Halaman sebelumnya of 336Halaman selanjutnya

Pendekar Buta

spinner.gif

Pendekar Buta
Serial Raja Pedang (3)
Lanjutan Rajawali Emas
karya : Kho Ping Hoo


Puncak Lao-san menjulang tinggi di antara
pegunungan di Propinsi Santung yang kecil-kecil,
biarpun sebenarnya Lao-san hanya 1100 meter.
tingginya. Pemandangan alam dari puncak ini
amat indahnya. Memandang ke sebelah timur
tampak Laut Kuning yang luas, ke sebelah utara
Selat Pohai, ke sebelah barat Pegunungan Santung dengan puncak Thai-san
tampak gagah menjulang tinggi, kemudian ke sebelah selatan tampak sawah
ladang dan perkampungan yang subur. Hari masih pagi benar, namun sepagi
itu sudah ada, seorang manusia duduk di atas batu gunung di puncak Lao-san.
Angin dari Laut Kuning menambah hawa gunung menjadi makin dingin sejuk,
memecahkan kulit muka dan menusuk-nusuk tulang. Namun orang yang
duduk di atas batu itu seakan-akan tidak merasakan ini semua. Tentu orang
akan mengira dia telah membeku atau membatu, kalau saja mulutnya tidak
terdengar bersajak dengan suara nyaring, jelas dan bersemangat.
"Wahai kasih, aku di sini! Di puncak Lao-san menjulang tinggi Menjadi raja
sunyi di angkasa raya, Naga-naga awan muncul dari laut di bawah kaki
Terbang melayang menuju kemari Bersujud di sekelilingku meniupkan angin
sejuk, Kasih, aku menanti kehadiranmu memberi cahaya dan kehangatan pada
jiwa ragaku Wahai kasih, aku di sini!"
Agaknya orang ini merasa gembira dengan sajak yang dikarangnya sambil
duduk itu. Diulangnya sajak ini, malah kemudian dinyanyikannya dengan suara
nyaring. Tangan kanannya memukul-mukulkan tongkat ke batu yang
menimbulkan bunyi "tok-tak-tok-tak" berirama, mengiringi suara nyanyiannya.
Suaranya yang nyaring bergema di puncak, terbawa angin dan kadang-kadang
terdengar bergetar penuh perasaan, terutama di bagian "........,. kasih, aku di
sini ..........."
Kadang-kadang tangan kirinya meraba-raba ke atas tanah di mana terdapat
dua macam bungkusan, agaknya dia khawatir kalau-kalau angin yang keras
akan menerbangkan dua bungkusan pakaian dan obat-obatan itu. Melihat cara
ia meraba-raba, mudah diduga bahwa orang ini adalah seorang buta. Memang
sebenarnyalah. Dia seorang buta, Masih muda benar, baru dua puluh tahun
lebih, takkan lewat dari dua puluh lima tahun umurnya. Sesungguhnya amat
tampan wajahnya, kulit mukanya putih bersih dengan dahi lebar, daun telinga
panjang, hidung mancung dan mulut yang manis bentuknya. Alisnya yang
hitam berbentuk golok melindungi sepasang mata yang selalu dimeramkan,
mata yang sudah tidak ada bijinya sehingga kelihatan pelupuknya mencekung,
mendatangkan keharuan bagi yang melihatnya. Rambutnya yang hitam
digelung ke atas dan dibungkus kain kepala hijau. Pakaiannya sederhana, baju
berlengan panjang dan lebar berwarna kuning kemerahan, celana berwarna
kuning dan biarpun pakaian ini terbuat dari bahan yang kasar, namun amat
bersih.
"Wahai kasih, aku di sini ...........!" Si buta ini bangkit berdiri dan
mengembangkan kedua lengannya, seakan-akan hendak menyambut atau
memeluk kedatangan kekasihnya. Namun tidak ada kekasihnya itu, yang ada
hanya sinar matahari pagi yang mulai menyembul ke luar dari permukaan Laut
Kuning.
"Kasihku ........... matahariku ........... dengan kehadiranmu di sampingku
.......... aku sanggup bertahan seribu tahun lagi........"
Si buta ini tersenyum-senyum dan wajah itu menjadi makin tampan, akan
tetapi juga makin mengharukan. Ia benar-benar kelihatan gembira sekali.
Setelah "menyambut kekasihnya" yang agaknya sinar matahari itulah, si buta
lalu duduk kembali, membuka bungkusan pakaiannya, mengeluarkan sepotong
roti kering dan mulailah dia sarapan dengan enaknya.
Agaknya dia tidak tahu bahwa sudah semenjak tadi, kurang lebih seratus
meter di sebelah belakangnya, berdiri seorang laki-laki tinggi besar bermuka
hitam. Laki-laki ini usianya empat puluhan, berkumis panjang tanpa jenggot,
pakaiannya serba hitam dan gerak-geriknya kasar, di pinggangnya tergantung
sebatang golok telanjang dan di punggungnya sebuah bungkusan kain kuning.
Setelah memperhatikan beberapa lama kepada si buta dan melihat si buta
mulai sarapan pagi, laki-laki tinggi besar ini mengomel.
"Sialan! Sekali mendapat mangsa, seorang buta gila!" Ia terbatuk-batuk
beberapa kali. Angin sejuk itu agaknya amat mengganggu pernapasannya.
Namun dia tidak menghentikan langkahnya mendekati si buta yang sedang
makan. Setelah

Halaman sebelumnya of 336Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan (8)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Siapa yang Membaca

Disarankan