Previous Page of 283Next Page

Pendekar Bodoh

spinner.gif

Pendekar Bodoh
Serial Pendekar Sakti (3)
Lanjutan Ang I Niocu

Bagian I

Di sebelah  barat kota  Tiang-an, di  luar tembok  kota dekat  hutan  pohon
cemara, terdapat sebuah  kuil tua  yang temboknya  sudah banyak  yang rusak  dan
warna tembok itu tidak karuan lagi. Tapi huruf-huruf yang ditulis di dinding dan
bermaksud sebagai puja-puji  kepada dewata berbunyi"Lam  Bu 0 Mi  To Hud"  masih
dapat terbaca, demikian pula  merk bio (kuil) itu  yang dipasang di depan  pintu
luar dan berbunyi"Ban Hok Tong" atau"Kuil Selaksa Rejeki."
Pada siang  hari yang  sunyi  itu terdengarlah  suara orang  mengajar  ilmu
membaca dari  dalam  bio  dan  kadang-kadang  terdengar  suara  pendeta  membaca
liamkeng (doa). Karena suara pendeta berliamkeng bukan merupakan hal aneh  lagi,
maka yang menarik perhatian adalah suara guru sastera yang tinggi parau itu, dan
kadang-kadang dijawab oleh suara seorang kanak-kanak yang nyaring dan bening.
"Su-hai-ci-lwe-kai-heng-te-ya...!"  terdengar  penuh  kegemasan  dan  tidak
sabar.
"Tahu, tahu..." suara anak  kecil itu cepat  menjawab, "Artinya adalah,  di
empat penjuru samudera, semua adalah saudara!"
"Bagus! Tapi, tahukah kau siapakah yang dimaksudkan saudara itu?"
"Siapa, Sian-seng  (Pak  Guru)??  Tentu  bukan kita,  karena  kau  dan  aku
bukanlah saudara," terdengar jawab ketolol-tololan hingga guru itu memukul meja.
"Bodoh! Yang dimaksud dengan  saudara bukanlah pertalian persaudaraan  yang
berdasar   kekeluargaan,    tapi    adalah   rasa    persaudaraan    berdasarkan
perikemanusiaan, tahu?"
Suara anak  itu  menandakan bahwa  ia  masih  sangat kecil,  mana  bisa  ia
menikmati  "makanan   rohani"  yang   berat  ini.   Maka  terdengar   jawabannya
takut-takut, "Hakseng (Murid) tidak mengerti, Sian-seng."
"Memang kau tolol,  bodoh, dungu  seperti kerbau! Mengajar  kau tidak  bisa
dengan mulut saja, harus  dengan tangan. Nah,  kaurasakan ini supaya  mengerti!"
Lalu terdengarlah  suara  tamparan,  tapi  sedikit  pun  tidak  terdengar  pekik
kesakitan walaupun kalau orang  menjenguk ke dalam  akan melihat betapa  seorang
anak laki-laki  berusia paling  banyak enam  tahun telah  ditampar sampai  merah
pipinya. Anak itu menggigit bibirnya.
"Nah, sekarang kausebutkan ujar-ujar yang kemarin telah kuterangkan padamu.
" "Ujar-ujar  yang  mana,  Sian-seng? Kemarin  kita  mempelajari  banyak  sekali
ujar-ujar," jawab murid itu.
"Ujar-ujar yang ke tiga."
Sunyi sebentar,  lalu  terdengar suara  anak  itu lantang,  "Janganlah  kau
perbuat kepada lain orang sesuatu yang  kau sendiri tak suka orang lain  perbuat
kepadamu!"
"Bodoh, itu  adalah  ujar-ujar  yang  kita  pelajari  kemarin  dulu,  bukan
kemarin. Kau selalu sebut ujar-ujar ini saja! Agaknya hanya ujar-ujar yang dapat
memasuki batok kepalamu yang keras itu."
"Memang hak-seng paling suka kepada  ujar-ujar ini, Sian-seng," jawab  anak
itu yang tiba-tiba menjadi berani.
"Mengapa begitu?"
"Harap Sian-seng terangkan dulu apakah semua ujar-ujar Nabi Khong Hu Cu itu
baik dan betul?"
"Tentu saja, tolol! Kalau tidak baik  dan betul tak nanti dipelajari  orang
sedunia."
"Kalau begitu, apakah Sian-seng suka kalau kutampar mukamu?"
"Apa katamu? Kau... kau bangsat...."
"Sian-seng tadi menampar pipiku, tapi  tidak suka kalau kutampar,  bukankah
itu menyalahi ujar-ujar yang kita pelajari?"
Untuk beberapa  saat  tak  terdengar suara  apa-apa  seakan-akan  guru  itu
tercengang, tapi kemudian terdengar ia memaki kalang kabut. Dan pada saat itu di
luar kuil terjadilah hal-hal yang lebih hebat lagi.
Seorang hwesio (pendeta) gundul yang bertubuh tinggi besar dengan  sepasang
mata

Previous Page of 283Next Page

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended