Previous Page of 269Next Page

Pendekar Bodoh

spinner.gif

<P>Pendekar Bodoh<BR>Serial Pendekar Sakti (3)<BR>Lanjutan Ang I Niocu</P>

<P>Bagian I</P>

<P>Di sebelah  barat kota  Tiang-an, di  luar tembok  kota dekat  hutan  pohon<BR>cemara, terdapat sebuah  kuil tua  yang temboknya  sudah banyak  yang rusak  dan<BR>warna tembok itu tidak karuan lagi. Tapi huruf-huruf yang ditulis di dinding dan<BR>bermaksud sebagai puja-puji  kepada dewata berbunyi"Lam  Bu 0 Mi  To Hud"  masih<BR>dapat terbaca, demikian pula  merk bio (kuil) itu  yang dipasang di depan  pintu<BR>luar dan berbunyi"Ban Hok Tong" atau"Kuil Selaksa Rejeki."<BR>Pada siang  hari yang  sunyi  itu terdengarlah  suara orang  mengajar  ilmu<BR>membaca dari  dalam  bio  dan  kadang-kadang  terdengar  suara  pendeta  membaca<BR>liamkeng (doa). Karena suara pendeta berliamkeng bukan merupakan hal aneh  lagi,<BR>maka yang menarik perhatian adalah suara guru sastera yang tinggi parau itu, dan<BR>kadang-kadang dijawab oleh suara seorang kanak-kanak yang nyaring dan bening.<BR>"Su-hai-ci-lwe-kai-heng-te-ya...!"  terdengar  penuh  kegemasan  dan  tidak<BR>sabar.<BR>"Tahu, tahu..." suara anak  kecil itu cepat  menjawab, "Artinya adalah,  di<BR>empat penjuru samudera, semua adalah saudara!"<BR>"Bagus! Tapi, tahukah kau siapakah yang dimaksudkan saudara itu?"<BR>"Siapa, Sian-seng  (Pak  Guru)??  Tentu  bukan kita,  karena  kau  dan  aku<BR>bukanlah saudara," terdengar jawab ketolol-tololan hingga guru itu memukul meja.<BR>"Bodoh! Yang dimaksud dengan  saudara bukanlah pertalian persaudaraan  yang<BR>berdasar   kekeluargaan,    tapi    adalah   rasa    persaudaraan    berdasarkan <BR>perikemanusiaan, tahu?"<BR>Suara anak  itu  menandakan bahwa  ia  masih  sangat kecil,  mana  bisa  ia<BR>menikmati  "makanan   rohani"  yang   berat  ini.   Maka  terdengar   jawabannya<BR>takut-takut, "Hakseng (Murid) tidak mengerti, Sian-seng."<BR>"Memang kau tolol,  bodoh, dungu  seperti kerbau! Mengajar  kau tidak  bisa<BR>dengan mulut saja, harus  dengan tangan. Nah,  kaurasakan ini supaya  mengerti!"<BR>Lalu terdengarlah  suara  tamparan,  tapi  sedikit  pun  tidak  terdengar  pekik<BR>kesakitan walaupun kalau orang  menjenguk ke dalam  akan melihat betapa  seorang<BR>anak laki-laki  berusia paling  banyak enam  tahun telah  ditampar sampai  merah<BR>pipinya. Anak itu menggigit bibirnya.<BR>"Nah, sekarang kausebutkan ujar-ujar yang kemarin telah kuterangkan padamu.<BR>" "Ujar-ujar  yang  mana,  Sian-seng? Kemarin  kita  mempelajari  banyak  sekali<BR>ujar-ujar," jawab murid itu.<BR>"Ujar-ujar yang ke tiga."<BR>Sunyi sebentar,  lalu  terdengar suara  anak  itu lantang,  "Janganlah  kau<BR>perbuat kepada lain orang sesuatu yang  kau sendiri tak suka orang lain  perbuat<BR>kepadamu!"<BR>"Bodoh, itu  adalah  ujar-ujar  yang  kita  pelajari  kemarin  dulu,  bukan<BR>kemarin. Kau selalu sebut ujar-ujar ini saja! Agaknya hanya ujar-ujar yang dapat<BR>memasuki batok kepalamu yang keras itu."<BR>"Memang hak-seng paling suka kepada  ujar-ujar ini, Sian-seng," jawab  anak<BR>itu yang tiba-tiba menjadi berani.<BR>"Mengapa begitu?"<BR>"Harap Sian-seng terangkan dulu apakah semua ujar-ujar Nabi Khong Hu Cu itu<BR>baik dan betul?"<BR>"Tentu saja, tolol! Kalau tidak baik  dan betul tak nanti dipelajari  orang<BR>sedunia."<BR>"Kalau begitu, apakah Sian-seng suka kalau kutampar mukamu?"<BR>"Apa katamu? Kau... kau bangsat...."<BR>"Sian-seng tadi menampar pipiku, tapi  tidak suka kalau kutampar,  bukankah<BR>itu menyalahi ujar-ujar yang kita pelajari?"<BR>Untuk beberapa  saat  tak  terdengar suara  apa-apa  seakan-akan  guru  itu<BR>tercengang, tapi kemudian terdengar ia memaki kalang kabut. Dan pada saat itu di<BR>luar kuil terjadilah hal-hal yang lebih hebat lagi.<BR>Seorang hwesio (pendeta) gundul yang bertubuh tinggi besar dengan  sepasang<BR>mata bundar menakutkan  dan lengan tangan  yang besar berbulu, 

Previous Page of 269Next Page

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended