Pendekar Buta

spinner.gif

<P>Pendekar Buta<BR>Serial Raja Pedang (3)<BR>Lanjutan Rajawali Emas<BR>karya : Kho Ping Hoo</P>

<P><BR>Puncak Lao-san menjulang tinggi di antara<BR>pegunungan di Propinsi Santung yang kecil-kecil,<BR>biarpun sebenarnya Lao-san hanya 1100 meter.<BR>tingginya. Pemandangan alam dari puncak ini<BR>amat indahnya. Memandang ke sebelah timur<BR>tampak Laut Kuning yang luas, ke sebelah utara<BR>Selat Pohai, ke sebelah barat Pegunungan Santung dengan puncak Thai-san<BR>tampak gagah menjulang tinggi, kemudian ke sebelah selatan tampak sawah<BR>ladang dan perkampungan yang subur. Hari masih pagi benar, namun sepagi<BR>itu sudah ada, seorang manusia duduk di atas batu gunung di puncak Lao-san.<BR>Angin dari Laut Kuning menambah hawa gunung menjadi makin dingin sejuk,<BR>memecahkan kulit muka dan menusuk-nusuk tulang. Namun orang yang<BR>duduk di atas batu itu seakan-akan tidak merasakan ini semua. Tentu orang<BR>akan mengira dia telah membeku atau membatu, kalau saja mulutnya tidak<BR>terdengar bersajak dengan suara nyaring, jelas dan bersemangat.<BR>"Wahai kasih, aku di sini! Di puncak Lao-san menjulang tinggi Menjadi raja<BR>sunyi di angkasa raya, Naga-naga awan muncul dari laut di bawah kaki<BR>Terbang melayang menuju kemari Bersujud di sekelilingku meniupkan angin<BR>sejuk, Kasih, aku menanti kehadiranmu memberi cahaya dan kehangatan pada<BR>jiwa ragaku Wahai kasih, aku di sini!"<BR>Agaknya orang ini merasa gembira dengan sajak yang dikarangnya sambil<BR>duduk itu. Diulangnya sajak ini, malah kemudian dinyanyikannya dengan suara<BR>nyaring. Tangan kanannya memukul-mukulkan tongkat ke batu yang<BR>menimbulkan bunyi "tok-tak-tok-tak" berirama, mengiringi suara nyanyiannya.<BR>Suaranya yang nyaring bergema di puncak, terbawa angin dan kadang-kadang<BR>terdengar bergetar penuh perasaan, terutama di bagian "........,. kasih, aku di<BR>sini ..........."<BR>Kadang-kadang tangan kirinya meraba-raba ke atas tanah di mana terdapat<BR>dua macam bungkusan, agaknya dia khawatir kalau-kalau angin yang keras<BR>akan menerbangkan dua bungkusan pakaian dan obat-obatan itu. Melihat cara<BR>ia meraba-raba, mudah diduga bahwa orang ini adalah seorang buta. Memang<BR>sebenarnyalah. Dia seorang buta, Masih muda benar, baru dua puluh tahun<BR>lebih, takkan lewat dari dua puluh lima tahun umurnya. Sesungguhnya amat<BR>tampan wajahnya, kulit mukanya putih bersih dengan dahi lebar, daun telinga<BR>panjang, hidung mancung dan mulut yang manis bentuknya. Alisnya yang<BR>hitam berbentuk golok melindungi sepasang mata yang selalu dimeramkan,<BR>mata yang sudah tidak ada bijinya sehingga kelihatan pelupuknya mencekung,<BR>mendatangkan keharuan bagi yang melihatnya. Rambutnya yang hitam<BR>digelung ke atas dan dibungkus kain kepala hijau. Pakaiannya sederhana, baju<BR>berlengan panjang dan lebar berwarna kuning kemerahan, celana berwarna<BR>kuning dan biarpun pakaian ini terbuat dari bahan yang kasar, namun amat<BR>bersih.<BR>"Wahai kasih, aku di sini ...........!" Si buta ini bangkit berdiri dan<BR>mengembangkan kedua lengannya, seakan-akan hendak menyambut atau<BR>memeluk kedatangan kekasihnya. Namun tidak ada kekasihnya itu, yang ada<BR>hanya sinar matahari pagi yang mulai menyembul ke luar dari permukaan Laut<BR>Kuning.<BR>"Kasihku ........... matahariku ........... dengan kehadiranmu di sampingku<BR>.......... aku sanggup bertahan seribu tahun lagi........"<BR>Si buta ini tersenyum-senyum dan wajah itu menjadi makin tampan, akan<BR>tetapi juga makin mengharukan. Ia benar-benar kelihatan gembira sekali.<BR>Setelah "menyambut kekasihnya" yang agaknya sinar matahari itulah, si buta<BR>lalu duduk kembali, membuka bungkusan pakaiannya, mengeluarkan sepotong<BR>roti kering dan mulailah dia sarapan dengan enaknya.<BR>Agaknya dia tidak tahu bahwa sudah semenjak tadi, kurang lebih seratus<BR>meter di sebelah belakangnya, berdiri seorang laki-laki tinggi besar bermuka<BR>hitam. Laki-laki ini usianya empat puluhan, berkumis panjang tanpa jenggot,<BR>pakaiannya serba hitam dan gerak-geriknya kasar, di pinggangnya tergantung<BR>sebatang golok telanjang dan di punggungnya sebuah bungkusan kain kuning.<BR>Setelah memperhatikan beberapa lama kepada si buta dan melihat si buta<BR>mulai sarapan pagi, laki-laki tinggi besar ini mengomel.<BR>"Sialan! Sekali mendapat mangsa, seorang buta gila!" Ia terbatuk-batuk<BR>beberapa kali. Angin sejuk itu agaknya amat mengganggu pernapasannya.<BR>Namun dia tidak menghentikan langkahnya mendekati si buta yang sedang<BR>makan. Setelah tiba di belakang si buta dalam jarak satu meter, dia berhenti<BR>dan membentak.<BR>''He, buta gila! Apa isi kedua bungkusanmu itu?'' Orang muda buta itu<BR>memutar diri, masih duduk dan cepat-cepat menjawab dengan suara ramah.<BR>"Wah, ada teman! Bagus, mari silakan duduk, sahabat. Rotiku masih banyak,<BR>mari kita sarapan bersama." Tangannya meraba-raba, mengeluarkan sepotong<BR>besar roti kering dari bungkusannya dan dengan wajah tersenyum serta<BR>pelupuk mata cekung itu bergerak pula, dia mengangsurkan roti itu kepada si<BR>muka hitam.<BR>Si muka hitam dengan geram menggerakkan kaki dan roti di tangan si buta itu<BR>terlempar jauh, menggelinding dan lenyap ke dalam jurang.<BR>"Siapa sudi roti busukmu?" Orang muda buta itu menyeringai, tapi menghela<BR>napas panjang dan suaranya tetap halus ketika dia berkata, "Sahabat, kiranya<BR>kau tidak lapar. Heran sekali ada orang menolak makan di saat Cahaya<BR>kehidupan mulai menerangi bumi. Semua mahluk sibuk mencari makan,<BR>jangan-jangan kau sakit ..........."<BR>"Cerewet! Berikan bungkusan pakaianmu kepadaku!" bentak si muka hitam.<BR>"Oooh, jadi pakaiankah yang kau butuhkan?" si buta mengangguk-angguk dan<BR>tangannya diulur ke depan, meraba ujung baju si muka hitam. "Hemm,<BR>pakaianmu masih baik tapi amat kotor. Boleh, boleh, biarlah kuberi satu stel<BR>kepadamu, aku masih mempunyai tiga stel dalam bungkusan ini ..........."<BR>"Buta gila, serahkan semua pakaianmu kepadaku!" dengus si muka hitam yang<BR>disusul oleh suara batuk-batuk. "Semua milikmu harus kau serahkan kepadaku<BR>kalau kau ingin hidup."<BR>Si buta menggeleng-geleng kepala, menarik napas panjang. ''Aihh, kiranya kau<BR>benar-benar sakit! Dua macam penyakit mencengkerammu, sahabat. Yang<BR>satu adalah penyakit akibat luka dalam di tubuhmu, di dalam tubuhmu sudah<BR>kemasukan hawa beracun yang menimbulkan rasa gatal pada<BR>kerongkonganmu dan sewaktu-waktu, apalagi kalau kau marah-marah seperti<BR>sekarang ini, timbul rasa sesak di dalam dada sebelah kanan. Penyakit<BR>pertama ini tidak hebat, paling-paling merenggut nyawa dari tubuh, akan<BR>tetapi penyakitmu yang ke dua lebih payah lagi karena merupakan penyakit<BR>jiwa yang membuat kau tidak menaruh kasihan kepada orang lain, membuat<BR>kau kejam dan suka mempergunakan kekerasan untuk mengganggu orang<BR>lain."<BR>"Tutup mulutmu dan serahkan bungkusan-bungkusan itu!" Si muka hitam<BR>bergerak maju dan menyambar bungkusan pakaian. Akan tetapi dia tidak<BR>berhasil merampas bungkusan obat yang dipeluk erat-erat oleh si buta.<BR>"Ambillah...........! Ambillah bungkusan pakaianku. Aku tidak gila pakaian<BR>seperti engkau. Tapi bungkusan obat ini tak boleh kau ambil, aku sendiri tidak<BR>membutuhkan, akan tetapi orang-orang lain yang sakit akan<BR>membutuhkannya."<BR>Ia sudah berdiri sekarang, bungkusan obat itu dia sampirkan di pundak,<BR>tongkat dipegang di tangan kiri. Si muka hitam ragu-ragu, tidak jadi<BR>merampas bungkusan obat, tapi juga tidak segera pergi dari situ. Dia<BR>memandang tajam lalu, bertanya dengan suara kasar, "Heh, buta, bagaimana<BR>kau bisa tahu bahwa aku menderita luka dalam?"<BR>Orang muda buta itu tersenyum lebar. Deretan giginya yang sehat kuat<BR>mengkilap terkena cahaya matahari pagi, putih seperti deretan mutiara.<BR>"Aku si buta ini tukang obat, kau tahu? Tentu saja aku dapat mengetahui<BR>keadaanmu karena kau terbatuk-batuk tadi. Sahabat, maukah kau kuobati?" Si<BR>muka hitam melengak, memandang penuh selidik. Mana dia bisa percaya?<BR>Baru saja dia merampas pakaian orang ini, mungkinkah dia mau<BR>mengobatinya? "Tidak sudi Kau kira aku begitu bodoh?" jawabnya sambil<BR>tertawa mengejek. "Kau berpura-pura hendak mengobati, padahal kau tentu<BR>akan memberi racun untuk membunuhku, membalas dendam karena<BR>pakaianmu kurampas. Ha-ha-ha, jangan kaukira aku tolol. Aku adalah Hektwa-<BR>to (Si Hitam Bergolok Besar), mana bisa kau akali begitu saja? Bukan aku<BR>yang akan mati karena kau racuni, melainkan kau yang akan mampus di<BR>tanganku. Kau tahu aku terluka, tentu kau anak buah si tua bangka Bhe<BR>jahanam!" Setelah berkata demikian si muka hitam melangkah maju dan<BR>tangan kanannya menghantam ke arah orang muda buta itu. Hebat<BR>pukulannya, keras sekali sampai mendatangkan sambaran angin! Agaknya<BR>dengan sekali pukulan ini si muka hitam yang berjuluk Hek-twa-to itu<BR>bermaksud untuk membikin remuk kepala si buta.<BR>Akan tetapi betapa kagetnya ketika tiba-tiba lengan kanannya terbentur<BR>dengan sesuatu yang keras dan membuat tangannya lumpuh, kemudian dia<BR>merasa dadanya diraba orang, membuat napasnya sesak dan dia terhuyunghuyung<BR>mundur. Dia terheran-heran melihat si buta itu masih berdiri<BR>tersenyum-senyum seperti tadi. Sama sekali dia tidak melihat si buta ini tadi<BR>bergerak. Akan tetapi siapakah tadi yang menangkis pukulannya dan siapa<BR>pula yang meraba-raba ke arah dadanya?<BR>Ia merasa jerih, mengira bahwa tentu ada orang sakti membantu si buta ini,<BR>atau jangan-jangan si tua bangka Bhe sendiri yang berada di sini?<BR>Punggungnya terasa dingin dan seram. Cepat dicabutnya golok besarnya.<BR>Betapapun juga kalau benar-benar orang she Bhe itu muncul, dia hendak<BR>melawan mati-matian. Dengan garang goloknya dia gerak-gerakkan ke kanan<BR>kiri sampai terlihat cahaya kilat menyambar-nyambar ketika golok itu tertimpa<BR>sinar matahari. Mendadak si buta tertawa dan berkata.<BR>"Sahabat tinggi besar, untung kau bahwa luka dalam di tubuhmu sudah lenyap<BR>sekarang..........." dan orang buta itu membalikkan tubuh, duduk di atas batu<BR>tadi dan tidak memperdulikan pemegang golok yang masih menggerakgerakkan<BR>goloknya.<BR>Hek-twa-to makin curiga. Jelas bahwa tidak ada orang lain di situ. Selihailihainya<BR>si tua Bhe, kalau dia berada di situ tentu akan nampak olehnya. Habis<BR>siapa yang melawannya tadi? Si buta inikah? Tak mungkin! Perlahan-lahan dia<BR>menghampiri. Sekali bacok akan mampuslah si buta. Sudah banyak dia<BR>membunuh orang, baik bersebab maupun tidak. Saat itu dia sedang mengkal<BR>hati, dikalahkan orang dan terluka hebat. Si buta ini tahu dia terluka,<BR>memalukan saja, maka harus dibunuh.<BR>Goloknya bergerak cepat ke leher orang. Dia melihat kilat dari angkasa<BR>menyambar-nyambar dua kali, merasa betapa tangan kanannya tergetar, ada<BR>tenaga aneh mendorongnya ke belakang sampai lima tindak, wajahnya pucat<BR>sekali. Golok itu tinggal gagangnya saja dan di bawah kakinya kelihatan dua<BR>buah potongan golok! Adapun si buta tadi masih saja duduk diatas batu<BR>memegangi tongkat yang kini dipukul-pukulkan ke atas batu sambil bernyanyi,<BR>"Wahai kasih, aku di sini ..........." Hek-twa-to menggigil, lalu membuang<BR>gagang goloknya dan larilah dia menuruni puncak, tak lupa membawa serta<BR>bungkusan pakaian yang dirampasnya tadi. Dia melarikan diri seperti dikejar<BR>iblis gunung! Dari jauh dia masih mendengar suara si buta bernyanyi-nyanyi<BR>dan suara nyanyian ini baginya amat menyeramkan, seakan-akan mengejar,<BR>membuat dia memperhebat tenaganya untuk lari.<BR>***<BR>Hari telah siang ketika serombongan orang tergesa-gesa mendaki puncak Laosan.<BR>Lima belas orang ini adalah laki-laki semua, rata-rata bertubuh tegap kuat<BR>dengan gerak-gerik yang kasar. Melihat cara mereka mendaki puncak yang<BR>amat sukar dilalui itu secara cepat dan cekatan, dapat diduga. bahwa mereka<BR>adalah orang-orang yang sudah biasa melakukan perjalanan di gununggunung<BR>serta memiliki tubuh yang kuat.<BR>Apalagi melihat betapa setiap orang membawa senjata tajam, tergantung di<BR>punggung atau di pinggang, Yang berjalan paling depan adalah si muka hitam<BR>tinggi besar yang pagi hari tadi bertemu dengan orang muda buta di puncak<BR>itu, ialah Hek-twa-to, Si Golok Besar Muka Hitam. Setelah tiba di puncak, di<BR>mana si buta tadi duduk bernyanyi, hiruk-pikuklah suara mereka.<BR>"Mana dia si buta, Twako?" bertubi-tubi pertanyaan ini menyerang Hek-twa-to<BR>yang menjadi sibuk juga. Bisa celaka dia kalau tidak dapat menemukan orang<BR>muda buta tadi. Seperti telah kita ketahui, Hek-twa-to ini tadi lari tungganglanggang<BR>ketakutan setelah dua kali menyerang si buta dia roboh secara aneh.<BR>Dengan napas terengah-engah, dia memasuki hutan di pegunungan sebelah<BR>barat di mana kawan-kawannya berada, kemudian dengan hati masih merasa<BR>seram dia menceritakan semua pengalamannya. Hek-twa-to ini adalah seorang<BR>di antara anak buah atau anggauta perkumpulan Hui-houw-pang<BR>(Perkumpulan Harimau Terbang), sebuah perkumpulan golongan hitam<BR>(penjahat) yang terdiri khusus para perampok-perampok di Santung. Huihouw-<BR>pang berpusat di Pegunungan Santung dan dikepalai oleh seorang<BR>bernama Lauw Teng yang berusia lima puluh tahun bertubuh gemuk pendek<BR>dan bermuka kuning.<BR>Pada waktu itu, Hui-houw-pang sedang berada dalam kedukaan karena baru<BR>saja mereka kalah berperang melawan musuh lama mereka, yaitu orang-orang<BR>Kiang-liong-pang (Perkumpulan Naga Sungai). Banyak di antara mereka yang<BR>terluka, malah Hui-houw-pangcu Lauw Teng sendiri juga terluka hebat.<BR>Dalam usahanya untuk membalas dendam, Lauw Teng mendatangkan<BR>beberapa orang sahabatnya yang pada waktu itu sudah berkumpul di situ.<BR>Ketika mendengar penuturan Hek-twa-to, Lauw Teng amat tertarik, apalagi<BR>melihat gerak-gerik Hek-twa-to yang berbeda dengan tadi sebelum bertemu<BR>dengan orang buta aneh itu.<BR>"Buka bajumu!" Lauw Teng memerintah. Hek-twa-to tidak mengerti apa<BR>maksud perintah ini, namun dia tidak berani membantah dan dibukanya<BR>bajunya. Lauw Teng mendekati, meraba dada anak buahnya ini dan<BR>mengeluarkan seruan tertahan. "Kau benar manusia tolol!" tiba-tiba dia<BR>berseru. "Lukamu telah disembuhkan orang dan kau menganggap dia anak<BR>buah musuh. Dia itu seorang ahli pengobatan yang pandai. Kerbau goblok kau!<BR>Hayo lekas bawa beberapa orang kawan, cari dia dan suruh ke sini. Siapa tahu<BR>dia dapat mengobati kita semua!"<BR>Hek-twa-to kaget dan juga girang ketika dia mendapat kenyataan bahwa<BR>memang betul lukanya di dalam tubuh akibat pukulan beracun dari fihak lawan<BR>telah sembuh. Bintik merah di dadanya telah lenyap dan tidak ada rasa nyeri<BR>sedikit pun juga. Biarpun dia amat terheran-heran bagaimana dan kapan orang<BR>mengobatinya namun dia tidak berani banyak bicara lagi, maklum akan watak<BR>ketuanya yang amat keras. Dia pun khawatir takkan dapat mencari orang buta<BR>itu. Karena inilah, maka dia menjadi sibuk dan bingung ketika dia dan kawankawannya<BR>tiba di puncak Lao-san dia tak melihat orang muda buta yang tadi.<BR>"Tak mungkin dia bisa pergi jauh," katanya, hatinya berdebar penuh<BR>kekhawatiran karena dia tahu bahwa kalau dia tidak dapat membawa si buta<BR>itu ke depan ketuanya, dia tentu akan menerima hukuman yang hebat.<BR>"Seorang buta mana bisa turun dari puncak dengan cepat? Tanpa dibantu<BR>tongkatnya dia takkan mampu melangkahkan kaki." Ucapan ini dikeluarkan<BR>dengan suara tenang karena dia percaya bahwa orang buta itu pasti belum<BR>pergi jauh.<BR>"Hek-twako, jangan pandang rendah orang aneh jtu. Kalau dia bisa naik ke<BR>puncak ini tentu juga mampu turun," kata seorang kawannya. Hek-twa-to<BR>menjadi pucat mendengar ini.<BR>"Celaka, hayo kita cepat mencarinya. Kita berpencar ke empat penjuru. Aku<BR>akan naik ke pohon besar itu untuk melihat dari atas."<BR>Dengan cepat dia lalu lari menghampiri pohon dan sekali mengenjot kedua<BR>kakinya, tubuhnya melayang naik ke atas pohon. Hebat juga kepandaian si<BR>muka hitam ini. Pantas saja pagi tadi dia lari ketakutan ketika dua kali<BR>menyerang si buta, dia sendiri yang kalah tanpa dapat tahu siapa yang telah<BR>mengalahkannya. Siapa yang tidak akan merasa seram? Kepandaiannya cukup<BR>tinggi. Apalagi menghadapi seorang pemuda buta, belum tentu dia akan kalah<BR>dalam pertempuran. Akan tetapi pagi tadi dia merasa seakan-akan melawan<BR>iblis yang melindungi si buta!<BR>"Heeeii, itu dia di sana. Ha-ha-ha, apa kataku? Dia takkan bisa pergi jauh!"<BR>tiba-tiba Hek-twa-to berseru kegirangan sambil meloncat turun dari cabang<BR>pohon. Kawan-kawannya yang sudah mulai berpencar mencari ke empat<BR>penjuru, mendengar teriakan ini ikut menjadi girang. Mereka juga<BR>mengharapkan si tabib buta itu akan dapat menyembuhkan ketua mereka dan<BR>dua puluh lebih teman-teman lain yang juga terluka hebat. Setelah Hek-twa-to<BR>turun, lima belas orang ini berlari-lari cepat menuruni puncak, dipimpin oleh<BR>Hek-twa-to. Betul saja, tak lama kemudian mereka melihat orang muda buta<BR>itu.<BR>Dengan tongkatnya meraba-raba dan memukul-mukul ke tanah di depan<BR>kakinya, orang buta ini berjalan perlahan-lahan. Buntalan obat tergantung di<BR>punggungnya dan dari jauh sudah terdengar suaranya bernyanyi-nyanyi!<BR>Siapakah sebetulnya orang muda tampan yang buta ini? Dia bukanlah seorang<BR>sembarangan. Namanya Kwa Kun Hong, putera tunggal dari ketua Hoa-san-pai<BR>yang bernama Kwa Tin Siong dan berjuluk Hoa-san It-kiam (Si Pedang<BR>Tunggal dari Hoa-san), seorang pendekar gagah perkasa. Ibunya juga seorang<BR>tokoh Hoa-san-pai yang kosen berjuluk Kiam-eng-cu (Si Bayangan Pedang).<BR>Akan tetapi orang muda buta yang sakti ini sama sekali bukan murid ayah<BR>bundanya sendiri. Secara kebetulan dia mewarisi Ilmu Silat Rajawali Emas<BR>(Kim-tiauw-kun), malah akhir-akhir ini dia menerima pula Ilmu Silat Im-yangsin-<BR>hoat dari Si Raja Pedang Tan Beng San ketua dari Thai-san-pai.<BR>Karena inilah, maka biarpun usianya baru dua puluh lima tahun, dia telah<BR>mewarisi ilmu kesaktian yang luar biasa. Kwa Kun Hong bukan buta semenjak<BR>lahir. Baru saja tiga tahun dia menjadi buta. Dia buta karena secara nekat dia<BR>telah mencokel ke luar kedua biji matanya sendiri, akibat penyesalan hatinya<BR>karena kekasihnya, puteri ketua Thai-san-pai, telah membunuh diri. Gadis itu<BR>telah ditunangkan dengan putera ketua Kun-lun-pai dan telah membunuh diri<BR>di depannya karena putus asa dalam cinta kasihnya dengan Kwa Kun Hong.<BR>Semua peristiwa hebat ini dituturkan secara jelas dalam cerita terdahulu yang<BR>indah, yaitu Cerita Rajawali Emas.<BR>Demikianlah sedikit riwayat orang muda buta ini untuk memperkenalkannya<BR>bagi para pembaca yang belum membaca cerita Rajawali Emas. Semenjak<BR>hatinya patah dalam cinta kasih dan kedua biji matanya dia korbankan,<BR>pemuda ini lalu merantau, ke mana saja kedua kakinya membawanya. Dia<BR>dahulu telah mewarisi ilmu pengobatan dari kitab-kitab kepunyaan Toat-beng<BR>Yok-mo (Setan Obat Pencabut Nyawa), maka sekarang dalam perantauannya<BR>dia menjadi seorang tabib buta yang selalu siap menolong orang-orang sakit.<BR>Tentu saja karena kebutaannya, biarpun dia berkepandaian tinggi, dia tidak<BR>dapat melakukan perjalanan cepat. Hanya dapat maju karena bantuan<BR>tongkatnya dan kakinya membawanya dari dusun ke dusun, dari kota ke kota<BR>dan dari gunung ke gunung.<BR>Dia sengaja tidak pernah mau bertanya kepada orang lain tentang tempat<BR>yang akan dia datangi karena memang dia tidak mempunyai tujuan tertentu.<BR>Baru sesudah tiba di suatu tempat, dia bertanya dan adalah hal yang<BR>mendatangkan kegirangan juga mengetahui sebuah tempat yang sama sekali<BR>tak pernah diduga sebelumnya.<BR>Pada sore hari kemarin dia mendaki puncak Lao-san yang pernah dia dengar<BR>tentang keindahannya. Semalam suntuk dia berdiam di puncak ini dan biarpun<BR>dia sudah tidak dapat mempergunakan kedua matanya lagi untuk menikmati<BR>tamasya alam indah, namun dengan perasaannya dia dapat menikmati hawa<BR>sejuk dan kehangatan matahari terbit, dengan hidungnya dia dapat menikmati<BR>keharuman bunga-bunga dan tetumbuhan yang sedap, dengan telinganya dia<BR>dapat menikmati suara merdu dari kicau burung di antara desir angin<BR>berdendang dan bergurau dengan daun-daun pohon. Ketika dia duduk<BR>bersanjak di puncak Lao-san, khayalnya menciptakan tamasya alam yang<BR>agaknya jauh lebih indah daripada kenyataan yang tak dapat dilihatnya lagi<BR>itu.<BR>Kwa Kun Hong memang seorang pemuda luar biasa. Ilmu silatnya tinggi sekali,<BR>ilmu pengobatannya juga tinggi dan selain dua ilmu ini, dia pun amat pandai<BR>dalam hal kesusasteraan, pandai bersajak, bernyanyi, dan tulisan tangannya<BR>amat indah. Kalau saja sepasang matanya tidak buta lagi, dia pun merupakan<BR>seorang ahli dalam hal ilmu sihir yang pernah dia pelajari dari paman gurunya,<BR>yaitu Sin-eng-cu (Garuda Sakti) Lui Bok! Tentu saja biarpun ilmu sihir yang<BR>berdasarkan hawa murni dan kekuatan batin ini masih terdapat di tubuhnya,<BR>namun dia tidak dapat lagi mempergunakannya karena penggunaan ilmu ini<BR>harus melalui pandangan mata! Peristiwa aneh yang dialami Hek-twa-to, sama<BR>sekali bukanlah perbuatan iblis atau orang sakti yang melindungi Kun Hong.<BR>Pemuda buta ini sendirilah yang mempergunakan kesaktian ilmu silatnya untuk<BR>mengalahkan Hek-twa-to dan sekaligus untuk menyembuhkan daripada luka<BR>dalam yang mengancam keselamatan nyawanya. Dari peristiwa ini saja dapat<BR>dibayangkan betapa hebat pemuda ini. Tidak saja hebat ilmu kepandaiannya,<BR>yang lebih hebat lagi adalah pribudinya. Hek-twa-to telah memakinya,<BR>menghinanya, bahkan telah menyerangnya dengan niat membunuh. Akan<BR>tetapi Kun Hong masih berhati lapang, tidak hanya memaafkan ini semua,<BR>malah telah mengobatinya dengan beberapa totokan pada jalan darah di dada<BR>sehingga orang kasar itu menjadi sembuh!<BR>Pada saat rombongan lima belas orang anggauta Kui-houw-pang itu lari<BR>mengejarnya, Kun Hong tengah berjalan perlahan-lahan menuruni puncak<BR>sambil berdendang dengan sajak ciptaannya sendiri yang memuji-muji tentang<BR>keindahan alam, tentang burung-burung, bunga, kupu-kupu dan anak sungai.<BR>Tiba-tiba dia miringkan kepala tanpa menghentikan nyanyiannya. Telinganya<BR>yang kini menggantikan pekerjaan kedua matanya dalam banyak hal, telah<BR>dapat menangkap derap kaki orang-orang yang mengejarnya dari belakang.<BR>Karena penggunaan telinga sebagai pengganti mata inilah yang menyebabkan<BR>dia mempunyai kebiasaan agak memiringkan kepalanya kalau telinganya<BR>memperhatikan sesuatu.<BR>Dia terus berjalan, terus menyanyi tanpa menghiraukan orang-orang yang<BR>makin mendekat dari belakang itu.<BR>"Hee, tuan muda yang buta, berhenti dulu!" Hek-twa-to berteriak, kini dia<BR>menggunakan sebutan tuan muda, tidak berani lagi memaki-maki karena dia<BR>amat berterima kasih kepada pemuda buta ini.<BR>Kun Hong menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuh perlahan,<BR>mulutnya tersenyum lebar namun kedua telinga tetap waspada mendengarkan<BR>dan mengikuti segala gerak-gerik di sekitarnya. Tentu saja dia mengenal suara<BR>perampok kasar yang dia jumpai pagi tadi, akan tetapi dia pura-pura tidak<BR>mengenalnya dan bertanya,<BR>"Saudara siapa dan apa maksud saudara mengejar aku si buta ini?" Dia tahu<BR>bahwa orang kasar itu kini menjura kepadanya, membungkuk-bungkuk<BR>beberapa kali tanda penghormatan. Gerakan tubuh ini saja tak dapat terlepas<BR>daripada pendengarannya yang amat tajam melebihi orang biasa yang tidak<BR>buta. Hal ini amat menggirangkan dan melegakan hatinya karena dia dapat<BR>menduga bahwa kedatangan belasan orang ini kiranya tidak mengandung niat<BR>jahat.<BR>"Tuan muda, saya Hek-twa-to datang untuk minta maaf atas kelancangan saya<BR>pagi tadi dan untuk mengembalikan bungkusan pakaianmu,"<BR>Wajah itu makin berseri, senyuman makin melebar ketika dia mengulurkan<BR>tangan untuk menyambut bungkusan. "Ah, terima kasih, twako. Sebetulnya<BR>aku tidak begitu membutuhkan pakaian ini, akan tetapi kalau kau tidak<BR>memerlukan, baik kuterima untuk pengganti kalau yang kupakai sudah kotor.<BR>Berada padaku atau padamu sama saja, pakaian gunanya untuk dipakai,<BR>siapapun yang memakainya tidak menjadi soal. Terima kasih." Dia<BR>menggantungkan buntalan pakaian itu di pundaknya.<BR>Hek-twa-to menjura lagi. "Juga saya menghaturkan terima kasih atas<BR>pertolongan sinshe (sebutan untuk tabib) yang telah menyembuhkan luka di<BR>dalam dadaku."<BR>Kun Hong tertawa. "Tidak perlu berterima kasih. Yang menyembuhkan adalah<BR>kau sendiri, Twako. Ketika kau menggunakan tenaga menghantam ke depan<BR>tadi, hawa pukulan tertahan oleh jalan darah yang buntu merupakan kekuatan<BR>yang hebat. Aku hanya membantu membuka jalan darah itu sehingga hawa itu<BR>menerobos dan sekaligus menghalau hawa beracun yang mengeram di<BR>tubuhmu. Sama sekali tidak perlu berterima kasih."<BR>Hek-twa-to terkejut. Kiranya si buta ini yang menyentuh dadanya. Kenapa dia<BR>tidak melihatnya sama sekali? Setelah saling pandang penuh keheranan<BR>dengan kawan-kawannya, dia lalu menjura lagi dan berkata,<BR>"Sekarang kami minta dengan hormat agar Sinshe suka ikut dengan kami ke<BR>tempat tinggal kami di sebelah barat bukit ini..........."<BR>"Sayang, tidak bisa..........." Kun Hong memotong, "aku adalah seorang<BR>manusia bebas, tidak mau terikat oleh segala budi. Terima kasih, Twako,<BR>biarlah aku melanjutkan perjalananku seenaknya dan harap kau dan temantemanmu<BR>kembali."<BR>Seorang kawan Hek-twa-to yang paling kasar wataknya di antara para<BR>perampok itu menjadi marah dan berteriak, "Kita gusur saja tabib buta yang<BR>sombong ini!"<BR>Kun Hong tersenyum sabar, maklum bahwa dia berhadapan dengan orangorang<BR>kasar yang berwatak keji. "Aku adalah seorang buta lagi miskin tidak<BR>memiliki apa-apa, juga aku akan mengalah kalau kalian menghendaki barangbarangku<BR>kecuali bungkusan obat dan tongkat ini. Akan tetapi jangan harap<BR>aku akan suka menuruti paksaan orang, sungguhpun paksaan untuk<BR>menjamuku dengan hidangan-hidangan mahal."<BR>"Tong-te, kau tutup mulutmu!" bentak Hek-twa-to kepada kawannya yang<BR>kasar itu, kemudian dia menghadapi Kun Hong lagi. "Siauw-sinshe, harap kau<BR>maafkan temanku yang lancang mulut ini. Sesungguhnya kami mengharap kau<BR>suka ikut dengan kami karena kami perlu pertolonganmu untuk mengobati<BR>ketua kami dan dua puluh orang lebih teman-teman kami yang menderita<BR>luka-luka berat. Harap kau suka menolong kami seperti kau telah lakukan<BR>kepadaku tadi. Jangan khawatir, untuk biaya pengobatan ini, berapapun juga<BR>kau minta, ketua kami sudah pasti akan memenuhinya."<BR>Berkerut kening di muka yang tampan itu. Kun Hong maklum bahwa orangorang<BR>ini bukan orang-orang baik, tentu ketuanya juga bukan orang baik.<BR>Agaknya golongan hitam pengacau rakyat. Sebetulnya mengingat keadaan<BR>mereka, tidak patut ditolong. Akan tetapi dia dapat membayangkan betapa<BR>sengsaranya mereka yang menderita sakit itu dan hatinya yang penuh welas<BR>asih tidak kuasa menahan hasratnya hendak menolong.<BR>"Hemm, begitukah? Kalau kalian mengundangku untuk menolong orang-orang<BR>sakit, lain lagi halnya. Tak usah bicara tentang upah, kalau aku berhasil dapat<BR>mengurangi rasa nyeri yang mereka derita, sudah cukup bagus untukku. Mari<BR>kita berangkat."<BR>Berangkatlah rombongan itu turun bukit. Akan tetapi biarpun tongkatnya<BR>dituntun Hek-twa-to, seorang buta sebagai Kun Hong tentu saja tidak dapat<BR>berjalan cepat. Rombongan itu tidak sabar dan ketika Hek-twa-to<BR>mengusulkan untuk menggendong tabib buta itu, Kun Hong tidak menolak.<BR>Maka digendonglah pemuda itu oleh Hek-twa-to yang kuat dan rombongan ini<BR>berlari-lari turun bukit dengan cepat.<BR>Makin curiga hati Kun Hong. Di atas gendongan, dia dapat mengira-ngira<BR>tingkat kepandaian mereka. Ilmu lari cepat mereka lumayan tanda bahwa<BR>mereka ini, terutama Hek-twa-to, memiliki kepandaian silat. Ketua mereka<BR>tentu seorang kosen. Kalau sampai ketua mereka terluka, juga dua puluh<BR>orang lebih anak buahnya, alangkah tangguhnya musuh mereka. Dan<BR>mengingat sikap mereka yang jahat, agaknya yang menyebabkan mereka<BR>luka-luka itu tentulah seorang pendekar. Berkali-kali dia menarik napas<BR>panjang di atas gendongan Hek-twa-to. Pendekar itu merobohkan dan melukai<BR>orang-orang karena tugasnya sebagai pendekar yang membasmi kejahatan.<BR>Akan tetapi dia pergi akan menyembuhkan mereka, juga hal ini karena<BR>tugasnya sebagai seorang ahli pengobatan yang tidak boleh memilih penderita,<BR>baik dia kaya atau miskin, jahat atau tidak.<BR>Jilid 1 : bagian 2<BR>Ketika ketua Hui-houw-pang dan para tamunya yang terdiri dari jagoan-jagoan<BR>di dunia kang-ouw dan bu-lim itu melihat bahwa tabib buta itu ternyata hanya<BR>seorang laki-laki yang masih amat muda, mereka terbelalak keheranan, saling<BR>pandang dan ragu-ragu. Para tamu yang hadir di situ adalah undanganundangan<BR>Lauw Teng, terkenal sebagai tokoh-tokoh kang-ouw. Malah di<BR>antaranya terdapat seorang tosu muka bopeng (burik) yang mempunyai sinar<BR>mata tajam berkilat dan di punggungnya tergantung sepasang pedang tipis.<BR>Mereka ini banyak mengenal orang pandai, malah pernah mendengar tentang<BR>setan obat Toat-beng Yok-mo, sudah banyak melihat tabib-tabib pandai. Akan<BR>tetapi belum pernah mereka melihat seorang ahli pengobatan masih begini<BR>muda. Tidak mengherankan apabila mereka memperdengarkan suara<BR>mencemooh dan memandang rendah.<BR>Ketua Hui-houw-pang kecewa sekali. Diam-diam dia marah kepada Hek-twa-to<BR>yang dianggapnya membohong dan menipu. Untuk menutupi kekecewaannya,<BR>dia bertanya dengan nada suara keras memandang rendah.<BR>"Heh, orang muda buta. Apakah kau yang telah menyembuhkan Hek-twa-to<BR>seorang anggautaku?"<BR>Kun Hong tidak tahu siapa yang bicara dengannya, akan tetapi terang bahwa<BR>dia ini adalah ketua yang dimaksudkan oleh Hek-twa-to tadi, entah ketua apa.<BR>Dia tersenyum dan menjawab, "Dia yang menyembuhkan dirinya sendiri, aku<BR>hanya membantu." Kata-katanya halus, akan tetapi sama sekali tidak<BR>merendahkan diri atau menghormat. Ketua Hui-houw-pang yang biasanya<BR>disembah-sembah oleh anak buahnya yang pandai menjilat, ditakuti semua<BR>orang, mendongkol juga melihat dan mendengar sikap orang buta ini.<BR>"Orang buta, jangan kau main-main di sini. Apakah benar kau pandai<BR>mengobati orang sakit dan terluka?"<BR>"Tidak ada orang pandai didunia ini, sahabat. Yang pandai hanya Tuhan, Aku<BR>hanya diberi pengertian tentang pengobatan, pengertian kecil tak berarti.<BR>Kalau Tuhan menghendaki, tentu akan menyembuhkan orang sakit."<BR>"Dengar, orang muda. Kami dua puluh orang lebih menderita luka-luka. Kalau<BR>kau bisa menyembuhkan kami, berapa saja upah yang kau minta, akan<BR>kubayar. Akan tetapi kalau ternyata kau tidak mampu menyembuhkan kami,<BR>hemm, jangan tanya akan dosamu, kau tentu akan kubunuh mampus karena<BR>kau telah mengetahui keadaan kami. Sanggupkah kau?"<BR>Diam-diam Kun Hong mendongkol sekali. Tidak salah dugaannya tadi bahwa<BR>ketua ini tentulah orang yang berwatak keji pula. Namun sesuai dengan<BR>wataknya yang sabar dan bijaksana, wajahnya tetap tersenyum.<BR>"Aku selalu siap mengobati orang sakit. Sembuh atau tidaknya terserah ke<BR>dalam tangan Tuhan. Kalau dapat sembuh, aku tidak menentukan upahnya,<BR>terserah kepada penderita sakit. Kalau tidak dapat sembuh, itu sudah<BR>nasibnya, mengapa kau hendak membunuhku? Bukan kau yang memberi<BR>kehidupan pada tubuhku, bagaimana kau bisa bicara tentang mengambilnya,<BR>sahabat?"<BR>Tiba-tiba terdengar suara ketawa melengking tinggi disusul suara halus,<BR>"Lauw-sicu, omongan bocah ini ada isinya, kau berhati-hatilah!"<BR>Kun Hong tercengang, kiranya di tempat itu terdapat orang pandai, pikirnya.<BR>Pembicara ini adalah seorang kakek berusia lima puluhan, memiliki Iweekang<BR>yang kuat dan pandang mata yang tajam. Semua ini dapat dia mengerti dari<BR>pendengarannya, tentu saja dia tidak tahu bahwa kakek yang bicara itu adalah<BR>seorang tosu yang bermuka burik, seorang di antara para tamu undangan. Kun<BR>Hong agak miringkan kepalanya dan dia dapat mendengar betapa tuan rumah<BR>bersama kakek yang bicara tadi kini menggerak-gerakkan tangan dan jari,<BR>agaknya saling memberi isyarat agar apa yang mereka kehendaki tidak<BR>terdengar olehnya.<BR>"Sinshe muda," kata Lauw Teng suaranya agak berubah, tidak segalak tadi,<BR>"biarlah kuanggap saja kau memang pandai mengobati. Nah, kau mulailah<BR>mengobati seorang anak buahku yang menderita luka di dalam tubuhnya,"<BR>Setelah berkata demikian, Lauw Teng berteriak, "He, A Sam, kau yang paling<BR>berat lukamu, kau merangkaklah ke sini biar diobati oleh Siauw-sinshe ini!"<BR>Kun Hong terheran. Sejak tadi setelah bercakap-cakap dengan ketua ini, dia<BR>tahu atau dapat menduga, bahwa ketua ini menderita luka yang amat parah di<BR>dalam tubuhnya yang perlu segera diobati. Kenapa ketua ini sekarang<BR>menyuruh dia mengobati seorang anak buahnya lebih dulu? Apakah ketua ini<BR>sengaja mengalah terhadap anak buahnya? Tak mungkin, orang yang berhati<BR>keji selalu mementingkan diri sendiri. Ataukah masih belum percaya<BR>kepadanya maka menyuruh anak buahnya maju untuk mencoba-coba?<BR>Tapi Kun Hong tidak pedulikan ini semua. Dia lalu duduk di atas bangku yang<BR>disediakan untuknya dan menurunkan buntalan obat. Dia tahu bahwa dari<BR>depan berjalan seseorang dengan langkah perlahan, kemudian orang ini<BR>berjongkok di depannya sambil mengeluarkan suara rintihan dan berkata<BR>lemah.<BR>"Siauw-sinshe, tolonglah saya....... tak kuat lagi saya ....... sampai<BR>merangkakpun hampir tidak kuat. Aku terkena pukulan beracun kakek Bhe<BR>jahanam ....."<BR>Semenjak kecilnya, Kun Hong sudah memiliki kecerdikan yang luar biasa.<BR>Begitu mendengar kata-kata ini, segeralah terbuka semua rahasia yang tak<BR>dapat dilihatnya. Kiranya ketua she Lauw tadi bersama kakek itu bersekongkol<BR>untuk mempermainkan dan menguji dia. Orang ini pura-pura menderita luka<BR>pukulan, disuruh datang minta tolong sehingga mereka itu akan segera tahu<BR>tentang kepandaiannya mengobati. Hemm, mereka tidak percaya dan hendak<BR>mempermainkan aku, pikir Kun Hong. Baiklah, aku akan melayani sandiwara<BR>kalian.<BR>Sambil membungkuk Kun Hong meraba nadi tangan dan dada dekat leher A<BR>Sam itu, mengerutkan keningnya lalu berkata, "Aihh, kau benar-benar<BR>menderita penyakit berbahaya sekali! Biang batuk sudah berkumpul di pintu<BR>paru-paru. Sekarang belum terasa olehmu, akan tetapi begitu kau tertawa,<BR>akan meledaklah batukmu dan sukar ditolong lagi. Kau sama sekali tidak<BR>terluka oleh pukulan orang she Bhe atau orang she Ma, melainkan karena<BR>terlalu banyak keluar malam sehingga masuk angin jahat!" Tentu saja sambil<BR>berkata demikian, jari-jari tangan Kun Hong yang dapat bergerak secara luar<BR>biasa dan secepat kilat itu telah menekan beberapa jalan darah tertentu di<BR>dada dan leher.<BR>Mendengar keterangan ini, meledaklah suara ketawa para perampok itu,<BR>termasuk ketuanya, Lauw Teng dan para tamu undangan. Hanya tosu burik itu<BR>saja yang tidak tertawa, melainkan memandang dengan mata tajam. Lauw<BR>Teng tidak marah karena biarpun keterangan Kun Hong itu amat lucu, namun<BR>orang ini dapat mengetahui bahwa A Sam tidak terluka oleh pukulan beracun.<BR>Lucunya, A Sam adalah seorang yang sehat dan tidak pernah batuk, biarpun<BR>memang suka keluar malam akan tetapi lucu kiranya kalau seorang<BR>gemblengan seperti A Sam itu mudah saja masuk angin!<BR>A Sam juga tertawa terpingkal-pingkal, akan tetapi tiba-tiba semua orang<BR>yang tadi tertawa geli itu menghentikan suara ketawa mereka. Kini hanya<BR>terdengar sebuah suara saja, suara orang berbatuk-batuk amat hebatnya. Dan<BR>tidak aneh kalau semua orang kini memandang terheran-heran karena yang<BR>batuk secara hebat itu bukan lain adalah A Sam! Tadinya A Sam sendiri<BR>mengira bahwa batuknya ini adalah secara kebetulan saja, akan tetapi dia<BR>mulai menjadi khawatir dan gugup setelah batuknya itu tidak juga mau<BR>berhenti, malah makin hebat sampai dia tak dapat menahannya lagi. Di dalam<BR>leher dan dadanya serasa dikitik-kitik, mendatangkan rasa gatal-gatal dan geli.<BR>Tak tertahankan lagi A Sam terbatuk-batuk sambil memegangi perut dan<BR>dada, membungkuk-bungkuk dan akhirnya dia sampai jatuh bergulingan.<BR>Bukan main hebat penderitaannya.<BR>Tadinya orang-orang mengira bahwa A Sam yang suka berkelakar itu sengaja<BR>mempermainkan si tabib buta, akan tetapi karena tidak juga A Sam berhenti<BR>batuk, mereka mulai khawatir, mendekat dan dengan mata terbelalak melihat<BR>A Sam sampai mendelik-delik matanya karena terbatuk-batuk terus.<BR>"Aduh ....... uh uh uh ....... aduh ....... tolonglah .......uh-uh-uh, Siauw-sinshe<BR>..... uk-uh-uh ......." Sukar sekali A Sam mengeluarkan kata-kata ini karena<BR>batuk membuat napasnya sesak dan suaranya hampir hilang.<BR>"Hemmm, sudah kukatakan tadi, kau tidak boleh tertawa. Siapa kira kau<BR>masih tertawa terbahak-bahak sehingga ledakan batukmu tak tertahankan<BR>lagi. Kalau didiamkan saja, kau akan terus terbatuk-batuk sampai jantungmu<BR>pecah dan aku akan mendiamkan saja, A Sam kecuali kalau kau suka berterus<BR>terang mengapa kau tadi pura-pura terluka parah."<BR>"Ampun ....... uh-uh, ampun Sinshe....... uh-uh-uh, saya disuruh mencoba,<BR>uh-uh, main-main ....... ampun ......."<BR>Lauw Teng melangkah maju. "Siauw-sinshe, harap kau suka mengobatinya.<BR>Terus terang saja, tadi kami meragukan kepandaianmu maka sengaja hendak<BR>mengujimu. Maafkanlah."<BR>Kun Hong memang bukan seorang pendendam. Tentu saja dia memaafkan<BR>mereka yang tadi hendak, main-main kepadanya. Malah perbuatannya<BR>terhadap A Sam ini pun hanya untuk main-main belaka. Dia segera maju<BR>mendekat, beberapa kali dia membetot urat-urat di leher dan di bawah<BR>pangkal lengan. Sebentar saja berhentilah A Sam berbatuk-batuk, peluhnya<BR>keluar semua dan dia segera terduduk saking lelahhya.<BR>"Siauw-sinshe, sekarang kuharap kau suka mengobati semua orangku, juga<BR>mengobati lukaku sendir. Ketahuilah bahwa aku adalah Hui-houw-pangcu<BR>(ketua Hui-houw-pang) Lauw Teng. Tentu kau sudah mendengar tentang Huihouw-<BR>pang, bukan? Ketua ini mengira bahwa tentu sinshe buta yang masih<BR>muda ini akan terkejut sekali mengetahui bahwa dia berada di dalam markas<BR>Hui-houw-pang yang, sudah amat terkenal di seluruh Propinsi Santung. Akan<BR>tetapi dia terheran dan juga kecewa ketika orang muda buta itu menggeleng<BR>kepalanya dan berkata tak acuh.<BR>"Aku baru saja datang di pegunungan ini, Lauw-pangcu, maka tidak mengenal<BR>perkumpulanmu. Akan kucoba mengobati kalian. Suruh orang-orangmu yang<BR>menderita luka sama dengan Hek-twa-to, yang ada bintik merahnya pada<BR>tubuh mereka, maju dan berjajal di depanku." Ada delapan orang yang<BR>menderita Hek-twa-to Lima belas orang lain menderita luka senjata yang<BR>parah dan luka-luka itu membengkak dan keracunan. Ketika mengetahui<BR>bahwa belasan orang ini terluka oleh macam-macam senjata, Kun Hong dapat<BR>menduga tentu telah terjadi pertempuran hebat antara orang-orang Hui-houwpang<BR>ini melawan rombongan lain yang agaknya dikepalai oleh seorang she<BR>Bhe yang telah melukai delapan orang itu dan tentu seorang yang<BR>berkepandaian tinggi juga. Cepat dia menuliskan resep obat untuk orangorang<BR>yang terluka. Tulisannya cepat dan tidak memperdulikan seruan-seruan<BR>heran dari semua orang yang melihat betapa seorang buta dapat menulis<BR>secepat dan seindah itu. Untuk luka-luka yang dapat dia obati dengan obatobatan<BR>yang tersedia dalam buntalannya, segera dia obati.<BR>Akan tetapi ketika Kun Hong memeriksa tubuh Lauw Teng, diam-diam dia<BR>terkejut sekali. Dengan rabaan tangannya dia mendapat kenyataan bahwa<BR>ketua ini memiliki tubuh yang kuat dan Iweekang yang tinggi. Namun ternyata<BR>dia terkena pukulan beracun yang amat keji. Pukulan yang mengenai pundak<BR>itu busuk menghitam sedangkan tulang pundaknya remuk-remuk. Hebat sekali<BR>penderitaan ketua ini, namun dia tadi masih dapat menahannya, membuktikan<BR>bahwa Lauw Teng adalah seorang yang amat kuat. Diam-diam Kun Hong<BR>mengeluh. Agaknya dugaannya bahwa yang merobohkan orang-orang ini tentu<BR>seorang pendekar kiranya tidak betul. Seorang pendekar gagah tidak mungkin<BR>memiliki ilmu pukulan yang begini keji, atau andaikata memiliki juga, tidak<BR>akan sudi mempergunakan. Kalau begini, agaknya fihak yang menjadi lawan<BR>Hui-houw-pang ini pun bukan golongan baik-baik!<BR>Kun Hong menarik napas panjang, menyesalkan dirinya yang tanpa disengaja<BR>telah memasuki dunia golongan hitam. Akan tetapi dia berusaha juga<BR>menolong Lauw Teng, menggunakan sebatang jarum perak untuk mengoperasi<BR>luka itu, mengurut beberapa jalan darah dan menempelkan obat luka<BR>buatannya sendiri yang amat manjur. Kemudian dia menulis sebuah resep<BR>obat untuk ketua Hui-houw-pang ini.<BR>Begitu dia selesai mengobati Lauw Teng dan ketua ini mengucapkan terima<BR>kasihnya, tiba-tiba terdengar suara keras dan tahu-tahu ada hawa menyambar<BR>ke arah Kun Hong. Pemuda buta ini maklum bahwa ada orang menyerangnya,<BR>maka dia cepat menjatuhkan jarumnya ke bawah dan membungkuk untuk<BR>memungut jarum itu. Hal ini dia lakukan untuk mengelak dengan gerakan<BR>seperti tidak disengaja. Akan tetapi kiranya serangan itu bukan untuk<BR>memukulnya, melainkan untuk menangkap pergelangan tangannya. Kun Hong<BR>tersenyum dan membiarkan pergelangan tangan kanannya dicengkeram<BR>orang. Dia pura-pura kaget dan berseru,<BR>"Eh, siapa memegang lenganku? Kau mau apa?"<BR>"Orang muda, katakan, apa hubunganmu dengan Toat-beng Yok-mo? Penanya<BR>ini adalah kakek bersuara halus melengking tadi.<BR>"Orang tua, beginikah caranya orang bertanya? Apakah harus mencengkeram<BR>lengan orang yang ditanya? Pakaianmu seperti pendeta, kenapa sikapmu kasar<BR>seperti penjahat?"<BR>Tosu itu cepat melepaskan cengkeraman tangannya, mukanya yang bopeng<BR>menjadi merah sekali dan dia melangkah mundur tiga langkah. Heran sekali<BR>dia bagaimana orang buta ini dapat mengenal pakaiannya? Tentu saja dia<BR>tidak tahu bahwa pendengaran Kun Hong yang luar biasa dapat<BR>menggambarkan bentuk pakaian!<BR>"Siauw-sinshe, tamuku yang terhormat ini adalah Ban Kwan Tojin yang<BR>berdiam di Kuil Pek-kiok-si (Kuil Seruni Putih). Beliau seorang tokoh pantai<BR>timur yang terkenal, harap kau suka menjawab pertanyaannya."<BR>Kun Hong menjura ke arah Ban Kwan Tojin. "Maaf, kiranya seorang tosu. Ban<BR>Kwan Tojin tadi bertanya tentang Toat-beng Yok-mo? Dia terhitung guruku<BR>karena aku mendapatkan ilmu pengobatan ini dari kitab-kitabnya."<BR>Tidak hanya Ban Kwan Tojin yang berseru kaget, bahkan Lauw Teng dan anak<BR>buahnya menjadi kaget sekali, juga girang. Siapa tidak mengenal nama<BR>mendiang Toat-beng Yok-mo yang bukan saja terkenal sebagai setan obat,<BR>akan tetapi juga sebagai seorang sakti yang luar biasa? Di samping kekagetan,<BR>keheranan dan kegirangan ini, kembali timbul keraguan dan tidak percaya.<BR>Apalagi Ban Kwan Tojin yang tahu betul bahwa belum pernah Toat-beng Yokmo<BR>mempunyai seorang murid buta.<BR>"Siauw-sinshe, bolehkah pinto mengetahui namamu yang terhormat?" dia<BR>bertanya, suaranya menghormat karena betapapun juga, pemuda buta ini<BR>sudah membuktikan kepandaiannya tentang ilmu pengobatan.<BR>"Namaku Kwa Kun Hong, Totiang."<BR>"Hemm, serasa belum pernah mendengar nama ini ..........."<BR>"Tentu saja belum, apa sih artinya nama seorang tabib buta?" Kun Hong<BR>tersenyum polos.<BR>"Kwa-sinshe, kalau kau betul murid Toat-beng Yok-mo, tahukah kau di mana<BR>sekarang gurumu itu berada?" Pertanyaan dari tosu ini terdengar oleh Kun<BR>Hong sebagai pancingan, kata-kata penuh nafsu menyelidiki.<BR>"Dia sudah meninggal dunia, tiga tahun yang lalu," jawabnya bersahaja.<BR>"Ah, jadi kau tahu bahwa tiga tahun yang lalu dia tewas dalam pertempuran di<BR>puncak Thai-san, ketikaThai-san-pai didirikan? Dan kau diam saja tidak<BR>berusaha membalas dendam? Tahukah kau siapa yang membunuhnya,<BR>Sinshe?" Pertanyaan yang bertubi-tubi dari tosu itu hanya diterima dengan<BR>senyum saja. Sudah tentu saja dia tahu bagaimana tewasnya Toat-beng Yokmo<BR>karena kakek iblis itu tewas ketika bertanding melawan dia sendiri. Kakek<BR>berhati iblis yang amat jahat itu tewas karena bertindak curang kepadanya<BR>dalam pertempuran itu dan boleh dibilang tewasnya adalah karena<BR>perbuatannya sendiri.<BR>"Tentu saja aku tahu siapa yang membunuhya. Yang membunuhnya adalah dia<BR>sendiri, ya ....... dia membunuh diri sendiri."<BR>Hati Kun Hong mulai tidak enak. Jangan-jangan tosu ini tiga tahun yang lalu<BR>hadir pula di Thai-san dan melihat betapa Toat-beng Yok-mo tewas ketika<BR>berhadapan dengan dia sebelum dia buta dan sekarang tosu ini sengaja<BR>memancing-mancing.<BR>"Totiang, kalau tiga tahun yang lalu kau sendiri hadir di sana, mengapa mesti<BR>bertanya-tanya?" jawabnya pendek.<BR>Tosu itu tertawa. "Ha-ha-ha, kalau pinto hadir tidak nanti bertanya lagi.<BR>Sayangnya pinto tidak hadir ketika itu, hanya mendengar berita dari kawankawan<BR>bahwa gurumu itu telah tewas dalam pertempuran. Kau yang menjadi<BR>muridnya tentu tahu lebih jelas bukan?"<BR>"Sudah kujelaskan bahwa dia mati karena perbuatannya sendiri."<BR>"Jadi kau tidak ada niat untuk mencari musuh-musuh gurumu itu dan<BR>membalas dendam? Hemm, murid yang baik kau itu, Kwa-sinshe." Ban Kwan<BR>Tojin mengejek.<BR>"Toat-beng Yok-mo terkenal jahat. Biarpun dia guruku, hanya guru dalam ilmu<BR>pengobatan saja. Dia boleh bermusuhan dengan orang lain, akan tetapi aku<BR>tidak berniat bermusuhan. Kepandaianku menyembuhkan orang sakit supaya<BR>sehat, bukan menjadikan orang sehat supaya sakit. Sudahlah, Lauw-pangcu,<BR>setelah selesai tugasku di sini, aku mohon diri hendak melanjutkan<BR>perjalananku." Dia menjura ke depan ke kanan kiri, lalu membereskan<BR>buntalan obatnya dan bersiap-siap untuk pergi. Ketika mengerjakan semua ini,<BR>juga ketika tadi melakukan pengobatan, Kun Hong tidak lupa menyelipkan<BR>tongkatnya di punggung. Bagi seorang buta seperti dia, tongkat merupakan<BR>pengganti mata dalam melakukan perjalanan, apalagi kalau tongkat itu seperti<BR>tongkatnya, tongkat yang berisi pedang pusaka Ang-hong-kiam, tongkat yang<BR>sengaja dibuat oleh kakek sakti Song-bun-kwi (Setan Berkabung) untuknya<BR>(baca cerita Rajawali Emas).<BR>Pada saat itu terdengar suara seorang wanita, "Ayah ...........!"<BR>Lauw Teng menengok dan keningnya berkerut ketika dia melihat anaknya,<BR>seorang gadis berusia dua puluh tahun, gadis yang berdandan secara mewah,<BR>muncul dari pintu samping. Gadis ini perawakanya tinggi besar, cukup manis<BR>dan gerak-geriknya kasar dan genit, pakaiannya serba indah dan di<BR>punggungnya tergantung sebatang pedang yang gagangnya terhias ronceronce<BR>merah, berkibar di dekat rambutnya yang disanggul tinggi dan dihias<BR>kupu-kupu emas bertabur mutiara.<BR>"Swat-ji, ada keperluan apa kau datang ke sini?" tegur Lauw Teng marah.<BR>Seharusnya anaknya itu berdiam bersama ibunya dan keluarga Hiu-houw-pang<BR>di perkampungan, biarpun dia menjadi kepala para perampok namun dia tidak<BR>senang melihat anak perempuannya bergaul dengan para perampok yang<BR>kasar dan biasa mengeluarkan ucapan-ucapan kotor dan tak sopan. Memang<BR>beginilah watak orang seperti Lauw Teng, biarpun dia sendiri sudah biasa tidak<BR>menghormati kaum wanita, namun dia tidak suka melihat wanita-wanita<BR>keluarganya tidak dihormati orang!<BR>Dengan lagak genit, tersenyum-senyum, dan melirik-lirik gadis itu menjawab,<BR>"Ayah, kau dan semua orang sibuk berobat, kabarnya ada tabib pandai di sini,<BR>mengapa tidak menyuruh tabib itu datang ke kampung? Ibu menderita batuk,<BR>bibi masuk angin dan aku sendiri sering merasa dingin kalau malam. Suruh dia<BR>ke kampung Ayah." Mendengar ucapan terakhir ini di sana-sini sudah<BR>terdengar suara orang terkekeh-kekeh, akan tetapi segera berhenti ketika<BR>Lauw Teng dengan mata tajam menengok ke arah suara orang-orang tertawa<BR>itu.<BR>"Huh, dasar perempuan, baru sakit batuk dan masuk angin saja sudah ributribut.<BR>Pulanglah, biar nanti kumintakan obat kepada siauw-sinshe."<BR>Akan tetapi ketika dia menengok, dia melihat anaknya itu berdiri di dekat, Kun<BR>Hong, memandang bengong kepada pemuda buta yang sedang membereskan<BR>buntalanaya.<BR>"Swat-ji, lekas pulang!" tegur ayahnya.<BR>Swat-ji, gadis itu, seperti baru sadar, menengok kepada ayahnya dan berkata.<BR>"Ayah, dia inikah tabibnya? Masih muda benar dan....... dan agaknya dia.......<BR>dia buta, Ayah."<BR>Mendengar gadis itu bicara dekat di depannya Kun Hong merasa tidak enak<BR>sekali. Akan tetapi dia segera bangkit berdiri, menjura dan berkata sambil<BR>tersenyum ramah. "Bukan agaknya lagi, Nona, memang aku seorang buta."<BR>Sejenak Swat-ji berdiri bengong memandang wajah Kun Hong. Belum pernah<BR>ia melihat seorang pemuda setampan ini, apalagi ketika tersenyum, benarbenar<BR>membuat Swat-ji seperti kena pesona. Mata yang buta itu bahkan<BR>menambah rasa kasihan yang mendalam.<BR>"Swat-ji, pulang kataku!" Lauw Teng membentak marah.<BR>"Ayah, kulihat kau dan para paman sudah sembuh. Tentu sinshe buta ini yang<BR>menolong kalian. Setelah ditolong, kenapa tidak berterima kasih? Sepatutnya<BR>kita membawanya ke kampung, menjamunya dengan pesta tanda terima<BR>kasih. Ayah, kalau sekarang kau membiarkan penolong pergi begiuu saja,<BR>bukankah Hui-houw-pang akan ditertawai orang dan dianggap tak kenal budi?"<BR>"Ha-ha-ha, tepat sekali ucapan Nona! Lauw-sicu, benar-benar pinto tidak<BR>pernah mengira bahwa kau mempunyai seorang anak perempuan yang begini<BR>cantik lahir batinnya. Benar-benar pinto kagum dan terpaksa pinto berfihak<BR>kepada puterimu, Lauw-sicu."<BR>Mendapat bantuan omongan tosu itu, Swat-ji tersenyum dan melirik. Kun<BR>Hong diam-diam merasa muak mendengar ucapan si tosu, apalagi dia dapat<BR>menangkap getaran dalam suara itu dan dapat menduga bahwa tosu ini<BR>biarpun tua tentulah seorang mata keranjang. Nona bernama Swat-ji itu tentu<BR>seorang gadis yang cantik dan dia dapat tahu pula bahwa gadis itu berwatak<BR>genit.<BR>Cepat-cepat Kun Hong menjura. "Tidak usah....... tidak usah, aku tidak dapat<BR>tinggal lama, Nona. Malah tadi aku sudah berpamit kepada ayahmu, aku harus<BR>segera pergi melanjutkan perjalananku."<BR>"Ah, mana bisa begitu? Sinshe, kau harus menerima pernyataan terima kasih<BR>kami, terutama dari aku sendiri yang amat berterima kasih karena kau telah<BR>menyembuhkan ayah. Mari, mari kuantar kau, Sinshe. Biar kutuntun<BR>tongkatmu."<BR>Pada saat Kun Hong berdiri bingung menghadapi desakan gadis yang "nekat"<BR>ini, tiba-tiba semua orang terkejut melihat datangnya seorang di antara<BR>mereka yang berlari-lari dalam keadaan luka parah.<BR>"Musuh........... musuh........... telah menyerbu ...........!" katanya dan dia<BR>roboh terguling. Keadaan menjadi panik di situ, semua orang berlari-lari untuk<BR>melakukan persiapan menyambut serbuan musuh.<BR>Lauw Teng tidak perdulikan anaknya lagi, dia sibuk memberi perintah dan<BR>mengatur anak buahnya dan enam puluh orang lebih banyaknya itu untuk<BR>melakukan penjagaan di sana-sini. Hanya tosu itu yang kelihatan tenangtenang<BR>saja.<BR>"Lauw-sicu, jangan gugup. Biarlah kita menanti kedatangan mereka di sini,<BR>hendak pinto lihat apakah orang she Bhe itu mempunyai tiga kepala dan enam<BR>lengan?"<BR>Sementara itu, tiba-tiba Kun Hong merasa betapa telapak tangan yang halus<BR>telah memegang tangannya dan terdengar bisikan gadis itu, "Sinshe, mari kita<BR>bersembunyi ke sudut sana sambil menonton. Biar kuceritakan kepadamu<BR>nanti jalannya pertandingan, sebentar lagi akan terjadi pertempuran hebat."<BR>Sedianya Kun Hong akan menolak dan pergi. Akan tetapi karena dia amat<BR>tertarik ingin mengetahui apakah sebenarnya yang telah terjadi dan siapakah<BR>pula musuh Hui-houw-pang ini, pula dia ingin seberapa bisa mencegah<BR>terjadinya pertempuran dan bunuh-membunuh, maka dia diam saja dan<BR>menurut ketika gadis itu menuntunnya pergi dari situ. Malah dia<BR>mengharapkan untuk mendapatkan keterangan dari gadis ini tentang sebabsebab<BR>permusuhan.<BR>Karena semua orang sedang sibuk mengatur penjagaan, Swat-ji mengajak Kun<BR>Hong duduk di atas bangku panjang yang tersembunyi di sudut ruangan muka.<BR>Gadis itu tetap menggandeng tangan Kun Hong dan baru setelah mereka<BR>duduk di atas bangku, Kun Hong menarik tangannya dan bertanya,<BR>"Nona, ada apakah ribut-ribut ini? Siapa yang menyerbu dan mengapa terjadi<BR>permusuhan?"<BR>Gadis itu tertawa merdu dan genit. "Ah, biasa saja berebutan mangsa! Akan<BR>tetapi kali ini yang diperebutkan adalah barang yang amat berharga sehingga<BR>ayah membelanya mati-matian. Mereka yang datang menyerbu adalah orangorang<BR>Kiang-liong-pang (Perkumpulan Naga Sungai)."<BR>"Kiang-liong-pang? Perkumpulan apakah itu dan perkumpulan ayahmu yang<BR>bernama Hui-houw-pang ini pun perkumpulan apakah sebetulnya?"<BR>"Iihh, kiranya kau tidak tahu apa-apa! Hui-houw-pang amat terkenal di<BR>Propinsi Santung, setidaknya tidak kalah terkenal dengan Kiang-liong-pang.<BR>Semua perampok di wilayah ini tunduk kepada Hui-houw-pang, dan ayah<BR>merupakan penarik pajak jalan yang paling adil di dunia ini."<BR>"Apa itu pekerjaan penarik pajak jalan? Kau maksudkan perampok?"<BR>"Sebaliknya dari perampok! Anggauta-anggauta kami menjaga jalan-jalan<BR>sunyi di gunung dan hutan, dan sama sekali tidak merampok rombongan<BR>pedagang atau pelancong yang lewat, karena itu mereka harus memberi pajak<BR>jalan kepada kami. Bukankah itu adil? Kalau mereka memberi pajak jalan,<BR>mereka takkan diganggu."<BR>Kun Hong mengangguk-angguk, dalam hati dia mencela. Apa bedanya<BR>pemerasan dengan perampokan?<BR>"Adapun Kiang-liong-pang adalah perkumpulan para bajak air atau bajak<BR>sungai yang menguasai semua bajak di Yang-ce dan Huang-ho sampai ke<BR>muara. Memang seringkali terjadi perebutan kekuasaan antara darat dan<BR>sungai ini dan memang orang-orang Kiang-liong-pang amat kurang ajar.<BR>Belum lama ini kami terpaksa menyita rombongan bekas pembesar yang<BR>mengundurkan diri karena pembesar sombong itu tidak mau membayar pajak<BR>jalan. Pertempuran terjadi dan kami berhasil melukai pembesar itu dan<BR>membunuh orang-orangnya. Akan tetapi, tiba-tiba muncul orang-orang Kiangliong-<BR>pang yang segera, turun tangan pula, menyatakan bahwa pembesar itu<BR>sedang menawar perahu dan karenanya menjadi mangsa mereka. Terjadi<BR>perang lebih hebat lagi memperebutkan harta pusaka yang ternyata amat<BR>banyak. Banyak orang kami luka-luka termasuk ayah yang kau obati tadi.<BR>Akan tetapi barang-barang pusaka yang paling berharga dapat kami bawa<BR>pulang, di antaranya sebuah mahkota emas penuh permata yang tak ternilai<BR>harganya, mahkota yang dibawa oleh bekas pembesar itu dari istana.<BR>Kabarnya itu adalah bekas mahkota yang dipakai oleh permaisuri kaisar di<BR>jaman Kerajaan Tang dahulu."<BR>Muak rasa hati Kun Hong mendengar penuturan ini. Tidak salah dugaannya<BR>yang mengecewakan hatinya tadi bahwa baik perkumpulan Hui-houw-pang<BR>maupun lawannya, yaitu Kiang-liong-pang, adalah perkumpulan golongan<BR>hitam. Kiranya mereka adalah perampok-perampok yang sekarang sedang<BR>bertengkar dengan para bajak!<BR>"Sebenarnya, biarpun saling bersaingan, kalau hanya untuk urusan harta<BR>benda biasa saja tak mungkin kedua fihak sampai bertempur." gadis itu<BR>melanjutkan penuturannya. "Akan tetapi untuk mahkota ini kami tidak mau<BR>mengalah begitu saja."<BR>"Apakah karena terlalu berharga?" Kun Hong tertarik.<BR>"Bukan, tapi karena mahkota itu dapat menjadi jalan agar kami dapat<BR>mendekati kaisar baru, mengambil hatinya dan memperoleh kedudukan tinggi<BR>dalam kerajaan. Kabarnya kaisar muda yang baru ini amat mudah diambil<BR>hatinya."<BR>"Kaisar baru? Kaisar muda? Apa maksudmu?!" Kun Hong menahan gelora<BR>hatinya mendengar kata-kata ini.<BR>"Iihhh, kau benar-benar buta!" Gadis itu tertawa.<BR>"Memang aku buta, siapa pernah membantah?" Kun Hong terpaksa melayani<BR>kelakar ini agar si gadis suka melanjutkan ceritanya yang mulai menarik<BR>hatinya.<BR>Dengan lagak genit Swat-ji mencubit lengan Kun Hong. "Kau memang buta,<BR>tapi kau tampan dan pandai ....... eh, aku suka padamu, kau lucu ......."<BR>Tentu saja Kun Hong tidak mau melayani kegenitan gadis itu, tapi dia pun<BR>tidak mencelanya, hanya berkata halus. "Nona, aku ingin sekali mendengar<BR>penjelasanmu tentang kaisar baru tadi."<BR>"Kau benar-benar belum mendengarnya? Kaisar tua sudah meninggal tiga<BR>bulan yang lalu, dan sekarang di kota raja terjadi keributan dalam menentukan<BR>siapa yang akan menggantinya. Akan tetapi sudah tentu calon kaisar adalah<BR>Pangeran Kian Bun Ti, cucu kaisar yang tercinta, sebagai anak dari pangeran<BR>sulung yang telah tiada. Nah, kau tahu sekarang dan tentang mahkota itu,<BR>sebetulnya telah dilarikan oleh bekas pembesar dari kota raja yang agaknya<BR>mempergunakan saat kota raja ribut-ribut, lalu lari membawa mahkota kuno<BR>yang tak ternilai harganya itu. Sekarang mahkota itu berada di tangan kami,<BR>dan tentu akan membawa ayah ke depan kaisar untuk menerima anugerah<BR>dan kedudukan."<BR>Diam-diam Kun Hong kaget juga. Selama tiga tahun ini dia merantau tidak<BR>pernah memperhatikan persoalan dunia.<BR>Kiranya Kaisar Thai-cu, yaitu pendiri Kerajaan Beng, seorang pahlawan yang<BR>sejak dahulu sering dipuji-puji ayahnya, kini telah meninggal dunia dan<BR>singgasana kerajaan agaknya dijadikan bahan perebutan oleh para pangeran.<BR>Mengingat bahwa Pangeran Kian Bun Ti dicalonkan menjadi kaisar diam-diam<BR>Kun Hong menarik napas panjang. Dia sudah pernah bertemu dengan<BR>pangeran ini (baca cerita Rajawali Emas), dan dia sudah mengenal watak yang<BR>kurang baik dari pangeran itu yang dahulu tidak segan-segan untuk mencoba<BR>memaksa dua orang keponakannya, yaitu Thio Hui Cu dan Kui Li Eng, untuk<BR>menjadi selir-selirnya!<BR>Tiba-tiba dia sadar dari lamunannya ketika kembali lengannya dicubit dan<BR>suara gadis itu terkekeh,<BR>"Hi-hik, kenapa kau termenung setelah mendengar tentang kaisar? Apakah<BR>kau ingin menjadi kaisar? Hi-hi-hi, alangkah lucu dan bagusnya, kaisar buta!<BR>Sinshe yang baik, kau tidak usah melamun menjadi kaisar, biarlah kau<BR>menjadi tabib kami saja di sini, malam nanti kau boleh memijati tubuhku yang<BR>lelah. Kau pandai memijatkan?" Gadis itu menggeser duduknya, merapatkan<BR>tubuhnya yang hangat itu kepada Kun Hong.<BR>Jilid 2 : bagian 1<BR>Kun Hong tidak memperdulikan hal ini karena pikirannya sedang bekerja<BR>keras. Telinganya sudah dapat menangkap derap kaki orang banyak menuju<BR>ke tempat itu. Berdebar dia kalau teringat betapa sebentar lagi akan terjadi<BR>pertempuran, bunuh-membunuh di depan matanya yang buta.<BR>"Nona, sebentar lagi musuh-musuhmu menyerbu, melihat betapa ayahmu dan<BR>anak buahnya terluka, tentu musuh itu amat kuat. Apakah kau tidak takut?"<BR>"Ihh, mengapa takut? Dengan pedangku aku mampu menjaga diri. Malah aku<BR>ingin mencobai kelihaian jahanam tua she Bhe itu dengan pedangku!"<BR>"Tapi ....... tapi mereka datang untuk mahkota itu. Bagaimana kalau mereka<BR>menyerbu ke rumah ayahmu dan merampas mahkota? Kupikir, mahkota itu<BR>harus disembunyikan dulu ......."<BR>"Ah, kau pintar juga!" Tangan yang halus itu mengusap dagu Kun Hong,<BR>membuat pemuda buta ini merasa dingin di belakang punggungnya. "Tapi<BR>ayah dan aku lebih pintar. Mahkota itu tak pernah terpisah dari tubuhku."<BR>kata-kata ini dibisikkan di dekat telinga Kun Hong sehingga pemuda buta ini<BR>dapat merasa betapa napas Swat-ji panas-panas meniup pipinya.<BR>Cepat laksana kilat Kun Hong menggerakkan tangannya dan tahulah dia pada<BR>detik lain bahwa mahkota yang dimaksudkan itu berada dalam buntalan yang<BR>digendong oleh gadis ini.<BR>Pada saat itu terdengar bentakan-bentakan nyaring dan Kun Hong mendengar<BR>suara kaki beberapa orang yang menggunakan ilmu meringankan tubuh<BR>memasuki ruangan depan tempat Swat-ji berbisik, "Mereka sudah datang, Bhe<BR>Ham Ko sendiri yang memimpin ......."<BR>Gadis inipun tidak berani main-main lagi sekarang, ia mengalihkan<BR>perhatiannya dari tabib buta yang menarik hatinya itu kepada para musuh<BR>yang telah berada di situ. Yang kelihatan berada di luar halaman saja<BR>sedikitnya ada dua puluh orang Kiang-liong-pang.<BR>Adapun yang sudah meloncat memasuki pekarangan adalah seorang tua tinggi<BR>kurus yang memegang sebatang dayung kuningan. Swat-ji menduga bahwa<BR>tentu inilah orangnya yang bernama Bhe Ham Ko, ketua dari Kiang-liong-pang<BR>yang telah melukai ayahnya. Di samping kakek ini berdiri lima orang laki-laki<BR>tinggi besar yang menilik pakaiannya tentulah tokoh-tokoh dalam<BR>perkumpulan bajak itu. Di belakang mereka, berdiri acuh tak acuh, tampak<BR>seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam, berusia empat puluh tahun lebih.<BR>Berbeda dengan Bhe Ham Ko dan lima orang pembantunya yang berdiri<BR>dengan senjata di tangan, laki-laki ini membiarkan ruyung bajanya tergantung<BR>di pinggang dan tidak memperlihatkan muka yang serius, malah menengok ke<BR>sana ke mari seperti seorang pelancong melihat-lihat pemandangan indah.<BR>"Hui-houw-pangcu Lauw Teng, kami dewan pengurus Kiang-liong-pang sudah<BR>datang mengunjungimu. Keluarlah agar kita dapat merundingkan perkara<BR>sampai beres!" kakek she Bhe itu mengeluarkan suaranya. "Kamipun<BR>membawa obat dan ahli untuk menyembuhkan luka-luka para sahabat dari<BR>Hui-houw-pang!"<BR>Jelas terdengar dalam suara ini bahwa ketua Kiang-liong-pang ini mengandung<BR>ancaman dan bujukan. Membujuk untuk berbaik di samping mengingatkan<BR>bahwa pertempuran hanya akan mendatangkan kerusakan dan kerugian pada<BR>fihak Hui-houw-pang!<BR>"Kiang-liong-pangcu Bhe Ham Ko, luka-luka yang kecil tiada artinya itu tidak<BR>perlu dibicarakan. Kami sudah siap menanti kedatanganmu!" Muncullah Lauw<BR>Teng diiringi tujuh orang pembantunya dengan langkah gagah dan senjata siap<BR>ditangan kanan!<BR>Berubah wajah Bhe Ham Ko melihat bekas lawannya itu kelihatan sehat benar,<BR>malah para pembantunya yang tadinya terkena pukulannya yang mengandung<BR>hawa beracun kini sudah muncul dalam keadaan sehat! Akan tetapi<BR>keheranannya lenyap ketika dia melirik dan melihat seorang tosu berjalan<BR>keluar dari samping. Dia tertawa bergelak sambil mengelus jenggotnya yang<BR>tipis.<BR>"Ha-ha-ha, kiranya Lauw-pangcu mendapat bantuan orang pandai. Pantas saja<BR>tidak membutuhkan obat-obatan dari kami lagi. Ataukah engkau hendak<BR>mempelajari kitab To-tik-keng bersama anak buahmu, memang pantas kalau<BR>gedung ini diubah menjadi kuil." Inilah ucapan menghina dan menyindir<BR>karena fihak Hui-houw-pang terdapat seorang tosu tua.<BR>Merah wajah Lauw Teng, juga dia menjadi heran sekali. Biasanya, seperti yang<BR>dia ketahui, ketua Kiang-liong-pang ini adalah seorang yang amat hati-hati<BR>dan bukan seorang kasar yang sembrono. Kenapa hari ini menjadi begini<BR>sombong, berani sekali menghinanya dan malah berani mengejek Ban Kwan<BR>Tojin? Tentu ada sebabnya, pikirnya dan ketika dia melihat sikap acuh tak<BR>acuh dari orang tinggi besar muka hitam di belakang rombongan ketua Kiangliong-<BR>pang itu, dapatlah dia menduga bahwa tentu orang itu yang dijadikan<BR>andalan.<BR>"Bhe-pangcu, tak perlu banyak bicara lagi kiranya. Kita sudah lama tahu apa<BR>maksudmu datang mengunjungiku pada saat ini, lengkap dengan anak buah<BR>dan senjata. Nah, keluarkan isi hatimu. Bagi kami, tetap kami tidak akan suka<BR>mengalah, oleh karena kami merasa bahwa pembesar she Tan itu adalah<BR>mangsa kami di daratan. Barang-barang bekalnya yang terampas oleh kami<BR>menjadi hak kami dan tak seekor setanpun boleh mengambilnya begitu saja<BR>dari tangan kami!"<BR>Bhe Ham Ko tertawa menyeringai dan menggerak-gerakkan dayungnya. "Aku<BR>tahu akan kekerasan hati Lauw-pangcu, tahu pula bahwa benda pusaka itu kau<BR>kukuhi bukan karena harganya, melainkan karena pentingnya guna membuka<BR>pintu kota raja. Bukankah begitu?"<BR>Kembali wajah Lauw Teng menjadi merah. "Apapun yang akan kulakukan<BR>dengan benda hakku itu, bukan menjadi urusanmu, Bhe-pangcu. Dan kiranya<BR>....... setiap orang berhak untuk mencari kemajuan dalam hidupnya ......." Dia<BR>merasa segan dan sungkan untuk bicara terus terang dengan hasratnya<BR>mencari kedudukan di kota raja.<BR>"Jadi kau berkukuh hendak memiliki mahkota pusaka kerajaan itu?" Bhe Ham<BR>Ko membentak.<BR>"Memang! Dan kami akan mempertahankannya dengan senjata kami!" jawab<BR>Lauw Teng berani. Ketua Hui-houw-pang ini tentu saja menjadi besar hatinya<BR>karena dia mengandalkan bantuan Ban Kwan Tojin dan tiga orang gagah lain<BR>yang menjadi tamu undangannya, yang sekarangpun telah memasuki<BR>pekarangan dan berdiri dengan sikap gagah di dekat Ban Kwan Tojin.<BR>Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring. "Tua bangka she Bhe jangan menjual<BR>lagak di sini!" Bayangan merah berkelebat dan ternyata Swat-ji sudah<BR>melompat ke depan rombongan lawan dengan pedang di tangan, sikapnya<BR>gagah.<BR>"Swat-ji.......!" Lauw Teng menegur kaget, bukan melihat puterinya hendak<BR>menentang lawan, melainkan kaget karena tidak melihat buntalan di pungung<BR>Swat-ji, buntalan mahkota yang sengaja dia suruh bawa anak gadisnya yang<BR>dia tahu memiliki ilmu pedang yang cukup tinggi. Dalam hal ilmu silat, puteri<BR>ini tidak kalah lihai daripadanya sendiri.<BR>"Ayah, biarkan aku mengusir anjjng tua ini agar jangan banyak menjual lagak<BR>di sini." Gadis yang galak ini segera menggerakkan pedangnya menyerang Bhe<BR>Ham Ko.<BR>Ketua Kiang-liong-pang tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, bapaknya harimau liar<BR>anaknyapun sama juga. Biarlah aku orang tua menjinakkan macan betina liar<BR>ini!" Dengan tenang orang she Bhe ini menggerakkan dayungnya menangkis,<BR>akan tetapi diam-diam dia mengerahkan tenaga Iweekangnya untuk membuat<BR>pedang gadis itu terlempar dengan sekali tangkis.<BR>Swat-ji tidak bodoh. Tentu saja ia sudah mendengar tentang tenaga Iweekang<BR>yang tangguh dari kakek ini, maka dengan gerakan pergelangan<BR>tangannya ia menyelewengkan pedangnya menghindarkan benturan senjata<BR>lawan lalu dengan cepat dari samping pedangnya mengirim tusukan miring ke<BR>arah lambung.<BR>"Aiiih, tidak jelek .......!" Bhe Ham Ko berseru dan cepat melompat mundur<BR>sambil mengelebatkan dayungnya yang menyambar dari atas ke arah kepala<BR>Swat-ji. Namun gadis itu dengan gerakan yang lincah dapat pula mengelak<BR>sambil meneruskan dengan serangan berantai. Gerakannya memang cepat<BR>dan agaknya dengan kecepatan ini ia hendak mencapai kemenangan.<BR>Pedangnya menyambar-nyambar dan sama sekali ia tidak memberi<BR>kesempatan kepada lawannya untuk membentur senjatanya.<BR>"Bagus! Lauw-pangcu, kepandaian anakmu bagus juga!" Bhe Ham Ko berseru<BR>dan terpaksa kakek ini memutar dayungnya dengan cepat untuk melindungi<BR>tubuhnya daripada hujan tusukan dan bacokan.<BR>Dengan menggunakan ketajaman pendengarannya Kun Hong dapat menduga<BR>bahwa biarpun Swat-ji memiliki gerakan yang amat cepat, namun ia takkan<BR>menang menghadapi lawannya yang memiliki gerakan antep, bertenaga, dan<BR>tenang itu. Dia mengerutkan keningnya. Pertandingan besar-besaran dan<BR>mati-matian tentu takkan dapat dicegah lagi. Sebetulnya dia boleh tak usah<BR>ambil perduli karena kedua fihak yang akan bertanding bunuh-membunuh<BR>adalah golongan hitam atau Orang-orang yang mempunyai pekerjaan<BR>merampok dan membunuh. Mereka adalah orang-orang jahat. Akan tetapi,<BR>pemuda buta ini merasa tidak tega untuk membiarkan sesama manusia saling<BR>bunuh, hanya untuk memperebutkan sebuah benda mati yang oleh Swat-ji<BR>dititipkan kepadanya dan kini berada di buntalan pakaiannya itu. Alangkah<BR>bodohnya manusia. Untuk mencari harta atau kedudukan, rela mengorbankan<BR>nyawa, malah tega untuk membunuh sesama manusia. Kun Hong berpikir<BR>keras, mencari akal untuk mencegah permusuhan antara kedua golongan itu.<BR>Akan tetapi, baru saja dia bangkit berdiri untuk mencegah menghebatnya<BR>perkelahian, mendadak di sana-sini terdengar seruan heran dan marah.<BR>Sesosok bayangan hitam berkelebat dan tahu-tahu dayung di tangan Bhe Ham<BR>Ko terpental ke belakang, sedangkan Swat-ji terhuyung-huyung. Ketika<BR>mereka memandang, di situ telah berdiri seorang gadis cantik jelita masih<BR>muda sekali, berpakaian serba hitam yang ringkas dan sikapnya gagah,<BR>sepasang matanya yang jeli memandang ke kanan-kiri. Alisnya yang hitam<BR>panjang itu berkerut, mulut yang kecil dengan bibir merah segar<BR>membayangkan kekerasan hati dan keangkuhan.<BR>Dengan sekali gerakan saja dapat mengundurkan Bhe Ham Ko dan Swat-ji,<BR>dapat dibayangkan bahwa gadis jelita ini memiliki kepandaian yang hebat.<BR>Swat-ji yang terhuyung-huyung itu amat marah, akan tetapi sebelum ia<BR>sempat mengembalikan keseimbangan tubuhnya, bagaikan seekor burung<BR>walet, gadis baju hitam itu bergerak, tubuhnya menyambar dan tahu-tahu<BR>Swat-ji merasa dirinya diangkat ke atas. Kiranya tengkuknya telah<BR>dicengkeram oleh gadis itu dan betapapun ia berusaha melepaskan diri, ia<BR>tidak mampu bergerak, bahkan pedang yang masih dipegangnya itu tak dapat<BR>pula ia gerakkan seakan-akan seluruh tubuhnya menjadi lumpuh!<BR>"Kaum kotor dari Hui-houw-pang dan Kiang-liong-pang dengarlah! Hari ini<BR>nonamu datang untuk mengambil mahkota pusaka, kalian tidak boleh ributribut<BR>lagi dan harus mengalah kepada nonamu!"<BR>Sikap yang amat sombong ini menimbulkan kemarahan, juga kegelian. Apalagi<BR>Lauw Teng yang melihat anaknya ditangkap seperti itu, kemarahannya<BR>memuncak dan dia membentak,<BR>"Gadis liar dari mana datang mengacau? Kau siapa berani membuka mulut<BR>besar di sini?"<BR>Gadis muda itu tersenyum mengejek. Manis sekali ia kalau tersenyum<BR>sehingga banyak di antara para anak buah kedua fihak itu terpesona melihat<BR>cahaya gigi gemerlapan di balik bibir yang merah dan berbentuk indah itu.<BR>"Kau ketua dari Hui-houw-pang, tak perlu banyak cakap. Aku tahu bahwa<BR>mahkota berada di tanganmu, lekas serahkan kepada nonamu, kalau tidak,<BR>akan kubanting hancur anak perempuanmu yang tak tahu malu ini!"<BR>Hemmm, kiranya bocah ini hendak memaksaku dengan menangkap anakku,<BR>pikir Lauw Teng yang segera menjawab dengan tersenyum mengejek. "Boleh<BR>kau banting anak tiada guna itu, mana bisa aku memberikan mahkota pusaka<BR>kepadamu? Gadis liar, lebih baik lekas mengaku kau siapa dan siapa<BR>menyuruhmu datang mencampuri urusan kami?"<BR>Gadis pakaian hitam itu nampak kecewa, lalu melemparkan tubuh Swat-ji<BR>sambil mengomel, "Gadis sialan, sampai ayah sendiri tidak sayang kepadamu!"<BR>Swat-ji terlempar dan jatuh bergulingan, tapi ia cepat melompat lagi dengan<BR>mata berapi-api dan muka merah sekali. Kalau saja ia tidak ingat bahwa<BR>tingkat kepandaian gadis baju hitam itu jauh lebih tinggi darinya, tentu akan<BR>diserangnya mati-matian, bukan main marahnya pada saat itu.<BR>"Pangcu dari Hui-houw-pang, juga kalian orang-orang Kiang-liong-pang. Kalian<BR>mau tahu siapa nonamu ini? Dunia kang-ouw menyebutku Bi-yan-cu (Si Walet<BR>Jelita). Nama aseliku tak perlu kuberitahu, kalian kurang berharga untuk<BR>mengenalnya. Ayahku adalah Sin-kiam-eng Tan Beng Kui."<BR>Ketika nona muda itu memperkenalkan julukannya, para penjahat itu saling<BR>pandang sambil tersenyum-senyum karena memang nama itu tidak terkenal.<BR>Akan tetapi ketika gadis itu menyebut nama Sin-kiam-eng Tan Beng Kui<BR>sebagai ayahnya, berubah wajah mereka. Bahkan kedua pangcu itu dan para<BR>tamu undangan nampak kaget sekali. Sin-kiam-eng Tan Beng Kui memang<BR>jarang muncul di dunia Kang-ouw, namun namanya dikenal sebagal seorang<BR>tokoh besar yang berilmu tinggi, yang sekarang hidup sebagai seorang "raja<BR>kecil" di pantai Laut Pohai, di lembah muara Sungai Kuning. Karena<BR>kepandaiannya yang tinggi tak seorang pun bajak laut atau perampok berani<BR>mengganggu perkampungan raja kecil ini. Sekarang tahu-tahu seorang gadis<BR>jelita yang datang ini mengaku sebagai puteranya dan bermaksud merampas<BR>mahkota pusaka yang sedang diperebutkan oleh golongan itu.<BR>Swat-ji yang masih merasa penasaran, ketika mendengar ini segera tahu<BR>bahwa gadis yang dibencinya itu tentu akan dimusuhi oleh kedua fihak, maka<BR>keberaniannya timbul kembali. Baginya yang belum banyak merantau, ia tidak<BR>mengenal siapa itu Sin-kiam-eng (Pendekar Pedang Sakti) Tan Beng Kui.<BR>"Budak liar jangan menjual lagak di sini!" Swat-ji memaki dan cepat menyerbu<BR>dengan pedangnya, dari belakang langsung menyerang gadis yang berjuluk Biyan-<BR>cu itu.<BR>Si Walet Jelita, gadis yang cantik itu, mengeluarkan suara mengejek dan<BR>ketika tubuhnya bergerak dengan amat indahnya ternyata ia telah dapat<BR>mengelak tanpa mengubah kedudukan kakinya dan selagi pedang lawannya<BR>menyambar lewat, tangan kirinya mendorong. Tak dapat tertahankah lagi<BR>tubuh Swat-ji terdorong ke depan, apalagi dari belakang ditambah sebuah<BR>tendangan ke tubuh belakang yang mengeluarkan bunyi "plok!" membuat<BR>tubuh Swat-ji terperosok ke depan, pedangnya mencelat dan hidungnya yang<BR>mencium tanah dengan keras itu mengeluarkan darah.<BR>"Tangkap gadis liar ini!" terdengar Hui-houw-pangcu Lauw Teng memberi abaaba.<BR>"Bunuh saja dia!" terdengar ketua Kiang-liong-pang berseru. Dua fihak yang<BR>tadinya bermusuhan, untuk sementara melupakan permusuhan mereka dan<BR>tanpa berunding sudah bersekutu untuk mengalahkan gadis berbahaya itu.<BR>Dengan pendengarannya yang tajam Kun Hong dapat mengikuti semua<BR>peristiwa itu. Hatinya berdebar ketika dia mendengar pengakuan gadis yang<BR>baru datang itu. Nama Tan Beng Kui tentu saja dikenalnya baik sungguhpun<BR>belum pernah dia bertemu muka dengan orangnya. Dia sudah banyak<BR>mendengar dari ayah bundanya tentang Tan Beng Kui karena orang ini dahulu<BR>juga seorang pejuang gagah, murid pertama dari Raja Pedang Cia Hui Gan.<BR>Bukan itu saja, malah Tan Beng Kui ini adalah kakak kandung dari Tan Beng<BR>San yang sekarang menjadi ketua Thai-san-pai. Kun Hong amat kagum dan<BR>takluk kepada Tan Beng San, orang yang amat dia hormati karena<BR>kegagahannya, apalagi kalau dia ingat bahwa Tan Beng San adalah ayah dari<BR>mendiang kekasihnya, Tan Cui Bi, Malah boleh dibilang dia adalah murid<BR>langsung dari Tan Beng San Si Raja Pedang itu, yang ketika dia menjadi buta,<BR>telah membisikkan rahasia dari Ilmu Sakti Im-yang-sin-kun-hoat (Baca cerita<BR>Raja Pedang dan Rajawali Emas).<BR>Sekarang gadis yang mengaku berjuluk Bi-yan-cu Si Walet Jelita ini, yang<BR>bukan lain adalah keponakan dari Tan Beng San, berada di sini dan terancam<BR>bahaya pengeroyokan dua fihak yang tadinya bertentangan. Angin gerakan<BR>gadis itu tadi membuktikan bahwa ia berkepandaian tinggi, tentu telah<BR>mewarisi Ilmu Silat Sian-li-kun-hoat dari ayahnya. Akan tetapi menghadapi<BR>pengeroyokan demikian banyaknya orang, tentu berbahaya juga. Seorang<BR>gadis yang menurut suaranya takkan lebih dari delapan belas tahun usianya<BR>itu mana boleh mati dikeroyok, juga amat tidak baik kalau mengamuk dan<BR>menjadi pembunuh puluhan orang manusia. Dia harus segera turun tangan,<BR>demikian Kun Hong mengambil keputusan.<BR>Sudah terdengar olehnya suara senjata beradu disusul pekik kesakitan banyak<BR>orang. Ah, jelas bahwa gadis lihai itu tentu sudah mengamuk, pikirnya. Cepat<BR>Kun Hong melompat berdiri, tongkatnya siap di tangan kanan dan tangan<BR>kirinya mengeluarkan mahkota itu, diangkatnya tinggi-tinggi lalu dia berseru<BR>nyaring,<BR>"Heeii, kalian semua berhentilah bertempur dan lihat apa yang berada di<BR>tanganku ini!!"<BR>Karena ketika berseru ini Kun Hong mengerahkan sedikit tenaga khikang dari<BR>dalam perutnya, tentu saja suaranya nyaring sekali mengatasi semua<BR>kegaduhan dan mendadak semua pertempuran berhenti ketika mereka melihat<BR>benda emas mengkilap terhias permata berkilauan berada di tangan kiri<BR>pemuda buta itu.<BR>"Mahkota pusaka .......!" terdengar teriakan di sana-sini.<BR>"Kalian bertempur untuk memperebutkan benda ini, bukan? Benar-benar<BR>kalian tak tahu malu. Benda ini bukanlah milik kalian, terang bahwa benda ini<BR>dirampok dari tangan seorang pembesar. Sungguh tak baik kalian. Rakyat<BR>sudah cukup penderitaannya, kalian orang-orang kuat dan memiliki<BR>kepandaian, mengapa justeru mempergunakan kekuatan itu untuk menambah<BR>kekacauan dan memperberat penderitaan rakyat? Sekarang benda ini sudah<BR>berada di tanganku, hendak kukembalikan kepada yang berhak. Siapa saja<BR>tidak boleh merampas benda ini dan kalian tidak perlu saling bermusuhan<BR>lagi!"<BR>Semua orang itu berdiri melongo. Siapa yang takkan terheran-heran<BR>menyaksikan aksi orang buta itu? Dan akhirnya meledaklah suara ketawa<BR>saking geli di samping marah dan mendongkol. Yang paling marah dan<BR>mendongkol adalah Lauw Teng. Dia marah sekali kepada puterinya. Benda itu<BR>dia suruh simpan atau bawa puterinya agar tidak diketahui orang, siapa duga<BR>oleh puterinya dititipkan kepada sinshe buta ini.<BR>"Kwa-sinshe, apakah ....... apakah kau sudah gila?" bentaknya marah.<BR>Yang lebih dulu bergerak adalah Swat-ji. Gadis ini kaget dan takut sekali akan<BR>kemarahan ayahnya ketika melihat orang buta itu begitu saja memperlihatkan<BR>mahkota kepada semua orang. Ia cepat meloncat ke depan dengan hidung<BR>masih berdarah, menyambar dengan tangannya untuk merampas mahkota itu<BR>dari tangan Kun Hong.<BR>"Sinshe, kau kembalikan titipanku!" katanya. Akan tetapi aneh sekali,<BR>sambarannya tidak mengenai sasaran sehingga ia terhuyung-huyung ke<BR>depan. Ia membalik dan dengan suara merayu ia membujuk, "Sinshe yang<BR>baik, kau kembalikan benda itu kepadaku."<BR>"Nona Lauw mahkota ini bukan milikmu, menyesal sekali tak dapat kuberikan<BR>kepada siapapun juga."<BR>Swat-ji marah dan menyerbu untuk merampas mahkota, namun tiba-tiba ia<BR>terjungkal dan untuk kedua kalinya ia mencium tanah. Kini hidung yang<BR>tadinya berdarah, berubah menjadi bengkak.<BR>"Aduh ......." ia mengeluh, "kau ....... keterlaluan....... kau kejam. Tadi kau<BR>begitu baik ....... sinshe, bukankah malam nanti kau mau memijati badanku?<BR>Kenapa sekarang merampas mahkota?"<BR>Kembali beberapa orang tertawa mendengar ini dan muka Kun Hong yang<BR>berkulit putih itu menjadi kemerahan. "Nona, jangan keluarkan omongan<BR>bukan-bukan!, Seharusnya sebagai seorang gadis kau tidak bertingkah seperti<BR>ini ......."<BR>Tapi pada saat itu Lauw Teng sudah menerjang maju, tangan kanan<BR>menghantam dada Kun Hong sedangkan tangan kiri berusaha merampas<BR>mahkota sambil berseru.<BR>"Sinshe buta, kiranya kau hendak mengacau!"<BR>Seperti halnya Swat-ji, pukulan ini tidak mengenai sasaran, juga mahkota<BR>tidak terampas, sebaliknya entah mengapa dan cara bagaimana, tahu-tahu<BR>tubuh ketua Hui-houw-pang itu terjungkal ke bawah! Inilah hebat! Ketua Huihouw-<BR>pang ini terkenal seorang yang cukup kosen, berkepandaian tinggi.<BR>Bagaimana ketika menyerang sinshe muda buta itu seperti tersandung batu<BR>kakinya dan terjungkal begitu mudah? Orang-orang tidak ada yang dapat<BR>mengikuti gerakan Kun Hong dan bagi mereka seakan-akan pemuda buta itu<BR>tidak bergerak apa-apa kecuali mengangkat mahkota itu tinggi-tinggi seperti<BR>takut dirampas! Hanya beberapa orang saja yang menjadi tertegun dan<BR>berubah air mukanya. Mereka ini adalah Lauw Teng sendiri, ketua Kiang-liongpang,<BR>Bhe Ham Ko, tosu dan Kwan Tojin, laki-laki tinggi besar muka hitam,<BR>beberapa orang tamu undangan Lauw Teng, dan juga, nona baju hitam yang<BR>baru datang. Mereka itu melihat betapa ketua Hui-houw-pang tadi roboh oleh<BR>gerakan tangan yang perlahan dan hampir tidak kelihatan dari sinshe buta itu!<BR>Keadaan menjadi gempar dan kini segala kemarahan dan perhatian<BR>ditumpahkan semua kepada si buta! Lupalah semua orang akan urusan yang<BR>tadi, lupa akan pertengkaran antara Hui-houw-pang dan Kiang-liong-pang,<BR>lupa pula akan si nona baju hitam yang tadinya hendak mereka keroyok.<BR>Sekarang mahkota berada di tangan sinshe buta, tentu saja dia inilah yang<BR>menjadi sasaran. Dan hal ini tepat seperti yang dikehendaki oleh Kun Hong.<BR>Setelah menyaksikan betapa dengan aneh Lauw Teng roboh sendiri ketika<BR>hendak merampas mahkota, orang-orang tidak berani bertindak sembrono.<BR>Mereka memandang orang buta itu dengan heran dan ragu-ragu apa yang<BR>harus mereka lakukan. Kun Hong juga berdiri tak bergerak, siap untuk<BR>membela diri dari setiap serangan.<BR>Seorang anggauta Kiang-liong-pang maju perlahan. Tangan kanannya<BR>memegang sebuah ruyung besi yang berat, Sejak tadi dia mengincar Kun Hong<BR>dan dia tidak percaya kalau tidak mampu menjatuhkan si buta ini. Apa sih<BR>sukarnya mengalahkan orang buta? Sekali pukul beres. Agaknya si buta ini<BR>pandai silat, pikirnya, maka harus digunakan akal. Dengan amat hati-hati dia<BR>melangkah terus maju sampai dekat sekali dengan Kun Hong, dalam jarak<BR>satu meter. Pemuda itu tetap tidak, bergerak seakan-akan tidak tahu bahwa<BR>dia, didekati lawan dari depan yang kini sudah menggeletar seluruh urat di<BR>tubuhnya untuk menghantamnya. Tanpa mengeluarkan kata-kata, orang itu<BR>kini mengangkat ruyungnya tinggi-tinggi, menghimpun tenaga lalu "wherrrr!"<BR>ruyungnya menimpa ke arah kepala Kun Hong yang agaknya akan pecah<BR>berantakan tertimpa ruyung besi yang berat itu. Seperti tadi, tanpa menggeser<BR>kakinya Kun Hong miringkan kepala dan sekali jari tangannya bergerak, lawan<BR>itu jatuh tersungkur, mengaduh-aduh kesakitan karena ruyungnya mencium<BR>kepalanya sendiri sampai benjol sebesar telur angsa.<BR>Seorang anak buah Hui-houw-pang dari belakang Kun Hong berindap-indap<BR>menghampiri dengan tombak runcing di tangan. Setelah dekat tiba-tiba dia<BR>menusuk.<BR>Tombak menusuk angin, terdengar suara keras, tombak patah menjadi tiga<BR>dan orang itu terlempar ke belakang.<BR>Sekarang barulah semua orang tahu atau menduga bahwa si buta itu kiranya<BR>bukanlah seorang sembarangan, melainkan seorang yang memiliki kepandaian<BR>luar biasa! Akan tetapi karena dialah yang kini memegang mahkota yang amat<BR>diinginkan itu, semua orang kini mulai mendekat dengan sikap mengancam.<BR>Dengan kepala dimiringkan Kun Hong dapat mendengar betapa orang-orang<BR>itu mendekat dan mengepungnya, malah yang mengurungnya kini bukanlah<BR>orang-orang biasa seperti tadi telah menyerangnya. Agakhya tokoh-tokoh<BR>penting dari kedua fihak mulai hendak turun tangan secara mengeroyoknya,<BR>juga dari sebelah kirinya dia tahu bahwa gadis yang berjuluk Bi-yan-cu itupun<BR>hendak menyerbu dan merampas mahkota. Kun Hong memegang tongkatnya<BR>erat-erat di tangan kanannya.<BR>Dia tidak menanti lama. Segera didengarnya angin menyambar, angin senjata<BR>yang menyerang dari kanan-kiri, depan dan belakang. Cepat dia<BR>menggerakkan tongkatnya dan terdengar suara "cring-cring-cring" berulangulang<BR>disusul dengan suara gaduh dan jerit kesakitan. Orang-orang yang<BR>belum ikut menyerbu memandang dengan mata terbelalak keheranan. Mereka<BR>tadi melihat orang-orang pilihan dari kedua fihak menyerbu dan hanya tampak<BR>kilat berkelebatan, tapi........... tahu-tahu banyak pedang, golok dan tombak<BR>beterbangan dalam keadaan patah menjadi dua sedangkan lima orang<BR>sekaligus roboh bergulingan, menjerit-jerit karena tangan atau lengan mereka<BR>berdarah, luka tergores benda tajam! Hebatnya, ketika mereka melihat lagi ke<BR>arah sasaran, si buta itu masih berdiri seperti biasa, dengan tangan kiri<BR>memegang mahkota tinggi dan tangan kanan membawa tongkat!<BR>"Minggir ...........!" Bentakan ini keluar dari mulut ketua Kiang-liong-pang dan<BR>kakek ini dengan dayungnya menerjang hebat.<BR>Lauw Teng yang tidak ingin melihat ketua fihak saingan ini dapat merampas<BR>mahkota, cepat mencabut golok besarnya dan hampir berbarengan menyerbu<BR>pula ke depan. Gerakannya ini diikuti oleh Ban Kwan Tojin yang sudah<BR>mencabut sepasang pedangnya karena tosu ini yang berpemandangan tajam<BR>sudah mengetahui bahwa pemuda buta ini bukan orang sembarangan dan<BR>memiliki kepandaian yang hebat. Apalagi kalau diingat keterangan pemuda ini<BR>yang mengaku sebagai murid Toat-beng Yok-mo, tentu saja patut miliki ilmu<BR>silat yang luar biasa.<BR>Sementara itu, gadis baju hitam berjuluk Bi-yan-cu, semenjak tadi menahan<BR>senjatanya. Ia seorang gadis yang mewarisi ilmu kepandaian tinggi, pandang<BR>matanya awas dan tajam. Melihat gerak-gerik si buta ini, jantungnya berdebar.<BR>Segera ia dapat mengenal dasar-dasar gerakan yang aneh dan luar biasa,<BR>dasar ilmu silat yang sakti. Oleh karena itu, biarpun ia ikut mendekat, namun<BR>ia tidak berani sembrono melakukan penyerangan. Ia masih belum tahu apa<BR>kehendak orang buta yang aneh itu, tidak tahu apakah dia itu kawan atau<BR>lawan dan apa pula yang hendak dilakukan dengan perampasan mahkota itu.<BR>Akan tetapi melihat si buta menentang dua perkumpulan penjahat sekaligus, di<BR>dalam hati gadis itu sudah menganggap Kun Hong sebagai kawan. Maka ia<BR>bersikap waspada, pedang di tangan untuk siap membantu si buta kalau-kalau<BR>terancam bahaya pengeroyokan puluhan orang banyaknya itu.<BR>Jilid 2 : bagian 2<BR>Dalam waktu hampir bersamaan pelbagai senjata yang digerakkan oleh<BR>tangan-tangan terlatih itu menyambar ke arah tubuh Kun Hong. Yang<BR>terdahulu sekali adalah dayung di tangan Bhe Ham Ko yang menyambar ke<BR>arah kepalanya, mengeluarkan suara mengiung saking kerasnya. Dayung ini<BR>menyambar dari kanan ke kiri. Lalu disusul berkelebatnya golok besar di<BR>tangan Lauw Teng. Sambaran golok ini mengarah leher, juga cepat dan<BR>bertenaga sehingga mengeluarkan suara mendesing. Kemudian sepasang<BR>pedang di tangan Ban Kwan Tojin pembantu Lauw Teng itu pun meluncur<BR>datang, yang kiri menusuk lambung yang kanan menyerampang kaki. Gerakan<BR>ini dilakukan oleh tosu itu dengan menekuk lutut, cepat dan berbahaya sekali<BR>datangnya pedang, hampir tak dapat diikuti pandangan mata.<BR>Diam-diam gadis jelita baju hitam mengeluarkan keringat dingin. Ia harus<BR>mengaku bahwa tiga orang ini bukanlah merupakan lawan yang lunak dan<BR>andaikata ia sendiri yang diserang secara berbareng seperti itu, hanya dengan<BR>meloncat jauh mengandalkan ginkang (ilmu meringankan tubuh) saja agaknya<BR>akan dapat menyelamatkan dirinya. Akan tetapi orang buta itu tidak kelihatan<BR>bergerak sama sekali, masih berdiri tegak dengan tangan kiri yang memegang<BR>mahkota diangkat tinggi sedangkan tangan kanan memegangi tongkat<BR>melintang di depan dada.<BR>Akan tetapi tiba-tiba kelihatan sinar merah berkilat menyambar-nyambar,<BR>merupakan gulungan sinar merah yang menyilaukan mata, disusul suara<BR>nyaring berdencingnya senjata tajam saling bertemu dan........... tiga orang<BR>pengeroyok ini berseru kaget dan masing-masing melompat mundur sampai<BR>tiga meter lebih.<BR>Ketika semua orang yang tadi menjadi silau matanya oleh sinar merah yang<BR>bergulung-gulung itu kini dapat memandang penuh perhatian, mereka melihat<BR>bahwa Bhe Ham Ko bengong memandang dayungnya yang sudah patah<BR>menjadi dua potongan kecil di kedua tangannya, Lauw Teng melongo menatap<BR>tangan kanannya yang hanya memegangi gagang golok sedangkan Ban Kwan<BR>Tojin merah mukanya karena pedangnya yang kanan terbang entah ke mana<BR>sedangkan yang kiri sudah semplok (patah) ujungnya!<BR>Apabila semua orang memandang kepada pemuda buta itu, ternyata si buta ini<BR>masih saja berdiri seperti tadi dengan tangan kiri tinggi-tinggi di atas kepala<BR>memegang mahkota emas sedangkan tangan kanan masih memegang tongkat<BR>melintang! Apakah pemuda buta ini main sihir? Demikian para anak buah<BR>kedua perkumpulan penjahat itu bertanya-tanya dan merasa bingung, juga<BR>kaget, heran dan gentar. Akan tetapi tentu saja dugaan ini tidak betul dan<BR>para pengeroyok tadi, juga si gadis baju hitam tahu belaka betapa secara<BR>hebat pemuda buta itu tadi menggerakkan tongkatnya yang butut dan<BR>tampaklah sinar merah bergulung-gulung yang menangkis dan merusak semua<BR>senjata itu. Yang membikin heran mereka adalah kehebatan tongkat itu yang<BR>demikian ampuhnya sehingga dapat mematahkan senjata-senjata tajam dan<BR>berat. Bukankah tongkat itu hanya tongkat kayu belaka?<BR>Tentu saja tidak demikian keadaan yang sesungguhnya. Biarpun hanya<BR>tongkat kayu, akan tetapi di sebelah dalamnya adalah pedang Ang-hong-kiam,<BR>pedang pusaka yang ampuh sekali. Apalagi digerakkan oleh tangan yang<BR>memiliki tenaga dan kepandaian sakti seperti Kun Hong, sudah tentu para<BR>kepala penjahat itu bukanlah tandingannya!<BR>Kun Hong tersenyum dan berkata, "Mahkota sudah berada di tanganku, akan<BR>kukembalikan kepada yang berhak. Kalian tidak usah saling bermusuhan dan<BR>bunuh-membunuh. Lebih tidak baik lagi kalau kalian meneruskan pekerjaan<BR>kalian yang hina dan kotor ini, pasti kelak tidak akan membawa kalian kepada<BR>keselamatan hidup. Sudahlah, aku akan pergi ......."<BR>Setelah berkata demikian dengan langkah perlahan pemuda buta itu berjalan<BR>maju mendahului kedua kakinya dengan tongkat yang dipakai meraba-raba ke<BR>depan. Karena dia buta, tentu saja dia tidak tahu bahwa dia telah salah<BR>mengambil jurusan sehingga dia bukan hendak meninggalkan tempat itu,<BR>melainkan dia menuju ke arah kelompok pohon-pohon besar yang memenuhi<BR>hutan kecil di lereng bukit. Kun Hong agak bingung ketika tongkatnya bertemu<BR>dengan batang-batang pohon, dia meraba-raba dan berjalan di antara pohonpohon.<BR>Ketika dia melangkah maju, dia tidak melihat bahwa di atasnya ada<BR>sebuah cabang pohon yang tergantung rendah. Tahu-tahu kepalanya<BR>tertumbuk kepada batang pohon ini. Kagetnya bukan main karena kalau yang<BR>memukul kepala itu adalah serangan lawan, tentu dia dapat mendengar angin<BR>pukulannya. Cepat dia miringkan kepala, akan tetapi tak dapat dia mencegah<BR>keluarnya "telur kecil" menyendul di dahinya yang mencium batang pohon<BR>tadi!<BR>Semua orang yang berada di situ saling pandang dan tak terasa lagi muka tiga<BR>orang tokoh yang keheranan tadi berubah menjadi merah sekali. Orang buta<BR>macam begitu saja tak mampu mereka robohkan! Malah dalam satu kali<BR>gebrakan saja mereka telah kehilangan senjata! Padahal si buta itu mencari<BR>jalanpun tidak becus!<BR>"Serang dia!" Hampir berbareng Lauw Teng dan Bhe Ham Ko berseru. Ributlah<BR>para anak buah bajak dan rampok berlari maju, menghujani tubuh Kun Hong<BR>dengan serbuan senjata mereka. Akan tetapi kini Kun Hong tidak mau<BR>memberi hati lagi. Dia tadi turun tangan dengan maksud untuk mencegah<BR>mereka saling bunuh dan sengaja dia menimpakan rasa permusuhan mereka<BR>kepada dirinya karena dia yakin bahwa dia mampu menjaga diri sendiri.<BR>Melihat dirinya dikepung dan diserbu, dia menggerakkan tongkatnya ke arah<BR>suara senjata yang menyerangnyai Sinar merah bergulung-gulung dan segera<BR>terdengar suara senjata beradu bertubi-tubi, disusul pekik kesakitan dan<BR>tampaklah senjata-senjata para pengeroyok itu beterbangan seperti daundaun<BR>kering rontok tertiup angin. Kali ini Kun Hong sengaja menujukan<BR>tongkatnya kepada tangan-tangan yang memegang senjata sehingga dalam<BR>sekejap mata saja belasan pengeroyok sudah terluka tangan mereka, luka<BR>berdarah yang biarpun tidak membahayakan keselamatan mereka, namun<BR>cukup parah sehingga membuat mereka tak berdaya dan tak dapat<BR>mengeroyok pula.<BR>Serbuan gelombang ke dua juga mengakibatkan belasan orang pengeroyok<BR>lain mundur dan memegangi tangan yang terluka, malah kali ini tidak<BR>ketinggalan tangan Lauw Teng, Bhe Ham Ko dan tosu Ban Kwan Tojin juga<BR>terluka!<BR>Melihat kehebatan pemuda buta ini, para pengeroyok menjadi gentar juga,<BR>apalagi ketika Kun Hong yang kini berdiri tegak menghadapi mereka itu<BR>berkata, suaranya nyaring dan penuh pengaruh,<BR>"Jangan kira bahwa aku tidak mampu mengubah luka pada tangan dengan<BR>tabasan pada leher atau tusukan pada ulu hati. Hemmm, orang-orang sesat,<BR>apakah kalian masih ingin merampas mahkota ini yang bukan menjadi hak<BR>milik kalian? Sadarlah bahwa perbuatan busuk takkan mendatangkan<BR>kebahagiaan dan keselamatan!"<BR>Semua orang kini memandang betapa si buta itu melanjutkan perjalanannya,<BR>hati-hati sekali berjalan didahului rabaan tongkatnya, malah kini agak<BR>membungkuk-bungkuk karena takut kalau-kalau kepalanya bertumbukan<BR>dengan dahan pohon yang rendah lagi.<BR>"Sinshe buta, berhenti kau!" tiba-tiba orang tinggi besar muka hitam yang tadi<BR>datang bersama Bhe Ham Ko melompat ke depan dan menghadang di depan<BR>Kun Hong. Mendengar angin lompatan ini, Kun Hong maklum bahwa orang<BR>yang baru datang menyusulnya ini memiliki kepandaian yang lebih tinggi<BR>daripada tiga orang pengeroyoknya tadi.<BR>"Sahabat siapakah dan ada keperluan apa menahanku?"<BR>"Kau tinggalkan mahkota itu dan aku masih akan mengampuni perbuatanmu<BR>mengacau di sini dan menghina kakak iparku, Kiang-liong-pangcu!"<BR>"Hemm, kau siapakah berani bicara sesombong ini?" Kun Hong bertanya.<BR>"Buka telingamu baik-baik. Tuan besarmu ini adalah Tiat-jin (Si Tangan Besi)<BR>Souw Ki, seorang di antara tujuh pengawal kaisar. Mahkota itu adalah benda<BR>pusaka di dalam istana yang dicuri dan dibawa lari oleh bekas pembesar Tan<BR>Hok yang berhenti dan mengundurkan diri. Siapa yang merampas mahkota ini<BR>berarti dialah pencurinya dan patut dihukum sebagai pengkhianat atau<BR>pemberontak. Nah, kau serahkan benda itu kepadaku!"<BR>Fihak Hui-houw-pang terkejut sekali mendengar pengakuan orang tinggi besar<BR>ini dan mereka, terutama Lauw Teng, memandang penuh perhatian. Kun Hong<BR>sendiri juga terkejut. Tak disangkanya dia akan bertemu kembali dengan<BR>seorang di antara tujuh pengawal Pangeran Mahkota Kian Bun Ti yang<BR>sekarang sudah menjadi calon kaisar karena kematian kaisar tua, dan dengan<BR>sendirinya tujuh orang pengawalnya itu akan naik pangkat menjadi pengawal<BR>kaisar pula. Setelah mendengar namanya, baru dia mengenal kembali suara<BR>orang ini. Agaknya Tiat-jiu Souw Ki sendiri lupa kepadanya dan tidak<BR>mengenalnya. Hal ini tidak aneh pula karena dia sudah menjadi buta dan di<BR>puncak Thai-san tiga tahun yang lalu, ketika Tiat-jiu Souw Ki dan enam orang<BR>temannya datang pula mengacau, Kun Hong belum buta (baca Rajawali Emas).<BR>Lebih besar lagi keheranan dan kekagetannya ketika dia mendengar dari mulut<BR>pengawal itu bahwa pembesar yang telah dirampok, yang katanya mengambil<BR>dan melarikan mahkota ini dari istana, bukan lain adalah Tan-taijin yang<BR>merupakan kakak angkat dari Tan Beng San!<BR>"Tidak boleh orang merampas dari tanganku," kata Kun Hong tenang dan<BR>suaranya keras. "Kalau kalian tadinya merampas benda ini dari pembesar she<BR>Tan itu, aku harus mengembalikan kepadanya juga."<BR>"Keparat, berani kau melawan pengawal kaisar?" Tiat-jiu Souw Ki membentak<BR>dan tanpa menanti jawaban Kun Hong dia sudah mengirim pukulan dengan<BR>tangan kanannya yang disertai hawa pukulan dan tenaga dalam yang<BR>membuat kepalannya itu sekeras besi. Memang Souw Ki ini waktu mudanya<BR>melatih tangannya dengan bubuk besi sehingga kini dia memiliki Ilmu Tiatsee-<BR>ciang (Pukulan Pasir Besi) yang membuat kepalannya seperti besi<BR>kerasnya dan karena ini pula dia mendapat julukan Tiat-jiu (Si Tangan Besi).<BR>Sambaran pukulan tangan ini sudah cukup untuk diketahui Kun Hong tentang<BR>keahlian lawan. Namun dia tidak gentar, malah mengempit tongkatnya dan<BR>menggunakan tangan dan memapaki pukulan itu dengan dorongan telapak<BR>tangannya.<BR>"Dukkk!" Kepalan yang besar dan keras itu bertemu dengan telapak tangan<BR>Kun Hong yang putih dan halus seperti tangan wanita. Akibatnya luar biasa<BR>sekali. Souw Ki marasa betapa kepalannya seperti bertemu dengan kapas,<BR>seakan-akan tenaganya tenggelam ke dalam air dan sebelum dia sempat<BR>menarik tangannya, dari telapak tangan itu timbul hawa panas yang<BR>membakar tangannya. Tubuhnya menggigil, dia jatuh berlutut dan lengan<BR>tangannya serasa lumpuh. Kagetnya bukan main dan cepat dia menarik<BR>tangannya sambil mengerahkan tenaga. Kun Hong melepaskan dan betapa<BR>kaget hati Souw Ki melihat kepalan tangannya membengkak dan mulailah<BR>terasa nyeri menusuk-nusuk. Dia melompat mundur dan menyeringai<BR>kesakitan.<BR>"Tanganmu tidak apa-apa, besok akan lenyap rasa nyerinya." kata Kun Hong.<BR>"Salahmu sendiri menggunakan tenaga beracun dan kini hawa pukulan<BR>menyerang tanganmu sendiri." Setelah berkata demikian, Kun Hong<BR>melanjutkan langkahnya. Tak seorang pun akan mencoba untuk menyerang<BR>lagi sekarang, setelah melihat betapa semua serangan dapat dipatahkan sekali<BR>gebrak saja oleh pemuda buta. Melihat si buta itu berjalan dengan tongkat di<BR>depan, kelihatannya begitu lemah, begitu tak berdaya, akan tetapi hampir<BR>seratus orang banyaknya itu tidak dapat menghalanginya membawa pergi<BR>mahkota itu, benar-benar amat mengherankan! Orang-orang itu hanya<BR>mengikutinya dari jauh tak seorangpun mengeluarkan suara.<BR>Diam-diam gadis jelita baju hitam itupun mengikuti dari jauh. Ia makin kagum<BR>kepada Kun Hong, dan ia dapat melihat sikap para penjahat itu yang agaknya<BR>tidak akan mengalah begitu saja. Siapakah pemuda buta ini? Lihai bukan<BR>main, dari mana datangnya. dan apa maksud sebenarnya membawa pergi<BR>mahkota kuno? Demikian bermacam pikiran mengaduk di hati Bi-yan-cu.<BR>Sengaja ia menyelinap di antara pepohonan dan menghilang dari pandangan<BR>mata orang banyak, lalu diam-diam ia mengikuti semua kejadian atas diri Kun<BR>Hong.<BR>Setelah Kun Hong menembus hutan kecil penuh pepohonan itu, barulah si<BR>gadis jelita kaget sekali dan maklum apa yang diharapkan oleh para penjahat<BR>itu. Kiranya, tanpa diketahuinya, orang buta itu salah jalan, menuju ke sebuah<BR>tebing yang buntu karena berujung jurang yang amat curam dan luas, tak<BR>mungkin dilalui manusia! Tanpa diketahuinya, si buta itu berjalan perlahanlahan,<BR>tongkatnya meraba-raba menuju ke pinggir jurang, sedangkan di<BR>belakangnya, hampir seratus orang dari kedua perkumpulan penjahat itu<BR>mengikutinya, siap dengan senjata di tangan malah ada yang sudah<BR>mementang busur!<BR>Melihat betapa orang buta itu menghadapi bahaya maut yang hebat, Bi-yan-cu<BR>ingin berteriak memberi peringatan. Akan tetapi ia menahan hatinya. Mengapa<BR>ia harus berbuat demikian? Ia tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan si<BR>buta, kecuali bahwa mahkota itu berada pada si buta dan harus ia rampas. Si<BR>buta itu boleh mampus di tangan penjahat-penjahat ini, apa sangkut pautnya<BR>dengannya? Pula, orang buta itu masih muda dan tampan sekali, kalau ia<BR>seorang gadis tanpa alasan membelanya, bukankah orang akan menyangka<BR>yang bukan-bukan terhadap dirinya? Apalagi kalau diingat betapa si buta tadi<BR>demikian dekat dan baik dengan gadis pesolek genit anak Lauw Teng, dapat<BR>diduga bahwa orang buta itu pun bukan orang baik-baik biarpun<BR>kepandaiannya benar-benar amat lihai. Biarlah mereka saling gempur, dan ia<BR>mencari kesempatan baik merampas mahkota itu. Inilah siasat membiarkan<BR>anjing-anjing merebutkan daging sambil menanti kesempatan untuk<BR>menyambar daging itu!<BR>Ketika akhirnya tongkatnya meraba tempat kosong, Kun Hong juga merasa<BR>kaget sekali. Diraba-rabanya sekali lagi ke depan, kanan kiri sama saja. Jelas<BR>bahwa tongkatnya memang meraba tempat kosong. Dia berjongkok, mencoba<BR>untuk mengukur dalamnya "lobang" di depannya itu, siapa tahu hanya sungai<BR>kecil. Tapi, biarpun dia sudah mengulur lengan dan tongkatnya, masih juga<BR>belum menyentuh dasarnya. Dan dia tidak mendengar suara air sungai.<BR>Kemudian dia mundur dan melangkah dua tindak ke belakang, keningnya<BR>berkerut. Telinganya mendengar suara burung jauh di bawah ketika dia<BR>berjongkok tadi. Tahulah dia sekarang bahwa di depannya adalah jurang yang<BR>sangat curam, bahwa di "bawah" sana itu adalah kaki gunung, dusun-dusun<BR>dan pohon-pohon di mana burung-burung beterbangan!<BR>"Kwan-sinshe, kau masih tidak mau menyerahkan mahkota itu?" tiba-tiba dia<BR>mendengar suara bentakan di belakangnya, suara Lauw Teng, juga dia<BR>mendengar kaki puluhan orang banyaknya, bergerak berindap-indap ke<BR>arahnya dari belakang, kanan dan kiri. Dia maklum bahwa dirinya sudah<BR>terkurung dari kanan kiri belakang oleh para lawannya, dari depan dihalangi<BR>jurang yang tak mungkin dilalui. Dia membalik, tersenyum dan menjawab,<BR>"Pangcu, kalau mahkota ini terjatuh ke dalam tanganmu, tentu orang-orang<BR>Kiang-liong-pang takkan diam begitu saja dan akan merampasnya dari<BR>tanganmu, sebaliknya kalau kuberikan kepada ketua Kiang-liong-pang, tentu<BR>kau dan anak buahmu juga tidak akan mau menerima begitu saja. Karena itu,<BR>biarlah tetap di tanganku dan kalian tidak usah saling bermusuhan." Kun Hong<BR>melangkah maju, ingin segera menjauhi pinggir jurang karena hal ini amat<BR>berbahaya baginya.<BR>Akan tetapi atas dorongan ketua kedua perkumpulan, para bajak dan<BR>perampok segera menyerbu, didahului melayangnya puluhan batang anak<BR>panah ke arah Kun Hong! Pemuda buta itu cepat memutar tongkatnya dan<BR>anak-anak panah itu runtuh semua, ada yang melejit dan meluncur kembali<BR>menyerang tuannya sendiri. Biarpun Kun Hong dihujani anak panah, namun<BR>tak sebuah pun dapat menyentuhnya. Tongkat yang dia gerakkan merupakan<BR>perisai yang amat tangguh, juga gerakannya mengandung hawa sakti yang<BR>amat kuat sehingga anginnya saja cukup untuk mengusir pergi anak panah<BR>yang mendekatinya.<BR>Akan tetapi puluhan orang itu mendesak maju, kini menggunakan toya,<BR>tombak dan scnjata-senjata panjang lain. Kun Hong menangkis, mematahkan<BR>banyak tombak dan toya, merobohkan banyak pengeroyok dengan melukai<BR>mereka tanpa membahayakan keselamatan nyawa. Karena menghadapi<BR>pengeroyokan berat, dia terpaksa harus bergerak ke sana ke mari, mulai<BR>menendang untuk membantu tongkatnya. Dia tidak gentar menghadapi<BR>pengeroyokan orang-orang yang baginya bukan merupakan lawan yang<BR>tangguh itu... akan tetapi karena para penjahat itu mengeroyoknya sambil<BR>berteriak, hal ini amat, membingungkan Kun Hong. Harus diketahui bahwa<BR>pemuda buta ini dalam setiap pertempuran mengandalkan telinganya. Kini<BR>orang-orang itu mengeluarkan teriakan-teriakan gaduh, tentu saja<BR>pendengarannya menjadi kacau-balau dan dia tak dapat menangkap desir<BR>angin sambaran senjata lagi. Dalam keadaan begini terpaksa Kun Hong hanya<BR>mainkan tongkat melindungi dirinya saja, dan terpaksa dia menggunakan<BR>kakinya untuk menendang dan merobohkan lawan, karena untuk merobohkan<BR>lawan dengan tongkatnya, dia khawatir kalau-kalau akan menewaskannya.<BR>Mendadak di antara para pengeroyok itu ada yang mengeluarkan tambang<BR>panjang, dipegang melintang dan dipasang di depan Kun Hong yang masih<BR>sibuk menghadapi pengeroyokan. Secara tiba-tiba tambang ditarik dan<BR>dipergunakan untuk membetot kaki orang buta itu. Kun Hong kaget dan cepat<BR>melompat ke sana ke mari. Akan tetapi celakalah dia kalau sampai jatuh<BR>karena libatan tambang, Orang-orang yang mengeroyoknya bersorak dan<BR>pengeroyokan menjadi makin ketat.<BR>"Manusia-manusia curang!" Bi-yan-cu tak dapat menahan kemarahannya lagi<BR>dan sesosok bayangan hitam berkelebat didahului sinar pedang yang<BR>menyilaukan mata. Pekik kesakitan susul-menyusul, dan beberapa orang<BR>penjahat roboh oleh pedang si gadis yang ampuh.<BR>"Heee........... jangan...........!" Kun Hong berteriak mendengar jeritan-jeritan<BR>itu, akan tetapi pada saat itu dia lupa dan melompat agak jauh. Celaka<BR>baginya, dia justeru melompat ke arah jurang, tepat di pinggirnya, kakinya<BR>terpeleset dan tanpa dapat dicegah lagi tubuhnya terguling ke dalam jurang.<BR>Para bajak dan perampok bersorak-sorai dan mereka kini membalik untuk<BR>mengeroyok gadis jelita baju hitam yang mengamuk seperti seekor naga<BR>betina.<BR>Sebetulnya, ketua dari dua perkumpulan penjahat itu tidak ada nafsu untuk<BR>mengeroyok Bi-yan-cu, karena selain mereka tidak suka bermusuhan dengan<BR>puteri Sin-kiam-eng Tan Beng Kui si raja kecil dari pantai Po-hai, juga mahkota<BR>kuno yang diperebutkan berada di tangan si buta yang kini sudah terjungkal<BR>ke dalam jurang. Perlu apa ribut-ribut dengan gadis liar itu? Akan tetapi,<BR>keadaannya lain sekarang. Bukan mereka yang sengaja mengeroyok, adalah<BR>Bi-yan-cu yang sengaja mengamuk! Entah bagaimana, melihat betapa pemuda<BR>buta itu dikeroyok sampai terjungkal ke dalam jurang, gadis ini menjadi marah<BR>sekali dan mengamuk seperti ayam betina diganggu anaknya.<BR>Karena amukan gadis ini merobohkan banyak anak buah bajak dan perampok,<BR>dua orang ketua itu bersama para pembantunya menjadi marah dan mereka<BR>lalu menyerbu dan dikeroyoklah Bi-yan-cu oleh banyak orang kosen. Ilmu<BR>pedang gadis itu benar-benar hebat, tepat seperti yang diduga oleh Kun Hong<BR>tadi. Gerakannya lincah dan lemas, seperti sedang menari-nari dengan<BR>indahnya, namun setiap gerakan pedang pasti mematahkan senjata lawan<BR>atau melukainya.<BR>Betapapun juga, menghadapi pengeroyokan Lauw Teng, Ban Kwan Tojin, Bhe<BR>Ham Ko, lima orang tamu undangan termasuk Tiat-jiu Souw Ki yang tingkat<BR>kepandaiannya sudah tinggi juga, gadis ini mulai terdesak. Ilmu pedangnya<BR>yang sakti, yaitu Ilmu Pedang Sian-li-kiam-sut (Ilmu Pedang Bidadari)<BR>memang dapat menyelamatkan dirinya. Gerakannya masih tetap lincah dan<BR>indah, akan tetapi lewat seratus jurus, ia mulai lelah.<BR>"Ha-ha-ha, gadis liar, apakah engkau masih hendak mengamuk lagi?<BR>Hemmmm, melihat muka ayahmu, asal kau melepaskan pedang dan berlutut<BR>minta maaf, biarlah kulepaskan kau!" kata Lauw Teng yang bagaimanapun<BR>juga masih merasa khawatir kalau-kalau dia menimbulkan bibit permusuhan<BR>dengan raja kecil pantai Po-hai yang amat terkenal itu.<BR>"Lebih baik mampus daripada minta maaf kepada penjahat-penjahat keji<BR>macam kalian!" sambil memutar pedangnya dengan cepat sehingga pedang itu<BR>berubah menjadi gundukan sinar kemilauan, gadis itu memaki. "Manusiamanusia<BR>curang, kalau memang gagah jangan main keroyokan!"<BR>Sekali gulungan sinar pedang itu menyambar ke kiri, seorang pengeroyok<BR>menjerit dan pundaknya terbabat pedang. Baiknya ia masih sempat melempar<BR>diri ke belakang sehingga hanya kulit dan bagian daging pundaknya saja yang<BR>sapat oleh pedang. Namun cukup mendatangkan rasa perih dan nyeri bukan<BR>main sehingga ia melompat mundur sambil merintih-rintih. Lagi terdengar<BR>jeritan keras ketika pedang Bi-yan-cu yang dikelebatkan ke belakangnya<BR>berhasil merobek kulit dan daging paha seorang pengeroyok lain, malah dalam<BR>detik berikutnya pedang itu sudah menusuk ke arah leher Bhe Ham Ko dengan<BR>kecepatan kilat. Orang she Bhe ini berseru kaget dan tak kuasa untuk<BR>menangkis atau mengelak lagi, sudah meramkan mata menanti datangnya<BR>maut.<BR>"Tranggg!" Ruyung di tangan Tiat-jiu Souw Ki menangkis pedang yang akan<BR>merenggut nyawa kakak isterinya itu. Ujung ruyungnya terbabat putus akan<BR>tetapi gadis itu sendiri terhuyung mundur, tangannya terasa sakit. Ia maklum<BR>bahwa tenaga Iweekang dari Si Tangan Besi itu benar-benar kuat sekali.<BR>Sebelum ia dapat mengambil kedudukannya, ia telah diserang gencar oleh<BR>senjata-senjata lawan secara bertubi-tubi.<BR>Sekali putar pedangnya dapat menangkis semua senjata, dan ruyung yang<BR>sudah menghantam pinggangnya telah ia tangkis dengan sebuah tendangan<BR>keras menggunakan tumit kakinya. Pada saat itu, golok dan pedang lawan<BR>yang lain sudah menggempurnya, Bi-yan-cu menggoyang pedangnya, tapi<BR>agaknya para pengeroyoknya yang terdiri dari orang-orang pandai ini sudah<BR>bersepakat untuk mengalahkannya. Dari kanan kiri datang golok dan pedang<BR>yang menjepit pedangnya. Bi-yan-cu kaget, mengerahkan tenaga untuk<BR>menarik pulang pedangnya. Namun pada saat itu, sebatang pedang lain<BR>menyerampang kakinya. Cepat ia meloncat ke atas dan tak dapat dicegah lagi<BR>ia harus menerima hantaman dayung yang datang dari kanan, menggunakan<BR>pangkal lengan kanannya.<BR>"Bukkk!" Hantaman itu membuat tubuhnya tergetar tangan kanannya lumpuh<BR>kaku dan terpaksa ia melepaskan pedangnya untuk dapat meloncat ke atas,<BR>lalu membalik ke belakang dan keluar dari kepungan.<BR>"Hayo berlutut minta ampun kalau tidak mau mampus!" sekali lagi Hui-houwpangcu<BR>Lauw Teng membentaknya.<BR>Gadis itu berdiri dengan tegak, matanya berapi-api, kepalanya dikedikkan dan<BR>mulutnya tersenyum mengejek. Ia adalah puteri seorang gagah perkasa dan<BR>semenjak kecil ia sudah digembleng tentang kegagahan. Mati bukan apa-apa<BR>bagi Bi-yan-cu. Sambil mengeluarkan pekik nyaring gadis ini malah menerjang<BR>maju dengan tangan kosong, menggunakan kepalan tangan dan tendangan<BR>kaki!<BR>Para pengeroyoknya yang sudah menjadi marah itu menyambutnya dengan<BR>hujan bacokan.<BR>"Cring-cring-cring ...........!" Sinar merah berkelebat dan senjata-senjata para<BR>pengeroyok itu berpelantingan. Semua orang mundur penuh keheranan dan<BR>........ kiranya si buta sudah berada di situ. Si buta inilah yang tadi menangkis<BR>semua senjata itu, menolong nyawa Bi-yan-cu. Dan tangan kiri yang diangkat<BR>tinggi-tinggi itu masih memegang mahkota yang diperebutkan!<BR>Ketika Kun Hong menginjak pinggir jurang yang mengakibatkan dia terperosok<BR>dan terguling ke dalam jurang, pemuda ini tidak kehilangan akal. Dengan<BR>menahan napas dia mengerahkan seluruh kekuatan ginkangnya, memutar<BR>tongkatnya menusuk-nusuk ke kanan kiri. Akhirnya usahanya berhasil.<BR>Sebelum terlalu dalam dia terjatuh, ujung tongkat yang ditusukkan telah<BR>menancap dinding jurang yang merupakan tanah keras.<BR>Dia bergantung di situ. Mahkota itu dia selipkan dalam buntalan di<BR>punggungnya, lalu tangan kirinya meraba-raba. Begitu mendapat pegangan,<BR>yaitu batu yang menonjol pada dinding itu, dia mencabut pedang,<BR>menggunakan tangan kiri menarik tubuh ke atas dan menancapkan pedangnya<BR>di sebelah atas. Demikianlah, biarpun lambat akhirnya dia berhasil merambat<BR>ke atas kembali dan meloncat ke luar dari jurang yang merupakan mulut maut<BR>yang akan menelannya. Dan tepat sekali dia masih keburu menyelamatkan Biyan-<BR>cu dari bahaya maut di tangan para penjahat.<BR>Lauw Teng dan kawan-kawannya melihat munculnya si buta ini menjadi kaget<BR>dan khawatir sekali. Akan tetapi Tiat-jiu Souw Ki yang berpikiran cepat dan<BR>cerdik segera berkata, "Tawan dulu gadis liar ini!" Dia mendahului menubruk<BR>ke arah Bi-yan-cu, disusul kawan-kawannya. Gadis itu tadinya merasa heran,<BR>kaget dan juga girang melihat Kun Hong, sekarang dengan cepat ia berusaha<BR>untuk melawan. Akan tetapi karena lengan kanannya terasa kaku dan lumpuh,<BR>sia-sia saja ia melawan dan dapatlah ia diringkus dan diikat kaki tangannya.<BR>"Sinshe buta, jangan bergerak atau........... gadis ini akan kami bunuh lebih<BR>dulu!" teriak Tiat-jiu Souw Ki dengan suara nyaring sambil menempelkan<BR>ruyungnya pada kepala Bi-yan-cu.<BR>Lemas seluruh tubuh Kun Hong mendengar ini. Karena matanya sudah buta,<BR>ilmu silatnya hanya dapat dia pergunakan untuk menjaga diri, yaitu dia dapat<BR>menghadapi tiap serangan dan sekalian merobohkan lawannya. Akan tetapi<BR>untuk menyerang orang, sungguh sukar baginya, apalagi untuk menolong<BR>gadis yang dikeroyok itu. Tadi dia masih dapat menggerakkan tongkat untuk<BR>menghalau semua senjata mengandalkan pendengarannya terhadap angin<BR>pukulan senjata itu, sekarang tak mungkin dia secara mengawur dapat<BR>mengamuk. Pula, bukan maksudnya untuk menyerang orang kalau dia sendiri<BR>tidak diganggu. Maka sejenak dia menjadi bingung, tak tahu dengan cara<BR>bagaimana dia dapat menolong puteri dari Sin-kiam-eng Tan Beng Kui.<BR>"Sudahlah," akhirnya dia berkata dengan suara rendah. "Kalian menghendaki<BR>mahkota butut ini? Nah, kalian boleh menerimanya asal gadis itu dibebaskan."<BR>Lauw Teng, Ban Kwan Tojin, Souw Ki, dan Bhe Ham Ko saling pandang. Lalu<BR>Tiat-jiu Souw Ki mewakili mereka semua bersuara,<BR>"Sinshe buta, kami baru mau membebaskan gadis ini kalau kau suka<BR>menyerah menjadi tawanan kami dan menyerahkan mahkota itu."<BR>Kun Hong mengerutkan kening. Tentu saja berbahaya baginya kalau dia<BR>sampai menyerah dan menjadi tawanan orang-orang kejam ini. Besar<BR>kemungkinan dia akan dibunuh mati. Sebaliknya, kalau tidak menyerah dan<BR>mengamuk, sungguhpun dia mampu mengalahkan mereka, namun gadis<BR>puteri Tan Beng Kui itupun terancam keselamatan nyawanya. Gadis yang<BR>menurut suaranya baru belasan tahun usianya itu benar-benar amat sayang<BR>kalau harus mati, apalagi ia puteri Tan Beng Kui, atau lebih tepat lagi, ia<BR>apalagi kemenakan Tan Beng San Taihiap! Berbeda dengan dia, seorang buta<BR>yang tidak berharga, baik jiwa maupun raganya. Mati baginya hanya berarti<BR>mempercepat persatuan kembali dengan mendiang Tan Cui Bi, kekasihnya,<BR>matahari hidupnya!<BR>"Baiklah, aku menyerah. Kalian bebaskan gadis itu!" katanya sambil menarik<BR>napas panjang.<BR>"Ha-ha, pengemis buta! Jangan kira kami begitu bodoh. Kau harus menyerah<BR>untuk dibelenggu kedua tanganmu!" Bhe Ham Ko tertawa mengejek.<BR>Kun Hong tersenyum masam, menahan kemarahannya, lalu mengulurkan<BR>kedua lengan disejajarkan ke depan. "Boleh, kalian belenggulah." Seorang<BR>anak buah Kiang-liong-pang yang diberi isyarat oleh ketuanya lalu melangkah<BR>maju, membawa tambang kulit kerbau yang kuat sekali.<BR>"Jangan mau menyerah! Kau akan dibunuh oleh penjahat-penjahat jahanam<BR>ini!" tiba-tiba Bi-yan-cu berseru nyaring.<BR>Kun Hong menggelengkan kepala. "Lebih baik aku yang dibunuh, apa sih<BR>artinya orang seperti aku? Hayo, kalian belenggulah aku, tapi lepaskan dulu<BR>gadis itu!"<BR>"Kau harus dibelanggu lebih dulu!" Kata Bhe Ham Ko. Tentu saja dia tidak<BR>menghendaki si buta ini kemudian tidak memegang janjinya setelah si gadis<BR>dibebaskan.<BR>"Hah, kalian tidak percaya kepadaku. Hemmm, sebaliknya bagaimana aku<BR>dapat percaya kepada kalian?"<BR>"Jangan mau diperdayai!" kembali gadis itu mencela nyaring. "Kalau mereka<BR>berani menggangguku, ayah akan datang menghancurkan jiwa anjing mereka,<BR>tidak seekor pun akan diampuni!"<BR>Kun Hong tidak membantah ketika anak buah bajak itu membelenggu kedua<BR>pergelangan tangannya dengan tali kulit yang amat kuat itu, Juga mahkota itu<BR>diambil dari buntalannya dan diserahkan orang kepada Souw Ki yang lalu<BR>tertawa bergelak.<BR>"Lepaskan gadis liar itu," kata Souw Ki. "Jangan sampai dunia kang-ouw<BR>mengatakan kita tidak memegang janji. Nona, katakan kepada ayahmu bahwa<BR>bukan sekali-kali kami hendak memusuhinya, akan tetapi karena kau sendiri<BR>yang memusuhi kami, terpaksa kami bertindak. Kau harus tahu bahwa aku<BR>adalah pengawal kaisar dan karena benda ini adalah milik istana, sudah<BR>menjadi kewajibanku untuk mengambilnya kembali."<BR>Nona itu dibebaskan. Ia meloncat berdiri akan tetapi terhuyung-huyung.<BR>Kakinya terasa kaku dan tangan kanannya tak dapat digerakkan, agaknya ada<BR>tulang yang patah. Ia pergi menjemput pedangnya yang menggeletak di atas<BR>tanah, memegangnya dengan tangan kiri, dipegangnya erat-erat sambil<BR>menggigit bibir. Ingin ia mengamuk dan membunuh semua penjahat ini untuk<BR>merampas mahkota dan menolong si buta, akan tetapi ia tidak begitu bodoh<BR>dan tahu-pula bahwa usahanya ini akan sia-sia dan hanya akan mengorbankan<BR>nyawa dengan sia-sia belaka. Andaikata belum terluka lengan kanannya tentu<BR>ia takkan menyerah mentah-mentah.<BR>Ia berdiri seperti patung melihat betapa ujung belenggu yang masih panjang<BR>ditarik orang dan si buta itu diseret seperti orang menuntun kerbau saja.<BR>Beberapa kali Kun Hong tersandung batu dan terhuyung-huyung akan jatuh,<BR>ditertawai oleh anak buah bajak dan rampok. Tanpa menggunakan tongkatnya<BR>untuk meraba jalan di depan kakinya, tentu saja dia tak dapat berjalan dengan<BR>baik, tidak melihat adanya batu-batu yang menghalang kedua kakinya, apalagi<BR>diseret seperti itu. Tongkat itu masih dipegangnya, akan tetapi tidak dapat<BR>digunakan karena kedua tangannya harus diangkat agak tinggi ketika diseret.<BR>"Kenapa .......... kenapa kau lakukan ini...........?" gadis itu berteriak, menahan<BR>isak.<BR>Kun Hong mendengar ini, biarpun teriakan itu sebetulnya hanya nyaring di<BR>dalam hati gadis itu, yang keluar dari bibirnya keluhan perlahan. Dia<BR>menengok dan tersenyum, berkata, "Nona, mengingat pamanmu, Tan Beng<BR>San taihiap, aku rela melakukan ini..........."<BR>Sementara itu, kesibukan nampak pada para pimpinan kedua perkumpulan<BR>yang tadinya saling bermusuhan tapi sekarang telah berbaik kembali.<BR>"Souw-ciangkun, dalam merampas kembali mahkota dari tangan bekas<BR>pembesar Tan, kami pun mempunyai jasa, jangan lupakan ini!" terdengar<BR>Lauw Teng berkata.<BR>Tiat-jiu Souw Ki tertawa. "Jangan khawatir, Lauw-pangcu. Aku akan membawa<BR>kembali mahkota ini ke kota raja dan di depan sri baginda kaisar pasti akan<BR>kulaporkan tentang jasa Hui-houw-pang dan Kiang-liong-pang. Tunggu saja,<BR>tak lama kalian semua akan memperoleh anugerah dari kaisar."<BR>Jilid 3 : bagian 1<BR>Para anak buah bajak dan rampok bersorak gembira. Souw Ki lalu memilih<BR>sepuluh orang dari Hui-houw-pang dan sepuluh orang lagi dari Kiang-liongpang<BR>untuk mengawalnya ke kota raja. Malah Ban Kwan Tojin yang hendak<BR>berpesiar ke kota raja pun menyertai rombongan ini. Hui-houw-pang yang<BR>merasa berterima kasih bahwa adik ipar dari bekas musuhnya ini ternyata<BR>tidak memusuhinya cepat menyediakan dua puluh dua ekor kuda yang kuatkuat<BR>untuk rombongan itu.<BR>Berangkatlah dua puluh dua orang itu naik kuda. Anak buah yang berkuda<BR>paling belakang memegang ujung tali belenggu tangan Kun Hong. Begitu kuda<BR>bergerak, tubuh Kun Hong tersentak ke depan dan terpaksa pemuda buta ini<BR>lari pontang-panting, meloncat-loncat agar jangan tersandung batu, dengan<BR>kedua tangan diacungkan ke depan. Dia terhuyung-huyung ke depan dan<BR>agaknya penglihatan ini amat lucu bagi kedua golongan hitam buktinya<BR>mereka tertawa bergelak-gelak dengan geli.<BR>Bi-yan-cu menyelinap pergi di antara pepohonan, tangan kiri yang<BR>menggenggam gagang pedang diusapkan ke depan muka untuk menghapus<BR>air mata yang berderai jatuh ke atas kedua pipinya.<BR>***<BR>Tiat-jiu Souw Ki memang seorang yang amat cerdik. Ketika mendengar bahwa<BR>pemuda buta ini pandai ilmu pengobatan, timbul niat hatinya untuk memaksa<BR>pemuda itu ikut ke kota raja agar dapat dipergunakan kepandaiannya itu.<BR>Tentang kepandaiannya ilmu silat yang demikian hebatnya, ah, tak usah<BR>dikhawatirkan karena betapapun pandainya seorang buta tentu mudah ditipu.<BR>Biarpun kuda-kuda itu berlari tidak terlalu cepat, namun keadaan Kun Hong<BR>yang diseret-seret cukup sengsara. Berkali-kali dia terperosok ke dalam lubang<BR>di tanah, atau tersandung batu sehingga dia terjungkal ke depan dan terseret<BR>oleh kuda. Baiknya pemuda ini memang memiliki ginkang yang tinggi dan<BR>tubuhnya sudah memiliki hawa murni yang membuat kulitnya kebal sehingga<BR>biarpun tampaknya dia tersiksa sedemikian hebatnya, namun sesungguhnya<BR>dia tidak sampai menderita nyeri dan tidak terluka sama sekali. Tadi memang<BR>dia menyerahkan diri untuk menggantikan gadis itu, dan dia sengaja menurut<BR>saja diseret-seret sampai beberapa jam lamanya untuk memberi kesempatan<BR>kepada gadis itu pergi menjauhkan diri. Selain itu, juga lebih mudah baginya<BR>untuk turun gunung dengan cara "membonceng" seperti ini daripada harus<BR>mencari jalan sendiri di tempat yang asing baginya. Memang cocok sekali<BR>harapannya, dia diseret turun gunung dan hari telah menjelang senja ketika<BR>rombongan itu memasuki sebuah dusun di kaki gunung.<BR>Bukan hal aneh pada masa itu bahwa rakyat amat takut terhadap setiap<BR>rombongan orang yang bersenjata, baik rombongan ini merupakan pasukan<BR>tentara pemerintah atau bukan. Ini terjadi akibat tekanan-tekanan dan<BR>gangguan yang selalu dilakukan oleh rombongan-rombongan macam itu untuk<BR>menyenangkan diri sendiri tiap kali mereka melewati sebuah dusun. Merampas<BR>makanan tanpa bayar, memaksa penduduk membawakan beban, merampas<BR>kaum wanita dan sebagainya. Maka ketika pada sore hari itu rombongan Tiatjiu<BR>Souw Ki memasuki dusun di kaki gunung ini, penduduknya sudah pada lari<BR>menyembunyikan diri, rumah-rumah sebagian besar ditutup pintunya.<BR>Rombongan itu berhenti di tengah-tengah dusun, di depan sederetan rumahrumah<BR>gubuk kecil terbuat daripada bambu, rumah orang-orang miskin. Juga<BR>rumah-rumah ini biarpun tidak ditutup pintunya, kelihatan sunyi tiada<BR>penghuninya. Memang perlu apa rumah-rumah ini ditutup pintunya kalau di<BR>dalamnya tiada sesuatu yang cukup berharga untuk dicuri orang?<BR>Tiat-jiu Souw Ki yang merasa lapar dan haus, yang lelah setelah tadi<BR>mengalami pertempuran, ingin beristirahat dan bermalam di kampung ini.<BR>Melihat kesunyian tempat itu, dia mengerutkan kening dan mengomel.<BR>"Sungguh tidak sopan penduduk dusun ini!" Ban Kwan Tojin menjawab.<BR>"Memang sebagian besar dusun-dusun seperti ini selalu dikosongkan kalau ada<BR>rombongan orang-orang asing lewat, Ciangkun. Karena itu, kalau pemerintah<BR>yang baru sekarang ini benar-benar sudah lengkap, harus segera<BR>mengusahakan adanya penjabat-penjabat kecil di setiap dusun sehingga<BR>segala sesuatu mengenai penghuni dusun-dusun dapat diatur sebaiknya."<BR>Tiat-jiu melirik ke arah tosu itu dan diam-diam dia dapat menjeguk isi hati<BR>tosu ini yang seperti juga orang-orang lain ternyata mempunyai ambisi untuk<BR>menjadi orang berpangkat. Dia sedang hendak memerintahkan orangorangnya<BR>untuk mencari tempat penginapan yang baik baginya, tentu saja<BR>bukan rumah penginapan umum karena di dusun sekecil itu mana ada losmen?<BR>Yang dia maksudkan adalah rumah terbaik, tak perduli tempat tinggal<BR>siapapun, untuk dia mengaso malam itu. Akan tetapi tiba-tiba dari sebuah di<BR>antara rumah-rumah gubuk itu keluarlah seorang anak laki-laki kecil. Usianya<BR>paling banyak lima tahun, tubuhnya kurus kering dan setengah telanjang.<BR>Anak ini keluar setengah berlari, akan tetapi tiba-tiba terhenyak di depan<BR>pintunya ketika dia melihat begitu banyak kuda-kuda besar ditunggangi orang<BR>berkumpul di depan rumahnya. Sepasang matanya yang bening itu berseri<BR>gembira dan mulutnya segera berseru,<BR>"Kuda bagus....... kuda bagus.......!"<BR>"........... A Wan .......... A Wan ........" tiba-tiba terdengar suara wanita<BR>memanggil dari dalam gubuk itu, suaranya yang terdengar gemetar ketakutan.<BR>Akan tetapi anak kecil itu berjalan tertatih-tatih menonton kuda sampai dia<BR>tiba di bagian paling belakang rombongan itu. Sejenak dia tertegun<BR>memandang kepada Kun Hong. Pemuda buta ini berdiri dalam keadaan<BR>terbelenggu kedua tangannya, ujung tambang belenggu dipegang si<BR>penunggang kuda. Pakaian si buta itu di bagian punggung robek-robek semua,<BR>di bagian lain sudah kotor oleh debu, juga mukanya berkeringat penuh debu,<BR>membuat muka itu kotor dan hitam. Akan tetapi orang buta ini mulutnya<BR>tersenyum karena sesungguhnya Kun Hong girang juga ketika mendapat<BR>kenyataan bahwa dia telah dapat "membonceng" rombongan itu sampai ke<BR>sebuah dusun. Kalau dia sendiri yang turun dari puncak tanpa penunjuk jalan,<BR>kiranya dia akan tersesat dan entah sampai kapan dapat bertemu dengan<BR>dusun atau orang.<BR>"Kasihan paman buta ........... lepaskan........... lepas...........!" Anak itu<BR>berteriak-teriak sambil mendekati Kun Hong.<BR>"Anak baik...........!" Kun Hong berkata halus, suara anak itu menggetarkan<BR>jantungnya.<BR>"Anak haram, minggat!" seorang di antara para pengiring Souw Ki membentak<BR>dan "tar! tar!" cambuknya menyambar ke tubuh anak itu.<BR>Anak itu menjerit dan lari mundur sambil menangis. Dari dalam gubuk berlari<BR>ke luar seorang wanita yang serta merta menubruk anaknya, lalu bersama<BR>anak itu ia berlutut.<BR>"Ampun, Tai-ya........... ampunkan kami ..........." Wanita itu memohon sambil<BR>mengangguk-anggukkan kepalanya sampai menyentuh tanah, wajahnya pucat<BR>dan ketika ia melirik ke arah Kun Hong, melihat orang buta ini dibelenggu dan<BR>pakaiannya rompang-ramping mukanya kotor penuh debu, ia menjadi makin<BR>ngeri dan ketakutan sampai tubuhnya menggigil!<BR>Kun Hong tidak tahu mengapa si kejam itu menahan cambuknya, lalu<BR>terdengar orang-orang itu tertawa kecil, malah si pemegang cambuk berkata<BR>perlahan, "Aiihh, cantik..........."<BR>Lalu terdengar suara Tiat-jiu Souw Ki, "Suruh dia melayaniku nanti!"<BR>Si pemegang cambuk mengajukan kudanya mendekati wanita yang berlutut<BR>bersama anaknya yang masih terisak-isak itu dan berkata dengan suaranya<BR>yang parau.<BR>"He, manis, kau dengar sendiri ucapan Souw-ciangkun tadi. Sebentar malam<BR>kau diajak minum arak manis, ha-ha-ha! Hayo kau ikut sekarang juga."<BR>"Tidak ..........." perempuan itu menangis.<BR>"Apa katamu? Setan! Berani kau menolak?"<BR>"Ampun, Tai-yin........... hamba........ hamba tidak bisa ..........."<BR>"Tar! Tar!" Cambuk berbunyi mengerikan di udara, di atas kepala wanita itu.<BR>"Anakmu berbuat kurang ajar, ciangkun masih mengampuni malah hendak<BR>mengajak kau minum arak, tapi kau benar-benar kurang terima. Agaknya kau<BR>hendak melihat anakmu dibanting mampus baru menurut!" Cambuk itu<BR>menyambar ke arah bocah tadi dan tahu-tahu telah melibat tubuhnya terus<BR>dihentakkan ke atas.<BR>Berbareng dengan jerit mengerikan dari ibu muda itu, terdengar suara<BR>menggereng hebat, sesosok bayangan menyambar ke arah si pemegang<BR>cambuk dan pada detik lain si pemegang cambuk itu telah terbanting jatuh<BR>dari kudanya dan anak kecil itu telah berada dalam pondongan Kun Hong!<BR>Kiranya pendekar buta yang sakti ini tidak dapat menahan lagi hatinya<BR>mendengar semua peristiwa yang tak dapat dilihatnya itu. Karena maklum<BR>bahwa ibu dan anak itu terancam bahaya hebat, sekali renggut saja belenggu<BR>yang mengikat pergelangan tangannya putus semua dan sekali mengenjot<BR>tubuh dia telah menerjang si pemegang cambuk yang kejam, mendorongnya<BR>jatuh sambil merampas bocah tadi. Kini dengan tangan kiri memondong A Wan<BR>dan tangan kanan memegang tongkat erat-erat Kun Hong menggeser kakinya<BR>mendekati si wanita yang masih berlutut dan menangis.<BR>"Tiat-jiu Souw Ki, kau sejak dahulu tak pernah mengubah watakmu yang<BR>jahat!" Kun Hong memaki, berdiri dengan tegak dan gagah. "Kau dan enam<BR>orang kawanmu benar-benar merupakan tujuh pengawai yang jahat. Dahulu<BR>Pangeran Kian Bun Ti yang hendak menggangu keponakan-keponakanku,<BR>sekarang kau dan anak buahmu ternyata juga bukan manusia baik-baik.<BR>Hemm, kalau tidak lekas-lekas membawa orang-orangmu ini pergi<BR>meninggalkan dusun ini jangan bilang aku keterlaluan kalau aku membikin<BR>kalian semua tidak dapat lagi meninggalkan tempat ini!" Sambil berkata<BR>demikian Kun Hong membuat gerakan melintangkan tongkatnya di depan<BR>dada, gerakan yang sudah dikenal baik oleh Souw Ki dan teman-temannya<BR>ketika Kun Hong mengamuk dikeroyok tadi.<BR>Souw Ki kaget dan pucat wajahnya. Dia memandang penuh perhatian, serasa<BR>pernah melihat orang muda yang bersikap begini tabah dan berani, malah<BR>yang sekarang berani sekali menyebut-nyebut nama kaisar baru begitu saja.<BR>"Kau........... kau siapakah? Siapa namamu ...........?"<BR>"Namaku Kun Hong. Kau hendak laporkan kepada Kian Bun Ti yang sekarang<BR>telah menjadi kaisar? Boleh, dia sudah mengenal baik nama ini, malah dia<BR>pernah makan minum semeja dengan aku!"<BR>Bukan main kaget dan herannya Tiat-jiu Souw Ki. Teringatlah ia sekarang. Tapi<BR>pemuda ini dahulu adalah seorang pemuda pelajar yang lemah, sungguhpun<BR>tak dapat disangkal memiliki keberanian yang sukar dicari bandingnya. Di<BR>dalam cerita Rajawali Emas memang telah dituturkan betapa Kun Hong dan<BR>dua orang keponakan perempuan, yaitu Kui Eng dan Thio Hui Cu, diundang<BR>dan dijamu oleh Pangeran Mahkota Kian Bun Ti. Pada waktu itu, pengeran<BR>muda mata keranjang ini jatuh hati kepada dua orang nona Hoa-san-pai ini<BR>dan hendak mengganggunya, malah mereka telah ditawan. Kemudian dua<BR>orang nona itu dirampas oleh Song-bun-kwi, sedangkan Kun Hong dapat<BR>menyelamatkan diri mempergunakan ilmu sihirnya (baca cerita Rajawali<BR>Emas).<BR>"Kau........... kau anak Hoa-san-pai........... putera ketua Hoa-san-pai.........?"<BR>Dia bertanya gagap.<BR>Kun Hong tersenyum, menarik napas panjang. "Cukup kau ketahui namaku,<BR>siapa menyebut-nyebut Hoa-san-pai segala? Hayo pergi!"<BR>Tiat-jiu Souw Ki sudah maklum akan kehebatan kepandaian Kun Hong. Tadi<BR>ketika dikeroyok puluhan orang saja pemuda ini dapat membuat semua orang<BR>tak berdaya, apalagi sekarang dia hanya berkawan sebanyak dua puluh orang<BR>lebih. Selain itu, sekarang mahkota sudah berada di tangannya dan kalau<BR>membawa tawanan macam pemuda buta ini, tentu hanya akan menimbulkan<BR>kesulitan saja di tengah jalan. Adapun tentang wanita itu, ah, dia hanya isengiseng<BR>saja, tidak ada harganya untuk diperebutkan.<BR>"Pergi ...........!" Dia memberi aba-aba kepada para pengikutnya, lalu<BR>mengeprak kudanya. Penunggang kuda yang tadi menyeret-nyeret Kun Hong<BR>dengan wajah pucat juga segera membalapkan kuda pergi dari situ. Akan<BR>tetapi seorang perampok yang mendongkol hatinya dan masih memandang<BR>rendah kepada seorang buta seperti Kun Hong, mengejek,<BR>"Ho-ho, kiranya si buta juga mata keranjang! Kau hendak memiliki sendiri si<BR>manis ini, heh? Hati-hati, manis, kau tuntun si buta ini baik-baik, ha-ha-ha!"<BR>Kun Hong menggerakkan tangannya dan sebagian tambang yang tadi<BR>membelenggu tangannya dan masih menempel di pergelangan tangan<BR>menyambar ke arah muka penjahat itu. Terdengar suara keras dan si mulut<BR>kotor itu berteriak-teriak kesakitan,<BR>"Aduhh........... aduh........... mulutku........... gigiku rontok semua...........<BR>aduh ........!" Dan dia membalapkan kudanya mengejar kawan-kawannya<BR>sambil mengaduh-aduh.<BR>Kun Hong masih berdiri tak bergerak, kedua kakinya terpentang, tangan kanan<BR>masih memegang tongkat melintang di depan dada, sama sekali tak bergerak<BR>seperti patung sampai suara derap kaki kuda tak terdengar lagi oleh<BR>telinganya. Pemuda buta ini merasa betapa dada dan mukanya panas sekali,<BR>bukan main marahnya mendengar ucapan kotor penjahat tadi. Dia menahan<BR>napas dan menekan perasaannya sampai perlahan-lahan hawa panas dalam<BR>dadanya menurun dan akhirnya kembali dan timbul pulalah senyum yang<BR>jarang meninggalkan bibirnya itu. Matanya yang berlubang itu tadi agak<BR>terbuka pelupuknya ketika dia marah, kini tertutup lagi pelupuknya dan agak<BR>berkerut kulit di antara kedua matanya.<BR>"In-kong (tuan penolong)........... terima kasih atas budi In-kong yang telah<BR>menyelamatkan nyawa kami ibu dan anak ..........." dengan suara tergetar<BR>penuh keharuan wanita itu berlutut di depannya dan menyentuh kakinya yang<BR>tertutup sepatu rusak-rusak dan penuh debu.<BR>Kun Hong kaget mendengar suara ini dan cepat-cepat dia menarik kakinya lalu<BR>melangkah mundur dua tindak. Dia mendengar suara seorang wanita yang<BR>masih amat muda, suara wanita berusia dua puluh tahun lebih. Akan tetapi<BR>wanita ini adalah seorang ibu, seorang ibu muda.<BR>"Jangan berlutut ............ jangan berlebihan, yang menyelamatkan nyawa<BR>manusia hanyalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Bangkitlah, Twa-so (kakak), aku<BR>tidak berani menerima penghormatan seperti ini."<BR>Wanita itu bangkit sambil menahan isaknya yang masih menyesakkan<BR>kerongkongannya.<BR>"Ibu, orang-orang nakal itu sudah pergi?" anak kecil itu bertanya, timbul pula<BR>keberaniannya setelah orang-orang berkuda itu pergi tidak tampak lagi.<BR>"Sudah, A Wan, mereka sudah pergi. Lain kali kau jangan nakal, jangan keluar<BR>sendiri. Kau anak bandel, ibu sudah melarang tadi kau nekat saja. Untung ada<BR>paman ini yang menolong kita ..........."<BR>"Ibu, paman buta ini jagoan, ya? Orang-orang nakal itu takut!" Anak itu lalu<BR>tertawa-tawa senang dan menghampiri Kun Hong sambil meraba tangannya.<BR>"Paman buta, kenapa kau tadi diikat?"<BR>Kun Hong tersenyum, membungkuk dan memondong anak itu dengan penuh<BR>kasih sayang. "Anak baik, kau sudah dapat membedakan orang jahat dan<BR>tidak, bagus. Kelak kau tidak boleh menjadi orang seperti mereka itu, ya!"<BR>"Tidak!" jawab anak itu keras sambil merangkul leher Kun Hong. "Aku kelak<BR>ingin menjadi seperti Paman yang jagoan. Tapi.......... Paman buta ..........."<BR>"Hush, A Wan, jangan lancang mulutmu!" bentak ibunya. "In-kong, mari<BR>silakan singgah di dalam gubukku, biar kita bicara di dalam."<BR>"Tak usahlah, Twa-so, terima kasih. Aku harus melanjutkan perjalananku."<BR>Kun Hong mencegah, dia dapat menduga bahwa ibu dan anak ini tentu<BR>keluarga miskin, terbukti dari pakaian anak itu yang kasar dan ada<BR>tambalannya, tidak bersepatu pula. Dia tidak mau mengganggu orang yang<BR>memang keadaannya sudah amat kekurangan itu.<BR>"Jangan, In-kong. Kau harus singgah dulu. Pakaianmu robek-robek semua, lagi<BR>kotor. Aku mempunyai sestel pakaian, boleh kau pakai dan pakaianmu itu<BR>akan kucuci, kujahit. Dan........... dan........... kau harus makan dulu ..........."<BR>suara itu tergetar penuh keharuan dan belas kasihan. Melihat orang buta itu<BR>menggerak-gerakkan tangan seperti hendak menolak, wanita itu cepat-cepat<BR>melanjutkan, suaranya penuh permohonan, "In-kong, tak boleh kau menolak.<BR>Kau telah menyelamatkan nyawa kami, kau telah menanam budi sebesar<BR>gunung sedalam lautan, aku........... aku tak mampu membalasnya.<BR>Biarlah aku menjahitkan dan mencuci pakaianmu dan memberi hidangan<BR>sekedarnya ........... untuk menyatakan terima kasihku. Kalau kau menolak<BR>dan pergi begitu saja........... ah, In-kong, selama hidupku aku akan merasa<BR>menyesal kepada diri sendiri. A Wan, kau ajak pamanmu masuk ke dalam!"<BR>Anak itu dengan suara merdu berkata, "Paman buta, mari kita masuk. Ibu tadi<BR>masak bubur dan ubi merah ..........."<BR>"A Wan ..........." Dengan suara perih ibu itu mencegah anaknya membuka<BR>rahasia kemiskinan mereka. Kun Hong merasa hatinya tertusuk. Dipeluknya<BR>anak itu dan dia berkata sambil tertawa,<BR>"Anak baik, biarlah kubikin lega hatimu dan hati ibumu. Kalian manusiamanusia<BR>baik.................."<BR>"Paman buta, mari kutuntun kau masuk." Anak itu melorot turun dan<BR>menggandeng tangan Kun Hong. Ibunya memandang dengan senyum lega<BR>menghias wajahnya karena tadinya ia sudah merasa bingung apakah ia yang<BR>harus menuntun tamunya itu memasuki rumah. Tentu saja ia tidak tahu bahwa<BR>dengan mudah tamunya ini akan dapat memasuki rumah tanpa dituntun,<BR>asalkan ia berjalan lebih dulu karena tamunya itu dapat mengikutinya dari<BR>pendengarannya yang tajam, yang dapat mendengar tindakan kakinya. Sambil<BR>tersenyum Kun Hong membiarkan dirinya dituntun oleh anak itu memasuki<BR>rumah yang berlantai tanah.<BR>Baru saja melangkahi ambang pintu, anak itu sudah berhenti. Hal itu berarti<BR>bahwa rumah itu benar-benar amat kecilnya. "Mari silakan duduk, In-kong.<BR>Maaf, tidak ada apa-apa, hanya ada tikar rombeng.............." Kembali Kun<BR>Hong menangkap getaran suara yang menusuk hatinya.<BR>"Sini, Paman, sini duduklah......." Anak itu pun mempersilakannya. Kun Hong<BR>maju dua langkah dan ternyata di situ terbentang sehelai tikar di alas tanah!<BR>Dia lalu duduk bersila di atas tikar dan ketika tangannya meraba ternyata tikar<BR>itu rombeng dan di bawah tikar ditilami rumput kering. Kerut di antara kedua<BR>mata yang buta itu makin mendalam. Alangkah miskinnya keluarga ini.<BR>"Silakan duduk dulu, In-kong. Aku hendak mengambil pakaian untukmu."<BR>Kun Hong cepat menggoyang-goyang tangannya ke atas. "Tidak usah, Twa-so,<BR>tidak usah. Kalau ada pakaian, biarlah dipakai oleh A Wan ini..............<BR>aku....... aku tidak perlu berganti pakaian."<BR>Ibu muda itu mengeluarkan suara seperti orang tertawa kecil. "Pakaian yang<BR>kusimpan itu adalah pakaian orang tua, mana bisa dipakai A Wan? Tunggulah<BR>sebentar."<BR>"Itu pakaian ayah, Paman. Kau boleh pakai!" anak itu berkata. Hati Kun Hong<BR>tidak karuan rasanya. Terang bahwa keluarga ini miskin, mungkin pakaian itu<BR>hanya satu-satunya yang menjadi simpanan ayah anak ini, bagaimana dia<BR>boleh pakai? Ah, dia mendapat akal. Perempuan ini mempunyai perasaan yang<BR>halus, terdorong oleh budinya yang baik. Tak boleh dia mengecewakan<BR>hatinya. Biarlah dia berganti pakaian dan membiarkan dia mencuci dan<BR>menambal pakaiannya sendiri yang robek-robek. Setelah itu dia boleh<BR>memakai pakaiannya sendiri lagi dan mengembalikan pakaian yang dipakai<BR>untuk sementara itu. Dengan demikian, tanpa merugikan keluarga ini banyakbanyak,<BR>ia dapat memuaskan hati nyonya rumah.<BR>Gemersik pakaian menandakan bahwa wanita itu sudah datang lagi. "Marilah<BR>kau berganti dengan pakaian ini, In-kong, dan biarkan pakaianmu yang kotor<BR>dan robek-robek itu di sini, sebentar kucuci dan kujahit. Aku permisi hendak<BR>menyiapkan makanan. A Wan, kau temani pamanmu. Baik-baik jangan nakal,<BR>ya!"<BR>"Tapi.......... tapi........" Kun Hong berusaha membantah.<BR>"Harap In-kong jangan menolak, biarpun pakaian tua dan hidangan sederhana,<BR>kuharap In-kong sudi menerima tanda terima kasihku yang mendalam<BR>............"<BR>Suara itu mengandung permohonan yang mutlak tak dapat dia bantah lagi.<BR>"Tapi badanku kotor semua............. aku harus membersihkan badan<BR>dulu....... begini kotor mana boleh memakai pakaian bersih dan makan?"<BR>Mendengar ini, ibu muda itu tertawa. Kun Hong tertarik sekali mendengar<BR>suara ketawa ini. Merdu dan sopan. Hanya orang dengan hati putih bersih dan<BR>jiwa murni yang dapat tertawa seperti itu. Anak itupun tertawa karena<BR>menganggap ucapan Kun Hong ini sebagai kelakar yang lucu. Memang sikap<BR>dan gerak-gerik seorang buta kadang-kadang nampak lucu, lucu dan<BR>mengharukan hati. Mendengar ibu dan anak itu tertawa-tawa geli, mau tidak<BR>mau Kun Hong tertawa pula sehingga di dalam rumah gubuk sepi miskin itu<BR>sekali ini penuh tawa menggembirakan seperti cahaya matahari menyinari<BR>tempat gelap.<BR>"A Wan, kau antarkan pamanmu ini ke anak sungai di belakang dusun!" kata<BR>wanita itu sambil pergi ke belakang dengan suara ketawanya masih terdengar.<BR>"Hayo, Paman buta!" Bocah itu menggandeng tangan Kun Hong dan pergilah<BR>keduanya ke luar dari pondok, menuju ke anak sungai. Ketika ke luar dari<BR>pondok dan berjalan ke anak sungai, Kun Hong mendengar bahwa di depan<BR>pondok berkumpul banyak orang, malah di tengah perjalanan dia mendengar<BR>pula orang-orang berjalan.<BR>"Siapa mereka, A Wan?" tanyanya.<BR>"Paman-paman dan bibi-bibi tetangga, penduduk dusun ini, Paman," jawab<BR>anak itu dengan singkat. Agaknya anak ini mempunyai rasa tidak senang<BR>kepada penduduk dusun dan anehnya, tak seorang pun di antara mereka<BR>menegur anak ini!<BR>Setelah mandi di sungai kecil yang airnya jernih dan segar itu, Kun Hong<BR>segera berganti pakaian bersih dan dia malah mencuci pakaiannya sendiri,<BR>dibantu oleh A Wan. Ternyata pakaian bersih yang terbuat daripada kain kasar<BR>itu, pas betul dengan tubuhnya. Agaknya ayah anak ini sama perawakannya<BR>dengan dia.<BR>Dalam perjalanan pulang, mereka juga bertemu dengan orang-orang dusun.<BR>Amat aneh bagi pendengaran Kun Hong, orang-orang yang tengah bercakapcakap<BR>tiba-tiba menghentikan percakapan mereka di kala Kun Hong dan A Wan<BR>lewat. Ketika mereka sampai di dekat pondok, tiba-tiba Kun Hong berkata<BR>kepada A Wan, "Kau diam saja, A Wan, dan jangan mengeluarkan suara." Dia<BR>lalu bersama anak itu mendekati rumah dan terdengarlah suara ibu anak itu,<BR>suaranya marah bercampur isak tertahan.<BR>"............ perduli apa kau dengan urusan pribadiku? Kuberikan kepada siapa<BR>pun juga baju suamiku, ada sangkut pautnya apakah denganmu? Kau.............<BR>kau selalu mengganggu................ saudara misan yang durhaka!"<BR>"Huh, dasar perempuan tak tahu malu! Semua orang memandangmu dengan<BR>hina, hanya aku yang masih mau memperdulikan. Semua ini karena aku ingat<BR>bahwa di antara kita masih ada hubungan keluarga, tahukah kau? Kalau tidak<BR>ada aku, apakah kau dan anakmu tidak sudah kelaparan dan menjadi jembel<BR>pengemis? Awas kau, kulaporkan kepada Song-wang-we (hartawan Song)!"<BR>Terdengar suara laki-laki memaki.<BR>".............. pergi............! Pergi.......! Aku tidak sudi mendengar ocehanmu<BR>lagi.........!" Wanita itu berseru marah.<BR>"Ibu...............! Apakah paman Tiu mengganggumu lagi?" A Wan tak dapat<BR>menahan suaranya dan merenggut tangannya lalu lari membuka pintu<BR>belakang.<BR>"A Wan, kau sudah pulang?" Ibunya menegur dan Kun Hong mendengar<BR>betapa kaki seorang laki-laki dengan cepat meninggalkan tempat itu lalu dia<BR>mendengar tindakan kaki ibu A Wan dan anak itu sendiri menyambutnya.<BR>Langkah kaki ibu anak itu secara tiba-tiba terhenti dan tidak terdengar<BR>suaranya bergerak sedikitpun juga, sedangkan A Wan berlari menghampirinya<BR>dan memegang lagi tangannya. Memang ibu A Wan kaget dan memandang ke<BR>wajah Kun Hong dengan mata terbuka lebar. Setelah wajah pemuda buta itu<BR>tercuci bersih. alangkah jauh bedanya dengan tadi. Kalau tidak datang<BR>bersama anaknya dan tidak mengenakan pakaian yang amat dikenal nya,<BR>tentu ia pangling. Wajah si buta itu berkulit putih halus, wajah yang amat<BR>tampan, wajah seorang kong-cu (tuan muda)! Kemudian ia melihat pakaian<BR>yang sudah dicuci, maka serunya penuh penyesalan,<BR>"Aiihh, In-kong, kenapa dicuci sendiri pakaiannya? Ah, mana bisa bersih?<BR>Berikan kepadaku, biar sebentar kucuci lagi biar bersih. Syukur, kulihat<BR>pakaian itu pas benar dengan badan In-kong."<BR>"Terima kasih............... terima kasih............. aku menyusahkan saja," kata<BR>Kun Hong dan tidak membantah ketika cucian itu diambil orang dari<BR>tangannya. Kun Hong memuji bahwa ibu muda ini benar-benar seorang yang<BR>baik. Mengenal budi, peramah, dan pandai menyimpan penderitaan hati. Dia<BR>berpura-pura tidak tahu akan persoalan yang baru saja dia dengar tadi, dan<BR>mengambil keputusan bahwa dia akan segera pergi meninggalkan tempat itu.<BR>setelah pakaiannya sendiri kering.<BR>Tak lama kemudian nyonya rumah itu datang mengantar sebuah mangkok<BR>terisi bubur hampir penuh. Dengan ujung-ujung jarinya Kun Hong dapat<BR>mengetahui bahwa mangkok itu terbuat daripada tanah lempung dan sepasang<BR>supit dari bambu, alat-alat makan yang paling sederhana dan murah yang<BR>dapat dipergunakan manusia.<BR>"Waduh, enak, Paman buta. Buburnya pakai ubi merah! Hi-hik, kau tahu? Ubi<BR>merah ini kucuri dari kebun paman Lui."<BR>"A Wan!!" ibunya menegurnya.<BR>"Paman, ibu selalu bilang bahwa mencuri adalah perbuatan jahat. Aku tidak<BR>pernah mencuri. Tapi paman Lui ubinya begitu banyak dan aku............... aku<BR>dan ibu sudah lama tak makan ubi merah."<BR>Hampir Kun Hong tersedak karena keharuan membuat hawa dari dalam dada<BR>naik ke kerongkongannya. "Ibu betul, A Wan, mencuri adalah perbuatan yang<BR>jahat. Lebih baik kau minta saja kepada pemilik ubi ......................."<BR>"Minta? Uhh, pernah aku minta, bukan mendapat ubi melainkan mendapat<BR>cambukan pada pantatku. Tak sudi lagi aku minta. Tapi aku pun tidak akan<BR>men-curi lagi, ibu marah-marah," kata anak itu dengan suara manja.<BR>Bubur yang mereka makan itu sangat encer, terlalu banyak airnya dan ini pun<BR>membuktikan betapa miskinnya keluarga itu. Setelah selesai makan, selesai<BR>sebelum kenyang, nyonya rumah menyingkirkan mangkok-mangkok itu dan<BR>menyapu tikar dengan kebutan. Senja telah lewat dan ibu anak itu<BR>menyalakan sebuah pelita kecil, dipasang di sudut pondok. A Wan duduk di<BR>pangkuan Kun Hong dan agaknya anak ini masih menderita oleh peristiwa sore<BR>tadi. Punggungnya yang kena sambaran cambuk diurut-urut oleh Kun Hong<BR>dan sebentar saja anak itu tidur di pangkuannya.<BR>"Dia sudah tidur, Twa-so. Di mana tempat tidurnya?" tanya Kun Hong<BR>perlahan.<BR>Sampai lama baru terjawab lirih. "....... di sini juga.......... disini juga napas<BR>panjang, tangannya mengelus-elus muka anak itu, meraba dahinya, alisnya,<BR>mata, hidung, mulut dan dagu. Muka yang tampan, hidungnya mancung<BR>mulutnya kecil.<BR>"In-kong, memang kami tidak mempunyai apa-apa. Dalam rumah ini kosong,<BR>hanya ada tikar inilah................ tempat kami duduk, makan dan tidur<BR>................"<BR>"Maaf, Twa-so, sejak tadi aku belum mendengar twa-ko (kakak) pulang. Ke<BR>manakah dia?"<BR>Kembali sampai lama tiada jawaban, kemudian jawaban itu bercampur isak<BR>tertahan, "Dia sudah.............. sudah tidak ada..................."<BR>"Tidak ada? Ke mana ??" Kun Hong tidak menduga buruk.<BR>"............. sudah meninggal dunia .......tiga bulan yang lalu .............."<BR>"Ahhh.............!" Kerut di antara kedua mata yang buta itu mendalam. Ah,<BR>sekarang tahulah Kun Hong akan sikap para penghuni dusun itu. Kiranya ibu<BR>muda ini seorang janda muda. Dia tahu apa artinya menjadi janda di masa itu.<BR>Janda muda lagi. Betapa sukarnya hidup bagi seorang janda yang miskin.<BR>Penghinaan akan menimpa dari segenap penjuru, penghinaan lahir batin.<BR>Semua mata akan mengincarnya, penuh cemburu, setiap gerak dapat<BR>menimbulkan fitnah. Sedang mata pria memandangnya lain lagi, pandangan<BR>yang penuh nafsu mempermainkan. Seorang janda bagaikan sebuah biduk<BR>kehilangan layar dan kemudi, terombang-ambing di tengah samudera hidup<BR>menjadi permainan gelombang. Janda tua tentu saja lain lagi, yang pertama<BR>mengandalkan hartanya, yang belakangan mengandalkan anak-anaknya.<BR>Kembali jari-jari tangan Kun Hong meraba-raba muka A Wan. "Twa-so, apakah<BR>wajah A Wan ini sama dengan wajahmu?"<BR>Lama tak menjawab. Kun Hong tidak dapat melihat betapa wajah tanpa bedak<BR>yang amat manis itu menunduk dan kedua pipi yang sehat itu memerah.<BR>"Orang-orang bilang dia mirip dengan aku."<BR>Hemmm, tak salah dugaanku, pikir Kun Hong. Janda muda lagi cantik. Makin<BR>berbahaya kalau begini.<BR>"Dan kau tentu belum ada dua puluh lima tahun usiamu," katanya pula.<BR>"............... baru dua puluh tiga umurku.<BR>Kun Hong merebahkan tubuh A Wan di atas tikar, lalu dia sendiri bangkit<BR>berlutut dan berkata, "Twa-so, maaf. Tolong ambilkan pakaianku tadi, aku<BR>akan berganti pakaian dan aku harus pergi sekarang juga."<BR>"............ kenapa...........? In-kong, kenapa kau hendak pergi sekarang?<BR>Bajumu masih belum kering benar, dan sedang kutambal<BR>punggungnya.............."<BR>Kun Hong menggeleng kepala, mengulurkan kedua tangan untuk minta<BR>pakaian dan bangkit berdiri. "Aku harus pergi. Twa-so, kau janda masih baru,<BR>kau berwajah cantik dan umurmu baru dua puluh tiga tahun ............"<BR>Wanita itu mengeluarkan jerit lirih dan sambit menangis ia menubruk kedua<BR>kaki Kun Hong! Tentu saja Kun Hong menjadi bingung dan tidak tahu apa yang<BR>harus dilakukannya.<BR>Jilid 3 : bagian 2<BR>"In-kong ............. engkau juga begitu............?? Ah, kalau begitu..............<BR>kau pukulkan tongkatmu itu kepadaku........ kau bunuh saja aku, In-kong<BR>........... apa artinya hidup kalau semua orang....... juga kau yang<BR>kumuliakan........... memandang serendah itu kepadaku........? Kau bunuhlah<BR>aku............ kau bunuhlah."<BR>Karena tangis ini, A Wan menjadi terbangun dan begitu melihat ibunya<BR>menangis sambil merangkul kedua kaki Kun Hong yang berdiri seperti patung<BR>serta merta anak itu ikut menangis sambil merangkul ibunya. "Ibu.............<BR>ibu."<BR>"In-kong.................. kau bunuhlah kami.............. biar terbebas kami<BR>daripada penderitaan ini ............."<BR>Hancur perasaan hati Kun Hong mendengar ibu dan anak itu menangis dan<BR>memeluki kedua kakinya.<BR>"Kau salah sangka.............. kau salah mengerti........" katanya sambil duduk<BR>kembali. "Aku sama sekali tidak memandang rendah atau menyangka yang<BR>bukan-bukan terhadapmu, Twa-so..............."<BR>"In-kong............." wanita itu tersedu-sedu dan sejenak menangis dengan<BR>muka di atas dada Kun Hong. Pemuda buta itu membiarkannya saja, maklum<BR>betapa hancur hati wanita itu, malah dia menepuk-nepuk bahunya dengan<BR>menghibur dan mengusap-usap rambut A Wan yang menangis di atas<BR>pangkuannya.<BR>"Tenanglah, duduklah Twa-so, dan mari kita bicara baik-baik."<BR>Agaknya baru wanita itu sadar akan keadaan dirinya yang menangis sambil<BR>bersandar di dada tamunya. "............. ohhh......... maafkan aku, In-kong<BR>........."<BR>Ia cepat-cepat mundur dan duduk menekuk lutut, membendung air mata yang<BR>bercucuran dengan ujung lengan bajunya. A Wan diraihnya dan anak ini<BR>menidurkan kepala di atas pangkuan ibunya sekarang.<BR>"Twa-so, agaknya kau tadi salah duga. Aku hendak pergi sekali-kali bukan<BR>karena memandang rendah kepadamu, sama sekali tidak. Malah sebaliknya.<BR>Aku sangat kagum kepadamu dan menghormatimu, karena itu aku hendak<BR>pergi agar jangan sampai nama baikmu dirusak orang dengan kehadiranku di<BR>sini semalam ini. Lebih baik aku tidur di pinggir jalan daripada tidur menginap<BR>di sini dengan akibat merusak namamu, Twa-so!"<BR>"Tidak ada bedanya, In-kong, sebelum kau datang, namaku sudah dirusak<BR>orang setiap hari. Apa perduli dengan omongan orang asalkan kita benarbenar<BR>bersih? Dalam beberapa bulan saja aku sudah kebal terhadap fitnahfitnah<BR>dan omongan-omongan kotor mereka, In-kong. Kalau mereka hendak<BR>melakukan fitnah dengan kehadiranmu malam ini di sini, biarlah mereka<BR>lakukan. Aku tidak perduli karena aku yakin bahwa kau yang kuhormati dan<BR>kumuliakan mengetahui akan kebersihanku."<BR>Kun Hong menarik napas panjang, makin kagum. Wanita ini biarpun miskin<BR>dan janda yang tak berdaya, ternyata seorang yang berpendirian.<BR>"Twa-so, maafkan kata-kataku, akan tetapi kupikir............ akan lebih baik<BR>kiranya bagimu dan bagi anakmu kalau kau........... menikah lagi."<BR>"In-kong, siapakah di dunia ini mau secara jujur menikah dengan seorang<BR>janda miskin yang mempunyai seorang anak? Kecuali laki-laki mata keranjang<BR>yang hanya bermaksud mempermainkan saja. Semua laki-laki di sekitar<BR>tempat ini memandangku seperti itu, tentu banyak yang mau memeliharaku,<BR>akan tetapi............... mereka hanya ingin mempermainkan, In-kong. Aku<BR>tidak sudi....... apalagi Song-wangwe, aku tidak sudi, biar dia boleh suruh<BR>tukang-tukang pukulnya memaksaku."<BR>Kun Hong harus mengakui kebenaran kata-kata ini. Memang banyak laki-laki<BR>di dunia ini yang seperti itu wataknya. Menganggap wanita hanya sebagai<BR>barang mainan, menarik karena cantiknya, suka menikah dengan janda muda<BR>yang cantik hanya untuk dipermainkan belaka. Sudah tentu saja tidak semua<BR>laki-laki demikian karena segala sesuatu di dunia ini tentu ada<BR>pengecualiannya, akan tetapi sebagian besar laki-laki seperti itulah sifat dan<BR>wataknya.<BR>"Susah kalau begitu. Twa-so, apakah kau tidak mempunyai keluarga?"<BR>"Ada seorang pamanku yang tinggal jauh di kota Cin-an, akan tetapi aku tidak<BR>tahu betul di mana rumahnya. Satu-satunya orang yang tahu adalah saudara<BR>misanku yang jahat, si Tiu yang keparat membantu cepatnya maut merenggut<BR>nyawa suamiku dan yang membujuk-bujukku untuk menuruti kehendak<BR>hartawan Song!" Suara wanita itu memperdengarkan kemarahan ketika<BR>menyebut-nyebut nama Tiu dan Song.<BR>"Orang yang datang tadi? Hemm, sebetulnya, mengapa suamimu mati di<BR>waktu masih muda? Dan apa maksud Tiu dan Song, Twa-so?"<BR>Dengan suara menyedihkan janda muda itu lalu bercerita. Tadinya ia hidup<BR>bahagia dengan suaminya, seorang petani muda she Yo. Biarpun keadaannya<BR>tidak dapat dikata berlebihan, namun dengan milik mereka sebidang sawah,<BR>dapatlah mereka menutupi kebutuhan hidup sederhana, bertiga dengan putera<BR>mereka, si kecil Yo Wan. Mereka sebenarnya adalah suami isteri pendatang<BR>baru dari lain dusun di daerah banjir, mereka adalah korban-korban yang lari<BR>mengungsi dan akhirnya menetap di dusun itu setelah menukar seluruh<BR>barang-barang mereka dengan sebidang tanah.<BR>Namun, malapetaka mulai mengintai mereka ketika di dusun itu datang pula<BR>Lao Tiu, saudara misan Yo Kui, petani muda itu. Lao Tiu ini orangnya licik,<BR>curang dan kerjanya hanya berjudi dan selalu terkenal sebagai seorang buaya<BR>petualang. Akhirnya si Lao Tiu ini menjadi kaki tangan tuan tanah kaya raya<BR>yang menguasai sebagian besar tanah di sekitar tempat itu dan yang pengaruh<BR>dan kekuasaannya dikenal di dusun-dusun sekitarnya. Tuan tanah hartawan ini<BR>adalah Song-wangwe (hartawan she Song)<BR>Seorang laki-laki setengah tua yang mata keranjang dan terkenal tak dapat<BR>tidur nyenyak sebelum mendapatkan wanita yang dirindukan, baik wanita itu<BR>isteri orang lain atau bukan.<BR>Karena kelicikan dan tipu muslihat Lao Tiu ini, akhirnya Yo Kui masuk<BR>perangkap si tuan tanah. Mula-mula dia diberi hutang untuk membeli bibit padi<BR>dan kerbau, dan karena Yo Kui seorang buta huruf, maka dia tidak tahu bahwa<BR>tuan tanah dan Lao Tiu yang "berbudi" itu membuat surat perjanjian juai beli<BR>lalu menyuruh dia menanda-tangani dengan cap jempol. Dengan ditandainya<BR>surat perjanjian yang tak diketahui isinya itu, Yo Kui berarti telah menjual<BR>tanahnya, atau lebih tepat, menukar tanahnya hanya dengan kerbau seekor<BR>dan bibit padi sekarung! Semenjak itu, mulailah Lao Tiu mengerjakan lidahnya<BR>yang berbisa. Malah dengan berani mati dia membujuk Yo Kui supaya<BR>"menyerahkan" isteri yang cantik manis itu menjadi "penghibur" tuan tanah<BR>Song, dan merelakan setiap kali hartawan itu membutuhkannya.<BR>Tentu saja Yo Kui menjadi marah sekali dan serta merta menghajar Lao Tiu<BR>saudara misannya itu sampai jatuh bangun. Akan tetapi pada beberapa hari<BR>berikutnya, lima orang tukang pukul tuan tanah itu datang kepada Yo Kui dan<BR>menagih pembayaran sewa tanah. Yo Kui memaki-maki, bilang bahwa dia<BR>mengerjakan sawahnya sendiri, mengapa harus bayar sewa? Kalau si<BR>hartawan menghendaki kembalinya kerbau dan bibit, boleh diambil kembali<BR>kerbaunya dan bibitnya akan dikembalikan kelak kalau sudah panen. Terjadi<BR>keributan dan Yo Kui disiksa oleh lima orang tukang pukul itu. Pemuda tani ini<BR>jatuh sakit, muntah-muntah darah.<BR>Namun dia masih belum mau menyerah. Setelah penyakitnya agak sembuh,<BR>dia pergi ke kota melapor kepada pembesar setempat tentang perbuatan<BR>hartawan Song dengan kaki tangannya. Apakah yang terjadi? Mudah diduga.<BR>Di dalam negara yang masih kacau seperti Tiongkok di masa itu, jarang ada<BR>pembesar yang betul-betul memperhatikan kepentingan rakyat, apalagi<BR>kepentingan rakyat kecil. Hukum diinjak-injak, peri kemanusiaan lenyap dari<BR>lubuk hati manusia, agaknya orang malah lupa kepada Tuhan, mengumbar<BR>nafsu sejadi-jadinya, mengandalkan setan yang pada waktu itu merubah diri di<BR>dalam tumpukan harta dan tingginya kedudukan dan pangkat. Yang berharta<BR>dan berpangkat, merekalah yang berkuasa, dialah yang menang, akhirnya<BR>siapa yang menang, dialah yang benar! Oleh karena inilah maka tidak<BR>mengherankan apabila pembesar yang dilaporinya itu segera turun tangan<BR>melakukan tindakan, periksa sana periksa sini, lalu keluarlah keputusan<BR>"pengadilan", bahwa tanah itu telah menjadi milik Song-wang-we dengan sah,<BR>bahwa Yo Kui harus membayar lunas uang sewa tanah dan mengembalikan<BR>tanah itu, dan bahwa Yo Kui harus membayar biaya pengaduannya kepada<BR>pembesar itu!<BR>Melihat dan mendengar keputusan pengadilan macam ini, kontan saja Yo Kui<BR>jatuh sakit! Memang dia telah mendapat luka di dalam tubuhnya karena<BR>pengeroyokan para tukang pukul, ditambah lagi tekanan batin hebat membuat<BR>dia tak dapat turun dari pembaringan, isterinya menjadi gelisah sekali. Kerbau<BR>dan alat pertanian terpaksa dijual, sebagian untuk membayar apa yang sudah<BR>diputuskan oleh pembesar itu, sebagian untuk pembeli obat dan makan. Akan<BR>tetapi penyakit yang diderita Yo Kui makin payah. Dia sakit sampai berbulanbulan<BR>dan setelah semua barang yang ada di dalam rumah dijual oleh isterinya<BR>untuk obat dan makan, akhirnya dia....... mati meninggalkan isterinya yang<BR>masih muda dan anaknya yang masih kecil!<BR>"Demikianlah, In-kong ............" Janda muda itu mengakhiri ceritanya sambil<BR>menghapus air matanya yang bercucuran. "Penderitaanku tidak hanya sampai<BR>di situ saja........... setelah suamiku meninggal, bermunculan setan-setan<BR>berupa orang-orang lelaki mata keranjang yang seakan-akan bersaingan dan<BR>berebutan untuk membujukku menjadi........... isteri muda atau piaraan.<BR>Terutama sekali si jahat Lao Tiu itu, dia setiap hari membujuk-bujukku untuk<BR>menyerah kepada hartawan Song............."<BR>Kun Hong menahan kemarahan yang seakan-akan hendak meledakkan<BR>dadanya mendengar penuturan janda muda ini.<BR>"........ tapi aku bukanlah wanita rendah seperti yang mereka inginkan ........."<BR>janda itu melanjutkan, masih terisak, "bagiku, lebih baik aku mati daripada<BR>menuruti kehendak mesum mereka, In-kong........... kalau saja aku tidak<BR>melihat A Wan......... ah ........... agaknya sudah lama aku menyusul suamiku<BR>........"<BR>Ia menangis lagi, kini lebih menyedihkan, sambil mendekap kepala puteranya<BR>di pangkuan.<BR>"Besarkan hatimu, Twa-so, dan percayalah bahwa Thian Maha Adil Selalu akan<BR>menolong manusia yang sengsaja. Kau tidurlah sekarang dan besok masih ada<BR>waktu untuk kita mencari jalan sebaiknya. Hanya satu hal ingin kuketahui.<BR>Pamanmu yang tinggal di Cin-an itu, andaikata kau dan anakmu datang<BR>padanya, apakah kiranya dia mau menerima kalian?"<BR>"Dia orang baik, In-kong, dia adik mendiang ibuku, agaknya dia tentu mau<BR>menerima kami, biar aku bekerja sebagai bujang tidak mengapa ............"<BR>Percakapan terhenti dan janda muda itu biarpun berkali-kali diminta oleh Kun<BR>Hong agar supaya mengaso, tetap saja duduk di dekat lampu untuk<BR>menyelesaikan pekerjaannya menambal dan menjahit pakaian Kun Hong.<BR>Beberapa kali ia menengok dan memandang ke arah tua penolongnya,<BR>ternyata si buta itu duduk bersila tak bergerak seperti patung. "Inkong...........<BR>kau tidurlah ........."<BR>"Biarlah, Twa-so, aku biasa tidur sambil duduk. Kau mengasolah, kurasa sudah<BR>hampir tengah malam sekarang."<BR>"Aku hendak menyelesaikan ini dulu........" jawab janda muda itu. Akan tetapi<BR>setelah selesai menambal pakaian itu, ia duduk termenung sambil menatap<BR>wajah yang tak dapat balas memandangnya itu. Hatinya penuh ketrenyuhan,<BR>iba hatinya melihat wajah tampan yang berkerut di antara kedua matanya itu.<BR>Aduh kasihan, muda belia yang malang, pikir janda muda ini. Apa bedanya<BR>bagi dia siang dan malam? Ah, mengapa aku tadi menyuruh dia tidur?<BR>Bukankah selamanya dia seperti orang tidur kedua matanya? Jantungnya<BR>serasa diiris-iris kalau ia menatap kedua pelupuk mata yang tertutup rata itu,<BR>mulut yang mengarah senyum namun membayangkan bekas penderitaan<BR>batin yang hebat. Muda belia buta yang malang...........! Memang aneh, janda<BR>muda yang sebetulnya juga amat menderita batin dalam hidupnya itu, kini<BR>duduk termenung memandang ke arah pemuda buta dengan hati penuh belas<BR>kasihan.<BR>Hawa malam mulai dingin. Janda itu menyelimutkan sehelai karung tipis di<BR>atas tubuh puteranya, lalu menengok ke arah Kun Hong yang masih saja<BR>duduk seperti patung. Ia memperhatikan pernapasan Kun Hong yang rata dan<BR>panjang. Benarkah si buta ini bisa tidur sambil duduk? Orang aneh. Muda belia<BR>yang malang dan aneh.<BR>"In-kong...............?" Ia berbisik untuk meyakinkan apakah dia benar-benar<BR>tidur. Ingin ia menawarkan selimut, selimutnya sendiri, juga sehelai karung<BR>tipis. Akan tetapi Kun Hong tidak bergerak, tidak menjawab. Ah, dia sudah<BR>tidur, tak boleh diganggu. Janda muda itu meniup padam api penerangan dan<BR>merebahkan diri di dekat anaknya, mendekap anaknya, meringkuk seperti<BR>udang di atas tikar rombeng yang dingin.<BR>Kun Hong tidak tidur. Dia tengah bersamadhi. Dia mendengar suara janda itu<BR>tadi, akan tetapi sengaja tidak menjawab. Baru lega hatinya ketika janda itu<BR>memadamkan api penerangan yang baginya tiada bedanya itu, karena hal itu<BR>berarti si janda akan tidur dan dia dapat bersamadhi dengan bebas.<BR>Ayam telah berkokok menyambut datangnya fajar ketika Kun Hong sadar dari<BR>tidurnya. Dia segera menggosok-gosokkan jari tangan kepada jalan darah di<BR>sekeliling kepalanya untuk menyegarkan perasaan. Pernapasan ibu dan anak<BR>yang tidur di depannya itu membuktikan bahwa mereka masih pulas. Kun<BR>Hong tersenyum merasai perbedaan keadaan mereka berdua itu antara hari<BR>kemarin dan sekarang ini. Duka maupun suka sebetulnya hanya bersifat<BR>sementara saja, seperti halnya hidup ini sendiri. Kedukaan yang betapapun<BR>besarnya akan lenyap di kala tidur, seperti halnya ibu dan anak di saat itu,<BR>tentu sama sekali lupa akan segala penderitaan hidup, lupa akan segala<BR>ancaman-ancaman bahaya, lupa bahwa mereka hidup serba kekurangan,<BR>malah kalau dikaji (dipikirkan masak-masak) benar, dalam keadan sepulas<BR>mereka itu, apa sih bedanya hidup kaya atau miskin, apa bedanya tidur<BR>diranjang berkasur atau di atas tikar rombeng?<BR>Kun Hong merasa segar badannya. Kokok ayam jantan saling sahut<BR>menyegarkan perasaan dan membangkitkan semangatnya. Malam tadi sudah<BR>diambilnya keputusan. Dia harus menolong ibu dan anak ini dan dia harus<BR>memberi hajaran kepada orang-orang jahat yang menindas penghidupan<BR>orang-orang miskin di dusun itu.<BR>Mendadak Kun Hong miringkan kepalanya. Dia mendengar derap banyak kaki<BR>orang menuju ke rumah gubuk ini! Mencurigakan juga kalau sepagi itu ada<BR>serombongan orang laki-laki mendatangi tempat itu, malah dari suara langkah<BR>kaki yang berat dan tergesa-gesa itu dapat diduga bahwa orang-orangnya<BR>sedang marah!<BR>"Perempuan tak tahu malu! Kau benar-benar membikin kotor dusun kami!"<BR>terdengar bentakan suara laki-laki yang segera dikenal oleh Kun Hong sebagai<BR>suara Lao Tiu yang kemarin sore diusir oleh janda muda itu.<BR>"Dung! Dung-dung!" Pintu gubuk itu digedor-gedor dari luar. Janda muda itu<BR>dan anaknya terkejut dan bangun. A Wan segera menangis ketakutan. Janda<BR>muda itupun ketakutan, akan tetapi amatlah terharu hati Kun Hong ketika<BR>janda itu berbisik.<BR>"Celaka, In-kong............., mereka tentu akan mencelakakan kau dengan<BR>fitnah........"<BR>Benar-benar seorang ,berpribudi, pikir Kun Hong. Jelas orang-orang itu<BR>beralamat tidak baik bagi sijanda itu sendiri, namun yang dikhawatirkan oleh<BR>janda itu adalah diri tamunya, bukan dirinya sendiri!<BR>"Tenanglah, Twa-so............. tenang dan jangan takut. Orang yang benar akan<BR>dilindungi Thian. Nanti kalau aku berdiri dan keluar, kau gendonglah A Wan<BR>dan kau harus ikut di belakangku, jangan terlalu jauh. Kau percayalah<BR>kepadaku, tak seorang pun akan berani mengganggu kau atau A Wan."<BR>"Dung-dung-brakk!" Pintu itu hampir roboh oleh pukulan-pukulan dari luar.<BR>"Sundal! Perempuan hina! Keluarlah bersama pacarmu, laki-laki hina si jembel<BR>buta itu ............. kalau tidak rumah ini akan kurobohkan!" teriakan Lao Tiu<BR>terdengar pula. "Dipelihara Song-wangwe tidak mau malah memasukkan<BR>jembel buta, benar-benar seperti anjing menolak roti mencari tai!"<BR>"Kreeeeettttt..............!" Pintu dibuka oleh Kun Hong dari dalam. Semua mata<BR>mereka yang merubung depan pintu pondok itu memandang. Si buta itu<BR>berdiri tegak di ambang pintu, tongkatnya melintang di depan dada, wajahnya<BR>tenang mulutnya tersenyum tapi kerut merut di antara kedua matanya makin<BR>dalam. Di belakangnya tampak janda itu berdiri sambil memondong anaknya,<BR>jelas bahwa janda itu amat ketakutan, rambutnya awut-awutan mukanya<BR>pucat.<BR>"Wah, tak tahu malu.............. tak tahu malu........... berjina dengan jembel<BR>buta............ kawan-kawan, hayo hajar mampus si buta, seret perempuan<BR>hina ini ke depan kaki Song-wangwe!" Sementara itu tanpa memperdulikan<BR>Lao Tiu mencak-mencak, Kun Hong berbisik kepada janda tadi menanyakan<BR>siapa mereka itu.<BR>Janda itu berbisik menjawab, "Lao Tiu dan lima orang tukang pukul Songwangwe<BR>..........."<BR>Panas rasa seluruh tubuh Kun Hong. Apalagi setelah Lao Tiu memberi aba-aba<BR>kepada lima orang kawannya untuk turun tangan dan lima orang itu bergerak<BR>menyerbu. Kun Hong tak dapat menahan sabar lagi. Enam orang itu, Lao Tiu<BR>dan lima orang tukang pukul, hanya melihat bayangan berkelebat, sinar hitam<BR>menyambar-nyambar ke sekitar diri mereka dan tahu-tahu mereka mengalami<BR>rasa sakit yang hebat. Seorang demi seorang menjerit, roboh bergulingan di<BR>atas tanah seperti cacing terkena abu panas, mengaduh-aduh kesakitan tanpa<BR>dapat mengerti sebetulnya bagian mana dari tubuh mereka yang nyeri.<BR>Sungguh aneh dan lucu mereka itu, kadang-kadang menekan perut, lalu<BR>kepala, pundak, dada dan lain-lain seperti orang dikeroyok ribuan ekor semut.<BR>Adapun Lao Tiu sendiri tahu-tahu sudah dicengkeram tengkuknya oleh tangan<BR>yang amat kuat. Dia berusaha memberontak, namun tengkuknya serasa<BR>hendak hancur dan panas seperti terbakar.<BR>"Aduh.......... a ......... a ............. aduhh........... lepaskan.........." dia<BR>menjerit-jerit seperti seekor babi disembelih, mukanya menengadah dan dapat<BR>ditundukkan. Dia masih belum dapat melihat siapa orangnya yang<BR>mencengkeram tengkuknya karena dia tidak mampu menggerakkan lehernya,<BR>hanya matanya melirik ke sana ke mari penuh rasa takut karena kini dia dapat<BR>menduga bahwa yang mencekik tengkuknya pasti si buta itu, juga yang<BR>merobohkan lima orang kawan yang dia andalkan. Sementara itu, para<BR>penduduk dusun yang tadi beramai-ramai mengikuti rombongan ini dan<BR>hendak menonton, memandang dengan mata terbelalak, malah rumah-rumah<BR>gubuk itu sekarang terbuka semua pintunya dan berbondong-bondong<BR>penghuninya keluar untuk menonton ramai-ramai di waktu fajar ini.<BR>"Manusia berhati iblis! Manusia bermulut kotor!" Berkali-kali Kun Hong berkata<BR>perlahan, lalu memaksa Lao Tiu untuk membungkuk, terus membungkuk<BR>sampai mukanya menyentuh tanah. Beberapa kali Kun Hong menggosokgosok<BR>muka itu dengan mulut di depan kepada tanah, memukul-mukulkannya<BR>perlahan. Lao Tiu hanya bisa bersuara ah-ah-uh saja dan ketika Kun Hong<BR>mengangkat kembali, mukanya penuh tanah dan mulutnya berdarah, beberapa<BR>buah giginya copot!<BR>"Mulutmu harus dirobek biar lebih mudah kau buka lebar-lebar mencaci maki<BR>orang!" kata pula Kun Hong yang masih diracuni kemarahan itu. Tongkatnya<BR>digerakkan ke arah mulut Lao Tiu.<BR>"In-kong, jangan......... kasihan dia........" janda itu berseru penuh kengerian.<BR>Kun Hong makin gemas. Tongkatnya tidak jadi merobek mulut, melainkan<BR>menampar pipi kanan kiri sehingga kedua pipi itu menggembung. "Manusia<BR>keparat! Dengarlah kau? Dia yang kau caci maki, kau hina, kau fitnah, kau<BR>bikin sengsara hidupnya, dia malah mintakan ampun untukmu! Ah, kalau kau<BR>masih ada sedikit saja sifat manusia, tak malukah engkau? Manusia keji, ah,<BR>alangkah inginku merobek mulutmu dari telinga kiri sampai ke telinga kanan!"<BR>"M......M... ampun.......... ampun........" dengan seluruh tubuh menggigil<BR>ketakutan Lao Tiu meratap.<BR>Kun Hong menengok ke kanan kiri, bahwa orang-orang dusun itu berkumpul<BR>semua di situ, menonton. "Dengarlah kalian, sahabat-sahabat penghuni dusun<BR>ini! Kalian adalah orang-orang bernyali kecil yang karena sifat pengecut kalian<BR>itu memang sudah patut dijadikan orang-orang tertindas! Kalian tahu betapa<BR>jahatnya manusia-manusia macam ini dan gembongnya yang merupakan diri<BR>hartawan dan tuan tanah Song, akan tetapi kalian tidak menaruh kasihan<BR>kepada Yo-twaso yang tertindas ini, malah ikut menghinanya hanya untuk<BR>menyenangkan hati Song-wangwe dan kaki tangannya! Hemmm, hari ini<BR>kebetulan aku lewat di sini dan mendengar urusan penasaran ini, harap kalian<BR>jadikan contoh agar lain kali kalian dapat bersatu padu melawan penindas<BR>yang membuat sengsara hidup kalian!"<BR>Kun Hong menjambak rambut Lao Tiu dan didorongnya orang itu untuk<BR>berjalan. "Hayo antar aku ke rumah majikanmu!" Kepada para penduduk yang<BR>berdiri terpaku keheranan itu Kun Hong berkata,<BR>"Kubiarkan lima orang tukang pukul ini menderita sebentar di sini, biar mereka<BR>merasakan betapa sakitnya orang disiksa sambil memberi kesempatan kepada<BR>mereka untuk mengingat dan mengenangkan roh dari mendiang Yo Kui.<BR>Sahabat-sahabat semua tunggu saja di sini jangan ikut aku ke rumah Songwang-<BR>we. Aku hanya titip Yo-twaso dan anaknya!"<BR>Setelah berkata demikian, dia mendorong tubuh Lao Tiu yang karena<BR>ketakutan lalu mengantarkannya ke rumah gedung keluarga Song yang amat<BR>megah dan besar. Di depan pintu gerbang gedung itu, Kun Hong memaksa Lao<BR>Tiu untuk minta menghadap Song-wangwe karena urusan yang sangat<BR>penting. Lao Tiu sudah mati kutunya, tidak berani membantah dan minta<BR>kepada penjaga untuk , menyampaikan kepada Song-wangwe bahwa dia minta<BR>bertemu untuk urusan "si janda Yo"!<BR>Kiranya kalau bukan urusan ini yang diajukan oleh Lao Tiu, hartawan mata<BR>keranjang itu belum tentu mau turun dari tempat tidurnya yang hangat.<BR>Sambil mengomel panjang pendek mengapa si Lao Tiu itu begitu kurang ajar<BR>membangunkannya sepagi itu, dia keluar juga karena memang sudah amat<BR>lama si bandot tua ini merindukan isteri Yo Kui yang cantik manis yang seperti<BR>bandot mengilar ingin mendapatkan daun muda yang segar kehijauan.<BR>Akan tetapi kemarahannya lenyap seketika, terganti harapan dan kegembiraan<BR>ketika dia melihat Lao Tiu di tempat yang agak gelap itu datang bersama<BR>seorang lain. Keadaan masih remang-remang dan mata tuanya sudah agak<BR>lamur maka hartawan mata keranjang ini menyangka bahwa Lao Tiu datang<BR>bersama si janda cantik!<BR>"Aiih, Lao Tiu, kau pagi-pagi sudah memaksa aku meninggalkan ranjangku<BR>yang empuk. Eh, kau datang dengan janda manis yang kurindukan? Heh-heh,<BR>mari masuk, manis, kebetulan sekali."<BR>Tiba-tiba kata-kata yang ramah itu terhenti, terganti seruan kaget yang hanya<BR>berbunyi "eh-eh, ah-ah, oh-oh" saja karena seperti halnya Lao Tiu tadi,<BR>tengkuknya sudah dicekik oleh Kun Hong yang bergerak cepat menyerbunya.<BR>Kun Hong menyeret Song-wangwe dan Lao Tiu dengan kedua tangannya.<BR>Beberapa orang penjaga datang memburu dan memaki, "Penjahat kurang ajar,<BR>apakah kau sudah gila? Lepaskan Song-wangwe!"<BR>Akan tetapi kata-kata makian ini hanya sampai di situ saja karena si<BR>pemakinya bersama seorang kawannya yang lain sudah terlempar sejauh tiga<BR>meter lebih oleh tendangan kaki Kun Hong. Penjaga-penjaga lain datang<BR>dengan senjata di tangan.<BR>"Mundur semua!" Kun Hong membentak. "Kalau tidak, lebih dulu akan<BR>kupatahkan leher majikanmu. Aku tidak akan membunuhnya, hanya akan<BR>membereskan urusan penasaran janda Yo!" Setelah mengancam demikian,<BR>Kun Hong mendorong terus dua orang tawanannya itu kembali ke tempat<BR>tinggal janda Yo Kui. Para penjaga menjadi bingung dan tentu saja tidak<BR>berani turun tangan untuk menjaga keselamatan majikan mereka. Penjagapenjaga<BR>itu berkumpul dan hanya berani mengikuti di belakang Kun Hong,<BR>sambil berunding bagaimana harus menyerang si buta yang menawan majikan<BR>mereka.<BR>"Jangan serang................ uh-uhh....... jangan serang..............<BR>goblok..............!" Song-wangwe berkali-kali berteriak mencegah kaki<BR>tangannya karena dia betul-betul ketakutan dan sama sekali tidak dapat<BR>berkutik dalam cengkeraman yang amat kuat dan menyakitkan leher itu.<BR>Para penduduk dusun berseru keheranan, penuh kekagetan dan kekaguman<BR>ketika mereka melihat si buta itu datang lagi, kini menyeret Lao Tiu dan Songwangwe<BR>sedangkan di belakangnya berjalan banyak penjaga tanpa berani<BR>bergerak menyerang sehingga dipandang sepintas lalu seakan-akan mereka ini<BR>malah menjadi anak buah Kun Hong si buta!<BR>Setibanya di depan pondok janda Yo, Kun Hong melemparkan tubuh Lao Tiu ke<BR>bawah. Lao Tiu bergulingan saling tindih dengan lima orang tukang pukul yang<BR>masih merintih-rintih seperti ikan dilempar ke darat. Lao Tiu terlampau takut<BR>dan terlampau sakit-sakit mukanya, sehingga diapun tidak sanggup bangkit<BR>lagi. Kedua pipinya membengkak besar membiru, matanya merah, mukanya<BR>kotor dan mulutnya berdarah, bibirnya bengkak-bengkak tebal, giginya banyak<BR>yang copot.<BR>"Song-wangwe, apakah kau tahu apa sebabnya aku menawanmu dan<BR>menyeretmu ke tempat ini?" tanya Kun Hong, suaranya tegas berwibawa.<BR>Hartawan itu diam saja. Kun Hong memperkeras cengkeramannya dan<BR>membentak, "Hayo jawab!"<BR>"Tidak............... ti........... tidak tahu........" suaranya gemetar tubuhnya<BR>menggigil.<BR>"Hayo kau ceritakan tentang urusanmu dengan mendiang Yo Kui dan tentang<BR>kehendakmu yang kotor terhadap nyonya janda Yo. Tentang Lao Tiu yang kau<BR>suruh membujuk-bujuk, tentang penipuanmu menggunakan surat perjanjian<BR>tanah, tentang cara kotormu menyogok pembesar yang melakukan<BR>pengadilan, tentang lima orangmu yang mengeroyok dan memukul mendiang<BR>Yo Kui. Hayo ceritakan, kalau ada yang kau lewatkan satu saja............<BR>hemmm, aku benar-benar akan mematahkan batang lehermu yang lapuk ini!"<BR>Karena nyawanya benar-benar terancam maut di tangan kuat pemuda buta<BR>itu, dengan suara tersendat-sendat si tua Song terpaksa menceritakan semua<BR>tipu muslihatnya terhadap mendiang Yo Kui, dan betapa dengan bantuan<BR>tukang pukulnya dan Lao Tiu, dia berusaha keras untuk menarik diri janda Yo<BR>menjadi kekasihnya. Kata-katanya yang terputus-putus ini didengar oleh<BR>semua orang tanpa ada yang berani mengeluarkan suara, hanya terdengar<BR>isak tangis nyonya janda muda itu yang merasa terharu dan juga bangga<BR>karena sekali ini selain ia dapat membalas sakit hati, membuat roh suaminya<BR>tidak penasaran, juga sekaligus ia dapat mencuci bersih namanya di depan<BR>umum.<BR>Sebetulnya, hal ini bukanlah rahasia bagi para penduduk dusun itu, karena<BR>mereka semua sudah tahu macam apa adanya tuan tanah itu dengan sekalian<BR>kaki tangannya. Akan tetapi baru kali ini mereka mendengar hal ini dibongkar<BR>dan diceritakan oleh si tuan tanah sendiri. Benar-benar hal yang amat luar<BR>biasa!<BR>Setelah selesai membuat pengakuan, dengan suara serak tuan tanah itu<BR>meratap, "............. ampunkan saya, Tai-hiap (pendekar besar), ampunkan<BR>saya............ saya berjanji......... tidak berani lagi..........."<BR>Gatal-gatal tangan para penjaga dan kaki tangan tuan tanah itu, namun<BR>mereka tak berdaya dan tidak berani bergerak karena maklum bahwa si buta<BR>itu tak boleh dipandang ringan. Buktinya, lima orang tukang pukul yang pandai<BR>silat itupun sekarang masih merintih-rintih tak dapat bangun. Pula, kalau<BR>mereka hendak mengeroyok, tentu tuan tanah itu akan terbunuh lebih dulu.<BR>Jilid 4 : bagian 1<BR>"Mudah saja mengampunkan orang macam kamu, tapi bagaimana dengan<BR>orang-orang yang sudah mati karena perbuatanmu? Bagaimana dengan<BR>wanita-wanita yang sudah kau hina?" Kun Hong membentak.<BR>"Ampun............ ampun..........."<BR>"Hayo kau suruh seorang di antara kaki tanganmu untuk mengambil lima ratus<BR>tail perak untuk mengganti kerugian nyonya Yo, sediakan sebuah gerobak<BR>berikut kudanya. Cepat! Hanya itu yang akan menjadi pengganti nyawamu."<BR>Tanpa ayal lagi tuan tanah itu menyuruh seorang kepercayaannya yang berdiri<BR>melongo di tempat itu untuk segera memenuhi permintaan Kun Hong ini. Para<BR>penduduk ramai membicarakan hal ini, ada yang terheran-heran, ada yang<BR>kagum, ada yang iri hati kepada nyonya janda yang sekarang berdiri dengan<BR>muka pucat dan bingung, terlalu kaget menghadapi semua kejadian yang<BR>sekaligus mengubah jalan hidupnya ini.<BR>Dengan berdiri tegak Kun Hong menanti sampai pesuruh tuan tanah itu datang<BR>kembali membawa sebuah gerobak berikut kudanya yang cukup baik, terisi<BR>lima ratus tail perak! Semua penduduk memandang dengan melongo. Belum<BR>pernah mereka melihat uang perak sebanyak itu, jangankan melihat, mimpi<BR>pun belum pcrnah!<BR>"Twa-so, gerobak dan uang ini milikmu. Dengan gerobak ini kau dan anakmu<BR>bisa mencari pamanmu ke Cin-an dan uang ini dapat kau pakai sebagai modal<BR>hidup.<BR>"........... ah............. terlalu............. terlalu banyak untuk apa ......?" Janda<BR>itu berkata gagap.<BR>Kun Hong tersenyum. "Untuk apa, terserah kepadamu karena uang ini milikmu<BR>yang sah!"<BR>Janda itu memandang ke kanan kiri, melihat betapa para penduduk<BR>memandangnya dengan mata terbelalak, dengan wajah mereka yang kuruskurus<BR>dan pakaian mereka yang tambal-tambalan. Mendadak janda muda itu<BR>sambil memondong anaknya lari ke arah gerobak, melihat lima kantong uang<BR>perak bertumpuk di situ, lalu berpaling kepada seorang dusun yang sudah tua.<BR>"Chi-lopek (uwak Chi), kau turunkan tiga karung dan kau bagi-bagikan rata<BR>kepada semua saudara penduduk dusun kita,"<BR>Hampir saja semua orang tak dapat percaya apa yang mereka dengar ini,<BR>kemudian setelah janda itu mengulangi perkataannya, terdengar mereka<BR>bersorak sorai dan memuji-muji nyonya Yo. Malah beberapa orang wanita lari<BR>menghampiri, memeluknya, menciuminya sambil menangis. Yang lelaki pada<BR>tertawa lebar, wajah yang kurus-kurus itu berseri-seri timbul harapan baru<BR>dengan adanya tambahan bantuan uang yang tidak sedikit itu.<BR>Kun Hong mengangguk-angguk, diam-diam dia kagum sekali dan benar-benar<BR>dia puas telah menolong seorang yang memiliki pribadi setinggi nyonya janda<BR>itu. Biarpun seorang dusun, ternyata wanita ini benar-benar seorang bidadari,<BR>pikirnya dan terbayanglah wajah Cui Bi di depan mukanya. Setelah selesai tiga<BR>karung diturunkan, Kun Hong lalu melepaskan tuan tanah, dengan jari<BR>tangannya dia menotok punggung dan pangkal paha. Tuan tanah itu berteriak<BR>dan roboh, dari mulutnya keluar darah.<BR>"Kau tidak akan mati," kata Kun Hong "akan tetapi ingat, sekali lagi kau<BR>melakukan gangguan kepada orang-orang tak bersalah, aku akan datang<BR>kembali dan membikin perhitungan yang lebih hebat denganmu. Pulanglah!"<BR>Tuan tanah itu merangkak bangun, segera dituntun dan diangkat oleh orangorangnya,<BR>Dia tidak tahu bahwa, semenjak saat itu dia takkan mampu lagi<BR>melakukan perbuatan hina, tidak akan dapat mengganggu wanita lagi karena<BR>dengan kepandaiannya, Kun Hong telah membuatnya menjadi seorang laki-laki<BR>lemah. Kemudian Kun Hong menyembuhkan lima orang tukang pukul tadi,<BR>akan tetapi mereka inipun mendapat bagian. Dengan memijat urat darah<BR>terpenting Kun Hong membuat mereka berlima itu kehilangan tenaga pada<BR>kedua lengannya, sehingga selanjutnya mereka takkan dapat menjadi tukang<BR>pukul lagi!<BR>"Karena kau masih saudara misan Yo-twaso, kau kuampuni. Akan tetapi kau<BR>harus mengantar Yo-twaso ke Cin-an sampai bertemu dengan pamannya.<BR>Awas, jangan kau main-main karena sekali kau menyeleweng, nyawamu<BR>takkan tertolong lagi," kata Kun Hong kepada Lao Tiu sambil cepat-cepat dia<BR>menyentuh jalan darah di dadanya. Lao Tiu merintih, merasa betapa<BR>jantungnya berdetak keras dan ada rasa nyeri dan perih di dekat lehernya.<BR>"Kau terancam maut oleh luka di dadamu," kata Kun Hong, "dan obatnya<BR>hanya akan dimengerti oleh Yo-twaso. Kalau kau sudah mengantarkan ia<BR>dengan selamat sampai di Cin-an dan bertemu dengan pamannya, baru dia<BR>akan memberi tahu kepadamu cara pengobatannya sampai kau sembuh. Nah,<BR>dengan jaminan ini, sekali kau menyeleweng, kau akan mampus dan tubuhmu<BR>akan menjadi busuk sebelum nyawamu melayang." Kun Hong sengaja<BR>mengeluarkan ancaman ini, padahal yang dia lakukan itu hanyalah totokan<BR>biasa saja dan sama sekali tidak ada bahayanya, dalam waktu sebulan rasa<BR>tak enak itu akan hilang sendiri. Akan tetapi dia perlu mengancam dan<BR>menakut-nakuti orang berwatak buruk seperti Lao Tiu.<BR>"Yo-twaso, mari kita masuk pondok. Akan kuberi tahu rahasia pengobatan dia<BR>itu dan aku akan menukar pakaianku."<BR>Dengan tongkat meraba-raba ke depan Kun Hong memasuki pondok Nyonya<BR>Janda Yo sambil menggandeng tangan A Wan berlari mengikuti. Sampai di<BR>dalam pondok, janda muda ini tak dapat menahan lagi hatinya yang penuh<BR>perasaan haru, girang, dan bahagia. Sambil terisak menangis ia menubruk Kun<BR>Hong dan merangkulnya, menangis tersedu-sedu.<BR>"In-kong............. ah, In-kong........... kau telah menyelamatkan<BR>hidupku.......... menyelamatkan nama baikku.......... In-kong, budimu setinggi<BR>gunung...... dan.............. kau seorang buta ............! Ah, betapa inginku<BR>membalas budimu .......... In-kong, andaikata dapat, aku rela memberikan<BR>kedua mataku untukmu!"<BR>Dengan penuh perasaan nyonya muda itu menarik leher Kun Hong dan tanpa<BR>malu-malu karena perasaan terima kasih yang meluap-luap ia lalu menciumi<BR>kedua mata yang buta itu!<BR>"Twa-so, jangan..............!" Suara Kun Hong tersedak karena dia menahan<BR>perasaannya dan kedua tangannya memegang pundak wanita itu, didorong<BR>menjauh. Sejenak wanita itu menatap wajahnya, melihat betapa mata yang<BR>buta itu bergerak-gerak, celah-celah belahan pelupuk membasah, hidung yang<BR>mancung itu kembang-kemping, bibirnya bergerak-gerak gemetar.<BR>"In-kong...........!" wanita itu lalu menjatuhkan dirinya, kini memeluk kedua<BR>kaki Kun Hong dan menciumi sepatu yang kotor, membasahi dengan air mata<BR>dan menggosok-gosoknya dengan rambut.<BR>"In-kong, selama hidupku takkan dapat aku bertemu dengan manusia seperti<BR>In-kong............ apa artinya menempuh hidup baru di Cin-an kalau aku takkan<BR>dapat bertemu dengan orang sepertimu lagi? In-kong, biarlah aku membalas<BR>budimu dengan menghambakan diri............. biarlah aku menjadi bujangmu. A<BR>Wan juga.............. biarkan kami berdua merawatmu, biarkan aku<BR>menuntunmu ............"<BR>"Yo-twaso, diam..............!" Kun Hong mengeluarkan suara bentakan dan<BR>sekali tarik dia membuat wanita itu berdiri. "Kau wanita baik-baik, kau seorang<BR>suci dan mulia hatimu. Thian pasti akan memberkatimu. Hayo kita keluar, kau<BR>harus berangkat sekarang juga. Mana pakaianku?"<BR>Dengan masih terisak wanita itu berkata sedih, "Tidak akan kukembalikan, Inkong.<BR>kalau tak dapat berkumpul dengan orangnya, biarlah pakaiannya<BR>menjadi kenang-kenangan. Kuganti dengan pakaian suamiku pula..............<BR>pergi meninggalkan kami berdua ..............." ia terisak lagi.<BR>Kun Hong maklum bahwa paling berat adalah mempertahankan nafsu hati,<BR>oleh karena itu dia tidak mau banyak ribut tentang pakaian, segera dia<BR>menuntun tangan A Wan keluar dari pintu, diikuti oleh janda itu. Sambil<BR>terisak janda itu minta diri dari semua tetangganya, lalu ia naik gerobak<BR>bersama A Wan. Lao Tiu sudah duduk di depan, orang ini sekarang taat benar.<BR>"Aku akan mengantar sampai keluar dusun," kata Kun Hong dan berangkatlah<BR>mereka. Gerobak ditarik kuda berjalan perlahan meninggalkan kampung, di<BR>belakang gerobak, Kun Hong berjalan sambil memegang tongkat, Di<BR>belakangnya, orang-orang dusun mengantar sampai ke pinggir dusun,<BR>melambaikan tangan kepada A Wan dan ibunya.<BR>Setelah gerobak meninggalkan dusun itu sejauh sepuluh li dan tiba di jalan<BR>simpang empat, Kun Hong berkata,<BR>"Lao tiu, berhenti dulu." Gerobak berhenti dan dia berkata kepada janda Yo,<BR>"Yo-twaso, nah, sampai di sini kita berpisah. Selamat jalan dan semoga kau<BR>bahagia. A Wan, jaga ibumu baik-baik, ya? Sudah, Lao Tiu, sekarang kau<BR>balapkan kudamu."<BR>"Nanti dulu ..........!" Nyonya janda itu melompat begitu saja turun dari<BR>gerobak, lari menghampiri Kun Hong dan berlutut di depannya. "Sekali lagi,<BR>In-kong........... bolehkan aku dan A Wan menghambakan diri padamu? Biar<BR>kami ikut ke mana kau pergi............." Suaranya penuh permohonan.<BR>"Bodoh, kau orang baik. Aku seorang buta, seorang pengemis................"<BR>"Tidak apa, aku masih bermata. Mataku sama dengan matamu, dan<BR>aku.......... aku sanggup bekerja untukmu........... andaikata mengemis<BR>sekalipun................ aku yang akan mengemis, In-kong ..........."<BR>"Cukup semua ini! Twa-so, jangan lemah, ingatlah anakmu. Aku berjanji, kelak<BR>akan kucari kau dan A Wan di Cin-an."<BR>"Betulkah?" Terdengar suara mengandung harapan. "In-kong, sampai kini<BR>belum kuketahui namamu yang mulia,"<BR>Kun Hong tersenyum pahit, "Apa artinya nama? Kenalilah aku sebagai<BR>sibuta......... dan eh, jangan lupa .........." Ia mendekatkan mukanya sambil<BR>mengangkat janda itu bangun berdiri.<BR>"...... si Lao Tiu tidak kuapa-apakan, kelak bilang saja obatnya minum abu hio,<BR>sehari satu sendok sampai sebulan. Nah, selamat jalan!" Kun Hong yang tak<BR>ingin wanita itu menunda-nunda perjalanannya, tiba-tiba mengangkat tubuh<BR>wanita itu dan.............. melontarkannya ke depan.<BR>Janda itu menjerit lirih, tubuhnya melayang dan............ jatuh dalam keadaan<BR>duduk di atas gerobak, di dekat A Wan yang tertawa-tawa melihat ibunya<BR>"terbang" tadi.<BR>Gerobak dijalankan cepat. Kun Hong berdiri tegak sampai lama menghadap ke<BR>arah gerobak. Sudah lama gerobak itu menikung dan penumpangnya tidak<BR>melihatnya lagi, namun telinganya masih dapat mendengar derap kaki kuda<BR>yang makin menjauh. Dia menarik napas panjang, lega hatinya karena tadi dia<BR>benar-benar gelisah ketika menghadapi bujukan dan permohonan janda muda<BR>itu.<BR>"Berbahaya............ !" pikirnya, dia masih terharu kalau mengenangkan janda<BR>muda dan puteranya itu. Akan tetapi dia segera mengusir perasaan ini dan<BR>melanjutkan perjalanannya sambil bernyanyi.<BR>"Wahai kasih, aku di sini ..............! Menyongsong sinarmu yang hangat....."<BR>Kata-kata dalam nyanyian Kun Hong selalu berbeda, disesuaikan dengan<BR>keadaan dan perasaannya di saat itu, namun selalu didahului dan diakhiri<BR>dengan kata-kata "wahai kasih, aku di sini............!"<BR>Hal ini adalah karena dalam setiap nyanyiannya, pikirannya selalu melayang<BR>dan terkenang kepada Cui Bi, kekasihnya yang telah tiada. Baginya, sinar<BR>matahari, kicau burung, desir angin, dendang air sungai, harum bunga dan<BR>rumput, semua itu adalah pengganti diri Ciu Bi baginya! Sebetulnya pada saat<BR>itu dia merasa lapar sekali, akan tetapi setelah berjalan setengah hari lebih<BR>belum juga dia bertemu orang atau dusun, maka terpaksa dia menahan lapar<BR>dan bernyanyi-nyanyi.<BR>"Wahai kasih aku di sini.............! Dalam perjalanan nan sunyi...................."<BR>Tiba-tiba Kun Hong miringkan kepalanya seperti tak disengaja, akan tetapi<BR>sebetulnya dia mengelak sambaran sebuah benda yang menyambar kepalanya<BR>dari atas. Plok! Benda itu jatuh ke tanah dan pecah. Kiranya sebutir buah apel<BR>masak yang menyambarnya tadi, dari atas pohon di pinggir jalan. Tak<BR>mungkin buah masak jatuh seperti itu cepatnya, pasti disambitkan orang, pikir<BR>Kun Hong. Dia menghentikan langkahnya dan dengan telinga memperhatikan<BR>ke atas pohon.<BR>"Perutku memang amat lapar dan bau buah masak itu sedap benar. Kuminta<BR>belas kasihan sahabat yang bermata untuk memberi beberapa butir<BR>kepadaku," akhirnya dia berkata sambil mendongak ke atas.<BR>"Hik, hik!" terdengar suara wanita, suara ketawa merdu yang membuat Kun<BR>Hong mengerutkan keningnya. Serasa pernah dia mendengar suara ketawa ini.<BR>Lalu tubuh orang itu dengan ringannya melayang dari atas pohon, turun di<BR>depannya tanpa mengeluarkan banyak suara gaduh. Ternyata ginkang (ilmu<BR>meringankan tubuh) orang ini tinggi juga. Kembali ada benda-benda melayang<BR>ke arah Kun Hong. Pemuda buta ini menggunakan kedua tangannya<BR>menangkap dan ternyata buah-buah yang masak dan harum baunya berada di<BR>tangannya. Dia tersenyutn girang, lalu makan buah yang manis dan sedap itu.<BR>Dengan mulut penuh daging buah dia berkata. "Terima kasih...... terima<BR>kasih........." sambil membungkuk-bungkuk ke depan, ke arah pemberi buah.<BR>"Siapa sih yang kau rindukan sepanjang jalan itu? Ingin benar aku tahu, si<BR>genit puteri Hui-hou-pangcu ataukah si janda muda tak tahu malu?"<BR>Kun Hong tersedak, cepat batuk-batuk untuk mencegah makanan memasuki<BR>jalan pernapasannya. Kiranya wanita ini adalah Bi-yan-cu, gadis lincah yang<BR>mengaku puteri Sin-kiam-eng Tan Beng Kui!<BR>"Eh, kiranya kau........... Bi-yan-cu, Nona? Ah, sambitanmu tadi membikin<BR>kaget orang saja..............."<BR>Sungguh sama sekali di luar dugaannya, ucapannya ini membuat gadis itu<BR>tiba-tiba menjadi marah! Gadis ini membanting-banting kakinya dan berkata,<BR>suaranya penuh kejengkelan.<BR>"Kalau lengan kananku yang terkutuk ini tidak begini nyeri, tak mungkin<BR>sambitanku tidak mengenai kepala seorang buta! Aku tidak biasa menyambit<BR>dengan tangan kiri!"<BR>Kun Hong tersenyum, diam-diam merasa aneh dengan watak gadis ini, akan<BR>tetapi dia tidak menjawab, melainkan menghabiskan dua butir buah dengan<BR>lahap dan enaknya.<BR>Kediaman kembali membangkitkan amarah gadis itu, terbukti dengan suara<BR>nya yang nyaring merdu penuh kejengkelan, "Ih, orang macam apa kau ini,<BR>tidak menjawab omongan orang hanya makan saja, tidak ingat dari siapa kau<BR>menerima buah itu!"<BR>"Aku sudah bilang terima kasih tadi," jawab Kun Hong tenang, memasukkan<BR>sisa terakhir buah itu ke dalam mulut.<BR>"Siapa butuh terima kasihmu? Yang kubutuhkan sekarang jawabanmu."<BR>"Jawaban apa?"<BR>"Siapa yang kau rindukan sepanjang jalan, si genit puteri Hui-houw pangcu<BR>ataukah si janda muda?"<BR>"Bagaimana kau tahu tentang janda itu?"<BR>"Cih, kau kira aku buta? Tentu saja aku tahu, hemm, siapa tidak melihat kau<BR>bermalam di rumahnya, menolongnya mati-matian dan siapa pula tidak<BR>melihat adegan sandiwara mesra di perempatan jalan tadi pagi? Hi-hik, semua<BR>ditinggalkan, lalu di jalan nyanyi-nyanyi seorang diri penuh rindu. Lucu benar<BR>kau!" Suara gadis itu penuh ejekan dan muka Kun Hong menjadi merah.<BR>Namun dia tersenyum dan diam-diam dia heran sekali karena benar-benar<BR>sukar untuk dapat menyelami hati dan watak seorang gadis seperti ini. Dia<BR>tidak merasa sakit hati mendengar gadis itu bicara tentang buta, karena dari<BR>suaranya dia maklum bahwa gadis itu tidak sengaja hendak menghina atau<BR>menyakiti hatinya.<BR>"Aku tidak merindukan siapa-siapa, tidak mereka berdua."<BR>"Habis, siapa itu kasih?" Lalu dengan suara keras menggemaskan ia meniru<BR>suara Kun Hong bernyanyi tadi, "Wahai kasih, aku di sini..............!"<BR>Kun Hong hanya tersenyum. "Kau benar-benar hebat, tahu segalanya. Masih<BR>begini muda, pandai menyelidiki keadaan orang lain. Hai, adik nakal, kenapa<BR>kau semenjak kemarin terus mengikuti aku?"<BR>"Ih, ngawur! Dua kali ngawur! Pertama-tama, bagaimana kau berani<BR>memanggil aku adik, padahal aku jauh lebih tua daripadamu."<BR>"Tak mungkin! Usiamu belum ada dua puluh tahun!"<BR>"Ih, ngawurnya! Kau tidak bisa melihat aku, mana tahu aku tua atau muda?<BR>Umurku sudah dua kali umurmu, tahu?"<BR>Kun Hong tertawa. Biarpun menyinggung-nyinggung kebutaannya, namun<BR>jelas bahwa dara remaja ini bukan bermaksud menyakiti hati, melainkan<BR>bermaksud mempermainkannya. Hal ini dapat dia tangkap jelas pada suara<BR>gadis itu. Hemm, seorang dara remaja yang biasa dimanjakan, keras hati,<BR>keras kepala, keras segala-galanya. Tapi belum tentu jahat, buktinya pernah<BR>turun tangan menolongnya ketika dia dikeroyok.<BR>"Kau bocah nakal! Biarpun mataku buta tak dapat melihatmu, aku berani<BR>bertaruh potong kepala bahwa usiamu belum ada dua puluh tahun dan bahwa<BR>kau seorang dara lincah yang nakal, cantik jelita, dan manja!"<BR>"Idihhh, ngawur lagi. Bagaimana kau bisa katakan aku cantik jelita? Dasar<BR>laki-laki mata keranjang kau ........... eh, tak bermata? mana bisa mata<BR>keranjang? Kau.......... kau hidung belang, buktinya setiap bertemu wanita lalu<BR>memuji dan main gila seperti yang kau lakukan dengan puteri Hui-hou-pangcu<BR>dan janda muda."<BR>"Bohong! Fitnah belaka itu!"<BR>"Bohong apa? Fitnah apa? Hayo kau sangkal, bukankah puteri Lauw-pangcu<BR>yang genit itu minta kau memijatinya waktu malam? Hi-hik, biar matamu buta,<BR>apakah jari-jari tanganmu juga buta? Dan janda itu, kau bermalam di<BR>gubuknya, kau menolongnya, kau........ sudahlah, kau menjemukan!"<BR>Kun Hong makin geli. Anak ini benar-benar manja. Bilang menjemukan tapi<BR>malah mengajak dia bercakap-cakap dan tidak mau pergi dari situ.<BR>"Yah, sudahlah. Aku ngawur, tapi baru satu kali. Yang ke dua kalinya lagi<BR>ngawur dalam hal apa?"<BR>"Kau bilang aku mengikutimu sejak kemarin. Cih, siapa sudi mengikutimu? Apa<BR>ingin menontonmu? Kalau orang gila, masih boleh dan menarik ditonton, tapi<BR>orang buta, apa sih menariknya untuk ditonton? Paling-paling hanya<BR>menimbulkan kasihan dihati..................."<BR>"Wah, kau berkasihan kepadaku, Bibi tua? Aku yang muda menghaturkan<BR>terima kasih atas belas kasihanmu itu dan ......."<BR>"Gila! Kau buta gelap! Kau ngawur, kau menghina, ya? Panggil bibi tua, setan<BR>.............!"<BR>Mendengar gadis itu mencak-mencak disebut bibi tua, Kun Hong tertawa<BR>bergelak, "Ha-ha-ha-ha-ha!"<BR>"Setan alas, masih tertawa lagi! Kau minta dihajar barangkali."<BR>"Ampun, Bibi tua. Keponakanmu ini takkan berani nakal lagi. Kau tadi bilang<BR>bahwa kau dua kali lebih tua daripadaku, bukankah sepatutnya kalau aku<BR>menyebutmu bibi tua? Kenapa marah-marah seperti kebakaran jenggot?"<BR>"Gila lagi. Aku mana berjenggot?"<BR>Kun Hong tertawa makin geli mendengar ini dan gadis itu pun tertawa kini.<BR>"Betul juga kau, aku yang salah. Sudah, jangan sebut aku bibi tua lagi, bisa<BR>menangis aku!"<BR>"Nona yang lucu, coba kau katakan, kalau kau tidak mengikuti aku, biarpun<BR>sesungguhnya aku tidak tahu dan tidak menduga, habis bagaimana kau bisa<BR>tahu tentang janda dan segala yang kualami itu?"<BR>"Aku mengikuti rombongan itu untuk mengambil ini." Lupa akan kebutaan Kun<BR>Hong, gadis itu mengeluarkan sebuah benda dari dalam buntalannya, dan<BR>benda itu adalah........... mahkota yang tadinya sudah dirampas oleh Tiat-jiu<BR>Souw Ki. Biarpun Kun Hong tak dapat melihatnya, namun dia mendengar<BR>angin gerakan gadis itu yang mengeluarkan sesuatu dari buntalan, dia dapat<BR>menduga benda apa itu.<BR>Kun Hong terkejut juga, karena hal ini benar-benar tak pernah disangkanya.<BR>"Hah, kau sudah merampasnya kembali?"<BR>"Tentu saja! Setelah kau main gila dengan janda itu, aku mengejar mereka<BR>dan apa artinya mereka bagiku?" Suaranya bernada sombong. "Kemarin aku<BR>kalah karena mereka mengeroyokku, puluhan, malah ratusan orang<BR>banyaknya! Dan sebenarnya kemarin itupun aku tidak akan kalah kalau<BR>saja............"<BR>"Kalau apa?" Kun Hong tersenyum, diam-diam geli hatinya. Gadis ini benarbenar<BR>lincah dan lucu dan bagaikan penambah cahaya matahari mendatangkan<BR>perasaan gembira, menularkan kepadanya silat gembira dan tiba-tiba saja Kun<BR>Hong kehilangan watak pendiamnya dan jadi bersendau-gurau dengan gadis<BR>ini!<BR>"Kalau saja aku tidak muak oleh bau keringat mereka!"<BR>"Bau keringat? Ho-ho, kok aneh amat!"<BR>"Aneh apanya? Ratusan orang laki-laki kasar tak pernah mandi mengeroyokku,<BR>keringat mereka bercucuran, baunya melebihi biang cuka, membuat aku sesak<BR>bernapas. Mau muntah rasanya, mana mungkin bertempur dengan baik!"<BR>Kun Hong tak dapat menahan kegelian hatinya dan tertawalah dia terbahakbahak<BR>tidak tahu bahwa gadis itu memandangnya dengan cemberut karena<BR>merasa ditertawai. Selama tiga tahun ini agaknya baru kali ini dia dapat<BR>tertawa seenak ini. Tapi ketika dia teringat akan kekejaman gadis ini<BR>merobohkan lawan-lawannya tiba-tiba ketawanya terhenti, keningnya berkerut<BR>ketika dia bertanya,<BR>"Dan kau bunuh mereka semua dua puluh satu orang itu?"<BR>"Hemmm, lenganku yang terkutuk inilah yang menjadi penghalang! Aku hanya<BR>dapat merampas mahkota, merobohkan tosu bau dan anjing kaisar dengan<BR>melukai mereka. Sayang lenganku begini sakit, kalau tidak, hemmmm...........<BR>mereka semua akan menjadi setan tanpa kepala!"<BR>"Kau ganas sekali." Suara Kun Hong dingin.<BR>"Apa, ganas? Mereka itu orang-orang jahat, membunuhi orang-orang tak<BR>berdaya dan tak berdosa, merekalah yang ganas. Aku membasmi orang-orang<BR>jahat kau sebut ganas? Kalau kau membiarkan mereka melakukan kejahatan,<BR>maka kaulah yang ganas!"<BR>Kun Hong merasa kalah berdebat. Pengetahuan gadis ini masih dangkal sekali,<BR>mana tahu tentang perkara yang menyinggung hal pelik ini? "Sudahlah,<BR>sekarang katakan, setelah kau berhasil merampas mahkota, kau lalu<BR>mengikuti aku dan bahkan menyusul, apa kehendakmu?"<BR>"Wah, banyak sekali! Dengar baik-baik. Kau telah menghinaku tiga kali dan<BR>kau hutang penjelasan kepadaku sebanyak dua kali."<BR>"Waduh, berat kalau begitu perkaranya. Hemm, coba kau sebutkan satu-satu<BR>apa yang kau maksudkan semua itu."<BR>"Pertama, kau tadinya menolongku, itu tanda kau suka kepadaku, tapi<BR>ternyata mau main gila, memijati tubuh perempuan genit itu, ini penghinaan<BR>nomor satu. Penghinaan nomor dua, di depan mataku kau berani pula main<BR>gila dengan janda itu. Penghinaan nomor tiga, kau pura-pura berkorban<BR>untukku, menukar aku yang tertawan dengan dirimu sendiri, kiranya kau<BR>hanya main-main tidak sungguh-sungguh berkorban lalu melepaskan diri<BR>dengan mudah!"<BR>Kembali Kun Hong tertawa. Bocah ini lucu benar. Dia tadi sudah khawatir<BR>bahwa dia menghina orang, tidak tahunya urusan begitu dianggap penghinaan!<BR>"Wah-wah, berat! Lalu hutang penyelesaian itu bagaimana?"<BR>"Pertama, kau harus jelaskan kepadaku mengapa kau menolongku, Ke dua<BR>kalinya, apa maksudmu menyebut-nyebut nama Tan Beng San dan apa<BR>hubunganmu dengan manusia itu!"<BR>Ucapan terakhir ini mengejutkan hati Kun Hong. Tapi dia bersabar lalu<BR>menjawab,<BR>"Kujawab satu demi satu. Tiga penghinaan itu hanya dugaanmu belaka. Aku<BR>tidak main gila pada siapapun juga. Tidak pernah memijati puteri Lauw-pangcu<BR>biarpun ia secara tak tahu malu menyebut-nyebutnya. Juga tidak main gila<BR>dengan janda itu, kau harus tahu bahwa ia seorang yang berhati putih bersih<BR>dan bermartabat tinggi. Ke tiga kalinya, aku memang menggantikan kau<BR>karena tak ingin melihat kau celaka di tangan mereka. Nah, sekarang tentang<BR>penjelasan. Tentu saja aku menolongmu, andaikata bukan kau yang terancam<BR>bahaya, akupun pasti akan menolong siapa saja yang menghadapi bahaya<BR>maut. Tentang diri Tan Beng San taihiap, dia itu jelas adalah pamanmu kalau<BR>memang betul kau puteri Sin-kiam-eng Tan Beng Kui. Sedangkan hubunganku<BR>dengan beliau, beliau adalah.............. guruku. Nah puas?"<BR>"Tidak puas................ tidak puas............. omongan orang lelaki mana bisa<BR>dipercaya?" Gadis itu diam sejenak, memandang tajam kemudian tiba-tiba ia<BR>meloncat ke atas dan "sratt" pedangnya sudah dicabutnya.<BR>"Tapi aku puas! Aku benar-benar puas!" katanya lagi, kini nada suaranya<BR>gembira sekali. Kun Hong sampai menjadi bingung dan terpaksa harus<BR>memasang telinga baik-baik untuk dapat menangkap getaran suara itu dan<BR>untuk menyelami isi hati gadis yang aneh ini.<BR>"Kau tidak puas dan kau puas? Bagaimana ini?"<BR>"Aku tidak puas karena kata-katamu tak dapat dipercaya. Siapa berani<BR>tanggung bahwa kau tidak bohong? Tapi aku puas karena kau ternyata murid<BR>Tan Beng San. Hemmm, dengan gurunya belum juga aku dapat kesempatan<BR>mengadu kepandaian, sekarang mencoba muridnya juga sudah cukup<BR>memuaskan. Orang buta, bersiaplah menghadapi pedangku!"<BR>Bukan main mendongkolnya hati Kun Hong. Gadis manja ini benar-benar<BR>keterlaluan. Salah orang tuanya yang terlalu memanjakannya sehingga gadis<BR>ini mempunyai watak yang takabur dan tinggi hati, merasa diri paling pintar<BR>dan paling lihai. Dia segera bangkit perlahan dan dengan senyum tanpa<BR>meninggalkan bibirnya dia berkata,<BR>"Ah, kiranya kau membenci dan memusuhi pamanmu sendiri. Adik kecil, kau<BR>menantang aku? Apa kau lupa bahwa aku hanya seorang buta yang tak dapat<BR>melihat? Masa seorang buta ditantang bertempur?"<BR>"Kau benar buta, apa bedanya? Biarpun buta, kau lebih pandai daripada yang<BR>tidak buta, siapa tidak tahu hal ini? Sebaliknya, akupun terluka di tangan<BR>kananku, gerakanku menjadi kaku, rasanya sakit sekali. Jadi keadaan kita<BR>sudah seimbang, tak boleh kau bilang aku menggunakan kebutaanmu untuk<BR>mencari kemenangan. Hayo, siap!"<BR>Diam-diam ingin juga hati Kun Hong untuk menguji sampai di mana<BR>kepandaian gadis ini yang begini besar hati dan besar kepala. Dia sudah tahu<BR>akan kelihaian Ilmu Pedang Sian-li-kiam-hoat, bahkan dahulu pernah<BR>melihatnya sebelum dia buta. Bukankah kekasihnya dahulu juga telah<BR>mewarisi ilmu pedang itu? Teringat akan kekasihnya ini makin besar keinginan<BR>hatinya untuk menghadapi gadis ini memainkan Ilmu Pedang Sian-li-kiamhoat.<BR>Dia lalu melintangkan tongkatnya di depan dada dan berkata tenang.<BR>"Aku sudah siap."<BR>Akan tetapi gadis itu tidak segera mulai, melainkan berkata dulu dengan nada<BR>suara angkuh. "Aku sudah dapat menduga bahwa di dalam tongkatmu itu<BR>tersembunyi senjata yang ampuh, maka jangan nanti katakan aku menyerang<BR>lawan yang hanya bertongkat. Nah, awas pedangku!"<BR>Kun Hong tersenyum. Betapapun juga, gadis ini selain mempunyai<BR>keangkuhan, juga jujur dan ada sifat "satria" dalam hatinya. Mendengar desir<BR>angin serangannya, Kun Hong cepat menggerakkan tongkat menangkis,<BR>sengaja tidak mau menggunakan mata pedang Ang-hong-kiam karena<BR>khawatir kalau merusak pedang lawan itu. Dari samping dia menangkis,<BR>meminjam tenaga lawan karena maksudnya hanya hendak menguji tenaga.<BR>Dalam gebrakan pertama ini dia sudah tahu bahwa gadis ini mengandalkan<BR>kepandaiannya kepada kegesitannya. Ginkang atau ilmunya meringankan<BR>tubuh memang sudah boleh juga, hanya kalah setingkat kalau dibandingkaa<BR>dengah Cui Bi, mendiang kekasihnya.<BR>Akan tetapi tenaga Iweekangnya ternyata masih jauh daripada cukup. Dia<BR>melayani semua serangan gadis itu dengan tenang mengimbangi tenaga dan<BR>kecepatannya. Gembira hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa Sian-likiam-<BR>hoat yang dimainkan gadis ini adalah ilmu pedang yang tulen. Gerakangerakannya<BR>begitu halus dan lemas, keindahannya dapat dia rasakan dari<BR>desiran anginnya, dan di dalam khayalnya Kun Hong seakan-akan melihat<BR>kekasihnya sendiri bergerak menari pedang. Hatinya terharu bukan main dan<BR>dalam kegembiraannya dia sampai lupa bahwa dia tadi hendak menguji gadis<BR>itu. Dia selalu mengimbangi gadis itu, dan dia tidak memberi kesempatan<BR>kepada gadis itu untuk melukai tubuhnya, juga dia tidak mau mengambil<BR>kesempatan untuk merobohkannya.<BR>Dua ratus jurus telah lewat dan tiba-tiba gadis itu menghentikan gerakannya,<BR>malah lalu tidak mau menyerang lagi. Kun Hong juga berhenti bersilat, berdiri<BR>tegak dengan muka pucat karena baru sekarang dia teringat bahwa dia sama<BR>sekali tidak sedang menari-nari dengan kekasihnya. Dia mendengar penuh<BR>perhatian dan alangkah kagetnya ketika mendengar gadis itu yang kini sudah<BR>duduk di atas tanah terisak menangis!<BR>Dia pun cepat berjongkok. Permainan pedang gadis itu yang sama benar<BR>dengan mendiang Cui Bi mendatangkan rasa simpati besar dan di dalam<BR>hatinya timbul rasa sayang kepada dara lincah ini.<BR>"Nona, kau........... kenapa kau menangis? Kau tidak terluka, juga tidak<BR>kalah............"<BR>"............ tidak kalah........... ! Memang tidak kalah........... hu-hu .......... tapi<BR>juga tidak menang....... u-hu-huu .......!"<BR>Jilid 4 : bagian 2<BR>Tangisnya makin menjadi sehingga Kun Hong menjadi bingung sekali.<BR>Beberapa kali dia mengulur tangan hendak menghibur, tapi ditariknya kembali.<BR>Jantungnya serasa copot dan seluruh tubuhnya serasa lemas mendengar<BR>tangis ini. Aneh bin ajaib, mengapa tangis gadis ini sama dengan tangis Cui Bi?<BR>Isaknya sama, suara sedu-sedannya juga senada. "Jangan........... jangan<BR>menangis, Nona........... biarlah aku mengaku kalah kalau kau menghendaki<BR>begitu."<BR>"Siapa sudi berlaku serendah itu? Hah, kalah sih bukan soal!" tiba-tiba<BR>tangisnya menghilang dan suaranya kembali nyaring. Benar-benar gadis aneh<BR>ia sehingga Kun Hong mendengarkan sambil terlongong. "Akan tetapi, siapa<BR>tidak mendongkol? Sampai hampir copot rasanya lengan kananku yang<BR>terkutuk ini, sampai sakit bukan main dan kupaksa-paksa tadi, akan tetapi<BR>tetap saja aku tidak mampu mengalahkan kau seorang buta! Baru kau<BR>muridnya yang buta saja begini hebat, apalagi gurunya yang tidak buta. Ah,<BR>aku berdebat dengan ayah, aku tidak menerima kata-kata ayah bahwa aku<BR>takkan mungkin dapat mengalahkan dia. Dan ternyata aku kalah bertaruh. Huhu-<BR>huu...........!" Dia menangis lagi tersedu-sedu seperti anak kecil minta<BR>permen ditolak.<BR>"Tan Beng San taihiap adalah seorang pendekar besar, Nona dan kau<BR>seharusnya bangga karena dia itu pamanmu. Dia tak mungkin mau<BR>memusuhimu, selain lihai dan sakti, juga dia memiliki hati emas, pribudinya<BR>luhur dan dia seorang satria sejati."<BR>Tiba-tiba tangis itu terhenti dan suaranya marah lagi. "Kalau hatiku berbulu,<BR>ya? Pribudiku rendah dan aku bukan bandingnya sama sekali. Hatinya emas<BR>tapi hatiku tembaga. Begitukah? Pantas saja kau tidak perduli kepada orang<BR>rendah ini, biar tubuh hampir kaku karena........... lengan terkutuk ini ...........<BR>aduh."<BR>Baru sekarang gadis itu mengeluh dengan suara rintihan lirih. Kun Hong<BR>terkejut. Dia dapat menduga tadi bahwa lengan kanan gadis ini terluka,<BR>gerakannya pun kaku, akan tetapi mendapat kenyataan bahwa gadis ini masih<BR>kuat mainkan pedangnya sebegitu lama, tentu lukanya tidak hebat. Kini dari<BR>suara gadis ini dia terkejut karena ada tanda-tanda bahwa gadis itu terserang<BR>demam panas akibat lukanya.<BR>"Berikan lenganmu, biar kuperiksa!" katanya. Dan sebelum gadis itu sempat<BR>menjawab atau menolak, dia sudah dapat menangkap pergelangan tangannya<BR>dan meneliti detik darahnya. Setelah memeriksa beberapa menit, tiba-tiba<BR>muka Kun Hong menjadi merah sekali, melepaskan tangan itu dan berseru,<BR>"Celaka.......! Mana mungkin? Ahh..........." dan dia duduk termenung,<BR>beberapa kali menggeleng kepala.<BR>"Bagaimana? Ada apa?" Gadis itu lenyap keangkuhannya dan memandang<BR>penuh kegelisahan. "Jangan bilang tanganku tak dapat sembuh dan harus<BR>dipotong."<BR>"Bukan demikian, tapi cara pengobatannya yang sukar kulakukan ..........."<BR>"Sukar bagaimana? Hayo katakan!" Gadis itu tak sabar lagi.<BR>"Harus memperbaiki jalan darah yan-goat-hiat, mana mungkin.......?" Jalan<BR>darah itu letaknya di bawah ketiak, bagaimana dia dapat meraba bagian tubuh<BR>ini?<BR>"Kenapa tidak mungkin? Aneh benar kau ini, apa kau kira aku tidak<BR>mempunyai jalan darah yan-goat-hiat? Bukankah ini di sini?" Gadis itu<BR>menggunakan tangan kiri meraba sebelah bawah pangkal lengannya, tapi ia<BR>segera menjerit perlahan, "........... aduuuhhh...........!"<BR>"Nah, apa kataku, tentu sakit, Nona. Kau terkena pukulan pada pangkal<BR>lenganmu. Berkat hawa murni dan Iweekang dalam tubuh, kau dapat<BR>menahannya, tidak ada tulang yang patah dan kau masih dapat melakukan<BR>pertempuran merampas mahkota, benar-benar hebat. Akan tetapi tanpa kau<BR>ketahui, jalan darah itu menjadi buntu oleh gumpalan darah matang dan dapat<BR>menimbulkan keracunan."<BR>"Wah, perlu apa kau berpidato? Aku tidak ingin menjadi tabib, tidak mau<BR>belajar mengobati. Lebih baik kau lekas mengobatinya."<BR>"........... bagaimana mungkin..........?"<BR>"Aih-aiihh, bagaimana sih orang ini? Mengapa pakai bagaimana mungkin<BR>segala? Pendeknya, kau becus tidak mengobatinya?"<BR>"Tentu saja bisa ..............."<BR>"Nah, sudah jangan banyak rewel, lekas obati!" Suara nona itu kehabisan<BR>sabar.<BR>"............. ya tapi .......... tapi .......... cara mengobatinya tidak hanya dapat<BR>dengan totokan biasa, Nona. Harus diurut dan dihancurkan darah yang<BR>berkumpul di situ agar terbawa mengalir dan ..........."<BR>"Aduh-aduuuuuhh, cerewetnya. Kalau harus diurut ya urutlah, kenapa sih<BR>ceriwis amat?"<BR>"Tapi........... kau tahu sendiri yan-goat-hiat terdapat di ......... ketiak ......."<BR>"Aduh kemaki (sombong) kau, ya? Kalau di ketiak kenapa? Apa kau kira<BR>ketiakku terlalu. kotor? Cih, ketiakmu lebih kotor, dekil, tak pernah kau gosok<BR>kalau mandi!" Nona itu suaranya marah sekali.<BR>Kun Hong menarik napas panjang, tak disadarinya lagi dia menggaruk-garuk<BR>belakang telinganya, benar-benar kewalahan dan terdesak. Celaka, susahnya<BR>bicara dengan gadis liar ini, pikirnya. Gadis jujur, agaknya tidak tahu apa-apa<BR>dan masih bersih betul pikirannya akan perhubungan antara pria dan wanita,<BR>dan hal ini mungkin terpengaruh oleh cara hidupnya sebagai seorang gadis<BR>perantau.<BR>"Eh, malah termenung, garuk-garuk kepala segala lagi! He, orang buta,<BR>apakah kau memang tidak sudi menolongku?"<BR>"........... bukan sekali-kali, Aku suka menolongmu, Nona, suka sekali.<BR>Tapi....."<BR>"........... tapi apalagi?"<BR>"Eh, maaf........... bagian yang diobati itu harus........... harus........... tidak<BR>tertutup ..........."<BR>Hening sejenak. Biarpun wataknya polos, agaknya kalau harus<BR>memperlihatkan ketiak tanpa ditutup baju, membuat gadis itu menjadi merah<BR>sekali mukanya dan bingung. Dengan kening berkerut ia memandang Kun<BR>Hong penuh selidik.<BR>Apakah dia sengaja hendak mempermain-kan aku, pikirnya. Apakah dia<BR>seorang yang kurang ajar? Akan tetapi tiba-tiba ia teringat bahwa orang di<BR>depannya ini adalah seorang buta.<BR>"He, orang aneh. Apakah matamu betul-betul buta?"<BR>Melengak Kun Hong mendengar pertanyaan ini. Ia tidak bermaksud menghina,<BR>suaranya jujur dan pertanyaan itu sungguh-sungguh.<BR>"Tentu saja, masa ada buta pura-pura?"<BR>"Sama sekali tak dapat melihat? Sedikit pun tak dapat melihat?"<BR>Kun Hong tersinggung juga, dia menghela napas dan menjawab, "Bagiku,<BR>siang dan malam sama gelapnya..........."<BR>Namun gadis itu sama sekali tidak terpengaruh oleh suara menyedihkan ini,<BR>tidak menjadi terharu malah segera berkata, "Kalau begitu, apa salahnya<BR>kubuka baju bagian yang diobati? Hayo lekas kau kerjakan. Nih, sudah<BR>kubuka!"<BR>Berdebar juga jantung Kun Hong, tapi segera dia menindas perasaannya<BR>karena dia harus mengakui bahwa gadis ini benar-benar masih amat kekanakkanakan<BR>sifatnya, gadis kasar, jujur, dan di dalam pikirannya masih bersih<BR>daripada hal yang bukan-bukan. Oleh karena itu dia pun lalu menangkap<BR>lengan kanan gadis itu, terus jari-jarinya bergerak ke atas. Lengan yang kecil<BR>bulat, berisi, dengan kulit yang halus seperti sutera.<BR>"....... aduh .......!" jerit gadis itu ketika ototnya di bawah pangkal lengan<BR>terpegang.<BR>"Hemmm....... lebih hebat daripada yang kuduga. Kalau terus kuurut, kau<BR>akan banyak menderita kesakitan, Nona. Biarlah kubantu dengan tenaga<BR>Iweekang agar kumpulan darah itu agak membuyar karena panas. Maaf,<BR>kendurkan tenagamu sebentar." Kun Hong lalu membuka tangannya dan<BR>menempelkan telapak tangannya di bawah pangkal lengan atau di ketiak<BR>kanan gadis itu. Dia mengerahkan tenaga sakti dari tubuhnya, disalurkan<BR>melalui tangan dan gadis itu dengan penuh kekaguman memandang ketika<BR>merasa betapa hawa panas sekali keluar dari telapak tangan si buta menjalar<BR>ke dalam tubuhnya melalui ketiak. Tiba-tiba ia menggigil karena hawa panas<BR>itu berubah menjadi dingin sekali sampai membuat ia menggigil.<BR>"Wah....... gila......." bibir Kun Hong berbisik dan gadis itu merasa betapa<BR>hawa itu berubah panas kembali.<BR>"Apa yang gila? Siapa?" tak tertahan ia bertanya mendengar bisikan tadi. Akan<BR>tetapi ia tidak marah melihat wajah Kun Hong berkeringat. Ia tahu bahwa<BR>pemuda itu sedang mengerahkan Iweekang, maka tak menjawab juga tidak<BR>mengapa. Tentu saja ia tak pernah menduga bahwa Kun Hong tadi memaki<BR>dirinya sendiri. Ketika dia menyalurkan tenaga Iweekang tadi, pikirannya<BR>melayang dan sentuhan tangannya dengan kulit halus hangat itu<BR>mendatangkan perasaan yang bukan-bukan dan yang mengacaukan<BR>pengerahan tenaga saktinya sehingga, akibatnya gadis itu menggigil<BR>kedinginan. Dia memaki diri sendiri, mengusir semua perasaan,<BR>mengumpulkan panca indera dan mengerahkan tenaga.<BR>Sepuluh menit kemudian dia melepaskan tangannya, lalu mulailah dia<BR>mengurut otot dan jalan darah yang terluka. Mula-mula gadis itu merintih<BR>perlahan karena memang masih terasa sakit. Akan tetapi lambat laun setelah<BR>darah mengental itu cair dan mengalir, rasa nyeri berubah nikmat. Akhirnya<BR>tiba-tiba ia tertawa cekikikan dan tubuhnya menggeliat-geliat. Kun Hong<BR>terheran dan bertanya,<BR>"Kenapa, Nona ...........?"<BR>"Aiiihhh....... hi-hik, geli amat....... jari-jarimu menggelitik ..........."<BR>Cepat-cepat Kun Hong menarik tangannya dan wajahnya kembali menjadi<BR>panas. Merah sekali wajahnya, sampai ke telinga-telinganya. "Kalau, sudah<BR>merasa geli, itu berarti sudah sembuh, Nona." Diam-diam dia juga merasa geli<BR>hatinya karena memang sikap nona ini benar-benar lucu, jujur dan kekanakkanakan.<BR>Tanpa disedarinya timbullah rasa sayang kepada nona ini.<BR>Gadis itu mengenakan kembali bajunya, bangkit berdiri dan menggerakgerakkan<BR>lengan kanannya, memukul beberapa jurus. Akhirnya ia berseru<BR>girang, "Bagus! Tidak terasa sakit lagi, sembuh sama sekali. Kakak buta, aku<BR>adikmu yang bodoh takluk betul sekarang. Kau hebat!" Gadis itu memegang<BR>tangan Kun Hong dan menari-nari berputaran. Sambil tertawa Kun Hong<BR>terpaksa mengikutinya dan mengomel,<BR>"Aih, kau benar-benar seorang adik yang nakal. Perut masih lapar kau suruh<BR>aku putar-putar begini, bisa pusing tujuh keliling aku!"<BR>"Waah, kakak buta yang baik, kau lapar? Tunggu sebentar di sini, ya?<BR>Duduklah di bawah pohon, nah di sini ......." katanya sambil menuntun Kun<BR>Hong ke bawah pohon, menyuruhnya duduk di atas akar pohon yang menonjol<BR>ke luar dari tanah. "Aku takkan lama dan kau akan kenyang nanti." Sebelum<BR>Kun Hong sempat mencegahnya, gadis itu sudah melesat cepat sekali dan<BR>tidak terdengar lagi suaranya.<BR>Belum ada setengah jam gadis itu pergi, ia sudah kembali lagi tertawa-tawa<BR>girang dan kedua lengahnya penuh barang-barang. Sepanci nasi putih,<BR>semangkok besar masakan ang-sio-hi, semangkok besar pula cah-udang dan<BR>semangkok lagi panggang daging ayam. Semua masakan dan nasinya masih<BR>panas mengepulkan asap sedap. Mangkok-mang-kok terisi masakan ini ia<BR>kempit dan bawa sedapat mungkin, malah tangannya masih menggenggam<BR>sebuah guci arak, mangkok kosong dan supit!<BR>"Hi-hi-hi, dasar untung kita bagus, Kakak buta! Nah, tolong nih, terima dulu<BR>guci arak dan mangkok-mangkok kosong. Awas, turunkan dulu di atas tanah,<BR>masih banyak nih. Wah, lenganku panas semua, itu sih, ang-sio-hinya miring<BR>mangkoknya ketika kubawa lari, kuahnya tumpah sedikit ke lenganku!" Ributribut<BR>gadis itu bicara dan Kun Hong terheran-heran dari mana gadis itu<BR>memperoleh masakan sebanyak itu.<BR>"Kan di sini tidak ada restoran besar. Dari mana kau memperoleh masakan<BR>mahal ini! Wah, araknya pun bukan arak sembarangan nih, arak wangi dan<BR>sudah disimpan lama lagi. Eh, supitnya ini begini halus, apakah bukan dari<BR>gading? Dari mana kau memperoleh semua ini?" Kun Hong meraba sana<BR>meraba sini, kagum dan heran.<BR>"Sudahlah, Kakakku yang baik. Kita makan dulu, sikat habis ini semua baru<BR>nanti bicara. Kalau sampai dingin masakan-masakan ini sebelum masuk ke<BR>dalam perut kita, kan sayang! Hayo makan, nih araknya untukmu sudah<BR>kusediakan!" Dengan cekatan dan terampil gadis itu melayani Kun Hong<BR>makan. Ia sendiri pun makan, akan tetapi tiada hentinya ia menggunakan<BR>sumpitnya untuk menjapitkan daging pilihan untuk Kun Hong, berkali-kali<BR>mendesak supaya pemuda itu menambah lagi nasi dan araknya. Gembira<BR>sekali mereka, apalagi Kun Hong. Masakan-masakan itu sungguh lezat, nasi<BR>pun putih dan pulen, araknya tulen. Kegembiraan dan kelezatan masakan<BR>membuat mereka gembul dan menambah nafsu makan sehingga sebentar<BR>saja, sampai seperempat jam, masakan dan arak benar-benar telah disikat<BR>habis oleh keduanya!<BR>Agaknya setelah kemasukan arak, gadis itu menjadi lebih gembira lagi, suara<BR>ketawanya bebas lepas, sikapnya terbuka dan Kun Hong merasa lebih senang<BR>lagi dan rasa sayangnya bertambah. Seorang keponakannya, yaitu Kui Li Eng,<BR>juga lincah jenaka, akan tetapi masih kalah oleh gadis ini yang benar-benar<BR>masih bersih pikirannya. Sayangnya, agaknya anak ini terlalu dimanja dan<BR>agaknya sejak kecil dipenuhi segala kehendaknya sehingga sekarang pun ia<BR>selalu ingin kehendaknya dipenuhi, menjadi orang yang sifatnya "ingin menang<BR>sendiri". Akan tetapi makin lama makin kelihatan bahwa pada dasarnya anak<BR>perempuan ini tidak mempunyai watak yang ingin menang sendiri, malah amat<BR>jujur dan cukup memiliki pertimbangan yang adil.<BR>Kun Hong duduk bersandar batang pohon, terengah kekenyangan. Gadis itu<BR>duduk pula di atas tanah, di depannya. Sampai lama gadis itu menatap wajah<BR>Kun Hong, melihat betapa Kun Hong meraba-raba dengan tangan ketika<BR>hendak beralih duduk ke atas akar yang lebih rata, meraba-raba pula batang<BR>pohon yang hendak disandarinya, kelihatan begitu tak berdaya.<BR>"Kakak buta, kau adalah seorang ahli dalam hal pengobatan. Kenapa matamu<BR>sendiri sampai bisa menjadi buta? Apakah sebabnya matamu buta?"<BR>Kali ini gadis itu bicara tanpa nada kekanak-kanakan atau bergurau, suaranya<BR>bersungguh-sungguh.<BR>Kun Hong terkejut mendengar pertanyaan ini, menghela napas dan menjawab,<BR>"Karena salahku sendiri................"<BR>"Hemm, apakah ada yang membikin buta? Katakanlah siapa orangnya, adikmu<BR>ini pasti akan mencarinya dan membalas membutakan matanya!"<BR>Kun Hong menggeleng kepala. Dia takkan merasa tersinggung kalau diejek<BR>orang tentang kebutaannya, akan tetapi dia merasa sedih kalau orang<BR>mengingatkan dia akan sebab-sebab kebutaan itu karena hal itu sama saja<BR>dengan memaksa dia mengenangkan Cui Bi.<BR>"Aku sendiri yang membutakan kedua mataku."<BR>Gadis itu meloncat ke atas, kaget sekali. "Aku tidak percaya! Masa ada orang<BR>membutakan matanya sendiri, kecuali orang gila!"<BR>"Memang aku gila, gila pada waktu itu." Kun Hong menangkap tangan gadis itu<BR>untuk mencegahnya bicara soal ini lebih lanjut. "Adik yang baik, sudahlah,<BR>jangan kita bicara soal sebab-sebab kebutaan mataku, maukah kau?"<BR>Baru kali ini Kun Hong merasa betapa gadis itu terdiam dalam keharuan, akan<BR>tetapi hanya sebentar karena segera terdengar lagi suaranya yang nyaring<BR>gembira. "Kakak buta, sebetulnya kau siapakah? Siapa namamu dan di mana<BR>tempat tinggalmu?"<BR>Kun Hong timbul kembali senyumnya. Sikap yang amat cepat dan mudah<BR>berubah dari gadis ini benar-benar menggembirakan dan mudah menular,<BR>Terhadap seorang gadis seperti ini tak perlu dia menyembunyikan diri.<BR>"Namaku Kwa Kun Hong, Nona. Adapun tempat tinggalku, heemm...........<BR>untuk saat ini yah di sini inilah! Dan kau sendiri, siapa namamu? Apakah cukup<BR>hanya Bi-yan-cu saja?"<BR>"Kwa Kun Hong........... nama yang bagus. Eh, Kwa-twako (Kakak Kwa),<BR>bagaimana kau bisa mengenal nama ayahku dan bagaimana kau bisa tahu<BR>pula bahwa ayahku adalah kakak Tan Beng San ketua Thai-san-pai?"<BR>"Tentu saja aku tahu. Aku mempunyai hubungan baik dengan keluarga Thaisan-<BR>pai, malah pernah menerima pelajaran ilmu dari Tan Beng San taihiap,<BR>aku tahu bahwa ayahmu selain kakaknya, juga menjadi suheng dari isteri<BR>beliau. Bukankah ayahmu itu murid pertama dari mendiang Raja Pedang Cia<BR>Hui Gan?"<BR>"Wah, kiranya pengetahuanmu luas, Twako. Aku mendengar tentang<BR>pertempuran hebat pada pembukaan Thai-san-pai tiga tahun yang lalu di<BR>puncak Thai-san, apakah kau hadir juga?"<BR>Berdebar jantung Kun Hong. Teringat dia akan semua pengalamannya di<BR>puncak itu, tentang Cui Bi apalagi. Dia termenung sejenak. Bagaimana dia<BR>tidak akan tahu tentang hal itu? Dia sendiri berada di sana, malah dia<BR>mengambil bagian terpenting (baca Rajawali Emas).<BR>"Aku tahu....... aku hadir di sana......." Dia cepat menambah untuk<BR>menghilangkan. "Aku bersama ayah ibuku....." Akan tetapi dia segera teringat<BR>bahwa tidak perlu dia menyebut-nyebut ayah bundanya.<BR>"Twako, siapa ayahmu? Tentu tokoh hebat......."<BR>Sudah terlanjur bicara, Kun Hong tak dapat mundur lagi. "Ayahku adalah Kwa<BR>Tin Siong, ketua Hoa-san-pai."<BR>Gadis itu segera meloncat lagi ke atas. "Walah! Kiranya putera Hoa-san-ciangbunjin<BR>(ketua Hoa-san-pai)! Maaf....... maaf, ya, Twako? Kiranya kau seorang<BR>besar, keturunan jagoan, putera seorang ketua Hoa-san-pai yang terkenal!"<BR>"Hush, jangan melebih-lebihkan, malah kuminta, jangan kau menyebut-nyebut<BR>nama keturunanku. Aku sudah menjadi seorang buta, miskin dan hidup<BR>sebatang-kara, aku tidak suka nama keturunanku dibawa-bawa. Kau jangan<BR>menyebutku Kwa-twako lagi."<BR>"Habis harus menyebut apa? Namamu Kwa Kun Hong....... hemm, baiknya<BR>kusebut Hong-ko (kakak Hong) saja. Bagus, kan?"<BR>Kembali jantung Kun Hong berdebar. Mendiang Cui Bi kekasihnya dahulu juga<BR>menyebutnya Hong-ko, dan suara gadis ini begitu mirip suara Cui Bi, seakan<BR>Cui Bi belum mati dan kini berada di sampingnya!<BR>"Sesukamulah," dia mengusir kenangan yang mengganggu hatinya itu, "tapi<BR>kau sendiri belum memperkenalkan namamu."<BR>Gadis itu tertawa riang. "Hong-ko, namaku buruk sekali. Aku lebih suka<BR>dipanggil Bi-yan-cu......." Nada suaranya manja.<BR>Kun Hong juga tersenyum lebar. "Apa kulitmu hitam?"<BR>"Siapa bilang hitam? Kulitku putih kuning, malah ayah bilang kulitku amat<BR>bagus dan sehat, tidak seperti kulit gadis-gadis kota dan puteri-puteri istana<BR>yang pucat-pucat kekurangan darah. Lihat lenganku ini....... eh, kau mana bisa<BR>lihat! Kenapa kau mengira kulitku hitam, Hong-ko?" Biarpun matanya tak<BR>dapat melihat, Kun Hong dapat membayangkan betapa gadis itu<BR>memandangnya dengan bibir yang mungil cemberut.<BR>"Aku ingat bahwa burung walet (yan-cu) bulunya hitam, dan sepanjang<BR>ingatanku, tidak ada burung walet yang cantik. Maka julukanmu Bi-yan-cu<BR>(Walet Cantik Jelita) amat tidak cocok kalau kulitmu tidak sehitam bulu burung<BR>walet. Nah, kurasa betapa pun buruknya namamu, tidak akan seburuk<BR>julukanmu."<BR>"Wah, kau pandai mencela, Hong-ko. Awas, lain kali kuminta kau mencari<BR>julukan baru untukku. Namaku sebetulnya adalah Tan Loan Ki. Nah buruk,<BR>kan? Seperti nama laki-laki."<BR>"Tidak buruk. Nama Loan Ki manis benar, juga julukanmu itu sebenarnya<BR>sudah tepat, mengingat bahwa kau memiliki gerakan yang lincah dan cepat<BR>seperti burung walet. Siauw-poi (adik kecil), mulai sekarang aku akan<BR>menyebutmu Ki-moi (adik Ki), boleh kan?"<BR>Tiba-tiba mereka berhenti bicara karena terdengar seruan orang dari jauh,<BR>"Betina liar itu tentu takkan lari jauh!" terdengar suara seorang wanita yang<BR>serak.<BR>"Hemm, kalau kutangkap ia, akan kujadikan bakso. Anak kurang ajar itu!"<BR>Sambung seorang laki-laki yang suaranya besar.<BR>Kun Hong mengerutkan keningnya. Otaknya yang cerdas segera<BR>menghubungkan sebutan "betina liar" tadi dengan Loan Ki. "Ki-moi, kau<BR>tertawa mengejek! Siapa mereka dan mengapa marah-marah?"<BR>"Dasar pelit!" Gadis itu mengomel. "Kehilangan nasi dan masakan begitu saja<BR>mencak-mencak seperti merak kehilangan ekor."<BR>"Wah, jadi yang kita makan tadi ....." Kun Hong berseru kaget.<BR>"Heh-heh, barang curian tentu. Habis dari mana kalau tidak mencuri?" enak<BR>saja jawaban ini. "Kau menyesal, Hong-ko? Nah, kau muntahkanlah kembali."<BR>Ia lalu tertawa-tawa menggoda.<BR>"Jangan main-main, Ki-moi. Kurasa dua orang yang datang ini bukan<BR>bermaksud baik dan mereka mempunyai kepandaian yang tak boleh kau<BR>pandang ringan begitu saja!"<BR>Baru saja Kun Hong mengeluarkan kata-kata ini, dua orang itu sudah tiba di<BR>situ dan terdengar bentakan yang perempuan. "Nah, ini dia si bocah liar<BR>bersama seorang buta!"<BR>Yang laki-laki membentak, "Gadis kurang ajar, kembalikan makanan dan arak<BR>tadi......." dia berseru kaget melihat mangkok-mangkok dan rak yang sudah<BR>kosong, "Wah, celaka si keparat, sudah disikat habis!"<BR>Kun Hong hanya dapat menaksir keadaan dua orang yang datang itu dengan<BR>pendengarannya. Laki-laki itu sedikitnya berusia empat puluh tahun dan si<BR>wanita sukar diduga karena suaranya serak dan kasar, akan tetapi tentu tidak<BR>lebih muda daripada yang laki-laki. Gerakan kaki si wanita itu ringan<BR>membayangkan ginkang yang tinggi sedangkan derap kaki yang mengandung<BR>tenaga Iweekang membuat tanah di sekitarnya seperti tergetar.<BR>Akan tetapi Loan Ki yang melihat dua orang itu mendapat kesan yang lebih<BR>mengagetkannya. Wanita itu berpakaian serba hitam dengan tambalan kain<BR>lebar berwarna putih ditalikan di leher menggantung ke bawah. Mukanya<BR>penuh bopeng (burik), rambutnya masih hitam dan disisir rapi. Matanya besar<BR>sebelah dengan pandangan galak, sedangkan tangan kanannya memegang<BR>sebuah senjata besi yang aneh bentuknya, bergagang dua dan ujungnya<BR>runcing. Kiranya itu adalah sebuah penjepit arang yang biasa dipergunakan di<BR>dapur untuk mengambil arang, tangan kirinya memegang sebuah kipas dapur<BR>yang lebar dan bergagang besi pula. Memang aneh kedua alat dapur ini karena<BR>ukurannya selain lebih besar daripada biasa, juga terbuat dari besi yang<BR>kelihatan kokoh kuat mengerikan.<BR>Adapun laki-laki itu yang juga berpakaian serba hitam, memakai ikat kepala<BR>kuning, matanya lebar seakan-akan hendak meloncat ke luar dari tempatnya,<BR>tubuhnya tinggi besar mukanya hitam, kedua lengan tangannya yang tak<BR>berbaju penuh bulu hitam. Tangan kanannya memegang sebuah pisau<BR>pemotong babi yang lebar dan mengkilap saking tajamnya seukuran golok tapi<BR>bentuknya persegi.<BR>Loan Ki adalah seorang anak perempuan yang semenjak kecilnya hidup di<BR>dunia kangouw dan sudah banyak bertemu dengan orang-orang aneh. Karena<BR>itu munculnya dua orang ini tidak mengagetkannya, juga suara mereka tidak<BR>membuat ia gentar, bahkan ia tertawa ketika berdiri dan menyambut mereka<BR>dengan suara mengejek.<BR>"Kalian ini dua orang kasar datang-datang marah tidak karuan membuka<BR>mulut menyemburkan kata-kata kotor, sebetulnya hendak mencari siapakah?"<BR>Akan tetapi dua orang itu tidak menjawab, saling pandang dan memandang ke<BR>arah mangkok-mangkok kosong, lalu membanting-banting kaki, memaki-maki,<BR>"Keparat, anjing-anjing kelaparan! Dihabiskannya semua, celaka. Twa-nio<BR>(nyonya) akan memukuli kepalaku sampai bengkak-bengkak karena arak<BR>seperti itu sudah habis dari simpanan. Aduh, celaka dua anjing kelaparan!"<BR>Laki-laki muka hitam itu berteriak-teriak, matanya makin melotot ketika dia<BR>memandang ke arah Loan Ki.<BR>"Dan aku....... ah, aku yang kasihan....... dari mana aku harus mendapatkan<BR>ikan emas itu setelah ang-sio-hi tinggal tulang-tulang ikan saja? Mampus aku<BR>kalau sio-cia memaksa aku menyelam di telaga untuk memperoleh ikan<BR>baru...... celakanya, sio-cia takkan mau sudah kalau belum kudapatkan ikan<BR>yang serupa dengan yang tadi."<BR>Setelah puas memaki-maki, wanita itu menudingkan penjepit arangnya ke<BR>muka Loan Ki. "Hayo mengaku, kau gadis busuk. Tentu kau telah mencuri<BR>makanan dari dapurku, malah menotok roboh dua orang pembantuku!"<BR>"Dan kau yang mencuri guci penuh arak simpanan dari pembantuku!" bentak<BR>laki-laki itu sambil mengacung-acungkan golok pemotong babinya.<BR>Loan Ki tersenyum manis. "Betul aku, Uwak dan Empek yang baik. Tapi<BR>ketahuilah bahwa perutku dan perut si dia ini lapar sekali. Aku sedang mencari<BR>pengisi perut kami yang kosong, hidungku tertarik oleh bau sedap dan gurih,<BR>lalu melihat masakan-masakan itu tak dapat aku menahan keinginan hatiku<BR>lagi. Maafkan saya, Uwak dan Empek, kelak kalau kalian kelaparan dan<BR>kebetulan berada di rumahku kalian boleh balas mencuri tiga kali lipat<BR>banyaknya. Aku berjanji takkan marah kalau kalian menyikat habis masakanmasakanku<BR>dari dapur rumahku. Nah, bukankah sudah adil janjiku ini?"<BR>"Adil matamu......!" nenek itu memaki.<BR>"Adil mukamu....... yang jelita!" kakek itu pun memaki.<BR>Kun Hong menggeleng-gelengkan kepala. Dua orang ini adalah orang-orang<BR>aneh, tapi Loan Ki benar-benar telah mengeluarkan janji yang tak masuk di<BR>akal dan seenak perutnya sendiri. Mana mungkin pencuri di "bayar" dengan<BR>janji kalau kelak dua orang itu kelaparan boleh balas mencuri di dapur<BR>rumahnya? Tak masuk di akal dan alasan anak-anak, maka dia pun lalu<BR>bangkit berdiri, menjura dengan hormat kepada dua orang itu sambil berkata,<BR>"Jiwi Locianpwe harap sudi memaafkan kami berdua yang muda.<BR>Sesungguhnya, tadi siauwte yang kelaparan dan siauwte minta adik siauwte ini<BR>supaya mengemis makanan. Siapa kira dia tidak berani mengemis malah<BR>mencuri. Untuk hal ini, siauwte mohon sudilah kiranya jiwi Locianpwe<BR>memaafkan kami berdua."<BR>Dua orang itu saling pandang, wajah mereka berseri. Selama hidup baru kali<BR>ini semenjak menjadi pekerja dapur mereka menerima kata-kata yang enak<BR>sekali memasuki telinga mereka. Mereka memandang Kun Hong dan<BR>mengangguk-anggukkan kepala.<BR>"Orang muda baik, biarlah kalau memang kau kelaparan. Paling-paling aku<BR>akan dimaki twa-nio," kata kakek itu dengan suara sabar sekali.<BR>"Pemuda buta yang tampan, kau amat sopan. Ikan itu dapat kucarikan<BR>gantinya dengan menjala, juga daging babi dan ayam masih banyak. Siocia<BR>dapat kubujuk. Dua orang locianpwe harus bersikap sabar, bukan begitu, Sunlaote?"<BR>kata si nenek dan kakek itu pun mengangguk-angguk membenarkan.<BR>"Hong-ko, mereka ini hanyalah seorang koki masak dan seorang tukang gajal,<BR>kenapa kau sebut-sebut mereka locianpwe segala? Wah, bisa kepala mereka<BR>menjadi makin besar dan kulit muka mereka makin tebal!" tiba-tiba Loan Ki<BR>mencela Kun Hong yang menjadi kaget sekali melihat cara temannya ini<BR>"merusak" suasana yang sudah begitu baik. Celaka, pikirnya, benar-benar<BR>bocah setan, tidak mengerti siasat damai yang dia lakukan.<BR>Benar saja kekhawatirannya. Dua orang itu mengeluarkan seruan marah,<BR>memaki-maki lagi dan wanita itu menerjang maju, menyerang Loan Ki dengan<BR>penjepit arangnya. Loan Ki tertawa mengejek, menghindarkan serangan ini<BR>dengan menggeliatkan tubuhnya ke belakang dan tiba-tiba ia merasa ada<BR>angin menyambar ke arah mukanya. Kaget juga gadis ini, karena ternyata<BR>susulan serangan kipas ini amat cepatnya. Ia menjejakkan kaki ke atas tanah,<BR>tubuhnya mencelat ke belakang dan terhindar dari hantaman kipas. Di lain<BR>saat ia telah menghadapi wanita galak itu dengan pedang di tangan dan<BR>senyum simpul menghias bibir.<BR>Kun Hong tidak senang melihat perkembangannya menjadi pertempuran. Akan<BR>tetapi karena dari gerakan-gerakan nenek itu dia maklum bahwa kepandaian<BR>Loan Ki masih jauh lebih tinggi, maka dia mendiamkannya saja, hanya berkata<BR>halus,<BR>"Ki-moi, sesudah mencuri, jangan kau membunuh atau melukai orang! Kalau<BR>kau melanggar aku tidak mau bicara lagi denganmu!"<BR>Loan Ki hanya tertawa lirih dan sebentar saja nenek itu menjadi bingung dan<BR>berkunang-kunang matanya. Gerakan gadis ini benar-benar lincah sehingga<BR>baginya seakan-akan gadis itu mempunyai lima buah bayangan yang<BR>mengeroyoknya dari segala penjuru! Ilmu serangannya menjadi kacau-balau<BR>dan dengan nekat dan ngawur ia menyerang membabi-buta, menepak-nepak<BR>dengan kipas dapurnya seperti orang berusaha menepuk lalat yang terlalu<BR>gesit.<BR>"Sun-laote, kau bantu aku menangkap bocah liar ini!" Akhirnya nenek itu<BR>berteriak minta bantuan kepada temannya.<BR>Agaknya kakek itu ragu-ragu, lalu mengomel, "Heran benar, masa Hek-kui-nio<BR>(Iblis Betina Hitam) tak dapat menangkap seorang gadis cilik?" Kemudian dia<BR>menoleh kepada Kun Hong. "Orang muda, bukan aku Ban-gu-thouw (Selaksa<BR>Kepala Kerbau) golongan cianpwe hendak menghina yang muda, tetapi<BR>sahabatmu gadis liar itu agaknya terlalu lincah untuk Hek-kui-nio. Terpaksa<BR>aku harus menangkapnya!"<BR>Akan tetapi pada saat itu terdengar Hek-kui-nio berteriak kesakitan dan ia<BR>berjingkrak-jingkrak dengan kaki kanannya karena kakinya yang kiri kena<BR>digajul (ditendang dengan ujung sepatu) oleh Loan Ki sehingga bukan main<BR>nyerinya, ngilu dan menusuk-nusuk tulang sumsum!<BR>Laki-laki tinggi besar yang berjuluk Ban-gu-thouw itu dengan marah lalu<BR>memutar-mutar golok pemotong babinya, atau mungkin juga pemotong<BR>kerbau sesuai dengan julukannya. Angin menderu dan diam-diam Kun-Hong<BR>menjadi kaget dan khawatir, jelas terdengar olehnya betapa Ban-gu-thouw ini<BR>memiliki tenaga dahsyat yang tak boleh dipandang ringan. Biarpun dia maklum<BR>bahwa ilmu silat pedang yang dimiliki Loan Ki jauh lebih hebat dan mempunyai<BR>dasar yang tinggi tingkatnya, namun menghadapi seorang lawan kasar yang<BR>bertenaga besar dan memegang senjata yang agaknya amat berat, tetap<BR>merupakan bahaya bagi Loan Ki.<BR>"Locianpwe, jangan memperhebat permusuhan!" Kun Hong berseru, tubuhnya<BR>tiba-tiba melesat ke arah si tinggi besar itu, kedua tangannya bergerak dengan<BR>jari-jari tangan terbuka dan....... di lain saat Kun Hong sudah berhasil<BR>merampas golok pemotong kerbau itu!<BR>Ban-gu-thouw berteriak keras saking kagetnya. Cepat dia membalikkan<BR>tubuhnya dan memandang dengan mata terbelalak. "Heeei, kalau begitu kau<BR>tidak buta!"<BR>"Siauwte memang seorang buta," jawab Kun Hong.<BR>"Kalau buta bagaimana dapat merampas golokku!"<BR>Tanpa menjawab Kun Hong mengangsurkan golok itu kepada pemiliknya.<BR>Jilid 5 : bagian 1<BR>Ban-Gu-Thouw menerima kembali goloknya dan wajahnya merah sekali karena<BR>pada saat itu Loan Ki tertawa haha-hihi. Dia menjadi marah dan berkata,<BR>"Orang muda buta, kenapa kau merampas golokku?"<BR>"Kuharap Locianpwe tidak melanjutkan pertempuran yang tidak ada gunanya.<BR>Makanan itu sudah masuk perutku, dan aku sudah sanggup untuk minta<BR>maaf."<BR>"Enak saja kau bicara! Kami berdua yang akan menerima hukuman dari twanio<BR>dan siocia, tapi karena omonganmu tadi enak didengar, kami akan<BR>melupakannya saja dan siap menerima hukuman. Siapa tahu sahabatmu si<BR>harimau betina itu suka menghina orang dan sekarang kau malah merampas<BR>golokku. Ban-gu-thouw dan Hek-kui-nio tidak bisa menerima hinaan orang!"<BR>Kun Hong cepat menjura. "Marap sekali lagi kalian orang-orang tua sudi<BR>memaafkan kami orang-orang muda. Kalau perlu, biarlah kami menghadap<BR>majikan kalian untuk minta maaf. Kurasa majikan kalian akan menghabiskan<BR>urusan makanan yang tak berarti ini."<BR>Dua orang itu saling pandang, lalu tertawa terbahak-bahak, membuat Kun<BR>Hong yang tak dapat melihat itu terheran-heran. Malah nenek yang sekarang<BR>sudah tidak nyeri lagi kaki kirinya itu tertawa tak kalah kerasnya oleh<BR>temannya. Kemudian Ban-gu-thouw berkata,<BR>"Ha-ha, bagus sekali. Kalian mau menghadap twa-nio atau siocia? Ha-ha-ha,<BR>orang muda, benar-benar lucu kalau ada orang berani begini tenangnya<BR>menyatakan hendak mcnghadap majikan kami setelah berani mencuri<BR>makanan. Tapi agaknya kalian mengandalkan kepandaian kalian, dan kau ini<BR>orang buta agaknya juga berkepandaian. Sebelum kau menghadap majikan<BR>kami, biar kucoba dulu. Bisakah kau merampas golokku sekali lagi? Awas<BR>serangan!" Dengan gerakan kuat sekali Ban-gu-thouw membacok ke arah<BR>kepala Kun Hong. Pemuda ini dengan tenang miringkan kepala, jari tangannya<BR>meluncur ke arah pergelangan tangan disusul cengkeraman ke arah gagang<BR>golok dan....... sebelum Ban-gu-thouw tahu mengapa tiba-tiba tangannya<BR>menjadi gringgingen (kesemutan), goloknya telah pindah ke tangan orang<BR>buta itu! Dan tanpa berkata apa-apa kembali Kun Hong mengangsurkan golok<BR>kepada pemiliknya.<BR>"Hek-cici, dia ini siluman, lebih baik kita pulang siap menerima hukuman!"<BR>kata Ban-gu-thouw sambil menyambar goloknya dan berlari pergi di ikuti<BR>temannya. Loan Ki mengikuti mereka dengan suara ketawanya yang nyaring<BR>sampai mereka tidak kelihatan lagi punggung mereka.<BR>"Hi-hik alangkah lucunya dua orang badut itu!" Loan Ki berkata sambil duduk<BR>di depan Kun Hong yang sudah duduk pula di atas akar pohon.<BR>"Apanya yang lucu! Ki-moi, kau benar-benar keterlaluan. Sudah mencuri,<BR>memperolok mereka yang tentu akan menerima hukuman dari majikan<BR>mereka. Hanya aku amat heran, siapakah majikan yang mempunyai koki dan<BR>jagal seperti mereka itu? Kepandaian mereka itu tak patut dimiliki seorang<BR>koki dan jagal biasa. Tentu majikan itu luar biasa pula dan bukan orang<BR>sembarangan. Sudah sepatutnya kita datang ke sana minta maaf."<BR>Loan Ki cemberut. "Tak sudi aku minta maaf! Apalagi kepada twa-nio dan<BR>siocia yang mereka sebut-sebut tadi. Huh, lebih baik kupergunakan pedangku<BR>memberi hajaran kepada mereka."<BR>Kun Hong menghela napas. "Sudahlah, kalau begitu kita tidak usah pergi ke<BR>sana. Tapi tak baik pula kita tinggal bersama-sama di sini, kalau mereka<BR>datang lagi tentu hanya akan menimbulkan keributan belaka. Ki-moi, aku<BR>sungguh merasa beruntung dapat berkenalan denganmu. Adik yang baik,<BR>selanjutnya kau berhati-hatilah melakukan perjalanan, lebih baik kalau kau<BR>segera pulang dan jangan merantau seorang diri. Seorang dara remaja seperti<BR>kau ini lebih aman kalau berada di rumah orang tuamu sendiri. Jauhkan<BR>permusuhan, jangan terlalu menurut nafsu hati. Nah, Ki-moi kita berpisah di<BR>sini. Mudah-mudahan lain waktu ada kesempatan bagi kita untuk saling<BR>bertemu kembali."<BR>Kun Hong tidak tahu betapa gadis itu memandangnya dengan mata terbelalak<BR>seperti orang kaget. Agaknya ia sama sekali tidak ingat bahwa pertemuan itu<BR>akan berakhir dengan perpisahan. Tiba-tiba ia memegang tangan Kun Hong<BR>dan ditariknya pemuda buta itu berdiri.<BR>"Hong-ko, hayo berangkat!" ajaknya.<BR>"Eh, ke mana? Jalan kita bersimpang di sini."<BR>"Iihh, siapa bilang? Kita mengejar mereka, mengunjungi majikan dua orang<BR>badut tadi."<BR>"Heh?" Kun Hong melengak heran, "Kau bilang tadi tak sudi ke sana, tak sudi<BR>minta maaf!"<BR>"Sekarang aku ingin sekali ke sana! Ingin aku melihat si muka hitam kepala<BR>kerbau itu dipukuli kepalanya oleh twa-nio sampai bengkak-bengkak dan<BR>melihat si nenek setan itu menyelam di air sampai perutnya kembung, hi-hihik!"<BR>Kun Hong hanya dapat menarik napas panjang karena gadis itu sudah<BR>menariknya dan diajak lari. Sebetulnya dia tidak ingin pergi berdua lebih lama<BR>lagi dengan gadis yang merupakan penggoda batinnya ini, akan tetapi dia pun<BR>tidak tega membiarkan gadis itu pergi seorang diri menemui majikan yang<BR>aneh dan mencurigakan itu. Dia tahu dengan pasti bahwa sekali menyatakan<BR>keinginan hatinya, tidak ada lautan api yang dapat menghilangkan gadis<BR>kepala batu ini.<BR>Perumahan itu ternyata luas sekali, terdiri dari sembilan buah bangunan<BR>gedung besar dan tinggi bertingkat. Dari jauh saja sudah kelihatan catnya<BR>yang beraneka warna. Hebatnya, perumahan itu dikelilingi oleh air sehingga<BR>merupakan pulau kecil di tengah danau yang besar dan luas. Memang<BR>demikian halnya. Tadinya, di dalam hutan itu terdapat sebuah danau besar<BR>dan di tengah danau terdapat pulaunya. Sudah hampir tiga puluh tahun yang<BR>lalu danau itu dijadikan perumahan. Memang janggal kelihatannya di tempat<BR>sunyi itu, jauh dari kota, terdapat rumah-rumah gedung di tengah danau.<BR>Penduduk dusun-dusun yang paling dekat terletak dua puluh li dari danau itu<BR>mengenal tempat itu dengan nama Ching-coa-ouw (Danau Ular Hijau) dan<BR>pulau itu pun disebut Ching-coa-to (Pulau Ular Hijau). Mereka ini tidak tahu<BR>betul siapa penghuni perumahan mentereng itu, hanya tahu betul bahwa<BR>majikan daerah Ular Hijau ini mempunyai banyak pelayan yang galak-galak,<BR>aneh-aneh, dan rata-rata memiliki kepandaian tinggi sehingga sekitar sepuluh<BR>li di sekeliling danau itu yang disebut "Daerah Ular Hijau" seakan-akan berada<BR>di bawah kekuasaan majikan Ular Hijau. Orang mencari kayu kering sekali pun<BR>tidak akan berani mencari nafkahnya dalam daerah Ular Hijau! Memang<BR>terdapat sebuah jalan besar yang cukup rata menuju ke danau itu dan jalan ini<BR>merupakan jalan umum, akan tetapi setibanya di danau kecil itu, mereka akan<BR>mendapatkan jalan buntu.<BR>Para pedagang sayur-sayuran dan kebutuhan sehari-hari lainnya banyak<BR>mendapatkan untung kalau menjual dagangan mereka di tempat itu akan<BR>tetapi tak seorang pun di antara mereka pernah berurusan sendiri dengan<BR>majikan Ular Hijau karena segala urusan tentu dibereskan oleh para pelayan.<BR>Para pelayan inilah yang kemudian menyeberang ke pulau dengan perahuperahu<BR>yang memang banyak dimiliki oleh majikan Ular Hijau.<BR>Ada desas-desus di antara penduduk dusun di sekitarnya, desas-desus yang<BR>merupakan dongeng bahwa majikan Ular Hijau bukanlah manusia biasa,<BR>melainkan seorang dewi dan seorang puteri yang secantik bidadari dan yang<BR>pandai "berlari di atas air" dan pandai "terbang"! Sudah tentu saja hal ini<BR>merupakan dongeng dari mulut ke mulut karena kalau ditanya sungguhsungguh,<BR>tak seorang pun pernah menyaksikan dengan mata sendiri.<BR>"Hong-ko, keadaan mereka amat aneh," di tengah jalan Loan Ki bercerita<BR>sambil menuntun Kun Hong. "Aku mendengar dari orang-orang dusun bahwa<BR>daerah Ching-coa itu merupakan daerah terlarang. Entah orang-orang macam<BR>apa yang menguasai daerah ini. Dari jauh kulihat rumah-rumah gedung di atas<BR>pulau kecil di tengah danau, sunyi bukan main."<BR>"Kalau begitu, bagaimana kau dapat pergi ke gedung itu?"<BR>"Aku tidak pergi kesana. Tadinya aku hendak mencari makanan, siapa kira<BR>tempat ini sepi sekali, tak kulihat sebuah dusun. Akhirnya aku bertemu dengan<BR>pedagang sayur yang hendak mengantarkan sayuran kepada Ching-coa-to,<BR>maka aku ikut dengan dia. Sampai di pinggir telaga, pedagang itu berurusan<BR>dengan pelayan tempat itu. Kebetulan sekali datang gerobak yang membawa<BR>masakan-masakan lezat itu, juga arak. Aku minta beli, tapi malah dimakimaki.<BR>Aku hilang sabar, menotok roboh empat orang pelayan dan merampas<BR>makanan dan arak."<BR>"Kau memang nakal."<BR>"Kalau perut lapar orang jadi nekat, Hong-ko. Keadaan mereka benar-benar<BR>aneh dan mencurigakan. Kita tak mungkin dapat secara berterang<BR>mengunjungi mereka."<BR>"Habis bagaimana?"<BR>"Aku ada akal. Kulihat tadi ada sekumpulan perahu bercat hijau diikat di<BR>pinggir telaga. Kurasa perahu-perahu itu pun milik majikan Ching-coa-to. Kita<BR>pergunakan saja perahu itu, kita menyeberang dan melihat keadaan di sana."<BR>"Sesukamulah, asal kau jangan menimbulkan onar," jawab Kun Hong yang<BR>juga mulai tertarik oleh penuturan tentang keadaan penuh rahasia itu.<BR>Betul saja seperti diceritakan oleh Loan Ki tadi, jalan itu sunyi sekali dan<BR>sampai mereka tiba di pinggir telaga, keadaan tetap sunyi tak tampak seorang<BR>pun manusia. Dari tempat itu kelihatan tembok perumahan di atas pulau akan<BR>tetapi juga tidak kelihatan ada manusia di sekitar telaga. Hari sudah<BR>menjelang senja, matahari yang kemerahan membayangkan cahayanya di<BR>atas air telaga yang berkeriput seperti sutera biru kemerahan. Akan tetapi<BR>Loan Ki tidak memperhatikan keindahan alam di senja hari ini, sedangkan Kun<BR>Hong yang suka akan keindahan alam tidak dapat melihatnya. Gadis itu<BR>sedang mencari-cari dengan matanya dan akhirnya ia menarik Kun Hong ke<BR>dalam hutan kecil di sebelah kiri jalan, lalu menyelinap di antara pohon-pohon.<BR>"Hong-ko, aku melihat ada perahu di pinggir sana. Hayo lekas kita pergunakan<BR>perahu itu sebelum pemiliknya datang melihat kita."<BR>"Huh, kau hendak mencuri lagi?"<BR>"Ih, bukan mencuri, hanya pinjam sebentar untuk kita pakai menyeberang.<BR>Kau benar-benar terlalu suci hatimu, Hong-ko!" Loan Ki mengomel dan Kun<BR>Hohg terpaksa tersenyum.<BR>"Baiklah. Kalau tidak dituruti kehendakmu, aku takut kau menangis."<BR>Loan Ki tertawa dan menarik tangan Kun Hong. Sambil bergandengan tangan<BR>mereka lari ke arah perahu kecil yang terapung-apung di pinggir telaga,<BR>tersembunyi di antara pepohonan yang tumbuh menjulang ke pinggir telaga.<BR>Perahu itu kecil mungil, bentuknya ramping dan ujungnya meruncing, terikat<BR>kepada sebatang tonggak kayu yang sengaja dipasang di situ. Di dalam perahu<BR>terdapat sebatang dayung yang gagangnya terukir indah merupakan gambar<BR>ular melingkar pada dayung itu dan terdapat ukiran huruf "Ching-coa" (Ular<BR>Hijau).<BR>"Wah, perahu ini pun milik Ching-coa-to, Hong-ko. Mari naik."<BR>Kun Hong dituntun melangkah dan masuk ke dalam perahu, terus duduk. Dara<BR>itu pun masuk setelah melepaskan tali dan mendayung. Perahu kecil meluncur<BR>cepat ke tengah telaga.<BR>"Perahu kecil tapi bagus!" Kun Hong memuji. "Imbangannya tepat, kayunya<BR>kuat dan ringan, luncurannya laju. Ditambah tenaga dalammu yang kuat,<BR>ah....... nikmat benar berperahu seperti ini. Hemm....... sayang tidak ada arak<BR>......."<BR>Loan Ki tertawa. "Dasar pelamun dan pemalas. Sungguh tak pantas seorang<BR>laki-laki duduk enak-enak membiarkan seorang wanita mendayung perahu."<BR>"Eh, mana dayungnya. Tapi aku tidak tanggung perahu ini akan meluncur ke<BR>mana. Kalau kembali ke daratan sana jangan salahkan aku yang tak bermata!"<BR>"Tak usah, Hong-ko. Aku hanya berkelakar, masa sungguh-sungguh? Apa sih<BR>sukarnya berdayung begini, aku memang ahli dayung, semenjak kecil sudah<BR>biasa aku berlayar malah di samudera besar bersama ayah."<BR>Memang nyaman sekali hawanya di tengah telaga. Angin bertiup perlahan<BR>membawa keharuman aneka macam bunga yang tumbuh di tepi telaga dan di<BR>pulau, hawanya sejuk dan sunyi. Suara air terkena dayung berirama amat<BR>menyedapkan pendengaran. Suasana ini menimbulkan kegembiraan di dalam<BR>hati Kun Hong, dan otomatis pikirannya merangkai sebuah sajak yang segera<BR>disenandungkan perlahan mempergunakan suara dayung menimpa air sebagai<BR>irama pengiring nyanyian.<BR>"Biduk kecil meluncur laju, menentang hembusan angin lalu membawa harum<BR>seribu kembang tambah nyaman ayunan gelombang membikin si buta ingin<BR>bertembang wahai kasih aku di sini!!"<BR>Tiba-tiba suara dayung menimpa air terhenti, biduk berhenti melaju dan Loan<BR>Ki bertanya kaku, "Yang mana kasihmu itu, Hong-ko? Kau terkenang kepada si<BR>janda muda?"<BR>Kun Hong tertawa. "Jangan membawa-bawa janda itu ke sini, semoga ia sudah<BR>berjumpa dengan pamannya dan hidup bahagia bersama anaknya. Dunianya<BR>dan duniaku jauh berpisahan, Ki-moi."<BR>Agaknya senang hati gadis itu mendengar jawaban ini, buktinya ia tidak lagi<BR>bertanya tentang kekasih Kun Hong, sebaliknya malah terdengar ia memuji.<BR>"Kau pandai benar bersajak dan bertembang, Hong-ko. Kata-katamu muluk,<BR>lagunya sedap didengar, dan suaramu empuk benar."<BR>Kun Hong tertawa. "Kau lebih pandai lagi memuji orang, sebentar lagi bisa aku<BR>membubung tinggi ke awang-awang oleh pujianmu. Heee, Ki-moi, sudah lama<BR>sekali perahu melaju, kenapa belum juga sampai di pulau? Kalau pulau itu tadi<BR>dapat kau lihat dari darat tentu tidak sejauh ini!"<BR>"Aku sengaja memutar, Hong-ko. Masa aku begitu bodoh mendarat di pulau<BR>itu dari depan? Ingat, kunjungan kita ini bukan kunjungan terundang. Aku<BR>akan mengitari pulau, mencari tempat yang tepat untuk mendarat sehingga<BR>mereka yang di pulau tidak melihat kedatangan kita."<BR>Kun Hong mengerutkan keningnya, "Sebetulnya aku tidak suka mengunjungi<BR>tempat orang dengan sembunyi seperti pencuri saja. Adik Loan Ki, apakah<BR>tidak lebih baik kalau kita secara berterang mengunjungi mereka untuk<BR>menyatakan penyesalan dan permintaan maaf kita? Mungkin majikan pulau itu<BR>akan menghabiskan urusan kecil itu dan bersikap manis."<BR>"Hemm, agaknya kau sudah membayangkan siocia cantik jelita dan manis<BR>menyambutmu dengan senyum di bibir dan bintang di manik mata, ya? Dasar<BR>kau ini......."<BR>"Bukan begitu, Ki-moi. Tapi kan lebih baik menjadi tamu terhormat daripada<BR>tamu tak diundang?"<BR>"Apa kau lupa bahwa kita telah, memakai perahu mereka tanpa ijin? Mana ada<BR>orang datang minta maaf dengan jalan mencuri perahu pula? Jangan-jangan<BR>begitu berjumpa kita akan dicaci maki. Tidak, aku tidak ingin bertemu dengan<BR>mereka, baik toa-nio atau siocia itu, baik si iblis betina tua maupun si iblis<BR>betina muda. Aku hanya ingin menyaksikan betapa lucunya koki dan jagal tadi<BR>menerima hukuman mereka, hi-hik!"<BR>"Kau memang nakal, Ki-moi..... heeeiii, bukan main harumnya .......!"<BR>Loan Ki tiba-tiba memegang lengan Kun Hong dan terdengar gadis ini berseru<BR>lirih, "Aduuuuuhhh, hebat.......! Bukan main .....! Majikan pulau ini benarbenar<BR>telah menjadikan pulau ini sebagai taman surga.......!"<BR>"Ada apa, Ki-moi? Kau melihat apa?" Penuh gairah Kun Hong bertanya,<BR>kepalanya agak dimiringkan, hidungnya kembang kempis, kerut-merut antara<BR>kedua matanya yang buta. Telinga dan hidung, dua alat pengganti mata untuk<BR>mengetahui apakah sebenarnya di depan sana, sekarang dikerahkan.<BR>"Taman indah, penuh kembang beraneka warna, menara-menara merah dan<BR>kuning, patung ukir-ukiran di sana-sini, kolam-kolam dengan air berwarna,<BR>buah-buahan tergantung rendah....... ah, entah apa lagi di sana, sudah agak<BR>gelap, Hong-ko....... wah, kulihat banyak kijang, ada kelinci....... monyetmonyet<BR>di pohon....... burung-burung beterbangan, merak........ aduh<BR>indahnya......."<BR>Wajah Kun Hong berseri gembira, kerut-merut di antara matanya makin jelas<BR>tampak, senyumnya membayangkan kepahitan. Agaknya Loan Ki menoleh dan<BR>menatap wajahnya. Gadis ini kembali memegang lengannya dan kini suaranya<BR>sudah kehilangan kegembiraan. "Ah, sebetulnya hanya taman biasa, Hong-ko.<BR>Masih tidak menang dengan taman ayahku. Tapi, merupakan tempat<BR>pendaratan yang baik bagi kita."<BR>Loan Ki mendayung perahunya ke pinggir. Tiba-tiba ia berseru kaget dan<BR>perahu berhenti melaju.<BR>"Ada apa, Ki-moi?"<BR>Dara itu menyumpah perlahan. "Gila benar! Banyak sekali teratai liar di sini,<BR>sambung-menyambung dan tebal. Perahu kita tak dapat lewat, celaka. Biar<BR>kucari jalan dari sana. Sebelah sana itu agaknya kelihatan bersih dari<BR>gangguan tanaman-tanaman ini." Ia mendayung kembali perahunya mundur<BR>untuk melepaskan diri dari taman teratai di air ini. Agak lama ia mendayung<BR>mencari air bersih untuk meminggirkan perahunya.<BR>Akhirnya dapat juga ia minggir. "Kita mendarat, Hong-ko." Gadis itu<BR>memegang ujung tambang, lalu menggandeng tangan Kun Hong. Keduanya<BR>melompat ke darat dan Loan Ki mengikatkan tambang kepada sebatang pohon<BR>di pinggir telaga.<BR>"Lho, di mana kita ini.......?" Tiba-tiba ia mengeluh. Suaranya terdengar begitu<BR>kaget dan heran sehingga Kun Hong cepat memegang tangannya.<BR>"Ada apa lagi, Ki-moi?"<BR>"Aneh, Hong-ko. Benar-benar aku bingung dan tidak mengerti. Ke mana<BR>lenyapnya taman surga tadi? Baru saja masih ada, aku tahu betul, malah<BR>perahu kudaratkan di pinggir taman, tampak jelas dari perahu tadi. Tapi<BR>setelah kita mendarat, kenapa kita di tempat yang buruk, liar merupakan<BR>hutan gelap begini?"<BR>"Barangkali hutan ini merupakan bagian daripada taman tadi, Ki-moi. Mari kita<BR>cari ke depan. Anehnya, ganda harum tadi juga lenyap dan sekarang........<BR>hemmm, baunya amat tidak enak, Ki-moi."<BR>"Benar, Hong-ko. Aku pun merasa muak dan ingin muntah. Bau apa sih ini?"<BR>Pegangan tangan Kun Hong pada lengan gadis itu tiba-tiba menjadi lebih erat.<BR>"Ki-moi, mari kita kembali saja. Kalau aku tidak salah duga, ini bau.......<BR>amisnya ular-ular beracun! Agaknya pulau ini banyak rahasianya dan<BR>merupakan tempat amat berbahaya bagi seorang luar."<BR>"Tidak, Hong-ko. Aku tidak takut! Aku malah makin ingin sekali menyelidiki<BR>tempat aneh ini berikut penghuni-penghuninya. Hayo kita maju, Hong-ko."<BR>Dengan berhati-hati dua orang muda itu berjalan maju. Belum ada sepuluh<BR>langkah mereka memasuki hutan liar itu, tiba-tiba Kun Hong menggerakkan<BR>tongkatnya ke kiri, cepat seperti kilat menyambar. Loan Ki kaget dan<BR>menengok ke kiri dan...... ia menahan jeritnya melihat seekor ular sebesar<BR>lengan tangan telah hancur kepalanya, berkelojotan dan menggeliat-geliat di<BR>atas tanah. Ular itu kulitnya berwarna hijau mengkilap, seluruh tubuh<BR>mengeluarkan lendir berminyak ketika dia berkelojotan itu. Bau amis makin<BR>memuakkan. Dalam kengeriannya, Loan Ki diam-diam makin kagum dan heran<BR>sekali kepada pemuda buta ini. Bagaimana seorang buta malah lebih "awas"<BR>daripada ia yang selain berkepandaian tinggi, juga memiliki sepasang mata<BR>yang tajam?<BR>"Ki-moi, daerah ini berbahaya sekali. Apakah warna kulit ular itu?"<BR>"Hijau......." jawab Loan Ki, suaranya masih gemetar sedikit karena tegang. Ia<BR>maklum betapa berbahayanya ular itu, ular berbisa yang amat jahat.<BR>"Hemm, ching-coa (ular hijau)....... agaknya penghuni aseli pulau ini ....... Kimoi,<BR>kau keluarkan pedangmu, siap-siap menghadapi segala kemungkinan.<BR>Aku khawatir kalau-kalau kita dikurung musuh."<BR>Mendadak dari arah belakang mereka terdengar suara yang sayup sampai<BR>dibawa angin, "Haaiiiii! Anak-anak nakal, jangan tergesa-gesa mendarat<BR>.......!"<BR>Kun Hong dan Loan Ki terkejut, cepat membalikkan tubuh. Kun Hong<BR>memasang telinga memperhatikan tapi tidak mendengar suara apa-apa. "Apa<BR>yang kau lihat, Ki-moi? Siapa yang datang dari telaga?" bisiknya.<BR>Loan Ki membelalakkan mata memandang. Cuaca sudah mulai gelap, akan<BR>tetapi ia dapat melihat datangnya sebuah perahu besar berlayar kuning<BR>dengan cepat menuju pantai. Ia kaget sekali dan mengira bahwa suara tadi<BR>ditujukan kepada mereka. Mungkinkah dari jarak yang begitu jauh orang di<BR>dalam perahu itu dapat melihat mereka? Ia menarik tangan Kun Hong diajak<BR>menyelinap bersembunyi di balik rumpun pohon kembang.<BR>"Ki-moi, apakah ada perahu datang?" Sekali lagi Loan Ki heran dan kagum.<BR>Jalan pikiran Kun Hong benar-benar tajam dan cerdik biarpun pemuda ini tak<BR>dapat melihat lagi. Memang sesungguhnya Kun Hong cerdik. Kalau ada orang<BR>atau apa saja berada di darat di sekitar tempat itu yang terlihat oleh Loan Ki,<BR>tentu akan dapat ditangkap oleh telinga atau hidungnya. Terang bahwa Loan<BR>Ki melihat sesuatu, dan karena tidak mendengar apa-apa, maka dapat dia<BR>menduga bahwa suara orang tadi tentulah datang dari perahu.<BR>"Perahu besar......." kata Loan Ki, "berlayar kuning....... ada lima orang lakilaki<BR>berpakaian hijau di atasperahu, memegang tongkat....... eh, seperti<BR>suling. Perahu sudah minggir, Hong-ko....... kulihat benda-benda panjang kecil<BR>meloncat ke air, ke darat, seperti ranting-ranting kayu panjang....... heiii,<BR>benda-benda itu bergerak....... ohh, Hong-ko. Ular! Ular-ular besar kecil,<BR>banyak sekali, puluhan....... ah, ratusan mungkin ribuan. Dan lima orang itu<BR>berjalan di belakang mereka. Apa itu.......? Ah, mereka....... mereka agaknya<BR>menggembala ular-ular itu!"<BR>Kun Hong miringkan kepala, hidungnya mengembang-kempis. "Ki-moi, lihat<BR>baik-baik. Apakah di antara mereka terdapat seorang tua bongkok yang<BR>bercacat, telinga kiri dan lengan kiri buntung, mata kiri buta, dan mulutnya<BR>lebar seperti robek?"<BR>"Tidak ada, Hong-ko. Tapi....... tapi ular-ular itu menuju ke sini, Hong-ko.<BR>Celaka, mari kita lari menjauhi mereka!" Loan Ki memegang tangan kiri Kun<BR>Hong dan menariknya lari dari situ, memasuki hutan. Tangan gadis itu agak<BR>dingin, tanda bahwa ia merasa ngeri sekali.<BR>Siapa tidak akan merasa ngeri kalau melihat ular-ular yang amat banyak itu<BR>bergerak-gerak maju seperti mengejar, dengan baunya yang amat amis?<BR>Apalagi tak lama kemudian terdengar seorang di antara lima "penggembala<BR>ular" itu berteriak keras.<BR>"Heeiii, seekor peliharaan kita mati dengan kepala hancur di sini! Wah, ini<BR>tentu perbuatan orang. Hayo kita cari!"<BR>"Jangan-jangan perahu kecil tadi yang membawa orang asing datang ke sini,"<BR>kata suara lain.<BR>"Ular ini baru saja bertemu musuh, tubuhnya masih berkelojotan. Tentu<BR>pembunuhnya belum pergi jauh. Hayo kejar, pergunakan anak-anak kita!"<BR>kata suara pertama bernada memimpin. Lalu terdengar suara suling yang<BR>ditiup secara aneh sekali.<BR>Mendengar ini, Kun Hong berkata perlahan. "Hemm, kiranya benar ular-ular<BR>terpelihara. Jangan-jangan dia di belakang ini semua."<BR>"Dia siapa, Hong-ko?"<BR>Kun Hong memegang lengan gadis itu dan berkata, suaranya sungguhsungguh,<BR>"Ki-moi, kalau benar dugaanku, kita benar-benar telah berada di tempat yang<BR>amat berbahaya. Terang bahwa suling itu bersuara untuk memberi aba-aba<BR>kepada ular-ular itu untuk mengejar kita. Heii, awas!" Tiba-tiba Kun Hong<BR>menggerakkan tongkatnya ke kanan dua kali dan ketika-Loan Ki menoleh.......<BR>kiranya dua ekor ular sebesar paha telah putus lehernya. Darahnya<BR>menyembur-nyembur dan tubuh ular yang empat lima meter panjangnya itu<BR>berkelojotan, saling belit! Dengan hati penuh ketegangan, Loan Ki lalu menarik<BR>tangan Kun Hong dan mengajak pemuda itu lari lebih cepat lagi.<BR>"Wah, suara suling itu malah memberi perintah kepada semua ular yang<BR>berada di tempat ini," kata Kun Hong. "Hati-hati, Ki-moi!"<BR>Benar saja dugaan Kun Hong, karena beberapa kali mereka diserang ular-ular<BR>besar kecil, Loan Xi menggunakan pedangnya membunuh beberapa ekor ular<BR>yang, rnenghadang di depan, juga Kun Hong selalu menggunakan tongkatnya<BR>untuk membunuh ular-ular yang hendak mengganggu. Mereka tidak pernah<BR>berhenti, terus berlari ke depan dan akhirnya mereka keluar dari hutan itu.<BR>Jalan mulai memburuk, penuh batu karang dan kiranya di situ terdapat<BR>pegunungan batu karang yang sukar dilalui. Karena tidak mengenal jalan<BR>kedua orang itu terpaksa maju terus dan sementara itu, cuaca sudah mulai<BR>gelap, senja telah lewat terganti datangnya malam. Suara ular-ular yang<BR>mendesis-desis beserta para penggembala yang berteriak-teriak sudah tak<BR>terdengar lagi. Dua orang itu mendaki gunung kecil.<BR>"Kita harus mencari tempat sembunyi yang aman," kata Loan Ki. "Dengan<BR>adanya ular-ular itu, tak mungkin kita bergerak di waktu malam gelap."<BR>Kun Hong menghela napas. Jalan itu benar sukar dan andaikata dia tidak<BR>dituntun oleh Loan Ki, tentu akan amat lambat dia dapat maju mencari jalan.<BR>"Siapa kira, karena kau ingin melihat tontonan lucu, akhirnya menjadi tidak<BR>lucu. Kita menjadi buronan di pulau orang. Baiknya besok kita segera kembali<BR>saja ke daratan sana."<BR>"Hong-ko, bukankah pengalaman kita tadi cukup hebat, menegangkan dan<BR>lucu? Mungkin besok kita bertemu dengan pengalaman yang lebih lucu dan<BR>hebat lagi siapa tahu? Sementara ini, kita masih selamat. Nah, itu di depan<BR>kulihat banyak lubang-lubang besar di dinding karang, tentu ada gua yang<BR>dapat kita pakai tempat bersembunyi."<BR>Mereka mempercepat pendakian yang sukar itu. Baiknya Loan Ki memiliki<BR>ginkang yang cukup tinggi sehingga Kun Hong dapat mengikutinya dengan<BR>baik, tanpa mengkhawatirkan keadaan temannya itu. Akhirnya telah sampai di<BR>dekat dinding karang yang banyak berlubang merupakan gua-gua besar,<BR>jalannya menjadi rata.<BR>Tiba-tiba terdengar bentakan dari depan, "Siapa berani masuk Ching-coa-to<BR>tanpa ijin? Benar-benar sudah bosan hidup!" Dan muncullah seorang laki-laki<BR>pendek yang bersenjata ruyung baja. Tanpa banyak cakap lagi laki-laki itu<BR>segera menerjang maju sambil mengerahkan ruyungnya. Loan Ki marah dan<BR>dengan pedang di tangan ia memapaki. Ketika ruyung menyambar ke arah<BR>kepalanya, gadis itu meliukkan tubuh ke kiri tanpa menunda terjangannya.<BR>Sambil miring ke kiri pedangnya menyambar secepat kilat. Orang itu berteriak<BR>kaget, akan tetapi masih sempat membuang diri ke kiri sambil membabatkan<BR>ruyungnya. Dia terhindar dari bahaya, akan tetapi keringat dingin membasahi<BR>dahinya. Tak dia sangka bahwa gadis remaja itu demikian hebat ilmu<BR>pedangnya.<BR>Gerakan Loan Ki yang sekali gebrakan saja sudah hampir dapat merobohkan<BR>lawan, membuat lawannya ragu-ragu untuk menyerang lagi. Dia bersuit keras<BR>dan terdengar suitan-suitan dari beberapa penjuru. Loan Ki terkejut, maklum<BR>bahwa mereka berdua telah terkepung. Akan tetapi Kun Hong lebih cepat lagi.<BR>Sekali bergerak pemuda buta itu sudah melompat ke arah si pendek. Dalam<BR>keadaan remang-remang itu si pemegang ruyung tidak tahu bahwa yang<BR>melompatinya adalah seorang buta. Dia kaget dan menghantamkan<BR>ruyungnya, akan tetapi tiba-tiba dia jatuh lemas dan ruyungnya terlempar<BR>entah ke mana. Tanpa dia ketahui bagaimana caranya, dia telah roboh tertotok<BR>dan lemas tak dapat bergerak maupun bersuara lagi!<BR>"Ki-moi, lekas, cari tempat sembunyi.......!" kata Kun Hong yang tidak<BR>menghendaki terjadinya pertempuran di tempat itu. Dia benar-benar merasa<BR>tidak enak sekali telah mengganggu tempat orang dan menimbulkan<BR>keonaran.<BR>Loan Ki adalah seorang dara remaja yang tidak pernah mengenal artinya takut<BR>dalam menghadapi lawan dalam pertempuran, maka sekarang pun biar ia tahu<BR>telah dikurung musuh, ia tidak merasa gentar. Akan tetapi karena ia sudah<BR>mulai mengenal watak temannya yang buta dan aneh, kini ia maklum pula<BR>bahwa Kun Hong tidak suka menghadapi pertempuran dengan orang-orang<BR>yang sebetulnya memang tidak mempunyai urusan apa-apa dengan mereka<BR>berdua. Maka ia lalu menggandeng tangan Kun Hong, diajak lari kembali<BR>menuruni puncak. Akan tetapi tiba-tiba ia bergidik, terdengar suara mendesisdesis<BR>dan dari bawah puncak merayap ular-ular tadi bersama penggembalapenggembalanya<BR>yang bersuit-suit. Lawan manusia biasa Loan Ki takkan<BR>undur, akan tetapi menghadapi ular-ular itu ia benar-benar merasa jijik dan<BR>ngeri. Ia cepat mengajak Kun Hong naik ke puncak lagi dan sekarang di depan<BR>mereka sudah muncul dua orang laki-laki yang memegang golok. Tanpa<BR>banyak tanya dua orang laki-laki itu segera menerjang mereka karena baru<BR>saja mereka melihat seorang kawan mereka rebah tak bergerak dan mereka<BR>kira sudah tewas.<BR>Juga kali ini Kun Hong yang cepat bergerak. Bagaikan seekor burung rajawali<BR>sakti dia melayang ke arah dua orang itu. Dua buah golok berkelebat<BR>menyambar ke arah tubuhnya, akan tetapi golok-golok itu segera terlempar<BR>jauh dan dua orang itu memekik lemah terus roboh tak berkutik!<BR>"Kau hebat, Hong-ko.......!" Loan Ki memuji dengan kagum sekali. Ia sendiri<BR>mewarisi Ilmu Silat Sian-li-kun-hoat yang terkenal amat indah gerakangerakannya,<BR>akan tetapi menyaksikan gerakan Kun Hong tadi ia benar-benar<BR>merasa kagum. Akan tetapi yang dipujinya sama sekali tidak memperdulikan,<BR>malah membentak,<BR>"Hayo lekas cari tempat sembunyi, Ki-moi!"<BR>Loan Ki kembali menarik tangan Kun Hong dan berlari ke arah dinding batu<BR>karang. Dari sebelah kanan dan kiri terdengar bentakan-bentakan orang, juga<BR>dari belakang. Gadis itu melihat banyak lubang-lubang pada dinding itu, lalu<BR>menarik Kun Hong masuk ke dalam sebuah lubang yang cukup besar untuk<BR>dimasuki orang sambil merangkak. Karena didorong oleh Loan Ki, Kun Hong<BR>masuk dulu, merangkak seperti seekor tikus memasuki lubangnya, kemudian<BR>disusul oleh Loan Ki.<BR>Lubang itu kurang lebih lima meter dalamnya, terus ke dalam, kemudian<BR>menukik ke bawah. Kun Hong berhenti merangkak ketika tangan dan kakinya<BR>meraba lubang yang menukik ke bawah.<BR>"Terus, Hong-ko........ terus. Mereka sudah sampai ke sini......." bisik Loan Ki<BR>di belakang pemuda buta itu.<BR>Jilid 5 : bagian 2<BR>"Tak dapat terus, lubangnya menukik ke bawah......." jawab Kun Hong.<BR>"....... kau mepetlah, Hong-ko, biarkan aku lewat dan memeriksa di depan<BR>......."<BR>Karena merasa bahwa dia adalah seorang buta, lupa bahwa di dalam keadaan<BR>gelap pekat seperti itu sebetulnya dia tidak lebih buta daripada Loan Ki sendiri.<BR>Kun Hong lalu berbaring mepet untuk memberi jalan kepada gadis itu yang<BR>hendak melewatinya. Lubang itu tidak besar maka ketika Loan Ki merayap<BR>melewatinya, dua orang itu berhimpitan di dalam lubang. Kun Hong merasa<BR>tak enak sekali, jengah dan berdebar hatinya. Baiknya mereka berdua adalah<BR>orang-orang yang telah memiliki kepandaian tinggi sehingga dengan Ilmu Siakut-<BR>kang (ilmu Melemaskan Tulang) mereka berhasil bersimpang di lubang<BR>yang sempit itu. Loan Ki agaknya juga merasakan apa yang dirasai Kun Hong,<BR>buktinya gadis yang biasanya jenaka gembira itu kali ini tidak membuka suara<BR>kecuali "ah-uh" seperti orang kepanasan. Dengan hati-hati gadis itu<BR>merangkak ke depan sampai tiba di tempat yang menukik ke bawah.<BR>"Agak lebar di bawah, Hong-ko. Seperti sumur ..........."<BR>"Memang, karena kita tidak tahu bagaimana dasarnya, tak mungkin turun ke<BR>bawah ......."<BR>Pada saat itu dari luar lubang terdengar suara mendesis-desis, disusul suara<BR>seorang laki-laki yang parau, "Anak-anak, hayo masuk kandang, jangan<BR>berkeliaran lagi, besok kalian harus membantu mencari dua orang musuh itu."<BR>Disusul lagi suara yang tinggi, "Heran, ke mana larinya dua orang tadi? Mereka<BR>itu manusia atau setan? He, Lao Siong, apakah sudah dilaporkan kepada toanio?"<BR>"Tentu sudah." Lalu mereka bercakap-cakap akan tetapi sambil menjauhi<BR>mulut lubang sehingga Kun Hong dan Loan Ki tak dapat mendengar lagi apa<BR>yang mereka bicarakan.<BR>Akan tetapi betapa kaget hati dua orang itu ketika terdengar suara mendesisdesis<BR>dari arah belakang disusul bau yang amat amis. Kiranya lubang pada<BR>dinding batu itu adalah sarang-sarang ular atau dijadikan "kandang" untuk<BR>ular-ular itu!<BR>"Celaka, ular-ular itu masuk ke sini.......!" Kun Hong yang berada di belakang<BR>berkata perlahan. Dia cukup tabah dan tenang, akan tetapi dalam keadaan<BR>seperti itu, tentu saja dia merasa ngeri juga.<BR>"Lekas, Hong-ko, di belakangmu ada batu yang kuseret masuk tadi. Kau<BR>pergunakan itu untuk menutup lubang yang paling sempit dan....... hei, aduh,<BR>waahh....... bungkusanku jatuh ke dalam sumur, Hong-ko."<BR>Kun Hong mendengar suara barang berat jatuh. Dengan pendengarannya yang<BR>tajam dia mendapat kenyataan yang menggirangkan hatinya. Lubang itu<BR>ternyata dasarnya tidak keras, juga tidak begitu dalam. Hal ini tentu saja<BR>dapat dia ketahui ketika buntalan pakaian dan mahkota yang dibawa gadis itu<BR>terjatuh ke bawah. Akan tetapi pada saat itu dia sibuk mendorong batu besar<BR>untuk menutupi lubang. Tentu saja tidak tertutup rapat, akan tetapi lumayan<BR>untuk menahan membanjirnya ular-ular itu ke dalam.<BR>Setelah itu dia segera berkata, "Ki-moi, mari kita masuk saja ke dalam sumur<BR>itu. Tempatnya tidak dalam dan dasarnya mungkin tanah tidak keras."<BR>"Bagaimana kau bisa tahu?" Bisik Loan Ki meragu.<BR>"Buntalanmu tadi melayang ke bawah tidak terlalu lama, juga suaranya ketika<BR>menimpa dasar sumur menyatakan bahwa dasar itu tidak keras. Tapi tunggu,<BR>biar aku yang melompat masuk lebih dulu. Kau mepetlah!"<BR>Seperti tadi, dua orang itu kembali berhimpitan untuk dapat bertukar tempat,<BR>kini Kun Hong di depan dan gadis itu di belakangnya. Akan tetapi karena<BR>perasaan mereka terlampau tegang, mereka tidak merasakan lagi<BR>kecanggungan seperti tadi. "Ki-moi, membaliklah ke belakang dan siap dengan<BR>pedangmu kalau-kalau ada ular menerobos masuk. Aku akan meluncur ke<BR>bawah dulu!"<BR>Loan Ki mendengar suara perlahan lalu disusul suara Kun Hong dari bawah,<BR>"Ki-moi, lekas kau turun. Tidak begitu dalam di sini dan aku akan<BR>membantumu jangan takut!"<BR>Loan Ki merangkak mundur, ketika kakinya menyentuh sumur, hatinya<BR>berdebar juga. Siapa orangnya takkan merasa ngeri kalau harus masuk ke<BR>dalam sumur yang begitu gelap? Akan tetapi adanya Kun Hong di dalam sumur<BR>itu membesarkan hatinya dan tanpa ragu-ragu lagi ia melorot turun sambil<BR>mengerahkan ginkangnya ketika tubuhnya melayang ke bawah. Ia memegang<BR>pedangnya tinggi-tinggi dan kedua kakinya sudah siap untuk menyentuh tanah<BR>di dasar sumur. Akan tetapi tiba-tiba dua buah lengan yang kuat dan cekatan<BR>menerima tubuhnya, lalu menurunkannya ke atas tanah. Kembali ia kagum<BR>akan kehebatan Kun Hong.<BR>"Hong-ko, sumur ini dalam juga, sedikitnya tiga kali tinggi orang. Bagaimana<BR>kita akan dapat keluar dari sini?" Loan Ki dalam gelap meraba ke sana ke mari<BR>dan hatinya kecut ketika mendapat kenyataan bahwa sumur ini pun tidak<BR>lebar, hanya cukup mereka berdua berdiri. Tak mungkin meloncat ke luar dari<BR>tempat sesempit ini.<BR>"Jangan khawatir, aku akan dapat merayap naik," kata Kun Hong tenang.<BR>"Ini buntalanmu, baru kuingat bahwa kau membawa mahkota kuno itu. Ah,<BR>jangan-jangan rusak mahkota itu ketika jatuh."<BR>Loan Ki menerima buntalan itu dan mengikatnya di punggung. Untuk<BR>melakukan ini saja beberapa kali tangan dan sikunya menyentuh dada Kun<BR>Hong, begitu sempitnya tempat itu. Hawanya juga panas bukan main. Sumur<BR>itu dindingnya adalah batu karang, hanya dasarnya saja tanah lunak. Karena<BR>tidak ada hawa, atau kalau ada pun amat sedikit masuk dari lubang yang kini<BR>hampir tertutup rapat oleh batu tadi, di situ amat panasnya. Apalagi hawa<BR>yang masuk telah membawa bau amis dari ular-ular yang memenuhi lubang di<BR>sebelah luar, maka pernapasan mereka sesak dan sebentar saja Loan Ki<BR>menjadi pusing.<BR>Makin lama hawa makin panas. Loan Ki dan Kun Hong biarpun memiliki hawa<BR>murni dan Iweekang yang kuat, tetap saja menderita hebat dan tubuh mereka<BR>telah penuh keringat. Pakaian mereka basah semua.<BR>"Aduh....... Hong-ko, napasku sesak, aku muak........ tak kuat bertahan. Kita<BR>harus keluar dari neraka ini......." keluh Loan Ki.<BR>Kun Hong bingung. "Bagaimana mungkin, Ki-moi? Kalau kita naik, tentu akan<BR>bertemu ular-ular itu di dalam lubang jalan ke luar. Menghadapi ular-ular itu<BR>memang bisa kita tanggulangi, akan tetapi kau dalam gelap.......ah, dan siapa<BR>tahu orang-orang itu masih menjaga di luar. Kau harus dapat bertahan,<BR>mungkin besuk pagi-pagi mereka dan ular-ular itu akan ke luar dari lubang<BR>dan kita dapat menerobos ke luar kalau memang ada jalan lain. Setidaknya<BR>kalau cuaca terang, kau bisa melihat. Bergerak di malam hari, kita sama-sama<BR>buta, tentu payah."<BR>"Tapi....... aduh, panas dan sesak, Hong-ko......." Gadis itu betul-betul payah<BR>dan kini menyandarkan kepalanya yang terasa pusing berputar-putar itu<BR>kepada tubuh Kun Hong. Dahi gadis itu ternyata sudah basah semua oleh<BR>keringat dan tubuhnya panas sekali. Diam-diam Kun Hong terkejut. Kiranya<BR>Iweekang gadis ini belum begitu tinggi tingkatnya dan terang takkan dapat<BR>menahan. Dia lalu berusaha untuk berkelakar.<BR>"Wah, kita basah oleh keringat, Ki-moi. Celakanya, keringatku tentu berbau<BR>tak enak dan kuingat kau paling tidak kuat kalau mencium bau keringat,<BR>seperti ketika kau dikeroyok tempo hari. Jangan-jangan keringatku yang<BR>membuat kau muak dan pusing."<BR>Kun Hong sengaja berkelakar untuk membangkitkan kegembiraan dan<BR>kejenakaan gadis ini sehingga berkurang penderitaan itu. Akan tetapi dia gagal<BR>karena dengan lemah Loan Ki menjawab, "Tidak, keringatmu tidak bau, Hongko.......<BR>tapi ular-ular itu....... ah, ngeri aku......." dan gadis itu tiba-tiba saja<BR>menangis!<BR>"Lho, kenapa menangis? Adik Loan Ki, jangan bilang bahwa kau takut.......!"<BR>"....... tidak! Tidak takut...... kalau ular-ular itu masuk ke sini, kita akan<BR>dimakan habis....... ihhh, dan semua ini kesalahanku yang membawamu ke<BR>sini."<BR>Kun Hong mendekap kepala di dadanya sambil mengelus rambut yang halus<BR>basah itu dengan sikap menghibur, malah dia memaksa diri tertawa. "Ah, kau<BR>aneh-aneh saja. Ular-ular itu takkan berani menjatuhkan diri ke dalam lubang,<BR>juga tidak akan dapat merayap turun, Andaikata ada yang berani, sekali pukul<BR>juga akan remuk kepalanya. Takut apa? Tentang datang ke sini....... eh, aku<BR>sendiri pun ingin melihat badut-badut itu dihukum!"<BR>Biarpun lemah dan pusing, bangkit juga kegembiraan Loan Ki mendengar ini<BR>dan ia berbisik, ".... kau ..... melihat??"<BR>"Aha, sampai lupa aku bahwa aku sudah buta. Bukan melihat dengan mataku,<BR>tapi aku kan bisa meminjam matamu. Kau yang melihat dan kau ceritakan<BR>kepadaku, bukankah sama saja .......?"<BR>Loan Ki dapat juga tertawa. "....... Hong-ko, kau....... baik sekali ......."<BR>Tiba-tiba terdengar suara mendesis-desis di atas. Loan Ki merenggutkan<BR>kepalanya dan tubuhnya menegang. "Celaka....... mereka turun....... ular-ular<BR>itu......." katanya dengan suara mengandung kengerian.<BR>Bau amis makin menghebat, hawa panas pun tak tertahankan lagi oleh Loan<BR>Ki. Ia melepaskan buntalan pakaian dan mahkota yang membikin tubuhnya<BR>lebih panas lagi. Buntalan itu ia lemparkan begitu saja di atas tanah dan ia<BR>bersiap-siap untuk menghadapi perjuangan mati hidup melawan ular-ular itu.<BR>Buntalan jatuh dan menggelinding di atas tanah, ikatannya terbuka dan tibatiba<BR>saja keadaan yang amat gelap pekat itu berubah. Ada cahaya yang<BR>membuat kegelapan itu berubah remang-remang.<BR>"Hong-ko! Aku bisa melihat! Eh, sekarang tidak segelap tadi...... heeiii, Hongko,<BR>kiranya mahkota itu yang mengeluarkan cahaya!" Suara Loan Ki<BR>bersemangat kembali, ia membungkuk, mengambil mahkota itu dan berseru,<BR>"Betul, Hong-ko, ada tiga batu permata di bagian depan mahkota ini yang<BR>mengeluarkan cahaya. Nah, begini baru enak hatiku, bisa melihat kalau ada<BR>ular menyerangku!" Suara gadis itu mulai gembira.<BR>Kun Hong dengan pendengarannya dapat menangkap hal yang lebih<BR>menggembirakan hatinya lagi. Dia tahu sekarang bahwa kelemahan dan<BR>kepusingan gadis itu tadi sebagian besar adalah pengaruh dari rasa ngeri di<BR>dalam kegelapan sehingga mengakibatkan pusing. Selain ini, dengan girang<BR>dia mendengar betapa suara mendesis-desis di atas tadi tiba-tiba saja lenyap<BR>dan bau amis tidak begitu hebat lagi, tanda bahwa ular-ular itu takut kepada<BR>batu-batu permata yang mengeluarkan cahaya. Dia dahulu pernah mendengar<BR>dongeng kakek Song-bun-kwi di puncak Thai-san bahwa di dunia ini memang<BR>banyak terdapat benda-benda mujijat dan aneh, di antaranya batu-batu<BR>mutiara yang disebut Ya-beng-cu. Mutiara Ya-beng-cu ini mengeluarkan<BR>cahaya di tempat gelap dan selain itu, juga ditakuti oleh sebagian besar<BR>binatang-binatang buas.<BR>"Wah, agaknya Thian Yang Maha Kuasa sengaja menolong kita, Ki-moi. Kalau<BR>tidak salah, batu permata di mahkota itu adalah mutiara-mutiara Ya-beng-cu<BR>dan aku pernah mendengar bahwa binatang-binatang takut kepada sinarnya.<BR>Sekarang kau bersiaplah, kita harus keluar dari tempat ini!<BR>"Keluar?" Loan Ki kaget. "Bukankah amat berbahaya katamu tadi, Hong-ko?<BR>Menghadapi ular-ular itu dalam terowongan sempit, belum lagi para penjaga<BR>pulau ini......."<BR>Kun Hong menggeleng kepala. "Sekarang tidak lagi, adikku. Tadi yang paling<BR>mengkhawatirkan hatiku adalah kalau melawan ular-ular itu, ular-ular berbisa<BR>yang amat jahat, apalagi kita harus menghadapinya dalam terowongan sempit.<BR>Akan tetapi sekarang, dengan Ya-beng-cu ada pada kita, ular-ular itu pasti<BR>takkan berani mengganggu kita. Kita keluar dan tentang para penjaga,<BR>yaaahhh, terpaksa kita menghadapi mereka. Kita jelaskan maksud kedatangan<BR>kita yang tidak mengandung maksud buruk, kalau mereka tidak mau<BR>menerimanya, kita robohkan mereka dan melarikan diri!"<BR>Loan Ki mengangguk-angguk, tapi ketika melihat ke sekelilingnya adalah<BR>dinding batu yang licin, ia mengerutkan kening. "Hong-ko, bagaimana kita bisa<BR>naik? Meloncat begitu saja? Mungkin sanggup aku meloncat ke atas dan<BR>menangkap pinggiran sumur, akan tetapi, bagaimana kalau ada ular-ular di<BR>sana? Pula resikonya terlalu besar kalau sampai tidak berhasil menangkap<BR>pinggiran sumur, apalagi kalau di waktu meloncat kepalaku tertumbuk batu<BR>karang yang menonjol."<BR>"Tak usah meloncat, Kau bawa buntalanmu, pakai mahkota itu di kepalamu."<BR>Gadis itu terdiam, agaknya heran. Tapi diambilnya buntalan pakaian dan<BR>diikatkan ke pundak. Tiba-tiba ia tertawa, tawa jenaka seperti yang sudahsudah<BR>sehingga Kun Hong ikut tersenyum gembira. Agaknya di dunia ini sukar<BR>mencari orang yang takkan ikut tersenyum mendengar suara yang<BR>mengandung kesegaran watak itu.<BR>"Hi-hi-hik, Hong-ko....... mahkota ini pas betul dengan kepalaku. Menurut<BR>dongeng permaisuri Kerajaan Tang yang memakai mahkota ini adalah seorang<BR>puteri cantik jelita yang terkenal dengan julukan Puteri Harum karena<BR>tubuhnya memiliki keharuman seribu bunga. Kiranya kepalanya hanya<BR>seukuran dengan kepalaku....... hi-hik.......!"<BR>Mendengar kegembiraan gadis itu yang berarti bahwa semangatnya telah<BR>kembali, Kun Hong girang. Perjalanan ke luar daritempat itu, bahkan keluar<BR>dari Pulau Ching-coa-to, bukanlah hal yang mudah dan mungkin akan<BR>menghadapi bahaya-bahayadan rintangan. Maka timbulnya semangat gadis ini<BR>kembali merupakan hal yang amat penting. Mengingat ini, dia segeraterjun ke<BR>dalam kegembiraan itu dan berkata,<BR>"Apa anehnya persamaan kepala itu, Ki-moi? Memang cocok dongeng itu,<BR>kalau kepala permaisuri Kerajaan Tang itu sepertikepalamu, maka sudah<BR>semestinya dia cantik jelita dan mempunyai ukuran kepala yang tepat."<BR>"Eh, Hong-ko kau mana bisa melihat kepalaku?"<BR>"Melihat sih tidak, akan tetapi tadi....... eh, meraba saja sudah cukup jelas<BR>bagiku ......."<BR>Loan Ki teringat betapa dalam gelap tadi ia menangis dan bersandar di dada<BR>Kun Hong, malah kepalanya dielus-elus oleh pemuda buta itu, Hal ini<BR>mendebarkan jantungnya sungguhpun ia tidak mengerti mengapa dadanya<BR>berhal seperti itu, berdenyar-denyar.<BR>"Tapi, Hong-ko, mana kau tahu aku....... cantik jelita?"<BR>Kun Hong tertawa, geli juga mendengar ucapan kekanak-kanakan ini. "Apa<BR>susahnya? Mendengar suaramu saja sudah cukup bagiku."<BR>Hening sejenak, lalu gadis itu berkata perlahan, "Orang bilang aku cantik, tapi<BR>belum tentu secantik puteri pemakai mahkota ini. Pula, ia terkenal sebagai<BR>Puteri Harum, mana aku bisa sama? Ih, tadi keringatku tentu membasahi<BR>bajumu, Hong-ko......"<BR>"Aku pun berkeringat sampai basah semua pakaianku, Ki-moi, dan tentang<BR>keharuman itu, hemmm....... kurasa keringatmu pun....... sedap ......." Kun<BR>Hong setengah berbohong. Mana ada keringat sedap di dunia ini? Akan tetapi<BR>memang baginya, keringat Loan Ki tidak berbau tak enak. Dia sengaja<BR>melebih-lebihkan dan mengatakan sedap hanya untuk menambah<BR>kegembiraan hati gadis kekanak-kanakan ini agar semangatnya tidak<BR>menurun. Gadis itu tidak berkata apa-apa, malah suara ketawanya terhenti<BR>dan ia diam saja sampai agak lama setelah ucapan Kun Hong terakhir ini. Kun<BR>Hong heran, miringkan kepala dan bertanya,<BR>"Ki-moi, kenapa diam saja, kau?" Dia mengulur tangan ke depan, menyentuh<BR>tangan gadis itu dan memegangnya. Akan tetapi Loan Ki cepat merenggutnya<BR>terlepas dan terdengar suaranya agak gemetar.<BR>"Buntalan pakaian sudah kubawa, mahkota sudah kupakai. Bagaimana kita<BR>akan naik?" Sesekali Kun Hong tak pernah menduga di dalam hatinya bahwa<BR>ucapan-ucapan yang bersifat kelakar baginya itu ternyata mendatangkan<BR>kesan luar biasa bagi Loan Ki, membekas amat dalam dihatinya.<BR>"Kau duduklah di pundak kananku, pedangmu siap menghalau perintang di<BR>atas. Aku akan merayap naik." Kun Hong lalu berjongkok untuk memudahkan<BR>Loan Ki duduk di pundaknya.<BR>Tapi gadis itu tidak segera duduk. Dengan mata terbelalak kagum gadis itu<BR>memandang Kun Hong. Ia tahu bahwa agaknya si buta ini hendak<BR>mempergunakan Ilmu Pek-houw-yu-chong yang mengandalkan ginkang dan<BR>Iweekang yang amat tinggi sehingga membuat orang dapat merayap seperti<BR>seekor cecak pada dinding yang terjal. Kalau si buta ini sudah dapat<BR>melakukan ilmu ini, berarti bahwa tingkat kepandaian si buta ini jauh<BR>melampauinya, malah jauh lebih lihai daripada ayahnya sendiri, Sin-kiam-eng!<BR>Di samping kekaguman ini, juga jantungnya berdebar-debar mengingat bahwa<BR>ia harus duduk di atas pundak orang, suatu perasaan yang belum pernah ia<BR>rasai sebelumnya dan Hal ini tanpa ia sadari disebabkan oleh kelakar pujian<BR>tadi.<BR>Ia pun maklum mengapa pemuda buta itu menyuruh ia duduk di atas<BR>pundaknya. Memang hanya itulah jalan satu-satunya yang paling baik. Dengan<BR>duduk di pundak, selain ia dapat ikut "membonceng" naik, juga ia bertugas<BR>sebagai mata pemuda itu, dengan mahkota di atas kepala itu sebagai<BR>pengganti obor penerangan, Memang begini lebih aman daripada si buta itu<BR>harus merayap naik seorang diri, sungguhpun harus diakui bahwa untuk dapat<BR>mempergunakan Ilmu Pek-houw-yu-chong dengan diboncengi pundaknya,<BR>benar-benar merupakan hal yang luar biasa sekali.<BR>"Hayo, lekas kau duduk, tunggu apa lagi?" Kun Hong bertanya heran ketika<BR>belum juga Loan Ki duduk di pundaknya. Tanpa berkata apa-apa gadis itu lalu<BR>duduk di atas pundak kanan Kun Hong yang segera bangkit berdiri. "Hati-hati<BR>jangan banyak bergerak, tapi awas melihat rintangan di atas,"<BR>Mulailah Kun Hong merayap ke atas. Memang hebat tenaga dalam pemuda<BR>buta ini, dengan punggungnya menempel dinding, dia menggunakan tangan<BR>kanan dan kedua kaki untuk merayap naik, kedua kakinya bergantian<BR>mendorong dinding sebelah depan, tangan kanannya mencari pegangan batu<BR>menonjol untuk menarik tubuhnya ke atas, sedangkan punggungnya<BR>dipergunakan sebagai alat penahan tubuhnya supaya tidak merosot ke bawah!<BR>Tangan kiri yang memegangi tongkat tetap siap menjaga datangnya bahaya<BR>serangan.<BR>Kagum sekali Loan Ki. Sedikit demi sedikit mereka naik dan akhirnya sampai<BR>juga ke pinggiran sumur. Dengan girang Loan Ki melihat bahwa di situ tidak<BR>ada ular. Ia lalu meloncat ke luar, dan menarik tangan Kun Hong untuk<BR>membantu pemuda ini ke luar pula, bantuan yang sebetulnya tidak perlu bagi<BR>pemuda lihai itu.<BR>"Tidak ada ular di sini......." bisik Loan Ki. "Entah ke mana mereka pergi."<BR>"Agaknya ular-ular itu takut kepada cahaya mutiara Ya-beng-cu, Ki-moi. Bagus<BR>sekali, dengan mahkota ini kita akan ke luar tanpa khawatir diganggu ular-ular<BR>berbisa itu."<BR>"Kalau begitu mari kita ke luar sekarang juga, Hong-ko. Kita mencari tempat<BR>istirahat lain, tadi kita telah tersesat memasuki tempat ini."<BR>Mereka lalu merangkak ke luar, Loan Ki yang mengenakan mahkota<BR>merangkak di depan. Batu penutup lubang disingkirkan dan benar saja, tidak<BR>ada ular berani menghadang mereka. Agaknya ular-ular itu ketakutan melihat<BR>cahaya mutiara itu dan pergi meninggalkan lubang. Setelah tiba di luar, Loan<BR>Ki meloncat turun, diikuti oleh Kun Hong. Girang hati mereka mendapat<BR>kenyataan bahwa di situ sunyi sekali, tak tampak seorang pun manusia. Dan<BR>lebih girang lagi hati Loan Ki melihat adanya bulan yang cukup terang di<BR>angkasa. Begitu menginjak tanah dan berada di udara terbuka, kedua orang<BR>muda ini merasa nyaman sekali sehingga berkali-kali mereka menarik napas<BR>panjang, menyedot hawa seperti orang kehausan mendapat minum air segar!<BR>"Hong-ko, bulan bersinar, aku dapat melihat jalan. Lebih baik kita tinggalkan<BR>daerah ini."<BR>Kun Hong tidak membantah dan demikianlah, di bawah sinar bulan tiga<BR>perempat itu kedua orang muda ini dengan hati lapang meninggalkan tempat<BR>yang penuh pengalaman mengerikan tadi langsung menuruni puncak yang<BR>penuh batu karang.<BR>Kurasa tidak baik kita berkeliaran di malam hari, apalagi tempat ini agaknya<BR>mengandung banyak rahasia. Lebih baik kita mengaso malam ini dan besok<BR>pagi kita berusaha keluar dan kembali ke daratan.<BR>"Mana ada tempat bermalam yang baik di tempat ular ini, Hong-ko?"<BR>"Paling baik di atas pohon besar. Bahaya satu-satunya hanya ular, akan tetapi<BR>dcngan adanya mahkota pusaka itu, kita tak usah khawatir."<BR>Demikianlah, dua orang muda itu meloncat ke atas pohon besar, memilih<BR>cabang besar yang enak diduduki dan beristirahat melewatkan malam. Kun<BR>Hong duduk bersila di atas cabang pohon, tak bergerak seperti patung. Tahu<BR>bahwa orang muda yang sakti itu duduk bersamadhi, Loan Ki tidak mau<BR>mengganggunya, hanya memandang bayangan orang buta itu dengan penuh<BR>kekaguman. Berkali-kali ia mendengar bisikan hatinya sendiri, "....... sayang<BR>matanya buta....... sayang dia buta....... sayang......." Ia merasa jengkel akan<BR>bisikan perasaan ini karena ia benar-benar tak mengerti mengapa ia merasa<BR>sayang akan kebutaan Kun Hong.<BR>"Orang seperti dia tidak seharusnya dikasihani," ia menghibur diri, "biarpun<BR>buta, dia melebihi sepuluh orang pendekar melek (dapat melihat)......."<BR>Akhirnya ia tertidur juga di atas cabang pohon. Seorang ahli silat tinggi seperti<BR>Loan Ki memang tidak khawatir akan terjatuh di waktu tidur, karena ia sudah<BR>terlatih akan kebiasaan ini dan sudah banyak ia merantau dan seringkali tidur<BR>di dalam hutan seorang diri.<BR>***<BR>"Hong-ko....... bangun, Hong-ko....... tuh di sana kumelihat air telaga!" pagipagi<BR>sekali Loan Ki sudah berteriak-teriak membangunkan Kun Hong yang<BR>sebetulnya memang sudah sadar atau terjaga daripada tidur dan samadhinya.<BR>Beberapa ekor burung sampai kaget oleh teriakan Loan Ki dan beterbangan<BR>sambil berbunyi keras. Gadis itu tertawa geli menyaksikan tingkah burungburung<BR>itu. Akan tetapi Kun Hong sebaliknya geli mendengar suara Loan Ki.<BR>"Bagus, kalau begitu kita tinggal menuju ke sana, mencari perahu untuk<BR>menyeberang." jawab Kun Hong sambil meluncur turun dari batang pohon itu.<BR>Loan Ki juga meloncat turun, lalu tertawa. "Wah, kelihatan sekarang betapa<BR>kotor pakaian kita, Hong-ko. Penuh tanah lempung!"<BR>"Tidak apa, pakaian kotor dapat dicuci, Ki-moi."<BR>"Ah, malu kalau bertemu orang. Aku hendak menukar pakaian dulu, Hong-ko.<BR>Kan padaku ada bekal pakaian bersih. Wah, di mana ya bisa bertukar<BR>pakaian?"<BR>Gadis itu berjalan ke sana ke mari, agaknya mencari gerombolan tanaman<BR>yang dapat ia pergunakan untuk sembunyi dan bertukar pakaian.<BR>"Hong-ko," terdengar suaranya dari depan agak jauh, "kau menghadaplah ke<BR>sana dulu, membelakangi aku!"<BR>Hampir-hampir tidak dapat Kun Hong menahan ketawanya. Dia tersenyum<BR>lebar dan mengacungkan tangan seperti hendak menampar kepala temannya<BR>itu. "Bocah nakal, apakah aku kurang buta sehingga kau suruh menghadap ke<BR>lain jurusan? Andaikata kau bertukar pakaian di depan mataku, aku pun tak<BR>dapat melihatmu, Ki-moi." Akan tetapi tetap saja dia memutar tubuhnya<BR>menghadap ke lain jurusan.<BR>Setelah selesai berpakaian, Loan Ki menghampiri Kun Hong dan berkata,<BR>"Hong-ko, kau selalu mengajak aku kembali ke daratan, seakan-akan kau<BR>takut berada di pulau ini. Malah kau kemarin menyebut apakah aku melihat<BR>seorang kakek yang buntung lengan dan telinga kiri, mata kiri buta, siapakah<BR>orang itu?"<BR>"Sebetulnya orang itu sudah mati, Ki-moi. Yang kumaksudkan itu adalah<BR>seorang tokoh jahat bernama Siauw-coa-ong Giam Kin. Karena aku<BR>mendengar suling dan berkumpulnya ular-ular itu, aku jadi teringat kepada<BR>tokoh ini yang juga seorang ahli memelihara ular."<BR>"Kau aneh, Hong-ko. Kalau dia sudah mati, kenapa kau takut?"<BR>"Aku hanya terheran-heran mendengar ular-ular yang digembalakan orang. Kimoi,<BR>dan aku dapat menduga bahwa pemilik-pemilik pulau ini pasti adalah<BR>orang-orang pandai seperti Giam Kin itu. Kalau kita berdua membikin onar di<BR>sini, alangkah tidak baiknya. Inilah sebabnya maka aku mengusulkan agar kita<BR>kembali saja dan jangan menimbulkan keonaran di tempat orang."<BR>"Baiklah, malam tadi pun aku sudah merasa menyesal datang ke pulau iblis<BR>ini. Mari kita pergi ke pantai telaga yang kulihat dari atas pohon tadi, Hongko."<BR>Loan Ki menggandeng tangan Kun Hong dan mengajak pemuda itu berlari<BR>cepat ke arah pantai telaga yang ia lihat tadi, yaitu ke sebelah, timur dari<BR>mana cahaya matahari memerah membakar angkasa raya. Mahkota yang<BR>semalam telah menyelamatkan mereka itu kini telah aman berada dalam<BR>buntalan pakaian yang tergantung di punggung Loan Ki lagi. Biarpun yang<BR>seorang adalah orang buta, namun mereka lari cepat sekali. Memang inilah<BR>cara satu-satunya untuk mengajak Kun Hong berlari cepat, yaitu dengan<BR>menggandeng tangannya. Tanpa dituntun, biarpun pemuda itu memiliki<BR>kesaktian, tak mungkin dia akan dapat berlari cepat, tentu akan menabraknabrak.<BR>"He, Ki-moi, kenapa belum juga sampai dan kenapa kau bawa aku menikungnikung<BR>tidak karuan begini?"<BR>Loan Ki berhenti, lalu menghela napas panjang. "Pulau ini benar-benar aneh,<BR>Hong-ko. Pulau iblis! Terdapat jalan yang rata, akan tetapi heran sekali,<BR>mengikuti jalan ini agaknya akan membawa kita terputar-putar tidak karuan.<BR>Kulihat seakan-akan keadaan tempat di mana kita berdiri ini serupa benar<BR>dengan tempat di mana kita berangkat tadi......." Ia berseru kaget, lari ke<BR>depan meninggalkan Kun Hong, lalu kembali lagi sambil berkata, "Wah, benarbenar<BR>ini tempat yang tadi, Hong-ko! Tuh, di sana adanya gerombolan pohon<BR>kembang di mana aku bertukar pakaian tadi, pengikat rambutku yang terjatuh<BR>di sana masih ada."<BR>Kun Hong mengangguk-anggukkan kepala, kulit di antara kedua matanya<BR>berkerut.<BR>"Kurasa pemilik pulau ini adalah seorang ahli dalam alat-alat rahasia dan<BR>sengaja mengatur pulaunya penuh rahasia agar menyukarkan orang asing<BR>memasukinya, seperti keadaan di Thai-san. Ki-moi, kau lihat dari atas pohon<BR>tadi, pantai berada di jurusan manakah?"<BR>"Di timur karena kulihat cahaya matahari di sana pula."<BR>"Nah, kalau begitu, sekarang kita harus langsung menuju ke timur, jangan<BR>menggunakan jalan yang sengaja dibuat untuk menyesatkan kita. Kita ambil<BR>jalan liar, kalau perlu menerabas hutan, asal terus ke timur. Pasti akan sampai<BR>di pantai itu."<BR>Akan tetapi hal itu ternyata lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Jalan<BR>menuju ke timur ini ternyata harus melalui hutan-hutan liar yang penuh alangalang,<BR>melalui rawa dan malah melalui hutan kecil penuh duri. Jalannya<BR>menanjak dan pada akhirnya mereka tiba di tebing yang curam. Ketika Loan Ki<BR>menjenguk ke bawah, memang tampak air telaga di bawah sana, namun<BR>dalamnya dari tebing itu tidak kurang dari seratus meter!<BR>Loan Ki melepaskan tangan Kun Hong, berjalan ke sana ke mari mencari jalan<BR>untuk menuruni tebing curam itu. "Wah, sampai di sini buntu, Hong-ko. Biar<BR>kucari jalan untuk turun. Tuh, di bawah sudah kelihatan telaganya, dan jauh<BR>ke depan itu menyeberangi telaga akan sampai di darat kembali. Agaknya<BR>jalan menurun di alang-alang itu...... heeii, aduhhh....... Hong-ko.......<BR>tolong.......!"<BR>Kun Hong terkejut sekali, cepat dia bergerak maju dengan didahului<BR>tongkatnya, ke arah suara Loan Ki. Dia mendengar batu-batu banyak sekali<BR>menggelinding dan lenyaplah suara Loan Ki. Kagetnya bukan kepalang ketika<BR>dia sampai di tempat dari mana suara gadis itu terdengar, tongkatnya meraba<BR>tempat kosong! Kiranya dia berdiri di tepi tebing yang entah berapa dalamnya<BR>dan tongkatnya yang meraba gugusan batu yang pecah, agaknya Loan Ki yang<BR>tadi berdiri di situ telah terperosok dan jatuh ke bawah bersama pecahan<BR>tanah dan batu-batu.<BR>Kun Hong mengerahkan khikangnya dan berteriak ke bawah, "Ki-moi .......!"<BR>Hanya gema suaranya yang menjawab.<BR>"Loan Ki .......!!"<BR>Kembali suaranya yang menjawab.<BR>"Celaka...... apa yang terjadi dengan dia?" Kun Hong bingung dan menyesal<BR>sekali. Baru kali ini selama dia buta, dia menyesal akan kebutaan matanya<BR>sehingga dia tidak dapat melihat apa yang terjadi dengan gadis itu dan tak<BR>dapat menolongnya. Dia mengambil sebuah batu kecil dan melepaskannya ke<BR>bawah. Kepalanya dimiringkan, bibirnya berkemak-kemik menghitung waktu.<BR>Tujuh belas kali dia menghitung, baru batu itu menyentuh air! Kun Hong<BR>bergidik. Tak mungkin dia mengikuti gadis itu terjun ke bawah. Hal ini berarti<BR>kematian baginya. Akan tetapi dia masih mempunyai harapan yang menghibur<BR>hatinya. Bukankah Loan Ki pernah bilang bahwa gadis itu pandai berenang?<BR>Kalau dasar, di bawah tebing itu air, belum tentu gadis itu tewas. Akan tetapi,<BR>kalau selamat, kenapa tidak menjawab panggilannya?<BR>Jilid 6 : bagian 1<BR>Kembali pemuda buta ini menjenguk ke depan dan memanggil. Suaranya<BR>nyaring sekali dan bergema, mengejutkan burung-burung yang beterbangan di<BR>sekeliling tempat itu. Bebarapa kali dia memanggil namun tak pernah terjawab<BR>kecuali oleh gema suaranya sendiri. Kun Hong menjadi sedih, pelupuk<BR>matanya gemetar, kulit di antara kedua matanya berkerut dalam, wajahnya<BR>agak pucat. Lalu dia meraba-raba dengan tongkatnya mencari jalan turun. Dia<BR>hendak menurupi tebing itu dan mencari Loan Ki di bawah sana.<BR>Akhirnya dapat juga dia turun melalui celah-celah batu karang. Sukar sekali<BR>perjalanan menurun ini, merayap seperti seekor monyet, hanya berpegang<BR>pada batu-batu karang yang menonjol. Kadang-kadang Kun Hong yang<BR>meraba sana meraba sini kehabisan pegangan dan terpaksa ia menggunakan<BR>tongkatnya yang ditancapkan kepada dinding karang.<BR>Demikianlah, sambil meraba-raba dia merayap turun terus, tidak tahu ke<BR>mana akhirnya dia akan sampai. Dia tahu bahwa jalan yang ditempuhnya ini<BR>membelok ke sana ke mari karena memang seringkali dia bertemu dengan<BR>jalan buntu yang mengharuskan dia mencari jalan memutar.<BR>Dia merasa heran sekali karena ternyata dia tidak sampai di pinggir telaga,<BR>malah tiba-tiba alat penggandanya mencium keharuman bunga-bunga yang<BR>beraneka warna dan kakinya menginjak tanah berumput yang halus. Ketika dia<BR>meraba dengan tangannya, kiranya dia telah sampai di tengah rumput yang<BR>segar gemuk dan di sana-sini semerbak harum bunga.<BR>"Heran sekali seakan-akan aku berada di dalam taman bunga yang amat luas<BR>penuh bermacam-macam bunga......" pikirnya dan teringatlah dia akan seruan<BR>Loan Ki pada saat kedatangan mereka di tempat itu. Gadis itu telah melihat<BR>sebuah taman bunga yang indah. Inikah taman bunga itu?<BR>Angin semilir sejuk dan pendengarannya yang tajam menangkap suara orang<BR>bercakap-cakap, suara wanita yang halus terbawa angin. Kun Hong girang<BR>sekali, mengira bahwa tentu Loan Ki yang sedang bercakap-cakap itu. Akan<BR>tetapi dia tidak berani berlaku sembrono memanggil gadis itu karena dia<BR>belum tahu dengan siapa gadis itu bercakap-cakap dan dalam keadaan<BR>bagaimana. Dengan hati-hati dia bergerak maju ke arah suara. Setelah agak<BR>dekat dan dapat mendengar jelas, dia menyelinap di balik sebuah pohon buah<BR>yang besar, bersembunyi dan mendengarkan penuh perhatian. Besar<BR>kekecewaan hatinya ketika mendengar bahwa yang bercakap-cakap itu sama<BR>sekali bukanlah Loan Ki seperti yang diharapkannya, melainkan suara wanitawanita<BR>yang lain, Suara wanita yang dingin dan tajam mendatangkan perasaan<BR>ngeri kepadanya karena dari suara ini dia dapat menilai orang yang memiliki<BR>watak yang aneh dan dapat kejam melebihi iblis sendiri. Akan tetapi suara ke<BR>dua membuat dia berdebar dan kagum. Suara ini halus lunak, merdu dan<BR>kiranya hanya patut dipunyai oleh bidadari, bukan wanita biasa. Suara<BR>pertama adalah suara seorang wanita yang sukar ditaksir usianya, akan tetapi<BR>takkan kurang dari empat puluhan. Adapun suara "bidadari" itu adalah suara<BR>seorang gadis remaja. Bukan main suaranya, seperti nyanyian dewi malam,<BR>mengelus-elus perasaan hatinya sungguhpun dia menangkap getaran-getaran<BR>aneh pula dalam suara merdu merayu ini. Getaran yang mengandung sesuatu<BR>yang rahasia dan yang menyembunyikan watak daripada si pemilik suara.<BR>"Hui Kauw, cukup sudah semua alasanmu itu!" terdengar suara dingin dengan<BR>nada kesal. "Jodohmu adalah Pangeran Souw Bu Lai dan kau tak boleh<BR>membantah lagi. Kau tahu, pangeran itu setelah sekarang kaisar muda yang<BR>tak becus menduduki tahta, mempunyai banyak harapan menjadi kaisar<BR>membangun lagi Kerajaan Goan, dan kau mempunyai harapan menjadi<BR>permaisuri kaisar! Orang apa itu si pemuda she Bun? Huh, hanya anak ketua<BR>Kun-lun-pai, biar tampan dan gagah, hanya orang biasa, mana boleh anakku<BR>tergila-gila kepada orang macam itu?"<BR>"Ibu, aku tidak tergila-gila........ aku hanya bertemu satu kali dengan Bunenghiong,<BR>aku hanya bilang bahwa dia seorang pendekar perkasa. Bukan<BR>karena dia aku tidak sudi menjadi calon jodoh Pangeran Mongol itu, melainkan<BR>karena....... karena aku tidak suka menikah. Aku lebih senang tinggal di<BR>sini......."<BR>"Huh, alasan kosong. Siapa tidak tahu hati muda? Melihat wajah tampan dan<BR>watak pendekar lalu jatuh hati, hemm. Sudahlah, tak mau aku berpanjang<BR>debat, aku harus menyambut para tamu kita yang akan membicarakan soal<BR>membantu usaha Pangeran Souw Bu Lai. Dan kau harus tahu, dalam hal<BR>kegagahan, kiraku orang she Bun itu, takkan dapat menandingi Pangeran<BR>Souw."<BR>"Ibu......."<BR>Kun Hong mendengar betapa wanita bersuara dingin itu berkelebat pergi dan<BR>terkejutlah dia ketika menangkap desir angin yang amat cepat ketika wanita<BR>ini pergi. Wah, kiranya si suara dingin ini memiliki kepandaian yang hebat.<BR>Ginkangnya terang tidak di sebelah bawah kepandaian Loan Ki!<BR>Selain dua orang wanita yang bercakap-cakap ini, Kun Hong tahu bahwa di situ<BR>terdapat sedikitnya tiga orang wanita lain yang lemah lembut gerakangerakannya,<BR>mungkin dayang-dayang yang melayani nona bersuara bidadari<BR>ini. Diam-diam Kun Hong merasa terharu dan juga tercengang. Tak mungkin<BR>salah lagi, yang disebut-sebut sebagai pemuda she Bun dalam percakapan<BR>tadi, tentulah bukan lain Bun Wan, putera dari ketua Kun-lun-pai! Bun Wan,<BR>bekas tunangan kekasihnya, mendiang Cui Bi. Hatinya berdebar dan<BR>telinganya serasa mengiang-ngiang. Sungguh sebuah hal yang amat kebetulan<BR>sekali, urusan yang amat cocok dengan pengalamannya dahulu. Seperti juga<BR>Cui Bi yang mencintanya dan sudah ditunangkan dengan Bun Wan (baca<BR>Rajawali Emas) juga si suara bidadari ini hendak dipaksa ibunya berjodoh<BR>dengan seorang Pangeran Mongol, padahal si bidadari ini agaknya condong<BR>hatinya kepada Bun Wan! Benar-benar hal yang terbalik. Kalau dulu (dalam<BR>cerita Rajawali Emas), Bun Wan merupakan tunangan yang tidak dipilih dan<BR>tidak disukai oleh calon jodohnya, kini rupanya dia malah terbalik memegang<BR>peranan sebagai orang yang menjadi sebab terhalangnya perjodohan orang<BR>lain! Bun Wan kini memegang peranan yang dipegangnya dahulu, peranan<BR>yang berakhir dengan pengorbanan kedua matanya untuk mengimbangi<BR>pengorbanan Cui Bi yang menyerahkan nyawanya!<BR>Dia memperhatikan terus. Beberapa kali terdengar si bidadari itu menarik<BR>napas panjang. Dasar suara bidadari. Tarikan napas panjang saja terdengar<BR>begitu halus dan seakan-akan helaan napas itu menambah keharuman bungabunga<BR>di taman! Perasaan Kun Hong menggetar, penuh iba kasihan. Teringat<BR>dia akan Cui Bi. Serupa benar nasib dara bidadari ini dengan mendiang Cui Bi.<BR>Apakah ia akan mengalami nasib seperti Cui Bi pula? Gagal dalam berkasih<BR>asmara, dan berakhir mengorbankan nyawa? Tidak! Tidak boleh! Peristiwa<BR>mengenaskan itu tak boleh terulang lagi. Apa pula terhadap diri seorang dara<BR>yang bersuara bidadari ini. Dia akan berusaha menghalau bahaya itu.<BR>Langkah-langkah kecil dan ringan terdengar, disusul suara bening. "Siocia, ini<BR>minuman susu madu yang kau pesan, dan ini pengganti saputangan<BR>sutera......."<BR>"A Man, kau letakkan saja di atas meja itu kemudian kau pergilah bersama<BR>semua temanmu tinggalkan aku di sini...."<BR>"Tapi Siocia (nona), toa-nio (nyonya besar) akan marah kalau saya dan<BR>teman-teman tidak menjaga dan melayani Nona di sini......."<BR>"A Man, aku bukan anak kecil lagi yang harus dijaga setiap waktu. Aku mau<BR>berlatih pedang, apakah kau bermaksud hendak mencuri lihat?"<BR>"Ah....... mana berani....... mana berani, Nona."<BR>"Nah, lebih baik kau lekas pergi keluar dari taman ini. Lebih berguna kalau kau<BR>dan teman-temanmu ikut mencari dua orang asing yang katanya telah<BR>memasuki pulau dan membunuh banyak ular. Kalau bertemu dengan mereka<BR>yang tentu lihai, kau dan teman-temanmu bisa mencoba semua kepandaian<BR>kalian. Apakah percuma saja kalian selama ini dilatih ilmu silat? Hayo,<BR>keluarlah dari sini, lekas!"<BR>Terdengar para pelayan itu pergi sambil tertawa-tawa. Ternyata ada lima<BR>orang pelayan wanita dan agaknya yang bernama A Man itu adalah pelayan<BR>kepala atau yang paling disayang oleh nona bidadari, yang bernama Hui Kauw<BR>ini. Kun Hong mendengarkan semua itu dengan kagum. Makin indah suara<BR>nona ini ketika bercakap-cakap dengan para pelayan. Malah ucapan paling<BR>akhir itu mengandung sendau gurau yang halus. Alangkah jauh bedanya<BR>dengan Loan Ki atau Cui Bi. Loan Ki dan mendiang Cui Bi, adalah gadis-gadis<BR>yang lincah jenaka, gembira dan bebas, andaikata kembang adalah kembang<BR>mawar hutan yang tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan tidak takut<BR>akan angin ribut dan selalu berseri namun siap melukai siapa pun yang ingin<BR>merabanya dengan duri-duri meruncing. Adapun dara bersuara bidadari ini<BR>yang tadi oleh ibunya disebut Hui Kauw, adalah seorang dara yang lemah<BR>lembut, halus gerak-geriknya, halus pula tutur sapanya, bagaikan setangkai<BR>bunga seruni yang indah jelita, kecantikannya menenteramkan hati, suaranya<BR>bagai musik surga mengamankan jiwa.<BR>Kemudian Kun Hong mendengar desir angin permainan pedang. Mula-mula<BR>angin sambaran itu lambat-lambat juga perlahan saja, tanda bahwa<BR>pemainnya belum mahir benar dan tenaganya kecil. Kun Hong mmengerutkan<BR>keningnya. Gadis bersuara bidadari ini kalau dalam hal ilmu pedang jauh di<BR>bawah tingkat Loan Ki, apalagi tingkat Cui Bi. Akan tetapi hawa pukulan<BR>pedangnya benar-benar aneh merupakan garis lingkaran-lingkaran. Permainan<BR>pedang dengan cara membentuk lingkaran-lingkaran seperti itu memang<BR>banyak dalam kalangan ilmu pedang tinggi, akan tetapi lingkaran ini biasanya<BR>terus menjurus ke arah lingkaran lain yang sejalan atau berubah menjadi<BR>tusukan, bacokan miring, bacokan lurus dan lain cara penyerangan lagi.<BR>Anehnya, gerakan pedang dara bersuara bidadari ini lingkarannya berubahubah<BR>menjadi lingkaran yang bertentangan, kadang-kadang berputar dari<BR>kanan, kadang-kadang dari kiri. Cara bermain pedang seperti ini, mana bisa<BR>dipergunakan untuk bertempur, pikir Kun Hong heran.<BR>Tiba-tiba Kun Hong miringkan kepalanya dan wajahnya sampai berkerut-merut<BR>karena dia mencurahkan seluruh perhatiannya mempergunakan<BR>pendengarannya yang mengikuti desir angin pedang. Makin lama mukanya<BR>berubah makin merah ketika dia mengikuti terus permainan pedang itu.<BR>Gerakan yang tadinya membayangkan kecanggungan, kekakuan dan<BR>kelemahan itu lambat laun berubah, bagaikan gelombang samudera yang<BR>sedang pasang, tidak kentara perubahannya makin lama makin sigap, makin<BR>licin, makin kuat. Lingkaran-lingkaran membesar, meluas, dan masih saja<BR>mengandung pertentangan, yaitu lingkaran-lingkaran yang membalik<BR>gerakannya. Kun Hong menjadi bingung dan malu kepada diri sendiri. Kiranya<BR>dia tadi salah duga dan baru kali ini pendengarannya menipunya, baru kali ini<BR>pendengarannya kalah "awas" oleh sepasang mata. Kiranya dara bersuara<BR>bidadari ini memiliki ilmu pedang yang benar-benar luar biasa dan juga tinggi<BR>sekali tingkatnya, malah kini dia dapat mendengar betapa tenaga Iweekang<BR>yang terkandung dalam gerakan-gerakan itu amat dalam, sukar diukur dan<BR>ilmu pedang itu sendiri memiliki gerakan lingkaran yang penuh rahasia!<BR>"Siuuuttt....... cratt!" Sebatang pedang menancap pada pohon di depan Kun<BR>Hong, batang pohon yang menutupi dan menyembunyikan tubuh pemuda buta<BR>ini. Kun Hong kaget sekali. Apakah nona itu melihatnya dan sengaja menakutnakutinya<BR>dengan melemparkan pedang pada batang pohon itu? Dia bersikap<BR>waspada, akan tetapi tidak bergerak ke luar dari tempat sembunyinya. Dia<BR>merasa malu sekali dan sedang memutar otaknya bagaimana dia akan<BR>menjawab nanti kalau ditanya tentang kehadirannya di taman orang dan<BR>"mengintai" dengan telinganya tanpa ijin pemilik taman.<BR>Langkah kaki yang ringan dan lesu mendekati pohon. Hidung Kun Hong<BR>kembang-kempis. Keharuman yang sedap dan aneh mengalir memasuki<BR>lubang hidungnya, bau yang luar biasa harumnya seperti....... seperti apakah<BR>gerangan?<BR>Tidak ada bunga yang seharum ini, harum yang tidak memuakkan, tidak<BR>keras, seperti harum bunga mawar? Tidak, lain lagi. Seperti harum minyak<BR>wangi dan dupa? Juga bukan, sungguhpun memiliki daya penenteram rasa<BR>seperti keharuman dupa. Apakah bau cendana? Juga bukan, cendana terlalu<BR>wangi sehingga memusingkan kepala. Tiba-tiba wajah Kun Hong tersenyum<BR>berseri. Inikah bau sedap seperti bau anak kecil? Ya, pernah dalam<BR>perantauannya dia dimintai tolong orang supaya mengobati anak-anak dan<BR>seperti inilah anak bayi itu baunya. Sedap dan mengamankan hati!<BR>Kun Hong berdebar hatinya. Nona ini amat dekat dengannya, hanya terpisah<BR>batang pohon. Pernapasannya saja terdengar olehnya, napas yang panjangpanjang<BR>dan halus sungguhpun desir napas itu menyatakan bahwa orangnya<BR>mengalami kelelahan. Tidak aneh setelah bermain pedang mempergunakan<BR>tenaga Iweekang seperti itu. Nona itu mencabut pedang yang tadi dilontarkan<BR>menancap pada pohon. Dari suara cabutan ini dengan kagum sekali Kun Hong<BR>mendapat kenyataan bahwa pedang itu menancap setengahnya lebih ke dalam<BR>batang pohon, hal yang membuktikan lagi akan hebatnya tenaga Iweekang<BR>nona ini.<BR>Dengan langkah gontai, seperti langkah seorang yang baru sembuh daripada<BR>penyakit yang lama diderita, lemas dan lesu dengan kaki diseret nona itu<BR>meninggalkan pohon, kembali ke tempat tadi. Lalu terdengar oleh Kun Hong<BR>betapa dara itu duduk, menggerak-gerakkan tangan agaknya menyusut peluh<BR>dengan saputangan sutera yang dia dengar tadi di antar datang oleh A Man,<BR>Setelah itu gadis itu minum lambat-lambat, dengan teguk-teguk kecil, agaknya<BR>susu madu tadi. Tak terasa lagi Kun Hong menelan ludah dan tiba-tiba saja<BR>terasa betapa lapar perutnya dan haus kerongkongannya. Sejak kemarin sore<BR>dia tidak makan atau minum lagi, yaitu sesudah menyikat habis makanan dan<BR>minuman hasil curian Loan Ki. Loan Ki juga tentu lapar dan haus seperti aku<BR>pula pikirnya. Ah, di mana Loan Ki? Seakan-akan baru sadar daripada sebuah<BR>mimpi indah, Kun Hong teringat akan Loan Ki dan hatinya terbuka, penuh<BR>kekhawatiran. Masih hidupkah Loan Ki? Dan di mana ia?<BR>"Benar-benar aku tiada guna......."<BR>Kun Hong memaki diri sendiri. "Loan Ki terjerumus dan hilang, belum tahu<BR>mati atau masih hidup dan....... dan aku.......aku terlongong saja di sini mau<BR>apa?"<BR>Hampir marah Kun Hong kepada dirinya sendiri. Baru sekarang dia merasa<BR>betapa dia sudah seperti tergila-gila kepada nona bersuara bidadari itu.<BR>Mukanya ditengadahkan ke arah angkasa, bibirnya bergerak-gerak dalam<BR>bisikan "Cui Bi....... kau tentu suka memaafkan aku....... nona yang di depan<BR>ini memang terlalu luar biasa ......."<BR>Setelah berbisik seperti itu dia sudah menggerakkan kaki sambil mengerahkan<BR>ginkangnya agar dapat pergi dari situ tanpa terdengar orang. Akan tetapi baru<BR>saja kakinya diangkat sambil dia membalikkan tubuh hendak pergi, kaki itu<BR>berhenti seperti tertahan oleh suara senandung di belakangnya. Suara bidadari<BR>itu bersenandung? Biarpun hanya bersenandung, tidak bernyanyi nyaring,<BR>namun suara itu bagi pendengaran Kun Hong sedemikian merdunya sehingga<BR>dia menahan napas dan miringkan kepala untuk dapat menangkap kata-kata<BR>nyanyian dalam senandung itu.<BR>"Daun labu belum layu anak sungai masih berlagu kutunggu, tuanku. Air<BR>sungai melimpah ruah kuda betina menjerit resah kutunggu, kekasihku.<BR>Bahtera menanti kita mengantar ke pantai kita kutunggu, sahabatku!"<BR>Lemas kedua lutut Kun Hong. Tak terasa pula dia berlutut lalu duduk<BR>bersimpuh di atas tanah. Kulit mukanya tergetar-getar, bergerak-gerak,<BR>apalagi di sekitar kedua lubang bekas mata yang tertutup kelopak (pelupuk<BR>mata). Bukan main suara itu! Tadi baru mendengar suara itu bicara saja dia<BR>sudah kagum bukan main, suara yang dapat menggetarkan dan menyinggung<BR>tali halus hatinya. Kini suara itu bersenandung, bukan main! Dada Kun Hong<BR>serasa hendak meledak oleh nikmat yang didatangkan oleh senandung itu. Dia<BR>sendiri seorang ahli sastera, seorang penggemar bacaan, baik filsafat maupun<BR>sanjak-sanjak kuno. Dan kata-kata nyanyian yang keluar bagaikan tetesantetesan<BR>embun mutiara di ujung daun hijau di waktu subuh itu, dia pun pernah<BR>membacanya.<BR>Sanjak lama, amat kuno akan tetapi masih saja mempunyai arti yang<BR>membayangkan keadaan hati seseorang. Jelas, dara bersuara bidadari ini<BR>sedang dirundung malang, dibuai sedih oleh kesepian, dimabuk khayal<BR>lamunan. Mungkinkah ada hubungannya dengan percakapan tentang jodoh<BR>dengan ibunya tadi?<BR>Masih terngiang di telinga Kun Hong suara yang nikmat itu dan dia masih juga<BR>duduk bersimpuh ketika dia mendengar betapa nona itu pergi meninggalkan<BR>tempat itu dengan langkah-langkah gontai. Setelah langkah itu tidak terdengar<BR>lagi dan keadaan di situ benar-benar sunyi tiada orang, Kun Hong melangkah<BR>ke luar dari tempat sembunyinya. Bagaikan didorong oleh tangan tak tampak,<BR>atau ditarik oleh besi sembrani, kedua kakinya melangkah ke arah tempat di<BR>mana dara tadi bernyanyi. Tongkatnya tertumbuk pada sebuah meja batu<BR>yang dikelilingi tiga buah bangku batu yang halus dan dingin. Bau harum yang<BR>tadi masih mengambang di udara di sekitar tempat itu, lebih terasa kini. Kun<BR>Hong meraba bangku dingin halus, lalu duduk menghadapi meja, termenung.<BR>Tanpa disengaja tangannya yang meraba meja menyentuh sesuatu yang halus<BR>di atas meja. Saputangan sutera! Agak basah dan hangat. Air mata? Keringat?<BR>Seperti dalam mimpi Kun Hong meremas saputangan sutera itu, lalu<BR>mengendurkan tangannya, hatinya merasa khawatir kalau-kalau remasannya<BR>akan merusak benda halus lemas berbau harum itu. Kemudian, dengan tangan<BR>gemetar saputangan itu dia dekatkan ke mukanya, bau harum mengeras, tapi<BR>dia menahan tangannya. Wajah Cui Bi terbayang dan muka Kun Hong menjadi<BR>merah sekali. "Maaf, Cui Bi....... dia terlalu luar biasa......." setelah berkata<BR>demikian dia membenamkan mukanya ke dalam saputangan itu.<BR>Ganda harum semerbak saputangan sutera itu membuat Kun Hong mabuk dan<BR>tenggelam di alam lamunan. Wajah Cui Bi terbayang, maka keras dia<BR>mendekap saputangan itu pada mukanya, seakan-akan yang didekap dan<BR>dibelainya itu adalah wajah Cui Bi kekasihnya. Terluaplah segenap rindu berahi<BR>yang selama bertahun-tahun dia kekang, dia bendung, dia tahan.<BR>"Cui Bi........ Bi-moi....... dewi pujaan....... di mana kau.......?" Kun Hong<BR>mengeluh, menciumi saputangan dan beberapa butir air mata menetes dari<BR>sepasang mata yang tak berbiji lagi itu. Sedih perih membuat dia merasa<BR>nelangsa ketika sadar bahwa kekasih yang amat dirindukannya itu telah tiada<BR>dan tak tertahankan lagi Kun Hong menitikkan air mata yang membasahi<BR>saputangan sutera berganda harum itu.<BR>Betapapun kuat batin Kun Hong, dia tetap seorang manusia biasa. Sekali<BR>waktu tentu akan tunduk dan kalah oleh arusnya perasaan yang<BR>mencengkeram hati, mencengkam pikiran. Apalagi perasaan rindu dendam<BR>bagi seorang muda amatlah berat dilawan. Kun Hong pemuda gemblengan itu,<BR>yang biarpun sudah buta namun masih memiliki kegagahan dan kesaktian<BR>yang melebihi orang-orang melek, kini bagaikan dilolosi seluruh otot di<BR>tubuhnya, lemas dan berlutut menciumi saputangan sambil menitikkan air<BR>mata seperti laku seorang wanita berhati lemah! Saking hebatnya dia<BR>dipengaruhi perasaan sendiri, dia menjadi lengah dan pendengarannya tidak<BR>dapat menangkap suara halus dari langkah kaki yang mendekati tempat itu,<BR>bahkan yang datang menghampirinya. Langkah halus dan ringan dari<BR>sepasang kaki yang bersepatu merah, dan yang menghampirinya dari<BR>belakang.<BR>"Pencuri busuk, berani kau memasuki tamanku? Hayo berlutut di depan<BR>nonamu!" Suara ini nyaring dan merdu, namun mengandung getaran galak<BR>dan tinggi hati Kun Hong terkejut, seakan-akan disendal dari dunia<BR>lamunannya. Dengan gugup dia mencengkeram saputangan itu dan<BR>membalikkan tubuhnya dengan siap karena dia mendengar suara pedang<BR>dicabut oleh wanita yang memakinya ini. Tongkatnya dipegang erat karena<BR>biarpun dari suaranya dia dapat mengenal seorang gadis remaja yang galak,<BR>namun gadis ini dapat datang tanpa dia ketahui, tanda bahwa ilmu<BR>kepandaiannya juga tinggi, maka dia harus siap menghadapi bahaya<BR>serangannya.<BR>Akan tetapi gadis itu mengeluarkan seruan tertahan ketika melihat bahwa<BR>orang yang dibentaknya itu kiranya hanya seorang buta. Ia mendengus penuh<BR>ejekan lalu menyimpan kembali pedangnya.<BR>"Hah, kiranya hanya seorang jembel buta! Sungguh tidak punya guna para<BR>penjaga itu. Orang macam ini dikatakan menimbulkan onar? Hee, jembel buta,<BR>apakah kau bersama seorang gadis yang datang ke pulau kami secara<BR>menggelap? Hayo berlutut dan jawab baik-baik kalau tidak ingin nonamu turun<BR>tangan sendiri memberi hajaran kepadamu!"<BR>Mengkal sekali rasa hati Kun Hong mendengar suara seorang dara muda begini<BR>galak memaki-niaki dan menghinanya, akan tetapi dia tetap tersenyum sabar,<BR>bangkit berdiri dan menjura.<BR>"Maaf, Nona. Aku seorang buta yang tidak mengenal jalan telah tersesat<BR>sampai di sini tanpa disengaja, harap Nona sudi memberi maaf."<BR>"Maaf ? Enak saja bicara! Orang luar yang berani memasuki pulauku ini tak<BR>boleh keluar dalam keadaan hidup lagi. Kau jembel buta berani masuk ke sini<BR>dan seperti orang mabuk menangis menciumi saputangan. Hemm, kiranya kau<BR>selain buta juga gila. Kau terlalu kotor untuk mampus di tanganku. Heeiii, A<BR>Man.......!!" Suara memanggil ini amat nyaring, mengandung tenaga khikang<BR>yang kuat sekali sehingga diam-diam Kun Hong kagum. Kiranya gadis galak ini<BR>memiliki kepandaian yang hebat juga, terang tidak di sebelah bawah tingkat<BR>Loan Ki! Dia makin terheran-heran mendapat kenyataan bahwa di pulau ini<BR>terdapat dua orang gadis yang suaranya jauh berbeda seperti bumi dan langit,<BR>namun yang keduanya memiliki kepandaian tinggi dalam ilmu silat!<BR>Suara seruan seperti itu tadi tentu dapat mencapai jarak jauh. Benar saja, tak<BR>lama kemudian terdengar suara orang menjawab berulang-ulang dan<BR>terdengarlah langkah-langkah kaki berlari-lari ke tempat itu, langkah-langkah<BR>ringan beberapa orang wanita. Kiranya pelayan-pelayan tadi, lima orang<BR>banyaknya dengan A Man di depan, telah lari datang mendengar panggilan itu.<BR>"Ah, kiranya Siocia telah berada di sini......." terdengar gadis pelayan yang<BR>bernama A Man berkata. Dengan pendengarannya yang tajam Kun Hong dapat<BR>menangkap betapa dalam ucapan gadis pelayan ini terkandung rasa takut dan<BR>tunduk, berbeda dengan ketika gadis pelayan ini tadi bicara terhadap dara<BR>bersuara bidadari.<BR>"A Man! Apa saja kerjamu dan para pelayan ini di sini ? Sampai di dalam<BR>taman kemasukan jembel buta gila kalian tidak ada yang tahu ! Hemm, benarbenar<BR>kalian ini masing-masing patut dihukum sepuluh kali cambukan"<BR>"Ampun, Siocia....... hamba berlima tadi disuruh pergi oleh nona Hui<BR>Kauw....... dan ketika hamba pergi, di sini ada nona Hui Kauw sedang berlatih<BR>silat, tidak ada....... jembel ini....... eh, itu adalah saputangan nona Hui Kauw!<BR>He pengemis buta, kau telah mencuri saputangan nona Hui Kauw?"<BR>Tiba-tiba nona yang galak itu tertawa, dan suara ketawanya ini merdu sekali<BR>sungguhpun bagi Kun Hong tetap saja mengandung sifat yang liar dan kejam.<BR>"Wah, kiranya enci Hui Kauw malah memberi sedekah saputangannya kepada<BR>pengemis buta ini? Hi-hik, A Man, kau lihat, biarpun buta dan pakaiannya<BR>kotor, pengemis ini masih muda dan wajahnya tampan juga, ya? Dan enci Hui<BR>Kauw memberi saputangannya kepada pengemis ini. Pemberian sedekah yang<BR>aneh, hi-hi-hik!"<BR>Merah wajah Kun Hong, apalagi ketika mendengar betapa lima orang pelayan<BR>itu pun sama-sama tertawa mengejek. Timbul kemarahan dalam hatinya<BR>karena dia merasa betapa gadis galak ini bersama pelayan-pelayan penjilat itu<BR>menghina dan mentertawai Hui Kauw, dara bersuara bidadari itu. Dengan<BR>suara keren Kun Hong berkata,<BR>"Kalian jangan lancang mulut! Nona itu tidak memberi hadiah saputangan<BR>kepadaku. Saputangan ini kutemukan di sini, tertinggal oleh nona itu tanpa<BR>disengaja. Alangkah jahatnya kalian menyangka yang bukan-bukan dan<BR>menjatuhkan fitnah keji kepada seorang gadis yang putih bersih!"<BR>"Heeeee! Kau membela enci Hui Kauw? Bagus, bagus....... memang cocok kau<BR>dan ia. A Man, hayo kau dan teman-temanmu mewakili aku memberi hajaran<BR>kepada pengemis buta ini, pukul sampai dia minta-minta ampun dan suka<BR>mengaku bahwa dia adalah pacar dari enci Hui Kauw!"<BR>Kun Hong mendengar langkah seorang di antara para pelayan itu maju dan<BR>disusul bentakan suara pelayan ini yang tinggi melengking, "Pengemis buta,<BR>hayo kau berlutut mentaati perintah siocia!"<BR>Kun Hong menggeleng kepala, bersandar kepada tongkatnya dan<BR>menggumam,<BR>"Kalian jahat....... aku tidak sudi mencemarkan nama seorang yang tak<BR>berdosa......."<BR>"Keparat, hayo berlutut!" Sambaran angin sebuah tongkat mengarah kaki Kun<BR>Hong. Pemuda buta itu tidak mengelak.<BR>"Krakk!" Tongkat patah menjadi tiga potong dan pelayan wanita itu menjerit<BR>kesakitan dan meloncat mundur dengan muka pucat. Tongkat patah dan<BR>telapak tangannya merah-merah dan sakit.<BR>Nona galak itu mendengus mengejek. A Man berteriak marah, "Jembel busuk,<BR>kau tidak mau berlutut? Kuhancurkan kepalamu!" Kini pelayan kepala ini yang<BR>mengayunkan sebatang tongkat ke arah kepala Kun Hong. Kali ini Kun Hong<BR>hanya menggerakkan kepala ke samping dan sambaran tongkat itu tidak<BR>mengenai sasaran. A Man makin marah, sampai lima kali tongkatnya<BR>menyambar kepala, namun selalu memukul angin!<BR>Kembali nona itu mendengus, lalu disusul suaranya penuh kemarahan,<BR>"A Man, kau memalukan sekali. Kau yang mempunyai dua buah mata tidak<BR>mampu mengalahkan seorang yang tak bermata? Percuma saja kau<BR>mempunyai dua buah mata yang melirik ke sana-sini. Kalau ibu mendengar<BR>tentang ini, hemmm, kurasa kedua biji matamu akan dicokel ke luar!"<BR>"....... ampun, Siocia....... biarlah kuhajar pengemis busuk ini."<BR>"Nah, keluarkan ngo-coa-tin (barisan lima ular)," kata pula si nona galak<BR>dengan nada memerintah. "Agaknya jembel buta ini berani masuk<BR>mengandalkan kepandaian, hemm, dia harus mampus."<BR>"Srattttt!" Lima batang pedang tercabut dari sarungnya hampir berbareng.<BR>Kemudian Kun Hong mendengar langkah-langkah kaki lima orang<BR>mengurungnya, gerak langkahnya teratur sekali dan langkah-langkah itu tidak<BR>pernah berhenti, terus mengitari dirinya, malah di antara derap langkah ini<BR>terdengar suara mendesis. Kun Hong mengerutkan keningnya. Ia dapat<BR>menduga bahwa lima orang pelayan wanita ini mengurungnya dengan pedang<BR>di tangan kanan dan agaknya seekor ular di tangan kiri. Dugaannya ini<BR>memang benar. Setiap orang pelayan memegang sebatang pedang dan di<BR>tangan kiri mereka terdapat seekor ular hijau yang mendesis-desis dan<BR>lidahnya yang kehijauan itu menjilat-jilat ke luar.<BR>Lima batang pedang menyambar cepat dari lima jurusan dan merupakan lima<BR>macam serangan yang berbeda-beda. Ada yang menusuk, membacok,<BR>membabat, dan lain-lain. Kun Hong terhuyung-huyung lima kali dan semua<BR>penyerangan itu mengenai angin belaka. Akan tetapi pedang itu secara<BR>berantai susul-menyusul mengirim serangan cepat, malah kini diselingi<BR>serangan dengan ular di tangan kiri yang menyambar ke depan dan gigi-gigi<BR>rneruncing mengandung bisa itu menggigit-gigit mencari korban! Sementara<BR>itu, mereka masih terus melangkah berputar-putar di sekeliling Kun Hong.<BR>Diam-diam pemuda buta ini merasa kagum. Barisan lima orang wanita ini<BR>benar-benar kuat dan seorang ahli silat yang belum memiliki kesaktian,<BR>kiranya akan roboh binasa biarpun agaknya dapat membalas dan merobohkan<BR>dua tiga orang pengeroyok. Gerakan mereka amat teratur dan otomatis<BR>sehingga mereka akan merupakan satu orang dengan lima batang pedang dan<BR>lima ekor ular! Dia tahu bahwa terhadap serbuan pedang-pedang itu, dengan<BR>mudah dia akan dapat menghindarkan diri, akan tetapi menghadapi lima ekor<BR>ular itu amatlah sukar. Ular tak dapat disamakan dengan pedang, karena ular<BR>adalah mahluk hidup yang memiliki gerakan sendiri dan sama sekali tidak<BR>menurut cara ilmu silat. Tentu saja dia tidak mau terancam bahaya dan begitu<BR>serangan lima Orang pengeroyoknya makin menghebat, dia berseru panjang,<BR>tubuhnya lenyap terganti segulungan sinar merah dan....... lima orang<BR>pengeroyoknya itu riuh rendah menjerit dan meloncat mundur sambil<BR>terbelalak memandang kedua tangan mereka. Yang memegang gagang<BR>pedang, yang memcgang ekor ular berdarah.<BR>Ternyata pedang-pedang dan kepala-kepala ular sudah putus dan menggeletak<BR>di atas tanah di depan kaki mereka!<BR>"Aha, kiranya ada kepandaian juga si buta gila ini. Pantas saja berani<BR>memasuki Ching-coa-to. Minggirlah kalian budak-budak tak berguna, biar<BR>kuhabiskan nyawa si buta sombong ini. Lihat bagaimana pedangku menembus<BR>jantungnya<BR>Jilid 6 : bagian 2<BR>Kun Hong hanya mendengar suara halus, disusul tiupan angin ke arah hatinya.<BR>Dia kaget sekali dan cepat mengelak selangkah ke kiri. Cara gadis ini<BR>mencabut pedang saja sudah membuktikan bahwa gadis galak ini benar-benar<BR>amat lihai, malah serangan pertamanya juga luar biasa cepatnya, hampir<BR>sukar ditangkap angin sambarannya. Kun Hong tidak berani memandang<BR>rendah dan dia siap mempergunakan tongkatnya yang berisi pedang Anghong-<BR>kiam. Seperti juga menjadi penyakit watak para ahli silat lainnya, Kun<BR>Hong ingin pula mengetahui sampai di mana kepandaian gadis ini dan ilmu<BR>silat apakah yang dimainkannya. Oleh karena ini maka dia bersikap<BR>mempertahankan diri, terhuyung-huyung ke sana ke mari dalam langkahlangkah<BR>ajaib untuk menghindarkan diri dari sambaran pedang lawan yang<BR>amat lihai dan cepat.<BR>Dia makin kagum. Gerakan-gerakan gadis ini halus dan lemas, mungkin<BR>kelihatan indah pula seperti Ilmu Silat Bidadari yang dimiliki Cui Bi dan juga<BR>Loan Ki. Akan tetapi sebetulnya terdapat perbedaan amat jauh karena ilmu<BR>pedang. yang dimainkan gadis galak ini mengandung unsur-unsur gerakan<BR>penyerangan seekor ular yang amat ganas dan liar. Gerakan lengganglenggok,<BR>menggeliat geliat, menyerang tiba-tiba dan kadang-kadang berdiam<BR>diri seperti ular melingkar, benar-benar merupakan sifat-sifat seekor ular.<BR>Memang dugaan Kun Hong ini tidak keliru. Gadis itu sesungguhnya mempunyai<BR>ilmu silat yang berasal dari ciptaan Si Raja Ular Giam Kin! Ilmu pedangnya<BR>amat ganas, keji dan juga curang sekali sehingga belum pernah dia mengalami<BR>kegagalan dalam pertempuran. Akan tetapi kali ini dia bertemu gurunya!<BR>Seperti kita ketahui, di samping ilmu kesaktian yang dia terima dari Raja<BR>Pedang Tan Beng San, yaitu Ilmu Silat Im-yang-sin-hoat, pada dasarnya Kun<BR>Hong mempunyai ilmu silat yang pertama kali dilatihnya, yaitu Kim-tiauw-kun<BR>(Ilmu Silat Rajawali Emas).<BR>Tentu saja gerakan-gerakan seekor burung rajawali jauh lebih hebat dan dapat<BR>mengatasi gerakan seekor ular karena dalam kenyataannya juga selalu seekor<BR>ular menjadi "mati kutunya" kalau bertemu dengan seekor burung rajawali.<BR>Kalau Kun Hong menghendaki, kiranya tidak sukar baginya untuk<BR>mengalahkan gadis galak ini. Diam-diam dia pun girang karena mendapat<BR>kenyataan bahwa biarpun gadis ini juga amat lihai, malah lebih lihai daripada<BR>Loan Ki, namun kiranya tidak selihai gadis bersuara bidadari. Dia girang<BR>karena dia menyukai gadis bidadari itu.<BR>Dia mengerti bahwa kalau dia mengalahkan gadis sombong dan galak ini,<BR>sudah tentu gadis ini akan menjadi makin sakit hati. Padahal dia adalah<BR>seorang tamu tak diundang, dan kalau dia membikin malu dan sakit hati tentu<BR>seluruh isi pulau, termasuk gadis bersuara bidadari akan marah dan<BR>memusuhinya. Apalagi kalau mendengar dari kata-kata gadis ini tadi, agaknya<BR>gadis ini masih keluarga dengan gadis yang bernama Hui Kauw, buktinya<BR>selain gadis galak itu menyebut "enci", juga gadis ini menyebut ibu kepada<BR>nyonya yang oleh para pelayan dipanggil toa-hio. Hui Kauw juga menyebut ibu<BR>kepada nyonya itu, apakah kalau begitu gadis ini masih adik dari Hui Kauw?<BR>Sangat boleh jadi, akan tetapi kalau betul adiknya, kenapa mengeluarkan<BR>fitnah keji dan malah agaknya gadis ini membenci Hui Kauw?<BR>"Nona, sudahlah. Aku datang ke sini bukan mencari permusuhan, sematamata<BR>karena salah jalan......." dia mencoba untuk membujuk lawannya.<BR>"Pengemis buta banyak cerewet! Lekas berlutut minta ampun dan mengaku<BR>bahwa kau adalah pacar enci Hui Kauw atau....... kau mampus di ujung<BR>pedangku!"<BR>Gadis itu berseru karena ia merasa berada di atas angin. Memang sejak tadi<BR>Kun Hong hanya mengelak, malah jarang menangkis, tak pernah balas<BR>menyerang sehingga menurut pikirannya, juga dalam pandangan lima orang<BR>pelayan tadi, pemuda buta itu repot menyelamatkan diri dan tidak mampu<BR>balas menyerang.<BR>"Keji.......! Dara remaja berwatak keji.......!" Kun Hong berseru marah dan<BR>tiba-tiba sinar pedang merah bergulung-gulung menyelimuti diri gadis galak<BR>itu. Hawa dingin menyambar-nyambar dan terdengar gadis itu beberapa kali<BR>menjerit karena merasa betapa hawa pedang dingin menyambar di dekat<BR>leher, kepala, dada, muka, seakan-akan pedang yang tajam mengancam<BR>untuk mengulitinya! Ia heran, kaget, takut, dan merasa seram. Barulah ia<BR>mengaku dalam hati bahwa orang buta ini kiranya memiliki kesaktian yang<BR>begini hebatnya. Ia berusaha mempertahankan diri, namun karena tangannya<BR>gemetar, gerakannya lemah dan akhirnya ia menyerah saja sambil berloncatan<BR>karena ngeri dan takut.<BR>Pada saat itu terdengar suara halus, "Hui Siang moi-moi (adik), kau bertempur<BR>dengan siapa dan kenapa bertempur?"<BR>Begitu mendengar suara ini, tiba-tiba Kun Hong melompat jauh ke belakang,<BR>menghentikan gerakannya. Gadis galak bernama Hui Siang itu berdiri dengan<BR>muka pucat, badan gemetar dan keringat dingin membasahi tubuhnya. Ngeri<BR>hatinya kalau membayangkan keadaannya tadi dan ia memandang kepada si<BR>buta dengan terbelalak. Karena jelas baginya sekarang bahwa orang buta ini<BR>benar-benar lihai luar biasa, ia tidak berani lagi bersikap seperti tadi.<BR>"Enci Hui Kauw....... jembel buta inilah yang dikabarkan mengacau di pulau<BR>kita bersama seorang temannya yang entah ke mana. Dia amat kurang ajar,<BR>tadi mengaku bahwa dia adalah pacarmu, malah memperlihatkan sehelai<BR>saputangan sutera, katanya pemberianmu. Tentu saja aku menjadi marah dan<BR>menyerangnya, kiranya dia lihai....... pantas dia begitu kurang ajar."<BR>Berubah wajah Kun Hong, berdebar hatinya dan dia menekan perasaannya<BR>yang hendak terbakar oleh nafsu amarah. Gadis cilik ini benar-benar luar biasa<BR>jahatnya. Pandai memutar balikkan fakta dan melakukan fitnah keji ke kanan<BR>kiri tanpa mengenal malu lagi. Sebelum dia membuka mulut, terdengar suara<BR>A Man.<BR>"Betul, nona Hui Kauw, apa yang diucapkan oleh siocia tadi. Si jembel buta ini<BR>kurang ajar sekali, menghina Nona dan kalau tidak salah, saputangan Nona<BR>masih berada di saku bajunya......." Suara A Man ini disusul suara empat<BR>orang pelayan lain yang membetulkan omongan ini.<BR>Makin mendidih darah di dalam dada Kun Hong, Hemmm, kiranya para<BR>pelayan ini amat menjilat-jilat nona muda yang bernama Hui Siang. Dan<BR>mereka ini merupakan sekutu yang diam-diam memusuhi Hui Kauw, si gadis<BR>bersuara bidadari. Diam-diam dia merasa kasihan kepada nona bidadari yang<BR>suaranya sudah menggores kulit dada menembus kalbunya itu.<BR>Tiba-tiba terdengar olehnya desir angin lembut dan tercium ganda harum<BR>semerbak yang amat dikenalnya. Diam-diam dia kagum. Nona bidadari itu<BR>sekali menggerakkan tubuh telah berada di depannya! Dia mendengar<BR>sambaran tangan diayun ke arah mukanya. Otaknya bekerja cepat. Tentu<BR>nona yang bernama Hui Kauw ini marah dan merasa terhina, maka kini<BR>mengayun tangan menamparnya. Hal yang wajar. Dia hanya mengerahkan<BR>tenaga menjaga tulang muka karena maklum akan kelihaian nona bidadari ini.<BR>Sengaja dia tidak menjaga kulit.<BR>"Plakk!" Kun Hong merasa betapa pipi kirinya panas-panas, telinganya<BR>mendengar bunyi mengiang, lalu bibirnya merasa sesuatu yang asin, tentu<BR>darah keluar dari luka di belakang pipi yang mengalir keluar dari mulutnya,<BR>merembet ke pinggir bibir. Dia tersenyum, sama sekali tidak merasa sakit hati<BR>atau marah karena dia yakin benar bahwa nona itu memukulnya karena<BR>merasa terhina. Penghinaan yang paling berat dan paling besar bagi seorang<BR>gadis.<BR>Kun Hong mendengar betapa gadis itu melangkah mundur tiga tindak, lalu<BR>terdengar suaranya marah dan menyesal, akan tetapi bagi Kun Hong tetap<BR>saja mengandung getaran halus yang mencerminkan budi luhur,<BR>"Orang buta, Thian (Tuhan) telah menciptakan kau menjadi buta. Bukankah itu<BR>cukup untuk mengingatkan kau bahwa orang tidak boleh berbuat dosa?<BR>Kurang beratkah hukuman yang jatuh kepada dirimu itu sehingga kau tidak<BR>segan-segan menambah dosa-dosamu dengan mengucapkan penghinaan<BR>terhadap diriku? Apa salahku kepadamu dan mengapa pula kau yang baru<BR>sekali ini berjumpa denganku datang-datang melakukan fitnah keji? Kau<BR>memiliki kepandaian, biar buta tentu bukan seorang bodoh, jawablah!"<BR>Tiba-tiba Kun Hong tertawa, tertawa bergelak-gelak saking senangnya. Ucapan<BR>nona bidadari itu betul-betul membuka hatinya untuk menjadi gembira karena<BR>merasa amat berbahagia dapat bertemu dengan seorang seperti nona bidadari<BR>ini. Tak salah dugaannya, tidak keliru dia menjadi seperti tergila-gila. Memang<BR>sesungguhnya nona ini seerang bidadari yang menjelma di permukaan bumi.<BR>Bukan main indah dan bersihnya ucapan itu. Kun Hong mendongak ke atas<BR>dan tertawa terbahak-bahak, hal yang baru kali ini dia rasakan dan lakukan<BR>semenjak dia menjadi buta, kemudian dia ingat bahwa mungkin sekali<BR>sikapnya ini menambah perih hati nona bidadari itu, maka dia segera menahan<BR>diri menghentikan tawanya, lalu menjura ke depan mengangkat kedua tangan<BR>ke arah dada sebagai penghormatan seorang terpelajar, kemudian katanya,<BR>"Nona, maafkan kelakuanku tadi, Ucapanmu benar-benar menggugah<BR>kegembiraan hatiku dan menyadarkanku bahwa di dunia ternyata masih ada<BR>seorang yang bijaksana seperti Nona. Tamparanmu kuterima dengan senang<BR>hati, Nona, karena sesungguhnya, fitnah keji itu jauh lebih menyakitkan<BR>hatimu daripada rasa nyeri pada mukaku. Kemarahanmu tidak berlebihan,<BR>malah andaikata betul fitnah keji tadi, aku rela dan patut dihukum mati." Kun<BR>Hong lalu tersenyum dan menyambung, "Tentu Nona tahu akan pendapat para<BR>arif bijaksana jaman dahulu bahwa khianat dan fitnah hanya datang dari<BR>orang-orang yang dekat. Aku sama sekali tidak mengenal Nona, bagaimana<BR>dapat melakukan fitnah?"<BR>Agaknya ucapan ini mempunyai pengaruh besar, mengingatkan Hui Kauw akan<BR>kelancangannya menjatuhkan marah kepada seorang asing tanpa menyelidik<BR>lebih dahulu. Ia segera berkata kepada nona galak tadi, suaranya mengandung<BR>sesalan besar. "Adik Hui Siang, kulihat sahabat buta ini bicara keluar dari hati<BR>tulus, bagaimana mungkin dia mengeluarkan fitnah keji seperti yang kau<BR>nyatakan tadi?"<BR>"Enci Hui Kauw, kau malah membela dia? Uh, benar-benar aneh kalau kau<BR>malah membenarkan dia menyalahkan aku. Itu buktinya dia membawa<BR>saputanganmu, dari mana dia dapatkan itu?" Kata-kata ini mengandung<BR>sindiran tajam, seakan-akan gadis cilik yang galak itu berbalik menyerang Hui<BR>Kauw dengan tuduhan yang bukan-bukan.<BR>Wajah Hui Kauw merah, akan tetapi dengan tenang ia menjawab, "Tadi aku<BR>berlatih seorang diri di sini dan saputangan itu kugunakan untuk menghapus<BR>keringat, kemudian aku pergi dan saputangan itu tertinggal di sini. Boleh jadi<BR>dia lalu datang dan menemukan Saputanganku di atas meja, apanya yang<BR>aneh dalam hal ini?"<BR>"Tentu saja aneh. Aneh sekali! Bukankah aneh kalau kukatakan kepadamu<BR>bahwa tadi aku melihat dia menciumi saputanganmu sambil menangis? Hi-hik,<BR>bukankah aneh kelakuannya itu, Enci yang baik? Dia mengaku pacarmu, dan<BR>melihat saputangan itu........ diciuminya....... hemmm, hampir tadi aku<BR>percaya akan pengakuannya."<BR>"Bohong! Bocah bermulut keji, kau bohong mengeluarkan ucapan fitnah<BR>kepada encimu sendiri. Kiranya kau perlu dihajar oleh orang tuamu!" Kun<BR>Hong berteriak marah.<BR>"Jembel buta, berani kau kurang ajar kepadaku?" Hui Siang menyerbu dan<BR>memukul kepala Kun Hong. Akan tetapi hanya dengan gerakan mudah saja<BR>Kun Hong membuat pukulan itu mengenai angin. Beberapa kali Hui Siang<BR>memukul, namun tak pernah mengenai sasaran.<BR>"Hui Siang, jangan sembarangan menerjang orang tanpa diketahui dosanya<BR>lebih dulu. Aku sudah lancang tangan tadi, jangan kau memperbesar<BR>keonaran!" Hui Kauw yang melihat penuh kekagetan betapa gerakan pemuda<BR>buta itu aneh dan luar biasa sekali. Diam-diam iapun terheran-heran mengapa<BR>tadi ketika ia yang menampar, sekali tampar saja mengenai pipi si buta dan<BR>malah sampai ada darah mengalir dari bibir orang buta itu. Akan tetapi<BR>sekarang Hui Siang yang menyerang dengan sungguh-sungguh, dengan<BR>pukulan yang akan dapat menewaskan orang itu, dengan amat mudahnya<BR>dielakkan oleh si buta!<BR>Hui Siang membanting-banting kakinya dengan gemas dan mendongkol. "Lagilagi<BR>kau membelanya, enci Hui Kauw. Bagus! Hal ini harus kulaporkan kepada<BR>ibu, biar ibu datang mengadili perkara ini dan membunuh mampus jembel buta<BR>busuk yang kurang ajar ini. A Man, hayo semua ikut aku melapor kepada ibu,<BR>kalian berlima menjadi saksi!"<BR>Maka pergilah gadis galak itu diikuti oleh lima orang pelayan yang terhadap<BR>gadis ini amat penurut dan takut, bahkan menjilat-jilat sikap mereka. Kun<BR>Hong mendengar langkah mereka cepat-cepat meninggalkan tempat itu, dan<BR>dia hanya menundukkan kepala, gelisah memikirkan nona bidadari yang masih<BR>berdiri di depannya tanpa bergerak seperti patung.<BR>Hening sejenak. Nona itu tidak bergerak, juga tidak bicara, demikian pula Kun<BR>Hong. Terdengar oleh pemuda ini betapa nona itu beberapa kali menarik napas<BR>panjang, akan tetapi dia sama sekali tidak tahu betapa nona itu menatap<BR>wajahnya dan memandangnya penuh perhatian dan penuh selidik dari kepala<BR>sampai ke pakaiannya yang kotor berlumpur serta sepatunya yang sudah<BR>bolong-bolong.<BR>Helaan napas panjang itu terdengar menusuk perasaan Kun Hong. Seakanakan<BR>nona ini berduka dan kedukaan itu timbul karena dia, karena<BR>perbuatannya tanpa dia sadari tadi. Mengapa dia tadi begitu bodoh sehingga<BR>tidak mendengar kedatangan Hui Siang, gadis galak itu? Mengapa dia begitu<BR>lemah, menurutkan getaran hati sehingga dia berlaku seperti orang gila,<BR>menangis dan menciumi saputangan seorang nona yang asing baginya?<BR>Dengan hati berdebar dia merogoh saku, mengeluarkan saputangan sutera<BR>yang harum itu melangkah setindak ke depan dan dengan tangan gemetar dia<BR>mengangsurkan saputangan itu kepada pemiliknya sambil berkata lirih,<BR>"....... ini, saputanganmu, Nona....... maafkan aku ....... telah menimbulkan<BR>hal tidak enak bagimu ......."<BR>Hui Kauw menerima saputangan itu tanpa berkata apa-apa, menyimpannya<BR>dan kembali ia menghela napas. Kemudian terdengar ia berkata, lirih dan<BR>seperti bicara kepada diri sendiri, "Malang tak boleh ditolak, mujur tak boleh<BR>diraih. Hidup memang derita, banyak duka daripada suka, sepanjang hidup<BR>pahit dan hampa, manis suka hanya sekejap mata<BR>Kun Hong tetap tunduk, kerut merut di antara matanya amat dalam, membuat<BR>dia nampak lebih tua. Hatinya seperti ditusuk-tusuk jarum rasanya. Dia<BR>seakan-akan dapat merasakan derita batin yang ditanggung nona muda ini.<BR>Semuda itu, sedemikian nelangsanya. Ingin dia menghibur, ingin dia<BR>menyanjung, namun tak kuasa membuka mulut. Untuk menghalau tindihan<BR>berat pada perasaannya, Kun Hong mengeluarkan suara keluhan dibarengi<BR>helaan napas berat dan panjang.<BR>Agaknya suara ini menyadarkan Hui Kauw. "Sahabat buta, pulau ini adalah<BR>tempat terlarang bagi orang luar untuk masuk tanpa seijin ibu. Kenapa kau<BR>masuk ke sini dan membuat keributan? Apa kehendakmu sebetulnya?"<BR>Kun Hong dapat menangkap perasaan di balik kata-kata ini yang merupakan<BR>teguran dah penyesalan karena perbuatan itu hanya akan menimbulkan<BR>kesulitan baginya sendiri. Nona yang bersuara dan berwatak bidadari ini tidak<BR>menaruh sesal bahwa perbuatannya itu akan menjerumuskan si nona dalam<BR>kesulitan. Kembali dia menarik napas dan menjadi makin kagum.<BR>"Sesungguhnya, tiada seujung rambutpun maksud hatiku membuat keonaran,<BR>Nona. Aku dan nona Loan Ki berani mengunjungi pulau ini dengan maksud<BR>untuk minta maaf kepada, penghuni Pulau Ching-coa-to ini atas kelancangan<BR>dan kenakalan nona Loan Ki yang telah merampas makanan dan minurnan.<BR>Siapa kira perbuatan ini akan berakibat panjang......."<BR>Dengan singkat dia lalu menuturkan tentang kenakalan Loan Ki mencuri<BR>makanan, kemudian penyerangan koki dan jagal, lalu keputusan mereka untuk<BR>datang ke pulau minta maaf. Memang inilah sebetulnya isi hatinya dan tentu<BR>saja dia tidak menceritakan maksud hati si nakal Loan Ki yang ingin melihat<BR>nenek koki itu ditenggelamkan ke dalam air dan si jagal dipukuli kepalanya!<BR>Mendengar penuturan ini, Hui Kauw tersenyum, lalu menghela napas.<BR>"Alangkah senangnya dapat hidup bebas merdeka seperti nona cilik itu!<BR>Alangkah gembiranya sekali waktu dapat menurutkan dorongan darah muda<BR>yang selalu penuh oleh petualangan, dapat meliar dan melakukan yang tidak<BR>berlebihan. Apamukah nona Loan Ki itu?"<BR>"Bukan apa-apa, hanya bertemu di jalan. Kami baru sehari dua berkenalan,<BR>dan ia seorang gadis berjiwa pendekar."<BR>"Ah, baru bertemu sudah menaruh belas kasihan bagi seorang buta, suka<BR>mencarikan makanan biarpun dengan jalan merampas. Ia seorang anak yang<BR>liar dan nakal, akan tetapi berdasarkan pribudi yang mengandung welas asih.<BR>Ia tentu bukan orang jahat."<BR>Kembali Kun Hong menjadi kagum mendengar ini. Bukan main! Suaranya<BR>sehalus suara bidadari, ucapan-ucapannya bijaksana seperti seorang ahli<BR>filsafat. Kekagumannya membuat dia lancang berkata,<BR>"Kau bijaksana dan berbudi mulia, Nona. Alangkah jauh bedanya dengan<BR>adikmu, seperti bumi dan langit......."<BR>Hui Kauw tersenyum, ini dapat dirasai oleh Kun Hong, akan tetapi dia tak<BR>dapat melihat betapa senyum itu adalah senyum yang pahit. "Tentu saja jauh<BR>bedanya seperti bumi dan langit. Adikku Hui Siang adalah seorang dara yang<BR>luar biasa cantik jelitanya, sedangkan aku....... aku seorang buruk rupa......."<BR>"Nona, biarpun aku seorang buta, kau tidak mungkin dapat mengelabuhi aku.<BR>Kau seribu kali lebih cantik jelita daripada adikmu......." Kembali ucapan ini<BR>terlontar keluar dari mulutnya tanpa pengendalian, namun Kun Hong setelah<BR>sadar tidak menyesal karena memang ingin dia memuji nona ini.<BR>"....... pandangan seorang buta....... ah, andaikata kedua matamu dapat<BR>melihat, mungkin berbeda ucapanmu....... ah, alangkah besar inginku melihat<BR>kau tidak buta untuk sebentar saja sehingga aku dapat mendengarkan<BR>pendapatmu lagi......." nona itu menarik napas panjang lagi dan kali ini Kun<BR>Hong mendengarkan penyesalan dan kekecewaan yang besar.<BR>"Sahabat buta, siapakah namamu?"<BR>"Aku Kwa Kun Hong, nama yang tidak ada artinya bagi seorang seperti Nona."<BR>"Hemm, kau pandai merendah. Kulihat tadi ilmu kepandaianmu amat tinggi,<BR>aku sendiri belum tentu dapat melawanmu. Heran aku bagaimana seorang<BR>seperti kau ini bisa buta....... dan adikku tadi bilang bahwa ia melihat kau.......<BR>eh, menangis dan menciumi saputanganku. Betulkah itu?"<BR>Jantung Kun Hong berdebar. Bagaimana dia harus menjawab? Dia tidak akan<BR>berkeberatan untuk berbohong kalau saja itu tidak akan merugikan siapapun<BR>juga. Akan tetapi kalau kali ini dia membohong, berarti dia seperti<BR>melontarkan fitnah kepada Hui Siang gadis galak itu. Dengan muka berubah<BR>merah dia mengangguk tanpa menjawab. Hening lagi sejenak.<BR>"Kalau begitu....... ucapan adikku tadi benar semua, bahwa....... bahwa kau<BR>mengatakan aku ini pacarmu?"<BR>"Tidak.......! Sungguh mati dan demi Tuhan tidak! Memang aku tadi lupa<BR>diri....... dengar baik-baik Nona. Tadi aku telah berada di sini ketika kau<BR>bercakap-cakap dengan ibumu, aku mendengarnya semua. Aku mendengar<BR>pula kau berlatih ilmu pedang, dan mendengar kau bersajak. Aku kagum<BR>sekali, aku kasihan kepadamu. Kemudian kau pergi....... dan seperti dalam<BR>mimpi aku melangkah ke sini, menemukan saputangan itu di atas meja.......<BR>dan aku....... ah, mungkin aku sudah gila....... aku teringat akan seorang yang<BR>telah tiada di dunia ini, aku terharu....... dan mungkin aku menangis sambil<BR>menciumi saputangan itu. Kau maafkan aku, Nona, dan semoga Thian<BR>menghukumku kalau aku mengandung maksud tidak senonoh terhadap dirimu,<BR>maafkan aku."<BR>Hening lagi sejenak. "Lagi-lagi korban hidup, dalam hal ini agaknya.......<BR>asmara yang menyeretmu. Kau seorang terpelajar pandai dan berilmu tinggi,<BR>sampai menjadi begini tentu akibat penderitaan batin. Hemm, saudara Kwa,<BR>silahkan duduk."<BR>"Terima kasih, Nona. Tak berani aku mengganggu lebih lama lagi dan kalau<BR>kau suka aku mohon pertolonganmu agar supaya sahabatku Loan Ki itu dapat<BR>terbebas daripada bahaya. Aku masih belum tahu bagaimana keadaan dan<BR>nasibnya."<BR>Pada saat itu terdengar suara gaduh dan banyak orang memasuki taman itu.<BR>Kun Hong miringkan kepala dan tahulah dia bahwa orang-orang yang<BR>memasuki taman kali ini bukanlah para pelayan, melainkan orang-orang yang<BR>memiliki ilmu silat tinggi. Tiba-tiba terdengar suara nyaring yang membuat<BR>Kun Hong menjadi kaget, girang dan juga heran karena suara itu adalah suara<BR>Loan Ki yang datang-datang menegurnya,<BR>"Heii, Hong-ko! Benarkah kata orang bahwa kau berpacaran dengan nona<BR>muka hitam ini? Kau benar-benar mata keranjang tapi kali ini kau salah pilih!"<BR>Terdengar suara ketawa geli menyambut teguran Loan Ki kini. Agaknya yang<BR>membuat orang tertawa adalah sebutan mata keranjang, sebutan yang lucu<BR>dan aneh bagi seorang yang tidak bermata! Akan tetapi Kun Hong sama sekali<BR>tidak memperhatikan atau memperdulikan ini karena hatinya diliputi<BR>keheranan bagaimana Loan Ki bisa datang bersama-sama orang-orang itu dan<BR>siapa adanya mereka? Tentu saja dia sama sekali tidak tahu bahwa<BR>kedatangan Loan Ki tidak sewajarnya karena gadis ini kedua tangannya<BR>ditelikung ke belakang dan diikat dengan sehelai tali panjang yang dipegangi<BR>ujungnya oleh seorang laki-laki tinggi besar muka hitam yang tertawa-tawa.<BR>Pembaca tentu heran pula bagaimana Loan Ki si dara lincah itu bisa tiba-tiba<BR>muncul dan menjadi tawanan? Baiklah kita ikuti pengalamannya dan sebelum<BR>itu lebih baik kita berkenalan lebih dulu dengan penghuni Pulau Ching-coa-to<BR>dan para tamunya yang sekarang menggiring Loan Ki memasuki taman.<BR>Pemilik Ching-coa-to adalah seorang wanita setengah tua yang terkenal<BR>dengan sebutan Ching-toanio. Nama ini hanya sebutan saja, mungkin sengaja<BR>ia pakai untuk disesuaikan dengan nama pulaunya dan memang nyonya ini<BR>selalu berpakaian hijau (ching). Biarpun usianya sudah hampir lima puluh<BR>tahun, namun jelas kelihatan bahwa dahulunya Ching-toanio adalah seorang<BR>wanita yang cantik manis. Memang demikianlah, dahulu ketika ia masih<BR>bernama Liu Bwee Lan, wajahnya cantik, bentuk tubuhnya menarik dan ilmu<BR>silatnya juga tinggi. Sayang bahwa anak yang cantik dan cerdik ini semenjak<BR>kecilnya tidak mendapat pendidikan yang baik karena memang ia hidup di<BR>lingkungan keluarga penjahat. Ayah bundanya merupakan perampok yang<BR>terkenal dan semenjak kecil telah tertanam bibit kejahatan dalam batin Liu<BR>Bwee Lan.<BR>Dua puluh tahun yang lalu, ketika ia berusia dua puluh tahun lebih dan sudah<BR>menjadi seorang nona dewasa yang cantik dan garang, Liu Bwee Lan berdikari<BR>dan menjadi perampok tunggal. Pada suatu hari ia melakukan perampokan di<BR>kota raja, suatu perbuatan yang hanya dapat dilakukan oleh seorang penjahat<BR>yang berkepandaian tinggi karena amatlah berbahaya melakukan perampokan<BR>di kota raja di mana banyak terdapat jagoan-jagoan pandai. Liu Bwee Lan ini<BR>dengan nekat dapat merampok rumah gedung keluarga hartawan, malah<BR>karena amat tertarik melihat seorang anak kecil berusia setahun kurang lebih,<BR>ia membawa atau menculik bayi ini pula!<BR>Akan tetapi hampir saja ia celaka ketika beberapa orang penjaga keamanan<BR>kota yang berilmu tinggi mengejar dan mengepungnya. Baiknya pada saat itu<BR>muncul seorang tokoh kang-ouw yang namanya amat terkenal, seorang tokoh<BR>muda yang berwajah tampan dan berwatak seperti iblis, yaitu bukan lain<BR>adalah Siauw-coa-ong Giam Kin (baca Raja Pedang dan Rajawali Emas).<BR>Karena dasar kedua orang muda ini memang sama, keduanya adalah golongan<BR>hitam, pertemuan yang didahului dengan pertolongan Giam Kin yang<BR>menyelamatkannya, disambung dengan jalinan cinta kasih dan terjadilah<BR>hubungan gelap antara kedua orang ini. Giam Kin amat mencinta Liu Bwee Lan<BR>dan sebaliknya, biarpun Liu Bwee Lan sadar setelah terlambat bahwa ia hanya<BR>dijadikan barang permainan tokoh itu, namun ia dengan cerdik mengeduk<BR>keuntungan sebanyaknya daripada hubungannya dengan Giam Kin. Ia minta<BR>diberi pelajaran silat dan mengeduk semua kepandaian suami tak sah ini,<BR>malah mewarisi pula ilmu memelihara dan menguasai ular-ular berbisa. Dalam<BR>kemanjaannya karena Giam Kin sedang tergila-gila kepadanya, Liu Bwee Lan<BR>malah berhasil dengan permintaannya yang gila-gilaan, yaitu minta dibuatkan<BR>tempat tinggal dengan memiliki sebuah pulau yang penuh rahasia dan penuh<BR>pula dengan ular-ular hijau berbisa!<BR>Demikianlah, sampai Giam Kin menjadi seorang bercacat (baca Rajawali Emas)<BR>kemudian tewas di puncak Thai-san, Liu Bwee Lan menjadi pemilik Pula Chingcoa-<BR>to dan berganti nama Ching toanio. Hubungannya dengan Giam Kin itu<BR>menghasilkan seorang anak perempuan. Dengan demikian ia mempunyai dua<BR>orang anak perempuan, yang pertama adalah anak yang ia culik dari rumah<BR>keluarga hartawan di kota raja dan yang ia beri nama Hui Kauw, sedangkan<BR>anaknya sendiri ia beri nama Hui Siang. Untuk nama keturunan, ia memakai<BR>she Giam untuk kedua anaknya itu. Sudah tentu saja orang berwatak seperti<BR>Ching-toanio ini, kasih sayangnya yang sesungguhnya hanya terjatuh pada<BR>anak kandungnya, Hui Siang. Adapun kasih sayangnya kepada Hui Kauw<BR>hanya pulasan atau palsu belaka dan seberapa dapat ia akan mempergunakan<BR>anak pungut ini demi keuntungan diri sendiri.<BR>Malah ketika Hui Kauw baru belasan tahun usianya dan Giam Kin belum tewas,<BR>ia selalu dikejar-kejar dan diancam oleh kekejian Giam Kin yang hendak<BR>menjadikan anak pungut yang amat cantik jelita ini menjadi korban<BR>keganasannya. Baiknya ada Ching-toanio yang karena cemburu, selalu<BR>menghalangi maksud ini. Malah kemudian karena dorongan iri hati terhadap<BR>kecantikan anak pungut yang melebihi anak sendiri, atau mungkin juga karena<BR>cemburu melihat suami tidak sah itu tergila-gila, Ching-toanio melakukan<BR>perbuatan yang amat keji, yaitu malam-malam ia menggunakan bedak berbisa<BR>melabur muka Hui Kauw yang telah dipulaskan dengan obat tidur. Dapat<BR>dibayangkan betapa hancur hati gadis cilik itu ketika pada keesokan harinya di<BR>waktu bangun tidur, ia merasa mukanya sakit-sakit, gatal-gatal dan perih dan<BR>kemudian setelah sembuh, muka yang semula putih kemerahan dan halus<BR>sepprti sutera itu telah berubah menjadi hitam seperti pantat kuali!<BR>Dalam hal ilmu silat, Ching-toanio menurunkan kepandaiannya kepada dua<BR>orang anak perempuan itu tanpa perbedaan, karena memang ia ingin melihat<BR>Hui Kauw menjadi pandai pula agar dapat dipergunakan tenaganya. Dan<BR>memang tidak aneh kalau Hui Kauw menjadi lebih maju dalam segala macam<BR>kepandaian dibandingkan dengan Hui Siang karena otaknya memang lebih<BR>cerdik. Karena tekunnya Ching-toanio mengajar, kepandaian dua orang gadis<BR>itu tidak banyak selisihnya dengan si ibu sendiri. Akan tetapi, tentu saja di luar<BR>dugaan Hui Siang dan ibunya bahwa secara rahasia, Hui Kauw telah<BR>mempelajari ilmu silat sakti yang ia dapat baca dari sebuah kitab kuno, kitab<BR>yang ia temukan di antara kitab-kitab hasil rampasan ibunya dahulu ketika<BR>menjadi perampok ganas. Ibunya sendiri tidak suka akan bacaan, malah tidak<BR>mempelajari kesusasteraan sampai mendalam. Berbeda dengan Hui Kauw<BR>yang mempelajari dengan amat tekun, malah di waktu kecil ia merengekrengek<BR>minta kepada ibunya untuk mendatangkan guru sastera yang pandai<BR>dan hal ini pun dipenuhi oleh ibunya yang memaksa datang seorang guru<BR>sastera terkenal untuk melatih sastera kepada Hui Kauw. Inilah keuntungan<BR>Hui Kauw dan agaknya karena gadis ini pun merasa betapa ia dibedakan,<BR>diam-diam ia merahasiakan ilmu silat sakti yang ia pelajari secara diam-diam<BR>dari kitab kuno itu.<BR>Demikianlah sedikit keterangan tentang keadaan para penghuni Ching-coa-to,<BR>yaitu Ching-toanio dan dua orang gadisnya. Tentu saja di samping tiga orang<BR>majikan ini, di situ terdapat banyak pembantu dan pelayan, karena Chingtoanio<BR>memiliki harta benda yang amat banyak, simpanan dari hasil rampokan<BR>dahulu ditambah pemberian Giam Kin ketika masih tergila-gila kepadanya,<BR>Sekarang kita ikuti pengalaman Loan Ki. Seperti telah kita ketahui di bagian<BR>depan, gadis lincah ini terjerumus ke dalam jurang ketika ia sedang mencari<BR>jalan menuruni lembah curam dan pinggir jurang yang diinjaknya longsor.<BR>Padahal tanah longsor ini bukan merupakan hal kebetulan. Memang semua<BR>tempat di dalam pulau itu telah dipasangi alat-alat jebakan dan rahasia<BR>sehingga tempat ini merupakan tempat yang sukar dan berbahaya bagi orangorang<BR>luar yang akan mengganggu. Tempat ini merupakan hasil daripada<BR>pemikiran orang-orang luar biasa, yaitu Giam Kin sendiri, Ching-toanio dan<BR>dibantu oleh orang-orang pandai seperti guru Giam Kin yang berjuluk Siauwong-<BR>kwi, Pak-thian Lo-cu dan lain-lain.<BR>Loan Ki menjerit minta tolong ketika tiba-tiba tanah yang diinjaknya runtuh<BR>dan tubuhnya melayang cepat ke bawah. Ia berusaha mempergunakan<BR>ginkangnya untuk mengatur tubuh dan tangannya meraih ke sana ke mari,<BR>namun percuma. Batu atau tanaman yang dapat dicengkeramnya terlepas dari<BR>dinding karang dan ia terus melayang ke bawah dengan amat cepatnya!<BR>"Byurrr!" Air muncrat tinggi ketika tubuh gadis itu menimpa permukaan air<BR>yang membiru saking dalamnya. Untuk sedetik Loan Ki gelagapan, kepalanya<BR>masih pening karena kejatuhannya dari tempat sedemikian tingginya ditambah<BR>kengerian hati karena tidak mengira bahwa di bawahnya adalah air. Andaikata<BR>ia tahu bahwa ia akan terjatuh ke dalam air, kiranya ia takkan gelisah tadi<BR>ketika jatuh. Air merupakan tempat ia berkecimpung semenjak kecil. Ayahnya<BR>tinggal di pantai dan laut merupakan tempat ia bermain, ombak merupakan<BR>kawan ia bermain-main. Begitu tubuhnya tenggelam saking kerasnya ia jatuh<BR>dan ia menutup mulut dan hidungnya, kesadaran kembali ke dalam pikiran<BR>Loan Ki. Cepat tangan kakinya bergerak secara otomatis dan tubuhnya yang<BR>ramping itu meluncur naik seperti seekor ikan hiu.<BR>Jilid 7 : bagian 1<BR>Akan tetapi begitu kepalanya muncul di permukaan air, Loan Ki melihat enam<BR>orang laki-laki di tepi air, dipimpin oleh seorang nenek yang ia kenal sebagai<BR>koki yang kemarin menyerangnya!<BR>Nenek itu tadinya memandang dengan mata terbelalak, agaknya kaget dan<BR>heran sekali betapa ada seorang manusia jatuh dari angkasa, akan tetapi<BR>segera tersenyum lebar ketika mengenal muka Loan Ki. Ia menudingkan<BR>telunjuknya dan berteriak kepada orang-orang yang berada di situ,<BR>"Nah, itu dia iblis betina yang kita cari-cari! Heh-heh-heh, mencari ganti ikan<BR>untuk siocia, kini mendapat ganti begini besarnya. Heh-heh, lucu.......<BR>lucu....... tangkap ia dan sebelum diseret ke depan toanio, biar ia merasakan<BR>beberapa pukulan tanganku di tubuh belakangnya biar kapok anak setan ini!"<BR>Loan Ki melihat enam orang laki-laki seperti berlomba melempar diri ke dalam<BR>air, sinar mata mereka kurang ajar, agaknya perintah itu amat menyenangkan<BR>hati mereka dan sctelah tiba di air, mereka berenang cepat-cepat ke arahnya<BR>sambil tertawa-tawa. Tadi Loan Ki sengaja beraksi seperti tidak pandai<BR>berenang, malah sekarang ia sengaja seperte orang ketakutan dan tenggelam<BR>perlahan-lahan.<BR>"Heiii, tunggu, aku akan tolong padamu, Nona manis!" teriak seorang laki-laki<BR>yang berenang cepat.<BR>"Sam-ko, biarkan aku yang pondong ia!" orang ke dua memburu sambil<BR>tertawa-tawa.<BR>"Hayo, kita berlomba, siapa yang dapat menjamahnya lebih dulu dialah yang<BR>berhak mendapat upah, memondongnya ke tepi!" kata orang ke tiga dan<BR>ramailah mereka berlomba dan mulai menyelam.<BR>Akan tetapi sama sekali tak pernah mereka membayangkan bahwa kali ini<BR>mereka benar-benar akan menghadapi seorang "iblis air". Begitu mereka<BR>menyelam dan meluncur ke sana ke mari untuk menangkap gadis yang<BR>"tenggelam" tadi, di depan mata mereka meluncur bayangan seperti ikan hiu,<BR>demikian cepatnya bayangan ini meluncur lewat. Kagetlah mereka, mengira<BR>bahwa ada ikan besar yang amat berbahaya. Mereka mulai hendak timbul<BR>kembali ke permukaan air menjauhi bahaya ketika "ikan besar" itu menyerang<BR>mereka. Kalau saja kejadian itu berada di darat, tentu akan terdengar ributribut<BR>mereka mengaduh-aduh. Akan tetapi karena terjadinya di dalam air,<BR>hanya si nenek koki itu saja yang melihat betapa permukaan air bergelombang<BR>seakan-akan di bawahnya terjadi pergumulan hebat. Dan tak lama kemudian,<BR>tampaklah enam orang pembantunya tersembul ke luar kepala mereka, lalu<BR>berenang ke pinggir secepat mungkin sambil berteriak-teriak kesakitan. Nenek<BR>itu sibuk membantu mereka, menyeret mereka yang datang lebih dulu ke<BR>darat karena mereka sendiri agaknya sudah tidak kuat untuk naik sendiri.<BR>Bukan main keheranan nenek itu ketika melihat betapa setiap orang<BR>pembantunya tentu patah tulang lengan, pundak, atau kakinya dan<BR>bermacam-macam ikan menggigit mereka. Ada yang digigit udang besar<BR>telinganya, ada yang pantatnya dicapit kepiting besar yang masih<BR>bergantungan, ada yang pahanya ditusuk ikan cucut, malah seorang di antara<BR>mereka hidungnya masih dicapit seekor udang yang macamnya menakutkan!<BR>"Eh-eh-eh, kalian ini kenapakah? Kenapa begini .......?"<BR>"....... celaka....... anak iblis itu.... agaknya ia anak siluman telaga.... ikan-ikan<BR>mengeroyok kami..... waduh, celaka.......!" seorang di antara mereka<BR>menyumpah-nyumpah sambil melepaskan kepiting yang mencapit pantatnya<BR>lalu dibanting sampai hancur berkeping-keping.<BR>Nenek itu marah-marah kepada para pembantunya, memaki-maki mereka<BR>goblok, tolol, penakut dan lain-lain, lalu menyumpah-nyumpah. Pada saat itu,<BR>tanpa di ketahui, di pinggir tepi muncul kepala Loan Ki dan tangan gadis itu<BR>bergerak cepat sekali. Sebuah benda melayang dan tepat sekali menghantam<BR>muka nenek itu. Merasa ada sesuatu memasuki mulutnya yang sedang<BR>memaki, nenek itu cepat menutup mulut menggunakan gigi menggigit. Bau<BR>amis memuakkannya dan cepat ia membetot ke luar benda yang lunak-lunak<BR>alot dari dalam mulutnya. Apakah benda itu? Kiranya seekor haisom (lintah<BR>laut) yang masih hidup, sebesar lengan tangan, menggeliat-geliat kehitamhitaman.<BR>Nenek itu mengeluarkan keluhan panjang dan terguling roboh,<BR>pingsan saking ngeri dari jijiknya!<BR>Sudah tentu saja semua itu adalah perbuatan Loan Ki dan sekarang gadis yang<BR>nakal ini telah mendarat agak jauh dari tempat itu. Pakaiannya basah kuyup,<BR>akan tetapi ia selamat, tidak terluka dan buntalan pakaian berikut mahkota<BR>kuno itu masih berada padanya. Sambil memeras pakaian dan rambutnya, ia<BR>mengenangkan semua kejadian tadi dan tertawa-tawa seorang diri dengan hati<BR>puas. Kalau saja ia tidak ingat kepada Kun Hong sahabat baru buta yang anti<BR>pembunuhan, agaknya tadi ia akan membunuh semua orang itu. Entah<BR>bagaimana, ketika mempermainkan enam orang laki-laki di dalam air tadi, ia<BR>teringat kepada Kun Hong dan tak berani melakukan pembunuhan, takut kalau<BR>kelak ditegur oleh pemuda buta itu!<BR>Hatinya girang bukan main karena sekarang ia telah sampai di tepi teiaga.<BR>Kalau ada perahu, ia akan dapat menyeberang ke darat. Akan tetapi<BR>bagaimana ia dapat meninggalkan Kun Hong begitu saja? Orang buta itu<BR>datang ke pulau ini karena desakannya dan sekarang ia tidak tahu di mana<BR>adanya Kun Hong. Aku harus mencari dia dan mengajaknya ke luar dari<BR>tempat berbahaya ini, pikirnya! Ia mendongak memandang tebing yang tinggi,<BR>akan tetapi tidak melihat bayangan pemuda buta itu. Di depannya adalah<BR>sebuah hutan yang penuh pohon-pohon buah. Girang hatinya melihat<BR>beberapa pohon penuh dcngan buah yang sudah matang.<BR>Segera ia meloncat memetik buah lalu makan sekenyangnya sambil duduk di<BR>atas cabang pohon yang tinggi, tiba-tiba telinganya mendengar suara terbawa<BR>angin. Cepat ia menengok dan dilihatnya dua orang laki-laki berjalan sambil<BR>bercakap-cakap. Mereka ini berjalan di belakang seorang wanita berpakaian<BR>pelayan yang agaknya menjadi petunjuk jalan.<BR>Seorang di antara mereka adalah seorang kakek tinggi besar berpakaian<BR>pendeta berwarna kuning dan kepalanya gundul, membawa sebatang tongkat<BR>hwesio yang berat. Orang ke dua adalah seorang laki-laki berusia tiga puluhan<BR>tahun, bertubuh kekar tinggi besar bermuka kehitaman bermata lebar,<BR>pakaiannya mewah sekali dan di pinggangnya tergantung sebatang pedang<BR>panjang dengan sarung pedang terukir indah. Gerak-gerik dua orang ini jelas<BR>membayangkan kekuatan besar dan berkepandaian tinggi. Akan tetapi Loan Ki<BR>tidak gentar. Malah gadis ini menjadi girang sekali. Ia maklum bahwa pulau ini<BR>mengandung banyak rahasia, sukar baginya untuk dapat mencari Kun Hong.<BR>Akan tetapi dengan adanya tiga orang di depan itu, ia akan dapat mengikuti<BR>mereka memasuki pulau tanpa khawatir akan terjebak dalam perangkap.<BR>Cepat ia merosot turun, hati-hati dan tidak menimbulkan suara karena ia pun<BR>tahu bahwa dua orang laki-laki itu tak boleh dipandang ringan, kemudian<BR>menyelinap di antara pepohonan mengikuti tiga orang itu dengan hati-hati.<BR>Karena ia tidak berani mengikuti sampai dekat, ia tak dapat mendengar jelas<BR>apa isi percakapan dua orang itu.<BR>Dengan melalui jalan yang berbelit-belit dan yang tak mungkin akan dapat<BR>ditemukan sendiri oleh Loan Ki, orang-orang itu akhirnya memasuki sebuah<BR>bangunan kecil yang bentuknya mungil dan bercat merah seluruhnya. Pelayan<BR>yang menjadi petunjuk jalan itu dengan senyum ramah mempersilakan dua<BR>orang ini memasuki bangunan itu dan mereka bertiga menghilang di balik<BR>pintu. Loan Ki menanti sampai beberapa lama. Setelah mendapat kenyataan<BR>bahwa keadaan di situ sunyi dan tidak ada orang yang keluar dari rumah itu,<BR>tidak ada pula tampak penjaga, ia lalu berindap-indap mendekati bangunan,<BR>mengambil jalan memutar dan akhirnya ia dapat bersembunyi di balik jendela<BR>dan dapat mengintai dan mendengarkan percakapan di dalam.<BR>Kiranya bangunan itu hanya mempunyai sebuah ruangan yang berbentuk<BR>bundar, ruangan yang bersih dihias kembang-kembang yang hidup yang<BR>sengaja ditanam di situ. Sedikitnya ada lima belas kursi yang terukir indah<BR>dipasang mengitari sebuah meja yang besar dan berukir dan pula, disulami<BR>sutera tebal berwarna kuning emas. Pada dinding ruangan itu terhias lukisanlukisan<BR>kuno yang amat mahal dan indah serta tulisan-tulisan bermacam gaya,<BR>kesemuanya membayangkan kemewahan tempat kediaman orang kaya.<BR>Akan tetapi semua kemewahan itu tidak menarik perhatian Loan Ki. Tempat<BR>tinggal ayahnya tidak kalah mewahnya dengan tempat ini. Yang menarik<BR>perhatiannya adalah orang-orang yang duduk di situ. Ia melihat betapa di<BR>samping dua laki-laki yang baru datang ini, di situ sudah duduk empat orang.<BR>Seorang di antaranya adalah laki-laki berusia empat puluh tahunan, tubuhnya<BR>kecil kurus seperti cecak kering, kumisnya seperti kumis tikus dan kopiahnya<BR>menunjukkan bahwa dia adalah seorang Bangsa Mancu. Yang tiga orang<BR>adalah wanita-wanita yang berpakaian serba merah berkembang<BR>perawakannya ramping menarik, kulitnya kehitaman namun manis, berusia<BR>kurang lebih tiga puluh tahun, Dari senyum dan lirikan mata mereka<BR>menyambut kedatangan dua orang ini, dapat diduga bahwa mereka adalah<BR>golongan orang-orang "besar" dalam arti kata berpengaruh di dunia kangouw<BR>sehingga sikap mereka tidak malu-malu, malah membayangkan sifat<BR>sombong.<BR>Berbeda dengan sikap tiga orang wanita yang dengan tenang tersenyumsenyum<BR>duduk di tempatnya ini, si kurus berkumis tikus cepat bangkit berdiri<BR>dan membungkuk menyambut kedatangan hwesio tua dan pemuda tinggi<BR>besar tadi.<BR>"Selamat datang....... selamat datang. Tai-hoatsu (guru besar) dan Pangeran<BR>Sublai!" Ia menjura dengan sikap menghormat.<BR>"Oho, kiranya saudara Bouw Si Ma sudah hadir pula di sini. Bagus!" hwesio itu<BR>tertawa bergelak dan dinding ruangan seakan-akan tergetar oleh suara<BR>ketawanya.<BR>Laki-laki tinggi besar muka hitam itu rnemandang tajam, membalas<BR>penghormatan Bouw Si Ma sambil berkata, suaranya tenang sikapnya dingin,<BR>"Saudara Bouw Si Ma, aku adalah Souw Bu Lai, harap kau orang tua tidak<BR>berkelakar tentang pangeran segala."<BR>Bouw Si Ma tersenyum lebar, mengangguk-angguk lalu berkata, "Orang<BR>sendiri....... orang sendiri....... di antara orang sendiri, mana perlu sungkansungkan?<BR>Mari kuperkenalkan ......."<BR>Akan tetapi hwesio tua segera memotong dengan gerakan tangan yang<BR>menyatakan ketidaksabaran hatinya.<BR>"Bouw-sicu, pinceng (aku) datang ke sini atas undangan majikan Ching-coa-to.<BR>Mengapa sekarang Ching-toanio tidak kelihatan mata hidungnya malah<BR>mengajukan orang-orang lain untuk menyambut pinceng? Apa artinya<BR>penghormatan seperti ini?"<BR>Jelas bahwa biarpun dia seorang pendeta, namun sikapnya sombong sekali<BR>dan dia tidak memandang sebelah mata kepada orang lain, terang kepada<BR>Bouw Si Ma tidak juga terhadap tiga orang wanita baju merah berkembang itu<BR>pun tidak. Agaknya dia merasa kecewa sekali sebagai seorang tokoh besar<BR>yang diundang oleh Ching-toanio untuk membicarakan urusan rahasia yang<BR>amat besar, tahu-tahu kini di tempat itu dia bertemu dengan orang-orang<BR>asing.<BR>Kalau Ching-toanio membawa-bawa orang seperti Bouw Si Ma masih mending<BR>karena dia mengetahui orang macam apa adanya Si Mancu murid Pak Thian<BR>Lo-cu ini. Akan tetapi tiga orang wanita ini, yang sikapnya sombong dan juga<BR>mudah diduga bahwa mereka itu orang-orang undangan atau tamu, benarbenar<BR>membuat hwesio itu merasa tak senang hatinya.<BR>Tiga orang wanita itu tersenyum lebar dan saling pandang, kemudian seorang<BR>di antara mereka yang mempunyai tahi lalat di ujung hidungnya, orang yang<BR>tertua, berkata,<BR>"Tai-su tentulah Ka Chong Hoatsu dan tuan muda itu tentu Pangeran Souw Bu<BR>Lai seperti tadi telah diberitahukan kepada kami oleh Bouw Si Ma-enghiong.<BR>Jiwi adalah orang-orang besar dan ternama, mana bisa disamakan dengan<BR>kami ketiga enci adik yang tidak ada kepandaian, juga tidak ada kedudukan?<BR>Akan tetapi, betapa rendah pun, kami adalah undangan dari Ching-toanio,<BR>maka berhak berada di sini. Kurasa yang tidak berhak hadir adalah yang tidak<BR>diundang, bukankah begitu anggapanmu, Tai-su? Hemm, dia itulah yang tak<BR>diundang, maka wajib disingkirkan."<BR>Loan Ki kaget sekali ketika tiba-tiba ada angin berbunyi sampai berciutan di<BR>dalam ruangan itu. Ia tadinya menyangka bahwa yang dimaksudkan dengan<BR>"tamu tak diundang" oleh wanita itu tentulah ia dan ia sudah siap menghadapi<BR>serangan. Akan tetapi serangan yang dilakukan oleh wanita itu benar-benar<BR>membuat hatinya berdebar dan matanya terbelalak heran.<BR>Ia tidak tahu pukulan apakah itu, yang dilihatnya hanya lengan tangan wanita<BR>itu bergerak ke depan dengan telunjuk menuding, lalu terdengar angin kecil<BR>kuat menyambar ke depan, mengeluarkan bunyi mengerikan. Loan Ki lega<BR>hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa bukan dia yang diserang,<BR>melainkan seekor cecak yang tadinya merayap di atas jendela, Ketika ia<BR>memandang lebih teliti ke arah cecak itu, ia bergidik. Cecak itu masih berada<BR>di tempat semula, akan tetapi sudah tak bergerak lagi dan dua titik darah<BR>menetes dari perutnya!<BR>"Omitohud.......! Bukankah itu yang disebut Hui-seng-kiam-sut (Ilmu Pedang<BR>Bintang Terbang)?" Kemudian hwesio tua itu berpaling kepada Souw Bu Lai,<BR>pangeran yang menjadi muridnya sambil berkata, "Ilmu pedang ini datangnya<BR>dari seorang hoan-ceng (pendeta asing) di Thian-tiok (India). Ilmu pedang<BR>yang dicampur dengan hoat-sut (ilmu sihir), amat berbahaya dan kalau sudah<BR>tinggi tingkatnya, hawa pukulannya sudah dapat dipakai untuk merobohkan<BR>lawan tanpa menggunakan pedang sekalipun. Melihat toanio ini dapat<BR>menggunakan hawa pukulan tanpa pedang, benar-benar mengagumkan dan<BR>sudah sepantasnya kalau mereka bertiga diundang oleh Ching-toanio, "Aha,<BR>siapa kira orang-orang muda sekarang mendapat kemajuan begini hebat?<BR>pinceng orang tua benar-benar sudah pikun, tak sadar bahwa dunia ini makin<BR>lama tentu akan dikuasai oleh yang muda-muda..... ha-ha-ha-ha!"<BR>Melihat perubahan sikap ini, Bouw Si Ma girang sekali. Dia lalu berkata sambil<BR>tersenyum, "Benar pendapat Tai-su. Sam-wi li-hiap ini bukan lain adalah Ang<BR>Hwa Sam-cimoi (Tiga Enci Adik Bunga Merah)."<BR>"Benarkah? Oho, pinceng girang sekali. Pernah mendengar bahwa Ang Hwa<BR>Sam-cimoi adalah sumoi (adik seperguruan) dari Hek-hwa Kui-bo yang<BR>pinceng kenal baik. Sayang Hek-hwa Kui-bo telah terbang terlampau tinggi<BR>sehingga tersandung puncak Thai-san dan roboh."<BR>Orang tertua dari Ang Hwa Sam-cimoi mengerutkan keningnya. "Sekali waktu<BR>kami bertiga yang bodoh hendak berusaha menggugurkan puncak Thai-san<BR>yang telah merobohkan mendiang Hek-hwa suci (kakak seperguruan)."<BR>Ka Chong Hoatsu, hwesio itu, hanya terbahak-bahak lalu bersama muridnya<BR>mengambil tempat duduk. Di luar jendela, Loan Ki memandang dan<BR>mendengar semua ini dengan hati berdebar. Setelah mereka duduk, dia<BR>memandang penuh perhatian kepada enam orang itu yang mulai minumminum<BR>dilayani oleh pelayan-pelayan yang muda-muda dan cantik-cantik dan<BR>berpakaian sutera seragam berwarna indah. Dia tahu bahwa didalam ruangan<BR>itu terdapat orang-orang lihai dan makin berkhawatirlah ia karena sekarang<BR>makin sulit baginya untuk dapat mencari Kun Hong dan bersama pemuda buta<BR>itu meninggalkan pulau berbahaya ini.<BR>Kekhawatiran Loan Ki memang beralasan. Enam orang itu memang merupakan<BR>tokoh-tokoh besar yang amat tinggi ilmu kepandaiannya. Bouw Si Ma orang<BR>Mancu itu bukanlah orang sembarangan karena dia adalah murid dari tokoh<BR>nomor satu di utara, yaitu Pak Thian Lo-cu yang juga menemui kematiannya di<BR>puncak Thai-san (baca Rajawali Emas). Seperti juga Ang Hwa Sam-cimoi yang<BR>mendendam atas kematian suci mereka juga Bouw Si Ma ini menaruh dendam<BR>kepada Thai-san-pai atas kematian gurunya. Sebagai murid Pak Thian Lo-cu,<BR>tentu saja dia mengenal Giam Kin yang menjadi murid Siauw-ong-kwi karena<BR>Siauw-ong-kwi adalah sute (adik seperguruan) Pak Thian Lo-cu sehingga<BR>antara Bouw Si Ma dan Giam Kin terhitung saudara seperguruan pula.<BR>Bouw Si Ma sebagai saudara tingkat tua dalarn perguruan, tentu saja<BR>mengenal pula Ching-toanio dan seringkali mengunjungi pulau ini, apalagi<BR>sejak Giam Kin tewas di puncak Thai-san. Dalam banyak hal terdapat<BR>persesuaian faham antara Bouw Si Ma dan Ching-toanio. Mereka sama-sama<BR>menaruh dendam terhadap Thai-san-pai, dan keduanya adalah orang-orang<BR>yang memiliki ambisi yang tinggi maka seringkali mereka mengincar<BR>kedudukan di kota raja semenjak terjadinya kerusuhan dan perebutan<BR>kekuasaan setelah kaisar pertama dari Ahala Beng meninggal dunia.<BR>Tiga orang wanita itu, Ang Hwa Sam-cimoi, juga merupakan orang-orang yang<BR>memiliki ilmu kepandaian luar biasa. Mereka ini tergolong tokoh-tokoh dari<BR>ilmu golongan hitam dan selama belasan tahun mereka merantau ke See-thian<BR>(dunia barat) sehingga mereka tidak tahu akan nasib suci mereka yaitu Hek<BR>Hwa Kui-bo yang tewas pula di Thai-san. Kini tiga orang enci adik ini pulang<BR>dari See-thian dengan kulit agak kehitaman akan tetapi selain ilmu kepandaian<BR>yang hebat mereka pelajari, juga seperti halnya Hek Hwa Kui-bo, tiga orang<BR>wanita yang usianya sudah mendekati lima puluhan tahun ini masih nampak<BR>cantik manis dan muda-muda tidak lebih dari tiga puluh tahun! Setelah<BR>merantau ke See-thian dan menjumpai guru mereka, seorang pendeta di<BR>Thian-tiok yang bertapa di Pegunungan Himalaya, kini kepandaian Ang Hwa<BR>Sam-cimoi meningkat hebat sehingga melampaui tingkat kepandaian Hek Hwa<BR>Kui-bo sendiri. Mereka she Ngo dan nama mereka adalah Kui Ciau, Kui Biau,<BR>dan Kui Sian. Dengan amat cerdiknya Bouw Si Ma yang dalam hal mencari<BR>oraug pandai untuk sekutu mewakili Ching-toa-nio, segera menggandeng tiga<BR>orang enci adik ini, apalagi mengingat bahwa mereka juga mempunyai<BR>dendam yang sama di Thai-san atas kematian kakak seperguruan mereka.<BR>Tentang kelihaian tiga orang wanita ini, tadi baru saja didemonstrasikan ilmu<BR>pukulan yang amat hebat, merupakan inti daripada Ilmu Pedang Hwa-sengkiam-<BR>sut, yang sudah sedemikian tinggi tingkatnya sehingga dengan kekuatan<BR>hoat-sut, hawa pukulan saja sudah sama bahayanya dengan sambaran<BR>pedang.<BR>Orang berusia tiga puluhan tahun yang disebut pangeran itu sebetulnya<BR>memang masih keturunan Pangeran Mongol. Di dalam cerita Raja Pedang<BR>terdapat seorang Pangeran Mongol bernama Souw Kian Bu yang tampan dan<BR>cabul, mengandalkan kekuasaan dan kepandaian melakukan pelbagai<BR>kejahatan. Pangeran Mongol yang kini berada di ruangan itu adalah seorang<BR>keturunan dari Pangeran Souw Kian Bu ini, bernama Sublai dalam Bahasa<BR>Mongol dan dalam dunia kangouw dia menggunakan nama Han dan disebut<BR>Souw Du Lai. Kepandaiannya juga tinggi, malah lebih tinggi kalau<BR>dibandingkan dengan orang-orang Mongol kebanyakan, karena gurunya adalah<BR>tokoh Mongol nomor satu. Sebagai seorang yang bercita-cita tinggi untuk<BR>memulihkan kembali kekuasaan bangsanya atas daratan Tiong-kok, Souw Bu<BR>Lai tekun mempelajari segala ilmu silat sehingga dia sekarang menjadi seorang<BR>yang luas pengalamannya dalam ilmu silat, pandai mainkan delapan belas<BR>macam senjata, pandai pula menunggang kuda melepaskan anak panah dan<BR>senjata-senjata rahasia, sedangkan tenaganya pun besar.<BR>Pendeta tinggi besar itulah guru Souw Bu Lai, berjuluk Ka Chong Hoatsu,<BR>seorang pendeta Buddha yang pernah merantau ke Thian-tiok dan malah di<BR>Tibet pernah menerima hadiah tongkat kependetaannya. Sayang seribu kali<BR>sayang bahwa Ka Chong Hoatsu yang puluhan tahun mempelajari ilmu dan<BR>agama, ternyata mengandung cita-cita duniawi yang membikin kotor semua<BR>usaha. Dahulu dia bercita-cita menjadi orang tertinggi kedudukannya di<BR>samping kaisar melalui keagamaan, sekarang melihat betapa Kerajaan Mongol<BR>sudah jatuh, dia bercita-cita membangunnya kembali bersama Pangeran Souw<BR>Bu Lai yang menjadi muridnya.<BR>Seringkali dia bermimpi betapa akan tinggi kedudukannya di dunia ini kalau<BR>muridnya menjadi kaisar. Tentu dia akan menjadi guru besar negara dan<BR>mempunyai kekuasaan yang malah melebihi kaisar sendiri! Pendeta ini<BR>mempunyai kepandaian yang hebat, kiranya tidak akan kalah tinggi daripada<BR>tingkat si empat besar yang dahulu ditonjolkan di dunia kangouw yaitu Songbun-<BR>kwi Kwee Lun si tokoh barat, Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang si tokoh timur,<BR>Siauw-ong-kwi si tokoh utara, dan Hek Hwa Kui-bo si tokoh selatan. Tongkat<BR>pendeta di tangannya itulah yang merupakan senjata utamanya, ampuhnya<BR>bukan kepalang, sukar ditandingi karena selain terbuat daripada baja pilihan di<BR>Himalaya, Juga amat berat dan kalau dia yang mainkan seakan-akan bulu<BR>ringannya, maka dapat bergerak cepat sekali!<BR>Pokoknya enam orang yang berkumpul di pulau Ching-coa-to itu telah<BR>mempunyai kepentingan bersama, termasuk Ching-toanio sendiri, yaitu usaha<BR>membalas dendam kepada Thai-san-pai dan usaha membangun kembali<BR>Kerajaan Mongol yang sudah runtuh.<BR>Setelah beberapa lama enam orang itu makan minum di ruangan itu sambil<BR>menanti datangnya Ching-toanio yang sudah diberitahu oleh seorang pelayan,<BR>muncullah Ching-toanio dari pintu depan. Begitu masuk wanita berpakaian<BR>hijau ini cepat menjura dengan hormat sekali sambil berkata,<BR>"Harap cu-wi (anda sekalian) sudi memaafkan atas kelambatanku menyambut<BR>cu-wi. Ada sedikit gangguan di pulau ini. Dua orang yang belum diketahui<BR>betul maksudnya telah mencuri masuk dan membikin kacau anak buahku.<BR>Mereka adalah seorang laki-laki dan seorang gadis muda, dan aku amat<BR>khawatir kalau-kalau mereka itu merupakan mata-mata fihak musuh yang<BR>menaruh curiga kepada kita."<BR>Mendengar ucapan nyonya rumah ini, otomatis enam orang itu mengerling ke<BR>sana ke mari dengan pandang mata penuh selidik.<BR>"He-he-he, gadis cilik berpakaian basah?" tiba-tiba Ka Chong Hoatsu berkata.<BR>"Iblis betina berambut kusut?" kata pula Ngo Kui Biau sambil tersenyum<BR>mengejek.<BR>Sebelum yang lain tahu apa yang mereka maksudkan, tiba-tiba Ka Chong<BR>Hoatsu mendorongkan tangan kanan ke arah jendela diikuti gerakan Ngo Kui<BR>Biau yang mencelat ke arah jendela pula.<BR>"Brakkkkk!" Angin dorongan tangan hwesio itu membuat daun jendela menjadi<BR>pecah dan di lain saat Ngo Kui Biau telah meloncat masuk kernbali sambil<BR>melemparkan tubuh seorang gadis yang pakaiannya basah dan rambutnya<BR>kusut, bukan lain orang adalah Loan Ki! Gadis ini berjungkir balik dengan<BR>gerakan indah sehingga tubuhnya tidak terbanting di atas lantai, lalu berdiri<BR>tegak memandang penuh ketabahan, sungguhpun kedua matanya masih<BR>terbalalak lebar saking heran dan kagetnya. Tadi ia mendengar pula ucapan<BR>dua orang itu dan tiba-tiba ada angin besar menyambar ke arah jendela.<BR>Cepat ia merendahkan diri untuk mengelak akan tetapi angin pukulan itu<BR>membuat daun jendela pecah dan tiba-tiba berkelebat bayangan merah<BR>menyambarnya. Loan Ki berusaha mengelak namun gerakan bayangan itu<BR>bukan main cepatnya sehingga tahu-tahu tengkuknya telah ditangkap dan ia<BR>merasa tubuhnya melayang ke dalam ruangan! Dari dua kejadian itu saja<BR>sudah dapat dibayangkan betapa lihainya orang-orang di dalam ruangan itu.<BR>Loan Ki maklum bahwa tak mungkin ia dapat menang menghadapi tujuh orang<BR>kosen ini, akan tetapi tidak memperlihatkan muka takut, malah ia tersenyumsenyum<BR>kecil dengan mata bermain, menatap wajah mereka seorang demi<BR>seorang dengan nakal.<BR>"Bocah liar, siapa suruh kau memata-matai pulau kami?" Ching-toanio<BR>menghardik, suaranya penuh ancaman.<BR>Loan Ki mengerling kepada nyonya baju hijau itu dan tersenyum. "Aku bukan<BR>mata-mata. Aku sengaja datang ke Ching-coa-to untuk bertemu dengan<BR>pemiliknya, tidak punya maksud buruk. Yang mana di antara kalian pemilik<BR>pulau ini?" Pertanyaan ini ia ajukan dengan suara ringan dan wajar, membuat<BR>Ka Chong Hoatsu terkekeh kagum. Bukan main bocah ini, pikir pendeta itu,<BR>masuk ke sarang harimau gua naga masih saja begitu tenang dan berani. Dari<BR>sikap ini saja dia dapat menduga bahwa tentu gadis ini puteri seorang tokoh<BR>besar atau setidaknya murid orang pandai.<BR>"Akulah pemilik pulau ini. Kau mau apa!" Ching-toanio membentak.<BR>"Wah, tentu kau yang disebut toanio. Kau cantik, Toanio, tetapi galak. Pantas<BR>saja orang-orangmu takut setengah mampus kepadamu. Dengar, Toanio. Aku<BR>datang bersama seorang temanku perlu bertemu denganmu untuk minta maaf<BR>karena kelaparan aku telah merampas makanan dan minuman dari tangan<BR>orang-orangmu. Nah, sudah kulaksanakan desakan temanku yang buta itu.<BR>Adapun aku sendiri ingin sekali melihat kau memaksa kokimu menyelam untuk<BR>mencari ikan yang kurampas dan melihat kau memukuli kepala jagalmu. Hihik!"<BR>Tiga orang laki-laki yang berada di situ tersenyum, malah Ka Chong Hoatsu<BR>tertawa bergelak. Akan tetapi Ang Hwa Sam-cimoi yang merasa bahwa<BR>kedatangan gadis lincah dan cantik ini menyuramkan "sinar" mereka,<BR>memandang acuh tak acuh, sedangkan Ching-toanio marah sekali.<BR>"Budak! Kau berani kurang ajar di depan nyonya besarmu, apakah kau sudah<BR>bosan hidup?" teriak Ching-toanio dan bagaikan seekor harimau nyonya ini<BR>menerjang maju, menggunakan kedua tangan untuk mencengkeram muka dan<BR>memukul ulu hati. Serangan ini hebat bukan main, mendatangkan sambaran<BR>angin yang dari jauh sudah terasa oleh Loan Ki. Hampir saja Loan Ki tak dapat<BR>menghindarkan diri kalau ia tidak cepat-cepat mempergunakan gerakan<BR>Bidadari Turun ke Bumi, suatu gerakan yang amat sukar dari ilmu silat<BR>keturunannya Sian-li-kun-hoat. Tubuhnya mencelat bagaikan dilemparkan ke<BR>atas, lalu menukik ke bawah sambil mengembangkan kedua lengannya.<BR>Gerakan yang cepat ini menyelamatkannya, namun angin pukulan yang<BR>dilontarkan nyanya itu tetap saja menyerempet buntalan pakaian yang berada<BR>di punggungnya. Terdengar suara "brett!" dan buntalan pakaian itu terlepas<BR>dari punggung, jatuh ke atas tanah, terbuka dan tampaklah pakaian gadis itu<BR>dan sebuah mahkota indah. Akan tetapi dengan amat cepatnya pula Loan Ki<BR>sudah menyambar bungkusan itu dan menutupkan kainnya kembali.<BR>"Oho, bukankah itu mahkota yang dikabarkan hilang dibawa kabur oleh<BR>pembesar she Tan?" terdengar suara parau dari Souw Bu Lai. Sebagai seorang<BR>keturunan pangeran dia pernah melihat mahkota ini di gudang pusaka<BR>kerajaan, maka sekali lihat dia telah mengenalnya, apalagi karena hilangnya<BR>mahkota kuno itu sudah terdengar oleh dunia kangouw.<BR>Akan tetapi gurunya, Ka Chong Hoat-su, lebih terheran-heran melihat cara<BR>Loan Ki bergerak menyelamatkan diri dari terjangan Ching-toanio tadi, maka<BR>ketika dia melihat Ching-toanio yang merasa penasaran hendak menyerang<BR>pula, pendeta ini berseru "Toanio, tahan dulu!" Tentu saja nyonya itu tidak<BR>melanjutkan serangannya dan memandang heran dengan alis berkerut. Ka<BR>Chong Hoatsu melangkah setindak maju dan bertanya kepada Loan Ki,<BR>"Nona cilik, bukankah gerakanmu tadi jurus dari Sian-li-kun-hoat (Ilmu Silat<BR>Bidadari)?"<BR>"Hemmm, bagus kau mengenal jurusku yang lihai, hwesio tua! Maka lebih baik<BR>kau menyuruh nyonya galak ini mundur dan biarkan aku pergi dengan aman<BR>sebelum kalian berkenalan dengan ilmu pedangku Sian-li Kiam-sut dan<BR>kemudian menyesal pun sudah terlambat!" Loan Ki sengaja membuka mulut<BR>besar karena ia maklum bahwa betapapun juga ia takkan mampu melawan,<BR>baru nyanya galak itu saja sudah begitu hebat, apalagi yang lain-lain dan<BR>terutama hwesio tua ini yang sekali lihat sudah mengenai jurusnya. Daripada<BR>terhina kemudian kalah, lebih baik menghina dan memandang rendah dahulu,<BR>jadi menang angin, demikian pikir dara lincah yang berhati baja ini.<BR>"Aha, bagus!" Ka Chong Hoatsu berseru. "Kalau begitu, kau masih ada<BR>hubungan apakah dengan mendiang Raja Pedang Cia Hui Gan ?"<BR>Dara itu makin angkuh. Sambil mengangkat dada mengedikkan kepala dan<BR>meraba gagang pedangnya, ia memandang mereka seorang demi seorang<BR>dengan pandang mata seakan-akan berkata,<BR>"Huh, kalian ini orang-orang tingkatan rendah mana bisa disamakan dengan<BR>aku?"<BR>Akan tetapi mulutnya berkata bangga. "Hwesio tua, masih baik kau<BR>mengetahui nama mendiang kakek guruku. Dengan mengingat nama besar<BR>beliau yang kau kenal, biarlah nona kecilmu mengampunimu satu kali ini."<BR>Souw Bu Lai tertawa bergelak menyaksikan sikap gadis ini dan hatinya yang<BR>memang berwatak mata keranjang sejak tadi sudah berdebar penuh berahi.<BR>Akan tetapi alangkah kagetnya hati Loan Ki ketika ia melihat berkelebatnya<BR>senjata-senjata yang menyilaukan mata, membuatnya berkejap beberapa kali.<BR>Ketika ia membuka mata, kiranya Ching-toanio, Bouw Si Ma dan Ang Hwa<BR>Sam-cimoi tiga wanita itu sudah berdiri di depannya dengan senjata masingmasing<BR>di tangan, sikap mereka penuh ancaman.<BR>"Budak liar! Hayo katakan kau ini apanya ketua Thai-san-pai?" bentak Chingtoanio,<BR>suaranya mengandung ancaman maut.<BR>Biarpun lincah jenaka, Loan Ki bukanlah seorang anak bodoh, malah ia<BR>tergolong cerdik dan otaknya tajam. Ia seringkali mendengar dari ayahnya<BR>tentang pamannya Tan Beng San yang menjadi ketua Thai-san-pai itu, tahu<BR>bahwa ketua Thai-san-pai itu banyak dimusuhi orang-orang kangouw, apalagi<BR>dari golongan hitam.<BR>Jilid 7 : bagian 2<BR>Setelah berpikir beberapa detik lamanya, ia lalu tertawa dengan nada<BR>sombong sekali.<BR>"Hi-hi-hik, biarpun nama Raja Pedang Tan Beng San ketua Thai-san-pai<BR>membuat kalian ketakutan setengah mampus, aku tidak sudi mempergunakan<BR>namanya untuk menakut-nakuti kalian dengan namanya. Dengarlah baik-baik,<BR>aku sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dia, malah dia masih<BR>hutang beberapa jurus serangan dengan pedangku. Belum tiba saatnya aku<BR>akan berhadapan dengan dia mengadu nyawa di ujung pedang. Kenapa kalian<BR>ini menodongkan senjata kepada seorang muda sepertiku? Apakah kalian<BR>hendak mengeroyokku? Cih, tidak tahu malu!"<BR>Kembali Ka Chong Hoatsu yang tertawa bergelak dan Souw Bu Lai tersenyumsenyum,<BR>makin tertarik kepada dara lincah yang tabah dan cantik ini.<BR>"He, bocah nakal! Kalau begitu tentu kau ada hubungan dengan Sin-kiam-eng<BR>Tan Beng Kui?" Tanya Ka Chong Hoatsu.<BR>"Hemm, hwesio tua. Kaulah seorang di antara mereka ini yang paling cerdik.<BR>Majikan yang menjadi raja di pantai Po-hai, si Pendekar Pedang Sakti Tan<BR>Beng Kui adalah ayahku, dan nonamu ini Tan Loan Ki adalah puteri<BR>tunggalnya. Hayo, siapa berani menentang ayahku?"<BR>"Ha-ha-ha-ha, Ching-toanio dan saudara-saudara yang lain, simpan senjata<BR>kalian. Kiranya nona cilik ini adalah orang segolongan sendiri. Ha-ha-ha!" kata<BR>hwesio tua itu dan semua orang yang berada di situ memang sudah mengenal<BR>Tan Beng Kui. Mereka menarik napas lega dan menyimpan senjata masingmasing<BR>sambil mundur. Ching-toanio mengerutkan alisnya karena ia masih<BR>marah dan penasaran, akan tetapi ia juga tidak mau memusuhi puteri Sinkiam-<BR>eng Tan Beng Kui. Tentu saja ia tidak mau bukan karena takut,<BR>melainkan karena pada waktu itu ia membutuhkan orang-orang kosen yang<BR>sehaluan dan boleh dibilang Tan Beng Kui mempunyai kepentingan serupa<BR>dengan dia. Pertama, ia tahu bahwa Tan Beng Kui menaruh dendam sakit hati<BR>terhadap adik kandungnya sendiri, Tan Beng San yang juga menjadi musuh<BR>besarnya. Ke dua, dalam urusan usaha merebut kekuasaan, kiranya Tan Beng<BR>Kui boleh diakui bersekutu.<BR>Sebagai seorang yang amat cerdik, ia segera dapat menangkap maksud hati<BR>Ka Chong Hoatsu, maka ia segera memaksa senyum manis kepada Loan Ki<BR>dan berkata,<BR>"Nona cantik, hampir saja kita saling bentrok. Akan tetapi tidak mengapa,<BR>bukankah orang bilang bahwa tidak bertempur dulu takkan saling mengenal?<BR>Ayahmu dengan kami adalah segolongan, maka tidak bisa kami memusuhimu.<BR>Soal makanan dan minuman boleh dihabiskan sampai di sini saja. Nona Tan,<BR>bagaimana kau bisa mendapatkan mahkota kuno itu?"<BR>Loan Ki tidak goblog untuk mempertahankan sikap bermusuhan. Iapun<BR>tersenyum ramah dan berkata, "Wah, ayah tentu girang sekali kalau<BR>mendengar bahwa anaknya sudah berkenalan dengan orang-orang gagah di<BR>dunia kangouw. Bagus, karena cuwi (tuan sekalian) adalah orang-orang<BR>sendiri, biarlah aku mengaku terus terang. Mahkota ini dirampas oleh Huihouw-<BR>pang dari tangan si pembesar yang mencurinya dari istana, kemudian<BR>aku merampasnya dari Hui-houw-pang untuk kuberikan kepada ayah yang<BR>suka mengumpulkan barang-barang kuno seperti ini. Mereka itu beramairamai<BR>mengeroyokku dan mengejar, tapi mana mereka mampu merampas<BR>kembali dari tanganku? Hemm, biar ditambah sepuluh kali jumlah mereka<BR>takkan sanggup mereka itu! Aku lari sampai di daerah sini dan karena<BR>kesalahan merampas makanan, maka aku akhirnya masuk ke Ching-coa-to."<BR>Seperti lagak anak kecil Loan Ki menyombongkan hal yang tak pernah terjadi<BR>tentang pengeroyokan. Padahal kalau tidak ada Kun Hong, mana ia bisa<BR>mendapatkan mahkota itu?<BR>"Ho-ho, memang tidak mudah, tapi pinceng bolehkah melihat sebentar?"<BR>Tongkat hwesio itu menyelonong ke depan, Loan Ki kaget sekali dan cepat<BR>miringkan tubuhnya. Celaka, tahu-tahu tangan kiri hwesio itu diulur maju dan<BR>di lain detik buntalan pakaian sudah berpindah tangan!<BR>"Ha-ha-ha, tenang, Nona. Pinceng hanya ingin melihat sebentar, untuk<BR>membuktikan apakah benar-benar ini mahkota yang aseli." Dengan enak<BR>hwesio itu mengambil mahkota, melihat-lihat dan bergantian dengan orangorang<BR>yang berada di situ, mengagumi keindahan mahkota kuno ini. Loan Ki<BR>hanya berdiri dengan muka merah dan mata berapi-api penuh<BR>kemendongkolan hati. Akan tetapi diam-diam ia pun kaget sekali karena<BR>ternyata hwesio tua itu sepuluh kali lipat lebih lihai daripadanya.<BR>Setelah semua orang melihat, buntalan dan mahkota dikembalikan kepada<BR>Loan Ki oleh hwesio itu. Loan Ki menerimanya, mengikatkan buntalan kembali<BR>ke punggungnya dengan muka cemberut.<BR>"Orang tua mengakali anak muda, awas kau hwesio, lain kali aku balas!"<BR>Ka Chong Hoatsu hanya tertawa bergelak dan Souw Bu Lai sambil cengarcengir<BR>mendekati Loan Ki, sepasang matanya yang lebar itu seakan-akan<BR>hendak menelan gadis ini bulat-bulat. Loan Ki mengerutkan kening<BR>menyaksikan mata seperti mata harimau kelaparan itu.<BR>"Kau mau apa?" tanya Loan Ki dengan alis berkerut.<BR>Souw Bu Lai tersenyum, giginya yang putih ! berkilat di balik kumis panjang,<BR>kumis model Mongol, "Nona manis namanya pun manis. Aku tidak akan<BR>menyusahkanmu, sudah lama kudengar nama besar ayahmu. Perkenalkan<BR>aku......."<BR>"....... kau Sublai, mengaku-aku Pangeran Mongol, ya? Tapi aku masih belum<BR>mau percaya!" tukas Loan Ki galak.<BR>Souw Bu Lai tertawa. "Ha-ha-ha, kiranya kau tadi sudah mengintai cukup<BR>lama? Memamg, aku bernama Souw Bu Lai, seorang pangeran dari Mongol.<BR>Ayahmu adalah seorang pendekar yang gagah perkasa, pantas puterinya<BR>seperti kau, Nona."<BR>"Wah, sudahlah, aku tidak ingin mendengar pidatomu. Toanio, aku pamit<BR>hendak pergi dari sini, mencari sahabatku kemudian kuharap kau suka<BR>memberi pinjam sebuah perahumu untuk mengantar kami berdua<BR>menyeberang, kembali ke darat."<BR>"Kau datang tak diundang, pulang pun tak usah minta diantar," jawab Chingtoanio<BR>cemberut.<BR>"Hi-hik, kalau begitu biar aku pergi sendiri. Kalau butuh perahu, tidak boleh<BR>pinjam, curi pun masih bisa." Dengan lagak seperti kanak-kanak Loan Ki<BR>melambaikan tangan ke arah orang-orang itu lalu kakinya melangkah hendak<BR>keluar dari pondok itu.<BR>Hampir saja ia bertumbukan dengan seorang yang berlari-lari dari luar dan<BR>yang amat cepat gerakannya. Loan Ki meliukkan tubuhnya ke kiri sedangkan<BR>orang yang lari itu pun tiba-tiba berhenti, begitu tiba-tiba dan cepat<BR>berhentinya sehingga Loan Ki memandang heran dan kagum karena cara<BR>berhenti seperti itu hanya mampu dilakukan oleh orang pandai. Keduanya<BR>berpandangan dan tak terasa lagi mulut Loan Ki berseru memuji, "Aduh<BR>cantiknya......"<BR>Orang itu bukanlain adalah Giam Hui Siang, gadis cantik jelita yang usianya<BR>sebaya dengan Loan Ki, yaitu antara tujuh belas dan delapan belas tahun.<BR>Memang Hui Siang luar biasa cantik jelitanya, ditambah orangnya pesolek lagi,<BR>wajahnya terawat baik dengan bantuan pelayan-pelayan ahli, pakaiannya<BR>selalu mentereng sehingga biarpun ia puteri seorang pemilik pulau, namun<BR>sekali melihat orang akan menyangka bahwa ia tentulah seorang puteri<BR>keluarga kaisar di istana! Maka tidaklah heran apabila Loan Ki segera<BR>memujinya, sungguhpun ia sendiri adalah seorang gadis lincah yang cantik<BR>manis pula. Mungkin Loan Ki sendiri takkan kalah baik bentuk wajah maupun<BR>bentuk tubuhnya jika dibandingkan dengan Hui Siang, akan tetapi karena Loan<BR>Ki adalah seorang dara pendekar yang suka merantau dan kurang<BR>memperhatikan perawatan badannya, tentu saja kulitnya kalah putih, kalah<BR>halus, dan pakaiannya juga kalah baik.<BR>Hui Siang adalah seorang dara manja dan wataknya amat galak dan sombong.<BR>Karena hampir saja bertumbukan dengan Loan Ki, ia amat marah dan segera<BR>memaki,<BR>"Budak hina! Apakah matamu buta? Eh, kau pelayan barukah? Belum pernah<BR>aku melihatmu. Minggir kau, aku ada urusan penting!"<BR>Loan Ki mendongkol sekali, ia meloncat ke pinggir akan tetapi mulutnya sudah<BR>siap untuk balas memaki. Pada saat itu Hui Siang sudah lari ke depan dan<BR>berkata, "Ibu, celaka sekali, Ibu. Enci Hui Kauw telah membikin malu kita, kali<BR>ini kalau Ibu tidak turun tangan, bisa-bisa nama keluarga kita diseret ke dalam<BR>lumpur!" Gadis ini mengerling ke kanan kiri seakan-akan tidak memperdulikan<BR>orang-orang yang berada di situ. Sepasang mata Souw Bu Lai berkilat-kilat<BR>sekali lagi ketika ia melihat Hui Siang.<BR>"Hui Siang, kau bicara apa? Apa yang telah terjadi?" Ching-toanio berkata,<BR>kemarahannya terhadap Hui Kauw yang tadi belum padam sekarang bangkit<BR>dan bernyala kembali.<BR>"Ibu ingat tentang dua orang asing yang memasuki pulau ini? Nah, yang<BR>seorang kudapati berada di taman, dia seorang laki-laki jembel buta, akan<BR>tetapi celakanya....... dia berpacaran dengan enci Hui Kauw!"<BR>"Hui Siang! Jangan sembarangan bicara! Bohong kau!" ibunya membentak<BR>marah. Biarpun di dalam hatinya ia tidak suka kepada anak pungutnya itu,<BR>akan tetapi ia cukup mengenal tabiat Hui Kauw dan ia rasa tak mungkin Hui<BR>Kauw berpacaran dengan seorang jembel buta.<BR>Hui Siang cemberut dan mendengus, agaknya ngambek karena dikata-katai<BR>kasar oleh ibunya yang biasanya memanjakan. "Ibu, apakah anakmu ini biasa<BR>membohong? Biar aku mampus kalau aku bohong. Enci Hui Kauw memberikan<BR>saputangan suteranya kepada si jembel buta itu, dan kulihat dengan kedua<BR>mataku sendiri si jembel menciumi saputangan itu. Aku marah dan<BR>menyerangnya, eh....... kiranya dia pandai dan dapat menghindarkan<BR>seranganku. Lalu muncul enci Hui Kauw dan....... enci Hui Kauw malah<BR>membela jembel buta itu. Coba, apakah ini bukan merupakan bukti-bukti yang<BR>cukup jelas .......?"<BR>"Waaaaahhhhh, mata keranjang! Tidak punya mata tapi bisa mata keranjang,<BR>apa yang lebih aneh daripada ini? Dasar laki-laki!" Yang berkata demikian<BR>adalah Loan Ki yang cepat melompat keluar hendak mencari Kun Hong.<BR>Hatinya mendongkol sekali mendengar penuturan nona cantik tadi dan ia<BR>sendiri pun tidak mengerti mengapa ia merasa iri, gemas, dan marah sekali<BR>mendengar betapa Kun Hong berpacaran dengan seorang gadis di dalam<BR>taman. Menciumi saputangan sutera? Terbayanglah di depan mata Loan Ki<BR>semua pengalamannya dengan Kun Hong di dalam sumur, teringat betapa<BR>dalam keadaan bahaya maut dan setengah pingsan ia dipeluk oleh pemuda<BR>buta itu, dihibur, dielus-elus rambutnya, diciumi rambutnya.......<BR>"Dasar tukang cium.......!" Terloncat kata-kata ini keluar langsung dari hatinya<BR>yang mengkal.<BR>Tiba-tiba ada angin berkesiur di sebelahnya dan tahu-tahu di depannya sudah<BR>menghadang tubuh laki-laki tinggi besar.<BR>Kiranya Souw Bu Lai Pangeran Mongol itu yang memandangnya sambil<BR>tersenyum menyeringai memperlihatkan deretan gigi yang putih dan besar.<BR>"Nona, kau tidak boleh pergi. Kau harus bersama kami untuk membicarakan<BR>hal yang amat penting," katanya sambil mendekat.<BR>Loan Ki yang sedang jengkel terhadap Kun Hong itu sudah mau<BR>menyerangnya, akan tetapi ketika ia melirik, ia melihat betapa semua orang<BR>tadi kini sudah keluar dan berada di belakangnya. "Aku tidak sudi!" katanya<BR>setengah membentak. "Biarkan aku jalan sendiri!"<BR>"Tidak bisa, Nona. Kami sudah mengambil keputusan untuk menahanmu<BR>karena kau yang akan menghubungkan kami dengan ayahmu," kata pula Souw<BR>Bu Lai.<BR>Sebelum Loan Ki menjawab, tiba-tiba ia mendengar sambaran angin dari<BR>belakangnya, cepat ia miringkan tubuh membalik. Kiranya tongkat Ka Chong<BR>Hoatsu yang menyambar dan menyerangnya. Ia kaget sekali, menggerakkan<BR>kaki meloncat, akan tetapi tiba-tiba saja kedua lengannya sudah ditangkap<BR>orang dan ditelikung ke belakang lalu dibelenggu! Gerakan Souw Bu Lai dan Ka<BR>Chong Hoatsu yang melakukan menangkapan ini benar-benar cepat dan hebat,<BR>membuat seorang gadis berkepandaian hebat seperti Loan Ki sekali pun sama<BR>sekali tidak berdaya, seperti anak kecil di tangan seorang dewasa.<BR>"Monyet-monyet tua muda, kalian mau apa membelenggu dan menangkap<BR>aku? Kalian curang, pengecut, tak tahu malu! Kalau berani, hayo bertempur<BR>sampai seribu jurus!" ia memaki-maki.<BR>"Cih, budak hina macam ini kenapa tidak dilempar ke dalam sumur untuk<BR>makan ular-ular kita, Ibu?" Hui Siang berkata sambil memandang Loan Ki<BR>dengan mata mendelik. Bergidik juga Loan Ki mendengar ini. Ia memang tidak<BR>takut mati, akan tetapi kalau harus dijadikan umpan atau kurban di dalam<BR>sumur dikeroyok ratusan ular, ia benar-benar merasa ngeri dan kali ini ia tidak<BR>berani banyak bicara lagi, takut-takut kalau ia benar-benar dilempar ke dalam<BR>sumur penuh ular yang amat menjijikkan!<BR>"Ha-ha-ha, dia puteri Sin-kiam-eng, mana boleh dibunuh?" Ka Chong Hoatsu<BR>berkata. "Pinceng curiga terhadap sahabat yang buta itu, maka sementara ini<BR>pinceng membelenggunya agar nanti dia tidak menimbulkan kerewelan. Chingtoanio,<BR>mari kita ke taman menemui orang buta itu."<BR>Beramai mereka lari ke taman bunga mengambil jalan rahasia yang berlikuliku.<BR>Loan Ki tadinya membandel tidak mau turut, akan tetapi ketika ujung tali<BR>pengikat kedua tangannya diseret oleh Souw Bu Lai, terpaksa ia ikut lari juga<BR>sambil mengomel dan menyumpah-nyumpah Pangeran Mongol itu yang hanya<BR>tertawa saja. Diam-diam gadis ini harus mengagumi jalan rahasia di pulau ini,<BR>akan tetapi karena hatinya lagi jengkel sekali, ia hanya ikut lari tanpa<BR>memperhatikan kanan kiri. Kejengkelan bertumpuk di hati Loan Ki. Pertama<BR>karena mendengar berita bahwa Kun Hong berpacaran dan menciumi<BR>saputangan seorang gadis bernama Hui Kauw, ke dua kalinya karena ia<BR>merasa kecil tak berdaya menghadapi orang-orang di dalam pulau ini, dan ke<BR>tiga kalinya sekarang ia menjadi seorang tawanan, dibelenggu seperti seekor<BR>domba! Awas kalian, demikian ia menyumpah-nyumpah, sekaii ayahku<BR>kuberitahu tentang penghinaan ini, pulau ini akan diobrak-abrik, dihancurkan,<BR>dan dibasmi oleh ayah! Kalian semua berikut ular-ular laknat akan dibasmi<BR>habis, pulau ini dibumi hanguskan, tak seorang pun manusia atau seekor pun<BR>mahluk diberi hidup! Akan tetapi, di balik ancamannya ini, ia sendiri ragu-ragu<BR>apakah ayahnya akan mampu menang melawan musuh-musuh yang begini<BR>tangguh, terutama sekali hwesio tua itu.<BR>Akhirnya mereka tiba di taman bunga itu dan begitu melihat Kun Hong berdiri<BR>berhadapan dengan seorang gadis bermuka hitam, Loan Ki tak dapat menahan<BR>mulutnya lagi berteriak-teriak! Seperti telah dituturkan di bagian depan, Loan<BR>Ki berseru menegur Kun Hong,<BR>"Haaiii, Hong-ko! Benarkah kata orang bahwa kau berpacaran dengan nona<BR>muka hitam ini? Kau benar-benar mata keranjang akan tetapi kali ini kau salah<BR>pilih, Hong-ko!"<BR>Tentu saja Kun Hong menjadi girang dan lega bukan main hatinya mendengar<BR>suara Loan Ki ini. Ia tidak perdulikan ocehan dara nakal itu tentang mata<BR>keranjang, melainkan segera melangkah maju dan berkata dengan wajah<BR>berseri-seri,<BR>"Ki-moi! Kau selamat? Syukurlah!"<BR>"Hong-ko, kau benar-benar tak punya liangsim (pribudi)! Aku terjerumus ke<BR>dalam jurang, hampir mampus, menerima hinaan orang, tapi kau....... kau<BR>malah berpacaran dan enak-enak senang-senang di sini. Wah, sahabat macam<BR>apa kau ini?"<BR>Muka Kun Hong merah sekali sampai ke telinganya. "Ki-moi, jangah kau<BR>percaya akan fitnah orang. Tidak ada yang berpacaran di sini! Dan kau,<BR>siapakah orangnya yang berani menghinamu?"<BR>Sebelum Loan Ki dan Kun Hong dapat melanjutkan percakapan mereka<BR>terdengar bentakan marah dari Ching-toanio yang mengagetkan mereka dan<BR>memaksa mereka mengalihkan perhatian.Ching-toanio ternyata telah memakimaki<BR>Hui Kauw dengan suara penuh kemarahan,<BR>"Bocah keparat! Semenjak kecil aku bersusah-payah memeliharamu, beginikah<BR>sekarang balasanmu? Berjina dengan seorang jembel buta, mengotorkan<BR>taman dan mencemarkan nama baik keluargaku? Keparat, perempuan hina!"<BR>Terdengar oleh Kun Hong suara "plak-plak-plak!" tiga kali, diikuti keluhan<BR>perlahan. Biarpun tak dapat melihat, dia dapat menduga bahwa dara bersuara<BR>bidadari itu telah ditampar tiga kali mukanya oleh si ibu yang galak.<BR>"Ibu....... maafkan. Aku tidak akan melupakan budi kebaikanmu dan....... dan<BR>aku sama sekali tidak melakukan perbuatan tidak sopan. Hanya kebetulan saja<BR>saudara yang buta ini memasuki taman menemukan saputanganku yang<BR>tertinggal di sini. Harap ibu jangan mempercayai segala fitnah keji......."<BR>"Setan, kau malah balik menuduh Hui Siang membohong? Perempuan tak<BR>bermalu kau! Adik sendiri bertempur dengan si buta ini, kenapa kau malah<BR>membela si buta memusuhi adikmu? Hui Kauw, aku tidak terima! Hari ini kau<BR>akan membayar lunas hutang-hutangmu kepadaku, hutang budi yang hanya<BR>dapat kau bayar dengan nyawamu!"<BR>"Srrrrrttt! Singgggg!" Bunyi pedang berdesing memecah angin, menyambar<BR>ganas menimbulkan cahaya berkilauan. Tak seorang pun di antara para tamu<BR>berani mencampuri urusan antara ibu dan anak. Loan Ki membelalakkan<BR>matanya yang lebar, ngeri betapa pedang ditangan nyonya yang galak dan<BR>lihai itu meluncur seperti kilat menyambar ke arah leher si nona muka hitam<BR>yang hanya menundukkan muka, sedikit pun tidak bergerak seakan-akan<BR>sudah rela menerima hukuman itu dan menanti datangnya pedang yang akan<BR>memenggal lehernya dan maut yang akan merenggut nyawanya.<BR>Pada detik berbahaya bagi keselamatan nyawa Hui Kauw itu, tiba-tiba sinar<BR>kemerahan berkelebat. "Criinggggg" Pedang di tangan Ching-toanio tahu-tahu<BR>sudah buntung, ujungnya melayang ke atas entah ke mana sedangkan sisanya<BR>masih terpegang Ching-toanio, menggetar dan mengeluarkan bunyi! Chingtoanio<BR>berdiri seperti patung, terbelalak kaget, juga orang-orang yang berada<BR>di situ, kecuali Loan Ki yang memandang marah, mengeluarkan seruan heran<BR>dan terkejut.<BR>"Wah, kau betul-betul membelanya, Hong-ko! Celaka, kau telah tergila-gila<BR>oleh seorang gadis muka hitam!" Loan Ki berteriak-teriak penuh kegemasan.<BR>Akan tetapi Kun Hong yang sudah mendekati Hui Kauw, tidak memperdulikan<BR>teriakan Loan Ki ini, melainkan dia berkata halus kepada gadis yang masih<BR>berdiri menundukkan mukanya itu. "Nona, kenapa kau diam saja membiarkan<BR>orang sewenang-wenang hendak membunuhmu?" Ucapan ini selain<BR>mengandung perasaan kasihan, juga merupakan teguran. Memang jantung<BR>Kun Hong masih berdebar kalau teringat betapa gadis bersuara bidadari ini<BR>hampir saja tewas. Ngeri dia memikirkan ini. Baiknya tadi dia bertindak cepat.<BR>"Saudara Kwa, ia....... ia ibuku......." jawab nona itu dengan suara lemah<BR>mengandung isak tertahan. Kagum hati Kun Hong. Nona ini sekuat tenaga<BR>menahan tangisnya. Nona berbudi mulia, berhati baja. Tapi dia penasaran<BR>mengapa ibunya seperti itu?<BR>"Dia bukan ibumu!" Suaranya ketus dan tiba-tiba karena meluapnya perasaan<BR>hatinya.<BR>"Heeeee? Saudara Kwa....... bagaimana kau bisa tahu akan hal ini.......?"<BR>"Dia tidak mungkin ibumu! Seekor harimau atau binatang yang paling liar<BR>sekali pun takkan mungkin membunuh anaknya, apalagi seorang ibu. Akan<BR>tetapi ia tadi benar-benar hampir membunuhmu. Ia bukan ibumu!" suara Kun<BR>Hong lantang.<BR>Sementara itu, cara Kun Hong menangkis dan sekaligus mematahkan pedang<BR>di tangan Ching-toanio dengan tongkatnya, benar-benar membuat semua<BR>orang melongo. Bahkan Ka Chong Hoatsu sendiri terheran-heran. Kakek ini<BR>maklum sampai di mana kelihaian ilmu pedang Ching-toanio yang sudah<BR>jarang dapat di tandingi oleh kebanyakan ahli silat ternama. Akan tetapi orang<BR>muda itu yang buta matanya lagi, dengan sekali tangkis dapat mematahkan<BR>pedang Ching-toanio, benar-benar membuat hwesio tua ini tidak mengerti.<BR>Padahal yang dipakai untuk menangkis hanya sebatang tongkat, dan<BR>gerakannya ketika menangkis tadi pun hanya cepat saja, tidak luar biasa.<BR>Akan tetapi kekagetan mereka hanya sebentar. Ching-toanio sudah dapat<BR>menguasai kekagetannya dan mukanya berubah merah saking malu dan<BR>marahnya. Dibuntungkannya pedang di tangannya dengan sekali tangkis oleh<BR>orang muda buta itu, benar-benar merupakan penghinaan yang tiada taranya<BR>bagi nyonya jagoan ini. Masa ia kalah oleh seorang muda yang buta? Benarbenar<BR>tak masuk di akal. Ia tidak tahu bagaimana caranya pedangnya sampai<BR>patah tadi, akan tetapi ia tidak perduli dan mengira hal itu hanya kebetulan<BR>saja, atau mungkin sekali memang pedangnya yang sudah bercacat di luar<BR>pengetahuannya.<BR>Dengan mata mendelik ia membentak dan melangkah maju, "Jembel buta, kau<BR>siapakah berani mencampuri urusanku?"<BR>Kun Hong menarik napas panjang. Dia maklum bahwa wanita ini adalah<BR>seorang tokoh besar yang berkepandaian tinggi, malah kalau tidak keliru,<BR>menurut pendengarannya, orang-orang yang ikut datang bersama nyonya ini<BR>juga orang-orang yang berkepandaian tinggi. Dengan hormat dia menjura ke<BR>depan, lalu berkata halus,<BR>"Harap Toanio dan Cuwi sekaiian sudi memaafkan. Aku sama sekali tidak<BR>berani mencampuri urusan orang lain, hanya saja, sebagai seorang manusia<BR>biasa, mana bisa aku membiarkan seorang ibu membunuh anaknya sendiri?<BR>Toanio harap insyaf sebelum bertindak gegabah. Sesungguhnya nona Hui<BR>Kauw ini sama sekali tidak melakukan perbuatan seperti yang difitnahkan<BR>tadi."<BR>"Ching-moi (adik Ching), kenapa banyak memberi hati kepada seorang buta<BR>macam ini? Biar kuwakili kau membereskannya!" bentak Bouw Si Ma yang<BR>juga ikut marah sekali karena wanita bekas kekasih sutenya ini tadi mengalami<BR>penghinaan. Dia adalah seorang Mancu yang berangasan, dan dia pun seorang<BR>yang memiliki kepandaian tinggi lebih tinggi daripada Ching-toanio, murid dari<BR>Pak Thian Lo-cu, tentu saja dia memandang rendah kepada Kun Hong seorang<BR>muda buta.<BR>"Bocah buta, kau benar-benar tak tahu diri, lancang memasuki tempat tinggal<BR>orang berani bertingkah dan menjual lagak. Hayo kau mengaku siapa kau dan<BR>siapa pula ayah atau gurumu sebelum aku Bouw Si Ma Si Tangan Maut<BR>mengambil nyawamu!"<BR>Kun Hong cepat menjura. Gerakan orang ini mengandung tenaga berat dan dia<BR>maklum bahwa orang ini tentu lebih lihai daripada Ching-toanio, maka dia<BR>berhati-hati.<BR>"Bouw-enghiong harap suka bersabar. Siauwte (aku yang muda) bernama Kwa<BR>Kun Hong, tentang orang tua dan guru tak usah dibawa-bawa dalam urusan<BR>ini. Aku mengakui bahwa aku telah lancang memasuki Ching-coa-to, akan<BR>tetapi aku menyangkal kalau dianggap bertingkah atau menjuai lagak.<BR>Sesungguhnya, aku tidak mempunyai niat yang tidak baik dan kalau kalian<BR>sudi memaafkan, biarlah sekarang juga aku pergi dan tidak akan mencampuri<BR>urusan orang lain."<BR>Ucapan ini amat merendah, dan oleh Bouw Si Ma dianggap bahwa orang buta<BR>itu menjadi jerih dan ketakutan mendengar namanya dengan julukan Si<BR>Tangan Maut. Dia tertawa menyeringai dan membentak lagi,<BR>"Kau memperlihatkan kepandaian tadi, apa kau kira di sini tidak ada orang<BR>yang mampu memberi hajaran kepadamu? Nah, kau rasakan pukulan Si<BR>Tangan Maut merenggut nyawamu!" Serta merta Bouw Si Ma menerjang,<BR>pukulannya lambat dan perlahan saja, akan tetapi angin pukulan menderu<BR>menyerang ke arah dada Kun Hong.<BR>Orang muda ini sudah siap, maklum akan kehebatan pukulan itu. Hal ini tidak<BR>membuat dia jerih atau bingung. Yang membuat dia bingung adalah bahwa dia<BR>kini telah terlibat dalam urusan besar, mendatangkan permusuhan pada<BR>orang-orang lihai penghuni Ching-coa-to. Inilah yang membingungkannya,<BR>karena sesungguhnya tiada niat di hatinya meski sedikit juga untuk<BR>bermusuhan dengan siapa pun juga. Sekarang karena menuruti Loan Ki,<BR>memasuki pulau ini dia bertemu dengan Hui Kauw yang menarik hatinya dan<BR>karena dia ingin melindungi nona bidadari itu, dia terseret dalam pertempuran.<BR>Dengan hati sedih dia menggunakan langkah-langkah rahasia dari Kim-tiauwkun<BR>sehingga lima kali pukulan bertubi dari Bouw Si Ma hanya mengenai angin<BR>belaka. Bouw Si Ma berhenti sebentar sambil melongo. Pukulan-pukulannya<BR>tadi bertingkat, makin lama makin berat dan hebat. Namun, orang yang<BR>diserangnya bergerak aneh dan dia merasa seakan-akan menyerang bayangan<BR>sendiri saja, sudah tentu tidak berhasil.<BR>"Bouw-loenghiong, aku tidak ingin berkelahi......."<BR>Terpaksa Kun Hong mengelak lagi karena belum juga dia habis bicara,<BR>lawannya sudah mengirim lagi penyerangan sebanyak tujuh jurus<BR>menggunakan pukulan-pukulan tangan dan tendangan-tendangan kaki yang<BR>lebih gencar dan berat lagi. Setiap pukulan atau tendangan ini mengandung<BR>tenaga Iweekang tersembunyi cukup kuat untuk mengirim nyawa lawannya ke<BR>akhirat. Kun Hong mengerutkan keningnya. Kejam sekali orang ini. Untuk<BR>urusan kecil saja sudah menurunkan tangan maut, menghendaki nyawa orang.<BR>Untuk memberi peringatan, pada jurus ke tujuh selagi kepalan tangan Bouw Si<BR>Ma berkelebat ke dekat lehernya, Kun Hong menyentil dengan telunjuk<BR>kanannya ke arah belakang atau punggung kepalan kiri orang Mancu itu.<BR>"Aduh........ keparat.......!" Orang-orang yang berada di situ, kecuali Ka Chong<BR>Hoatsu, terheran-heran karena tidak ada yang dapat melihat perbuatan Kun<BR>Hong ini. Mereka hanya melihat pemuda buta itu terhuyung ke sana ke mari<BR>dengan kedua tangannya bergerak-gerak seperti mengimbangi badan agar<BR>tidak jatuh. Kenapa Bouw Si Ma yang penuh semangat menyerang membabi<BR>buta itu malah mengaduh-aduh sendiri dan tubuhnya mendadak menggigil<BR>seperti orang terserang demam malaria? Akan tetapi karena Bouw Si Ma<BR>memang seorang ahli silat tingkat tinggi, hanya sebentar saja dia menggigil<BR>dan segera dia dapat menguasai dirinya kembali dengan jalan menyalurkan<BR>Iweekang untuk melawan getaran hebat dari sentilan si buta yang tepat<BR>menyinggung jalan darahnya itu.<BR>"Bocah buta she Kwa, kau sudah bosan hidup!" teriaknya sambil mencabut<BR>pedangnya yang berwarna hitam, terus saja menyerang hebat.<BR>Kun Hong kaget sekali. Desing pedang ketika dicabut dan desir angin serangan<BR>senjata itu membuat dia maklum bahwa ternyata dalam hal ilmu pedang,<BR>orang Mancu ini jauh lebih lihai daripada ilmu silat tangan kosongnya. Pedang<BR>yang digunakannya pun sebatang pedang yang ampuh, sedangkan tenaga<BR>Iweekang yang terkandung dalam gerakan pedang amat kuat dan matang.<BR>Kiranya orang Mancu ini seorang ahli pedang, pikirnya. Dia tidak berani<BR>gegabah, tidak mau memandang rendah dan cepat sambil miringkan tubuh<BR>dan menekuk lutut ke belakang, tongkatnya dia gerakkan untuk menghalau<BR>serangan lawan. Benar saja dugaannya, ketika tongkatnya terbentur dengan<BR>pedang lawan, pedang itu tergetar dan dari getaran ini langsung menyeleweng<BR>menjadi serangan lanjutan yang lebih ganas!<BR>Kun Hong berlaku hati-hati sekali. Gerakan lawan ini selain cepat dan<BR>bertenaga, juga amat aneh, belum dikenalnya karena merupakan ilmu pedang<BR>dari utara yang beraneka ragam. Dengan Kim-tiauw-kiam-hoat, yaitu Ilmu<BR>Pedang Rajawali Emas yang gerakannya gesit dan kelihatan aneh pula, dia<BR>selalu berhasil menghindarkan diri menggunakan langkah-langkah rahasia<BR>sambil menggerakkan tongkat untuk membentur pedang lawan.<BR>Orang-orang di situ menjadi makin terheran-heran. Pemuda buta ini terhuyung<BR>ke sana ke mari seperti orang mabuk, cara dia menghadapi seranganserangan<BR>Bouw Si Ma amat aneh dan kacau, tidak seperti ilmu silat, akan<BR>tetapi mengapa semua serangan Bouw Si Ma selalu mengenai tempat kosong<BR>belaka? Lebih heran lagi adalah Ka Chong Hoatsu, karena hwesio tua ini<BR>melongo menyaksikan Kim-tiauw-kun, lalu terdengar dia berbisik,<BR>"Apa setan tua Bu Beng Cu menurunkan ilmunya kepada bocah buta ini?"<BR>pikirannya melayang-layang kepada masa lampau, ketika dia masih muda<BR>pernah bertempur melawan kakek Bu Beng Cu sampai ribuan jurus dan<BR>akhirnya dia harus menerima kekalahan dengan tulang pundak patah ketika Bu<BR>Beng Cu mempergunakan ilmu silat seperti gerakan burung yang amat aneh.<BR>Semenjak itu dia tak pernah bertemu pula dengan kakek Bu Beng Cu, malah<BR>selama berpuluh tahun merantau, belum pernah dia melihat ilmu silat aneh itu<BR>dimainkan orang. Kenapa sekarang tiba-tiba bocah buta ini bisa mainkan ilmu<BR>membela diri yang tampaknya sama benar dengan gerakan-gerakan Bu Beng<BR>Cu dahulu?<BR>Sementara itu, ketika melihat betapa Bouw Si Ma belum juga mampu<BR>menjatuhkan si buta, Souw Bu Lai si Pangeran Mongol mengeluarkan gerengan<BR>keras dan menerjang maju sambil membentak, "Setan buta, kau benar-benar<BR>hendak menjual lagak di sini!" Sekaligus Pengeran Mongol ini menggerakkan<BR>senjatanya yang paling dia andalkan, yaitu sehelai sabuk baja digandenggandeng<BR>saling mengait dan setiap mata kaitan mengandung duri meruncing.<BR>Inilah senjata semacam joan-pian baja yang amat berbahaya karena lawan<BR>yang terkena ujungnya saja tentu akan terluka hebat!<BR>Sambaran senjata mengerikan itu lewat di atas kepala Kun Hong ketika<BR>pemuda buta itu mengelak sambil merendahkan tubuh. Dari suara desir<BR>anginnya Kun Hong tahu bahwa penyerangnya yang baru ini memiliki tenaga<BR>gajah sehingga sekali lagi hatinya mengeluh. Dia harus menghadapi<BR>pengeroyokan dua orang lawan tangguh dan siapa tahu kalau pertempuran ini<BR>tidak akan menjadi makin hebat jika yang lain-lain maju pula.<BR>"Aku tidak ingin berkelahi....... ah, kenapa kalian berdua mendesakku?"<BR>"Sublai, gunakan Liok-coa-kun!" tiba-tiba Ka Chong Hoatsu berkata kepada<BR>muridnya. Souw Bu Lai menyanggupi dan segera ruyung lemas di tangannya<BR>bergerak cepat sekali, menyambar-nyambar seperti enam ekor ular yang<BR>mengeroyok seekor katak.<BR>Jilid 8 : bagian 1<BR>Liok-Coa-Kun atau Ilmu Silat Enam Ekor Ular adalah ciptaan Ka Chong Hoatsu<BR>sendiri yang berdasarkan penyerangan dan mempertahankan dari enam<BR>penjuru, yaitu dari kanan kiri muka belakang dan atas bawah. Gerakangerakannya<BR>meniru gaya gerakan ular yang sukar sekali diduga oleh lawan,<BR>maka dapat dibayangkan betapa hebatnya ilmu silat ini. Ka Chong Hoatsu<BR>yang merasa curiga menyaksikan gerakan permainan silat Kun Hong sengaja<BR>menyuruh muridnya menggunakan ilmu simpanan itu karena dia hendak<BR>memaksa Kun Mong mengeluarkan kepandaiannya sehingga dia dapat<BR>mengenal betul dari aliran manakah bocah buta yang amat lihai dan masih<BR>muda sudah memiliki ilmu kesaktian ini.<BR>Tingkat kepandaian Pangeran Souw Bu Lai sebetulnya tidak lebih tinggi<BR>daripada tingkat kepandaian Bouw Si Ma. Malah boleh dibilang orang Mancu<BR>murid Pak Thian Lo-cu ini lebih matang dan lebih banyak pengalamannya<BR>karena memang lebih tua. Akan tetapi karena senjata yang dipergunakan oleh<BR>pangeran itu lebih jahat dan ganas, maka bantuannya ini memiliki daya<BR>penyerangan yang tidak kalah hebatnya sehingga Kun Hong terpaksa harus<BR>mengeluarkan kepandaiannya. Lebih banyak lagi jurus-jurus Kim-tiauw-kun<BR>harus dia keluarkan untuk menyelamatkan dirinya, karena dua orang ini<BR>benar-benar mengarah nyawanya. Tongkatnya berkelebatan, kadang-kadang<BR>tampak cahaya kemerahan dari pedangnya Ang-hong-kiam yang tersembunyi<BR>di dalam tongkat.<BR>Sementara itu, Ching-toanio menjadi makin marah melihat betapa dua orang<BR>tamu yang amat diandalkan itu tetap juga belum dapat merobohkan si buta<BR>yang telah mendatangkan kekacauan di pulau. Ia menoleh ke arah Hui Kauw<BR>dan makin panas hatinya melihat anak pungutnya ini memandang kagum dan<BR>penuh kekhawatiran kepada Kun Hong yang dikeroyok. Malah ia mendengar<BR>suara gadis itu perlahan.<BR>"Curang....... curang....... matanya sudah buta masih dikeroyok......."<BR>Ching-toanio meloncat ke depan Hui Kauw, matanya menyinarkan cahaya<BR>bengis. "Hui Kauw, betul-betulkah kau tidak main gila dan berjina dengan<BR>bocah buta itu?"<BR>"Tidak, Ibu."<BR>"Kalau begitu, hayo kau bantu Pangeran Souw dan pamanmu Bouw untuk<BR>merobohkan dan membikin mampus setan buta itu!"<BR>Hening sejenak, kecuali suara beradunya senjata-senjata mereka yang sedang<BR>bertempur. Lalu lirih terdengar ".......tapi....... kedua orang yang begitu lihai<BR>masih tak mampu mengalahkannya, apalagi aku, Ibu? Kepandaianku amat<BR>rendah, mana bisa menangkan dia......."<BR>"Perduli dengan kepandaianmu! Aku hanya ingin melihat apakah kau ini benarbenar<BR>pacarnya atau bukan. Kalau kau berani mengeroyoknya dan kemudian<BR>membunuhnya dengan pedangmu, aku baru mau percaya bahwa kau bukan<BR>pacar si buta itu!"<BR>Dapat dibayangkan betapa hancur hati Hui Kauw mendengar ini. Sebetulnya,<BR>di luar tahu ibunya, ia telah memiliki ilmu silat yang amat tinggi yang ia<BR>pelajari secara rahasia. Ia dapat mengira-ngira bahwa kalau dibandingkan<BR>dengan ibunya sendiri bahkan dengan Pangeran Sublai atau malah dengan<BR>Bouw Si Ma kiranya ia takkan kalah! Dan melihat ilmu silat aneh dari Kun<BR>Hong, biarpun amat lihai akan tetapi kalau ia maju lagi mengeroyok, orang<BR>buta itu takkan mampu menahan lagi. Akan tetapi, orang buta itu tidak<BR>mempunyai dosa. Malah ialah orangnya yang berdosa, karena si buta ini<BR>menghadapi bahaya maut karena ia!<BR>"Tidak, Ibu," jawabnya dengan suara tetap, "Dia tidak bersalah apa-apa, aku<BR>tidak mau mengeroyoknya. Malah kuharap Ibu suka membebaskan saja dia<BR>dan gadis temannya itu agar keluar dari pulau dengan aman. Mereka berdua<BR>itu tidak mempunyai kesalahan apa-apa."<BR>"Anak setan kau! Kau malah memihak musuh?"<BR>"Mereka bukan musuh......."<BR>"Kalau begitu kau ingin mampus!" "Budi yang dilimpahkan Ibu semenjak aku<BR>kecil terlalu besar, kalau Ibu kehendaki, nyawaku boleh untuk membalas budi<BR>itu......"<BR>"Keparat.....!" Terdengar oleh Kun Hong yang sejak tadi mendengarkan suara<BR>bidadari itu, suara yang amat mengejutkan hatinya. Suara pukulan-pukulan<BR>yang dilakukan bertubi-tubi kepada tubuh Hui Kauw yang agaknya tidak mau<BR>membalas atau mengelak, hanya mengeluh lirih menahan nyeri. Meluap<BR>amarah di hati Kun Hong dan serentak berubah gerakan tongkatnya. Segulung<BR>sinar merah berkelebat disusul teriakan kaget Pangeran Souw Bu Lai dan Bouw<BR>Si Ma yang terhuyung mundur sambil memegangi lengan kanan yang luka-luka<BR>berdarah. Saat itu dipergunakan oleh Kun Hong untuk mencelat ke arah Hui<BR>Kauw, kakinya menendang dan....... tubuh Ching-toanio terlempar sampai lima<BR>meter jauhnya! Kun Hong meraba-raba dengan tangannya, membungkuk lalu<BR>memondong tubuh Hui Kauw yang sudah lemas dan pingsan. Kaget sekali hati<BR>Kun Hong ketika rabaan tangannya mendapat kenyataan betapa nona itu<BR>terluka hebat, tubuhnya terserang pukulan beracun dan beberapa tulang<BR>rusuknya patah! Saking marahnya Kun Hong merasa betapa mukanya menjadi<BR>panas sekali.<BR>"Ching-toanio.......!" Dia berteriak dengan suara agak gemetar. "Alangkah<BR>kejamnya hatimu! Kau mengaku bahwa nona ini adalah puterimu, akan tetapi<BR>perbuatanmu kepadanya sama sekali bukan sikap seorang ibu sejati.<BR>Perbuatanmu biadab dan tak patut dilakukan oleh seorang wanita terhadap<BR>anaknya. Karena itu, jelaslah bahwa nona ini bukan anakmu! Seekor harimau<BR>betina yang bagaimana liar dan ganas sekalipun takkan makan anaknya<BR>sendiri, betapa seorang manusia bisa membunuh anaknya?"<BR>"Jembel buta setan alas!" Ching-toanio memekik dan memaki-maki. Malunya<BR>bukan main bahwa ia seorang tokoh dunia kangouw, majikan dari Ching-coa-to<BR>yang tersohor, kini sekali tendang saja sudah dibikin terlempar oleh seorang<BR>pengemis muda dan buta lagi! "Keparat tak bermalu, urusan antara ibu dan<BR>anak, kau orang luar berani mencampuri?"<BR>Kun Hong tersenyum pahit, lalu terdengar suaranya dingin, "Alasan seorang<BR>iblis dalam tubuh seorang ibu. Biarpun mataku buta, hatiku tidak sebuta<BR>hatimu. Aku masih dapat membedakan siapa yang berhak ditolong dan siapa<BR>pula yang wajib diberantas! Nona ini terang tidak berdosa, kalian menjatuhkan<BR>fitnah hanya untuk dalih agar dapat menyiksanya, dapat membunuhnya! Tapi,<BR>selama Kwa Kun Hong masih hidup dan berada di sini, jangan harap kau akan<BR>dapat mengganggu selembar rambutnya!"<BR>Dengan tangan kirinya mengempit tubuh Hui Kauw yang pingsan, Kun Hong<BR>berdiri melintangkan tongkatnya, siap menanti serbuan orang-orang itu. Dia<BR>bertekad untuk melindungi nona itu.<BR>"Hong-ko, kenapa engkau mencampuri urusan orang lain?" Tiba-tiba suara<BR>Loan Ki mencelanya dan gadis ini sudah meloncat ke depannya. "Hong-ko, kau<BR>telah membikin ribut dan kacau di sini, membikin urusan menjadi makin besar<BR>saja. Kau lepaskan si muka hitam itu dan mari kita ke luar dari pulau ini."<BR>"Ki-moi, mana bisa aku membiarkan saja orang membunuh ia yang sama<BR>sekali tidak bersalah atas dasar fitnah yang begitu keji?"<BR>"Hong-ko, kau mati-matian membelanya....... apakah....... apakah kau sudah<BR>jatuh cinta kepadanya.......?"<BR>"Hushh, jangan bicara yang bukan-bukan, aku....... aku......." Tiba-tiba tubuh<BR>Kun Hong menjadi lemas dan dia roboh. Kiranya Loan Ki yang tadinya<BR>memegang-megang tangannya itu secara tiba-tiba menotok jalan darah di<BR>punggungnya yang membuat Kun Hong menjadi lemas kehilangan tenaga. Dia<BR>masih berusaha memulihkan kekuatan, akan tetapi yang dapat dia lakukan<BR>hanya mencengkeram tongkatnya saja, malah tubuh Hui Kauw dalam<BR>kempitannya juga terlepas dan jatuh bergulingan, saling tindih dengan<BR>tubuhnya sendiri.<BR>Bagaimana Loan Ki yang tadinya dibelenggu bisa mendekati Kun Hong dan<BR>melakukan pengkhianatan ini? Gadis ini tadi memang dibelenggu, akan tetapi<BR>ia dilepaskan oleh Souw Bu Lai ketika pangeran ini maju menyerang Kun Hong.<BR>Karena ujung tali itu tidak dipegangi orang, dengan mudah Loan Ki dapat<BR>sedikit demi sedikit meloloskan kedua tangannya sehingga ia menjadi bebas.<BR>Tidak ada orang yang memperhatikannya, apalagi ia merupakan tawanan yang<BR>tidak penting karena tadi orang mengikatnya hanya untuk menjaga kalaukalau<BR>sahabatnya yang buta itu benar-benar amat lihai dan mengamuk, maka<BR>ia dibelenggu untuk dijadikan jaminan. Siapa kira si buta itu benar-benar<BR>mengamuk, akan tetapi bukan karena tertawannya Loan Ki, melainkan karena<BR>soal lain, yaitu soal nona Hui Kauw. Adapun Loan Ki sendiri hatinya sudah<BR>sejak tadi panas dan iri menyaksikan betapa Kun Hong membela Hui Kauw<BR>secara mati-matian. Gadis ini masih terlalu muda untuk dapat menafsirkan<BR>tentang cinta kasih. Ia tidak ingat bahwa untuk dirinya sendiri pun Kun Hong<BR>membela mati-matian. Sekarang, melihat Kun Hong membela seorang gadis<BR>lain, ia menjadi iri hati, bukan cemburu karena pada saat itu ia tidak tahu<BR>apakah ia mencinta si buta ini ataukah tidak. Pendeknya, hatinya tidak senang<BR>melihat Kun Hong membela Hui Kauw, apalagi melihat betapa si buta itu<BR>memondong tubuh nona yang sudah pingsan itu. Maka ia lalu mendekati,<BR>menegur dan menotok roboh Kun Hong dengan maksud menghentikan usaha<BR>Kun Hong membela Hui Kauw.<BR>Tentu saja Kun Hong terkejut bukan main. Sama sekali dia tidak pernah<BR>mengira bahwa Loan Ki akan berbuat seperti itu dan inilah sebabnya pula dia<BR>mudah dirobohkan. Dia sama sekali tidak pernah menduga dan karena itu<BR>tidak berjaga diri terhadap Loan Ki. Kini setelah roboh dan tak berhasil<BR>memulihkan tenaga, dia terkejut dan terheran-heran, namun tidak khawatir<BR>karena maklum bahwa tidak akan ada hal yang lebih hebat daripada kematian,<BR>sedangkan kematian itu baginya bukan apa-apa, seperti air sungai mengalir<BR>kembali ke laut di mana dia akan bersatu dengan Cui Bi!<BR>Ternyata Ching-toanio yang ditendang sampai mencelat lima meter oleh Kun<BR>Hong tadi tidak terluka berat, hanya mendapat luka ringan berupa benjolbenjol<BR>dan barut-barut saja. Hal ini adalah karena Kun Hong memang sengaja<BR>tidak mengarah nyawa orang, hanya melakukan tendangan tanpa disertai<BR>tenaga dalam yang dapat mengakibatkan luka hebat. Malah kedua orang<BR>pengeroyoknya tadi, Souw Bu Lai dan Bouw Si Ma, hanya terluka di lengan<BR>kanannya dengan goresan-goresan yang tidak dalam, hanya mengeluarkan<BR>darah akan tetapi ternyata merupakan luka kulit belaka.<BR>Kini melihat betapa Kun Hong sudah roboh, Ching-toanio masih tak mampu<BR>mempertahankan kemarahannya, segera mencabut pedang dan melompat<BR>maju untuk membacok putus leher pemuda buta yang sudah banyak membikin<BR>malu kepadanya itu.<BR>"Tranggg!" Bunga api berpijar saking kerasnya bentrokan pedang ini. "Chingtoania,<BR>tidak boleh kau membunuh Hong-ko!" teriak Loan Ki yang menangkis<BR>pedang Ching-toanio dengan pedangnya sendiri. "Kau boleh bunuh mampus<BR>anakmu si muka hitam, tapi Hong-ko tidak bersalah, kau tidak boleh<BR>membunuhnya."<BR>Ching-toanio memandang dengan mata mendelik. "Dia berani mencemarkan<BR>nama, tampan dan berkepandaian tinggi, tidak gu dan melakukan perbuatan<BR>jina, masih kaubilang dia tidak berdosa?"<BR>"Ihh, kau keliru besar toanio. Hong-ko adalah seorang buta, mana dia bisa<BR>melihat tentang cantik tidaknya wanita? Mana bisa dia mampu menarik hati<BR>wanita? Tentulah anakmu yang tak tahu malu itu yang sengaja menarik hati<BR>dan memikatnya dengan kata-kata halus. Hong-ko memang seorang muda<BR>yang tampan dan berkepandaian tinggi, tidak heran anakmu itu jatuh cinta.<BR>Hong-ko sendiri karena buta mudah saja dipikat, coba dia dapat melihat, apa<BR>dia sudi melayani seorang gadis yang mukanya seperti pantat kuali?"<BR>"Keduanya harus mampus!" Ching-toanio kembali menggerakkan pedangnya,<BR>akan tetapi kembali Loan Ki menangkis, biarpun dua kali tangkisan itu sudah<BR>membuat telapak tangannya lecet-lecet.<BR>"Ching-toanio, apa kau sebagai golongan lebih tua tidak malu? Kau berani<BR>turun tangan karena Hong-ko sudah kurobohkan. Hemm, andaikata aku tidak<BR>merobohkannya dengan totokan tanpa dia menduga, apa kau kira kau akan<BR>mampu bersikap segalak ini terhadapnya? Hi-hik, benar-benar orang di Chingcoa-<BR>to tidak punya sopan santun persilatan!"<BR>Bukan main tajamnya ucapan ini, melebihi tajamnya ujung seribu pedang.<BR>Ching-toanio menjadi pucat mukanya dan menahan pedangnya, matanya<BR>mendelik dan muka yang pucat itu berubah merah, ia adalah seorang kangouw<BR>yang sudah memiliki nama besar, tentu saja sekarang mendengar ucapan ini,<BR>ia tidak ada muka untuk nekat menyerang Kun Hong yang sudah tak berdaya<BR>itu. Semua orang di situ tahu belaka bahwa robohnya Kun Hong si buta itu<BR>adalah karena serangan gelap yang dilakukan Loan Ki, sama sekali bukan<BR>roboh oleh Ching-toanio atau yang lain. Kemarahannya meluap-luap akan<BR>tetapi tertahan sehingga kini kemarahannya ini ditumpahkan kepada Hui Kauw<BR>seorang! Hanya gadis inilah yang dapat menjadi bulan-bulan kemarahannya<BR>tanpa ada seekor setan pun yang berani menghalanginya. Tadipun hanya si<BR>buta itu yang membelanya sekarang setelah si buta roboh, siapa lagi akan<BR>membela anak angkat yang menimbulkan kemarahan dan kebencian ini?<BR>"Anak keparat, kaulah gara-garanya!" Ia menggerakkan pedangnya sambil<BR>melompat ke dekat Hui Kauw yang ternyata sudah sadar dari pingsannya,<BR>akan tetapi karena tubuhnya terluka hebat oleh pukulan-pukulan ibu<BR>angkatnya tadi, ia masih belum dapat bangun. Kini melihat betapa Kun Hong<BR>tak berdaya, rebah dalam keadaan tertotok, hatinya terkejut bukan main.<BR>Timbul kekhawatirannya untuk keselamatan si buta ini, dan sekaligus timbul<BR>ingatannya untuk menolong Kun Hong. Maka begitu melihat sambaran pedang<BR>di tangan ibunya ke arah leher, Hui Kauw menggulingkan tubuhnya. Pedang itu<BR>meluncur menghantam tanah dan gadis itu dengan pengerahan tenaga yang<BR>luar biasa telah dapat bangun dan duduk. Pedang itu, yang dikendalikan<BR>tangan Ching-toanio yang marah mengejar dan menyerang lagi, namun kini<BR>dalam keadaan duduk Hui Kauw lebih mudah mengelak. Semua orang<BR>terheran-heran terutama sekali Ching-toanio dan Hui Siang. Bagaimana<BR>mendadak Hui Kauw yang sudah terluka hebat itu memiliki gerakan-gerakan<BR>aneh sehingga dalam keadaan seperti itu dapat menghindarkan serangan<BR>pedang? Dengan penuh keheranan yang berubah menjadi penasaran dan<BR>malu, Ching-toanio memperhebat penyerangannya, bertubi-tubi mengirim<BR>tusukan dan bacokan ke arah tubuh anak angkatnya.<BR>Akan tetapi, benar-benar terjadi keanehan bagi nyonya galak ini. Hanya<BR>dengan menggerak-gerakkan tubuhnya secara aneh, kadang-kadang rebah<BR>dan ada kalanya meloncat ke atas dan duduk kembali, Hui Kauw dapat<BR>menyelamatkan diri dari semua serangan itu, sungguhpun makin lama<BR>gerakannya makin lemah dan lambat karena memang luka-luka di tubuhnya<BR>sudah parah. Kalau saja tidak sedemikian parah luka-luka di tubuhnya, tentu<BR>dengan kepandaiannya yang dirahasiakan itu ia dapat menyelamatkan diri<BR>dengan mudah.<BR>Sementara itu, tadinya Kun Hong terkejut dan heran, juga maklum bahwa dia<BR>telah dikhianati Loan Ki dan tinggal menanti datangnya maut ketika dia roboh<BR>tertotok oleh Loan Ki tanpa dia dapat mencegahnya karena sebelumnya dia<BR>tidak berjaga lebih dulu dan tidak pernah menduga akan mendapat<BR>penyerangan gelap dari gadis ini. Akan tetapi dasar memang di tubuhnya<BR>sudah terisi hawa murni yang amat kuat, sedangkan tenaga dalamnya adalah<BR>tenaga dalam yang dilatih menurut ilmu silat tinggi yang bersih, maka<BR>pengaruh totokan Loan Ki yang bagi orang lain tentu akan dapat melumpuhkan<BR>sampai berjam-jam itu, ternyata bagi Kun Hong hanya melumpuhkannya<BR>beberapa menit saja! Dengan pengerahan tenaga berulang-ulang, akhirnya<BR>dengan girang Kun Hong dapat membobolkan kemacetan jalan darahnya dan<BR>tenaganya pulih kembali seperti sebelum tertotok.<BR>Kun Hong tidak marah kepada Loan Ki, hanya heran karena dia masih belum<BR>mengerti mengapa gadis lincah itu merobohkannya. Makin besar<BR>keheranannya ketika dia mendengar betapa secara mati-matian Loan Ki<BR>menolongnya daripada serangan-serangan Ching-toanio, malah membelanya<BR>dengan omongan-omongan pedas.<BR>Tentu saja keheranan ke dua ini disertai kegirangan hati bahwa terbukti Loan<BR>Ki tidak memusuhinya, malah melindunginya. Akan tetapi kenapa tadi<BR>menotoknya roboh? Dan bagaimana pula setelah menotok roboh dengan<BR>serangan gelap, sekarang membela dan melindunginya mati-matian pula?<BR>Benar-benar aneh sekali gadis lincah ini, dan Kun Hong merasa seperti<BR>menghadapi sebuah teka-teki yang amat kuat. Dia sengaja berpura-pura tak<BR>berdaya dan membiarkan saja Loan Ki bersitegang dengan Ching-toanio, akan<BR>tetapi ketika mendengar betapa Ching-toanio menyerang Hui Kauw secara<BR>hebat dan membabi buta, Kun Hong tak dapat mengendalikan dirinya lagi dan<BR>tiba-tiba dia meloncat bangun, sekali menggejot tubuh dia telah menyambar<BR>ke arah Ching-toanio.<BR>Ching-toanio mendengar seruan kaget dari semua orang yang tiba-tiba melihat<BR>gerakan Kun Hong yang tadinya lumpuh itu, ketika ia melihat betapa si buta<BR>itu menerjang ke arahnya, ia menjadi marah sekali dan pedangnya memapaki<BR>dengan sebuah tusukan kilat ke arah ulu hati. Dalam penyerangan ini, Chingtoanio<BR>menggunakan semua tenaganya karena ia memang marah sekali dan<BR>ingin menebus kekalahan dan penghinaan-penghinaan yang ia alami tadi.<BR>Sinar pedang di tangan Ching-toanio itu berkelebat menusuk, Kun Hong<BR>miringkan tubuhnya dan....... pedang itu ambles di bagian dada sampai<BR>menembus punggung si buta itu. Terdengar jeritan-jeritan keluar dari mulut<BR>Hui Kauw dan Loan Ki sekaligus. Akan tetapi dua orang nona ini yang merasa<BR>ngeri dan kaget sekali, tidak berusaha untuk maju menolong karena mereka<BR>kini, seperti yang lain-lain, berdiri bengong penuh keheranan.<BR>Biasanya kalau orang terkena tusukan pedang, apalagi sampai menembus<BR>punggung, tentu akan mengeluh, atau roboh, setidak-tidaknya darah tentu<BR>akan mengalir ke luar. Akan tetapi si buta ini lain lagi reaksinya. Dia berdiri<BR>tegak dengan pedang lawan masih menancap di bagian pinggir dada, mulutnya<BR>tersenyum, sikapnya tenang dan tidak ada setetes pun darah mengalir ke luar.<BR>Ching-toanio mengerahkan tenaganya menarik ke luar pedangnya dan.......<BR>tiba-tiba ia terhuyung ke belakang dan mukanya menjadi pucat. Pedang itu<BR>tinggal gagangnya saja, selebihnya masih "menancap" di dada Kun Hong.<BR>Ketika pemuda buta itu menggerakkan lengan kanan, terdengar suara "krekk!"<BR>dan jatuhlah sebatang pedang tanpa gagang, sudah patah menjadi tiga<BR>potong! Kiranya pemuda itu bukan tertusuk pedang, melainkan senjata itu<BR>ketika tadi menusuk ulu hatinya dia miringkan tubuh dan secara cepat dan<BR>lihai sekali sampai dapat mengelabui mata banyak orang-orang pandai, dia<BR>berhasil menjepit pedang itu di bawah ketiaknya!<BR>Kun Hong tidak perdulikan lagi Ching-toanio yang masih bengong keheranan,<BR>dia menghampiri Hui Kauw, membungkuk dan sekali bergerak gadis itu telah<BR>dipondongnya lagi.<BR>"Saudara Kwa........ jangan........ kau lepaskanlah aku ......." Hui Kauw berkata<BR>lemah, hatinya tidak karuan rasanya dan ia merasa amat malu dipondong oleh<BR>seorang laki-laki muda, biarpun buta, di depan banyak orang itu.<BR>"Sshhh, diamlah, Nona. Kau tidak boleh banyak bergerak, kau tidak boleh<BR>mengeluarkan suara dan tenaga....... lukamu hebat....... kurasa sedikitnya<BR>sebuah tulang rusukmu patah, jantungmu tergoncang, hawa beracun telah<BR>memasuki darah, aku harus mengobatimu, jangan kau banyak bergerak, kau<BR>menurutlah saja....."<BR>Pada saat itu ada angin menyambar dari depan dan suara yang hampir tak<BR>dapat ditangkap pendengaran Kun Hong menunjukkan betapa orang yang<BR>meloncat dan turun di depan Kun Hong benar-benar memiliki kepandaian yang<BR>amat tinggi tingkatnya. Kun Hong maklum akan hal ini, dia bersiap-siap sambil<BR>memondong Hui Kauw, keningnya berkerut karena dia benar-benar merasa<BR>serba susah bagaimana harus melindungi gadis ini dari ancaman sekian<BR>banyaknya orang pandai.<BR>Pada saat itu terdengar suara Hui Kauw mengeluh panjang dan tubuh gadis itu<BR>menjadi lemas, kiranya gadis ini kembali jatuh pingsan setelah tadi<BR>mengeluarkan banyak tenaga dalam menghadapi ibu angkatnya untuk<BR>mengelak dari bahaya maut. Kun Hong merasa lega.<BR>Dengan pingsannya gadis ini, akan lebih leluasa baginya untuk bergerak, dapat<BR>dia mengempit tubuh itu tanpa sungkan-sungkan dan tidak akan<BR>mendatangkan rasa malu kepada gadis itu. Dia cepat mengubah caranya<BR>memondong tubuh Hui Kauw, kini dia menggunakan lengan kirinya memeluk<BR>pinggang gadis yang pingsan itu dan mengempitnya. Tangan kanannya yang<BR>memegang tongkat siap menghadapi serbuan lawan.<BR>Terdengar oleh Kun Hong suara yang tenang dan berat, suara yang<BR>mengandung tenaga dalam yang hebat, "Omitohud, pinceng sebetulnya harus<BR>malu menghadapi seorang pemuda yang tak dapat melihat lagi. Orang muda,<BR>kau benar-benar hebat sekali. Kelihaianmu telah mengalahkan banyak orang<BR>pandai membuat pinceng mengesampingkan rasa malu dan ingin pinceng<BR>mencoba kehebatan kepandaianmu yang aneh. Akan tetapi sebelumnya<BR>pinceng ingin sekali tahu, siapakah gurumu yang mewariskan ilmu-ilmu aneh<BR>ini kepadamu?"<BR>Kun Hong kaget dan maklum bahwa yang berada di depannya adalah seorang<BR>hwesio yang berilmu tinggi. Cepat dia menjura dan menjawab,<BR>"Syukurlah bahwa di sini terdapat Lo-suhu yang saya percaya memiliki<BR>pertimbangan adil dan pemandangan yang luas. Lo-suhu, tentang riwayat saya<BR>bukanlah hal penting malah tidak berharga untuk didengar oleh orang lain. Losuhu,<BR>kedatangan saya ini sesungguhnya sama sekali bukan ingin bermusuhan<BR>atau berkelahi, maka harap Lo-suhu sudi melimpahkan kemurahan hati dan<BR>dapat menghentikan perkelahian-perkelahian yang tidak saya kehendaki ini.<BR>Terhadap seorang suci seperti Lo-suhu, mana berani saya yang muda dan<BR>bodoh berlaku kurang ajar?"<BR>Pendeta itu tertawa bergelak dan Kun Hong tentu saja tidak tahu betapa<BR>hwesio ini dengan kedipan matanya memberi isyarat kepada orang-orang yang<BR>berada di situ. Kemudian bertanya, "Orang muda, biarpun matamu buta tapi<BR>hatimu melek. Tentu saja pinceng tidak mau memaksa kalau kau tidak<BR>menghendaki perkelahian. Akan tetapi kau datang di sini menimbulkan<BR>keributan, apa sih yang kau inginkan sekarang?"<BR>"Maaf, Lo-suhu. Sama sekali saya tidak bermaksud mengadakan keributan.<BR>Semua yang dilontarkan kepada saya dan nona Hui Kauw ini adalah fitnah<BR>belaka. Tidak ada yang saya kehendaki kecuali agar orang tidak membunuh<BR>nona Hui Kauw, membiarkan saya mengobatinya sampai sembuh kemudian<BR>memberi kebebasan kepada saya dan nona Loan Ki untuk meninggalkan pulau<BR>ini dengan aman."<BR>Kembali Ka Chong Hoatsu mengedipkan matanya kepada Ching-toanio dan<BR>yang lain-lain, kemudian dia tertawa lagi. "Omitohud, kiranya sahabat muda<BR>yang lihai pandai pula ilmu pengobatan. Nona itu kulihat amat berat luka-luka<BR>akibat pukulan, sanggupkah kau menyembuhkannya?"<BR>"Jika Thian menghendaki, tentu dapat. Saya yang buta sedikit banyak tahu<BR>akan ilmu pengobatan."<BR>"Hwesio tua, jangan kau pandang rendah kepadanya. Orang sakit apa pun<BR>juga asal belum mampus tentu dapat dia menyembuhkan. Dia adalah murid<BR>Toat-beng Yok-mo, masa tidak bisa mengobati?"<BR>Ucapan Loan Ki ini membuat Kun Hong mengerutkan kening dan dia tidak tahu<BR>bahwa gadis nakal itu tentu pernah mendengar dia menyebut nama Toat-beng<BR>Yok-mo, kalau tidak salah ketika dia mengobati orang-orang Hui-houw-pang di<BR>mana gadis itu diam-diam sudah lama bersembunyi dan mengintai. Tidak<BR>hanya Kun Hong yang mengerutkan kening, bahkan semua orang di situ,<BR>terutama sekali Ka Chong Hoatsu, menjadi heran dan kaget sekali. Tentu saja<BR>semua orang pernah mendengar nama Toat-beng Yok-mo (Setan Obat<BR>Pencabut Nyawa), siapa orangnya belum pernah mendengar nama tabib iblis<BR>yang amat pandai mengobati, akan tetapi selalu membunuh orang yang telah<BR>diobatinya sampai sembuh itu (baca Raja Pedang dan Rajawali Emas)?<BR>Seketika pandangan mereka terhadap Kun Hong berubah, karena boleh<BR>dibilang Toat-beng Yok-mo adalah orang "segolongan" dengan mereka.<BR>"Omitohud! Betulkah kau murid Yok-mo, orang muda?" Ka Chong Hoatsu<BR>akhirnya bertanya.<BR>Kun Hong adalah seorang yang jujur dan tak suka membohong, maka dengan<BR>suara biasa dia menjawab, "Diangkat murid sih tidak, akan tetapi mendiang<BR>Yok-mo pernah memberi ijin kepadaku untuk membaca kitab-kitabnya tentang<BR>pengobatan, entah hal ini boleh dianggap saya sebagai muridnya ataukah tidak<BR>terserah."<BR>"Oho!" Ka Chong Hoatsu kembali memberi isyarat kepada yang lain, maju ke<BR>depan dan menyentuh pundak Kun Hong. "Kiranya kau masih orang sendiri!<BR>Kwa-sicu, kalau begitu tidak ada urusan lagi di antara kita dan soal<BR>pertempuran tadi kita anggap saja sebagai kunci perkenalan. Ching-toanio,<BR>pinceng harap kau sudi menghabiskan urusan dan biarlah diberi tempat untuk<BR>Kwa-sicu mengobati puterimu."<BR>Kun Hong menjadi melengak ketika urusan berbalik secara demikian. Semua<BR>orang, termasuk Hui Siang gadis yang galak itu, mengucapkan maaf<BR>kepadanya, juga Bouw Si Ma, Pangeran Souw Bu Lai, dan Ching-toanio. Malah<BR>terdengar suara Ngo Kui Ciau, orang pertama dari Ang Hwa Sam-cimoi yang<BR>bersuara kecil melengking,<BR>"Pantas saja lihai, kiranya murid si tua bangka Yok-mo. Hi-hik, tak perlu ributribut,<BR>biar buta amat tampan dan gagah, lagi lihai dan murid Yok-mo. Toa-nio,<BR>kurasa pantas dia menjadi mantumu, hi-hik!"<BR>Mendongkol sekali Kun Hong, akan tetapi juga wajahnya berubah merah tanpa<BR>dapat dia cegah, karena mendengar ucapan seperti itu, entah mengapa,<BR>jantungnya berdebar tidak karuan. Dia tidak banyak bicara dan menurut saja<BR>ketika dia diajak ke dalam bangunan itu yang untuk sementara diserahkan<BR>kepadanya sebagai tempat mengobati Hui Kauw.<BR>"Tidak lama...... tidak lama......." katanya gugup. "Sebentar saja kupulihkan<BR>kedudukan urat-uratnya, kusambung tulangnya dan kubersihkan hawa<BR>beracun yang menyerangnya. Besok ia sudah pulih kembali, hanya tinggal<BR>memperkuat pertumbuhan tulang yang disambung. Aku tidak bisa lama-lama<BR>tinggal di sini dan akan segera keluar dari pulau bersama nona Loan Ki."<BR>Dia merasa heran sekali mengapa Loan Ki diam saja, tidak ada suaranya sama<BR>sekali. Dia tidak melihat betapa nona ini biarpun berada pula di situ, mukanya<BR>murung dan cemberut terus. Pangeran Souw Bu Lai yang beberapa kali<BR>berusaha memikatnya dengan omongan-omongan manis, tidak diacuhkan<BR>sama sekali. Akhirnya pangeran itu bosan sendiri dan nampak mendekati Hui<BR>Siang, bercakap-cakap gembira dan disambut manis oleh nona cantik jelita<BR>yang galak itu.<BR>Orang-orang menjadi kagum menyaksikan cara Kun Hong mengobati Hui<BR>Kauw. Dengan tusukan-tusukan jarum perak dia dapat memulihkan kesehatan<BR>nona ini, mengusir ke luar hawa beracun akibat pukulan-pukulan Ching-toanio<BR>yang ampuh. Kemudian dia minta semua orang laki-laki keluar dari kamar<BR>karena dia hendak mulai menyambung tulang, dan untuk keperluan ini<BR>terpaksa baju nona Hui Kauw harus dibuka. Hanya Ching-toanio, Loan Ki, Ang<BR>Hwa Sam-cimoi, Hui Siang dan tiga orang pelayan wanita yang masih berada<BR>di kamar. Biarpun maklum di situ terdapat banyak orang pula yang<BR>menyaksikan, tangan Kun Hong sedikit gemetar juga ketika. dia meraba kulit<BR>dada dan punggung yang halus pada waktu dia menyambung tulang iga yang<BR>patah!<BR>Setengah hari dia bekerja keras dan akhirnya dia selesai, lalu duduk bersila<BR>dan menempelkan kedua tangannya ke pundak Hui Kauw dekat leher untuk<BR>menyalurkan hawa murni ke dalam tubuh nona itu dan membantunya sekuat<BR>tenaga. Sejam dia melakukan ini dan mulailah pernapasan nona itu normal<BR>kembali dan mukanya menjadi merah sehat. Pada saat itu Ching-toanio<BR>memberi isyarat kepada semua orang untuk meninggalkan kamar itu. Loan Ki<BR>tadinya hendak tinggal di situ, akan tetapi Ching-toanio berkata lirih,<BR>"Nona Tan, setelah sekarang kita menjadi sahabat, perlu kita bicara tentang<BR>urusan yang juga menyangkut ayahmu. Marilah, biar Kwa-sicu mengaso,<BR>kulihat Hui Kauw sudah sembuh kembali."<BR>Tak enak juga hati Loan Ki untuk membandel. Ia mengerling dengan mata<BR>ragu ke arah Kun Hong yang masih duduk bersila, lalu sinar matanya<BR>menyambar seperti kilat ke arah muka Hui Kauw yang hitam, setelah itu ia<BR>mendengus marah dan ikut keluar pula.<BR>Jilid 8 : bagian 2<BR>Kamar itu sunyi. Suara orang-orang di luar bercakap-cakap tidak dapat<BR>terdengar jelas karena daun pintu kamar itu ditutup dari luar. Kun Hong<BR>melepaskan kedua telapak tangannya dari pundak nona itu, lalu dengan<BR>perlahan dia mengurut jalan darah di punggung dan belakang leher. Terdengar<BR>nona ini mengerang perlahan. Kun Hong cepat menarik kembali tangannya dan<BR>melompat turun dari pembaringan, berdiri menanti.<BR>"Uuuhhh, panas......." nona itu merintih.<BR>"Tidak apa, Nona. Hawa panas itu kau perlukan untuk mendorong peredaran<BR>darah di tubuhmu sehingga engkau akan menjadi sembuh benar-benar."<BR>Hui Kauw membuka matanya, kaget melihat betapa tubuhnya bagian atas tak<BR>berbaju, apalagi melihat Kun Hong berdiri di situ dengan kepala tunduk. Ia<BR>cepat bangun dan menyambar bajunya yang berada di dekatnya, terus<BR>digunakan untuk menutupi tubuhnya.<BR>"Bagaimana ini....... apa yang terjadi....... kau kenapa berada di sini.......?"<BR>pertanyaan yang terputus-putus ini diajukan dengan suara gemetar. Kun Hong<BR>dapat menangkap perasaan sedih, malu dan terhina dalam suara itu, maka dia<BR>membungkuk dengan hormat, berkata,<BR>"Kau menderita luka-luka, aku berusaha mengobatimu, disaksikan oleh<BR>keluargamu, Nona. Sekarang kau sudah selamat, perkenankan aku keluar dari<BR>tempat ini." Tanpa menanti jawaban, dengan cepat Kun Hong lalu melangkah<BR>ke arah pintu, membuka daun pintu dan keluar dari situ.<BR>Ka Chong Hoatsu sendiri menyambutnya. "Bagaimana Kwa-sicu, berhasilkan<BR>usahamu?"<BR>"Dengan berkah Thian ia dapat pulih kembali kesehatannya," jawab Kun Hong<BR>sederhana. Ching-toanio lalu berlari memasuki kamar dan Kun Hong masih<BR>mendengar suaranya, "Aduh, kasihan anakku......." Kun Hong mengerutkan<BR>kening.<BR>Suara Ching-toanio ini adalah suara palsu. Hemm, akan berbuat apa lagikah<BR>wanita majikan pulau ini yang sama jahat dan palsunya dengan ular-ular<BR>hijaunya yang berbisa? Bukan urusanku, pikirnya, aku harus segera pergi dari<BR>tempat ini.<BR>"Ki-moi, hayo kita pergi ......."<BR>Tidak ada jawaban.<BR>"Di mana nona Loan Ki?" tanyanya kepada Ka Chong Hoatsu. Hwesio tua itu<BR>tertawa.<BR>"Semua orang termasuk sahabatmu itu berkumpul di ruangan sembahyang.<BR>Mari, Kwa-sicu, karena pada saat ini kau pun menjadi seorang tamu<BR>terhormat, kau pun dipersilahkan ikut berpesta sambil ikut merayakan<BR>pelepasan perkabungan keluarga Ching-toanio."<BR>"Pesta apa? Sembahyangan apa?" Kun Hong tak mengerti.<BR>"Suaminya meninggal tiga setengah tahun yang lalu dan hari ini kebetulan<BR>diadakan sembahyangan lalu diadakan sedikit pesta untuk merayakan<BR>pelepasan perkabungan ibu dan kedua anak."<BR>"Maaf, Lo-suhu, aku....... aku akan pergi saja. Tolong kau panggilkan nona Tan<BR>Loan Ki......."<BR>"Ha-ha-ha, Kwa-sicu, apakah kau seorang yang sudah banyak merantau di<BR>dunia kangouw, tidak mau mengindahkan peraturan? Kau dianggap tamu<BR>terhormat, keluarga Ching-toanio ingin menyampaikan terima kasih, dan di<BR>sini sedang dilakukan upacara sembahyangan pula. Masa kau akan pergi<BR>begitu saja?"<BR>Kun Hong menarik napas panjang. Memang betul juga ucapan hwesio itu.<BR>Apalagi Loan Ki agaknya sudah berbaik dengan orang-orang itu, maka dia<BR>terpaksa mengangguk lemah. "Baiklah, setelah sembahyang aku akan<BR>mengajak Loan Ki segera pergi. Tak usah berpesta, makanan dan arak yang<BR>dicuri Loan Ki dari sini sudah cukup mengakibatkan heboh!"<BR>Hwesio itu tertawa lalu berjalan, sengaja memberatkan kakinya agar mudah<BR>diikuti oleh Kun Hong yang perjalan di belakangnya sambil meraba jalan<BR>dengan tongkatnya. Kiranya tidak jauh dari situ mereka sudah tiba di tempat<BR>yang dimaksudkan. Sebuah bangunan yang agak besar dan telinga Kun Hong<BR>menangkap suara banyak sekali orang di situ, banyak suara wanita dan<BR>agaknya orang-orang pada sibuk bekerja, mungkin mengatur meja<BR>sembahyangan karena dia mendengar suara mangkuk-mangkuk ditaruh di<BR>atas meja dan tercium bau lilin besar dinyalakan di samping dupa harum<BR>memenuhi ruangan itu. Dia segera duduk di atas sebuah kursi yang sudah<BR>disediakan untuknya. Karena tempat itu ramai dengar suara orang, dia tidak<BR>dapat tahu apakah Loan Ki berada di situ ataukah tidak, untuk bertanya dia<BR>merasa kurang enak. Tentu saja dia tidak dapat melihat betapa di sudut<BR>ruangan itu Loan Ki duduk menyendiri dengan muka pucat dan sepasang mata<BR>gadis itu memandang ke arahnya dengan melotot penuh kemarahan!<BR>Dugaannya memang benar. Di tempat itu selain orang-orang kosen yang telah<BR>disebutkan tadi berkumpul, makan minum sambil tertawa-tawa di ruangan itu<BR>bagian tengah, juga di situ terdapat belasan orang pelayan wanita berpakaian<BR>serba indah sedang mengatur meja sembahyangan yang besar dan megah.<BR>Dua batang lilin naga berwarna merah dinyalakan di atas meja sembahyangan<BR>yang dihias seperti meja sembahyangan pengantin saja!<BR>Kemudian terdengar suara Ka Chong Hoatsu berkata kepadanya, "Kwa-sicu,<BR>silakan kau melakukan sembahyang untuk menghormat abu jenazah mendiang<BR>suami Ching-toanio." Pendeta itu menyerahkan beberapa batang hio (dupa<BR>batang) kepada Kun Hong. Pemuda buta ini bingung, akan tetapi merasa tidak<BR>enak untuk menolak. Penghormatan kepada abu jenazah merupakan syarat<BR>kesopanan yang tak mungkin ditolak. Dia menurut saja ketika dituntun ke<BR>depan meja sembahyang.<BR>"Bersembahyang di depan abu jenazah seorang yang tinggi tingkatnya, harus<BR>berlutut,"' Ka Chong Hoatsu berbisik dan Kun Hong yang pada dasarnya<BR>berwatak sopan dan suka merendahkan diri, kali ini juga tidak membantah,<BR>lalu berlutut, menyelipkan tongkat di pinggang dan memegangi batang-batang<BR>hio itu di antara tangannya.<BR>Pada saat itu dia mendengar suara banyak kaki secara halus melangkah<BR>datang. Di sana sini terdengar suara wanita tertawa tertahan, kemudian dia<BR>mendengar suara orang berlutut di samping kirinya. Lalu kagetlah dia ketika<BR>dia mencium bau harum yang sudah amat dikenalnya, keharuman yang sama<BR>benar dengan ganda yang diciumnya ketika dia mengobati Hui Kauw di dalam<BR>kamar tadi. Tak dapat diragukan lagi, Hui Kauw tentu orangnya yang sekarang<BR>berlutut di sebelah kirinya! Apa artinya ini? Kenapa ia harus bersembahyang di<BR>depan abu jenazah itu berdampingan dengan Hui Kauw? Dia ragu-ragu dan<BR>menahan diri, tidak segera bersembahyang. Pada saat itu, di antara suara<BR>hiruk-pikuk para pelayan, ia mendengar suara Loan Ki, penuh ejekan, penuh<BR>kebencian.<BR>"Hah, yang laki buta, yang perempuan bermuka hitam. Belum pernah selama<BR>hidupku melihat sepasang pengantin begini buruk!"<BR>Kun Hong kaget setengah mati, tangan kirinya bergerak meraba dan....... dia<BR>mendapat kenyataan bahwa Hui Kauw memakai pakaian pengantin, dengan<BR>muka berkerudung!<BR>"Apa artinya ini?" Dia berseru dan bangkit berdiri membuang hionya ke<BR>samping.<BR>Tiba-tiba sebuah tangan yang kuat menekan pundaknya, jari-jari tangan yang<BR>amat kuat itu mencengkeram jalan darahnya di pundak yang mengancam,<BR>karena begitu diremas dia akan menjadi lumpuh! Lalu terdengar bisikan suara<BR>Ka Chong Hoatsu,<BR>"Orang she Kwa, jangan menolak! Kau telah mencemarkan nama baik nona<BR>Giam Hui Kauw, kau malah telah mengobatinya sampai sembuh. Untuk<BR>membalas budimu, dan untuk membersihkan namanya, kau sudah dipilih<BR>menjadi suami yang sah. Nona Hui Kauw sendiri sudah setuju. Bagaimana kau<BR>dapat menolaknya?"<BR>Muka Kun Hong sebentar merah sebentar pucat. Dia tidak mengerti bagaimana<BR>urusan berbalik menjadi begini. Dia memang suka kepada Hui Kauw, suka dan<BR>menaruh simpati besar, juga amat berkasihan menghadapi nasib buruk nona<BR>bersuara bidadari ini. Baru suaranya saja sudah mampu merampas rasa kasih<BR>sayangnya. Akan tetapi tentu saja dia tidak mau dijodohkan secara begini,<BR>secara paksa dan tiba-tiba. Juga, di lubuk hatinya tidak ada sedikit pun niat<BR>untuk menikah dengan wanita lain setelah dia kehilangan Cui Bi. Seorang buta<BR>seperti dia mana mampu mendatangkan kebahagiaan kepada seorang isteri?<BR>"Tidak........ tidak.......! Aku bukan boneka yang boleh kalian permainkan<BR>begitu saja! Aku seorang manusia!" bantahnya, tidak perduli betapa tekanan<BR>pada pundaknya makin menghebat yang berarti hwesio itu memperhebat pula<BR>ancamannya.<BR>"Orang she Kwa, kau tidak boleh menolak! Tidak ada pilihan lain bagimu,<BR>menerima dan menjadi mantu Ching-toanio untuk membersihkan nama baik<BR>nona Hui Kauw yang kau cemarkan kemudian membantu semua usaha kita<BR>bersama, atau kau harus mati sekarang juga!" Kemudian dengan suara lebih<BR>perlahan di dekat telinga Kun Hong, "Bocah tolol, tak usah kau berpura-pura.<BR>Kau mencinta ia, bukan? Nah, apalagi soalnya?"<BR>"Tidak! Sekali lagi tidak. Tak sudi aku dijadikan begini.......!" Kun Hong<BR>berteriak lagi dengan marah sekali, seluruh urat di tubuhnya sudah menegang<BR>untuk melakukan perlawanan. Akan tetapi terpaksa dia menahan<BR>kemarahannya karena ancaman pada jalan darah di pundaknya itu benarbenar<BR>berbahaya sekali.<BR>Tiba-tiba Hui Kauw yang berlutut di sampingnya itu terisak-isak menangis, lalu<BR>terdengar gadis itu menjerit tinggi satu kali, disusul kata-kata yang<BR>memilukan, "Ya Tuhan........ apa dosaku sehingga kalian menghina aku begini<BR>rupa?" Setelah itu, cepat laksana kilat gadis ini menerjang ke kanan<BR>menyerang Ka Chong Hoatsu dengan pedangnya yang tadi ia sembunyikan di<BR>balik pakaian pengantin yang longgar. Kini kerudung kepalanya sudah dibuka<BR>dan wajahnya yang berkulit hitam itu jelas nampak agak pucat dan basah air<BR>mata.<BR>Serangan ini hebat bukan main karena Hui Kauw mempergunakan jurus<BR>daripada ilmu pedangnya yang ia rahasiakan. Ka Chong Hoatsu adalah seorang<BR>tokoh besar yang amat lihai, namun dia terkesiap juga menghadapi serangan<BR>luar biasa ini, yang bagaikan halilintar menyambar ke arah dadanya. Terpaksa<BR>dia melepaskan cengkeramannya pada pundak Kun Hong dan berjungkir balik<BR>ke belakang sambil mengibaskan ujung lengan bajunya yang panjang. Hampir<BR>terpental lepas pedang di tangan Hui Kauw ketika dikebut oleh ujung lengan<BR>baju ini, Akan tetapi Hui Kauw tidak menyerang terus, melainkan terisak-isak<BR>dan meloncat jauh, berlari sambil menangis lenyap dalam gerombolan pohon<BR>di hutan. Dari jauh masih terdengar suara tangisnya yang kian menghilang.<BR>Kun Hong bersyukur sekali. Dia maklum bahwa gadis itu tadi menyerang Ka<BR>Chong Hoatsu dengan maksud menolongnya terlepas daripada cengkeraman<BR>yang membuat dia tidak berdaya. Pada saat itu terdengar Loan Ki berseru.<BR>"Bagus, Hong-ko. Jangan takut, aku bantu kau!" Dan gadis ini pun sudah<BR>meloncat ke tengah ruangan itu, di depan meja sembahyang, berdiri tegak<BR>dengan pedang di tangan di sebelah Kun Hong!<BR>Kembali Kun Hong melengak heran. Bagaimana sih gadis lincah ini? Sebentar<BR>membantunya, sebentar mencelakainya, kadang-kadang membelanya, ada<BR>kalanya mengkhianatinya. Tadi baru saja mencemooh dan dengan ucapan<BR>mengandung suara menghina telah mengejeknya, tetapi sekarang suaranya<BR>berbeda sekali ketika menyebut "Hong-ko" dan sekarang malah siap<BR>membantunya. Dia benar-benar bingung, apalagi mengingat perbuatan Hui<BR>Kauw tadi. Kenapa gadis yang sudah dapat dia kenal watak perangainya yang<BR>halus dan murni itu mau saja disuruh bersembahyang sebagai pengantin<BR>dengannya, kemudian kenapa pula gadis itu menangis sedih dan malah<BR>menerjang Ka Chong Hoatsu untuk menolongnya, setelah itu malah melarikan<BR>diri? Benar-benar dia tidak mengerti akan sikap gadis-gadis ini. Akan tetapi dia<BR>juga merasa khawatir sekali. Dia maklum betapa lihainya orang-orang di pulau<BR>ini dan kepandaian Loan Ki masih jauh daripada cukup untuk menghadapi<BR>mereka. Dia sendiri pun belum tentu akan dapat menangkan mereka yang<BR>lihai-lihai itu, apalagi Ka Chong Hoatsu si hwesio tua yang tadi mencengkeram<BR>pundaknya. Andaikata Hui Kauw tidak lari dan mau membantunya, gadis<BR>bersuara bidadari itu memiliki kepandaian hebat dan boleh diandalkan. Tadi<BR>saja dengan sekali gebrakan, sejurus serangan gadis itu telah mampu<BR>memaksa Ka Chong Hoatsu melepaskan cengkeramannya.<BR>"Orang muda, kau benar-benar sombong. Orang telah memperlakukan kau<BR>dengan baik, sungguhpun kau telah menimbulkan keributan. Kau dimaafkan,<BR>malah kelakuanmu yang merusak dan mencemarkan nama baik seorang gadis<BR>telah dimaafkan, sebaliknya daripada dihukum, kau malah diangkat menjadi<BR>mantu. Akan tetapi dengan sombong kau menolak, ini bukan saja merupakan<BR>penghinaan terhadap nyonya rumah, akan tetapi juga kau telah<BR>menghancurkan perasaan seorang gadis dan kau telah menghina pinceng<BR>(aku) pula yang bertindak sebagai perantara! Dosamu bertumpuk dan<BR>sekarang pinceng takkan sudi lagi memandang kebutaan matamu atau wajah<BR>mendiang gurumu, Yok-mo."<BR>Kun Hong melangkah maju, sengaja agar Loan Ki berada di belakangnya untuk<BR>menjaga kalau hwesio yang lihai itu mengirim serangan, jangan sampai Loan<BR>Ki menjadi korban. Kemudian dia tersenyum sinis dan menegur,<BR>"Lo-suhu, kalau aku tidak salah menduga, kau adalah seorang hwesio,<BR>pemeluk Agama Buddha yang luhur dan mulia. Lo-suhu, lupakah kau akan<BR>ajaran-ajaran suci dalam kitab-kitab Buddha? Lupakah kau akan ayat-ayat<BR>dalam kitab misalnya Dhammapada yang mengingatkan manusia sewaktu<BR>hidup akan segala maksiat yang akan merugikan diri sendiri?" Sampai di sini<BR>Kun Hong lalu mendongak dan suaranya yang nyaring itu melagukan nyanyian<BR>yang merupakan doa dari kitab Agama Buddha.<BR>"Dia yang dapat menahan kemarahan, seperti seorang menahan kaburnya<BR>kereta, dialah patut disebut seorang kusir sejati.<BR>Kalahkan amarah dengan kasih, tundukkan kejahatan dengan kebajikan,<BR>kerakusan dengan kerelaan, dan kebohongan dengan kebenaran."<BR>Sampai di sini Ka Chong Hoatsu sudah tertawa bergelak sehingga Kun Hong<BR>menghentikan nyanyiannya. "Ha-ha-ha-ha, bocah buta masih ingusan, kau<BR>berani mengajar pinceng tentang ayat kitab Dhammapada? Ha-ha-ha, seperti<BR>orang mengajar ikan tentang renang!"<BR>"Kalau perlu boleh saja, Lo-suhu, Sungguhpun ikan pandai berenang, kadangkadang<BR>dia akan tersesat dan tertarik oleh kemilaunya kotoran-kotoran di<BR>permukaan air sehingga tanpa disadari ikan itu akan berenang menentang<BR>arus dan menemui kehancurannya."<BR>"Huh, bocah she Kwa. Agaknya kau mengandalkan kepandaianmu untuk<BR>bersikap sombong dan kurang ajar di depan pinceng. Hemm, bocah buta, Yokmo<BR>sendiri yang kau sebut sebagai gurumu masih tidak berani memandang<BR>rendah kepada pinceng. Majulah dan coba perlihatkan kepandaianmu!"<BR>Akan tetapi Kun Hong tidak bergerak. "Lo-suhu, aku tidak ingin berkelahi<BR>dengan siapa pun juga......."<BR>"Ha, kau jerih kepada Ka Chong Ho-atsu?" hwesio itu mengejek.<BR>"Aku pun tidak jerih atau takut kepada siapa pun juga."<BR>"Kalau begitu majulah, hayo perlihatkan kepandaianmu!"<BR>"Lo-suhu, aku tidak ingin berkelahi, hanya ingin supaya aku dan nona ini<BR>diperbolehkan pergi dengan aman. Kami tidak bermaksud mengganggu kalian<BR>penghuni pulau ini......."<BR>"Tai-su, mengapa berdebat dengan setan kurang ajar itu? Tolong kau tangkap<BR>dia untukku, biar puas aku memberi hukuman kepadanya!" kata Ching-toanio<BR>dengan suara gemas.<BR>"Bocah Kwa, lihat tongkat!" bentak Ka Chong Hoatsu dan Kun Hong cepat<BR>mendorong Loan Ki ke belakang agak jauh karena dia mendengar sambaran<BR>angin yang dahsyat sekali menyambar ke arahnya. Bukan main hebatnya<BR>serangan ini dan Kun Hong memusatkan pikiran dan perasaannya,<BR>mengumpulkan hawa murni dan tenaga dalam di tubuhnya. Dia tahu bahwa<BR>angin dahsyat itu menyembunyikan tongkat yang menyambar ke arah<BR>pinggangnya. Sengaja dia memperlambat gerakannya dan begitu tongkat itu<BR>sudah menyambar dekat, dengan pengerahan ginkang (ilmu meringankan<BR>tubuh) dia meloncat ke atas. Tongkat itu mendesing di bawah kakinya, tak<BR>lebih dari sepuluh senti jaraknya, namun angin pukulan tongkat itu telah<BR>membuat Kun Hong seperti didorong dari bawah sehingga tubuhnya mumbul<BR>lagi belasan senti tingginya. Dia makin kagum dan maklum bahwa kali ini dia<BR>menghadapi seorang lawan yang luar biasa tangguhnya, malah mungkin tidak<BR>kalah lihai kalau dibandingkan dengan lawan yang paling ampuh yang pernah<BR>dihadapinya, yaitu tiga tahun yang lalu di puncak Thai-san, si tua bangka Pak<BR>Thian Lo-cu, guru dari Si Tangan Maut Bouw Si Ma, orang Mancu yang<BR>sekarang hadir di sini.<BR>Kekaguman tidak hanya berada di fihak Kun Hong. Juga Ka Chong Hoatsu<BR>kagum bukan main. Cara pemuda buta itu menghadapi serangannya tadi<BR>benar-benar di luar dugaannya, dan cara ini sekaligus membingungkannya<BR>karena sama sekali bukan ilmu silat seperti yang pernah dia lihat dimainkan<BR>oleh Bu Beng Cu. Memang, Kun Hong tadi tidak menggunakan Kim-tiauw-kun<BR>dalam menghadapi penyerangan ini, melainkan mempergunakan sebuah jurus<BR>pertahanan dari Ilmu Silat Im-yang-kun-hoat yang dia terima dari Si Raja<BR>Pedang Tan Beng San.<BR>Jurus tadi lewat cepat sekali seperti menyambarnya halilintar. Kini Kun Hong<BR>sudah berdiri tegak, kaki kanan ditekuk dengan ujung berdiri dan tumit<BR>menempel di kaki kiri, tangan kanan yang memegang tongkat ditaruh di depan<BR>dada dan tongkatnya tegak lurus ke atas menempel ujung hidung, tangan kiri<BR>dengan jari-jari terbuka lurus ke depan seperti menunjuk, seluruh tubuh tak<BR>bergerak, semua urat dalam tubuh menegap segenap perhatian dicurahkan ke<BR>depan dan sekelilingnya dalam sikap menjaga diri.<BR>Ka Chong Hoatsu juga memasang kuda-kuda, akan tetapi dia meragu, tidak<BR>segera menjatuhkan serangannya. Betapapun juga, dia masih sungkan untuk<BR>menyerang secara sungguh-sungguh. Dia adalah seorang yang memiliki<BR>kedudukan besar dan dipandang tinggi di utara, sejajar dengan Pak Thian Locu,<BR>hanya kalau Pak Thian Lo-cu menganut aliran Agama To adalah dia<BR>merupakan wakil dari golongan Buddha. Sudah jauh dia merantau, bahkan<BR>belasan tahun dia berada di India. Semenjak pulang dari India, dia makin<BR>dipandang dan merupakan orang yang paling berkuasa di samping kepala suku<BR>di antara bangsanya, yaitu Bangsa Mongol yang sudah kalah perang dan<BR>kehilangan kedudukan itu.<BR>Malah dia merupakan orang yang dipilih untuk mendidik Pangeran Souw Bu Lai<BR>yang dipandang menjadi seorang bangsawan yang mempunyai harapan untuk<BR>merampas kembali kerajaan yang hilang. Kedudukannya demikian besar dan<BR>tinggi, masa sekarang dia harus menggunakan kepandaiannya untuk<BR>bertempur sungguh-sungguh melawan seorang pemuda yang usianya dua<BR>puluh lima tahun paling banyak, yang buta kedua matanya lagi? Inilah yang<BR>membuat Ka Chong Hoatsu ragu-ragu karena dalam pertempuran ini, kalau dia<BR>menang takkan berarti apa-apa akan tetapi kalau sampai kalah namanya akan<BR>hancur luluh sekaligus! Dan dia pun maklum bahwa pemuda buta ini benarbenar<BR>memiliki simpanan rahasia ilmu yang tak boleh dipandang ringan.<BR>Kedua jagoan ini sudah saling berhadapan memasang kuda-kuda, seperti dua<BR>buah patung tak bergerak sama sekali. Ka Chong Hoatsu biarpun sudah tua<BR>namun tubuhnya tinggi besar dan kuda-kudanya gagah, kedua kaki<BR>terpentang, tubuh agak direndahkan, tongkat yang panjang dan berat itu<BR>melintang di depan dada, kedudukannya membayangkan tenaga yang dahsyat<BR>sekali. Kun Hong sebaliknya tenang, namun kokoh kuat seperti batu karang<BR>menghadapi serbuan ombak samudera.<BR>"Bun-taihiap dari Kun-lun-pai yang terhormat telah tiba untuk bertemu dengan<BR>toanio.......!!" terdengar seruan wanita penjaga dari jauh. Belum lenyap gema<BR>suara itu, berkelebat bayangan putih dan bagaikan sehelai daun kering tertiup<BR>angin, melayanglah turun seorang pemuda yang berwajah tampan dan gagah<BR>sekali, berpakaian serba putih dan di punggungnya tergantung sebatang<BR>pedang yang tertutup sarung pedang terukir indah. Begitu tiba di situ pemuda<BR>ini melihat keadaan Ka Chong Hoatsu, memandang heran lalu mengerling ke<BR>arah Kun Hong yang buta.<BR>"Ah, kiranya Ka Chong Hoatsu sedang memberi pelajaran, sungguh kebetulan<BR>kedatanganku!" kata pemuda itu.<BR>Ka Chong Hoatsu sudah dari tadi membatalkan serangannya, lalu dia<BR>mengetukkan tongkatnya di atas tanah dan tertawa bergelak. "Sungguh tak<BR>tahu malu pinceng yang sudah tua bangka mau melayani seorang bocah buta,<BR>menjadikan buah tertawaan Bun-sicu dari Kun-lun-pai saja. Ha-ha-ha!"<BR>Akan tetapi pemuda baju putih itu tidak memperhatikan Ka Chong Hoatsu<BR>karena pada saat itu dia sedang memandang ke arah Kun Hong dengan<BR>bengong, malah dia segera melangkah mendekati dan mengamat-amati wajah<BR>Kun Hong dengan pandang mata penuh selidik. Suaranya berubah ketika dia<BR>bertanya.<BR>"Ka Chong Hoatsu, mau apakah dia datang ke sini dan mengapa hendak<BR>bertempur melawanmu?"<BR>Ka Chong Hoatsu tertawa lagi. Dia pernah beberapa kali datang ke Kun-lunsan<BR>dan dia mengenal pemuda Kun-lun yang lihai ini, yang selalu bersikap<BR>terbuka dan bersahaja terhadapnya, tidak menjilat-jilat akan tetapi amat jujur.<BR>"Ha-ha, Bun-sicu, sebetulnya pinceng malu karena harus turun tangan<BR>terhadap seorang bocah buta. Tapi dia ini memang menjemukan, bermain gila<BR>dengan nona Hui Kauw......."<BR>Pemuda baju putih itu mengeluarkan suara mendengus penuh, ejekan.<BR>"Hemm, kiranya setelah kedua matamu buta, Kwa Kung Hong masih sama<BR>saja merupakan seorang pemuda hidung belang yang suka merayu dan<BR>menundukkan hati wanita. Lucu sekali! Kwa Kun Hong, apakah kau tidak kenal<BR>padaku?"<BR>Tentu saja Kun Hong mengenalnya. Biarpun dahulu belum mendapat<BR>kesempatan untuk berkenalan secara mendalam, namun mana bisa dia<BR>melupakan pemuda putera ketua Kun-lun-pai yang dahulu menjadi tunangan<BR>dari kekasihnya, Tan Cui Bi (baca Rajawali Emas)? Dia tahu bahwa pemuda ini<BR>adalah Bun Wan, putera dari ketua Kun-lun-pai yang biarpun dahulu terus<BR>pulang dengan marah bersama ayahnya dari puncak Thai-san, dan tidak<BR>menjadi saksi atas peristiwa mengerikan yang mengakibatkan kematian Cui Bi<BR>dan kebutaan matanya (baca Rajawali Emas), namun agaknya pemuda ini<BR>sudah mendengar tentang kebutaannya. Dia menjura dengan hormat,<BR>mengangkat kedua tangan yang memegang gagang tongkat ke depan dada.<BR>"Tentu saja aku ingat dan mengenal suara Bun-enghiong dari Kun-lun-pai.<BR>Tapi sayang sekali semenjak bertahun-tahun ini pandanganmu masih sesempit<BR>dahulu, terutama dalam menilai watak seseorang. Sayang......."<BR>Kembali Bun Wan, pemuda itu mendengus mencemooh atas ucapan ini.<BR>Kemudian dia menoleh ke arah Ching-toanio dan berkata, "Toanio, karena aku<BR>telah datang di sini, kuharap Toanio suka mengampuni dia dan<BR>membebaskannya. Harap Toanio ketahui bahwa antara ayahnya dan ayahku<BR>ada hubungan persahabatan di waktu muda, oleh karena itu amatlah tidak<BR>enak kalau dia ini menerima hukuman di mana aku hadir. Tentu ayah akan<BR>menegurku."<BR>Ching-toanio menggerutu, "Dia ini terlalu kurang ajar, terlalu menghina kami,<BR>mana bisa aku memberi ampun?"<BR>Akan tetapi Ka Chong Hoatsu segera berkata, "Ching-toanio, biarlah, melihat<BR>muka Bun-sicu yang terhormat, biarlah kita mengampuninya dan membiarkan<BR>si buta ini pergi dari pulau. Apalagi mengingat akan nama besar Ciang-bun-jin<BR>dari Kun-lun-pai, ayah Bun-sicu yang kita hormati."<BR>Melihat kesempatan baik ini, Loan Ki segera menggandeng tangan Kun Hong<BR>dan berkata, "Hayo, Hong-ko, kita pergi dari tempat terkutuk ini!" Ia lalu<BR>menarik tangan Kun Hong dari situ sambil menjebirkan bibir dan melerok ke<BR>sana ke mari kepada orang-orang yang berada di situ!<BR>"He-he, bocah nakal. Kau tidak boleh pergi! Masih ada urusan yang akan<BR>pinceng bicarakan denganmu sebagai wakil ayahmu, urusan penting sekali. Si<BR>buta ini boleh pergi sekarang juga, tapi kau tidak. Kembalilah!" kata Ka Chong<BR>Hoat-su. Mendengar ini Ching-toanio tersenyum dan tahulah ia sekarang<BR>mengapa hwesio yang menjadi tamu agung dan orang andalannya ini tadi<BR>membiarkan Kun Hong dibebaskan. Kiranya hwesio itu bermaksud supaya si<BR>buta itu mencari jalan ke luar dari pulau itu seorang diri dan hal ini terang tak<BR>mungkin dan akhirnya tentu akan membuat pemuda buta itu terjeblos ke<BR>dalam perangkap-perangkap rahasia dan takkan terlepas daripada hukuman<BR>dan pembalasannya juga!<BR>"Betul, Nona. Kau tidak boleh pergi dulu setelah menjadi tamu kami. Kami<BR>hendak mengadakan hubungan dengan ayahmu melalui kau!" katanya.<BR>Loan Ki memutar otaknya. Ia maklum bahwa jumlah lawan yang banyak ini<BR>amat sukar dilawan, biar oleh Kun Hong sekali pun. Ia melepaskan tangan Kun<BR>Hong dan berjalan dengan langkah lebar ke dekat Ka Chong Hoatsu, langsung<BR>ia menegur, "Hwesio tua, kau benar-benar mau mempermainkan aku seorang<BR>bocah perempuan? Aku tidak suka berada di sini, dekat kalian ini, dan aku<BR>mau pergi sekarang juga. Kalau nonamu ini mau pergi, siapa yang sanggup<BR>melarang? Aku berani bertaruh, kalau aku sungguh-sungguh menghendaki<BR>pergi, tongkatmu yang panjang dan tiada gunanya ini takkan mampu<BR>menghalangiku, Hwesio tua!"<BR>Ka Chong Hoatsu tertawa, juga orang-orang yang berada di situ tertawa<BR>mengejek mendengar kata-kata itu. Sebaliknya Kun Hong diam-diam<BR>mengeluh. Benar-benar Loan Ki adalah seorang bocah yang tidak genah<BR>(normal) pikirnya, tidak mengerti tingginya langit dalamnya lautan. Sudah<BR>jelas bahwa tingkat kepandaiannya masih kepalang tanggung, matang tidak<BR>mentah pun tidak, dibandingkan dengan kepandaian Ka Chong Hoatsu masih<BR>tertinggal jauh sekali. Bagaimana sekarang berani mengucapkan tantangan<BR>yang begitu menggelikan? Seperti katak dalam tempurung!<BR>"Ha-ha-ha-ha, pinceng kagum akan ketabahannmu, Nona cilik. Betulkan<BR>tongkat pinceng yang butut ini tidak akan mampu menghalangi kau pergi?"<BR>"Tentu saja tidak mampu. Berani aku bertaruh! Kau boleh jadi lebih kuat dan<BR>lebih matang ilmu silatmu dibandingkan dengan aku karena kau sudah tua,<BR>akan tetapi aku menang muda dan aku lebih cepat daripadamu. Kalau aku lari<BR>cepat, mana kau mampu mengejarku?"<BR>Kembali ucapan ini menggelikan dan Ka Chong Hoatsu juga tertawa bergelak.<BR>Dia merasa malu untuk berdebat dengan seorang bocah, apalagi dalam soal<BR>kepandaian silat, maka biarpun hatinya mendongkol, dirinya tertawa dan<BR>diam-diam ingin mengalahkan bocah ini biar kapok dan tidak membuka mulut<BR>besar.<BR>"Tentu saja, pinceng sudah tua mana dapat lari cepat? Akan tetapi, agaknya<BR>kau ini seorang bocah perempuan cilik, juga tidak akan dapat melangkah lebar<BR>seperti pinceng, ha-ha-ha!"<BR>"Eh, Hwesio tua, jangan pandang rendah padaku, ya? Berani kau bertaruh<BR>dengan aku berlomba lari cepat? Mana kau berani. Huh, kau hanya berani<BR>menghina bocah perempuan mengandalkan kepandaian dan usia tua. Hayo,<BR>kalau kau berani berlomba lari cepat, biar kita bertaruh. Kalau kau kalah, kau<BR>dan semua orang ini tidak boleh menghalangi aku pergi dari pulau ini, kalau<BR>aku yang kalah, terserah kepadamu. Berani tidak?"<BR>Sekali lagi Kun Hong mengeluh. Kenapa Loan Ki begitu goblok? Kalau tadi tak<BR>usah banyak cakap, tetap berada di dekatnya, tentu dia kan dapat melindungi<BR>nona cilik nakal itu. Sekarang nona itu malah, mencari penyakit sendiri. Mana<BR>mungkin menang berlomba lari cepat melawan hwesio yang sakti itu?<BR>"Ha-ha-ha, kau lucu sekali, Nona cilik. Masa orang tua diajak balap lari. Tapi<BR>biarlah, kalau tidak dituruti kehendakmu, khawatir kau akan rewel dan<BR>ngambek, bisa gagal maksud pinceng menghubungi ayahmu. Ha-ha-ha!"<BR>"Bagus, kau lihat bunga bwee yang tumbuh di sana itu?"<BR>Ka Chong Hoatsu mengangguk sambil tersenyum. Pohon bunga bwee itu<BR>tumbuh di sebelah kiri bangunan, kurang lebih dua ratus meter jaraknya dari<BR>situ. Bagi kakek ini, beberapa belas kali lompatan saja di sudah akan sampai di<BR>sana!<BR>"Nah, kita berlomba lari cepat sampai di tempat itu. Siapa yang dapat<BR>memegang bunga bwee itu lebih dulu, dia menang. Setuju?"<BR>"Ha-ha-ha setuju, setuju!" jawab hwesio tua.<BR>"Nah, kau bersiaplah, Hwesio. Aku akan menghitung sampai tiga, sebelum<BR>hitungan sampai tiga kau tidak boleh mulai lari. Jangan curang!"<BR>"Ha-ha-ha, boleh....... boleh......." jawab Ka Chong Hoatsu, gembira juga<BR>menyaksikan permainan kanak-kanak ini.<BR>Akan tetapi Loan Ki tidak segera menghitung, melainkan berdiri sambil<BR>mengerutkan keningnya yang bagus.<BR>"Hayo lekas mulai!" tegur Ka Chong Hoatsu.<BR>Loan Ki menggeleng kepalanya. "Percuma....... aku masih belum percaya<BR>benar kepadamu, jangan-jangan setelah kalah kau masih curang dan menjilati<BR>janji sendiri. Kau benar-benar berjanji akan membebaskan kami berdua tanpa<BR>mengganggu pula kalau kalah balapan lari denganku?"<BR>Ka Chong Hoatsu memandang dengan mata melotot besar. "Bocah kurang<BR>ajar, pinceng Ka Chong Hoatsu mana sudi menjilat ludah sendiri? Hayo mulai!"<BR>"Orang gagah lebih baik mati daripada menjilat ludah sendiri tidak menepati<BR>janji. He, Ka Chong Hoatsu, kau berjanji akan membebaskan kami dan<BR>membiarkan kami pergi dari pulau ini kalau kau kalah balapan lari dengan<BR>aku?"<BR>Jilid 9 : bagian 1<BR>"Pinceng berjanji, gadis liar!"<BR>Loan Ki tersenyum, manis sekali. "Dan kau berjanji takkan berlaku curang<BR>dalam balapan lari ini, tidak akan mulai lari sebelum aku menghitung sampai<BR>tiga?"<BR>"Setan cilik, siapa sudi bermain curang? Tak usah bermain curang, lebih baik<BR>pinceng takkan lari selamanya kalau kalah cepat lariku daripada larimu. Hayo<BR>mulai!"<BR>"Betulkah itu? Hi-hik, coba kita lihat dan saksikan bersama." Gadis ini<BR>memasang kuda-kuda, siap untuk balapan lari, seperti orang hendak<BR>merangkak, berdiri dengan kaki dan tangan di atas tanah, tubuh belakangnya<BR>sengaja ditonjolkan ke atas sehingga ia nampak lucu sekali.<BR>"Ha-ha-ha, kau seperti seekor kuda betina tanpa ekor!" Ka Chong Hoatsu<BR>tertawa geli.<BR>Loan Ki tidak perduli, malah bicara dengan nyaring kepada semua orang yang<BR>berada di situ, "Kalian semua mendengar janji hwesio tua bangka ini! Sebelum<BR>aku menghitung sampai tiga, dia tidak boleh mulai lari!" Kemudian ia mulai<BR>menghitung dengan suara lantang, "Satu......."<BR>Suasana menjadi tegang dan sunyi karena biarpun semua orang yakin bahwa<BR>gadis itu akan kalah, namun menyaksikan sikap bersungguh-sungguh dari<BR>Loan Ki, mereka menduga-duga dengan ilmu apakah gadis ini akan<BR>menghadapi kecepatan Ka Chong Hoatsu. Juga hwesio itu yang tadinya<BR>menganggap ringan dan sudah merasa yakin akan menang, melihat sikap ini<BR>dan mendengar suara aba-aba, menjadi tegang juga dan tanpa disadarinya dia<BR>sendiri pun telah siap memasang kuda-kuda untuk segera "tancap gas" kalau<BR>hitungan itu sudah sampai tiga.<BR>"Dua......"<BR>Urat-urat di tubuh Ka Chong Hoatsu makin menegang, tumitnya sudah<BR>diangkat untuk segera melompat. Akan tetapi hitungan "tiga" tidak keluarkeluar<BR>dari mulut Loan Ki, malah sekarang gadis itu berdiri dan berjalan cepat<BR>ke depan tanpa melanjutkan hitungannya. Semua orang terheran, juga Ka<BR>Chong Hoatsu yang mengira gadis itu tentu akan mengatur sesuatu maka<BR>berjalan ke depan ke arah bunga bwee itu. Akan tetapi setelah berada dekat<BR>sekali, kurang lebih dua meter dari pohon bunga bwee itu, tiba-tiba Loan Ki<BR>berteriak nyaring sekali, "..... tiga.......!!" dan ia pun berlari maju memegang<BR>kembang itu sambil tertawa-tawa dan bersorak-sorak ''Aku menang.......! Hihik<BR>hwesio tua, kau kalah!"<BR>Ka Chong Hoatsu melengak. Tentu saja tadi dia tidak sudi lari, karena kalau<BR>lari pun tak mungkin dapat menangkan Loan Ki yang sudah berada di dekat<BR>pohon itu, tinggal mengulur tangan saja. Dari heran dia menjadi marah sekali.<BR>"Gadis liar! Kau curang! Mana ada aturan begitu?" bentaknya.<BR>Loan Ki meloncat dengan gerakan ringan cepat sekali, tahu-tahu ia sudah<BR>berada di depan Ka Chong Hoatsu, menudingkan telunjuknya dengan marah.<BR>"Ka Chong Hoatsu, kau seorang hwesio tua, seorang yang namanya sudah<BR>terkenal di seluruh kolong langit, apakah hari ini kau hendak menjilat ludah<BR>sendiri dan berlaku curang? Ingat baik-baik bagaimana janji kita tadi.<BR>Bukankah kau sudah setuju dan berjanji takkan lari sebelum aku menghitung<BR>sampai tiga? Perjanjian menunggu sampai hitungan ke tiga ini tadi hanya<BR>dikenakan kepadamu, tidak kepadaku. Siapa yang berjanji bahwa aku juga<BR>harus menanti sampai hitungan ke tiga? Aku tidak melanggar janji siapa-siapa,<BR>aku tidak curang, dan kau sudah kalah, kalah mutlak. Coba katakan apa kau<BR>berani melanggar janjimu sendiri?"<BR>Ka Chong Hoatsu terkesima, tak dapat bicara untuk beberapa lama. Kemudian<BR>dia membanting-banting tongkatnya sehingga tanah yang bercampur batu di<BR>depannya menjadi bolong-bolong seperti agar-agar ditusuki biting saja. "Bocah<BR>liar, kau memang menang, akan tetapi bukan menang karena kecepatan<BR>berlari, melainkan menang karena akal bulus!"<BR>Loan Ki tersenyum manis dan menjura sampai dahinya hampir menyentuh<BR>tanah. "Terima kasih, Ka Chong Hoatsu hwesio tua yang manis! Kau telah<BR>menyatakan sendiri sekarang bahwa aku menang. Nah, memang aku menang<BR>dalam balapan ini dan karenanya juga aku menang dalam taruhan, bukan?<BR>Soal menang menggunakan akal bulus atau akal udang, itu sih tidak diadakan<BR>larangan dalam perjanjian tadi. Nah, selamat tinggal, Hoatsu." Dengan<BR>langkah manja gadis ini lalu berjalan menghampiri Kun Hong.<BR>Tiba-tiba ia mendengar angin berdesir di belakangnya. Cepat ia menengok dan<BR>membalikkan tubuh, siap menanti penyerangan gelap. Akan tetapi tidak ada<BR>apa-apa dan ia melihat Ka Chong Hoatsu berdiri sambil tertawa bergelak. Ia<BR>memandang ke kanan kiri, semua orang yang berada di situ tertawa belaka.<BR>Loan Ki mengangkat kedua pundaknya dan membalikkan tubuh lagi terus<BR>berjalan menghampiri Kun Hong, menggandeng lengan pemuda buta itu dan<BR>berbisik,<BR>"Mari kita pergi, Hong-ko." Ditariknya pemuda itu.<BR>"Ki-moi, kau tadi dipermainkan Ka Chong Hoatsu, buntalanmu di punggung<BR>apakah masih ada?" bisik Kun Hong.<BR>Loan Ki terkejut, cepat meraba punggung dan....... ternyata mahkota kuno<BR>yang berada di buntalan itu telah lenyap! Ia cepat membalikkan tubuhnya<BR>memandang. Eh, kiranya mahkota itu kini sudah berada di tangan kiri Ka<BR>Chong Hoatsu yang masih tertawa-tawa.<BR>"Hwesio tua, kau curi benda itu dari buntalanku, Ya?" Loan Ki membentak<BR>sambil melotot.<BR>Ka Chong Hoatsu makin gembira tertawa. "Ha-ha-ha, pinceng takkan<BR>melanggar janji nona cilik, tapi perlu membuktikan bahwa pinceng jauh lebih<BR>cepat daripadamu, sehingga benda ini kuambil tanpa kau dapat tahu atau<BR>merasa. Ke dua kalinya, benda ini kami tahan di sini sebagai undangan kepada<BR>ayahmu."<BR>"Bagus! Ayah pasti akan datang untuk merampasnya dari tanganmu, hwesio<BR>sombong!" Setelah berkata demikian, Loan Ki memperlihatkan muka marah<BR>dan menarik Kun Hong pergi dari situ, menuju ke pantai yang kini sudah ia<BR>ketahui jalannya. Setelah pergi jauh dan tidak terdengar lagi suara mereka di<BR>belakang, Loan Ki berkata lirih,<BR>"Hayaaaa, sungguh berbahaya! Baiknya aku mendapat akal dan bisa menang<BR>berlomba lari"<BR>"Kau memang cerdik, nakal dan....... aneh......." kata Kun Hong.<BR>"Kalau tidak menggunakan kecerdikan, mana bisa kita ke luar dari tempat ini?<BR>He, Hong-ko, kau sudah kenal pemuda baju putih yang gagah tadi? Wah, dia<BR>kelihatan lihai sekali, ya? Dan dia telah menolongmu."<BR>Kun Hong tersenyum. Terbayang dalam benaknya wajah Bun Wan yang<BR>memang gagah, dan terbayang pula wajah Cui Bi, maka bangkitlah perasaan<BR>bangga dan terharu, juga sedih. Cui Bi sudah mempunyai tunangan segagah<BR>Bun Wan, kenapa memberatkan dia? Padahal wajah dan bentuk tubuh Bun<BR>Wan benar-benar dapat menjatuhkan hati setiap orang wanita, dan buktinya<BR>Loan Ki gadis lincah yang berhati angkuh ini sekali berjumpa terus memujimuji.<BR>"Dia putera tunggal ketua Kun-lun-pai, tentu saja gagah dan lihai."<BR>Hening sejenak. Kun Hong heran, merasa betapa gadis di sebelahnya yang<BR>menggandeng tangannya ini agaknya berpikir dan menimbang-nimbang, entah<BR>apa yang dipikirkannya.<BR>"Tapi aku tidak suka kepadanya, Hong-ko," katanya tiba-tiba.<BR>"Heee? Apa maksudmu? Kenapa tidak suka?" tanya Kun Hong heran karena<BR>pertanyaan yang tiba-tiba itu memang tak diduganya sama sekali, tadi memuji<BR>sekarang tidak suka. Bagaimana ini?<BR>"Aku malah benci padanya! Dia tadi datang-datang memakimu sebagai<BR>seorang pemuda hidung belang yang suka merayu hati wanita. Sungguhpun<BR>pernyataan itu memang betul!"<BR>"Eh, kau juga menganggap aku begitu? Tidak betul itu......."<BR>"Sudahlah, kau memang hidung belang! Jangan bantah lagi. Kulihat tadi gadis<BR>cantik jelita puteri Ching-toanio main mata dengan orang she Bun dari Kunlun-<BR>pai itu. Hemmm, memang cantik jelita sekali Hui Siang itu, Hong-ko,<BR>cantik seperti bidadari. Heran aku mengapa kau tidak jatuh hati kepadanya,<BR>sebaliknya malah tergila-gila kepada Hui Kauw yang buruk rupa."<BR>Kun Hong menarik napas panjang. "Aku tidak tergila-gila kepada siapa pun<BR>juga, Ki-moi....... kau tidak tahu......."<BR>Tiba-tiba Loan Ki berhenti melangkah dan Kun Hong juga terkejut ketika<BR>mendengar suara mendesis-desis, dan mencium bau yang amis. Ular! Banyak<BR>sekali ular menggeleser datang dari empat penjuru dan sebentar saja mereka<BR>terkurung ular yang amat banyak.<BR>"Heeeiii, Ka Chong Hoatsu, tua bangka bau! Apakah kau begini tak tahu malu<BR>untuk melanggar janjimu sendiri?" Loan Ki berteriak nyaring ke arah belakang.<BR>Tidak terdengar jawaban dari belakang, akan tetapi dari depan sana terdengar<BR>lapat-lapat suara wanita tertawa disusul kata-kata mengejek, "Ular-ular bukan<BR>manusia, tidak termasuk dalam perjanjian. Yang ingin meninggalkan Chingcoa-<BR>to harus dapat melalui barisan ular hijau." Biarpun hanya lapat-lapat, jelas<BR>bahwa itu adalah suara Hui Siang gadis cantik jelita yang galak itu.<BR>"Hui Siang budak genit!" Loan Ki berteriak marah. "Kau kira kami tidak mampu<BR>membubarkan barisan anak-anakmu yang sial ini?"<BR>Kun Hong sudah siap dengan tongkatnya untuk menghajar setiap ular yang<BR>berani mendekat. Akan tetapi Loan Ki menggandeng tangannya diajak maju<BR>terus.<BR>"Hati-hati," bisik Kun Hong. "Siapkan senjatamu. Wah, sayang sekali mahkota<BR>kuno itu dirampas oleh Ka Chong Hoatsu."<BR>Loan Ki mengikik tertawa. "Kau kira aku begitu bodoh? Hayo maju terus,<BR>Hong-ko, jangan takut ular-ular itu. Mainan kanak-kanak!" ia menyombong<BR>dan menarik tangan Kun Hong untuk maju terus.<BR>Kun Hong merasa heran dan kaget ketika mendengar betapa barisan ular itu<BR>menyimpang di kala mereka lewat, seakan-akan binatang-binatang itu takut<BR>kepada mereka.<BR>"Eh, bagaimana ini....... Ki-moi, kenapa ular-ular itu......." tiba-tiba dia<BR>tersenyum, "Ha, kau benar-benar bocah nakal dan cerdik. Tentu mutiaramutiara<BR>mustika itu kau ambil dari mahkota."<BR>"Hussh, diam saja, Hong-ko. Kau biarpun buta memang cerdik. Mari kita maju<BR>terus, itu pantai sudah tampak dari sini." Dari jauh Loan Ki melihat bayangan<BR>Hui Siang berkelebat cepat disusul suara kecewa nona cantik itu yang agaknya<BR>terheran-heran dan kecewa melihat mereka berdua ternyata dapat lolos dari<BR>kurungan barisan ular secara mudah.<BR>Sementara itu, Kun Hong dan Loan Ki sudah tiba di pinggir telaga. Di situ tidak<BR>ada perahu, akan tetapi Loan Ki cerdik tidak menjadi bingung. Dengan<BR>pedangnya ia menebang pohon besar dua batang, mengikat dua batang pohon<BR>menjadi satu dijadikan rakit atau perahu. Dengan kepandaian dan tenaga<BR>mereka mudah saja mereka akan menggunakan perahu istimewa ini dan<BR>mendayungnya ke pantai seberang. Sebentar saja mereka telah menurunkan<BR>perahu ke dalam air, Kun Hong duduk di depan sedangkan gadis itu di<BR>belakang. Keduanya sudah memegang sebuah dayung terbuat daripada<BR>cabang pohon yang besar dan kuat.<BR>"Ahooi.......! Orang-orang Ching-coa-to.......!" Loan Ki mengeluarkan suaranya<BR>sebelum perahu itu didayung ke tengah. "Aku sudah menerima penyambutan<BR>di Ching-coa-to, kalau kalian memang ada nyali, lain waktu kunanti kunjungan<BR>balasan kalian di Pek-tiok-lim pantai Pohai."<BR>Namun tidak ada jawaban. Loan Ki mendayung perahunya ke tengah menuju<BR>ke pantai yang tampak di seberang sana. Ia tersenyum-senyum dan kelihatan<BR>gembira sekali. Ditepuknya pundak Kun Hong.<BR>"He, Hong-ko, kenapa kau diam saja? Hayo nyanyi lagi seperti ketika kita<BR>berangkat."<BR>Melihat betapa Kun Hong tersenyum pahit, gadis itu mengerutkan keningnya<BR>dan mengejek, "Aha, agaknya hatimu tertinggal di pulau itu, ya? Waah,<BR>memang kasihan Hui Kauw, dia amat mencintamu, Hong-ko!"<BR>Ucapan ini mendebarkan jantung Kun Hong. "Ki-moi, kau terlalu mudah<BR>menuduh orang. Siapa sudi mencinta seorang tak bermata? Ki-moi, bagaimana<BR>kau bisa bilang begitu?"<BR>"Eh, siapa bohong? Kalau ia tidak mencintamu, tak mungkin ia sudi menjalani<BR>upacara pernikahan denganmu"<BR>Kun Hong makin tertarik, karena memang hal yang amat aneh baginya itu<BR>sangat membingungkan. "Loan Ki moi-moi yang baik, kalau kau tahu akan<BR>persoalan itu, kau ceritakanlah kepadaku. Sampai sekarang aku benar-benar<BR>masih bingung sekali, tidak mengerti mengapa tiba-tiba mereka hendak<BR>mengawinkan aku dan mengapa pula ia tadinya suka melakukan upacara itu."<BR>Loan Ki tertawa. "Semua gara-gara Ka Chong Hoatsu itulah. Karena tadinya<BR>aku dianggap oleh mereka "orang sendiri" maka aku boleh mendengarkan<BR>semua perundingan mereka, hi-hik. Setelah kau menyembuhkan Hui Kauw,<BR>ibunya itu mendatangi Hui Kauw dan membujuknya supaya suka menikah<BR>denganmu. Ibunya, si toanio yang jahat itu mengatakan kepada Hui Kauw<BR>bahwa kau juga sudah setuju menjadi suaminya, bahwa pernikahan itu sudah<BR>seharusnya karena perhubungan kau dengan Hui Kauw sudah menjadi buah<BR>bibir para pelayan dan kalau sampai bocor ke luar tentu akan mencemarkan<BR>nama Hui Kauw. Pula bahwa kau sudah menyembuhkan luka-lukanya dengan<BR>cara yang sebetulnya tak boleh dilakukan orang lain, yaitu menelanjangi tubuh<BR>bagian atas. Akhirnya Hui Kauw setuju. Biarpun ia tidak bilang apa-apa,<BR>buktinya ia tidak menolak ketika dirias seperti pengantin. Hi-hik aku geli dan<BR>juga muak melihat semua itu. Benar-benar tak tahu malu!"<BR>Kun Hong mengerutkan keningnya. Dia merasa amat berkasihan kepada Hui<BR>Kauw si nona bersuara bidadari itu. Kini dia dapat menerka apa yang telah<BR>terjadi, dapat menyelami perasaan nona itu dan dapat menduga betapa hancur<BR>hatinya. Sebelumnya dia sudah mendengar percakapan antara Hui Kauw<BR>dengan ibunya yang hendak memaksa anaknya itu berjodoh dengan Pangeran<BR>Mongol dan hal ini ditolak tegas oleh Hui Kauw. Lalu terjadi kehebohan fitnah<BR>ketika dia muncul, disusul dengan terluka dan hampir tewasnya nona itu dan<BR>akhirnya pengobatan yang dia lakukan. Agaknya karena keadaan amat<BR>terdesak Hui Kauw menerima saja keputusan dijodohkan dengan dia, ataukah<BR>di sana lain dasar? Cinta kasih? Tak mungkin! Mungkinkah kalau seorang gadis<BR>bidadari seperti Hui Kauw sampi jatuh cinta kepada seorang buta macam dia?<BR>Tak mungkin, bantah hatinya. Betapapun juga, karena dia tidak menyangka<BR>akan hal-hai ini sebelumnya, ketika mengetahui bahwa dia sedang melakukan<BR>sembahyangan pengantin, dia telah menolaknya. Tentu saja, dia dapat<BR>membayangkan ini dengan hati perih, tentu saja Hui Kauw amat tersinggung,<BR>bahkan terhina oleh penolakannya itu. Gadis itu menjalani upacara hanya<BR>karena terhasut, dibohongi mengira bahwa dia pun sudah setuju. Siapa tahu<BR>gadis itu mendengar betapa dia menolaknya. Seorang gadis ditolak oleh<BR>mempelai pria! Alangkah hebat penderitaan batin gadis itu. Dapatkah gadis itu<BR>memaafkannya? Mungkinkah ada maaf untuk penghinaan sehebat itu? "Tak<BR>mungkin!" kini jawaban hati Kun Hong disertai suara bibirnya yang bergerak.<BR>"Apa yang tak mungkin, Hong-Ko?" Loan Ki bertanya.<BR>Kun Hong kaget dan baru sadar bahwa dia terlalu dalam tenggelam dalam<BR>lamunannya. "Tidak apa-apa, Ki-moi. Aku hanya merasa heran akan sikapmu<BR>ketika berada di pulau. Ketika aku menghadapi mereka kenapa kau malah<BR>merobohkan aku dengan totokan? Mengapa kau menyerangku secara<BR>menggelap? Bukankah perbuatan itu aneh sekali, Ki-moi?"<BR>Gadis itu cemberut. "Aneh apa? Habis melihat kau mati-matian melindungi dan<BR>membela Hui Kauw, siapa orangnya tidak menjadi dongkol hatinya!"<BR>Kun Hong makin heran. Mungkinkah gadis lincah ini timbul rasa cemburu dan<BR>iri hati terhadap Hui Kauw? Heran, tanpa adanya cinta mana bisa timbul<BR>cemburu dan iri hati? Apakah gadis ini....... cinta kepadanya? Kun Hong<BR>menggeleng kepala keras-keras. Tak mungkin lagi ini! "Ki-moi, kau benarbenar<BR>orang aneh. Mula-mula kau menotokku roboh, di lain detik kau malah<BR>membelaku ketika Ching-toanio hendak menghabisi nyawaku, kemudian kau<BR>bersekutu dengan mereka, membiarkan aku dijadikan bahan permainan dan<BR>disuruh sembahyang. Kau diam saja malah mentertawakan."<BR>"Tentu saja. Biar mendongkol aku belum ingin melihat kau mampus. Tapi<BR>kau....... kau kembali membela Hui Kauw<BR>mati-matian. Kau mencinta Hui Kauw seperti juga kau cinta Lauw Swat-ji si<BR>gadis genit puteri Hui-houw-pangcu itu dan seperti kau cinta si janda muda.<BR>Cih, orang mata keranjang macammu mana patut dibantu?"<BR>"Hemmm, lidahmu tajam sekali, adik Loan Ki. Akan tetapi kenapa kau tadi<BR>kembali membantu aku secara tiba-tiba dan mengajakku ke luar dari pulau<BR>itu?"<BR>Suara Loan Ki terdengar kaku membayangkan kemengkalan hatinya, "Habis,<BR>kau tidak suka menikah dengan Hui Kauw, masa yang begini saja kau tanya?"<BR>Makin heranlah Kun Hong. Mendengar ini semua, jawabannya hanya satu,<BR>yaitu bahwa gadis ini cinta kepadanya. Akan tetapi sikapnya sama sekali<BR>bukan seperti orang mencinta.<BR>"Kau melongo seperti orang bingung. Benar-benar bodoh sekali. Masa yang<BR>begini saja tidak mengerti, Hong-ko? Kalau kau tergila-gila kepada seorang<BR>gadis masa aku harus berbaik kepadamu? Tidak sudi!"<BR>"Ki-moi......." suara Kun Hong agak gemetar karena dia amat khawatir kalaukalau<BR>dugaannya betul, bahwa gadis ini cinta kepadanya. "Tentang hal itu.......<BR>andaikata aku tergila-gila kepada seorang gadis lain, ada sangkutan apakah<BR>dengan dirimu?"<BR>"Sangkutan apa? Tentu saja aku tidak ada sangkut paut apa-apa! Akan tetapi,<BR>di depanku kau tidak semestinya tergila-gila kepada lain gadis, hemmm.......<BR>pendeknya aku tidak suka, dan habis perkara!"<BR>Kun Hong makin tidak mengerti. Gadis aneh. Akan tetapi lega juga dia karena<BR>didengar dari ucapan ini, agaknya dugaannya tidak betul, bahwa gadis ini tak<BR>mungkin jatuh cinta kepadanya.<BR>"Sudah sampaikah ke tepi daratan, Ki-moi?"<BR>Perahu batang pohon itu berhenti, menabrak karang.<BR>"Sudah, mari kita melompat!" Dengan menggandeng tangan Kun Hong, Loan<BR>Ki mengajak pemuda itu melompat ke depan dan benar saja, mereka telah tiba<BR>di daratan.<BR>Tapi begitu mendarat, serta merta Loan Ki menangis tersedu-sedu sambil<BR>mendeprok di atas tanah, menutupi mukanya dengan saputangan, Kun Hong<BR>heran dan kaget sekali, "Eh....... kenapa kau menangis?"<BR>Sampai lama Loan Ki tak dapat menjawab karena isak tangisnya membuat ia<BR>tak dapat berkata-kata. Kun Hong terpaksa berlutut di depannya dan berkali<BR>kali mengajukan pertanyaan dengan hati cemas.<BR>"Kau kenapakah? Sakitkah kau?" Dipegangnya nadi lengan gadis itu, ternyata<BR>tidak ada gangguan kesehatannya. "Kau tidak apa-apa, kenapa menangis?"<BR>"Tidak apa-apa katamu? Enak saja kau bicara. Dasar kau tidak punya liangsim<BR>(pribudi), melihat orang terhina serendah-rendahnya malah pura-pura<BR>tidak tahu dan masih bertanya-tanya segala!"<BR>"Terhina? Kau? Oleh siapa dan bagaimana?" Kun Hong benar-benar bingung.<BR>Tiba-tiba gadis itu meloncat bangun dan membanting-banting kaki, menangis<BR>lagi. Kun Hong juga bangun, menggeleng-geleng kepala dan makin bingung.<BR>Benar-benar dia tidak mengerti dan tidak dapat menduga apa yang<BR>menyebabkan gadis ini berhal seperti itu.<BR>"Ki-moi, aku mengaku bodoh, kau katakanlah, siapa yang menghinamu dan<BR>dengan cara bagaimana aku benar-benar tidak mengerti!"<BR>"Berkali-kali aku dikalahkan orang di pulau Ching-coa-to, aku tidak berdaya,<BR>bukankah itu berarti penghinaan-penghinaan yang paling rendah? Kau masih<BR>pura-pura bertanya lagi?" Ia membentak marah.<BR>Kun Hong tersenyum, "Ah, itukah yang kau anggap penghinaan? Ki-moi, kalah<BR>atau menang dalam pertempuran merupakan hal yang lumrah di dunia<BR>persilatan, kenapa kau merasa terhina? Biar kalah dalam, pertempuran<BR>asalkan tidak salah. Orang yang berada di pihak benar boleh kalah bertempur<BR>namun di dalam batin senantiasa merasa menang."<BR>"Enak saja! Aku puteri tunggal dari Pek-tiok-lim, selama hidupku tak pernah<BR>kalah dalam pertempuran. Sekarang di pulau terkutuk itu berkali-kali<BR>dikalahkan orang, sedangkan kau seorang buta saja tak pernah kalah.<BR>Bukankah ini memalukan sekali? Ah, celaka....... celaka......." dan ia menangis<BR>lagi dengan amat sedihnya.<BR>Kun Hong merasa kasihan. Dia akan berpisah dengan gadis ini dan kalau dia<BR>tinggalkan dalam keadaan begitu, kecewa dan berduka, sungguh dia tidak<BR>tega.<BR>"Ki-moi, mari kuajari kau beberapa langkah yang akan membikin kau tidak<BR>mudah dikalahkan orang lagi."<BR>Seketika suara tangis gadis itu berhenti seperti seekor jangkerik terpijak.<BR>Malah suaranya mengandung kegembiraan besar, "benarkah, Hong-ko? Kau<BR>hendak memberi pelajaran ilmu pukulan kepadaku?"<BR>"Bukan ilmu pukulan, melainkan ilmu langkah rahasia. Kau lihat dan<BR>perhatikan baik-baik, semua ada dua puluh empat langkah rahasia. Lihat dan<BR>ingat baik-baik, aku mulai!" Kun Hong lalu memasang kuda-kuda dan mulailah<BR>dia menjalankan langkah-langkah rahasia berdasarkan Kim-tiauw-kun (Ilmu<BR>Silat Rajawali Emas).<BR>Melihat betapa Kun Hong melangkah dengan aneh, terhuyung-huyung,<BR>membongkok kadang-kadang jinjit (berdiri di atas ujung kaki), Loan Ki merasa<BR>kecewa. Agaknya tarikan nafasnya tidak terlepas dari pendengaran Kun Hong<BR>yang tertawa sambil berkata,<BR>"Ki-moi, jangan kau pandang rendah ilmu langkah ini, kau cabutlah pedangmu<BR>dan kau boleh mencoba untuk menyerangku. Dengan langkah-langkah ini<BR>semua seranganmu akan gagal."<BR>Dasar seorang gadis jujur, tanpa bai-sengki (sungkan) lagi Loan Ki mencabut<BR>pedangnya dan menyerang kalang-kabut. Akan tetapi ia merasa seperti<BR>menyerang bayangan saja. Kilatan pedangnya yang seakan-akan sudah akan<BR>mengenai Kun Hong sampai ia menjadi kaget sendiri, ternyata hanya lewat di<BR>samping tubuh pemuda itu yang terus melangkah dengan cara aneh. Lewat<BR>tiga puluh jurus ia berhenti menyerang dan menyimpan pedangnya.<BR>"Wah, Hong-ko, hebat ilmu langkah itu. Mari kupelajari baik-baik. Kau<BR>melangkahlah, jangan cepat-cepat!" katanya gembira sekali. Maka belajarlah<BR>gadis itu dengan tekun dan penuh perhatian. Dasar ia berbakat baik dan<BR>memang sudah memiliki dasar-dasar yang kuat, setelah berlatih beberapa hari<BR>lamanya ia sudah hafal dan dapat melangkah dengan cukup baik. Saking<BR>girangnya gadis ini menari-nari lalu memeluk Kun Hong!<BR>"Hong-ko, terima kasih. Ilmu langkah ini apa namanya, Hong-ko?"<BR>Kun Hong bingung. Ketika dia mempelajari ilmu langkah ini, dia sendiri tidak<BR>tahu namanya. Pikirannya bekerja, lalu dengan cerdik dia berkata,<BR>"Inilah Ilmu Langkah Hui-thian-jip-te (Terbang ke Langit Amblas ke Bumi)<BR>sebanyak dua puluh empat langkah. Dengan ilmu ini setelah kau latih dengan<BR>sempurna, tidak mudah kau dirobohkan orang." Dengan cerdik Kun Hong<BR>mengatakan "dirobohkan orang" karena tentu saja dengan ilmu itu masih<BR>mungkin gadis yang lincah ini dikalahkan orang, namun untuk dirobohkan,<BR>kiranya tidaklah mudah.<BR>Loan Ki masih kegirangan, menari-nari dan melatih ilmu langkah yang baru ia<BR>pelajari itu. Memang pada dasarnya ia gesit dan lincah, tentu saja kini<BR>mendapatkan ilmu langkah yang ajaib itu, ia bagaikan seekor anak kijang<BR>tumbuh sayap! Saking asyiknya melatih diri, Loan Ki sampai tidak<BR>memperhatikan atau menengok lagi kepada Kun Hong.<BR>"Nah, selamat berpisah, Ki-moi. Semoga Thian selalu memberkahimu dan<BR>terutama sekali, menuntunmu ke jalan benar."<BR>Baru kaget hati Loan Ki ketika mendengar kata-kata ini. Ia berhenti dan<BR>menoleh. "Kau....... hendak ke mana, Hong-ko?"<BR>Kun Hong tersenyum, "Tiada pertemuan tanpa akhir di dunia ini, Ki-moi. Kita<BR>harus berpisah melanjutkan perjalanan masing-masing. Kau pulanglah ke<BR>rumah orang tuamu yang tentu sudah mengharap-harap pulangmu sedangkan<BR>aku....... aku akan pergi ke mana saja nasib membawaku."<BR>"Ih, jangan begitu, Hong-ko. Mari kau ikut saja dengan aku ke Pek-tiok-lim,<BR>ayah tentu senang bertemu denganmu."<BR>Kun Hong menggeleng kepala. "Terima kasih, Ki-moi. Biarlah lain kali kalau<BR>kebetulan aku lewat di sana, aku akan singgah menyampaikan hormatku<BR>kepada orang tuamu. Sekarang belum waktunya. Nah, selamat tinggal, adikku.<BR>Jangan lupa, jangan kau terlalu mudah membunuh orang. Kepandaian<BR>memang untuk menjaga diri dan membela kebenaran dan keadilan, akan<BR>tetapi sekali-sekali bukan untuk mendahului Tuhan, mencabut nyawa orang.<BR>Selamat tinggal." Kun Hong melangkah sambil meraba-raba dengan<BR>tongkatnya.<BR>"Hong-ko.......!"<BR>Akan tetapi Kun Hong tidak mau banyak rewel lagi. Dia tahu bahwa kalau dia<BR>melayani gadis ini, sukar baginya untuk dapat berpisah, maka dengan nekat<BR>Kun Hong lalu menggunakan kepandaiannya berlari seperti terbang cepatnya<BR>sehingga sebentar saja lenyap dari pandangan mata Loan Ki yang berdiri<BR>bengong ketika tak dapat mengejar, kemudian mengusap-usap kedua<BR>matanya.<BR>Kun Hong tidak berani terlalu lama berlari cepat seperti itu. Dia telah berlaku<BR>nekat untuk cepat-cepat meninggalkan Loan Ki. Kalau nasibnya sedang sial,<BR>mudah saja dia terjeblos ke dalam lubang atau terguling ke selokan ketika<BR>berlari cepat seperti itu tanpa dapat mengetahui apa yang berada di depannya.<BR>Setidaknya kepalanya bisa benjol terbentur sesuatu yang keras tanpa dapat<BR>dia elakkan. Baiknya dia ternyata mujur karena kebetulan sekali dia berlari<BR>cepat di atas tanah yang rata.<BR>Segera dia memperlambat larinya ketika tidak mendengar suara Loan Ki<BR>mengejar dan pada detik selanjutnya dia hanya berjalan biasa, meraba-raba<BR>dengan tongkatnya dan menggerutu seorang diri. Dia marah kepada diri<BR>sendiri mengapa sekarang hatinya berhal lain daripada biasanya. Biasanya,<BR>semua pengalaman dan peristiwa yang menimpa kepadanya, setelah lalu<BR>takkan dia kenangkan lagi, malah sebagian besar terlupa sudah. Akan tetapi<BR>mengapa sekarang benaknya penuh dengan kenangan di pulau Ular Hijau dan<BR>pendengarannya masih penuh suara yang halus seperti suara bidadari? Kenapa<BR>dia tidak dapat melupakan Hui Kauw? Banyak pertanyaan mengaduk-aduk<BR>pikirannya. Kemana Hui Kauw sekarang? Bagaimana keadaannya? Mengapa<BR>gadis bidadari itu agaknya amat dibenci ibunya dan adiknya? Kenapa pula<BR>beberapa kali Loan Ki menyebut nona bersuara bidadari itu sebagai "nona<BR>muka buruk" atau "nona muka hitam"? Benar-benar dia tidak dapat<BR>menjawab, juga dia tidak mengerti mengapa suara nona itu menggores dalamdalam<BR>di hatinya dan kesan satu-satunya di dalam hati adalah bahwa nona Hui<BR>Kauw adalah seorang nona seperti bidadari!<BR>"Cui Bi....... ah, Bi-moi....... kau bantulah aku....... kenapa hatiku begini<BR>lemah?" gerutunya beberapa kali dan setelah dia mengerahkan kenangannya<BR>kepada mendiang kekasihnya itu, perlahan-lahan terusirlah kenangan tentang<BR>Hui Kauw dan bangkit kembali kegembiraannya. Sejam kemudian orang sudah<BR>dapat melihat orang muda buta ini berjalan keluar masuk hutan sambil<BR>berdendang dengan suara nyaring,<BR>"Wahai kasih, aku di sini...."<BR>Kalau kebetulan dia memasuki sebuah dusun, nyanyiannya terhenti dan<BR>diganti terikan-teriakan nyaring,<BR>"Usir penyakit........ sembuhkan penyakit......! Jika di antara saudara ada yang<BR>sakit, cobalah beri kesempatan kepada saya untuk memeriksa dan mengobati!<BR>Biaya sesukanya, serelanya, cuma-cuma bagi si miskin!" Ucapan ini dia ulangi<BR>dan dengan cara inilah Kun Hong tidak sampai kehabisan bekal di perjalanan.<BR>Banyak orang-orang kaya yang membalas budinya dengan hadiah banyak<BR>uang emas dan perak, akan tetapi banyak pula yang hanya membalas dengan<BR>ucapan terima kasih, malah tidak kurang jumlahnya mereka yang tidak saja<BR>menerima pemeriksaan cuma-cuma malah yang obatnya pun dibelikan oleh<BR>Kun Hong!<BR>Tiga hari semenjak dia meninggalkan Loan Ki, Kun Hong berjalan memasuki<BR>sebuah dusun di kaki gunung. Begitu telinganya mendengar suara orang-orang<BR>dusun, dia segera meneriakkan penawarannya untuk mengobati orang-orang<BR>yang sakit. Seperti biasa di setiap tempat yang dia datangi, teriakan ini selalu<BR>disambut ejekan dan cemooh dan selalu orang tidak mau percaya kepadanya<BR>sampai ada bukti dia menyembuhkan seorang sakit. Wah, mana bisa orang<BR>buta menyembuhkan orang sakit, ejek mereka. Masih begitu muda lagi, tentu<BR>hanya tukang tipu kata yang lain. Malah ada yang secara mengejek<BR>menyakitkan hati berkata, "Mata sampai buta tidak bisa menyembuhkan,<BR>masih tak tahu malu hendak mengobati orang lain!"<BR>Jilid 9 : bagian 2<BR>Sekarang juga di dalam dusun itu, tak seorang pun menghiraukannya kecuali<BR>beberapa orang anak nakal yang mengikutinya sambil tertawa-tawa<BR>menggoda, malah ada yang meniru teriakan-teriakannya. Namun, seperti<BR>biasanya Kun Hong hanya tersenyum sabar, semenjak dia kehilangan Cui Bi<BR>dan kedua biji matanya, kesabarannya menebal.<BR>Memang luar biasa sekali besarnya kesabaran Kun Hong, dan amatlah<BR>mengharukan ketika ada beberapa orang anak nakal menggunakan batu-batu<BR>kerikil menyambitinya, dia berhenti berjalan, menengok ke arah anak-anak itu<BR>dan berkata dengan suara halus tapi penuh peringatan.<BR>"Anak-anak, senangkah hati kalian bisa mengganggu seorang buta? Kalian<BR>senang, akan tetapi yang kalian ganggu belum tentu senang. Anak-anak, coba<BR>kalian meramkan mata sejenak dan bayangkan keadaan seorang buta.<BR>Andaikata kalian tiba-tiba menjadi buta, tidak bisa memandang wajah ayah<BR>bunda kalian....... kemudian kalian....... kalian diganggu oleh anak-anak<BR>seperti sekarang ini, bagaimana rasa hati kalian?"<BR>Ucapan ini halus dan sama sekali tidak mengandung kemarahan, akan tetapi<BR>langsung menusuk jantung anak-anak dusun itu. Memang jauh bedanya bocah<BR>dusun dengan bocah kota. Bocah dusun belumlah terlalu rusak oleh<BR>keduniawian, batinnya masih cukup bersih dan mudah mereka menerima halhal<BR>yang langsung menyinggung perasaan. Oleh karena ini, ucapan halus ini<BR>rnembuat mereka sejenak berdiam. Malah di antara mereka mulai saling<BR>menyalahkan karena mengganggu seorang buta.<BR>Kun Hong girang sekali, tertawa dan mengeluarkan beberapa keping uang<BR>tembaga, "Anak-anak baik, aku si orang buta tidak punya apa-apa, hanya ada<BR>uang kecil ini bagi-bagilah rata di antara kalian."<BR>Anak-anak itu semua adalah anak-anak dusun yang miskin. Tentu saja mereka<BR>menjadi girang sekali dan bersorak-sorak menerima hadiah yang sama sekali<BR>tidak tersangka-sangka itu. Yang paling besar maju menerima uang dari Kun<BR>Hong dan dibagi-bagilah uang itu merata. Diam-diam Kun Hong kagum dan<BR>girang. Biarpun nakal seperti lajimnya anak-anak lelaki tanggung, namun<BR>ternyata bahwa mereka itu rukun dan jujur, terbukti ketika uang-uang dibagi<BR>tidak terjadi keributan.<BR>"Paman buta ini baik sekali!" berteriak seorang anak kecil.<BR>"Hari ini hari baik!" kata yang lain. "Kita bertemu dengan kakek tua hampir<BR>mati di kuil rusak, kemudian dengan paman buta ini. Kalau banyak orang<BR>seperti mereka berdua, alangkah senangnya hidup kita!"<BR>Kun Hong tertarik lalu mendekat. "Anak-anak yang baik, siapakah kakek tua<BR>hampir mati?"<BR>"Dia seorang kakek tua, tinggi besar seperti raksasa, tapi dia menderita sakit<BR>dan hampir mati. Biarpun hampir mati, dia amat baik, membagi-bagikan<BR>barang dan uangnya kepada kami!" kata seorang anak.<BR>"Apakah dia tidak punya keluarga? Kenapa tinggal di kuil rusak?" Kun Hong<BR>mendesak, hatinya terharu.<BR>"Dia bilang tidak punya keluarga, sebatangkara dan kuil rusak itu memang<BR>tidak digunakan lagi. Dia luka-luka, yang paling hebat luka di tengkuknya, ihhh<BR>banyak sekali darahnya keluar."<BR>Kun Hong segera memegang tangan anak itu, begitu cepat sehingga bocah itu<BR>kaget. Tak seorang pun di antara mereka ingat betapa anehnya seorang buta<BR>dapat menangkap tangan anak itu seperti dapat melihat saja.<BR>"Anak baik, hayo kau antarkan aku ke kuil itu," katanya.<BR>"Mau apa kau ke sana? Dia berpesan supaya orang jangan mengganggunya,"<BR>anak itu ragu-ragu.<BR>"Aku bisa mengobati luka-lukanya, siapa tahu bisa menyembuhkannya."<BR>"Wah, baik sekali ini!" Anak-anak itu bersorak. "Bawa dia ke sana, dua orang<BR>yang baik hati bertemu dan berkumpul. Paman buta kalau betul bisa<BR>menyembuhkannya, tentu dia senang hati!" Beramai-ramai tujuh orang anak<BR>itu mengantarkan Kun Hong ke sebuah kuil rusak yang berada di luar dusun,<BR>sunyi dan tak pernah didatangi orang kecuali anak yang suka bermain-main di<BR>tempat sunyi seperti itu.<BR>Anak-anak itu mengajak Kun Hong memasuki kuil, akan tetapi mereka<BR>menjadi kecewa ketika tiba di dalam. "Ah, dia sudah pergi.......!" kata anakanak<BR>itu setelah mencari ke sana ke mari tidak melihat kakek yang mereka<BR>ceritakan tadi. Akan tetapi Kun Hong dengan pendengarannya dapat<BR>menangkap adanya orang itu yang bersembunyi di atas! Hemm, mengapa<BR>orang itu bersembunyi? Agaknya dia tidak suka bertemu dengan orang lain,<BR>pikir Kun Hong.<BR>"Anak-anak, kakek itu sudah pergi. Biarlah, dan sekarang tempat ini untuk<BR>sementara akan kupergunakan untuk mengaso. Kalian pergilah sana mainmain,<BR>jangan ganggu aku yang hendak mengaso di sini. Tentang kakek itu,<BR>seperti yang dia sudah pesan kepada kalian, jangan kalian ceritakan kepada<BR>siapa pun juga, ya?"<BR>Seperti burung-burung di waktu pagi anak-anak itu menjawab, lalu<BR>berserabutan mereka lari keluar dari kuil itu. Kun Hong lalu meraba dengan<BR>tangannya membersihkan lantai yang penuh debu, kemudian duduk bersandar<BR>dinding yang retak-retak saking tua dan tak terpelihara. Dengan<BR>pendengarannya yang luar biasa Kun Hong dapat menangkap tarikan napas<BR>yang berat, tanda bahwa orang itu terluka parah. Namun masih dapat<BR>bersembunyi di atas membuktikan bahwa orang itu, bukanlah orang<BR>sembarangan.<BR>"Bertemu seorang buta tidak ada bahayanya karena dia tidak pandai mengenal<BR>muka orang. Lo-enghiong (orang tua gagah) silakan turun, siapa tahu siauw-te<BR>(aku yang muda) dapat membantu luka-lukamu," katanya perlahan.<BR>Terdengar napas ditahan, agaknya orang itu terkejut. Lalu menyambar turun<BR>tubuh seseorang, akan tetapi kakinya menimbulkan suara berat ketika dia<BR>sudah meloncat turun ke bawah, terang bahwa selain ilmu ginkangnya kurang<BR>hebat, mungkin juga dikarenakan luka-lukanya yang berat. Kun Hong tahu<BR>bahwa orang itu sudah berdiri di depannya, maka dia bersiap-siap menghadapi<BR>segala kemungkinan.<BR>"Kau....... kau....... bukankah kau Kwa Kun Hong dari Hoa-san-pai?" tiba-tiba<BR>orang itu berkata, suaranya besar.<BR>Kun Hong cepat bangkit berdiri, lalu menjura penuh penghormatan. "Ah,<BR>kiranya Tan-taijin (pembesar Tan) yang berada di sini, cocok dengan<BR>dugaanku. Benar, Tan-taijin, aku si buta adalah Kwa Kun Hong......."<BR>Belum habis Kun Hong bicara, orang itu sudah menubruk dan memeluknya<BR>sambil berkata dengan suara terharu.<BR>"Ah, anakku....... kasihan sekali kau....... siapa kira kau akan menjadi begini."<BR>Kun Hong menggigit bibirnya dan dia maklum akan keharuan kakek gagah<BR>perkasa ini. Dahulu dia bertemu dengan Tan Hok ini ketika Tan Hok masih<BR>menjadi pembesar kepercayaan kaisar di kota raja, kemudian untuk kedua<BR>kalinya bertemu di puncak Thai-san, malah kakek ini menjadi saksi pula akan<BR>peristiwa hebat di puncak Thai-san yang mengakibatkan kematian Cui Bi dan<BR>kebutaan matanya (baca Raja Pedang dan Rajawali Emas). Sekarang, agaknya<BR>karena teringat akan peristiwa itu dan melihat keadaan dirinya seperti seorang<BR>pengemis buta ini, maka kakek itu mengeluarkan ucapan seperti itu. Dia<BR>memaksa diri tersenyum dan balas memeluk.<BR>"Tan-taijin....... kau benar-benar seorang yang berbudi mulia. Dirimu sendiri<BR>terluka parah, menderita karena menjadi korban perampokan, akan tetapi kau<BR>masih bisa menaruh kasihan kepada seorang seperti aku......."<BR>Tan Hok melepaskan pelukannya, agaknya terkejut dan heran.<BR>"Kun Hong....... bagaimana kau bisa tahu akan keadaanku?"<BR>"Tan-taijin......."<BR>"Hushh, jangan sebut aku taijin lagi aku bukan pembesar. Aku lebih patut<BR>menjadi pamanmu!" tukas bekas pembesar itu,<BR>"Maaf, Paman Tan Hok, memang betul ucapanmu itu. Mari duduklah dan<BR>sebelum kita bicara biarlah aku memeriksa dan berusaha mengobati lukalukamu."<BR>Kakek tinggi besar itu memang Tan Hok adanya. Dia adalah bekas pejuang<BR>yang dahulu namanya amat terkenal sebagai seorang diantara pemimpin<BR>pasukan Pek-lian-pai, berjuang bahu membahu dengan para patriot lain dalam<BR>usaha mereka menumbangkan kekuasaan Mongol. Setelah usaha ini berhasil<BR>dan Ciu Goan Ciang mendirikan Kerajaan Beng dan menjadi kaisar, karena<BR>jasanya yang amat besar, Tan Hok lalu diangkat menjadi pembesar di kota<BR>raja. Di dalam perjuangannya itu, Tan Hok malah mengangkat tali<BR>persaudaraan dengan Si Raja Pedang Tan Beng San, sekarang ketua Thai-sanpai.<BR>Sekarang bekas pembesar itu malah menjadi buronan, tinggal di dalam<BR>sebuah kuil rusak dalam keadaan terluka parah. Benar-benar nasib manusia<BR>tak dapat disangka sebelumnya.<BR>Cepat Kun Hong melakukan pemeriksaan. Tan Hok menderita banyak lukaluka,<BR>akan tetapi yang paling hebat adalah luka di tengkuk dan di punggung<BR>bekas bacokan senjata tajam. Karena tidak segera mendapat pengobatan,<BR>luka-luka itu keracunan dan membengkak, mendatangkan demam hebat. Kun<BR>Hong segera mengeluarkan sebatang jarum perak, membuka luka-luka<BR>membengkak itu, mengeluarkan darah yang menghitam, lalu menaruh obat<BR>bubuk yang selalu tersedia di dalam buntalannya, malah memberi sebungkus<BR>untuk diminum.<BR>"Syukur keadaan luka-lukamu belum terlalu lama," katanya menghibur.<BR>"Setelah minum obat dalam tiga hari tentu akan pulih kembali tenaga paman.<BR>Biarlah aku mencari seorang anak untuk disuruh membeli obat."<BR>"Tidak usah, hiante. Di dusun ini mana ada toko obat? Kau katakan saja<BR>namanya obat-obat itu, aku akan mencarinya di kota. Sekarangpun rasanya<BR>sudah banyak enakan, terima kasih. Kwa-hiante, sekarang kau ceritakanlah<BR>bagaimana kau tahu bahwa aku mengalami perampokan?"<BR>Kun Hong tersenyum. "Aku malah sudah pernah memegang mahkota kuno<BR>yang dirampas perampok-perampok Hui-houw-pang dari tanganmu, Paman<BR>Tan Hok." Dengan tangan gemetar Tan Hok tiba-tiba memegang lengan Kun<BR>Hong.<BR>"Betulkah itu? Kun Hong, betul-betul kau pernah melihat mahkota itu......."<BR>"Melihat sih tak mungkin Paman......"<BR>"Ah, maafkan, sampai lupa aku....... tapi, tahukah kau di mana sekarang<BR>mahkota itu?" Suara yang penuh gairah ini menimbulkan keheranan di hati<BR>Kun Hong. Masa orang yang sudah dia ketahui sebagai seorang gagah yang<BR>berbudi ini sekarang begini serakah, begini loba akan harta benda? Pula, kalau<BR>betul apa yang dia dengar, bukankah semua harta itu termasuk mahkota kuno<BR>adalah benda simpanan kerajaan yang dicuri dan dilarikan oleh Tan Hok? Dan<BR>kenapa dia melarikan diri membawa harta curian, bagaimana pula keadaan<BR>keluarganya? Mengapa dia tidak menceritakan keadaannya, tidak<BR>menyusahkan keadaannya malah seperti tidak perduli akan luka-lukanya<BR>sebaliknya serta merta menanyakan mahkota itu? Kun Hong merasa tidak<BR>puas dan tidak ingin menceritakan apa yang dia ketahui tentang mahkota itu<BR>sebelum dia mendengar jelas duduknya perkara. "Paman Tan Hok, mengapa<BR>agaknya amat penting benda itu untukmu. Milik Pamankah benda itu?"<BR>Mendengar nada suara kecewa dari pemuda ini Tan Hok menarik napas<BR>panjang. Memang kedengarannya bodoh pertanyaanku tadi, seakan-akan tidak<BR>ada yang lebih penting daripada benda berharga itu. Memang sesungguhnya<BR>demikian, Kwa-hiante. Keluargaku binasa, isteriku tewas, hampir aku sendiri<BR>tewas, namun bagiku mahkota itu lebih penting. Kau dengarkan baik-baik<BR>penuturanku."<BR>Tan Hok lalu bercerita. Seperti telah diketahui, semenjak kaisar pertarna<BR>Kerajaan Beng-tiauw sudah tua dan berpenyakitan, maka terjadilah perebutan<BR>kekuasaan di kota raja. Namun karena para pangeran atau mereka yang sudah<BR>berjasa dalam menumbangkan Kerajaan Mongol merasa segan dan takut<BR>kepada kaisar sebagai pendiri Kerajaan Beng, sewaktu kaisar masih hidup,<BR>mereka tidak berani berterang. Diam-diam terjadi persaingan hebat, malah<BR>didesas-desuskan bahwa putera mahkota kaisar juga diam-diam terbunuh oleh<BR>seorang di antara saingannya, terbunuh dengan racun. Kemudian cucu kaisar,<BR>putera pangeran mahkota yang meninggal, yaitu Pangeran Kian Bun Ti,<BR>diangkat menjadi calon kaisar.<BR>Hal ini tentu saja mendatangkan rasa iri hati dan dendam yang<BR>disembunyikan. Sebaliknya, Pangeran Kian Bun Ti yang pandai mengambil hati<BR>kakeknya, memperkuat kedudukan dan pengaruhnya. Bahkan akhirnya ketika<BR>kaisar yang tua itu berpenyakitan dan makin lemah, boleh dibilang segala<BR>keputusannya tergantung dari pengaruh Pangeran Kian Bun Ti inilah.<BR>Sayang sekali bahwa pangeran ini terkenal sebagai seorang pemuda<BR>pemogoran, pemuda hidung belang. dan pemuda yang mudah sekali<BR>dipermainkan dan dipengaruhi oleh para penjilat. Pendeknya, seorang muda<BR>yang dangkal sekali pikirannya dan tidak bijaksana. Orang-orang yang<BR>mengelilinginya adalah orang-orang dari golongan hitam. Hal ini amat<BR>mengkhawatirkan hati para pembesar yang setia kepada kaisar tua dan<BR>Pemerintah Beng yang baru. Di antaranya terdapat Tan Hok yang menjadi<BR>orang kepercayaan Kaisar Thai Cu, yaitu pejuang Ciu Goan Ciang yang berhasil<BR>merobohkan kekuasaan Mongol. Diam-diam mereka ini memberi ingat kepada<BR>kaisar, akan tetapi ternyata kaisar itu selain sudah terkena pengaruh dan amat<BR>mencinta cucunya, juga karena kekuasaan Pangeran Kian Bun Ti sudah amat<BR>kuat, tidak mempercayainya.<BR>Akan tetapi Kaisar Thai Cu akhirnya terbuka juga pikirannya dan melihat gejala<BR>tidak baik dalam watak cucunya. Namun segala sesuatu telah terlambat, dia<BR>telah menjadi lemah berpenyakitan, sedangkan pembesar-pembesar tinggi dan<BR>berkuasa sudah jatuh di bawah pengaruh pangeran mahkota. Andaikata kaisar<BR>tua ini akan mengambil tindakan, dia khawatir kalau-kalau terjadi<BR>pemberontakan dan alangkah akan malu hatinya kalau dalam keadaan tua<BR>menghadapi kematian itu dia harus menghadapi pemberontakan cucunya<BR>sendiri. Dia tidak berdaya dan kesehatannya makin mundur karena hatinya<BR>tertekan.<BR>"Demikianlah, Kwa-hiante, keadaan akan kota raja. Keadaannya panas seperti<BR>api dalam sekam. Para setiawan terhadap kaisar tua merasa hidup di atas<BR>ujung pedang dan kami maklum bahwa setiap saat kaisar tiada, tentu kami<BR>akan dihalau, bahkan nyawa kami terancam. Kalau pangeran mahkota belum<BR>berani terang-terangan memusuhi kami adalah karena dia masih sungkan<BR>terhadap kaisar." Tan Hok mengaso sebentar untuk bernapas panjang,<BR>nampaknya patriot tua ini merasa berduka sekali akan keadaan negaranya.<BR>"Beberapa pekan sebelum kaisar meninggal dunia, aku dipanggil menghadap<BR>dan kaisar mengusir semua orang ke luar dari kamarnya. Kemudian kaisar<BR>menyerahkan sebuah surat perintah di mana kaisar memerintahkan puteranya<BR>yang menjadi raja muda di utara, yaitu Pangeran Yung Lo, untuk bertindak<BR>dan menggantikan kedudukan kaisar apabila kelak ternyata Pangeran Kian Bun<BR>Ti tidak benar dalam menjalankan tugas sebagai kaisar baru. Pendeknya,<BR>dalam surat perintah itu, mendiang kaisar memberi kekuasaan kepada<BR>puteranya itu untuk menjadi penghukum atas diri keponakannya, yaitu<BR>Pangeran Kian Bun Ti. Surat itu dipercayakan kepadaku untuk kelak<BR>disampaikan kepada Pangeran Yung Lo di waktu keadaan memerlukannya."<BR>Kun Hong sebetulnya tidak perduli akan keadaan pemerintah, karena memang<BR>dia tidak menaruh perhatian atas kehidupan kaisar dan pembesar. Akan tetapi<BR>mendengar penuturan ini, dia tertarik.<BR>"Kemudian bagaimana, Paman Tan?" Tan Hok menarik napas panjang.<BR>"Tugasku itu berat sekali karena aku termasuk orang yang dianggap musuh<BR>oleh Kian Bun Ti. Banyak hal yang membikin dia tidak senang kepadaku, di<BR>antaranya peristiwa dengan dua orang keponakanmu dahulu itu dan peristiwa<BR>di puncak Thai-san (baca Rajawali Emas). Karena tahu akan ancaman bahaya,<BR>surat penting itu lalu kusembunyikan, tidak di dalam rumahku. Kemudian<BR>kekhawatiranku menjadi kenyataan, beberapa bulan setelah kaisar wafat. Kian<BR>Bun Ti yang mengangkat diri menjadi kaisar itu melakukan pembersihan<BR>terhadap pembesar-pembesar setiawan, di antaranya termasuk aku. Rumahku<BR>disita, isteriku sampai tewas dalam keributan, aku dapat melawan dan<BR>melarikan diri dengan pertolongan anak buahku yang setia dan tidak lupa aku<BR>membawa surat rahasia itu bersamaku. Celaka sekali, nasib sedang buruk, di<BR>dalam perjalananku melarikan diri itu, aku diserang oleh perampok-perampok<BR>Hui-houw-pang dan menderita luka-luka. Ini masih belum apa-apa, yang<BR>membuat aku putus asa adalah surat itu kena terampas juga sungguhpun<BR>tidak ada orang yang mengetahui di mana tempatnya."<BR>"Hemm, agaknya surat itu Paman sembunyikan di dalam mahkota kuno itu,<BR>bukan?"<BR>"Betul, Hiante! Inilah sebabnya mengapa aku ingin tahu di mana adanya<BR>mahkota itu sekarang. Benda itu jauh lebih berharga daripada nyawaku!"<BR>Mendengar ucapan yang bersemangat ini, Kun Hong mengerutkan keningnya.<BR>"Paman Tan Hok, surat itu hanya surat yang menyangkut urusan perebutan<BR>warisan mahkota dan kedudukan kaisar, urusan keluarga kaisar belaka.<BR>Bagaimana kau anggap lebih berharga daripada nyawamu? Keadaanmu sendiri<BR>amat sengsara, isteri meninggal, rumah tangga berantakan, bahkan diri sendiri<BR>menderita begini hebat. Mengapa kau lebih mementingkan urusan kaisar?<BR>Apakah karena Paman mempunyai harapan bahwa kelak kalau Pangeran Yung<BR>Lo berhasil merebut kekuasaan, lalu Paman akan diberi kedudukan tinggi?"<BR>Sejenak Tan Hok tidak berkata apa-apa. Kun Hong tidak tahu betapa orang tua<BR>tinggi besar itu memandang kepadanya dengan mata mendelik alis berdiri,<BR>bukan main marahnya!<BR>"Hiante....... Hiante........ kalau aku tidak ingat kau sudah buta, kalau aku<BR>tidak ingat bahwa kau putera Kwa Tin Siong, kalau aku tidak tahu bahwa kau<BR>seorang pendekar gagah perkasa dan bahwa ucapanmu ini hanya karena tidak<BR>mengerti, telah kujatuhkan kedua tanganku untuk memukulmu sampai mati!"<BR>Kun Hong kaget setengah mati sampai dia meloncat ke atas dalam keadaan<BR>masih duduk bersila. Perbuatan ini tidak dia sengaja, saking kagetnya, namun<BR>Tan Hok menjadi kagum bukan main. Sedikit banyak orang she Tan ini adalah<BR>seorang pejuang kawakan, seorang yang tahu akan ilmu silat tinggi, akan<BR>tetapi ilmu meringankan tubuh seperti ini baru sekarang dia melihatnya.<BR>Kun Hong yang sudah duduk kembali cepat berkata sambil mengangkat kedua<BR>tangannya di depan dada. "Maaf, Paman. Aku benar-benar terkejut. Kuanggap<BR>kaulah yang keliru dan terlalu mementingkan harta dan kedudukan, siapa kira<BR>kauanggap aku yang keliru. Harap jelaskan, kekeliruan bagaimana yang<BR>kulakukan dengan ucapanku tadi, agar terbuka mata hatiku."<BR>Tan Hok memegang lengan Kun Hong. "Anak muda, kau pandai ilmu silat, kau<BR>ahli filsafat, kau seorang berbudi dan penuh welas asih, akan tetapi agaknya<BR>ayahmu tidak menurunkan pengetahuan tentang jiwa kepahlawanan<BR>kepadamu. Ketahuilah bahwa semua usahaku ini kulakukan bukan sekali-kali<BR>untuk mencari kedudukan, bukan sekali-kali untuk membela kaisar sematamata,<BR>melainkan demi kepentingan negara dan bangsa!"<BR>Kun Hong kaget. "Bagaimana penjelasannya, Paman? Aku tidak mengerti."<BR>"Ketahuilah bahwa jatuh bangunnya kebangsaan adalah dalam tangan<BR>pemerintahan yang memegang tampuk pimpinan. Demikian pula<BR>kesejahteraan rakyat, kemajuan, kemakmuran, ketenteraman hidup, semua<BR>berada di tangan pemerintah yang berkuasa. Kalau orang-orang yang<BR>memegang tampuk kekuasaan terdiri dari orang-orang yang tidak bersih<BR>batinnya, yang tidak baik martabat dan wataknya, pemerintah akan menjadi<BR>lemah, kacau-balau dan rakyat akan hidup sengsara. Biarpun kita telah<BR>berhasil menghalau pemerintah penjajah dan menjadi merdeka, namun<BR>bahaya masih selalu mengancam dari segenap penjuru. Bajak-bajak laut<BR>Jepang selalu merongrong keamanan di pantai timur, terutama sekali orangorang<BR>Mongol yang hendak membalas dendam atas kekalahannya selalu<BR>berusaha menyerang dari utara. Juga suku-suku bangsa di perbatasan barat<BR>mengincar kedudukan di pusat sehingga kalau pemegang pemerintahan<BR>lemah, ada bahaya besar mengancam negara dan bangsa. Aku melihat sendiri<BR>betapa lemah Pangeran Kian Bun Ti, betapa buruk wataknya dan dia hanya<BR>mementingkan kesenangan diri pribadi tanpa memperdulikan bangsanya dan<BR>tugasnya sebagai pemimpin. Oleh karena inilah aku sebagai sebrang pencinta<BR>bangsa dan negara, harus ikut bertindak, kalau perlu membantu Pangeran<BR>Yung Lo menjatuhkan Pangeran Kian Bun Ti sehingga keadaan pemerintahan<BR>kuat, negara dan bangsa menjadi makmur. Itulah cita-citaku, sama sekali<BR>bukan untuk kepentingan diriku sendiri dan inilah cita-cita semua patriot yang<BR>mencintai bangsanya."<BR>Inilah pelajaran baru bagi Kun Hong. Semenjak kecil, ketika dia dahulu masih<BR>gemar membaca kitab-kitab, dia selalu membaca kitab-kitab filsafat, kebatinan<BR>dan kesasteraan. Belum pernah dia mempelajari tentang tata negara, tentang<BR>politik, maupun sifat-sifat pahlawan yang berjiwa patriot. Akan tetapi oleh<BR>karena dasar daripada sifat kepahlawanan ini pun sama, yaitu sifat yang<BR>mementingkan kemakmuran rakyat daripada diri sendiri, yaitu sifat yang amat<BR>indah dan baik, maka dengan mudah dia dapat mcnerimanya.<BR>"Terima kasih, Paman. Sekarang aku mengerti dan maafkan prasangkaku yang<BR>bukan-bukan atas usahamu yang ternyata suci murni dan gagah perkasa itu.<BR>Nah, sekarang giliranku untuk bercerita tentang mahkota kuno itu."<BR>Dengan singkat, Kun Hong menceritakan tentang mahkota itu kepada Tan Hok.<BR>Bahwa mahkota itu dijadikan perebutan antara Hui-houw-pang dan Kiangliong-<BR>pang yang hendak menggunakan benda itu untuk mencari kedudukan<BR>dan mencari muka di depan kaisar baru. Bahwa kemudian mahkota itu<BR>terjatuh ke dalam tangan Tiat-jiu Souw Ki akan tetapi terampas kembali oleh<BR>seorang gadis pendekar bernama Loan Ki, kemudian dalam kunjungan ke<BR>pulau Ular Hijau bersama dia, mahkota itu akhirnya terampas oleh majikan<BR>pulau Ular Hijau yang dibantu banyak orang pandai.<BR>Mendengar ini, Tan Hok menjadi girang. "Memang bukan hal menggembirakan<BR>mendengar benda itu terjatuh ke dalam tangan orang-orang jahat yang lihai,<BR>akan tetapi masih tidak begitu buruk. Celakalah kalau mahkota itu terjatuh ke<BR>tangan kaisar baru, tentu akan musnah pula surat rahasia itu. Kun Hong,<BR>bagaimanakah keadaan Pulau Ching-coa-to di telaga itu? Adakah harapan<BR>andaikata aku diam-diam menyelidik ke sana dan mencari kesempatan<BR>merampasnya kembali? Aku sudah menghubungi banyak teman, bekas anak<BR>buahku di Pek-lian-pai dahulu dan aku bisa mengumpulkan tenaga-tenaga<BR>yang dapat dipercaya."<BR>Kun Hong menggeleng kepala. "Berbahaya, Paman. Majikan pulau itu, Chingtoanio<BR>dan anak perempuannya, adalah dua orang yang berilmu tinggi, sukar<BR>dikalahkan. Pulau itu sendiri penuh jebakan dan perangkap yang amat<BR>berbahaya. Ini semua masih belum hebat, yahg paling sulit adalah kenyataan<BR>bahwa Ching-toa-nio mendapat bantuan orang-orang pandai dan benar-benar<BR>lihai, apalagi Ka Chong Hoatsu, benar-benar merupakan tokoh yang sukar<BR>dilawan. Harap kau jangan sembrono menyerbu ke sana, sebaiknya dicari jalan<BR>yang baik."<BR>Berkali-kali Tan Hok mengeluh. "Aku sudah tahu sampai di mana hebatnya<BR>kepandaianmu, Hiante, akan tetapi kau sendiri masih memuji penghuni Chingcoa-<BR>to, berarti tentu mereka benar-benar lihai. Kalau begini, tidak lain jalan<BR>bagiku kecuali pergi ke Thai-san dan minta bantuan adikku Beng San, Thai-san<BR>Ciang-bun-jin (ketua Thai-san-pai)."<BR>Kun Hong mengangguk-angguk. "Kiranya memang hanya paman Beng San<BR>yang akan sanggup merampas kembali mahkota itu."<BR>Tan Hok memegang pundak Kun Hong. "Terima kasih atas pertolonganmu dan<BR>terutama atas keterangan tentang mahkota itu, Hiante. Sekarang juga aku<BR>akan berangkat ke Thai-san agar tidak terlambat. Tolong kau beritahukah<BR>kepadaku resep obat itu."<BR>Kun Hong lalu menyebutkan nama bahan-bahan obat. Dia sengaja memilih<BR>ramuan yang tidak hanyak macamnya dan yang paling manjur. Kemudian<BR>mereka berpisah dan Kun Hong tidak mencegah perginya kakek itu karena dia<BR>maklum akan pentingnya tugas kakek patriot ini.<BR>Setelah kakek raksasa Tan Hok itu pergi, Kun Hong termenung di dalam kuil<BR>rusak. Cerita kakek itu amat mempengaruhi hatinya. Bangkit jiwa<BR>kepahlawanannya. Memang, apa artinya hidup ini kalau tidak dapat berbuat<BR>kemanfaatan bagi sesama manusia? Dan kiranya kemanfaatan yang paling<BR>utama adalah kebaktian terhadap nusa dan bangsa, kebaktian yang tak kenal<BR>batas, kebaktian berdasarkan rela berkorban, baik harta benda, badan,<BR>maupun nyawa. Alangkah mulianya, alangkah besarnya. Dan Tan Hok adalah<BR>seorang pahlawan, seorang patriot seperti itu. Tapi dia seorang buta. Apa yang<BR>dapat dia lakukan untuk ikut-ikutan berdarma bakti terhadap tanah air dan<BR>bangsa? Kepandaiannya hanya dapat dia pergunakan untuk membela diri, atau<BR>melindungi orang-orang tertindas yang kebetulan bertemu dengannya.<BR>Terbatas dan sempit sekali. Bagaimana dia akan dapat ikut membantu<BR>perjuangan seperti yang dilakukan kakek Tan Hok?<BR>Kun Hong termenung sedih. Keadaan negara sedang kacau-balau. Orangorang<BR>besar berebutan pangkat, saling serang saling menjatuhkan, untuk<BR>membantu golongan masing-masing, untuk mengangkat kaisar pilihan masingmasing.<BR>Kun Hong seorang ahli filsafat. Dia dapat menduga apa akan jadinya<BR>kalau orang-orang yang memiliki bakat dan kepandaian memimpin rakyat,<BR>sibuk maunya sendiri berebutan kedudukan. Lupa bahwa mereka itu menjadi<BR>pembesar dan pemimpin untuk mengatur kehidupan rakyat, untuk<BR>mendatangkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat. Kalau para<BR>pembesar dan yang menyebut diri sendiri atau disebut orang pemimpinpemimpin<BR>itu saling bekerja sama mencurahkan pikiran dan tenaga demi<BR>kepentingan rakyat, sudah tentu negara akan menjadi aman dan baik<BR>kesejahteraan rakyat terjamin, kesukaran-kesukaran teratasi. Akan tetapi<BR>sebaliknya kalau orang-orang besar ini saling cakar untuk berebutan<BR>kedudukan, agaknya kesejahteraan atau kemakmuran hanya akan terasa oleh<BR>mereka sendiri, negara kacau, keamanan rusak, hukum dan keadilan tak<BR>berlaku, hukum liar atau hukum rimba merajalela, siapa kuat dia menang dan<BR>siapa menang dia benar selalu.<BR>Semua renungan ini membuat Kun Hong. berduka karena dia tidak berdaya<BR>untuk ikut menggulung lengan baju dan membantu usaha para patriot.<BR>Kemudian dia teringat akan mahkota itu. Mahkota yang menyimpan sehelai<BR>surat rahasia dari mendiang kaisar. Penting sekali surat itu, karena siapa tahu<BR>kekuasaan dan pengaruh surat peninggalan kaisar itu akan dapat mengakhiri<BR>kedudukan Kaisar Muda Kian Bun Ti tanpa banyak terjadi pertumpahan darah.<BR>Ah, mengapa dia tidak berusaha mendapatkan surat itu? Inipun akan<BR>merupakan sebuah usaha perjuangan membantu para patriot! Dia harus<BR>kembali ke Ching-coa-to dan mendapatkan mahkota itu! Akan tetapi<BR>bagaimana? Selain dia buta, juga pulau itu amat berbahaya, penuh rahasia,<BR>bagaimana dia bisa mencari mahkota itu? Belum lagi diingat bahwa penghuni<BR>pulau amat lihai sehingga merampas mahkota merupakan hal yang amat tak<BR>mungkin baginya. Akan berbeda kiranya kalau dia tidak buta.<BR>"Duhai Cui Bi......." keluhnya sedih, "...... ternyata pengorbananku<BR>membutakan mata ini sama sekali tidak merugikan aku sebaliknya malah<BR>merugikan cita-cita baik, merugikan perjuangan dan menambah dosaku<BR>belaka......"<BR>Kita tinggalkan dulu Kun Hong yang berkeluh kesah dan mari kita menjenguk<BR>keadaan di puncak Thai-san.<BR>Pegunungan Thai-san dengan banyak puncaknya merupakan pegunungan yang<BR>terkenal dengan pemandangan alamnya yang indah dan sebagian besar masih<BR>liar, belum terjamah tangan dan terinjak kaki manusia. Beberapa tahun akhirakhir<BR>ini, nama Thai-san muncul menjadi nama terkenal di dunia persilatan<BR>dengan berdirinya Partai Persilatan Thai-san-pai. Biarpun baru beberapa tahun<BR>berdirinya, namun para partai persilatan memandang partai baru ini dengan<BR>segan dan hormat karena mereka mengenal siapa orang yang menjadi pendiri<BR>dan tulang punggung partai baru ini. Siapakah di antara orang-orang kangouw<BR>tidak mendengar nama Raja Pedang Tan Beng San?<BR>Inilah ketua Thai-san-pai, bahkan pendiri Thai-san-pai, seorang pendekar<BR>gagah perkasa yang memiliki ilmu pedang tinggi sehingga mendapat julukan<BR>Raja Pedang yang baru. Adapun raja pedang lama adalah ayah mertuanya<BR>yang sudah meninggal, yaitu Raja Pedang Cia Hui Gan yang berjuluk Bu-tekkiam-<BR>ong (Raja Pedang Tiada Bandingan). Tentu saja isteri ketua Thai-san-pai<BR>ini, puteri Bu-tek-kiam-ong, juga seorang ahli pedang yang sukar dicari<BR>bandingannya. Memang demikianlah, nyonya ketua Thai-san-pai ini amat<BR>pandai dalam ilmu pedang, apalagi Ilmu Pedang Sian-li-kiam-hoat (Ilmu<BR>Pedang Bidadari) yang menjadi kepandaian warisan.<BR>Seperti dituturkan jelas dalam cerita Rajawali Emas, ketua Thai-san-pai ini<BR>mempunyai tiga orang anak. Pertama adalah Tan Sin Lee, puteranya yang<BR>terlahir dari mendiang Kwa Hong, yang sejak kecil dididik oleh ibunya itu amat<BR>lihai. Yang ke dua adalah Tan Kong Bu, puteranya yang terlahir dari mendiang<BR>Kwee Bi Goat dan putera ke dua ini sejak kecil dirawat dan dididik oleh kakeknya,<BR>Song-bun-kwi Kwee Lun Si Iblis Berkabung. Anaknya yang ketiga, terlahir<BR>dari Cia Li Cu isterinya terakhir, adalah mendiang Tan Cui Bi. Semua ini telah<BR>dituturkan dengan jelas dan hebat di dalam cerita Rajawali Emas.<BR>Seperti telah diceritakan dalam Rajawali Emas, di Thai-san dirayakan<BR>pernikahan antara Tan Sin Lee dengan Thio Hui Cu dan Tan Kong Bu dengan<BR>Kui Li Eng. Perayaan itu amat meriah dan sekaligus ketua Thai-san-pai ini<BR>berbesan dengan tokoh-tokoh Hoa-san-pai karena dua orang gadis itu, Hui Cu<BR>dan Li Eng adalah anak murid Hoa-san-pai.<BR>Jilid 10 : bagian 1<BR>Beberapa bulan setelah menikah. Tan Sin Lee membawa isterinya ke<BR>Pegunungan Lu-liang-san tempat tinggal mendiang ibunya. Di tempat ini dia<BR>memiliki sebuah rumah gedung yang lengkap dan mewah, juga mempunyai<BR>sawah ladang yang cukup luas. Bersama isterinya dia hidup dengan penuh<BR>kebahagiaan di tempat dingin ini, disegani dan dihormati karena keramahan<BR>dan kedermawanan mereka, oleh para penduduk di sekitar pegunungan itu.<BR>Adapun Tan Kong Bu lain lagi kesukaannya. Dia membawa isterinya dan juga<BR>diikuti oleh kakeknya ke Pegunungan Min-san di mana dia bercita-cita<BR>mendirikan partai seperti yang dilakukan ayahnya, untuk memperkembangkan<BR>ilmu silat yang dia miliki. Juga isterinya merupakan seorang pendekar wanita<BR>yang amat tinggi ilmu silatnya, ilmu silat Hoa-san yang aseli. Suami isteri<BR>muda ini bercita-cita untuk menggabung ilmu silat mereka yang berlainan<BR>ragamnya ini menjadi ilmu silat partai mereka. Song-bun-kwi yang sudah tua<BR>tentu saja menjadi pelindung dan penasehat, di dalam masa tuanya kakek ini<BR>dapat juga mengecap kebahagiaan dengan menyaksikan kerukunan cucunya<BR>itu.<BR>Demikianlah, biarpun tadinya bergembira ria dalam merayakan pernikahan Sin<BR>Lee dan Kong Bu, setelah anak-anak itu pergi membawa isteri masing-masing,<BR>ketua Thai-san-pai dan isterinya merasa kesunyian. Puteri mereka satusatunya,<BR>gadis lincah jenaka yang amat mereka sayang, telah meninggal dunia<BR>dalam keadaan mengenaskan (baca Rajawali Emas), membunuh diri karena<BR>patah hati dalam cinta kasihnya dengan Kwa Kun Hong. Sekarang, dua orang<BR>putera yang baru saja muncul mengakui ayah mereka setelah mereka itu<BR>dewasa, telah pergi pula.<BR>Baiknya tak lama setelah pernikahan-pernikahan itu dilangsungkan, Cia Li Cu<BR>melahirkan anak perempuan. Bayi ini merupakan sinar terang dalam cuaca<BR>gelap, menerangi hati suami isteri yang sedang diliputi kegelapan itu, Puteri<BR>mereka, Cui Bi, telah mati. Akan tetapi sekarang lahirlah seorang anak<BR>perempuan, pengganti Cui Bi! Anak itu mungil, montok sehat dan tangisnya<BR>nyaring.<BR>Dengan muka berseri-seri ketua Thai-san-pai itu memondong bayinya,<BR>mengamat-amati muka bayi itu sambil tertawa-tawa senang. "Aha, kau Cui Bi<BR>cilik! Ha-ha-ha, serupa benar, cuma bibirnya lebih runcing, tentu lebih suka<BR>mengoceh daripada mendiang cicinya, ha-ha!"<BR>Li Cu yang masih rebah di pembaringan memandang terharu dan dua titik air<BR>mata menghias bulu matanya. "Siapa....... siapa namanya.......?" tanyanya<BR>lirih.<BR>Mendengar suara ini Beng San menengok dan dia pun menggigit bibir melihat<BR>dua titik air mata itu. Dengan hati-hati dia meletakkan puterinya di dekat Li Cu<BR>mengusap dahi isterinya penuh kasih sayang lalu berkata,<BR>"Cui Sian namanya, ya....... dia Cui Sian......" Setelah mencium dahi isterinya<BR>perlahan, Beng San cepat keluar dari kamar itu agar tidak terlihat oleh<BR>isterinya betapa dia pun menitikkan dua butir air mata. Akan tetapi Li Cu tahu<BR>akan hal ini karena air mata itu tertinggal di dahinya ketika suami itu tadi<BR>menciumnya. Bayangan mendiang Cui Bi lah yang mendorong keluarnya air<BR>mata dari mata kedua orang suami isteri ini.<BR>Kehadiran Cui Sian dalam rumah tangga ketua Thai-san-pai benar-benar<BR>mendatangkan kegembiraan. Hal ini tentu saja amat menggirangkan hati para<BR>anak murid Thai-san-pai karena sekarang guru mereka mulai rajin pula<BR>melatih ilmu silat. Tadinya, semenjak peristiwa hebat di puncak Thai-san-pai<BR>itu, semenjak kematian Cui Bi, ketua Thai-san-pai ini selalu tampak murung<BR>dan malas mengajar sehingga para anak murid menjadi khawatir karena hal ini<BR>berarti akan melemahkan partai persilatan itu. Akan tetapi kelahiran Cui Sian<BR>benar-benar mengubah segalanya, malah nyonya ketua sendiri berkenan turun<BR>tangan dan kadang-kadang memberi petunjuk kepada murid-murid pilihan.<BR>Cui Sian sendiri ternyata makin besar menjadi makin mungil. Ia menjadi<BR>kesayangan semua orang di Thai-san-pai, malah disayang pula oleh anak-anak<BR>para penduduk di sekitar pegunungan itu. Biarpun dia menjadi ketua partai<BR>persilatan, namun Beng San dan isterinya tidak mengasingkan diri. Seringkali<BR>mereka mengajak puterinya ini turun dari puncak untuk mengunjungi para<BR>penduduk kampung dan beramah tamah, membiarkan Cui Sian bermain-main<BR>dengan anak-anak kampung.<BR>Tiga tahun terlalu cepat Thai-san-pai berkembang pesat dan tampak tandatanda<BR>bahwa berkumpulan ini kelak akan menjadi sebuah partai persilatan<BR>yang besar dan berpengaruh. Hal ini terjadi karena Beng San memang pandai<BR>memilih murid yang memiliki bakat dan dasar yang baik. Dia tidak<BR>mengutamakan jumlah banyak, melainkan mengutamakan mutu. Anak murid<BR>Thai-san-pai kurang lebih lima puluh orang laki perempuan, sebagian besar<BR>tinggal di bawah gunung dan hanya beberapa hari sekali naik ke puncak untuk<BR>menerima petunjuk dan untuk memperlihatkan hasil latihan di depan guru<BR>mereka. Ada pula sebagian orang anak murid, yaitu mereka yang datang dari<BR>jauh dan terutama sekali yang tidak mempunyai keluarga lagi, tinggal di Thaisan-<BR>pai, di bawah puncak, mendirikan pondok-pondok kayu yang makin lama<BR>makin banyak dan merupakan perkampungan tersendiri. Mereka yang<BR>bertempat tinggal di situlah yang mengerjakan sawah ladang sebagai sumber<BR>penghasilan Thai-san-pai, di samping pemberian para anak murid yang<BR>memiliki tempat tinggal sendiri dan yang mampu menyumbang.<BR>Pada hari itu menjelang senja, serombongan orang mendaki Pegunungan Thaisan.<BR>Rombongan ini besar juga, lebih dari dua puluh orang berkuda, dan<BR>mereka menghentikan kuda di bagian lereng bukit yang tak mungkin dapat<BR>dilalui kuda. Seorang kakek tinggi besar setelah melompat turun dari atas<BR>punggung kudanya dan menambatkan kendali kuda pada batang pohon,<BR>berkata kepada teman-temannya,<BR>"Tidak patut kalau kita semua naik ke puncak. Biarpun ketuanya adalah<BR>terhitung saudara angkat pernah muda, namun dia adalah seorang ketua<BR>partai besar yang harus dihormati. Saudara-saudara tinggallah menanti di sini,<BR>juga ji-wi-enghiong (saudara gagah berdua) dan ji-wi-loenghiong (orang tua<BR>gagah berdua), biarlah saya sendiri naik ke puncak menemui Thai-san-paicu<BR>(ketua Thai-san-pai). Setelah fihak tuan rumah memperkenankan, barulah<BR>saudara-saudara naik."<BR>Yang bicara ini bukan lain adalah Tan Hok dan sebagian besar di antara para<BR>temannya adalah bekas-bekas anggauta dan tokoh Pek-lian-pai. Dua orang<BR>laki-laki berusia tiga puluhan tahun yang berwajah tampan dan bertubuh tegap<BR>adalah Kam-hengte (dua saudara Kam) dari Lok-yang, sepasang kakak beradik<BR>gagah perkasa yang terkenal dengan julukan Lok-yang-siang-houw (Sepasang<BR>Harimau Lok-yang) dan terkenal pula sebagai pendekar-pendekar perkasa<BR>anak murid Kong-thong-pai. Yang tua bernama Kam Bok, yang muda bernama<BR>Kam Siok. Mereka ini adalah jago-jago Kong-thong-pai, murid Yang Ki Cu,<BR>tokoh Kong-thong-pai yang dahulu menjadi seorang pejuang juga. Agaknya<BR>darah patriot menurun kepada sepasang anak murid ini sehingga dalam<BR>banyak hal kedua orang saudara Kam ini suka membantu Tan Hok dan Peklian-<BR>pai. Mereka terkenal dengan keahlian bermain golok, tentu saja<BR>mengandalkan Ilmu Golok Kong-thong-to-hoat.<BR>Adapun dua orang kakek tua yang ikut dalam rombongan itu dan yang disebut<BR>sebagai lo-cianpwe (orang tua gagah) oleh Tan Hok adalah dua orang pendeta<BR>beragama To yang jelas dapat dilihat dari pakaian mereka yang berwarna<BR>kuning polos dan rambut putih mereka diikatkan ke atas. Seorang yang<BR>punggungnya agak bongkok dan tubuhnya kurus kering adalah seorang tokoh<BR>Bu-tong-pai, seorang ahli pedang bernama Seng Tek Cu. Orang ke dua adalah<BR>sahabat baiknya, seorang tosu (pendeta To) perantauan, penggemar<BR>permainan catur yang namanya tidak banyak dikenal orang namun<BR>sesungguhnya adalah seorang ahli silat tinggi yang amat lihai. Dia tidak<BR>membawa senjata apa-apa kecuali sebatang cambuk biasa seperti cambuk<BR>penggembala kerbau yang terbuat daripada bambu dengan ujung tali. Di<BR>punggungnya tergantung sebuah papan catur sedangkan di pinggangnya<BR>terdapat sebuah kantung berisi biji-biji catur. Tubuhnya tinggi kurus, mukanya<BR>selalu tersenyum ramah. Inilah Koai To-jin, nama yang selalu dia pakai. Tentu<BR>saja ini adalah nama samaran belaka karena Koai To-jin berarti Pendeta To<BR>Aneh. Dua orang tosu ini sedikitnya tentu ada enam puluh tahun usianya.<BR>Seperti telah dituturkan di bagian depan, setelah kehilangan mahkota kuno<BR>yang mengandung rahasia itu sehingga menderita luka-luka, Tan Hok<BR>mengadakan perhubungan dengan bekas anak buahnya yaitu para orang<BR>gagah dari Pek-lian-pai, kebetulan dia dapat bertemu pula dengan Kun Hong<BR>sehingga mendapat pertolongan dan disembuhkan. Kemudian Tan Hok lalu<BR>mengumpulkan teman-temannya yang sementara itu sudah mencari bala<BR>bantuan, bahkan berhasil mendapat bantuan Kam-hengte dan dua orang tosu<BR>lihai itu. Mendengar penuturan Tan Hok tentang mahkota yang terjatuh ke<BR>tangan penghuni Pulau Ching-coa-to, dua orang tosu itu kaget karena mereka<BR>sudah mendengar kehebatan pulau ini. Maka serta merta mereka menyatakan<BR>kegembiraan dan persetujuan ketika Tan Hok menyatakan hendak minta<BR>bantuan ketua Thai-san-pai Si Raja Pedang. Berangkatlah rombongan itu<BR>sampai berpekan-pekan lamanya dan menjelang senja itu mereka tiba di<BR>lereng Thai-san.<BR>Mendengar permintaan Tan Hok supaya mereka menanti di situ, Koai To-jin<BR>tertawa bergelak, lalu menurunkan papan catur dan membuka kantong biji<BR>catur sambil berkata.<BR>"Ha-ha-ha, Tan-sicu baik sekali, memberi kesempatan kepada pinto (aku)<BR>untuk mengaso dan bermain catur dengan Seng Tek Cu. Hayo, sobat, kita<BR>main catur sampai sekenyangnya, siapa tahu kita akan segera menghadapi<BR>urusan penting sehingga tidak akan sempat main catur lagi!" Dalam sekejap<BR>mata saja papan catur sudah diletakkan di atas tanah dan biji-bijinya diatur di<BR>atas papan. Seng Tek Cu tertawa pula dan menyambut tantangan ini.<BR>Tak Hok tertawa, kemudian berpamit lagi lalu cepat-cepat mendaki puncak<BR>karena khawatir kalau-kalau malam segera tiba dan membuat pendakian itu<BR>sukar. Teman-temannya memandang dan melihat punggung orang gagah yang<BR>bertubuh raksasa itu lenyap di balik sebuah batu karang besar. Kemudian<BR>karena tidak ada pekerjaan lain, sebagian di antara mereka asyik menonton<BR>dua orang tosu yang sedang mengadu otak bermain catur, sebagian lagi duduk<BR>bercakap-cakap.<BR>Kita ikuti Tan Hok yang dengan sigapnya berloncatan menuju ke puncak Thaisan<BR>pai. Tiba-tiba dengan kaget dia melihat tujuh orang berloncatan ke luar<BR>dari balik batu-batu gunung dan pohon, langsung menghadangnya dengan<BR>pedang di tangan dan sikap mengancam. Dia tersenyum dan menegur,<BR>"Sahabat-sahabat di depan bukankah para eng-hiong (orang gagah) dari Thaisan-<BR>pai?"<BR>"Tentu saja kami adalah anak murid Thai-san-pai. Kau ini siapakah berani<BR>lancang memasuki wilayah Thai-san-pai tanpa ijin?" jawab seorang di antara<BR>mereka dengan suara keras dan sikap yang angkuh.<BR>Diam-diam Tan Hok merasa heran sekali. Sangat boleh jadi kalau anak-anak<BR>Thai-san-pai ada yang belum pernah melihatnya karena tiga tahun yang lalu<BR>adalah waktu yang cukup lama dan mungkin orang-orang ini adalah anak-anak<BR>murid baru. Akan tetapi melihat sikap yang begini kasar, benar-benar amat<BR>mengherankan hatinya karena tidak sesuai dengan watak Beng San, ketua<BR>mereka. Namun menghadapi orang-orang muda dia berlaku sabar dan<BR>tersenyum, lalu memberi hormat.<BR>"Ah, harap kalian memaafkan aku karena tergesa-gesa tidak sempat memberi<BR>kabar kedatanganku. Aku adalah Tan Hok, kakak angkat dari ketua kalian......"<BR>"He kiranya kau pelarian itu? Saudara-saudara, kebetulan sekali penjahat<BR>besar yang lari sambil mencuri barang-barang berharga dari istana itu datang<BR>ke sini. Ular mencari gebuk, Hayo serang!" Dan serta merta tujuh orang itu<BR>menyerang Tan Hok dengan pedang mereka.<BR>Bukan main kagetnya Tan Hok. Cepat dia mengelak dan masih sempat<BR>berseru, "Saudara-saudara, jangan serang aku......!<BR>Beritahukan kedatanganku kepada Beng San, ketua kalian. Aku bukan<BR>musuh.......!" Akan tetapi mana mungkin dia menghadapi serangan-serangan<BR>itu sambil bicara? Pundaknya sudah termakan ujung pedang dan terpaksa Tan<BR>Hok juga mencabut pedangnya melakukan perlawanan sedapatnya. Tan Hok<BR>adalah seorang pejuang yang memiliki kepandaian bukan rendah, namun<BR>ternyata tujuh orang itu rata-rata lihai sekali ilmu pedangnya. Selain itu,<BR>kesehatannya belum pulih benar, masih lemas. Kiranya melawan seorang di<BR>antara mereka saja belum tentu dia akan dapat menang, apalagi sekarang<BR>dikeroyok tujuh. Tan Hok bingung dan bangkitlah rasa penasaran dan marah.<BR>Dia mengamuk. Sia-sia saja, karena berkali-kali tubuhnya termakan senjata<BR>lawan sehingga dia menderita luka-luka parah. Terpaksa Tan Hok lalu<BR>memutar pedang sekuat tenaga dan selagi tujuh orang pengeroyoknya itu<BR>mundur menjaga diri, dia meloncat ke belakang dan lari turun dari lereng itu<BR>untuk minta bantuan teman-temannya. Tujuh orang itu mengejarnya dan.......<BR>dari balik-balik pohon dan batu muncul banyak orang yang ikut pula<BR>melakukan pengejaran.<BR>Cuaca sudah mulai gelap ketika Tan Hok dengan napas terengah-engah tiba di<BR>tempat teman-temannya mengaso. Semua orang kaget melihat datangnya<BR>kakek raksasa ini, pakaiannya cabik-cabik dan tubuhnya mandi darah.<BR>"Salah mengerti....... aku....... aku dikeroyok orang-orang Thai-san-pai......."<BR>kata Tan Hok yang roboh dengan tubuh lemas. Teman-temannya marah sekali.<BR>Dua orang tosu tua itu pun sudah meloncat berdiri dan siap dengan senjata<BR>mereka. Beberapa menit kemudian dari atas turunlah banyak orang, dua puluh<BR>lebih, laki-laki dan wanita, semua memegang pedang. Di dalam gelap itu sukar<BR>mengenal wajah mereka, malah ada beberapa orang wanita yang menutupi<BR>muka dengan sehelai sapu tangan hitam. Tanpa banyak cakap lagi orangorang<BR>ini menyerbu teman-teman Tan Hok dan terjadilah pertempuran hebat<BR>di tempat gelap itu!<BR>Hiruk-pikuk suara senjata beradu, berdencing pedang bertemu pedang,<BR>mendesir-desir angin senjata yang digerakkan oleh tangan terlatih kuat. Seng<BR>Tek Cu mainkan pedangnya dengan cepat sehingga di mana dia bersilat<BR>tampak cahaya pedangnya berkelebatan seperti kilat menyambar-nyambar<BR>mencari mangsa. Ahli pedang Bu-tong-pai ini kaget bukan main karena ratarata<BR>musuh-musuh yang menyerbu ini memiliki kepandaian tinggi, apalagi tiga<BR>orang wanita yang menutupi muka dengan sapu tangan. Dia dikeroyok oleh<BR>lima orang, di antaranya dua dari tiga wanita berkedok itu. Sama sekali dia<BR>tidak dapat mengenal ilmu pedang mereka, akan tetapi benar-benar<BR>pengeroyokan lima orang ini membuat dia kewalahan dan dalam tiga puluh<BR>jurus saja dia sudah menderita luka bacokan pada pangkal lengan kirinya.<BR>Keadaan Koai To-jin juga tidak menyenangkan. Tosu aneh ini mengamuk dan<BR>mainkan senjatanya yang aneh, yaitu pecut di tangan kanan dan papan catur<BR>di tangan kiri. Papan itu terbuat daripada baja dan dia pergunakan seperti<BR>sebuah perisai, sedangkan pecutnya menyambar-nyambar ganas<BR>mengeluarkan suara nyaring. Hebat kepandaian Koai To-jin ini. Akan tetapi<BR>pada saat itu dia pun repot menghadapi pengeroyokan tiga orang, yaitu<BR>seorang adalah wanita berkedok sapu tangan hitam, dan dua adalah orangorang<BR>tinggi besar yang bertenaga besar dan mainkan golok besar serta<BR>ruyung. Dia terdesak hebat dan hampir saja papan caturnya terlepas ketika<BR>berkali-kali bertemu dengan ruyung, malah kemudian terdengar suara keras<BR>dan papan caturnya pecah menjadi dua! Namun, Koai To-jin tidak menjadi<BR>gugup. Dia mengeluarkan suara gerengan keras dan pecutnya menyambarnyambar<BR>mengeluarkan suara nyaring, mencegah para pengeroyoknya<BR>mendesak terlampau dekat.<BR>Betapapun para orang gagah Pek-lian-pai itu melawan dengan nekat, namun<BR>fihak pengeroyok ternyata lebih kuat.<BR>Apalagi karena teman-teman Tan Hok ini bertempur dengan hati penuh<BR>keraguan dan kebimbangan, serta kacau-balau kehilangan pemimpin karena<BR>Tan Hok sendiri sudah tak berdaya. Mereka, seperti juga Tan Hok, merasa<BR>ragu-ragu dan bingung mengapa orang-orang Thai-san-pai malah menyerang<BR>dan memusuhi mereka.<BR>Tiba-tiba terdengar bentakan mengguntur di dalam gelap itu dan sesosok<BR>bayangan kakek tinggi besar mengamuk.<BR>Kakek ini tidak menggunakan senjata, kedua lengan bajunya yang lebar dan<BR>panjang berkibar-kibar ke sana ke mari dan setiap orang Pek-lian-pai yang<BR>tersambar ujung lengan baju, terlempar dan tak dapat melawan lagi! Kakek ini<BR>sekali melompat sudah tiba di depan Tan Hok, sambil tertawa-tawa tangan<BR>kanannya memukul ke arah dada Tan Hok yang sudah duduk di atas tanah.<BR>Tan Hok kaget sekali, berusaha menangkis dah berseru penuh keheranan dan<BR>kemarahan,<BR>"Song-bun-kwi.......!" Akan tetapi suaranya terhenti, tubuhnya terlempar dan<BR>kakek patriot ini menggeletak tak bernyawa lagi oleh pukulan hebat yang<BR>meremukkan isi dadanya!<BR>Kacau-balaulah rombongan Tan Hok. Tak kuat mereka melawan lagi. Seng Tek<BR>Cu dan Koai To-jin maklum bahwa kalau mereka melawan terus, agaknya akan<BR>berakibat tidak enak bagi fihak mereka. Lawan terlampau kuat, apalagi dibantu<BR>kakek luar biasa itu. Lebih-lebih kekagetan mereka mendengar Tan Hok<BR>sebelum tewas menyebut nama Song-bun-kwi. Kalau benar kakek ini Songbun-<BR>kwi, celakalah mereka. Sudah terlampau sering mereka mendengar nama<BR>besar Song-bun-kwi yang selama bertahun-tahun ini tak pernah terdengar lagi<BR>muncul di dunia kang-ouw.<BR>"Saudara-saudara, mundur.......! Lari turun gunung.......!" Seng TekCu berseru<BR>keras. Orang-orang Pek-lian-pai adalah bekas pejuang yang sudah biasa<BR>bertempur, maklum bahwa kemunduran mereka kali ini bukanlah mundur<BR>untuk seterusnya, melainkan mundur karena menghadapi lawan terlampau<BR>kuat dan mundur untuk mengatur siasat. Apalagi setelah Tan Hok tewas,<BR>mereka perlu mengadakan perundingan bersama untuk menghadapi orangorang<BR>Thai-san-pai yang secara tiba-tiba berubah menjadi musuh ini. Sambil<BR>menyeret dan menyambar tubuh teman-teman yang terluka atau tewas,<BR>mereka beramai mengundurkan diri dan lari turun gunung.<BR>Namun sepasang orang muda murid Kong-thong-pai tidak sudi meninggalkan<BR>gelanggang pertempuran. Mereka berdua ini, Kam Bok dan Kam Siok, adalah<BR>orang-orang muda yang baru saja turun ke dalam gelanggang perjuangan.<BR>Darah muda mereka, sifat kesatria mereka yang menjunjung tinggi<BR>kegagahan, yang beranggapan bahwa bagi orang-orang gagah pantang<BR>meninggalkan gelanggang pertempuran dengan masih bernyawa, membuat<BR>mereka berkeras kepala tidak mau ikut teman-teman mereka lagi. Lok-yang<BR>Siang Houw, dua harimau dari Lok-yang ini malah mengeluarkan bentakanbentakan<BR>keras, mainkan golok di tangan mereka dan merobohkan beberapa<BR>orang pengeroyok.<BR>"Mundur semua, biar pinceng (aku) bereskan bocah-bocah sombong ini!"<BR>Mendengar kata-kata kakek tinggi besar ini semua pengeroyok mundur dan<BR>berhadapanlah dua orang saudara Kam ini dengan kakek yang tadi membunuh<BR>Tan Hok ini. Lok-yang Siang-houw maklum bahwa kakek ini amat sakti, maka<BR>mereka segera menyerang berbareng dengan Ilmu Golok Kong-thong-pai yang<BR>amat cepat. Dua batang golok di tangan mereka berkelebatan seperti<BR>sepasang naga menyambar korban.<BR>"He-he, bocah-bocah Kong-thong-pai masih ingusan berani menjual lagak di<BR>sini? Ha-ha-ha!"<BR>Hwesio tinggi besar ini menggerakkan kedua lengannya, ujung lengan baju<BR>seperti hidup bergerak ke depan memapaki sinar golok, ketika bertemu<BR>dengan golok lalu melibat seperti ular. Dua orang saudara Kam itu kaget<BR>sekali, berusaha mencabut golok masing-masing namun ternyata golok<BR>mereka seperti telah berakar di lengan baju itu, tak dapat dicabut kembali.<BR>Sambil tertawa-tawa kakek itu menghentakkan kedua lengannya dan....... dua<BR>orang saudara Kam itu terhuyung ke depan. Terpaksa dengan kaget sekali<BR>mereka melepaskan gagang golok, akan tetapi dengan nekat mereka<BR>menerjang lagi dengan kepalan tangan, menyerang kakek tinggi besar itu<BR>dengan pukulan-pukulan keras.<BR>Kakek itu kini menggunakan pinggir telapak tangan menangkis dua kali.<BR>"Krekki! Krek!!" Tubuh dua orang saudara Kam terpental dan lengan tangan<BR>mereka patah-patah oleh tangkisan yang mengandung pukulan ini.<BR>"Ha-ha-ha, bocah-bocah macam kalian mana mampu melawan Song-bunkwi?"<BR>Kakek itu tertawa bergelak.<BR>Kam Bok dan Kam Siok menggigit bibir menahan sakit lalu bangun berdiri<BR>dengan muka pucat.<BR>"Hwesio jahat, kau bukan Song-bun-kwi......!!" bentak Kam Bok yang sudah<BR>pernah mendengar bahwa Song-bun-kwi biarpun juga seorang tinggi besar<BR>namun bukan seorang hwesio dan tokoh besar itu tak pernah bertempur<BR>secara keroyokan melainkan selalu turun tangan seorang diri tanpa teman.<BR>"Kalian semua bukan orang-orang Thai-san-pai!" seru Kam Siok sambil<BR>memandang ke sekeliling. "Orang-orang Thai-san-pai takkan berbuat curang<BR>seperti pengecut-pengecut macam kalian!"<BR>Ucapan dua orang saudara Kam ini membangkitkan kemarahan. Terdengar<BR>suara wanita memberi aba-aba dan segera orang-orang itu menyerbu ke<BR>depan mengeroyok Kam Bok dan Kam Siok. Kasihan sekali dua orang saudara<BR>dari Lok-yang ini. Mereka berusaha melawan sedapat mungkin dengan tangan<BR>kiri, namun mana bisa tangan kiri dipergunakan untuk menangkis sekian<BR>banyaknya senjata tajam yang datang menyerang bertubi-tubi? Lengan tangan<BR>mereka sebentar saja remuk penuh luka, kemudian tubuh mereka dihujani<BR>senjata tajam. Hebatnya, dua orang saudara Kam yang masih muda ini tak<BR>pernah mengeluarkan rintihan sedikit pun sampai tubuh mereka roboh dan<BR>masih saja dijadikan bulan-bulan senjata sehingga terpotong-potong dan rusak<BR>mengerikan!<BR>Setelah pertempuran berhenti, orang-orang yang mengaku orang-orang Thaisan-<BR>pai ini menghilang ke dalam kegelapan malam. Keadaan sunyi kembali di<BR>tempat itu, sunyi yang menyeramkan. Apalagi ketika bintang-bintang di langit<BR>sudah muncul, memberi sedikit penerangan di tempat pertempuran tadi,<BR>keadaan makin menyeramkan dan mengerikan. Beberapa ekor binatang hutan<BR>yang tak diketahui jelas bentuknya dalam keadaan remang-remang itu, hatihati<BR>dan perlahan berdatangan di tempat itu dan terjadilah pesta pora ketika<BR>binatang-binatang ini menjilati darah yang berceceran di atas rumput.<BR>******<BR>Berpekan-pekan lamanya Beng San dan isterinya merasa gelisah. Peristiwa<BR>pada tiga pekan yang lalu benar-benar menggegerkan Thai-san-pai. Dia dan<BR>isterinya turun dan memeriksa sendiri ketika seorang anak murid melapor<BR>bahwa di lereng sebelah barat terdapat dua buah mayat manusia yang<BR>keadaannya rusak teraniaya. Ketua Thai-san-pai ini dan isterinya melakukan<BR>pemeriksaan dan alangkah gelisah hati mereka melihat betapa di samping<BR>mayat dua orang laki-laki muda yang mengerikan itu, juga tampak bekasbekas<BR>pertempuran besar di tempat itu.<BR>"Apakah artinya ini?" Dengan muka berubah khawatir, Cia Li Cu bertanya<BR>kepada suaminya, Tan Beng San ketua Thai-san-pai. Yang ditanya<BR>mengerutkan kening, menggeleng-geleng kepala perlahan.<BR>"Dua orang yang menjadi mayat itu sukar dikenali mukanya, dan agaknya<BR>pertempuran yang terjadi di sini baru malam tadi terjadi. Sayang kita tidak<BR>mendengar sama sekali sehingga tidak dapat mengetahui siapa yang telah<BR>bertempur dan apa sebabnya. Tapi, dengan adanya dua mayat di tempat ini,<BR>dan kenyataan bahwa pertempuran dilakukan di wilayah Thai-san-pai, terang<BR>bahwa hal-hal yang tidak baik sedang terjadi dan hal itu tentu menyangkut<BR>Thai-san-pai."<BR>Sejak hari itu Beng San memberi perintah kepada para muridnya yang mondok<BR>di Thai-san-pai, untuk berjaga-jaga dan meronda setiap malam. Namun<BR>hatinya selalu terasa tidak tenteram. Juga Li Cu merasa tak enak hatinya<BR>semenjak terjadi hal yang penuh rahasia di lereng barat itu. Kekhawatirannya<BR>yang hendak disembunyikan dapat diketahui bahwa dia tidak memperbolehkan<BR>lagi Cui Sian bermain-main di luar pondok di puncak. Selalu anak perempuan<BR>yang baru berusia empat tahun kurang itu harus berada di dekatnya, tak boleh<BR>berpisah sebentar pun.<BR>Beng San maklum akan perasaan isterinya, maka pada suatu hari dia<BR>menghiburnya.<BR>"Isteriku, tak perlu kau terlalu gelisah. Bukan baru sekarang kita tahu bahwa<BR>banyak sekali orang-orang jahat di dunia kang-ouw selalu menaruh dendam<BR>dan memusuhi kita. Mereka itu mau apa? Kita bisa melawan, tentang mati<BR>hidup berada di tangan Thian Yang Maha Kuasa. Kenapa harus gelisah?"<BR>Li Cu menarik napas panjang. Semenjak kematian puterinya, Cui Bi, nyonya ini<BR>nampak kurus. Kehadiran Cui San sebagai pengganti Cui Bi, memang juga<BR>membawa serta kekhawatiran besar, khawatir kalau-kalau Cui Sian kelak akan<BR>mengalami nasib seperti cicinya (kakak perempuannya). Karena anaknya inilah<BR>maka ia berkhawatir sekarang ini.<BR>"Suamiku, kiranya kau sudah cukup mengenal watakku. Akan menjadi buah<BR>tertawaan dunia agaknya kalau aku sampai ketakutan menghadapi ancaman<BR>orang jahat. Tidak, Suamiku, semenjak kecil aku sudah dididik oleh mendiang<BR>ayah untuk menjunjung tinggi akan kegagahan dan tidak takut akan kematian.<BR>Akan tetapi, kau lihat puteri kita ini........ Cui Sian masih begini kecil. Hanya<BR>kalau teringat kepadanya maka hatiku menciut, nyaliku mengecil dan<BR>perasaanku diliputi kekhawatiran."<BR>"Sudahlah, kita serahkan saja kepada Thian Yang Maha Kuasa. Sampai pucat<BR>mukamu, agaknya kau kurang tidur dalam beberapa hari ini."<BR>"Memang demikian, hatiku tidak enak saja......."<BR>Enam pekan kemudian semenjak terjadinya peristiwa di lereng barat itu.<BR>Malam itu amat indah. Bulan bersinar tenang sejuk. Pohon-pohon dan rumput<BR>bermandikan cahaya bulan nampak segar. Dari puncak Bukit Thai-san, bulan<BR>seakan-akan mengambang di antara mega, begitu dekat seperti mudah<BR>dijangkau tangan. Para anak murid Thai-san-pai, setelah sebulan lebih bekerja<BR>keras melakukan penjagaan, malam itu pun mulai malas untuk meronda.<BR>Malam terlalu indah untuk memikirkan hal yang bukan-bukan, untuk<BR>menguatirkan hal yang tidak-tidak. Tak mungkin rasanya di malam seindah itu<BR>akan terjadi hal-hai yang tidak baik. Kata orang, cahaya bulan purnama<BR>membangkitkan kasih sayang di hati manusia sehingga pada malam seperti<BR>itu, sukarlah untuk menaruh hati benci kepada orang lain.<BR>Cui Sian bersama ayah bundanya juga bergembira di pekarangan depan<BR>pondok mereka. Tiada habisnya anak itu bertanya kepada ibunya tentang<BR>puteri di bulan, tentang kakek bulan seperti yang didongengkan ibunya<BR>kepadanya.<BR>"Ibu, apakah cici Cui Bi juga di bulan? dengan kata-kata lucu dan tidak jelas<BR>anak itu bertanya sambil merebahkan kepala di atas pangkuan ibunya dan<BR>matanya yang lebar bening itu terbelalak memandang bulan.<BR>Sejenak Li Cu bertukar pandang dengan suaminya. "Betul, nak, cicimu juga di<BR>bulan." Li Cu memeluk dan menciumi dahi puterinya itu.<BR>"Ibu, aku juga ingin terbang ke bulan......." Cui Sian merengek. Ibunya<BR>menghibur dan memelukinya, diam-diam berdoa mohon kepada kakek bulan<BR>agar supaya kelak Cui Sian lebih bahagia dalam cinta kasihnya, tidak seperti<BR>Cui Bi.<BR>Pada saat itu tangan Beng San menyentuh lengannya penuh arti. Li Cu<BR>menengok dan memandang ke arah pandangan suaminya. Hatinya berdebar<BR>tegang. Jelas sekali, diudara sebelah barat, meluncur ke atas sepucuk sinar<BR>merah, berulang-ulang sampai tiga kali. Tak salah lagi, itulah panah api yang<BR>dilepas orang sebagai tanda rahasia. Belum hilang kagetnya, di sebelah utara<BR>meluncur lain sinar, kini kehijauan, lebih terang daripada tadi.<BR>"Bawa dia masuk......." kata Beng San perlahan kepada isterinya, nada<BR>suaranya tenang.<BR>Jilid 10 : bagian 2<BR>Li Cu bangkit, memondong anaknya. Cui Sian tidak mau dan menangis ingin<BR>menonton bulan.<BR>"Mari masuk, Sian-ji, di luar banyak angin," ibunya menghibur dan<BR>membawanya masuk ke rumah, lalu menyerahkan anak itu kepada inang<BR>pengasuh, bibi Cang. Cui Sian tetap menangis dan rewel, akan tetapi Li Cu<BR>memaksa anak itu dibawa masuk dan dihibur bibi Cang dan para pelayan yang<BR>berada di pondok itu. Ia sendiri setelah mengambil pedangnya, lalu kembali<BR>keluar. Ia melihat suaminya berdiri sambil memandang ke arah barat. Ia<BR>segera berdiri di sisi suaminya, melayangkan pandang ke arah barat dan utara<BR>di mana tadi tampak panah-panah api berwarna merah dan hijau.<BR>"Siapakah yang datang? Apa maksud mereka?" bisiknya.<BR>Beng San menggeleng kepala, mengerutkan kening. "Entah, belum pernah<BR>mendengar tokoh menggunakan panah api. Biasanya panah-panah api<BR>dipergunakan oleh rombongan yang memberi tanda rahasia......."<BR>Tiba-tiba terdengar suara tinggi melengking dari arah barat, disusul suara<BR>hampir sama dari arah utara. Tubuh suami istcri itu menegang.<BR>"Li Cu, aku harus turun dari sini melakukan pemeriksaan ke bawah. Siapa tahu<BR>murid-murid kita menghadapi musuh." Tanpa menanti persetujuan Li Cu, Beng<BR>San menggerakkan kaki hendak lari turun. Akan tetapi tiba-tiba tangannya<BR>dipegang Li Cu yang menahannya. Dia heran, dan menoleh.<BR>"Kau di sini saja, menjaga Cui Sian, biarkan aku sendiri."<BR>"Jangan.......!" pinta Li Cu.<BR>Beng San terheran-heran. Baru kali ini selama menjadi isterinya, Li Cu<BR>memperlihatkan keraguan yang amat mengherankan ini. Dia memegang kedua<BR>pundak isterinya, pandang matanya mencari-cari ke dalam mata isterinya, lalu<BR>tanyanya heran,<BR>"Li Cu.......! Jangan bilang bahwa kau....... takut?"<BR>Wanita itu menarik napas panjang, mengandung isak. "Entahlah........ aku.......<BR>tak enak sekali hatiku. Kau di sinilah saja bersamaku, menjaga keselamatan<BR>Cui Sian."<BR>Beng San memandang dengan mata terbelalak. Hampir dia tidak percaya akan<BR>pendengarannya sendiri. Kemudian dia tertawa bergelak, "Ha-ha-ha, isteriku,<BR>kau seperti anak kecil merengek-rengek! Alangkah lucunya! Siapakah berani<BR>mengganggu anak kita? Pula, biar aku turun puncak, kau berada di sini dan<BR>siapa dapat mengganggu Cui Sian kalau kau berada di sini? Huh, cacing busuk<BR>dari mana berani menghadapi isteriku! Pedangmu akan mampu membasmi<BR>seratus orang lawan, pula, jalan ke puncak ini tidak mudah, tak sembarangan<BR>orang dapat melewati jalan rahasia kita."<BR>"Tidak, suamiku....... sekali ini saja....... kau bersamaku menjaga Cui Sian."<BR>Beng San mencabut pedangnya dan tampak sinar berkilat ketika Liong-cukiam<BR>tercabut. Sekali berkelebat pedang itu.telah membelah sebuah batu<BR>besar di depannya, hampir tanpa bersuara!<BR>"Li Cu!" Suara Beng San terdengar tegas dan keren. "Baiknya hanya batu ini<BR>yang mendengar ucapanmu tadi. Karena dia sudah mendengarkan suara<BR>isteriku, maka kubinasakan! Bagaimana kalau ada manusia yang mendengar<BR>isteri ketua Thai-san-pai bicara seperti itu? Kau tahu, aku adalah ketua Thaisan-<BR>pai, dan perkumpulan ini harus kupertahankan dengan nyawaku kalau<BR>perlu! Mana mungkin Thai-san-pai kedatangan musuh,ketuanya bersembunyi<BR>saja di sini membiarkan anak-anak murid Thai-san-pai menghadapi bahaya<BR>tanpa pimpinan? Li Cu, insyaflah, tak mungkin kita berubah menjadi<BR>pengecut!"<BR>Ucapan suaminya ini agaknya merupakan air dingin yang menyadarkan Li Cu.<BR>Ia terisak, menundukkan kepalanya, lalu berkata perlahan, "Maafkan aku.......<BR>kau pergilah, kau benar. Tapi....... hatiku tidak enak....... aku khawatir<BR>anakku, bukan keselamatan kita......."<BR>"Li Cu, perlihatkanlah keberanianmu sebagai seorang gagah!" Beng San<BR>menuntut.<BR>"Srattt!" Kembali sinar berkelebat ketika pedang Liong-cu-kiam yang pendek<BR>tercabut. Sinar pedang menyambar dan batu yang tadi terbabat menjadi dua<BR>potong kini terbabat menjadi empat potong oleh pedang Li Cu, hanya sedikit<BR>menimbulkan suara dan bunga api!<BR>"Aku siap menjaga puncak ini dengan taruhan nyawa!"<BR>Beng San tersenyum, mendekatkan muka mencium pipi isterinya, lalu sekali<BR>berkelebat dia sudah melompat jauh dan lari turun puncak, dipandang oleh<BR>isterinya yang tanpa terasa menitikkan dua butir air mata. Li Cu lalu menjaga<BR>di depan pondok, menyesali diri sendiri yang hampir saja kehilangan<BR>pegangan, kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri. Ini semua karena<BR>kekhawatirannya kehilangan Cui Sian. Ia menjadi penakut setelah satu kali ia<BR>kehilangan Cui Bi.<BR>Melalui jalan rahasia, Beng San cepat tiba di lereng gunung. di mana dia<BR>melihat dari jauh banyak obor menyala dan malah terdengar suara senjata<BR>beradu. Kagetnya bukan kepalang dan cepat dia mengerahkan ilmu lari cepat<BR>menuju ke tempat itu. Diam-diam dia menyesal mengapa dia datang<BR>terlambat. Baiknya pertempuran itu baru saja dimulai, buktinya di kedua belah<BR>fihak belum jatuh korban. Dia melihat belasan orang muridnya menghadapi<BR>serbuan puluhan orang, malah masih banyak terdapat kelompok orang-orang<BR>yang berjajar di sebelah barat dan sekelompok lagi di sebelah utara. Matanya<BR>menyapu cepat melihat bahwa kelompok di utara itu adalah orang-orang<BR>Kong-thong-pai yang dipimpin oleh seorang tosu tua.<BR>Adapun di sebelah barat dengan kaget dia kenal beberapa orang dari Pek-lianpai.<BR>Hatinya berubah lega. Orang-orang sendiri, pikirnya. Tapi mengapa terjadi<BR>pertempuran? Tentu salah paham! Cepat dia berseru keras,<BR>"Saudara-saudara, harap suka menahan senjata dulu!!"<BR>Para anak murid Thai-san-pai dengan girang mengenal. suara guru mereka,<BR>cepat mereka melompat mundur dan menahan pedang masing-masing, lalu<BR>berkumpul dan berdiri di belakang Beng San. Dari fihak lawan terdengar tosu<BR>Kong-thong-pai menyuruh anak muridnya berhenti, juga di fihak Pek-lian-pai<BR>yang dipimpin oleh dua orang tosu pula.<BR>"Bagus! Ketua Thai-san-pai sendiri keluar. Urusan ini harus diselesaikan!" kata<BR>seorang tosu tua yang kurus kering, bongkok, dan memegang pedang.<BR>Melihat tosu ini, kembali Beng San terkejut dan cepat-cepat menjura.<BR>"Ah kiranya totiang Seng Tek Cu yang datang berkunjung. Juga kalau tidak<BR>keliru sangka, totiang yang lain ini tentulah seorang tokoh Kong-thong-pai<BR>yang terhormat. Malah aku mengenal beberapa saudara dari Pek-lian-pai di<BR>sini. Maaf-maaf ....... tamu-tamu terhormat datang, aku tidak tahu dan tidak<BR>mengadakan penyambutan." Kemudian Beng San menoleh kepada para anak<BR>muridnya dan membentak keren. "Kalian ini bagaimana tidak bisa<BR>membedakan siapa kawan siapa lawan? Mengapa berani berlaku kurang ajar<BR>terhadap tamu-tamu terhormat?? Kau....... Ki Han! Jawablah, kau yang<BR>memimpin saudara-saudaramu melakukan penjagaan. Bagaimana bisa terjadi<BR>hal ini?"<BR>Su Ki Han adalah murid tertua dari Thai-san-pai, seorang laki-laki berusia tiga<BR>puluh tahun, seorang gagah yang sudah dipercaya oleh Beng San. Dia cepat<BR>berlutut di depan Beng San dan menjawab,<BR>"Mana teecu (murid) berani tidak mentaati aturan suhu? Sama sekali murid<BR>dan para adik seperguruan tidak berani bersikap kurang hormat terhadap<BR>tamu. Akan tetapi orang-orang ini tidak memberi kesempatan kepada kami<BR>untuk bicara. Datang-datang mereka menyerang kami dan sudah tentu saja<BR>kami terpaksa mempertahankan diri dan mempertahankan nama besar Thaisan-<BR>pai. Harap suhu sudi menyelidiki dan kalau teecu dan adik-adik<BR>seperguruan salah, kami sanggup menerima hukumannya."<BR>Lega hati Beng San dan dia percaya penuh kepada murid-muridnya ini. Dia lalu<BR>menoleh lagi kepada Seng Tek Cu, memandang penuh kekhawatiran dan<BR>pertanyaan sambil berkata. "Totiang mendengar sendiri ucapan muridku.<BR>Sebetulnya apakah yang terjadi dan mengapa Totiang membawa serta<BR>pasukan yang terdiri dari saudara-saudara Pek-lian-pai dan malah ada<BR>rombongan Kong-thong-pai, lalu datang-datang menyerang murid-muridku?"<BR>Seng Tek Cu, tosu kurus kering bongkok dari Bu-tong-pai ini, mendengar dan<BR>tertawa mengejek. "Huh, alangkah lucunya kenyataan yang tidak lucu! Pinto<BR>dan semua murid Bu-tong-pai, semua orang gagah yang selama hidup<BR>menjunjung kegagahan, kebenaran dan keadilan, semua tokoh dunia kangouw<BR>memandang tinggi kepada ketua Thai-san-pai yang dianggap seorang<BR>berilmu yang berjiwa pendekar. Sebulan lewat yang lalu, kalau ada orang<BR>bilang bahwa ketua Thai-san-pai seorang pengecut yang tidak mengenal<BR>pribudi, pasti pinto (aku) akan turun tangan memukul rusak mulut orang yang<BR>bilang demikian itu. Sekarang pinto menyaksikan sendiri betapa kabar orang<BR>tentang kehebatan ketua Thai-san-pai ternyata bohong belaka!"<BR>Diam-diam Beng San kaget, namun dia tidak heran. Jawabnya dengan suara<BR>masih tenang, "Totiang, dunia ini memang makin lama makin kotor oleh<BR>perbuatan manusia-manusia yang tidak benar. Banyak kejahatan dilakukan<BR>orang, akan tetapi kejahatan yang paling keji adalah fitnah. Dalam urusan ini<BR>pun saya rasa ada fihak yang melakukan fitnah terhadap Thai-san-pai, harap<BR>Totiang suka berhati-hati menghadapi fitnah dan menyelidiki terlebih dulu<BR>dengan seksama sebelum menjatuhkan keputusan."<BR>"Ho-ho, ketua Thai-san-pai! Mata pinto masih belum buta! Tidak hanya pinto<BR>melihat dengan kedua mata sendiri, bahkan pinto merasai pukulan-pukulan<BR>anak murid Thai-san-pai yang gagah perkasa, he-he, terlalu gagah sehingga<BR>sombong dan galak. Kejadian satu setengah bulan yang lalu di lereng ini<BR>bukanlah impian buruk, melainkan kenyataan yang pinto alami sendiri. Maka<BR>tak perlu kau berpura-pura tidak tahu. Apakah kau begitu pengecut untuk<BR>menyangkal kejadian yang disaksikan oleh puluhan pasang mata? Mayatmayat<BR>masih belum hancur di dalam kuburannya, orang-orang yang terluka<BR>masih belum sembuh, semua akibat sepak terjang Thai-san-pai, dan kau<BR>masih ada muka untuk menyangkal?"<BR>Berubah wajah Beng San. Inilah hebat! Teringat dia akan keadaan di lereng<BR>barat, di mana terdapat mayat dua orang tak dikenal dan bekas-bekas<BR>pertempuran besar.<BR>"Totiang, dan cu-wi (tuan-tuan sekalian), harap dengarkan keteranganku!<BR>Dalam hal ini pasti terjadi salah pengertian yang besar! Memang pada satu<BR>setengah bulan yang lalu, aku dan para murid Thai-san-pai melihat bekas<BR>pertempuran di lereng barat dan menemukan dua mayat yang tidak kami<BR>kenal, dalam keadaan rusak teraniaya. Kami sendiri masih bingung<BR>memikirkan siapa adanya dua mayat yang sudah kami kubur itu, tapi......"<BR>"Jahanam! Itulah dua orang murid pinto, Lok-yang Siang-houw Kam-heng-te!<BR>Hayo kau ganti nyawa dua orang murid pinto!" tiba-tiba tosu tua yang<BR>memimpin rombongan Kong-thong-pai berseru sambil mencabut sebatang<BR>golok tipis dari pinggangnya. Tosu ini bukan lain adalah Yang Ki Cu, seorang<BR>tosu tokoh Kong-thong-pai yang terkenal dengan ilmu goloknya, seorang<BR>bekas pejuang. Golok di tangannya ini istimewa sekali, tipis dan mudah<BR>melengkung, akan tetapi jangan dipandang rendah karena golok tipis ini amat<BR>kuat dan tajam sehingga mampu membabat putus senjata lain yang terbuat<BR>daripada baja. Semua anak murid Ko-thong-pai juga mencabut golok mereka<BR>dan sikap mereka sudah mengancam sekali.<BR>Beng San makin kaget. Kiranya mayat-mayat itu adalah mayat Lok-yang<BR>Siang-houw yang sudah dia kenal nama harumnya. Dia mengangkat tangan<BR>mencegah terjadinya pertempuran karena murid-muridnya juga menjadi panas<BR>menghadapi fitnah keji terhadap Thai-san-pai ini.<BR>"Ji-wi Totiang dan saudara semua, harap suka bicara dulu sebelum turun<BR>tangan! Sebetulnya, apakah yang telah terjadi di sini satu setengah bulan yang<BR>lalu?"<BR>Sekarang Seng Tek Cu yang bicara, "Ketua Thai-san-pai, sebetulnya tidak<BR>perlu diulang lagi karena buktinya sudah cukup kuat. Akan tetapi karena pada<BR>waktu itu engkau tidak muncul, biarlah kau sekarang mempertanggung<BR>jawabkan perbuatan murid-muridmu yang biadab, dibantu oleh mertuamu si<BR>iblis Song-bun-kwi. Dengar! Waktu itu pinto dan Koai To-jin ini, juga beberapa<BR>saudara Pek-lian-pai, dibantu oleh Lok-yang Siang-houw, mengantar saudara<BR>Tan Hok untuk menemuimu dan minta bantuanmu tentang perkara perjuangan<BR>yang penting. Akan tetapi, ketika saudara Tan Hok naik ke puncak seorang<BR>diri, dia bertemu dengan murid-murid Thai-san-pai yang langsung memaki dan<BR>menyerangnya. Siapa tahu Thai-san-pai telah dijadikan kaki tangan kaisar<BR>baru sehingga mengkhianati perjuangan yang tadinya kau aku sebagai kakak<BR>angkatmu itu. Saudara Tan Hok lalu turun dikejar murid-muridmu yang jahat,<BR>tentu saja kami lalu menghadapi murid-muridmu, terjadi pertempuran matimatian<BR>dan muncullah mertuamu si iblis laknat itu membuat kami menderita<BR>kekalahan. Saudara Tan Hok tewas di tangan Song-bun-kwi, dan kedua<BR>saudara Kam juga tewas, di samping banyak saudara Pek-lian-pai yang gugur.<BR>Nah, sekarang kau mau bilang apa lagi?"<BR>Kalau ada kilat menyambar dirinya di saat itu, kiranya Beng San tidak akan<BR>sekaget ketika mendengar kata-kata ini. Mukanya berubah pucat kehijauan<BR>dan dia menoleh kepada murid-muridnya. Serentak para muridnya berseru,<BR>"Bohong! Fitnah belaka! Bohong semua itu, Suhu. Teecu sekalian tidak pernah<BR>bertempur dengan mereka ini!"<BR>Beng San merasa seperti dalam sebuah mimpi buruk sekali. Kakak angkatnya,<BR>Tan Hok, tewas di tempat ini dalam perjalanan hendak menemuinya? Dan<BR>yang membunuh Tan Hok adalah kakek Song-bun-kwi?<BR>"Tak mungkin ini.......," dia berkata keras-keras akan tetapi tidak ditujukan<BR>kepada siapa-siapa karena kata-katanya ini adalah suara hatinya yang keluar<BR>melalui mulutnya, "....... terang tak mungkin murid-muridku malah<BR>mengeroyok Tan-twako! Andaikata gakhu (ayah mertua) Song-bun-kwi<BR>membunuh Tan-twako dan Lok-yang Siang-houw, tentu di sana terjadi kesalah<BR>pahaman di antara mereka."<BR>"Ketua Thai-san-pai! Setelah kau mendengar semuanya, bagaimana tanggung<BR>jawabmu? Ataukah kau akan membela murid-muridmu dan memaksa kami<BR>turun tangan menghancurkan Thai-san-pai?" Suara Seng Tek Cu ini<BR>menyadarkan Beng San daripada lamunannya. Dia mengerutkan kening dan<BR>mukanya yang kehijauan sudah pulih kembali karena keyakinannya bahwa<BR>murid-muridnya pasti tidak melakukan perbuatan seperti difitnahkan orang itu.<BR>"Totiang dan cu-wi sekalian. Sudah terang bahwa terjadi hal hebat dan curang<BR>di sini. Agaknya ada fihak-fihak hendak merusakkan nama baikku dan Thaisan-<BR>pai. Karena anak muridku bukanlah orang-orang jahat, apalagi memusuhi<BR>Tan-twako yang menjadi kakak angkatku yang kukasihi. Pertanggungan jawab<BR>bagaimana yang cu-wi kehendaki?"<BR>"Kau harus menghukum pembunuh-pembunuh, kau harus membunuh muridmuridmu<BR>yang pada malam hari itu mengeroyok kami, membunuh mereka<BR>sekarang juga di depan kami. Kalau kau mau melakukan hal itu, barulah pinto<BR>dan saudara-saudara di sini suka menghabiskan perkara ini dan menganggap<BR>saja bahwa kau tetap seorang pendekar besar yang tidak tahu-menahu akan<BR>perbuatan keji murid-muridmu di waktu itu," jawab Seng Tek Cu yang diiringi<BR>anggukan kepala para anggauta Pek-lian-pai.<BR>"Thai-san Ciang-bun-jin, kau harus dapat pula mengantarkan kepala si iblis<BR>Song-bun-kwi kepadaku sebagai pembalasan atas kematian dua orang<BR>muridku yang tidak berdosa, barulah pinto mau menyudahi perkara ini!" kata<BR>pula Yang Ki Cu, tosu tua Kong-thong-pai yang suaranya tinggi melengking.<BR>Beng San tertegun. Benar-benar pertanggungan jawab yang hebat dan gila.<BR>Mana mungkin dia menghukum mati murid-muridnya yang sama sekali tidak<BR>bersalah, yang dia yakin sama sekali tidak tahu-menahu dengan peristiwa di<BR>lereng barat itu? Apalagi permintaan tosu Kong-thong-pai itu, mana bisa dia<BR>mengantarkan kepala ayah mertuanya, Song-bun-kwi, kepada tosu ini?<BR>"Gila!" bentaknya marah karena merasa tersinggung kehormatan dan<BR>kewibawaannya. "Kalian menetapkan sendiri syarat-syarat yang tak mungkin!<BR>Mana bisa ini dianggap keputusan orang-orang gagah? Pertanggungan jawab<BR>yang kalian ajukan itu gila dan sewenang-wenang, mana bisa dibilang adil?"<BR>"Hemm, kalau menurut pikiranmu, bagaimana seharusnya pertanggungan<BR>jawab itu?" tanya Seng Tek Cu menahan marah.<BR>"Totiang, sebetulnya aku sama sekali tidak tahu-menahu tentang peristiwa di<BR>lereng sebelah barat itu. Akan tetapi karena peristiwa itu terjadi di wilayah<BR>Thai-san, apalagi karena malapetaka itu menimpa Tan-twako dan Lok-yang<BR>Siang-houw, juga saudara-saudara Pek-lian-pai, maka sudahlah menjadi<BR>kewajibanku untuk membersihkan nama baik Thai-san-pai, membalaskan<BR>penasaran Tan-twako dengan jalan mencari sampai dapat pembunuhpembunuh<BR>yang sebenarnya. Tentang gak-hu Song-bun-kwi, biarlah aku<BR>mencarinya dan menanyakan hal itu, karena aku masih ragu-ragu apakah<BR>betul-betul beliau yang melakukannya."<BR>"Ketua Thai-san-pai! Telingaku sendiri mendengar betapa Tan Hok sicu<BR>menyebut-nyebut nama Song-bun-kwi sebelum tewas, dan kedua mataku<BR>sendiri melihat iblis tua itu mengamuk. Dan sekarang kau masih hendak<BR>menyangkal lagi?" bentak Seng Tek Cu.<BR>"Pinto juga minta pertanggungan jawab sekarang juga! Kematian murid-murid<BR>pinto harus dibalas!" Yang Ki Cu juga berseru marah.<BR>"Ganyang penjahat-penjahat Thai-san-pai! Balaskan saudara-saudara kita!"<BR>teriak para anggauta Pek-lian-pai yang masih mendendam karena kematian<BR>banyak saudara mereka.<BR>Beng San masih bersabar, akan tetapi murid-muridnya yang tidak dapat<BR>menahan diri lagi. "Suhu, orang menghina Thai-san-pai semaunya. Kesabaran<BR>ada batasnya. Teecu tidak takut melayani mereka!" kata Su Ki Han dengan<BR>tangan di gagang pedangnya.<BR>Beng San mengangkat tangan mencegah! "Nanti dulu, Ki Han. Mereka itu<BR>bukanlah musuh, ada orang-orang jahat yang sengaja hendak mengadu<BR>domba antara kita dengan mereka....."<BR>Akan tetapi Beng San tak dapat melanjutkan kata-katanya tiba-tiba terdengar<BR>jerit-jerit mengerikan dan robohlah tiga orang dalam rombongan Pek-lian-pai<BR>dibarengi robohnya dua orang dirombongan Kong-thong-pai. Ribut keadaan di<BR>situ, apalagi ketika mereka mendapat kenyataan bahwa lima orang itu telah<BR>tewas dengan leher atau ulu hati tertusuk pisau-pisau kecil yang agaknya<BR>disambitkan orang-orang secara menggelap.<BR>"Thai-san-pai curang! Serbu dan ganyang Thai-san-pai!" Orang-orang di kedua<BR>rombongan itu berteriak-teriak dan tanpa menanti komando lagi orang-orang<BR>Kong-thong-pai dan Pek-lian-pai menyerbu ke arah Beng San dengan senjata<BR>di tangan!<BR>Akan tetapi dengan gerakan yang cepat laksana burung terbang, ketua Thaisan-<BR>pai ini sudah lenyap dari tempatnya berdiri sehingga penyerangan orangorang<BR>itu disambut oleh murid-murid Thai-san-pai yang sudah marah.<BR>Terjadilah pertempuran hebat di antara mereka. Murid-murid Thai-san-pai<BR>yang pada saat itu berada di situ hanya ada delapan belas orang, akan tetapi<BR>mereka ini adalah murid-murid yang bertempat tinggal di Thai-san-pai dan<BR>mereka sudah berada di situ semenjak Thai-san-pai berdiri empat tahun yang<BR>lalu. Oleh karena itu mereka ini rata-rata sudah memiliki ilmu silat yang tinggi<BR>sehingga permainan pedang mereka pun lihai.<BR>Su Ki Han murid kepala Thai-san-pai menyambut golok tosu Yang Ki Cu karena<BR>dia melihat tosu ini hebat betul permainan goloknya. Murid Thai-san-pai ke<BR>dua yang bernama Liok Sui menyambut pedang Seng Tek Cu tosu Bu-tong-pai<BR>sedangkan murid ke tiga yang bernama Coa Bu Heng menghadapi Koai To-jin<BR>yang amat berbahaya cambuk dan papan caturnya.<BR>Adapun lima belas orang anak murid Thai-san-pai yang lain menghadapi<BR>pengeroyokan puluhan orang musuh sehingga rata-rata seorang harus<BR>menghadapi empat lima orang lawan! Benar-benar keadaan Thai-san-pai<BR>terancam sekali karena segera kelihatan betapa fihak mereka terdesak hebat.<BR>Tiga orang murid kepala itupun terdesak oleh tiga orang tosu lihai yang<BR>tingkatnya jauh melebihi mereka.<BR>Mengapa Beng San malah melenyapkan diri? Kiranya pendekar ini tadi dengan<BR>kaget melihat berkelebatnya pisau-pisau terbang yang merobohkan lima orang<BR>dan maklum bahwa hal ini dilakukan oleh orang-orang yang hendak mengadu<BR>domba, maka secepat kilat dia melompat dan menerobos gerombolan pohon<BR>dari mana pisau-pisau itu beterbangan dan hanya terlihat olehnya.<BR>Di bawah sinar bulan purnama dia melihat bayangan tiga orang yang bertubuh<BR>kecil langsing. Bayangan-bayangan itu gesit sekali dan sedang berlari<BR>meninggalkan tempat itu.<BR>"Perlahan dulu.......!" dia membentak sambil melompat dan mengulur tangan<BR>hendak menangkap seorang di antara mereka. Tiba-tiba terdengar suara<BR>mengejek, bayangan itu melejit dan cengkeraman Beng San menangkap<BR>angin!<BR>Ketua Thai-san-pai ini terkejut. Tidak sembarang orang dapat menghindarkan<BR>cengkeramannya tadi, maka dari gebrakan ini saja dapat diduga bahwa orangorang<BR>ini memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dia segera menerjang lagi dengan<BR>pukulan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menyambar orang ke dua<BR>yang datang hendak membantu orang pertama. Orang ke tiga menggerakkan<BR>tangan dan angin berciutan ke arahnya.<BR>Beng San terkejut bukan main. Pukulannya tertangkis lengan kecil berkulit<BR>halus namun memiliki tenaga Iweekang yang hebat. Biarpun dia dapat<BR>membuat lawan itu terhuyung oleh peraduan lengan itu, dia merasa betapa<BR>lengannya sendiri panas, tanda bahwa tenaga lawan ini, benar-benar tak boleh<BR>dipandang ringan.<BR>Cengkeramannya kepada orang ke dua juga meleset, malah orang itu<BR>mengirim tendangan yang aneh gerakannya ke arah bawah pusarnya.<BR>Serangan yang singkat namun mematikan. Dan pada saat itu, orang ke tiga<BR>mengirim serangan dengan telunjuk menuding dan yang mengeluarkan angin<BR>berciutan ke arah lehernya. Cepat Beng San menggerekkan tangan kiri<BR>berusaha menangkap kaki yang menendang. Dia berhasil menangkapnya tapi<BR>cepat-cepat melepaskannya kembali ketika tangannya merasa memegang<BR>sebuah kaki bersepatu yang kecil, kaki seorang wanita! Adapun pukulan aneh<BR>yang mendatangkan angin berciutan itu, dia sampok dengan tangan sambil<BR>mengerahkan hawa pukulan Pek-in-hoat-sut. Karena tidak mengira akan<BR>kehebatan pukulan ini, dia mendiamkan saja ketika pukulan meleset mengenai<BR>ujung lengan bajunya. "Brettt!" Ujung lengan baju itu robek seperti ditusuk<BR>pedang!<BR>"Hebat.......!" serunya kagum, maklumlah dia bahwa tiga orang ini agaknya<BR>tiga wanita yang sakti.<BR>"Siapakah kalian? Mengapa datang-datang memusuhi aku?" Dia berusaha<BR>untuk mengenal muka mereka, akan tetapi ternyata muka mereka tertutup<BR>sutera hitam, hanya pakaian mereka berwarna merah berkembang.<BR>"Hi-hi-hik!" tiga orang wanita itu hanya tertawa. Tampak gigi-gigi putih<BR>mengkilap tertimpa cahaya bulan, disusul berkilatnya tiga batang pedang yang<BR>mereka cabut berbareng.<BR>Beng San berseru keras ketika tiga batang pedang itu seperti terbang<BR>menyerangnya dari tiga jurusan. Dia mengerti bahwa tiga orang lawan sakti ini<BR>tak mungkin dihadapi dengan tangan kosong, maka dia cepat menggerakkan<BR>tangan dan tampaklah sinar menyilaukan mata ketika Liong-cu-kiam dihunus.<BR>Dia harus dapat merobohkan mereka, atau setidaknya menangkap seorang di<BR>antara mereka. Mereka inilah yang tahu akan fitnah yang menimpa Thai-sanpai<BR>Namun merobohkan tiga orang ini benar-benar tidak mudah. Ilmu pedang<BR>mereka amat aneh dan lihai, malah pedang di tangan mereka berani<BR>membentur Liong-cu-kiam tanpa rusak.<BR>Beng San penasaran. Diputarnya pedangnya sedemikian rupa dan mulailah dia<BR>mainkan Im-yang-sin-kiam. Beberapa kali terdengar tiga orang wanita itu<BR>berteriak kaget dan menjerit. Im-yang-sin kiam benar-benar terlampau sakti<BR>bagi mereka. Tiba-tiba terdengar mereka bersuit aneh dan sinar-sinar putih<BR>berkelebatan menyambar dari tubuh mereka ke arah Beng San. Hebat sekali<BR>senjata ini dan agaknya ini adalah pisau-pisau kecil yang tadi merobohkan lima<BR>orang. Beng San memutar pedang menyampok, terdengar suara nyaring<BR>berkali-kali dan pisau-pisau itu beterbangan ke kanan kiri. Akan tetapi ketika<BR>dia memandang ke depan, tiga orang wanita itu sudah lenyap ditelan<BR>bayangan-bayangan gelap. Dia hendak meloncat dan mengejar, akan tetapi<BR>niat itu diurungkan ketika dia mendengar teriakan-teriakan dan senjata beradu<BR>di sebelah belakangnya. Teringatlah dia akan anak-anak murid Thai-san-pai<BR>tentu sedang menghadapi penyerbuan mereka itu, maka hatinya menjadi amat<BR>gelisah. Mana mungkin murid-muridnya yang hanya delapan belas orang itu<BR>dapat mengatasi bahaya yang mengancam? Dia tahu pula bahwa tiga orang<BR>tosu itu saja takkan bisa dilawan, baik oleh murid kepala Thai-san-pai<BR>sekalipun. Kalau dia mengejar tiga orang wanita aneh tadi, tentu muridmuridnya<BR>akan terancam bahaya maut. Membiarkan tiga orang itu lari, dia<BR>akan kehilangan bukti akan kebersihan Thai-san-pai. Dia merasa serba salah.<BR>Akhirnya dia mengambil keputusan membantu murid-muridnya yang terancam<BR>bahaya. Kalau memang Thai-san-pai bersih, tak usah takut menghadapi fitnah,<BR>pikirnya. Mudah kelak mencari rahasia dan mengejar orang-orang jahat yang<BR>menimbulkan fitnah.<BR>Ketika dia berlari dan melompat ke tempat pertempuran, hatinya berduka<BR>sekali dan perasaannya terpukul. Banyak di antara para penyerbu<BR>menggeletak tak bernyawa terkena bacokan pedang murid-muridnya, juga<BR>beberapa orang muridnya menggeletak tak bernyawa. Yang masih bertempur<BR>telah luka-luka hebat pula. Su Ki Han melawan Yang Ki Cu dengan mati-matian<BR>namun terdesak hebat, pundak kirinya sudah robek berdarah. Coa Bu Heng<BR>muridnya ke tiga yang berusia dua puluh lima tahun, murid yang berbakat,<BR>didesak hebat oleh Koai To-jin dari pakaiannya sudah compang-camping<BR>berikut kulit tubuhnya pecah-pecah terhajar cambuk. Liok Sui muridnya yang<BR>sebaya dengan Su Ki Han juga sudah payah, darah mengalir dari pahanya<BR>yang terluka oleh pedang Seng Tek Gu tosu Bu-tong-pai. Sebentar lagi, tiga<BR>orang muridnya ini tentu akan roboh berikut murid-murid yang lain.<BR>"Tahan semua......!" Dia membentak.<BR>"Kita terhasut fitnah! Orang-orang yang jahat berada di sini......."<BR>Akan tetapi fihak penyerbu yang sudah marah dan merasa berada di ambang<BR>kemenangan itu sama sekali tidak mau berhenti. Beng San menjadi marah<BR>sekali. Sambil berseru keras tubuhnya berkelebat, berubah menjadi segulung<BR>sinar yang menerjang ke sana ke mari. Terdengar teriakan kaget berturutturut<BR>ketika Koai To-jin terhuyung ke belakang, papan caturnya pecah dua dan<BR>cambuknya putus disusul Seng Tek Cu yang pedangnya terputus dan Yang Ki<BR>Cu yang golok terbang entah ke mana. Mereka berundur dengan muka pucat,<BR>memandang orang-orangnya yang kacau-balau diterjang gulungan sinar itu.<BR>Pedang dan golok beterbangan, orang-orang terlempar karena dorongan atau<BR>tendangan.<BR>"Hayo, siapa tidak mau berhenti? Manusia-manusia tolol kalian! Berhenti!<BR>Siapa tidak berhenti akan kurobohkan!" Beng San berteriak sambit menerjang<BR>ke sana ke mari. Sehentar saja orang-orang itu mundur dengan jerih. Bukan<BR>main hebatnya sepak terjang Beng San ketua Thai-san-pai ini. Sekarang dia<BR>tampak berdiri tegak dengan pedang Liong-cu-kiam di tangan, menghadapi<BR>mereka dengan mata berapi-api.<BR>"Siapa masih berkepala batu? Majulah!" tantangnya penuh kemarahan.<BR>Seng Tek Cu melangkah maju, tersenyum pahit. "Ketua Thai-san-pai, hebat<BR>memang kepandaianmu. Kami tak mampu melawanmu. Akan tetapi, jangan<BR>kira bahwa kami akan menerima begini saja dan ......"<BR>"Tutup mulut! Sudah banyak jatuh korban sia-sia. Kukatakan tadi bahwa<BR>kalian kena hasut fitnah dan orang-orang yang mengakibatkan itu berada di<BR>sini, merekalah tadi yang diam-diam menyerang lima orang-orangmu secara<BR>menggelap. Kalian benar-benar bodoh dan tidak bisa mendengarkan<BR>alasanku!"<BR>Kaget sekali Seng Tek Cu. Mulai dia meragu. Juga Yang Ki Cu yang segera<BR>bertanya.<BR>"Mana mereka? Siapa mereka itu? Buktikan!"<BR>"Mereka orang-orang lihai. Tadi hampir tertangkap, tapi gagal. Ahh....... akibat<BR>ketololan kalian banyak jatuh korban......." Beng San sedih bukan main<BR>melihat mayat bergelimpangan di sana-sini.<BR>Tiba-tiba Su Ki Han mengeluh, ".......Suhu....... di sana....... apa itu.......?"<BR>Suara murid kepala ini membuat tengkuk Beng San meremang. Cepat dia<BR>menoleh dan....... wajahnya berubah pucat kehijauan ketika dia melihat api<BR>menyala-nyala di puncak, didahului asap hitam mengebul tinggi.<BR>"Celaka.......!" Dia memekik keras dan tubuhnya berkelebat lenyap dari situ.<BR>Tahu-tahu dia sudah jauh lari ke puncak, diikuti semua murid yang masih<BR>dapat berjalan. Terpincang-pincang dan terhuyung-huyung murid-murid yang<BR>terluka ikut berlari ke puncak. Koai Tojin, Seng Tek Cu, dan Yang Ki Cu ikut<BR>pula mengejar, mengikuti para murid Thai-san-pai. Wajah mereka pucat,<BR>jantung berdebar keras. Murid-murid Thai-san-pai yang rata-rata gugup dan<BR>gelisah itu membiarkan mereka bertiga mengikuti ke puncak melalui jalan<BR>rahasia. Orang-orang Pek-lian-pai dan Kong-thong-pai berdiri kebingungan,<BR>tidak berani ikut ke puncak tanpa diperintah. Lalu mereka mulal menolong<BR>orang-orang yang terluka, termasuk orang-orang Thai-san-pai. Banyak jatuh<BR>korban. Sembilan orang murid Thai-san-pai tewas, empat luka-luka berat,<BR>sisanya ikut naik ke puncak. Fihak Kong-thong-pai termasuk dua orang yang<BR>tewas oleh senjata rahasia, menderita kerugian enam orang tewas dan lima<BR>luka-luka berat. Fihak Pek-lian-pai tewas tujuh orang yang terkena senjata<BR>rahasia, dua belas luka-luka!<BR>Dengan hati berdebar tidak karuan Beng San lari secepat terbang ke puncak.<BR>Ketika tiba di puncak, ngeri hatinya menyaksikan betapa pondoknya telah<BR>terbakar semua. Api menjilat-jilat langit dan atap rumah itu sudah menyala<BR>seluruhnya. Tapi hanya sedetik dia memandang ke arah api, matanya<BR>kelihatan mencari ke sana ke mari. Akhirnya dia mendengar suara isterinya di<BR>sebelah belakang pondok. Cepat dia meloncat ke sana dilihatnya isterinya<BR>dengan pedang di tangan muka pucat rambut awut-awutan mata terbelalak<BR>menjerit-jerit, "Cui Sian.......! Cui Sian......."<BR>Seakan terhenti detak jantung Beng San. Tanpa bertanya lagi dia lalu<BR>meloncat ke depan, menerjang dinding pondoknya. Sekali terjang bobollah<BR>dinding itu. Tanpa memperdulikan panasnya api dan bahaya keruntuhan atap<BR>rumahnya, dia mencari-cari. Dilihatnya empat orang sudah menggeletak tak<BR>bernyawa dengan luka pada dada. Dia mencari terus, tapi tak melihat<BR>bayangan Cui San. Tiba-tiba atap rumah ambruk ke bawah dan hanya dengan<BR>kecepatan luar biasa saja Beng San dapat meloncat ke luar rumah. Ketika dia<BR>tiba di luar, murid-murid dan tiga orang tosu sudah tiba pula di situ. Mereka<BR>memandang bengong ke arah Beng San yang rupanya mengerikan di saat itu.<BR>Muka pendekar ini hitam, pakaiannya hangus di sana-sini, sepasang matanya<BR>menyaingi panasnya api itu sendiri. Isterinya seperti orang tak sadar masih<BR>menjerit-jerit memanggil nama Cui Sian.<BR>Seng Tek Cu terharu bukan main. Dia melangkah maju, menjura dalam sekali<BR>dan berkata, "Sicu, maafkan pinto....... maafkan pinto......."<BR>Beng San tak peduli, melainkan menghampiri isterinya. Li Cu yang dipegang<BR>pundaknya oleh Beng San seperti baru sadar. Matanya tetap terbelalak dan<BR>melihat suaminya memegang pundaknya, ia cepat menjerit pergi dan<BR>menudingkan pedangnya ke muka suaminya, "Kau.....! Kalau tidak pergi.......<BR>takkan terjadi begini....... kau....... kau.......! Dan wanita ini menangis tersedusedu<BR>sambil berdiri tegak, tidak berusaha mengusap air matanya, hanya<BR>menatap wajah Beng San penuh kebencian!<BR>Jilid 11 : bagian 1<BR>Ucapan ini makin menusuk hati Seng Tek Cu, Koai Tojin, dan juga Yang Ki Gu.<BR>Tahulah mereka sekarang bahwa semua ini adalah jebakan musuh yang<BR>sengaja mengadu domba dan akhirnya, karena kebodohan mereka, Beng San<BR>terpaksa turun puncak dan inilah agaknya yang dimaksudkan oleh para<BR>penjahat gelap itu. Memancing harimau ke luar sarang, kemudian selagi Beng<BR>San bersitegang dengan mereka penjahat-penjahat itu mengobrak-abrik<BR>sarang!<BR>"Tai-hiap, maafkan pinto....... pinto semua bodoh sekali....... pinto semua yang<BR>menyebabkan malapetaka ini......." kata pula Seng Tek Cu. Pedang Beng San<BR>berkelebat dan sebuah batu besar di dekat tiga orang tosu itu menjadi bulanbulanan.<BR>Beberapa kali pedang berkelebat dan batu itu berubah seperti tahu<BR>dicacah-cacah!<BR>"Pergi.......! Pergi kalian dari sini....! Demi Tuhan....... pergi sebelum<BR>kubunuh......!" Telunjuk tangan kiri Beng San menuding ke luar. Tiga orang<BR>tosu itu menunduk, lalu berjalan pergi dengan langkah-langkah gontai.<BR>"Antar mereka ke luar, urus jenazah adik-adikmu," kata Beng San kepada Su<BR>Ki Han yang cepat menjalankan perintah suhunya, mendahului tiga orang tosu<BR>menjadi penunjuk jalan. Hatinya gelisah, murid ini sama sekali tidak<BR>merasakan lukanya. Murid-murid yang lain tanpa diperintah juga pergi<BR>mengikuti twa-suheng mereka, maklum bahwa guru dan ibu guru mereka tak<BR>mau diganggu orang lain.<BR>Setelah semua orang pergi, Beng San menengok ke arah isterinya. Jantungnya<BR>merasa ditusuk pedang oleh pandangan mata isterinya yang penuh<BR>penyesalan, penuh penderitaan dan penuh kebencian.<BR>Seakan-akan dari pandang mata Beng San terungkap seribu satu macam<BR>pertanyaan dan otomatis Li Cu berkata, suaranya lirih seperti suara orang<BR>menangis,<BR>"Mereka datang....... lima orang mengeroyokku....... yang lain membakar<BR>rumah....... kulihat Cui Sian dibawa lari......." Tiba-tiba ia menangis<BR>menggerung-gerung. "Anakku.......! Ia berteriak-teriak memanggilku.......<BR>anakku....... Cui Sian........ Cui Sian.......!!"<BR>Beng San makin hancur hatinya, dia melangkah maju, hendak memeluk<BR>isterinya. "Li Cu....... kenalkah kau siapa mereka? Biar kucari mereka,<BR>kurampas kembali anak kita......."<BR>"Jangan sentuh!" Pedangnya berkelebat dan hampir saja lengan tangan Beng<BR>San terbabat putus kalau dia tidak cepat-cepat menariknya. "Aku tidak kenal<BR>mereka. Perduli apa dengan kau! Kau lebih mementingkan Thai-san-pai! Nah,<BR>uruslah Thai-san-paimu itu. Aku akan pergi mencari anakku!!" Setelah berkata<BR>demikian, Li Cu berlari pergi menuruni puncak.<BR>"Li Cu.......! Tunggu dulu.......!"<BR>Beng San melompat melampaui isterinya, menghadangnya. "Kau maafkanlah<BR>aku....... mari kita bicara baik-baik......"<BR>"Jangan dekat!" Kembali pedang Li Cu berkelebat. "Kau uruslah Thai-san-pai,<BR>jangan perdulikan aku dan anakku. Aku bersumpah....... dengarlah Beng San,<BR>aku bersumpah takkan sudi melihat mukamu lagi tanpa adanya Cui Sian!"<BR>Pedangnya membabat ke depan dan selagi Beng San meloncat minggir, ia<BR>berlari terus meninggalkan suaminya.<BR>Beng San menggigit bibir, menahan suaranya yang hendak menjerit-jerit.<BR>Hampir tak kuat dia menahan gelora hatinya yang kalang-kabut menghadapi<BR>malapetaka ini. Seluruh batinnya diliputi kemarahan hebat. Kemudian kakinya<BR>menendang. Sebuah batu besar terlempar bergulingan. Pedangnya dikerjakan.<BR>Pohon-pohon roboh malang melintang. Beng San terus menyerbu pondoknya<BR>yang masih terbakar. Ditendangnya, dihantamnya, dibabatnya sehingga hirukpikuk<BR>suara pondok itu roboh. Batu-batu beterbangan, tidak ada sebatang pun<BR>pohon utuh, semua dibabat rata dengan tanah! Dia mengarnuk terus, dari<BR>kerongkongannya terdengar suara menggereng-gereng, matanya liar dan<BR>semalam itu dia membuat puncak yang tadinya indah menjadi tempat yang<BR>rusak binasa. Tanam-tanaman bunga ludas, pondok habis, pohon-pohon<BR>ambruk, batu-batu malang melintang, banyak yang hancur.<BR>Dalam keadaan seperti inilah tiga orang murid kepala mendapatkan gurunya.<BR>Beng San masih berdiri sepcrti patung, pedang di tangan, muka beringas mata<BR>liar.<BR>"Suhu.....!" tiga orang murid itu menjatuhkan diri berlutut dan terdengar<BR>mereka terisak menangis.<BR>Beng San menoleh, menunduk, matanya dikejap-kejapkan mengusir dua butir<BR>air mata yang sejak tadi menggantung tak mau jatuh. Seperti orang baru<BR>sadar dari mimpi buruk dia menengok ke kanan kiri, melihat kerusakan yang<BR>diakibatkan oleh kemarahannya. Diam-diam dia bersyukur bahwa tidak ada<BR>seorang pun manusia di situ malam tadi. Kalau ada, entah apa akan jadinya.<BR>Dia menarik napas panjang, terasa sakit di dada. Tahu bahwa dia terluka oleh<BR>hawa amarahnya sendiri! Cepat dia menyalurkan hawa murni ke dada,<BR>bernapas panjang-panjang memulihkan tenaga dan kesehatan. Dia insyaf akan<BR>kegilaannya. Boleh jadi Li Cu tak dapat menahan hantaman nasib seperti ini.<BR>Dia tidak menyalahkan isterinya. Seorang wanita bagaimanapun juga lebih<BR>lemah daya tahan batinnya. Apalagi pernah kehilangan Cui Bi, kini kehilangan<BR>Cui San. Amat berat tentu. Tapi dia seorang laki-laki. Hampir lima puluh tahun<BR>hidupnya. Banyak sudah pengalaman. Masa belum juga matang jiwanya oleh<BR>gemblengan pengalaman hidup yang pahit getir? Kesadaran tak boleh tertutup<BR>kegelapan nafsu. Dia harus tetap berpendirian. Seorang gagah takkan mudah<BR>goyah imannya. Sekali lagi dia menarik napas panjang.<BR>"Ki Han, siapa saja di antara adikmu yang tewas dan berapa yang terluka?"<BR>tanyanya, suaranya sudah biasa kembali. Beng San sudah pulih menjadi ketua<BR>Thai-san-pai yang berwibawa.<BR>Sambil menangis Ki Han menyebutkan nama sembilan orang adik<BR>seperguruannya yang tewas dan empat orang yang luka-luka. Kembali Beng<BR>San menarik napas panjang untuk menyedot hawa murni guna menguatkan<BR>batinnya yang kembali terpukul kedukaan.<BR>"Murid-muridku, kuharap kalian suka mengubur jenazah adik-adikmu baikbaik.<BR>Kemudian bubarlah kalian, pulang ke rumah masing-masing. Mereka<BR>yang tak mempunyai rumah boleh saja tinggal di pegunungan ini. Akan tetapi<BR>ingat, mulai saat ini tidak ada Thai-san-pai lagi......"<BR>"Suhu......!" Ki Han terisak. "Di mana subo (ibu guru) dan adik Cui Sian?"<BR>"Adikmu diculik orang. Subomu pergi mengejar. Aku pun akan turun gunung<BR>menyusul mereka. Ingat, Thai-san-pai tidak ada lagi......."<BR>"Suhu.......!" Kini terdengar seruan mereka serentak menyatakan keberatan<BR>hati.<BR>"Atau....... biarlah untuk sementara ini Thai-san-pai dibekukan. Tunggu sampai<BR>aku pulang. Kalau aku tidak pulang selamanya, berarti Thai-san-pai tidak akan<BR>bangun lagi. Beri tahu kepada semua adikmu yang tidak tinggal di sini.<BR>Terserah kalian mencari jalan hidup masing-masing. Aku tidak akan mengurus<BR>sepak terjang kalian selama kalian tidak menggunakan nama Thai-san-pai.<BR>Akan tetapi, percayalah akan kemurahan Thian. Kalau Thian menghendaki, aku<BR>akan kembali membangun lagi Thai-san-pai yang rusak binasa di hari ini. Nah,<BR>selamat tinggal, murid-muridku......." Suara terakhir ini mengandung isak dan<BR>semua murid menangis. Akan tetapi mereka hanya melihat bayangan suhu<BR>mereka berkelebat pergi dan lenyap. Murid-murid itu saling rangkul dan<BR>bertangisan. Keadaan di pagi hari itu amat menyedihkan. Thai-san-pai yang<BR>dibangun selama empat tahun dan tadinya terkenal sebagai partai baru yang<BR>kuat dan disegani, dalam semalam runtuh dan hancur binasa!<BR>Kita tinggalkan dulu keadaan Thai-san-pai yang rusak binasa dan ketuanya<BR>yang rusak pula ketenteraman rumah tangganya. Mari kita menengok keadaan<BR>di puncak Min-san. Telah dituturkan di bagian depan bahwa Tan Kong Bu<BR>putera Tan Beng San bersama isterinya, Kui Li Eng dan kakeknya, Song-bunkwi<BR>Kwee Lun, setelah menikah lalu pindah ke Min-san di mana dia dibantu<BR>oleh isterinya menerima murid-murid yang berbakat dan berusaha mendirikan<BR>sebuah perkumpulan baru, yaitu Min-san-pai.<BR>Belum banyak murid yang diterima oleh suami isteri ini karena mereka masih<BR>muda, lagi pula mereka tidak mau menerima sembarangan murid. Kalau ada<BR>anak yang benar-benar berbakat barulah mereka mau menurunkan ilmu silat<BR>sehingga dalam waktu empat tahun, baru mempunyai murid sebanyak dua<BR>belas orang saja, terdiri dari anak-anak muda laki perempuan berusia antara<BR>sepuluh sampai lima belas tahun. Suami isteri ini hidup rukun saling mencinta<BR>dan di samping mengajar silat kepada murid-murid cilik ini mereka hidup<BR>sebagai petani, bercocok tanam sayur-sayur dan buah-buahan yang dapat<BR>hidup subur di Min-san.<BR>Song-bun-kwi juga hidup tenang tenteram di Min-san. Kakek ini sekarang<BR>menjadi gemuk dan sehat. Akan tetapi lewat empat tahun, dia mulai mengeluh<BR>dan menjadi malas karena kerjanya hanya makan tidur belaka. Berkali-kali dia<BR>mengeluh dan menyatakan ketidak puasan dan kebosanan hatinya di depan<BR>cucunya dan cucu mantunya.<BR>Pagi hari itu dia nampak marah-marah dan gelisah. Sejak subuh tadi Kong Bu<BR>dan isterinya melihat dengan cemas betapa kakek itu tidak hentinya berlatih<BR>silat di kebun belakang. Dan tidak seperti biasanya, terdengar suara keras.<BR>Ketika mereka lari menengok, kiranya dua batang pohon besar roboh dipukul<BR>dan ditendang kakek itu! Masih saja Song-bun-kwi bersilat. Angin pukulannya<BR>mendesir-desir dan dia sama sekali tidak perdulikan munculnya cucu dan cucu<BR>mantunya. Wajahnya cemberut matanya sayu.<BR>Kong Bu saling pandang dengan Li Eng. Menarik napas panjang lalu<BR>menggandeng tangan isterinya diajak masuk rumah. Dia masgul sekali, duduk<BR>bertopang dagu, teringat akan percekcokan dengan kakek itu semalam.<BR>Seperti biasa, malam tadi Song-bun-kwi makan bersama Kong Bu dan Li Eng<BR>yang juga melayani suami dan kakeknya. Song-bun-kwi sudah berbeda<BR>daripada biasanya, menenggak arak dan selalu minta tambah.<BR>Akhirnya, selesai makan Song-bun-kwi menggebrak meja sampai mangkokmangkok<BR>menari-nari di atas meja.<BR>"Kau anak sial! Tidak becus!!!" dia memaki Kong Bu.<BR>Tidak heran Kong Bu melihat kakeknya seperti itu. Sudah sejak kecil dia tahu<BR>akan keanehan watak kakek ini yang mudah marah dan mudah gembira,<BR>kadang-kadang bagi yang tidak tahu tentu disangka gila. Dengan tenang dia<BR>tersenyum dan bertanya,<BR>"Apalagi yang tak menyenangkan hatimu, Kong-kong (kakek)? Kesalahan<BR>apakah kali ini yang kulakukan?"<BR>"Kesalahan apa? Bocah tolol! Aku ingin punya buyut, kau dengar? Aku ingir<BR>punya buyut dan kau tidak becus!!" Mendengar omongan ini seketika wajah Li<BR>Eng menjadi merah dan dengan pura-pura membawa mangkok-mangkok kotor<BR>ia cepat-cepat lari ke belakang, namun telinga kakek dan cucu yang lihai itu<BR>masih dapat mendengar isaknya tertahan-tahan.<BR>Kong Bu mengerutkan heningnya. Terlalu kakeknya ini. Sudah melewati batas<BR>sekarang. Sudah berkali-kali kakeknya ini marah-marah kepadanya,<BR>memakinya tidak becus, tidak mampu segala macam, hanya karena dia dan Li<BR>Eng sampai sekarang belum juga punya keturunan, belum punya anak!<BR>Kakeknya memang orang aneh, ini dia tahu. Akan tetapi kalau sudah<BR>mencelanya tentang tak punya anak di depan Li Eng, tentu saja isterinya<BR>merasa tersinggung sekali.<BR>"Kakek, lagi-lagi kau ribut-ribut soal cucu buyut!" tegurnya dengan suara agak<BR>kasar. "Soal keturunan adalah soal yang ditentukan oleh Thian. Manusia mana<BR>dapat menentukan? Mengapa kakek ribut-ribut saja urusan buyut? Apakah<BR>tidak tahu bahwa ucapanmu tadi amat menyakiti hati Li Eng?"<BR>"Aaahh, dasar kau yang tidak becus! Laki-laki goblok kau, sudah menikah<BR>empat tahun belum juga punya anak. Uuhhh!" kakek itu mencak-mencak<BR>dengan amat berangnya.<BR>Kong Bu tak dapat menahan kesabarannya. Suara kakeknya terlalu keras<BR>sehingga biarpun Li Eng berada di belakang, tentu isterinya itu dapat<BR>mendengar jelas.<BR>"Kong-kong, kau terlalu sekali! Kau ingin punya cucu buyut untuk apa sih?"<BR>"Wah, untuk apa katanya? Tentu saja untuk kuwarisi kepandaian yang kulatih<BR>puluhan tahun ini. Untuk apalagi? Aku takkan mati meram sebelum<BR>kepandaianku kuwariskan kepada buyutku. Tahu kau?"<BR>Kong Bu tertawa, berusaha mendinginkan hati kakeknya. "Ah, kalau hanya<BR>untuk itu saja, mengapa Kong-kong susah-susah menanti buyut yang tak<BR>tentu kapan datangnya? Bukankah cucu muridmu ada dua belas orang di sini,<BR>boleh kau pilih mana yang kau sukai untuk dijadikan murid-muridmu.<BR>Bukankah ini baik sekali, Kong-kong?"<BR>"Murid-murid tahi kerbau!!" Kakek itu makin marah. "Kalau memang mau cari<BR>murid, aku bisa cari sendiri. Ah, sudahlah, dasar kau yang tolol dan tidak<BR>becus!"<BR>Demikianlah keributan malam tadi, keributan berdasarkan soal yang itu-itu<BR>juga yang membuat Song-bun-kwi Kwee Lun murung. Pagi itu sejak subuh dia<BR>sudah bersilat dan dengan pukulan saktinya merobohkan pohon besar.<BR>Biasanya, setelah matahari terbit, kakek ini tentu akan masuk ke ruangan<BR>depan, berjemur sinar matahari melalui jendela ruangan itu sambil<BR>menghadapi minuman hangat yang disediakan oleh Li Eng. Dia akan duduk di<BR>bangku panjang ah berbaring, meram melek nikmat seperti seekor singa tua<BR>bermalasan.<BR>Akan tetapi pagi itu dia tidak masuk ke ruangan. Sampai matahari naik tinggi,<BR>kakek itu tidak nampak pulang. Kong Bu merasa heran dan mencari ke<BR>belakang. Tidak ada. Ke depan lalu ke sekeliling tempat itu. Tidak ada. Kakek<BR>itu tidak nampak bayangannya lagi.<BR>Isterinya ikut mencari dan memanggil-manggil. Namun kakek itu tidak<BR>kelihatan lagi mata hidungnya. Kong Bu mendekati isterinya. Mereka saling<BR>pandang.<BR>"Dia kumat penyakitnya, dasar berdarah perantauan!" kata Kong Bu.<BR>Li Eng mengerutkan kening, menunduk. "Karena aku......."<BR>Kong Bu kaget, memandang isterinya. Dilihatnya dua titik air mata membasahi<BR>pipi Li Eng. Dia merangkulnya. "Hushh, siapa bilang karena kau? Tentang itu,<BR>tak perlu kita pikirkan, isteriku. Kita serahkan saja kepada Thian Yang Maha<BR>Kuasa."<BR>Li Eng memang bukan seorang pemurung. Semenjak gadisnya, ia amat<BR>periang, kocak dan jenaka. Sekarang pun hanya sebentar ia digerumuti rasa<BR>kecewa dan duka. Di lain saat sambil tersenyum manis ia berkata,<BR>"Hemm, dunia kang-ouw tentu bakal geger dan heboh karena munculnya<BR>kakek!"<BR>Kong Bu juga tersenyum. "Tentu saja, boleh kita pastikan itu! Kita dengardengar<BR>saja, tentu terjadi keonaran. Memang kakekku itu tukang mencari<BR>geger. Ha-ha-ha!" Mereka tertawa-tawa dan seketika lenyaplah awan<BR>mendung yang mengancam sinar kebahagiaan mereka.<BR>Benar dugaan Kong Bu. Kakeknya, Song-bun-kwi Kwee Lun memang sudah<BR>pergi dari Min-san. Kekesalan hatinya karena belum juga dia dapat menimang<BR>seorang buyut yang dinanti-nantikan, membangkitkan rindunya akan dunia<BR>ramai, membuat penyakitnya suka merantau kambuh kembali. Seperti telah<BR>menjadi wataknya semenjak dahulu, dia selalu pergi tanpa pamit dan pulang<BR>tanpa memberitahukan.<BR>Tapi, tidak seperti dugaan Kong Bu "Bahwa di dunia ramai kakeknya tentu<BR>akan menimbulkan kegemparan, kali ini Song-bun-kwi melakukan perjalanan<BR>dengan tenteram, Tidak mempunyai nafsu untuk mencari perkara. Hal ini<BR>adalah karena hatinya sudah menjadi dingin karena mengingat bahwa tokohtokoh<BR>setingkat dengannya seperti Siauw-ong-kui, Pak-thian Lo-cu, atau Hekhwa<BR>Kui-bo dan Toat-beng Yok-mo, semua sudah mati. Kalau ada mereka,<BR>terutama Siauw-ong-kui, tentu dia akan mencarinya dan diajak berkelahi<BR>sampai tiga hari tiga malam!<BR>Hanya tinggal seorang tokoh yang setingkat, atau setidaknya hampir setingkat<BR>dengannya, yaitu Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang, itu tokoh besar pantai timur.<BR>Karena teringat akan orang tua inilah maka kini Song-bun-kwi melakukan<BR>perjalanan ke timur, ke pantai timur untuk mencari Tai-lek-sin. Keperluannya<BR>hanya satu, mencari orang tua itu dan kalau sudah berjumpa, diajak berkelahi<BR>mengadu ilmu!<BR>Pada suatu hari kakek ini memasuki sebuah kota pelabuhan di pantai timur<BR>yang cukup ramai, karena kota ini selain menjadi pusat perdagangan para<BR>pedagang laut yang datang dari selatan dan utara, juga terkenal sebagai pintu<BR>mengeluarkan hasil-hasil bumi dan akar-akar obat. Sayangnya seringkali kota<BR>ini diganggu bajak laut Jepang sehingga sebagian besar pedagangnya datang<BR>dari lain kota dan jarang yang mendirikan bangunan di situ. Dan sudah<BR>menjadi kebiasaan setiap orang pedagang keliling yang membawa banyak<BR>barang berharga, selalu mesti ada saja pengawal-pengawalnya terdiri dari<BR>jagoan-jagoan pengawal bayaran yang lajim disebut piauw-su. Pengawalpengawal<BR>bayaran dan para pedagang inilah yang meramaikan restoranrestoran<BR>yang banyak dibuka di situ sehingga begitu memasuki kota ini, Songbun-<BR>kwi segera mengembang kempiskan hidungnya karena mencium bau<BR>masakan sedap dan gurih.<BR>"Gurih....... gurih....... wah sedapnya.......!" dia menggerutu berkali-kali<BR>kemudian matanya mencari-cari dan akhirnya dia melangkah lebar memasuki<BR>sebuah restoran yang paling besar yang berada di pinggir jalan besar dekat<BR>tempat pemberhentian perahu-perahu. Bau amis perahu-perahu yang<BR>membawa muatan ikan malah menambah sedap.<BR>Kehadiran kakek ini menarik perhatian orang. Betapa tidak. Seorang kakek<BR>yang usianya kurang lebih tujuh puluh tahun, rambutnya jarang-jarang dan<BR>pendek setengah gundul, kumis dan jenggot pendek-pendek pula dan kaku,<BR>sebagian besar sudah putih. Pantasnya kepala seperti ini dimiliki seorang<BR>pendeta, akan tetapi pakaiannya sama sekali bukan pakaian pendeta. Pakaian<BR>yang membungkus tubuh tinggi besar kokoh kuat itu adalah pakaian petani<BR>yang kumal dan longgar, lengan bajunya lebar sekali seperti lengan baju<BR>tukang-tukang main sulap yang menyembunyikan benda-benda di dalamnya.<BR>"Heee, pelayan!" suaranya menggeledek dan menggetarkan ruangan restoran<BR>itu. "Bawa ke sini cepat seguci besar arak baik, tiga kati mi, dua kati daging<BR>babi panggang dan tiga empat macam masakanmu yang paling terkenal. Lekas<BR>kataku, perutku lapar nih!" Sambil menarik napas panjang dengan nikmat<BR>kakek ini menjatuhkan diri ke atas sebuah bangku yang mengeluarkan bunyi<BR>mengenaskan karena hampir tidak kuat menadahi tubuhnya yang besar dan<BR>berat itu, lalu jari-jari tangan kanannya mengetruk-ngetruk meja di depannya<BR>sampai meja itu bergoyang-goyang.<BR>Semua tamu yang duduk di situ menoleh dan memandang heran. Di mana di<BR>dunia ini ada orang yang begitu gembul? Tiga kati mi ditambah dua kati daging<BR>dan tiga macam masakan, masih didorong masuk oleh seguci besar arak,<BR>bukankah itu jumlahnya lebih sepuluh kati? Perut manusia biasa mana kuat<BR>dimasuki sepuluh kati makanan sekaligus? Juga pelayan-pelayan saling<BR>pandang, tidak ada yang menyanggupi karena mereka ragu-ragu. Selain aneh,<BR>juga harga masakan-masakan yang dipesan itu bukanlah sedikit uangnya!<BR>Kakek itu merasa juga akan keraguan Muka pelayan ini. Dia menggereng dan<BR>tangannya menekan meja di depannya yang tiba-tiba, ambles ke bumi sampai<BR>setengahnya lebih! "Heh, pelayan-pelayan. Kalian ini manusia-manusia<BR>ataukah patung? Kalau patung tunggu kublesekkan kalian ke dalam tanah<BR>seperti meja ini!"<BR>Kagetlah semua orang, kaget dan jerih. Juga para pelayan berseliweran dan<BR>separuh lari menyediakan pesanan kakek itu. Mereka tidak perduli lagi apakah<BR>kakek itu nanti bisa bayar atau tidak, itu urusan pengurus restoran. Paling<BR>perlu cepat-cepat sediakan pesanannya agar mereka selamat! Dengan<BR>senyum-senyum manis dibuat-buat sehingga senyum itu pringas-pringis<BR>mengandung takut, para pelayan berantri mengantarkan makanan-makanan<BR>yang dipesan Song-bun-kwi dan mengaturnya di atas meja yang rendah itu.<BR>Begitu selesai mereka terbirit-birit menjauhkan diri. Juga para tamu yang<BR>nyalinya kurang besar, cepat-cepat menghabiskan makanan, membayar dan<BR>meninggalkan tempat di mana terdapat kakek yang menyeramkan itu. Akan<BR>tetapi yang nyalinya besar, malah menjadi girang dan diam-diam ingin<BR>menyaksikan perkembangan lebih lanjut dan menikmati keanehan yang jarang<BR>mereka lihat. Di antara mereka itu terdapat seorang laki-laki berusia tiga<BR>puluhan tahun yang duduk seorang diri di sudut restoran, laki-laki yang<BR>bermata tajam berhidung betet berpakaian mentereng.<BR>Mencium bau arak dari sebuah guci besar yang berada di atas sebuah meja di<BR>depannya, sepasang mata Song-bun-kui bersinar-sinar. Dia sudah amat rindu<BR>melihat arak, kini begitu bertemu dia segera menyambar guci, mengangkatnya<BR>ke atas dan terdengarlah suara bergelogok seperti suara air pancuran jatuh<BR>dikolam. Tak setetes pun terbuang. Setelah agak lama mulut-mulut orang<BR>yang menyaksikan ini melongo, baru Song-bun-kwi meletakkan guci itu<BR>kembali ke atas meja dan setengah isinya sudah ia pindah ke dalam perutnya.<BR>Tanpa memperdulikan mata orang-orang yang berada di situ, dia menyambar<BR>sumpitnya dan segera menyikat masakan-masakan di depannya. Seperti<BR>mesin saja sumpit-sumpitnya bergerak, seperti disulap, mi, daging dan<BR>masakan-masakan itu terbang ke dalam mulutnya, dikunyah sebentar lalu<BR>masuk ke dalam lubang di kerongkongannya. Kadang-kadang masakan itu<BR>menyesakkan kerongkongan karena terlalu dijejal, dan terpaksa harus<BR>didorong arak menggelogok.<BR>Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar disusul orang lari berserabutan ke<BR>sana ke mari. Ramai orang berteriak-teriak, "Bajak laut............! Bajak laut!"<BR>Di dalam restoran itu sendiri terjadi keributan luar biasa. Para tamu lari ke luar<BR>berserabutan, pelayan-pelayan lari pula sambil membawa barang-barang yang<BR>dianggap berharga, pengurus restoran membawa lari uang. Semua lari<BR>berserabutan meninggalkan tempat itu. Nelayan-nelayan, pedagang-pedagang<BR>dan mereka yang merasa mempunyai barang berharga cepat-cepat lari<BR>meninggalkan tempat itu. Hanya mereka yang merasa tidak mempunyai apaapa,<BR>tidak lari, hanya bersembunyi dengan muka pucat ketakutan.<BR>Sejenak Song-bung-kwi menengok, lalu makan terus tanpa memperdulikan<BR>kegaduhan di sekelilingnya. Restoran itu sekarang kosong kecuali orang lakilaki<BR>yang berpakaian mentereng tadi. Tapi laki-laki ini pun nampak tegang dan<BR>beberapa kali meraba gagang golok yang tersembunyi di balik jubah<BR>panjangnya. Matanya memandang ke luar, ke arah laut.<BR>Dengan kecepatan luar biasa, beberapa buah perahu kecil runcing berlayar ke<BR>pantai. Perahu-perahu ini agaknya diturunkan dari sebuah perahu besar yang<BR>berlabuh beberapa li dari pantai dan di setiap kepala perahu kecil ini berkibar<BR>bendera putih dengan gambar tengkorak hitam. Itulah perahu-perahu bajak<BR>laut yang datang menyerbu kota pelabuhan ini. Jumlah perahu kecil ada<BR>sembilan buah, masing-masing ditumpangi lima orang anak buah bajak.<BR>Seorang laki-laki gemuk pendek berdiri di kepala perahu terdepan, tangannya<BR>memegang sebatang pedang yang besar dan panjang, pedang bengkok model<BR>Jepang.<BR>"Bajak laut Jepang...........!"<BR>"Si Tengkorak Hitam..........,!" Demikian telinga Song-bun-kwi mendengar<BR>teriakan mereka yang lari ketakutan. Namun dia pura-pura tidak mendengar<BR>dan makan terus.<BR>Para pedagang besar yang membawa banyak barang dagangan dan dikawal<BR>oleh jagoan-jagoan pengawal, sibuk mengumpulkan jagoan-jagoannya untuk<BR>melindungi barang mereka. Hanya pengawal-pengawal yang merasa dirinya<BR>berkepandaian dan mempunyai banyak teman, sedikitnya belasan orang anak<BR>buah saja yang berani menjaga barang yang dipercayakan mereka.<BR>Begitu bajak-bajak itu mendarat, terdengar teriakan-teriakan mereka yang<BR>menyeramkan. Golok dan pedang mereka angkat tinggi-tinggi dan dengan<BR>pekik dan sorak-sorai, para bajak ini menyerbu ke darat. Segera terjadi<BR>pertempuran dengan para jagoan pengawal yang jumlahnya semua tidak<BR>kurang dari tiga puluh orang. Hiruk-pikuk suara yang bertempur, bunyi senjata<BR>tajam beradu mendencing-dencing, pekik kesakitan dan sorak kemenangan<BR>mulai terdengar bersama muncratnya darah dan robohnya tubuh manusia.<BR>Lima orang anak buah bajak lari ke dalam restoran besar. Mereka berteriakteriak<BR>girang karena membayangkan pesta pora. Alangkah heran hati mereka<BR>ketika melihat betapa di dalam restoran besar itu terdapat dua orang tamu<BR>yang masih belum pergi. Seorang kakek gundul berusia lanjut enak-enakan<BR>saja makan, sedikit pun tidak melirik kepada lima orang bajak yang memasuki<BR>restoran. Malah ketika seorang bajak memekik-mekik sambil menendang meja<BR>sampai terguling, dia malah mengangkat guci araknya dan minum seenaknya.<BR>Orang ke dua adalah laki-laki berpakaian mewah yang duduk tenang-tenang<BR>saja, dengan tangan di gagang goloknya.<BR>Para bajak itu memang sudah terlalu lama berada di lautan dan kini melihat<BR>kakek itu makan minum, mereka menjadi mengilar. Maka berebutanlah empat<BR>orang lari menghampiri Song-bun-kwi, sedangkan seorang di antara mereka<BR>tertarik akan pakaian mewah laki-laki yang duduk di pojok, maka dia lari<BR>kepada orang itu.<BR>Sambil mengeluarkan kata-kata yang sama sekali tidak dimengerti oleh Songbun-<BR>kwi, empat orang bajak itu menyerbu, ada yang menghantam kepala<BR>gundul kakek itu, ada yang membacok lehernya dengan golok, ada pula yang<BR>menyambar guci arak untuk merampasnya.<BR>Kesudahannya hebat sekali. Kakek itu tanpa menoleh barang sedikit,<BR>menggerakkan tangan yang memegang sumpit, perlahan saja tapi cepat<BR>seperti kilat menyambar. Empat orang bajak seketika seperti orang<BR>terlongong, lalu membalikkan tubuh dan berjalan terhuyung-huyung ke pintu<BR>restoran, mulut mereka bergerak-gerak hendak memekik akan tetapi yang<BR>keluar hanya suara mengorok seperti babi disembelih! Dan sebelum mereka<BR>tiba di tempat teman-teman mereka di luar, robohlah mereka, terkulai satusatu,<BR>dan hampir berbareng mereka mengeluarkan suara jeritan ngeri!<BR>Kepala bajak yang gemuk pendek itu hebat sekali. Pedangnya yang panjang<BR>dan bengkok menyambar-nyambar dan banyaklah jagoan pengawal roboh<BR>dengan leher putus atau dada robek oleh pedangnya. Akan tetapi selagi enak<BR>dia mengamuk, seorang temannya berteriak sambil menuding ke arah empat<BR>orang anak buah yang roboh tanpa diserang lawan itu. Si kepala bajak sekali<BR>melompat sudah tiba di situ. Dengan kaki kirinya dia membalik-balikkan tubuh<BR>empat orang anak buahnya dan........... ternyata mereka telah putus<BR>nyawanya dengan mata mendelik, mulut berdarah sedangkan leher mereka<BR>nampak bolong sebesar jari tangan! Mata kepala bajak itu menjadi merah<BR>saking marahnya. Dia juga heran karena tidak melihat lawan di dekat empat<BR>orang anak buahnya ini. Matanya lalu mencari-cari dan terlihatlah olehnya<BR>cucuran-cucuran darah merah yang tercecer sepanjang jalan dari tempat itu<BR>ke pintu restoran. Dilihatnya seorang kakek duduk di dalam restoran dan<BR>tampak pula seorang anak buahnya tengah bertempur dengan seorang lakilaki<BR>yang mainkan golok. Jelas bahwa anak buahnya itu terdesak hebat.<BR>Sambil memekik dengan suara yang keluar dari dasar perut, kepala bajak<BR>berjuluk Tengkorak Hitam ini lalu berlari, pedangnya teracung ke depan,<BR>mulutnya memekik panjang "Yaaaaaaa!!!" Dua orang jagoan pengawal<BR>mengira bahwa kepala bajak itu hendak menerjang mereka, berbareng dua<BR>orang ini memapakinya dengan pedang mereka. Akan tetapi bukan main<BR>hebatnya kepala bajak ini. Tanpa menghentikan larinya ke arah restoran,<BR>pedang panjangnya berkelebat dan........... dua orang jagoan pengawal itu<BR>rebah dengan perut robek dan isi perutnya berantakan ke luar! Si kepala bajak<BR>terus berlari tanpa menghentikan pekiknya yang panjang menyeramkan itu.<BR>Akan tetapi begitu sampai di ambang pintu restoran, tiba-tiha dari dalam ada<BR>bayangan menubruknya. Si Tengkorak Hitam yang baru saja berhenti<BR>memekik panjang, kini membentak, "Yaaatt" dan pedangnya yang bengkok<BR>panjang itu bergerak ke depan berkelebat menyilaukan mata.<BR>"Craaaatttt!" Pedang yang amat tajam itu membabat pinggang bayangan itu<BR>yang........... putus menjadi dua. Darah menyembur-nyembur mengerikan<BR>dibarengi suara terbahak-bahak si kepala bajak yang tertawa girang. Tiba-tiba<BR>suara ketawanya berhenti ketika dia mendengar suara mendengus penuh<BR>ejekan di dalam restoran. Ketika dia menundukkan muka memandang, tibatiba<BR>muka Tengkorak Hitam menjadi pucat. Kiranya bayangan yang dibacoknya<BR>putus menjadi dua tadi adalah anak buahnya sendiri yang agaknya telah<BR>dilemparkan lawan.<BR>Jilid 11 : bagian 2<BR>Dia mengarahkan pandang matanya yang berapi-api ke dalam restoran. Kakek<BR>itu masih duduk makan minum sedangkan laki-laki bergolok yang tadi<BR>bertempur melawan anak buahnya sekarang berdiri dengan golok melintang di<BR>depan dada. Tengkorak Hitam tak dapat menahan kemarahannya lagi. Sekali<BR>lagi dia memekik panjang dan lari menyerbu ke dalam restoran, langsung<BR>menerjang si pemegang golok. Biasanya, tiap sabetan pedangnya tak pernah<BR>gagal, kalau tidak merobohkan lawan, sedikitnya melukai atau mematahkan<BR>senjatanya. Akan tetapi sekali ini dia salah duga. Pedangnya bertemu dengan<BR>sebuah golok yang kuat dan terdengar suara berdencing nyaring dibarengi<BR>muncratnya bunga api berhamburan. Cepat kedua lawan ini menarik senjata<BR>masing-masing, memeriksa sebentar. Lega mendapat kenyataan bahwa<BR>senjata masing-masing tidak rusak.<BR>Tengkorak Hitam lagi-lagi menerjang, kini gerakannya lebih kuat dan cepat<BR>sekali, pedangnya berkelebat tanpa berhenti, membobat-babit dari kanan<BR>kembali ke kiri, dari atas ke bawah seperti seorang akrobat mainkan dua obor<BR>api. Laki-laki bergolok itu beberapa kali mengeluarkan seruan kaget karena<BR>hampir saja pertahanannya bobol, namun dia melawan sedapat mungkin<BR>dengan permainan goloknya.<BR>Song-bun-kwi tidak perdulikan itu semua, masih saja makan minum. Melirik<BR>pun tidak dia. Akan tetapi ketika araknya habis, dia melingukan ke sana ke<BR>mari, lalu mulutnya mendamprat, "Pelayan keparat! Ke mana kalian? Hayo<BR>tambah lagi arak seguci penuh!"<BR>Tentu saja tidak ada setan yang menjawabnya karena semua pelayan sudah<BR>melarikan diri jauh dari tempat itu. Song-bun-kwi marah-marah, digebraknya<BR>meja sampai mangkok-mangkok yang kosong bergulingan. "Pelayan ke mana<BR>kalian pergi?"<BR>Tiba-tiba si pemegang golok yang menjawab, "Lo-cianpwe, semua pelayan lari<BR>ketakutan karena bajak ini!"<BR>Baru sekarang Song-bun-kwi menengok dan melihat pertempuran itu. Dia<BR>melihat seorang laki-laki pendek gemuk berkepala botak kelimis tapi di<BR>sebelah pinggir dan belakang berambut gemuk hitam. Laki-laki pendek gemuk<BR>ini tidak berbaju, hanya bercelana panjang yang komprang (kebesaran).<BR>Tubuhnya kelihatan kuat sekali, dan permainan pedangnya aneh bukan main,<BR>namun tak boleh dibilang lemah. Si pemegang golok yang sepintas lalu dapat<BR>dinilai oleh Song-bun-kwi permainannya sebagai ilmu golok selatan yang tidak<BR>lemah, agaknya tidak kuat menandingi ilmu pedang aneh bajak pendek itu.<BR>Timbul kemarahan Song-bun-kwi kepada bajak itu. Benar-benar tidak<BR>memandang mata kepadanya. Sedang enak-enak makan berani datang<BR>mengacau sampai semua pelayan lari. Dengan langkah lebar dia menghampiri<BR>tempat pertempuran.<BR>"Heh, babi buntung! Berani kau membikin kacau sampai semua pelayan pergi,<BR>ya? Hayo kau gantikan pekerjaan mereka, layani aku baik-baik!"<BR>Si pemegang golok yang melihat cara Song-bun-kwi tadi mengalahkan empat<BR>orang bajak, dapat mengerti bahwa kakek itu adalah seorang sakti, maka<BR>sekarang melihat kakek itu mau turun tangan, dia pun cepat memutar<BR>goloknya lalu melompat ke samping menjauhi kepala bajak yang lihai.<BR>Tengkorak Hitam kaget mendengar bentakan Song-bun-kwi. Agaknya dia<BR>sudah sering kali menjelajah pantai timur ini sehingga dia mengerti juga<BR>bahasa daerah itu. Dengan kaku dia membentak sambil mengangkat<BR>pedangnya tinggi-tinggi,<BR>"Iblis tua bangka, kau memaki siapa?"<BR>"Memaki kau, siapa lagi? Hayo lekas ambilkan arak seguci!" Song-bun-kwi<BR>membentak.<BR>Bukan main marahnya Tengkorak Hitam. Dia adalah seorang kepala bajak<BR>yang sudah terkenal. Hanya di seberang sini saja dia menjadi kepala bajak,<BR>kalau sudah pulang ke seberang sana membawa barang-barang rampasan, dia<BR>adalah seorang yang memiliki gedung indah, dihormati semua orang.<BR>Sekarang dia dihina oleh seorang tua bangka, padahal biasanya di seberang<BR>sana dia amat ditakuti orang, tentu saja dia marah sekali. Pedangnya diobatabitkan<BR>ke atas kepala, kata-katanya tidak jelas tercampur bahasa Jepang,<BR>"Bakeiroo...........! Kau mau mampus, ya?"<BR>Pedang itu menyambar ke arah leher Song-bun-kwi, agaknya dengan sekali<BR>tebas Si Tengkorak Hitam hendak menjadikan kakek itu setan tanpa kepala.<BR>Song-bun-kwi mendengus sambil bangkit berdiri, tangan kirinya membabat<BR>dari samping memapaki pedang.<BR>"Krekkk!" Pedang itu patah-patah menjadi tiga potong saking hebatnya<BR>gempuran tangan kakek ini. Si kepala bajak seketika pucat, terbelalak<BR>memandang pedang yang tinggal gagangnya saja itu. Namun dia seorang<BR>bajak laut yang buas dan tak kenal takut. Sambil menyumpah-nyumpah dia<BR>membanting gagang pedangnya dan segera kaki tangannya bergerak-gerak<BR>mempergunakan ilmu gulat yang amat dia andalkan. Jari-jari tangannya<BR>terbuka seperti cengkeraman, siap untuk menangkap lawan dan diangkat serta<BR>dibantingkan. Biasanya tak pernah dia gagal dalam membantingkan lawan<BR>mempergunakan ilmu ini. Malah lawan yang jauh lebih muda dan lebih tinggi<BR>besar daripada kakek itu pernah dia permainkan, dia banting-banting seperti<BR>penatu membanting cuciannya.<BR>Song-bun-kwi tidak mengenal ilmu berkelahi semacam ini, namun melihat<BR>kuda-kuda yang diberatkan ke bawah dan melihat kedua tangan yang siap<BR>mencengkeram, dia dapat menduga bahwa ilmu ini tentulah semacam Ilmu<BR>Kim-na-chiu, ilmu tangkap atau ilmu gulat. Dia terkekeh lalu mengulurkan<BR>tangan kirinya, sengaja dia berikan untuk ditangkap lawan! Seorang ahli silat<BR>tentu akan ragu-ragu dan tidak berani menerima umpan selunak ini. Akan<BR>tetapi Tengkorak Hitam agaknya tidak mengenal istilah umpan dalam ilmunya<BR>berkelahi, atau memang dia terlalu mengandalkan kepandaiannya sendiri<BR>sehingga umpan itu dia caplok mentah-mentah. Cepat laksana bintang jatuh<BR>dia menerkam maju dan di lain saat lengan kiri Song-bun-kwi sudah<BR>ditangkapnya, diputar dengan gaya selicin belut, tubuhnya menyelinap dan<BR>membalik sehingga kedudukan lengan Song-bun-kwi terbalik dan dilandaskan<BR>di atas pundaknya, kemudian dia mengerahkan tenaga dari perut sambil<BR>memekik keras, menggentak lengan kiri kakek itu dengan gaya melemparkan<BR>tubuh si kakek ke atas melewati punggung dan pundaknya.<BR>Tubuh itu terlempar ke atas sampai membentur langit-langit rumah lalu jatuh<BR>menimpa meja makan yang belum keburu dibereskan sehingga kuah masakan<BR>dalam mangkok memercik ke atas menyiram muka orang yang jatuh itu. Tapi<BR>bukan tubuh Song-bun-kwi yang terlempar, melainkan tubuh Tengkorak Hitam<BR>sendiri! Kepala bajak ini gelagapan, cepat menyusuti mukanya, terengahengah<BR>meloncat turun dari kursi, kepalanya digoyang-goyang keras seperti<BR>laku seekor anjing habis kecemplung kolam, matanya terbeliak memandang<BR>kakek itu seakan-akan dia tidak percaya bahwa yang baru saja dia alami<BR>bukanlah mimpi buruk.<BR>Sambil menahan rasa nyeri di seluruh tubuhnya kembali dia menggereng dan<BR>menubruk. Kaki ini dia menangkap kaki Song-bun-kwi. Kakek itu hanya berdiri<BR>dan tunduk memandang orang pendek yang nekat itu. Tengkorak Hitam<BR>berkutetan, mengerahkan tenaga untuk mengangkat kaki itu agar dia<BR>mendapat peluang untuk melontarkan si kakek. Namun kaki itu tak bergeming<BR>sedikit pun juga. Sampai payah dia mengerahkan semua tenaga perut, ah-uhah-<BR>uh mulutnya terengah-engah. Mendadak kaki itu terangkat sedikit. Girang<BR>hatinya. Mampus kau sekarang tua bangka, pikirnya. Tubuhnya menyelinap ke<BR>bawah selakang kakek itu, kaki itu di pundaknya dan kini dia mengerahkan<BR>seluruh tenaganya sambil menggentak.<BR>"Bull!" Seperti layang-layang putus talinya tubuh itu mumbul ke atas, sekali<BR>lagi menghantam langit-langit sampai jebol kemudian terbanting ke bawah<BR>membikin remuk bangku yang ditimpanya. Juga kali ini tubuh Tengkorak<BR>Hitamlah yang melayang-layang, bukan tubuh si kakek kosen.<BR>Sakit, marah, dan malu memenuhi benak Tengkorak Hitam, apalagi ketika dia<BR>melihat betapa mulai berdatangan orang menonton. Dia menjadi nekat dan<BR>kini hendak menggunakan ilmu pukulan. Dia menerjang lagi dengan tangan<BR>terkepal. Tiba-tiba tubuhnya yang merunduk dengan kepala di depan seperti<BR>laku seekor domba hendak menanduk ayam, berhenti di tengah jalan, tepat di<BR>muka kakek itu. Kepalanya tertahan sesuatu. Matanya melirik dan alangkah<BR>marahnya melihat bahwa kakek itulah yang menahan kepalanya dengan<BR>telapak tangan. Dia mengumpat caci, kedua tangannya menghantam<BR>bergantian, disusul kakinya yang juga mengirim tendangan-tendangan maut.<BR>Akan tetapi, serangan-serangannya mengenai tempat kosong belaka, atau<BR>tegasnya, tidak sampai di tubuh si kakek. Seperti diketahui, bajak laut itu<BR>tubuhnya pendek, kedua lengannya pun pendek-pendek sekali, demikian pula<BR>kedua kakinya. Tentu saja setelah kakek itu yang bertubuh tinggi besar dan<BR>berlengan panjang menahan kepalanya dengan lengan diluruskan, semua<BR>pukulan dan tendangannya gagal, tidak sampai ke sasarannya.<BR>Terdengar suara ketawa di sana-sini. Bajak itu marah sekali, kini menghantam<BR>lengan yang menahan kepalanya. Sia-sia, malah kedua tangannya sakit-sakit<BR>seperti menghantam baja layaknya. Tiba-tiba dia merasa betapa telapak<BR>tangan yang menahan kepalanya itu menjadi panas sekali. Dia berusaha<BR>menarik kepalanya yang botak, namun alangkah kagetnya ketika merasa<BR>betapa botaknya itu lengket pada telapak tangan lawan. Dan panasnya tak<BR>dapat dia menahannya lebih lama, seakan-akan botaknya ditempel arang<BR>merah! Dia mulai mengerling ke luar restoran dan tanpa malu-malu lagi<BR>mulutnya berteriak-teriak memanggil anak buahnya supaya membantunya<BR>melawan kakek yang aneh ini. Akan tetapi, begitu matanya mengerling ke<BR>luar, seketika wajahnya pucat. Apa yang dilihatnya? Anak buahnya sudah tidak<BR>kelihatan batang hidungnya seorang pun, malah sebuah perahunya pun tidak<BR>tampak lagi. Pantas saja banyak orang berdatangan menonton pertunjukkan di<BR>dalam restoran, kiranya sekarang di luar restoran sudah tidak ada bajak laut<BR>lagi!<BR>Apakah sebetulnya yang telah terjadi di luar restoran? Seperti telah kita<BR>ketahui, pada saat kepala bajak itu beraksi di depan Song-bun-kwi, para bajak<BR>laut itu sedang bertempur menyerbu para jagoan pengawal yang melawan<BR>mati-matian. Namun karena kalah banyak jumlahnya, para pengawal itu kena<BR>desak dan mulai mundur tak teratur. Mulai banyaklah berjatuhan korban di<BR>kedua fihak, terutama sekali di fihak para pengawal.<BR>Pada saat itu, terdengar bentakan mengguntur, disusul suara nyaring,<BR>"Keparat jahanam! Beginikah perbuatan kalian di sini? Dari rumah mengaku<BR>berdagang kiranya melakukan perampokan. Bajak-bajak keparat, membikin<BR>malu saja kalian ini. Hayo pergi!"<BR>Yang membentak ini adalah seorang laki-laki muda yang bertubuh tegap kokoh<BR>kuat, wajahnya membayangkan kegagahan, bajunya tipis terbayang dadanya<BR>yang bidang. Rambutnya hitam panjang dan gemuk, digelung ke atas dengan<BR>model yang asing, dijepit di bagian atas dengan hiasan rambut perak.<BR>Sebatang pedang yang panjang sekali dan bentuknya agak melengkung<BR>tergantung di pinggang. Pedang ini sarung dan gagangnya berukir kembangkembang<BR>indah, merah warnanya, dengan ronce-ronce merah pula, gagangnya<BR>agak panjang.<BR>Para bajak laut kaget mendengar suara bangsanya sendiri, karena pemuda itu<BR>tadi menggunakan bahasa Jepang. Ketika menengok, mereka lebih kaget lagi<BR>karena dari dandanan, sikap, dan pedang pemuda itu, mudah diterka bahwa<BR>pemuda itu adalah seorang pendekar Samurai, yaitu golongan pendekar<BR>pedang yang amat terkenal di Jepang.<BR>Akan tetapi karena pendekar itu masih amat muda, paling banyak dua puluh<BR>tahun usianya, apalagi karena bajak laut itu mengandalkan banyak teman dan<BR>bukan berada di daratan sendiri, mereka tidak takut.<BR>"Berhenti dan pulang semua kataku!" Pendekar Samurai muda itu berseru lagi,<BR>suaranya benar-benar nyaring dan wibawa.<BR>Ketika para bajak itu tidak memperdulikannya, tiba-tiba dia menggerakkan<BR>kedua tangan, sinar kemerahan berkelebat-kelebat menyambar bagaikan kilat<BR>di musim hujan. Terdengar pekik dan jerit di sana-sini dan di mana sinar<BR>kemerahan itu tiba, tentu ada bajak yang roboh dengan senjata mereka<BR>terlempar atau patah!<BR>"Hayo siapa tidak menurut, akan kubasmi di sini juga. Memalukan orang-orang<BR>macam kalian ini!" lagi-lagi si pemuda berteriak. "Samurai Merah tak<BR>mengijinkan kalian merusak nama kehormatan bangsa!"<BR>Melihat sepak terjang pemuda itu dan mendengar nama sebutan Samurai<BR>Merah, para bajak kaget dan ketakutan, Itulah nama pendekar yang amat<BR>terkenal kebengisannya terhadap para penjahat. Mereka segera membuang<BR>senjata masing-masing, menyambar tubuh teman-teman yang luka atau<BR>tewas, lalu berserabutan lari ke perahu masing-masing. Dalam sekejap mata<BR>saja bajak-bajak itu sudah berlayar pergi, tidak merampok apa-apa hanya<BR>meninggalkan korban-korban di fihak pengawal dan saking bingung dan<BR>takutnya mereka tadi lupa bahwa kepala mereka, Tengkorak Hitam masih<BR>tertinggal di dalam restoran!<BR>Para pengawal kagum dan berterima kasih kepada pendekar Jepang itu. Akan<BR>tetapi berbareng dengan kaburnya para bajak laut, pendekar muda Jepang itu<BR>pun lenyap dari situ. Apakah dia ikut dengan perahu-perahu bajak atau tidak,<BR>tak seorang pun mengetahui karena tadi keadaannya kacau-balau. Akan tetapi<BR>ketika orang-orang ini mendengar adanya pertempuran lain di dalam restoran,<BR>segera mereka mendatangi tempat ini dan ternyata mereka menjadi saksi<BR>akan pertandingan yang lebih menarik lagi karena lucu sekali. Juga para<BR>jagoan pengawal itu diam-diam kaget dan kagum ketika mengenal bahwa<BR>yang sedang dipermainkan kakek tua itu bukan lain adalah Tengkorak Hitam,<BR>si kepala bajak yang terkenal akan kekejaman, keganasan dan juga<BR>kesaktiannya.<BR>Pertempuran di dalam restoran itu memang lucu sekali, terutama bagi para<BR>penonton yang kesemuanya membenci si kepala bajak. Tengkorak Hitam<BR>seperti seekor cecak terjepit pintu. Kepalanya yang botak menempel pada<BR>telapak tangan kakek itu yang diluruskan ke depan. Pukulan dan<BR>tendangannya gagal semua tidak mengenai sasaran, malah dia sekarang mulai<BR>meringis-ringis dan keluar air mata dari kedua matanya tanpa dia sengaja. Air<BR>mata ini keluar saking nyerinya ketika dari telapak tangan itu keluar hawa<BR>panas seperti api yang membakar kepalanya yang botak. Akhirnya dia tak<BR>tahan lagi, menjerit-jerit dan melolong-lolong minta ampun dengan suaranya<BR>yang pelo (cedal),<BR>"Ampun, orang tua gagah........... ampun..........."<BR>Song-bun-kwi mendengus. Dia pun tidak suka dijadikan tontonan. "Aku sedang<BR>makan kau membikin ribut saja, menyebalkan sekali! Hayo lekas kau ambilkan<BR>tambahan arak!" Sekali dia mendorongkan lengannya, kepala bajak itu<BR>terlempar ke belakang menabrak bangku. Dengan muka pucat dan tubuh<BR>menggigil kepala bajak yang biasanya ditakuti orang ini merangkak bangun,<BR>sedangkan Song-bun-kwi dengan tenang duduk kembali ke bangkunya<BR>menghadapi meja makan. Dengan kening berkerut dia mengomel panjang<BR>pendek,<BR>"Menyebalkan! Makanan ini sudah dingin semua, araknya sudah habis!"<BR>Tiba-tiba para pelayan berdatangan membawakan arak dan masakan-masakan<BR>baru. Seperti menyulap saja tukang-tukang masak berlomba membuatkan<BR>masakan untuk kakek yang gagah perkasa ini.<BR>Adapun kepala bajak Si Tengkorak Hitam tadi sudah menjadi bulan-bulan<BR>kemarahan para penduduk dan para jagoan pengawal. Dia diseret keluar dan<BR>digebuki sampai terkencing-kencing dan orang-orang baru menyudahi<BR>penyiksaan mereka setelah kepala bajak yang sudah membunuh ribuan itu tak<BR>bernapas lagi. Setelah itu barulah ramai-ramai mereka mengubur para korban<BR>dan merawat para pengawal yang terluka. Sebentar saja kota pelabuhan itu<BR>menjadi ramai lagi seperti biasa. Kali ini memang sepatutnya mereka<BR>bergembira karena bukankah bajak laut-bajak laut yang menyerbu itu selain<BR>dapat dihancurkan, juga kepalanya dapat ditewaskan? Jarang terjadi hal ini<BR>dan patut mereka bergembira.<BR>Song-bun-kwi menoleh ke arah laki-laki yang tadi merupakan orang satusatunya<BR>yang tidak lari dari restoran. Kebetulan laki-laki itu juga memandang<BR>kepadanya dan laki-laki itu cepat berdiri membungkuk dengan hormat lalu<BR>berkata,<BR>"Saya merasa tunduk dan kagum sekali atas kegagahan locianpwe,"<BR>Song-bun-kwi mengerutkan keningnya yang mulai beruban, lalu dia<BR>melambaikan tangan, "Hayo kau ikut makan dengan aku. Biarpun<BR>kepandaianmu tidak seberapa, tetapi keberanianmu membikin kau cukup<BR>berharga untuk makan bersamaku."<BR>Laki-laki itu tidak merasa tersinggung atau tak senang mendengar kata-kata<BR>yang angkuh ini. Cepat dia datang sambil membungkuk-bungkuk menyatakan<BR>terima kasihnya. Dengan lagak amat sopan dia lalu menarik bangku dan duduk<BR>di depan Song-bun-kwi. Menyaksikan sikap merendah-rendah ini diam-diam<BR>Song-bun-kwi mendapat kesan tak baik dan menganggap laki-laki ini sikapnya<BR>terlalu menjilat-jilat. Akan tetapi karena sudah terlanjur, dia lalu menyilahkan<BR>laki-laki itu menikmati minuman dan masakan yang sudah disediakan oleh<BR>para pelayan yang merasa amat berterima kasih kepada dua orang itu karena<BR>sesungguhnya apabila tidak ada dua orang tamu itu, tentu restoran mereka<BR>sudah habis dan rusak oleh para bajak.<BR>Akhirnya Song-bun-kwi merasa kenyang juga. Dengan lengan bajunya yang<BR>lebar dia mengusapi mulutnya dan tangan kirinya mengelus-elus perut. Lakilaki<BR>di depannya itu membungkuk sambil tersenyum dan berkata,<BR>"Locianpwe yang gagah perkasa, saya bernama Teng Cun Le dari kota raja,<BR>seorang pelancong biasa. Bolehkah kiranya saya mengetahui nama Locianpwe<BR>yang mulia?"<BR>Sebal hati Song-bun-kwi mendengar ini. Dia sudah menyesal dan kecewa<BR>mengapa dia tadi mengundang orang ini yang kiranya hanya mendatangkan<BR>kesebalan di hatinya dan mengganggu ketenteramannya seorang diri. Dengan<BR>gerakan tangan tak sabar dia menjawab, "Aku she Kwee........... sudahlah."<BR>Tiba-tiba dia teringat sesuatu dan cepat berkata,<BR>"Kau tentu tahu akan semua bajingan di daerah pantai timur ini, bukan?"<BR>Orang itu terkejut, gugup bagaimana harus menjawab. Tapi segera dia dapat<BR>menguasai hatinya. "Apakah yang Locian-pwe maksudkan? Kalau yang<BR>dimaksudkan bangsat-bangsat cilik tiada nama, tentu saja saya tidak kenal.<BR>Akan tetapi tokoh-tokoh besar di pantai timur ini banyak juga yang saya<BR>ketahui."<BR>Wajah Song-bun-kwi yang biasanya seperti kedok itu kini membayangkan<BR>kegirangan, "Bagus, kalau begitu, hayo lekas kau tunjukkan di mana tempat<BR>tinggal si iblis bangkotan Thai-lek-sin Swi Lek Ho-siang?"<BR>"Tentu saja aku tahu, Locianpwe. Akan tetapi pada waktu ini hwesio tua itu<BR>tidak berada di kelentengnya. Saya mendengar dari teman-teman bahwa dia<BR>seringkali berkunjung dan tinggal di tempat lain..........."<BR>"Sayang sekali!" Song-bun-kwi membanting kakinya sehingga tanah dalam<BR>rumah makan itu tergetar. Kembali laki-laki yang mengaku bernama Teng Cun<BR>Le itu tercengang kagum. "Jauh-jauh kucari iblis bangkotan itu, akan kuajak<BR>dia bertanding selama tiga malam, kiranya dia minggat dan kabur! Huh, Thailek-<BR>sin iblis tua bangka, apakah kau sudah menduga akan kunjunganku ke Sini<BR>lalu kabur? Sayang........!" Setelah berkata demikian, Song-bun-kwi bangkit<BR>dari bangkunya, kemudian tanpa pamit kepada siapa pun juga meninggalkan<BR>restoran itu!<BR>Para pelayan berikut para pengurus semua mengantar sambil membungkukbungkuk<BR>dan mulut mereka berdendang, "Selamat jalan, pendekar tua yang<BR>gagah perkasa!"<BR>Namun Song-bun-kwi tidak memperdulikan mereka dan tidak perduli pula<BR>bahwa dia tidak membayar makanan, tidak perduli betapa orang-orang<BR>memandangnya dengan kagum dan penuh hormat. Dia terus saja melangkah<BR>lebar keluar dari restoran, tidak mau tahu biarpun dapat dia melihat betapa<BR>laki-laki yang mengajaknya bicara tadi melemparkan beberapa keping uang<BR>perak ke atas meja makan dan betapa para pengurus restoran berusaha<BR>menolak pembayaran yang royal ini.<BR>Akan tetapi sebal juga hati Song-bun-kwi ketika dia mendapat kenyataan<BR>bahwa Teng Cun Le itu mengejarnya sambil berlari-lari cepat! Setibanya di luar<BR>kota pelabuhan itu, Song-bun-kwi membalikkan tubuh, tangannya mendorong<BR>dan.......... Teng Cun Le roboh terjungkal! Baiknya Song-bun-kwi yang<BR>berwatak aneh itu biarpun marah masih ingat akan kegagahannya ketika<BR>melawan para bajak tadi, maka tidak bermaksud mengambil nyawanya. Maka<BR>dia hanya merasa terdorong oleh tenaga raksasa sehingga orang itu tidak<BR>mampu mempertahankan diri lagi dan roboh. Dengan kaget dan muka pucat<BR>Teng Cun Le merangkak bangun karena seketika dia merasa tubuhnya lemas<BR>dan kakinya lumpuh. Tahu-tahu kakek itu sudah berdiri di depannya dengan<BR>muka merah.<BR>"Cacing busuk! Kau berani mengikuti dan mengganggu aku?" bentak Songbun-<BR>kwi.<BR>Melihat kemarahan kakek itu, Teng Cun Le tidak jadi berdiri, malah terus saja<BR>berlutut dan mengangguk-angguk. "Mohon beribu ampun, Locianpwe. Bukan<BR>sekali-kali maksud saya untuk mengikuti atau mengganggu Locianpwe, hanya<BR>saya amat terdorong oleh rasa kagum........... dan pula, teringat bahwa<BR>Locianpwe jauh-jauh datang mencari Thai-lek-sin Swi Lek<BR>Hosiang, agaknya saya dapat menunjukkan di mana adanya hwesio itu<BR>sekarang ini agaknya..........."<BR>"Hemm, kenapa tidak dari tadi kau bilang? Kalau tadi-tadi kau bilang, aku<BR>takkan curiga padamu dan takkan membikin kau roboh. Orang she Teng, mari<BR>tunjukkan aku di mana adanya hwesio bangkotan itu dan kau boleh ikut<BR>dengan aku menonton pertempuran menarik antara aku dan dia," Song-bunkwi<BR>benar-benar gembira mendengar ada orang bisa mengantar dia kepada<BR>Thai-lek-sin. Bagus untungnya, baru saja makan lezat sekenyangnya dan<BR>sedikit "berlatih" dengan Tengkorak Hitam bajak Jepang, sekarang akan dapat<BR>berkelahi sepuasnya melawan seorang tokoh setingkat!<BR>Teng Cun Le dengan wajah berseri segera bangkit dan berkata gembira, "Wah,<BR>kalau Locianpwe hanya hendak mencari lawan tangguh, kiraku kali ini<BR>Locianpwe akan mendapat kepuasan. Menurut pendengaran saya, seringkali<BR>Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang mengunjungi Pek-tiok-lim, tempat tinggal<BR>sahabatnya."<BR>"Pek-tiok-lim (Hutan Bambu Putih)? Di mana itu? Tempat tinggal siapa?" Songbun-<BR>kwi mendesak gembira.<BR>"Heran sekali bahwa Locianpwe belum mendengar tentang Pek-tiok-lim! Di<BR>sana adalah tempat tinggal seorang tokoh besar yang tidak kalah terkenalnya<BR>kalau dibandingkan dengan Thai-lek-sin. Dia itu adalah Sin-kiam-eng (Si<BR>Pendekar Pedang Sakti), ilmu pedangnya hebat dan anak perempuannya juga<BR>bukan main. Pendeknya, kalau Locianpwe dapat bertanding melawan dia, tentu<BR>akan puas betul. Akan tetapi, saya benar-benar merasa ragu-ragu apakah<BR>saya akan mampu membawa Locianpwe ke sana."<BR>"Kenapa?" Song-bun-kwi bertanya penasaran hatinya sudah panas mendengar<BR>orang ini memuji-muji majikan dari Pek-tiok-lim itu.<BR>"Pek-tiok-lim adalah daerah yang penuh deggan rahasia. Jalan-jalannya amat<BR>sukar dan kabarnya, orang yang memasukinya berarti mengantar nyawa<BR>karena jangan harap akan dapat keluar kembali dengan nyawa masih di<BR>badan."<BR>Song-bun-kwi tidak menjawab, tangan kanannya bergerak memukul dan<BR>kakinya menyapu, serangan ini dia tujukan kepada sebatang pohcm besar,<BR>sebesar tubuh manusia batangnya dan sekali kena dihajar tangan dan kaki<BR>kakek itu, terdengar suara keras dan pohon itu seketika tumbang berikut akarakarnya<BR>terjebol dari tanah. Dengan suara hiruk-pikuk luar biasa pohon itu<BR>roboh dan orang she Teng itu buru-buru melompat jauh karena khawatir<BR>tertimpa cabang-cabang pohon itu.<BR>"Ha-ha-hi, apakah pohon-pphon bambu putih itu melebihi pohon ini kuatnya?"<BR>Song-bun-kwi tertawa bergelak melihat orang itu ketakutan sampai mukanya<BR>pucat dan lidahnya terjulur keluar.<BR>"Hebat........... luar biasa........... Locianpwe seperti malaikat ..........!" Teng<BR>Cun Le memuji, benar-benar baru sekali ini selama hidupnya dia melihat<BR>manusia kosen ini. Diam-diam dia merasa girang. "Saya percaya bahwa<BR>Locianpwe pasti akan sanggup menggempur Pek-tiok-lim!"<BR>Teng Cun Le dengan girang lalu mengajak kakek itu berlari cepat menyusuri<BR>pantai timur itu menuju ke utara. Pek-tiok-lim itu terletak di dekat pantai Laut<BR>Po-hai, dan memang tempat ini sudah bertahun-tahun dijadikan tempat<BR>tinggal seorang tokoh ilmu pedang yang terkenal, yaitu murid pertama dari<BR>mendiang Raja Pedang Bu-tek-kiam-ong Cia Hui Gan. Nama tokoh ini adalah<BR>Tan Beng Kui berjuluk Sin-kiam-eng. Seperti telah disebut di bagian depan dari<BR>cerita ini, Tan Beng Kui ini adalah kakak kandung dari ketua Thai-san-pai, dan<BR>bukan lain adalah ayah daripada si dara lincah Tan Loan Ki yang sudah kita<BR>kenal baik itu.<BR>Benarkah Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang seringkali datang ke Pek-tiok-lim?<BR>Kenyataannya tidak demikian dan sebetulnya tanpa disadarinya, Song-bun-kwi<BR>sitokoh yang ditakuti dunia kang-ouw puluhan tahun yang lalu itu terkena<BR>bujukan halus. Apakah kehendak Teng Cun Le dan mengapa dia melakukan hal<BR>ini?<BR>Teng Cun Le sebetulnya adalah seorang mata-mata dari istana. Dia adalah<BR>seorang di antara banyak kepercayaan kaisar baru untuk melakukan<BR>penyelidikan ke daerah-daerah melihat reaksi para tokoh daerah atas<BR>pengangkatan diri Pangeran Kian Bun Ti menjadi kaisar, menggantikan kaisar<BR>tua yang meninggal dunia. Teng Cun Le ini mendapat tugas memata-matai<BR>daerah pantai timur. Tentu saja seorang yang sudah dipercayai tugas seperti<BR>ini memiliki kepandaian yang cukup tinggi dan hal ini sudah terbukti ketika dia<BR>menyaksikan penyerbuan para bajak laut. Selain berkepandaian silat, juga<BR>orang yang diangkat menjadi mata-mata tentu saja orang yang cerdik dan<BR>memang Teng Cun Le ini cerdik sekali orangnya.<BR>Beberapa hari yang lalu dia bertemu dengan seorang dara lincah yang amat<BR>menarik perhatiannya. Dara itu bukan lain adalah Loan Ki. Melihat seorang<BR>gadis muda seorang diri melakukan perjalanan, Teng Cun Le maklum bahwa<BR>gadis ini tentulah seorang gadis kang-ouw yang berkepandaian. Dia menjadi<BR>curiga dan diam-diam melakukan pengintaian. Sama sekali dia tidak menduga<BR>bahwa gadis itu benar-benar amat lihai sehingga diam-diam Loan Ki tahu<BR>bahwa dirinya diintai orang! Dasar ia seorang anak yang memiliki watak nakal<BR>dan suka mempermainkan orang, maka sengaja gadis ini di dalam kamarnya<BR>membuka buntalannya, memamerkan bekal uang dan tiga buah mutiara Yabeng-<BR>cu yang mengeluarkan cahaya di dalam gelap! Ia lakukan ini karena tahu<BR>bahwa di luar kamar ada orang itu yang selalu mengintainya selama ini!<BR>Teng Cun Le menjadi terkejut dan girang bukan main melihat tiga butir<BR>mutiara ini. Sebagai seorang kaki tangan kaisar, tentu saja dia mengenal<BR>mutiara itu yang tadinya menjadi penghias mahkota kuno yang telah hilang.<BR>Memang termasuk tugasnya untuk mencari jejak bekas pembesar Tan Hok<BR>karena menurut perintah rahasia yang dia terima, mahkota itu mengandung<BR>rahasia hebat dan harus dirampas kembali ke istana. Sekarang dia melihat<BR>mutiara-mutiara itu, tentu saja girangnya bukan kepalang. Kalau ada mutiara<BR>itu tentu ada pula mahkotanya, dan kalau ada mahkotanya tentu ada pula<BR>pengkhianat Tan Hok.<BR>Loan Ki yang nakal itu pura-pura tidak tahu bahwa ia selalu diikuti, malah<BR>dengan enak-enakan ia berjalan pulang ke Pek-tiok-lim seperti sengaja<BR>menunjukkan kepada orang itu di mana ia tinggal. Melihat betapa dengan<BR>berani mati orang itu menguntitnya terus memasuki Pek-tiok-lim, diam-diam<BR>ia tertawa geli dan sebentar saja ia lenyap di jalan rahasia dalam hutan<BR>wilayah ayahnya itu. Celakalah Teng Cun Le. Hampir saja binasa di dalam<BR>hutan ini. Untungnya dia sudah mulai curiga dan sebelumnya sudah mencari<BR>keterangan tentang keadaan di situ. Dia sudah mendengar tentang Pek-tioklim,<BR>tempat kediaman tokoh besar Sin-kiam-eng dan puterinya. Maka melihat<BR>keadaan hutan yang penuh bambu putih ini, dia segera sadar dengan tengkuk<BR>meremang bahwa yang dia ikuti selama ini adalah puteri Sin-kiam-eng. Inilah<BR>yang menolongnya karena dia segera meninggalkan hutan itu dan kabur tanpa<BR>berani menoleh lagi.<BR>Demikianlah pengalaman Teng Cun Le. Hatinya masih merasa penasaran.<BR>Segera dia mengadakan hubungan dengan kurir yang berkuda cepat ke kota<BR>raja. Alangkah kagetnya ketika dia mendengar berita bahwa memang mahkota<BR>kuno itu yang tadinya sudah terampas oleh panglima istana Souw Ki, telah<BR>dirampas kembali oleh seorang gadis liar puteri Sin-kiam-eng. Dia girang<BR>bercampur bingung. Girang karena tahu betul bahwa mahkota itu tentu berada<BR>di Pek-tiok-lim, namun bingung bagaimana dia dapat merampasnya kembali.<BR>Dia hendak mengirim utusan ke istana, mengusulkan agar secara resmi kaisar<BR>mengutus rombongan meminta kembali mahkota itu secara baik-baik dari Sinkiam-<BR>eng. Kalau kaisar yang minta, sudah tentu akan dikembalikan dan tidak<BR>akan terjadi sesuatu keributan. Andaikata Sin-kiam-eng berani menolak,<BR>berarti dia memberontak dan boleh saja digempur menggunakan pasukan.<BR>Sambil menanti keputusan, Teng Cun Le iseng-iseng mendatangi kota<BR>pelabuhan dan secara tak disengaja bertemu dengan Song-bun-kwi. Dia masih<BR>belum dapat menduga siapa adanya kakek yang hebat ini, akan tetapi segera<BR>otaknya yang cerdik bekerja ketika mendapat kenyataan betapa kakek sakti ini<BR>seperti gatal-gatal tangannya hendak mencari lawan yang setingkat. Maka dia<BR>sekarang hendak mempergunakan kesaktian kakek ini untuk memasuki Pektiok-<BR>lim, menggunakan kesaktian kakek ini untuk merampas kembali mahkota.<BR>Dengan cara ini, selain lebih cepat juga semua pahala akan terjatuh ke dalam<BR>tangannya.<BR>******<BR>"Heh, keparat! Tua bangka gila dari mana berani merusak bambu peliharaan di<BR>Pek-tiok-lim...........?" bentak dua orang penjaga yang bertubuh tinggi besar<BR>dan bersenjata pedang. Tentu saja mereka ini marah sekali melihat betapa<BR>seorang kakek tinggi besar, sambil tertawa-tawa mencabut, menendang, dan<BR>melempar-lemparkan bambu-bambu putih di hutan itu begitu mudah seperti<BR>seorang mencabuti dan membuang-buang rumput kering saja!<BR>Jilid 12 : bagian 1<BR>Semenjak Pek-tiok-lim dimiliki oleh majikan mereka, jangankan manusia,<BR>setan pun kiranya takkan berani merusak tanaman di situ. Eh, tahu-tahu<BR>sekarang ada seorang kakek tua ini seperti seorang gila merusak tanaman dan<BR>di belakang kakek itu berdiri seorang laki-laki berpakaian mentereng yang<BR>tertawa-tawa juga. Kakek itu bukan lain adalah Song-bun-kwi. Dia sudah mulai<BR>merusak bambu-bambu yang berada di luar hutan, dalam usahanya menyerbu<BR>Pek-tiok-lim untuk mencari Thai-lek-sin, menantangnya dan sekalian<BR>menantang pemilik hutan ini, yang menurut orang she Teng itu adalah seorang<BR>tokoh besar berjuluk Sin-kiam-eng. Sengaja Song-bun-kwi mencari perkara.<BR>Hatinya yang mengkal terbawa dari Min-san belum mencair dan dia harus<BR>mendapatkan sesuatu untuk melampiaskan kemendongkolan hatinya.<BR>Melihat munculnya dua orang penjaga yang memakinya, kakek itu diam saja<BR>seperti tak mendengar dan melanjutkan pekerjaannya merusak tanaman di<BR>situ. Tentu saja dua orang penjaga itu marah sekali. Sambil membentak dan<BR>memaki mereka menerjang kakek itu dengan kepalan tangan. Akan tetapi<BR>biarpun tak kompak kakek itu bergerak menangkis atau memukul, tahu-tahu<BR>dua orang itu sendirilah yang terjengkang ke belakang dengan kepala benjolbenjol<BR>karena terbanting ke atas tanah yang berbatu! Mereka kaget, heran<BR>berbareng marah. Sambil mengutuk keras mereka mencabut pedang.<BR>"Kakek gila, kau sudah bosan hidup!" teriak mereka sambil menerjang, kini<BR>dua batang pedang itu menyambar dari kanan kiri. Namun Song-bun-kwi terus<BR>saja merobohkan dan mencabuti bambu-bambu putih tanpa memperdulikan<BR>sambaran kedua pedang. Seperti juga tadi, dia tidak tampak bergerak<BR>menangkis atau mengelak apalagi memukul, tapi tahu-tahu dua orang itu<BR>terjengkang ke kanan kiri dan pedang mereka terlepas dari tangan. Celakanya<BR>kini mereka jatuh menyusup ke tumpukan bambu yang sudah dicabut<BR>sehingga pakaian mereka robek semua dan tubuh mereka juga babak-bundas<BR>berdarah karena tertusuk batang-batang bambu.<BR>"Ha-ha-ha, anjing-anjing rendah. Apa mata kalian buta berani menyerang locianpwe<BR>ini? Lebih baik lekas panggil ke sini majikan kalian untuk bicara." Teng<BR>Cun Le menggunakan kesempatan ini untuk memancing keluar Sin-kiam-eng.<BR>Dua orang itu merangkak bangun lalu tiba-tiba seorang di antara mereka<BR>meniup sebuah terompet kecil yang berbunyi nyaring. Song-bun-kwi terus saja<BR>melangkah maju sambil merusak pohon-pohon bambu di kanan kiri. Teng Cun<BR>Le mengikuti jejak langkahnya, sama sekali tidak berani menyeleweng karena<BR>tahu bahwa di situ banyak tempat rahasia. Sebentar saja mereka telah<BR>memasuki hutan.<BR>Tiba-tiba terdengar suara keras, tanah yang diinjak Song-bun-kwi melesak ke<BR>bawah dan tubuh kakek itu tergelincir masuk! Teng Cun Le menjadi pucat<BR>wajahnya. Baiknya tanah yang melesak ke bawah itu belum diinjaknya dan<BR>tepat pinggirnya berada di depan kakinya sehingga dia dapat menyaksikan<BR>betapa tubuh kakek tinggi besar itu tergelincir. Hebat dan ngerinya, dari<BR>bawah tanah menyambar puluhan batang bambu runcing seakan-akan<BR>dilontarkan ke atas, tentu saja tubuh kakek yang sedang tergelincir itu seperti<BR>dihujani bambu runcing dari bawah!<BR>Akan tetapi Song-bun-kwi tidak kaget, malah mengeluarkan suara ketawa<BR>mengejek. Kedua kakinya menendang ke kanan kiri, lengan bajunya juga<BR>mengebut ke sekeliling tubuhnya dan ketika empat buah bambu runcing yang<BR>tepat menyambar di bawah tubuhnya sudah mendekati kaki, dia malah...........<BR>menerima ujung bambu runcing itu dengan kedua kakinya! Teng Cun Le<BR>hampir meramkan mata saking ngerinya karena kalau kakek ini tewas,<BR>bukankah berarti dia sendiri juga terancam malapetaka? Akan tetapi, anehnya,<BR>bambu runcing empat buah itu sama sekali tidak menembus kaki si kakek,<BR>malah seperti tangan-tangan orang mendorong kakek itu mencelat kembali ke<BR>atas dan di lain saat kakek itu sudah melompati sumur besar yang terjadi<BR>karena tanah ambles itu! Dari tepi lain, kakek itu menoleh kepadanya dan<BR>memberi isyarat supaya dia melompat. Teng Cun Le cepat menggunakan<BR>ginkang melompati sumur itu dan bergidiklah dia melihat betapa ujung-ujung<BR>bambu runcing itu tampak hitam kehijauan, tanda bahwa ujungnya diberi<BR>racun!<BR>Kini makin tebal kepercayaannya akan kelihaian si kakek. Dia kini dapat<BR>menduga bahwa kakek itu tadi telah mempergunakan ginkang yang luar biasa<BR>sekali untuk menerima serangan bambu runcing dan rnempergunakan sebagai<BR>landasan untuk melompat ke atas. Betapa hebatnya! Menggunakan landasan<BR>benda runcing untuk menggenjot tubuh ke atas hanya dapat dilakukan oleh<BR>ahli-ahli silat kelas tertinggi. Diam-diam dia mulai menduga-duga siapa adanya<BR>kakek yang sakti ini dan kadang-kadang Teng Cun Le merasa bulu tengkuknya<BR>berdiri. Dia maklum bahwa dia telah memasuki pintu perjalanan yang amat<BR>berbahaya.<BR>Belum seratus langkah mereka maju, dari depan dan kanan kiri muncullah<BR>belasan orang bersenjata pedang atau tombak. Mereka segera mengurung dan<BR>seorang di antara mereka membentak,<BR>"Kalian berdua menyerah saja untuk kami bawa menghadap majikan kami."<BR>Teng Cun Le melirik dan melihat betapa orang-orang itu makin banyak saja,<BR>juga kini beberapa orang muncul di belakangnya dan sebentar saja mereka<BR>dikurung lebih dari tiga puluh orang yang dikepalai oleh empat orang yang<BR>kelihatannya gagah dan kuat. Diam-diam dia bersiap sedia dan meraba gagang<BR>goloknya.<BR>Song-bun-kwi tertawa bergelak, lalu menoleh kepada Teng Cun Le sambil<BR>berkata, "Kau bilang majikan Pek-tok-lim tokoh yang gagah? Huh, agaknya<BR>hanya seorang kaya yang memelihara banyak anjing-anjing pemakan tahi<BR>belaka!" Hebat hinaan ini. Empat orang penjaga tanpa diperintah pemimpinnya<BR>lalu, membentak marah dan mengerjakan tombak mereka. Mereka adalah<BR>orang pemain tombak yang kuat karena mereka menerima latihan dari<BR>majikan mereka sendiri. Ujung tombak-tombak itu tergetar saking besarnya<BR>tenaga yang menggerakkan ketika menusuk ke arah Song-bun-kwi dari empat<BR>jurusan.<BR>"Tua bangka mau mampus masih amat sombong!" bentak seorang di antara<BR>mereka. Melihat cara mereka menerjang dengan tombak, Teng Cun Le masih<BR>berdebar gelisah karena benar-benar kali ini puluhan orang yang mengurung<BR>mereka adalah orang-orang yang kuat dan tak boleh dipandang rendah seperti<BR>halnya dua orang penyerang pertama tadi. Melihat getaran ujung tombak itu<BR>dia sendiri merasa sangsi apakah dia akan dapat menangkan empat orang<BR>lawan ini sekaligus.<BR>Akan tetapi dengan amat tenang sambil mengeluarkan suara mendengus,<BR>Song-bun-kwi menggerakkan kedua lengan bajunya. Hebat kesudahannya.<BR>Terdengar suara pletak-pletak terpatahkannya gagang-gagang tombak itu<BR>mata tombak itu secara aneh cepat sekali menyambar ke arah tuan masingmasing.<BR>Empat orang itu memekik ngeri dan tak seorang pun di antara mereka<BR>yang dapat membebaskan diri dari serangan mata tombak mereka sendiri itu<BR>yang menancap ke dada atau perut mereka sampai tak tampak lagi.<BR>Keempatnya roboh terjengkang, berkelojotan dan sebentar kemudian tak<BR>bergerak lagi untuk selamanya.<BR>Hebat akibat sepak terjang kakek ini. Teng Cun Le sendiri sampai mengkirik<BR>ngeri dan memandang dengan mata terbelalak. Celaka, pikirnya, tidak dinyana<BR>sama sekali bahwa kakek ini begini ganas, sekali turun tangan membunuh<BR>empat orang. Maksudnya memancing kakek itu ke Pek-tiok-lim sebetulnya<BR>hanya hendak dia "boncengi" saja, dan hendak dia pergunakan kepandaian<BR>kakek ini untuk memaksa Sin-kiam-eng mengembalikan mahkota kuno. Siapa<BR>kira sekarang kakek itu agaknya hendak berpesta seperti tadi di restoran,<BR>kalau tadi berpesta makan minum, sekarang hendak berpesta membunuhi<BR>orang. Kalau begini caranya, kecil harapannya untuk minta kembali mahkota,<BR>karena perkelahian ini akan menjadi permusuhan hebat dan dia mau tidak<BR>mau akan terlibat di dalamnya. Celaka sekali!<BR>Memang benar apa yang dikhawatirkan oleh Cun Le itu. Para anak buah Sinkiam-<BR>eng menjadi kaget dan marah bukan main ketika menyaksikan tewasnya<BR>empat orang teman mereka. Sambil berteriak-teriak mereka lalu menyerbu<BR>dan di lain saat terjadilah pertempuran hebat. Song-bun-kwi dikeroyok oleh<BR>puluhan orang, dipimpin oleh empat orang gagah itu yang hebat pula ilmu<BR>pedangnya. Akan tetapi, Song-bun-kwi melayani meraka sambil tertawa<BR>bergelak-gelak seperti Seorang anak kecil mendapat permainan bagus. Harus<BR>diketahui bahwa Song-bun-kwi ini dahulu merupakan manusia berwatak iblis<BR>yang amat jahat dan kejam di samping perangainya yang aneh, kesukaannya<BR>hanya satu, yaitu berkelahi dan mengalahkan orang lain. Maka tidak aneh<BR>kalau sekarang, dalam kemarahannya terhadap cucunya, dia pergi dengan<BR>tangan dan hatinya gatal-gatal untuk mencari permusuhan dengan siapa pun<BR>juga. Tentu saja dia kurang gembira kalau bertemu dengan lawan yang rendah<BR>tingkat kepandaiannya, dan barulah dia bergembira kalau bertanding melawan<BR>jagoan yang setingkat. Makin kosen lawannya, makin gembiralah hatinya.<BR>Karena sifat yang aneh ini pula maka dia mati-matian mencari Thai-lek-sin.<BR>Kasihan sekali para pengeroyok itu. Mereka seperti serombongan nyamuk<BR>menyerang api. Siapa dekat dengan kakek itu pasti roboh, kalau tidak terus<BR>tewas tentu luka-luka. Siapa yang sudah roboh takkan dapat bangun untuk<BR>mengeroyok kembali karena luka yang dideritanya tentu patah tulang!<BR>Sambil dengan enaknya membabati para pengeroyoknya seperti orang<BR>membabat rumput, kakek itu berseru berulang kali, "Panggil si tua bangka<BR>Thai-lek-sin ke sini, ha-ha-ha, dialah lawanku, panggil dia ke sini..........!"<BR>Sementara itu, Teng Cun Le hanya berdiri di belakang Song-bun-kwi, siap<BR>dengan golok di tangannya tapi dia tidak menggerakkan golok kalau tidak<BR>diserang orang. Akan tetapi para pengeroyok juga tidak ada yang<BR>menyerangnya karena melihat betapa orang ini tidak mengamuk seperti kakek<BR>itu.<BR>Pada saat anak buah Pek-tiok-lim itu kocar-kacir dihajar kedua lengan baju<BR>Song-bun-kwi yang amat lihat, tiba-tiba berkelebat bayangan orang yang amat<BR>cepat dan ringan gerakannya, kemudian segulung sinar pedang menyambar ke<BR>arah Song-bun-kwi.<BR>"Ha-ha-ha, bagus!" Kakek itu yang terkejut sedetik, tertawa sambil cepat<BR>berjungkir balik ke belakang untuk menghindarkan diri daripada ancaman<BR>pedang yang gerakannya amat kuat ini. Girang hatinya bahwa akhirnya<BR>muncul seorang lawan yang tangguh ilmu pedangnya. Ketika dia sudah turun<BR>lagi ke atas tanah, dia memandang dan melihat seorang laki-laki berusia<BR>kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh tegap bermuka tampan dan gagah,<BR>berdiri di depannya dengan sebatang pedang di tangan. Sikap laki-laki ini<BR>gagah dan berwibawa, sepasang matanya mencorong seperti mata harimau,<BR>tarikan mulutnya membayangkan kekerasan dan keangkuhan hati, pakaiannya<BR>berbentuk sederhana namun terbuat daripada sutera halus. Sungguh seorang<BR>yang gagah perkasa nampaknya dan mudah diketahui bahwa orang dengan<BR>sikap seperti ini sudah pasti memiliki ilmu silat yang tinggi.<BR>Sebaliknya, laki-laki itu ketika melihat wajah Song-bun-kwi, segera kelihatan<BR>terkejut dan cepat menegur,<BR>"Kiranya Song-bun-kwi Kwee lo-enghiong yang datang! Kwee lo-enghiong, apa<BR>artinya ini semua? Mengapa kau orang tua datang-datang mengamuk dan<BR>membunuh banyak anak buah dan muridku?"<BR>Song-bun-kwi juga kaget ketika mengenal majikan Hutan Bambu Putih ini. Tak<BR>disangkanya sama sekali bahwa yang berjuluk Sin-kiam-eng itu kiranya adalah<BR>Tan Beng Kui, kakak kandung Tan Beng San ketua Thai-san-pai. Akan tetapi<BR>sebagai seorang tokoh aneh yang tak mau kalah dan selalu membawa<BR>kehendak sendiri, dia tertawa bergelak dan berkata,<BR>"Ha-ha-ha, kaukah majikan Pek-tiok-lim? Sungguh kebetulan sekali bertemu<BR>denganmu di sini. Hayo kau suruh Thai-lek-sim si tua bangka itu keluar, biar<BR>melayani aku bertanding seribu jurus. Atau kau juga gatal tangan hendak<BR>memamerkan ilmu pedangmu? Ha-ha, kalau begitu biar aku mewakili Beng<BR>San memberi hajaran kepadamu!"<BR>Yang amat sangat kaget hatinya adalah Teng Cun Le. Ketika mendengar<BR>bahwa kakek itu adalah Song-bun-kwi, dia merasa seakan-akan semangatnya<BR>terbang melayang meninggalkan raganya. Tentu saja dia sudah pernah,<BR>bahkan sering kali, mendengar nama Song-bun-kwi sebagai iblis yang ganas.<BR>Siapa kira sekarang dia telah main-main dengan iblis itu! Meremang bulu<BR>tengkuknya seketika karena maklum bahwa main-main dengan seorang<BR>terkenal sebagai iblis ini sama artinya dengan main-main dengan nyawanya<BR>sendiri! Akan tetapi ketika mendengar betapa iblis tua itu malah menantang<BR>Sin-kiam-eng Tan Beng Kui, hatinya lega juga. Sudah terlanjur dia main-main,<BR>biarlah dia lanjutkan dan membonceng kesaktian, kakek iblis itu demi<BR>keuntungannya. Dia sejak tadi berdiam diri, ini penting sekali. Andaikata Songbun-<BR>kwi kalah, dia akan mudah mencari alasan agar tidak dipersalahkan oleh<BR>Sin-kiam-eng berdasarkan tidak ikutnya mengamuk melawan anak buah Pektiok-<BR>lim. Sebaliknya kalau Song-bun-kwi menang, dia akan menggunakan<BR>kemenangan kakek itu untuk minta kembali mahkota kuno dari tangan orang<BR>gagah itu.<BR>Sementara itu, Sin-kiam-eng sudah menjadi marah sekali mendengar jawaban<BR>Song-bun-kwi tadi. Dengan sikap keren dan mata berapi dia membentak.<BR>"Tua bangka she Kwee, kau benar-benar iblis yang tidak aturan. Kalau hendak<BR>mencari Thai-lek-sin yang tidak berada di sini, atau hendak menantang aku<BR>mengadu kepandaian, kenapa mesti pakai membunuh-bunuhi orang-orangku<BR>yang tidak tahu apa-apa? Apakah ini perbuatan orang gagah?"<BR>"Ha-ha, Tan Beng Kui bocah sombong. Kalau mereka tidak mengeroyok aku si<BR>tua bangka, apakah mereka itu bisa mampus sendiri? Hayo lekas keluarkan<BR>ilmu pedangmu, ha-ha-ha, sudah lama benar aku merindukan Ilmu Pedang<BR>Sian-li-kiam-sut, ilmu pedang yang berhasil dipakai oleh murid untuk<BR>membunuh gurunya sendiri itu, ha-ha-ha!"<BR>Ucapan Song-bun-kwi ini benar-benar menusuk ulu hati Beng Kui. Seperti<BR>diceritakan dalam cerita Rajawali Emas, Sin-kiam-eng Tan Beng Kui ini dahulu<BR>adalah murid kepala dari Raja Pedang Cia Hui Gan dan raja pedang ini tewas<BR>karena pengeroyokan beberapa orang tokoh tinggi, di antaranya juga Songbun-<BR>kwi Kwee Lun sendiri dan hebatnya, murid kepala itu juga ikut<BR>mengeroyok gurunya! Seketika wajah Beng Kui menjadi pucat dan dengan<BR>mata berapi dia membentak,<BR>"Song-bun-kwi iblis laknat! Kaulah seorang pengeroyok guruku itu dan biarlah<BR>sekarang aku menebus dosa terhadap guru dengan membalaskan sakit hatinya<BR>kepadamu." Sinar berkilauan menyambar dan tahu-tahu pedang di tangan Sinkiam-<BR>eng Tan Beng Kui telah menyerbu ke arah Song-bun-kwi.<BR>Kaget juga iblis tua ini menyaksikan kehebatan ilmu pedang lawan. Dalam<BR>beberapa tahun ini agaknya Tan Beng Kui tidak menganggur saja, akan tetapi<BR>memperdalam ilmu pedangnya sehingga makin cepat dan kuat, mengandung<BR>hawa serangan yang dahsyat. Song-bun-kwi cepat mengibaskan ujung lengan<BR>bajunya menangkis sinar pedang yang demikian cepat mengancam dadanya.<BR>"Brettt!" Ujung lengan baju itu terbabat putus, akan tetapi Sin-kiam-eng<BR>sendiri terhuyung mundur dua langkah. Dari keadaan ini saja dapatlah<BR>dibayangkan betapa hebatnya dua orang yang kini sedang berhadapan ini.<BR>Keduanya adalah jago-jago tua yang tak boleh dipandang ringan. Kaget hati<BR>Song-bun-kwi, akan tetapi segera dia kegirangan sekali karena biarpun dia<BR>tidak bertemu dengan Thai-lek-sin, kiranya jago pedang ini cukup tangguh<BR>untuk dia ajak berlatih. Memang bagi seorang bangkotan seperti Song-bunkwi,<BR>bertempur hanya merupakan latihan belaka dan luka atau tewas dalam<BR>latihan ini bukanlah apa-apa baginya, lumrah!<BR>Terbabat putus ujung lengan bajunya, Song-bun-kwi malah tertawa bergelak.<BR>Tahu-tahu sebatang pedang telah berada di tangannya dan segera terjadilah<BR>pertandingan yang hebat. Ilmu pedang yang dimainkan oleh Tan Beng Kui<BR>adalah ilmu pedang keturunan yang bersumber pada Ilmu Pedang Im-yangsin-<BR>kiam pula, yaitu ilmu Pedang Sian-li-kiam-sut (ilmu Pedang Bidadari). Akan<BR>tetapi karena ilmu pedang ini dahulunya khusus diciptakan untuk pemain<BR>wanita, maka oleh Beng Kui telah diubah dan ditambah sedemikian rupa<BR>sehingga ketika dia yang mainkan, ilmu pedang ini dari sebuah ilmu pedang<BR>seperti tari-tarian yang amat indah, berubah menjadi sebuah ilmu pedang<BR>yang sifatnya ganas dan sukar diikuti perubahan dan perkembangannya.<BR>Pedangnya berubah menjadi segulung sinar pedang yang pecah ke sana ke<BR>mari seperti bunga api, akan tetapi bagaikan bunga api, setiap pecahan atau<BR>letupan bunga api merupakan penyerangan ujung pedang yang akan dapat<BR>merobohkan lawan karena yang diserang selalu bagian-bagian tubuh yang<BR>lemah. Apalagi kini menghadapi seorang tokoh besar seperti Song-bun-kwi,<BR>tentu saja Sin-kiam-eng Tan Beng Kui tidak berani main-main dan sengaja dia<BR>mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan seluruh ilmu<BR>simpanannya.<BR>Di lain fihak, Song-bun-kwi bukan seorang jagoan baru. Siapa yang tidak<BR>mengenai Si Setan Berkabung ini? Namanya dahulu menggegerkan kolong<BR>langit, dikenal semua jagoan sejagat. Selain ilmu kepandaiannya bermacammacam<BR>dan hebat-hebat, juga akhir-akhir ini dia menemukan, kitab yang<BR>mengandung inti pelajaran Yang-sin-kiam sehingga kalau dia boleh<BR>diumpamakan seekor singa, dengan didapatkannya ilmu Yang-sin-kiam ini dia<BR>seakan-akan mendapat sepasang sayap menjadi singa bersayap! Demikian<BR>hebat kepandaian kakek ini sehingga jarang sekali orang di dunia persilatan<BR>melihat dia bertempur mempergunakan pedangnya. Biasanya, hanya dengan<BR>mempergunakan senjata berupa sepasang ujung lengan bajunya saja,<BR>sukarlah lawan mengalahkan kakek sakti ini.<BR>Akan tetapi, menghadapi Ilmu Pedang Sian-li-kiam-sut yang dimainkan Tan<BR>Beng Kui sekarang ini, tak mungkin kakek sakti hanya melawan dengan kedua<BR>ujung lengan bajunya. Sin-kiam-eng terlampau kuat untuk itu, dan Sian-likiam-<BR>sut adalah ilmu pedang pilihan di seluruh muka bumi ini, masih<BR>merupakan pemecahan dari ilmu sakti Im-yang-sin-kiam, karenanya tidak<BR>boleh dibuat main-main. Inilah sebabnya mengapa kali ini terpaksa Song-bunkwi<BR>mengeluarkan pedangnya dan segera pula mainkan Yang-sin-kiam-sut<BR>untuk menghadapi ilmu pedang lawan. Sesungguhnya, Ilmu Pedang Sian-likiam-<BR>sut masih sesumber dengan Ilmu Pedang Yang-sin-kiam-sut. Keduanya<BR>bersumber dari inti sari Ilmu Im-yang-sin-hoat yang ratusan tahun yang lalu<BR>dimiliki oleh Pendekar Sakti Bu Pun Su. Hanya saja Sian-li-kiam-sut adalah<BR>ciptaan menurut sumber itu dari Pendekar Wanita Ang I Niocu (baca cerita<BR>Pendekar Bodoh), sedangkan Yang-sin-kiam-sut langsung datang dari<BR>Pendekar Sakti Bu Pun Su. Sayangnya, Yang-sin-kiam-sut merupakan ilmu<BR>pedang tidak lengkap, karena lengkapnya adalah Im-yang-sin-kiam yang<BR>merupakan ilmu pedang gabungan dari Im-sin-kiam dan Yang-sin-kiam, yang<BR>berdasarkan dua macam tenaga dalam tubuh, yaitu tenaga halus dan tenaga<BR>kasar, hawa dingin dan hawa panas. Ilmu pedang Im-yang-sin-kiam ini seperti<BR>diketahui, hanya dimiliki sekarang oleh ketua Thai-san-pai, yaitu Tan Beng<BR>San, dan malah sudah diturunkan oleh pendekar ini kepada Kwa Kun Hong<BR>setelah pemuda ini menjadi buta kedua matanya (baca Rajawali Emas).<BR>Karena sesumber inilah agaknya, maka pertandingan yang terjadi antara Sinkiam-<BR>eng Tan Beng Kui dan Song-bung-kwi Kwee Lun hebat luar biasa.<BR>Memang harus diakui bahwa menurut pertimbangan umum, tingkat kakek ini<BR>lebih tinggi daripada tingkat Tan Beng Kui. Namun selama beberapa tahun<BR>menyembunyikan diri setelah kalah oleh adik kandungnya sendiri, Tan Beng<BR>San, (baca Rajawali Emas), Tan Beng Kui tidak tinggal diam dan<BR>memperdalam ilmu kepandaiannya sehingga sekarang dalam menghadapi<BR>Song-bun-kwi, dia tidak kalah jauh dalam hal tenaga Iweekang. Hanya dia<BR>masih kalah dalam pengalaman dan keuletan karena kakek iblis ini<BR>diumpamakan daging adalah daging gerotan yang tidak akan menjadi empuk<BR>biar digodog selama tiga tahun juga!<BR>Jurus demi jurus dikeluarkan oleh kedua orang jago kawakan itu, namun<BR>setiap jurus serangan selalu dapat dipunahkan oleh jurus pertahanan lawan,<BR>Mula-mula Beng Kui berusaha mendobrak pertahanan lawan dengan<BR>mengandalkan tenaganya, mempergunakan kekerasan untuk mencapai<BR>kemenangan. Pikirnya bahwa dia yang lebih muda tentu lebih bertenaga.<BR>Namun melesetlah perkiraannya karena kakek itu benar-benar makin tua<BR>makin kuat tenaganya, atau setidaknya tak pernah tenaganya berkurang<BR>sehingga ketika pedang mereka bertemu, keduanya tergetar, bunga api<BR>berpijar menyambar ke sana-sini, dan telapak tangan mereka terasa sakitsakit.<BR>Cepat mereka memeriksa pedang masing-masing dan barulah mereka<BR>menjadi lega dan saling menyerang kembali setelah mendapat kenyataan<BR>bahwa pedang mereka tidak rusak karena benturan hebat itu. Setelah<BR>beberapa kali tenaga besarnya membentur karang, Beng Kui tidak lagi mau<BR>mempergunakan kekerasan. Dia mulai main halus mengandalkan kelincahan<BR>dan keindahan Sian-li-kiam-sut sambil mencari kesempatan dan lowongan.<BR>Namun, hebat pertahanan Song-bun-kwi dengan Yang-sin-kiam-sut, malah<BR>kakek ini dapat balas menyerang tak kalah hebatnya.<BR>Setelah lewat lima ratus jurus, terasalah bagi Beng Kui bahwa betapa pun<BR>juga, dia takkan dapat menangkan kakek sakti ini. Dia berseru keras dan tibatiba<BR>pedangnya berubah menjadi segulung sinar yang memusat dan terbang<BR>lurus menyerang ke arah dada lawan. Hebat sekali penyerangan ini yang<BR>merupakan jurus inti dari Sian-li-kiam-sut. Seakan-akan semua kehebatan dari<BR>ilmu pedang itu, semua kelincahan dan kekuatan, dipusatkan dalam gerakan<BR>ini dan pedang didorong oleh tenaga dan semangat sepenuhnya, maka dapat<BR>dibayangkan betapa hebatnya!<BR>"Bagus!" Song-bun-kui mau tak mau memuji lawannya karena memang jurus<BR>penyerangan ini hebat bukan main, hawa pedang mendahului dan terasa amat<BR>dingin menusuk tulang sedangkan matanya sampai silau oleh sinar pedang<BR>lawan. Untuk menyelamatkan dirinya, dia memutar pedangnya melindungi<BR>dada. Namun betapa kagetnya ketika gulungan sinar itu masih mampu<BR>menerobos perisai yang tercipta oleh pemutaran pedang itu, tahu-tahu hampir<BR>saja mencium dadanya. Cepat bagaikan kilat Song-bun-kwi membuang diri ke<BR>belakang sambil berseru keras dan mengibaskan lengan baju kiri, "Brettttt!"<BR>Lagi-lagi ujung lengan bajunya terbabat buntung, akan tetapi dia selamat dan<BR>mukanya berubah merah saking marahnya. Tiba-tiba dia mengeluarkan<BR>lengking tinggi seperti orang menangis dan tahu-tahu tangan kirinya sudah<BR>mengeluarkan senjata jimatnya yang puluhan tahun tak pernah dikeluarkan,<BR>yaitu sebatang suling. Inilah "suling tangis" yang dahulu setiap kali terdengar<BR>suaranya membuat penjahat-penjahat seperti setan jatuh bangun dan iblis<BR>tunggang langgang.<BR>Kini Song-bun-kwi mengamuk seperti iblis sendiri. Pedang dan sulingnya<BR>menyambar-nyambar merupakan dua gulungan sinar yang kadang-kadang<BR>berkumpul menjadi satu menyelubungi Beng Kui dari segala penjuru. Makin<BR>lama makin hebat dan dahsyat penyerangannya dan makin lemah pertahanan<BR>Tan Beng Kui yang merasa terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa<BR>suling di tangan kiri kakek itu tidak kalah hebatnya dengan pedang yang<BR>berada di tangan kanan. Dia merasa seakan-akan dikeroyok oleh dua orang<BR>lawan. Seorang Song-bun-kwi masih mampu dia hadapi, tapi dua orang Songbun-<BR>kwi.......? Terlalu banyak dan terlalu kuat baginya. Dia mengeluh dan<BR>maklum bahwa terhadap seorang lawan seperti kakek ini tidak ada ampun,<BR>tidak ada mundur, yang ada hanya menang atau mati.<BR>Tiba-tiba berkelebat bayangan yang amat ringan gerak-geriknya, disusul<BR>bentakan yang nyaring merdu, "Berhenti dulu! Tangan senjata!" Tahu-tahu di<BR>situ sudah muncul seorang gadis muda dengan pedang di tangan, seorang<BR>gadis yang cantik manis, lincah, tabah. Bukan lain adalah Loan Ki dara lincah<BR>ini.<BR>Akan tetapi terhadap bentakan seorang dara muda seperti Loan Ki ini, mana<BR>Song-bun-kwi mau perduli? Tentu saja Tan Beng Kui tidak dapat menahan<BR>senjata sefihak, karena hal ini berarti dia akan celaka. Kalau kakek itu tidak<BR>menghendaki berhenti, bagaimana dia bisa menghentikan pertempuran matimatian<BR>itu? Memang dia ingin sekali menghentikan pertandingan, karena dia<BR>merasa lelah setelah bertanding selama lima ratus jurus lebih!<BR>"Ihh, Kakek Song-bun-kwi ternyata namanya saja yang besar. Orangnya sih<BR>begitu-begitu saja, malah curang dan pengecut! Kalau tidak begitu masa<BR>menggunakan kesempatan menghina orang lain? Agaknya kalau berhenti<BR>sebentar saja, khawatir kalah. Hi-hi-hik, inikah tokoh nomor satu dari barat?"<BR>Tan Beng Kui terkejut, juga para anak buahnya yang mendengar ucapan ini.<BR>Alangkah nekatnya Loan Ki, berani menghina seperti itu terhadap seorang iblis<BR>seperti Song-bun-kwi. Tentu saja kakek itu sendiri pun mendengar semua<BR>ucapan Loan Ki, tiba-tiba dia mengeluarkan suara gerengan seperti harimau,<BR>tubuhnya melayang cepat sekali ke arah Loan Ki. Gadis itu kaget,<BR>menggerakkan pedangnya, tapi tahu-tahu pedangnya terpental jauh dan kakek<BR>itu sudah berdiri di depannya sambil menodong batang lehernya dengan<BR>pedang!<BR>"Bocah bermulut busuk!" Song-bun-kwi memaki. "Apa kau bilang tadi?"<BR>Beng Kui pucat mukanya, merasa takkan mampu melindungi puterinya yang<BR>ditodong sedemikian rupa oleh kakek yang lihai ini. Dia hanya bisa berteriak,<BR>"Song-bun-kwi, jangan layani bocah. Lepaskan anakku dan hayo kita lanjutkan<BR>pertempuran seribu jurus lagi!"<BR>Ucapan ini benar saja membuat Song-bun-kwi meragu dan menurunkan<BR>pedang yang tadi ujungnya menodong leher Loan Ki. "Anakmu terlalu lancang<BR>mulut......." dia mengomel.<BR>Loan Ki mencebirkan bibirnya yang kecil merah. "Biarlah Ayah, biar saja dia ini<BR>mendengarkan ucapanku lebih dulu. Setelah mendengarkan ucapanku, baru<BR>aku tantang dia bertempur sampai sepuluh ribu jurus. Eh, tua bangka, kau<BR>berani tidak?"<BR>"Setan cilik! Tidak berani padamu lebih baik mampus!"<BR>"Nah, kalau begitu mampuslah, karena kau tidak berani mendengarkan katakataku.<BR>Berani tidak mendengarkan kata-kataku?"<BR>Song-bun-kwi membanting-banting kakinya, tangannya gatal-gatal untuk<BR>sekali menggaplok menghancurkan kepala cantik yang memanaskan hatinya<BR>ini.<BR>"Buka bacotmu, lekas kau mau bilang apa jangan banyak tingkah!"<BR>Loan Ki tersenyum dan memainkan matanya yang jeli, mengerling ke arah<BR>Teng Cun Le yang menjadi tidak enak hatinya ketika mengenal gadis yang<BR>mempunyai mutiara-mutiara hiasan mahkota kuno itu.<BR>"Kakek Song-bun-kwi, seorang tokoh tua macam kau ini mana pantas<BR>menurunkan tangan kepada seorang bocah seperti aku? Nah, dengarlah<BR>omonganku. Kalau kau tidak menjawab dengan semestinya, mulai saat ini aku<BR>yang masih kanak-kanak akan menganggap bahwa semua nama besarnya<BR>kosong melompong belaka, bahwa mungkin kau Song-bun-kwi palsu karena<BR>yang tulen bukan macam begini tingkahnya.........."<BR>"Cukup, lekas bicara! Setan!" Song-bun-kwi membentak.<BR>Loan Ki meleletkan lidahnya. "Waduh galaknya, kalau begitu kau agaknya<BR>yang tulen, bukan pengecut, bukan iblis curang. Kakek Song-bun-kwi, kau<BR>katanya seorang pendekar gagah segala jaman, kenapa hari ini melakukan<BR>perbuatan begini memalukan, menyerbu tempat tinggal ayahku, membunuhi<BR>orang-orang kami tanpa alasan? Memusuhi orang tanpa alasan hanya<BR>perbuatan manusia rendah dan sepan-ang pendengaranku, Song-bun-kwi si<BR>iblis tua sama sekali bukanlah orang rendah! Nah, jawab, kenapa kau<BR>melakukan semua ini, memusuhi ayahku tanpa sebab?"<BR>Dengan cemberut Song-bun-kwi terpaksa menjawab karena kalau dia tidak<BR>menjawab, sama saja artinya dengan mengakui bahwa dia seorang pengecut,<BR>curang dan manusia rendah! Dia boleh jadi lihai sekali dalam ilmu silat, namun<BR>dalam hal silat kata-kata mana dia becus melawan Loan Ki si dara lincah yang<BR>amat cerdik dan nakal ini?<BR>Jilid 12 : bagian 2<BR>"Bocah setan jangan coba bicara pokrol-pokrolan terhadap aku. Aku datang ke<BR>sini hendak mencari si tua bangka Thai-lek-sin, tetapi orang-orangmu tidak<BR>tahu aturan mengeroyokku. Mereka mampus karena tidak ada kepandaian,<BR>kenapa salahkan aku? Ayahmu merupakan lawan yang lumayan, kenapa selagi<BR>kami berdua enak-enak saling gebuk untuk menentukan siapa lebih kuat, kau<BR>datang-datang mengacau? Heh, Tan Beng Kui, apa kau tidak bisa jewer telinga<BR>anakmu yang cerewet ini? Jewer dan usir ia, mari kita bertempur terus!"<BR>Akan tetapi Loan Ki mana mau habis sampai di situ saja? Anak ini terlalu<BR>cerdik hingga ia tahu betul bahwa kalau pertandingan dilanjutkan, ayahnya<BR>tentu akan celaka. Sebelum ayahnya yang juga gemar bertanding itu terbujuk<BR>oleh lawan ia mendahului dengan suara nyaring,<BR>"Kakek tua kau benar-benar pandai mencari alasan! Selama hidupku belum<BR>pernah aku melihat tua bangka berjuluk Thai-lek-sin di tempat ayah ini,<BR>sekarang kau menyebut namanya untuk alasan perbuatanmu mengacau di<BR>sini! Huh, siapa sudi kau akali? Benar-benar tak kusangka bahwa jagoan tua<BR>tenar Song-bun-kwi ternyata hanya seorang tukang bohong belaka!"<BR>"Bocah sembarangan menuduh yang bukan-bukan! Aku tidak menggunakan<BR>alasan kosong. Dia orang she Teng ini yang bilang bahwa aku akan dapat<BR>menemukan Thai-lek-sin di sini. Betul tidak, orang she Teng?" bentaknya<BR>sambil menoleh ke arah Teng Cun Le yang menjadi pucat dan kedua kakinya<BR>menggigil. Akan tetapi terpaksa dia menjawab dengan kepalanya<BR>mengangguk-angguk dan bibirnya berkata lirih.<BR>"........... aku mendengar di luaran begitu........... eh........... Thai-lek-sin<BR>sering ke sini..........."<BR>Tiba-tiba Loan Ki tertawa nyaring dan menudingkan telunjuknya kepada Teng<BR>Cun Le, lalu berkata kepada Song-bun-kwi, "Wah, kakek tua goblok Song-bunkwi,<BR>kau kena dipedayai orang! Nanti dulu aku hendak bertanya, pernahkah<BR>kau mendengar adanya anjing-anjing penjilat? Nah, manusia ini adalah seekor<BR>di antara anjing-anjing penjilat. Dia orang dari kota raja, mudah diduga. Dia<BR>selalu mengikuti aku karena tertarik akan mutiara Ya-beng-cu yang kubawa.<BR>Dan dia telah menggunakan kau orang tua goblok untuk menyerbu ke sini<BR>karena dia sendiri mana mampu? He-he, Song-bun-kwi kakek bodoh, kau<BR>diperalat anjing ini masih tidak tahu."<BR>Teng Cun Le bukanlah seorang bodoh. Dia tadinya kaget setengah mati<BR>mendengar semua kata-kata Loan Ki dan diam-diam dia mengeluh. Gadis ini<BR>benar-benar pandai bicara dan kakek yang sudah setengah pikun itu kalau<BR>sampai kena diakali oleh gadis ini, dialah yang akan celaka. Cepat dia bicara,<BR>"Locianpwe, harap Locianpwe jangan mendengarkan ocehan gadis ini. Terang<BR>ia berusaha menolong ayahnya yang tadi hampir kalah oleh Locianpwe dan<BR>sengaja hendak mengadu domba kita, Locianpwe, mari kita gempur orangorang<BR>ini, Locianpwe lanjutkan menghajar Sin-kiam-eng dan serahkanlah gadis<BR>itu kepada saya, saya sanggup menghajar kekurang ajarannya." Sambil<BR>berkata demikian, Teng Cun Le menggerakkan goloknya hendak menyerang<BR>Loan Ki.<BR>"Tunggu dulu dan dengar kata-kataku sampai habis!" Loan Ki menjerit. "Kalau<BR>tidak mau mendengarkan, itu tandanya kau sengaja memperalat Song-bunkwi!"<BR>Terpaksa Teng Cun Le menahan goloknya karena kalau dia teruskan<BR>khawatir kalau-kalau kakek itu kena diakali omongan pancingan ini.<BR>"He, orang she Teng. Kau seorang laki-laki, hayo jawab betul tidak kau telah<BR>mengikuti aku beberapa hari yang lalu dan bahwa kau mengincar tiga butir<BR>mutiaraku atau........... mungkin juga kau ingin mengetahui tentang sebuah<BR>mahkota? Jawab!"<BR>Teng Cun Le tak dapat mundur lagi, terutama karena dia lihat Song-bun-kwi<BR>amat memperhatikan percakapan itu. "Memang betul. Kau telah membawa<BR>tiga butir mutiara yang tadinya menghias mahkota yang dicuri dari istana<BR>kaisar. Sudah semestinya kau mengembalikan mahkota itu kepadaku untuk<BR>kubawa kembali ke kota raja!"<BR>"Bagus, manusia she Teng! Kau hendak merammpas mahkota dari kami? Apa<BR>kau berani melawan ayah dan aku?" tantangnya.<BR>Tentu saja Teng Cun Le menjadi sibuk sekali. Tak disangkanya gadis itu akan<BR>memutar-mutar omongan sedemikian rupa sehingga dia selalu terdesak. Akan<BR>tetapi dia pun bukan bodoh, maka dia segera menjawab berani. "Tentu saja<BR>berani karena Kwee-locianpwe tentu akan membantuku menghadapi ayahmu<BR>yang memang patut menjadi lawannya."<BR>"Uhu-hu, sekarang mengertikah kau, kakek Song-bun-kwi? Kau dengar sendiri<BR>bahwa dia ini adalah seekor anjing penjilat kaisar dan kau telah dibodohinya,<BR>diperalat olehnya. Agar kau mau diperalat dan mau menyerbu ke sini, dia<BR>membohongimu dengan pernyataan bahwa Thai-lek-sin berada di sini. Padahal<BR>tua bangka Thai-lek-sin itu melihat pun aku belum pernah. Nah, tidak<BR>benarkah aku kalau aku bilang bahwa Song-bun-kwi si jago kawakan itu<BR>ternyata sekarang mudah saja dikempongi oleh seekor anjing penjiiat kaisar?<BR>Hi-hik!" Dengan gaya nakal sekali Loan Ki menyambung hidungnya yang kecil<BR>mancung itu dengan jari-jari tangannya untuk mengejek Song-bun-kwi. Songbun-<BR>kwi menjadi merah mukanya.<BR>Racun yang disebar oleh Loan Ki melalui kata-katanya tadi telah mengenai<BR>hatinya. Dia seorang tokoh besar dari dunia bagian barat, dapat dengan<BR>mudah dikempongi oleh seorang anjing penjilat kaisar dan diperalat di luar<BR>kesadarannya. Benar-benar memalukan sekali. Dia menoleh dengan mata<BR>melotot kepada Teng Cun Le sambil memaki,<BR>"Kau berani membawa aku untuk bantu menjadi perampok? Setan alas!"<BR>"Tidak........... Locianpwe...... tidak..........!" Akan tetapi tangan Song-bun-kwi<BR>sudah bergerak. Teng Cun Le dalam takutnya nekas menangkis dengan<BR>goloknya, tapi akibatnya golok itu patah-patah dan tubuhnya melayang sampai<BR>sejauh lima meter lebih dan dia tak dapat bangun kembali karena dadanya<BR>sudah remuk tulang-tulangnya! Hebat kejadian ini, namun Loan Ki<BR>memandang dengan senyum simpul saja sedangkan Tan Beng Kui yang<BR>memang wataknya angkuh tidak mau memandang siapa pun juga, sejak tadi<BR>hanya berdiri tegak dengan pedang siap di tangan dan diam-diam dia<BR>mengatur napas dan memulihkan tenaga di dalam tubuhnya, siap menghadapi<BR>pertempuran lagi kalau perlu.<BR>Setelah membunuh orang yang mempermainkannya dengan sekali gempur,<BR>kakek itu menoleh kepada Loan Ki, sepasang matanya memancarkan ancaman<BR>menyeramkan. Bulu tengkuk dara lincah itu meremang, akan tetapi dengan<BR>memberanikan hati ia tersenyum-senyum seakan-akan kejadian mengerikan<BR>itu "bukan apa-apa" baginya. Beginilah sikap seorang cabang atas, pikirnya,<BR>dan ia tidak mau kalah dalam berlagak. Pandang matanya kepada kakek itu<BR>seolah-olah menyuarakan tantangan "kau mau apa?"<BR>"Bocah, jangan kau ketawa-tawa dulu. Memang bangsat she Teng itu telah<BR>menipuku maka layak mampus. Akan tetapi kau pun telah mempermainkan<BR>aku, jangan kira aku takut untuk memberi hajaran kepadamu di depan<BR>ayahmu!"<BR>Gadis itu tertawa mengejek. "Kakek Song-bun-kwi, kau terlalu sombong.<BR>Agaknya kau tidak mau melihat tingginya langit dalamnya lautan. Ayah adalah<BR>seorang gagah yang tidak mau begitu saja menanam permusuhan, kau tahu?<BR>Ayah sudah mendengar bahwa kau adalah seorang tokoh besar kawakan,<BR>maka tadi ayah telah menjaga muka dan namamu, kau tahu? Kalau ayah mau<BR>sungguh-sungguh melawanmu, dengan mudah dia akan dapat<BR>merobohkanmu, kau tahu?"<BR>"Loan Ki! Omongan apa yang kau keluarkan ini?" Ayahnya menegur marah<BR>karena merasa betapa gadisnya benar-benar keterlaluan kali ini. Masa seorang<BR>tokoh seperti Song-bun-kwi mau di "kecapi" seperti itu?<BR>Benar saja, Song-bun-kwi tak dapat menguasai kemarahan hatinya lagi.<BR>Sambil menggerak-gerakkan pedang dan sulingnya, dia berkaok-kaok,<BR>"Siluman! Setan! Iblis jejadian, neraka jahanan! Hayo kalian ayah dan anak<BR>maju bersama, biar kalian buktikan macam apa adanya Song-bun-kwi Kwee<BR>Lun!" Muka kakek itu merah sekali, kedua matanya melotot, alisnya yang<BR>sudah putih itu bergerak-gerak terangkat tinggi. Marah betul-betul dia. "Songbun-<BR>kwi, jangan kira aku Sin-kiam-eng takut kepadamu. Hayoh!"<BR>Beng Kui menantang sambil melintangkan pedangnya di depan dada. Dalam<BR>pertempuran tadi dia pun belum kalah, memang dia agak kehabisan tenaga<BR>karena kalah ulet, akan tetapi setelah beristirahat tadi, tenaganya pulih<BR>kembali dan dia merasa sanggup menghadapi kakek yang sakti itu. Dia<BR>maklum bahwa memang Sukar mencapai kemenangan, namun<BR>keangkuhannya melarang dia mengalah terhadap si kakek.<BR>"Bagus! Mari bertanding sampai seorang di antara kita menggeletak!" Songbun-<BR>kwi .tertawa bergelak. "Kita laki-laki sejati mana sudi cerewet seperti<BR>perempuan tukang celoteh?" Dia mengejek Loan Ki dan membalikkan tubuh<BR>untuk menghampiri Tan Beng Kui.<BR>Akan tetapi tiba-tiba bayangan gadis itu berkelebat dan tahu-tahu sudah<BR>berada di depannya, sampai kaget Song-bun-kwi menyaksikan kegesitan gadis<BR>ini.<BR>"Kakek tua bangka pikun Song-bun-kwi! Kau benar-benar tak bermalu! Takut<BR>melawan aku kau mau meninggalkan aku begitu saja dan menantang ayah.<BR>Huh, tak tahu diri. Ayah tadi mengalah kau masih tidak tahu? Kau tidak cukup<BR>pandai, tidak berharga menjadi lawan ayahku. Siapa orangnya yang sudah<BR>bisa mengalahkan aku, barulah cukup berharga untuk bertanding sungguhsungguh<BR>melawan ayah. Song-bun-kwi, beranikah kau melawan aku?"<BR>"Loan Ki...........!" mau tidak mau Beng Kui menegur puterinya. Memang dia<BR>merasa bangga menyaksikan keberanian dan ketabahan Loan Ki, akan tetapi<BR>mendengar gadisnya itu menantang Song-bun-kwi, benar-benar keterlaluan!<BR>Apanya yang akan dibuat menang? Dia sendiri setengah mampus melawannya,<BR>masa sekarang Loan Ki hendak melawan kakek itu? Huh, biar dikeroyok<BR>sepuluh orang Loan Ki juga masih bukan lawan Song-bun-kwi! Anaknya yang<BR>baru tiga hari pulang dari perantauannya ini memang benar-benar bersikap<BR>aneh, sama anehnya seperti ketika kemarin dia menegur karena gadis itu<BR>duduk termenung seperti orang kehilangan semangat!<BR>"Biarlah, Ayah, aku tanggung kakek yang sudah dekat lubang kubur ini takkan<BR>mampu mengalahkan aku. Hei, dengar tidak kau Song-bun-kwi kakek tua<BR>renta? Atau barangkali kau sudah agak tuli? Perlu kuulangi kembalikah? Aku<BR>menantangmu, beranikah kau melawan aku?"<BR>Memang amat pandai Loan Ki bersilat lidah. Kali ini ia benar-benar berhasil<BR>memancing Song-bun-kwi sehingga kakek ini menjadi marah bukan main.<BR>Siapa orangnya takkan mendongkol dan marah sekali, seorang kakek tokoh<BR>besar seperti dia ditantang mentah-mentah oleh seorang bocah perempuan?<BR>Dengan gemas dia menyimpan kedua senjatanya dan membentak.<BR>"Bocah neraka! Kau patut menjadi cucuku berani menantang seorang tua<BR>seperti aku? Apa kau sudah bosan hidup? Kalau aku tidak dapat<BR>membantingmu dalam sepuluh jurus, biar aku orang tua mengaku kalah!"<BR>Song-bun-kwi siap menubruk gadis yang memanaskan hatinya itu.<BR>"Heee, nanti dulu!" Loan Ki menyetop dengan isyarat tangannya. "Kenapa kau<BR>menyimpan pedangmu? Kalau dalam sepuluh jurus kau tak mampu<BR>mengalahkan aku, tentu kau kelak memakai alasan bahwa kau bertangan<BR>kosong. Tak mau aku! Hayo kakek tua renta, kau boleh gunakan pedangmu<BR>dan aku akan menandingimu, bukan sepuluh jurus melainkan tiga puluh jurus.<BR>Tiga puluh jurus, kau dengar?"<BR>"Iblis cilik, mulutmu benar jahat!" Song-bun-kwi membentak.<BR>"Tapi kau yang menyebut diri tokoh besar dari barat, awas jangan kau menjilat<BR>ludahmu sendiri, ya? Kalau kau tidak bisa menangkan aku dalam tiga puluh<BR>jurus, kau harus pergi dari sini jangan mengganggu kami lagi. Ayah tidak mau<BR>bermusuh denganmu. Kalau tangan dan kepalamu merasa gatal-gatal ingin<BR>menerima gebukan, kau pergilah saja ke Ching-coa-to, nah, di sana banyak<BR>setan-setan bangkotan yang sama kwalitetnya denganmu. Tapi kau tentu tidak<BR>berani ya, memasuki Ching-coa-to. Huh, mana kau berani?"<BR>"Cukup, jangan pentang mulut lagi, lihat seranganku!" Song-bun-kwi berseru<BR>dan mulai menyerang dengan tangan kosong. Dia pikir sekali bergerak tentu<BR>akan berhasil menangkap gadis ini. Biarpun membunuh bagi Song-bun-kwi<BR>bukan apa-apa, namun dia tidak sudi membunuh seorang dara cilik seperti<BR>Loan Ki. Niatnya hendak menangkap gadis itu dan membantingnya di depan<BR>Tan Beng Kui sampai kelenger (pingsan) agar tidak banyak mengoceh lagi<BR>sehingga dia dapat melanjutkan pertandingannya melawan Sin-kiam-eng.<BR>Maka begitu menyerang dia mencengkeram dengan tangan kiri ke arah pundak<BR>sedangkan tangan kanannya mendahului membuat gertakan memukul ke arah<BR>pusar. Pukulan ini mendatangkan angin dan tentu akan membuat gadis yang<BR>masih pelonco itu kebingungan sehingga memudahkan tangan kirinya<BR>mencengkeram pundak.<BR>Agaknya kalau penyerangan kakek sakti ini terjadi beberapa hari yang lalu<BR>saja, kiranya akan berhasil. Akan tetapi dia tidak tahu bahwa gadis lincah ini<BR>beberapa hari yang lalu telah mewarisi ilmu mujijat dari Kwa Kun Hong, yaitu<BR>yang diberi nama dua puluh empat langkah Hui-thian-jip-te (Terbang ke Langit<BR>Ambles ke Bumi). Maka melihat datangnya serangan yang hebat ini, tubuh<BR>Loan Ki terhuyung-huyung ke belakang seperti orang kena pukul.<BR>Tan Beng Kui kaget sekali dan siap melompat untuk melindungi anaknya, akan<BR>tetapi dia heran mendengar seruan aneh kakek Song-bun-kwi karena ternyata<BR>bahwa kedua pukulannya itu mengenai angin belaka! Dalam terhuyung ini<BR>ternyata gadis itu sudah berhasil menghindarkan diri secara aneh sekali.<BR>Kembali kakek Song-bun-kwi menerjang maju, kali ini malah sekaligus dia<BR>mengembangkan kedua lengannya hendak menerkam pinggang yang ramping<BR>itu untuk diangkat dan dibanting. Tapi aneh bin ajaib. Gadis yang masih<BR>terhuyung-huyung itu malah melangkah maju memapakinya dan pada saat<BR>kedua lengannya hampir berhasil menyingkap pinggang, tahu-tahu tubuh<BR>gadis itu miring seperti akan jatuh dan........... sekali lagi berhasil lolos!<BR>"Kakek tua bangka, sudah dua jurus. Hi-hik!" kata Loan Ki yang ternyata<BR>sudah melangkah ke kiri dan.......... berjongkok.<BR>Kemarahan Song-bun-kwi menjadi-jadi. Dia mengira bahwa gadis itu<BR>menggunakan kegesitannya dan sekarang mengejek. Mana ada orang<BR>berkelahi memasang kuda-kuda dengan berjongkok? Dia tidak mengerti bahwa<BR>memang sebetulnya begitulah kedudukan sebuah langkah dari Hui-thian-jip-te<BR>yang dipelajari Loan Ki dari Kwa Kun Hong. Ilmu langkah ini bukan lain adalah<BR>sebagian dari ilmu langkah ajaib dari Kim-tiauw-kun, maka tidak dikenal oleh<BR>Song-bun-kwi. Sambil mengeluarkan bentakan hebat dia menyerang Loan Ki<BR>yang masih berjongkok seperti orang mau buang air itu, kedua tangannya kini<BR>bergerak menyambak rambut.<BR>Dengan tubuh masih berjongkok, kedua kaki Loan Ki main dengan gesitnya,<BR>sett-sett-sett dan........... kembali Song-bun-kwi yang menerjangnya hanya<BR>dapat menjambak bau harum dari rambut hitam panjang itu.<BR>"Jurus ke tiga, Kakek!" Loan Ki mengejek sambil tersenyum dan kini ia sudah<BR>berdiri dengan tubuh membelakangi Song-bun-kwi, kaki kanan diangkat<BR>dengan tumit menempel paha kaki kiri, leher menoleh ke belakang dan<BR>berkedip-kediplah matanya kepada kakek itu, kedua tangannya<BR>dikembangkan, persis seperti seekor burung kuntul hendak terbang.<BR>Tan Beng Kui kaget dan heran setengah mati melihat kejadian yang<BR>berlangsung di depan matanya. Dia sendirilah yang menjadi guru anaknya ini<BR>dan dia tahu betul bahwa tak pernah dia mengajari gerakan-gerakan menggila<BR>seperti yang dilakukan anaknya sekarang ini. Mana bisa dia mengajari kalau<BR>dia sendiri tidak mengenal dan tidak tahu akan gerakan-gerakan gila itu?<BR>Siapakah yang main gila ini, Loan Ki ataukah Song-bun-kwi? Dia tidak percaya<BR>bahwa dengan gerakan-gerakan gila itu anaknya dapat menghindarkan<BR>serangan kakek itu sampai tiga kali dan sudah tentu si kakek yang main gila,<BR>pura-pura tidak dapat mengenai tubuh Loan Ki. Kalau memang main gila, apa<BR>kehendaknya? Ah, jangan-jangan kakek itu sengaja berbuat demikian sambil<BR>menanti sampai sepuluh jurus atau tiga puluh jurus, kemudian merobohkan<BR>Loan Ki untuk membuat malu.<BR>"Loan Ki, jangan kurang ajar! Kuda-kuda jurus apa itu pakai angkat-angkat<BR>sebelah kaki segala?" Tan Beng Kui membentak keras dengan maksud supaya<BR>Song-bun-kwi mengerti bahwa bukanlah dia yang mengajari gadisnya<BR>menggila seperti itu, karena betapapun juga malulah hatinya menyaksikan aksi<BR>anak gadisnya yang dianggapnya kosong melompong ini.<BR>"Ayah, memang jurus ini harus mengangkat sebelah kaki. Habis, apa yang<BR>dapat kulakukan untuk merubahnya? Kalau kedua kakiku yang kuangkat, tentu<BR>aku akan jatuh." Terang bahwa ucapan ini hanya kelakar saja untuk lebih<BR>memanaskan hati Song-bun-kwi. "Ini namanya burung bangau tidur, tapi<BR>sebetulnya tidak tidur, melainkan sedang memancing katak tua di<BR>belakangnya."<BR>Song-bun-kwi menggereng seperti seekor biruang dan kini dia betul-betul<BR>menyerang Loan Ki, tidak seperti tadi lagi. Tadi dia hanya hendak menangkap<BR>dan membantingnya kelenger di depan Tan Beng Kui, akan tetapi sekarang dia<BR>menyerang untuk merobohkannya dengan pukulan berbahaya. Dia menyerang<BR>dari belakang dengan amat hebat dan merasa yakin bahwa kali ini dia akan<BR>berhasil merobohkan Loan Ki.<BR>"Ki-ji (anak Ki), awas..........!" Tan Beng Kui terpaksa berseru saking kaget dan<BR>khawatirnya menyaksikan penyerangan dahsyat itu.<BR>"Tak usah khawatir, Ayah!" Gadis itu masih sempat membuka mulut, padahal<BR>ia kaget setengah mati dan cepat-cepat ia mengeluarkan ilmu langkah mujijat<BR>seperti yang ia pelajari dari Kun Hong. Hebat penyerangan Song-bun-kwi<BR>sehingga Loan Ki masih merasa angin pukulan menyerempet pundaknya,<BR>membuat kulit pundak di bawah pakaian itu terasa panas. Ia sampai<BR>mengeluarkan keringat dingin, namun dasar ia nakal, masih saja ia mengejek<BR>setelah pukulan itu gagal,<BR>"Sudah empat jurus!"<BR>Sekarang Song-bun-kwi tidak mau sungkan-sungkan lagi. Dia menerjang terus<BR>dan mengirim pukulan bertubi-tubi", malah dia mengisi pukulan-pukulannya<BR>dengan Iweekangnya yang dahsyat sehingga rambut dan pakaian Loan Ki<BR>berkibar-kibar seperti diserang angin besar. Loan Ki juga tidak berani main gila<BR>lagi. Ia cukup maklum akan kesaktian kakek ini, maka ia mengerahkan seluruh<BR>perhatiannya untuk menjalankan langkah-langkah Hui-thian-jip-te guna<BR>menyelamatkan dirinya.<BR>Tan Ben Kui melongo sampai mulutnya terbuka lebar dan lupa ditutupnya<BR>kembali. Hebat terjangan-terjangan Song-bun-kwi yang kini benar-benar<BR>berusaha sekuat tenaga untuk merobohkan Loan Ki, akan tetapi lebih hebat<BR>pula gerakan-gerakan Loan Ki yang tetap aneh seperti orang mabuk atau<BR>orang menari-nari menggila namun satu kalipun juga pukulan-pukulan kakek<BR>itu tak pernah menyinggung kulitnya!<BR>"He, kakek Song-bun-kwi! Sudah empat puluh jurus lebih kau menyerangku<BR>dan tak mampu merobohkan, apakah kau tidak mau berhenti juga? Seorang<BR>kakek tua bangka mengejar-ngejar seorang gadis cilik, mau apa sih? Cih, tak<BR>tahu malu benar!"<BR>Seketika Song-bun-kwi menghentikan penyerangannya. Matanya mendelik<BR>saking marahnya. Dia tahu bahwa gadis ini tak mampu menyerang kembali<BR>karena agaknya hanya memiliki ilmu mengelak yang luar biasa sekali itu.<BR>Diam-diam dia kagum bukan main dan teringatlah dia kepada Kwa Kun Hong.<BR>Dahulu Kun Hong juga membikin heran semua orang di Thai-san dengan<BR>ilmunya mengelak yang ajaib. Apakah sama dengan ilmu yang dipergunakan<BR>gadis ini? Tetapi dia malu untuk bertanya. Sambil bersungut-sungut dia<BR>membentak.<BR>"Aku kalah janji, siapa kejar-kejar iblis cilik macammu? Tan Beng Kui, biarlah<BR>kali ini aku mengaku kalah bertaruh karena diakali anakmu si setan neraka.<BR>Tetapi lain kali aku akan mencari kesempatan, untuk melanjutkan<BR>pertandingan kita sampai puas tanpa diganggu setan ini!" Dia lalu<BR>mengibaskan lengan bajunya yang buntung dan melangkah pergi dari tempat<BR>itu.<BR>"Hee, Song-bun-kwi kakek tukang pukul! Kalau gatal-gatal kepalamu minta<BR>dijotosi orang, pergilah ke Ching-coa-to, tentu kau akan berubah matang biru<BR>dan bengkak-bengkak sampai puas!" teriak Loan Ki.<BR>Song-bun-kwi tidak menoleh tidak menjawab, akan tetapi diam-diam dia<BR>mencatat nama tempat ini. Ada apa sih di Ching-coa-to, pikirnya. Agaknya<BR>gadis itu hendak memamerkan kehebatan orang-orang tertentu di pulau itu.<BR>Hemm, pikirnya sambil memperlebar langkahnya. Kalau aku tidak bisa<BR>mengobrak-abrik Ching-coa-to, bocah itu tentu makin memandang rendah<BR>kepadaku. Kalau yang tinggal di sana itu orang-orang yang ia andalkan, biar<BR>kuhancurkan tempat itu, baru ia tahu rasa dan mengenal kehebatanku.<BR>Dengan pikiran ini kakek itu lalu melanjutkan perjalanannya sambil berlari<BR>cepat dan mulai mencari keterangan tentang letaknya Ching-coa-to.<BR>******<BR>Sudah terlalu lama kita tinggalkan Kwa Kun Hong, pendekar kita yang buta itu.<BR>Seperti telah dituturkan dalam bagian depan, setelah pertemuannya dengan<BR>Tan Hok dan mendengar keterangan-keterangan tentang kepahlawanan,<BR>bangkit semangat Kun Hong. Dia ingin sekali berdarma bakti terhadap nusa<BR>bangsa. Ingin sekali menyumbangkan tenaganya untuk tanah air. Dia tahu<BR>betapa penting arti mahkota kuno yang menyimpan rahasia besar itu dan<BR>alangkah akan baiknya kalau dia dapat merampas kembali benda itu dan<BR>memberikannya kepada Tan Hok. Akan tetapi apa dayanya. Dia seorang buta,<BR>bagaimana mungkin dapat pergi seorang diri ke pulau itu? Selain pulau itu<BR>penuh dengan rahasia-rahasia, yang amat berbahaya, ular-ular yang berbisa,<BR>juga di sana terdapat orang-orang yang amat lihai.<BR>Kun Hong duduk termenung di dalam kuil rusak itu sepeninggal Tan Hok,<BR>menyesali keadaannya yang buta, bingung tak tahu apa yang harus dia<BR>lakukan mengenai niatnya hendak merampas kembali mahkota. Baru pertama<BR>kali ini semenjak dia buta, dia merasa menyesal bukan main. Teringat dia akan<BR>Cui Bi dan berkali-kali dia menarik napas panjang sambil di dalam hati<BR>menyebut nama kekasihnya yang telah tiada.<BR>Siapapun juga yang melihat keadaan Kun Hong di saat itu tentu akan merasa<BR>kasihan. Seorang pemuda buta yang pakaiannya kotor dan kumal, rambutnya<BR>juga awut-awutan karena pembungkusnya tidak rapi lagi, sepatunya penuh<BR>lumpur dan sudah bolong-bolong pula, duduk bersandar di dalam sebuah kuil<BR>rusak yang juga kumal dan kotor seperti dirinya, menarik napas berkali-kali<BR>kelihatan susah sekali. Dia merupakan seorang jembel muda buta yang amat<BR>miskin. Padahal bukanlah demikian sifat Kun Hong. Dia amat benci akan<BR>keadaan yang kotor dan biarpun pakaiannya sederhana, biasanya amat bersih.<BR>Kali ini karena keributan dan pengalamannya di Pulau Chin-coa-to, maka<BR>pakaiannya menjadi seperti itu dan dia belum mendapat kesempatan untuk<BR>mencari pengganti pakaiannya.<BR>Agaknya pada saat itu memang ada orang yang menaruh kasihan kepadanya,<BR>buktinya orang itu sejak tadi berdiri memandangi wajah orang buta yang<BR>duduk menarik napas panjang berkali-kali sambil menunduk itu. Orang ini<BR>menggeleng kepala dan mendesislah elahan napasnya. Elahah napas yang<BR>halus panjang namun cukup bagi Kun Hong untuk mengetahui bahwa ada<BR>orang yang secara diam-diam mengintainya. Tanpa bangkit dari tempat<BR>duduknya di lantai yang kotor itu, dia menoleh dan menegur lirih,<BR>"Sahabat di luar kalau ada keperluan dengan aku si buta, masuklah saja."<BR>Pendengaran Kun Hong yang tajam menangkap bunyi napas tertahan, lalu<BR>sambaran angin meliuk masuk melalui jendela dan sepasang kaki yang amat<BR>ringan gerakannya turun di atas lantai dalam ruangan itu, di depannya. Dia<BR>kaget karena dapat menduga bahwa yang datang ini adalah seorang yang<BR>berkepandaian tinggi, akan tetapi segera jantungnya berdebar tidak karuan<BR>ketika alat penggandanya bekerja. Lubang hidungnya kembang-kempis dan<BR>dia melompat bangun.<BR>"Nona Hui Kauw........!" Kedua kakinya gemetar ketika dia berdiri dengan<BR>tubuh agak membungkuk memberi hormat. Orang yang baru masuk itu<BR>memang Hui Kauw adanya. Tentu saja Hui Kauw kaget dan heran bagaimana<BR>pemuda buta ini dapat mengenalnya sebelum ia membuka suara. Akan tetapi<BR>ia tidak perduli akan hal ini dan suaranya yang halus merdu itu terdengar<BR>penuh sesal,<BR>"Kwa Kun Hong, aku datang untuk perhitungan. Mari ke luar dan pedang kita<BR>yang akan menentukan yang harus mati menebus hinaan."<BR>Perih rasa hati Kun Hong. Dia menunduk, dahinya berkerut dan dia berkata,<BR>"Aku tahu, Nona tanpa kusadari, aku telah melukai hati dan perasaanmu, aku<BR>telah menimpakan hinaan besar kepada dirimu. Aku tak hendak menyangkal<BR>lagi. Kau maafkanlah aku, Nona."<BR>Hui Kauw memandang tajam. "Apa maksudmu? Kau....... kau....... tahukah<BR>kau apa yang menyakitkan hatiku?"<BR>Dengan kepala masih tunduk Kun Hong menjawab, suaranya lirih dan lambat,<BR>satu-satu seakan-akan amat sukar keluar dari lubuk hatinya, "Aku tahu, Nona,<BR>atau setidak-tidaknya aku dapat menduga. Karena bujukan dan tipuan, kau<BR>mau menjalani upacara sembahyangan perkawinan dengan aku, mengira<BR>bahwa akupun sudah tahu dan sudah setuju akan hal itu. Kemudian, di depan<BR>banyak orang, aku seakan-akan menolakmu. Inilah hinaan yang tiada taranya,<BR>yang paling besar yang dapat menimpa diri seorang gadis seperti Nona."<BR>Tiba-tiba Hui Kauw menjatuhkan diri berlutut di atas lantai, pedangnya<BR>berkerontangan jatuh dan ia menangis terisak-isak. Sedih sekali tangis ini dan<BR>Kun Hong maklum betapa perasaan gadis itu amat sakit, dendam dan penuh<BR>rasa malu, tertahan-tahan di dalam dada bagaikan api dalam sekam. Inilah<BR>berbahaya sekali bagi kesehatan, dan jalan terbaik untuk memberi jalan keluar<BR>adalah melalui tangis dan air mata. Karena itu, biarpun dia amat terharu dan<BR>berduka mendengar tangis ini, dia diam saja tak bergerak, hanya perlahan dia<BR>duduk bersila dan tunduk mendengarkan dengan kerut merut di antara kedua<BR>matanya yang buta.<BR>Lama nona itu menangis. Sengaja derita dan sakit hati yang ia tahan selama<BR>bertahun-tahun di dalam dadanya, sekarang bagaikan gunung berapi meletus<BR>dan hawa panas dapat mengalir keluar melalui tangisnya itu. Tiada hentinya<BR>air matanya bercucuran, terisak-isak dan sesenggukan sampai napasnya<BR>terasa sesak. Akhirnya reda juga desakan hawa dari dada melalui tangisnya<BR>ini, dadanya terasa ringan kosong, dan seluruh tubuhnya menjadi lelah sekali.<BR>Tangisnya terhenti, tinggal isak kecil-kecil dan jarang. Ia mengangkat muka<BR>memandang laki-laki yang duduk bersila dengan tubuh diam tak bergerak<BR>bagaikan patung, muka dengan mata meram itu kelihatan kerut merut amat<BR>menyedihkan.<BR>"Siapa orangnya dapat menahan semua ini?" ia berkata lirih seperti kepada diri<BR>sendiri, suaranya sudah tenang tapi masih terputus-putus menahan isak.<BR>"Perbuatanmu yang kau lakukan tanpa maksud menyakiti hatiku itu hanya<BR>merupakan pukulan terakhir yang mematikan kesabaranku dan<BR>membangkitkan perlawanan dalam hatiku. Tadinya aku sudah putus asa. Ibu<BR>memaksa aku supaya menikah dengan pangeran Mongol yang kubenci itu.<BR>Kemudian muncul engkau yang mengakibatkan serangkaian peristiwa di pulau.<BR>Hampir aku mati disiksa ibu, kau melupakan keselamatan sendiri membela dan<BR>melindungi aku. Malah akhirnya kau pula yang memulihkan kesehatanku.<BR>Setelah apa yang terjadi di dalam kamar ketika kau mengobatiku, aku tak<BR>dapat menolak ketika ibu membujukku menikah denganmu. Kata ibu kaupun<BR>sudah setuju, dan semua ini dilakukan demi menjaga baik namaku dan nama<BR>keluarga ibu. Tiada pilihan lain bagiku. Daripada menjadi isteri pangeran<BR>Mongol yang kubenci, dan pula...... kau amat baik kepadaku, dan seorang<BR>pendekar sejati........ maka aku pun menurut. Siapa tahu......." kembali gadis<BR>itu menangis.<BR>"Aku sudah dapat menduga semua itu, Nona. Memang terlalu sekali ibumu,<BR>anak sendiri dibujuk dan ditipu, dibantu oleh orang-orang seperti Ka Chong<BR>Hoatsu. Benar-benar aneh sekali. Kenapa pula ibumu mau mengambil aku<BR>sebagai........ eh, sebagai mantu, padahal aku seorang buta tiada guna dan<BR>malah mendatangkan keributan di pulaunya?"<BR>"Kau pandai, ilmu silatmu tinggi dan luar biasa. Ibu dapat mempergunakan<BR>tenaga dan kepandaianmu..........."<BR>"Hemmm, benar-benar jahat, demi kepentingan diri sendiri sampai hati<BR>mengorbankan anaknya. Nona, aku tidak percaya seorang ibu sejahat itu<BR>dapat mempunyai anak seperti kau."<BR>Hening sejenak, kemudian terdengar suara nona itu lirih, "Memang dia bukan<BR>ibu kandungku..........." Ia menahan isak lalu melanjutkan, "Biarpun kau orang<BR>luar, kau adalah penolongku dan kuanggap orang sendiri, biarlah rahasia ini<BR>kubuka padamu. Dahulu ketika aku masih kecil, ibu menculikku dari rumah<BR>ayah bundaku yang aseli dan semenjak itu aku dijadikan anaknya. Ia amat<BR>kasih dan sayang kepadaku........... sampai Hui Siang terlahir.<BR>Memang mereka itu baik kepadaku, tapi kadang-kadang........... ah, entah<BR>mengapa, aku tersiksa batin........... tak perlu kuceritakan sejelasnya, Sampai<BR>kau muncul dan........... penolakanmu itu merupakan pukulan terakhir. Aku tak<BR>kuat lagi, lalu aku lari. Aku hendak mencari orang tuaku, menurut penuturan<BR>seorang pelayan tua, orang tuaku seorang hartawan di kota raja, she Kwee!"<BR>"Baik sekali niatmu itu, Nona, kuharap saja kau akan dapat bertemu dan<BR>berkumpul kembali dengan orang tuamu," kata Kun Hong sejujurnya,<BR>suaranya mengandung iba.<BR>"Tapi ada ganjalan di hatiku..........." gadis itu melanjutkan, suaranya gemetar,<BR>"ganjalan terhadap kau. Aku merasa sangat terhina oleh penolakanmu...........<BR>betapa tidak........... karena itu, menurutkan nafsu hati dan kemarahan, aku<BR>sengaja menantimu, untuk membuat perhitungan. Maksudku, lebih baik<BR>seorang diantara kita tewas.......... takkan menjadi kenangan yang memalukan<BR>lagi..........."<BR>Kun Hong bangkit berdiri, wajahnya membayangkan kedukaan. "Kau keliru,<BR>Nona. Kita berdua menjadi korban fitnah. Kau sekarang tahu, bahwa sama<BR>sekali tiada niat di hatiku untuk menghinamu, juga kau tidak pernah<BR>menghinaku. Kita hanya menjadi korban. Akan tetapi kalau kau memang<BR>merasa terhina olehku, nah, kau tancapkan pedangmu itu di dadaku, aku Kwa<BR>Kun Hong sanggup menerima kematian di tanganmu!"<BR>"Tidak........ tidak........ sekarang aku sudah insyaf. Kau sama sekali bukan<BR>menghina atau mempermainkan, melainkan karena....... kau memang....... ah,<BR>siapa sih yang akan tertarik hatinya....... inilah yang meragukan hatiku, ayah<BR>ibu sendiri andaikata melihat, belum tentu sudi mengakui.........."<BR>"Apa maksudmu, Nona?" tanya Kun Hong kaget mendengar betapa suara yang<BR>halus itu menggetar-getar penuh kesedihan.<BR>Jilid 13 : bagian 1<BR>"Tidak apa-apa. Nah, selamat tinggal saudara Kwa Kun Hong, aku hendak<BR>pergi mencari orang tuaku di kota raja." Terdengar gadis, itu menggeser kaki<BR>hendak ke luar dari kuil itu. Mendengar disebutnya "kota raja" ini, teringatlah<BR>Kun Kong akan mahkota kuno, maka cepat sekali dia berseru memanggil,<BR>"Nona Hui Kauw, tunggu dulu.......!"<BR>Gadis itu serentak berhenti dan cepat sekali sudah kembali ke depan Kun<BR>Hong, seakan-akan memang ia mengharapkan pemuda buta itu memanggilnya<BR>kembali.<BR>"Ada apakah?" tanya Hui Kauw, suaranya penuh harapan aneh.<BR>"Nona, aku ingin mohon sesuatu darimu, mohon bantuanmu, sekiranya kau<BR>tidak akan keberatan."<BR>"Tentu saja tidak keberatan! Beberapa kali kau telah menolong dan<BR>menyelamatkan nyawaku daripada maut, tentu saja aku siap sedia<BR>membantumu!"<BR>Tak enak hati Kun Hong ketika nona itu menyebut-nyebut tentang<BR>pertolongannya, Cepat-Cepat dia berkata untuk menghabisi hal itu, "Aku<BR>hanya ingin kau memberi petunjuk kepadaku, menjadi penunjuk jalan ke<BR>Ching-coa-to, Nona."<BR>Hui Kauw kaget dan memandang dengan mata melebar, "Apa? Kau minta aku<BR>mengantarkan kau kembali ke pulau?" lalu menghapus kebimbangannya<BR>dengan pertanyaan, "Kun Hong, apa kehendakmu hendak kembali ke sana?"<BR>Berdebar hati Kun Hong mendengar betapa nona itu memanggil namanya<BR>begitu saja seakan-akan seorang sahabat lama yang sudah biasa saling<BR>menyebut nama tanpa banyak peraturan lagi.<BR>"Aku harus kembali ke sana untuk mengambil mahkota yang dirampas mereka<BR>dari tangan Loan Ki," katanya dengan suara biasa.<BR>"Tapi mahkota kuno itu dirampas oleh Ka Chong Hoatsu! Dia lihai sekali, belum<BR>yang lain-lain. Biarpun aku suka membantumu, agaknya kita berdua takkan<BR>menangkan mereka, mana bisa kembali mahkota?" Kemudian gadis<BR>menyambung cepat-cepat,<BR>"Jangan salah duga bahwa aku takut, sama sekali tidak, aku suka<BR>membantumu. Akan tetapi, aku hanya mengkhawatirkan bahwa usahamu<BR>tidak akan berhasil dan malah kau akan tertimpa malapetaka."<BR>Kun Hong menjura, penuh rasa terima kasih. "Biarpun menghadapi bahaya,<BR>akan kutempuh karena hal ini penting sekali, lebih penting daripada nyawaku."<BR>Ucapan ini keluar begitu saja sebagai gema dari ucapan Tan Hok. "Aku tidak<BR>berani mengharapkan tenagamu untuk melawan mereka, Nona. Dan andaikata<BR>aku dapat pergi ke sana sendiri, sudah tentu aku pun tidak berani minta<BR>bantuanmu karena aku maklum betapa berat memintamu kembali ke tempat<BR>yang telah menimpakan banyak kesengsaraan padamu itu. Akan tetapi apa<BR>dayaku, aku seorang buta, tak mungkin dapat masuk ke pulau itu tanpa<BR>bantuanmu." Dia berhenti sebentar, tersenyum-senyum dan memukulmukulkan<BR>tongkatnya di atas lantai di depannya. "Sebelum sampai di sana<BR>mungkin aku sudah terjungkal ke dalam selokan!"<BR>Akan tetapi kelakar ini diterima oleh Hui Kauw dengan alis berkerut, sama<BR>sekali tidak lucu baginya. "Marilah, Kun Hong, mari kuantarkan kau ke Pulau<BR>Ching-coa-to!" katanya dan seketika hati Kun Hong berdebar tidak karuan<BR>ketika tangannya dipegang oleh gadis itu dan ditarik keluar dari kuil. Telapak<BR>tangan yang halus itu seakan-akan menyalurkan getaran yang membuat<BR>jantungnya meloncat-loncat seperti katak kepanasan. Segera dia menekan<BR>perasaannya dan diam-diam dia memaki-maki diri sendiri, "Kau betul mata<BR>keranjang, hidung belang seperti yang dikatakan Loan Ki padamu! Gadis ini<BR>dengan hati jujur dan bersih menuntun tanganmu karena mengingat<BR>kebutaanmu, kenapa hatimu jadi geger tidak karuan?"<BR>Tidaklah aneh apabila dengan bantuan Hui Kauw, Kun Hong dengan mudah<BR>dapat memasuki Pulau Ching-coa-to. Hui Kauw dikenal oleh para anak buah<BR>dan penjaga sebagai puteri Ching-toanio. Memang mereka sudah mendengar<BR>desas-desus tentang keributan yang terjadi antara nona ini dengan ibunya,<BR>akan tetapi tetap saja mereka tidak berani memperlihatkan sikap berbeda<BR>terhadap Hui Kauw. Apalagi mereka tahu betul betapa lihai nona ini, bahkan<BR>selain lihai, juga nona ini merupakan satu-satunya orang Ching-coa-to yang<BR>disegani oleh semua anak buah karena sikapnya yang selalu baik, sabar, dan<BR>suka menolong. Seperti bumi dan langit bedanya antara nona ini dengan ibu<BR>dan saudaranya yang kejam dan mudah saja membunuhi anak buah yang<BR>bersalah.<BR>Hui Kauw mudah mendapatkan perahu dan bersama Kun Hong ia mendayung<BR>perahu itu cepat-cepat ke darat. Ia tidak memperdulikan pandang mata para<BR>anak buah ibunya yang terheran-heran melihat ia datang bersama Kun Hong,<BR>orang buta yang tadinya dianggap musuh yang datang mengacau Ching-coato.<BR>Akan tetapi keheranan inipun hanya sebentar saja. Para anak buah Chingcoa-<BR>to sudah terlalu sering menyaksikan keanehan-keanehan di antara para<BR>tamu pulau itu, keanehan orang-orang kangouw sehingga kejadian kali ini di<BR>pulau juga tidak begitu mereka perdulikan.<BR>Setelah menyeberangi telaga dan tiba di pulau, Hui Kauw mengajak Kun Hong<BR>mendarat. Tegang juga hati Kun Hong ketika kakinya sudah menginjak<BR>daratan pulau itu dan hidungnya segera mencium bau aneka bunga.<BR>"Apakah kita tiba di taman..........?" tanyanya perlahan.<BR>"'Betul, tempat ini terbaik untuk mendarat dan dari sini mudah kita pergi<BR>menyelidiki tentang benda itu."<BR>"Hui Kauw," Kun Hong memegang tangan gadis itu tanpa ragu-ragu lagi<BR>karena dia merasa amat berterima kasih dan pula sikap gadis itu yang ramah<BR>dan sewajarnya membuat dia tidak menjadi sungkan dan malu lagi, "Kau<BR>tunggulah saja di sini, jangan sampai ada yang melihatmu. Biar aku sendiri<BR>yang akan mencari Ka Chong Hoatsu dan terang-terangan minta kembali<BR>mahkota itu. Kalau sudah berhasil, baru aku minta bantuanmu lagi untuk<BR>mengajak aku menyeberangi telaga."<BR>Mau tidak mau Hui Kauw tersenyum kali ini dan menarik tangannya. "Kun<BR>Hong, kau benar-benar berlaku sungkan kepadaku. Jangan kau kira bahwa aku<BR>demikian pengecut, membiarkan kau sendiri menghadapi mereka yang lihai.<BR>Tidak, Kun Hong. Aku sudah sanggup dan hanya ada dua pilihan bagiku.<BR>Berhasil merampas kembali mahkota dan dengan selamat bersamamu<BR>meninggalkan pulau ini atau kita gagal dan mati bersama di sini."<BR>Terharu hati Kun Hong. Dia menjura sampai dalam dan berkata lirih, "Kau baik<BR>sekali, kau benar-benar bidadari lahir batin. Aku berterima kasih kepadamu..."<BR>"Husshhh, diam, ada orang-orang datang" Hui Kauw cepat menarik tangan<BR>Kun Hong diajak menyusup ke dalam gerombolan pohon kembang. Tentu saja<BR>Kun Hong dapat mendengar pula suara orang, hanya tadi karena dia terharu,<BR>maka dia kurang perhatian dan kalah dulu oleh nona itu yang selain<BR>mendengar juga dapat melihat.<BR>Yang datang adalah dua orang, mereka berjalan perlahan sambil bercakapcakap.<BR>Setelah jarak antara mereka dengan tempat persembunyian Kun Hong<BR>tinggal sepuluh meter kurang lebih, Kun Hong mengenal suara mereka yang<BR>bukan lain adalah Hui Siang dan Bun Wan putera ketua Kun-lun-pai. Tadinya<BR>dia sama sekali tidak merasa heran karena dia memang sudah tahu bahwa<BR>putera Kun-lun-pai itu menjadi tamu di Ching-coa-to. Akan tetapi setelah dia<BR>mendengar percakapan dua orang muda yang kini berhenti dan duduk di atas<BR>rumput tebal tak jauh dari situ, dia kaget dan tiba-tiba mukanya menjadi<BR>merah. Dia merasa segan dan sungkan sekali terpaksa harus mencuri dengar<BR>percakapan antara dua orang muda yang agaknya sedang bercumbu berkasih<BR>mesra!<BR>Terdengar suara Hui Siang yang merdu merayu, suaranya penuh kemanjaan<BR>dan mengandung kegenitan. "Kanda Bun Wan, kau sudah tahu dan tentu<BR>sudah yakin akan cintaku yang suci murni terhadapmu. Akan tetapi,<BR>sebaliknya.......... mana bisa aku tahu akan isi hatimu? Mana bisa aku yakin<BR>bahwa cintamu kepadaku pun sama sucinya? Kanda Bun Wan, kalau sekarang<BR>kau tinggalkan pulau ini.......... ah, bagaimana kalau kau tidak akan kembali<BR>kepadaku?"<BR>Kun Hong mendengar ini merasa bulu tengkuknya meremang dan dia sudah<BR>bergerak hendak pergi diam-diam dari tempat itu, menjauhi mereka dan tidak<BR>sudi mencuri dengar percakapan semacam itu. Akan tetapi tiba-tiba tangannya<BR>dipegang oleh tangan Hui Kauw yang mencengkeram erat-erat, diguncangguncang<BR>sedikit seperti memberi isyarat agar dia jangan bergerak. Kun Hong<BR>merasa heran sekali mengapa tangan nona itu dingin dan gemetar. Tentu saja<BR>dia tidak tahu betapa dengan muka pucat gadis ini melihat betapa adiknya itu<BR>membujuk rayu, memeluk-meluk dengan sikap yang tidak tahu malu. Tiba-tiba<BR>Kun Hong merasa dadanya sakit. Teringatlah dia ketika dahulu mencuri dengar<BR>percakapan antara Hui Kauw dan ibu angkatnya. Ching-toanio pernah<BR>memakinya tergila-gila kepada Bun Wan! Hemm, apakah sekarang Hui Kauw<BR>menjadi cemburu dan iri hati melihat pemuda Kun-lun yang digilainya itu<BR>bercumbu rayu dengan Hui Siang? Aneh sekali, pikiran ini yang menimbulkan<BR>rasa perih di hatinya, sekaligus membuat dia mengambil keputusan untuk<BR>mendengarkan terus dan melihat Hui Kauw tersiksa karena cemburu dan iri!<BR>Memang aneh sekali watak orang muda kalau sudah terbius asmara!<BR>"Hui Siang, kau begini manis, begini cantik jelita. Mana bisa aku tidak cinta<BR>kepadamu dengan seluruh hatiku?" terdengar oleh Kun Hong suara Bun Wan,<BR>akan tetapi aneh baginya, dia menangkap nada suara agak mengkal.<BR>"Ah, kanda Bun Wan, mana aku bisa percaya begitu saja? Cinta kasihku sudah<BR>aku buktikan, aku sudah menyerahkan raga dan kesucianku kepadamu. Tapi<BR>kau? Wan-koko, kau bersumpahlah........"<BR>Suara Bun Wan menghibur, akan tetapi tetap saja kemengkalan yang tadi,<BR>masih tertangkap oleh pendengaran Kun Hong yang amat tajam. "Hui<BR>Siang........ yang sudah-sudah mengapa kau tonjol-tonjolkan kembali? Kau<BR>tahu benar bahwa bukan salahku semata, tapi kau....... ah, kenapa kau begini<BR>cantik dan kau pula yang mendorongku dengan sikapmu? Aku cinta padamu,<BR>tak perlu bersumpah."<BR>"Aku percaya, kau seorang laki-laki gagah, tentu takkan menjilat ludah sendiri.<BR>Tapi.......... kau tentu segera mengajak orang tuamu datang untuk melamarku<BR>kepada ibu, bukan? Betul ya, Koko? Jangan terlalu lama, ya?"<BR>"Hemm........ soal itu........ aku belum berani memastikan, kekasihku. Ayahku<BR>amat keras hati..........."<BR>Terdengar isak tangis tertahan. "Kau harus dapat membujuknya, Koko.......<BR>kau harus dapat........ kalau kau tidak lekas datang kembali, aku akan<BR>menyusulmu ke Kun-lun, aku tidak perduli.......!"<BR>"Baiklah....... kau tenang dan sabarlah. Dan jangan menangis, sayang pipimu<BR>yang halus menjadi basah. Sekarang, buktikan bahwa kau benar-benar cinta<BR>padaku. Malam tadi kau berjanji hendak mengambil benda itu dan<BR>memberikan kepadaku. Mana?"<BR>Suara Hui Siang tiba-tiba berubah manja ketika ia menjawab sambil memeluk<BR>leher Bun Wan, "Koko yang nakal, kau masih tidak percaya setelah semua<BR>yang kulakukan padamu? Badan dan nyawa sudah kuserahkan, apalagi hanya<BR>benda macam ini. Sudah sejak tadi kubawa."<BR>Kiranya gadis itu mengeluarkan sebuah benda yang bukan lain adalah<BR>mahkota kuno itu dan diberikannya kepada Bun Wan! Pemuda itu<BR>menerimanya, memandangi dan menarik napas panjang. "Heran, benda<BR>macam ini saja diperebutkan orang. Hui Siang, andaikata ibumu dan orangorang<BR>lain tidak pergi meninggalkan pulau, kiraku kau tidak akan berani<BR>mengambilkan benda ini untukku."<BR>"Ihh, siapa bilang? Sebaliknya, mana kau berani datang dan malam-malam<BR>mencari aku? Hi-hik, agaknya kau sudah amat rindu kepadaku, ya? Dapat<BR>kulihat dari pandang matamu ketika kau datang dahulu......."<BR>"Hemmm, sebaliknya kaupun selalu mengharapkan kedatanganku. Hayo<BR>sangkal kalau berani!" Kedua orang itu tertawa-tawa kini, diselingi cumbu rayu<BR>yang memanaskan telinga Kun Hong dan membuatnya tidak betah tinggal di<BR>tempat persembunyiannya itu.<BR>"Hui Siang, kalau aku sudah membawa pergi mahkota ini dan ibumu kembali,<BR>bagaimana kalau ia tanya tentang mahkota ini padamu?" Mendengar<BR>pertanyaan Bun Wan ini, seketika Kun Hong menaruh perhatian penuh. Eh,<BR>kiranya mahkota yang dia cari-cari itukah yang tadi disebut-sebut sebagai<BR>benda oleh mereka? Baru sekarang dia tahu dan perhatiannya tertarik pula.<BR>Hui Siang yang tadi menangis sekarang tertawa-tawa genit. "Apa sukarnya<BR>mencari jawaban itu? Aku bilang saja bahwa enci Hui Kauw yang datang dan<BR>memaksaku minta mahkota itu. Habis perkara!"<BR>"Enak saja kau membohong, apa ibumu bisa percaya? Kalau hanya ia yang<BR>datang, apa kau tidak bisa melawan? Sedikitnya kepandaianmu tidak berada di<BR>sebelah bawah tingkatnya," bantah Bun Wan. "Ibumu tentu tidak percaya."<BR>"Koko yang tampan tapi bodoh. Kalau aku bilang bahwa enci Hui Kauw datang<BR>bersama si setan buta yang membantunya, tentu ibu percaya."<BR>Tiba-tiba Kun Hong merasa betapa tubuh Hui Kauw menggigil, napasnya agak<BR>memburu, tanda bahwa gadis itu marah bukan main. Benar saja dugaannya,<BR>karena Hui Kauw segera meloncat keluar dari tempat sembunyinya dan<BR>membentak,<BR>"Hui Siang apa yang kau lakukan ini? Ke mana harga dirimu sebagai seorang<BR>wanita? Kau membiarkan dirimu dipermainkan nafsu dan tiada hentinya kau<BR>hendak melakukan fitnah! Kau manusia Bun, sungguh kurang ajar berani kau<BR>melanggar susila di sini, keparat!"<BR>Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati dua orang muda yang sedang<BR>tenggelam dalam permainan nafsu, ketika tiba-tiba Hui Kauw muncul sambil<BR>membentak marah itu. Lebih-lebih lagi Hui Siang yang merasa amat malu,<BR>kaget dan heran. Perasaan-perasaan itu berkumpul menjadi satu dan berubah<BR>menjadi kemarahan besar.<BR>"Budak hitam, tutup mulutmu! Ibu sudah tidak mengakui lagi kau sebagai<BR>anak angkatnya, kau bukan apa-apa denganku, mau apa kau mencampuri<BR>urusanku? Hayo minggat, kau hanya mengotori pulau ini dengan telapak<BR>kakimu!" Sambil berkata demikian Hui Siang sudah mencabut pedang dan<BR>serta menyerang bekas enci angkatnya itu dengan tusukan kilat.<BR>Hui Kauw tenang saja menghindar sambil berkata, "Hui Siang, betapapun juga,<BR>aku masih mengingat hubungan antara kita semenjak kecil. Kau telah<BR>tersesat.........." suaranya mengandung kedukaan besar.<BR>"Siapa sudi nasihatmu? Tengok dirimu sendiri, berjina dengan jembel buta<BR>masih hendak rnengganggu orang bercinta. Wan-koko, kau bantu aku bunuh<BR>mampus setan betina ini!" Kembali Hui Siang menyerang, kini lebih hebat lagi.<BR>Dasar ia memang memiliki ilmu pedang yang ganas dan gerakan yang lincah,<BR>maka serangan ini tak boleh dipandang ringan. Hui Kauw maklum pula betapa<BR>lihainya adik angkat ini, maka sambil melompat menjauhi ia pun mencabut<BR>pedangnya. Ia tidak berlaku sungkan lagi dan segera mengeluarkan ilmu<BR>pedang simpanannya yang selama ini dirahasiakan. Kaget bukan main Hui<BR>Siang karena tiba-tiba lawannya itu menggerakkan pedang secara aneh dan<BR>membingungkan, sama sekali tak dikenalnya dan hebatnya, semua<BR>serangannya tenggelam tanpa bekas menghadapi sinar pedang Hui Kauw yang<BR>aneh itu. Malah tidak demikian saja, selewatnya sepuluh jurus segulungan<BR>sinar pedang Hui Kauw sudah menyelimuti dirinya, menghadang semua jalan<BR>keluar dan ia terkurung rapat tanpa dapat balas menyerang lagi.<BR>Tiada habis keheranan menekan hati Hui Siang. Selama ini, biarpun ia tidak<BR>berani menyatakan bahwa kepandaiannya lebih tinggi tingkatnya daripada Hui<BR>Kauw yang pendiam dan tidak suka pamer, akan tetapi jika dibilang ia lebih<BR>rendah juga tidak mungkin, Sering kali mereka berlatih dan dalam latihan ini<BR>tak pernah ia terdesak, biarpun mereka sudah berlatih pedang sampai seratus<BR>jurus lebih. Akan tetapi mengapa baru belasan jurus saja ia sudah tidak<BR>berdaya oleh jurus-jurus yang amat aneh ini? Mungkinkah ibu menurunkan<BR>ilmu istimewa kepadanya tanpa kuketahui? Tak mungkin, pikirnya. Malah<BR>beberapa macam ilmu warisan ayahnya telah ia pelajari, di antaranya ilmu<BR>menguasai ular-ular, sedangkan Hui Kauw tidak suka mempelajari ilmu ini<BR>kecuali ilmu untuk menolak ular.<BR>"Wan-koko........... kau bantulah aku..........!" Tanpa malu-malu lagi Hui Siang<BR>berseru minta tolong kepada kekasihnya.<BR>Sementara itu, Bun Wan tadi berdiri terlongong dengan muka merah padam.<BR>Sama sekali dia tidak pernah menyangka bahwa adegan antara dia dengan Hui<BR>Siang disaksikan orang. Malunya bukan main, apalagi terhadap Hui Kauw yang<BR>sudah dia ketahui wataknya yang halus dan budi pekertinya yang jauh berbeda<BR>kalau dibandingkan dengan Hui Siang atau ibunya. Sudah beberapa kali dia<BR>datang berkunjung ke pulau ini dan diam-diam dia selalu merasa kagum<BR>kepada Hui Kauw, nona bermuka hitam itu. Siapa kira nona yang dia segani<BR>dan kagumi ini sekarang menjadi saksi akan perbuatannya bersama Hui Siang<BR>yang melanggar susila.<BR>"Bun Wan koko, hayo kau bantu aku!" kembali Hui Siang berseru, kini<BR>suaranya penuh penyesalan mengapa kekasihnya itu masih saja bengong dan<BR>tidak cepat-cepat membantunya yang sudah amat terdesak oleh gelombang<BR>sinar pedang Hui Kauw yang amat aneh.<BR>Bun Wan sadar dari lamunannya dan ketika dia memandang, dia kaget<BR>menyaksikan betapa Hui Siang yang ilmu pedangnya sudah amat lihai itu tidak<BR>berdaya menghadapi gempuran-gempuran Hui Kauw. Cepat dia mencabut<BR>pedangnya dan ketika tubuhnya berkelebat ke depan, sinar pedangnya yang<BR>amat kuat itu bergulung bagaikan naga mengamuk.<BR>"Nona Hui Kauw harap mundur!" bentaknya dengan suara nyaring.<BR>Dua gulungan sinar pedang bertemu dan keduanya melompat mundur tiga<BR>langkah dengan kaget. Masing-masing mengagumi getaran hebat yang keluar<BR>dari pedang lawan. Ilmu pedang Bun Wan adalah Kun-lun Kiam-sut yang<BR>sudah terkenal di seluruh permukaan bumi akan kehebatannya. Juga pemuda<BR>ini adalah putera tunggal ketua Kun-lun-pai, tentu saja dapat diketahui betapa<BR>hebat kepandaiannya apalagi kalau diingat bahwa semenjak kecil memang<BR>pemuda ini amat suka berlatih silat dan memang dia memiliki bakat yang baik.<BR>Tadi ketika dia menerjang maju untuk mengundurkan Hui Kauw dan menolong<BR>kekasihnya yang terdesak, dia hanya mengeluarkan jurus sederhana dengan<BR>penggunaan tenaga setengah bagian saja. Namun, kagetlah dia ketika dia<BR>merasa betapa pedangnya membentur hawa pedang yang amat ampuh dan<BR>luar biasa sehingga memaksa dia melompat mundur tiga langkah.<BR>Sebaliknya, Hui Kauw kaget dan kagum sekali ketika ia dipaksa mundur oleh<BR>sinar pedang pemuda Kun-lun ini dalam segebrakan saja. Masing-masing<BR>berdiri dalam jarak enam tujuh langkah dan saling pandang seperti hendak<BR>mengukur keadaan dan kekuatan masing-masing. Akan tetapi Hui Siang yang<BR>sudah amat marah itu segera menerjang lagi, menyerang Hui Kauw dengan<BR>besar hati karena ia kini mengandalkan bantuan kekasihnya.<BR>"Hui Siang, kedatanganku ini bukan untuk bertempur denganmu, juga tidak<BR>ada urusanku dengan orang Kun-lun ini. Akan tetapi menyaksikan perbuatan<BR>kalian yang tak tahu malu, benar-benar aku prihatin. Hui Siang, kau<BR>dengarkan kata-kataku.......!" Hui Kauw coba menyabarkan adiknya dan<BR>menghindarkan diri dari beberapa tusukan.<BR>"Tutup mulut, budak hitam. Kau harus mampus! Wan-koko, hayo kita<BR>binasakan budak hitam kurang ajar ini!" Hui Siang memaki sambil menerjang<BR>terus dengan terpaksa Hui Kauw mengangkat pedangnya dan kembali dua<BR>orang gadis itu bertempur hebat. Bun Wan sudah menggerakkan pedang<BR>hendak membantu, akan tetapi tiba-tiba berkesiur angin dari belakang<BR>tubuhnya. Cepat dia membabitkan pedangnya ke belakang, membalikkan<BR>tubuh dan mengganti kedudukan kaki sekaligus melakukan tusukan ke arah<BR>belakang dengan lengan diputar. Hebat gerakan ini dan seorang lawan yang<BR>membokongnya pasti akan dapat dirobohkan dengan jurus yang hebat ini<BR>karena tidak akan menduganya. Akan tetapi, matanya hanya melihat<BR>bayangan berkelebat lenyap. Begitu cepat gerakan bayangan ini. Tahu-tahu<BR>dia merasa punggungnya dilanggar tangan. Cepat bagaikan kilat Bun Wan<BR>membalikkan tubuh dan kakinya mendahului dengan tendangan maut ke<BR>bawah pusar dan pedangnya berkelebat dari atas pundak menyambar ke arah<BR>leher. Dia merasa yakin bahwa serangannya kali ini pasti berhasil. Memang<BR>hebat bukan main gerakan pemuda Kun-lun ini, "Bagus.....!" terdengar suara<BR>orang memuji dan bayangan itu melompat mundur lima langkah<BR>menghindarkan jurus dahsyat dari Bun Wan ini. Kiranya bayangan itu adalah<BR>Kun Hong yang kini berdiri dengan tongkat di tangan kanan dan....... mahkota<BR>kuno di tangan kiri, tersenyum-senyum dan matanya yang buta tak berbiji itu<BR>menggetar.<BR>Berdetak hati Bun Wan ketika melihat siapa orangnya yang tadi diserangnya<BR>itu, apalagi ketika melihat mahkota itu. Otomatis tangan kirinya meraba<BR>punggung di mana buntalannya tersimpan. Mahkota kuno yang dia terima dari<BR>Hui Siang tadi disimpannya di dalam buntalan pakaiannya. Tangan kirinya<BR>meraba-raba dan hatinya mengeluh. Mahkota itu sudah lenyap dan terang<BR>bahwa yang dipegang Kun Hong itulah mahkota tadi. Wajahnya seketika<BR>menjadi pucat. Dia cukup maklum akan kesaktian Kun Hong yang pernah dia<BR>saksikan beberapa tahun yang lalu di puncak Thai-san, akan tetapi setelah<BR>orang ini menjadi buta, bagaimana agaknya malah lebih lihai daripada dahulu?<BR>Betapapun juga, Bun Wan tidak takut dan dia melangkah maju sambil<BR>membentak,<BR>"Kwa Kun Hong! Berkali-kali kau menghinaku dan agaknya sengaja hendak<BR>menjadi perintang jalan hidupku."<BR>Kun Hong tersenyum pahit dan menggeleng kepala sambil menarik napas.<BR>"Saudara Bun Wan. Memang hidup ini ada kalanya aneh sekali. Agaknya jalan<BR>hidup kita sudah ditakdirkan oleh Thian selalu saling memotong. Dahulu aku<BR>bersalah padamu, tapi kesalahan yang tidak disengaja sama sekali dan untuk<BR>kesalahan itu pun aku sudah mengorbankan banyak sekali. Nyawa orang yang<BR>paling kusayang di dunia ini dan anggauta badan yang paling kusayang pula<BR>kukorbankan. Akan tetapi sekarang lain lagi, saudara Bun Wan. Aku berdiri di<BR>depanmu dan menentangmu bukan tidak sengaja malah, karena kau yang<BR>berada di jalan sesat!"<BR>Wajah yang pucat itu menjadi merah lagi, merah padam. Ucapan ini<BR>merupakan ujung pedang yang seakan-akan menancap dl ulu hatinya.<BR>"Kwa Kun Hong, agaknya kau memang seorang laki-laki yang tidak suka<BR>melihat orang lain bahagia. Aku berbaik dengan seorang gadis cantik, ada<BR>hubungan apakah urusan ini denganmu? Apakah kau iri hati dan berusaha<BR>hendak merampas lagi seperti dulu? Ho-ho, belum tentu bisa sekarang,<BR>sahabat, karena matamu yang buta itu tidak menarik lagi dipandang!"<BR>Kun Hong menggeleng kepala, suaranya terdengar keren, "Bun Wan, biarpun<BR>urusanmu dengan orang-orang wanita tiada sangkut-pautnya dengan aku,<BR>akan tetapi aku mengingat akan hubungan antara orang-orang tua kita, maka<BR>sudah sepatutnya pula kalau aku menegur sikapmu yang tidak baik. Bukanlah<BR>seorang gagah kalau suka mempermainkan wanita secara rendah! Meminang<BR>dan berjodoh sudah ada aturan-aturannya sendiri dan kau maklum bahwa<BR>siapa yang melakukan hubungan di luar nikah, dia adalah manusia berwatak<BR>rendah seperti binatang! Akan tetapi, kali ini aku tidak ada waktu mengurus<BR>hal itu. Yang kumaksudkan tadi adalah mengenai mahkota ini. Benda ini bukan<BR>milikmu, juga bukan milik penghuni Ching-coa-to. Aku tahu siapa yang berhak<BR>memiliki mahkota ini, oleh karena itu harus kuambil kembali."<BR>"Kun Hong, kau terlalu menghinaku! Kembalikan mahkota itu!" bentak Bun<BR>Wan sambil menerjang dengan pedangnya.<BR>Kun Hong cepat mengelak dan diam-diam dia mengagumi gerakan pedang<BR>yang hebat ini. Terpaksa diapun menggunakan tongkatnya untuk menghadapi<BR>lawan tangguh ini. Tiga belas kali berturut-turut dia menangkis sambil berkata,<BR>"Bun Wan, aku tidak ingin bertempur denganmu, tidak ingin bermusuh<BR>denganmu. Percayalah, mahkota ini akan kuserahkan kepada yang berhak<BR>menerima. Kau biarkan aku pergi dengan aman dari pulau ini."<BR>Akan tetapi mana Bun Wan mau mengalah begitu saja? Dia menghendaki<BR>mahkota itu bukan semata-mata karena ingin memilikinya atau untuk<BR>dijadikan tanda cinta kasih Hui Siang, sama sekali bukan. Ada alasan yang<BR>lebih kuat baginya untuk memiliki mahkota itu, maka dia sekarang menjadi<BR>nekat dan melawan.<BR>Pedang di tangan Bun Wan meluncur dengan gerakan miring dari samping kiri,<BR>menjurus ke arah tubuh bagian bawah lengan atau iga kanan Kun Hong.<BR>Gerakan ini selain miring juga agak memutar sehingga sekelebatan hawa<BR>tusukannya akan terasa datang mengarah punggung, sedangkan kaki kanan<BR>Bun Wan dibanting ke depan untuk disusul tendangan kaki kiri ke arah<BR>sambungan lutut lawan. Inilah gerak tipu dalam jurus Sin-seng-kan-goat<BR>(Bintang Sakti Mengejar Bulan) dari Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut. Cepat dan<BR>kuatnya bukan kepalang!<BR>Kun Hong yang hanya mengandalkan pendengaran dan perasaannya, kaget<BR>juga akan perubahan angin tusukan pedang yang berubah-ubah itu, cepat dia<BR>menekuk lutut mendoyongkan tubuh ke belakang, mencokel dengan<BR>tongkatnya ke arah ujung pedang lawan, kemudian maklum akan gerak<BR>susulan tendangan itu, siku lengannya memapaki untuk menotok pergelangan<BR>kaki lawan dengan ujung siku. Aneh dan cepat gerakannya Kun Hong ini dan<BR>hampir saja kaki Bun Wan kena dihajar. Pemuda Kun-lun ini mengeluarkan<BR>seruan kaget dan heran, cepat dia menahan kakinya dan menggeser kaki itu<BR>ke kanan untuk meluputkan diri dari serangan susulan lawan. Akan tetapi<BR>ternyata Kun Hong tidak menyerangnya. Orang buta ini hanya diam tidak<BR>bergerak, siap sedia menanti penyerangan berikutnya.<BR>Bun Wan mengeluarkan bentakan nyaring, mengumpulkan seluruh tenaga<BR>dalam dan pedangnya berputaran cepat berubah menjadi gulungan sinar<BR>seperti payung, kemudian dari gulungan sinar itu menyambar cahaya tiga kali<BR>berturut-turut, sekali mengarah tenggorokan, kedua kali mengarah ulu hati<BR>dan ketiga kalinya mengarah pusar. Kiranya pemuda Kun-lun itu dalam<BR>penasarannya telah mempergunakan jurus-jurus simpanannya. Gerakan<BR>pertama tadi adalah jurus yang disebut Kim-mo-sam-bu (Payung Emas Menari<BR>Tiga Kali) disusul gerakan menyerang Lian-cu-sam-kiam (Tiga Kali Tikaman<BR>Berantai).<BR>"Hebat..........!" Kun Hong memuji dan terpaksa diapun mengeluarkan<BR>kepandaian simpanannya untuk menghadapi serangan yang amat dahsyat ini.<BR>Dari angin serangan saja dia maklum bahwa jangankan ujung pedang, baru<BR>angin yang datang oleh gerakan menikam ini saja mengandung bahaya besar<BR>karena mampu membolongi baju menembus kulit daging. Dia berseru keras<BR>dan tongkat di tangannya berubah menjadi kemerahan yang bergulung-gulung<BR>dan mengeluarkan hawa dingin. Tidak terdengar suara benturan senjata,<BR>namun tahu-tahu pedang di tangan Bun Wan itu tiga kali terpental balik,<BR>malah yang ketiga kalinya hampir saja melanggar pundak pemuda itu sendiri.<BR>Hampir saja senjata makan tuan kalau Bun Wan tidak cepat-cepat melepaskan<BR>pegangannya dan membiarkan pedangnya terpukul runtuh! Dia berdiri dengan<BR>muka pucat, memandang pedangnya di atas tanah dan bergantian<BR>memandang pemuda buta yang kini berdiri tegak di depannya dengan tongkat<BR>melintang di depan dada. Dada Bun Wan serasa akan meledak. Dahulu pernah<BR>dia terhina oleh Kun Hong dalam urusan tunangannya, Cui Bi, yang "diserobot"<BR>pemuda ini. Sekarang, untuk kedua kalinya dia menerima penghinaan, malah<BR>lebih hebat lagi.<BR>Sementara itu, Hui Siang juga mati kutunya menghadapi Hui Kauw. Kalau Hui<BR>Kauw mau sudah sejak tadi ia dapat merobohkan adiknya. Akan tetapi ia tidak<BR>tega dan sekarang melihat betapa Bun Wan sudah kalah iapun berseru<BR>nyaring, terdengar suara keras dan pedang di tangan Hui Siang mencelat dan<BR>terbang entah ke mana! Gadis cantik jelita yang galak itu, seperti juga Bun<BR>Wan, telah dilucuti. Kini iapun berdiri tegak di depan Hui Kauw dengan mata<BR>mendelik penuh kebencian. Akan tetapi Hui Kauw tidak perduli kepadanya,<BR>melainkan bergerak melangkah ke depan Bun Wan. Matanya mengeluarkan<BR>sinar berapi-api yang membuat Bun Wan bergidik. Ada sesuatu dalam sikap<BR>nona muka hitam ini yang membuat dia tunduk dan bergidik.<BR>"Orang she Bun! Tanpa sengaja aku tadi sudah mendengar semua<BR>perbuatanmu yang tak senonoh dan merusak kehormatan nama penghuni<BR>Ching-coa-to. Ingat baik-baik ucapanku ini. Biarpun mulai sekarang aku tidak<BR>menjadi penghuni Ching-coa-to lagi, akan tetapi kalau kelak aku mendengar<BR>bahwa kau tidak bertanggung jawab dan tidak mau menikah dengan adikku<BR>Hui Siang secara sah, aku bersumpah akan mencarimu, dan mengadu nyawa!"<BR>"Saudara Bun Wan, ucapan nona Hui Kauw ini memang betul. Sebagai laki-laki<BR>sudah berani berbuat harus berani bertanggung jawab," kata pula Kun Hong.<BR>Bun Wan tidak menjawab, hanya menarik napas panjang menekan<BR>perasaannya sedangkan Hui Siang yang mendengar betapa saudara angkat<BR>yang dibencinya itu juga si mata buta bicara untuk kepentingannya, ia hanya<BR>bisa terisak menangis.<BR>"Kun Hong, mari kita pergi!" Hui Kauw menyambar tangan Kun Hong dan<BR>keduanya dengan gerakan cepat laksana burung-burung terbang, pergi dari<BR>pulau itu menuju ke pantai. Mereka tidak bicara sesuatu, tenggelam dalam<BR>perasaan masing-masing ketika menyeberangi telaga. Baru setelah mereka<BR>berdua meloncat ke daratan, Kun Hong berkata,<BR>"Nona ..........."<BR>"Kun Hong, kuharap kau tidak menggunakan sebutan itu," potong Hui Kauw<BR>cepat-cepat.<BR>"Hui Kauw, budi pertolonganmu kali ini besar sekali artinya. Aku amat<BR>berterima kasih kepadamu dan takkan melupakan bantuan ini selamanya. Kau<BR>benar seorang yang amat berbudi dan berhati mulia."<BR>Jilid 13 : bagian 2<BR>Sampai lama Hui Kauw tidak menjawab, membuat Kun Hong heran dan<BR>menduga-duga sambil memasang telinga. Akan tetapi dia menjadi kaget ketika<BR>mendengar betapa gadis itu mengeluarkan suara keluhan lirih seperti orang<BR>mengerang atau merintih.<BR>"Hui Kauw, kenapakah..........?" tanyanya sambil melangkah maju. "Apakah<BR>kau sakit? Terluka...........?"<BR>Mendengar suara yang mengandung penuh kekuatiran ini dan melihat wajah<BR>pemuda buta itu kerut merut, Hui Kauw terisak perlahan tapi lalu ditahannya.<BR>"Memang sakit, tak terperikan nyerinya.......... memang terluka, perih dan<BR>seperti ditusuk-tusuk jarum beracun rasanya..........."<BR>Kun Hong seperti kena pukul, tunduk dan kerut di antara kedua matanya<BR>makin jelas. Dia menarik napas panjang, maklum apa yang dimaksud gadis<BR>itu. Yang sakit adalah perasaannya, yang terluka adalah hatinya. Dia maklum<BR>akan keadaan gadis itu. Dengan suara menggetar penuh keharuan dia berkata,<BR>mukanya tetap tunduk,<BR>"Hui Kauw, akulah orangnya yang membuat kau menjadi begini. Dosaku<BR>bertumpuk terhadapmu, sebaliknya budimu amat besar bagiku sehingga tak<BR>mungkin aku dapat membalasnya. Kiranya tidak mungkin selama hidupku aku<BR>akan dapat membalas budimu, biarlah di penjelmaan lain kelak aku terlahir<BR>sebagai anjingmu atau kudamu.........."<BR>"Kun Hong....... jangan kau bilang begitu........." suara Hui Kauw mengandung<BR>tangis.<BR>"Hui Kauw, ucapanku tidak berlebihan. Tadinya kau hidup sebagai seorang<BR>nona majikan Ching-coa-to, hidup aman tenteram dan berbahagia di pulau itu<BR>bersama ibu dan adikmu. Setelah aku datang, terjadi malapetaka hebat<BR>menimpa dirimu. Malah paling akhir aku melakukan penghinaan, menolakmu<BR>di depan umum. Hebat sekali penghinaan ini. Dan apa balasmu? Kau malah<BR>tadi membantuku untuk mendapatkan kembali mahkota yang amat penting ini.<BR>Dengan pengorbanan terakhir lagi, yaitu permusuhan antara kau dan Hui<BR>Siang. Aku tahu, peristiwa itu tidak memungkinkan kau kembali ke pulau lagi.<BR>Dan kau hidup sebatangkara........ ah, Hui Kauw, bagaimana aku dapat balas<BR>menolongmu?"<BR>Tiba-tiba Hui Kauw melangkah maju dan memegang kedua lengan Kun Hong.<BR>Pemuda buta ini merasa betapa tangan itu agak dingin menggigil dan<BR>mencengkeram tangannya erat-erat. Dia pun balas menggenggam sehingga<BR>dua puluh jari-jari tangan itu saling genggam, menyalurkan perasaan hati<BR>masing-masing yang menggelora.<BR>"Kun Hong....... Kun Hong........ di samping perasaan iba di hatimu<BR>terhadapku, tidak adakah.......... rasa kasih sayang sedikit saja?"<BR>Suara hati Kun Hong meluap melalui mulutnya tanpa dia sadari lagi. "Demi<BR>Tuhan Yang Maha kasih, Hui Kauw, aku........ aku amat sayang kepadamu, aku<BR>amat kasih kepadamu semenjak pertama kali aku mendengar<BR>suaramu..........."<BR>Hui Kauw mengeluarkan suara perlahan seperti orang merintih, lalu ia tiba-tiba<BR>merangkul leher Kun Hong dan menangis di atas dada pemuda itu. Kun Hong<BR>menepuk-nepuk pundak dan mengelus-elus rambut yang halus dan berbau<BR>harum sambil menghela napas berkali-kali.<BR>"Terima kasih, Kun Hong. Kalau begitu........... biarlah aku ikut denganmu ke<BR>mana saja kau pergi."<BR>Sampai lama Kun Hong tak dapat menjawab. Kesadarannya kembali.<BR>Kemudian tergetar suaranya ketika berkata, "Tidak mungkin, Hui Kauw...........<BR>tidak mungkin........... biarpun aku amat cinta kepadamu, tak mungkin aku<BR>melakukan itu..........."<BR>"Mengapa tidak, Kun Hong? Bukankah kita berdua sudah pernah berlutut<BR>bersama di depan meja sembahyang biarpun kau kemudian menolaknya? Kun<BR>Hong, aku........... aku........... menganggap bahwa aku telah menjadi...........<BR>isterimu........ apa pun yang terjadi........... aku telah berhutang nyawa<BR>kepadamu dan aku....... ah........... aku cinta kepadamu, Kun Hong............"<BR>Kun Hong merasa betapa hatinya seperti ditusuk-tusuk. Kemudian dia<BR>menggeleng keras-keras kepalanya karena terbayang dia akan wajah Cui Bi.<BR>"Tidak, Hui Kauw, jangan begitu. Aku seorang buta, tak berharga........... tak<BR>berani aku membawa kau ikut menderita. Kau mulia dan agung, kau seorang<BR>gadis cantik jelita seperti bidadari, kau patut bersuamikan seorang pemuda<BR>yang berbudi dan gagah perkasa, menjadi isteri seorang pria yang terhormat,<BR>bukan seorang jembel buta macam aku..........."<BR>"Tidak, tidak...........! Kun Hong, kau selalu merendahkan diri sendiri. Kau<BR>semulia-mulianya orang dalam pandanganku.<BR>Biarpun kau buta, hatimu tidak buta. Tentang aku........... ah, alangkah<BR>indahnya kata-katamu yang memujiku seperti bidadari. Sebenarnya aku buruk<BR>rupa, Kun Hong."<BR>"Siapa bilang? Kau secantik-cantiknya orang, kau bidadari!" pemuda itu<BR>membantah dengan suara keras.<BR>Hui Kauw mengeluarkan suara ketawa aneh, pahit dan perih, lalu ia<BR>melepaskan rangkulannya. "Kun Hong, bagaimana kau begini yakin akan<BR>kecantikanku? Kau tak pandai melihat..........."<BR>"Cukup dengan mendengar, suaramu Hui Kauw. Kalau aku........... eh,<BR>andaikata aku dapat meraba mukamu, tentu aku akan lebih yakin lagi............<BR>tapi maaf, ini hanya seandainya..........."<BR>"Nah, kau rabalah! Kau rabalah biar kau tahu betapa mukaku hitam dan<BR>buruk."<BR>"Aku tidak berani, Hui Kauw........... aku tidak berani kurang ajar<BR>kepadamu..........." Kun Hong menolak akan tetapi suaranya gemetar karena<BR>betapapun juga, amat sangat inginnya meraba muka gadis itu untuk dapat<BR>membayangkan bentuk mukanya.<BR>"Kun Hong, aku telah dapat melihat mukamu sepuas hatiku, tapi kau...........<BR>ah, kau rabalah agar kau dapat mengenalku, dapat mengenal seorang wanita<BR>yang selalu akan mengenangmu selama hidup, akan mencintaimu selama<BR>hayat dikandung badan, biar kau telah menolaknya, biar kau tidak mau<BR>menerimanya..........." Sampai di sini Hui Kauw menangis.<BR>"Hui Kauw...........! Jangan bilang begitu."<BR>Tapi sambil menangis terisak-isak Hui Kauw menyambar kedua tangan Kun<BR>Hong, ditariknya ke arah mukanya sambil tersendat-sendat berkata,<BR>"Rabalah........ rabalah.........."<BR>Sepuluh jari tangan yang amat halus perasaannya itu meraba muka Hui Kauw<BR>yang basah air mata. Seperti dalam mimpi Kun Hong meraba dahi yang halus<BR>tertutup rambut sinom berurai ke bawah, bergerak ke bawah meraba alis yang<BR>panjang melengkung, pelupuk mata tipis dengan bulu mata panjang, sepasang<BR>pipi yang halus dengan bentuk sempurna, hidung yang kecil mancung, bibir<BR>yang lunak, dagu meruncing, telinga, leher........ lalu kembali lagi ke atas.<BR>Bibirnya bergerak-gerak mengeluarkan bisikan berkali-kali,<BR>"Kau cantik jelita........... kau cantik jelita........... ah, Hui Kauw...........<BR>alangkah cantik engkau..........."<BR>Kata-kata ini memperhebat tangis gadis itu yang kembali memeluknya dan<BR>menempelkan muka ke dadanya. "Aduh, Kun Hong........... selama aku hidup,<BR>baru kali ini ada orang memuji kecantikanku........... semua orang<BR>mengejekku, mengatakan aku si muka hitam, si muka buruk.......... Kun Hong,<BR>kau kasihanilah aku, kalau betul kau mencintaku seperti aku mencintamu, kau<BR>bawalah aku, biarlah aku ikut denganmu..........."<BR>Tiba-tiba Kun Hong sadar lagi dan dia memegang pundak gadis itu, didorong<BR>menjauhinya, lalu dia berkata, suaranya tegas,<BR>"Hui Kauw, cukup semuanya ini! Kau adalah seorang gadis perkasa, tidak<BR>seharusnya bersikap lemah. Akupun harus malu akan kelemahan hatiku<BR>sendiri. Hui Kauw, mukamu tidak apa-apa. Warna hitam itu hanya karena<BR>racun dan aku sanggup untuk mengobatimu, membuat kulit mukamu kembali<BR>putih bersih. Biarlah aku mengobatimu agar kau mendapatkan kecantikanmu<BR>kembali, agar kau dapat bertemu dengan jodoh yang terhormat, yang gagah,<BR>yang baik dan..........."<BR>"Diam!!" Tiba-tiba Hui Kauw berteriak keras, agaknya marah sekali. "Kun<BR>Hong, jangan kau kira aku seorang wanita macam itu! Sekali aku sudah<BR>menyerahkan hatiku kepadamu, sampai mati aku tetap bersetia. Biarpun kau<BR>tidak suka menerimaku, aku tetap menganggap diriku sudah menjadi isterimu<BR>dan selama hidupku aku takkan menikah dengan orang lain. Biarlah mukaku<BR>tetap begini karena aku tidak berniat menarik hati orang lain. Tapi, setidaknya,<BR>kau katakanlah mengapa hatimu sekeras ini. Aku dapat merasa betapa kau<BR>pun benar-benar membalas cintaku, akan tetapi mengapa kau menolakku?<BR>Mengapa? Aku bisa mati penasaran kalau kau tidak memberi tahu sebabnya."<BR>Tak terasa lagi dua titik air mata membasahi pipi pemuda buta itu. Hui Kauw<BR>perih hatinya melihat pemuda buta ini bisa menitikkan air mata. Ingin ia<BR>memeluknya, ingin ia menghapus air mata di muka si buta itu, tapi ia tetap<BR>berdiri, menanti penjelasan.<BR>"Hui Kauw, ketahuilah. Akupun seorang manusia yang telah menyerahkan hati<BR>kepada seseorang dan berniat tetap bersetia kepadanya, biarpun ia sudah<BR>tiada lagi di dunia. Ia........... ia mati karena aku, Hui Kauw..........." Kemudian<BR>dengan suara terputus-putus saking terharu, Kun Hong menceritakan kepada<BR>gadis itu tentang Cui Bi, sekaligus tentang kebutaan matanya.<BR>Hui Kauw mendengarkan dengan mulut ternganga dan mata terbelalak, dan<BR>dari pelupuk matanya mengucurlah air mata di sepanjang kedua pipinya.<BR>Demikian terpesona dan terharu ia oleh cerita itu sehingga ia seperti tidak<BR>merasa akan membanjirnya air matanya ini dan ia tidak mengusapnya. Makin<BR>lama ia mendengarkan cerita Kun Hong, makin tak tahanlah ia dan akhirnya ia<BR>terisak-isak menangis ketika Kun Hong menceritakan peristiwa yang terjadi di<BR>puncak Thai-san-pai.<BR>"Aduh, Kun Hong.........!" Hui Kauw akhirnya menubruk pemuda itu dan<BR>memeluknya. "Kasihan sekali kau......... laki-laki yang berhati mulia, semuliamulianya<BR>orang. Cinta kasihmu demikian suci murni........... ah, alangkah<BR>bahagianya Cui Bi. Aku iri kepadanya, Kun Hong. Akupun mau mati seribu kali<BR>kalau bisa mendapatkan cinta kasihmu seperti itu besarnya. Kasihan<BR>kau..........."<BR>Menghadapi gadis ini, tak dapat menahan pula Kun Hong akan jatuhnya dua<BR>titik air mata lagi di atas pipinya. Lalu dia mengerahkan kekuatan batin<BR>menekan perasaannya.<BR>"Sudahlah, Hui Kauw. Tiada gunanya bertangis-tangisan seperti ini. Kau tahu<BR>sendiri sekarang betapa tak mungkin aku memenuhi dorongan hatiku yang<BR>mengandung kasih sayang kepadamu. Kau maafkanlah aku."<BR>Hui Kauw melangkah mundur, mengusap air matanya. Sepasang matanya kini<BR>memandang penuh kekaguman, penuh perasaan kasih dan penuh iba. "Kau<BR>benar, Kun Hong. Biarlah aku mengalah dan memang sudah nasib hidupku<BR>harus banyak menderita. Biarlah aku tidak mengganggumu lagi. Akan tetapi<BR>aku tetap bersumpah bahwa peristiwa di Pulau Ching-coa-to, di mana kau dan<BR>aku sudah berlutut di depan meja sembahyang, takkan dapat terhapus dari<BR>hatiku. Sampai mati aku akan menganggap bahwa aku sudah menjadi milikmu<BR>lahir batin dan aku takkan menikah dengan orang lain. Selamat tinggal, Kun<BR>Hong, kita akan bertemu kembali kelak, kalau tidak di dunia tentu di akhirat,<BR>Di sana aku akan minta kepada Cui Bi agar ia rela membiarkan kau membagi<BR>cinta kasihmu sebagian untukku..........." Gadis itu terisak dan melompat pergi<BR>jauh meninggalkan tempat itu.<BR>"Hui Kauw...........! Biarkan aku mengobati mukamu...........!" Kun Hong<BR>berteriak memanggil.<BR>Akan tetapi Hui Kauw tidak berhenti hanya menjawab sambil lari cepat,<BR>"Biarlah, Kun Hong. Apa gunanya bagiku.....?" Dalam kalimat terakhir ini<BR>terkandung kepatahan hati yang membuat Kun Hong terduduk di atas tanah<BR>saking perihnya hati dan perasaannya. Sampai lama dia duduk bersila di atas<BR>tanah di pinggir telaga itu dan terbayanglah wajah Hui Kauw yang cantik jelita.<BR>Sekarang dia sudah mengenal Hui Kauw, tidak hanya mengenal suaranya, juga<BR>mengenal bentuk mukanya. Berkali-kali dia mengeluh panjang pendek, bukan<BR>main penderitaan hati yang penuh rindu dendam. Dia merasa seakan-akan<BR>semangatnya terbawa pergi oleh gadis itu. Dia berdongak dan mulutnya<BR>berkemak-kemik.<BR>"Cui Bi............ Cui Bi............ bantulah aku, perkuatlah hatiku..........."<BR>dengan bisikan-bisikan ini dia merasa mendapat kekuatan baru dan wajah Cui<BR>Bi yang riang jenaka itu perlahan-lahan mengusir bayangan Hui Kauw,<BR>memulihkan kembali ketenangan di dalam dadanya.<BR>Entah beberapa jam lamanya dia duduk seperti itu, seperti seorang pertapa di<BR>pinggir telaga. Tiba-tiba terdengar suara orang, suara yang besar dan dalam,<BR>mengandung tenaga hebat.<BR>"Waahhhhh, mimpikah aku atau betul-betul bertemu dengan Kun Hong di<BR>sini?"<BR>Karena tadinya dalam keadaan melamun, Kun Hong kaget dan tidak<BR>mendengar suara ini dengan segera. Akan tetapi dia merasa seperti mengenal<BR>suara ini, maka cepat dia bangun berdiri dan membalikkan tubuhnya ke arah<BR>suara itu.<BR>"Locianpwe (orang tua gagah) siapakah?" tanyanya sambil membungkuk<BR>dengan hormat.<BR>"Ha-ha-ha! Hebat sekali! Matanya buta akan tetapi begitu aku membuka suara<BR>segera tahu bahwa aku seorang tua bangka bangkotan. Ha-ha-ha!"<BR>"Kakek Kwee.........!" Kun Hong berseru girang sekali.<BR>Song-bun-kwi Kwee Lun tertawa bergelak-gelak dan maju merangkul Kun<BR>Hong memeluknya.<BR>"Kun Hong, kau sudah tak pandai melihat tapi bisa berkeliaran sampai di sini!<BR>Apa saja yang kau kerjakan di sini? Wah tongkatmu itu entah sudah berapa<BR>banyak mengirim orang ke Giam-lo-ong (Raja Maut)?"<BR>Kun Hong tertawa. "Locianpwe, mana saya berani menggunakan tongkat<BR>hadiahmu ini untuk membunuh orang? Locianpwe hendak ke manakah?"<BR>"Ha-ha-ha, bagus kau masih menghargai pemberian seorang tua bangka. Kun<BR>Hong, tahukah kau di mana adanya Ching-coa-to?"<BR>Kun Hong kaget. "Di seberang itulah Ching-coa-to. Locianpwe apakah<BR>mempunyai urusan dengan penghuni Ching-coa-to?"<BR>Bingung Song-bun-kwi bagaimana harus menjawab pertanyaan ini. Seperti,<BR>kita ketahui, dia pergi mencari Ching-coa-to hanya karena hatinya terkena<BR>"dibakar" oleh si gadis nakal Loan Ki yang mengatakan bahwa kalau kakek itu<BR>ingin dijotosi orang sampai mukanya matang biru, harus pergi ke Ching-coato.<BR>Hanya karena kata-kata Loan Ki itu saja dia nekat mencari Ching-coa-to<BR>sampai dapat. Bagaimana dia bisa mengatakan kepada Kun Hong bahwa dia<BR>mencari Ching-coa-to hanya karena itu? Terhadap lain orang kakek ini<BR>bersikap tidak perduli dan mau membawa kehendak sendiri, mau menang<BR>sendiri. Akan tetapi terhadap Kun Hong lain lagi sikapnya. Dia merasa kagum<BR>kepada pemuda ini dan tidak menganggap pemuda buta ini sebagai seorang<BR>muda yang dipandang rendah.<BR>"Tidak ada urusan apa-apa, hanya aku mendengar di sana banyak orang<BR>pandai. Ingin aku menyaksikan dengan kedua mata dan kedua tanganku<BR>sendiri, ha-ha-ha!"<BR>Kun Hong maklum akan watak kakek ini, tahu akan kesukaan kakek ini<BR>berkelahi mengadu kepandaian. "Locianpwe terlambat. Memang banyak orang<BR>pandai di pulau itu, akan tetapi pada waktu ini mereka sudah pergi<BR>meninggalkan pulau. Saya baru saja keluar dari sana."<BR>"Kau? Ke sana? Wah-wah, agaknya banyak pengalaman hebat yang kau alami.<BR>Sayang, aku bermalas-malasan di gunung, kalau aku ikut pergi bersamamu,<BR>sedikitnya aku akan ikut menikmati pengalaman-pengalaman itu. Apa yang<BR>kau cari di sana?"<BR>Dengan singkat tanpa menyebut-nyebut soal Loan Ki dan Hui Kauw, Kun Hong<BR>lalu bercerita tentang mahkota yang dirampas dari tangan Tan Hok sampai<BR>mahkota itu terjatuh ke tangan orang-orang Ching-coa-to dan bagaimana dia<BR>berhasil merampasnya kembali. Akhirnya dia menutup penuturannya,<BR>"Mahkota ini biarpun benda kuno, akan tetapi amat penting, Locianpwe.<BR>Karena itu mati-matian saya merampasnya kembali dan sekarang hendak saya<BR>antarkan kepada paman Tan Hok?"<BR>"Di mana adanya Tan Hok?"<BR>"Tadinya paman Tan Hok pergi ke Thai-san-pai untuk minta bantuan paman<BR>Tan Beng San dalam hal merebut kembali mahkota ini. Karena itu saya pikir,<BR>lebih baik saya susul ke Thai-san-pai untuk menyerahkan mahkota ini<BR>kepadanya."<BR>"Ke Thai-san-pai? Bagus sekali memang aku pun sudah lama kangen, hendak<BR>melancong ke Thai-san. Kebetulan sekali, akupun ingin bertemu dengan ketua<BR>Thai-san-pai, mantuku yang pintar itu agar dia memberi hajaran kepada<BR>anaknya yang goblok!"<BR>Kun Hong melengak, tidak tahu apa maksud kata-kata ini. "Bagaimana dengan<BR>keadaan saudara Kong Bu dan isterinya? Ah, mereka selamat-selamat saja,<BR>bukan?" Kun Hong tersenyum karena teringat akan keponakannya, Kui Li Eng<BR>yang sekarang sudah menjadi nyonya Tan Kong Bu, Ingat betapa<BR>keponakannya itu lincah jenaka, nakal seperti Loan Ki!<BR>"Itulah. Mereka itu yang menyakitkan hatiku dan hendak kuadukan kepada<BR>Beng San. Sialan betul aku mempunyai cucu goblok!"<BR>"Eh, kenapa, Locianpwe? Apa kesalahan saudara Kong Bu dan isterinya? Kalau<BR>ada kesalahan, sayalah yang mintakan maaf dan ampun kepada<BR>Locianpwe......"<BR>"Siapa orangnya tidak mendongkol. Di sini menanti-nanti, di sana enak-enak<BR>dan menganggap sepi saja. Masa sampai empat tahun aku mengharap-harap,<BR>belum juga mereka mempunyai anak! Coba pikir, apa ini tidak<BR>menjengkelkan?"<BR>Mulut Kun Hong ternganga heran "Anak...........?"<BR>"Ya, anak! Aku sampai mimpi setiap malam memondong cucu buyut. Dasar<BR>Kong Bu tidak becus!"<BR>Hampir saja Kun Hong tak dapat menahan ledakan tawanya. Akan tetapi dia<BR>menekan perasaannya dan tidak tertawa, maklum bahwa yang dia anggap lucu<BR>itu bagi kakek ini agaknya merupakan sebuah soal yang amat gawat. Maka dia<BR>malah menghibur,<BR>"Harap Locianpwe bersabar. Saya merasa yakin bahwa seorang gagah perkasa<BR>seperti Locianpwe ini, kelak pasti dikurniai cucu buyut yang banyak!"<BR>Benar saja. Omongan ini bagaikan segelas air es untuk seorang kehausan di<BR>tengah hari. Mendinginkan perasaan. Kakek itu tertawa-tawa lagi dan berkata,<BR>"Kun Hong, kau harus lekas-lekas kawin! Orang seperti kau ini tentu jauh lebih<BR>berharga daripada cucuku Kong Bu.<BR>Aku tanggung bahwa kau kawin setahun aku sudah akan dapat memondong<BR>anakmu yang kuanggap cucuku sendiri. Ha-ha-ha, alangkah senangnya kalau<BR>aku bisa menyaksikan anakmu dan menurunkan semua ilmuku kepadanya.<BR>Ha-ha-ha, Song-bun-kwi si setan bangkotan akan mati dengan mata meram!"<BR>Merah muka Kun Hong. Dia merasa jengah, akan tetapi juga terharu sekali<BR>karena di dalam kekasarannya, kakek ini membayangkan kasih sayang yang<BR>besar dan rasa kekeluargaan yang mendalam. Dia berterima kasih sekali, akan<BR>tetapi untuk mencegah kakek ini melantur dan berkepanjangan tentang kawin,<BR>dia segera mengajak kakek itu berangkat ke Thai-san.<BR>Akan tetapi, dia tidak dapat mencegah kakek itu menggali-gali soal lama<BR>ketika berkata, "Kun Hong, kau tidak boleh selalu mengenang Cui Bi. Yang<BR>sudah mati sudahlah. Kau masih hidup dan kau harus mencari gantinya.<BR>Seorang yang tidak berketurunan adalah orang yang paling puthauw (murtad)<BR>di dunia ini! Kau tirulah pamanmu Beng San. Dahulu dia sampai menjadi gila<BR>ditinggal mati anakku, akan tetapi kemudian dia toh dapat berbahagia dengan<BR>Li Cu dan punya anak lagi!"<BR>Kun Hong berdebar keras jantungnya, akan tetapi dia diam saja tidak<BR>menjawab, hanya hatinya berdoa supaya kakek itu tidak berkepanjangan<BR>bicara tentang hal yang amat tidak enak baginya itu.<BR>Mendapat petunjuk jalan seperti Song-bun-kwi, tentu saja Kun Hong dapat<BR>melakukan perjalanan yang amat cepat. Di sepanjang jalan, tiada hentinya<BR>Song-bun-kwi mengobrol dan hanya pada pemuda inilah dia dapat<BR>mencurahkan semua isi hatinya.<BR>Beberapa hari kemudian sampailah mereka di lereng Thai-san dan keduanya<BR>merasa terheran-heran melihat kesunyian daerah sekitar puncak. Kalau<BR>jantung Kun Hong berdebar-debar karena teringat akan Cui Bi dan semua<BR>peristiwa yang terjadi di puncak ini empat tahun yang lalu, adalah Song-bunkwi<BR>yang terheran-heran dan mulai merasa tidak enak hatinya.<BR>"Kun Hong mengapa begini sunyi di sini? Biasanya tentu ada anak murid Thaisan-<BR>pai yang hilir mudik. Mengapa Thai-san-pai sekarang begini sepi?"<BR>"Locianpwe, lebih baik kita langsung naik ke puncak saja, agaknya para anak<BR>murid sedang dikumpulkan di puncak oleh paman Tan Beng San. Siapa tahu<BR>datangnya paman Tan Hok mendatangkan perubahan di Thai-san-pai karena<BR>menghadapi urusan penting."<BR>"Huh, orang-orang muda itu ribut-ribut saja tentang urusan negara. Huh,<BR>bosan aku! Kaisar dan para pembesar istana itu orang-orang apa sih? Mereka<BR>juga manusia biasa seperti kita! Akan tetapi mengapa untuk segelincir dua<BR>gelincir manusia seperti itu, untuk jatuh bangunnya seorang dua orang kaisar,<BR>selalu rakyat yang laksaan banyaknya harus dijadikan korban?"<BR>Kalau saja Kun Hong belum mendengar filsafat dari mulut Tan Hok, tentu dia<BR>akan setuju seratus prosen terhadap pendapat kakek itu. Akan tetapi<BR>sekarang, berdasarkan filsafat dari Tan Hok, dia sudah mempunyai pendapat<BR>yang lebih jelas tentang urusan negara. Tanpa pemimpin yang menentukan<BR>hukum-hukum negara, takkan ada kehidupan tenteram, takkan ada tata-tertib<BR>karena rakyat hanya akan mengenal hukum rimba, hukumnya dunia<BR>persilatan. Bayangkan saja kalau yang berkuasa saja adalah orang macam<BR>kakek ini, yang tidak perdulian, yang aneh, kadang-kadang amat kejam, akan<BR>jadi apakah penghidupan ini? Negara harus ada pengaturnya, rakyat harus ada<BR>pemimpinnya, mencontoh keadaan alam semesta. Alam semesta inipun<BR>membutuhkan pimpinan dan penguasa yang mengatur segalanya. Bayangkan<BR>saja, tanpa adanya Tuhan Seru Sekalian Alam, tanpa adanya kekuasaan Tuhan<BR>Yang Mahakuasa, alangkah akan kacau-balaunya alam semesta ini. Mungkin<BR>bintang-bintang akan saling bertubrukan, matahari akan kehilangan panasnya,<BR>akhirnya segalanya akan hancur lebur!<BR>Demikianlah, rakyat dan negara harus mempunyai pimpinan. Dan segala<BR>keributan terjadi, segala perang saudara pecah karena masing-masing<BR>golongan, masing-masing fihak menghendaki calon pimpinan pilihan hati<BR>masing-masing. Tentu saja ini dikarenakan menurut keyakinan masingmasing,<BR>pilihan hati itu adalah orang-orang yang mereka percaya akan mampu<BR>menjadi pemimpin yang baik. Sekarang terjadi perebutan tahta kerajaan,<BR>tentu saja bagi para pembesar itu karena mereka memperebutkan kedudukan<BR>yang akan menjamin hidup kaya raya dan terhormat. Akan tetapi bagi rakyat<BR>yang membela mereka, dasarnya hanyalah ingin memiliki pemimpin-pemimpin<BR>yang benar-benar akan dapat membawa kesejahteraan dan kebahagiaan bagi<BR>kehidupan rakyat.<BR>Karena mempunyai dasar filsafat ini, maka Kun Hong hanya tersenyum saja<BR>mendengar ucapan Song-bun-kwi tadi. Dia tidak menjawab melainkan<BR>mengajak kakek itu mendaki puncak. Kalau bukan Song-bun-kwi yang menjadi<BR>petunjuk jalannya, Kun Hong takkan berani mengajak naik ke puncak karena<BR>dia maklum bahwa menaiki puncak Thai-san merupakan perjalanan yang jauh<BR>lebih sulit dan berbahaya daripada memasuki Pulau Ching-coa-to! Akan tetapi,<BR>kakek itu pernah tinggal di situ dan karenanya hafal benar akan semua rahasia<BR>di puncak Thai-san.<BR>Setelah melalui jalan rahasia yang berakhir dengan sebuah terowongan,<BR>akhirnya mereka sampailah di puncak Thai-san. Mereka meloncat ke luar dari<BR>mulut terowongan yang merupakan sebuah gua rahasia dan kagetlah Kun<BR>Hong ketika dia mendengar Song-bun-kwi berseru keras, "Celaka........!"<BR>Hidung dan telinga Kun Hong meneliti penuh perhatian, namun tidak ada<BR>sesuatu yang aneh bagi penciuman dan pendengarannya. Terpaksa dia<BR>bertanya kuatir, "Locianpwe, ada apakah??"<BR>Kakek itu melangkah maju, terus maju, diikuti dari belakang oleh Kun Hong<BR>yang mulai merasa gelisah karena tempat ini benar-benar sunyi. Setelah tiba<BR>di puncak, kenapa Beng San dan isterinya, juga murid-murid Thai-san-pai<BR>tidak ada yang keluar menyambut?<BR>"Locianpwe, kenapa begini sunyi?" Ada apakah? Di mana mereka, mengapa<BR>tidak ada orang menyambut kita?"<BR>Masih saja Song-bun-kwi berjalan ke sana ke mari, berputaran di sekitar<BR>puncak. Kemudian dia membanting-banting kaki dan berkata, "Celaka...........<BR>agaknya belum lama ini Thai-san-pai tertimpa malapetaka. Wah, hebat.........!<BR>Kun Hong, Thai-san-pai telah dibakar orang, dibasmi sampai ke pohonpohonnya<BR>habis dan rusak binasa."<BR>"Apa.......???" Kun Hong berteriak, lalu melangkah ke sana ke mari, tangan<BR>yang memegang tongkat meraba-raba tanah yang sudah rata dan tidak ada<BR>sebatang pun pohon tumbuh lagi di situ. "Bagaimana hal ini bisa<BR>terjadi...........?" pertanyaan ini keluar dari hatinya yang penuh kegelisahan,<BR>terdengar agak gemetar.<BR>"Bagaimana kita bisa tahu? Tidak ada seorang pun tinggal di sini. Agaknya<BR>mereka semua sudah..........." Song-bun-kwi sendiri yang biasanya tidak<BR>perdulian itu, kini sikap dan bicaranya tidak bisa percaya kalau Thai-san-pai<BR>dapat dibakar dan dibasmi orang dan semua penghuni puncak Thai-san sampai<BR>lenyap semua.<BR>"Tidak mungkin, Locianpwe! Tak mungkin paman Beng San beserta bibi dan<BR>semua anak murid dapat dibasmi begitu saja! Aku tidak percaya!"<BR>"Tuh di sana ada bayangan orang bergerak, mari kita ke sana!" tiba-tiba kakek<BR>itu berseru dan menarik tangan Kun Hong diajak lari menuruni puncak, lalu<BR>mendaki sebuah puncak yang lebih kecil. Setelah tiba di situ, dia melihat<BR>bayangan orang tadi ternyata adalah seorang laki-laki yang kini sudah duduk<BR>bersila di sebuah kuburan yang puluhan jumlahnya. Kuburan-kuburan yang<BR>masih baru mengelilingi orang itu yang berpakaian putih, berambut awutawutan<BR>seperti orang Meremang bulu tengkuk Song-bun-kwi melihat kuburankuburan<BR>ini. Bukan karena seramnya, karena dia sendiri adalah seorang iblis<BR>yang tidak takut akan sesuatu, apalagi hanya kuburan dan orang aneh itu.<BR>Akan tetapi yang membuat dia merasa seram dan ngeri adalah dugaan yang<BR>timbul ketika melihat kuburan-kuburan itu. Siapa tahu di antaranya adalah<BR>kuburan Beng San dan Li Cu!! Segera dia melompat ke depan dan sekali<BR>sambar saja sudah berhasil mencengkeram leher laki-laki itu sambil<BR>membentak dengan suara menyeramkan,<BR>"Siapa kau dan apa yang kau lakukan di sini?" Tubuh itu sudah dia angkat<BR>tinggi-tinggi dan siap dibantingkan ke atas batu-batu besar yang banyak<BR>terdapat di tanah kuburan itu.<BR>Akan tetapi dengan gerakan yang amat tangkas dan cekatan, orang itu<BR>menggoyang tubuh dan ........... "brettt!" leher bajunya robek akan tetapi dia<BR>berhasil melepaskan diri dari cengkeraman Song-bun-kwi! Kakek ini kaget dan<BR>kagum. Jarang ada orang, apalagi semuda itu, dapat melepaskan diri pada<BR>cengkeraman tangannya. Dia sudah siap untuk menerjang lagi karena<BR>sekaligus timbul rasa penasaran, juga kegembiraannya karena akan mendapat<BR>lawan yang lumayan. Akan tetapi tiba-tiba orang itu berseru,<BR>"Kwee-locianpwe...........!" Lalu dia menjatuhkan diri berlutut dan menangis<BR>menggerung-gerung. Di antara tangisnya, dia menyebut nama Kun Hong,<BR>"Kwa-taihiap........... celaka...........!" Sukar dia bicara karena tangisnya terus<BR>menyesakkan kerongkongannya.<BR>Bukan main kagetnya hati Song-bun-kwi ketika mengenal bahwa orang yang<BR>mukanya pucat seperti mayat matanya cekung dan, tubuhnya kurus dengan<BR>rambut awut-awutan dan pakaian putih seperti orang gila ini bukan lain adalah<BR>Su Ki Han, murid kepala Thai-san-pai!<BR>"Ki Han, bukankah kau ini? Apa yang terjadi? Hayo cepat ceritakan!" Sepasang<BR>mata Song-bun-kwi liar memandang ke arah tanah-tanah kuburan yang masih<BR>baru itu. Adapun Kun Hong yang tiba-tiba merasa kedua kakinya lemas saking<BR>gelisahnya, lalu duduk di atas batu besar, telinganya mendengarkan penuh<BR>perhatian. Jantungnya berdebar-debar, karena kebutaannya membuat dia<BR>tidak dapat melihat sesuatu dan hal ini menambah kegelisahannya. Alangkah<BR>besar keinginan hatinya untuk dapat menyaksikan dengan mata sendiri<BR>bagaimana keadaan puncak Thai-san yang dikatakan rusak binasa dan<BR>terbasmi itu. Hampir-hampir saja tak dapat dia percaya bahwa tempat tinggal<BR>pamannya yang demikian saktinya itu dapat dihancurkan musuh.<BR>"Ah, Kwee-locianpwe........... celaka sekali........... malapetaka hebat menimpa<BR>Thai-san-pai, dua pekan yang lalu...."<BR>"Ki Han, bukankah kau murid kepala Thai-san-pai? Kenapa sekarang,<BR>menangis seperti anak kecil? Huh, mana jiwa pendekarmu? Memalukan sekali.<BR>Hayo, bangun kau bicara yang betul kalau tidak mau kutendang mampus!"<BR>bentak Song-bun-kwi.<BR>Su Ki Han, murid Thai-san-pai yang hancur luluh perasaan hatinya itu oleh<BR>kedukaan terbangun semangatnya. Dia segera bangkit berdiri, menunduk dan<BR>berkata, "Maafkan saya, Locianpwe, maafkan kelemahan hati saya yang tak<BR>kuat menderita kedukaan ini. Siapa orangnya yang takkan hancur hatinya.<BR>Thai-san-pai hancur binasa, siauw-sumoi (adik seperguruan kecil) diculik<BR>orang, subo lenyap melakukan pengejaran, kemudian suhu juga turun gunung<BR>mengejar, malah menyatakan bahwa Thai-san-pai dibubarkan untuk<BR>sementara waktu. Sembilan orang suteku tewas, sisanya sekarang tersebar<BR>tidak karuan. Kwee-locianpwe, hati siapa takkan menjadi sedih?"<BR>Terdengar teriakan menyeramkan keluar dari kerongkongan Kun Hong yang<BR>sudah bangkit berdiri dengan muka pucat. "Iblis jahanam! Siapa berani<BR>melakukan hal itu terhadap Thai-san-pai? Su Ki Han, hayo kau ceritakan<BR>sebenarnya apa yang telah terjadi!" Suara Kun Hong menggeledek, tanda<BR>bahwa dia dalam keadaan marah besar sehingga mendatangkan rasa kaget<BR>dan heran pada Song-bun-kwi yang biasanya mengenal pemuda itu sebagai<BR>seorang yang amat lemah lembut dan penyabar. Sebetulnya hal ini tidaklah<BR>aneh.<BR>Kun Hong cukup maklum betapa hancur luluh hati ibu Cui Bi ketika gadis<BR>kekasihnya itu tewas secara menyedihkan. Sekarang, setelah mempunyai<BR>seorang anak perempuan lagi sebagai pengganti Cui Bi, ternyata diculik orang,<BR>Thai-san-pai dibasmi dan dibumi-hanguskan, anak-anak murid Thai-san-pai<BR>banyak yang tewas. Benar-benar merupakan malapetaka yang maha hebat<BR>dan inilah yang menyakitkan hatinya.<BR>Jilid 14 : bagian 1<BR>Dengan suara tersendat-sendat saking sedihnya, Su Ki Han lalu bercerita,<BR>bagaimana orang-orang Pek-lian-pai dan Kong-thong-pai yang marah sekali<BR>datang menyerbu sehingga terjadi pertempuran yang amat tak dikehendaki<BR>ketua Thai-san-pai, karena maklum bahwa bentrokan antara mereka yang<BR>sehaluan itu adalah karena hasutan dan fitnah musuh rahasia. Diceritakan pula<BR>betapa kemarahan Pek-lian-pai dan Kong-thong-pai itu adalah karena<BR>kematian Tan Hok dan murid-murid Kong-thong-pai yang terjadi di lereng<BR>Thai-san dan yang mereka katakan dilakukan oleh anak-anak murid Thai-sanpai.<BR>Lalu bagaimana pada saat pertempuran berlangsung, puncak Thai-san-pai<BR>diserbu musuh yang tidak diketahui siapa. Nyonya ketua Thai-san-pai dengan<BR>gagah berani dapat menghalau musuh, akan tetapi tak dapat mencegah<BR>penculikan terhadap Cui Sian puterinya dan pembunuhan terhadap para<BR>pelayan. Dengan air mata bercucuran Ki Han menutup ceritanya, "Kweelocianpwe...........<BR>Kwa-taihiap........ alangkah hancur hati saya melihat suhu<BR>seperti itu. Suhu mengamuk setelah subo (ibu guru) pergi melarikan untuk<BR>mencari puterinya........... suhu menghancurkan segala yang ada di<BR>puncak........... lalu menyatakan pembubaran Thai-san-pai........"<BR>"Iblis neraka!" Song-bun-kwi membanting kakinya saking marah. "Keparat<BR>Pek-lian-pai dan Kong-thong-pai! Awas kalian, Song-bun-kwi akan melakukan<BR>pembalasan, membasmi semua orang Kong-thong-pai dari muka bumi"<BR>Tiba-tiba Su Ki Han memandang terbelalak ke depan, lalu dia menjadi pucat<BR>dan berkata, "Kwa-taihiap......."<BR>Song-bun-kwi cepat memutar tubuh memandang ke arah Kwa Kun Hong dan<BR>dia sendiripun terbelalak. Bukan main keadaan Kun Hong di waktu itu. Berdiri<BR>tegak dengan alis mata seakan-akan berdiri, sepasang mata yang buta itu<BR>terbuka lebar memperlihatkan dalamnya yang kosong menghitam. Mukanya<BR>berubah merah seperti terbakar, tubuhnya menggigil mengeluarkan hawa<BR>getaran, hidungnya kembang-kempis dan mulutnya terbuka berkali-kali tanpa<BR>mengeluarkan suara. Tangan kanannya memegang tongkat dan tangan kirinya<BR>bergerak-gerak perlahan dengan jari-jari terbuka tertutup seperti cakar<BR>harimau hendak mencengkeram. Tiba-tiba kedua tangannya membuat gerakan<BR>berbareng yang amat aneh, tangan kiri mencengkeram ke depan dengan<BR>gerakan melengkung dari bawah ke atas miring ke kanan, sedangkan tangan<BR>kanan yang memegang tongkat membuat gerakan membabat dari kanan ke<BR>kiri, menyerong dari atas ke bawah. Gerakan yang berlawanan dari kedua<BR>tangan itu menimbulkan suara angin bersiut keras dibarengi bentakannya yang<BR>amat hebat, "Haaiiii!!"<BR>Hebat akibatnya. Batu besar berwarna hitam, sejenis batu gunung yang amat<BR>keras, yang tadi dia duduki, terkena serangan ini. Batu itu sama sekali tidak<BR>bergerak dan seakan-akan tangan kiri dan tongkat tadi lewat begitu saja<BR>menembus batu, sedangkan kedua kaki Kun Hong membuat gerakan ke<BR>depan, langkah ajaib. Ketika tubuhnya menggeser lewat meninggalkan batu<BR>itu, mendadak batu itu bergoyang dan runtuh bagian atasnya, sapat di tengahtengah<BR>seperti agar-agar teriris pisau tajam, belah menjadi dua dan bagian<BR>atas yang terkena cengkeraman tangan kiri tadi, perlahan-lahan runtuh hancur<BR>seperti tepung!<BR>Song-bun-kwi memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Dia<BR>melihat betapa dari ubun-ubun kepala Kun Hong mengepul uap putih, betapa<BR>muka yang sekarang menjadi amat menyeramkan itu mengeluarkan keringat<BR>besar-besar seperti kacang kedele, dan betapa dada pemuda buta itu<BR>melembung seperti hendak meletus. Sekali lagi Kun Hong yang meraba<BR>dengan tongkatnya mendapatkan batu besar dan diserangnya seperti tadi.<BR>Sekali serang dengan gerakan aneh tadi, batu itupun hancur lebur tanpa<BR>mengeluarkan suara! Sekarang dia melangkah lagi dan mulutnya berbisikbisik.<BR>"Keji............ keji........... manusia-manusia iblis........... keji...........!"<BR>Tiba-tiba Song-bun-kwi melayang ke depan sambil berseru, "Kun Hong, ingat!<BR>Kau bisa mencelakakan dirimu sendiri. Ingatlah dan tekan<BR>perasaanmu..........!"<BR>Tubuh kakek itu menyambar ke depan dengan maksud hendak memegang<BR>pundak Kun Hong dan menyadarkannya. Akan tetapi alangkah kaget dan ngeri<BR>hatinya ketika tiba-tiba Kun Hong memapakinya dengan gerakan seperti tadi,<BR>tangan kiri mencengkeram dan tongkat membabat.<BR>"Aya........... celaka............!" Kakek itu memekik, cepat mengerahkan<BR>segenap tenaganya, melejit merendahkan tubuh untuk mengelak daripada<BR>sambaran maut tongkat itu sedangkan kedua tangannya dia pergunakan untuk<BR>menghantam lengan kiri Kun Hong yang bercuitan bunyinya mengarah iganya.<BR>Juga kali ini tak terdengar suara ketika lengan kiri Kun Hong bertemu dengan<BR>kedua lengan kakek itu. Akan tetapi akibatnya hebat bukan main. Tubuh kakek<BR>itu terlempar seperti selembar layang-layang putus talinya, lalu jatuh berdebuk<BR>dalam jarak enam tujuh meter jauhnya sedangkan tubuh Kun Hong dengan<BR>kedudukan kaki masih tetap seperti tadi, tergeser mundur sampai satu meter<BR>lebih, kedua kakinya membuat guratan dalam tanah sedalam sepuluh senti!<BR>Song-bwn-kwi tertawa bergelak dengan suara aneh menyeramkan, lalu dia<BR>merangkak bangun dan........ darah segar tersembur ke luar dari mulutnya!<BR>"Hebat..... hebat........... bukan main........!" Dia mengomel lalu menjatuhkan<BR>diri duduk bersila, sekali lagi muntahkan darah segar dan dia lalu meramkan<BR>mata mengatur napas karena benturan tadi telah mendatangkan sakit di<BR>dalam dadanya, tanda bahwa ia telah terluka dalam!<BR>Adapun Kun Hong yang tadinya seperti orang kemasukan setan, sekarang<BR>agaknya baru sadar. Dia melongo, menoleh ke sana ke mari, lalu...........<BR>menangis terisak-isak, menyebut-nyebut nama Cui Bi. Kiranya pemuda ini<BR>karena amat hancur hatinya mengingat akan nasib paman dan bibinya,<BR>sekaligus teringat kepada Cui Bi.<BR>Ki Han tak berani bergerak dari tempat dia berdiri. Dia tadi melihat kejadian<BR>yang amat hebat. Belum pernah selama hidupnya dia menyaksikan ilmu<BR>kesaktian seperti tadi. Dia merasa serem dan ngeri, juga merasa sedih karena<BR>kedukaan Kun Hong itu seperti pisau yang merobek kembali luka di dalam<BR>hatinya. Dia hanya berdiri dengan air mata bercucuran.<BR>Berkat hawa murni dan tenaga dalam yang sudah amat kuat, benturan<BR>pukulan sakti tadi tidak mengakibatkan luka parah di dalam dada Song-bunkwi<BR>dan beberapa menit kemudian dia telah dapat menyembuhkan akibat yang<BR>menimbulkan rasa nyeri di dada. Dia membuka mata, memandang Kun Hong<BR>yang terisak-isak menangis. Cepat kakek ini melompat bangun dan dengan<BR>langkah lebar dia menghampiri Kun Hong, terus merangkulnya.<BR>"Uhhh, dengan jurus sakti yang kau miliki tadi, tidak patut kau mengeluarkan<BR>air mata, Kun Hong. Hebat sekali gerakanmu tadi dan hampir nyawaku yang<BR>sudah tua ini melayang kalau aku tadi tidak cepat-cepat mengelak. Bukan<BR>main!" Dia memuji dengan muka berseri gembira sekali.<BR>"Kwee-locianpwe, aku akan membalas dendam ini! Aku tidak terima paman<BR>Beng San dan bibi dihina dan diperlakukan seperti ini. Aku akan mencari Cui<BR>Sian sampai dapat dan aku bersumpah takkan mau hidup lagi kalau tidak<BR>dapat membalas kejahatan orang-orang itu!"<BR>"Ha-ha-ha, ini baru ucapan seorang jantan! Memang, Kun Hong, kejahatan<BR>harus ditumpas habis. Dan dengan jurus yang kau miliki tadi, takkan ada<BR>tokoh di dunia ini yang akan mampu melawanmu. Ha-ha-ha!"<BR>Kun Hong yang sudah berhenti menangis itu terheran. "Locianpwe, jurus apa<BR>yang kau maksudkan? Aku tadi hampir pingsan oleh kemarahan yang<BR>menyesakkan dada, aku tidak sadar lagi yang kulakukan."<BR>"Ha-ha-ha, hampir kau memukul mampus padaku, masa kau tidak ingat?"<BR>Bukan main kagetnya hati Kun Hong. Disangkanya kakek yang biasanya<BR>memang berwatak aneh dan gila-gilaan ini main-main dengannya. "Saudara<BR>Su Ki Han, betulkah kata-kata Kwee-locianpwe ini?"<BR>Murid kepala Thai-san-pai itu sudah cukup memiliki dasar ilmu silat tinggi<BR>sehingga dia maklum apa yang telah terjadi tadi. Dia menjawab, "Saya tidak<BR>mengerti apa yang telah terjadi, Taihiap. Hanya tadi saya lihat Taihiap<BR>memukul hancur dua buah batu besar, kemudian ketika locianpwe mendekat,<BR>Taihiap menyerangnya sehingga terjadi benturan yang mengakibatkan....." Dia<BR>tidak berani melanjutkan.<BR>Song-bun-kwi tertawa. "Ha-ha-ha, akibatnya aku terlempar dengan nyawa<BR>hampir putus! Hebat sekali, Kun Hong." Pemuda itu bingung. "Tapi...........<BR>benar-benar saya tak tahu dengan jurus apa saya telah berlancang tangan<BR>menyerang Locianpwe."<BR>Song-bun-kwi adalah seorang tokoh besar dunia persilatan. Tentu saja<BR>pengetahuannya dalam hal ilmu silat amatlah dalam dan luas. Dia dapat<BR>menduga bahwa kemarahan dalam batin si buta itu membuat dia melakukan<BR>gerakan otomatis yang timbul daripada dasar tenaga sakti di dalam tubuhnya.<BR>Dengan demikian terciptalah sejurus pukulan yang amat hebat tanpa disadari<BR>oleh pemuda itu sendiri. Dia tahu pula bahwa Kun Hong mempunyai<BR>pendengaran yang amat tajam sebagai pengganti mata, maka dia lalu berkata,<BR>"Kau pinjamkan sebentar tongkatmu kepadaku, biar kucoba tiru gerakanmu<BR>tadi. Nah, kau tadi membabat dengan tongkat begini!" Song-bun-kwi seberapa<BR>dapat dan seingatnya melakukan gerakan seperti yang dilakukan Kun Hong<BR>tadi dengan tongkat itu, membabat dari kanan ke kiri miring dari atas ke<BR>bawah.<BR>Kagetlah Kun Hong. Itulah sebagian daripada jurus Pedang Im-yang-sin-kiam<BR>yang dia dapatkan dari Tan Beng San.<BR>"Dan berbareng tangan kirimu mencengkeram dari kiri ke kanan mengarah<BR>iga, bergerak dari bawah seperti ini, tapi mengeluarkan suara bercuitan."<BR>Kembali kakek itu meniru pukulan atau cengkeraman dari tangan kiri Kun<BR>Hong tadi.<BR>Sekali lagi Kun Hong terkejut. Itulah ilmu pukulan dari Kim-tiauw-kun yang<BR>paling hebat, seperti juga gerakan pedang tadi adalah jurus simpanan yang<BR>rahasia dari Im-yan-sin-kiam.<BR>"Kau melakukan dua gerakan ini sekaligus menjadi sebuah jurus yang sakti,<BR>tentu saja aku tidak dapat melakukannya, karena tampaknya berlawanan<BR>sekali gerakan itu, juga sambaran tenaga dari kedua tanganmu berlawanan.<BR>Benar-benar aneh dan hebat sekali. Kun Hong coba kau mainkan lagi jurus ini,<BR>dengan kedua tanganmu, ingin sekali aku menyaksikan sekali lagi!" Dia<BR>mengembalikan tongkatnya.<BR>Kun Hong ragu-ragu. Menurut teori, tak mungkin dua macram pukulan itu<BR>disatukan, sungguhpun keduanya dia faham benar. Ilmu Silat Im-yang-sinhoat<BR>biarpun terdiri dari penggunaan dua macam tenaga, akan tetapi selalu<BR>tenaga Im-kang dan Yang-kang digunakan secara bergantian untuk<BR>membingungkan lawan. Karena pergantian-pergantian yang tidak terdugaduga<BR>inilah maka ilmu itu merupakan ilmu yang selama ini merajai dunia<BR>persilatan. Akan tetapi bagaimana mungkin mempergunakan dua macam<BR>tenaga dalam satu gerakan? Namun demikian, mendengar kesungguhan suara<BR>kakek itu, dia merasa tidak enak kalau tidak mau mencobanya.<BR>"Baiklah, akan kucoba, Locianpwe. Mengharap petunjuk Locianpwe yang<BR>berharga........." Setelah berkata demikian,<BR>Kun Hong memasang kuda-kuda dari Ilmu Silat Kim-tiauw-kun, kemudian dia<BR>mengerahkan tenaga karena ingin bergerak sungguh-sungguh. Tangan kirinya<BR>menyambar dibarengi sambaran tongkatnya dari kanan. Terdengar suara<BR>bercuitan seperti tadi, akan tetapi tiba-tiba Kun Hong mengeluh, tubuhnya<BR>limbung dan........... dia roboh pingsan dengan muka pucat!<BR>"Ah-ah........... sudah kuduga........... waah, tua bangka goblok." Song-bun-kwi<BR>memukuli kepalanya sendiri lalu cepat dia berlutut mendekati Kun Hong dan<BR>memeriksanya. Namun pemuda buta itu empas-empis, tubuhhya sebentar<BR>panas sebentar dingin, mukanya sebentar pucat sebentar merah. Kakek itu<BR>setelah memeriksa jalan darahnya, kaget mendapat kenyataan bahwa di<BR>dalam tubuh itu, dua kekuatan yang berlawanan sedang saling desak untuk<BR>menguasai tubuh itu. Inilah berbahaya, pikirnya, pikirnya, karena gempurangempuran<BR>yang terjadi antara dua macam hawa sakti ini akan dapat merusak<BR>jantung Kun Hong. Dia sendiri adalah seorang yang ahli dalam tenaga sakti<BR>Yang-kang, maka cepat dia menempelkan telapak tangannya pada dada Kun<BR>Hong, mengerahkan tenaga Yang-kang untuk membantu tenaga di dalam<BR>tubuh pemuda itu menindih tenaga Im.<BR>Dengan penambahan tenaga Yang-kang dari kakek ini yang amat kuat,<BR>ternyata tenaga Im di tubuh Kun Hong yang meliar itu dapat ditundukkan.<BR>Muka pemuda buta ini sekarang lebih lama merahnya daripada pucatnya,<BR>napasnya mulai kuat akan tetapi tubuhnya makin panas saja. Hal ini adalah<BR>karena dia masih pingsan sehingga tidak mampu mengendalikan hawa Yangkang<BR>di tubuhnya yang kini sudah mulai dapat menguasai tubuhnya. Setengah<BR>jam kemudian sadarlah Kun Hong. Dia mengeluh dan cepat-cepat dia<BR>mengerahkan tenaga yang hampir membuat tubuhnya meledak saking<BR>panasnya itu berputaran di seluruh tubuh sehingga dia normal kembali.<BR>Song-bun-kwi melepaskan tangannya, keringat membasahi seluruh tubuh dan<BR>setelah mengumpulkan tenaganya dia berkata, "Waahh, berbahaya sekali.<BR>Jurusmu itu hebat bukan main, Kun Hong, hebat dan berbahaya bagi lawan.<BR>Akan tetapi juga berbahaya bagi dirimu sendiri."<BR>Kun Hong maklum bahwa dia telah ditolong, maka dia berlutut menghaturkan<BR>terima kasih. "Mohon petunjuk Locianpwe," katanya sederhana.<BR>Song-bun-kwi menoleh kepada Su Ki Han yang menyaksikan semua itu dengan<BR>melongo penuh keheranan dan kekaguman. Lalu kakek itu meloncat berdiri,<BR>menarik tangan Kun Hong supaya berdiri. "Mari kita turun gunung, biar nanti<BR>kujelaskan kepadamu. Ki Han, kau adalah murid Thai-san-pai yang setia dan<BR>jujur, mudah-mudahan kejadian semua ini akan menambah pengertianmu dan<BR>memperdalam ilmumu. Kau berjagalah di sini, menanti kembalinya gurumu.<BR>Kami berdua takkan tinggal diam, akan kubantu gurumu mencari puterinya.<BR>Hayo, Kun Hong, kita pergi!" Kakek itu mengandeng tangan Kun Hong dan<BR>keduanya melesat lenyap dari puncak itu.<BR>Di kaki gunung itu, di bawah pohon besar, Song-bun-kwi dan Kun Hong<BR>berhenti dan duduk di atas akar pohon yang menonjol ke luar dari tanah.<BR>"Jurusmu tadi benar-benar luar biasa sekali, kalau kau sudah dapat<BR>melakukannya dengan sempurna, kiraku tidak akan ada orang yang mampu<BR>menahannya." Song-bun-kwi mulai bicara,<BR>"Akan tetapi, Locianpwe. Ketika pertama kali saya menggunakan jurus itu,<BR>saya berada dalam keadaan tidak sadar sehingga tidak ingat sama sekali<BR>tentang gerakan itu. Menurut permintaan Locianpwe, saya tadi melakukannya<BR>sungguhpun saya tahu bahwa jurus itu keduanya mengandung hawa pukulan<BR>yang bertentangan, sehingga akibatnya saya tidak kuat menahan dan roboh<BR>pingsan. Bagaimana bisa dibilang jurus lihai?"<BR>Kakek itu tertawa. "Tadinya aku pun bingung dan heran. Akan tetapi sekarang<BR>aku mengerti. Kau berhasil menggunakan jurus itu, justeru karena kau sedang<BR>dalam keadaan sedih dan marah. Dalam kesedihan luar biasa, hawa Im di<BR>tubuhmu bergolak, sebaliknya ketika kau marah dan sakit hati, hawa Yang<BR>bergolak. Karena inilah maka ketika kau melakukan pukulan-pukulan yang dua<BR>macam dan bertentangan itu, kedua hawa itu dapat kau pergunakan lewat<BR>pukulanmu dan dalam kemarahan serta kesedihan tadi kau dapat mendorong<BR>kedua macam hawa yang berlawanan itu keluar tubuh. Itulah sebabnya<BR>mengapa pukulan-pukulan itu hebat bukan main sehingga aku sendiri hampir<BR>mampus karenanya. Adapun ketika kau mencoba untuk melakukannya<BR>kembali, kau sudah dapat menguasai kesedihan dan kemarahanmu, karena<BR>kau tidak berniat menyerang orang, maka kau tidak mendorong keluar kedua<BR>hawa itu. Akibatnya dua hawa berlawanan itu mengamuk di dalam tubuhmu<BR>dan saling gempur sendiri. Tentu saja kau tidak kuat menahan. Masih baik kau<BR>tidak mati tadi, ha-ha-ha!"<BR>"Wah, kalau begitu jurus tadi jahat sifatnya, Locianpwe."<BR>"Di dunia ini tidak ada sesuatu yang jahat atau baik. Tergantung dari orangnya<BR>sendiri yang mempergunakannya. Ilmu tetap ilmu, jurus tetap jurus dan jurus<BR>yang kau temukan secara tidak sengaja tadi merupakan anugerah yang harus<BR>kau pelajari baik-baik. Dengar baik-baik, Kun Hong. Dalam keadaan terdesak<BR>dan terpaksa karena menghadapi ancaman lawan tangguh yang akan<BR>mencelakakan dirimu, kau boleh mempergunakan jurus itu. Akan tetapi kau<BR>harus betul-betul berniat merobohkan lawan, sehingga dua macam hawa itu<BR>dapat kau salurkan dan dorong keluar menghantam lawan. Hanya kau seorang<BR>yang dapat mainkan jurus itu, karena kedua gerakan itu berdasarkan ilmu silat<BR>sakti yang telah kau pelajari. Nah, kau cobalah sekarang dan kau serang<BR>pohon ini dengan jurusmu tadi. Jangan kuatir, asal kau dapat menganggap<BR>pohon itu sebagai musuh besar yang amat tangguh dan yang harus kau<BR>robohkan, pasti kau tidak akan mengalami hal seperti tadi."<BR>Di dalam hatinya, Kun Hong tak suka dengan jurus yang dianggapnya keji dan<BR>ganas ini. Akan tetapi mendengar getaran penuh gairah, penuh kegembiraan<BR>dalam suara kakek itu, dia tidak tega dan merasa tidak enak kalau harus<BR>menolak. Tidak apalah untuk berlatih dengan pohon saja, akan tetapi dia yakin<BR>bahwa sukar baginya untuk memaksa hati menggunakan jurus pukulan ini<BR>terhadap seorang manusia. Dia bangkit berdiri, mengingat-ingat gerakan tadi,<BR>memasang kuda-kuda ajaib dengan kaki kanan di depan, ujungnya diangkat<BR>berjungkit dan kaki belakang ditekuk lututnya, tangan kanan yang memegang<BR>tongkat agak diangkat ke atas dengan tongkat melintang, tangan kiri dibuka<BR>jari-jari tangannya, ditekuk ke bawah seperti orang hendak mengambil<BR>sesuatu dari tanah.<BR>Song-bun-kwi memandang dengan mata bersinar-sinar saking kagum dan<BR>gembira hatinya. Matanya sampai dipaksa supaya jangan berkedip agar dia<BR>dapat mengikuti semua gerakan pemuda itu dengan baik.<BR>Kun Hong mengumpulkan seluruh tenaganya, tapi merasa betapa dua macam<BR>tenaga yang berlawanan berkumpul dan berputaran di dada, membuat<BR>dadanya sesak. Dia hendak memaksa tenaga itu keluar melalui kedua<BR>lengannya, akan tetapi sukar sekali dan akhirnya dia menarik kembali<BR>tenaganya, menurunkan kedua tangan, tidak jadi menyerang ke depan.<BR>"Eh, kenapa??" Song-bun-kwi berteriak, kecewa dan marah. "Kenapa tidak kau<BR>teruskan? Sudah bagus sekali tadi!"<BR>Kun Hong menarik napas panjang dan menggeleng kepala. "Saya tidak bisa,<BR>Locianpwe. Tidak bisa memaksa hati membenci pohon apalagi kalau<BR>membayangkan bahwa pohon ini adalah pengganti seorang manusia, hati<BR>menjadi ngeri........."<BR>Song-bun-kwi membanting-banting kakinya. Benar-benar seorang pemuda<BR>yang berhati lemah dan berwatak halus. Masa terhadap sebatang pohon saja<BR>tidak tega menjatuhkan tangan maut?<BR>"Bodoh kau! Ini penting untuk latihan. Anggap saja bahwa pohon itu<BR>musuhmu!"<BR>"Saya tidak punya musuh, Locianpwe."<BR>"Apa? Kau bisa bilang tidak punya musuh? Sudah lupa lagikah kau betapa<BR>Thai-san-pai dibakar orang, adikmu Cui Sian diculik orang dan rumah tangga<BR>pamanmu Beng San menjadi rusak berantakan? Yang berdiri di depanmu itu<BR>bukan lagi pohon biasa, dia adalah musuhmu yang telah berlaku keji dan jahat<BR>terhadap Thai-san-pai."<BR>Mendadak Kun Hong mengeluarkan suara bentakan nyaring, tubuhnya<BR>bergerak seperti tadi, lalu seperti kilat nyambar kedua tangannya itu<BR>menyerang dengan berbareng, melakukan gerak jurus yang maha dahsyat itu.<BR>Tongkat berkelebat menjadi sinar merah menembus pohon, tangan kiri<BR>mencengkeram dan....... pohon itu masih tetap berdiri tanpa bergoyang<BR>sedikitpun sedangkan Kun Hong sudah melompat ke belakang dengan<BR>berjungkir balik beberapa kali.<BR>"Hebat........... hebat...........!" kakek itu bersorak. Angin datang bertiup<BR>menggerakkan daun-daun pohon itu dan......... lambat pohon itu tumbang,<BR>patah di tengah-tengah di mana tadi dilalui sinar merah, roboh mengeluarkan<BR>suara hiruk-pikuk dan batang sebelah atas remuk-remuk terkena cengkeraman<BR>tangan kiri Kun Hong tadi. Kiranya tadi hanya kelihatannya saja tidak apa-apa,<BR>padahal batang pohon itu telah patah-patah dan bagian yang dicengkeram<BR>telah remuk di bagian dalam!<BR>"Bagus sekali, Kun Hong! Dengan jurus ini agaknya kau yang akan dapat<BR>membalaskan sakit hati pamanmu. Mudah diduga bahwa musuh yang dapat<BR>mengacau dan merusak ketenteraman di Thai-san-pai, pasti adalah orangorang<BR>yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kalau kau berhasil bertemu<BR>dengan mereka dan tak dapat mengalahkan mereka dengan ilmu silat biasa,<BR>kau pergunakanlah jurus ini."<BR>"Saya akan mencari mereka, Locianpwe," kata Kun Hong dengan suara penuh<BR>dendam. "Saya akan mencari pembunuh paman Tan Hok, mencari mereka<BR>yang melakukan fitnah dan mengadu domba antara Thai-san-pai dengan<BR>orang-orang gagah, mencari penculik adik Cui Sian."<BR>"Jurus tadi hanya kau seorang yang mampu melakukan, tapi karena tercipta di<BR>luar kesadaranmu dan aku yang pertama kali melihatnya, maka aku yang<BR>hendak memberi nama," kata kakek itu sambil tertawa bergelak, nampaknya<BR>puas sekali.<BR>"Terserah kepada Locianpwe."<BR>"Jurusmu tadi tercipta karena peluapan rasa duka dan amarah, jurus yang<BR>hanya dapat dilakukan tanpa membahayakan diri sendiri dengan landasan<BR>dendam, maka kuberi nama jurus serangan Sakit Hati. Bagaimana pikirmu,<BR>cocok tidak?"<BR>Di dalam hatinya Kun Hong tidak setuju. Sejak dahulu dia menganggap bahwa<BR>asas dendam dan sakit hati amatlah berlawanan dengan pribudi dan kebajikan.<BR>Kalau sekarang dia hendak mencari orang-orang yang merusak Thai-san-pai,<BR>mencari penculik Cui Sian, kalau perlu memhukum atau membasmi mereka,<BR>semata-mata karena dia menganggap orang-orang itu amatlah jahat dan kalau<BR>dibiarkan dan tidak ditentang tentu akan makin merajalela dan mendatangkan<BR>banyak malapetaka di dunia ini. Sekali-kali bukan karena dendam dan sakit<BR>hatinya. Akan tetapi, oleh karena dia sendiri maklum bahwa tanpa adanya<BR>Song-bun-kwi, dia sendiri tidak akan dapat menemukan jurus hebat ini, maka<BR>dia anggap bahwa jurus itu adalah hasil ciptaan Song-bun-kwi, maka kakek<BR>itulah yang berhak memberi nama.<BR>"Saya setuju, Locianpwe." Kemudian dtsambungnya, "Locianpwe, karena<BR>paman Beng San tertimpa malapetaka hebat, saya rasa hal yang paling dahulu<BR>harus dilakukan adalah memberi tahu kepada putera-puteranya."<BR>Betul katamu, memang harus demikianlah. Biarpun Kong Bu goblok, akan<BR>tetapi dia putera Beng San dan wajib dia membantu untuk mencari adiknya<BR>serta membalas sakit hati ini. Juga Sin Lee di Luliang-san harus diberi tahu.<BR>Kun Hong, biarlah aku sendiri yang akan memberi tahu kepada dua orang itu,<BR>ini termasuk kewajibanku. Kau sendiri hendak ke mana sekarang?"<BR>"Saya adalah seorang buta, Locianpwe. Tentu amatlah sukar untuk melakukan<BR>penyelidikan seorang diri. Oleh karena itu, saya bermaksud pergi ke kota raja<BR>untuk mencari para anggauta kaipang (perkumpulan pengemis), karena dari<BR>mereka ini agaknya saya akan dapat mencari keterangan tentang orang-orang<BR>jahat yang memusuhi Thai-san-pai. Selain itu, juga saya mempunyai urusan<BR>penting yang ada hubungannya dengan mahkota ini, untuk saya sampaikan<BR>kepada yang berhak."<BR>Song-bun-kwi sebetulnya amat suka dekat dengan Kun Hong dan bercakapcakap<BR>dengan si buta ini. Akan tetapi sebagai seorang tokoh besar, tentu, saja<BR>dia tidak suka melakukan perjalanan berkawan. Apalagi sekarang mereka<BR>mempunyai tujuan masing-masing, maka dia segera menepuk-nepuk pundak<BR>Kun Hong dan berkata,<BR>"Kita berpisah di sini. Ingat, Kun Hong, lekas kau mencari jodoh dan jangan<BR>lupa, anakmu kelak akan menjadi muridku!"<BR>Kun Hong tersenyum pahit dan mukanya menjadi merah. Dia tidak dapat<BR>menjawab, hanya mengangguk-angguk, lalu menjura dalam ketika dia<BR>mendengar betapa kakek itu berkelebat cepat pergi dari situ. Hanya suara<BR>ketawanya saja terdengar dari tempat yang sudah jauh. Dia menarik napas<BR>panjang dan kagum sekali. Kakek itu memang aneh, kadang-kadang amat<BR>kejam seperti iblis kata orang, akan tetapi Kun Hong maklum bahwa pada<BR>dasarnya kakek ini hanyalah seorang manusia biasa yang mempunyai<BR>kelemahan-kelemahannya. Diapun lalu berjalan perlahan, meraba-raba dengan<BR>tongkatnya dengan tujuan bertanya orang jalan ke kota raja.<BR>*****<BR>Loan Ki adalah seorang gadis yang berdarah perantau. Tak dapat ia bertahan<BR>untuk terlalu lama tinggal di rumah. Semenjak kecil sudah biasa ia melakukan<BR>perjalanan jauh, merantau bersama ayahnya. Bahkan semenjak ia berusia lima<BR>belas tahun, ketika ayahnya menganggap bahwa ilmu kepandaiannya sudah<BR>cukup tinggi, dara lincah ini sudah melakukan perantauan seorang diri!<BR>Telah dituturkan di bagian depan betapa Pek-tiok-lim, tempat tinggal Tari Beng<BR>Kui di tepi laut Po-hai, didatangi Song-bun-kwi sehingga menimbulkan<BR>kekacauan, malah beberapa orang anak buah Pek-tiok-lim tewas dan akhirnya<BR>oleh kecerdikan dan kepandaian bicara Loan Ki, Song-bun-kwi suka pergi dari<BR>tempat itu.<BR>Tan Beng Kui adalah seorang yang memiliki ambisi (cita-cita) besar. Di dalam<BR>cerita Raja Pedang dan Rajawali Emas dapat kita baca betapa beberapa kali<BR>tokoh ini berusaha untuk mencari kedudukan tinggi, akan tetapi selalu<BR>usahanya hanya gagal. Sekarang, biarpun usianya sudah agak tua, ketika dia<BR>mendengar tentang perebutan kekuasaan dan tentang kekacauan di kota raja,<BR>timbul lagi penyakit lama ini.<BR>"Loan Ki," katanya, sehari setelah keributan terjadi karena kedatangan Songbun-<BR>kwi, "sekarang kau harus tinggal dan berjaga di rumah. Kedatangan<BR>Song-bun-kwi yang dibawa oleh seorang kaki tangan kota raja, tentu ada<BR>sebabnya dan aku ingin sekali ke kota raja untuk menyelidiki dan melihat,<BR>apakah yang terjadi di sana." Maka pergilah Tan Beng Kui dari Pek-tiok-lim,<BR>meninggalkan anak gadisnya seorang diri, tentu saja bersama para anak buah<BR>Pek-tiok-lim yang puluhan orang banyaknya. Biarpun tidak berhasil menduduki<BR>pangkat di kota raja, Tan Beng Kui telah berhasil menjadi seorang yang kaya<BR>raya dan hidup sebagai raja kecil di Pek-tiok-lim itu, dengan rumah-rumah<BR>gedung mewah dan besar di tengah hutan dan mempunyai anak buah yang<BR>kuat-kuat. Di dalam rumah gedung, Loan Ki dilayani oleh para pelayan yang<BR>banyak pula jumlahnya, hidup sebagai seorang puteri. Adapun ibu anak ini<BR>sudah lama meninggal ketika Loan Ki masih kecil.<BR>Baru beberapa hari setelah ayahnya pergi, Loan Ki sudah tidak dapat tahan<BR>lagi tinggal di rumah seorang diri. Maka, tanpa memperdulikan pencegahan<BR>para pelayan tua yang mengingatkannya bahwa ayahnya tentu akan marah<BR>kalau pulang tidak melihatnya, Loan Ki memaksa diri pergi meninggalkan Pektiok-<BR>lim. Beberapa jam kemudian ia sudah meninggalkan Pek-tiok-lim seorang<BR>diri, menggendong sebungkus pakaian, membekal potongan-potongan emas<BR>dan perak, tidak ketinggalan tiga butir mutiara itu dibawanya serta.<BR>Pakaiannya serba hitam, terbuat daripada kain yang mengkilap seperti sutera,<BR>potongan pakaiannya ringkas dan ketat, di pinggangnya tergantung sebatang<BR>pedang pendek. Rambutnya yang hitam dan panjang itu ia gelung ke atas dan<BR>ditutup dengan kain kepala berwarna hitam pula, ikat pinggangnya dari sutera<BR>kurung emas, demikian pula warna saputangan yang mengikat lehernya serta<BR>sepatunya. Dari jauh ia seperti seorang pemuda saja, namun segala gerakgeriknya<BR>secara menyolok menyatakan bahwa ia adalah seorang muda kangouw<BR>yang melakukan perjalanan mengandalkan perlindungan pedang dan ilmu<BR>silatnya.<BR>Siapapun dia yang menyaksikan Loan Ki melakukan perjalanan pasti akan ikut<BR>gembira. Gadis yang berwajah cantik jelita ini selalu berseri mukanya, mulut<BR>yang manis itu selalu tersenyum dan sepasang matanya bersinar-sinar.<BR>Memang sudah biasa bagi Loan Ki untuk memandang segala keadaan di dunia<BR>ini dari sudut yang menggembirakan. Ia gadis jenaka yang tak pernah mau<BR>mengenal susah.<BR>Jilid 14 : bagian 2<BR>Beberapa jam setelah keluar dari Pek-tiok-lim, ia sudah tampak berjalan ke<BR>selatan, kadang-kadang berloncatan dan berlari cepat, kadang-kadang<BR>berjalan lambat-lambat menikmati keindahan tamasya alam di sepanjang<BR>jalan. Kalau sudah melakukan perjaianan seorang diri seperti ini, baru gadis ini<BR>merasakan kebahagiaan hidup bebas. Sekerat roti kering rasanya jauh lebih<BR>lezat daripada bermacam masakan yang biasa dihidangkan di rumahnya. Air<BR>pancuran di gunung rasanya lebih segar daripada air teh wangi di rumahnya.<BR>Tidur di atas cabang pohon besar lebih nikmat daripada tidur di atas ranjang<BR>dalam kamarnya yang mewah.<BR>Tiga hari semenjak ia meninggalkan Pek-tiok-lim, tibalah ia di dalam hutan<BR>Pegunungan Shan-tung yang amat lebat dan liar. Hutan besar itu sama sekali<BR>tidak menakutkan hati Loan Ki, sebaliknya malah mendatangkan<BR>kegembiraannya. Alangkah indahnya sinar matahari menerobos di antara<BR>daun-daun pohon yang rindang. Terdengar suara auman binatang-binatang<BR>buas yang bagi gadis perkasa ini malah menambah gembiranya suasana. Tibatiba<BR>ia mendengarkan penuh perhatian. Sebagai seorang gadis perantau yang<BR>sudah sering kali menghadapi bahaya serangan binatang buas di tengah<BR>hutan, ia dapat mengenal suara harimau yang sedang marah dan bertemu<BR>lawan. Gadis ini kuatir kalau-kalau binatang buas itu sedang mengancam<BR>keselamatan seorang manusia, maka cepat ia lalu berlari menuju ke arah<BR>suara itu.<BR>Benar saja dugaannya. Ia melihat seekor harimau besar sekali, sebesar anak<BR>lembu sedang menghadapi seorang laki-laki yang kelihatan tenang-tenang<BR>saja. Harimau itu berindap-indap maju dengan perut diseret di atas tanah,<BR>kadang-kadang mengeluarkan auman yang dapat membuat seorang penakut<BR>menggigil ketakutan. Akan tetapi laki-laki itu berdiri dengan kedua kaki<BR>terpentang lebar, matanya tajam menentang, sikapnya tenang waspada,<BR>malah mulutnya agak tersenyum seakan-akan ia merasa gembira.<BR>Loan Ki dapat menduga bahwa laki-laki yang berpakaian aneh itu tentu<BR>seorang kuat, maka ia cepat meloncat ke atas sebatang pohon besar, duduk di<BR>atas cabang pohon itu dan diam-diam ia mempersiapkan diri untuk melayang<BR>turun dan menolong andaikata orang itu terancam bahaya. Dengan mata<BR>kagum ia memperhatikan orang itu. Usianya masih muda, kira-kira sebaya<BR>dengan Kun Hong Si Pendekar Buta. Akan tetapi tubuh orang ini jauh lebih<BR>tegap dan nampak kuat sekali. Pakaiannya aneh. Bajunya telah dibuka dan<BR>baju itu kini tergantung di pundaknya. Agaknya dia tadi merasa panas dan<BR>membuka bajunya. Tinggal celananya berwarna kebiruan, ringkas dan di<BR>bagian bawahnya tertutup pembalut kaki sebagai pengganti kaos kaki.<BR>Sepatunya dari kulit. Tubuh atas yang telanjang itu berkilat-kilat karena peluh,<BR>urat-uratnya melingkar-lingkar membayangkan tenaga yang dahsyat. Rambut<BR>laki-laki itu aneh pula. Digelung ke atas, di tengah-tengah rambut ditusuk<BR>dengan sebuah tusuk konde hitam, ujung rambut dibiarkan terurai ke<BR>belakang. Seperti bentuk rambut seorang pendeta tosu, tapi lain lagi.<BR>Pendeknya, aneh dalam pandangan Loan Ki dan belum pernah ia melihat<BR>seorang laki-laki dengan gelung rambut seperti itu. Di pinggang laki-laki itu<BR>tergantung sebatang pedang dengan sarung pedang indah, terukir dan<BR>berwarna keemasan. Demikian pula gagang pedang itu. Akan tetapi anehnya,<BR>sarung pedang itu agak melengkung dan gagang pedang itu terlalu panjang<BR>menurut ukuran dan anggapan Loan Ki. Wajah laki-laki itu gagah dan tampan,<BR>pendeknya, dalam pandangan Loan Ki, laki-laki itu amat menarik hati dan<BR>aneh sekali.<BR>Ketika harimau itu sudah dekat, laki-laki itu tiba-tiba mengeluarkan suara<BR>seperti orang berkata-kata dan tertawa-tawa. Tampaklah kadang-kadang<BR>giginya yang putih berkilau ketika dia tertawa. Loan Ki makin tertarik. Jelas<BR>bahwa laki-laki ini seorang yang memiliki kepandaian. Kalau tidak, mana<BR>mungkin bisa tertawa-tawa seenak itu menghadapi seekor harimau yang amat<BR>besar dan buas ini. Kekhawatirannya berkurang, biarpun ada keraguan di<BR>dalam hatinya. Harimau itu adalah harimau betina yang amat galak, dan ia<BR>cukup mengenal kehebatan harimau seperti ini. Tidak sembarang orang akan<BR>dapat mengalahkannya. Benarkah laki-laki aneh itu memiliki kepandaian cukup<BR>tinggi untuk menyelamatkan diri? Ataukah, jangan-jangan dia seorang yang<BR>miring otaknya? Ucapan yang keluar dari mulutnya tadi seperti ucapan orang<BR>gila, sama sekali ia tidak mengerti artinya.<BR>Ketika melihat betapa laki-laki itu menghentak-hentakkan kakinya dan<BR>berteriak-teriak seperti orang menghardik dan mengancam, wajahnya berseriseri<BR>kelihatan gembira sekali, Loan Ki mengerutkan kening. Agaknya benar<BR>telah gila orang ini, kenapa mengajak harimau itu bermain-main, tidak lekas<BR>mencabut pedangnya? Anehnya, harimau itupun agaknya selama hidupnya<BR>baru kali ini bertemu dengan seorang manusia seberani itu, maka tampak<BR>ragu-ragu, ekornya yang panjang bergerak perlahan. Harimau itu tiba-tiba<BR>mendekam dan Loan Ki berdebar jantungnya. Ia tahu apa artinya itu. Harimau<BR>itu hendak melompat dan menerkam, dan biasanya gerakan ini amat hebat,<BR>kuat dan cepat sekali. Dan laki-laki itu masih tenang-tenang saja berdiri<BR>mengejek, seakan-akan tidak akan terjadi sesuatu.<BR>Harimau itu mengeluarkan gerengan yang hebat, seakan-akan menggetarkan<BR>seluruh hutan dan tubuhnya yang besar itu menerkam dengan loncatan yang<BR>tak dapat dibayangkan cepatnya, menubruk dengan dua cakar kaki depan dan<BR>taring mulut yang terbuka lebar.<BR>Celaka, pikir Loan Ki, menolong pun terlambat sekarang. Mengapa dia begitu<BR>sombong sehingga aku enggan menolongnya? Agak ngeri ia, akan tetapi dasar<BR>gadis pendekar yang tabah, matanya terbelalak memandang penuh perhatian.<BR>Ia melihat betapa dengan cekatan orang muda itu melompat ke kiri, disusul<BR>kilatan sinar pedang dan jeritan, "Yaaatt...........! Yaaat!!" dua kali sinar<BR>pedang berkelebat dua kali menyilaukan mata dan........... tubuh harimau<BR>besar itu terbanting roboh tak bergerak lagi, lehernya hampir putus dan<BR>perutnya terobek berantakan!<BR>Loan Ki melongo. Ilmu pedang apa itu? Pemuda itu masih memegangi<BR>pedangnya yang berkilauan saking tajamnya cara memegangnya aneh, dengan<BR>kedua tangan memegangi gagang pedang yang panjang dan pedang itu agak<BR>melengkung bentuknya. Bukan main! Ilmu pedang yang amat aneh dan lucu,<BR>akan tetapi ganas luar biasa. Yang amat mengagumkan hati Loan Ki adalah<BR>kehebatan tenaga orang itu, di samping ketabahan dan ketenangannya yang<BR>patut dipuji.<BR>Dengan tenang dan muka berseri, pemuda aneh itu membersihkan pedangnya<BR>dari darah dengan cara menggosok-gosok senjata itu pada kulit harimau yang<BR>berbulu indah, baru dia memasukkan pedang di dalam sarungnya lagi. Lalu<BR>dengan muka gembira sekali dia mencabut sebatang pisau pendek yang amat<BR>tajam, tangannya bekerja cepat dan tahu-tahu dia telah mengiris putus paha<BR>kanan sebelah belakang dari binatang itu, terus dipanggulnya pergi ke arah<BR>sebatang anak sungai yang mengalir tak jauh dari tempat itu. Sisa bangkai<BR>harimau itu dia tinggalkan begitu saja.<BR>Loan Ki dalam keheranan dan kekagumannya terus mengikuti dari jauh. Ia<BR>bersembunyi di balik gerombolan pohon, mengintai dan ingin sekali tahu apa<BR>yang akan dilakukan pemuda aneh itu. Tadi ketika melihat pemuda itu<BR>menggunakan pisau, ia mengira bahwa pemuda itu seorang pemburu. Akan<BR>tetapi kemudian perkiraan ini ia bantah sendiri. Tak mungkin seorang pemburu<BR>akan meninggalkan kulit harimau yang begitu berharga dan hanya pergi<BR>membawa sebuah paha.<BR>Pemuda aneh itu berjongkok di pinggir anak sungai menyalakan api, membuat<BR>gantungan di kanan kiri api dan ternyata dia mulai memanggang paha harimau<BR>itu. Dia tertawa senang dan hidungnya kembang-kempis, beberapa kali dia<BR>bicara dengan bahasa yang tak dimengerti Loan Ki. Gadis ini pun hidungnya<BR>mulai kembang-kempis ketika mencium bau sedap dan gurih dari daging<BR>harimau yang dipanggang itu. Perutnya memang sudah lapar, sekarang<BR>mencium bau daging panggang, alangkah sedapnya!<BR>Tiba-tiba keningnya berkerut, matanya terbelalak, kemudian mendadak ia<BR>membuang muka dan meramkan mata. Apa yang terjadi? Pernuda itu ternyata<BR>menanggalkan semua pakaiannya dan dengan bertelanjang bulat pemuda itu<BR>terjun ke dalam air anak sungai yang amat jernih.<BR>"Anak setan!" Loan Ki memaki, geli sendiri. "Kurang ajar betul dia, berani<BR>bertelanjang di depan mataku?" Kemudian ia teringat bahwa pemuda itu sama<BR>sekali tidak tahu bahwa ada orang mengintai, maka tentu saja tidak bisa<BR>dibilang kurang ajar. Wajahnya memerah karena sebetulnya ia sendirilah yang<BR>kurang ajar, mengintai orang mandi. Kemudian timbul pikiran yang amat<BR>nakal. Memang Loan Ki seorang gadis remaja yang nakal sekali.<BR>Ia memandang lagi dengan lega hatinya melihat bahwa orang itu mandi<BR>dengan naerendam tubuh sebatas dada, jadi leluasa ia memandang. Ia melihat<BR>betapa pemuda itu dengan tubuhnya yang berotot kekar berkali-kali menyelam<BR>ke dalam air. Cepat ia menyelinap di antara pepohonan menanti saat baik.<BR>Sementara itu, daging paha harimau itu agaknya sudah matang, baunya<BR>membuat ia tak kuat menahan laparnya lagi. Pada saat pemuda itu sekali lagi<BR>menyelam, cepat laksana kijang melompat, Loan Ki keluar dari tempat<BR>sembunyinya dan sekali sambar kayu yang menusuk paha itu telah berada di<BR>tangannya dan ia cepat melompat dan lenyap menyelinap di balik semaksemak<BR>belukar.<BR>Di lain saat, gadis itu telah duduk ongkang-ongkang di atas cabang pohon<BR>yang tinggi, repot sendiri. Sibuk ia meniup-niup daging yang panas, menggigit,<BR>mengunyah dan tertawa-tawa ditahan sambil mendesis-desis kepanasan dan<BR>keenakan. Gurih dan sedap bukan main paha harimau yang setengah matang<BR>itu.<BR>Tiba-tiba ia mendengar suara banyak orang di bawah. Kiranya ada dua puluh<BR>orang lebih lewat di bawah pohon dan kagetlah ia ketika mengenal bahwa<BR>yang lewat itu adalah para perampok, anak buah Hui-houw-pang. Ia mengenal<BR>mereka karena yang mengepalai rombongan ini bukan lain adalah ketua Hui-<BR>Houw-pang yang bernama Lauw Teng, si kepala rampok gemuk pendek<BR>bermuka kuning yang pernah ia permainkan dahulu itu. Orang-orang itu<BR>agaknya sudah melihat si pemuda aneh yang sedang mandi, buktinya mereka<BR>berseru dan pergi ke tempat itu.<BR>Sekali lagi terpaksa Loan Ki meramkan mata. Kali ini ia tidakk menbuang muka<BR>karena sedang asyik menggerogoti paha harimau, akan tetapi ia meramkan<BR>mata rapat-rapat ketika melihat betapa laki-laki itu meloncat ke luar dari<BR>dalam air sambil mengeluarkan suara yang tak dimengertinya, akan tetapi ia<BR>dapat menduga bahwa orang itu tentu memaki-maki. Geli juga hatinya dan<BR>sejenak kemudian ia mengintai dari balik bulu matanya yang panjang. Belum<BR>berani ia membuka matanya dan mata kiri yang dibuka sedikit saja itu siap<BR>ditutup kembali cepat-cepat kalau orang aneh itu masih juga belum<BR>berpakaian.<BR>Akan tetapi setelah mengintai dari balik bulu mata, ia menjadi lega dan<BR>dibukanya sepasang mata yang lebar dan jelita itu terbelalak. Ia melihat<BR>betapa laki-laki aneh itu sudah berpakaian, malah bajunya sedang dipakai. Dia<BR>marah-marah memaki-maki dengan bahasa asing itu, menuding-nuding ke<BR>arah rombongan Lauw Teng dan ke arah api unggun yang sudah mulai padam<BR>di mana tadi paha harimau dipanggangnya.<BR>Lauw Teng dan rombongannya agaknya juga bingung menghadapi orang yang<BR>tidak dimengerti bahasanya itu. Tiba-tiba seorang anak buah perampok itu<BR>berseru,<BR>"Wah, dia orang Jepangl Dia tentu bajak laut Jepang, entah bagaimana bisa<BR>kesasar ke sini!"<BR>Ramai mereka bicara dan semua orang sudah mencabut senjata untuk<BR>mengeroyok bajak laut Jepang yang selalu dimusuhi oleh semua orang itu.<BR>Mendadak orang aneh itu bicara dalam bahasa daerah yang kaku, akan tetapi<BR>cukup jelas dan lancar, "Tutup mulut! Enak saja kalian menyangka orang. Aku<BR>memang orang Jepang, akan tetapi sama sekali bukan bajak laut!"<BR>Tiba-tiba matanya memandang ke arah belakang rombongan di mana terdapat<BR>beberapa orang wanita yang dibelenggu kedua tangannya dan ujung rantai<BR>panjang dipegang oleh beberapa orang pula seperti orang-orang menuntun<BR>domba saja. Orang itu memaki-maki lagi dalam bahasa Jepang, lalu<BR>menudingkan telunjuknya ke arah orang-orang perempuan itu dan bertanya,<BR>"Siapa mereka itu? Kalian ini mau apa menangkapi mereka? Heh, kalian<BR>menyebut aku bajak laut, agaknya kalian inilah bangsa penjahat yang<BR>menculik gadis-gadis orang!"<BR>Lauw Teng melangkah maju, suaranya keren, "Hei, orang asing, jangan kau<BR>berlancang mulut! Ketahuilah, kau berhadapan dengan Hui-houw-pang, dan<BR>akulah Hui-houw-pangcu Lauw Teng. Hayo menyerah menjadi tawanan kami,<BR>agar sekalian kami bawa ke kota raja, daripada kau menjadi makanan golokku<BR>yang takkan mengenal ampun lagi."<BR>Laki-laki Jepang itu tertawa pendek, lalu menepuk dada dengan tangan kiri<BR>dan menepuk gagang pedangnya dengan tangan kanan "HuH, kiranya kalian<BR>ini hanya ular-ular tanah biasa. Wah, memang nasibku, jauh-jauh datang dari<BR>negeriku untuk mencari guru yang pandai di sini, kiranya yang kujumpai sama<BR>sekali bukan guru-guru pandai, melainkan penjahat-penjahat biadab. Eh, Lauw<BR>Teng, tentang menangkap aku menjadi tawanan mudah saja, akan tetapi<BR>katakan dulu siapakah wanita-wanita itu dan mengapa kau menculiknya?<BR>Seorang laki-laki harus berani mempertanggung jawabkan perbuatannya."<BR>Lauw Teng tertawa bergelak. Agaknya ucapan ini menggelikan hatinya. Dia<BR>mengangkat dada dan berkata, "Orang gila... dengarlah baik-baik. Memang<BR>pekerjaan kami adalah penjaga gunung dan hutan, akan tetapi bukanlah,<BR>tukang-tukang menculik gadis-gadis cantik. Ketahuilah, gadis-gadis ini akan<BR>kami bawa ke kota raja, karena kaisar baru sedang mengadakan pemilihan<BR>gadis-gadis cantik untuk menambah jumlah selir-selir barunya. Yang dengan<BR>suka rela hendak memasuki pemilihan itu tentu diangkut dengan tandu, akan<BR>tetapi gadis-gadis kepala batu yang menolak ini terpaksa kami belenggu dan<BR>kami bawa dengan paksa."<BR>Laki-laki itu menyumpah-nyumpah dalam bahasa Jepang, membanting kaki<BR>kanannya, lalu berkata, "Keparat.......... Kiranya di mana-mana sama saja.<BR>Orang-orang besar hanya memuaskan nafsu jahatnya, tenggelam dalam<BR>kemewahan dan kesenangan. Aha, penjahat-penjahat rendah. Untuk<BR>perbuatan kalian mencuri daging panggangku, aku mau memberi ampun. Akan<BR>tetapi untuk perbuatan menculik gadis itu, jangan harap aku dapat<BR>mengampuni kalau kalian tidak segera membebaskan mereka!"<BR>"Aduh...........!" Loan Ki baiknya dapat menahan jeritnya sambil menutup<BR>mulut dengan tangan. Ia tadi makan daging sambil seluruh perhatiannya<BR>tertuju ke bawah, amat kagum mendengar ucapan orang asing yang ternyata<BR>seorang Jepang itu. Begitu asyik ia mendengarkan sampai-sampai beberapa<BR>kali ia kena menggigit tulang paha, malah baru saja ia salah menggigit bibir<BR>sehingga tanpa terasa ia mengeluarkan keluhan mengaduh!<BR>"Huh, dasar daging curian, dimakan pun mendatangkan celaka!" gerutunya<BR>sambil melempar paha yang tinggal tulang-tulangnya saja itu. Bibirnya agak<BR>menyendol oleh gigitan tadi. Ia kini nongkrong di atas cabang dan mengintai<BR>terus, hatinya tertarik sekali dan kegembiraan memenuhi hatinya karena ia<BR>merasa yakin akan menyaksikan pertandingan yang menarik.<BR>Sementara itu, ketua Hui-houw-pang sebetulnya kagum melihat pemuda<BR>Jepang yang bertubuh kokoh kuat dan bersikap gagah itu. Diam-diam dia<BR>merasa sayang dan alangkah baiknya kalau dia dapat menarik orang ini<BR>menjadi anak buahnya, karena selain dia dapat menggunakan tenaganya, juga<BR>orang ini tentu akan dapat dijadikan perantara untuk berhubungan dengan<BR>para bajak Jepang yang terkenal itu untuk menambah kekuatan Hui-houwpang.<BR>Maka dia lalu berkata,<BR>"Orang muda Jepang, kau benar-benar sombong. Kalau kau hendak mencari<BR>guru, tak usah jauh-jauh, sekarang juga kau sudah berhadapan dengan<BR>seorang guru. Siapakah namamu dan kalau kau mau, aku suka menerima kau<BR>sebagai muridku."<BR>Pemuda itu mengerutkan alisnya yang tebal panjang berbentuk golok,<BR>memandang tajam. "Kau...........? Kepala tukang culik gadis menjadi guruku?<BR>Hemm, aku Nagai Ici di negeriku terkenal dengan julukan Samurai Merah!<BR>Orang yang patut menjadi guruku harus dapat mengalahkan pedang<BR>samuraiku lebih dulu!"<BR>"Buaya Jepang, jangan menjual lagak di sini!" bentak seorang anak buah Huihouw-<BR>pang yang menjadi kaki tangan Lauw Teng. Perampok itu bcrtubuh<BR>tinggi besar dan terkenal akan tenaganya yang seperti gajah. Melihat betapa<BR>seorang pemuda Jepang yang tubuhnya hanya sedang saja besarnya berani<BR>menghina dan menantang kepalanya, dia tak dapat menahan sabar lagi.<BR>"Pangcu (ketua), biarlah saya menghajarnya!"<BR>Lauw Teng menganggukkan kepala. Memang dia ingin menguji kepandaian<BR>orang Jepang ini agar dia dapat menilai sampai di mana kemampuannya.<BR>Pembantunya itu sambil berseru keras lalu menyerbu dengan tangan kosong,<BR>melakukan penyerangan dengan kedua lengannya yang besar dan kuat.<BR>Kepalan tangannya yang sebesar kepala orang itu menyambar, bertubi-tubi<BR>menghantam ke arah leher dan dada Nagai Ici.<BR>Nagai Ici yang berjuluk Samurai Merah itu seperti semua pendekar<BR>dinegerinya, sama pula dengan para pendekar di Tiongkok, tidak mau<BR>sembarangan menggunakan pedang kalau tidak terpaksa. Melihat datangnya<BR>penyerangan yang biarpun amat kuat namun lamban ini, dia bersikap tenangtenang<BR>saja. Begitu kepalan tangan itu menyambarnya, dia tidak mengelak<BR>mundur, malah melangkah maju sambil miringkan tubuhnya, lalu secepat kilat<BR>dari pinggir ia mencengkeram, sekaligus dia berhasil mencengkeram belakang<BR>siku kanan lawan dan belakang leher. Kakinya digeser memasuki<BR>selangkangan lawan, tubuhnya direndahkan dan...........sekali gentak tubuh<BR>yang tinggi besar dari lawannya itu terbang ke atas sampai tiga meter<BR>tingginya lalu terbanting roboh seperti pohon tumbang. Orang itu terbanting<BR>keras dan tidak mampu bangun kembali!<BR>Nagai Ici tersenyum mengejek. "Begini saya kemampuan orangmu? Hemmm,<BR>pantas pekerjaannya menculik gadis-gadis lemah!"<BR>Dari tempat yang tinggi di atas pohon Loan Ki menonton dengan penuh<BR>perhatian. Ia kagum karena ilmu gulat yang dipergunakan orang Jepang itu<BR>benar-benar cepat dan tangkas. Itulah ilmu yang mengandung tenaga<BR>Iweekang dengan cara meminjam tenaga lawan, sekali gentak dapat membikin<BR>lawan terlempar dan terbanting. Benar-benar cerdik sekali gerakan tadi dan ia<BR>dapat menduga bahwa menghadapi orang Jepang ini amatlah tidak baik kalau<BR>lawan sampai kena terpegang.<BR>Lauw Teng juga kagum dan gembira. Ternyata dugaannya tidak keliru. Orang<BR>muda Jepang ini kuat dan tangkas, cukup berharga untuk dijadikan<BR>pembantunya. Akan tetapi dia belum yakin betul, maka dia memberi tanda<BR>kepada tiga orang pembantunya untuk maju mengeroyok. Tiga orang<BR>pembantu ini meloncat ke depan dan menghunus golok mereka. Mereka ini<BR>adalah tiga orang yang boleh diandalkan karena termasuk murid-murid pilihan<BR>dari Lauw Teng yang sudah menerima pelajaran ilmu golok ketua Hui-houwpang<BR>itu,<BR>"Eh-eh, beginikah kegagahan Hui-houw-pang? Ha-ha, macan terbang macam<BR>apa ini, beraninya melakukan pengeroyokan?" Nagai Ici mengejek. Hui-houwpang<BR>berarti Perkumpulan Macan Terbang, maka ejekan ini benar-benar<BR>memanaskan hati orang-orang Hui-houw-pang. Akan tetapi Lauw Teng, yang<BR>mempunyai maksud menarik pemuda Jepang itu untuk memperkuat<BR>kedudukan perkumpulannya tidak marah melainkan menjawab,<BR>"Kau kalahkan dulu tiga orang pembantuku ini, kalau bisa mengalahkan<BR>mereka baru kau cukup berharga untuk melawanku." Dengan ucapan ini,<BR>sekaligus Lauw Teng menangkis ejekan itu dan malah mengangkat kedudukan<BR>dirinya sendiri.<BR>"Bagus! Majulah!" Nagai Ici menantang tiga orang perampok itu tanpa<BR>mencabut pedangnya, akan tetapi kuda-kudanya yang kokoh kuat<BR>membayangkan bahwa setiap saat ia siap mencabut senjata itu karena tangan<BR>kirinya dengan jari-jari terbuka berdiri lurus di depan dada sedangkan tangan<BR>kanannya melintang di pinggang mendekati gagang pedang.<BR>"Jepang sombong, cabut pedangmu!" bentak seorang di antara tiga pembantu<BR>Lauw Teng itu. Mereka ini terkenal sebagai tukang-tukang pukul ketua Huihouw-<BR>pang, ditakuti orang ilmu golok mereka, masa sekarang sekaligus maju<BR>bertiga menghadapi seorang Jepang yang bertangan kosong?<BR>"Heh, tidak biasa Samurai Merah diperintah orang untuk mencabut samurai<BR>atau tidak. Samurai dicabut untuk dipergunakan, bukan untuk pameran seperti<BR>golok kalian. Kalau saatnya tiba, tak usah kalian minta, samurai tentu akan<BR>kucabut dan kalau sudah begitu, menyesal pun kalian sudah terlambat!"<BR>Ucapan ini gagah dan tabah, akan tetapi juga memanaskan hati. Tiga orang itu<BR>menjadi marah sekali. Sambil berteriak memaki lalu menggerakkan golok<BR>masing-masing. Sinar golok berkilauan menyambar dan mengurung diri<BR>Samurai Merah. Pendekar muda dari Jepang itu berusaha untuk<BR>mempergunakan kegesitannya menghindar dan mencari kesempatan untuk<BR>menangkap lengan lawan. Akan tetapi diam-diam dia terkejut. Pendekar ini<BR>belum lama datang dari Jepang, belum banyak dia bertanding melawan jagojago<BR>silat di Tiongkok sehingga dia tidak begitu mengerti akan sifat ilmu silat<BR>yang asing baginya ini. Ilmu silat mengutamakan kecepatan, sama sekali tidak<BR>memberi kesempatan kepada lawan untuk balas menyerang. Apalagi ilmu<BR>golok adalah ilmu permainan senjata yang paling cepat gerakannya, yang<BR>mengutamakan bacokan, guratan dan tusukan sehingga mata golok yang amat<BR>tajam serta ujungnya yang runcing itu tiada hentinya menyambar mencari<BR>kulit dan daging lawan. Melihat betapa tiga batang golok itu rnengurungnya<BR>dari semua penjuru, sibuk jugalah Nagai Ici, Baiknya dia memang memiliki<BR>kegesitan yang luar biasa sehingga biarpun dia harus montang-manting,<BR>melejit dan berjumpalitan ke sana ke mari, dapat juga dia menyelamatkan<BR>dirinya. Dia berteriak keras dan tubuhnya mencelat lima meter jauhnya keluar<BR>dari kalangan pertempuran.<BR>Tiga orang pengeroyoknya mendapat hati, mengira bahwa jago Jepang itu<BR>terdesak dan ketakutan hingga melarikan diri. Sambil memaki dan tertawa<BR>mengejek ketiganya menyerbu sekaligus dan menghujani serangan kepada<BR>Nagai Ici Si Samurai Merah.<BR>Tiba-tiba terdengar pekik dahsyat dari mulut jago Jepang itu, pekik berbunyi<BR>"yaaaaat!" tiga kali disusul menyambarnya sinar kemerahan tiga kali pula.<BR>Terdengar pekik kesakitan, golok jatuh berdencing dan pertempuran kacaubalau.<BR>Ketika keadaan hening kembali, si jago muda dari Jepang itu sudah<BR>berdiri dengan kuda-kudanya yang gagah, yaitu kedua kaki dipentang lebar,<BR>tubuh merendah, tangan kiri diangkat tinggi di atas kepala dengan jari-jari<BR>terbuka lurus ke atas, tangan kanan di atas gagang pedang samurai yang<BR>ternyata kini telah bersarang kembali ke dalam sarung pedang di pinggangnya.<BR>Sepasang matanya yang tajam berkilau itu menyapu kanan kiri. Sikapnya<BR>garang dan gagah seperti seekor harimau menghadapi bahaya!<BR>Loan Ki kagum bukan main. Ini merupakan pemandangan baru baginya. Tiga<BR>orang pengeroyok tadi kini terhuyung-huyung ke belakang memegangi lengan<BR>kanan masing-masing yang sudah tidak bertangan lagi! Kiranya tangan kanan<BR>mereka sudah putus sebatas pergelangan dan jatuh berikut golok yang<BR>dipegangnya. Hebat sekali gerakan samurai tadi. Di samping kekagumannya,<BR>Loan Ki juga gembira sekaii. Selama hidupnya belum pernah ia menyaksikan<BR>sikap dan gerak-gerik seorang jago silat seperti orang itu. Setiap orang jago<BR>silat yang ia ketahui, mengandalkan kecepatan yang wajar, mengambil inti sari<BR>ilmu silat yang praktis dan langsung dipergunakan dalam pertandingan untuk<BR>mencapai kemenangan mendahului lawan. Akan tetapi jago Jepang ini lain<BR>lagi. Dia nampak tenang dan diam, seperti ayam jantan kalau lagi berlagak,<BR>diam tapi menanti saat untuk merobohkan lawan seperti yang dia perbuat tadi.<BR>Samurai telah dicabut dan benar seperti katanya tadi, sekali mencabut<BR>samurai pasti akan dipergunakan dengan hasil baik dan sekarang, sebelum<BR>pulih mata yang menjadi silau oleh kelebatan samurai, pedang itu sendiri telah<BR>bersarang kembali di tempatnya!<BR>Lauw Teng juga kagum dan biarpun tiga orang pembantunya menjadi orangorang<BR>tiada guna lagi karena tangan kanan mereka buntung. Namun dia tidak<BR>kehilangan kegembiraannya. Makin besar hasratnya menarik jago Jepang itu<BR>menjadi pembantunya, dan dia merasa bahwa dia takkan kalah dalam hal ilmu<BR>silat melawan jago Jepang ini.<BR>"Bagus, Nagai Ici. Kau benar-benar gagah perkasa. Makin suka aku untuk<BR>menerimamu sebagai murid atau pembantuku. Lebih baik kita sudahi saja<BR>pertentangan ini dan kau kuangkat menjadi pembantuku, juga muridku.<BR>Bagaimana?"<BR>Pandang mata Nagai Ici melayang ke arah lima orang gadis tawanan itu,<BR>mukanya menjadi merah dan dia berkata marah "Siapa sudi menjadi penculik<BR>gadis-gadis."<BR>Lauw Teng tersenyum, memberi isyarat kepada orang-orangnya. Lima orang<BR>gadis tawanan yang ternyata amat cantik-cantik itu digiring maju, juga dua<BR>orang memanggul dua buah peti kayu hitam. Lauw Teng menghampiri dua peti<BR>kayu itu, lalu dibukanya. Kiranya terisi barang-barang perhiasan terbuat<BR>daripada perak dan emas terhias batu-batu permata yang berkilauan!<BR>"Nagai Ici, kau lihat ini. Indah dan berharga sekali, bukan? Nah, dua peti<BR>benda berharga ini kuhadiahkan kepadamu kalau kau suka menjadi<BR>pembantuku dan seterusnya kau akan hidup dalam kemewahan!"<BR>Pemuda Jepang itu mendengus seperti kuda mencium asap. "Heh! Samurai<BR>Merah tidak tamak akan harta benda!" jawabnya dengan suara keren. "Lauw<BR>Teng, tidak perlu kau membujukku dengan pameran emas permata. Biar kau<BR>tambah sepuluh kali itu, aku tidak sudi!"<BR>Lauw Teng menutupkan kembali dua peti emas itu, lalu menarik tangan<BR>seorang gadis tawanan yang paling cantik di antara kelima orang gadis itu.<BR>Gadis ini masih muda, paling tua lima belas tahun usianya, tubuhnya ramping<BR>wajahnya cantik jelita. Sayang gadis itu nampak berduka, matanya sayu dan<BR>mukanya agak pucat, kain penutup leher terbuka sehingga terbayang kulit<BR>lehernya yang putih kuning berkulit halus.<BR>"Eh, Nagai Ici, kau lihat gadis ini. Cantik jelita dan molek! Pantas ia menjadi<BR>selir baru terkasih dari kaisar. Akan tetapi, biarlah kuberikan ia kepadamu!<BR>Atau, kau boleh pilih di antara mereka ini, biar kuberikan kepadamu asal kau<BR>suka membantu kami. Apa katamu? Kau gagah dan masih muda, patut<BR>mempunyai kekasih secantik ia ini, ha-ha-ha!"<BR>Sepasang mata pemuda Jepang itu memandangi gadis itu, dari atas ke bawah,<BR>lalu ke atas lagi untuk kemudian berhenti menatap. wajah gadis itu. Yang<BR>dipandang menunduk saja. Kemudian pandang mata Nagai Ici beralih kembali<BR>kepada Lauw Teng yang memandangnya dengan senyum penuh harap.<BR>"Lauw-pangcu, aku suka menjadi muridmu asal kau dapat memenuhi tiga<BR>macam syaratku."<BR>Lauw Teng sama sekali bukan terlalu ingin menarik pemuda Jepang itu sebagai<BR>murid. Maksud sebenarnya daripada keinginan hatinya ini berdasarkan kepada<BR>perhitungan agar melalui orang Jepang ini dia dapat mengadakan hubungan<BR>baik dan saling bantu dengan para bajak laut Jepang yang terkenal kuat.<BR>Hatinya tentu saja mendongkol sekali melihat sikap Nagai Ici yang demikian<BR>"jual mahal". Akan tetapi dia tersenyum dan menjawab.<BR>"Boleh........ boleh........, katakan apa syarat-syaratmu yang tiga itu."<BR>Loan Ki yang masih mengintai dan mendengarkan dari atas pohon, tertarik<BR>sekali dan alangkah kecewa, mendongkol dan marah hatinya ketika ia<BR>mendengar jawaban Nagai Ici yang mengemukakan syarat-syaratnya.<BR>"Syarat pertama, dua peti harta itu diberikan kepadaku..........."<BR>"Ha-ha-ha, boleh ....... boleh.......! Memang tadipun hendak kuberikan<BR>kepadamu!" jawab Lauw Teng sambil tertawa bergelak.<BR>"Syarat ke dua, lima orang nona itu semua diserahkan kepadaku..........."<BR>Sepasang mata Lauw Teng terbelalak melotot, kemudian dia tertawa<BR>berkakakan sampai perutnya yang gendut itu bergoyang-goyang. "...... ha-ha,<BR>ha-ha, waduh lahapnya! Lima sekaligus? Ha-ha, tak kusangka kau<BR>begini.......... begini.......... Ha-ha-ha-ha!"<BR>"Setuju tidak dengan syarat kedua ini?" desak Nagai Ici tanpa perdulikan<BR>kelakar orang. Wajahnya masih keren dan sikapnya sungguh-sungguh.<BR>"........... eeehmmm, sebetulnya susah........... mereka ini untuk<BR>kaisar............ tetapi biarlah, kami akan cari penggantinya. Nah, kau boleh<BR>ambil semua gadis ini, memang cantik-cantik mereka, masing-rnasing memiliki<BR>keindahan khas. Ha-ha, boleh kau ambil semua, Nagai Ici. Sekarang katakan,<BR>apa syarat ke tiga?"<BR>"Nanti dulu, aku akan membereskan yang sudah diberikan kepadaku," kata<BR>pemuda Jepang itu sambil tersenyum. Wajahnya yang gagah tampan itu<BR>berseri ketika dia menghampiri lima orang gadis tawanan itu. Gadis-gadis itu<BR>memandang kepadanya dengan pelbagai perasaan. Ada yang nampak girang<BR>penuh harapan, ada yang takut-takut, akan tetapi rata-rata mereka merasa<BR>lebih senang terjatuh kedalam tangan pemuda asing yang ganteng ini daripada<BR>berada di tangan para perampok yang kasar dan bermulut kotor itu.<BR>Loan Ki merasa mukanya panas dan dadanya penuh hawa amarah. Ingin ia<BR>meloncat turun dan menyerang orang Jepang yang tamak dan mata keranjang<BR>itu. Masa lima orang gadis dimintanya semua? Ini sudah keranjingan<BR>namanya! Akan tetapi ia menahan diri dan memandang terus, kali ini pandang<BR>matanya terhadap pemuda Jepang itu tidak bersinar kagum seperti tadi,<BR>melainkan bersinar panas berapi-api!<BR>Nagai Ici dengan muka berseri-seri dan mulut tersenyum mendekati gadis<BR>pertama, tangannya bergerak maju seperti orang hendak memeluk, mukanya<BR>mendekat seperti orang. hendak mencium! Gadis itu menjadi merah mukanya<BR>dan mundur selangkah, akan tetapi Nagal Ici maju terus dan di lain saat tali<BR>yang membelenggu kedua tangan gadis itu sudah putus oleh sekali renggutan<BR>tangan Nagai Ici yang amat kuat. Gadis itu tercengang, melihat kedua<BR>tangannya yang sudah bebas dan dengan bingung kini memandang pemuda<BR>asing yang sudah menghampiri gadis ke dua, melepaskan belenggu, lalu maju<BR>untuk menolong gadis-gadis yang lain. Setelah lima orang gadis itu bebas<BR>semua, dia mundur dan membungkuk dengan dalam di depan lima orang gadis<BR>itu yang kini hanya bisa berdiri melongo memandangnya dengan sinar mata<BR>bingung, heran, dan juga terima kasih bercampur keraguan.<BR>Jilid 15 : bagian 1<BR>Nagai Ici lalu menghampiri dua kotak tadi, membukanya dan mengambil<BR>perhiasan-perhiasan berharga itu, membagi-bagi kepada lima orang gadis tadi<BR>sekuat tenaga mereka membawa, malah dia bantu mengalung-ngalungkan<BR>perhiasan pada leher dan lengan mereka. Semua ini ditonton oleh Lauw Teng<BR>yang tertawa-tawa, juga para perampok tertawa-tawa karena merasa geli<BR>melihat tingkah laku pemuda Jepang yang agaknya hendak mengambil hati<BR>para gadis itu sebelum memaksa mereka menjadi selir-selirnya. Benar-benar<BR>seorang pemuda yang cerdik, pikir mereka. Hal pertama yang dilakukannya<BR>adalah membanjiri gadis-gadis itu dengan barang-barang hadiah untuk<BR>merebut hati dan kasih! Yang paling mendongkol adalah Loan Ki. Hatinya<BR>memaki-maki, "Laki-laki ceriwis! Pemuda gila perempuan! Si mata keranjang<BR>menyebalkan!"<BR>Akan tetapi semua orang menjadi terheran-heran, juga Loan Ki, ketika melihat<BR>Samurai Merah itu sekali lagi menjura dalam sampai kepalanya hampir<BR>menyentuh tanah di depan para gadis itu sambil berkata, "Sekarang, Nona<BR>sekalian silakan pulang ke rumah masing-masing. Kalian kubebaskan!"<BR>Lima orang gadis itu lebih heran dan bingung lagi, mereka saling pandang, tak<BR>kuasa mengeluarkan kata-kata saling terharu dan bingungnya, hanya nampak<BR>mereka menggeleng kepala, malah ada yang mulai menangis. Nagai Ici<BR>memandang dengan mata terbelalak, kemudian mengerutkan alisnya yang<BR>tebal, menggeleng-geleng kepala dan berkata,<BR>"Ah, agaknya Nona sekalian tidak berani pulang sendiri? Baiklah, silakan kalian<BR>mengaso di sana, di bawah pohon besar itu, biar aku menyelesaikan urusanku<BR>dengan orang-orang ini. Nanti saya yang akan mengantar Nona semua pulang<BR>ke kampung dan rumah masing-masing.<BR>Lima orang gadis itu menjadi girang sekali dan mulailah wajah mereka berseriseri<BR>dan senyum-senyum manis tersembul di balik keharuan dan air mata,<BR>menambah jelita wajah dara-dara muda itu. Dengan langkah halus dan gontai<BR>karena terlampau berat beban barang-barang berharga itu, mereka mentaati<BR>permintaan Nagai Ici dan pergi ke bawah pohon besar, lalu duduk bersimpuh<BR>di atas akar pohon. Loan Ki yang bersembunyi di atas pohon itu, diam-diam<BR>menjadi merah mukanya, malu kepada diri sendiri yang tadi memaki-maki<BR>pemuda Jepang itu dengan tuduhan yang bukan-bukan. Kini ia kembali<BR>mencurahkan perhatiannya kepada pendekar muda dari Jepang itu.<BR>Sementara itu, Lauw Teng mulai curiga dan marah. Dia melangkah maju,<BR>meraba gagang goloknya dan suaranya sudah kehilangan keramahannya<BR>ketika dia bertanya, "Nagai Ici, apa maksudmu dcngan semua ini? Jangan kau<BR>main-main denganku!"<BR>Dengan senyum mengejek pemuda Jepang itu membalikkan tubuh<BR>menghadapi ketua Hui-hauw-pang, membungkuk dengan caranya yang dalam<BR>pandangan Loan Ki amat lucu itu dan berkata, "Hui-houw-pangcu Lauw Teng.<BR>Kau menyanggupi syarat tiga macam, yang dua sudah kau penuhi, terima<BR>kasih. Tinggal sebuah syarat lagi, kalau ini kau penuhi, aku Nagai Ici Si<BR>Samurai Merah berjanji akan suka menjadi muridmu atau pembantumu."<BR>"Hemm, kau katakan lekas, apa syarat ke tiga itu?"<BR>"Kau dan anak buahmu bukanlah manusia baik-baik. Orang macam kau ini<BR>mana patut menjadi guruku? Andaikata kau sepuluh kali lebih pandai<BR>sekalipun, tidak sudi aku menjadi murid seorang penjahat keji yang suka<BR>menculik gadis dan merampok harta orang lain. Lauw Teng, dengarlah.<BR>Syaratku ketiga adalah kalau kau bisa menangkan samuraiku dan bisa<BR>memenggal batang leherku, baru aku suka menjadi murid atau pembantumu."<BR>Loan Ki di atas pohon terkikik menahan tawa. Geli hatinya melihat Lauw Teng<BR>si gendut yang menjadi melongo penuh amarah dan kecewa itu, di samping<BR>kegirangan hatinya bahwa pemuda Jepang yang menarik hati dan<BR>mengagumkannya itu ternyata benar seorang gagah yang hebat. Kembali ia<BR>bersiap sedia untuk membantu Samurai Merah itu andaikata terancam bahaya.<BR>Memang marah sekali Lauw Teng. Sambil berseru keras dia mencabut<BR>goloknya yang tajam berkilauan. "Bagus, kau Jepang keparat! Kalau kau ingin<BR>mampus, kenapa tidak sejak tadi bilang terus terang? Manusia tak tahu diri,<BR>diberi hati merogoh jantung, keparat!" Goloknya berkelebat dan dengan<BR>kemarahan meluap-luap ketua Hui-houw-pang itu menerjang Ici.<BR>Serangannya hebat dan dahsyat, golok menyambar menjadi kilat maut<BR>menyilaukan mata. Samurai Merah terkejut juga dan maklum bahwa kini dia<BR>menghadapi lawan yang pandai. Oleh karena itu ia pun tidak berani<BR>memandang ringan. Cepat dia melompat ke belakang sejauh dua meter dan<BR>tangannya meraih pinggang. "Srattt!" Sinar berkilau ketika samurai yang<BR>merupakan pedang panjang melengkung itu tercabut dari sarungnya.<BR>Loan Ki baru sekarang dapat melihat pedang itu dengan jelas. Ia kagum dan<BR>heran. Kagum karena sebagai puteri seorang pendekar pedang, tentu saja ia<BR>juga seorang ahli pedang dan tahu akan pedang-pedang baik. Biarpun hanya<BR>melihat dari tempat jauh, ia dapat menduga bahwa pedang aneh itu terbuat<BR>daripada bahan yang baik sekali. Bukan baja yang baik kalau tidak dapat<BR>mengeluarkan suara mengaung seperti itu ketika dicabut dari sarungnya.<BR>Pedang itu tajam seperti silet, bermata sebelah dan termasuk golongan<BR>pedang panjang. Akan tetapi karena agak melengkung, tentu cara<BR>memainkannya seperti orang bermain golok. Anehnya, gagangnya terlampau<BR>panjang sehingga ia meragu apakah dengan gagang pedang macam itu orang<BR>dapat bersilat dengan baik? Dengan hati berdebar ia melihat betapa pemuda<BR>Jepang itu sudah siap, memasang kuda-kuda yang amat teguh, tubuh<BR>merendah, mata tenang tajam memandang lawan dan........... kedua<BR>tangannya memegang gagang pedang itu. Hampir Loan Ki tertawa. Inilah<BR>aneh, pikirnya.<BR>Biarpun tadi sudah menyaksikan sendiri betapa lihainya Samurai Merah ini<BR>membabat buntung tangan ketiga orang pembantunya, namun melihat<BR>pasangan kuda-kuda Jago muda Jepang itu, Lauw Teng memandang rendah.<BR>Sambil membentak keras dia menerjang lagi, goloknya seperti baling-baling<BR>diputar makin lama makin cepat, merupakan gulungan sinar putih mengurung<BR>diri lawan.<BR>"Haiiiiit!" Samurai Merah mengayun samurai sambil meloncat. Terdengar suara<BR>nyaring disusul bunga api muncrat ketika dua senjata itu bertemu di udara.<BR>Diam-diam mereka memuji tenaga lawan yang dapat membuat tangan<BR>masing-masing bergetar. Namun Lauw Teng yang sudah banyak pengalaman<BR>itu terus menerjang, mempergunakan kegesitannya karena melihat betapa<BR>ilmu pedang lawan ini kurang gesit nampaknya.<BR>Dugaannya keliru. Biarpun gerak-geriknya kaku dan aneh, kiranya jago muda<BR>Jepang itu dapat mengimbangi permainannya, melompat-lompat dan seakanakan<BR>bukan dia yang mainkan pedang, melainkan pedangnya yang bergerakgerak<BR>dan membawa serta tubuhnya. Tubuh dan pedang seakan-akan menjadi<BR>satu ketika mencelat ke kanan kiri untuk menangkis dan balas membacok!<BR>Kalau sudah bersilat seperti itu, tidak banyak bedanya kedudukan tubuhnya<BR>dengan para ahli pedang di Tiongkok. Akan tetapi setiap kali ada kesempatan<BR>dan tidak terdesak, tentu dia akan berdiri tegak memasang kuda-kuda di atas<BR>tanah, diam tak bergerak bagaikan patung, hanya matanya yang liar bergerak<BR>bijinya mengikuti gerakan lawan sedangkan pedangnya yang dipegang dengan<BR>kedua tangan itu diacungkan ke depan dada, ujungnya mengikuti gerakan<BR>lawan pula.<BR>Loan Ki tertawa senang. Boleh juga bocah ini, pikirnya. Apalagi kalau sedang<BR>berdiri seperti itu mengikuti gerakan lawan, gagah juga!<BR>"Keparat, mampuslah!" teriak Lauw Teng yang sudah menerjang lagi, sejenak<BR>dia berhenti dan mengkal hatinya melihat lawannya seperti patung tidak balas<BR>menyerang atau lebih tepat, tidak mau mendahului menyerang itu. Akan tetapi<BR>kembali begitu dia menyerang, Samurai Merah itu selain menangkis dan<BR>mengelak, juga balas membacok. Bahkan kali ini tidak ada bacokan golok yang<BR>tidak dibalas. Setiap bacokan dibalas dengan bacokan pula sehingga<BR>pertandingan itu ramai bukan main. Seru dan setiap kali pedang atau golok<BR>berkilat, berarti tangan maut menjangkau mencari nyawa!<BR>"Aduh sayang..........." diam-diam Loan Ki menyesal melihat jalannya<BR>pertandingan seperti itu. "Ilmu pedangnya aneh dan boleh juga, tapi kenapa<BR>demikian lambat dan banyak membiarkan kesempatan lalu percuma? Kurang<BR>agresip, wah, sayang benar. Kalau lebih agresip sedikit saja, dalam belasan<BR>jurus si katak gendut itu tentu sudah dapat dikalahkan."<BR>Memang pendapat Loan Ki ini benar. Ilmu pedang Samurai Merah itu amat<BR>kuat dalam pertahanan, malah setiap bertahan selalu dirangkai dengan<BR>serangan balasan. Akan tetapi kurang cepat dan kurang agresip. Biasanya,<BR>pemain pedang malah menghujani serangan dengan maksud membuat lawan<BR>bingung dan lemah pertahanannya sehingga banyak terdapat lowonganlowongan<BR>untuk dimasuki. Akan tetapi, permainan pedang gaya Jepang ini<BR>agaknya hanya mencari lowongan di waktu lawan menyerang. Memang hal itu<BR>benar juga karena setiap penyerangan berarti membuka pintu pertahanan,<BR>namun karena dia sendiri sudah diserang, maka tentu saja penyerangan<BR>balasannya kurang kuat karena tidak dilakukan dengan tenaga dan perhatian<BR>sepenuhnya. Sebagian tenaga dan perhatian sudah dipakai untuk<BR>mempertahankan diri dari penyerangan lawan.<BR>Betapapun juga, lambat laun Samurai Merah dapat mendesak Lauw Teng.<BR>Memang harus diakui bahwa selain ilmu pedangnya aneh dan sukar diduga<BR>perkembangannya, juga pemuda ini menang gesit dan menang kuat. Kini<BR>penyerangan Lauw Teng makin lemah dan balasan dari Sarnurai Merah itu<BR>makin hebat. Malah setiap bacokan dibalas dengan dua tiga kali bacokan<BR>sekaligus yang membuat Lauw Teng kelabakan!<BR>Karena makin lama makin repot, timbul rasa takut di hati Lauw Teng sehingga<BR>ketua Hui-houw-pang yang amat terkenal di Propinsi Shan-tung sebagai<BR>perkumpulan perampok yang ganas ini mulai berteriak-teriak minta tolong dan<BR>bantuan dari anak buahnya! Inilah saat yang dinanti-nanti oleh para perampok<BR>itu. Semenjak tadi mereka sudah mendongkol dan marah sekali kepada<BR>pemuda yang agaknya akan diambil hatinya oleh ketua mereka. Mendengar<BR>teriakan sang ketua, mereka serentak lalu melakukan pengeroyokan dengan<BR>senjata di tangan.<BR>Samurai Merah tertawa bergelak, lalu mengamuk. Terdengar pekiknya yang<BR>dahsyat "Yaaaattt!" berkali-kali dan tiap kali dia memekik, tentu seorang di<BR>antara pengeroyoknya roboh mandi darah, dan selalu samurainya mendapat<BR>korban, membabat putus tangan, kaki, hidung, telinga, bahkan ada dua orang<BR>yang puntung lehernya! Pertempuran makin hebat mengerikan dan biarpun<BR>jago muda Jepang itu mengamuk seperti seekor harimau muda, menghadapi<BR>pengeroyokan para perampok yang nekat dan rata-rata memiliki kepandaian<BR>cukup tinggi itu, dia kewalahan juga.<BR>Loan Ki merasa sudah cukup lama menjadi penonton. Ia melayang turun dari<BR>atas cabang pohon, membuat lima orang gadis yang sudah ketakutan<BR>setengah mati menyaksikan orang-orang bertempur, darah muncrat dan tubuh<BR>luka-luka itu, kini kaget bukan main melihat betapa dari atas pohon tiba-tiba<BR>"terbang" seorang manusia melewati kepala mereka!<BR>"Hemmm, Lauw Teng perampok hina, masih beranikah kau menjual lagak<BR>mengandalkan pengeroyokan menghina orang?"<BR>Lauw Teng menengok dan wajahnya seketika rnenjadi pucat. Tentu saja dia<BR>mengenal gadis yang berdiri tegak dengan kedua tangan bertolak pinggang<BR>dengan sikap gagah itu. Siapa lagi kalau bukan dara lincah yang amat perkasa,<BR>yang pernah tanpa gentar merobohkan banyak anak buah Hui-houw-pang dan<BR>Kiang-liong-pang digabung menjadi satu. Apalagi kalau dia ingat bahwa<BR>munculnya gadis sakti ini mungkin sekali disusul oleh pendekar buta yang<BR>seperti iblis itu, hatinya sudah setengah membeku saking takut dan gentarnya.<BR>"Kawan-kawan.... mundur.....!" Dia memekikkan aba-aba ini sambil<BR>mendahului anak buahnya lari tunggang-langgang meninggalkan gelanggang<BR>pertempuran. Tentu saja para anak buahnya juga ketakutan melihat<BR>munculnya Loan Ki yang sudah mereka kenal kelihaian pedangnya. Jago muda<BR>Jepang itu saja sudah cukup berat dilawan, apalagi muncul dara hebat ini.<BR>Terjadilah perlombaan yang menarik, lomba lari tunggang-langgang bersicepat<BR>meninggalkan tempat itu tanpa perdulikan lagi teman-teman yang tewas atau<BR>terluka. Bahkan mereka yang terluka berusaha pula melarikan diri, biarpun<BR>mereka harus merangkak-rangkak dan terhuyung-huyung. Sebentar saja<BR>sunyilah di situ dan para penjahat yang tinggal hanyalah mereka yang sudah<BR>tewas, yaitu dua orang yang putus lehernya karena mereka ini tentu saja tidak<BR>mungkin dapat berlari lagi. Selain mayat dua orang penjahat ini, di situ<BR>berserakan pula potongan-potongan tangan, kaki, hidung, telinga dan ceceran<BR>darah. Mengerikan sekali!<BR>Sampai lama Nagai Ici berdiri melongo memandang Loan Ki yang tersenyum<BR>geli menyaksikan tingkah laku para perampok itu, Hampir saja jago muda dari<BR>Jepang ini tidak percaya akan pandangan mata sendiri dan pendengaran<BR>telinga sendiri. Mimpikah dia? Ataukah benar-benar dia melihat bidadari turun<BR>dari kahyangan dan begitu melihat bidadari ini para perampok yang ganas dan<BR>kejam itu lari tunggang-langgang ketakutan? Inilah hal aneh yang baru<BR>pertama kali selama hidupnya dia saksikan. Seorang dara jelita berpakaian<BR>seperti seorang pendekar, yang membawa-bawa pedang di pinggangnya, gadis<BR>cilik berusia belasan tahun, ditakuti kawanan perampok yang ganas dan<BR>kejam? Hampir Nagai Ici tertawa geli. Melihat lima orang gadis tawanan tadi,<BR>timbul kasihan di hatinya karena sifat mereka itu sama dengan wanita-wanita<BR>di negerinya, lemah-lembut dan tak berdaya membutuhkan pertolongan pria<BR>yang kuat. Akan tetapi dara muda ini, yang membawa-bawa pedang, sama<BR>sekali bukan membutuhkan perlindungan dan bantuannya, malah sebaliknya<BR>seperti membantunya karena kemunculannya mengusir para penjahat yang<BR>tadi sudah membuat dia kewalahan dan repot terdesak. Laki-laki atau<BR>perempuankah orang ini? Melihat sikap dan gerak-geriknya yang begitu gesit<BR>cekatan dan gagah, patutnya seorang pria. Akan tetapi melihat wajah yang<BR>begitu manis dan kulit yang begitu halus, bentuk tubuh yang begitu ramping<BR>dan padat tanpa otot-otot tentunya seorang wanita. Malah wanita yang cantik<BR>jelita, dengan mata seperti bintang kejora, pipi sehat kemerahan, mulut yang<BR>amat manis. Bukan main! Manusiakah atau bidadarikah?<BR>Setelah semua penjahat melarikan diri, tiba-tiba Loan Ki merasa seakan-akan<BR>ada sesuatu yang menarik dan memaksanya menoleh. Ia membalikkan tubuh<BR>memandang dan........... dua pasang mata saling pandang, dua sinar mata<BR>bertemu di udara dan seakan-akan mengandung besi sembrani, sinar mata itu<BR>bertaut dan saling tempel sukar dilepaskan lagi! Pandang mata sipemuda<BR>penuh keheranan, kekaguman, dan penghormatan. Pandang mata si pemudi<BR>penuh keramahan, pengertian, kegigihan dan setengah mengejek atau<BR>menantang! Bibir Loan Ki bergerak mengarah senyum, geli dan senang hatinya<BR>melihat betapa orang itu melongo seperti orang lupa ingatan, pedang bengkok<BR>itu masih dipegang dengan kedua tangan, kedua kaki masih memasang kudakuda<BR>yang lucu dan aneh itu. Alangkah bagusnya kalau orang itu menjadi<BR>patung dan dipasang di depan jalan masuk Pek-tiok-lim tempat tinggal<BR>ayahnya, pikir dara yang nakal ini dan pikirannya membuat senyumnya<BR>melebar sehingga berkilatlah deretan gigi putih. Agaknya kilauan gigi putih ini<BR>menyadarkan pula Nagai Ici yang terpesona itu. Dia menarik kedua kakinya,<BR>memasukkan pedang Samurai ke dalam sarung pedang, merangkap kedua<BR>tangan dalam bentuk sembah, ditempelkan di depan dada lalu dia<BR>membungkuk, dalam sekali sampai tubuhnya hampir berlipat dua. Makin geli<BR>hati Loan Ki menyaksikan penghormatan seperti ini, tapi sebagai seorang gadis<BR>ia membalas pula dengan mengangkat kedua tangan ke depan dada dalam<BR>bentuk kepalan, dan tubuhnya dibongkokkan sedikit dengan cara menekuk<BR>sedikit lutut kirinya.<BR>"Bolehkah hamba bertanya........... tuan ini siapakah? Manusia ataukah dewa?"<BR>tanya Nagai Ici dengan bahasanya yang kaku namun cukup jelas. Segera dia<BR>melengak kaget dan kembali melongo ketika melihat betapa mahluk yang<BR>disangkanya dewa itu tiba-tiba terkekah, tertawa geli sambil menutupi<BR>mulutnya dengan tangan, ciri kewanitaan yang berlaku juga di Jepang!<BR>"Hi-hi-hik....... aduh lucunya....... hi-hik, maafkan aku....... tak tahan aku.......<BR>ah, kau lucu sekali. Eh, Nagai Ici yang berjuluk Samurai Merah, pertanyaanmu<BR>tadi kukembalikan kepadamu, coba kau terka, aku ini manusia ataukah dewa?'<BR>Wah, jangan-jangan kau malah tidak tahu pula dari jenis apa aku ini, laki-laki<BR>ataukah perempuan..........."<BR>Merah seluruh muka Nagai Ici. Makin bingung dia. Juga makin heran dan<BR>kaget. Kalau disebut dewa, terang bukan karena ujudnya jelas manusia,<BR>menginjak tanah, tak bersayap, dan malah bau yang harum menyentuh<BR>hidungnya. Tetapi kalau dikatakan manusia, kenapa begini aneh dan datangdatang<BR>sudah kenal nama dan julukannya segala!<BR>"Saya....... saya tidak tahu....... eh, maksud saya....... tuan seperti<BR>manusia....... dan tentunya seorang wanita pula, tapi....... eh, kalau wanita<BR>masa ditakuti para perampok dan, kalau manusia, mana mungkin manusia<BR>wanita dapat meloncat turun dari atas pohon yang begitu tinggi? Dan<BR>tuan....... eh, sudah tahu akan nama saya pula..........."<BR>Kembali Loan Ki tertawa. "Nagai Ici, kau cukup gagah perkasa, akan tetapi<BR>sungguh amat bodoh. Sudah pasti aku manusia, dan sudah jelas aku bukan<BR>laki-laki, masa kau tidak dapat membedakan? Tentang namamu tentu saja aku<BR>tahu karena sudah sejak tadi aku mengintai dari atas pohon. Tentang meloncat<BR>turun dari pohon, apa sih sukarnya? Yang lebih tinggi lagi aku sanggup<BR>meloncati. Perkara perampok-perampok itu takut kepadaku, apa pula anehnya<BR>kalau mereka itu pernah kuhajar?"<BR>Kini pandang mata Nagai Ici berubah kagum, kagum bukan main karena baru<BR>pertama kali ini selama hidupnya dia menyaksikan seorang wanita yang begini<BR>perkasa.<BR>"Maaf, Nona....... wah, kau hebat sekali." Tiba-tiba pandang matanya berubah<BR>dan dia mendekat, matanya lekat-lekat memandang arah mulut Loan Ki.<BR>"Astaga! Jadi kau malah pencurinya??"<BR>Kini Loan Ki yang menjadi bingung dan heran, juga geli melihat tingkah orang<BR>Jepang yang aneh ini. Baru saja begitu ketakutan seakan-akan hendak<BR>berlutut menyembahnya karena mengira ia dewa, kemudian berubah kemalumaluan<BR>dan ramah, tetapi sekarang tiba-tiba seperti kurang ajar!<BR>"Apa maksudmu? Pencuri apa?" tanyanya dengan kening berkerut.<BR>Pemuda Jepang itu meloncat-loncat, kaki tangannya bergerak-gerak dan<BR>mukanya seperti orang marah, "Siapa lagi kalau bukan kau. Ya, kau<BR>pencurinya! Tak usah menyangkal, kau gadis nakal. Kau minta pun akan<BR>kuberi, kenapa mencuri? Hayo kau mengaku!"<BR>Loan Ki makin terheran dan makin lama ia makin marah. "Setan alas kau!<BR>Jangan kurang ajar, ya? Kau kira aku takut kepadamu?"<BR>Nagai Ici tersenyum mengejek. "Wah, ini mana bisa dibilang gagah kalau tidak<BR>berani mempertanggung jawabkan perbuatan sendiri? Sudah pandai mencuri,<BR>pandai berpura-pura dan menyangkal lagi. Hayo, di kanan kiri bibirmu yang<BR>merah itu masih berlepotan minyak, malah ujung hidungmu yang mancung<BR>itupun berminyak. Tak sempat kau mencucinya, ya? Wah, agaknya habis kau<BR>ganyang semua panggang paha macan punyaku tadi. Celaka!"<BR>Loan Ki melongo dan baru teringatlah ia akan perbuatannya yang nakal tadi,<BR>yaitu mencuri panggang paha macan orang yang sedang mandi. Mukanya tibatibaa<BR>menjndi merah seperti udang direbus dan otomatis tangan kirinya<BR>diangkat untuk menghapus bibirnya yang kiranya benar-benar penuh minyak!<BR>Wah, repotlah Loan Ki sekarang mengunakan kedua tangannya.<BR>Karena malu dan bingung, Loan Ki menjadi marah sekali. Dengan telunjuknya<BR>yang runcing ia menuding ke arah hidung Nagai Ici, pandang matanya melotot.<BR>"Setan kau! Berani kau memperolokku?"<BR>Nagai Ici tertama, tubuhnya bergerak-gerak. "Kau..... kau pencuri daging<BR>tukang nyolong!"<BR>Kemarahan Loan Ki bukan kepalang lagi, "Kau....... tikus, cacing, kadal,<BR>anjing, monyet, babi, kuda!" Ia memaki-maki sejadinya dan menyebut nama<BR>semua binatang. Paling akhir ia mencabut pedangnya dan menantang. "Hayo<BR>kita buktikan di antara kita siapa yang lebih gagah!"<BR>Memang inilah yang dikehendaki Samurai Merah. Begitu bertemu dengan dara<BR>ini, semangatnya langsung terbetot, perhatiannya tertarik, hatinya terpikat<BR>tanpa dia sadari lagi. Tadinya dia hampir percaya bahwa dara jelita dan gagah<BR>perkasa ini adalah sebangsa peri atau bidadari. Akan tetapi setelah "bidadari"<BR>itu bersuara, tahulah dia bahwa mahluk ini ternyata adalah seorang dara jelita<BR>yang wajar, seorang manusia yang hidup dan segar gembira lahir batinnya.<BR>Dia kagum bukan main dan melihat cara gadis ini tadi bergerak turun dari<BR>pohon, dia menduga bahwa tentu ilmu kepandaiannya juga hebat. Apalagi<BR>kalau diingat bahwa menurut kata gadis itu sendiri, para perampok jahat itu<BR>ketakutan kelihatnya karena pernah ia beri hajaran. Tentu saja hal ini dia<BR>sendiri tidak dapat begitu saja mempercayai. Inilah sebabnya, melihat bibir<BR>dan ujung hidung yang amat lucu indah itu berlepotan minyak, dia sengaja<BR>menuduh dan mengejek, dengan maksud membangkitkan amarah gadis itu<BR>dan mendapat alasan untuk menguji kepandaiannya. Dia kurang percaya kalau<BR>seorang gadis sehalus dan secantik ini, masih amat muda lagi, dapat "memberi<BR>hajaran" kepada seorang kepala penjahat seperti Lauw Teng dan anak<BR>buahnya. Akan tetapi sedikitnya dia dapat menduga bahwa gadis yang "besar<BR>mulut" ini tentu memiliki ilmu pedang yang lumayan, terbukti dari cara<BR>mencabut pedang yang cukup cepat dan cekatan itu. Maka dia tidak berani<BR>memandang rendah dan dia pun segera melolos pedang samurainya dari<BR>sarungnya.<BR>"Nona cilik......."<BR>"Jangan sebut-sebut nona cilik. Apa kau sudah tua bangka? Kau sendiri pun<BR>masih cilik, paling-paling hanya beberapa tahun lebih tua daripada aku.<BR>Lagaknya kaya orang tua saja!"<BR>Nagai Ici tertawa. Dia sebetulnya seorang yang berwatak pendiam dan serius<BR>(sungguh-sungguh), akan tetapi berhadapan dengan dara lincah seperti ini<BR>mau tak mau bangkit kegembiraannya, sepasang matanya yang biasanya<BR>tenang dan tajarn itu kini bersinar-sinar, wajahnya yang gagah tampan<BR>berseri-seri.<BR>"Hayo, kau mau bilang apa lekas bilang sebelum pedangku bicara, jangan<BR>cuma cengar-cengir seperti kunyuk mencium cuka!" Lokan Ki membentak lagi.<BR>Dasar gadis lucu jenaka, sedang marah pun lucu, sama sekali tidak membuat<BR>orang takut.<BR>"Nona....... besar, maksudku....... eh, apa perlunya "kita mengadu senjata?<BR>Senjata pedang adalah benda tajam yang berbahaya, bagaimana kalau sampai<BR>melanggar tubuh? Lebih baik kita mengadu kepandaian dengan tangan kosong<BR>saja."<BR>"Ihhh, siapa sudi? Tadi sudah kulihat bahwa hanya dengan pedangmu yang<BR>bengkok itu kau pandai berkelahi. Kalau bertangan kosong, kau hanya<BR>mengandalkan cengkeraman dan tangkapan. Mana aku sudi bersentuh tangan<BR>dengan kau? Hayo lekas serang dengan pedangmu!"<BR>Nagai Ici tetap ragu-ragu. Ia telah belasan tahun mempelajari ilmu pedang,<BR>dan selama ini samurainya amat ganas dan dikenal sebagai Samurai Merah.<BR>Ilmu pedangnya adalah ilmu pedang khusus untuk merobohkan lawan, begitu<BR>samurainya berkelebat, tentu membabat putus sesuatu. Mana dia tega melukai<BR>nona yang dia kagumi ini?<BR>"Wah, kenapa bengong saja? Apa kau kira aku takut melihat pedangmu yang<BR>bengkok dan jelek itu? Pedang apa itu, pantasnya untuk potong babi!"<BR>Diejek begini, panas juga hati Nagai Ici. Dia akan memperlihatkan<BR>kepandiannya dan tentu saja dia akan berhati-hati agar jangan sampai salah<BR>tangan melukai dara ini.<BR>"Hemmm, kau hendak mengenal Samurai Merah? Bersiaplah!" bentaknya.<BR>"Samurai Merah atau samurai belang bonteng, perduli apa aku? Hayo serang<BR>kalau berani, ngomong saja dari tadi kerjanya!" ejek Loan Ki. Ia sendiri<BR>memang berwatak aneh, mudah marah, mudah gembira, lebih banyak<BR>gembiranya daripada marahnya. Sekarang pun kemarahannya karena dimaki<BR>tukang nyolong tadi sudah mereda dan ia menghadapi pedang jago muda<BR>Jepang itu terutama sekali karena ingin menguji sampai di mana kehebatan<BR>ilmu pedang aneh itu.<BR>"Awas!" teriak Nagai Ici dan samurainya berkelebat membuat gerakan segitiga<BR>di depan tubuhnya. Indah gaya pertahanan pertama dan dia lalu diam tak<BR>bergerak, hanya biji matanya yang hidup meneliti setiap gerakan lawan,<BR>terutama gerakan kedua lengan.<BR>Loan Ki sudah tahu bahwa ilmu pedang orang ini memang aneh, sifatnya diam<BR>menanti serangan. Kalau ia pun diam menanti, agaknya mereka berdua akan<BR>berdiri berhadapan memasang kuda-kuda dan berdiam terus seperti patung<BR>sampai seorang di antara mereka kalah karena menjadi kesemutan akibat<BR>berdiri diam terlalu lama. Maka ia tidak sudi menjadi patung dan cepat<BR>bagaikan kilat menyambar, pedangnya berkelebat menjadi segunduk sinar<BR>menerjang maju.<BR>"Haaaaiiiiit!" Nagai Ici berseru keras saking kagetnya melihat betapa ujung<BR>pedang gadis itu seakan-akan berubah menjadi belasan batang, tergetar dan<BR>menerjang kepadanya secara aneh, sukar diduga ke arah mana ujung pedang<BR>itu akan menusuk! Dia segera, memutar samurainya sekuat tenaga,<BR>membabat ke arah bayangan ujung-ujung pedang itu dengan maksud<BR>mempergunakan tenaganya untuk menghantam pedang gadis itu agar terlepas<BR>dari pegangan.<BR>"Wuuuuuttttt!" Samurainya yang berat, tajam dan bergerak cepat itu ternyata<BR>hanya menghantam angin belaka karena secara tiba-tiba belasan ujung<BR>pedang lawan itu sudah lenyap dan kembali berubah menjadi segundukan<BR>sinar pedang menyerangnya, kini dari kanan kiri atas bawah tak tentu ujung<BR>pangkalnya.<BR>"Bagus...........!" Mau tak mau Nagai Ici berseru memuji. Inilah hebat,<BR>pikirnya. Ilmu pedang yang luar biasa, jauh lebih hebat daripada ilmu golok<BR>ketua Hui-houw-pang tadi. Maklumlah dia bahwa gadis itu benar-benar bukan<BR>hanya mempunyai ilmu "gertak sambal" belaka, melainkan benar-benar<BR>seorang gadis muda yang "berisi", yaitu yang memiliki kepandaian tinggi.<BR>Makin gembiralah hatinya dari berkurang keraguannya karena kini dia tidak<BR>takut lagi untuk salah tangan sebab maklum bahwa gadis itu cukup mampu<BR>menjaga diri. Cepat dia memutar samurainya dan sinar pedang samurai itu<BR>berkilat-kilat menyambar ke arah gulungan sinar pedang Loan Ki.<BR>Dari angin sambaran pedang samurai, Loan Ki maklum bahwa orang muda itu<BR>memiliki tenaga gwakang (tenaga luar) yang amat kuat, maka ia tidak berani<BR>mengadu pedang, kuatir kalau-kalau pedangnya akan rusak bertemu dengan<BR>samurai yang digerakkan oleh tenaga gajah itu. Ia mempergunakan<BR>kegesitannya dan bersilat dengan Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut yang luar<BR>biasa. Gerakannya indah dan lemah lembut, seperti seorang bidadari<BR>kahyangan tengah menari, pinggangnya yang ramping bergerak-gerak lemas,<BR>lehernya ikut pula bergerak-gerak, langkahnya berlenggang-lenggok dan untuk<BR>melengkapi ilmu pedang ini yang memang mengharuskannya sebagai taktik, ia<BR>tersenyum-senyum dan mengerling dengan amat manis dan ayunya. Memang<BR>dahulu pencipta ilmu pedang ini, yaitu Si Pendekar Baju Merah Ang I Niocu,<BR>sengaja menciptakan ilmu pedang yang luar biasa untuk mengalahkan lawanlawan<BR>berat. Bentuk tarian indah gemulai disertai senyum dikulum dan kerling<BR>memikat sesuai dengan wajah yang cantik jelita, semata-mata adalah taktik<BR>untuk mengacaukan konsentrasi (pemusatan pikiran) dan melemahkan daya<BR>tempur lawan.<BR>Tentu saja Nagai Ici melihat ini semua dan hatinya berdebar tidak karuan.<BR>Bukan main indahnya ilmu pedang yang seperti tarian itu dan wajah gadis<BR>lincah itu makin lama makin cantik menarik. Akan tetapi pemuda Jepang ini<BR>bukanlah seorang manusia biasa yang mudah lumpuh oleh kecantikan wanita.<BR>Semenjak kecil dia sudah digembleng oleh seorang daimyo (pendekar<BR>bernama besar) yang sakti, tidak saja diwarisi ilmu bermain samurai yang<BR>ampuh, juga sudah digembleng memperkuat batin dengan cara bersamadhi<BR>dan menyatukan pikiran. Oleh karena ini, biarpun dia amat tertarik dan kagum<BR>melihat lawannya, dia segera dapat menekan perasaannya dan memperhebat<BR>gerakan samurainya, malah kini dia menguras semua jurus pilihan dan yang<BR>paling rahasia dari ilmu pedangnya untuk menghadapi ilmu pedang lawan yang<BR>kelemah-gemulai namun mengandung daya serangan yang amat dahsyat.<BR>Diam-diam Loan Ki kagum juga. ilmu silat aneh dengan pedang aneh pula ini<BR>kiranya setelah bergebrak, tidaklah selambat yang ia duga. Pertahanannya<BR>kokoh kuat dan biarpun serangannya tidak terlalu sering, namun tiap kali<BR>menyerang laksana kilat menyambar dari udara cerah. Inilah inti ilmu pedang<BR>lawannya dan inilah yang membuat berkali-kali samurainya itu berhasil tiap<BR>kali berkelebat. Kiranya memang mengandung gerakan menyerang<BR>tersembunyi seperti kilat yang menyambar dari angkasa yang sehingga sama<BR>sekali tidak tersangka-sangka datangnya. Iapun merasa malu kalau sampai<BR>kalah, maka ia mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua<BR>simpanan jurus ilmu pedangnya.<BR>Hebat bukan main pertandingan itu. Jauh lebih hebat daripada tadi. Akan<BR>tetapi sekarang tidak nampak mengerikan sehingga lima orang gadis tawanan<BR>itu yang sejak tadi melongo dan terheran-heran, sekarang pada berdiri<BR>menonton dengan kagum. Bagi mereka yang tidak mengerti ilmu silat,<BR>kelihatannya dua orang muda itu seperti sedang menari-nari secara indah dan<BR>aneh. Pedang dan samurai itu lenyap dari pandangan mata mereka, yang<BR>tampak hanyalah segulung sinar pedang seperti awan putih bergerak-gerak,<BR>dibarengi melesatnya sinar seperti kilat menyambari awan itu!<BR>Jilid 15 : bagian 2<BR>Seratus jurus lebih mereka bertanding, hampir satu jam lamanya. Mereka<BR>berdua sudah gobyos (bermandi peluh) dan sudah mulai lelah karena dalam<BR>pertandingan itu mereka mempergunakan semua tenaga dan kepandaian.<BR>Loan Ki mulai penasaran dan tidak sabar. Ia menanti kesempatan baik dan<BR>tiba-tiba dengan pengerahan tenaga Iweekangnya ia menghantam samurai<BR>lawan sekuatnya.<BR>"Tranggggg!!" Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika dua batang pedang<BR>itu bertemu dengan amat kerasnya. Nagai Ici mengeluarkan suara keras<BR>seperti harimau menggereng dan tubuhnya terhuyung mundur tiga langkah.<BR>Loan Ki sendiri tergetar telapak tangannya dan cepat ia memindahkan pedang<BR>pada tangan kirinya. Karena ia sempat melompat kesamping, maka ia tidak<BR>sampai terhuyung seperti lawannya.<BR>Keduanya memeriksa pedang, kemudian saling pandang dengan napas<BR>terengah-engah. Nagai Ici tertawa lebih dulu, kagumnya bukan kepalang, akan<BR>tetapi dia juga puas dan bangga karena betapapun juga, gadis luar biasa itu<BR>sudah berkenalan dengan samurainya yang lihai.<BR>"Hek-heh, kau benar hebat, Nona. Selama hidupku baru kali ini aku melihat<BR>seorang gadis muda yang begini hebat. Sebelum ini, mendengar pun belum<BR>pernah. Ilmu pedangmu luar biasa, kepandaianmu hebat. Akan tetapi,<BR>betapapun juga kau takkan mampu mengalahkan aku."<BR>"Ih, sombongnya! Baru mengandalkan pedang bengkok itu saja sudah berani<BR>membuka mulut besar. Kau tidak merasa bahwa aku tadi sengaja mengalah<BR>mengingat bahwa kau orang asing? Huh, benar-benar tak punya perasaan dan<BR>tidak malu. Pedang bengkokmu itu siapa sih yang takut? Kalau mau, dalam<BR>segebrakan aku sanggup membikin putus lehermu, tahu?"<BR>"Ha-ha-ha, Nona benar-benar pandai berkelakar! Sudah jelas kita bertanding<BR>sampai mandi keringat belum ada yang terluka, belum ada yang kalah atau<BR>menang, bagaimana kau bisa bilang dalam segebrakan dapat memenggal<BR>leherku? Ha-ha-ha, lucu!"<BR>"Hemm, dasar tak tahu malu, tak berperasaan. Kau mau bukti?"<BR>Tentu saja Nagai Ici tidak percaya, dia merasa penasaran sekali. Dia, Samurai<BR>Merah yang di Jepang sudah terkenal sekali, mana mungkin dalam segebrakan<BR>saja terpenggal lehernya oleh seorang gadis cilik?<BR>"Boleh! Kau buktikanlah dan coba kau penggal leherku, tidak dalam<BR>segebrakan, malah dalam seribu gebrakan sekalipun boleh!" dia menantang<BR>dan sengaja dia mengulur lehernya.<BR>"Huh, kau kira aku algojo?" Loan Ki mendengus marah. "Biarpun kau kurang<BR>ajar setengah mati, tadi kau menentang penjahat, berarti kau bukan penjahat.<BR>Aku tidak biasa membunuh orang yang bukan penjahat. Tetapi aku bisa<BR>buktikan , bahwa aku seribu kali lebih pandai daripadamu dan bahwa tadi aku<BR>sengaja mengalah, hanya kau yang buta perasaan tidak tahu diri."<BR>"Heh-heh, kau tekebur sekali. Bagaimana kau akan membuktikan?"<BR>"Kau boleh gunakan pedang bengkok pemotong babi itu untuk melawan aku<BR>yang akan melayanimu dengan bertangan kosong!" Loan Ki tersenyum<BR>mengejek dan tanpa perdulikan wajah lawan yang kelihatan kaget itu ia<BR>menyambung, "Lebih dari itu malah, dengar wahai kadal, kuda, babi! Tidak<BR>saja aku melayani pedang bengkokmu itu dengan tangan kosong, juga aku<BR>akan membiarkan kau menyerang sesukamu tanpa membalas. Kalau aku<BR>membalas sekali pukulan saja boleh dianggap kalah!"<BR>Nagai Ici melengak. Benar-benar terlalu gadis liar ini, pikirnya dengan perut<BR>terasa panas. Menghina orang tanpa takaran. Mana ada aturan seperti ini?<BR>Seorang jantan tulen seperti dia menyerang seorang gadis bertangan kosong<BR>menggunakan samurai? Dan gadis itu malah tidak akan membalas sama<BR>sekali? Waduh, dia dianggap anak kecil yang masih ingusan saja oleh gadis<BR>nakal itu keparat!<BR>"Nona, apakah otakmu waras?"<BR>Kini Loan Ki yang melengak, lalu membanting-banting kaki tanda marah. "Kau<BR>yang edan! Kau yang gila, gendeng dan miring otakmu!" Ia memaki-maki<BR>marah lagi sejadi-jadinya asal hatinya yang mengkal dapat merasa "plong".<BR>Melihat sikap yang sungguh-sungguh itu, mulai meragulah hati Nagai Ici. Siapa<BR>tahu gadis ini bicara sungguh-sungguh? Wah, hebat kalau begitu.<BR>"Nona, begini saja sekarang. Bukan watakku untuk menyerang seorang lawan,<BR>apalagi seorang gadis seperti kau, menggunakan samurai sedangkan yang<BR>kuserang bertangan kosong dan tidak akan membalas. Sekarang begini saja,<BR>aku menerima tantanganmu tapi caranya begini. Aku akan menyerangmu<BR>selama tiga jurus dan aku tanggung dalam tiga jurus itu, aku akan dapat<BR>memilih dengan samuraiku satu di antara empat macam benda di tubuhmu,<BR>yaitu pertama pita rambutmu, ke dua ujung ikat pinggangmu, ke tiga ujung<BR>ronce pedangmu dan ke empat ujung lengan bajumu. Dalam tiga jurus saja<BR>pasti sebuah di antara yang empat tadi dapat kubabat putus, malah mungkin<BR>lebih dari satu atau keempatnya sekaligus! Tapi kalau hal ini terjadi, kau harus<BR>menyatakan bahwa aku tidak kalah olehmu dan bahwa kepandaianku tidak<BR>berada di bawah kepandaianmu. Nah, bukankah ini adil namanya!"<BR>Loan Ki mengernyitkan hidungnya, ditarik ke atas ujung hidungnya sehingga<BR>nampak lucu sekali. "Aduh-aduh, sombongnya! Tiga jurus katamu? Jadikan<BR>tiga puluh jurus baru aku sudi melayani. Nah, tiga puluh jurus kau boleh<BR>menyerangku dengan pedang pemotong babi itu, kalau dapat kau tabas sedikit<BR>saja sebuah di antara yang empat itu, biarlah aku mengaku kalah. Akan tetapi<BR>kalau dalam tiga puluh jurus tak berhasil bagaimana?"<BR>"Tiga puluh jurus? Tidak berhasil? Tak mungkin!"<BR>"Janji tinggal janji, jangan menyombong dulu. Wah laki-laki kok ceriwis amat,<BR>bicara saja!"<BR>"Biarlah aku berjanji, kalau dalam tiga puluh jurus pedangku ini tidak berhasil<BR>membabat putus sebuah di antara empat benda tadi, biarlah aku mengangkat<BR>kau menjadi guruku!"<BR>"Hi-hik, punya murid macam kau bikin repot saja! Kau berjanji akan merubah<BR>sikapmu, tidak ceriwis dan cerewet lagi dan akan taat dan menuruti segala<BR>perintahku, bersedia menjadi bujang atau pelayanku?"<BR>Merah wajah Nagai Ici. Inilah penghinaan besar. Akan tetapi dia yakin bahwa<BR>dia tak mungkin kalah dalam taruhan ini. Andaikata dia kalah, hal itu berarti<BR>bahwa gadis ini benar-benar seorang dewi yang sakti, lebih sakti daripada<BR>gurunya di Jepang, maka sudah sepatutnya kalau dia angkat menjadi gurunya<BR>yang baru dan sebagai murid, tentu saja dia harus mentaati gurunya dan rela<BR>mengabdi dan menjadi pelayan.<BR>"Baik, aku berjanji!" Dia berkata sambil mengacungkan samurainya ke atas di<BR>depan dahi sebagai tanda sumpah.<BR>"Nah, mulai seranglah!" seru Loan Ki setelah menyimpan pedangnya. Sengaja<BR>ia miringkan tubuh melambai-lambaikan ujung lengan baju, ikat pinggang, pita<BR>rambut dan ronce pedangnya agar mudah dibabat pedang lawan! Melihat ini,<BR>Nagai Ici berseru keras lalu mulai menyerang. Samurainya berkilat<BR>menyambar, kemerahan dan dengan kecepatan yang dahsyat.<BR>Namun tiba-tiba jago muda Jepang itu berseru terheran-heran. Dia melihat<BR>betapa gadis itu kini bergerak amat aneh, jauh bedanya dengan gerakan tadi<BR>ketika melawannya dengan pedang. Tadi gadis itu gerakannya lemah gemulai,<BR>seperti seorang penari dari surga, begitu indah menarik. Sekarang, gadis itu<BR>melangkah ke sana ke mari dengan kaku dan aneh, terhuyung-huyung dan<BR>meloncat-loncat sambil jongkok berdiri tidak karuan, tubuhnya ditekuk ke sana<BR>ke mari, miring ke kanan kiri depan belakang. Pendeknya gerakan gadis itu<BR>sekarang amatlah buruk dilihat seperti gerakan orang mabuk. Akan tetapi<BR>hebatnya, semua sambaran samurainya mengenai angin belaka dan betapapun<BR>cepat dan kuat dia menerjang, dia seakan-akan menghadapi dan menyerang<BR>bayangannya sendiri.<BR>Tentu saja jago muda Jepang ini tidak pernah mimpi bahwa gadis itu sekarang<BR>menggunakan langkah ajaib dari Ilmu Silat Kim-tiauw-kun, ilmu yang<BR>tergolong di deretan paling tinggi di dunia persilatan. Inilah ilmu langkah ajaib<BR>yang diberi nama Hui-thian-jip-te (Terbang ke Langit Ambles ke Bumi) dan<BR>yang dipelajari oleh Loan Ki dari Si Pendekar Buta Kwa Kun Hong! Kiranya<BR>karena memiliki modal ilmu ini maka Loan Ki berani menantang dan<BR>bersombong di depan Samurai Merah itu.<BR>Tadi ia telah mengerahkan seluruh kepandaiannya, namun ia maklum bahwa<BR>untuk merobohkan lawan tangguh ini, bukanlah hal mudah baginya. Akan<BR>tetapi sebaliknya, Samurai Merah juga takkan mungkin dapat merobohkannya,<BR>apalagi kalau ia menggunakan Hui-thian-jip-te untuk menyelamatkan diri.<BR>Makin lama Nagai Ici menjadi makin penasaran. Dia bertekad mencapai<BR>kemenangan, mengeluarkan pekiknya yang dahsyat, samurainya menyambarnyambar<BR>laksana naga sakti mengamuk, namun hanya tampaknya saja<BR>samurainya hampir mengenai sasaran, kenyataannya selalu hanya berhasil<BR>membacok angin kosong. Setelah belasan kali serangannya tidak berhasil,<BR>mulailah dia merasa kaget, heran, dan kagum, malah kemudian bulu<BR>tengkuknya berdiri meremang saking ngerinya melihat betapa dengan<BR>berjongkok dan melompat-lompat seperti katak atau seperti seorang anak<BR>kecil bermain-main, gadis itu dengan mudah sekali menghindarkan diri dari<BR>sambaran samurainya! Ilmu ibliskah yang dipergunakan gadis ini?<BR>Tiga puluh jurus lewat dan jangankan samurai itu mengenai sasaran. Mencium<BR>sedikit pun tak pernah. Nagai Ici adalah seorang laki-laki sejati. Tepat setelah<BR>jurus ke tiga puluh lewat tanpa hasil, dia lalu menghentikan serangannya,<BR>melempar samurainya ke atas tanah lalu menjatuhkan diri berlutut di depan<BR>Loan Ki dan berkata, "Mulai saat ini murid mentaati segala petunjuk dan<BR>perintah Guru."<BR>Terbelalak mata Loan Ki memandang. Tapi yang dipandangnya tetap berlutut<BR>dengan kepala tunduk sehingga yang tampak olehnya hanya rambut hitam<BR>digelung ke atas itu. Inilah sama sekali tak pernah diduganya! Sama sekali ia<BR>tidak pernah mengira bahwa pemuda ini benar-benar hendak memenuhi<BR>janjinya dan mengangkatnya sebagai guru!<BR>"Gila!" teriaknya. "Siapa sudi menjadi gurumu? Kalau kau muridku, berarti aku<BR>gurumu dan kau akan menyebut ibu guru kepadaku? Setan, jangan kau<BR>menghina, ya? Aku belum tua, lebih muda daripadamu, mana bisa menjadi<BR>guru orang dewasa?"<BR>Nagai Ici mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat dalam<BR>keadaan masih berlutut. "Saya sudah menikmati kehebatan ilmu kepandaian<BR>Guru dan sudah kalah janji. Terserah bagaimana kehendak Guru, murid hanya<BR>akan menurut dan mentaati."<BR>"Baik, kalau begitu dengarkan perintahku. Pertama, kau tak boleh berlutut,<BR>hayo lekas berdiri. Aku bukan ratu, bukan pula puteri istana dan kau lebih tua<BR>daripadaku. Bisa kualat aku kalau kau sembah-sembah. Berdirilah!"<BR>Nagai Ici bangkit berdiri dengan sikap hormat.<BR>"Nah, sekarang dengarkan perintahku selanjutnya. Namaku Loan Ki, Tan Loan<BR>Ki dan di dunia kang-ouw aku diberi julukan Bi-yan-cu (Si Walet Jelita). Kau<BR>tak boleh menyebut aku ibu guru, sebut saja namaku. Aku pun akan<BR>menyebutmu Nagai Ici begitu saja. Mengerti!"<BR>Nagai Ici mengangguk, di dalam hatinya bingung dan juga geli melihat sikap<BR>gadis yang luar biasa dan yang sekaligus meruntuhkan hatinya ini, Juga lima<BR>orang gadis tawanan yang sejak tadi menonton, diam-diam saling pandang<BR>dan tersenyum simpul.<BR>"Sekarang tugasmu yang pertama adalah membantuku mengantar para gadis<BR>tawanan itu pulang ke kampung masing-masing."<BR>"Baik, Nona. Tapi........... izinkanlah murid mengubur..........."<BR>Berhenti Nagai Ici ketika melihat betapa Loan Ki melotot rnarah, "Mengapa<BR>mesti menyebut diri sendiri murid? Aku bukan gurumu! Bilang saja aku, habis<BR>perkara!"<BR>"Maaf, aku....... aku akan mengubur mayat-mayat itu lebih dulu......."<BR>Loan Ki mengangguk. Hatinya setuju dan diam-diam ia memuji pribadi orang<BR>ini, akan tetapi mulutnya mengomel. "Manusia jahat seperti binatang,<BR>mayatnya sama pula dengan bangkai, perlu apa banyak rewel? Hayo lekas,<BR>cepat saja kubur jangan biarkan aku terlalu lama menunggu."<BR>Nagai Ici tersenyum dan cepat-cepat dia menggali lubang untuk mengubur<BR>mayat-mayat para penjahat yang menjadi korban samurainya tadi. Adapun<BR>Loan Ki mendekati para gadis tawanan yang menyambutnya penuh hormat.<BR>Dengan terharu mereka menjawab pertanyaan Loan Ki tentang kampung<BR>halaman mereka dan tentang pengalaman mereka diculik oleh para penjahat<BR>Hui-houw-pang untuk dibawa secara paksa ke kota raja. Mereka ini kiranya<BR>adalah gadis-gadis yang tinggal di kampung dekat Sungai Kuning, anak dari<BR>para petani. Memang mereka cantik-cantik karena memang mereka adalah<BR>kembang yang paling cantik di dalam dusun masing-masing. Menurut<BR>penuturan mereka, sudah terlalu sering terjadi perampokan gadis-gadis ini,<BR>baik oleh orang-orang Hui-houw-pang maupun oleh para bajak Kiang-liongpang<BR>atau para penjahat lain yang berusaha untuk mengeduk keuntungan<BR>sebesar-besarnya atau mencari muka baik dari kaisar baru dan para pejabat<BR>tinggi di kota raja yang akan menyambut gembira persembahan berupa gadisgadis<BR>cantik itu.<BR>Loan Ki mendengarkan dengan hati sakit. Ia seorang gadis berjiwa sederhana<BR>yang tidak mengerti tentang tata negara, tidak tahu-menahu akan keadaan di<BR>kota raja dan tentang kehidupan para pembesar. Akan tetapi, mendengar<BR>penuturan yang disertai cucuran air mata oleh para gadis itu, pendekar wanita<BR>ini menggertak gigi dan menyatakan kebenciannya terhadap kaisar baru dan<BR>para kaki tangannya dengan memaki-maki sejadinya.<BR>Memang, amat menyedihkan kalau dalam sebuah negara, para pembesar yang<BR>oleh rakyat dianggap pemimpin, melakukan penyelewengan-penyelewengan<BR>dan hanya mementingkan kesenangan pribadi saja. Sudah terlampau banyak<BR>contoh terdapat dalam sejarah kuno betapa kaum ningrat, kaum berkuasa<BR>yang memegang tampuk pemerintahan, selalu mabuk akan kekuasaan dan<BR>apabila kekuasaan sudah berada di tangan, dimabuk segala macam<BR>kemaksiatan! Mengapa begini?<BR>Mengapa banyak sekali terjadi contoh-contoh menyolok, di mana bekas-bekas<BR>pejuang yang dahulu ikut berjuang menumbangkan kekuasaan Mongol, yang<BR>dahulu benar-benar menjadi seorang ksatria yang rela dan siap mengorbankan<BR>nyawa guna tanah air dan bangsa, setelah perjuangan berhasil dan dia<BR>mendapat kedudukan, lalu berubah tabiatnya seperti bumi dengan langit,<BR>berubah menjadi ningrat atau pembesar yang menimbun diri dengan<BR>perbuatan maksiat? Mengapa terjadi ini semua?<BR>Jawaban satu-satunya kiranya hanya terletak pada diri pribadi masing-masing!<BR>Kemaksiatan timbul karena dorongan nafsu yang tak dapat dikekang dan yang<BR>memaksa manusianya melaksanakan dorongannya. Ini hanya dapat terjadi<BR>kalau si manusia itu lemah batinnya, lemah pertahanan di dalam hatinya<BR>sehingga tidak kuat menghadapi penyerbuan nafsu-nafsu yang laksana iblis<BR>setiap saat mendobrak pertahanan batin manusia. Kekuatan batin melemah<BR>karena pengaruh keadaan sekeliling, karena keadaan ling kungan hidupnya,<BR>karena contoh-contoh hidup yang diperlihatkan atasannya. Kalau atasannya<BR>mabuk kedudukan, bawahannya pun tentu demikian. Kalau atasannya mabuk<BR>wanita, bawahannya pun takkan berbeda jauh dan demikian selanjutnya.<BR>Bagaimana akibatnya kalau para ningrat dan pembesar sudah tenggelam ke<BR>dalam gelombang perbuatan maksiat? Celakalah! Negara akan menjadi lemah,<BR>rakyat akan menjadi sengsara. Tanda-tanda tentang keadaan para pembesar<BR>yang demikian itu, selalu dapat dilihat dari keadaan di kota raja. Apabila<BR>seorang pembesar, baik dia berkedudukan tinggi sekali ataupun hanya<BR>rendahan, tenggelam dan mabuk akan kemewahan, itulah tanda bahwa<BR>pertahanan batinnya menjadi lemah dan dia akan mudah tergelincir ke dalam<BR>tindakan maksiat. Dan segala macam tindakan maksiat di dunia ini mempunyai<BR>pengaruh seperti madat. Diberi satu ingin dua, mendapat dua ingin empat dan<BR>seterusnya, tak kenal puas tak kenal kenyang. Sekali seorang manusia mabuk<BR>akan kedudukan, biar dia sudah menjadi kaisar sekalipun, dia akan merasa tak<BR>puas dan iri melihat kaisar-kaisar di negara lain yang lebih besar<BR>kedudukannya, dan andaikata dia sudah menjadi kaisar yang paling tinggi<BR>kedudukannya di dunia, agaknya dia masih akan mengiri akan kedudukan<BR>Tuhan! Sekali seorang manusia sudah mabuk akan wanita, biar dia sudah<BR>mempunyai isteri dan selir sebanyak seribu orang sekalipun, matanya yang<BR>berminyak kiranya akan masih selalu jelalatan (melotot ke sana-sini) untuk<BR>mencari seorang wanita lain yang belum dia miliki!<BR>Setelah selesai mengubur mayat-mayat itu, Nagai Ici lalu diajak Loan Ki<BR>mengantar para gadis bekas tawanan itu. Untung bahwa perkampungan<BR>mereka tidak jauh dari hutan itu sehingga dalam waktu dua hari saja mereka<BR>telah dapat di rumah masing-masing. Tentu saja mereka dan orang-orang tua<BR>mereka girang dan terharu bukan main, berlutut menghaturkan terima kasih<BR>kepada Loan Ki dan Nagai Ici. Akan tetapi dua orang muda perkasa ini tidak<BR>mau menerima atau melayani penghormatan mereka dan cepat-cepat pergi<BR>tanpa pamit lagi.<BR>Pada pagi hari berikutnya, Loan Ki dan Nagai Ici sudah menunggang kuda<BR>berendeng sambil bercakap-cakap. Nagai Ici kini sudah berubah pakaiannya,<BR>merupakan seorang pria muda yang berpakaian gagah, tidak aneh lagi kecuali<BR>pedang samurainya yang memang berbeda dengan pedang-pedang yang biasa<BR>dibawa oleh para ahli silat di situ. Loan Ki yang memaksanya berganti pakaian<BR>karena gadis ini tidak ingin melihat teman seperjalanannya menjadi pusat<BR>perhatian dan keheranan orang. Dengan sisa uang rampasan dari para<BR>perampok Hui-houw-pang, mereka membeli pakaian dan membeli dua ekor<BR>kuda karena Loan Ki bermaksud mengadakan perjalanan jauh, menyusul<BR>ayahnya di kota raja!<BR>Nagai Ici yang tunduk betul kepadanya, penurut dan tidak pernah membantah,<BR>benar-benar menyenangkan hati Loan Ki. Senang dan gembira juga<BR>mendapatkan seorang pengiring yang selain gagah dan tampan, juga amat<BR>penurut dan setia seperti pemuda Jepang itu. Dalam perjalanan di pagi hari<BR>itu, Loan Ki minta kepada Nagai Ici untuk menceritakan keadaannya!<BR>Menurut penuturan Nagai Ici, di Jepang pada waktu itu (sekitar tahun 1399-<BR>1400) baru saja terdapat perdamaian setelah puluhan tahun di negeri itu<BR>terjadi perebutan kekuasaan yang mengakibatkan perang saudara terusmenerus.<BR>Kemenangan terakhir pada tahun 1392 tercapai oleh Ashikaga<BR>Takauyi dan mulailah di tahun itu apa yang dinamakan jaman Maromaci<BR>karena Ashikaga Takauyi menempatkan markasnya di bagian kota Kyoto dan<BR>bernama Maromaci. Kekuasaan yang sesungguhnya berada di tangan Ashikaga<BR>Takauyi inilah, sungguhpun kaisarnya masih keturunan keluarga Tenno yang<BR>berada di istana Tenno tapi yang keadaannya tidak ubahnya boneka belaka.<BR>Nagai Ici semenjak belasan tahun sudah menjadi yatim piatu dan selanjutnya<BR>dia dirawat dan dididik oleh gurunya, seorang daimyo (pendekar besar) yang<BR>membantu perjuangan Ashikaga Takauyi.<BR>Setelah dalam usia lima belas tahun ikut pula mengayun samurai membantu<BR>perang saudara yang sudah hampir berakhir itu, Nagai Ici dinyatakan tamat<BR>dari perguruan dan diperbolehkan dia berdiri sendiri menjadi seorang di antara<BR>golongan Samurai! Sepak terjangnya sebagai seorang pendekar amat<BR>mengesankan sehingga beberapa tahun kemudian, dalam usia dua puluh<BR>tahun saja dia sudah dijuluki orang Samurai Merah.<BR>Nagai Ici mempunyai darah perantau atau mungkin juga jiwa petualangnya<BR>ingin dia puaskan dengan perantauan. Seluruh negeri Jepang sudah dia<BR>jelajahi dan akhirnya karena pada jaman itu hubungan Jepang dan Tiongkok<BR>sudah amat baik, dia mendengar banyak tentang Tiongkok. Kebudayaan dari<BR>negara besar itu, termasuk ilmu silatnya, terbawa ke Jepang dan amat<BR>terkenal. Banyak dongeng yang sering didengar Nagai Ici dalam<BR>perantauannya betapa jago-jago silat di Tiongkok seperti dewa-dewa saja<BR>saktinya. Inilah mula-mula yang menjadi pendorong baginya untuk<BR>menyeberang laut menuju ke Tiongkok dengan cita-cita untuk mencari seorang<BR>guru seperti dewa dan mempelajari kesaktian!<BR>Lama sekali, setelah beberapa tahun lagi, baru dia memperoleh kesempatan<BR>berlayar ke Tiongkok bersama perahu ikan yang dengan berani mati<BR>menempuh perjalanan berbahaya itu dengan perahu ikan yang kecil. Seperti<BR>telah kita baca dalam bagian terdahulu, begitu mendarat, Nagai Ici dibikin<BR>kecewa dan marah menyaksikan perbuatan para bajak laut bangsanya yang<BR>merampoki sebuah kota pelabuhan. Karena merasa malu akan perbuatan<BR>bangsanya yang di negerinya terkenal sebagai orang-orang kaya itu,<BR>Nagai Ici turun tangan membasmi dan mengusir para bajak laut Tengkorak<BR>Hitam kemudian dia menghilang karena tidak ingin dilihat orang lain bahwa<BR>dia, seorang Jepang juga, mengamuk dan membasmi bajak laut bangsanya<BR>sendiri.<BR>Dalam perjalanan selanjutnya sampai berpekan-pekan, Nagai Ici mulai kecewa<BR>karena ternyata bahwa di negara besar yang dahulunya dia sangka segalanya<BR>pasti serba hebat itu, kiranya tidak banyak bedanya dengan negerinya sendiri,<BR>kalau tidak mau dibilang lebih buruk. Para petani demikian miskinnya sampaisampai<BR>hidupnya tidak layak sebagai manusia. Di mana-mana banyak terdapat<BR>perampok dan penjahat-penjahat, Penghuni-penghuni dusun demikian<BR>sederhana hidupnya dan amatlah bodoh sehingga kadang-kadang Nagai Ici<BR>kehabisan harapan dapat bertemu dengan seorang sakti seperti dewa di antara<BR>bangsa malah amat miskin ini. Demikianlah, tentu saja pertemuan dengan<BR>Loan Ki amat mengagumkan dan mengirangkan hatinya. Mulailah timbul<BR>harapannya. Kalau ada seorang gadis remaja sehebat ini, tidak mustahil dia<BR>akan bertemu dengan seorang guru sesakti dewa. Baru gadis ini saja, bukan<BR>main! Belum pernah dia mendengar, apalagi menyaksikan seorang dara<BR>remaja memiliki kepandaian seperti ini. Samurainya itu tidak berdaya sama<BR>sekali terhadap gadis ini yang bertangan kosong! Bukankah ini aneh sekali?<BR>Gurunya sendiri, Daimyo Matsgmori yang amat terkenal di Jepang, belum<BR>tentu berani menghadapi tiga puluh jurus serangan samurainya dengan tangan<BR>kosong tanpa membalas!<BR>Inilah yang membuat Nagai Ici menjadi penurut. Biasanya, di negerinya kaum<BR>wanita tidaklah mendapat tempat terlalu tinggi, dianggap sebagai mahkluk<BR>lemah yang tugasnya hanya menjadi penghibur kehidupan pria belaka. Kini dia<BR>bertemu "batunya", seorang dara lincah yang hebat, yang sekaligus<BR>membangkitkan harapannya untuk mendapatkan guru pandai di samping<BR>sekaligus menjatuhkan hatinya pula, membuat dia bertekuk lutut di dalam<BR>hati, tak kuasa menentang sinar mata jeli dari si juita itu.<BR>Anehkah kalau jago muda dari Jepang itu tersenyum-senyum gembira,<BR>wajahnya berseri matanya bersinar-sinar ketika dia mengendarai kuda di<BR>samping Loan Ki?<BR>******<BR>Setelah Kian Bun Ti menduduki singgasana menjadi kaisar dan terkenal juga<BR>dengan nama Hui Ti (pada tahun 1399), timbullah persaingan hebat di kota<BR>raja untuk memperebutkan kedudukan. Sebagian banyak pangeran tua<BR>merasa tidak puas melihat Hui Ti menjadi kaisar, karena mereka sudah<BR>mengenal Pangeran Kian Bun Ti sebagai seorang muda yang hanya mengejar<BR>kesenangan belaka. Akan tetapi, para pangeran muda dan para pembesar<BR>yang mendapat kedudukan baik setelah Kian Bun Ti naik tahta, tentu saja<BR>mati-matian membela kaisar baru ini. Dengan demikian, maka diam-diam<BR>terjadilah permusuhan. Keadaan kota raja seperti api dalam sekam, sewaktuwaktu<BR>tentu akan meletus.<BR>Biarpun kaisar Hui Ti yang muda itu sendiri adalah seorang yang keahliannya<BR>hanya mengejar wanita cantik dan bersenang-senang, namun para<BR>pembantunya yang juga mempertahankan kedudukan mereka masing-masing,<BR>adalah orang-orang pandai yang banyak pengalaman. Karena itu, untuk<BR>memperkuat kedudukan kaisar baru ini, para menteri dan pembesar tinggi,<BR>terutama golongan bu (militer) segera memperkuat penjagaan, memperkuat<BR>barisan dan mendatangkan banyak ahli-ahli dari luar. Selain itu, setiap hari<BR>diadakan pembersihan untuk membasmi mereka yang dianggap sebagai<BR>lawan, mereka yang dianggap membahayakan kedudukan Hui Ti dan para<BR>pembesar pendukungnya.<BR>Seperti sudah lazim terjadi, bilamana angin puyuh bertiup, yang rontok bukan<BR>hanya daun-daun kering dan buah-buan busuk, juga daun-daun segar dan<BR>buah-buah muda bisa saja terlanda angin puyuh dan rontok semua. Dalam<BR>keadaan negara pun demikian. Bilamana keributan terjadi, yang menjadi<BR>korban bukan hanya mereka yang memang tersangkut, juga yang tidaktahu<BR>apa-apa bisa saja menjadi korban. Sudah tentu saja menurut rencana para<BR>pembesar yang mengatur ini semua, yang harus dibersihkan adalah mereka<BR>yang berbahaya, mereka yang diam-diam mempunyai niat untuk melawan dan<BR>menumbangkan kekuasaan kaisar baru untuk diganti dengan kaisar pilihan<BR>mereka sendiri. Akan tetapi dalam pelaksanaannya banyak sekali terjadi<BR>penyelewengan dan penyalahgunaan kekuasaan sehingga terjadilah<BR>pemerasan, penyelewengan dan kejahatan yang berdasafkan fitnah. Bisa saja<BR>terjadi seorang petugas kecil mendatangi seorang hartawan dan melancarkan<BR>fitnah keji bahwa hartawan itu termasuk anti kaisar baru. Kemudian dengan<BR>alasan "melindungi", si petugas kecil itu menerima "uang jasa" yang<BR>jumlahnya melebihi besarnya jumlah upahnya sepuluh tahun! Ini baru contoh<BR>kecil-kecilan saja, banyak terjadi hal yang lebih hebat daripada contoh itu.<BR>Kota raja goncang karena pertentangan-pertentangan ini. Penduduk kota raja<BR>dicekam kekuatiran. Banyak malah yang pergi mengungsi keluar daerah,<BR>memilih tempat tinggal di dusun-dusun jauh dari kota raja, di mana rakyatnya<BR>tidak sedikit pun merasai akibat ketegangan politik di kota raja. Akan tetapi<BR>ketenteraman ini pun hanya sementara saja mereka rasakan, karena tak lama<BR>kemudian pembersihan dilakukan sampai ke dusun-dusun pula di mana<BR>tangan-tangan iseng dari manusia-manusia berbatin rendah itu menyebar<BR>fitnah ke sana ke mari sambil mencari kesempatan mengeduk kekayaan<BR>sebanyak mungkin.<BR>Kota raja dijaga ketat. Semua pintu gerbang kota raja dijaga oleh para<BR>pasukan pilihan, dan di dalam kota raja sendiri penuh dengan mata-mata yang<BR>melakukan penyelidikan agar jangan sampai kota raja diselundupi kaki tangan<BR>lawan. Memang paling repot menghadapi lawan yang tidak diketahui dari mana<BR>datangnya ini. Lawan-lawan yang bisa saja menyelundup ke dalam golongan<BR>pedagang, pengemis, buruh, seniman, malah bisa jadi menyelundup ke dalam<BR>golongan pembesar dan perajurit sendiri.<BR>Pada suatu pagi, pagi-pagi sekali di luar pintu gerbang sebelah utara, tampak<BR>seorang laki-laki muda yang pakaiannya sederhana tapi bersih, berdiri dengan<BR>tongkat di tangan dan kepala tunduk. Orang ini bukan lain adalah Si Pendekar<BR>Buta, Kwa Kun Hong. Telah kita ketahui bahwa setelah berpisah dari Songbun-<BR>kwi, Pendekar Buta ini pergi ke kota raja. Banyak hal yang harus dia<BR>selidiki, selain persoalan yang menyangkut Thai-san-pai juga soal mahkota<BR>kuno yang mengandung rahasia kenegaraan besar itu, yang kini berada dalam<BR>bungkusan pakaian yang digendongnya. Biarpun dia buta, namun karena<BR>kepandaiannya yang tinggi, dia dapat juga melakukan perjalanan cepat.<BR>Sambil bertanya-tanya di sepanjang jalan, akhirnya dia sampai juga di luar<BR>pintu gerbang sebelah utara. Baru saja dia mendengar keterangan bahwa<BR>tidaklah mudah untuk memasuki kota raja, karena setiap orang dicurigai dan<BR>pintu gerbang dijaga keras. Sedikit saja menimpulkan kecurigaan para<BR>penjaga, tentu akan ditangkap dan dimasukkan tahanan. Inilah yang membuat<BR>Kun Hong ragu-ragu dan hati-hati. Dia tidak takut dicurigai, tidak takut pula<BR>ditangkap. Akan tetapi karena mahkota kuno itu berada padanya, amatlah<BR>tidak baik kalau sampai dia tertawan. Mahkota itu harus dia jaga, kalau perlu<BR>berkorban nyawa.<BR>Betapapun juga, Kun Hong sudah mempunyai dasar Watak berhati-hati, tidak<BR>mau sembarangan mempercaya berita yang didengamya tentang keburukan<BR>seseorang. Dia sudah mendengar dari Tan Hok tentang Pangeran Kian Bun Ti<BR>yang sekarang sudah menjadi kaisar dan bahwa hal ini amatlah buruk<BR>akibatnya, karena pangeran itu bukanlah seorang yang patut menjadi kaisar.<BR>Karena itulah maka mendiang kaisar tua telah meninggalkan surat rahasia<BR>yang disimpan di dalam mahkota kuno itu, surat rahasia yang memberi kuasa<BR>kepada Pangeran Tua Yung Lo di utara untuk bertindak terhadap kaisar baru.<BR>Akan tetapi, Kun Hong tidak merasa puas kalau tidak mendengar sendiri<BR>keadaan di kota raja. Karena ini, dia sengaja pergi ke kota raja hendak<BR>melakukan penyelidikan dan mencari sahabat-sahabatnya, yaitu perkumpulan<BR>Hwa I Kaipang. Dia dapat mempercayai Hwa I Kaipang, karenanya dia hendak<BR>minta bantuan mereka ini, selain menyelidiki tentang keadaan kaisar baru,<BR>juga menyelidiki tentang musuh-musuh Thai-san-pai itu.<BR>Selagi Kun Hong berdiri ragu-ragu di luar pintu gerbang tembok kota raja,<BR>menimbang-nimbang bagaimana dia dapat memasuki kota raja yang terjaga<BR>kuat itu, tiba-tiba dia mendengar langkah kaki dua orang mendekatinya dari<BR>arah belakang.<BR>Jilid 16 : bagian 1<BR>Dia mengira bahwa dua orang itu tentulah orang-orang yang lewat dan akan<BR>memasuki pintu gerbang, maka dia tidak menaruh perhatian. Baru dia kaget<BR>dan heran ketika dua orang itu berhenti di depannya dan terdengar suara<BR>halus seorang laki-laki muda,<BR>"Aduh kasihan, semuda ini menanggung derita, tak pandai melihat! Saudara<BR>yang buta, kau hendak pergi ke manakah? Biarlah aku menunjukkan jalan<BR>yang hendak kau tuju."<BR>Dengan pendengarannya yang tajam Kun Hong dapat mengerti bahwa dia<BR>berhadapan dengan seorang pria muda, paling banyak beberapa tahun lebih<BR>tua daripadanya, seorang yang gerak-gerik dan tutur bahasanya halus,<BR>pantasnya seorang muda terpelajar, akan tetapi di dalam suara itu juga<BR>terkandung tenaga seorang ahli tenaga dalam, seorang yang biasa melakukan<BR>samadhi dan menguasai peraturan bernapas. Dia cepat-cepat menjura dengan<BR>hormat dan berkata sambil tersenyum,<BR>"Terima kasih banyak. Anda baik hati benar, sudi memperhatikan seorang buta<BR>seperti saya."<BR>Orang itu tertawa, suara ketawanya lembut seperti ketawa wanita. "Aku dapat<BR>menduga bahwa kau bukanlah seorang buta biasa saja. Wajah dan pakaianmu<BR>menunjukkan bahwa kau seorang yang berpengetahuan dan terdidik. Katakata<BR>yang kau ucapkan memperkuat dugaanku. Sahabat, jangan kau curiga.<BR>Aku The Sun bermaksud baik terhadap seorang buta yang menarik hatiku.<BR>Apakah kau hendak memasuki kota raja? Hayo, boleh bers-maku dan aku<BR>tanggung kau takkan diganggu para penjaga goblok itu. Aku sudah mereka<BR>kenal baik."<BR>Berdebar hati Kun Hong, dia memang tadinya menaruh hati curiga, akan tetapi<BR>mendengar penawaran ini, dia benar-benar bersyukur di dalam hati.<BR>Kesempatan terbaik baginya. Cepat-cepat dia menjura lagi dan berkata,<BR>"Saudara The benar-benar budiman. Aku Kwa Kun Hong seorang buta amat<BR>berterima kasih kepadamu. Sesungguhnyalah, aku bermaksud memasuki kota<BR>raja mengadu untung, siapa tahu di kota raja aku dapat menolong banyak<BR>orang dan mendapat banyak rejeki."<BR>Hening sejenak, agaknya The Sun itu mengamat-amatinya baik-baik, lalu<BR>terdengar dia berkata, "Ah, saudara Kwa, apakah kau seorang tukang gwamia<BR>(ahli nujum)!" Memang banyak terdapat orang-orang buta yang membuka<BR>praktek sebagai ahli nujum, menceritakan nasib orang-orang dengan meraba<BR>telapak tangan mereka. Tentu saja, seperti biasa, ahli-ahli nujum ini sebagian<BR>besar hanya tukang bohong belaka, mencari korban di antara orang-orang<BR>bodoh yang mudah "dikempongi" dan ditarik uangnya.<BR>Kun Hong menggeleng kepala. "Bukan, aku hanyalah seorang tukang obat<BR>biasa, saudara The."<BR>"Ah, begitukah? Baiklah, mari kita memasuki kota raja dan kau akan<BR>kuantarkan di pusat kota yang paling ramai. Mudah-mudahan saja kau akan<BR>dapat menyembuhkan banyak orang sakit dan mendapatkan banyak rejeki<BR>seperti yang kau harapkan."<BR>Sambil berkata demikian, orang itu menggerakkan tangan hendak menangkap<BR>tongkat Kun Hong, akan tetapi ternyata dia hanya menangkap angin karena<BR>seperti tanpa disengaja, Kun Hong sudah lebih dahulu menarik tongkatnya<BR>sambil tertawa, "Terima kasih atas kebaikanmu. Marilah, aku akan mengikuti<BR>di belakangmu."<BR>The Sun tertawa, lalu berjalanlah dia perlahan-lahan menuju ke pintu gerbang,<BR>diikuti oleh Kun Hong. Dengan pendengaran telinganya Kun Hong tahu bahwa<BR>orang ke dua juga berjalan di samping The Sun dan diam-diam dia terkejut<BR>juga karena orang itu memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat,<BR>akan tetapi masih juga tidak mampu menandingi kepandaian The Sun yang<BR>muda karena jejak kaki The Sun ini sama sekali tidak mengeluarkan suara dan<BR>oleh pendengarannya yang amat tajam sekalipun hanya terdengar sedikit<BR>seperti langkah seekor kucing saja. Mulailah dia menaruh curiga. Terang<BR>bahwa orang yang mengaku bernama The Sun bersama temannya yang tidak<BR>diperkenalkan kepadanya ini adalah dua orang yang memiliki kepandaian silat<BR>tinggi. Kebetulankah The Sun ini seorang yang berbudi dan menaruh kasihan<BR>kepadanya? Ataukah memang sengaja hendak mendekatinya? Dia harus<BR>berhati-hati. Karena kehati-hatiannya pula inilah maka tadi dia sengaja tidak<BR>membiarkan tongkatnya dipegang orang itu. Tongkatnya adalah senjata yang<BR>paling diandalkan.<BR>Ketika mereka melewati pintu gerbang memasuki kota raja, Kun Hong<BR>melangkah dengan hati-hati dan telinganya mendengarkan penuh perhatian.<BR>Tidak terjadi sesuatu, kecuali seorang di antara para penjaga agaknya yang<BR>menegur dengan suara menghormat.<BR>"Sepagi ini The-kongcu (tuan muda The) baru pulang, agaknya mendapatkan<BR>kesenangan malam tadi. Selamat pagi, Kongcu!"<BR>Lalu disusul suara penjaga ke dua, "Lo-ji, kau benar lancang mulut! Seorang<BR>siucai (lulusan pelajar) seperti The-kongcu mana bisa kau samakan dengan<BR>kau yang suka keluyuran di waktu malam? Kongcu, kalau Kongcu kehendaki,<BR>biar saya mewakili Kongcu menampar muka Lo-ji yang kurang ajar ini!"<BR>The Sun itu tertawa perlahan, agaknya dia amat dihormat, disegani, juga<BR>disukai para penjaga, terbukti dari keramahannya dan dari sikap para penjaga<BR>yang biarpun amat menghormatinya dan amat takut kepadanya, namun berani<BR>pula bermain-main. "Sudahlah, sepagi ini sudah berkelakar. Jaga saja baikbaik<BR>sampai kalian diganti penjaga baru. Aku mengajak sahabat buta tukang<BR>obat ini memasuki pintu gerbang, aku yang menanggung dia."<BR>"Silakan........... silakan..........." bak mulut penjaga berkata ramah.<BR>Setelah mereka berhasil melewati pintu gerbang dan tiga lapis penjagaan, Kun<BR>Hong mendengar The Sun berkata, "Mulai sekarang tidak ada penjagaan lagi."<BR>Kun Hong menjura dengan hormat, "Saudara ternyata adalah seorang kongcu<BR>dan seorang siucai pula, harap suka memaafkan karena mata saya buta, saya<BR>tidak tahu dan telah berlaku kurang hormat. Budi Kongcu amat besar, Kongcu<BR>amat baik kepada saya dan terima kasih saya ucapkan."<BR>"Ah, saudara Kwa Kun Hong, kenapa begini banyak sungkan? Biarpun kau<BR>seorang yang menderita kebutaan, akan tetapi aku pun dapat menduga bahwa<BR>kau bukan seorang biasa yang tidak tahu apa-apa, Sikapmu penuh sopan dan<BR>kau tahu aturan, tanda bahwa kau pun seorang yang pernah mempelajari<BR>kebudayaan. Marilah, mari kuantar kau ke tempat yang ramai agar di sana kau<BR>dapat mulai dengan pekerjaan itu."<BR>Kembali Kun Hong menjura, di dalam hati dia merasa amat curiga, akan tetapi<BR>di luarnya dia pura-pura bersikap tidak enak. "Mana saya berani mengganggu<BR>Kongcu lebih lama lagi? Budi Kongcu membawa saya masuk saja sudah amat<BR>besar. Harap Kongcu meninggalkan saya di sini saja, biar saya berjalan<BR>perlahan mencari-cari langganan. Dengan tanya-tanya agaknya saya akan<BR>sampai juga ke tempat ramai."<BR>"Ih, mana bisa begitu? Aku pun hendak menuju sejalan denganmu. Marilah,<BR>tak usah sungkan."<BR>Telinga Kun Hong yang tajam mendengar betapa orang ke dua yang sejak tadi<BR>berjalan bersama The Sun, kini berjalan cepat sekali meninggalkan tempat itu.<BR>Dia heran, akan tetapi tidak bertanya dan pura-pura tidak tahu.<BR>Karena The Sun mendesaknya, tak dapat pula dia menolak dan terpaksa Kun<BR>Hong mengikuti pemuda itu menuju ke tengah kota. Makin lama makin<BR>ramailah orang hilir-mudik dan makin ramai orang bercakap-cakap. Biarpun<BR>sepasang mata Kun Hong tak dapat melihat lagi, akan tetapi dahulu sebelum<BR>dia menjadi buta kedua matanya, pernah dia datang ke kota raja, malah<BR>pernah dia menjadi tamu dari Pangeran Kian Bun Ti yang sekarang menjadi<BR>kaisar (baca Rajawali Emas). Oleh karena itu, sekarang dia dapat<BR>membayangkan keadaan kota raja ini dengan hanya mendengar keramaian di<BR>sekelilingnya dengan pendengaran saja.<BR>"Saudara Kwa, mari kita masuk rumah makan ini dulu. Makan dulu sebelum<BR>bekerja adalah hal yang paling baik," kata The Sun sambil tertawa gembira.<BR>Kun Hong mengerutkan keningnya. Terlalu baik orang ini. Apakah dia benarbenar<BR>baik terhadapnya, ataukah ada sesuatu tersembunyi di balik keramahan<BR>ini? Mana ada seorang siucai yang agaknya kaya raya dan berpengaruh di kota<BR>raja, suka menolong, malah sekarang hendak menjamu seorang buta seperti<BR>dia? Akan tetapi, semua ini baru dugaan dan amatlah tidak baik kalau dia<BR>menolak tawaran dan keramahan orang, apalagi memang dia merasa tertarik<BR>hatinya untuk mengetahui apa gerangan yang menjadi dasar keramahan orang<BR>ini. Sambil mengangguk-angguk dan berucap terima kasih dia mengikuti The<BR>Sun memasuki rumah makan yang sudah menyambut mereka dengan asap<BR>dan uap yang gurih dan sedap. Diam-diam timbul pula harapannya untuk<BR>dapat bertemu dengan seorang anggauta Hwa I Kaipang, karena bukankah<BR>sudah lazim kalau pengemis-pengemis berada di dekat rumah makan untuk<BR>mengemis sisa makanan?<BR>Pesanan masakan The Sun cepat dilayani oleh para pelayan yang juga<BR>menyebutnya kongcu dan melayaninya dengan sikap hormat,<BR>"Mari silakan, saudara Kwa," kata pemuda itu sambil mengisi cawan arak dan<BR>menyerahkannya kepada Kwa Kun Hong. Orang buta ini dengan berterima<BR>kasih tetapi tetap berhati-hati segera mulai makan minum dengan<BR>pengundangnya yang aneh dan ramah.<BR>Rumah makan itu tidak banyak didatangi tamu pada saat itu. Kun Hong<BR>mendengar ada beberapa orang tamu saja di meja sebelah kanannya. Tibatiba<BR>dia mendengar beberapa orang memasuki rumah makan itu. Dari bunyi<BR>derap langkah mereka tahulah dia bahwa orang-orang ini adalah ahli-ahli silat,<BR>malah beberapa orang di antaranya adalah ahli silat tinggi. Dia mulai waspada.<BR>Sukar menghitung tepat di tempat gaduh itu, akan tetapi dia tahu bahwa<BR>sedikitnya tentu ada lima orang yang datang ini. Lalu terdengar ribut-ribut di<BR>sebelah kanannya, dan terdengar suara keren berkata, "Diam semua, duduk di<BR>tempat. Buka semua buntalan, kami datang melakukan penggeledahan!"<BR>Kun Hong mengerutkan keningnya dan bertanya lirih kepada The Sun,<BR>"Saudara The Sun, apakah yang terjadi di sana?"<BR>The Sun tertawa, "Ah, tidak apa-apa biasa saja terjadi di kota raja.<BR>Penggeledahan, apalagi? Di kota raja sekarang ini banyak terdapat orangorang<BR>jahat, dan semenjak kaisar muda menggantikan mendiang kaisar tua,<BR>banyak terjadi keributan. Hampir setiap hari ada orang ditangkap dan dihukum<BR>mati karena dia menjadi mata-mata musuh dan pengkhianat."<BR>Kun Hong kaget sekali, "Kalau begitu, kita nanti juga akan digeledah?" Dia<BR>tahu bahwa kalau buntalannya digeledah dan mahkota itu dilihat oleh para<BR>pemeriksa, tentu dia akan ditangkap. Ini tidak hebat, lebih celaka lagi mahkota<BR>itu tentu akan dirampas dan dengan demikian, surat rahasia itu terampas pula<BR>sehingga segala yang telah dia lakukan selama ini untuk mendapatkan kembali<BR>mahkota itu sia-sia belaka!<BR>"Ah, terhadap aku mereka takkan menggeledah," kata The Sun tertawa,<BR>"karena mereka semua sudah mengenalku. Hanya orang-orang asing yang<BR>datang ke kota raja dan orang-orang yang mencurigakan saja yang<BR>digeledah."<BR>Biarpun Kun Hong tidak gentar menghadapi para penggeledah itu, akan tetapi<BR>dia juga merasa tidak enak kalau belum apa-apa dia harus menimbulkan<BR>keributan di kota raja. Sebelum dia dapat menemukan orang-orang Hwa I<BR>Kaipang dan masih membawa mahkota itu, tidak baik menimbulkan keributan<BR>dan menjadi perhatian para penjaga kota. Dia segera bangkit berdiri dan<BR>berkata,<BR>"Saudara The, banyak terima kasih atas segala kebaikanmu. Aku sudah<BR>kenyang dan hendak pergi saja, mulai dengan pekerjaanku."<BR>The Sun memperdengarkan suara kaget, "Eh, saudara Kwa. Kenapa tergesagesa?<BR>Apakah kau takut digeledah? Kau kan hanya tukang obat, yang kau<BR>bawa di buntalanmu, tentu hanya pakaian dan obat-obatan. Mengapa takut<BR>kelihatannya?"<BR>"Tidak........... tidak takut. Akan tetapi segan juga aku kalau harus digeledah.<BR>Siapa tahu obat-obatku bisa hilang sebagian."<BR>Tiba-tiba The Sun memegang tangan kiri Kun Hong. "Saudara Kwa, percayalah<BR>kepadaku. Aku akan melindungimu dari tangan anjing-anjing itu," bisiknya.<BR>Kun Hong berdebar hatinya. Tak salahkah pendengarannya? Siapa yang<BR>menyebut para pembantu kaisar dengan sebutan "anjing" atau "anjing<BR>penjilat", berarti orang itu termasuk golongan anti kaisar? Betulkan The Sun ini<BR>seorang yang segolongan dengan Tan Hok? Segolongan dengan Pek-lian-pai<BR>dan para orang gagah yang menentang kaisar baru yang dikatakan tidak tepat<BR>menduduki singgasana karena wataknya yang tidak baik? Dia tidak mau<BR>percaya begitu saja karena suara orang muda ini mengandung getaran yang<BR>sukar ditangkap dasarnya.<BR>The Sun meneriaki pelayan dan cepat membayar harga makanan sambil<BR>memberi persen besar kepada pelayan. Kemudian dia menggandeng tangan<BR>Kun Hong diajak keluar. Bisiknya perlahan, "Saudara Kwa, apakah kau<BR>membawa sesuatu yang kau tidak suka dilihat oleh anjing-anjing itu?"<BR>Sukar bagi Kun Hong untuk menjawab, maka dia diam saja. Selagi mereka<BR>berdua berjalan menuju ke pintu, tiba-tiba terdengar oleh Kun Hong orang<BR>membentak,<BR>"Hei, orang buta! Berhenti dulu kau, tidak boleh ke luar sebelum digeledah!"<BR>Kun Hong berhenti, siap melawan untuk menyelamatkan surat rahasia di<BR>dalam mahkota. The Sun segera berkata, nyaring, "Sahabat Kwa yang buta ini<BR>datang bersamaku, apa kalian tidak lihat? Dia tamuku, seorang ahli<BR>pengobatan yang hanya akan membawa pakaian dan obat-obatan. Apa<BR>perlunya digeledah kalau aku sudah menanggungnya?"<BR>Terdengar oleh Kun Hong suara pimpinan para penggeledah itu yang keras dan<BR>mengandung tenaga, "Maaf The-kongcu. Kami mendapat perintah atasan agar<BR>hari ini kami menggeledah setiap orang yang belum pernah kami geledah.<BR>Orang buta ini belum pernah kami lihat, terpaksa kami tidak berani lepaskan<BR>sebelum digeledah karena kalau kami lakukan hal ini, tentu kami akan<BR>mendapat hukuman."<BR>The Sun berkata mengejek, "Hemmm, kalau begitu lekas selesaikan<BR>penggeledahan orang-orang itu, kami menanti di sini." Dia menarik tangan<BR>Kun Hong diajak duduk di atas bangku di pojok. Lalu berbisik.<BR>"Lekas, kau titipkan surat rahasia itu kepadaku!"<BR>Kun Hong kaget dan heran bukan main. Apa yang dimaksudkan oleh The Sun?<BR>Apakah yang dimaksudkan surat rahasia yang berada di dalam mahkota?<BR>Bagaimana orang ini bisa tahu? Dia sendiri yang selalu membawa mahkota itu,<BR>tidak tahu di mana disimpannya surat itu.<BR>"Apa maksudmu?" bisiknya tak mengerti, atau pura-pura tidak mengerti. "Aku<BR>tidak membawa surat apa-apa."<BR>"Ah, Saudara Kwa yang baik, masih tidak percayakah kau kepadaku?" bisik<BR>The Sun, lalu ditambahkan lebih lirih lagi, "Aku segolongan denganmu...... aku<BR>membantu perjuangan....... aku membantu utara......"<BR>Kun Hong lebih tidak mengerti lagi. Dia sendiri pun tidak tahu dia itu termasuk<BR>golongan mana karena biarpun dia mendengar dari Tan Hok tentang<BR>pergerakan dan pertentangan di kota raja, namun kalau dia belum mendapat<BR>kepastian siapa yang tidak benar dalam hal ini, bagaimana dia bisa membantu<BR>satu fihak? Hanya dia dapat menduga bahwa agaknya pemuda she The ini<BR>adalah sependukung Raja Muda Yung Lo di utara. Padahal surat yang disimpan<BR>di dalam mahkota itupun adalah surat rahasia dari mendiang kaisar untuk<BR>diserahkan kepada Raja Muda Yung Lo. Tidak akan kelirukah dia kalau<BR>mahkota itu dia berikan kepada pemuda ini agar disampaikan kepada yang<BR>berhak menerimanya?<BR>Karena keraguan Kun Hong ini, dia terlambat. Terdengar derap langkah<BR>menghampiri dan bentakan orang tadi. "He, orang buta. Hayo turunkan<BR>buntalanmu itu dan buka. Juga pakaian luarmu, biarkan kami<BR>menggeledahmu!"<BR>Kun Hong berdebar, lalu menjawab, "Saya hanya seorang tukang obat biasa<BR>saja, tidak membawa sesuatu, harap kalian jangan mengganggu aku seorang<BR>buta...."<BR>"Ha-ha-ha, kau kira akan mampu ngelabui aku Bhe Hap Si Malaikat Bumi? Haha-<BR>ha, orang buta, kau menyerahlah!" Angin cengkeraman yang amat dahsyat<BR>menuju dada Kun Hong. Dia merasa kaget sekali. Ini bukanlah serangan orang<BR>biasa, melainkan jurus yang dikeluarkan oleh seorang ahli silat kelas tinggi!<BR>Masa kalau pangkatnya hanya tukang geledah saja memiliki kepandaian begini<BR>tinggi?<BR>Pada saat itu juga dari kanan dan kiri menyambar pula angin pukulan yang<BR>jeias membuktikan bahwa penyerang-penyerangnya adalah orang-orang yang<BR>memiliki kepandaian hebat. Kun Hong cepat menggerakkan kedua kakinya dan<BR>dengan langkah ajaib dia dapat menghindarkan tiga serangan sekaligus itu.<BR>"Ha-ha, kau bilang seorang buta biasa?" Bhe Hap berseru mengejek dan<BR>merasa penasaran sekali, lalu menerjang dengan hebat. Kun Hong diam-diam<BR>mengeluh karena mau tidak mau, belum apa-apa dia sudah menimbulkan<BR>keributan yang tentu akan berekor tidak baik. Dia sudah siap menggunakan<BR>kepandaiannya untuk merobohkan orang-orang ini ketika tiba-tiba The Sun<BR>membentak,<BR>"Orang-orang tak tahu aturan. Kalian berani menghina tamuku?" Kun Hong<BR>merasa betapa angin menyambar di sampingnya ketika pemuda yang ramah<BR>itu berkelebat ke depannya. Terdengar suara gaduh disusul keluhan orang. .<BR>"The-kongcu jangan ikut campur!" Bhe Hap membentak, akan tetapi The Sun<BR>menjawab. "Menyerang tamuku sama dengan menghinaku!"<BR>"The-kongcu, kami bukan bermaksud begitu......" Bhe Hap membantah.<BR>"Sudahlah, bebaskan saudara Kwa ini dari pemeriksaan, kalau tidak, terpaksa<BR>aku melawan kalian."<BR>"Hemmm, terpaksa pula kami menggunakan kekerasan!" bantah Bhe Hap.<BR>Terjadilah pertandingan hebat di rumah makan itu. Kun Hong bingung.<BR>Haruskah dia membantu? Dengan pendengaran telinganya, dia dapat<BR>menangkap betapa gerakan Bhe Hap dan empat orang pembantunya yang lain<BR>amat kuat, cepat dan juga memiliki tenaga Iweekang yang tinggi. Akan tetapi<BR>agaknya orang muda she The ini benar-benar memiliki kepandaian hebat<BR>seperti telah diduga oleh Kun Hong. Buktinya tadi dalam segebrakan saja telah<BR>merobohkan seorang lawan dan kini dikeroyok lima tidak terdesak. Meja kursi<BR>beterbangan dan secara kebetulan agaknya beberapa kali dengan amat<BR>kerasnya meja dan kursi melayang ke arah tubuh Kun Hong. Terpaksa pemuda<BR>ini mengelak dan hal ini tentu saja mengherankan mereka yang melihatnya.<BR>Seorang buta bagaimana bisa mengelak dari sambaran meja kursi itu?<BR>Kun Hong yang berdiri tegak dan diam memperhatikan jalannya pertandingan,<BR>menjadi terheran-heran ketika tiba-tiba Bhe Hap dan teman-temannya<BR>meloncat keluar rumah makan dan orang itu berkata, "Hebat kepandaianmu,<BR>The-kongcu. Akan tetapi, si buta itu pasti akan dapat tertawan oleh kami!"<BR>Lalu terdengar mereka itu berlarian pergi.<BR>The Sun menangkap tangan Kun Hong. "Lekas," bisiknya, "mereka itu hanya<BR>untuk sementara saja dapat kuusir. Mereka tentu akan datang kembali dengan<BR>teman yang lebih banyak, malah tokoh-tokoh pengawal yang lebih kosen<BR>datang, kita bisa celaka. Mari cepat kau ikut denganku"<BR>Kun Hong tidak mendapat jalan lain kecuali ikut berlarian cepat bersama The<BR>Sun, Dia tidak tahu ke mana dia dibawa, jalannya berliku-liku dan lebih satu<BR>jam lamanya mereka melarikan diri.<BR>Akhirnya mereka berhenti di tempat yang sunyi dan The Sun mengajak Kun<BR>Hong memasuki sebuah rumah tua di pinggir kota yang sunyi ini.<BR>"Di manakah kita ini?" Kun Hong bertanya, tongkatnya meraba lantai yang<BR>sudah bolong-bolong dan dinding yang tua dan retak-retak.<BR>"Dalam sebuah bangunan bekas kuil tua yang tak dipakai lagi. Di sini kita<BR>aman, takkan ada yang menduga bahwa kau akan bersembunyi di tempat ini.<BR>Mari masuklah saja, di belakang ada sebuah kamar yang cukup bersih, kau<BR>boleh bersembunyi di sana."<BR>"Saudara The Sun, kau baik sekali......." Kun Hong menangkap lengan tangan<BR>kanan orang muda itu. Gerakannya ini cepat sekali dan memang amat<BR>mengherankan bagaimana seorang yang tidak pandai melihat dapat<BR>menangkap lengan orang hanya dengan mendengarkan gerakan orang itu.<BR>"Ah.......!" Kun Hong menghentikan kata-katanya tadi dan kini dia berseru<BR>kaget sambil meraba-raba lengan kanan The Sun. "Saudara The, kau....... kau<BR>terluka.......?"<BR>"Wah, hebat sekali kau, Kwa-lote! Begitu memegang lenganku kau sudah tahu<BR>bahwa aku terluka. Benar-benar ilmu pengobatan yang kau miliki amat tinggi!"<BR>The Sun berseru kaget dan heran.<BR>Tapi Kun Hong tidak memperdulikan pujian ini, melainkan segera memeriksa<BR>lengan kanan sampai ke pundak, "Luka ini baru saja. The-kongcu....... kau<BR>terluka ketika bertempur tadi!" Suara Kun Hong agak gemetar saking terharu<BR>mengingat betapa orang yang baru saja bertemu dengannya ini telah<BR>membelanya sampai terluka.<BR>"Kwa-lote, jangan panggil kongcu kepadaku, bikin aku tidak enak saja. Aku<BR>sedikit lebih tua darimu, sebut saja twako kepadaku. Tentang luka......." dia<BR>menarik napas panjang. "Memang anjing-anjing itu amat lihai, maka untung<BR>tadi kita sempat melarikan diri. Kalau datang tokoh yang lebih sakti,<BR>celaka....."<BR>Kun Hong terheran. "Tapi....... bukankah kau tadi berhasil mengusir mereka?<BR>Bagaimana kau bisa terluka?"<BR>The Sun tertawa mengejek. "Kadang-kadang kepandaian silat saja tidak cukup<BR>untuk mencapai kemenangan, Kwa-lote. Sering kali terjadi, kccerdikan dan<BR>akal dapat mengalahkan kepandaian silat. Di antara para petugas istana tadi,<BR>terdapat seorang ahli pukulan Gin-kong-jiu (Tangan Sinar Perak) yang lihai,<BR>karena selain ilmu pukulan ini mengandung hawa beracun, juga dilakukan<BR>dengan pengerahan tenaga Jeng-kin-kang (Tenaga Seribu Kati), Tadi dalam<BR>pengeroyokan dia menyerangku dengan pukulan itu. Karena menghadapi<BR>pengeroyokan orang-orang berkepandaian tinggi, aku tidak mempunyai<BR>kesempatan mengelak lagi, terpaksa aku menyambut pukulan itu dengan<BR>tangan kananku. Aku tahu bahwa pada saat itu aku menderita luka dalam,<BR>akan tetapi kalau kalau hal itu kuperlihatkan, kita tentu sudah celaka tadi. Aku<BR>pura-pura tidak merasa akan hal ini, malah menyerang mereka kalang-kabut.<BR>Hal inilah yang membuat mereka kaget dan jerih, mengira bahwa pukulan<BR>hebat itu sama sekali tidak mempengaruhiku dan ini pula yang menyebabkan<BR>mereka mengaku kalah dan melarikan diri. Ha-ha, Kwa-lote, kau pikir,<BR>bukankah sekali ini ilmu silat kalah oleh akal dan kecerdikan?"<BR>"The-twako benar-benar gagah dan berbudi. Untuk aku seorang buta, kau<BR>sudah mengorbankan diri menderita luka, membuat aku merasa tidak enak<BR>sekali."<BR>"Kwa-lote, di antara kita, perlu apa bicara sungkan seperti itu? Sekali bertemu<BR>muka aku tahu bahwa kau bukanlah seorang tukang obat buta biasa saja.<BR>Malah aku hampir merasa yakin bahwa kaulah orangnya yang disebut-sebut<BR>para teman seperjuangan yang mendesas-desuskan bahwa surat rahasia itu<BR>berada di tanganmu."<BR>"Surat rahasia ? Apa maksudmu ?"<BR>The Sun terdengar kecewa. "Ah, sampai sekarang kau agaknya masih belum<BR>mau percaya kepadaku, Kwa-lote. Semua orang di antara para pejuang tahu<BR>bahwa surat rahasia peninggalan mendiang kaisar tua berada di tangan bekas<BR>pembesar Tan Hok, kemudian dikabarkan bahwa kaulah yang agaknya<BR>menguasai surat itu. Kalau memang betul demikian, akulah orangnya yang<BR>akan membawa dan mengantarkannya kepada Raja Muda Yung Lo di utara."<BR>Berdebar jantung Kun Hong. Ah, kiranya pemuda gagah ini adalah utusan atau<BR>pembantu dari raja muda dari utara itu! Sungguh kebetulan. Memang dia<BR>sedang mencari orang yang berhak menerima mahkota kuno berikut<BR>rahasianya itu untuk disampaikan kepada Raja Muda Yung Lo. Akan tetapi,<BR>kehati-hatiannya membuat dia berpikir lebih jauh lagi. Baru sekarang ini dia<BR>berkenalan dengan The Sun. Bagaimana dia dapat menyerahkan mahkota<BR>demikian saja ?<BR>"The-twako, nanti saja kita bicara tentang itu. Sekarang biarkan aku<BR>mengobati lukamu," katanya sambil menotok dan mengurut jalan-jalan darah<BR>di seluruh lengan dan pundak The Sun, kemudian menyalurkan hawa murni<BR>melalui telapak tangan kanan pemuda itu. The Sun terkejut dan berkali-kali<BR>mengeluarkan suara memuji. Setelah luka dalam itu sembuh oleh pengobatan<BR>Kun Hong yang mempergunakan sinkang di tubuhnya, The Sun menarik napas<BR>panjang dan berkata,<BR>"Aahhh, ternyata biarpun aku bermata, aku lebih buta daripada kau, Kwa-lote.<BR>Aku hanya mengira bahwa kau seorang di antara saudara-saudara<BR>seperjuangan menentang kekuasaan kaisar muda yang talim. Tidak tahunya<BR>kau adalah seorang ahli yang memiliki kesaktian seperti ini! Benar-benar amat<BR>memalukan kalau kuingat betapa tadi aku memperlihatkan kebodohan dan<BR>kedangkalan ilmu silatku di depan seorang sakti!"<BR>Kun Hong tersenyum dan menjura. "The-twako, kau seorang yang lihai, tidak<BR>perlu merendah seperti ini. Aku bukan apa-apa hanya mempunyai sedikit ilmu<BR>pengobatan. Terus terang saja, aku bukanlah anggauta pejuang, aku tidak<BR>bisa disamakan dengan kau seorang patriot. Secara kebetulan saja aku<BR>mempunyai tugas yang ada hubungannya dengan perjuangan menentang<BR>kaisar baru."<BR>"Sudah kuduga, sudah kuduga sebelumnya, kau tentu bukan seorang biasa.<BR>Betulkah desas-desus itu bahwa kau menerima surat rahasia dari bekas<BR>pembesar Tan Hok? Atau....... masih belum percayakah kau kepadaku?"<BR>Bimbang hati Kun Hong, pikirannya bekerja keras dan dia mendapat akal.<BR>"Bukan begitu, The-twako, akan tetapi soalnya karena aku harus berhubungan<BR>dengan orang yang berhak. Sesungguhnya, biarpun aku mempunyai hubungan<BR>dengan paman Tan Hok, akan tetapi aku tidak diserahi sebuah pun surat<BR>rahasia, hanya aku merampasnya kembali sebuah mahkota kuno yang<BR>terampas dari tangan paman Tan Hok."<BR>"Mahkota kuno? Ah, segala benda berharga, apa artinya diperebutkan?"<BR>terdengar suara The Sun kecewa. Diam-diam Kun Hong mengambil kesimpulan<BR>bahwa pemuda pejuang ini ternyata belum tahu akan rahasia mahkota kuno<BR>yang menjadi tempat penyimpanan surat rahasia yang diperebutkan itu. "Ah<BR>sayang sekali kau tidak tahu tentang surat itu, Kwa-lote. Surat itu luar biasa<BR>pentingnya bagi perjuangan dan kalau sampai terjatuh ke tangan musuh,<BR>celaka."<BR>"Surat apakah yang kau maksudkan itu, The-twako?" Kun Hong memancing.<BR>The Sun tidak segera menjawab, dari gerakannya tahulah Kun Hong bahwa<BR>pemuda itu pergi mendekati pintu, agaknya menyelidik kalau-kalau ada orang<BR>yang mendengarkan di tempat itu. Namun dengan ketajaman telinganya Kun<BR>Hong yakin bahwa di tempat itu, selain mereka berdua, tidak ada orang lain<BR>lagi.<BR>Kemudian The Sun datang lagi mendekati Kun Hong dan berkata lirih. "Surat<BR>itu adalah surat peninggalan mendiang kaisar tua yang diserahkan kepada<BR>bekas pembesar Tan Hok. Isi surat itu mengatakan bahwa kaisar tua memberi<BR>kekuasaan penuh kepada Raja Muda Yung Lo dari utara untuk mewakilinya<BR>memberi hukuman kepada kaisar muda yang baru ini andaikata kaisar baru ini<BR>menyeleweng. Nah, bukankah amat penting surat itu? Jika surat itu<BR>diperlihatkan kepada para menteri dan pembesar yang berada di kota raja,<BR>tentu menimbulkan keributan besar karena sebagian besar tentu saja tunduk<BR>kepada pesan terakhir kaisar tua pendiri Kerajaan Beng. Sebaliknya kalau<BR>terjatuh ke tangan musuh dan dibasmi, tentu amat merugikan perjuangan."<BR>Mendengar ini, makin menipis keraguan hati Kun Hong. Tak salah lagi, pemuda<BR>gagah ini tentulah seorang pejuang yang diberi kepercayaan dari Raja Muda<BR>Yung Lo. Memang patut diberi kepercayaan karena orang ini amat cerdik.<BR>Kalau tidak cerdik, mana mungkin seorang yang bertugas mata-mata dapat<BR>seenaknya tinggal di kota raja, malah dikenal oleh para penjaga dan pengawal<BR>istana sebagai seorang kongcu dan siucai? Ingin sekali dia tahu murid siapakah<BR>pemuda ini dan sampai di mana tingkat ilmu silatnya. Tentu saja Kun Hong<BR>tidak berani bertanya tentang ini, apalagi menguji kepandaiannya, namun<BR>diam-diam dia sudah menjadi makin kagum saja.<BR>"Wah, kalau begitu benar-benar amat penting surat rahasia itu, The-twake.<BR>Sayang aku tidak tahu akan hal itu.<BR>Tentang mahkota kuno ini, aku bermaksud untuk menyerahkan kepada<BR>seorang sahabat baikku. Maka kuharap kau sudi menolongku mencarikan<BR>sahabatku itu. Dia seorang pejuang kawakan dan tentu kau mengenalnya."<BR>"Siapakah dia?"<BR>"Dia adalah Hwa I Lokai ketua dari perkumpulan pengemis Hwa I Kaipang."<BR>"Ah, dia.....?" Suara The Sun terdengar seperti orang kaget. Akan tetapi<BR>menjadi tenang kembali ketika berkata. "Tentu saja aku, mengenalnya dengan<BR>baik. Siapa yang tidak mengenal Hwa I Lokai yang amat lihai? Akan tetapi,<BR>mencari Hwa I Lokai kiranya lebih sukar daripada mencari iblis sendiri.<BR>Perkumpulan pengemis itu adalah perkumpulan rahasia, sama pengaruhnya<BR>seperti perkumpulan Pek-lian-pai yang juga menentang kaisar."<BR>Kun Hong mengangguk-angguk. "Kurasa kalau kau dapat mencari seorang dua<BR>orang anggauta Hwa I Kaipang dan dapat mengajak mereka, tentu akan<BR>mudah menjumpai Hwa I Lokai. Tolonglah cari dia dan ajak Hwa I Lokai datang<BR>ke sini menemuiku. Asal kau katakan bahwa Kwa Kun Hong yang minta dia<BR>datang, pasti dia akan datang ke sini."<BR>"Wah-wah, kiranya kau begini berpengaruh, Kwa-lote? benar-benar membuat<BR>aku makin tunduk dan kagum."<BR>"Bukan, bukan........ sama sekali tidak ada hubungannya dengan perjuangan.<BR>Soalnya karena....... beberapa tahun yang lalu aku pernah mencampuri urusan<BR>dalam mereka, urusan Hwa I Kaipang dan akhirnya aku diangkat mereka<BR>menjadi ketua kehormatan. Itulah, tidak ada sebab lain."<BR>Jilid 16 : bagian 2<BR>The Sun diam sampai lama, agaknya bimbang dan ragu apakah dia akan<BR>mampu mencari kakek itu. Kemudian katanya lagi, "Kwa-lote, daripada susahsusah<BR>mencari Hwa I Lokai, apakah bedanya kalau kau serahkan saja tugas itu<BR>kepadaku? Disuruh ke mana pun aku akan pergi, asal saja urusan itu penting<BR>untuk perjuangan."<BR>"Maaf, The-twako, soalnya bukan tidak percaya kepadamu, akan tetapi aku<BR>harus tidak mengecewakan paman Tan Hok yang sudah menaruh kepercayaan<BR>kepadaku."<BR>Akhirnya The Sun pergi setelah berkata, "Baik akan kucari Hwa I Lokai. Kau<BR>tunggulah saja di sini, lote."<BR>Ternyata Kun Hong harus menanti sehari penuh. Hari telah mulai sore dan Kun<BR>Hong sudah kehabisan sabar. Selain merasa lelah menunggu dan lapar, dia<BR>juga tidak suka berada dalam keadaan yang serba tiada ketentuan itu. Dia<BR>sudah hampir pergi meninggalkan tempat itu untuk mencoba mencari sendiri<BR>ketika terdengar derap langkah beberapa orang memasuki bangunan tua ini.<BR>Kun Hong cepat berdiri tegak menanti dengan sikap tenang namun penuh<BR>kesiap siagaan. Kiranya The Sun yang datang itu, bersama tiga orang kakek<BR>pengemis.<BR>"Kwa-lote, tidak mungkin bertemu dengan Hwa I Lokai karena dia sedang<BR>pergi keluar kota, agaknya ke utara. Akan tetapi aku bertemu dengan tiga<BR>orang tokoh Hwa I Kaipang, kuajak mereka ke sini."<BR>Adapun tiga orang pengemis tua yang pakaiannya berkembang-kembang itu<BR>begitu, melihat Kun Hong lalu serentak menjatuhkan diri berlutut dan seorang<BR>di antara mereka berkata,<BR>"Ah, kiranya Kwa-pangcu (ketua pengemis Kwa) berada di sini! Kami bertiga<BR>pengemis tua menyampaikan hormat kepada Kwa-pangcu."<BR>"Sam-wi lokai (Saudara pengemis tua bertiga) tidak usah berlutut dan terlalu<BR>sungkan, akan tetapi aku tidak mengenal suara sam-wi. Maaf, sam-wi<BR>siapakah dan apa kedudukan sam-wi di Hwa I Kai-pang?"<BR>"Tidak aneh kalau Kwa-pangcu belum mengenal kami karena sudah bertahuntahun<BR>Kwa-pangcu tidak pernah datang mengunjungi Hwa I Kaipang. Kami<BR>bertiga adalah pembantu-pembantu Lo-pang di samping Coa Lokai, sebagai<BR>pengganti dari Sun Lokai dan Beng Lokai yang telah diusir. Kami bertiga tahu<BR>semua akan kejadian beberapa tahun yang lalu ketika Kwa-pangcu datang dan<BR>membereskan keruwetan yang terjadi pada Hwa I Kaipang."<BR>Kun Hong mengangguk-angguk. Teringat dia akan pengalamanpengalamannya<BR>beberapa tahun yang lalu sebelum dia menjadi cacat kedua<BR>matanya. Memang, karena dia berhasil membereskan keributan yang terjadi<BR>karena perebutan kedudukan ketua di perkumpulan Hwa I Kaipang, dia malah<BR>diangkat menjadi ketua mereka (baca Rajawali Emas)! Dengan menggunakan<BR>akal untuk mencegah terjadinya keributan, dia menerima kedudukan ketua,<BR>akan tetapi dia mewakilkannya kembali kepada Hwa I Lokai yang dia angkat<BR>menjadi ji-pangcu (ketua ke dua). Tiba-tiba muka Kun Hong mengerut di<BR>bagian antara kedua matanya yang buta. Kenapa ketiga orang pengemis tua<BR>ini menyebut Hwa I Lokai sebagai lo-pangcu, tidak ji-pangcu?<BR>"Lo-pangcu kami sedang pergi ke utara untuk tugas perjuangan, dan pangcu<BR>telah memesan kepada kami apabila ada orang mencarinya untuk<BR>menyampaikan pesan rahasia atau surat rahasia, boleh kami mewakilinya.<BR>Oleh karena itu, setelah mendengar keterangan tentang Kwa-pangcu dari Thekongcu,<BR>kami segera datang menghadap ke sini. Sekarang, kami menanti<BR>perintah dan petunjuk Kwa-pangcu."<BR>Tiba-tiba Kun Hong membuat gerakan kilat dan tahu-tahu tangannya telah<BR>menangkap pergelangan lengan pengemis terdekat, lalu dia membentak.<BR>"Siapakah kalian? Jangan coba-coba mengelabui seorang buta! Kalian<BR>bukanlah pembantu-pembantu Hwa I Lokai!"<BR>Pada saat itu terdengar suara ribut-ribut di luar bangunan itu dan ternyata<BR>banyak sekali orang berpakaian pengawal istana berlompatan masuk. Di<BR>antara suara mereka, Kun Hong mengenal suara Tiat-jiu Souw Ki yang<BR>berseru, "Betul dia si buta yang merampas mahkota kuno. Hati-hati dia lihai!"<BR>Pengemis yang dipegang pergelangan tangannya oleh Kun Hong itu berseru<BR>keras dan meronta. Kun Hong terpaksa melepaskan pegangannya karena dia<BR>harus menghadapi bahaya baru yang datang dari luar. Dia taksir bahwa yang<BR>datang ini belasan orang banyaknya dan segera terdengar suara senjata tajam<BR>dicabut dan digerakkan.<BR>"Kwa Kun Hong, kau sudah terkepung! Lebih baik menyerah dan serahkan<BR>mahkota serta surat rahasia yang dipercayakan Tan Hok kepadamu!"<BR>terdengar suara seorang laki-laki tua yang suaranya tinggi melengking.<BR>Dari gerak-gerik mereka itu tahulah Kun Hong bahwa dia dikepung oleh orangorang<BR>pandai yang memiliki kepandaian tinggi. Namun dia tidak gentar, siap<BR>mempertahankan mahkota kuno itu dengan taruhan nyawanya. Hanya satu hal<BR>yang membuat dia gelisah, yaitu keselamatan The Sun. Kasihan kalau sampai<BR>pemuda itu ikut celaka karena menolongnya. Dia ingin memancing<BR>pertempuran agar semua orang mengeroyoknya dan memberi kesempatan<BR>kepada The Sun dalam keributan itu untuk melarikan diri. Dia lalu tertawa<BR>bergelak.<BR>"Ha-ha-ha-ha, anjing-anjing penjilat kaisar lalim! Kalau memang kaisar muda<BR>yang baru ini seorang yang benar, mengapa takut akan segala surat rahasia<BR>peninggalan kaisar tua? Aku tidak tahu di mana surat yang kalian cari-cari itu,<BR>akan tetapi kalau mahkota kuno memang berada padaku. Akan tetapi jangan<BR>harap aku sudi menyerah dan memberikan mahkota kuno itu kepada siapa pun<BR>juga di antara kalian! Kalau kalian dapat, boleh tangkap aku!"<BR>Tentu saja para pengawal istana itu marah sekali mendengar betapa seorang<BR>buta menantang mereka. Mereka itu memaki-maki dan mulai mendesak maju<BR>untuk berlomba menangkap atau merobohkan Kun Hong.<BR>Tiba-tiba tiga orang berpakaian pengemis itu yang berdiri paling dekat dengan<BR>Kun Hong dan yang diam-diam telah mempersiapkan senjata mereka, yaitu<BR>masing-masing sebatang tongkat, serentak menyerang....... Kun Hong!<BR>Kalau saja Kun Hong tadinya tidak menaruh hati curiga kepada tiga orang ini,<BR>agaknya dia akan terkena serangan gelap, atau setidaknya akan terkejut<BR>sekali. Akan tetapi dia tadi memang sudah menduga bahwa tiga orang<BR>pengemis ini adalah anggauta-anggauta Hwa I Kaipang yang palsu, yang<BR>agaknya sengaja menyamar sebagai anggauta-anggauta Hwa I Kaipang untuk<BR>menipunya. Maka sekarang menghadapi penyerangan mereka, dia malah<BR>tertawa mengejek, tubuhnya berkelebat cepat dan aneh, kedua tangannya<BR>bekerja dan....... berturut-turut tubuh tiga orang pengemis tua itu melayang<BR>ke arah para pengawal yang maju hendak mengeroyoknya.<BR>Akan tetapi Kun Hong segera harus mencurahkan seluruh perhatiannya<BR>menghadapi pengereyokan para pengawal istana yang mulai dengan<BR>penyerangan mereka itu. Mula-mula dia hanya mempergunakan langkahlangkah<BR>ajaib untuk menghindarkan diri dari setiap sambaran senjata, akan<BR>tetapi karena para pengeroyoknya terdiri dari orang-orang berkepandaian<BR>tinggi, Kun Hong mulai menggerakkan tongkatnya untuk menangkis.<BR>"The-twako, harap lekas kau pergi!" Kun Hong sempat berseru beberapa kali<BR>karena dia benar-benar nnerasa khawatir kalau-kalau penolongnya itu akan<BR>terbawa-bawa. Akan tetapi tak mungkin dia dapat memperhatikan dan mencari<BR>tahu keadaan pemuda itu karena kepungan dan pengeroyokan ketat para<BR>pengawal istana itu benar-benar membuat dia sangat sibuk. Telah ada<BR>beberapa buah senjata lawan dapat dia pukul dan terlepas dari pegangan,<BR>sedangkan tangan kirinya sudah merobohkan tiga orang yang terkena<BR>dorongannya. Akan tetapi serbuan para pengeroyok makin hebat sehingga<BR>terpaksa Kun Hong kini mainkan Ilmu Pedang Im-yang-sin-kiam sambil tidak<BR>lupa mencelat ke sana ke mari mempergunakan langkah sakti dari ilmu Silat<BR>Kim-tiauw-kun. Ributlah para pengeroyok itu, terdengar seruan-seruan kaget<BR>dan beberapa orang roboh lagi. Akan tetapi mereka itu roboh hanya untuk<BR>sejenak saja karena Kun Hong sama sekali tidak mau mempergunakan<BR>pukulan maut, cukup baginya kalau dapat mendorong orang roboh atau<BR>membuat senjatanya terlempar.<BR>"The-twako, tinggalkan aku......!" Dia sempat berseru lagi sambil berusaha<BR>membuka jalan ke luar dari rumah itu. Dia dapat menduga bahwa waktunya<BR>sekarang tentu hampir malam, karena dia tadi telah menunggu sehari penuh<BR>dan hawa siang yang panas telah mulai menghilang tadi.<BR>"The-twako, pergilah, biar aku menghadapi sendiri anjing-anjing ini!" serunya<BR>lagi. Dia pikir bahwa kalau hari sudah menjadi gelap dan dia sudah berhasil ke<BR>luar dari kepungan dan lari ke luar rumah, agaknya akan lebih mudah baginya<BR>untuk melarikan diri. Tentu saja dia akan dikejar, akan tetapi dia dapat<BR>merobohkan setiap orang pengejar dan mencoba untuk lari keluar dari tembok<BR>kota raja, atau mencari tempat sembunyi yang lebih baik.<BR>"Kwa-lote, jangan khawatir aku membantumu!" tiba-tiba suara The Sun<BR>terdengar dan tahu-tahu pemuda itu sudah berada di dekatnya, malah kini The<BR>Sun menggerakkan pedangnya menangkis be-erapa senjata para pengeroyok.<BR>"Ah, jangan, The-twako. Tak perlu kau membantu, larilah.......!" kata Kun<BR>Hong sambil menghantam runtuh sebuah tombak panjang dengan tangan<BR>kirinya yang dimiringkan.<BR>"Aha, kau hebat, Lote. Tapi, jangan kira aku pengecut! Aku pun berani<BR>mengorbankan nyawa untuk perjuangan......."<BR>"Ah, jangan......." Kun Hong terharu dan saking marahnya kepada para<BR>pengeroyok, sekali kaki kirinya menendang, dua orang berteriak kesakitan dan<BR>terlempar ke belakang.<BR>"Kwa-lote, kulihat para perwira kerajaan datang. Mereka lihai....... aku tidak<BR>takut, akan tetapi sayang....... bagaimana kalau sampai rahasia yang kau<BR>bawa terjatuh ke tangan mereka? Lebih baik kau serahkan kepadaku, katakan<BR>ke mana harus kusampaikan rahasia itu lebih penting daripada nyawa kita."<BR>Kun Hong memutar otaknya sambil menghadapi pengeroyokan yang makin<BR>ketat itu. Benar juga, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan mahkota kuno<BR>dengan rahasianya, hanya menyerahkan kepada The Sun.<BR>"Lekas, ambil mahkota di buntalanku....... kau bawa lari......."<BR>"....... mahkota.......?" The Sun berbisik, suaranya kecewa, "untuk apa benda<BR>itu? Surat rahasia itu yang penting!"<BR>"Tiada waktu bicara panjang lebar......" Kun Hong mengambil keluar mahkota<BR>itu dan menyerahkan kepada The Sun dengan tangan kirinya sedangkan<BR>tongkatnya diputar melindungi mereka berdua. "Bawa ini kepada anggautaanggauta<BR>Pek-lian-pai, tentu mereka mengerti....... lekas kau pergi......."<BR>The Sun menerima mahkota itu. Pada saat itu, empat orang perwira yang<BR>bersenjata golok telah menerjang masuk. Gerakan golok mereka berat dan<BR>cepat. Desir angin senjata mereka membuat Kun Hong maklum bahwa kali ini<BR>dia harus mempertahankan diri mati-matian karena sekian jumlah musuh<BR>amat banyak, juga ternyata makin lama yang datang mengeroyoknya adalah<BR>orang-orang yang makin tinggi ilmu kepandaiannya.<BR>"The-twako lekas pergi! Menanti apa lagi?" bentaknya ketika belum juga dia<BR>mendengar sahabatnya itu melompat pergi meninggalkannya.<BR>Lama The Sun tak menjawab kemudian terdengar suaranya. "Nanti dulu, aku<BR>menanti saat baik......." Pada saat itu, empat buah golok besar yang bergerak<BR>bagaikan empat ekor naga menyambar, bercuitan di atas kepada Kun Hong,<BR>dibarengi bentakan seorang di antara para perwira.<BR>"Pemberontak buta, lebih baik kau menyerah!"<BR>Kun Hong terkejut sekali. Jurus keempat buah golok yang dipersatukan ini<BR>benar-benar amat berbahaya. Cepat dia melintangkan tongkatnya di depan<BR>dada dan kakinya yang kiri tiba-tiba menyapu dengan gerakan cepat tak<BR>terduga. Empat orang perwira itu kaget dan meloncat sambil membabatkan<BR>golok. Kun Hong menangkis sekaligus, tongkatnya seakan-akan tergencet<BR>empat batang golok dari empat orang perwira yang mempersatukan tenaga.<BR>Kun Hong menanti saat baik untuk memperoleh kemenangan, akan tetapi tibatiba<BR>dia mendengar The Sun mendekatinya, Dia mengira bahwa sahabatnya ini<BR>hendak membantunya karena mengkhawatirkan keadaannya. Akan tetapi<BR>alangkah kagetnya ketika mendada dia merasa betapa jalan darahnya di<BR>punggung ditotok orang. Seketika tubuhnya menjadi lemas seperti lumpuh dan<BR>pada saat itu, sebatang pedang tajam yang datang dari tempat The Sun<BR>menyambar, menikam ke arah lambungnya!<BR>Kun Hong mengerahkan seluruh tenaga sakti di dalam tubuhnya. Dia dapat<BR>mengusir pengaruh totokan dan jalan darahnya normal kembali, akan tetapi<BR>karena pengerahan tenaga ini, gerakannya kurang cepat ketika mengelak dan<BR>"craattt!" ujung pedang itu biarpun tidak mengenai lambungnya, masih<BR>menancap dan mengiris robek kulit dan daging pada pangkal pahanya bagian<BR>belakang!<BR>"The Sun keparat jahanan!!" Kun Hong menggereng, tubuhnya menubruk<BR>maju, tongkat dan tangan kirinya dikerjakan. Gerakannya cepat laksana kilat<BR>menyambar sehingga dia berhasil merampas kembali mahkota dari tangan The<BR>Sun, akan tetapi dia tidak berhasil merobohkan The Sun yang cepat<BR>menghindar pergi sambil tertawa mengejek. Agaknya pemuda yang ternyata<BR>adalah seorang di antara musuh itu telah maklum akan kelihaian Kun Hong<BR>dan tidak mau secara ceroboh menyambut serangan tadi.<BR>Kun Hong cepat menyimpan mahkota dalam buntalannya lagi dan dadanya<BR>penuh hawa amarah, penuh dendam dan penasaran. Ternyata dia telah ditipu<BR>oleh The Sun! Dia telah dipermainkan, dan tahulah dia pula sekarang bahwa<BR>tiga orang pengemis tua tadi pun adalah kaki tangan The Sun ini yang<BR>menyamar sebagai anggauta-anggauta Hwa I Kaipang! "The Sun, jahanam<BR>pengecut! Hayo maju lawan aku, jangan sembunyi seperti seorang pengecut<BR>hina!" Kun Hong menantang-nantang dengan kemarahan luar biasa. Dia tidak<BR>lagi bergerak lincah seperti tadi, melainkan berdiri seperti seekor harimau<BR>kepepet, akan tetapi setiap ada senjata pengeroyok melayang dekat, sekali<BR>menggerakkan tongkat senjata itu akan terpental kembali.<BR>Dari jauh terdengar The Sun menjawab dengan suara mengejek. "Pengemis<BR>buta hina, tak usah kau sombong! Lebih baik menyerah dan takluk. Kalau<BR>tidak, sebentar lagi pun kau akan roboh oleh luka itu, ha-ha-ha!"<BR>Kun Hong menggerakkan tubuhnya, mencelat ke arah suara. Tongkat dan<BR>tangan kirinya bergerak aneh ke depan. Terdengar jerit mengerikan ketika dua<BR>orang perwira yang tak sempat menyingkir, tahu-tahu telah terbabat putus<BR>pinggang mereka dan hancur mengerikan kepala mereka terkena hantaman<BR>atau Cengkeraman tangan kiri Kun Hong. Kiranya dalam keadaan marah luar<BR>biasa ini, tanpa disadarinya Kun Hong telah mempergunakan jurus "Sakit Hati"<BR>hasil ciptaannya sendiri yang ditunjukkan oleh kakek sakti Song-bun-kwi!<BR>Bukan main marahnya para perwira ketika melihat dua orang teman mereka<BR>roboh tak bernyawa dalam keadaan yang begitu mengerikan. Mereka merasa<BR>ngeri, akan tetapi kemarahan membuat mereka nekat menyerbu sambil<BR>berteriak-teriak. Kini yang menyerbu adalah perwira-perwira pilihan yang<BR>memiliki kepandaian tinggi, karena yang berkepandaian lebih rendah<BR>tingkatnya daripada dua orang perwira yang tewas itu tidak ada yang berani<BR>maju mendekat!<BR>Seorang perwira tinggi besar bermuka hitam, dia ini adalah orang yang siang<BR>tadi datang bersama The Sun dan tidak mengeluarkan kata-kata sesuatu,<BR>seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan senjatanya adalah sepasang<BR>ruyung baja yang dipasangi duri, sekarang maju dan menerjang Kun Hong<BR>dengan sepasang ruyungnya menyambar dari kiri dan dari atas. Berbareng<BR>dengan serangan ini, seorang perwira lain yang bertubuh gemuk pendek<BR>menerjang dengan pedangnya dari belakang, menusuk punggung Kun Hong<BR>sambil menggerakkan tangan kiri dengan pengerahan tenaga Iweekang untuk<BR>bersiap menyusul dengan pukulan apabila pedangnya tidak berhasil. Beberapa<BR>detik kemudian daripada serangan pedang ini, seorang perwira lain yang kurus<BR>dan bermuka kuning menyerang pula dari sebelah kanan, senjatanya adalah<BR>sepasang kongce (tombak cagak) yang bergagang pendek. Gerakannya cepat<BR>bertenaga dan ujung kongce itu tergetar dengan hebat ketika dia menusuk ke<BR>arah lambung Kun Hong.<BR>Kun Hong sudah seperti orang keranjingan. Dia tidak bergerak, seperti sebuah<BR>patung, akan tetapi andaikata Song-bun-kwi berada di situ, tentu kakek yang<BR>dijuluki iblis ini akan merasa ngeri melihat kedudukan tubuh atau pasangan<BR>kuda-kuda pemuda buta itu, karena dia mengenal betul kuda-kuda mujijat itu.<BR>Tubuh pemuda buta ini tak bergerak seperti patung, kaki kanan di depan<BR>dengan ujungnya berjungkit, kaki kiri di belakang ditekuk lututnya, tangan<BR>kanan memegang tongkat melintang di atas kepala, tangan kiri dengan jarijari<BR>tangan terbuka seperti hendak mencengkeram sesuatu dari tanah,<BR>mulutnya agak terbuka, dadanya turun naik, hidungnya kembang-kempis dan<BR>dari ubun-ubun dan kedua lengannya mengepul uap putih! Inilah kuda-kuda<BR>dari jurus Sakit Hati yang amat dahsyat dan mujijat itu! Dia seakan-akan<BR>membiarkan tiga orang perwira dengan senjata masing-masing itu<BR>menerjangnya, dan seakan-akan ruyung baja sepasang itu sudah akan<BR>meremukkan kepalanya, pedang si gemuk pendek sudah hampir menembus<BR>punggungnya dan senjata kongce itu pasti akan menembus lambungnya.<BR>"Haiiii!!" Tiba-tiba suara nyaring seperti guntur ini memekakkan telinga semua<BR>pengeroyok, tampak sinar kemerahan menyambar menyilaukan mata, tubuh<BR>Kun Hong bergerak sedikit dan....... tiga orang perwira itu seakan-akan<BR>tertahan gerakannya karena tiba-tiba saja gerakan mereka terhenti, tubuh<BR>mereka berdiri kaku seperti disambar halilintar sedangkan Kun Hong sudah<BR>memasang kuda-kuda lagi seperti tadi.<BR>Semua pengeroyok berdiri bengong, kemudian muka mereka menjadi pucat<BR>dan hati mereka ngeri bukan main ketika tiga orang perwira yang tadinya<BR>berdiri, tegak kaku itu tiba-tiba roboh ke atas tanah dan...... tubuh mereka<BR>putus menjadi dua di bagian pinggang sedangkan kepala mereka hancur!<BR>Tanpa ada orang yang dapat melihat atau mengetahui bagaimana caranya,<BR>tiga orang perwira itu tadi sudah mati seketika karena pinggang mereka<BR>terbabat putus dan kepala mereka dihantam remuk! Inilah akibat dari jurus<BR>Sakit Hati yang kembali sudah merobohkan tiga orang korban dalam waktu<BR>beberapa detik saja. Kun Hong menggigit bibirnya menahan sakit. Luka di<BR>pangkal paha sebelah belakang amat perih dan panas, juga ada rasa gatalgatal<BR>yang amat nyeri. Seluruh punggungnya terasa kaku. Dia tahu bahwa<BR>lukanya itu amat berbahaya, tertusuk pedang yang ujungnya diberi racun yang<BR>amat berbahaya, mungkin racun ular. Tentu saja dia akan dapat<BR>menyembuhkan luka itu kalau dia mendapat kesempatan. Akan tetapi dia<BR>sama sekali tidak diberi kesempatan untuk itu, maka satu-satunya jalan yang<BR>dapat dia lakukan hanyalah mengerahkan tenaga dalam dan mendorong hawa<BR>sakti di tubuhnya untuk menahan racun itu agar jangan menjalar ke dalam<BR>tubuh. Sementara itu hatinya risau bukan main. Dia telah membunuh lima<BR>orang dalam waktu beberapa detik saja dan dia dapat membayangkan betapa<BR>hebat dan mengerikan kematian lima orang lawannya itu. Akan tetapi pada<BR>saat itu, biarpun agak risau dan tak enak hatinya, pikirannya memaksanya<BR>untuk tidak mengambil peduli. Dia didesak, diancam maut, dan perasaannya<BR>dilukai oleh penipuan The Sun.<BR>Betapapun marahnya, Kun Hong bukanlah orang nekat yang hendak mengadu<BR>nyawa dengan musuh-musuhnya. Setelah merobohkan tiga orang dan tidak<BR>mendengar ada pengeroyok bergerak menyerangnya lagi, kakinya otomatis<BR>bergerak melangkah, mempergunakan langkah-lang-kah yang dia namai Huithian-<BR>jip-te itu menuju ke pintu bangunan tua. Dia bermaksud untuk melarikan<BR>diri, menghindarkan pertempuran lebih jauh. Tadinya dia melayani<BR>pertempuran hanya Karena dia hendak melindungi mahkota itu. Dan hampir<BR>tanpa dia sadari dia telah menggunakan jurus dahsyat itu sampai menewaskan<BR>lima orang karena terdorong kemarahan yang hebat terhadap The Sun yang<BR>telah menipunya.<BR>"Penjahat buta jangan lari!" terdengar bentakan dan kembali ada belasan<BR>senjata mengepungnya. Kun Hong tersenyum mengejek tapi hatinya<BR>mengeluh. Agaknya para perwira ini benar-benar merupakan anjing-anjing<BR>penjilat yang beraninya hanya mengeroyok.<BR>"Aku bosan mendengar suara kalian, aku hendak pergi dari sini. Siapa berani<BR>melarang?" Katanya perlahan sambil melanjutkan langkahnya keluar.<BR>Sebatang toya dengan kuatnya menghantam belakang kepalanya dari kanan,<BR>digerakkan oleh dua buah tangan yang bertenaga besar. "Blukkk!" Ujung toya<BR>menghantam kepala demikian kerasnya sehingga robohlah seketika orang itu<BR>dengan kepala keluar kecap! Tapi bukan Kun Hong orang itu, melainkan si<BR>pemegang toya sendiri, Ketika toya tadi menyambar, Kun Hong melejit ke<BR>samping, tongkatnya bergerak dan dengan tenaga "menempel" tongkatnya<BR>seakan-akan menangkap toya itu, meneruskan dengan meminjam tenaga<BR>malah ditambahhya dengan tenaga sendiri, memaksa toya itu terayun balik<BR>dan menghantam kepala si pemegangnya sendiri!<BR>Para perwira bengong. Inilah aneh! Mana mungkin seorang perwira<BR>berkepandaian tinggi, terkenal sebagai ahli toya di antara mereka, mempunyai<BR>jurus yang demikian aneh dan goblok sehingga toya itu berbalik menghantam<BR>kepala sendiri? Memang bagi orang luar, nampaknya di pemegang toya tadi<BR>seperti memukul kepala dengan toyanya sendiri karena gerakan Kun Hong<BR>demikian cepatnya sehingga sukar diikuti pandangan mata.<BR>Hanya sebentar saja para perwira itu bengong, segera mereka menerjang lagi,<BR>lebih marah dan penasaran lagi. Mana patut sekian banyaknya perwira pilihan<BR>dari istana pengepung seorang pemuda buta saja sampai tidak mampu<BR>merobohkan atau menawan? Kun Hong terpaksa menggerakkan tongkatnya<BR>lagi karena tak mungkin hanya mengandalkan langkah-langkah ajaib saja<BR>menghadapi pengeroyokan dan pengepungan demikian ketat. Kembali dia<BR>mengeluh karena terpaksa dia berlaku kejam, menggunakan kepandaiannya<BR>untuk merobohkan setiap orang yang menghalang jalannya. Dia tidak mau<BR>memberi hati, tidak mau bersabar lagi karena soalnya sekarang adalah mati<BR>atau hidup. Kalau dia kalah, tentu dia akan mati dan kalau dia ingin hidup, dia<BR>terpaksa harus merobohkan, melukai bahkan mungkin membunuh orang!<BR>Hebat pertempuran itu. Bagaikan hujan bermacam senjata menerjang Kun<BR>Hong dari semua jurusan. Dan semua orang kaget, heran, kagum tiada<BR>habisnya. Orang buta itu seperti orang memiliki puluhan pasang mata saja,<BR>seakan-akan semua bagian tubuhnya bermata! Gerakannya aneh dan tampak<BR>lambat tapi pada hakekatnya cepat sekali, pukulan dan hantaman tongkatnya<BR>perlahan tapi pada hakekatnya amatlah kuat melihat betapa setiap benturan<BR>senjata pasti membuat senjata pengeroyok terlepas.<BR>Sudah belasan orang roboh oleh tongkat, tamparan tangan kiri, atau<BR>tendangan Kun Hong, Sedikit demi sedikit dia telah mendekati pintu. Biarpun<BR>belum lama dia tinggal di rumah tua ini, dia telah hafal dan sekarang tahulah<BR>dia bahwa dia sudah berada dekat dengan pintu keluar. Dia mengeluarkan<BR>suara keras, tongkatnya berkelebat dan kembali robohlah tiga orang<BR>pengeroyoknya yang menghadang di depannya. Sekali dia menggenjot tubuh,<BR>dia telah berhasil menerobos pintu dan kini dia telah berada di luar rumah.<BR>Hawa malam yang dingin segar menyambutnya setelah dia keluar dari<BR>bangunan itu. Timbul semangatnya dan dia sudah siap melompat dan<BR>mempergunakan ilmu lari cepatnya dengan untung-untungan karena kalau dia<BR>menabrak pohon atau terjerumus jurang, tentu dia akan celaka, Dia harus<BR>dapat membebaskan diri dari orang-orang itu, apalagi sekarang selain luka itu<BR>membuat dia lelah dan kaku, juga amat nyeri.<BR>"Kwa Kun Hong, kau hendak lari ke mana? Lebih baik menyerah dan kalau kau<BR>bersedia takluk, aku yang tanggung kau akan mendapat kedudukan besar<BR>sebagai tabib negara!" tiba-tiba terdengar suara orang dan mendengar suara<BR>ini seketika muka Kun Hong menjadi merah saking marahnya. Itulah suara The<BR>Sun!<BR>Munculnya The Sun ini tiba-tiba menghentikan semua pengeroyokan. Dengan<BR>telinganya Kun Hong dapat mendengar betapa para perwira yang<BR>mengepungnya tadi dan yang kini sudah mengejar sampai di luar, membuat<BR>lingkaran lebar seakan-akan memberi tempat kepadanya untuk berhadapan<BR>dengan The Sun. Depan bangunan itu memang merupakan pekarangan<BR>rumput yang luas.<BR>Kun Hong berhati-hati, tidak mau berlaku sembrono. Dia mendengar pula<BR>suara api menyala-nyala, dan dapat menduga bahwa tempat itu tentu<BR>diterangi oleh banyak obor yang dipegang oleh para pengawal dan penjaga.<BR>Dia maklum bahwa The Sun memiliki kepandaian tinggi, hal ini dapat<BR>dibuktikan tadi ketika dia menerjang The Sun, dia tidak berhasil mengenai<BR>pemuda itu, hanya dapat merampas kembali mahkota kuno. Akan tetapi<BR>sebaliknya dia kena dicurangi dan dilukai. Juga dia tahu bahwa kalau dia<BR>melanjutkan pertempuran di tempat yang diterangi api obor itu, menghadapi<BR>pengeroyokan orang-orang pandai sedangkan dia sudah menderita luka parah,<BR>akhirnya dia akan roboh. Hal ini tidak ada gunanya. Dia tidak takut mati, akan<BR>tetapi khawatir kalau-kalau mahkota berikut rahasianya dirampas orang-orang<BR>ini. Yang paling penting menyelamatkan mahkota itu lebih dulu, menyerahkan<BR>kepada orang yang dapat dipercaya, baru kemudian menghadapi The Sun dan<BR>menghajar orang ini.<BR>Pikiran ini membuat Kun Hong menahan kemarahannya mendengar kata-kata<BR>The Sun yang membujuknya supaya menyerah dengan janji diberi kedudukan<BR>mulia. Tanpa menjawab, secara cepat dan tiba-tiba dia melayang ke arah<BR>orang itu sambil menggerakkan tongkatnya yang berkelebat lenyap berubah<BR>menjadi sinar kemerahan itu.<BR>"Tranggggg!" Pedang di tangan The Sun menangkis dan bertemu dengan<BR>tongkat itu. Kun Hong merasa betapa pedang pemuda itu adalah sebuah<BR>pedang pusaka yang ampuh sehingga tidak rusak oleh pedang di dalam<BR>tongkatnya, juga ternyata betapa tenaga The Sun amat kuat. Tergetarlah<BR>telapak tangannya ketika kedua senjata tadi bertemu. Di lain pihak, The Sun<BR>makin kagum karena pedang pusakanya yang ampuh itu tidak mampu<BR>membikin patah tongkat si buta ini dan telapak tangannya bahkan terasa sakit.<BR>Siapakah sebetulnya The Sun, pemuda yang amat cerdik, juga amat lihai ini?<BR>Baiklah kita menjenguk keadaan pemuda itu. Di pegunungan Go-bi-san<BR>terdapat banyak sekali puncak-puncak yang menjulang tinggi di angkasa.<BR>Karena keadaan pegunungan yang amat luas dan penuh rahasia alam ini,<BR>banyaklah terdapat pertapa-pertapa, orang-orang pandai dan sakti yang<BR>mengasingkan diri di sana. Malah partai Go-bi-pai terkenal sebagai partai<BR>persilatan besar yang mernpunyai banyak murid pandai. Akan tetapi bukan<BR>hanya Go-bi-pai saja yang terdapat di pegunungan itu. Banyak lagi orangorang<BR>pandai yang tidak bergabung pada partai Go-bi-pai ini, diam-diam<BR>melakukan pertapaan, malah kadang-kadang mempunyai seorang dua orang<BR>murid rahasia yang tiada sangkut-pautnya dengan Go-bi-pai yang besar.<BR>The Sun adalah seorang pemuda dari Go-bi-san. Ayahnya seorang bekas<BR>pembesar pada Pemerintahan Mongol yang melarikan diri setelah bangsa<BR>Mongol terusir oleh Ciu Goan Ciang dan para pejuang. Ayahnya yang bernama<BR>The Siu Kai adalah seorang pembesar militer yang memiliki kepandaian tinggi,<BR>dan merupakan seorang tokoh dari Go-bi-san pula. The Sun masih kecil sekali<BR>ketika dibawa lari mengungsi oleh ayahnya, sedangkan keluarga lain semua<BR>tewas dalam kekacauan perang.<BR>The Siu Kai yang terluka hebat ketika lari ke Go-bi-san membawa puteranya,<BR>akhirnya dapat juga mencapai sebuah puncak di mana tinggal gurunya, yaitu<BR>seorang tosu tua bermuka dan berkulit hitam, yang puluhan tahun bertapa di<BR>puncak itu tidak mau mencampuri urusan dunia ramai. Tosu tua ini karena<BR>kulitnya yang hitam disebut orang Hek Lojin (Orang Tua Hitam). Luka parah<BR>ditambah penderitaan selama melarikan diri ini tak dapat tertahan lagi oleh<BR>The Siu Kai dan dia tewas di depan kaki gurunya setelah berhasil membujuk<BR>gurunya agar supaya sudi mendidik The Sun putera tunggalnya.<BR>Demikianlah, The Sun yang masih kecil itu akhirnya dipelihara dan dididik oleh<BR>Hek Lojin, diberi pelajaran ilmu silat dan ilmu sastera sehingga akhirnya<BR>menjadi seorang pemuda yang amat pandai, lihai dan cerdik. Makin lama Hek<BR>Lojin makin cinta kepada murid cilik ini sehingga terbangkit pula gairahnya<BR>untuk urusan duniawi, akan tetapi bukan demi dirinya sendiri, melainkan demi<BR>muridnya terkasih itulah. Dia sengaja membawa The Sun turun gunung ke<BR>kota raja, malah menyuruh muridnya ini menempuh ujian di kota raja<BR>sehingga berhasil memperoleh gelar siucai. Akhirnya karena kepandaiannya,<BR>The Sun mendapat kepercayaan dari Pangeran Kian Bun Ti dan setelah<BR>pangeran ini menjadi kaisar, The Sun tetap menjadi orang kepercayaannya,<BR>malah mendapat tugas menghimpun kekuatan, mengumpulkan orang-orang<BR>pandai untuk memperkuat kedudukan kaisar baru ini yang maklum akan<BR>adanya ancaman-ancaman terhadap kedudukannya.<BR>Memang The Sun orang yang cerdik sekali. Dia menyebar mata-mata untuk<BR>menjaga keamanan kota raja, menyebar orang-orang pandai untuk<BR>menghubungi tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, malah dia berhasil<BR>mendatangkan banyak orang pandai di antaranya beberapa orang sakti yang<BR>kini sudah tinggal di kota raja pula.<BR>"Sayang, orang muda begini cerdik pandai dan lihai merendahkan diri menjadi<BR>anjing kaisar!" tak terasa lagi Kun Hong berseru ketika pemuda itu dapat<BR>menangkis tongkatnya dengan tenaga Iweekang yang mengagumkan!<BR>The Sun tertawa mengejek. "Kaulah yang patut disayangkan, seorang<BR>pendekar buta ahli pengobatan merendahkan diri menjadi pemberontak,<BR>mudah saja dihasut oleh para pengkhianat yang hendak memberontak<BR>terhadap pemerintah yang sah!"<BR>Jilid 17 : bagian 1<BR>Akan tetapi Kun Hong tidak mendengarkan ejekan ini karena kembali dia<BR>sudah bergerak, kini ke kiri untuk mencari jalan ke luar. Akan tetapi angin<BR>bertiup dari arah The Sun dan kembali pedang The Sun dengan amat cepatnya<BR>telah menghadang di depannya, bahkan mengirim tusukan maut yang amat<BR>dahsyat. Pedang yang ampuh digerakkan dengan jurus-jurus ilmu pedang dari<BR>Go-bi-san ini benar-benar luar biasa, bagi mereka yang dapat memandang<BR>tampak sinar yang berkeredepan, bagi Kun Hong terdengar bunyi berdesingdesing<BR>seperti sebuah gasing berputar cepat atau seperti kitiran angin dilanda<BR>angin kencang. "Hebat!" Dia memuji dan cepat menggerakkan tongkat.<BR>Kembali terdengar bunyi nyaring. "Trang-tring-trang-tring! ketika tongkat<BR>bertemu dengan pedang dan setelah saling serang bertukar tikaman dan<BR>babatan maut sampai tujuh jurus, keduanya kembali terpental ke belakang<BR>oleh benturan senjata yang amat keras.<BR>Kun Hong diam-diam mengeluh dalam hatinya. Pemuda ini benar-benar lihai.<BR>Agaknya kalau dilawan dengan Kim-tiauw-kun atau Ilmu Pedang Im-yang-sinkiam<BR>saja, biarpun akan menang akan tetapi akan menggunakan banyak<BR>waktu karena ilmu kepandaian pemuda itu memang tinggi sekali. Untuk<BR>mempergunakan jurus sakit Hati, dia merasa tidak tega, Sayang seorang<BR>pemuda begini hebat dibunuh.<BR>"Kwa Kun Hong, kau tak mungkin dapat meloloskan diri. Lebih baik kau<BR>menyerah dan takluk, mari kita bekerja sama!" kembali The Sun membujuk.<BR>"Tutup mulut dan tak perlu kau membujukku." Kun Hong membentak marah.<BR>"Hmm, kalau begitu kau harus mampus!" The Sun juga membentak dan<BR>segera menerjang dengan kilatan pedangnya yang diputar cepat di depan<BR>dadanya.<BR>Kun Hong tahu akan kelihaian lawan ini, maka dia cepat menggerakkan<BR>tongkatnya untuk menghadapi dengan jurus-jurus Ilmu Pedang Im-yang-sinkiam.<BR>Hebat sekali ilmu pedang warisan Si Raja Pedang Tan Beng San ini<BR>karena ke mana pun pedang The Sun bergerak, selalu terbentur oleh tongkat<BR>yang malah otomatis dapat pula membalas, bacokan demi bacokan atau<BR>tusukan demi tusukan. Mengagumkan melihat dua orang muda itu bertanding.<BR>Keduanya sama tampan, sama lincah cekatan, sama tinggi ilmu pedangnya.<BR>Baru kali ini Kun Hong menghadapi lawan yang kuat dalam ilmu pedang<BR>sehingga dia makin kagum dan makin menyesal mengapa orang seperti ini<BR>menjadi lawannya.<BR>Karena tiada niat dalam hatinya untuk bertempur terus, dia mencari<BR>kesempatan baik. Dengan gerakan memutar, tongkatnya melakukan tusukan<BR>tujuh kali ke arah punggung lawan. Menghadapi jurus aneh dari Im-yang-sinkiam<BR>ini, The Sun kaget. Lawan berada di depan, bagaimana ujung tongkatnya<BR>seakan-akan mengarah tengkuk dan punggungnya? Cepat dia melompat ke<BR>kiri dan memutar pedangnya melindungi tubuh. Kesempatan ini dipergunakan<BR>Kun Hong untuk lari ke kanan, menggunakan langkah ajaib dari Kim-tiauw-kun<BR>sehingga beberapa bacokan golok dari para perwira yang berdiri di tempat itu<BR>dapat dia hindarkan dengan mudah.<BR>Tiga orang perwira lain yang sudah menghadang dia robohkan dengan dua kali<BR>dorongan tangan kiri, kakinya melangkah terus berloncatan ke sana ke mari<BR>ketika mainkan langkah-langkah Hui-thian-jip-te. Sebentar saja Kun Hong<BR>sudah berhasil lolos dari kepungan yang demikian ketatnya! Akan tetapi tibatiba<BR>terdengar bentakan berpengaruh di sebelah depannya.<BR>"Pemberontak buta jangan lari! The-siucai, serahkan dia kepadaku!" kata-kata<BR>ini dibarengi desir angin tusukan pedang.<BR>Kun Hong terkejut sekali dan cepat-cepat dia membanting diri ke kiri. Gerakan<BR>menyelematkan diri ini dia lakukan tergesa-gesa sehingga luka pada pangkal<BR>pahanya terasa nyeri sekali, akan tetapi dia selamat daripada sebuah tusukan<BR>yang hampir tidak mengeluarkan suara, demikian halus akan tetapi demikian<BR>kuatnya. Celaka, pikirnya, ilmu pedang orang ini luar biasa sekali. Karena<BR>maklum bahwa yang dihadapinya seorang ahli pedang kawakan yang amat<BR>lihai, Kun Hong cepat menggerakkan tongkatnya membalas serangan tadi.<BR>Segera dia terlibat dalam pertandingan pedang sampai belasan jurus dengan<BR>penyerang baru ini. Makin lama makin heran dan terkejut hati Kun Hong. Pada<BR>jurus ke lima belas, dia menggunakan tongkatnya menangkis keras sehingga<BR>kedua senjata yang bertemu itu terpental ke belakang dan kesempatan ini<BR>dipergunakan oleh Kun Hong untuk berseru.&l