluruh tenaga dan main-kan ilmu kesaktian Im-yang-sin-kun se-hingga biarpun ia tidak mampu melaku-kan desakan macam tadi terhadap ketua Ang-hwa-pai ini, namun pertahanannya kokoh kuat laksana benteng baja.           Seperti juga Ouwyang Lam, ketua Ang-hwa-pai ini merasa malu untuk mempergunakan senjatanya, bukan malu terhadap lawan, melainkan tak enak hati terhadap Siu Bi yang dianggap sebagai tamu dan orang luar.           Kalau tidak ada Siu Bi di situ, sudah tentu Cui Sian sejak tadi dikeroyok dan tak mungkin                     167                      gadis perkasa itu dapat menyelamatkan dirinya.           Di samping ini, juga Ang-hwa Nio-nio merasa pena-saran sekali.           Ilmu silatnya sudah men-, capai tingkat yang tinggi, malah ia sudah mernatangkan kepandaiannya sehingga ia berpendapat bahwa tingkatnya sekarang tidak berbeda jauh dengan tingkat musuh besarnya, Pendekar Buta.           Akari tetapi mengapa menghadapi seorang gadis muda saja ia tidak mampu mendesaknya? Memang ia telah tahu akan kesaktian Raja Pedang, akan tetapi puterinya ini baru dua puluh usianya betapapun juga baru berlatih belasan tahun, bagaimana dapat menahan dia yang telah melatih diri puluhan tahun? Inilah yang membuat hatinya penasaran dan ia menguras se-mua ilmunya untuk memecahkan per-tahanan Cui Sian.           Namun, Im-yang-sin-kun adalah ilmu yang bersumber kepada Im-yang-bu tek-cin-keng, merupakan rajanya ilmu silat dan telah mencakup inti sari daripada semua gerakan silat.           Ilmu silat yang di-miliki Pendekar Buta sendiri pun bersumber pada ilmusilat ini, demikian pula ilmu-ilmu silat dari semua partai bersih.           Andaikata masa latihan Cui Sian sedemi-kian lamanya seperti Ang-hwa Nio-nio, jangan harap ketua Ang-hwa-pai itu akan dapat menang.           Sekarang pun, karena kalah matang dalam latihan, biar tak dapat mendesak lawan, namun Cui Sian niasih dapat mempertahankan diri dengan baik.           Memang kalau dilanjutkan, akhirnya ia akan kalah juga karena terus-menerus mempertahankan diri tanpa mam-pu membalas, akan tetapi akan memakaif waktu lama sekali.           Siu Bi menonton pertempuran Itu dengan hati tegang.           Matanya yang sudah terlatih akan ilmu-ilmu silat tinggi dapat membedakan sifat kepandaian dua orang yang sedang bertanding itu.           Terjangan-terjangan Ang-hwa Nio-nio bersifat ganas dan kasar, didorong oleh hawa pukulan bersinar merah yang menyelubungi seluruh tubuh berpakaian merah itu.           Se3 baliknya, Cui Sian bersilat dengan gerak-an yang sifatnya tenang dan kokoh kuat, indah dalam setiap gerakan dan hawa pukulan dari kedua tangannya mengandung sinar jernih tak berwarna namure cukup kuat sehingga menolak bayangan sinar merah.           lawan.           Saking tegang dan memandang penuh perhatian, Siu Bi tidak" melihat lagi kepada Ouwyang Lam.           Pemuda ini diam-diam mengeluarkan sebungkus bubuk berwarna putih, menye-' barkannya di ^sekeliling tempat mereka, kemudian memberi tanda kepada para anak buah Ang-hwa- pai.           Tak lama ke-mudian terdengarlah suara melengking tinggi seperti suling, tiada putus- putusnya datang dari empat penjuru.           Beberapa menit kemudian, Siu Bi mengeluarkan seruan kaget.           Beratus ekor ular men-desis-desis dan bergerak cepat dari semua jurusan, menuju ke pertempuran itu.           Seekor ular hijau yang besar dan pan-jang, paling cepat sampai di situ dan serta merta binatang ini mengangkat kepala dan meloncat dengan mulut' ter-buka ke arah Cui Sian! Gadis sakti ini pun sudah melihat adanya ular-ular hijau yang datang me-nyerbu, maka begitu mendengar desis keras dari arah kiri, cepat ia melangkah mundur dan tangan kirinya dengan jarit, terbuka menyabet miring, tepat mengenai' leher ular, "Trakkk!!" Ular sebesar pang-kal lengan itu terpukul keras sehingga terlepas sambungan tulangnya, tak berdaya                     168                      lagi, terbanting dan hanya ekornya saja yang masih menggeliat-geliat, ke-palanye tak dapat digerakkan lagi! Akan tetapi, Cui Sian harus men-jatuhkan diri ke belakang dan bergulingan karena pada saat ia menghadapi penyerangan ular tadi, Ang-hwa Nio-nio sudah melakukan serangan hebat sekali yang aroat berbahaya.           Segulung sinar merah menerjang ke arah dada dan lehernya, dan ternyata Ang-hwa Nio-nio sudah mencabut pedangnya dan rnenyerangnya pada saat gadis itu tidak kuat kedudukan-nya.           Hanya dengan cara membuang diri ke belakang dan bergulingan inilah Cui Sian dapat nnenyelamatkan diri.           la cepat melompat bangun dan wajahnya merah sepasang matanya berapi-api saking ma-rahnya.           Biarpun lawan sudah memegang pedang dan di sekelilingnya sudah ber-kumpul ular-ular hijau, namun dara per-kasa ini sama sekali tidak menjadi gen-tar! la maklum bahwa tak mungkin me-larikan diri setelah ular-ular itu men-datangi dari segala jurusan, jalan lari selain terhalang ular-ular berbisa dan gunung-gunungan batu karang, juga di bagian lain berdiri Ang-hwa Nio-nio dap anak buahnya yang amat banyak.           Cui Sian maklum bahwa keadaannya amat berbahaya, dan besar kemungkinan ia akan tewas di sini, namun ia mengambil keputusan untuk melawan dengan nekat dan sampai titik darah terakhir, tewas sebagaimana layaknya puteri pendekar besar dan ketua Thai-san-pai! "Ang-hwa-pai tak tahu malu! Meng-andalkan pengeroyokan dan bantuan ular-ular berbisa! Ang-hwa Nio-nio, majulah, jangan kira aku takut menghadapi ke-curanganmu!" Ang-hwa Nio-nio merasa penasaran, malu dan inarah sekali.           Memang amat memalukan kalau ia tidak mampu me-ngalahkan gadis ini, gadis muda tak ber-senjata, dan ia masih dibantu ular-ular-hya.           Benar-benar sekali ini kalau ia tidak mampu membunuh Cui Sian, akan rusak nama besarnya.           "Iblis cilik, siaplah untuk mampus!'' "Nanti dulu, Nio-nio!"Tiba-tiba Siu Bi berseru dan melompat ke depan.           Ang-hwa Nio-nio  kaget dan heran, lebih-lebih herannya ketika Siu Bi berkata lantang, "Aku tidak suka melihat ini! Aku pun benci dia karena dia adalah sahabat baik Pendekar Buta  musuh besarku, akan te-tapi aku tidak suka melihat pertandingan yang berat sebelah ini.           Ang-hwa Nio-nio, karena aku dan kau bersahabat, aku tidak mau sahabatku melakukan hal yang tidak pantas.          " öDia ini boleh saja dibunuh, tapi sedikitnya harus memberi kesempatan melawan, itulah haknya.           Ayah..           ayahku selain menekankan bahwa dalam keadaan bagaimanapun juga, aku harus bersikap gagah dan sama sekali tidak boleh curang.           Heee, Cui Sian, ini pedangmu, kukembalikan.           Sebelum mampus, kau boleh melawan dan jangan bilang bahwa aku menyernbunyikan pedangmu.           Tapi berjanjilah, kalau nanti kau sudah mati, relakan pedangmu ini menjadi milikku!" Sambil berkata demikian Siu Bi melemparkan Liong-cu-                    169                      kiam kepada Cui Sian.           Sejenak Cui Sian tertegun sambil memegangi Liong-cu-kiam di tangannya.           Tentu saja  hatinya menjadi sebesar Gunung Thai-san sendiri setelah pedang pusakanya kembali di tangannya.           Akan tetapi dia menjadi terheran-heran melihat sikap dan mendengar kata-kata gadis cilik itu.           Tahulah dia bahwa gadis cilik itu sama sekali bukan anak buah Ang-hwa-pai! Seorang tamu agaknya, dan tentu gadis cilik yang juga lihai itu anak seorang tokoh hitam pula.           la tersenyum dan menatap mesra ke arah Siu Bi.           "Adik manis, kau adalah batu kumala terbenam lumpur, biar sekelilingmu kotor kau tetap ceinerlang! Tentu saja, aku berjanji, rohku akan rela kalau setelah aku mati, pedang ini menjadi rmlikmu.           Tapi sayangnya, aku takkan mati, Adik manis.           Dan kelak akan tiba saatnya aku membalas kebaikanmu ini!" Sernentara itu, Ang-hwa Nio-nio ma-rah sekali; "Siu Bi, kau..           kau lancang dan tolol! Setelah berkata demikian ketua Ang-hwa-pai ini menerjang dengan pedangnya.           Sinar merah berkelebat ketika pedangnya, pedang pusaka ampuh yang sudah direndam racun kembang merah dan diberi nama sesuai pula, yaitu Ang-hwa-kiam, digerakkan menusuk ke depan.           Pada saat yang sama, eropat ekor ular juga sudah menerjang dari belakang, menggigit ke arah kaki Cui Sian.           Akan tetapi, setelah kini Liong-cu-kiam berada di tangannya, Cui Sian seakan-akan menjadi seekor harimau betina yang tumbuh sayap.           Sinar putih berkiiat-kilat menyilaukan mata ketika Liong-cu-kiam di tangannya beraksi.           Pedang pusaka ampuh ini sudah menangkis Ang-hwa-kiam dan tenaga bentucan itu ia manfaatkan dengan cara mengaypn pedang ke belakang sambil mengubah kedudukan kaki dari kuda-kuda melintang menjadi kuda-kuda membujur.           Tenaga benturan membuat Liong-cu-kiam bergerak cepat mengeluarkan suara.           "Cring!" dan..           empat ekor ular yang menyerang dari belakang tubuhnya itu telah terbabat buntung menjadi delapan potong! "Hebat..          !" Siu Bi bengong-bengong kagum tiada habisnya.           Indah sekali gerakan itu dan ia maklum bahwa dengan pedang pusaka di tangannya, Cui Sian benar-benar merupakan lawan berat dan ia sendiri rnasih sangsi apakah ia dengan Cui-beng-kiam akan dapat mengimbangi kesaktian nona cantik langsing ini.            "Kenapa kau membantunya..          ?" Siu Bi menengok dan alisnya berkerut melihat bahwa yang mengeluarkan pertanyaan  dengan suara ketus itu bukan lain adalah Ouwyang Lam.           Pemuda itu berdiri dengan pedang terhunus, sikapnya mengancam, Siu Bi mengedikkan kepalanya.           "Siapa membantunya? Aku tidak sudi membantu sahabat baik musuh besarku, akan tetapi aku pun tidak sudi membantu kecurangan, biarpun yang curang adalah teman sendiri.           Kau mau apa?"                    170                      "Mari kita keroyok dia.           Dia lihai sekali dan kalau sampai dia terlepas, tentu hanya akan menimbulkan kesulitan di belakang hari.          "  "Kau mau keroyok, terserah.           Twako, apakah kau tidak malu? Lihat, ketua Ang-hwa-pai sudah melawannya dengan bantuan ular-ular mengerikan itu.           Hal itu saja sudah tidak adil, masa kau mau ajak aku mengeroyok lagi? Aku tidak sudi mengambil kemenangan secara rendah begitu!" "Tapi, Moi-moi, dia itu musuh kita.           Ayahnya adalah ketua Thai-san-pai, bukan saja sahabat baik Pendekar Buta, malah masih terhitung gurunya!"  "Ahhh..          " Ouwyang Lam mengira bahwa seruan ini menyatakan perubahan di hati Siu Bi.           Akan tetapi  sebetulnya bukan demikian, Siu Bi terkejut memang, akan tetapi la terkejut karena teringat bahwa gadis itu saja sudah begitu lihai, apalagi Pendekar Buta! "Lihat, Moi-moi, dia begitu lihai.          " Kalau kita tidak turun tangan, bisa berbahaya!" Setelah berkata demikian, Ouwyang Lam dengan pedang terhunus lalu menerjang ke medan pertempuran.           Ia telah menyebar bubuk anti ular pada sepatu dan celananya sehingga seperti halnya Ang-hwa Nio-nio, dia takkan diganggu lagi oleh ular-ular itu.           Memang Cui Sian hebat sekali setelah Liong-cu-kiam berada di tangannya.           Bo-leh jadi dalam hal keuletan, pengalaman, dan keahlian, ia masih belum dapat me-nandingi Ang-hwa Nio-nio.           Akan tetapi biarpun belum matang betul karena usianya masih muda, namun ilmu pedang yang ia mainkan adalah raja sekalian ilmu pedang yaitu Im-yang Sin-kiam.           ilmu pedang inilah yang dahulu nnembuat ayahnya, Si Raja Pedang Tan Beng San, menjagoi di dunia persilatan dan mem-buat Raja Pedang itu berhasil mengalahkan semua lawannya yang sakti (baca cerita Raja Pedang).           Kini, dengan ilmu pedang sakti itu, ditambah lagi dengan pedang pusaka Liong-cu-kiam yang amat ampuh di tangannya, Cui Sian benar- benar merupakan seorang lawan yang sukar dikalahkan.           Betapapun juga, keroyokan ular-ular itu membuat Cui Sian repot.           Menghadapi Ang-hwa Nio-nio saja ia sudah mengerahkan seluruh perhatiannya karena memang wanita itu amat ganas dan berbahaya, apalagi sekarang dibantu oleh Ouwyang Lam yang tidak rendah kepandaiannya.           Maka sambaran ular-ular dari belakang dan kanan kiri, benar-benar membuat ia sibuk sekali dan ngeri.           la maklum bahwa sekali saja tergigit ular hijau, nyawanya takkan tertolong lagi.           Sudah puluhan ekor ular terbabat mati oleh pedangnya, dan bangkai ular itu bertumpuk dan berserakan di sekelilingnya, menyiarkan bau yang amis dan memuakkan, bau yang mengandung racun pula.                              171                      Cui Sian terkejut dan berusaha sedapat mungkin untuk menahan napas mengerahkan sinkang melawan bau yang memuakkan itu.           Akan tetapi karena di lain fihak ia diserang hebat oleh Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam dan di-ancam pula semburan ular-ular beracim, berkali-kali perhatiannya terpecah dan tappasengaja ia menyedot dan terserang bau amis itu.           Kepalanya mulai pening, pandang matanya berputaran.           Pedangnya masih ia gerakkan dengan cepat, diputar-putar melindungi tubuhnya, akan tetapi karena Tnataiiya makin lama makin gelap, akhirnya ia terkena tusukan ujung pe~ dang Ouwyang Lam yang melukai pundaknya.           Dengan hati merasa muak Siu Bi memandang dan hatinya merasa ngeri juga karena sebentar lagi ia akan menyaksikan gadis perkasa itu roboh mandi darah dan dikeroyok ular- ular hijau.           Untuk menolong, ia tidak sudi karena bu-kankah gadis perkasa itu masih sahabat bahkan saudara seperguruan dengan musuh besarnya? la harus membenci gadis itu, biarpun perasaan hatinya tak memungkinkannya menaruh rasa itu, bahkan ada rasa kagum di lubuk hatinya.           Namun, ia harus meinbenci semua yang "berbau" Pendekar Buta! Betapapun juga, rasa bencinya yang dipaksakan ini tidak melebihi rasa tidak senangnya kepada Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam yang dianggapnya berjiwa pengecut dan curang, sama sekali tidak mempunyai sifat-sifat gagah sedikit pun juga.           "Tranggg!! Tranggg!!" Bunga api berpijar dan Ang-hwa Nio-nio, juga Ouwyang Lam, melompat ke belakang, kaget se-kali karena pedang mereka tersambar sinar hitam, telapak tangan mereka menjadi sakit dan hampir mereka terpaksa melepaskan pedang.           Sinar hitam masih berkelebatan dan matilah ular-ular yang berada di sekeliling Cui Sian dalam jarak dua meter! Siu Bi melompat kaget ketika melihat laki-laki yang memegang pedang bersinar hitam itu.           Itulah pedangnya dan laki-laki itu bukan lain adalah Yo Wan! "Kau..          ?!?" serunya, kaget dan heran.           Yo Wan cepat merangkul pundak Cui Sian yang terhuyung dan tak ingat diri dengan Liong- cu-kiam masih tergenggam erat-erat.           Kemudian Yo Wan menoleh ke arah Siu Bi, tersenyum getir dan melemparkan Cui-beng-kiam.           "Nona, ini pedangmu kukembalikan.           Terimalah!" Pedang itu melayang dengan gagang di depan ke arah Siu Bi yang menangkapnya dengan mudah.           Mata gadis ini terbelalak memandang.           Entah bagaimana ia sendiri tidak tahu, melihat Yo Wan memondong tubuh Cui Sian yang pingsan itu dan melangkah pergi dengan cepat, hati-nya menjadi panas dan marah! Sementara itu, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam sejenak tercengang.           Heran mereka mengapa hari ini, setelah Siu Bi muncul pula orang-orang muda yang amat lihai, padahal orang-orang muda ini sama sekali tidak terkenal di dunia kang-ouw.                              172                      Namun, melihat betapa pemuda sederhana berpakaian putih itu memondong tubuh Cui Sian yang pingsan, Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam menjadi marah.           Sambil berseru keras Ang-hwa Nio-nio melompat diikuti oleh Ouwyang Lam.           "Jahanam, jangan harap dapat keluar dari Ching-coa-to dalam keadaan bernyawa!" seru Ang-hwa Nio-nio.           Tangannya bergerak dan sinar kemerahan me-luncur ke arah punggung Yo Wan.           Itulah Ang-tok-ciam (Jarum Racun Merah) yang ampuh serta jahatnya tidak kalah dengan Ching-tok-ciam (Jarum Racun Hijau) yang dahulu dimiliki oleh majikan pulau itu.           Kedua-duanya memang merupakan senjata rahasia yang ampuh dan sekali menyentuh kulit dan menimbulkan luka, korban itu takkan tertolong lagi nyawa-nya.           Akan tetapi, tentu saja Ang-hwa Nio-nio lebih lihai dalam penggunaan senjata halus ini karena memang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada mendiang Ching-toanio, maka pelepasan jarum- jarum itu amat berbahaya.           Bagi si penyannbit dan orang lain, agaknya jarum-jarum yang sudah berubah menjadi segulung sinar merah itu pasti akan mengenai punggung Yo Wan yang lari memondong tubuh Cui Sian.           Akan tetapi, aneh bin ajaib akan tetapi nyata terjadi, pemuda itu masih berlari-iari dan jarum-jarum itu melayang ke depan, hilang di antara pepohonan, sama sekali tidak menyentuh baju Yo Wan! Hal ini sebetulnya tidaklah mengherankan oleh karena dalam larinya, Yo Wan yang selalu berhati-hati, apalagi maklum bahwa dia dikejar orang- orang pandai, telah menggunakan, langkah ajaib Si-cap-it Sin-po.           Tentu saja dengan langkah-langkah ajaib ini, apalagi ditambah pendengarannya yang amat tajam karena terlatih sehingga dia dapat mendengar angin sambaran senjata rahasia, dengan mudah dia dapat menghindarkan serangan gelap dari belakang.           Betapapun lihainya Yo Wan, dia adalah seorang asing di pulau itu, same sekali tidak mengenal jalan, hartya berlari dengan tujuan ke pantai telaga, maka dalam kejar-mengejar ini sebentar saja Ouwyang Lam dan Ang-hwa Nio-nio yang mengambil jalan memotong, dapat menyusulnya.           Malah dua orang ini tahu-tahu muncul di depan menghadang larinya Yo Wan! Yo Wan mengeluh dalam hatinya.           Tadinya dia tidak ingin bertempur, apalagi dengan tubuh gadis itu dalam pondongannya.           Akan tetapi agaknya dia tidak dapat menghindarkan pertempuran kalau menghendaki selamat.           Cepat dia meraih pedang di tangan gadis itu yang biarpun dalam keadaan pingsan masih memegang erat-erat.           Sekali renggut dia dapat merampas pedang ini dan tepat di saat itu, pedang Ang-hwa Nio-nio dan pedang Ouwyang Lam sudah menyerangnya dengan ganas.           Yo Wan memondong tubuh Cui Sian dengan lengan kiri, tangan ka-nannya memutar pedang dan sekali ber-gerak dia berhasil menangkis dua pedang lawannya.           Pertempuran hebat segera terjadi dan karena tiga batang pedang itu kesemuanya adalah pedang-pedang pusaka, maka berhamburanlah bunga api tiap kali ada pedang beradu.                              173                      öUuhhh..          " Cui Sian mengeluh meronta.           Yo Wan yang memondongnya cepat melepaskan nona itu sambil menariknya ke belakang agar menjauh daripada sinar pedang dua orang pengeroyoknya.           "Nona, kau sudah kuat betul?" Cui Sian adalah seorang gadis yang sudah digembleng oleh ayah bundanya sejak kecil.            Sinkang di tubuhnya sudah amat kuat, maka pengaruh racun tadi tidak lama menguasai dirinya.           Sejenak ia nanar setelah siuman, akan tetapi segera teringat akan segala pengalamannya dan seketika ia maklum bahwa pemuda yang dikeroyok oleh Ang-hwa Nio- nio dan Ouwyang Lam dengan menggunakan pedangpya secara aneh itu adalah penolongnya.           "Sudah, terima kasih.           Tolong kau kembalikan pedangku dan biarkan aku melawan mereka yang curang ini!" Yo Wan menggunakan tenaganya menangkis dan sekaligus menerjang.           ganas sehingga kedua orang lawannya terpaksa menghindar ke belakang.           Kesempatan ini dia pergunakan untuk mengembalikan pedang Liong-cu-kiam kepada pemiliknya.           Cui Sian dengan hati gemas lalu memutar pedang itu dan menerjang kedua orang lawannya.           "Nona, tidak baik mengacau tempat orang lain lebih baik lari selagi ada kesempatan," kata Yo Wan sambil mencabut pedang kayu dari balik jubahnya.           Pemuda ini sebetulnya mempunyai sebatang pedang pusaka pula yaitu pedang pusaka pemberian isteri Pendekar Buta.           Akan tetapi dia tidak pernah mempergunakan pedang ini dan hanya mempergunakan pedang kayu cendana yang dibuatnya sendiri di Pegunungan Himalaya.           Ilmu batin yang dalam dipelajarinya dari Bhewakala dan hal ini membuat hatinya dingin terhadap pertempuran dan permusuhan, maka dia tidak akan menggunakan senjata tajam untuk menyerang orang kalau kesela;,atannya sudah cukup dilindungi dengan pedang kayunya.            Serangan Cui Sian yang dahsyat diterima Ouwyang Lam.           Ang-hwa Nio-mo menghadapi Yo Wan yang ia tahu malah lebih lihai daripada puteri Raja Pedang itu.           Bukan main kaget, heran, dan kagumnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa pedang kayu di tangan pemuda itu dapat menahan senjata pusakanya, Ang-hwa-kiam! Maklumlah ia bahwa ia ber-hadapan dengan seorang lawan muda yang tingkat kepandaiannya sudah amat tinggi, merupakan lawan yang amat berat.           Adapun Ouwyang Lam yang kini menghadapi Cui Sian sendirian saja, dalam beberapa gebrakan sudah tampak terdesak hebat.           Untung baginya, Cui Sian dapat me-nangkap kata-kata Yo Wan.           Gadis ini diam-diam membenarkan bahwa tiada gunanya melanjutkan pertempuran.           Biarpun ia akan dapat menangkan pemuda ini, akan tetapi tempat itu merupakan sebuah pulau yang terkurung air, dan anak buah Ang-hwa-pai amat banyak.           Selain ini, pulau itu amat berbahaya dengan, ular-ularnya, juga Ang-hwa Nio-nio dan anak buahnya pandai mempergunakan racun-                    174                      racun jahat.           Melanjutkan pertempuran berarti mengundang bahaya bagi diri sendiri.           la pribadi tidak mempunyai urusan, apalagi permusuhan dengan orang-orang ini, apa perlunya bertempur mati-matian? "Kau benar, Sahabat.           katanya.           Mari kita pergi!ö.           katanya.           Yo Wan kagum dan girang.           Gadis ini ternyata seorang yang berpengalaman dan  berpemandangan jauh, alangkah bedanya dengan Siu Bi yang tindakannya sem-brono.           Mereka berdua lalu melompat jauh ke belakang, lari meninggalkan ,ºelang-gang pertempuran menuju ke pantai.           Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam mak-lum bahwa mereka berdua takkan rnampu menangkan dua orang itu, maka mereka tidak mengejar.           Ang-hwa Nio-nio dengan muka keruh memberi tanda rahasia dengan suitan nyaring kepada anak buahnya menghalangi kedua orang musuh itu, dan berusaha menangkap mereka dalam air.           Akan tetapi, Yo Wan dan Cul Sian sudah melompat ke sebuah perahu kecil dan begitu mereka menggerakkan dayung di kanan kiri perahu, tak mungkin ada anak buah Ang-hwa- pai yang akan mampu mengejar mereka.           Perahu itu meluncur dengan kecepatan luar biasa karena digerakkan oleh tangan-tangan saktl, maka gagallah harapan terakhir Ang-hwa Nio- nio untuk menangkap mereka dengan cara menggulingkan perahu.           Ketika kedua orang ini kembali ke tengah pulau, ternyata Siu Bi sudah lenyap, tidak berada di situ lagi.           Ouwyang Lam kelabakan dan mencari-cari, memanggil-manggil, namun gadis yang dicarinya tidak ada, karena memang dalam keributan tadi, diam-diam Siu Bi sudah lari meninggalkan pulau itu.           Setelah kedua orang muda pelarian itu melompat ke darat dengan selamat, barulah Cui Sian sempat berhadapan dengan Yo Wan.           Gadis ini dengan perasaan kagum lalu menjura memberi hormat yang dibalas cepat-cepat oleh Yo Wan.           "Hari ini saya, Tan Cui Sian, menerima bantuan yang amat berharga dari sahabat yang gagah perkasa.           Saya amat berterima kasih dan bolehkah saya me-ngetahui nama dan julukan sahabat yang mulia?" Akan tetapi orang yang ditanya membelalakkan kedua matanya, lalu menatap wajah Cui Sian penuh selidik, kadang-kadang kepala pemuda itu miring ke kanan kadang-kadang ke kiri wajahnya membayangkam keheranan dan kegirang-an yang besar.           Cui Sian mengerutkan alisnya, dan kecewalah hatinya.           Apakah pemuda yang tadinya ia anggap luar biasa, gagah perkasa dan sederhana ini sebenarnya seorang laki-laki yang kurang ajar? Kedua pipinya mulai merah, pan-dang matanya yang penuh kagum dan hormat mulai berapi-api.           Akan tetapi semua ini buyar seketika berubah men-jadi keheranan ketika pemuda itu ter-tawa bergelak dengan amat gembira, lalu seperti orang gila hendak memegang tangannya sambil berseru,                    175                      "Ya Tuhan..          ! Benar sekali, tak salah lagi..           ah, kau Cui San..           eh, maksudku, kau..           eh, Tan-siocia (nona Tan).           Ha-ha-ha, sungguh hal yang tak tersangka-sangka sama sekali.           Serasa mimpi!" Tentu saja, Cui.          Sian tidak membolehkan tangannya dipegang.           la mengelak dan dengan suara ketus ia bertanya, "Apa artinya ini? Siapa kau dan apa kehendakmu?" "Ha-ha-ha, tidak aneh kalau anda lupa, sudah lewat dua puluh tahun! Nona Tan, saya adalah Yo Wan!" "..           Yo Wan.           ,? Yang mana..           siapa..          ?" Cui Sian mengingat-ingat.           "Wah, sudah lupa benar-benar? Saya A Wan, masa lupa kepada A Wan yang dulu pernah..            ha-ha-ha, pernah menggendongmu, bermain-main di Liong-thouw-san bersama kakek Sin-eng-cu Lui Bok?" Tiba-tiba wajah yang ayu itu berseri, matanya bersinar-sinar dan kini Cui Sian yang melangkah maju dan memegang kedua tangan pemuda itu, "A Wan!! Tentu saja aku ingat..          ! A Wan, kau..           kau A Wan? Ah, siapa duga..          " Sejenak jari-jari tangannya menggenggam tangan pemuda itu, tapi segera dilepasnya kembali dan kedua pipinya menjadi merah.           "..           ah..           eh, sungguh tidak sangka..           siapa kira kau sendiri yang akan menolongku? Tentu saja aku tak dapat mengenalmu, kau sekarang menjadi begini..           begini, gagah perkasa dan lihai.           Benar-benar aku kagum sekali!" Wajah Yo Wan juga menjadi merah karena jengah dan malu, biarpun hatinya berdebar girang dengan pujian itu.           "Kaulah yang hebat, Nona..           tidak mengecewakan kau menjadi puteri Raja Pedang Tan-locianpwe ketua Thai-san-pai"' "A Wan, di antara kita tak perlu pujian-pujian kosong itu, dan apa artinya kau menyebut nona kepadaku? Namaku Cui Sian, kau tahu akan ini.           Aku mendengar dari ayah bahwa Pendekar Buta hanya mempunyai seorang murid yaitu engkau, akan tetapi mengapa gerakan pedangmu tadi..           serasa asing bagiku?" Yo Wan menarik napas panjang, "Memang sebetulnyalah, aku murid suhu Kwa Kun Hong, akan tetapi..           aneh memang, aku menerima pelajaran ilmu dari orang lain, yaitu dari mendiang Sin-eng-cu locianpwe dan mendiang Bhewakala locianpwe.          " Sejenak kedua orang muda ini berdiri saling pandang.           Yo Wan kagum, sama sekall tidak mengira bahwa bocah perempuan yang dahulu itu, yang sering digodanya akan tetapi juga sering dia ajak bermain-main di Pegunungan Liong-thouw-san, dia carikan kembang atau dia tangkapkan kupu-kupu, pernah ketika jatuh dia gendong di belakang, bocah yang dulu                     176                      itu sekarang telah menjadi seorang gadis yang begini hebat.           Berkepandaian tinggi, berpemandangan luas, bersikap gagah perkasa, wajahnya cantik sekali, bentuk tubuhnya langsing dan luwes.           Pendeknya, seorang dara yang hebat'.           Cui Sian segera menundukkan muka.           Kedua pipinya makin merah, jantungnya berdegupan secara aneh.           Mengapa dadanya bergelora, jalan darahnya berdenyar dan kepalanya menjadi pening? Mengapa ia yang tadinya berani menghadapi siapapun juga dengan hati terbuka, tabah dan tidak pemalu, sekarang tiba-tiba merasa amat canggung dan inalu kepada pemuda ini, yang sama sekali bukanlah seorang asing baginya? Benar-benar ia merasa bingung dan tidak mengerti.           Belum pernah Cui Sian merasakan hal seperti ini.           Biasanya ia amat pandai membawa diri, pandai bicara dan tidak canggung biarpun berhadapan dengan siapapun juga.           Akan tetapi sekarang, berhadapan dengan A Wan yang kini telah berubah menjadi seorang laki-laki yang berpakaian sederhana, wajah yang membayangkan kematangan jiwa, dengan kepandaian yang sudah terbukti amat tinggi, ia benar-benar kehilangan akal! "Non..           eh, adik Cui Sian.           Bagai-manakah kau bisa tersesat ke pulau yang menjadi sarang orang-orang jahat ber-bahaya itu? Bukankah kau masih tetap tinggal di Thai-san bersama orang tua-mu?" Di dalam hatinya Yo Wan meng-hitung-hitung dan dapat menduga bahwa usia Cui Sian tentu sekitar dua puluh tiga tahun dan dalam usia sedemikian, sudah semestinya kalau puteri ketua Thai-san-pai ini telah menjadi isteri orang.           Mungkin suaminya tinggal tak jauh dari tempat ini, pikirnya.           Akan tetapi tentu saja dia tidak berani bertanye secara langsung dan karenanya dia bertanya dengan cara memutar.           Cui Sian amat cerdik.           la setengah dapat menduga isi hati Yo Wan, maka cepat-cepat ia menjawab, "Aku masih tinggal dengan ayah bundaku di Thai-san dan saat ini..           aku memang sedang merantau, turun gunung.           Kebetulan aku bertemu di telaga ini dengan dua orang tosu Kun-lun-pai dihina orang-orang Ang-hwa-pai.           Karena Kun-lun-pai adalah se- buah partai besar dan kenalan baik ayahku, maka aku tidak tinggal diam dan membantu mereka.           Siapa kira, dengan amat curang Ang-hwa-pai menawanku..          " selanjutnya dengan singkat ia menceritakan pengalamannya di telaga itu.           "Baiknya seperti dari langit turunnya, muncul engkau sehingga aku terbebas daripada maut.           Kau sendiri, bagaimana bisa kebetulan berada di sini? Apakah tempat tihggalmu sekarang dekat-dekat sini.. eh, Twako? Kau lebih tua dari padaku, sepatutnya kusebut twako, Yo- twako!" Yo Wan tersenyum.           "Memang sebaiknya begitulah, Sian-moi (adik Sian).           Kau tanya tentang tempat tinggalku? Ah, aku tiada tempat tinggal, tiada sanak kadang, hidup sebatangkara dan merantau tanpa tujuan.          "                    177                      "Oohhh..          "' Cui Sian menghela napas dan hatinya berbisik, "la masih..           sendiri, seperti aku, dia kesepian, seperti aku pula.          " Dengan kepala tunduk mendengarkan cerita Yo Wan.           "Datangku ke Ching-coa-to hanya kebetulan saja, gara-gara..           seorang gadis yang aneh.           Dia lihai, wataknya aneh, akan tetapi sebetulnya berjiwa gagah.          " Secara singkat Yo Wan bercerita tentang pertemuannya dengan Siu Bi, betapa gadis lincah galak itu karena menolong para petani yang tertindas, dimasukkan dalam tahanan, kemudian dia bantu membebaskannya.           "Dia aneh sekali," Yo Wan menutup ceritanya, "tanpa sebab dia menguji kepandaian denganku, tapi kemudian setelah terdesak, ia melarikan diri, meninggalkan pedangnya.           Aku mengejarnya untuk mengembalikan pedang, ternyata jejaknya membawaku ke Ching-coa- to dan agaknya bukan dia yang membutuhkan pertolongan, melainkan kau yang sama sekali tak pernah kuduga!" Cui Sian mengangguk.           "Dia memang seorang gadis gagah, sayang dia bergaul dengan orang-orang jahat dari Ang-hwa-pai.           Betapapun juga, dia telah menolong-ku dengan mengeinbalikan pedangku ke-tika aku dikeroyok ular.          " "Aku pun heran sekali, sepak terjang-nya gagah.           Akan tetapi bagaimana dia bisa berada di sana? Ah, agaknya dia memang mempunyai hubungan dengan Ang-hwa-pai.. sungguh tak kuduga sama sekali!" Wajah Yo Wan membayangkan kekecewaan besar dan diam-diam Cui Sian yang menaruh perhatian, pe-rasaannya tertusuk.           Menurut cerita Yo Wan tadi, pemuda ini baru saja bertemu dengan Siu Bi, akan tetapi agaknya telah begitu tertarik dan amat mernperhatikan keadaannya.           Cui Sian mencoba untuk membayangkan wajah Siu Bi.           Gadis yang masih muda sekali, cantik jelita, akan tetapi memiliki sifat-sifat keras dan ganas.           "Agaknya dia hanya seorang tamu disana, dan sepanjang dugaanku ketika aku dikeroyok di sana, dia tidak sudi melakukan pengeroyokan biarpun mereka Delum juga berhasil merobohkan aku.           Ini saja menjadi tanda bahwa dia berbeda dengan orang-orang pulau itu.           Akan tetapi, jika selalu ia berdekatan dengan mereka, akhirnya ia pun mungkin akan rusak..          " Tiba-tiba Cui Sian dan Yo Wan bergerak berbareng, melompat ke arah gerombolan pohon di sebelah kiri.           Siu Bi muncul dari balik pohon, pedang Cui-beng-kiam di tangan, wajahnya keruh dan matanya berapi-api memandang Cui Sian yang menjadi tercengang setelah mengenal siapa orangnya yang bersembunyi di balik pohon-pohon itu.           Juga Yo Wan tercengang, sama sekali tidak disangkanya bahwa Siu Bi sudah menyusul.           Sebetulnya bukan menyusul, malah Siu Bi lebih dulu meninggalkan Ching-coa-to.           Ketika melihat Yo Wan menolong Cui Sian dan memondongnya pergi, hatinya menjadi panas dan tak senang.           la marah-marah, dia sendiri tidak tahu marah kepada siapa, pendeknya ia marah, kepada siapa saja.           Kepada Ouwyang Lam, kepada Ang-hwa Nio-nio dan kepada semua penghuni Ching-coa-to! Diam-diam ia                     178                      lalu pergi dari situ, meng-gunakan sebuah perahu dan mendayung-nya cepat ke darat.           Tidak ada seorang pun anggauta Ang-hwa-pai melihatnya karena mereka sedang bingung dan ber-siap-siap melakukan pengepungan ter-hadap musuh apabila diperintah.           Andai- kata ada yang melihatnya pun, mereka tentu takkan berani mengganggu.           Bu-kankah gadis ini sudah menjadi "orang sendiri" dan sahabat baik kongcu? Setibanya di darat, Siu Bi duduk termenung dan ketika ia melihat munculnya perahu yang didayung cepat oleh Cui Sian dan Yo Wan, ia cepat bersembunyi di balik pepohonan dan sempat mendengarkan percakapan mereka.           Ucapan-ucapan terakhir yang menyinggung dirinya inembuat ia tak dapat tenang, sehingga gerakannya segera dapat, ditangkap oleh pendengaran Cui Sian dan Yo Wan yang amat tajam dan terlatih.           "Kalian berdua adalah orang-orang tak tahu malu! Kalau memang berani, hayo kita bermain pedang, kalau perlu boleh aku kalian keroyok dua.           Apa perlunya bermain mulut, menggoyang lidah tak bertulang?" "Eh-eh-eh, Nona.           Datang-datang kau marah besar tidak karuan, ada apakah?" Yo Wan mengangkat kedua alisnya, ber-tanya.           Cui Sian juga memandang heran dan diam-diam ia harus akui akar kebenaran kata-kata Yo Wan tadi betapa aneh watak dara remaja itu, dan diam-diam ia harus mengakui juga betapa cantik moleknya Siu Bi.           "Marah-marah tidak karuan? Pandai memutarbalikkan fakta!" Siu Bi membentak marah sekali, pedangnya yang terhunus itu ia acung-acungkan.           "Kalian yang mengumbar mulut jahat menggoyang lidah membicarakan orang semaunya dan tidak karuan! Hayo mau bilang apa sekarang, apakah kfclian kira aku tidak mendengarkan kasak-kusuk kalian yang busuk? Apakah ini sikap orang-orang gagah, lelaki dan wanita kasak-kusuk di tempat sunyi, membicarakan orang lain?" Seketika wajah Cui Sian menjadi merah.           Tadinya ia kagum dan suka kepada Siu Bi, apalagi dara remaja itu telah menolongnya di Ching-coa-to.           Akan tetapi ucapan yang galak ini benar-benar menyinggung hatinya, karena rnengandung sindiran tentang dia berdua Yo Wan.           "Nanti dulu, adik yahg baik.           Kami memang telah bicara tentang dirimu, akan tetapi bukan membicarakan hal yang buruk..          " "Cih! Bicarakan hal buruk atau pun baik, aku melarang kalian bicara tentang diriku! Apa peduli kalian kalau aku rusak atau tidak apa sangkutannya dengan kali-an apa yang kulakukan, dengan siapa aku bergaul? Huh, sekarang aku sudah rusak, nah, kalian mau apa? Puteri Raja Pedang, hayo cabut pedangmu, kita bertanding sampai selaksa jurus, yang kalah boleh mampus!" "Siu Bi..          !" dalam kagetnya Yo Wan lupa rnenyebut nona.           la takut gadis aneh ini akan kumat                     179                      (kambuh) lagi penyakitnya, tiada hujan tiada angin menantang orang bertanding.           "Sungguh mati, Sian-moi (adik Sian) sama sekali tidak bicar buruk tentang..          " "Diam kau" Atau..           kau hendak rnembela moi-moimu yang manis ini? Boleh, boleh, kau boleh maju sekalian mengeroyokku.           Aku tidak takut!" Celaka, pikir Yo Wan kewalahan dan tanpa sengaja dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.           Melihat ini, Cui Sian menahan senyumnya.           la sudah cukup berpengalaman, cukup bijaksana sehingga ia tidak terseret ke dalam ge-lombang kemarahan oleh sikap gadis muda yang liar ini.           Akan tetapi hatinya terasa perih.           Harus ia aku bahwa dalam pertemuan yang tidak terduga-duga dengan Yo Wan ini, hatinya yang selama ini tegak, kini menunduk, runtuh oleh kesederhanaan, kegagahan dan wajah Yo Wan.           Akan tetapi berbareng ia pun dapat menduga bahwa pemuda yang menjatuhkan hatinya ini agaknya mencinta Siu Bi, dan kini, melihat sikap Siu Bi ia dapat menduga bahwa gadis remaja ini menjadi marah-marah seperti itu karena cemburu dan cemburu adalah sahabat cinta! Dengan suara lembut ia berkata, "Bertanding sih mudah, memang bermain pedang merupakan kesenanganku.           Akan tetapi, aku selamanya tidak sudi bertanding tanpa alasan tepat.           Di pulau tadi, kau tidak mau mengeroyokku, malah kau membantuku dengan mengembalikan pedang ini.           Sekarang kau menantangku, apa alasannya?"  "Peduli apa dengan alasan.           Kalau memang kau berani, hayo lawan aku!" "Berani sih berani, adik yang manis.           Akan tetapi tanpa alasan, aku tidak mau .           bertempur  dengan kau atau pun dengan siapa juga.          " Panas hati Siu Bi.           Gadis ini demikian tenang, demikian sabar.           Tentu akan kelihatan amat  baik hati dalam pandang mata Yo Wan! Atau agaknya karena di depan pemuda itulah maka gadis ini bersikap begitu sabar dan tenang, biar dipuji! "Kau mau tahu alasannya? Karena kau puteri Raja Pedang, maka kutantang kauö.           "Itu bukan alasan, Biar ayahku berjuluk Raja Pedang, tapi kau tidak kenal dengan ayah, tak mungkin bermusuhan dengan ayah, mana bisa dijadikan alasan?" "Aku memusuhi ayahmu!" "Ihhh, kenapa?" "Karena ayahmu sahabat baik, bahkan guru Pendekar Buta!" "Ahhh..          !" Yo Wan yang mengeluarkan suara ini dan makin panas hati Siu Bi.           Apakah nama  Pendekar Buta demikian besar dan hebat sehingga Yo Wan juga kaget mendengar ia memusuhi Pendekar Buta? Karena panasnya hati, ia melanjutkan, suaranya lantang dan                     180                      ketus.           "Aku sudah bersumpah, akan kubuntungi lengan Pendekar Buta, isterinya, dan  keturunannya, dan tentu saja semua sahabat baiknya adalah musuhku.           Ayahmu Raja Pedang sahabat Pendekar Buta, kau pun tentu sahabatnya, maka kau musuhku.           Hayo, berani tidak? Tak sudi aku bicara lagi!" Wajah Yo Wan seketika menjadi pucat mendengar ini.           Cui Sian maklum akan hal ini dan dapat merasakan juga pukulan hebat yang diterima pemuda itu.           la maklum bahwa Pendekar Buta adalah penolong dan guru Yo Wan yang amat dikasihi, dan agaknya baru sekarang pemuda itu mendengar kenyataan yang amat menusuk perasaan, yaitu kenyataan bahwa gadis lincah dan liar ini adalah musuh besar Pendekar Buta.           Oleh karena itu, Cui Sian hanya tersenyum masam dan memberi kesempatan kepada Yo Wan untuk menguasai perasaannya yang tertikam.           la tidak ingin menambah penderitaan Yo Wan dengan melayani kenekatan Siu Bi.           Yo Wan segera melangkah maju setelah berhasil menekan perasaannya yang kacau balau, matanya memandang tajam kepada Siu Bi ketika dia berkata, "Nona, kau..           kau benar-benar tersesat jauh sekali! Harap kausingkirkan jauh-jauh pikiranmu yang bukan-bukan itu, tak mungkin.           Beliau adalah seorang pendekar yang berbudi, seorang gagah perkasa dan bijaksana yang tiada kedua-nya di dunia ini.           Aku tidak percaya bah-wa kau pernah dibikin sakit hati oleh Pendekar Buta.           Mana mungkin kau bersumpah hendak membuntungi lengannya dan fengan keluarganya? Tak mungkin ini!' "Hemmm, begitukah pendapatmu? Kiranya kau berpura-pura berlaku baik terhadapku karena hendak mengubah keinginanku? Tak mungkin ini, aku sudah mempertaruhkan nyawaku.           Biar Pendekar Buta seorang yang memiliki tiga buatl kepala dan enam buah "lengan, aku tak-kan mundur setapak pun.           Boleh jadi dia pendekar besar, boleh jadi dia berbudi dan bijaksana terhadap orang lain, akan tetapi terhadap mendiang kakek Hek Lojin, sama sekali tidak! Kakek Hek Lojin menjadi buntung lengannya oleh Pendekar Buta, karena itu, aku bersum-pah hendak membalaskan sakit hati ini, aku sudah bersumpah akan membuntungi lengan..          " "Jangan..           jangan berkata begitu..          ,.           Yo Wan melompat dan seperti seorang gila dia menggunakan tangannya mendekap mulut Siu Bi! "Ahhh..           aku..           uppp, lepaskan.           lepaskan..          !" Siu Bi tentu saja meronta ronta, berusaha memukulkan gagang pedangnya, bahkan ia lalu membalikkan pedangnya hendak menusuk, akan tetapi Yo Wan sudah memegangi lengannya dan ia sama sekali tidak dapat melepaskan diri.           Diam-diam Cui Sian menjadi terharu sekali, berseru nyaring, "Yo-twako, aku pergi dulu ke Liong-thouw-san.          " la melompat dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.           la memang                     181                      seorang gadis yang luas dan tajam pikirannya, dapat menggunakan pikiran mengatasi perasaan hati.           Cui Sian maklum bahwa dalam keadaan seperti itu, lebih baik kalau ia pergi meninggalkan dua orang itu.           Siu Bi dikuasai rasa cemburu dan tentu akan makin menggila dan menantangnya, se-hingga ia khawatir kalau-kalau ia akhir-nya tidak kuat menahan kesabarannya.           Juga, tak mungkin ia dapat memukul Siu Bi, pertama karena gadis liar itu pernah menolongnya, kedua kalinya karena ia tidak mempunyai permusuhan dengannya.           la pernah mendengar nama Hek Lojin dari ayah ibunya, dan.           maklum bahwa Hek Lojin adalah seorang tokoh hitam yang amat jahat seperti iblis, juga berilmu tinggi.           Siapa duga, gadis yang tadinya ia sangka seorang gadis gagah perkasa itu, kiranya cucu murid Hek Lojin.           Pantas demikian aneh dan liar seperti setan! Yo Wan sedang gugup, bingung, dan duka kecewa.           Karena itulah maka dia hanya menyesal sebentar bahwa Cui Sian pergi dalam keadaan seperti itu.           Baru setelah Siu Bi mengeluarkan suara seperti orang menangis terisak, dia sadar akan perbuatannya yang luar biasa ini.           la merangkul Siu, Bi, mendekap mulutnya dan memegang lengannya.           Setelah sadar, dengan tersipu-sipu ia melepaskan pegangannya.           Mukanya sebentar merah sebentar pucat.           "Kau..           kau..           mau kurang ajaran, ya? Kau mengandalkan kepandaianmu? Karena kau sudah bisa nnenangkan aku, kau lalu mengira bo^eh berbuat sesukamu kepadaku? Kau laki-laki kurang ajar, kau laki-laki sombong, kau..           kau..           jangan kira aku takut, kau harus mampus..          !" Serta merta Siu Bi menerjang dengan pedangnya.           Tentu saja Yo Wan cepat mengelak dan berkata, "Siu Bi..           eh, Nona.          ,..           tunggu dulu .ö.           "Tunggu apa lagi? Tunggu kau kurang ajar lagi? Kau merangkul-rangkul aku, mendekap  mulutku, siapa beri ijin? Kurang ajar! kau kira aku sama seperti Cui Sian, kaukira aku akan tergila-gila kepadamu, karena kau tampan, karena kau gagah, karena kau lihai? Cih, tak ber-malu!" Pedangnya menusuk leher dan kembali Yo Wan mengelak.           "Sabar..          !" la sempat berkata tapi cepat mengelak lagi karena sinar pedang hitam itu sudah menyambar, "Siu Bi, jauh-jauh aku mengejarmu, di sepanjang jalan penuh gelisah setelah menemukan saputanganmu ini..          " la mencabut sapu-tangan kuning dari sakunya.           "Kukira kau terancam bahaya maut..           kiranya kau menyambutku dengan serangan nekat begini.           Aku takut kau terancam bahaya, kau malah ingin aku mati..          " "Makan ini!" kembali pedang Siu Bi menyambar, kini menyabet ke arah hidung.           Cepat Yo Wan meloncat dan menggerakkan kedua kakinya daiani langkah ajaib karena penyerangan gadis itu benar-benar tak boleh dipandang rendah.           "Kau mau menggunakan lidah tak bertulang? Jangan coba bujuk aku, he Jaka Lola tak tahu diri.           Kau bilang gelisah memikirkan aku, tapi kenyataannya, dengan menyolok kau hanya datang untuk membantu Cui Sian.           Wah, kau gendong-gendong dia Mesra, ya? Cih, tak bermalu! Sekarang kau hendak                     182                      membela Pendekar Buta lagi? 'Nah, matilah!" Mau tidak mau Yo Wan tersenyum geli.           Gadis ini memang aneh sekali.           Ta-pi..           tapi..            karena agaknya marah-marah karena dia menolong Cui Sian? Hatinya berdebar.           Benarkah dugaannya ini? Benarkah Siu Bi tak senang dia me-nolong gadis lain? Cemburu? Susah ber- urusan dengan gadis yang begini galak, pikirnya.           "Nanti dulu, Siu Bi, berhenti dulu..           "Berhenti kalau kau sudah mati!" teriak Siu Bi dan mengirim tusukan cepat dan kuat sekli.           Kalau terkena lambung Yo Wan, tentu pemuda itu akan di "sate" hidup-hidup.           Akan tetapi langkah ajaib menolong Yo Wan dan pedang itu meluncur lewat belakang puriggungnya, r cepat dia memutar tubuh ke kiri dan tangan berikut gagang pedang itu sudah dikempit di bawah lengannya.           Siu Bi tak dapat bergerak! "Nanti dulu, dengarkan dulu omonganku.           Kalau sudah dengar dan tetap meng-anggap aku salah, boleh kausembelih aku dan aku Yo Wan takkan mengelak lagi!" Tangan kiri Siu Bi tadinya sudah ber-gerak hendak mengirim pukulan.           Men-dengar ucapan ini ia tampak ragu-ragu dan bertanya.           "Betulkah itu? Kau takkan mengelak lagi kalau nanti kuserang?" "Tidak, tapi kau harus dengarkan dulu omonganku, bersabar dulu jangan terlalu galak.          " "Sumpah?" "Sumpah..          ?? Sumpah apa?" "Sumpah bahwa kau takkan melanggar janji?" "Pakai sumpah segala?" Yo Wan me-lepaskan kempitannya dan menggaruk-garuk kepala  yang tidak gatal.           "Aku..          " "Tak usah bersumpah pun percuma, mana bisa dipegang sumpah laki-laki? Sebagai  gantinya sumpah, hayo bersihkan tanganku ini!" la mengasurkan tangannya ke depan.           Yo Wan melongo.           "Bersihkan tanganmu? Kenapa?" la mengerutkan alisnya.           Tak sudi dia  demikian direndahkan, apakah dia akan diperlakukan sebagai se-orang bujang? Siu Bi merengut, marah lagi, tef-bayang pada matanya yang bersinar-sinar seperti akan  mengeluarkan api.           "Memang kau tak bertanggung jawab, berani ber-buat tak berani menanggung akibatnya.           Kau tadi mengempit tanganku di ketiak-mu, apa tidak kotor??"                    183                      Hannpir saja Yo Wan meledak ketawa-nya, begitu geli hatinya sehingga terasa perutnya mengkal dan mengeras.           Gadis ini benar-benar..           ah, gemas dia, kalau berani tentu sudah dicubitnya pipi dara itu.           Tapi maklum bahwa gadis ini tidak berpura-pura, memang betul- betul ber-sikap wajar, sikap kanak-kanak yang nakal dan manja.           Ia alu menggunakan ujung baju untuk menyusuti (angah yang berjari dan berkulit halus itu.           Makin berdebar jantungnya dan jari-jari tangan-nya agak gemetar ketika bersentuhan de-ngan jari tangan Siu Bi yang "dibersihkan".           Tiba-tiba Siu Bi merenggutkan tangannya terlepas dari peganganYo Wan.           "Sudahlah..          ! Lama-lama amat mem-bersihkan saja, agaknya memang kau se-nang pegang-pegang tanganku, ya?" Tentu saja kedua pipi Yo Wan seketika menjadi merah sekali saking malu dan jengah mendengar teguran yang benar-benar tidak mengenal sungkan lagi ini akan tetapi yang langsung menusuk hati dengan tepatnya.           "Nah, sekarang kau omonglah! Awas, kalau dari omonganmu ternyata kau masih bersalah terhadapku, pedangku akan menyembelih lehermu!" Mata Siu Bi me-mandang ke arah leher Yo Wan, penuh ancaman, akan tetapi Yo Wan sama sekali tidak merasa ngeri.           Biarpun gadis ini merupakan kenalan baru, akan tetapi dia seperti telah mengenal luar dalam, sudah hafal akan wataknya yang memang aneh itu.           la yakin bahwa Siu Bi sampai mati takkan sudi melakukan hal itu, menyem-belih orang yang tidak rnelawan seperti orang menyembelih ayam saja! la ter-senyum dan duduk di atas rumput.           Ke-tika Siu Bi juga menjatuhkan diri duduk di depannya, dia merasa gembira dan lega hatinya, timbul kembali rasa aneh yang amat bahagia di hatinya seperti ketika dia bersama gadis itu makan ber-dua menghadapi api unggun.           "Aku tidak berbohong, tak pernah membohong dan juga takkan suka rnem-bohong kalau dengan perbuatan itu aku merugikan orang lain.          " Yo Wan mulai dengan kata-kata memutar karena dia maklum bahwa menghadapi seorang se-perti Siu Bi, ada perlunya sekali-kali membohong, maka dia tadi menambahi kata-kata "kalau dalam membohong itu akan merugikan lain orang"! "Ketika kau lari itu, pedangmu tertinggal.           Aku me-nyesal sekali telah membikin kau marah dan kecewa, maka aku mengambil pe-dangmu dan mengejar.           Celaka, kiranya ilmu lari cepatmu luar biasa sekali.           Ma^ na aku mampu mengejar? Aku tidak dapat mengejarmu dan ketika kulihat saputangan ini.. ada darah di situ..           aku menjadi gelisah bukan main.           Aku khawatir kalau-kalau kau terjatuh ke ta+.           ngan orang jahat..           "Memang aku j-atuh ke tangan orang jahat, anak buah Ang-hwa-pai yang men-culikku setelah membuat aku pingsan dengan bubuk racun merah yang harum.          " "Ahhh..          ! Sudah kukhawatirkan ter-jadi hal seperti itu..          ! Kemudian bagaimana?" Siu Bi meruneingkan bibirnya.           Yb Wan terpaksa meramkan kedua matanya melihat mulut  yang kecil itu meruncing seperti hendak menusuk ulu hatinya.           "Huh, yang mau omong ini                     184                      engkau atau aku? Kaulah yang harus meneruskan omonganmu.           Hayp, lalu bagaimanat" Yo Wan tersenyum.           Timbul lagi kegembiraannya.           Ah, alangkah akan nikmat dan bahagia  hidup kalau bisa seperti ini terus.           Heran dia mengapa selalu terasa seperti ini, bunga-bunga makin indah, daun hijau makin segar, bahkan batang-batang pohon menjadi penuh keindahan bentuknya, semua hal aneh ini terjadi kalau Siu Bi berada di dekatnya, dengan sikapnya yang nakal, aneh, menggemas-kan dan kadang-kadang membingungkan.           "Aku lalu menyimpan saputangan pem-bungkus rambutmu ini yang..           eh, yang harum baunya tapi ternoda darah..           tadinya kusangka darahmu..          " "Bukan darahku.           Kupukul seorang penjahat sampai berdarah.           Ketika aku pingsan, agaknya dia mengambil saputangan itu dan menggunakannya untuk mengusap darahnya..          " "Celaka..          " pikir Yo Wan dari hidungnya dikernyitkan, alisnya berkerut.           "Eh, kenapa kau? Mukamu seperti..           Seperti monyet kalau begitu!" Yo Wan tidak menjawab, hanya cem-berut.           Celaka, pikirnya.           Teringat dia betapa kadang- kadang dia menciumi saputangan berdarah itu, mengira itu darah Siu Bi.           Kiranya darah penjahat'.           Pantas baunya tak sedap'.           "Sudahlah, saputanganku itu boleh kau miliki, teruskan omonganmu.           Sampai di sini aku belum melihat kesalahan-kesalahan.          " Belum ada kesalahan? Kesalahan besar yang patut diberi hukuman tamparan tiga kali, pikir Yo Wan.           "Aku mengejar terus sampai berhenti di pinggir Sungai Fen-ho.           Di sana aku dihadang oleh bajak sungai.           Kukalahkan tiga orang itu, ku-tangkap seorang dan kupaksa mengaku.           Dari bajak itulah aku tahu bahwa kau menjadi tawanan Ang-hwa-pai dan dibawa ke Ching-coa-to.           Aku lalu melakukan pengejaran, akan tetapi karena aku be-lum mengenal jalan dan di sepanjang jalan harus berhenti untuk bertanya-tanya, maka tentu saja bajak itu sampai ke Ching-coa-to lebih dulu.          " "Stop dulu! Awas, apakah kau di bagian ini tidak membohong? Agaknya kau di jalan bertemu dengan Cui Sian dan itulah yang menyebabkan kau terlambat datang.          " "Tidak sama sekali!" "Kalau tidak, bagaimana bisa begitu kebetulan? Nah, lanjutkanlah,", "Ketika mendarat di Ching-coa-to, aku sama sekali tidak tahu bahwa di situ ada Cui Sian,  malah aku tak pernah kenal siapa dia.           Yang kukhawatirkan tentu saja kau, karena aku menyusul tergesa-gesa ke Ching-coa-to adalah karena hendak menolongmu.          "                    185                      "Hemmm..          " Siu Bi menggerakkan mulut mengejek tanda tak percaya.           "Te-ruskanlah..          " kata-kata ini membayang-kan bahwa ia amat tertarik.           Diam-diam Yo Wan geli hatinya.           "Tapi, ketika aku tiba di tempat pertempurari, aku melihat hal yang amat aneh dan sama sekali di luar dugaanku.          " "Apa itu?" "Eh, kulihat kau yang kukhawatirkan setengah mati itu sedang berdampingan dengan  seorang pemuda tampan dan gan-teng, sama sekali kau tidak ditawan, apalagi terancam! Sekali pandang saja aku maklum bahwa kau memang tidak membutuhkan pertolongan, maka perhati-anku lalu tertarik oleh keadaan Cui Sian yang terancam bahaya maut.           Tentu saja aku tidak dapat membiarkan orang-orang jahat menyiksa orang seperti itu, maka aku lalu turun tangan menolongnya.           Ka-rena maklum bahwa berlama-lama di sana akan berbahaya, aku lalu membawa pergi Cui Sian yang masih pingsan, melarikan diri dengan perahu meninggalkati Ching-coa-to.          " "Tanpa pedulikanaku lagi, ya?" "Lho, kau kan tidak apa-apa! Afcu tidak merasa khawatlr meninggalkan kau di sana karena  agaknya kau tidak bermusuhan dengan orang-orang Ang-hwa-pai.          " "Hemmm, tapi kau bilang tidak kenal Cui Sian, padahal setelah kau dan dia berada di sini, kalian bicara kasak-kusuk begitu mesra.           Kau menyebutnya moi-moi segala!"  Yo Wan tersenyum dan mukahya men-jadi merah.           Benar-benar gadis ini belum mengenal sungkan, bicara dengan blak-blakan tanpa malu dan sungkan lagi, malah dia yang menjadi jengah dan untuk sejenak tak mampu menjawab.           "Pringas-pringis! Hayo beri keterangan, bagaimana? Atau, barangkali kau bohong ketika bilang tidak mengenal dia?" "Begini, Nona..          " "Huh, aku lebih dulu kaukenal, masin kau sebut nona-nona segala.           Dia baru saja kau  jumpai, sudah kau sebut moi-moi.           Coba pikir, bukankah hal ini amat memanaskan perut?" Senyum Yo Wan melebar.           Benar-benar seperti anak kecil.           "Kalau begitu, biar kusebut kau  moi-moi.           Aku tadinya takut menyebut kau moi-moi, kau begitu galak sihö.           öSiapa kegilaan dengan sebutanmu? Teruskanö.                              186                      "Begini sebenarnya.           Ketika aku menolong Cui Sian, aku benar-benar tidak mengenal dia, dan aku menolong hanya karena tidak dapat berdiam diri saja melihat seorang wanita muda terancam maut.           Akan tetapi setelah kami berdua bercakap-cakap, baru aku tahu bahwa dia itu adalah seorang temanku bermain ketika kami masih kecil.           Ketika itu dia baru berusia tiga empat tahun, dan aku berusia enam tujuh tahun.           Tentu sa]a pertemuan yang tak terduga-duga itu menggembirakan dan kami bicara tentang masa lalu.          " Siu Bi mengangguk-angguk, wajahnya agak berseri, tidak marah lagi seperti tadi.           "Dan kalian kasak-kusuk? Bicara tentang diriku, ya?" "Tapi kami tidak bicara buruk.           Cui Sian bukan macam gadis yang suka memburukkan orang  lain.          " "Aku tahu.           Dia gagah perkasa memang.           Tapi..           tapi dia sahabat Pendekar Buta.           Dan  kau..          !" Tiba-tiba Siu Bi berdiri, "Kau juga hendak membela Pendekar Buta? Kenapa? Kau siapa? Apamukah Pendekar Buta itu?" "Eeittt, sabar dan tenanglah.           Aku sama sekali tidak membelanya.           Dengar baik-baik, Siu Bi Moi-moi.           Aku mencegah kau memusuhi Pendekar Buta, sama se-kali bukan dengan maksud lain kecuali untuk mencegah kau menghadapi bahaya maut.           Kau tahu, Pendekar Buta adalah seorang yang teramat sakti, tak terkalahkan, dan mempunyai banyak sekali sa-habat- sahabat di dunia ini, sahabat-sahabat yang sakti-sakti pula.           Maka, harap kau jangan sembarangan bicara dan ingat baik-baik lebih dulu sebelum memusuhi-nya, karena hal itu teramat berbahaya bagi keselamatanmu.          " Sejenak Siu Bi termenung, kemudian matanya bersinar dan ia menyimpan pe-dangnya.           Yo Wan menarik napas panjang, dadanya lapang.           "Yo-twako..           nah, aku pun menyebut-mu Yo-twako, seperti Cui Sian tadi.           Yo-,,.           twako..          " ôHemmmö.           "Waduh, kau senang ya kusebut Yo twako?" "Tentu saja senang, Bi-moi.           Kau hendak berkata apa tadi?" "Yo-twako, apakah kau suka kepadaku?" Yo Wan tersentak kaget.           Benar-benar gila! Mana ada seorang gadis bertanya tentang hal ini  seperti orang bertanya tentang perut lapar atau tubuh lelah saja.           Begitu biasa dan                     187                      sederhana! Begitu langsung dan terus terang.           Apakah tidak luar biasa? "Tentu saja, Bi-moi.           Aku..           aku.,. suka kepadamu.          " "Betul? Tidak bohong? Jangan-jangan di mulut bilang begitu, di hati berbunyi lain!" "Sungguh mati, Bi-moi.           Aku suka padamu, suka betul, tidak main-main dan tidak bohong!" "Betul suka? Dan kau.           mau menolong-; ku, mau membantuku?" "Tentu saja!" Siu Bi memegang kedua tangan Yo Wan dan meloncat-loncat kecil seperti orang menari,  wajahnya berseri, matanya bersinar-sinar, kedua pipinya merah, bi-birnya yang manis dan merah membasah itu agak terbuka, terhias senyum.           Bukan main cantik manisnya, membuat Yo Wan terpesona dan tubuhnya serasa dingin, "Yo-koko yang haik, koko yang per-kasa.           Terima kasih! Aku pun suka sekali padamu! Yo- twako, mari kaubantu aku mencari Pendekar Buta untuk membuat perhitungan, membalas sakit hati kakek Hek Lojin!" Serasa disambar geledek kepala Yo Wan.           Mampus kau sekarang! Mau rasanya dia menggejil (memukul dengan buku jari) Repalanya sendiri.           Mampus kau si sembrono! Cih.           terbujuk dan tertipu oleh kanak-kanak! Ingin dia marah marah kepada diri sendiri, marah kepada Siu Bi.           Akan tetapi dia tidak tega memarahi dara yang begini gembira-ria dan bahagia.           Ia harus berlaku cerdik.           Boleh juga membohong demi keselamatan hubungan mereka, demi kesenangan Siu Bi.           "Tentu saja aku akan membantumu dalam segala hal, Bi-moi.           Akan tetapi, mari kita duduk dulu dan kauceritakan kepadaku riwayat hidupmu.           Siapakah kakekmu yang bernama Hek Lo]in itu? Dan mengapa kau memusuhi Pendekar Buta? Kemudian, kau juga belum ceritakan bagaimana kau.           yang tadinya terculik oleh anggauta Ang-hwa-pai itu bisa bebas dan kelihatannya tidak dimusuhi lagi di Ching coa toö.           Siu Bi duduk diatas rumput wajahnya masih berseri.           "Kau baik sekali, Yo-twako.           Aku sekarang takkan marah lagi padamu.           Maafkan kelakuanku yang sudah-sudah, ya?" Yo Wan terharu.           Seorang gadis yang baik, baik sekali pada dasarnya.           Kasihan, agaknya tidak mendapatkan pendidikan sebagaimana mestinya di waktu kecil.           "Tidak ada yang dimaafkan, adikku.           Kau seorang gadis yang baik sekali.          '                    188                      "Sebetulnya aku tidak suka menceri-takan riwayatku kepada siapapun juga, Twako.           Akan tetapi kepadamu..           lain lagi.          " Aduhhhhh, jantung Yo Wan serasa cesssss..           direndam air es.           la meman-dang wajah itu dan sepasang matanya seakan-akan bergantung kepada bibir yang bergerak-gerak lincah.           "Aku mau ceritakan semua, akan tetapi kau harus berjanji akan memberi pelajaran ilmu silat kepadaku, Twako.          " "Ilmu silat? Tapi.. ilmu silatmu sudah hebat sekali!" "Hebat apanya? Cara kau menghindarkan pedangku tadi.           Bukan main! Aku ingin kau  mengajarkan aku cara mengelak seperti itu, Twako.          " Yo Wan kaget, Si-cap-it Sin-po atau ilmu langkah ajaib itu dia pelajari dari Pendekar Buta!  Mana boleh diajarkan kepada orang lain, apalagi kepada orang yang berniat memusuhi Pendekar Buta? Tapi dia segera mendapat sebuah pikiran yang cerdik dan bagus, maka dia mengangguk.           "Baiklah, nanti kuajarkan itu kepadamu!" Siu Bi mulai dengan ceritanya secara singkat.           "Aku anak tunggal seorang janda, sampai sekarang aku tidak tahu siapa ayahku karena ibu merahasiakannya.           Aku diambil anak ayah angkatku, juga aku menerima pelajaran dari kakek guruku, yaitu Hek Lojin.           Semenjak kecil aku belajar silat di Go-bi-san dan kakek Hek Lojin ainat sayang kepadaku.           Dia ke-hilangan lengannya, buntung sebatas siku kiri, dibuntungi Pendekar Buta ketika bertempur melawannya.           Karena kakek amat baik kepadaku, dia menurunkan semua ilmunya kepadaku dan aku telah bersumpah sebelum dia meninggal dunia bahwa aku pasti akan mencari Pendekar Buta dan membalaskan dendam hatinya dengan jalan membuntungi lengan Pendekar Buta dan anak isterinya.          " "Mengapa kakekmu bertempur dengan Pendekar Buta? Apakah dia tidak menceritakan kepadamu sebab-sebabnya sehingga kau dapat mengerti apakah sebetulnya kesalahan Pendekar Buta terhadap kakekmu?" Dengan hati-hati dan secara berputar, Yo Wan bertanya dengan maksud mengingatkan gadis ini bahwa tidak baik mengancam hendak membuntungi lengan orang-orang tanpa mengetahui kesalahan mereka yang sesungguhnya.           Akan tetapi dia keliru.           Siu Bi menggerakkan alisnya yang hitam panjang dan kecil seperti dilukis.           "Apa peduliku ten-tang itu? Bukan urusanku! Urusan antara mendiang kakek dan Pendekar Buta, ti-ada sangkut-pautnya dengan aku.           Urusanku dengan Pendekar Buta hanya untuk membalaskan sakit hati kakek yang telah dibuntungi lengannya, tentu saja berikut bunganya karena kakek sudah menderita puluhan tahun lamanya.           Adapun bunganya edalah lengan isteri dan anak Pendekar Buta.          "                    189                      Jawaban ini membuat Yo Wan menggeleng-gelengkan kepalanya dan menarik ,napas panjang.           "Eh, kau tidak setuju? Bukankah kau bilang hendak membantuku menghadapi mereka?" Cepat Yo Wan menjawab.           "Memang, aku akan membantumu dalam segala hal, Bi-moi.           Akan  tetapi, aku hanya ingin mengatakan bahwa tugasmu itu sama sekali bukanlah hal yang mudah dilaksanakan.           Pendekar Buta Kwa Kun Hong adalah seorang pendekar besar yang amat sakti.           Isterinya pun memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga puteranya.           Mereka bertiga merupakan keluarga yang sukar sekali dilawan, apalagi dikalahkan secara yang kaukatakan tadi, membuntungi lengan mereka.           Wahhh, hal ini kurasa takkan mungkin dapat kaulakukan.          " "Hemmm, Yo-twako, kenapa kau be-gini kecil hati dan penakut? Aku sih.           sama sekali tidak takut! Apalagi ada kau di sampingku yang akan membantuku, Menghadapi iblis-iblis dari mereka pun aku tidak takut! Kau tidak usah khawatir, Twako.           Kalau kita sudah berhadapan dengan mereka, biarkan aku menghadapi mereka sendiri.           Kau tidak usah turut campur atau turun tangan.           Terserah ke-padamu apakah kau mau membantuku kalau melihat aku kalah oleh mereka.           Aku hanya minta kautemani aku ke Liong-thouw-san.           Bagaimana?" Yo Wan merasa kasihan sekali dan tidak tega hatinya untuk menolak.           Benar-benar seorang gadis yang patut dikasihani.           Tidak tahu siapa ayahnya! Adakah ke-nyataan yang lebih pahit daripada ini? "Bi-moi, aku sendiri merasa heran mengapa ibumu merahasiakan siapa ada-nya ayahmu.           Akan tetapi, siapakah itu ayah angkatmu?" "Dia suami ibu!" "Ah..          !" Tak dapat Yo Wan menahan seruannya ini, karena memang sama sekali tak  disangka-sangkanya.           Melihat gadis itu memandang tajam karena seruan kagetnya, dia cepat-cepat menyambung.           "Kalau begitu, dia itu bukan ayah angkatmu, melainkan ayah tirimu.           Begitukah?" Siu Bi mengangguk, lalu terus menundukkan mukanya.           Betapapun juga, hatinya tertusuk dia merasa sakit.           Semenjak kakeknya terbunuh oleh The Sun dan ia mendengar bahwa orang yang selama itu ia anggap ayahnya ternyata bukan ayahnya sejati, timbul rasa tak senang, bahkan benci kepada diri ayah tirinya itu.           "Benar, dia itu ayah tiriku, namanya The Sun.           Selama ini aku memakai she The, padahal bukan..           eh, kau kenapa? Ketika mengangkat muka memandang, Siu Bi melihat betapa Yo                     190                      Wan melompat berdiri tegak, mukanya pucat sekali dan sepasang matanya memandang kepadanya, dengan terbelalak.           Cepat ia menghampiri dan hendak memegang pundak pemuda itu sambil berkata gemas, "Yo-twako, kau kenapa? Sakitkah kau?" "Tidak..           tidak..           jangan sentuh aku!" tenak Yo Wan sambil melompat muncur.           "Yo-twako, kenapakah ..           ?ö Siu Bi benar-benar gelisah melihat keadaan Yo Wan yang seperti  tiba-tiba menjadi gila itu.           "Kenapa?" suara Yo Wan parau dan tiba-tiba dia tertawa tapi seperti mayat tertawa.           "Huh- huh-huh kenapa katamu Ayah tirimu, The Sun itu adalah pembunuh ibuku!" Setelah berkata demikian, Yo Wan berkelebat dan sebentar saja dia sudah lenyap dari depan Siu Bi.           Gadis ini tercengang, berusaha mengejar, akan tetapi hatinya sendiri terlampau tegang sehingga kedua kakinya menjadi lemas.           la berusaha memanggil, akan tetapi tidak ada suara keluar dari mulutnya.           Kemudian ia bersungut-sungut dan berbisik lirih, penuh kemarahan dan kegemasan.           "The Sun, kau benar-benar telah merusak hidupku.. aku benci padamu..           aku benci..          " dan gadis ini lalu menangis terisak-isak di bawah pohon.           Sementara itu, dengan hati penn dan perasaan tidak karuan Yo Wan berlari-lari cepat sekali, menjauhkan diri sejauh mungkin dari gadis yang ternyata adalah anak tiri The Sun.           Dan anak tiri musuh 'M besarnya yang telen menghina ibunya dan " menyebabkan kematian ibunya ini (baca Pendekar Buta), sekarang bermaksud akan membuntungi lengan suhu dan subonya serta putera mereka! Tan Kong Bu dan isterinya, Kui Li Eng dengan penuh kebahagiaan menikmati hidup mereka di puncak Min-san.           Para pembaca cerita Rajawali Emas tentu sudah mengenal siapa adanya suami isteri pendekar ini, yang keduanya memiliki ilmu kepandaian sangat tinggi.           Tan Kong Bu adalah putera Raja Pedang Tan Beng San, sedangkan isterinya, Kui Li Eng adalah puteri Kui-san-jin ketua Hoa-san-pai.           Yang laki-laki putera ketua Thai-san-pai, yang wanita puteri ketua Hoa-san-pai.           Tentu saja mereka merupakan pasangan yang hebat.           Akan tetapi, suami isteri ini lebih suka bersunyi diri, menjauhkan keramaian dunia, memperdalam ilmu dan menerima belasan orang murid di Min-san sehingga kelak terkenal munculnya sebuah partai persilatan baru, yaitu Min-san-pai.           Biarpun belasan orang anak murid Min-san-pai merupakan anak-anak pilihan yang berbakat sehingga rata-rata mereka itu dapat mewarisi kepandaian yang diturunkan oleh kedua suami isteri pendekar ini, namun mereka itu tidak dapat menyamai kemajuan yang diperoleh puteri tunggal guru mereka.           Tan Kong Bu dan isterinya memang hanya mempunyai seorang anak perempuan yang diberi nama Tan Lee Si.           Seorang gadis berusia sembilan belas tahun, cantik dan ber-wajah agung, berwatak keras seperti ibunya dan jujup                     191                      seperti ayahnya.           Biarpun merupakan anak tunggal, Lee Si tidak biasa dimanja dan ia dapat berdiri de-ngan teguh di atas kaki sendiri, dalam arti kata segala sesuatu ingin ia putus-kan dan laksanakan sendiri sehingga biar-pun masih amat inuda, namun ia telah mempunyai pandangan luas dan ketabahan yang luar biasa.           Ilmu silat yang dimiliki Lee Si memang aneh, merupakan percampuran dari ilmu kedua orang tuanya.           Ayahnya, Tan Kong Bu, memiliki ilmu warisan dari mendiang Song-bun-kwi Kwee Lun terutama sekali Ilmu Silat Yang-sin-kun! Adapun ibunya, Kui Li Eng, mewarisi ilmu silat aseli dari Hoa-san-kun.           Karena ia menerima gemblengan dari ayah bun-danya, maka Lee Si tentu saja faham akan kedua ilmu itu, malah kedua ilmu yang sudah mendarah daging di tubuh dan urat syarafnya itu telah bercampur dan terciptalah ilmu silat campuraii yang aneh dan lihai.           Ayahnya memberi hadiah sebatang pedang yang bersinar Kuning, sebuah pedang pusaka ampuh yang bernama pedang Oie-kong-kiam.           Adapun ibu-nya, seorang ahli senjata rahasie Hoa-san-pai, setelah melatih puterinya dengan ilmu senjata rahasia, menghadiahi se-kantung gin-ciam (jarum perak).           Tidak sembarang ahli silat mampu memper-gunakan gin-ciam ini, karena jarum-jarum itu amatlah lembutnya, jika dipergunakan hampir tidak mengeluarkan suara dan sukar diikuti pandangan mata.           Cara menggunakan harus mengandalkan sinkang dan latihan yang masak.           Pada suatu pagi yang cerah, Lee Si berlatih ilmu silat pedang di dalam ke-bun di belakang rumahnya.           Sejak kemarin ia melatih jurus campuran dari Yan-sin-kiam jurus ke delapan dengan Hoa-san-kiam-sut jurus ke lima.           Kedua jurus ini mempunyai persamaan, akan tetapi me-ngandung daya serangan yang amat berlainan sehingga kalau kedua Jurus ini dapat dikawinkan, akan merupakan jurus yang ampuh.           Akan tetapi Lee Si me-nemui kesulitan.           Tiap kali ia mainkan kedua jurus ini dalam gerakan campuran, ia merasakan dadanya sesak.           Beberapa kali sudah ia mencoba dan akhirnya ia menyarungkan pedangnya di punggung, lalu berdiri tegak dan mengumpulkan napas, suatu ilmu berlatih napas secara aneh yang diajarkan oleh ayahnya untuk mengerahkan tenaga Yang-kang.           Beberapa menit kemudian ketika sesak pada dada-nya sudah lenyap, ia meinbuka matanya dan menarik napas panjang.           Pada saat itu terdengarlah suara orang perlahan, "Anak baik, mengapa kau tidak men-coba dengan barengi cara Pi-ki-hu-hiat (Tutup Hawa Lindungi Jalan Darah)? Jurusmu terlalu kacau dan berbahaya, kalau diulang-ulang bisa membahayakan diri sendiri.          " Lee Si menengok dan tampaklah olehnya seorang laki-laki berusia lima puluh tahun kurang lebih duduk berjongkok di atas tembok kebun.           Orang itu dapat berada di sana tanpa ia ketahui sudah membuktikan bahwa dia adalah seorang yang berkepandaian tinggi.           Lee Si berpeman-dangan luas, biarpun hatinya tak senang ada orang tak terkenal berani menegur dan malah memberi nasehat kepadanya yang berarti bahwa orang itu mernandang rendah, namun ia dapat menekan perasa-annya dan berkata,                    192                      "Orang tua, siapakah kau dan apa perlunya kau berada di sini mengintai orang?" Laki-laki itu tersenyum dan wajahnya yang tenang itu berseri.           "Aku adalah sahabat baik  ayahniu, sengaja datang ke Min-san.           Kebetulan tadi aku mendengar sambaran angin pedangmu, membuat aku tertarik sekali dan secara lancang menonton.           Gerakan-gerakanmu menyatakan bahwa kau tentulah puteri Kong Bu.          " Keterangan ini dapat diterima, akan tetapi karena Lee Si belum pernah bertemu dengan orang ini dan sering kali ia mendengar dari ayah bundanya bahwa mereka dahulu banyak dimusuhi orang-orang jahat di dunia kang-ouw, maka ia tetap menaruh curiga.           '"Maaf, Lopek (Paman Tua), kalau memang kau adalah seorang tamu dari ayah, rnengapa tidak langsung masuk dari pintu depan? Sebelum bertemu dengan ayah, maaf kalau saya tidak berani inelayanimu lebih jauh.          " Orang itu tertawa.           "Ha-ha-ha, bagus sekali! Puteri Kong Bu benar-benar seorang yang hati- hati dan tidak sembrono.           Ketahuilah, anak baik, aku datang dari Thai-san.           Beritahukan ayahmu bahwa..           ah, itu dia sendiri datang!" Lee Si menengok dan kagumlah ia akan kelihaian orang tua itu.           Benar saja bayangan ayahnya berkelebat keluar dari pintu belakang.           Begitu ayahnya melihat laki-laki yang berjongkok di atas pagar tembok, ia tercengang sejenak, kemudian terdengar dia berseru girang, "Haiii..           bukankah suheng (kakak , seperguruan) Su Ki Han yang datang berkunjung?" Suara Kong Bu keras dan nyaring.           Pendekar ini biarpun usianya sudah empat puluh tahun lebih, masih tampak muda dan gagah.           la tertawa dan dengan beberapa kali lompatan saja dia sudah berada di dalam kebun.           Tak lama kemudian berkelebat bayangan yang gesit dari seorang wanita cantik.           "Lihat siapa yang datang berkunjung ini!" Kong Bu berseru.           Wanita itu berdiri memandang, latu tersenyum manis dan sepasang matanya yang masih  bening itu bersinar-sinar.           "Ah, kiranya seorang tamu agung dari Thai-san!" Kui Li Eng wanita ini, juga berlompatan dalam kebun.           Lee Si menjadi girang sekali la cepat memberi hormat kepada laki-laki yang sudah melompat turun dari atas pagar tembok dan kini berpelukan dengan Kong Bu itu.           "Sudah lama saya mendengar nama Supek, harap maafkan kekurangajaran saya tadi.          " "Wah, kau anak nakal.           Apakah kau ysudah berlaku kurang ajar kepada Su-suheng?" bentak Kong Bu.                              193                      "Eh, jangan galak-galak, Sute.           Dia anak baik, baik sekali, sama sekals tidak nakal atau kurang ajar.           Malah aku yang tidak tahu diri, menerobos memasuki rumah orang melalui kebun belakang seperti maling dan mulutku yang gatal ini berani memberi komentar atas latihannya bermain pedang.          " "Bagus sekali! Hayo cepat kauhatur-kan terima kasih kepada Supekmu atas petunjuknya yang berharga!" kata Li Eng kepada puterinya.           Lee Si kembali menjura dengan hor-mat.           "Supek, saya menghaturkan banyak terima kasih atas petunjuk Supek tadi yang tentu akan saya coba dan saya perhatikan.          " Su Ki Han menggoyang-goyang kedua tangannya ke atas.           "Wah-wah, kalian ini memang orang-orang yang berjiwa satria, pandai merendah diri.           Pantas saja anak ini demikian maju dan hebat kepandaian-nya, kiranya bermodal sikap merendahkan diri yang amat baik untuk mencapai kemajuan! Petunjukku tadi belum tampak buktinya, belum juga dicoba, bagaimana spatut ditebus dengan ucapan terima kasih?" "Supek, sesungguhnya sudah berhari-hari saya bingung menghadapi dua jurus yang hendak saya satukan itu, belum menemui jalan pemecahannya.           Malah dada saya terasa sesak bernapas.          " "Kau memang bandel!" Kong Bu mencela puterinya.           "Ilmu silatku dan ilmu silat Ibumu semenjak dahulu memang berlawanan, sudah berkali-kali Ibumu dan aku bertanding, selalu tiada yang nienang tiada yang kalah.           Bagaimana bisa kau satukan?" "Ayah dan Ibu buktinya bisa bersatu, mengapa ilmunya tidak bisa?" "Eh, anak gila..          !" Li Eng berseru dengan muka menjadi merah sekali.           "Ha-ha-ha, anak kalian ini rnemang benar.           Biarpun ilmu silat itu berlawanan sifatnya,  namun bukan tak mungkin dapat disatukan, asal pandai mengaturnya.           Sifat Im dan Yang memang berlawanan inilah yang menjadikan segala apa di duma ini.           Bukankah dalam kitab Ya-keng disebut bahwa IT IM IT YANG WI CI TO (sebuah Im dan sebuah Yang, itulah disebut TO)? Kekuasaaan alam bekerja dengan dasar Im Yang dua unsur berlawanan yang saling menarik, juga saling menolak, saling' menghancurkan, juga saling menghidupkan.           Dengah adanya perpaduan Im dan Yang, barulah tercipta Ngo-heng, sari pati SUI HO BOK KIM THO (air-api-kayu-logam-tanah).           Cara kerja Ngo-heng pun berdasarkan Im dan Yang, sa-ling menghidupkan dan saling mematikan.           AIR menghidupkan KAYU, KAYU meng-hidupkan API, API menghidupkan TANAH, TANAH menghidupkan LOGAM, dan LOGAM menghidupkan AIR.           Sebaliknya, AIR mematikan API, API mematikan LOGAM, LOGAM mematikan KAYU, KAYU mematikan TANAH, dan TANAH mematikan AIR.           Tentu saja arti kata menghidupkan boleh diganti menghasilkan, sedangkan mematikan boleh memusnahkan atau memakan habis.                               194                      Wah, aku jadi ngacau terus..           ha-ha-ha!" "Bagus, bagus, Supek.           Saya mulai dapat menangkap rahasia Im dan Yang!" teriak Lee Si  sambil bertepuk tangan kegirangan.           "Supekmu adalah murid tertua dari kakekmu, tentu saja dia telah mewarisi Ilmu Im-yang- sin-hoat," kata Kong Bu tersenyum.           Kembali sambil tertawa Su Ki Han mengangkat kedua lengannya ke atas menolak pujian itu.            "Tentang ilmu kepandaian silat, mana bisa aku dibanding-kan dengan Ayah dan Ibumu? Anak baik kalau belajar ilmu silat, ayah bundamu inilah gurunya.           Kalau mempelajari teori tentang Im Yang, mungkin aku akan dapat memberi penjelasan.           Karena tadl kulihat bahwa gerakanmu dalam mempersatukan dua jurus itu mengandung hawa Im dan Yang, dua hawa yang berlawanan, maka kau gagal dan inilah merasa sesak dadamu.           Satu-satunya cara untuk mengatasinya hanya dengan Pi-ki-hu-hiat, karena dengan demikian, kau akan dapat mengatur kedua hawa yang bertentangan itu dengan teratur dan bergiliran sehingga dapat menghasilkan jurus yang lihai dan sukar diduga iawan.          " "Lee Si, setelah mendapat petunjuk dari Supekmu, kenapa tidak segera di-eoba agar kalau ada kekurangannya dapat minta penjelasan lagi?" kata Li Eng ke-pada puterinya.           Ibu yang amat mencinta puterinya ini tentu saja menggunakan setiap kesempatan untuk kepentingan dan keuntungan puterinya.           "Sing..          !" Sinar kuning berkelebat ketlka Lee Si mencabut pedang Oei-kong-kiam.           "Supek, mohon petunjuk Supek kalau ada kekeliruan," katanya dan sekali lagi, seperti yang telah ia lakukan di luar tahu ayah bundanya selama beberapa hari ini tanpa hasil, ia bersilat mainkan jurus yang digabung itu.           la mentaati petunjuk Su Ki Han dan sambil bersilat ia mengerahkan Ilmu Menutup Hawa Melindungi Jalan Darah.           Gerakan kedua jurus itu ia satukan dan.. ia berhasil melakukannya dengan baik.           "Eh, seperti Yang-sin-kiam jurus ke delapan!" seru Kong Bu.           "Tidak, seperti jurus ke lima dari Hoa-san Kiam-sut'" seru Li Eng.           Dengan girang sekali Lee Si meng-hentikan gerakannya dan bersorak, "Aku berhasil! Ayah,  Ibu, memang itu tadi jurus ke delapan dari Yang-sin-kiam di-gabung dengan jurus ke lima dari Hoa-san Kiam-sut'.           Supek, terima kasih.          " Mereka tertawa-tawa dengan girang.           "Wah, kita ini tuan dan nyonya rumah macam apa?" Kong Bu tiba-tiba berseru mencela diri sendiri dan isterinya "Ada tamu agung datang, bukan lekas-lekas disambut dan dijamu, malah direpotkan dengan anak kita.           Inilah kalau kita terlalu memanjakan anak!"                     195                      "Ah, di antara saudara sendiri, manah ada aturan sungkan-sungkan segala ma-cam?" Su Ki Han membantah.           Akan tetapi dia segera mengikuti mereka memasuki rumah di mana pemilik rumah cepat menyuguhkan minuman dan me-nanyakan keselamatan ayah bunda me-reka di Thai-san.           Tan Kong Bu adalah putera Raja Pedang Tan Beng San dan mendiang Kwee Bi Goat.           Nyonya Tan Beng San yang pekarang, yaitu Cia Li Cu ibu Tan Cui Sian adalah ibu tirinya.           "Keadaan suhu dan subo (ibu guru) sehat-sehat dan selamat.           Juga Thai-san-pai makin berkembang, tidak pernah terjadi hal-hal yang buruk.          " "Supek, kenapa bibi Cui Sian tidak ke si-ni? Saya sudah kange'" betul.           Sepuluh tahun sudah tak pernah bertemu dengannya.           Tentu dia lihai sekali dan eantik jelita, ya?" "Karena bibimu itulah maka hari ini aku berada di sini.           Sumoi sudah sebulan lebih turun gunung ketika datang putera Bun-goanswe yang mengabarkan bahwa ada anak murid Hek Lojin yang meneari-cari Pendekar Buta untuk membalas den-dam.           Malah putera Jenderal Bun itu pun menceritakan adanya sekawanan pen-jahat yang bernama Ang-hwa-pai, ber- pusat di Pulau Chong-coa-to dipinipin oleh Ang-hwa Nio-nio dan banyak orang sakti lainnya, juga mengumpulkan tenaga untuk menyerbu Liong-thouw-san.           Putera Jenderal Bun itu dalam per.          jalanannya ke Liong-thouw-san untuk memberi kabar, dan dia sengaja mampir ke Thai-san, seperti yang dipesankan oleh ayahnya.           Mendengar berita ini, suhu menjadi tidak enak hatinya.           Permusuhan berlarut-larut yang kini mengancam keselamatan keluarga Pendekar Buta sebetulnya terjadi karena suhu, sedangkan Pendekar Buta, Kwa- taihiap, hanya membantu suhu.           Maka aku lalu disuruh turun gunung, men-cari sumoi untuk bersama-sama pergi ke Liong-thouw-san, bila perlu membantu Kwa-taihiap menghadapi musuh-musuh yang menyerbu.          " Mendengar ini, Kong Bu malah tertawa.           "Ah, ayah terlalu mengkhawatirkan keselamatan Kwa Kun Hong, sungguh lucu! Suheng, di jaman ini, siapakah orang-nya yang akan mampu mengalahkan Pendekar Buta dan isterinya? Kalau ada yang sekit hati dan ingin membalas dendam, biarkan mereka itu pergi menandingi Pendekar Buta, biar mereka tahu rasa.           Ingin aku melihat mereka itu seorang demi seorang dirobohkan.          " "Paman Hong, biarpun sudah buta, penjahat-penjahat itu akan dapat berbuat apakah terhadapnya? Akan tetapi, ayah mertua benar juga.           Adik Cui Sian akan mendapat pengalaman yang amat ber-harga kalau dia sempat menyaksikan paman Kun Hong menghajar para pen-jahat yang hendak rnenyerbu ke Liong-thouw-san.          " Ucapan Li Eng ini disertai suara mengandung kebanggaan.           Kwa Kun Hong terhitung pamannya, seperguruan, maka ia patut berbangga akan kelihaian dan ketenaran nama pamannya.           Su Ki Han tersenyum mendengar kata-kata suami isteri ini.           Ternyata mereka ini masih sama dengan dahulu, tabah, berani dan gagah perkasa, juga jujur kalau bicara.           Suami isteri yang cocok sekali, pantas mempunyai puteri sehebat Lee Si.                              196                      "Memang tak dapat disangkal bahwa Kwa-taihiap memiliki kepandaian yang sakti.           Suhu sendiri sering kali memuji-mujinya, apalagi karena sumber ilmu kepandaian Kwa-taihiap dan suhu adalah sama, yaitu dari kitab pusaka Im-yang Bu-tek Cin-keng.           Akan tetapi menurut suhu, sekarang banyak bermuncullan orang-orang sakti di dunia hitam, apalagi yang datang dari barat dan utara.           Kaisar sendiri sampai bersusah payah dalam usahanya memperkuat dan memperbaiki Tembok Besar untuk mencegah perusuh dari barat dan utara.           Namun, banyak tokoh-tokoh sakti mereka itu berhasil menerobos masuk dan selain melakukan penyelidikan untuk mengukur keadaan, juga mereka banyak berhubungan dengan tokoh-tokoh hitam di 'sini.           Karena itulah, menurut suhu, sudah tiba saatnya kitqi semua harus bangkit, siap sedia membela negara dan bangsa menghadapi mereka itu.           Pada saat ini, agaknya pribadi Pen-dekar Buta menjadi pusat perhatian para tokoh hitam yang banyak menaruh dendam.           Maka, Kwa-taihiap boleh diumpamakan sebagai umpan untuk memancing datang tokoh-tokoh itu dan kita harust mernbantunya nnembasmi mereka agaK negara bersih daripada gangguan mereka.           Bagaimana pendapat, Sute?" Kong Bu mengangguk-angguk.           "Ayah, selalu berpemandangan luas.           Tentu saja kami di sini, biarpun hanya terdiri dari-pada kami bertiga dan beberapa belas, anak murid yang kaku dan bodoh, selalu siap membantu apabila diperlukan.          " "Bagus!" Li Eng menyambung.           "Belasan tahun pedangku tinggal bersembunyi di dalam sarungnya, membuat aki menjadi malas.           Berilah aku lawan yang jahat dan kuat, dan kegembiraan lama akan timbul kembali!" "Wah-wah, kau kambuh lagi?.           Apa tidak takut ditertawai anakmu? Kita sudah tua, tidak perlu menonjolkan semangat seperti di waktu muda.          " Kong Bu menggoda isterinya.           "Ayah, aku setuju dengan Ibut Ibu gagah dan bersemangat, mengapa dicela? Dan aku percaya, kalau Ibu ikut terjun, segala macam penjahat itu mana berani menjual lagak?" Lee Si membela ibunya.           Su Ki Han tertawa bergelak.           "Anak baik, kalau Ibumu tidak begitu bersema-ngat dan gagah perkasa, mana bisa menjadi isteri Ayahmu? Sute berdua, kedatanganku ke sini, seperti telah kukatakan tadi, adalah mencari sumoi.           Tadinya kusangka bahwa sumoi mengunjungi kali- an.           Apakah sumoi tak pernah datang ke sini?" "Tidak, Su-suheng.          " "Heran sekali, ke mana dia pergi? Apakah ke Lu-liang-san, ke rumah sute Tan Sin Lee?  Ataukah ke Hoa-san-pai? Dalam penyelidikanku, pernah dia terlihat di dekat daerah Tai- gpan, malah kabar-nya dia telah pergi mengunjungi Pulau Ching-eoa-to! Akan tetapi sekarang dia tidak berada di sana, malah ketika ku-tanyakan Bun-goanswe, juga tidak sing-                    197                      gah di sana.          " "Mana bisa mencari seorang yang se-dang merantau? Suheng, lebih baik kau mendahului ke  Liong-thouw-san dan menanti di sana.           Akhirnya Cui Sian tentu juga akan singgah ke sana.          " "Senang sekali memang melakukan perantauan seorang diri seperti Cui Siam.           Dengan  sebatang pedang menjelajan seribu gunung, memberi kesempatan kepada pedang untuk menghadapi seribu kesulitanc Wah, kau takkan berhasil mencarinya, Su-suheng.           Memang sebaiknya kau me-nanti di Liong-thouw-san.           Kelak kalau dia muncul di sini, tentu akan kuben tahu," kata Li Eng dengan wajah DerserU Nyonya ini yang dahulunya merupakan seorang gadis yang lincah dan suka sekali merantau, teringat akan masa mudanya dan timbul kegembiraannya.           "Cui Sian tidak seperti kau!" eefla Kong Bu.           "Kau dahulu selalu mencari perkara.           Kalau semua gadis muda seperti kau akan kacaulah  dunia.           Ada gadis seperti kau lima saja, pasti dunia kang-ouw akan geger.          " Mereka tertawa- tawa lagi.           Pertemuan dengan murid kepala Thai-san-pai ini ternyata mendatangkan kegembiraan luar biasa dan mereka bertiga itu bercakap-cakap sambil tertawa-tawa sampai hampir semalam suntuk.           Banyak arak dan daging melewati tenggorokan mereka, dan ketiganya tidak memperhatikan lagi betapa sore-sore Lee Si sudab masuk ke kamarnya.           Baru pada keesokan harinya suann isteri ini mendapat kenyatean bahwa .           puteri mereka tidak berada di dalam kamarnya dan bahwa pembaringannya tak pernah ditiduri malam itu.           Di atas meja dalam kainar Lee Si terdapat kertas bertulisan huruf-huruf halus yang berbunyi, "TURUN GUNUNG MENCARI BIBI CUI SIAN'".           "Bocah lancang!" seru Kong Bu yang cepat memanggil murid-muridnya yang tinggal di puncak dalam bangunan lain.           Para murid yang berjumlah tiga belas orang ini juga tidak ada yang melihat bila Lee Si pergi furun gunung, karena malam hari itu, tahu bahwa suhu dan subo mereka menjamu seorang tamu dari Thai-san, para murid ini tidak berani di dalam bangunan tempat tinggal mereka.           "Mengapa ribut-ribut? Biarkan dia turun gunung mencari pengalaman.           Dia bukan anak kecil lagi," kata Li Eng, tidak puas melihat suaminya seperti se-ekor ayam kehilangan anaknya.           "Biarpun dia sudah dewasa dan ke-pandaiannya cukup, tapi dia masih hijau.           Dunia banyak sekali orang jahat, bagai-mana kalau dia tertimpa bencana?" "Ah, kau sebagai ayah terlalu me-manjakannya! Kalau dia tidak digembleng dengan kesulitan dan bahaya, mana patut menjadi puteri kita?"                    198                      Su Ki Han menjadi tidak ehftte+ "Ahhh, akulah gara-garanya.           Kalau tidak muncul di sini, agaknya Lee Si tidak akan pergi turun gunung.           Biarlah aku minta diri sekaring dan akan kususul dia!" "Jangan menyalahkan diri, Suheng.           Memang sudah lama anak itu ingin sekali turun gunung, tapi selalu ditahan ayahnya.           Sekarang ada kesempatan dan ada alasan, yaitu untuk mencari bibinya, Cui Sian, biar sajalah," kata Li Eng menghibur.           Juga Kong Bu menghibur, menyatakan bahwa bukan kesalahan Su Ki Han yang menyebabkan Lee Si pergi.           Akan tetapi Su Ki Han tetap berpamit dan segera turun gunung dengan maksud mengejar Lee Si dan membujuk anak perempuan itu pulang ke puncak Min- san.           Atau se-+tidaknya ia dapat mengamat-amati dan menjaganya.           Akan tetapi betapapun cepat dia menggunakan ilmunya lari turun gu-nung, tetap dia tak dapat menyusul Lee Si.           Gadis ini bukanlah orang bodoh dan ia pun tahu bahwa ayahnya tidak suka membiarkan ia pergi.           Oleh karena itu, malam tadi ia berangkat dengan cepat dan menyusup-nyusup hutan, tidak mau melalui jalan besar.           Karena baru kali ini ia turun gunung dan ia tidak ingin ayahnya dapat menge-jar dan memaksanya kembali, ia sengaja turun dari lereng sebelah barat dan sesukanya ia lari tanpa tujuan sehingga tanpa ia sadari, gadis ini melakukan perjalanan menuju ke barat! Dari Pe- gunungan Min-san ke barat, melalui dae-rah pegunungan yang tiada habisnya dan beberapa pekan kernudian gadis ini masih belum terbebas dari daerah pegunungan karena ternyata ia telah masuk daerah Pegunungan Bayangkara! Penduduk dusun di pegunungan adalah orang-orang gunung yang tak pernah meninggalkan daerah pegunungan, maka tak seorang pun yang dijumpainya dapat menerangkannya ke mana jalan menuju Ke Liong-thouw-san atau ke kote raja.           Hanya ada dua tempat di dunia in yang menarik hati Lee Si dan yang mendorong ia turun gunung yaitu pertama di Liong-thouw-san karena ia ingin, sekal berjumpa dengan paman ibunya yang terkenal dengan narna Pendekar Buta, dan ke dua ia ingin sekali menyaksikan bagaimana keadaan kota raja yang nanya pernah didengarnya dari eerita ibunya.           Pada suatu hari, ketika ia menuruni sebuah puncak di Pegunungan Bayangkara dan baru saja keluar dari sebuah hutan, ia mendengar suara aneh.           Suara meleng-king tinggi dan suara seperti seekor ka-tak buduk "bernyanyi" di musim hujan.           Sebagai puteri suami isteri pendekar yang berilmu tinggi, ia segera dapat men-duga bahwa suara-suara itu tentulah suara yang keluar dari mulut orang-orang sakti yang mengerahkan khikang tinggi.           Cepat ia menyusup di antara pepohonan dan mengintai.           Betul seperti telah diduganya, dari balik batang pohon ia mengintai daq melihat dua orang laki-laki aneh sedang berhadapan.           Yang melengking tinggi dan nyaring, lebih nyaring daripada lengking suara ayahnya kalau mengerahkan khikang, adalah seorang kakek berjenggot pendek yang tubuhnya amat                     199                      tinggi, lebih dua meter tingginya.           Laki-laki ini berpakaian seperti orang asing, jubahnya berwarna kuning dan kepalanya dibungkus kain sorban warna kuning pula.           Telinganya memakai anting-anting dan melihat bentuk hidungnya yang panjang melengkung serta kulitnya yang agak coklat gelap, terang bahwa si jangkung ini adalah seorang asing.           Adapun orang ke dua yang memasang kuda-kuda dengan kedua lutut ditekuk setengah berjongkok sambil me-ngeluarkan suara "kok-kok-kok!" seperti suara katak buduk, adalah seorang kakek yang tubuhnya pendek gemuk berkepala gundul, kumis seperti tikus dan jenggot-nya pendek.           Dengan hati tertarik Lee Si meman-dang.           Pasangan kuda-kuda kakek pendek gendut itu baginya tidaklah asing.           Itu adalah pasangan kuda-kuda yang utnum dan banyak dilakukan oleh ahli silat dari utara.           Akan tetapi pasangan kuda-kuda si jangkung itulah yang amat mengherankan hatinya.           Si jangkung itu berdiri dengan kedua kaki terpentang lurus, berdirinya bukan menghadapi lawan melainkan nn-ring sehingga lawannya berada di sebelah kanannya, kedua lengan dikembangkan dengan jari-jari terbuka, mukanya seperti orang kemasukan setan dan dari mulutnya keluarlah bunyi lengking yang kadang-kadang mendesis-desis.           Lee Si dapat menduga bahwa dua orang itu tentu sedang berada dalam awal pertandingan.           la tidak mengenal mereka, juga tidak tahu mengapa dua orang aneh ini seperti hendak bertempur, nriaka ia hanya mengintai dan menjadi penonton.           Tiba-tiba si pendek gendut makin merendahkan tubuhnya dan suara "kok-kok" dari mulutnya makin dalam, kemudian kedua tangannya mendorong ke depan.           Kedua lengan itu tampak menggetar, penuh dengan tenaga mujijat yang menerjang ke depan.           Si tinggi itu meng-gerakkan kedua lengan seperti orang menangkis, namun tetap saja ia terhu-yung ke kiri, mukanya berubah merah sekali.           Lee Si terkejut bukan kepalang.           He-bat si pendek itu.           Entah ilmu pukulan jarak jauh apa yang diperlihatkan tadi, tapi terang bahwa si jangkung telah ter-desak hebat dan keadaannya berbahaya.           Mendadak si jangkung mengeluarkan suara melengking tinggi, tubuhnya berjungkir balik tiga kali dan tahu-tahu dia telah melayang ke tempat yang tadi, kemudian kedua lengannya bergerak dari atas kepala ke bawah seperti orang menekan.           Dari kedua lengan yang panjang ini menyambar hawa pukulan sakti yang membuat debu mengebul di depan kakinya! Kali ini si pendek gendut yang menerima serangan ini dengan kedua tangannya, terdorong mundur sampai satu meter lebih dan hanya dengan melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan seperti bola karet ia dapat mematahkan daya serangan lawan yang menggunakan pukulan jarak jauh mengandalkan tenaga mujijat.           Keduanya lalu melompat dan oerdiri berhadapan dalam keadaan biasa.           Keduanya agak pucat dan si pendek gendut tertawa dengan suaranya yang pareu dan , dalam, "Ha-ha-ha, sobat Maharsi, hebat bukan main pukulanmu tadi.           Aha, agaknya inilah Pai-san-jiu (Pukulan Mendorong Gunung) yang terkenal hebat itu!"                    200                      "Hemmmi, Bo Wi Sianjin, kami orang-orang barat hanya mempunyai sedikit hasil latihan, mana dapat disamakan dengan kau, seorang tokoh utara yang hidupnya nienentang keadaan alam yang buas dan kuat? Sudah lama aku mendengar bahwa Ilmu Pukulan Katak Sakti darimu tiada bandingnya dan ternyata hari ini aku telah membuktikan sendiri kehebatannya.           Kalau kau tidak meman-dang persahabatan, agaknya aku tadi takkan kuat menahan!" "Ha-ha-ha-ha-ha, kau orang barat nnemang pandai sekali mengelus hati merayu perasaan dengan pujian muluk! Bagiku, tidak ada kesenangan yang me-lebihi bertanding ilmu untuk membukti-kan sampai di mana hasil jerih payah yang kita derita selama puluhan tahun.           Akan tetapi, karena kita perlu sekali menyatukan tenaga menghadapi lawan yang lihai, biarlah aku bersabar dan kelak masih banyak waktu bagi kita untuk memuaskan hati menengok siapakah di antara kita yang lebih berhasil.          " "Hemmm, aku selalu akan mengiringi keinginan hatimu, Sobat.           Akan tetapi betul sekali kata-katamu tadi, saat ini kita perlu menghimpun tenaga.           Lawan-lawan kita bukanlah orang-orang yang mudah dikalahkan," jawab si jangkung dengan bahasa yang terdengar kaku namun cukup jelas bagi Lee Si yang masih mengintai sambil mendengarkan.           "Kau benar, Maharsi.           Kaukatakan tadi bahwa kau menerima pernnntaan bantuan dari adik seperguruanmu Ang-hwa Nio-nio? Jadi sekarang kau hendak pergi mengunjunginya ke Ching-coa-ouw (Telaga Ular Hijau)?" "Betul, Sianjin.           Adikku Kui Ciauw itu sekarang menjadi ketua Ang-hwa-pai di Pulau Ching- coa-to.           Memang dulu sudah kujanjikan akan membantunya, karena kedua orang adikku Kui Biauw dan Kui Siauw telah tewas di tangan Pendekar Buta dan teman-temannya.           Kau sendiri, kukira turun dari pegunungan utara untuk urusan kematian suhengmu Ka Chong Hoatsu.           Bukankah begitu?" "Betul, Maharsi.           Kakak seperguruanku itu tewas di tangan Raja Pedang yang sekarang menjadi ketua Thai-san-pai "Hemmm, lawan kita memang berat.           Pendekar Buta biarpun masih muda, kepandaiannya luar biasa sekali.           Untuk menghadapinya maka selama hampir dua puluh tahun aku melatih dengan Pai-san-jiu.          "  Si pendek gendut mengangguk-angguk.           "Sama halnya dengan aku, Sobat.           Bu-tek Kiam-ong Tan Beng San memiliki ilmu kepandaian yang lihai, terutama ilmu pedangnya Im-yang-sin- kiam.           Karena itulah maka aku menyembunyikan diri selama dua puluh tahun lebih, khusus untuk melatih Ilmu Pukulan Katak Sakti guna menghadapinya.           Mudah-mudahan jerih payah kita takkan, sia-sia dan roh-roh saudara kita akan dapat tenteram.          "                    201                      Lee Si yang mendengarkan percakapan ini menjadi kaget sekali.           Baiknya dia seorang gadis yang cukup cerdik dan tidak sembrono.           la dapat menduga bahwa dua orang ini merupakan lawan-lawan yang amat tangguh, maka ia tidak mau sembarangan keluar dari tempat persem-bunyiannya.           Pada saat itu, terdengar suara orang tertawa bergelak, tepat di belakang Lee Si dan sebelum gadis ini sempat berbuat sesuatu, pundaknya telah dicengkeram orang dan ternyata yang menangkapnya adalah seorang hwesio yang sudah amat tua, mukanya pucat seperti mayat, tubuhnya tinggi besar dan kedua matanya selalu meram seperti orang buta, bajunya yang terbuat dari-pada kain kasar terbuka lebar di bagian dada memperlihatkan sebagian perut yang gendut.           "Tokoh-tokoh utara dan barat diintai bocah di luar tahu mereka, benar-benar aneh!" kata hwesio itu dengan suara tak acuh, kemudian tangannya bergerak dan..           tubuh Lee Si melayang ke arah dua orang aneh itu seperti sehelai daun kering tertiup angin! Tentu saja Lee Si yang tadinya sudah kaget, kini inenjadi takut setengah mati.           la maklum bahwa tubuhnya melayang ke arah dua orang aneh itu dan tidak tahu bagaimana akan jadinya dengan dirinya.           Tentu saja de-ngan mempergunakan ginkang, setelah kini terbebas dari pegangan hwesio sakti itu, ia dapat melayang ke samping untuk melarikan diri.           Akan tetapi ia pun cukup maklum bahwa hal ini akan sia-sia belaka.           Tak mungkin ia melarikan diri dari tiga orang aneh ini kalau mereka tidak menghendaki demikian.           la teringai akan cerita ayah bundanya tentang keanehan tokoh-tokoh kang-ouw di dunia persilatan.           Jalan satu-satunya hanya menyerah tanpa mengeluarkan kepandaian sehingga tiga orang itu akan merasa malu untuk meng-ganggu seorang lawan yang tidak me-miliki kepandaian seimbang.           la harus mempergunakan kecerdikan di mana kepandaiannya takkan dapat menolongnya.           Oleh karena inilah, ia hanya memutar agar dalam melayang ini ia dapat me-mandang kepada kedua orang tokoh dari . barat itu.           Siapakah tiga orang sakti ini? Seperti dapat diketahui dari percakapan antara si jangkung dan si pendek yang didengarkan oleh Lee Si tadi, si jangkung adalah seorang tokoh barat berbangsa India se-belah timur,seorang pertapa dan pendeta yang disebut Maharsi (Pendeta Agung).           Maharsi ini adalah kakak seperguruan dari Ang-hwa Sam-ci-moi, yaitu Kui Ciauw, Kui Biauw dan Kui Siauw.           Sebagaimana kita ketahui, Kui Biauw dan Kui Siauw ini tewas ketika Ang-hwa Sam-ci-moi bentrok dengan Pendekar Buta dan teman-temannya, adapun Kui Ciauw sekarang menjadi ketua Ang-hwa-pai yang berjuluk Ang-hwa Nio-nio.           Su-dah bertahun-tahun lamanya Ang-hwa Nio-nio menaruh dendam kepada Pende-kar Buta atas kematian kedua orang saudaranya, dan untuk membalas dendam ia telah minta bantuan Maharsi.           Akan tetapi, karena maklum betapa lihainya Pendekar Buta, mereka berdua menunda niat membalas dendam ini dan masing-masing menggembleng diri untuk mein- buat persiapan menghadapi musuh lama yang amat sakti itu.           Adapun si pendek itu adalah seorang tokoh dari daerah Mongol.           Bo Wi Sianjin dahulu mempunyai seorang suheng (kakak seperguruan) bernama Ka Chong Hoatsu yang tewas di tangan Raja Pedang Tan Beng San.           Juga karena maklum betapa lihainya musuh besar ini, Bo                     202                      Wi Sianjin tidak tergesa-gesa dan berlaku sembrono, melainkan dia malah menyembunyikan diri untuk menyakinkan sebuah ilmu yang ampuh untuk menghadapi musuhnya.           Selama dua puluh tahun lebih dia menggembleng diri dan sekarang dia mulai turun dari tempat persembunyiannya untuk mencari musuh lama, yaitu Raja Pedang ketua Thai-san-pai.           Di tengah jalan kebetulan bertemu dengan Maharsi dan kebetulan sekali terlihat oleh Lee Si.           Hwesio tua renta yang tinggi besar dan amat lihai itu bukanlah seorang yang tidak dikenal para pembaca cerita Pen-dekar Buta.           Dia itu bukan lain adalah Bhok Hwesio, seorang tokoh yang amat terkenal dari perkumpulan besar Siauw-lim-pai.           Akan tetapi, berbeda dengan para hwesio Siauw-lim-pai yang terkenal sebagai pendeta-pendeta berbudi yang hidup suci dan biasanya menggunakan ilmu silat dari Siauw-lim-pai yang hebat untuk membela kebenaran dan keadilan.           Bhok Hwesio ini sennenjak dahulu me-rupakan seorang anak murid atau tokoh yang murtad.           Ilmu kepandaiannya me-mang tinggi dan lihai sekali.           Boleh di-bilang jarang tokoh Siauw-lim-pai yang dapat menandinginya, kecuali para pim-pinan dan ketuanya saja.           Di dalam cerita Pendekar Buta diceritakan betapa Bhok Hwesio ini, dua puluh tahun yang lalu, dapat terbujuk oleh mereka yang me-musuhi Pendekar Buta dan kawan-kawan-nya.           Akhirnya dia ditawan oleh suhengnya sendiri, Thian Ki Losu tokoh Siauw-lim-pai yang sakti, dibawa kembali ke Siauw-lim-pai dan seperti sudah rnenjadi peraturan keras Siauw-lim-pai kalau ada anak murid menyeleweng, Bhok Hwesio di "hukum" di dalam "kamar penunduk nafsu" selama sepuluh tahun! la tidak boleh keluar dari kamar yang pintunya di "segel" dengan tulisan "hu" (surat jimat) diberi makan melalui lubang sehari sekali, dan diharuskan bersamadhi dan menindas hawa nafsu duniawi.           Karena yang menjaga agar hukuman ini terlaksana baik adalah Thian Ki Losu sendiri, Bhok Hwesio tidak berdaya dan terpaksa dia menyerah.           Suhengnya itu terlampau saktia baginya.           Akan tetapi sesungguhnya hanya pada lahirnya saja dia menyerah.           Di dalam hatinya dia menjadi marah dan sakit hati terhadap Pendekar Buta, Raja? Pedang dan lain-lainnya yang dianggapnya menjadi biang keladi daripada penderitaannya ini.           Diam-diam dia bersamadhi untuk menggembleng diri, memupuk tenaga dan memperdalam ilmu silat dan ilmu kesaktian di dalam kamar kecil dua meter persegi itu! Saking tekunnya melatih diri, sudah sepuluh tahun lewat dan sudah lama Thian Ki Losu yang amat tua itu meninggal dunia, namun dia malah tidak mau keluar dari kamar hukuman ketika pintu dibuka sendiri oleh ketua Siauw-lim-pai, yaitu Thian Seng Losu.           Akhirnya dia dibiarkan saja karena hal ini dianggap malah amat baik dan bahwa Bhok Hwesio agaknya sudah mendekati ambang pintu "kesempurnaan"! Demikianlah, setelah bertapa menyik-sa diri selama dua puluh tahun, pada suatu malam para hwesio di Siauw lim-pai kehilangan hwesio tua yang dianggap hampir berhasil dalam tapanya itu.           Tak seorang pun di antara para tokoh Siauw-lim-si itu menduga bahwa kepergian Bhok Hwesio kali ini adalah untuk mencari musuh-musuhnya yang dianggapnya mem-buat dia menderita selama dua puluh tahun untuk membalas dendam! Dan secara kebetulan sekali dia nnelihat Mahar-si dan Bo Wi Sianjin yang sudah dia -kenal namanya.           Girang hatinya mende-ngar bahwa mereka berdua itu pun mem-punyai tujuan yang sama, maka dia lalu muncul sambil menangkap dan melemparkan tubuh gadis yang dia ketahui                     203                      sejak tadi mengintai.           Sengaja dia menggunakan tenaga sakti dalani lemparan itu untuk "menguji" kelihaian dua orang tokoh utara dan barat yang akan menjadi teman seperjuangan menghadapi musuh-musuh besarnya yang sakti, yaitu Pen-dekar Buta, Raja Pedang dan teman-teman mereka.           Maharsi dan Bo Wi Sianjin yang se-lama dua puluh tahun bersembunyi di tempat pertapaan rnasing-masing dan sudah lama tidak turun gunung, tidak mengenal hwesio tua renta yang tinggi besar dan bermuka pucat seperti mayat itu.           Sekilas pandang saja ketika mereka tadi memandang wajah pucat tak ber-darah itu, mereka sebagai orang-orang sakti maklum bahwa hwesio tua itu benar-benar telah menguasai ilmu mujijat yang disebut I-kiong- hoan-hiat (Memin-dahkan Jalan Darah)! Hanya orang yang sinkang atau hawa sakti dalam tubuhnya sudah dapat diatur secara sempurnalah yang akan dapat menguasai ilmu "hoan- hiat" ini yang berarti bahwa hwesio itu sudah mencapai titik yang sukar diukur tingginya.           Sekarang melihat tubuh seorang gadis muda melayang ke arah mereka, tahulah ke dua orang itu bahwa hwesio tua ini hendak menguji kesaktian.           Mereka tidak mengenal Lee Si dan biarpun jelas bahwa gadis itu mengintai, namun mereka tidak tahu apakah gadis ini musuh atau bukan.           i Namun karena gadis itu sudah dilontarkan ke arah mereka, Maharsi nriengeluar-kan suara melengking tinggi, sambil men-dorongkan kedua lengannya ke depan, ke arah tubuh Lee Si sambil mengerahkan sinkang dengan tenaga lembut.           Demikianpun Bo Wi Sianjin mengeluarkan suara "kok-kok" sambil mendorongkan lengannya, juga dengan tenaga lembut karena dia pun seperti Maharsi, tidak mau melukai atau mencelakakan gadis yang tak dikenalnya.           Untung bagi Lee Si bahwa ia berlaku hati-hati dan cerdik, tadi tidak meng-gunakan ginkang untuk melarikan diri, karena ternyata Bhok Hwesio hanya se-mentara saja melepaskannya.           Begitu ke-dua orang kakek itu menyambut, Bhok Hwesio sudah menggerakkan lengan lagi ke arah tubuh yang melayang itu.           Lee Si merasa betapa tenaga yang hebat sekali dan panas datang menyambar dan menyangga punggungnya dari belakang! Pada saat itu, dari depan datang rnenyambar dua tenaga gabungan dari kakek jangkung dan kakek pendek.           Gabungan tenaga ini bertemu dengan tenaga Bhok Hwesio sehingga tubuh Lee Si yang tergencet di tengah-tengah di antara dua tenaga sakti yang saling bertentangan berhenti di tengah udara seakan-akan tertahan oleh tenaga mujijat dan tidak dapat jatuh ke bawah.           Memang hal ini sebetulnya amat tidak masuk di akil tampaknya, karena menyalahi hukum alam.           Namun, harus diakui bahwa di dalam tubuh manusia terdapat banyak sekali rahasia- rahasia yang belum dapat dimengerti oleh manusia sendiri, dan sudah banyak yang meng- akui bahwa terdapat tenaga-tenaga mujijat yang masih merupakan rahasia da-lam diri manusia.           Di antaranya adalah sinkang (hawa sakti) yang selalu terdapat dalann diri setiap orang manusia.           Hanya sebagian besar orang belum sadar akan hal ini dan karena tidak mengenalnya maka tidak kuasa pula mempergunakannya.           Sebagai puteri suami isteri pendekar yang berilmu tinggi, sungguhpun tingkat-nya belum                     204                      setinggi itu, namun Lee Si sudah maklum apa yang terjadi dengan dirinya.           Ia dijadikan alat untuk mengukur tenaga sinkang, andaikata diambil per-umpamaan, ia merupakan sebatang tongkat yang dijadikan alat untuk main dorong-dorongan mengadu tenaga otot.           Hanya dalam hal ini, bukan tenaga otot yang dipertandingkan, melainkan tenaga sinkang yang merupakan dorongan-dorong-an dari Jarak jauh! Lee Si tidak begitu bodoh uhtuk mencoba-coba mengerahkan sinkangnya sendiri dalam arena pertandingan ini, karena hal ini akan membahayakan nyawanya.           Kecuali kalau ia memiliki tenaga yang mengatasi tenaga tiga orang itu, atau setidaknya mengimbangi.           la sengaja me-ngendurkan seluruh tenaga dan sedikit pun tidak melawan, namun dengan penuh perhatian ia merasakan getaran-getaran hawa sakti yang saling mendorong me-lalui tubuhnya itu.           Segera ia dapat men-duga bahwa di antara tiga orang kakek itu, si hwesio tinggi besar inilah yang paling hlabat tenaganya, juga tenaga sinkang hwesio ini yang meneengkeramnya.           Akan tetapi dibandingkan dengan tenaga si jangkung dan si pendek digabung menjadi satu, ternyata hwesio tua itu masih kalah kuat sedikit.           Inilah yang perlu diselidiki oleh Lee Si dalam waktu singkat.           Tentu saja ia tidak sudi menjadi "alat" mengukur sinkang seperti itu, karena kalau dibiarkan saja, akibatnya amatlah buruk.           Kalau hanya berakibat tenaga sinkangnya sendiri melemah saja masih belum apa-apa, akan tetapi kalau ada kurang hati-hati sedikit saja dari ketiga orang itu, ia bisa menderita luka parah di sebelah dalam tubuhnya.           Lee Si sudah tahu apa yang harus ia lakukan.           Setelah mengukur tenaga yang bertanding, tiba-tiba ia mengeluarkan jeritan keras sekali sannbil mengerahkan sinkang di tubuhnya, membantu atau lebih tepat "menunggangi" tenaga gabungan si Jangkung dan si pendek, terus ia mendorong hawa hwesio tinggi besar yang mencengkeramnya.           Benar saja perhitungannya, Bhok Hwesio yang sudah merasa lelah dan tahu bahwa kalau dilanjutkan adu sinkang ini dengan dikeroyok dua, dia akan kalah, tiba-tiba menjadi terkejut karena fihak lawan menjadi makin kuat.           Terpaksa dia mendengus dan menurunkan kedua lengannya.            Begitu terlepas daripada gencatan dari kedua fihak, tubuh Lee Si terlempar ke bawah.           Namun gadis cerdik ini sudah menggunakan ginkangnya dan melompat dengan selamat ke atas tanah.           Sedikit pun ia tidak terpengaruh atau menjadi gugup biarpun baru saja ia terbebas dari-pada ancaman bahaya maut.           la malah segera menggunakan kesempatan untuk mengadu mereka demi keselamatannya sendiri, karena kalau tiga orang itu ber-satu memusuhinya, terang ia akan celaka.           "Hemmm, hwesio sudah tua renta, mestinya berlaku alim dan budiman ter-hadap orang muda, kiranya sebaliknya, datang-datang kau menghina.           Terang bahwa kau sengaja hendak menyombong-kan kepandaianmu kepada aku orang muda dan selain itu kau pun memandang rendah kepada dua orang Locianpwe (Orang Tua Gagah) ini.           Hemmm, hwesio tua renta, betapapun kau menyombongkan kepandaian, kenyataannya dalam adu tenaga                     205                      tadi kau telah kalah!" Bhok Hwesio tercengang, demikian s pula Maharsi dan Bo Wi Sianjin.           Ucapan terakhir dari  gadis itu membuktikan bahwa Lee Si bukan orang sembarangan dan malah mengerti akan adu sinkang tadi serta dapat mengetahui pula siapa kalah siapa menang! Perhitungan Lee Si memang tepat.           Ucapannya membuat kedua telinga Bhok Hwesio menjadi merah sehingga kelihatannya aneh sekali, muka demikian pucat tapi kedua telinga merah seperti dicat! "Siapa kalah? Biar Maharsi dari barat dan Bo Wi Sianjin dari utara terkenal lihai, dikeroyok dua sekalipun pinceng tidak akan kalah! Bocah liar, kau lancang mulut!" Bhok Hwesio menggoyang-goyang lengan bajunya.           Akan tetapi Lee Si yang cerdik tidak bergerak dari tempatnya.           "Kalau menyerang dan merobohkan aku orang yang patut jadi cucu buyutmu, apa sih gagahnya? Tapi mengalahkan kedua orang Locianpwe yang sakti ini? Huh, omong sih gampang! Kalau kau menangkan mereka tak usah kaubunuh aku akan menggorok leherku sendiri di depanmu!" Di "bakar" seperti itu, Bhok Hwesio tersinggung keangkuhannya.           la tersenyum lebar menghampiri Maharsi dan Bo Wi Sianjin, mementang kedua lengannya dan berkata, "Hayo kalian layani aku beberapa jurus, baru tahu bahwa pinceng (aku) lebih unggul daripada kalian!" Setelah berkata demikian, hwesio tua tinggi besar ini sudah menggerakkan kedua lengan bajunya yahg meriiup angin pukulan seperti taufan.           Maharsi dan Bo Wi Sianjin terkejut, akan tetapi sebagai orang-orang sakti yang berkedudukan tinggi, tentu saja mereka tidak sudi dihina oleh hwesio yang tak mereka kenal ini.           Cepat mere-ka bersiap, Maharsi menangkis, dengan gerakan lengan dari atas ke bawah se-dangkan Bo Wi Sianjin sudah berjongkok dan dari mulutnya keluar suara kok- kok-kok seperti katak buduk.           Di lain saat, tiga orang sakti ini suah bertempur dengan gerakan lambat namun setiap gerakan nnengandung sinkang dan Iweekang yang dapat membunuh lawan dari jarak jauh! Inilah yang diharapkan oleh Lee Si.           Jalan satu-satunya bagi keselamatan dirinya adalah mengadu tiga orang sakti itu agar ia dapat menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri.           Maka begitu tiga brang itu saling gempur de-ngan gerakan lambat namun mengandung tenaga dahsyat, Lee Si segera menyelinap ke belakang batang pohon dan siap hendak melarikan diri.           "Hendak lari ke rnana kau, bocah liar?" Suara ini adalah suara Bhok Hwe-sio dan tiba-tiba hawa pukulan yang dahsyat menyambar ke arah Lee Si Gadis ini terkejut bukan main, cepat mengelak sambil melompat dan..           "brakkk!" pohon di sebelahnya tadi patah dan tumbang! Lee Si menjadi pucat.           Bukan main hebatnya hwesio tua itu yang dalam keadaan dikeroyok                     206                      dua oleh Maharsi dan Bo Wi Sianjin, masih tetap dapat melihatnya dan mengetahui niatnya melarikan diri, bahkan dari jarak jauh dapat mengirim serangan yang demikian dahsyatnya.           "Huh, kaukira dapat lari dari Bhok Hwesio?" Hwesio tinggi besar itu dengan sebelah tangannya menahan serangan Maharsi dan Bo Wi Sianjin, sedangkan tangan kirinya kembali melancarkan pu-kulan-pukulan jarak jauh yang membuat Lee Si melompat ke sana kemari dengan cepat.           "Ah, kiranya Bhok-taisuhu (Guru Besar) dari Siauw-lim-pai? Maaf..           maaf..          " Bo Wi Sianjin melompat mundur.           Juga Maharsi yang sudah mendengar nama ini  menghentikan serangannya.           Lee Si kaget dan gelisah.           Celaka, pikirnya.           Tiga orang itu sudah saling mengenal dan  agaknya tidak akan ber-musuhan lagi, dan hal ini berarti ia akan celaka! Menggunakan kesempatan ter-akhir selagi Bhok Hwesio terpaksa mem-balas penghormatan dua orang itu, ia cepat melompat dan mengerahkan ginkangnya.           Akan tetapi tiba-tiba ada sambaran angin dari belakang.           Lee Si secepat kilat membanting diri ke kiri sambil mencabut pedang dengan tangan kanan dan merogoh gin-ciam (jarum perak) dengan tangan kiri.           Sambil membalik dengan gerakan Lee-hi-ta-teng (Ikan Lele Meloncat) ia menggerakkan tangan kiri-nya, menyerang dengan jarum perak ke arah bayangan Bhok Hwesio yang sudah melangkah lebar mengejarnya.           Dalam keadaan terpojok, Lee Si lenyap rasa takutnya dan siap untuk melawan dengan gagah berani sebagaimana sikap seorang pendekar sejati.           Penyerangan Lee Si dengan jarum jaruni perak itu bukanlah hal yang boleh dipandang rtngan.           Ilmunya melepas jarum perak adalah ilmu senjata rahasia yang ia pelajari dari ibunya dan boleh dibilang ia telah mahir dengan Ilmu Pek-po-coan-yang (Timpuk Tepat Sejauh Seratus Kaki).           Serangannya tadi sebetulnya lebih bersifat menjaga diri, sambil membalik melepaskan segenggam jarum sebanyak belasan batang untuk mencegah desakan lawan.           Biarpun jarum-jarum itu hanya disambitkan dengan sekali gerakan, namun benda-benda halus itu meluncur dalam keadaan terpisah dan langsung menerjang ke arah bagian-bagian berbahaya di perut, dada, leher, dan mata Serangan ini masih disusul oleh terjangani Lee Si sendiri yang telah memutar pe-dangnya melakukan serangan.           Ternyata gadis muda yang cerdik ini, yang tahu bahwa tak mungkin ia akan dapat membebaskan diri kalau hanya lari dari hwesio kosen itu, telah menggunakan taktik menyerang lebih dulu untuk mencari kedudukan baik sehingga dapat mengurangi besarnya bahaya menghadapi lawan yang lebih tangguh.           "Eh, kau anak Hoa-san-pai?" Bhok Hwesio berseru ketika lengan bajunya dikibaskan menyampok runtuh semua jarum perak dan cepat ia menggerakkan tubuh ke belakang karena melihat bahwa sinar pedang gadis muda itu tak boleh dipandang ringan.           "Kalau sudah tahu, masih berani meng-hinaku?" Lee Si menjawab dan kembali tangannya                     207                      yang sudah menggenggam jarum perak bergerak menyambitkan jarum.           Kini karena berhadapan dan dapat men-curahkan perhatian, Lee Si memperlihatkan kepandaiannya, yaitu ia telah melepas jarum-jarum peraknya dengan gerakan Boan-thian-ho-i (Hujan Bunga di Langit), gerakan yang tidak saja amat indah, akan tetapi juga hasilnya luar biasa sekali karena jarum-jairum itu tersebar mekar seperti payung, atau seperti hujan mengurung tubuh Bhok Hwesio.           Hebatnya, jarum-jarum itu kini mengarah jalan-jalan darah yang amat penting.           "Ho-hoh-hoh, siapa takut Hoa-san-pai?" Bhok Hwesio berseru, tubuhnya tiba-tiba rebah bergulingan dan di lain saat dia telah melompat berdiri sambil menggerakkan kedua tangannya.           Benda-benda hijau meluncur ke depan, menangkis jarum-jarum itu sehingga di lain saat rumput dan daun hijau yang tertaneap jarum perak runtuh ke atas tanah.           Kini Lee Si yang kaget setengah ma-ti.           Kiranya hwesio itu luar biasa sekali kepandaiannya, sudah amat tinggi, malah lebih tinggi daripada ibunya dalam hal menggunakan senjata rahasia.           Baru saja hwesio tua itu mendemonstrasikan ke-lihaiannya menggunakan senjata rahasia dengan Ilmu Cek-yap-hui-hwa, yaitu ilmu melepas senjata rahasia menggunakan bunga dan daun.           Tadi dengan hanya rumput-rumput dan daun yang direnggutnya sambil bergulingan, Bhok Hwesio berhasil memukul runtuh semua jarum yang di-lepas oleh Lee Si.           Namun ia tidak men-jadi gentar atau putus asa, cepat pedangnya sudah bergerak dengan jurus-jurus yang ia gabungkan dari kedua ilmu pedang warisan ayah bundanya.           Bhok Hwesio tercengang ketika dia mengelak dan mengebutkan ujung lengan bajunya.           la mengenal baik Ilmu Pedang Hoa-san-pai, akan tetapi yang diperlihatkan gadis ini hanya mirip-mirip Ilmu Pedang Hoa-san-pai, bukan Ilmu Pedang Hoa-san-pai aseli, namun malah lebih hebat! Yang amat mengherankan hatinya adalah hawa pukulan yang terkandung oleh ilmu pedang ini, karena kadang-kadang mengandung hawa Im yang menyalurkan tenaga lemas, akan tetapi di lain detik berubah menjadi hawa Yang dengan tenaga kasar.           Mirip dengan ilmu kepandaian yang dimiliki musuh besarnya, yaitu Pendekar Buta dan terutama Raja Pedang yang menjadi pewaris daripada Ilmu Im-yang-sin-hoat.           Selama dua puluh tahun ini, di dalam kamar kecil yang menjadi tempat dia menderita hukuman "penebus dosa" dan sekaligus menjadi tempat dia bertapa dan menggembleng diri, memang dia khusus mencari ilmu untuk menghadapi Im-yang-sin-hoat.           Maka sekarang menghadapi ilmu pedang Lee Si yang memang mengandung penggabungan kedua hawa yang bertentangan ini, dia tidak menjadi bingung.           Sepasang lengan bajunya bergerak seperti sepasang ular hidup yang mengandung dua macam te-naga pula sehingga Lee Si sebentar saja terdesak hebat! Mennang kalau bicara tentarig tingkat ilmu, tingkat Lee Si masih jauh di bawah tingkat kakek ini.           Bhok Hwesio usianya sudah delapan puluh tahun lebih dan selain memiliki ilmu yang amat iinggi dari Siauw-lim-pai, juga dia mempunyai pengalaman bertempur puluhan tahun lamanya+.           Hanya dua hal yang mem-buat Lee Si dapat bertahan sampai tiga puluh                     208                      jurus lebih.           Pertama, karena gadis ini memang mempunyai ilmu kepandaian aseli yang bersih dan sakti, ke dua ka-rena Bhok Hwesio sendiri merasa rendah untuk merobohkan gadis yang patut menjadi cucu buyutnya seperti dikatakan Lee Si tadi.           Kalau dia mau mengeluarkan jurus-jurus simpaiian yang mematikan, agaknya sudah sejak tadi Lee Si roboh.           Namun, kini Lee Si benar-benar terdesak hebat, pedangnya tidak leluasa lagi gerakannya karena sudah terbungkus oleh gulungan sinar kedua ujung lengan baju Bhok Hwesio.           Gulungan sinar itu seperti lingkaran besar yang amat kuat, yang meringkus sinar pedangnya, makin lama lingkaran itu menjadi makin kecil dan sempit.           Ruang gerak pedang Lee Si juga makin sempit.           Gadis itu mulailah mengeluarkan peluh dingin.           Maklum dia bahwa hwesio ini benar-benar amat kosen dan sekarang sengaja hendak mengalahkannya dengan tekanan yang makin lama makin berat untuk memamerkan kepandaiannya ia tahu bahwa akhirnya ia takkan dapat menggerakkan pedangnya lagi kecuali untuk membacok tubuhnya sendiri! "Hayo kau berlutut dan minta ampun, mengaku murid siapa dan apa hubungan-mu dengan ketua Thai-san-pai!" berkali-kali Bhok Hwesio membentak karena melihat betapa ilmu pedang gadis ini mengandung gabungan hawa Im dan Yang, dia menduga tentu ada hubungan antara gadis ini dengan musuh besarnya, Si Raja Pedang.           Lee Si maklum bahwa hwesio ini tentu bukan sahabat bailk kakeknya Sl Raja Pedang, akan tetapi ia pun me-ngerti bahwa akhirnya ia akan mati, maka lebih baik baginya mati se&agai cucu Raja Pedang yang berani dan tak takut mati daripada harus mengingkari kakeknya yang merupakan seorang pen-dekar sakti yang bernama besar.           "Hwesio jahat! Tak sudi aku menyerah.           Kalau mau tahu, Bu-tek Kiam-ong Tan Beng San ketua Thai-san-pai adalah kakekku!" Bhok Hwesio tidak menjadi kaget karena sudah menduga akan hal ini.           Akan tetapi dia girang sekali karena sedikitnya dia dapat membalas penasaran terhadap Raja Pedang kepada cucunya.           "Bhok-taisuhu, kita tawan saja cucunya!" tiba-tiba Bo Wi Sianjin berteriak.           "Betul kita jadikan cucunya sebagai jaminan!" Maharsi menyambung.           Akan tetapi pada saat itu berkelebat tiga bayangan orang dan terdengar seorang di antara  mereka berseru, "Bhok-suheng, tahan..          !" Bhok Hwesio mengeluarkan seruan rendah seperti kerbau mendengus, akan tetapi dia  mundur dan Lee Si merasa terhindar daripada tekanan hebat.           Wajah-nya pucat, mukanya yang cantik penuh keringat, akan tetapi sepasang matanya berapi-api penuh ketabahan.                               209                      Menggunakan kesempatan ini, Lee Si melompat mundur dan memandang kepada tiga orang pendatang baru yang menyelamatkannya itu dengan teliti.           Orang pertama yang tadi berseru kepada Bhok Hwesio adalah seorang pendeta pula, seorang hwesio tua, sedikitnya tujuh puluh tahun usianya, bermuka hitam dan cacad bekas korban penyakit cacar.           Biarpun mukanya bopeng dan buruk, namun sepasang mata hwesio ini membayangkan kehalusan budi dan kesabaran seorang pendeta yang sudah masak jiwanya.           Hwesio ini membawa sebatang tongkat kuningan dan kini dia berdiri tegak menghadapi Bhok Hwesio.           Keduanya saling pandang seakan-akan mengukur kekuatan masing-masing de-ngan pandang mata.           Hwesio ini memang bukan orang sembarangan, karena dia adalah Thian Ti Losu, seorang tokoh tingkat tiga dari Siauw-lim-pai, masih terhitung adik seperguruan Bhok Hwesio.           Adapun dua brang yang lain adalah tosu-tosu darl Kun-lun-pai dan Kong-thong-pai, yaitu Sung Bi Tosu tokoh tingkat tiga dari Kun-lun-pai dan Leng Ek Cu tosu ting-kat dua dari Kong-thong-pai.           Thian Ti Losu ini adalah seorang utusan Siauw-lim-pai yang sengaja keluar dari pintu kuil untuk mencari Bhok Hwesio yang menghilang dari dalam kamar hukumannya.           Di tengah jalan dia berjumpa dengan Leng Ek Cu, sahabat baiknya Kemudian setelah mendengar bahwa suhengnya itu berada dalam perjalanan melalui Pegunungan Bayangkara, dia mengejar dan ditemani oleh Leng Ek Cu yang maklum betapa lihai dan berbahayanya suheng temannya itu.           Belum lama mereka memasuki daerah pegunungan ini, mereka bertemu dengan Sung Bi Tosu yang juga mereka kenal sebagai tokoh Kun-lun.           Tosu ini sedang menuju ke Kun-lun-san di sebelah barat, maka mereka lalu mengadakan perjalanan bersama? Kebetulan sekali mereka datang pada saat Lee Si berada di ambang kematian di tangan Bhok Hwesio, maka cepat-cepat Thian Ti Losu mencegahnya.           "Thian Ti Sute, mau apa kau datang ke sini?" Bhok Hwesio menegur sutenya dengan pandang mata penuh selidik dan curiga.           "Bhok-suheng, siauwte diutus oleh ketua kita untuk mencari Suheng dan mengajak Suheng kembali ke Siauw-lim-si," jawab Thian Ti Losu dengan suara tenang.           Sepasang mata Bhok Hwesio yang biasanya meram itu kini terbuka sebentar, memandang dengan sinar kemarahan, tapi lalu terpejam lagi, hanya mengintai dari balik bulu mata.           "Sute, pulanglah dan jangan mem-bikin kacau pikiranku.           Aku tidak ada urusan apa-apa lagi dengan kau atau dengan Siauw-lim-si.          " "Tapi, Suheng.           Siauwte hanya utusan dan ketua kita memanggilmu pulang.          " "Cukup! Thian Seng Suheng boleh jadi ketua Siauw-lim-si, akan tetapi aku bukan orang  Siauw-lim-pai lagi.           Hukuman yang dijatuhkan kepadaku sudah cukup kujalani sampai penuh.           Mau apa lagi? Pergilah!"                    210                      "Kau tahu sendiri, Bhok-suheng, apa artinya menjadi utusan ketua.           Tugas harus dilaksanakan dengan taruhan nya-wa.           Dan kau pun cukup maklum, lebih maklum daripada siauwte yang .          ebih muda dari padamu, apa artinya tidak mentaati perintah ketua kita, berarti penghinaan.           Marilah, Suheng, kau ikut denganku kembali menghadap ketua kita dan percayalah, kalau kau minta dirl dengan baik-baik, Suheng kita yang men-jadi ketua itu tentu akan meluluskanmu.          " "Thian Ti! Kautonjol-tonjolkan nama Thian Seng Suheng untuk menakut-nakuti aku? Huh, jangankan baru kau atau dia sendiri, biar Thian Ki Lo-suheng sendiri bangkit dari lubang kuburnya, aku tidak akan takut dan tidak sudi kembali ke Siauw-lim-si.           Nah, kau mau apa lagi?" "Ini pengkhianatan paling hebat! Suheng, kalau ada seorang anak murid Siauw-lim-pai murtad dan berkhianat, setiap orang anak murid yang setia harus me+ nentangnya.           Suheng, sekali lagi, kalau mau taat dan ikut dengan aku pulang atau tidak?" Bhok Hwesio hanya tertawa mengejek.           la maklum bahwa sutenya ini memiliki kepandaian hebat, terkenal dengan ilmu tongkat dari Siauw-lim-pai tingkat tinggi, juga terkenal sebagai seorang ahli Iwee-kang yang tenaganya hampir sama de-ngan tingkat yang dimiliki mendiang Thian Ki Losu sendiri.           Akan tetapi dia tidak takut dan merasa yakin bahwa dia akan dapat mengalahkan sutenya ini.           "Bhok-taisuhu, menghadapi adik se-perguruan yang cerewet, mengapa masih terlalu banyak sabar?" tiba-tiba Bo Wi Sianjin berseru dari samping kiri Bhok Hwesio.           "Kalau mau bicara tentang ke-taatan, seorang adik seperguruanlah yang seharusnya taat kepada suhengnya!" "Ha-ha-ha, benar-benar lucu ini.           Bo Wi Sianjin dari Mongol bukanlah anak kecil, bagaimana bisa bersikap begini tak tahu malu, meneampuri urusan dalam dua orang murid Siauw-lim- pai?" Sung Bi Tosu sudah melangkah maju menghadapi Bo Wi Sianjin dan memandang tajam.           Bo Wi Sianjin si kakek pendek gendut tertawa mengejek.           Kenyataan bahwa tosu itu mengenal namanya sedangkan dia sendiri tidak mengenal tosu itu mem-buktikan bahwa dia cukup dikenal oleh para tokoh kang-ouw.           "Eh, kau ini tosu bau dari mana berani lancang snulut? Aku bicara dengan Bhok-taisuhu, ada sangkut-paut apa denganmu?" "Pinto adalah Sung Bi Tosu dari Kun-lun-pai.           Memang pinto tidak ada Jirusan denganmu, akan tetapi kau juga tidak ada urusan sama sekali untuk mencampuri persoalan saudara seperguruan Siauw-Lim-pai.          " öEh, keparat.           Apa yang kaulakukan, bagaimana bisa ikut campur? Tosu Kun-lun selamanya sombong, apa kaukira aku takut mendengar nama Kun-lun? Heh-heh-heh, tosu cilik, berani                     211                      kau menentangku?" "Menentang kelaliman adalah tugas A setiap orang yang n-'-njunjung kebenaran! Kalau kau mencari perkara, pintu tidak akan mundur setapak pun!" jawab tokoh Kun-lun- pai dengan suara gagah.           Si kakek pendek gendut dari Mongol mengeluarkan suara ketawa yang serak.           "Bagus, kau  sudah bosan hidup!" Setelah berkata demikian, dia melompat maju ke depan Sung Bi Tosu, lalu memasang kuda-kuda dengan tubuh jongkok sehingga tubuh yang sudah pendek itu tampak menjadi makin pendek lagi.           Dari mulutnya terdengar suara "kok-kok-kok!" dan kedua kakinya berloncatan dengan gerakan berbareng seperti katak meloncat.           öHemmm.           pendeta liar dari Mongol, apakah kau mau membadut di sini..          ?" Belum habis Sung Bi Tosu bicara, tiba-tiba kakek gendut pendek itu menggerakkan kedua tangan depan dan tubuh Sung Bi Tosu terjengkang ke belakang, roboh telentang dan bergulingan.           Ternyata dia telah terkena pukulan ilmu Katak Sakti yang dahsyat.           Namun, sebagai seorang tokoh Kun-lun-pai yang lihai, begitu tadi merasai datangnya pukulan jarak jauh yang luar biasa, dia telah mengerahkan sinkangnya, sehingga biarpun dia telah terpukul dan "roboh terjengkang, dia tidak tewas.           Orang lain yang terkena hawa pukulan sehebat itu tentu akan tewas di saat itu juga, akan tetapi tokoh Kun-lun-pai ini hanya terluka dan masih kuat melompat bangun dengan muka pucat dan mata merah.           "Iblis jahat!" serunya dan tubuhnya sudah melayang maju, sinar pedangnya berkelebat cepat menyambar.           Akan tetapi sekali lagi terdengar suara "kok-kok-kok!" dan sambil mengelak dari sambaran pedang, kakek gendut pendek itu sudah mengirim dua kali pukulannya.           Pukulan pertama membuat pedang Sung Bi Tosu terpental, pukulan ke dua membuat tubuhnya terlempar sampai lima meter lebih dan tosu Kun-lun-pai itu roboh tak bangun lagi karena hyawanya sudah melayang meninggalkan tubuhnya! Pucat muka Leng Ek Cu, tokoh Kong-thong-pai saking marahnya menyaksikan pembunuhan atas diri teman baiknya ini.           Diam-diam dia juga kagum dan ngeri menyaksikan kehebatan ilmu pukulan Bo Wi Sianjin yang demikian hebat sehingga seorang tokoh Kun-lun-pai yang sudah tinggi tingkatnya dapat terpukul binasa hanya oleh tiga pukulan jarak jauh.           "Keji..           keji sekali..          " katanya sambil melangkah maju.           "Mati hidup manusia bukanlah hal aneh, seperti angin lalu.           Akan tetapi mengandalkan kepandaian untuk merenggut nyawa orang lain hanya untuk urusan tak berarti, benar-benar keji sekali.           Apalagi kalau yalig melakukan itu seorang yang sudah menamakan dirinya tua dan pertapa pula.           Bo Wi Sianjin, untuk kekejianmu itulah pinto terpaksa bertindak!" Sambil berkata demikian, Leng Ek Cu sudah mencabuf pedangnya dan bersiap menghadapi lawannya yang tangguh.                              212                      Akan tetapi tiba-tiba dia cepat miringkan tubuh dan menggeser kaki kiri ke belakang sambil mengibaskan pedangnya karena tahu-tahu dari sebelah kanan menyambar hawa pukulan.           Kiranya pendeta tinggi bersorban itulah yang menggerakkan lengannya yang panjang untuk mencengkeram pundaknya tanpa berkata sesuatu.           "Heh, siapa kau? Pendeta aslng, jangan mencampuri urusan orang lain!" bentak tokoh Kong- thong-pai itu sambil melintangkan pedang di depan dada.           Penyerangnya adalah Maharsi.           Pendeta India yang jangkung ini mengeluarkan suara tertawa seperti suara burung hantu, lalu berkata dengan kata-kata yang kaku dan suara asing.           "Sudah berani mencabut pedang tentu berani menghadapi siapa juga, termasuk aku.           Maharsi orang bodoh dari barat.          " Setelah berkata demikian, dari kerongkongannya terdengar suara melengking tinggi yang memekak-kan telinga, kedua lengannya mendorong-dorong setelah tubuhnya miring-miring dalam kedudukah kuda-kuda yang ganjil.           Akan tetapi dari kedua lengannya itu menyambar hawa pukulan yang amat dahsyat.           Inilah ilmu Pukulan Pai-san-jiu! Leng Eng Cu adalah tokoh tingkat dua dari Kong-thong-pai, ilrnu pedangnya merupakan ilmu pedang kebanggaan partainya, cepat dan bergulung-gulung panjang, juga dia memiliki ginkang yang membuat dia dapat bergerak cepat sekali.           Tingkat kepandaiannya lebih tinggi daripada tingkat Sung Bi Tosu.           Melihat gerakan aneh dari pendeta asing ini, Leng Ek Cu tidak berani memandang rendah dan trdak mau menyambut langsung.           la mengandalkan ginkangnya, dengan lincah dia mengelak dan tubuhnya meliuk ke samping, terus mengirim tusukan diiringi tenaga Iweekang yang membuat pedang itu berdesing menuju ke arah sasarannya, yaitu perut si pendeta India! Maharsi kembali mengeluarkan lengking tinggi dan tubuhnya tanpa berubah sedikit pun juga agaknya tidak mengelak dan bersedia menerima tusukan pedang.           Namun tidaklah demikian kiranya Karena sebelum pedang itu mencium kulit perutnya lewat baju, tiba-tiba perutnya melesak ke dalam dan tangannya yang berlengan panjang itu sudah menyambar ke depan mengarah leher dan kepala iawan.           Hebat memang pendeta ini, karena begitu dia menjulurkan lengannya den mengempiskan perutnya, selain pedang lawan tidak dapat mengenai perutnya, juga lengannya itu lebih panjang jangkauannya sehingga kalau Leng Ek Cu melanjutkan tusukannya, tentu lehernya akan patah dicengkeram dan kepalanya akan bolong-bolong! Tentu saja Leng Ek Cu tidak sudi diperlakukan demikian.           Andaikata tadi Sung Bi Tosu tidak berlaku sembrono dan tidak memandang rendah lawannya se-perti halnya Leng Ek Cu sekarang, belum tentu dia dapat dirobohkan sedemikian mudahnya oleh Bo Wi Sianjin yang memiliki Ilmu Katak Sakti.           Leng Ek Cu amat hati-hati, dapat menduga bahwa lawannya, pendeta asing ini, memiliki kepandaian yang luar biasa dan aneh.           Karena itu dia cepat                     213                      menarik pedangnya yang dikelebatkan merupakan lingkaran membabat kedua lengan lawan.           Gerakan ini dia lakukan dengan pengerahan tenaga Iweekang.           "Bagus!" Maharsi berseru gembira.           Memang demikianlah ½wataknya.           Makin tinggi tingkat kepandaian lawan, makin gembiralah hatinya untuk melayaninya.           Ilmu silatnya yang aneh, sebagian besar mengandalkan tenaga sinkang mujijat yang bercampur dengan ilmu sihir, namun harus diakui bahwa tubuhnya yang jangkung itu dapat bergerak lamas dan lincah, sungguhpun kedua kakinya jarang sekali dipindahkan dengan cara diangkat, hanya digeser- geserkan dengan menggerakkan kedua tumit.           Sepasang lengannya yang panjang itu bagaikan sepasang ular hidup, tapi setiap gerakan mengandung tenaga dahsyat dari ilmu pukulan sakti Pai-san-jiu.           Makin lama makin cepat kedua lengan bergerak, kini kedua tangan dikembangkan jari-jarinya, sepulun buah jari itu bergerak-gerak seperti ular-ular kecil dan terbentanglah jari-jemari yang menggeliat-geliat mengaburkan pandangan mata, sepuluh batang jari itu bergerak-gerak cepat menjadi ratusan dan .          dari jari-jari itu menyambar hawa pukulan Pai-san-jiu! Inilah ilmu yang hebat! Leng Ek Cu, tokoh tingkat dua dari Kong-thong-pai yang memiliki kiam-hoat pilihan, berusaha mengurung dirinya dengan selimut sinar pedangnya, namun dia hanya ½dapat bertahan sampai dua puluh lima jurus saja.           Pandang matanya kabur, sinar pedangnya makin membuyar dihantam hawa pukulan yang merayap masuk antara sinar pedangnya bagaikan titik-titik air hujan.           Pertahanannya makin lemah, kepalanya pusing dan tubuhnya bermandi peluh.           Maharsi inakin kuat saja, kini hawa pukulan yang dapat menyelinap di antara sambaran sinar pedang makin membesar tenaganya, mengenai tubuh Leng Ek Cu bagaikan jarum- jarum beracun menusuk-nusuk.           Pakaian tosu Kong-thong-pai itu sudah bolong-bolong, kulit tubuhnya yang terkena hawa pukulan mengakibatkan titik-titik hitam dan makin lama pukulan-pukulan yang sebetulnya hanya merupa-kan sentilan-sentilan jari tangan yang sepuluh buah banyaknya itu makin gencar datangnya.           Leng Ek Cu seorang gagah sejati, sedikit pun tidak mengeluh walau rasa nyeri pada tubuhnya hampir tak tertahankan lagi.           Akhirnya dia melakukan serangan balasan yang nekat, pedangnya membacok dengan disertai tenaga sepenuhnya, tubuhnya seakan-akan dia tu-brukan dengan tubuh lawan agar bacokan-nya tidak dapat dihindarkan Maharsi.           Maharsi melengking tinggi, kedua tangan- .          giya bergerak dan dari atas dia mendahului lawan dengan pukulan Pai-san jiu sekerasnya.           "Hukkk!" Demikian bunyi yang keluar dari mulut Leng Ek Cu.           Tubuhnya sejenak berdiri tegak, seakan-akan tubuh itu kemasukan aliran listrik dari sam-baran halilinta kemudian tubuh yang tegak itu menggigil, makin lama makin keras dan robohlah Leng Ek Cu dengan pedang di tangan.           Tubuhnya tetap kaku tapi sudah tak bernapas lagi! Dapat dibayangkan betapa marah dan sedihnya hati Thian Ti Losu melihat kejadian ini.           Dua orang tosu itu, tokoh Kun-lun-pai dan tokoh Kong-thong-pai, keduanya adalah orang-                    214                      orang gagah yang melakukan perjalanan bersamanya.           Sekarang mereka berdua tewas dalem keadaan yang amat menyedihkan, semua gara-gara urusan dia dengan suhengnya, Bhong Hwesio yang murtad.           Kalau tidak ada urusan Bhok Hwesio, kiranyfc tidak akan terjadi peristiwa ini dan kedua orang temannya itu tidak akan mengorbankan nyawa.           "Bhong-suheng, benar-benar keu telah tersesat jauh sekali'.          " serunya dengan suara keras penuh kemarahan.           "Kau inem-biarkan teman-temanmu membunuh dua orang tosu tidak berdosa dari Kun-lun dan Kong-thong.           Bhok-suheng, kau insyaflah, jauhkan diri daripada pergaulan sesat dan mari pulang bersama siauwte, menghadap twa-suheng Thian Seng Losu dan menebus dosa menghadap perjalanan ke alam asal!" Namun Bhok Hwesio yang sudah menyimpan rasa sakit hati dan juga penasaran terhadap Siauw-lim-pai, mana mau mendengar nasihat ini? la membuka ke-dua matanya dan menegur, "Thian Ti Losu, kau dan aku bukan saudara bukan teman bukan segolongan lagi, mengapa banyak cerewet? Mengingat akan perkenalan kita yang sudah puluhan tahun, mau aku mengainpuniniu dan lekas kau pergi dari sini jangan menggangguku lagi.          " "Bhok Hwesio, kau benar-benar tidak mau insyaf? Terpaksa pinceng mentaati perintah twa- suheng dan menjalankan peraturan Siauw-lim-pai yang kami junjung tinggi.           Berlututlah!" Thian Ti liosu mengangkat tangan kanan tinggi di atas kepala sedangkan tangan kirinya dengan jari-jari terbuka ditaruh miring aan berdiri di depan dada.           Inilah pasangan kuda- kuda yang sudah biasa dilakukan oleh seorang tokoh Siauw-lim-pai untuK memberi hukuman kepada murid murad.           Mesti menurut aturan, murid-murid yang sudah tidak diakui lagi oleh Siauw-lim-pai menerima hukuman paling berat, yaitu dimusnahkan kepandaiannya sehingga ia akan menjadi seorang pendeta cacad di dalam tubuh yang tak dapat disembuhkan lagi, membuatnya menjadi seorang yang lemah dan tidak memiliki sinkang lagi.           "Hu-huh-huh, siapa sudi mendengar ocehanmu?" bentak Bhok Hwesio marah.           "Bhok-taisuhu, kenapa begini sabar? Biarlah aku mewakilimu memberi hajaran kepada si  sombong ini!" Bo Wi Sianjin si pendek gendut membentak marah, lalu melompat maju menghadapi Thian Ti Losu, tubuhnya berjongkok dan kedua lengannya didorongkan ke depan sambil mengeluarkan bunyi "kok-kok" dari kerongkongannya.           "Omitohud, pendeta sesat!" Thian Ti Losu mengeluarkan teguran dan dia pun mendorongkan kedua lengannya ke depan.           Karena si pendek itu mendorong dan bawah ke atas, untuk mengimbangi tenaganya dari arah yang berlawanan, hwesio Siauw-lim ini mendorong dari atas ke bawah.           Tampaknya perlahan saja dua pasang telapak tangan itu bertemu, akan tetapi akibatnya hebat.           Tubuh Thian Ti Losu mencelat ke atas sampai kedua kakinya meninggalkan tanah setinggi setengah meter, sedangkan tubuh Bo Wi Sianjin melesak ke dalam tanah sampai sepinggang dalamnya! Ini saja sudah mem-buktikan bahwa                     215                      Ilmu Katak Sakti yang mengandung tenaga sinkang luar biasa itu ternyata tidak dapat melawan kekuatan si hwesio tokoh Siauw-lim-pai.           "Bi Wi Sianjin, biar pinceng bereskan sendiri bocah ini!" kata Bhok Hwesio yang menggerakkan kedua kakinya melangkah maju menghampiri sutenya.           Mereka berdiri berhadapan dan saling pandang seperti dua ekor jago tua sedang mengukur kekuatan dan keberanian hatiw sebelum mulai bertanding.           Adapun Maharsi cepat menghampiri Bo Wi Sianjin dan sekali kakek jangkung ini menyendal tangari temannya, tokoh Mongol itu sudah "tercabut" keluar dari tanah.           Wajahnya menjadi merah karena dalam.           segebrakan tadi saja sudah dapat dibuktikan bahwa ilmu kepandaian tokoh Siauw-lim-pai itu masih terlampau kuat baginya.           Diam-diam dia harus mengakui kehebatan Siauw-lim-pai yang bukan kosong, terbukti dengan dua orang hwesio ini sudah cukup menyatakan bahwa tokoh-tokoh Siauw- lim-pai memang hebat.           Sementara itu, Bhok Hwesio dan Thian Tt Losu sudah mulai bertanding.           Karena maklum betapa lihainya hwesio murtad itu, Thian Ti Losu menyerang dengan senjata tongkatnya.           Begitu bergebrak, dia telah mempergunakan ilmu tongkatnya yang amat kuat.           Tongkat itu mengeluarkan bunyi mengaung-aung dan ujungnya tergetar lalu pecah menjadi banyak sekali, langsung menyerang bagian-bagian tubuh yang berbahaya.           Bo Wi Sianjin dan Maharsi memandang kagum dan penuh perhatian.           Sering sudah mereka menyaksikan ilmu tongkat dari Siauw-lim-pai yang tersohor dimainkan orang, akan tetapi baru kali ini melihat permainan tongkat demikian dahsyatnya.           Bhok Hwesio sendiri pun maklum akan kelihaian sutenya ini, dan tentu saja sebagai tokoh Siauw-lim-pai, dia mengenal baik ilmu tongkat dari Siauw-lim, maka dengan tenang namun tangkas dia melayani tongkat itu dengan kedua ujung lengan bajunya.           Thian Ti Losu baru merasa terkejut ketika gerakan tongkatnya menyeleweng setiap kali bertemu dengan ujung lengan baju Bhok Hwesio.           Hal ini menandakan bahwa bekas suhengnya itu luar biasa kuatnya dan dia kalah banyak dalam hal tenaga sakti.           Selain ini, dia melihat gerakan suhengnya amat aneh, biarpun dasar-dasarnya masih memakai dasar Ilmu Silat Siauw-lim- pai yang kokoh kuat, namun perkembangannya berubah banyak seakan-akan jurus-jurus Siauw-lim-pai yang tidak asli lagi.           Memang demikianlah halnya.           Selama dua puluh tahun menjalani hukumannya sambil bertapa di dalam kamar, Bhok HwesiO telah menciptakan ilmu pukulan dengan kedua lengan bajunya, yang sedianya dia ciptakan untuk menghadapi musuh-musuhnya yang lihai.           nmu pukulan ini ciasar-nya memang Ilmu Silat Siauw-lim-pai yang dia pelajari semenjak kecil, akan tetapi perkembangannya dia ciptakan sendiri, khusus untuk melayani ilmu silat yang mengandung penggabungan hawa Im dan Yang, karena kedua orang musuh besarnya, Pendekar Buta dan Raja Pedang, adalah ahli-ahli dalam hal ilmu silat gabungan tenaga itu.           Kini, menghadapi bekas sutenya dia malah mendapat kesempatan untuk sekali lagi, setelah tadi mencobanya atas diri Bo Wi Sianjin dan Maharsi, menggunakan dan mencoba ilmu ciptaannya itu.                              216                      Kepandaian Bhok Hwesio meniang hebat.           Hawa sinkang di dalam tubuhnya menjadi berlipat kuatnya setelah dia bertapa selama dua puluh tahun, berlatih setiap hari dengan tekun.           Memang dasar latihan samadhi dan peraturan bernapas dari Siauw-lim-pai amatlah kuatnya, berasal daripada sumber yang bersih dan diperuntukkan para pendeta Buddha untuk menguatkan batin dan mencapai kesempurnaan.           Dan agaknya dalam hal ini, Bhok Hwesio sudah mencapai tingkat yang amat tinggi, sungguhpun setelah sampai pada batas yang tinggi, ilmunya menjadi menyeleweng daripada garis kesempurnaan karena dikotori oleh rasa dendam dan sakit hati sehingga tak dapat menembus rintangan yang dibentuk oleh nafsunya sendiri.           Andaikata Bhok Hwesio tidak dikotori oleh dendam dan nafsu, kiranya dia akan dapat naeneapai tingkat yang lebih tinggi daripada yang pernah dicapai oleh tokoh-tokoh Siauw-lim-pai karena memapg pada dirinya terdapat bakat yang amat besar.           Thian Ti Losu baru sadar akan kehebatan bekas suhengnya ini setelah ber-tanding selama Uma puluh jurus.           la terdesak hebat dan sinar tongkatnya selalu terbentur membalik oleh hawa pukulan lawan yang kuat sekali.           Mamun, bagi tokoh Siauw-lim-pai ini, membela kebenaran merupakan tugas hidup dan merupakan pegangan sehingga die tidak gentar menghadapi apa pun.           Mati dalam membela kebenaran adalah mati bahagia.           la mengerahkan tenaga dan memutar tongkatnya lebih cepat, berusaha sekuatnya untuk menghancurkan benteng hawa pukulan yang menghimpitnya itu.           Dengan gerakan melingkar, tongkatnya melepaskan diri daripada tekanan ujung lengan baju, lalu dari samping dia mengirim tusukan ke arah lambung.           Gerakan ini boleh dikatakan nekat karena daiarn menyerang, dia membiarkan dirir.          ya tak terlindung.           Jika lawannya membarengi dengan serangan balasan, biar tongkatnya akan mencapai sasaran dia sendiri tentu akan celaka.           Bhok Hwesio mengeluarkan dengus mengejek.           la tidak mempergunakan kesempatan itu untuk balas menyerang, melainkan cepat sekali kedua ujung lengan baju dia gentakkan ke samping dan di lain saat tongkat itu telah terlibat oleh ujung lengan baju ke dua menotok ke arah lehernya.           Thian Ti Losu kaget sekali, mengerahkan tenaga untuk merenggut lepas tongkatnya.           Namun hasilnya sia-sia, tongkatnya seperti telah berakar dan tak dapat dicabut kembali.           Sernentara itu, ujung lengan baju kiri Bhok Hwesio seperti seekor ular hidup sudah meluncur dekat.           Terpaksa sekali, untuk menyelamatkan dirinya, Thian Ti Losu melepaskan tongkatnya dan melempar tubuh ke belakang sambil bergulingan.           la selamat daripada totokan maut, akan tetapi tongkatnya telah dirampas lawan.           Bhok Hwesio tertawa pendek, tangannya bergerak dan..           tongkat itu amblas ke dalam tanah sam-pai tidak kelihatan lagi! "Thian Ti Losu, terang kau bukan lawanku.           Sekali lagi, kau pergilah dan jangan menggangguku lagi, aku maafkan kekurangajaranmu untuk terakhir kali mengingat bahwa kau hanya menjalankan perintah.           Nah, pergilah!"                    217                      Akan tetapi, mana Thian Ti Losu sudi mendengarkan kata-kata ini? Me-larikan diri daripada tugas hanya karena takut kalah atau mati adalah perbuatan pengecut dari akan mericemarkan nama baiknya dan terutarha sekali, nama besar Siauw-lim-pai.           Mati dalam menunaikan tugas jauh lebih mulia daripade hidup sebagai pengecut yang menceniarkan nama baik Siauw-lim-pai.           Dan Bhok Hwesio bekas suhengnya, menganjurkan dia menjadi pengkhianat dan pengecut! Thian Ti Hwesio menengadahkan mukanya ke atas, tertawa bergelak lalu mengerahkan seluruh Iweekangnya dan di lain saat dia telah menerjang maju dengan kepala yang mengepulkan uap di depan, me-nubruk Bhok Hwesio.           Inilah jurus mematikan yang berbahaya bagi lawan dan diri sendiri! Karena jurus seperti ini, yang menggunakan kepala untuk meng-hantam tubuh lawan, merupakan tantangan untuk mengadu tenaga lerakhir untuk menentukan siapa harus mati dan siapa akan menang.           Kalau dielakkan, hal ini akan menunjukkan kelemahan yang diserang, tanda bahwa dia tidak berani menerima tantangan adu nyawa, dan bagi seorang jagoan, apalagi seorang tokoh besar seperti Bhok Hwesio, tentu saja merupakan hal yang akan memalukan sekali.           "Huh, kau keras kepala!" ejek Bhok 'Hwesio sambil berdiri tegak, perutnya yang gendut besar ditonjolkan ke depan.           Bagaikan seekor lembu mengamuk, Thian Ti Losu menyeruduk ke depan, kepalanya diarahkan perut bekas suhengnya.           "Cappp!" Kepala hwesio itu bertemu dengan perut suhengnya dan menancap atau lebih tepat amblas ke dalam ketika perut itu mempergunakan tenaga menyedot.           Hebatnya, tubuh Thian Ti Losu lurus seperti sebatang kayu balok.           Kedua ta-ngannya bergerak hendak memukul atau mencengkeram, namun Bhok Hwesio yang sudah siap mendahuluinya, mengetuk kedua pundaknya.           Terdengar suara tulang patah dan kedua lengan Thian Ti Losu menjadi lemas seketika, tergantung di kedua pundak yang telah patah sambungan tulangnya.           Bhok Hwesio meneruskan gerakan tangannya.           Tiga kali dia menge-tuk punggung Thian Ti Losu dan tubuh yang tegak lurus itu menjadi lemas, tan-da bahwa tenaganya lenyap.           Adapun kepala tokoh Siauw-lim-pai itu masih menancap di "dalam" perut Bhok Hwesio.           "Nah, pergilah!" seru Bhok Hwesio.           Perutnya yang tadinya menyedot itu dikembungkan dan..           tubuh Thian Tl Losu yang sudah lemas itu terlempar ke belakang sampai lima meter lebih jauhnya, roboh di atas tanah dalam keadaan setengah duduk.           la maklum apa yang telah menimpa dirinya.           Bhok Hwesio sudah melakukan tindakan yang amat kejam, bukan membunuhnya melainkan mematahkan tulang kedua pundak, tulang punggung dan menghancurkan saluran hawa sakti di punggung sehingga mulai saat itu dia tidak akan mungkin lagi mempergunakan Iweekang atau sinkang dan menjadi seorang tapadaksa selama hidupnya! "Manusia keji..          " katanya terengah engah menahan nyeri akan tetapi tnata* nya masih memandang tajam, "bunuhlajl sekalian..          "                    218                      "Huh-hu-huh, Thian Ti Losu.           Kau benar-benar seorang yang tak kenal budi.           Aku sengaja tidak membunuhmu agar kau dapat kembali ke Siauw-lim-pai danmem-buktikan bahwa kau seorang yang setia dan dapat menunaikan tugas sampai ba-tas kemampuan terakhir.           Dan kau masih mengomel?" "Lempar saja dia ke jurang!" kata Bo Wi Sianjin yang masih merasa penasaran dan marah karena tadi dia terbanting masuk ke dalam tanah oleh tokoh Siauw-lim-pai itu.           "Heeeiii..          ! Mana dia..          ??" Seruan Maharsi itu membuat Bhok Hwesio dan Bo Wi Sianjin menengok.           Baru sekarang  mereka teringat akan diri gadis cucu Raja Pedang ketua Thai-san-pai itu.           "Wah, dla melarikan diri.           Hayo kejar, dia penting sekali harus kita tawan!" seru Bhok Hwesio  dan ketiga orang kakek ini segera meloncat dan lenyap dari tempat itu mengejar Lee Si, meninggalkan Thian Ti Losu yang hanya dapat memandang dengan hati mendongkol.           la ditinggal dalam keadaan cacad, bersama mayat dua orang temannya.           Sung Bi Tosu Itokoh Kun-lun-pai dan Leng Ek Cu tokoh Kong-thong-pai.           "Ke manakah perginya Lee Si? Mengapa betul dugaan Bhok Hwesio tadi.           Ketika gadis ini melihat bahwa di antara para kakek sakti itu timbul pertengkaran, ia maklum bahwa kehadirannya disitu amat berbahaya dan bahwa saat itulah merupakan kesempatan baik sekali baginya.           Diam-diam ia menyelinap perg; pada saat pertandingan pertama terjadi.           Setelah menyelinap di antara pepohonan dia lalu berlari cepat sekali, sengaja mengambil jalan melalui hutan-hutan lebat.           Sepuluh hari kemudian, Lee Si yang kali ini berlari menuju ke timur tanpa disengaja, tiba di sebuah kota.           Di tem-pat ini barulah ia mendapat kenyataan dari keterangan yang ia dapat bahwa selama ini ia telah salah jalan dan ter-sesat amat jauh.           Kota ini adalah Kong-goan, sebuah kota di Propinsi Secuan sebelah utara, cukup besar dan ramai, di lembah Sungai Cia-ling.           Karena ketika tiba di kota ini hari sudah menjelang senja, setelah mendapatkan keterangan itu Lee Si lalu menyewa sebuah kamar di rumah penginapan yang kecil tapi cukup bersih.           Sehabis makan, ia berjalan keluar dari kamarnya, terus ke depan rumah penginapan dengan maksud hendak keliling kota.           Tiba-tiba ia mengangkat muka dan hatinya berdebar.           Entah apa sebabnya, bertemu pandang dengan seorang pemuda yang kebetulan lewat di depannya, hati-nya berdebar dan mukanya terasa panas.           Lee Si bingung dan heran sendiri.           Pemuda itu tampan sekali, mukanya putih dan halus seperti muka wanita, alisnya hitam tebal, pakaiannya sederhana saja akan tetapi tidak menyembunyikan tu-buhnya yang kuat dan tegap, gerak-geriknya jelas membayangkan "isi", yaitu bahwa orang muda ini tentu menuliki kepandaian berarti.           Agaknya yang kemasukan aliran "stroom" aneh bukan hanya Lee Si karena pemuda ituyang                     219                      tadinya berjalan dengan 'kepala menunduk, tiba-tiba mengangkat muka memandang Lee Si, malah setelah lewat, beberapa kali dia menengok sehingga dua pasang mata bertemu dan sinarnya seakan-akan menembus jantung! Sejenak Lee Si berdiri termenung, memeras otak untuk mengingat-ingat di mana ia pernah bertemu dengan pemuda tadi dan mengapa ia menjadi tertarik seperti ini.           Akan tetapi tetap saja ia tidak dapat ingat di mana dan bila nnana ia pernah melihat wajah itu, wajah yang seakan-akan tidak asing baginya dan yang membuat darah di tubuhnya berdenyut lebih cepat daripada biasanya.           Akan tetapi setelah melihat betapa pemuda itu beberapa kali menengok memandangnya timbul kemarahan di hati Lee Si.           Betapapun juga, pemuda itu kurang ajar, berani memandanginya seperti itu.           Selain kurang ajar juga mencurigakan.           Lee Si cepat memasuki kembali ka-marnya, mengambil pedangnya dan tak lama kemudian tubuhnya sudah berkelebat di atas genteng yang mulai gelap dan langsung mengejar ke arah perginya pemuda tadi.           Gerakannya cepat dan gesit sekali dan sebentar saja ia melihat pemuda itu berjalan perlahan melalui jalan kecil yang gelap, kemudian terus keluar kota sebelah timur.           Siapakah pemuda tampan itu? Bukan pemuda biasa.           Pemuda itu adalah Kwa Swan Bu, putera tunggal Pendekar Buta Kwa Kun Hong! Telah lama sekal' kita meninggalkan Pendekar Buta dan anak isterinya.           Setelah suami isteri dan putera mereka ini pindah kembali ke tempat lama, yaitu di Liong-thouw-san, Swan Bu tidak begitu dimanja lagi seperti ketika dia berada di Hoa-san.           la amat tekun berlatih lilmu kepandaian di bawah bim-bingan ayah bundanya, terutama ayahnya.           Pada suatu hari, pagi-pagi sekali seperti biasa, Swan Bu turun dari puncak Liong-thouw-san dan pergi ke lereng sebelah kanan di mana terdapat jembatan tambang yang menghubungkan Liong-thouw-san dengan dunia luar.           la duduk di atas batu besar dan memandang ke timur.           Sudah menjadi kesukaan Swan Bu untuk menanti munculnya matahari yang merah dan besar.           Kadang-kadang dia memandang dengan hati penuh rindu, bukan rindu kepada matahari melainkan kepada dunia ramai.           Bagi seorang pemuda seperti dia, tentu saja tinggal di puncak Liong-thouw-san hanya dengan ayah bundanya, merupakan keadaan yang kadang-kadang menyiksanya, tersiksa oleh kesunyian dan rindu akan keramaian dunia.           Tentu saja Kwa Kun Hong dan isterinya, Kwee Hui Kauw, maklum dan dapat merasakan kesunyian hidup putera mereka, dan maklum betapa besar hasrat hati Swan Bu untuk meninggalkan puncak dan merantau di dunia ramai.           Akan tetapi, mereka selalu melarangnya dengan dalih bahwa tingkat kepandaiannya masih jauh daripada cukup untuk dijadikan be-kal merantau di dunia ramai karena di sana terdapat banyak sekali penjahat-penjahat yang berilmu tinggi.           Selagi Swan Bu duduk termenung sambil menikmati bola merah besar yang mulai tampak muncul dari balik puncak sebelah timur, tiba-tiba dia dikejutkan oleh sesosok bayangan                     220                      manusia yang ber-gerak cepat meloncat ke sana ke mari.           Jelas bahwa orang itu datang mendaki puncak itu yang memang tidak mudah dilalui.           Swan Bu tetap duduk tak ber-gerak, memandang penuh perhatian.           Dari jarak sejauh itu, dan dengan cueca pagi yang masih remang-remang, die tidak dapat mengenal siapa adanya orang yang datang ini.           Terang bukanlah penduduk di sekitar Pegunungan Liong-thouw-san, karena tidak ada penduduk gunung yang dapat bergerak secepat itu.           Timbul ke-gembiraan di hati Swan Bu.           Tentu seorang di antara anak murid Hoa-aan-pai! Siapa lagi kalau bukan orang Hoa-san-pai yang datang berkunjung? Hatinya gembira karena semua anak murid Hoa-san-pai telah dia kenal baik.           Swan Bu melihat betapa orang itu meloncat ke atas jembatan tambang.           Sebetulnya bukanlah jembatan, melainkan sehelai tambang yang direntang dari seberang jurang dan untuk melalui "jembatan" ini, orang harus memiliki kepandaian dan ginkang.           Sekali saja terpeleset, mulut jurang yang menganga lebar mengerikan telah menanti di bawah untuk menelan lenyap tubuh si penyeberang yang jatuh! Swan Bu dapat melihat betapa tambang itu bergoyang sedikit ketika orang tadi meloncat di atasnya dan kini berlari melalui tambang.           Bergoyang-nya tambang ini saja sudah cukup dijadikan ukuran oleh Swan Bu bahwa si pendatang ini belumlah begitu sempurna ginkangpya.           Teringat dia betapa ibunya melatih ginkang dan tambang inilah yang dijadikan ukuran.           Selama dia belum dapat berlari-lari di atas tambang tanpa menggoyangkan tambang itu sedikit pun juga, dia diharuskan terus berlatih! Tentu saja sekarang dia dapat berlari-lari di atas tambang itu tanpa menggoyangkan tambang sama sekali.           Setelah orang itu datang dekat, Swan Bu terheran-heran.           Orang itu adalah seorang pemuda, sebaya dengannya.           Seorang pemuda yang tampan, pakaiannya indah, pedang yang bersarung pedang indah tergantung di pinggang, kepalanya ditutup sebuah topi lebar yang dihias sehelai bulu merak, membuat wajahnya tampak makin tampan.           Yang membuat Swan Bu terheran-heran adalah bahwa dia sama sekali tidak mengenal orang ini.           Orang ini bukanlah anak murid Hoa-san-pai! la cepat berdiri dan menghadang di situ.           Pemuda itu setelah melompaf ke se-berang setelah melalui jembatai tam-bang, melihat Swan Bu dan cepat dia menghampiri.           Wajahnya yang tampan itu berseri dan mulutnya tersenyum.           Cepat dia mengangkat kedua tangan memberi salam sambil berkata, "Kalau tidak salah dugaanku, saudara ini adalah Kwa Swan Bu, putera dari , paman Kwa Kun Hong, bukan?" Kening Swan Bu berkerut dan dia menjadi makin curiga, akan tetapi de-ngan hati tabah dia menjawab, "Dugaanmu betul.           Siapakah kau dan apa maksud-mu mendaki puncak Liong- thouw-san?" Pemuda itu tersenyum, tidak marah oleh sikap Swan Bu yang tidak manis.           "Aku Bun Hui dari                     221                      Tai-goan, ayahku adalah sahabat baik ayuhmu.          " "Ayahmu siapakah? She Bun..          ? Apakah ada hubungannya dengan Bun Lo sianjin ketua Kun-lun-pai?"  "Beliau adalah kakekku!" seru Bun Hui gembira.           "Ayahku adalah Jenderal Bun Wan yang bertugas di Tai-goan, dengan ayahmu terhitung sahabat baik.          " Swan Bu mengangguk-angguk.           Tahulah dia sekarang siapa adanya peniuda tam-pan berpakaian indah dan mewah akan tetapi sikapnya ramah sederhana ini.           Tentu saja dia sudah banyak mendengar tentang tokoh-tokoh di dunia kang-ouw dari ayah bundanya, baik tokoh-tokoh yang tergolong kawan maupun yang tergolong lawan.           Sudah sering kali ayah bundanya menyebut-nyebut nama keluarga Bun dari Kun-lun-pai, malah dia pun tahu bahwa ibu dari pemuda ini masih terhitung bibinya karena ibu pemuda ini ½dalah adik angkat ibunya sendiri.           Jadi mereka berdua masih dapat disebut saudara misan.           la segera menjura dan berkata, "Maafkan penyambutanku yang kaku karena aku tidak tahu sebelumnya.           Kiranya saudara adalah putera paman Bun Wan.           Benar dugaanmu, aku adalah Kwa Swan Bu.           Bolehkah aku mendengar urusan penting apa gerangan yang mendorong saudara datang ke sini jauh-jauh dari Tai-goan? Kuharap saja tidak terjadi sesuatu yang buruk atas diri paman berdua di Tai- goan.          " Bun Hui tersenyum, girarig hatiriya mendapat kenyataan bahwa Swan Bu tidaklah sesombong tampaknya tadi.           "Girang sekali, hatiku dapat bertemu muka denganmu, adik Swan Bu.           Sudah lama aku mendengar akan dirimu dari ayah bundaku, dan aku tahu bahwa usia kita sebaya, hanya aku lebih tua be&erapa bulan saja dari padamu.           Jangan kau khawatir, ayah bundaku dalam keadaan se-lamat.           Kedatanganku ini diutus oleh ayah, selain untuk menyampaikan hormat kepada ayah bundamu, juga untuk memberi peringatan bahwa kini mulai bermunculan musuh-musuh besar yang berusaha membalas dendam.          " Berubah wajah Swan Bu yang tampan.           Alisnya yang tebal hitam itu berkerut, matanya memancarkan sinar kemarahan.           "Hemmm, kakak Bun Hui, berilah tahu kepadaku, siapa gerahgan musuh-musuh yang berusaha untuk membalas dendam kepada ayah?" "Ayahku lebih mengetahui akan hal itu dan agaknya ayah telah mencatat secara lengkap dalam suratnya yang kubawa untuk ayahmu.           Sepanjang pengetahuanku, agaknya penghuni Ching-coa-to yang mengumpulkan kekuatan untuk memusuhi ayahmu.           Juga..           ada..           orang dari Go-bi-san..          " Melihat keraguan Bun Hui, Swan Bu makin tertarik.           "Siapakah.           dia, Twako? Juga musuh besar ayah?"  Bun Hui menelan ludah dan mengangguk.           Beratlah hatinya untuk menyebut nama Siu Bi.                               222                      Tidak ingin dia melihat Siu Bi bermusuhan dengan Liong-thouw-san, dan lebih lagi tidak ingin dia melihat Siu Bi menjadi korban karena sudah pasti gadis itu akan menemui bencana kalau berani memusuhi Pendekar Buta.           "Dia datang dari Go-bi-san di mana terdapat dua orang bekas musuh besar ayahmu, yaitu Hek Lojin dan muridnya, The Sun.           Mereka ini memiliki kepandaian hebat dan agaknya takkan mau sudah sebelum dapat membalas kekalahan mereka belasan tahun yang lalu.          " "Hemmm, dan penghuni Ching-coa- to itu, siapakah?" "Sepanjang pengetahuanku, kini di situ menjadi sarang Ang-hwa-pai yang dipimpin oleh  ketua mereka yang berjuluk Ang-hwa Nio-nio.           Juga ada bekas jagoan di istana selatan berjuluk Ang Mo-ko, juga amat lihai biarpun tidak sehebat Ang-hwa Nio-nio kepandaiannya.           Masih banyak lagi teman-teman mereka yang tidak kuketahui.          " "Twako, di manakah letaknya Ching-coa-to? Di mana tempat tinggal Ang Mo-ko dan apakah orang-orang Go-bi-san itu sudah turun gunung? Mereka berkumpul di mana sekarang?" Bun Hui memandang curiga.           "Adikku yang gagah, agaknya bernafsu sekali kau ingin mengetahui tempat mereka- Mau apakah kau?" "Tidak apa-apa," twako.           Bukankah lebih baik mengetahui kedudukan dan keadaan lawan?" Bun Hui lalu meinberi tahu dl mana letak Ching-coa-to.           "Mungkin Ang Mo-ko yang tak  tentu tempat tinggalnya itu pun sudah berada di Ching-coa-to.           Ten-tang.; orang-orang Go-bi-san, aku sen-diri tidak tahu pasti di mana nnereka berada.           Hanya..           kabarnya sudah turun gunung.          " Benar-benar berat hati Bun Hui untuk bicara tentang Siu Bi, dan ini pula yang menggelisahkan hatinya di dalam perjalanan itu karena dia merasa kha-watir kalau- kalau ayahnya memberi tahu perihal Siu Bi di dalam suratnya kepada Pendekar Buta.           "Twako, silakan kau naik ke puncak menghadap ayah dan ibu.           Kalau mereka bertanya tentang aku, katakan bahwa aku hendak turun gunung mencegah kutu-kutu busuk itu niengganggu ketenteraman Liong-thouw-san!" "Eh, adik Swan Bu..           jangan begitu.. tak boleh tergesa-gesa dan berlaku sembrono..          !" Bun Hui berseru gugup.           Namun Swan Bu tersenyum dan dagunya mengeras membayangkan kekerasan "Mengapa jangan? Bukankah lebih baik mendahului lawan agar Jangan memberi kesempatan kepada mereka untuk ber-gerak? Apakah artinya aku menjadi putera tunggal ayah ibu kalau aku tidak becus membasnni musuh-musuh ayat ibu sehingga bangsat-bangsat itu tidak akan berani mengganggu orang tuaku? Selamat berpisah, Twako dan terima kasih atas                     223                      pemberitahuanmu.           Kalau selesai tugasku, aku pasti akan mampir di Tai-goan untuk menghaturkan terima kasih kepada ayah bundamu.          " Bun Hui menyesal bukan main mengapa dia tadi banyak bicara kepada pe-muda yang berwatak keras itu.           Cepat-cepat dia mendaki ke atas puncak agar dapat memberi tahu kepada paman dan bibinya sehingga mereka akan dapat mencegah Swan Bu turun gunung.           la maklum bahwa Swan Bu tentu memiliki kepandaian yang tinggi, akan tetapi mana bisa pemuda ini menghadapi musuh-musuh tangguh itu seorang diri? Baru Siu Bi, gadis remaja itu saja sudah demikian hebat kepandaiannya! Apalagi musuh-musuh lain yang lebih tua usianya.           Ia juga sudah mendengar betapa Ang-hwa Nio-nio memiliki ilmu yang annat tinggi.           Tergesa-gesa dia mendaki puncak melalui tangga tambang.           Ketika dia tiba di depan pondok, dia melihat seorang laki-laki berusia sebaya ayahnya, duduk di atas bangku menjemur diri di bawah sinar matahari pagi.           Di sebelahnya duduk seorang wanita sebaya ibunya, lebih tua sedikit, cantik sekali, keduanya bercakap-cakap dengan sikap tenang.           Biarpun seringkali dia mendengar ayahnya menyajung-nyanjung dan memuji-muji Pendekar Buta, namun Bun Hui belum pernah bertemu muka dengan pendekar itu atau pun isterinya.           Akan tetapi, melihat kesederhanaan mereka yang sekarang duduk di depan pondok, dia dapat menduga bahwa mereka tentulah paman dan bibinya.           Apalagi sekarang jelas kelihatan betapa sepasang mata laki-laki setengah tua itu tidak pernah berkedip dan ketika dia berjalan mendekat, tampak olehnya betapa sepasang mata itu kosong tidak berbiji! Sebatang tongkat kayu yang bersandar pada bangku laki-laki buta itu menarik perhatiannya dan diam-diam tengkuknya meremang karena dia sering mendengar dari ayahnya tentang keampuhan tongkat itu yang telah merobohkan banyak tokoh besar dunia kang-ouw.           Kini mereka berhenti bercakap-cakap dan menengok ke arahnya.           Terkejut hati Bun Hui ketika bertemu pandang dengan sepasang mata nyonya itu.           Alangkah tajam, penuh wibawa dan seakan-akan menembus langsung ke dalam dadanya! Seakan-akan mata nyonya itu mewakili pula mata suaminya yang buta sehingga kekuatan pandangannya seperti paodang mata dua orang digabung menjadi satu.           Cepat dia maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan mereka tanpa mempedulikan tanah yang agak basah oleh embun pagi dan mengotori celana pakaiannya yang indah.           "Bangunlah, Hui-ji (anak Hui), tak perlu kau terlalu sungkan.           Lihat, pakaianmu kotor oleh tanah basah!" Wanita itu, Kwee Hui Kauw, menegur Bun Hui.           Bun Hui tercengang.           Bagaimana nyonya itu mengetahui bahwa dia adalah Bun Hui? Selamanya baru kali ini dia bertemu muka dengan suami isteri pendekar ini! "Betul kata isteriku, orang muda.           Kau bangkit dan duduklah, mari kita bicara yang enak.          " "Paman..           Bibi..           mohon ampun sebesarnya..           saya telah bicara dengan adik Swan Bu                     224                      dan..          " Pendekar Buta Kwa Kun Hong tersenyum, menggerakkan tangannya mencegah pemuda itu  melanjutkan kata-katanya.           "Dan dia pergi turun gunung? Tidak apa, anakku.           Memang sudah waktunya dia turun gunung menambah pengalannan.           Lebih baik kauserahkan surat ayahmu kepadaku.          " Untuk kedua kalinya Bun Hui tercengang.           Bagaimana suami isteri itu dapat mengetahui semuanya? Dapat tahu bahwa dia datang inembawa surat ayahnya, tahu pula tentang perginya Swan Bu turun gunung dan tahu bahwa dia itu Bun Hui padahal baru kali ini berteinu muka.           Satu-satunya jawaban yang menerangkan keanehan ini hanya bahwa suami isteri ini tentu telah melihat kedatangannya dan mendengar percakaparinya dengan Swan Bu tadi, tanpa dia sendiri mengetahui kehadiran mereka! Ini saja sudah membuktikan kelihaian mereka! la segera mengambil surat ayahnya dan menyerahkannya kepada Kwa Kun Hong.           Tak enak hatinya, karena bagaimana dia dapat menyerahkan surat kepada seorang yang buta kedua matanya? Untuk memberi tahu bahwa surat sudah tiia keluarkan, bibirnya bergerak hendak bicara agar paman yang buta itu dapat mengetahui, akan tetapi sebelum dia membuka mulut, Kun Hong sudah menggerakkan tangannya menerima surat itu dengan gerakan sewajarnya seperti se-Orang yang tidak buta.           Seakan-akan dia melihat surat itu dan menerimanya tanpa ragu-ragu lagi.           Tentu saja Bun Hui kaget setengah mati dan mulailah dia meragukan kebutaan Kwa Kun Hong.           Akan tetapi keraguannya lenyap ketika Kun Hong menyerahkan surat kepada isterinya untuk dibaca.           Dengan suaranya yang halus dan merdu Kwee Hui Kauw membaca surat itu yang isinya hampir sama de-ngan apa yang telah diceritakan Bun Hui kepada Swan Bu tadi, hanya bedanya bahwa di dalam surat itu disebut nama Siu Bi sebagai seorang musuh besar yang mengancam hendak membuntungi tangan Pendekar Buta dan anak isterinya! Kwa Kun Hong tersenyum pahit dan berkata lirih setelah isterinya selesai membaca, "Hemmm, benci-membenci, dendam-mendendam, permusuhan, bunuh-membunuh, apa senangnya hidup kalau dunia penuh dengan amukan nafsu ini? Isteriku, aku sudah bosan dengan segala urusan itu.           Mudah-mudahan saja Swan Bu akan dapat mengingat semua nasihatku dan tidak suka menanam bibit permusuhan dengan siapapun juga di dunia ini..          " "Tak perlu digelisahkan semua itu," jawab isterinya dengan suara tetap te-nang, halus dan merdu, "Orang lain boleh meracuni hati sendiri dengan menanam kebencian, orang lain boleh mengikat diri dengan dendam dan permusuhan, akan tetapi kita yang sadar akan penyelewengan hidup itu tidak akan menuruti bujukan nafsu dan setan.           Orang membenci kita, orang memusuhi kita, asalkan kita tidak menribenci dan tidak memusuhi mereka, kitalah yang menang.           Bukanlah begitu kata-katamu sendiri! Nah, kalau ada yang hendak memusuhi kita, biarkan mereka datang.           Kalau boleh, kita peringatkan mereka, kita sadarkan                     225                      mereka, kaleu tidak, apa boleh buat, kita hidup dan kita wajib membela diri.           Kalau kita yang dibeci anugerah hidup tidak mau melakukan kewajiban membela dan menjaga diri, berarti kita kurang terima dan tidak menghargai anugerah itu.           Bukankah begitu apa yang sering kaukatakan, suamku?" Kwa Kun Hong menarik napas panjang dan mengangguk-angguk.           Bun Hui berdiri bengong, hatinya terharu sekali dan tak kuat dia menentang wajah dua orang itu, membuatnya tunduk lahir ba-tin.           Baru kali ini selama hidupnya dia menyaksikan keadaan penuh damai, penuh cinta kasih, penuh pengertian dan penuh kata-kata yang mempunyai arti begitu dalam pada sepasang suami isteri.           la menunduk dan sikap serta kata-kata suami isteri itu saja sudah lebih daripada cukup untuk membuat hati anak muda ini men-jadi kagum dan tunduk.           "Hui-ji, kami sangat berterima kasih kepada ayahmu yang penuh perhatian dan juga kepadamu yang sudah melakukan perjalanan sejauh ini.           Kuharap saja kau suka beristirahat di sini barang sepekan, agar kita dapat bercakap-cakap dan kami dapat mendengar ceritainu tentang keadaan orang tuamu dan juga keadaan dunia ramai," kata Kwa Kun Hong.           "Saya akan mentaati perintah Paman dan sementara itu, saya yang muda dan bodoh banyak mengharapkan petunjuk-petunjuk dari Paman dan Bibi.          " Senang hati suami isteri itu melihat sikap dan mendengar kata-kata yang amat baik dari Bun Hui.           Demikianlah, pemuda ini tinggal sampai sepuluh hari di puncak Liong-thouw-san dan selama itu, selain menceritakan segala hal tentang keadaan di kota raja dan lain-lain yang ditanyakan kedua orang tua itu, juga dia menerima banyak petunjuk-petunjuk yang amat penting uhtuk menyempurnakan kepandaian ilmu silathya, terutama ilmu pedangnya Kun-lun Kiam-sut banyak mendapat kemajuan oleh petunjuk Kwa Kun Hong.           Sementara itu, Kwa Swan Bu sudati berlari cepat sekali turun dari puncak.           la merasa agak bersalah karena tidak berpamit kepada ayah bundanya, akan tetapi dia sengaja meninggalkan pesan saja kepada Bun Hui karena dia dapat menduga bahwa biarpun ayahnya tidak akan melarangnya, namun ibunya tentu akan menyatakan keberatan.           