Halaman sebelumnya of 383Halaman selanjutnya

Rajawali Emas

spinner.gif

Rajawali Emas
Serial Raja Pedang (2)
Lanjutan Raja Pedang
karya : Kho Ping Hoo

bagian 1
PEGUNUNGAN Lu-liang-san terkenal sebagai
gunung yang indah dan subur, terutama sekali hal
ini disebabkan oleh Sungai Kuning yang mengalir di
antara pegunungan ini. Banyak terdapat hutan-hutan lebat dan bagian-bagian
yang amat indah penuh dengan pohon-pohon berbuah dan tanaman berbunga.
Hutan-hutan ini sebagian besar masih merupakan hutan liar yang aseli, belum
terjamah tangan dan terinjak kaki manusia. Oleh karena itu, penghuni aseli
hutan-hutan |itu, binatang-binatang besar kecil berkembang biak amat
suburnya sehingga daerah Pegunungan Lu-liang-san terkenal sebagai tempat
yang amat baik akan tetapi juga amat berbahaya bagi para pemburu.
Keindahan alam yang belum terjamah tangan manusia memang merupakan
keindahan aseli. Apalagi dimusim semi diwaktu pohon-pohon penuh daun,
sedangkan dimusim rontok saja terdapat keindahan aseli yang menggerakan
hati setiap orang yang dapat menghargai keindahan alam yang aseli. Lihatlah
daun-daun yang melayang-layang turun, rontok dari tangkainya. Melayanglayang
bebas lepas seakan-akan kupu-kupu bercanda menimbulkan suara
gemerisik yang tiada hentinya. Daun-daun kering merontok dengan rela untuk
memberi kesempatan berseminya daun-daun baru yang akan menggantikan
kedudukannya. Daun-daun kering merontok untuk membusuk dan menjadi
pupuk bagi daun-daun baru. Rontok dan semi, hilang yang tua muncul yang
baru. Di dunia ini mana yang tidak terlewat oleh hukum alam ini? Yang tua
lenyap untuk memberi tempat bagi yang muda, yang muda akhirnya pun tua
dan lenyap untuk mengulang sejarah yang lalu.
Gemerisik daun-daun kering rontok melayang turun diselingi suara air Sungai
Huang Ho yang tidak penuh airnya, Air bermain dengan batu-batu,
berdendang lagu bahagia tak kunjung henti. Suara daun kering rontok dan air
sungai berdendang merupakan perpaduan suara yang amat indah, kadangkadang
diramaikan suara burung di pohon dan sekali-kali terdengar raungan
binatang buas dari dalam semak-semak belukar.
Betapapun besar bahaya rnengancam keselamatan manusia yang berani
memasuki hutan-hutan ini, yaitu bahaya dari ancaman binatang-binatang
buas, namun tetap saja akhirnya ternyata bahwa manusialah mahluk yang
paling kuat di antara segala mahiuk hidup di dunia ini. Pagi hari itu, dikala
sinar matahari berebutan menerobos ke celah-celah daun pohon yang mulai
menggundul dan burung-burung tengah ramai bersaing kemerduan kicau
mereka terdengar suara lain di dalam hutan itu. Suara manusia! Burungburung.
yang terdekat menghentikan kicaunya, sebagian terbang pergi
ketakutan. Binatang-binatang kecil lari menyelinap ke dalam s«mak-scmak,
binatang-binatang besar mengintai penuh kecurigaan dari balik gerombolan.
Seluruh perhartian para mahkluk dalam hutan tertuju kepada mahkluk aneh
yang tak pernah mereka lihat itu Manusia!
Manusiakah yang menjadi pusat perhatian para binatang-binatang itu?
Jangankan para binatang yang tak pernah atau jarang sekali melihat manusia,
sedangkan manusia-manusia sendiri kiranya akan tercengan keheran-heranan
kalau melihat orang yang tengah berada di dalam hutan seorang diri ini.
Dia seorang laki-laki tinggi besar, Pakaiannya berpotongan longgar, terbuat
dari bemacam-macam kain berwarna-warni yang disambung-sambung.
Sepatunya, sepatu besar, Juga berkembang! Sukar menaksir usia orang ini.
Yang terang dia sudah lewat dewasa, Karena tubuhnya demikian tinggi besar.
Melihat perawakan dan wajahnya yang sudah masak, sedikitnya dia berusia
empat puluh lima tahun, Akan tetapi melihat kebodohan kanak-kanak yang
membayang pada wajahnya, melihat bentuk pakaian dan warna sepatunya
serta sikapnya yang sedang main-main seorang diri, dia masih seorang kanakkanak!.
Memang dia seorang kanak-kanak yang sudah tua, atau seorang tua
yang berjiwa kanak-kanak. Karena keanehan inilah maka di dunia kang-ouw ia
terkenal sekali dengan nama poyokan Koai Atong (Bocah Aneh).
Jangan dipandang rendah Koai Atong ini. Banyak orang Kang-ouw, jagoan
ternama yang berkepandaian tinggi, akhirnya kecele ketika mereka berani
memandang rendah Koai Atong. Dia adalah murid tunggal seorang sakti dari
Tibet, seorang hwesio yang bernama Ban-tok-sim Giam Kong. Melihat nama
julukannya saja, Ban-tok-sim (Hati Selaksa Racun), mudah dibayangkan orang
macam apa

Halaman sebelumnya of 383Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan (4)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Siapa yang Membaca

Disarankan