Rajawali Emas

spinner.gif

<P>Rajawali Emas<BR>Serial Raja Pedang (2)<BR>Lanjutan Raja Pedang<BR>karya : Kho Ping Hoo</P>

<P>bagian 1<BR>PEGUNUNGAN Lu-liang-san terkenal sebagai<BR>gunung yang indah dan subur, terutama sekali hal<BR>ini disebabkan oleh Sungai Kuning yang mengalir di<BR>antara pegunungan ini. Banyak terdapat hutan-hutan lebat dan bagian-bagian<BR>yang amat indah penuh dengan pohon-pohon berbuah dan tanaman berbunga.<BR>Hutan-hutan ini sebagian besar masih merupakan hutan liar yang aseli, belum<BR>terjamah tangan dan terinjak kaki manusia. Oleh karena itu, penghuni aseli<BR>hutan-hutan |itu, binatang-binatang besar kecil berkembang biak amat<BR>suburnya sehingga daerah Pegunungan Lu-liang-san terkenal sebagai tempat<BR>yang amat baik akan tetapi juga amat berbahaya bagi para pemburu.<BR>Keindahan alam yang belum terjamah tangan manusia memang merupakan<BR>keindahan aseli. Apalagi dimusim semi diwaktu pohon-pohon penuh daun,<BR>sedangkan dimusim rontok saja terdapat keindahan aseli yang menggerakan<BR>hati setiap orang yang dapat menghargai keindahan alam yang aseli. Lihatlah<BR>daun-daun yang melayang-layang turun, rontok dari tangkainya. Melayanglayang<BR>bebas lepas seakan-akan kupu-kupu bercanda menimbulkan suara<BR>gemerisik yang tiada hentinya. Daun-daun kering merontok dengan rela untuk<BR>memberi kesempatan berseminya daun-daun baru yang akan menggantikan<BR>kedudukannya. Daun-daun kering merontok untuk membusuk dan menjadi<BR>pupuk bagi daun-daun baru. Rontok dan semi, hilang yang tua muncul yang<BR>baru. Di dunia ini mana yang tidak terlewat oleh hukum alam ini? Yang tua<BR>lenyap untuk memberi tempat bagi yang muda, yang muda akhirnya pun tua<BR>dan lenyap untuk mengulang sejarah yang lalu.<BR>Gemerisik daun-daun kering rontok melayang turun diselingi suara air Sungai<BR>Huang Ho yang tidak penuh airnya, Air bermain dengan batu-batu,<BR>berdendang lagu bahagia tak kunjung henti. Suara daun kering rontok dan air<BR>sungai berdendang merupakan perpaduan suara yang amat indah, kadangkadang<BR>diramaikan suara burung di pohon dan sekali-kali terdengar raungan<BR>binatang buas dari dalam semak-semak belukar.<BR>Betapapun besar bahaya rnengancam keselamatan manusia yang berani<BR>memasuki hutan-hutan ini, yaitu bahaya dari ancaman binatang-binatang<BR>buas, namun tetap saja akhirnya ternyata bahwa manusialah mahluk yang<BR>paling kuat di antara segala mahiuk hidup di dunia ini. Pagi hari itu, dikala<BR>sinar matahari berebutan menerobos ke celah-celah daun pohon yang mulai<BR>menggundul dan burung-burung tengah ramai bersaing kemerduan kicau<BR>mereka terdengar suara lain di dalam hutan itu. Suara manusia! Burungburung.<BR>yang terdekat menghentikan kicaunya, sebagian terbang pergi<BR>ketakutan. Binatang-binatang kecil lari menyelinap ke dalam s«mak-scmak,<BR>binatang-binatang besar mengintai penuh kecurigaan dari balik gerombolan.<BR>Seluruh perhartian para mahkluk dalam hutan tertuju kepada mahkluk aneh<BR>yang tak pernah mereka lihat itu Manusia!<BR>Manusiakah yang menjadi pusat perhatian para binatang-binatang itu?<BR>Jangankan para binatang yang tak pernah atau jarang sekali melihat manusia,<BR>sedangkan manusia-manusia sendiri kiranya akan tercengan keheran-heranan<BR>kalau melihat orang yang tengah berada di dalam hutan seorang diri ini.<BR>Dia seorang laki-laki tinggi besar, Pakaiannya berpotongan longgar, terbuat<BR>dari bemacam-macam kain berwarna-warni yang disambung-sambung.<BR>Sepatunya, sepatu besar, Juga berkembang! Sukar menaksir usia orang ini.<BR>Yang terang dia sudah lewat dewasa, Karena tubuhnya demikian tinggi besar.<BR>Melihat perawakan dan wajahnya yang sudah masak, sedikitnya dia berusia<BR>empat puluh lima tahun, Akan tetapi melihat kebodohan kanak-kanak yang<BR>membayang pada wajahnya, melihat bentuk pakaian dan warna sepatunya<BR>serta sikapnya yang sedang main-main seorang diri, dia masih seorang kanakkanak!.<BR>Memang dia seorang kanak-kanak yang sudah tua, atau seorang tua<BR>yang berjiwa kanak-kanak. Karena keanehan inilah maka di dunia kang-ouw ia<BR>terkenal sekali dengan nama poyokan Koai Atong (Bocah Aneh).<BR>Jangan dipandang rendah Koai Atong ini. Banyak orang Kang-ouw, jagoan<BR>ternama yang berkepandaian tinggi, akhirnya kecele ketika mereka berani<BR>memandang rendah Koai Atong. Dia adalah murid tunggal seorang sakti dari<BR>Tibet, seorang hwesio yang bernama Ban-tok-sim Giam Kong. Melihat nama<BR>julukannya saja, Ban-tok-sim (Hati Selaksa Racun), mudah dibayangkan orang<BR>macam apa hwesio Tibet ini. Namanya saja cukup membuat seorang tokoh<BR>Kang-ouw lari tunggang langgang.<BR>Koai Atong tertawa-tawa dan berkata-kata sorang diri di dalam hutan itu. Ia<BR>sedang melatih Jing-tok-ciang (Tangan Racun Hijau), semacam ilmu pukulan<BR>yang paling diandalkan oleh suhunya. Biarpun anak tua ini kelihatan ketololtololannya,<BR>akan tetapu bakatnya dalam hal ilmu silat bukan main hebatnya.<BR>Kalau tidak demikian, masa seorang sakti seperti Ban-tok-sim Giam Kong mau<BR>mengambilnya sebagai murid tunggal? Hampir seluruh ilmu kepandaian Giam<BR>Kong sudah diwarisi Koai Atong, malah dalam hal ilmu Pukulan Jing-tok-ciang,<BR>Koai Atong tak pernah berhenti untuk berlatih dan memperdalam.<BR>"Kau harus roboh, harus roboh!" katanya sambil memutar lengan kirinya<BR>seperti orang memutar gilingan kopi, kemudian tiba-tiba tangan kirinya<BR>dengan jari-jari terbuka mendorong ke arah sebatang pohon. Tidak terdengar<BR>suara apa-apa akan tetapi semua daun kering di pohon itu merontok dan...<BR>pohon yang batangnya sebesar paha orang itu mulai tumbang karena<BR>batangnya sudah membusuk. Bukan main lihainya pukulan Jing-tok-ciang ini,<BR>dan demikian jahatnya sehingga batang pohon yang tadinya masih segar<BR>menjadi busuk terkena hawanya yang beracun.<BR>Koai Atong terkekeh-kekeh girang, lalu melanjutkan latihannya dari memukul<BR>pohon yang lebih besar. Sebentar saja di situ telah rebah beberapa batang<BR>pohon, akan tetapi ia juga terduduk kelelahan karena terlampau banyak<BR>mengerahkan tenaga Iwee-kang dalam latihan pukulan mujijat ini. Seperti<BR>orang gendeng anak tua ini tertawa-tawa girang karena hasil latihannya tadi<BR>memuaskan hatinya. Akan tetapi tiba-tiba ia kaget mendengar bunyi kelepak<BR>sayap burung besar dan ia melihat seekor burung rajawali berbulu putih<BR>menukik turun tak jauh dari tempat ia duduk beristirahat. Cepat ia melompat<BR>dan berindap-indap mendekati tempat itu.<BR>Bukan main hebatnya burung ini. Besar sekali, kalau berdiri semeter lebih<BR>tingginya. Burung ini menukik turun dan menerjang ke arah semak-semak<BR>dan... dalam sekejap mata saja ia menerkam seekor kijang yang bersembunyi<BR>di situ. Kasihan binatang ini, sama sekali tak dapat melawan. Sekali<BR>cengkeram, kuku-kuku runcing melengkung itu menusuk perut menembus<BR>kulit dan daging. Kijang berkelojotan sebentar dan mati tak lama kemudian.<BR>Rajawali dengan sepasang matanya yang bening berapi itu mendengus,<BR>melepaskan korbannya lalu terbang pergi meninggalkan bangkai kijang begitu<BR>saja. Koai Atong terheran-heran. Gilakah burung itu, pikirnya. Sudah<BR>membunuh kijang kenapa tidak terus dimakan, malah ditinggal pergi? la masih<BR>bersembunyi, seperti anak kecil ia girang dapat mengintai perbuatan "orang"<BR>lain.<BR>Akhirnya ia jemu juga karena si rajawali yang amat gagah dan bagus itu tidak<BR>datang kembali. Tadinya la berniat menanti kalau burung itu datang kembali<BR>akan ditubruk dan ditangkapnya. Selagi ia hendak keluar dari tempat<BR>sembunyinya untuk mengambil bangkai kijang dan dipanggang, dagingnya,<BR>terdengar auman keras dan muncullah se-ekor harimau dari balik semak<BR>belukar. Harimau itu keluar perlahan-lahan, hidungnya mendengus-dengus<BR>dan mulutnya menyeringai dengan air liur menetes-netes turun. Agaknya ia<BR>telah mencium bangkai kijang, atau bau darah maka ia datang ke tempat itu.<BR>Begitu melirik ke kanan kiri tidak terdapat bahaya, hari-mau itu memburu ke<BR>arah bangkai kijang. Akan tetapi tiba-tiba dari arah lain muncul seekor<BR>harimau hitam yang langsung menerjang harimau belang itu. Terjadi<BR>pergumulan seru, cakar-mencakar, gigit-menggigit amat hebatnya.<BR>Koai Atong terkekeh-kekeh senang, bertepuk-tepuk tangan seperti anak kecil<BR>menonton pertunjukan wayang di mana tokoh-tokohnya berperang tanding.<BR>"Hayo gigit hidungnya, cakar kupingnya. Hah-hah, heh-heh-heh!"<BR>Akhirnya si harimau belang harus tunduk terhadap hukum rimba yang berlaku<BR>semenjak dunia berkembang sampai sekarang ini. Siapa kuat dia benar dan<BR>menang. Siapa lemah dia salah dan kalah! Sambil meraung-raung dan<BR>lehernya terluka berdarah, harimau belang lari tunggang-langgang. Lawannya,<BR>si harimau hitam tidak mengejarnya, sebaliknya segera menghampiri biang<BR>keladi pertempuran tadi, si bangkai kijang. Ia mencium-cium, agaknya<BR>menikmati bau bangkai dan darah kijang, lalu menjilat-jilat darah yang mulai<BR>mengering.<BR>"Heh-heh-heh, sergap! Sergap dari atas!" tiba-tiba Koai Atong berteriak-teriak<BR>girang, anak tua itu dengan pandang matanya yang tajam dan telinganya yang<BR>, terlatih, dapat mendengar ,suara menggelesernya tubuh ular besar di pohon,<BR>sebelah atas harimau hitam itu. Mendengar suara Koai Atong, si harimau<BR>kaget, akan tetapi tiba-tiba ia menjadi lebih kaget dan marah lagi ketika pada<BR>saat itu seekor ular sebesar paha manusia meluncur dari atas dan serta-merta<BR>menyerang, kembali terjadi pertandingan mati-matian untuk menentukan<BR>berlakunya hukum rimba. Harimau hitam itu ganas sekali, mencakar menggigit<BR>sampai robek-robek kulit ular. Akan tetapi setelah ia kena dibelit, mulailah ia<BR>merasa-payah, lalu membanting diri ke kanan kiri. Si ular tidak mau<BR>melepaskan belitannya, malah segera menggigit leher harimau itu, tak mau<BR>melepaskan lagi.<BR>Ramai sekali pertandingan ini dan makin Sukalah hati Koai Atong. Akhirnya<BR>harimau roboh tak berkutik lagi, mati karena gigitan dan belitan ular yang<BR>amat kuatnya itu. Binatang yang kali ini menang, melepaskan lilitannya, lalu<BR>terjadilah hal lucu yang membuat Koai Atong terkekeh-kekeh ditempat<BR>persembunyiannya. Ular besar itu agaknya bimbang ragu, yang mana harus ia<BR>ganyang lebih dulu di antara dua hidangan lezat ini. Sebentar merayap ke<BR>bangkai kijang, menjilat-Jilat,lalu kembali merayap kebangkai harimau hitam.<BR>Ada empat lima kali ia beragu seperti itu.<BR>Tiba-tiba Koai Atong berseru,<BR>"Ha-ha-ha, pemiliknya datang!"<BR>Benar saja. Dari atas melayang turun dua ekor burung rajawali putih.<BR>Sekarang tahulah Koai Atong bahwa rajawali yang menerkam kijang tadi pergi<BR>untuk memanggil anaknya. Sekarang ia datang kembali bersama seekor<BR>rajawali putih lain yang lebih kecil dan kelihatan masih amat muda. Dan<BR>sekarang ternyata bahwa binatang ular itu agaknya lebih cerdik daripada<BR>blnatang-binatang yang lain, Begitu melihat dua ekor burung yang besar dan<BR>kuat ia maklum bahwa ia takkan kuat melawannya. Ia mengeluarkan suara<BR>mendesis karena kecewa dan marah, akan tetapi lalu menggeleser lari<BR>bersembunyi ke dalam semak-semak.<BR>"Heei!! Pengecut kau!. Datang yang kuat lari tunggang-langgang!" Koai Atong<BR>berteriak-teriak dan memaki-maki ular.<BR>Dua ekor burung rajawali putih itu kaget mendengar suara orang. Mereka<BR>menengok ke kanan kiri, nampaknya marah sekali. Pada saat itu Koai Atong<BR>sudah siap sedia untuk meloncat keluar dan menangkap burung yang besar,<BR>akan tetapi kembali ia terkejut mendengar suara melengking yang amat<BR>nyaring dari atas dan daun-daun pohon bergerak-gerak tertiup angin keras.<BR>Mendadak tanpa memperdengarkan kelepak sayap seperti dua ekor rajawali<BR>putih tadi, dari atas menyambar turun bayangan kuning keemasan yang<BR>menyilaukan mata. Ternyata yang menyambar turun ini adalah seekor burung<BR>rajawali pula. Besarnya tidak luar biasa, tidak lebih besar daripada rajawali<BR>putih itu, malah kepalanya lebih kecil dan dadanya lebih kurus. Akan tetapi<BR>yang aneh adalah bulunya yang berwarna kuning keemasan, bersih dan<BR>mengkilap amat indahnya seakan-akan bulu-bulunya terbuat daripada sutera<BR>emas.<BR>bagian 2<BR>Ketika dua ekor burung rajawali putih itu melihat si rajawali emas, mereka<BR>kelihatan ketakutan, mengeluarkan suara merintih-rintih. Sebaliknya rajawali<BR>emas yang baru datang mengeluarkan suara melengking yang nyaring dan<BR>menyakitkan anak telinga, nampaknya marah sekali, kemudian tiba-tiba<BR>wajahnya bergerak ke depan, patuknya yang runcing agak melengkung itu<BR>bcrgerak-gerak seperti bibir orang bicara, lehernya bergerak dan... Koai Atong<BR>mengeluarkan seruan heran, kaget, dan kagum. Dia adalah seorang ahli silat<BR>yang berpemandangan tajam, biarpun ia dalam urusan umum rnerupakan<BR>seorang yang tolol seperti kanak-kanak, akan tetapi dalam hal ilmu silat dia<BR>termasuk seorang ahli.<BR>Namun gerakan rajawali emas tadi sama sekali tak dapat ia ikuti dengan<BR>pengelihatannya, tahu-tahu dua ekor rajawali putih tadi sudah roboh dengan<BR>kepala berlubang dan mati pada saat itu juga! Saking herannya Koai Atong<BR>sampai berdiri bengong dan melihat ke arah rajawali emas itu.<BR>Rajawali emas itu berdiri dengan gagahnya, mengangkat dada, mengeluarkan<BR>suara tiga kali lalu menghampiri bangkai harimau yang menggeletak disitu.<BR>Kepalanya bergerak, paruhnya meyambar. Cratt! Ketika paruhnya dicabut<BR>ternyata paruh itu telah menggigit sebuah benda merah yaitu jantung harimau<BR>tadi. Sekali telan lenyaplah jantung itu, kemudian ia menghampiri kijang dan<BR>seperti juga tadi, sekali paruhnya menyambar ia telah berhasil mengarnbil<BR>jantung kijang. Setelah itu ia mengambil dan makan jantung dua ekor rajawali<BR>putih itu seperti cara tadi. Koai Atong tak dapat menahan kekagumannya<BR>melihat gerakan ini. Ternyata paruh rajawali emas itu lebih hebat daripada<BR>sebatang pedang ditangan seorang ahli, Ahli pedang yang manapun juga<BR>kiranya takkan mungkin dapat meniru rajawali emas itu, sekali tusuk dapat<BR>mengambil jantung didalam dada binatang-binatang tadi.<BR>"Hebat! Kim-tiauw-heng (Kakak Rajawali Emas) kau benar-benar lihai sekali!"<BR>Sambil berkata demikian Koai Atong / berjingkrak - jingkrak dan keluar dari<BR>tempat sembunyinya, menghampiri rajawali emas itu dan mengacungacungkan<BR>ibu jari tangan kanannya.<BR>"Sherrr!" Secepat kilat sayap kanan burung itu menyambar, didahului angin<BR>pukulan yang amat dahsyat ke arah tubuh Koai Atong.<BR>"Heee..., jangan....!" Koai Atong berseru kaget dan cepat ia mengelak sambil<BR>merebahkan diri ke kanan, akan tetapi celaka baginya, gerakan sayap kanan<BR>burung itu temyata merupakan tipuan belaka karena yang bergerak<BR>sesungguhnya adalah sayap kirinya yang menyambar tanpa menerbitkan<BR>angin. Tak dapat dicegah lagi tubuh Koai Atong terpukul oleh sayap kiri,<BR>kekuatan pukulan ini<BR>hebat luar biasa sehingga tubuh Koai Atong mencelat dan menggelundung<BR>sampai lima meter jauhnya! Baiknya Koai Atong sudah memiliki ilmu tinggi dan<BR>ketika merasa bahwa ia tak dapat menghindarkan diri dari pukulan tadi, ia<BR>cepat menggerahkan Iwee-kang dan membiarkan tubuhnya didorong sampai<BR>bergulingan. la hanya merasa kepalanya agak pusing, tapi tidak terluka. Cepat<BR>ia bangun berdiri dan matanya membelalak lebar. Pukulan rajawali itu benarbenar<BR>membuatnya makin kagum dan terheran-heran lagi. Seorang ahli silat<BR>kelas tinggi belum tentu akan sanggup merobohkannya dalam satu jurus saja!<BR>Dan gerakan burung ini benar-benar mengandung gerak tipu silat yang luar<BR>biasa.<BR>"Kim-tiauw-heng, apa kau hendak main-main denganku? Hemm, kalau kau<BR>mampu merobohkan lagi, benar-benar kau lihai dan aku mengangkatmu<BR>menjadi guruku!" la meloncat maju lagi ke depan burung itu yang memandang<BR>kepadanya mata emasnya yang mengandung sinar mengejek dan menghina.<BR>Koai Atong sekarang telah siap sedia untuk bertempur, maka begitu burung itu<BR>menyerangnya dengan gerakan seperti tadi, yang memukul dengan sayap<BR>kanan yang mengeluarkan angin menderu, ia tidak mengelak ke kanan dan<BR>selalu memperhatikan gerakan sayap kiri. Akan tetapi ternyata burung itu<BR>tidak mengubah gerakannya, seperti tadi sayap kirinya menyusul dengan<BR>tamparan yang tidak mengeluarkan angin, tamparan yang tadi membuat Koai<BR>Atong terguling-guling.<BR>"Ha-ha-ha, tidak kena sekarang, kakak rajawali!" Koai Atong tertawa-tawa<BR>mengejek sambil mengelak cepat dari serangan sayap kiri berbahaya ini. Akan<BR>tetapi suara tertawanya segera disusul seruan kaget ketika mendadak burung<BR>itu menyambar ke depan dengan kedua kaki digerak-gerakkan seperti orang<BR>melakukan tendangan! Kedua kaki itu menendang bergantian, susul menyusul<BR>sehingga sukar diduga kaki mana yang sesungguhnya akan menyerang. Koai<BR>Atong tak dapat menghadapi serangan luar biasa ini dan sekali lagi tubuhnya<BR>mencelat dan terguling-guling, malah lebih jauh daripada tadi!<BR>Dengan pipi agak membengkak dan mata terbelalak heran Koai Atong<BR>merayap bangun. Dalam pandangan matanya, burung itu seperti tersenyum<BR>mengejek dan mata burung itu seperti berseri-seri menertawakannya. Timbul<BR>marah dalam hatinya.<BR>"Kau curang!, Kau licik! Aku masih belum kalah." la melompat maju sambil<BR>memutar-mutar lengan kirinya kemudian ia memukul kearah sebatang pohon.<BR>Pohon itu segera roboh dalam keadaan layu!<BR>Rajawali emas agaknya kaget melihat ini, mengeluarkan bunyi aneh lalu<BR>terbang keatas tetapi bukan untuk melarikan diri, melainkan dari atas ia<BR>menukik kebawah dan menyerang Koai Atong dengan dahsyatnya!<BR>Tadi berhadapan di atas tanah saja sudah dua kali Koai Atong roboh dalam<BR>segebrakan saja, apalagi sekarang burung itu menyerangnya dari atas.<BR>Betapapun juga, Koai Atong Seorang ahli silat yang sudah banyak ka<BR>menghadapi lawan-lawan lihai, tidak menjadi gugup atau takut. Tadi ia<BR>memukul roboh pohon untuk memamerkan kepandaiannya, sekarang melihat<BR>bahwa burung itu tidak takut kepadanya, ia segera memutar lengan kirinya<BR>dan. mendorong ke arah burung yang menyerangnya dari atas.<BR>"Plakk!" Lengan tangannya bertemu dengan kaki burung yang bergerak seperti<BR>rnenangkisnya. Koai Atong terlempar oleh dorongan tenaga yang mujijat,<BR>sebaliknya burung itu pun mencelat dan hinggap di atas tanah. Sekali lagi Koai<BR>Atong tertegun. Seorang ahli silat yang lihai sekali pun belum tentu akan dapat<BR>menangki pukulan Jing-tok-ciang dari tangan kirinya dan agaknya burung itu<BR>sama sekal tidak terluka. Koai Atong makin penasaran. Masa ia kalah oleh<BR>seekor burung? Memalukan sekali! Sambil berseru marah ia menerjang maju,<BR>kali ini tanpa ragu-ragu lagi mengerahkan seluruh tenaganya menggunakan<BR>Ilmu Pukulan Jing-tok-ciang. Akan tetapi ia kecele, burung itu cerdik bukan<BR>main dan mengenal kelihaian pukulan lawan. Kali ini rajawali tidak mau<BR>menangkis, dan kedua kakinya dibantu pergerakan sepasang sayapnya<BR>bergerak ke sana ke mari mengelak. Bukan main gerakan kaki ini karena<BR>selain gesit, ringan, juga teratur langkah-langkah tertentu yang sehingga<BR>pukulan-pukulan Jing-tok-ciang itu satu kalipun tak pernah mengenai<BR>tubuhnya. Sebaliknya, setiap kali burung itu menghantam dengan sayapnya,<BR>tentu Koai Atong roboh terguling-guling. Kadang-kadang seperti seorang<BR>pemain bola yang ulung, kaki burung itu menendang dan membuat tubuh Koai<BR>Atong menggelinding seperti bola pula.<BR>Marah sekali Koai Atong. Begitu dia marahnya sampai dia menangis berkaokkaok<BR>sambil memaki-maki, persis tingkah laku seorang anak kecil nakal kalau<BR>kalah berkelahi. Sambil menangis dan memaki ia mengeluarkan senjatanya<BR>yang paling lihai, yaitu sebatang anak panah berwarna hijau. Inilah anak<BR>panah yang mengandung racun hijau yang bukan main lihainya. Lawan yang<BR>terkena tusukan anak panah ini tubuhnya akan diracuni oleh racun hijau dan<BR>jangan harap bisa hidup lagi. Dengan anak panah ditangan kanan Koai Atong<BR>maju lagi. Burung itu agaknya jerih melihat anak panah ini. la selalu mengelak<BR>dan sudah lewat puluhan jurus belum juga Koai Atong dapat mengenai tubuh<BR>lawannya, sebaliknya sudah lima kali ia terguling-guling oleh sambaran sayap<BR>burung. la diam-diam mengeluh karena andaikata tubuhnya tidak kebal dan<BR>andaikata sambaran sayap itu rnerupakan pukulan manusia yang mengandung<BR>Iwee-kang, tentu ia sudah mampus!<BR>Alangkah malu kalau tak dapat membalas, pikirnya.<BR>Pikiran ini membuat ia nekat. Betapapun juga, pikiran seorang manusia<BR>biarpun berjiwa kanak-kanak agaknya masih lebih berakal daripada pikiran<BR>seekor burung. Ketika burung itu untuk kesekian kalinya menampar, Koai<BR>Atong sengaja menerima tamparan ini dan berbareng menggunakan anak<BR>panahnya memapaki sayap burung.<BR>Hebat pukulan itu, membuat Koai Atong terlempar dan terbanting sampai<BR>matanya berkunang-kunang. Akan tetapi burung itu sendiri mengeluarkan<BR>suara kesakitan. Anak panah hijau itu telah menancap di sayap kirinya. la<BR>kebingungan, sayap kirinya menjadi lumpuh dan dengan paruhnya ia<BR>menggigit gagang anak panah, lalu dicabutnya. Dengan kemarahan berkobar<BR>burung itu menggunakan paruh dan kaki kanannya mencengkram dan... anak<BR>panah itu patah dan dilempar ke tanah. Sekarang burung itu marah sekali,<BR>mengeluarkan bunyi melengking tinggi.<BR>Ia menggerak-gerakkan sayap hendak terbang, tetapi sayapnya yang kiri tak<BR>dapat digerakkan. Burung itu mematuk-matuk ke arah sayap kirinya. Ternyata<BR>bahwa ujung anak panah hijau masih tertinggal disayapnya itu. Ketika ia tadi<BR>mencabut anak panah, saking kuat gerakannya, anak panah itu patah pada<BR>ujungnya. Koai Atong juga marah karena pukulan terakhir itu mernbuat ia<BR>merasa sakit-sakit semua tubuhnya. la meniru suara burung itu, memekikmekik<BR>juga malah lebih keras sambil memutar-mutar lengan kirinya, siap<BR>mengirim pukulan Jing-tok-ciang lagi karena sekarang senjatanya telah rusak.<BR>Sekali lagi Koai Atong memukul dengan Jing-tok-ciang dan sekali lagi burung<BR>itu walaupun sudah terluka, dapat mengelak menggunakan gerak kaki yang<BR>aneh sekali dan sebelum sempat memperbaiki kedudukannya Koai Atong<BR>sudah terdorong oleh pukulan sayap kanan lagi sampai terguling-guling.<BR>Koai Atong bangun sambil menggoyang-goyang kepala keras-keras karena<BR>matanya makin berkunang.<BR>Sekarang timbul akalnya. Setelah pusingnya hilang ia menyerang membabibuta,<BR>mengeluarkan semua kepandaian yang pernah ia pela-jari, akan tetapi<BR>semua serangannya ia tujukan dari arah kiri burung itu. Memang betapapun<BR>juga, akal Koai Atong lebih menang daripada akal binatang itu sehingga kali ini<BR>burung rajawali itu menjadi sibuk sekali mengelak tanpa dapat menyerang<BR>kembali karena sayap kirinya sudah terluka dan tak dapat digerakkan lagi.<BR>Agaknya hal ini membuat ia menjadi gentar. Sambil memekik-mekik burung<BR>itu lalu lari meninggalkan Koai Atong.<BR>"Kau hendak lari ke mana? Sebelum berlutut minta ampun mana aku mau<BR>melepaskan kau?" Koai Atong memaki-maki dan mengejar, akan tetapi larinya<BR>burung itu bukan main cepatnya! Seakan-akan kedua kakinya tidak menginjak<BR>tanah, padahal sayapnya yang kiri sudah tak dapat dipergunakan untuk<BR>terbang lagi. Apalagi kali ini agaknya pembawaan binatang itu mengatasi akal<BR>manusia, karena larinya menyusup-nyusup melalui semak belukar sehingga<BR>payahlah bagi Koai Atong untuk dapat mengikutiterus. Akhirnya ia tertinggal<BR>jauh dan sesampainya di tengah hutan yang lebat ia bingung karena tidak tahu<BR>harus mengejar ke mana. Burung rajawali emas itu lenyap seperti ditelan<BR>bumi. Namun, orang seperti Koai Atong mana mau sudah begitu saja? la<BR>seperti seorang anak kecil yang kehilangan mainan bagus, maka sambil<BR>memaki-maki dan marah-marah ia mencari terus.<BR>bagian 3<BR>Seorang wanita muda berjalan seoraang diri di dalam hutan itu. Wanita ini<BR>masih muda sekali, berusia sekitar dua puluh satu tahun. Sungguhpun<BR>badannya tidak terpelihara baik-baik, dapat dilihat dari pakaiannya yang tidak<BR>teratur dan rambutnya yang kusut, namun tak dapat disangkal oleh siapapun<BR>juga bahwa dia adalah seorang wanita muda yang amat cantik jelita. Sayang<BR>bahwa pada waktu itu, tidak saja pakaian dan badannya. tidak terawat baikbaik,<BR>juga pada wajah yang cantik manis itu nampak kedukaan dan<BR>kesengsaraan hati yang amat hebat. Wajah itu suram-suram dan pada pipinya<BR>nampak bekas-bekas air rnata. Sambil menundukkan mukanya, wanita itu<BR>berjalan di dalam hutan, tanpa tujuan seperti orang dalam mimpi. Berulangulang<BR>ia menarik nafas panjang, kadang-kadang mengeluarkan air mata.<BR>Tiba-tiba ia dibangunkan dari lamunannya oleh suara lirih yang datang dari<BR>semak-semak belukar. Suara yang mengandung keluh kesakitan, merintihrintih.<BR>Wanita itu tertarik hatinya dan menyelinap memasuki belakang semaksemak<BR>yang amat rapat dan liar. Ternyata disitu mendekam seekor burung<BR>yang merintih-rintih kesakitan. Wajah wanita itu nampak kaget melihat seekor<BR>burung yang begitu besarnya dan bulunya seperti emas berkilauan. Ketika<BR>melihat sayap kiri burung itu tergantung lemas dan darah bercucuran dari luka<BR>nya yang masih tertancap ujung anak panah, wanita itu berkata, suaranya<BR>penuh perasaan kasihan.<BR>"Ahh, sayapmu terluka? Kasihan sekali, mari kucabut ujung anak panah itu.<BR>Siapa orangnya yang begitu kurang ajar melukai burung begini indah?" Dari<BR>suaranya saja mudah diketahui bahwa pada dasarnya wanita ini bersikap<BR>gagah dan pembela kaum lemah, sayang bahwa dia sedang disiksa oleh<BR>penderitaan batin agaknya.<BR>Burung itu bukan lain adalah rajawali emas yang terluka oleh anak panah Koai<BR>Atong. Biarpun dia hanya seekor burung, namun ia termasuk binatang yang<BR>cerdik juga dan dapat mengenal kawan atau lawan.<BR>Agaknya ia berkesan baik tcrhadap wanita ini, buktinya ia lalu mengeluarkan<BR>suara merintih dan menjulurkan sayap kirinya seperti seorang anak kecil<BR>memperlihatkan tangannya yang sakit kepada ibunya.<BR>Wanita itu meraba sayap itu, memeriksa sebentar. "Ah, kasihan sekali kau,<BR>alangkah kejam orang yang melukaimu. Tentu sakit dan perih...." tiba-tiba ia<BR>meramkan mata dan menyarnbung, "namun, burung yang baik, betapapun<BR>sakitnya sayapmu, takkan sesakit hatiku...." la membuka mata lagi lalu<BR>menggunakan jari-jari tangan yang runcing mungil mencabut ujung anak<BR>panah yang masih menancap dalam-dalam di sayap kiri burung itu. Dengan<BR>amat mudahnya anak panah tercabut dan darah hijau menghitam bercucuran<BR>keluar. Dari gerakan mencabut ini saja dapat diketahui bahwa wanita muda<BR>yang cantik jellita itu ternyata memiliki ilmu kepandaian yang tinggi juga.<BR>Melihat darah agak kehijauan itu wanita ini nampak kaget dan berseru,<BR>"Celaka, anak panah ini beracun! Ah, mungkin kau takkan tertolong lagi...."<BR>suaranya terdengar sedih sekali. "Tapi biarlah kucoba mengobatinya dengan<BR>obat luka yang kubawa dari Hoa-san." Wanita itu mengeluarkan bungkusan<BR>kecil lalu mengobati luka di sayap burung itu dengan obat bubuk putih. Burung<BR>itu diam saja hanya merintih-rintih perlahan kemudian dengan mesra lehernya<BR>ia gosok-gosokkan kepada leher dan kepala wanita itu. Wanita itu pun<BR>membelai kepala burung itu sambil berkata terharu, "Ah, burung yang baik,<BR>kau seekor binatang saja tahu terima kasih...."<BR>Tiba-tiba terdengar suara berisik daun-daun kering terinjak disusul bentakan<BR>parau, "Ah, kiranya kau bersembunyi di sini, rajawali iblis?" Dan muncullah<BR>Koai Atong yang mukanya masih bengkak-bengkak dan matang biru karena<BR>tadi beberapa kali dihajar oleh burung rajawali itu sampai terguling-guling.<BR>Akan tetapi begitu pandang matanya bertemu dengan wanita cantik itu,<BR>seketika kemarahan Koai Atong lenyap dan matanya terbelalak memandang<BR>wanita itu, mulutnya yang masih membengkak tlba-tiba terbuka dan tertawa<BR>lebar, wajahnya berseri-seri gembira.<BR>"Enci Hong....! Ha-ha-ha, benar, kau Enci Hong....!" ia bersorak gembira dan<BR>meloncat-loncat seperti anak kecil menari-nari mendekati wanita muda itu.<BR>Wanita muda itu menarik napas panjang. "Hemm, Koai Atong, jadi kaukah<BR>yang melukai burung ini?"<BR>"Ah, jadi dia ini burungmu, Enci Hong?"<BR>Wanita itu meragu sebentar, lalu mengangguk, "Betul."<BR>"Waduh, celaka! Kalau aku tahu dia burungmu, tentu aku tidak berani<BR>mengganggunya." Koai Atong lalu menghampiri burung itu dan menjura<BR>sangat dalam. "Kim-tiauw-ko (Kakak Burung Rajawali Emas), kaumaafkan aku,<BR>ya? Aku tidak tahu bahwa kau adalah peliharaan Enci Hong."<BR>Melihat Koai Atong mendekat, burung itu marah dan hendak mematuk, tapi<BR>wanita itu mencegahnya sambil merangkul lehernya. "Dia ini orang sendiri,<BR>jangan ganggu." Dan aneh sekali, burung itu tidak jadi menyerang.<BR>"Koai Atong, jadi burung ini adalah seekor kim-tiauw (rajawali emas)?"<BR>"Lho, kok aneh sekali kau ini. Masa tidak mengenal burung peliharaan sendiri?"<BR>"Baru sekarang aku mendengar bahwa dia adalah rajawali emas. Koai Atong,<BR>kau telah melukainya dengan racun hijau, sekarang kau harus memberi obat<BR>padanya."<BR>"Baik... baik... ah Enci Hong. Kalau dia burungmu, benar-benar aku harus<BR>dipukul!" Kaoi Atong cepat mengeluarkan obat bubuk dari dalam sakunya.<BR>Sebagai seorang ahli Jing-tok (Racun Hijau), tentu saja ia tahu bagaimana<BR>harus mengobati luka karena Jing-tok itu. Beberapa kali ia menyedot luka di<BR>sayap itu dengan mulutnya, kemudian ia menaruhkan obat bubuknya yang<BR>berwarna kuning.<BR>Benar saja, dalam waktu tak berapa lama burung itu telah dapat menggerakgerakkan<BR>kembali sayap kirinya.<BR>Siapakah wanita muda itu? Dia bernama Kwa Hong cucu murid Hoa-san-pai<BR>akan tetapi oleh karena ia secara langsung menerima gemblengan dari kakek<BR>gurunya, yaitu ketua Hoa-san-pai yang bernama Lian Bu Tojin, maka ilmu<BR>silatnya amat tinggi. Beberapa bulan yang lalu Kwa Hong gadis gagah perkasa<BR>ini mengalami peristiwa yang amat menghancurkan hatinya. la tertawan<BR>musuh dan ditahan di benteng bala tentara Mongol. Beng San, pemuda sakti<BR>yang telah menjatuhkan hatinya, telah menolongnya dan kemudian mereka<BR>berdua terjebak oleh tipu daya musuh. Musuh yang jahat telah menaruhkan<BR>obat mujijat dalam makanan sehingga dia dan, Tan Beng San dalam keadaan<BR>tidak sadar telah jatuh dalam kekuasaan obat mujijat itu dan telah melakukan<BR>pelanggaran susila, telah melakukan hubungan seperti suami isteri.<BR>Hal ini sesungguhnya tidak mendukakan hati Kwa Hong karena memang ia<BR>mencinta Tan Beng San dengan seluruh jiwa raganya. Akan tetapi, dapat<BR>dibayangkan betapa hancur hatinya ketika pada keesokan harinya setelah<BR>sadar dari pengaruh obat itu, Beng San menyatakan penyesalannya, minta<BR>mati dan malah mengaku Beng San tak mungkin dapat memperisterinya<BR>karena pemuda itu sudah jatuh cinta kepada seorang gadis lain! Semua<BR>peristiwa ini telah diceritakan dengan jeias dalam cerita RAJA PEDANG.<BR>Demikianlah, dengan hati hancur, perasaan malu dan amat kecewa, Kwa Hong<BR>lalu lari pergi dengan maksud menjauhkan diri dari segala keramaian dunia.<BR>Apa lagi yang dapat ia harapkan? Orang yang dicintanya, yang tidak hanya<BR>merebut hati dan jiwanya, malah sudah pula memiliki badannya, tidak mau<BR>menerimanya dan menyatakan cinta kepada gadis lain!<BR>Ibu dia sudah tidak punya. Adapun ayahnya... ah, makin sedih kalau Kwa<BR>Hong teringat ayahnya. Ayahnya adalah seorang pendekar besar yang<BR>ternama, seorang jagoan Hoa-san-pai, murid tertua dari Lian Bu Tojin. Hoasan<BR>It-kiam (Pedang Tunggal dari Hoa-san) Kwa Tin Siong adalah seorang<BR>tokoh persilatan yang mempunyai nama besar dan harum. Akan tetapi, nasib<BR>manusia memang tidak dapat dipastikan. Ayahnya yang sudah lama menjadi<BR>duda itu teriibat dalam persoalan asmara dengan adik seperguruannya sendiri,<BR>yaitu Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang) Lim Sian Hwa. Karena marahnya Lian<BR>Bu Tojin hendak membunuh Lim Sian Hwa, namun serangan pedangnya<BR>ditangkis oleh Kwa Tin Siong, membuat lengan kirinya putus dan ayahnya itu<BR>kemudian membawa lari Sian Hwa yang pingsan, pergi entah ke mana! (Baca<BR>Raja Pedang).<BR>Siapa lagi yang dapat diharapkan oleh Kwa Hong? Hatinya perih sekali, dan<BR>lebih-lebih lagi bingung serta perih rasa hatinya ketika dalam perantauannya<BR>ini ia mendapat kenyataan bahwa ia telah mengandung! Tuhan menjatuhkan<BR>hukuman-Nya terhadap mahluk-Nya yang sesat! Perhubungannya dengan Tan<BR>Beng San tidak saja menghancurkan hatinya, tapi juga akan mendatangkan<BR>aib dan malu. la telah mengandung di luar pernikahan yang sah. la akan<BR>mempunyai anak tanpa mempunyai suami! Setelah mendapat kenyataan ini,<BR>beberapa kali Kwa Hong hendak membunuh diri saja, namun wataknya yang<BR>keras menimbulkan satu tekad padanya. la tak boleh mati karena ia harus<BR>melakukan pembalasan! Kepada siapa? Kepada siapa saja yang telah membuat<BR>ia menjadi begini, kepada siapa saja yang telah membuat penghidupannya<BR>hancur lebur.<BR>Demikianlah, secara kebetulan ia tiba di hutan itu dan bertemu dengan Koai<BR>Atong. la memang mengenal baik Koai Atong ini, semenjak kecil dahulu Koai<BR>Atong selalu baik kepadanya. Teringatlah ia setelah berjumpa dengan Koai<BR>Atong ini, akan kata-katanya di depan Tan Beng San. Kata-kata terakhir untuk<BR>menyatakan kehancuran hatinya. "Aku akan menikah dengan laki-laki yang<BR>paling buruk dan paling bodoh yang pertama kali kujumpai."<BR>"Ah, bukankah Koai Atong ini boleh dibilang laki-laki yang paling buruk dan<BR>paling bodoh? Dan melihat ketaatan Koai Atong kepadanya... ha, siapa lagi di<BR>dunia ini yang boleh ia percaya?<BR>"Koai Atong, apakah kau masih suka kepadaku?" tiba-tiba Kwa Hong bertanya<BR>sambil memandang tajam kepada laki-laki tinggi besar yang bermuka bodoh<BR>itu.<BR>Koai Atong tertawa senang, "Tentu saja, Enci Hong. Aku suka sekali padamu,<BR>kau seorang teman yang amat baik."<BR>"Apakah kau suka menurut semua kata-kataku? Kalau kau tidak suka menuruti<BR>permintaan dan kata-kataku, lebih baik kautinggalkan aku dan selama hidup<BR>jangan kau bertemu dengan aku lagi!"<BR>"Tentu... tentu...." jawab Koai Atong gugup, agaknya laki-laki ini memang<BR>takut sekali kalau-kalau tak boleh bertemu dengan Kwa Hong, "Aku akan<BR>menuruti semua kata-katamu, Enci Hong. Biar disuruh mati pun aku mau!"<BR>Seketika kedua mata Kwa Hong menjadi basah, Hatinya tertusuk sekali, Perih<BR>dan terharu ia melihat Koai Atong yang demikian mencintanya sehingga<BR>bersedia mati untuknya. Kasihan Koai Atong. Kau seperti aku nasibmu,<BR>demikian ia berpikir. Mencinta mati-matian tanpa mendapat balasan.<BR>"Lho, kok menangis, Enci Hong? Siapa yang mengganggumu? Bilanglah, Koai<BR>Atong akan menghancurkan kepalanya!" la berdiri dan mengepal-ngepal<BR>tinjunya, nampaknya marah sekali seakan-akan sudah melihat pengganggu<BR>Kwa Hong berada di depannya.<BR>"Kau duduklah, Koai Atong," Kwa Hong memegang tangannya dan menariknya<BR>duduk di atas tanah. Sementara itu burung rajawali emas yang sudah sembuh<BR>juga mendekam di belakang Kwa Hong membelai-belai punggung gadis itu<BR>dengan kepala dan lehernya.<BR>bagian 4<BR>Koai Atong nampak girang sekali disuruh duduk di dekat Kwa Hong. Sinar<BR>matanya seperti mata seorang anak kecil minta dipuji.<BR>"Atong, kaudengarlah baik-baik. Aku sekarang hidup seorang diri di dunia ini.<BR>Maukah kau bersamaku? Menjadi temanku selamanya dan tak pernah<BR>meninggalkan aku?" "Aku suka... aku suka sekali!" .<BR>'Tapi kau tidak boleh pergi ke mana pun juga, harus selalu mengikuti aku dan<BR>mentaati permintaanku."<BR>"Boleh... boleh Enci Hong."<BR>"Kalau suhumu datang dan minta kau meninggalkan aku, bagaimana?" Kwa<BR>Hong memancing.<BR>Koai Atong menjadi bengong. Orang yang paling ditakuti di dunia ini hanyalah<BR>gurunya seorang, yaitu Ban-tok-sim (Hati Selaksa Racun) Giam Kong, hwesio<BR>dari Tibet yang amat terkenal sebagai tokoh dari Tibet, ahli Jing-tok-ciang.<BR>Mendengar pertanyaan Kwa Hong ini, ia menjadi bingung dan nampak gugup.<BR>"Waah, kalau Suhu datang... sulit....!"<BR>Kwa Hong cemberut, "Kaiau kau lebih suka kepada suhumu, sudahlah,<BR>sekarang juga kau boleh tinggalkan aku!"<BR>"Tidak... tidak begitu, Enci Hong. Mana bisa aku lebih suka kepada Suhu yang<BR>gundul dan galak? Aku lebih suka kepadamu tentu."<BR>Diam-diam geli juga hati Kwa Hong mendengar ucapan dan melihat sikap Koai<BR>Atong ini. "Nah, kalau kau memang suka kepadaku, kau tidak boleh<BR>membantah, harus menurut segala kata-kataku. Biarpun suhumu datang, kau<BR>harus berani menghadapinya dan selamanya kau tidak boleh meninggalkan<BR>aku, mengerti?"<BR>Koai Atong mengangguk-angguk seperti ayam makan beras, "Mengerti...<BR>mengerti...."<BR>"Kalau begitu baru baik dan aku suka menjadi temanmu. Sekarang soal kedua,<BR>mulai sekarang, kepada siapapun juga, kepada gurumu sekalipun, kau harus<BR>Bilang bahwa aku ini adalah... adalah isterimu,"<BR>Sepasang mata Koai Atong terbuka lebar sampai bundar, hidungnya kembang<BR>kempis dan mulutnya cengar-cengir seperti orang merasa nyeri dan ketakutan.<BR>"Kau... kau adalah temanku yang baik yang kubela sampai mati... mana bisa<BR>is... isteri segala....?<BR>Kembali Kwa Hong cemberut marah. "Lagi-lagi kau mau membantah. Ah, Koai<BR>Atong, kalau belum apa-apa kau sudah membantah saja tidak mau menuruti<BR>kehendakku, sudahlah kau pergi, biar aku mati seorang diri di sini!"<BR>"Jangan... jangan usir aku, Enci Hong. Baiklah, kau isteriku. Biar kepada setan<BR>sekalipun aku akan bilang bahwa kau adalah isteriku. Nah, sudah senangkah<BR>hatimu?"<BR>Kwa Hong mengangguk, kemudian dengan pandang mata jauh seperti orang<BR>melamun sedih, ia berkata lagi, "Mulai sekarang aku adalah isterimu dan kau...<BR>suamiku. Kelak kalau aku melahirkan anak kau harus bilang bahwa anak itu<BR>adalah anakmu."<BR>Wajah Koai Atong sampai menjadi pucat mendengar ini, mulutnya ternganga<BR>dan matanya terbelalak. Kiranya dia akan terus begini kalau saja tidak<BR>kebetulan sekali ada lalat terbang memasuki mulutnya, membuat ia mencakmencak<BR>dan rnau muntah.<BR>"Kau mau menolak lagi? Mau membantah lagi?" Kwa Hong benar-benar<BR>jengkel kali ini. Koai Atong ketakutan dan cepat ia menjatuhkan diri duduk lagi<BR>setelah dengan terpaksa menelan lalat yang nekat itu.<BR>"Tidak, Enci Hong. Aku tidak membantah. Baiklah, anak itu anakku... eh, mana<BR>anak itu? Apa engkau mau melahirkan anak, Enci Hong?"<BR>Sekarang Kwa Hong tersenyum, tersenyum sedih. Orang seperti Koai Atong ini<BR>bodohnya jauh lebih baik dan murni hatinya daripada orang-orang yang<BR>tampan dan pandai. "Koai Atong, beberapa bulan lagi aku akan melahirkan<BR>anak dan ingat baik-baik, anak itu harus kauanggap, anakmu sendiri. Aku<BR>isterimu dan anak itu anakmu, mengerti?"<BR>"Baik... baik... aku mengerti."<BR>"Andaikata gurumu sendiri datang dan marah, kau harus tetap mengakui aku<BR>isterimu dan anak itu anakmu, kau harus berani melawannya."<BR>"Tapi...."<BR>"Apa tapi lagi? Ah, Koai Atong, jangan kaubikin aku kehabisan sabar dengan<BR>membantah."<BR>"Tidak membantah... tidak membantah, Enci Hong yang baik. Tapi Suhu lihai<BR>sekali... mana aku kuat melawannya? Kau dan aku akan tewas semua kalau<BR>melawannya."<BR>"Takut apa? Kepandaianmu tinggi, dan sedikit-sedikit aku pun berkepandaian.<BR>Kita bisa melatih diri memperdalam ilmu, kalau kelak ada yang datang<BR>mengganggu, dengan kepandaian kita, masa kita harus takut?"<BR>Akan tetapi Koai Atong ragu-ragu, menggeleng-geleng kepala. Biarpun dalam<BR>persoalan umum ia bodoh dan seperti anak kecil, namun dalam perkara ilmu<BR>silat ia jauh di atas Kwa Hong tingkatnya dan tahu bahwa melawan suhunya<BR>merupakan hal yang mustahil sekali. Tiba-tiba ia teringat dan seperti orang<BR>gila ia meloncat dan menari-nari, lalu ia merangkul burung rajawali emas<BR>mendekam di belakang Kwa Hong, Burung itu kaget dan hendak<BR>menyerangnya, akan tetapi Kwa Hong membentak,<BR>"Kim-tiauw, jangan serang dia!" Kemudian ia membentak Koai Atong.<BR>"Apa-apaan kau ini, kegirangan tidak karuan?"<BR>"Ada jalan... ada jalan baik Enci Hong, Kim-tiauw-heng ini, kita bisa belajar<BR>ilmu silat dari dia. Wah, dia lihai sekali, kiranya suhuku sendiri takkan mampu<BR>melawannya!"<BR>"Kau gila! Mana ada burung lebih lihai ilmu silatnya dari gurumu? Sedangkan<BR>melawanmu saja ia sampai terluka sayap kirinya."<BR>Koai Atong tertawa geli, "Memang ia agak bodoh, tapi lihai bukan main. Kalau<BR>aku tidak sengaja mengakalinya, membiarkannya diriku dihantam lalu<BR>membarengi menusuk sayapnya dengan anak panah, mana aku bisa<BR>melukainya? Seratus kali aku menghantamnya, seratus kali luput dan setiap<BR>kali ia menyerangku, aku terguling-guling. Benar, gerakan-gerakannya adalah<BR>ilmu silat yang hebat, ilmu silat ajaib, ha-ha-ha!" Kemudian ia menghampiri<BR>burung itu dan berkata, "Enci Hong, kaulihat sendiri, ya? Aku akan<BR>menyerangnya dengan Jing-tok-ciang, ilmu pukulanku yang paling hebat. Tapi<BR>kalau dia nanti marah, kau harus menyabarkannya." Setelah berkata demikian<BR>ia memutar-mutar lengan kirinya dan siap menyerang burung itu. Burung itu<BR>pun cepat berdiri dan melirik ke arahnya dengan marah.<BR>"Hati-hati Koai Atong. Pukulanmu itu hebat sekali, jangan kaubikin mati dia!"<BR>seru Kwa Hong yang sudah mengenal Jing-tok-ciang ini. Dia suka kepada<BR>burung yang bulunya seperti emas itu.<BR>"Jangan kuatir, kaulihat saja." Tiba-tiba Koai Atong memukul, dan terus<BR>memukul secara bertubi-tubi sampai lima kali. Akan tetapi benar saja, dengan<BR>gerakan aneh sekali tapi mudah dan ajaib, burung itu melangkah ke sana ke<BR>mari dan... semua serangan itu tidak mengenai sasaran. Kemudian, entah<BR>bagaimana caranya tahu-tahu sayap kanannya bergerak dan... Koai Atong<BR>terdorong sampai terguling-guling. Burung itu mengejar dan dengan marahnya<BR>hendak mencengkeram. Koai Atong berteriak-teriak minta tolong.<BR>"Kim-tiauw, jangan serang dia!" bentak Kwa Hong sambil meloncat maju.<BR>Aneh, burung itu benar-benar tunduk kepada Kwa Hong. la membatalkan<BR>niatnya dan kelihatan girang ketika Kwa Hong merangkul lehernya.<BR>"Hebat... kim-tiauw yang gagah. Kau benar-benar hebat....!" kata Kwa Hong<BR>yang sekarang percaya akan kelihaian burung itu. Koai Atong merayap bangun<BR>dan pada jidatnya bertambah sebuah benjolan sebesar telur. la menyumpahnyumpah<BR>tapi segera tertawa melihat wajah Kwa Hong berseri gembira.<BR>"Ha-ha, kau tidak menangis lagi, Enci Hong. Baik, bagus, aku senang melihat<BR>kau gembira sekarang. Jangan kuatir, kalau aku sudah mempelajari ilmu silat<BR>burung kim-tiauw ini, biar ada lima orang selihai Suhu, aku tidak takut!"<BR>Kwa Hong masih tidak mengerti bagairnana harus mempelajari ilmu silat dari<BR>seekor burung, akan tetapi melihat kesungguhan Koai Atong, ia percaya, maka<BR>ia menjadi girang sekali. Diam-diam ia mengambil keputusan untuk<BR>mempelajari segala ilmu silat dari Koai Atong, kalau mungkin melalui Koai<BR>Atong mempelajari gerakan yang ajaib dari burung itu. Kalau dia sudah<BR>memiliki kepandaian tinggi, hemmm, akan tercapai maksudnya menghukum<BR>mereka yang membuat hidupnya merana.<BR>bagian 5<BR>Hoa-san-pai adalah partai persilatan yang besar dan sudah terkenal semenjak<BR>ratusan tahun. Sayang sekali partai besar ini menjelang berakhirnya<BR>pemerintahan Goan menjadi berantakan. Semenjak dahulu Hoa-san-pai<BR>menggembleng pendekar-pendekar budiman sehingga nama baiknya makin<BR>harum saja. Mungkin sudah kehendak Tuhan bahwasegala apa di dunia ini,<BR>sampai nama sekalipun, tidak akan kekal adanya. Adakalanya naik dan<BR>adakalanya turun, ada pasang surutnya.<BR>Nasib yang menimpa Hoa-san-pai di bawah pimpinan Lian Bu Tojin memang<BR>amat menyedihkan. Karena kesalah pahaman disebabkan hal-hal yang amat<BR>berbelit-belit dalam masa perjuangan meruntuhkan Kerajaan Mongol dan<BR>mengusir penjajah itu dari tanah air, Ketua Hoa-san-pai ini kehilangan semua<BR>muridnya yang paling ia andalkan dan sayang. Empat orang muridnya yang<BR>dahulunya terkenal sebagai Hoa-san Sie-eng (Empat Pendekar Hoa-san)<BR>sekarang sudah tidak ada lagi. Yang pertama, Kwa Tin Siong, telah minggat<BR>entah ke mana setelah tangannya buntung oleh pedang gurunya, pergi<BR>bersama murid ke empat, Liem Sian Hwa. Dua yang lain, yaitu murid kedua<BR>dan ke tiga, telah tewas dalam permusuhan dengan Kun-lun-pai yang terjadi<BR>karena kesalahpahaman yang hebat.<BR>Memang masih ada empat orang cucu muridnya, yaitu Kwa Hong yang entah<BR>ke mana perginya, kemudian yang didengar oleh kakek Ketua Hoa-san-pai itu<BR>bahwa Kwa Hong telah hidup bersama Koai Atong. Cucu murid yang lainnya<BR>adaiah Kui Lok yang sekarang menjaga Hoa-san-pai bersama Thio Bwee.<BR>Kakek ini sudah rnengambil keputusan untuk merangkapkan dua orang cucu<BR>muridnya ini yaitu Kui Lok dan Thio Bwee menjadi suami isteri. Cucu murid ke<BR>empat adalah Thio Ki kakak dari Thio Bwee yang sekarang sudah bekerja<BR>sebagai kepala perusahaan piauw-kiok (pengawal pengantar barang) di Sinyang.<BR>Juga Thio Ki sudah ia jodohkan dengan murid Raja Pedang Cia Hui Gan,<BR>yaitu Nona Lee Giok yang patriotik.<BR>Akan tetapi Lian Bu amat berduka kalau ia teringat akan muridnya yang<BR>terkasih, yaitu Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa. Ke manakah perginya dua<BR>orang itu? Pula, ia merasa sedih dan kecewa sekali kalau ia teringat akan Kwa<BR>Hong yang kabarnya tinggal di puncak Lu-Liang-san bersama Koai Atong!<BR>Kalau perbuatan Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa itu dapat dianggap<BR>merusak nama dan kehormatan Hoa-san-pai, maka yang merusak itu adalah<BR>dua orang murid Hoa-san-pai sendiri. Akan tetapi kalau sampai terdengar<BR>orang kang-ouw tentang Koai Atong dan Kwa Hong, bukankah itu berarti<BR>bahwa Koai Atong sengaja hendak menghina Hoa-san-pai dan memandang<BR>rendah dan ringan kepadanya? Pikiran inilah yang selalu mengganggu kakek<BR>ini dan membuat ia mengambil keputusan untuk rnencari Ban-tok-sim Giam<BR>Kong untuk diminta pertanggungan-jawabnya terhadap perbuatan Koai Atong<BR>dan kalau guru Tibet ini tidak mau mempertanggungjawabkannya, ia sendiri<BR>akan mencari Kwa Hong dan Koai Atong di Lu-liang-san.<BR>Dan adalah keputusan ini yang membuat pada suatu hari Lian Bu Tojin<BR>berhadapan dengan Ban-tok-sim Giam Kong di tepi gurun pasir di luar tembok<BR>besar sebelah utara. Ban-tok-sim Giam Kong adalah seorang hwesio bertubuh<BR>tinggi besar berkulit hitam sekali, usianya sudah tujuh puluh tahun lebih<BR>namun masih nampak kuat dan tongkat hwesio yang selalu berada di<BR>tangannya juga berat tanda bahwa tenaga hwesio tua ini besar. Sepasang<BR>mata hwesio ini memancarkan sinar penuh semangat dan matanya sekarang<BR>juga bersinar-sinar ketika ia bertemu dengan Lian Bu Tojin di tempat yang tak<BR>disangka-sangkanya itu.<BR>"Omitohud....!" la mengeluarkan kata-kata pujian sambil merangkap kedua<BR>tangan ke depan dada, menyembah sebagai tanda hormat. "Angin apakah<BR>yang meniupToyu datang ke tempat ini?"<BR>Lian Bu Tojin merangkap kedua tangan lalu menjura, "Bagus sekali, agaknya<BR>memang Thian sudah menghendaki pertemuan kita. Losuhu, sengaja pinto<BR>mencarimu untuk membicarakan sesuatu urusan amat penting."<BR>"Omitohud, pinceng tidak hendak mendahului kehendak Thian. Akan tetapi,<BR>bukankah Toyu mencari pinceng karena urusan muridmu dan muridku?"<BR>"Siancai... siancai...." Lian- Bu Tojin berkata heran. "Kiranya Losuhu sudah<BR>maklum pula akan hal itu. Losuhu, di antara kita ada pertalian persahabatan<BR>ketika kita bersama menghadapi bangsa Mongol. Oleh karena itu pula, pinto<BR>mohon Losuhu sudi mengingat hubungan baik itu dan suka meluruskan jalan<BR>yang bengkok." Kata-kata meluruskan jalan bengkok ini berarti membetulkan<BR>sesuatu yang salah atau yang tidak wajar.<BR>Giam Kong Hwesio tertawa sambil berdongak, giginya yang masih lengkap dan<BR>kuat itu berkilat-kilat putih di ballk kulit mukanya yang hitam.<BR>"Lian Bu-toyu memakai kata-kata halus tapi maksudnya hendak menyalahkan<BR>pinceng dalam hal ini, ha-ha-ha! Sebetulnya, pinceng sendiri pun amat heran<BR>mengapa muridmu yang muda dan cantik jelita itu suka kepada murid pinceng<BR>yang bodoh dan gila. Kalau muridmu suka, mengapa hendak<BR>menyalahkan pinceng?"<BR>Wajah Lian Bu Tojin yang putih itu berubah agak merah. Benar-benar<BR>memalukan sekali sikap Kwa Hong itu, akan tetapi betapapun juga, ia harus<BR>menjaga nama dan kehormatan Hoa-san-pai.<BR>"Pinto meragukan apakah Kwa Hong dengan sukarela ikut dengan muridmu.<BR>Harus diakui bahwa muridmu itu jauh lebih tinggi kepandaiannya daripada Kwa<BR>Hong. Andaikata muridmu hendak mengambil Kwa Hong sebagai jodohnya, itu<BR>pun harus melalui saluran-saluran yang terhormat. Maka dari itu, Losuhu,<BR>sudah jelas bahwa muridmu melanggar kesusilaan, menghina Hoa-san-pai.<BR>Kalau Losuhu tidak mau turun tangan sendiri, terpaksa untuk menjaga nama<BR>baik Hoa-san-pai, pinto yang akan mewakili Losuhu."<BR>Kali ini Ban-tok-sim Giam Kong tidak tertawa lagi, menarik muka sungguhsungguh<BR>dan berkata, "Lian Bu-toyu, kau enak saja bicara seperti orang yang<BR>bersih mulus!! Ketahuilah, dalam urusan antara muridmu dan muridku ini<BR>terdapat rahasia yang pinceng sendiri masih belum dapat pecahkan. Kau tahu,<BR>Atong selama hidupnya amat taat dan takut kepadaku, akan tetapi kali ini ia<BR>membangkang dan sama sekali tidak mau kembali kepada pinceng. Ini tidak<BR>sewajarnya dan agaknya muridmu itulah yang memaksanya, entah dengan<BR>pengaruh apa. Selain dari itu, supaya kau tahu saja, pinceng yang menjadi<BR>gurunya tahu betul bahwa diri Kaoi Atung itu tidak normal lagi, tak mungkin<BR>dia bisa menjadi suami karena pinceng sendiri yang dahulu sudah turun<BR>tangan mematikan pembangkit nafsunya. Dia akan tetap menjadi kanak-kanak<BR>sampai matinya kelak dan tidak mungkin ia akan dapat melakukan hubungan<BR>dengan wanita sebagai suami isteri. Nah, setelah keadaan seperti ini sekarang<BR>pinceng mendengar ia mati-matian mengaku sebagai suami muridmu,<BR>bukankah aneh sekali ini?"<BR>Lian Bu Tojin mengerutkan alisnya. Orang seperti Ban-tok-sim Giam Kong ini<BR>tidak aneh kalau melakukan kekejian seperti yang dilakukan terhadap Koai<BR>Atong itu dan kata-katanya itu boleh dipercaya. la diam-diam merasa heran<BR>sekali. Bukan tak mungkin kalau sebaliknya Kwa Hong yang mempengaruhi<BR>bocah tua itu. la mengenal baik Kwa Hong yang keras hati dan tidak mau kalah<BR>dalam segala hal. Akan tetapi mengapa Kwa Hong melakukan hal itu?<BR>"Giam Kong Losuhu, kalau begitu, karena hal ini menyangkut muridmu dan<BR>muridku, jadi menyangkut nama baik kedua pihak, maka marilah kita berdua<BR>pergi ke Lu-liang-san dan sama melihat sebetulnya apakah yang terjadi di<BR>sana dan siapa di antara keduanya itu yang bersalah harus kita hukum."<BR>"Usulmu baik sekali, Toyu."<BR>6<BR>Berangkatlah dua orang kakek pendeta itu menuju ke Lu-liang-san. Keadaan<BR>dua orang kakek ini amat jauh berbeda. Giam Kong Hwesio adalah seorang<BR>kakek tinggi besar yang bermuka hitam dan tangannya menyeret sebuah<BR>tongkat yang besar dan berat, tongkat hwesio yang kepalanya diukir kepala<BR>binatang sakti kilin. Adapun Lian Bu Tojin yang beberapa tahun lebih muda<BR>daripada hwesio tua itu adalah seorang pendeta tosu yang tinggi kurus,<BR>jenggotnya panjang sampai ke perut, pakaiannya sederhana sekali dan<BR>tangannya membawa sebatang bambu yang ringan. .Di punggungnya<BR>tergantung pedang pusaka Hoa-san-pai.<BR>Biarpun dua orang kakek ini sudah tua sekali, sudah lebih enam puluh tahun,<BR>namun berkat tingkat kepandaian rnereka yang tinggi, dengan ilmu lari cepat<BR>mereka, dalam beberapa hari saja mereka sudah mulai mendekati Bukit Luliang-<BR>san yang sunyi. Akan tetapi mencari dua orang di atas pegunungan yang<BR>banyak puncaknya dan kaya akan hutan-hutan lebat itu bukanlah pekerjaan<BR>mudah. Setelah berkeliaran beberapa hari barulah pada suatu pagi mereka<BR>berhasil menemukan Koai Atong. Ini pun kalau Koai Atong tidak sedang<BR>memanggang dagjng harimau kiranya masih belum akan dapat ditemukan oleh<BR>dua orang kakek itu. Asap yang bergulung-gulung itulah yang menarik dua<BR>orang kakek ini dan akhirnya mereka melihat Koai Atong sedang memanggang<BR>daging dalam sebuah hutan yang lebat. Koai Atong tertawa-dan menyanyi<BR>seorang diri, nampaknya gembira bukan main.<BR>Giam Kong Hwesio yang menghampiri dengan diam-diam itu merasa terharu<BR>juga. Sudah terlalu kenal ia akan watak muridnya ini dan ia dapat melihat<BR>betapa muridnya itu betul-betul merasa bahagia hidupnya. Maka meragulah<BR>dia, apakah dia harus mengganggu penghidupan yang begitu tenteram dan<BR>bahagia dari Koai Atong? Akan tetapi karena ada urusan yang menyangkut diri<BR>Kwa Hong murid Hoa-san-pai, tentu saja ia pun tidak dapat mendiamkan saja.<BR>"Koai Atong, sedang apa kau di sini seorang diri?" tegur Giam Kong Hwesio.<BR>Koai Atong nampak kaget, apalagi setelah menengok ia melihat gurunya .<BR>bersama Lian Bu Tojin sudah berdiri di depannya. Saking gugupnya ia lalu<BR>mendekatkan daging yang dipanggangnya itu ke mulut, Lalu... digigitnya<BR>daging setengah matang yang masih panas sekali itu. la seperti lupa diri dan<BR>terus makan daging yang masih mengebul itu dengan enaknya sambil kedua<BR>matanya memandang kepada dua orang kakek itu, terbelalak.<BR>"Koai Atong, suhumu bertanya kenapa tidak kaujawab?" kata Lian Bu Tojin,<BR>suaranya terdengar tenang dan penuh kesabaran. Ketua Hoa-san-pai ini<BR>memang tak pernah memperlihatkan kandungan hatinya sehingga dalam<BR>keadaan marah atau duka ia bisa tertawa.<BR>"Aku... aku sedang makan..,." jawab Koai Atong gugup. "Suhu dan Totiang...<BR>apakah suka makan daging?"<BR>Kalau saja pertanyaan ini bukan diajukan oleh Koai Atong yang sudah mereka<BR>kenal wataknya yang kekanak-kanakan, tentu akan merupakan pertanyaan<BR>yang sifatnya menghina. Masa dua orang pendeta yang pantang makan<BR>bernyawa ditawari daging?<BR>"Atong, kedatangan pinceng dan Lian Bu-toyu ke sini bukan untuk makan<BR>daging, melainkan untuk mencari kau dan Nona Kwa Hong. Kabarnya kau dan<BR>Nona Kwa Hong berada disini, sekarang di rnana adanya nona itu?"<BR>Mendengar pertanyaan gurunya, Koai Atong lalu berdiri, mulutnya masih<BR>bergerak-gerak makan daging panas.<BR>"Ada keperluan apakah kau mencari isteriku?"<BR>Terbelalak mata Giam Kong Hwesio mendengar kata-kata dan melihat sikap<BR>yang menantang ini, "Atong, apa kata mu? Sejak kapan kau memperisteri<BR>dia?"<BR>"Sejak... sejak lama, entah berapa lama. Enci Hong adalah isteriku dan kelak<BR>kalau anaknya terlahir, anak itu adalah anakku!" Otomatis Koai Atong meniru<BR>kata-kata yang harus ia janjikan kepada Kwa Hong dahulu.<BR>Mendengar ini, dua orang kakek itu saling pandang dan keduanya melangkah<BR>heran. Keheranan itu perlahan-lahan berubah menjadi kemarahan karena<BR>mereka "Berdua menganggap bahwa hal ini benar-benar keterlaluan. Dua<BR>orang bersuami isteri sampai hampir punya anak dan semua itu terjadi di luar<BR>tahu guru masing-masing, terjadi begitu saja tanpa pengesahan. Benar-benar<BR>merupakan tamparan bagi orang yang menjadi gurunya.<BR>"Atong, jangan kau main gila!" bentak Giam Kong Hwesio dengan muka makin<BR>menghitam karena menahan kemarahannya. "Benar-benarkah kau menjadi<BR>suami Nona Kwa Hong? Jangan berdusta, jawab terus terang!"<BR>Biasanya apabila gurunya sudah mem-beritaknya seperti itu, hati Koai Atong<BR>menjadi jerih dan takut, lalu serta-merta menjatuhkan diri berlutut. Akan<BR>tetapi kali ini ia tetap berdiri dan biarpun wajahnya berubah pucat dan<BR>tubuhnya menggigil, ia menjawab,<BR>"Betul, Suhu. Enci Hong adaiah isteriku, aku suaminya dan anaknya kelak akan<BR>menjadi...."<BR>"Tutup mulut!" Giam Kong Hwesio membentak marah sekali. "Atong, lupakah<BR>kau bahwa dalam segala hal kau harus mendapat ijin lebih dulu dari pinceng?<BR>Diam-diam kau mengaku sebagai suami Nona Kwa Hong, siapakah yang<BR>memaksamu berbuat demikian?"<BR>"Enci Hong yang meminta begitu, Suhu... dan aku... aku tidak bisa<BR>menolaknya, tidak mau aku membikin Enci Hong marah dan berduka."<BR>Giam Kong Hwesio melirik ke arah Lian Bu Tojin, sinar matanya seakan-akan<BR>berkata, "Nah, semua adalah kesalahan muridmu!" Akan tetapi Lian Bu Tojin<BR>tidak berkata apa-apa hanya memandang ke sana ke mari agaknya men-cari<BR>Kwa Hong.<BR>"Atong, sekarang juga kau harus ting-galkan tempat ini dan ikut bersama<BR>pincengl"<BR>Makin pucat wajah Koai Atong. "Apa....? Pergi meninggalkan Enci Hong....?<BR>Tidak, Suhu. Aku tidak mau, aku tidak bisa berpisah dari Enci Hong. Aku tidak<BR>mau pergi ikut denganmu!"<BR>"Setan! Atong, apakah kau hendak melawan gurumu?"<BR>"Siapapun juga tidak boleh memisahkan aku dengan Enci Hong!" Koai Atong<BR>tetap membantah.<BR>"Keparat, kalau begitu lebih baik pinceng rnelihat kau mati!" Tiba-tiba tubuh<BR>yang tinggi besar dari Giam Kong Hwesio itu bergerak dan tahu-tahu ia sudah<BR>mengirim serangan maut ke arah kepala Koai Atong. la sudah maklum sampai<BR>di mana tingkat kepandaian muridnya ini, yaitu tidak selisih jauh dengan<BR>tingkatnya sendiri, maka begitu turun tangan ia segera mengirim pukulan<BR>dengan jurus yang mematikan dan yang kiranya takkan dapat dihindarkan<BR>oleh muridnya itu.<BR>Akan tetapi, di luar dugaannya sama sekali, tubuh Koai Atong bergerak sedikit,<BR>kakinya menggeser dan kedua lengannya dikembangkan seperti sayap dan...<BR>serangan itu hanya mengenai tempat kosong Giam Kong Hwesio terkesiap,<BR>bukan karena dihindarkannya serangannya, melainkan cara muridnya itu<BR>bergerak menyelamatkan diri. Gerakan kaki dan kedua tangan muridnya itu<BR>sama sekali asing baginya.<BR>7<BR>bagian 7<BR>"Murid murtad, kau sudah mempelajari ilmu silat lain pula? Nah, pergunakan<BR>llmu silat barumu untuk menghadapi ini!" Kembali Giam Kong Hwesio<BR>menyerang, kini menyerang sambil mengerahkan tenaga Jing-tok-ciang yang<BR>luar biasa hebatnya.<BR>Namun ia kembali kecele sampai berkali-kali. Serangannya susul-menyusul<BR>sampai dua puluh empat jurus tanpa berhenti, namun kesemuanya itu dapat<BR>dihindarkan dengan arnat mudahnya oleh Koai Atong. Melihat hal ini tadinya<BR>Lian Bu Tojin sendiri mengira bahwa Giam Kong Hwesio hanya menggertak<BR>muridnya dan masih merasa sayang untuk menghukumnya. Akan tetapi<BR>setelah melihat betapa Giam Kong Hwesio makin lama makin marah dan<BR>serangan-serangannya betul-betul amat berbahaya, ia mulai memperhatikan<BR>dan amat heranlah hati ia sendiri menyaksikan betapa aneh dan luar biasa<BR>gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Koai Atong itu. Tubuh Koai Atong yang<BR>tinggi besar itu agak membungkuk, kakinya berloncatan ke sana-sini, kedua<BR>lengannya dikembangkan seperti burung hendak terbang. Dan setiap kali<BR>serangan datang selalu otomatis kaki dan tangannya bergerak secara aneh<BR>tapi selalu dapat menghindarkan semua pukulan.<BR>"Kurang ajar, kau benar-benar hendak melawan gurumu sendiri? Atong, kalau<BR>begitu biar pinceng mengadu nyawa denganmu!" seru Giam Kong Hwesio yang<BR>menjadi marah luar biasa.<BR>Tiba-tiba terdengar suara merdu dari atas, "Koai Atong, hwesio buruk itu<BR>bukan gurumu lagi, balaslah dengan Jing-tok-ciang yang baru kita latih<BR>kemarin!"<BR>Wajah Koai Atong bcrseri-seri mendengar suara ini, lalu ia menjawab,<BR>"Baiklah, Enci Hong. Eh, hwesio buruk, kau bukan guruku lagi dan sekarang<BR>kau rebahlah!" Sambil berkata demikian Koai Atong memutar-mutar lengan<BR>kiri hendak menggunakan pukulan Jing-tok-ciang. Tentu saja serangan ini<BR>dipandang ringan oleh Giam Kong Hwesio. Dialah yang menciptakan ilmu<BR>Pukulan Jing-tok-ciang ini, masa sekarang ia diancam dengan ilmu pukulan<BR>ciptaannya itu?. Hampir ia tertawa melihat bekas muridnya memutar-mutar<BR>tangan kirinya. Tepat seperti yang ia ajarkan dulu, tangan kiri Koai Atong<BR>mendorong dengan tenaga Jing-tok-ciang.<BR>Tentu saja sebagai penciptanya, Giam Kong Hwesio tahu cara pemecahannya,<BR>malah tahu cara untuk membalas secara hebat. Diam-diam ia mengerahkan<BR>tenaga dan dengan Jing-tok-ciang pula tapi dengan tenaga "menyedot" ia<BR>menangkis dengan tangan kanannya kepada dorongan tangan kiri muridnya<BR>itu<BR>Dua tangan bertemu dan saling menempel. Giarn Kong Hwesio sudah merasa<BR>girang karena kali ini ia pasti akan dapat merobohkan bekas muridnya itu.<BR>Siapa kira tiba-tiba tangan kanan Koai Atong bergerak mendorong dan...<BR>tangan kanan inilah yang mengandung tenaga Jing-tok-ciang sepenuhnya<BR>Sedangkan tangan kirinya tadi hanyalah gertak atau tipuan belaka.<BR>"Bukk!!" Tubuh Giam Kong Hwesio terhuyung-huyung, matanya terbelalak<BR>melotot memandang kepada Koai Atong, kemudian ia roboh terguling dengan<BR>mata masih melotot akan tetapi putus nyawanya. Hwesio Tibet ini telah tewas<BR>di tangan muridnya sendiri, oleh ilrnu pukulan yang dahulu ia ciptakan sendiri.<BR>Akan tetapi Jing-tok-ciang yang dipergunakan oleh Koai Atong ini telah<BR>berubah banyak, dan gerakannya telah dicampur dengan gerakan aneh yang ia<BR>pelajari bersama Kwa Hong dari burung rajawali emas!<BR>Lian Bu Tojin sejak tadi memandang ke atas, ke arah suara. Ternyata Kwa<BR>Hong sedang duduk di atas punggung seekor burung rajawali yang berbulu<BR>kuning emas. Agaknya burung itu tadi terbang mendatang dengan gerakan<BR>sayap yang amat halus sehingga tidak menimbulkan suara dan telah hinggap<BR>di cabang dengan Kwa Hong di punggungnya. Hampir Lian Bu Tojin tidak<BR>mengenal muridnya ini lagi, Kwa Hong memakai pakaian serba putih, tidak<BR>merah seperti dulu lagi, dan ia duduk di punggung rajawali dengan lagak<BR>angkuh dan agung seperti seorang ratu duduk di atas singgasana dari emas!<BR>Sama sekali Kwa Hong tidak pernah melirik ke arah Lian Bu Tojin dan begitu<BR>melihat Giam Kong Hwesio roboh dan tewas Kwa Hong tertawa dengan suara<BR>yang membikin bulu tengkuk berdiri. Dalam pendengaran Lian Bu Tojin, suara<BR>itu setengah tertawa setengah menangis. Betapapun juga, melihat Koai Atong<BR>membunuh gurunya sendiri, Lian Bu Tojin menjadi marah sekali.<BR>"Koai Atong benar-benar kau murid durhaka. Berani kau membunuh gurumu<BR>sendiri?"<BR>Sementara itu, Koai Atong berdiri seperti patung memandangi tubuh suhunya<BR>yang telentang dengan mata mendelik dalam keadaan tidak bernyawa lagi itu.<BR>Sekarang, mendengar kata-kata Lian Bu Tojin, ia segera berlutut sambil<BR>menangis menggerung-gerung.<BR>"Suhu... Suhu... kenapa kau diam saja? Suhu... apakah betul-betul kau mati?<BR>Ah, Suhu, jangan tinggalkan murid seorang diri di dunia ini. Suhu... jangan<BR>mati, Suhu...!"<BR>Tiba-tiba berkelebat bayangan putih dari atas pohon dan tahu-tahu Kwa Hong<BR>sudah berdiri di dekat Koai Atong, memegang pundak Koai Atong dan<BR>diguncang-guncang keras. Lian Bu Tojin diam-diam kaget dan kagum<BR>menyaksikan gerakan Kwa Hong ketika melayang turun tadi, seperti seekor<BR>burung saja gerakannya dan demikian ringan! Dari mana gadis ini mempelajari<BR>semua itu?<BR>"Koai Atong, apakah kau sudah gila? Hwesio buruk ini sudah mati, kenapa kau<BR>menangis segala macam?"<BR>Koai Atong bangkit berdiri sambil menyusuti air matanya, "Dia adalah guruku,<BR>Enci Hong. Dia guruku yang baik... uhh-uhhhuu... kalau dia mati, bagaimana<BR>dengan diriku? Uhuhuu...."<BR>"Goblok! Apa kau lupa ada aku disini. Kau boleh pilih saja, mau ikut gurumu<BR>mampus atau mau hidup bersama aku di sini?"<BR>Seketika berubah wajah Koai Atong. la nampak gugup dan cepat sekali<BR>tersenyum dan menyusut kering air matanya, "Oh, betul juga. Aku keliru tadi,<BR>Enci Hong. Biarkan dia mampus, hwesio buruk itu yang mau membawa aku<BR>pergi darimu. Ha-ha-ha!"<BR>Mendengar dan melihat ini semua, Lian Bu Tojin tak dapat menahan<BR>kemarahannya lagi. Sekarang jelaslah baginya bahwa kesalahannya bukan<BR>terletak pada diri Koai Atong, melainkan sepenuhnya adalah karena perbuatan<BR>Kwa Hong, terang bahwa Koai Atong hanya menurut saja apa kehendak Kwa<BR>Hong. Yang ia tidak mengerti mengapa Kwa Hong melakukan ini semua?<BR>Mungkinkah Kwa Hong jatuh cinta kepada orang seperti Koai Atong? Ia<BR>menggeleng-geleng kepala, kalau ada kemungkinan ini tentu ada<BR>kemungkinan lain, yaitu bahwa Kwa Hong telah menjadi gila!<BR>"Eh, tosu tua. Mau apa kau datang ke tempat kami ini?"<BR>Lian Bu Tojin memandang kepada Kwa Hong dengan mata terpentang lebar<BR>sekali. Benarkah ini Kwa Hong gadis cucu muridnya yang dulu hanya takut<BR>kepadanya seorang?<BR>"Hong Hong, benar-benarkah kau sudah lupa kepada pinto? Lupakah kau<BR>kepada kakek gurumu sendiri? Pinto adalah Lian Bu Tojin dari Hoa-san-pai,<BR>Hong Hong, setelah kakek gurumu datang, apakah kau tidak lekas berlutut<BR>memberi hormat?"<BR>Koai Atong berkata, "Enci Hong, dia ini Ketua Hoa-san-pai, Lian Bu Tojin,<BR>kakek gurumu yang galak, Lekas berlutut, kau nanti mendapat marah bisa<BR>sulit!"<BR>Akan tetapi tiba-tiba Kwa Hong tertawa bergelak-gelak, lalu berkata dengan<BR>nada suara galak,<BR>"Lian Bu Tojin, siapa tidak tahu bahwa kau adalah Ketua Hoa-san-pai yang<BR>mulia dan gagah perkasa, guru besar yang hendak membunuh murid sendiri<BR>kemudian membuntungi lengan kiri murid sendiri? Hah, kau menjemukan<BR>hatiku.<BR>Tosu tua bangka bau, lekaslah pergi dari sini sebelum timbul seleraku untuk<BR>membuntungi tanganmu atau lehermu!"<BR>Sesabar-sabarnya manusia, masih ada batasnya. Kalau yang memakinya itu<BR>seorang lain yang tidak ada hubungannya dengan dirinya, mungkin Lian Bu<BR>Tojin takkan melayaninya dan akan pergi begitu saja. Akan tetapi Kwa Hong<BR>adalah cucu muridnya. Seorang cucu murid berani memaki-maki kakek<BR>gurunya, hal ini benar-benar di luar batas kesabaran Lian Bu Tojin.<BR>"Kwa Hong, kau benar-benar kurang ajar sekali. Kau sebagai anak murid Hoasan-<BR>pai sudah mengotorkan dan mencemarkan nama Hoa-san-pai dengan<BR>perbuatanmu yang kotor tak tahu malu ini. Pinto menjadi Ketua Hoa-san-pai,<BR>percuma kalau tidak bisa memberi hukuman kepadamu!"<BR>Setelah berkata demikian, dengan amarah meluap-luap Lian Bu Tojin lalu<BR>menerjang maju sambil memutar tongkat bambunya, melakukan serangan<BR>kepada. Kwa Hong. Dengan amat mudah Kwa Hong mengelak dan membalas<BR>dengan pukulan aneh sekali gerakannya, dari samping. Melihat betapa gerakan<BR>tangan itu ketika memukul agak diputar, tak salah lagi tentu ini sebuah<BR>pukulan Jing-tok-ciang, akan tetapi juga lain sekali gerakannya dengan Jingtok-<BR>ciang dari Giam Kong Hwesio yang pernah dilihat Lian Bu Tojin. Betapapun<BR>juga Lian Bu Tojin tidak berlaku sembrono dan mengelak sambil menotokkan<BR>ujung tongkat bambunya ke arah jalan darah di pinggang bekas cucu<BR>muridnya itu. Lagi-lagi Kwa Hong mengelak dan diam-diam Lian Bu Tojin<BR>menjadi kagum. Gerakan Kwa Hong ini persis gerakan Koai Atong ketika<BR>mengelak dari serangan Giam Kong Hwesio tadi. Gerakannya sederhana tapi<BR>aneh dan cepat bukan main, sedikit saja pindahkan kaki dan kembangkan<BR>kedua lengan, serangan yang sulit-sulit sudah dapat dihindarkannya. Dilihat<BR>sepintas lalu seperti Ilmu Silat Ho-kun dari Siauw-lim-si, akan tetapi<BR>kedudukan kakinya berbeda, lagi pula gerakan ini mengandung kegagahan<BR>yang tak dapat disamakan dengan burung ho dari Ilmu Silat Ho-kun.<BR>Karena tak dapat mengenal ilmu silat apa yang dipergunakan oleh Kwa Hong<BR>untuk menghadapi serangan-serangan tongkat bambunya, kakek Ketua Hoasan-<BR>pai itu menjadi penasaran sekali. Apalagi kalau diingat bahwa ia<BR>menyerang dengan menggunakan senjata walaupun hanya sebatang tongkat<BR>bambu, sedangkan bekas cucu muridnya itu bertangan kosong! Alangkah akan<BR>malunya kalau ada orang mendengar bahwa dia, Ketua Hoa-san-pai,<BR>menggunakan senjata tongkatnya yang sudah terkenal, dalam belasan jurus<BR>tidak mampu merobohkan cucu muridnya sendiri yang bertangan kosong.<BR>Mengingat ini, Lian Bu Tojin lalu berseru keras dan mengeluarkan ilmu silatnya<BR>yang paling tinggi, inti dari pada Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-hoat yang karena<BR>sukarnya memang belum pernah ia turunkan kepada Kwa Hong. Hanya ayah<BR>Kwa Hong, murid pertama dari Hoa-san-pai, Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong<BR>saja yang pernah mempelajari ilmu pedang ini, tapi juga beJum sempurna<BR>betul. Bukan main hebatnya ilmu pedang ini. Biarpun dimainkan hanya dengan<BR>sebatang tongkat bambu, namun bahayanya bukan main. Tongkat bambu itu<BR>berubah menjadi segulung sinar yang menyambar-nyambar dan mengurung<BR>diri Kwa Hong dari segala jurusan.<BR>Tadi Kwa Hong selalu dapat menghindarkan diri dari serangan bekas kakek<BR>gurunya karena ia memang sudah mengenal ilmu silat Hoa-san-pai dengan<BR>baik. Seperti juga Koai Atong, selama beberapa bulan di dalam hutan ia telah<BR>berhasil mempelajari banyak gerakan dari burung rajawali emas itu dan<BR>bersama-sama Koai Atong yang memang amat cerdas dalam hal ilmu silat,<BR>mereka telah dapat mengambil intisari daripada gerakan-gerakan burung aneh<BR>itu sehingga dapat mempergunakan dalam pertempuran. Akan tetapi yang<BR>dapat mereka petik dalam beberapa bulan ini hanya gerakan mengelak saja,<BR>itu pun belum sempurna betul sungguhpun memang sudah amat hebat kalau<BR>dipergunakan dalam pertempuran.<BR>bagian 8<BR>Sekarang setelah Lian Bu Tojin mengeluarkan ilmu pedang yang menjadi inti<BR>daripada Hoa-san Kiam-hoat. Kwa Hong menjadi kaget. Tongkat bambu itu<BR>mengeluarkan hawa dingin dan membuat matanya berkunang. Baru ia tahu<BR>sekarang bahwa kakek gurunya ini, Ketua Hoa-san-pai memang tidak<BR>mempunyai nama kosong belaka. la mengeluarkan pekik menyeramkan dan<BR>kini menggunakan segala ingatannya untuk meniru gerakan-gerakan dari<BR>burung rajawali emas. Bukan hanya gerakan untuk mengelak dari bahaya,<BR>juga sedikit-sedikit ia mulai menggunakan gerakan menyerang dari burung itu.<BR>Kedua kakinya kadang-kadang melompat dan menerjang dalam tendangantendangan<BR>sebagai pengganti kedua kaki burung kalau mencakar dan<BR>menendang, kedua tangannya secara aneh dan tiba-tiba menghantam dari<BR>samping seperti gerakan sayap dan kadang-kadang menotok lurus dari depan<BR>seperti gerakan patuk burung. Betapapun juga, Kwa Hong menjadi girang<BR>karena ia dalam beberapa puluh jurus gerakannya mengelak masih berhasil<BR>menyelamatkan dirinya dari ancaman senjata kakek itu. Akan tetapi, makin<BR>lama makin terasa olehnya betapa gulungan sinar itu makin menekan dan<BR>mengurung makin rapat sehingga tak mungkin lagi baginya untuk membalas,<BR>Repot juga kalau harus mengelak terus dari sinar tongkat yang amat<BR>berbahaya itu.<BR>"Koai Atong, bantu aku!" Akhirnya Kwa Hong tidak tahan dan minta bantuan<BR>temannya.<BR>Koai Atong mengeluarkan suara melengking keras nneniru suara lengkingan<BR>burung rajawali, kemudian tubuhnya yatig tinggi besar itu menerjang maju<BR>Sambil mengirim pukulan Jing-tok-ciang ke arah tubuh kakek Ketua Hoa-sanpai.<BR>Lian Bu Tojin terkejut juga ketika merasa ada angin dingin menyambar<BR>dahsyat dari samping. Cepat ia mengelak dan memutar tongkatnya menotok<BR>sekaligus ke tiga tempat berbahaya di tubuh Koai Atong. Namun sambil<BR>terkekeh Koai Atong mengelak duakali dan menangkis sekali tongkat bambu<BR>itu dengan sabetan lengannya dari samping. Lian Bu Tojin kaget ketika merasa<BR>betapa sabetan itu mengandung tenaga yang amat dahsyat dan lebih-lebih lagi<BR>kagetnya ketika melihat bahwa ujung tongkat bambunya telah remuk!<BR>"Keparat, hari ini pinto harus memberi hajaran kepada kalian berdua!" Lian Bu<BR>Tojin berseru sambil mencabut keluar pedang pusakanya. Cahaya menyilaukan<BR>berkelebat ketika pedang pusaka itu tercabut. Inilah pedang pusaka Hoa-sanpai<BR>(Hoa-san Po-kiam) yang menjadi tanda kekuasaan. Semenjak Hoa-san-pai<BR>didirikan, pedang ini turun-temurun berada di tangan para ketua Hoa-san-pai.<BR>Biasanya pedang pusaka ini hanya dipergunakan untuk upacara-upacara<BR>peringatan untuk menghormati para. ketua Hoa-san-pai semenjak dahulu, dan<BR>jarang sekali dipakai untuk bertempur. Akan tetapi kali ini karena menghadapi<BR>lawan berat dan pula harus menjaga nama baik Hoa-san-pai, Lian Bu Tojin<BR>tidak ragu-ragu lagi untuk menghunusnya dan mempergunakannya.<BR>Memang pada hakekatnya tingkat ilmu kepandaian dua orang itu, Koai Atong<BR>dan Kwa Hong masih jauh di bawah tingkat Lian Bu Tojin. Kalau tadi Koai<BR>Atong berhasil membunuh gurunya adalah karena Giam Kong Hwesio sama<BR>sekali tidak pernah mengira bahwa muridnya sudah mendapatkan kepandaian<BR>yang demikian anehnya, padahal menurut tingkat, tentu saja Koai Atong masih<BR>belum dapat menyamai gurunya. Biarpun Koai Atong dan Kwa Hong<BR>mendapatkan ilmu yang amat mujijat, yaitu dari gerakan burung rajawali<BR>emas itu, namun mereka baru berlatih beberapa bulan saja, pula hanya<BR>mempertahankan diri maka mereka pun hanya kuat sekali dalam hal ini. Untuk<BR>balas menyerang ternyata ilmu kepandaian mereka masih belum dapat<BR>menyamai tingkat Lian Bu Tojin. Apalagi sekarang mereka berdua bertangan<BR>kosong menghadapi Lian Bu Tojin yang marah dan yang bersenjatakan pedang<BR>pusaka Hoa-san-pai yang ampuh sekali itu. Biarpun mereka dapat selalu<BR>menghindar daripada sambaran pedang, namun untuk membalas benar-benar<BR>merupakan hal yang amat sulit. Kalau dibiarkan saja terus menghadapi<BR>gulungan sinar pedang yang menyilaukan mata ini, akhirnya tentu seorang di<BR>antara mereka akan terluka terbunuh.<BR>"Kim-tiauw-heng! Hayo bantu kamil" Tiba-tiba Kwa Hong berteriak dan<BR>mengeluarkan suara bersuit nyaring.<BR>Lian Bu Tojin terkejut ketika tiba-tiba ia melihat sinar kuning emas berkelebat<BR>dari atas dan tahu-tahu ia sudah diserang bertubi-tubi oleh sepasang cakar,<BR>sebuah patuk dan sepasang sayap. Serangan ini hebat luar biasa, akan tetapi<BR>sebagai seorang ahli, ia tidak menjadi gugup, malah memusatkan gerakan<BR>pedangnya menjadi sebuah lingkaran menghantam ke arah burung rajawali<BR>itu. Hebatnya, biarpun tadinya menyerang dengan dahsyat, begitu<BR>menghadapi serangan maut dari pedang pusaka itu, burung rajawali ini dapat<BR>secara aneh dan cepat sekali merubah gerakannya dan sekali melejit ia dapat<BR>menyelinap di antara gulungan sinar pedang dan berhasil menyelamatkan diri<BR>lalu terbang berputaran di atas kepala Lian Bu Tojin, menanti kesempatan baik<BR>untuk menyerang lagi.<BR>"Kim-tiauw-heng, kaurampas pedangnya!" kembali Kwa Hong berseru.<BR>Lian Bu Tojin mengira bahwa ucapan ini hanya gertakan saja. Ia tidak<BR>mengenal rajawali emas. Burung itu lain dengan burung-burung biasa.<BR>Agaknya dahulu pernah dipelihara orang sakti maka burung ini mudah sekali<BR>menangkap perintah manusia. Begitu mendengar seruan ini, ia lalu<BR>menyambar-nyambar dan sekarang ia benar-benar berusaha merampas<BR>pedang, memukulkan kedua sayapnya ke arah kepala Lian Bu Tojin disusul<BR>cengkeraman-cengkeraman kedua kakinya ke arah pedang pusaka Hoa-sanpai!<BR>Barulah terkejut hati Lian Bu Tojin. Menghadapi dua orang murid murtad itu<BR>sudah merupakan hal yang bukan ringan karena mereka memiliki ilmu<BR>mengelak yang benar-benar membuat ia sukar merobohkan mereka. Sekarang<BR>ditambah lagi seekor burung yang demikian dahsyat serangannya, benarbenar<BR>ia mengeluh di dalam hatinya. Ketika dengan gerakan-gerakan aneh<BR>Kwa Hong dan Koai Atong maju mendesaknya sedangkan burung itu tiada<BR>hentinya menyambar-nyambar di atas kepalanya, mau tak mau Lian Bu Tojin<BR>berseru, "Celaka....!"<BR>Karena kemarahannya ditujukan kepada Kwa Hong, maka dengan nekat orang<BR>tua ini lalu mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menyerang<BR>Kwa Hong. Biarlah aku mati asal aku dapat lebih dulu membunuhnya agar<BR>nama baik Hoa-san-pai dapat dipertahankan, pikir kakek ini. Serangannya<BR>hebat sekali. Biarpun Kwa Hong sudah rnempergunakan gerakan yang ia<BR>pelajari dari rajawali emas, dengan gesit menggeser ke sana ke mari, namun<BR>ke mana saja ia bergerak, ujung pedang pusaka itu selalu mengikutinya dan<BR>mengarah bagian-bagian tubuhnya yang paling berbahaya! Ketika<BR>mendapatkan kesennpatan baik Lian Bu Tojin mempercepat gerakannya, tanpa<BR>mempedulikan lagi bagian tubuhnya yang lain terbuka untuk masuknya<BR>serangan, ia menerjang dan maju menusuk leher Kwa Hong dengan sebuah<BR>tikaman maut!<BR>Kwa Hong menjerit ngeri, namun masih ingat untuk menggerakkan kakinya<BR>secara aneh sambil melempar diri ke kiri. Namun ujung pedang di tangan Lian<BR>Bu Tojin masih terus mengejar lehernya. Pada saat itu Koai Atong<BR>menghantam dari samping dengan pukulan Jing-tok-ciang. Keras sekali<BR>pukulan ini dan tubuh Lian Bu Tojin sampai tergoyang-goyang, namun tetap<BR>saja pedangnya ditusukkan terus. Andaikata ia tidak terpukul oleh pasukan<BR>Jing-tok-ciang begitu kerasnya, tentu nyawa Kwa Hong tak dapat diselamatkan<BR>lagi. Sekarang karena pukulan yang hebat ini, tangannya tergetar dan tusukan<BR>pedangnya meleset dan hanya menancap di pundak Kwa Hong. Gadis itu<BR>menjetit kesakitan dan pada saat itu dari atas menyambar bayangan kuning<BR>emas, kemudian sebuah sayap besar menghantam kepala Lian Bu Tojin. Kakek<BR>ini biarpun sudah terluka parah oleh pukulan Koai Atong, masih dapat<BR>mengangkat tangan kiri menangkis. Hantaman sayap demikian hebatnya,<BR>sama sekali tidak terduga oleh Lian Bu Tojin sampai tubuhnya terlempar<BR>empat meter lebih dan tahu-tahu pedangnya yang ia pakai menusuk Kwa Hong<BR>tadi telah berpindah ke dalam paruh si Rajawali Emas!<BR>Kwa Hong cepat mengambil pedang pusaka itu dari paruh burungnya, lalu ia<BR>terhuyung-huyung maju sambil mendekap pundaknya yang mengucurkan<BR>darah. Adapun Koai Atong ketika melihat Kwa Hong terluka dan berdarah,<BR>menjadi marah sekali. Sambil memekik keras ia menubruk maju hendak<BR>menyerang Lian Bu Tojin lagi. Namun kakek ini sudah duduk bersila mengatur<BR>napas karena luka di dadanya akibat pukulan Jing-tok-ciang amat hebatnya.<BR>Agaknya ia takkan dapat menghindarkan bahaya maut lagi kalau Koai Atorig<BR>menyerangnya.<BR>"Jangan bunuh dia!" tiba-tiba Kwa Hong membentak, Koai Atong kaget dan<BR>menahan pukulannya, dengan heran ia mundur memandang Kwa Hong.<BR>Kwa Hong yang kelihatan menyeramkan karena pundaknya mengucurkan<BR>darah yang membasahi bajunya itu, tersenyum dengan muka pucat, lalu<BR>berkata,<BR>"Jangan bunuh dia, enak benar kalau dia mampus. Biar dia menderita, biar dia<BR>tahu rasanya bagaimana kalau orang terhina, bagaimana rasanya tangan<BR>dibikin buntung." Sambil berkata demikian tiba-tiba tangannya yang<BR>memegang pedang bergerak menyabet dan..., tangan kanan Lian Bu Tojin<BR>.sebatas pergelangan nya terbabat buntung!<BR>Kakek itu membuka matanya, menarik napas panjang lalu berdiri. Dengan<BR>tangan kirinya ia memijat beberapa tempat di lengan kanannya untuk<BR>menghentikan jalan darah sehingga darahnya tidak mengucur terus. Kemudian<BR>ia memandang ke arah Kwa Hong dengan sinar mata , yang berubah seakanakan<BR>kilat menyambar sehingga untuk sejenak Kwa Hong tertegun dan<BR>terkesima. Betapapun juga, pengaruh yang keluar dari sinar mata itu<BR>rnembangkitkan kenangan lama dan membayangkan pengaruh kakek itu atas<BR>dirinya bertahun-tahun yang lalu.<BR>Koai Atong tertawa, "Heh-heh, tosu tua, kau datang bersama hwesio itu, kalau<BR>pergi jangan lupa membawa temanmu itu bersama!" Maksud Koai Atong<BR>dengan kata-kata ini bukan sekali-kali untuk mengejek atau menggoda,<BR>melainkan dengan maksud hati hendak menyenangkan Kwa Hong.<BR>Lian Bu Tojin tidak berkata apa-apa dan ucapan Koai Atong ini menguntungkan<BR>Kwa Hong karena seketika sinar mata kakek itu menjadi biasa kembali. Lian<BR>Bu Tojin lalu memungut buntungan tangannya dari atas tanah, kemudian<BR>dengan lengan kiri ia memanggul tubuh Giam Kong Hwesio lalu berjalanlah ia<BR>cepat meninggalkan tempat itu. Benar-benar hebat sekali Ketua Hoa-san-pai<BR>ini. Lukanya akibat pukulan Jing-tok-ciang dari Koai Atong tadi hebat bukan<BR>main, ditambah lagi tangan kanannya buntung, namun sedikit pun la tidak<BR>pernah merintih, malah masih dapat pergi cepat sambil memondong jenazah<BR>Giam Kong Hwesio dan membawa buntungan tangannya! Kejadian ini cukup<BR>hebat sehingga untuk beberapa lama Kwa Hong termenung, baru kemudian ia<BR>merawat luka pada pundaknya. Diam-diam Kwa Hong girang sekali karena<BR>sekarang terbukti bahwa latihan-latihan yang mereka lakukan dengan ilmu<BR>silat yang gerakannya mengambil intisari gerakan rajawali emas itu benarbenar<BR>tadi telah memperlihatkan kehebatannya.<BR>bagian 9<BR>Beberapa hari kemudian di Puncak Hoa-san. Pemberontakan melawan<BR>Pemerintah Mongol yang sekarang telah runtuh masih mendatangkan bekasbekasnya<BR>pada perkumpulan Hoa-san-pai yang bermarkas di puncak gunung<BR>ini. Dahulu-nya Hoa-san-pai di bawah pimpinan Lian Bu Tojin merupakan<BR>partai persilatan yang amat besar. Banyak sekali, lebih dari seratus orang,<BR>tosu (pendeta To) menjadi murid Lian Bu Tojin. Juga ketika itu Hoa-san-pai<BR>terkenal dengan nama Hoa-san Sie-eng (Empat Pendekar Hoa-san-pai) yang<BR>menjadi murid-murid utama Lian Bu Tojin.<BR>Akan tetapi sekarang keadaan sudah banyak berubah, Hoa-san-pai tidak<BR>semegah dan sekuat dahulu lagi. Banyak sekali anggauta Hoa-san-pai yang<BR>gugur ketika mereka membantu kaum pejuang menumbangkan Pemerintah<BR>Kerajaan Mongol. Malah Hoa-san Sie-eng sudah tidak ada lagi. Yang dua telah<BR>tewas ketika terjadi kesalah-pahaman dan permusuhan antara Hoa-san-pai<BR>dan Kun-lun-pai. Tinggal yang dua lagi, Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa,<BR>terjerumus ke dalam jalinan asmara yang membuat mereka lari pergi dari<BR>Hoa-san.<BR>Cucu murid dari Lian Bu Tojin yang sekarang berada di Hoa-san hanya dua<BR>orang, yaitu Kui Lok dan Thio Bwee, dua orang saudara seperguruan yang<BR>sudah dijodohkan oleh Lian Bu Tojin. Oleh Lian Bu Tojin, dua orang yang ia<BR>anggap sebagai calon penggantinya ini digembleng dengan ilmu silat Hoa-sanpai<BR>yang paling tinggi dan ia berpesan supaya dua orang ini berlatih dengan<BR>giat.<BR>Dalam cerita RAJA PEDANG telah dituturkan bahwa Thio Bwee memang sudah<BR>jatuh hati kepada suhengnya itu, sebaliknya tadinya Kui Lok hendak merebut<BR>hati Kwa Hong. Akan tetapi usahanya ini tidak pernah berhasil dan kemudian<BR>setelah ia dijodohkan dengan Thio Bwee dan melihat cinta kasih hati gadis ini<BR>terhadap dirinya, terbukalah hatinya dan ia pun mulai menaruh hati kasih<BR>kepada Thio Bwee. Karena murid Hoa-san-pai yang lain yaitu Kwa Hong telah<BR>minggat dan memberontak terhadap Hoa-san-pai, sedangkan Thio Ki telah<BR>menikah dengan murid Thai-san, yaitu Lee Giok, murid Raja Pedang Cia Hui<BR>Gan dan sekarang telah tinggal di Sin-yang menjadi piauwsu, maka mereka<BR>berdua dengan tekun memperdalam ilmu silat dan tinggal menemani guru<BR>besar mereka di Puncak Hoa-san.<BR>Pada hari itu Kui Lok dan Thio Bwee sedang memberi petunjuk-petunjuk<BR>kepada para tosu yang juga dipesan supaya memperdalam ilmu silat untuk<BR>memperkuat kembali Hoa-san-pai. Mereka dengan gembira berlatih di halaman<BR>depan yang luas dan hawa udara amat sejuk dan indahnya di pagi hari itu.<BR>Tiba-tiba seorang tosu berseru,<BR>"Suhu datang....!"<BR>Kui Lok dan Thio Bwee menengok dan cepat mereka lari menyambut dengan<BR>hati gelisah. Kakek Ketua Hoa-san-pai itu nampak pucat dan jalannya<BR>terhuyung-huyung, terang sudah menderita luka hebat sekali. Kui Lok adalah<BR>seorang pemuda yang usianya baru dua puluh tiga tahun, akan tetapi pandang<BR>matanya sudah tajam rnenandakan bahwa ia sudah memiliki kepandaian tinggi<BR>dan pengalaman luas. Wajahnya tampan dan ada sifat-sifat nakal gembira,<BR>akan tetapi tarikan mulutnya membayangkan keangkuhan hati. Adapun Thio<BR>Bwee yang hitam manis itu wataknya lebih pendiam, sinar matanya<BR>membayangkan kekerasan hatinya. Dua orang muda ini segera memberi<BR>hormat lalu menggandeng lengan suhunya untuk dituntun ke ruangan dalam.<BR>"Suhu kenapakah....!" Kui Lok tak dapat menahan lagi hatinya bertanya.<BR>Lian Bu Tojin tidak menjawab, malah segera menjatuhkan diri duduk bersila di<BR>atas lantai sambil meramkan mata. Melihat suhunya mengumpulkan tenaga<BR>dan mengatur pernapasan, para murid maklum bahwa suhu mereka itu sedang<BR>melawan serangan luka yang amat berbahaya, maka semua hanya duduk<BR>rnelihat dengan hati tidak karuan. Ketika Lian Bu Tojin sudah bergerak lagi dan<BR>mengeluarkan tangan yang tadi disembunyikan ke dalam saku jubahnya, Thio<BR>Bwee mengeluarkan jeritan ngeri melihat tangan kanan gurunya sudah<BR>buntung itu.<BR>"Suhu....! Tangan Suhu kenapakah...?" Thio Bwee menubruk gurunya, berlutut<BR>dan menangis.<BR>"Suhu, siapa yang melakukan kekejian ini?" Kui bok juga menangis sambil<BR>bertanya, suaranya mengandung kemarahan dan sakit hati. Baru sekarang ia<BR>melihat pula bahwa pedang pusaka Hoa-san-pai yang tadinya dibawa oleh<BR>suhunya itu sekarang tidak kelihatan di punggung kakek ini, maka ia menjadi<BR>makin gelisah.<BR>Lian Bu Tojin membuka matanya, menggeleng-geleng kepala perlahan sambil<BR>menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara yang amat lemah,<BR>"Masih untung pinto kuat sampai di sini...." Kembali ia meramkan mata agak<BR>lama, kemudian setelah membuka lagi matanya ia berkata, "Kui Lok... Thio<BR>Bwee... semua ini yang melakukan adalah Hong Hong... tapi kalian tidak usah<BR>menaruh dendam... pinto memang berdosa dan sudah sepatutnya menerima<BR>pembalasan ini. Hanya... pedang pusaka harus kalian minta kembali. Mintalah<BR>bantuan pada... Beng San di Min-san, hanya dia yang dapat menandingi Hong<BR>Hong dan Koai Atong. Mereka lihai sekali... malah Giam Kong juga tewas...<BR>pinto... bukan lawan mereka...."<BR>"Suhu....!" Kui Lok sedih dan marah sekali. "Teecu pasti akan merampas<BR>kembali pedang pusaka!"<BR>"Teccu akan mengadu nyawa dengan perempuan rendah Kwa Hong!" kata Thio<BR>Bwee sambil menangis.<BR>Keadaan Lian Bu Tojin sudah payah sekali, napasnya memburu, akan tetapi ia<BR>masih sempat membuka mata dan bcrkata pula, "... selain Beng San...<BR>mungkin hanya... supekmu.... Lian Ti Tojin... kalian coba minta tolong dia....,<BR>bilang pedang pusaka dirampas orang... ahh...." Tak dapat lagi Lian Bu Tojin<BR>melanjutkan kata-katanya karena tubuhnya roboh terguling dan nyawanya<BR>melayang pergi meninggalkan tubuhnya! Dari saku jubahnya jatuh keluar<BR>sebuah benda kecil yang ternyata „ adalah buntungan tangannya yang sudah<BR>mulai mengering karena memang sengaja tadinya ditaruh obat oleh Lian Bu<BR>Tojin agar jangan mem-busuk.<BR>Kui Lok dan Thio Bwee, juga para tosu tak dapat berbuat lain kecuali menangis<BR>sedih. Thio Bwee sampai pingsan melihat kematian suhunya yang amat<BR>mengenaskan hati ini. Dengan penuh kedukaan dan dalam suasana berkabung<BR>para tosu segera mengurus jenazah Ketua Hoa-san-pai itu. Puncak Hoa-san<BR>diselimuti mendung tebal, mendung kemuraman hati para anggauta Hoa-sanpai<BR>yang kematian ketuanya secara demikian mengerikan.<BR>Setelah upacara sembahyang dilakukan dan jenazah Ketua Hoa-san-pai itu dimasukkan<BR>dalam peti, penguburan ditunda untuk beberapa hari. Hal ini<BR>dilakukan karena para anggauta Hoa-san-pai hendak memberi kesempatan<BR>kepada para tamu yang hendak memberi penghormatan terakhir kepada Ketua<BR>Hoa-san-pai yang terkenal itu. Dan orang-orang kang-ouw memang memiliki<BR>pendengaran yang luar biasa tajamnya. Dalam beberapa hari itu, puncak Hoasan<BR>didaki banyak orang kang-ouw yang hendak menjenguk dan memberi<BR>penghormatan terakhir kepada jenazah Lian Bu Tojin. Akan tetapi tak seorang<BR>pun diantara mereka ini tahu akan sebab daripada kematian kakek ini, karena<BR>semua murid Hoa-san-pai merahasiakannya dan bila ada pertanyaan hanya<BR>menjawab bahwa guru besar itu meninggal dunia sewajarnya, yaitu karena<BR>usia tua. Hal ini memang mereka sengaja karena yang menyebabkan kematian<BR>Lian Bu Tojin adalah Kwa Hong bekas murid Hoa-san-pai sendiri. Tentu saja<BR>hal ini amat memalukan kalau sampai terdengar oleh orang luar.<BR>Sepekan kemudian jenazah Lian Bu Tojin dikebumikan dan Hoa-san-pai segera<BR>mengadakan rapat untuk membicarakan perkembangan dan keadaan<BR>perkumpulan mereka, juga untuk membicarakan tentang pesanan terakhir dari<BR>Lian Bu Tojin. Para tosu serentak mengusulkan agar Kui Lok menggantikan<BR>kedudukan gurunya, yaitu mengetuai Hoa-san-pai. Hal ini mereka usulkan oleh<BR>karena biarpun Kui Lok dapat dibilang murid yang amat muda, akan tetapi<BR>dalam hal ilmu silat Kui Lok telah mewarisi kepandaian Lian Bu Tojin dan<BR>memiliki kepandaian paling tinggi di antara mereka. Mendengar ini, Kui Lok<BR>dengan gugup berkata sambil mengangkat kedua tangannya,<BR>"Ahhh...., para Suheng dan Susiok bagaimana bisa mengusulkan supaya<BR>siauwte yang masih muda dan bodoh menggantikan kedudukan mendiang<BR>Suhu? Bagaimana aku berani? Ah, aku sama sekali tidak berani menerima<BR>kedudukan itu, Hoa-san-pai adalah partai yang sudah ratusan tahun terkenal<BR>di dunia kang-ouw, dipimpin oleh orang-orang besar yang sakti. Bagaimana<BR>hari ini akan diletakkan di pundak seorang muda yang tidak berpengalaman<BR>seperti siauwte? Tidak, sekali lagi tidak, aku tidak berani menerima!"<BR>Seorang tosu yang sudah tua dan bermuka sabar sekali segera berkata,<BR>"Kui-sute harap jangan berkata demi-kian. Sudah semenjak dulu Hoa-san-pai<BR>disegani kawan ditakuti lawan karena ilmu silat yang diajarkannya. Oleh<BR>karena itu, mengingat bahwa di antara kita semua, di antara murid-murid<BR>Hoa-san-pai kiranya hanya Sute yang memiliki kepandaian paling tinggi pada<BR>waktu sekarang ini, maka siapa lagi kalau bukan Kui-sute yang menjadi<BR>pemimpin? Tentang kurang pengalaman, hal ini kiranya tidak perlu dirisaukan<BR>benar karena kita sudah biasa bekerja secara gotong royong, ada sesuatu<BR>boleh Sute rundingkan dengan kita bersama. Bukankah hal ini baik sekali?"<BR>Kui Lok masih menaruh keberatan dan terjadilah perdebatan antara Kui Lok<BR>dan beberapa orang tosu tua yang mendesaknya supaya menerima kedudukan<BR>itu. Akhirnya Thio Bwee bicara, suaranya lantang dan nyaring,<BR>"Para Suheng dan Susiok sekalian, harap suka mendengarkan pertimbanganku<BR>yang adil. Memang kalau dipikir, pendapat kedua pihak semua benar. Akan<BR>tetapi, mengapa hal pengangkatan ketua ini diributkan benar? Sepanjang<BR>pengetahuanku yang bodoh, seorang Ketua Hoa-san-pai adalah orang yang<BR>berhak memegang pedang pusaka kita, yaitu Hoa-san Po-kiam. Sekarang<BR>pedang pusaka itu berada di tangan orang jahat. Daripada ribut-ribut bicara<BR>tentang kedudukan ketua, kurasa lebih baik urusan pengangkatan ketua ini<BR>ditunda dulu. Kita bersama, tanpa ketua, berusaha merampas kembali pedang<BR>pusaka dan membunuh musuh yang telah mencelakai Suhu. Nah, setelah itu<BR>barulah kita bicara tentang ketua."<BR>Semua orang mengangguk-angguk setuju, karena memang kata-kata ini tepat<BR>sekali. Kui Lok juga girang mendengar ucapan ini, lalu ia berkata, "Usul yang<BR>diajukan Thio-sumoi memang benar-benar amat tepat! Marilah kita bicara<BR>tentang usaha merampas kembali pedang pusaka kita."<BR>"Dan membunuh siluman betina Kwa Hong!" Sambung Thio Bwee sambil<BR>menatap wajah tunangannya dengan pandang mata tajam. Kui Lok menarik<BR>napas panjang dan maklum akan isi hati tunangannya itu. Cemburu, apalagi?<BR>Memang sedikit banyak ada rasa benci dalam hati Thio Bwee terhadap Kwa<BR>Hong, karena bukankah dahulu Kui Lok jatuh hati kepada Kwa Hong?<BR>bagian 10<BR>"Kui-sute, pinto (aku) bersedia untuk pergi ke Min-san dan mohon bantuan<BR>Tan Ben San taihiap seperti yang dipesankan oleh mendiang Suhu...." kata<BR>seorang tosu. "Mengingat akan hubungan antara Tan-taihiap dengan Hoa-sanpai,<BR>pinto rasa dia takkan menolak...."<BR>Kui Lok mengerutkan keningnya. Terbayang di depan matanya semua<BR>pengalamannya dahulu. Tan Beng San merupakan seorang yang selalu ia<BR>anggap sebagai perintang hidupnya. Cinta kasihnya terhadap Kwa Hong dahulu<BR>gagal oleh karena Kwa Hong mencinta Tan Beng san! Dan beberapa kali<BR>pemuda itu muncul sebagai seorang yang lebih gagah daripadanya. Dan<BR>sekarang dia harus minta bantuan Beng San. Ah, ia tidak sudi! Terhadap diri<BR>Beng San ia sudah menanam perasaan tidak senang yang mendalam.<BR>"Tidak, Siauwte tidak setuju sama sekali karena kita harus minta bantuan<BR>orang luar. Para Susiok dan Suheng harap ingat bahwa urusan ini adalah<BR>urusan dalam Hoa-san-pai. Pedang Hoa-san-pai dirampas. oleh bekas murid<BR>Hoa-san-pai sendiri, mendiang Suhu dilukai oleh bekas murid Hoa-san-pai.<BR>Bagaimana kita ada muka untuk mencari bantuan orang luar? Bukankah<BR>dengan berbuat demikian nama besar Hoa-san-pai akan ter jerurnus ke dalam<BR>lumpur kehinaan?"<BR>Para tosu itu menjadi kaget dan cepat-cepat menyatakan persetujuan mereka<BR>atas pandangan Kui Lok ini.<BR>"Kau begitu, satu-satu jalan... kita harus ke Im-kan-kok...."<BR>Keadaan menjadi sunyi, semua orang di situ merasa serem dan bergidik ketika<BR>mendengar sebutan Im-kan-kok ini. Im-kan-kok berarti Lembah Akhirat!<BR>Semua murid Hoa-san-pai sudah mengenal Im-kan-kok ini, karena lembah ini<BR>merupakan lembah gunung yang dipandang keramat dan juga menakutkan.<BR>Ketika Ketua Hoa-san-pai masih hidup, yaitu Lian Bu Tojin, ketua ini berkalikali<BR>memberi ingat kepada para murid agar sekali-kali jangan mendekati<BR>apalagi mencoba untuk memasuki Im-kan-kok, karena kalau ketahuan<BR>hukumannya adalah mati! Selain ancaman hukuman mati oleh tangan Lian Bu<BR>Tojin sendiri juga ketua ini pernah menceritakan bahwa di lembah ini<BR>merupakan tempat hukuman seorang Hoa-san-pai yang luar biasa tinggi<BR>kepandaiannya, jauh lebih tinggi daripada Lian Bu Tojin sendiri dan orang aneh<BR>luar biasa ini pasti akan membunuh setiap orang yang berani memasuki Imkan-<BR>kok! Dan sekarang, mendiang Lian Bu Tojin sendiri yang meninggalkan<BR>pesan agar supaya mereka mencari orang aneh ini yang bukan lain adalah<BR>suheng sendiri dari ketua itu, bernama Lian Ti Tojin yang sudah empat puluh<BR>tahun lebih menghukum diri sendiri di dalam Lembah Akhirat ini. Tak seorang<BR>pun diberi tahu mengapa orang-orang aneh itu menghukum diri di Im-kankok.<BR>Kui Lok mengajukan usul untuk mencari manusia aneh ini di tempat yang<BR>merupakan ancaman maut itu.<BR>"Benar, memang kita harus mencari Supek di Im-kan-kok. Supek Lian Ti Tojin<BR>adalah seorang tokoh Hoa-san-pai yang menurut mendiang Suhu dulu,<BR>kepandaiannya amat tinggi, beberapa kali lipat lebih tinggi daripada<BR>kepandaian Suhu sendiri. Kalau kita Hoa-san-pai memiliki orang<BR>berkepandaian demikian tinggi, memalukan sekali kalau untuk urusan ini kita<BR>harus mencari bantuan dari luar."<BR>"Tapi... tapi...," kata seorang tosu setengah tua, "Supek itu sudah empat puluh<BR>tahun lebih menghilang. Apakah... apakah kiranya beliau masih berada di<BR>tempat itu? Dan... dan di antara kita siapakah pernah melihatnya?"<BR>Semua orang saling pandang. Memang hampir semua tosu belum pernah<BR>melihat orang yang dimaksudkan itu. Kui Lok memandang kepada seorang<BR>tosu yang usianya sudah enam puluh tahun lebih, yang pekerjaannya<BR>memelihara kitab-kitab Hoa-san-pai. "Kwi Bun-susiok yang terhitung sute dari<BR>Suhu, tentunya pernah bertemu dan melihat wajah Supek Lian Ti Tojin,<BR>bukan?"<BR>Mendadak tosu tua itu menjadi pucat, bergemetaran dan menutupi mukanya.<BR>"Tidak... pinto... eh, tidak... tidak pernah kenal..., tidak tahu...." la menjadi<BR>ketakutan sekali dan akhirnya mendekam berlutut dan membaca mantera<BR>dengan tubuh menggigil.<BR>Kui Lok dan Thio Bwee saling pandang dengan bulu tengkuk meremang.<BR>Mengapa tosu tua ini yang masih terhitung adik seperguruan Lian Ti Tojin<BR>sendiri kelihatan begitu ketakutan? Orang macam apakah Lian Ti Tojin itu?<BR>Dan rahasia apakah yang tersembunyi di balik Lembah Akhirat? Melihat sikap<BR>tosu itu, para murid Hoa-san-pai yang biasanya amat takut mendengar Imkan-<BR>kok itu, sekarang menjadi semakin ketakutan dan merasa serem sekali.<BR>Mereka duduk dan bersunyi, seakan-akan takut kalau mereka kesalahan besar<BR>karena membicarakan orang rahasia di Im-kan-kok itu.<BR>Tiba-tiba semua orang terkejut ketika mendengar suara melengking tinggi<BR>menusuk telinga, suara melengking yang datangnya dari atas, dari langit!<BR>Semua muka menjadi pucat, malah Kui Lok dan Thio Bwee yang biasanya<BR>berhati tabah, kali ini meraba gagang pedang dengan mulut terasa kering,<BR>Suara melengking makin lama makin tinggi dan nyaring sehingga orang-orang<BR>mulai merasa tidak kuat mendengarnya lagi lalu menutup telinga. Tiba-tiba<BR>meluncur sinar yang menyilaukan mata, sinar kehijauan dan tahu-tahu lima<BR>orang tosu roboh terguling dan ternyata dada mereka telah terluka dan<BR>mereka tewas seketika itu juga!<BR>Kwi Bun Tosu yang tadi ketakutan sekarang berbisik-bisik, "Celaka... celaka...<BR>dia datang... ah, kita berbuat dosa...." Setelah berkata demikian, tosu tua ini<BR>mencabut pedang sendiri dan menusuk dada sambil berseru, "Lian Ti<BR>suheng.... siauwte berdosa besar... rela menerima kematian...." Tubuhnya<BR>terguling dan ia tewas dengan pedang masih mehancap di dadanya!<BR>Kejadian ini tentu saja makin mengejutkan dan menakutkan semua orang. Kui<BR>Lok segera meloncat keluar sambil mencabut pedangnya dan berseru keras,<BR>"Tidak peduli siapa pun yang datang, harap jangan main gila dengan Hoa-sanpai.<BR>Manusia atau iblis, perlihatkan dirimu dan mari kita bertempur sampai<BR>seribu jurus!" Sikapnya gagah sekali dan sikapnya inilah yang membangkitkan<BR>semangat semua anak murid Hoa-san-pai. Malah Thio Bwee yang tadinya<BR>kaget dan ngeri sekarang juga meloncat sambil mencabut pedang, berdiri di<BR>dekat suhengnya itu.<BR>Tapi tidak terlihat seorang pun manusia di sekitar situ. Selagi mereka<BR>terheran-heran dan merasa gelisah, tiba-tiba terdengar desir angin di atas<BR>kepala mereka dan di atas desir angin ini terdengar suara ketawa merdu!<BR>Semua orang terkejut sekali karena mengenal baik suara ketawa merdu ini<BR>dan ketika mereka memandang ke atas, ternyata Kwa Hong tertawa-tawa<BR>sambil menduduki punggung seekor burung rajawali besar yang terbang di<BR>atas kepala mereka tanpa mengeluarkan suara! Ketika Kwa Hong<BR>menggerakkan tangan kiri, lagi-lagi ada lima orang tosu terguling roboh dan<BR>tewas. Kui Lok dan Thio Bwee hanya melihat sinar hijau menyambar dari<BR>tangan ini dan tahu-tahu lima orang teman mereka telah mati dengan dada<BR>terluka hebat.<BR>Kemarahan Thio Bwee tak dapat ditahannya lagi. Memang ia sudah merasa<BR>tidak suka sejak dahulu terhadap sumoinya ini yang dianggap merampas cinta<BR>kasih Kui Lok, apalagi setelah Kwa Hong melukai Lian Bu Tojin. Sekarang<BR>melihat keganasan Kwa Hong yang membunuh-bunuhi bekas saudara-saudara<BR>seperguruan sendiri, ia segera menudingkan pedangnya ke arah burung yang<BR>terbang lewat sambil berkata nyaring,<BR>"Siluman betina Kwa Hong! Kauturunlah untuk menerima hukuman di ujung<BR>pedangku!"<BR>Ada pun Kui Lok yang masih belum hilang cinta dan rindunya kepada Kwa<BR>Hong, hanya mengeluh, "Hong-moi... kenapa kau begini kejam....?"<BR>Kwa Hong tertawa merdu dan tiba-tiba burungnya itu menukik ke bawah dan<BR>hinggap di atas tanah tanpa mengeluarkan sedikit pun bunyi berisik. Kwa Hong<BR>meloncat turun dari punggung burungnya, gerakannya ringan sekali. Semua<BR>murid Hoa-san-pai memandang dengan mata terbelalak. Wajah itu masih tiada<BR>bedanya dengan dahulu, wajah Kwa Hong yang cantik molek dengan sepasang<BR>mata seperti bintang pagi, jeli dan bersinar-sinar penuh daya hidup, hanya<BR>bedanya sekarang terdapat pemancaran sinar mata yang aneh dan<BR>mengerikan pada mata indah itu. Pakaiannya masih seperti dulu, bagus dan<BR>dari sutera mahal, akan tetapi warnanya serba putih, tidak merah seperti dulu<BR>lagi. Pada punggungnya tergantung pedang pusaka Hoa-san-pai dan di tangan<BR>kirinya terpegang sebuah senjata yang amat aneh. Merupakan gagang cambuk<BR>yang berekor lima dan pada setiap ekor cambuk itu terikat sebatang anak<BR>panah hijau. Tali sutera hitam membelit pergelangan tangannya dan ternyata<BR>cambuk itu gagangnya dipasangi tali ini sehingga agaknya selain dapat<BR>dipergunakan sebagai senjata dalam pertandingan, juga dapat dipakai untuk<BR>menyerang lawan secara ditimpukkan lalu ditarik kembali melalui tali. Sebuah<BR>senjata yang luar biasa sekali, mengerikan dan tahulah Kui Lok dan saudarasaudaranya<BR>bahwa senjata inilah yang dalam waktu dua kali telah mengambil<BR>nyawa sepuluh orang saudara mereka!<BR>"Hi-hi-hi, Enci Bwee! Kau makin hitam saja! Apakah kau sudah berhasil<BR>merebut hati Kui-suheng sekarang?" Kwa Hong berkata dan meremang bulu<BR>tengkuk Thio Bwee ketika mendengar kata-kata ini dan melihat sikap Kwa<BR>Hong yang kalau dibanding dengan dulu seperti bumi langit bedanya. Di dalam<BR>suara ini terkandung kesedihan besar bercampur dengan ejekan dari<BR>kebencian.<BR>bagian 11<BR>"Kau sudah menjadi siluman!" Thio Bwee balas memaki dan menerjang maju<BR>dengan pedang di tangan. Kwa Hong hanya tersenyum mengejek tanpa<BR>bergerak dari tempatnya. Tiba-tiba sesosok bayangan besar menyambut<BR>gerakan Thio Bwee dan tahu-tahu burung rajawali itu sudah mencakar Thio<BR>Bwee dengan kaki kanannya. Thio Bwee tidak gentar, cepat ia memutar<BR>pedang untuk memapaki kaki burung itu dengan maksud membabatnya putus.<BR>Akan tetapi rnendadak sekali burung itu menggerakkan sayapnya, gerakannya<BR>tidak mendatangkan angin dan sama sekali tak dapat diduga oieh Thio Bwee,<BR>maka tahu-tahu tangannya terpukul sayap sehingga pedangnya terlempar<BR>jauh!<BR>"Tiauw-heng, jangan pukul dia, kasihan... ha-ha-ha!" Kwa Hong menyuruh<BR>burungnya mundur sambil tertawa-tawa. Muka Thio Bwee rnenjadi pucat sekali<BR>dan matanya memandang dengan marah, akan tetapi apa yang dapat ia<BR>lakukan? Gerakan burung itu benar-benar hebat dan tidak tersangka-sangka,<BR>juga tenaganya besar sekali.<BR>Dengan langkah lemah gemulai Kwa Hong menghampiri Kui Lok dan<BR>tersenyum lalu berkata,<BR>"Kui-ko, kau tadi menantang-nantang seperti seorang pendekar besar.<BR>Agaknya kau sekarang sudah memperoleh kemajuan hebat dengan<BR>kepandaianmu, apakah kau sudah pandai bermain pedang dengan tangan<BR>kanan ataukah masih kidal? Hi-hi, Kui-ko, dulu kau pura-pura menjauhi Enci<BR>Bwee, kiranya sekarang kau mau juga. Dasar laki-laki!"<BR>Wajah Kui Lok sebentar merah sebentar pucat dan untuk mengusir rasa<BR>malunya. ia berkata, "Kau..., kau Hong-moi....jadi kaukah yang membunuh<BR>sepuluh orang saudaraku tadi? Hong-moi, kenapa kau membunuh mereka?<BR>Dan kenapa pula kau melukai Suhu dan... dan merampas pedang pusaka?"<BR>Kembali Kwa Hong tersenyum lebar, senyum yang dulu meruntuhkan hati Kui<BR>Lok, akan tetapi yang sekarang membayangkan sesuatu yang amat<BR>mengerikan.<BR>"Lian Bu Tojin berani mencelaku dan dia seorang ketua yang tidak baik,<BR>seorang guru yang mencelakai murid sendiri. Pedang pusaka ini memang patut<BR>berada di tanganku karena hanya akulah yang akan dapat mengangkat tinggi<BR>nama Hoia-san-pai. Tadi aku yang menjadi pemimpin dan ciang-bujin (ketua)<BR>baru Hoa-san-pai datang, kalian tidak mau segera menyambut dengan<BR>penghormatan. Maka sepuluh orang murid tadi kubunuh sebagai peringatan!"<BR>Setelah berkata demikian, Kwa Hong memandang ke sekelilingnya dan semua<BR>orang tosu yang berada di situ mengkeret lehernya, menundukkan pandang<BR>matanya karena nyali mereka terbang lenyap begitu mereka bertemu pandang<BR>dengan Kwa Hong.<BR>Pada saat itu terdengar sayup-sayup suara orang berteriak dari bawah<BR>gunung,<BR>"Enci Hong... tunggu... jangan tinggalkan aku....!"<BR>Suara itu berkumandang sampai di puncak gunung dan belum lama dengung<BR>suara lenyap, orangnya telah tiba di situ. Siapa lagi kalau bukan Koai Atong!<BR>Diam-diam Kui Lok dan Thio Bwee kagum dan terkejut sekali. Sebagai ahli-ahli<BR>silat tinggi dua orang muda ini dapat mengukur betapa hebatnya khi-kang dari<BR>Koai Atong sekarang, dari bawah gunung sudah dapat "mengirim suara" ke<BR>atas dan gin-kangnya pun demikian hebat sehingga dalam sekejap saja sudah<BR>dapat mendaki puncak Hoa-san-pai.<BR>Setelah tiba di situ, Koai Atong tertawa dan meringis gembira melihat Kwa<BR>Hong sudah berada di situ bersama burung rajawali. Di dalam perjalanan, Kwa<BR>Hong naik burung dan membiarkan Koai Atong berlari-lari mengikuti bayangan<BR>burung,<BR>"Ha-ha-ha, he-he-he, sudah kumpul semua di sini, ha-ha!"<BR>Tapi Kui Lok dan Thio Bwee tidak mempedulikan orang tinggi besar ini, karena<BR>mereka masih marah bukan main mendengar ucapan Kwa Hong tadi, Kui Lok<BR>segera membentak,<BR>"Kwa Hong! Jadi kau hendak menggunakan kekerasan dan merampas<BR>kedudukan Ketua Hoa-san-pai? Jangan kau berlaku sewenang-wenang,<BR>mengingat bahwa kau adalah bekas murid Hoa-san-pai sendiri, hayo lekas<BR>kembalikan pedang pusaka dan berlutut menerima dosa."<BR>Mata Kwa Hong berkilat. "Kui Lok, kau begini kurang ajar terhadap ketuamu?<BR>Hayo kau yang berlutut!" Sambil bertolak pinggang Kwa Hong memerintah.<BR>"Suheng, mari kita bunuh siluman ini!" Thio Bwee berseru keras dan biarpun ia<BR>sudah tak berpedang lagi, dengan nekat ia lalu menyerang Kwa Hong dengan<BR>pukulan maut yang amat keras. Akan tetapi dengan enak Kwa Hong miringkan<BR>tubuhnya dan sekali kakinya bergerak, Thio Bwee sudah kena ditendang<BR>roboh!<BR>Kui Lok marah sekali dan menyerang dengan pedangnya. Kepandaian Kui Lok<BR>sudah maju pesat sekali dan dalam hal ilmu pedang, boleh dibilang ia sudah<BR>menjagoi di Hoa-san-pai. Apalagi permainan pedangnya dilakukan dengan<BR>tangan kiri, maka sifatnya pun istimewa dan sukar diketahui perubahanperubahannya.<BR>Ketika Kwa Hong belum meninggalkan perguruan, kalau dibuat<BR>ukuran antara mereka, agaknya ilmu pedang Kui Lok tidak kalah oleh<BR>kepandaian Kwa Hong, maka pemuda itu dengan penuh semangat menyerang<BR>dan mengira bahwa tak mungkin ia akan kalah.<BR>Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika tahu-tahu cambuk bertali yang berada<BR>di tangan kiri Kwa Hong bergerak, tahu-tahu lima ujung cambuk dengan anak<BR>panah itu telah membelit pedangnya dan sekali renggut Kui Lok tak dapat<BR>mempertahankan pegangannya lagi. Pedang terampas oleh Kwa Hong. Sambil<BR>tertawa melengking tinggi Kwa Hong mengambil pedang itu, menggigit<BR>ujungnya, menggerakkan tangan dan... "pletakk!" pedang itu patah menjadi<BR>dual Gerakannya sama benar dengan cara burung rajawali mematahkan<BR>pedang.<BR>Kui Lok menjadi pucat, akan tetapi untuk menjaga nama Hoa-san-pai ia harus<BR>melawan mati-matian. Sambil berseru keras ia menerjang maju dan<BR>menyerang Kwa Hong dengan pukulan-pukulan dahsyat.<BR>"Atong, kauhajar dan usir bocah ini, tapi jangan bunuh dia!" kata Kwa Hong.<BR>Terdengar Koai Atong tertawa-tawa berkakakan dan tiba-tiba Kui Lok merasa<BR>tubuhnya diangkat orang lalu dilontarkan ke atas sampai empat lima meter<BR>tingginya. Tubuhnya melayang dan berjungkiran di udara, ketika turun<BR>diterima lagi oleh Koai Atong lalu dilontarkan lagi. Benar-benar Kui Lok<BR>dijadikan bola oleh Koai Atong yang mempermainkannya.<BR>"Siluman jahat!" Kui Lok memaki, akan tetapi makin lama ia menjadi makin<BR>lemah dan ketika Koai Atong melemparnya ke depan, tubuhnya terbanting dan<BR>bergulingan. Dengan payah Kui Lok mencoba untuk berdiri, akan tetapi<BR>kepalanya pening dan ia roboh kembali, ditertawai oleh Koai Atong dan Kwa<BR>Hong.<BR>Thio Bwee lari mendekat dan membantu Kui Lok bangun. la menyuruh Kui Lok<BR>duduk kemudian dengan marah sekali Thio Bwee meloncat lagi untuk<BR>menyerang Kwa Hong. Tadi ia hanya terbanting saja dan hal ini belum<BR>membuat ia kapok. Hatinya terlalu sakit menyaksikan betapa kekasihnya<BR>dipermainkan dan dihina seperti itu.<BR>Melihat kenekatan Thio Bwee, Kwa Hong menjadi marah sekali. "Perempuan<BR>rendah, kau tidak tahu bahwa aku sudah berlaku murah kepada kalian?<BR>Agaknya kalian perlu diberi rasa sedikit!" Setelah berkata demikian,<BR>cambuknya bergerak, sinar hijau berkelebat. Thio Bwee menjerit dan<BR>terjungkal, juga Kui Lok mengaduh dan roboh. Keduanya dapat merayap<BR>bangun kembali, dan ternyata bahwa dua murid Hoa-san-pai ini telah terluka<BR>oleh panah hijau, masing-masing pada pundaknya. Perih dan panas rasanya,<BR>akan tetapi tidak seperih dan sepanas hati mereka.<BR>"Pergi....!" Kwa Hong menudingkan cambuknya keluar. "Pergi sebelum<BR>berubah lagi pikiranku dan kuhancurkan kepala kalian!"<BR>Thio Bwee memandang dengan mata melotot, maksud hatinya hendak<BR>melawan lagi sampai mati. Akan tetapi Kui Lok yang melihat sikapnya ini<BR>segera memegang lengannya dan menariknya pergi dari situ. Dua orang muda<BR>itu pergi meninggalkan puncak seperti dua ekor anjing diusir saja, benar-benar<BR>merupakan hal yang amat menyakitkan hati mereka.<BR>Seperginya dua orang muda itu keadaan menjadi sunyi. Puluhan orang tosu<BR>Hoa-san-pai tidak ada yang berani bergerak, bernapas pun mereka takut<BR>keras-keras. Kwa Hong menyapu mereka dengan pandang matanya yang<BR>tajam melebihi pedang.<BR>"Siapa mau pergi? Siapa tidak mau menurut perintahku? Lihat contohnya."<BR>Gambuknya menyambar beberapa kali dan... kepala dari sepuluh mayat para<BR>tosu tadi telah terpukul hancur oleh panah-panah di ujung cambuknya! Benarbenar<BR>amat mengerikan.<BR>"Hayo katakan, kalian mau mengangkatku sebagai ketua ataukah tidak?"<BR>Seorang tosu yang sudah agak tua maklum bahwa melawan berarti mati<BR>dengan cara yang mengerikan, dan melawan pun akan sia-sia saja. Maka ia<BR>lalu mendahului teman-temannya berlutut dan menyatakan suka mengangkat<BR>Kwa Hong sebagai ketua. Saudara-saudaranya pun menjatuhkan diri berlutut.<BR>Kwa Hong tertawa gembira, tapi tiba-tiba suara ketawanya terhenti ketika ia<BR>melihat Koai Atong masih berdiri tegak sambil tertawa-tawa.<BR>"Heiii... kenapa kau tidak berlutut?"<BR>Koai Atong kaget dan bingung. "Lho..., berlutut? Aku kan suamimu...."<BR>"Tidak peduli, saat ini semua orang harus berlutut kepadaku!" bentak Kwa<BR>Hong dan terpaksa Koai Atong berlutut pula. Kwa Hong mengangkat dada,<BR>mengedikkan kepala dengan penuh kebanggaan dan merasa seakan-akan ia<BR>telah menjadi seorang ratu!<BR>Semenjak saat itu Kwa Hong tinggal di Hoa-san-pai sebagai ketua, dibantu<BR>oleh "suaminya" Koai Atong. Kwa Hong amat ditakuti oleh para tosu, akan<BR>tetapi juga diam-diam ada sebagian besar tosu Hoa-san-pai amat<BR>membencinya. Di samping ini, tentu saja terdapat tosu-tosu yang merasa<BR>amat girang oleh karena semenjak Kwa Hong yang menjadi ketua, peraturanperaturan<BR>tidak tegas lagi, dan larangan-larangan juga seakan-akan<BR>dihapuskan oleh Kwa Hong. Oleh karena ini banyak tosu yang mulai<BR>melakukan penyelewengan-penyelewengan tidak mentaati hukum dan<BR>peraturan Agama To. Orang-orang inilah yang benar-benar setia kepada Kwa<BR>Hong dan Koai Atong sehingga secara tersembunyi di antara kelompok tosu<BR>Hoa-san-pai ini terdapat pemisah antara rombongan yang pro Kwa Hong<BR>dengan rombongan yang diam-diam kontra. Namun kesemuanya tidak berani<BR>berbuat sesuatu yang berlawanan dengan kehendak Kwa Hong dan Koai<BR>Atong. Sementara itu, Kwa Hong dan Koai Atong terus memperdalam latihanlatihan<BR>mereka secara sembunyi, mempelajari semua gerakan-gerakan aneh<BR>dari burung rajawali emas dan mereka berdua menggabungkan pendapat<BR>masing-masing untuk menciptakan ilmu silat yang hebat, gabungan dari ilmu<BR>silat Hoa-san-pai, ilmu silat Tibet, Jing-tok-ciang, dan gerakan dari burung<BR>rajawaii emas!<BR>Peristiwa perampasan kedudukan ketua di Hoa-san-pai ini menimbulkan geger<BR>di dunia kang-ouw yang baru saja tenang karena tumbangnya Pemerintahan<BR>Mongol. Banyak tokoh besar di dunia kang-ouw mengerutkan kening dan<BR>merasa penasaran sekali.<BR>Mari kita ikuti Kui Lok dan Thio Bwee yang meninggalkan puncak Hoa-san-pai<BR>dengan perasaan hancur. Mereka terluka hebat di pundak mereka, terkena<BR>racun panah hijau yang amat berbahaya. Namun luka di hati mereka lebih<BR>hebat lagi. Mereka tidak saja telah dikalahkan secara mudah dan memalukan<BR>sekali, akan tetapi lebih daripada itu, mereka telah terhina. Di sepanjang jalan<BR>menuruni puncak Thio Bwee menangis, dan Kui Lok menghiburnya.<BR>"Kui-koko, daripada mengalami penderitaan dan penghinaan seperti ini lebih<BR>baik aku mati saja... kenapa tadi kita tidak melawan terus saja sampai mati?<BR>Untuk apa hidup lebih lama menghadapi penghinaan seperti ini...?" Saking<BR>sedihnya dan juga karena luka beracun di pundaknya membuat tubuhnya<BR>lemas, gadis ini terhuyung-huyung ke depan.<BR>Kui Lok cepat mengejar dan merangkulnya. Ia merasa amat kasihan kepada<BR>gadis ini dan sinar matanya memandang penuh kasih sayang. Sejenak mereka<BR>berpandangan, akhirnya Thio Bwee menangis terisak-isak di atas dadanya. Kui<BR>Lok menggunakan tangannya dengan mesra dan halus mengusap air mata<BR>yang bercucuran membasahi pipi Thio Bwee.<BR>"Bwee-moi, jangan berduka, jangan putus harapan. Selama kita masih berdua,<BR>kesukaran apa yang takkan kuat kita hadapi? Ah, Bwee-moi... setelah ini hari<BR>aku melihat Kwa Hong, baru terbuka betul-betul mataku betapa bodohku<BR>dahulu, tak dapat membedakan antara batu permata dan batu karang. Dia<BR>begitu jahat, begitu kejam dan ganas seperti siluman sedangkan kau... kau<BR>begini gagah perkasa, mulia dan halus. Bwee-moi, marilah kita pergi mencari<BR>Supek Lian Ti Tojin untuk mohon pertolongannya, tidak hanya kepada kita<BR>yang terluka hebat... tapi terutama sekali... untuk menyelamatkan Hoa-sanpai<BR>kita...."<BR>Mendengar ini, Thio Bwee mengangkat mukanya, memandang dengan mata<BR>terbelalak. "Pergi... ke... Im-kan-kok??" . .<BR>Mau tak mau tersenyum juga Kui Lok melihat wajah kekasihnya begitu<BR>ketakutan. Ah, gadis yang tidak takut menghadapi kematian ini sekarang takut<BR>begitu mendengar nama Im-kan-kok! "Bwee-moi, apa kau takut?"<BR>"Tidak... tidak asal bersama engkau... tapi... aku ngeri juga, Koko...."<BR>"Setelah keadaan kita seperti ini, apa lagi yang harus ditakuti, Moi-moi? Hayo<BR>kita percepat usaha untuk mencari Supek." Keduanya lalu berjalan lagi<BR>bergandengan tangan, hati mereka telah bulat nekat untuk mencari supek<BR>mereka.<BR>Yang disebut Im-kan-kok (Lembah Akhirat) adalah sebuah lembah gunung di<BR>Hoa-san yang amat mengerikan keadaannya dan tidaklah aneh kalau tempat<BR>yang terlarang bagi para anggauta Hoa-san-pai ini jarang atau tak pernah<BR>didatangi manusia. Kalaupun ada manusia kebetulan datang ke tempat itu,<BR>hendak apa dan mencari apakah? Jurang yang amat luas dan dalamnya tak<BR>dapat diukur pandangan mata itu sunyi mengering di sebelah kirinya, penuh<BR>batu-batu karang yang merupakan lerengnya atau tebingnya, tajam runcing<BR>licin tak mungkin dituruni manusia. Di sebelah kanan lain lagi<BR>pemandangannya, penuh pohon-pohon dan di antara pohon-pohon yang<BR>tumbuhnya tidak karuan dan liar malang-melintang itu terdapat tiga buah air<BR>terjun yang amat tinggi. Keadaan di sebelah kiri dan kanan benar-benar<BR>merupakan pemandangan yang berlawanan sekali, padahal keduanya<BR>merupakan bagian dari Im-kan-kok itu.<BR>Dengan susah payah Kui Lok dan Thio Bwee berjalan melalui jalan liar yang<BR>amat sukar, merayap-rayap melalui pinggir lembah. Kaki mereka sakit-sakit<BR>dan bagian tubuh yang tidak tertutup kain baret-baret terkena duri-duri<BR>tetumbuhan liar yang selalu menghadang di depan mereka. Setengah hari<BR>mereka berjalan dengan penuh kesukaran ini, dengan hati berdebar-debar<BR>pula karena sebagai murid-murid Hoa-san-pai mereka maklum bahwa mereka<BR>telah memasuki daerah terlarang bagi orang-orang Hoa-san-pai.<BR>Tentang Lian Ti Tojin di Im-kan-kok ini, hanya sedikit mereka mendengar dari<BR>mendiang Lian Bu Tojin. Ketua Hoa-san-pai itu hanya mengatakan bahwa Lian<BR>Ti Tojin telah memilih Im-kan-kok sebagai tempat untuk mengasingkan diri<BR>dan menghukum diri, dan Im-kan-kok dianggap sebagai tempat pelaksanaan<BR>hukuman. Tidak diceritakan kesalahan apakah yang dilakukan Lian Ti Tojin itu<BR>maka dia menghukum diri sendiri di situ. Hanya berkali-kali Ketua Hoa-san-pai<BR>itu melarang murid-muridnya memasuki daerah terlarang ini dengan ancaman<BR>mati, malah berkata pula bahwa ilmu silat yang dimiliki oieh Lian Ti Tojin<BR>adalah ilmu silat Hoa-san-pai yang amat tinggi, beberapa kali lebih tinggi dari<BR>pada ilmu silat yang dimiliki Lian Bu Tojin sendiri. Selain ini, juga ketika<BR>mengasingkan diri empat.puluh tahunan yang lalu, Lian Ti Tojin mengancam<BR>bahwa siapa saja berani mengganggunya di Im-kan-kok pasti akan<BR>dibunuhnya!<BR>bagian 12<BR>"LEMBAH ini begitu luas, ke mana kita dapat mencarinya?" bisik Tio Bwee<BR>kepada Kui Lok ketika mereka beristirahat di bagian yang penuh pohon-pohon<BR>yang merupakan hutan-hutan liar dan di depan mereka tampak air terjun<BR>pertama yang airnya berwarna-warni tertimpa sinar matahari.<BR>"Memang sukar kalau harus mencari begitu saja. Akan tetapi jangan kau<BR>khawatir, Moi-moi. Dahulu aku pernah mendengar dari mendiang ayahku<BR>ketika ayah mendongeng tentang Supek di Im-kan-kok. Menurut ayah, di<BR>bagian terbawah dari air terjun yang berada di tengah-tengah dan yang<BR>terbesar, terdapat sebuah gua yang amat besar. Gua ini terletak di belakang<BR>air terjun dari atas. Nah, agaknya di situlah Supek Lian Ti Tojin bertapa."<BR>Thio Bwee memandang ke depan. Dari tempat itu sudah kelihatan air terjun<BR>yang paling besar itu, di tengah-tengah antara dua air terjun lainnya. Suara air<BR>terjun bergemuruh menimbulkan pendengaran yang menyeramkan dan<BR>melihat air terjun yang ratusan meter dalamnya itu membuat Thio Bwee<BR>merasa ngeri. Tak terasa lagi ia memegang tangan Kui Lok erat-erat.<BR>"Aduh,..!" Kui Lok mengeluh. Thio Bwee kaget dan menengok. Ternyata ia tadi<BR>telah memegang lengan yang kiri dengan tangan kanannya dan lengan kiri Kui<BR>Lok telah agak membengkak dengan warna kehijauan. Bukan main kagetnya,<BR>apalagi ketika pada saat itu baru ia tahu bahwa tangan kirinya juga<BR>membengkak dan agak kehijauan, dan sakit sekali kalau ditekan. Ternyata<BR>bahwa luka di pundak kiri mereka telah makin menghebat, agaknya racun<BR>telah menjalar sampai ke lengan tangan.<BR>Mereka berpandangan, maklum akan keadaan mereka itu yang amat<BR>berbahaya. Sinar mata mereka sudah banyak menyatakan isi hati mereka dan<BR>keduanya menjadi berduka sekali. Kui Lok menarik tangan kanan Thio Bwee<BR>diajak berdiri.<BR>"Moi-moi...." katanya dengan suara gemetar, "kita harus cepat-cepat pergi dan<BR>cepat menjumpai Supek, kalau tidak... aku khawatir tak ada waktu lagi...<BR>Thio Bwee mengangguk dan kedua orang muda ini kembali berjalan dengan<BR>susah payah, menyelinap di antara tetumbuhan berduri, menuju ke arah air<BR>terjun ke dua. Akhirnya sampai juga mereka di tempat itu. Air selebar lima<BR>meter lebih terjun dari atas, berkilauan ditimpa sinar matahari. Biarpun air itu<BR>terjun amat dalamnya, namun suara air menimpa batu-batu di bawah<BR>terdengar dari tempat itu, malah berkumandang di empat penjuru gunung.<BR>Ketika dua orang itu menengok ke bawah, hati mereka berdebar menyaksikan<BR>betapa dalamnya lembah itu. Bagaimana mereka harus turun mendekati dasar<BR>lembah?<BR>Setelah mencari-cari dengan pandang matanya, akhirnya Kui Lok berkata,<BR>"Bwee-moi, terpaksa kita harus turun melalui pohon-pohon dan tetumbuhan,<BR>kita harus merayap ke bawah. Perjalanan ini amat sukarnya, dan amat<BR>berbahayanya, akan tetapi, Moi-moi, kali ini kita berjuang untuk nyawa kita."<BR>Thio Bwee menjenguk ke bawah lalu memandang kekasihnya sambil<BR>tersenyum pahit. "Aku mengerti, Koko. Bersamamu aku akan kuat<BR>menghadapi apa saja."<BR>Mendengar pernyataan ini, dengan terharu Kui Lok lalu mengusap rambut<BR>kepala Thio Bwee kemudian berbisik, "Mati hidup kita takkan berpisah lagi,<BR>adikku." Setelah berkata demikian pemuda ini lalu mulai menuruni tebing yang<BR>amat dalam dan curam itu, diikuti oleh Thio Bwee. Baiknya. dua orang ini<BR>adalah orang-orang yang sudah terlatih semenjak kecil, tubuh mereka kuat<BR>dan ginkang mereka sudah mencapai tingkat tinggi. Andaikata mereka tidak<BR>terluka, kiranya, pekerjaan menuruni tebing sambil bergantungan atau<BR>berpegangan pada akar-akar dan pepohonan ini akan merupakan hai yang<BR>amat mudah bagi mereka. Akan tetapi keadaan mereka sekarang amat buruk.<BR>Selain tubuh lemas akibat penderitaan batin, juga tangan kiri mereka sakit dan<BR>hampir lumpuh sehingga untuk menuruni tebing hanya mengandalkan kedua<BR>kaki dan tangan kanan saja. Sedangkan tangan kiri mereka hanya<BR>dipergunakan untuk membantu belaka.<BR>Dua jam lebih mereka merayap dan bergantungan di antara akar-akar pohon<BR>dan batu-batu, akhirnya mereka bergantungan pada pohon terakhir dan tidak<BR>bisa turun ke bawah lagi! Bagaimanapun mereka mencari-cari, tidak ada lagi<BR>tempat untuk berpegang atau berinjak, jalan ke bawah sudah putus. Ketika<BR>mereka menengok ke bawah, tampak oleh mereka air terjun itu menimpa<BR>dasar lembah dan menimbulkan uap air yang tebal. Samar-samar tampak air<BR>di bawah mereka, air yang berputaran seperti air mendidih tapi amat lebarnya<BR>seperti sebuah telaga kecil yang terjadi karena air terjun itu.<BR>"Bagaimana, Koko?" tanya Thio Bwee terengah-engah kelelahan.<BR>Kui Lok mengerutkan kening. "Tidak mungkin turun lagi secara tadi, Moi-moi.<BR>Kembali naik juga lebih sukar. Jalan satu-satunya kita harus berani terjun ke<BR>bawah."<BR>"Terjun ke air itu....?"<BR>"Sedikit-sedikit kita dapat berenang, tak perlu takut, Bwee-moi. Mari, ikuti<BR>aku!" Dengan nekat Kui Lok lalu meloncat ke bawah dan Thio Bwee segera<BR>mengikutinya. Dua orang muda itu melayang-layang turun dari tempat yang<BR>tingginya masih ada belasan meter akan tetapi yang keadaan bawahnya tidak<BR>dapat tampak nyata karena uap air yang tebal.<BR>"Byurr! Byurr!" Air muncrat tinggi ketika tubuh dua orang muda itu tiba di<BR>permukaan air yang luar biasa dinginnya. Akan tetapi alangkah kaget rasa hati<BR>Kui Lok dan Thio Bwee ketika mereka mendapat kenyataan bahwa air itu<BR>berputar amat kuatnya, merupakan ulekan (air berputar) besar, Tubuh mereka<BR>hanyut terseret oleh putaran itu, tenaga putaran demikian besarnya sehingga<BR>mereka tak berdaya, tak mampu berenang ke pinggir. Kui Lok maklum bahwa<BR>kalau terus-menerus begini, mereka akan celaka.<BR>"Bwee-moi, tahan napas, menyelam terus berenang ke arah pinggir sana, ke<BR>belakang air terjun!" teriaknya dengan napas terengah-engah payah. Setelah<BR>gadis itu memberi isyarat bahwa ia telah mengerti apa yang dimaksudkan oleh<BR>kekasihnya, mereka lalu menyelam dan benar saja, di bagian bawah ternyata<BR>tenaga putaran itu tidak hebat lagi dan dengan mudah mereka dapat berenang<BR>melalui air terjun. Akhirnya keduanya dapat mendarat di belakang air terjun<BR>dengan napas hampir putus dan tenaga habis. Namun, bukan main girang hati<BR>mereka karena melihat kekasih berada di sampingnya. Baru saja mereka<BR>terlepas dari bahaya maut dan Thio Bwee tak kuasa menahan air matanya, Kui<BR>Lok memeluknya dan pada saat itu hati ke dua orang muda ini makin bersatu<BR>dan rnakin teguh cinta kasih mereka.<BR>"Bwee-moi, biarpun aku tahu kau amat lelah, akan tetapi terpaksa kita harus<BR>melanjutkan penyelidikan kita. Kita sudah sampai di tempat yang<BR>dimaksudkan."<BR>Keduanya berdiri dan memeriksa tempat itu. Di balik air terjun ini benar saja<BR>terdapat gua yang amat besar dan dalam. Suara air terjun bergemuruh amat<BR>hebatnya sehingga kalau mereka ingin bicara, mereka harus saling berdekatan<BR>dan bersuara keras-keras. Sambil begandeng tangan dua orangg muda ini<BR>merangkak-rangkak memasuki gua itu, kemudiari dengan berani dan nekat<BR>mereka terus maju memasuki lubang besar yang merupakan terowongan<BR>gelap. Mula-mula terowongan yang panjang dan lebar itu gelap sekali dan<BR>amat licin sehingga dua orang muda ini harus meraba-raba dan merangkak,<BR>akan tetapi setelah masuk kurang lebih dua ratus meter, mulai tampak sinar<BR>terang dari depan dan jalan tidak begitu licin lagi.<BR>Setelah membelok tiga kali mereka tiba di sebuah ruangan di bawah tanah<BR>yang amat luas dan terang karena sinar matahari masuk dari atas kanan kiri<BR>yang terbuka. Tempat ini bersih sekali dan kelihatan beberapa buah benda<BR>berbentuk meja kursi terbuat daripada batu. Malah di sebelah depan tampak<BR>dua buah lubang berbentuk pintu. Tak salah lagi, tempat seperti ini sudah<BR>pasti didiami manusia.<BR>Tiba-tiba terdengar suara parau. "Apa kalian mempunyai nyawa rangkap maka<BR>berani masuk ke sini?" Dua orang muda itu membelalakkan mata memandang<BR>tajam, namun mereka hanya melihat berkelebatnya bayangan orang dan tahutahu<BR>mereka roboh dengan pandang mata berkunang-kunang.Thio Bwee<BR>segera roboh pingsan, sedangkan Kui Lok sebelum pingsan masih sempat<BR>berkata perlahan, "Teecu dari Hoa-san-pai...."<BR>Entah berapa lama mereka berdua roboh pingsan, tahu-tahu ketika ia siuman,<BR>Kui Lok mendapatkan dirinya bersama Thio Bwee sudah berada di dalam<BR>sebuah kamar batu yang kering dan berhawa hangat nyaman. Cepat ia bangun<BR>dan menolong Thio Bwee. Hatinya lega ketika mendapat kenyataan bahwa<BR>kekasihnya itu juga sudah mulai sadar. Penerangan di kamar ini suram, hanya<BR>diterangi oleh sebuah lampu sederhana di atas meja batu.<BR>"Ah, kiranya sudah malam...." pikir Kui Lok dan ia melihat Thio Bwee bergerak<BR>hendak bangun. Dua orang ini berpandangan dan keduanya bersyukur masih<BR>dapat melihat masing-masing dalam keadaan selamat.<BR>"Koko.... mana... mana dia?" bisik Thio Bwee.<BR>"Tenanglah, Moi-moi. Siapa yang menempati tempat ini, tentulah orang baikbaik,<BR>buktinya kita tidak diganggu malah dibawa ke tempat ini. Lebih baik kita<BR>beristirahat dan memulihkan tenaga sambil menanti datangnya pagi."<BR>Dua orang muda itu yang maklum bahwa mereka tentu akan menghadapi halhal<BR>yang hebat, mungkin hal yang amat berbahaya, segera duduk bersila dan<BR>bersamadhi untuk menjernihkan pikiran dan menenangkan hati serta<BR>memulihkan tenaga yang telah terlalu banyak dikerahkan ketika mencari gua<BR>ini. Mula-mula memang sukar bagi mereka untuk bersamadhi, selalu saja<BR>timbul dalam pikiran mereka bayangan yang berkelebat tadi, dan terngiang di<BR>telinga mereka suara parau yang membentak marah. Akan tetapi karena dua<BR>orang ini adalah orang-orang gemblengan dari Hoa-san-pai, maka akhirnya<BR>dapat juga mereka menenangkan hati dan mendiamkan pikiran, duduk<BR>bersamadhi dengan tekun.<BR>Menjelang pagi, di antara suara gemuruh air terjun, terdengar kicau burung<BR>dari luar. Kui Lok dan Thio Bwee sadar dari samadhinya dan menikmati<BR>pendengaran-pendengaran yang aneh itu. Suara air terjun, kicau burung,<BR>kokok ayam hutan, benar-benar mendatangkan ketenangan dan<BR>mendatangkan suara penuh damai dan tenteram di dalam hati. Yang<BR>mengherankan mereka, bagaimana suara-suara penghuni hutan itu dapat<BR>terdengar dari dalam kamar itu. Lama mereka masih duduk termenung, tidak<BR>merasa betapa matahari makin lama makin terang cahayanya.<BR>Ada angin bertiup dari arah pintu dan lampu kecil itu padam. Tapi kamar ini<BR>tidak menjadi gelap karena ternyata bahwa cahaya matahari telah sampai juga<BR>ke tempat itu. Kui Lok merasa tidak enak kalau diam saja di situ, maka sambil<BR>memberanikan hatinya ia mengajak Thio Bwee untuk keluar dari kamar. Begitu<BR>keluar dari kamar mereka mendengar suara orang bicara, suaranya parau dan<BR>jelas,<BR>"Kenapa tidak kaubunuh saja? Huh, kau sudah ingin keluar dari sini agaknya!<BR>Tua bangka bodoh!"<BR>Mendengar ini, Kui Lok dan Thio Bwee bergidik. Namun dengan nekat mereka<BR>malah menuju ke arah suara dan di dalam sebuah ruangan batu mereka<BR>melihat seorang kakek tinggi kurus sedang duduk bersila dan menudingnuding<BR>ke arah hidungnya sendiri sambil memaki-maki! Kakek itu rambutnya<BR>panjang sekali, dibiarkan terurai sampai ke pahanya, pakaiannya sederhana<BR>dari kain kasar berwarna putih.<BR>"Apa kau kasihan melihat pemuda ganteng? Ataukah jatuh hati melihat gadis<BR>cantik manis? Aha, tidak semua itu, kau tergila-gila untuk sekali lagi melihat<BR>manusia ramai! Waah, tak tahu malu, tua bangka gila!"<BR>Orang tua itu seakan-akan tidak melihat kedatangan Kui Lok dan Thio Bwee.<BR>Dua orang muda itu cepat berlutut setelah mereka memasuki ruangan dan Kui<BR>Lok segera berkata,<BR>''Teecu berdua Kui Lok dan Thio Bwee datang menghadap Locianpwe." Pemuda<BR>itu tidak berani menyebut supek karena selama hidupnya ia belum pernah<BR>bertemu dengan Lian Ti Tojin, mana dia tahu apakah kakek ini betul supeknya<BR>itu ataukah bukan?<BR>Tanpa menengok ke arah mereka kakek itu tiba-tiba bertanya, "Kalian masih<BR>ada hubungan apa dengan Lian Bu?"<BR>"Beliau adalah Suhu teecu berdua...." kata Kui Lok, masih meragu apakah<BR>orang' ini benar-benar tokoh aneh dari Hoa-san-pai yang selama ini<BR>merupakan iblis yang amat ditakuti oleh seluruh anggauta Hoa-san-pai.<BR>"Jangan bohong! Lian Bu hanya lebih muda beberapa tahun dariku, sebagai<BR>Ketua Hoa-san-pai masa mempunyai murid-murid begini muda dan tidak<BR>becus apa-apa?"<BR>"Teecu berdua... tadinya memang cucu-cucu murid, akhir-akhir ini berlatih<BR>langsung di bawah petunjuk Lian Bu Tojin suhu."<BR>"Tidak becus... tidak becus.., he, orang-orang muda, apakah gurumu tidak<BR>memberi tahu bahwa orang tidak boleh datang ke Im-kan-kok? Bahwa<BR>siapapun yang mendatangi tempat ini akan kubunuh mampus?" pertanyaan ini<BR>diucapkan dengan suara keren.<BR>"Teecu memang sudah tahu... dan sekiranya Locianpwe ini benar adalah Supek<BR>Lian Ti Tojin, teecu berdua hanya mohon ampun...."<BR>"Kalian sudah tahu tapi berani juga datang ke sini?" Sebelum Kui Lok dan Thio<BR>Bwee dapat melihat apa yang dilakukan kakek itu, tahu-tahu mereka berdua<BR>sudah terguling dan pingsan lagi!<BR>Mereka tadi hanya melihat kakek itu menggerakkan lengan kanannya dan<BR>tahu-tahu mereka roboh tidak ingiat apa-apa.<BR>Ketika mereka sadar kembali, kakek itu masih duduk bersila seperti tadi dan<BR>Kui Lok segera menolong Thio Bwee. Keadaan mereka makin payah karena<BR>selain terluka pundak mereka dan dua kali dipukul roboh, juga semenjak<BR>kemarin perut mereka kosong sama sekali. Kui Lok girang bahwa Thio Bwee<BR>juga segera sadar kembali dan agaknya pukulan jarak jauh dari kakek itu<BR>hanya membuat mereka roboh dan pingsan saja, tapi tidak teluka hebat.<BR>Kedua orang muda ini heran mengapa kakek itu tidak membunuh mereka.<BR>"Anak murid Hoa-san-pai sampai terluka oleh Jing-tok-ciang (Racun Hijau)...,<BR>hemmm, memalukan sekali....!" Kakek itu berkali-kali mengucapkan kata-kata<BR>ini seorang diri, sedikit pun tidak menoleh ke arah dua orang muda itu.<BR>Mendengar ini, timbul harapan dalam hati Kui Lok. Serta-merta ia berlutut di<BR>depan kakek itu dan berkata, "Teecu berdua datang menghadap Supek untuk<BR>memohon pertolongan Supek.... Hoa-san-pai terancam bahaya kemusnahan.<BR>Supek harap maklum bahwa Suhu telah tewas terbunuh orang...."<BR>"Hemmm, tidak dulu-dulu terbunuh orang sudah amat mengherankan.<BR>Sebodoh dia menjadi ketua, hemmm...."<BR>Bingung dan mendongkol juga hati Kui Lok melihat sikap orang yang menjadi<BR>supeknya ini. Benar-benar berwatak aneh dan luar biasa.<BR>"Supek, tidak saja Suhu telah tewas, akan tetapi musuh besar itu juga<BR>menewaskan sepuluh orang suheng...."<BR>"Gurunya tolol mana murid-muridnya tidak goblok? Mampus karena ketidak<BR>becusan sendiri, untuk apa kauceritakan kepadaku?" kakek itu memotong<BR>tanpa menoleh kepada Kui Lok.<BR>"Supek, musuh itu masih merampas pedang pusaka Hoa-san-pai dan sekarang<BR>malah menduduki Hoa-san-pai dan mengangkat diri sendiri sebagai ketua!"<BR>Untuk sejenak kakek itu diam tak bergerak tak bersuara seakan-akan kaget<BR>juga dan berpikir akan tetapi segera ia mengangguk-angguk dan berkata,<BR>"Biar, lebih baik begitu! Biarpun murid Hoa-san-pai sendiri yang menjadi ketua<BR>kalau tidak becus macam Lian Bu, untuk apa?<BR>Biarlah dipegang orang lain, tentu lebih lihai dari Lian Bu dan lebih bijaksana!"<BR>Kui Lok tercengang dan habis akal. Thio Bwee semenjak tadi diam saja akan<BR>tetapi hatinya panas bukan main.<BR>"Sudahlah, Suheng, untuk apa bicara lagi kepada seorang murid Hoa-san-pai<BR>yang tidak berbudi?' Didengar kata-katanya apa sih bedanya dia dengan iblis<BR>betina Kwa Hong yang telah merampas kedudukan Suhu? Keduanya samasama<BR>murid Hoa-san-pai yang murtad dan khianat!"<BR>Tiba-tiba kakek itu menoleh ke arah mereka dan dua orang muda itu hampir<BR>mengeluarkan suara jeritan saking kaget dan ngerinya. Muka kakek itu bukan<BR>muka manusia lagi, akan tetapi muka tengkorak! Muka itu sama sekali tidak<BR>ada dagingnya, hanya tulang tengkorak terbungkus kulit kering, mulutnya<BR>terbuka kosong, lubang hidungnya menjadi satu dan sepasang matanya<BR>bersembunyi amat dalam sehingga sepintas lalu seakan-akan kedua lubang<BR>matanya itu kosong saja!<BR>"Apa kaubilang?" tanyanya dan sepasang biji mata yang bersembunyi dalamdalam<BR>di kepala itu mengintai kepada Thio Bwee amat tajam menakutkan.<BR>"Oh.... tidak... tidak...." Thio Bwee memalangkan lengan kanan di depan muka<BR>sambil mundur-mundur ketakutan.<BR>Mulut yang ompong kosong itu terbuka lebar mengeluarkan suara ketawa yang<BR>menyeramkan, kemudian disambung kata-katanya dengan suara keren,<BR>"Bocah, coba katakan lagi. Betulkah yang menewaskan Lian Bu dan yang<BR>merampas kedudukan Ketua Hoa-san-pai adalah seorang murid Hoa-san-pai<BR>sendiri?"<BR>Karena Thio Bwee masih belum dapat menguasai dirinya, Kui Lok cepat<BR>berkata, "Betul sekali, Supek. Orang itu malah seorang gadis muda dan masih<BR>terhitung saudara seperguruan teecu berdua. Akan tetapi dia telah murtad,<BR>menikah dengan seorang ahli racun hijau bernama Koai Atong kemudian<BR>bersama suaminya itu mengacau Hoa-san-pai dan merampas kedudukan<BR>ketua." Kemudian secara singkat namun jelas Kui Lok menceritakan kejadian<BR>hebat yang menimpa Hoa-san-pai.<BR>"Ha-ha, aku mau lihat! Mau lihat macam apa bocah yang berani menyaingi<BR>Lian Ti Tojin dalam hal pengkhianatan terhadap partai itu, Apakan dia selihai<BR>aku? Ha-ha-ha!" Setelah berkata demikian tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu<BR>ia telah meloncat sampai ke pintu ruangan. Sekarang tampak oleh Kui Lok dan<BR>Thio Bwee betapa tubuh kakek itu pun hampir sama dengan keadaan<BR>mukanya, kurus kering seperti rangka hidup! Sesampainya di situ tiba-tiba ia<BR>berhenti dan berkata seorang diri,<BR>"Tidak bisa... tidak bisa... kalau aku pergi harus ada yang menggantikan aku di<BR>sini. Ha, benar juga. Kalian berdua harus menggantikan aku di Im-kan-kok<BR>sini, seharusnya sampai empat puluh tahun. Akan tetapi karena kalian berdua,<BR>maka hukuman buat kalian hanya dua puluh tahun seorang. Sebelum dua<BR>puluh tahun tak boleh keluar dari sini, Bersumpahlah!"<BR>Kui Lok dan Thio Bwee saling pandang. Thio Bwee nampak ragu-ragu.<BR>Bagaimana mungkin mereka harus berdiam di situ selama dua puluh tahun?<BR>Akan tetapi Kui Lok segera berkata,<BR>"Bwee-moi, kita sudah terluka parah. Agaknya biarpun kuat keluar dari tempat<BR>ini, belum tentu bisa hidup lebih lanjut. Lian Ti supek, teecu berdua sanggup<BR>tinggal di sini sampai dua puluh tahun asal saja Supek suka pergi ke Hoa-sanpai<BR>dan menyelamatkan partai daripada cengkeraman siluman betina Kwa<BR>Hong."<BR>"Bersumpahlah!"<BR>Tanpa ragu-ragu lagi Kui Lok dan Thio Bwee bersumpah takkan meninggalkan<BR>tempat itu sebelum dua puluh tahun! Mendengar sumpah ini, kakek itu tertawa<BR>terbahak-bahak. "Ha-ha-ha-ha, senang hatiku. Ada dua orang sekarang yang<BR>akan dapat merasakan betapa hebat penderitaanku di sini selama empat puluh<BR>tahun lebih, ini. Ha-ha-ha!"<BR>bagian 13<BR>Diam-diam Kui Lok merasa gemas juga. Kiranya supeknya ini pun bukan orang<BR>baik-baik, yang merasa girang melihat orang lain menderita. Saking gemasnya<BR>ia berkata untuk mengecewakan hati kakek itu, "Supek keliru sangka. Teecu<BR>berdua sudah terluka hebat oleh racun Jing-tok, kiranya takkan lama hidup di<BR>dunia ini dan tidak akan lama merasai penderitaan seperti yang Supek<BR>rasakan!"<BR>"Uh-uh, goblok! Kaukira aku sebodoh kau dan gurumu? Sebelum aku pergi<BR>kalian sudah akan sembuh. Hayo kalian pelajari ini dan ikuti perbuatanku!"<BR>Setelah berkata demikian kakek itu berjungkir balik, kedua kakinya ke atas<BR>dan kepalanya di bawah di atas tanah, dengan jungkir balik ini ia "berdiri" di<BR>atas kepalanya dengan tubuh lurus.<BR>Kui Lok dan Thio Bwee tidak berani membantah, apalagi mereka dapat<BR>menangkap maksud kakek itu yang hendak menyembuhkan mereka.<BR>Keduanya segera berjungkir balik dan menggunakan kepandaian untuk<BR>"berdiri" di atas kepala dengan tubuh lurus-lurus.<BR>"Lihat baik-baik, tiru gerakan kedua tanganku, terutama gerakan tangan kiri!"<BR>Kakek itu dengan perlahan lalu menggerak-gerakkan kedua lengannya seperti<BR>orang bersilat. "Salurkan hawa Thai-yang dari pusar ke dada, tekan dengan<BR>kekuatan dalam supaya berputar tiga belas kali di dada lalu kerahkan tenaga<BR>ke pundak yang terluka terus ke sepanjang lengan kiri sambil pukulkan<BR>begini!" Kakek itu bergerak-gerak dan memberi petunjuk yang dituruti oleh<BR>dua orang itu dengan taat. Pelajaran ini ada hubungannya dengan ilmu silat<BR>Hoa-san-pai, maka sebagai anak murid Hoa-san-pai yang sudah tinggi ilmunya<BR>tentu saja mereka dapat melakukan semua petunjuk itu dengan baik dan<BR>tepat.<BR>Tiba-tiba Kui Lok dan Thio Bwee berseru girang karena dari pundak mereka<BR>mengucur darah kental hijau, tanda bahwa racun yang berada di tubuh<BR>mereka mulai mengucur keluar. Makin giat mereka melakukan gerakan itu dan<BR>terus-menerus darah kehijauan mengalir keluar dari pundak mereka. Saking<BR>gembira hati mereka melihat hasil pengobatan ini, mereka sampai lupa tidak<BR>memperhatikan lagi kepada kakek yang tadi memberi petunjuk kepada mereka<BR>dan yang sekarang sudah tidak terdengar suaranya lagi. Ketika mereka<BR>kelelahan dan beristirahat, barulah ternyata oleh mereka bahwa kakek itu<BR>telah lenyap darl situ!<BR>Kedua orang muda itu saling pandang. Darah kehijauan membasahi lantai.<BR>Dalam pertemuan pandang mata ini jalan pikiran mereka sama. Mereka<BR>maklum bahwa kakek itu sudah keluar dan mereka sudah bersumpah untuk<BR>tidak keluar dari tempat itu selama dua puluh tahun! Mulut tidak bicara akan<BR>tetapi sinar mata mereka bicara banyak dan tak tertahankan lagi Thio Bwee<BR>menubruk Kui Lok sambii menangis tersedu-sedu. Untuk sesaat Kui Lok<BR>memeluknya dan membiarkan kekasihnya itu menuangkan kedukaan hatinya<BR>melalui air matanya, kemudian sambil mengelus-elus kepala Thio Bwee, ia<BR>berkata,<BR>"Lapangkan hatimu, Moi-moi. Asal kita masih selalu berdampingan, kiranya<BR>kita tidak perlu takut atau berduka. Andaikata tidak akan terjadi, perubahan<BR>dalam kehidupan kita dan harus berada di sini sampai dua puluh tahun, apa<BR>boleh buat, hitung-hitung kita berkorban untuk Hoa-san-pai! Sekarang yang<BR>penting kita harus memeriksa tempat ini, kalau Supek sampai bisa hidup di<BR>sini selama empat puluh tahun tentu di sini cukup bahan makanan dan<BR>kebutuhan hidup. Sementara itu, kita betul-betul sehat dan terhindar dari<BR>bahaya keracunan."<BR>Lambat laun Thio Bwee terhibur juga, apalagi karena apabila mereka keluar<BR>dari gua, pemandangan di sekitar air terjun benar-benar hebat dan indah<BR>bukan main, lagipula banyak terdapat buah-buahan dan binatang-binatang<BR>yang akan menjadi rnakanan mereka. Yang paling menggembirakan hati<BR>adalah ketika di sebuah ruangan di bawah tanah, mereka melihat betapa<BR>dinding ruangan itu penuh dengan ukir-ukiran yang berupa huruf-huruf dan<BR>gambar-gambar. Inilah pelajaran ilmu silat yang selama ini diciptakan oleh<BR>supek mereka di tempat itu Ilmu silat aneh yang bersumber kepada ilmu silat<BR>Hoa-san-pai yang aseli, jauh lebih hebat daripada ilmu silat yang pernah<BR>mereka pelajari di Hoa-san-pai.<BR>Kita tinggalkan dulu dua orang muda yang saling mencinta dan yang terpaksa<BR>hidup sebagai suami isteri di Lembah Akhirat itu. Hidup seperti Adam dan<BR>Hawa di Taman Firdaus! Jauh dari dunia ramai berteman bunga-bunga, buahbuahan<BR>dan binatang-binatang hutan.<BR>Ramai sekali di Puncak Hoa-san-pai pada pagi hari itu, tanda bahwa tentu<BR>telah terjadi hal-hal luar biasa. Memang sudah sering kali, hampir setiap hari<BR>di Puncak Hoa-san terjadi hal-hal aneh semenjak Kwa Hong menjadi Ketua<BR>Hoa-san-pai. Hampir setiap hari ada saja tokoh-tokoh kang-ouw yang menjadi<BR>sahabat baik mendiang Lian Bu Tojin naik ke puncak, tidak saja mengabarkan<BR>tentang kematian kakek itu, juga untuk menyaksikan sendiri kekacauan Hoasan-<BR>pai karena merasa penasaran. Dan hebatnya, setiap kali ada tokoh<BR>persilatan naik ke puncak, sebagian besar daripada mereka ini tidak bisa turun<BR>lagi karena mereka itu binasa di bawah tangan Kwa Hong, Koai Atong, atau<BR>rajawali emas!<BR>Pagi hari ini Beng Tek Cu, tosu dari Bu-tong-pai yang semenjak dahulu<BR>menjadi sahabat baik Lian Bu Tojin bersama empat orang adik<BR>seperguruannya, naik ke Puncak Hoa-san-pai. Perlu diketahui bahwa Beng Tek<BR>Cu ini adalah tokoh Bu-tong-pai yang dahulu di waktu Hoa-san-pai<BR>bermusuhan dengan Kun-lun-pai, tosu ini berpihak kepada Lian Bu Tojin. Oleh<BR>karena itu, tidak heranlah apabila tosu tua ini sengaja mendaki Puncak Hoasan-<BR>pai ketika ia mendengar berita mengejutkan bahwa Lian Bu Tojin tewas<BR>oleh seorang cucu muridnya sendiri yang sekarang telah menduduki kursi<BR>ketua di Hoa-san-pai! Beng Tek Cu ini orangnya tinggi besar dan gagah,<BR>biarpun usianya sudah enam puluh tahun lebih namun masih tampak kuat dan<BR>bersemangat, wataknya sejak muda galak dan jujur dan ilmu pedangnya<BR>sudah terkenal di empat penjuru dunia persilatan. Empat orang sutenya juga<BR>bukan tokoh-tokoh rendah, melainkan jago-jago Bu-tong-pai yang sudah<BR>menguasai ilmu silat dan Ilmu Pedang Bu-tong Kiam-hoat.<BR>Bukan main rnarah dan herannya hati Beng Tek Cu ketika ia mendengar<BR>bahwa sahabat baiknya Lian Bu Tojin, tewas oleh muridnya sendiri. la sudah<BR>mengenal Kwa Hong, malah semua murid Hoa-san-pai sudah dikenal oleh tosu<BR>Bu-tong-pai ini. Maka dengan amarah meluap-luap dan juga terheran-heran ia<BR>segera membawa adik-adik seperguruannya untuk "membereskan" kerusuhan<BR>di Hoa-san-pai.<BR>Baru saja memasuki wilayah Hoa-san-pai di kaki Hoa-san itu ia dan adikadiknya<BR>sudah melihat perubahan hebat yang terjadi pada partai persilatan<BR>besar di puncak itu. Para tosu anggauta Hoa-san-pai tidak ada yang<BR>menyambut dengan penuh penghormatan dan ramah-tamah seperti dulu lagi.<BR>Malah di sana-sini terdapat tosu-tosu yang segera menyelinap pergi dan<BR>memandang penuh curiga ketika lima orang tosu Bu-tong-pai ini naik ke<BR>gunung itu. Telinga mereka yang terlatih sudah mendengar di sebelah atas<BR>orang-orang berteriak sambung-menyambung ke atas, melaporkan<BR>kedatangan mereka, begini,<BR>"Beng Tek Cu dan empat orang sutenya dari Bu-tong-pai. hendak menghadap<BR>Nio-nio (Dewi)....!!"<BR>Beng Tek Cu mendongkol sekali, apa-lagi mendengar sebutan Nio-nio itu.<BR>Hemm, bukan main sombongnya. Apakah Kwa Hong gadis muda itu yang kini<BR>mengangkat diri menjadi ketua dan disebut Dewi? Kedatangannya sudah<BR>diketahui, tuan rumah atau nyonya rumah tentu sudah mengadakan<BR>persiapan. Entah sambutan apa yang akan ia terima. Beng Tek Cu mengajak<BR>adik-adiknya mempercepat perjalanan ke puncak.<BR>Setelah mereka makin tinggi mendaki, di kanan kiri jalan makin sering mereka<BR>melihat tosu-tosu Hoa-san-pai melakukan penjagaan, tidak seperti dulu<BR>dengan ramah-tamah dan hormat menyambut kedatangan para tamu,<BR>melainkan dengan cara bersembunyi-sembunyi. Akan tetapi tak dapat mereka<BR>menahan kemarahan hati mereka ketika sampai di lereng terakhir bawah<BR>puncak, mereka melihat kuburan-kuburan baru berderet-deret, tidak kurang<BR>dari dua puluh jumlahnya. Di depan kuburan itu terdapat bong-pai (batu<BR>nisan) sederhana dan kasar yang ditulisi nama-nama yang dikubur. Lima orang<BR>tosu Bu-tong-pai ini sudah mendengar akan korban-korban yang jatuh<BR>semenjak Hoa-san-pai dipegang oleh Kwa Hong, yaitu mereka yang datang<BR>karena tidak senang dan hendak membela mendiang Lian Bu Tojin. Jadi<BR>dengan maksud yang sama dengan maksud mereka sekarang. Agaknya<BR>sengaja korban itu dikubur di pinggir jalan naik ke puncak agar semua<BR>pendatang melihatnya! Alangkah sombongnya!<BR>"Kwa Hong murid durhaka! Kejahatanmu sudah melampaui takaran, pinto<BR>datang untuk mengakhiri keganasanmu!" Beng Tek Cu berteriak dengan<BR>pengerahan khi-kangnya sehingga suaranya terdengar nyaring dan bergema<BR>sampai ke puncak gunung.<BR>Belum lenyap gema suaranya yang keras itu, dari puncak gunung tampak<BR>bayangan seorang tinggi besar berlari-lari cepat turun ke arah mereka. Para<BR>tosu Hoa-san-pai yang tadinya bersembunyi di kanan kiri jalan, sekarang juga<BR>muncul dengan pedang di tangan dan dengan sikap siap untuk mengeroyok.<BR>Akan tetapi Beng Tek Cu dan kawan-kawannya berdiri dengan tenang, sama<BR>sekali tidak gentar terhadap munculnya para tosu Hoa-san-pai itu. Mereka<BR>menujukan pandangan mata mereka kepada orang tinggi besar yang berlari<BR>turun seperti terbang cepatnya itu. Diam-diam Beng Tek Cu kaget dan kagum<BR>menyaksikan gin-kang orang itu. demikian hebatnya sehingga gerakannya<BR>seperti burung terbang saja, kedua kaki seakan-akan tidak menyentuh tanah<BR>dan kedua lengan yang panjang itu dikembangkan ke kanan kiri dan<BR>digerakkan seperti gerakan sayap burung!<BR>Orang itu bukan lain adalah Koai Atong! Bocah tua ini marah sekali mendengar<BR>orang memaki-maki Kwa Hong. Maka cepat ia menyambut musuh-musuh baru<BR>ini. Di lain pihak, Beng Tek Cu dan teman-temannya yang belum pernah<BR>melihat Koai Atong, merasa heran dan juga geli setelah Koai Atong datang<BR>dekat. Mereka melihat seorang laki-laki tinggi besar setengah tua yang<BR>pakaiannya berkembang-kembang dari topi sampai sepatunya pun<BR>berkembang, gerak-geriknya seperti anak kecil dan lebih pantas kalau orang<BR>itu dimasukkan golongan orang gila. Melihat keadaan orang ini, dapatlah Beng<BR>Tek Cu dan kawan-kawannya menduga bahwa mereka berhadapan dengan<BR>Koai Atong, tokoh aneh di dunia kang-ouw yang sekarang kabarnya menjadi<BR>menjadi suami Kwa Hong! Kalau gadis murid Hoa-san-pai yang cantik jelita itu<BR>tidak menjadi gila otaknya, mana mungkin sudi menjadi isteri orang macam<BR>ini?<BR>Sementara itu, setelah berhadapan dan melihat bahwa yang memaki-maki<BR>"isterinya" adalah lima orang tosu yang tidak dikenalnya, Koai Atong menuding<BR>dan membentak,<BR>"Tosu-tosu bau dari mana berani mampus, datang-datang memaki Enci Hong!"<BR>"Sobat yang baru datang ini apakah bukan Koai Atong?" tanya Beng Tek Cu<BR>karena masih ragu-ragu apakah betul Koai Atong yang terkenal itu hanya<BR>seperti orang gila ini.<BR>Koai Atong membelalakkan kedua matanya yang sudah lebar itu. "Eh?? Kau<BR>tahu namaku? Siapakah kau tosu yang sudah kenal namaku?"<BR>"Pinto Beng Tek Cu dari Bu-tong-pai dan mereka ini adalah sute-suteku. Koai<BR>Atong, pinto mendengar bahwa kau dan Kwa Hong murid murtad dari Hoasan-<BR>pai itu telah membunuh Lian Bu Totiang, membunuh tosu-tosu Hoa-sanpai<BR>dan banyak orang-orang gagah yang datang ke sini, kemudian malah<BR>merampas kedudukan Ketua Hoa-san-pai. Benarkah semua pengacauan ini?<BR>Koai Atong, kau sebagai murid seorang sakti seperti Giam Kong Hwesio,<BR>kenapa menjadi tersesat sampai begini jauh?"<BR>Menghadapi ucapan ini dan melihat pandang mata Beng Tek Cu yang tajam<BR>berpengaruh, Koai Atong menjadi jerih juga. la menundukkan muka dan tidak<BR>dapat menjawab, seperti anak kecil dimarahi ayahnya! Pada saat itu,<BR>terdengar suara melengking tinggi, datangnya dari udara dan amat nyaring<BR>menyakitkan anak telinga.<BR>"Beng Tek Cu! Kau dan sute-sutemu pergilah dari sini, jangan mencampuri<BR>urusan Hoa-san-pai!" Jelas bahwa itu adalah suara wanita yang merdu tapi<BR>nyaring dan melengking tinggi. Beng Tek Cu dapat menduga bahwa suara itu<BR>tentulah suara Kwa Hong, akan tetapi dia tidak mengerti bagaimana suara itu<BR>datangnya dari atas!<BR>"Kwa Hong murid murtad, pinto datang untuk mengakhiri riwayatmu yang<BR>busuk!" teriak Beng Tek Cu.<BR>"Koai Atong, tolol! Orang memaki aku, kenapa diam saja? Serang dan bunuh<BR>mereka semua, tosu-tosu bau ini!" Suara Kwa Hong terdengar lagi dan tibatiba<BR>Koai Atong mengeluarkan pekik melengking seperti burung dan tahu-tahu<BR>ia telah menggerakkan kedua lengannya yang panjang untuk menyerang<BR>kalang-kabut kepada lima orang tosu itu. Beng Tek Cu dan sute-sutenya cepat<BR>mengelak, akan tetapi tetap saja dua orang tosu Bu-tong-pai itu terkena<BR>pukulan yang amat aneh gerakannya sehingga mereka roboh terguling! Beng<BR>Tek Cu marah dan juga heran bukan main. Sute-sutenya itu terhitung muridmurid<BR>Bu-tong-pai tingkat dua, memiliki ilmu kepandaian tinggi dan tenaga<BR>Iwee-kang yang sudah kuat sekali. Akan tetapi bagaimana begitu mudah<BR>roboh hanya oleh sekali serangan Koai Atong ini? la sendiri ketika mengelak<BR>tadi sengaja mengebutkan lengan baju untuk menahan pukulan, akan tetapi<BR>lengan bajunya terpukul membalik dan ujungnya sudah hancur.<BR>"Koai Atong, kau menjadi antek siluman betina jahat. Patut dibasmi lebih<BR>dulu!" Beng Tek Cu membentak sambil mencabut pedangnya. Dua orang<BR>sutenya yang tadi roboh oleh pukulan Koai Atong, juga sudah bangun kembali<BR>dan seperti yang lain-lain, dengan marah mereka pun mencabut pedang.<BR>Baiknya dalam gebrakan pertama tadi Koai Atong hanya menggunakan gaya<BR>serangan rajawali emas tanpa mempergunakan hawa pukulan Jing-tok-ciang,<BR>maka dua orang tosu yang terpukul roboh tidak mengalami luka hebat.<BR>Sekarang lima orang tosu itu dengan pedang di tangan mengurung Koai Atong.<BR>Orang tinggi besar ini nampak kebingungan. Memang bertempur bagi Koai<BR>Atong merupakan permainan yang rnenyenangkan, maka ia tertawa-tawa haha-<BR>hi-hi sambil berputaran perlahan dan melirik-lirik lima orang lawannya,<BR>kedua kakinya berjungkit, kedua lengan dikembangkan dan berge-rak-gerak<BR>seperti sayap burung hendak terbang, sikapnya lucu sekali tapi juga aneh dan<BR>membuat lima orang tosu Bu-tong-pai itu berhati-hati sekali tidak segera<BR>menyerang.<BR>Beng Tek Cu memberi tanda isyarat kepada adik-adiknya dan lima orang tosu<BR>ini secara otomatis lalu mengambil kedudukan masing-masing dan membentuk<BR>barisan Bu-tong Ngo-heng-tin. Dengan teratur dan otomatis kelimanya lalu<BR>bergerak melangkah maju mengitari Koai Atong, tanpa menyerang akan tetapi<BR>sikap dan kedudukan mereka sering berubah-ubah, kelihatan indah sekali<BR>seperti gerakan tarian yang teratur. Pedang mereka berkelebatan berpindahpindah<BR>pasangan kuda-kuda, ke mana pun mereka melangkah, mata mereka<BR>mengincar ke arah Koai Atong.<BR>Biarpun pada umumnya Koai Atong amat bodoh dan sederhana pikirannya<BR>seperti kanak-kanak, namun dalam hal ilmu silat ia telah berpengalaman<BR>banyak. Selama mengikuti suhunya dahulu, ia telah merantau dari dunia barat<BR>sampai ke lautan timur, entah sudah berapa ratus kali pertempuran ia alami.<BR>Tentu saja melihat Bu-tong Ngo-heng-tin ini, ia segera maklum bahwa ia<BR>menghadapi barisan yang amat tangguh dan berbahaya. Sama sekali ia tidak<BR>gentar, akan tetapi tak dapat disangkal lagi bahwa ia merasa bingung juga. la<BR>dan Kwa Hong hanya meniru gerakan-gerakan rajawali emas dalam<BR>menghadapi lawan seorang, belum pernah melihat bagaimana gerakan burung<BR>sakti itu kalau menghadapi keroyokan seperti sekarang ini. Maka sudah tentu<BR>saja ia takkan dapat mempergunakan gerakan yang ia pelajari dari rajawali<BR>emas dan terpaksa menggunakan kepandaiannya sendiri, terutama sekali Jingtok-<BR>ciang.<BR>"Hei, Koai Atong, apa kau takut menghadapi Ngo-heng-tin kami? Kalau takut,<BR>lekas berlutut dan minta ampun!" ejek Beng Tek Cu dan empat orang sutenya<BR>segera pula mengeluarkan kata-kata memaki dan mengejek. Memang inilah<BR>termasuk siasat daripada Ngo-heng-tin, yaitu membuat lawan marah-marah<BR>dan memancing lawan agar supaya menyerang.<BR>Koai Atong memang seperti anak kecil. Begitu diejek dan dimaki-maki, ia<BR>menjadi marah dan cepat ia memutar lengan kiri menyerang ke arah Beng Tek<BR>Cu. Hebat sekali serangannya karena memang semenjak berpisah dari<BR>gurunya, ia telah memperdalam Ilmu Pukulan Jing-tok-ciang ini, apalagi<BR>gerakannya sudah dicampur pula dengan gerakan rajawali!<BR>Beng Tek Cu maklum akan kehebatan serangan ini maka cepat ia melompat<BR>mundur sambil memutar pedangnya. Koai Atong sebaliknya kaget bukan main<BR>karena pada saat ia bergerak menyerang itu, ia mendengar desir angin dari<BR>kanan kiri dan belakang, melihat pula empat sinar menyambar dan menyerang<BR>ke arah empat bagian tubuhnya yang paling lemah! Terpaksa ia menarik<BR>kembali serangannya terhadap Beng Tek Cu tadi dan menggunakan<BR>kegesitannya untuk mengelak dari empat serangan itu, lalu dalam<BR>kemarahannya ia menyerang seorang di antara empat tosu itu yang terdekat.<BR>Akan tetapi, seperti juga tadi, yang diserangnya melornpat mundur dan empat<BR>tosu yang lain berbareng menyerangnya dengan pedang dari belakang dan<BR>kanan kiri.<BR>Inilah kehebatan Bu-tong Ngo-heng-tin. Memang kelihaiannya baru terasa<BR>kalau lawan menyerang seorang di antara lima pelakunya. Karena si<BR>Penyerang ini otomatis tentu membiarkan beberapa bagian tubuhnya terbuka<BR>kalau ia menyerang dan kesempatan inilah yang dipakai oleh empat orang<BR>tosu lain untuk menyerang, sedangkan seorang tosu yang diserang harus<BR>menjauhkan diri dan menyelamatkan diri sendiri.<BR>Koai Atong mulai bingung dan repot sekali. Serangannya selalu gagal.<BR>Bagaimana tidak akan gagal kalau begitu menyerang seorang, ia dihantam<BR>oleh empat orang? Bukan hanya gagal, malah setiap kali menyerang berarti ia<BR>terancam bahaya maut. Ia banyak pengalaman, maka setelah beberapa kali<BR>gagal menyerang malah terdesak hebat, akhirnya Koai Atong tidak mau<BR>menyerang lagi dan berdiri saja diam menjaga diri. Dan ternyata dugaannya<BR>benar, lima orang lawannya itu pun berdiri diam menanti dia melakukan<BR>penyerangan seperti tadi!<BR>bagian 14<BR>Memang lima orang dalam bentuk barisan Bu-tong Ngo-heng-tin ini<BR>mempergunakan tipu Memancing Ular Keluar dari Rumput. Sekarang setelah<BR>Koai Atong diam saja, dengan sendirinya tipu mereka itu gagal. Sampai lama<BR>dua pihak saling menanti agar lawan menyerang lebih dulu, akan tetapi<BR>keduanya tidak mau mengalah.<BR>Beng Tek Cu memberi isyarat lagi dan tiba-tiba seorang tosu yang berdiri di<BR>sebelah kiri Koai Atong menyerang dengan pedangnya, menusuk ke arah<BR>lambung bocah tua itu. Belum sampai serangan ini sudah disusul oleh tosu ke<BR>dua di belakangnya, lalu disusul tosu lain dan demikianlah, dalam sekejap<BR>mata saja lima orang tosu itu susul-menyusul dalam serangan mereka. Koai<BR>Atong tadinya menanti datangnya serangan untuk merobohkan Si Penyerang<BR>itu, siapa kira serangan itu datangnya susul-menyusul secara otomatis dan<BR>teratur sekali sehingga kembali ia sibuk melayani semua serangan tanpa<BR>mendapat kesempatan sama sekali untuk balas menyerang! Malah kadangkadang<BR>penyerangan bertubi-tubi itu tiba-tiba berubah sifatnya menjadi<BR>serangan serentak berbareng, lalu bertubi-tubi lagi. Inilah gerak tipu dalam<BR>Bu-tong Ngo-heng-tin yang disebut Serangan Angin Topan.<BR>Andaikata para tosu itu hanya mengeroyoknya mengandalkan ilmu silat saja,<BR>kiranya tidak sukar dan tidak akan memakan waktu lama bagi Koai Atong<BR>untuk merobohkan mereka seorang demi seorang. Akan tetapi karena mereka<BR>mempergunakan gerakan teratur dalam barisan Bu-tong Ngo-heng-tin yang<BR>amat lihai, kini Koai Atong bingung sekali dan terdesak hebat.<BR>"Curang... kalian curang.... Enci Hong bantulah aku....! Tosu-tosu bau ini<BR>curang dan lihai sekali....!"<BR>Terdengar suara melengking tinggi, makin lama. makin dekat dan lima orang<BR>tosu itu menanti dengan hati berdebar dan sikap waspada. Kemudian disusul<BR>suara wanita, "Koai Atong, kau benar-benar memalukan. Melawan lima orang<BR>keledai bau ini saja kalah? Memalukan Hoa-san-pai itu namanya!" Dan lima<BR>orang tosu itu kaget sekali ketika memandang ke atas mereka melihat Kwa<BR>Hong duduk di atas punggung seekor burung rajawali emas, bukan seperti<BR>manusia lagi, lebih patut seorang dewi atau seorang siluman! Akan tetapi<BR>mereka tidak sempat memperhatikan lebih lama lagi karena tiba-tiba burung<BR>rajawali yang indah itu sudah menukik ke bawah, menyambar ke arah mereka.<BR>Sepasang cakar yang kuat ditambah sebuah patuk yang menyerang mereka,<BR>disusul oleh lima sinar hijau. Hebat bukan main serangan ini, hebat dan tidak<BR>tersangka-sangka. Lima orang tosu itu karena diserang sekaligus, tak sempat<BR>menyusun dan mengatur barisan, otomatis mereka bergerak sendiri-sendiri<BR>untuk menyelamatkan diri, ada yang mengelak jauh dari ada yang menangkis<BR>dengan pedang. Kasihan sekali mereka yang menangkis dengan pedang, yaitu<BR>dua orang tosu. Pedang mereka patah dan leher mereka disambar sinar hijau.<BR>Mereka menjerit dan roboh terguling, tewas di saat itu juga menjadi korban<BR>panah hijau di ujung cambuk Kwa Hong!<BR>Koai Atong tertawa bergelak lalu tubuhnya yang tinggi besar itu rnenerjang<BR>maju. Kini barisan itu sudah pecah dan buyar, maka beberapa kali serang saja<BR>Koai Atong sudah berhasil merobohkan dua orang tosu yang lain, dipukulnya<BR>tewas dengan Jing-tok-ciangnya yang lihai. Tinggal Beng Tek Cu yang sejak<BR>tadi masih sempat mengelak dan menyelamatkan diri. Akan tetapi ia pun<BR>maklum bahwa menghadapi dua orang aneh ini ia tidak berdaya. Ilmu silat<BR>yang dimainkan Koai Atong amat dahsyat, sedangkan bantuan yang dilakukan<BR>oleh Kwa Hong di atas punggung rajawali emasnya lebih dahsyat lagi. la masih<BR>mencoba untuk melakukan serangan penghabisan dengan pedangnya,<BR>diputarnya senjata ini dan dengan jurus terlihai dari Bu-tong-pai ia menerjang<BR>Koai Atong. Namun enak saja Koai Atong menggerakkan kaki dan<BR>mengembangkan lengan, semua serangannya terhindar. Dari atas burung<BR>rajawali menyambar dan biarpun Beng Tek Cu sudah berusaha untuk<BR>mengelak, namun tetap saja tubuhnya menjadi korban sambaran dua buah<BR>panah hijau. la menjerit, pedangnya terlepas, tubuhnya terhuyung-huyung dan<BR>akhirnya ia roboh dengan kedua mata melotot.<BR>"Kurang ajar....!" Inikah iblis cilik yang mengotorkan nama Hoa-san-pai?"<BR>Suara ini pun datangnya dari atas, amat mengagetkan Kwa Hong dan Koai<BR>Atong karena terdengar parau dan menusuk telinga. Ketika mereka menengok<BR>ke kanan kiri, tidak kelihatan seorang pun manusia. Diam-diam Kwa Hong<BR>bergidik juga dan ia dapat menduga bahwa tentu ada orang sakti datang.<BR>Kalau ia teringat akan dongeng tentang Lembah Akhirat yang didengarnya<BR>dahulu ketika ia masih menjadi murid Hoa-san-pai ia merasa serem.<BR>Diperintahnya rajawali emas untuk turun dan hinggap di atas tanah. Ia<BR>meloncat turun dan mendekati Koai Atong.<BR>"Koai Atong, siapa yang bicara tadi?" Koai Atong juga celingukan menoleh ke<BR>kanan kiri, lalu menggeleng kepalanya. Ia tidak pernah mendengar tentang<BR>cerita Hoa-san-pai, maka ia tidak merasa takut, hanya terheran-heran.<BR>"Jangan-jangan itu tadi suara rohnya Beng Tek Cu!" katanya.<BR>Tiba-tiba terdengar lagi suara itu, kini tidak hanya keras dan parau, malah<BR>menggetarkan jantung menusuk-nusuk anak telinga, suara menggetar yang<BR>amat hebat, membuat sebelah dalam telinga Seakan-akan hendak pecah!<BR>Inilah suara orang bernyanyi dan kata-kata yang dinyanyikanya adalah ujarujar<BR>dalam kitab To-tik-king:<BR>"Orang baik adalah guru orang tidak baik, orang tidak baik adalah murid orang<BR>baik, siapa tidak menjunjung tinggi gurunya, ia akan tersesat jauh, inilah<BR>kegaiban berahasia."<BR>Suara yang menyanyikan ujar-ujar ini demikian keras dan buruknya, amat<BR>tidak enak didengar sehingga Koai Atong dan Kwa Hong menggigil seluruh<BR>tubuh mereka, hampir tidak kuat mendengar lebih lama lagi. Dua orang ini<BR>merasa betapa suara itu memasuki telinga dan terus menusuk ke dalam<BR>jantung, seakan-akan menyerang semua isi dada dan hendak memecahkan<BR>kepala. Sebagai seorang ahli silat tinggi, Koai Atong kaget sekali dan cepatcepat<BR>ia duduk bersila mengerahkan Iwee-kangnya untuk menahan pengaruh<BR>luar biasa dari suara nyanyian itu Kwa Hong juga maklum akan hal ini maka ia<BR>pun cepat mengerahkan Iwee-kangnya. Bahkan burung rajawali emas, biarpun<BR>tidak terpengaruh secana mutlak, juga kelihatan gelisah dan mengeluarkan<BR>suara merintih seperti orang menangis. Hebatnya, nyanyian dengan suara<BR>buruk itu diulang-ulang terus dan makin lama rnakin pucatlah muka Koai<BR>Atong dan Kwa Hong.<BR>Bagi ahli-ahli silat yang sudah tinggi tingkatnya, melakukan serangan tanpa<BR>menggerakkan anggauta tubuh bukanlah hal yang aneh. Jangan dikira bahwa<BR>suara itu tidak akan dapat dipergunakan sebagai senjata. Malah dapat<BR>dijadikan senjata yang lebih ampuh daripada tajamnya pedang. Bagi seorang<BR>yang tingkat Iwee-kangnya sudah tinggi, yang tenaga dalamnya sudah kuat<BR>sekali, maka di dalam suaranya dapat diisi getaran yang cukup kuat untuk<BR>merobohkan seorang pandai! Bisa melemahkan semangat, bisa menggetarkan<BR>jantung dan menghancurkan urat-urat syaraf. Orang yang bernyany-nyanyi<BR>kali ini memang agaknya sengaja hendak mempergunakan Iwee-kang dan khikang<BR>dalam suaranya untuk menyerang Kwa Hong dan Koai Atong, untuk<BR>membunuh mereka tanpa menggerakkan kaki tangan.<BR>Akan tetapi, dalam saat-saat yang amat berbahaya bagi dua orang itu, tibatiba<BR>terdengar suara lain dari arah yang berlawanan. Juga suara ini adalah<BR>suara orang bernyanyi, akan tetapi suaranya nyaring dan gagah, enak<BR>didengar dan sekaligus mempunyai pengaruh melawan suara pertama yang<BR>buruk dan tidak enak tadi. Anehnya, juga nyanyian ini adalah nyanyian yang<BR>kata-katanya diambil dari ayat-ayat To-tik-king!<BR>"Mengenal keadaan orang lain adalah bijaksana, mengenal keadaan diri sendiri<BR>adalah waspada. Mengalahkan orang lain adalah kuat, menaklukkan diri sendiri<BR>adalah gagah perkasa, Puas dan mengenal batas berarti kaya raya,<BR>memaksakan kehendak sendiri berarti nekat.<BR>Tahu diri dan tahu kewajiban akan berlangsung, mati tidak tersesat berarti<BR>panjang umur."<BR>Baru satu kali saja suara nyanyian ini terdengar, suara pertama tadi segera<BR>lenyap dan tidak terdengar lagi. Juga Kwa Hong dan Koai Atong sudah tidak<BR>lagi tersiksa oleh pengaruh suara pertama dan keduanya sekarang sudah<BR>meloncat berdiri dengan sikap waspada dan hati-hati.<BR>"Siapa pun hendak membela si jahat, aku tidak takut! Siluman betina yang<BR>mengotorkan Hoa-san-pai harus kubasmi!" Baru saja terhenti kata-kata ini,<BR>tahu-tahu di depan Kwa Hong dan Koai Atong sudah berdiri seorang kakek<BR>yang tinggi kurus, rambutnya panjang awut-awutan, mukanya persis<BR>tengkorak hidup dengan sepasang mata yang berlubang dalam.<BR>"Setan....! Ada setan....!" Otomatis Koai Atong mundur-mundur dan<BR>bersembunyi di belakang Kwa Hong.<BR>Kakek yang seperti tengkorak hidup itu bukan lain adalah Lian Ti Tojin, tertawa<BR>terkekeh-kekeh akan tetapi tidak memandang kepada Koai Atong, melainkan<BR>menoleh ke kanan kiri seperti mencari orang lain. Memang dia sedang mencari<BR>orang yang tadi melawan nyanyiannya yang juga seperti dia tadi telah<BR>bernyanyi tanpa memperlihatkan diri.<BR>"Pembela Si jahat, keluarlah saja kalau memang hendak melawan aku!"<BR>katanya dan tiba-tiba dari mulutnya menyembur darah segar! la terbatukbatuk<BR>beberapa kali dan tahulah Kwa Hong dan Koai Atong bahwa kakek ini<BR>ternyata teiah menderita luka dalam yang hebat! Bagaimanakah Lian Ti Tojin<BR>dapat menderita luka seperti itu? Bukan lain karena "adu suara" tadi. Kakek ini<BR>sudah amat tua, mungkin ia kuat bertahan hidup sampai sekian lama karena ia<BR>berada dalam gua itu. Sekarang, begitu keluar di dunia ramai, ia sudah<BR>merasa betapa kesehatan tubuhnya terganggu hebat. Apalagi ketika ia sedang<BR>menggunakan ilmunya untuk menyerang Kwa Hong dan Koai Atong dengan<BR>suaranya, ia telah mendapat perlawanan dari suara orang lain. la harus<BR>mengerahkan seluruh tenaga dalamnya dalam "adu tenaga" ini dan karena<BR>tubuhnya yang sudah terlalu tua itu memang mulai lemah, ia menderita luka<BR>dalam yang hebat. Karena kelemahannya inilah maka ia tadi tidak segera<BR>keluar, melainkan menggunakan suaranya untuk menyerang dua orang yang<BR>dianggapnya perusak nama Hoa-san-pai.<BR>Tadinya Kwa Hong dan Koai Atong kaget dan jerih, akan tetapi setelah melihat<BR>kakek itu memuntahkan darah dan tahu bahwa dia itu luka hebat, mereka<BR>tidak takut lagi. Malah Koai Atong lalu menuding sambil memaki.<BR>"Kakek tua bangka bikin kaget orang saja. Kukira kau tadi setan! Mau apa kau<BR>datang ke sini?" Lalu ia menuding ke arah mayat lima orang tosu Bu-tong-pai<BR>tadi. "Apa kau datang mau membeli bangkai-bangkai ini?"<BR>Kwa Hong segera membentak, "Atong, jangan main-main!" Kwa Hong lebih<BR>tajam pandang matanya dan ia dapat menduga bahwa orang ini tentulah<BR>seorang sakti, ia malah setengah menduga bahwa kakek ini agaknya "orang<BR>aneh" dari Lembah Akhirat.<BR>"Aku mau bertemu dengan Ketua Hoa-san-pai. Mana dia?" Lian Ti Tojin<BR>berkata sambil memandang Kwa Hong dengan sinar mata yang membuat Kwa<BR>Hong merasa ngeri, Akan tetapi Kwa Hong sekarang berbeda jauh dengan Kwa<BR>Hong dahulu. Setelah merobohkan banyak jago-jago terkenal, ia memandang<BR>rendah kepada orang lain dan mempunyai keyakinan penuh akan kelihaian diri<BR>sendiri ditambah bantuan Koai Atong dan burung rajawali emas. Dengan<BR>mengangkat dada dan mengedikkan kepalanya ia menjawab gagah.<BR>"Orang tua, akulah Ketua Hoa-san-pai. Kau siapakah dan apa keperluanmu<BR>datang ke sini?"<BR>Kakek itu tertegun. Diam-diam Lian Ti Tojin memang terheran sekali. Benarbenar<BR>gadis cantik jelita dan muda belia inikah yang telah mengacau Hoa-sanpai?<BR>Benarkah gadis ini yang sudah membunuh sutenya, Lian Bu Tojin? Sukar<BR>untuk dapat dipercaya.<BR>"Kau Ketua Hoa-san-pai? Apa buktinya?" tanyanya memancing karena masih<BR>ragu-ragu. Tadi ia hanya dari jauh, malah mendengar pula betapa dua orang<BR>ini menewaskan lima tosu itu, maka biarpun ia yakin bahwa dua orang ini<BR>pengacaunya, namun sama sekali tak pernah ia sangka bahwa wanitanya<BR>demikian muda belia, masih seperti kanak-kanak! Maka setelah berhadapan<BR>muka ia malah menjadi ragu-ragu. Kwa Hong mengeluarkan suara ketawa<BR>mengejek, tangannya bergerak dan tahu-tahu pedang pusaka Hoa-san Pokiam<BR>telah dihunusnya. "Inilah tandanya bahwa aku Ketua Hoa-san-pai!"<BR>Wajah kakek yang seperti mayat itu menjadi makin mengerikan ketika ia<BR>berdongak dan mengeluarkan keluhan panjang. "Aahhh... hukum karma...<BR>inilah hukum karma....! Kwa Hong, kau murid Hoa-san-pai murtad, membunuh<BR>guru merampas pedang menduduki kursi Ketua dan aku... ha-ha-ha, akulah<BR>yang harus membasmi! Hukum karma....! Dahulu aku pun melakukan<BR>perbuatan dosa seperti yang kaulakukan. Aku menyeleweng, menurutkan<BR>nafsu, mengganggu anak bini orang, membunuh jago-jago ternama. Ketika<BR>guru menegur, malah kulawan dan kubunuh, ha-ha-ha....! Aku berdosa<BR>besar... aku menyesal... kuserahkan kedudukan ketua kepada sute Lian Bu<BR>Tojin. Aku menghukum diri di Im-kan-kok, puluhan tahun menyesali perbuatan<BR>sendiri tapi agaknya Thian masih belum sudi mengampuni dosa-dosaku.<BR>Buktinya, hari ini aku dihadapkan dengan engkau! Aku masih mempunyai<BR>tugas terakhir, menolong nama baik Hoa-san-pai. Agaknya inilah penebusan<BR>dosaku... ha-ha-ha-ha, hukum karma....!!"<BR>Wajahnya berubah lagi dan sepasang matanya menyambar seperti kilat ketika<BR>ia membentak, "Kwa Hong, kau berhadapan dengan supekmu. Hayo lekas<BR>berlutut minta ampun dan mengakui dosamu!" Suaranya seperti halilintar<BR>menyambar dan selagi Kwa Hong terpengaruh oleh bentakan hebat ini tibatiba<BR>secepat kilat tangan kakek itu bergerak merampas pedang. Kwa Hong<BR>kaget dan biarpun serangan itu mendadak sekali namun kedua kakinya yang<BR>bergerak aneh seperti kaki burung dapat membuat ia mengelak. Sayang<BR>sekali, lengan tangan kakek itu setelah tidak berhasil merampas pedang masih<BR>terus bergerak mulur (me-manjang) dan tahu-tahu pedang Hoa-san-pai telah<BR>dapat dirampas oleh Lian Ti Tojin!<BR>"Ha-ha-ha, po-kiam ini memang seharusnya di tanganku...." Kakek itu ber<BR>gelak akan tetapi suara ketawanya berhenti ketika tiba-tiba tubuhnya<BR>terlempar ke samping dan terhuyung-huyung. Ternyata Koai Atong dengan<BR>gerakan "sayap rajawali" telah menyerangnya dan membuatnya terhuyunghuyung.<BR>Begitu hebatnya serangan Koai Atong ini. Di lain pihak, Koai Atong<BR>yang tadi marah sekali melihat orang itu berani merampas pedang dari tangan<BR>Kwa Hong, juga kaget dan kagum melihat kakek yang hampir mati saking<BR>tuanya itu hanya terhuyung-huyung dan tidak roboh terkena pukulannya Jingtok-<BR>ciang yang ampuh.<BR>Lian Ti Tojin marah dan cepat memasang kuda-kuda, kemudian dua orang<BR>aneh itu saling serang dengan hebat. Kwa Hong memandang dengan muka<BR>pucat, apalagi ketika Lian Ti Tojin tiba-tiba dapat memisahkan diri dari Koai<BR>Atong dan dengan pedang pusaka di tangan melakukan penyerangan hebat<BR>sekali kepadanya. Serangan ini hebat bukan main, sinar pedang sampai<BR>menjadi panjang seperti pelangi dan sepasang mata Kwa Hong silau<BR>karenanya. Bahkan Koai Atong sendiri tidak berdaya melihat Kwa Hong<BR>terancam bahaya maut.<BR>Pedang pusaka Hoa-san-pai yang ampuh di tangan Lian Ti Tojin yang lihai itu<BR>berkelebat menyambar kearah, tenggorokan Kwa Hong, agaknya takkan dapat<BR>dihindarkan lagi oleh Kwa Hong.<BR>"Traaaangggg!!" Bunga api muncrat menyilaukan mata. Lian Ti Tojin berteriak<BR>kaget dan heran. Pedang pusaka Hoa-san-pai itu terlepas dari pegangannya<BR>yang terasa sakit dan sebelum pedang itu jatuh ke atas tanah, Kwa Hong<BR>sudah menyambar dan memegangnya. Di depan kakek ini berdiri seorang lakilaki<BR>muda yang tampan dan gagah yang memegang sebatang pedang.yang<BR>kini sudah buntung karena beradu dengan pedang pusaka Hoa-san-pai tadi!<BR>Kakek sakti itu kaget dan maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang yang<BR>biarpun masih muda namun memiliki kepandaian tinggi. Agaknya ia pemuda<BR>inilah yang tadi bernyanyi melawan pengaruh suaranya. Akan tetapi sebelum<BR>ia sempat menegur, Koai Atong sudah menerjangnya dengan hebat. Terpaksa<BR>Lian Ti Tojin mengelak dan melayani Koai Atong dan kembali dua orang aneh<BR>ini bertempur hebat. Pertempuran kini lebih hebat dan seru daripada tadi<BR>karena Lian Ti Tojin tidak memegang pedang lagi.<BR>Sementara itu, Kwa Hong dengan pedang pusaka di tangan, berdiri<BR>memandang laki-laki yang telah menolongnya dari ancaman maut tadi,<BR>wajahnya pucat, air matanya mengalir turun membasahi kedua pipinya. Sinar<BR>matanya penuh kasih mesra, penuh harap bercampur kekuatiran, bibirnya<BR>menggigil tanpa dapat mengeluarkan suara. Adapun laki-laki muda itu berdiri<BR>mematung memandang Kwa Hong, sinar matanya penuh iba hati dan juga<BR>penyesalan, anehnya, wajahnya yang tampan dengan kulit muka yang tadinya<BR>putih sehat itu perlahan-lahan mulai berubah kehijauan!<BR>Siapakah pemuda ini? Bukan lain orang, dia ini adalah Tang Beng San, pemuda<BR>yang menggemparkan dunia persilatan ketika beberapa bulan yang lalu ia<BR>secara tidak resmi merebut gelar kejuaraan ilmu pedang dan berhak disebut<BR>Raja Pedang! Tan Beng San inilah yang menjadi biang keladi sehingga timbul<BR>peristiwa hebat di Hoa-san-pai, karena sesungguhnya dia inilah yang<BR>menghancurkan kalbu dan mematahkan hati Kwa Hong. Kwa Hong<BR>mencintanya sepenuh jiwa raganya dan di antara mereka telah ada hubungan<BR>yang sungguhpun terjadi bukan atas kehendak mereka melainkan karena<BR>pengaruh racun yang hebat, namun hubungan itulah yang mengakibatkan Kwa<BR>Hong mengandung! Dan, seperti kita telah baca dalam cerita Raja Pedang<BR>Beng San tidak bersedia menjadi suami Kwa Hong karena memang dia telah<BR>mencinta orang lain yaitu, Kwee Bi Goat puteri tunggal Song-bun-kwi Kwee<BR>Lun.<BR>Melihat adanya seorang tosu Hoa-san-pai tua yang muncul pula di belakang<BR>Beng San, dapat diduga bagaimana Raja Pedang ini bisa sampai di tempat ini.<BR>Tak lain adalah tosu Hoa-san-pai lalu lari minta bantuan kepada Beng San di<BR>Min-san. Di sana ia menuturkan segala peristiwa yang terjadi di Hoa-san-pai.<BR>Mendengar penuturan itu, Beng San menjadi marah dan berduka sekali.<BR>Hubungannya dengan Hoa-san-pai amat baik dan ia amat sayang kepada Lian<BR>Bu Tojin, maka mendengar bahwa kakek ini dibunuh oleh Kwa Hong dan Koai<BR>Atong, ia menjadi berduka sekali.<BR>Apalagi yang membunuhnya adalah Kwa Hong! Kini begitu berhadapan dengan<BR>Kwa Hong, Beng San memandang penuh keharuan hatinya dan diam-diam ia<BR>harus mengakui bahwa sebetulnya dialah yang membuat gadis Hoa-san-pai ini<BR>menjadi begini. Dua orang muda ini saling pandang tanpa menghiraukan Koai<BR>Atong yang bertempur mati-matian melawan Lian Ti Tojin, juga tidak<BR>pedulikan para tosu Hoa-san-pai yang baru sekarang berani muncul dari<BR>tempat sembunyi mereka semenjak munculnya Lian Ti Tojin yang mereka<BR>takuti.<BR>"San-ko...." akhirnya Kwa Hong dapat mengeluarkan kata-kata dengan suara<BR>setengah berbisik dan air matanya masih menitik turun, "Akhirnya kau... kau<BR>datang kepadaku....? Kau datang menyelamatkan nyawaku... dan kau hendak<BR>menerima diriku... hendak membawa aku pergi....? Begitukah, San-ko....?"<BR>Pertanyaan terakhir ini diucapkan penuh harapan, mengiris hati Beng San dan<BR>hanya dengan pengerahan batin yang amat kuat saja Beng San dapat<BR>menahan air matanya supaya tidak membasahi mata.<BR>Beberapa kali Beng San menelan ludah menahan gelora hatinya, kemudian ia<BR>dapat mengatasi perasaannya dan menarik muka marah lalu berkata,<BR>suaranya penuh teguran.<BR>"Hong-moi, kenapa kaulakukan semua ini? kenapa kau mengajak Koai Atong<BR>membunuh Lian Bu Tojin dan mengacau Hoa-san-pai? Kenapa kau menggila<BR>dan meramipas kedudukan Ketua Hoa-san-pai, malah membunuh banyak<BR>sekali orang gagah? Kulihat lima orang tosu Bu-tong-pai yang terkenal gagah<BR>dan budiman juga sudah kaubunuh. Hong-moi, kenapa kau tersesat begini<BR>jauh? Kedatanganku ini untuk mencegah kau melanjutkan kegilaan ini!"<BR>"Ohhh....!" Kwa Hong terhuyung mundur tiga langkah dengan muka<BR>membayangkan hati yang perih seperti ditusuk jarum beracun. Kemudian<BR>setelah menghapus air matanya, ia maju lagi, wajahnya berubah beringas dan<BR>marah. Matanya bersinar-sinar penuh api dan bentak-nya,<BR>"Kaulah orang pertama yang ingin sekali aku membunuhnya!" Secepat kilat ia<BR>menggerakkan pedang pusaka Hoa-san-pai di tangannya, sedangkan tangan<BR>kirinya juga menggerakkan cambuk dengan ilmu panah hijau itu ke arah Beng<BR>San. Gerakannya dahsyat, penuh kemarahan dan kebencian, gerakan maut<BR>mencari korban.<BR>bagian 15<BR>Namun, kali ini serangan Kwa Hong yang dahsyat dan keji itu tidak berhasil.<BR>Kali ini ia menghadapi seorang yang telah mewarisi ilmu silat sakti, seorang<BR>yang telah menguasai ilmu silat Im-yang Sin-kiam-sut ciptaan Pendekar Bu<BR>Pun Su ratusan tahun yang lalu. Apalagi karena dalam mempelajari gerakangerakan<BR>rajawali emas, baru beberapa bulan saja Kwa Hong melatih diri, maka<BR>boleh dibilang kepandaiannya dalam ilmu yang mujijat ini belum masak benar.<BR>Mana bisa dia menghadapi serangan raja pedang seperti Beng San? Begitu<BR>orang muda itu menggerakkan tubuh dan kedua kaki tangannya bersilat, tahutahu<BR>pedang pusaka Hoa-san-pai itu sudah terampas olehnya dan cambuk<BR>dengan lima anak panah itu terlepas dari pegangan Kwa Hong. Kwa Hong<BR>berdifi lemas, mukanya makin pucat ketika ia berhadapan dengan Beng San<BR>yang kini sudah berdiri di depannya memegang pedang Hoa-san Po-kiam<BR>dengan kedua kaki tegak terpentang dan pandang mata tajam penuh<BR>kemarahan.<BR>"Hong-moi, sekali lagi kuperingatkan kau. Bertobatlah dan Jangan teruskan<BR>perbuatan-perbuatanmu yang keji dan jahat!"<BR>Tiba-tiba Kwa Hong membanting-banting kaki dan menangis tersedu-sedu.<BR>Melihat sikap itu, makin hancur hati Beng San. Kenal betul ia akan sifat Kwa<BR>Hong ini, masih sama dengan dulu, kalau jengkel membanting-banting kaki.<BR>"Aku memang tidak kuat melawanmu. Hayo... Beng San... kau boleh bunuh<BR>aku... mari, kauteruskan pedang itu ke perutku ini... ya ke perut ini, biar mati<BR>sekalian... anak kita... uhu-hu-hu...."<BR>Seperti orang gila Kwa Hong menerjang ke arah pedang di tangan Beng San<BR>yang menjadi kaget sekali mendengar ucapan terakhir yang keluar dari mulut<BR>Kwa Hong. "Apa kau bilang....??" Ia meloncat ke samping, mukanya kini<BR>berubah hijau sekali, hijau mengerikan. Inilah sifat aneh dari Raja Pedang Tan<BR>Beng San. Di dalam tubuhnya sudah penuh dengan dua macam hawa, yaitu<BR>hawa Thai-yang dan Im-kang yang amat luar biasa sehingga tiap kali ia<BR>merasa kaget atau malu, mukanya berubah hijau, Sebaliknya kalau marah<BR>mukanya akan berubah merah sekali sampai kehitaman! Dapat dibayangkan<BR>betapa hebat rasa kagetnya ketika ia mendengar ucapan Kwa Hong yang sama<BR>sekali tak pernah disangka-sangkanya itu.<BR>"Hayo... kaubunuh aku dan anak kita.... mahluk yang tidak tahu apa-apa di<BR>perutku ini...." Kwa Hong masih maju-maju sambil rnenangis terisak-isak.<BR>".... Hong-moi....! Kaumaksudkan... kau... kau mengandung... karena...<BR>dahulu itu??" Setelah berkata demikian, Beng San terhuyung-huyung pedang<BR>pusaka Hoa-san-pai terlepas dari tangannya. Ia menggunakan kedua tangan<BR>menutupi mukanya, seluruh tubuhnya gemetar lemah.<BR>Sementara itu, pertempuran antara Koai Atong dan Lian Ti Tojin berjalan amat<BR>serunya. Mereka berdua secara mati-matian bertempur, mengerahkan seluruh<BR>kepandaian mereka. Ilmu silat yang dimiliki Lian Ti Tojin adalah ilmu silat Hoasan-<BR>pai yang aseli dan selama puluhan tahun kakek ini sudah melatih diri<BR>sehingga tingkat ilmunya benar-benar sudah jauh melampaui tingkat<BR>kepandaian aseli dari Koai Atong. Akan tetapi, biarpun baru beberapa bulan<BR>mempelajari gerakan rajawali emas, ternyata Koai Atong telah mempelajari<BR>ilmu gerakan yang hebat sekali dan kepandaian baru inilah yang<BR>menyelamatkan dia sehingga sampai sekian lamanya belum juga Lian Ti Tojin<BR>berhasil memukulnya roboh. Di samping ini, memang Lian Ti Tojin sudah<BR>terlalu tua, sudah berpuluh tahun tidak pernah bertanding dan selain ini juga<BR>telah menderita luka dalam yang hebat ketika tadi "bertanding kekuatan"<BR>dengan Beng San melalui suara. Biarpun makin lama Koai Atong makin<BR>terdesak hebat, namun tidaklah mudah bagi Lian Ti Tojin untuk<BR>merobohkannya dengan cepat.<BR>Semenjak tadi Koai Atong kebingungan. Berkali-kali ia berteriak minta bantuan<BR>Kwa Hong, namun agaknya Kwa Hong sama sekali tidak pernah<BR>rnendengarnya. Kemudian setelah melihat Kwa Hong dikalahkan Beng San dan<BR>melihat "isterinya" itu menangis tersedu-sedu minta mati, makin kalut pikiran<BR>Koai Atong. Gerakannya makin tidak karuan dan beberapa kali ia terkena<BR>pukulan Lian Ti Tojin. Namun Begitu roboh ia bangun kembali dan menyerang<BR>lagi dengan nekat. Koai Atong sudah muntah-muntah darah dan ia maklum<BR>bahwa sebentar lagi ia pasti takkan kuat menahan. Pikiran ini membuat ia<BR>menjadi nekat. Ketika Lian Ti Tojin mendesaknya, ia malah membiarkan<BR>dirinya dipukul, akan tetapi juga kesempatan ini ia pergunakan untuk<BR>menghantam pundak lawannya itu dengan Jing-tok-ciang, menggunakan<BR>seluruh tenaganya yang masih ada.<BR>"Plakk-plakk-blugg!" Tubuh Koai Atong terpental dan roboh tak berkutik lagi<BR>karena nyawanya sudah melayang, akan tetapi juga tubuh Lian Ti Tojin<BR>terlempar, Ia masih dapat mengimbangi dan tidak roboh, hanya terhuyunghuyung<BR>dengan muka pucat lalu muntahkan darah segar tiga kali. Mukanya<BR>yang seperti tengkorak itu makin menakutkan ketika ia menoleh ke arah Beng<BR>San dan Kwa Hong. la melihat Beng San menutupi muka dengan kedua<BR>tangan, sedangkah Kwa Hong yang tadinya menangis ketika melihat Koai<BR>Atong tewas, cepat menyambar pedang pusaka Hoa-san-pai di atas tanah dan<BR>cambuknya. Lian Ti Tojin marah sekali kepada Kwa Hong, biarpun ia sudah<BR>terluka parah ia masih mengerahkan tenaga dan lompat menerjang. Kwa Hong<BR>juga meloncat ke atas punggung burungnya dan pada saat Lian Ti Tojin<BR>menubruk, ia disambut "tendangan" cakar burung rajawali. Tubuhnya<BR>bergulingan sampai beberapa meter jauhnya dan kakek ini bangun berdiri lagi<BR>dengan terheran-heran bukan main. Seorang jagoan ilmu silat yang<BR>bagaimanapun juga belum tentu akan dapat merobohkannya hanya dengan<BR>sekali "tendang" saja, akan tetapi burung itu ternyata benar-benar telah<BR>merobohkannya dengan tendangan yang bukan main hebatnya. Ia merasa<BR>kepalanya pening, pandang matanya berkunang dan baru sekarang ia merasa<BR>dadanya sakit sekali.<BR>Tiba-tiba berkelebat sinar hijau di atas kepalanya. Lian Ti Tojin berusaha<BR>mengelak, namun telambat. Sambaran cambuk di tangan Kwa Hong dari atas<BR>itu amat dahsyat, apalagi rajawali emas terbang tanpa mengeluarkan bunyi.<BR>Belakang kepala Lian Ti Tojin terkena pukulan sebuah anak panah hijau dan<BR>kakek yang sudah tua renta ini roboh terjungkal, tewas tak jauh dari mayat<BR>Koai Atong.<BR>Setelah berhasil menewaskan Lian Ti Tojin, Kwa Hong di atas punggung<BR>burungnya lalu menyerang dari atas hendak menyerang Beng San. Dengan<BR>suaranya yang melengking tinggi Kwa Hong memberi aba-aba kepada<BR>burungnya untuk menyerang Beng San yang lihai. Baru sekarang ia teringat<BR>untuk rninta bantuan rajawali emas itu.<BR>Beng San masih berdiri membungkuk dengan kedua tangan menutupi<BR>mukanya. Ketika merasa ada angin bertiup dari atas kepalanya, secara<BR>otomatis ia menggerakkan kedua tangannya ke atas. Inilah gerakan seorang<BR>ahli silat yang sudah tinggi tingkatnya. Ilmu kepandaian ini sudah mendarah<BR>daging di tubuhnya sehingga jangankan baru dalam keadaan berduka dan<BR>masih sadar, biarpun sedang tidur andaikata ada sesuatu tentu secara<BR>otomatis ia dapat menjaga diri. Penjagaan ini dilakukan sesuai dengan<BR>datangnya serangan, maka ketika ia merasa ada angin bertiup dari atas yang<BR>mengandung tenaga dahsyat, ia segera menangkis.<BR>Hebat sekali tenaga tangkisan Beng San ini. Burung yang menerkamnya itu<BR>terpukul kembali oleh hawa tangkisan itu sehingga terbangnya menyeleweng<BR>dan terlempar ke samping dan beberapa helai bulunya gugur. Kwa Hong malah<BR>hampir terjungkal. dari tempat duduknya!<BR>Beng San kini memandang dan kaget melihat bahwa hampir saja ia mencelakai<BR>Kwa Hong tadi, maka katanya dengan suara lemah,<BR>"Kwa Hong, kaubunuhlah aku yang penuh dosa, tapi pergunakan tanganmu<BR>sendiri...."<BR>Kwa Hong yang sudah marah itu kembali memerintah burungnya menyambar.<BR>Burung rajawali itu sudah amat patuh kepada Kwa Hong. Apalagi tadi ia<BR>tertangkis hampir saja runtuh, maka ia pun marah sekali. Sambarannya kini<BR>amat hebat, tidak hanya kedua kakinya menerkam, malah pelatuknya turut<BR>pula menyerang dan mematuk.<BR>Namun, kini Beng San berada dalam keadaan sadar. Mana bisa burung itu<BR>mencelakainya? Dengan gerakan kaki yang ringan sekali Beng San dapat<BR>mengelak. "Aku tidak mau terbunuh oleh burung bedebah ini, Hong-moi...<BR>kalau kau mau bunuh aku, turunlah dan bunuhlah aku dengan tanganmu<BR>sendiri...."<BR>Kwa Hong mengeluarkan suara aneh seperti orang menangis tapi juga seperti<BR>suara ketawa, lalu disambungnya, "Tidak....! Terlalu enak kalau kau mati... hihi-<BR>hik, kau harus hidup... Beng San, kau harus hidup menebus perbuatanmu<BR>yang menghancurkan hatiku....! Kautunggu saja, kelak anak di kandunganku<BR>inilah yang akan membunuhmu. Anakmu sendiri... hi-hi-hik... anakmu sendiri<BR>akan membunuhmu....!"<BR>"Hong-moi..., jangan....! Kaubunuhlah aku sekarang....!" teriak Beng San<BR>penuh kengerian, akan tetapi burung itu telah terbang ke atas amat cepatnya<BR>dan sebentar saja sudah membawa Kwa Hong amat jauh, hanya kelihatan<BR>sebuah titik kuning emas di angkasa raya! Beng San merasa betapa matanya<BR>berkunang dan gelap, penuh oleh air mata sehingga ia pergunakan kedua<BR>tangannya untuk menutup mukanya dan menguatkan hati untuk menahan<BR>tekanan batin yang maha berat itu.<BR>Entah berapa lamanya ia berada dalam keadaan seperti itu dan baru ia sadar<BR>ketika mendengar suara orang berkata,<BR>"Tan-taihiap, kau telah menyelamatkan Hoa-san-pai kami dari tangan seorang<BR>iblis jahat. Tak lain kami semua murid Hoa-san-pai menghaturkan terima<BR>kasih, dan mohon petunjuk selanjutnya."<BR>Beng San cepat mengeringkan air matanya dan mengangkat muka<BR>memandang. Ternyata bahwa para tosu Hoa-san-pai semua telah muncul di<BR>situ dan berlutut di depannya! Adapun yang bicara tadi adalah tosu tua yang<BR>telah datang ke Min-san dan minta pertolongannya. Tentu saja ia menjadi<BR>kaget dan sibuk sekali melihat para tosu itu berlutut memberi hormat<BR>kepadanya. Cepat-cepat ia berkata,<BR>"Para Totiang harap bangkit dan mari kita bicara baik-baik. Janganlah memberi<BR>hormat seperti ini, aku sama sekali tidak berani terima. Bangkitlah!" Di dalam<BR>suaranya mengandung pengaruh yang tak dapat dibantah lagi, maka para tosu<BR>itu lalu bangun berdiri.<BR>Setelah para tosu itu berdiri, terjadilah keributan. Beberapa orang tosu<BR>menuding-nuding dan. rnencela tosu-tosu lain yang tadinya mereka anggap<BR>taat dan tunduk serta membantu Kwa Hong. Para tosu itu tentu saja menjadi<BR>ketakutan dan menyangkal sehingga terjadi percekcokan dan keributan. Beng<BR>San yang memperhatikan keributan itu segera maju melerai sambil berkata,<BR>"Para Totiang harap jangan cekcok sendiri. Tidak ada gunanya saling<BR>menyalahkan dan tidak perlu menekan mereka yang tadinya jatuh ke bawah<BR>pengaruh Kwa Hong. Di dunia ini, manusia manakah yang tak pernah<BR>menyeleweng dan bersalah? Tanpa adanya kesalahan dan dosa, manusia<BR>takkan dapat sadar dan bertobat, takkan mampu membedakan baik benar.<BR>Yang penting adalah kesadaran akan dosa itu, maka biarpun tadinya ada<BR>beberapa orang Totiang yang bertindak keliru, asal sekarang sudah sadar dan<BR>bertobat, kiraku tidak perlu ditekan terus."<BR>Para tosu dapat menerima ucapan ini dan kembali mereka berunding, kini<BR>dengan hati rukun dan tidak saling menyalahkan seperti tadi.<BR>"Tan-taihiap, keadaan Hoa-san-pai kami sudah morat-marit dan rusak. Mohon<BR>petunjuk Tai-hiap bagaimana supaya Hoa-san-pai dapat dibangun kembali.<BR>Kami kehilangan pimpinan," kata tosu tua.<BR>"Aku sudah mendengar bahwa Saudara Kui Lok dan Thio Bwee diusir oleh Kwa<BR>Hong. Cucu murid yang masih ada sekarang hanyalah Thio Ki yang sekarang<BR>tinggal di Tin-yang menjadi piauwsu (pengawal barang). Para Totiang harap<BR>tinggal di sini dan mengurus semua mayat ini secara baik-baik, biarlah aku<BR>yang pergi mengabarkan ke Sin-yang dan minta kepada Saudara Thio Ki untuk<BR>datang ke sini dan mengurus pembangunan Hoa-san-pai. Kurasa hanya dia<BR>seorang yang berhak, karena dia pun murid dari mendiang Lian Bu Tojin."<BR>Para tosu menyatakan persetujuan mereka dan berangkatlah Beng San turun<BR>gunung dengan wajah muram. Pertemuannya dengan Kwa Hong tadi benarbenar<BR>membuat ia berubah menjadi manusia lain. Ketika ia mendaki Puncak<BR>Hoa-san, Ia merupakan seorang manusia bahagia karena selama ini ia tinggal<BR>di Min-san bersama isterinya, yaitu Kwee Bi Goat, hidup dengan penuh cinta<BR>kasih dan damai, saling mencinta dan rukun. Ketika ada tosu Hoa-san-pai<BR>datang dan menceritakannya tentang malapetaka yang menimpa Hoa-san-pai<BR>dan mohon pertolongannya, Beng San tak dapat menolak karena ia mengingat<BR>akan hubungannya dengan partai itu. Isterinya mengatakan hendak ikut, akan<BR>tetapi oleh karena Beng San tahu bahwa akan buruk jadinya kalau isterinya itu<BR>bertemu dengan Kwa Hong, maka ia mencegah dan menyatakan bahwa tidak<BR>baik bagi kesehatan isterinya untuk melakukan perjalanan jauh, karena<BR>keadaan Bi Goat yang sedang mengandung itu. Demikianlah ia tinggalkan Bi<BR>Goat di Min-san bersama ayah mertuanya, yaitu Song-bun-kwi Kwee Lun.<BR>Siapa sangka bahwa pertemuannya dengan Kwa Hong akan menghancurkan<BR>hatinya seperti ini!<BR>"Aduh... aku tidak berharga lagi mendekati Bi Goat...." Di sepanjang<BR>perjalanan menuju ke Sin-yang mencari Thio Ki, Beng San membayangkan<BR>isterinya dengan hati remuk redam. Setelah apa yang ia lakukan bersama Kwa<BR>Hong dan ternyata Kwa Hong mengandung keturunannya, ia merasa berdosa<BR>besar dan merasa tidak berharga untuk mendekati isterinya terkasih dan suci.<BR>Ketika mendaki Puncak Hoa-san tadi ia masih merupakan seorang suami yang<BR>berbahagia, sekarang ia meninggalkan puncak dengan hati terjepit derita<BR>sengsara. Namun dasar seorang berwatak satria, sungguhpun diri sendiri<BR>mengalami penderitaan batin yang maha besar, namun ia terus melanjutkan<BR>usahanya untuk menolong Hoa-san-pai. la harus mencari Thio Ki dan menarik<BR>orang muda kakak Thio Bwee itu agar suka turun tangan membangun kembali<BR>Hoa-san-pai yang dikacau oleh Kwa Hong.<BR>Mari kita mendahului perjalanan Beng San yang sedang menuju ke Sin-yang<BR>untuk mencari Thio Ki dan kita melihat apa yang terjadi di Sin-yang. Seperti<BR>telah dituturkan, Thio Ki adalah murid Hoa-san-pai juga, malah dalam<BR>tingkatnya, ia adalah cucu murid yang paling tua. Thio Ki adalah kakak<BR>kandung Thio Bwee dan pemuda Hoa-san-pai yang bertubuh tinggi kurus dan<BR>bermuka tampan ini sekarang telah bekerja membuka piauw-kiok di Sin-yang.<BR>Pada masa itu, perusahaan piauw-kiok (kantor exspedisi) amat maju karena<BR>banyaknya orang jahat sehingga para saudagar selalu mengirim barangbarangnya<BR>yang berharga di bawah perlindungan jago-jago dari piauw-kiok,<BR>Karena kepandaiannya memang tinggi dan sebagai murid Hoa-san-pai,<BR>sebentar saja Thio Ki sudah membuat nama baik, ditakuti penjahat dan<BR>dipercaya langganan pengirim barang.<BR>Thio Ki telah menikah dengan seorang gadis bernama Lee Giok. Bukan gadis<BR>sembarangan. Selain cantik jelita juga gadis ini hebat kepandaiannya, bahkan<BR>lebih tinggi ilmu pedangnya kalau dibandingkan dengan Thio Ki sendiri. Hal ini<BR>tidak aneh karena Lee Giok adalah seorang gadis keturunan bangsawan<BR>Kerajaan Goan yang lalu, yang menjadi murid dari Bu-tek Kiam-ong Cia Hui<BR>Gan Si Raja Pedang Tanpa Tandingan! Selain menjadi murid orang sakti, juga<BR>Lee Giok terkenal sebagai seorang gadis patriot yang dalam jaman perjuangan<BR>melawan Kerajaan Mongol telah berjasa besar (baca.Raja Pedang).<BR>bagian 16<BR>Suami isteri ini hidup rukun dan damai di Sin-yang. Thio Ki amat mencintai<BR>isterinya itu, sungguhpun sebetulnya di dalam hati kecilnya Lee Giok tidak<BR>mencinta suaminya. Bukan karena Thio Ki kurang gagah atau kurang tampan,<BR>melainkan karena cinta kasih pertamanya telah gagal, dibawa mati seorang<BR>patriot besar murid Kun-lun-pai bernama Kwee Sin. Hal ini tidak aneh karena<BR>sebagai seorang patriot tentu saja ia kagum kepada lain orang patriot dan<BR>ketika orang yang dicintanya itu Kwee Sin, meninggal dunia, hatinya menjadi<BR>hampa dan ia tidak banyak membantah ketika ia dijodohkan dengan Thio Ki,<BR>seorang pemuda yang selain gagah juga tampan. Hanya sedikit hal yang<BR>mengecewakan hati Lee Giok, yaitu bahwa suaminya ini sama sekali tidak<BR>memiliki jiwa patriotik.<BR>Di Sin-yang mereka berdua hidup dalam keadaan cukup. Perusahaan Piauwkiok<BR>yang didirikan Thio Ki mendatangkan hasil lumayan. Mereka dapat<BR>memberi sebuah rumah yang cukup besar dengan pekarangan yang luas juga.<BR>Karena pekerjaan suaminya itu mengharuskan suaminya lebih sering keluar<BR>rumah daripada berada di rumah, untuk mengurangi kesepian, Lee Giok<BR>memelihara banyak ayam dan binatang ternak lain di rumahnya. Juga la<BR>menanam banyak kembang indah di pekarangannya.<BR>Pada sore hari itu di pekarangan rumah Thio Ki nampak sunyi. Sehari itu tidak<BR>nampak Lee Giok atau pelayannya keluar dari dalam rumah. Padahal sudah<BR>tiga hari Thio Ki berada di rumah. Dan pada hari itu pun Thio Ki tidak pergi ke<BR>perusahaannya. Akan tetapi mengapa kelihatan begitu sunyi? Malah-malah<BR>tiga orang pelayan rumah tangga sejak pagi tadi sudah disuruh pulang semua<BR>dan disuruh libur sepekan lamanya oleh Lee Giok. Para pelayan itu terheranheran,<BR>akan tetapi tidak berani membantah kehendak nyonya rumah itu.<BR>Apakah yang terjadi? Kalau kita menengok ke dalam rumah, keadaannya lebih<BR>aneh lagi. Thio Ki dan Lee Giok berada di ruang tengah, muka mereka agak<BR>pucat dan biarpun di dalam rumah, mereka berpakaian ringkas dan di<BR>pinggang mereka tergantung pedang seperti orang yang siap akan bertempur!<BR>Dan kedua orang suami isteri ini bersikap begini semenjak malam tadi.<BR>Memang tidak aneh kalau diketahui sebabnya. Ada bahaya maut mengancam<BR>keselamatan mereka, bahkan keselamatan para pelayan dan malah semua<BR>yang hidup di dalam rumah itu terancam bahaya maut. Malam tadi, lewat<BR>tengah malarn, dua orang suami isteri yang memiliki ilmu kepandaian silat<BR>tinggi ini mendengar tindakan kaki ringan di atas genteng rumah mereka. Thio<BR>Ki adalah seorang yang biasa melakukan perjalanan dan biasa berhadapan<BR>dengan orang-orang jahat, juga Lee Giok bukanlah pendekar kemarin sore,<BR>maka mendengar suara ini mereka dapat meloncat keluar dari kamar, tanpa<BR>mengeluarkan suara ribut-ribut mereka berdua sudah mengejar, seorang lewat<BR>pintu belakang, seorang melalui pintu depan, terus meloncat ke atas genteng<BR>rumah sendiri. Akan tetapi mereka tidak melihat sesuatu dan setelah mencaricari<BR>beberapa lama, mereka melihat berkelebatnya bayangan orang dari<BR>bawah, baru saja orang itu meloncat keluar dari ruangan dalam. Gerakan<BR>orang itu gesit dan ringan sekali. Akan tetapi Lee Giok dan Thio Ki sudah cepat<BR>menerjang ke depan menghadang dan Thio Ki membentak,<BR>"Penjahat dari mana berani marnpus mengganggu rumahku?"<BR>Orang itu tertawa, suara ketawanya melengking tinggi dan sekali berkelebat<BR>sudah melayang melalui atas kepala suami isteri itu. Lee Giok dan Thio Ki<BR>kaget sekali cepat mengejar. Mereka tidak sempat melihat, wajah orang itu.<BR>Ketika melihat dua orang itu mengejar, Si Penjahat lalu membalikkan tubuh di<BR>tempat yang gelap, kedua tangannya bergerak dua kali ke depan seperti orang<BR>memukul. Thio Ki dan Lee Giok dapat menduga bahwa itu tentulah serangan<BR>gelap, mungkin senjata rahasia, maka mereka cepat berhenti dan siap siaga.<BR>Tidak ada senjata rahasia melayang datang, tapi , tiba-tiba mereka merasa<BR>terdorong ke belakang dan hampir terjengkang roboh kalau tidak cepat-cepat<BR>berjungkir-balik. Mereka merasa dada mereka agak sesak sekali oleh tenaga<BR>dorongan yang tidak kelihatan itu. Pada saat mereka berdiri kembali, penjahat<BR>itu telah lenyap, hanya rneninggalkan gema suara ketawanya yang melengking<BR>tinggi, suara ketawa wanita! Juga meninggalkan ganda yang harum semerbak.<BR>Thio ki dan Lee Giok mengejar sampai jauh keluar rumah, namun sia-sia saja.<BR>Dengan kecewa dan lesu mereka kembali memasuki rumah dan apa yang<BR>mereka lihat membuat mereka mengertak gigi saking marah, akan tetapi juga<BR>membuat wajah mereka pucat. Di dalam kamar mereka, di atas dinding yang<BR>putih, terdapat tulisan-tulisan corat-coret merah yang berbunyi:<BR>Sebelum lewat besok malam, semua yang bernyawa di rumah ini akan mati.<BR>Tidak ada tanda tangan apa-apa dan tulisan dilakukan dengan darah. Ketika<BR>rnereka memeriksa ke belakang, ternyata dua ekor anjing peliharaan yang<BR>tidur di belakang telah mati dengan kepala pecah. Agaknya darah anjing ini<BR>yang dipakai untuk menulis "surat maut" itu.<BR>"Apa kau mengenal suaranya?" akhirnya Thio Ki bertanya kepada isterinya.<BR>Lee Giok menggeleng kepala dan keningnya berkerut, "Jelas dia seorang<BR>perempuan, akan tetapi karena gelap tidak dapat mengenalnya. Suaranya pun<BR>seakan-akan pernah mendengarnya tapi entah di mana."<BR>"Kepandaiannya hebat...." Thio Ki menarik napas panjang. "Entah mengapa<BR>dia melakukan ini?"<BR>"Dia tentu tidak datang seorang diri," kata Lee Giok, sepasang matanya yang<BR>jeli itu bergerak-gerak cerdik. "Tulisan ini baru saja ditulis, darahnya masih<BR>belum beku, bangkai anjing itu pun masih hangat. Tentu hal ini dilakukan pada<BR>saat kita mengejar penjahat perempuan itu. Yang datang ke sini pada malam<BR>ini sedikitnya tentu dua orang, mungkin lebih."<BR>Thio Ki lebih gelisah mendengar ini. la tak dapat menyangkal pendapat<BR>isterinya yang cerdik itu. "Seorang saja demikian lihainya, kalau mereka itu<BR>berkawan, benar... berbahaya....!"<BR>"Tak perlu gelisah. Kalau orang sudah menghendaki untuk memusuhi kita,<BR>tidak ada jalan lain kecuali melawan mati-matian. Hanya aku ingin sekali tahu<BR>siapa mereka dan apa sebabnya... Apakah selama beberapa bulan ini menjadi<BR>piauwsu kau tidak menanam bibit permusuhan yang hebat dengan golongan<BR>hitam (penjahat)!"<BR>"Tidak, tidak ada. Melihat tulisan ini, agaknya Si Penulis mempunyai dendam<BR>yang amat mendalam terhadap kita." Muka Thio Ki makin pucat.<BR>Tiba-tiba Lee Giok mengangkat alisnya, matanya bersinar-sinar. "Ah, siapa lagi<BR>kalau bukan dia? Hemm, sejak dulu memusuhi aku, hemm... tapi... ah, kalau<BR>benar dia mengapa ilmu kepandaiannya begitu hebat?"<BR>"Siapakah? Siapakah yang kaumaksudkan, isteriku?" Thio Ki bertanya penuh<BR>perhatian.<BR>"Aku teringat akan Kim-thouw Thian-li....."<BR>Thio Ki menahan napas, ia pun teringat sekarang. Memang agaknya kalau ada<BR>musuh besar wanita, kiranya dia itulah, Kim-thouw Thian-li (Dewi Berkepala<BR>Emas, ketua dari Ngo-lian-kauw (Agama Lima Terang)). Seorang siluman yang<BR>hebat dan kejam. Apalagi gurunya yang bernama Hek-hwa Kui-bo (Setan<BR>Betina Hitam). Bergidiklah Thio Ki teringat mereka itu dan bulu tengkuknya<BR>meremang.<BR>"Kalau betul dia... Hek-hwa Kui-bo... ah... bagaimana baiknya?" Ia nampak<BR>ketakutan sekali dan sekali lagi di lubuk hati Lee Giok tertikam oleh<BR>kekecewaan suaminya. Ia makin kenal betul bahwa di balik keangkuhan dan<BR>kegagahan Thio Ki terdapat sifat penakut yang tidak menyenangkan hatinya.<BR>"Orang-orang seperti kita ini apakah pantas ketakutan menghadapi ancaman<BR>musuh?" Dalam ucapan Lee Giok ini terkandung kekecewaan dan teguran yang<BR>amat terasa oleh Thio Ki. Maka ia segera berdiri dan menepuk dada sambil<BR>berkata,<BR>"Jangan kuatir isteriku. Aku suamimu tentu saja tidak takut menghadapi<BR>musuh yang manapun juga, tidak pula takut menghadapi kematian sebagai<BR>seorang gagah. Hanya aku meragukan apakah kita mampu melawan mereka<BR>itu kalau benar-benar mereka terdiri dari Hek-wa Kui-bo dan Kim-thouw Thianli?"<BR>Agak senang juga hati Lee Giok. Memang beginilah seharusnya sikap orang<BR>yang menjadi suaminya. "Kalau betul dugaan kita bahwa mereka itu adalah<BR>Kim-thouw Thian-li dan gurunya, sudah tentu kita bukanlah lawan mereka.<BR>Akan tetapi, nyawa berada di tangan Thian. Jangankan baru mereka berdua,<BR>biarpun kita diancam oleh seratus orang macam mereka, kalau Thian belum<BR>menghendaki mati, kiranya kita pun akan selamat. Sebaliknya, kalau Thian<BR>sudah menghendaki kematian kita, biarpun andaikata kita melarikan diri, tentu<BR>musuh akan dapat mengejar dan membunuh kita juga. Sama-sama mati,<BR>bukankah lebih baik mati sebagai orang gagah?"<BR>"Kau betul, isteriku, Seribu kali lebih baik mati sebagai harimau yang baru<BR>mati setelah melakukan perlawanan gigih daripada mati sebagai seekor babi<BR>yang tidak melakukan perlawanan malah melarikan diri."<BR>"Bukan begitu saja, pendirian seorang gagah malah lebih tinggi lagi. Lebih baik<BR>mati sebagai seekor harimau daripada hidup sebagai seekor babi!"<BR>Thio Ki mengangguk-angguk. "Kau betul... kau betul...."<BR>"Kita harus berjaga-jaga," kata pula Lee Giok setelah agak lama mereka<BR>merenung, "pertama-tama besok pagi-pagi tiga orang pelayan kita harus pergi<BR>dari sini pulang ke kampung masing-masing. Biar mereka berlibur sepekan,<BR>baru me reka diperbolehkan kembali ke sini. Aku tidak suka kalau karena<BR>permusuhan kita, orang lain yang tidak tahu apa-apa ikut terancam bahaya."<BR>Demikianlah, pada keesokan harinya, tiga orang pelayan mereka suruh pulang,<BR>diberi bekal uang dan dipesan supaya jangan kembali sebelum sepekan,<BR>Kemudian suami isteri ini berjaga-jaga sehari penuh dengan pedang selalu di<BR>pinggang. Mereka makan sambil berjaga-jaga dan tidak pernah berpisah<BR>sebentar pun juga. Mereka maklum akan kelihaian lawan, maka biarpun siang<BR>hari, mereka tidak berani meninggalkan kewaspadaan. Apalagi setelah hari itu<BR>menjelang malam, mereka makin berhati-hati.<BR>Pintu-pintu depan dan belakang mereka tutup dan dipalang kuat-kuat. Hanya<BR>pintu samping yang kecil mereka tutup saja tanpa dipalangi. Dengan cerdik<BR>Lee Giok memasangkan anak panah terpentang di busur yang dihubungkan<BR>dengan pintu-pintu dan jendela sehingga siapa saja berani memasuki rumah<BR>dengan jalan merusak, pasti akan disambut anak panah. Sedangkan dia<BR>sendiri dan Thio Ki selain membawa pedang juga menyediakan kantong<BR>senjata rahasia piauw secukupnya. Tidak begini saja, malah di depan pintu Lee<BR>Giok menyebar paku-paku yang sudah ditekuk sehingga merupakan perintang<BR>bagi musuh.<BR>Setelah sore terganti malam, keadaan di rumah Thio Ki makin sunyi lagi.<BR>Memang rumah ini agak jauh dari tetangga dan mempunyai pekarangan yang<BR>luas. Apalagi suami isteri yang berjaga-jaga di ruangan dalam itu, Lampulampu<BR>penerangan di luar rumah dipasang semua, terang benderang, akan<BR>tetapi disebelah dalam, di ruangan itu, sengaja digelapkan. Inilah siasat Lee<BR>Giok agar mereka dapat melihat kedatangan musuh tanpa diketahui oleh<BR>musuh itu.<BR>Waktu merayap agak keras, menggerakkan daun-daun pohon, mengeluarkan<BR>bunyi yang terdengar amat mengerikan bagi orang-orang yang berada dalam<BR>cekaman ketegangan itu. Keduanya tidak dapat melihat apa-apa, biarpun<BR>mereka mengintai dari lubang-lubang di antara pintu keluar, keadaan sunyi<BR>saja, namun mereka memasang telinga baik-baik. Setiap bunyi harus<BR>terdengar oleh mereka dan ini penting sekali bagi ahli-ahli silat. Kadangkadang<BR>telinga dapat mendahului mata dan telingalah yang menyelamatkan<BR>nyawa, kadang-kadang. Keadaan di ruangan itu begitu sunyi sehingga<BR>andaikata ada jarum jatuh, tentu akan terdengar oleh mereka.<BR>Beberapa kali terdengar suara orang atau kaki kuda dari jauh, hanya sayup<BR>sampai terbawa angin lalu, Thio Ki memandang bayangan isterinya di dalam<BR>gelap dan bangkitlah kasih sayangnya yang besar. Ngeri ia kalau memikirkan<BR>bagaimana mereka nanti harus menghadapi musuh yang lihai. Bagaimana<BR>kalau sampai dia atau isterinya tewas? Terharu hatinya memikirkan dan tak<BR>terasa pula ia menjamah tangan isterinya dengan mesra dan penuh kasih.<BR>Agaknya Lee Giok merasai ini, maka cepat-cepat mengibaskan tangan<BR>suaminya. Dalam keadaan seperti itu Lee Giok tidak mau memperlihatkan<BR>perasaan lemah, apalagi seluruh panca indera harus dipusatkan untuk<BR>memperhatikan keadaan di luar.<BR>"Ssttt, dengar.. baik-baik...." bisiknya rnemperingatkan suaminya.<BR>"Srrtt-srttt!" Suami isteri itu menghunus pedang, digenggam erat-erat dan<BR>berdiri siap siaga. Mereka mendengar langkah kaki yang amat ringan datang<BR>dari depan!<BR>"Jaga kanan kiri pintu...." bisik lagi Lee Giok. Thio Ki maklum akan maksud<BR>isterinya dan ia lalu berdiri di sebelah kiri pintu sedangkan isterinya menjaga di<BR>sebelah kanan. Menurut rencana Lee Giok, musuh itu biar mendobrak pintu<BR>kalau bisa melalui lantai penuh paku, kemudian menerima sambaran anak<BR>panah dan diterjang oleh mereka berdua dari kanan kiri. Biarpun musuh lebih<BR>pandai, kiranya takkan dapat menyelamatkan diri kalau dihujani serangan<BR>seperti ini.<BR>Suara langkah kaki yang ringan itu makin lama makin dekat, berhenti di depan<BR>pintu di mana telah disebar paku-paku oleh Lee Giok. Keadaan makin tegang<BR>dan makin sunyi setelah langkah kaki itu berhenti dan tak terdengar lagi. Lee<BR>Giok yang biasanya tabah dan sudah biasa menghadapi saat-saat tegang<BR>ketika ia masih menjadi pejuang dahulu, kini mau tidak mau mengeluarkan<BR>keringat dingin. Apalagi Thio Ki yang memang sudah merasa gelisah sekali.<BR>Tubuhnya menggigil dan setiap saat ia bisa kalap, meloncat dan menerjang<BR>siapa saja yang muncul di saat itu. Senjata-senjata rahasia sudah siap di<BR>tangan kedua orahg ini.<BR>Tiba-tiba terdengar suara perlahan di luar pintu, suara wanita yang bicara<BR>seorang diri setengah berbisik, "Aneh sekali... di luar terang mengapa di dalam<BR>gelap dan sunyi? Pergikah orang-orangnya? Dan paku-paku ini...." Suara itu<BR>berhenti sebentar lalu terdengar ia memanggil,<BR>"Enci Lee Giok....! Enci Lee Giok! Suci (Kakak Seperguruan)....!"<BR>Lega bukan main hati Lee Giok setelah mengenal suara ini, seakan-akan ia<BR>merasa batu besar yang menindih dadanya dilepaskan.<BR>"Sumoi (Adik Seperguruan)... kaukah itu, Sumoi....??" tanpa disadari,<BR>suaranya mengandung isak.<BR>"Suci Lee Giok, kau kenapakah? Ah, tentu terjadi sesuatu yang hebat... jangan<BR>takut, Suci, aku datang...." Terdengar orang bergerak di luar pintu.<BR>"Nanti dulu, Sumoi... jangan masuk...!" teriak Lee Giok akan tetapi terlambat.<BR>Pintu telah didorong dari luar sehingga terbuka dan palangnya patah. Pada<BR>saat itu anak panah rahasia yang dipasang Lee Giok melesat ke depan, tiga<BR>batang banyaknya.<BR>"Sumoi....!" Lee Giok menjerit.<BR>Dari luar berkelebat bayangan merah, bukan main cepatnya dan gesitnya<BR>gerakannya dan bagaikan seekor burung walet menyambar kupu-kupu,<BR>bayangan itu menyambar tiga batang anak panah itu dan di lain saat ia telah<BR>meloncat masuk ke dalam ruangan, tiga batang anak panah sudah berada di<BR>tangannya. Dari sinar lampu yang menyorot masuk ke dalam ruangan melalui<BR>pintu yang terbuka, tampaklah orang itu. la seorang gadis cantik jelita<BR>berpakaian merah. Pakaian nya yang merah warhanya itu berpotongan ringkas<BR>dan membuat ia selain nampak cantik juga gagah sekali. Di belakang<BR>punggungnya tergantung sebatang pedang yang gagangnya dihias ronce-ronce<BR>dari benang kuning. Juga pengikai rambut, ikat pinggang, dan sepatunya<BR>berwarna seperti warna ronce-ronce pedangnya. Kulit mukanya putih halus<BR>dari manis bentuknya, rambutnya hitam panjang, sepasang mata, yang indah<BR>bentuknya itu bersinar-sinar dan bening seperti mata "burung hong", hidung<BR>dan mulutnya bagaikan bunga-bunga yang memperindah taman sari<BR>wajahnya. Kesemuanya itu menjadikan dia seorang gadis berwajah ayu..<BR>Siapakah gadis jelita ini? Dia bukan lain adalah puteri tunggal dari Bu-tek<BR>Kiam-ong (Raja Pedang Tiada Bandingan) Cia Hui Gan, benama Cia Li Cu. la<BR>telah mewarisi ilmu silat ayahnya Bahkan telah mewarisi Ilmu Pedang Sian-li<BR>Kiam-sut (Ilmu Pedang Bidadari) yang bukan main indah dan lihainya. Karena<BR>kepandaiannya dan kecantikannya inilah maka akhir-akhir ini Cia Li Cu<BR>mendapat julukan Thai-San Sian-li (Dewi Gunung Thai-san) karena memang<BR>ayahnya tinggal di Gunung Thai-san. Seperti pernah kita ketahui, apalagi<BR>sudah jelas diceritakan dalam Raja Pedang, gadis jelita ini dipertunangkan<BR>dengan suhengnya'sendiri, yaitu Tan Beng Kui, Kakak dari Tan Beng San.<BR>Dapat dibayangkan betapa lega dan girangnya hati Lee Giok melihat<BR>kedatangan sumoinya yang rnemiliki kepandaian amat tinggi itu. Saking girang<BR>dah terharunya ia segera menubruk, memeluk dan menciumi sumoinya sambil<BR>menangis!<BR>"Eh-eh-eh... ada apakah Suci? Ci-hu (Kakak Ipar), ada apakah....?" tanyanya<BR>berganti-ganti kepada Lee Giok dan Thio Ki. "Dan kenapa gelap amat di sini?<BR>Pasanglah pelita...."<BR>Thio Ki ragu-ragu, belum berani menyalakan lampu, akan tetapi Lee Giok di<BR>antara isaknya berkata, "Setelah Sumoi berada di sini, kita takut apa lagi?<BR>Hayo pasang lampunya."<BR>bagian 17<BR>Thio Ki segera menyalakan lampu dan sebentar saja ruangan itu menjadi<BR>terang. Li Cu makin heran melihat keadaan suci dan cihunya begitu tegang,<BR>malah di dalam rumah telah melakukan persiapan seperti itu seakan-akan<BR>sedang menghadapi musuh yang amat hebat. la sudah berpengalaman dan<BR>tentu saja tanpa diceritakan lagi ia sudah dapat menduga bahwa sucinya<BR>menghadapi ancaman musuh. Sebetulnya Li Cu sendiri ketika datang,<BR>membawa hati yang sakit oleh urusan pribadinya, akan tetapi begitu melihat<BR>keadaan Lee Giok, urusan sendiri dilupakan dan ia menjadi marah sekali.<BR>"Suci, katakan siapa yang berani kurang ajar mengancam keselamatanmu,<BR>katakan! Aku yang akan menghadapinya!"<BR>Lee Giok menarik napas panjang, lalu menuntun tangan Li Cu diajak ke dalam<BR>kamar. Thio Ki maklum bahwa isterinya hendak memperlihatkan tulisan darah<BR>anjing itu, maka ia pun ikut masuk. Tanpa berkata apa-apa Lee Giok menuding<BR>ke arah coretan merah di tembok itu, Li Cu memandang dan sepasang<BR>matanya yang indah berkilat.<BR>"Keparat betul! Alangkah sombongnya. Binatang mana yang berani berbuat<BR>begini? la menghinamu, berarti menghinaku dan menghina ayah. Biarkan dia<BR>datang, Suci, kita lawan dan bikin mampus Si Sombong!" Li Cu menjadi merah<BR>kedua pipinya saking marahnya.<BR>"Memang aku pun tadi siap hendak melawannya, Sumoi. Dan alangkah senang<BR>hatiku melihat kau datang, kau tahu... mereka itu lihai sekali!" Lee Giok lalu<BR>menceritakan apa yang telah terjadi dan juga dugaannya bahwa penjahat itu<BR>tentu lebih dari seorang, Juga dugaannya bahwa agaknya yang akan<BR>mengganggu Itu tentulah Kim-thouw Thian-li dan mungkin juga bersama<BR>gurunya, Hek-hwa Kui-bo. Li Cu mengangguk-angguk, mengerti mengapa<BR>sucinya menduga demikian. Ia tahu bahwa dahulu sucinya ini mencinta<BR>mendiang Kwee Sin, adapun Kim-touw Thian-li adalah kekasih Kwee Sin.<BR>Selain permusuhan karena cemburu ini, juga memang Kim-thouw Thian-li<BR>dahulunya adalah kaki tangan pemerintah Mongol, sebaliknya Lee Giok adalah<BR>seorang pejuang,<BR>"Kalau betul mereka yang datang, kau dan cihu bersama sama hadapilah Ngolian-<BR>kauwcu (Ketua Ngo-lian-kauw) itu, biar aku yang menghadapji Hek-hwa<BR>Kui-bo!" kata<BR>Li.Cu dengan gagah dan bersemangat.<BR>Kembali mereka melakukan penjagaan.<BR>Akan tetapi sekarang keadaan suami isteri itu tidak sekuatir tadi, biarpun<BR>ketegangan masih tetap ada didalam hati mereka. Juga ruangan dimana<BR>mereka berjaga itu tidak<BR>digelapkan. Dalam keadaan sunyi ini teringatlah Li Cu kembali akan keadaan<BR>dirinya sendiri dan wajahnya yang ayu itu menjadi murung. Baiknya Lee Giok<BR>terlalu tegang hatinya sehingga tidak melihat keadaan sumoinya ini.<BR>Menjelang tengah malam. Keadaan amat sunyi. Tiba-tiba terdengar suara<BR>ayam berkeok lalu sunyi lagi. Lee Giok bangkit dari tempat duduknya<BR>wajahnya tegang. Ia saling pandang dengan suaminya dan dapat menduga<BR>bahwa tentu ada orang mengganggu binatang peliharaan mereka itu. Lee Giok<BR>memandang Li Cu dan pandang matanya mengisyaratkan bahwa agaknya<BR>musuh yang ditunggu-tunggu sudah datang!<BR>Lee Giok dan Thio Ki sudah berdiri dengan tangan di gagang pedang masingmasing.<BR>Hanya Li Cu yang masih duduk, sikapnya tenang. Tiba-tiba terdengar<BR>lagi suara ayam berkeok beberapa kali, lalu sunyi. Suami isteri itu<BR>menggerakkan tangan kanan mencabut pedang, tangan kiri siap di kantong<BR>piauw dan mata mereka memandang ke arah pintu yang sudah ditutup lagi. Li<BR>Cu masih seperti tadi, duduk dengan tenang seperti orang melamun. Agaknya<BR>ia masih tenggelam dalam lamunan duka tentang dirinya sendiri.<BR>Ketegangan suami isteri itu memuncak ketika di dalam kesunyian itu tiba-tiba<BR>terdengar suara ketawa dari jauh, setelah suara ketawa berhenti lalu<BR>terdengar suara suling ditiup perlahan. Mendengar suara suling ini, Lee Giok<BR>memegang tangan sumoinya yang masih duduk dan berbisik,<BR>"Sumoi, bukankah itu si iblis Giam Kin?"<BR>Li Cu berdiri dan berkata, "Hemmm, makin banyak iblis makin baik, biar kita<BR>basmi mereka agar dunia terbebas dari genggaman mereka!"<BR>Suara ketawa makin lama makin dekat dan jelas terdengar bahwa suara itu<BR>adalah suara ketawa wanita, kemudian setibanya di depan rumah suara itu<BR>berhenti. Suara suling juga berhenti, keadaan sunyi sebentar lalu terdengar<BR>suara berisik mendesis-desis. Tiga orang yang berada di dalam rumah siap<BR>siaga, hanya Li Cu yang belum juga mencabut pedang. Memang bagi seorang<BR>ahli pedang seperti dia tidak mau sembarangan mencabut pedang kalau tidak<BR>perlu.<BR>"Brakkkk!" Tiba-tiba pintu depan pecah terbuka dan dari luar terdengar lagi<BR>suara suling lapat-lapat. Yang membuat tiga orang muda itu kaget adalah<BR>ratusan ekor ular besar kecil yang masuk ke rumah seperti banjir. Belasan<BR>ekor sudah memasuki ruangan itu melalui pintu.<BR>Lee Giok dan Thio Ki kaget sekali, akan tetapi tiba-tiba berkelebat sinar<BR>menyilaukan dan belasan ular itu sudah putus menjadi dua potong oleh<BR>sambaran pedang di tangan Li Cu. Sungguh hebat gerakan ini dan mengerikan<BR>sekali ular-ular yang sudah putus menjadi dua masih berkelojotan itu. Dari<BR>luar masih membanjir terus ular-ular besar kecil, merayap melalui bangkai<BR>ular-ular yang sudah sekarat. Kini Lee Giok dan Thio Ki sudah hilang kagetnya.<BR>Semangat mereka bangkit oleh gerakan Li Cu tadi, maka mereka pun<BR>menyerbu ke depan dan membabati ular-ular dengan pedang mereka.<BR>Akan tetapi ular-ular itu masih saja membanjir masuk, malah kini merayap<BR>dari celah-celah jendela dan pintu belakang, dan baunya yang amat amis tak<BR>kuat tertahankan oleh tiga orang muda itu lebih lama lagi.<BR>"Keluar melalui jendela terus ke atas genteng....!" kata Li Cu mendahului<BR>melompat ke jendela. Sekali tendang jendea terbentang lebar, pedangnya<BR>berkeredepan diputar di depan tubuh ketika tubuhnya melayang keluar,<BR>tangan kiri menyambar langkan lalu tubuhnya diayun terus ke atas ke arah<BR>genteng. Perbuatannnya ini disusul oleh Lee Giok dan Thio Ki. Baiknya Li Cu<BR>yang berada di depan karena segera tampak sinar hijau dan putih menyambar<BR>ke arah mereka. Namun sinar-sinar senjata rahasia ini dapat ditangkis runtuh<BR>semua oleh pedang di tangan Li Cu!<BR>Ketika mereka tiba di atas genteng dalam keadaan selamat, ternyata di situ<BR>telah berdiri dua orang wanita dan seorang laki-laki menghadapi mereka<BR>sambil tertawa mengejek. Tepat seperti yang diduga oleh Lee Giok, dua orang<BR>wanita itu bukan lain adalah Ngo-lian-kauwcu yang berjuluk Kim-thouw Thianli<BR>bersama gurunya, Hek-hwa Kui-bo. Kim-thouw Thian-li yang sudah berusia<BR>empat puluh tahun itu masih nampak cantik jelita seperti gadis remaja saja,<BR>sikapnya genit dan angkuh. Ini masih tidak aneh, malah gurunya, Hek-hwa<BR>Kui-bo yang usianya sudah enam puluhan tahun, masih nampak cantik,<BR>memegang saputangan sutera beraneka warna! Adapun laki-laki itu adalah<BR>seorang pemuda ganteng, mukanya pucat, pakaiannya serba kuning dan di<BR>tangannya terdapat sebatang suling. Pembaca Raja Pedang tentu mengenal<BR>siapa orang ini. Bukan lain adalah Giam Kin yang berjuluk Siauw-coa-ong<BR>(Raja Ular Kecil), murid iblis dari utara Siauw-ong-kwi. Selain berilmu tinggi,<BR>Giam Kin ini juga memiliki kepandaian hebat, yaitu dengan sulingnya ia dapat<BR>memanggil ratusan ekor ular yang dapat ia perintah untuk menyerang<BR>musuhnya. Juga ia pandai sekali dalam hal penggunaan racun ular yang<BR>berbahaya.<BR>"Eh, kiranya ada Thai-san Sian-li di sini!" kata Kim-thouw Thian-li. "Pantas saja<BR>tuan dan nyonya rumah begini tabah!"<BR>Giam Kin memandang dengan mata melongo, penuh kekaguman kepada<BR>wajah yang disinari bulan yang sudah muncul sepenuhnya di langit, kemudian<BR>ia berseru sambil menarik napas panjang berkali-kali, "Aduh... aduh... bidadari<BR>baju merah dari Thai-san... hemmm, makin cantik jelita saja. Bidadari<BR>kahyangan tidak menang....!" Kemudian ia menoleh kepada Hek-hwa Kui-bo.<BR>"Locianpwe, kalau kali ini dapat menangkapkan bidadari merah ini untukku,<BR>aku berjanji akan menyembah seratus kali kepadamu."<BR>Hek-hwa Kui-bo mengibaskan tangannya. "Huh, laki-laki mata keranjang benar<BR>kau ini!"<BR>Tentu saja hati Li Cu mendongkol bukan main mendengar omongan-omongan<BR>kotor itu. Akan tetapi ia memandang rendah kepada Giam Kin dan Kim-thouw<BR>Thian-li, maka ia tidak pedulikan mereka dan langsung ia menghadapi Hekhwa<BR>Kui-bo sambil menudingkan jarinya.<BR>"Hek-hwa Kui-bo, kau tergolong tingkatan tua yang sudah mendapat nama<BR>besar sebagai tokoh utama dari selatan. Kenapa kau melakukan tindakan yang<BR>amat rendah, mengancam enciku dan suaminya dan sekarang datang<BR>membawa dua orang manusia hina dina ini?"<BR>Hek-hwa Kui-bo tersenyum mengejek lalu berkata, suaranya mengandung<BR>sikap memandang rendah, "Kau bocah masih ingusan berani bicara begini<BR>kepadaku. Ayahmu sendiri kiranya tidak sekurang ajar engkau! Muridku masih<BR>teringat akan permusuhan lama, bersama Giam-kongcu hendak membikin<BR>perhitungan dan pelunasan hutang-hutang lama. Aku hanya menonton kalaukalau<BR>ada bocah ingusan lancang dan ikut-ikut campur!"<BR>"Siluman betina tua bangka! Kau dan antek-antekmu hendak menghina Suci<BR>dan cihuku? Hemmm, selama di sini masih ada Cia Li Cu, jangan harap kalian<BR>akan dapat berlaku sewenang-wenang!" bentak Li Cu sambil melintangkan<BR>pedangnya.<BR>"Locianpwe, kenapa layani dia bicara? Pegang saja, ringkus dan berikan<BR>kepadaku habis perkara!" kata pula Giam Kin Sambil tersenyum-senyum dan<BR>matanya yang sipit itu memandang kepada Li Cu dengan kurang ajar.<BR>"Giam-ko, daripada banyak cerewet lebih baik turun tangan. Kaubereskan<BR>yang laki-laki, biar aku mampuskan budak she Lee ini!" kata Kim-thouw Thianli<BR>yang tidak suka melihat Giam Kin tergila-gila kepada Li Cu. Giam Kin tertawa<BR>mengejek ketika ia mendekati Thio Ki.<BR>Suami isteri ini maklum bahwa mereka menghadapi lawan tangguh, akan<BR>tetapi mereka tidak takut dan dengan kemarahan meluap mereka lalu<BR>menerjang maju, Thio Ki menyerang Giam Kin sedangkan Lee Giok memutar<BR>pedang menyerang Kim-thouw Thian-li. Juga Cia Li Cu yang maklum bahwa<BR>menghadapi tiga orang jahat itu tidak perlu banyak bicara lagi, lalu<BR>menggerakkan pedang di tangannya menerjang Hek-hwa Kui-bo.<BR>Sambil tertawa-tawa Giam Kin menyambut serangan Thio Ki. Si Raja Ular Kecil<BR>ini memang amat tinggi kepandaiannya. Serangan pedang dari Thio Ki ia<BR>hadapi dengan permainan suling ularnya yang aneh gerakan-gerakannya.<BR>Tenaga Iwee-kangnya jauh lebih kuat daripada Thio Ki sehingga setiap kali<BR>pedang bertemu suling, tangan Thio Ki tergetar dan pedangnya hampir<BR>terlepas. Namun Thio Ki bermodal kenekatan dan menerjang terus sambil<BR>mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Betapapun juga dia adalah seorang<BR>murid Hoa-san-pai yang baik, pernah mendapat bimbingan dari Lian Bu Tojin<BR>sendiri maka setelah ia bertempur dengan nekat Giam Kin tidak berani mainmain<BR>lagi.<BR>Juga Kim-thouw Thian-li menghadapi perlawanan sengit dan nekat dari Lee<BR>Giok. Seperti halnya suaminya, Lee Giok mendapat lawan yang lebih lihai<BR>darinya. Kim-thouw Thian-li benar-benar hebat kepandaiannya. Dengan ilmu<BR>silatnya dari golongan hitam yang penuh muslihat dan keji, ditambah Ilmu<BR>Pedang Im-sin Kiam-sut yang sebagian telah ia warisi pula dari Hek-hwa Kuibo,<BR>Ketua Ngo-lian-kauw ini benar-benar membuat Lee Giok tak berdaya.<BR>Senjata di tangan Kim-thouw Thian-li adalah sebatang golok ditangan kanan<BR>dan sehelai selampai merah di tangan kiri. Saputangan atau selampai merah<BR>inilah yang amat berbahaya karena mengandung pelbagai racun jahat. Akan<BR>tetapi karena ilmu pedang Lee Goat juga bukan ilmu pedang sembarangan,<BR>melainkan ilmu pedang yang ia warisi dari gurunya, Si Raja Pedang tentu saja<BR>ia tidak mau menyerah mentah-mentah dan bagi Kim-thouw Thian-li juga tidak<BR>begitu mudah untuk mendapatkan kemenangan dalam waktu singkat.<BR>Yang paling ramai adalah pertandingan antara Hek-hwa Kui-bo dan Cia Li Cu.<BR>Harus diketahui bahwa nama Hek-hwa Kui-bo untuk daerah selatan adalah<BR>nama seorang jagoan kelas satu yang tak pernah terkalahkan, Ilmu silatnya<BR>tinggi sekali dan sebetulnya dahulu ilmu kepandaiannya bersumber kepada<BR>keahlian tenaga Thai-yang, sehingga setelah kepandaiannya rnenurun kepada<BR>Kim-thow Thian-li yang menjadi Ketua Ngo-lian-kauw perkumpulan ini pun<BR>terkenal dengan keahlian mereka tentang Thai-yang. Ilmu silat aliran selatan<BR>sudah dikuasai Hek-hwa Kui-bo, ditambah lagi pengalamannya yang puluhan<BR>tahun dan belum lama ini ia telah dapat merampas kitab Im-sin Kiam-sut dan<BR>telah menguasainya, maka kehebatannya bukan main. Sayang, tenaganya<BR>bersumber kepada Yang-kang, sedangkan Im-sin Kiam-sut bersumber kepada<BR>Im-kang, maka ilmu pedangnya yang paling akhir dan paling hebat ini pun<BR>tidak bisa mencapai puncaknya. Di lain pihak, lawannya adalah Cia Li Cu,<BR>puteri tunggal Raja Pedang Tanpa Tan-ding Cia Hui Gan yang memiliki ilmu<BR>pedang keturunan dari pendekar wanita Ang I Niocu ratusan tahun yang lalu.<BR>Harus diketahui bahwa ilmu pedang keturunan dari Ang I Niocu disebut Sian-li<BR>Kiam-sut sesungguhnya masih satu sumber dengan Ilmu Pedang Im-sin Kiamsut<BR>dan Yang-sin Kiam-sut, karena kesemuanya itu asalnya adalah ilmu-ilmu<BR>ciptaan dari Pendekar Sakti Bu Pun Su. Sebagai puteri tunggalnya, tentu saja<BR>Cia Li Cu telah mewarisi kepandaian ayahnya, maka biarpun usianya masih<BR>amat muda, namun ilmu pedangnya sudah hebat sekali. Kini menghadapi<BR>permainan pedang Im-sim Kiam-sut dari Hek-hwa Kui-bo, ia dapat melayani<BR>dengan baik. Hebat sekali pertandingan antara nenek dan gadis remaja ini.<BR>Hek-hwa Kui-bo mempergunakan sebatang pedang dan dibantu dengan<BR>saputangan suteranya yang beraneka warna itu, yang kehebatannya tidak<BR>kalah oleh pedang di tangan kanannya. Akan tetapi Cia Li Cu justeru<BR>mempergunakan sebatang pedang pusaka yang ampuh, yakni pedang pusaka<BR>Liong-cu-kiam yang pendek.<BR>Di dalam cerita Raja Pedang telah diceritakan bahwa Liong-cu Siang-kiam<BR>sebetulnya merupakan sepasang pedang, yang sebatang panjang dan ada<BR>ukiran huruf Jantan, sedangkan yang ke dua pendek dengan ukiran huruf<BR>Betina. Tadinya sepasang pedang itu berada di tangan mendiang Lo-tong Souw<BR>Lee, seorang pendekar tua yang pernah diangkat guru oleh Tan Beng San,<BR>akan tetapi kemudian terjatuh ke dalam tangan Cia Li Cu. Pada pertemuan<BR>puncak di Thai-san, sepasang pedang itu dapat dirampas kembali oleh Tan<BR>Beng San, akan tetapi kemudian oleh kakak kandungnya, Tan Beng Kui,<BR>pedang-pedang itu diminta atau dipinjam karena sepasang pedang itu menjadi<BR>larnbang perjodohan antara dia dan Li Cu. Beng San memberikan pedangpedang<BR>itu dan memberi pinjam selama tiga tahun.<BR>Sekarang yang berada di tangan Cia Li Cu dalam menghadapi Hek-hwa Kui-bo<BR>adalah pedang yang pendek, yaitu yang Betina. Pedang ini dahulu adalah<BR>pedang pusaka pegangan Pendekar Bodoh, maka hebatnya bukan kepalang.<BR>Selain tajam, juga keras dan dapat mematahkan segala macam baja, lagi pula<BR>ampuhnya bukan kepalang.<BR>Dua orang ini yang termasuk orang-orang pemilik ilmu silat tinggi, bertempur<BR>sampai tidak kelihatan lagi orangnya. Sinar pedang mereka bergulung-gulung<BR>membungkus bayangan tubuh mereka sehingga yang tampak hanyalah<BR>gulungan sinar pedang di antara bayangan merah dari pakaian Li Cu diseling<BR>bayangan pelangi beraneka warna yang ditimbulkan oleh gerakan saputangan<BR>sutera di tangan Hek-hwa Kui-bo!<BR>Setelah ratusan jurus berlangsung cepat sekali antara Hek-hwa Kui-bo dan Cia<BR>Li Cu, keduanya merubah permainan, kini tidak secepat tadi, bahkan amat<BR>lambat. Gerakan mereka seperti orang berlatih saja, lannbat-lambat sekali<BR>sehingga mudah diikuti pandang mata siapa pun juga. Akan tetapi jangan<BR>salah sangka, pertempuran yang berjalan lambat ini sesungguhnya malah<BR>merupakan pertandingan yang jauh lebih hebat daripada tadi ketika mereka<BR>lenyap dibungkus gulungan sinar senjata mereka. Pertempuran lambat-lambat<BR>ini justeru merupakan pertandingan mati-matian di mana keduanya<BR>mengeluarkan seluruh kepandaian aseli mereka disertai tenaga dalam yang<BR>paling kuat untuk merobohkan lawan. Beberapa kali senjata mereka hampir<BR>mengenai tubuh lawan dan setiap kali pedang Li Cu bertemu dengan<BR>saputangan sutera, terjadi getaran hebat dan dua macam senjata itu seakanakan<BR>menempel dan saling sedot.<BR>Setelah bertempur seperti ini keduanya mengakui keunggulan masing-masing,<BR>Li Cu ternyata memiliki ilmu silat yang lebih murni, sebaliknya dalam hal<BR>tenaga dalam, ia kalah kuat oleh nenek tokoh persilatan dari selatan itu.<BR>Karena merasa penasaran, tiba-tiba Li Cu melakukan tekanan dengan pedang<BR>Liong-cu-kiam, menggores ke arah ulu hati lawannya sambil mengeluarkan<BR>suara dari perut. Pedangnya perlahan-lahan sekali melakukan gerakan goresan<BR>dari kiri ke kanan, sedikit memutar ke atas. Bukan main hebatnya serangan ini<BR>karena dilakukan dengan tenaga sepenuhnya. Jangan kira bahwa serangan<BR>yang amat lambat ini akan dapat dihindarkan dengan mengelak, karena yang<BR>berbuat demikian dan mengira bahwa serangan itu amat lambat, akan<BR>celakalah. Pukulan yang penuh mengandung hawa karena daya tenaga dalam<BR>itu biarpun lambat namun angin pukulannya saja sudah cukup untuk<BR>mencelakakan musuh, apalagi mempunyai perubahan yang bukan main<BR>banyak lagi berbahaya. Ujung pedang di tangan Li Cu kelihatannya meluncur<BR>lambat, namun ujungnya tergetar menyilaukan dan sukar dilihat bagaimana<BR>perkembangan selanjutnya.<BR>Hek-hwa Kui-bo tentu saja maklum akan kehebatan serangan ini sungguhpun<BR>itu tidak tahu bahwa gerak tipu ini adalah jurus Sian-li-hut-si (Sang Dewi<BR>Mengebutkan Kipas) dan tidak tahu pula apa pecahannya. Ia hanya tahu<BR>bahwa kali ini lawannya yang muda itu mengeluarkan gerak tipu yang amat<BR>berbahaya. Ia tidak berani menangkis dengan pedangnya, takut kalau-kalau<BR>pedangnya biarpun juga pedang yang ampuh, tidak akan kuat menandingi<BR>keampuhan Liong-cu-kiam. Maka ia lalu menggerakkan senjatanya di tangan<BR>kiri yaitu saputangan suteranya yang beraneka warna itu. Jangan memandang<BR>rendah saputangan sutera yang halus lembek dan lebar ini. Biarpun<BR>kelihatannya beraneka warna dan indah seperti pelangi serta harum pula<BR>baunya, entah sudah berapa banyak nyawa diantarkan pulang oleh<BR>saputangari ini! Biarpun demikian halus dan lembek, namun sekali menotok<BR>jalan darah dengan ujung saputangan, ataw sekali rnengebut kepala orang,<BR>Hek-hwa Kui-bo sanggup membunuh orang itu!<BR>Pedang Liong-Cu-kiam terlibat oleh saputangan itu, tak dapat ditarik kembali<BR>sedangkan pedang di tangan Hek-hwa Kui-bo secara tiba-tiba sekali<BR>menyambar dari kanan ke kiri menyerimpung sepasang kaki Li Cu. Kalau<BR>terkena sambaran ini, kiranya kedua kaki Li Cu sebatas lutut akan menjadi<BR>buntung. Pedang di tangan Li Cu masih terlibat saputangan sedangkan<BR>sekarang lawannya mcnyerangnya deugan pedang, sungguh keadaan yang<BR>amat sulit. Namun, gadis ini biarpun masih muda belia, kepandaiannya sudah<BR>hebat sekali. Melihat gerakan lawan sebelum pedang bergerak ia sudah tahu<BR>bahwa ia akan diserang bagian kakinya. Li Cu maklum bahwa dalam<BR>menggerakkan pedang menyerangnya, tentu tenaga tangan kiri Hek-hwa Kuibo<BR>yang memegang saputangan itu berkurang, maka ia mengerahkan tenaga<BR>dikumpulkan di tangan kanan, dan pada saat pedang lawan menyambar ke<BR>arah kedua lututnya, gadis perkasa ini mengenjot kakinya meloncat ke atas<BR>sambil membetot pedangnya. Gerakan ini selain cepat tidak terduga, juga<BR>amat kuatnya.<BR>"Brettt!" Saputangan yang melibat pedang itu terputus menjadi dua dan kedua<BR>kaki Li Cu selamat terluput dari pada ancaman pedang yang ganas tadi!<BR>"Kurang ajar, kau merusak saputanganku?" Hek-hwa Kui-bo membentak<BR>marah akan tetapi Li Cu tidak memberi kesempatan lagi kepadanya. Gadis ini<BR>segera mengerahkan ginkangnya dan melakukan serangan bertubi-tubi<BR>mengandalkan kegesitan dan kelihaian Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut. Pedang<BR>tunggal di tangannya itu seakan-akan berubah menjadi puluhan batang,<BR>sinarnya berkeredepan dan bergulung-gulung mengeroyok Hek-hwa Kui-bo.<BR>Nenek ini juga marah sekali, biarpun saputangannya tinggal sepotong, namun<BR>tidak dibuangnya dan masih ia pergunakan untuk membantu pedangnya<BR>melakukan serangan-serangan balasan.<BR>Tiba-tiba Li Cu terkejut mendengar keluhan Thio Ki dan melihat orang muda<BR>itu terhuyung-huyung. Ternyata ia telah kena dihantam dadanya oleh suling di<BR>tangan Giam Kin sehingga pedang yang dipegangnya terlepas dan ia<BR>terhuyung-huyung ke belakang. Sambil tertawa-tawa Giam Kin menendang<BR>lututnya maka robohlah Thio Ki.<BR>"Bunuh dia, bikin mampus saja!" seru Kim-thouw Thian-li girang, Giam Kin<BR>masih tertawa-tawa ketika ia meloncat maju dan menusukkan sulingnya ke<BR>arah kepala Thio Ki. Pasti akan berlubang kepala orang muda itu kalau terkena<BR>tusukan ini. Akan tetapi tiba-tiba berkelebat sinar putih diikuti bayangan<BR>merah.<BR>"Trangggg!" Ujung suling Giam Kin patah terbabat pedang Liong-cu-kiam yang<BR>tadi cepat digerakkan oleh Li Cu dalam usahanya menolong nyawa Thio Ki!<BR>Giam Kin terkejut dan meloncat mundur dan segera Hek-hwa Kui-bo yang tadi<BR>ditinggalkan Li Cu sudah mengejar pula lalu saling serang dengan gadis<BR>perkasa itu. Thio Ki yang sudah terluka parah tubuhnya bergulingan di atas<BR>genteng, terus terguling ke bawah dan baiknya tidak sampai terjatuh dari atas,<BR>melainkan terhenti oleh wuwungan sebelah bawah.<BR>"Enci Kim Li, jangan kaubunuh Si Manis itu!, biar kauberikan kepadaku...haha-<BR>ha!" Giam Kin tertawa-tawa untuk menutupi malu dan kagetnya ketika<BR>sulingnya terbabat ujungnya oleh Li Cu tadi. Mendengar ini, Li Cu gelisah<BR>sekali, apalagi ketika ia mengerling, ia melihat betapa sucinya sekarang<BR>dikeroyok dua, payah sekali keadaannya.<BR>Memang demikianlah. Menghadapi Kim-thouw Thian-li seorang saja sudah<BR>berat sekali bagi Lee Giok, sungguhpun ia selama itu masih dapat melindungi<BR>diri dan mempertahankan, namun sama sekali ia sudah tidak mampu untuk<BR>balas menyerang. Sekarang melihat suaminya terluka dan roboh, hatinya<BR>makin risau dan bingung, apalagi setelah Giam Kin maju mengeroyoknya<BR>sambil nyengar nyengir dan mengeluarkan kata-kata memuakkan.<BR>"Trangg... tranggg.....!!" Pedang di tangan Lee Giok terlepas dan jatuh ke atas<BR>genteng dengan bunyi berisik ketika pedang itu digempur dari kanan kiri oleh<BR>golok Kim-thouw thian-li dan suling buntung Giam Kin. Nyonya muda itu kini<BR>sudah tidak bersenjata lagi!<BR>"Ha-ha, Enci Kim Li, kurasa lebih baik kau membantu gurumu mengalahkan<BR>bidadari Thai-san itu, biarlah janda muda ini aku yang melayaninya...."<BR>Kim-thouw Thian-li memang sudah menguatirkan gurunya maka ia lalu<BR>meloncat dan mengeroyok Li Cu. Adapun Lee Giok dengan muka merah dan<BR>dada panas hampir terbakar menghadapi Giam Kin. Suaminya terluka dan kini<BR>ia dihina, disebut janda muda. Hati siapa takkan sakit?<BR>"Manusia berwatak iblis! Binatang, hari ini aku Lee Giok akan mengadu nyawa<BR>denganmu!" teriak Lee Giok yang cepat menubruk maju sambil menyerang<BR>dengan pukulan dahsyat ke arah ulu hati lawan disusul tendangan yang<BR>ditujukan kepada pusar. Kedua serangan susul menyusul ini merupakan<BR>serangan maut yang nekat karena dengan melakukannya, Lee Giok sebetulnya<BR>juga telah "membuka" beberapa bagian tubuhnya tidak terlindung lagi. Namun<BR>dia sudah tidak peduli lagi karena saking marah dan putus asanya, nyonya<BR>muda ini betul-betul sudah berlaku nekat dan ingin membunuh lawannya.<BR>Namun sayang sekali bagi Lee Giok, lawannya terlampau kuat baginya. Tingkat<BR>kepandaiannya kalah jauh kalau dibandingkan dengan Giam Kin, murid tunggal<BR>dari Siauw-ong-kwi tokoh pertama dari utara itu. Dengan tertawa mengejek<BR>Giam Kin menangkap pergelangan tangan Lee Giok yang memukul sambil<BR>menggeser kaki mengelakkan tendangan, kemudian sebelum nyonya muda itu<BR>sempat meronta, Giam Kin telah menotok jalan darahnya membuat ia tak<BR>dapat berkutik lagi.<BR>"Ha-ha-ha, Enci Kim Li dan Hek-hwa Locianpwe, aku akan pergi lebih dahulu<BR>saja....!" katanya sambil memondong tubuh Lee Giok dan membawanya lari<BR>pergi dari tempat itu!<BR>"Bangsat Giam Kin, lepaskan suciku!" bentak Cia Li Cu marah sekali melihat<BR>Lee Giok hendak diculik, akan tetapi Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li<BR>menghadangnya dan tidak memberi kesempatan kepadanya untuk melakukan<BR>pengejaran kepada Giam Kin. Bukan main marahnya Li Cu ketika melihat<BR>betapa Giam Kin telah menghilang di dalam gelap membawa pergi Lee Giok.<BR>Akan tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa kerena dia sendiri sedang didesak<BR>hebat oleh Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li. Ternyata bahwa selama ini<BR>Kim-thouw Thian-li telah menerima latihan-latihan dari gurunya sehingga<BR>kepandaiannya sudah meningkat cepat. Maka agak repot juga Li Cu dikeroyok<BR>dua oleh guru dan murid ini.<BR>"Lepaskan Hwa-tok-ciam (Jarum Racun Kembang)!" tiba-tiba Hek-hwa Kui-bo<BR>berseru kepada muridnya. Dua orang guru dan murid itu gemas juga ketika<BR>menghadapi kenyataan bahwa biarpun mereka mengeroyok, tetap saja ilmu<BR>pedang yang dimainkan Cia Li Cu tak dapat mereka gempur dan pecahkan,<BR>maka sekarang tiba-tiba mereka menggerakkan tangan kiri berulang-ulang.<BR>Li Cu kaget sekali. Gadis ini cukup maklum akan bahayanya senjata rahasia<BR>yang keji dari dua orang lawannya ini. Ia maklum bahwa Kim-thouw Thian-li<BR>sudah amat terkenal dengan racun kembang yang menjadi keistimewaan Ngolian-<BR>kauw. Maka ia pun segera menutar pedangnya dengan gerakan yang<BR>disebut Sian-li-thouw-so (Sang Dewi Menenun), Runtuhlah belasan batang<BR>jarum halus yang dilepas oleh dua orang lawannya itu. Akan tetapi sekarang<BR>kedudukan Li Cu lemah sekali karena ia harus menghadapi serangan dan<BR>desakan dua orarig lawannya itu sambil menjaga kalau-kalau ada pelepasan<BR>senjata rahasia lagi. Ia mulai terdesak dari mulai mundur!<BR>bagian 18<BR>Pada saat yang amat berbahaya bagi diri Li Cu itu, tiba-tiba dari bawah<BR>berkelebat bayangan orang. Gerakannya demikian ringan seperti seekor<BR>burung terbang saja dan begitu tiba di atas genteng, orang ini berseru,<BR>"Kim-thouw Thian-li dan gurunya, di mana-mana mengacau saja!"<BR>Hek-hwa Kui-bo dan muridnya tidak dapat melihat jelas siapa adanya orang<BR>yang datang ini, akan tetapi Cia Li Cu biarpun selama hidupnya baru dua kali<BR>bertemu dengan orang ini, masih mengenal suara dan diam-diam ia menjadi<BR>girang sekali. Wajahnya tiba-tiba berubah merah dan dadanya berdebar, akan<BR>tetapi ia tidak mau mengeluarkan suara apa-apa melainkan terus mendesak<BR>dua orang lawannya seakan-akan tidak tahu akan datangnya bala bantuan.<BR>Hek-hwa Kui-bo marah sekali karena tadinya dia dan muridnya sudah mulai<BR>mendesak hebat kepada Li Cu. Datangnya orang ini merupakan gangguan,<BR>maka cepat ia mengggerakan pedangnya membacok kepala orang yang baru<BR>datang sedangkan saputangannya yang tinggal sepotong itu pun diarahkan ke<BR>arah perut orang.<BR>Akan tetapi alangkah kagetnya ketika potongnya hanya mengenai angin dan<BR>tlba-tiba saputangannya terbetot oleh orang itu dan terlepas dari<BR>pegangannya! Dengan tangan kosong orang itu dapat merampas<BR>saputangannya dan menghindarkan serangan pedangnya!<BR>"Siapa kau?" bentaknya marah.<BR>"Hek-hwa Locianpwe, lupakah kau kepadaku? Aku tidak saja belum lupa<BR>kepada Locianpwe, malah tiga macam ilmu Thai-hwee, Siu-hwee dan Ci-hwee<BR>yang kau ajarkan dulu pun masih teringat baik olehku!"<BR>Bukan main kagetnya Hek-hwa Kui-bo. Sekarang ia mengenal laki-laki muda<BR>ini.<BR>"Beng san... Kau....? Kim Li, hayo kita pergi" Hek-hwa Kui-bo menarik tangan<BR>muridnya dan dua orang wanita itu maloncat lenyap di malam gelap.<BR>Mengapa Hek-hwa Kui-bo nampaknya begitu takut kepada orang muda yang<BR>ternyata adalah Tan Beng San itu? Sebetulnya, Hek-hwa Kui-bo sudah<BR>mengenal Beng San semenjak jago pedang ini masih kecil. Dalam cerita Raja<BR>Pedang sudah diceritakan dengan jelas betapa di waktu kecilnya saja Beng San<BR>sudah "menerima kebaikan" dari Hek-hwa Kui-bo, yaitu diberi latihan Thaihwee<BR>(Api Besar), Siu-hwee (Simpan Api) dan Ci-hwe (Keluarkan api), padahal<BR>tiga macam ilmu diberikan sebetulnya dengan niat celakakan Beng San yang<BR>pada waktu itu tubuhnya sudah penuh dengan tenaga Yang-kang sehingga<BR>ilmu ini bisa menewaskannya. Kemudian setelah Beng San dewasa dan<BR>memiliki ilmu tinggi, Hek-hwa Kui-bo sudah pula melihat kepandaiannya ketika<BR>diadakan pertemuan memperebutkan gelar Raja pedang di Puncak Thai-san.<BR>Maka, kedatangan pemuda yang memiliki ilmu tinggi ini tentu saja membuat ia<BR>maklum bahwa melawan terus takkan ada gunanya sehingga ia segera<BR>mengajak muridnya lari saja.<BR>Cia Li Cu baru dua kali selama hidupnya bertemu dengan adik dari suhengnya<BR>ini, yaitu adik dari Tang Beng Kui. Akan tetapi dalam dua kali pertemuan itu ia<BR>mendapat kesan hebat akan diri Beng San, maka ketika tadi ia mengenai<BR>suaranya, hatinya menjadi girang sekali. Anehnya, entah mengapa, ia merasa<BR>malu juga bertemu dengan Beng San. Hal ini mungkin sekali karena ayahnya<BR>pernah menyatakan bahwa Beng San adalah "lebih baik" daripada Beng Kui<BR>yang menjadi tunangannya, atau mungkin ia merasa malu karena Beng San<BR>adalah adik Beng Kui. Entahlah, sesungguhnya bagaimana ia sendiri tidak tahu<BR>sebabnya. Pokoknya ia merasa malu bertemu dengan Beng San. Maka melihat<BR>dua orang lawannya kabur, Li Cu segera mengejar. Bukan hanya karena tidak<BR>ingin bertemu lama-lama dengan Beng San, akan tetapi terutama sekali<BR>karena ia hendak menolong sucinya, Lee Giok yang sudah terculik oleh Giam<BR>Kin.<BR>Orang muda yang baru datang dan dalam segebrakan saja sudah dapat<BR>mengusir orang-orang yang memusuhi keluarga Thio Ki itu, memang benar<BR>adalah Beng San Si Raja Pedang. Seperti kita ketahui, orang muda ini dari<BR>Hoa-san-pai melakukan perjalanan secepatnya menuju ke Sin-yang untuk<BR>mencari Thio Ki dan memberitahukan tentang keadaan Hoa-san-pai yang<BR>dirusak oleh Kwa Hong. Hati orang muda ini masih perih dan bukan main<BR>sedihnya setelah pertemuannya yang mengharukan dengan Kwa Hong di Hoasan-<BR>pai itu. Pedih dan sakit rasa hatinya kalau ia teringat betapa perbuatannya<BR>dengan Kwa Hong dahulu itu telah mengakibatkan terjadinya hal-hal yang<BR>demikian hebatnya. Kwa Hong telah mengandung dan hati wanita itu rusak<BR>binasa, membuatnya seperti gila dan berubah menjadi manusia yang ganas<BR>karena kepatahan hatinya. Dan semua itu karena dia!<BR>Beng San melakukan perjalanan siang malam, maka ketika ia tiba di Sin-yang<BR>pada waktu malam, ia tidak berhenti dan langsung ia mencari rumah Thio Ki<BR>dan mengunjunginya. Memang segala hal yang terjadi di dunia ini sudah<BR>ditentukan dan diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan manusia hanya<BR>memandangnya sebagai hal yang "kebetulan" saja. Demikian pula dengan<BR>munculnya Beng San malam-malam di rumah Thio Ki. Sungguh kebetulan<BR>sekali. Begitu melihat keadaan yang tidak sewajarnya Beng San mencari tahu<BR>dan terlihatlah olehnya pertempuran yang terjadi di atas genteng. Sayang ia<BR>agak terlambat sehingga tidak terlihat olehnya ketika Lee Giok terculik oleh<BR>Giam Kin.<BR>Sekarang melihat bahwa Li Cu yang tadinya terdesak hebat oleh pengeroyokan<BR>guru dan murid itu dengan nekat mengejar, hatinya menjadi gelisah. la sudah<BR>mengenal baik kelihaian Hek-hwa Kui-bo dan muridnya yang curang dan amat<BR>licin itu, pcnuh tipu daya dan muslihat busuk. Maka ia berkuatir kalau-kalau<BR>Cia Li Cu yang biarpun amat lihai namun tentu kalah licin itu akan terjebak.<BR>Segera Beng San menggerakkan kaki hendak mengejar pula. Akan tetapi tibatiba<BR>ia mendengar suara mengeluh kesakitan tak jauh dari tempat ia berdiri.<BR>Ketika ia menghampiri, ia melihat Thio Ki rebah dalam keadaan terluka.<BR>Segera Beng San memondongnya dan membawanya turun ke bawah.<BR>Di ruangan dalam, di bawah penerangan lampu, Beng San memeriksa luka<BR>Thio Ki. Memang hebat, akan tetapi tidak amat berbahaya. Di Puncak Min-san,<BR>sedikit banyak Beng San mempelajari ilmu pengobatan dari mertuanya, yaitu<BR>Song-bun-kwi Kwee Lun, maka di dalam perjalanannya ia pun membawa obatobat<BR>manjur untuk mengobati luka-luka pukulan dan racun. Setelah ia<BR>menotok jalan darah, mengurut dan memberi obat, Thio Ki dapat bangun dan<BR>duduk kembali.<BR>"Saudara Beng San...." katanya mengeluh, "baiknya engkau datang.... tapi<BR>bagaimana dengan isteriku....? Bagaimana dengan Adik Cia Li Cu?"<BR>"Isterimu? Aku tidak melihatnya tadi.<BR>Ketika aku datang, Nona Cia sedang bertempur, dikeroyok dua oleh Hek-hwa<BR>Kui-bo dan muridnya."<BR>Thio Ki meloncat berdiri. "Celaka! Dan kau tidak melihat isteriku? Tidak pula<BR>melihat Giam Kin?"<BR>Beng San menggeleng kepala dan Thio Ki segera menjatuhkan diri di atas<BR>pembaringan. "Celaka..... celaka sekali... tentu Lee Giok telah diculik oleh<BR>penjahat iblis itu...."<BR>Beng San adalah seorang yang amat cerdik. Sekilas saja ia sudah dapat<BR>menduga apa yang telah terjadi. Tentu Giam Kin menawan Lee Giok. Pantas<BR>saja tadi Li Cu sama sekali tidak rnenghiraukannya dan terus mengejar.<BR>Kiranya gadis Thai-san itu hendak menolong sucinya. la mengambil keputusan<BR>cepat.<BR>"Dengar, Thio-twako. Kedatanganku ini pun membawa berita penting sekali.<BR>Sekarang kita harus bertindak tegas dan cepat. Ketahuilah, Hoa-san-pai telah<BR>dirusak oleh sumoimu, Kwa Hong. Gurumu terbunuh, Kwa Hong menduduki<BR>Hoa-san-pai. Sekarang sudah pergi dan Hoa-san-pai dalam keadaan kacau<BR>tidak ada yang mengurus. Sutemu Kui Lok dan adikmu Thio Bwee juga diusir<BR>oleh Kwa Hong. Maka, biarpun kau terluka, kau sekarang juga harus ke Hoasan-<BR>pai, kau urus Hoa-san-pai baik-baik sambil beristirahat dan<BR>menyembuhkan lukamu. Obat ini kau bawa, kau minum sehari sebungkus.<BR>Tentang isterimu dan Nona Li Cu, biarlah aku mewakilimu melakukan<BR>pengejaran. Sudah mengertikah kau?"<BR>Wajah Thio Ki sebentar pucat sebentar merah. Tak disangkanya bahwa akan<BR>terjadi hal yang demikian hebat, tidak saja yang menimpa keluarganya sendiri,<BR>malah Hoa-san-pai tertimpa malapetaka lebih parah lagi. Ia hanya bisa<BR>mengangguk-angguk, karena selain Beng San, siapakah yang akan dapat<BR>menolong isterinya?<BR>"Sudah, aku pergi!" kata Beng San dan sekali berkelebat orang muda itu sudah<BR>lenyap dari depan Thio Ki, membuat orang ini kagum bukan main. Thio Ki juga<BR>tidak mau berlama-lama di rumah, pada keesokan harinya pagi-pagi ia sudah<BR>pergi memaksa diri menuju ke Hoa-san-pai.<BR>Cia Li Cu yang melakukan pengejaran, tidak melihat lagi adanya Giam Kin dan<BR>tidak tahu ke mana sucinya dibawa lari oleh manusia iblis itu. Maka karena<BR>yang lari di depannya hanyalah Hek-hwa Kui-bo dan muridnya, mau tidak mau<BR>ia hanya bisa mengikuti dua orang itu. Dia tidak mau turun tangan terhadap<BR>Hek-hwa Kui-bo dan muridnya karena tujuan utamanya adalah untuk<BR>menolong sucinya, maka diam-diam ia hanya mengikuti dari jauh karena ia<BR>mengira bahwa dua orang itu tentu akan membawanya ke tempat Giam Kin<BR>yang menculik Lee Giok. Sungguh di luar dugaan Li Cu sama sekali bahwa<BR>tujuan perjalanan dua orang guru dan murid itu sama sekali berlawanan<BR>dengan jalan yang ditempuh oleh Giam Kin yang menculik Lee Giok! Hek-hwa<BR>Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li berlari menuju ke selatan, ke tempat tinggal<BR>Kim-thouw Thian-li, yaitu di Propinsi An-hui, di lembah Sungai Huai. Semenjak<BR>para pejuang berhasil merobohkan pemerintah Mongol, ibu kota lalu<BR>dlpindahkan ke Nan-king. Diam-diam Kim-thouw Thian-li juga lalu<BR>memindahkan pusat perkumpulannya, yaitu Ngo-lian-kauw, ke lembah Sungai<BR>Huai, tidak jauh dari kota raja baru ini, di sebelah baratnya. Perkumpulannya<BR>berpusat di sebelah utara kota Ho-pei. Guru dan murid ini memang tadinya<BR>hanya bermaksud membunuh Lee Giok dan Thio Ki, dibantu oleh Giam Kin.<BR>Sekarang mereka sudah berhasil melukai Thio Ki dan juga Lee Giok telah<BR>diculik oleh Giam Kin, bcrarti usaha mereka itu sudah berhasil baik sekali<BR>biarpun mendapat tantangan dari orang-orang pandai seperti Cia Li Cu dan<BR>Tan Beng San.<BR>Setelah mengikuti perjalanan Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li selama<BR>lima hari, mulailah hati Li Cu menjadi gelisah dan curiga. Apalagl ketika ia<BR>mendapat kenyataan bahwa guru dan murid itu sekarang tidak lari lagi dan<BR>agaknya melakukan perjalanan dengan tidak tergesa-gesa. Ia merasa amat<BR>kuatir tentang diri sucinya. Ia mengambil keputusan bahwa kalau hari itu dua<BR>orang yang diikutinya tidak membawanya kepada Giam Kin, ia akan<BR>menerjang dengan nekat dan memaksa mereka mengaku ke mana sucinya itu<BR>dibawa pergi.<BR>Akan tetapi, lewat tengah hari itu. Hek-hwa Kui-bo dan muridnya tiba di<BR>sebuah dusun kecil di pinggir Sungai Huang-ho (Sungai Kuning). Alangkah<BR>mendongkolnya hati Li Cu ketika ia mendengar dua orang itu hendak menyewa<BR>perahu untuk pergi ke pantai Kui-feng. Jelas bahwa dua orang ini hendak terus<BR>melakukan perjalanan ke selatan. Diam-diam ia menyelidiki dusun itu dan<BR>bertanya-tanya kepada para tukang perahu kalau-kalau dalam beberapa hari<BR>ini di situ lewat seorang laki-laki muda muka pucat membawa seorang wanita<BR>muda. Ia mendapat jawaban bahwa tidak ada orang-orang yang<BR>ditanyakannya itu. Maka mulailah Li Cu mengerti bahwa ia telah salah kira.<BR>Agaknya dua orang yang diikutinya ini sama sekali tidak menuju ke tempat<BR>Giam Kin!<BR>"Hek-hwa Kui-bo, tunggu dulu!" begitu bentaknya sambil berlari mendekati<BR>ketika ia melihat dua orang guru dan murid itu hendak naik ke dalam perahu.<BR>Nenek itu menoleh dan tersenyum mengejek, "Bocah bandel! Kau mengikuti<BR>kami selama lima hari terus-menerus, mau apa sih?"<BR>Bukan main mendongkol dan kagetnya hati Li Cu. Nenek ini benar-benar lihai<BR>dan bermata tajam. Akan tetapi Kim-thouw Thian-li yang menoleh dengan<BR>terheran-heran agaknya tidak tahu akan perbuatannya mengikuti mereka<BR>siang malam itu.<BR>"Hek-hwa Kui-bo, sahabatmu Giam Kin si iblis busuk itu telah menculik Enci<BR>Lee Giok. Aku mengikutimu untuk menanyakan di mana suciku itu dibawa<BR>pergi."<BR>Hek-hwa Kui-bo tersenyum mengejek, "Kalau kau ada kemampuan, carilah<BR>sendiri, peduli apa aku dengan nasib sucimu?"<BR>"Kalau begitu, sebelum kubunuh iblis she Giam itu, lebih dulu kau dan<BR>muridmu akan kubasmi!" bentak lagi Li Cu sambil mencabut pedangnya. Pada<BR>saat itu, mendadak terdengar suara bersuit keras sekali datangnya dari tengah<BR>sungai yang lebar itu. Para tukang perahu dan nelayan yang berada di darat<BR>segera rnenjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah sungai. Keadaan sunyi<BR>senyap, sampai-sampai tiga orang yang tadinya akan bertempur itu ikut pula<BR>menengok ke arah suara tadi. Li Cu juga menunda penyerangannya dan<BR>memandang ke tengah sungai.<BR>Sebuah perahu besar sekali dan mewah berada ditengah sungai dan dari<BR>kejauhan tampak beberapa orang di atas perahu itu memandang ke darat.<BR>Kemudian terdengar suara yang nyaring bergema, suara yang penuh dengan<BR>tenaga khi-kang, sehingga bisa sampai di darat dengan jelas.<BR>"Ho-hai Sam-ong (Tiga Raja Sungai dan Laut) mengundang Hek-hwa Kui-bo<BR>dan Kim-thouw Thian-li untuk berkunjung ke tempat kediamannya!" Suara ini<BR>bergema di permukaan air sungai.<BR>Li Cu tidak pernah mendengar nama Tiga Raja Sungai dan Laut ini, rmaka ia<BR>tidak ambil peduli. Akan tetapi tidak demikian dengan Hek-hwa Kui-bo dari<BR>Kim-thouw Thian-li. Hek-Hwa Kui-bo adalah seorang tokoh besar di selatan,<BR>maka sudah tentu saja ia mengenal nama besar Ho-hai Sam-ong. Kalau dia<BR>boleh dibilang merupakan tokoh nomor satu di dunia persilatan bagian daratan<BR>sebelah selatan, kiranya nama Ho-hai Sam-ong adalah nama tokoh nomor satu<BR>pula di bagian sungai dan laut! Demikian pula Kim-thouw Thian-li sudah<BR>mengenal nama besar ini yang sudah amat terkenal dan amat berpengaruh,<BR>karena Ho-hai Sam-ong dianggap sebagai pemimpin dari sekalian bajak sungai<BR>dan bajak laut di daerah selatan ini.<BR>Sebuah perahu kecil meluncur cepat sekali ke pinggir sungai dan di ujungnya<BR>berkibar sebuah bendera dengan gambar tiga macam binatang air yang<BR>menyerupai buaya, naga dan ikan cucut. Pendayungnya hanya dua orang akan<BR>tetapi melihat betapa perahu itu cepat bukan main meluncurnya, dapat<BR>diketahui bahwa dua orang itu adalah orang-orang ahli.<BR>"Tamu-tamu yang diundang silakan turun ke perahu!" seorang di antara dua<BR>pendayung itu berkata. Mereka adalah dua orang laki-laki yang usianya<BR>mendekati empat puluh tahun, bertubuh tegap dan bermuka keras.<BR>Hek-hwa Kui-bo berpaling kepada muridnya, dan berkata sambil tersenyum,<BR>"Sam-ong sudah begitu baik hati mengundang kita, tak baik kalau kita<BR>menolaknya." Setelah berkata demikian ia meloncat dengan gerakan ringan<BR>sekali ke atas perahu kecil itu, diikuti oleh Kim-thouw Thian-li. Perahu itu sama<BR>sekali tidak bcrgoyang ketika kedua kaki Hek-hwa Kui-bo tiba di situ, dan<BR>hanya bergoyang sedikit ketika Kim-thouw Thian-li menyusul gurunya.<BR>"Hek-hwa Kui-bo, jangan harap bisa pergi sebelum memberi tahu di mana<BR>adanya Giam Kin!" Li Cu membentak marah dan ikut pula melompat dengan<BR>gerakan indah dan cepat.<BR>bagian 19<BR>"Kau sudah bosan hidup!" Hek-hwa Kui-bo menyambut dengan serangan<BR>pedangnya ketika tubuh Li Cu masih berada di udara. Akan tetapi Li Cu<BR>memang sudah siap sedia, pedang Liong-cu-kiam sudah di tangannya dan<BR>pedang ini ia putar sedemikian rupa mendahului tubuhnya sehingga serangan<BR>Hek-hwa Kui-bo tertangkis dengan suara nyaring dan... ujung pedang Hekhwa<BR>Kui-bo telah patah! Sementara itu, Li Cu sudah mendarat di atas perahu,<BR>siap menghadapi pengeroyokan Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li.<BR>Pada saat itu, kembali terdengar suitan keras dari perahu besar di tengah<BR>sungai. Dua orang pendayung perahu kecil yang sudah menggerakkan perahu<BR>itu meluncur ke tengah, segera berhenti mendayung dan berkata,<BR>"Nona muda ini pun menjadi tamu undangan yang terhormat. Sam-wi (kalian<BR>bertiga) tidak boleh bertempur!"<BR>Akan tetapi, mana Li Cu sudi mendengarkan omongan ini? Sekarang bukan<BR>guru dan murid itu yang menyerangnya, sebaliknya dia yang cepat<BR>menggerakan pedang menyerang. Gadis ini sudah nekad sekali dalam<BR>usahanya untuk memaksa mereka memberi tahu di mana adanya Giam Kin<BR>yang menculik Lee Giok, Padahal perahu itu amat kecil dan kiranya akan<BR>terguling kalau dipakai untuk bertempur.<BR>Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li yang berdiri berdampingan, terpaksa<BR>menyambut serangan ini dan dua orang tukang perahu itu menjadi bingung<BR>dan marah.<BR>"Sam-wi tidak boleh bertempur!" berkali-kali mereka berseru dan perahu itu<BR>mulai terombang-ambing. Namun yang bertempur tetap nekat. ..<BR>"Kalau tidak mau berhenti, kami akan gulingkan perahu!" kata dua orang<BR>pendayung. Sementara itu, para nelayan dan tukang perahu yang berada di<BR>pinggir sungai menonton kejadian yang menarik ini tanpa berani<BR>mengeluarkan suara.<BR>Akan tetapi Li Cu tetap tidak mau berhenti menyerang. Dua orang tukang<BR>pendayung itu lalu meloncat ke dalam air dan sekali mereka bergerak, perahu<BR>kecil itu sudah terguling! Hebat sekali kegesitan tiga orang wanita ini dan ginkang<BR>(ilmu meringankan tubuh) mereka memang sudah mencapai tingkat<BR>tinggi sekali. Sambil berseru keras ketiganya meloncat ke atas. Perahu<BR>membalik dan tiga orang itu sudah turun kembali, kini berdiri di atas perahu<BR>yang terbalik! Dari pinggir sungai terdengar seruan-seruan memuji. Memang<BR>indah dan hebat gerakan mereka, seperti tiga ekor burung saja. Akan tetapi<BR>sekarang tiga orang wanita ini tidak berani sembarangan bergerak menyerang<BR>lagi karena perahu yang terbalik itu sudah bergoyang-goyang hebat, dan pasti<BR>mereka akan celaka kalau terjatuh ke dalam air. Li Cu berdiri di satu ujung<BR>dengan pedang siap di tangan, sedangkan di ujung yang lain berdiri guru dan<BR>murid itu, juga siap dengan senjata di tangan. Adapun dua orang tukang<BR>perahu itu sambil menyelam lalu berenang dan menarik perahu kecil itu<BR>menuju ke perahu besar. Benar-benar keadaan yang amat lucu dan aneh<BR>kedatangan tiga orang tamu yang diundang ini!<BR>Li Cu maklum bahwa keadaannya berbahaya sekali. Ia tidak mengenal siapa<BR>itu Ho-hai Sam-ong dan karena tiga raja itu mengenal Hek-hwa Kui-bo, sudah<BR>tentu sekali orang-orang jahat dan ia tentu akan menghadapi pengeroyokan<BR>hebat. Oleh karena inilah maka ia berlaku nekat. Begitu perahu kecil sudah<BR>mendekat dengan perahu besar, Li Cu mengenjot tubuhnya dan bagaikan<BR>seekor burung kepinis tubuhnya melayang ke atas perahu besar dan di<BR>depannya bergulung-gulung sinar pedang yang ia putar-putar untuk menjaga<BR>diri.<BR>Tiga orang laki-laki yang berpakaian gagah sudah berada di depannya sambil<BR>tertawa dan mengangkat tangan memberi hormat. Seorang di antara mereka<BR>yang paling tua tersenyum lalu berkata,<BR>"Nona muda berkepandaian hebat sekali. Kami kagum sekali.....kagum sekali.<BR>Atas desakan Kiang-te (Adik Kiang) yang benar-benar kagum terhadap Nona,<BR>kami sengaja mengundang Nona dengan baik-baik. Harap Nona sudi<BR>menyimpan kembali pedang pusaka itu."<BR>Li Cu hanya berdiri tegak, tidak mau menyimpan pedangnya, tetap dalam<BR>keadaan siap siaga. Sementara itu, tiga orang itu pun berpaling kepada Hekhwa<BR>Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li yang sudah meloncat pula ke atas perahu<BR>lalu memberi hormat dan berkata,<BR>"Sudah lama mendengar nama besar Hek-hwa kui-bo dan Kim-thouw Thian li,<BR>maka hari ini kami sengaja mengundang Ji-wi. Nona ini juga menjadi tamu<BR>kami, maka harap Ji-wi tidak memusuhinya selama dia menjadi tamu<BR>undangan kami."<BR>Hek-hwa Kui-bo membalas penghormatan mereka sambil berkata, "Sudah<BR>lama mendengar nama besar Sam-ong. Hari ini menerima kehormatan dan<BR>undangan, hal ini berarti tidak melupakan hubungan dunia kang-ouw di daerah<BR>selatan. Tentu saja aku dan muridku tidak akan mengacaukan tempat Samong,<BR>kecuali kalau Nona muda galak ini menyerang kami, terpaksa kami<BR>mempertahankan diri."<BR>"Hek-hwa Kui-bo, apakah kau begini pengecut?" Li Cu membentak marah.<BR>"Mengapa kau berlindung di tempat orang? Kalau kau gagah, mari kita<BR>mendarat dan kita melanjutkan pertempuran."<BR>Orang tertua dari ketiga Sam-ong itu segera menghadapi Li Cu dan berkata,<BR>suaranya tetap halus, "Nona, harap kau suka memandang muka kami dan<BR>tidak memusuhi dua orang tamu kami ini. Kelak kalau kau sudah tidak<BR>bersama kami terserah."<BR>"Aku tidak mengenal kalian, akan tetapi aku pun tahu akan peraturan kangouw<BR>dan tidak akan mengacaukan tempat kalian ini. Biarlah aku mendarat saja<BR>dan menanti sampai dua orang pengecut ini berani mendarat pula."<BR>"Ha-ha-ha, Nona muda besar sekali nyalimu. Hek-hwa Kui-bo sebagai tokoh<BR>terkenal di dunia selatan, masih sungkan menolak undangan kami. Sekarang<BR>kami mengundang kau dengan maksud baik, "bagaimana kau bisa<BR>menolaknya?"<BR>Pedang di tangan Li Cu menggetar. Memang dia adalah seorang gadis muda<BR>yang amat berani, apalagi ilmu silatnya memang tinggi sekali dan waktu itu ia<BR>memang sedang berada dalam keadaan marah. Sama sekali ia tidak gentar<BR>biarpun ia berada di tempat orang lain.<BR>"Mana ada aturan mengundang orang dengan cara memaksa? Aku merdeka,<BR>untuk menerima atau menolak tiap undangan dan kali ini aku tidak ingin<BR>menerima undangan siapapun juga. Lekas sediakan perahu agar aku dapat<BR>mendarat kembali!"<BR>Kini orang ke tiga dari tiga orang itu melangkah rnaju. Suaranya tinggi kecil<BR>dan matanya yang sipit itu bercahaya tajam. Hebat adalah warna rnatanya<BR>yang sipit itu, karena warnanya merah seperti orang yang sakit mata.<BR>"Nona, apakah kau belum pernah mendengar nama Ho-hai Sam-ong maka kau<BR>berani menolak undangan kami?"<BR>Li Cu balas memandang, tidak berani lama-lama menentang mata yang merah<BR>itu karena sebentar saja ia merasa matanya sakit. Tapi ia masih tabah dan<BR>tersenyum mengejek. "Belum pernah mendengar sama sekali, akan tetapi<BR>andaikata pernah mendengar juga, jangankan baru Ho-hai Sam-ong (Tiga Raja<BR>Sungai dan Lautan), biarpun Thian-te Sam-ong (Tiga Raja Bumi Langit) yang<BR>mengundang, sekali aku bilang tidak mau tetap tidak mau!"<BR>Orang ke dua melangkah maju dan tertawa bergelak. Seperti dua orang yang<BR>lain, orang ke dua ini pun usianya sudah lima puluh tahun, akan tetapi ia<BR>adalah seorang laki-laki yang tampan dan gagah. "Ha-ha-ha-ha, masih begini<BR>muda hebat kepandaiannya, dan ketabahannya luar biasa. Eh, Nona manis,<BR>kau ini puteri siapakah dan siapa pula namamu?"<BR>Kini Li Cu mendapat kesempatan untuk membanggakan keadaannya. Dengan<BR>senyum mengejek dan suara nyaring ia berkata, "Aku dari Thai-san. Ayahku<BR>adalah Bu-tek Kiam-ong (Raja Pedang Tanpa Tanding) Cia Hui Gan, namaku<BR>sendiri Cia Li Cu. Hayo lekas antar aku mendarat."<BR>Tiga orang itu saling pandang lalu tertawa bergelak-gelak. Li Cu menjadi heran<BR>dan ia mulai memperhatikan mereka. Orang pertama bertubuh tinggi besar<BR>dan mukanya buruk sekali, kehitaman dan bopeng. Orang ke dua adalah yang<BR>tampan dan gagah itu, sedangkan orang ke tiga amat mengerikan dengan<BR>matanya yang merah. Belum pernah ia. mendengar nama Ho-hai Sam-ong dan<BR>diam-diam ia menduga-duga sampai di mana kelihaian mereka sehingga Hekhwa<BR>kui-bo yang terkenal sebagai iblis itu kelihatan sungkan bermusuhan.<BR>"Ha-ha-ha, bagus sekali! Mata Kiang-te memang tajam, sudah dapat menduga<BR>ilmu pedang baik dan pedang pusaka. Nona, bukankah pedangmu itu yang<BR>disebut Liong-cu-kiam? Ke mana yang sebuah lagi? Ha-ha-ha, Nona, kau<BR>berhadapan dengan Ho-hai Sam-ong. Aku sendiri dijuluki orang Lui Cai Si Bajul<BR>Besi, dia ini adalah adikku Kiang Hun Si Naga Sungai dan Thio Ek Sui Si Cucut<BR>Mata Merah! Ayahmu Cia Hui Gan sudah pasti pernah mendengar nama kami.<BR>Nona, setelah ternyata kau puteri Cia Hui Gan, lebih-lebih lagi kami<BR>mengundang kau untuk berkunjung ke tempat kami. Ada sesuatu yang amat<BR>penting harus kami bicarakan dengan kau. Bukankah kau ini adik seperguruan<BR>dari Tan Beng Kui dan sudah menjadi tunangannya pula? Ha-ha, kebetulan<BR>sekali, kebetulan sekali! Kesempatan begini bagus mana kami mau lewatkan<BR>begitu saja?"<BR>Li Cu terkejut juga. Agaknya ada sesuatu di antara mereka ini dengan Beng<BR>Kui. Akan tetapi ia tidak peduli lagi. Jawabnya marah, "Tidak peduli kalian<BR>siapa dan ada urusan apa dengan suhengku, aku tetap tidak mau menjadi<BR>tamu kalian dan minta turun mendarat."<BR>"Kalau kami melarang?" tanya Si Naga Sungai Kiang Hon yang tampan itu.<BR>"Kalian sudah tahu akan nama pedangku, kalau kalian melarang, berarti kalian<BR>akan berkenalan dengan tajamnya Liong-cu-kiam!"<BR>Tiga orang tua itu tertawa bergelak. "Ha-ha-ha," kata Thio Ek Si Cucut Mata<BR>Merah, "Kau belum mengenal kelihaian Ho-hai Sam-ong! Di darat kau boleh<BR>mengaku puteri Si Raja Pedang, akan tetapi disungai jangan harap kau akan<BR>dapat menjagoi."<BR>"Tidak peduli, aku tidak takut!" jawab Li Cu marah.<BR>Si Cucut Mata Merah itu lalu tertawa-tawa dan mengeluarkan senjatanya yang<BR>aneh, yaitu sebuah ruyung meruncing yang bentuknya seperti kikir, berduriduri<BR>banyak sekali. Senjata ini mirip dengan senjata ikan cucut, tapi lebih<BR>hebat lagi.<BR>"Kita boleh main-main sebentar dengan Nona ini!" kata pula Kiang Hun Si<BR>Naga Sungai sambil mengeluarkan senjatanya yang juga aneh, yaitu semacam<BR>tambang lemas dan kuat, tambang yang biasanya untuk mengikat perahu di<BR>waktu berlabuh.<BR>"Bagus, memang aku pun ingin merasai kelihaian Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut<BR>yang sudah menggegerkan dunia persilatan," kata Lui Cai Si Bajul Besi sambil<BR>menerima senjatanya dari anak buahnya yang sudah siap, yaitu sebatang<BR>dayung baja yang panjang dan berat.<BR>Melihat betapa tiga Sam-ong ini sudah siap dengan senjata mereka yang<BR>hebat, Li Cu cepat bergerak. Nona ini maklum bahwa ia tidak mempunyai<BR>harapan untuk membujuk dengan omongan halus, terpaksa harus mengadu<BR>kepandaian untuk memaksa mereka. Nyalinya memang besar sekali, biarpun<BR>ia sudah dapat menduga bahwa mereka ini terdiri dari orang-orang yang<BR>memiliki kepandaian tinggi, namun ia tidak takut.<BR>"Lihat pedang!" teriaknya dah tubuhnya berkelebat, lenyap terbungkus<BR>gulungan sinar pedangnya yang luar biasa itu.<BR>"Kiam-hoat (ilmu pedang) bagus!" tiga orang kakek itu berseru sambil<BR>menggerak-gerakkan senjata masing-masing menangkis. Terdengar bunyi<BR>trang-trang dua kali ketika pedang Liong-cu-kiam di tangan Li Cu bertemu<BR>dengan ruyung dan dayung. Ujung ruyung dan dayung itu terbabat sedikit,<BR>tapi tangan Li Cu juga tergetar oleh pertemuan senjata itu dan ketika tambang<BR>di tangan Kiang Hun membelit pedangnya, hampir saja pedang itu dapat<BR>dirampas kalau Li Cu tidak cepat-cepat menarik kembali pedangnya dan<BR>melompat mundur dengan cepat.<BR>"Pedang bagus!" Lui Cai dan Thio Ek Sui yang terusak ujung senjatanya<BR>berseru sambil memeriksa senjata mereka. Juga Li Cu diam-diam kaget bukan<BR>main karena dalam gebrakan pertama tadi hampir saja pedangnya terlepas<BR>oleh Kiang Hui Si Naga Sungai yang bersenjata tambang itu. Di samping ini ia<BR>cukup maklum bahwa para lawannya memiliki tenaga yang bukan main<BR>besarnya sehingga selanjutnya ia harus berlaku hati-hati sekali. Di lain pihak<BR>tiga orang Sam-ong itu kini tidak berani memandang rendah kepada nona<BR>muda itu dengan pedangnya yang ampuh. Sejenak saling pandang mereka<BR>sudah mengambil keputusan untuk mengerahkan kepandaian agar jangan<BR>sarmpai kalah oleh seorang gadis muda.<BR>Kiang Hun Si Naga Sungai memutar-mutar tambangnya, makin lama ia ulur<BR>makin panjang. Tambang itu mendesing di udara, mengeluarkan bunyi<BR>mengerikan dibarengi angin sambarannya yang dahsyat. Lui Cai juga<BR>menggerakkan dayung bajanya yang panjang dan berat berubah menjadi<BR>lingkaran sinar kehitaman yang bersiutan. Adapun Thio Ek Sui memainkan<BR>ruyungnya, merubah ruyung yang hanya sebuah itu menjadi belasan buah<BR>nampaknya dan setiap bayangan ruyung mempunyai gerakan sendiri seakanakan<BR>ada belasan orang yang main ruyung. Hebat sekali tiga orang ini<BR>sehingga diam-diam Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li menjadi kagum<BR>dan diam-diam bersyukur bahwa mereka tadi tidak memusuhi tiga orang raja<BR>bajak itu.<BR>Li Cu sendiri ketika menyaksikan ini maklum bahwa seorang diri saja ia tidak<BR>akan menang menghadapi tiga lawan berat ini. Apalagi di situ masih ada Hekhwa<BR>Kui-bo dan muridnya yang kalau setiap waktu maju pula, tentu dia akan<BR>celaka. Maka ia segera mengeluarkan suara ejekan, Ho-hai Sarri-ong? Tiga<BR>orang tua yang menyebut diri raja-raja menghadapi seorang gadis muda<BR>dengan mengeroyok?"<BR>"Ha-ha-ha, Nona, apakah kau takut?" kata Lui Cai.<BR>Pertanyaan macam inilah yang menjadi pantangan bagi Li Cu. Semenjak kecil<BR>ia dididik berjiwa satria yang tidak pernah mengenal artinya takut, apalagi<BR>kalau hal itu dikemukakan oleh orang lain. Ia mengertak gigi dan membentak,<BR>"Siapa takut? Biarlah hari ini aku Cia Li Cu mengadu nyawa dengan kalian tiga<BR>orang tua bangka tak tahu malu!" Setelah berkata demikian, cepat ia mainkan<BR>jurus-jurus Sian-li Kiam-sut yang amat indah dan hebat dan sengaja ia<BR>mainkan jurus pertahanan saja untuk menyelamatkan dirinya.<BR>"Ha-ha-ha, Nona Cia yang gagah, kami sama.sekali tidak menghendaki<BR>nyawamu, hanya terpaksa menahanmu disini," demikianlah kata Lui Cai. "Jiwi-<BR>sute, mari kita tangkap dia tanpa melukainya, kalau kita tidak bisa<BR>melakukan itu percuma kita menjadi Ho-hai Sam-ong!"<BR>Hal ini memang jauh lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan.<BR>Mengalahkan Li Cu tanpa melukainya merupakan hal yang bukan main<BR>sukarnya, seperti orang hendak menangkap burung walet tanpa memanahnya<BR>roboh. Gerakan Li Cu selain gesit dan ringan juga ilmu pedangnya amat sukar<BR>diikuti, gerakannya aneh dan sinar pedangnya bergulung-gulung melindungi<BR>seluruh tubuhnya sehingga andaikata turun hujan, takkan ada setetes pun air<BR>hujan dapat membasahi tubuhnya!<BR>Namun harus diakui bahwa Li Cu terdesak hebat. Gadis ini merasa seakanakan<BR>menghadapi benteng baja yang amat kokoh kuat dan dari benteng baja<BR>itu bertubi-tubi datang penyerangan yang amat berbahaya. Dia sama sekali<BR>tidak diberi kesempatan menyerang dan dipaksa untuk terus-menerus<BR>mempertahankan dirinya. Delapan puluh jurus lebih telah lewat dan perlahanlahan<BR>Li Cu merasa kepalanya pening. Dia harus memperhatikan gerakan tiga<BR>macam senjata lawan dan hal ini membuat ia pening dan ber<BR>"Huh, hanya begini sajakah kegagahan kunang matanya.<BR>"Lepas senjata!" Lui Cai dan Thio Ek Sui membentak keras dan berbareng<BR>senjata mereka, dayung baja dan ruyung yang berat itu menyambar dari<BR>kanan kiri untuk memukul runtuh pedang Li Cu yang agak terlambat<BR>gerakannya karena matanya berkunang-kunang.<BR>"Tranggg... tranggg....!" Ruyung dan dayung patah menjadi dua terkena<BR>Liong-cu-kiam, akan tetapi pedang itu sendiri terlepas dari pegangan Li Cu<BR>karena telapak tangannya pecah oleh benturan senjata tadi dan kini, Liong-cukiam<BR>meluncur dan menancap ke atas dek perahu. Pada saat itu juga,<BR>tambang yang digerakkan oleh Kiang Hun secara hebat itu telah datang<BR>membelit-belit tubuh Li Cu sehingga gadis itu tak dapat berkutik lagi. Namun,<BR>gadis itu biarpun seluruh tubuhnya terlibat tambang yang amat kuat, ia masih<BR>terus berdiri tegak dengan kepala dikedikkan dan sepasang mata bintangnya<BR>memancarkan cahaya berapi-api.<BR>"Kalian tua bangka-tua bangka dengan pengeroyokan telah dapat<BR>mengalahkan aku. Sekarang aku telah tertangkap, mau bunuh boleh lekas<BR>bunuh!" bentaknya gagah.<BR>"Ha-ha, kau benar-benar gagah perkasa Nona. Tapi kami tidak bermaksud<BR>membunuhmu, hanya ingin menahanmu untuk memaksa tunanganmu<BR>berunding dengan kami!" kata Lui Cai Si Bajul Besar.<BR>"Sam-ong harap jangan gegabah. Lebih baik bocah liar ini dibunuh dan<BR>mayatnya dilempar ke sungai. Kalau ditahan dan sampai tersusul oleh bocah<BR>siluman Tan Beng San, bisa-bisa kalian mengalami hari naas!" kata Hek-hwa<BR>Kui-bo.<BR>Tiga orang itu mengerutkan keningnya ketika menoleh ke arah pembicara ini.<BR>"Kui-bo, siapa itu Tan Beng San yang kaupakai menakut-nakuti kami?"<BR>Hek-hwa Kui-bo tersenyum mengejek. "Hemm, kalian boleh tidak takut<BR>terhadap bocah liar ini atau terhadap ayahnya sekalipun. Akan tetapi jangan<BR>main-main kalau menghadapi Tan Beng San adik Tan Beng Kui itu, dialah<BR>sesungguhnya Raja Pedang di dunia ini yang memiliki Ilmu Pedang Im-yang<BR>Sin-kiam-sut."<BR>Tiga orang itu saling pandang, kemudian tertawa bersama. "Adik Tan Beng<BR>Kui? Masih adakah orang muda begitu hebat? Boleh.... boleh, kebetulan sekali,<BR>biarkan dia datang pula agar lebih enak kita bicara dengan Tan Beng Kui kelak.<BR>Ha-ha-ha!" Setelah berkata demikian. Lui Cai memberi perintah kepada<BR>sutenya, yaitu Kiang Hun untuk melepaskan ikatan tambang pada tubuh Li Cu.<BR>Dia sendiri mengambil pedang Liong-cu-kiam dan disimpannya.Tiga orang<BR>yang berani melepaskan kembali Li Cu begitu saja terang memandang rendah<BR>kepada gadis ini setelah terampas pedangnya. Li Cu sendiri juga tidak gegabah<BR>untuk mengamuk lagi setelah Liong-cu-kiam terampas. Ia cukup cerdik untuk<BR>tidak berlaku sembrono.<BR>bagian 20<BR>"Asal kau tidak memberontak, kami tidak merasa perlu untuk mengikat atau<BR>menotok jalan darahmu," kata Lui Cai. "Juga kami harap selama kau menjadi<BR>tamu, kau tidak akan membikin ribut dan bertengkar dengan Hek-hwa Kui-bo<BR>dan muridnya."<BR>Li Cu menjatuhkan diri duduk di atas bangku. Ia merasa tidak berdaya dan<BR>jengkel sekali. Baru kali ini ia dibikin tidak berdaya oleh orang lain tanpa<BR>mampu melampiaskan kemendongkolan hatinya.<BR>"Ho-hai Sam-ong, jangan berlaku rahasia. Kalian menahanku sebetulnya<BR>dengan maksud apakah?" tanyanya berani.<BR>"Sama sekali bukan dengan maksud buruk," kata Lui Cai sambil menggelenggeleng<BR>kepala. "Nanti kita bicarakan sambil kita makan."<BR>Ia lalu memberi perintah kepada para anak buah bajak yang berada di perahu<BR>itu untuk menyiapkan hidangan. Meja besar diatur penuh hidangan untuk<BR>enam orang, yaitu pihak tuan rumah tiga orang dan para tamu tiga orang pula.<BR>Baik Hek-hwa Kui-bo dan muridnya maupun Li cu diperlakukan dengan sikap<BR>hormat dan baik sehingga bagi mereka ini tidak ada kesempatan untuk merasa<BR>kurang senang. Sementara itu, tanpa terasa karena besarnya, perahu itu sejak<BR>tadi meluncur mengikuti aliran air, ditambah kecepatannya dengan layar yang<BR>berkembang.<BR>Tanpa sungkan-sungkan Li Cu makan dan minum hidangan yang serba lezat<BR>itu sambil mendengarkan penuturan Lui Cai Si Bajul Besi yang menjadi orang<BR>tertua di antara Ho-hai Sam-ong.<BR>"Kalau dibicarakan membikin orang menjadi tak enak makan tak nyenyak tidur<BR>saking penasaran," demikian Si Baju Besi mulai penuturannya. Selanjutnya ia<BR>bercerita demikian. Ketika rakyat memberontak terhadap Pemerintah Mongol<BR>tidak hanya para orang gagah di dunia kang-ouw yang ikut berjuang di<BR>samping rakyat kecil. Akan tetapi juga banyak di antara mereka yang<BR>tergolong tokoh-tokoh dunia hitam (penjahat) juga bangkit semangat<BR>patriotnya dan ikut pula berjuang mati-matian. Di antara mereka ini yang<BR>paling hebat dan gigih perjuangannya adalah Ho-hai Sam-ong inilah.<BR>Merekalah yang banyak berjasa dalam penyeberangan para pejuang, dengan<BR>pengiriman ransum bagi para pejuang dan banyak pula pihak musuh mereka<BR>hancurkan di sepanjang lembah Sungai Huang-ho. Malah dalam perjuangannya<BR>ini, tidak hanya Ho-hai Sam-ong kehilangan banyak anak buah yang gugur,<BR>bahkan Lui Cai dan Thio Ek Sui kehillangan putera mereka yang ikut gugur<BR>dalam perjuangan itu.<BR>Akan tetapi, setelah perjuangan berhasil, mereka menjadi kecewa. Memang,<BR>tak dapat disangkal lagi bahwa manusia-manusia yang bukan patriot sejati,<BR>ikut berjuang karena mempunyai pamrih (ambisi) mempunyai pengharapan<BR>agar kalau perjuangan itu berhasil, dia tidak dilupakan dan diberi jasa<BR>sebanyaknya. Demikian pula dengan Ho-hai Sam-ong. Mereka seakan-akan<BR>dilupakan, malah ketika mereka menonjolkan jasa, para pembesar baru di kota<BR>raja tidak mau menerima, malah mencurigai mereka yang berasal dari<BR>golongan bajak.<BR>"Ciu Goan Ciang seorang serakah tak kenal kawan seperjuangan!" demikianlah<BR>Lui Cai menutup ceritanya. "Setelah perjuangan berhasil dan dia menduduki<BR>singgasana menjadi kaisar, ia lupa bahwa tanpa bantuan orang-orang lain tak<BR>mungkin ia dapat mengalahkan orang-orang Mongol. Dia tidak menghargai<BR>jasa orang lain, malah berusaha melenyapkan semua tokoh pejuang yang ia<BR>anggap saingannya dalam memperebutkan kedudukan tinggi. Siapakah tidak<BR>penasaran?"<BR>Li Cu yang mendengarkan cerita ini sebenarnya tidak merasa aneh karena dia<BR>sendiri sering kali berada di kota raja dan cerita tentang perebutan pahala<BR>antara para tokoh pejuang ini sudah dia ketahui. Memang banyak bekas<BR>pejuang tidak puas dengan sikap Goan Ciang dan banyak yang iri hati<BR>sehingga setelah mereka semua berhasil menumbangkan kekuasaan Mongol<BR>dari tanah air, sekarang di antara mereka sendiri timbul perebutan dan<BR>permusuhan.<BR>"Kalau kalian merasa penasaran kepada kaisar baru, mengapa menahan aku?<BR>Apa hubunganku dengan segala macam perebutan kekuasaan dan saling<BR>menonjolkan pahala itu?" tanya Li Cu heran, juga penasaran.<BR>Lui Cai menarik napas panjang. "Sudah kukatakan tadi bahwa yang merasa<BR>tidak puas terhadap Ciu Goan Ciang adalah banyak sekali. Sayangnya,<BR>perasaan mereka ini membangkitkan pemberontakan menyendiri sehingga<BR>terjadi permusuhan dan perpecahan. Di antara saingan kami itu adalah<BR>Pangeran Lu Siauw Ong yang kelihatannya paling besar keinginan hatinya<BR>untuk merampas singgasana dari tangan kaisar baru. Bagi kami, sama sekali<BR>tidak mempunyai keinginan menjadi kaisar, kami hanya ingin menghukum Ciu<BR>Goan Ciang yang tidak menghargai jasa orang. Nah, kau tahu sekarang.<BR>Suhengmu itu adalah orang kepercayaan Lu Siauw Ong, malah kini menjadi<BR>tangan kanannya. Sudah beberapa kali kami hendak mengajak Lu Siauw Ong<BR>bekerja sama untuk menggulingkan Ciu Goan Ciang akan tetapi mereka itu,<BR>terutama suhengmu, memandang rendah kepada kami. Sekarang, kebetulan<BR>kau menjadi tamu kami, hendak kami lihat apakah Tan Beng Kui masih hendak<BR>berkeras kepala dan terlaiu angkuh!"<BR>Mendengar ini, hati Li Cu serasa tertusuk karena ia segera terkenang akan<BR>nasibnya. Agaknya tiga orang kepala bajak ini juga masih belum tahu betul<BR>apa yang baru-baru ini terjadi. Ia masih dianggap tunangan Beng Kui sehingga<BR>kini ia dijadikan tawanan untuk memancing datangnya Beng Kui agar suka<BR>diajak bersekutu oleh Sam-ong ini. Teringatlah ia betapa Beng Kui telah<BR>mengkhianatinya dalam ikatan jodoh mereka. Tan Beng Kui tidak saja menjadi<BR>pembantu dan tangan kanan Lu Siauw Ong, malah sekarang telah menjadi<BR>mantunya! Ya, Tan Beng Kui suhengnya dan tunangannya itu setelah selesai<BR>perjuangan juga terserang demam ambisi, setelah dekat dengan Pangeran Lu<BR>Siauw Ong dan diberi janji-janji kedudukan tinggi, menjadi mabok. Malah<BR>akhirnya, demi untuk mencapai cita-cita ambisinya, Beng Kui<BR>meninggalkannya, memutuskan ikatan jodoh dengannya dan suka dikawinkan<BR>dengan Lu-siocia, puteri Lu Siauw Ong! Inilah yang membuat hati Li Cu hancur<BR>dan gadis ini lalu minggat dari kota raja, tidak mau pulang ke Thai-san dan<BR>merantau dengan hati hancur sehingga ia tiba di tempat tinggal sucinya, Lee<BR>Giok. Tadinya ia hendak mengeluh dan mengadukan nasibnya yang buruk<BR>kepada Lee Giok itu, siapa kira Lee Giok sendiri sedang ditimpa malapetaka<BR>sekeluarga sehingga dia yang ingin menolong sekarang akibatnya malah<BR>tertawan oleh Ho-hai Sam-ong dan dipergunakan untuk memancing datangnya<BR>Tan Beng Kui! Ah, kalau nasib sedang mempermainkan orang.<BR>Ia pun tidak mau banyak cakap lagi, malah diam-diam ia hendak melihat apa<BR>yang akan menjadi reaksi dari pihak Tan Beng Kui kalau mendengar bahwa dia<BR>menjadi tawanan Ho-hai Sam-ong. Sementara itu ia mendengar betapa tiga<BR>orang kepala bajak itu membujuk-bujuk Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw<BR>Thian-li untuk membantu usaha mereka dan betapa guru dan murid itu<BR>menyanggupi. Tapi ia tidak pedulikan itu semua dan perahu terus meluncur<BR>cepat.<BR>Seperti juga halnya dengan Li Cu, Beng San mengejar ke selatan, sama sekali<BR>tidak mengira bahwa Giam Kin yang menculik Lee Giok itu lari menuju ke<BR>utara. Mudah saja bagi Beng San untuk mengikuti jejak tiga orang wanita yang<BR>saling berkejaran itu karena di sepanjang perjalanan ia selalu bisa mendapat<BR>keterangan tentang mereka. Akhirnya ia sampai juga di dusun kecil di tepi<BR>Sungai Huang-ho di mana terjadi pertempuran antara Li Cu dan Ho-hai Samong.<BR>Tentu saja ia segera mendengar dari para nelayan bahwa gadis baju<BR>merah yang dicarinya itu telah datang ke tempat itu pada dua hari yang lalu,<BR>malah ia mendengar cerita yang amat menarik akan tetapi mendebarkan<BR>jantungnya tentang peristiwa di perahu Ho-hai Sam-ong. Beng San sendiri<BR>belum pernah mendengar nama ini, akan tetapi mendengar penuturan para<BR>nelayan, ia tahu bahwa tiga orang itu adalah kepala-kepala bajak yang<BR>berkepandaian tinggi dan amat berpengaruh.<BR>la pun, mendengar bahwa Ho-hai Sam-ong mempunyai sarang di dekat kota<BR>Cin-an, yaitu di sebuah perkampungan bajak di pinggir Sungai Huang-ho tak<BR>jauh dari kota itu, dan mendengar bahwa anak buah bajak laut dan bajak<BR>sungai yang menjadi anak buah tiga raja bajak itu ratusan orang jumlahnya,<BR>semua dipusatkan di perkampungan itu. Karena sama sekali tidak bisa<BR>mendapat keterangan tentang Giam Kin yang membawa Lee Giok, Beng San<BR>merasa ragu-ragu, akan tetapi ia melanjutkan perjalanan maksud menolong Li<BR>Cu yang jatuh ke dalam kekuasaan para bajak.<BR>Tak seorang pun nelayan berani ke sarang bajak di dekat Cin-an terpaksa<BR>Beng San melakukan perjalanan melalui darat mengikuti sepanjang pantai<BR>Huang-ho terus ke timur. Ia melakukan perjalanan cepat karena ia<BR>menguatirkan keselamatan Li Cu, juga ingin lekas-lekas bertemu dengan gadis<BR>itu untuk bertanya tentang nasib Lee Giok yang masih belum ia ketahui.<BR>Sama sekali orang muda itu tidak ta hu bahwa di dusun kecil itu, seperti juga<BR>di semua tempat di sepanjang Sungai Huang-ho, terdapat beberapa orang<BR>anggauta bajak sungai yang bertugas sebagai penyelidik. Para penyelidik inilah<BR>yang selalu memberitahukan kawan-kawannya tentang perahu-perahu<BR>pedagang atau perahu-perahu pembesar yang hendak lewat, malah mereka<BR>bertugas pula untuk mencari keterangan perahu mana yang membawa barang<BR>berharga sehingga semua pekerjaan yang dilakukan Ho-hai Sam-ong selalu<BR>berhasil baik. Beberapa orang penyelidik ini sudah diberi tahu tentang keadaan<BR>Beng San yang mereka dengar dari Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li,<BR>maka begitu orang muda ini muncul, mereka segera mengenalnya dan cepatcepat<BR>mereka mengirim berita ke tempat tinggal Ho-hai Sam-ong!<BR>Inilah sebabnya mengapa Beng San menjadi terheran-heran dan kagum sekali<BR>ketika ia tiba di luar perkampungan bajak di tepi Sungai Huang-ho pada<BR>keesokan harinya di waktu senja, ia menghadapi barisan bajak di luar<BR>kampung yang sudah menanti kedatangannya! Barisan bajak itu terdiri dari<BR>seratus orang, dibagi menjadi empat lapisan dan di tiap lapis dipimpin oleh<BR>seorang kepala bajak yang gagah. Lapis pertama adalah barisan bersenjata<BR>tombak, ke dua barisan bersenjata golok, ke tiga barisan ruyung dan ke empat<BR>barisan pedang.<BR>"Orang muda, apakah kau yang bernama Tan Beng San dan datang hendak<BR>membebaskan Nona Cia Li Cu?" demikian kepala bajak di barisan terdepan<BR>membentak dengan suaranya yang keras parau.<BR>Beng San dalam keheranan dan kekagumannya hanya tersenyum tenang.<BR>"Memang betul dugaanmu, harap kau suka minta kepada Ho-hai Sam-ong<BR>supaya keluar dan bicara denganku."<BR>Kepala bajak itu tertawa sombong. "Ho-hai Sam-ong sudah tahu akan<BR>kedatanganmu dan mempersilakan kau menerjang maju kalau kau memang<BR>gagah!"<BR>Beng San mengukur dengan sudut matanya. Agaknya biarpun tidak mudah, ia<BR>masih sanggup menerjang masuk. Akan tetapi, di luar kampung saja<BR>penjagaan sudah begini ketat, apalagi di dalam kampung, tentu lebih diperkuat<BR>dan kiranya tidak mudah baginya untuk menolong Li Cu.<BR>"Hemmm, tadinya kusangka nama besar Ho-hai Sam-ong mewakili tiga orang<BR>yang perkasa. Tidak tahunya hanya pengecut-pengecut yang mengandalkan<BR>pengeroyokan anak buahnya untuk menakut-nakuti aku!"<BR>Para bajak menjadi marah. "Orang muda, jangan lancang membuka mulut!"<BR>demikian kepala bajak membentak dan memberi isyarat kepada anak buahnya<BR>untuk mengeroyok Beng San. Tombak-tombak sudah bergerak mengerikan.<BR>Akan tetapi pada saat itu terdengar suara keras bergema dari dalam kampung.<BR>"Orang muda she Tan, Ho-hai Sam-ong tidak takut kepadamu. Anak buah<BR>menjaga di luar kampung dan melarang setiap orang asing masuk adalah<BR>menjadi kebiasaan kami. Kalau ada keberanian, malam ini kami menanti di<BR>ruangan rumah kami dan kau boleh coba-coba membebaskan Nona Cia dari<BR>tangan kami bertiga. Ha-ha-ha!"<BR>Mendengar ini, barisan bajak yang mengenal suara Kiang Hun, tidak berani<BR>sembarangan bergerak. Beng San juga dapat mengetahui bahwa itu tentulah<BR>suara seorang di antara ketiga Sam-ong, maka diam-diam ia maklum bahwa<BR>orang itu memiliki khi-kang yang kuat dan merupakan lawan berat. Ia pun<BR>berkata perlahan,<BR>"Baik Ho-hai Sam-ong, malam nanti aku datang untuk mengagumi kepandaian<BR>kalian." Bagi barisan di depan Beng San, orang muda ini hanya menggerakkan<BR>bibir terus membalikkan tubuh dan pergi. Akan tetapi bagi Ho-hai Sam-ong di<BR>dalam kampung, mereka bertiga mendengar suara ini dengan jelas biarpun<BR>perlahan-lahan. Diam-diam mereka kagum sekali karena khi-kang yang<BR>dipergunakan oleh orang muda itu untuk "mengirim suara" merupakan<BR>kepandaian yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali, Maka mereka lalu<BR>bersiap-siap untuk menghadapi kedatangan pemuda yang oleh Hek-hwa Kuibo<BR>dipuji-puji kepandaiannya itu.<BR>Malam itu gelap gulita. Hal ini amat menguntungkan Beng San karena biarpun<BR>penjagaan di luar kampung diperketat, namun berkat kepandaiannya ia dapat<BR>juga menerobos untuk dilindungi oleh kegelapan malam. Sebelum para<BR>penjaga mengetahui, ia sudah berada di atas genteng rumah terbesar di<BR>kampung itu. Ketika ia melihat, ternyata pihak tuan rumah sudah siap sedia.<BR>Ruangan yang amat luas di situ telah dipasangi lampu penerangan yang<BR>banyak dan terang sekali. Ia melihat pula Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw<BR>Thian-li berpakaian indah sekali dan nampak cantik menarik. Wanita ini sedang<BR>bercakap-cakap dengan seorang laki-laki setengah tua yang tampan. Dia tidak<BR>tahu bahwa laki-laki itu adalah Kiang Hun Si Naga Sungai yang selain lihai dan<BR>tampan, juga terkenal mata keranjang, maka tidak membuang kesempatan<BR>untuk beramah tamah dengan Kim-thouw Thian-li yang juga "tua-tua kelapa"<BR>itu. Di dekat Kiang Hun duduk Lui Cai Si Bajul Besi dan Thio Ek Sui Si Cucut<BR>Mata Merah. Di ujung kiri duduk seorang gadis tanggung berusia paling banyak<BR>lima belas tahun, mukanya cantik dan bentuk wajahnya seperti Kiang Hun.<BR>Memang dia ini adalah puteri tunggal dari Kiang Hun bernama Kiang Bi Hwa.<BR>Semua orang yang duduk di sini agaknya telah siap karena semua, kecuali<BR>gadis tanggung itu, membawa senjata masing-masing. Kiang Bi Hwa tidak<BR>bersenjata, hanya memegang sebuah kipas bergagang gading dan tersulam<BR>indah sekali. Semua tampak tenang, hanya gadis tanggung ini yang agaknya<BR>gelisah, ataukah memang ia merasa hawanya panas? Ia mengebut-ngebutkan<BR>kipasnya tiada hentinya di depan leher.<BR>Yang membuat darah Beng San menjadi panas adalah ketika ia melihat ke<BR>tengah ruangan yang kosong itu. Di situ ia melihat Cia Li Cu duduk di atas<BR>sebuah kursi dengan kaki tangan terbelenggu! Gadis itu tidak dapat bergerak<BR>sama sekali, namun duduknya masih kaku tegak, kepala dikedikkan dan<BR>sepasang matanya berapi-api. Sedikit pun tidak kelihatan takut, hanya<BR>kemarahan dan perlawanan yang tampak di muka yang cantik jelita namun<BR>kelihatan lesu dan lelah serta pucat itu. Hal ini tidak mengherankan oleh<BR>karena gadis ini dalam kemarahannya yang meluap-luap karena dirinya<BR>dijadikan "umpan" ini, telah menolak untuk makan dan tidak dapat tidur sama<BR>sekali. Ia malah melakukan perlawanan sehingga terpaksa ia dikeroyok,<BR>ditotok tidak berdaya lalu dibelenggu! Pedang Liong-cu-kiam malam itu<BR>sengaja diletakkan di lantai, di depan gadis tawanan itu.<BR>Melihat Liong-cu-kiam yang pendek itu, Beng San mengilar sekali. Kalau saja<BR>pedang itu berada di tangannya, akan lebih mudah ia membebaskan Li Cu.<BR>Akan tetapi ia pun bukan, orang bodoh, Kalau pihak lawan sudah sengaja<BR>menaruh pedang itu di sana, tentu di balik perbuatan ini ada maksud<BR>tersembunyi yang amat berbahaya. Ia tidak boleh gegabah, tidak boleh<BR>sembrono dan harus berlaku hati-hati dan bersikap waspada.<BR>Tiba-tiba telinganya yang tajam men dengar sesuatu dan matanya melihat<BR>bayangan orang berkelebat di sebelah depan, Cepat ia menyelinap ke belakang<BR>wuwungan dan mengintai. Hampir ia tidak dapat menahan ketawanya ketika<BR>melihat ada tiga orang lain juga mengintai dari atas genteng ke bawah!<BR>Hatinya berdebar, Siapakah mereka? Dan apakah mereka juga datang untuk<BR>membebaskan Li Cu? Mungkin sekali. Cia Li Cu adalah puteri tunggal dari Butek<BR>Kiam-ong Cia Hui Gan, maka sekali terkena bencana tentu akan menarik<BR>hati orang-orang gagah untuk turun tangan menolongnya. Beng San bersikap<BR>menanti, hendak rnelihat apakah yang akan dilakukan oleh tiga orang itu yang<BR>melihat gerak-geriknya adalah ahli-ahli silat tingkat tinggi.<BR>Kalau tiga orang yang datang mengintai itu merupakan orang-orahg lihai<BR>kiranya yang berada di bawah juga tidak kalah lihainya. Tiba-tiba Lui Cai Si<BR>Bajul Besi berdongak ke arah tiga orang "'tamu malam" itu dan berkata,<BR>suaranya keras,<BR>"Sudah berani datang kenapa tidak terus masuk? Ada maksud lebih baik<BR>dibicarakan di dalam, kami sudah lama menanti!"<BR>Seorang di antara tiga tamu malam itu mengeluarkan suara tertawa, suara<BR>ketawanya halus dan ringan. "Ha-ha-ha, Ho-hai Sam-ong benar-benar hebat.<BR>Kami turun!" Dan melayanglah tiga sosok bayangan orang ke dalam ruangan<BR>itu. Kaki mereka amat ringannya menyentuh lantai tanda bahwa mereka<BR>adalah orang-orang yang memiliki ginkang cukup tinggi.<BR>Beng San terkejut dan berdebar hatinya ketika melihat bahwa seorang di<BR>antara mereka adalah kakak kandungnya, Tan Beng Kui! Pemuda ini sekarang<BR>agak kurus kalau dibandingkan dengan beberapa bulan yang lalu ketika<BR>bertemu dengannya di Puncak Thai-san. Pedang Liong-cu-kiam yang panjang<BR>tergantung di punggungnya. Dua orang yang lain adalah seorang kakek<BR>berpakaian seperti tosu dan yang seorang lagi seorang laki-laki setengah tua<BR>yang gerak-geriknya gagah, dan angkuh. Juga mereka ini membawa pedang di<BR>punggung masing-masing.<BR>Melihat tiga orang ini, Lui Cai Si Bajul Besi tertawa bergelak lalu berkata,<BR>"Selain Tan-ciangkun, juga datang Koai-sin-kiam (Pedang Sakti Aneh) Oh Tojin<BR>dan Ji Lu-enghiong yang ternama. Ha-ha-ha, benar-benar merupakan<BR>kehormatan besar bagi kami. Selamat datang... selamat datang....!"<BR>Adapun Beng Kui ketika melihat sumoinya (adik seperguruannya) duduk<BR>terbelenggu di tengah ruangan dalam keadaan tak berdaya, segera melompat<BR>hendak menolong.<BR>"Ciangkun, awas perangkap!" tiba-tiba Koai-sin-kiam Oh Tojin berseru keras<BR>sambil melompat pula ke tengah ruangan. Adapun orang ke dua yang tadi<BR>disebut Ji Lu-enghiong (Pendekar ke dua she Lu) dengan tenang melompat<BR>pula, gerakannya ringan dan cepat mengejar Beng Kui.<BR>Namun peringatan dari Oh Tojin itu terlambat karena Beng Kui sudah sampai<BR>di tengah ruangan. Sekali melompat saja ia tadi sudah sampai di dekat kursi<BR>yang diduduki Li Cu. Tiba-tiba terdengar bunyi berderit keras dan kursi yang<BR>diduduki Li Cu itu bergerak mundur sampai dua meter, kemudian lantai di<BR>tengah ruangan itu terbuka dan meluncurkan anak-anak panah menuju ke<BR>tubuh Beng Kui! Kalau saja Beng Kui bukan murid nomor satu dari Raja<BR>Pedang Cia Hui Gan, pasti ia akan roboh dan tewas oleh anak-anak panah<BR>yang ujungnya sudah diberi racun jahat itu. Belasan batang anak panah itu<BR>menyambar cepat sekali, Beng Kui berseru keras dan tahu-tahu tubuhnya<BR>sudah mencelat ke kiri sejauh lima meter lebih dan terbebaslah ia dari<BR>ancaman anak-anak panah yang kini meluncur ke atas dan menancap ke<BR>langit-langit rumah itu!<BR>Dengan muka merah dan pedang Liong-cu-kiam di tangan, Beng Kui bersama<BR>dua orang temannya yang juga sudah mencabut pedang kini menghadapi tuan<BR>rumah. Beng Kui berseru marah.<BR>"Ho-hai Sam-ong! Beginikah kalian menerima datangnya tamu yang kalian<BR>undang untuk berunding dan bersekutu?<BR>Beginikah sikap orang-orang gagah? Kalian menawan.sumoiku.Apa artinya<BR>ini?" Lui. Cai tertawa bergelak. "Tan-ciang kun, kau benar-benar gagah<BR>perkasa, tidak kecewa menjadi murid utama Bu-tek Kiam-ong! Harap jangan<BR>kau salah duga dan mengira kami memperlakukan tamu-tamu kurang hormat.<BR>Sesungguhnya adalah kau sendiri yang sebagai tamu kurang menghormati<BR>tuan rumah sehingga tanpa bertanya kau lancang hendak turun tangan.<BR>Ketahuilah, kami tidak mengganggu sumoimu dan seperti telah disebut dalam<BR>surat kami, sumoimu hanya menjadi tamu sementara saja sampai kau datang.<BR>Akan tetapi tidak tahunya yaitu... ha-ha-ha, adik kandungmu sendiri yang<BR>bernama Tan Beng San dan kabarnya lihai bukan main. Karena dia itu akan<BR>datang malam ini untuk membebaskan sumoimu, maka kami sengaja<BR>mengatur demikian untuk menghadapinya. Sumoimu tidak apa-apa, kami<BR>tanggung! Nah, Sam-wi, silakan duduk! Mari kita berunding sambil menanti<BR>kedatangan adikmu yang lihai itu. Eh, benarkah berita yang sampai kepadaku<BR>bahwa adikmu itu sebenarnya adalah Raja Pedang yang tulen, yang lebih lihai<BR>daripada gurumu?"<BR>Merah muka Beng Kui ketika mendengar penjelasan panjang lebar ini, apa lagi<BR>mendengar ucapan pertanyaan terakhir itu. Beng San di sini? Dan hendak<BR>membebaskan Li Cu? Apa artinya ini? Di mana Li Cu bertemu dengan Beng<BR>San dan mengapa mereka bersama? Diam-diam timbul iri hati dan cemburu<BR>besar dalam hatinya. Memang betul bahwa dia telah menikah dengan putri<BR>Pangeran Lu, akan tetapi hatinya tidak puas mendengar Li Cu bergaul dengan<BR>Beng San! Juga tidak enak sekali hatinya melihat sumoinya terbelenggu di<BR>kursi itu, akan tetapi sekarang ia tidak berani bertindak sembrono apalagi<BR>pada saat itu Lu Khek Jin, yaitu orang tua yang datang bersamanya itu,<BR>berkata,<BR>"Betul sekali. Kedatangan kita untuk berunding. Soal yang lain boleh<BR>dibicarakan nanti. Sumoimu itu melakukan kesalahaan terhadap Ho-hai Samong<BR>maka ia ditawan. Kalau urusan kita dengan Ho-hai Sam-ong selesai dan<BR>berakhir baik, apakah Ho-hai Sam-ong tidak akan melepaskan sumoimu dan<BR>minta maaf kepada kita?" Ucapan ini ditujukan kepada Beng Kui dan orang<BR>muda ini tidak berani membantah lagi. Lu Khek Jin adalah kakak dari ayah<BR>mertuanya, yaitu Lu Siauw Ong. Ilmu silatnya tinggi dan dia adalah seorang<BR>bekas jenderal, seperti juga Lu Siauw Ong, dan berjasa besar dalam<BR>menumbangkan pemerintah Mongol.<BR>"Ha-ha-ha, betul sekali ucapan Ji Lu-enghiong yang mulia! Di antara teman<BR>sendiri mana perlu banyak menyembunyikan urusan? Mari, mari, silakan<BR>duduk!" kata Lui Cai yang segera menyambung kepada adik seperguruannya,<BR>Thio Ek Sui Si Cucut Mata Merah. "Kaubereskan lagi anak-anak panah itu<BR>untuk menyambut kedatangan Tan Beng San!"<BR>Tanpa banyak cakap Thio Ek Sui Si Cucut Mata Merah menggerakkan tubuhnya<BR>dan sekali meloncat ia telah melayang ke atas dan kedua tangannya<BR>digerakkan. Dalam keadaan melayang itu sekaligus kedua tangannya sudah<BR>dapat menarik keluar belasan anak panah tadi dari langit-langit, kemudian ia<BR>berjumpalitan turun dengan kedua kaki sama sekali tidak mengeluarkan bunyi<BR>ketika menginjak lantai! Dengan cepat ia memasangkan kembali anak-anak<BR>panah itu, dan memulihkan pesawat rahasia yang menggerakkan kursi dan<BR>membuka lantai dengan peluncuran anak-anak panah itu.<BR>Diam-diam Beng Kui kagum dan juga kaget sekali. Baiknya ia tidak keburu<BR>nafsu tadi ketika melihat sumoinya, tidak menurutkan panas hati dan tidak<BR>menyerang pihak tuan rumah. Kiranya nama besar Ho-hai Sam-ong bukan<BR>kosong belaka dan melihat cara orang termuda dari Ho-hai Sam-ong itu<BR>bergerak, terbukti bahwa mereka merupakan lawan-lawan kuat. Akan tetapi<BR>ketika mereka mengambil tempat duduk dan Beng Kui melihat Hek-hwa Kui-bo<BR>dan Kim-thouw Thian-li hadir pula di situ, keningnya berkerut.<BR>"Ho-hai Sam-ong, urusan yang akan kita rundingkan adalah urusan rahasia di<BR>antara kita. Kuharap jangan ada orang orang luar mendengarkan perundingan<BR>kita," katanya dengan kening masih berkerut dan mata mengerling ke arah<BR>Hek-hwa Kui-bo.<BR>Lui Cai Si Bajul Besi tertawa bergelak, lalu berkata sambil memandang dua<BR>orang wanita yang menjadi tamunya itu. "Kau maksudkan Hek-hwa Kui-bo dan<BR>Kim-thouw Thian-li inikah? Ha-ha, jangan salah kira kawan. Mereka ini adalah<BR>pembantu-pembantu kami dan mereka itu seribu prosen boleh dipercaya!"<BR>bagian 21<BR>Suara Beng Kui dingin sekali ia menjawab, "Ho-hai Sam-ong, terus terang saja<BR>biarpun Sam-wi (kalian bertiga) termasuk golongan hek-to (jalan hitam atau<BR>penjahat), namun aku masih menganggap Sam-wi setingkat oleh karena aku<BR>tahu betul betapa hebat perjuangan Sam-wi pada waktu yang lalu. Sam-wi<BR>termasuk orang-orang gagah perkasa, patriot-patriot sejati. Akan tetapi,<BR>siapakah dua orang wanita ini? Mereka dahulu membantu penjajah Mongol,<BR>mereka adalah pengkhianat-pengkhianat yang tidak patut duduk bersama<BR>dengan kita, apalagi merundingkan urusan negara yang amat penting!"<BR>Kim-thouw Thian-li hanya mesem saja, akan tetapi tangan kirinya yang menekan<BR>ujung meja membuat ujung meja itu hancur dalam genggamannya! Ini<BR>menandakan bahwa Ketua Ngo-lian-kauw ini marah sekali. Adapun Hek-hwa<BR>Kui-bo tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang berderet putih dan rapi,<BR>lalu berkata halus,<BR>"Tan-ciangkun, apa sih bedanya antara kedudukan dan nama besar? Apa<BR>bedanya antara kemuliaan dan harta? Orang boleh saja berganti haluan demi<BR>cita-citanya. Kau dahulu saja membantu Ciu Goan Ciang, sekarang kau<BR>berbalik memusuhinya. Sebaliknya sejak dahulu sampai sekarang aku<BR>memusuhi Cu Goan Ciang,biar pun jalannya berbeda, dahulu membantu<BR>Kerajaan Goan sekarang membantu Ho-hai Sam-ong, namun tetap aku<BR>memusuhi Ciu Goan Ciang. Nah, katakan siapa sebetulnya yang berkhianat?"<BR>Menghadapi serangan ini Beng Kui menjadi bingung dan tak dapat menjawab.<BR>Sementara itu, Lu Khek Jin segera maju menegah dan berkata kepada Beng<BR>Kui.<BR>"Soal bantuan Hek-hwa Kui-bo dan murldnya adalah urusan Ho-hai Sam-ong,<BR>kita tidak berhak ikut campur. Nah, Ho-hai Sam-ong, silakan kalian<BR>mengajukan usul-usulmu dalam usaha bersama menghadapi keserakahan Ciu<BR>Goan Cian yang sama-sama kita benci." Mereka lalu berunding. Ruangan itu<BR>sunyi namun para penjaga dengan ketat menjaga di sekeliling rumah. Cia Li<BR>Cu masih duduk di kursi terbelenggu. Diam-diam gadis ini mendengarkan<BR>semua percakapan mereka. Sayangnya ia telah tertotok urat gagunya<BR>sehingga tidak dapat mengeluarkan suara. Kalau dapat, tentu saja ia telah<BR>rncndamprat mereka semua. Hatinya gelisah, bingung dan juga kecewa. Sekali<BR>lagi hancur hatinya menyaksikan sikap suhengnya, orang yang pernah mencuri<BR>hatinya, yang pernah ia jatuhi cinta kasihnya. Ternyata orang ini sekarang<BR>mengadakan persekutuan dengan bajak laut untuk menggulingkan Ciu Goan<BR>Ciang!<BR>Pihak tuan rumah ada lima orang yaitu Ho-hai Sam-ong dan Hek-hwa Kui bo<BR>bersama muridnya, Kiang bi hwa tidak ikut berunding, hanya duduk<BR>menyendiri sambil kipas-kipas tubuhnya. Pihak tamu ada tiga orang dan<BR>mereka bicara dengan asyik sekali. Tidak hanya Cia Li Cu yang mendengarkan<BR>dengan teliti, juga tanpa diketahui oleh mereka semua, Beng San ikut pula<BR>mendengarkan. Maka tahulah ia akan segala persoalan yang terjadi semenjak<BR>pemerintah Mongol dirobohkan oleh perjuangan rakyat.<BR>Dari percakapan itu ternyata bahwa setelah berhasil mengusir bangsa Mongol,<BR>Ciu Goan Ciang lalu mengangkat dirinya menjadi kaisar pertama dari Wangsa<BR>Beng dengan memakai gelar Thai Cu. Terjadilah perebutan kekuasaan antara<BR>para penggerak pemberontakan, antara para pimpinan yang tadinya berjuang<BR>bersama menumbangkan kekuasaan penjajah. Setelah musuh terusir pergi,<BR>kemuliaan membuat mereka yang tadinya merupakan patriot-patriot sejati itu<BR>menjadi mata gelap dan terjadilah perebutan. Kaisar Thai Cu atau Ciu Goan<BR>Ciang tentu saja tidak mau mengalah dan banyaklah bekas-bekas kawan<BR>seperjuangan dibunuh, para jenderal yang sudah berjasa dibunuh pula.<BR>Pendeknya Ciu Goan Ciang mulai mengadakan "pembersihan" agar<BR>kedudukannya tidak terancam.<BR>Ho-hai Sam-ong termasuk orang-orang yang tidak puas dengan sikap Ciu<BR>Goan Ciang, karena permintaan mereka untuk menjadi "menteri negara"<BR>ditolak oleh kaisar baru ini yang menganggap bahwa tidak pantas. ia<BR>menggunakan bekas kepala bajak menjadi menteri. Juga Lu Siauw Ong dan<BR>kakaknya Lu Sin, diam-diam menaruh dendam karena mereka hanya diberi<BR>kedudukan rendahan saja, padahal mereka telah berjuang mati-matian.<BR>Demikian pula Tan Beng Kui yang merasa iri hati dan tidak puas akhirnya<BR>dapat dibujuk oleh Lu Siauw Ong menjadi pembantunya, malah dikawinkan<BR>dengan puteri pangeran muda ini.<BR>Karena kekuasaan Kaisar Thai Cu atau Ciu Goan Ciang itu makin lama makin<BR>besar dan kedudukannya makin kuat, maka Ho-hai Sam-ong mempunyai<BR>rencana untuk bersekutu dengan Lu Siauw Ong dan mereka akan mengadakan<BR>pergerakan dari luar dan dalam. Dari dalam, secara diam-diam Lu Siauw Ong<BR>akan bergerak sedangkan dari luar, Ho-hai Sam-ong akan mengumpuikan<BR>tenaga dan akan menggempur dari luar. Untuk keperluan ini, secara kebetulan<BR>mereka bertemu dengan Cia Li Cu yang mereka pergunakan untuk setengah<BR>memaksa Tan Beng Kui memenuhi undangan mereka. Mereka ini tahu belaka<BR>bahwa tangan kanan Lu Siauw Ong adalah Tang Beng Kui, mantu Pangeran itu<BR>sendiri, maka sengaja mereka hendak membujuk murid Bu-tek Kiam-ong ini.<BR>"Banyak pembesar yang masih bertugas. di utara dapat kita tarik di pihak kita,<BR>demikian antara lain Ho-hai Sam ong yang diwakili oieh Lu Cai terkata. "Kita<BR>akan mencari kesempatan selagi Keluar Thai Cu berkunjung ke utara, kita<BR>menyergapnya dan kalian yang bekerja di kota raja harus pula<BR>mempergunakan kesempatan ini untuk bergerak di kota raja selagi kaisar tidak<BR>ada."<BR>Tan Beng Kui dan dua orng temannya menyatakan persetujuannya. Setelah<BR>perudingan berakhir, Kiang Hun berkata, "Tentang sumoimu itu, Tan-ciangkun,<BR>bagaimana baiknya? Dia adalah puteri Bu-tek Kiam-ong dan seperti kita tahu<BR>gurumu itu tidak bisa diajak berunding dalam urusan ini. Sudah pasti kita akan<BR>ditentangnya dan kalau rahasia persekutuan kita ini bocor...,"<BR>"Hemm, amat berbahaya bagi kami yang bertugas di kota raja!" kata Lu Khek<BR>Jin sambil melirik ke arah Li Cu dengan kening dikerutkan. "Dia itu tidak boleh<BR>dibebaskan, sama sekali tidak boleh sebelum selesai rencana kita."<BR>"Kiranya tidak enak terhadap Tan-ciangkun kalau kami terus menahannya,"<BR>kata Lui Cai sambil mengerling ke arah Beng Kui.<BR>Kim-thouw Thian-li tersenyum manis dan mengerling tajam sambil berkata,<BR>"Tadinya nona itu selain sumoi juga tunangan Tan-ciangkun. Sekarang Tanciangkun<BR>sudah meninggalkannya dan menikah dengan gadis lain. Sudah tentu<BR>ia sakit hati dan hendak menuntut pembalasan. Hemm, gadis ini memang<BR>berbahaya sekali!"<BR>"Habiskan saja dia, beres tidak perlu pusing-pusing lagi kita," kata Hek-hwa<BR>Kui-bo.<BR>"Tidak bisa!" Beng Kui membantah. "Betapa pun dia adalah sumoiku...."<BR>"Habis bagaimana?" Lu Khek Jin, paman isterinya bertanya sambil memandang<BR>tajam. "Bebaskan dia dan membiarkan dia mencelakai kita dengan<BR>membocorkan rahasia ini?"<BR>"Bukan begitu maksudku... eh, dia itu sumoiku... bagaimana aku bisa melihat<BR>dia dicelakai orang? Aku... eh, maksudku, bagaimana kalau Ho-hai Sam-ong<BR>sementara Ini menahan dia tapi memperlakukan dengan baik-baik? Soal<BR>penahanan dia itu pun harus dirahasiakan, kalau sampai ayahnya tahu... bisa<BR>repot juga. Apabila gerakan kita sudah berhasil, dia harus segera dibebaskan."<BR>"Kita menghadapi urusan negara, mengapa sibuk dengan urusan pribadi?"<BR>tiba-tiba Koai-sin-kiam Oh Tojin berkata dengan suaranya yang halus. "Nona<BR>ini adalah sumoimu, Tan-ciangkun. Apakah tidak bisa kaubujuk supaya dia<BR>membantu gerakan kita, atau setidaknya jangan mencampuri dan jangan<BR>membocorkannya? Dia keturunan orang gagah, kalau sudah mau bersumpah<BR>tidak akan membocorkan, pinto (aku) bisa percaya. Bukannya aku jerih<BR>terhadap ayahnya... hemm," ia meraba gagang pedang di punggungnya,<BR>"Malah sudah lama pinto ingin menjajal kepandaian Si Raja Pedang."<BR>Melihat ada orang membantu sumoinya, dengan girang Beng Kui lalu berdiri<BR>sambil berkata, "Baik kucoba bicara dengan dia... Ho-hai Sam-ong,<BR>perkenankan aku bicara dengan sumoiku sekarang."<BR>"Boleh, boleh...." kata Lui Cai dan Thio Ek Sui segera berdiri dan pergi<BR>mematikan pesawat-pesawatnya agar perangkap itu tidak bekerja. Dengan<BR>aman kini Beng Kui menghampiri Li Cu yang masih duduk dengan mata berapiapi<BR>memandang kepadanya. Gemetar kedua kaki Beng Kui ketika pandang<BR>matanya bertemu dengan sinar mata yang berapi-api Itu. Dengan<BR>membesarkan hati sendiri ia lalu melangkah maju dan menotok dua kali, Li Cu<BR>mengeluh perlahan, aliran darah di tubuhnya normal kembali.<BR>"Sumoi, harap kaumaafkan dan jangan kecil hati dengan adanya kejadian ini<BR>atas dirimu. Kau tahu, aku pun merasa menyesal sekali dan kelak apabila<BR>segala berjalan beres, aku akan minta maaf sekali lagi kepadamu dan mohon<BR>ampun kepada Suhu. Sekarang, kuharap kau suka bersumpah bahwa yang<BR>kaulihat dan dengar pada saat ini takkan kaubocorkan kepada siapapun juga<BR>meskipun kepada ayahmu sendiri. Dan...."<BR>"Cukup....!" Li Cu membentak dengan mata berapi-api sinarnya, akan tetapi<BR>dua butir air mata menuruni pipinya yang pucat. "Pengkhianat kau....! Aku<BR>bukan sumoimu lagi, aku tidak sudi berjanji apa-apa, tidak sudi bersumpah,<BR>kau mau bunuh aku boleh bunuh sekarang juga!"<BR>Beng Kui berubah air mukanya dan mundur dua langkah. Ia mendengar suara<BR>ketawa kecil, yaitu Kim-thouw Thian-li, yang agaknya sengaja<BR>mentertawakannya. Dengan tubuh lemas ia kembali ke meja perundingan tadi<BR>dan berkata,<BR>"Ho-hai Sam-ong, sumoiku keras wataknya. Tidak ada jalan lain lagi agaknya<BR>kecuali kalian harus menahannya di sini dan memperlakukannya baik-baik<BR>sampai selesai pekerjaan kita bersama."<BR>"Sukar untuk memenuhi permintaanmu ini Ciangkun," kata Lui Cai. "Kau<BR>sendiri tentu mengerti bahwa anak buah kami beribu orang banyaknya, terdiri<BR>dari laki-laki yang kasar, Sumoimu begitu muda dan cantik jelita . bagaimana<BR>kami dapat berjanji bahwa dia tidak akan menderita apa-apa di sini?"<BR>Kim-thouw Thian-li menambah panas suasana.. "Baru pemimpinnya saja yang<BR>satu ini sudah memandang mengilar, apalagi anak buahnya. Hi-hi-hik!"<BR>berkata demikian wanita ini melirik kepada Kiang Hun Si Naga Sungai yang<BR>juga tersenyum-senyum jenaka.<BR>Merah telinga Beng Kui. "Kalau begitu, biarlah dia kubawa, untuk sementara<BR>menjadi tawananku!"<BR>Kim-thouw Thian-li tertawa lagi dan berkata, "Tan-ciangkun mengapa malumalu?<BR>Memang dia sumoimu sendiri, juga bekas kekasihmu, kalau tidak kau<BR>yang menahannya, siapa lagi? Kalau dari tadi kau berkata demikian kan sudah<BR>beres, tidak usah susah-susah...." Semua orang tertawa dan wajah Beng Kui<BR>makin merah.<BR>Akan tetapi paman isterinya, Lu Khek Jin, mengerutkan kening. "Beng Kui,<BR>jangan kau main-main. Urusan pribadi hendaknya jangan dicampur adukkan<BR>dengan urusan negara."<BR>Sementara itu, Beng San yang sejak tadi mendengarkan ini semua, menjadi<BR>pucat dan kehilangan mukanya. Ia merasa kecewa dan malu bukan main<BR>menyaksikan sikap kakak kandungnya. Dahulu ia memuja-muja kakak<BR>kandungnya itu sebagai seorang gagah perkasa, seorang pemuda tampan dan<BR>gagah yang berjiwa patriot, sudah berjasa besar bagi bangsa dan tanah air. Ia<BR>malah menganggap dirinya sendiri batu kali yang kasar kalau dibandingkan<BR>dengan kakaknya yang cemerlang seperti kumala tergosok. Tapi apa yang ia<BR>hadapi sekarang? Kakaknya menjadi pengkhianat. Bukan itu saja, malah kakak<BR>kandungnya yang ia kagumi dan puja-puja itu ternyata telah tidak setia, telah<BR>memutuskan hubungan jodoh dengan Cia Li Cu. Telah menikah dengan puteri<BR>raja muda dah sekarang bersekongkol dengan orang-orang jahat untuk<BR>memberontak. Dan Li Cu! Ah, ia makin kagum kepada gadis jelita ini. Begitu<BR>gagah, begitu berani, juga begitu... buruk nasibnya.<BR>"Aku harus menolongnya," demikian Beng San mengambil keputusan. Tak<BR>boleh dia ditahan oleh para bajak ini, juga tidak akan baik nasibnya kalau ia<BR>dijadikan tawanan suhengnya sendiri yang sudah tersesat itu. Kakak<BR>kandungnya tersesat? Pikiran ini mendatangkan kilatan halilintar dalam<BR>otaknya. Kakak kandungnya tersesat dan dia juga demikian! Dua orang kakak<BR>beradik, keduanya bukan manusia baik-baik. Ah, Ayah... Ibu... kenapa jadi<BR>begini kedua orang anakmu? Perih hati Beng San dan tak terasa lagi ia<BR>berlutut di atas genteng itu dan menangis! Menangis keras tanpa menahan<BR>suaranya.<BR>Karuan saja semua orang di dalam ruangan itu melengak kaget dan heran.<BR>Malah Kiang Bi Hwa, yang tadinya kadang-kadang duduk berkipas badan<BR>kadang kadang berdlrl dan melihat-lihat keluar, segera bangkit dari tempat<BR>duduknya dan bertanya kaget.<BR>"Eh, siapa yang menangis begitu sedihnya? Manusia atau setan?" Ucapan ini<BR>agaknya terlepas dari mulutnya tanpa disadarinya sehingga begitu mendengar<BR>suaranya sendiri, gadis tanggung ini dengan malu-malu lalu mempergunakan<BR>kipasnya yang indah untuk menutupi mukanya.<BR>Agaknya suara gadis tanggung yang memecah kesunyian ini juga<BR>menyadarkan Beng San. Suara tangisan berhenti dan sesosok tubuh melayang<BR>turun ke dalam ruangan itu. Seorang pemuda dengan pakaian tidak karuan,<BR>rambutnya awut-awutan, kulit mukanya merah kehitaman dan pada muka<BR>yang mengerikan itu ada bekas-bekas air mata. Tapi sepasang matanya<BR>mencorong seperti mata harimau di dalam gelap!<BR>Kebetulan sekali bahwa tadi Li Cu telah dibebaskan dari totokan oleh Beng Kui,<BR>maka kini biarpun terbelenggu, dengan pengerahan tenaganya gadis ini dapat<BR>menggerakkan kursinya sehingga memutar dan ia dapat melihat apa yang<BR>terjadi di ruangan itu. Kaget, heran, kasihan dan terharu ketika ia melihat<BR>Beng San dalam keadaan seperti itu. Orang muda ini benar-benar seperti<BR>seorang yang telantar hidapnya, miskin dan rusak, jauh bedahya dengan Beng<BR>Kui yang ganteng dan gagah pakaiannya. Akan tetapi semenjak sikap bekas<BR>tunangannya itu, hanya kebencian dan kekecewaan yang ada pada hatinya<BR>terhadap Beng Kui dan ia merasa kasihan kepada Beng San. Ia tadi<BR>mendengar pula suara tangisan yang amat menyedihkan, suara tangisan dari<BR>hati yang hancur, biarpun hanya sebentar namun tangisan itu menyuarakan<BR>keluhan hati yang remuk-redam, seperti hatinya sendiri.<BR>"Ho-hai Sam-ong, aku datang memenuhi janji. Lekas kalian bebaskan Nona<BR>Cia Li Cu!" Suaranya parau, masih terkandung isak di dalamnya, suara yang<BR>sama sekali tidak berpengaruh dan tidak menakutkan, namun sinar matanya<BR>benar-benar membuat tiga orang raja bajak itu berpikir panjang dulu sebelum<BR>memandang rendah. Orang dengan mata seperti itu tak mungkin lemah dan<BR>sudah pasti akan membuktikan semua omongannya!<BR>Namun Lui Cai tidak mau memperlihatkan kegentaran didepan para tamunya.<BR>Betapapun juga orang yang dikabarkan lihai luar biasa itu ternyata hanyalah<BR>seorang muda sekali dan seorang yang keadaannya setengah jembel, bahkan<BR>sikapnya dan warna mukanya menandakan bahwa mungkin juga ia setengah<BR>gila!<BR>"Orang muda, bukankah kau yang bernama Tan Beng San? Ha-ha-ha, kiranya<BR>begini saja. Dan kau adalah adik kandung Tan Beng Kui-ciangkun? Alangkah<BR>anehnya dunia ini. Ha-ha-ha!"<BR>Ucapan ini sekaligus menyinggung perasaan Beng Kui, maka orang muda ini<BR>dengan marah lalu melompat maju menghadapi adik kandungnya. Telunjuknya<BR>ditudingkan dan suaranya gemas menegur,<BR>"Beng San! Lagi-lagi kau hanya memalukan aku. Orang gila, setelah kau<BR>melakukan perbuatan yang tidak patut tempo hari, masihkah kau ada muka<BR>untuk muncul lagi di sini? Jangan mencampuri urusan sumoiku, hayo kau pergi<BR>kalau tidak ingin mendengar aku bicara terus!"<BR>Wajah yang tadinya hitam itu tiba-tiba berubah menjadi putih lalu hijau,<BR>kemudian hitam kembali, sementara matanya tidak pernah lepas memandang<BR>orang yang bicara di depannya. Beng Kui sampai merasa ngeri dan meremang<BR>bulu tengkuknya dipandang sedemikian rupa oleh Beng San. Beng San cukup<BR>mengerti bahwa kakak kandungnya itu memaksudkan perbuatannya dengan<BR>Kwa Hong tempo hari di markas tentara Mongol.<BR>Tentu saja karena luka di hatinya oleh pengakuan Kwa Hong yang telah<BR>mengandung itu masih parah, ucapan ini seperti cuka disiramkan pada luka,<BR>perih sakit rasanya. Saking perihnya membuat Beng San tidak peduli lagi.<BR>"Tan Beng Kui, kau boleh bicara sesuka hatimu. Kau boleh mengingkari sumoi<BR>sendiri dan tidak menolongnya. Tapi aku tetap akan menolong seorang yang<BR>terjatuh ke dalam tangan orang-orang jahat. Nona Cia Li Cu adalah seorang<BR>gagah, kalau aku tidak melihat dia, sedikitnya aku mengingat akan ayahnya.<BR>Mundurlah, aku tidak berurusan dengan engkau."<BR>"Bangsat keparat! Beng San, kaukira aku tidak tahu apa maksudmu menolong<BR>Li Cu? Kau penjahat pemetik bunga, engkau mata keranjang, pelanggar susila,<BR>perusak wanita! Kau sudah menodai Nona Kwa Hong, lalu kautinggalkan begitu<BR>saja untuk menikah dengan puteri Song-bun-kwi. Dan sekarang agaknya<BR>engkau sudah bosan dengan isterimu itu dan hendak mengganggu Li Cu<BR>dengan dalih menolongnya. Hemm...., keparat besar....!"<BR>bagian 22<BR>Beng San mengeluarkan suara gerengan sedemikian hebatnya sehingga<BR>bangunan di ruangan itu seakan-akan bergoyang. Matanya mendelik berapiapi<BR>sehingga saking kaget dan gentarnya Beng Kui sampai melangkah mundur<BR>tiga tindak.<BR>Sekali lagi Beng San menggereng dan muka yang sudah hitam hangus saking<BR>marah hatinya itu kini perlahan-lahan menjadi agak putih. Ternyata ia sudah<BR>berhasil mengekang kemarahannya dan tidak menjatuhkan tangan maut<BR>kepada kakak kandungnya sendiri. la menoleh ke arah Lui Cai dan<BR>membentak,<BR>"Ho-hai Sam-ong, di mana kalian? Hayo jawab, maukah kalian membebaskan<BR>Nona Cia Li Cu? Kalau tidak mau, mari kita mengadu kepandaian. Kalau aku<BR>kalah biarlah aku mampus di sini, akan tetapi kalau kalian kalah, kalian harus<BR>membebaskan dia. Ataukah kalian takut? Kalau kalian takut, boleh minta<BR>bantuan Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li atau siapapun juga!"<BR>Tiga orang bajak laut itu memang sudah siap sedia. Lui Cai Si Bajul Besi sudah<BR>mengeluarkan senjatanya berupa dayung besar yang berat itu. Kiang Hun Si<BR>Naga Sungai sudah mengeluarkan senjatanya yang hebat, yaitu tambang<BR>besar dan panjang, sedangkan Thio Ek Sui juga sudah mengeluarkan<BR>ruyungnya yang runcing berduri. Tapi mereka tidak menyerang dan Lui Cai<BR>yang melihat Beng San datang tanpa membekal senjata apa-apa itu berkata,<BR>rasa kasihan sekali kepada Beng San, akan tetapi ketika ia mendengar ucapan<BR>Beng Kui tentang perbuatan Beng San itu, ia kaget bukan main. Benarkah<BR>Beng San seorang yang demikian rendah martabatnya? Makin dipandang<BR>makin mengerikan muka pemuda yang menghitam itu, dan matanya lebihlebih<BR>mengerikan dan menyeramkan lagi. Kalau tidak betul apa yang<BR>diucapkan oleh Beng Kui, mengapa Beng San tidak membantah? Karena<BR>kebimbangan inilah maka niatnya untuk memperingatkan Beng San tentang<BR>perangkap di sekitar itu ia urungkan. Ia hanya memandang dengan matanya<BR>yang indah bening itu terbelalak lebar ketika Beng San dengan langkah<BR>sembrono menghampiri kursinya untuk membebaskannya daripada belenggu.<BR>Tiba-tiba, seperti tadi, terdengar suara keras berderit, lantai berlubang dan<BR>belasan batang anak panah menyambar ke arah Beng San, sedangkan kursi<BR>yang diduduki Li Cu bergerak sendiri ke pinggir. Beng San memang sudah siap<BR>sedia menghadapi ini. Andaikata tadi ia tidak melihat bekerjanya pesawat itu<BR>sekalipun, belum tentu ia akan mudah menjadi korban. Apalagi ia sudah tahu<BR>akan datangnya bahaya itu. Dengan kipas pinjamannya, ia menggerakkan<BR>tangan dan sekali mengibas, belasan batang anak panah itu runtuh dan<BR>menyambar kembali ke dalam lubang di lantai. Terdengar pekik kesakitan di<BR>bawah lantai yang segera tertutup kembali. Kiranya anak-anak panah yang di<BR>"retour" kembali itu tepat mengenai orang yang menjaga bekerjanya pesawat<BR>di bawah lantai! Ketika Beng San menoleh ke arah Li Cu, ternyata kursi yang<BR>diduduki nona ini sudah berpindah lagi sampai di belakang tiga orang kepala<BR>bajak itu yang ternyata sudah menghadang didepannya. Malah pedang Liongcu-<BR>kiam yang tadi menggeletak di dekat Li Cu juga sudah lenyap dan ternyata<BR>telah dipegang oleh Beng Kui.<BR>Beng San menghadapi para lawannya dengan sikap tenang, bibirnya mengejek<BR>dan pandang matanya yang bersinar-sinar itu penuh teguran.<BR>"Nona Cia sudah berada di sini, tinggal membebaskan saja. Kalau kau mau<BR>membebaskan, silakan, boleh kaulakukan sendiri." Lui Cai tersenyum<BR>mengejek.<BR>Beng San maklum bahwa tuan rumah hendak menjebaknya dengan perangkap<BR>seperti yang ia lihat hampir mencelakai Beng Kui tadi, akan tetapi ia tidak<BR>gentar dan dengan langkah tetap ia menghampiri Li Cu. Pada saat itu, Kiang Bi<BR>Hwa puteri Kiang Hun berjalan menghampiri Beng San dan bertanya dengan<BR>suaranya yang masih seperti suara anak kecil.<BR>"Kaukah tadi yang menangis? Mengapa kau menangis begitu sedih?"<BR>Beng San terkejut dan heran, lalu ia memaksa diri tersenyum namun<BR>senyumnya ini malah mendatangkan tarikan muka yang amat menyedihkan.<BR>"Nona cilik, agaknya kau masih belum kehilangan perikemanusiaan seperti<BR>keadaan orang-orang di sekelilingmu. Nona, bolehkah kau memberi pinjam<BR>kipasmu Ini sebentar kepadaku?" Sambll berkata demikian Beng San<BR>menggerakkan tangan dan dengan halus sekali tahu-tahu kipas itu sudah<BR>berpindah tangan. Kiang Bi Hwa kaget tapi ia tersenyum dan berkata,<BR>"Boleh, boleh, kauambillah kipas itu."<BR>"Bi Hwa, mundur kaul" Ayahnya, Kiang Hun, membentak.<BR>"Baik, Ayah. Tapi, jangan membunuh dia, ya? Kasihan sekali orang ini...."<BR>Setelah berkata demikian, setengah berlari Kiang Bi Hwa mengundurkan diri.<BR>Sikap gadis ini berkesan dalam di hati Beng San dan ia mencatat di hatinya<BR>bahwa gadis ini adalah puteri Kiang Hun yang agaknya amat berbakti dan<BR>menyayang orang tuanya.<BR>Kemudian ia melanjutkan langkahnya menghampiri tempat Li Cu dengan kipas<BR>indah itu di tangan. Li Cu memandang dengan mata terbelalak. Tadinya ia<BR>me"Eh, Ho-hai Sam-ong yang masyhur nama besarnya itu kiranya hanya<BR>penjahat-penjahat kecil yang curang. Hayo kalian bebaskan Nona Cia dan<BR>kembalikan pedangnya, baru aku suka memandang muka nona cilik yang baik<BR>hati itu untuk menghabiskan urusan ini sampai di sini saja. Sebaliknya kalau<BR>kalian berkeras, jangan kata bahwa aku orang muda tidak menghormati<BR>orang-orang tua yang menjadi tuan rumah.<BR>Kiang Hun tak dapat menahan kemarahannya lagi. Tambang yang panjang dan<BR>besar dtangannya itu digerakkan dan seperti seekor ular, tambang itu<BR>menyambar ke arah tubuh Beng San. Pemuda ini dengan tenangnya melompat<BR>ke atas sehingga tambang itu lewat di bawah kakinya. Tapi tambang itu<BR>terayun terus datang kembali menyapu dan demikianlah berulang-ulang<BR>tambang itu terayun-ayun berputaran di sekeliling tubuh Beng San. Pemuda ini<BR>masih enak saja berloncatan sehingga kelihatan indah dan lucu, seperti anak<BR>bermain "loncat tali" (uding), Kalau tambang itu terlalu tinggi lewatnya, ia<BR>tidak meloncat melainkan merendahkan diri sehingga tambang itu lewat di<BR>atas kepala, akan tetapi kalau menyambar agak rendah, ia meloncat dengan<BR>tenang dan enak. Benar-benar seperti anak main-main.<BR>Melihat adiknya sudah turun tangan, Lui Cai lalu berseru keras dan dayung<BR>bajanya juga menyambar-nyambar, diikuti oleh Thio Ek Sui yang tidak mau<BR>ketinggalan dan menggerakkan ruyungnya yang dahsyat. Kini sekaligus Beng<BR>San menghadapi Ho-hai Sam-ong, dikeroyok tiga.<BR>Cia Li Cu tadi sudah merasai kelihaian tiga orang kepala bajak ini, maka<BR>sekarang melihat Beng San yang bertangan kosong, hanya memegang kipas<BR>itu dlkeroyok tiga, diam-diam ia merasa ngeri juga. Namun Beng san tetap<BR>enak saja, malah menyindir,<BR>"Waduh, Ho-hai Sam-ong hebat benar. Senjatanya dahsyat dan sekaligus maju<BR>mengeroyok bertiga!"<BR>Panas juga hati Lui Cai mendengar ini. Ho-hai Sam-ong terkenal sebagai<BR>tokoh-tokoh besar di dunia selatan, malah kalau dibandingkan dengan nama<BR>besar Hek-hwa Kui-bo, kiranya tidak kalah terkenal. Bagaimana boleh<BR>dipandang ringan begitu saja oleh seorang pemuda yang masih hijau?<BR>"Keparat sombong! Kalau memang berkepandaian, keluarkan senjatamu dan<BR>cobalah kaulawan kami!" bentaknya.<BR>Inilah maksud Beng San. Membakar-bakar agar hati lawannya panas. Ia<BR>menambahkan, "Senjata? Untuk melawan kalian mengapa ribut mencari<BR>senjata? Nona cilik yang baik hati sudah meminjamkan senjata untukku!" Ia<BR>mengangkat kipas itu tinggi sambil meloncat dan menghindarkan diri dari<BR>sabetan tambang dan sambaran ruyung.<BR>Tentu saja makin panas perut tiga orang itu. Mereka hendak dilawan dengan<BR>senjata sebuah kipas permainan belaka? Benar-benar keterlaluan bocah ini.<BR>"Sombong kau! Jie-sute dan Sam-sute, kita bunuh tikus sombong ini!" bentak<BR>Lui Cai. Dua orang adiknya juga sudah marah, terutama sekali Kiang Hun<BR>karena senjata tambangnya yang hebat dan setiap kali bergerak biasanya<BR>tentu mengalahkan lawan itu sekarang hanya dianggap sebagai tali permainan<BR>loncat-loncatan saja oleh pemuda itu!<BR>"Mampus kau, keparat!" Thio Ek Si Cucut Mata Merah membentak, ruyungnya<BR>menyambar hebat sekali dan sekaligus melakukan empat kali serangan ke<BR>arah empat jalan darah yang membinasakan di tubuh Beng San.<BR>"Tak-tak-tak-tak!" Dan empat kali ruyungnya ditangkis oleh kipas! Terbelalak<BR>mata yang sipit merah itu. Bagaimana mungkin ini? Ruyungnya yang<BR>sedikitnya ada lima puluh kati beratnya, ditangkis dengan kipas? Biarpun<BR>gagangnya dari gading, kipas tetap kipas alat permainan yang kecil saja. Tapi<BR>benar-benar ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri, kipas itu sama sekali<BR>tidak robek dan patah, malah tangan kanannya terasa sakit-sakit tulangnya<BR>seakan-akan ia tadi telah menghantam benda baja dengan ruyungnya.<BR>Pertempuran itu hebat bukan main. Tiga orang kepala bajak itu benar-benar<BR>memiliki kepandaian tinggi dan hal ini harus diakui oleh Beng San. Pantas saja<BR>Li Cu tidak berdaya menghadapi tiga orang ini. Ternyata masing-masing<BR>memiliki kepandaian istimewa dan amat tinggi. Baiknya di dalam dirinya<BR>terdapat dua aliran tenaga Im dan Yang, dan tenaga-tenaga ini sudah<BR>mendarah daging di tubuhnya maka ia dapat menghadapi tenaga lawan yang<BR>bagaimanapun juga. Mengenai tenaga, boleh dibilang ia berada di tingkat yang<BR>jauh lebih tinggi daripada tiga orang lawannya. Tapi ilmu serangan tiga orang<BR>itu benar-benar dahsyat sekali sehingga hanya dengan ilmu silatnya Im-yangsin-<BR>kun saja ia mampu melindungi dirinya. Dan kipas kecil itu ternyata banyak<BR>sekali kegunaannya, karena kadang-kadang untuk membalas lawannya, ia<BR>dapat mempergunakannya sebagai senjata pedang dengan gerakan Ilmu Silat<BR>Im-yang Sin-kiam-sut yang belum ada bandingnya di kolong langit ini.<BR>Tiga orang itu mengeroyok dengan gerakan cepat dan tenaga dahsyat<BR>sehingga ruangan itu penuh dengan suara bersiutan dan angin pukulan<BR>menyambar ganas. Tubuh tiga orang itu sampai lenyap terbungkus gulungan<BR>senjata masing-masing. Akan tetapi anehnya, tubuh Beng San masih<BR>kelihatan, malah gerakannya kelihatan amat lambat dan seenaknya. Dilihat<BR>oleh mata bukan ahli silat, pemuda ini seperti sedang bertari kipas dihias<BR>gulungan sinar yang tiga macam di sekeliling tubuhnya!<BR>Cia Li Cu yang menonton pertandingan itu sampai terbelalak dan ternganga<BR>saking heran dan kagumnya. Ia memang pernah menyaksikan kelihaian Beng<BR>San, akan tetapi baru sekarang ia betul-betul tunduk dan harus mengakui<BR>bahwa apa yang dikatakan ayahnya dahulu itu betul adanya, yaitu bahwa<BR>pemuda ini benar-benar hebat dan dalam hal kepandaian masih melebihi<BR>ayahnya sendiri. Juga dua orang teman Beng Kui, Koai-sin-kiam Oh Tojin dan<BR>Lu Khek Jin, memandang dengan penuh kekaguman dan gatal-gatal tangan<BR>mereka hendak menguji kepandaian sendiri dengan pemuda yang lihai itu.<BR>Hek-kwa Kui-bo dan muridnya yang sudah merasai kelihaian Beng San, duduk<BR>saja tidak berani turun tangan, hanya mengharapkan supaya pemuda itu<BR>roboh di tangan Ho-hai Sam-ong. Di lain pihak, Beng Kui memandang dengan<BR>mata tajam. Ia mendongkol bukan main terhadap Beng San yang dianggapnya<BR>selalu merintangi perjuangannya dan merusak suasana. Yang paling lucu<BR>sikapnya adalah Kiang Bi Hwa, puteri dari Kiang Hun. Gadis cilik ini semenjak<BR>kecil memang tidak boleh belajar silat oleh ayahnya, maka sekarang<BR>menyaksikan pertempuran itu ia bertepuk-tepuk tangan gembira.<BR>"Bagus benar....! Lucu dan bagus tarianmu itu, kakak yang baik! Kau harus<BR>ajarkan aku tari kipas itu!"'<BR>Mau tidak mau Beng San tersenyum mendengar ini. Dikeroyok sedemikian<BR>hebatnya ia masih sempat. tersenyum-senyum, malah menoleh ke arah Kiang<BR>Bi Hwa sambil berkata,<BR>"Nona cilik, kau benar-benar seperti bunga teratai di antara lumpur kotor!"<BR>Memang Beng San kagum bukan main. Nona itu begitu polos, begitu jujur dan<BR>bersih seperti bunga teratai, namun terpaksa hidup di antara orang-orang<BR>jahat seperti lumpur itu.<BR>Pertempuran berjalan makin lama makin seru dan akhirnya setelah lewat<BR>seratus jurus lebih, saking sering bertemu dengan tenaga Beng San yang<BR>dahsyat, makin lama tiga orang itu makin lelah. Permainan mereka makin<BR>kendor sehingga kini mulailah mereka kelihatan bayangannya dan pada muka<BR>masing-masing telah penuh dengan keringat. Di lain pihak, Beng San masih<BR>enak-enak dan tenang-tenang saja mainkan kipasnya menangkis sambil<BR>meloncat ke sana ke mari dan kadang-kadang membuat lawan repot dengan<BR>serangan-serangan balasannya dengan jurus Im-yang Sin-kiam-sut. Kalau dia<BR>sudah menyerang begini, ujung gagang kipas dari gading itu bisa tahu-tahu<BR>sudah berada di depan tenggorokan, mata, pusar, ulu hati atau lambung<BR>seorang lawan yang tentu saja setelah berhasil menyelamatkan diri<BR>mengeluarkan keringat dingin saking ngerinya. Serangan pemuda itu tidak<BR>dapat diketahui lebih dulu, benar-benar berbahaya sekali.<BR>"Kupikir, kalau tidak sekarang kita memperlihatkan setia kawan kepada<BR>mereka, tunggu kapan lagi? Urusan dengan orang gila itu hanyalah urusan<BR>pribadi, sedangkan hubungan kita dengan mereka adalah urusan negara. Mana<BR>lebih penting? Bagaimanakah pendapat Ji-wi?"<BR>Koai-sin-kiam Oh Tojin dan Lu Khek Jin memang sudah "gatal tangan" sejak<BR>tadi melihat kehebatan Beng San mempermainkan tiga orang pengeroyoknya<BR>itu. Akan tetapi mereka masih ragu-ragu untuk membantu karena bukankah<BR>pemuda lihai itu adik kandung Beng Kui sendiri? Sekarang Beng Kui telah<BR>mengeluarkan pernyataan demikian, lenyaplah keraguan mereka. Bayangan<BR>yang gesit berkelebat didahului sinar terang, inilah gerakan Koai-sin-kiam Oh<BR>Tojin dengan memutar pedang yang entah kapan telah dicabutnyau Lu Khek<BR>Jin dengan tenang juga mencabut pedang dan menghampiri pertempuran.<BR>"Orang muda, kau sombong sekali mengacaukan tempat tinggal Ho-hai Samong.<BR>Terimalah serangan Koai-sin-kiam!" bentak Oh Tojin dan sekaligus<BR>pedangnya telah melakukan lima kali serangan bertubi-tubi dengan gerakan<BR>yang aneh. Tapi dengan heran dan penasaran sekali Oh Tojin hanya menusuk<BR>angin belaka, seolah-olah Beng San sudah tahu lebih dahulu akan perubahanperubahan<BR>dari jurus-jurus yang dimainkannya. Sebaliknya Lu Khek Jin<BR>seorang bekas jenderal perang, mainkan pedangnya dengan gerakan-gerakan<BR>mematikan dan bertenaga, disertai bentakan-bentakan. Diam-diam Beng San<BR>kagum akan sifat ilmu pedang yang dimainkan oleh Lu Khek Jin, karena<BR>biarpun tidak sangat tinggi, tapi gerakan-gerakannya jujur tanpa berisi gerak<BR>tipu, melainkan secara langsung menyerang mengandalkan tenaga dan<BR>kecepatan. Gerakan orang seperti ini berbahaya, maka cepat ia mengelak<BR>dengan penggeseran kaki yang sekaligus merubah kedudukannya. Dalam<BR>detik-detik selanjutnya Beng San sudah dikeroyok lima orang!<BR>Sungguh pun tingkat ilmu silat dua orang pengeroyok baru ini tidak berada di<BR>atas Ho-hai Sam-ong, namun mereka ini sudah merupakan tambahan tenaga<BR>yang lumayan. Betapapun juga, benar-benar Beng San kali ini memperlihatkan<BR>dirinya yang sesungguhnya dan sekaligus memperlihatkan bahwa ilmu Silat<BR>Im-yang Sin-kiam-sut yang menjadi ciptaan mendiang Pendekar Sakti Bu Pun<BR>Su benar-benar adalah ilmu yang luar biasa di dunia ini. Ilmu silat ini<BR>mendasarkan gerakan-gerakannya kepada dua puluh tujuh puw (gerak kaki)<BR>yang diiihami oleh kedudukan ji-cit-seng (dua puluh tujuh bintang), luar biasa<BR>banyaknya dan setelah memiliki ilmu silat ini, dengan mudah orang akan<BR>menghadapi serangan lawan yang bagaimana lihai pun, karena mengandalkan<BR>pergerakan langkah kaki tentu akan dapat menyelamatkan diri.<BR>Selain memiliki ilmu yang amat tinggi, juga Beng San adalah seorang yang<BR>pada dasarnya memang cerdik luar biasa dan sekali melihat saja ia sudah<BR>dapat mencatat apa yang dilihatnya di dalam otak. Biarpun ilmu silat pedang<BR>yang dimainkan oleh Koai-sin-kiam Oh Tojin adalah ilmu pedang selatan yang<BR>tak dikenalnya, apalagi ilmu pedang yang dimainkan Lu Khek Jin juga ilmu<BR>pedang peperangan yang asing baginya, namun sekali melihat ia sudah dapat<BR>menangkap intisari pergerakannya sehingga selanjutnya, biarpun dikeroyok<BR>lima, Beng San masih sempat membalas dengan serangan-serangan yang luar<BR>biasa menggunakan kipasnya!<BR>Setelah mendapat kesempatan baik, ia . mendesak Ho-hai Sam-ong yang<BR>sudah berkunang-kunang pandangan matanya itu dan secepat kilat kipasnya<BR>mengebut disusul menotok dengan ujung gagang gading itu dua kali. Sekali<BR>tepat mengenai tulang lengan kanan Lui Cai Si Bajul Besi sehingga orang<BR>tertua dari Ho-hai Sam-ong ini memekik kesakitan, dayungnya terlepas dari<BR>pegangan lalu sambil menyumpah-nyumpah karena kesakitan ia terputarputar<BR>menggunakan tangan kiri menggosok-gosok tempat yang tadi tertotok<BR>gagang kipas. Sakitnya bukan kepalang, kiut-miut rasanya seperti ribuan<BR>jarum menusuk-nusuk tulangnya. Gerakan Beng San yang ke dua tepat<BR>menyerempet ruyung Thio Ek Sui Si Cucut Mata Merah, lalu melejit dan<BR>menotok tulang kering di kaki kiri Si Cucut ini.<BR>bagian 23<BR>"Aduh... aduh... kakiku....!" Thio Ek Sui adalah scorang yang sudah biasa<BR>bertempur dan terluka baginya bukan apa-apa. Akan tetapi rasa nyeri yang<BR>sekarang menyerangnya membuat ia berkaok-kaok kesakitan, berjingkrakjingkrak<BR>seperti monyet belajar menari sambil memegangi kaki kirinya yang<BR>diangkat ke atas.<BR>Pada saat itu, tambang di tangan Kiang Hun meluncur dan tahu-tahu sudah<BR>melibat tubuh Beng San! Terdengar jerit tertahan. Yang menjerit ini adalah Li<BR>Cu karena merasa ngeri melihat betapa pemuda yang hendak menolongnya itu<BR>akhirnya tertawan oleh tambang yang lihai dari Kiang Hun Si Naga Sungai<BR>Seperti juga yang telah ia alami ketika ia dikeroyok Ho-hai Sam-ong ini. Kiang<BR>Hun nampak girang, mengedut tambang nya dengan maksud mempererat<BR>libatan. Tapi mendadak Beng San mengeluarkan suara aneh dan... makin<BR>ditarik tambang itu makin terlepas dan akhirnya terlihat oleh pemiliknya<BR>bahwa tambang itu sudah terputus-putus menjadi beberapa potong! Agaknya<BR>karena mengingat akan kebaikan gadis yang mukanya sama dengan Kiang<BR>Hun ini maka Beng San mengampuni Kiang Hun dan tidak melukainya. Ia<BR>dapat menduga bahwa antara gadis cilik pemilik kipas itu dengan Kiang Hun<BR>pasti ada hubungan keluarga.<BR>"Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li, kalau kalian tidak membantu<BR>sekarang, tunggu kapan lagi?" tiba-tiba Beng Kui berseru kepada dua orang<BR>wanita itu. "Bukankah kalian menjadi pembantu-pembantu Ho-hai Sam-ong?"<BR>Sebetulnya Hek-hwa Kui-bo, apalagi Kim-thouw Thian-li, merasa enggan untuk<BR>bertempur melawan Beng San yang begitu lihai. Akan tetapi seruan ini<BR>mendesak mereka ke pojok. Tentu Ho-hai Sam-ong akan mendapat kesan<BR>buruk kalau mereka tinggal diam saja. Sambil melotot ke arah Beng Kui kedua<BR>orang ini mencabut senjata masing-masing dan meloncat ke gelanggang<BR>pertempuran, mengeroyok Beng San, yang disambut oleh orang muda ini<BR>dengan tenang saja.<BR>"Kau hanya bisa menyuruh orang lain saja maju, apakah kau sendiri takut<BR>terhadap adikmu ini?" Hek-hwa Kui-bo sambil menyerang Beng San berseru<BR>kepada Beng Kui dengan suara keras dengan maksud agar semua orang<BR>mendengarnya.<BR>Memang Beng Kui sudah bertekad bulat untuk membunuh saja adik<BR>kandungnya yang ia anggap selalu membikin malu dan membikin kacau<BR>rencana. Adiknya itu telah merusak kehidupan seorang gadis, yaitu Kwa Hong.<BR>Sekarang setelah mengacau Thai-san dan menikah dengan puteri seorang<BR>penjahat seperti Song-bun-kwi, tahu-tahu muncul dan mencampuri urusannya,<BR>malah hendak membela Li Cu. Tentu dengan maksud rendah pula. Daripada<BR>mempunyai adik kandung seperti ini, bukankah lebih aman dan baik kalau<BR>dibinasakan saja? Setelah ber pikir demikian, Beng Kui lalu mencabut pedang<BR>Liong-cu-kiam yang panjang dengan tangan kanan, sedangkan Liong-cu-kiam<BR>pendek milik Li Cu memang sudah ia pegang di tangan kiri. Dengan sepasang<BR>pedang ampuh ini ia lalu menyerbu sambil berseru nyaring,<BR>"Beng San, kau tidak mentaati perintahku untuk pergi, agaknya memang<BR>sudah bosan hidup!"<BR>Serbuannya hebat sekali, apalagi ia segera mainkan Sian-li Kiam-sut yang lihai<BR>dan lebih-lebih hebat lagi karena yang ia pergunakan adalah sepasang Liongcu-<BR>kiam. Sepasang pedang itu berubah rnenjadi dua gulung sinar yang<BR>berkeredepan menyambar-nyambar ke arah Beng San dan menyerang dari<BR>segala jurusan!<BR>Beng San terkejut dan diam-diam mengakui kelihaian kakak kandungnya ini,<BR>akan tetapi berbareng hatinya perih dan juga marah. Ia dahulu amat<BR>merindukan kakak kandungnya, lalu setelah bertemu ia merasa kagum sekali<BR>melihat kakak kandungnya sebagai seorang patriot yang gagah. Tapi....<BR>sekarang kakaknya itu dengan sepasang pedang pusaka menerjang untuk<BR>membunuhnya! Dari perih hati ia menjadi marah dan cepat ia menghadapi<BR>serbuan ini. Sekarang Beng San dikeroyok lima orang lagi setelah Ho-hai Samong<BR>mengundurkan diri untuk mengatur napas dan memulihkan tenaga, Akan<BR>tetapi, di antara lima orang itu, yang paling hebat serangannya adalah Beng<BR>Kui. Andaikata hanya menghadapi Beng Kui seorang, biarpun pemuda ini<BR>menggunakan sepasang Liong-cu-kiam dan dia sendiri hanya bersenjata kipas,<BR>kiranya Beng San takkan dapat terdesak. Akan tetapi sekarang di situ ada<BR>Hek-hwa Kui-bo yang mainkan Im-sin Kiam-sut bersama muridnya yang juga<BR>cukup lihai, ditambah pula dengan Koai-sin-kiam Oh Tojin dan Lu Khek Jin<BR>maka penyerbuan Beng Kui benar-benar telah mendesak Beng San dan<BR>membuat ia meloncat ke sana ke mari dan menggerakkan kipas untuk<BR>melindungi dirinya.<BR>Pedang pendek di tangan kiri Beng Kui bergerak setengah lingkaran ke arah<BR>leher, lalu disusul dengan tusukan pedang panjang dari bawah ke atas.<BR>Gerakan ini selain aneh juga tidak terduga, cepat bukan main mengejutkan<BR>Beng San. Cepat pemuda ini menangkis dengan kipasnya dan... "brettt" kipas<BR>itu terobek oleh ujung pedang panjang. Baiknya Beng San cepat melompat<BR>sambil berjungkir balik, tangan kirinya dari jauh memukul ke arah dada<BR>kakaknya itu. Beng Kui merasai adanya sambaran angin yang mengandung<BR>hawa panas sekali, membuat ia kaget dan menarik kembali pedangnya sambil<BR>mundur dua langkah, Kesempatan ini dipergunakan oleh Beng San untuk<BR>melompat turun lagi dan mainkan kipasnya yang sudah robek untuk<BR>melindungi tubuh dari datangnya banyak senjata yang menyerangnya. Akan<BR>tetapi sekarang ia mulai tampak terdesak. Sayangnya bahwa yang berada di<BR>tangannya bukanlah pedang, melainkan sebuah kipas mainan yang kecil, maka<BR>ilmu pedangnya Im-yang Sin-kiam-sut tidak dapat dimainkan sehebathebatnya.<BR>Hal terdesaknya Beng San ini memang tidak aneh. Ilmu Pedang Sian-li Kiamsut<BR>adalah ilmu pedang ajaib yang dahulu menjadi milik pendekar wanita Ang I<BR>Niocu, hebatnya bukan kepalang dan tidak dapat diketahui rahasianya oleh<BR>orang luar. Adapun Beng San sendiri, biarpun dia telah memiliki tenaga ajaib<BR>dan mempunyai ilmu pedang yang lebih tinggi tingkatnya, namun ia masih<BR>muda dan kurang pengalaman. Sekarang menghadapi Beng Kui yang dibantu<BR>oleh empat orang lain yang semuanya adalah ahli-ahli tingkat tinggi, tentu<BR>saja ia merasa repot juga.<BR>"Brettt!" kembali kipasnya pecah, kali ini terkena tusukan pedang pendek di<BR>tangan kiri Beng Kui. Beng San marah bukan main, cepat ia menggerakkan<BR>kipas dengan tangan kanannya, diputar setengah lingkaran sedangkan tangan<BR>kirinya menyelonong ke belakang, tepat menghantam pundak kiri Koai-sinkiam<BR>Oh Tojin yang sedang lengah.<BR>"Aduh....!!" Oh Tojin menjerit kesakitan, tulang pundak kirinya terlepas<BR>sambungannya. Akan tetapi dengan marah ia malah makin maju menerjang<BR>ganas dengan pedangnya.<BR>Sementara itu, ketika Beng San memusatkan perhatian menyerang Oh Tojin<BR>dengan maksud merobohkan lawannya seorang, tiba-tiba sinar pedang di<BR>tangan Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li meluncur, satu ke arah kepala<BR>dan yang ke dua ke arah perutnya. Baiknya pemuda ini sudah mahir sekali<BR>akan gerakan-gerakan Im-sin Kiam-sut, maka cepat ia menggeser kaki ke kiri<BR>sekali dua kali sehingga terhindarlah ia dari ancaman ini. Tidak disangkanya<BR>sama sekali bahwa pada saat ia terdesak itu, Beng Kui sudah menerjangnya<BR>lagi dengan sepasang pedangnya yang dahsyat dan pada saat yang hampir<BR>berbareng, dari kanan kiri Oh Tojin dan Lu Khek Jin menerjang pula!<BR>"Digunting" oleh empat buah pedang yang hebat ini benar-benar keadaan<BR>Beng San kepepet sekali. Gerakan pedang Oh Tojin dan Lu Khek Jin ia ikuti<BR>dan dapat ia duga ke mana arahnya, maka dengan mudah ia segera dapat<BR>mengambil keputusan bagaimana harus mengelak, akan tetapi serangan<BR>sepasang pedang Beng Kui yang belum ia kenal betul gerakan-gerakannya, ia<BR>benar-benar menjadi bingung. Dua kali menggerakkan pundak dan kaki ia<BR>menghindarkan diri dari serangan Oh Tojin dan Lu Khek Jin, akan tetapi<BR>penerjangan Beng Kui sukar ia hindarkan karena tidak tahu bagaimana<BR>perkembangannya. Ia hanya menggunakan kipasnya menangkis.<BR>"Brettt!" Kini bajunya, di pundak terbabat, berikut sedikit kulit dan dagingnya.<BR>Darah mengucur banyak sekali membasahi bajunya. Baiknya ia tadi masih<BR>berlaku cepat dan menggerakkan pundak, kalau tidak tentu sebelah pundak<BR>berikut lengan kirinya akan terbabat putus! Keringat dingin keluar dari jidat<BR>pemuda ini, bukan karena sakitnya, melainkan saking kaget melihat kehebatan<BR>ilmu pedang lawannya ini. Sementara itu, saking gembiranya melihat hasil<BR>serangan tadi, Beng Kui menyerang makin hebat, dibantu oleh empat orang<BR>kawannya. Malah sekarang Ho-hai Sam-ong juga sudah siap untuk<BR>mengeroyok pula. Sayangnya senjata mereka adalah senjata-senjata panjang<BR>dan berat, sehingga untuk pengeroyokan begitu banyak orang kurang praktis<BR>dan mereka hanya melihat-lihat untuk mencari lowongan baik. Sepasang<BR>pedang Beng Kui menyambar-nyambar, berkilauan dan amat ganasnya.<BR>Sedangkan Beng San masih terus terdesak sambil mulai menaruh perhatian<BR>untuk memecahkan gerakan penyerangan kakak kandungnya yang<BR>menghendaki kematiannya ini.<BR>"Awas Beng San! Pedang pendek dari kiri berbalik ke kanan, pedang panjang<BR>menyerang ke atas. Kemudian yang pendek mengancam lambung kanan, yang<BR>panjang berbalik ke bawah membabat kaki!" Suara ini mengagetkan Beng Kui,<BR>tapi menggirangkan hati Beng San. Itulah suara Li Cu yang masih terbelenggu<BR>di kursi, akan tetapi gadis ini yang tentu saja mengenal baik pergerakan ilmu<BR>pedang yang dimainkan Beng Kui, sekarang memberi petunjuk kepada Beng<BR>San! Tadinya Li Cu memang tidak pedulikan Beng San karena pengaruh<BR>ucapan Beng Kui yang menjelek-jelekkan Beng San sebagai pengrusak wanita.<BR>Akan tetapi melihat kagagahan Beng San yang dikeroyok terus-menerus oleh<BR>sekian banyaknya musuh tangguh, kemudian melihat Beng San terluka oleh<BR>pedang Beng Kui tanpa bersambat, timbul perasaan kasihan dalam dada Li Cu.<BR>Betapapun juga, sudah pasti bahwa Beng San datang untuk menolongnya.<BR>Sedangkan berita tentang "kebusukan" Beng San masih belum terbukti. Mana<BR>bisa ia membiarkan Beng San tewas? Lagipula, kalau Beng San tewas,<BR>nasibnya sendiri sudah pasti akan celaka di tangan kakak seperguruan atau<BR>bekas tunangannya itu. Kalau Beng San dapat menolongnya keluar dari situ,<BR>kiranya belum tentu ia celaka di tangan Beng San.<BR>"Li Cu, tutup mulutmu!" Beng Kui membentak marah dan tentu saja ia segera<BR>merubah gerakan penyerangannya yang sudah. "didahului": oleh teriakan Li<BR>Cu tadi. Kembali Beng San bingung menghadapi perkembangan jurus-jurus<BR>penyerangan baru ini sementara dia sedang sibuk menghadapi pengeroyokan<BR>empat orang yang lain. Yang pendek hanya pura-pura mengancam kepala,<BR>yang bergerak yang panjang. Awas ujung siku kiri yang hendak dibabat<BR>pedang panjang. Kemudian pendek dan panjang akan menyerang dari atas<BR>bawah bergantian, itu pun jebakan saja, yang harus dijaga babatan pedang<BR>pendek ke leher dibarengi babatan pedang panjang ke pinggang!"<BR>"Li Cu, kau hendak mengkhianati suhengmu sendiri?" Beng Kui membentak<BR>marah sekali.<BR>"Aku tidak punya suheng macammu!" Li Cu berteriak kembali sambil terus<BR>memberi petunjuk-petunjuk.<BR>Sekarang Beng San tidak terdesak lagi. Ia tidak begitu menguatirkan<BR>penyerangan Beng Kui setelah mendapat penjelasan dari Li Cu, malah sebelum<BR>penyerangan datang ia sudah tahu lebih dulu ke mana serangan musuh akan<BR>dilancarkan. Oleh karena ini, perhatiannya lebih banyak ditujukan kepada<BR>empat orang lawannya yang lain. Begitu mendapat kesempatan, gagang<BR>kipasnya berhasil menotok roboh Kim-thouw Thian-li yang tepat tertotok jalan<BR>darah di pundaknya, kemudian sebuah tendangan kilat berhasil merobohkan<BR>Oh Tojin yang terlempar sampai tiga meter dan tidak mampu bangun kembali<BR>karena tulang lututnya patah! Tosu yang terlepas sambungan tulang pundak<BR>dan patah tulang lututnya itu hanya mengeluh dan menangis seperti anak<BR>kecil.<BR>Melihat keadaan yang tidak menguntungkan ini, Ho-hai Sam-ong segera<BR>menyerbu lagi. Beng San juga sudah lelah, terutama sekali darah yang<BR>mengucur dari pundaknya mulai mengering dan mendatangkan rasa nyeri dan<BR>perih. Akan tetapi ia mengamuk terus dengan nekat karena robohnya dua<BR>orang itu malah mendatangkan tambahan tiga tenaga lagi, yaitu Ho-hai Samong<BR>yang malah lebih lihai.<BR>Sementara itu, melihat keadaan yang tidak menguntungkan bagi pihaknya,<BR>padahal tadinya sudah berhasil baik sekali, Beng Kui menjadi marah. Semua<BR>gara-gara Li Cu yang sengaja memecahkan jurus-jurusnya dan membantu<BR>Beng San. Beng Kui adalah seorang pemuda yang mempunyai ambisi (citacita)<BR>besar sekali. Dahulu di masa perjuangan, Ia rela berkorban apa saja<BR>untuk mencapai cita-citanya, yaitu menduduki tempat yang tinggal dalam<BR>pemerintahan baru. Siapa kira, kedudukan tinggi itu tidak bisa ia dapatkan<BR>karena ia kurang mendapat penghargaan dari Ciu Goan Ciang. Oleh karena ini<BR>ia terpaksa bersekutu dengan Raja Muda Lu, menjadi mantunya dan hendak<BR>mengadakan pemberontakan. Ini pun dldasari ambisinya yang besar. Dan<BR>yang paling ia benci adalah orang yang hendak menghalang-halangi ambisinya<BR>ini, atau yang hendak mempersukar perjalanan ke arah tercapainya citacitanya.<BR>Ia menganggap Beng San seorang yang demikian itu, maka ia tidak<BR>ragu-ragu untuk mencoba membinasakannya. Sekarang melihat sikap Li Cu,<BR>timbul marahnya. Sekali meloncat ketika mendapat kesempatan, Ia sudah<BR>berada di dekat kursi yang diduduki Li Cu. Pedangnya berkelebat dan Li Cu<BR>sudah meramkan mata menerima kematian. Akan tetapi melihat wajah Li Cu<BR>yang cantik jelita, agaknya timbul kembali cinta dan nafsunya. Beng Kui tidak<BR>jadi membunuh Li Cu, melainkan gadis ini malah ia lepaskan dari kursi,<BR>kemudian ia pondong dan ia bawa lari keluar dari tempat itu!<BR>Bukan main kagetnya hati Li Cu. Tadi ketika ia melihat Beng Kui<BR>menghampirinya dengan pedang diangkat, ia hanya meramkan mata menanti<BR>maut tanpa mengeluarkan suara, sedikit pun tidak gentar. Akan tetapi<BR>sekarang merasa dirinya dipondong pergi dalam keadaan masih terbelenggu,<BR>wajahnya berubah pucat sekali dan jantungnya berdebar-debar ketakutan.<BR>"Beng San... tolong....!!" teriaknya berulang-ulang dengan sekuat tenaga<BR>jeritnya.<BR>Beng San bukanlah seorang pemuda yang suka berkelahi atau suka menang.<BR>Ia pun tidak suka menaruh hati dendam. Maka begitu mendengar jerit suara Li<BR>Cu, ia cepat menengok. Alangkah kaget dan marahnya ketika ia melihat Li Cu<BR>dipondong oleh Beng Kui dan dibawa lari. Kedatangannya di tempat itu sama<BR>sekali bukan untuk bertanding dengan Ho-hai Sam-ong dengan Hek-hwa Kuibo<BR>atau dengan yang lain-lain. Kedatangannya khusus untuk menolong Li Cu.<BR>Sekarang Li Cu dibawa lari oleh Beng Kui dan hal ini terang sekali terjadi di<BR>luar kehendak Li Cu yang menjerit-jerit minta tolong kepadanya. Bagaimana ia<BR>bisa tinggal diam saja? Sekali ia menggerakkan tangan dan kaki, ia telah<BR>memukul runtuh pedang dari tangan Hek-hwa Kui-bo, kemudian tubuhnya<BR>berkelebat dan ia sudah meloncat untuk mengejar Beng Kui.<BR>Matanya terasa sakit ketika dari ruangan yang terang itu ia kini tiba di luar<BR>rumah yang amat gelap. Tidak kelihatan bayangan Beng Kui, tapi ia melihat<BR>beberapa orang penjaga dengan tombak di tangan menjaga ternpat itu.<BR>Bagaikan seekor burung saja ia melayang dan setelah dekat, sekaligus ia<BR>menotok roboh dua orang penjaga dan mengempit seorang di antaranya<BR>dibawa pergi ke tempat gelap. Gegerlah para penjaga ketika melihat seorang<BR>kawan roboh dan yang seorang lagi lenyap tak berbekas.<BR>"Katakan ke mana perginya Tan Beng Kui ciangkun yang membawa wanita<BR>tawanan tadi!" Dengan suara ditekan Beng San memaksa tawanannya sambil<BR>meraba jalan darah yang menimbulkan rasa nyeri tak tertahankan. Penjaga itu<BR>meringis-ringis, lalu dengan suara terputus-putus memberitahukan bahwa<BR>orang yang dimaksudkan itu telah pergi menunggang seekor kuda menuju ke<BR>arah selatan.<BR>Beng San melepaskan korbannya dan cepat ia berlari-lari dalam gelap<BR>mengejar ke selatan. Ia maklum bahwa kakak kandungnya itu tentulah<BR>bertempat tinggal di Nan King, di kota raja yang baru bersama ayah<BR>mertuanya, raja muda she Lu itu. Maka ia mengambil jalan ini dan<BR>mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian ginkangnya untuk berlari cepat,<BR>tanpa mempedulikan tubuhnya yang amat lelah dan darah segar yang<BR>mengucur keluar lagi dari luka di pundaknya karena gerakah-gerakannya ini.<BR>Usahanya mati-matian ini ternyata tidak sia-sia. Menjelang pagi ia sudah<BR>mendengar suara kaki kuda di sebelah depan, mulai memasuki hutan terakhir<BR>dalam perjalanan jauh ke kota raja itu. Hatinya masih ragu-ragu. Betulkah<BR>suara kaki kuda itu adalah kuda yang ditung-gangi oleh Beng Kui? Tiba-tiba<BR>semangat nya bangkit ketika lapat-lapat ia mendengar jeritan. "Beng San....!l"<BR>Dipercepatnya larinya dan tak lama kemudian benar saja ia melihat Beng Kui<BR>membalapkan kudanya sambil memangku Li Cu yang masih tak berdaya<BR>karena terbelenggu kaki tangannya. Sambil meringankan kakinya sehingga<BR>tidak terdengar suara larinya, Beng San makin mendekati dan akhirnya ia<BR>mendengar suara Beng Kui mentertawakan, bahkan menghina.<BR>"Li Cu, kau sekarang tergila-gila kepada Beng San? Heh-heh, benar-benar<BR>lucu. Tadinya kau marah-marah melihat aku kawin dengan puteri Raja Muda<BR>Lu dengan dasar politik, karena aku ingin merebut kedudukan tinggi kelak.<BR>Tapi cintaku masih kepada dirimu, Li Cu. Kalau kelak aku menjadi kaisar, atau<BR>setidaknya menjadi raja muda, apa salahnya kalau aku beristeri dua? Kau<BR>tetap akan menjadi isteriku yang tercinta. Kenapa kau tidak sabar dan tidak<BR>mau mengerti, lalu marah-marah? Kenapa kau sekarang malah kelihatan lebih<BR>mencinta adikku yang gila itu?"<BR>"Dia seribu kali lebih baik dari padamu, kau laki-laki palsu, kau pengkhianat,<BR>awas kau Ayah pasti akan membalaskan sakit hatiku!" Li Cu berteriak-teriak<BR>Beng Kui tertawa mengejek, "Kau bilang Beng San lebih baik daripadaku? Haha,<BR>Li Cu, kau tidak mengerti. Dia itu seorang iblis pengrusak wanita. Tak<BR>tahukah kau betapa murid Hoa-san-pai yang bernama Kwa Hong itu telah<BR>dirusaknya, kemudian ditinggalkannya pergi, malah dia menikah dengan anak<BR>seorang penjahat yang terkenal Song-bun-kwi? Tentang ayahmu... hemm,<BR>suhu tentu akan memaklumi pendirianku...."<BR>Tiba-tiba suaranya berhenti karena pada saat itu kuda yang ditungganginya<BR>terjungkal sehingga dua orang itu terlempar dari atas punggung kuda! Beng<BR>Kui terkejut sekali dan cepat melompat bangun sambil mencabut sepasang<BR>pedangnya, membalikkan tubuh dan berhadapan dengan Beng San!<BR>"Kau... lagi....?? Seperti iblis saja kau, kenapa selalu mengikuti aku?" teriak<BR>Beng Kui marah.<BR>Beng San tersenyum mengejek. "Bukan aku yang mengikuti kau, tapi<BR>kejahatanmu yang memaksa aku datang. Tidak boleh kau menculik seorang<BR>gadis, biarpun dia itu sumoimu sendiri." Sambil berkata demikian, Beng San<BR>lalu melangkahkan kaki menghampiri Li Cu yang rebah di atas tanah. Ketika<BR>terjatuh dari punggung kuda tadi, gadis ini masih dalam keadaan terbelenggu,<BR>maka jatuhnya lebih parah dan pakaiannya sampai robek-robek. Ia benarbenar<BR>dalam keadaan setengah pingsan, akan tetapi cukup sadar untuk dapat<BR>menangkap percakapan antara kakak beradik itu.<BR>Selagi Beng San melangkah menghampiri Li Cu, Beng Kui yang sudah tak kuat<BR>menahan kemarahannya itu serentak menerjang dari belakang, menggerakkan<BR>sepasang pedang Liong-cu-kiam secepat kilat.<BR>"Awas... Beng San... belakang....!" Li Cu yang melihat ini menjerit. Akan tetapi<BR>gerakan Beng San malah mendahului jeritannya, karena pemuda ini sudah<BR>membalik, kedua tangannya bergerak, kakinya bergeser dengah langkahlangkah<BR>aneh. Secara otomatis tubuhnya menyelinap di antara sambaran dua<BR>pedang, tahu-tahu kedua tangannya sudah "memasuki" celah-celah. pedang<BR>dan mendorong ke arah sepasang pundak lawan. Terdengar Beng Kui<BR>mengeluh sebelum tangan Beng San menyentuh pundaknya, sepasang<BR>pedangnya hampir terlepas dan di lain saat kedua pedang itu sudah berpindah<BR>ke tangan Beng San! Hebat sekali gerakan ini dan dari kedua tangan Beng San<BR>itu samar-samar tampak mengebulnya uap putih. Inilah sebuah gerakan dari<BR>ilmu silat mujijat yang dahulu di jaman-nya Pendekar Sakti Bu Pun Su disebut<BR>Ilmu Silat Pek-in-hoat-sut (Ilmu Sihir Awan Putih)! Karena kemahirannya<BR>dalam Im-yang-sin-kun, otomatis Beng San dapat mewarisi sebuah gerakan<BR>dari ilmu itu dan ternyata hasilnya hebat luar biasa.<BR>Beng Kui memandang dengan muka pucat dan mata melotot. Beng San untuk<BR>sesaat juga memandang dengan muka marah dan mata berkilat, tapi ia lalu<BR>menyerahkan pedang yang panjang itu kembali sambil berkata,<BR>"Aku sudah berjanji meminjamkan Liong-cu-kiam sepasang ini kepada kau dan<BR>Nona Cia Li Cu selama tiga tahun. Janji itu tetap berlaku. Tiga tahun setelah<BR>janjiku aku pasti akan mengambil kembali Liong-cu-kiam jantan ini dari<BR>tanganmu."<BR>Masih, tertegun oleh kehebatan adik kandungnya yang secara mujijat dapat<BR>merampas sepasang pedangnya, Beng Kui mengeluarkan tangan menerima<BR>pedangnya kembali, kemudian setelah memandang, dengan mata melotot<BR>beberapa saat lamanya, ia menoleh ke arah Li Cu sejenak lalu membalikkan<BR>tubuh dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.<BR>Beng San menarik napas panjang, menghampiri Li Cu, dan sekali pedang<BR>Liong-cu-kiam pendek itu bergerak di tangannya, kilat menyambar dan<BR>sekaligus belenggu yang mengikat kaki dan tangan Li Cu putus semua tanpa<BR>terasa sedikit pun oleh gadis itu, Li Cu meloncat bangun, mengeluh dan<BR>terhuyung-huyung ke belakang. Baiknya Beng San cepat mengejarnya dan<BR>menyambar pundaknya. Alangkah kagetnya ketika pemuda ini melihat Li Cu<BR>sudah meramkan mata, tak ingat orang lagi, pingsan dalam pelukannya.<BR>Beng San bingung. Ia meraba pergelangan lengan gadis itu dan maklumlah ia<BR>bahwa gadis ini tidak apa-apa. Hanya karena banyak mengalami ketegangan,<BR>kemarahan dan kekuatiran, ditambah lagi terlalu lama tadinya ia tertotok dan<BR>terbelenggu, maka begitu ia dibebaskan, dalam batin dan pikirannya terjadi<BR>pukulan yang tak kuat ia menahannya sehingga membuatnya pingsan.<BR>Terpaksa Beng San memondongnya dan membawanya berlari keluar dari<BR>hutan itu. Ia merasa kuatir kalau-kalau Beng Kui akan datang bersama kawankawannya.<BR>Akan payah juga kalau ia dikeroyok lagi orang-orang pandai<BR>sementara Li Cu masih pingsan. Lebih baik cepat-cepat meninggalkan tempat<BR>itu.<BR>Belum juga ia berlari, ia melihat kuda yang tadi ditunggangi Beng Kui,<BR>sekarang sudah sembuh dan sedang makan rumput. Memang tadi ketika<BR>merobohkan kuda itu, Beng San tidak mempergunakan serangan mematikan,<BR>melainkan menotok dengan lemparan kerikil ke arah lutut kuda sehingga kuda<BR>itu terjungkal saja. Dengan girang kini Beng San menghampiri kuda yang<BR>masih lengkap dengan pelana dan kendali itu, lalu ia melompat ke atasnya<BR>sambil merangkul Li Cu. Dengan perlahan ia lalu menjalankan kudanya ke arah<BR>utara.<BR>Matahari telah naik tinggi ketika kuda yang ditunggangi Beng San sampai di<BR>tepi Sungai Huang-ho sebelah barat, Beng San membelokkan kudanya ke<BR>barat, menyusur sepanjang pantai sungai memasuki sebuah hutan yang segar<BR>kehijauan dan teduh. Hari itu panasnya bukan kepalang. Kudanya biarpun<BR>tidak dibalapkan telah berpeluh dan napasnya terengah-engah. Beng San<BR>merasa kasihan dan menghentikan kuda itu di bawah sebatang pohon besar di<BR>mana air Sungai Huang-ho tampak kehijauan indah.<BR>Li Cu baru saja siuman dari pingsan Gadis ini merasa pening sekali, matanya<BR>berputar-putar. Mulai membuka sedikit kedua matanya, kembali karena sinar<BR>matahan yang menerobos, dari celah-celah daun memasuki matanya. Lalu ia<BR>teringat betapa indahnya daun-daun pohon di atas tadi, maka dibukanya<BR>kembah matanya. Memang indah! Daun-daun pohon yang kecil dengan bentuk<BR>sempurna ditimpa matahari, bersusun-susun rnenimbulkan warna hijau yang<BR>dihias sinar kuning emas dan kehitaman bayangan. Bagaikan benang-benang<BR>sutera kuning emas sinar matahari meluncur turun di antara celah-celah daun,<BR>kadang-kadang berubah kedudukan karena daun-daun itu bergerak oleh<BR>angin.<BR>bagian 24<BR>Sampai lama Li Cu terpesona oleh keindahan pemandangan yang belum<BR>pernah diperhatikan sebelumnya itu. Kemudian terasa olehnya pergerakan<BR>napas dan bunyi berdetik di pinggir telinganya. Makin lebar matanya dibuka<BR>dan yang mula-mula tampak adalah sebuah hidung dan sebuah mulut dari<BR>muka yang putih. Yang paling jelas adalah bentuk dagu yang keras. Ia makin<BR>mengerahkan perhatian, memandang kepada muka itu. Tahulah sekarang ia<BR>bahwa yang berdetik-detik itu adalah bunyi jantung dalam dada di mana ia<BR>bersandar. Ia dipangku orang, di atas sebuah pelana kuda! Dan muka itu...<BR>muka Beng Kui!<BR>"Bedebah kurang ajar kau!" Li Cu seketika timbul tenaganya, kedua tangannya<BR>meraih ke atas lalu dipukulkan dua kali ke muka itu, muka yang dibencinya,<BR>muka yang dahulu pernah dicintainya Muka Beng Kui!<BR>Potongan tubuhnya yang terlatih semenjak kecil. Li Cu sudah berhasil<BR>memukul sambil terus meloncat menjatuhkan diri ke pinggir, lalu berjungkirbalik<BR>dan di lain saat ia sudah berdiri tegak di depan kuda, siap untuk<BR>menyerang lagi. Ia melihat orang yang dipukul mukanya tadi meloncat turun<BR>terus duduk di atas akar pohon sambil menutupi mukanya.<BR>Beng San tak dapat mengelak ketika tadi. Memang dia pun seperti Li Cu<BR>terpesona oleh cahaya matahari yang secara indah menghias hutan itu dengan<BR>sinar benang emas, akan tetapi warna kuning emas itu mengingatkan ia akan<BR>burung rajawali emas dan sekaligus mengingatkan ia kembali kepada Kwa<BR>Hong. Terngiang di telinganya kata-kata tuduhan Beng Kui bahwa ia telah<BR>merusak kehidupan Kwa Hong. Beng Kui tidak tahu keadaan yang sebenarnya,<BR>akan tetapi memang tuduhannya itu tak dapat disangkal pula. Memang ia telah<BR>merusak kehidupan Kwa Hong. la telah berdosa besar, besar sekali. Pada saat<BR>itulah Li Cu memaki dan memukul mukanya dua kali, yang pertama mengenai<BR>pinggir jidatnya dan yang ke dua mengenai pinggir mulutnya. Darah mengucur<BR>dari kedua tempat itu, sakit rasanya. Akan tetapi hati Beng San lebih sakit oleh<BR>makian tadi. Ia dapat menahan pukulan itu, lalu meloncat turun dan<BR>menjatuhkan diri duduk di atas akar pohon, menutupi mukanya dengan kedua<BR>tangan untuk menyembunyikan dua butir air mata yang berloncatan keluar.<BR>Akan tetapi tanpa disengaja kedua tangannya itu pun menyembunyikan jidat<BR>dan bibir yang mengucurkan darah.<BR>Setelah kini agak reda peningnya, pandang mata Li Cu makin terang. Ia<BR>memandang terbelalak kepada orang yang duduk menutupi muka di bawah<BR>pohon itu. Sejenak Li Cu bingung. Ia teringat betul bahwa yang dipukulnya<BR>tadi adalah Beng Kui. Tapi orang itu... pakaian itu dan... dan pundak yang<BR>terluka itu....!<BR>"Beng San....! Li Cu menahan jeritnya, tangan kirinya menutupi mulut, lalu ia<BR>melangkah maju tiga tindak mendekat.<BR>Beng San menurunkan kedua tangannya yang menutupi muka. Darah<BR>mengucur deras dari luka di jidatnya. Memang bagian tubuh yang teratas ini<BR>paling banyak rnengeluarkan darah kalau terluka. Pandang mata Beng San<BR>kabur dan ia melihat seakan-akan Kwa Hong yang berdiri di depannya<BR>sekarang ini.<BR>"Kau... kau boleh pukul aku lagi kalau kau suka... bunuh pun boleh...."<BR>katanya perlahan.<BR>Meremang bulu tengkuk Li Cu melihat muka yang berlumuran darah dan<BR>mendengar suara yang tak berirama ini, seperti suara dari balik kubur. Ia<BR>menyesal bukan main. Kenapa ia malah memukul Beng San yang telah<BR>menolongnya dari bahaya yang lebih ngeri dari pada maut? Timbul penyesalan<BR>dan kasihannya.<BR>"Ah, jadi kaukah yang kupukul tadi?" tanyanya dengan penuh sesal sambil<BR>cepat maju menghampiri. Setelah dekat barulah Beng San ingat kembali<BR>bahwa gadis ini sama sekali bukan Kwa Hong biarpun pakaiannya serba<BR>merah, melainkan Cia Li Cu.<BR>"Nona Cia, ini pedangmu... ambil... ambil... ambillah sendiri...." katanya<BR>lemah. Pedang Liong-cu-kiam pendek itu telah ia selipkan di belakang<BR>punggung.<BR>"Siapa bicara tentang pedang? Mukamu itu... harus diurus dulu," kata Li Cu<BR>dan dengan cepat gadis ini sudah berlutut di depan Beng San, lalu dengan<BR>cekatan ia membersihkan darah dari luka di bibir dan jidat itu.Tanpa ragu-ragu<BR>lagi dan sama sekali tidak jijik Li Cu mempergunakan saputangannya dari<BR>sutera yang harum untuk mengusap darah. Saputangan itu sudah penuh<BR>darah, dan luka di kening masih terus mengucurkan darah.<BR>"Tunggu sebentar kumencari air," kata Li Cu dan cepat gadis ini lari ke tepi<BR>sungai dan mengambil air dengan mempergunakan daun yang lebar.<BR>Kemudian ia datang lagi dan dicucinya luka-luka itu. Cekatan sekali ia bekerja<BR>tanpa ragu-ragu dan jari-jari tangannya dengan mesra membersihkan luka<BR>yang diakibat kan pukulannya sendiri tadi.<BR>"Wah, darahnya mengucur terus. Jidatmu harus dibungkus," bisik Li Cu<BR>perlahan dan agak bingung karena tidak ada obat penghenti darah di situ. Ia<BR>mencuci saputangannya dan mempergunakannya untuk membalut jidat Beng<BR>San.<BR>Tentu saja untuk pekerjaan ini ia harus mengangkat kedua lengannya dan<BR>seakan-akan memeluk kepala Beng San.<BR>Selama itu, jantung Beng San berdebar tidak karuan. Lenyaplah bayangan<BR>Kwa Hong yang selama ini mengikutinya dan membuat ia merasa berdosa<BR>hebat. Malah bayangan isterinya, Kwee Bi Goat, isterinya yang tercinta yang<BR>selama ini dirindukannya, tidak tak tampak pada saat itu. Bukan main cantik<BR>jelitanya gadis ini, demikian ia mendengar bisikan-bisikan di belakang<BR>telinganya, seakan-akan batang pohon yang ia sandari itulah yang berbisikbisik.<BR>Cantik bagai bidadari. Mata yang bening redup itu, mulut kecil mungil<BR>dengan hidung yang mancung. Rambut yang panjang hitam awut-awutan.<BR>Kadang-kadang memperlihatkan kulit leher yang putih kuning. Ketika gadis itu<BR>membalutkan saputangan ke belakang lehernya ia merasa seakan-akan<BR>dipeluk dan Beng San meramkan matanya. Ganda sedap mengharum<BR>membuat ia seperti mabok dan ketika ia membuka matanya, ternyata<BR>pekerjaan gadis itu sudah selesai.<BR>Li Cu masih berlutut di depannya, mukanya amat dekat, terlalu dekat seakanakan<BR>ia dapat merasai tiupan napas gadis itu. Dua pasang mata bertemu,<BR>saling pandang, saling terkam dan sukar terlepas lagi. Mulut Li Cu agak<BR>terbuka, matanya redup dan bulu mata yang panjang itu bergerak-gerak.<BR>Bisikan di belakang telinga Beng San makin mendesak. Dia cantik bukan main.<BR>Dan agaknya suka kepadamu.Hemm... tunggu apa lagi?<BR>Li Cu menierit kecil sambil melompat mundur. Hampir berbareng di saat itu<BR>juga Beng San sambil duduk membalikkan tubuhnya dan tangan kanannya<BR>yang terkepal memukul batang pohon besar di belakangnya. Blukk! Saking<BR>kerasnya ia menghantam, kepalan tangan itu melesak ke dalam batang pohon<BR>sampai ke pergelangan tangannya!<BR>"Eh... ah... kenapa....? Kenapa kau memukul pohon....??" Li Cu yang kini<BR>sudah berdiri, memandang dengan mata terbelalak terheran-heran.<BR>Beng San perlahan-lahan bangkit berdiri, menarik napas berkali-kali. Ia masih<BR>sempat mendengar suara yang berbisik-bisik tadi seperti mentertawakannya<BR>dari jauh. Setelah ia dengarkan betul-betul, itu sebenarnya adalah suara daundaun<BR>pohon tertiup angin. Ia bergidik. Alangkah bahayanya bisikan-bisikan<BR>tadi. Bisikan iblis yang setiap saat menggoda manusia. Untung ia dapat<BR>mengalahkannya tadi dan biarpun kepalan tangannya terasa sakit, ia merasa<BR>lega hatinya. Kini tanpa ragu-ragu ia dapat mengangkat muka memandang<BR>wajah Li Cu.<BR>"Beng San... kenapa kau memukul pohon....?" tanyanya sekali lagi.<BR>"Ah, tidak... tidak apa-apa, Nona." "Mukamu tadi menakutkan sekali...."<BR>"Bukan salahku. Mukaku memang bu-ruk...."<BR>"Sekarang tidak lagi," buru-buru Li Cu memotong. "Tadi, sedetik sebelum kau<BR>memukul pohon. Aku sampai kaget dan menjerit. Beng San, kenapa mukamu<BR>bisa berubah-ubah?"<BR>"Sudah nasibku, Nona. Ketika kecil aku dipaksa makan racun. Apakah<BR>sekarang mukaku masih menakutkanmu?"<BR>Li Cu memaksa senyum, matanya bersinar-sinar lagi. "Tidak lagi. Sekarang<BR>tidak. Hanya tadi sebentar... ah, membikin aku teringat akan kata-kata Beng<BR>Kui tadi. Kau disebut iblis pengrusak wanita."<BR>"Memang aku iblis... bukan hanya iblis malah kau tadi pun menyebutku<BR>bedebah dan kurang ajar... memang demikianlah aku...." Beng San menunduk<BR>dan menarik napas, merasa betapa memang ia tepat sekali disebut demikian<BR>setelah apa yang ia akibatkan pada diri Kwa Hong. Ia berdosa kepada Kwa<BR>Hong dan lebih-lebih lagi kepada Bi Goat.<BR>"Aku tadi mengira kau Beng Kui, maka aku memaki demikian."<BR>Kembali Beng San menarik napas panjang. "Memang tidak banyak selisihnya,<BR>Nona Cia. Kami berdua... ahh, kami bukan orang baik...."<BR>Li Cu memandang dan menjadi terharu. Muka itu kurus benar, tapi kulitnya<BR>sekarang putih dan... hemm, tampan sekali. Apalagi alis yang berbentuk golok<BR>itu, dan sepasang mata yang tajam luar biasa. Rambutnya tidak terpelihara,<BR>pakaiannya pun hampir menyerupai pakaian jembel. Memang jauh bedanya<BR>telihat lahirnya saja dengan Beng Kui yang mentereng dan rapi. Tapi jauh nian<BR>bedanya.<BR>"Beng San...." katanya setelah mereka berdua tercekam oleh suasana hening.<BR>"Malam tadi di atas genteng, kenapa kau menangis?"<BR>"Apakah aku menangis? Aku sudah lupa...<BR>"Sebelum kau muncul untuk menolongku, kau menangis. Tangismu memilukan<BR>sekali biarpun hanya terdengar sebentar."<BR>"Boleh jadi. Aku menangisi keadaanku, keadaan dia yang dulu kuagungkan,<BR>kukagumi sebagai kakakku yang mulia dan perkasa. Kiranya ia sama dengan<BR>aku...." "Kau kenapa? Kau... kau baik sekali, Beng San." Ucapan ini terdengar<BR>lantang dan terus terang. Ketika Beng San mengangkat muka memandang,<BR>kembali dua pasang mata bertemu dan Beng San melihat pandang mata yang<BR>jujur dan tahu bahwa pernyataan nona ini keluar dari hatinya. Ia menarik<BR>napas.<BR>"Bukan, sayang sekali. Benar seperti yang dikatakan olehnya, aku seorang<BR>jahat, perusak hati wanita, aku seorang penuh dosa...."<BR>"Tak-percaya! Aku tidak percaya!" Suara Li Cu makin keras penuh<BR>kesungguhan. Gadis ini diam-diam merasa aneh. Sesuatu yang aneh terjadi<BR>dalam dirinya. Biarpun sudah lama sekali ia bertunangan secara resmi dengan<BR>Beng Kui, namun hubungannya sama saja dengan hubungan kakak beradik,<BR>seorang suheng dan sumoi. Belum pernah jantungnya menggetar, seperti tadi<BR>ketika ia membalut kepala Beng San. Malah belum pernah berdekatan seperti<BR>tadi dengan Beng San. Apakah artinya semua ini? Dan ia sama sekali tidak<BR>mau percaya kalau Beng San seorang jahat, seorang perusak wanita.<BR>Beng San memandang dengan melongo dan tiba-tiba ia merasa jantungnya<BR>berdebar keras. Penuh keharuan dan kengerian ia memandang kepada wajah<BR>jelita itu. Sudah terlalu sering ia melihat wajah gadis-gadis yang mencintanya,<BR>terutama sekali wajah Kwa Hong dan isterinya Kwee Bi Goat. Sinar mata dan<BR>wajah mereka itu seperti wajah Li Cu sekarang ini, demikian mesra, demikian<BR>jelas cinta kasih terbayang pada sepasang mata yang bening itu. Tak boleh ini!<BR>Sekali-kali tidak boleh! Ia tidak mau berlaku sembrono seperti dulu. Tak mau<BR>melukai hati gadis, apalagi gadis seperti Li Cu. Dulu sudah banyak gadis-gadis<BR>terluka hatinya olehnya.<BR>"Nona Cia, aku harus berterus terang kepadamu. Memang aku seorang lakilaki<BR>penuh dosa dan apa yang dikatakan suhengmu tadi semua betul belaka."<BR>Kemudian dengan suara tegas jelas, sama sekali tidak ragu-ragu dengan<BR>pengakuannya itu ia hendak meringankan dosanya yang menindih isi dada, ia<BR>menceritakan, kepada Li Cu telah melakukan perhubungan dengan Kwa Hong<BR>kemudian meninggalkannya karena ia sudah jatuh cinta dengan Kwee Bi Goat<BR>dan kemudian ia ikut bersama Bi Goat ke Min-san dan menjadi suami isteri di<BR>sana. Diceritakannya pula betapa Kwa Hong menjadi rusak hatinya dan seperti<BR>gila, apalagi setelah ternyata bahwa perhubungan mereka itu telah<BR>mengakibatkan Kwa Hong mengandung.<BR>"Aku telah berdosa besar kepada Kwa Hong, aku telah merusak hidupnya. Dan<BR>aku lebih berdosa lagi kepada isteriku yang belum tahu akan hal itu.<BR>Seharusnya dahulu aku mengaku di depan Bi Goat, tapi aku pengecut... aku<BR>takut kehilangan dia, jadi aku seakan-akan menipunya. Ah, dosaku<BR>bertumpuk-tumpuk, Nona Cia. Sudah sepatutnya kalau orang semulia engkau<BR>membenciku, menganggap rendah kepadaku seperti dikatakan oleh suhengmu<BR>itu...." Demikian Beng San menutup ceritanya.<BR>Li Cu sejak tadi mendengarkan dengan mata terbelalak dan muka sebentar<BR>pucat sebentar merah. Entah mengapa dia sendiri tidak tahu, mendengar akan<BR>penuturan Beng San tentang pengalaman dengan beberapa orang gadis cantik<BR>ini, dadanya terasa panas dan ingin sekali ia marah-marah! Ingin sekali ia<BR>menampar muka Beng San. Tapi juga ingin sekali ia menangis!<BR>"Kau... kau... laki-laki mata keranjang!" makinya dengan suara serak sambil<BR>berdiri dan berlari pergi dari tempat itu.<BR>"Nona Cia....! Ini pedangmu, bawalah....! Beng San juga berdiri dan sekali ia<BR>meloncat, ia telah berada di depan Li Cu, pedang pendek Liong-cu-kiam telah<BR>ia cabut dan ia angsurkan kepada gadis itu. Herannya bukan main ketika ia<BR>melihat muka yang jelita itu basah oleh air mata yang bercucuran.<BR>Li Cu menggunakan tangan kiri mengusapi air matanya, tanpa mengeluarkan<BR>kata-kata dan tanpa memandangi muka Beng San ia menyambar pedang itu<BR>lalu berlari pergi lagi. Isaknya terdengar memilukan ketika tubuhnya<BR>berkelebat di depan Beng San. Pemuda ini berdiri bengong memandang ke<BR>arah tubuh berpakaian merah yang berlari cepat itu. Berkali-kali ia menarik<BR>napas panjang dan seperti patung ia memandang ke depan sampai bayangan<BR>merah itu lenyap ditelan kejauhan.<BR>"Ha-ha-ha-ha, puteri Bu-tek Kiam-ong itu cinta kepadamu, Adikku! tiba-tiba<BR>suara itu terdengar di belakang. Beng San kaget sekali, cepat berputar dan...<BR>ia berhadapan dengan seorang laki-laki bertubuh raksasa yang gagah sekali<BR>dan yang berdiri sambil tersenyum lebar dan bertolak pinggang.<BR>"Twako....!" Beng San berseru girang dan maju merangkul laki-laki gagah<BR>perkasa itu.<BR>"Ha-ha-ha, Beng San adikku. Di mana-mana kau selalu menghadapi keruwetan<BR>dengan wanita. Ah, kau bikin aku mengiri saja." "Tan-twako, jangan<BR>menggoda aku. Bagaimana keadaanmu? Ke mana saja selama ini kau pergi?"<BR>Beng San menjadi gembira kembali setelah bertemu dengan laki-laki tinggi<BR>besar itu. Siapakah dia? Bukan seorang biasa, melainkan seorang bekas<BR>pejuang yang sudah terkenal namanya sebagai pemimpin dari perkumpulan<BR>Pek-lian-pai yang banyak jasanya dalam perjuangan menumbangkan<BR>kekuasaan pemerintah Mongol. Namanya adalah Tan Hok dan semenjak<BR>dahulu menjadi sahabat baik Beng San, malah Tan Hok menganggap Beng San<BR>sebagai adik angkatnya sendiri (baca kisah Raja Pedang). Tan Hok juga<BR>seorang gagah yang memiliki ilmu silat tinggi. Sebetulnya yang membuat ia<BR>amat dikagumi Beng San bukanlah ilmu silatnya, melainkan jiwa<BR>kepatriotannya yang luar biasa besarnya. Dalam hal perjuangan, Tan Hok tak<BR>dapat disamakan dengan orang seperti Beng Kui yang berjuang karena ada<BR>pamrih memetik buah dari hasil perjuangannya itu untuk keperluan dan<BR>kesenangan diri pribadi. Perjuangan yang dilakukan Tan Hok dengap<BR>perkumpulan rahasianya adalah perjuangan suci tanpa pamrih. Kalaupun ada<BR>pamrih, maka pamrih itu hanya ingin melihat rakyatnya terbebas daripada<BR>belenggu penjajahan. Jadi pamrihnya bukan untuk kepentingan diri pribadi,<BR>melainkan demi kesejahteraan rakyat. Oleh karena inilah setelah pemerintah<BR>Mongol tumbang, Tan Hok dan teman-temannya tidak termasuk bekas-bekas<BR>pejuang yang ikut gontok-gontokan untuk memperebutkan kedudukan dan<BR>kemuliaan di kota raja!<BR>"Tan-twako, kau hendak pergi ke manakah?" Kembali Beng San bertanya,<BR>untuk sejenak ia lupa akan penderitaan batin yang sedang mengamuk di<BR>hatinya ketika bertemu dengan orang yang amat disayangnya ini.<BR>"San-te (Adik San), sebetulnya tidak sengaja aku dapat bertemu dengan kau<BR>di sini. Pagi tadi aku melihat kau naik kuda sambil memangku seorang nona<BR>yang tampaknya sakit atau pingsan. Tadinya aku curiga melihat keadaan Nona<BR>itu maka aku tidak menegurmu dan diam-diam mengikutimu. Maafkan<BR>kecurigaanku ini. Kemudian aku melihat bahwa dia adalah Nona Cia Li Cu<BR>puteri Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan." Tan Hok ber henti sebentar, kemudian<BR>dengan muka sungguh-sungguh ia berkata lagi, "San-te, sebetuinya<BR>pertemuan ini amat menggembirakan hatiku dan kebetulan sekali. Andaikata<BR>kita tidak bertemu di sini, agaknya aku pun akan mencarimu di Min-san untuk<BR>minta bantuanmu."<BR>bagian 25<BR>Girang hati Beng San bahwa teman baiknya ini tidak melanjutkan bicaranya<BR>tentang Li Cu. Ia sudah merasa malu sekali kalau orang bicara tentang gadisgadis<BR>yang pernah membuat hidupnya kacau-balau. Dengan penuh gairah ia<BR>lalu berkata,<BR>"Katakanlah, Twako. Apakah urusan yang mengganggumu? Tentu adikmu ini<BR>dengan hati lapang siap sedia membantumu."<BR>"Kalau hanya menghadapi urusan pribadi, mana aku berani mengganggumu,<BR>Adik Beng San? Hanya ada satu macam urusan yang memaksaku minta<BR>bantuan siapapun juga."<BR>"Urusan negara?" Beng San menduga, tahu akan watak laki-laki raksasa itu.<BR>Tan Hok mengangguk. "Patriot-patriot palsu itu benar-benar menjemukan.<BR>Mereka kini mengacau dan berusaha merampas kedudukan Kaisar Thai Cu,<BR>merasa bahwa mereka lebih berhak daripada bekas pahlawan Giu Goan Ciang.<BR>Hemm, benar-benar tidak ubahnya dengan anjing-anjing yang<BR>memperebutkan bangkai srigala yang tadinya mereka keroyok!"<BR>"Aku sudah mendengar juga tentang itu, Twako. Malah sudah bertemu dengan<BR>Ho-hai Sam-ong yang bersekongkol dengan Raja Muda Lu Siauw Ong. Aku<BR>mendengar tentang rencana mereka yang akan bergerak dari luar dan dari<BR>dalam."<BR>"Bagus!" Tan Hok melompat bangun, lalu duduk kembali di atas akar pohon.<BR>"Jadi mereka sudah bersekongkol pula? Lebih mudah kalau begitu untuk<BR>sekaligus menghancurkan mereka. Adikku, karena inilah maka aku minta<BR>bantuanmu. Aku dan teman-temanku dari Pek-lian-pai sudah siap dan malah<BR>Kaisar telah memberi pula bantuan pasukan untuk merampas para<BR>pemberontak tak tahu malu itu. Sin-te, dengan kau di sampingku, aku akan<BR>merasa kuat untuk menghadapi mereka yang tak boleh dipandang ringan itu.<BR>Dan...perlu kuberitahukan kepadamu, yang kausebut Lu Siauw Ong tadi, dia<BR>itu adalah mertua dari kakak kandungmu Tang Beng Kui. Jadi... kalau kau<BR>membantuku, kau tentu akan berhadapan dengan Tan Beng Kui sebagai<BR>musuh!"<BR>Beng San mengangguk. "Hal itu pun aku sudah tahu, Twako." Kemudian<BR>secara singkat Beng San menuturkan pertemuannya dengan kakak<BR>kandungnya itu di rumah Ho-hai Sam-ong. Hanya soai Li Cu tidak ia ceritakan.<BR>Tan Hok senang mendengar ini. "Kalau begitu, mari kau ikut denganku. Kita<BR>akan bergerak dari utara, membersihkan pemberontak-pemberontak yang<BR>datang dari sana. Ho-hai Sam-ong takkan berani sembarangan bergerak kalau<BR>komplotan-komplotannya dari utara belum kuat benar membantunya."<BR>"Aku bersedia membantumu, Twako. Hanya saja... aku masih belum tahu<BR>pasti, belum yakin akan tujuan pergerakanmu sekarang ini. Orang-orang itu<BR>saling memperebutkan kedudukan dan semua yang kudengar menyatakan<BR>bahwa Kaisar sekarang ini, bekas pemimpin pejuang Ciu Goan Ciang adalah<BR>seorang yang tidak adil. Sekarang ternyata kau membantu Kaisar, Apakah<BR>menurut pendapatmu Kaisar Thai Cu yang betul dan mereka yang tidak puas<BR>itu salah?"<BR>"Adikku Beng San, kau tidak mengerti tentang keadaan negara, memang hal<BR>ini tidak aneh karena kau tidak mempedulikannya. Akan tetapi aku yang selalu<BR>mengikuti perkembangannya, dapat melihat dengan nyata. Dengarlah katakataku<BR>ini, Adikku. Sudah jelas bahwa dalam perjuangan menumbangkan<BR>kekuasaan Mongol, pemimpin besar Ciu Goan Ciang membuktikan bahwa<BR>dialah seorang pemimpin yang pandai dan hanya dia yang akan dapat<BR>memimpin rakyat dan memajukan negara yang baru saja terbebas dari<BR>belenggu penjajahan. Andaikata bukan Ciu Goan Ciang yang dalam perjuangan<BR>dapat menyatukan semua unsur kekuatan rakyat, mana perjuangan melawan<BR>Mongol bisa tercapai?"<BR>Tan Hok berhenti sebentar untuk meredakan gelora dalam dadanya, lalu<BR>disambungnya perlahan dan tenang,<BR>"Bahaya yang mengancam keadaan negara masih belum lenyap. Bangsa<BR>Mongol yang melarikan diri ke utara setiap waktu tentu hendak mencoba<BR>merampas kembali tanah jajahannya. Belum lagi bangsa-bangsa lain yang<BR>hendak mengambil keuntungan dari keadaan kacau-balau sehabis perang. Kita<BR>semua membutuhkan bimbingan seorang yang kuat lahir batin, sedangkan<BR>perjuangan membuktikan bahwa hanya Ciu Goan Ciang yang mempunyai<BR>kemampuan untuk tugas berat itu. Pengangkatan dirinya sebagai Kaisar sudah<BR>disetujui oleh semua pemimpin para pejuang." Kembali ia berhenti.<BR>Akan tetapi Beng San mengemukakan pendapatnya. "Mengapa kalau begitu,<BR>masih banyak orang merasa kurang puas dan menganggap dia kurang adil<BR>karena tidak memberi kedudukan kepada para bekas pejuang?"<BR>"Memang kalau menurutkan pendapat setiap orang yang selalu mementingkan<BR>dirinya sendiri, di dunia ini tidak akan pernah ada keadilan. Mana bisa timbul<BR>keadilan kalau semua orang menghendaki bahwa yang enak-enak dan yang<BR>baik-baik itu seyogianya diberikan kepadanya saja? Soal kedudukan bukanlah<BR>hal semudah orang bicarakan. Tentu saja Kaisar harus memilih orang dengan<BR>hati-hati untuk didudukkan atas suatu pangkat, disesuaikan dengan kecakapan<BR>orang itu. Bagaimana nanti jadinya kalau seorang bekas kepala perampok<BR>diangkat menjadi menteri yang mengurus kekayaan negara? Bagaimana akan<BR>jadinya kalau seorang yang hampir tak pandai menulis diangkat menjadi<BR>menteri kebudayaan? Seorang yang buta akan urusan pemerintah diangkat<BR>menjadi menteri urusan negara? Tentu akan menjadi makin kacau kalau halhal<BR>semacam itu dilakukan hanya untuk memenuhi pamrih bekas-bekas<BR>pejuang yang menganggap diri sendiri paling berjasa itu." Kembali Tan Hok<BR>bicara penuh semangat.<BR>"Kalau begitu, menurut anggapan Twako, Kaisar Thai Cu atau bekas pejuang<BR>Ciu Goan Ciang itu adalah seorang yang sempurna dan semua rakyat harus<BR>saja mentaati apa yang ia kehendaki?"<BR>Tan Hok tertawa. "Adikku. Tidak ada seorang manusia yang sempurna sama<BR>sekali di dunia ini! Para dewa sekalipun masih belum sempurna karena masih<BR>tak luput dari kesalahan. Tentu saja Kaisar tidak terkecuali. Aku takkan<BR>membantah kalau ada orang yang dapat mengemukakan kesalahan-kesalahan,<BR>cacad-cacad atau kekurangan-kekurangan Kaisar. Setiap manusia sudah pasti<BR>mempunyai kekurangan-kekurangan dan cacad-cacadnya, Akan tetapi dalam<BR>hal kenegaraan, adalah keliru kalau menilai kedudukan seseorang dari tabiat<BR>pribadinya. Seharusnya dilihat pelaksanaan dari tugasnya, hasil dari<BR>pekerjaannya, dan kemampuan dari dirinya. Kiraku tidak ada orang yang lebih<BR>pandai dan lebih bijaksana dan lebih tepat untuk menduduki singgasana<BR>daripada Kaisar yang sekarang ini. Oleh karena mengingat bahwa dia adaiah<BR>pusat dari kekuatan kerajaan yang baru, pusat dari pemerintahan sesudah<BR>kaum penjajah jatuh, maka sudah seharusnyalah kalau kita mendukung dan<BR>membantunya. Bukan semata-mata membela pribadi Ciu Goan Ciang yang<BR>sekarang sudah menjadi Kaisar Thai Cu, melainkan mendukung dan membela<BR>pemimpin dari bangsa kita. Kalau tidak kita bela, lalu pimpinan terjatuh ke<BR>dalam tangan orang yang tidak bijaksana, tidak mampu, apalagi yang jahat<BR>seperti bekas-bekas kepala rampok macam Ho-hai Sam-ong, ah, akan<BR>bagaimanakah jadinya dengan negara kita?"<BR>Setelah mendengarkan penjelasan dan penuturan Tan Hok secara panjang<BR>lebar, akhirnya Tan Beng San menyatakan suka ikut dan membantu Tan Hok<BR>untuk menggempur dan menghalau para pemberontak yang hendak<BR>mendatangkan kekacauan itu. Hal ini bukan semata-mata karena bangkitnya<BR>semangat oleh uraian Tan Hok, melainkan untuk melupakan atau menghibur<BR>kehancuran hatinya. Ia merasa malu untuk pulang ke Min-san, untuk<BR>berhadapan muka dengan Bi Goat, isterinya yang tercinta itu. Memang<BR>kadang-kadang hatinya penuh rindu, perasaannya hancur kalau ia teringat<BR>betapa Bi Goat sudah mengandung ketika ia tinggalkan ke Hoa-san. Sudah<BR>mengandung beberapa bulan. Inilah sebabnya mengapa ia melarang ketika Bi<BR>Goat menyatakan keinginan hatinya hendak ikut pergi dengan suaminya itu ke<BR>Hoa-san.<BR>Di puncak sebuah bukit kecil yang ditumbuhi beberapa batang pohon raksasa<BR>terdapat sebuah rumah papan yang kecil menyendiri. Tak ada rumah lain dari<BR>puncak sampai ke kaki bukit kecuali pondok kecil itu. Sunyi sepi Sekelilingnya,<BR>namun harus diakui bahwa hawa udara amat sejuk dan pemandangan alam<BR>amat indahnya dari puncak itu. Di lereng dan kaki bukit tampak pohon-pohon<BR>kecil menghijau. Hanya di puncak itulah adanya beberapa pohon raksasa yang<BR>sudah tua dan amat besar lagi tinggi.<BR>Seperti biasanya setiap hari, pada pagi hari itu pun sunyi, seakan-akan tidak<BR>ada penghuninya. Akan tetapi kesunyian pagi itu tidak lama karena segera<BR>terdengar lapat-lapat suara tangisan seorang wanita, tangisan yang amat<BR>memilukan. Terisak-isak wanita itu menangis, kemudian terdengar<BR>keluhannya.<BR>"Kaubunuhlah aku... bunuhlah aku... ah, alangkah keji hatimu, kau melebihi<BR>segala iblis... kaubunuhlah aku....!"<BR>Lalu disusul suara laki-laki, suaranya halus tapi penuh ejekan.<BR>"Kau selalu minta mati saja, sudah sebulan lebih permintaanmu tak lain hanya<BR>itu saja. Bosan aku mendengarnya. Bukankah sudah jelas bahwa aku amat<BR>sayang kepadamu, bahwa aku cinta kepadamu? Manis, apakah kau bosan<BR>tinggal di tempat sunyi ini? Apakah kau ingin ikut denganku merantau ke<BR>utara? Di sana indah sekali. Pernah kau menyaksikan gurun pasir?"<BR>"Aku tidak inginkan apa-apa kecuali mati. Kaubunuh sajalah aku! lagi-lagi<BR>suara wanita itu memohon.<BR>"Sudahlah, mari kau ikut ke utara. Tentu kau senang dan kau akan melihat<BR>betapa besar cintaku kepadamu." Laki-laki itu tertawa dan tak lama kemudian<BR>tampaklah seorang laki-laki muda yang tampan keluar dari pondok itu,<BR>memondong seorang wanita muda cantik yang lemas tak berdaya, agaknya<BR>telah tertotok jalan darahnya.<BR>Laki-laki muda itu bukan lain adalah Siauw-coa-ong Giam Kin, pemuda raja<BR>ular yang jahat itu. Adapun wanita yang bukan lain adalah Lee Giok atau<BR>Nyonya Thio Ki yang telah ditawan dan dilarikannya sebulan yang lalu, Lee<BR>Giok kelihatan pucat dan berduka sekali, akan tetapi ia tidak berdaya karena<BR>memang kalah kuat dan kalah tinggi kepandaiannya.<BR>Setelah tiba di luar pondok, Lee Giok berkata sambil menarik napas panjang,<BR>"Giam Kin, agaknya Thian sudah menakdirkan aku menjadi teman hidupmu.<BR>Sudahlah aku tidak akan membantah lagi dan aku mau ikut denganmu ke<BR>utara. Asal selama hidupku aku tidak akan bertemu dengan, suamiku dan kau<BR>membawa ku ke tempat yang jauh, aku menurut."<BR>Giam Kin girang sekali dan memeluknya. "Betulkah kata-katamu ini? Aha,<BR>bagus sekali, adikku yang tercinta. Mari kubawa kau ke sorga di utara dan kita<BR>hidup bahagia. Ha-ha-ha!" Seperti orang gila Giam Kin memeluk nyonya muda<BR>itu sambil menari-nari.<BR>"Hush, gila kau! Tak usah aku kau gendong-gendong terus seperti orang<BR>lumpuh, hayo lepaskan totokan pada tubuhku dan aku akan jalan sendiri di<BR>sisimu selama hidupku."<BR>Giam Kin sambil tersenyum-senyum dan menggoda-goda dengan ceriwis sekali<BR>lalu menurunkan Lee Giok dan menotok beberapa jalan darahnya lalu<BR>mengurut punggung nyonya muda yang cantik itu. Ia tidak takut<BR>membebaskan Lee Giok karena kalau Lee Giok melawan, dengan mudah ia<BR>akan dapat mengatasinya kembali.<BR>Setelah terbebas dari totokan Lee Giok terhuyung-huyung lemas. Memang<BR>tubuhnya lemas sekali, terbawa oleh perihnya perasaannya yang ditahantahan.<BR>Ketika Giam Kim maju memeluknya untuk mencegahnya jatuh, ia<BR>berkata, suaranya halus mesra,<BR>"Biarkan aku mengaso di bawah pohon ini dulu, aku... aku pening dan lesu<BR>sekali."<BR>Sambil memeluknya Giam Kin membawa Lee Giok ke bawah pohon raksasa<BR>dan mendudukkannya di atas akar pohon itu yang keluar dari dalam tanah<BR>seperti tubuh ular besar, Lee Giok menjatuhkan diri duduk di situ, ia lalu<BR>meramkan matanya mengumpulkan tenaga. Ketika ia meramkan mata,<BR>terbayanglah wajah suaminya dan terbayang pula pengalamannya, ketika ia<BR>tertawan oleh Giam Kin. Hatinya seperti ditusuk-tusuk pisau rasanya dan tak<BR>tertahankan lagi kembali air matanya be bercucuran turun.<BR>"Ah, kekasihku, lagi-lagi kau menangis...." Giam Kin mendekat dan hendak<BR>merangkul leher Lee Giok.<BR>Tiba-tiba Lee Giok menggerakkan kedua tangannya memukul ke depan sekuat<BR>tenaganya. Giam Kin memang sudah siap sedia karena orang yang cerdik ini<BR>mana mau percaya begitu saja akan sikap menyerah dari nyonya muda yang<BR>selalu berkeras membencinya ini? Cepat ia melompat mundur untuk<BR>menghindarkan diri dari penyerangan tiba-tiba ini. Lee Giok juga melompat<BR>berdiri dan memandang kepada Giam Kin penuh kebencian.<BR>"Manusia iblis! Aku Lee Giok bersumpah takkan mau hidup sebelum<BR>menghancurkan kepalamu, membelah dadamu dan mencabut keluar isi<BR>dadamu!" teriaknya penuh kemarahan yang meluap-luap.<BR>"Heh-heh, galaknya tapi malah lebih manis!" Giam Kim mengejek. "Kau<BR>perempuan tak tahu disayang orang! Aku ingin membikin kau bahagia dan<BR>ingin mencintamu selamanya. Kiranya kau seorang yang tidak punya jantung.<BR>Baiklah, aku akan menjadikan kau barang permainanku, kalau sudah bosan<BR>akan kulempar ke jurang biar menjadi makanan serigala!"<BR>Lee Giok tidak sudi mendengarkan lagi, terus saja ia menerjang dengan kaki<BR>tangannya, mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk<BR>membunuh manusia yang dibencinya ini, yang telah merusak hidupnya.<BR>Namun, seperti beberapa kali yang sudah-sudah, kali ini pun ia tidak berhasil<BR>mengalahkan Giam Kin yang memang amat lihai itu. Ia malah dipermainkan<BR>oleh Giam Kin yang mengelak ke sana ke mari, berloncatan sambil mengejek<BR>dan menggoda. Ia ingin membuat Lee Giok kelelahan lebih dulu untuk<BR>kemudian ditawan lagi dan dipermainkan. Memang pada dasarnya hati Giam<BR>Kin memiliki kekejaman yang luar biasa, sudah bukan seperti manusia lagi. Hal<BR>ini tidak aneh kalau dipikir bahwa dia adalah murid tunggal dari manusia iblis<BR>Siauw-ong-kwi dan semenjak kecil sudah banyak melakukan kekejamankekejaman.<BR>Tubuh Lee Giok masih amat lesu, maka dipermainkan oleh Giam Kin ia<BR>menjadi makin payah dan lemas. Namun dengan nekat nyonya muda ini<BR>menyerang terus mati-matian dengan tekad membunuh atau mati dalam<BR>pertempuran ini.<BR>Tiba-tiba terdengar suara aneh di atas, suara melengking yang amat nyaring<BR>menggetarkan jantung. Kemudian dari puncak pohon raksasa di bawah mana<BR>dua orang itu sedang bertempur, melayang turun seekor burung raksasa yang<BR>.... berbulu kuning emas. Di punggung burung itu duduk seorang wanita muda<BR>cantik yang sinar matanya tajam dan liar. Sebelah tangannya memegang<BR>sebuah cambuk berekor lima di mana terikat lima batang anak panah hijau. Di<BR>punggungnya tergantung sebuah pedang pusaka. Inilah Kwa Hong yang<BR>menunggang burung rajawali emas yang sakti itu.<BR>"Hi-hi-hik, Giam Kin, kebetulan sekali! Tak usah aku mencarimu kau sekarang<BR>mengantar nyawa kepadaku!" kata Kwa Hong ketika ia mengenal isteri dari<BR>suhengnya, Thio Ki. Akan tetapi ia tidak menegur Lee Giok yang tadi amat<BR>terdesak hebat oleh Giam Kin itu. Sinar kuning emas menyambar turun dan<BR>burung itu telah menerkam ke arah kepala Giam Kin.<BR>Bukan main kagetnya Giam Kin melihat penyerangan ini. Cepat ia melompat<BR>mundur dan membentak, "Siapa kau?"<BR>Bergidik juga ia melihat wanita cantik menunggang burung rajawali yang<BR>bermata liar itu, sementara itu Lee Giok segera mengenal Kwa Hong. Ia girang<BR>mendapat bala bantuan, akan tetapi juga heran dan kaget sekali menyaksikan<BR>keadaan Kwa Hong yang tidak wajar ini.<BR>"Adik Hong....!" serunya.<BR>Burung itu masih beterbangan berputar-putar di atas mereka. Kwa Hong<BR>berkata dengan suara mengejek,<BR>"Lee Giok, tidak lekas lari menanti apalagi? Apa kau mengharapkan tertawan<BR>oleh lawanmu yang tampan ini? Heh-heh-heh, kau mau main gila di belakang<BR>suamimu, ya?"<BR>Kalau ada halilintar menyambar kepalanya, kiranya Lee Giok takkan begitu<BR>kaget seperti ketika ia mendengar ejekan ini. Sejenak ia memandang dengan<BR>mata terbelalak kepada Kwa Hong yang duduk di punggung burung. Lalu<BR>terlihat olehnya, sepasang mata yang mengerikan itu. Lee Giok tertusuk<BR>hatinya, sambil terisak-isak ia lalu lari pergi dari situ, diikuti suara ketawa<BR>yang mengerikan dari Kwa Hong. Dasar watak Giam Kin mata keranjang dan<BR>keji. Melihat nona cantik jelita di punggung burung itu, ia segera tertarik sekali<BR>hatinya. Ia sudah mengenal sekarang wanita muda yang duduk di punggung<BR>burung itu. Kwa Hong murid Hoa-san-pai yang cantik itu, yang dulu pernah<BR>membuat ia tergila-gila juga (baca Raja Pedang). Karena dia sendiri seorang<BR>berwatak keji, maka sinar ganas dan liar pada sepasang mata Kwa Hong itu<BR>baginya malah mendatangkan perasaan menyenangkan, malah menjadikan<BR>Kwa Hong makin manis dalam pandang matanya. Pula ia memandang rendah<BR>kepada Kwa Hong, karena murid Hoa-san-pai saja sampai di mana sih<BR>kelihaiannya?<BR>"Aha, kukira tadi siapa. Tidak tahunya adik manis dari Hoa-san-pai. Turunlah<BR>Nona manis dan mari bersenang-senang dengan aku. Boleh aku membonceng<BR>di punggung burungmu yang indah itu?"<BR>Tiba-tiba sinar hijau menyambar, sebagai jawaban. Giam Kin tertawa<BR>mengejek akan tetapi segera ketawanya berubah seruan kaget ketika lima<BR>batang anak panah itu menyambar kepadanya dengan kecepatan yang amat<BR>luar biasa, seperti kilat menyambar, Ia menjatuhkan diri di atas tanah dan<BR>hanya dengan cara begini ia dapat menyelamatkan dirinya.<BR>Celaka baginya, wanita yang duduk di punggung rajawali emas itu lihai bukan<BR>main. Burungnya menyambar-nyambar rendah dan anak panah-anak panah di<BR>ujung cambuk itu terus menyambar-nyambar dengan pukulan dahsyat sekali.<BR>Giam Kin mencabut suling ularnya dan berusaha menangkis, akan tetapi baru<BR>dua kali menangkis saja sulingnya itu terlepas dari tangannya dan mencelat<BR>entah ke mana. Demikian hebatnya tenaga pukulan Kwa Hong sampai-sampai<BR>dia sendiri tidak mampu menangkisnya. Mulailah pengejaran yang mengerikan.<BR>Giam Kin lari ke sana ke mari, namun burung itu terus mengejar dan sinar<BR>hijau bersuitan di atas kepalanya. Giam Kin menjadi pucat sekali, keringat<BR>dingin bercucuran keluar. Ia menjatuhkan diri, bergulingan, tapi ke manapun<BR>juga ia selalu dikejar sinar hijau itu yang diikuti suara ketawa. Baru sekarang<BR>telinga Giam Kin mendengar suara ketawa yang mengerikan sekali, tidak<BR>semerdu tadi.<BR>"Mampus kau..... hi-hi-hik, mampus kau...!"<BR>Akibatnya Giam Kin yang belum sekali juga terkena anak panah itu, menjadi<BR>lemas saking lelah dan ketakutan. Gerakannya lambat dan tiba-tiba sepasang<BR>cakar burung yang kuat sekali mencengkeram tubuhnya bagian dada dan<BR>kepala. Terdengar suara daging dan kulit dirobek-robek diiringi suara ketawa<BR>melengking tinggi dari Kwa Hong. Beberapa kali Giam Kin mengeluarkan pekik<BR>kesakitan dan ketakutan, kemudian hening kembali di situ.<BR>Ketika burung rajawali yang ditunggangi Kwa Hong itu terbang lagi ke atas, di<BR>bawah pohon raksasa itu tertinggal tubuh Giam Kin yang tak bergerak dan<BR>dalam keadaan mengerikan sekali. Pakaiannya robek-robek, dan penuh darah<BR>yang bercucuran dari dada dan mukanya yang juga sudah terobek-robek oleh<BR>cakar cakar tajam tadi. Matanya sebelah kiri hancur, telinga kirinya juga<BR>lenyap, mulutnya robek lebar, dadanya terbeset kulitnya dan lengan kirinya<BR>dicengkeram sedemikian rupa oleh cakar rajawali sehingga semua urat-urat<BR>besarnya terputus dan lengan itu kiri kaku dengan jari-jari mencengkeram<BR>saking menahan sakit. Matikah Giam Kin? Pada saat itu masih belum, karena<BR>terdengar rintihan perlahan dari dadanya. Tapi kalau orang menyaksikan<BR>keadaannya, tentu takkan dapat mengharapkan dia dapat hidup lagi.<BR>Sementara itu, Lee Giok terus berlari cepat sambil menangis terisak-isak. Ia<BR>telah terlepas dari cengkeraman tangan Giam Kin. Akan tetapi apa gunanya?<BR>Lebih baik ia mati saja. Mana mungkin ia dapat menentang wajah suaminya<BR>lagi. Lebih baik dia mati daripada menanggung aib yang hebat. Lebih baik ia<BR>terjun ke dalam jurang yang curam. Akan tetapi, apa pula artinya kalau ia mati<BR>tanpa ada yang mengetahuinya kelak? Tetap saja ia akan mati dalam keadaan<BR>menanggung malu. Lebih baik dia ke Hoa-san dan mati di sana agar suaminya<BR>kelak tahu bahwa ia telah menebus aib itu dengan nyawanya. Di Hoa-san ia<BR>harus mati, agar suaminya tahu bahwa sampai detik terakhir ia masih teringat<BR>kepada suaminya, masih ingin mendekatinya biarpun hanya dengan maksud<BR>mendekatkan arwahnya dengan Hoa-san! Selain itu, alangkah akan besar<BR>dosanya kalau ia mati membawa anak dalam kandungannya. Bukankah jtu<BR>berarti ia akan membunuh anak itu?, Anaknya? Anak suaminya? Tidak, ia<BR>harus menanti, biarpun hatinya akan remuk-redarm Harus menanti sampai<BR>anak dalam kandungannya yang sudah tiga bulan itu lahir.<BR>Lee Giok berlari terus sampai akhirnya tubuhnya terguling menggeletak di<BR>tengah hutan saking tidak kuat lagi, saking lelahnya. Sambil merintih-rintih ia<BR>merangkak ke bawah pohon yang bersih, lalu membaringkan tubuh dan<BR>pikirannya melayang-layang. Hidupnya rusak oleh Giam Kin.Yang menjadi<BR>biang keladi adalah Kim-thouw Thian-li dan Hek-hwa Kui-bo. Semangatnya<BR>sebagai seorang gagah dalam diri Lee Giok bangkit ketika ia mengingat akan<BR>tiga orang ini. Akan sia-sia belaka kalau ia mati sebelum ia mampu membalas,<BR>sebelum ia mampu melenyapkan tiga manusia iblis itu dari permukaan bumi.<BR>Kepandaiannya memang masih belum begitu tinggi untuk mengalahkan<BR>mereka, akan tetapi ia dapat memperdalam kepandaiannya.<BR>Setelah tidur semalam di hutan itu, pada keesokan harinya Lee Giok<BR>melanjutkan perjalanannya dengan hati yang sudah mengambil dua buah<BR>keputusan, yaitu sebelum ia membunuh diri untuk mencuci noda pada dirinya,<BR>ia harus lebih dulu melahirkan anak dalam kandungannya, kemudian tugasnya<BR>yang kedua ialah membunuh tiga orang musuh besarnya itu! Ia tidak boleh<BR>mati sekarang, ia malah harus kuat dan harus dapat memperdalam ilmunya.<BR>Pikiran inilah yang menyelamatkan nyawa Lee Giok dan dengan hati teguh<BR>nyonya muda ini melanjutkan perjalanannya menuju Hoa-san.<BR>bagian 26<BR>Gunung Min-san berada di tapal batas antara Propinsi Se-cuan, Cing-hai, dan<BR>Kan-su. Gunung ini amat indah pemandangannya dan merupakan pegunungan<BR>yang subur. Sungai-sungai besar yang amat terkenal seperti Sungai Kuning<BR>dan Sungai Yang-ce-kiang, boleh dibilang mendapatkan sumber mata airnya<BR>dari Pegunungan Min-san ini, sungguhpun masih banyak pegunungan lain yang<BR>menjadi sumbernya pula.<BR>Di antara puncak-puncak Pegunungan Min-san inilah menjadi tempat tinggal<BR>Song-bun-kwi Kwee Lun yang dahulunya amat terkenal di dunia kang-ouw<BR>dengan julukan Song-bun-kwi. Ia dijuluki Song-bun-kwi (Setan Berkabung)<BR>karena selalu memakai pakaian putih berkabung semenjak isterinya meninggal<BR>dan ia hidup merantau dengan puteri tunggalnya, Kwee Bi Goat.<BR>Setelah sekarang Kwee Bi Goat menikah dengan Tan Beng San dan hidup<BR>bahagia di Min-san, Kwee Lun ini tidak patut lagi dijuluki Song-bun-kwi karena<BR>ia tidak lagi berpakaian berkabung, juga tidak lagi hidup seperti yang sudahsudah,<BR>yaitu seperti manusia iblis yang ditakuti orang. Kakek ini sekarang<BR>hidup tenang dan tenteram di Pegunungan Min-san ini, malah setiap hari<BR>bertani atau samadhi memperdalam ilmu batinnya.<BR>Adapun Kwee Bi Goat yang dahulunya gagu (baca cerita Raja Pedang), tapi<BR>sekarang telah sembuh, menjadi isteri yang cantik jelita dan penuh kasih<BR>sayang bagi Beng San. Suami isteri ini bersama Kakek Kwee hidup aman dan<BR>damai di Min-san. Namun, nasib manusia memang tidak menentu seperti air<BR>laut, kadang-kadang surut. Baru beberapa bulan saja mereka hidup penuh<BR>madu kasih dan kebahagiaan di Min-san, datanglah seorang tosu dari Hoa-<BR>San-pai yang minta bantuan Beng San untuk menolong Hoa-san-pai yang<BR>sedang ditimpa malapetaka karena pengamukan Kwa Hong. Dan seperti telah<BR>diceritakan di bagian depan, Beng San yang mengingat akan hubungannya<BR>dengan Hoa-san-pai dahulu, terpaksa pergi meninggalkan isterinya yang<BR>tercinta yang diakhiri dengan kehancuran hatinya se hingga membuat ia tidak<BR>berani pulang dan tidak berani bertemu muka dengan isterinya!<BR>Berbulan-bulan Bi Goat menanti kembalinya suaminya dengan hati penuh<BR>rindu dan kekuatiran. Akhirnya ia tidak dapat menahan lagi hatinya yang<BR>penuh rasa kegelisahan. Ia takut kalau-kalau suaminya tertimpa bencana<BR>karena sudah terlalu lama meninggalkan rumah tanpa ada kabar beritanya dan<BR>juga tidak kelihatan pulang. Bi Goat lalu minta pertolongah ayahnya untuk<BR>pergi menyusul Beng San ke Hoa-san dan mencarinya sampai dapat.<BR>"Hemmm, baru ditinggal beberapa bulan saja kau sudah rewel!" Kwee Lun<BR>mengomel. "Sudah lama aku tidak meninggalkan gunung, kalau turun gunung<BR>kutakut akan kumat penyakitku yang lama!" Kakek yang dulu dijuluki setan<BR>berkabung itu mula-mula menolak permintaan puterinya. Ia sudah mulai<BR>senang dengan hidup bersunyi di puncak yang indah itu, menikmati<BR>ketenteraman hidup di hari tua.<BR>"Ayah, jangan salah mengerti. Bukan sekali-kali karena aku terlalu manja dan<BR>tidak bisa ditinggalkan suami yang pergi menjalankan tugas sebagai orang<BR>gagah. Tetapi, harap Ayah ketahui bahwa sekarang kandunganku sudah lima<BR>bulan. Bagaimana kalau sampai tiba saatnya melahirkan tidak ada ayahnya di<BR>sini? Ayah, apa kau tidak kasihan kepadaku?" Suara Bi Goat menggetar dan<BR>hati kakek yang dulu dianggap manusia iblis itu mencair.<BR>"Baiklah... baiklah... dasar bocah yang jadi mantuku itu tidak tahu diri! Akan<BR>kucari dia dan kuseret pulang!" Sambil mengomel panjang pendek, kakek yang<BR>pernah menjadi tokoh nomor satu di dunia kang-ouw sebelah barat itu<BR>akhirnya turun gunung meninggalkan Min-san untuk menyusul dan mencari<BR>anak mantunya, Tang Beng San.<BR>Sebulan sudah Song-bun-kwi Kwee Lun meninggalkan Min-san. Pada suatu<BR>sore Bi Goat duduk seorang diri di pekarangan depan rumahnya. Dengan<BR>penuh harapan, seperti setiap sore yang lalu, ia duduk menanti kalau-kalau<BR>ayah dan suaminya pulang. Para pelayan yang tidak kurang enam orang<BR>banyaknya, sudah selesai bekerja dan sedang asyik mengobrol di belakang<BR>rumah. Bi Goat duduk seorang diri menghadapi cangkir teh dan makanan yang<BR>mengandung daya penguat badan. Ayahnya banyak memberikan makanan<BR>seperti ini untuknya.<BR>Mendadak ia.mendengar suara aneh di udara. Ketika ia mengangkat muka, Bi<BR>Goat terheran-heran melihat seekor burung yang besar dan indah sekali<BR>terbang berputaran di atas puncak itu. Cahaya matahari senja yang merah<BR>membuat bulu burung itu kelihatan kuning kemerahan, amat indahnya seperti<BR>emas.<BR>"Ah, burung rajawali kalau aku tidak salah...." kata Bi Goat kagum sekali.<BR>Mendadak wajahnya berubah dan nyonya muda ini cepat barigkit berdiri dari<BR>kursinya. Ia melihat sesuatu yang aneh, sesuatu yang ajaib. Ada seorang<BR>wanita menunggang burung rajawali itu!<BR>"Mimpikah aku?" gumamnya seorang diri sambil menggosok-gosok matanya.<BR>Tidak, ia tidak mimpi. Malah kini burung itu menukik turun dan tak lama<BR>kemudian burung itu sudah sampai di atas tanah, hanya belasan meter<BR>jauhnya dari tempat Bi Goat berdiri. Wanita muda dan cantik itu melompat<BR>turun dari punggung rajawali dan dengan hati berdebar Bi Goat mendapat<BR>kenyataan bahwa wanita itu sedang mengandung. Malah perutnya lebih besar<BR>daripada perutnya sendiri. Kandungannya sudah tua. Wanita itu melangkah<BR>maju, agak terhuyung-Huyung.<BR>Bi Goat adalah seorang yang pada dasarnya memiliki budi yang halus. Melihat<BR>wanita yang mengandung tua ini terhuyung-huyung dan nampak letih,<BR>mukanya pucat, ia cepat lari menghampiri dan merangkul pundaknya.<BR>"Hati-hatilah, Cici...." katanya halus.<BR>Wanita itu bukan lain adalah Kwa Hong! Kemarahannya ketika tadi turun dan<BR>menduga bahwa wanita cantik yang juga sudah mengandung di depannya itu<BR>tentulah isteri Beng San, agak mereda oleh sikap halus Bi Goat. Pernah ia<BR>melihat Bi Goat, akan tetapi hanya seben tar maka ia sudah lupa lagi (baca<BR>cerita Raja Pedang). Demlkian pula Bi Goat, biarpun pernah bertemu dengan<BR>Kwa Hong, tapi karena baru sekali dan hanya sebentar, ia pun sudah lupa lagi.<BR>"Di mana Beng San? Aku ingin bicara padanya," kata Kwa Hong menahan<BR>marah, suaranya agak ketus dan sama sekali ia tidak menyambut baik sikap<BR>halus dari Bi Goat tadi.<BR>Bi Goat terkejut, tapi ia menjawab juga. "Suamiku sudah beberapa bulan turun<BR>gunung, sampai sekarang belum pulang," jawabnya masih halus dan hati-hati<BR>ia bertanya, "Tidak tahu siapakah Cici ini dan ada keperluan apalah mencari<BR>suamiku?"<BR>"Hemm, jadi kau ini Bi Goat, dara baju merah yang dulu gagu itu?" tanya Kwa<BR>Hong, suaranya mengejek dan pandang matanya menyapu Bi Goat dari atas<BR>ke bawah.<BR>Kini Bi Goat mulai curiga. Pandang matanya tajam menyelidik. "Kau siapakah<BR>dan apa keperluanmu datang ke Puncak Min-san ini?"<BR>"Heh, kau sudah lupa kepadaku. Aku Kwa Hong...."<BR>"Ohhh, murid Hoa-san-pai?"<BR>"Bodoh! Ketua Hoa-san-pai, bukan murid! Aku datang mencari Beng San.<BR>Mana dia?"<BR>"Sudah kukatakan tadi, dia sedang pergi." Bi Goat mulai tak senang hatinya.<BR>"Aku mencari Beng San, bukan suamimu."<BR>"Ben-San adalah suamiku!" jawabnya Bi Goat sekarang agak ketus.<BR>Kwa Hong tersenyum mengejek, lalu melirik ke arah perut Bi Goat. Tanyanya<BR>penuh ejekan, "Berapa bulan kau mengandung?"<BR>"Heee?? Kenapa....??" Wajah Bi Goat menjadi merah sekaii. Kalau ia tidak<BR>ingat bahwa yang mengajukan pertanyaan ini pun sedang mengandung, tentu<BR>ia akan menjadi marah. "Sudah enam bulan mengapa?"<BR>Kembali Kwa Hong tersenyum mengejek. "Seharusnya kau bilang baru enam<BR>bulan, bukannya sudah enam bulan. Jadi baru enam bulan, kan? Lihat<BR>kandunganku ini sudah sembilan bulan! Mana lebih dulu? Sebelum menjadi<BR>suamimu, Beng San sudah menjadi ayah anak yang kukandung ini, tahu??"<BR>Seketika wajah Bi Goat menjadi pucat sekali. Ucapan Kwa Hong itu betul-betul<BR>merupakan pedang yang menusuk tembus jantungnya. Gemetar seluruh<BR>tubuhnya dan suaranya menggigil ketika ia berseru, "Kau... kau bohong....!!"<BR>Kwa Hong memperlebar senyumnya. "Kalau tidak percaya kautanyakan saja<BR>kepada Beng San. Hayo, mana dia? Panggil dia keluar, dia harus menyaksikan<BR>kelahiran anaknya...." Tiba-tiba Kwa Hong mengeluh sambil memegangi<BR>perutnya.<BR>"Dia sedang pergi... hee, bagaimana ini?? Kau kenapa, Cici....?" Bingung juga<BR>Bi Goat melihat Kwa Hong tiba-tiba terhuyung dan tentu sudah roboh kalau<BR>tidak cepat ia tangkap lengannya. Ia melihat wajah Kwa Hong pucat sekali,<BR>mulutnya merintih-rintih dan keadaannya hampir pingsan.<BR>Memang pada dasarnya Bi Goat seorang yang berhati mulia. Biarpun ia tadi<BR>marah sekali dan perasaannya seperti ditusuk-tusuk mendengar ucapan Kwa<BR>Hong, namun melihat keadaan nyonya muda yang akan melahirkan itu ia<BR>menjadi tidak tega dan cepat-cepat menolong.<BR>"Biarlah... aku... aku harus melahirkan... di tempat tinggal... Beng San...."<BR>demikian Kwa Hong mengeluh perlahan ketika siuman. Sementara itu, Bi Goat<BR>sudah berseru memanggil para pelayannya dan Kwa Hong lalu digotong masuk<BR>ke dalam rumah. Karena dia sendiri sedang mengandung, maka Bi Goat<BR>memang sudah mengundang seorang wanita tua yang ahli menolong orang<BR>beranak dan yang disuruh tinggal di rumahnya. Maka Kwa Hong dapat<BR>menerima pertolongan yang cepat.<BR>Dalam keadaan setengah sadar saking menahan sakit, Kwa Hong mengigau<BR>dan bercerita Bi Goat tentang perhubungannya dengan Beng San dahulu, juga<BR>tentang pertemuannya yang terakhir. Semua diceritakan oleh Kwa Hong<BR>sehingga Bi Goat yang mendengarkan ini hanya dapat menangis dengan hati<BR>hancur. Dia amat mencinta Beng San, sejak dahulu ia mencinta Beng San<BR>dengan seluruh jiwa raganya. Ia tidak rela kalau Beng San membagi cintanya<BR>dengan wanita lain, maka dapat dibayangkan betapa hebat dan parah luka<BR>yang ditimbulkan oleh penuturan Kwa Hong ini di dalam hatinya.<BR>Pada tengah malam hari itu, dari dalam rumah Bi Goat terdengarlah suara<BR>pertama dari seorang bayi yang terlahir. Tangisnnya memecahkan kesunyian<BR>malam, nyaring melengking. Tangis seorang bayi laki-laki yang montok dan<BR>sehat. Tak lama kemudian terdengar lengking lain susul-menyusul menjawab<BR>tangis bayi ini, suara lengking tinggi yang datangnya dari atas rumah. Itulah<BR>suara lengking rajawali emas yang menanti munculnya Kwa Hong sambil<BR>mendekam dl atas wuwungan genteng rumah itu. Entah mengapa binatang itu<BR>melengking, mungkin karena tangis bayi itu hampir sama dengan suaranya<BR>sendiri.<BR>Biarpun hatinya hancur, Bi Goat siang malam menunggu Kwa Hong dan<BR>merawatnya dengan baik. Sepekan kemudian Kwa Hong sudah sembuh, Ia<BR>menggendong anaknya dengan penuh kasih sayang, lalu ia keluar dari rumah<BR>itu memanggil rajawali emas. Burung itu yang mulai tak sabar dan setiap hari<BR>berkaok-kaok di depan rumah, menjadi girang sekali dan menyambar turun, Bi<BR>Goat yang berwajah pucat sekali mengikuti Kwa Hong dari belakang.<BR>"Cici Hong, kau baru sepekan melahirkan, jangan pergi dulu...." katanya<BR>menahan.<BR>Akan tetapi Kwa Hong tidak peduli, membawa anaknya melompat ke arah<BR>punggung rajawaii, lalu berkata,<BR>"Katakan kepada Beng San kalau dia pulang, bahwa aku tidak bisa<BR>membunuhnya karena kalah kuat, dan aku tidak bisa membunuhmu karena<BR>kau telah menolongku ketika aku melahirkan. Akan tetapi kelak anak inilah<BR>yang akan membunuh Beng San, kau dan semua anak anak dan keluargamu!"<BR>Setelah berkata demikian, Kwa Hong menepuk leher rajawali emas yang<BR>segera melengking tinggi dan melesat, terbang ke atas dengan cepat sekali.<BR>Untuk beberapa lama Bi Goat berdiri bengong kemudian ia mengeluh dan<BR>tubuhnya menjadi lemas. Ia roboh pingsan di depan pintu rumahnya! Para<BR>pelayan segera mengejar keluar dan sibuk menolong nyonya muda yang<BR>menderita kehancuran hati ini. Bie Goat jatuh sakit dan semenjak hari itu ia<BR>tidak kuat lagi bangun dari tempat tidurnya. Badannya panas dan setiap kali<BR>panasnya naik, ia mengigau menyebut-nyebut nama suaminya dan Kwa Hong.<BR>Setiap kali ia berusaha untuk tidak mempercayai semua omongan Kwa Hong,<BR>namun hal itu amat sukar baginya. Diharap-harapkan kedatangan suaminya<BR>agar dapat ia bertanya tentang Kwa Hong. Pengharapan bahwa suaminya akan<BR>menyangkal semua itu merupakan sinar kecil yang masih menerangi hatinya,<BR>penuh harapan. Akan tetapi, suaminya tak kunjung pulang, malah ayahnya<BR>juga yang mencari dan menyusul suaminya itu, belum juga pulang.<BR>Dua bulan ia jatuh sakit itu, sementara kandungannya makin besar, sudah<BR>delapan bulan ia mengandung. Pada suatu sore, datanglah Song-bun-kwi Kwee<BR>Lun, Bi Goat yang sudah agak kuat segera turun dari tempat tidurnya dan<BR>keluar meyambut.<BR>"Ayah, mana dia? Mana Beng San....?" tanyanya dengan nada suara penuh<BR>harapan.<BR>Kwee Lun kaget sekali melihat puterinya menjadi begini kurus dan wajahnya<BR>begini pucat. "Bi Goat, kau kenapakah? Sakitkah kau? tanyanya gugup sambil<BR>melangkah maju. "Ayah, mana suamiku? Mana Beng San?" Bi Goat tidak<BR>mempedulikan pertanyaan ayahnya, tapi mendesak menanyakan suaminya.<BR>Terpaksa Kwee Lun menjawab, "Aku tidak dapat menjumpai dia. Kabarnya dia<BR>ke utara, mungkin terlibat lagi dalam urusan pemberontakan terhadap kaisar<BR>baru. Ah, anak itu memang tak tahu diri!"<BR>Kekecewaan hebat merupakan palu godam yang menghantam pertahanan<BR>terakhir di hati Bi Goat. Matanya terbelalak, lalu tertutup dan tubuhnya<BR>limbung. Cepat Kwee Lun merangkul dan ayah yang gelisah dan keheranan ini<BR>segera memondong tubuh puterinya, dibawa masuk ke dalam kamar Bi Goat.<BR>Dengan suara parau Kwee Lun memanggil pelayan-pelayan yang segera berlari<BR>mendatangi, memaki-maki mereka yang dikatakan tidak melayani Bi Goat<BR>sebaiknya.<BR>Setelah siuman kembali Bi Goat menangis terus, tidak mau menjawab<BR>pertanyaan ayahnya. Dan pada malam itu juga Bi Goat melahirkan<BR>kandungannya yang belum penuh sembilan bulan itu. Kelahiran yang sukar<BR>sekali, membuat nenek yang membantunya bermandi peluh, para pelayan<BR>kebingungan dan semua ini membuat Kwee Lun yang menjaga di luar kamar<BR>menjadi makin gelisah.<BR>Beberapa kali Bi Goat pingsan dan kalau sudah siuman ia memanggil-manggil<BR>nama Beng San, mengeluh tak kuat lagi. Akhirnya menjelang pagi lahirlah bayi<BR>dalam kandungannya. Tangisnya keras sekali membuat Kwee Lun melonjak<BR>kaget dari tempat duduknya. Bagaikan gila kakek ini lalu mendorong pintu<BR>kamar untuk segera melihat wajah cucunya. Apa yang ia lihat?<BR>Ia berdiri tegak seperti patung raksasa, mukanya pucat, matanya melotot<BR>bukan memandang kepada bayi laki-laki yang bergerak-gerak dan menangis<BR>hebat itu, melainkan ke atas ranjang, memandang kepada Bi Goat yang<BR>telentang tak bergerak, dengan mata setengah terbuka dan mulut menyeringai<BR>kesakitan, wajah yang putih dan mata yang tak bersinar lagi karena berbareng<BR>dengan lahirnya bayinya ibu muda yang malang ini telah ditinggalkan<BR>nyawanya.<BR>Untuk beberapa lama Song-bun-kwi Kwee Lun berdiri tegak dengan muka<BR>pucat, telinga seperti tuli tidak mendengar suara tangis bayi yang bercampur<BR>dengan tangis para pelayan, tidak melihat betapa nenek pembantu kelahiran<BR>itu sibuk membersihkan bayi kemudian membungkusnya dengan kain putih<BR>bersih.<BR>Akhirnya tampak air mata berkumpul di pelupuk mata tua itu, kemudian<BR>setetes demi setetes air mata mengalir turun. Bibir kakek itu bergerak-gerak,<BR>lalu terdengar suaranya parau, "Bi Goat... kenapa kau mati....? Habis aku<BR>bagaimana...." Berulang-ulang kalimat ini keluar dari mulutnya, kemudian ia<BR>menubruk maju dan kakek ini menangis menggerung-gerung sambil memeluki<BR>mayat Bi Goat.<BR>Sampai lama ia menangis seperti anak kecil. Ketika ia mengangkat kembali<BR>mukanya yang menjadi basah air mata, matanya merah dan mengerikan. Ia<BR>sudah berhenti menangis secara tiba-tiba, lalu ia memandang ke sana ke mari,<BR>menyapu ruangan itu dengan sinar matanya yang beringas. Ketika ia melihat<BR>nenek pembantu kelahiran yang duduk di pojok dengan ketakutan, ia<BR>melompat maju dan sekali terkam nenek itu sudah diangkatnya lalu<BR>dibantingnya ke lantai. Sekali banting saja nenek itu tidak berkutik lagi,<BR>kepalanya pecah dan nenek yang malang itu tewas tanpa dapat bersambat<BR>lagi, Song-bun-kwi Kwee Lun makin beringas, matanya liar.<BR>"Ampun, Lo-ya (Tuan Tua)... ampun hamba semua tidak berdosa. Nyonya<BR>muda jatuh sakit setelah kedatangan seorang nyonya yang mengaku bernama<BR>Kwa Hong dan yang melahirkan anak di rumah ini. Menurut pengakuannya,<BR>Nyonya Kwa Hong itu adalah isteri pertama Siauw-ya (Tuan Muda)... eh,<BR>bukan isteri... hubungan di luar nikah... datangnya menunggang rajawali<BR>emas, mengerikan sekali, Lo-ya... semenjak itulah Nyonya Muda lalu jatuh<BR>sakit...."<BR>Mendengar ini, Kwee Lun mengeluarkan suara/ menggereng seperti seekor<BR>binatang buas, lalu terdengar suaranya, "Beng San, keparat kau... mampus<BR>kau olehku....!" Dan tubuhnya yang tinggi besar itu bergerak lagi, kini sekali<BR>sambar ia telah mencengkeram buntalan kain yang terisi bayi yang masih<BR>menangis nyaring itu. Bukan main tangis bayi itu, seakan-akan dalam<BR>kelahirannya ia me nangisi kematian ibunya. Begitu lahir anak ini sudah harus<BR>menghadapi kematian ibunya. Betapa memilukan.<BR>"Mampus kau....!" Kwee Lun mengangkat buntalan itu tinggi-tinggi seperti<BR>hendak membantingnya!<BR>"Lo-ya..., ampunkan anak itu yang tidak berdosa...."<BR>"Lo-yaaaa, ampun....!"<BR>"Jangan, Lo-ya, jangan....!" Para pelayan itu menjerit-jerit.<BR>Jerit tangis pelayan ini seakan-akan menyadarkan Kwee Lun, matanya tidak<BR>lagi menatap buntalan, melainkan liar menyapu ke kanan kiri, kemudian<BR>terdengar ia menggereng dan tubuhnya berkelebat lenyap dari situ. Kakek itu<BR>lari keluar dan turun gunung membawa buntalan bayi, cucunya yang baru saja<BR>lahir!<BR>Tak ada jalan lain bagi para pelayan itu kecuali mengurus jenazah Bi Goat dan<BR>nenek bidan itu. Dengan bantuan penduduk kampung di kaki bukit yang<BR>mereka mintai bantuan, dua jenazah itu dikuburkan di belakang rumah dengan<BR>upacara sederhana. Para pelayan itu hanya dua yang tinggal untuk mengurus<BR>rumah dan menanti kembalinya Beng San.<BR>Rencana yang masih dirundingkan oleh utusan Raja Muda Lu Siauw Ong dan<BR>Ho-hai Sam-ong, benar-benar dilaksanakan oleh dua golongan yang haus akan<BR>kedudukan dan berusaha menggulingkan kekuasaan kaisar baru, Thai Cu.<BR>Mereka ini benar-benar terlalu percaya kepada kekuatan sendiri sehingga<BR>biarpun rahasia mereka itu telah diketahui oleh Li Cu dan Beng San yang<BR>sudah berhasil meloloskan diri, namun tetap saja mereka melanjutkan rencana<BR>itu. Mereka berhasil mengumpulkan banyak sekali pasukan bajak dan<BR>perampok, juga pihak Raja Muda Lu Siauw Ong yang bertugas merampas<BR>tahta selagi Kaisar pergi, berhasil menghasut pasukan besar tentara.<BR>Pada hari yang sudah ditentukan, rombongan Kaisar Thai Cu berangkat dari<BR>kota raja menuju ke utara, yaitu ke kota raja lama di Peking. Rombongan ini<BR>dikawal oleh sepasukan tentara pilihan, yaitu para pengawal pribadi kaisar.<BR>Sebagai seorang bekas panglima perang, Kaisar Thai Cu tidak gentar<BR>melakukan perjalanan jauh ini walaupun ia sudah tahu akan adanya banyak<BR>golongan yang tidak suka kepadanya karena tidak diberi kedudukan tinggi<BR>seperti yang mereka inginkan. Akan tetapi sama sekali Kaisar ini belum tahu<BR>akan siasat busuk yang direncanakan Ho-hai Sam-ong dan Raja Muda Lu<BR>Siauw Ong yang sudah bersekongkol itu.<BR>bagian 27<BR>Di sepanjang jalan rakyat dusun menyambut Kaisar baru itu dengan meriah.<BR>Agaknya rakyat amat mengagumi Kaisar yang telah berhasil membebaskan<BR>negara dari penjajahan bangsa Mongol itu. Orang-orang bersorak dan memberi<BR>hormat, di mana-mana rombongan Kaisar disambut tari-tarian daerah. Malah<BR>setiap dusun tentu mengutus orang-orang muda yang gagah perkasa untuk<BR>mengiring rombongan ini sampai di dusun lain, lalu diganti oleh para muda<BR>dusun ini, demikian seterusnya.<BR>Kaisar amat gembira dengan ini semua. Disangkanya bahwa hal itu memang<BR>sudah semestinya karena rakyat merasa gembira dapat terbebas daripada<BR>penjajahan. Sama sekali Kaisar ini tidak tahu bahwa biarpun sudah terbebas<BR>daripada penjajahan Mongol, sesungguhnya rakyat kecil apalagi para petani<BR>masih sama sekali belum bebas daripada belenggu penjajahan para tuan tanah<BR>yang kadang-kadang malah lebih keras dan kejam daripada penjajah Mongol<BR>sendiri! Juga Kaisar ini tidak tahu bahwa sebagian sebagian besar dari para<BR>pengiring ini, yang sebagai orang-orang kampung, adalah orang-orang gagah<BR>dari Pek-lian-pai dan para bekas pejuang yang setia kepadanya. Mereka ini<BR>anak buah dari Tan Hok yang sudah mengatur sedemikian rupa sehingga<BR>rombongan Kaisar selalu terkawal anak buahnya. Malah yang mengawal secara<BR>sembunyi masih banyak lagi, ada yang mendahului rombongan ada yang<BR>mengiring dari jauh di belakangnya.<BR>Tan Hok memang hebat. Raksasa ini semenjak berkecimpung dalam<BR>perjuangan ternyata telah makin matang sebagai seorang pemimpin dan<BR>pengatur siasat yang ulung. Secara cepat sekali ia mendengar penjelasan dari<BR>Beng San tentang persekongkoian antara Beng Kui dan Ho-hai Sam-ong, ia<BR>pergi ke kota raja dan bersama para panglima pasukan yang setia kepada<BR>Kaisar itu lalu berunding dan membuat rencana.<BR>Cepat pula ia menyiapkan pasukan Pek-lian-pai dan teman-teman<BR>seperjuangan<BR>yang terpilih, yaitu orang-orang yang memiliki kepandaian cukup, untuk<BR>secara diam-diam mengiringi, mengawal atau melindungi rombongan Kaisar<BR>yang hendak pergi ke utara. Juga Beng San sendiri ia serahi tugas yang paling<BR>berat, yaitu mengawal Kaisar secara sembunyi. Tan Hok maklum akan<BR>kelihaian Beng San, maka tugas penting ini ia serahkan kepada Beng San,<BR>sedangkan ia sendiri perlu mengatur pasukan gabungan di kota raja untuk<BR>menindas dan mengempur pemberontakan dari dalam yang hendak<BR>dilakukan oleh Raja Muda Lu Siauw Ong.<BR>Ketika Kaisar menggunakan perahu naga menyeberangi Sungai Huang-ho,<BR>keadaan di sungai juga ramai bukan main.<BR>Para nelayan seakan-akan datang segenap penjuru untuk mengelu-elukan<BR>kaisar baru ini. Juga di sini Kaisar tidak tahu bahwa para nelayan ini sebagian<BR>besar adalah anggauta-anggauta Pek-lian-pai, malah ada pula beberapa orang<BR>anak buah Ho-hai Sam-ong menyelinap, dan ada beberapa orang pembunuh<BR>datang untuk mencari kesempatan baik menghabiskan nyawa Kaisar Thai Cu!<BR>Maka, amat kagetlah Kaisar dan para pengiringnya ketika perahu sampai di<BR>tengah sungai di kanan kiri perahu tiba-tiba timbul enam mayat di permukaan<BR>air. Mayat-mayat ini adalah mayat orang-orang yang tadinya berusaha<BR>melubangi perahu dengan jalan menyelam di bawahnya. Namun anak buah<BR>Tan Hok yang waspada dan memang sudah dipilih ahli-ahli dalam air, telah<BR>mengetahui akan hal ini dan cepat mereka itu pun menyelam. Terjadi<BR>pertandingan di bawah perahu, di dalam air yang amat hebat tanpa diketahui<BR>oleh mereka yang berada di permukaan air. Tahu-tahu mayat para penjahat<BR>itu timbul di permukaan air mengagetkan semua orang. Kaisar buru-buru<BR>memerintahkan agar perahu dipercepat penyeberangannya.<BR>Setelah tiba di seberang Sungai Huang-ho sebelah utara dan rombongan<BR>memasuki sebuah hutan yang lebat, mulailah terjadi penyerangan yang<BR>dilakukan oleh Ho-hai Sam-ong dan pasukannya yang sudah beberapa hari<BR>menghadang di tempat ini. Mendadak terdengar sorak-sorai bergemuruh dan<BR>pasukan bajak dibantu oleh pasukan mereka yang tidak puas melihat Cu Goan<BR>Ciang menjadi Kaisar, berserabutan keluar dari tempat persembunyian dengan<BR>senjata di tangan.<BR>"Bunuh Ciu Goan Ciang!"<BR>"Seret Kaisar lalim!"<BR>Demikianlah ucapan-ucapan yang ditujukan kepada Kaisar dan mulailah terjadi<BR>pertempuran hebat antara para penyerbu dan para pengawal Kaisar. Makin<BR>lama makin banyaklah penyerbu. Kaisar sendiri agaknya tenang-tenang saja<BR>karena semenjak penyeberangan tadi tidak memperlihatkan diri, bersembunyi<BR>saja di dalam tandunya yang sekarang terpaksa diturunkan dan dilindungi oleh<BR>beberapa orang pengawal pribadi.<BR>Tiba-tiba Ho-hai Sam-ong sendiri, tiga orang kepala bajak yang lihai itu,<BR>meloncat ke dekat tandu Kaisar ini. Mereka memang sengaja mencari Kaisar<BR>dan hendak turun tangan sendiri. Melihat tandu dengan tanda pangkat Kaisar,<BR>dan bendera berkibar di atasnya, Ho-hai Sam-ong girang sekali. Mereka<BR>mengeluarkan tanda suitan. Bermunculan Hek-hwa Kui-bo, Kim-thouw Thianli,<BR>dan banyak lagi kepala rampok dan orang-orang dari golongan hek-to (jalan<BR>hitam) datang menyerbu ke tempat itu.<BR>Para pengawal pribadi dengan gigih menyambut serbuan orang-orang ini,<BR>namun dalam beberapa gebrakan saja robohlah belasan orang pengawal dan<BR>Lui Cai Si Bajul Besi sendiri dengan sebuah loncatan meninggalkan kawankawannya<BR>yang sedang menandingi para pengawal pribadi itu, langsung<BR>mendekati tandu. Senjatanya berupa dayung baja yang besar berat itu sudah<BR>diayunnya, mulutnya berseru,<BR>"Ha-ha-ha, Ciu Goan Ciang! Lihat baik-baik, ini Lui Cai datang menghancurkan<BR>kepalamu!"<BR>Tiba-tiba kain tenda dari joli itu terbuka dan keluarlah seorang laki-laki tua<BR>dengan tubuh menggigll dan muka pucat. Tangan Lui Cai yang memegang<BR>dayung gemetar, ia berteriak sambll melangkah mundur. Kiranya orang yang<BR>berada di dalam joli bukanlah Kaisar, melainkan seorang yang menyamar<BR>sebagai Kaisar dan memakai pakaian kaisar!<BR>"Celaka....!" serunya dengan muka pucat. "Kita telah terjebak... dia bukan<BR>Kaisar!"<BR>Sementara itu, para pengawai pribadi Kaisar amat repot menghadapi amukan<BR>kepala-kepala bajak itu yang dibantu oleh Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw<BR>Thian-li yang ganas. Akan tetapi tiba-tiba terdengar seruan marah berkelebat<BR>cepat didahului sinar pedang yang gemilang. Robohlah beberapa orang<BR>penjahat bagaikan alang-alang dibabat dan dalam waktu singkat saja<BR>pengamuk ini sudah berhadapan dengan Ho-hai Sam-ong dan dua orang<BR>pembantunya yang paling dahsyat bersama sepuluh orang lagi kepala rampok.<BR>"Ho-hai Sam-ong, kalian benar-benar ingin mampus!" teriakan yang nyaring<BR>tapi merdu terdengar lantang. Kiranya yang muncul ini bukan lain adalah Cia Li<BR>Cu yang sebetulnya sudah sejak tadi mengamuk di sebelah luar hutan untuk<BR>menerjang masuk. Seperti diceritakan di bagian depan, Li Cu juga mendengar<BR>semua rencana busuk yang diatur oleh Beng Kui dan Ho-hai Sam-ong, maka<BR>cepat-cepat gadis ini pulang menemui ayahnya dan menceritakan semua yang<BR>ia alami, kecuali pengalamannya dengan Beng San! Sebagai seorang patriot<BR>berjiwa besar, Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan marah bukan main mendengar<BR>bahwa muridnya yang pertama, murid yang dicintanya dan malah yang akan<BR>menjadi mantunya, telah menyia-nyiakan Li Cu. Hal ini masih belum berapa<BR>hebat seperti ketika ia mendengar bahwa Beng Kui hendak berkhianat.<BR>Wajahnya menjadi merah, matanya berkilat-kilat lalu ia menyuruh Li Cu<BR>berangkat lagi untuk diam-diam melindungi Kaisar sementara dia sendiri<BR>menuju ke kota raja untuk berhadapan dengan Beng Kui, muridnya.<BR>Demikianlah, Li Cu segera melakukan perjalanan cepat dan kedatangannya<BR>tepat sekali pada saat para pemberontak itu menyerbu ke dalam peperangan<BR>dan mengamuk dengan pedang pendek Liong-cu-kiam yang tajam dan ampuh.<BR>Ketika Ho-hai Sam-ong melihat Li Cu mereka menjadi marah sekali. Lui Cai<BR>melompat maju dan memaki, "Siluman cilik! Tentu kau yang telah membuka<BR>rahasia dan Kaisar sengaja bersembunyi. Kaulah yang bosan hidup, sekarang<BR>kami takkan mau mengampunimu lagi!" Dayungnya menyambar dahsyat, akan<BR>tetapi segera ia tarik kembali ketika pedang Liong-cu-kiam sengaja dibabatkan<BR>oleh Li Cu sambil tersenyum. Lui Cai sudah mengenal ketajaman pedang itu<BR>dan kelihaian gadis ini, maka untuk bertempur seorang melawan seorang<BR>kiranya dia takkan dapat menang.<BR>"Ji-te, Sam-te, hayo kita binasakan bocah ini dulu!" teriaknya sambil memutar<BR>dayung. Kiang Hun dan Thio Ek Sui yang juga merasa amat kecewa melihat<BR>bahwa yang duduk di dalam joli itu bukan Kaisar segera memutar senjata dan<BR>mengeroyok Li Cu. Sebentar saja Li Cu sudah sibuk dikeroyok tiga oleh Ho-hai<BR>Sam-ong, seperti ketika ia dikeroyok di atas perahu dahulu itu. Akan tetapi ia<BR>tidak gentar dan pedangnya diputar cepat untuk melayani tiga orang<BR>musuhnya yang benar-benar tangguh itu.<BR>Sementara itu, Hek-hwa Kui-bo dan muridnya, juga para kepala rampok yang<BR>tadinya menyerbu ke situ untuk bersama-sama membinasakan Kaisar,<BR>sekarang sudah mulai bertempur kembali menghadapi para pengawal yang<BR>kini dibantu oleh orang-orang Pek-lian-pai yang tadinya menyamar sebagai<BR>petani dan nelayan. Makin banyaklah anggauta-anggauta Pek-lian-pai<BR>berdatangan, malah yang mendahului rombongan Kaisar sudah pula diberi<BR>tahu dan sekarang mereka datang menyerbu dari utara. Hal ini membuat para<BR>pemberontak terdesak hebat, apalagi karena di pihak Pek-lian-pai terdapat<BR>banyak orang-orang gagah yang tinggi kepandaiannya.<BR>Melihat pihaknya terdesak hebat, Ho-hai Sam-ong menjadi gelisah. Bagaimana<BR>dapat muncul demikian banyaknya yang membantu Kaisar? Tak salah lagi, ini<BR>tentu jebakan yang sengaja diatur oleh Kaisar yang dulunya juga seorang<BR>panglima perang yang pandai. Dan tentu karena rahasia mereka sudah<BR>dibocorkan oleh gadis puteri Bu-tek Kiam-ong ini. Kemarahan Ho-hai Sam-ong<BR>terhadap Li Cu makin menjadi.<BR>"Hek-hwa Kui-bo, harap bantu kami menangkap gadis liar ini!" seru Lui Cai.<BR>Mendengar ini, Hek-hwa Kui-bo yang tadinya sibuk menghadapi pengeroyokan<BR>banyak orang Pek-lian-pai, bersuit keras. Inilah tanda bagi para anggauta<BR>perampok untuk menahan penyerbuan musuh agar dia dan Ho-hai Sam-ong<BR>tidak terganggu dalam usaha mereka menangkap Li Cu. Sebentar saja Li Cu<BR>terdesak makin hebat setelah Hek-hwa Kui-bo datang mengeroyoknya. Gadis<BR>ini dengan gigih mempertahankan dirinya.<BR>"Ho-hai Sam-ong dan Hek-hwa Kui-bo jangan banyak bertingkah!" tiba-tiba<BR>terdengar bentakan nyaring dan tahu-tahu di situ sudah muncul Beng San<BR>dengan tangan kosong!<BR>Diam-diam Li Cu girang bukan main, akan tetapi melirik pun ia tidak mau ke<BR>arah Beng San. Adapun Ho-hai Sam-ong ketika melihat kedatangan pemuda<BR>yang amat lihai itu, seketika menjadi pucat. Serentak mereka menyerang<BR>pemuda yang bertangan kosong itu. Yang paling cepat menyambar tubuh Beng<BR>San adalah tambang di tangan Kiang Hun. Beng San menggerakkan tangan<BR>menangkap ujung tambang dan sekali membetot tambang itu putus menjadi<BR>dua, tepat di tengah-tengah sehingga separoh tambang itu berada di tangan<BR>Beng San dan menjadi senjatanya! Ketika Beng San menggerak-kan tambang<BR>itu, kiranya ia tidak kalah hebat memainkan senjata aneh ini dari pada Kiang<BR>Hun!<BR>Li Cu mendapat angin. Pedangnya bergerak cepat dan robohlah Thio Ek Sui<BR>sambil menjerit keras. Dadanya tertembus Liong-cu-kiam, Kiang Hun menjadi<BR>gugup sehingga kembali pedang Liong-cu-kiam menyerempet pundaknya. Ia<BR>memekik dan meloncat hendak lari, tetapi dari belakangnya menyambar dua<BR>batang tombak anggauta Pek-lian-pai sehingga Kiang Hun juga roboh binasa.<BR>Dengan tambangnya Beng San menghadapi Lui Cai yang mengamuk matimatian,<BR>dibantu oleh Hek-hwa Kui-bo. Sedikit saja Lui Cai terlambat bergerak,<BR>jalan darahnya di dada telah disentuh oleh ujung tambang itu. Ia roboh lemas<BR>dan kembali pedang Liong-cu-kiam di tangan Li Cu bekerja, menamatkan<BR>riwayat kepala Ho-hai Sam-ong ini.<BR>"Nona Cia, awas....!" Beng San cepat meniup dengan mulutnya ke depan,<BR>malah mengebut-ngebutkan kedua tangan untuk mengusir asap beracun<BR>berwarna merah. Namun terlambat, Hek-hwa Kui-bo tadi dengan cepatnya<BR>mengebutkan saputangannya dan asap kemerahan menyambar ke depan, ke<BR>arah Li Cu. Gadis ini baru saja menewaskan Lui Cai dan kurang waspada.<BR>Biarpun ia sudah mengelak karena seruan Beng San, namun masih ada asap<BR>yang memasuki hidungnya. Ia mengeluh, terhuyung-huyung dan pedangnya<BR>terlepas dari pegangan. Beng San cepat memeluk dan memondongnya sambil<BR>menyambar Liong-cu-kiam. Ia masih melihat Hek-hwa Kui-bo menyambar<BR>tangan muridnya melarikan dirl di antara banyak orang yang bertempur. Ia<BR>tidak peduli lagi. Yang paling perlu Li Cu harus dibawa pergi dari tempat<BR>berbahaya itu. Sekali meloncat ia sudah lolos dari kepungan musuh, lalu<BR>mengerjakan kakinya untuk merobohkan setiap orang penghalang, langsung ia<BR>membawa Li Cu ke tempat sunyi di lain bagian dari hutan itu.<BR>Di bawah sebatang pohon besar yang amat sunyi di dalam hutan itu, Beng San<BR>cepat menurunkan Li Cu dan memeriksanya. Sedikit banyak dia telah<BR>mempelajari ilmu pengobatan dari mertuanya, Song-bun-kwi Kwee Lun,<BR>terutama mengenai akibat senjata beracun. Ketika ia menurunkan tubuh Li Cu<BR>dan melihat muka gadis itu, ia kaget bukan main. Wajah Li Cu sepucat salju<BR>dan napasnya sesak hampir berhenti. Dari mulut yang terengah-engah itu<BR>tercium bau wangi yang memuakkan, yaitu bau racun asap kemerahan yang<BR>tadi kena tersedot oleh gadis ini.<BR>Beng San memutar otak. Menurut keterangan dari mertuanya, mengobati<BR>akibat dari keracunan hanya dua macam, pertama memasukkan racun yang<BR>berlawanan atau obat penawar ke dalam tubuh si sakit untuk memerangi<BR>racun itu. Ke dua, mengeluarkan racun dari tubuh si sakit. Kalau Li Cu terluka<BR>oleh senjata beracun, ia dapat mengeluarkan racun itu dengan menyedot<BR>lukanya sehingga racun yang sudah bercampur dengan darah itu dapat<BR>tersedot keluar. Adapun Li Cu terserang racun bukan melalui luka, melainkan<BR>racun itu langsung memasuki paru-parunya melalui mulut, bagaimana ia akan<BR>dapat mengeluarkan racun dari dalam paru-paru?<BR>Dalam bingungnya karena baru pertama kali ini menghadapi orang keracunan<BR>oleh racun asap, Beng San dapat mengambil keputusan. Ia merasa yakin<BR>bahwa satu-satunya jalan untuk menolong gadis itu adalah mengeluarkan asap<BR>yang masuk ke dalam paru-parunya. Ia maklum pula atau dapat menduga<BR>bahwa cara pertolongan ini amat berbahaya bagi dirinya sendiri. Akan tetapi<BR>pada saat itu ia tidak mempedulikan keselamatan diri sendiri. Untuk menolong<BR>orang, terutama orang seperti Li Cu ini, ia tidak perlu takut-takut<BR>mengorbankan diri sendiri!<BR>Ketika ia sudah mengambii keputusan ini dan hendak mulai dengan usaha<BR>pertolongannya, tiba-tiba mukanya menjadi kehijauan karena ia merasa<BR>jengah dan malu. Akan tetapi ia mengeraskan hatinya. Pada saat nyawa Li Cu<BR>terancam bahaya seperti itu, ia tidak perlu ingat lagi akan tata susila kosong<BR>dan akan hukum adat yang berlaku mengenai kesopanan antara pria dan<BR>wanita.<BR>Cepat ia mengangkat kepala Li Cu, lalu tanpa ragu-ragu ia membuka mulut<BR>gadis itu dengan jari tangannya. Kemudian ia menunduk dan menempelkan<BR>mulutnya sendiri pada mulut Li Cu lalu ia menyedot dengan pengerahan<BR>tenaga khi-kang sekuatnya! ia merasa betapa hawa yang dingin seperti es<BR>memasuki rongga dadanya. Tubuhnya menggigil dan cepat ia melepaskan<BR>mulutnya, perlahan-lahan menurunkan kepala gadis itu dan ia lalu duduk<BR>bersila, mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya, menyalurkan Iwee-kang<BR>nya untuk melawan hawa dingin di rongga dada itu. Hawa Thai-yang di dalam<BR>tubuhnya segera bekerja. Dari pusarnya naik hawa panas seperti api<BR>membara, terus hawa panas ini ia desak ke atas, menyerbu ke rongga dada<BR>dan menghan-tam hawa dingin yang tadi memasuki dadanya melalui mulut Li<BR>Cu. Terjadinya perang tanding antara kedua hawa ini, akan tetapi tenaga<BR>dalam dan hawa Thai-yang di tubuh Beng San memang mujijat sekali. Dengan<BR>hati lega orang muda itu merasa betapa perlahan-lahan tapi tentu hawa dingin<BR>itu buyar dan lenyap.<BR>Setelah hawa dingin di dalam rongga dadanya itu lenyap, ia membuka mata. Li<BR>Cu masih belum sadar dan napasnya masih terengah-engah biarpun tidak<BR>seberat tadi. Ia kembali menempelkan mulutnya pada mulut Li Cu dan<BR>menyedot lagi. Seperti tadi, hawa dingin memasuki dadanya, tapi sebentar<BR>saja buyar dihantam tenaga Thai-yang. Girang hati Beng San. Tubuh gadis<BR>yang tadinya sudah dingin itu sekarang agak hangat dan ketika ia menyedot<BR>untuk ke empat kalinya, ia merasa betapa tubuh Li Gu ber-gerak sedikit.<BR>Kalau saja Beng San tahu bahwa pada saat itu Li Cu sudah setengah sadar,<BR>sudah pasti ia akan cepat-cepat melepaskan mulutnya yang menyedot! Di lain<BR>pihak, Li Cu yang mulai sadar, seolah-olah dalam mimpi. Hampir ia tak dapat<BR>percaya akan pandangan mata dan perasaan tubuhnya sendiri. Benarkah<BR>orang itu Beng San? Dan benarkah Beng San melakukan perbuatan seperti ini<BR>terhadap dirinya? Saking kaget, malu, ngeri dan marah, Li Cu pingsan kembali,<BR>bukan pingsan karena pengaruh racun asap, melainkan pingsan karena<BR>hantaman perasaannya melihat perbuatan Beng San terhadap dirinya!<BR>Ketika Li Cu siuman kembali, ia membelalakkan kedua matanya. Ia melihat<BR>betapa muka Beng San sudah mendekati mukanya dan dalam anggapannya,<BR>Beng San sedang berbuat kurang ajar dan hendak "menciumnya" lagi. Di<BR>samping pemandangan yang mengagetkan ini, ia melihat hal lain yang<BR>membuat ia cepat menjerit sambil mendorong tubuh Beng San sekuat tenaga.<BR>Tubuh Beng San terpental dan Li Cu merasa betapa tenaga dorongannya tadi<BR>mendatangkan rasa dingin yang menyakitkan di dadanya. Dan pada saat itu<BR>juga, ia mencoba untuk mengelak dengan menggulingkan tubuhnya, namun<BR>tetap saja pukulan yang datang itu mengenai pundaknya, membuat tubuhnya<BR>terpental lebih jauh daripada Beng San! Terdengar suara orang menggereng<BR>seperti binatang buas, gerengan orang yang tadi memukul. Pukulan itu<BR>sebetulnya ditujukan ke arah punggung Beng San. Baiknya pada saat itu Li Cu<BR>siuman dan pukulan orang inilah yang membuat ia menjerit dan mendorong<BR>tubuh Beng San, malah pukulan itu setelah tidak mengenai tubuh Beng San,<BR>malah mengenai dirinya sendiri.<BR>bagian 28<BR>Beng San melompat bangun dengan kaget sekali. Tadi seluruh perhatiannya ia<BR>tujukan untuk mengobati Li Cu sehingga kesadaran gadis itu pun tidak<BR>diketahuinya. Maka kedatangan orang yang menyerangnya secara diam-diam<BR>itu pun sama sekali tidak ia ketahui. Kini ia merasa kaget sekali setelah tadi<BR>tubuhnya didorong ke pinggir oleh Li Cu, kaget bukan main karena ia melihat<BR>ayah mertuanya, Song-bun-kwi Kwee Lun sudah berdiri di depannya seperti<BR>seorang iblis mengerikan. Pakaian ayah mertuanya yang semenjak ia ikut ke<BR>Min-san dahulu sudah menjadi biasa seperti seorang kakek petani, sekarang ia<BR>lihat kembali seperti dulu lagi, yaitu pakaian putih, pakaian berkabung!<BR>Anehnya lagi di dada kakek ini tergantung seorang bayi dalam gendongannya,<BR>bayi yang nampaknya tidur nyenyak.<BR>"Gak-hu (Ayah Mertua)...."<BR>"Bangsat! Laki-laki mata keranjang, kau meninggalkan isteri untuk main gila<BR>dengan perempuan lain?" bentak Song-bun-kwi Kwee Lun dengan kemarahan<BR>meluap-luap.<BR>"Tidak... tidak demikian.... Gak-hu, harap jangan salah sangka....! Dia telah<BR>menyedot racun Ngo-hwa dari Hek-hwa Kui-bo... aku berusaha menyedot<BR>keluar racun itu dan...."<BR>Song-bun-kwi menggereng lagi. "Apapun juga alasanmu, anakku tak dapat<BR>hidup lagi!" Mendadak ia menyerang dengan hebatnya, menghantam kepala<BR>mantunya itu.<BR>Semenjak dahulu Beng San memang tidak suka kepada Song-bun-kwi yang<BR>memang pernah hidup sebagai seorang yang keji. Malah beberapa kali sudah<BR>Beng San hampir dibunuhnya di waktu pemuda ini masih kecil (baca Raja<BR>Pedang). Sekarang pun ia menjadi marah karena disangka yang bukan-bukan<BR>oleh mertuanya ini dan malah sekarang ia diserang dengan pukulan maut.<BR>Akan tetapi ketika ia mendengar kalimat terakhir "anakku tak dapat hidup<BR>lagi", ia merasa matanya gelap dan serasa jantungnya berhenti berdetik.<BR>"Apa katamu?" bentaknya dan tangannya menangkis tangkisan ini hebat,<BR>membuat tubuh Song-bun-kwi seketika terpental ke belakang dan hampir<BR>roboh! Teringat kepandalan Beng San memang sudah hebat sekali dan Sonsbun-<BR>kwi maklum bahwa ia tidak akan mampu mengalahkan mantunya. Maka ia<BR>menyeringai keji dan berkata penuh geram<BR>"Kau pembunuh anakku, lain kali aku pasti akan mencarimu mengadu nyawa!"<BR>setelah berkata demikian kakek ini menggereng dan lari cepat sekali<BR>membawa bayi dalam gendongannya.<BR>Untuk sesaat Beng San berdiri dengan muka berubah hijau karena hatinya<BR>gelisah bukan main. Kemudian ia teringat akan bayi di gendongan mertuanya<BR>itu. Ia menghitung-hitung dalam benaknya dan teringat bahwa sudah lewat<BR>beberapa bulan sejak waktu kandungan isterinya tiba saatnya dilahirkan. Anak<BR>itu tadi.....? Apa yang terjadi? Tiba-tiba seperti orang gila Beng San memekik.<BR>"Bi Goat....!" Dan tubuhnya melesat seperti seekor burung terbang, pergi dari<BR>tempat itu.<BR>Sementara itu, terjadi keanehan pada diri Li Cu. Seperti dituturkan di atas<BR>tadi, setelah mendorong tubuh Beng San ke samping, pukulan yang dilakukan<BR>oleh Song-bun-kwi mengenai pundak Li Cu yang membuat tubuh Li Cu<BR>terlempar. Pukulan itu bukan pukulan biasa, karena tadi Song-bun-kwi sengaja<BR>melakukan pukulan dari Ilmu Yang-sin-hoat untuk membunuh Beng San.<BR>Pukulan itu mengandung hawa Yang-kang yang amat kuat. Dan biarpun sudah<BR>dielakkan oleh Li Cu, pukulan itu mengenai pundaknya dan terasalah hawa<BR>yang luar biasa panasnya menjalari tubuhnya. Dan hawa panas ini lalu<BR>bertemu dengan sisa hawa dingin yang masih mengeram di tubuhnya, yang<BR>masih belum disedot keluar oleh Beng San. Dua hawa dahsyat ini bertemu<BR>dan... buyarlah keduanya. Pukulan maut dari Song-bun-kwi tadi malah<BR>menyembuhkan sama sekali penderitaan Li Cu akibat racun asap Hek-hwa Kuibo!<BR>Tadinya hati Li Cu penuh dengan kemarahan dan ia menganggap bahwa Beng<BR>San sudah berlaku jahat dan kurang ajar kepadanya, sudah menciuminya di<BR>waktu ia pingsan! Bukan main sakit hatinya pada saat itu. Akan tetapi setelah<BR>ia mendengar pengakuan Beng San kepada Song-bun-kwi tadi bahwa<BR>perbuatannya itu adalah usaha menolongnya dari bahaya maut, tak terasa<BR>pula air matanya jatuh berderai dan ia terisak-isak. Hatinya terharu bukan<BR>main. Sudah terlalu sering ia menyangka Beng San sebagai orang jahat,<BR>sebagai laki-laki kurang ajar, laki-laki mata keranjang. Dan ternyata ia telah<BR>menuduh yang bukan-bukan, telah memasukkan fitnah terhadap diri Beng San<BR>ke dalam pikirannya. Padahal sudah berkali-kali Beng San menolongnya,<BR>menolong keselamatan nyawanya dengan hati tulus iklas. Apalagi ketika ia<BR>melihat keadaan Beng San hatinya ikut hancur.<BR>Li Cu menyambar pedangnya yang ditinggalkan Beng San di dekatnya, lalu<BR>melompat dan lari mengejar Beng San yang sudah lari jauh dengan kecepatan<BR>laksana terbang itu. Tak dapat ia menyusul Beng San, akan tetapi ia dapat<BR>menduga bahwa orang muda itu tentulah pergi ke Min-san. Sebetulnya ia<BR>boleh tak usah pedulikan Beng San. Akan tetapi ada sesuatu yang terjadi di<BR>dalam hatinya. Ia setengah dapat menduga bahwa telah terjadi sesuatu yang<BR>mengerikan pada diri isteri Beng San. Ia seperti melihat awan gelap di atas<BR>mengancam Beng San. Di samping ini, ia merasa bahwai ia harus selalu<BR>berdekatan dengan orang itu. Tak dapat lagi ia ditinggalkan, tak dapat lagi ia<BR>berpisah. Ia merasa kasihan kepada Beng San, juga kasihan kepda... diri<BR>sendiri karena ia pasti akan merana dan sunyi hidupnya kalau berjauhan<BR>dengan Beng San.<BR>"Beng San...." rintihnya sambil mengusap air matanya yang berderai turun<BR>membasahi pipinya. "Ya Tuhan... mengapa aku menjadi begini....?" ia<BR>mengeluh bingung. Tidak semestinya ia mengejar Beng San. Ia seharusnya<BR>kembali, seharusnya malah meninggalkan Beng San jauh-jauh. Setanlah yang<BR>menggodanya ini, setan yang membisikkan hal-hal yang tak boleh ia lakukan.<BR>Tapi... ah, mengapa hatinya bulat-bulat menyerah? Mengapa kakinya seperti<BR>tidak mau disuruh pergi ke lain jurusan? Ia teringat ayahnya, lalu bersambat<BR>lirih,<BR>"Ayah... anakmu telah gila... telah gila...." Dan sementara itu kedua kakinya<BR>terus berlari cepat, menuju Min-san! Di dunia ini, apakah yang lebih berkuasa<BR>dan aneh daripada cinta? Apakah yang lebih gila daripada orang muda yang<BR>sudah mabok madu asmara? Cinta kasih atau asmara telah banyak sekali<BR>menimbulkan cerita dan peristiwa yang lebih aneh daripada dongengan!<BR>Dengan muka pucat kurus dan mata merah rambut awut-awutan pakaian<BR>compang-camping, setelah melakukan perjalanan terus-menerus, akhirnya<BR>Beng San sampai juga di puncak Min-san. Ketika ia memasuki halaman<BR>rumahnya, dua orang pelayan wanita yang masih tinggal di situ hampir-hampir<BR>tidak mengenalnya. Sampai lama mereka memandang dengan bengong dan<BR>curiga, karena laki-laki muda yang berdiri di depan mereka itu lebih patut<BR>menjadi seorang pengemis yang liar daripada tuan muda mereka yang<BR>tampan.<BR>"Bi Goat... mana Bi Goat....?" Suara Beng San serak, entah sudah berapa ribu<BR>kali kalimat pertanyaan ini keluar dari mulutnya di sepanjang perjalanan<BR>pulang. "Mana nyonya muda....?"<BR>Setelah mendengar pertanyaan ini barulah dua orang pelayan tua itu merasa<BR>yakin bahwa yang berdiri di depan mereka sekarang ini adaiah "tuan muda"<BR>mereka.<BR>"Siauw-ya (Tuan Muda)....!" keduanya lalu menjatuhkan diri berlutut dan<BR>menangis bersaing keras,<BR>"Apa yang terjadi? Mana nyonya muda. Dia kenapa?" Akan tetapi dua orang<BR>pelayan itu menangis makin keras. Beng San tak sabar lagi. Sekali melompat<BR>ia telah memasuki rumah dan berlari-lari di dalam semua ruangan dan kamar,<BR>membuka dan menutup pintu seperti orang mengejar sesuatu. Seluruh bagian<BR>rumah, sampai ke kamar mandi, ia masuki namun sunyi sepi, tidak ada<BR>seorang pun manusia lagi kecuali dua orang pelayan wanita yang sedang<BR>menangis tersedu-sedu itu. Akhirnya terpaksa Beng San kembali ke ruangan<BR>depan di mana dua orang pelayan itu menangis. Tubuh Beng San menggigil,<BR>matanya berputaran, jantungnya serasa berhenti berdetik.<BR>"Mana dia? Mana Bi Goat? Katakanlah, mana Bi Goat? Ahh... kuhancurkan<BR>kepalamu kalau tidak bicara!" ia mengguncang-guncang pundak seorang<BR>pelayan yang menjadi ketakutan. Dengan muka pucat keduanya berhenti<BR>menangis, lalu dengan suara terputus-putus mereka bercerita,<BR>"Mula-mula datang seorang nyonya bernama Kwa Hong... dia naik burung<BR>menakutkan... dia melahirkan anak di sini ditolong oleh Nyonya Muda...<BR>setelah dia dan anaknya pergi, Nyonya Muda jatuh sakit... tak pernah sehat<BR>lagi, lalu minta minta kepada Lo-ya (Tuan Tua) pergi menyusul Siauw-ya...<BR>tapi pulang tanpa Siauw-ya. Nyonya Muda makin sedih... lalu melahirkan<BR>dan... dan... tidak kuat... Nyonya Muda meninggal dunia...." Tak dapat<BR>tertahan lagi dua orang pelayan itu menangis terisak-isak.<BR>Beng San meramkan mata, meringis kesakitan. Dadanya sebelah kiri serasa<BR>tertusuk, ubun-ubun kepalanya berdenyut-denyut. Ia tidak bisa menangis lagi,<BR>lehernya seperti dicekik dan bibirnya yang putih seperti kertas itu bergerakgerak<BR>perlahan, lalu berhenti bergerak, ternganga dan pandang matanya jauh<BR>ke depan tak bersinar, seakan-akan ia sudah menjadi tubuh tak bernyawa,<BR>kehilangan semangatnya.<BR>"Siauw-ya... Siauw-ya...." Pelayan yang tertua menubruk kaki Beng San tak<BR>tahan melihat majikannya berhal demkian itu, Beng San bergerak perlahan<BR>lalu terdengar suara dari mulutnya, suara yang terdengar seperti suara dari<BR>jauh.<BR>"Di mana makamnya... di mana dikuburnya....?"<BR>"Maafkan hamba, Siau-ya... karena Lo-ya membawa anak bayi itu, hamba<BR>sekalian terpaksa mengajak saudara-saudara dari kaki. gunung untuk<BR>mengubur jenazah Nyonya Muda di pekarangan belakang rumah secara<BR>sederhana...."<BR>Beng San lalu melangkah perlahan dan lemas, menuju ke pekarangan<BR>belakang, diikuti dua orang pelayan yang masih menangis terisak-isak.<BR>Akhirnya ia berdiri tegak di depan sebuah kuburan yang masih baru, kuburan<BR>sederhana yang tidak diberi batu nisan, hanya ditanami bunga mawar gunung<BR>kesukaan Bi Goat dan pohon kembang itu sudah mulai berbunga.<BR>"Bi Goat... ampun... isteriku... ampun..." Beng San roboh ke depan, mukanya<BR>terbanting dan terbenam pada gundukan tanah kuburan.<BR>Dua orang pelayan itu cepat menolong Beng San yang sudah pingsan sambil<BR>turut menangis. Akan tetapi setelah siuman kembali Beng San menyuruh dua<BR>orang pelayan itu pergi meninggalkannya seorang diri di kuburan isterinya.<BR>Malam itu hujan turun deras, namun Beng San tidak beralih dari tempatnya,<BR>tidak bergerak dan terus-menerus terdengar suaranya memanggil-manggil<BR>nama Bi Goat dan minta ampun. Semenjak saat ia roboh pingsan di kuburan<BR>isterinya, sampai berhari-hari ia tidak pernah pergi meninggalkan tempat itu,<BR>tak pernah makan tak pernah tidur! Beberapa kali dua orang pelayan yang<BR>setia itu datang menangis dan membujuk-bujuknya, namun Beng San malah<BR>marah-marah dan mengusir mereka pergi dari depannya.<BR>Sepuluh hari kemudian tubuh Beng San telah menjadi kurus dan wajahnya<BR>pucat kehijauan, matanya makin liar. Hanya karena tubuhnya yang terlatih<BR>dan mengandung tenaga luar biasa itu saja yang membuat ia masih dapat<BR>menahan. Dua orang pelayan itu sudah tak berdaya lagi, tidak berani<BR>mendekati Beng San karena tuan muda ini marah-marah kalau di "ganggu".<BR>Mereka menjadi putus asa dan merasa ngeri kalau membayangkan betapa<BR>pada suatu pagi mereka akan melihat tuan muda itu menggeletak dalam<BR>keadaan tak bernyawa karena kelaparan di kuburan itu.<BR>Akan tetapi, seperti juga kelahiran takkan ada, kematian takkan menimpa diri<BR>seorang manusia kalau Tuhan belum menghendakinya. Demikian pula dengan<BR>Beng San. Orang muda ini bukannya sengaja bermaksud membunuh diri, akan<BR>tetapi ia sudah tidak mempedulikan keadaan sekelilingnya, ingatannya sudah<BR>berubah karena tekanan batin yang amat hebat. Kedukaan yang hebat,<BR>penyesalan yang bertubi-tubi menghantam batinnya, tak kuat ia menahannya<BR>sehingga ia seperti orang yang sudah tidak waras lagi otaknya. Namun<BR>agaknya Tuhan Maha Pengasih suka mengampunkan dosanya.<BR>Malam hari itu hujan turun rintik-rintik. Dinginnya bukan main di Puncak Minsan.<BR>Di kuburan Bi Goat, Beng San duduk bersila menghadap kembang mawar<BR>yang sudah rontok dari tangkainya, mengeluh dan bersambat dengan suara<BR>lirih,<BR>"Bi Goat, isteriku. Kau begitu mulia, begitu suci cintamu kepadaku... dahulu<BR>kau sampai rela Hendak mengorbankan nyawamu untukku...., ah, Bi Goat,<BR>tidak kelirukah kau memilih aku? Aku tidak berharga mendapatkan cintamu...<BR>aku seorang yang rendah. Aku telah mengadakan hubungan dengan Hongmoi...<BR>menjadi ayah dari anak Hong-moi, tapi aku tidak berterus terang<BR>kepadamu... Bi Goat... aku laki-laki mata keranjang, laki-laki berhati lemah,<BR>mudah runtuh menghadapi wanita cantik. Ia berhenti sebentar dan terdengar<BR>isaknya tertahan.<BR>"Bi Goat, kenapa kau belum juga datang? Marahkah kau kepadaku? Sudah<BR>sepatutnya kau marah... aku minta ampun, Goat-moi... aku berdosa<BR>kepadamu. Sekarang kuakui semua dosaku... betul, aku telah berlaku<BR>serong... aku merusak hidup Hong-moi, malah sebelum itu... aku pernah<BR>mencinta Thio Eng. Ah, aku laki-laki mata keranjang, dan aku hampir runtuh<BR>pula ketika bertemu dengan Nona Cia Li Cu... hatiku mencinta mereka semua<BR>itu, ah... padahal kau begitu suci cintamu... aku berdosa, ampunkan aku...."<BR>Sesosok bayangan muncul di belakang kuburan itu. Bayangan seorang wanita<BR>cantik berbaju merah! Perlahan-lahan bayangan ini melangkah maju dan<BR>terdengar suaranya lirih menggetar ditimpa suara hujan gerimis di malam<BR>gelap<BR>"Beng San...."<BR>Beng San mengangkat kepala perlahan. Matanya yang pedas dan merah itu ia<BR>gosok-gosok, kemudian ia menubruk maju, berlutut dan merangkul kaki<BR>wanita itu.<BR>"Ah, Bi Goat... akhirnya kau datang juga....? Bi Goat, ampunkan aku...<BR>ampunkan aku....."<BR>Wanita itu mengucurkan air mata sehingga air mata itu bercampur dengan air<BR>hujan gerimis yang menimpanya, mengalir di sepanjang pipinya. Jari<BR>tangannya mengelus-elus rambut kepala Beng San dan ia berkata terharu.<BR>"Bi Goat sejak dulu mengampunimu... Beng San...."<BR>"... ah, betulkah? Betulkah kau sudi mengampuni dosaku? Aku telah gila... aku<BR>telah gila... aku... aku menyakiti hatimu... sudikah kau mengampuniku?"<BR>bagian 29<BR>"Aku mengampuni semua kesalahanmu...." jawab wanita itu, "... asal saja...<BR>asal saja kau suka menurut segala kata-kataku."<BR>"Aku akan taat, akan kuturut semua, demi Tuhan. Aku bersumpah akan<BR>mentaati segala perintahmu, biar kausuruh masuk ke lautan api sekalipun!"<BR>"Kalau begitu, bangunlah dan mari kita masuk ke rumah, tak baik berhujanhujan<BR>di sini, hayo kauikuti aku, Beng San!"<BR>Beng San bangun berdiri, tersenyum-senyum dan wanita itu makin terharu<BR>ketika melihat betapa wajah laki-laki itu berubah seperti wajah seorang anak<BR>kecil yang diampuni orang tuanya karena kenakalannya.<BR>"Aku ikut... aku ikut...." kata Beng San yang berjalan terhuyung-huyung<BR>saking lemas badannya di belakang wanita itu. Wanita baju merah itu segera<BR>memegang lengannya dan membantunya berjalan menuju ke rumah itu.<BR>Dua orang pelayan sudah menyambut di pintu belakang, wajah mereka<BR>tampak<BR>lega. "Ah, syukur, Nona. Syukur kau berhasil...." kata mereka.<BR>"Sttt...." Wanita itu mencegah mereka bicara. "Lekas sediakan air panas dan<BR>pakaian Siauw-ya, kemudian sediakan makanan yang lunak... jangan lupa<BR>hangatkan arak...."<BR>Dengan tersenyum gembira dua orang pelayan itu pergi mempersiapkan<BR>permintaan wanita itu. Beng San benar-benar menurut sekali terhadap wanita<BR>yang dianggapnya Bi Goat itu. Disuruh membersihkan tubuh dan menukar<BR>pakaian, ia menurut seperti anak kecil, disuruh makan bubur panas ia pun<BR>menurut saja. Kemudian ia pun tidak membantah ketika disuruh tidur di<BR>kamarnya sendiri, diselimuti oleh wanita itu yang duduk di pinggir ranjang dan<BR>yang melayaninya dengan penuh perhatian.<BR>Siapakah wanita baju merah itu? Benarkah dia Bi Goat? Tidak mungkin, Bi<BR>Goat sudah mati, sudah dikubur. Ia bukan lain adalah Li Cu! Seperti dituturkan<BR>di bagian depan, Li Cu tak dapat menahan hati dan kakinya sendiri menyusul<BR>Beng San di Min-san. Ia kalah cepat oleh Beng San, maka baru sepuluh hari<BR>kemudian ia tiba di puncak Min-san. Bukah main sedih dan terharu hatinya<BR>ketika ia mendengar penuturan dua orang pelayan itu tentang keadaan Beng<BR>San. Ia mengaku menjadi sahabat baik Beng San dan Bi Goat. Setelah ia<BR>mendengar penuturan dua orang pelayan itu, serta-merta pada hari itu juga ia<BR>menyusul Beng San ke kuburan dan akhirnya ia berhasil membujuk Beng San<BR>pulang, sungguhpun perih hatinya karena Beng San mau menuruti<BR>permintaannya setelah mengira bahwa dia adalah Bi Goat!<BR>Bulan-bulan mendatang merupakan masa yang amat sulit bagi Li Cu. Beng<BR>San benar-benar telah berubah ingatannya, atau telah kehilangan ingatannya<BR>sehingga ia menjadi seperti anak kecil saja, anak kecil yang amat manja. Akan<BR>tetapi kemanjaan ini tertuju kepada......<BR>isterinya, kepada Bi Goat! Dia telah lupa segalanya, keinginannya hanya<BR>berdekatan dengan Bi Goat, tak boleh ditinggalkan sebentar juga. Lebih hebat<BR>lagi, dia agaknya telah lupa akan semua kepandaiannya. Beberapa kali Li Cu<BR>mencobanya, namun benar-benar Beng San tidak ingat lagi bagaimana untuk<BR>bersilat sungguhpun tenaga murni dalam tubuhnya masih tetap kuat dan tidak<BR>ikut lenyap.<BR>Cia Li Cu adalah keturunan orang-orang yang terkenal keras hati. Agaknya<BR>watak ini diwariskan oleh nenek moyangnya, yaitu Ang I Niocu, pendekar<BR>wanita sakti yang terkenal keras hati. Sekali mengambil keputusan takkan<BR>dapat diubah lagi, sekali menjatuhkan hati takkan dapat pula diubah. Setelah<BR>hatinya dikecewakan Beng Kui dan membuat ia benci sekali kepada suhengnya<BR>itu, barulah ia sadar bahwa semenjak dahulu sebetulnya ia tidak pernah<BR>mencinta Beng Kui. Perasaannya dahulu terhadap Beng Kui hanyalah kagum<BR>saja karena semenjak kecil suhengnya itu selalu lebih tinggi segala-galanya<BR>daripada dirinya sendiri, juga dalam ilmu silat. Maka begitu ia melihat watak<BR>yang buruk dalam diri Beng Kui, apalagi karena ia dikesampingkan dan<BR>suhengnya itu menikah dengan wanita lain, kekagumannya sekaligus buyar<BR>dan otomatis ia pun tidak ada rasa suka kepada kakak seperguruan itu.<BR>Terhadap Beng San lain lagi perasaannya. Sebetulnya lebih banyak perasaan<BR>terharu dan iba akan nasib orang muda itu daripada kekaguman. Malah sering<BR>kali ia merasa gemas kepada Beng San, anehnya, bukan gemas karena<BR>perlakuan pemuda itu kepadanya melainkan gemas karena Beng San begitu<BR>banyak kekasihnya! Memang cinta itu aneh sekali. Mendatangkan cemburu,<BR>kadang-kadang mendatangkan benci! Semua ini hanya dapat terasa oleh<BR>mereka yang menjadi korban panah asmara. Demikian hebat kekerasan<BR>asmara sehingga mampu menundukkan seorang gadis seperti Li Cu yang<BR>terkenal keras hati, berubah menjadi demikian jinak, demikian telaten dan<BR>sabar dalam merawat orang yang dicintanya.<BR>Benar-benar bukan ringan pekerjaan Li Cu ini. Terutama sekali tekanan batin<BR>yang dideritanya. Bayangkan betapa beratnya bagi perasaan seorang gadis<BR>yang jatuh cinta untuk merawat orang yang dicintanya itu dan mendengarkan<BR>kekasihnya itu setiap saat memuji-muji dan menyatakan cinta kasihnya<BR>kepada seorang wanita lain. Lebih hebat lagi bagi Li Cu, Beng San menyatakan<BR>cinta kasih kepadanya karena menganggap dia Bi Goat! Seringkali ia harus<BR>menahan-nahan air matanya karena hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya.<BR>Kadang-kadang terbayang pula senyum di bibirnya yang manis dan cahaya<BR>harapan di matanya yang indah itu manakala Beng San dalam<BR>ketidaksadarannya "mengaku" kepada Bi Goat bahwa dia tertarik kepada Li<BR>Cu! Sungguhpun hanya sedikit sekali pengakuan cinta ini, namun sudah<BR>merupakan setetes embun menyegari bunga yang kekeringan di dalam hati Li<BR>Cu.<BR>Betapapun juga, Li Cu adalah seorang gadis yang patut dipuji kebersihan dan<BR>kekuatan batinnya. Biarpun ia jatuh cinta kepada Beng San dan berbulanbulan<BR>tinggal serumah dengan pemuda itu, namun gadis itu tetap dapat<BR>mempertahankan garis pemisah, tetap ia dapat mencegah terjadinya<BR>pelanggaran susila yang terdorong oleh iblis nafsu yang memabokkan. Bagi Li<BR>Cu, cintanya murni dan timbul dari hati nurani yang bersih. Ia hanya<BR>mempunyai sebuah keinginan, yaitu merawat orang yang dicintanya,<BR>melihatnya sembuh dan harapan terakhir adalah harapan semua wanita yang<BR>mencintanya, yaitu, berhasil merebut hati kekasihnya, berhasil membuat<BR>dirinya dicinta kembali berlipat ganda dan akhirnya dapat menjadi seorang<BR>isteri yang terkasih. Hal ini mudah saja ia pertahankan oleh karena kini Beng<BR>San benar-benar amat penurut dan mentaati segala kehendaknya.<BR>Dua orang pelayan setia itu masih merasa bersyukur dan berterima kasih<BR>sekali kepada Li Cu yang sekarang mereka anggap sebagai pengganti nyonya<BR>muda, sungguhpun diam-diam mereka terheran mengapa seorang nona cantik<BR>dan muda suka bersikap demikian baiknya terhadap Beng San. Namun sebagai<BR>orang-orang yang sudah berpengalaman akhirnya mereka dapat menarik<BR>kesimpulan bahwa semua itu adalah akibat daripada asmara yang mendalam<BR>dan suci. Maka tanpa ragu-ragu lagi mereka pun lalu bercerita kepada Li Cu<BR>akan segala yang mereka ketahui tentang diri Beng San dan Bi Goat. Malah<BR>mereka memperingatkan nona itu agar hati-hati karena mereka berdua itu<BR>takut sekaii kalau-kalau lo-ya-cu, yaitu Song-bun-kwi Kwee Lun kembali dan<BR>mengamuk lagi.<BR>"Entah bagaimana nasib bayi puteri Siauw-ya yang belum diberi nama itu,"<BR>pelayan tertua menutup kisahnya. "Semoga saja ia tidak menjadi korban<BR>keganasan Lo-ya yang sudah demikian kalap. Hamba benar-benar kuatir, ah...<BR>kalau Lo-ya pulang... apa yang terjadi?"<BR>"Tenangiah, tak perlu kuatir. Kematian Bi Goat bukanlah karena kesalahan<BR>Beng San. Pula andaikata dia datang dan mau menang sendiri, ada aku di sini<BR>untuk melindungi Beng San," kata Li Cu dengan suara yang gagah. Akan tetapi<BR>sesungguhnya hatinya kecut-kecut kalau ia memikirkan kakek itu. Ia maklum<BR>bahwa kata-katanya di depan para pelayan itu hanya omong besar saja,<BR>karena kalau disuruh sungguh-sungguh menghadapi kakek Song-bun-kwi yang<BR>sakti itu, sedikit sekali harapan dia akan menang.<BR>Oleh karena inilah pedang Liong-cu-kiam tak pernah terpisah dari tubuhnya,<BR>selalu terpasang di belakang punggung untuk menjaga segala kemungkinan.<BR>Sampai tiga bulan lebih Li Cu dengan tekun dan sabar merawat Beng San.<BR>Kesehatan Beng San sebetulnya sudah pulih, akan tetapi hanya kesehatan<BR>jasmani saja, Ingatannya masih belum sembuh sama sekali.<BR>Pagi hari itu, seperti biasa Li Cu mengajak Beng San duduk di taman bunga di<BR>sebelah kiri rumah. Setiap pagi gadis ini mengajak Beng San berjemur<BR>matahari pagi di tempat itu. Dan seperti biasa, dengan sikap manja sekali<BR>Beng San merebahkan diri di atas bangku panjang dan kepalanya telentang di<BR>atas pangkuan Li Cu! Gadis ini dengan kasih mesra mengusap-usap rambut<BR>Beng San sambil memandangi wajah yang nampak bodoh itu.<BR>"Beng San, masih belum ingatkah kau? Masih belum ingat benarkah bahwa<BR>aku adliah Li Cu?" perlahan Li Cu bertanya dengan suara lirih dan hati-hati<BR>sekali.<BR>Beng San tersenyum, "Bi Goat, jangan kau menggoda aku. Kau tahu bahwa<BR>aku suka kepada Nona Cia Li Cu, bahwa aku tertarik dan kagum sekali<BR>kepadanya, lalu kau sekarang meggodaku, ya?"<BR>Seperti biasa kalau mendengar kata-kata ini, Li Cu merasa tertusuk<BR>jantungnya. Ia menggigit bibir, matanya menjadi sayu, tapi ia menguatkan<BR>hatinya dan berkata lemah-lembut.<BR>"Beng San, aku sungguh bukan Bi Goat. Aku Cia Li Cu, Beng San, aku pun<BR>suka kepadamu, tapi... tapi jangan kau menyangka aku Bi Goat. Bi Goat<BR>sudah... sudah mati...." hati-hati sekali ia mengucapkan ini sambil menatap<BR>tajam-tajam muka orang di atas pangkuannya itu dan tangannya membelai<BR>dengan halus.<BR>Beng San serentak bangkit dan duduk, kedua tangan Li Cu dipegangnya lalu ia<BR>berlutut di atas tanah. "Bi Goat, isteriku, jangan kau mempermainkan aku.<BR>Kalau Bi Goat sudah mati bagaimana kau bisa berada di sini? Bi Goat, aku<BR>memang berdosa kepadamu, ampunkanlah aku... aku menurut segala<BR>kehendakmu, tapi... tapi jangan kau marah, jangan tinggalkan aku...."<BR>Li Cu menarik napas panjang dan menggoyang-goyang kepalanya. Tidak ada<BR>kemajuan sama sekali. Kalau sudah merengek-rengek minta ampun begini<BR>Beng San tidak mau sudah kalau belum ia ampunkan. Terpaksa berkata,<BR>"Sudahlah, aku ampunkan kau."<BR>Dengan girang Beng San rebah lagi dengan kepala di atas pangkuan Li Cu. Ia<BR>tersenyum-senyum dengan wajah berseri girang. Li Cu makin terharu melihat<BR>ini. Selama berbulan-bulan ini Beng San memasuki kamarnya yang terpisah,<BR>dan hal ini pun selalu diturut oleh Beng San biarpun dengan wajah kelihatan<BR>berduka sekali! Li Cu sendiri mulai merasa ragu-ragu akan kekuatan<BR>pertahanan hatinya sendiri. Ia makin kasihan kepada Beng San. Selama<BR>berbulan-bulan menggantikan kedudukan Bi Goat ini, tampaklah jelas olehnya<BR>bahwa Beng San sama sekali bukanlah laki-laki mata keranjang perusak<BR>wanita seperti yang telah ia dengar dari suhengnya. Buktinya, terhadap isteri<BR>sendiri saja Beng San begini lemah lembut, menaruh hormat dan tidak mau<BR>bersikap menang sendiri. Apalagi terhadap wanita lain? Peristiwa yang terjadi<BR>antara Beng San dan Kwa Hong tentu terdorong oleh sesuatu, tidak<BR>sewajarnya. Beng San pernah bercerita kepadanya tentang itu, dikatakannya<BR>bahwa Beng San dan Kwa-Hong lupa karena pengaruh racun yang sengaja<BR>ditaruh dalam makanan oleh musuh dalam ketentaraan Mongol. Tapi Beng San<BR>hanya menyebut nama Pangeran Souw Kian Bu. Adapun tentang pengalaman<BR>Beng San dalam asmara dengan Thio Eng, dengan dia sendiri, ah, ia tidak<BR>percaya bahwa Beng San sengaja berlaku sebagai seorang pemuda mata<BR>keranjang. Ia sama sekali tidak mau percaya bahwa Beng San berwatak kotor,<BR>rendah atau cabul.<BR>"Beng San, cobalah kauingat-ingat, apakah kau benar-benar lupa akan kepan<BR>daian ilmu silatmu?"<BR>Beng San tertawa, matanya berseri jenaka. "Bi Goat, jangan kaugoda aku<BR>seperti itu! Kau tahu bahwa aku adalah seorang kutu buku, seorang yang<BR>sejak kecil hanya mempelajari kitab-kitab filsafat. Kitab To-tik-keng aku hafal<BR>di luar kepala. Kau boleh tanya tentang Su-si Ngo-keng, tentang filsafat hidup<BR>dan pelajaran agama. Akan tetapi ilmu silat? Huh, untuk apa ilmu silat itu?<BR>Hanya untuk menakut-nakuti orang, menyombongkan diri dan paling banyak<BR>hanya menjadi kepandaian tukang-tukang pukul dan buaya-buaya darat,<BR>tukang-tukang berkelahi saja!"<BR>Sekali lagi Li Cu menarik napas kecewa. Ia tadinya tidak percaya dan pernah ia<BR>menyerang Beng San dan ternyata menghadapi sebuah pukulan biasa saja<BR>Beng San tidak mampu menghindarkan diri. Akan tetapi Iwee-kang di<BR>tubuhnya masih tetap ada dan kuat sungguhpun agaknya Beng San lupa pula<BR>bagaimana untuk menyalurkan hawa murni di tubuhnya itu. Tadinya ada<BR>pikiran padanya untuk melatih Beng San, akan tetapi pikiran ini ia buang lagi<BR>ketika ia teringat betapa tingkat kepandaian Beng San sebetulnya sudah jauh<BR>melampauinya sehingga kalau sekarang Beng San menerima pendidikan mulai<BR>pertama daripadanya, apakah akan jadinya? Jangan-jangan malah pelajaran<BR>itu menyeleweng dan tidak cocok dengan hawa murni di tubuh Beng San.<BR>Ia menunduk dan memandang wajah yang tampan itu. Ah, kalau ia teringat<BR>betapa dahulu Beng San dengan berani mati menyerbu ke sarang Ho-hai Samong,<BR>mati-matian datang untuk menolongnya! Kalau ia teringat akhir-akhir ini<BR>betapa Beng San tanpa mempedulikan diri sendiri telah menyedot asap<BR>beracun yang berada di dadanya, menyedot begitu saja dari mulut ke mulut!<BR>Ah, ia tidak saja berhutang budi, juga berhutang nyawa. Hanya dapat ia balas<BR>dengan cinta kasih. Kalau sudah mengenangkan itu semua, ingin ia mendekap<BR>kepala itu, ingin membelainya dan menunjukkan kasih sayangnya. Akan tetapi<BR>Li Cu menahan hatinya, hanya memandang dengan wajah sayu dan mata<BR>redup setengah dikatupkan.<BR>Gadis ini sama sekali tidak tahu bahwa sudah semenjak ia keluar bersama<BR>Beng San dari dalam rumah tadi, sepasang mata menyaksikan semua yang<BR>terjadi antara dia dan Beng San. Sepasang mata yang tajam, dilindungi alis<BR>tebal yang kadang-kadang mengerut, kadang bergerak-gerak. Sepasang mata<BR>itu kadang-kadang menjadi redup terharu, kadang-kadang menyorotkan api<BR>kemarahan. Sepasang mata milik seorang laki-laki tua yang tampan dan gagah<BR>perkasa, seorang pendekar yang bukan lain adalah Bu-tek Kiam-ong (Raja<BR>Pedang Tanpa Tandingan) Cia Hui Gan, ayah dari Cia Li Cu!<BR>Dan baru saja, dari lain jurusan, datang pula seorang tokoh lain yang<BR>gerakannya demikian ringan sehingga tidak terdengar oleh Si Raja Pedang<BR>sekalipun. Orang ini pun mengintai dan matanya yang liar menjadi makin<BR>berputaran marah ketika ia melihat adegan mesra itu, yaitu Beng San rebah<BR>telentang di bangku dengan kepala di atas pangkuan seorang dara cantik jelita<BR>yang mengelus-elus rambutnya! Orang ini bukan lain adalah Song-bun-kwi<BR>Kwee Lun Si Setan Berkabung! Song-bun-kwi Kwee Lun masih dapat<BR>mendengar tanya jawab antara Li Cu dan Beng San tentang ilmu silat tadi dan<BR>kegirangan hatinya bukan main ketika ia mendengar bahwa Beng San telah<BR>hilang ingatannya dan telah hilang atau terlupa pula ilmu silatnya.<BR>"Si keparat Beng San! Kau telah kehilangan kepandaianmu, sekarang kau akan<BR>kehilangan nyawamu yang harus menghadap Bi Goat untuk menebus dosa,"<BR>demikian katanya dalam hati. Tiba-tiba ia melompat keluar sambil tertawa<BR>bergelak. Tanpa berkata apa-apa serentak maju menubruk dan menghantam<BR>dada Beng San yang rebah telentang di atas bangku.<BR>Li Cu berseru panjang. Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi tubuhnya<BR>otomatis bergerak dan ia mendorong tubuh Beng San sekuat tenaga sambil ia<BR>sendiri melompat ke belakang dan mencabut pedangnya. Biarpun tubuhnya<BR>sudah terdorong dan terlempar dari bangku, tetap saja punggung Beng San<BR>keserempet pukulan Song-bun-kwi. Beng San terpelanting dan terguling-guling<BR>sambil muntahkan darah segar dari mulutnya. Baiknya Iwee-kang di tubuhnya<BR>masih ada dan otomatis tenaga dalam ini bekerja untuk menahan atau<BR>melindungi tempat yang terpukul, maka Beng San hanya, mengalami luka<BR>ringan di sebelah dalam saja dan nyawanya selamat. Di dalam tubuh Beng San<BR>terkandung dua hawa yang amat besar, hawa Im dan Yang, dua hawa yang<BR>bertentangan akan tetapi telah teratur kedudukannya. Berbeda dengan orang<BR>lain apabila terpukul dan menderita luka dalam, muntah darah berarti<BR>membahayakan. Sebaliknya Beng San dengan muntah darah ini malah<BR>menyatakan bahwa tenaga di dalam tubuhnya bekerja dan darah yang<BR>dimuntahkan itu sajalah yang menjadi akibat pukulan tadi.<BR>Melihat Beng San muntah darah, Li Cu kaget setengah mati dan mengira<BR>bahwa Beng San pasti terluka parah. Ia marah bukan main dan pedangnya lalu<BR>diputar ke depan.<BR>"Song-bun-kwi manusia iblis! Kau keji dan curang. Kalau memang ada<BR>kepandaian, mengapa menyerang orang sakit? Majulah, aku musuhmu!"<BR>Pedangnya menyambar-nyambar ke depan dan sekejap mata saja gulungan<BR>sinar pedang mengurung Song-bun-kwi dengan hebatnya.<BR>Song-bun-kwi tertawa bergelak, pedangnya cepat menangkis dari samping lalu<BR>ia berkata,<BR>"Perempuan tak tahu malu! Aku hendak membunuh mantuku sendiri yang<BR>telah menyebabkan kematian anakku, yang telah meninggalkan anakku untuk<BR>bermain gila dengan segala perempuan busuk, kau menghalangi ada<BR>hubungan apakah? Apakah kau kekasihnya yang baru?"<BR>Kemarahan Li Cu membuat ia hampir menangis mendengar caci-maki kotor<BR>ini. Akan tetapi ia harus membela Beng San, membela nyawanya juga<BR>membela nama baiknya.<BR>"Song-bun-kwi, kau seorang kakek tua bangka yang sudah mau mati tapi<BR>ucapanmu seperti orang gila atau seperti anak kecil saja! Beng San bukan<BR>menjadi sebab kematian Bi Goat. Selama ini dia pergi karena dia membantu<BR>Kaisar untuk membasmi orang-orang jahat yang hendak memberontak. Dia<BR>dimintai bantuan oleh Pek-lian-pai dalam tugas yang mulia. Yang<BR>menyebabkan kematian anakmu adalah ibiis wanita Kwa Hong. Kalau kau<BR>memang mendendam, mengapa kau tidak mencari dan membalas kepada Kwa<BR>Hong? Andaikata kau hendak membalas kepada Beng San, sebagai orang<BR>gagah kau pun harus menanti sampai dia sembuh agar dia dapat melayanimu.<BR>Apakah kau sudah berubah menjadi pengecut?"<BR>Song-bun-kwi mengeluarkan suara menggereng hebat, matanya liar. "Kwa<BR>Hong akan kubunuh, Beng San akan kubunuh, dan kau yang membelanya<BR>akan kubunuh lebih dulu!" Setelah berkata demikian ia menubruk maju dan<BR>menyerang dengan pedangnya. Pedangnya ber gerak menusuk kemudian<BR>ditarik ke bawah. Kalau serangan ini berhasil tentu korbannya akan terbelah<BR>dada dan perutnya, Namun dengan gerakan lincah dan indah sekali Li Cu<BR>sudah mengelak ke kanan, tubuhnya berputar seperti orang menari kemudian<BR>membabat dengan pedangnya ke arah pedang lawan. Ia hendak<BR>mengandalkan ketajaman Liong-cu-kiam untuk mematahkan senjata<BR>lawannya.<BR>Akan tetapi Song-bun-kwi bukanlah seorang tokoh yang masih hijau. Ia cukup<BR>mengenal Liong-cu-kiam. Biarpun yang ia pegang juga sebatang pedang yang<BR>baik dan kuat, namun ia tidak berani mengadukan pedangnya secara langsung<BR>dengan Liong-cu-kiam. Ia hanya menyampok pedang lawan yang ampuh<BR>bukan main itu dari samping dengan pedangnya sehingga terhindar peraduan.<BR>kedua pe-dang pada bagian tajamnya.<BR>Serang-menyerang terjadi dengan amat serunya, dan mati-matian. Ilmu<BR>kepandaian Song-bun-kwi hebat bukan main, dia adalah tokoh besar dalam<BR>dunia persilatan. Biarpun Li Cu juga telah mewarisi ilmu pedang yang sakti,<BR>namun ia kalah pengalaman bertempur biarpun di tangannya ada pedang<BR>pusaka Liong-cu-kiam. Song-bun-kwi tidak mengenal ampun, mendesak terus<BR>sambil mengeluarkan jurus-jurus yang paling hebat karena ia maklum bahwa<BR>lawannya biarpun hanya merupakan seorang gadis muda namun cukup lihai<BR>dan berbahaya. Malah kakek ini di samping pedangnya yang dimainkan<BR>dengan Ilmu Pedang Yang-sin Kiam-sut dicampur ilmu pedangnya Sendiri,<BR>juga mulai melancarkan pukulan-pukulan maut dengan tangan kirinya,<BR>menggunakan pukulan jarak jauh yang bukan main dahsyatnya. Tiap kali<BR>pukulan ini datang, Li Cu merasa sambaran angin yang hebat ke arahnya. Ia<BR>kaget sekali dan maklum bahwa biarpun kepadaian lawan tidak mengenai<BR>tubuhnya, hawa pukulan itu kalau tepat mengenai bagian berbahaya, bisa<BR>mendatangkan celaka. Maka ia selalu mengelak kalau diserang pukulan ini.<BR>Kali ini membuat keadaannya terhimpit.<BR>"Heeei, jangan serang isteriku. Eh, kakek yang baik, orang setua engkau<BR>seharusnya memberi contoh baik kepada yang muda, mengapa malah suka<BR>berkelahi? Heee! Hati-hati, jangan main-main dengan pedang yang begitu<BR>tajam, jangan-jangan kau nanti mencelakai isteriku!" Beng San berteriakteriak<BR>penuh kekuatiran. Tadi ia agak nanar maka ia setengah pingsan oleh<BR>pukulan yang membuat ia muntah darah. Akan tetapi setelah ia dapat bangun,<BR>ia segera berteriak-teriak melarang Song-bun-kwi menyerang "isterinya".<BR>Mana Song-bun-kwi mau pedulikan dia? Makin hebat Song-bun-kwi mendesak<BR>sehingga pada suatu saat Li Cu terhuyung-huyung ke belakang, hampir saja<BR>menjadi korban pukulan mautnya. Beng San tak dapat menahan kesabarannya<BR>lagi, ia melangkah maju dan menudingkan telunjuknya.<BR>"Orang tua, kenapa kau begini nekat? Isteriku pandai main pedang, kalau<BR>sampai dia marah... hemmm, apakah kau sudah bosan hidup?"<BR>Song-bun-kwi kaget juga menyaksikan sikap Beng San ini. Dilihat sikapnya<BR>yang begitu berani, agaknya pemuda ini masih memiliki kepandaiannya<BR>sejenak ia tertegun dan ini membuat gerakannya agak kalut dan terlambat<BR>sehingga Li Cu dapat memperbaiki kedudukannya dan berbalik gadis yang<BR>tadinya terdesak itu sekarang dapat balas menyerang.<BR>"Bagus, Beng San. Kau majulah, pukul dia mampus dengan ilmu saktimu!" Li<BR>Cu berseru keras. Song-bun-kwi makin bingung dan kaget, dikiranya betulbetul<BR>Beng San hendak menyerangnya. Kembali kesempatan ini dipergunakan<BR>oleh Li Cu untuk mainkan pedangnya dan... "brett" ujung baju kakek itu<BR>terbabat putus! Song-bun-kwi kaget sekali dan cepat ia melompat ke arah<BR>Beng San sambil mengayun pedangnya.<BR>Girang hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa sama sekali Beng San tidak<BR>dapat mengelak, malah Li Cu yang menangkisnya serangan ini.<BR>"Aha, kalian mau menipu aku? Ha-ha-ha, kalian harus mampus sekarang<BR>juga!" Dengan ucapan ini Song-bun-kwi mendesak makin, hebat sehingga Li<BR>Cu menjadi sibuk menangkis dan mengelak. Sekali pundaknya terkenal<BR>pukulan tangan kiri Song-bun-kwi sehingga gadis itu terpaksa menggulingkan<BR>diri dan bergulingan menjauhkan diri dari Song-bun-kwi. Namun sambii<BR>tertawa-tawa kakek ini mengejar terus dengan pedang diangkat, siap untuk<BR>membacok.<BR>"Tranggg!" Pedang Song-bun-kwi terpental dan biarpun pedang itu tidak<BR>terlepas dari pegangannya dan ia cepat dapat melompat mundur, namun<BR>lengannya agak di atas pergelangan telah tergores pedang di tangan Bu-tek<BR>Kiam-ong. Cia Hui Gan yang sudah berdiri dengan gagah di situ. Pendekar<BR>pedang inilah yang tadi menangkis bacokan Song-bun-kwi untuk menolong<BR>nyawa puterinya.<BR>Melihat datangnya Raja Pedang ini, Song-bun-kwi mendengus marah, "Huh,<BR>kau juga ikut-ikut urusanku?"<BR>"Song-bun-kwi iblis tua! Seorang ayah melihat puterinya hendak dibunuh<BR>orang bagaimana bisa diam saja?"<BR>Sejenak Song-bun-kwi tertegun. Ia maklum akan kehebatan ilmu pedang Cia<BR>Hui Gan, maka tidak berani berlaku sembrono. Kemudian ia menoleh ke arah<BR>Beng San yang berdiri bengong di pinggiran.<BR>"Bagus, kau betul sekali, Kiam-ong. Anakku dibunuh orang, mana aku bisa<BR>diam saja?" Sambil berkata demikian ia menubruk ke depan dan menyerang<BR>Beng San dengan pedangnya.<BR>Melihat itu Li Cu kembali menggerakkan senjatanya menangkis serangan<BR>kakek itu. Kali ini Song-bun-kwi terlalu bernafsu dalam penyerangannya maka<BR>pedangnya bertemu dengan telak sekali dengan pedang di tangan Li Cu.<BR>Dengan mengeluarkan bunyi nyaring, pedang di tangan Song-bun-kwi terbabat<BR>putus menjadi dua potong oleh Liong-cu-kiam!<BR>"Li Cu, jangan mencampuri urusan mereka!" Cia Hui Gan membentak anaknya,<BR>mukanya menjadi merah dan malu melihat sikap puterinya itu.<BR>Akan tetapi, Li Cu dengan pedang di tangan berdiri memandang ayahnya<BR>dengan mata bersinar. "Ayah, Beng San tidak pernah membunuh anak Songbun-<BR>kwi yang mati karena melahirkan. Beng San bahkan amat mencintanya.<BR>Mana bisa aku membiarkan orang membunuhnya? Kalau Song-bun-kwi<BR>menantang Beng San dalam keadaan seperti biasa, aku pun tidak peduli. Akan<BR>tetapi Beng San sedang sakit, sama sekali tidak dapat melawan!"<BR>bagian 30<BR>SONG-BUN-KWI marah sekali akan tetapi juga gentar. Menghadapi gadis itu<BR>saja sudah payah untuk mencapai kemenangan, apalagi sekarang muncul<BR>ayahnya yang tentu saja tidak membiarkan ia mengganggu Li Cu. Pada saat<BR>itu terdengar tangis seorang anak tak jauh dari situ. Mendengar ini Song-bunkwi<BR>mengeluarkan gerengan-gerengan marah lalu ia melompat pergi ke arah<BR>suara tangisan anak kecil itu. Dari jauh terdengar suaranya, "Bu-tek Kiam-ong,<BR>kau mengandalkan nama besarmu bersikap sewenang-wenang. Tunggulah,<BR>kelak aku mencarimu di Thai-san!"<BR>Sejenak hening. Ayah dan anak itu saling berpandangan. Si ayah dengan sinar<BR>mata penuh kemarahan, Si anak tenang-tenang saja namun tarikan mukanya<BR>jelas membayangkan keteguhan hatinya.<BR>"Li Cu, apa artinya semua ini?" akhirnya suara si ayah terdengar memecah<BR>kesunyian.<BR>"Artinya, Ayah, bahwa aku cinta kepada Beng San dan sisa hidupku akan<BR>kuhabiskan di sampingnya," jawab gadis itu dengan suara penuh ketetapan<BR>hati.<BR>Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan mengerutkan keningnya. "Tapi... tapi ia seorang<BR>gila...."<BR>"Dia tidak gila, Ayah. Hanya kehancuran hati membuat ia demikian. Ia<BR>kematian isterinya yang tercinta dan ia merasa berdosa besar terhadap<BR>isterinya sehingga kesedihan membuat ia kehilangan ingatan. Akan tetapi...<BR>dia seorang berbatin mulia, Ayah, telah beberapa kali menyelamatkan<BR>nyawaku tanpa mempedulikan keselamatan diri sendiri. Aku ingin membalas<BR>budinya dan...."<BR>"Tapi dia tidak menganggapmu sebagai Cia Li Cu...."<BR>"Memang dia menganggap aku sebagai isterinya yang sudah meninggal dunia.<BR>Dan ini lebih mempertebal keyakinanku betapa setia hatinya, penuh cinta<BR>kasih murni. Aku tak dapat meninggalkannya, Ayah karena hal itu berarti dia<BR>akan celaka."<BR>"Li Cu, apa kau juga sudah menjadi gila? Anakku hendak mengorbankan sisa<BR>hidupnya untuk seorang gila? Tak mungkin! Kakak kandungnya seorang<BR>berwatak durhaka dan busuk, adiknya takkan jauh bedanya. Dia harus<BR>mampus saja daripada merusak hidupmu!" Tiba-tiba sinar terang berkelebat<BR>dan tahu-tahu kakek ini sudah menerjang ke arah Beng San yang berdiri<BR>melongo melihat perdebatan antara ayah dan anak itu.<BR>"Ayah....!!" Li Cu bergerak dan "trangg!" bunga api berpijar, pedang Liong-cukiam<BR>di tangan Li Cu terlepas menancap di atas tanah, akan tetapi pedang di<BR>tangan Cia Hui Gan sudah patah menjadi dua potong!<BR>Kembali ayah dan anak berpandangan, bertentangan mengadu kekuatan<BR>kemauan yang sama kerasnya. "Aku mendengar ejekan si bangsat Beng<BR>Kui...." kata Cia Hui Gan, suaranya perlahan penuh penyesalan, "bahwa<BR>anakku tergila-gila kepada seorang laki-laki pengrusak wanita! Bahwa Beng<BR>San ini sudah merusak penghidupan seorang gadis murid Hoa-san-pai yang<BR>ditinggalkannya untuk menikah dengan anak Song-bun-kwi. Sekarang agaknya<BR>ia menjadi sebab kematian isterinya itu dan dia sekarang menempel engkau!"<BR>"Ayah....! Semua itu bohong belaka! Semua itu terjadi bukan karena kesalahan<BR>Beng San. Tentang aku..., bukan dia yang menempel, melainkan aku sendiri<BR>yang tidak dapat berpisah lagi daripadanya."<BR>Bergerak-gerak alis mata Cia Hui Gan. "Hemm, pendapat seorang bocah masih<BR>hijau! Cintamu mudah berubah dan berganti-ganti. Orang ini lebih baik mati<BR>daripada merusak hidupmu!" Dengan pedang yang tinggal sepotong itu Cia Hui<BR>Gan melompat ke depan dan menyerang Beng San lagi.<BR>"Ayah, kalau kau hendak membunuhnya, kau boleh melihat anakmu<BR>menggeletak tanpa nyawa lebih dulu!" Li Cu berseru keras dan cepat ia<BR>menyambar" Liong-cu-kiam dari atas tanah, langsung ia bacokkan ke lehernya<BR>sendiri!<BR>"Anak gila....!" Pedang buntung di tangan Cia Hui Gan terlepas meluncur ke<BR>arah Li Cu dan menghantam Liong-cu-kiam di tangan gadis itu. Hebat sekali<BR>sambitan ini yang merupakan kepandaian istimewa dari Si Raja Pedang,<BR>sehingga Li Cu sendiri tidak sanggup mempertahankan pedangnya yang runtuh<BR>terlepas dari tangannya. Gadis ini menangis dan menutupi mukanya.<BR>"Ayah..., kau boleh bunuh dia... tapi aku pun tidak sudi lagi hidup di dunia<BR>ini...." tangisnya.<BR>Cia Hui Gan menarik napas panjang. Ia amat sayang kepada puteri tunggalnya<BR>ini. Ia hidup hanya berdua dengan puterinya karena ibu Li Cu sudah sejak<BR>dahulu meninggal dunia. Bagaimana ia dapat merelakan anaknya mati? Tadi<BR>pun ia hanya ingin menyelami hati Li Cu sampai di mana perasaan yang<BR>dianggapnya cinta kasih oleh anaknya itu terhadap Beng San. Kakek ini<BR>maklum betapa sakit dan hancurnya hati Li Cu karena sikap dan perlakuan<BR>Beng Kui kepadanya. Dan kakek ini maklum pula bahwa biarpun di mulutnya<BR>tidak pernah menyatakan sesuatu, namun di dalam hatinya gadisnya itu tentu<BR>menaruh penyesalan kepada ayahnya sendiri, karena sesungguhnya dialah<BR>yang dahulu menjodohkan anaknya itu dengan Beng Kui. Beng Kui adalah<BR>pemuda pilihan Cia Hui Gan untuk anaknya yang hanya mentaati kehendak<BR>ayah. Setelah pilihan itu ternyata keliru, sekarang anaknya mencari pilihan<BR>hatinya sendiri, bagaimana dia tega untuk menghalanginya? Sebetulnya, sejak<BR>dahulu ketika untuk pertama kali bertemu dengan Beng San (baca Raja<BR>Pedang), memang Cia Hui Gan menaruh rasa simpati yang besar terhadap<BR>pemuda ini dan diam-diam ia mengakui bahwa Beng San sebetulnya lebih<BR>cocok untuk menjadi jodoh puterinya. Akan tetapi sekarang pemuda itu selain<BR>sudah menjadi duda yang ditinggali anak, juga keadaannya tidak normal lagi,<BR>kehilangan ingatan dan lupa akan kepandaiannya sama sekali!<BR>"Kau memang bandel...." akhirnya ia berkata. "Baiklah kalau kau memang<BR>sudah yakin akan cinta kasihmu kepada Beng San, akan tetapi kelak jangan<BR>kau salahkan ayahmu kalau kau kecewa."<BR>"Ayah... terima kasih, Ayah...." Li Cu menubruk dan merangkul ayahnya<BR>sambil menangis.<BR>"Sudahlah, kita harus segera pergi dari sini, tak boleh mengacau di tempat<BR>orang lain. Hemm, bocah itu hanya akan memancing datangnya banyak musuh<BR>ke Thai-san...."<BR>Li Cu tidak memberi komentar apa-apa atas ucapan ayahnya ini, melainkan<BR>dengan girang ia lalu menggandeng tangan Beng San sambil menariknya dan<BR>berkata,<BR>"Beng San, hayo kau ikut aku ke Thai-san."<BR>"Bi Goat, kenapa kita ke Thai-san?" Beng San bertanya seperti orang bingung.<BR>"Mulai sekarang kita akan tinggal di sana, kau ikutlah saja dengan aku dan<BR>jangan banyak bertanya."<BR>Beng San mengangguk-angguk. "Baiklah...baiklah, kita ke Thai-san...aku<BR>menurut dan takkan membantah asal selalu berada di dekatmu."<BR>Melihat dan mendengar ini Cia Hui Gan menggeleng kepalanya dan diam-diam<BR>ia berdoa kepada Tuhan semoga keputusan yang diambil oleh anaknya itu<BR>tidak keliru dan tidak akan merusak penghidupan anaknya dikelak kemudian<BR>hari.<BR>Dalam perjalanan menuju ke Thai-san itu, atas pertanyaan Li Cu, Cia Hui Gan<BR>menceritakan apa yang telah terjadi di kota raja. Seperti telah diceritakan di<BR>bagian depan, orang-orang gagah berusaha untuk menggagalkan rencana<BR>jahat yang diatur oleh Pangeran Lu Siauw-Ong dan Ho-hai Sam-ong. Di antara<BR>mereka itu terdapat Cia Hui Gan dan anaknyai Li Cu sendiri pergi menyusul<BR>rombongan Kaisar untuk melindunginya, adapun Cia Hui Gan pergi ke kota<BR>raja untuk hukum muridnya yang murtad dan durhaka. Telah dituturkan di<BR>bagian depan betapa Kaisar telah terhindar dari malapetaka pencegatan Hohai<BR>Sam-ong dan anak buahnya dan teman-temannya. Sebagian besar adalah<BR>jasa Beng San yang lebih dahulu secara sembunyi telah menjumpai Kaisar di<BR>tengah perjalanan dan mengajukan usul agar supaya Kaisar diam-diam<BR>kembali ke kota Raja, dan menyuruh orang lain menggantikan Kaisar di dalam<BR>joli, Seperti telah kita ketahui, Ho-Hai Sam-ong tertipu dan usaha mereka<BR>tidak saja hancur berantakan, malah mereka tewas.<BR>Adapun Cia Hui Gan yang mencari muridnya, Tan Beng Kui di kota saja,<BR>datang dalam saat yang kebetulan pula. Pemberontakan telah pecah, terjadi<BR>penyerbuan para pemberontak ke dalam istana. Akan tetapi, alangkah kaget<BR>hati mereka ketika tiba-tiba, tidak saja muncul para pengawal yang serba<BR>lengkap dan kuat, juga muncul banyak sekali anggota Pek-lian-pai di bawah<BR>pimpinan Tan-Hok yang gagah perkasa. Lebih hebat lagi kekagetan para<BR>pemberontak ketika tiba-tiba muncul pula Kaisar sendiri yang memimpin<BR>tentaranya untuk menghancurkan barisan pemberontak yang menyerbu.<BR>Sudah terang bahwa Kaisar pergi ke utara dengan rombongannya, mengapa<BR>tiba-tiba bisa berada di situ? Keadaan menjadi kacau-balau dan para<BR>pemberontak itu berkurang semangatnya. Apalagi di pihak Kaisar terdapat<BR>orang-orang gagah, terutama sekali Cia Hui Gan yang mengamuk seperti<BR>seekor naga terbang dan masih ada lagi raksasa muda Tan Hok yang<BR>mengamuk dengan anak buahnya yang gagah.<BR>Cia Hui Gan yang sengaja mencari muridnya, akhirnya dapat berhadapan<BR>muka dengan Beng Kui yang berpakaian seperti seorang jenderal besar dan<BR>mengamuk dengan pedangnya, Liong-cu-kiam. Alangkah kagetnya ketika tibatiba<BR>ia melihat gurunya. Akan tetapi Beng Kui malah menegur,<BR>"Suhu, mengapa Suhu menghalangi cita-cita teecu yang tinggi?"<BR>"Keparat, kau membikin malu gurumu saja dengan perbuatanmu yang hina.<BR>Mulai saat ini aku bukan gurumu lagi!"<BR>"Aha, jadi Suhu juga berpandangan picik seperti Li Cu dan merasa sakit hati<BR>karena teecu menjadi mantu Lu Siauw Ong? Apakah Suhu tidak melihat bahwa<BR>kalau teecu kelak menjadi mantu Kaisar dan calon kaisar, masih belum<BR>terlambat menikah dengan sumoi dan Suhu sendiri tentu memperoleh<BR>kedudukan tinggi?"<BR>"Bangsat, tutup mulutmu!" dengan amarah meluap-luap Cia Hui Gan<BR>menyerang.<BR>Beng Kui menangkis dan melakukan perlawanan. Namun, betapapun juga,<BR>pedang pusaka Liong-cu-kiam di tangannya tak dapat membantu banyak<BR>terhadap serangan-serangan gurunya yang lihai bukan main itu. Apalagi ketika<BR>ia melihat betapa barisan yang dipimpinnya itu mulai berantakan dan ceraiberai<BR>karena memang kalah kuat, hatinya menjadi risau dan permainan<BR>pedangnya kacau-balau. Kesempatan, ini dipergunakan oleh Cia Hui Gan untuk<BR>mendesaknya dan pada saat yang baik pundak kiri Beng Kui tertusuk oleh<BR>pedang gurunya. Ia menjerit dan melompat ke belakang, menghilang di antara<BR>anak buahnya yang mulai berlarian ke sana ke mari mencari jalan keluar. Cia<BR>Hui Gan mengejar karena ia bermaksud membunuh bekas muridnya itu,<BR>namun Beng Kui sudah mendapatkan seekor kuda dan sudah lari jauh.<BR>Demikianlah pengalaman Cia Hui Gan di kota raja. Kaisar sendiri menyatakan<BR>terima kasih kepadanya, akan tetapi Cia Hui Gan tidak lama berdiam di kota<BR>raja, melainkan terus menyusul puterinya. Ia mendengar bahwa pencegatan<BR>rombongan Kaisar dapat digagalkan dan dihancurkan pula, akan tetapi dengan<BR>hati kecut ia mendengar bahwa puterinya telah terluka dan ditolong oleh Beng<BR>San. Hal ini ia dengar daripada anggota Pek-lian-pai yang masih tertinggal di<BR>tempat itu karena terluka.<BR>Cia Hui Gan tidak percaya lagi kepada Beng San setelah kekecewaannya pada<BR>Beng Kui. Kalau kakaknya seperti itu, mana bisa adiknya baik pula? Dengan<BR>hati kuatir ia lalu cepat-cepat melakukan perjalanan menyusal ke Min-san dan<BR>akhirnya ia menyaksikan semua kejadian yang membuat hatinya menjadi<BR>penuh kegelisahan akan hari depan puterinya.<BR>Setahun lebih Li Cu merawat Beng San dengan penuh kesabaran dan penuh<BR>cinta kasih. Melihat keadaan puterinya itu yang rela mengorbankan segala<BR>untuk Beng San yang masih saja belum kemball ingatannya, Cia Hui Gan<BR>merasa terharu dan kasihan sekali. Karena keadaan Beng San yang boleh<BR>dibilang telah berubah menjadi seorang yang lemah, maka Raja Pedang ini lalu<BR>menggembleng puterinya dengan ilmu yang lebih tinggi agar kelak<BR>sepeninggalannya Li Cu dapat mempertahankan diri dari segala bahaya yang<BR>menimpanya.<BR>Memang Cia Li Cu seorang gadis yang hebat, jarang bandingannya di dunia ini.<BR>Cintanya terhadap Beng San benar-benar cinta yang murni dan suci, cinta<BR>yang tidak dikotori nafsu, tidak tercemar oleh keinginan menyenangkan diri<BR>sendiri. Oleh karena sifat cintanya yang mulus inilah maka ia tahan menderita<BR>segala tekanan batin. Beng San masih saja menganggap dia sebagai Bi Goat<BR>dan masih saja belum mendapatkan kembali ilmu-ilmu silatnya.<BR>Seringkali Cia Hui Gan menyatakan kekuatirannya kepada puterinya itu<BR>dengan kata-kata nasihat,<BR>"Li Cu, keputusan hatimu untuk mengorbankan diri demi cintamu kepada Beng<BR>San, aku orang tua tidak akan mengganggu-gugat lagi. Akan tetapi kau harus<BR>mengerti bahwa keputusan ini memancing datangnya banyak musuh. Sudah<BR>pasti Song-bun-kwi akan membalaskan anaknya yang ia anggap mati karena<BR>kesalahan Beng San. Juga wanita yang bernama Kwa Hong, murid Hoa-san-pai<BR>itu... hemm, kiraku dia juga merupakan ancaman bahaya dalam hidupmu.<BR>Belum kalau kita ingat kepada musuh-musuh Beng San yang amat banyak dan<BR>yang semuanya terdiri dari orang-orang sakti."<BR>"Aku tidak takut, Ayah," jawab Li Cu gagah. "Biarkan mereka datang, orangorang<BR>jahat itu. Aku akan membeia Beng San mati-matian. Pula, Ayah berada<BR>di sini, aku takut apa lagi?" Ucapan terakhir ini bernada manja.<BR>Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan menggeleng-gelengkan kepalanya yang sudah<BR>mulai penuh rambut putih. "Tentu saja aku akan melindungimu selama aku<BR>masih hidup, Li Cu. Akan tetapi, kau harus mengerti bahwa usia manusia ada<BR>batasnya, demikian pula kepandaian. Menghadapi musuh-musuh Beng San itu,<BR>kiranya biar aku sendiri maju masih belum cukup kuat. Oleh karena itu, mari<BR>bantulah aku dalam pembuatan rencanaku yang sudah lama kupikir dan<BR>kuciptakan."<BR>"Rencana apakah, Ayah?"<BR>"Kita harus dapat membuat tempat kita ini menjadi tempat yang tidak mudah<BR>dikunjungi orang luar. Aku sudah mempunyai rencananya lengkap. Kita minta<BR>bantuan penduduk di kaki gunung dan kurasa dalam waktu setahun tempat<BR>kita ini akan menjadi tempat persembunyian yang takkan gampang-gampang<BR>dimasuki orang luar, biarpun mereka memiliki kepandaian tinggi."<BR>Semenjak terjadi percakapan ini, Cia Hui Gan lalu mencari bantuan tenaga<BR>para penduduk di kaki gunung dan mulailah rencananya itu dibuat. Ia memilih<BR>sebuah puncak yang amat indah pemandangannya dan nyaman pula hawa<BR>udaranya, pula puncak ini dikelilingi jurang yang terjal dan tak mungkin dilalui<BR>manusia. Bagian-bagian yang dapat dipergunakan orang untuk mendaki<BR>puncak, sengaja digugurkan sehingga bagi orang luar tampaknya tempat itu<BR>tak mungkin didatangi. Menurut rencana kakek ini mereka akan membuat<BR>jalan rahasia ke puncak, melalui terowongan buatan dibawah tanah.<BR>Terowongan ini selain tak tampak dari luar, juga di dalamnya penuh alat-alat<BR>rahasia sehingga bagi orang-orang luar, amat berbahayalah untuk melaluinya,<BR>andaikata dia dapat menemukan pintu terowongan juga. Selain alat-alat<BR>rahasia juga terowongan ini dibuat berliku-liku, banyak cabangnya dan mudah<BR>sekali menyesatkan orang.<BR>Akan tetapi untuk membuat semua ini membutuhkan tenaga dan waktu. Dan<BR>kekhawatiran Cia Hui Gan tentang musuh-musuh besar Beng San ternyata<BR>terbukti ketika pembuatan jalan terowongan itu baru mulai dibuat!<BR>bagian 31<BR>Pada waktu itu matahari baru saja terbit dan penduduk kaki gunung sudah<BR>berkumpul dan mulai bekerja mengangkuti batu-batu yang dibutuhkan untuk<BR>pembuatan terowongan. Cia Hui Gan dan Cia Li Cu sedang mengatur<BR>pekerjaan dan berada di puncak, di tempat terbuka yang akan dibangun<BR>menjadi tempat tinggal mereka. Beng San juga berada di situ, duduk di bawah<BR>sebatang pohon besar. Orang muda ini sekarang nampak sehat, wajahnya<BR>segar dan agak gemuk malah, akan tetapi sepasaing matanya kehilangan<BR>cahaya yang biasanya bersinar tajam dan aneh. Sekarang malah kelihatan<BR>seperti orang bodoh. Pakaiannya bersih dan ia nampak tersenyum-senyum<BR>gembira memandang ke arah Li Cu. Ia merasa heran sekali mengapa orangorang<BR>itu sibuk hendak membuat rumah, akan tetapi seperti biasa ia tidak<BR>mengganggu "isterinya".<BR>Di pagi hari yang sejuk ini timbul bermacam-macam pertanyaan di dalam<BR>otaknya yang tidak sehat. Kenapa isterinya menyebut "ayah" kepada orang<BR>tua yang katanya seorang ahli pedang berjuluk Bu-tek Kiam-ong bernama Cia<BR>Hui Gan? Ia sekarang sudah ingat bahwa ayah dari isterinya adalah Song-bunkwi!<BR>Tapi kenapa Song-bun-kwi malah tidak kelihatan? Memang aneh isterinya<BR>sekarang! kelihatannya begitu mencinta padanya, akan tetapi kenapa amat<BR>berubah sehingga tidur pun mereka berpisah? Diam-diam ia merasa kecewa<BR>dan berduka, akan tetapi ia tidak berani membantah. Kalau isterinya marah<BR>dan meninggalkan dia, celaka!<BR>Tiba-tiba terdengar kegaduhan hebat. Orang-orang berteriak-teriak dan ada<BR>yang memekik kesakitan, disusul gerengan seperti binatang buas mengamuk.<BR>Ada pula yang menjerit-jerit ketakutan disusul ketawa melengking. Cia Hui<BR>Gan dan Li Cu kaget sekali dan cepat mereka memandang. Apa yang mereka<BR>lihat membuat keduanya berubah mukanya. Para pekerja lari cerai-berai dan<BR>malah ada yang sudah roboh karena amukan dua orang yang bukan lain<BR>adalah Song-bun-kwi Kwee Lun dan Kwa Hong! Dengan gerakan-gerakannya<BR>yang luar biasa, kakek tua berpakaian putih ini menggereng-gereng dan<BR>kadang-kadang melengking seperti orang menangis sambil menghantam ke<BR>kanan kiri merobohkan para pekerja yang tidak sempat lari menjatukan diri.<BR>Lebih hebat mengerikan lagi adalah sepak terjang Kwa Hong yang duduk di<BR>atas rajawali emasnya dan menyambar-nyambar dari atas menyebar maut<BR>kepada para pekerja. Kasihan sekali para penduduk kampung yang tidak<BR>memiliki ilmu kepandaian silat itu. Mereka berusaha lari menyelamatkan diri,<BR>namun hanya sedikit saja yang berhasil. Sebagiaan besar tak mampu lagi<BR>menyelamatkan diri dan terpaksa menjadi korban keganasan dua orang itu.<BR>Apalagi mereka hanyalah petani-petani yang tidak berkepandaian, andaikata<BR>mereka memiliki ilmu silat sekalipun belum tentu mereka akan dapat<BR>menghindarkan diri dari dua orang yang memiliki kepandaian dahsyat dan<BR>keganasan seperti iblis itu.<BR>Melihat kejadian ini, tentu saja Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan seperti dibakar<BR>dadanya. Kemarahannya tak dapat ia tahan lagi dan serentak ia lalu mencabut<BR>pedang dari belakang punggung, meloncat ke depan dari membentak keras,<BR>"Iblis jahat Song-bun-kwi dan kau tentu siluman betina she Kwa murid Hoasan-<BR>pai! Hari ini kalian berani datang ke Thai-san membunuhi orang-orang tak<BR>berdosa, aku Cia Hui Gan bersumpah akan membasmi kalian!" Pedangnya lalu<BR>digerakkan dan secepat kilat ia menerjang kepada Song-bun-kwi. Kakek ini<BR>pun sudah siap sedia cepat mengelak daripada sambaran sinar pedang yang<BR>luar biasa itu sambil memutar pedangnya sendiri untuk balas menyerang.<BR>Sementara itu Li Cu juga sudah melompat maju dan menggerakkan Liong-cukiam<BR>membantu ayahnya.<BR>Akan tetapi dari atas terdengar suara ketawa mengikik dan menyambarlah<BR>sinar kehijauan lima buah banyaknya ke arah ayah dan anak itu. Cia Hui Gan<BR>dan Li Cu melompat ke samping sambil menggerakkan pedang menangkis.<BR>Terdengar suara keras dan bunga api muncrat menyilaukan mata. Li Cu<BR>merasa betapa telapak tangannya tergetar maka diam-diam ia kaget bukan<BR>main. Alangkah kuatnya wanita yang naik burung rajawaii itu! Sambil tertawatawa<BR>Kwa Hong juga sudah meloncat turun dari atas punggung rajawali yang<BR>segera terbang dan hinggap di atas puncak pohon besar sambil mengeluarkan<BR>bunyi melengking nyaring. Empat orang musuh besar itu kini saling<BR>berhadapan, masih belum bergerak lagi setelah gebrakan pertama tadi.<BR>Bagaimanakah Kwa Hong bisa datang bersama Song-bun-kwi di Puncak Thaisan?<BR>Hanya kebetulan saja. Ternyata bahwa Song-bun-kwi yang merasa sakit<BR>hati terhadap bekas mantunya itu tidak jauh meninggalkan Thai-san. Ia selalu<BR>menanti saat baik untuk menculik dan membunuh Beng San. Akhirnya pada<BR>pagi hari itu ia melihat Kwa Hong menunggang burung rajawali naik ke Thaisan,<BR>Giranglah hatinya karena ia dapat menduga bahwa kedatangan tokoh<BR>baru yang menggemparkan ini pasti akan memusuhi Beng San, maka ia<BR>segera menyusul naik dan melihat Kwa Hong menghajar para pekerja, ia pun<BR>lalu turun tangan menyerbu. Yang amat berat dihadapi bagi Song-bun-kwi<BR>hanya Bu-tek Kiam-ong, maka kalau ia mendapat kawan yang kosen, ia tidak<BR>takut. Sementara itu Kwa Hong sengaja datang ke Thai-san karena ia sudah<BR>mendengar tentang keadaan Beng San yang kehilangan kepandaiannya. Ia<BR>ingin sekali menyaksikan dan kalau betul demikian berarti ia akan dapat<BR>membalas sakit hatinya. Ketika, ia melihat Song-bun-kwi membantunya, ia<BR>tidak berkata apa-apa, malah tidak peduli sama sekali.<BR>"Cia Hui Gan, kenapa kau begini tak tahu malu? Anak perempuanmu yang<BR>bermuka tebal itu telah melindunginya? Hemm, apakah begini saja orang yang<BR>berjuluk Kiam-ong? Ternyata hanya orang rendah...!" Kwa Hong memaki<BR>kalang-kabut.<BR>Wajah Cia Hui Gan menjadi merah sekali, matanya bersinar-sinar<BR>memancarkan api kemarahan, "Iblis wanita kau sebenarnya siapa dan apa<BR>maksudmu ke sini?" bentaknya.<BR>"He, perempuan muda, jangan kau sembarangan bicara!" Song-bun-kwi juga<BR>kaget mendengar ucapan Kwa Hong dan cepat memaki. "Beng San suami<BR>anakku, sekarang dirampas oleh anak orang she Cia, Kenapa kau berani<BR>mengakunya sebagai suami? Apakah kau orang yang dulu melahirkan anak di<BR>tempatku, ditolong oleh Bi Goat?"<BR>Kwa Hong mengeluarkan suara ketawa mengejek. "Kalian orang-orang tua<BR>tahu apa? Dengarlah baik-baik. Manusia bernama Tan Beng San itu, yang<BR>sekarang duduk di sana seperti patung hidup, sebelum dia menikah dengah<BR>Kwee Bi Goat, dia sudah lebih dahulu menjadi ayah dari anakku. Akulah orang<BR>yang paling berhak atas dirinya, siapa pun hendak menghalangi akan kubunuh<BR>mampus. Hee, Beng San! Hayo kau ikut denganku. Apakah kau tidak ingin<BR>menengok anakmu?"<BR>Beng San hanya melongo, sama sekali ia tidak ingat lagi siapa adanya wanita<BR>yang bicara tidak karuan itu. Suara dan wajahnya serasa ia kenal baik, akan<BR>tetapi ia sudah lupa lagi kapan dan di mana. Beng San memijit-mijit<BR>keningnya, mengingat-ingat.<BR>"Ho-ho, nanti dulu!" Song-bun-kwi berseru sambil tertawa mengejek.<BR>"Bukankah kau yang bernama Kwa Hong, anak murid Hoa-san-pai? Aku<BR>banyak mendengar tentang kau! Orang bilang bahwa kau telah menjadi isteri<BR>Koai Atong Si Bocah Tua gila. Kalau kau punya anak, tentulah anakmu dengan<BR>Koai Atong itulah! Kau murid Hoa-san-pai jangan banyak membohong di sini."<BR>"Tutup mulutmu, tua bangka gila!" Kwa Hong membentak sambil mencabut<BR>pedang pusaka Hoa-san-pai. "Buka matamu dan lihat ini. Aku Ketua Hoa-sanpai,<BR>bukan murid lagi, tahu? Inilah pusaka Hoa-san-pai, berada di tangan<BR>Ketua Hoa-san-pai. Pedang pusaka ini kelak akan memenggal batang lehermu<BR>karena kau sudah berani berkurang ajar kepadaku. Sekarang hendak kupakai<BR>membasmi orang-orang yang berani merampas Beng San."<BR>"Ha-ha-ha, bagus, bagus! Keluarga Cia memang patut dibasmi. Mari kubantu<BR>kau!" kata Song-bun-kwi yang cerdik dan licin.<BR>Semenjak tadi Cia Hui Gan hanya berdiri dengan muka sebentar pucat<BR>sebentar merah. Ia merasa susah dan malu sekali. Sebagai seorang tokoh<BR>kang-ouw yang kenamaan tentu saja ia tahu akan peraturan kang-ouw. Dua<BR>orang yang datang ini memang berhak atas diri Beng San, yang seorang bekas<BR>kekasih Beng San, yang seorang lagi mertuanya malah. Memang dia dan<BR>puterinya berada di pihak yang salah. Akan tetapi mana bisa ia tidak membela<BR>Li Cu?<BR>Tentu saja Li Cu maklum pula apa yang dipikirkan ayahnya, maka dengan<BR>gagah ia melangkah maju dan berkata lantang,<BR>"Kalian bicara mau menang sendiri saja! Song-bun-kwi, sudah jelas bahwa<BR>kematian puterimu bukan karena kesalahan Beng San, melainkan karena Kwa-<BR>Hong yang merupakan kenyataan yang menghancurkan hatinya. Malah Beng<BR>San demikian mencinta puterimu itu sehingga kematiannya membuat Beng<BR>San kehilangan ingatannya. Dan kau, Kwa Hong, kau sungguh tak tahu malu,<BR>perbuatanmu dengan Beng San itu sudah menunjukkan betapa rendah<BR>watakmu. Hubunganmu dengan Beng San terjadi karena pengaruh racun, akan<BR>tetapi kau begitu tak bermalu untuk menyatakan Beng San adaiah suamimu!"<BR>"Setan betina tutup mulutmu!" Kwa-Hong menjadi marah, mukanya menjadi<BR>merah dan matanya liar. "Suami atau bukan dia adalah ayah anakku.<BR>Sebaliknya engkau ini bukan apa-apanya mengapa membela mati-matian?<BR>Bukankah kau yang tergila-gila kepada Beng San?"<BR>"Memang, aku mencinta Beng San! jawab Li Cu dengan suara tegas dan sikap<BR>gagah sambil mengedikkan kepala. "Aku mencinta Beng San dan aku<BR>berhutang budi kepadanya. Sebaliknya, dia menganggap bahwa aku adalah<BR>isterinya yang sudab meninggal. Demi cintaku, dan demi untuk membalas<BR>budi, aku hendak melindunginya dengan taruhan nyawa dan ragaku. Kalau<BR>kalian berdua manusia-manusia berhati iblis bermaksud membunuh atau<BR>menculiknya, kalian harus lebih dulu dapat membunuh aku!"<BR>"Bagus, memang aku hendak membunuhmu!" Kwa Hong menjerit dan anak<BR>panah-anak panah pada ujung cambuknya menyambar.<BR>"Trang-trang-trang!" Li Cu menangkis dengan Liong-cu-kiam. Ujung tiga<BR>batang anak panah itu patah semua sedangkan yang duah buah tidak<BR>mengenai pedang pusaka sehingga terhindar daripada kerusakan. Bukan main<BR>marahnya Kwa Hong melihat betapa dalam segebrakan saja senjatanya telah<BR>rusak oleh pedang lawan yang ternyata amat kuat itu. Ia mencabut Hoa-san<BR>Po-kiam dan menerjang lagi. Li Cu menangkis lagi dan kali ini ia terhuyung<BR>mundur dengan tangan sakit-sakit. Pedang di tangan Kwa Hong sama sekali<BR>tidak rusak! Hal ini tidak aneh karena Hoa-san Po-kiam juga, sebatang pedang<BR>pusaka yang ampuh.<BR>Sementara itu Kwa Hong sudah menyerang lagi. Gerakannya dalam<BR>penyerangan amat aneh, menyambar-nyambar seperti gerakan seekor burung.<BR>Pedang Hoa-san Po-kiam meluncur ke arah tenggorokan Li Cu. Baru saja gadis<BR>ini hendak mengelak, ujung pedang itu sudah menyambar ke bawah<BR>membelah dada! Li Cu kaget dan cepat menggunakan Liong-cu-kiam<BR>menangkis, akan tetapi lagi-lagi ujung pedang lawan tidak melanjutkan<BR>serangannya dan tahu-tahu tangan kiri Kwa Hong yang memukul dengan<BR>gerakan pukulan Jing-tok-ciang! Li Cu benar-benar kaget sekali ketika tiba-tiba<BR>ada angin dingin, menyambar dari sebelah kanannya. Cepat ia mengelak<BR>namun karena serangan ini memang tidak tersangka-sangka olehnya, ia<BR>terdorong hawa pukulan Jing-tok-ciang dan kembali ia terhuyung-huyung.<BR>Pada saat itu pedang Kwa Hong sudah mengejar pula dengan tusukan-tusukan<BR>dan bacokan-bacokan maut yang amat sukar diketahui perubahannya.<BR>"Li Cu, mundurlah!" kata Cia Hui Gan sambil meloncat maju. Pedangnya<BR>menyambar mengeluarkan sinar kilat dan sekaligus ia telah berhasil<BR>mengancam pergelangan tangan Kwa Hong dengan gulungan sinar pedangnya<BR>yang hebat.<BR>"Ayaaaa....!" Kwa Hong berjengit sambil menarik tangannya ke belakang, juga<BR>melangkah mundur setindak, tidak melanjutkan desakannya kepada Li Cu.<BR>"Ha-ha-ha, Raja Pedang tak tahu malu, mengeroyok seorang perempuan<BR>muda!" kata Song-bun-kwi sambil terjun ke dalam kalangan pertempuran.<BR>Dengan Ilmu Pedang Yang-sin Kiam-sut ia segera menerjang Cia Hui Gan.<BR>Sementara itu, karena tadi kaget ketika pergelangan tangannya hampir putus<BR>oleh pedang Cia Hui Gan, Kwa Hong marah bukan main. Sambil mengeluarkan<BR>pekik melengking ia kini menerjang orang tua dari Thai-san itu sehingga dalam<BR>sekejap mata saja Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan sudah dikeroyok dua oleb<BR>Kwa Hong dan Song-bun-kwi.<BR>Cia- Hui Gan berjuluk Bu-tek Kiam-Ong (Raja Pedang Tanpa Tanding), ilmu<BR>pedang Sian-li Kiam-sut adalah ilmu pedang keturunan yang aseli dari<BR>pendekar sakti Ang I Niocu ratusan tahun yang lalu. Semenjak ratusan tahun<BR>itu, Sian-li Kiam-sut boleh dibilang menjagoi diantara segala ilmu pedang.<BR>Sebetulnya, ilmu pedang ini masih bersumber dengan Im-yang Sin-kiam-sut<BR>atau boleh dikatakan cabangnya. Karena memiliki ilmu pedang ini yang sudah<BR>dilatihnya secara sempurna maka tidak heran apabila Cia Hui Gan merupakan<BR>jago pedang yang sukar dilawan.<BR>Akan tetapi sekarang ia dikeroyok dua oleh dua orang lawan yang bukan orang<BR>sembarangan. Song-bun-kwi Kwee Lun adalah seorang tokoh kenamaan,<BR>malah tokoh nomor satu dari barat yang selain memiliki ilmu silat yang tinggi<BR>dan sakti, juga telah mendapatkan ilmu silat pedang Yang-sin Kiam-sut. Di<BR>dunia kang-ouw jarang ada yang dapat menandinginya. Adapun orang ke dua<BR>biarpun tidak ternama dan hanya merupakan murid Hoa-san-pai, akan tetapi<BR>Kwa Hong sekarang sama sekali tidak boleh disamakan dengan Kwa Hong<BR>dahulu ketika menjadi murid Hoa-san-pai. Kwa Hong telah mempelajari ilmu<BR>dari Koai Atong, terutama Jing-tok-ciang dan di samping ini, yang membuat ia<BR>sekarang sekaligus berubah menjadi seorang yang luar biasa adalah ilmu silat<BR>yang ia petik bersama Koai Atong dari gerakan-gerakan rajawali emas yang<BR>sekarang menjadi teman dan binatang tunggangannya.<BR>Li Cu maklum bahwa kepandaian dua orang ini hebat sekali. Ketika ia ingat<BR>bahwa pedang di tangan Kwa Hong ternyata sebatang pedang pusaka yang<BR>ampuh, ia kuatir kalau-kalau ayahnya akan terdesak dan rusak pedangnya.<BR>Maka ia segera berseru,<BR>"Ayah, kaupergunakan Liong-cu-kiam ini!"<BR>Karena Cia Hui Gan juga seorang yang bermata awas dan tadi dapat melihat<BR>betapa pedang Kwa Hong dapat menandingi Liong-cu-kiam, ia tidak mau<BR>banyak sungkan lagi. Diterimanya pedang Liong-cu-kiam pendek itu dengan<BR>tangan kirinya, lalu ia berseru,<BR>"Li Cu, bawa Beng San pergi dari sini. Biar aku menandingi dua iblis jahat ini!"<BR>Akan tetapi Li Cu sendiri adalah seorang pendekar yang berhati baja, mana dia<BR>sudi meninggalkan ayahnya terancam bahaya dan melarikan diri?<BR>"Tidak, Ayah. Mati hidup aku harus bersamamu, aku harus membantumu.<BR>Berikan pedangmu kepadaku!"<BR>"Jangan, Li Cu. Untuk menghadapi dua ekor manusia binatang ini aku<BR>sendirian sanggup. Kaubawa pergi Beng San, selamatkan dia lebih dulu!"<BR>Li Cu ragu-ragu dan sejenak ia berdiri memandang betul saja, biarpun<BR>dikeroyok dua, sepasang pedang di tangan ayahnya itu benar-benar hebat,<BR>merupakan dua gulung sinar pedang yang berlainan warna, menyambarnyambar<BR>laksana naga di angkasa raya. Ilmu pedang ayahnya benar-benar<BR>sudah sampai di puncaknya. Hebat bukan main sampai Li Cu dalam suasana<BR>tegang itu menjadi kagum akan keindahan Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut yang<BR>dimainkan ayahnya.<BR>Andaikata Song-bun-kwi dan Kwa Hong mengeroyoknya tidak menggunakan<BR>pedang, kiranya takkan mungkin Cia Hui Gan kuat mempertahankan diri.<BR>Tingkat kepandaian Song-bun-kwi tidak lebih bawah daripada tingkatnya<BR>sendiri, adapun wanita muda itu benar-benar memiliki ilmu silat yang aneh<BR>dan mujijat sekali. Baiknya kedua orang itu pun bermain pedang, sedangkan<BR>senjata pedang adalah permainan Cia Hui Gan semenjak kecil, yang menjadi<BR>keahliannya sehingga ia dijuluki Raja Pedang, maka menghadapi permainan<BR>pedang kedua lawannya, Hui Gan merasa lebih mudah untuk tidak saja<BR>mempertahankan diri, malah mendesak dengan jurus-jurus yang lihai.<BR>Selagi Li Cu berdiam bimbang, tiba-tiba terdengar suara bentakan orang,<BR>"Li Cu, kau benar-benar membikin malu aku yang menjadi kekasihmu!"<BR>Li Cu kaget sekali karena tiba-tiba muncul Tan Beng Kui bersama Hek-hwa<BR>Kui-bo! Hek-hwa Kui-bo segera menghunus pedang dan menyerbu ke dalam<BR>pertempuran sambil berseru kepada Song-bun-kwi, "Hi-hi-hi, tua bangka<BR>keparat, jangan kauperlihatkan sendiri kelihaian Yang-sin-kiam. Mana lebih<BR>hebat dengan Im-sin-kiam ilmuku?" Seperti kita ketahui dalam cerita Raja<BR>Pedang, kalau Song-bun-kwi dapat merampas kitab pelajaran Ilmu Pedang<BR>Yang-sin-kiam, adalah Hek-hwa Kui-bo ini berhasil merarnpas kitab<BR>pasangannya, yaitu yang mengandung pelajaran Ilmu Pedang Im-sin-kiam!<BR>Dengan munculnya ahli Im-sin-kiam ini, boleh dibilang Cia Hui Gan<BR>menghadapi pasangan ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam-Sut yang hebat bukan<BR>main. Tentu saja ilmu pedang ini tidak sehebat kalau dimainkan oleh satu<BR>orang seperti Beng San sebelum ia kehilangan ingatannya. Betapapun juga,<BR>dalam gebrakan-gebrakan pertama saja sudah terlihat betapa Cia Hui Gan<BR>menjadi sibuk menghadapi serangan-serangan pasangan dari dua orang tokoh<BR>ilmu silat kelas tinggi itu!<BR>Li Cu kaget bukan main melihat kedatangan bekas suheng dan tunangannya<BR>beserta Hek-hwa Kui-bo itu. Ini berarti bertambahnya pihak lawan yang amat<BR>tangguh. Juga di samping kekuatirannya, ia menjadi marah sekali kepada<BR>Beng Kui. Tanpa banyak cakap lagi ia segera menerjang bekas tunangannya<BR>itu dengan pukulan-pukulan maut. Ia merasa menyesal sekali bahwa ia masih<BR>belum sempat mengambil pedang lain setelah Liong-cu-kiam dipinjamkan<BR>kepada ayahnya.<BR>"Ha-ha, Li Cu. Kau tak tahu malu, melarikan laki-laki. Hah, perbuatan rendah<BR>dan hina,"<BR>"Tutup mulut dan jangan mencampuri urusanku!" bentak Li Cu makin marah<BR>dan memperhebat serangannya. Akan tetapi dengan mudah Beng Kui dapat<BR>mengelak. Memang tingkat kepandaian Beng Kui lebih tinggi daripada<BR>kepandaian Li Cu, apalagi memang dahulu seringkali ia melatih ilmu silat<BR>kepada bekas sumoinya ini, maka gerakan-gerakan Li Cu ia sudah hafal benar.<BR>bagian 32<BR>Tiba-tiba Beng San datang berlari-lari dengan maksud hendak melerai mereka<BR>berdua yang sedang bertanding. Sejak tadi ia mendengarkan semua<BR>percekcokan dengan pikiran bingung dan hati berdebar. Ia menganggap<BR>mereka semua itu juga "isterinya", bicara tidak karuan. Selagi ia mengerahkan<BR>pikirannya untuk menyelami maksud semua percakapan yang ganjil itu, tibatiba<BR>muncul Tan Beng Kui dan di dalam kebingungannya ternyata ia masih<BR>dapat ingat dan kenal kepada kakak kandungnya ini. Sekarang kakak<BR>kandungnya itu bertempur melawan isterinya, tentu saja ia menjadi makin<BR>bingung dan cepat lari menghampiri untuk mencegah.<BR>"Kui-ko... jangan berkelahi dengan dia. Dia itu isteriku!" tegurnya sambil<BR>menggerakkan kedua tangan ke atas untuk mencegah.<BR>"Aha, sudah menjadi isterinya, ya? Sejak kapan?" Beng Kui mengejek sambil<BR>memandang kepada Li Cu, gadis ini menjadi merah mukanya, akan tetapi ia<BR>mengedikkan kepala dan menjawab lantang,<BR>"Kalau betul kau mau apa? Bukan urusanmu!"<BR>"Bi Goat, dia ini adalah kakak kandungku, jangan kau bertengkar kepadanya,"<BR>kata pula Beng San, suaranya penuh permohonan."<BR>"Ha-ha-ha-ha, menjadi isteri seorang gila Beng Kui tertawa dan mengejek lagi,<BR>kemudian tiba-tiba tangannya menghantam ke depan, tepat mengeriai dada<BR>Beng San, "Blukk!" Tubuh Beng San terlempar sampai beberapa meter<BR>jauhnya dan jatuh terguling. Akah tetapi ia segera bangun kembali dan<BR>bertanya dengan mata terbelalak heran.<BR>"Kui-ko, kenapa kau memukulku?" tanyanya berulang-ulang sambil melangkah<BR>maju lagi.<BR>Beng Kui tadinya girang karena kini mendapat kenyataan bahwa adik<BR>kandungnya yang dahulu lihai itu sekarang benar-benar telah kehilangan<BR>kepandaiannya. Tadinya ketika mendengar berita ini ia masih ragu-ragu.<BR>Ketika tadi ia mendengar Beng San mengaku Li Cu sebagai isteri dan<BR>menyebutnya "Bi Goat", ia tahu bahwa adiknya benar-benar telah kehilangan<BR>ingatan. Akan tetapi hal ini belum berarti kehilangan kepandaian, maka untuk<BR>mencobanya ia cepat memukul. Pukulan ini cepat dan tak terduga-duga<BR>sehingga Li Cu sendiri tidak sempat mencegah. Giranglah hati Beng Kui<BR>melihat pukulannya tepat dan membuat adik yang ditakuti itu terlempar dan<BR>bergulingan, akan tetapi ia kaget bukan main melihat Beng San bangun lagi<BR>dan tidak apa-apa. Padahal pukulannya tadi ia lakukan dengan pengerahan<BR>tenaga Iwee-kang. Ia tidak tahu bahwa tenaga Iwee-kang dan hawa murni di<BR>tubuh Beng San masih ada dan secara otomatis bergerak melindungi bagian<BR>yang terpukul. Ia mengira bahwa Beng San masih lihai seperti dulu. Akan<BR>tetapi melihat sikap Beng San dan mendengar pertanyaan yang berkali-kali itu<BR>ia dapat menduga bahwa Beng San masih dilindungi oleh hawa murni di<BR>tubuhnya, tapi takkan dapat mempergunakan hawa dan tenaganya untuk<BR>menyerang karena semua ilmu telah dilupakannya.<BR>Sementara itu Li Cu marah bukan main melihat Beng San dipukul tadi. Juga ia<BR>merasa kuatir kalau-kalau Beng San terluka parah, biarpun ia melihat Beng<BR>San sudah bangkit kembali dan malah mendekati Beng Kui. Karena kuatir<BR>kalau Beng Kui memukul lagi, Li Cu mendahuluinya dan menyerang hebat.<BR>Beng Kui tertawa-tawa dan segera melayaninya. Adapun Beng San berteriakteriak<BR>mencegah mereka bertempur.<BR>Hati Li Cu gelisah bukan main. Biar pun ia sedang berhantam dengan Beng<BR>Kui, namun ia dapat menangkap dengan pendengaran telinganya yang tajam<BR>bahwa keadaan ayahnya mulai terdesak hebat. Hal ini mengguncangkan<BR>hatinya dan mengacaukan gerakan kaki tangannya.<BR>"Beng Kui anak durhaka! Lepaskan Li Cu!" tiba-tiba Gia Hui Gan berteriak<BR>keras. "Li Cu, bawa Beng San pergi jauh-jauh!"<BR>Akan tetapi kata-katanya itu disambut dengan ketawa mengejek oleh Beng<BR>Kui, Cia Hui Gan tidak berdaya menolong puterinya karena tiga orang<BR>lawannya makin hebat mendesaknya. Rupanya karena maklum bahwa mereka<BR>menghadapi lawan yang amat tangguh, Hek-hwa Kui-bo dan Song-bun-kwi<BR>dapat bekerja sama dan mempergunakan Yang-sin Kiam-sut dan Im-sin Kiamsut<BR>untuk mengeroyok jago pedang itu. Sedangkan Kwa Hong dengan ilmu<BR>silatnya yang tidak karuan namun dahsyat sekali, terus melancarkan<BR>serangan-serangan maut.<BR>Li Cu makin gelisah dan kesempatan ini dipergunakan dengan baik oleh Beng<BR>Kui. Sebuah tendangan pada sambungan lutut membuat Li Cu roboh dan<BR>susulan totokah membuat gadis itu 'tidak dapat bergerak pula,<BR>"Jangan pukul isteriku....!" Beng San berseru dan menubruk Li Cu, akan tetapi<BR>ia pun segera lemas tak dapat bergerak karena ditotok oieh Beng Kui pada dua<BR>jalan darahnya yang penting. Kemudian sambil tertawa-tawa Beng Kui<BR>mengempit tubuh Li Cu dan Beng San, lalu di bawa pergi lari cepat dari tempat<BR>itu.<BR>"Beng Kui... keparat....! Lepaskan Li Cu....!" Cia Hui Gan membentak dan<BR>pedang di tangan kanannya meluncur cepat mengejar bayangan Beng Kui.<BR>Orang muda ini maklum akan kehebatan ilmu melempar pedang dari gururnya,<BR>ia menjadi pucat dan kaget sekali. Cepat ia mengelak dan merendahkan tubuh,<BR>namun tetap saja pundaknya tertusuk pedang dari belakang dan Beng Kui<BR>sambil menjerit kesaktian mempercepat larinya. Tubuh Li Cu dan Beng San<BR>masih dikempitnya dan pedang itu pun masih menancap di pundaknya.<BR>Masih untung bagi Beng Kui bahwa pada saat itu Kwa Hong, Hek-hwa Kui-bo<BR>dan Song-bun-kwi mendesak Cia Hui Gan sehingga Raja Pedang ini tidak<BR>sempat lagi untuk mengejarnya. Malah kini keadaan Cia Hui Gan terdesak<BR>hebat karena di tangannya hanya terdapat sebatang pedang pendek, yaitu<BR>pedang Liong-cu-kiam karena pedangnya sendiri tadi telah disambitkan ke<BR>arah Beng Kui dalam usaha mencegah bekas murid itu menculik puterinya. Hai<BR>ini ditambah lagi oleh hatinya yang risau memikirkan puterinya, maka<BR>permainan pedang Cia Hui Gan menjadi agak kalut dan kurang kuat bagian<BR>pertahanannya. Kesempatan yang baik ini dipergunakan oleh tiga orang<BR>pengeroyoknya untuk menghujankan serangan pedang. Raja Pedang itu<BR>kurang cepat dan kulit lambungnya tergores pedang di tangan Kwa Hong.<BR>Darah mengucur dan membasahi bajunya.<BR>Rasa perih menimbulkan kemarahan hebat dan mengobarkan semangat<BR>perlawanan Cia Hui Gan. Kakek yang gagah perkasa ini mengeluarkan seruan<BR>panjang dan pedangnya yang hanya pendek saja itu berubah menjadi sinar<BR>bergulung-gulung, dahsyat sekali. Bunyi nyaring beradunya pedang-pedang<BR>pusaka makin sering dibarengi berpijarnya bunga-bunga api. Namun tiga<BR>orang pengeroyoknya juga makin memperhebat tekanan karena mereka<BR>merasa penasaran sekali. Sambil mengerahkan tenaganya yang mujijat Kwa<BR>Hong memutar pedang tiga kali, lalu membalikkan arah pedang menusuk ke<BR>arah perut Raja Pedang itu. Pada saat yang sama Hek-hwa Kui-bo dengan<BR>gerakan lemas membabat kakinya. Dua penyerangan sekaligus dari dua<BR>jurusan ini benar-benar berbahaya dan hebat. Cia Hui Gan membentak<BR>nyaring, pedangnya berkelebat ketika menangkis tusukan Kwa Hong dan pada<BR>saat itu ia harus pula meloncat tinggi-tinggi untuk menghindarkan diri dari<BR>babatan pedang Hek-hwa Kui-bo. Detik berikutnya pedang di tangan Songbun-<BR>kwi sudah menyambar datang, menusuk punggung. Cepat ia menurunkan<BR>lagi kakinya setelah babatan lewat, tubuhnya agak miring karena pedangnya<BR>masih tergetar dalam menangkis tusukan Kwa Hong, ia tidak sempat lagi<BR>mengelak atau menangkis. Namun dengan gerakan tiba-tiba, lengan kirinya<BR>yang ditekuk itu digerakkan sedemikian rupa sehingga sikunya membentur<BR>pinggir pedang Song-bun-kwi. Tepat dan cepat sekali gerakan ini dan pedang<BR>Song-bun-kwi meluncur lewat pinggir tubuhnya, merobek pakaian dan melukai<BR>kulit, tapi ia selamat!<BR>"Bagus!" Song-bun-kwi memuji dan kagum sekali melihat betapa dalam<BR>cengkeraman maut itu lawannya masih mampu menyelamatkan diri.<BR>Selanjutnya dengan penuh penasaran hati ia mendesak terus, mainkan Yangsin<BR>Kiam-sut yang bersifat keras itu.<BR>Tekanan makin hebat, Cia Hui Gan sudah mengerahkan seluruh tenaga,<BR>kegesitan dan mengeluarkan seluruh kemahiran bermain pedang. Namun tetap<BR>saja ia didesak terus dan tidak ada jalan keluar lagi baginya kecuali melawan<BR>mati-matian. Ia sudah menderita beberapa luka ringan. Darah membasahi<BR>seluruh pakaiannya. Ia sudah terluka di pundak, di pangkal lengan, di kedua<BR>paha, malah sebuah tusukan yang agak dalam di punggung membuat<BR>gerakannya makin lemah dan lambat. Namun semangatnya tak kunjung<BR>padam, sambil mengeluarkan bentakan-bentakan hebat kakek ini mengamuk<BR>terus seperti banteng terluka.<BR>Tiba-tiba Kwa Hong mengeluarkan suara melengking yang aneh dan ternyata<BR>kemudian bahwa suara ini adalah suara panggilan untuk burung rajawali emas<BR>yang sejak tadi bertengger di cabang pohon besar yang tak jauh dari situ.<BR>Segulung sinar kuning emas meluncur turun dibarengi lengking yang seperti<BR>tadi keluar dari mulut Kwa Hong.<BR>"Tiauw-heng (Kakak Rajawali), bantulah aku!" seru Kwa Hong sambil<BR>memperhebat desakannya kepada Cia Hui Gan.<BR>Burung itu agaknya sudah hafal akan suara dan perintah Kwa Hong. Melihat<BR>bahwa nonanya itu bertempur melawan Gia Hui Gan, ia cepat menukik ke<BR>bawah menerjang Raja Pedang itu.Tiba-tiba burung itu terbang membalik,<BR>berputaran di atas sambii memekik-mekik nyaring. Agaknya ia ragu-ragu dan<BR>bingung, kemudian ia menukik lagi dengan kedua kakinya bergerak-gerak<BR>menyerang. Cia Hui Gan memang sudah terdesak dan terkurung hebat,<BR>sekarang mendadak ia melihat gerakan kedua kaki burung itu. Ia tidak dapat<BR>menangkis lagi dan... secara aneh sekali tahu-tahu pedang di tangannya sudah<BR>dicengkeram oleh burung itu dan dibetot terlepas dari tangannya. Cia Hui Gan<BR>ia kenal, kemudian teringatlah ia bahwa gerakan itu mirip, bahkan tidak ada<BR>bedanya dengan gerakan Sian-li-teng-liong (Bidadari Menunggang Naga),<BR>sebuah gerakan yang terahasia dari ilmu silatnya Sian-li Kiam-sut.<BR>"Kau... kau...." serunya terheran-heran, akan tetapi ia tidak dapat<BR>melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu tiga batang pedang sudah<BR>ambles memasuki tubuhnya. Cia Hui Gan tidak me-ngeluarkan suara lagi,<BR>roboh dan tewas di saat itu juga! Sungguh patut disesalkan nasib seorang Raja<BR>Pedang yang namanya sudah puluhan tahun gemilang dikagumi orang,<BR>ternyata sekarang harus mengorbankan nyawa gara-gara asmara yang telah<BR>menguasai hati puterinya!<BR>"Berikan Liong-cu-kiam itu kepadaku!" bentak Song-bun-kwi sambil melotot<BR>kepada Kwa Hong yang sudah menerima pedang pusaka itu dari burung<BR>rajawalinya.<BR>"Tidak, harus kauberikan kepadaku!" bentak Hek-hwa Kui-bo sambil<BR>menerjang maju hendak merampas Liong-cu-kiam yang amat diinginkan itu.<BR>Akan tetapi sekali menggerakkan kaki secara aneh usaha Hek-hwa Kui-bo<BR>untuk merampas pedang itu gagal dan ia hanya menangkap angin. Diam-diam<BR>nenek ini kaget sekali. Biarpun tadi dalam pengeroyokan atas diri Raja Pedang<BR>ia sudah mendapat kenyataan betapa lihainya wanita muda ini, namun tak<BR>pernah disangkanya akan demikian hebat sehingga serangannya merampas<BR>pedang dapat digagalkan hanya dengan menggerakkan kaki saja!<BR>"Kalian ini tua bangka tak tahu diri! Bukalah matamu baik-baik dan lihat<BR>kepada siapa kalian bicara! Kalau tidak ada aku dan rajawali emasku, mana<BR>bisa kalian mengalahkan Bu-tek Kiam-ong? Sekarang masih berlagak hendak<BR>merampas pedang? Lihat, yang di tangan kananku ini adalah Hoa-san Po-kiam<BR>pedang pusaka Hoa-san-pai yang menandakan bahwa aku adalah Ketua Hoasan-<BR>pai. Dan di tangan kiriku ini adalah Liong-cu-kiam yang menandakan<BR>bahwa aku lebih lihai daripada Bu-tek Kiam-ong dan tentu saja lebih lihai<BR>daripada kalian tua bangka. Mau pedang? Hi-hi-hi, kalau kalian sudah<BR>mengidam kuburan, boleh, majulah untuk kutebas batang leher kalian,<BR>seorang satu!" Ia meyodorkan kedua pedang itu ke depan sambil tersenyumsenyum<BR>penuh ejekan.<BR>Hek-hwa Kui-bo dan Song-bun-kwi saling pandang. Baru satu kali selama<BR>hidup mereka itu mereka menerima hinaan dan kekalahan dari seorang muda,<BR>yaitu dari Beng San. Dan sekarang ada seorang gadis muda lagi yang<BR>mengejek dari menantang mereka. Tanpa mengeluarkan suara, saling<BR>pandang ini cukup bagi dua orang tokoh itu bersepakat mencoba kepandaian<BR>mereka yang sebetulnya berpasangan itu kepada gadis aneh ini. Serentak<BR>keduanya bergerak menyerang Kwa Hong!<BR>Kwa Hong mengeluarkan suara ketawa sambil menangkis dengan sepasang<BR>pedangnya. Akan tetapi suara ketawanya tidak berlangsung lama karena ia<BR>segera menjadi repot sekali oleh pengeroyokan dua orang itu. Hek-hwa Kui-bo<BR>mainkan Ilmu Pedang Im-sin Kiam-sut sedangkan Song-bun-kwi mainkan<BR>Yang-sin Kiam-sut dan mereka dapat bekerja sama secara baik sekali.<BR>Menghadapi pasangan ilmu pedang sakti ini, Kwa Hong segera terdesak hebat<BR>dan untung baginya ia sudah paham betul akan gerakan dan perubahan<BR>geseran kaki menurut gerakan rajawali emas, sehingga biarpun terdesak hebat<BR>ia masih dapat menyelamatkan diri secara aneh. Akhirnya ia melengking keras<BR>minta bantuan rajawali.<BR>Rajawali emas menyambar-nyambar di atas kepala dua orang itu Song-bunkwi<BR>dan Hek-hwa Kui-bo tadi sudah menyaksikan ketika rajawali itu merampas<BR>pedang dari tangan Cia Hui Gan, maka mereka kaget dan cepat meloncat dan<BR>menjatuhkan diri. Kesempatan ini dipergunakan Kwa Hong untuk meloncat ke<BR>atas punggung burungnya, sambil tertawa-tawa berkata,<BR>"Aku tidak ada waktu untuk main-main dengan kaiian dua orang tua bangka!"<BR>cepat burungnya terbang meninggalkan dua orang itu yang menyumpahnyumpah<BR>saking mendongkol dan marahnya.<BR>"Ah, kenapa begini tolol? Aku harus menangkap Beng San keparat!" tiba-tiba<BR>Song-bun-kwi teringat akan urusannya dan tanpa menoleh lagi kepada Hekhwa<BR>Kui-bo ia berlari cepat mengejar ke arah larinya Beng San dan Li Cu tadi.<BR>Hek-hwa Kui-bo datang bersama Beng Kui. Memang ia dimintai tolong oleh<BR>orang muda itu setelah Beng Kui mendengar bahwa Beng San telah kehilangan<BR>ingatan dan kepandaiannya. Seperti telah dituturkan di bagian atas, antara<BR>Hek-hwa Kui-bo dan Beng Kui terdapat kerja sama lagi ketika mereka<BR>membantu pemberontak-pemberontak yang hendak menggulingkan<BR>kedudukan Kaisar pertama dari Kerajaan Beng. Kini Beng Kui berhasil dengan<BR>usahanya, yaitu menculik Beng San dan Li Gu. Akan tetapi, di belakang orang<BR>muda itu mengejar Song-bun-kwi dan mungkin juga Kwa Hong, siapa tahu?<BR>Sudah menjadi tugasnya untuk membantu Beng Kui, maka ia pun lalu<BR>meninggalkan tempat itu dan menyusul Beng Kui karena ia tahu ke mana<BR>pemuda itu membawa pergi dua orang korbannya itu.<BR>Dalam kempitan Beng Kui, Beng San tak berdaya. Akan tetapi diam-diam ia<BR>memutar terus otaknya yang sejak pertempuran di Thai-san tadi mengalami<BR>guncangan-guncangan hebat. Banyak hal yang membingungkannya. Sekarang<BR>kakak kandungnya menangkap dia dan isterinya. Apakah kesalahannya? Apa<BR>pula kesalahan isterinya? Dan ke mana mereka berdua hendak dibawa?<BR>Hendak diapakan?<BR>Seingatnya, isterinya adalah seorang yang memiliki ilmu silat tinggi, puteri dari<BR>Song-bun-kwi. Kenapa tadi Song-bun-kwi, teringat ia sekarang, tidak<BR>menolongnya dan menolong isterinya?<BR>"Aku tidak peduli itu semua...." akhirnya hatinya memutuskan karena<BR>kepalanya serasa pecah karena kepeningan ketika ia mencoba memecahkan<BR>semua rahasia itu. ".... asal saja Bi Goat jangan diganggu...." Ia merasa kuatir<BR>sekali kalau-kalau isterinya diganggu orang. Kalau sampai terjadi demikian<BR>biarpun yang mengganggunya itu kakak kandungnya, biarpun dia sendiri tidak<BR>bisa silat, hemm... dia akan mencegahnya dan melawan mati-matian<BR>mempertaruhkan nyawanya sendiri.<BR>"Kui-ko, kenapa kau menangkap kami suami isteri dan ke mana kau hendak<BR>membawa kami?" Beng San akhirnya bertanya. Akan tetapi yang ditanya tidak<BR>menjawab, melainkan berlari makin cepat lagi. Beng San mengulang-ulang<BR>pertanyaannya, namun Beng Kui tetap tidak menjawab sedangkan Li Cu tidak<BR>dapat bersuara karena jalan darah di lehernya telah tertotok.<BR>Semenjak Beng Kui gagal dalam rencana pemberontakannya dahulu, hatinya<BR>menjadi lebih sakit dan menaruh dendam kepada Beng San. Ia sudah<BR>mendengar betapa adik kandungnya itulah yang telah menggagalkan<BR>pencegatan terhadap Kaisar, malah ia mendengar betapa dengan kerja sama<BR>antara Beng San dan Li Cu,<BR>Ho-hai Sam-ong tewas pula dalam pertempuran. Semua ini ditambah lagi<BR>dengan kenyataan betapa gurunya sendiri pun turun tangan di kota raja<BR>menghadapinya, maka ia menaruh sakit hati terhadap bekas gurunya,<BR>terhadap Li Cu dan terutama sekali terhadap Beng San. Inilah yang<BR>menyebabkan mengapa ia sengaja datang ke Thai-san bersama Hek-hwa Kuibo<BR>ketika ia mendengar berita bahwa Beng San yang ia takuti itu telah<BR>kehilangan kepandaiannya dan menjadi orang gila.<BR>Sebagai seorang bekas pemberontak, tentu saja Beng Kui tidak dapat bebas.<BR>Ia menyembunyikan diri sambil menunggu saat baik, malah membuat tempat<BR>persembunyian tak jauh dari Puncak Thai-san. Di sebuah hutan ia telah<BR>mendirikan rumah besar dan ia mempunyai banyak kaki tangan yang masih<BR>setia kepadanya dan Beng Kui kalau berada di tempatnya ini menganggap diri<BR>sendiri seolah-olah telah menjadi seorang "raja kecil". Isterinya, puteri<BR>pangeran yang bertubuh lemah, tidak ia ajak dalam perantauan dan<BR>persembunyiannya ini, melainkan ia tinggalkan di tempat persembunyiannya<BR>dekat kota raja.<BR>Menjelang senja. Beng Kui memasuki sebuah hutan besar di kaki Gunung Thaisan<BR>sebelah utara. Hutan itu gelap dan amat liar, tak pernah didatangi<BR>manusia. Akan tetapi ternyata di tengah-tengah hutan besar itu terdapat<BR>sebuah rumah besar dikelilingi rumah-rumah agak kecil. Inilah<BR>"perkampungan" kecil yang dijadikan tempat persembunyian Beng Kui<BR>bersama pengikut-pengikutnya. Kedatangannya disambut oleh beberapa orang<BR>kaki tangannya. Beng Kui langsung memasuki rumahnya dan membanting<BR>tubuh Beng san ke atas lantai. Pemuda ini terbanting dan bergulingan dan<BR>terdengar beberapa orang anak buah Beng Kui tertawa mengejek.<BR>"Kui-ko, di manakah ini? Rumah siapa dan apa yang hendak kaulakukan<BR>terhadap kami? Kaulepaskan isteriku!" Beng San tidak pedulikan tubuhnya<BR>yang sakit-sakit lalu merangkak bangun. Andaikata Beng Kui tidak semarah<BR>itu, kiranya hal ini akan menimbulkan, keheranannya.<BR>Akan tetapi ia lupa bahwa tadi ia telah menotok jalan darah di tubuh Beng San<BR>yang membuat adiknya itu lumpuh.<BR>"Kau mau tahu apa yang hendak kulakukan? Ha-ha-ha, aku takkan<BR>membunuhmu sekarang! Kau harus melihat dulu apa yang akan kulakukan<BR>terhadap perempuan tak tahu malu ini!" ia melempar Li Cu ke atas sebuah<BR>dipan diruangan itu. Gadis itu jatuh lemas dan tak dapat bergerak, hanya<BR>sepasang matanya yang memandang tajam penuh kemarahan dan kebencian,<BR>Beng Kui mengejar maju dan sekali tangannya bergerak ia telah<BR>membebaskan totokan pada leher gadis itu sehingga Li Cu dapat bicara<BR>kembali. Saking marahnya sampai gadis itu tidak mampu mengeluarkan<BR>perkataan apa-apa!<BR>"Kui-ko, kau tahu bahwa aku tidak takut mati. Kau mau bunuh aku, boleh<BR>bunuh. Akan tetapi kau harus bebaskan Bi Goat, dia itu tidak mempunyai dosa<BR>apa-apa terhadap dirimu. Kalau kau benci kepadaku, kalau kau marah<BR>kepadaku, boleh kauperlakukan aku sesukamu, tapi jangan, ganggu Bi Goat!"<BR>kembali Beng San memohon kepada kakaknya.<BR>Beng Kui tertawa mengejek, "Sudah kukatakan tadi, kau tidak kubunuh<BR>sekarang. Kau perlu hidup untuk menyaksikan betapa aku akan membuat<BR>wanita tak tahu malu ini sebagai barang permainanku. Ya, aku harus<BR>membalas, dia harus menjadi permainanku, ha-ha... dan di depan matamu,<BR>Beng San! Kalau aku sudah bosan, baru kurusak mukanya dan kubebaskan dia<BR>dan kaupun akan kulempar ke dalam jurang di belakang rumah. Sudah terlalu<BR>sering kau merusak rencanaku, sudah terlalu banyak kau menggagalkan<BR>usahaku." Ia ketawa lagi dan berpaling kepada beberapa orang anak buahnya<BR>yang berada di situ, berdiri seperti patung.<BR>"Sediakan hidangan untukku!" Orang-orang itu memberi hormat sambil<BR>berlutut lalu mengundurkan diri. Beng Kui tertawa lagi. "Lihat Beng San, lihat<BR>baik-baik. Biarpun kau sudah menggagalkan semua rencanaku, namun aku<BR>tetap dapat hidup sebagai raja. Dan kau akan kujadikan anjing, manusia<BR>bukan binatang pun bukan, hidup tidak mati pun belum. Dan dia... ha-ha,<BR>perempuan yang mencintamu ini yang melempar aku memilih kau, dia akan<BR>melihat bahwa aku jauh iebih berharga daripadamu."<BR>Beng San sukar menangkap arti semua ucapan itu, ia berusaha mengingatingat<BR>dan memeras otaknya maka ia berdiri bengong seperti patung batu.<BR>Adapun Li Cu saking marahnya sampai seperti gagu tak dapat bicara, hanya<BR>pancaran matanya yang berapi-api seperti hendak membakar tubuh Beng Kui<BR>dengan api kebencian yang berkobar-kobar. Akan tetapi di samping kebencian<BR>dan kemarahannya ini, diam-dian Li Cu menjadi terheran-heran. Belum pernah<BR>ia melihat suhengnya itu seperti sekarang ini. Alangkah jauh bedanya dengan<BR>dahulu. Makin memuncak herannya ketika hidangan yang mewah disediakan di<BR>atas meja. Beng Kui makan minum seorang diri dengan sikap berlebihan.<BR>Orang-orang yang melayaninya kelihatan amat menghormat seakan-akan<BR>melayani seorang kaisar saja. Dilihat keadaannya sekarang dan dibandingkan<BR>dengan dahulu, agaknya lebih pantas kalau dikatakan bahwa Beng Kui telah<BR>berubah pikirannya atau tidak waras lagi pikirannya.<BR>Setelah selesai makan, Beng Kui melemparkan beberapa potong tulang kepada<BR>Beng San sambil tertawa dan berkata, "He, anjing... nih kuberi tulang,<BR>makanlah! Ha-ha-ha!"<BR>Beng San berdiri tak bergerak, hanya memandang kepada kakak kandungnya<BR>yang seperti orang gila itu. "Kui-ko ingatlah... kenapa kau menjadi begini....?<BR>kau seperti orang gila...."<BR>"Keparat!" Tubuh Beng Kui bergerak tangannya kiri kanan menampar dan<BR>"plak-plak-plak!" muka Beng San sudah dihujani tamaparan yang keras<BR>sehingga Beng San terhuyung-huyung dan kedua pipinya menjadi merah.<BR>"Bersihkan meja dan tinggalkan kami. Tutup pintu depan, jaga baik-baik!"<BR>Beng Kui memberi perintah kepada orang-orangnya yang dengan sigap lalu<BR>mengerjakan perintah orang muda itu. Tak lama kemudian mereka bertiga<BR>sudah ditinggalkan pergi oleh para pelayan.<BR>Beng San masih berdiri tegak, bekas tamparan kakaknya masih tampak di<BR>kedua pipinya. Setelah semua pelayan pergi, Beng Kui mencabut pedang<BR>Liong-cu-kiam dari pinggangnya, lalu menghampiri Beng San yang berdiri<BR>dengan sikap tegak, sama sekali tidak kelihatan takut. Kiranya biarpun<BR>kehllangan ingatan dan kepandaian, namun Beng San tidak pernah kehilangan<BR>keberanian dan ketabahannya.<BR>"Hemm, kau hendak bunuh aku, Kui-ko? Mau bunuh boleh bunuh, aku tidak<BR>takut. Akan tetapi jangan sekali-kali kau mengganggu isteriku. Dia... tidak<BR>berdosa, kenapa kau menawannya? Lekas kaubebaskan dia!"<BR>"Beng San keparat, hayo kau lekas berlutut! Hayo!"<BR>Akan tetapi Beng San berdiri tegak dan memandang dengan matanya yang<BR>kini bersinar tenang dan bodoh. Teringat ia akan segala pelajaran filsafatnya<BR>dan ia menjawab, "Kui-ko, aku hanya dapat berlutut kepada Tuhan, kepada<BR>nenek moyang, kepada ayah bunda, kepada guru, kepada pemimpin dan<BR>kepada orang yang telah kuperlakukan dengan keliru sehingga aku patut minta<BR>ampun kepadanya. Padamu aku tidak salah apa-apa, kenapa harus berlutut!"<BR>"Keparat!" Kaki Beng Kui bergerak dan lutut Beng San keduanya telah kena<BR>ditendang dengan cepat. Beng San tak dapat mempertahankan diri lagi dan<BR>jatuh berlutut.<BR>Beng Kui tertawa bergelak-gelak, "Ha-ha-ha, akhirnya kau berlutut juga di<BR>depanku. Hemm, kau mengaku adik kandungku, akan tetapi semenjak<BR>pertemuan kita kau selalu menjadi perintang, selalu menjadi penghalang dan<BR>selalu menjadi pengacau hidupku! Sudah sepatutnya kalau kau kubunuh!"<BR>"Beng Kui, kau ini manusia apakah? Cih, tak tahu malu, curang, dan benarbenar<BR>pengecut besar! Kau berani bertingkah setelah melihat Beng San<BR>kehilangan ingatannya. Coba kalau dia masih seperti biasa, aku berani<BR>bertaruh kau akan lari tunggang-langgang kalau ber-temu dengan dia! Huh,<BR>muak perutku melihat mukamu!" Ucapan ini keluar dari mulut Li Cv yang<BR>marah bukan main menyaksikan betapa Beng Kui memperlakukan Beng San<BR>seperti itu.<BR>bagian 33<BR>Pucat muka Beng Kui mendengar cacian yang luar biasa menghinanya ini.<BR>Selama hidupnya belum pernah Li Cu berani bicara seperti ini kepadanya,<BR>kepada dia yang menjadi kakak seperguruannya, juga menjadi bekas<BR>tunangan! Benar-benar penghinaan yang melampaui batas. Sekali melompat ia<BR>telah berada di pinggir dipan, memandang kepada Li Cu yang rebah miring di<BR>atas dipan karena masih tertotok, namun sepasang matanya memandang<BR>tajam penuh kebencian.<BR>"Kau berani menghinaku? Apa kaukira aku pun tak dapat mempermainkan dan<BR>menghinamu?" Pedangnya berkelebat dan "brettt" robeklah baju Li Cu. Baju<BR>luar berwarna merah itu robek lebar sekali sehingga tampak baju dalamnya<BR>yang berwarna merah muda, Beng Kui tertawa terbahak-bahak sedangkan Li<BR>Cu menjadi pucat sekail, tak berani mengeluarkan kata-kata lagi saking<BR>ngerinya melihat perbuatan bekas suhengnya yang seperti kemasukan iblis itu,<BR>"Kui-ko, jangan kauganggu isteriku!" Beng San lari menghampiri dan<BR>mengangkat tangan hendak mencegah kakaknya bertindak lebih jauh.<BR>Akan tetapi sambil membalikkan tubuh Beng Kui menendang lagi dengan<BR>kerasnya sehingga tubuh Beng San terlempar dan terbanting pada dinding.<BR>Namun Beng San sudah nekat. Ia bangun lagi, menghampiri dan berseru.<BR>"Tak boleh kau menghina isteriku... Tak boleh..."<BR>Sekali lagi ia terjungkal karena tendangan Beng kui pada perutnya. Kali ini<BR>agak sukar Beng San untuk bangkit. Tendangan itu membuat napasnya<BR>menjadi sesak. Akan tetapi sambil merangkak mendekati kakaknya lagi dan<BR>merangkul kedua kakinya "Kui-ko, jangan...jangan kau menggangu isterku...,<BR>bunuhlah aku kalau kau kehendaki, tapi bebaskan dia...."<BR>Beng Kui mehjadi gemas sekali, Pedang di tangannya berkelebat ke arah Beng<BR>San. Li Cu menjerit dan... rambut di kepala Beng San terbabat putus. Li Cu<BR>terisak-isak saking kuatirnya, akan tetapi Beng San sama sekali tidak kelihatan<BR>gentar biarpun tadi pedang itu hampir saja membabat putus batang lehernya.<BR>"Kui-ko, sekali lagi kuminta, jangan kauganggu isteriku."<BR>"Bangsat, kalau aku mengganggunya kau mau apa? Hayo kau mau apa? Beng<BR>Kui menantang.<BR>"Biarpun aku tidak pandai silat, aku akan melawanmu!" kata Beng San sambil<BR>berusaha untuk berdiri.<BR>"Ha-ha-ha-ha, kau hendak melawan? Nah, terimalah bacokan ini!" Pedang di<BR>tangannya berkelebat dan kini benar-benar melayang ke arah batang leher<BR>Beng San dengan cepat dan kuat.<BR>"Beng San....!!" Li Cu menjerit lagi dengan sekuat tenaga dan ia hampir<BR>pingsan melihat pedang itu menyambar leher kekasihnya.<BR>Beng San terjungkal dan tak bergerak. Akan tetapi lehernya tidak putus dan<BR>tidak ada setetes pun darah keluar. Kiranya tadi Beng Kui hanya menakutnakuti<BR>saja dan membalik pedangnya sehingga punggung pedangnya yang<BR>menghantam belakang kepala Beng San, bukan mata pedangnya. Pukulan ini<BR>keras sekali dan Beng San tersungkur, tak mampu bangun kembali. Ia merasa<BR>seperti melayang-layang dari tempat yang amat tinggi penuh bintang<BR>beraneka warna beterbangan di sekelilingnya. Ia jatuh terus ke bawah, makin<BR>lama makin cepat. Mula-mula melalui ruangan yang putih seperti salju, lalu<BR>ruangan merah seperti darah, Kemudian setelah melalui beberapa ruangan<BR>yang beraneka warna ia tidak melihat apa-apa lagi. Hanya perasaannya masih<BR>menyatakan bahwa ia terus melayang-layang ke bawah. Telinganya<BR>mendengar suara yang mengerikan, mengiang-ngiang dan mendengungdengung,<BR>kadang-kadang rendah, lalu disusul suara ketawa terbahak-bahak<BR>yang bergema di sekelilingnya, disusul suara tangis yang memilukan!<BR>Apakah aku sudah mati? Di mana aku berada? Bukan aku yang mati,<BR>melainkan Bi Goat! Ah, Bi Goat sudah mati dan ia mengunjungi kuburannya. Bi<BR>Goat isterinya yang tercinta, telah mati. Apakah aku juga sudah menyusulnya<BR>dan sekarang terseret?<BR>"Bi Goat... Bi Goat...." Ia mencoba untuk memanggil, namun tidak terdengar<BR>suaranya.<BR>"Beng San....!!" Teriakan ini seperti terdengar dari tempat yang amat jauh dan<BR>Beng San merasa seakan-akan ia berhenti melayang. Tahu-tahu ia merasa<BR>telah berada di atas bumi. Mimpikah aku? Siapa yang memanggilku tadi?<BR>Apakah Bi Goat? Ia merasa kini bahwa tubuhnya sedang rebah tertelungkup.<BR>Ah, tentu ia mimpi, tapi....<BR>"Beng San....!!" Makin keras panggilan ini, suara wanita dan jerit itu menyayat<BR>hati benar. Ia membuka mata. Benar saja, ia sedang rebah tertelungkup. Akan<BR>tetapi mengapa di atas lantai? Kedua kakinya sakit dan lehernya juga sakit. Ia<BR>menoleh ke atas. Apa yang dilihatnya membuat ia bengong dan terbelalak.<BR>Gilakah dia? Kenapa dia melihat semua ini? Ia melihat Beng Kui kakaknya dan<BR>LiCu yang tidak dapat bergerak di atas dipan dan Beng Kui yang berdiri di<BR>dekat dipan sambil tertawa-tawa. "Beng San...!!" Kembali Li Cu memekik dan<BR>kembali Beng Kui tertawa,<BR>"Ha-ha-ha, kau boleh seribu kali memanggilnya. Dia tak dapat bangun lagi,<BR>anjlng lemah itu. Ha-ha, Li Cu, benar-benar aku masih hampir tak dapat<BR>percaya kalau kau dapat jatuh cinta kepada orang gila!"<BR>Beng Kui, kenapa kau begini kejam? Apakah kau hendak membunuh adik<BR>kandungmu sendiri? Apakah kesalahannya? Kalau begitu, kau bunuh aku juga,<BR>Beng kui."<BR>"Tidak, kau takkan kubunuh. Sayang kecantikanmu. Aku masih cinta<BR>kepadamu, Li Cu. Dan kau, mau tidak mau, harus menemaniku di dalam hutan<BR>ini."<BR>"Tidak! Aku lebih baik mati! Beng Kui ingatlah. Aku... aku hanya cinta kepada<BR>Beng San. Aku mau mati atau tidak bersama dia. Kalau kau sudah<BR>membunuhnya, kaubunuhlah aku. Kalau kaulakukan itu, aku bersumpah<BR>takkan menaruh dendam kepadamu. Bunuhlah aku." Li Cu terisak-isak<BR>menangis.<BR>"Benar-benar aneh kau ini, Li Cu. Beng San sudah gila, dia selain gila juga<BR>menjadi orang lemah. Kau dianggapnya isterinya yang bernama Bi Goat, yang<BR>sudah mati. Terang bahwa ia tidak mencintamu sebagai Li Cu, melainkan<BR>mencintamu sebagai Bi Goat. Kenapa kau bisa membalas cinta kasih orang gila<BR>macam itu? Aku belum membunuhnya, Li Cu. Akan tetapi, kalau kau dengan<BR>suka rela mau menjadi isteriku, aku akan bebaskan dia. Sebaliknya, kalau kau<BR>tetap keras kepala, aku akan membunuhnya setelah menyiksanya seperti<BR>anjing gila, dan kau tetap akan kujadikan isteriku!"<BR>Sepasang mata Li Cu terbelalak lebar dan kemarahahnya tak dapat ditahannya<BR>lagi. "Keparat, kau! Iblis kau! Tuhan akan mengutukmu, jahanam!"<BR>"Ha-ha-ha, kau hendak mengamuk lagi? Ha-ha, Li Cu, mati hidupmu di<BR>tanganku, tahu?"<BR>"Aku tidak takut! Kau iblis bermuka manusia. Terkutuklah kau!"<BR>"Ha-ha-ha, makin manis saja kalau kau marah-marah." Pedangnya bergerak<BR>perlahan dan "brettt!" sekarang pakaian dalam yang menempel di tubuh Li Cu<BR>robek pula oleh ujung pedang. Li Cu menjerit ngeri dan menutupkan matanya<BR>yang penuh air mata. Akan tetapi apa dayanya? Tubuhnya tak mampu<BR>bergerak. Tiba-tiba tubuh Beng Kui terlempar ke belakang, menimpa meja<BR>yang tadi ia pakai makan minum sampai meja itu patah-patah kakinya! Kaget<BR>bukan main Beng Kui yang tadi merasa seakan-akan tubuhnya bisa terbang<BR>melayang begitu saja. Cepat ia meloncat bangun sambil mempersiapkan<BR>pedang yang masih terpegang olehnya. Ketika ia membalikkan tubuh<BR>memandang, matanya terbelalak lebar seakan-akan hendak meloncat keluar<BR>dari tempatnya. Ia melihat Beng San sudah berdiri di depannya dengan<BR>sepasang.mata yang bersinar-sinar penuh api kemarahan, dan sepasang mata<BR>itu sekarang bercahaya ganjil dan menyeramkan seperti dahulu!<BR>Ia masih belum mau percaya kalau , Beng San yang tadi melemparkannya.<BR>Tak mungkin! Bukankah tadi setelah ia hantam belakang kepala Beng San<BR>dengan punggung pedangnya, adiknya itu roboh dan pingsan? Tentu saja<BR>manusia yang sudah mabok kemenangan dan mabok pangkat ini tidak sadar<BR>bahwa di dunia ini kekuasaan manusia sama sekali tidak ada artinya kalau<BR>dibandingkan dengan kekuasaan Tuhan. Manusia yang merasa dirinya<BR>menang, yang merasa dirinya kuat sendiri, yang merasa dirinya benar sendiri,<BR>menyatakan bahwa manusia seperti ini adalah manusia yang berjiwa rendah.<BR>Atau setidaknya, pada saat itu hati nuraninya dikuasai oleh iblis. Segala<BR>kemenangan, kekuatan dan kebenaran seluruhnya terletak di tangan Tuhan<BR>Yang Maha Kuasa. Merupakan rahmat-Nya bagi manusia. Oleh karena itu,<BR>segala rahmat dari Tuhan harus dipersembahkan kemudian kepada-Nya<BR>dengan jalan mengakui dengan segala kerendahan hati bahwa sanya<BR>kesemuanya itu datang dari pada-Nya. Pengakuan yang tulus akan hal ini akan<BR>menjauhkan manusia dari mabok kemenangan serta kekuasaan.<BR>Pada saat punggung pedang di tangan Beng Kui tadi menghantam belakang<BR>kepala Beng San, Tuhan memperlihatkan kekuasaan-Nya. Hantaman itu tepat<BR>mengenai jalan darah yang menjurus ke kepala, menggetarkan urat saraf di<BR>kepala Beng San yang terganggu ketika dia dahulu terpukul oleh kedukaan<BR>karena kematian isterinya. Bagaikan air yang mengalir kembali setelah<BR>bendungannya dibuka, ingatan Beng San kembali perlahan-lahan dan semua<BR>ini ditambah oleh pendengarannya ketika Beng Kui dan Li Cu berdebat.<BR>Terbukalah semua ingatan dan pengertiannya dan sekaligus membuat ia<BR>marah bukan main. Baiknya ia dapat cepat sadar kembali dan dapat mencegah<BR>sebelum Beng Kui melakukan perbuatan yang lebih biadab lagi.<BR>"Beng San....!" Li Cu berseru lirih, namun di dalam seruan lirih.ini terkandung<BR>jerit yang memecahkan kesunyian angkasa, penuh kekagetan, penuh<BR>keheranan, penuh gairah dan harapan.<BR>Beng San melirik ke arah Li Cu, akan tetapi cepat-cepat ia membuang muka<BR>ketika melihat keadaan nona itu yang tubuhnya bagian atas tidak tertutup lagi<BR>baik-baik karena bajunya yang koyak-koyak lebar itu. Tanpa banyak cakap ia<BR>lalu meloloskan bajunya sendiri dan melemparkan bajunya ini di atas tubuh Li<BR>Cu yang tidak tertutup. Barulah ia berani berpaling. Mereka berpandangan<BR>sejenak, keduanya dengan mata berlinang air mata. Beng San sudah tahu<BR>semua ketika tadi ia mendengar percakapan antara Li Cu dan Beng Kui.<BR>"Nona, biarlah kubebaskan kau dari totokan...."<BR>"Beng San, awas!" teriak Li Cu.<BR>Beng San dengan tenang tapi cepat menggeser kakinya dan tangannya<BR>bergerak ke kiri Pedang Liong-cu-kiam menyambar lewat di pinggir kepalanya.<BR>"Beng Kui, kau benar-benar tak tahu diri...." ia mencela sambil melompat ke<BR>tengah ruangan, terpaksa belum dapat membuka totokan atas diri Li Cu.<BR>Namun kemarahan Beng Kui sudah memuncak. Sepasang matanya menjadi<BR>merah dan berputar-putar liar.<BR>"Kau orang gila banyak tingkah... mampuslah!" bentaknya dan pedangnya<BR>kembali menyambar-nyambar. Banyak orang bilang bahwa orang gila<BR>menganggap diri sendiri waras dan menganggap orang waras sebagai orang<BR>gila. Kiranya keadaan Beng Kui cocok dengan pendapat ini. Dia memaki gila<BR>akan tetapi dia sendirilah yang mengamuk seperti orang gila. Pedangnya<BR>mengeluarkan suara dan berubah menjadi segulung sinar panjang yang<BR>melayang-layang dan menyambar-nyambar hebat ke arah Beng San. Namun,<BR>sekaligus Beng San sudah mendapatkan kembali semua kepandaiannya yang<BR>memang tak pernah hilang, hanya "terlupa" oleh ingatannya. Secara otomatis<BR>kakinya bergerak-gerak dan semua serangan pedang itu dapat ia hindarkan<BR>dengan amat mudahnya.<BR>"Beng Kui, kau orang tua yang tidak mau dihormati adiknya. Sekali lagi<BR>sekarang aku beri kesempatan kepadamu untuk pergi dari sini dengan aman.<BR>Pergilah tapi tinggalkan Liong-cu-kiam."<BR>"Jangan banyak cakap!" Beng Kui malah memaki dan pedangnya terus<BR>menyerang. Tiga kali Beng San minta kepada kakaknya untuk pergi dengan<BR>aman, namun jawabannya selalu serangan maut yang ditujukan kepadanya<BR>secara nekat. "Kau memang keras kepala!" seru Beng San kemudian. Pada<BR>saat itu pedang di tangan Beng Kui menusuk dadanya. Beng San tiba-tiba<BR>menggunakan gerakan merendahkan tubuh, kemudian dari bawah tangannya<BR>bergerak ke atas, yang kanan merampas gagang pedang yang kiri memukul<BR>dengan pukulan Pek-in Hoat-sut. Hawa pukulan yang mengandung uap putih<BR>itu melumpuhkan seluruh tenaga Beng Kui dan dengan mudah pedang di<BR>tangannya berpindah tempat! Ia masih hendak menerjang dengan tangan<BR>kosong, namun kaki kiri Beng San menendangnya sehingga ia tepental keluar<BR>ruangan itu dan bergulingan sampai jauh.<BR>Beberapa orang anak buah Beng Kui menyerbu ke dalam. "Pergilah kalian!"<BR>seruan Beng San ini demikian berpengaruh, apalagi disertai dorongan tangan<BR>kiri ke depan yang membuat tiga orang sekaligus terjengkang tanpa tersentuh<BR>tubuhnya, sehingga merekat semua menjadi kaget dan jerih. Pada saat itu,<BR>terdengar hiruk pikuk di luar dan terdengar suara banyak orang berlari-lari<BR>pergi meninggalkan tempat itu, seakan-akan takut menghadapi sesuatu yang<BR>hebat.<BR>"Song-bun-kwi setan tua jangan ganggu orang-orang ini! Nona Kwa Hong,<BR>orang-orang ini adalah teman-teman Tan Beng Kui-enghiong, jangan ganggu!"<BR>Terdengar suara Hek-hwa Kui-bo.<BR>Beng San terheran-heran dan hanya berdiri di tengah ruangan itu, pedang<BR>Liong-cu-kiam di tangan celananya robek-robek dibagian yang ditendang Beng<BR>Kui tadi, sedangkan tubuhnya bagian atas telanjang karena bajunya tadi ia<BR>lemparkan kepada Li Cu. Ia kelihatan seperti seorang bajak sungai!<BR>Berturut-turut mereka meloncat masuk. Mula-mula Song-bun-kwi, disusul Kwa<BR>Hong dan kemudian sekali Hek-hwa Kui-bo. Tiga orang itu begitu memasuki<BR>ruangan berdiri tertegun seperti melihat setan di tengahari! Adapun Beng San<BR>begitu , melihat Song-bun-kwi, segera menjura dengan hormat dan berkata,<BR>"Gak-hu (Ayah Mertua)...."<BR>Song-bun-kwi masih mengira bahwa Beng San kehilangan kepandaiannya,<BR>maka ia membentak, "Aku bukan ayah mertuamu! Keparat, kau pembunuh<BR>anakku Bi Goat dan karenanya sekarang akan kupatahkan batang lehermu!" Ia<BR>menerjang ke depan. Tapi sinar hijau menyambar dan menghalangi gerakan<BR>kakek ini. Sinar itu tidak lain adalah panah-panah hijau dari Kwa Hong.<BR>"Perlahan dulu Song-bun-kwi!" Memang Kwa Hong tidak ingin melihat Beng<BR>San terbunuh oleh orang lain. Mati atau hidupnya Beng San dialah sendiri yang<BR>berhak memutuskan pikirnya.<BR>"Hong-moi kau juga di sini?" tegur Beng San dengan suara halus.<BR>Kwa Hong seketika menjadi pucat, apalagi ketika melihat pedang Liong-cukiam<BR>di tangan pemuda itu. "Kau...sudah ingatkah....?"<BR>"Bangsat, kau sudah membunuh anak perempuanku. Kalau kau sudah ingat,<BR>tentu kau takkan mungkir lagi!" Song-bun-kwi membentak sambil melangkah<BR>maju.<BR>Beng San tersenyum sedih, "Gak-hu, aku amat mencinta Bi Goat. Bagaimana<BR>aku dapat membunuhnya? Bi Goat meninggal karena berduka dan marah yang<BR>ditimbulkan oleh Hong-moi. Memang aku lama meninggalkan Bi Goat, akan<BR>tetapi hal itu adalah karena aku merasa amat berduka dan menyesal serta<BR>malu karena perbuatanku bersama Kwa Hong dahulu. Kemudian aku<BR>membantu orang-orang gagah melindungi Kaisar dari pengkhianatan beberapa<BR>orang, maka pulangku terlambat. Aku menyesal sekali, Gak-hu, tapi<BR>sesungguhnya bukan aku yang menyebabkan kematian isteriku. Dia tahu<BR>bahwa aku mencintanya. Tapi Tuhan lebih kuasa dari segala di dunia ini...."<BR>Beng San nampak sangat berduka.<BR>"Keparat, kau bisa saja memutar omongan. Isteri melahirkan anak sampai<BR>mati tapi kau sebagai suami tidak menjaganya!" "Ah, Gak-hu. Memang aku<BR>merasa berdosa besar. Sekarang di manakah anakku itu, Gak-hu? Biarlah aku<BR>akan merawatnya penuh kasih sayang, sebagai pengganti Bi Goat dan...."<BR>"Tutup mulut! Kau laki-laki mata keranjang, kau laki-laki hina-dina, kau... kau<BR>sudah main gila dengan perempuan lain. Hemmm hendak menyangkal, kau?"<BR>Kakek ini menudingkan telunjuknya ke arah Li Cu yang masih rebah terselimut<BR>baju luar Beng San, rebah miring tak bergerak di atas dipan! Semua mata<BR>memandang dan Hek-hwa Kui-bo mengeluarkan suara ketawa genit penuh arti<BR>ketika meliht baju Beng San menyelimuti tubuh Li Cu. Wajah Li Cu sebentar<BR>pucat sebentar merah sekali. Namun Beng San tetap tenang.<BR>"Aku tidak main gila dengan siapapun juga. Mungkin karena kehilangan<BR>ingatan aku menjadi seperti gila dan syukurlah... berkat pertolongan Nona Cia<BR>yang berbudi mulia sampai sekarang aku masih terlindung. Gak-hu,<BR>kauberikanlah puteraku."<BR>"Putera apa? Pedang inilah yang akan menghabisi nyawamu!"<BR>"Nanti dulu, Song-bun-kwi. Aku pun hendak bicara dengan Beng San!" Kwa<BR>Hong menghadang di depan dan terpaksa Song-bun-kwi menunda<BR>penyerangannya Kwa Hong kini menghadapi Beng San. Orang muda itu<BR>menjadi agak pucat. Baginya jauh lebih berat menghadapi Kwa Hong daripada<BR>menghadapi musuh yang manapun juga.<BR>"Adik Hong, apakah selama ini kau baik-baik saja?" tanyanya, suaranya halus<BR>sewajarnya karena di lubuk hatinya orang muda ini benar-benar merasa<BR>kasihan sekali kepada gadis itu.<BR>Tersedu kerongkongan Kwa Hong mendengar pertanyaan yang halus ini. Akan<BR>tetapi ia segera menjawab, "Baik-baik saja, San-ko, aku sengaja mencarimu<BR>dan syukurlah kalau kau hendak sembuh kembali. Marilah kauikut dengan aku,<BR>San-ko. Mari kita pelihara anak kita baik-baik. Tentang musuh-musuhmu ini,<BR>jangan kuatir, San-ko, Hong-moimu ini sanggup membunuh mereka seperti<BR>orang membunuh anjing!" Setelah berkata demikian, Kwa Hong tertawa, suara<BR>ketawanya melengking menyeramkan sekali.<BR>Ucapan terakhir dan suara ketawa Kwa Hong itu menusuk jantung Beng San,<BR>karena ia maklum bahwa Kwa Hong sekarang sudah bukan Kwa Hong yang<BR>dulu lagi. Wajahnya jelas membayangkan watak yang sombong, kejam, dan<BR>tidak wajar.<BR>"Hong-moi, kau tahu bahwa tak mungkin aku memenuhi permintaanmu ini.<BR>Kau dan aku telah melakukan perbuatan terkutuk, itu memang benar. Akan<BR>tetapi hal itu terjadi di luar kesadaran kita, Hong-moi. Tentang anak itu kau<BR>sendiri hendak mendidiknya syukurlah. Kalau kau keberatan, boleh kauberikan<BR>kepadaku karena juga menjadi tanggung jawabku."<BR>"Kau... kau...! Kwa Hong tak dapat melanjutkan kata-katanya karena ia sudah<BR>menangis terisak-isak. Hatinya sedih bukan kepalang. tadinya ia<BR>mengharapkan akan dapat membawa Beng San dengan secara paksa karena<BR>Beng San sudah kehilangan kepandaiannya dan ia sanggup merampas Beng<BR>San dari tangan siapapun juga. Akan tetapi sekarang Beng San kelihatannya<BR>sudah sembuh kembali, bagaimana mungkin?<BR>"Beng San, katakan di mana adanya Beng Kui? Pedangnya kaupegang, kau<BR>apakan dia?"<BR>"Dia sudah pergi..." jawab Beng San acuh tak acuh, kemudian ia menoleh ke<BR>arah Li Cu dan berkata "Nona Cia, agaknya lebih baik kita segera pergi dari<BR>tempat ini. Tapi aku harus membebaskan kau dari totokan lebih dulu..." ia<BR>melangkah maju, tapi sebelum ia sempat meyembuhkan Li Cu, tiga bayangan<BR>orang berkelebat dan angin-angin pukulan dahsyat, datang menyambar dari<BR>tiga jurusan disusul berkelebatnya senjata-senjata tajam! Beng san maklum<BR>bahwa tiga orang sakti itu "sudah turun tangan". Ia menarik napas panjang<BR>dengan sedih, akan tetapi tubuhnya bergerak didahului sinar pedang Liong-cukiam<BR>tangannya.<BR>bagian 34<BR>Tiga orang itu menyerang dengan sungguh-sungguh, mengerahkan seluruh<BR>kepandaian mereka. Namun Beng San sekarang memegang Liong-cu-kiam<BR>panjang. Kalau ia boleh diumpamakan seekor harimau, sekarang harimau itu<BR>tumbuh sayap dan pandai terbang. Memang ilmu silatnya yang paling hebat<BR>adalah ilmu Im-yang Sin-kiam-sut, sekarang ilnu pedang ini dimainkan dengan<BR>sebatang pedang seperti Liong-cu-kiam yang panjang, sudah tentu hebatnya<BR>bukan kepalang. Tiga orang itu, biarpun masing-masing memiliki kepandaian<BR>luar biasa, namun menghadapi Beng San mereka tak dapat berdaya banyak,<BR>seakan-akan menghadapi benteng baja yang tidak saja sukar tembus, malah<BR>dari dalam benteng menyambar ujung-ujung pedang runcing dan ampuh,<BR>setiap saat mengancam nyawa mereka.<BR>Beng San bukanlah orang yang suka membunuh orang. Sebetulnya dia<BR>menpunyai watak yang pantang membunuh orang. Apalagi sekarang yang ia<BR>hadapi adalah orang-orang yang sedikit banyak sudah ada hubungan<BR>dengannya, yang sudah dikenalnya baik. Tak mungkin ia mau membunuh<BR>mereka.<BR>Kelihaiannya bermain pedang memungkinkannya menggoreskan luka ringan<BR>pada pundak Hek-hwa Kui-bo dan Song-bun-kwi. Dua orang tua ini menjadi<BR>malu dan jerih. Sambil mengeluh mereka berturut-turut lalu melompat pergi<BR>meninggalkan tempat itu. Kwa Hong yang seorang diri menghadapi Beng San,<BR>tadinya menjadi nekat. Pedang Hoa-san Po-kiam di tangan kiri sedangkan di<BR>tangan kanannya memegang pedang Liong-cu-kiam yang pendek. Permainan<BR>pedangnya hebat dan liar, dahsyat bukan main sehingga diam-diam Beng San<BR>terkejut juga. Namun ilmu pedang itu dimainkan dengan cara yang masih<BR>mentah.<BR>Lebih-lebih terhadap Kwa Hong, Beng San, sama sekali tidak mau melukainya.<BR>Setelah ia menindih pedang Hoa-san Po-kiam dengan pedangnya sendiri,<BR>tangan bergerak mencengkeram ke depan dan di lain saat pedang Liong-cukiam<BR>yang pendek telah berpindah ke tangan kirinya.<BR>"Kembalikan pedang itu!" teriak Kwa Hong sambil menangis.<BR>"Yang ini bukan pedangmu, Hong-moi. Tak boleh kau merampasnya," jawab<BR>Beng San.<BR>Dengan pekik panjang Kwa Hong memanggil burungnya. Terdengar suara<BR>genteng hancur berantakan, langit-langit di atas ruangan itu tiba-tiba menjadi<BR>rusak dan berlubang besar di mana menerobos masuk seekor burung rajawali<BR>emas. Beng San pernah melihat burung ini dan kembali ia menjadi kagum<BR>bukan main. Kwa Hong terisak lalu meloncat ke punggung burung, kemudian<BR>burung itu terbang menerobos melalui pintu depan dan sebentar saja<BR>menghilang dari situ. Sampai beberapa lama Beng San berdiri bengong.<BR>Pedang Liong-cu-kiam berada di kedua tangannya. Kemudian ia membalikkan<BR>tubuh menghampiri Li Cu yang masih rebah tak bergerak dan tadi menonton<BR>semua itu dengan hati terharu. Ternyata bahwa pengorbanannya terhadap diri<BR>Beng San tidak sia-sia. Buktinya baru saja sembuh Beng San lagi-lagi telah<BR>melindungi dan membebaskannya dari ancaman bahaya maut.<BR>"Nona Cia, maafkan kelancanganku!" kata Beng San. Tangannya bergerak<BR>cepat menotok dua jalan darah di tubuh Li Cu, lalu mengurut punggungnya<BR>sebentar. Setelah itu ia membalikkan tubuh dan berkata,<BR>"Nona, setelah kau dapat bergerak, harap bajuku itu kaupakai dulu."<BR>Li Cu menjadi merah mukanya. Ia bergerak perlahan, tubuhnya masih sakit<BR>semua rasanya. Ketika ia bangun, baju yang menyelimuti tubuhnya itu jatuh<BR>dan cepat-cepat ia menutupi dadanya. Akan tetapi usahanya Ini sebetulnya tak<BR>perlu karena Beng San berdiri membelakanginya. Karena terpaksa dan tak<BR>mungkin hanya memakai bajunya yang sudah dikoyak-koyak pedang Beng Kui<BR>tadi, ia mengenakan baju Beng San yang terlalu besar itu. Setelah selesai, ia<BR>berkata,<BR>"Kenapa... kau tidak membunuh mereka?" ,<BR>"Membunuh siapa?" tanya Beng San tanpa menoleh.<BR>"Beng Kui jahanam itu...."<BR>"Dia itu jelek-jelek kakak kandungku, bagaimana aku tega membunuhnya?"<BR>jawab Beng San cepat.<BR>"Hek-hwa Kui-bo yang pernah melukaiku dengan racun dan hampir<BR>membunuhku...." desak pula Li Cu yang merasa penasaran mengapa semua<BR>orang yang jahat itu dibiarkan pergi oleh Beng San.<BR>"Dia itu dahulu pernah menurunkan ilmu silat kepadaku, secara tidak resmi dia<BR>adalah guruku pula. Bagaimana aku dapat membunuhnya? Dan pula, Nona,<BR>bukankah kau selamat terhindar dari racunnya itu?" Jantung Beng San<BR>berdebar ketika ia teringat cara ia menolong gadis itu dari pengaruh racun di<BR>paru-parunya!<BR>Di belakangnya, wajah Li Cu juga tiba-tiba menjadi merah. Gadis ini merasa<BR>heran bukan kepalang. Hampir dua tahun ia merawat Beng San, otomatis ia<BR>sudah merasa menjadi isteri Beng San biarpun hanya dalam sebutan. Akan<BR>tetapi kenapa sekarang ia menjadi begini canggung, sungkan dan malu-malu<BR>kepada Beng San? Diam-diam rasa kuatir dan gelisah menggerogoti hatinya.<BR>Beng San yang kehilangan ingatannya, mau saja hidup di sampingnya, malah<BR>menganggap dia sebagai isterinya yang bernama Bi Goat. Akan tetapi setelah<BR>sekarang sadar dan mendapatkan kembali ingatannya, apakah masih mau<BR>hidup seperti itu? Apakah ini bukan berarti saat perpisahan?<BR>"Kwa Hong itu... kenapa tidak kau-bunuh....?" Ia berusaha menekan hatinya<BR>dengan melanjutkan pertanyaan ini.<BR>"Tak mungkin, Nona. Dia itu... secara tidak sadar... telah menjadi ibu<BR>anakku... perbuatan terkutuk di luar kesadaran kami berdua... dia sudah amat<BR>menderita... karena aku, mana bisa aku membunuhnya? Biarpun dia akan<BR>membunuhku, agaknya aku tetap akan mengalah...."<BR>"Hemm...." suara Li Cu terdengar kaku dan kalau Beng San melihat sinar<BR>matanya ia akan tahu-bahwa gadis itu marah! "Dan Song-bun-kwi,...?"<BR>"Apalagi dia. Dia itu ayah mertuaku, sama juga dengan ayahku. Mana boleh<BR>aku membunuh ayah Bi Goat?"<BR>Sudah jelas! Beng San sekarang sudah kembali ingatannya. Beng San yang<BR>terlalu mencinta isterinya, Bi Goat. Sampai-sampai mengorbankan Kwa Hong.<BR>Mana sudi hidup bersama dia? Teringat akan ini, tak tertahankan lagi Li Cu<BR>terisak menangis.<BR>Beng San cepat membalikkan tubuh. "Eh, kenapa kau menangis, Nona?" Suara<BR>ini mengandung penuh perhatian sehingga tangis Li Cu makin menghebat.<BR>Beng San sampai menjadi bingung, lalu menyerahkan pedang Liong-cu-kiam<BR>pendek.<BR>"Ini... ini pedangmu... jangan kau menangis...."<BR>Li Cu menerima pedang tanpa berkata apa-apa.<BR>"Nona Cia, setelah semua pertanyaanmu kujawab, kenapa kau menangis?"<BR>Beng San bertanya, matanya yang tajam memandang penuh selidik.<BR>Li Cu yang sekarang menjadi gugup. Tentu saja ia tidak sudi menyatakan isi<BR>hatinya. Ia mencari alasan dan pada saat itu ia teringat akan ayahnya.<BR>Wajahnya menjadi pucat dan serentak ia meloncat sampai Beng San menjadi<BR>kaget.<BR>"Celaka! Ayahku....! Mereka tadi mengeroyoknya... tak mungkin bisa sampai<BR>ke sini kalau tidak... ah, Ayah....!" Li Cu menjerit lalu melompat keluar dan<BR>berlari cepat sekali. Beng San baru saja kembali ingatannya, maka yang<BR>diketahui olehnya hanyalah semenjak saat ia sembuh tadi. Sebelum itu gelap<BR>baginya maka ia tidak ingat betapa Bu-tek Kiam-ong untuk melindunginya<BR>telah dikeroyok oleh tiga orang tokoh sakti tadi. Meiihat Li Cu yang berlari-lari<BR>sambil menjerit memanggil-manggil ayahnya dan menangis, ia pun ikut pula<BR>berlari dan sebentar saja ia dapat menyusul gadis itu, lalu lari di sebelahnya<BR>tanpa banyak bertanya.<BR>Setibanya di puncak Gunung Thai-san, dua orang muda ini melihat betapa<BR>penduduk perkampungan di kaki gunung sedang sibuk mengurus dan<BR>menangisi jenazah Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan!<BR>"Ayaaaahhh....!!" Li Cu menubruk mayat ayahnya dan roboh pingsan.<BR>Li Cu jatuh sakit. Demam panas menyerang tubuhnya setelah berkali-kali ia<BR>pingsan. Sampai sepekan ia rebah di pembaringan dalam keadaan setengah<BR>sadar.<BR>Selama itu Beng San merawat dan melayaninya dengan penuh perhatian. Beng<BR>San mengalami hal-hal aneh ketika ia berhadapan derigan para penduduk<BR>yang dulu membantu Cia Hui Gan merampungkan rencana tempat tinggalnya.<BR>Mereka itu menyebutnya "tuan muda" yang dianggapnya sebagai suami dari<BR>"nyonya muda" yang sekarang sakit. Kemudian, setelah mereka semua<BR>menyatakan kegembiraan hati bahwa nyonya muda dan suaminya dapat<BR>kembali dengan selamat, mereka menyatakan kegirangan pula bahwa tuan<BR>muda sudah sembuh dari sakitnya lupa ingatan. Mereka pulalah yang<BR>menceritakan tentang pertempuran itu sehingga terbuka mata Beng San akan<BR>segala yang telah terjadi kepada dirinya selama hampir dua tahun ini. Tahulah<BR>ia bahwa ia sebagai seorang gila menganggap Li Cu sebagai isterinya, sebagai<BR>Bi Goat dan betapa selama hampir dua tahun ini Li Cu merawatnya penuh<BR>kecintaan. Juga ia tahu sekarang bahwa Cia Hui Gan tewas dalam membela<BR>dia!<BR>Semua ini ditambah lagi dengan keadaan Li Cu yang mengigau ketika demam<BR>panas menyerangnya. Li Cu mengigau tentang masa lalu, tentang cinta<BR>kasihnya kepada Beng San. Semua ini membuat Beng San demikian terharu<BR>sehingga ia menitikkan air mata ketika duduk di pinggir pembaringan gadis itu.<BR>Dengan amat tekun ia merawat Li Cu dan siang malam tidak pernah<BR>meninggalkan kamar itu.<BR>Sembilan hari kemudian demam meninggalkan tubuh Li Cu dan gadis ini pada<BR>pagi hari itu sadar. Dilihatnya Beng San duduk di kursi tertidur! Namun suara<BR>gerakan Li Cu cukup untuk membangun-kannya. Mereka berpandangan<BR>sejenak.<BR>"Kau... kau masih di sini....?"<BR>"Di mana lagi kalau tidak di sini....?" jawab Beng San halus, sinar matanya<BR>gembira sekali.<BR>"Ayah... bagaimana....?" Matanya meragu dan ia memandang ke arah pintu<BR>kamarnya, agaknya ingin menjenguk keluar.<BR>"Sudah beres, sudah kuurus pemakamannya."<BR>Li Cu menarik napas panjang, hatinya menjerit-jerit namun air matanya sudah<BR>kering. "Berapa lama aku rebah di sini...?"<BR>"Kau terserang demam, Nona. Sembilan hari sembilan malam kau dalam<BR>keadaan tidak sadar. Karena itulah aku lancang mewakilimu mengurus<BR>pemakaman ayahmu."<BR>Li Cu bergerak hendak duduk. Melihat kelemahan gadis itu, Beng San cepat<BR>membantunya. Ia merasa kasihan sekali dan cepat ia menghibur, "Harap<BR>kaukuatkan hatimu. Nona. Ingatlah bahwa mati hidup seorang manusia berada<BR>di tangan Tuhan. Apabila Tuhan menghendaki kematian seseorang, ada saja<BR>yang menjadi lantarannya. Ayahmu tewas sebagai seorang gagah perkasa,<BR>mati dikeroyok tokoh-tokoh besar dalam melindungi... aku yang tak<BR>berharga...."<BR>"Tidak! Bukan melindungi kau, melainkan membela aku!" Cepat Li Cu<BR>membantah.<BR>"Apa bedanya, Nona? Membela engkau karena kau berusaha melindungi aku."<BR>"Kau merawatku terus-menerus selama aku sakit?" cepat Li Cu memotong<BR>omongan Beng San, mukanya yang tadinya pucat menjadi agak merah.<BR>Beng San mengangguk dan memandang dengan mata penuh perasaan. "Nona<BR>Cia, apa artinya perawatan sembilan hari kalau dibandingkan dengan<BR>perawatanmu selama hampir dua tahun? Kau amat mulia, kau<BR>mengorbankan...."<BR>"Kau dalam sakit, kau kehilangan ingatan!" Li Cu cepat memotong, mukanya<BR>kini menjadi merah sekali. "Siapa lagi kalau bukan aku yang akan<BR>merawatmu? Kaupun sudah beberapa kali menyelamatkan nyawaku, sudah<BR>sepatutnya aku membalas kebaikanmu."<BR>Dengan keras kepala Beng San melanjutkan setelah menggeleng kepala untuk<BR>menyangkal alasan Li Cu yang lemah itu. "Kau mengorbankan dirimu,<BR>mengorbankan nama baik ayahmu. Dalam gilaku aku menganggap kau<BR>isteriku, menganggap kau Bi Goat. Namun... kau menerima semua itu, kau<BR>malah memaksa ayahmu membawaku ke sini mengorbankan segalanya untuk<BR>aku, malah berusaha membuat tempat perlindungan yang aman untukku. Li<BR>Cu... Nona Cia... mengapa kaulakukan semua itu?"<BR>Li Cu menunduk, menyembunyikan mukanya di belakang bantal yang<BR>diangkatnya. Suaranya terdengar lirih bertanya, "Semua itu bohong. Kau yang<BR>kehilangan ingatan bagaimana kau bisa tahu itu semua? Bohong...."<BR>"Aku mendengar percakapanmu dengan Beng Kui pada saat aku sadar.<BR>Kemudian aku mendengar penuturan saudara-saudara yang berada di sini, dan<BR>ketika kau sakit, kau mengigau...."<BR>Cepat bantal itu diturunkan dan sepasang mata itu memandangnya penuh<BR>pertanyaan. Wajah itu merah dan tidak tampak lagi bahwa gadis ini habis sakit<BR>kecuali tubuhnya yang agak kurus itu.<BR>"Beng San...." terhenti kata-kata Li Cu ketika ia teringat betapa janggal<BR>panggilan ini yang begitu saja keluar dari bibirnya dengan suara mesra.<BR>"Ya....? Kau hendak bilang apakah, Nona....?"<BR>Makin gugup Li Cu. Biasanya, ketika belum sembuh, Beng San selalu<BR>menyebutnya "isteriku" sehingga ia sudah biasa benar dengan sebutan itu.<BR>Sekarang, orang yang telah ia anggap sebagai suaminya dalam batin itu,<BR>menyebutnya nona!<BR>"... andaikata benar semua itu..., tapi waktu itu keadaanmu dalam lupa<BR>ingatan. Kau mau tinggal di sini karena... karena kau mengira bahwa aku Bi<BR>Goat. kau mengira bahwa aku isterimu yang sudah meninggal dunia itu...." ia<BR>berhenti lagi.<BR>"Betul, Nona. Lalu bagaimana?" Beng San bertanya tenang dan sabar,<BR>".... sekarang kau sudah sembuh..., kau sudah mendapatkan kembali<BR>ingatanmu... kau tahu bahwa aku bukan isterimu Bi Goat... kau tahu bahwa<BR>aku hanya seorang gadis yatim piatu sebatang kara..." Sampai di sini ia terisak<BR>dan menutup mukanya dengan bantal. Beng San tidak berkata apa-apa hanya<BR>menanti dengan sabar.<BR>".... aku... aku bukan apa-apamu... tak berhak menahanmu... kau tentu akan<BR>pergi dari sini." Tiba-tiba ia menurunkan bantalnya dan dengan mata basah ia<BR>bertanya, "Mengapa kau masih belum juga pergi dari sini? Aku bukan Bi Goat!"<BR>Wajah Beng San tiba-tiba menjadi pucat dan matanya membayangkan<BR>kegelisahan besar. "Tapi... tapi kau... isteriku..."<BR>Li Cu menggigit bibirnya, bukan main jengahnya. Ia merasa malu sekali kalau<BR>teringat akan semua perbuatannya itu. Tapi ia harus rnembela diri, tak<BR>mungkin ia mengaku begitu saja bahwa ia mencinta Beng San. Ia harus<BR>mencari alasan mengapa ia berbuat demikian, untuk membela diri.<BR>"Isterimu adalah Bi Goat...."<BR>"Tapi..... bukankah hampir dua tahun kau mengaku sebagai isteriku....?"<BR>Li Cu membuang muka. "Karena kau menganggap aku Bi Goat. Aku harus<BR>merawatmu dan karenanya tiada lain jalan kecuali membiarkan kau<BR>menganggap aku isterimu Bi Goat. Sekarang kau sudah sembuh, sudah sadar<BR>dan ingat bahwa aku bukanlah isterimu Bi Goat, bahwa aku bukan apa-apamu<BR>dan kau boleh pergi meninggalkanku sekarang juga!" Beng San merasa<BR>tubuhnya lemas, seakan-akan dilolos semua urat-urat dari tubuhnya.<BR>Jantungnya terasa ringan kosong, perasaannya hampa. Ah, mengapa aku tidak<BR>tahu diri, pikirnya. Sudah terang bahwa Li Cu Melakukan semua itu karena<BR>hanya hendak membalas budi pertolongannya karena kasihan, apa lagi? Tak<BR>mungkin gadis seperti Li Cu bisa cinta kepadanya, seorang laki-laki yang<BR>menjadi hina namanya karena urusannya dengan Kwa Hong, seorang duda<BR>yang sudah mempunyai anak. Dua malah anaknya, satu anak Kwa Hong, ke<BR>dua anak Bi Goat. Mana sudi Li Cu kepadanya?<BR>"...ah... maaf... maaf.... sungguh aku tak tahu diri...." bagaikan mimpi kedua<BR>kakinya bergerak menuju ke pintu kamar, dengan langkah limbung seperti<BR>orang mabuk arak ia keluar dari kamar itu. Jiwanya menjerit-jerit, musnah<BR>semua harapannya untuk dapat hidup mengenyam kebahagiaan. Hanya<BR>sekelumit harapan untuk hidup baru setelah ditinggal Bi Goat. Li Cu, Li Cu.....<BR>Jerit hatinya, tak kuat aku berpisah dari sisimu!<BR>Ia tidak melihat betapa dari atas pembaringan Li Cu memandangnya dengan<BR>wajah pucat pula dan sepasang mata itu mengucurkan air mata yang jatuh<BR>berderai membasahi kedua pipinya. Tak tahu ia betapa gadis itu turun<BR>perlahan-lahan dari pembaringan dan berjalan pula mengikutinya keluar dari<BR>kamar itu. Tak tahu pula betapa jiwa Li Cu menjerit-jerit minta ia kembali<BR>pula. Jeritan jiwa mengetar-getar penuh kekuatan gaib. Seakan-akan terasa<BR>oleh kedua orang muda itu. Dalam detik itu juga terjadilah peluapan rasa<BR>melalui bibir dan gerakan masing-masing. Pada saat itu pula Li Cu<BR>menjatuhkan diri berlutut. Berbareng pula jerit mereka keluar dari lubuk hati<BR>melalui bibir-bibir yang bergetar.<BR>"Li Cu, tak kuat aku berpisah dari sisimu....!"<BR>"Beng San, kembalilah Beng San....!" Keduanya terpaku kaget oleh suara<BR>masing-masing dan setelah pengertian mereka dapat menangkap apa yang<BR>diucapkan oleh yang lain, Beng San segera berlari maju dengan kedua lengan<BR>terbuka diterima oleh Li Cu dengan kedua lengan terbuka pula. Beng San<BR>menjatuhkan diri berlutut dan kedua orang itu saling berdekapan sambil<BR>berlutut, tak kuasa mengeluarkan suara kecuali isak dan sedu.<BR>Sunyi senyap saat itu, sunyi yang membahagiakan hati masing-masing yang<BR>merasa seakan-akan baru saja mereka mendapatkan kembali semangat<BR>mereka yang hampir hilang. Sampai lama mereka berpelukan tanpa<BR>mengeluarkan suara. Akhirnya terdengar Li Cu berkata tanpa mengangkat<BR>mukanya yang bersembunyi di dada Beng San.<BR>"Tapi... kau hanya mencinta Bi Goat..."<BR>"Itu dahulu, Li Cu. Setelah ia meninggal... kaulah orang yang<BR>menggantikannya... lebih daripada itu malah... kau mulia, setia, penuh<BR>pengorbanan. Ah... alangkah mulianya engkau... aku cinta kepadamu, Li Cu<BR>dan aku tidak kuat untuk berpisah dari sisimu."<BR>"Beng San...." Li Cu menangis penuh kebahagiaan dan keharuan.<BR>"Li Cu... cintakah kau kepadaku? Dan bersediakah kau menjadi isteriku?"<BR>"Masih perlukah kau bertanya, Beng San? Di waktu kau sakit dan hilang<BR>ingatan, aku sudah suka menjadi isterimu walaupun hanya sebutan belaka.<BR>Apalagi sekarang setelah engkau sembuh. Tentang cinta... belum pernah<BR>selama hidupku aku mencinta orang seperti cintaku kepadamu."<BR>"Li Cu, dewiku sayang...."<BR>Hening lagi sejenak dan keduanya terbenam dalam lautan madu, mabok oleh<BR>kemesraan asmara yang bergelora dalam hati masing-masing.<BR>"Beng San, orang bilang kau mata keranjang. Betulkah?"<BR>Beng San tersenyum ditahan. "Memang aku mata keranjang. Akan tetapi,<BR>bidadari dari kahyangan sekalipun belum tentu dapat menggerakkan hatiku.<BR>Hanya engkaulah yang membuat aku lupa segala, melihat engkau aku jadi<BR>mata keranjang! Ah, andaikata ada seribu engkau, aku akan sanggup untuk<BR>mencinta semua!"<BR>"Ah, kau memang mata keranjang!" tegur Li Cu manja.<BR>"Bertemu dengan seorang dewi seperti engkau, Li Cu, siapa orangnya takkan<BR>mencinta? Siapa orangnya takkan jatuh hati? Kau cantik jelita melebihi<BR>bidadari kahyangan, kau setia dan gagah perkasa, pendekar wanita sejati, kau<BR>berbudi mulia seperti Kwan Im, kau dewi pujaan hatiku, cinta kasihmu suci<BR>murni semoga<BR>aku dapat mengimbanginya...." Beng San merayu.<BR>"iihh, kau selain mata keranjang juga.... ceriwis!"<BR>bagian 35<BR>Hati siapa takkan ikut merasa bahagia menyaksikan kebahagiaan sepasang<BR>orang muda seperti Li Cu dan Beng San? Hati siapa takkan ikut merasa senang<BR>melihat orang lain bahagia? Hanya hati yang dikotori iblis iri cemburu jua yang<BR>tak tahan menyaksikan orang lain berbahagia. Untung, di dunia ini tak banyak<BR>orang demikian. Kita merasa berbahagia melihat orang lain seperti sepasang<BR>orang muda itu berbahagia dalam pertemuan dua hati menjadi satu, diikat dan<BR>dikekalkan oleh cinta kasih nan suci.<BR>Sayang, di samping mereka yang berbahagia oleh asmara, banyak pula yang<BR>sengsara oleh asmara yang sama. Memang asmara mendatangkan bahagia<BR>dan sengsara silih berganti, menimbulkan banyak cerita yang aneh-aneh. Beng<BR>San sendiri hampir saja binasa karena asmara kandas, baiknya ia bertemu<BR>dengan Li Cu dan sebaliknya malah menemukan kembali kebahagiaan hidup.<BR>Memang demikianlah hidup di dunia ini. Kebahagiaan duniawi takkan kekal,<BR>berubah-ubah dan hal yang demikian ini memang berlaku bagi segala benda,<BR>mati atau hidup, di dunia ini. Ada siang ada malam, ada dingin ada panas,<BR>adakalanya hujan adakalanya terang, adakalanya sengsara adakalanya<BR>bahagia. Kebahagiaan datang tak terduga-duga seperti halnya kebahagiaan<BR>Beng San. Demikian pula kesengsaraan datang tanpa disadari seperti halnya<BR>penderitaan Bi Goat yang telah tiada. Kenyataan ini merupakan pelajaran<BR>hidup yang amat penting, yaitu bahwa manusia tak perlu berputus asa di<BR>waktu menghadapi kegagalan, juga tidak semestinya bangga dan tidak mabok<BR>dikala mendapatkan kemenangan. Tidak membanjir di waktu pasang, tidak<BR>kering di waktu surut, seperti air laut yang tenang teguh sehingga dapat<BR>menerima perubahan keadaannya tanpa rnenderita kerusakan.<BR>Di antara sekian banyaknya orang yang sedang "surut" nasibnya, adalah Thio<BR>Ki. Telah diceritakan di depan betapa Thio Ki dan isterinya, Lee Giok, diserbu<BR>oleh Kim-thouw Thian-li yang dibantu oleh Hek-hwa Kui-bo dan Giam Kin<BR>sehingga akhirnya Lee Giok terculik oleh Siauw-coa-ong Giam Kin. Seperti kita<BR>ketahui, Thio Ki terbebas daripada kematian karena mendapat bantuan Li Cu<BR>dan kemudian Beng San dan atas permintaan Beng San, Thio Ki pergi ke Hoasan<BR>untuk berobat dan membereskan urusan Hoa-san-pai yang dikacau oleh<BR>Kwa Hong.<BR>Besarlah hati para tosu di Hoa-san-pai ketika mereka melihat munculnya Thio<BR>Ki, karena pada waktu itu Hoa-san-pai benar-benar sudah kacau-balau, tidak<BR>ada yang mengurusnya semenjak Lian Bu Tojin tewas di tangan Kwa Hong.<BR>Bukan main sedihnya hati Thio Ki ketika mendengar dari para tosu tentang<BR>nasib Lian Bu Tojin dan Hoa-san-pai. Ia merasa amat marah dan gemas<BR>kepada Kwa Hong, juga terheran-heran mengapa Kwa Hong sekarang berubah<BR>seperti iblis dan juga amat lihai?<BR>Para tosu tadinya hendak mengangkatnya sebagai Ketua Hoa-san-pai, namun<BR>Thio Ki menolak keras. "Mana bisa aku menjadi Ketua Hoa-san-pai?" teriaknya<BR>kaget. "Tingkatku di Hoa-san-pai amat rendah, pula aku masih muda. Banyak<BR>para susiok dan supek di sini, bagaimana aku berani mengangkat diri menjadi<BR>Ketua? Pula, orang dengan kepandaian seperti Sukong Lian Bu Tojin sendiri<BR>masih tidak kuat menjaga keselamatan Hoa-san-pai, apalagi orang seperti<BR>aku? Tidak, aku tidak berani menjadi ketua, akan tetapi aku sanggup untuk<BR>sementara berada di sini untuk mempertanggung-jawabkan Hoa-san-pai.<BR>Biarlah kita menanti sampai kembalinya Tan Beng San Tai-hiap, karena<BR>kiranya hanya dia yang akan dapat menolong kita."<BR>Akan tetapi sampai berbulan-bulan Thio Ki dan para tosu Hoa-san-pai menanti<BR>dengan sia-sia. Malah akhirnya dia minta bantuan para tosu yang disebarnya<BR>ke segenap penjuru untuk melakukan penyelidikan, kemudian dia sendiri lalu<BR>pergi mencari isterinya atau Beng San. Hasilnya juga nihil. Sama sekali Thio Ki<BR>tidak tahu apa yang terjadi atas diri isterinya, juga tidak tahu bahwa pada<BR>waktu itu Beng San sendiri juga menghadapi malapetaka yang hebat. Hatinya<BR>makin risau dan ia mendapat firasat tidak enak dalam hatinya bahwa isterinya<BR>tentu mengalami malapetaka besar. Ia berduka sekali, terutama kalau teringat<BR>bahwa isterinya itu sedang mengandung.<BR>Beberapa bulan kemudian pada suatu hari selagi Thio Ki berlatih silat<BR>membimbing para tosu di belakang kuil, tiba-tiba terdengar suara melengking<BR>aneh. Para tosu menjadi pucat mendengar ini. Mereka pernah dahulu<BR>mendengar suara ini, yaitu suara burung rajawali emas yang menjadi binatang<BR>tunggangan Kwa Hong. Bagaikan anak-anak kelinci takut mendengar auman<BR>harimau, mereka berlari ke belakang Thio Ki dengan wajah pucat dan tubuh<BR>gemetar, jantung berdebar keras. Thio Ki sendiri terkejut dan menengok ke<BR>atas di mana ia melihat seekor burung yang besar dan indah terbang<BR>berkeliling.<BR>"Eh, burung apakah itu? Besar sekali!" katanya.<BR>".... celaka... dia datang kembali....!" seorang tosu tua berkata.<BR>Seketika Thio Ki teringat akan cerita yang ia dengar tentang Kwa Hong dan<BR>rajawalinya, maka ia pun terkejut dan menanti penuh perhatian. Ketika ia<BR>menengok, ia melihat dengan heran dan kaget bahwa semua tosu yang berada<BR>di belakangnya sudah pada berlutut! Burung itu terbang makin dekat, menukik<BR>ke bawah dan terdengarlah bentakan nyaring.<BR>"Siapa ini berani menyambut Ketua Hoa-san-pai tanpa berlutut? Apa kau<BR>sudah bosan hidup?" Ucapan ini disusul menyambarnya sinar hijau ke arah<BR>kepala Thio Ki.<BR>"Hong-moi....!" Thio Ki berteriak dan inilah yang menyelamatkan nyawanya<BR>karena sinar itu tiba-tiba menyeleweng tidak jadi mengenai kepalanya akan<BR>tetapi ada hawa pukulan yang demikian dahsyatnya sehingga tanpa dapat ia<BR>pertahankan lagi Thio Ki terguling dan terbanting ke atas tanah!<BR>"Sumoi....!" Thio Ki memanggil lagi sambil merangkak bangun. Kiranya Kwa<BR>Hong sudah berdiri di atas tanah, burung raksasa itu telah terbang ke atas<BR>sambil bercuitan. Thio Ki cepat bangun, akan tetapi kaki kiri Kwa Hong<BR>bergerak ke arah lututnya dan... untuk kedua kalinya Thio Ki roboh lagi. Ia<BR>mengangkat muka dengan heran. Bukan main terkejutnya ketika ia melihat<BR>Kwa Hong. Jelas bahwa wanita ini adalah Kwa Hong, masih semanis dan<BR>secantik dahulu. Akan tetapi tarikan mulut itu benar-benar menimbulkan<BR>kengerian padanya.<BR>"Heh, kiranya engkau? Thio Ki, biarpun engkau sendiri juga harus berlutut di<BR>depanku, di depan Ketua Hoa-san-pai!"<BR>"Sumoi, apakah kau sudah gila?" Thio Ki melompat bangun. "Betulkah kau<BR>telah membunuh Sukong, mengangkat diri menjadi Ketua Hoa-san-pai?<BR>Sumoi, kenapa begitu? Kau yang dulu berjiwa gagah...." Kata-kata Thio Ki<BR>terhenti karena ia sudah roboh lagi, kini agak parah karena ia kena ditampar<BR>pundaknya oleh tangan kiri Kwa Hong yang memiliki hawa pukulan luar biasa<BR>dahsyatnya. Mata Kwa Hong berkilat marah.<BR>"Memang aku bunuh dia. Kau pun akan kubunuh karena kau berani bersikap<BR>kurang ajar kepadaku! Kau bicara tentang kegagahan? Hi-hi-hik, kau sendiri<BR>gagah apanya? Isteri dibawa lari orang lain, dipermainkan, kau enak saja di<BR>sini. Huh, laki-laki apa kau ini? Lebih baik mampus!"<BR>Thio Ki seketika bangun lagi, lupa akan rasa nyeri luar biasa pada pundaknya.<BR>Mukanya pucat. "Sumoi... kau melihat Lee Giok? Di mana dia? Bagaimana<BR>dengan dia....? Apakah si bangsat Giam Kin...." Ia tidak dapat melanjutkan<BR>kata-katanya, napasnya sesak karena gelisah dan marah.<BR>"Hi-hi-hik, isterimu dibawa lari orang, dipermainkan orang. Syukur, baru<BR>senang ya rasanya terpisah dari orang yang kau kasihi? Hu-hu-hu...." Tiba-tiba<BR>Kwa Hong menangis tersedu-sedu karena ia teringat akan dirinya sendiri yang<BR>juga tak dapat berkumpul dengan orang yang ia cinta.<BR>Thio Ki kaget dan juga bingung, akan tetapi berita itu terlalu mengguncangkan<BR>hatinya sehingga ia tidak pedulikan lagi yang lain. Ia bangun dan memegang<BR>tangan Kwa Hong. "Sumoi... demi Tuhan... katakanlah, di mana Giam Kin yang<BR>menculik isteriku....?"<BR>Kwa Hong menghentikan tangisnya, lalu matanya liar lagi, penuh kebengisan.<BR>"Kau mau mencari dia? Boleh kuantar kau menyusul dia ke akhirat. Dia sudah<BR>kubunuh!"<BR>"Dan Lee Giok bagaimana....? Ah, sumoi...." mata Thio Ki terbelalak dan<BR>sikapnya mengancam, "apakah kau juga membunuh dia....?"<BR>Kwa Hong tertawa lagi, tertawa menyeramkan. "Kalau betul, kau mau apa?"<BR>"Kau... kau... iblis kejam.....!" Dengan nekat Thio Ki menerjang bekas adik<BR>seperguruannya itu. Akan tetapi pada waktu itu tingkat kepandaiannya tidak<BR>berarti apa-apa kalau dibandingkan dengan tingkat kepandaian Kwa Hong.<BR>Sekali menangkis dan sekali mendorong saja kembali Kwa Hong berhasil<BR>merobohkannya. Kwa Hong tertawa lagi sambil mengeluarkan pedang Hoa-san<BR>Po-kiam.<BR>"Hi-hik, kau manusia rendah berani melawan Ketua Hoa-san-pai? Mampuslah<BR>kau!" Pedang Hoa-san Po-kiam itu diangkat tinggi-tinggi untuk ditebaskan ke<BR>arah leher Thio Ki.<BR>Pada saat itu sebutir batu kecil menyambar ke arah pedang itu sehingga<BR>gerakan pedang tertahan di udara, disusul bentakan nyaring, "Hong Hong!!"<BR>Kwa Hong kaget bukan main. Sambaran batu itu hebat sekali akan tetapi<BR>baginya tidaklah terlalu mengagetkan. Yang membuat ia kaget adalah suara<BR>bentakan tadi. Cepat ia memandang dan ... tubuhnya tiba-tiba gemetar dan<BR>pedang yang dipegangnya itu terlepas, jatuh ke atas tanah. Ia berdiri terpaku<BR>seperti patung, matanya terbelalak memandang laki-laki yang melangkah<BR>lebar menghampirinya, laki-laki setengah tua yang berwajah keren dan gagah<BR>perkasa, yang tangan kirinya putus sebatas pergelangan tangan.<BR>"Ayah....!" Hati Kwa Hong menjerit akan tetapi bibirnya hanya mengeluarkan<BR>suara yang serak.<BR>Di lain saat laki-laki itu sudah berdiri di hadapannya dengan mata berapi-api<BR>dan alisnya terangkat naik, wajahnya membayangkan kemarahan, kedukaan<BR>dan sesal yang amat besar. Laki-laki itu memang ayah Kwa Hong, yaitu Hoasan<BR>It-kiam Kwa Tin Siong. Di dalam cerita Raja Pedang telah dituturkan<BR>betapa murid pertama dari mendiang Lian Bu Tojin ini melarikan diri dari Hoasan<BR>bersama sumoinya, Kiam-eng-cu Liem Sian Hwa setelah tangan kirinya<BR>buntung oleh pedang gurunya sendiri dalam usahanya menolong nyawa<BR>sumoinya dari serangan pedang Lian Bu Tojin.<BR>Kwa Tin Siong tak dapat menyangkal bahwa ia memang jatuh cinta kepada<BR>Liem Sian Hwa, sumoinya sendiri itu dan sebaliknya Sian Hwa juga diam-diam<BR>mencinta suhengnya ini setelah hatinya hancur lebur oleh kelakuan<BR>tunangannya, yaitu mendiang Kwee Sin murid Kun-lun-pai. Setelah melarikan<BR>diri dari Hoa-san, keduanya lalu mengasingkan diri, hidup berdua di sebuah<BR>puncak gunung. Mereka merasa malu untuk turun gunung dan karena senasib,<BR>pula karena mereka memang saling mencinta, maka keduanya lalu bersumpah<BR>saling setia dan menjadi suami isteri. Dengan tekun kedua orang ini lalu<BR>memperdalam ilmu silat mereka dan karena keduanya memang telah mewarisi<BR>ilmu silat tinggi dari Hoa-san-pai, memiliki dasar-dasar yang amat kuat, maka<BR>ketekunan mereka berhasil baik sehingga ilmu kepandaian mereka maju pesat<BR>sekali.<BR>Betapapun juga, ketika Kwa Tin Siong mendengar akan sepak terjang<BR>puterinya terhadap Hoa-san-pai, malah sudah membunuh Lian Bu Tojin, ia<BR>tidak dapat terus tinggal diam berpeluk tangan mendengar Hoa-san-pai<BR>dirusak dan dikacau oleh puterinya sendiri yang terkasih. Setelah bermufakat<BR>dengan isterinya, ia lalu turun dari gunung dan menuju ke Hoa-san-pai.<BR>Kedatangannya tepat pada saat Kwa Hong hendak membunuh Thio Ki<BR>sehingga ia dapat mencegahnya.<BR>Di belakang Kwa Tin Siong terlihat seorang wanita cantik dan gagah,<BR>menggendong seorang anak kecil. Inilah Liem Sian Hwa dan anak itu adalah<BR>Kun Hong, anak suami isteri ini.<BR>Kita kembali ke pertemuan antara ayah dan anak yang menegangkan ini. Para<BR>tosu yang segera mengenal Kwa Tin Siong segera bangkit dari berlutut dan<BR>memandang penuh ketegangan, juga kelegaan hati.<BR>"Hong Hong, jadi benarkah semua berita yang kudengar? Benarkah kau<BR>berubah menjadi iblis, membunuh Lian Bu Tojin sukongmu sendiri, merampas<BR>kedudukan ketua Hoa-san-pai, membunuh banyak orang tosu Hoa-san-pai,<BR>dan sekarang kulihat kau malah hendak membunuh Thio Ki? Hong Hong...,<BR>bagaimana kau bisa berubah begini....?"<BR>Naik sedu-sedan dari dada Kwa Hong. Dua butir air mata menitik turun dan ia<BR>hanya dapat berbisik, "Ayah...."<BR>"Kau membunuh Suhu, malah membunuh Supek Lian Ti Tojin, mengusir Kui<BR>Lok dan Thio Bwee, melakukan perbuatan gila-gilaan di luar! Aku mendengar<BR>bahwa kau telah memiliki kepandaian yang luar biasa. Hemmm, sekarang aku,<BR>Kwa Tin Siong ayahmu telah berada di sini. Coba kaukeluarkan kepandaianmu<BR>itu untuk membunuh ayahmu sendiri! Hayo, kau tunggu apa lagi?" Suara Kwa<BR>Tin Siong yang tadinya bengis sekarang berubah serak mengandung<BR>penyesalan besar yang menusuk hatinya.<BR>"Ayah...."<BR>"Tak usah kau ragu-ragu. Lawanlah aku! Kau boleh mencoba membunuh<BR>ayahmu ini, kalau tidak akulah yang akan membunuhmu!"<BR>"Ayah....!"<BR>"Kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya takkan luntur selama dunia<BR>belum kiamat, akan tetapi kasih sayang seorang gagah selalu berdasarkan<BR>kebenaran dan keadilan! Demi kasih sayangnya, seorang ayah yang gagah<BR>takkan segan-segan menghukum anaknya sendiri yang menyeleweng dari<BR>keadilan dan kebenaran. Perbuatan-perbuatanmu melampaui segala garis,<BR>hukumannya hanyalah mati! Kalau aku tidak mampu menghukum mati<BR>kepadamu, lebih baik aku mati dalam tanganmu. Majulah!"<BR>"Ayah....!"<BR>Kemarahan Kwa Tin Siong memuncak. Keraguan anaknya ini dianggapnya<BR>sebagai sifat pengecut. "Terimalah hukuman dariku!" Ia membentak dan<BR>menerjang maju dengan tangan kanannya. Pukulan yang ia lakukan adalah<BR>pukulan Hoa-san-pai yang hebat, pukulan penuh tenaga Iwee-kang yang akan<BR>dapat membikin pecah sebuah batu besar. Maksudnya hendak membunuh<BR>anaknya dengan sekali pukul agar lekas selesai urusan yang menghancurkan<BR>hatinya itu. Juga pukuian ini adalah jurus yang disebut Pukulan Dewa Mabuk<BR>yang biasa dipergunakan kalau keadaan sudah amat terdesak sehingga tak<BR>ada jalan keluar lagi. Biarpun amat hebat dan berbahaya bagi yang diserang,<BR>namun tidak kurang berbahayanya bagi yang menyerang sendiri karena sekali<BR>dapat dielakkan atau ditangkis, kedudukan Si Penyerang menjadi lemah dan<BR>tidak terjaga sehingga mudah dirobohkan lawan yang mampu menghindarkan<BR>pukulan ini.<BR>Akan tetapi, alangkah kaget hati Kwa Tin Siong ketika melihat betapa<BR>puterinya itu sama sekali tidak mengelak! Betapapun marahnya terhadap<BR>anaknya ini, tadi Kwa Tin Siong sengaja melakukan pukulan ini karena ia<BR>sudah mendengar betapa lihai Kwa Hong sehingga gurunya sendiri, Lian Bu<BR>Tojin, tak mampu melawannya. Tentu ia sudah memperhitungkan bahwa Kwa<BR>Hong pasti akan dapat menghindarkan serangan ini dan berbalik akan<BR>merobohkannya. Ia rela mati di tangan anaknya untuk menebus dosa yang<BR>diperbuat oleh Kwa Hong. Demikian sucinya kasih sayang orang tua ini<BR>terhadap puterinya. Oleh karena inilah maka ia kaget sekali ketika pukulannya<BR>sama sekali tidak ditangkis maupun dielakkan oleh Kwa Hong yang<BR>menerimanya dengan mata meram! Untuk menarik kembali pukulan itu tidak<BR>mungkin lagi.<BR>Tiba-tiba bayangan kuning emas menyambar dan tepat pada saat pukulan Kwa<BR>Tin Siong mengenai tubuh Kwa Hong, jago Hoa-san-pai ini terlempar ke<BR>belakang karena dipukul sayap rajawali emas. Kwa Hong terjengkang roboh<BR>dan nyawanya tertolong oleh serbuan rajawali emas itu sehingga pukulan<BR>ayahnya hanya mempunyai kekuatan setengahnya saja. Sambil melengking<BR>keras rajawali itu mengamuk, menerjang dengan marah ke arah Kwa Tin Siong<BR>yang terlempar empat meter lebih jauhnya. Akan tetapi sambil membentak<BR>marah Liem Sian Hwa sudah menerjang maju dengan pedang di tangan.<BR>Wanita muda ini berjuluk Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang), gerakannya gesit<BR>bukan main dan permainan pedangnya lihai sekali. Biarpun serangannya dapat<BR>dielakkan oieh burung itu, namun ia berhasii menyelamatkan suaminya dari<BR>cengkeraman kim-tiauw. Sementara itu, para tosu serentak bangkit dan<BR>mengeroyok dengan pedang mereka. Juga Kwa Tin Siong yang tidak terluka<BR>berat, sudah bangun dan menyambar pedang Hoa-san Po-kiam yang jatuh dari<BR>tangan Kwa Hong. Sekarang burung itu dikeroyok oleh Kwa Tin Siong, Liem<BR>Sian Hwa dan puluhan orang tosu Hoa-san-pai.<BR>Hujan pedang menyambar ke arah tubuh kim-tiauw yang melawan dengan<BR>hebat sekali. Setiap kali sayapnya menampar, sedikitnya ada dua orang tosu<BR>roboh, patuk dan cakarnya sudah membinasakan banyak lawan. Namun<BR>jumlah pengeroyoknya terlampau banyak sehingga setiap kali ada pedang<BR>mengenai tubuhnya, beberapa helai bulu rontok beterbangan. Juga pedang di<BR>tangan Liem Sian Hwa telah berhasil melukai kakinya sehingga mengeluarkan<BR>darah. Namun burung itu terus mengamuk dan sekali lagi Kwa Tin Siong yang<BR>agaknya paling ia benci itu terpukul roboh oleh kibasan sayapnya yang lihai.<BR>Tiba-tiba Kwa Hong yang sudah siuman kembali mengeluarkan bunyi<BR>melengking panjang. Rajawali itu cepat menyambar tubuh Kwa Hong,<BR>dicengkeramnya baju di bagian punggung dan membawa nonanya itu terbang<BR>pergi dengan kecepatan yang luar biasa. Kwa Tin Siong, Liem Sian Hwa dan<BR>para tosu hanya dapat berdongak memandang dengan penuh kengerian dan<BR>kekaguman sampai burung itu lenyap dari pandangan mata. Kwa Tin Siong<BR>menarik napas panjang ketika melihat betapa dalam pertempuran yang hanya<BR>sebentar itu ada delapan orang tosu yang tewas dan banyak yang terluka!<BR>Pertemuan ini mendatangkan banjir air mata dan Kwa Tin Siong tak dapat<BR>menolak ketika para tosu mengangkatnya sebagai ketua Hoa-san-pai. Ketika<BR>Kwa Tin Siong mendengar tentang Lee Giok yang katanya pun terbunuh oleh<BR>Kwa Hong, ia menggigit bibirnya dan menghibur Thio Ki. "Dia terlampau lihai,"<BR>katanya. "Baru burungnya saja tak terlawan oleh kita, untungnya tadi dia tidak<BR>berani melawanku. Andaikata dia turun tangan, kita semua kiranya takkan<BR>dapat hidup lagi." Semenjak saat itu Kwa Tin Siong memimpin para tosu dan<BR>memperhebat latihan ilmu silat di antara para murid Hoa-san-pai untuk<BR>menjaga kalau-kalau kelak terjadi penyerbuan ke Hoa-san-pai. Juga Thio Ki<BR>tekun memperdalanm ilmu silatnya.<BR>Kwa Tin Siong berusaha menyelidiki dengan menyebar para tosu untuk<BR>menyatakan kebenaran berita tentang Lee Giok, lupa berusaha mencari Li Cu<BR>dan Beng San yang mereka harapkan akan dapat memberi keterangan tentang<BR>isteri Thio Ki itu. Akan tetapi semua usahanya sia-sia belaka. Akhirnya karena<BR>putus asa, Thio Ki malah meninggalkan keduniaan dan masuk menjadi seorang<BR>tosu. Ia sekarang tekun mempelajari Agama To sambil memperdalam ilmu<BR>silatnya di bawah pimpinan Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa. Di bawah<BR>pimpinan suami isteri perkasa ini, lambat laun Hoa-san-pai mendapatkan<BR>kembali keangkerannya dan merupakan partai persilatan yang kuat. Hanya<BR>terdapat satu hal yang aneh, yaitu pada diri Kwa Kun Hong, putera Kwa Tin<BR>Siong dan Liem Sian Hwa. Kiranya semua orang akan menduga bahwa suami<BR>isteri ini tentu akan memberi gemblengan istimewa kepada putera mereka<BR>agar kelak menjadi seorang yang berkepandaian tinggi dan gagah perkasa.<BR>Namun dugaan ini keliru. Mungkin sekali karena melihat akibat pada diri<BR>puterinya, Kwa Hong, maka ketua Hoa-san-pai itu agaknya merasa kuatir<BR>kalau-kalau puteranya kelak pun akan mengalami nasib buruk karena pandai<BR>ilmu silat. Ia sama sekali tidak melatih ilmu silat kepada Kun Hong, sebaliknya<BR>melatih bun (ilmu kesusastraan) dan tentang agama!<BR>bagian 36<BR>Kakek waktu mempunyai kekuasaan yang amat mengherankan dan tak dapat<BR>dilawan oleh siapa dan apapun juga. Segala yang berada di dalam dunia ini<BR>ditelan oleh waktu, tidak pengecualian, mempergunakan daya keampuhannya<BR>yang berupa usia tua. Benda paling keras macam besi pun akhirnya menyerah<BR>kepada waktu, diganyang hancur oleh usia tua. Manusia yang paling pandai,<BR>yang paling gagah perkasa dengan kedudukan tertinggi, kekuasaan terbesar,<BR>akhirnya akan menyerah kepada Kakek Waktu. Semua akan musnah<BR>sedangkan waktu akan berjalan terus, menelan segala apa yang<BR>dihadapannya.<BR>Yang, sudah lampau hanya merupakan kenangan sepintas lalu saja, seakanakan<BR>masa puluhan tahun hanya terjadi dalam sekejap mata. Sebaliknya, yang<BR>akan datang merupakan dugaan dan teka-teki yang takkan diketahui oleh<BR>seorang pun manusia. Hanya Tuhan Yang Maha Kuasa saja yang dapat<BR>menguasai Kakek Waktu, karena Tuhahlah pengatur dan pengisi waktu dengan<BR>segala macam peristiwa di dunia seperti yang dikehendaki-Nya.<BR>Waktu memang amat aneh. Kalau diperhatikan dan diikuti jalannya, amat-lah<BR>lambat ia merayap, lebih lambat daripada jalannya siput. Akan tetapi kalau<BR>tidak diperhatikan, amat cepatlah ia melewat, lebih cepat daripada terbangnya<BR>pesawat jet atau roket sekalipun.<BR>Demikian pula dengan keadaan waktu di dalam cerita ini. Tanpa kita sadari<BR>lagi, tahu-tahu kita sudah dibawa oleh waktu terbang cepat tujuh belas tahun<BR>lamanya semenjak Kwa Tin Siong datang kembali ke Hoa-san-pai dan menjadi<BR>Ketua Hoa-san-pai sebagai pengganti gurunya, Lian Bu Tojin yang telah tewas<BR>oleh Kwa Hong dan Koai Atong. Tujuh belas tahun telah lewat bagaikan dalam<BR>sekejap mata saja!<BR>Selama itu, tidak terjadi hal-hal penting. Memang harus diakui bahwa setelah<BR>Kaisar yang baru berhasil menghalau dan membasmi semua bekas teman<BR>seperjuangan yang hendak memberontak, keadaan pada umumnya menjadi<BR>aman tenteram.<BR>Di Puncak Hoa-san-pai juga kelihatan aman dan damai semenjak terjadi<BR>keributan belasan tahun yang lalu, akibat sepak terjang Kwa Hong. Sekarang<BR>banyak kelihatan para tosu Hoa-san-pai bekerja di sawah ladang, memikuli<BR>kaleng-kaleng air dari sumber. Bahkan dengan gembira selalu mereka<BR>kelihatan berlatih ilmu silat Hoa-san-pai di pelataran belakang kuil Hoa-san-pai<BR>yang besar itu.<BR>Berbeda dengan belasan tahun yang lalu ketika Hoa-san-pai masih diketuai<BR>oleh Lian Bu Tojin sekarang Hoa-san-pai tidak lagi mempunyai murid-murid<BR>muda yang bukan tojin. Orang-orang kelihatan berlatih ilmu silat di situ semua<BR>adalah tosu-tosu Hoa-san-pa belaka. Para tosu amatlah maju kalau<BR>dibandingkan dengan dahulu. Dahulu para tosu Hoa-san-pai kurang<BR>memperhatikan pelajaran ilmu silat yang agaknya "diborong" oleh murid-murid<BR>yang bukan tosu. Akan tetapi sekarang para tosu itu lekas kelihatan amat<BR>maju dalam pelajaran ini. Ilmu silat yang mereka mainkan amat baik dan<BR>gerakan mereka menunjukkan latihan matang.<BR>Tujuh belas tahun bukanlah waktu singkat untuk mematangkan ilmu silat bagi<BR>para murid Hoa-san-pai yang tadinya memang sudah memiliki kepandaian<BR>dasar. Apalagi yang melatih mereka adalah Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa,<BR>suami isteri yang sudah mewarisi ilmu silat Hoa-san-pai, terutama sekali ilmu<BR>pedangnya. Juga Thio Ki yang sekarang sudah menjadi tosu itu amatlah maju,<BR>merupakan murid kepala dan kini bahkan seringkali mewakili Ketua Hoa-sanpai<BR>untuk melatih para tosu di pelataran belakang kuil.<BR>Thio Ki yang sudah menjadi tosu mempunyai nama pendeta Thian Beng Tosu<BR>dan ia merupakan tosu yang amat tekun mempelajari ilmu kebatinan untuk<BR>menghibur hatinya yang tertekan hebat.<BR>Patut dikasihani nasib Thio Ki. Kalau ia terkenang kepada isterinya, Lee Giok<BR>yang menurut anggapannya sudah terbunuh oleh Kwa Hong, hatinya menjadi<BR>perih dan hanya dengan membaca kitab-kitab Agama To yang kedukaannya<BR>dapat terhibur. Berbeda dengan Thio Ki yang sudah menjadi tosu, Kwa Tin<BR>Siong tidak masuk menjadi tosu. Hal ini adalah karena ia mempunyai isteri,<BR>maka biarpun ia sudah menjadi Ketua Hoa-san-pai, namun ia tetap menjadi<BR>"orang biasa" dan bukan pendeta. Oleh karena itu pula, sebagai ketua umum<BR>Hoa-san-pai, ia mengangkat Thian Beng Tosu (Thio Ki) menjadi ketua bagian<BR>Agama To, dibantu oleh beberapa orang tosu tua yang menjadi ahli dalam<BR>keagamaan ini. Kwa Tin Siong sendiri hidup rukun damai dengan isterinya dan<BR>puteranya, pekerjaannya sehari-hari selain memimpin para tosu Hoa-san-pai<BR>dalam ilmu silat, juga sering kali tampak ketua ini bekerja di sawah ladang<BR>bersama para tosu lainnya.<BR>Seperti juga halnya dengan keadaan apa saja di jagat ini, bahwa segala<BR>sesuatu takkan kekal adanya, takkan ada hujan atau terang tiada akhir,<BR>takkan pula ada kedukaan ataupun kesenangan tiada akhir. Selama Kwa Tin<BR>Siong menjadi Ketua Hoa-san-pai, memang keadaan di puncak bukit itu<BR>tampak aman tenteram, penuh damai yang menyamankan hati. Pada hari<BR>yang amat sejuk hawa udaranya, amat nyaman cahaya matahari pagi<BR>menembusi halimun gunung, amatlah tak tersangka-sangka akan datang halhal<BR>yang mengganggu ketenteraman Hoa-san-pai.<BR>Gangguan itu mula-mula terjadi di malam hari tanpa ada seorang pun<BR>anggauta Hoa-san-pai yang tahu. Ketika pagi-pagi hari para tosu mulai dengan<BR>pekerjaan mereka sehari-hari, tiba-tiba seorang tosu berseru heran sambil<BR>menuding ke arah atas kuil. Seperti biasa, di puncak kuil itu berkibar bendera<BR>Hoa-san-pai yang berdasar kuning dengan tuiisan biru, tanda dari<BR>perkumpulan Hoa-san-pai. Akan tetapi sekarang bendera itu agak turun dan di<BR>puncak tiang bendera berkibar sebuah bendera kecil yang asing. Akan tetapi<BR>dari bawah jelas terlihat bahwa bendera itu adalah sebuah bendera berdasar<BR>warna merah dengan sulaman macan hitam. Menaruh bendera di atas bendera<BR>Hoa-san-pai hanya mempunyai satu arti, yaitu orang hendak menghina dan<BR>merendahkan Hoa-san-pai. Ribut-ribut di luar kuil ini menarik hati Thian Beng<BR>Tosu yang segera berlari keluar. Melihat bendera kecil itu, wajahnya segera<BR>berubah merah dan ia mengepal tinjunya menahan marah.<BR>Tak lama kemudian Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa juga berlari keluar<BR>diikuti oleh seorang pemuda berusia delapan belas tahun yang berwajah<BR>tampan dan bersikap halus. Dia ini bukan lain adalah Kwa Kun Hong. Mereka<BR>diberi iaporan oleh seorang tosu tentang peristiwa itu, maka tergesa-gesa<BR>keluar untuk rnenyaksikan.<BR>Kwa Tin Siong sendiri, juga isterinya, tidak mengenal bendera merah dengan<BR>gambar harimau hitam itu. Akan tetapi ketika Kwa Tin Siong melihat sikap<BR>Thian Beng Tosu (Thio Ki) yang nampak marah, ia segera bertanya,<BR>"Apakah kau mengenal bendera itu? Apa artinya ini?"<BR>Thian Beng Tosu segera menjawab pertanyaan supeknya, "Teecu mengenal<BR>baik, tak nyana sama sekaii bahwa kumpulan bangsat itu berani mengejar<BR>teecu (murid) ke sini, malah, berani menghina Hoa-san-pai!" Ia menarik napas<BR>panjang. "Hemmm, tentu mereka telah mempunyai pimpinan orang pandai<BR>sehingga pada malam hari tanpa kita ketahui sama sekali dapat memasangkan<BR>bendera itu."<BR>Liem Sian Hwa adalah seorang tokoh Hoa-san-pai yang semenjak dulu<BR>berwatak keras dan gagah. Kedua telinganya sudah merah ketika ia<BR>menyaksikan penghinaan bendera itu, sekarang mendengar kata-kata murid<BR>keponakannya ia menjadi makin panas hatinya. "Huh, memasang bendera<BR>begitu saja apa sih hebatnya?" Baru saja ia berkata demikian, tubuhnya sudah<BR>melesat ke atas dengan gerakan ringan sekali dan tahu-tahu ia sudah<BR>meloncat tinggi di puncak tiang bendera! Tangan kirinya bergerak menyambar<BR>tiang bendera sehingga tubuhnya berjungkir-balik dengan lurus, kemudian<BR>tangan kanannya membetot bendera kecil itu terlepas dari tiang. Kemudian<BR>dengan sebelah tangan pula ia menaikkan bendera Hoa-san-pai di puncak<BR>tiang seperti semula. Setelah semua ini ia lakukan dengan berjungkir balik dan<BR>dengan tangan kiri menahan tubuh di puncak tiang itu, ia menekan tiang dan<BR>tubuhnya melayang turun lagi, hinggap di atas tanah tanpa mengeluarkan<BR>suara dan mukanya sedikitpun tidak menunjukkan tanda bahwa ia telah<BR>mempergunakan banyak tenaga.<BR>Para tosu berseru kagum dan memuji Sang Nyonya Ketua yang memang patut<BR>dipuji. Tidak percuma Liem Sian Hwa mendapat julukan Kiam-eng-cu<BR>(Bayangan Pedang) karena memang gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang<BR>dimilikinya sudah mencapai tingkat tinggi sekali. Kun Hong bersorak memuji,<BR>"Hebat....! Ibu seperti burung saja, ah... bukan main indahnya gerakan Huiliong<BR>Cai-thian (Naga Terbang ke Langit) tadi!"<BR>Seketika wajah Liem Sian Hwa dan Kwa Tin Siong berubah terheran-heran.<BR>Mereka saling pandang, kemudian keduanya memandang kepada putera<BR>mereka dengan mata penuh selidik dan penuh pertanyaan. Tentu saja mereka<BR>terheran-heran karena bagaimana pemuda itu bisa tahu bahwa gerakan tadi<BR>adalah gerakan Hui-liong Cai-thian? Padahal di antara para tosu, kiranya<BR>hanya Thian Beng Tosu seorang yang tahu akan ilmu meloncat Hoa-san-pai<BR>yang sukar ini, sedangkan Kun Hong sama sekali tidak pernah belajar silat<BR>semenjak kecilnya. Hampir saja Kwa Tin Siong mengajukan pertanyaan, akan<BR>tetapi perhatian mereka tertarik oleh seruan Thian Beng Tosu, "Ah, surat<BR>apakah yang tertempel di bendera itu?"<BR>Semua orang melihat. Benar saja. Pada bendera kecil itu terdapat sehelai surat<BR>yang ditempel dengan tusukan jarum. Liem Sian Hwa menyerahkan bendera,<BR>berikut surat kepada suaminya yang segera mengambil surat itu dan<BR>membacanya. Setelah membaca, keningnya berkerut dan berkatalah Ketua<BR>Hoa-sanpai ini kepada semua tosu yang mengerumuni tempat itu.<BR>"Gerombolan penjahat bermaksud buruk terhadap kita. Mulai saat ini kalian<BR>semua boleh terus bekerja seperti biasa, akan tetapi jangan berpisahan, harus<BR>berkelompok sedikitnya lima orang. Kalau ada orang asing naik ke gunung,<BR>jangan sembrono dan jangan mencari perkara. Langsung laporkan kepada<BR>kami."<BR>Sambil berbisik-bisik dengan hati tegang para tosu itu ialu melanjutkan<BR>pekerjaan mereka. Kwa Tin Siong seanak isteri lalu masuk ke dalam mengajak<BR>Thian Beng Tosu.<BR>"Ki-ji (Anak Ki)," Kata Kwa Tin Siong. Memang sudah biasa ia memanggil Thio<BR>Ki dengan sebutan anak Ki, maka sampai Thio Ki menjadi tosu pun masih<BR>disebut demikian. "Apakah kau mengenal penulis surat ini?" Ia menyerahkan<BR>surat kecil itu kepada Thian Beng Tosu yang segera membacanya.<BR>Kalau dalam waktu dua belas jam Thio Ki tidak turun mengantarkan nyawanya<BR>ke Im-kan-kok, terpaksa kami tidak melihat muka Ketua Hoa-san-pai lagi dan<BR>menyerbu Hoa-san-pai. untuk mengambil nyawa Thio Ki.<BR>Surat itu ditandai gambar harimau hitam dan tulisannya kasar lagi buruk,<BR>bukan tulisan seorang ahli. Membaca ini, seketika wajah Thio Ki atau sekarang<BR>bernama Thian Beng Tosu ini menjadi pucat, giginya beradu dan tangannya<BR>mengepal, surat itu diremasnya.<BR>"Keparat betul Bhe Lam Si Macan Hitam itu!" katanya.<BR>Thio Ki atau Thian Beng Tosu lalu bercerita. Dahulu sebelum ia menjadi tosu<BR>Hoa-san-pai dan masih menjadi seorang piauwsu (pengawal barang) di Sinyang,<BR>pernah pada suatu hari barang kawalannya dirampok oleh segerombolan<BR>perampok yang dipimpin oleh Hek-houw Bhe Lam. Seorang pembantunya<BR>tewas dan barang kawalan itu dirampas. Thio Beng Tosu atau dahulu masih<BR>bernama Thio Ki lalu bersama isterinya, Lee Giok, mendatangi sarang<BR>perampok itu dan setelah bertempur hebat, akhirnya mereka dapat<BR>mengalahkan Bhe Lam dan merampas kembali barang kawalannya. Bhe Lam<BR>berhasil melarikan diri setelah menderita luka berat.<BR>'"Demikianlah, Supek. Agaknya Bhe Lam itu tidak melupakan urusan lama dan<BR>biarpun teecu sudah menjadi tosu di sini, dia masih mencari dan hendak<BR>membalas dendam. Perkenankan teecu pergi menemuinya dan sekali ini teecu<BR>takkan tanggung-tanggung membasminya agar ia tidak mengacau<BR>ketenteraman dunia." Setelah berkata demikiah Thian Beng Tosu lalu bergerak<BR>hendak pergi mencari musuh besarnya,<BR>Kwa tin Siong menggerakkan tangan mencegah. "Nanti dulu, jangan kau<BR>terlalu sembrono dan tergesa-gesa. Kalau dahulu dia pernah kaukalahkan dan<BR>sekarang berani datang menantang, sudah tentu ia mempunyai andalan yang<BR>kuat. Kalau tidak demikian, tak mungkin ia bersikap menantang. Pula, kalau<BR>hendak menuntut balas, mengapa harus sampai belasan tahun lamanya? Kita<BR>harus hati-hati dan jangan gegabah. Dengan mendatangi Hoa-san-pai,<BR>memasang bendera menghina bendera kita, itu saja menunjukkan bahwa ia<BR>memandang rendah kepada Hoa-san-pai. Setelah ia berbuat demikian jauh,<BR>bagaimana aku bisa tinggal diam saja?"<BR>"Yang amat mengherankan adalah tempat ia menanti di Im-kan-kok," kata<BR>Liem Sian Hwa sambil mengerutkan keningnya. "Im-kan-kok adalah tempat<BR>suci yang juga menjadi tempat larangan bagi kita, kenapa musuh justeru<BR>menanti di sana? Thio Ki, kau harus berhati-hati, benar pendapat supekmu,<BR>kita semua harus menghadapi urusan ini bersama."<BR>Tiba-tiba Kun Hong tertawa, "Orang itu tak tahu diri sekali berani mengganggu<BR>Hoa-san-pai. Twa-suko jangan takut, orang itu memberi waktu dua belas jam,<BR>tentu nanti tenga hari dia datang. Biarkan dia datang, hendak kita lihat<BR>bagaimana macamnya. Untuk mendatangi undangannya ke Im-kan-kok hanya<BR>akan membuat dia leluasa mengatur jebakan."<BR>"Hush, kau tahu apa tentang urusan ini?" ibunya membentak.<BR>Kwa Tin Siong teringat akan sesuatu dan ia lalu bertanya dengan suara bengis,<BR>"Kun Hong, kau tadi tahu akan gerakan ibumu, dari mana kau tahu? Hayo<BR>bicara, jangan kau sembunyikan sesuatu dariku!"<BR>Leher Kun Hong mengkeret ketika ia dibentak ayahnya, wajahnya menjadi<BR>merah dan ia menjawab gugup, "Ah, tidak sekali-kali aku melanggar larangan<BR>Ayah. Aku tak pernah mempelajari ilmu silat, hanya aku telah membaca<BR>catatan Ayah dan Ibu tentang ilmu silat Hoa-san-pai. Mempelajari tidak boleh,<BR>kalau membaca kan tidak ada larangan, bukan? Aku memang suka membaca<BR>apa saja, Ayah."<BR>Diam-diam Ketua Hoa-san-pai ini tertegun. Membaca begitu saja tanpa<BR>mempelajari prakteknya, namun sudah dapat melihat gerakan orang, benarbenar<BR>hal ini amat luar biasa dan membutuhkan kecerdikan yang jarang<BR>bandingannya. Ia kagum dan juga bangga sekali, akan tetapi mulutnya<BR>berkata, "Hemm, lain kali kau tidak boleh membaca segala macam kitab<BR>pelajaran ilmu silat"<BR>"Baik, Ayah," kata Kun Hong sambil tunduk.<BR>Karena menguatirkan keselamatan puteranya yang tidak pandai ilmu silat, Kwa<BR>Tin Siong hendak menyuruh puteranya itu tinggal saja di kamarnya, akan<BR>tetapi sebelum ia sempat mengeluarkan perintah, tiba-tiba seorang tosu<BR>masuk dan melaporkan bahwa ada tiga orang tosu tua yaitu Pak-thian Samlojin<BR>datang berkunjung. Wajah Kwa Tin Siong menunjukkan perasaan girang<BR>dan heran akan kunjungan yang tak tersangka-sangka ini. Tiga Orang Tua dari<BR>Utara itu adalah sahabat-sahabat baik mendiang gurunya, Lian Bu Tojin. Tentu<BR>saja kunjungan ini amat menyenangkan hatinya, apalagi di waktu Hoa-san-pai<BR>sedang menghadapi ancaman musuh. Dari tiga orang kakek yang<BR>berkepandaian tinggi itu dapat diharapkan bantuannya.<BR>"Persilakan mereka masuk," katanya, lalu ia bersama isterinya, juga Thian<BR>Beng Tosu yang masih ingat akan nama tiga orang kakek itu segera<BR>menyambut di pintu ruangan.<BR>Tak lama kemudian masuklah tiga orang kakek itu. Usia mereka sudah tua<BR>sekali, akan tetapi sikap mereka masih gagah. Tiga orang tosu yahg<BR>mengenakan pakaian longgar, dengan wajah keren dan tindakan kaki ringan,<BR>tanda bahwa mereka memiliki ilmu kepandaian tinggi.<BR>Melihat mereka, Kwa Tin Siong, isterinya dan Thian Beng Tosu segera menjura<BR>dengan hormat. Tiga orang kakek itu mengelus jenggot dan seorang di antara<BR>mereka yang tertua dan yang berjenggot panjang sekali segera berkata,<BR>"Sudah lama kami mendengar bahwa Hoa-san-pai sudah berganti ketua.<BR>Menyesal kami tidak dapat datang ketika terjadi malapetaka di Hoa-san. Mulamula<BR>memang kami ingin datang dan membalaskan sakit hati sahabat kami<BR>Lian Bu Tojin, akan tetapi kemudian kami mendengar bahwa Sicu telah<BR>menggantikan kedudukan mendiang sahabat kami itu. Betapapun juga, kami<BR>ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa Hoa-san-pai sudah<BR>bangun kembali. Siapa kira di tengah perjalanan kami melihat adanya<BR>gerombolan orang jahat yang mengancam Hoa-san-pai. Apakah Sicu sudah<BR>mengetahuinya?"<BR>Kwa Tin Siong mempersilakan para tamunya duduk lalu menghaturkan terima<BR>kasih. "Sam-wi Locianpwe benar-benar telah mencapaikan diri untuk<BR>memperhatikan keadaan Hoa-san-pai. Untuk budi kecintaan itu kami<BR>menghaturkan banyak terirna kasih. Memang benar seperti yang Locianpwe<BR>katakan tadi, ada segerombolan penjahat datang mengganggu, akan tetapi<BR>kiranya hal ini tak patut untuk membikin Sam-wi capai hati. Hanya urusan<BR>kecil saja."<BR>Kui Tosu, yaitu tosu tertua daripada tiga kakek itu, mengerutkan alisnya yang<BR>sudah putih. Ia memang berwatak berangasan. "Hemm, Sicu sebagai murid<BR>dari Lian Bu Tojin sudah tentu telah mewarisi ilmu yang hebat dari Hoa-sanpai.<BR>Akan tetapi harap diketahui bahwa kepandaian tidak ada batasnya dan<BR>kiraku hari ini belum tentu kepandaian Hoa-san-pai akan dapat diandalkan<BR>untuk mengalahkan musuh. Tahukah Sicu siapa yang datang mengganggu?"<BR>bagian 37<BR>Diam-diam Kwa Tin Siong tidak senang mendengar ucapan ini. Dia adalah<BR>seorang gagah yang tak pernah takut menghadapi lawan, akan tetapi oleh<BR>karena tiga orang kakek ini datang sebagai tamu dan adalah sahabat-sahabat<BR>mendiang gurunya, ia menahan kesabaran dan bertanya,<BR>"Yang saya ketahui hanya bahwa orang yang memimpin gerombolan pengacau<BR>itu bernama Bhe Lam, seorang penjahat Sin-yang berjuluk Hek-houw<BR>(Harimau Hitam). Penjahat cilik macam itu perlu apa diributkan?"<BR>Tosu termuda dari tiga orang kakek itu yang bernama Lai Tosu tertawa<BR>bergelak, "Ha-ha-ha-ha! Kalau hanya harimau hitam saja apa artinya? Besar<BR>atau kecil kalau hanya Hek-houw saja tidak lebih daripada seekor kucing<BR>hitam! Ketahuilah, Kwa-sicu, di belakang si Harimau Hitam itu masih ada dua<BR>mahluk yang lebih menakutkan lagi. Kau tahu siapa mereka? Yang seorang<BR>adalah Kim-thouw Thian-li Ketua Ngo-lian-kauw dan yang ke dua adalah Toatbeng<BR>Yok-mo (Setan Obat Pencabut Nyawa)!"<BR>Kwa Tin Siong kaget bukan main mendengar nama-nama ini. Tentu saja ia<BR>sudah mengenal Kim-thouw Thian-li yang sudah berkali-kali membikin keruh<BR>keadaan Hoa-san-pai, malah wanita inilah yang mula-mula merusak Hoa-sanpai<BR>sehingga terjadi hal yang berlarut-larut dan permusuhan yang menjadi-jadi<BR>(baca cerita Ra|a Pedang). Kim-thouw Thian-li merupakan musuh besar Hoasan-<BR>pai, berarti musuh besarnya. Kepandaian wanita itu memang hebat sekali,<BR>akan tetapi ia sama sekali tidak merasa gentar untuk menghadapinya. Yang<BR>membikin Ketua Hoa-san-pai ini kaget sekali adalah disebutnya nama Toatbeng<BR>Yok-mo. Kakek iblis itu sudah belasan tahun menghilang dari dunia kangouw,<BR>kenapa sekarang bisa muncul bersama Kim-thouw Thian-li membantu<BR>Hek-houw Bhe Lam?<BR>Melihat kekuatiran di wajah tuan rumah, Bu Tosu orang ke tiga dari Pak-khia<BR>Sam-lojin dengan sombong berkata,<BR>"Kwa-sicu tak usah kuatir, Kim-thouw Sian-li dan Toat-beng Yok-mo boleh<BR>menakuti orang lain, akan tetapi lihat saja, ada pinto bertiga di sini yang siap<BR>untuk meghancurkannya!"<BR>Kwa Tin Siong belum hilang kagetnya dan ia berkata, "Terima kasih atas janji<BR>Sam-wi untuk membantu kami. Akan tetapi benar-benar saya tidak mengerti<BR>mengapa Toat-beng Yok-mo dapat berada dengan mereka?"<BR>"Ha-ha-ha, Kwa-sicu masih belum mendengar? Agaknya karena belasan tahun<BR>sibuk mengurus Hoa-san-pai, tidak tahu akan kejadian di dunia luar! Kakek tua<BR>bangka tukang obat itu tergila-gila kepada Kim-thouw Thian-li dan kabarnya ia<BR>telah memperisteri Ketua Ngo-lian-kauw itu. Ha-ha, benar-benar tua bangka<BR>tak tahu malu!" kata Lai Tosu.<BR>"Akan tetapi Sicu tak perlu merasa kuatir," sambung Kui Tosu tenang. "Biarkan<BR>mereka datang, kita atur jebakan untuk mereka. Para tosu supaya mengatur<BR>bai-hok (barisan terpendam) di sekeliling puncak, siap dengan senjata<BR>lengkap. Kami sudah melihat bahwa gerombolan mereka hanya terdiri dari tiga<BR>puluh orang lebih. Kita menang banyak. Kita biarkan mereka masuk dan Sicu<BR>boleh menghadapi Bhe Lam sedangkan kami bertiga akan menggempur Toatbeng<BR>Yok-mo. Tentang Kim-thouw Thian-li, kami rasa cukup kalau dihadapi<BR>oleh isterimu dan murid-muridmu. Sementara itu, para tosu datang<BR>mengurung dan mengeroyok anak buah mereka yang tidak banyak jumlahnya<BR>itu. Dengan cara ini, kami rasa kita akan dapat membunuh mereka semua,<BR>jangan ada yang bisa lolos agar kelak mereka tidak mendatangkan bencana<BR>pula!"<BR>Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa mengangguk-angguk, setuju dengan<BR>rencana siatsat ini. Akan tetapi tiba-tiba Kun Hong berseru marah, "Tidak<BR>boleh....! Tidak boleh, jahat sekali itu! Masa kita Hoa-San-pai harus<BR>membunuhi orang-orang itu? Tidak boleh, mana ada aturan manusia<BR>membunuh manusia lain? Ini perbuatan terkutuk, oleh Thian!"<BR>Semua orang kaget, apalagi Pak-thian Sam-lojin. Mereka menengok<BR>memandang kepada pemuda itu dengan heran.<BR>"Kwa-sicu, siapakah orang muda ini?" tanya Kui Tosu.<BR>"Dia adalah Kun Hong, anak kami yang bodoh," jawab Kwa Tin Siong dan ia<BR>sudah melototkan matanya untuk menegur anaknya. Akan tetapi Kui Tosu<BR>sudah mendahuluinya, bertanya dengan keren.<BR>"Orang muda, kalau kau menganggap rencana kami, itu tidak boleh dijalankan,<BR>habis kalau menurut pikiranmu bagaimana baiknya menghadapi musuh-musuh<BR>yang akan menyerbu?"<BR>"Ha-ha, bocah berlagak pintar!" kata Lui Tosu. "Apakah kau ingin agar mereka<BR>itu datang menyerbu dan membunuh kita semua?"<BR>"Tidak demikian maksudku. Harap Sam-wi Totiang tidak salah sangka," jawab<BR>Kun Hong, suaranya tetap dan tegas. "Kalau ada seorang gila memaki-maki<BR>seorang waras, lalu si waras itu balas memaki-maki si gila, lalu bagaimana<BR>perbedaan antara mereka? Mana si waras dan mana si gila? Demikian pula,<BR>kalau ada orang jahat berencana hendak membunuh kita, lalu kita berencana<BR>pula untuk membunuh mereka, bukankah watak kita tiada bedanya dengan<BR>orang jahat itu? Mereka hendak membunuh kita, kita pun hendak membunuh<BR>mereka. Siapa di antara kita yang jahat? Siapa benar siapa salah?"<BR>Kwa Tin Siong sendiri melengak mendengar omongan puteranya ini. Memang<BR>ia tahu bahwa watak puteranya amat keras dan juga amat berani dalam<BR>mengemukakan pendapatnya, akan tetapi tidak disangkanya akan seberani ini.<BR>Tiga orang kakek itu saling pandang dengan terheran-heran. Kui Tosu lalu<BR>membantah<BR>"Tentu ada perbedaannya! Kita hendak membunuh mereka dengan dasar<BR>hendak membasmi orang-orang jahat!"<BR>"Apa Totiang mengira bahwa mereka pun tidak mempunyai dasar dengan<BR>kehendak mereka membunuh kita? Setiap perbuatan tentu ada dasarnya, yaitu<BR>dasar untuk kemenangan sendiri, untuk kebaikan sendiri. Pendapat seorang<BR>takkan sama, dasar yang dipakai orang tidak sama pula. Semua orang<BR>memperebutkan kebenaran, kebenaran sendiri tentu!"<BR>"Habis, kalau menurut pendapatmu, bagaimana?" Kui Tosu mulai marah.<BR>Karena bocah ini adalah putera Ketua Hoa-san-pai, maka ia mau melayaninya,<BR>kalau bukan putera Kwa tin Siong, tentu tidak sudi bicara dengannya.<BR>"Maaf, Totiang. Harap Totiang, juga Ayah dan Ibu dan para susiok dan suheng<BR>suka menjawab dulu pertanyaanku. Kalau kukatakan bahwa yang berhak atas<BR>sesuatu benda adalah pembuatnya, apakah salah kata-kataku ini?"<BR>"Tentu saja begitu," jawab Thian Beng Tosu karena yang lain-lain tidak<BR>menjawab.<BR>"Nah, Suheng sudah menjawab dan membetulkan kata-kataku. Yang berhak<BR>atas sesuatu adalah pembuatnya. Lalu, siapakah yang membuat manusia ini<BR>hidup di dunia? Salahkah kalau kukatakan bahwa Tuhan yang memberi hidup?"<BR>Kembali pemuda ini berhenti dan memandangi mereka dengan sepasang<BR>matanya yang bersinar tajam.<BR>"Benar pula, Kun Hong," jawab Thian Beng Tosu.<BR>"Nah, kalau kita semua mengakui bahwa yang memberi hidup adalah Tuhan,<BR>berarti hidup kita ini millk Tuhan. Oleh karena itu pula, hanya Tuhanlah yang<BR>berhak untuk mengakhiri hidup kita, jadi hanya Tuhan pula yang berhak<BR>membunuh manusia. Kalau kita sudah tahu akan hal ini, mudah saja bagi kita<BR>menjawab. Perbuatan membunuh itu baik atau jahat?"<BR>Tidak ada yang menjawab, Kun Hong penasaran dan menghadapi ayahnya.<BR>"Ayah selalu mengajar agar supaya aku hanya mengatakan apa yang menjadi<BR>isi hatiku. Mengapa sekarang pertanyaanku tidak ada yang menjawab? Ayah,<BR>bukankah menurut sebab-sebab tadi, membunuh itu baik ataukah jahat?"<BR>"Memang, membunuh adalah perbuatan yang tidak baik," akhirnya ayahnya<BR>berkata perlahan.<BR>Mata Kun Hong berseri-seri dan bersinar-sinar. "Nah, kalau perbuatan<BR>membunuh ini termasuk perbuatan jahat, mengapa kita merencanakan hendak<BR>membunuh orang malah? Mengapa kita hendak membalas kejahatan dengan<BR>kejahatan pula? Kalau orang lain yang hendak membunuh termasuk golongan<BR>penjahat, habis kita ini apa kalau juga meniru perbuatan mereka? Membalas<BR>perbuatan baik dengan kebaikan pula adalah sikap seorang budiman.<BR>Membalas kejahatan dengan kebaikan hanya mungkin dapat dilakukan oleh<BR>alam, hanya mungkin dapat dilakukan oleh Tuhan. Hanya manusia yang sudah<BR>dapat menyatukan diri dengan alam saja yang akan mencapai kebajikan ini,<BR>yaitu membalas kejahatan dengan kebaikan. Akan tetapi seorang manusia<BR>bijaksana, seorang budiman biarpun belum dapat membalas kejahatan dengan<BR>kebaikan, sedikitnya harus dapat membalas kejahatan dengan keadilan!"<BR>Semua orang di sini maklum bahwa yang dikemukakan oleh pemuda itu adalah<BR>ajaran-ajaran dalam agama dan filsafat yang memang telah dipelajarinya<BR>semenjak ia kecil.<BR>"Semua orang telah mempelajari kebenaran, akan tetapi tidak berani membela<BR>dan mempertahankan kebenaran yang dipelajarinya itu! Ayah, dan ibu, dan<BR>semua susiok dan suheng. Hoa-san pai takkan bernama kalau dibangun<BR>dengan darah dan pembunuhan. Hoa-san-pai adalah perkumpulan untuk<BR>menuntun orang-orang mempelajari Agama Tao agar manusia dapat<BR>membersihkan diri daripada kejahatan, bagaimana mungkin mengajar orang<BR>membersihkan diri dari kejahatan dengan jalan terjun ke dalam kejahatan itu<BR>sendiri?"<BR>Melihat pemuda ini makin bersemangat, Kwa Tin Siong merasa tidak enak hati<BR>dan ia lalu membentak, "Kun Hong, kau ini anak kecil hendak memberi<BR>pelajaran kepada orang-orang tua? Soal begitu saja, kita semua sudah tahu,<BR>apalagi Sam-wi Locianpwe ini. Yang kau kemukakan itu adalah pelajaranpelajaran<BR>yang masih rendah dan semua juga sudah mengetahuinya."<BR>Tahu tidak sama dengan mengerti, malah mengerti pun tidak sama dengan<BR>sadar, Ayah! Tahu saja tanpa mengerti isinya percuma. Mengerti sekalipun<BR>tanpa kesadaran takkan ada gunanya. Yang penting tahu, lalu mengerti akan<BR>isinya, sadar untuk menerapkan pengertian ini dengan batinnya, kemudian<BR>disusul dengan ketaatan bulat terhadap pengertian ini. Apa gunanya kalau kita<BR>hanya tahu dan mengerti bahwa membunuh itu jahat, akan tetapi kita malah<BR>nekat melakukannya? Pendeknya, anak tidak setuju kalau Hoa-san-pai<BR>mempunyai orang-orang yang suka menjadi pembunuh sesama manusia!"<BR>"Hemm, hemmm, aneh sekali anakmu, Kwa-sicu!" kata Kui Tosu dengan muka<BR>merah. Tosu tua yang berangasan ini tak dapat menahan lagi kesabarannya.<BR>"Eh, kongcu cilik, habis kalau menurut pendapatmu, bagaimarna kita akan,<BR>menghadapi gerombolan Harimau Hitam itu?"<BR>"Alam mempunyai hukum yang diatur oleh Tuhan. Manusia pun mempunyai<BR>hukum yang diatur oleh pemerintahan negara. Kita sebagai manusia harus<BR>tunduk kepada hukum pula. Masyarakat telah diatur dengan adanya petugaspetugas<BR>yang berkewajiban mengatur hukum-hukum itu. Kalau ada hal yang<BR>tidak beres dan melanggar hukum, merekalah yang wajib mengurusnya.<BR>Sekarang gerombolan itu kalau sudah datang ke sini, kita ajak bicara secara<BR>aturan. Kalau mereka tidak mau terima uluran dan hendak melanggar hukum,<BR>biar kita laporkan kepada lurah dan para petugas di dusun, tak jauh di kaki<BR>gunung sana."<BR>Meledak suara ketawa tiga orang tosu tua itu. ketika mendengar omongan ini.<BR>Kwa Tin Siong menjadi amat merah mukanya karena sikap Kun Hong ini jelas<BR>membuka kenyataan bahwa puteranya itu tidak tahu-menahu tentang dunia<BR>persilatan, di mana hukum yang dipakai adalah hukum persilatan yang jauh<BR>bedanya dengan hukum pemerintah.<BR>"Kwa-sicu, kau benar-benar aneh sekali mendidik anakmu seperti ini! Ha-haha,<BR>tidak nyana mendiang Lian Bu Tojin mempunyai cucu murid seperti ini!"<BR>Kun Tosu tertawa-tawa sambil memegangi perutnya saking geli.<BR>"Locianpwe, harap maafkan puteraku, memang semenjak kecil tak pernah<BR>diberi pendidikan ilmu silat, melainkan ilmu surat dan filsafat. Betapapun juga,<BR>menurut pendapatku yang bodoh, jauh lebih baik tidak tahu akan ilmu silat<BR>sehingga jauh daripada bermusuh-musuhan seperti dalam penghidupan kita<BR>orang-orang persilatan."<BR>Pada saat itu terdengar suara nyaring di luar pintu, suara wanita yang<BR>berteriak-teriak, "Hayo, mana dia si orang she Kwa? Suruh dia lekas keluar<BR>menyerahkan pedang Hoa-san Po-kiam dan kepalanya!"<BR>Semua orang kaget sekali. Bagaimana bisa ada seorang musuh datang begitu<BR>saja tanpa diketahui oleh para penjaga yang sudah diatur serapi-rapinya? Kwa<BR>Tin Siong menyangka bahwa yang datang tentulah Kim-thouw Thian-li, maka<BR>ia lalu melangkah keluar, diikuti semua orang termasuk Pak-thian Sam-lojin.<BR>Setelah mereka tiba di luar, semua orang ini dibikin bengong saking herannya.<BR>Bukan Kim-thouw Thian-li yang berdiri di situ, melainkan seorang gadis<BR>tanggung berusia sekitar tujuh belas tahun, yang berdiri dengan tegak di<BR>tengah pelataran depan kuil. Gadis ini cantik sekali, sepasang matanya tajam<BR>bergerak-gerak cepat memandang ke kanan kiri, mulut kecil yang berbibir<BR>merah itu manis tersenyum-senyum setengah mengejek. Pakaiannya<BR>sederhana sekali, dari kain kasar dan dengan jahitan sederhana seperti<BR>biasanya pakaian gadis-gadis gunung, juga tidak kelihatan membawa senjata<BR>apa-apa sehingga benar-benar seperti seorang dara gunung yang cantik manis<BR>sekali. Karena ia tidak bersenjata, maka ia mirip seorang gadis yang kurang<BR>waras pikirannya. Kalau tidak demikian, bagaimana seorang gadis seperti dia<BR>berani bicara tidak karuan di Hoa-san-pai? Berbeda kiranya kalau dia<BR>membawa senjata, tentu dia merupakan seorang gadis kang-ouw yang<BR>berkepandaian silat maka berani membuka suara besar.<BR>Melihat banyak orang keluar dari kuil dan sikap mereka rata-rata gagah, gadis<BR>itu kembali berteriak, suaranya nyaring, biarpun merdu dan halus namun jelas<BR>bernada keras mengancam, "Mana Ketua Hoa-san-pai she Kwa?"<BR>Dengan tenang dan sabar Kwa Tin Siong melangkah maju dan balas bertanya,<BR>"Nona siapakah dan dari mana? Ada keperluan apakah kau mencari Ketua<BR>Hoa-san-pai she Kwa?"<BR>Dengan pandang matanya yang tajam gadis itu memandang Kwa Tin Siong<BR>penuh selidik, lalu berkata, "Sudah kukatakan tadi, dia harus menyerahkan<BR>Hoa-san Po-kiam kepadaku, juga kepalanya. Pedang dan kepalanya harus<BR>kubawa pergi." Jawaban ini demikian sewajarnya sehingga para pendengarnya<BR>menjadi bengong. Banyak tosu menganggap bahwa gadis ini tentu miring<BR>otaknya, kalau tidak demikian, masa mengajukan permintaan yang begitu<BR>gila?<BR>Kwa Kun Hong menjadi marah. Dengan mata melotot ia melangkah maju dan<BR>berdiri dekat sekali di depan gadis itu. Lagaknya seperti seorang guru<BR>memarahi muridnya yang goblok. Telunjuknya menuding ke arah muka yang<BR>cantik.<BR>"Nona cilik, apakah kau tidak pernah diajar orang tuamu? Ucapan apa yang<BR>kaukeluarkan itu? Sungguh tidak patut! Mana ada aturan orang seperti kau ini<BR>hendak membunuh orang dan minta kepalanya? Ah, dosa... dosa..., benarbenar<BR>kau berdosa besar sekali. Apa kau tidak takut ditangkap oleh yang<BR>berwajib dan dijebloskan dalam penjara? Kalau terjadi demikian, aduh kasihan<BR>sekali kau yang masih begini muda!"<BR>Gadis muda itu nampak bingung dan memandang kepada Kun Hong dengan<BR>tertarik. "Penjara? Apa itu? Yang berwajib itu siapa? Kenapa aku hendak<BR>ditangkap?"<BR>Kun Hong mengira bahwa gadis itu tentu takut dengan gertakannya, maka<BR>hatinya menjadi girang. "Nah, belum apa-apa sudah takut, kau! Maka jangan<BR>sembarangan bicara. Yang berwajib itu tentu saja petugas pemerintah yang<BR>menjadi penegak hukum. Penjara itu adalah tempat orang-orang jahat<BR>dihukum. Kau masih muda, seorang gadis yang semestinya bersikap lemah<BR>lembut dan membantu pekerjaan ibu di rumah. Aku kasihan sekali kepadamu<BR>dan sungguh mati aku tidak ingin melihat kau sampai ditangkap dan<BR>dimasukkan penjara." Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa hanya menarik napas<BR>panjang menyaksikan sikap putera mereka yang tentu dianggap tolol oleh<BR>semua orang itu, akan tetapi karena gadis itu pun kelihatannya bodoh, maka<BR>mereka itu mendiamkannya saja.<BR>Tiba-tiba gadis muda itu kelihatan marah. "Siapa berani menangkap aku? Aku<BR>tidak takut! Kau ini... kau menakut-nakuti aku. Apakah kau she Kwa?"<BR>Kun Hong tersenyum lebar. "Eh, eh, kiranya kau sudah mengenal aku? Di<BR>mana kita pernah bertemu? Bagiku, mimpi pun belum pernah bertemu dengan<BR>kau yang lucu ini."<BR>"Siapa pernah bertemu dengan engkau? Apakah kau she Kwa?"<BR>"Kalau belum pernah bertemu, bagaimana kau mengenalku dan mengerti<BR>bahwa aku she Kwa? Aneh sekali, aku memang betul she Kwa!"<BR>Secepat kilat tangan gadis itu bergerak dan tahu-tahu leher baju Kun Hong<BR>telah ditangkapnya dan sekali tarik Kun Hong sudah berada dalam<BR>kekuasaannya. Semua orang kaget, Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa sudah<BR>bersiap menolong puteranya. Akan tetapi gadis itu hanya mengancam.<BR>"Apakah kau Ketua Hoa-san-pai?"<BR>Kun Hong kaget bukan main, lalu berkata gemas, "Kau ini wanita apa laki-laki?<BR>Tenagamu amat besar dan kau tarik-tarik aku mau apa sih?"<BR>"Kalau kau Ketua Hoa-san-pai akan kupenggal kepalamu!"<BR>Kun Hong meleletkan lidahnya mengejek. "Kaukira aku takut dengan<BR>ancamanmu? Andaikata aku benar-benar Ketua Hoa-san-pai, tentu aku akan<BR>mengaku dan tidak takut kausembelih seperti ayam. Sayangnya aku bukan<BR>Ketua Hoa-san-pai."<BR>Gadis itu melepaskan leher bajunya dan mendorongnya perlahan, akan tetapi<BR>dorongan ini cukup membuat Kun Hong terlempar dan terguling dan berkata,<BR>"Benar-benar kau jahat sekali, tak tahu dikasihani orang!"<BR>Gadis itu mengomel, "Syukur kau bukan Ketua Hoa-san-pai, aku tidak senang<BR>kalau harus membunuh orang lemah seperti kau. Tak mungkin lagi kalau kau<BR>Ketua Hoa-san-pai, menurut keterangan ibu Ketua Hoa-san-pai jahat. Kau...<BR>tak mungkin jahat, kau laki-laki lemah tak berguna."<BR>bagian 38<BR>Kun Hong hendak membantah lagi akan tetapi Kwa Tin Siong menariknya ke<BR>belakang lalu menghadapi gadis itu. Suaranya keren ketika ia bertanya, "Nona,<BR>sebenarnya kau ini siapa dan apa kehendakmu mengacau di Hoa-san-pai?"<BR>"Apakah kau she Kwa? Dan siapa Ketua Hoa-san-pai?"<BR>"Betul, akulah Kwa Tin Siong Ketua Hoa-san-pai."<BR>Gadis itu memandang tajam, tampaknya ragu-ragu. "Kau pun tidak pantas<BR>menjadi orang amat jahat. Jangan kau membohong. Kalau benar kau orang<BR>she Kwa Ketua Hoa-san-pai, mana pedang pusaka Hoa-san Po-kiam?"<BR>Kwa Tin Siong tersenyum. Sikap gadis cilik itu amat menarik hatinya, biarpun<BR>aneh dan agak sombong, namun lucu dan banyak memiliki sifat-sifat<BR>menimbulkan " rasa sayang. Ia mencabut Hoa-san Po-kiam sambil berkata,<BR>"Inilah Hoa-san Po-kiam. Nah, percayakah kau sekarang bahwa aku adalah<BR>Ketua Hoa-san-pai? Sekarang katakanlah, kau ini bernama siapa dan<BR>sebetulnya apa yang menyebabkan kau bersikap begini aneh?"<BR>Mendadak gadis itu menggerakkan kedua tangannya dan menyerang Ketua<BR>Hoa-san-pai itu dengan pukulan-pukulan yang cepat bertubi-rtubi. Kwa Tin<BR>Siong kaget bukan main. Bukan kaget karena diserang, baginya sudah terlalu<BR>biasa menghadapi serangan-serangan mendadak. Akan tetapi ia kaget dan<BR>heran sekali melihat cara menyerang dari gadis itu. Melihat gerakan lengan kiri<BR>yang pertama-tama memukul dadanya, tak salah lagi itu adalah gerak tipu<BR>Burung Hong Mematuk Hati dari ilmu silat Hoa-san-pai. Akan tetapi digerakkan<BR>amat aneh dan dengan kecepatan luar biasa sehingga hampir saja dadanya<BR>kena pukul! Sebelum ia kehilangan kagetnya setelah berhasil mengelak,<BR>serangan ke dua sudah tiba pula. Kali ini juga sebuah gerak tipu dari ilmu silat<BR>Hoa-san-pai yang disebut Sepasang Naga Mengejar Awan. Lagi-lagi ia<BR>melengak dan repot sekali menggunakan tangan kirinya menangkis sambil<BR>membuang diri ke belakang karena sepasang kepalan gadis itu bergerak<BR>terlalu cepat dan juga aneh sekali. Dia adalah Ketua Hoa-san-pai, semenjak<BR>kecil sudah melatih diri dengan ilmu silat Hoa-san-pai dan sudah hafal, malah<BR>ilmu silat ini sudah mendarah daging dalam dirinya. Akan tetapi mengapa<BR>diserang dua kali dengan tipu dari ilmu silat ini ia menjadi repot sekali? Yang<BR>hebat adalah perubahan-perubahan yang susul-menyusul dari serangan gadis<BR>itu. Karena begitu Kwa Tin Siong membuang diri ke belakang, tahu-tahu gadis<BR>itu sudah menyerangnya lagi, kini dengan gerak tipu yang amat dahsyat, yaitu<BR>yang disebut Harimau Sakti Menerkam Kuda. Dengan kedua tangan terbuka<BR>gadis itu sudah meloncat dan menyambar ke arah punggungnya dengan jarijari<BR>tangan terbuka.<BR>Tentu saja Kwa Tin Siong merasa tidak enak untuk balas menyerang seorang<BR>gadis cilik seperti itu. Apalagi gadis itu ternyata selalu mempergunakan jurusjurus<BR>dari ilmu silat Hoa-san-pai dalam menyerangnya. Akan tetapi karena<BR>diam-diam ia mengakui bahwa gerakan gadis ini agak berbeda dengan ilmu<BR>silatnya sendiri walaupun jurus-jurus itu sama benar, malah diam-diam ia<BR>terkejut karena daya penyerangan gadis cilik ini amat dahsyat, ia lalu<BR>mengambil keputusan untuk memberi hukuman sedikit kepadanya. Melihat<BR>gadis itu menerjangnya dengan gerakan Harimau Sakti Menerkam Kuda, ia<BR>membiarkan gadis itu sudah melayang dekat, lalu tiba-tiba ia menggerakkan<BR>tangan kiri menangkis ke depan dengan pengerahan tenaga Iwee-kangnya.<BR>Terdengar seruan kaget dari kedua pihak. Gadis itu kaget sekali ketika tangan<BR>kanannya tergetar dalam pertemuan dengan tangkisan Ketua Hoa-san-pai itu<BR>sampai seluruh tubuhnya ikut tergetar, akan tetapi, Kwan Tin Siong kaget<BR>bukan main ketika dalam keadaan seperti itu, tak tersangka-sangka sama<BR>sekali tangan kiri gadis itu sudah menotok ke arah pergelangan tangan<BR>kanannya yang mememegang pedang dan sekaligus dapat merampas pedang<BR>itu dari tangannya!<BR>Merah kini wajah Kwa Tin Siong. Pedang pusaka Hoa-san-pai dapat terampas<BR>dari tangan Ketua Hoa-san-pai, benar-benar hal ini merupakan hal yang amat<BR>memalukan! Ia harus mengakui bahwa gerakan-gerakan gadis ini dalam ilmu<BR>silat Hoa-san-pai amat mahir dan juga amat aneh, akan tetapi perampasan<BR>pedang tadi terjadi karena ia tidak menyangka sama sekali dan karena ia<BR>sudah banyak mengalah terhadap gadis muda itu.<BR>"Bocah tak tahu diri! Kau benar-benar makin kurang ajar. Hayo kau<BR>kembalikan pedangku!" katanya keren.<BR>Gadis muda itu menjebirkan bibirnya yang merah. "Pedang ini aku yang<BR>berhak. Karena aku merasa bahwa bukan kau orang yang kumaksudkan, maka<BR>kau tidak kubunuh.. Orang yang kumaksudkan itu biarpun she Kwa juga, akan<BR>tetapi jauh lebih jahat dari padamu."<BR>Diam-diam hati Kwa Tin Siong berdebar. Tak salah lagi, tentu yang<BR>dimaksudkan oleh gadis ini adalah Kwa Hong.<BR>"Kau siapakah? Siapa namamu dan siapa orang tuamu?"<BR>"Namaku Li Eng, orang tuaku... hemmm, mereka tidak ada sangkut-pautnya<BR>dengan urusanku ini, kau tak usah mengenal mereka." Setelah berkata<BR>demikian, gadis itu menengok ke belakang dan agaknya takut-takut.<BR>"Ha, kau bocah nakal!" tiba-tiba Kun Hong berseru sambil tertawa. "Aku tahu<BR>sekarang! Kau tentu minggat di luar tahunya orang tuamu, maka kau tidak<BR>berani menyebut nama mereka karena takut kami memberi tahu orang<BR>tuamu."<BR>Gadis ini nampak makin ketakutan "Jangan...." katanya seperti anak kecil<BR>ditakut-takuti. "Jangan katakan kepada orang tuaku...!"<BR>Kun Hong tertawa menggoda. "Nah, begitu baru anak baik, takut kepada orang<BR>tua! Hayo lekas kau kembalikan pedang ayah kalau kau tidak mau kelak<BR>dijewer telingamu oleh ibumu!"<BR>Gadis itu ragu-ragu. "Tapi... tapi... kata ibu... pedang ini adalah hak ayah ibu<BR>dan... dan...."<BR>"Berikan, kalau tidak awas, kelak kuberitahukan ayah ibumu!" Kun Hong<BR>mengancam. "Tidak boleh mempergunakan pedang untuk membunuh orang."<BR>"Aku tidak membunuh... boleh kau bawa dulu pedang ini, tapi aku harus<BR>mencoba dulu sampai di mana hebatnya kepandaian Ketua Hoa-san-pai,<BR>mengapa dia berani menghina orang lain. Bawalah, tapi jangan kauberikan<BR>kepada siapapun juga."<BR>"Nah, begitu baru gagah! Memang sudah sepantasnya kalau kau hendak<BR>mencoba kepandaianmu. Tanpa pedang ini mana kau mampu mengalahkan<BR>ayahku? Baik, kubawa pedang ini dan kau boleh coba-coba dengan ayah.<BR>Kalau kau kalah, kau harus mengaku semuanya dan minta ampun atas<BR>kekurangajaranmu."<BR>"Huh, enak saja. Mana aku bisa kalah? Kalau aku menang, pedang itu harus<BR>kaukembalikan kepadaku dan Ketua Hoa-san-pai harus meninggalkan Hoasan!"<BR>"Ha-ha, boleh, boleh..,." kata Kun Hong yang tidak mau percaya kalau<BR>ayahnya akan kalah oleh gadis ini. "Gerakanmu ketiga-tiganya tadi salah<BR>semua. Agaknya kaupun mempelajari ilmu silat Hoa-san-pai, mana bisa<BR>menandingi ayah dalam ilmu silat ini? Gerakanmu pertama Burung Hong<BR>Mematuk Hati, kemudian disusul Sepasang Naga Mengejar Awan lalu yang<BR>terakhir tadi Harimau Sakti Menerkam Kuda semuanya salah dan aneh, jelas<BR>bukan ilmu silat Hoa-san-pai yang aseli, sama sekali tidak cocok dengan<BR>catatan ayah!"<BR>Lagi-lagi Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa melengak heran karena sekali lagi<BR>putera mereka membuktikan bahwa hanya dengan melihat catatan anak itu<BR>sudah dapat mengenal ilmu yang dimainkan oleh gadis aneh ini. Juga gadis itu<BR>terheran, tapi makin penasaran. Ia memberikan pedang Hoa-san Po-kiam<BR>kepada Kun Hong, lalu memasang kuda-kuda menghadapi Kwa Tin Siong.<BR>"Kalau benar kau Ketua Hoa-san-pai, majulah hendak kulihat sampai di mana<BR>kepandaianmu," tantangnya.<BR>Semenjak tadi Kwa Tin Siong sudah menaruh curiga kepada anak perempuan<BR>itu. Tak salah lagi bahwa gerakan-gerakannya tadi adalah Hoa-san Kun-hoat,<BR>akan tetapi bagaimana gerakannya demikian aneh? Memang betul Kun Hong,<BR>gerakan-gerakan itu agak berbeda dan menurut pandangannya sendiri adalah<BR>dilakukan dengan keliru, akan tetapi harus ia akui bahwa kekeliruan itu justeru<BR>agaknya memperhebat daya penyerangannya! Ia menjadi ragu-ragu. Siapakah<BR>gadis ini dan apa maksud kedatangannya? Siapa yang menyuruhnya?<BR>"Hayo, apakah kau takut kepadaku?" gadis itu menantang lagi melihat<BR>keraguan Kwa Tin Siong.<BR>"Bocah tak tahu diri!" Liem Sian Hwa yang berwatak keras tak dapat menahan<BR>kemarahannya lagi. "Sudah jelas bahwa ilmu silatmu adalah ilmu silat Hoasan-<BR>pai biarpun kurang matang. Bagaimana kau sekarang datang menantang<BR>Ketua Hoa-san-pai? Kau terhitung murid Hoa-san-pai juga, biarpun entah dari<BR>mana kau mencuri ilmu silat kami. Pergilah, kami tidak sudi berurusan dengan<BR>anak kecil!"<BR>Gadis itu memandang Sian Hwa dengan matanya yang jeli. "Hemm, kau<BR>cantik, seperti ibu. Apakah kau juga she Kwa? Kalau kau she Kwa, kau<BR>majulah!"<BR>"Hush, jangan kau kurang ajar kepada ibuku Kun Hong membentak dari<BR>samping.<BR>"Aha, jadi dia ini ibumu? Kalau begitu juga tidak becus apa-apa seperti kau?"<BR>Kui Tosu, orang pertama dari Pak-thian Sam-lojin, biarpun usianya sudah<BR>hampir tujuh puluh tahun, wataknya amat berangasan. Sebagai tamu<BR>terhormat dia menjadi marah sekali menyaksikan lagak bocah itu, maka<BR>sekarang sambil mengebutkan ujung lengan bajunya, ia melangkah maju dan<BR>berkata,<BR>"Siancai... siancai... alangkah buruk Hoa-san-pai. Saudara Lian Bu Tojin tewas<BR>di tangan murid jahat, sekarang agaknya ada lagi murid Hoa-san-pai yang<BR>jahat dan datang-datang hendak mengacau perguruannya sendiri. Eh, bocah,<BR>kau minggatlah dari sini. Kami bersama Kwa-sicu sedang menghadapi urusan<BR>penting, tak perlu meladeni anak-anak macam kau ini!"<BR>Gadis itu memandang lucu, tertawa-tawa geli ketika melihat jenggot yang<BR>panjang dari Kui Tosu. "He-he, kau ini seperti kambing tua mengembik saja.<BR>Baru menghadapi penjahat kecil yang berkumpul di Im-kan-kok sudah ributribut.<BR>Aku datang untuk berurusan dengan Ketua Hoa-san-pai she Kwa, kau ini<BR>kambing tua datang-datang menjual lagak mau apa sih?"<BR>"Bocah kurang ajar!" Kui Tosu tak dapat menahan kemarahannya lagi, lalu<BR>tangan kirinya bergerak dan ujung lengan baju yang lebar itu menyambar<BR>merupakan tamparan keras ke arah kepala gadis itu.<BR>"Eh-eh, kambing tua keluar tanduknya? Suruh dua ekor kambing tua temanmu<BR>itu maju semual" Gadis yang mengaku bernama Li Eng itu mengejek dan<BR>serangan yang hebat itu dapat ia elakkan hanya dengan penggeseran kaki ke<BR>belakang dan miringkan kepala saja. Hebatnya sambil mengelak ini kakinya<BR>yang kiri menyambar ke depan, ke arah lambung kakek itu!<BR>Kui Tosu kaget sekali melihat tendangan yang amat cepat dan hebat ini. Ia<BR>sudah lama mengenal Lian Bu Tojin, maka ia pun sudah mengenal ilmu silat<BR>Hoa-san-pai. Jelas bahwa tendangan dan gerakan gadis ini adalah dari ilmu<BR>silat Hoa-san-pai. Andaikata yang mainkan ilmu silat itu adalah Lian Bu Tojin<BR>sendiri atau setidaknya Kwa Tin Siong, ia tidak akan merasa aneh kalau<BR>melihat kehebatan ilmu silat itu. Akan tetapi sekarang yang memainkannya<BR>hanya seorang gadis belasan tahun usianya, bagaimana bisa demikian cepat<BR>dan juga aneh? Serangan balasan dengan tendangan ini sebetulnya bukan<BR>pada tempatnya untuk melayani tamparan tadi, malah membahayakan si<BR>penendang sendiri.<BR>Maka Kui Tosu juga tidak menyia-nyiakan kesempatan baik ini untuk memberi<BR>hajaran dan membikin malu gadis nekat ini. Tangan kirinya menyambar dari<BR>bawah dengan maksud menangkap kaki yang menendang untuk kemudian<BR>didorong supaya gadis itu jatuh.<BR>Akan tetapi begitu tangan kakek ini menyentuh sepatu Li Eng, dengan kaget ia<BR>terhuyung mundur karena pada saat itu tanpa disangka-sangka sama sekali Li<BR>Eng dapat memutar kakinya yang langsung menendang ke pundak Kui Tosu.<BR>Serangan ini sama sekali tidak tersangka-sangka olehnya karena amat aneh,<BR>maka tanpa dapat ia hindarkan, pundaknya telah didorong ujung sepatu,<BR>biarpun tidak mengakibatkan luka parah, namun cukup membuat ia<BR>terhuyung-huyung dan kehilangan muka! Marah sekali kakek ini, tanpa<BR>berkata apa-apa ia lalu menerjang lagi sekarang mengeluarkan serangan yang<BR>hebat, Malah kakek ke dua Bu To-su, juga membentak sambil menyerang.<BR>"Heh-heh, kambing tua yang satu lagi kenapa tidak maju?" Li Eng mengejek<BR>dan tahu-tahu tubuhnya sudah berkelebatan ke sana ke mari, menyelinap di<BR>antara serangan kedua orang kakek dari utara itu. Bagaikan seekor burung<BR>walet yang amat gesit, tubuhnya berloncatan, menyelundup, mengelak dan<BR>semua itu digerakkan dengan langkah-langkah ilmu silat Hoa-san-pai yang<BR>amat sempurna sehingga Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa dua orang ahli<BR>Hoa-san-pai yang melihat itu, jadi saling pandang dengan penuh keheranan.<BR>Apalagi ketika Lie Eng menggunakan langkah-langkah Hoa-san Pat-kwa-pouw,<BR>tak terasa lagi Kwa Tin Siong berbisik kepada isterinya, "Dari mana dia<BR>mempelajari ini?"<BR>Sementara itu, Kui Tosu dan Bu Tosu menjadi makin penasaran karena sudah<BR>beberapa belas jurus mereka menyerang, belum juga dapat mengalahkan<BR>gadis aneh itu. Jangankan mengalahkan, menyentuh ujung bajunya saja tak<BR>mampu, Melihat ini, Lai Tosu tiba-tiba teringat akan sesuatu dan ia maju pula<BR>sambil membentak,<BR>"Siluman cilik, apakah kau anggauta rombongan di Im-kan-kok yang hendak<BR>mengacau Hoa-san-pai?"<BR>"Hi-hik, kambing tua, kau majulah sekalian, mengapa banyak bertanya? Kalau<BR>benar aku anggauta rombongan, apakah kau takut?"<BR>"Bagus, kalau begitu kami akan menangkapmu lebih dulu!" Lai Tosu segera<BR>menyerbu dan pertandingan menjadi makin ramai karena sekarang Lie Eng di<BR>keroyok tiga oleh Pak-thian Sam-lojin. Sungguh pemandangan yang amat lucu<BR>kalau melihat betapa seorang gadis belasan tahun dikeroyok tiga oleh tokohtokoh<BR>ternama seperti Pak-thian Sam-lojin.<BR>Kwa Tin Siong mengerutkan keningnya. Dua macam perasaan mengaduk dan<BR>menguatirkan hatiriya. Pertama-tama, sungguhpun Pak-thian Sam-lojin adalah<BR>tamunya dan bertindak untuk membantu Hoa-san-pai, namun sungguh amat<BR>tidak layak kalau tiga orang tokoh persilatan mengeroyok seorang gadis cilik.<BR>Kedua kalinya, kalau betul gadis ini adalah anggauta rombongan yang<BR>menyerbu Im-kan-kok, benar-benar berbahaya sekali. Baru gadis cilik ini saja<BR>sudah begini lihai, apalagi yang lain-lain? Heran dia, bagaimana seorang<BR>seperti Hek-houw Bhe lam dapat mengajak seorang gadis selihai ini? Dan lebih<BR>aneh lagi, sekarang jelas baginya bahwa gadis ini benar-benar orang ahli silat<BR>Hoa-san Kun-hoat, sungguhpun gerakan-gerakannya amat aneh dan malah<BR>lebih cepat dan lebih lebat daripada ilmu silat Hoa-san-pai yang aseli.<BR>Selagi ia hendak turun tangan mencegah dilanjutkannya pertempuran yang<BR>seimbang itu, tiba-tiba gadis itu mengeluarkan suara suitan panjang yang<BR>mengagetkan semua orang, apalagi setelah melihat betapa tubuh gadis itu<BR>lenyap berubah bayangan yang amat cepatnya. Tiga orang kakek itu<BR>mengeluarkan suara kaget, apalagi Kui Tosu dan Bu Tosu karena entah<BR>bagaimana, tahu-tahu gadis itu telah dapat menyambar jenggot mereka yang<BR>panjang, lalu melilitnya menjadi satu, dan menarik-narik jenggot itu sehingga<BR>dengan gerakan kacau-balau dua orang tosu ini terpaksa berjingkrakan.<BR>Mereka merasa kesakitan, apalagi sekarang Li Eng lari berputaran dan dalam<BR>keadaan kacau itu dia malah memutari tubuh Lai Tosu sehingga tosu ke tiga ini<BR>terbelit jenggot-jenggot itul Tiga orang tosu itu saling bertabrakan dengan<BR>kacau dan dua orang tosu yang dipegangi jenggotnya berteriak-teriak,<BR>"Lepaskan jenggot! Lepaskan jenggot!"<BR>Keadaan benar-benar lucu dan terdengarlah suara ketawa Kun Hong, "Ha-haha,<BR>lucu sekali"<BR>"Apakah yang lucu?" Kwa Tin Siong membentak marah. "Bocah itu kurang ajar<BR>sekali." Ia melompat maju dan mencengkeram ke arah lengan tangan gadis itu<BR>sambil membentak, "Bocah kurang ajar, pergilah!"<BR>Serangan Kwa Tin Siong ini hebat bukan main karena ia telah menggunakan<BR>jurus Dewa Menangkap Geledek. Akan tetapi ternyata bocah itu lebih lihai lagi<BR>karena dengan kecepatan luar biasa ia mencengkeram jenggot-jenggot itu<BR>sambil berseru keras. Seketika itu jenggot-jenggot itu putus di tengah-tengah<BR>dan sebelum tangan Kwa Tin Siong menyentuhnya ia telah menyambitkan<BR>rambut jenggot dalam genggamannya itu ke arah muka Ketua Hoa-san-pai.<BR>"Aiiih!" Kwa Tin Siong cepat membuang diri ke samping dan rambut jenggot<BR>itu meluncur cepat di samping kepalanya. Bukan main hebatnya tenaga dalam<BR>gadis itu yang mampu menyambitkan rambut menjadi senjata rahasia yang<BR>ampuh.<BR>Sementara itu, Pak-thian Sam-lojin benar-benar marah. Hinaan ini membuat<BR>mereka seperti kebakaran jenggot dan mencak-mencak saking marahnya.<BR>Juga Lai Tosu yang tidak putus jenggotnya yang tadi tubuhnya terbelit jenggot<BR>kedua saudaranya sampai pakaiannya robek-robek, menjadi marah sekali.<BR>Seperti dikomando saja ketiganya menggerakkan tangan dan tahu-tahu<BR>tangan mereka telah memegang sebatang pedang. Dengan muka merah mata<BR>melotot dan sikap mengancam, ketiganya menghadapi Li Eng yang tersenyumsenyum<BR>mengejek.<BR>Kwa Tin Siong hendak membuka mulut mencegah tiga orang tamunya itu<BR>mengeroyok gadis aneh tadi dengan pedang di tangan. Akan tetapi pada saat<BR>itu terdengar suara keras, "Aih, tiga orang tua bangka mengeroyok seorang<BR>bocah? Ha-ha, benar-benar tak tahu malu Pak-thian Sam-lojin menghadapi<BR>lawan yang patut menjadi cucunya!" Ucapan ini keras dan parau, lalu disusul<BR>melayangnya sesosok tubuh ke tengah pelataran itu. Ketika tubuh ini jatuh<BR>berdebuk di atas tanah kiranya itu adalah tubuh seorang tosu Hoa-san-pai<BR>yang sudah mati dan tubuhnya hitam hangus seperti terbakar.<BR>Li Eng gadis aneh itu tertawa lalu sekali mengenjot tubuhnya ia telah meloncat<BR>ke atas sebuah pohon, duduk "nongkrong" di atas cabang pohon itu, duduk<BR>dengan enak seperti orang hendak menonton pertunjukan yang menarik hati.<BR>Sementara itu, dari luar pelataran datang beberapa orang aneh. Yang paling<BR>depan adalah seorang kakek tua yang bongkok, giginya sudah ompong dan<BR>matanya besar sebelah, pakaiannya tambal-tambalan dan tangan kanannya<BR>memegang sebatang tongkat hitam. Di sampingnya berjalan seorang wanita<BR>yang biarpun usianya sudah lima puluh tahun lebih namun pakaiannya masih<BR>mewah dan wajahnya masih cantik. Kwa Tin Siong dan isterinya, juga Pakthian<BR>Sam-lojin segera mengenal dua orang ini yang bukan lain adalah Toatbeng<BR>Yok-mo dan Kim-thouw Thian-li, dua orang kang-ouw yang sudah<BR>tersohor karena kejahatan dan kelihaiannya. Toat-beng Yok-mo, sesuai<BR>dengan nama julukannya Yok-mo (Setan Obat), adalah ahli pengobatan yang<BR>tiada keduanya di dunia kang-ouw, kepandaiannya mengobati luar biasa sekali<BR>sehingga boleh dibilang segala macam penyakit ia sanggup mengobatinya<BR>sampai sembuh. Akan tetapi hebatnya, setelah orang yang diobati sembuh, ia<BR>tentu akan turun tangan membunuhnya. Inilah sebabnya mengapa ia<BR>mendapat julukan Toat-beng Yok-mo (Setan Obat Pencabut Nyawa). Adapun<BR>Kim-thouw Thian-li adalah Ketua Ngo-lian-kauw yang terkenal jahat, kejam,<BR>dan curang sekali.<BR>Di belakang dua orang tokoh ini kelihatan seorang laki-laki tinggi besar dengan<BR>mata bundar, di punggungnya terlihat sebatang golok yang mengkilap dan<BR>besar. Kwa Tin Siong dan yang lain-lain tidak mengenal orang ini, akan tetapi<BR>Thio Ki atau Thian Beng Tosu segera mengenalnya. Itulah musuh lamanya,<BR>Hek-houw Bhe Lam! Di belakang tiga orang ini masih terdapat sekelompok<BR>orang berjumlah tiga puluh dan rata-rata mempunyai air muka yang kasar dan<BR>kejam.<BR>Dengan keberanian luar biasa, sebelum orang lain bergerak, Kun Hong sudah<BR>melangkah lebar menyambut kedatangan rombongan yang dikepalai oleh<BR>kakek bongkok seperti iblis itu. Dengan nada suara marah Kun Hong berkata,<BR>"Apakah kalian ini yang menulis surat dan hendak mengacau Hoa-san-pai?"<BR>Kim-thouw Thian-li yang semenjak dahulu berwatak genit dan gila laki-laki,<BR>melihat pemuda yang tampan ini menjadi tertarik hatinya dan memandang<BR>kagum. Ia selamanya kagum sekali melihat pemuda tampan yang memiliki<BR>keberanian besar seperti Kun Hong ini. Diam-diam ia mengira bahwa pemuda<BR>ini tentu seorang pendekar muda yang berkepandaian tinggi. Sementara itu,<BR>Toat-beng Yok-mo tertawa ha-ha-he-he lalu menjawab,<BR>"Yang menulis surat adalah Bhe-sicu ini, aku hanya turut datang saja. Orang<BR>muda, kau mau apakah? Orang tidak memiliki ilmu silat seperti kau ini tak<BR>perlu maju. Heh-heh!" Sekali pandang dapat melihat bahwa Kun Hong tidak<BR>mengerti ilmu silat, hal ini saja sudah membuktikan ketajaman mata kakek ini.<BR>"Aku tidak akan bicara tentang ilmu silat, juga tentang maksud kedatangan<BR>kalian biar kita bicarakan belakangan. Yang penting sekarang kita bicarakan<BR>tentang ini!" Kun Hong makin marah ketika menudingkan telunjuknya ke arah<BR>muka tosu yang menggeletak di atas tanah dalam keadaan mengerikan itu.<BR>"Apakah kalian yang membunuh seorang saudara kami ini?"<BR>"Heh-heh-heh...." Toat-beng Yok-mo terkekeh geli dan bertukar pandang<BR>dengan Kim-thouw Thian-li yang makin kagum saja menyaksikan ketabahan<BR>pemuda tampan itu dan diam-diam ia masih tidak percaya akan kata-kata<BR>Toat-beng Yok-mo yang tadi menganggap pemuda ini tiada kepandaian.<BR>Seorang tanpa kepandaian silat mana seberani ini? "Pemuda tolol, kalau betul<BR>kami yang membunuh kau mau apa?" Kakek ompong itu kembali tertawa<BR>sehingga tampak mulutnya yang tak bergigi lagi.<BR>Kun Hong makin marah. "Mana ada aturan ini? Kalian ini benar-benar jahat<BR>sekali, apa kalian tidak patut dihukum? Mana bisa kalian membunuh begitu<BR>saja? Aku tidak terima!"<BR>"Habis, kau mau apa?" Hek-houw Bhe Lam melangkah maju menantang.<BR>"Apa kau yang bernama Hek-houw?" Kun Hong bertanya.<BR>"Betul Kau siapa dan apa maksudmu lagak?" jawab kepala rampok ini betulbetul<BR>tidak kenal aturan.<BR>Datang-datang membunuh orang. Kalau kulaporkan kau tentu ditangkap dan<BR>dihukum mati. Kalau kau dan teman-temanmu datang hendak mengadu<BR>kepandaian, itu sih masih mendingan. Tapi kalian datang-datang melakukan<BR>pembunuhan, benar-benar penasaran! Tunggu saja aku akan menyuruh<BR>seorang saudara melaporkan kepada kepala kampung di kaki gunung, kau<BR>tentu akan ditangkap dan diseret ke pengadilan!"<BR>bagian 39<BR>Hek-Houw Bhe Lam melengak heran dan terdengarlah suara ketawa ramai di<BR>antara para pendatang itu. Bhe Lam akhirnya tertawa juga, tertawa bergelak,<BR>"Ha-ha-ha-ha, kiranya di Hoa-san-pai ada orang gila! berotak miring, jangan<BR>banyak mulut, pergilah!" Tangannya bergerak memukul dada Kun Hong.<BR>Kwa Tin Siong kaget sekali dan melompat hendak menolong puteranya, akan<BR>tetapi pada saat itu Bhe Lam berseru kesakitan dan menarik kembali<BR>tangannya<BR>dan ternyata bahwa tangannya itu tersambit sebutir buah mentah yang<BR>dilempar dari atas. Tiba-tiba dari atas pohon meluncur benda panjang hitam<BR>yang secara kilat telah membelit pinggang Kun Hong dan... pemuda itu seperti<BR>terbang melayang ke atas pohon. Kun Hong berteriak-teriak kaget dan tahutahu<BR>ia telah duduk di atas cabang pohon dekat Li Eng yang tertawa-tawa<BR>mengomel.<BR>"Kenapa kau begini tolol, membiarkan dirimu jadi buah tertawaan orang dan<BR>menjadi bahan pukulan? Lebih baik duduk di sini menonton, kan enak?"<BR>Kun Hong berpegangan kuat-kuat pada batang pohon yang didudukinya, masih<BR>kaget dan terheran-heran. Ketika ia melihat, ternyata bahwa gadis itu tadi<BR>telah mengereknya naik dengan sehelai sabuk sutera yang hitam dan panjang<BR>sekali. Diam-diam ia merasa kagum dan juga heran. Akan tetapi wajahnya<BR>segera berubah pucat karena tubuhnya bergoyang, ia merasa ngeri duduk di<BR>tempat yang begitu tinggi.<BR>"Apa kau takut jatuh?"<BR>"Ti...tidak!" Kun Hong dapat menetapkan hatinya dan ia merasa malu kepada<BR>gadis cilik ini kalau duduk di atas cabang pohon saja ketakutan. Ia<BR>memandang ke bawah dan semua orang memandang ke atas. Kwa Tin Siong<BR>dan Liem Sian Hwa tadinya terkejut sekali, akan tetapi setelah melihat putera<BR>mereka duduk dengan aman di dekat gadis bernama Li Eng itu dan mendengar<BR>percakapan mereka, keduanya merasa lega dan juga geli. Di atas pohon itu<BR>putera mereka akan aman, apalagi gadis aneh itu agaknya melindunginya.<BR>Karena ada urusan yang lebih penting dihadapi maka mereka lalu menujukan<BR>perhatian kepada Hek-houw Bhe Lam dan teman-temannya. Sekarang Kwa Tin<BR>Siong dapat menduga dengan hati lega bahwa gadis yang amat lihai itu<BR>kiranya bukan teman rombongan musuh ini, buktinya tadi menyambit tangan<BR>Bhe Lam untuk menolong Kun Hong.<BR>Li Eng berbisik di dekat telinga Kun Hong, "Kakek ompong itu lihai sekali. Ia<BR>membunuh tosu itu dengan racun ular laut hitam yang amat berbahaya.<BR>Hemmm, hendak kulihat siapa yang berani menjamah mayat itu..."<BR>Kun Hong bergidik, "Dia pembunuh keji, harus ditangkap, harus diseret ke<BR>pengadilan!"<BR>Gadis itu terkikik tertawa lalu menutup telinga Kun Hong seperti anak kecil<BR>bermain-main menggoda temannya. "Kau ini orang aneh... hi-hi, mengerikan<BR>sekali Bagaimana bisa menangkap dia?"<BR>"Tak peduli dia lihai, dia harus tunduk kepada hukum!"<BR>"Ssttt, jangan ribut-ribut, kaulihat saja...." gadis itu berbisik lagi. Kun Hong<BR>merasa tidak enak sekali, gadis itu duduk terlalu dekat dengannya, tidak<BR>hanya berendeng melainkan berhimpitan sehingga pundaknya menyentuh<BR>pundak gadis itu dan ketika gadis itu berbisik, lehernya tertiup napas hangat<BR>dan hidungnya mencium bau harum yang keluar dari rambut gadis itu yang<BR>berkibar tertiup angin mengenai leher dan mukanya. Ingin ia menjauhkan diri,<BR>akan tetapi ia tidak berani bergerak karena cabang itu demikian kecil dan<BR>bergoyang-goyang terus. Mengerikan! Terpaksa ia alihkan perhatiannya dan<BR>memandang ke bawah.<BR>Pak-thian Sam-lojin baru saja menderita penghinaan dari Li Eng. Oleh gadis<BR>cilik itu mereka seakan-akan dipermainkan di depan anggauta Hoa-san-pai.<BR>Benar-benar amat memalukan betapa tiga orang tokoh besar seperti mereka<BR>telah dipermainkan sedemikian rupa oleh gadis yang sama sekali tidak<BR>terkenal di dunia kang-ouw, malah yang mempergunakan ilmu silat Hoa-sanpai<BR>untuk mempermainkan mereka itu. Mereka bertiga dapat menduga bahwa<BR>biarpun di luarnya Ketua Hoa-san-pai tidak senang melihat<BR>gadis itu mempermainkan mereka, namun karena gadis itu mainkan ilmu silat<BR>Hoa-san-pai, sudah barang tentu para tosu Hoa-san-pai sedikit banyak merasa<BR>bangga dan senang. Hati mereka masih penuh dendam dan amarah, maka<BR>kedatangan rombongan musuh-musuh Hoa-san-pai ini hendak mereka<BR>pergunakan untuk "mencaci muka" mereka dan memperlihatkan kegagahan.<BR>Orang pertama yang melangkah maju adalah Bu Tosu yang jenggotnya tinggal<BR>sepotong, hanya sebatas leher sekarang panjangnya karena tadi telah<BR>direnggut putus oleh Li Eng yang nakal. Begitu melangkah maju ia membuka<BR>mulut dan berkata dengan nyaring, "Yok-mo, keadaan negara sedang aman<BR>dan damai, kenapa kau orang tua mencari perkara di Hoa-san-pai? Kau lihat,<BR>kami bertiga orang-orang tua dari Pak-thian sengaja datang, ke Hoa-san untuk<BR>bertemu dan beramah-tamah dengan Ketua Hoa-san- pai, Kwa-sicu yang<BR>gagah. Setelah melihat kami bertiga, apakah kau tidak dapat mengingat<BR>perhubungan lama dan menjadi tamu yang terhormat agar kita dapat minum<BR>arak bersama?"<BR>"Heh-heh-heh, Pak-thian Sam-lojin benar-benar seperti bunglon, plin-plan!"<BR>kata Yok-mo sambil tertawa terkokeh-kekeh, "Dahulu kau menjadi begundal<BR>Kaisar, diam-diam dahulu menganggap Hoa-san-pai sebagai musuh, biarpun di<BR>luarnya kalian pura-pura baik. Sekarang, kalian mendekati Hoa-san-pai, hehheh-<BR>heh, bukankah karena tertarik oleh kedudukan Ketua Hoa-san-pai?<BR>Memang bagus sekali, bagus untuk kalian tentu, kalau kalian bisa memimpin<BR>para tosu di Hoa-san."<BR>Wajah tiga orang tosu itu menjadi merah sekali dan diam-diam Kwa Tin Siong<BR>heran mendengar ini dan memandang ke arah tiga orang tamunya dengan<BR>tajam penuh selidik.<BR>"Isteriku yang manis, katakanlah, bukankah tiga orang keledai tua ini teman<BR>seperjuanganmu membantu Kaisar Mongol? Heh-heh-heh."<BR>Kim-thouw Thian-li menjebirkan bibirnya yang masih digincu merah sekali.<BR>"Memang betul, tapi mereka ini hanya mendesak-desak kalau ada rejeki untuk<BR>dibagikan, sebaliknya segera kabur kalau ada bahaya mengancam. Siapa sudi<BR>mengaku mereka sebagai teman?"<BR>Makin merah wajah tiga orang kakek itu. "Jangan buka mulut seenaknyal" kata<BR>Kui Tosu sambil mencabut pedang. "Apakah kalian kira kami Pak-thian Samlojin<BR>takut kepada kalian?"<BR>Bu Tosu segera menyambung. Yok-mo, aku bicara baik padamu tapi kau<BR>malah menghina. Sebetulnya menurut pendapat kami, tidak ada perlunya<BR>kalian memusuhi Hoa-san-pai. Apalagi datang-datang kalian sudah membunuh<BR>seorang tosu Hoa-san-pai, benar-benar ini keterlaluan. Kalau kau mau bicara<BR>tunggulah aku menyingkirkan mayat ini, kasihan sekali saudara ini<BR>menggeletak di sini."<BR>Dari atas pohon Kun Hong bicara perlahan, "Hemmm, aneh sekali. Tadinya tiga<BR>orang kakek itu sombong dan keras, kenapa sekarang tosu itu begitu baik<BR>hatinya?"<BR>"Hi-hik, baik apanya. Sebentar lagi ia akan mampus!" jawab Li Eng.<BR>"Apa maksudmu....?" Kun Hong kaget bukan main. Memang ia merasa paling<BR>ngeri kalau mendengar orang bicara tentang mati begitu gampangnya.<BR>"Begitu ia menyentuh mayat ia akan mati...." kata pula Li Eng tak pedulikan.<BR>Kun Hong terkejut dan cepat memandang ke bawah. Pada saat itu, dengan<BR>lagak gagah, dan hal ini terutama sekali untuk mencuci muka dari semua<BR>hinaan dan untuk memamerkan di depan para tosu Hoa-san-pai bahwa dia<BR>adalah seorang yang berhati penuh welas asih, Bu Tosu berlutut dan<BR>mengangkat mayat itu dengan kedua tangannya. Akan tetapi tiba-tiba ia<BR>berteriak kaget dan disusul suara ketawa terkekeh-kekeh dari Yok-mo, Bu<BR>Tosu melepaskan lagi mayat itu dan ia cepat meloncat berdiri, akan tetapi<BR>terhuyung-huyung ke belakang.<BR>"Kenapakah, Suheng....?" tanya Lai Tosu dan hendak memegang kakak<BR>seperguruannya.<BR>"Mundur dan jangan sentuh!" seru Kui Tosu sambil mendorong pergi Lai Tosu.<BR>Keadaan Bu Tosu amat mengerikan. Kedua tangannya menjadi kehitaman dan<BR>ia menjerit-jerit kesakitan.<BR>"Ji-sute, terpaksa untuk menolong nyawamu!" Kui Tosu berseru dan<BR>menggerakkan pedangnya membacok. "Crokk!" Kedua lengan Bu Tosu<BR>terbabat putus sebatas pergelangan tangan. Dua buah tangan itu yang sudah<BR>hitam sekali jatuh ke atas tanah dan sedikit pun tidak ada darah keluar.<BR>Mengerikan sekali.<BR>"Bagaimana, Ji-sute?" Kui Tosu melihat penuh perhatian.<BR>Bu Tosu masih menjerit-jerit dan ternyata warna kehitaman sudah menjalar di<BR>lengannya yang kanan, adapun lengan kirinya yang buntung mulai<BR>mengeluarkan darah. Hal ini berarti bahwa racun itu sudah menjalar terus ke<BR>lengannya yang kanan. Melihat ini, dengan muka sedih sekali Kui Tosu<BR>menggerakkan pedangnya lagi dan... lengan kanan Bu Tosu sebatas pundak<BR>terbabat putus! Dan dari luka di pundak itu mengucur darah merah, berarti<BR>bahwa racun itu sudah tidak berada di tubuhnya.<BR>"Tertolong jiwamu, Ji-sute...." kata Kui Tosu dengan lega. Akan tetapi tiba-tiba<BR>Bu Tosu mengeluarkan suara serak yang amat keras dan tubuhnya yang sudah<BR>tak bertangan lagi itu menerjang maju, kepalanya menyeruduk ke arah perut<BR>Yok-mo. Kakek iblis ini terkekeh-kekeh lagi, tangan kanannya bergerak dan<BR>ujung tongkat hitamnya menotok ubun-ubun kepala lawannya. Tanpa<BR>mengeluarkan suara lagi Bu Tosu roboh dan... tubuhnya berubah menjadi<BR>hitam. Kiranya ujung tongkat itu mengeluarkan racun yang amat hebatnya.<BR>"Keparat keji!" teriak Kui Tosu dan Lai Tosu yang pepat mengerjakan pedang<BR>mereka mengempur Yok-mo. Karena urusan Hoa-san-pai belum disinggungsinggung<BR>dan pertempuran antara tiga orang tamunya melawan pihak musuh<BR>ini terjadi karena pembunuhan atas diri Bu Tosu, maka Kwa Tin Siong raguragu<BR>dan belum mau turun tangan, hanya melihat betapa dua orang tosu itu<BR>mengeroyok Yok-mo. Juga dari pihak Yok-mo, hanya iblis tua ini saja yang<BR>bergerak dan menghadapi pengeroyokan itu. Kim-thouw Thian-li, Bhe Lam<BR>yang lain-lain hanya menonton. Malah Kim-thouw Thian-li hanya tersenyum<BR>mengejek saja, seakan-akan pertempuran yang terjadi antara suaminya dan<BR>dua orang tosu itu hanya main-main saja.<BR>Di atas pohon terjadi keributan. Dengan muka pucat Kun Hong melihat semua<BR>itu. Hatinya ngeri bukan main, tubuhnya menggigil, tapi ia masih dapat<BR>memandang kepada Li Eng dengan mata melotot marah. "Kau... kau gadis<BR>berhati kejam. Jadi kau sudah tahu bahwa siapa yang memegang mayat itu<BR>akan mati?"<BR>Li Eng balas memandang, masih tersenyum lalu mengangguk lucu. Bibirnya<BR>tertutup tapi mulutnya bergerak-gerak seakan-akan giginya menggigit-gigit<BR>sesuatu dan kebiasaan ini membuat ia nampak makin manis saja.<BR>Bukan kepalang kemarahan Kun Hong. "Kau... kau patut dihajar!" Tangannya<BR>diangkat lalu digerakkan menampar pipi gadis itu. Li Eng dengan enaknya<BR>menundukkan kepalanya sehingga tamparan itu mengenai angin saja dan...<BR>tubuh Kun Hong terguling dari atas cabang. Dalam kemarahannya tadi ia<BR>sampai lupa kalau ia duduk di atas cabang pohon, maka ia berani menampar<BR>sekuat tenaga. Karena tamparannya tidak mengenai sasaran, maka ia<BR>terpelanting dan jatuh!<BR>Tubuh Kun Hong tiba-tiba terhenti di tengah udara, dan ia merasa<BR>pinggangnya dilibat sutera hitam, lalu perlahan-lahan ia dikerek naik, bukan di<BR>cabang yang tadi, melainkan di sebuah cabang yang berada paling tinggi di<BR>pohon itu. Di situlah ia didudukkan, di atas cabang yang kecil sehingga cabang<BR>itu melengkung dan bergoyang-goyang ketika ia duduk diatasnya. Li Eng<BR>sambil tertawa turun lagi dan duduk di atas cabang besar yang tadi, jauh di<BR>bawah Kun Hong.<BR>"Hee..., turunkan aku....!" Kun Hong berteriak-teriak sambil memeluk rantingranting<BR>di dekatnya. Bukan main ngerinya melihat ke bawah, begitu tinggi<BR>tempatnya dan cabang itu bergoyang-goyang keras.<BR>Li Eng menoleh ke atas, tersenyum mengejek. "Diamlah jangan berteriakteriak,<BR>dan lebih baik nonton pertunjukan hebat di bawah. Kalau kali ini kau<BR>banyak bergerak dan jatuh, aku malas untuk menolongmu lagi."<BR>Menghadapi gadis yang nakal itu, Kun Hong yang biasanya pandai berdebat<BR>dan tak mau kalah, menjadi diam dan memeluk cabang kuat-kuat sambil<BR>memandang ke bawah. Apa yang dilihatnya di bawah membuat ia makin ngeri.<BR>Ia melihat betapa kedua pihak, yaitu pihak Hoa-san-pai dan pihak Bhe Lam<BR>dan teman-temannya, sudah mulai bertempur merupakan perang kecil.<BR>Ternyata bahwa Kui Tosu dan Lai Tosu tak dapat menandingi permainan<BR>tongkat Yok-mo yang luar biasa dan amat ganas itu. Kakek ompong bongkok<BR>ini biarpun dikeroyok dua oleh Kui Tosu dan Lai Tosu yang memiliki tingkat<BR>ilmu pedang yang tinggi, tidak menjadi gugup. Terutama sekali ia<BR>mengandalkan kepada tongkat hitamnya yang benar-benar membuat dua<BR>orang tosu itu agak jerih dan ngeri mengingat akan keampuhan racun yang<BR>berada dalam tongkat itu. Makin lama makin terdesaklah Kui Tosu dan Lai<BR>Tosu. Melihat keadaan demikian itu, hati Kwa Tin Siong menjadi tidak enak<BR>sekali. Memang harus diakui bahwa dua orang tosu ini bertempur untuk<BR>membalas kematian saudara mereka, dan tidak ada hubungannya dengan<BR>Hoa-san-pai. Akan tetapi maksud kedatangan mereka mula-mula adalah untuk<BR>membantu Hoa-san-pai sungguhpun tadi ia meragukan akan maksud-maksud<BR>tersembunyi lain yang masih belum terbukti. Andai kata tiga orang tosu tua itu<BR>tidak datang ke Hoa-san-pai di saat Hoa-san-pai didatangi musuh-musuh,<BR>sudah pasti mereka takkan menemui kesulitan, Bu Tosu tak akan tewas dan<BR>kedua orang tosu itu tidak akan bertempur melawan Yok-mo yang lihai itu.<BR>Namun, Kwa Tin Siong tetap merasa enggan untuk mencampuri pertempuran<BR>ini. Dia adalah seorang Ketua Hoa-san-pai, maka untuk menjaga nama baik<BR>Hoa-san-pai, segala sepak terjangnya ia perhitungkan betul.<BR>Pada saat ia meragu, tiba-tiba Hek-houw Bhe Lam sambil tertawa melangkah,<BR>maju menghadapi Thian Beng Tosu dan berkata, "Thio Ki, biarpun kau sudah<BR>menyamar sebagai tosu, jangan kira kau akan terlepas dari tanganku!"<BR>"Bhe Lam, sungguh sayang sekali bahwa selama belasan tahun ini kau masih<BR>belum mau kembali ke jalan benar. Pinto tidak menyamar, memang pinto<BR>sekarang bukan Thio Ki lagi melainkan Thian Beng Tosu dan kalau kau masih<BR>saja menaruh dendam atas hukuman yang jatuh kepadamu ketika kau<BR>melakukan kejahatan dahulu, majulah. Kali ini pinto takkan memberi ampun<BR>lagi kepadamu."<BR>"Ha-ha-ha, keledai busuk yang sombong. Kematian sudah di depan mata<BR>masih hendak berlagak lagi?" Hek-houw Bhe Lam meloloskan golok besarnya<BR>dan segera maju menerjang. Thian Beng Tosu juga sudah mencabut<BR>pedangnya dan dua orang musuh lama ini segera bertanding.<BR>Melihat betapa pihak lawan sudah mulai menyerang, Kwa Tin Siong membuang<BR>keraguannya dan segera ia berseru keras, "'Toat-beng Yok-mo, sebagai<BR>seorang tokoh besar tidak seharusnya kau mengacau Hoa-san-pai. Aku yang<BR>bertanggung jawab di sini, tidak bisa membiarkan kau menyebar kematian!"<BR>Dengan Hoa-san Po-kiam di tangannya ia lalu melompat ke gelanggang<BR>pertempuran, membantu Kui Tosu dan Lai Tosu yang sudah terdesak hebat<BR>oleh tongkat hitam di tangan Yok-mo itu. Makin hebatlah pertandingan itu dan<BR>Toat-beng Yok-mo tetap melayani tiga orang lawannya sambil terkekeh-kekeh.<BR>Kim-thouw Thian-li sudah mencabut pedangnya dan di lain saat ia sudah<BR>dihadapi oleh Liem Sian Hwa yang juga sudah memegang pedang telanjang.<BR>Dua orang musuh besar ini saling berhadapan dan saling memandang penuh<BR>kebencian.<BR>Memang semenjak dahulu Sian Hwa amat membenci Ketua Ngo-lian-kauw ini.<BR>Wanita inilah yang mendatangkan segala penderitaan bagi dia dan Hoa-sanpai,<BR>yaitu Kwee Sin murid Kun-lun-pai (baca cerita Raja Pedang). Gara-gara<BR>wanita ini pula maka ia dan suaminya yaitu Kwa Tin Siong bekas suhengnya,<BR>lari dari Hoa-san-pai dan suaminya itu sampai terbabat putus tangan kirinya.<BR>Sekarang wanita ini berani datang lagi mengacau Hoa-san-pai, mengacau<BR>penghidupannya yang sudah belasan tahun dalam ketenteraman. Dapat<BR>dibayangkan betapa kemarahan dan kebenciannya memuncak.<BR>"Siluman betina dari Ngo-lian-kauw, hari ini aku Liem Sian Hwa harus<BR>mengadu nyawa denganmu!"<BR>"Hemmm, perempuan tak tahu malu, kebetulan sekali kalau kau sudah bosan<BR>hidup. Majulah, aku akan mengantarmu ke neraka!" Kim-thouw Thian-li<BR>mengejek. Sian Hwa berseru keras dan pedangnya berkelebat menyerang<BR>ditangkis oleh Kim-thouw Thian-li. Mereka pun segera terlibat dalam<BR>pertempuran dahsyat yang mati-matian.<BR>bagian 40<BR>Sementara itu, tanpa dikomando lagi, para tosu Hoa-san-pai sudah maju<BR>menyerang tiga puluh orang pengikut Bhe Lam dan terjadilah perang kecil<BR>yang diikuti teriakan-teriakan sehingga keadaan di puncak Hoa-san-pai yang<BR>biasanya tenang dan damai itu sekarang menjadi kacau dan gaduh. Dalam hal<BR>ini Hek-houw Bhe Lam salah hitung. Ia masih mengira bahwa tosu Hoa-san-pai<BR>adalah tosu-tosu yang hanya pandai membaca kitab saja. Ia tidak tahu akan<BR>perubahan di Hoa-san-pai semenjak Kwa Tin Siong menjadi ketua. Sekarang,<BR>jauh berbeda dengan dahulu, setiap orang tosu Hoa-san-pai adalah ahli-ahli<BR>silat yang tekun melatih diri sehingga rata-rata mereka memiliki kepandaian<BR>yang lumayan. Apalagi jumlah mereka jauh lebih banyak daripada anak buah<BR>Bhe Lam sehingga anak buahnya itu setiap orang harus melawan sedikitnya<BR>tiga orang tosu! Memang, kalau melihat para pemimpinnya, Bhe Lam sudah<BR>memperhitungkan masak-masak bahwa tokoh-tokoh yang menyertainya akan<BR>mampu mengalahkan para pimpinan Hoa-san-pai. Akan tetapi, dalam hal anak<BR>buahnya, benar-benar ia salah hitung. Anak buahnya memang para perampok<BR>yang kejam dan yang sudah biasa menghadapi pertempuran, akan tetapi<BR>berhadapan dengan jumlah banyak, apalagi yang memiliki ilmu silat Hoa-sanpai<BR>aseli, anak buahnya tak dapat berkutik. Sebentar saja korban di pihaknya<BR>bergelimpangan!<BR>Toat-beng Yok-mo tidak saja hebat sekali dalam ilmu pengobatan, juga ilmu<BR>silatnya bukan main tingginya. Hal ini tidaklah aneh kalau diingat bahwa ia<BR>masih keturunan langsung daripada Yok-ong (Raja Obat) yang pernah<BR>menggemparkan dunia kang-ouw ratusan tahun yang lalu. Biarpun dikeroyok<BR>tiga, ia masih dapat mengimbangi permainan tiga orang lawannya, malah<BR>dengan tongkatnya ia mampu mendesak Kui Tosu dan Lai Tosu. Baiknya Kwa<BR>Tin Siong tadi segera maju dan terhadap pedang Ketua Hoa-san-pai ini ia tidak<BR>berani main-main. Ilmu pedang Hoa-san-pai yang dimainkan Kwa Tin Siong<BR>benar-benar telah mencapai tingkat tinggi sehingga mengganggu<BR>pergerakannya. Apalagi pedang itu adalah pedang Hoa-san Po-kiam yang<BR>ampuh.<BR>Pertandingan antara Thian Beng Tosu dan Hek-houw Bhe Lam juga ramai<BR>sekali. Boleh dibilang kepandaian dua orang ini berimbang karena selama ini<BR>Bhe Lam sudah memperdalam ilmu kepandaiannya. Si Macan Hitam itu<BR>mainkan goloknya dengan ilmu golok dari utara yang mengandalkan tenaga,<BR>maka sekarang dilayani dengan ilmu pedang Hoa-san-pai yang mengandalkan<BR>tenaga halus dan kecepatan, pertempuran ini ramai sekali dan seimbang. Sinar<BR>golok pedang bergulung-gulung menyilaukan mata dan di antara siutan desing<BR>kedua senjata ini terdengar seruan-seruan dan bentakan Hek-houw Bhe Lam.<BR>Sementara itu, di lain bagian, Kim-thouw Thian-li mendesak Liem Sian Hwa<BR>dengan hebat. Ketua Ngo-lian-kauw ini seperti biasa bersenjatakan sebatang<BR>golok dan sehelai selampai merah. Ilmu pedang Liem Sian Hwa cepat dan<BR>ganas, gerakan tubuhnya ringan bagaikan burung menyambar-nyambar.<BR>Memang tidak mengecewakan nyonya ini mempunyai julukan Kiam-eng-cu<BR>(Bayangan Pedang) karena permainan pedangnya demikian cepat sehingga<BR>sinar pedang itu bergulung-gulung menelan lenyap bayangannya sendiri. Akan<BR>tetapi menghadapi Kim-thouw Thian-li, ia menemukan tandingan yang berat,<BR>Tingkat kepandaian Ketua Ngo-lian-kauw ini memang lebih tinggi dari<BR>padanya, apalagi setelah Kim-thouw Thian-li mewarisi ilmu pedang Im-sin<BR>Kiam-sut, biarpun hanya beberapa jurus dari gurunya, Hek-hwa Kui-bo. Di<BR>samping ini, ilmu pedangnya Ngo-lian Kiam-sut yang dibantu dengan<BR>sambaran-sambaran selampai merahnya, benar-benar amat lihai dan<BR>berbahaya. Setelah mengerahkan seluruh kepandaiannya, baru Sian Hwa<BR>dapat mengimbanginya, namun tetap saja pihak lawan lebih sering<BR>melancarkan serangan daripadanya.<BR>Pada suatu saat, secara aneh selampai merah itu menyambar dan melibat<BR>pedang Sian Hwa. Terjadilah tarik menarik dan dalam saat berbahaya ini,<BR>golok di tangan kanan Kim-thouw Thian-li menyambar ke arah leher Sian Hwa!<BR>Bingung sekali Sian Hwa menghadapi ini. Pedangnya belum dapat ia lepaskan<BR>dari libatan selampai dan serangan golok itu tak mungkin ia elakkan tanpa<BR>meloncat mundur. Apakah ia harus melepaskan pedangnya? Selagi ia<BR>kebingungan, tiba-tiba Kim-thouw Thian-li menjerit, "Keparat curang!" Dan<BR>Ketua Ngo-lian-kauw ini menarik kembali golok dan selampainya sambil<BR>melangkah mundur. Ternyata dari atas pohon menyambar sebutir buah<BR>mentah yang tepat menghantam jalan darah di dekat sikunya sehingga ia<BR>merasa tangannya lumpuh. Itulah perbuatan Li Eng yang tertawa-tawa di atas<BR>pohon sambil menonton jalannya pertandingan. Tadi ketika ia melihat keadaan<BR>Sian Hwa terancam bahaya, ia segera turun tangan dan membantu.<BR>Baik Sian Hwa maupun Kim-thouw Thian-li tahu akan campur tangan gadis di<BR>atas pohon itu, karena tadi pun mereka sudah melihat kelihaian gadis aneh itu<BR>yang menolong Kun Hong dari serangan Bhe Lam menggunakan sambitan<BR>serupa.<BR>"Siluman cilik, apa kau sudah bosan hidup?" Kim-thouw Thian-li memaki<BR>sambil mengacung-acungkan goloknya ke arah Li Eng di atas pohon.<BR>"Hi-hi, siluman besar, kau sudah tua tentu kau akan mati lebih dulu<BR>daripadaku!" jawab Li Eng dan sekaligus kedua tangannya diayun ke depan,<BR>maka puluhan butir buah mentah itu menyambar ke arah delapan belas jalan<BR>darah di tubuh Kim-thouw. Ketua Ngo-lian-kauw ini kaget sekali dan cepat<BR>memutar goloknya menangkis, namun masih ada tiga butir "senjata rahasia"<BR>ini mengenai tubuhnya. Baiknya buah itu biarpun masih mentah tidak berapa<BR>keras dan Iwee-kangnya sendiri sudah amat kuat maka ia tidak terluka parah,<BR>hanya merasa gemetar dan lumpuh di bagian yang kena sambit.<BR>Pada saat itu, Sian Hwa tidak mau menyia-nyiakan waktu dan kesempatan ini,<BR>bagaikan seekor burung walet ia menerjang maju, pedangnya berkelebatan<BR>menyilaukan mata. Kim-thouw Thian-li berusaha menangkis, namun meleset<BR>tangkisannya karena pada saat itu ia masih belum dapat menguasai dirinya<BR>karena sambitan Li Eng tadi. Pedang di tangan Sian Hwa bagaikan kilat<BR>menyambar menusuk lehernya. Ia membuang diri ke belakang sambil<BR>miringkan tubuhnya bagian atas sehingga pedang itu tidak mengenai leher<BR>melainkan menyambar pundaknya. Kim-thouw Thian-li menjerit kesakitan,<BR>pundaknya tertusuk pedang. Cepat ia melompat berjungkir-balik ke belakang<BR>lalu... melarikan diri secepatnya dengan pundak bercucuran darah!<BR>Lim Sian Hwa hendak mengejar, akan tetapi pada saat itu ia mendengar pekik<BR>mengerikan dan ketika ia menengok ke arah gelanggang pertempuran,<BR>ternyata Kui Tosu terkena tusukan tongkat Toat-beng Yok-mo sehingga<BR>tubuhnya menjadi hangus, sedangkan di saat berikutnya Lai Tosu terkena<BR>hantaman tangan kiri kakek bongkok yang lihai itu sehingga pecah kepalanya<BR>dan tewas pula di saat itu juga! Bukan main hebatnya kepandaian Yok-mo<BR>yang merobohkan dua orang lawannya dalam keadaan tertawa-tawa.<BR>Terkejut hati Liem Sian-Hwa. Ia membatalkan niatnya mengejar Kim-thouw<BR>Thian-li dan cepat ia melompat dekat suaminya lalu langsung mengeroyok<BR>Yok-mo. Kalau tadi dibantu dua orang tosu tua itu saja suaminya tidak mampu<BR>mengalahkan Yok-mo, apalagi sekarang seorang diri. Karena inilah maka Sian<BR>Hwa lalu membantu suaminya dan suami isteri ini dengan mati-matian lalu<BR>mengeroyok Yok-mo yang masih saja tertawa-tawa melayani mereka.<BR>Baru setelah melihat Sian Hwa menerjangnya, kakek bongkok itu nampak<BR>kaget."Eh, eh... mana isteriku?"<BR>"Sudah terluka pundaknya dan kabur. Sekarang giliranmu untuk mampus!"<BR>bentak Sian Hwa. Ucapan ini membuat Yok-mo marah sekali. Dengan seruan<BR>seram seperti teriakan binatang buas ia menerjang dengan tongkatnya yang<BR>hebat, kini ia tidak tertawa-tawa lagi, dan gerakan tongkatnya benar-benar<BR>luar biasa sekali membuat suami isteri itu terdesak hebat. Pertempuran antara<BR>anak buah Hek-houw Bhe Lam dan para tosu Hoa-san-pai tidak berlangsung<BR>lama. Karena kalah banyak dan juga para tosu Hoa-san-pai sekarang rata-rata<BR>pandai ilmu silat, sebentar saja tiga puluh orang pengikut Bhe Lam itu roboh<BR>semua, tewas atau terluka, Tak seorang pun berhasil melarikan diri. Melihat<BR>keadaan ini, apalagi tadi melihat Kim-thouw Thian-li sudah melarikan diri, hati<BR>Bhe Lam menjadi keder juga dan karena itu permainan goloknya menjadi<BR>kacau-balau. Kesempatan ini dipergunakan oleh Thian Beng Tosu untuk<BR>mempercepat permainan pedangnya dan dengan serangan miring dari<BR>samping kiri setelah memancing dengan sebuah tendangan, ia berhasil<BR>melukai lengan kanan Bhe Lam. Kepala rampok ini terluka parah, berteriak<BR>marah dan menyambitnya piauw dengan tangan kirinya ke depan. Thian Beng<BR>Tosu cepat membuang diri ke kanan dan dua buah senjata rahasia piauw<BR>meluncur lewat dekat lehernya. Ketika ia memperbaiki kembali posisinya,<BR>ternyata lawannya sudah lari jauh.<BR>"Hek-houw, kau hendak lari ke mana?" Thian Beng Tosu cepat melompat dan<BR>mengejar musuh besarnya itu.<BR>Adapun Kun Hong yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri pembunuhan<BR>besar-besaran yang terjadi dalam pertempuran ini, mukanya menjadi pucat,<BR>napasnya sesak dan matanya melotot lebar. "Celaka... celaka... bagaimana<BR>Hoa-san-pai bisa menjadi begini....?" Berulang-ulang ia berseru dengan ngeri<BR>dan panik. Sekarang yang bertempur di bawah hanya tinggal kedua orang<BR>tuanya yang mengeroyok Toat-beng Yok-mo. Melihat betapa semua teman<BR>kakek bongkok itu tewas atau terluka dan ada yang lari, Kun Hong menjadi<BR>kasihan sekali. Peristiwa hebat yang ia saksikan di bawah itu sama sekali tak<BR>pernah terduga dapat terjadi. Ia yang selalu belajar tentang kebajikan,<BR>tentang Ketuhanan dan perikemanusiaan, tentu saja mimpi pun belum pernah<BR>melihat manusia saling bunuh seperti ini. Semua ini membuat ia lupa akan<BR>ketakutan berada di atas cabang kecil di tempat begitu tinggi. Ia melihat gadis<BR>nakal itu masih saja duduk dengan kedua kaki tergantung dan tertawa-tawa.<BR>Ia teringat bahwa gadis itu memiliki kepandaian yang aneh. Maka cepat Kun<BR>Hong melorot turun dari cabang yang didudukinya dan tanpa takut sedikit pun<BR>ia melalui cabang-cabang mendekati Li Eng. Gadis itu sampai kaget ketika<BR>tahu-tahu pemuda itu berada di dekatnya.<BR>"Eh, kau berani turun?" tanyanya heran.<BR>"Kau... kautolonglah aku... kau turunlah dan pergunakan kepandaianmu untuk<BR>melerai mereka. Jangan biarkan ayah ibu membunuh orang atau terbunuh...."<BR>Gadis itu tersenyum lebar sehingga kelihatan deretan giginya putih mengkilap<BR>dan teratur rapi seperti mutiara berderet. "Jadi kau ini anak mereka? Anak<BR>Ketua Hoa-san-pai? Kok aneh benar, orang-orang Hoa-san-pai itu biarpun<BR>kepandaiannya tidak tinggi tapi cukup bersemangat dan gagah, kenapa<BR>anaknya keluar tikus seperti kau?"<BR>"Kau mau menolong tidak?" tanya Kun Hong gemas.<BR>Gadis itu menggeleng kepala. "Ketua Hoa-san-pai she Kwa adalah orang yang<BR>harus kubunuh juga kakek bongkok itu aku tidak suka, kenapa aku harus<BR>melerai mereka? Biarlah mereka saling bunuh. Hi-hik!"<BR>Kun Hong tahu bahwa dia tidak dapat memaksa gadis itu, maka ia lalu melorot<BR>turun dengan susah payah dari pohon itu, ditertawai oleh gadis yang<BR>menggodanya. "Hi-hik, kau seperti anak monyet menuruni pohon!"<BR>Kun Hong tidak pedulikan lagi padanya, setelah tiba di bawah ia lalu lari<BR>menghampiri medan pertempuran. Ia bergidik ketika ia berlari melalui mayatmayat<BR>manusia yang menggeletak di kanan kiri, ngerinya bukan main.<BR>"Ayah... Ibu... sudahlah, jangan berkelahi lagi... sudah terlalu banyak<BR>korban....!" teriaknya berulang-ulang sambil mendekati pertempuran yang<BR>sedang hebat-hebatnya itu.<BR>"Kun Hong, pergi...!!" ibunya berteriak kaget melihat puteranya berani<BR>mendekati tempat itu.<BR>Akan tetapi. Kun Hong nekat dan makin dekat. "Jangan bunuh orang lagi,<BR>Ibu... ah, celaka sekali.... bagaimana Hoa-san menjadi tempat penyembelihan<BR>manusia...?" Kun Hong hampir menangis. Akan tetapi pada saat itu ayahnya<BR>berseru,<BR>"Pergi kau....!" Dan sebuah tendangan membuat Kun Hong terpelanting sejauh<BR>lima meter lebih. Ayahnya telah menendangnya! Biarpun ia tidak merasa sakit,<BR>tapi Kun Hong merangkak bangun dengan mata terpentang lebar. Bagaimana<BR>ayahnya sudah berubah begitu ganas? Dia sendiri malah ditendangnya! Tentu<BR>saja pemuda ini sama sekali tidak tahu bahwa dengan mendekati tempat<BR>pertempuran itu, nyawanya berada di dalam bahaya karena gerakan tongkat<BR>Yok-mo dan pedang ayah serta ibunya mengandung tenaga Iwee-kang yang<BR>hawa pukulannya saja akan, cukup membuat Kun Hong tewas. Tidak tahu pula<BR>ia bahwa tendangan ayahnya tadi adalah usaha untuk menjauhkan dia dari<BR>tempat berbahaya itu.<BR>Kebetulan sekali Kun Hong terpelanting dekat tumpukan mayat para anak<BR>buah perampok. Ia melihat mayat-mayat itu dalam keadaan luka hebat, malah<BR>ada di antaranya yang belum mati, terluka parah dan mengaduh-aduh. Darah<BR>berceceran di mana-mana. Kun Hong merasa hendak muntah melihat itu<BR>semua. Ia lalu bangkit berdiri, memegangi kepalanya sambil mengeluh, "Keji...<BR>kejam sekali... ah, tak sudi aku melihatnya....," Ia lalu lari tersaruk<BR>meninggalkan Puncak Hoa-san.<BR>Sementara itu, Toat-beng Yok-mo terus mendesak suami isteri itu dengan<BR>tongkat hitamnya. Makin lama makin beratlah bagi Kwa Tin Siong dan Liem<BR>Sian Hwa. Ternyata baik dalam tenaga Iwee-kang, apalagi dalam ilmu silat,<BR>kakek bongkok itu masih setingkat lebih tinggi daripada mereka. Apalagi<BR>setelah Toat-beng Yok-mo mendengar tentang terluka nya Kim-thouw Thian-li,<BR>ia menjadi marah bukan main sehingga gerakan-gerakan tongkatnya<BR>mengandung ancaman maut karena digerakkan dengan penuh nafsu<BR>membalas dendam dan membunuh.<BR>Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa repot sekali menghadapi amukan kakek<BR>bongkok itu. Mereka maklum bahwa jika pertandingan ini dilanjutkan, mereka<BR>tentu akan celaka. Anak buah Hoa-san-pai tidak ada yang berani mencoba<BR>untuk membantu tanpa menerima perintah ketua mereka. Selain ini, mereka<BR>juga tidak berani sembarangan mendekati pertempuran yang demikian<BR>dahsyatnya, karena maklum bahwa kepandaian mereka masih jauh di bawah<BR>tingkat mereka yang sedang bertanding. Namun demikian, jika Kwa Tin Siong<BR>mau mengeluarkan perintah, para murid Hoa-san-pai tentu tidak akan raguragu<BR>dan takut-takut untuk menyerbu dan biarpun di antara mereka tentu<BR>banyak yang roboh binasa, kakek bongkok itu sendiri sudah pasti takkan kuat<BR>menghadapi pengeroyokan demikian banyak orang. Akan tetapi, Kwa Tin Siong<BR>adalah seorang yang berjiwa gagah. Mana mungkin ia mau mengeluarkan<BR>perintah kepada para murid-nya untuk melakukan pengeroyokan? Di dalam<BR>hukum persilatan, mengandalkan banyak teman untuk mengeroyok adalah<BR>perbuatan hina yang akan menjatuhkan nama baik. Sedangkan nama baik bagi<BR>seorang gagah lebih berharga daripada selembar nyawa. Karena inilah maka<BR>baik Kwa Tin Siong maupun isterinya, biarpun sudah terdesak hebat dan<BR>berada dalam ancaman maut, mereka tidak mau membuka mulut minta<BR>bantuan para murid Hoa-san-pai dan melawan mati-matian.<BR>Pada saat itu terdengar teriakan dari atas pohon, "He, kakek bongkok buruk!<BR>Ketua Hoa-san-pai masih ada urusan dengan aku, tak boleh kau<BR>membunuhnya!" Suara ini adalah suara Li Eng yang segera dapat mengetahui<BR>bahwa suami isteri Ketua Hoa-san-pai itu tidak akan menang melawan Si<BR>Kakek Bongkok yang mengerikan dan amat lihai itu. Kedua langannya segera<BR>bekerja, menyambit-nyambitkan buah mentah dari pohon yang ia duduki<BR>cabangnya itu. Sambitan gadis ini bukan main-main, tak boleh dipandang<BR>ringan karena dilakukan dengan pengerahan tenaga Iwee-kang yang luar<BR>biasa. Sambitannya susul-menyusul dan biarpun kakek bongkok itu dikeroyok<BR>dua oleh suami isieri Hoa-san-pai sehingga tubuh ketiga orang itu<BR>berkelebatan dan berloncatan ke sana ke mari, namun sambitan-sambitan Li<BR>Eng selalu tepat menuju sasarannya, yaitu bagian-bagian lemah dan jalanjalan<BR>darah di tubuh Toat-beng Yok-mo!<BR>Akan tetapi alangkah kaget hati Li Eng ketika melihat bahwa semua buah<BR>mentah yang ia sambitkan itu, jatuh runtuh berserakan begitu mengenai tubuh<BR>Toat-beng Yok-mo.<BR>"Siluman cilik, tunggu saja kau, akan datang giliranmu nanti!" Yok-mo<BR>membentak dengan nada mengejek sambil memperhebat tekanan tongkat<BR>hitamnya kepada suami isteri yang sudah mandi keringat dan sudah mulai<BR>kehabisan tenaga itu.<BR>Li Eng memutar otaknya. Ia dapat menduga bahwa tentu kakek itu memiliki<BR>daya kekebalan yang dapat menutup jalan darah yang terkena sambitan maka<BR>tidak terluka oleh sambitannya. Ia segera berseru nyaring mentertawakan,<BR>"Hee, kakek ompong! Kau hendak menyombongkan kepandaianmu, ya?<BR>Baiklah, matamu yang besar sebelah itu amat tidak menyenangkan hatiku,<BR>hendak ku bikin meram semua!" Kembali kedua tangan Li Eng bergerak dan<BR>bagaikan peluru-peluru besi buah-buah mentah itu meluncur susul-menyusul,<BR>kini yang dijadikan sasaran adalah mata yang besar sebelah di muka Toatbeng<BR>Yok-mo!<BR>Kali ini terdengar Tok-mo berseru marah sekali. Betapapun saktinya, tak<BR>mungkin manusia dapat membikin sepasang biji matanya kebal! Dan ia<BR>maklum bahwa satu kali saja matanya terkena sambitan itu, ia akan menjadi<BR>buta. Repot juga tangan kirinya bergerak-gerak menyampok runtuh "senjatasenjata<BR>rahasia" yang tiada habisnya menyerang matanya itu. Tentu saja<BR>perhatiannya menjadi terpecah, malah boleh dibilang sebagian besar ditujukan<BR>untuk menyelamatkan kedua matanya dari serangan hebat dari atas pohon itu.<BR>Oleh karena inilah maka Kwa Tin Siong dan isterinya mendapatkan "angin<BR>baru", melihat kekosongan-kekosongan dan kelemahan-kelemahan pada<BR>lawan, maka mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan baik ini dan segera<BR>menghujankan serangan-serangan maut.<BR>"Ceppp!" Ujung pedang di tangan Liem Sian Hwa menancap di pundak kiri Yokmo.<BR>Terdengar raungan mengerikan, tangan kiri Yok-mo mencengkeram ke<BR>depan dan... ujung pedang Sian Hwa patah. Akan tetapi, sekali lagi Yok-mo<BR>meraung hebat ketika pedang Kwa Tin Siong menusuk lambungnya. Cepat ia<BR>miringkan tubuh dan tongkat hitamnya menghantam pedang itu.<BR>bagian 41<BR>Bukan main kagetnya Kwa Tin Siong dan Sian Hwa. Tangkisan tongkat hitam<BR>itu hampir saja membuat pedang Hoa-san Po-kiam terlempar dari tangannya.<BR>Kwa Tin Siong melompat mundur dan terhuyung-huyung, sedangkan Sian Hwa<BR>melompat mundur sambil melihat pedangnya yang sudah buntung. Bukan<BR>main hebatnya kakek tua itu, biarpun terluka di pundak dan lambung, namun<BR>masih demikian hebatnya sehingga hampir Kwa Tin Siong suami isteri celaka.<BR>"Aduh, keparat....!" Yok-mo menjerit ketika pinggir mata kirinya tersambar<BR>buah mentah.<BR>"Hi-hi-hik, siluman tua, sekarang matanya keduanya sipit, tidak besar sebelah<BR>lagi, tapi lebih menjijikkan....!" Li Eng menggoda.<BR>Kemarahan Yok-mo tak tertahankan lagi. Ia telah menderita dua luka tusukan<BR>oleh suami isteri Hoa-san-pai, dan luka di pinggir mata oleh gadis nakal di atas<BR>pohon itu. Semua ini adalah gara-gara gadis di pohon itu, maka kemarahannya<BR>segera tertumpah kepada Li Eng.<BR>"Siluman cilik, kau harus mampus sekarang!" Tubuhnya dienjot dan dengan<BR>cepat sekali ia telah melayang naik ke atas pohon sambil memutar tongkatnya<BR>karena ia hendak membunuh gadis itu dengah sekali serang untuk<BR>melampiaskan kemarahan hatinya.<BR>"Celaka... kita harus bantu dia...." kata Kwa Tin Siong kepada Sian Hwa.<BR>Isterinya mengangguk menyetujui karena kedua suami isteri ini maklum<BR>bahwa tadi mereka telah ditolong dan dibantu oleh sambitan-sambitan gadis<BR>itu. Bagaikan sepasang burung garuda, kedua suami isteri ini meloncat dan<BR>menerjang Yok-mo dari belakang.<BR>"Krakkk... bruuuukk!" Cabang yang tadi dipakai duduk Li Eng menjadi patah<BR>dan tumbang oleh pukulan tongkat hitam Yok-mo. Akan tetapi Li Eng tidak ikut<BR>jatuh karena gadis itu tanpa diketahui penyerangnya telah berada di cabang<BR>yang lebih tinggi lagi.<BR>"Hi-hik, kakek bongkok ompong, aku di sini!" Akan tetapi Yok-mo terpaksa<BR>sekarang melayani suami isteri yang ternyata sudah mengejar dan<BR>menyerangnya.<BR>"Hei, kakek bongkok tak tahu malu, apa kau sudah menyerah dan tidak berani<BR>mengejarku? Hi-hik, beranimu hanya terhadap suami isteri yang tiada guna<BR>itu. Dan kalian, suami isteri Ketua Hoa-san-pai she Kwa, jangan begitu tak<BR>tahu malu. Aku tidak minta bantuan kalian, tahu?"<BR>Mendengar ini, Yok-mo mengeluarkan Seruan marah dan kembali ia meloncat<BR>keatas dengan tongkat hitam diputar. Li Eng sudah siap menanti malah<BR>sempat berteriak, "Manusia she Kwa jangan bantu aku, aku tidak sudi!"<BR>Ucapan ini tentu saja membuat Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa<BR>membatalkan niat mereka membantu dan membuat mereka marah juga malu.<BR>Terpaksa mereka lalu berdiri di tengah lapangan sambil menonton.<BR>Kembali terdengar suara hiruk-pikuk dan cabang-cabang serta ranting-ranting<BR>pohon besar itu susul-menyusul patah dan tumbang karena hantaman tongkat<BR>Yok-mo. Akan tetapi, cepat dan ringan seperti seekor burung Li Eng sudah<BR>berpindah-pindah cabang sehingga dalam waktu yang tidak begitu lama pohon<BR>itu sudah menjadi pohon gundul, tinggal batangnya. Kemana perginya Li Eng?<BR>Gadis yang lihai ini ternyata sudah melompat jauh dan telah berada di sebuah<BR>pohon lain yang lebih besar dan tinggi.<BR>"Hi-hi-hik, Toat-beng Yok-mo. Benar-benarkah engkau hendak mencabut<BR>nyawaku? Aku berani mempertaruhkan kepalamu bahwa kau takkan mampu?"<BR>Digoda seperti ini, Yok-mo kehilangan kewaspadaannya, menjadi makin marah<BR>dan dengan ketekadan bulat untuk membunuh Li Eng, ia melompat juga<BR>mengejar ke arah pohon itu. Akan tetapi, bukan main kagetnya ketika tiba-tiba<BR>ada sinar hitam meluncur memapaki tubuh yang masih terapung di udara<BR>dalam lompatannya tadi. Benda itu bagaikan seekor ular hidup yang besar dan<BR>panjang, telah mematuk ke arah leher, dada dan pusarnya dengan gerakan<BR>bertubi-tubi dan berganti-ganti. Kalau dia tidak sedang meloncat tentu dengan<BR>mudah ia akan menghadapi serangan macam itu, akan tetapi celakanya<BR>tubuhnya sedang di udara. Ia memutar tongkatnya untuk menangkis, akan<BR>tetapi tiba-tiba sinar hitam yang ternyata adalah sehelai sutera itu telah<BR>melibat-libat tongkat di tangannya.<BR>Yang hebat, sutera itu seperti hidup saja karena dengan tenaga terbagi-bagi<BR>sekarang membetot-betot tongkat hitamnya dengan kekuatan yang<BR>mengagetkan.<BR>Karena Yok-mo memaksa diri mempertahankan tongkatnya agar jangan<BR>sampai dirampas lawan, maka kekuatan lompatannya menjadi patah setengah<BR>jalan dan sekarang tubuhnya mulai jatuh ke bawah. Ia masih memegangi<BR>tongkatnya. yang terlibat sutera, maka sekarang ia jadi menggantung pada<BR>tongkatnya!<BR>"He-he, Yok-mo, kau seperti seekor laba-laba besar hendak bertelur!" Li Eng<BR>mengejek sambil menarik-narik suteranya sehingga tubuh kakek itu pun ikut<BR>"menari-nari" di bawah gantungan.<BR>"Siluman cilik, akan kubetot jantungmu, akan kukorek otakmu, kujadikan<BR>bahan obat jin-sin-tan!" Yok-mo memaki-maki dan mengancam, kemudian ia<BR>merambat ke atas melalui tongkatnya. Sebentar kemudian ia telah berhasil<BR>menyambar sabuk hitam itu, melepaskan tongkatnya dan dengan sikap liar<BR>mengerikan ia mulai merayap naik melalui sabuk hitam, makin mendekati<BR>tempat Li Eng duduk, yaitu di sebuah cabang besar.<BR>"Hemmm, bocah liar itu mencari penyakit!" gumam Kwa Tin Siong. Ia<BR>sebetulnya tidak ingin melihat gadis yang aneh dan pandai ilmu silat Hoa-sanpai<BR>itu celaka di tangan Yok-mo, akan tetapi karena bocah itu sendiri melarang<BR>ia membantu, tentu saja ia malu untuk turun tangan.<BR>"Melihat sikapnya, ia pun tentu bukan murid orang baik," kata Liem Sian Hwa.<BR>"Akan tetapi dia demikian cantik dan muda, kasihan kalau sampai<BR>mengorbankan nyawa di tangan Yok-mo. Apalagi disengaja maupun tidak dia<BR>tadi telah menolong kita. Tunggu saja, kalau dia terancam, tidak peduli dia<BR>tidak suka dibantu, kita turun tangan."<BR>Kwa Tin Siong menyetujui usui isterinya ini, maka mereka lalu siap-siap di<BR>bawah pohon untuk membantu sewaktu-waktu gadis itu terancam bahaya di<BR>tangan Yok-mo yang mukanya sudah merah hitam saking marahnya itu.<BR>"Monyet tua, kau mau buah mentah?<BR>Nih, makan!" Dan menghujanlah buah-buah mentah ke arah tubuh dan muka<BR>Yok-mo. Karena sambaran buah-buah itu sebagian besar ditujukan ke arah<BR>kedua matanya, terpaksa Yok-mo menundukkan muka, meramkan mata dan<BR>menutup jalan-jalan darah yang berbahaya agar jangan sampai tertotok oleh<BR>sambitan-sambitan itu. Sementara itu ia merambat terus ke atas, makin<BR>mendekati Li Eng. Ia merasa betapa luka-luka di pundak dan lambungnya<BR>mengucurkan darah dan merasa sakit sekali, akan tetapi dengan mengeraskan<BR>hati kakek yang sudah marah karena dipermainkan Li Eng ini terus<BR>mengerahkan tenaga merayap ke atas.<BR>Hampir ia mencapai tempat Li Eng dan ia sudah mengangkat tongkat hitamnya<BR>untuk menyerang gadis itu. Tiba-tiba tubuh Yok-mo meluncur ke bawah dan<BR>baru berhenti setelah ia hampir menyentuh tanah. Yok-mo memaki-maki<BR>kiranya sutera hitam itu diulur oleh Li Eng! Sambil memaki-maki Yok-mo<BR>merayap lagi, merambat ke atas dengan cepat sekali. Sebaliknya, Li Eng juga<BR>memaki-maki, mengejek sambil menyambit muka kakek itu dengan buahbuah<BR>mentah. Biarpun kakek itu kebal dan tidak terluka oleh sambitansambitan<BR>itu, namun ia sedikitnya merasa mukanya sakit dan pedas. Ia<BR>mempercepat rambatannya ke atas dan sebentar saja ia sudah mendekati Li<BR>Eng lagi. Akan tetapi... tiba-tiba tubuhnya meluncur turun lagi sampai dekat<BR>tanah. Sambil memutar tongkatnya melindungi muka dari sambitan buah. Yokmo<BR>memandang dan dengan girang ia melihat bahwa kini gadis itu memegangi<BR>ujung sutera hitam. Hal ini berarti bahwa sutera yang panjang itu sudah habis<BR>dan takkan dapat diulur lagi.<BR>"Keparat cilik, kau hendak lari ke mana sekarang?" teriaknya sambil merambat<BR>lagi ke atas dengan cepat.<BR>"Keparat gede!" Li Eng balas memaki. "Aku tidak lari ke mana-mana, kaulah<BR>yang jangan lari." Dan begitu tubuh kakek itu sudah sampai di atas, gadis<BR>yang nakal ini sekaligus melepaskan sutera yang dipegangnya. Tak dapat<BR>dihindarkan lagi tubuh kakek itu jatuh ke bawah! Baiknya ia memang lihai<BR>sekali sehingga jatuhnya enak saja dengan kedua kaki di atas tanah. Akan<BR>tetapi, bukan main herannya Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa ketika melihat<BR>betapa tiba-tiba kakek itu berteriak-teriak kesakitan, melepaskan tongkatnya,<BR>memandang kepada kedua tangannya yang sudah menjadi hitam dan... sambil<BR>menjerit-jerit kakek itu lalu lari secepatnya meninggalkan puncak Hoa-san-pai,<BR>diiringi suara ketawa nyaring gadis itu yang cepat-cepat melompat ke bawah.<BR>"Hi-hi-hik, termakan racunmu sendiri kau sekarang!" katanya puas sambil<BR>menggulung kembali sabuk suteranya. Tahulah sekarang Kwa Tin Siong dan<BR>istarinya bahwa tadi ketika sabuk melibat tongkat, sabuk itu telah terkena<BR>racun yang keluar dari ujung tongkat dan ketika kakek itu merambat melalui<BR>sabuk otomatis kedua tangannya terkena racun hebat dari tongkat itu. Tidak<BR>mengherankan jika , kedua tangannya itu menjadi hangus dan kakek itu<BR>melarikan diri ketakutan.<BR>Mengingat bahwa gadis itu telah menyelamatkan nyawanya, Kwa Tin Siong<BR>lalu berkata dengan nada menghormat, "Gadis yang gagah perkasa, telah kau<BR>sengaja atau tidak, akan tetapi kau tadi telah menyelamatkan nyawa kami<BR>suami isteri. Terimalah ucapan terima kasihku kepadamu."<BR>Gadis itu menjebirkan bibirnya. "Siapa menyelamatkan siapa? Kakek itu sudah<BR>berani mengotori Im-kan-kok, tidak kubunuh juga sudah untung. Kau ini orang<BR>she Kwa yang menjadi Ketua Hoa-san-pai, sekarang juga kau harus<BR>menyerahkan pedang Hoa-san Po-kiam itu kepadaku berikut kepalamu."<BR>Sambil berkata demikian ia melangkah maju dengan sikap tenang.<BR>Kwa Tin Siong yang lebih merasa heran daripada marah. Sudah tentu ada<BR>sebab-sebab yang aneh kalau anak ini sampai memusuhinya, tak mungkin<BR>memusuhi tanpa sebab.<BR>"Nanti dulu, kalau kau betul-betul datang hendak memusuhiku, hal itu adalah<BR>wajar asal ada alasannya yang kuat. Kaujelaskanlah mengapa kau hendak<BR>merampas Hoa-san Po-kiam dan hendak membunuhku? Apa sebabnya?"<BR>"Apa sebabnya kau tak perlu tahu. Pendeknya aku harus merampas kembali<BR>hoa-san Po-kiam dan membunuh Ketua hoa-san-pai she Kwa! Hayo majulah<BR>dan serahkan pedang dan kepalamu, aku sudah hilang sabar!"<BR>Kwa Tin Siong orangnya memang berwatak sabar, akan tetapi tidak demikian<BR>dengan Liem Sian Hwa. Nyonya ini menjadi marah bukan main, tak dapat ia<BR>menahan perasaan hatinya yang terbakar ketika ia mendengar orang<BR>menghina suaminya. Cepat ia mencabut pedangnya yang sudah buntung<BR>ujungnya tadi dan membentak,<BR>"Siluman cilik, enak saja kau bicara! Siluman macam kau tidak bisa diajak<BR>bicara baik-baik. Kalau memang kedatanganmu hendak memusuhi kami, kau<BR>matilah dan lawan pedangku!"<BR>Li Eng tertawa mengejek dan memandang pedang buntung itu. "Hi-hik,<BR>dengan pedang itu kau hendak melawanku? Ah sedangkan ilmu pedangmu<BR>Hoa-san Kiam-sut saja baru kau pelajari setengah-setengah, matang tidak<BR>mentah tidak, bagaimana kau hendak melawanku mempergunakan pedang<BR>buntung? Bibi yang cantik, aku hanya ingin mengambil kepala orang she Kwa.<BR>Kalau kau ingin mencoba kepandaianmu yang masih setengah matang,<BR>kau....majulah!"<BR>Sampai pucat wajah Liem Sian mendengar ejekan ini. Dia adalah seorang<BR>tokoh Hoa-san-pai, boleh dibilang menjadi orang ke dua sesudah suaminya, Ia<BR>sudah mempelajari ilmu silat Hoa-san-pai semenjak ia kecil dan untuk<BR>kehebatan ilmu pedangnya ia malah sudah menggemparkan dunia kang-ouw<BR>dan mendapat julukan Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang). Masa sekarang ia<BR>dihina oleh seorang bocah cilik yang menyatakan bahwa ilmu pedangnya Hoasan<BR>Kiam-sut matang tidak mentah pun tidak? Biarpun ia hanya berpedang<BR>buntung, namun ia masih sanggup untuk menghadapi lawan yang tangguh.<BR>"Bocah setan, kau benar-benar terlalu sombong. Keluarkan senjatamu dan<BR>mari kau boleh merasakan ilmu pedangku yang mentah tidak matang pun<BR>tidak ini!" tantangnya.<BR>"Untuk menghadapi kau dan pedang buntungmu cukup dengan tangan kosong<BR>"Sombong, lihat pedang!" Sian Hwa tidak dapat menahan kemarahannya lagi<BR>dan pedangnya segera bergerak menyerang. Dengan gerakan cepat sekali<BR>sehingga sinar pedangnya bergulung-gulung, ia mengirim tiga kali tikaman<BR>berantai dengan jurus Lian-cu Sam-kiam.<BR>"Hemmm Lian-cu Sam-kiam yang baik sekali. Sayang tidak ada isinya!" Li Eng<BR>mengejek dan cepat mengelak. Karena ia tahu benar agaknya akan perubahan<BR>gerak dari jurus ini, maka dengan mudah ia dapat menyelamatkan diri.<BR>Sian Hwa merubah gerakannya, mengirim bacokan dari kanan kiri sambil<BR>mempergunakan kecepatannya.<BR>"Aha, Hun-in Toan-san (Awan Melintang Putuskan Gunung)! Juga tidak<BR>mengandung inti sari, masih mentahl" Lagi-lagi Li Eng mengelak dan<BR>mengejek. Sian Hwa makin marah, juga diam terkejut sekali karana semua<BR>serangannya selalu dikenal oleh lawan. Dalam penyerangan-penyerangan<BR>berikutnya baru saja ia bergerak gadis cilik itu sudah menyebutkan jurus dan<BR>malah mengelak dengan gerakan-gerakan dan langkah-langkah dari ilmu silat<BR>Hoa-san-pai aseli.<BR>"Tahan dulu!" tiba-tiba Kwa Tin Siong maju, melerai yang sedang bertempur<BR>setelah pertempuran itu berjalan puluhan jurus. Ketua Hoa-san-pai , ini<BR>menjadi curiga karena tadi ia melihat dengan jelas betapa ilmu silat gadis itu<BR>betul-betul aseli Hoa-san Kun-hoat, akan tetapi dimainkannya demikian aneh<BR>dan hebat. "Nona kau sebetulnya murid siapakah?"<BR>Juga Sian Hwa di samping kemarahan dan kegemasan karena penasaran,<BR>merasa heran sekali. Belum pernah selama hidup nya ia bertemu dengan<BR>lawan yang begini muda tapi begini hebat ilmu silatnya, apalagi ilmu silat dari<BR>Hoa-san-pai pula!<BR>Li Eng tersenyum mengejek. "Murid siapa juga kau peduli apakah? Pendeknya,<BR>kau harus menyerahkan Po-kiam dari Hoa-san-pai berikut kepalamu. Kau tidak<BR>berhak menjadi Ketua Hoa-san-pai!"<BR>Kwa Tin Siong mencabut pedangnya, pedang Hoa-san Po-kiam, lalu melangkah<BR>maju. "Nah, ini pedangnya dan ini kepalaku, kau boleh ambil kalau kau bisa."<BR>Ia menjadi marah juga melihat sikap gadis yang bandel dan nekat ini dan ia<BR>ingin mencoba sendiri kepandaian gadis itu. Setelah suhunya meninggal, yaitu<BR>Lian Bu Tojin, kiranya tidak berlebihan kalau dia menganggap bahwa ahli silat<BR>Hoa-san-pai yang paling tinggi ilmunya pada saat itu adalah dia sendiri. Kalau<BR>gadis ini pun ahli ilmu silat Hoa-san-pai, mana mungkin lebih tinggi tingkatnya<BR>daripada dia sendiri?<BR>"Bagus, kau kehendaki kekerasan? Awas!" Li Eng menggerakkan tangannya<BR>mencengkeram ke arah pedang dan kakinya menyapu dengan kecepatan kilat.<BR>Namun Kwa Tin Siong melangkah mundur dan pedang berkelebat membacok<BR>tangan gadis itu. Li Eng menarik tangannya, meloncat ke kiri dan kembali<BR>menyerang dengan maksud hendak merampas pedang. Kini tubuhnya<BR>bergerak-gerak cepat, kadang-kadang melakukan pukulan yang amat cepat<BR>dan berbahaya, lain saat ia berusaha merampas pedang dari tangan Kwa Tin<BR>Siong. Akan tetapi, kali ini ia betul-betul menghadapi seorang ahli silat yang<BR>sudah matang oleh pengalaman, juga yang memiliki tenaga dalam kuat sekali.<BR>Sampai lima puluh jurus belum juga ia berhasil merampas pedang. Di lain<BR>pihak, diam-diam Kwa Tin Siong makin terheran-heran. Harus ia akui bahwa<BR>ilmu silatnya sendiri kalau dibandingkan dengan ilmu silat gadis itu, ia jauh<BR>lebih ahli, juga lebih matang. Akan tetapi ada sesuatu yang aneh pada ilmu<BR>silat yang dimainkan gadis cilik ini, gerakan-gerakannya mengandung daya<BR>serang yang hebat sekali, yang tak ada pada ilmu silat aseli Hoa-san Kw-hoat.<BR>"He, Nona kecil, apakah kau pernah belajar pada Supek Lian Ti Tojin?" Tibatiba<BR>Kwa Tin Siong bertanya karena ia mendapat dugaan yang aneh,<BR>"Aku adalah murid ayah ibu sendiri, sudahlah jangan banyak cakap, lihat<BR>dalam beberapa jurus aku akan merampas pedangmu!" Tiba-tiba benda hitam<BR>panjang seperti ular hidup menyambar ke arah muka Kwa Tin Siong yang<BR>menjadi kaget bukan main. Cepat Ketua Hoa-san-pai ini menyabet dengan<BR>pedangnya sambil mengerahkan tenaga untuk membabat putus benda itu.<BR>Akan tetapi alangkah kagetnya ketika benda itu tiba-tiba malah melibat<BR>pedangnya dan tak dapat dllepaskan lagi. Ia mengerahkan tenaga menarik dan<BR>gadis itu pun menahan sehingga keduanya saling betot. Kiranya benda itu<BR>adalah sutera hitam yang dipakai mengerek tubuh Yok-mo dan Sekarang<BR>sudah berada lagi di tangan gadis aneh itu.<BR>Melihat keadaan suaminya dalam bahaya, Sian Hwa tidak dapat tinggal diam<BR>saja. Sambil berseru keras ia menggerakkan pedang buntungnya dan<BR>menerjang Li Eng. Gadis ini tertawa. "Bagus, kalian boleh maju bersamasama!"<BR>Sabuk sutera hitam terlepas dan ia lalu bersilat dengan senjata aneh<BR>ini, sekarang dikeroyok dua!<BR>Pada waktu itu, tingkat kepandaian suami isteri ini sudah amat tinggi dan<BR>kiranya tidak sembarang lawan dapat mengalahkan mereka. Mereka<BR>merupakan pasangan yang amat hebat dengan ilmu pedang mereka. Akan<BR>tetapi ternyata keduanya tidak mampu mendesak Li Eng, sungguhpun gadis ini<BR>harus mengaku bahwa kini ia menghadapi dua lawan yang amat tangguh.<BR>Gadis itu mainkan senjatanya yang aneh secara cepat dan yang hebat sekali<BR>adalah bahwa ilmu silatnya tak salah lagi adalah ilmu silat Hoa-san Kun-hoat!<BR>Benar-benar amat penasaran bagi Kwa Tin Siong dan isterinya yang<BR>merupakan tokoh-tokoh pertama dari Hoa-san-pai, sekarang tak berdaya<BR>menghadapi seorang gadis yang juga mainkan ilmu silat Hoa-san-pai, padahal<BR>gadis itu hanya bersenjatakan sehelai sabuk sutera!<BR>Makin lama pertempuran itu berjalan makin seru dan akhirnya menjadi<BR>pertandingan mati-matian. Pada suatu saat, Kwa Tin Siong dan Sian Hwa<BR>menerjang sedemikian hebatnya, dan dalam waktu yang sama sehingga tak<BR>mungkin dapat dielakkan lagi oleh gadis itu. Li Eng kaget dan berseru keras,<BR>tubuhnya mencelat ke belakang dan sabuk suteranya berkibar, seperti kilat<BR>menyambar cepat sekali dan seperti kupu-kupu melayang indahnya, kedua<BR>ujung sabuk itu tahu-taul telah membelit kedua pedang di tangan Kwa Tin<BR>Siong dan Sian Hwa yang mengancamnya. Gadis ini memegangi sabuk di<BR>tengah-tengah dan berada agak jauh sehingga suami isteri itu tak dapat<BR>menyerangnya lagi dengan tangan kiri karena mereka tidak suka mengambil<BR>risiko pedang mereka terampas. Ketiganya berdiri memasang kuda-kuda,<BR>mengerahkan tenaga dan terjadilah adu tenaga memperebutkan pedang.<BR>Li Eng mulai berpeluh. Tak kuat ia dikeroyok, dua dalam adu tenaga ini.<BR>Wajahnya agak pucat. Kalau ia melepaskan libatan sabuknya, ia dapat terluka<BR>di dalam tubuhnya. Ia bertekad, akan tetapi kedudukannya mulai bergerak<BR>dan terseret ke depan sedikit demi sedikit. Keringat dingin mulai membasahi<BR>jidat yang halus itu. Akan tetapi sepasang mata yang jeli dan bening itu sama<BR>sekali tidak memperlihatkan rasa takut sedikitpun juga.<BR>"Li Eng, jangan kurang ajar!" terdengar bentakan suara wanita.<BR>"Kwa-supek, maafkan anakku yang nakal!" terdengar pula suara seorang lakilaki.<BR>Dua suara ini disusul dengan berkelebatnya dua sosok bayangan yang tahutahu<BR>sudah tiba di tempat pertempuran dan langsung bayangan laki-laki itu<BR>maju menengah. Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa merasa betapa tenaga<BR>mereka yang tadi dipersatukan untuk mempertahankan pedang masingmasing<BR>itu seperti terlolos dan mencair, lenyap tak tentu sebabnya dan tahutahu<BR>pedang mereka telah terlepas dari libatan sabuk sutera yang juga sudah<BR>ditarik kembali oleh Li Eng.<BR>Ketika suami isteri ini memandang, dapat dibayangkan betapa heran, kaget<BR>dan girangnya hati mereka karena yang sekarang berdiri di depan mereka ini<BR>bukan lain adalah Kui Lok dan Thio Bwee, dua orang anak murid Hoa-san-pai<BR>yang dahulu lenyap setelah terusir oleh Kwa Hong!<BR>Kui Lok segera menjatuhkan diri berlutut di depan paman guru dan bibi<BR>gurunya, sedangkan Thio Bwee juga cepat menyeret tangan Li Eng kemudian<BR>ia sendiri bersama gadis itu pun berlutut di depan suami isteri Ketua Hoa-sanpai.<BR>Para tosu Hoa-san-pai yang juga mengenal Kui Lok dan Thio Bwee,<BR>menjadi gempar dan terdengar seruan-seruan gembira serta isak tertahan.<BR>Memang mengharukan sekali pertemuan itu. Kwa Tin Siong segera memeluk<BR>Kui Lok sedangkan Liem Sian Hwa merangkul Thio Bwee. Mereka bertangisan.<BR>Hanya Li Eng gadis nakal itu yang sekarang berdiri bingung memandang kedua<BR>orang tuanya yang berpelukan sambil bertangisan dengan dua orang Ketua<BR>Hoa-san-pai yang baru saja bertanding mati-matian dengannya.<BR>"Ayah, Ibu... dia ini adalah Ketua Hoa-san-pai she Kwa!" akhirnya ia tak dapat<BR>menahan lagi hatinya, menegur ayah bundanya.<BR>Ibunya, Thio Bwee telah dapat menetapkan hatinya dan melepaskan pelukan<BR>Liem Sian Hwa, bibi gurunya. Ia memandang kepada puterinya dengan mata<BR>penuh teguran lalu berkata, "Li Eng, tanpa perkenan Ayahmu, mengapa kau<BR>berani lancang sampai ke sini dan mengacau Hoa-san-pai?" kemudian nyonya<BR>ini memandang ke sekeliling, ke arah mayat-mayat manusia yang amat<BR>banyak, lalu suaranya makin bengis, "Kau telah mengacau dan membunuh<BR>orang-orang ini?"<BR>"Aku... tidak, tidak, Ibu. Aku tidak membunuh siapa-siapa!" Li Eng menjawab<BR>cepat dan ketakutan, apalagi ketika melihat ayahnya pun memandangnya<BR>dengan wajah bengis. "Aku... aku keluar dari tempat kita dan aku melihat<BR>serombongan orang-orang di Im-kan-kok yang bicara tentang maksud mereka<BR>menyerbu Hoa-san-pai. Karena mereka bicara tentang Ketua Hoa-san-pai pula,<BR>hatiku jadi tertarik dan aku lalu datang ke sini untuk merampas kembali Hoasan<BR>Po-kiam dari Ketua Hoa-san-pai dan membunuh orang she Kwa ini.<BR>Bukankah orang she Kwa ini yang ayah ibu katakan jahat dan merusak Hoasan-<BR>pai?" "Anak tolol, sama sekali bukan! Dia ini adalah paman guruku, dan<BR>yang itu adalah bibi guruku, juga paman guru dan bibi guru ibumu. Jadi kau<BR>masih terhitung cucu murid mereka. Hayo lekas berlutut dan minta ampun!"<BR>kata Kui Lok.<BR>Li Eng kaget sekali dan cepat ia menjatuhkan diri berlutut. "Kakek dan Nenek<BR>guru, aku Kui Li Eng mohon ampun...."<BR>Liem Sian Hwa menubruk cucu muridnya itu dan memeluknya. "Tak kusangka<BR>aku mempunyai cucu murid begini hebat...." katanya girang.<BR>Kwa Tin Siong menarik napas panjang "Sudahlah... sekarang aku tahu siapa<BR>yangia maksudkan orang she Kwa itu. Tentu Kwa Hong bukan?"<BR>Kui Lok dan Thio Bwee hanya mengangguk. Pada saat itu terdengar suara<BR>berseru, suara wanita, "Supek....!" orang memandang dan melihat orang<BR>berlari cepat ke puncak itu. Mereka ini bukan lain adaiah Thian-Beng Tosu<BR>bersama dua orang wanita, yang seorang setengah tua dan yang kedua<BR>seorang gadis yang cantik dan berpakaian sederhana. Melihat wanita setengah<BR>tua itu, Liem Sian Hwa segera lari memapaki dan mereka berangkulan.<BR>"Lee Giok... kau benar-benar telah membuat suamimu hidup menderita!"<BR>Memang benar, wanita itu bukan lain adalah Lee Giok, isteri dari Thio Ki atau<BR>Thian Beng Tosu. Dan gadis cantik sederhana itu adalah puterinya! Bagaimana<BR>mereka bisa muncul di saat itu bersama Thian Beng Tosu? Untuk mengetahui<BR>hal ini mari kita mengikuti perjalanan Thian Beng Tosu beberapa saat yang<BR>lalu.<BR>Telah diceritakan bagaimana Thian Beng Tosu berhasil mendesak musuh<BR>lamanya, yaitu Hek-houw Bhe Lam. Kepala rampok ini melarikan diri dikejar<BR>oleh Thian Beng Tosu dan kejar-mengejar ini membawa mereka turun dari<BR>puncak, tiba di hutan tak jauh dari Im-kan-kok. Bhe Lam sudah terluka<BR>pangkal lengannya, tapi larinya masih cepat sekali. Betapapun juga, karena<BR>Thian Beng Tosu lebih biasa di tempat itu, setibanya di dalam hutan ini ia<BR>tersusul dan tosu Hoa-san-pai ini membentak,<BR>"Hek-houw, percuma saja kau lari. Kejahatanmu sudah melampaui takaran,<BR>hari ini kau harus tewas di tanganku!"<BR>bagian 42<BR>Hek-houw Bhe Lam yang tahu bahwa tak mungkin ia dapat lari lagi mendadak<BR>membalikkan tubuhnya dan tangan kirinya bergerak. Belasan buah senjata<BR>piauw melayang ke arah lawannya. Namun Thian Beng Tosu sudah menduga<BR>akan hal ini, cepat memutar pedangnya menangkis. Pada saat itu Hek-houw<BR>Bhe Lam bersuit ketika ia mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk<BR>menghadapi lawannya. Dengan perlahan tapi tentu Tian Beng Tosu mendesak<BR>penjahat itu. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suitan dari dalam hutan dan tak<BR>lama kemudian muncullah tiga orang tinggi besar yang segera menerjangnya<BR>dengan golok di tangan. Mereka ini adalah orang-orang yang sengaja disuruh<BR>menjaga di situ oleh kepala rampok ini dan tadi ia memang sengaja<BR>memancing Thian Beng Tosu memasuki hutan ini agar ia bisa mendapatkan<BR>bantuan tiga orang temannya.<BR>Setelah tiga orang itu mengeroyok, keadaan menjadi terbalik. Kini tosu inilah<BR>yang terdesak dan dihujani serangan dari kanan kiri, depan dan belakang. Ia<BR>mulai sibuk dan terpaksa hanya dapat mempertahankan dirinya tanpa mampu<BR>balas menyerang. Keadaannya benar-benar berbahaya sekali dan Hek-houw<BR>Bhe Lam mulai mengejek dan mentertawakan.<BR>Akan tetapi tiba-tlba terdengar bentakan nyaring dan seorang gadis muda<BR>yang cantik manis dengan sederhana, diikuti oleh seorang wanita setengah tua<BR>yang berpakaian seperti seorang pertapa tahu-tahu muocul dari balik<BR>pepohonan dan langwng kedua orang wanita itu menerjang empat orang<BR>penjahat tadi. Hebat sekali permainan pedang gadis sederhana itu, akan tetapi<BR>lebih hebat permainan silat wanita pertapa yang hanya memegang sebatang<BR>ranting kecil. Dalam beberapa gebrakan saja empat orang penjahat itu telah<BR>terjungkal dalam keadaan terluka.<BR>Gadis itu dengan gemas menggerakkan pedang hendak membunuh Hek-houw<BR>Bhe Lam, akan tetapi tiba-tiba Thian Beng Tosu berseru, "Jangan bunuh!"<BR>Gadis itu menahan pedangnya dan memandang kepada tosu Hoa-san-pai ini<BR>dengan sinar mata penuh keharuan. Sebaliknya Thian Beng Tosu dan wanita<BR>pertapa ini berdiri seperti patung dan saling pandang seperti terkena pesona.<BR>"Lee Giok... kau Lee Giok...." bibir Thian Beng Tosu bergerak-gerak<BR>mengeluarkan bisikan.<BR>Wanita pertapa itu meramkan kedua.. matanya dan menitiklah air mata di atas<BR>kedua pipinya yang masih segar kemerahan. Memang benar dia adalah Lee<BR>Giok, isteri Thian Beng tosu!<BR>"Dan dia ini...?" lagi-lagi Thian Beng Tosu berkata perlahan sekali menoleh ke<BR>arah gadis yang cantik gagah perkasa itu.<BR>"... dia Hui Cu... anak kita..." terdengar wanita pertapa itu berkata.<BR>Mendengar ini, gadis itu yang bernama Thio Hui Cu, segera menjatuhkan diri<BR>berlutut di depan Thian Beng Tosu sambil berkata, "Ayah....!"<BR>Tosu ini membungkuk dan meraba kepala anaknya, air matanya bercucuran,<BR>kemudian ia menarik bangun anaknya, memandangi sampai lama sekali lalu<BR>berdongak ke atas dan berkata, "Siancai... Tuhan Maha Adil... siapa sangka<BR>aku akan dapat bertemu dengan kalian dalam keadaan selamat? Ya Tuhan,<BR>terima kasih atas kemurahan-Mu...."<BR>Setelah keharuan mereka mereda, Lee Giok berkata, "Dia ini... bukankah dia<BR>penjahat Bhe Lam yang dahulu itu?"<BR>Baru sekarang Thian Beng Tosu teringat akan empat orang penjahat yang<BR>masih berada di situ karena tidak berani melarikan diri. "Betul, dan mereka<BR>inilah yang menjadi lantaran pertemuan kita. Karena itu, biarlah kita<BR>ampunkan mereka. "Bhe Lam, sekali lagi kami mengampunimu, harap saja<BR>kau dapat sadar dan insyaf bahwa menyimpang dari jalan kebenaran bukanlah<BR>hal yang akan dapat menyelamatkan dirimu. Nah, pergilah dan semoga Thian<BR>akan memberi bimbingan kepada jiwamu."<BR>Dengan malu sekali, juga bersyukur karena kembali dia diampuni, Bhe Lam<BR>dan teman-temannya pergi terpincang-pincang. Setelah mereka pergi, suami<BR>isteri dan anak mereka ini saling berpandangan, penuh kebahagiaan dan<BR>penuh keharuan.<BR>"Kau... selama ini di manakah? Kenapa tidak kembali ke Hoa-san mencariku?"<BR>Dalam pertanyaan yang halus ini sama sekali tidak terkandung suara<BR>penyesalan, namun cukup membuat Lee Giok kembali mengucurkan air mata.<BR>"Bagaimana aku berani? Aku... aku... telah ternoda oleh si jahat Giam Kin.<BR>Baiknya ada Adik Hong yang menolongku.... dan aku lari ke sini, aku... aku<BR>bersembunyi dalam hutan, bertapa... dan mendidik anak kita ini... aku telah<BR>mengambil keputusan tidak akan menggangumu kecuali kau yang<BR>mendapatkan aku. Siapa duga... kau bertempur dengan mereka itu dan...<BR>dan... ah, kenapa kau sekarang telah menjadi tosu?"<BR>Thian Beng Tosu tersenyum, lalu dengan penuh kebahagiaan ia memegang<BR>tangan isterinya di tangan kanan, tangan Hui Ci di tangan kiri. "Dan kau<BR>sendiri? Kau pun menjadi seorang tokouw (pendeta perempuan). Bagus sekali!<BR>Ternyata bukan aku saja yang sudah menemukan jalan benar, juga kau,<BR>isteriku Lee Giok, sekarang tinggal kita mendoakan saja demi kebahagiaan<BR>hidup anak kita. Marilah ikut aku ke puncak menemui Supek. Tahukah kau<BR>bahwa sekarang yang menjadi ketua adalah Supek Kwa Tin Siong?"<BR>Dengan penuh kegembiraan Thian Beng Tosu bersama anak dan isterinya lalu<BR>menuju ke Puncak Hoa-san dan di tengah perjalanan mereka saling<BR>menceritakan pengalaman mereka yang pahit dan penuh penderitaan. Dapat<BR>dibayangkan betapa kebahagiaan ini menjadi makin berlimpah ketika mereka<BR>tiba di tempat pertempuran tadi melihat bahwa Kui Lok dan Thio Bwee berada<BR>pula di situ, malah Li Eng gadis nakal yang lihai itu ternyata adalah puteri<BR>mereka!<BR>Hujan tangis terjadi ketika Thian Beng Tosu muncul bersama Lee Giok dan<BR>Hui Cu. Segera Kwa Tin Siong memerintahkan para murid untuk mengurus<BR>mayat-mayat itu dan merawat mereka yang terluka. Dia sendiri dengan<BR>perasaan duka bercampur suka ria mengajak para murid Hoa-san-pai itu<BR>masuk ke dalam kuil. Akan tetapi tiba-tiba Liem Sian Hwa berkata dengan<BR>kaget,<BR>"Eh, di mana Kun Hong?"<BR>Beberapa orang tosu menjawab bahwa mereka tadi melihat Kun Hong lari<BR>pergi dari tempat itu, turun dari puncak. Ketika para tosu hendak mencegah<BR>dan memberi tahu bahwa mungkin ada orang jahat di lereng gunung, Kun<BR>Hong malah marah-marah dan membentak mereka, "Jangan bicara padaku,<BR>kalian semua juga jahat, pembunuh-pembunuh kejam. Aku tidak sudi lagi<BR>tinggal di sini!"<BR>Tentu saja Liem Sian Hwa berkuatir sekali, akan tetapi Kwa Tin Siong yang<BR>sekarang merasa betapa puteranya itu amat lemah dan tak dapat<BR>dibandingkan dengan Li Eng atau Hui Cu yang biarpun merupakan anak-anak<BR>perempuan namun memiliki kegagahan, segera berkata,<BR>"Biarkanlah, memang sudah tiba waktunya bagi dia untuk meluaskan<BR>pengalaman ke bawah gunung. Kalau sudah banyak menghadapi kesukaran,<BR>baru ia menjadi dewasa dan dia tentu akan kembali ke sini." Ia pun mencegah<BR>dan menghibur isterinya yang tadinya bermaksyd untuk mengejar dan mencari<BR>puteranya. Sian Hwa sendiri karena merasa malu kalau harus memperlihatkan<BR>kelemahan puteranya dan juga kelemahannya sendiri yang terlalu<BR>menguatirkan seorang anak laki-laki, terpaksa menurut walaupun hatinya<BR>penuh kegelisahan. Mereka semua lalu masuk ke dalam kuil dan menceritakan<BR>pengalaman masing-masing. Yang membuat Ketua Hoa-san-pai ini girang dan<BR>bangga sekali adalah ketika ia mendengar bahwa Kui Lok dan Thio Bwee kini<BR>telah mewarisi ilmu kepandaian yang ditinggalkan oleh Lian Ti Tojin sehingga<BR>tingkat kepandaian dua orang murid keponakan ini jauh melampaui tingkatnya<BR>sendiri. Hal ini berarti memperkuat kedudukan Hoa-san-pai. Keluarga besar<BR>keturunan Lian Bu Tojin ini sekarang telah berkumpul di Hoa-san-pai dan<BR>dengan adanya mereka, kiranya tidak akan ada sembarang orang berani<BR>mengacau Hoa-san-pai lagi.<BR>Hati Kun Hong penuh kedukaan dan kemarahan. Sama sekali di luar<BR>dugaannya bahwa ayah bundanya, juga para tosu Hoa-san-pai yang setiap<BR>hari belajar tentang kebajikan, sekarang berubah menjadi pembunuhpembunuh<BR>yang amat kejam menurut pendapatnya. Puluhan orang manusia<BR>dibunuh di puncak Hoa-san.<BR>"Aku tidak mau melihat mereka lagi, aku tidak sudi lagi kembali ke Hoa-sanpai!"<BR>demikian hatinya menjerit penuh kengerian ketika terbayang di depan<BR>matanya mayat-mayat manusia menggeletak tumpang-tindih itu. Celaka,<BR>pikirnya, ibunya dan semua tosu Hoa-san-pai tentu akan ditangkap dan<BR>dimasukkan penjara!<BR>Biarpun ia, tidak pernah belajar ilmu silat, namun Kun Hong memang pada<BR>dasarnya memiliki tubuh yang sehat kuat dan berkat kemauannya yang luar<BR>biasa kokoh kuatnya, ia tidak merasakan kelelahan kedua kakinya. Ia berlari<BR>terus menuruni puncak. Maksudnya hendak mencari dusun terdekat untuk<BR>menemui kepala dusun dan melaporkan tentang pertempuran di puncak itu,<BR>Biarlah yang berwajib yang mengurusnya, tapi ia tidak akan kembali ke sana,<BR>pikirnya.<BR>Tiba-tiba ia melihat orang berjalan terhuyung-huyung, mengeluh lalu roboh<BR>tak jauh dari tempat ia berdiri. Cepat Kun Hong lari menghampiri dan kagetlah<BR>ia ketika melihat bahwa orang itu bukah lain adalah Toat-beng Yok-mo, kakek<BR>bongkok yang tadi ia lihat mengamuk di Puncak Hoa-san. Hatinya memang<BR>penuh welas asih, melihat kakek itu luka-luka di pundak dan lambung,<BR>mengucurkan darah, ia segera berlutut dan bertanya, "Toat-beng Yok-mo, kau<BR>kenapakah?" Kakek itu mengeluh dan membuka matanya, kelihatan kesakitan<BR>sekali. Ketika ia melihat Kun Hong, sekejap ia kelihatan kaget, akan tetapi<BR>kemudian terheran-heran.<BR>"Lekas... tolong kauambilkan bumbung (tabung bambu) dalam buntalanku di<BR>punggung ini... lekas... dan hati-hati, jangan menyentuh tanganku...." katanya<BR>dengan suara terengah-engah.<BR>Kun Hong melihat ke arah kedua tangan kakek itu dan bergidik ngeri. Kedua<BR>tangan kakek itu telah hitam seperti hangus terbakar dan teringatlah ia akan<BR>racun hebat yang mengakibatkan kematian tosu Hoa-san-pai dan kemudian<BR>karena dipegang oleh Bu Tosu mengakibatkan hal yang amat mengerikan.<BR>Ingin ia lari pergi menjauhi kakek yang seperti iblis ini, akan tetapi melihat<BR>orang tua itu terluka dan berada dalam keadaan payah sekali, hatinya tidak<BR>tega. Ia lalu menurunkan bungkusan dari punggung kakek itu dan<BR>membukanya. Di antara bungkusan-bungkusan obat dan pakaian, ia<BR>mengambil sebatang bambu besar dan pendek yang disumbat kayu dan<BR>tabung itu diberi lubang untuk hawa, seperti tempat jengkerik akan tetapi<BR>tabung itu besar.<BR>"Inikah bumbung itu?" tanyanya.<BR>"Betul, buka sumbatnya dan keluarkan isinya. Hati-hati, katak putih hijau ini<BR>jangan sampai terlepas. Kaupeganglah erat-erat!" Toat-beng Yok-mo berkata<BR>tergesa-gesa dan sinar kegembiraan terpancar keluar dari sepasang matanya<BR>yang tadi sayu dan penuh kegelisahan<BR>"Katak?" Kun Hong terheran-heran sambil membuka sumbatnya dan tiba-tiba<BR>seekor katak yang besar dan berkulit seperti salju meloncat keluar dari tabung<BR>itu.<BR>"Wah, terlepas....!" kata Kun Hong.<BR>"Goblok kau! Celaka..., lekas tangkap jangan sampai hilang. Kalau dia hilang<BR>aku mati....!" Mendengar ucapan ini Kun Hong menjadi pucat, lalu ia mengejar<BR>katak itu sampai jatuh bangun. Ini urusan nyawa orang, pikirnya. Katak itu<BR>tidak begitu cepat gerakannya, akan tetapi selambat-lambatnya katak, pandai<BR>melompat sehingga tiap kali Kun Hong menubruk, katak itu melompat<BR>membuat pemuda itu terpaksa mengejar lagi dan menubruk lagi sampai jatuh<BR>bangun dan pakaiannya kotor semua. Akan tetapi akhirnya dapat juga ia<BR>menangkap katak itu. Biarpun pakaiannya kotor semua dan kedua lengannya<BR>babak-belur tertusuk duri, namun Kun Hong girang sekali karena dapat<BR>menangkap kembali katak itu yang segera dibawanya lari kepada Toat-beng<BR>Yok-mo.<BR>"Sudah dapat kutangkap kembali, Yok-mo," katanya girang.<BR>Keadaan Toat-beng Yok-mo makin payah, napasnya terengah-engah. "Lekas...<BR>dekatkan mulutku katak itu...." Kedua tangan yang hangus itu dapat<BR>digerakkan lagi. Kun Hong mendekatkan katak itu ke mulut Yok-mo dengan<BR>heran karena tidak tahu apa yang dimaksudkan, akan tetapi alangkah<BR>herannya ketika ia melihat kakek itu membuka mulut dan... menggigit kaki<BR>belakang katak itu sampai mengucurkan darah yang lalu dihisap!<BR>"Eh..., eh, kau makan katak hidup ini?" teriaknya heran dan mencoba untuk<BR>menarik katak itu. Akan tetapi tiba-tiba kaki Yok-mo bergerak menendang dan<BR>tubuh Kun Hong mencelat jauh. Pemuda ini merayap bangun dan bersungutsungut.<BR>"Kau memang jahat! Katak tidak berdosa kaugigit dan kau menendangku!"<BR>Akan tetapi ia melihat keanehan setelah kakek itu minum darah katak. Kedua<BR>tangannya yang tadinya hangus itu cepat sekali pulih kembali dan lenyaplah<BR>warna hitam tadi. Tak lama kemudian kakek itu mengambil katak dari<BR>mulutnya, memasukkannya kembali ke dalam tabung dan... tertidurlah kakek<BR>itu mengorok enak sekali!<BR>Kun Hong adalah seorang yang cerdik. Melihat ini tahulah ia bahwa darah<BR>katak itu adalah obat yang amat mujarab bagi racun hitam. Ia ingin sekali<BR>bertanya karena merasa tertarik bukan main. Akan tetapi karena kakek itu<BR>tertidur nyenyak, ia tidak mau mengganggunya dan perhatiannya segera<BR>tertarik oleh tiga jilid kitab yang terletak di dalam bungkusan kakek itu yang<BR>masih terbuka.<BR>Segera ia mendekati lalu mengambil buku-buku itu. Ternyata adalah kitabkitab<BR>pengobatan. Kitab pertama berjudul "SELAKSA MACAM OBAT", kitab ke<BR>dua berjudul "SELAKSA MACAM CARA PENGOBATAN" dan yang ke tiga berjudul<BR>"RAHASIA PEREDARAN DARAH DALAM TUBUH" Kun Hong adalah seorang kutu<BR>buku. Melihat kitab sama dengan seorang kelaparan melihat roti. Dengan<BR>lahapnya ia lalu membuka kitab-kitab itu dan membacanya. Yang dibukanya<BR>adalah kitab rahasia tentang peredaran darah dalam tubuh. Biarpun pusing<BR>kepalanya membaca huruf-huruf kuno dengan gambar tentang perjalanan<BR>darah disertai ribuan macam istilah yang asing baginya namun karena<BR>nafsunya membaca amat luar biasa, ia memaksa diri membaca terus.<BR>Setengah hari Yok-mo tidur nyenyak dan setengah hari pula Kun Hong<BR>membaca kitab itu. Sekarang ia mengerti bahwa peredaran darah erat sekali<BR>hubungannya dengan pernapasan dan bahwa pernapasan menjadi sumber dari<BR>tenaga dalam di tubuh manusia. Asyik sekali ia membaca dan mulai banyaklah<BR>hal-hal menarik dalam kitab itu terutama yang mengenai pengertian tentang<BR>keadaan tubuh yang berhubungan dengan cara pengobatan.<BR>"Aduh... keparat.... pundak dan lambungku panas sekali...." Tiba-tiba suara ini<BR>membangunkannya dari alam mimpi yang amat menarik hati. Akan tetapi ia<BR>segera mengerti bahwa yang mengeluh itu adalah Toat-beng Yok-mo, maka ia<BR>tidak mempedulikan dan melanjutkan bacaannya.<BR>"Uh... uhh... sakit dan panas... heee! Jangan baca kitab-kitabku!<BR>Kun Hong menutup buku itu dan meletakkannya dalam bungkusan, lalu<BR>menoleh. Kakek itu masih rebah telentang nampak lemah dan kesakitan. Ia<BR>cepat menghampiri.<BR>"Bagaimana, Yok-mo? Sudah sembuhkah tanganmu?"<BR>Tiba-tiba tangan kakek itu bergerak dan tahu-tahu pergelangan tangan Kun<BR>Hong sudah dicengkeram erat-erat. Pemuda ini merasa tangannya kesakitan,<BR>mencoba untuk melepaskan cengkeraman itu namun tak berhasil.<BR>"Eh, kau ini ada apakah? Lepaskan tanganku!"<BR>"Tak boleh kau membaca kitab-kltab-ku!"<BR>"Baca saja apa salahnya, sih? Kalau kau tidak membolehkannya, aku pun tidak<BR>memaksa. Hemm, tanganmu panas sekali, lepaskan aku."<BR>Yok-mo melepaskan pegangannya, mengeluh lagi dan berkata dengan napas<BR>sesak, "Luka-lukaku... mengakibatkan demam panas... lekas kau carikan daun<BR>pohon sari darah, akar buah ular dan cacing hitam...."<BR>Kun Hong menjadi bingung. "Ke mana aku mencari? Dan yang bagaimanakah<BR>macamnya daun dan akar serta cacing yang kausebutkan itu?"<BR>"Ah... benar juga... kau mana tahu? Celaka..., selain demam aku pun...<BR>banyak kehilangan darah... ah, kautolonglah aku, orang muda...."<BR>bagian 43<BR>Kun Hong merasa kasihan sekali. Ia meraba jidat kakek itu dan ternyata panas<BR>sekali. "Ah, Yok-mo, aku benar-benar ingin sekali menolongmu. Akan tetapi<BR>bagaimana caranya? Mencarikan obat-obat yang kausebutkan tadi aku tentu<BR>mau, akan tetapi aku tidak tahu..."<BR>"Tak usah mencari... kauantarkan saja aku... ke tempat tinggalku... di sana<BR>terdapat segala obat yang kubutuhkan...."<BR>"Mengantar kau kembali ke tempat tinggalmu? Tentu, boleh saja. Mari kuantar<BR>kau...." jawab Kun Hong cepat. Tentu saja pemuda yang berwatak jujur ini<BR>tidak tahu akan maksud kakek itu sebenarnya. Toat-beng Yok-mo maklum<BR>bahwa dalam keadaan terluka seperti sekarang ini, kalau sampai ia bertemu<BR>dengan musuh-musuhnya, dalam hal ini orang-orang Hoa-san-pai, tentu ia<BR>akan celaka dan tidak dapat melakukan perlawanan. Dengan membawa Kun<BR>Hong di dekatnya, ia dapat rnempergunakan pemuda ini sebagai jaminan<BR>untuk keselamatannya!<BR>"Kau baik sekali... uhhh... uhhh...." Ia mencoba berdiri akan tetapi merasa<BR>pusing dan terguling kembali.<BR>"Bagaimana? Apakah kau tidak bisa jalan....?" tanya Kun Hong kuatir dan<BR>penuh perasaan iba.<BR>Sebagai seorang cerdik yang sudah banyak pengalaman, Toat-beng Yok-mo<BR>sudah dapat menyelami watak Kun Hong, maka kembali ia sengaja mengeluh<BR>dan mengaduh untuk memperdalam perasaan iba di hati pemuda itu.<BR>Kemudian dengan suara bisik-bisik seperti orang yang amat payah keadaannya<BR>ia berkata, "Aku... aku tidak bisa jalan... berdiri pun tidak kuat... ah, anak<BR>yang baik... kalau kau kasihan kepada aku orang tua... kau gendonglah<BR>aku...."<BR>Kun Hong benar-benar sudah tergerak hatinya dan merasa amat kasihan<BR>kepada kakek itu. "Baiklah, Yok-mo, kau akan kugendong." Ia lalu<BR>membungkus kembali bawaan kakek itu, mengikatnya di punggung Toat-beng<BR>Yok-mo, setelah itu lalu menggendong kakek ini di punggungnya sendiri dan<BR>berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Toat-beng Yok-mo! Kun Hong bertubuh<BR>kuat dan bertenaga besar, maka menggendong tubuh yang kecil kering dan<BR>tua itu tidaklah sukar baginya. Akan tetapi karena ia tidak terlatih dan tidak<BR>biasa bekerja berat, perjalanan mereka ini berlangsung lambat sekali dan<BR>sering kali terpaksa beristirahat.<BR>Diam-diam Toat-beng Yok-mo terheran-heran mengapa Ketua Hoa-san-pai<BR>yang gagah itu mempunyai seorang putera yang begini tidak ada gunanya.<BR>Karena ia membutuhkan bantuan Kun Hong untuk menggendongnya dan<BR>dijadikan jaminan akan keselamatannya, maka di waktu istirahat ini ia<BR>mengajar Kun Hong cara berduduk diam (bersamadhi), mengatur pernapasan<BR>untuk memperkuat daya tahan tubuhnya sehingga membuat pemuda ini lebih<BR>tahan berjalan jauh.<BR>"Toat-beng Yok-mo, aku sudah membaca kitab-kitabmu biarpun hanya sedikit<BR>dan aku tertarik sekali. Baik sekali memiliki kepandaian untuk mengobati<BR>orang sakit. Kalau kau suka mengajarku dalam ilmu pengobatan, aku suka<BR>menjadi muridmu."<BR>Diam-diam kakek ini menyeringai. Ia sudah mengambil keputusan untuk<BR>membawa kepandaiannya sampai mati, tidak akan ia turunkan kepada<BR>siapapun juga. Kecuali kalau ada murid yang suka berjanji bahwa murid itu<BR>akan membunuh setiap orang yang sudah diobatinya. Akan tetapi ia tahu pula<BR>bahwa pemuda ini tak mungkin mau menerima syarat itu, maka ia berpurapura.<BR>"Kau anak baik sekali, tentu saja aku suka menerima kau menjadi muridku.<BR>Dan kau tahu, pelajaran samadhi dan mengatur napas yang kuajarkan ini<BR>adalah tingkat pertama dari ilmu pengobatan. Maka kau berlatihlah baik-baik<BR>setiap kali kita beristirahat."<BR>Karena kurang pengalaman, Kun Hong mempercayai omongan ini dan betul<BR>saja ia berlatih giat sekali di waktu beristirahat dan di waktu malam, Ia sama<BR>sekali tidak tahu bahwa kakek itu melatih ia samadhi dan mengatur<BR>pernapasan agar badannya kuat dan tahan lebih lama melakukan perjalanan<BR>jauh itu sambil menggendong! Baiknya kakek itu ternyata mempunyai<BR>simpanan banyak emas dalam buntalan sehingga untuk makan dan menyewa<BR>rumah penginapan bukan soal yang sulit lagi bagi mereka. Sebetulnya, dengan<BR>makan obat yang dibeli di kota yang mereka lalui, kakek itu sudah banyak<BR>mendingan sakitnya dan sudah kuat berjalan lagi. Akan tetapi, kesehatannya<BR>belum pulih semua dan andaikata ia bertemu lawan tangguh, ia masih belum<BR>sanggup melawan. Maka untuk membuat Kun Hong sungkan<BR>meninggalkannya, ia berpura-pura masih tidak kuat jalan dan membiarkan<BR>pemuda itu terus menggendongnya sepanjang jalan!<BR>Pada suatu hari, menjelang tenga hari yang panas terik, Kun Hong dan Yok-mo<BR>beristirahat di sebuah hutan yang amat liar. Mereka sudah tiba di daerah<BR>lembah Sungai Huai di mana banyak sekali terdapat hutan-hutan lebat dan<BR>gunung-gunung yang masih liar. Daerah ini sudah dekat dengan tempat<BR>tinggal Toat-beng Yok-mo, yaitu di pusat gerombolan Ngo-lian-kauw yang<BR>dikepalai oleh Kim-thouw Thian-li. Karena merasa bahwa ia sudah berada dl<BR>daerah sendiri dan kiranya sekarang tak mungkin orang-orang Hoa-san-pai<BR>dapat mengejarnya, Yok-mo mengambil keputusan untuk mencabut nyawa<BR>pemuda yang selama ini mengantar dan menggendongnya. Ia tidak<BR>memerlukan lagi pemuda ini, baik sebagai pengantar maupun sebagai<BR>jaminan. Sesungguhnya dalam beberapa hari ini ia sudah merasa bosan sekali<BR>digendong oleh pemuda yang tidak dapat berjalan cepat itu. Andaikata ia<BR>melakukan perjalanan sendiri, dengan ilmunya berlari cepat, kiranya ia sudah<BR>sampai di rumahnya. Semata-mata untuk menjamin keselamatannya belaka ia<BR>terpaksa membiarkan dirinya digendong oleh Kun Hong.<BR>Melihat betapa pemuda ini sekarang tekun duduk bersila, mengumpulkan<BR>panca inderanya dan mengatur pernapasan, kakek ini tersenyum menyeringai.<BR>Diam-diam ia harus mengakui bahwa pemuda ini sesungguhnya memiliki<BR>tulang bersih dan bakat yang amat baik, pula amat cerdas sehingga sekali<BR>membaca atau mendengar sudah hafal dan takkan melupakannya lagi.<BR>"He, Kun Hong... bangunlah jangan tidur saja!" ia menegur. Kun Hong<BR>membuka matanya dan terheran-heran melihat kakek itu duduk bersandar<BR>pohon seperti biasanya sambii tensenyum-senyum aneh,<BR>"Yok-mo, aku tidak tidur, melainkan melatih samadhi seperti biasa. Latihan ini<BR>baik sekali, aku merasa sehat dan kuat semenjak berlatih. Kitabmu itu benarbenar<BR>mengandung pelajaran pengobatan yang luar biasa."<BR>"Heh-heh-heh, apa kau ingin membaca lagi?"<BR>Wajah Kun Hong nampak kecewa. "Semenjak pertemuan kita dahulu kau<BR>sudah tahu jelas bahwa tidak ada keinginan lain padaku kecuali membaca tiga<BR>kitabmu itu. Tapi kau selalu melarang."<BR>"Heh-heh-heh, kau benar-benar ingin membacanya? Kun Hong, kau sudah<BR>melepas budi kepadaku, merawat dan mengantarkan, aku sampai di sini.<BR>Kalau sekarang aku membolehkan kau membaca ketiga kitabku, apakah aku<BR>boleh menganggap budimu itu sudah terbalas dan sudah lunas?"<BR>Kun Hong memang seorang yang berwatak polos dan bersih. Ia menolong<BR>kakek itu tanpa pamrih apa-apa, tanpa mengharap balasan malah sama sekali<BR>tidak ada ingatan dalam hatinya bahwa ia telah melepas budi kepada orang.<BR>Mendengar kakek itu membolehkan ia membaca kitab-kitab itu, ia menjadi<BR>girang sekali dan berkata, "Terima kasih, Yok-mo, kau baik sekali!" Tanpa<BR>mempedulikan yang lain-lain lagi ia lalu membuka buntalan yang ditaruh di<BR>bawah pohon, mengeluarkan tiga kitab itu dan segera ia mulai membaca.<BR>Belum lama ia membaca, tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi yang<BR>menggetarkan isi hutan itu. Kun Hong terkejut sekali dan lebih-lebih herannya<BR>ketika ia melihat kakek bongkok itu sudah berdiri dengan tongkat di tangan,<BR>memandang ke depan dengan mata terbelalak. Keheranannya ini bercampur<BR>rasa girang karena kalau kakek itu sudah dapat berdiri, berarti kesehatannya<BR>sudah<BR>mulai pulih. Akan tetapi segera ia kaget sekali melihat cahaya kuning emas<BR>menyambar turun dari atas, tak jauh dari tempat itu. Seekor burung yang<BR>amat besar meluncur turun untuk menyusup ke dalam semak-semak, Akan<BR>tetapi burung itu cepat sekali gerakannya, dan tahu-tahu kelinci itu sudah<BR>dapat dicengkeramnya. Akan tetapi sebelum burung itu dapat terbang<BR>kembali, dengan satu kali melompat saja Toat-beng Yok-mo sudah berada di<BR>dekatnya.<BR>"Rajawali emas! Bagus sekali... aku harus menangkap burung ini!" sambil<BR>berkata demikian kakek itu menerjang dengan kedua tangan terpentang, siap<BR>menangkap burung besar itu. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika burung itu<BR>tiba-tiba menggerakkan sayap kanannya menghantam ke arah kepalanya.<BR>Yok-mo cepat mengelak akan tetapi tahu-tahu tubuhnya sudah terpukul oleh<BR>sayap kiri burung itu yang ternyata menggunakan cara penyerangan aneh<BR>sehingga kelihatannya sayap kanan yang menampar, tidak tahunya sayap kiri<BR>yang betul betul bergerak.<BR>Akan tetapi Yok-mo adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Pukulan<BR>itu membuat tubuhnya terpental akan tetapi tidak melukainya. Ia cepat<BR>meloncat bangun dan sepasang matanya bersinar-sinar.<BR>"Hebat....! Inilah kim-tiauw (rajawali emas) yang jarang bandingannya!<BR>Jantung dan otaknya akan menjadi bahan obat kuat yang mujijat!" Ia<BR>melompat lagi dan kembali ia menyerang. Burung itu agaknya marah dan<BR>anehnya, ia tidak mau terbang pergi. Malah kini ia melepaskan bangkai kelinci<BR>tadi dan tegak, seperti seorang pendekar siap menghadapi datangnya<BR>penyerangan lawan.<BR>Toat-beng Yok-mo dengan hati-hati sekali menerjang maju, siap untuk<BR>mencengkeram leher burung itu sambil memperhatikan gerakan binatang ini,<BR>agar jangan tertipu seperti tadi. Ia sengaja memukul ke arah dada burung<BR>dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya mencengkeram ke arah<BR>leher. Hebat sekali serangannya ini. Akan tetapi kembali ia melengak ketika<BR>melihat betapa dengan langkah-langkah kaki yang amat aneh, diikuti gerakan<BR>kedua sayapnya, burung itu telah dapat mengelakkan kedua serangannya ini<BR>dengan amat mudahnya. Malah bukan hanya mengelak, burung itu dengan<BR>kecepatan yang luar biasa telah menggerakkan kepala mematuk mata kiri<BR>Toat-beng Yok-mo!<BR>"Celaka....!" Yok-mo cepat melompat ke kanan. Gerakannya belum cepat<BR>karena kesehatannya memang belum pulih benar-benar. Kagetnya bukan<BR>kepalang melihat penyerangan yang lebih dahsyat daripada tusukan pedang<BR>itu. Akan tetapi, sekali lagi ia tertipu karena begitu ia melompat ke kanan,<BR>burung itu menarik kembali kepalanya dan kaki kirinya bergerak ke depan<BR>menendang. Sekali lagi tubuh kakek itu terlempar, malah bergulingan seperti<BR>seekor trenggiling! Hebatnya, gerakan kaki burung itu persis tendangan kaki<BR>manusia, dan digerakkan dengan cepat dan mengandung tenaga amat kuat.<BR>Yok-mo mengeluh dan merangkak bangun, bermacam perasaan mengaduk di<BR>hatinya ketika ia memandang kepada burung itu dengan mata terbelalak.<BR>Heran, kaget dan marah sekali. Sudah bertahun-tahun ia ingin mendapatkan<BR>seekor burung seperti ini, burung rajawali emas yang jarang sekali terdapat di<BR>dunia ini dan hanya muncul dalam dongeng-dongeng kuno. Menurut<BR>pengetahuannya tentang ilmu pengobatan, jantung burung rajawali emas<BR>dapat dibuat menjadi obat penguat tubuh yang luar biasa sedangkan otak<BR>burung itu dapat dibuat menjadi bahan obat terhadap bermacam-macam luka<BR>berbisa. Sekarang, tak terduga-duga olehnya, ia bertemu burung ini, akan<BR>tetapi siapa sangka bahwa burung Ini ternyata bukanlah burung biasa,<BR>gerakan-gerakannya hebat sekali seperti seorang ahli silat kelas tinggi!<BR>Betapapun juga, Yok-mo menjadi penasaran. Ia masih belum mau kalah.<BR>Mungkin karena tubuhnya belum pulih benar maka tenaganya berkurang dan<BR>kecepatannya pun tidak seperti biasa sehingga dua kali ia dibikin roboh oleh<BR>burung itu. Sekarang ia telah mengeluarkan tongkatnya, tongkat hitam yang<BR>selama ini ia sembunyikan saja di balik bajunya.<BR>Dengan kemarahan meluap kakek ini lalu melompat maju dan menyerang<BR>burung itu dengan tongkat hitamnya. Aneh sekali, burung itu agaknya tahu<BR>akan keampuhan tongkat hitam itu. Ia mengeluarkan bunyi melengking lalu<BR>terbang dan dari atas ia menyambar kepala Toat-beng Yok-mo. Kakek ini<BR>sudah siap sedia, cepat mengelak dan membalas dengan tusukan tongkatnya.<BR>Burung itu ternyata gentar menghadapi tongkat sehingga serangannya selalu<BR>gagal karena ia harus mengelak dari sambaran tongkat yang ampuh itu.<BR>Pertempuran itu menjadi seru sekali, burung itu menang gesit akan tetapi<BR>dengan mengandalkan tongkatnya yang ditakuti lawannya, Yok-mo dapat<BR>mempertahankan dirinya malah dapat balas menyerang dengan hebat.<BR>Sementara itu, semenjak tadi Kun Hong melongo. Kagumnya bukan main<BR>melihat burung yang indah sekali, dengan bulu berwarna mengkilap kuning<BR>keemasan itu. Segera ia merasa suka dan sayang kepada binatang itu. Lebihlebih<BR>kagumnya ketika ia melihat betapa burung itu dengan mudahnya dapat<BR>membuat Toat-beng Yok-mo yang berkepandaian tinggi itu terguling-guling.<BR>Pemuda ini sebetulnya mempunyai rasa kagum dan suka akan kegagahan<BR>sungguhpun ia benci sekali akan pembunuhan dan penyiksaan. Baginya,<BR>kegagahan seharusnya dipergunakan untuk menegakkan keadilan tanpa<BR>melakukan pembunuhan, cukup dengan mengalahkan yang jahat dan<BR>memaksanya kembali ke jalan benar. Melihat burung indah itu mengalahkan<BR>Yok-mo, ia kagum sekali. Akan tetapi kekagumannya itu berubah menjadi<BR>kekuatiran besar ketika Yok-mo mengeluarkan tongkatnya yang mengerikan<BR>dan terjadi pertempuran seru antara dua lawan yang memiliki gerakan cepat<BR>membuat ia bingung memandangnya itu.<BR>Karena tadi terpesona oleh keindahan burung dan sekarang menjadi bingung<BR>menyaksikan pertempuran mati-matian itu, tanpa disengaja tiga jilid kitab<BR>yang dipegangnya itu ia masukkan daiam saku bajunya yang lebar. Ia lalu<BR>berdiri dan menyambar tabung bambu terisi katak putih. Hanya itulah yang<BR>akan dapat mengobati luka mengerikan yang diakibatkan oleh tongkat hitam<BR>itu, pikirnya. Sambil membawa tabung itu ia berlari sambil berteriak,<BR>"Jangan bunuh burung itu! Yok-mo, sayang sekali kalau sampai ia terluka....!"<BR>Setelah dekat dengan tempat pertempuran, Kun Hong makin suka dan kagum<BR>melihat burung itu yang memang amat indah. Juga ia melihat adanya sebuah<BR>kalung mutiara tergantung di leher burung itu. Maka tahulah ia bahwa burung<BR>ini tentulah ada yang punya, tentu burung peliharaan orang.<BR>"Yok-mo, jangan bunuh dia, tentu ada pemiliknya. Lihat kalung itu!"<BR>Tentu saja Toat-beng Yok-mo juga sudah melihat kalung mutiara besar-besar<BR>yang tergantung di leher burung itu. Akan tetapi sudah tentu saja ia tidak<BR>ambil peduli. Ada yang punya atau tidak, burung ini harus ia tangkap, ia bunuh<BR>untuk diambil jantung dan otaknya. Ia memperhebat permainan tongkatnya<BR>dan makin lama ia bersilat, ia merasa bahwa kekuatannya mulai pulih kembali.<BR>Burung itu pun mulai menjadi marah sekali. Apalagi ketika ia meiihat Kun<BR>Hong datang berlari-lari, dianggapnya bahwa tentu ia akan dikeroyok. Ia<BR>memekik keras dan menerjang Yok-mo dengan serbuan yang dahsyat sekali.<BR>Yok-mo juga kaget, tak menduga bahwa burung itu dapat melakukan serangan<BR>demikian hebatnya. Dalam kegugupannya melihat sepasang sayap berikut<BR>sepasang cakar dan sebuah paruh yang kuat dan runcing itu sekaligus<BR>menyerangnya, Yok-mo memutar tongkatnya, melindungi diri. Namun secara<BR>aneh sekali cakar kiri burung itu dapat menyelinap di antara gulungan sinar<BR>tongkatnya dan mencengkeram ke arah muka Yok-mo.<BR>"Mati aku....!" Yok-mo berteriak kaget dan ia menjadi nekat. Ia menarik<BR>tongkatnya itu lalu ia tusukkan ke arah kaki berkuku runcing mengerikan yang<BR>hendak mencengkeram mukanya. Tepat sekali ujung tongkatnya menusuk<BR>telapak kaki burung itu, akan tetapi pada saat itu sayap kanan burung itu<BR>menghantam kepala dan pundaknya.<BR>"Blukkk!" Tubuh Toat-beng Yok-mo terlempar jauh dan kakek ini roboh<BR>pingsan. Bukan main hebatnya hantaman sayap tadi yang akan dapat<BR>menghancurkan kepala seekor harimau. Burung itu menjerit-jerit kesakitan<BR>dan anehnya, kaki kirinya menjadi putih sekali seperti kaki mati. Dalam<BR>kesakitan itu ia menjadi makin marah dan segera ia melompat ke arah tubuh<BR>Yok-mo.<BR>"Hee... jangan... dia sudah kalah, jangan kauserang lagi!" Kun Hong berteriak<BR>mencegah sambil menghadang di antara Yok-mo dan burung itu. Kebetulan<BR>sekali tadi tubuh Yok-mo terlempar ke arahnya sehingga ia dapat mendahului<BR>burung itu dan menghadang di tengah jalan sambil mengacungkan tabung<BR>bambu untuk menakuti.<BR>Akan tetapi burung itu mana takut terhadap Kun Hong? Ia memekik keras dan<BR>menerjang. Sebelum Kun Hong tahu apa yang terjadi, ia merasa tubuhnya<BR>melayang ke atas dan kiranya baju di punggungnya telah dicengkeram oleh<BR>kaki-kanan burung itu dan dibawa terbang tinggi!<BR>Dulu, di waktu ia dikerek oleh Li Eng ke atas sebatang pohon tinggi, ia sudah<BR>ketakutan sekali, sekarang ia dibawa terbang jauh lebih tinggi lagi di atas<BR>pohon-pohon yang paling tinggi, bagaimana ia tidak akan ketakutan setengah<BR>mati? Melihat pohon-pohon di bawahnya makin lama makin kecil, Kun Hong<BR>berteriak-teriak.<BR>"Heee... lepaskan aku... eh, jangan lepas jangan lepas! Kau... turunkanlah<BR>aku, burung yang baik...."<BR>Akan tetapi jawaban burung itu hanya memekik-mekik marah dan kesakitan.<BR>Mendengar ini, Kun Hong teringat bahwa burung itu terluka kaki kirinya. Ia<BR>memandang dan melihat betapa kaki kiri burung itu berubah putih semua,<BR>seputih kukunya. Ia teringat akan tabung yang masih dipegangnya. Cepat ia<BR>membuka sumbat tabung itu dan berkata,<BR>"Kau terluka tongkat Yok-mo, lekas kau minumlah sedikit darah katak putih di<BR>dalam tabung ini...."<BR>Baru saja ia berkata demikian, ia melihat bayangan putih melompat keluar dari<BR>dalam tabung Kun Hong kaget sekali sampai tabung kosong itu terlepas dari<BR>tangannya.<BR>"Celaka... ia terlepas lagi..."<BR>Akan tetapi burung itu segera berbunyi nyaring dan tubuhnya menyambar ke<BR>depan sampai Kun Hong merasa matanya berkunang karena tubuhnya sendiri<BR>pun terbawa melayang cepat ke depan. Dengan paruhnya yang runcing dan<BR>terbuka lebar, burung itu mematuk katak yang melompat keluar dari dalam<BR>tabung tadi, kemudian langsung menelannya sehingga binatang kecil itu<BR>lenyap ke dalam perutnya! Kembali ia melengking girang sampai berkali-kali<BR>dan tiba-tiba ia melepaskan, cengkeramannya pada baju Kun Hong. Tentu saja<BR>setelah dilepaskan, tubuh pemuda ini melayang ke bawah dengan kecepatan<BR>yang membuat ia merasa makin ketakutan.<BR>"Waah....!" teriaknya ketika makin lama makin cepatlah tubuhnya meluncur ke<BR>bawah, disambut pohon-pohon yang makin membesar dan kelihatan<BR>mengerikan sekali.<BR>Tiba-tiba Kun Hong yang sudah setengah pingsan itu merasa tubuhnya<BR>terapung lagi ke atas, tertahan luncurannya ke bawah tadi. Kiranya burung itu<BR>sudah menangkapnya lagi dan mencengkeram bajunya dengan tepat.<BR>Kemudian perlahan-lahan burung itu melayang turun dan sesampainya di atas<BR>tanah ia melepaskan Kun Hong.<BR>Kun Hong yang tadinya sudah ketakutan dan tidak mengharapkan akan dapat<BR>hidup lagi, serta merta memeluk burung itu.<BR>"Kim-tiauw-heng (Kakak Rajawali Emas) yang baik, kau telah menolong<BR>nyawaku. Terima kasih!" Ia menjura ke depan burung itu seakan-akan ia<BR>berhadapan dengan seorang manusia!<BR>Aneh sekali, burung itu mengeluarkan bunyi mencicit dan... segera berlutut<BR>dan mendekam di depan Kun Hong. Ketika pemuda ini dengan terheran-heran<BR>melihat dengan teliti, ternyata bahwa kaki kiri burung itu sudah pulih menjadi<BR>merah seperti sediakala. Ia menengok ke kanan kiri mencari-cari, akan tetapi<BR>ternyata Toat-beng Yok-mo sudah lenyap bersama tongkat dan buntalan<BR>pakaiannya.<BR>"Dia sudah dapat berjalan sendiri, kenapa selama ini menipu?" Gemas juga<BR>kalau ia teringat betapa setiap hari ia harus menggendong kakek itu yang<BR>sebetulnya malah lebih kuat dari padanya.<BR>"Kim-tiauw-heng, kau datang dari manakah? Aku suka sekali kepadamu, kau<BR>baik dan mengenal budi orang, tidak seperti Toat-beng Yok-mo yang hati dan<BR>pikirannya penuh terisi kehendak jahat. Kim-tiauw-heng, kau tentu milik<BR>seorang gagah, siapakah pemilikmu dan di mana tempat tinggalmu?"<BR>Burung itu mengeluarkan bunyi mencicit lagi, kemudian ia maju mendekati<BR>Kun Hong', dengan lehernya yang berbulu halus dan hangat itu ia membelai<BR>leher Kun Hong, kemudian ia berlutut dan menyelinapkan kepalanya di bawah<BR>kedua kaki pemuda itu dari belakang, Dengan begini Kun Hong duduk di atas<BR>punggungnya, lalu burung itu menggerakkan kedua sayapnya membawa Kun<BR>Hong terbang lagi!<BR>"Heee... bagaimana ini.... aduh, aku bisa jatuh....! Kun Hong panik lagi dan<BR>ketakutan. Akan tetapi karena burung itu terbang perlahan dan tubuhnya<BR>sama sekali tidak bergoyang, Kun Hong akhirnya dapat duduk dengan enak<BR>dan ia mulai menyesuaikan malah ia segera berpegang kepada kalung yang<BR>melingkari leher burung itu. Makin lama burung itu terbang makin tinggi,<BR>berputaran di atas hutan itu dan makin memuncak pula ketakutan Kun Hong.<BR>Akan tetapi segera ia tertarik oleh pemandangan di bawah dan tak terasa lagi<BR>mulutnya berseru kegirangan.<BR>"Aduh... bagus sekali, alangkah indahnya pemandangan alam di bawah itu.<BR>Hee, hati-hati Kim-tiauw-heng, jangan sampai aku jatuh!" Demikianlah,<BR>diantara rasa takut dan rasa girang dan kagum melihat keindahan<BR>pemandangan di bawah. Kun Hong tak berdaya membiarkan dirinya dibawa<BR>terbang oleh burung rajawali emas yang aneh itu.<BR>bagian 44<BR>Mudah saja menduga burung apakah yang telah membawa terbang Kun Hong<BR>itu. Memang dugaan Toat-beng Yok-mo tidak keliru bahwa di dunia ini tidak<BR>ada dicari keduanya burung seperti itu. Burung itu bukan lain adalah burung<BR>rajawali emas sakti, yang pernah kita kenal sebagai burung tunggangan Kwa<BR>Hong, juga burung yang secara tidak langsung menjadi guru dari Kwa Hong.<BR>Seperti telah kita ketahui bahwa tujuh belas tahun yang lalu ketika Kwa Hong<BR>untuk penghabisan kali mendatangi Hoa-san-pai dan hendak membunuh Thio<BR>Ki, dia bertemu muka dengan ayahnya, Kwa Tin Siong sehingga hampir saja ia<BR>tewas karena membiarkan dirinya diserang oleh ayahnya yang marah itu.<BR>Burung rajawali emas menolongnya dan membawanya pergi, kembali ke<BR>tempat ia semula tinggal, yaitu di puncak Pegunungan Lu-liang-san. Semenjak<BR>itu, ia tidak berani lagi memperlihatkan mukanya di dunia ramai. Ketika ia<BR>pergi ke Hoa-san itu, ia pun meninggalkan puteranya yang baru berusia<BR>setahun itu dalam asuhan seorang inang pengasuh yang ia dapatkan dari<BR>penduduk di kaki Gunung Lu-liang-san. Semenjak saat itu, Kwa Hong berdiam<BR>di Lu-liang-san, jauh dari keramaian dunia dan agaknya sudah tidak mau<BR>mengurus lagi persoalan duniawi.<BR>Seluruh perhatiannya ia tumpahkan kepada puteranya yang ia beri nama Sin<BR>Lee. Betapapun juga, wanita ini belum juga dapat melupakan cinta kasih<BR>terhadap Beng San berikut perasaan iri hati dan cemburu terhadap wanita<BR>yang telah berhasil menjadi isteri kekasihnya itu. Oleh karena ini pula ia tekun<BR>mendidik puteranya itu yang semenjak kecil sudah ia latih dengan ilmu silat<BR>sehingga semenjak kecilnya Sin Lee menjadi seorang anak laki-laki yang<BR>bertubuh kuat dan bertenaga besar.<BR>Sudah menjadi sifat pembawaan bahwa anak laki-laki lebih nakal daripada<BR>anak-anak perempuan karena anak laki-laki pada umumnya lebih bandel dan<BR>lebih berani. Kenakalan anak laki-laki dapat dikendalikan oleh perhatian orang<BR>tuanya yang mendidik dan menuntun agar kebandelan dan keberanian ini<BR>menjurus kepada kebenaran. Akan tetapi Kwa Hong yang seorang diri tanpa<BR>suami mendidik anaknya, hanya mencurahkan perhatian kepada ilmu silat<BR>saja, malah terlalu memanjakan puteranya. Hal inilah kiranya yang menjadi<BR>sebab sehingga Sin Lee menjadi seorang anak yang luar biasa nakalnya, luar<BR>biasa berani dan nekatnya. Tidak ada orang di dunia ini yang ditakutinya, dan<BR>satu-satunya orang yang kiranya akan ia takuti, yaitu ibunya, terlalu<BR>menyayangnya sehingga ia menjadi seorang anak yang tak kenal takut lagi.<BR>Anak yang masih kecil ini kalau tidak bermain-main dengan burung rajawali<BR>emas, tentu pergi jauh ke bawah gunung dan bermain-main dengan anak-anak<BR>penduduk di situ. Dan sebentar saja semua anak takut kepadanya karena<BR>siapa yang tidak mau menuruti kehendaknya tentu dipukulnya. Bahkan setelah<BR>ia berusia sepuluh tahun, tak seorang pun laki-laki dewasa berani<BR>menentangnya. Kalau ada yang menentang, biar orang tua akan ia pukul.<BR>Mula-mula, ketika ia masih belum kuat benar, orang-orang itu takut<BR>mengganggunya karena takut kepada Toanio (Nyonya besar) yang tinggal di<BR>puncak. Setelah Sin Lee menjadi seorang anak yang benar-benar memiliki<BR>kepandaian silat yang hebat, orang-orang takut kepadanya karena memang<BR>takut dipukuli oleh anak yang luar biasa itu.<BR>Sudah terlalu sering Sin Lee membuat gara-gara. Kalau tidak memukul orang<BR>tentu menyerang kampung lain yang belum dikenalnya, memaksa orang-orang<BR>kampung itu mengakui dia sebagai "jagoan cllik" yang tak terkalahkan! Pada<BR>suatu hari ia malah membikin ribut di sebuah kelenteng yang berada di kaki<BR>gunung sebelah timur. Kelenteng tua, ini hanya ditinggal oleh lima orang<BR>hwesio dan menjadi tempat sembahyang para penduduk kampung di sekitar<BR>kaki Gunung Lu-liang-san. Lima orang hwesio ini hidup dengan aman dan<BR>tenteram, setiap hari bekerja di ladang menanam sayur-sayuran untuk bahan<BR>makan mereka dan melayani setiap keperluan bersembahyang dari penduduk.<BR>Karena tidak ada pekerjaan lain, maka tanaman sayuran mereka terpelihara<BR>baik dan ladang sayuran hwesio-hwesio itu terkenal sebagai ladang sayuran<BR>yang paling subur dah menghasilkan sayur-sayuran pilihan.<BR>Pada suatu hati yang cerah, seorang hwesio tinggi besar tengah bekerja di<BR>ladang sayur itu dengan wajah berseru gembira. Betapa tidak? Ladang itu<BR>ditumbuhi sayur bermacam-macam yang amat subur, juga buah labu yang<BR>sudah dekat masanya dipetik, besar-besar dan gemuk-gemuk menyenangkan.<BR>Hwesio itu bekerja mencabuti rumput liar yang mengganggu kesuburan<BR>tanaman.<BR>Tiba-tiba serombongan anak-anak antara berusia sepuluh sampai tiga belas<BR>tahun, semua laki-laki, muncul dari lereng gunung. Jumlah mereka ada lima<BR>belas orang dan kelihatannya nakal-nakal. Setelah dekat dengan ladang itu,<BR>terdengar mereka berteriak-teriak, "Lo-suhu, minta labunya!" "Lo-suhu,<BR>berilah kami seorang satu!" Simpang siur anak-anak itu berteriak-teriak sambil<BR>tertawa-tawa. Hwesio tinggi besar itu bangkit berdiri menoleh dan dengan<BR>muka sabar ia tersenyum lalu menjawab,<BR>"Belum waktunya, anak-anak. Labu-labu ini belum waktunya dipetik.. Nanti<BR>apabila pinceng panen labu, tentu selebihnya pinceng bagi-bagikan kepada<BR>orang tua kalian, sudahlah, main-main ke sana, jangan mengganggu pinceng<BR>sedang bekerja."<BR>Seperti telah diatur sebelumnya, anak-anak itu segera berteriak-teriak,<BR>"Hwesio pelit!"<BR>"Hwesio medit, kikir!"<BR>Hwesio itu diam saja, tidak ambil peduli dan bekerja lagi mencabuti rumputrumput<BR>liar. Anak-anak itu makin berani, malah ada yang memaki-makinya.<BR>"Kalau malam babi-babi hutan mengambil labu kau diam saja, tapi kalau kami<BR>yang minta tidak diberi. Dasar hwesio busuk!" terdengar suara seorang anak.<BR>Hwesio itu kembali berdiri dan keningnya berkerut ketika ia memandang<BR>kumpulan anak-anak nakal itu. "Hemmm, karena mereka itu babi hutan<BR>termasuk golongan binatang maka mereka tidak mengenal aturan dan makan<BR>apa saja yang ada karena mereka lapar, Akan tetapi kalian adalah anak<BR>manusia, mengerti aturan. Apakab kalian mau pinceng samakan dengan anakanak<BR>babi hutan?"<BR>"Ah.. hwesio pelit. Banyak alasan untuk menutupi kepelitannya!" anak-anak itu<BR>ribut-ribut lagi, mengejek dan memaki.<BR>Sesabar-sabarnya orang, menghadapi ejekan dan makian anak-anak ini<BR>memang merupakan ujian berat dan jarang sekali ada orang mampu<BR>mempertahankan kesabarannya. Hwesio itu mulai membelalakkan kedua<BR>matanya. Akan tetapi ia masih ingat akan kesabaran, maka tanyanya,<BR>"Anak-anak, kalian minta labu untuk apakah? Apakah kalian lapar dan hendak<BR>memakannya?"<BR>"Aku mau yang bundar untuk main bola!"<BR>"Aku yang panjang untuk bikin kereta!"<BR>Hwesio itu menjadi marah. "Enak saja kalian bicara! Pinceng menanam sayur<BR>dan labu untuk bahan makan, bukan untuk main-main. Hayo kalian pergi,<BR>tidak boleh minta labu!"<BR>Kembali anak-anak itu memaki-maki dan hwesio itu tidak mempedulikan lagi,<BR>malah melanjutkan pekerjaannya, sekarang ke ladang sayur-sayuran untuk<BR>memeriksa kalau-kalau sayur-sayurnya dihinggapi ulat. Kesempatan ini?<BR>dipergunakan oleh anak-anak nakal itu untuk menyerbu ladang dan<BR>mengambil labu yang besar-besar.<BR>"Eh, anak-anak nakal, kalian tiada bedanya dengan babi hutan!" Hwesio itu<BR>melompat dan menampar anak-anak yang dekat dengannya. Anak-anak itu<BR>berteriak-teriak, ada yang menangis dan mereka berserabutan lari.<BR>"Kalian perlu dihajar agar kelak tidak menjadi manusia-manusia berwatak babi<BR>hutan!" hwesio itu masih memaki sambil menempiling anak-anak yang<BR>terdekat.<BR>Pada saat itu, sesosok bayangan berkelebat di belakangnya dibarengi<BR>bentakan suara anak-anak, "Hwesio gundul, berani kau memukuli temantemanku?"<BR>Hwesio itu kaget sekali akan tetapi ia tidak sempat membalikkan tubuhnya<BR>karena tiba-tiba bayangan yang ternyata adalah Sin Lee anak berusia sepuluh<BR>tahun itu sudah menampar kepalanya yang gundul. Biarpun hanya tamparan<BR>seorang anak kecil, namun karena, tamparan itu menggunakan gerakan ilmu<BR>silat dan tangan anak itu semenjak kecil sudah terlatih, hwesio ini menjadi<BR>pening dan terhuyung-huyung lalu roboh tertelungkup. Sin Lee berseru girang<BR>dan menindih tubuh hwesio yang tertelungkup di atas tanah itu dan<BR>memukulinya. Malah ia berteriak-teriak,<BR>"Kawan-kawan, hayo kalian hajar hwesio ini!"<BR>Anak-anak yang tadi lari berserabutan, sekarang dengan girang lalu datang<BR>dan dengan tangan-tangan kecil mereka anak-anak itu memukuli tubuh dan<BR>kepala hwesio tadi! Tentu saja hwesio yang bertubuh kuat dan memiliki<BR>kepandaian silat itu tidak merasakan pukulan anak-anak itu, akan tetapi<BR>pukulan yang jatuh oleh tangan Sin Lee benar-benar membuat ia luka-luka<BR>parah juga sehingga membuat ia pingsan.<BR>"Omitohud... anak-anak, jangan nakal!" tiba-tiba terdengar bentakan halus<BR>dan seorang hwesio tua menggerakkan kedua lengan bajunya ke arah anakanak<BR>yang memukuli hwesio tinggi besar tadi. Lima orang anak terlempar dan<BR>jatuh bergulingan. Mereka menangis, lalu semua orang anak itu berlari pergi.<BR>Hwesio tua itu terheran-heran melihat seorang anak kecil tidak bergeming oleh<BR>sambaran lengan bajunya tadi, malah sekarang sudah meloncat bangun dan<BR>berdiri tegak di depannya dengan mata bersinar-sinar marah!<BR>"Hwesio tua! berani kau memukul teman-temanku? Tidak malukah kau?<BR>Aturan mana yang membolehkan orang tua seperti kau ini memukul anakanak<BR>kecil?"<BR>Diam-diam hwesio tua itu tertegun. Ucapan anak nakal berusia antara sepuluh<BR>tahun ini tidak patut keluar dari mulut seorang anak sekecil ini. Dan melihat<BR>keadaan muridnya yang pingsan itu sudah dapat diduga bahwa tentulah anak<BR>ini yang merobohkannya. Diam-diam ia heran dan kagum. Kalau anak sekecil<BR>ini dapat mengeluarkan kata-kata seperti itu, apalagi dapat merobohkan<BR>muridnya, sudah dapat dipastikan bahwa anak ini bukanlah anak sembarangan<BR>dan kalau bukan putera tentulah murid seorang pandai. Maka berhati-hatilah<BR>kakek itu dan sambil tersenyum sabar ia bertanya,<BR>"Eh, anak yang baik, kalau kau bilang bahwa seorang kakek seperti pinceng<BR>memberi penghajaran kepada anak-anak nakal tidak menurut aturan, apakah<BR>kau dan teman-temanmu menyerang dan memukul seorang hwesio sampai<BR>pingsan ini juga termasuk aturan benar?"<BR>"Tentu saja benar! Dia ini tidak mau memberi labu kepada anak-anak dan<BR>ketika anak-anak mengambil sendiri, dia pukul."<BR>Kembali hwesio tua itu melengak. Memang amat tidak patut anak-anak kecil<BR>itu mengeroyok dan memukuli muridnya, akan tetapi lebih keterlaluan lagi<BR>kalau muridnya itu yang sudah menjadi hwesio, berurusan dengan anak-anak<BR>kecil saja tidak mampu menahan nafsu dan menggunakan tangan memukul ia<BR>menarik napas panjang memandang muridnya. Sebagai seorang ahli silat yang<BR>sudah matang kepandaiannya, ia mengerti bahwa biarpun mukanya matang<BR>biru dan kepalanya benjol-benjol, muridnya itu hanya terluka di luar saja dan<BR>tidak berbahaya.<BR>"Sudahlah, kalau betul murid pinceng ini yang salah, pinceng yang<BR>memintakan maaf. Kau pergilah."<BR>"Tidak bisa!" Sin Lee nembantah. "Kau pun tadi sudah menggunakan<BR>kepandaianmu memukul teman-temanku. Kau mengandalkan kegagahan<BR>sendiri, apa kaukira aku takut?"<BR>Merah muka kakek itu. Anak ini benar-benar aneh dan liar silatnya.<BR>"Hemm... hemmm.... kalau begitu kau mau apakah?"<BR>"Aku harus balas memukulmu."<BR>"Begitu? Kau benar-benar nekat. Nah, kau boleh coba pukul kalau bisa, anak<BR>bandel."<BR>Sin Lee mengeluarkan pekik nyaring dan tubuhnya seperti seekor burung saja<BR>menerjang maju, kedua kepalannya yang kecil memukul bertubi-tubi dari<BR>kanan kiri, sukar diketahui yang mana yang betul-betul memukul dan<BR>sementara itu, kedua kakinya menendang-nendang.<BR>"Omitohud...." hwesio tua itu menyebut nama Buddha saking kagum dan<BR>heran serta kagetnya. Akan tetapi sekali mengibaskan ujung lengan bajunya<BR>saja tubuh Sin Lee terguling seperti tertiup angin puyuh. Sebentar Sin Lee<BR>nanar, tapi ia segera merangkak bangun dan kembali ia menyerang, malah<BR>lebih hebat daripada tadi. Akan tetapi kembali ia terguling, lebih hebat lagi.<BR>Beberapa kali ia bangun dan menyerang lagi, akan tetapi makin keras ia<BR>menyerang, makin keras pula ia roboh sehingga akhirnya ia menyerah. Ia<BR>maklum bahwa ia tidak mampu menandingi kakek tua itu, maka tanpa banyak<BR>cakap lagi ia bangun lagi setelah agak lama ia nanar, membalikkan tubuh dan<BR>pergi dari situ.<BR>"Hee... anak yang aneh, kautunggu dulu, aku hendak bicara denganmu!"<BR>Hwesio tua itu mengejar.<BR>Tiba-tiba Sin Lee membalikkan tubuh, sikapnya angkuh dan matanya berapi.<BR>"Aku sudah kalah, kenapa kau banyak cerewet lagi?" Setelah berkata demikian<BR>ia mengeluarkan bunyi melengking keras. Pada saat itu juga dari udara<BR>terdengar bunyi lengking yang lebih nyaring lagi dan seekor burung<BR>menyambar turun seperti kilat menyambar. Sin Lee meloncat ke atas<BR>punggung burung itu yang segera terbang meninggi, meninggalkan kakek tua<BR>itu yang berdiri terlongong di bawah.<BR>"Omitohud... apakah itu yang oleh orang-orang disebut kim-tiauw milik orang<BR>sakti yang dipanggil toanio dan anak itu, kiranya puteranya... benarkah di<BR>dunia ada hal seaneh dan sehebat ini...? Ia menarik nafas berulang-ulang dan<BR>diam-diam ia menguatirkan bahwa kelak di dunia kang-ouw pasti akan muncul<BR>seorang tokoh luar biasa, yaitu bocah tadi semoga ia tidak tersesat...."<BR>demikian doanya.<BR>Betapapun juga nakalnya, Sin Lee memiliki watak gagah yang jarang terdapat<BR>dalam diri anak kecil berusia sepuluh tahun, Contohnya, kekalahan terhadap<BR>hwesio tua itu sama sekali tidak ia beritahukan kepada ibunya. Ia tidak<BR>mendendam malah tidak ada dalam pikirannya sama sekali pada waktu itu<BR>untuk minta bantuan burungnya. Juga ia tidak mau minta ibunya supaya<BR>membalaskan kekalahannya.<BR>Banyak sekali kenakalan dilakukan oleh Sin Lee, akan tetapi semenjak<BR>kekalahannya oleh kakek itu, ia mendapatkan pengalaman pahit sekali. Belum<BR>pernah ia mengalami kekalahan dalam perkelahian, maka semenjak ia kalah<BR>oleh kakek tua itu, ia makin tekun belajar ilmu silat dari ibunya. Tentu saja<BR>Kwa Hong yang tidak menyangka sesuatu, menjadi gembira sekali dan<BR>menurunkan seluruh kepandaiannya.<BR>Watak keras yang dulu dimiliki Kwa Hong kiranya menurun pula kepada Sin<BR>Lee, malah lebih hebat lagi. Ketika ia berusia enam belas tahun, Sin Lee<BR>melakukan perbuatan yang amat merugikan dia sendiri dan ibunya. Sudah<BR>menjadi kebiasaan binatang peliharaan, sekali-kali tentu ingin bebas lepas tak<BR>terganggu. Demikian pula burung rajawali emas, biarpun kelihatan amat setia<BR>kepada Kwa Hong dan Sin Lee, namun adakalanya burung ini terbang pergi<BR>sampai beberapa hari tidak kembali. Mungkin burung ini terbang pergi mencari<BR>teman-temannya, atau mungkin juga mencari mangsa di tempat-tempat jauh.<BR>Ini hanya dugaan Kwa Hong dan Sin Lee saja. Padahal sebenarnya burung itu<BR>seringkali pergi ke tempat asalnya, yaitu di puncak sebuah gunung yang tak<BR>pernah didatangi manusia, tempat di mana ia tinggal sebelum ia bertemu<BR>dengan Kwa Hong dan kemudian dipeliharanya.<BR>Pada suatu hari, seperti sudah sering kali tejadi, Sin Lee marah-marah karena<BR>rajawali itu tidak pulang. Sudah hampir sebulan rajawali itu tidak pulang dan<BR>telah payah Sin Lee mencari ke dalam hutan-hutan, bersuit-suit memanggil<BR>tanpa ada jawaban. Pemuda berusia enam belas tahun ini sampai tak enak<BR>makan tak enak tidur memikirkan burungnya. Dan ia menjadi marah bukan<BR>main ketika pada suatu pagi, burung itu datang!<BR>"Keparat, kau benar-benar menggemaskan!" kata Sin Lee yang menyambut<BR>kedatangan burungnya. Tanpa banyak pikir lagi ia lalu... mencabuti bulu sayap<BR>burung itu. Bukan sekali-kali ia bermaksud untuk menyiksa, melainkan saking<BR>marahnya ia bermaksud untuk menghukum burung itu agar burung itu tidak<BR>mampu terbang lagi.<BR>Burung adalah seekor binatang biasa, Kalau ia dibaiki tentu ia akan membalas<BR>kebaikan itu dengan kesetiaan. Akan tetapi kalau ia disakiti, siapa pun yang<BR>melakukannya tentu akan dilawannya. Sekali dua kali bulunya dicabut ia diam<BR>saja hanya memekik-mekik, akan tetapi setelah Sin Lee terus saja mencabuti<BR>bulunya, ia menjadi marah dan menampar. Pemuda itu yang tidak menduga<BR>akan ditampar, terlempar tubuhnya.<BR>"Setan, kau menantang berkelahi?" Bagi Sin Lee, siapa pun yang<BR>menantangnya berkelahi pasti akan ia layani. Kemarahannya memuncak ketika<BR>burung yang ia anggap bersalah dan hendak ia hukum itu malah<BR>menyerangnya. "Kita lihat siapa yang akan menang! Kalau aku kalah. aku<BR>tidak akan mencabuti bulumu, akan tetapi kalau kau yang kalah, tidak hanya<BR>sayapmu, malah ekormu akan kucabut habis untuk hukumanmu!"<BR>Kemudian ia menerjang maju, menyerang burungnya.<BR>Sudah menjadi kebiasaan Kwa Hong di waktu Sin Lee masih kecil untuk<BR>melatih anaknya itu bertempur melawan rajawali akan tetapi dalam latihan ini<BR>rajawali emas tidak bertempur sungguh-sungguh. Betapapun juga, makin<BR>besar anak itu, makin hebat kepandaiannya dan akhirnya dalam setiap latihan,<BR>akhirnya burung itulah yang kalah. Sin Lee pun tidak mau menyakitinya,<BR>apalagi membunuhnya, cukup ia dianggap menang kalau ia dapat menangkap<BR>leher burung dalam kempitannya membuat burung itu tak mampu bergerak<BR>lagi.<BR>Akan tetapi sekarang keduanya berhadapan sebagai lawan yang sungguhsungguh<BR>hendak bertempur, Sin Lee dalam kemarahannya hendak<BR>menghukum burung yang dianggapnya jahat itu, sebaliknya burung itu dengan<BR>nalurinya merasa bahwa pemuda ini hendak berbuat jahat kepadanya, hendak<BR>menyakitinya, maka ia pun tidak mau main-main lagi. Melihat penyerangan<BR>hebat dari Sin Lee, burung rajawali emas itu pun cepat mengelak dan<BR>mengibaskan sayapnya. Biarpun burung itu sudah termasuk berusia tua,<BR>namun tenaganya tidak berkurang semenjak dahulu. Kibasan sayapnya<BR>memiliki tenaga ratusan kati. Sin Lee yang melihat tamparan sayap ini pun<BR>maklum bahwa burungnya tidak main-main, maka ia menjadi makin marah,<BR>cepat tubuhnya berkelebat mengelak dan dengan keras ia memukul kepala<BR>binatang itu.<BR>Gerakan rajawali emas tetap gesit, serangan itu dapat ia elakkan pula dan<BR>dibalasnya dengan tendangannya yang biasanya hebat sekali. Namun Sin Lee<BR>yang sudah hafal akan semua gerakan burungnya, dapat menghindar.<BR>Terjadilah pertandingan yang bukan main serunya. Tubuh burung dan manusia<BR>itu berkelebatan sampai tidak kelihatan lagi, hanya tampak gulungan sinar<BR>kuning emas dan bayangan-bayangan yang menjadi satu. Debu mengebul<BR>tinggi dan daun-daun pohon di dekat tempat pertandingan itu bergerak-gerak<BR>seperti tertiup angin, malah daun-daun yang sudah menguning pada rontok<BR>berhamburan.<BR>Sejam lebih mereka bertempur akhirnya burung itu harus mengakui<BR>keunggulan Sin Lee. Dua kali dadanya terkena pukulan dan segenggam<BR>bulunya di leher telah copot oleh cengkeraman pemuda itu. Sambil<BR>mengeluarkan keluhan panjang burung itu lalu terbang pergi. Ia tidak mau<BR>turun kembali, biarpun dipanggil dan dimaki-maki oleh Sin Lee, Kwa Hong<BR>menyesal bukan main setelah mendengar tentang pertempuran ini dan<BR>mendapat kenyataan bahwa sekali ini burung rajawali itu benar-benar tidak<BR>mau pulang ke Lu-liang-san. Akan tetapi Sin Lee tidak pernah memperlihatkan<BR>rasa sesalnya.<BR>"Kalau dia tidak mau lagi ikut kita, mengapa kita harus menyesal? Biarlah dia<BR>tidak kembali lagi, tidak apa."<BR>"Lee-ji, kenapa kau berkata begini? Burung itu sudah belasan tahun ikut<BR>dengan aku, aku sayang padanya dan... ah, bukankah kalau ada dia mudah<BR>sekali kita hendak pergi ke mana-mana? Dia adalah seekor binatang<BR>tunggangan yang jarang ada keduanya di dunia ini."<BR>"Aku masih memiliki kedua kakiku, kalau tidak ada dia, aku dapat pergi ke<BR>mana saja dengan jalan kaki. Ibu, bukankah ibu seringkali mengatakan bahwa<BR>hidup di dunia ini terutama sekali harus mengandalkan diri sendiri dan tidak<BR>boleh bersandar kepada orang lain?"<BR>bagian 45<BR>Kwa Hong telalu menyayang puteranya maka ia pun tidak tega untuk<BR>memarahinya. Diam-diam ia girang karena anaknya ini ternyata mendapatkan<BR>kemajuan pesat sehingga burung rajawali emas yang tidak mudah dikalahka,<BR>orang itu akhirnya kalah juga menghadapi puteranya. Maka ia lalu lebih tekun<BR>menggembleng Sin Lee sehingga akhirnya dia sendiri dengan pedang di tangan<BR>kanan dan cambuk anak panah di tangan kiri tidak mampu menandingi pedang<BR>puteranya, lebih dari lima puluh jurus!<BR>Usia Sin Lee sudah delapan belas tahun ketika Kwa Hong membuka rahasia<BR>hatinya yang terpendam selama belasan tahun ini. "Lee-ji puteraku sayang,<BR>kau sekarang sudah mewarisi semua kepandaian ibumu, dan kau sudah terlalu<BR>besar untuk tinggal terus di puncak gunung ini. Sudah tiba waktunya kau<BR>harus turun gunung memperluas pengetahuan dan... mencari jodoh."<BR>"Aku tidak inginkan jodoh!" Sin Lee memotong cepat dengan kedua pipinya<BR>kemerahan. Ibunya memandang penuh kasih dengan mata berseri-seri dan<BR>tersenyum. Alangkah tampan puteranya, melampaui Beng San! Teringat Beng<BR>San, jantungnya berdebaran dan terbayanglah semua peristiwa yang lalu dan<BR>perasaannya menjadi panas.<BR>"Dengar, puteraku, Kau dulu sering kali menanyakan ayahmu dan kujawab<BR>bahwa ayahmu telah mati. Itu memang benar, akan tetapi baru sekarang<BR>hendak kuceritakan kepadamu sebab kematian ayahmu."<BR>Sin Lee segera memandang ibunya dan mendengarkan penuh perhatian. Sejak<BR>kecil ia merasa berduka dan kecewa sekali mendengar bahwa ayahnya telah<BR>mati.<BR>"Apakah sebab kematian ayahku, Ibu?" tanyanya mendesak, Kwa Hong<BR>menarik napas panjang berulang-ulang, agaknya berat ia hendak<BR>mengeluarkan kata-kata. Akhirnya ia bicara dengan suara serak, "Anakku...,<BR>ayahmu she Tan jadi namamu Tan Sin Lee. Adapun kematian ayahmu tidak<BR>sewajarnya, melainkan dibunuh orang."<BR>Tldak ada reaksi apa-apa pada pemuda itu. Memang Sin Lee aneh orangnya.<BR>Ia tidak bisa menaruh hati dendam karena selama ia hidup di gunung itu ia<BR>tidak pernah menghadapi sesuatu dan segala peristiwa yang menimpa<BR>siapapun juga ia anggap sudah sewajarnya, pasti ada sebab menjadikan<BR>peristiwa itu, Umpamanya ketika ia kalah oleh hwesio tua, ia anggap hal itu<BR>terjadi karena ia memang kalah pandai dan habis perkara. Ia tidak menaruh<BR>dendam. Sekarang, mendengar ayahnya mati dibunuh orang, otomatis ia<BR>menganggap bahwa ayahnya dibunuh karena kalah dalam pertempuran, jadi<BR>menurut pendapatnya, ayahnya yang bersalah mengapa sampai kalah!,<BR>"Banyak orang yang membunuh ayahmu. Pertama-tama adalah seorang lakilaki<BR>bernama... Tan Beng San!" ia berhenti sebentar, dan menahan air<BR>matanya, memandang puteranya.<BR>Sin Lee kelihatan mengerutkan keningnya terheran, "Dia pun she Tan, Ibu?<BR>Bukankah orang yang sama shenya itu berarti masih keluarga?"<BR>"Tidak... tidak... banyak orang she nya sama tapi bukan apa-apa," jawab Kwa<BR>Hong cepat.<BR>"Hemmm, lalu siapa lagi, Ibu?"<BR>"Orang ke dua adalah seorang wanita bernama Cia Li Cu, isteri dari Tan Beng<BR>San itu." Ia memang sudah mendengar bahwa Beng San telah menikah<BR>dengan Li Cu, maka ia menyebut nama wanita yang dibencinya karena iri hati<BR>dan cemburu ini.<BR>"Adapun orang ke tiga... dia adalah Song-bun-kwi Kwee Lun. Nah, tiga orang<BR>itulah yang telah membunuh ayahmu dan yang membuat ibumu hidup<BR>menderita. Kau harus mencari mereka, kaubunuhlah Cia Li Cu dan Song-bunkwi.<BR>Kwee Lun, tapi... kau jangan bunuh Tan Beng San, kautangkap saja dan<BR>kauseret dia ke sini!"<BR>Sin Lee memandang ibunya dengan mata membelalaki, "Kenapa, Ibu? Kenapa<BR>aku harus membunuh mereka? Mereka tidak mempunyai urusan apa-apa<BR>denganku."<BR>Kwa Hong balas memandang dengan marah. "Apa? Kau tidak mau mewakili<BR>ibumu membalas sakit hati? Percuma sajakah aku mempunyai seorang anak<BR>laki-laki seperti kau, hidup menderita untukmu dan menurunkan semua<BR>kepandaianku untukmu?"<BR>Sin Lee cepat-cepat memeluk ibunya yang telah menangis. "Sudahlah, Ibu.<BR>Sama sekali bukan begitu maksudku. Aku hanya menyatakan isi hatiku bahwa<BR>aku tidak mempunyai permusuhan dengan mereka. Aten tetapi kalau Ibu<BR>memerintah anakmu ini, biarpun harus melawan naga berapi akan kujalani.<BR>Terangkanlah maksud Ibu bagaimana, anak akan segera melaksanakan semua<BR>kehendakmu."<BR>Dengan terharu dan girang Kwa Hong memeluk puteranya, lalu berkata<BR>dengan sungguh-sungguh,<BR>"Tugas yang kuserahkan kepadamu ini bukanlah tugas ringan, Anakku. Tiga<BR>orang yang kusebut-sebut tadi adalah orang-orang yang memiliki kepandaian<BR>luar biasa tingginya. Song-bun-kwi Kwee Lun adalah seorang kakek sakti yang<BR>kepandaiannya dahsyat, terkenal dengan ilmu pedangnya Yang-sin Kiam-sut<BR>dan suling tangisnya yang dapat melumpuhkan semangat lawan. Dahulu,<BR>Song-bun-kwi Kwee Lun ini adalah tokoh nomor satu dari barat. Nah, kau<BR>harus cari orang ini di puncak Min-san, bunuhlah dia karena dia telah menjadi<BR>sebab rusaknya kehidupan ibumu." sambil berkata demikian, dengan gemas<BR>Kwa Hong mengenangkan Bi Goat yang dianggap telah merampas cinta kasih<BR>Beng San. Sekarang Bi Goat sudah meninggal dunia, maka ia anggap sudah<BR>semestinya kalau ia menyuruh puteranya membunuh kakek itu. Padahal ia<BR>mempunyai maksud lain dengan perintah ini. Ia tahu bahwa putera Bi Goat<BR>diarnbil oleh Song-bun-kwi maka mencari kakek itu berarti mencari putera Bi<BR>Goat dan Beng San!<BR>"Kalau kau sudah bertemu dengan kakek itu, selain dia kau harus pula<BR>membinasakan seorang pemuda sebaya engkau yang menjadi cucunya atau<BR>putera seorang wanita bernama Bi Goat."<BR>Sin Lee mengerutkan keningnya, di dalam hatinya sebetulnya ia tidak setuju<BR>dengan tugas membunuh-bunuhi orang yang sama sekali tak dikenalnya itu.<BR>Akan tetapi ia tidak mau mengecewakan hati ibunya, orang yang amat<BR>dikasihinya itu.<BR>"Hemmm, jadi kakek itu tinggal di Min-san, Ibu? Lalu yang lain-lain itu tinggal<BR>di mana?"<BR>"Orang yang harus kaubunuh lagi adalah Cia Li Cu. Kau harus berhati-hati<BR>kalau berhadapan dengan dia ini. Dia adalah murid mendiang Raja Pedang.<BR>Ilmu pedangnya hebat sekali. Dia tinggal di Thai-san bersama... orang ke tiga<BR>itu, yang bernama Tan Beng San."<BR>"Jadi Cia Li Cu itu isteri dari Tan Beng San?" tanya Sin Lee.<BR>".... eh, hem... betul. Cia Li Cu harus kaubunuh. Kemudian kauseret Tan Beng<BR>San itu ke sini, kauhadapkan padaku.<BR>Ingat betul, jangan kaubunuh dia itu, boleh kaulukai kalau dia melawan, akan<BR>tetapi jangan sekali-kali kaubunuh. Aku yang hendak membunuhnya, dengan<BR>kedua tanganku sendiri!" Melihat pandang mata dan gerakan tangan ibunya,<BR>diam-diam Sin Lee terkejut sekali.<BR>"Ibu, kenapa kau amat membenci Tan Beng San ini?"<BR>Sampai lama Kwa Hong tak dapat menjawab dan mata yang tadinya bersinar<BR>ganas dan liar itu perlahan-lahart melunak dan air matanya hampir menitik<BR>turun. Cepat-cepat ia mengusap kedua matanya dan berkata perlahan, "Dia<BR>itulah yang menghancurkan hidupku, memaksa ibumu ini hidup menyendiri di<BR>puncak gunung ini. Kau harus berhasil menangkap dia, tak peduli apa pun<BR>yang terjadi. Dia harus kau tangkap, kau seret ke sini, Anakku...."<BR>Suaranya ibunya yang penuh permohonan ini membanjirkan perasaan haru<BR>dan kasihan dalam dada Sin Lee. Diam-diam ia mengambil keputusan untuk<BR>memenuhi permintaan ibunya ini, apapun yang akan terjadi dengan dirinya.<BR>"Ibu, agaknya aku akan berhasil menangkapnya dan menyeretnya ke depan<BR>kakimu. Tapi... dia itu orang macam apakah?"<BR>Kwa Hong menarik napas panjang. "Kau tidak boleh memandang rendah Songbun-<BR>kwi Kwee Lun, kau harus berhati-hati terhadap Cia Li Cu. Akan tetapi<BR>menghadapi orang ini, Anakku... aku benar-benar sangsi apakah kau akan<BR>dapat melawannya. Dia itulah sesungguhnya Raja Pedang, ilmu pedang dan<BR>ilmu silatnya luar biasa sekali, belum pernah aku melihat dia dikalahkan orang.<BR>Dia hebat... dia hebat...." Kwa Hong merenung, wajahnya agak berseri,<BR>bangkit kembali cinta kasihnya kalau ia merenungkan bekas kekasihnya itu.<BR>"Dia laki-laki hebat...." kembali ia berkata dan kali ini dengan keluhan.<BR>Panas hati Sin Lee mendengar ini. Biasanya ibunya hanya menganggap bahwa<BR>dialah orang yang paling pandai di dunia ini, sekarang ibunya memuji seorang<BR>musuh! "Ibu, aku bersumpah akan menyeret Tan Beng San itu ke depan<BR>kakimu. Kalau belum terjadi hal ini, aku bersumpah takkan kembali ke sini."<BR>Sin Lee cepat berkemas, membawa pedang pusaka pemberian ibunya,<BR>membuntal pakaian dan membawa beberapa potong emas, lalu turun gunung.<BR>Kwa Hong mengantar puteranya sampai di lereng gunung dan membekalinya<BR>banyak nasihat dan memesannya agar berhati-hati.<BR>Kun Hong dibawa terbang jauh sekali oleh rajawali emas, Burung ajaib ini<BR>semenjak meninggalkan Lu-liang-san tidak mau kembali lagi dan selama itu ia<BR>terbang dan tinggal di tempatnya yang lama, yaitu di puncak sebuah bukit<BR>yang tak pernah didatangi manusia. Kadang-kadang ia meninggalkan<BR>tempatnya ini dan tidak seperti dulu ketika masih dipelihara oleh Kwa Hong,<BR>sekarang ia bebas lepas dan pergi ke mana saja ia suka. Kebetulan sekali ia<BR>bertemu dengan Kun Hong. Binatang ini memang amat mengenal budi orang.<BR>Sekali saja orang melepas budi kepadanya, ia tentu akan membalasnya<BR>dengan penuh kesetiaan. Akan tetapi sebaliknya, kalau ia disakiti, ia pun akan<BR>membenci yang menyakitinya.<BR>Tanpa disengaja Kun Hong telah memberi katak putih yang segera dikenal oleh<BR>burung ajaib ini dan ditelan, maka selamatlah ia dari racun hebat yang melukai<BR>kakinya. Pertolongan ini membuat ia amat suka dan setia kepada Kun Hong<BR>dan sekarang ia hendak membawa pemuda itu terbang ke tempat tinggalnya,<BR>di puncak sebuah bukit yang di jaman dahulu dikenal sebagai Bukit Kepala<BR>Naga. Puncak ini disebut Kepala Naga karena bentuknya dilihat dari barat<BR>memang menyerupai bentuk kepala naga.<BR>Kun Hong tidak tahu ke mana ia akan dibawa oleh burung itu. Anehnya, pada<BR>waktu tengah hari dan malam, burung itu selalu berhenti di sebuah hutan dan<BR>tanpa diminta lagi lalu mencarikan buah-buahan yang segar dan enak untuk<BR>pemuda itu. Tentu saja Kun Hong girang sekali mendapatkan kawan yang baik,<BR>apalagi selamanya ia tidak pernah turun gunung, sekarang begitu turun<BR>gunung ia mengalami hal-hal yang amat aneh. Biarpun ayahnya adalah Kwa<BR>Tin Siong dan juga menjadi ayah Kwa Hong, namun Kun Hong belum pernah<BR>diceritakah tentang kakak perempuannya lain ibu itu, maka ia pun tidak<BR>pernah mendengar tentang adanya rajawali emas. Para tosu Hoa-san-pai yang<BR>sudah dipesan keras oleh Kwa Tin Siong, tidak ada yang pernah bercerita<BR>tentang peristiwa yang mencemarkan nama baik Ketua Hoa-san-pai itu.<BR>Andaikata ia pernah mendengar tentang Kwa Hong yang datang menyerbu<BR>Hoa-san-pai naik rajawali emas, kiranya pemuda ini akan dapat mengenal<BR>burung itu.<BR>Setelah lewat lima hari, sampailah burung rajawali emas itu ke puncak gunung<BR>Kepala Naga. Ia menukik ke bawah dan Kun Hong merangkul leher burung,<BR>mencengkeram kalung mutiara itu sambil meramkan matanya. Ia merasa<BR>ngeri sekali melihat betapa dia dan burung itu meluncur turun, seakan-akan<BR>hendak tertumbuk kepada jurang-jurang dan batu-batu yang menanti di<BR>bawah, jurang-jurang menganga seperti mulut harimau dan batu-batu<BR>meruncing seperti ujung pedang dan golok.<BR>Setelah burung itu hinggap di atas tanah barulah ia berani membuka kedua<BR>matanya. Alangkah herannya ketika ia melihat bahwa burung rajawali itu telah<BR>berdiri di depan sebuah gua yang bentuknya seperti mulut naga. Gua batu itu<BR>amat lebar dan dalam, letaknya di depan jurang yang sangat terjal sehingga<BR>kalau bukan burung yang pandai terbang, manusia biasa kiranya tak mungkin<BR>dapat mendatangi tempat ini. Pemandangan alam dari tempat itu, dari depan<BR>gua, amat indahnya, seakan-akan dunia terletak di bawah kaki gua, Kun Hong<BR>segera melompat turun dari punggung rajawali. Ia mendekati gua, akan tetapi<BR>tidak berani masuk karena ia merasa seakan-akan ia berdiri di depan tempat<BR>tinggal seseorang sehingga ia tidak berani masuk begitu saja tanpa perkenan<BR>si pemilik tempat tinggal! Akan tetapi tiba-tiba burung itu mengeluarkan bunyi<BR>perlahan dan dari belakangnya burung itu mendorong punggungnya perlahanlahan,<BR>seakan-akan hendak menyuruh pemuda itu memasuki gua.<BR>Karena kemudian dapat menduga bahwa tak mungkin di dalam gua yang<BR>letaknya demikian sukar dapat didiami, manusia Kun Hong lalu memasukinya.<BR>Ia terheran-heran melihat bahwa di dalam gua itu terbagi menjadi tiga, yaitu<BR>bagian depan dan di sebelah dalam terdapat dua buah ruangan tertutup.<BR>Pintunya juga merupakan pintu batu akan tetapi bentuknya jelas adalah<BR>buatan manusia!<BR>Dengan hati berdebar-debar ia mendorong pintu batu di sebelah kiri. Akan<BR>tetapi betapapun ia mengerahkan tenaga, pintu batu itu bergerak sedikit pun<BR>tidak! Tiba-tiba terdengar burung itu bersuara di belakangnya, kemudian<BR>dengan sayap kanannya burung itu mendorong perlahan dan... pintu batu itu<BR>terbuka!<BR>"Tiauw-ko, kau benar-benar kuat sekali!" Kun Hong memuji dan makin<BR>berdebar hatinya ketika ia melangkah masuk.<BR>"Locianpwe (sebutan untuk orang tua pandai) atau arwahnya yang mulia,<BR>harap sudi mengampuni kelancanganku ini." katanya dengan bisikan perlahan<BR>dan mulailah ia merasa serem karena di dalam kamar batu ini ia melihat<BR>sebuah meja sembahyang! Tempat lilin yang amat kuno terletak di kanan kiri<BR>ujung meja dan di atas dua tempat lilin ini masih tertancap dua batang lliin<BR>merah. Lilin-lilin itu tidak menyala, akan tetapi lilin yang meleleh bekas<BR>terbakar masih kelihatan seakan-akan baru saja dipadamkan. Ketika Kun Hong<BR>mendekati, tampak nyata olehnya bahwa lilin sudah lama sekali tidak<BR>dinyalakan orang, buktinya di atasnya terdapat banyak sarang laba-laba. Di<BR>tengah-tengah meja kelihatan sebuah kitab yang tebal dan sudah tua sekali.<BR>Melihat sebuah kitab kuno, bukan main girangnya hati Kun Hong. Ingin segera<BR>menyambar kitab itu untuk dibacanya, akan tetapi karena semenjak kecil ia<BR>dijejali pelajaran dan tata-susila, ia tidak berani melakukan hal itu.<BR>Karena keinginannya melihat buku itu amat keras, ia segera menjatuhkan<BR>dirinya berlutut di depan meja sembahyang lalu berkata keras-keras,<BR>"Locianpwe pemilik kitab di atas meja, harap sudi memberi perkenan kepada<BR>teecu untuk mengambilnya dan membaca isinya." Berkali-kali ia mengucapkan<BR>kata-kata ini sambil membentur-benturkan jidatnya kepada lantai untuk<BR>memberi hormat kepada pemilik kitab yang tidak diketahuinya siapa dan yang<BR>ia tidak tahu masih hidup ataukah sudah mati itu.<BR>Ketika ia berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya di atas lantai depan<BR>meja sembahyang itu, matanya melihat ukiran-ukiran huruf kecil-kecil di<BR>bawah meja. Ukiran huruf-huruf itu demikian kecilnya sehingga kalau orang<BR>tidak mengangguk-anggukkan kepala sampai jidatnya menyentuh lantai<BR>kiranya takkan dapat melihatnya. Tidak akan ada huruf-huruf yang terlewat<BR>begitu saja oleh sepasang mata Kun Hong yang selalu haus akan bacaan,<BR>apalagi kalau huruf-huruf itu berada di tempat yang begitu aneh dan goresan<BR>huruf-huruf itu amat indahnya. Ia segera membacanya,<BR>Dapat masuk berarti jodoh. Dapat membaca berarti tahu sopan dan murid<BR>yang baik. Untuk ambil kitab singkirkan anak-anak panah di bawah meja.<BR>Setelab hafal kitab baru ambil pedang di kamar samadhi.<BR>bagian 46<BR>Beberapa kali Kun Hong membaca tulisan kecil-kecil itu dan ia merasa seakanakan<BR>surat itu ditujukan kepadanya! Setelah jelas akan pesan dalam surat<BR>berukir yang aneh itu, ia lalu melongok ke bawah meja dan betul saja, di<BR>bawah meja itu tersembunyi tiga batang anak panah yang dipasangi per<BR>sehingga kalau ada orang mengambil kitab di atas meja itu, per akan<BR>menggerakkan tiga batang anak panah tadi yang tentu akan tertendang dan<BR>menyerang orang yang berdiri di depan meja. Karena anak-anak panah itu<BR>akan menyerang dari bawah meja, kiranya tak mungkin orang akan dapat<BR>menghindarkan penyerangan gelap yang amat dekat ini. Kun Hong bergidik<BR>dan cepat-cepat ia mengulur tangan mengambil tiga batang anak panah itu.<BR>Tercium bau yang harum dan di ujung tiga batang anak panah itu berwarna<BR>hijau. Pemuda ini dapat menduga bahwa ujung anak panah itu tentu diberi<BR>racun yang amat berbahaya. Dengan jijik ia lalu menaruh tiga batang anak<BR>panah itu di atas meja, lalu ia memberi hormat lagi sambil berkata,<BR>"Terima kasih atas kepercayaan dan petunjuk Locianpwe."<BR>Ia lalu mengulur tangan mengambil kitab kuno itu dari tengah meja dan pada<BR>saat itu terdengarlah jepretan per di bawah meja. Biarpun sudah dapat<BR>menduga akan hal ini dan sudah yakin bahwa anak panah itu telah ia<BR>singkirkan, namun kaget jugalah Kun Hong mendengar jepretan ini. Dilihatnya<BR>bahwa di bawah kitab tadilah yang menghubungkan per-per itu sehingga<BR>apabila kitab diambil per-per itu bekerja di bawah meja. Ah, kalau tadi ia<BR>berlaku lancang dan terus saja mengambil kitab itu sudah dapat dipastikan<BR>bahwa berbareng pada saat terdengar suara menjepret, ia akan roboh<BR>telentang dengan tiga anak panah tertancap di perutnya! Dengan kitab di<BR>tangan, Kun Hong cepat-cepat memberi hormat lalu keluar dari kamar itu.<BR>Ternyata setibanya di ruangan depan, rajawali emas telah menantinya dan<BR>burung ini telah memperoleh banyak sekali buah-buahan, malah di antaranya<BR>terdapat seekor kelinci yang sudah mati.<BR>"Aduh, kau mendapatkan kelinci gemuk? Sayang, Tiauw-ko, bagaimana kita<BR>akan dapat memakannya?"<BR>Burung itu lalu mendorong Kun Hong ke pojok ruangan di mana terdapat<BR>sebuah batu halus rata berbentuk meja. Di situ bertumpuk rumput-rumput<BR>kering dan dengan paruhnya burung luar biasa ini mengambil sedikit rumput<BR>kering, di taruhnya di atas meja. Kemudian ia menggerakkan kepalanya,<BR>paruhnya runcing dan keras seperti baja itu memukul pinggir meja dan...<BR>bunga api berpijar. Kun Hong girang sekali dan pemuda yang cerdik ini segera<BR>dapat menangkap maksud si burung. Ia cepat mengambil rumput kering lagi<BR>dan menaruh dekat pinggiran meja. Beberapa kali burung itu memukul batu<BR>itu dengan paruhnya dan akhirnya bunga api- menyentuh rumput kering dan<BR>terbakarlah rumput itu. Dengan cara demikian Kun Hong dapat membuat api<BR>unggun dan dapat memanggang daging kelinci.<BR>Setelah makan kenyang, pemuda itu mulai membuka-buka lembaran kitab<BR>kuno tadi. Pada lembar pertama terdapat tulisan dengan huruf-huruf besar<BR>yang berbunyi: SALINAN IM YANG BU TEK CIN KENG.<BR>Karena ia tidak tahu apa itu artinya Im-yang Bu-tek Cin-keng. Kun Hong<BR>membuka lembaran ke dua dan segera ia amat tertarik membaca tulisan yang<BR>bersifat keluhan dan penjelasan. Tulisan itu berbunyi demikian,<BR>"Telah bertumpuk dosaku. Ratusan orang telah kubunuh dengan anggapan<BR>bahwa perbuatan itu baik karena yang kubunuh adalah orang-orang yang<BR>kuanggap jahat, Anggapan yang sesat! Aku tidak bisa memberi kehidupan<BR>bagaimana aku berhak mengakhiri kehidupan? Aku berdosa! Mengandalkan<BR>kepandaian untuk membunuh sesama manusia, betapapun jahat si manusia<BR>itu, bukanlah perbuatan baik, melainkan perbuatan jahat pula."<BR>Sampai di sini Kun Hong menarik napas panjang lalu mengangguk-angguk.<BR>Betul sekali Locianpwe ini, soal mati dan hidup manusia bukanlah urusan<BR>manusia, melainkan Yang Maha Kuasa. Membunuh orang lain, bukankah<BR>melancangi dan mendahului Tuhan itu namanya? Sayang, agaknya Locianpwe<BR>ini baru sadar setelah melakukan pembunuhan ratusan kali. Ia membaca terus<BR>tulisan yang merupakan permulaan isi kitab itu.<BR>"Im-yang Bu-tek Cin-keng adalah kitab yang mengandung pelajaran ilmu silat<BR>sakti, tiada keduanya di dunia ini. Orang macam aku mana dapat<BR>menyalinnya? Pengertianku terbatas dan salinanku tentu banyak<BR>menyeleweng. Karena itu aku hanya menyalin apa yang kuketahui saja dan<BR>kucampur dengan gerakan-gerakan burungku rajawali emas. Karena itu maka<BR>ilmu dalam kitab ini kuberi nama Kim-tiauw-kun (Ilmu Silat Rajawali Emas).<BR>Muridku yang membaca kitab ini harus bersumpah dalam hatinya bahwa ke<BR>satu dia tidak boleh membunuh sesama manusia dengan alasan apapun juga.<BR>Ke dua dia tidak boleh mempergunakan ilmu ini untuk menyerang orang. Ke<BR>tiga ilmu Kim-tiauw-kun ini hanya untuk membela diri dari serangan orang,<BR>dan hanya terbatas untuk mengalahkan lawan saja"<BR>Kun Hong makin tertarik. "Bagus", pikirnya. "Inilah ilmu yang baik sekali. Aku<BR>sendiri paling benci melihat pembunuhan antara sesama manusia. Kalau aku<BR>dapat mempelajari ilmu ini, kiranya aku akan mampu mencegah orang-orang<BR>berkepandaian main hakim sendiri membunuhi orang sesuka hati. Kalau ada<BR>orang jahat, gunakan kepandaian untuk mengalahkannya dan menangkapnya<BR>untuk diserahkan kepada yang berwajib agar dijatuhi hukuman. Bagus sekali!<BR>Locianpwe, teecu bersumpah akan memenuhi semua syarat itu."<BR>Semenjak saat itu, dengan tekun Kun Hong membaca kitab yang berisi<BR>pelajaran ilmu silat sakti itu. Sama sekali ia tidak pernah menduga bahwa<BR>secara tak sengaja atau sadar ia telah mewarisi ilmu silat yang bukan main<BR>hebatnya, yang hanya setaraf dengan Im-yang Sin-hoat karena dari satu<BR>sumber. Ia tidak tahu pula siapa gurunya, siapa penulis kitab itu yang hanya<BR>menandai dengan tiga buah huruf berbunyi Bu Beng Cu yang artinya TIADA<BR>NAMA!<BR>Di samping membaca kitab Kim-tiauw-kun ini, tidak lupa Kun Hong yang<BR>dengan girang mendapat kenyataan bahwa tiga buah kitab milik Yok-mo masih<BR>berada di saku jubahnya, membaca pula tiga buah kitab pengobatan itu.<BR>Pengetahuannya tentang perjalanan darah yang secara lengkap tertulis di<BR>dalam kitab Yok-mo, memperlancar pengertiannya terrhadap isi kitab Kimtiauw-<BR>kun.<BR>Kun Hong memang memiliki kecerdasan luar biasa. Dalam waktu setahun lebih<BR>saja ia sudah mampu membaca habis empat buah kitab itu, tidak hanya<BR>membaca habis, malah sudah dapat menghafalnya di luar kepala! Tentu saja,<BR>ilmu silat tidak dapat disamakan dengan ilmu pengobatan yang cukup dihafal,<BR>melainkan harus dilatih dalam praktek. Karena di dalam kitab Kim-tiauw-kun<BR>itu terdapat peringatan bahwa si murid harus betul-betul menyempurnakan<BR>latihan gerakan kaki, maka Kun Hong juga melatih dirinya dalam pergerakan<BR>ini, dalam langkah-langkah ajaib yang kadang-kadang membuat kepalanya<BR>pening dan mau muntah-muntah. Baiknya kalau ia sedang bergerak seperti<BR>itu, burung rajawali tentu dengan mengeluarkan suara girang mendekatinya<BR>dan bergerak-gerak persis seperti langkah-langkah dalam pelajaran itu,<BR>sengaja memberi contoh kepadanya! Bukan main girangnya hati Kun Hong dan<BR>mulai saat itu ia selalu berlatih bersama burung rajawali emas. Orang yang<BR>menamakan dirinya Bu Beng Cu dan yang menyalin ilmu silat itu, sebenarnya<BR>adalah seorang sakti yang menyembunyikan dirinya di tempat ini karena<BR>merasa menyesal sekali akan pembunuhan-pembunuhan terhadap orangorang<BR>jahat yang banyak ia lakukan. Bu Beng Cu ini telah mewarisi sebagian<BR>dari ilmu silat yang terdapat dalam kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Setelah<BR>tua dan menyesali perbuatannya, Bu Beng Cu membawa burung peliharaannya<BR>ke puncak Gunung Kepala Naga ini, menyembunyikan diri dan menuliskan sari<BR>dan pokok dari semua ilmu yang ia punyai. Kemudian ia meninggal dunia di<BR>tempat itu, hanya ditemani burungnya yang setia.<BR>Tentu saja setelah majikannya meninggal, burung itu merasa kesepian dan<BR>akhirnya ia terbang dari tempat itu sampai ia berjumpa dengan Kwa Hong dan<BR>dipelihara oleh Kwa Hong. Betapapun juga, burung ini mempunyai perasaan<BR>atau naluri ,yang tajam. Agaknya ia maklum bahwa Kwa Hong dan kemudian<BR>puteranya Sin Lee, bukanlah orang yang memiliki budi luhur maka tidak ia<BR>bawa mengunjungi gua di puncak Gunung Kepala Naga itu. Baru setelah ia<BR>bertemu dengan Kun Hong, segera perasaan atau nalurinya menyatakan<BR>kepadanya bahwa pemuda inilah yang paling tepat untuk dihadapkan kepada<BR>peninggalan majikan tuanya.<BR>Waktu setengah tahun bukanlah waktu lama untuk orang yang belajar. Akan<BR>tetapi, satu setengah tahun di dalam gua di puncak gunung yang tak pernah<BR>dikunjungi manusia, benar-benar membuat Kun Hong berubah menjadi<BR>manusia lain! Tidak saja dalam ilmu langkah ajaib itu ia sudah hafal benar<BR>sehingga dalam latihan-latihannya, burung rajawali itu betapapun<BR>menyerangnya dengan hebat tak pernah dapat menyentuh ujung bajunya,<BR>akan tetapi juga dalam pengertiannya tentang pengobatan, membuat ia<BR>seakan-akan terbuka mata batinnya akan diri manusia. Dari pelajaran ini ia<BR>seakan-akan lebih mengenal dirinya sendiri, lebih mengenal manusia pada<BR>umumnya, tidak hanya lahiriah, akan tetapi mendalam sampai ke jalan<BR>darahnya, sampai kepada alat-alat terkecil dalam tubuh. Semua pengertian<BR>baru ini ia gabungkan dengan pelajaran yang banyak ia dapatkan dahulu<BR>tentang kebatinan, tentang kehidupan, sehingga pemuda yang baru berusia<BR>dua puluh tahun ini sekarang memiliki pandangan yang amat tajam tentang<BR>diri manusia.<BR>Setelah ia hafal benar akan isi kitab Kim-tiauw-kun, barulah Kun Hong berani<BR>menghampiri pintu kamar ke dua di dalam gua itu. Seperti pintu pertama,<BR>pintu ke dua ini pun terbuat dari batu yang tebal dan berat. Akan tetapi,<BR>alangkah jauh bedanya dengan satu setengah tahun yang lalu, dengan sekali<BR>dorong saja Kun Hong dapat membuka daun pintu yang tebal itu! Sama sekali<BR>ia tidak menjadi girang atau bangga dengan hal ini, karena sesungguhnya ia<BR>sudah tidak ingat lagi betapa dahulu tanpa bantuan rajawali emas, tak<BR>mungkin ia dapat membuka pintu ini. Semua ini adalah hasil dari latihannya<BR>dalam samadhi dan pernapasan, sesuai dengan petunjuk dalam kitab Kimtiauw-<BR>kun itu. Tenaga dalamnya telah bangkit dan bergerak tanpa ia sadari.<BR>Hawa sakti dalam tubuh telah ada dalam diri tiap manusia, hanya saja hawa ini<BR>seakan-akan tertidur karena semenjak kecil sampai mati tua, sebagian besar<BR>manusia di dunia ini kerjanya hanya mengumbar hawa nafsunya belaka.<BR>Kun Hong yang sudah mengangkat sebelah kaki untuk melangkah memasuki<BR>kamar ke dua itu, tiba-tiba menahan kakinya karena mendengar burung<BR>rajawali yang berdiri di belakangnya mengeluarkan suara aneh sekali. Seakanakan<BR>burung itu bersusah hati dan menangis. Ketika ia menengok ke belakang,<BR>burung itu menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali lalu mencoba untuk<BR>menggigit baju Kun Hong dan menariknya mundur.<BR>"Jangan Tiauw-ko. Bagaimanapun juga aku harus memasuki kamar ini, sesuai<BR>dengan petunjuk Locianpwe bahwalah aku hafal akan isi kitab, aku boleh<BR>masuk dan mengambil pedang. Bukan sekali-kali karena aku ingin sekali<BR>memiliki pedang, ah, bukan, Tiauw-ko. Bagiku, sebatang pedang apa artinya?<BR>Untuk apa pula? Hanya karena Locianpwe sudah memesan, mana aku berani<BR>membangkang?"<BR>Setelah berkata demikian dan menghindarkan diri dari gigitan patuk burung<BR>itu, dengan tabah Kun Hong melangkah memasuki kamar yang agak gelap itu.<BR>Begitu masuk ia tertegun dan memandang dengan mata terbelalak ke depan.<BR>Di ujung kamar itu terdapat sebuah kursi batu dan di atas kursi batu ini duduk<BR>sebuah... kerangka manusia! Tengkorak manusia ini masih utuh dan sepasang<BR>lubang bekas mata itu seakan-akan sedang memandang kepadanya. Tangan<BR>kanan kerangka ini mencengkeram sebatang pedang yang bersinar<BR>kemerahan.<BR>Dari kaget Kun Hong berbalik menjadi terharu. Inikah kiranya Bu Beng Cu,<BR>gurunya yang meninggalkan kitab itu? Tanpa ragu-ragu lagi Kun Hong<BR>melangkah maju lagi dan menjatuhkan dirinya berlutut di depan kerangka itu.<BR>"Locianpwe, alangkah buruknya nasibmu, sampai meninggal pun tidak ada<BR>yang menguburmu...."<BR>Ia terpaksa menghentikan kata-katanya karena tiba-tiba lantai yang diinjaknya<BR>bergoyang-goyang keras. Cepat ia meloncat bangun dan tiba-tiba dari sebelah<BR>kanannya menyambar anak panah! Kun Hong cepat menggeser kakinya,<BR>menarik tubuh untuk menghindarkan diri dari ancaman maut itu. Akan tetapi<BR>terdengar lagi suara "ser-ser-ser!" dan banyak anak panah menyambarnya<BR>dari empat jurusan, sementara itu lantai masih bergoyang-goyang.<BR>Kun Hong maklum bahwa keadaannya berbahaya sekali. Ia memusatkan<BR>pikiran dan kedua kakinya cepat bergerak-gerak dalam langkah ajaib,<BR>tubuhnya bergerak-gerak dalam Ilmu Silat Kim-tiauw-kun. Sedikitnya ada lima<BR>puluh batang anak panah yang terus-menerus menyambar, akan tetapi setelah<BR>pemuda ini melakukan gerak langkah ajaib, semua penyerangan itu sama<BR>sekali tidak menyentuhnya. Setelah anak panah habis menyambar, lantai<BR>berhenti sendiri dan yang terlihat hanyalah puluhan batang anak panah<BR>berserakan di atas lantai.<BR>Kun Hong tidak mengerti apa maksudnya penyerangan itu, siapa yang<BR>menyerang dan mengapa lantai bergoyang-goyang, Akan tetapi karena ia<BR>memasuki kamar ini atas pesan Locianpwe untuk mengambil pedang, ia<BR>melangkah maju terus dengan hati-hati sekali. Dengan halus ia menarik<BR>pedang itu dari dalam tangan kerangka itu, akan tetapi alangkah kagetnya<BR>ketika tiba-tiba kerangka yang tadinya duduk itu menjadi runtuh dan<BR>terlepaslah tulang-tulang rangka itu ber jatuhan ke atas lantai pula.<BR>Tengkoraknya menggelinding sampai ke tengah kamar. Di antara tulangtulang<BR>ini, melayang sehelai kain kuning yang ternyata ada tulisannya begini:<BR>KALAU KAU TERLUKA ATAU MATI. TIDAK PATUT MENJADI PEWARIS KIMTIAUW-<BR>KUN.<BR>Setelah membawa tulisan itu, tersenyumlah Kun Hong. Kiranya semua itu<BR>merupakan ujian baginya. Locianpwe Bu Beng Cu yang aneh dan sakti ini telah<BR>mengatur sebelum tiba ajalnya, membuat semua alat rahasia itu agar setelah<BR>ia mati, ia masih dapat menguji calon muridnya, baik menguji pribudinya<BR>seperti yang terdapat di bawah meja sembahyang, juga menguji<BR>kepandaiannya setelah mempelajari ilmu silat itu. Benar-benar seorang<BR>manusia hebat. Pantas saja burung rajawali tadi seakan-akan hendak<BR>mencegahnya memasuki kamar, agaknya burung itu sudah tahu akan bahaya<BR>ujian ini dan hendak mencegahnya memasuki, kamar itu.<BR>Sebagai seorang yang memiliki pribudi luhur, tidak tegalah hati Kun Hong<BR>melihat kerangka orang sakti itu berserakan di dalam kamar. Ia lalu<BR>mengumpulkan kerangka itu dan dengan khidmat dibawanya kerangka itu<BR>keluar, lalu digalinya lubang di ruangan depan menggunakan pedang itu lalu<BR>dikuburnya kerangka tadi. Selama ia melakukan semua ini, burung rajawali<BR>emas mengeluarkan suara keluhan seperti orang berkabung dan menangis!<BR>Kun Hong lalu berkata kepada burung itu, "Tiauw-ko, sekarang sudah tiba<BR>waktunya aku harus pergi dari tempat ini. Kitab ini kutinggalkan di tempat<BR>semula karena aku sudah membaca semua isinya. Adapun pedang yang indah<BR>ini, karena telah diberikan kepadaku oleh mendiang Locianpwe, akan kubawa<BR>dan kuserahkan kepada Ayah yang amat suka akan pedang-pedang pusaka."<BR>Pemuda itu mengembalikan kitab Kim-tiauw-kun di atas meja sembahyang,<BR>sedangkan tiga buah kitab lain milik Yok-mo ia kantongi kembali karena ia<BR>hendak mengembalikan kitab itu kepada pemiliknya. Pedang indah itu ia<BR>masukkan ke dalam sarung pedang yang seder-hana dan yang ia temukan<BR>juga di kamar ke dua, lalu ia ikat di pinggang, ditutupi jubahnya. Pakaian<BR>pemuda ini sudah lapuk dan berlubang di sana-sini, maklum sudah setahun<BR>setengah ia tidak pernah berganti pakaian.<BR>Kim-tiauw agaknya maklum bahwa pemuda itu hendak pergi. Ia kelihatan<BR>berduka akan tetapi karena tak dapat bicara, ia hanya mengeluarkan suara<BR>mencicit seperti burung kecil.<BR>"Nah, Tiauw-ko, tolonglah kauantarkan aku turun dari puncak ini," kata Kun<BR>Hong setelah untuk penghabisan kali ia memberi hormat kepada kuburan<BR>kerangka Bu Beng Cu.<BR>Burung itu lalu mendekam di depan Kun Hong. Pemuda ini segera meloncat ke<BR>atas punggungnya dan sekali lagi pemuda ini mengalami "terbang" di angkasa.<BR>Ia masih merasa ngeri seperti dulu, akan tetapi entah bagaimana, setelah satu<BR>setengah tahun ia melatih diri di gua itu, ia merasa hatinya lebih tenang dan<BR>tabah. Dengan gembira ia sekali lagi menyaksikan pemandangan alam yang<BR>amat luar biasa dilihat dari angkasa, dari atas punggung burung raksasa itu.<BR>Akan tetapi, pengalaman hebat ini tidak lama ia rasakan karena burung itu<BR>segera melayang turun ke bawah kaki gunung, lalu hinggap di atas tanah. Ia<BR>mengeluarkan suara melengking yang tidak diketahui artinya oleh Kun Hong.<BR>Akan tetapi pemuda ini segera meloncat turun.<BR>"Tiauw-ko, kenapa hanya sampai di sini? Kalau bisa, tolong antarkan aku<BR>kembaii ke Hoa-san."<BR>Burung itu kembali mengeluarkan suara melengking tinggi, lalu burung itu<BR>mengangguk di depan Kun Hong tiga kali, setelah itu ia pentang kedua<BR>sayapnya dan... terbang naik lagi ke puncak.<BR>"Ah, jadi dia tidak mau ikut dan hendak kembali ke sana? Baiklah, aku harus<BR>melanjutkan perjalanan ini dengan jalan kaki." Kun Hong tidak menjadi<BR>kecewa, malah ia berterima kasih sekali kepada burung itu. Sebetulnya kalau<BR>boleh ia tidak ingin berpisah dari sahabatnya yang baik itu.<BR>"Kim-tiauw-ko, terima kasih atas semua kebaikanmu!" ia berteriak ke arah<BR>burung yang sudah terbang meninggi. Ia kaget dan terheran sendiri ketika<BR>suaranya itu mendatangkan gema di empat penjuru, amat nyaring<BR>teriakannya. Semua ini adalah berkat kemajuannya dalam latihan-latihan<BR>sehingga tanpa disadarinya, ia telah memiliki tenaga khi-kang yang tinggi,<BR>Setelah burung itu lenyap, baru Kun Hong melanjutkan perjalanannya. Ia tidak<BR>mengenal jalan, maka ia jalan ke mana saja yang ia rasa senang dengan<BR>harapan untuk tiba di sebuah dusun, berjumpa orang dan menanyakan jalan<BR>ke Hoa-san. Memang tadinya ia merasa tak senang kalau mengenang akan<BR>pembunuhan di Hoa-san dan tidak ada keinginan kembali, akan tetapi<BR>betapapun juga ia merasa rindu kepada orang tuanya dan ingin bertemu<BR>dengan mereka untuk menceritakan pengalamannya yang hebat.<BR>bagian 47<BR>Sudah menjadi kenyataan semenjak dunia berkembang, di dalam hidup<BR>menderita sengsara, manusia akan mencari Tuhan karena sudah kehabisan<BR>akal dan tidak berdaya untuk memperbaiki hidupnya yang penuh penderitaan<BR>itu. Berpalinglah manusia yang menderita sengsara, mencari-cari Kekuasaan<BR>Tertinggi yang tadinya terlupa olehnya dikala ia tidak berada dalam<BR>penderitaan hidup. Sebaliknya, diwaktu menikmati hidup penuh kesenangan<BR>dan kecukupan, manusia sama sekali lupa akan Tuhannya, lupa bahwa segala<BR>kesenangan yang dapat ia rasa pada hakekatnya adalah rahmat dari Tuhan.<BR>Manusia dalam mabuk kesenangan menjadi sombong, mabuk kemenangan<BR>dan kemuliaan duniawi, merasa seakan-akan semua hasil gemilang itu adalah<BR>hasil kepandaiannya sendiri. Manusia yang sedang ditimpa kesengsaraan suka<BR>mencari kesalahan sendiri yang menyebabkan ia menderita, suka mengakui<BR>kesalahannya dan bertobat, berjanji takkan mengulangi perbuatannya yang<BR>sesat. Sebaliknya, di dalam mabuk kemuliaan, manusia hanya bisa<BR>menyalahkan orang lain mengira bahwa dirinya sendiri yang benar dan karena<BR>kebenarannya itulah maka ia dapat hidup dalam kemuliaan.<BR>Alangkah bodohnya manusia, alangkah pelupa dan mudah mabuk oleh<BR>kesenangan duniawi! Lupa sudah bahwa segala apa yang dipisah-pisahkan<BR>manusia dan diberi istilah kesenangan atau kesengsaraan itu adalah sesuatu<BR>yang sifatnya sementara belaka. Baik kesenangan dan kesengsaraan yang<BR>sebetulnya bukanlah merupakan sifat dari sesuatu keadaan, melainkan lebih<BR>merupakan pendapat menurut selera seorang, takkan abadi dan tidak<BR>merupakan hal yang sementara terasa, malahan umurnya amat pendek,<BR>sependek umur manusia di dunia ini.<BR>Baik mereka yang mabuk kemenangan di waktu usahanya berhasil gemilang,<BR>maupun mereka yang putus asa dan nelangsa di waktu mengalami derita<BR>kekalahan, mereka ini adalah manusia-manusia yang bodoh dan, mau<BR>membiarkan dirinya diombang-ambingkan dan dipermainkan oleh perasaannya<BR>sendiri. Bahagialah orang yang selalu berpegang kepada kebenaran, yang<BR>selalu waspada akan langkah hidupnya sendiri agar tidak menyeleweng dari<BR>kebenaran, dan dalam pada itu selalu mendasarkan segala sesuatu yang<BR>menimpa dirinya, baik itu menyenangkan badan maupun sebaliknya, sebagai<BR>kehendak daripada Tuhan seru sekalian alam, Tuhan yang menentukan<BR>segalanya, yang tak dapat diubah oleh kekuasaan manapun juga di dunia ini.<BR>Jika diadakan perbandingan, jauh lebih bahagia mereka yang tertimpa<BR>kesengsaraan hidup dan membuat mereka berpaling mencari Tuhannya,<BR>daripada mereka yang hidup bergelimang dalam kemewahan dan membuat<BR>mereka lupa akan Tuhannya.<BR>Demikian pula dengan Kaisar dan para pembesar Kerajaan Beng. Pada<BR>mulanya, dalam perjuangan rnereka mengusir penjajahan Mongol dari tanah<BR>air, mereka berpegang kepada kebenaran jiwa, mereka penuh oleh sifat<BR>patriotisme, sepak terjang dalam perjuangan hanya didasarkan untuk<BR>membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan. Dalam keadaan seperti itu<BR>mereka yakin sepenuhnya akan kebenaran mereka, dan yakin bahwa manusia<BR>dalam kebenaran sepak terjang hidupnya selalu akan diridhoi oleh Tuhan Yang<BR>Maha Kuasa. Namun, sungguh menyedihkan, setelah usaha perjuangan<BR>mereka berhasil, terjadilah hal yang agaknya merupakan penyakit turunan<BR>bagi manusia. Terjadilah perebutan kemuliaan. Lebih menyedihkan lagi,<BR>setelah mereka yang berhasil dalam perebutan ini menduduki tempat tinggi<BR>dan mengenyam kemuliaan, mereka lalu mabuk!<BR>Banyak di antara pembesar, sampai Kaisar sendiri, yang dahulunya terkenal<BR>sebagai pejuang-pejuang patriotik, setelah mendapat kemuliaan dan<BR>kebesaran, lalu lupa akan kebenaran. Mereka dirangsang oleh nafsu-nafsu<BR>mereka sendiri. Ada yang tamak akan harta benda, kerjanya hanya<BR>mengumpulkan harta dengan jalan yang tidak halal, melakukan korupsi besarbesaran<BR>tanpa menghiraukan sedikit pun nasib rakyat jelata yang dahulunya<BR>mereka bela dengan perjuangan mati-matian. Ada yang menurutkan nafsu<BR>binatang saja, tanpa mengenal malu mengumpulkan wanita-wanita muda dan<BR>cantik untuk mereka jadikan alat pengumbar nafsu. Banyaklah macamnya<BR>maksiat yang dilakukan oleh orang-orang mabuk kemulian duniawi ini.<BR>Akibat dari semua ini, pemerintah yang dipimpin oleh bangsa sendiri tetap saja<BR>tidak dapat mengangkat rakyat jelata dari kemlskinan dan kesengsaraan<BR>hidup. Tetap saja rakyat yang dijadikan sapi perahan, diperas keringat dan<BR>darahnya oleh pemimpin-pemimpin kecil, di lain pihak pemimpin-pemimpin<BR>kecil ini diperas oleh atasan mereka, dan si atasan ini diperas lagi oleh<BR>atasannya yang lebih tinggi kedudukannya. Sogok dan fitnah merajalela dan<BR>kebenaran yang berlaku bukanlah kebenaran sejati karena siapa yang<BR>beruang, dialah yang menang.<BR>Semenjak penjajah Mongol terusir dan Ciu Goan Ciang menjadi kaisar, rakyat<BR>tetap saja masih menderita. Penyerbuan-penyerbuan yang dilakukan oleh<BR>bangsa Mongol dari utara, pemberontak-pemberontak dari suku bangsa kecil di<BR>barat dan utara, gangguan bajak-bajak laut bangsa Jepang, menambah beban<BR>hidup rakyat yang sudah menderita.<BR>Seperti tercatat dalam sejarah, di mana tidak atau belum ada kemakmuran<BR>dalam kehidupan rakyat jelata, di situ tentulah muncul rasa penasaran, dan<BR>kembali yang kuat merajalela dan pada umumnya lalu berlakulah hukum<BR>rimba, siapa kuat dia menang. Orang-orang jahat bermunculan, mengganas<BR>sewenang-wenang karena pembesar-pembesar dan alat-alat pemerintah<BR>hanya rnengurus isi kantongnya sendiri. Karena banyaknya orang-orang jahat,<BR>maka di sana-sini timbullah kelompok-kelompok atau gerombolan-gerombolan<BR>yang rnempunyai wilayah sendiri-sendiri. Dan hal ini tentu saja mengakibatkan<BR>permusuhan dan persaingan di antara golongan ini.<BR>Syukurlah bahwa masih banyak terdapat orang-orang gagah yang tidak sudi<BR>ikut memperebutkan kedudukan dan kemuliaan untuk diri sendiri. Banyak di<BR>antara para bekas pejuang yang masih terbuka mata batinnya, dapat melihat<BR>betapa tersesatnya mereka yang mabuk kemuliaan itu, dan mereka orangorang<BR>gagah sejati ini tetap hidup di antara rakyat jelata, tidak segan-segan<BR>untuk mencari nafkah dengan pekerjaan kasar, bahkan ada yang hidup hanya<BR>mengandalkan belas kasihan orang! Makin lama makin banyaklah orang-orang<BR>yang hidupnya seperti pengemis. Sudah tentu saja sebagian besar di antara<BR>mereka ini adalah orang-orang malas dan karena makin lama jumlahnya<BR>makin banyak mulailah orang jahat mengincar mereka yang dianggap sebagai<BR>golongan tesendiri yang bukan tidak kuat. Dimasukinyalah kelompok ini dan<BR>didirikan perkumpulan-perkumpulan pengemis! Celakanya, kai-pang<BR>(perkumpulan pengemis) ini dibentuk atas prakarsa orang-orang yang<BR>memang jahat sehingga pendirian ini sama sekali bukan diadakan untuk usaha<BR>perbaikan nasib orang-orang gelandangan itu, sama sekali bukan. Memang,<BR>ada juga manfaatnya bagi keadaan hidup para pengemis ini, namun dengan<BR>cara yang tiada bedanya dengan penjahat. Dengan adanya perkumpulanperkumpulan<BR>ini, para pengemis lalu diharuskan mentaati peraturan<BR>perkumpulan, hasil mengemis harus dikumpulkan dan tidak boleh dipakai<BR>sendiri, sebaliknya soal makan mereka dijamin oleh perkumpulan. Melihat para<BR>pengemis yang bergabung ini, tidak ada yang berani menolak permintaan<BR>mereka, karena hal ini bisa mengakibatkan si penolak itu celaka, dianiaya dan<BR>dirampok hartanya! Jadi tegasnya, cara para pengemis dari kai-pang-kai-pang<BR>itu bekerja hanya tampaknya saja mengulurkan tangan minta sedekah, akan<BR>tetapi pada hakekatnya sama dengan perampok yang datang mengacungkan<BR>golok!<BR>Mula-mula memang penduduk setiap kota dan para pembesar dan petugas,<BR>berusaha membasmi kai-pang-kai-pang ini. Akan tetapi, karena para pengemis<BR>itu sudah bercampuran dengan para penjahat yang merasa lebih aman<BR>bersembunyi di antara kaum jembel itu, usaha ini sia-sia belaka. Apalagi<BR>setelah organisasi pengemis itu makin meluas sehingga di setiap tempat ada<BR>cabangnya, kemudian para pengurus pengemis terdiri dari ahli-ahli silat yang<BR>berkepandaian tinggi, petugas-petugas keamanan menjadi tak berdaya.<BR>Seperti dikatakan tadi, syukur bahwa tidak semua manusia di dunia ini<BR>berpikiran cupat dan berwatak remeh. Orang-orang gagah yang melihat<BR>adanya gejala-gejala tak baik ini, yang berarti akan menambahi beban rakyat<BR>jelata karena pemerasan para perampok-perampok berpakaian pengemis ini,<BR>segera turun tangan. Ada yang secara langsung mempergunakan kekerasan<BR>menentang para kai-pang ini. Namun akhirnya mereka itu dikeroyok dan<BR>kalah, malah ada yang tewas. Ada yang menentang secara diam-diam,<BR>menanti saat baik, kemudian mereka ini malah memasuki kai-pang-kai-pang<BR>itu, menjadi anggauta dengan maksud untuk membelokkan kejahatan para<BR>pengemis ke arah kebaikan. Demikianlah, jangan kira bahwa semua anggauta<BR>kai-pang itu jahat karena di dalamnya banyak terdapat orang-orang gagah<BR>yang senantiasa menanti saat baik untuk menggulingkan kedudukan ketua<BR>masing-masing sehingga jika pimpinan terjatuh ke dalam tangan orang-orang<BR>yang tidak jahat ini, sudah tentu perkumpulan itu akan dibawa ke jalan benar.<BR>Karena hai ini terjadi selama penjajah jatuh, jadi dua puluh tahunan, maka<BR>sekarang sudah banyaklah perkumpulan pengemis yang dipimpin oleh ketuaketua<BR>yang baik sehingga perkumpulan ini benar-benar merupakan<BR>perkumpulan untuk memperbaiki nasib para anggauta. Di dalam kai-pang yang<BR>bersih ini diadakan latihan-latihan semacam sekolah, di mana para<BR>anggautanya diajar untuk memiliki sesuatu kepandaian tertentu, misalnya<BR>pertukangan dan lain-lain. Sesudah itu mereka itu diharuskan mencari<BR>pekerjaan sebagai sumber nafkah dan setelah mendapatkan pekerjaan sudah<BR>tentu mereka ini tidak lagi diperbolehkan mengemis dan tidak lagi menjadi<BR>anggauta biarpun masih ada hubungan persaudaraan. Nah, demikianlah<BR>keadaan di waktu itu, di satu pihak kai-pang-kai-pang yang dipimpin oleh<BR>orang-orang jahat masih mengganas, di lain pihak ada kai-pang-kai-pang yang<BR>bersih sehingga terkenallah sebutan Pek-kai-pang (Perkumpulan Pengemis<BR>Putih) dan Hek-kai-pang (Perkumpulan Pengemis Hitam). Sudah tentu Pek-kaipang<BR>adalah golongan yang baik sedangkan Hek-kai-pang golongan yang<BR>jahat. Dan karena ada dua golongan yang berlainan sifatnya, tak dapat<BR>dicegah lagi adanya persaingan dan permusuhan di antara dua golongan ini<BR>sehingga sering kali terjadi pertempuran-pertempuran dan pertumpahanperturnpahan<BR>darah.<BR>Di antara Pek-kai-pang, yang paling terkenal dan kuat adalah perkumpulan<BR>pengemis Hwa I Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang).<BR>Perkumpulan pengemis ini memiliki anak buah paling banyak dan karena<BR>ketuanya seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan pengurusnya juga<BR>mendapat latihan ilmu silat tinggi, maka banyak kai-pang lain yang tunduk<BR>kepada Hwa-i Kai-pang. Pusat perkumpulan ini di kaki Gunung Ta-pie-san,<BR>sebelah barat kota raja Nan-king. Adapun ketuanya adalah seorang kakek<BR>gagah perkasa yang usianya sudah tinggi sekali namun memiliki kepandaian<BR>yang hebat. Kakek pengemis ini tidak pernah memperkenalkan namanya, dan<BR>hanya mengaku berjuluk Hwa-i Lo-kai (Pengemis Tua Berbaju Kembang).<BR>Setelah para pengemis berkali-kali ditolong oleh kakek ini yang berkepandaian<BR>tinggi, maka ia lalu diangkat menjadi ketua dan perkumpulan yang<BR>dipimpinnya lalu diberi nama Hwa-i Kai-pang. Semua anggauta Hwa-i Kai-pang<BR>selalu memakai baju berkembang, biarpun sudah lapuk atau penuh tambalan!<BR>Pada suatu hari terjadilah berita yang menggemparkan "dunia pengemis" itu.<BR>Pengemis mana yang takkan kaget mendengar berita bahwa Ketua Hwa-i Kaipang<BR>hendak mengundurkan diri dan di pusat perkumpulan itu hendak<BR>diadakan pemilihan pengurus baru? Hal itu menjadi bahan percakapan yang<BR>ramai, tidak saja di antara para pengemis, bahkan boleh dibilang juga di<BR>antara para orang gagah di dunia kang-ouw karena sebagai perkumpulan<BR>besar, Hwa-i Kai-pang mengundang para orang gagah untuk menjadi saksi<BR>dalam pemilihan ketua baru ini.<BR>Menjelang datangnya hari pemilihan ketua, keadaan di sekitar kaki Gunung Tapie-<BR>san menjadi ramai. Banyak tokoh-tokoh perkumpulan pengemis dari<BR>daerah lain datang dengan pakaian mereka yang beraneka ragam dan macam.<BR>Kalau melihat banyak pengemis dari berbagai aliran berkumpul di tempat yang<BR>luas itu, benar-benar mereka itu seperti bukan pengemis-pengemis, melainkan<BR>anak buah dari pasukan-pasukan! Biarpun pakaian mereka itu tambaltambalan,<BR>ada pula yang sudah lapuk, namun warnanya seragam. Ada yang<BR>serba hitam, ada yang serba merah, ada yang putih, hijau, biru dan banyak<BR>lagi macam warnanya. Para anggauta Hwa-i Kai-pang tentu saja berbaju<BR>kembang semua! Mereka yang sudah datang bertanya-tanya mengapa Hwa-i<BR>Lo-kai hendak mengundurkan diri dan mencari penggantinya. Akan tetapi tak<BR>seorang pun dapat menjawab pertanyaan ini, bahkan para anggauta Hwa-i<BR>Kai-pang sendirian tidak ada yang dapat memberi keterangan.<BR>Hwa-i Kai-pang atau Perkumpulan Pengemis Baju Kembang pada waktu itu<BR>sudah merupakan perkumpulan yang besar, mungkin terbesar di antara<BR>perkumpulan pengemis yang ada di daerah itu. Malah dapat dikatakan bahwa<BR>perkumpulan ini paling makmur, memiliki rumah pertemuan yang besar<BR>dengan perabot-perabot rumah yang lengkap, mempunyai ruangan tempat<BR>para, pengemis cilik belajar sesuatu pekerjaan dan lain-lain. Hal ini adalah<BR>karena sepak terjang perkumpulan ini yang betul-betul merupakan<BR>perkumpulan sosial hendak memberi bimbingan kepada kaum gelandangan itu<BR>agar dapat hidup lebih baik dan terangkat nasibnya, telah menarik hati banyak<BR>dermawan yang banyak memberi sumbangan-sumbangan kepada Hwa-i Kaipang.<BR>Tidak hanya dalam soal usaha memperbaiki nasib para pengemis, juga dalam<BR>organisasi sendiri, makin lama perkumpulan ini menjadi makin kuat. Makin<BR>banyak saja pemuda yang tinggi ilmu silatnya dan ini boleh dibilang semua<BR>telah menjadi murid Hwa-i Lo-kai. Tentu saja para pengurus ini tadinya<BR>memang sudah memiliki kepandaian dari macam-macam aliran, akan tetapi<BR>setelah mereka menggabungkan diri di Hwa-i Kai-pang, dan menyaksikan<BR>sendiri betapa tingginya ilmu silat ketuanya, mereka lalu minta diberi pelajaran<BR>ilmu silat. Ketua Hwa-i Kai-pang ini selalu suka menurunkan kepandaiannya<BR>dan ia mengajarkan beberapa ilmu pukulan yang ia sesuaikan dengan watak<BR>dan keadaan jasmani si murid. Makin lama makin banyaklah anggauta Hwa-i<BR>Kai-pang yang mendapatkan kemajuan hebat dalam kepandaian ilmu silat<BR>mereka. Malah kemudian hampir tidak ada seorang pun anggauta pengurus<BR>yang tidak berilmu tinggi.<BR>Hwa-i Lo-kai sendiri maklum bahwa di antara perkumpulan pengemis yang<BR>amat banyak itu, tidak jarang merupakan perkumpulan pengemis palsu yang<BR>sesungguhnya lebih patut disebut perkumpulan penjahat. Juga ia tahu betapa<BR>perkumpulan-perkumpulan jahat ini mengandalkan kekerasan, tidak hanya<BR>melakukan pemerasan terhadap penduduk, juga kadang-kadang berani<BR>menindas perkumpulan lain yang lebih lemah. Karena itu, kakek ini melihat<BR>betapa pentingnya bagi perkumpulan yang dipegangnya untuk memperkuat<BR>diri dengan pengurus-pengurus yang pandai ilmu silat. Ini pulalah yang<BR>membuat ia lalu mulai mengadakan susunan dalam pengurusnya, membagibagi<BR>tugas sesuai dengan kemampuan dan kepandaian mereka. Untuk<BR>membedakan tingkat kepandaian ilmu silat, ia mengadakan percobaan lalu<BR>memberi tanda tingkat pada para muridnya itu. Tanda tingkat ini merupakan<BR>tali ikat pinggang berwarna putih dari serat biasa. Makin banyak tali ini<BR>mengikat pinggang seorang pengemis Hwa-i Kai-pang, makin tinggilah tingkat<BR>ilmu silatnya.<BR>Di antara para pengurus dan pembantu ketua itu, rata-rata hanya memiliki<BR>empat helai ikat pinggang. Jumlahnya ada dua puluh orang lebih. Yang<BR>memiliki lebih dari empat helai amat jarang. Yang paling tinggi tingkatnya di<BR>antara mereka hanya tiga orang. Mereka ini telah mempunyai tujuh helai tali<BR>putih yang mengikat pinggang mereka. Tiga orang inilah yang dalam segala<BR>hal mewakili Hwa-i Lo-kai dan mereka boleh dibilang sudah memegang seluruh<BR>urusan perkumpulan itu sebagai wakil ketua. Mereka adalah Coa-lokai, Benglokai,<BR>dan Sun-lokai. Lokai artinya "pengemis tua" akan tetapi sebutan ini<BR>dalam perkumpulan itu berarti menghormat, karena yang berhak menyebut<BR>diri lokai hanyalah ketua mereka dan tiga orang tangan kanan inilah! Jadi<BR>panggilan lokai ini seakan-akan merupakan panggilan penghormatan seperti<BR>lajimnya sebutan "yang mulia" dan "paduka"! Memang dalam perkumpulan<BR>yang aneh ini banyak terdapat aturan dan hal-hal aneh pula.<BR>Sudah dapat dibayangkan bahwa kalau Hwa-I Lo-kai mengundurkan diri, calon<BR>penggantinya tentulah seorang di antara tiga kakek ini. Hal ini tidak hanya<BR>menjadi pendapat para anggauta, malah juga pendapat orang-orang luar dan<BR>juga demikianlah kata hati tiga orang itu sendiri. Oleh karena itu, diam-diam<BR>seperti ada persaingan di antara mereka dan secara diam-diam pula tiga orang<BR>pembantu ini mendekati para anggauta dan sedapat mungkin menarik<BR>sebanyak-banyaknya sahabat agar mendukungnya dalam "pemilihan umum"<BR>itu nanti. Sudah bukan hal aneh lagi apabila mereka ini menjanjikan hal-hal<BR>yang muluk-muluk kepada para anggauta yang suka memilihnya.<BR>Pagi hari pada waktu pemilihan, di pekarangan yang amat luas di depan rumah<BR>pertemuan Hwa-i Kai-pang, para anggauta sudah berkumpul. Pengemispengemis<BR>berpakaian baju kembang yang tidak kurang dari seratus orang<BR>jumlahnya duduk di belakang ketua dan para pengurus mereka. Adapun para<BR>tamu merupakan kelompok-kelompok yang duduk di atas tanah juga,<BR>menghadap tuan rumah. Ada kelompok pengemis berpakaian hijau, merah,<BR>hitam, putih dan lain-lain yang dipimpin oleh ketua atau wakil masing-masing.<BR>Uniknya, pertemuan ini sama sekali tidak dilengkapi kursi, bangku ataupun<BR>meja dan semua yang hadir duduk begitu saja di atas tanah, ada yang bersila,<BR>ada yang berjongkok.<BR>Hwa-i Lo-kai tampak duduk bersila sambil meramkan mata. Dia adalah<BR>seorang kakek yang usianya sudah delapan puluh tahun lebih, bertubuh tinggi<BR>kurus, rambutnya yang panjang tidak terawat, pakaiannya berkembang<BR>sederhana, terdapat tiga tambalan di pundak dan dada. Pinggangnya diikat<BR>dengan tali putih terbuat dari sutera. Di pinggang kiri tergantung sebuah guci<BR>arak dari perak dan ia tidak kelihatan membawa senjata, Di sebelah kanannya<BR>duduklah tiga orang pembantunya yang terkenal, yaitu Coa-lokai yang<BR>bertubuh tinggi besar bermata lebar dan gerak-geriknya kasar. Beng-lokai<BR>orangnya gemuk pendek berkulit kuning bermata sipit, tersenyum-senyum<BR>gembira. Sun-lokai orangnya kecil agak bongkok, matanya tajam bergerak ke<BR>sana ke mari. Tiga orang pembantu ini semua memakai baju berkembang<BR>dengan ikat pinggang tali putih tujuh helai membelit pinggang. Berbeda<BR>dengan Sang Ketua, ketiga orang ini masing-masing memanggul sebatang<BR>pedang di punggungnya. Para pembantu lain yang lebih rendah tingkatnya,<BR>yaitu yang bertali pinggang enam ada dua orang, yang bertali pinggang lima<BR>ada tujuh orang dan sebelas orang bertali pinggang empat duduk di sebelah<BR>kiri ketua ini dengan sikap menghormat.<BR>Keadaan di situ cukup ramai. Biarpun semua orang sudah duduk di atas tanah<BR>tak seorang pun kelihatan berdiri, namun mereka saling bicara perlahan, ada<BR>yang berbisik-bisik sehingga tempat itu menjadi berisik juga. Akhirnya Hwa-i<BR>Lo-kai membuka kedua matanya, memandang ke kanan kiri lalu ia<BR>mengangkat tangan kanannya ke atas. Siraplah suara berisik dan semua orang<BR>memandangnya dengan penuh perhatian.<BR>"Saudara para tamu sekalian dan saudara-saudaraku anggauta Hwa-i Kai-pang<BR>yang tercinta. Tak kepada seorang pun pernah kuberi tahu, bahkan para<BR>pembantuku juga tidak, mengapa secara mendadak aku hendak meninggalkan<BR>Hwa-i Kai-pang dan menyerahkan pimpinan kepada seorang saudara.<BR>Sekarang, terus terang saja untuk menghilangkan dugaan yang bukan-bukan,<BR>aku jelaskan bahwa aku mempunyai seorang musuh pribadi...."<BR>Kembali keadaan menjadi berisik, terutama di kalangan anggauta Hwa-i Kaipang<BR>yang banyak mengeluarkan suara marah. Kalau ada musuh, mengapa<BR>harus meninggalkan kedudukan? Apakah takut? Hwa-i Kai-pang amat kuat,<BR>siapa berani mengganggu ketuanya?<BR>Kembali Hwa-i Lo-kai mengangkat tangannya memberi isyarat supaya semua<BR>orang jangan berisik. "Urusan ini adalah urusan pribadiku, dan hari ini adalah<BR>hari janji kami berdua untuk membuat perhitungan terakhir. Aku tidak suka<BR>membawa-bawa perkumpulan ke dalam urusan pribadi, juga aku tidak mau<BR>menyeret musuh pribadiku menjadi musuh perkumpulan. Biarlah hal ini<BR>kuselesaikan sendiri sebagai urusan pribadi yang tak boleh orang lain<BR>mencampurinya. Nah, sekarang lega hatiku karena saudara semua sudah<BR>mendengar penjelasanku. Sekarang, marilah kita semua memilih seorang<BR>ketua baru yang tepat, yang kiranya akan dapat memimpin saudara-saudara<BR>sekalian lebih baik dari yang telah kulakukan."<BR>Kembali para anggauta Hwa-i Kai-pang menjadi berisik karena mereka saling<BR>berbisik dan banyak terdengar suara-suara tidak setuju. Malah tiba-tiba<BR>terdengar suara yang nyaring dari Coa-lokai, yang bicara dengan sepasang<BR>mata lebar membelalak.<BR>"Saya tidak setuju dengan uraian Lo-kai! Selama saya membantu Lo-kai, tidak<BR>pernah satu kali pun saya ragu-ragu dan membangkang terhadap perintah,<BR>akan tetapi sekali ini terpaksa saya tidak setuju! Lo-kai tidak saja menjadi<BR>ketua, bahkan menjadi pendiri dari Hwa-i Kai-pang. Oleh karena itu segaia<BR>urusan Hwa-i Kai-pang adalah urusan Lo-kai, sebaliknya urusan Lo-kai berarti<BR>juga urusan semua anggauta Hwa-i Kai-pang! Kita semua sudah bersumpah,<BR>susah sama dipikul, senang sama dinikmati. Mana ada aturan sekarang Lo-kai<BR>hendak meniggalkan kita hanya karena ada urusan pribadi? Kalau ada musuh<BR>Lo-kai, katakan saja siapa dan di mana, saya Coa-lokai takkan mundur untuk<BR>mewakili Lo-kai, biarpun nyawaku yang tak berharga ini akan melayang<BR>karenanya!" Setelah berkata demikian, pengemis tinggi besar yang usianya<BR>belum ada lima puluh itu meloncat berdiri, tegak siap sedia dengan mata<BR>memandang ke sana ke mari seolah-olah hendak mencari musuh pribadi<BR>ketuanya.<BR>Hwa-i Lo-kai menarik napas panjang dan menggelengkan kepalanya. "Coalokai,<BR>terima kasih atas kesetiaanmu ini. Akan tetapi urusan ini benar-benar<BR>adalah urusan pribadiku dan kali ini terpaksa aku harus menebus sifatku yang<BR>pengecut, yang selalu kupertahankan belasan tahun lamanya. Ya... aku telah<BR>bersikap pengecut sehingga belasan tahun aku menyembunyikan nama dan<BR>paling akhir aku menggunakan nama Hwa-i Lo-kai. Dahulu.... hemmm,<BR>sekarang tiba saatnya aku meninggalkan sikap pengecut dan membuka<BR>rahasiaku sendiri, dahulu aku bernama Sin-chio (Tombak Sakti) The Kok."<BR>Semua pengemis dan yang hadir di situ, terutama kaum tuanya tercengang<BR>mendengar nama ini. Belasan tahun yang lalu nama Sin-chio The Kok amatlah<BR>terkenal sebagai seorang perampok tunggal yang memiliki kepandaian tinggi.<BR>Kabarnya ilmu tombaknya belum pernah terkalahkan sehingga ia dijuluki<BR>orang Sin-chio (Tombak Sakti). Setelah mendengar siapa adanya Hwa-i Lo-kai,<BR>semua orang menjadi berisik, ada yang merasa kecewa bahwa Hwa-i Kai-pang<BR>ternyata dipimpin oleh seorang bekas perampok. Akan tetapi ada suara yang<BR>membantah dengan pernyataan bahwa biarpun seorang perampok, nama The<BR>Kok tetap bersih sebagai perampok budiman yang tidak sembarang merampok<BR>orang. Yang menjadi sasaran dan korbannya adalah pembesar-pembesar jahat<BR>dan hartawan-hartawan kikir, malah kabarnya hasil perampokannya selalu ia<BR>bagi-bagikan kepada rakyat yang miskin.<BR>bagian 48<BR>Hwa-I lo-kai atau Sin-chio The Kok mengangkat tangannya dan suara berisik<BR>segera sirap. "Nih, sekarang saudara sekalian tahu siapa saya dan saya sendiri<BR>merasa tidak pantas menjadi Ketua Hwa-i Kai-pang. Bukan karena saya bekas<BR>perampok, akan tetapi terutama sekali karena saya seorang pengecut yang<BR>karena takut menghadapi musuh lalu bersembunyi di balik nama palsu.<BR>Sekarang musuh besarku sudah mengetahui dan hendak menuntut balas,<BR>karena inilah aku akan meninggalkan Hwa-i Kai-pang untuk membereskan<BR>perhitungan dengan dia dan sebelum aku pergi, aku ingin melihat bahwa<BR>perkumpulan kita mendapatkan seorang ketua baru yang tepat."<BR>Beng-lokai yang gemuk pendek segera berdiri dan dengan senyum yang tak<BR>pernah meninggalkan bibirnya ia berkata,<BR>"Memang tepat sekali apa yang dikatakan oleh Pangcu (Ketua). Harap Pangcu<BR>segera tetapkan saja calon-calon pengganti Pangcu agar pemilihan dapat<BR>dilakukan segera."<BR>"Siapa lagi yang kucalonkan kecuali kalian bertiga pembantu-pembantuku?<BR>Kalian bertigalah calon-calon ketua dan pemilihannya siapa di antara kalian<BR>bertiga terserah kepara para anggauta," jawab Ketua itu.<BR>"Saya tidak setuju...!" Coa-lokai kembali berkata dengan suaranya yang<BR>nyaring. "Setetah kita ketahui bahwa ketua kita adalah Sin-chio The Kok,<BR>seharusnya kita bangga mempunyai seorang ketua yang gagah perkasa dan<BR>terkenal sebagai seorang yang budiman. Biarpun sekarang lokai menghadapi<BR>urusan itu dan saya percaya Lo-kai akan dapat mengatasinya dengan baik.<BR>Setelah itu, bukankah Lo-kai dapat kembali memimpin perkumpulan kita?"<BR>"Heh, Coa-lokai banyak cerewet!" Terdengar suaranya yang parau dan seperti<BR>kaleng dipukul dan pembicara ini adalah Sun-lokai yang sudah berdiri dan<BR>memandang tajam. "Apakah kau hendak membangkang terhadap perintah<BR>Pangcu? Lupakah kau apa hukumannya apabila seorang anggauta<BR>membangkang terhadap perintah?"<BR>Pengemis tinggi besar itu membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Sunlokai<BR>dengan mata berapi. "Ho-ho, Sun-lokai, tak usah kau mengingatkan Aku<BR>sendiri tahu bahwa tugasku meneliti dan menghukum para anggauta yang<BR>menyeleweng, tentu aku maklum akan aturan-aturan di perkumpulan kita.<BR>Kalau ketua kita memerintah kepadaku untuk melaksanakan sebuah tugas,<BR>biarpun harus mempertaruhkah nyawa, aku tidak akan mundur. Akan tetapi<BR>sekarang ini lain lagi. Pangcu kita hendak pergi meninggalkan kita dan<BR>menunjuk seorang di antara kita untuk menjadi ketua. Aku tidak setuju sama<BR>sekali memilih ketua baru selama Lo-kai masih hidup! Sun-lokai, agaknya kau<BR>sudah terlalu mengilar untuk memperoleh kursi ketua?" Sepasang mata dari<BR>pengemis bongkok ini bersinar dan bercahaya. "Hemm, Pangcu mencalonkan<BR>kita bertiga, bukan hanya aku. Kau sendiri pun, kalau kau mampu<BR>membuktikan bahwa kau lebih gagah dan pandai dari aku dan Beng-lokai, kau<BR>boleh menjadi ketua."<BR>"Aku tidak sudi selama Lo-kai masih ada, aku tidak sudi menjadi ketua dan<BR>tidak sudi membiarkan seorang di antara kamu menjadi Ketua Hwa-i Kai-pang.<BR>Apalagi seorang seperti kau!" Coa-lokai menudingkan telunjuknya ke arah<BR>muka Sun-lokai sehingga pengemis bongkok ini menjadi merah sekali.<BR>"Berani kau menghinaku di depan banyak orang?"<BR>"Aku tidak menghina, melainkan bicara sejujurnya. Kau tahu aku suka<BR>berterus terang dan aku pun terus terang saja menyatakan bahwa aku tidak<BR>suka melihat dan mendengar kau berhubungan erat dengan golongan merah<BR>dan hijau."<BR>"Kau keparat, kau menuduh yang bukan-bukan. Apakah kau mengajak<BR>berkelahi?" Sun-lokai sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi.<BR>"Berkelahi atau apa saja masa aku takut?" Coa-lokai juga marah. Dua orang<BR>ini sudah saling berhadapan dan saling mendekat, siap hendak menggunakan<BR>kekerasan.<BR>"Coa-lokai, Sun-lokai, sudahlah. Tak perlu ribut-ribut!" Hwa-i Lo-kai berseru<BR>untuk melerai mereka.<BR>"Biarlah, Lo-kai, biar kuberi hajaran kepada si Bongkok ini!" Coa-lokai berkata<BR>keras.<BR>"Pengemis busuk, kaulah yang akan mampus di tanganku!" Sun-lokai yang<BR>tidak pandai bicara itu mendengus. Adapun para anggauta Hwa-i Kai-pang<BR>yang berada di situ memang sudah terpecah-pecah dalam pemilihan ketua,<BR>ada yang pro Coa-lokai, ada yang pro Sun-lokai. Melihat dua orang jagoan<BR>mereka itu sudah saling berhadapan, mereka menjadi tegang dan terdengar<BR>seruan-seruan kedua pihak untuk memberi semangat kepada jagoan mereka.<BR>Keadaan menjadi berisik sekali sehingga suara Hwa-i Lo-kai hendak mencegah<BR>pertarungan itu tidak terdengar nyata. Dua orang pengemis tua itu sekarang<BR>sudah saling serang. Mula-mula Sun-lokai yang membuka serangan. Dia<BR>seorang ahli Cu-see-ciang, yaitu kedua tangannya telah digembleng dan<BR>diperkeras dengan latihan mencacah pasir panas. Ia bersilat dengan kedua<BR>tangan terbuka, dengan jari-jari lurus dan ibu jari ditekuk ke dalam sehingga<BR>kedua tangannya itu seakan-akan sepasang golok yang diserangkan dengan<BR>bacokan atau tusukan maut, Di lain pihak, Coa-lokai adalah seorang ahli gwakang,<BR>tenaganya seperti gajah, gerakannya tenang. Kalau sambaran tangan<BR>Sun-lokai seperti sambaran golok yang tajam, adalah sambaran kepalan<BR>tangan Coa-lokai yang besar itu seperti sambaran toya baja yang keras dan<BR>berat.<BR>Keduanya adalah ahli-ahli silat yang kemudian mendapat latihan dari Hwa-i<BR>Lo-kai, maka biarpun mereka memiliki keistimewaan masing-masing, boleh<BR>dibilang tingkat mereka seimbang. Para pengemis yang menonton<BR>pertempuran ini, menjadi, tegang dan gembira, dari sana sini terdengar<BR>seruan-seruan memihak.<BR>Hwa-i Lo-kai menjadi bingung, Tentu saja mudah baginya untuk datang<BR>memisah, akan tetapi apa gunanya? Sekali mereka menanam bibit kebencian<BR>satu kepada yang lain, hal itu takkan mudah dipadamkan. Biarlah mereka<BR>menentukan siapa yang lebih kuat, malah ini merupakan saringan pula untuk<BR>memilih seorang ketua baru. Ia hanya berdiri dengan kedua lengan di<BR>belakang, namun siap setiap saat apabila seofang diantara kedua<BR>pembantunya itu terancam bahaya maut, tentu ia akan turun tangan<BR>mencegah.<BR>Pada saat dua orang itu sedang saling gempur dengan ramainya, tiba-tiba dari<BR>jauh dengar orang berteriak-teriak, nyaring menusuk telinga semua orang.<BR>Heii... dua orang pengemis tua saling tempur memperebutkan apa sih?"<BR>Karena suara ini hebat dan nyaring semua orang menengok, bahkan Coa-lokai<BR>dan Sun-lokai juga otomatis berhenti untuk melihat siapa orangnya yang<BR>berteriak demikian nyaringnya itu. Dari jauh tampak dua orang berjalan<BR>menuju ke tempat itu Yang di depan adalah seorang pemuda tampan yang<BR>pakaiannya sama lapuknya dengan pakaiannya para pengemis sungguhpun<BR>potongan pakaian itu seperti pakaian seorang pemuda terpelajar. Pemuda<BR>inilah yang berteriak sambil melambai-lambaikan tangannya tidak keruan<BR>seperti orang gendeng. Adapun orang yang berjalan di sampingnya, agak<BR>terbelakang, adalah seorang kakek tua sekali, terbongkok-bongkok jalannya,<BR>pakaiannya juga compang-camping, dengan tangan memegang tongkat yang<BR>diperlukannya untuk membantu ia berjalan.<BR>Siapakah dua orang ini? Pemuda itu bukan lain orang adalah Kwa Kun Hong!<BR>Seperti kita ketahui, pemuda ini telah turun dari puncak Bukit Kepala Naga,<BR>kenapa dia bisa berada di sini dan datang bersama seorang kakek pengemis<BR>tua renta itu? Baiklah kita mengikuti perjalanannya sebentar semenjak<BR>pemuda ini meninggalkan Bukit Kepala Naga dan sampai ke tempat ini, yaitu<BR>di kaki Pegunungan Ta-pie-san, pusat dari perkumpulan Hwa-i Kai-pang.<BR>Telah dituturkan di bagian depan betapa Kun Hong meninggalkan Bukit Kepala<BR>Naga dengan maksud mencari dusun untuk bertanya kepada orang ini di mana<BR>arah perjalanan menuju ke Hoa-san. Memang tak lama kemudian ia bertemu<BR>dengan penduduk dusun, akan tetapi penduduk dusun yang jarang<BR>meninggalkan kampung halaman itu, mana ada yang tahu tentang Hoa-san?<BR>Keterangan yang didapat oleh Kun Hong sama sekali tidak mendekatkannya<BR>dengan tempat tinggalnya, malah membuat ia tersesat makin jauh dari Hoasan.<BR>Akhirnya ia mendengar bahwa ia sudah tiba di daerah kota raja selatan<BR>(Nan-king). Ia tertegun ketika mendengar dari orang yang mengetahui bahwa<BR>ia salah jalan dan malah menjauhi Hoa-san. Akan tetapi sebaliknya ia gembira<BR>ketika mendengar bahwa ia telah berada di kota raja. Setelah ia berada di<BR>tempat yang dekat dengan kota raja, apa salahnya untuk sekalian melihatlihat<BR>keadaan kota raja? Sudah lama ia mendengar tentang kota raja yang<BR>hanya dapat ia lihat dalam alam mimpi saja. Sekarang, tanpa disengaja ia<BR>mendekati kota raja, sudah tentu ia tidak akan melewatkan kesempatan<BR>sebaik ini.<BR>Ketika Kun Hong melanjutkan perjalanannya menuju ke kota raja, ia melalui<BR>Pegunungan Tapie-san. Setelah turun naik lereng bukit, ia merasa lelah dan<BR>mengaso di bawah sebatang pohon besar yang tumbuh di lereng gunung.<BR>Pemandangan indah, hawa amat nyaman. Kun Hong lalu menuruni jurang kecil<BR>di mana terdapat air terjun yang kecil akan tetapi amat jernih airnya. Dengan<BR>sedap dan segar ia minum air itu, lalu mencuci muka, tangan, dan kakinya.<BR>Setelah merasa tubuhnya segar kembali, perutnya menggeliat minta isi. Kun<BR>Hong kembali ke bawah pohon dan mengeluarkan bekalnya roti kering yang ia<BR>terima dari seorang hwesio sebuah kelenteng tua yang amat baik hati, di mana<BR>ia semalam menginap.<BR>Terpaksa ia menunda tangannya yang sudah mengantar roti kering ke<BR>mulutnya, ia kaget dan terheran-heran mengapa di tempat sesunyi itu<BR>terdengar suara orang. Orang itu bicara dengan keras suaranya terbawa angin,<BR>sayup-sayup sampai tidak dapat ia tangkap artinya. Akan tetapi kenapa tidak<BR>pernah, ada suara lain yang menjawabnya? Biasanya orang bercakap-cakap<BR>tentu sedikitnya membutuhkan dua orang. Suara itu makin jelas dan kini<BR>tertangkap oleh telinga Kun Hong, suara orang mencari sesuatu!<BR>"Ah, di manakah dia? Haaa, boleh jadi inilah! Ya betul, inilah agaknya yang<BR>kucari-cari puluhan tahun sampai sampai saat ini. Tak salah lagi..., tapi<BR>betulkah ini dia? Jangan-jangan aku salah duga kecele lagi...."<BR>Tergerak hati Kun Hong. Suara agak menggetar, dan dapat diduga<BR>pembicaranya tentu seorang yang sudah tua. Ia menyimpan kembali roti<BR>keringnya, berdiri dan berjalan menuju arah suara tadi. Setelah ia melalui<BR>sebuah gundukan batu karang, tampaklah olehnya seorang kakek berpakaian<BR>compang-camping, berdiri dengan tongkat tertekan tangan seakan-akan<BR>tongkat itulah yang membantu ia berdiri, tangan kiri ditaruh melintang di<BR>kening untuk melindungi kedua mata tuanya dari sinar matahari, dan menoleh<BR>kian ke mari memandangi tamasya alam di bawah gunung. Ataukah sedang<BR>mencari sesuatu?<BR>Segera timbul welas dalam hati Kun Hong melihat kakek yang amat tua ini.<BR>Tubuhnya kurus, tinggal kulit dan tulang, pakaiannya sudah tak patut disebut<BR>pakaian lagi, hanya robekan-robekan kain menutupi tubuh di sana-sini,<BR>sepatunya sudati bolong sehingga tampak beberapa buah jari kaki tersembul<BR>keluar dari pinggir sepatu. Aduh kasihan, pikir Kun Hong. Sudah begini tua<BR>mengapa pergi susah payah ke gunung yang tidak mudah dilalui jalannya?<BR>Begitu kurus, tentu sudah berhari-hari tidak makan.<BR>"Kakek yang baik, kau sudah begini tua dan lemah mengapa sampai di tempat<BR>seperti ini? Kau sedang mencari apakah, Kek?" tanyanya sambil maju<BR>mendekat.<BR>"Ya, aku memang mencari sesuatu," jawab kakek itu tanpa menoleh kepada Si<BR>Penanya.<BR>"Mencari apakah yang hilang? Di mana hilangnya? Biarlah kubantu kau<BR>mencarinya," kata Kun Hong dengan ramah dan dengan suara mengandung<BR>hiburan yang membesarkan hati.<BR>"Heh... tidak ada yang hilang... tapi sudah puluhan tahun aku mencarinya...."<BR>tiba-tiba ia menoleh dan terkejutlah Kun Hong ketika bertemu pandang<BR>dengan sepasang mata yang luar biasa tajamnya seakan-akan menembus<BR>sampai ke dalam dadanya. Tak kuat Kun Hong menatap sepasang mata yang<BR>hebat itu, terpaksa ia menundukkan pandang matanya.<BR>"Kaubilang kau hendak bantu aku mencarinya? Huh, betulkah itu? Aku yang<BR>sudah puluhan tahun mencari belum juga bertemu. Tapi... hemmm, mungkin<BR>sekali ini aku akan dapat bertemu dengannya!" Kata-kata ini penuh semangat<BR>dan kakek itu berdongak memandang ke atas.<BR>Otomatis Kun Hong juga mendongakkan kepalanya, akan tetapi di atas sana<BR>tidak ada apa-apa, kecuali mega-mega putih berarak di angkasa. Celaka,<BR>pikirnya, kasihan benar kakek ini, agaknya dia sudah miring otaknya! Kun<BR>Hong menggeleng-geleng kepalanya, lalu memegang tangan kakek itu,<BR>menuntunnya perlahan menuju ke bawah pohon.<BR>"Kakek yang baik, marilah kita beristirahat di tempat yang teduh sana, aku<BR>mempunyai beberapa potong roti kering, marilah kita makah bersama,"<BR>bujuknya.<BR>Kakek itu sejenak memandang kepadanya dengan heran tapi menurut saja<BR>ketika dituntun ke bawah pohon. Malah ia segera ikut Kun Hong duduk di<BR>bawah pohon itu dan menerima pemberian roti kering dari Kun Hong yang<BR>dimakannya lambat-lambat.<BR>"Orang muda, jarang ada orang semacam kau ini di jaman yang sulit ini...<BR>hemm, senang juga bertemu dengan orang macam kau di tempat sunyi."<BR>Kun Hong memadang penuh perhatian dan sekarang ia merasa yakin bahwa<BR>tak mungkin kakek ini miring otaknya. Mungkin hanya karena berwatak aneh<BR>saja maka kelihatan serti orang tidak waras pikirannya.<BR>"Aku pun merasa gembira dapat berjumpa dengan kau di sini kakek yang baik.<BR>Sebetulnya, siapakah yang kaucari itu? Benda ataukah manusia? Aku akan<BR>merasa girang kalau kau segera dapat bertemu dengannya, Kek."<BR>Kakek itu tiba-tiba tampak gembira dan wajahnya berseri-seri. "Ya, betul<BR>sekali, pasti aku akan dapat bertemu dengannya setelah aku membunuh<BR>manusia she The itu!" Ia nampak bersemangat dan gembira, tidak melihat<BR>betapa muka Kun Horng sekilas menjadi pucat dan kembali menjadi merah.<BR>"Waaahhh.... jangan, Kek. Tidak boleh kau membunuh orang biar dia itu she<BR>The atau she apa pun!"<BR>Kini kakek itu menatap tajam wajah Kun Hong, agaknya marah. Roti kering<BR>yang baru dimakan separuh itu lalu dilemparkannya ke atas tanah.<BR>"Siapa bilang tidak boleh? Dia itu musuh besarku, dia telah membunuh<BR>muridku yang tercinta. Belasan tahun aku mengejar-ngejarnya, mencaricarinya<BR>akhirnya aku tahu bahwa dia telah berganti nama... ha-ha-ha...<BR>berganti nama menjadi Hwa-i Lo-kai ketua perkumpulan Hwa-i Kai-pang. Haha-<BR>ha, manusia she The, ke mana pun kau bersembunyi, pasti akan terpegang<BR>kau olehku."<BR>"Kau salah, Kek. Betapapun juga, tidak boleh membunuh orang. Berdosa<BR>sekali perbuatan itu, dan manusia takkan terlepas dari hukum karma, kecuali<BR>kalau dengan budi kebaikan dia melepaskan diri dari hukum, karma yang lalu,<BR>barulah dia itu seorang manusia yang bebas dan mulia."<BR>"Uahhh, kau anak kecil tahu apa? Aku hendak membunuh orang she The itu<BR>sekali-kali bukan hanya karena dia telah membunuh muridku. Aku<BR>membunuhnya karena aku hendak mencari kebahagiaan, kau tahu? Tak<BR>pernah aku dapat menemukan kebahagiaan, seluruh dunia kujelajahi,<BR>perbuatan apa pun kulakukan, samadhi, bertapa, menyiksa diri, tapi<BR>kebahagiaan belum pernah dapat kumiliki. Orang bilang harta benda<BR>mendatangkan kebahagiaan? Phuah! Omong kosongnya seorang kepala angin.<BR>Kaulihat ini? Emas murni. Bahhh, jemu aku melihatnya karena mengingatkan<BR>aku akan manusia kepala angin yang menyatakan bahwa kebahagiaan dapat<BR>dicapai kalau memiliki harta benda sebanyaknya!" Setelah berkata demikian<BR>kakek itu mengeluarkan sebongkah emas murni yang berkilauan, lalu ia<BR>melempar emas murni itu jauh ke dalam jurang yang tak mungkin dapat<BR>didatangi manusia!<BR>Kun Hong mendengarkan dengan tenang dan sabar, lalu mengangguk-angguk,<BR>tidak heran melihat oraog membuang sebongkah emas yang berharga itu.<BR>"Kau betul, Kek. Memang kebahagiaan tidak dapat dimiliki melalui emas itu."<BR>"Bagus, kau sependapat, kalau kau menyayangkan emas tadi, kau pun akan<BR>kulempar ke dalam jurang itu!" Kakek aneh itu berkata lagi. "Ada pula orang<BR>tolol bilang bahwa kalau memiliki kesaktian sehingga tak terkalahkan orang<BR>lain, barulah memiliki kebahagiaan. Uhhh, si goblok. Apa artinya kepandaian<BR>tinggi? hemm, apakah ini yang dianggap dapat membahagiakan manusia?"<BR>Kakek itu menoleh ke kiri, tangan kirinya meremas dan batu hitam itu<BR>bagaikan tanah lempung saja dalam tangannya, sekali remas hancur lebur!<BR>"Apakah ini yang dapat mendatangkan bahagia? Celaka, si manusia sombong.<BR>Kalau penyakit datang, usia lanjut menggerayang, kematian menjangkait, bisa<BR>apakah dia dengan, ilmu saktinya? Ha-ha-ha, pikiran katak dalam tempurung!"<BR>Diam-diam Kun Hong terkejut dan sama sekali tidak mengira bahwa kakek<BR>yang ia anggap hampir mati kelaparan ini, ternyata adalah seorang yang<BR>memiliki kepandaian sedemikian hebatnya.<BR>bagian 49<BR>Sekali remas saja batu hitam hancur lebur, wah, hampir ia tidak percaya kalau<BR>tidak melihat sendiri. Akan tetapi ia lebih tertarik oleh filsafat yang terkandung<BR>dalam ucapan Si Kakek itu, maka ia lalu mengangguk-angguk kembali dan<BR>membenarkan.<BR>"Kembali kau benar, Kek. Kebahagiaan memang tidak terletak dalam ilmu<BR>kepandaian atau kesaktian."<BR>"Juga tidak dalam kedudukan dan pangkat kemuliaan dan harta?"<BR>"Betul tidak dalam kedudukan dan pangkat"<BR>"He-he-he, kau pintar juga, orang muda. Kaisar-kaisar di jaman dahulu kurang<BR>begaimana hebatnya? Kedudukannya setinggi langit, dianggap putera Tuhan,<BR>pangkatnya nomor satu di dunia, mulia dan dihormat semua orang,<BR>kekayaannya berlimpah, tapi mana ada kaisar yang tak pernah maran-marah,<BR>jengkel, bermusuh-musuhan dan selalu terancam keselamatannya? Mana ada<BR>kaisar yang telah memiliki kebahagiaan di samping segala yang dimilikinya<BR>itu?"<BR>"Mungkin kau betul, kakek yang baik. Mungkin mereka yang berlimpahan<BR>dengan harta dan kemuliaan dunia, malah tidak memiliki kebahagiaan, akan<BR>tetapi agaknya kau sendiri pun sedang mencari kebahagiaan. Kenapa kau tadi<BR>katakan bahwa kau akan bahagia kalau kau sudah dapat membunuh seorang<BR>she The? Bagaimana ini? Harap kaujelaskan, Kek," agar hatiku tidak<BR>mengandung penasaran.<BR>"Heh-heh-heh, kau baik, biarlah kujelaskan. Puluhan tahun aku mencari tapi<BR>tidak dapat menemukan kebahagiaan. Selain itu, aku pun mencari musuh<BR>besarku, yaitu The Kok yang telah membunuh muridku. Sekarang aku sudah<BR>mendapatkan tempat persembunyian The Kok. Nah, timbullah dalam hatiku<BR>bahwa agaknya yang menjadi penghalang kebahagiaanku adalah karena aku<BR>belum berhasil membalaskan sakit hatiku. Kalau aku sudah berhasil<BR>membunuh si manusia she The itu, sudah pasti aku akan dapat menemukan<BR>kebahagiaan. Ha-ha-ha, orang muda yang baik, yang pintar, bukankah betul<BR>pendapatku ini?"<BR>Kun Hong mengerutkan keningnya, menarik napas panjang lalu menggelenggeleng<BR>kepalanya. "Sayang sekali, Kek. Terpaksa aku tidak dapat<BR>membenarkan pendapatmu itu. Menurut perkiraanku, apabila kau sudah<BR>berhasil membunuh orang she The yang kaumaksudkan itu, kau malah makin<BR>jauh dari kebahagiaan yang kaucari. Hal ini aku merasa yakin sekali, seyakin<BR>kenyataan bahwa kau berhadapan dengan aku di saat ini," Di wak tu bicara,<BR>Kun Hong mengerutkan kening, matanya menatap tajam dan suaranya begitu<BR>sungguh-sungguh. Mula-mula kakek itu melengak heran, selalu merah<BR>mukanya dan ia menenjadi marah sekali.<BR>"Hati-hati kalau bicara orang muda. Jangan-jangan kau malah akan kubunuh<BR>lebih dulu, sebelum membunuh The Kok."<BR>"Apa boleh buat kau bermaksud begitu, Kek, Akan tetapi kalau demikian makin<BR>tebal keyakinanku bahwa kau selama hidupmu takkan dapat menemui<BR>kebahagiaan."<BR>"Keparat kau kurang ajar sekali akan tetapi... hemmm, kau juga aneh dan<BR>bukan main beraninya. He, orang muda yang bernyali naga bermulut wanita,<BR>apa alasanmu bahwa orang membunuh orang, akan menjauhkannya dari<BR>kebahagiaan?"<BR>"Aku yakin akan hal ini, Kek. Apalagi setelah aku membaca tulisan yang<BR>ditinggalkan oleh suhuku, betapa dia merana dan menderita hebat sekali<BR>karena terlampau banyak membunuh orang, biarpun yang dibunuhnya itu<BR>menurut anggapannya adalah orang-orang jahat belaka. Kau hendak<BR>membunuh The Kok, katakanlah bahwa menurut anggapanmu, dia membunuh<BR>muridmu dan dia itu jahat. Akan tetapi apakah demikian pula dengan<BR>anggapan sahabat-sahabatnya, sanak keluarganya, gurunya, muridnya, orang<BR>tua dan anak-anaknya? Ketika muridmu dibunuhnya, kau menjadi sakit hati.<BR>Kalau kau sekarang membunuhnya, apakah kaukira mereka-mereka yang<BR>dekat dengan dia tidak akan sakit hati? Kau tentu akan dicari-cari oleh<BR>mereka, musuh-musuhmu makin banyak dan hidupmu tidak tenteram lagi!<BR>Kalau sudah begitu, mana bisa kaubilang bahwa kau sudah menemui<BR>kebahagiaan?"<BR>Kakek itu tertegun, memandang aneh, matanya agak dipejamkan, tampak<BR>memutar otak. Tiba-tiba ia membelalakkan matanya memandang tajam dan<BR>bertanya, "Orang muda, kau murid siapakah? Siapa itu gurumu yang<BR>meninggalkan pesan penyesalannya karena banyak membunuh orang?"<BR>"Aku sendiri belum pernah bertemu dengan suhuku, hanya membaca kitabnya<BR>dan peninggalan tulisan-tulisannya, dia menuliskan namanya sebagai Bu Beng<BR>Cu, aku hanya sempat bertemu dengan burung rajawali emas, agaknya<BR>binatang peliharaannya."<BR>"Dia....? Bu Beng Cu....? Kau muridnya??" Kakek itu terkejut sekali dan kedua<BR>tangannya memegang pundak Kun Hong. Pemuda ini merasa betapa<BR>pundaknya seakan-akan ditindih gunung, merasa seakan-akan tulangtulangnya<BR>remuk dan patah-patah. Ia mengempos semangat dan hawa murni<BR>mengalir dari pusarnya menuju ke pundak sehingga penderitaannya berkurang<BR>banyak.<BR>"Heh, kaubilang muridnya? Bohong kau! Sedikit kepandaianmu ini mana<BR>membolehkan kau mengaku sebagai muridnya? Dia itu suhengku (kakak<BR>seperguruan), kau tahu? Kalau betul kau telah mewarisi tulisan-tulisan harap<BR>kaujejaskan bagaimana bunyi peninggalannya itu!"<BR>Kun Hong mendongkol sekali, akan tetapi ia menyabarkan hatinya. Ia tahu<BR>bahwa ia berhadapan dengan seorang sakti yang berwatak aneh dan kiranya<BR>soal membunuh orang bukanlah soal baru bagi kakek ini. Akan tetapi ta tidak<BR>takut dan malah ia mengambil keputusan untuk sedapat mungkin<BR>menyadarkan kakek itu agar tidak sampai membunuh orang!<BR>"Percaya atau tidak terserah. Aku masih hafal akan tulisan peninggalan<BR>Locianpwe itu, begini: Telah bertumpuk dosaku. Ratusan orang telah kubunuh<BR>dengan anggapan bahwa perbuatan itu baik karena yang kubunuh adalah<BR>orang-orang yang kuanggap jahat. Anggapan yang sesat! Aku yang tidak bisa<BR>memberi kehidupan bagaimana aku berhak mengakhirr kehidupan? Aku<BR>berdosa! Mengandalkan kepandaian untuk membunuh sesama manusia,<BR>betapapun jahatnya si manusia itu, bukanlah berbuatan baik, melainkan<BR>perbuatan jahat pula. Nah, begitulah tuiisan peninggalan Locianpwe Bu Beng<BR>Cu, Kek."<BR>Kakek itu terlongong kembali, tiba-tiba ia berkata, "Keluarkan pedangmu itu,<BR>hendak kulhat apakah benar pedang suhengku!"<BR>Kun Hong kaget sekali. Bagaimana kakek ini bisa tahu akan pedangnya yang ia<BR>sembunyikan di balik jubahnya itu? Ia tidak membantah, lalu mengeluarkan<BR>pedangnya yang selama dalam perjalanan ia sembunyikan itu. Kakek itu<BR>menerima pedang, menghunusnya dan tiba-tiba ia menangis terisak-isak!<BR>"Ah... Ang-hong-kiam... Ang-hong-kiam.... ah, Twa-suheng... jadi kau benarbenar<BR>telah mati lebih dulu dan... meninggalkan pesan melalui mulut bocah<BR>ini...."<BR>"Agaknya betul dugaanmu itu, Locianpwe," kata Kun Hong yang sekarang<BR>menyebut locianpwe karena tahu bahwa kakek ini sebetulnya adalah seorang<BR>berilmu yang wataknya aneh sekali. "Kiranya Locianpwe Bu Beng Cu sengaja<BR>meninggalkan pesan itu untukmu. Kaulihat sendiri, setelah membunuh ratusan<BR>orang, Locianpwe Bu Beng Cu merasa berdosa dan menyesal, maka kalau kau<BR>tadi menyatakan bahwa dengan membunuh si orang The Kok kau akan<BR>menemukan kebahagiaan, alangkah jauhnya menyeleweng dari kebenaran!"<BR>Sepasang mata kakek itu tidak mengucurkan air mata lagi, kini memandang ?<BR>kepada Kun Hong penuh kebingungan, tangannya gemetar mengembalikan<BR>pedang. Kun Hong menerima pedangnya dan menyimpannya kembali.<BR>"Kau betul... orang muda yang aneh, kau benar sekali. Ah... selamanya<BR>suhengku itu memang bijaksana.... agaknya kau mewarisi kebijaksanaannya<BR>... memang aku bodoh, Suheng sudah kakek-kakek ketika aku masih<BR>menjelang dewasa. Orang muda yang baik, kau sebagai wakil Suheng, lekas<BR>kaukatakan kepadaku ke mana aku harus mencari kebahagiaan!"<BR>Kun Hong kaget sekali. Dia seorang pemuda yang masih hijau,<BR>pengetahuannya tentang filsafat kehidupan hanya diperolehnya dari membaca<BR>kitab-kitab kuno yang ia selaraskan dengan suara hati nuraninya sendiri.<BR>Bagaimana dia bisa menerangkan kakek yang hendak mencari kebahagiaan<BR>ini? Akan tetapi dia bertekad untuk mencegah kakek ini melakukan<BR>pembunuhan, maka ia akan mencobanya.<BR>"Locianpwe, aku mau bicara tentang kebahagiaan kalau kau suka berjanji<BR>bahwa kau takkan membunuh orang bernama The Kok itu."<BR>"Baik... baik... setelah mendengar pesan Suheng, aku sendiri ngeri untuk<BR>membunuh orang. Aku berjanji mulai sekarang aku takkan mau membunuh<BR>orang lagi. Tapi kau harus segera memberitahukan kepadaku ke mana aku<BR>harus mencari kebahagiaan."<BR>Lega hati Kun Hong. Betapapun juga, kakek ini adalah seorang cianpwe, tak<BR>mungkin mau menarik kembali janjinya atau melanggarnya. Dengan demikian<BR>berarti dia telah dapat membatalkan niat orang untuk membunuh. Tentang<BR>pendapatnya mengenai kebahagiaan, adalah menurut jalan pikirannya, sesuai<BR>pula dengan hati nuraninya yang disesuaikan dengan ilmu kebatinan yang ia<BR>baca dari kitab-kitab filsafat kuno.<BR>"Menurut pendapatku, Locianpwe. Kebahagiaan hidup itu tidak dapat dikejar,<BR>karena bagaimanapun orang mengejar-ngejarnya, takkan mungkin dia dapat<BR>menemukannya. Bahagia tak dapat dicari-cari...."<BR>"Apa kaukata? Kebahagiaan tak dapat dikejar, tak dapat dicari, kalau begitu<BR>kebahagiaan itu tidak ada? Jangan kau main-main!"<BR>Berkerut kening Kun Hong, tanda bahwa dia sedang mempergunakan<BR>penjelasan tentang persoalan yang mengandung filsafat hidup dan sulit itu.<BR>"Locianpwe, bukan maksudku mengatakan bahwa kebahagiaan itu tidak ada.<BR>Kebahagiaan memang ada. Akan tetapi jangan keliru menafsirkan apa<BR>sebetulnya kebahagiaan itu. Banyak sekali orang tertipu oleh kesenangan dan<BR>menganggap bahwa kesenangan itulah kebahagiaan. Yang dapat dikejar dan<BR>dapat dicari adalah kesenangan, bukan kebahagiaan. Adapun kesenangan itu<BR>bukan lain adalah pemuasan nafsu jasmani dan nafsu perasaan. Kesenangan<BR>duniawi adalah pemuasan kehendak yang terdorong oleh nafsu semata.<BR>Contohnya keinginan Locianpwe tadi hendak membunuh The Kok, bukan lain<BR>adalah karena dorongan kehendak memuaskan nafsu dendam dan andaikata<BR>hal itu terjadi, kiranya akan dapat merasai kesenangan karena nafsu dendam<BR>itu dipuaskan. Akan tetapi orang lupa bahwa kesenangan mernpunyai saudara<BR>kembar yang bernama kesusahan. Di mana kesenangan berada, di situ akan<BR>muncul pula saudara kembarnya, yaitu kesusahan. Apabila orang, mencari<BR>kesenangan, memang dia akan mendapatkannya, namun sifat kesenangan<BR>hanyalah sementara saja. Rasa senang akan segera lenyap dan kalau sudah<BR>begitu, muncullah kesusahan dan ia akan kecewa karena segera ternyata<BR>bahwa kesenangan yang dicari-carinya itu setelah dapat ternyata tidaklah<BR>begitu menyenangkan, apalagi membahagiakan. Siapa mencari dia akan<BR>kecewa, karena yang dicarinya itu hanyalah kehendak dari nafsunya, bukanlah<BR>kebutuhan jiwanya," Sampai berkeringat, kening pemuda itu karena<BR>pengerahan otaknya yang diperas untuk menerangkan hal yang amat gawat<BR>ini. Akan tetapi hasilnya hebat, Muka kakek itu mula-mula membayangkan<BR>keharuan, kemudian matanya membelalak dan wajahnya berseri-seri.<BR>"Aduh, kau hebat..., kau orang muda luar biasa... teruskanlah, teruskanlah<BR>uraianmu yang menarik ini.. Kau bicara tentang kesenangan dunia, sekarang<BR>bagaimana dengan kebahagiaan yang ajaib itu? Aku sendiri telah tertipu dan<BR>mengacau-balaukan kesenangan dengan kebahagiaan. Orang muda yang<BR>hebat, apakah kebahagiaan itu dan mengapa tidak boleh dikejar dan dicari?"<BR>"Locianpwe, maafkan kalau aku yang muda bodoh ini lancang berani bicara<BR>tentang hal yang pelik ini."<BR>"Tidak apa, tidak apa, teruskanlah...."<BR>"Lebih dulu aku akan mengulangi sajak yang pernah kubaca, hasil karya<BR>seorang pujangga kuno yang tidak diketahui namanya, begini sajak itu:<BR>Kebahagiaan seperti bayangan serasa tergenggam di jari tanpa bekas kau lari<BR>tak dikejar mendekati dikejar kau menjauhi memang kau bayanganku tak<BR>pernah berpisah dariku bagaimana orang dapat mengejar bayangan sendiri?<BR>"Demikianlah, Locianpwe. Kebahagiaan adalah keadaan, memang ada, yaitu<BR>sudah ada dalam diri setiap mahluk, setiap yang mengejarnya dia tersesat<BR>jauh karena memang tidak dapat dan tidak semestinya dikejar. Kebahagiaan<BR>adalah keadaan jiwa seseorang yang sudah sadar akan keadaan hidupnya,<BR>yang sadar bahwa ada yang menghidupkannya. Kebahagiaan adalah keadaan<BR>jiwa seseorang yang tenang tenteram damai dan tahu bahwa segala sesuatu<BR>yang menimpa dirinya adalah kehendak Tuhan. Oleh karena itu ia dapat<BR>menerima dengan hati Ikhlas, tak dapat kecewa, tak dapat berduka, adanya<BR>hanya puas dan dapat menikmati kekuasaan Tuhan yang dilimpahkan atas<BR>dirinya, baik kekuasaan yang mendatangkan rasa tidak enak ataupun yang<BR>sebaliknya bagi badan dan pikiran. Hanya manusia yang sadar akan kekuasaan<BR>Tuhan, dapat menerima segala yang terjadi atas dirinya dengan penuh<BR>penyerahan, dengan tunduk, taat dan menganggap segala peristiwa, baik yang<BR>dianggap menyenangkan atau menyusahkan oleh badan dan pikiran serta<BR>perasaannya, sebagai berkah Tuhan, manusia seperti itulah yang berhasil<BR>menemukan kebahagiaan yang memang sudah berada dalam dirinya. Karena<BR>menghadapi keadaan yang bagaimanapun juga, ia akan tetap tenang,<BR>tenteram dan menerima dengan hati tulus ikhlas, dan kepercayaannya akan<BR>kekuasaan Tuhan takkan tergoyah. Nah, hanya sekian saja pendapatku,<BR>Locianpwe, sekali lagi maaf kalau kau anggap tidak cocok dengan pendapat<BR>Locianpwe."<BR>Kakek itu merangkul Kun Hong. "Ah, anak yang baik... kau telah membuka<BR>mataku yang buta! Kau benar sekali... anak yang baik, coba kauterangkan,<BR>kalau ada orang membunuh muridku, mengapa aku tidak boleh membunuhnya<BR>juga sebagai hukumannya?"<BR>"Menurut pendapatku, pendirian itu keliru, Locianpwe. Locianpwe sendiri<BR>mengakui bahwa membunuh murid Locianpwe adalah perbuatan jahat, dan<BR>sudah menjadi anggapan umum bahwa membunuh sesama manusia adalah<BR>perbuatan jahat. Kalau kita sudah tahu bahwa membunuh itu jahat, mengapa<BR>justeru untuk menghadapi kejahatan membunuh kita pun harus berlaku jahat<BR>dan membunuh pula? Kalau sudah terjadi bunuh-membunuh, bagaimana kita<BR>dapat membedakan mana yang jahat mana yang baik, mana yang benar mana<BR>yang salah? Memang sudah menjadi kewajiban kita untuk menegakkan<BR>keadilan dan kebenaran, dan untuk itu manusia sudah mengadakan hukum<BR>bagi yang jahat. Kalau ada yang melakukan pembunuhan, tangkaplah dan<BR>hadapkan kepada yang berwajib yang mengurus tentang hukuman bagi si<BR>jahat dengan mengadakan pengadilan ciptaan manusia. Akan tetapi<BR>menghukumnya sendiri dengan jalan membunuh? Ah, Locianpwe, hendak<BR>kutanyakan kepada Locianpwe, apa perbedaannya dalam soal kejahatan<BR>antara pembunuhan yang dilakukan The Kok terhadap murid Locianpwe<BR>dengan pembunuhan yang akan dilakukan oleh Locianpwe terhadap The Kok?"<BR>Kakek itu merenung sejenak. "Bedanya, karena kalau aku membunuhnya, aku<BR>mempunyai alasan untuk membalaskan sakit hati muridku."<BR>"Ah, Locianpwe, setiap orang manusia di dunia ini sudah pasti mempunyai<BR>alasan untuk perbuatannya. Ada akibat pasti bersebab. Apakah kiranya orang<BR>yang bernama The Kok itu ketika membunuh murid Locianpwe juga tidak<BR>mempunyai alasan? Kiraku pasti ada alasannya. Betapapun juga, dia bersalah<BR>besar ketika membunuh muridmu dan bagiku, dia telah melakukan perbuatan<BR>jahat. Kalau Locianpwe membunuhnya pula, apa pun alasan yang Locianpwe<BR>ajukan, perbuatan membunuh itu tak dapat tidak juga termasuk perbuatan<BR>jahat. Dan kebahagiaan tidak mungkin dicapai dengan melalui perbuatan<BR>jahat. Di samping penyerahan akan kekuasaan Tuhan, juga setiap tindakan<BR>dalam hidup haruslah menjauhi kejahatan dan memupuk kebaikan sebanyak<BR>mungkin. Inilah yang dinamakan menyesuaikan diri dengan sifat alam. Adakah<BR>alam pernah menuntun sesuatu demi kesenangannya sendiri? Tidak pernah,<BR>alam dan segala isinya selalu memberi kebaikan kepada siapa saja tanpa<BR>pernah minta dan menuntut. Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, tiada yang<BR>dikecualikan, berkah-Nya melimpah-limpah seperti aliran Sungai Kuning yang<BR>tak pernah kering, akan tetapi, pernahkah Tuhan menuntut dan minta sesuatu<BR>dari kita? Alam merupakan cermin kecil dari sifat Maha Pengasih dan<BR>Penyayang itu. Lihatlah pohon berbuah itu, Locianpwe. Tanpa diminta ia<BR>memberikan segala-galanya, batangnya, daunnya, bunganya, buahnya kepada<BR>siapa saja yang membutuhkan.<BR>Ia memberikan dengan segala keikhlasan tanpa diminta, segala kenikmatan<BR>kepada yang dapat menikmatinya. Akan tetapi, pernahkah pohon itu minta<BR>sesuatu, menuntut sesuatu dari siapapun juga? Ah, alangkah akan indahnya<BR>dunia ini kalau manusia dapat memetik pelajaran dari sikap pohon buah itu, di<BR>mana manusia hanya mengenal pemupukan kebaikan dari sifat alam tanpa<BR>menuntut kesenangan bagi diri sendiri."<BR>"Ah... kau betul, Anakku... kau betul sekali... ha-ha-ha-ha, Lui Bok, kau<BR>dijuluki orang Sin-eng-cu (Garuda Sakti), tapi kau goblok dan patut berguru<BR>kepada bocah ini!" Ia menepuk-nepuk kepalanya sendiri dan kelihatan girang<BR>sekali. "Eh orang muda, kau masih murid keponakanku sendiri, tapi aku patut<BR>menjadi murid mu. Siapakah namamu?"<BR>"Aku bernama Kwa Kun Hong, Locianpwe. Aku banyak mengharapkan banyak<BR>petunjuk dari Locianpwe."<BR>"Heran sekali... kau menjadi pewaris kitab peninggalan suhengku, tapi kenapa<BR>kau tidak memiliki kepandaian silat sebaliknya malah menjadi ahli filsafat? Kun<BR>Hong, coba kau bersilat dari pelajaran dalam kitab yang kauhafal itu, hendak<BR>kulihat."<BR>Merah muka Kun Hong. "Ah, sesungguhnya Locianpwe, aku hanya menghafal<BR>saja akan tetapi aku tidak dapat bersilat."<BR>"Hee....?? Habis untuk apa kau menghafal kitab itu?"<BR>"Menurut pendapatku, ilmu silat yang diwariskan dalam kitab Suhu itu, hanya<BR>untuk menjaga diri agar jangan sampai dicelakakan orang. Akan tetapi kalau<BR>hendak dipergunakan untuk memukul orang... ah, aku tidak sudi<BR>melakukannya, Locianpwe." .<BR>Kembali kakek itu melengak, lalu mengangguk-angguk. Tiba-tiba ia berseru,<BR>"Aku akan menyerangmu dan kalau kau, terkena pukulanku, mungkin kau<BR>akan mati!" Cepat sekali, tidak sesuai dengan tubuhnya yang kelihatan lemah<BR>itu, kakek ini lalu maju memukul dengan pukulan kilat.<BR>Kun Hong kaget sekali dan otomatis kedua kakinya melangkah dengan langkah<BR>ajaib yang ia pelajari dari kitab, kedua lengannya bergerak-gerak sebagai<BR>imbangan tubuhnya dan... pukulan itu tidak mengenai tubuhnya. Kakek itu<BR>mengeluarkan seruan aneh dan menyerang terus, makin lama makin cepat<BR>dan keras. Kun Hong terpaksa terus melangkah ke sana ke mari, langkahlangkahnya<BR>ganjil dan kacau, namun sampai sepuluh jurus kakek ,itu hanya<BR>memukul angin belaka.<BR>bagian 50<BR>Tiba-tiba ia berhenti dan bertepuk tangan.<BR>"Bagus... bagus....! Inilah agaknya Kim-tiauw-kun yang dahulu hendak<BR>diciptakan oleh Suheng berdasarkan Im-yang bu-tek-cin-keng! Hebat...<BR>hebat!" Ia merangkul lagi Kun Hong diajak duduk bawah pohon.<BR>"Mana roti keringmu tadi? Keluarkan aku lapar sekali!"<BR>Girang hati Kun Hong. Memang masih ada ia menyimpan roti kering dalam<BR>buntalannya, lalu ia mengeluarkan roti-roti kering itu dan memberikan kepada<BR>kakek aneh yang menyebut namanya Sin-eng-cu Lui Bok ini..<BR>"Silakan makan, Locianpwe, tapi hanya roti kering yang keras dan tengik."<BR>"Heh-heh-heh, jangan kau merendah, Kun Hong. Rotimu begini empuk,<BR>harum, masih hangat dan di dalamnya diberi cacahan daging yang begini<BR>gurih, kau katakan roti kering tengik? Ha-ha-ha benar-benar kau merendah.<BR>Bukan main sedapnya roti ini!"<BR>Tiba-tiba Kun Hong terbelalak matanya. Mimpikah dia? Roti kering yang<BR>tadinya keras dan memang agak tengik yang dipegangnya, sekarang kenapa<BR>sudah berubah sama sekali? Roti itu menjadi roti yang besar dan empuk,<BR>benar-benar masih hangat dan berbau harum malah ketika ia melihat bagian<BR>yang sudah ia gigit, tampak cacahan daging matang yang benar-benar gurih!<BR>"Eh..., ini... ini... bagaimanakah ini? Mengapa bisa begini, Locianpwe....?"<BR>tanyanya gagap saking herannya.<BR>"Ha-ha-ha! Biarpun kesenangan bukan termasuk kebahagiaan sejati, namun<BR>kesenangan pun anugerah Tuhan dan kita berhak menikmatinya, bukan? Nah,<BR>marilah kita menikmati roti yang enak ini!"<BR>"Memang benar, Locianpwe. Tapi... tapi... bagaimana ini....? Kenapa roti<BR>keringku bisa berubah?"<BR>"Tak usah tanya-tanya, nanti kuberi penjelasan. Makan dulu." Keduanya lalu<BR>makan dan Kun Hong harus mengakui bahwa selama ini belum pernah ia<BR>makan roti seenak itu.<BR>"Wah, habis makan roti tidak ada minuman. Kalau saja ada arak baik di sini,<BR>alangkah sedapnya."<BR>Melihat kakek itu agaknya kesereten (Bhs. Jawa=makanan mengganjal di<BR>kerongkongan), Kun Hong menjadi kasihan dan segera ia berlari mencari air<BR>mancur dan menyendok air menggunakan daun yang lebar. Dibawanya air itu<BR>ke bawah pohon.<BR>"Heh-heh-heh, kau betul-betul hebat. Orang ingin minum arak kau datang<BR>membawa arak wangi dalam cawan perak. Ha-ha-ha!"<BR>"Ah, Locianpwe, hanya air biasa dalam daun, mana ada arak?" Kun Hong<BR>tertawa dan memandang daun di tangannya yang penuh air. Akan tetapi tibatiba<BR>ia berteriak kaget dan heran karena yang berada di tangannya benarbenar<BR>adalah arak dalam cawan perak yang indah.<BR>"Eh, bagaimana pula ini....? Locianpwe, apakah aku sudah gila? Ataukah aku<BR>sedang mimpi....??" teriaknya terkejut.<BR>"Ha-ha-ha, minumlah, nikmatilah kesenangan untuk lidah dan mulut kita.<BR>Nanti kuceritakan," kata kakek itu sambil menenggak arak dalam cawannya.<BR>Terpaksa Kun Hong juga minum araknya dan ternyata, betul seperti dikatakan<BR>kakek itu, arak di dalam cawannya amat harum dan enak.<BR>"Kaulihat baik-baik, yang di dalam tanganmu itu hanya daun biasa," Kun Hong<BR>melihat dan... betul saja, cawan yang kosong tadi sudah berubah pula menjadi<BR>daun yang tadi, tanpa ia ketahui.<BR>"Ini... kau main sulap, Locianpwe," katanya tertawa.<BR>"Kau sudah menggirangkan hatiku, Kun Hong. Maka aku harus membikin<BR>senang sedikit hatimu. Ketahuilah, yang kuperlihatkan tadi adalah ilmu yang<BR>disebut menguasai pikiran orang lain (semacam hypnotisme). Memang amat<BR>berbahaya memiliki ilmu ini dan sebagian orang yang tidak mengerti akan<BR>menganggapnya sebagai hoat-sut (ilmu sihir) yang jahat, semacam ilmu<BR>hitam. Akan tetapi anggapan itu keliru. Ilmu kepandaian tidak ada yang jahat.<BR>Hitam atau putihnya, jahat ataupun baiknya, tergantung dari si pemilik ilmu itu<BR>sendiri. Hoat-sut (menguasai pikiran orang) ini kalau dimiliki oleh orang yang<BR>berjiwa bersih, tentu akan banyak mendatangkan kebaikan seperti yang baru<BR>saja kuperlihatkan. Bukankah makan roti kering dan minum air tawar tidak<BR>begitu sedap? Dan bukankah menambah kenikmatan setelah ingatanmu<BR>kukuasai sehingga kau menganggapnya sebagai roti enak dan arak wangi?<BR>Nah, untuk segala petunjukmu tadi tentang kebahagiaan, aku harus<BR>membalas. Kau adalah ahli membaca kitab, nah, ilmu ini terdapat dalam kitab<BR>ini. Kaubaca dan pelajarilah, tentu kelak berguna untukmu. Ilmu yang<BR>kuperlihatkan tadi baru sepersepuluhnya saja dari isi kitab ini." Ia<BR>mengeluarkan sebuah kitab yang sudah lapuk dan Kun Hong menerimanya<BR>dengan pernyataan terima kasih. Tentu saja ia girang sekali mendapat hadiah<BR>kitab istimewa itu.<BR>"Sekarang, marilah kau ikut denganku, Kun Hong. Ikutlah dengan aku pergi ke<BR>kaki gunung ini untuk menjumpai The Kok yang sekarang menjadi Ketua Hwa-i<BR>Kai-pang."<BR>Kun Hong terkejut dan memandang. "Locianpwe, kau tidak...."<BR>Kakek itu tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Jangan kuatir. Sudah<BR>lenyap semua nafsuku untuk membunuh orang. Aku harus menemuinya. Haha-<BR>Ha! kau benar. Dia telah membunuh muridku, biarlah kesadarannya sendiri<BR>yang akan menghukumnya." Kakek itu lalu berdiri dan mengajak Kun Hong<BR>turun gunung.<BR>Demikianlah kisah pertemuan Kun Hong dengan Sin-eng-cu Lui Bok dan<BR>seperti telah diceritakan di bagian depan, Kun Hong dan Sin-eng-cu Lui Bok.<BR>telah tiba di tempat para pengemis Hwa-i Kai-pang. Dari jauh Kun Hong<BR>melihat ribut-ribut di antara pengemis yang memenuhi pekarangan depan<BR>rumah perkumpulan itu dan ia mendapat keterangan dari pengemis yang<BR>dijumpainya bahwa dua orang pembantu ketua sedang ribut hendak bertempur<BR>dalam perebutan kedudukan ketua. Kun Hong merasa kuatir sekali dan ia dari<BR>jauh segera berteriak-teriak,<BR>"Heeiii..., berhenti... dua orang pengemis tua saling pukul memperebutkan apa<BR>sih?"<BR>Semua pengemis dan para tamu yang hadir di tempat pertemuan itu terkejut<BR>dan segera menengok. Bahkan dua orang pembantu ketua yang sedang<BR>bertempur itu pun menghentikan perkelahian mereka dan menengok karena<BR>suara teriakan itu benar-benar nyaring dan mengejutkan semua orang.<BR>Sementara itu, Kun Hong sudah mendahului Sin-eng-cu Lui Bok, memasuki<BR>gelanggang pertempuran menghadapi Coa-lokai dan Sun-lokai yang<BR>memandangnya dengan heran.<BR>"Ji-wi Lo-enghiong, kenapa saling hantam sendiri ? Aku mendengar bahwa Jiwi<BR>memperebutkan kedudukan Ketua Hwa-i Kai-pang. Kalau tidak salah Hwa-i<BR>Kai-pang adalah perkumpulan pengemis, kenapa yang hendak menjadi<BR>ketuanya menggunakan kekerasan? Apakah hendak menjadi ketua<BR>perkumpulan tukang pukul? Benar-benar salah sekali."<BR>Coa-lokai memandang dengan mata terbelalak marah. "Kau ini bocah kurang<BR>ajar datang dari mana dan apa urusanmu dengan kami?"<BR>Beng-lokai pengemis tua gemuk pendek yang semenjak tadi hanya diam saja<BR>melihat dua orang temannya saling serang, sekarang berdiri dan dengan<BR>marah membentak "Bocah tak tahu adat! Kau ini datang-datang mengacau,<BR>kau disuruh kai-pang dari manakah?"<BR>Diserang bentakan-bentakan ini, Kun Hong tenang saja akan tetapi sebelum ia<BR>menjawab, kakek pengemis tua yang berdiri di situ, Hwa-i Lo-kai, berseru<BR>keras,<BR>"Bagus sekali, Sin-eng-cu Lui Bok! Kau akhirnya datang juga mencariku. Akan<BR>tetapi, kuharap kau tidak membawa Hwa-i Kai-pang ke dalam urusan pribadi<BR>kita berdua. Kau tunggulah aku menyelesaikan dulu pemilihan ketua baru,<BR>setelah itu aku siap untuk mati di tanganmu!"<BR>Semua mata sekarang menengok dan memandang ke arah kakek yang<BR>memasuki tempat itu yang bukan lain adalah Sin-eng-cu Lui Bok.<BR>"Heh-heh-heh, Sin-chio The Kok. Tak nyana orang gagah seperti engkau<BR>ternyata wataknya pengecut, berani berbuat tidak berani bertanggung jawab<BR>dan kasihan sekali kau melarikan diri dan bersembunyi sampai belasan tahun."<BR>Kakek ini terkekeh-kekeh menertawakan.<BR>Muka Sin-chio The Kok atau Hwa-i Lo-kai menjadi merah sekali. Ia merasa<BR>malu dikatakan pengecut di depan begitu banyak orang dan namanya tentu<BR>akan menjadi buah tertawaan di dunia kang-ouw. Maka cepat ia menjawab<BR>dengan suara keras,<BR>"He, Sin-eng-cu Liu Bok, dengarlah baik-baik. Memang perbuatanku melarikan<BR>diri dan bersembunyi darimu itu adalah perbuatan pengecut, akan tetapi<BR>adalah sebab-sebabnya. Secara kebetulan aku bermusuhan dengan muridmu<BR>ketika aku merampok seprang pembesar korup dan muridmu itu membela<BR>pembesar tadi, Terjadi pertempuran antara kami dan dalam pertempuran itu ia<BR>tewas di ujung tombakku. Celakanya, setelah ia tewas, barulah aku<BR>mendengar bahwa dia adalah murid Sin-eng-cu Lui Bok. Hatiku menyesal<BR>bukan main. Telah puluhan tahun aku kagum dan menjunjung tinggi nama<BR>pendekar besar Sin-eng-cu Lui Bok. Sekarang aku telah membunuh muridnya.<BR>Aku menyesal dan ada dua hal yang menyebabkan aku melarikan dan<BR>menyembunyikan diri. Pertama, karena aku maklum bahwa aku takkan<BR>menang, ke dua dan ini sebetulnya yang terberat bagiku, aku tidak mungkin<BR>dapat bertanding sebagai musuh dengan pendekar yang sejak lama kukagumi<BR>dan kujunjung tinggi sebagai seorang pendekar budiman. Itulah Sin-eng-cu,<BR>yang menyebabkan aku menebalkan muka melarikan diri dan bersembunyi.<BR>Akan tetapi hukum karma tak dapat dihindarkan manusia, agaknya Thian yang<BR>menuntunmu sampai ke sini sehingga kau dapat menantang padaku dan<BR>agaknya memang Tuhan hendak menghabisi nyawaku sekarang juga. Hanya<BR>permintaanku, biarkanlah aku menyelesaikan lebih dulu pemilihan ketua Hwa-i<BR>Kai-pang setelah itu terserah kepadamu, aku tidak takut mati karena aku<BR>memang sudah cukup tua, Sin-eng-cu."<BR>Lega hati Sin-chio The Kok setelah mengeluarkan isi hatinya yang juga<BR>didengar oleh semua orang itu, akan tetapi Sin-eng-cu Lui Bok hanya tertawatawa<BR>saja dan diam-diam hati kakek ini pun girang bahwa dia sebelumnya<BR>bertemu dengan Kun Hong. Kalau sampai dia membunuh orang yang segagah<BR>ini memang sayang sekali. Apalagi ia pun maklum bahwa muridnya telah<BR>membela orang yang terkenal sebagai seorang pembesar korup dan<BR>sewenang-wenang, sungguhpun pembesar itu adalah paman muridnya.<BR>Akan tetapi Coa-lokai yang amat setia kepada Hwa-i Lo-kai, ketika mendengar<BR>bahwa kakek tua renta yang kelihatan kurus kering itu adalah musuh besar<BR>ketuanya, segera membentak marah, "Kau tua bangka berani menghina<BR>pangcu kami! Rasakan tanganku!" Coa-lokai menerjang dan langsung<BR>menyerang.<BR>"Coa-lokai, jangan....!" Sin-chio The Kok atau Hwa-i Lo-kai mencegah, namun<BR>terlambat sudah. Coa-lokal sudah menyerang dengan hebat, malah<BR>mempergunakan pedangnya. Semua orang melihat betapa pedang di tangan<BR>Coa-lokai itu menyambar ganas dan agaknya kakek yang diserangnya itu sama<BR>sekali tidak bergerak, akan tetapi entah bagaimana, tahu-tahu terdengar<BR>pedang berkerontangan di atas lantai dan tubuh Coa-lokai terlempar ke<BR>belakang. Padahal kakek itu hanya mengangkat sedikit tongkatnya yang butut!<BR>Ketika dilihat ternyata Coa-lokai yang merintih-rintih itu patah tulang<BR>lengannya!<BR>Sin-chio The Kok terkejut sekali. Bukan main hebatnya kepandaian dari Sineng-<BR>cu Lui Bok ini. Ia cepat menjura dan berkata,<BR>"Pembantuku telah tak tahu diri menyerangmu, akulah yang mintakan maaf<BR>dan harap Sin-eng-cu suka bersabar menanti sampai aku selesai mengadakan<BR>pemilihan ketua."<BR>Sin-eng-cu Lui Bok tertawa dan hanya berkata, "Silakan..., silakan...."<BR>Kun Hong melangkah maju dan menjura kepada Ketua Hwa-i Kai-pang itu.<BR>"Tidak tahunya Locianpwe ini yang bernama Sin-chio The Kok dan sekarang<BR>menjadi Ketua Hwa-i Kai-pang. Pangcu, aku kebetulan datang bersama Susiok<BR>Sin-eng-cu mendengar bahwa di sini hendak diadakan pemilihan ketua baru.<BR>Kenapa kau membiarkan saja orang-orangmu berebutan kedudukan ketua?<BR>Kalau kau sendiri yang menjadi ketuanya, perlu apa diganti lagi? Kulihat kau<BR>seorang yang berjiwa gagah, kenapa hendak mundur? Kalau perkumpulan<BR>yang bertujuan memperbaiki nasib orang-orang jembel yang sengsara ini<BR>terjatuh ke dalam tangan ketua tukang berkelahi, bukankah akan celaka?"<BR>"Ha, betul sekali omonganmu, Siauw-kongcu!" Tiba-tiba Coa-lokai yang sudah<BR>berdiri lagi dengan tangan dibalut berkata keras. "Memang Pangcu tidak perlu<BR>diganti lagi!"<BR>"Pangcu, kalau terpaksa dilakukan penggantian ketua, kurasa satu-satunya<BR>orang yang patut menggantimu adalah orang tua tinggi besar ini," Kun Hong<BR>menudingkan telunjuknya ke arah Coa-lokai. "Dia jujur dan setia sekali<BR>kepadamu."<BR>Memang biarpun masih muda, pandangan mata Kun Hong amat mendalam<BR>dan sekali melihat saja ia tahu bahwa Coa-lokai adalah seorang yang setia dan<BR>jujur, sama sekali tidak memiliki pamrih untuk memperebutkan kedudukan,<BR>terbukti dari pembelaannya kepada ketuanya dan menyerang Sin-eng-cu tadi,<BR>kemudian kata-katanya sekarang.<BR>Diam-diam Hwa-i Lo-kai kagum memandang Kun Hong. Bocah ini benar-benar<BR>luar biasa dan ucapannya seperti orang yang sudah matang pengalamannya<BR>saja. Kalau bocah ini menyebut susiok (paman guru) kepada Sin-eng-cu,<BR>tentulah dia memiliki kepandaian hebat pula.<BR>Pada saat itu, Sun-lokai dan Beng-lokai sudah siap mendekati Kun Hong. Sunlokai<BR>berseru marah, "Untuk apa mendengarkan omongan bocah gila itu? Usir<BR>saja dia dari sini, mengacaukan pemilihan ketua!"<BR>"Betul, Pangcu. Bocah ini mencampuri urusan kita. He, bocah tak tahu aturan,<BR>lebih baik kau tutup mulutmu dan pergi dari sini. Kalau tidak, mulutmu akan<BR>kuhancurkan dengan kepalanku!"<BR>"Ji-wi Lo-kai jangan kurang ajar terhadap tamu!" Hwa-i Lo-kai cepat mencegah<BR>karena ia merasa tidak enak sekali terhadap Sin-eng-cu.<BR>Kun Hong tersenyum dan Sin-eng-cu hanya tersenyum-senyum saja. "Pangcu,<BR>apakah dua orang ini juga pembantu-pembantumu? Alangkah jauh<BR>bedanya dengan Coa-lokai."<BR>"Eh, orang muda, kau tadi datang-datang melawan kami bertempur untuk<BR>menentukan kemenangan. Ada hak apakah kau mencampuri urusan Hwa-i Kaipang?"<BR>bentak, Sun-lokai.<BR>Kini Kun Hong bicara dengan muka sungguh-sunggu,"Lo-kai, aku mendengar<BR>bahwa perkumpulan ini adalah perkumpulan Hwa-i Kai-pang dan perkumpulan<BR>pengemis tentu bertujuan untuk menolong para pengemis dan memperbaiki<BR>nasib mereka. Akan tetapi mengapa untuk menentukan seorang ketua harus<BR>memilih yang pandai ilmu silat dan kalian tadi saling gempur sendiri? Apakah<BR>Hwa-i Kai-pang mau dijadikan perkumpulan tukang pukul?"<BR>"Kau mengaku keponakan Sin-eng-cu, tapi omongan apa yang kau keluarkan<BR>ini?" Sun-lokai membentak, makin marah, "Kalau ketua kita seorang yang<BR>lemah, mana bisa memimpin Hwa-i Kai-pang?"<BR>"Ah, salah sama sekali!" Kun Hong berseru penasaran, "Apakah hanya seorang<BR>tukang pukul saja yang dapat memimpin? Memimpin dengan cara ,kekerasan<BR>dan kekuatan sama sekali tidak baik."<BR>Kini Beng-lokai juga mendekati Kun Hong. "Kau anak kecil bicara besar! Kalau<BR>seorang pemimpin tidak memiliki ilmu silat tinggi dan menggunakan<BR>kekerasan, mana bisa para anggauta dipimpin dan mana mereka bisa menaati<BR>ketuanya?"<BR>KunHong mengalihkan pandangnya kepada pengemis tua gemuk pendek ini.<BR>"Inilah sebabnya kukatakan salah. Memimpin dengan kekerasan<BR>mengandalkan kepandaian silat memang bisa membikin anggautanya taat,<BR>akan tetapi taat karena terpaksa! Bukan taat yang timbul dari hati sejujurnya,<BR>melainkan taat untuk menjilat. Seharusnya kalian mempunyai seorang ketua<BR>yang bijaksana, yang betul-betul dapat mengatur sehingga di antara para<BR>pengemis tidak saling gempur, dapat menuntun mereka ke arah kejujuran,<BR>kesetiaan dan jalan benar sehingga mereka dapat menemukan kembali<BR>lapangan pekerjaan yang terhormat."<BR>Tiba-tiba terdengar suara ketawa yang membuat semua orang menengok<BR>karena yang tertawa terkekeh-kekeh ini adalah Sin-eng-cu Lui Bok yang kini<BR>semua orang di situ tahu sebagai musuh besar Ketua Hwa-i Kai-pang. "Hehheh-<BR>heh, Sin-chio The Kok, kalau benar-benar sayang kepada<BR>perkumpulanmu, kalau kau ingin melihat perkumpulanmu menjadi maju dan<BR>sempurna, kau angkatlah Kwa Kun Hong ini menjadi ketua menggantikanmu!"<BR>Merah muka Ketua Hwa-i Kai-pang itu dan ia memandang tajam. "Sin-eng-cu,<BR>apakah selain datang hendak mengambil nyawaku kau pun bermaksud<BR>merampas kedudukan kai-pang untuk murid keponakanmu?" Pertanyaan ini<BR>keras dan pedas dan para anggauta Hwa-i Kai-pang juga menjadi berisik.<BR>"Ho-ho-ho, setelah berkumpul dengan orang-orang jahat kau makin tersesat,<BR>Sin-chio The Kok. Memang tadinya ketika aku mengabarkan kedatanganku<BR>kepadamu, sudah bulat dalam hatiku untuk membunuhmu, membalaskan<BR>muridku yang kaubunuh dahulu. Akan tetapi ketahuilah, setelah aku bertemu<BR>dengan murid keponakanku yang hebat ini, sekaligus dia bisa mengusir niatku<BR>itu dari otakku! Aku tidak ingin membunuhmu lagi, The Kok. Ha-ha-ha, benar<BR>dia ini, kau sudah cukup tersiksa akibat perbuatanmu sendiri. Biarpun dia ini<BR>murid keponakanku, dalam hal kebijaksanaan aku boleh berguru kepadanya.<BR>Karena itu, kalau dia yang menjadi ketua, aku tanggung Hwa-i Kai-pang akan<BR>menjadi perkumpulan yang besar dan maju, dan anak buahmu ini sebentar<BR>saja akan berubah menjadi manusia-manusia benar. Tidak seperti kalau kau<BR>atau pengemis-pengemis bangkotan ini yang menjadi ketua, para pengemis<BR>diajar silat, kelak dari pengemis berubah menjadi perampok. Heh-heh-heh!"<BR>Kaget bukan main hati The Kok mendengar ini. Ada perasaan lega, girang,<BR>terharu dan juga malu. Ia menoleh dan memandang kepada Kun Hong yang<BR>masih berdiri tegak dengan sikap tenang sekali. Jadi bocah yang sikapnya<BR>aneh ini malah telah menolong nyawanya dari ancaman Sin-eng-cu! Ia tadinya<BR>sudah maklum bahwa ia pasti akan tewas di tangan Sin-eng-cu karena dalam<BR>hal ilmu silat, ia jauh di bawah tingkat kakek itu. Sekarang Sin-eng-cu malah<BR>mengusulkan supaya pemuda yang bernama Kwa Kun Hong ini menjadi ketua<BR>Hwa-i Kai-pang.<BR>"Sin-eng-cu, kau mengaku dia sebagai murid keponakanmu, sebetulnya<BR>pemuda ini murid siapakah?" tanyanya, agak meragu.<BR>Kakek kurus itu tertawa lagi, "Ha-ha-ha, jangan bicara tentang ilmu silat<BR>dengan Kun Hong, karena mungkin dia tidak akan mampu dan suka<BR>membunuh seekor kucing pun, akan tetapi dia ini murid suhengku, gurunya<BR>adalah mendiang Bu Beng Cu."<BR>Tidak ada yang mengenal Bu Beng Cu, juga Sin-chio The Kok tak pernah<BR>mendengarnya. Akan tetapi kalau pemuda ini murid suheng dari Sin-eng-cu,<BR>sudah dapat dipastikan kepandaiannya tinggi juga. Persoalan Ketua Hwa-i Kaipang<BR>bukanlah hal yang remeh, untuk memilih ketua harus dipilih orang yang<BR>betul-betul tepat. Bagaimana ia bisa menerima seorang pemuda yang sama<BR>sekali belum ia ketahui keadaannya ini untuk memimpin anggauta. Hwa-i Kaipang<BR>yang ratusan orang jumlahnya?<BR>Selagi ia ragu-ragu, Beng-lokai dan Sun-lokai sudah tak dapat menahan<BR>kemarahannya lagi. Beng-lokai berkata kepada Kun Hong,<BR>"Bocah ini mau menjadi ketua kami? Ha-ha-ha, boleh saja asalkan dia mampu<BR>mengalahkan aku!"<BR>"Juga harus bisa merobohkan aku, baru berhak menjadi ketua!" kata Sun-lokai<BR>sambil menggeser kaki mendekati.<BR>Melihat ini, tiba-tiba Sin-chio The Kok mendapatkan pikiran amat bagus. Dua<BR>orang pembantunya ini memang tepat untuk menguji kepandaian pemuda itu.<BR>Maka ia berkata kepada Sin-eng-cu, "Kalau pemuda ini berani menghadapi<BR>Beng-lokai dan Sun-lokai serta mengalahkan mereka, aku menerimanya<BR>menjadi ketua Hwa-i Kai-pang menggantikan aku. Memang betul bahwa untuk<BR>membimbing para anggauta tak perlu dipergunakan ilmu silat, akan tetapi<BR>tanpa memiliki kepandaian tinggi, mana mampu menjaga keamanan<BR>perkumpulan dan mana bisa menghalau segala orang-orang jahat?"<BR>"Orang muda, kau dengar sendiri. Ketua kami sudah mengijinkan kami berdua<BR>menghadapimu. Hayo kau robohkanlah kami!" kata Beng-lokai dengan sikap<BR>mengejek dan terdengarlah suara tertawa para pengemis pengikut kedua<BR>orang pembantu ini.<BR>Kun Hong mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepala. "Aku tidak pernah<BR>berkelahi dan aku pun tidak mau berkelahi. Aku bukanlah tukang pukul!"<BR>Ucapan ini memancing datangnya tertawaan lagi di kalangan anggauta Hwa-i<BR>Kai-pang. Perkumpulan ini mengutamakan ilmu silat dan kegagahan, malah<BR>semua orang anggautanya mempelajari ilmu silat. Bagaimana sekarang<BR>hendak mengangkat seorang pemuda lemah seperti itu sebagai ketua?<BR>Kun Hong tidak peduli akan suara tertawa dan ejekan yang dilontarkan<BR>kepadanya, akan tetapi Sin-eng-cu menjadi merah mukanya. "Eh, Kun Hong,<BR>kau memalukan aku saja. Apakah kau takut menghadapi dua orang pengemis<BR>busuk ini?"<BR>Sepasang mata Kun Hong berkilat dia adalah keturunan seorang pendekar<BR>besar, ibunya pun seorang pendekar wanita, darah kesatria mengalir di<BR>tubuhnya dan bagi keluarganya, kata-kata takut tidak terdapat dalam kamus,<BR>"Aku tidak takut kepada siapapun juga, aku hanya takut kalau-kalau aku akan<BR>menyimpang dari kebenaran." Jawaban Kun Hon ini adalah ucapan kuno yang<BR>pernah ia baca dalam kitab-kitabnya.<BR>"Ha-ha-ha, bocah sombong, kalau kau tidak takut, hayo lawan kami berdua!"<BR>Beng-lokai berkata lagi.<BR>Karena maklum bahwa Kun Hong tak mungkin mau menyerang orang, Sineng-<BR>cu lalu berkata kepada dua orang pembantu ketua itu, "Heh, dua orang<BR>jembel busuk, terhadap dua orang badut seperti kalian yang jauh lebih rendah<BR>tingkatnya, murid keponakanku mana mau turun tangan? Jangan kalian hanya<BR>petentang-petenteng menjual lagak, kalau ada kepandaian, hayo kalian boleh<BR>menyerang.<BR>Sun-lokai orangnya cerdik. Kalau kakek ini mencampuri dan turun tangan<BR>tentu mereka akan kalah. Tadi sudah terbukti betapa hebatnya kepandaian<BR>kakek ini ketika merobohkan Coa-lokai. Malah Hwa-i Lo-kai sendiri kelihatan<BR>takut kepada kakek ini. Ia lalu tertawa dan berkata,<BR>"Sin-eng-cu Lui Bok adalah seorang Locianpwe yang tingkatnya lebih tinggi<BR>dari kami yang bodoh. Kalau Locianpwe maju membantu bocah ini nanti, kami<BR>tentu akan kalah akan tetapi bukan kami yang akan menjadi buah tertawaan<BR>dunia kang-ouw."<BR>Sin-eng-cu memandang dengan mata melotot. "Monyet kau. Kalau aku<BR>memang berkehendak merobohkan manusia-manusia monyet macam kau,<BR>perlu apa aku banyak cerewet lagi? Kalian boleh serang dia, biarpun dia<BR>sampai terpukul mampus oleh kalian, aku tidak akan membantunya. Dengar<BR>janjiku ini!"<BR>bagian 51<BR>Lega dan girang hati Sun-lokai mendengar ini. Ia sudah berhasll membakar<BR>hati kakek itu dan sekarang ia dan Beng-lokai tidak usah takut akan turun<BR>tangannya kakek yang lihai itu. Mereka berdua memberi isyarat dengan<BR>pandang mata, lalu berbareng mereka menyerang Kun Hong sambil berkata,<BR>"Bocah sombong, awas, kalau sakit atau mati jangan persalahkan kami!"<BR>Selama hidupnya Kun Hong belum pernah berkelahi. Kini menghadapi dua<BR>orang yang tiba-tiba menyerangnya dengan pukulan-pukulan hebat, ia menjadi<BR>kaget dan gugup. Akan tetapi dengan beberapa langkah saja ia sudah dapat<BR>menghindarkan diri dari penyerangan dua orang itu. Dalam pandangannya,<BR>penyerangan dua orang ini amat lambat dan mudah dikelit. Rajawali Emas<BR>kalau sedang melatihnya jauh lebih gesit dan berbahaya. Oleh karena itu,<BR>dengan tenang-tenang dan mudah Kun Hong berhasil mengelakkan semua<BR>serangan yang datang bertubi-tubi dari dua orang pengemis lihai tadi.<BR>Bagi semua orang, kecuali Sin-eng-cua lui Bok, gerakan-gerakan Kun Hong<BR>tidak karuan dan kacau-balau, kelihatan seperti orang ketakutan dan beberapa<BR>kali hendak roboh, terhuyung-huyung, kadang-kadang berjongkok, berdiri,<BR>berlari kecil, malah kadang-kadang merangkak. Akan tetapi semua serangan<BR>selalu mengenai tempat kosong, menyentuh ujung bajunya pun tidak dapat.<BR>Makin lama para pengemis yang menonton menjadi makin tegang dan<BR>kemudian bersorak-sorak karena perkelahian yang tidak seimbang itu memang<BR>amat lucu. Kun Hong seperti seekor tikus yang dikejar dan diperebutkan dua<BR>ekor kucing, ditubruk sini nyelinap sana, diterkam sana mengelak ke sini. Tak<BR>seorang pun menganggap bahwa pemuda itu pandai ilmu silat karena gerakangerakan<BR>yang kacau balau dan tidak teratur itu mana bisa disebut. ilmu silat?<BR>Bagi mereka, dianggapnya bahwa Kun Hong ketakutan dan kebingungan dan<BR>bahwa dua orang lokai itu memang sengaja tidak mau melukainya atau<BR>hendak mempermainkannya terlebih dulu. Tak seorang pun tahu bahwa diamdiam<BR>dua kakek pengemis itu kaget dan heran bukan main, tengkuk mereka<BR>terasa dingin dan bulunya pada berdiri. Hampir mereka itu tak dapat<BR>mempercayai kalau tidak mereka hadapi sendiri. Siapa tidak menjadi seram<BR>kalau sudah mengeluarkan seluruh kepandaian untuk memukul roboh pemuda<BR>lemah ini, akan tetapi tak perah mengenai sasaran? Padahal tampaknya<BR>pukulan-pukulan, dan tendangan-tendangan sudah tepat, namun heran sekali,<BR>begitu tiba pada sasaran, mendadak yang dijadikan sasaran sudah berpindah<BR>tempat. Maka kedua orang pengemis ini setelah lewat lima puluh jurus,<BR>menjadi pucat dan penuh keringat.<BR>Selain Sin-eng-cu yang diam-diam mengagumi Kim-tiauw-kun ciptaan<BR>suhengnya, juga Sin-chio The Kok memandang dengan mata terbelalak. Ia pun<BR>bingung dan merasa heran, apalagi kalau melihat gerakan Kun Hong begitu<BR>kacau-balau seperti orang mabuk. Akan tetapi karena memang tingkat<BR>kepandaian The Kok sudah tinggi, makin lama makin teranglah baginya bahwa<BR>gerakan atau langkah-langkah kaki Kun Hong itu biarpun kelihatan kacau,<BR>sebenarnya adalah langkah-langkah ajaib yang luar biasa sekali. Begitu ia<BR>memperhatikan langkah-langkah itu, terasa matanya berkunang dan<BR>kepalanya pening. Ia terkejut dan cepat mengumpulkan Iwee-kang untuk<BR>menahan kepusingan. Ia mengerahkan tenaga untuk memperhatikan terus,<BR>akan tetapi akhirnya ia harus mengalah, harus mengalihkah perhatiannya.<BR>Langkah itu demikian ajaib dan luar biasa sehingga kalau ia paksa, mungkin<BR>akan membuat ia jatuh pingsan!<BR>Ketua Hwa-i Kai-pang ini maklum bahwa pemuda aneh itu benar-benar telah<BR>mewarisi ilmu yang ajaib dan tahu bahwa kedua orang pembantunya tentu<BR>akan menderita celaka kalau dilanjutlkan, maka ia bermaksud nnenghentikan<BR>pertempuran itu. Akan tetapi sebelum ia membuka mulut, tiba-tiba berkelebat<BR>bayangan orang yang gesit sekali dibarengi bentakan halus.<BR>"Dua orang tua bangka tak tahu malu berani kau menghina pamanku?"<BR>Gerakan bayangan ini gesit sekali, berbareng menyambar sinar hitam dan<BR>tahu-tahu Beng-lokai dan Sun-lokai terhuyung-huyung ke belakang!<BR>Ketika semua orang memperhatikan, bayangan itu adalah seorang gadis yang<BR>cantik dan gagah, yang memegang sehclai sabuk hitam yang tadi ia<BR>pergunakan untuk menyerang dua orang itu sehingga mereka terhuyunghuyung<BR>kebelakang. Pada saat berikutnya, kembali berkelebat bayangan orang<BR>dan seorang gadis lain yang juga cantik manis sudah berdiri disitu dengan<BR>sikap gagah.<BR>Beng-lokai dan Sun-lokai kaget sekali, akan tetapi mereka menjadi marah<BR>ketika mendapat kenyataan bahwa yang menyerang mereka tadi hanyalah<BR>seorang gadis muda. Berbareng mereka mencabut pedang dan siap menerjang<BR>dua orang gadis itu. Gadis yang memegang sutera hitam itu tersenyum<BR>mengejek, sedangkan gadis kedua juga tiba-tiba menggerakkan tangan dan<BR>tahu-tahu sebatang pedang tipis tajam telah berada di tangannya.<BR>"Hi-hik, kalian ini dua ekor keledai tua apakah sudah bosan hidup? Cu-cici<BR>(Kakak Cu), mari kita basmi dua ekor keledai yang sudah berani kurang ajar<BR>terhadap Paman Hong ini!"<BR>Kun Hong segera mengenal gadis pertama, seorang gadis lincah jenaka dan<BR>cantik yang bermata seperti bintang pagi. Teringatlah ia ketika ia dahulu<BR>dikerek oleh gadis ini ke atas pohon mempergunakan sabuk sutera hitam itu.<BR>"Eh... eh... kau... anak nakal... jangan berkelahi!" katanya mencegah.<BR>Sementara itu, Hwa-i Lo-kai juga mernbentak kedua orang pembantunya,<BR>"Beng-lokai dan Sun-lokai, harap kalian mundur dan simpan senjata!"<BR>Suaranya berpengaruh dan tegas sehingga dua orang pembantunya yang<BR>masih penasaran itu tidak berani membantah lagi, dengan muka keruh mereka<BR>segera mundur.<BR>Sementara itu, Kun Hong memandang kepada gadis-gadis itu, memandang<BR>heran dan keningnya berkerut. Ia mengenal gadis pertama yang dalam<BR>anggapannya adalah seorang gadis yang berwatak nakal dan jahat, suka<BR>berkelahi dan kejam. Ia merasa kuatir kalau-kalau kedatangan gadis ini lagilagi<BR>akan mendatangkan bencana, bunuh membunuh antara sesama manusia<BR>seperti yang ia saksikan di Hoa-san dahulu itu. Akan tetapi ia jaga heran<BR>mengapa gadis itu tadi menyebutnya sebagai pamannya!<BR>"Eh, Nona yang nakal, bagaimana kau sampai tersesat ke tempat ini dan sejak<BR>kapan aku menjadi pamanmu?" tegurnya dengan suara galak.<BR>Gadis itu yang bukan lain adalah Kui Li Eng, berseri mukanya, matanya<BR>bercahaya jenaka dan ia tidak menjawab, melainkan ia menoleh kepada gadis<BR>ke dua yang bukan lain adalah Thio Hui Cu. "Cu-cici, benar tidak ceritaku?<BR>Paman Hong ini orangnya lucu, aneh dan keberaniannya membuat aku<BR>terheran-heran. Seorang yang tidak memiliki kepandaian silat, berani<BR>merantau sampai ke sini, malah baru saja kita lihat tadi dia dikejar-kejar dua<BR>ekor keledai, tapi sedikit pun tidak takut. Agaknya disamping kelucuan dan<BR>keanehannya, dia pun memiliki nyawa rangkap."<BR>Hui Cu yang alim dan pendiam menyembunyikan senyumnya, hanya sekilas<BR>berani menatap wajah Kun Hong, lalu mengalihkan pandangnya.<BR>"Hee, jangan kau memperolok aku! Kau belum menjawab pertanyaanku. Sejak<BR>kapan dan berdasarkan apa kau mengaku sebagai, keponakanku?"<BR>Senyum Li Eng melebar, membuat wajahnya yang jelita itu makin manis dan<BR>ramah. Akan tetapi di balik keramahan dan kejenakaannya tersembunyi sifat<BR>nakal yang terpancar keluar dari sepasang matanya.<BR>"Paman Hong yang tercinta...."<BR>"Hush....!" Merah muka Kun Hong. "Bicara yang benar jangan berolok-olok!"<BR>"Kau memang pamanku sejak aku lahir dan berdasarkan kenyataan bahwa<BR>ayahmu adalah kakek guruku. Kau anaknya, kalau bukan pamanku habis<BR>apaku? Bukan hanya aku, malah Cici Hui Cu ini pun keponakanmu, karena dia<BR>adalah anak tunggal dari Supek (Uwa Guru) Thio Ki."<BR>Kun Hong sampai meloncat-loncat saking kaget, heran, dan bingungnya. "Apa<BR>kaubilang? Mana bisa Suko (kakak Seperguruan) Thian Beng Tosu mempunyai<BR>anak?"<BR>Li Eng terkikik sambil menutupi mulutnya. "Tentu saja yang beranak bukan<BR>Supek melainkan isterinya, hi-hi-hik."<BR>Hui Cu tak dapat menahan geli hatinya, ditutupnya mulutnya yang kecil<BR>dengan tangan kanan. "Ih, Eng-moi, jangan bicara tidak karuan."<BR>Juga muka Kun Hong tampak bodoh, matanya terbelalak lebar. Ia benar-benar<BR>tidak mengerti. Memang banyak hal yang tidak ia mengerti, di antaranya<BR>adalah tentang riwayat sukonya itu, tidak tahu sama sekali bahwa sukonya<BR>yang dahulu bernama Thio Ki itu pernah punya isteri.<BR>"Jangan kau main-main! Apakah sepeninggalku dari Hoa-san Suko telah<BR>menikah?"<BR>Kembali Li Eng menoleh kepada Hui Cu, "Kaulihat, Cici. Alangkah lucunya. Di<BR>samping lucu aneh dan berani, juga ininya... kurang sekali." Ia menunjuk ke<BR>arah dahinya yang halus untuk menyindirkan tentang kebodohan Kun Hong.<BR>"Paman Hong, nanti kalau sudah pulang, kau akan mendengar sendiri<BR>semuanya. Pendeknya, Cici Cu ini adalah anak tunggal dari Supek Thian Beng<BR>Tosu."<BR>Bukan main girangnya hati Kun Hong. Dia memang masih mempunyai sifat<BR>kekanak-kanakan di samping pengetahuannya yang mendalam tentang iimu<BR>kebatinan dan filsafat yang membuatnya kadang-kadang bicara seperti<BR>seorang kakek-kakek. Mendengar ini, saking girangnya ia melompat ke depan<BR>memegang pundak Hui Cu. Dipandangnya muka nona itu dan berkatalah dia<BR>kegirangan.<BR>"Aduh senangnya....! Aku mempunyai keponakan dan tahu-tahu sudah begini<BR>besar, begini... eh, cantik dan manisnya, Kau bernama Hui Cu? Tentu namamu<BR>Hui Cu... tapi kenapa kau tidak mirip Suko? Ah? tentu mirip ibumu."<BR>Memang watak Kun Hong aneh bukan main. Dalam keadaan seperti itu, tentu<BR>orang-orang akan menganggap ia gendeng atau setidaknya kurang ajar,<BR>padahal semua itu timbul dari lubuk hatinya yang benar-benar menjadi girang<BR>bukan main. Karuan saja Hui Cu yang alim, pendiam dan pemalu menjadi<BR>merah mukanya, dan ia hanya tersenyum sedikit, memandang sekilas lalu<BR>tunduk dengan telinga merah, apalagi diketawai oleh Li Eng dan malah<BR>mendengar suara ketawa dari banyak pengemis yang hadir di situ.<BR>"Iih, Paman Hong. Kau bikin aku mengiri. Aku bisa marah, lho! Bukan hanya<BR>Enci Cu keponakanmu, aku pun keponakanmu, apa kau lupa?"<BR>Kun Hong melepaskan pegangannya pada kedua pundak Hui Cu, lalu<BR>memandang Li Eng, keningnya berkerut. "Dia ini puteri Suko, tentu saja<BR>seperti keponakanku sendiri. Tapi kau ini, kau bocah nakal, kau anak siapa<BR>berani mengaku sebagai keponakanku?"<BR>Li Eng cemberut. "Sudahlah, kalau kau tidak mau mengakui ayah bundaku,<BR>sudahlah....! Memang orang macam aku mana patut menjadi keponakanmu?"<BR>Hui Cu merangkul Li Eng. "Adik Eng, jangan ngambek. Eh, Paman Hong,<BR>sesungguhnya Eng-moi adalah keponakanmu karena dia adalah puteri tunggal<BR>dari Bibi Thio Bwee dan Paman Kui Lok yang sekarang sudah berkumpul di<BR>Hoa-san-pai."<BR>"Begitukah?" Kun Hong sampai berteriak keras saking girangnya, lalu ia<BR>menyambar tangan Li Eng, ditariknya dan seperti gila ia menari-nari sambil<BR>menggandeng tangan gadis itu mengelilingi lapangan. "Bagus, kau puteri<BR>mereka? Ha, ha, mereka jadinya masih hidup dan sudah kembali ke Hoa-sanpai?<BR>Aduh senangnya!"<BR>"Hish... apa-apaan kau ini, Paman Hong?" Li Eng menjadi malu juga karena ia<BR>dipaksa menari-nari tidak karuan, "Dilihat banyak orang, apa tidak malu? Hayo<BR>kita pergi dari sini, kembali ke Hoa-san. Sukong mengharap-harap<BR>kembalimu."<BR>Kun Hong melepaskan gandengannya. "Aku pun hendak kembali, apalagi<BR>sekarang setelah semua berada di sana." Kun Hong lalu menoleh kepada Sineng-<BR>cu Lui Bok yang sejak tadi hanya melihat dan mendengarkan sambil<BR>tersenyum-senyum gembira.<BR>Terhadap kakek ini Kun Hong menjura dan berkata, "Susiok, perkenankan<BR>teecu pergi, karena teecu harus kembali ke Hoa-san."<BR>Sin-eng-cu Lui Bok tersenyum dan berkata, "Pulanglah, Kun Hong dan<BR>berbahagialah kau. Aku pun akan mencapai kebahagiaan di puncak Bukit<BR>Kepala Naga, mendekati mendiang Suheng yang bijaksana." Setelah berkata<BR>demikian, Sin-eng-cu Lui Bok berjalan membungkuk-bungkuk sambii<BR>memutar-mutar tongkatnya, biarpun kelihatannya jalan seenaknya, namun<BR>sebentar saja ia sudah lenyap dari pandangan mata.<BR>Kun Hong berpaling kepada Hwa-i Lo-kai dan menjura.<BR>"Pangcu, harap maafkan kalau kedatanganku ini mengganggu urusanmu.<BR>Setelah Susiok pergi, urusan antara dia dan Pangcu sudah habis, perkara<BR>pemilihan ketua terserah kepadamu." Ia menoleh kepada Li Eng dan Hui Cu<BR>dan berkata gembira,<BR>"Hayo, anak-anak! Hui Cu dan... eh, kau yang nakal siapa namamu?"<BR>Dua orang gadis itu menutupi mulut dengan geli melihat sikap Kun Hong yang<BR>lucu dan tolol ini. "Paman Hong, namaku Kui Li Eng, jangan lupa lagi!"<BR>"Hayo kita pergi dari sini!" kata lagi Kun Hong.<BR>Akan tetapi Hwa-i Lo-kai segera melangkah maju dan menjura sambil berkata,<BR>"Nanti dulu, Siauw-sicu. Aku atas nama Hwa-i Kai-pang menerima usul<BR>Locianpwe Lui Bok tadi untuk menyerahkan Hwa-i Kai-pang ke dalam<BR>bimbinganmu. Aku mengangkat kau sebagai ketua baru dari Hwa-i Kai-pang!"<BR>Sin-cio The Kok atau Hwa-i Lokai adalah seorang yang amat luas<BR>pandangannya.<BR>Memang ia bercita-cita membuat perkumpulan Hwa-i Kai-pang menjadi<BR>perkumpulan yang kuat dan sekarang ia melihat ke sempatan yang amat baik<BR>untuk memperkuat perkumpulannya itu. Pemuda ini terang adalah seorang<BR>luar biasa, sungguhpun kelihatannya tidak memiliki kepandaian ilmu silat,<BR>namun memiliki pribadi tinggi dan pengetahuan luas. Apalagi yang<BR>mengusulkan supaya pemuda ini diangkat menjadi ketua adalah seorang tokoh<BR>besar, yaitu Sin-eng-cu Lui Bok yang ternyata masih susiok pemuda ini.<BR>Sekarang, melihat sepak terjang dua orang gadis itu, jelas bahwa pemuda ini<BR>selain murid keponakan Sin-eng-cu Lui Bok, kiranya masih mempunyai<BR>hubungan erat dengan Hoa-san-pai. Kalau Hwa-i Kai-pang dapat mengangkat<BR>pemuda ini menjadi ketua, bukankah berarti bersekutu dengan Sin-eng-cu dan<BR>Hoa-san-pai sehingga menjadi amat kuat?<BR>Di lain pihak, Kun Hong gelagapan dan bingung setengah mati mendengar<BR>ucapan kakek itu. Ia mengangkat tangan dan menggerak-gerakkan tangannya<BR>tanda menolak. "Tidak bisa... tidak bisa, Pangcu. Aku yang bodoh mana bisa<BR>menjadi Ketua Hwa-i Kai-pang?"<BR>Pada saat itu terdengar suara Coa-lokai yang keras dan kasar, "Saudarasaudara<BR>para anggauta Hwa-i Kai-pang yang masih setia kepada Hwa-i Lo-kai,<BR>hayo kita lekas berlutut memberi hormat kepada pangcu yang baru!" Pengemis<BR>tinggi besar itu segera menjatuhkan diri berlutut di depan Kun Hong, di<BR>belakangnya banyak sekali para pengemis ikut berlutut. Hanya beberapa orang<BR>pengemis yang berpihak kepada Beng-lokai dan Sun-lokai tidak mau berlutut,<BR>hanya memandang kepada dua orang pemimpin mereka yang berdiri dengan<BR>muka merah. Kun Hong makin gugup, apalagi ketika melihat Hwa-i Lo-kai<BR>sendiri menjura dan mengangguk-angguk berkali-kali. Ketika ia memandang<BR>kepada Coa-lokai yang memelopori para anggauta itu, ia melihat wajah<BR>pengemis tua ini berpeluh, dan jelas, kelihatan ia menderita rasa sakit yang<BR>hebat, sedangkan lengan pergelangan membengkak. Teringatlah ia betapa<BR>dalam membela ketuanya, pengemis ini tadi terluka oleh Sin-eng-cu Lui Bok.<BR>Ia segera memberi isyarat dengan tangannya, berkata,<BR>"Lo-kai, kau ke sinilah!"<BR>Dengan sikap hormat dan juga terheran-heran Coa-lokai bangkit dan<BR>menghampiri Kun Hong, Pemuda ini tanpa ragu-ragu lagi lalu memegang<BR>lengan kanan Coa-lokai. Beberapa kali memijat saja tahulah Kun Hong bahwa<BR>tulang lengan itu tidak patah, melainkan terlepas sambungannya. Memang<BR>semenjak ia membaca kitab pelajaran ilmu pengobatan dari Toat-beng Yokmo,<BR>pengetahuannya tentang luka dalam dari segala macam penyakit menjadi<BR>luar biasa sekali.<BR>"Untung Susiok tadi masih menaruh kasihan kepadamu," katanya perlahan.<BR>"Lain kali jangan kau memandang rendah orang seperti dia, Lo-kai." Ia<BR>memijat sana menotok sini dan sebentar saja sambungan tulang pergelangan<BR>itu telah baik kembali dan lengan itu mengempis lagi. "Masukkan tanganmu<BR>yang ini ke dalam saku dan jangan digerak-gerakkan selama sehari semalam.<BR>Tentu akan sembuh kembali."<BR>Tidak hanya Coa-lokai yang kegirangan dan terheran-heran, namun semua<BR>orang di situ terheran-heran, termasuk Li Eng dan Hui Cu.<BR>"Terima kasih banyak atas pertolongan Pangcu," kata Coa-lokai sambil<BR>melangkah mundur.<BR>"Aku bukan ketuamu, ketuamu adalah Hwa-i Lo-kai itulah," kata Kun Hong.<BR>"Tidak, kaulah Pangcu yang baru, Siauw-sicu. Dan inilah tanda ketua, harap<BR>kau sudi menerimanya dariku." Hwa-i Lo-kai lalu mengeluarkan sebatang<BR>tongkat kecil yang berlukiskan kembang-kembang indah, diangsurkan kepada<BR>Kun Hong.<BR>Tentu saja Kun Hong tidak mau menerimanya. "Jangan, Pangcu. Aku tidak<BR>berani menerimanya. Kau tetaplah menjadi Pangcu atau pilihlah di antara<BR>pembantumu. Aku akan pulang ke Hoa-san."<BR>Berkerut kening Hwa-i Lo-kai dan wajah kakek ini menjadi pucat. "Sicu, ada<BR>satu peraturan yang kami pegang keras, yaitu apabila kami dihina, kami harus<BR>mempertahankan nyawa untuk menebus hinaan. Penolakanmu terhadap<BR>pemilihan ketua merupakan penghinaan bagi kami. Akan tetapi, karena kau<BR>adalah seorang mulia dan budiman yang telah menolong nyawaku dari<BR>ancaman mati di tangan Sin-eng-cu, bagaimana aku dapat berbuat dosa<BR>terhadapmu? Karena itu, apabila kau tetap menolak untuk menerima tawaran<BR>kami menjadi Pangcu dari Hwa-i Kai-pang, aku tua bangka akan membunuh<BR>diri di depan kakimu untuk menebus penghinaan ini dan selanjutnya tentang<BR>Hwa-i Kai-pang kuserahkan kepadamu!" Setelah berkata demikian, kakek itu<BR>mencabut pedangnya, siap untuk melakukan pembunuhan diri.<BR>"Heeiii, jangan...!" Kun Hong maju dan memegang lengan Ketua itu yang<BR>memegang pedang, "Sabarlah, Pangcu... wah, bagaimana ini baiknya? Kau<BR>tidak boleh membunuh diri!"<BR>"Kalau Sicu menolak, terpaksa aku membunuh diri menebus penghinaan."<BR>bagian 52<BR>Kun Hong memutar otaknya dan pemuda yang cerdik ini sudah mendapat<BR>jalan.<BR>"Baiklah... baiklah, kausimpan dulu pedangmu."<BR>Dengan muka girang Hwa-i Kai-pang menyimpan pedangnya dan memberikan<BR>tongkat kecil itu. Terpaksa Kun Hong menerimanya dan para pengemis<BR>anggauta Hwa-i Kai-pang bersorak girang, kecuali mereka yang tidak setuju.<BR>"Begini Hwa-i Lo-kai. Setelah aku menjadi ketua, tentu semua anggauta Hwa-i<BR>Kai-pang, termasuk kau sendiri, akan taat dan menurut perintahku, bukan?"<BR>"Tentu saja, biarpun disuruh menyerbu ke dalam lautan api, kami akan taat<BR>terhadap perintah pangcu" kata Hwa-i Lo-kai penuh semangat.<BR>"Nah, bagus! Sekarang perintahku yang pertama. Aku mengangkat kau<BR>menjadi Ji-pangcu (ketua ke dua) yang mewakili aku memimpin Hwa-i Kaipang<BR>jika aku tidak berada di sini. Kau boleh memilih pembantu sendiri , dan<BR>selama aku tidak berada di sini, kaulah yang menjadi wakilku dengan kuasa<BR>sepenuhnya. Sekarang aku mempunyai keperluan penting sekali, harus<BR>kembali ke Hoa-san, maka kaulah yang menjadi wakilku untuk sementara."<BR>Semua orang tahu belaka bahwa ini adalah akal pemuda itu, akan tetapi<BR>karena merupakan perintah, tentu saja tidak ada yang berani membantah.<BR>"Tentu saja Lo-kai taat terhadap perintah Pangcu, akan tetapi harap saja<BR>Pangcu tidak menganggap ini sebagai main-main dan jangan menegakan kami<BR>Hwa-i Kai-pang," kata kakek itu.<BR>Li Eng adalah seorang gadis yang banyak pengertiannya tentang kang-ouw,<BR>maka ia segera berkata kepada Hwa-i Lo-kai, "Lo-kai, harap kaumaklumi<BR>keadaan Pamanku ini. Ketahuilah, dia adalah putera tunggal dari Ketua Hoasan-<BR>pai, sebelum menerima ijin ayahnya, mana dia berani berdiam di sini<BR>menjadi ketua Hwa-i Kai-pang?"<BR>Hwa-i Lo-kai nampak terkejut. Memang sama sekali ia tidak menduga bahwa<BR>pemuda ini adalah putera Ketua Hoa-san-pai! Akan tetapi Kun Hong sudah<BR>menerima tongkat dan sudah menjadi Ketua Hwa-i Kai-pang, maka diam-diam<BR>ia menjadi makin girang.<BR>"Ah, kiranya Pangcu kita yang baru adalah putera Hoa-san-pai Ciang-bunjin!<BR>Tentu saja perintah Pangcu kami taati dan kami harap saja setelah tiba di Hoasan<BR>dengan selamat, lain kali Pangcu memerlukan membuang waktu untuk<BR>menengok keadaan kami."<BR>Kun Hong girang. Ia menganggap bahwa akalnya berhasil. Hanya namanya<BR>saja menjadi ketua, apa salahnya? Ia mengangguk-angguk dan tersenyum.<BR>Akan tetapi dengan marah Beng-lokai dan Sun-lokai melompat maju. Benglokai<BR>dan Sun-lokai ini tadinya masih tidak berani banyak tingkah ketika Sineng-<BR>cu Lui Bok masih berada di situ karena maklum akan kelihaian kakek itu.<BR>Akan tetapi sekarang setelah kakek itu pergi, mereka tidak takut lagi, lebihlebih<BR>karena memang mereka ini mempunyai pendukung-pendukung di<BR>belakang mereka.<BR>"Tidak adil sekali keputusan ini!" seru Sun-lokai.<BR>"Aku tidak setuju kalau ketua baru dipilih orang luar!" seru Beng-lokai.<BR>"Kalau Pangcu hendak mengundurkan diri, seharusnya yang menjadi calon<BR>adalah kami bertiga lo-kai, dan di antara kami bertiga dipilih yang paling cakap<BR>untuk menjadi ketua baru. Kenapa sekarang memilih seorang bocah luar yang<BR>masih ingusan? Aku tidak setuju akan keputusan ini!" kata pula Sun-lokai.<BR>"Betul sekali ucapan Sun-lokai. Aku pun tidak mau terima, kalau bocah tolol ini<BR>dapat memecahkan dadaku, baru aku mau mengakui Ketua Hwa-i Kai-pang!<BR>Eh, bocah sombong, hayo maju dan lawanlah aku!" Beng-lokai menantang.<BR>"Hayo, perlihatkan kegagahanmu, kalau kau memang laki-laki!" tantang pula<BR>Sun-lokai dan dua orang kakek itu sudah mencabut pedang masing-masing.<BR>"Aku tidak bisa berkelahi, juga tidak mau berkelahi, Ji-wi Lo-kai harap sabar<BR>dan mundur karena mulai sekarang Ji-wi kuanggap bukan pengurus Hwa-i Kaipang<BR>lagi. Aku tidak mau melihat pengurus atau anggauta Hwa-i Kai-pang<BR>yang suka berkelahi dan kelihatan sekali hasratnya untuk memperebutkan<BR>pangkat dan kedudukan. Ji-wi akan memberi contoh yang buruk kepada para<BR>anggauta. Harap Ji-wi mundur."<BR>Bukan main marahnya Beng-lokai. Terang-terangan mereka dipecat! "Kau...<BR>kau...!" Beng-lokai hendak memaki akan tetapi saking marahnya tidak ada<BR>kata-kata keluar dari mulutnya, sedangkan Sun-lokai maju dengan sikap<BR>mengancam.<BR>Hwa-i Lo-kai membentak, "Beng-lokai dan Sun-lokai, kalian sudah mendengar<BR>perintah Pangcu. Mulai saat ini kalian bukan pembantu pengurus dan<BR>dikeluarkan dari keanggautaan. Lepaskan tali-tali putih dari pinggang kalian."<BR>Muka dua orang pengemis itu menjadi pucat saking marahnya, tanpa berkata<BR>sesuatu mereka melepaskan ikat pinggang putih tujuh helai dari pinggang<BR>masing-masing, kemudian dengan suara lantang mereka berkata kepada Kun<BR>Hong,<BR>"Kami sekarang sebagai orang luar menantang kepada ketua baru dari Hwa-i<BR>Kai-pang untuk mengadu kepandaian. Kalau tidak berani, maka ketua baru<BR>dari Hwa-i Kai-pang hanyalah seorang pengecut hina...." Yang mengeluarkan<BR>kata-kata ini adalah Beng-lokai dan terpaksa ia berhenti karena tiba-tiba Hui<BR>Cu sudah berdiri di depannya dengan pedang di tangan.<BR>"Keparat bermulut kotor!" gadis ini membentak dengan suara nyaring dan<BR>mata berapi-api, "Manusia, tak tahu diri, pamanku sengaja mengalah<BR>kepadamu akan tetapi malah membuat kepalamu membesar dan mulutmu<BR>melebar. Siapa sih yang takut kepada manusia macammu? Biar ada sepuluh<BR>orang macam kau, majulah semua dan tidak usah Paman Hong menggerakkan<BR>tangan biar yang sepuluh itu dilawan oleh aku seorang!"<BR>"Hi-hik!" Li Eng mengeluarkan suara ketawa ditahan. "Biasanya Enci Cu<BR>pendiam dan penyabar, sekarang mendadak pintar memaki dan mudah<BR>marah!"<BR>Kun Hong yang kuatir kalau-kalau keponakannya mencari gara-gara, segera<BR>maju dan berkata kepada Hui Cu, "Hui Cu, jangan kau sembarangan<BR>membunuh orang. Aku larang kau membunuh orang!!"<BR>Hui Cu mengerling sekilas ke arah Kun Hong sambil menjawab, "Paman Hong,<BR>yang begini ini sebetulnya tak patut disebut orang dan kalau tidak dibunuh<BR>hanya akan mengotori dunia. Akan tetapi karena kau melarang, baiklah, aku<BR>takkan membunuhnya, cukup membikin dia bertobat."<BR>Tentu saja Beng-lokai menjadi makin marah. Orang bicara seenaknya saja<BR>tentang dirinya, seakan-akan dia ini seekor tikus saja. Dan yang bicara hanya<BR>seorang gadis muda yang lebih patut disebut kanak-kanak. Ia mengeluarkan<BR>suara menggereng,<BR>"Ketua baru benar pengecut! Tidak berani maju sendiri mengandalkan<BR>wanita...."<BR>"Plakk!" Entah bagaimana, tahu-tahu tangan kiri Hui Cu telah menampar pipi<BR>kanan Beng-lokai, membuat kakek ini sempoyongan dan meraba pipinya yang<BR>sudah menjadi bengkak. Matanya melotot, mukanya merah dan napasnya<BR>berat, tanda bahwa kemarahannya sudah memuncak. Saking marahnya ia<BR>sampai tidak memperhitungkan bahwa dengan gerakannya tadi Hui Cu sudah<BR>memperlihatkan kelihaiannya.<BR>"Hi-hik, Enci Cu. Kalau kau nanti tidak mencuci tanganmu dengan air panas,<BR>aku tidak mau menyentuh tangan kirimu yang berbau keledai!" Li Eng berkata<BR>dan terdengarlah suara ketawa di sana-sini, terutama dari pihak para<BR>anggauta yang tldak suka kepada Beng-lokai. Memang Li Eng seorang gadis<BR>yang berwatak nakal dan pandai bicara.<BR>Beng-lokai yang sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi itu, sudah<BR>menerjang Hui Cu dengan serangan pedangnya. Hui Cu cepat meloncat ke<BR>tengah pelataran dan kakek itu mengejarnya. Di sinilah Hui Cu<BR>memperlihatkan kepandaiannya. Dengan gerakan yang amat indah ia mainkan<BR>pedangnya sehingga Kun Hong yang melihat menjadi melongo. Sebagai putera<BR>pendekar, tentu saja ia seringkali melihat orang bermain pedang, akan tetapi<BR>belum pernah ia melihat permainan pedang yang begini indahnya, seperti<BR>orang menari saja. Beng-lokai juga bermain pedang, akan tetapi dibandingkan<BR>dengan permainan Hui Cu, permainan pedangnya jelek sekali sehingga mereka<BR>merupakan pasangan penari pedang yang tidak seimbang. Hampir lupa Kun<BR>Hong bahwa dua orang itu sama sekali bukannya sedang menari, melainkan<BR>sedang saling serang dan bahwa dua pedang yang berkelebat itu sebetulnya<BR>sedang mengarah nyawa!<BR>Memang indah gerakan pedang Hui Cu. Hal ini tidak aneh kalau diingat bahwa<BR>ibunya, Lee Giok, adalah murid dari Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan dan biarpun<BR>ia belum mewarisi seluruhnya ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut yang hebat dan<BR>indah, sedikit banyak ia telah mewarisi gayanya yang indah seperti orang<BR>menari. Dan tentu saja Lee Giok menurunkan seluruh ilmu pedang dan<BR>kepandaiannya kepada puterinya ini.<BR>Begitu bergerak, Li Eng yang jauh lebih tinggi tingkat ilmu pedangnya itu<BR>maklum bahwa Hui Cu takkan kalah maka ia pun lalu menghampiri Sun-lokai<BR>dan menudingkan telunjuknya ke arah hidung pengemis yang agak bongkok<BR>itu.<BR>"Apa kau juga ingin menantang pamanku? Kalau betul, kau boleh keluarkan<BR>pedangmu dan menyerangku. Aku akan melayanimu dengan sabuk suteraku<BR>ini. Berani tidak kau?" Kata-katanya bernada mengejek sekali sehingga<BR>pengemis tua yang bongkok itu menjadi marah. Biarpun tua dan bongkok,<BR>Sun-lokai mempunyai watak mata keranjang. Menghadapi seorang gadis muda<BR>yang cantik jelita seperti Li Eng, belum apa-apa hatinya sudah berdebar tidak<BR>karuan.<BR>"Li Eng, kau pun tidak boleh membunuh orang!" Dengan hati kecut dan penuh<BR>kekuatiran Kun Hong membentak ke arah Li Eng. Ia sudah tahu akan<BR>kenakalan dan keganasan gadis itu, maka ia benar-benar kuatir kalau-kalau<BR>"keponakan" ini akan menimbulkan kekacauan dan membunuh orang.<BR>Li Eng membalikkan tubuhnya dan membungkuk ke arah Kun Hong dengan<BR>lagak seperti seorang hamba terhadap rajanya sambil berkata, "Hamba<BR>mentaati perintah Paduka Paman Raja!"<BR>Akan tetapi Kun Hong tidak dapat menerima kelakar ini, malah membelalakkan<BR>matanya dan berseru kaget, "Li Eng, awas belakangmu!"<BR>Pada saat Li Eng membelakanginya, Sun-lokai sudah menerjang maju<BR>menusukkan pedangnya ke punggung gadis itu. Hwa-i Lo-kai membentak<BR>marah dan kaget menyaksikan ini, juga semua orang kaget sekali dan mengira<BR>bahwa tusukan yang cepat dan hebat ini pasti ,akan menewaskan Li Eng.<BR>Tapi orang yang dikuatirkan enak saja. Tanpa menoleh Li Eng ,menggerakkan<BR>tangannya dan seperti ada mata tajam di belakang tubuhnya, sabuk sutera<BR>hitam di tangannya menyambar ke belakang dan menangkis tusukan pedang<BR>itu. Para pengemis bersorak gembira menyaksikan kehebatan gadis lincah ini.<BR>Apalagi ketika Li Eng dengan gerakan yang amat lincahnya telah berputar dan<BR>kini sabuk sutera hitam itu berkelebat, mengeluarkan bunyi seperti cambuk<BR>dan bertubi-tubi menyerang semua bagian tubuh yang berbahaya dari Sunlokai!<BR>Pertempuran terbagi menjadi dua bagian. Akan tetapi baik Beng-lokai maupun<BR>Sun-lokai berada di pihak yang terdesak hebat. Juga Beng-lokai amat payah<BR>menghadapi permainan pedang Hui Cu, yang indah namun mempunyai daya<BR>serang yang amat ganas itu. Yang paling celaka adalah Sun-lokai karena<BR>semenjak Li Eng menghadapinya, ia sama sekali ,tidak dapat balas<BR>menyerang, melainkan harus menangkis dan mengelak karena kedua ujung<BR>sabuk hitam itu bagaikan ular-ular hidup menyambar-nyambar cepat sekali.<BR>Akhirnya sabuk itu membelit jari-jari tangan kanannya dan sekali renggut<BR>pedangnya terlepas dari tangannya, jatuh ke atas tanah. Tidak berhenti<BR>sampai di situ saja, ujung-ujung sabuk itu terus memecutinya ke muka, leher,<BR>dan dadanya. Sun-lokai berteriak-teriak kesakitan dan berloncatan sambil<BR>mundur, akan tetapi sabuk itu mengejarnya terus. Bahkan ketika ia<BR>membalikkan tubuh hendak keluar dari lapangan pertempuran, ujung sabuk itu<BR>mengeluarkan bunyi "tar-tar-tar!" melecuti pantatnya, membuat ia<BR>berjingkrak-jingkrak kesakitan! Dan pada saat itu pun Beng-lokai terluka<BR>lengan kanannya sehingga pedangnya terlempar pula.<BR>"Li Eng, Hui Cu, sudah cukup, mundurlah!" Kun Hong membentak, kuatir<BR>kalau-kalau kedua orang gadis itu akan turun tangan terus dan membunuh<BR>orang.<BR>Sambil tertawa-tawa Li Eng menarik kembali sabuknya dan Hui Cu juga tidak<BR>menyerang terus, membiarkan lawannya mundur dengan muka merah padam<BR>kemalu-maluan. Terdengar seruan-seruan memuji dari para pengemis dan<BR>tahulah mereka bahwa dua orang gadis keponakan "ketua baru" itu benarbenar<BR>lihai sekaii, apalagi gadis lincah yang bersenjata sabuk hitam.<BR>"Hwa-i Lok-kai mengandalkan tenaga dari luar menghina anak buah sendiri,<BR>benar-benar bagus!" terdengar beberapa suara orang dan ternyata yang<BR>mengeluarkan suara ini adalah para pemimpin perkumpulan pengemis baju<BR>hijau dan baju merah. "Saudara-saudara, kita golongan pengemis harus<BR>diketuai oleh pengemis pula, mana bisa dipimpin oleh seorang sastrawan muda<BR>jembel? Yang tidak puas dengan pimpinan Hwa-i Kai-pang, boleh datang ke<BR>tempat kami. Pintu kami terbuka lebar-lebar untuk saudara sekalian!"<BR>Hwa-i Lo-kai tidak menjawab, hanya memandang dengan mata tajam ke arah<BR>para rombongan tamu yang berangsur-angsur bergerak meninggalkan tempat<BR>itu tanpa pamit lagi. Yang membikin hatinya panas dan kecewa adalah ketika<BR>ia melihat Beng-lokai, diikuti oleh banyak pengemis Hwa-i Kai-pang, pergi pula<BR>meninggalkan tempat itu untuk menggabung kepada perkumpuanperkumpulan<BR>lain.<BR>"Hwa-i Lo-kai harap jangan berduka," kata Kun Hong yang dapat melihat<BR>keadaan hati orang dan dapat menduga pula apa sebabnya. "Dua orang lokai<BR>itu memang mempunyai hati yang bengkok terhadap Hwa-i Kai-pang. Karena<BR>mereka tidak mempunyai harapan untuk menjadi ketua di sini, mereka pergi<BR>ke perkumpulan lain. Biarlah, orang-orang yang tidak setia kepada<BR>perkumpulan sendiri, berarti mempunyai watak yang tidak jujur dan lebih baik<BR>kalau perkumpulan ini dijauhi orang-orang seperti itu. Sekarang aku minta diri,<BR>Lo-kai, karena aku harus pulang ke Hoa-san."<BR>Hwa-i Lo-kai dan Coa-lokai membujuk agar Kun Hong dan dua orang gadis itu<BR>suka tinggal di situ beberapa hari lagi akan tetapi Kun Hong tetap menolaknya.<BR>Akhirnya Hwa-i Lo-kai terpaksa melepaskan mereka pergi setelah memberi<BR>bekal roti kering, potongan perak dan tiga ekor kuda yang bagus kepada ketua<BR>baru bersama dua orang keponakannya itu.<BR>Baru saja tiga orang muda itu sampai di luar dusun menunggangi kuda<BR>mereka, tiba-tiba Kun Hong memberi tanda berhenti. Hui Cu dan Li Eng segera<BR>menahan kuda masing-masing.<BR>"Hui Cu, Li Eng, mari kita turun. Aku tidak suka menunggang kuda," kata Kun<BR>Hong.<BR>Dua orang gadis itu saling pandang dengan heran. Li Eng tentu saja segera<BR>membantah. "Paman Hong ini bagaimana sih? Perjalanan kita amat jauh,<BR>menunggang kuda saja belum tentu bisa sampai tiga empat bulan. Sudah ada<BR>kuda pada kita, bagaimana sekarang hendak turun lagi?"<BR>"Kau anak kecil tahu apa?" Kun Hong membentak. "Tiga ekor kuda ini<BR>harganya tentu tidak murah. Hwa-i Kai-pang lebih membutuhkannya daripada<BR>kita. Kita masih muda, mempunyai sepasang kaki dan bisa berjalan, kalau<BR>perlu bisa lari. Kuda ini kita kembalikan saja."<BR>"Ah, Susiok (Paman Guru) aneh sekali... orang sudah memberikan kepada<BR>kita, kenapa hendak dikembalikan? Kalau memang tidak suka, kenapa tadi<BR>tidak ditolak saja?" lagi-lagi Li Eng membantah dengan bibir semberut.<BR>Akan tetapi Kun Hong tidak mempedulikan protes gadis lincah itu dan<BR>kebetulan sekali dari depan tampak seorang pengemis baju kembang lewat di<BR>jalan itu. Kun Hong segera memanggiinya dan pengemis ini segera datang<BR>dengan membungkuk-bungkuk memberi hormat karena ia pun mengenal<BR>ketua baru ini bersama dua orang keponakannya yang lihai.<BR>"Pangcu hendak memerintah apakah?" tanyanya.<BR>"Lo-kai, kau tuntunlah tiga ekor kuda ini dan kembalikan kepada Hwa-i Lo-kai,<BR>katakan bahwa kami bertiga hendak melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki<BR>saja. Nah, cepat bawalah."<BR>Sejenak pengemis itu terlongong, akan tetapi ia tidak berani membantah lalu<BR>dituntunnya tiga ekor kuda itu kembali ke tempat semula, yaitu di kaki<BR>Pegunungan Tapie-san.<BR>Ada pun Kun Hong mengajak dua orang keponakannya melanjutkan<BR>perjalanan.<BR>"Li Eng, kau jangan cemberut saja. Kau memang rewel, tidak seperti Hui Cu<BR>yang pendiam dan manis," kata Kun Hong.<BR>Makin meruncing bibir Li Eng. "Kau memang tidak tahu disayang orang! Aku<BR>rewel dan cerewet bukan untuk diriku sendiri. Bagi aku dan Cici Hui Cu, jalan<BR>kaki apa sukarnya? Kami memiliki ilmu berlari cepat dan kiranya tidak akan<BR>kalah cepat dengan larinya kuda. Akan tetapi bagaimana dengan kau, Paman<BR>Hong? Kau tentu tidak kuat berjalan jauh, lagi pula jalanmu perlahan-lahan.<BR>Perjalanan kita masih jauh sekali, kalau menuruti kau berjalan seperti siput,<BR>sampai bertahun-tahun kita takkan bisa pulang ke Hoa-san!"<BR>Kun Hong tersenyum menggoda. "Biar sampai sepuluh tahun, melakukan<BR>perjalanan bersama kalian berdua aku takkan menjadi bosan."<BR>"Iihhh, dasar...." Li Eng melerok.<BR>Hui Cu yang sejak tadi diam saja sekarang berkata kepada Kun Hong tanpa<BR>berani memandang wajah pemuda itu, "Paman agaknya belum tahu bahwa<BR>kita tidak akan menuju ke Hoa-san karena kami berdua memang diberi tugas<BR>oleh Sukong untuk pergi ke Thai-san."<BR>"Heee....?? Ke Thai-san? Bukankah Thai-san itu tempat tinggal pendekar sakti<BR>Tan Beng San Taihiap yang dipuji-puji oleh Ayah dan katanya menjadi Raja<BR>Pedang?" Kun Hong bertanya dengan tercengang.<BR>"Kalau dia raja, kau pun raja, Paman Hong," kata Li Eng sudah gembira<BR>kembali dari kecewanya kehilangan kuda. "Cuma bedanya, kalau Tan Beng<BR>San Tai-hiap itu Raja Pedang, kau adalah raja pengemis!"<BR>bagian 53<BR>Senang hati Kun Hong melihat gadis lincah itu tidak marah lagi karena<BR>kehilangan kuda. "Bagus, bagus, kau pun hanya menjadi keponakan raja<BR>pengemis, Li Eng, jangan main-main lekas ceritakan betulkah kita akan ke<BR>Thai-san dan ada keperluan apakah Ayah menyuruh kalian ke sana?"<BR>Li Eng menjura dengan tubuh membungkuk dalam. "Baiklah, Paman Raja.<BR>Hamba tidak berani main-main lagi. Hamba berdua diperintah pergi ke Thaisan<BR>untuk melihat apakah benar Sang Puteri dari Raja Pedang betul-betul<BR>cantik jelita dan gagah perkasa seperti yang disohorkan orang dan kalau betul<BR>begitu, hamba berdua disuruh... eh, melamar untuk Paduka Paman Raja."<BR>"Iihh, Adik Eng! Terlalu sekali kau mempermainkan Susiok!" Hui Cu menegur.<BR>Li, Eng tersenyum lebar dan memandang kepada Kun Hong sambil berkata,<BR>"Apa salahnya, Cu-cici? Kalau bukan pamannya yang baik, yang sabar, yang<BR>budiman dan bijaksana, masa aku berani monggoda dan main-main. Betul<BR>tidak, Susiok?" pandang matanya dan senyumnya menjadi amat manja<BR>sehingga tak mungkin orang dapat marah kepada gadis remaja yang<BR>menggemaskan dan lucu ini.<BR>Untuk sejenak Kun Hong melongo memandang tingkah Li Eng yang amat<BR>menarik hatinya ini. Kemudian ia menarik napas panjang dan berkata,<BR>"Sudahlah, memang sejak dahulu Li Eng suka menggoda orang. Hui Cu, coba<BR>kauceritakan dengan jelas apa maksud kalian ke Thai-san."<BR>Sambil berjalan perlahan Hui Cu bercerita, "Sukong mendapat kabar bahwa<BR>Tan-taihiap di Thai-san-pai hendak meresmikan pendirian Thai-san-pai sebagai<BR>perkumpulan persilatan baru di dunia kang-ouw. Peresmian ini disertai pesta<BR>dan banyak tokoh-tokoh di dunia kang-ouw diundang. Sukong sendiri tidak<BR>bisa pergi, maka mengutus kami berdua pergi ke Thai-san dan menyampaikan<BR>selamat serta barang sumbangan. Karena waktunya masih lama, kami berdua<BR>sengaja mengambil jalan ini dengan maksud melihat-lihat di kota raja lebih<BR>dulu. Siapa kira di sini bertemu dengan Susiok."<BR>"Dicari-cari setengah mampus ke mana-mana tidak bisa bertemu, sampai<BR>Sukong menjadi berkuatir sekali. Hampir dua tahun Susiok pergi tak berbekas,<BR>kami pun sudah beberapa kali mencari ke segala penjuru dunia tanpa hasil.<BR>Eh, sekarang tahu-tahu nongol di sini!" Li Eng berkata sambii menggelenggeleng<BR>kepalanya. "Siapa tidak menjadi gemas?"<BR>Kun Hong kelihatan gembira bukan main. "Bagus, bagus!" ia bertepuk tangan.<BR>"Aku pun hendak ikut ke Thai-san. Dan kebetulan sekali, aku juga memang<BR>ingin melihat-lihat kota raja, sekarang ada kalian berdua menjadi teman, wah,<BR>senang sekali!"<BR>"Tapi kita tidak boleh terlalu lama di kota raja, Susiok. Jangan sampai kita<BR>terlambat tiba di Thai-san," kata Hui Cu mengingatkan. Gadis ini jarang bicara<BR>dan kalau sudah bicara selalu serius, tidak pernah main-main seperti Li Eng<BR>yang jenaka.<BR>Kun Hong mengerutkan keningnya. "Berapa jauhnya sih Thai-san dari sini?"<BR>"Kalau jalan kaki biasa sedikitnya satu bulan baru sampai," jawab Hui Cu.<BR>"Kalau kami berlari cepat, seminggu juga sampai," sambung Li Eng. "Tapi<BR>Paman Hong mana bisa lari cepat?"<BR>"Ah, begitu dekat? Sehari juga sampai kalau naik kim-tiauw...." tiba-tiba Kun<BR>Hong menghentikan kata-katanya karena teringat bahwa ia telah bicara<BR>terlanjur. Saking kagetnya ia menutupi mulut dengan tangan sendiri.<BR>Dua orang gadis itu memandang heran, malah Li Eng tidak main-main lagi,<BR>melainkan memandang tajam penuh selidjk. "Apa maksudmu, Susiok?<BR>Kaubilang tadi menunggang kim-tiauw? Apakah kau bertemu dengan rajawali<BR>emas?" tanya Hui Cu, mukanya berubah.<BR>Li Eng memegang tangan Kun Hong. "Paman Hong, di mana kau melihat<BR>rajawali emas? Di mana? Lekas beritahukan, di mana ada burung itu, tentu<BR>ada dia!"<BR>Kun Hong menyesal sekali mengapa ia membuka rahasianya. Akan tetapi<BR>karena sudah terlanjur, apa boleh buat. "Pantas kalian terheran-heran,<BR>Memang di dunia ini tidak ada keduanya burung rajawali seindah itu, dengan<BR>bulunya berkilauan kuning keemasan dan sepasang matanya seperti kumala.<BR>Kalian tahu, malah burung rajawali emas itu memakai kalung mutiara yang<BR>indah!"<BR>"Di maha dia? Di mana....?" Dua orang gadis itu bertanya mendesak,<BR>nampaknya tidak sabar lagi. Hal ini tidak mengherankan kalau keduanya<BR>memang sudah mendengar tentang Kwa Hong dan rajawali emasnya dan<BR>mereka menganggap Kwa Hong sebagai musuh besar yang telah menghina<BR>dan menyusahkan kedua orang tua mereka.<BR>"Aaah, kalian ini anak-anak perempuan. Baru mendengar tentang mutiara<BR>indah saja sudah begini ribut. Apa kalian kira akan dapat dengan mudah saja<BR>mengambil kalung mutiara itu? Rajawali emas itu hebat sekali, bahkan Toatbeng<BR>Yok-mo saja tidak mampu menandinginya."<BR>Dua orang gadis itu saling pandang lagi, nampak terheran. "Paman Hong,<BR>apakah kau bertemu pula dengan Toat-beng Yok-mo? Dan setelah bertemu<BR>dengan rajawali emas, tentu kau telah bertemu pula dengan... iblis betina itu?"<BR>tanya Hui Cu, suaranya sungguh-sungguh.<BR>"Iblis apa? Aku tidak pernah bertemu dengan iblis, iblis betina maupun iblis<BR>jantan," jawab Kun Hong, heran mendengar pertanyaan Hui Cu ini.<BR>"Hong-susiok, ceritakanlah semua pengalamanmu itu, ceritakan tentang<BR>pertemuanmu dengan rajawali emas, Aku ingin sekali mendengarnya," kata<BR>pula Li Eng sambil menggandeng tangan kanan pemuda, itu.<BR>"Kalian ingin mendengar? Baik, Hui Cu, ke sinilah dekat-dekat!" Ia<BR>menggunakan tangan kirinya untuk menggandeng tangan Hui Cu sehingga<BR>mereka bertiga berjalan perlahan sambil bergandengan tangan. Kun Hong<BR>merasa gembira sekali dan dianggapnya bahwa dua orang keponakannya ini<BR>benar-benar menyenangkan dan amat manis budi. Dahulu ia pernah benci dan<BR>gemas terhadap kenakalan Li Eng, akan tetapi setelah berdekatan, mana bisa<BR>orang membenci dara remaja itu?<BR>"Ketika dulu aku meninggalkan Hoa-san, aku sudah mengambil keputusan<BR>tidak akan kembali ke sana karena aku benci sekali melihat bunuh-bunuhan<BR>yang terjadi di sana. Sekarang pun aku benci melihat pembunuhan, kalau<BR>kalian membunuh orang, aku pun akan membenci kalian. Di tengah perjalanan<BR>aku bertemu dengan Toat-beng Yok-mo yang terluka hebat, hampir mati."<BR>"Hi-hik, dia boleh mampus karena racun tongkatnya sendiri dan terluka di dua<BR>tempat oleh ayah ibumu" kata Li Eng.<BR>Mengkal hati Kun Hong diingatkan bahwa ayah bundanya telah melukai, malah<BR>banyak membunuh orang. "Keadaannya amat menderita dan ia minta tolong<BR>kepadaku untuk mengantarkannya pulang ke lembah Sungai Huai. Karena<BR>kasihan, aku lalu memenuhi permintaannya dan menggendongnya sepanjang<BR>jalan berpekan-pekan lamanya."<BR>Li Eng tertawa. "Ayah ibunya yang melukai, anaknya yang menolong malah<BR>menggendongnya sepanjang jalan, benar-benar lucu. Masih untung kau tidak<BR>dibunuhnya, Paman Hong. Hebat sekali, iblis macam Toat-beng Yok-mo<BR>ditolong, malah digendong-gendong!"<BR>Akan tetapi Hui Cu diam saja dan... diam-diam gadis ini merasa terharu dan<BR>kagum sekali akan pribadi pemuda yang menjadi paman gurunya ini. "Lalu<BR>bagaimana kau bisa bertemu dengan rajawali emas, Paman Hong?" tanyanya<BR>untuk menghentikan komentar Li Eng.<BR>"Setelah kami tiba di dekat tempat tujuan, dalam sebuah hutan Toat-beng<BR>Yok-mo minta diturunkan dan ternyata ia sembuh kembali dan kuat."<BR>"Hi-hik, memang ia sebetulnya tidak usah digendong. Tentu saja ia kuat<BR>karena memang ia hanya mempergunakanmu sebagai perisai dan kau tentu<BR>akan dibunuhnya di tempat itu," kata pula Li Eng.<BR>"Eh, bagaimana kau bisa tahu?" Kun Hong terheran-heran.<BR>"Hanya orang tolol saja yang tidak tahu!" jawab Li Eng. "Namanya saja sudah<BR>Toat-beng Yok-mo tukang mencabut nyawa. Dia terluka dan harus pergi jauh<BR>dari Hoa-san. Paman adalah putera Ketua Hoa-san-pai, tentu saja dapat<BR>dijadikan perisai yang amat baik. Hemm, lagi-lagi harus kukatakan bahwa<BR>untung sekali Paman tidak sampai dibunuhnya."<BR>"Eh, Adik Eng. Apakah kau berani mengatakan bahwa Susiok adalah seorang<BR>tolol?" Hui Cu menegur.<BR>Li Eng pura-pura tidak mendengar jelas. "Berani mengatakan Susiok apa?"<BR>"Bahwa Susiok adalah seorang tolol?" Hui Cu menjelaskan.<BR>"Hi-hi-hik, kau mendengar sendiri, Paman Hong. Dua kali Cici Hui Cu<BR>memakimu sebagai orang tolol, bukan aku, lho!"<BR>"Heee, kau memutar balikkan omongan!" Hui Cu memprotes akan tetapi Li Eng<BR>hanya tertawa-tawa saja. Kun Hong yang dipermainkan ini sama sekali tidak<BR>merasa dirinya dipermainkan, hanya tersenyum saja.<BR>"Kalau pada saat itu tidak muncul rajawali emas, kiranya aku pun akan<BR>dibunuh oleh Toat-beng Yok-mo seperti yang dikatakan oleh Li Eng tadi," ia<BR>melanjutkan ceritanya, "Entah dari mana datangnya, seekor burung rajawali<BR>emas yang besar dan hebat sekali menyambar turun dan menerkam seekor<BR>kelinci. Melihat burung itu, Toat-beng Yok-mo lalu menyerangnya dan<BR>berusaha menangkapnya, akan tetapi berkali-kali Toat-beng Yok-mo roboh<BR>oleh burung itu, malah akhirnya kakek itu roboh pingsan oleh hantaman sayap<BR>burung."<BR>Dua orang gadis remaja itu saling pandang, malah Li Eng menjulurkan<BR>lidahnya yang kecil merah itu keluar dari mulutnya tanda kagum dan terkejut.<BR>Kalau orang seperti Toat-beng Yok-mo dapat dikalahkan sedemikian<BR>mudahnya, alangkah lihainya burung itu. Apalagi pemiliknya!<BR>"Kemudian rajawali emas itu menyambarku dan membawaku jauh sekali, ke<BR>puncak sebuah gunung yang tak kuketahui namanya. Di sana, dalam sebuah<BR>gua, aku hidup bersama burung itu sampai satu setengah tahun lamanya."<BR>Li Eng memandang tajam dan tidak mau main-main lagi. "Paman Hong,<BR>apakah kau tidak bertemu dengan pemilik burung, dengan iblis wanita itu?"<BR>"Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan, Li Eng. Aku tidak melihat seorang<BR>pun manusia hidup di sana. Kemudian setelah aku mengenal burung itu baikbaik<BR>dan ia mengerti kata-kataku, setelah satu setengah tahun, aku menyuruh<BR>dia mengantarkan aku turun karena aku tidak bisa turun sendiri dari tempat<BR>yang curam dan berbahaya itu. Nah, setelah tiba di bawah gunung, burung itu<BR>terbang kembali ke puncak dan aku hendak kembali ke Hoa-san. Celakanya,<BR>aku sesat jaian dan sampai ke sini, karena sudah dekat kota raja, aku<BR>bermaksud melihat-lihat kota raja lebih dulu. Di sini aku bertemu dengan Sineng-<BR>cu Lui Bok yang mengakui aku sebagai murid keponakannya lalu aku<BR>terlibat dalam urusan Hwa-i Kai-pang sampai kalian berdua muncul." Kun Hong<BR>sengaja tidak mau bercerita tentang kitab-kitab yang ia baca, malah ada<BR>empat buah kitab yang ia bawa dalam saku bajunya, yaitu tiga buah kitab<BR>milik Toat-beng Yok-mo dan sebuah kitab pelajaran hoat-sut dari Sin-eng-cu<BR>Lui Bok.<BR>Demikianlah, tiga orang muda itu melakukan perjalanan dengan penuh<BR>kegembiraan, terutama sekali yang membuat mereka selalu bergembira<BR>adalah sifat Li Eng yang amat jenaka dan lincah. Sementara itu, dengan amat<BR>tekunnya Kun Hong mempergunakan setiap kesempatan waktu untuk<BR>membalik-balik lembaran kitab pemberian Sin-eng-cu Lui Bok dan makin<BR>banyak ia membaca, makin tertariklah hatinya. Secara diam-diam mulailah dia<BR>berlatih diri mempelajari ilmu yang amat aneh dan ajaib, yang erat<BR>hubungannya dengan ilmu batin karena ilmu ini hanya dapat dilakukan dengan<BR>pengerahan tenaga murni dan hawa sakti dalam tubuh. Dengan petunjukpetunjuk<BR>yang berada dalam kitab ini, makin teranglah bagi Kun Hong tentang<BR>rahasia samadhi dan mengatur napas, dan memperkuat daya sakti dalam<BR>tubuhnya.<BR>Semua ini ia latih di luar sepengetahuan dua orang gadis remaja itu yang<BR>selalu yakin bahwa paman mereka adalah seorang pemuda yang tampan,<BR>berwatak halus, berbudi, dan buta ilmu silat.<BR>Semenjak pemberontak-pernberontak dibasmi belasan tahun yang lalu<BR>keadaan, di kota raja aman dan tenteram. Namun hal ini hanya berjalan<BR>beberapa tahun saja karena kini timbullah persaingan baru yang lebih ganas.<BR>Persaingan antara putera-putera Kaisar termasuk keluarganya yang tentu saja<BR>merindukan singgasana untuk menggantikan Kaisar yang sudah tua. Mulailah<BR>para pangeran itu saling bermusuhan dalam usaha mereka menarik hati Kaisar<BR>agar mereka dijadikan calon pengganti Kaisar.<BR>Demikian hebat persaingan ini yang kadang-kadang tidak dilakukan secara<BR>diam-diam melainkan secara terbuka, sehingga masing-masing mempunyai<BR>jagoan-jagoan sendiri. Persaingan mencapai puncaknya ketika putera<BR>mahkota, yaitu putera sulung dari Kaisar, telah tewas menjadi korban<BR>persaingan itu. Tak seorang pun tahu siapa pembunuhnya dan dengan apa<BR>dibunuhnya. Namun ahli silat tinggi maklum bahwa putera mahkota ini<BR>dibunuh oleh seorang ahli silat yang memiliki kepandaian luar biasa.<BR>Seperti juga halnya dengan kaisar-kaisar lain atau hampir semua pemimpin<BR>dan pembesar yang menduduki kemuliaan dan memegang kekuasaan, Kaisar<BR>Tai-itsu juga mempunyai banyak isteri sehingga anaknya pun banyak pula. Hal<BR>ini membingungkan hatinya siapakah yang harus ia pilih menjadi putera<BR>mahkota setelah putera sulungnya meninggal dunia. Ia maklum akan<BR>persaingan dan permusuhan di antara putera-puteranya, selir-selirnya dan<BR>keluarganya. Maka karena Kaisar pun dapat menduga bahwa putera sulungnya<BR>itu terbunuh orang, ia menjatuhkan pilihannya kepada anak dari putera<BR>sulungnya itu yang bernama Hui Ti atau Kian Bun Ti menjadi pengganti putera<BR>mahkota. Hui Ti atau Kian Bun Ti ini adalah cucu Kaisar.<BR>Pada waktu itu Kian Bun Ti ini telah menjadi seorang pemuda yang tampan<BR>dan cerdik bukan main. Ia maklum akan bahayanya kedudukannya, maklum<BR>bahwa banyak paman-paman pangeran lain merasa iri hati akan<BR>kedudukannya. Maka dengan amat pandainya Kian Bun Ti mendekati Kaisar,<BR>berhasil menguasai hati dan kasih sayang kakeknya ini. Adalah atas bujukan<BR>pemuda cerdik inilah maka seorang pamannya yang dianggap paling<BR>berbahaya, yaitu Pangeran Yung Lo yang jujur dan keras, oleh Kaisar dihalau<BR>dari kota raja, diberi tugas pertahanan di utara, di kota raja lama, Peking.<BR>Memang pada waktu itu tiada hentinya bangsa Morngol, Mancu, dan lain-lain<BR>suku bangsa dari utara selalu berusaha menyerang Kerajaan Beng yang baru<BR>ini. Pangeran Yung Lo tentu saja mentaati perintah dan berangkatlah dia ke<BR>utara menjalankan tugas berat ini.<BR>Biarpun telah berhasil menghalau saingannya yang paling berbahaya, namun<BR>Kian Bun Ti masih belum lega karena ia maklum bahwa yang melihat<BR>kepadanya dengan mata penuh dengki masih banyak sekali. Maka ia pun lalu<BR>mengumpulkan orang-orang pandai untuk menjaga dirinya, bahkan dia sendiri<BR>mempelajari ilmu silat. Di samping kesukaannya mendekati ahli-ahli silat dan<BR>jagoan-jagoan, Pangeran yang masih muda ini pun terkenal sebagai seorang<BR>yang tak boleh melihat wanita cantik. Entah berapa banyaknya wanita-wanita<BR>cantik dan muda, jatuh hati dan menjadi korbannya, tertarik oleh<BR>ketampanannya atau kedudukannya maupun harta bendanya. Memang wanita<BR>manakah yang takkan tertarik oleh seorang pemuda yang tampan, cerdik,<BR>malah seorang pangeran calon kaisar pula?<BR>Di dalam usahanya untuk menguasai keadaan dunia kang-ouw, Pangeran ini<BR>tidak segan-segan untuk mempergunakan perkumpulan-perkumpulan seperti<BR>Hek-kai-pang (Pengemis Hitam) dari mana ia bisa mendapatkan sumber berita<BR>tentang gerakan orang-orang kang-ouw sehingga ia dapat tahu siapa yang<BR>menjadi jagoan-jagoan baru dari para saingannya.<BR>Pangeran Kian Bun Ti menjadi tertarik sekali ketika ia menerima laporan dari<BR>beberapa orang anggauta perkumpulan pengemis yang menjadi kaki tangan<BR>dan penyelidiknya tentang dua orang gadis cantik jelita anak murid Hoa-sanpai<BR>yang menggegerkan pertemuan dari Hwa-i Kai-pang. Pangeran ini tidak<BR>hanya tertarik oleh kecantikan dua orang dara remaja itu, melainkan terutama<BR>sekali tertarik oleh cerita tentang kehebatan ilmu silat mereka. Diam-diam ia<BR>mempunyai maksud hati yang baik sekali, maksud hati yang menjadi<BR>perpaduan dari seleranya terhadap dara ayu dan kebutuhannya akan pengawal<BR>yang lihai. Cepat ia memanggil beberapa orang kepercayaannya dan membagibagi<BR>perintah.<BR>Sementara itu, Kun Hong dan dua orang dara remaja telah memasuki kota<BR>raja dengan gembira. Tiga orang muda yang semenjak kecilnya bertempat<BR>tinggal di pegunungan yang sunyi ini sekarang berjalan perlahan di atas jalan<BR>raya dengan mata terbelalak dan mulut tiada hentinya mengeluarkan seruanseruan<BR>kagum dan memuji ketika mereka menyaksikan gedung-gedung terukir<BR>indah dl sepanjang jalan.<BR>Apalagi Li Eng yang amat lincah itu, ia amat bergembira dan berlari ke kanan<BR>kiri mendekati setiap penglihatan yang baru dan asing baginya. Setiap ada<BR>bangunan indah dan besar ia berdiri terlongong di depannya, dan benda-benda<BR>yang diperdagangkan di sepanjang jalan dalam toko-toko pun tak lepas dari<BR>perhatiannya. Hui Cu yang lebih pendiam dan alim hanya merupakan, pengikut<BR>saja dan biarpun gadis ini juga amat kagum dan terheran-heran, namun ia<BR>dapat menekan perasaannya dan hanya tampak bibirnya yang kecil mungil<BR>mengulum senyum dan sepasang matanya bersinar-sinar menambah indah<BR>wajah yang berseri itu.<BR>Pada waktu itu, orang-orang wanita berada di atas jalan raya bukanlah hal<BR>aneh. Banyak wanita berjalan di atas jalan raya, akan tetapi semua itu, adalah<BR>wanita-wanita pekerja kasar dan pedagang kecil, pendeknya wanita yang agak<BR>tua atau yang agak buruk rupa. Puteri-puteri bangsawan yang cantik-cantik<BR>hanya menampakkan diri di atas jalan raya dalam kendaraan tertutup.<BR>Memang ada kalanya wanita-wanita kang-ouw, anak-anak penjual obat keliling<BR>memperlihatkan ilmu silat pasaran, tampak berjalan-jalan namun hal ini jarang<BR>terjadi. Oleh karena itu, ketika dua orang dara remaja ini memasuki kota raja,<BR>di sepanjang jalan mereka menjadi tontonan orang, terutama laki-laki muda<BR>dan tua yang tidak hanya mengagumi kecantikan dua orang gadis itu, akan<BR>tetapi terutama sekali mengagumi sikap mereka berdua yang begitu bebas.<BR>Dua orang gadis ini mudah saja menimbulkan dugaan bahwa mereka adalah<BR>gadis-gadis kang-ouw yang berkepandaian silat, terbukti dari pedang yang<BR>tergantung di pinggang mereka. Mudah juga diduga bahwa mereka berdua<BR>tentulah memiliki ilmu silat yang lihai, kalau tidak demikian, bagaimana dua<BR>orang gadis remaja yang begitu cantik jelita bisa melakukan perjalanan<BR>dengan aman dan selamat sampai ke kota raja?<BR>Kecantikan mereka yang luar biasa itu tentu akan menjadi sebab kemalangan<BR>mereka, tentu mereka telah ditahan dan diambil oleh orang-orang jahat.<BR>Karena dugaan inilah maka biarpun banyak mata laki-laki melotot dan mulut<BR>tersenyum-senyum, sejauh itu belum ada yang berani sembrono<BR>mengeluarkan kata-kata teguran atau godaan.<BR>Yang mengherankan banyak orang adalah Kun Hong, Pemuda ini pakaiannya<BR>seperti seorang siucai, seorang terpelajar, akan tetapi pakaian itu sudah lapuk<BR>sehingga menimbulkan dugaan bahwa dia tentulah seorang terpelajar yang<BR>tidak lulus ujian dan jatuh miskin seperti banyak terdapat pada masa itu. Yang<BR>mengherankan orang, mengapa seorang siucai miskin seperti ini berjalan<BR>bersama dua orang dara remaja kang-ouw? Biasanya gadis-gadis kang-ouw<BR>yang cantik seperti ini tentu melakukan perjalanan, dengan laki-laki yang<BR>hebat pula yang luar biasa, aneh, atau yang gagah perkasa. Kenapa sekarang<BR>pengiringnya hanya seorang siucai jembel yang hanya tersenyum-senyum,<BR>berjalan perlahan seperti kehabisan tenaga? Lebih-lebih herannya orang-orang<BR>yang dekat dengan mereka ketika mendengar Li Eng dengan lincahnya<BR>menyebut siucai muda itu "paman". Heran sekali, usianya sepantar<BR>mengapa.disebut paman?<BR>Kalau dua orang dara itu mengagumi keindahan, ukir-ukiran, bangunan,<BR>benda-benda aneh yang diperdagangkan orang, apalagi melihat sutera-sutera<BR>beraneka warna yang halus dan mahal, adalah Kun Hong kembang-kempis<BR>hidungnya dan berkeruyukan perutnya karena mencium bau masakan yang<BR>gurih dan sedap keluar dari banyak rumah makan di sepanjang jalan. Bau<BR>sedap dari bau masakan daging, bawang dan bumbu-bumbu menusuk<BR>hidungnya, membuat semua itu tidak seindah mangkok berisi masakan yang<BR>mengebul panas-panas di atas meja! Akan tetapi pemuda ini menekan<BR>seleranya, maklum bahwa tak mungkin ia dapat membeli masakan-masakan<BR>yang mahal itu.<BR>Kalau Li Eng tidak ada perhatian lain kecuali terhadap barang-barang indah<BR>dan bangunan-bangunan megah yang tak pernah dilihatnya itu, adalah Hui Cu<BR>yang pendiam dan selalu tanpa diketahui orang lain memperhatikan<BR>pamannya, segera dapat menduga bahwa pamannya itu merasa lapar dan<BR>ingin makan. Ia lalu menyentuh tangan Li Eng dan berbisik di dekat<BR>telinganya. Li Eng tersenyum, menoleh kepada Kun Hong yang tidak tahu apa<BR>yang dibicarakan antara dua orang gadis itu.<BR>"Paman Hong, apakah kau lapar dan ingin makan?" tiba-tiba Li Eng yang tak<BR>pernah menaruh hati sungkan-sungkan itu bertanya.<BR>"Apa....? Betul... eh, tidak apa...." Kun Hong gagap karena pertanyaan yang<BR>tiba-tiba itu memang cocok sekali dengan pikirannya.<BR>Li Eng segera menyambar tangannya dan digandeng menuju ke sebuah rumah<BR>makan. "Kalau lapar kenapa diam saja? Di sini banyak rumah makan, boleh<BR>kita pilih masakan yang enak!"<BR>"Hush, jangan main-main." Kun Hong menahan. "Aku tidak punya uang, mana<BR>berani masuk rumah makan?"<BR>bagian 54<BR>Untuk apa uang? Kita tak usah beli, bisa minta," kata lagi Li Eng.<BR>"Ihh, memalukan!" Kun Hong mencela.<BR>Li Eng tertawa ditahan. "Hi-hik," kau lihat, Enci Hui Cu! Tidakkah aneh bukan<BR>main paman kita ini? Paman Hong, kau ini seorang kai-ong (raja pengemis)<BR>kok malu minta-minta?"<BR>Digoda begini oleh Li Eng, gemas juga hati Kun Hong. "Sudah jangan terlalu<BR>menggoda orang kau, bocah nakal. Kujewer telingamu nanti!"<BR>Li Eng hanya tertawa manja dan Hui Cu berkata, "Susiok, harap jangan kuatir,<BR>kami membawa bekal uang dan andaikata kurang, aku masih mempunyai<BR>gelang emas, dapat kita jual." Berbeda dengan Li Eng, suara nona ini sungguhsungguh<BR>dan sama sekali tidak bermain-main.<BR>"Nah, punya keponakan yang begini mencintai seperti Enci Cu, kau takut apa,<BR>Susiok?" Lagi-lagi Li Eng menggoda dan kali ini ia benar-benar menerima<BR>cubitan, bukan dari Kun Hong, melainkan dari Hui Cu sehingga ia menjerit<BR>mengaduh-aduh. Wajah Kun Hong sama merahnya dengan wajah Hui Cu. Ia<BR>merasa tidak enak sekali dengan godaan Li Eng itu, maka ia segera berkata<BR>dengan lagak seorang tua, "Sudahlah, di tengah jalan jangan bergurau-gurau.<BR>Tidak patut dilihat orang!" Kemudian ditambahnya, "Kalau memang kalian<BR>membawa uang, mari kita makan di rumah makan itu."<BR>Tiga orang muda ini memasuki rumah makan yang besar dan mewah, juga<BR>kelihatan menarik sekali karena pintu, jendela dan meja bangkunya dicat<BR>merah dan kuning. Melihat tiga orang muda ini memasuki rumah makan,<BR>pelayan kepala menyambutnya sendiri, terbungkuk-bungkuk menyambut<BR>dengan seluruh muka bulat itu tersenyum lebar. "Silakan... silakan Sam-wi<BR>(Tuan Bertiga) masuk. Selamat datang dan silakan Sam-wi takkan kecewa<BR>memasuki rumah makan kami yang tersohor di seluruh negeri!"<BR>Kalau Li Eng dan Hui Cu menerima, sambutan yang amat menghormati ini<BR>dengan anggukan kepala angkuh, adalah Kun Hong yang menjadi sibuk<BR>membalas penghormatan orang. Ia melihat pelayan kepala ini orangnya<BR>gemuk, pakaiannya bersih dan rapi sekali, maka ketika ia melirik ke arah<BR>pakaiannya sendiri, ia menjadi malu dan sungkan. Pakaiannya lapuk dan kotor<BR>seperti pakaian jembel, bagaimana ia merasa enak hati menerima sambutan<BR>penghormatan sedemikian dari pengurus rumah makan ini?<BR>Setelah ketiganya memilih sebuah meja di sudut dan mengambil tempat<BR>duduk, pelayan kepala ini seperti seekor burung kakatua nerocos terus,<BR>"Sam-wi hendak menikmati apa? Arak wangi dari selatan, arak buah dari<BR>Tung-to, atau arak ketan dari pantai? Kami ada masakan-masakan istimewa,<BR>khusus untuk Sam-wi. Daging naga di tim, jantung hati burung sorga goreng<BR>setengah matang, kepala burung Hong dipanggang bumbu merah, kaki gajah<BR>masak sayur, buntut singa masak jamur, atau masih banyak macamnya.<BR>Tiga orang itu saling pandang, Li Eng dan Hui Cu hanya tersenyum-senyum<BR>untuk menutupi perasaan malu karena semua nama masakan itu merupakan<BR>nama asing dan baru bagi mereka. Akan tetapi Kun Hong tanpa<BR>menyembunyikan keheranannya, mendengarkan dengan mata terbelalak dan<BR>mulut melongo. Tidak main-mainkah pelayan ini? Bagaimana orang bisa<BR>memasak daging naga, jantung burung sorga, burung Hong, gajah, singa dan<BR>lain-lain itu? Dia sampai menjadi bingung dan tak dapat memilih. Bagaimana<BR>ia harus memilih antara masakan yang memang selama hidupnya baru kali ini<BR>ia dengar namanya itu? "Kalau Sam-wi sukar memilih, biarlah kami sediakan<BR>semua yang ada agar Sam-wi dapat makan seenaknya." Pelayan kepala itu<BR>lalu mengundurkan diri dan tak lama kemudian berdatanganlah pelayanpelayan,<BR>ada yang membawa arak, ada yang mengantarkan mangkok dan<BR>cawan, ada yang mulai mengeluarkan masakan-masakan panas. Para tamu<BR>lain yang berada di situ memandang heran. Bagi orang kota ini, tidaklah aneh<BR>kalau ada orang memborong masakan-masakan mahal, akan tetapi kecantikan<BR>serta kebebasan dua orang dara remaja itu ditambah keadaan Kun Hong yang<BR>seperti jembel, benar-benar mendatangkan keheranan.<BR>"Aku rela menghabiskan semua uang bekalku untuk dapat makan daging naga,<BR>burung Hong dan lain-lain binatang aneh itu," bisik Li Eng.<BR>Hui Cu mengangguk. "Selama hidupku baru kali ini aku menjumpai masakan<BR>yang aneh. Untuk merasai daging naga aku pun rela mengorbankan gelangku."<BR>Hanya Kun Hong yang bengong terlongong, setengah tidak percaya akan<BR>masakan yang aneh-aneh itu. Tak lama kemudian masakan yang berbau lezat<BR>dan sedap gurih telah tersedia di atas meja. Dengan selera besar tiga orang<BR>muda yang memang sudah lapar sekali ini mulai makan. Li Eng menggunakan<BR>Sumpit menjumputi daging dari setiap masakan untuk dicoba rasanya.<BR>Ia terkikik lalu berkata, "Kurang ajar pelayan itu. Yang begini disebut daging<BR>ditim? Aku pernah makan daging ular kembang. Dan ini? Burung sorga apa?<BR>Ini kan hati burung dara dan kepala burung Hong? Setan, ini hanya kepala<BR>ayam biasa. Kaki gajah? hi-hik, kaki babi dan buntut singa ini tentulah buntut<BR>kambing!"<BR>Hui Cu juga tertawa kecil. Tak salah kata-katamu, Adik Eng. Akan tetapi harus<BR>diakui bahwa masakan ini bumbunya lengkap dan enak sekali."<BR>Kun Hong juga tidak sungkan-sungkan menggasak makanan-makanan lezat<BR>itu. Mendengar percakapan dua orang dara itu ia memberi komentar, "Memang<BR>penggantian nama-nama itu hanya siasat untuk menarik perhatian tamu,<BR>apalagi yang datang dari luar kota raja."<BR>"Tapi dia kurang ajar berani menipu kami," kata Li Eng. "Awas, orang itu patut<BR>dipukul kepalanya. Kita tak usah bayar!"<BR>"Hush, omongan apa yang kau keluarkan itu, Li Eng?" Kun Hong membentak.<BR>"Jangan kau mencari gara-gara. Apa tidak malu sudah makan membayar<BR>pukulan? Tidak boleh kau begitu!"<BR>Li Eng bersungut-sungut. "Biarlah gelangku ini untuk bayar," kata Hui Cu.<BR>"Tentu aku akan bayar, tapi juga akan kumaki karena dia telah menipu kita,"<BR>kata pula Li Eng yang segera memberi isarat kepada pelayan kepala yang<BR>memandang dari jauh.<BR>Dengan terbungkuk-bungkuk pelayan kepala ini datang menghampiri.<BR>Mukanya berseri dan mulutnya segera berkata, "Tidakkah Sam-wi puas dengan<BR>masakan kami?"<BR>"He, muka babi! Kauanggap aku ini orang apa? Berani kau mempermainkan<BR>kami dan membohong. Daging ular kau katakan daging naga, burung dara kau<BR>katakan burung sorga dan ayam biasa kau sebut burung Hong. Mana ada kaki<BR>gajah? Kaki babi. Kau benar-benar muka babi berani mempermainkan kami,<BR>apakah kau sudah bosan hidup?"<BR>Muka yang tadinya berseri-seri itu tiba-tiba berubah pucat. Ia cepat<BR>menjatuhkan diri berlutut di depan tiga orang muda itu dan suaranya yang<BR>gemetar sukar sekali. ditangkap maksudnya. Namun Li Eng dapat mendengar<BR>bahwa orang itu minta-minta ampun dan mohon supaya jangan dilaporkan<BR>kepada Thaicu (Pangeran). Kun Hong dan dua orang gadis itu terheran-heran.<BR>Jelas bahwa pelayan kepala ini bukan takut kepada mereka, melainkan takut<BR>kalau-kalau mereka melaporkannya kepada Thaicu.<BR>"Mana siauwte berani menghina tamu-tamu dari Thaicu? Memang nama<BR>masakan itu begitu...." demikian antara lain kata-kata Si Pelayan Gemuk ini.<BR>"Hemm, kau menyebut-nyebut Thaicu segala? Siapa itu?" akhirnya Kun Hong<BR>bertanya karena ia dapat menduga bahwa tentu terjadi kesalah pahaman.<BR>Pada saat itu, dari luar masuklah dua orang yang berpakaian indah dan<BR>penutup kepalanya menandakan bahwa mereka adalah orang-orang<BR>berpangkat. Semua pelayan memberi hormat kepada dua orang yang datang<BR>ini dan ketika mereka berdua berhadapan dengan Kun Hong, Li Eng, dan Hui<BR>Cu yang juga memandang dengan penuh perhatian, dua orang ini<BR>membungkuk-bungkuk dengan sikap menghormat.<BR>"Sam-wi yang terhormat dipersilakan datang ke Istana Kembang di mana<BR>Putera Mahkota sudah menanti. Kendaraan tamu siap menanti di luar."<BR>Karuan saja Kun Hong dan dua orang dara itu terlongong heran dan tidak<BR>mengerti. "Apakah yang kalian maksudkan?" tanya Kun Hong. "Kami tidak<BR>mempunyai hubungan dan janji-janji dengan siapapun juga, tidak mengenal<BR>putera mahkota...."<BR>Dua orang tua itu membungkuk lagi. Thaicu amat tertarik kepada Sam-wi dan<BR>mulai saat beliau mendengar tentang Sam-wi, beliau menganggap Sam-wi<BR>sebagai tamu."<BR>Li Eng segera berkata kepada Kun Hong "Paman Hong, lebih baik kita lekas<BR>pergi dari tempat ini, di sini banyak yang aneh-aneh dan membingungkan." Ia<BR>lalu mengeluarkan uang bekalnya dan bertanya kepada pelayan kepala, "Lekas<BR>hitung, berapa kami harus bayar makanan palsu ini."<BR>Pelayan ini buru-buru menggerakkan tangannya menolak. "Ah, bagaimana Siocia<BR>(Nona) hendak membayar? Semua sudah terbayar lunas, malah berikut<BR>persennya, semua sudah beres oleh Thaicu."<BR>Tiga orang muda itu kembali melengak. Lagi-lagi orang menyebut Thaicu.<BR>Kenapa putera mahkota begitu memperhatikan mereka. Sejak kapankah<BR>mereka kenal dengan putera mahkota?<BR>"Li Eng, putera mahkota telah berlaku baik kepada kita, tidak seharusnya kita<BR>menolak kebaikan orang. Dia menghendaki kita datang ke Istana Kembang,<BR>bukankah kau tadi menyatakan keinginanmu untuk dapat kesempatan melihat<BR>keadaan istana dari dalam? Nah, kesempatan ini sekarang tiba, kenapa kita<BR>tidak menerimanya?"<BR>"Pendapat yang bijaksana sekali!" seorang di antara dua pembesar itu berkata<BR>girang. "Marilah, Kongcu dan Ji-wi Siocia (Nona Berdua), mari menggunakan<BR>kendaraan yang sudah menanti di luar rumah makan."<BR>Kun Hong mengajak dua orang keponakannya keluar dan benar saja, sebuah<BR>kereta yang amat indah dengan dua ekor kuda telah menanti di depan.<BR>Seorang di antara dua pembesar itu membukakan pintunya dan<BR>mempersilakan tiga orang "tamu agung" itu memasuki kereta. Tanpa raguragu<BR>lagi Kun Hong naik dan diikuti oleh dua orang gadis yang masih raguragu<BR>dan hanya terpaksa menrurut karena didahului oleh paman mereka.<BR>Andaikata tidak ada Kun Hong di situ, sudah pasti Li Eng dan Hui Cu tidak akan<BR>sudi menerima undangan orang.<BR>Setelah mereka semua duduk di dalam kereta, dua orang "pembesar" itu<BR>segera mengambil tempat kusir dan orang ke dua di belakang. Kiranya mereka<BR>itu adalah kusir kereta dan keneknya! Merah muka Kun Hong kalau teringat<BR>betapa tadi di dalam rumah makan ia mengira bahwa mereka adalah dua<BR>orang "pembesar" dari istana. Kiranya hanya kusir dan keneknya! Malu ia<BR>kalau melirik kearah pakaiannya sendiri yang patut membuat ia disebut orang<BR>jembel.<BR>Di dalam kereta yang serba indah dan bersih itu, tiga orang muda ini duduk<BR>saling berpandangan dan sampai lama tidak membuka mulut. Betapapun<BR>tenangnya, hati Kun Hong berdebar juga kalau mengingat bahwa dia akan<BR>berhadapan dengan putera mahkota! Apalagi dua orang gadis itu yang tampak<BR>gelisah sekali.<BR>"Paman Hong," akhirnya Li Eng berkata dengan suara berbisik, "Mengapa kau<BR>menerima undangan ini? Jangan-jangan orang bermaksud buruk dan jahat<BR>terhadap kita...."<BR>"Jangan curiga yang bukan-bukan, Li Eng. Tempat ini adalah kota raja dan<BR>sudah tentu saja Kaisar sekeluarganya adalah tuan rumah. Kalau putera<BR>mahkota mengundang kita, berarti kita sebagai tamu diundang tuan rumah<BR>dan kehormatan besar ini sekali-kali tidak baik kalau kita tolak. Pula, apa<BR>buruknya kalau kita mendapat kesempatan bertemu dan bercakap-cakap<BR>dengan putera mahkota, dan berkesempatan pula melihat-lihat keadaan kota<BR>dalam Istana Kembang? Ah, kelak tentu kalian akan bercerita banyak di rumah<BR>tentang pengalaman ini."<BR>Li Eng dan Hui Cu tidak berkata-kata lagi, terbenam dalam lamunan masingmasing.<BR>Memang menegangkan hati sekali perjalanan ini bagi mereka, akan<BR>tetapi juga mereka berdua merasa bahwa perjalanan ini amat berbahaya dan<BR>mencurigakan. Persamaan pendapat ini hanya mereka utarakan dengan<BR>pertukaran pandang mata. Hanya Kun Hong yang duduk enak-enak,<BR>nampaknya ayem dan tenang saja, malah sepasang matanya yang tajam itu<BR>bersinar-sinar gembira.<BR>Istana Kembang berada di lingkungan istana yang paling pinggir, termasuk<BR>pinggir kota yang sunyi. Di sekitar istana itu penuh hutan-hutan yang ditanami<BR>banyak pohon-pohon yang indah, pohon-pohon buah dan pohon-pohon<BR>kembang. Di sekeliling istana merupakan taman bunga yang besar dan luas, di<BR>mana ditanam segala macam bunga. Di sana-sini terdapat empang ikan yang<BR>selain menjadi tempat peliharaan ikan-ikan emas yang indah-indah, juga<BR>menjadi tempat tumbuhnya bunga teratai yang berwarna-warni.<BR>Kereta berhenti di depan gedung yang tidak begitu besar, akan tetapi<BR>bentuknya mungil dan seluruh bagian bangunan ini penuh dengan hasil-hasil<BR>seni ukir dan seni lukis. Begitu turun dari kereta, tiga orang muda asal<BR>pegunungan ini berdiri ternganga. Istana dan keindahan sekitarnya bagi<BR>mereka begitu aneh dan begitu indah yang biasanya hanya dapat mereka<BR>bayangkan dalam alam mimpi saja.<BR>Beberapa orang pelayan yang pakaiannya juga seperti pembesar-pembesar<BR>datang menyambut, "Sudah sejak tadi putera mahkota menanti kedatangan<BR>Sam-wi yang terhormat. Sam-wi (Tuan Bertiga) dipersilakan langsung menuju<BR>ke ruangan istirahat di mana Thaicu sudah menanti," begitulah kata mereka<BR>dan seperti dalam mimpi tiga orang muda itu mengikuti para pelayan menuju<BR>ke pintu depan istana. Begitu memasuki pintu ini, tiga orang muda itu tiada<BR>habisnya mengagumi segala keindahan yang terdapat di situ. Lukisan-lukisan<BR>kuno, ukir-ukiran yang menghias ruangan dalam, perabot-perabot yang<BR>terbuat dari kayu harum, sutera-sutera yang berkilauan, batu-batu kemala<BR>dalam bentuk hiasan-hiasan, permadani halus yang menghias dinding dan<BR>lantai. Bukan main! Li Eng yang biasanya bebas dan tak mau tunduk itu kini<BR>merasa dirinya kecil sehingga tanpa ia sadari lagi berpegang erat-erat pada<BR>lengan kanan Kun Hong. Malah Hui Cu yang biasanya agak pemalu dan masih<BR>sungkan-sungkan bersikap terlalu intim terhadap pamannya, kini pun tanpa ia<BR>sadari lagi menggandeng tangan kiri Kun Hong. Sungguh sikap tiga orang<BR>muda ini seperti tiga ekor kelinci memasuki gua macan! Hanya Kun Hong yang<BR>biarpun tampak kagum sekali, masih dapat bersikap tenang, sedikit pun tidak<BR>ada perasaan takut seperti yang terdapat dalam pikiran dua orang dara remaja<BR>itu.<BR>Di setiap lorong atau ruangan baru berganti pelayan yang bertugas mengantar<BR>mereka, Istana itu dari luar tampaknya kecil mungil, akan tetapi setelah<BR>dimasuki ternyata luas dan ruangan istirahat yang dimaksudkan itu ternyata<BR>jauh juga dari pintu depan. Kiranya berada di sebelah belakang, merupakan<BR>ruangan terbuka dengan atap berbentuk payung besar, tanpa dinding sehingga<BR>kelihatannya seperti dikelilingi kembang-kembang. Di empernya terdapat<BR>empang ikan yang lebar dan di tengah-tengahnya terdapat air mancur yang<BR>keluar dari mulut seekor naga batu. Benar-benar ruangan istirahat ini indah<BR>dan berhawa sejuk, tepat menjadi tempat beristirahat menghilangkan lelah.<BR>Seorang laki-laki muda duduk menghadapi empang, kelihatannya melamun.<BR>Usianya sebaya Kun Hong, tampan dan pakaiannya indah sekali, terbuat dari<BR>sutera berlukiskan burung Hong. Topinya juga aneh dan bersulamkan gambar<BR>naga, akan tetapi agaknya pemuda itu sedang kurang gembira sehingga<BR>rambutnya yang hitam keluar dari bawah topi didiamkannya saja.<BR>"Yang Mulia, tiga orang tamu yang dinanti-nantikan sudah datang<BR>menghadap!" seorang pelayan melapor sambil menjatuhkan diri berlutut.<BR>Pelayan lian sebelum berlutut berbisik kepada Kun Hong bertiga, "Harap Samwi<BR>berlutut memberi hormat."<BR>Akan tetapi Kun Hong, apalagi Li, Eng juga Hui Cu, tidak mengerti akan bisikan<BR>ini, dan hanya memberi hormat seperti biasa mereka memberi hormat kepada<BR>orang lain yang sebaya usianya, yaitu dengan membungkuk dan mengangkat<BR>kedua tangan ke dada. Orang muda itu cepat bangkit dari duduknya dan<BR>gerakannya cepat sekali sehingga Hui Cu dan Li Eng segera dapat menduga<BR>bahwa orang itu tentu memiliki kepandaian ilmu silat yang lumayan juga.<BR>Setelah berhadapan, ternyata bahwa orang muda itu lebih berwajah gagah<BR>daripada tampan. Terutama sepasang matanya membuat orang tak berani<BR>menentang pandang matanya lama-lama, penuh wibawa dan gerak-geriknya<BR>agung dan hal ini mungkin ia biasakan untuk disesuaikan dengan<BR>kedudukannya, putera mahkota! Inilah dia Kian Bun Ti, putera mahkota yang<BR>sebetulnya adalah cucu dari Kaisar, putera dari mendiang Putera Mahkota atau<BR>putera sulung dari Kaisar.<BR>Berdebar keras hati Li Eng dan Hui Cu ketika meliha