Raja Pedang
Serial Raja Pedang (1)
by Kho Ping Hoo
"Lima warna membutakan mata....!" Terdengar suara
berat dan parau membaca doa.
"Lima warna membutakan mata.......!" Menyusul suara
nyaring tinggi, suara kanak-kanak yang berusaha keras
menirukan nada suara pertama.
"Lima bunyi menulikan telinga.........!" Kembali suara
anak kecil tadi mengulang kata-kata itu.
Suara ini saling susul dan selengkapnya diucapkan oleh
suara parau ditiru suara anak kecil itu ujar-ujar lengkap dari kitab To-tek-keng seperti
berikut :
Lima warna membutakan mata,
Lima bunyi menulikan telinga
Lima rasa merusak mulut
Mengejar kesenangan merusak pikiran,
Barang berharga membuat kelakuan menjadi curang
Inilah sebabnya orang budiman,
Mengutamakan urusan perut,
Tidak mempedulikan urusan mata,
Ia pandai memilih ini membuang itu.
Kalau suara-suara ini terdengar dari sebuah klenteng Agama To, hal itu tak perlu
diperhatikan lagi karena memang lumrah kalau seorang tosu memberi pelajaranpelajaran
dari kitab To-tek-keng kepada anak muridnya. Atau seorang kepadaguru
sastra mengajarkan ayat-ayat kitab itu kepada muridnya. Akan tetapi anehnya, dua
suara yang saling susul itu terdengar dari dalam sebuah hutan yang lebat, hutan yang
jarang didatangi manisia dan menjadi sarang dari harimau-harimau, ular-ular besar
dan lain binatang buas. Kalau pun ada manusianya tentulah sebangsa manusia
perampok.
Apabila kita melihat ke dalam hutan itu untuk mengetahui siapa orangnya yang
mengajarkan ayat-ayat kitab To-tek-keng kepada anak kecil tadi, kita akan merasa
heran sekali. Ternyata bahwa yang membaca ayat-ayat kitab itu adalah seorang tosu
berbaju kuning, di pungungnya tergantung sebatang pedang. Tosu ini tinggi kurus
berkumis tipis, berusia kurang lebih lima puluh tahun, rambutnya digelung ke atas dan
ia menunggang seekor kuda kurus yang berjalan seenaknya dan nampaknya sudah
amat lelah. Di belakang kuda ini berjalan seorang anak laki-laki berusia sepuluh
tahun, pakaiannya penuh tambalan, rambutnya diikat ke belakang, mukanya putih
agak pucat dan matanya besar. Anak ini amat miskin pakaiannya sampai-sampai
bersepatu pun tidak. Di dekat mata kaki kiri ada boroknya sebesar ibu jari kakinya
sehingga agak terpincang pincang jalannya. Akan tetapi, biarpun keadaannya begini,
miskin, anak itu tampaknya gembira terus. Mulutnya menyinarkan cahaya gembira
dan nakal.
Ayat-ayat yang dibacakan oleh Tosu di atas tai adalah ayat ke dua belas. Kalau
dihitung tosu itu membaca dari ayat pertama dengan suara keras, tetapi lambatlambat,
sudah lama jugalah anak itu menirunya.
Pada ayat keduabelas di mana terdapat kata-kata tentang orang budiman
mengutamakan urusan perut, anak laki-laki itu setelah selesai meniru ayat ini sampai
habis, segera berkata. Suaranya lantang, nyaring dan tinggi.
"Totiang, benar sekali orang budiman itu. Aku pun mau menjadi orang budiman,
mengutamakan urusan perutku yang sudah amat lapar ini. Maka harap Totiang lekaslekas
memberi roti kering atau uang, aku tidak mau pedulikan urusan lain lagi"
Sambil berkata demikian, anak itu tidak lagi berjalan di belakang kuda, melainkan
berlari mendampingi dan menarik-narik kaki kanan tosu itu.
Akan tetapi tosu itu seperti tidak melihat bocah tadi, juga seperti tidak merasa
kakinya dibetot-betot. Ia membuka mulutnya lagi dan berteriak dengan suara keras.
"Ayat ke tiga belas berbunyi..............."
"Aku tidak peduli apa bunyi ayat ketiga belas atau ke tiga ribu!" Anak itu berteriak.
"Perutku lapar dan Totiang sudah berjanji akan memberi roti kering dan uang
kepadaku!"
Tosu itu nampak tertegun, seakan-akan baru sekarang ia tahu bahwa suara yang
tadinya menirunya telah meneluarkan suara lain. Ia menunda menbaca kitabnya dan
memandang kepada anak itu dengan mata bersinar-sinar. Tadi ia bertemu dengan anak
itu di luar sebuah kampung dekat hutan ini. Pada waktu itu ia sedang beristirahat dan
makan roti kering. Lalu datang anak yang dikenalnya ini mendekat, nampaknya ingin
sekali akan tetapi tidak mengeluarkan suara.
"Kau mau roti kering?" Anak itu hanya mengangguk.
"Heh..heh..heh, roti keringku sudah habis di warung sana?"Ia bertanya lagi, Kembali
anak itu mengganguk,Tosu itu menjadi gemas juga.
"Gagukah engkau?"
"Tidak, Totiang, hanya sedang malas bicara,"
Jawaban ini membuat si tosu menjadi terheran-heran. Baru kali