Sudah sering kali dia menyatakan ingin turun gunung dan selalu dicegah ibunya yang berkata bahwa kepandaiannya kurang cukup untuk dipakai menjaga diri daripada gangguan orang- orang jahat yang banyak terdapat di dunia kang-ouw.           Sekarang Swan Bu tidak ragu-ragu lagi.           Tadinya, memang dia meragu dan membenarkan ibunya, maka dia menunda keinginan hatinya untuk turun gunung.           Akan tetapi begitu melihat Bun Hui, keraguannya lenyap.           Dari gerakan Bun Hui ketika menyeberangi jembatan tambang, jelas tampak olehnya bahwa tingkat kepandaiannya tidak kalah oleh tingkat yang dimiliki Bun Hui.           Kalau Bun Hui sudah diperbolehkan ayahnya melakukan perjalanan jauh seorang diri, mengapa dia tidak boleh? Pendapat ini diperkuat lagi oleh dorongan hatinya yang menjadi pa-nas mendengar betapa orang tuanya diancam oleh bartyak bekas musuh lama.                              226                      Pada suatu hari sampailah dia di kota Kong-goan di tepi Sungai Cia-ling.           la bermaksud untuk melanjutkan perjalanan melalui Sungai Cia-ling ke selatan sampai di Sungai Yang-ce- kiang kemudian melanjutkan perjalanan ke timur melalui sungai besar itu.           Akan tetapi ketika dia tiba di tepi sungai,, hendak menyewa perahu yang suka mengantarnya sampai ke Sungai Yang-ce-kiang, dia melihat dua orang pengemis menggotong seorang pe-ngemis lain yang agaknya sakit keras, wajahnya pucat, tubuhnya lemah dan dari mulutnya keluar darah.           Tadinya Swan Bu tidak mau mencainpuri urusan orang lain sungguhpun sekilas pandang tahulah dia bahwa kakek pengemis yang digotong itu terluka hebat di sebelah dalam tubuhnya.           Akan tetapi perhatiannya tertarik ketika dia melihat pakaian para pengemis penuh tambalan itu.           Pakaian penuh tambalan itu berwarna-warni dan berkembang-kem- bang.           Teringat dia akan penuturan ayah-nya bahwa perkumpulan pengemis Hwa-i-kai- pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang) adalah perkumpulan pengemis yang patriotik dan ayahnya sendiri menjadi ketua kehormatan! "Lopek, berhenti dulu! Biarkan aku mencoba untuk menolong orang tua yang menderita luka pukulan Ang-see-ciang ini!" Dua orang pengemis yang menggotong si sakit memandang curiga, akan tetapi kakek pengemis yang terluka itu membuka mata, memandang heran, lalu berkata dengan napas terengah-engah "Turunkan aku.. biarkan Kongcu ini memeriksaku..          " Dua orang pengemis itu terheran, akan tetapi mereka tidak berani membantah.           Tubuh kakek itu tidak jadi dimasukkan ke dalam perahu, melainkan diletak-kan di atas tanah pasir.           Swan Bu tidak membuang banyak waktu lagi.           Jalur-jalur merah pada leher itu jelas tampak, tanda korban pukulan Ang-see-ciang (Tangan Pasir Merah).           la menghampiri, berlutut dan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah kanannya untuk menotok dua kali pada pundak kanan kiri, kemudian sekali dia menekan punggung dan mengurutnya ke bawah sambil mengerahkan tenaga, kakek itu terbatuk dan muntahkan segumpal darah merah yang sudah mengental, sebesar kepala ayam! Dua orang pengemis yang menggotong tadi kaget sekali dan mereka melompat maju, malah sudah mengepal tinju siap untuk menerjang Swan Bu, "Kau..           kau membunuh Susiok (Paman Guru)..          !" bentak seorang di antara mereka sambil menubruk maju dan memukul.           Swan Bu yang maklum bahwa orang ini salah duga, tidak mempedulikannya, tubuhnya yang masih berjongkok itu bergerak sedikit dan..           penyerangnya terlempar ke depan, melalui atas pundaknya dan langsung terbanting ke alr sungai sehingga air muncrat tinggi dan orang itu gelagapan sambil berenang ke pinggir.           Kawannya hendak menyerang, akan tetapi tiba-tiba kakek yang sakit tadi membentak, "Goblok! Apa mata kalian sudah buta.          " Si pengemis ke dua tidak jadi menyerang, dan pengemis pertama yang sudah berhasil                     227                      berenang ke pinggir, kini memandang dengan heran, juga girang.           Kiranya kakek pengemis yang tadinya sudah empas-empis napasnya, sekarang sudah bangkit duduk, malah dengan perlahan lalu bangun berdiri dan menjura ke depan Swan Bu! "Orang muda yang gagah perkasa, kau telah menolong nyawa seorang pengemis tua bangka yang tiada gunanya.           Sicu, bolehkah aku mengetahui namamu?" "Lopek, tak usah banyak sungkan.           Bukankah Lopek bertiga ini orang-orang Hwa-i-kai- pang?" Pertanyaan Swan Bu ini disambut biasa saja oleh tiga orang kakek itu karena memang Hwa- i-kai-pang bukan perkumpulan yang tidak terkerial, apalagl mudah saja diketahui dari pakaian mereka.           Kakek itu mengangguk dan menjawab, "Tidak keliru dugaanmu, Sicu.           Aku adalah kakek Toan-kiam Lo-kai (Pengemis Tua Pedang Pendek), sebuah julukan yang kosong melompong, dan dua orang ini adalah murid-murid keponakanku.           Sicu masih begini muda sudah luas pandangan-nya, sekali pandang tahu akan bekas pukulan Ang-see-ciang, siapakah nama Sicu yang mulia dan dari perguruan mana?.           "Lopek, mari kita bicara di tempat yang enak," kata Swan Bu sambil mengerling ke arah orang-orang yang banyak berkumpul karena tertarik oleh kejadian ini.           Toan-kiam Lo-kai dapat menangkap isyarat ini, dia lalu meng-gerakkan kedua lengannya ke arah orang-orang di situ sambil berkata, "Saudara-saudara harap sudi meninggalkan kami agar kami dapat bicara leluasa.          " Heran, orang-orang itu segera pergi tanpa banyak membantah lagi.           Hal ini membuktikan kepada Swan Bu bahwa daerah ini agaknya Hwa-i-kai-pang bukan tidak mempunyai pengaruh.           Setelah semua orang pergi, Swan Bu berkata, "Lopek, ketahuilah bahwa aku she Kwa bernama Swan Bu, dari Liong-thouw-san ..          ö.           Serta merta kakek itu bersama dua orang murid keponakannya lalu rnenjatuhkan diri  berlutut di depan Swan Bu! "Ah, kiranya Siauw-hiap (Pendekar Muda) yang telah menolong saya! Ah, sungguh suatu kebetulan yang membesarkan hati.           Bagaimana kabarnya dengan Taihiap berdua di Liong-thouw-san?"  "Ayah dan ibuku baik-baik saja, terima kasih.          " "Kiranya putera ketua kehormatan kita!" Kakek itu hampir bersorak kegirangan.           "Kalau  begitu tidak heran kalau sekali pandang saja sudah tahu akan luka pukulan Ang-see-ciang! Wah, Siauwhiap tentu telah mewarisi ilmu kepandaian yang sakti dari Taihiap, ilmu silai dan                     228                      ilmu pengobatan!" "Ah, aku yang muda dan hijau mana mampu mewarisi semua kepandaian ayah.           Sudahlah,  tidak ada gunanya segala puji-memuji ini.           Lopek, lebih baik sekarang kauceritakan kepadaku, mengapa kau sampai terluka hebat oleh pukulan Ang-see-ciang dan siapakah pemukulmu, apa pula sebab-sebabnya?" Toan-kiam Lo-kai menarik napas panjang.           "Siauwhiap, perubahan besar telah terjadi pada Hwa-i-kai-pang semenjak suhu Hwa-i Lo-kai meninggal dunia.           Apa-lagi setelah Kwa- taihiap diketahui tak pernah turun dari puncak Liong-thouw-san.           Hwa-i-kai-pang tidak dipandang ma-ta lagi orang-orang kang-ouw.           Tentu kau telah mendengar dari ayahmu bahwa sudah sejak dahulu, perkumpulan Hwa-i-kai-pang bukan perkumpulan pengemis biasa saja.           Di samping itu para anggautanya memiliki tugas untuk menolong kaum lemah yang tertindas, bahkan ikut pula menjaga keamanan kota daripada gangguan para penjahat.           Akan tetapi, dengan datangnya pembesar dari kota raja yang bertugas mengumpulkan tenaga suka rela untuk membangun terusan dan tembok besar atas perintah kaisar, banyak anak buah Hwa-i-kai-pang ditangkapi dan dipaksa menjadi sukarelawan.           Orang-orang biasa, terutama yang kaya, dibebaskan asal bisa membayar uang tebusan.           Bu- a kankah ini menggemaskan?" "Hemmm, pembesar macam itu sepatutnya diberi hajaran!" kata Swan Bu.           "Itulah! Kami sudah berusaha memberi peringatan kepada Lo-ciangkun (komandan Lo) yang  memimpin pengerahan bantuan itu, akan tetapi kami malah dianggap memberontak terhadap perintah kaisar! Karena percekcokan ini, terjadilah keributan dan pertengkaran yang berekor pertempuran.          " "Ah, kalau begitu keliru juga, Lopek.           Tak baik melawan dengan kekerasan, hal itu bisa menimbulkan kesan Hwa-i-kai-pang memberontak.          " Kakek itu mengangguk-angguk.          ,"Memang betul, akan tetapi kami pun harus membela anak buali kami yang sudah ditahan dan dipaksa, membebaskan pula orang-orang muda miskin yang tidak mampu membayar uang tebusan dan ditahan juga.           Mereka itu, untuk memberi rnakan keluarga sudah setengah mati setelah mereka ditangkap dan dibawa pergi untuk kerja paksa yang disebut suka rela itu, keluarganya tentu akan mati kelaparan!' "Akan tetapi kita bisa mengambil cara lain, misalnya menemui komandan itu secara langsung.          " "Sudah kulakukan dan hasilnya aku terluka parah inilah, Siauwhiap.           Komandan itu dibantu oleh seorang iblis wanita yang lihai sekali, seorang pendatang baru dari barat.           Kabarnya karena munculnya wanita itu maka para pembesar di daerah ini amat berubah, berani                     229                      berlaku sewenang-wenang.           Orang-orang gagah yang mencoba menantangnya, semua tewas atau roboh oleh Ang-jiu Toa-nio, iblis wanita itu.           Karena ingin menyingkirkan biang keladi penyalahgunaan kekuasaan mengandalkan orang kuat itu, aku sengaja mendatangi Ang-jiu Toa-nio dan kesudahannya aku terluka..          " Sudah bergolak darah Swan Bu mendengar ini, akan tetapi dia pun terheran mengapa seorang wanita tua, seorang tokoh kang-ouw, membantu pembesar she Lo itu.           "Lopek, mari antarkan aku pergi menemui Lo-ciangkun itu.           Biarkai aku bicara dengannya, kalau dia masih bertindak sewenang-wenang dan hendak mengandalkan Ang-jiu Toa-nio, biar aku akan coba-coba menghadapinya.          " Girang hati kakek itu.           "Akan tetapi, harap kau suka berhati-hati, Siauwhiap.           Ketahuilah, Ang-jiu Toa-nio benar benar luar biasa sekali.           Tinggalnya di kuil ru-sak di sebelah selatan kota, keadaannya penuh rahasia, seperti iblis saja.           Tidak ada orang pernah dapat memasuki kuil, semua orang gagah, termasuk aku sen-diri, roboh di halaman kuil oleh puKulan- pukulan Ang-see-ciang yang luar biasa.          " "Biar aku akan mencobanya, Lopek, Mari!" Toan-kiam Lo-kai dengan hati .          besap lalu mengiringkan Swan Bu menuju ke rumah gedung  tempat tinggal Lo-ciang-kun.           Gedung besar itu dijaga beberapa orang pengawal yang bersenjata tombak dan golok.           Begitu para penjaga itu melihat Toan-kiam Lo-kai, mereka terkejut dan panik.           Baru kemarin pengemis tua itu telah membikin onar dan mereka yang tidak melihat sendiri mendengar bahwa pengemis itu sudah dirobohkan oleh Ang-jiu Toa- nio, bagaimana sekarang berani muncul di gedung ini lagi? "He, berhenti! Kalian siapa dan mau apa?" bentak mereka dan berbarislah belasan orang pengawal menjaga di depan pintu, sebagian lagi lari ke dalam untuk melapor kepada Lo- ciangkun.            "Aku hendak bicara dengan Lo-ciang-kun.           Kalian ini para penjaga harap ja-ngan bikin ribut, aku tidak ada urusan dengan kalian.           Lebih baik lekas melaporkan kepada Lo-ciangkun bahwa aku Swan Bu minta bicara dengannya'" kata Swan Bu dengan tenang, kemudian dia melangkah terus maju melalui pintu gerbang menuju ke ruangan depan.           Para pengawal itu hanya mengurung tapi tidak berani menghalangi, terutama sekali mereka takut kepada Toan-kiam Lo-kai yang diam saja, hanya melirik ke kanan kiri dengan matanya yang sipit.           "Orang muda, berhenti, tidak boleh masuk! Apakah kami harus menggunakan kekerasan?" Komandan jaga membentak dan mengacung-acungkan tombaknya.           "Kalau Lo-ciangkun tidak mau keluar menemuiku, aku akan terus maju men-carinya ke dalam rumah sampai ketemu, soal kekerasan, terserah kalau hendak menggunakannya!"                     230                      jawab Swan Bu, masih tetap tenang dan kakinya masih bergerak maju.           Pengemis tua itu diam-diam rnerasa khawatir dan mengikuti dari belakang.           la anggap perbuatan Swan Bu itu biarpun gagah berani, akan tetapi sembrono sekali.           Bagaimana boleh memasuki mulut harimau secara begini sembrono? Tentu saja terhadap para penjaga itu, dia tidiak takut sama sekali, akan tetapi dia maklum bahwa selain Lo-ciangkun sendiri seorang pandai, juga di situ terdapat banyak jago yang tangguh.           Siapa tahu kalau-kalau wanita iblis itu berada disitu pula! Para penjaga itu sudah mengurung dan siap menerjang dengan senjata mereka yang berkilauan tajam.           Tiba-Uba mata mereka silau oleh gulungan sinar putih yang panjang berkelebatan, disusul suara nyaring.           Sinar itu segera lenyap dan hanya tampak tangan pemuda itu ber-gerak mengembalikan pedang ke belakang punggung dan..           belasan batang tombak di tangan para pengawal itu tinggal ga-gangnya saja! Dalam waktu yang sukar diikuti mata cepatnya, dan dengan cara yang amat luar biasa.           Pemuda itu sudah mencabut pedang dan membuntungi belasan batang tombak tanpa mereka ketahui, malah cara pemuda itu mencabut pedang, menggerakkan, kemudian me-nyimpannya kembali, tak seorang pun di antara mereka dapat melihat jelas! Seperti sulapan saja.           Toan-kiam Lo-kai sen-diri mengangguk-angguk dan bukan main kagum hatinya.           Itulah gerakan ilmu pedang yang luar biasa, kesaktian yang hanya mungkin dimiliki putera Pendekar Buta.           "Kalian lihai, aku tidak berniat buruk, buktinya leher kalian tidak putus.           Aku hanya ingin bicara dengan Lo-ciangkun!" kata pula Swan Bu, suaranya tetap tenang.           Panlklah para penjaga itu.           untuk mundur mereka takut meninggalkan tugas, maju pun jerih menghadapi pemuda yang luar biasa itu.           Mereka hanya berdiri mengurung di ruangan depan itu, muka pucat dan badan gemetar, Swar, Bu dan pengemis tua itu duduk di atas bangku yang banyak terdapat di ruangan itu.           "Lekas laporkan kepada Lo-ciangkun!" tiba-tiba pengemis itu membentak, suara galak.           "Sudah lapor.. sudah lapor. ô seorang penjaga menjawab ketakutan.           Tiba-tiba pintu sebelah dalam terbuka lebar dan muncullah seorang laki-laki tinggi kurus  berpakaian, perwira ini di dampingi oleh empat orang yang tinggi tegap, berpakaian ringkas dengan sikap seperti jagoan-jagoan.           "Ada apakah ribut-ribut di sini..          " Eh, kau berani datang lagi? Benar-benar kau hendak memberontak," bentak pcrwira tinggi kurus itu sambil melotot ke arah Toan-kiam Lo-kai.           Swan Bu cepat bangun berdiri, tegak dan gagah.           "Kaukah yang disebut Lo-ciangkun?" tanyanya, suaranya nyaring.           Komandan itu memandang marah.           "Betul, aku Lo-ciangkun.           Orang muda, kau tampan dan                     231                      gagah, jangan kau ikut-ikut jembel pemberontak ini..          " "Lo-ciangkun, Lopek ini hanya mengantar aku ke sini.           Aku sengaja ingin bicara denganmu  tentang perbuatan sewenang-wenang yang kaulakukan di kota ini dan daerahnya.           Kau memaksa orang-orang yang tidak mampu memberi uang tebusan untuk kerja paksa mengerjakan tembok besar dan terusan, dengan dalih itu perintah kaisar.           Orang-orang miskin, pengemis-pengemis, kau paksa dan kau tahan akan tetapi mereka yang mampu membayar uang tebusan, yang mampu menyogok kau bebaskan.           Benarkah ada perbuatan sewenang-wenang macam ini?" Swan Bu biarpun semenjak kecil tinggal di gunung-gunung, pertama di Hoa-san kemudian pindah ke Liong-thouw-san, namun dia banyak mendengar dari ayah bundanya tentang keadaan kota raja dan sejarahnya.           Wajah perwira itu menjadi meralr saking marahnya.           "Keparat, kau ini mempunyai kedudukan apa berani bicara macam itu kepadaku? Anak kecil masih ingusan belum tahu apa-apa, siKapmu yang kurang ajar ini akan mencelakakan kau sendiri.           Mengingat akan usiamu yang muda, biarlah kuampuni.           Hayo pergi dan jangan banyak rewel lagi!" Diam-diam Swan Bu berpikir.           Melihat sikap ini, Lo-ciangkun bukanlah seorang yang amat kejam dan menggunakan kedudukannya bertindak sewenang-wenang.           Buktinya masih memperlihatkan kesabaran terhadap seorang pemuda seperti dia, padahal menurut pendapat umum, sikapnya itu sudah tentu merupakan pelanggaran yang tak boleh diampuni lagi terhadap seorang pembesar pemerintah.           "Lo-ciangkun, para lopek dari Hwa-i-kai-pang sudah herusaha memberi, peringatan kepadamu bahwa sepak terjangmu ini melanggar keadilan, akan tetapi kau malah mempergunakan kedudukanmu untuk menindas mereka dengan dalih memberontak.           Insyaflah dan ubahlah peraturan yang tidak adil itu sebelum terlambat!ö.           ôOrang muda sombong!" teriak seorang di antara empat jagoan tinggi besar itu dan tanpa komando lagi, empat orang itu sudah menerjang maju dengan golok besar di tangan.           Jelas bahwa mereka ini hendak membunuh Swan Bu dan si pengemis tua.           "Lopek, jangan ikut-ikut!" kata Swan Bu.           Mendengar ini, Toan-kiam Lo-kai enak-enak duduk saja menonton dan tubuh Swan Bu berkelebat cepat ke depan didahului gulungan sinar perak dan..           , empat orang itu roboh malang-melintang, golok mereka terbabat buntung dan lengan mereka tergurat pedang sampai berdarah sedangkan dada mereka masing-masing telah tercium ujung sepatu Swan Bu.           "Anjing-anjing tukang siksa orang" kata Toan-kiam Lo-kai sambil tertawa.           "Tidak lekas mengempit ekor dan lari mau tunggu digebuk lagi?" Empat orang itu belum kehilangan kagetnya, mereka terbelalak memandang ke arah Swan Bu, kemudian lari ke luar tunggang-langgang!                     232                      "Lo-ciangkun, kau saksikan sendiri betapa aku bertekad untuk membela pendirianku, kalau perlu dengan pertumpahan darah, karena yang kulakukan ini adalah denni nasib ribuan orang yang tak berdosa," kata Swan Bu, berdiri tegak dan gagah.           Para pengawal yang berdiri di dekat dinding mengurung tempat itu, hanya terbelalak dan tidak berani berkutik, menanti komando komandan mereka.           Akan tetapi Lo-ciangkun tidak memberi komando itu, malah menarik napas panjang, lalu menggerakkan tangan berkata, "Mereka sudah pergi, sekarang boleh kita bicara.           Orang muda, kau ini siapakah dan hak apakah yang kau miliki untuk mencampuri tugasku?" "Aku Kwa Swan Bu, hanya rakyat biasa.           Kau seorang pembesar yang digaji dengan uang hasil keringat rakyat, karena itu setiap orang berhak untuk menilai dan mencela tugasmu jika kau menyeleweng, ketahuilah bahwa puluhan tahun yang lalu, nenek moyang dan ayahku berjuang mati-matian membela negara dan rakyat, bahkan ayahku ikut pula membantu perjuangan kaisar sekarang, namun tidak murka akan kedudukan.           Pamanku seorang pejuang yang besar jasanya, sekarang menjadi Jenderal Bun yang terkenal jujur dan berwibawa sebagai jaksa agung di Tai-goan.           Kau ini, mungkin tak pernah ikut berjuang, seielah sekarang menemukan pangkat sedikit saja lalu kau pergunakan untuk memeras rakyat jelata, berlaku sewenang-wenang mengandalkan kedudukanmu.           Hemmm, mana bisa aku mendiamkan saja kau membunuhi rakyat tidak berdosa?" Pucat wajah Lo-ciangkun.           Tentu saja dia mengenal siapa adanya Bun-goanswe di Tai-goan.           Kiranya pemuda perkasa ini adalah keponakan jenderal itu! Dengan tubuh lemas dia menjatuhkan diri duduk di atas bangkunya.           "Siapa membunuh ? Mereka itu disuruh bekerja, dijamin..          " "Omong kosong!" Kini Toan-kiam Lo-kai yang bicara.           "Mereka meninggalkan anak isteri  yang harus makan setiap hari.           Kalau mereka dibawa pergi, anak isterinya harus makan apa? Pula, ditempat mereka hampir tidak diberi makan".           "Sudahlah..           sudahlah..           semua itu terjadi karena teppaksa..          " akhirnya Lo-ciangkun berkata dengan muka pucat, "Bukan salahku..           bukan salahku..          " la menutupi mukanya seperti orang ketakutan.           "Lo-ciangkun, tidak perlu main sandiwara lagi, apa artinya semua ini?" Swan Bu berkata, keningnya berkerut.           "Kau lihat empat orang tadi..           mereka bukanlah orangku, mereka adalah orang-orang..           dia..          "                    233                      "Dia siapa?" Swan Bu mendesak, terheran-heran melihat pembesar itu begitu ketakutan.           "Peraturan dari kota raja sudah cukup adil.           Memang yang dapat menyumbangkan harta,  boleh bebas dari kerja suka rela, dan uang itu diperlukan untuk menjamin para sukarelawan dan menjamin keluarga mereka yang ditinggalkan selama tiga bulan sebelum diganti dengan rombongan lain.           Semua sudah diatur yang sakit tidak akan dipaksa, hanya yang sehat dan tidak mempunyai pekerjaan penting..           tapi..           tapi..           di daerah ini..           dikuasai dia. kami terpaksa menyerahkan uang tebusan, kalau tidak..           ahhhhh!" Pembesar itu tiba-tiba roboh terguling.           Swan Bu cepat melompat ke luar melalui sebuah jendela sambil menendang daun jendela, pedangnya merupakan gulungan sinar putih menerjang keluar dan terdengar jeritan di luar jendela.           Seorang bermuka kuning yang kecil pendek roboh mandi darah.           "Siapakah kau? Mengapa menyerang Lo-ciangkun dengan jarum beracun?" Swan Bu membentak, "Aku..           aku..           atas perintah..           Toa-nio..          !" Orang itu, berhenti bicara dan napasnya putus.           Kiranya terjangan Swan Bu tadi tidak saja melukai lehernya, akan tetapi juga beberapa batang jarum beracun yang sudah meluncur masuk, kena ditangkis pedang membalik dan melukai si penyambit sendiri.           Geger di ruangan itu.           Lo-Ciangkun rebah dengan muka biru dan napas putus! Toan-kiam Lo-kai berkata lirih, "Nah, agaknya Ang-jiu Toa-nio dan orang-orangnya yang tadi turun tangan.           Siauw-hiap, terang bahwa para pembesar itu diperas dan dipaksa oleh Ang-jiu Toa- nio.           Sekarang, apa yang hendak kaulakukan?" "Lopek, agaknya wanita yang bernama Ang-jiu Toa-nio itu mempunyai banyak kaki tangan.           Yang menyambit jarum itu tentu kaki tangannya yang tidak menghendaki Lo-ciangkun membuka rahasia.           Lopek, harap kau suka kumpulkan teman-temanmu Hwa-i-kai-pang dan kita menyerbu ke kuil itu.           Biarkan menghadapi Ang-jiu Toa-nio dan kalau anak buahnya bergerak, kau dan teman-teman membasmi mereka.          " Gembira wajah kakek itu.           "Baik, Siauw-hiap.           Sedikitnya ada tujuh orang temanku di sini, cukup untuk membasmi setan-setan itu.          " Demikianlah, pada petang hari itu Swan Bu melakukan perjalanan ke kuil di sebelah selalan kota setelah siang tadi dia menyelidiki tempat itu.           Dan secara kebetulan dia bertemu dengan Lee Si yang bermalam di kamar hotel.           Swan Bu terkejut sekali dan merasa heran mengapa hatinya menjadi tidak karuan ketika sepasang matanya bentrok dengan sepasang mata yang seperti mata burung hong itu.           Beberapa kali dia menengok, kemudian dia merasa malu kepada diri sendiri dan mempercepat langkahnya meninggalkan nona cantik jelita                     234                      yang berdiri di depan pintu rumah penginapan itu.           Ia dapat menduga dari gerak-gerik si nona bahwa gadis itu tentulah bukan orang sembarangan.           Mungkin seorang tamu rumah penginapan, dan melihat kebebasannya, tentu seorang wanita kang-ouw.           Akan tetapi karena dia menghadapi urusan besar, Swan Bu mengusir bayangan nona itu dari ingatannya dan dia langsung menuju ke kuil tua yang berdiri sunyi di pinggir kota.           Setelah tiba di depan kuil yang sunyi itu, dia berhenti.           la maklum bahwa di kanan kiri kuil, bersembunyi di balik pohon-pohon, terdapat Toan-kiam Lo-kai yang berjaga dan menyembunyikan diri.           Hati Swan Bu meragu.           Kuil itu sudah tua, kotor dan agaknya kosong.           Jangan-jangan Ang-jiu Tba-nio yang menjadi biang keladi daripada penindasan di kota Kong-goan, sudah melarikan diri.           Tak mungkin, pikirnya.           Wanita itu tentu memiliki kepandaian tinggi, sebelum bertanding melawannya mana mungkin mau lari? Tempat itu menyeramkan, sunyi seperti kuburan akan tetapi tidak gelap karena berada di tempat terbuka sehingga matahari yang sudah hampir menyelam itu masih menerangi halaman depan.           Halaman kuil tadinya tertutup pagar tembok yang tinggi, akan tetapi karena pagar tembok itu banyak yang runtuh, sekarang menjadi terbuka dan di sana-sini tampak pintu yang terjadi daripada tembok runtuh berlubang.           Rumah tua yang menyeramkan, kotor dan sunyi, patutnya menjadi tempat tinggal siluman-siluman.           Tiba-tiba dari pintu yang butut itu keluarlah seorang wanita tua, wanita yang tersenyum- senyum dan sanggul rambutnya dihias setangkai bunga merah.           Wanita itu setibanya di halaman kuil berkata, suaranya penuh ejekan, "Bocah she Kwa, kau berani datang ke sini? Lihatlah di sebelah kiri kuil di mana teman- temanmu sudah mendapat hukuman!" Mendengar ini, Swan Bu terkejut, teringat akan Toan-kiam Lo-kai dan teman-temannya anggauta Hwa-i-kai oang.           Dengan gerakan cepat dia melompat dan lari ke arah kiri kuil dan..           wajahnya berubah merah sekali.           Nenek itu ternyata tidak membohong.           Di pelataran pinggir itu tampak tujuh mayat bergelimpangan, di antaranya adalah Toan-kiam Lo-kai dan yang enam lagi jelas anggauta Hwa-i-kai-pang karena pakaian mereka semua penuh tambalan berkembang! Dengan kemarahan memuncak Swan Bu berlari kembali ke depan kuil, berdiri di luar tembok dan menghadap nenek yang masih berada di situ dari balik pecahan pagar tembok.           "Apakah kau yang bernama Ang-jiu Toa-nio?" tanya Swan Bu, suaranya ditekan agar tidak menggigil saking marahnya.           "Dan kaukah yang membunuh tujuh orang Hwa-i-kai-pang itu?" Nenek itu tersenyum, kembang merah di atas kepalanya bergoyang-goyang.           "Dan kau Kwa Swan Bu putera Pendekar Buta Kwa Kun Hong, bukan? Hi-hik-hik, kebetulan sekali kita                     235                      bertemu di sini.           Di sini aku disebut Ang-jiu Toa-nio, akan tetapi di tempatku aku adalah Ang-hwa Nio-nio, ketua Ang-hwa-pai, musuh besar ayahmu.           Kau berani masuk ke sini dan mengadu kepandaian melawanku?" Kalau tadi Swan Bu sudah marah sekali, sekarang serasa meledak dadanya.           Kiranya inilah orangnya yang mengumpulkan teman-teman untuk menyerbu Liong-thouw-san? Kebetulan sekali! "Siapa takut padamu? Orang macammu inikah yang hendak menantang ayah? Ha-ha-ha, nenek tua hampir mampus, tak usah dengan ayah ibu, cukup dengan aku puteranya!" Sekali menggerakkan kaki, tubuh Swan Bu sudah melayang masuk dan menghadapi Ang- hwa Nio-nio yang sudah siap memasang kuda-kuda dengan sikap mengejek itu.           Pembaca tentu heran mengapa Ang-hwa Nio-riio, ketua Ang-hwa-pai di Ching-coa-to itu bisa berada di Kong-goan? Bukanlah hal kebetulan karena memang sengaja Ang-hwa Nio-nio dan rombongannya datang ke Kong-goan ini untuk menyambut suhengnya, Maharsi.           Kedatangan Ang Mo-ko bekas tokoh pengawal istana dart kaisar yang lalu, juga ikut serta Ouwyang Lam dan Siu Bi! Seperti kita ketahui, gadis ini menangis ketika ditinggalkan Si Jaka Lola Yo Wan setelah ia mengaku bahwa ia adalah puteri angkat The Sun.           Dalam keadaan berduka ini ia ditemukan oleh Ang-hwa Nio-nio dan rombongannya yang tentu saja segera menggunakan kesempatan baik ini untuk membujuknya, kembali menggabungkan diri dengan mereka untuk menghadapi musuh besarnya, Pendekar Buta.           Tadinya Siu Bi menyandarkan harapannya pada bantuan Yo Wan, akan tetapi setelah Yo Wan ternyata adalah musuh besar ayah tirinya dan tak mungkin mau membantunya, memang paling baik baginya adalah menggabungkan diri dengan rombongan Ang-hwa Nio-nio yang kuat.           Kong-goan, Ang-hwa Nio-nio dan rombongannya mengambil tempat di kuil tua itu karena memang di situlah ia berjanji dalam pesannya kepada Maharsi untuk menyambul kedatangan suhengnya dari barat ini.           Tentu saja, untuk melayani segala keperluan mereka, Ang-hwa Nio-nio diikuti pula oleh serombongan anak buahnya yang cukup kuat.           Karena pada dasarnya memang penjahat, di Kong-goan Ang-hwa Nio-nio melihat kesempatan baik untuk mendapatkan uang banyak ketika datang pembesar dari kota raja untuk mengumpulkan sukarelawan yang pada masa itu dibutuhkan sekali untuk memperbaiki bangunan tembok besar dan saluran air.           Kong-goan amat jauh dari kota raja, merupakan kota yang terpencil dan dengan kepandaiannya yang tinggi Ang-hwa Nio-nio dapat menguasai pembesar-pembesar itu, mengancam mereka untuk melakukan pemerasan dalam kesempatan mengumpulkan tenaga-tenaga kerja paksa.           Mudah saja ia lakukan hal ini tanpa khwatir akan terganggu, dan ia menaruh beberapa orang anak buahnya untuk "menjaga" para pembesar yang bersangkutan, di antaranya Lo-ciangkun.           Tentu saja mula- mula ia mendapatkan tentangan hebat, namun setelah banyak orang roboh oleh pukulan tangannya yang berubah merah, ia mendapat julukan Ang-jiu Toa-nio (Nyonya Besar Tangan Merah) dan tak seorang pun beran mem-bantahnya lagi.           Akhirnya para pengemis                     236                      Hwa-i-kai-pang mendengar tentang hal ini dan turun tangan, namun mereka roboh pula di tangan Ang-jiu Toa-nio atau Ang-hwa Nio-nio bersama teman-temannya yang amat lihai.           Demikianlah ringkasan tentang kehadiran Ang-hwa Nio-nio di Kong-goan dan kita kembali ke depan kuil di mana Swan Bu berhadapan dengan nenek itu Swan Bu maklum bahwa lawannya ini lihai, namun melihat nenek itu tidak mempergunakan senjata, dia pun tidak mengeluarkan Gin-seng-kiam yang tersimpan di balik jubahnya.           Matanya yang tajam menatap ke arah kedua tangan nenek itu yang perlahan-lahan berubah merah ketika nenek itu mengerahkan Ang-see-ciang.           Swan Bu tidak menjadi gentar, dia sudah mendengar banyak tentang Tangan Pasir Merah ini dari ayah bundanya dan karenanya dia maklum bagaimana harus menghadapinya.           Segera dia menyalurkan sinkang di tubuhnya dan "mengisi" kedua lengannya dengan tenaga lemas yang mengandung Im-kang sehingga kedua tangannya menjadi lunak halus dan gerakannya mengeluarkan hawa dingin seperti es.           Akan tetapi sebelum nenek itu menyerangnya, Swan Bu mendengar gerakan orang di sebelah belakangnya.           Cepat dia menggeser kaki mengubah kuda-kuda miring dan matanya mengerling ke arah luar.           Kiranya di situ telah berdiri belasan orang anggauta Ang-hwa-pai yang memegang senjata, berjajar menutup jalan keluar, di antara mereka terdapat empat orang yang dia robohkan di gedung Lo-ciangkun! Menigertilah dia bahwa dia kini berada di gua harimau dan harus berjuang mati-matian karena agaknya lawan berusaha benar-benar untuk menjebaknya dan tidak memberi kesempatan kepadanya untuk lolos dari tempat itu.           Pada saat itu, muncul pula tiga orang dari pintu kuil.           Mereka ini bukan lain adalah Ouwyang Lam, Siu Bi, dan seorang kakek yang pakaiannya serba merah dan mukanya tersenyum- senyum, usianya sudah sangat tua, sedikitnya tujuh puluh lima atau delapan puluh tahun, memegang sebatang tongkat barnbu yang dipakai menunjang tubuhnya yang agak bongkok.           Kakek ini bukan lain adalah Ang Mo-ko, seorang tokoh yang cukup terkenal selama puluhan tahun di kota raja.           Sejenak Swan Bu tertegun ketika bertemu pandang dengan gadis yang cantik jelita itu.           Teringat dia akan pertemuannya di depan rumah penginapan tadi.           Hampir serupa gadis ini dengan gadis tadi, akan tetap malah lebih jelita, terutama sepasang matanya yang begitu lincah dan tajam.           Siu Bi juga memandang Swan Bu penuh perhatian, pandang matanya menjadi bimbang ragu.           Inikah putera Pendekar Buta? Betulkah seperti yang ia dengar dari Ang-hwa nio-nio bahwa putera tunggal Pendekar Buta akan datang menyerbu? Dan pemuda yang luar biasa tampan dan gagahnya inikah musuh besarnya? Diam-diam Siu Bi tertegun dan terpesona.           Belum pernah ia melhat seorang pemuda sehebat ini.           Wajahnya berkulit halus putih kemerahan seperti wajah perempuan, akan tetapi alisnya yang tebal hitam, dagunya yang berlekuk sedikit tengahnya, pandang mata yang berwibawa, dada bidang yang membayangkan kekuatan, semua itu membayangkan sifat jantan yang mengagumkan.           Akan tetapi teringat                     237                      lagi bahwa pemuda ini adalah putera musuh besar yang akan dibalasnya, matanya bernyala penuh kebencian.           Swan Bu dengan tenang menghadapi pengurungan ini, bahkan dia tersenyum karena memang hatinya gembira mendapat kenyataan bahwa musuh-musuh orang tuanya ternyata adalah orang-orang jahat.           "Ang-hwa Nio-nio, memang betul kata-katamu tadi.           Amat kebetulan kita dapat bertemu di sini karena sebenarnya aku hendak pergi ke Ching-coa-to untuk mewakili "orang tuaku' yang kabarnya hendak kaucari dan kau tantang.           Sekarang, melihat sepak terjangmu dan kawan-kawanmu, hatiku lega bukan main.           Kiranya macam beginilah musuh-musuh orang tuaku, atau lebih tepat lagi, orang-orang yang memusuhi orang tuaku karena aku yakin bahwa orang tuaku tidak akan mau mencari permusuhan.           Kalau orang orang yang memusuhi orang tuaku jahat-jahat belaka, jelas bahwa di waktu dahulu orang tuaku tidak berada di fihak salah.          " Baru saja Swan Bu menutup mulutnya, Ang-hwa Nio-nio sudah menerjang maju sambil membentak, "Bocah sombortg rasakan tanganku!" Kedua tangannya yang sudah berubah menjadi merah itu menerjang maju mengirim pukulan beruntun, jangan dipandang rendah pukulan ini karena inilah pukulan-pukulan Ang-see-ciang yang amat hebat.           Apalagi sampai tangan-tangan merah itu mengenai tubuh lawari, baru hawa pukulannya saja sudah cukup untuk merobohkan lawan yang tidak begitu tinggi ilmu kepandaiannya.           Kedua tangan yang merah itu terbuka jari-jarinya, agak melengkung dan hawa pukulan yang menyambar dari telapak tangan itu amat panas seperti api membara! Namun Swan Bu yang sudah mengerahkan Im-kang pada kedua lengannya, sengaja malah melangkah maju untuk menyambut pukulan-pukulan itu dengan tangkisan lengannya, hendak menguji kekuatan lawan sambil sekaligus memperlihatkan kepandaiannya.           Nenek itu girang, juga heran melihat pemuda ini berani menerima Ang-see-ciang, ia pastikan bahwa pemuda itu tentu akan roboh dalam segebrakan saja.           la menambah tekanan pada kedua lengannya.           "Duk! Dukkk!!" Dua kali lengan mereka bertemu susul-menyusul dalam waktu cepat sekali dan hasilnya..           Ang-hwa Nio-nio melompat ke belakang dua meter jauhnya sambil meringis kesakitan karena kedua lengannya sefasa akan patah, sedangkan pemuda itu masih berdiri tetap dan tenang, biarpun diam-diam dia kaget karena kedua pundaknya serasa tergetar, tanda bahwa nenek itu benar-benar hebat kepandaiannya!.           "Bibi Kui Ciauw, biarkan aku menghadapi musuh besarku ini!" tiba-tiba Siu Bi sudah melompat ke depan Swan Bu dengan pedang Cui-beng-kiam di tangannya.           Sikapnya angkuh ketika ia menggerak-gerakkan pedang di depan dada sambil membentak, "Orang she Kwa, bersiaplah kau untuk menerima hukuman dariku atas dosa ayahmu!"                    238                      Swan Bu mengerutkan kening.           Sombongnya anak ini, pikirnya.           Menyebut Ang-hwa Nio-nio bibi, tentu keponakannya dan karena itu, tentu bukan orang baik-baik.           Akan tetapi ucapan Siu Bi tadi membuat dia penasaran.           "Memberi hukuman adalah urusan mudah, tapi jelaskan apa dosa ayahku dan hukuman apa yang hendak kau jatuhkan kepadaku," jawabnya tenang.           Tidak enak juga hati Siu Bi menyaksikan sikap begini tenang.           Segala gerak-gerik pemuda ini membayangkan seorang gagah yang baik, tiada cacad celanya sehingga hatinya tidak senang.           Andaikata putera Pendekar Buta ini seorang pemuda beradalan dan kurang ajar, hatinya akan lebih senang untuk memusuhinya.           Akan tetapi ia mengeraskan hatinya dan membentak, "Ayahmu si buta itu telah membuntungi lengan kakekku Hek Lojin, dan karenanya aku sudah bersumpah untuk membalas dendam, membuntungi lengan Pendekar Buta dan anak isterinya.           Karena kau puteranya, sekarang aku akan membuntungi sebelah lenganmu agar roh kakekku dapat tenteram!" Swan Bu tersenyum mengejek.           "Roh orang jahat mana bisa tenteram keadaannya? Tentu dilempar ke neraka dan selamanya akan terbakar api derita! Kalau ayah membuntungi lengan kakekmu, itu berarti bahwa kakekmu adalah orang jahat..           "Setan, lancang mulutmu!" Siu Bi menjerit sambil nnenggerakkan pedangnya disusul pukulan tangan kirinya.           Hebat serangan ini, pedangnya menjadi segulung sinar hitam menuju leher dan tangan kirinya membayangkan uap hitam menerjang dada.           "Aihhh, ganas..          !" Diam-diam Swan Bu mengeluh dan cepat dia melempar diri ke belakang berjumpalitan sambil mencabut pedang Gin-seng-kiam.           "Trang! Tranggg!!" Sepasang pedang hitam dan putih bertemu, bunga api ber-pijar menyilaukan mata dan Siu Bi, seperti halnya Ang-hwa Nio-nio tadi, melompat ke belakang dengan lengan kanan serasa lunnpuh.           Ternyata bahwa ia kalah kuat dalam tenaga sinkang sehingga dalam pertemuan senjata tadi hampir ia melepaskan pedangnya.           "Jangan takut, Bi-moi-moi, aku membantumu!" seru Ouwyang Lam yang sudah melompat maju, siap mengeroyok.           "Aku tidak membutuhkan bantuanmu!" bentak Siu Bi masih mendongkol dan penasaran karena sekali tangkis saja ia hampir keok tadi.           Kalau baru segebrakan saja ia sudah dibantu Ouwyang Lan dan mengeroyok Swan Bu, bukankah hal ini amat memalukan dirinya? "Kau akan kalah, dia lihai..          !" kata Ang-hwa Nio-nio yang juga melangkah maju.                              239                      Swan Bu menggerak-gerakkan pedang di depan dada, tersenyum mengejek, "Hayo kalian keroyoklah! Aku tidak takut dan memang aku tahu, pengecut-pengecut macam kalian kalau tidak main keroyokan mana berani maju?" "Pemuda sombong, lihat tongkat!" Ang Mo-ko sudah menyapu dengan tong-kat bambunya.           Biarpun tongkat ini terbuat daripada bambu yang ringan, namun ketika menyambar nnengeluarkan Suara bersiutan, maka Swan Bu tidak berani memandang ringan lalu melompat ke atas nnenyelamatkan diri sambil memutar pedang menangkis pedang Ouwyang Lam yang sudah menusuknya.           Ouwyang Lam seorang pemuda yang amat cerdik.           Maklum bahwa tadi gurunya dan juga Siu Bi tidak kuat melawan tenaga Swan Bu, dia ! tidak mau mengadu pedang, cepat me-narik pedangnya dan dari samping dia mengirim bacokan kilat yang juga dapat dielakkan oleh Swan Bu.           Pemuda Liong-thouw-san ini sudah memutar pedang mendahului Ang-hwa Nio-nio yang sudah mengeluarkan pedang pula, namun serangannya dapat ditangkis oleh ketua Ang-hwa-pai itu.           Dari luar mendatangi anak buah Ang-hwa-pai dan sebentar saja Swan Bu sudah dikurung dan dikeroyok banyak orang lawan.           "Tak sudi aku! Tak sudi! Masa satu orang dikeroyok begini banyak.           Aku tidak sudi dibantu!" berkali-kali Siu Bi berteriak-teriak penuh kemarahan, berdin di pinggir sambil memegangi pedangnya.           Hatinya kecewa bukan main.           Biarpun la takkan ragu-ragu untuk membalas dendam, membuntungi lengan kiri pemuda tampan putera Pendekar Buta itu namun ia merasa jijik dan rendah sekali kalau harus mengeroyok seorang musuh dengan begitu banyak teman.           Sungguh perbuatan yang amat memalukan dan rendah sekali.           Diam-diam ia memperhatikan Swan Bu, mengagumi gerakan ilmu pedangnya yang amat aneh dan kuat, lalu membandingkan pemuda musuh itu dengan Ouwyang Lam.           Seperti burung hong dibandingkan dengan burung gagak.           Seperti seekor naga dibandingkan dengan ular beracun.           Sebetulnya, biarpun dikeroyok begitu banyak lawan, Swan Bu tidak gentar sedikit pun juga, karena andaikata dia terdesak menghadapi tiga orang terlihai di antara mereka, yaitu Ang- hwa Nio-nio, Ang Mo-ko, dan Ouwyang Lam dengan mudah dia akan menerjang keluar menyelamatkan diri.           Akan tetapi, mendengar teriakan Siu Bi tadi, dia tertegun dan merasa bingung.           Terang bahwa gadis itu memiliki watak yang gagah perkasa dan sama sekali tidak patut menjadi anggauta gerombolan ini.           Dan mempunyai seorang musuh yang wataknya begitu gagah perkasa, benar-benar malah mendatangkan rasa gelisah di hatinya.           Ketika Swan Bu mainkan Im-yang Sin-kiam, pedangnya bergulung seperti seekor naga perak menyambar-nyambar dan dalam waktu singkat, lima orang anak buah Ang-hwa-pai roboh terluka tak mampu melawan lagi.           Ang-hwa Nio-nio kaget dan kagum, akan tetapi, juga penasaran.           Kalau sekarang mereka tidak mampu mengalahkan putera Pendekar Buta, bagaimana nnereka akan mampu menyerbu Liong-thouw-san, berhadapan dengan                     240                      Pendekar Buta sendiri? Di lain fihak, Swan Bu harus mengakui bahwa tiga orang lawannya itu benar-benar tangguh  sekali.           Ilmu pedang Ang-hwa Nio-nio hebat dan ganas, ditambah lagi tangan kirinya yang mainkan selingan pukulan Ang-tok-ciang (Tangan Racun Merah) yang sebetulnya adalah Ilmu Pukulan Ang-see-ciang (Tangan Pasir Merah).           Pemuda tampan pendek itu serupa ilmu silatnya dengan nenek ini, hanya kalah setingkat.           Adapun Ang Mo-ko Si Iblis Merah itu juga tak boleh dipandang ringan.           Tongkat bambunya menyambar-nyambar laksana kitiran tertiup angin taufan, mengeluarkan bunyi nyaring dan mengandung tenaga besar.           Andaikata tidak dikeroyok, dengan ilmu pedangnya yang hebat, kiranya Swan Bu akan dapat mengalahkan seorang di antara mereka dengan mudah.           Kini, dikeroyok tiga, dia hanya dapat mengimbangi saja karena melihat kelihaian daya serangan mereka, dia harus lebih menekankan gerakannya pada penjagaan diri sehingga daya serangannya sendiri menjadi kurang kuat.           Namun pertahanannya kuat sekali sehingga betapapun juga kerasnya tiiga orang itu menekannya, dia tidak terdesak.           Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, "Sungguh tidak tahu malu melakukan pengeroyokan!" Tampak berkelebat sesosok bayangan yang ringan sekali, didahului menyambarnya sinar pedang kuning dan robohnya tiga orang anak buah Ang-hwa-pai lainnya.           Kiranya yang datang ini adalah seorang gadis yang cantik jelita yang rambutnya dikuncir dua tergantung di belakang punggungnya.           Gadis ini bukan lain adalah Lee Si.           Seperti telah diceritakan di bagian depan Lee Si yang merasa curiga melihat gerak-gerik Swan Bu, juga sekaligus tertarik hatinya, diam-diam mengikuti Swan Bu menuju ke sebelah selatan kota.           la mengintai dari jauh dan.           ketika Swan Bu melompat masuk ke dalam halaman kuil, ia berindap-indap mendekati dan dapat mendengar semua percakapan.           Bukan main kaget dan girang hatinya ketika mendengar bahwa pemuda yang menarik hatinya itu bukan lain adalah putera Liong-thouw-san, putera Pendekar Buta! Benar-benar pertemuan vang sama sekali tidak tersangka-sangka.           Hal ini membuat jantungnya berdebar tidak karuan, membuat la bimbang dan bingung, tidak tahu apa yang harus ia lakukan.           la dapat menduga bahwa putera Liong-thouw-san tentu sa]a memiliki kepandaiannya yang luar biasa, yang jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri, maka ia merasa serba salah untuk turun tangan membantu.           Ila khawatir kalau itu akan merendahkan, tidak membantu bagaimana.           Maka la hanya mengintai saja dan kagumlah la menyaksikan sepak terjang Swan Bu.           Memang semenjak kecil, Lee Si tidaK banyak kesempatan untuk berjumpa dengan keluarga ayah bundanya.           Hal ini adalah karena keluarga itu terpencar dan amat jauh tempat tinggalnya, Hanya dengan putera pamannya di Lu-liang-san sajalah, pernah ia bertemu sampai tiga kali, ketika ia masih kecil dan yang terakhir ketika ia berusia empat belas tahun.           Putera pamannya di Lu-iiang-san, itu empat tahun lebih tua dari padanya, bernama Tan Hwat Ki.           Pamannya, Tan Sin Lee ketua Lu-liang-pai itu hanya mempunyai seorang putera.           Adapun keluarga lainnya, biarpun ia sudah banyak mendengar penuturan ayah bundanya dan tahu pula akan nama-nama mereka, namun ia jarang sekali, bahkan ada yang tak                     241                      pernah bertemu.           Di antara mereka yang belum pernah ia temui adalah Kwa Swan Bu inilah.           Tentu saja ia sudah sering kali mendengar ayah bundanya me-muji-muji Kwa Kun Hong Si Pendekar Buta yang sakti.           Oleh karena itu, ia dapat menduga bahwa putera Pendekar Buta tentu lihai pula dan ternyata sekarang secara kebetulan sekali ia dapat menyaksikan sendiri kepandaian putera Pendekar Buta itu! Akan tetapi ketika menyaksikan betapa lihainya tiga orang yang mengeroyok Swan Bu, ditambah lagi banyak anak buah Ang-hwa-pai maju dari belakang mencari kesempatan untuk mengirim serangan menggelap, ia tidak dapat tinggal diam lebih lama lagi.           Dengan pedang Oie-kong-kiam di tangan ia menerjang sambil membentak nyaring dan akibatnya tiga orang anak buah Ang-hwa-pai roboh oleh sinar pedangnya! Sekilas pandang ia melihat betapa Swan Bu menoleh kepadanya dan memandang dengan sinar mata penuh keheranan dan juga kaget karena agaknya pemuda itu mengenalnya dari pertemuan di depan losmen tadi.           Sedetik wajah yang cantik itu menjadi merah, jantungnya berdebar dan untuk menguasai rasa jengah ini Lee Si segera memperkenalkan diri, "Kita masih orang sendiri, aku Tan Lee Si, ayahku ketua di Min-san!" Kaget dan girang bukan main hati Swan Bu.           Tentu saja dia sudah mendengar nama ini dari  ayah bundanya.           Kiranya masih saudara sendiri.           Saudara? Sebetulnya bukan apa-apa.           Hanya ayahnya masih terhitung paman guru ibu Lee Si, sungguhpun usia mereka sebaya.           Sebaliknya, ayahnya sebagai orang yang pernah menerima pelajaran dari Raja Pedang kakek gadis ini, masih terhitung paman guru gadis ini sendiri! "Bagus!" Swan Bu berseru gembira, bukan karena mendapat bantuan melainkan karena mendapat kenyataan bahwa gadis yang tadi membuat hatinya berdenyut aneh ketika dia melihatnya di depan losmen itu kiranya bukanlah orang lain! "Mari kita basmi kawanan penjahat ini'"  Akan t:etapi pada saat itu Siu Bi sudah melompat dengan gerakan gesit sekali, pedangnya mendahuluinya merupakan sinar kehitaman.           Dengan pedang melintang di depan dada Siu Bi menghadapi Lee Si, sejenak pandang matanya menjelajahi gadis Min-san itu dari atas sampai ke bawah, lalu terdengar dia membentak,' "Kau tidak suka akan keroyokan, aku pun membenci keroyokan.           Hayo sekarang kita sama- sama muda, sama-sama wanita, tanpa keroyokan, kita mengadu kepandaian!" Lee Si tadi sudah melihat sikap Siu Bi dan biarpun ia dapat menduga bahwa gadis ini berbeda dengan orang-orang yang lain, namun tetap saja merupakan musuh dan tentu bukan seorang gadis baik-baik.           Akan tetapi karena ia tidak mempunyai permusuhan dengan                     242                      Siu Bi, juga bahwa ia hanya mau bertending untuk membantu Swan Bu yang dikeroyok, maka, ia merasa ragu-ragu untuk melayani gadis cantik yang pedangnya bersinar hitam itu.           "Perempuan liar, di antara kita tidak ada permusuhan, perlu apa aku melayani kau?" Dimaki perempuan liar, tentu saja Siu Bi seketika menjadi naik darah! "Kau yang liar, kau yang buas, kau ganas! Siapa saja yang menjadi sahabat atau keluarga dia itu adalah musuhku.           Sambut pedangku!" Dengan gerakan yang amat lincah dan kuat Siu Bi sudah menerjang maju, didahului gulungan sinar hitam pedangnya.           Tentu saja Lee Si juga cepat mengangkat pedangnya menangkis dan beberapa menit kemudian kedua orang gadis yang sama lincahnya ini sudah lenyap bayangannya, terbungkus oleh gulungan sinar pedang hitam dan kuning yang saling libat, saling dorong dah sallhg tekan.           Selain menegangkan, juga amat indah dipandang pertandingan antara kedua orang dara remaja yang sama gesitnya ini.           Akan tetapi Lee Si segera menjadi kaget sekali ketika beberapa kali tangan kiri Siu Bi melancarkan pukulan Hek-in-kang yang amat kuat sehingga Lee Si menjadi sibuk mengelak karena maklum bahwa pukulan itu adalah semacam pukulan jarak jauh yang amat berbahaya.           Tahulah ia bahwa lawannya ini memiliki kepandaian yang tinggi lagi jahat maka ia berlaku sangat hati-hati mainkan bagian-bagian Hoa-san Kiam-sut untuk mempertahankan diri serta bagian Yang-sin Kiam-sut untuk balas menyerang.           Sayangnya bahwa penggabungan- penggabungan kedua ilmu pedang itu belum sempurna benar sehingga untuk melayani Cui- beng Kiam-sut dan Hek-in-kang yang memang luar biasa itu ia merasa terdesak hebat.           Memang boleh diakui bahwa ilmu silat yang dipelajari Lee Si merupakan ilmu silat golongan bersih, karena itu dasarnya lebih kuat dan sifatnya tidaklah liar seperti ilmu silat yang dimiliki Siu Bi.           Akan tetapi oleh karena memang tingkat kepandaian Hek Lojin jauh lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Tan Kong Bu dan isterinya, maka tentu saja tingkat Siu Bi juga lebih tinggi daripada tingkat Lee Si.           Kalau saja Siu Bi tidak memiliki Ilmu Hek-in-kang dan hanya mengandalkan Cui-beng kiam-sut, agaknya Lee Si masih sanggup mempertahankan diri.           Akan tetapi sekarang Siu Bi mendesaknya dengan Hek-in-kang yang membuat ia sibuk sekali, harus melompat ke sana ke mari mengelak daripada sambaran uap hitam itu, ditambah lagi harus menghadapi sinar pedang hitam yang mengurung dirinya dan menutup semua jalan keluar! Sementara itu, pertempuran antara Swan Bu dan para pengeroyoknya juga berjalan amat seru.           Kini tidak ada anak buah Ang-hwa-pai yang berani maju, mereka hanya berjaga-jaga saja karena setiap kali ada yang maju, baru segebrakan saja tentu roboh mandi darah disambar sinar pedang putih di tangan Swan Bu.           Akan tetapi biarpun pengeroyoknya hanya tiga orang, namun ketiganya adalah ahli-ahli silat kelas tinggi yang memiliki ilmu kepandaian hebat.           Swan Bu memang mewarisi kesaktian ayah bundanya, akan tetapi dia kurang pengalaman bertempur.           Andaikata ayahnya berada di situ, tanpa turun tangan membantunya, hanya dengan nasihat-nasihat saja sudah pasti dia akan dapat menangkan                    243                      pertandingan ini.           Karena kekurangan pengalaman inilah dia kekurangan taktik sehingga kurang dapat menangkap dengan cepat kelemahan-kelemahan lawan, dan terlampau hati- hati menjaga diri sehingga biarpun pertahanannya rapat sekali, namun daya serangannya kurang kuat dan kurang berhasil.           Apalagi ketika dengan sudut matanya dia dapat melihat betapa Lee Si telah terdesak hebat oleh sinar hitam pedang Siu Bi, hatinya menjadi gelisah sekali.           Pada saat itu terdengar suara ketawa aneh dan muncullah dua orang kakek, yang seorang tinggi jangkung yang seorang lagi pendek.           "Heh-heh-heh, sudah ada pesta keramaian di sim!" kata si jangkung dengan suaranya yarig aneh dan asing.           "Suheng!!" Ang-hwa Nio-nio berseru girang sekali ketika mengenal kakek tinggi jangkung itu, yang bukan lain orang adalah Maharsi pendeta dari barat.           Adapun si pendek itu.           adalah Bo Wi Sian Jin! "Bantulah kami menangkap dua bocah setan ini!".           "Heh-heh-heh, Sianjin.           Ini Sumoi (Adik Seperguruan).           Kau tangkaplah yang betina, biar aku  tangkap yang jantan!" Setelah berkata demikian, Maharsi melangkah panjang ke dalam pertempuran, tangannya mencengkeram dan kagetlah Swan Bu ketika tiba-tiba ada angin keras menyambar dari atas dan tahu-tahu lengan yang panjang itu mengancamnya.           Cepat pedangnya dikibaskan ke atas untuk membuat buntung lengan itu.           "Wah, boleh juga!" Maharsi memuji.           Perlu diketahui bahwa Ilmu Silat Pai-san-jiu dari pendeta barat yang tinggi ini, seperti juga Ilmu Katak Sakti dari Bo Wi Sianjin, merupakan ilmu pukulan sakti yang mengandung sinkang tingkat tinggi sehingga pukulan-pukulan dari kedua ilmu silat ini tidak perlu menyentuh tubuh lawan, dari Jauh saja sudah cukup kuat untuk merobohkan lawan yang biasa.           Akan tetapi pemuda itu bukan saj'a tidak terpengaruh banyak oleh sambaran hawa pukulannya, malah masih dapat membabat dengan pedangnya yang cukup berbahaya.           Karena inilah Maharsi memuji.           Akan tetapi sambil menarik kembali lengannya, pendeta Jangkung ini sudah mengirim serangan bertubi-tubi, susul-menyusul dan angin pukulannya menderu-deru seperti angin taufan mengamuk.           Swan Bu benar-benar kaget sekali.           Maklumlah dia bahwa si jangkung ini benar-benar amat berbahaya.           Apalagi pada saat itu, Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam dan Ang Mo-ko masih terus menerjangnya dengan sengit, maka pemuda Liong-thouw-san ini benar-benar berada dalam keadaan yang amat berbahaya.           Adapun Lee Si yang menghadapi Siu Bi dan terdesak hebat, tiba-tiba melihat munculnya seorang kakek pendek yang serta merta menggerakkan tangan menyelonong maju dan menerjang..           Siu Bi dengan pukulan-pukulan dan dorongan-dorongan kuat, dibarengi suara ketawanya terbahak-bahak.           Kakek ini adalah Bo Wi Sianjin yang memandang rendah                     244                      lawan karenanya dia tidak menggunakan Pukulan Katak Sakti, melainkan mendesak dengan pukulan-pukulan Jarak jauh biasa.           Akan tetapi dia salah kira dan bukan menyerang Lee Si, malah menerjang Siu Bi.           "Eh-eh-eh, Locianpwe, bukan dia musuh kita.           Yang seorang lagi..          !" seru Ouwyang Lam kaget sambil melompat mendekati, meninggalkan Swan Bu yang kini sudah terdesak hebat itu.           "Hah? Yang mana?" Bo Wi Sianjin menghentikan serangannya, tertegun dan bingung.           Sementara itu, Siu Bi marah sekali.           la tadi sedang mendesak Lee Si, sama sekali tidak  membutuhkan bantuan karena ia berada di fihak unggul, maka majunya kakek itu baginya merupakan gangguan yang menjengkelkan.           öAku tidak butuh bantuan! Mundur!!"" serunya dan pedangnya dikerjakan lebih hebat.           Lee Si yang maklum bahwa dirinya tak dapat tertolong lagi kalau ada orang lain maju  mengeroyok, menjadi gugup dan sebuah pukulan Hek-in-kang dari Siu Bi tak dapat ia hindarkan, mengenai pundaknya dan ia terhuyung-huyung.           Kesempatan baik ini dipergunakan oleh Siu Bi untuk menyapu kaki Lee Si sehingga gadis ini roboh dan sebuah totokan membuatnya lemas tak dapat bergerak lagi.           Swan Bu yang sudah terdesak hebat, melihat robohnya Lee Si, menjadi marah sekali.           "Keparat, lepaskan dia!" la membentak, tubuhnya bagaikan kilat menyambar ke arah Lee Si untuk menolong gadis itu.           Akan tetapi tiba-tiba dari kanan menyambar tongkat bambu Ang Mo-ko menotok lambung.           la cepat menangkis dan melanjutkan gerakannya menolong Lee Si, namun angin menyambar dari kiri dan Swan Bu merasa seakan-akan tubuhnya terdorong oleh tenaga yang amat dahsyat.           la terlempar dan sebelum dia sempat bergerak, dua buah lengan panjang Maharsi yang tadi memukulnya telah mencengkeram pundaknya dan menotok jalan darah di punggungnya, membuat dia tak berdaya lagi.           Sepasang orang muda itu telah tertawan oleh musuh-musuh besarnya.           "Siapakah dia ini?" Maharsi bertanya kepada sunnoinya sambil menuding ke arah Swan Bu yang sudah rebah miring di atas tanah.           Mau tak mau pendeta dari barat itu kagum bukan main karena semuda itu Swan Bu telah memiliki kepandaian yang hebat.           "Suheng," kata Ang-hwa Nio-nio dengan muka berseri.           "Kebetulan sekali kau datang dan kebetulan memang, karena bocah ini bukan lain adalah putera Pendekar Buta.           Ular menghampiri penggebuK, bukan?" "Sudah jelas anak musuh besar, tidak dibunuh tunggu apa lagi?" Ouwyang Lam yang merasa iri melihat ketampanan dan kegagahan pemuda itu, jauh melebihi dirinya, cepat                     245                      mengangkat pedangnya menusuk ke arah dada Swan Bu! Pemuda ini maklum bahwa nyawanya berada di ujung pedang lawan, namun karena dia tak dapat menggerakkan kaki tangannya, Swan Bu hanya dapat memandang dengan mata tidak berkedip sedikit pun juga.           Orang-orang lain yang berada di situ hanya memandangnya sambil tertawa, karena pemuda Liong-thouw-san ini memang anak musuh besar, berarti musuh pula, apalagi sudah mengacaukan usaha mereka di Kong-goan, tidak dibunuh mau diapakan lagi? "Cringgg..          !?" Ouwyang Lam kaget dan melompat mundur.           Pedangnya yang hampir menancap di dada Swan Bu telah terbentur pedang lain yang telah menangkisnya sehingga muncrat bunga api saking kerasnya benturan itu.           Ketika semua orang memandang, kiranya yang menangkis itu adalah Siu Bi! "Eh, kau lagi? Bi-moi, terus terang saja, kau sebetulnya berfihak siapa? Ketika di Ching-coa- to kami hendak membunuh puteri Raja Pedang, kau pun menghalangi maksud kami! kata Ouwyang Lam, penasaran.           Sepasang mata yang tajam bening itu , berkilat, "Aku berfihak kepada diriku sendiri! Boeah ini adalah anak Pendekar Buta, berarti musuh besarku.           Aku sudah bersumpah hendak membuntungi lengan Pendekar Buta, isterinya dan anaknya, membuntungi lengannya hidup-hidup! Kalau dia dibunuh, apa artinya membuntungi lengannya lagi?" "Tapi..           tapi bukan kau yang merobohkan dia, kau tidak berhak.           Kami yang merobohkan dan menawannya, maka kami yang berhak melakukan apa saja terhadap dirinya!"  "Siapa saja yang membunuhnya berarti hendak menghalang-halangi aku untuk balas dendam dan melaksanakan sumpahku.           Tentang siapa merobohkan, memang betul kalian yang merobohkan, akan tetapi perempuan ini aku yang merobohkan.           Sekarang aku ingin menukarkan dia dengan anak Pendekar Buta ini.           Ouwyang-twako, kau boleh ambil dia, biarkan aku membuntungi lengan anak Pendekar Buta tanpa membunuhnya?" Ouwyang Lam menengok ke arah Lee Si yang menggeletak telentang.           Dalam keadaan tertotok dan telentang di atafii tanah itu dengan pakaian kusut, gadis cantik ini kelihatan menarik sekali, menggairahkan hati Ouwyang Lam yang memang berwatak mata keranjang.           Segera mengilar dia ketika pandang matanya menjelajahi tubuh Lee Si dan sambil menyeringai dia berkata, "Aku..           aku boleh..           memiliki dia..          ?" Pada saat itu, Bo Wi Sianjin berkata, "Eh, Maharsi, bukankah gadis ini cucu Raja Pedang yang pernah kita kejar?" Maharsi memandang.           "Aha, betul! Betul dia! Wah, Bhok-losuhu tentu akan girang sekali.           Sumoi, benar-benar kita telah mendapatkan tawanan penting.           Seorang putera Pendekar Buta, yang seorang lagi cucu Raja Pedang.           Baiknya kita jangan bunuh mereka, jadikan                     246                      tangkapan untuk memaksa musuh-musuh besar itu menyerah!" "Bagus, itu betul sekali!" seru Bo Wi Sianjin karena baik dia maupun Maharsi sebetulnya  masih merasa jerih untuk bertanding melawan Pendekar Buta dan Raja Pedang yang terkenal sakti.           "Suheng, kau tadi menyebut nama Bhok-losuhu? Siapakah yang kau maksudkan?" Maharsi tertawa ha-ha-hah-he-heh.           "Siapa lagi kalau bukan Bhok Hwesio itu tokoh besar  yang sakti dari Siauw-lim-pai? Dia pun sudah siap untuk membasmi Pendekar Buta dan Raja Pedang dan dia datang bersama kami ke Kong-goan, akan tetapi tentu saja tidak mau ke sini.           Kuharap kau suka rnengunjunginya di kelenteng sebelah timur kota, Sumoi.          " Girang sekali hati Ang-hwa Nio-nio, apalagi setelah ia diperkenalkan dengan Bo Wi Sianjin sebagai sute dari Ka Chong Hoatsu yang menaruh dendam kepada Raja Pedang.           Dengan begini banyaknya orang pandai di fihaknya, tentu akan terlaksana idam-idaman hatinya, yaitu rnenebus kematian dua orang adiknya.           Pada saat itu, dengan tergesa-gesa seorang anggauta Ang-hwa-pai berlari menghampiri Ang-hwa Nio-nio dan meIapor,"Paicu, seorang yang bernama Tan Kong Bu, kabarnya ketua Min-san-pai, mencari Tan Lee Si yang katanya adalah puterinya, sedang menuju ke sini!" Ang-hwa Nio-nio membelalakkan kedua matanya, lalu tertawa mengikik.           "Wah-wah, benar- benar malam baik sekali sekarang.           Seorang demi seorang anggauta keluarga mereka berdatangan sehingga memudahkan kita untuk nnembasminya.           Suheng, aku mempunyai rencana yang bagus sekali.           Lam-ji (anak Lam), kau bawa dua orang tawanan kita itu ke dalam kuil, tapi jangan ganggu mereka!" perintahnya kepada Ouwyang Lam.           Pemuda ini mengangguk tersenyum, lalu membungkuk, memondong tubuh Lee Si dan menyeret tubuh Swan Bu dengan menjambak rambutnya.           "Twako, serahkan anak Pendekar Buta itu kepadaku!" Siu Bi melompat maju.           "Aku harus melaksanakan sumpah pembalasanku!" "Ihhh, Siu Bi.           Apakah kau sudah tergila-gila melihat pemuda yang tampan dan gagah itu? Hi-hi-hik!" Bukan main marahnya hati Siu Bi mendengar ejekan Ang-hwa Nio-nio ini.           Mukanya seketika menjadi merah sekali matanya berapi-api, tangannya yang memegang  pedang gemetaran.           "Bibi Kui Ciauw! Aku bukan seperti engkau'" Ang-hwa Nio-nio juga marah.           "Siu Bi kuperingatkan kau! Kami tidak butuh bantuanmu.                               247                      Kalau kau mau bekerja sama dengan kami untuk menghadapi Pendekar Buta silahkan tingga1 bersama kami akan tetapi harus menurut apa yang kami rencanakan.           Kalau tidak mau, kami tidak akan menahanmu.           "Nio-nio..           Bi-moi..           sudahlah, di antara kita sendiri mengapa mesti ribut-ribut?" Ouwyang Lam cepat melerai dengan suara halus, kemudian dia melanjutkan pekerjaannya, memondong Lee Si dan menyeret tubuh Swan Bu dibawa masuk ke dalam kuil.           Siu Bi merengut hatinya mendongkol sekali.           Akan tetapi apa yang dapat ia lakukan? Ia maklum bahwa untuk melawan pun ia akan kalah.           Maka tanpa berkata sesuatu ia lalu berjalan pergi dari depan Ang-hwa Nio-nio, menahan isak tangis saking gemasnya.           "Siapakah dia?" Maharsi bertanya.           "Ah, dia..          ? Cucu Hek Lojin, jUgfi imusuh Pendekar Buta.          " "Hek Lojin? Pantas dia begitu liar, kiranya cucu iblis itu!" kata Bo Wi Sian-jin, mengangguk- angguk.           Mereka lalu memasuki kuil dan Ang-hwa Nio-nio memberi perintah kepada anak buahnya untuk mengatur rencananya yang dianggap amat baik.           Apakah yang direncanakan oleh ketua Ang-hwa-pai ini? Kebenciannya terhadap Pendekar Buta dan Raja Pedang membuat nyonya tua ini pandai mencari cara yang paling keji untuk melampiaskan dendamnya.           Marilah kita ikuti bersama apa yang direncanakan.           Seperti telah dilaporkan oleh seorang anak buah Ang-hwa-pai tadi, di kota Kong-goan malam hari itu kedatangan seorang laki-laki setengah tua yang bertubuh tinggi besar dan tegap, sikapnya gagah bicaranya kasar keras dan nyaring sekali.           Orang ini bukan laira adalah Tan Kong Bu yang sudah meninggalkan puncak Min-san untuk mencarl puterinya yang diam-diam meninggalkan puncak, seperti telah kita ketahui, semenjak datangnya murid kepala Raja Pedang, yaitu Su Ki Han telah terjadi Perubahan hebat di Min san.           Lee Si, puteri tunggal itu telah meninggalkan puncak tanpa memberi tahu dan Su Ki Han sendiri yang merasa tidak enak, segera berparnit turun gunung untuk berusaha mengejar Lee Si.           Seperginya Su Ki Han, Kong Bu merasa tidak enak dan menyatakan kepada isterinya untuk pergi mengejar puteri mereka itu.           Tentu saja ia tidak boleh dibandingkan dengan adikku Cui Sian," demikian kata pendekar itu.           "Kepandaian Lee Si memang sudah cukup untuk menjaga diri, akan tetapi ia masih hijau dan tidak tahu akan bahayanya dunia kang-ouw.           Sedikitnya la harus mendengarkan dulu dan kita tentang kejahatan di dunia kang-oyw sehingga ia dapat menjaga diri.           Tinggal kau pilih, kau atau aku yang perci mengejar?" Demikianlah, Tan Kong Bu lalu turun dari puncak, mencari puterinya.           Sebagai seorang tokoh kang-ouw yang ulung, akhirnya Kong Bu berhasil mengikuti jejak-puterinya dan menuju ke Kong-goan, hanya selisih setengah hari saja dengan puterinya.           la mendengar tentang keributan yang terjadi di rumah Lo-ciangkun, maka dia mempunyai dugaan bahwa agaknya                     248                      Lee Si terlibat dalam hal ini.           la mencari sampai ke losmen di mana Lee Si bermalam, dengan cara kasar dan keras dia mengancam pengurus losmen yang biar mati pun tidak akan mampu memberi keterangan ke mana perginya gadis itu yang pergi melalui genteng dan tidak terlihat oleh siapapun juga.           Kong Bu berputar-putar di kota Kong-goan sampai jauh malam, namun dia tidak dapat menemukan jejak Lee Si dan tidak ada yang dapat memberi keterangan ke rnana perginya gadis itu.           Dalam keadaan gelisah Kong Bu berlari-lari keluar masuk lorong gelap dan keadaan kota Kong-goan sudah sepi.           Tiba-tiba dia cepat menghindar ke kiri.           Hampir saja dia bertubrukan dengan seorang laki-laki kecil kurus yang juga berlari-lari seperti dia dan mereka bertemu di sebuah tikungan jalan kecil.           Laki-laki itu kelihatan gugup sekali, tanpa bicara sesuatu terus melarikan diri dengan cepat.           Kong Bu merasa curiga.           Jelas bahwa orang itu memiliki kepandaian silat yang lumayan melebihi orang biasa, larinya cepat dan gerakannya gesit.           Dengan beberapa lompatan jauh akhirnya Kong Bu dapat menyusul dan mengejar orang itu.           Si kecil kurus yang berkumis panjang itu kaget setengah mati ketika tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang laki-laki tinggi besar, apalagi ketika dia mengenalnya sebagai laki-laki yang hampir bertubrukan dengannya tadi.           Tanpa banyak cakap lagi dia membalikkan tubuh dan lari lagi, akan tetapi dia mengeluh ketika pundaknya tiba-tiba dipegang tangan yang memiliki jari-jari tangan sekuat cepitan baja.           "Kau siapa dan ada apa malam-malam begini kau berlari-lari seperti pencuri? Hayo mengaku terus terang, kalau tidak, tulang-tulang pundakmu akan kuhancurkan!" bentak Kong Bu yang sedang gelisah sehingga menjadi pemarah itu.           "Ampun, Ho-han (Orang Gagah)..           ampunkan saya.           Saya..           Ciu Ti bukan pencuri..           saya..           saya sedang bingung dan hendak mencari pertolongan.           Ada.,, ada penjahat menyeret seorang gadis cantik ke dalam kuil di mana saya biasanya bermalam..           maaf, saya tiada keluarga tiada tempat tinggal..           saya..           saya berusaha menolong nona cantik itu, tapi..           saya kalah.           Penjahat muda itu terlampau kuat, agaknya dia..           dia seorang jai- hwa-cat (penjahat pemetik bunga)..          " Kong Bu tertarik hatinya.           "Di niana dia? Betulkah dia penjahat pemetik bunga?" "Mungkin, saya..           saya tidak jelas.           Hanya ketika dia merobohkan saya tadi, dia..           dia  mengaku bahwa dia she Kwa..           dan mengusir saya pergi, gadis itu pingsan, di pinggangnya tergantung pedang..           eh, pedang kuning seperti emas..          "  Cengkeraman pada pundak itu mengeras dan si kecil kurus menyermgai kesakitan, "Bagaimana kau bisa tahu pedang yang tergantung itu pedang kuning?"                    249                      "Aduh..           lepaskan pundak saya..           aduh, mana saya bisa tahu kalau jai-hwa-cat itu tidak mempergunakannya untuk melawan saya? Pedang ampuh sekali, golok saya patah begitu beradu..          " " Kong Bu tidak sabar lagi, segera menyeret tangan orang itu.           "Hayo cepat, antarkan aku ke sana Cepat. kubai ting mampus kau, hayo cepat'" Orang itu mengeluh dan setengah diseret karena betapapun dia mengerahkan tenaga jan ilmu lari cepatnya, agaknya masih kuf ang cepat saja sehingga dia seperti diseret dan kedua kakinya tidak menginjak biJmi ' lagi karena tubuhnya seperti nienggantung kepada lengan Kong Bu yang kuat.           "Di sinikah tempatnya?" tanya Kong Bu.           "Betul..           di dalam. di ruangan belakang, aku..           aku takut, harap kau suka masuk sendiri,  Ho-han..          " Kong Bu mendorong orang itu sampai terjengkang, kemudian dia melompat naik ke atas  genteng kuil tua itu.           Hati jago tua ini berdebar tidak karuan.           Di manapun dia berada dan siapapun gadis yang menjadi korban jai-hwa-cat, kalau dia mendengar pasti dia akan turun tangan membasmi si penjahat.           Akan tetapi sekarang lain lagi halnya.           la sedang mencari puterinya yang dia tahu berada di kota itu, akan tetapi yang lenyap tak meninggalkan bekas, sedangkan buntalan pakaiannya masih di kamar losmen.           Dan gadis yang pingsan menjadi korban jai-hwa-cat itu berpedang kuning.           Oei-kong-kiam! Mana lagi ada pedang kuning selain Oei-kong-kiam, pedang yang dibawa Lee Si? Inilah yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan, bahkan kedua kakinya agak menggigil dan hampir dia terpeleset ketika dia melompat ke atas genteng yang gelap itu.           Dari atas genteng dia melihat api penerangan di sebelah belakang kuil.           Cepat dia melompat dengan hati-hati ke bagian belakang, di atas tempat yang diterangi lampu di sebelah bawah.           Dengan hati-hati dia membongkar genteng lalu mengintai ke bawah.           la memandang dengan mata melotot, lalu menggosok-gosok kedua matanya, memandang lagi, otot-otot pada lehernya menegang, wajahnya tiba-tiba pucat sekali, lalu terdengar giginya berkerot- kerot.           "Bedebah! Keparat biadab..          ! Ku-bunuh kau..           kubunuh..          !" teriakan ini mula-mula hanya terdengar seperti gerengan harimau marah, kemudian melengking tinggi dan nyaring sekali.           Apakah yang dilihat jago Min-san ini? Pemandangan di dalam ruangan di bawah itu benar- benar membuat darahnya mendidih, matanya tiba-tiba gelap dan dadanya serasa meledak.           Mereka berbaring di atas lantai, dua orang itu, seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik jelita.           Siapa lagi kalau bukan Lee Si, puterinya? Betapa tidak akan hancur hatinya melihat puterinya itu rebah terlentang, entah bagaimana keadaannya karena tubuhnya tertutup selimut sebatas leher, akan tetapi yang jelas puternya itu menangis terisak-isak dan kelihatan lemah sekali.           Tentu dalam keadaan tertotok jalan darahnya, pikirnya dengan                     250                      hati hancur.           Dan laki-laki tampan itu mukanya seperti perempuan, terlalu tampan.           Patut menjadi muka seorang kongcu hidung belang atau seorang penjahat jai-hwa-cat yang lihai! Dan yang lebih memanaskan hatinya, laki-laki tampan itu rebah miring menghadapi Lee Si, tubuh bagian atas telanjang "Ayaaahhh..          !" terdengar Lee Si menjerit, suaranya lemah sekali, bercampur isak.           "Keparat..           jahanam..          !" Kubunuh engkau, kukeluarkan isi perutmu, kuminum  darahmu..!" Kong Bu berteriak lagi, kini diseling suara rnelengking tinggi yang menggetarkan kuil itu, seperti bukan suara manusia lagi.           Akan tetapi selagi dia hendak membongkar genteng dan menerobos ke bawah tiba-tiba beberapa batang lilin yang menyala di ruangan itu padam, membuat keadaan menjadi gelap pekat.           Betapapun marahnya hati Kong Bu, dia seorang jagoan kang-ouw yang sudah ulung, tentu saja dia tidak mau secara membuta melompat ke dalam ruangan yang gelap gulita dan tidak dikenalnya itu.           "Paman Kong Bu..           dengarlah..           saya Kwa Swan Bu..           putera ayah Kwa Kun Hong di Liong- thouw-san.          ,., Paman..          " Teringat Kong Bu akan penuturan si kurus tadi bahwa jai-hwa-cat itu she Kwa.           Darahnya makin bergolak.           "Tak peduli kau anak setan dari mana, hayo keluar! Hayo kaulawan aku mengadu nyawa.           Penghinaan ini baru lunas bila ditebus dengan darah dan nyawa! Keluar!! kurobek dadamu, kukeluarkan jantungmu!" Tiba-tiba dari dalam gelap di sebelah bawah terdengar desir angin yang amat halus.           Kong Bu cepat miringkan tubuh dan pedang yang sudah dicabutnya itu menangkis beberapa batang jarum halus yang menyambar ke arahnya dari bawah sebelah kiri.           Itulah jarum rahasia dan mendengar bunyinya yang halus berdesir dapat diketahui bahwa penyambitnya tentu memiliki Iweekang yang amat kuat.           Kong Bu cepat melompat ke bawah, sambil memutar pedangnya, melayang ke arah dari mana datangnya jarum-jarum tadi.           Akan tetapi baru saja kedua kakinya menginjak tanah, dari arah kanannya menyambar angin pukulan yang emat kuat dan dahsyat.           Kong Bu cepat menggeser kaki memasang kuda-kuda yang amat rendah sambil menyampok dengan lengan kirinya dan mengerahkan sinkang di tubuhnya.           Akan tetapi hampir saja dia terguling karena ternyata bahwa sambaran angin pukulan itu kuat bukan main.           Ia kaget sekali, akan tetapi tidak heran.           Kalau bangsat itu betul putera Pendekar Buta Kwa Kun Hong tentu saja memiliki kepandaian yang amat tinggi.           Makin panas hatinya! Bagaimanakah putera Kun Hong bisa melakukan perbuatan yang begini biadab? Kong Bu adalah putera Raja Pedang yang menerima gemblengan ilmu silat dari kakeknya yaitu mendiang Song-bun-kwi Kwee Lun.           Tentu saja dia mewarisi kepandaian tinggi dan dia                     251                      tidak gentar meski menghadapi lawan yang bagain ana sakti pun.           Apalagi sekarang dia sedang niarah dan nekat karena ingin membela kehormatan puterinya.           Akan tetapi ketika ia memutar pedangnya sambil mengeluarkan suara melengking-lengking tinggi untuk menerjang lawannya yang mengirim pukulan dari tempat gelap, di situ tidak tampak lagi ada orang.           Makin kagetlah dia.           Terang bahwa lawannya tadi selain memiliki tenaga kuat, juga memiliki kegesitan yang luar biasa.           "Jai-hwa-cat biadab! Kalau memang jantan, hayo kautandingi aku secara laki-laki.           Aku Tan Kong Bu ketua Min-saiw pai, sebelum dapat mengeluarkan isi perutmu, takkan berhenti berusaha.           Kau atau aku yang mati untuk mencuci noda ini!" pekiknya sambil membacokkan pedangnya pada sebuah tiang kuil.           Tiang! itu terbabat putus dan genteng di atasnya banyak yang rontok karena penahan genteng menjadi miring.           "Hayo keluar! Jangan sembunyi kau, pengecut, jahanam keparat, manusia biadab! Biarpun kau anak Kwa Kun Hong atau putera malaikat sekalipun, jangan harap bisa terlepas dari tanganku!" Akan tetapi ketika dia hendak menyerbu ke dalam ruangan belakang itu, tiba-tiba ada sambaran angin pukulan jarak jauh lagi, kini dari arah belakangnya.           Cepat dia menggeser kaki, memutar-mutar tubuh sehingga pukulan itu me-leset.           la melihat bayangan orang ber- kelebat di belakangnya, cepat dia mengejar.           Bayangan itu gesit sekali dan melompat-lompat ke arah pagar ternbok yang mengelilingi kuil, lalu menerobos keluar.           "Keparat, hendak lari ke mana kau?" Kong Bu mengejar, pedangnya diputar dan siap untuk melancarkan serangan maut.           Di depan kuil yang agak gelap bayangan itu berhenti dan Kong Bu cepat menghujani serangan-serangan dengan pedangnya.           Akan tetapi ternyata bayangan itu luar biasa cepat gerakannya, biarpun bertangan kosong, namun selalu dapat mengelak daripada sambaran pedangnya.           Keadaan yang gelap membuat Kong Bu tidak dapat mengenal wajah orang ini, namun dia dapat melihat bayangan seorang pemuda yang tampan.           Belum sepuluh jurus dia menyerang, pemuda itu melornpat dan menghilang di dalam gelap.           "Jai-hwa-cat, jangan lari kau!" seru Kong Bu sambil mengejar.           Akan tetapi bayangan itu lenyap.           Setelah mengejar agak jauh, Kong Bu teringat akan puterinya.           Cepat dia membalik dan lari ke arah kuil kembali, kini dengan nekat dia menerobos masuk ke dalam kuil sambil menjaga diri dengan pedang, langsung dia menuju ke ruangan belakang.           Sekali tendang, pintu ruangan belakang yang memang sudah reyot itu runtuh berantakan.           la menerjang ke dalam.           Gelap! Dengan kakinya dia meraba-raba, akan tetapi ternyata ruangan itu kosong melompong.           Baik pemuda jai-hwa-cat tadi maupun puterinya, telah lenyap.            Kong Bu mencari ke seluruh ruangan kuil kuno, akan tetapi tidak menemukan seorang pun.           Ia memaki-maki, memanggil-manggil nama anaknya, berteriak-teriak menantang.           Sia-sia                     252                      belaka.           Bukan main kecewa dan menyesalnya.           la telah ditipu oleh pemuda jai-hwa-cat tadi.           Terang bahwa tadi dia sengaja dipancing ke luar, kemudian jai-hwa-cat itu tentu telah kembali ke gedung membawa lari Lee Si yang tidak berdaya melawan.            ôKeparat jahanam! Kau anak Kwa Kun Hong! Awas kau! Kwa Kun Kong, si buta, keparat, kau harus mempertanggungjawabkan kebiadaban puteramu.           Awas kau! Sambil memaki-maki dan menyumpah-nyumpah, Kong Bu lalu lari seperti orang gila, keluar dari kuil itu.           Tujuan hatinya hanya satu, ke Liong-thouw-san, menuntut kepada Kun Hong agar supaya puteranya diserahkan kepadanya, untuk didodet perutnya agar terbebas penghinaan yang hebat ini!.           * * * ôWah, baik sekali hasilnya.           Sumoi, kau benar-benar amat cerdik dan licin sekali.           Ha-ha-ha,  antara keturunan Raja Pedang dan keturunan Pendekar Buta sudah terdapat bentrokan yang agaknya hanya, dapat diredakan dengan darah dan nyawa.           Bagus sekali, Sumoi!" Maharsi tertawa memuji-muji sumoinya setelah pada keesokan harinya pagi-pagi mereka berkumpul di sebuah hutan tak jauh dari kuil di kota Kong-goan itu.           Mereka berkumpul di situ, lengkap seperti kemarin, kecuali Siu Bi.           Gadis ini tidak tampak mata hidungnya.           ôAh, Suheng.           Kalau tidak sedemikian besar dendamku terhadap mereka, agaknya takkan terpikirkan akal seperti itu olehku.           Ketika kau dan Ouwyang Lam memancing Tan Kong Bu menjauhi kuil, sengaja kubebaskan puterinya.           Tentu saja gadis itu malu sekali dan tidak ada muka berjumpa dengan ayahnya.           Hi-hi-hik, betapapun dia akan membela diri, siapa percaya bahwa dia tidak tercemar oleh putera Pendekar Buta?" "Tapi di mana adanya Kwa Swan Bu, dan mana pula adik Siu Bi?" tanya Ouwyang Lam.           "Huh, gadis tiada guna itu! Tadinya Swan Bu kusingkirkan dalam keadaan tertotok, tapi  kemudian lenyap, tentu dibawa pergi Siu Bi.           Gadis tak tahu malu itu kalau tidak tergila-gila kepada pemuda tampan itu, entah mau apa dia..          !" Diam-diam Ang-hwa Nio-nio merasa iri hati dan cemburu kepada Siu Bi karena agaknya kekasihnya, Ouwyang Lam, tergila-gila kepada gadis Go-bi-san itu, maka kesempatan ini ia pergunakan untuk memaki-maki dan memburukkan nama Siu Bi.           Adapun Ouwyang Lam diam-diam kecewa sekali karena si jelita Lee Si yang diincar-incar dan hendak dijadikan korbannya, telah dibebaskan.           Ini belum apa-apa yang menjengkelkan hatinya adalah perginya Siu Bi! la mengomel, "Ah, Nio-nio terlalu curiga.           Terang bahwa adik Siu Bi membawa pergi Kwa Swan Bu untuk melampiaskan dendamnya.           Kita lihat saja, tak lama lagi kita akan mendengar bahwa putera Pendekar Buta kehilangan sebelah lengannya.          " "Kalau tidak sudah menjadi bangkai!" "ieata pula Ang-hwa Nio-nio.           "Orang gila dari Min-san                     253                      itu mengejar-ngejarnya.           Aha, alangkah ramainya nanti di Liong-thouw-san.           Tentu Raja Pedang akan terseret-seret pula.           Dan selagi mereka saling cekcok memperebutkan kebenaran, kita serbu mereka.           Suheng, dan Sianjin, mari kita mengunjungi Bhok Lo-suhu!" Biarpun hatinya mendongkol, Ouwyang Lam tidak dapat bicara apa-apa lagi, hanya di dalam hatinya ia mengharapkan kembalinya Siu Bi menggabung kepada rombongan mereka yang makin kuat ini.           la percaya bahwa lambat-laun dia pasti akan dapat berhasil memikat hati gadis yang mengguncangkan jantungnya itu.           Dugaan Ang-hwa Nio-nio memang tepat.           Ketika terjadi tipu muslihat yang dilakukan oleh Ang-hwa Nio-nio, Siu Bi melihat dengan jelas.           Akan tetap ia tidak ambil pusing, hanya mulutnya tersenyum menghina.           la muak dengan cara-cara yang dikerjakan oleh Ang-hwa Nio-nio.           Akan tetapi ia selalu mencari ke-sempatan untuk memuaskan nafsu hatinya sendiri, yaitu membalas kepada Kwa Swan Bu putera Pendekar Buta.           Urusan orang lain ia tidak peduli, yang penting ia harus melaksanakan tugas dan sumpahnya.           Ketika orang yang dinanti-nanti, yaitu yang katanya adalah putera Raja Pedang, ketua Min- san-pai bernama Tan Kong Bu ayah Lee Si yang tertawan itu datang, ia kagum juga.           Bukan main sepak terjang laki-laki tinggi besar itu.           Mengingatkan ia akan kakeknya, Hek Lojin.           Akan tetapi ketika ia melihat laki-laki itu di-pancing menjauhi kuil dan melihat Ang-hwa Nio-nio menyeret Swan Bu keluar dan meninggalkannya di belakang kuil untuk membebaskan Lee Si, diam-diam ia menyelinap dan mengempit tubuh Swan Bu, terus dibawa lari cepat sekuatnya meninggalkan tempat itu.           Yang lain-lain ia tidak peduli, yang penting baginya ha-nyalah Kwa Swan Bu, putera Pendekar Buta, musuh besarnya! Siu Bi maklum bahwa Ang-hwa Nio-nio dan teman-temannya adalah orang-orang yang aniat sakti, bukan lawannya dan ia akan terpaksa menyerahkan Swan Bu kembali malah ia sendiri mungkin tak bebas daripada hukuman apabila mereka dapat menyusulnya.           Oleh karena inilah maka gadis itu terus lari secepatnya, menyusup-nyusup ke dalam hutan dan tidak pernah berhenti sampai malam berganti pagi.           Akhirnya ia tldak kuat lari lagi dan di dalam sebuah hutan keci ia berhenti, terengah-engah lalu melenpar tubuh Swan Bu ke atas tanah.           la berdiri mengatur napas, menyusut keringat di leher dan jidatnya dengan saputangan, memandang sekilas ke arah pemuda yang terbanting ke atas tanah itu.           la melihat pemuda itu bergerak perlahan, menggerak-gerakkan lengan dan kaki, agaknya sudah terbebas daripada totokan, lalu mencoba untuk bangun dan duduk.           Siu Bi kaget sekali, teringat betapa lihainya pemuda ini dan kalau sudah pulih tenaganya, tentu sukar baginya untuk mengalahkannya.           Cepat ia menerjang maju, tangannya bergerak dan Swan Bu yang tahu bahwa dia diserang, tak dapat menangkis atau mengelak, karena jalan darahnya belum pulih seluruhnya.           Kembali dia roboh dan tak berkutik ka-rena jalan darahnya yang membuat dia lenias telah ditotok oleh gadis galak itu.           Setelah merasa yakin bahwa lawannya takkan mampu bergerak, Siu Bi yang merasa kedua kakinya berdenyut-                    254                      denyut linu dan lelah sekali, menjatuhkan din duduk di atas tanah berunnput, melanjutkan usahanya menghapus keringatnya.           Kemudian ia mengebut-ngebut sapu-tangan dipakai mengipasi lehernya sambil menatap wajah di depan kakinya itu.           Wajah seorang pemuda yang amat tampan dan gagah, alis yang hitam tebal berbentuk golok, sepasang mata yang penuh ketabahan! Kebetulan sekali Swan Bu juga memandang kepadanya.           Dua pasang mata bertemu pandang, penuh amarah, saling serang dan akhirnya Siu Bi yang menunduk lebih dulu.           "Perlu apa kau melarikan diriku ke sini tanya Swan Bu, suaranya tenang akan tetapi agak ketus.           "Perlu apa lagi? Meinbuntungi lengan kirimu untuk membalas sakit hati mendiang kakekku!" Swan Bu terdiam, memutar otak.           Namun dia tidak melihat jalan keluar untuk menolong  dirinya.           Gadis ini wataknya keras dan aneh, liar dan ganas.           Betapapun juga, kalau gadis ini tidak menculiknya kesini mungkin jiwanya terancam bahaya.           Bahaya yang mengerikan.           la bukan takut mati, akan tetapi mati di tangan paman Tan Kong Bu dengan tuduh-an melakukan tindakan maksiat, berjina dengan Lee Si, sungguh merupakan kematian yang amat pahit dan penasaran.           Betapapun juga, jika direnungkan benar-benar, .          gadis liar ini sudah menolongnya, menolong kehormatannya, karena biarpun dia akan dibuntungi lengan kirinya, na-mun dia tidak mati dan selama dia masih hidup dia akan dapat membersihkan namanya, akan dapat membuktikan kepada pamannya, Tan Kong Bu, bahwa dia sama sekali tidaklah berbuat jina dengan puteri pamannya itu.           Juga, biarpun lengannya tinggal sebuah, dia masih akan mendapat kesempatan membalas kepada Ang-hwa Nio-nio dan kawan- kawannya yang telah membuat fitnah keji terhadap dirinya dan Lee Si itu.           "Huh, wajahmu pucat! Kau takut, ya? Ngeri mengingat lengan kirimu akan buntung? Ya, akan kubuntungi lengan kirimu, biar tahu rasa, biar kau merasakan bagaimana sengsaranya kakekku setelah lengan kirinya dibuntungi ayahmu.           Dan setelah kau, ayah dan ibumu akan menerima gilirannya!" "Hemmm, kau ini bocah bermulut besar, sombong dan tak tahu malu.           Mem-buntungi lenganku saja kalau tidak secara pengecut, tidak akan becus kaulakukan.           Macam kau hendak membuntungi lengan ayah ibuku? Hah, cacing tanah pun akan terbahak geli rnendengar kata-katamu tadi!" Tadinya Siu Bi mengira bahwa Swan Bu merasa ngeri dan ketakutan.           Hatinya sudah merasa girang karena ia mendapat kesempatan untuk mengejek.           Kiranya sekarang malah ucapan pemuda itu ba-gaikan api membakar dadanya, membuat ia melompat bangun, berdiri dengan mata mendelik, muka berwarna merah padam, hidungnya kembang-kempis.                              255                      "Nah, marahlah! Hayo, keluarkan ke-s gagahanmu, marah sekuatmu kemudian coba kaubebaskan aku kalau berani! Ka-lau aku bebas, boleh kaucoba untuk mem-buntungi lenganku, hendak kulihat kau becus atau tidak.           Hemmm, biar kau memegang pedang setan hitam itu, aku bertangan kosong saja menghadapimu bukan lenganku yang buntung, melainkan..           hemmm hidungmu yang kembang-kempis itu yang akan kucabut copot dari mukamu!"  Dapat dibayangkan betapa memuncak kemarahan Siu Bi mendengar ejekan yang dianggapnya penghinaan hebat ini.           la membanting-banting kakinya dan hampir menangis ketika pedangnya berkelebatan di depan muka Swan Bu dan tangannya menuding-nuding, bibirnya komat-kaniit meneriakkan maki-makian yang tidak keluar dari mulut.           "Kau..           kau setan, kau..           kau..           manusia sombong.           Hihhh, lehermu yang akan kubuntungi, bukan lenganmu.           Dengar? Lehermu akan kupenggal dengan pedang ini!" Namun Swan Bu adalah putera tung-gal Kwa Kun Hong, seorang yang biarpun masih muda namun memiliki dasar satria yang tidak takut mati.           Selain ini dia pun keras hati dan tidak sudi tunduk jika merasa dirinya benar.           Mendengar ancaman dan melihat pedang berkelebatan di dekat lehernya itu, dia malah tertawa, tertawa nyaring.           "He?!" Siu Bi menahari gerakan pedangnya dan memandang heran.           Memang sama sekali ia tidak mengira, orang yang sudah hampir dipenggal lehernya dapat tertawa segembira itu! "Wah, kau sudah miring otak, ya? Kau sudah menjadi gila saking takut, ya?" "Perempuan liar, kaulah yang gila.           KSM boleh mengeluarkan serifau ancaman, seperti kebiasaan setan-setan dan iblis, akan tetapi seorang gagah tidak takut mati.           Aku paling ngeri kalau menjadi pengecut, lebih baik mati daripada men-jadi pengecut macam kau ini.           Berani menjual lagak hanya kepada orang yang sudah tidak mampu melawan.           Huh, beri aku kesempatan untuk melawanmu, baru kau tahu rasa, baru akan terbuka matamu bahwa kau harus belajar lima puluh tahun lagi sampai menjadi nenek-nenek kempot keriput baru boleh menandingi aku! Mau bunuh, hayo bunuhlah.           Sabetkan pedangmu dengan tanganmu yang curang itu ke leherku, siapa takut?" Siu Bi tertegun.           Kali ini bukan karena marahnya melainkan karena heran dan kagumnya.           Belum pernah selama hidupnya ia melihat orang begini tabah, begini tenang dan penuh keberanian menghadapi kematian.           Hampir ia tidak dapat percaya.           Mungkin hanya aksi belaka, pikirnya.           Kalau sudah diberi rasa sakit, tentu akan menguik-nguik minta arnpun seperti anjing dipecuti.           "Kau betul tidak takut mampus? Nah, rasakan ini!" Pedangnya digerakkan, perlahan-lahan ke arah leher Swan Bu sambil menatap tajam wajah tampan itu.           la melihat betapa wajah itu tetap tenang, sepasang mata tajam itu memandang pe-nuh tantangan, berkedip pun tidak,                     256                      sam-pai ujung pedangnya menggores kulit pundak yang telanjang itu dan kulit pecah darah merah mengucur.           Namut wajah itu tetap tenang, bibir itu cetap dalam senyum mengejek dan mata menantang, berkedip pun tidak! Bukan main! "Hayo, kenapa berhenti? Bukai aku yang takut mampus, kaulah yang takut melanjutkan perbuatanmu yang curang dan pengecut!" Pucat wajah Siu Bi mendengar ini.           "Setan kau!" Pedangnya kembali diangkat dan kini agak cepat menyambar.           "Crattt!" Pedang, itu menancap pada pundak beberapa senti meter saja dalamnya karena segera ditahannya, ketika dicabut, darah mengucur banyak.           Tapi tetap saja wajah Swan Bu tidak berubah, matanya tidak berkedip, senyumnya makin mengejek.           öNah, kembali kau tidak berani.           Me-laWanku dengan pedang kuganda tangan kosong pun tidak berani.           Huh, kau pengecut kepalang tanggung!" Siu Bi menggigit bibirnya.           "Sombong! Kaukira aku tidak tahu akan akal bulus-mu? Kau sengaja memanas-manasi hati-ku, sengaja membakarku agar aku menjadi panas hati dan membebaskannriu.           Huh, siapa yang tidak tahu bahwa kau lihai dan kalau dibanding aku takkan menang? Tapi jangan kira aku sebodoh itu, aku tidak dapat kaupancing! Padahal kalau betul-betul kau bertangan kosong melawan aku bersenjata pedang, dalam belasan jurus saja kau pasti akan roboh.           Kau sengaja membuka mulut besar, kalau sudah kubebaskan dari totokan, kau tentu melarikan diri dan aku tidak dapat mengejarmu, sampai kau mendapatkan senjata dan melawanku.           Bukankah begitu akalmu, Bulus?" Diam-diam Swan Bu mengeluh.           Cerdik betul bocah ini.           Tidak ada gunanya me-nipu gadis seperti ini.           Akan tetapi memang ucapannya tadi bukan semata-mata hendak mengejek dan memancing agar dibebaskan, melainkan betul-betul keluar dari perasaannya yang penasaran dan marah.           "Bocah tak perlu menjual lagak.           Kau pintar atau goblok bukan urusanku, yang terang kau pengecut.           Aku seorang laki-laki sejati, ayahku Pendekar Buta ter-kenal di kolong jagat sebagai seorang pendekar besar.           Menyelamatkan diri de-ngan jalan menipu, apalagi menipu seorang bocah masih ingusan inacam eng-kau, bukanlah perbuatan orang gagah.           Kau mau melihat bukti bahwa aku dapat mengalahkan engkau yang berpedang dengan tangan kosong? Bebaskan aku, akan kubuktikan.           Aku tidak akan lari, kalau sudah membuktikan omonganku, boleh kautawan aku lagi, aku takkan melawan.          " "Huh, siapa percaya omonganmu?" Siu Bi mencibirkan bibirnya yang merah dan Swan Bu mengerutkan alisnya.           Terlalu cantik manis dara liar ini kalau sudah menjebi seperti itu.                              257                      "Percaya atau tidak terserah, aku pun tidak akan memaksa kau percaya.           Akan tetapi yang jelas, kau berani melawan aku bertangan kosong?" Siu Bi duduk termenung, tanpa ia sadari jari-jari tangan kirinya bergerak-gerak dan ujungnya memukul-mukul pahanya sendiri.           la penasaran sekali.           la tahu bahwa ilmu pedang pemuda ini hebat sekali, tadi malam ia sudah menyaksikannya.           Akan tetapi kalau bertangan kosong melawan ia berpedang? Ah, tidak mung-kin ia akan kalah! Pula, kalau membuntungi lengannya dalam keadaan tertotok seperti ini, benar-benar sukar baginya untuk melakukannya.           Lebih baik bebaskan dia dan tantang berkelahi, dalam kesempatan itu ia akan membuntungi le-ngannya.           Dengan begitu barulah perbuatan gagah.           "Kau tidak akan lari?" "Kata-kata lari tidak terdapat dalam kamus hatiku.          " "Berani sumpah?" Hampir Swan Bu tertawa.           Gadis ini aneh, liar, akan tetapi juga lucu.           "Ucapan yang keluar dari mulut orang gagah dengan sendirinya sudah merupakan sumpah  yang lebih berhargai daripada nyawa.          " "Baik, kau kubebaskan dan kaulawanlah pedangku dengan tangan kosong.           Ka-lau kau  melaqkan diri, tidak ape, aku akan menganggap kau seorang yang paling curang dan pengecut di seluruh per-mukaan bumi ini.          " Sebelum pemuda itu sempat menjawab yang menyakitkan hati, Stu Bi sudah me-.          erjang maju, tangan kirinya menotok dan terbebaslah Swan Bu.           Pemuda ini bergerak dan bangkit berdiri, kaki tangannya kesemutan dan masih kaku-kaku.           la menggerak-gerakkan lengan dan kakinya sampai jalan darahnya pulih kembali sambil mengatur napas mengerahkan sinkang.           Terasa hawa panas mengelilingi seluruh bagian tubuhnya dan beberapa detik kemudian dia sudah segar kembali.           Inilah cara memulihkan jalan darah dan tenaga warisan ajaran ayah-nya.           la melirik ke arah pundaknya di mana terdapat guratan dan tikaman pe-dang.           Lukanya tidak berbahaya, akan tetapi terasa perih dan darahnya cukup banyak.           Swan Bu menggerakkan jari tangan menekan pinggir luka, darahnya berhenti dan dia menghadapi Siu Bi de-ngan senyum mengejek tak pernah me-ninggalkan bibirnya.           "Kalau kau betul jantan, lawanlah pedangku.           Awas pedang!" Siu Bi segera menerjang dengan kecepatan kilat.           la sudah maklum bahwa .           putera Pendekar Buta ini benar-benar lihai, maka begitu menerjang ia sudah menggunakan jurus yang berbahaya sambil membarengi de- ngan pukulan Hek-in-kang dari tangan kirinya.           Biarpun baru segebrakan saja Swan Bu pernah melawan Siu Bi, namun dia tahu bahwa gadis itu selain menuliki ilmu pedang yang aneh dan amat ganas, juga tangan kirinya                     258                      mengandung hawa pukulan yang keji, hawa pukulan beracun yang mengeluarkan uap hitam.           Oleh karena inilah maka serta merta dia mengguna+ kan ilmu langkah ajaib Kim-tiauw-kun dan mainkan jurus-jurus Im-yang-sin-hoat yang sukar dicari tandingnya itu.           Tubuh-nya bergerak aneh, kadang-kadang terhuyung, kadang-kadang jongkok, berdiri miring, membungkuk dan berloncatan, seperti itailkan orang main silat.           Melihat gerakan ini, hampir saja Siu Bi tak dapat menahan seruan heran dari mulutnya.           la mengenal gerakan ini.           Pernah ia dibikin tidak berdaya oleh gerakan-gerakan seperti ini, yang dimainkan oleh Yo Wan! Malah ia pernah, sebelum berpisah dari Yo Wan secara menyedihkhn, minta supaya Yo Wan mengajarkan ilmu langkah ajaib itu karena dengan ilmu langkah itu saja ia pernah dibikin tidak berdaya.           Dan sekarang, pemuda ini menggunakan ilmu langkah itu! Saking kaget dan herannya, penyerangannya berhenti.           "He, kenapa berhenti? Kau takut?" Swan Bu mengejek.           "Takut hidungmu! Aku hanya heran..           apa engkau kenal orang yang bernama Yo Wan Si  Jaka Lola?" Swan Bu tertegun.           Gadis aneh, ada-ada saja pertanyaannya dan aneh-aneh tak terduga-duga pula.           "Yo Wan? Tentu saja kenal, dia itu suhengku, murid ayahku.           Mau apa kau sebut-sebut dia?" Mampus kau! Hampir saja di depan Swan Bu ia mengeluarkan ucapan ini, dan betapa  herannya Swan Bu ketika melihat tiba-tiba gadis itu menampar kepalanya sendiri "Eh,apa kau gila?" Siu Bi tidak mendengar pertanyaan ini, piklrannya berputaran tujuh keliling.           Siapa kira siapa  duga, Yo Wan itu malah murid Pendekar Buta! Dan ia sudah mengajak Yo Wan bersekongkol membantu-nya melawan Pendekar Buta! Anehnya, mengapa Yo Wan mau saja? Dan pemuda yatim piatu itu baru marah dan meninggalkannya setelah mengetahui bahwa ia adalah puteri tiri The Sun yang katanya membunuh ibunya? Wah, wah, kalau Yo Wan itu murid Pendekar Buta, celaka dua belas.           Sampai mati pun mana mung-kin ia menang melawan Pendekar Buta? Tapi, ia sudah menantang pemuda ini, harus dapat memenangkannya, kalau U-dak, lagi-lagi ia akan menderita malu.           "Bagainnana kau mengenal suhengku itu? Di mana dia?" "Aku tidak kenal dia! Kau makanlah pedangku ini!" Siu Bi menerjang lagi, kini gerakannya  lebih dahsyat lagi karena ia telah mengeluarkan jurus yang paling lihai setelah maklum bahwa pemuda ini adalah adik seperguruan Yo Wan dan karenanya tentu memiliki ilmu yang sakti seperti Yo Wan pula sehingga ia khawatir kalau-kalau ia akan kalah, biarpun hanya dilawan dengan tangan kosong.                              259                      Swan Bu cepat mengelak dan di lain saat mereka telah bertempur lagi dengan seru.           Sebentar saja puluhan jurus telah lewat dan sama sekali Siu Bi belum da-pat mendesak lawannya, sungguhpun bagi Swan Bu juga tidak mudah untuk menga-lahkan gadis yang gesit dan memiliki ilmu kepandaian tinggi dan luar biasa itu.           Kalau saja dia berpedang, agaknya tidak akan begitu sukar baginya untuk menundukkan Siu Bi.           Dengan nmu Pedang Im-yang-sin- kiam, kiranya dia akan dapat mengalahkannya.           Betapapun juga, kekerasan hatinya tidak mengijinkan Swan Bu untuk mengalah terhadap gadis liar yang hendak membuntungi lengannya ini.           Pada saat pertempuran sedang ber-jalan seru, tiba-tiba terdengar teriakan orang, "Ini dia! Mari bantu nona The! Serang dan bunuh dia!!" Jarum-jarum halus menyambar ke arah Swan Bu ketika tiga orang yang baru muncul ini menggerakkan tangan mereka, kemudian menyusul serangan senjata halus itu mereka menerjang maju dengan golok, menyerang Swan Bu dengan hebat.           Mereka ini bukan lain adalah tiga orang anggauta Ang-hwa-pai yang tentu saja tidak tahu akan tipu muslihat Ang-hwa Nio-nio ka-rena hal itu memang dirahasiakan sehingga setahu rnereka hanya bahwa pemuda putera Pendekar Buta yang ter- tawan itu telah berhasil lolos.           Kini melihat pemuda itu bertanding melawan Siu Bi, tentu saja mereka segera membantu karena mereka maklum bahwa nona The Siu Bi adalah "keponakan" ketua mereka.           Pada saat mereka menyerang dengan jarum-jarum halus itu, Siu Bi sedang mengurung Swan Bu dengan sinar pedang dan pukulan Hek-in-kang.           Swan Bu sibuk menghadapi serangan dahsyat ini, maka alangkah kagetnya ketika dia merasa adanya sambaran angin halus dari sebelah belakang.           Cepat dia menggunakan tangan kirinya menyampok sanibil mengerahkan sinkang sehingga angin pukulannya menyambar ke belakang.           Namun, di antara jarum- jarum halus yang dapat dia sampok runtuh itu terdapat sebatang yang menyelinap dan menancap pada pundak kanannya.           Swan Bu merasa pundaknya kaku dan gatal-gatal, maka tahulah dia bahwa dia telah menjadi korban senjata rahasia halus yang beracun! Namun de- ngan nekat dia lalu melawan, cepat menghindar dari sambaran tiga batang golok dan pada saat tubuhnya miring itu kakinya melayang dan seorang pengeroyok roboh dengan tulang iga patah! Sementara itu, Siu Bi juga marah sekali melihat munculnya tiga orang Ang-hwa-pai yang tanpa diminta telah lancang turun tangan membantunya.           Ia berseru keras, "Cacing busuk, siapa butuh bantuan kalian? Mundur!" Akan tetapi dua orang Ang-hwa-pai ketika melihat seorang teman mereka roboh, mana mau mundur.           Yang memerintah mereka kali ini bukanlah seorang pemimpin Ang-hwa-pai, tentu saja mereka tidak peduli dan terus menerjang Swan Bu dengan hebat.           "Trang-trang..          !!" Golok di tahgan mereka terpental dan sebelum mereka dapat mengelak,                     260                      mereka telah roboh dengan pangkal lengan dan paha pecah kulit dan dagingnya dimakan pedang Siu Bi! Mereka begitu kaget sehingga mudah roboh karena sama sekali tidak pernah mengira bahwa mereka akan diserang oleh gadis itu.           "Lancang!" Dia memaki lagi dan kini pedangnya bergulung-gulung menyambar ke arah Swan Bu yang cepat menjatuhkan diri ke samping, lalu berguling-an menyelamatkan diri.           Ketika Siu Bi mendesak, pemuda ini sudah berhasil melompat berdiri dan kembali mereka bertanding hebat.           Adapun tiga orang Ang-hwa-pai itu, setelah dapat merangkak bangun, segera pergi dari situ terpincang-pincang.           Dua orang yang terluka pedang Siu Bi, dengan susah payah dan sedapat mungkin menggotong temannya yang masih pingsan karena tendangan Swan Bu mematahkan sedikitnya dua bu-ah tulang iganya.           Mereka bergegas pergi untuk mencari bala bantuan.           Kini perlawanan Swan Bu tidak se-gesit tadi.           Pemuda ini tentu saja tidak sudi memperlihatkan kelemahan, tidak sudi mengaku bahwa dia telah terluka oleh jarum beracun.           la melakukan per-lawanan sedapat mungkin biarpun kini lengan kanannya setengah lumpuh.           Diam-diam Siu Bi amat kagum.           Benar-benar hebat pemuda ini dan seperti yang ia khawatirkan, sama sekali ia tidak mampu merobohkannya.           Padahal pemuda ini bertangan kosong dan ia memegang Cui-beng-kiam dan malah menggunakan Hek-in- kang.           Bukan main! Di dalam hatinya, Siu Bi merasa sayang sekali mengapa pemuda sehebat ini ditakdirkan menjaci putera musuh besar kakeknya yang haris ia buntungi lengannya.           Kalau saja tidak demikian halnya, alangkah akan senangnya mempunyai seorang sahabat seperti dia ini, sebagai pengganti Yo Wan yang sekarang sudah memusuhinya karena perbuatan ayah tirinya.           Siu Bi diam-diam merasa menyesal bukan main.           Mau rasanya ia menangis, apalagi ditambah kejengkelan hatinya bahwa begitu lama ia masih juga belum berhasil mengalahkan dan membuntungi lengan Swan Bu.           Akan tetapi tiba-tiba Swan Bu mengeluh, terhuyung-huyung ke belakang lalu jatuh terduduk.           Siu Bi me-nahan pedangnya, kaget dan terheran-heran.           Terang bahwa bukan dia yang merobohkan pemuda itu.           Baru saja pe-muda itu menangkis pukulannya yang dilakukan dengan pengerahan tenaga Hek-in-kang di tangan kiri.           Swan Bu tak da-pat mengelak dan terpaksa menangkis dengan tangan kanan.           Dalam pertemuan tenaga ini, Siu Bi merasa betapa lengan kirinya tergetar hebat.           Makin kagum ia karena jarang ada orang dapat menangkis tenaga Hek-in-kang sedemikian rupa sampai dia tergetar<BR>ke belakang.           <BR>Dan sehabis menangkis itulah, ketika ia me-nerjang lagi dengan pedangnya, Swan Bu rnengelak lalu terhuyung-huyung ke bela-kang dan jatuh terduduk, meringis me-nahan sakit sambil menekan pundak kanannya.           Siu Bi melangkah maju, mernandang ^penuh perhatian.           Dilihatnya kulit pundak kanan yang putih itu ternoda bintik me-rah membengkak.           "Kau terluka Ang-tok-ciam (Jarum Racun Merah)!" serunya di luar kesadarannya.  Swan Bu mengangguk lesu.</P>

<P>Bersambung kebagian II</P>

Comments & Reviews (3)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended