Pendekar Bodoh

spinner.gif

<P>Pendekar Bodoh<BR>Serial Pendekar Sakti (3)<BR>Lanjutan Ang I Niocu</P>

<P>Bagian I</P>

<P>Di sebelah  barat kota  Tiang-an, di  luar tembok  kota dekat  hutan  pohon<BR>cemara, terdapat sebuah  kuil tua  yang temboknya  sudah banyak  yang rusak  dan<BR>warna tembok itu tidak karuan lagi. Tapi huruf-huruf yang ditulis di dinding dan<BR>bermaksud sebagai puja-puji  kepada dewata berbunyi"Lam  Bu 0 Mi  To Hud"  masih<BR>dapat terbaca, demikian pula  merk bio (kuil) itu  yang dipasang di depan  pintu<BR>luar dan berbunyi"Ban Hok Tong" atau"Kuil Selaksa Rejeki."<BR>Pada siang  hari yang  sunyi  itu terdengarlah  suara orang  mengajar  ilmu<BR>membaca dari  dalam  bio  dan  kadang-kadang  terdengar  suara  pendeta  membaca<BR>liamkeng (doa). Karena suara pendeta berliamkeng bukan merupakan hal aneh  lagi,<BR>maka yang menarik perhatian adalah suara guru sastera yang tinggi parau itu, dan<BR>kadang-kadang dijawab oleh suara seorang kanak-kanak yang nyaring dan bening.<BR>"Su-hai-ci-lwe-kai-heng-te-ya...!"  terdengar  penuh  kegemasan  dan  tidak<BR>sabar.<BR>"Tahu, tahu..." suara anak  kecil itu cepat  menjawab, "Artinya adalah,  di<BR>empat penjuru samudera, semua adalah saudara!"<BR>"Bagus! Tapi, tahukah kau siapakah yang dimaksudkan saudara itu?"<BR>"Siapa, Sian-seng  (Pak  Guru)??  Tentu  bukan kita,  karena  kau  dan  aku<BR>bukanlah saudara," terdengar jawab ketolol-tololan hingga guru itu memukul meja.<BR>"Bodoh! Yang dimaksud dengan  saudara bukanlah pertalian persaudaraan  yang<BR>berdasar   kekeluargaan,    tapi    adalah   rasa    persaudaraan    berdasarkan <BR>perikemanusiaan, tahu?"<BR>Suara anak  itu  menandakan bahwa  ia  masih  sangat kecil,  mana  bisa  ia<BR>menikmati  "makanan   rohani"  yang   berat  ini.   Maka  terdengar   jawabannya<BR>takut-takut, "Hakseng (Murid) tidak mengerti, Sian-seng."<BR>"Memang kau tolol,  bodoh, dungu  seperti kerbau! Mengajar  kau tidak  bisa<BR>dengan mulut saja, harus  dengan tangan. Nah,  kaurasakan ini supaya  mengerti!"<BR>Lalu terdengarlah  suara  tamparan,  tapi  sedikit  pun  tidak  terdengar  pekik<BR>kesakitan walaupun kalau orang  menjenguk ke dalam  akan melihat betapa  seorang<BR>anak laki-laki  berusia paling  banyak enam  tahun telah  ditampar sampai  merah<BR>pipinya. Anak itu menggigit bibirnya.<BR>"Nah, sekarang kausebutkan ujar-ujar yang kemarin telah kuterangkan padamu.<BR>" "Ujar-ujar  yang  mana,  Sian-seng? Kemarin  kita  mempelajari  banyak  sekali<BR>ujar-ujar," jawab murid itu.<BR>"Ujar-ujar yang ke tiga."<BR>Sunyi sebentar,  lalu  terdengar suara  anak  itu lantang,  "Janganlah  kau<BR>perbuat kepada lain orang sesuatu yang  kau sendiri tak suka orang lain  perbuat<BR>kepadamu!"<BR>"Bodoh, itu  adalah  ujar-ujar  yang  kita  pelajari  kemarin  dulu,  bukan<BR>kemarin. Kau selalu sebut ujar-ujar ini saja! Agaknya hanya ujar-ujar yang dapat<BR>memasuki batok kepalamu yang keras itu."<BR>"Memang hak-seng paling suka kepada  ujar-ujar ini, Sian-seng," jawab  anak<BR>itu yang tiba-tiba menjadi berani.<BR>"Mengapa begitu?"<BR>"Harap Sian-seng terangkan dulu apakah semua ujar-ujar Nabi Khong Hu Cu itu<BR>baik dan betul?"<BR>"Tentu saja, tolol! Kalau tidak baik  dan betul tak nanti dipelajari  orang<BR>sedunia."<BR>"Kalau begitu, apakah Sian-seng suka kalau kutampar mukamu?"<BR>"Apa katamu? Kau... kau bangsat...."<BR>"Sian-seng tadi menampar pipiku, tapi  tidak suka kalau kutampar,  bukankah<BR>itu menyalahi ujar-ujar yang kita pelajari?"<BR>Untuk beberapa  saat  tak  terdengar suara  apa-apa  seakan-akan  guru  itu<BR>tercengang, tapi kemudian terdengar ia memaki kalang kabut. Dan pada saat itu di<BR>luar kuil terjadilah hal-hal yang lebih hebat lagi.<BR>Seorang hwesio (pendeta) gundul yang bertubuh tinggi besar dengan  sepasang<BR>mata bundar menakutkan  dan lengan tangan  yang besar berbulu,  entah dari  mana<BR>datangnya, berhenti di luar kuil dan ia menurunkan sebuah keranjang rotan  besar<BR>sekali yang  tadi dipanggulnya.  Ia  lalu duduk  di  atas keranjang  itu  sambil<BR>melihat ke arah pintu  kuil dengan penuh perhatian.  Tiba-tiba dari dalam  pintu<BR>kuil itu keluarlah tiga orang-orang tua yang juga pendeta-pendeta penganut Agama<BR>To (Tosu) yang  memelihara rambut  dan rambut itu  digelung ke  atas dan  diikat<BR>ditengah-tengah. Tiga orang tosu itu juga aneh karena yang seorang tinggi  kurus<BR>bertongkat kayu cendana, yang  ke dua pendek  tapi gesit sekali  gerak-geriknya,<BR>sedangkan yang seorang lagi tinggi besar  dan bercambang bauk yang menyongot  ke<BR>sana-sini, berbeda dengan dua orang  kawannya yang berjenggot putih panjang  dan<BR>halus.<BR>Hwesio gundul tinggi  besar itu ketika  melihat tiga tosu  ini keluar  dari<BR>pintu kuil, tampak  terkejut karena  memang ia  tidak menduga  sama sekali  akan<BR>melihat mereka di situ. Sebaliknya, ketiga orang tosu itu ketika melihat hwesio,<BR>juga kaget sekali dan mereka bertiga lalu menggerakkan tubuh loncat menghampiri.<BR>Loncatan ini  luar biasa  sekali, karena  sekali saja  meloncat, mereka  bertiga<BR>telah melayang ke tempat hwesio itu yang jauhnya tak kurang dari sepuluh  tombak<BR>(setombak kira-kira dua meter)!<BR>"Hai Kong,  kau  berani menemui  kami?  Apakah kau  mencari  mampus?"  Tosu<BR>jangkung kurus  bertanya  sambil  mengketuk-ketukkan ujung  tongkatnya  ke  atas<BR>tanah.<BR>Tiba-tiba hwesio gundul yang bernama Hai Kong Hosiang itu tertawa dan suara<BR>ketawanya ini  aneh sekali.  Keras  dan parau  memekakkan telinga  dan  sebentar<BR>merendah bagaikan suara orang  bernyanyi. Suara ini  terdengar sampai di  tempat<BR>jauh hingga guru dan murid yang sedang  berada di dalam sebuah kamar dalam  kuil<BR>itu menjadi terkejut. Anak kecil itu  tak dapat menahan keinginan tahunya,  maka<BR>sambil membawa suling  bambunya ia berlari  keluar dan dari  kamar itu.  Gurunya<BR>marah dan mengejarnya sambil berteriak,<BR>"Cin Hai...  Cin  Hai.... kau  tolol  kembalilah nanti  kuadukan  kau  kepada<BR>Pamanmu!"<BR>Karena dikejar-kejar, Cin Hai  lari ke tempat yang  rendah di pinggir  kuil<BR>lalu memanjat naik.  Ketika siucai  (sasterawan) tua yang  kurus sekali  seperti<BR>orang cacingan itu mengejar ke situ, ia lalu memanjat ke atas genteng!  Ternyata<BR>Cin Hai yang baru berusia enam tahun itu berani sekali memanjat naik berlari  di<BR>sepanjang wuwungan bangunan  pinggir dari  kuil itu. Kepalanya  yang gundul  dan<BR>bulat kecil itu seperti berkilau karena tertimpa cahaya matahari!<BR>Gurunya berteriak-teriak memanggil dengan gemas dan memburu sampai di  luar<BR>pintu, tetapi  tiba-tiba sasterawan  itu  melihat tiga  orang tosu  dan  seorang<BR>hwesio aneh yang kini saling berhadapan di  luar kuil itu. Ia menjadi takut  dan<BR>buru-buru bersembunyi di belakang pintu kuil! Cin Hai kini duduk di atas genteng<BR>dan memandang ke bawah. Juga  ia heran sekali melihat  tiga orang itu yang  kini<BR>siap hendak mengeroyok Si  Hwesio tinggi besar.  Sementara itu, setelah  tertawa<BR>keras yang mengejutkan  Cin Hai dan  gurunya, hwesio gundul  itu berdiri  dengan<BR>kedua kaki terpentang lebar dan ia menggerak-gerakkan kedua lengannya yang hebat<BR>sambil berkata, "Ha, ha, ha! Kalian Giok Im Cu, Giok Yang Cu, dan Giok Keng  Cu,<BR>jangan kalian sombong karena  kemenanganmu yang tipis  pada beberapa tahun  yang<BR>lalu di Heng-san! Apakah  kaukira aku takut  menghadapi Kanglam Sam-lojin  (Tiga<BR>Kakek dari  Kanglam)  yang  tersohor?  Ha, ha,  ha!  Kalian  maju  bertiga  baru<BR>mengimbangi aku, tapi sekarang jangankan bertiga, kautambah tiga belas lagi akan<BR>kutewaskan semua, ha, ha!"<BR>Kemudian hwesio  gundul  itu  menggerakkan tubuhnya  dan  memang  ia  hebat<BR>sekali. Berbeda dengan tubuhnya yang besar  dan kasar itu, gerakannya sebet  dan<BR>gesit sekali. Tubuhnya bagaikan lenyap dan hanya bayang-bayangnya saja  bergerak<BR>menyerang ketiga lawannya!<BR>Tapi Kanglam  Sam-lojin  adalah  tiga  tokoh  persilatan  yang  telah  lama<BR>disohorkan orang. Mereka ini adalah tokoh-tokoh terakhir dari cabang  persilatan<BR>Liong-san-pai  dan  ketiganya  merupakan   saudara  seperguruan  yang   memiliki<BR>kepandaian silat tinggi dan keistimewaan  masing-masing. Giok Im Cu yang  tertua<BR>memiliki tenaga lweekang yang tinggi  sekali hingga sukar dicari keduanya,  Giok<BR>Yang Cu yang  tinggi besar dan  brewokan memiliki tenaga  gwakang (tenaga  luar,<BR>kekuatan urat) yang melebihi tenaga seekor kerbau jantan, sedangkan Giok Keng Cu<BR>adalah ahli mempergunakan piauw (senjata rahasia yang disambitkan) bersayap.  Di<BR>samping kepandaian khusus ini, ilmu silat mereka juga tinggi dan lihai sekali.<BR>Maka, menghadapi  serangan  Hai  Kong  Hosiang  ini,  mereka  bertiga  lalu<BR>berpencar dan menghadapi  hwesio dari  tiga jurusan. Hai  Kong Hosiang  ternyata<BR>luar biasa, karena gerak-geriknya  aneh seperti menari berlenggak-lenggok,  sama<BR>sekali bukan seperti gerakan silat, tapi kedua tangannya bagaikan dua ekor  ular<BR>yang hidup dan  sepuluh jari tangannya  pun hidup bergerak-gerak  dan tiap  jari<BR>selalu mengancam  jalan  darah lawannya!  Inilah  ilmu silatnya  yang  aneh  dan<BR>disebut Jian-coa-kun-hoat atau Ilmu  Silat Seribu Ular.  Ia gesit bagaikan  ular<BR>dan setiap serangan  yang dilancarkan  selalu mengarah urat  kematian lawan  dan<BR>datangnya secara tiba-tiba  tak terduga  sama sekali! Baiknya  ketiga tosu  yang<BR>menjadi lawannya pernah bertempur dengan dia  kira-kira tiga tahun yang lalu  di<BR>puncak Heng-san hingga ketiga tosu itu sedikitnya tahu pula keganasan ilmu silat<BR>ini hingga mereka dapat menjaga diri dan melancarkan serangan balasan yang tidak<BR>kalah hebatnya.<BR>Cin Hai yang duduk di atas  genteng itu dengan senang menonton  pertempuran<BR>dan gembira sekali. Memang ia suka sekali menonton orang bersilat dan tiap  kali<BR>di kota diadakan  keramaian dan dipertunjukkan  permainan demonstrasi silat,  ia<BR>selalu pasti ada di  antara penonton, dan minggat  dari gedung pamannya  biarpun<BR>sudah dilarang. Kini  ada tontonan adu  silat tanpa bayar  tentu saja ia  senang<BR>sekali. Apalagi adu silat kali ini  sungguh berbeda dengan adu silat biasa  yang<BR>dilakukan di atas panggung.  Ia melihat, betapa empat  orang yang berkelahi  itu<BR>bergerak-gerak dengan  aneh sekali  dan kedua  matanya menjadi  kabur dan  silau<BR>ketika melihat betapa tubuh keempat orang itu lenyap terganti oleh bayang-bayang<BR>hitam yang bergerak cepat sekali. Matanya  yang silau kini tak dapat  membedakan<BR>lagi mana  hwesio gundul  dan mana  tiga orang  tosu yang  mengeroyoknya!  Hanya<BR>kadang-kadang saja, warna merah  dari jubah hwesio gundul  itu masih tampak  dan<BR>ternyata ia terkurung di tengah-tengah. Sungguh satu tontonan yang  mengasyikkan<BR>dan menegangkan  hati, apalagi  karena  Cin Hai  tahu  bahwa hwesio  gundul  itu<BR>dikeroyok tiga dalam pertempuran  yang sungguh-sungguh dan mati-matian,  berbeda<BR>dengan segala pibu  (adu kepandaian silat)  maka dengan tak  terasa pula  saking<BR>tegangnya Cin Hai memasukkan ujung suling  ke mulut seperti orang sedang  meniup<BR>suling.<BR>Sementara itu,  ketiga tosu  yang mengeroyok  Hai Kong  Hosiang makin  lama<BR>makin terdesak oleh  Jian-coa-kun-hoat yang benar-benar  lihai. Mereka  terkejut<BR>sekali karena betul-betul  kepandaian Si Gundul  ini telah maju  hebat dan  jauh<BR>bedanya jika dibandingkan dengan  tiga tahun yang lalu.  Karena tahu bahwa  jika<BR>terus bertempur dengan tangan kosong akhirnya  akan kalah, tiba-tiba Giok Im  Cu<BR>berseru keras,<BR>"Hai Kong, kau benar-benar hendak mengadu jiwa?"<BR>Setelah berkata  demikian,  Giok  Im  Cu yang  bertubuh  tinggi  kurus  itu<BR>mencabut  ranting  kayu  yang  tadi   ketika  bertempur  ia  selipkan  di   ikat<BR>pinggangnya. Biarpun  ranting  itu  hanya  kecil saja,  namun  berada  di  dalam<BR>tangannya lalu berubah  menjadi sebuah  senjata yang ampuh  karena ranting  yang<BR>lemas itu dapat  menerima tenaga lweekang  yang ia salurkan  ke dalamnya.  Kedua<BR>kawannya lalu meniru perbuatan ini, Giok Keng Cu yang bertubuh kecil pendek  dan<BR>sangat gesit  itu lalu  mencabut sebatang  golok besar  bergagang emas  yang  ia<BR>putar-putar sampai menerbitkan angin dingin, sedangkan Giok Yang Cu yang  tinggi<BR>besar seperti Thio  Hwie (seorang  tokoh ternama dalam  dongeng sejarah  Samkok)<BR>lalu mencabut keluar sebatang pedang pusaka yang berkilauan saking tajamnya!<BR>Ketiga tosu dengan senjata masing-masing ini lalu menyerang dengan hebatnya<BR>bagaikan serangan badai mengamuk.<BR>"Ha,  ha,  ha!  Hayo  kalian  keluarkan  semua  kepandaian,  akhirnya  akan<BR>kumampuskan seorang  demi  seorang!" Hai  Kong  Hosiang menyindir  dan  ia  lalu<BR>mengeluarkan sebatang  senjata  aneh,  yang  tadi  tersimpan  di  sebelah  dalam<BR>jubahnya hingga tidak kelihatan. Senjata ini dilihat dari jauh kelihatan seperti<BR>sebatang kayu kering  yang tidak  lurus dan bengkak-bengkok  tapi kalau  dilihat<BR>dari dekat akan ternyata bahwa senjata itu adalah seekor ular yang telah kering!<BR>Biarpun telah mati dan kering, tapi  tubuh binatang itu masih utuh dan  lengkap,<BR>bahkan  matanya  yang  melotot  dan  lidahnya  yang  terjulur  itu  membuat   ia<BR>seakan-akan masih hidup. Senjata  ini selain aneh  juga berbahaya sekali  karena<BR>ular itu  bukan  sembarang  ular,  tapi seekor  ular  berbisa  yang  luar  biasa<BR>jahatnya. Hai Kong Hosiang memegang senjata tongkat ular itu pada ekornya hingga<BR>kalau ia mainkan senjata istimewa ini,  lidah ular yang bercabang dua dan  tajam<BR>itu dapat digunakan untuk menotok jalan darah, sedangkan mulut bergigi ular  itu<BR>dapat melukai kulit. Ini masih ditambah  lagi dengan kejahatan racun yang  penuh<BR>di mulut  ular  itu  yang membuat  setiap  luka  kecil pada  tubuh  lawan  dapat<BR>menyeretnya ke lubang kuburan!<BR>Sebentar saja  keempat orang  itu telah  bertanding pula,  kini jauh  lebih<BR>hebat karena kalau  tadi tubuh  mereka masih tampak  sebagai bayang-bayang  yang<BR>bergerak ke sana ke mari, maka kini setelah mainkan senjata, tubuh mereka lenyap<BR>dan sebagai gantinya tampak  gulungan-gulungan sinar yang bermacam-macam  bentuk<BR>dan warnanya.  Pertempuran adu  jiwa  yang seru  dan  serem, tapi  yang  membuat<BR>pemandangan indah menarik hingga Cin Hai menonton di atas genteng menjadi  makin<BR>gembira lagi.<BR>Hampir saja ia bersorak  dan bertepuk tangan,  tapi tiba-tiba kakinya  yang<BR>menginjak genteng terpeleset hingga hampir saja ia jatuh ke bawah. Ia kaget  dan<BR>pindah duduk  di tempat  yang lebih  rendah. Sementara  itu, gurunya  yang  tadi<BR>bersembunyi  di  balik  pintu,  ketika   mencoba  untuk  menjenguk  keluar   dan<BR>menongolkan kepalanya, terkejut sekali melihat keempat orang itu kini  bertempur<BR>dengan senjata tajam, maka segera kepala  yang nongol itu ditariknya kembali  ke<BR>belakang dengan cepat  seperti kepala kura-kura,  sedangkan tubuhnya yang  kurus<BR>kering seperti cecak itu menggigil ketakutan!<BR>Biarpun senjata  di tangan  Hai  Kong Hosiang  hebat sekali  dan  permainan<BR>silatnya yang berdasarkan permainan  ilmu Pedang Jian-coa-kiam-sut (Ilmu  Pedang<BR>Seribu Ular) lihai dan berbahaya, namun menghadapi tiga macam permainan  senjata<BR>dari Kang-lam Sam-lojin itu,  ia merasa kewalahan  dan keteter juga,  gerakannya<BR>mulai tak tetap dan sinar ketiga senjata lawannya makin menekan tongkat ularnya.<BR>"Ha, Hai Kong, sekarang  kau hendak lari  ke mana?" Giok  Keng Cu si  kecil<BR>pendek menyindir sambil memperhebat gerakan golok besarnya.<BR>"Ha, ha ha! Tiga tikus tua,  kamu kira kalian akan terlepas dari  tanganku,<BR>ha, ha!" Biarpun dalam keadaan terdesak, Hai Kong Hosiang masih sempat  tertawa.<BR>Kemudian terdengarlah  bunyi  melengking  yang aneh  dari  mulutnya.  Suara  ini<BR>menyerupai bunyi suling dan melengking tinggi rendah seperti berlagu.<BR>Dan pada saat  itu, keranjang rotan  besar yang tadi  dia panggul dan  kini<BR>terletak di  atas  tanah,  lalu bergoyang-goyang  dan  tubuhnya  terangkat  naik<BR>seperti ada apa-apa di dalamnya yang hendak keluar! Dan sesaat kemudian,  ketika<BR>bunyi lengking  dari  mulut Hai  Kong  Hosiang itu  meninggi,  terbukalah  tutup<BR>keranjang besar itu dan dari dalamnya  tersembul kepala ular yang besar  sekali!<BR>Ular itu mendesis-desis dan membuka mulutnya yang lebar, lidahnya yang merah dan<BR>tajam itu menusuk-nusuk keluar dari tengah-tengah mulutnya yang merah.  Sepasang<BR>matanya liar memandang ke arah suara lengking yang menggairahkannya. Kemudian ia<BR>keluar dari  keranjang  itu  dan  alangkah panjang  tubuhnya!  Kepala  ular  itu<BR>terangkat, naik bagaikan sedang mencari-cari  mangsanya dan pada saat itu,  dari<BR>dalam keranjang keluar pula ular lain berturut-turut hingga semua isi  keranjang<BR>yang ternyata mengandung lima ekor ular yang mengerikan itu telah keluar semua.<BR>Tiga orang  tosu yang  sedang mendesak  Hai Kong  Hosiang, terkejut  sekali<BR>melihat betapa lima ekor ular itu cepat menghampiri mereka dan segera  mengurung<BR>dalam segi lima yang teratur. Gerakan kelima binatang buas itu cepat dan  gesit,<BR>sedangkan  tubuh  mereka  yang  berkembang  dengan  warna  merah  kehijauan  itu<BR>berlenggak-lenggok   seperti    sedang   menari-nari.    Nyata   sekali    bahwa<BR>gerakan-gerakan mereka  terpengaruh  oleh bunyi  lengking  dari mulut  Hai  Kong<BR>Hosiang!<BR>Giok Keng Cu cepat mengeluarkan hui-piauw (piauw terbang) dari sakunya  dan<BR>sekali menggerakkan tangan,  lima batang menyambar  ke arah dua  ekor ular  yang<BR>berada di  depannya. Tapi  pada saat  itu juga,  dari jurusan  Hai Kong  Hosiang<BR>menyambar dua benda  hitam yang membentur  dua batang piauw  itu sedangkan  tiga<BR>batang piauw  yang  masih menyambar,  dapat  dikelit  oleh dua  ekor  ular  yang<BR>ternyata gerakannya gesit sekali itu!<BR>Biarpun pada  dasarnya  mempunyai  hati  yang  besar  dan  ketabahan  serta<BR>keberanian luar biasa, tapi ketika melihat betapa dari keranjang itu keluar lima<BR>ekor ular  yang menakutkan  sekali,  Cin Hai  merasa  ngeri juga!  Ia  memandang<BR>keadaan di bawah dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Bunyi lengking yang<BR>keluar  dari  mulut  Hai  Kong  Hosiang  membuat  telinganya  terasa  sakit  dan<BR>perasaannya tak enak  sekali. Sementara  gurunya yang  bersembunyi dengan  tubuh<BR>menggigil, ketika  mendengai bunyi  lengking yang  aneh itu,  tak dapat  menahan<BR>keinginan  hatinya  untuk  melihat.   Biarpun  masih  menggigil  ketakutan,   ia<BR>memaksakan diri untuk menongolkan kepala lagi. Tapi pemandangan yang dihadapinya<BR>sekarang  terlampau   hebat   dan   mengerikan   untuknya.   Jantungnya   terasa<BR>berloncat-loncatan ke  atas, berjungkir  balik beberapa  kali di  dalam  dadanya<BR>kemudian jatuh kembali  ke tempat semula  dengan terbalik! Ia  merasa lemas  dan<BR>roboh pingsan bagaikan sehelai kain yang dilepaskan, sedangkan di bawah tubuhnya<BR>tiba-tiba menjadi basah!<BR>Keadaan ketiga tosu  itu makin  berbahaya. Kini  lima ekor  ular itu,  atas<BR>desakan bunyi lengking dari Hai  Kong Hosiang, mulai dengan penyerangan  mereka.<BR>Sedikit demi sedikit kurungan mereka makin  rapat dan ketiga tosu yang  bergerak<BR>di dalam kurungan  itu tak dapat  keluar, sedangkan ruang  untuk bergerak  makin<BR>sempit. Mereka mempertahankan diri dan  melakukan serangan hebat dengan  senjata<BR>mereka, tapi lima  ular itu  ternyata gesit  sekali dan  dapat mengelakkan  tiap<BR>serangan senjata lawan. Selain itu masih ada Hai Kong Hosiang yang tidak tinggal<BR>diam, tapi juga menyerang dengan tak kurang hebatnya!<BR>Keadaan tiga  orang tosu  itu berbahaya  sekali dan  agaknya mereka  takkan<BR>tertolong lagi. Tapi  pada saat  itu, dari  atas terdengarlah  bunyi yang  lebih<BR>tinggi nadanya daripada bunyi  lengking dari mulut Hai  Kong Hosiang, dan  aneh!<BR>Mendengar bunyi lengking yang lain ini  kelima ular itu agaknya menjadi  bingung<BR>sekali. Gerakan mereka kacau-balau  dan mereka berlima mengangkat-angkat  kepala<BR>tinggi-tinggi seakan-akan tak tahu harus berbuat apa. Terang sekali bahwa mereka<BR>mencari-cari  ke  atas  dengan  sepasang  mata  mereka  untuk  dapat   mendengar<BR>"perintah" itu lebih  nyata dan jelas  lagi! Melihat hal  ini, Hai Kong  Hosiang<BR>lalu menyelipkan tongkat ularnya di dalam jubah dan ia menggerak-gerakkan  kedua<BR>tangannya untuk memperkuat  perintahnya dan lengking  yang keluar dari  mulutnya<BR>makin menghebat. Tapi bunyi lengking dari atas itu juga makin hebat  seakan-akan<BR>tak mau kalah bersaing!  Ular-ular itu makin panik  dan bingung hingga  akhirnya<BR>seekor yang  terkecil  kena sabet  oleh  ranting di  tangan  Giok Im  Cu  hingga<BR>berkelojotan!<BR>Sebenarnya apakah yang terjadi?  Ternyata Cin Hai,  anak kecil gundul  yang<BR>dengan enak-enak asyik nonton di atas genteng dan merasa betapa bulu  tengkuknya<BR>meremang melihat  lagak  dan  keganasan  ular-ular itu,  makin  lama  makin  tak<BR>tertahan mendenar bunyi  lengking yang  keluar dari  mulut Hai  Kong Hosian  dan<BR>suara itu  seakan-akan  menembus  anak  telinganya  dan  langsung  menusuk-nusuk<BR>hatinya. Maka ia menjadi marah, lalu ditiupnyalah suling yang memang sejak  tadi<BR>telah dimasukkan  di  mulutnya. Cin  Hai  memang  pandai meniup  suling  dan  ia<BR>meniru-niru segala macam  lagu yang  didengarnya. Kini  mendengar nada  lengking<BR>hwesio gundul yang aneh itu, ia mencoba-coba dan bersusah payah untuk  menirunya<BR>pula. Tapi, biarpun ia telah meniup nada yang setinggi-tingginya tak juga  dapat<BR>meniru dengan tepat dan baik, bahkan suara lengking sulingnya terdengar  sumbang<BR>dan lebih menyakitkan telinga daripada suara Hai Kong Hosiang!<BR>Akan tetapi aneh, ketika ia telah meniup sulingnya, makin tinggi nada  yang<BR>ditiupnya, makin berkuranglah  rasa sakit  di telinga dan  hatinya akibat  suara<BR>yang dikeluarkan oleh hwesio itu, maka dengan gembira Cin Hai makin  memperkeras<BR>bunyi sulingnya. Ketika ia melirik  ke bawah kegembiraannya bertambah karena  ia<BR>melihat betapa hwesio  gundul yang berwajah  menyeramkan dan yang  ia benci  itu<BR>tampaknya marah  sekali,  sedangkan lima  ekor  ular itu  menjadi  tidak  karuan<BR>gerakannya.<BR>Cin Hai lalu meniup  dan meniup lagi tak  tentu apa yang dilagukannya  asal<BR>meniup nada yang tinggi-tinggi saja! Ia  sama sekali tidak mengira bahwa  karena<BR>perbuatannya ini maka ular-ular itu kehilangan bimbingan dan karenanya ia  telah<BR>menolong tiga orang itu.<BR>Bukan main marahnya hati Hai Kong Hosiang karena perbuatan anak kecil  yang<BR>nakal itu ternyata telah menggagalkan kurungannya terhadap ketiga tosu musuhnya,<BR>padahal tadi ia telah merasa  pasti sekali bahwa tak  lama lagi ketiga tosu  itu<BR>tentu akan dapat  ia robohkan. Sebaliknya,  tiga orang tosu  itu ketika  melihat<BR>betapa keadaan Hui Kong Hosiang dan ular-ularnya telah kacau, segera menggunakan<BR>kesempatan itu  untuk  meloncat  keluar kurungan.  Mereka  bertiga  mengeluarkan<BR>keringat dingin karena keadaan mereka tadi benar-benar berbahaya.<BR>"Hai Kong, kau makin tua makin jahat dan lihai!" Giok Im Cu berkata memuji,<BR>lalu ia mengajak  kedua kawannya pergi  secepat mungkin. Ia  tahu bahwa  biarpun<BR>seekor ular hwesio itu telah dapat dilukai, namun dengan empat ekor ularnya yang<BR>lihai, hwesio itu masih merupakan lawan  yang sangat tangguh dan sukar  dilawan.<BR>Tanpa mempedulikan anak kecil  gundul yang tanpa  disengaja telah menolong  jiwa<BR>mereka, ketiga tosu itu lari meninggalkan tempat itu.<BR>Hai Kong  Hosiang  membanting kakinya  yang  besar  dan kuat.  Ia  tak  mau<BR>mengejar, karena sungguhpun ia  tak usah kalah dalam  hal ilmu lari cepat,  tapi<BR>kalau dapat mengejar juga, apa gunanya? Seorang diri tanpa dibantu  ular-ularnya<BR>ia takkan menang  menghadapi tiga  orang tosu yang  lihai itu.  Ia marah  sekali<BR>karena gagal  membunuh tiga  orang  musuh lamanya  bahkan seekor  ularnya  masih<BR>berkelojotan kena gebuk  ranting Giok Im  Cu yang lihai.  Tentu tulang  punggung<BR>ular itu telah remuk! Semua gara-gara anak setan itu, pikirnya.<BR>Hai Kong Hosiang melihat ke arah Cin Hai yang masih saja meniup  sulingnya.<BR>Hwesio gundul itu  lalu mengayun  tangan kirinya  dan sebutir  pelor batu  hitam<BR>menyambar, Cin Hai  sama sekali  tidak tahu akan  datangnya serangan.  Tahu-tahu<BR>suling yang terpegang di tangannya dan sedang ditiup itu telah terbang  bagaikan<BR>direnggut oleh  tangan  yang tidak  kelihatan!  Ketika ia  memandang  ke  bawah,<BR>kembali tangan kiri  Hai Kong Hosiang  diayun dan sebutir  pelor hitam  melayang<BR>menuju arah kepala  Cin Hai!  Hai Kong Hosiang  dengan muka  merah karena  gemas<BR>telah membayangkan  betapa  kepala  anak kecil  yang  gundul  seperti  kepalanya<BR>sendiri  itu  akan  pecah   ditembusi  pelornya  dan   betapa  tubuh  itu   akan<BR>menggelinding turun dari atas genteng tanpa nyawa pula. Tapi alangkah heran  dan<BR>kagetnya melihat  pelornya itu  tiba-tiba saja  mencong arahnya  dan  sebaliknya<BR>menghantam tembok di dekat anak itu hingga tembus dan tembok itu berlubang!<BR>Ketika ia  sedang  bengong  terdengar  suara  yang  halus  penuh  kesabaran<BR>menegur.<BR>"Tidak malukah kau, Hwesio? Menyerang seorang anak kecil tak berdaya?"  Dan<BR>tiba-tiba saja di  belakang Cin Hai  muncul seorang kakek  tua berpakaian  penuh<BR>tambalan. Kakek  ini tubuhnya  sedang,  mukanya penuh  cambang kasar  dan  kaku,<BR>bajunya tambal-tambalan, kesemuanya membayangkan kemiskinan dan kekasaran hingga<BR>agaknya sangat aneh  dan janggal  bila suara teguran  yang halus  dan sabar  itu<BR>keluar dari mulutnya yang tampak kasar kejam itu!<BR>Ketika melihat  kakek jembel  itu, Hai  Kong Hosiang  menjadi pucat.  Tanpa<BR>banyak cakap lagi ia mengambil  semua ular besarnya dan memasuk-masukkan  mereka<BR>ini ke dalam keranjang kembali. Lalu  ia memanggul keranjang rotannya dan  pergi<BR>secepat terbang dari situ sambil mengomel panjang pendek.<BR>"Setan alas  benar-benar!  Tak  seperti  hari  ini  sialnya  diriku.  Gagal<BR>membasmi Kang-lam Sam-lojin, bertemu dengan Bu Pun Su Si Jembel Tua! Baiknya  ia<BR>tidak menurunkan tangan jahat kepadaku. Dengan dia berada di sini, apa  perlunya<BR>aku melelahkan diri?"<BR>Tapi Hai  Kong  Hosiang keliru  kalau  menganggap bahwa  kakek  jembel  itu<BR>berlaku murah padanya karena pada saat itu juga ia merasa betapa keranjang  yang<BR>dipanggulnya menjadi berat dan tiba-tiba dari keranjang itu menetes turun  darah<BR>ke atas pundaknya. Ia cepat menurunkan keranjangnya dan cepat membuka  tutupnya.<BR>Apa yang dilihatnya? Kelima ularnya telah  mati semua dan di kepala kelima  ular<BR>itu tampak luka kecil  yang mengalirkan darah. Ia  tahu bahwa ini adalah  akibat<BR>dari serangan  gelap Bu  Pun Su,  Si Jembel  tadi, yang  mempergunakan  gin-ciam<BR>(jarum perak) untuk membunuh ular-ular itu.<BR>Melihat betapa  binatang-binatang  peliharaan  yang  telah  dipelihara  dan<BR>dididik bertahun-tahun sampai pandai  dan dapat membela  dirinya itu mati  semua<BR>tiba-tiba Hai  Kong  Hosiang  membanting-banting kakinya  dan  menangis!  Hwesio<BR>gundul  yang  bertubuh  tinggi   besar  itu  melolong-lolong  dan   tersedu-sedu<BR>melampiaskan rasa mendongkol dan marahnya.<BR>Kemudian ia berdiri dan  meninggalkan keranjangnya. Sambil berlari-lari  ia<BR>berkata. "Awas Bu Pun Su, lain kali aku akan membunuhmu untuk ini!"<BR>Cin Hai yang masih duduk di atas genteng kini tahu bahwa kakek jembel  yang<BR>berdiri di belakangnya itu telah menolongnya, maka ia lalu bertanya, "Eh,  kakek<BR>tua renta, dia tadi menyambit dengan apakah?"<BR>Bu Pun Su (Tiada Kepandaian) Si Jembel Tua itu tertawa bergelak dan kembali<BR>suara ketawanya sama  sekali tidak  sesuai dengan keadaannya,  merdu dan  halus.<BR>"Eh, anak tolol, dia tadi menyambitmu dengan tangan maut. Kalau tidak ada aku si<BR>tua renta, sekarang kau sudah menghadap Giam Lo-ong (Malaikat Pencabut Nyawa)!"<BR>Sementara itu, guru anak itu yang masih berdiri di belakang pintu,  setelah<BR>mendengar di luar sunyi dan suara  Cin Hai bercakap-cakap di atas, lalu  berlari<BR>keluar dan memanggil-manggil.<BR>"Cin Hai... Cin Hai... kau turunlah, mari kita pulang!"<BR>Tapi Cin Hai  tak mempedulikannya  bahkan lalu bertanya  kepada kakek  yang<BR>menolongnya tadi, "Kakek, bagaimanakah kau tadi menolongku?"<BR>"Kau ingin mempelajarinya?" tanya Bu Pun Su.<BR>"Tentu saja, asal kau orang tua sudi mengajarku," jawab anak itu.<BR>"Cin Hai... Cin Hai..." terdengar gurunya memanggil lagi.<BR>"Tunggulah sebentar,  Sianseng, itu  Si Gundul  dengan ular-ularnya  datang<BR>lagi!" Cin Hai berteriak dari atas.<BR>"Ya Tuhan Yang  Maha Esa... !"  guru itu menjerit  dan cepat ia  menyelinap<BR>lagi ke belakang daun pintu. Cin Hai menahan gelinya dan ia berkata kepada kakek<BR>jembel itu,<BR>"Dia juga Guruku dan mengajar ilmu surat padaku."<BR>Bu Pun Su tertawa dan berkata,<BR>"Kalau kau ingin aku mengajarmu, kau harus mengangkat guru padaku."<BR>"Boleh, boleh,  mengangkat guru  saja, apa  susahnya? Asal  jangan  disuruh<BR>menghafal ujar-ujar yang sulit, dan membingungkan."<BR>"Lebih dari itu, anak bodoh. Kau harus tunduk dan taat padaku serta menurut<BR>segala perintahku."<BR>Tiba-tiba Cin Hai merengut. "Semua orang menyebutku bodoh, bahkan kau caIon<BR>guruku juga! Lama-lama aku bisa percaya bahwa aku benar-benar bodoh."<BR>"Ha, ha, memang kau bodoh. Bagaimana kau mau mentaati segala perintahku?"<BR>"Tentu, tentu saja. Ada ujar-ujar yang berkata bahwa apapun juga kata guru,<BR>murid harus taat dan menurut."<BR>"Nah, kalau begitu, kau loncatlah ke bawah!"<BR>"Lo... lo... loncat  ke bawah?" Ci  Hai memandang kakek  jembel itu  dengan<BR>matanya yang bundar terbelalak. "Tapi, tapi... begini tinggi..."<BR>Mata kakek jembel yang lebih bundar dan lebih lebar itu berdiri.<BR>"Ingat, apapun juga kata guru, murid harus..."<BR>"Iya, dah!  Aku loncat!!"  kata  Ci Hai  yang  lalu mengenjot  kakinya  dan<BR>mengayun tubuh ke bawah! Tapi ia tidak terbanting dan kakinya tidak  patah-patah<BR>sebagaimana yang ia khawatirkan, karena pada saat ia terjun, sebuah tangan  yang<BR>kuat telah memegang leher bajunya dan membawanya turun dengan ringan.<BR>"Bagus, kau harus turuti segala perintahku. Kau pulanglah dengan gurumu itu<BR>dan setahun kemudian,  sekembaliku dari  Nam-thian, kau akan  kuambil!" Cin  Hai<BR>yang kini maklum akan kelihaian kakek jembel ini, mengangguk-anggukkan kepalanya<BR>yang gundul! Dan pada saat itu pun  Bu Pun Su berkelebat lenyap dari depan  anak<BR>itu!<BR>Cin Hai lalu mencari gurunya di belakang pintu. Guru sekolahnya itu  sampai<BR>menjumbul karena  kaget  ketika Cin  Hai  tiba-tiba muncul  di  depannya  sambil<BR>berteriak keras, "Sianseng!"<BR>Melihat anak  kecil itu,  ia mulai  marah lagi.  Dengan lengan  terulur  ia<BR>hendak menjiwir telinga Cin Hai, tapi  anak itu mengangkat kedua lengan ke  atas<BR>melindungi telinganya sambil berkata,<BR>"Sianseng, jangan  kau  berbuat sesuatu  kepada  lain orang  apa  yang  kau<BR>sendiri tak suka orang lain berbuat kepadamu!" dan ketika guru kurus kering  itu<BR>menjadi makin  marah dan  hendak menjatuhkan  tamparan kepadanya,  ia  buru-buru<BR>berkatalagi,"Sianseng, bukankahkautadi mengajarkan<BR>Su-hai-ci-lwee-heng-te-ya? Mengapa Sianseng selalu  memukul hakseng tanpa  ingat<BR>perikemanusiaan?"<BR>Dihujani ujar-ujar  yang sering  ia ajarkan  kepada muridnya  itu, Si  Guru<BR>menjadi bohwat (habis daya) dan tangan  yang sudah diangkat naik itu  diturunkan<BR>kembali.<BR>"Hayo kita lekas pulang,  takut kalau siluman-siluman  itu datang lagi"  ia<BR>lalu memegang lengan muridnya  dan menyeretnya sambil  berlari anjing menuju  ke<BR>kota yang tak berapa jauh karena tembok kotanya tampak dari kuil itu.<BR>Anak kecil  yang bernama  Cin  Hai itu  adalah  seorang anak  yatim  piatu.<BR>Semenjak berusia empat tahun, ia telah ditinggal mati kedua orang tuanya dan  ia<BR>lalu dipelihara oleh ie-ienya  (bibi adik ibu) yang  menjadi isteri ke dua  dari<BR>Kwee In  Liang, seorang  pembesar militer  berpangkat touwtong  yang tinggal  di<BR>Tiang- an.  Karena ketika  ditinggal  mati kedua  orang  tuanya ia  masih  kecil<BR>sekali, maka Cin Hai tak dapat ingat lagi bagaimana rupa kedua ayah bundanya dan<BR>tidak tahu pula bagaimana matinya.<BR>Kwee-ciangkun (Panglima  Kwee) telah  ditinggal  mati oleh  isterinya  yang<BR>pertama hingga ia kawin lagi dengan ie-ie dari Cin Hai itu. Dari isteri  pertama<BR>ia mempunyai enam orang anak, lima  orang laki-laki dan seorang anak  perempuan.<BR>Anak laki-laki yang sulung berusia sepuluh  tahun dan tiap tahun tambah  seorang<BR>anak hingga  anak perempuan  yang  bungsu itu  kini  telah berusia  lima  tahun!<BR>Mungkin karena  setiap  tahun melahirkan  anak  inilah yang  menyebabkan  isteri<BR>Kwee-ciangkun menjadi lemah dan jatuh sakit sampai matinya.<BR>Kwee-ciangkun sangat memanjakan  anak-anaknya hingga  mereka itu  rata-rata<BR>bersifat manja dan  nakal. Tapi  hal ini  dapat dimengerti  karena keenam  orang<BR>anak-anak itu  ditinggal mati  ibunya  ketika usia  mereka masih  belum  dewasa.<BR>Ketika itu Loan Nio, bibi Cin Hai itu, menjadi pelayan di gedung keluarga  Kwee,<BR>dan ia memang telah  bekerja di situ semenjak  masih kanak-kanak hingga  dewasa.<BR>Boleh dibilang semua anak-anak Kwee-ciangkun  ketika kecilnya diasuh oleh  gadis<BR>ini sehingga mereka menjadi  suka dan biasa kepada  Loan Nio. Maka, setelah  ibu<BR>anak-anak itu  meninggal, dan  melihat sifat-sifat  yang baik  serta wajah  yang<BR>manis dari gadis itu, Kwee-ciangkun lalu mengambilnya menjadi isteri kedua.<BR>Memang  boleh  dipuji  tindakan  panglima  yang  masih  muda  ini,   karena<BR>pilihannya memang tepat  dan bijaksana, tidak  semata-mata terdorong oleh  nafsu<BR>ingin  senang  sendiri,  tapi   sebagian  besar  didasarkan  untuk   kepentingan<BR>anak-anaknya.  Demikianlah,  Loan  Nio  menjadi  seorang  isteri  panglima   dan<BR>sekaligus menjadi ibu  enam orang anak,  seorang ibu yang  baik karena di  dalam<BR>hatinya memang ia mempunyai rasa  kasih sayang terhadap anak-anak yang  semenjak<BR>kecil diasuhnya itu.<BR>Cuma sayangnya, anak-anak itu telah  terlampau manja dan karena mereka  pun<BR>tahu bahwa ibunya yang sekarang ini bukanlah ibu sendiri, perasaan mereka  tentu<BR>berbeda dan kadang-kadang terasa sesuatu ganjalan yang tak menyenangkan. Apalagi<BR>ketika Loan Nio mendatangkan anak kemenakannya yang telah yatim piatu, yakni Cin<BR>Hai, maka  sering terjadi  hal-hal yang  menyakiti hati  Cin Hai  dan Loan  Nio,<BR>sungguhpun kejadian-kejadian itu terjadi di luar tahu Kwee In Liang sendiri.<BR>Kwee In  Liang adalah  seorang pembesar  militer yang  memiliki  kepandaian<BR>silat tinggi, karena ia adalah seorang murid dari Kun-lun-pai. Karena ini,  maka<BR>tidak heran bila  ia mendidik  kelima puteranya  dengan ilmu  silat, di  samping<BR>mendidik mereka dalam  ilmu surat.  Ketika isterinya  membawa Cin  Hai ke  dalam<BR>gedung, hal ini  diterima oleh  Kwee-ciangkun dengan tangan  terbuka dan  senang<BR>hati, karena ia yang  berhati baik juga merasa  kasihan kepada Cin Hai.  Melihat<BR>bahwa Cin  Hai  usianya sebaya  dengan  puteranya yang  ke  lima, maka  ia  lalu<BR>sekalian menyuruh Cin  Hai belajar sama-sama  dengan putera-puteranya, di  bawah<BR>pimpinan seorang guru sastera dan  untuk belajar silat, untuk tingkat  permulaan<BR>ia serahkan mereka kepada seorang guru silat she Tan yang terkenal di kota itu.<BR>Tapi  ternyata  bahwa  Cin  Hai  menjadi  korban  dari  segala  ejekan  dan<BR>kebencian. Anak  ini  kepalanya  sengaja digundul  plontos  karena  dulu  sering<BR>mendapat sakit kulit  di kepalanya.  Pula, mukanya  yang membayangkan  kebodohan<BR>mungkin karena  bingung dan  banyak menangis  ketika ditinggal  mati oleh  kedua<BR>orang tuanya, membuat ia menjadi bahan godaan semua orang. Kalau sedang  belajar<BR>bersama-sama dengan anak-anak  Kwee-ciangkun, jika  ia tidak  menghafal dan  tak<BR>dapat menjawab pertanyaan  guru, ia dimaki  tolol dan bodoh  bahkan si guru  tak<BR>segan-segan untuk  mengetok  kepalanya yang  gundul  itu. Tapi  kalau  ia  rajin<BR>menghafal hingga pengertiannya melebihi kelima anak-anak Kwee-ciangkun, ia  lalu<BR>dibenci oleh  mereka  itu dan  dianggap  sombong.  Tak jarang  di  luar  tahunya<BR>orang-orang tua,  ia  dikeroyok,  dipukuli, dan  dimaki-maki  oleh  kelima  anak<BR>laki-laki Kwee-ciangkun itu.<BR>Juga guru silat she Tan yang  mengajar mereka agaknya sengaja menghina  Cin<BR>Hai. Entah mengapa, mungkin karena mengingat  bahwa anak gundul itu datang  dari<BR>dusun, atau karena hendak menyenangkan  hati tuan-tuan muda yakni  putera-putera<BR>Kwee-ciangkun, atau memang ia sendiri mempunyai rasa tak suka melihat wajah  Cin<BR>Hai, tapi  nyatanya ia  tidak  mengajar sungguh-sungguh  kepada Cin  Hai  bahkan<BR>seringkali ia menyuruh Cin  Hai menghadapi Kwee Tiong  putera tertua yang  telah<BR>berusia sepuluh tahun  itu untuk  berlatih. Tentu  saja Cin  Hai hanya  mendapat<BR>gebukan-gebukan dalam latihan itu karena  selain kalah besar, juga kalah  tenaga<BR>dan kalah kepandaian!<BR>Baiknya, sikap yang tahu  diri dan agung dari  Loan Nio yang telah  menjadi<BR>"nai-nai" (nyonya) itu membuat  semua orang tak berani  menghina Cin Hai  secara<BR>berterang di  muka  nyonya  muda  itu.  Dan Loan  Nio  menjadi  tempat  Cin  Hai<BR>menumpahkan segala  kesedihannya.  Kalau  ia sedang  digoda  atau  dipukul,  tak<BR>sebutir pun air mata dapat meloncat keluar dari kedua matanya yang bundar,  tapi<BR>kalau sudah berada  dengan bibinya,  dan kepala  yang gundul  rebah di  pangkuan<BR>nyonya muda itu, barulah air mata  membanjir keluar. Betapapun juga, tak  pernah<BR>satu kalipun ia mengadu  kepada bibinya mengapa  ia menangis, mengapa  kepalanya<BR>benjol-benjol dan mukanya biru-biru. Bibinya  hanya menganggap bahwa lazim  bagi<BR>seorang anak laki-laki  untuk kadang-kadang berkelahi  sampai kepalanya  benjol!<BR>Dan ia mengira bahwa kesedihan anak itu karena teringat akan orang tuanya,  maka<BR>ia tak pernah bertanya karena tak mau menambah kesedihan anak itu.<BR>Akan tetapi, tidak semua orang berhati kejam dan buruk. Ada beberapa  orang<BR>pelayan yang merasa kasihan melihat nasib Cin Hai lalu diam-diam  memberitahukan<BR>kepada Loan  Nio tentang  perlakuan guru  itu kepada  Cin Hai.  Biarpun  hatinya<BR>sangat panas, tapi sebagai seorang bijaksana yang panjang pikir, Loan Nio  tidak<BR>menimbulkan ribut. Ia hanya  memberi tahu kepada Cin  Hai supaya jangan  belajar<BR>silat lagi dan sengaja ia memanggil  seorang guru sasterawan tua untuk  mengajar<BR>Cin Hai. Cita-citanya hanya  agar supaya anak itu  kelak menjadi seorang  pandai<BR>yang dapat menempuh ujian dan menggondol pangkat tinggi. Dan ia sengaja  menyewa<BR>sebuah kamar di kelenteng  yang terletak di luar  tembok kota sebelah barat  itu<BR>untuk tempat Cin Hai belajar.<BR>Nyonya muda  yang bijak  mencinta kemenakannya  itu tentu  saja tidak  tahu<BR>bahwa Cin Hai  memang tak begitu  rajin belajar  dan guru kurus  kering ini  pun<BR>berlaku sewenang-wenang dan main ketok kepala saja. Agaknya kepala Cin Hai  yang<BR>gundul plontos itu memang mempunyai daya penarik kepada orang untuk  mengulurkan<BR>tangan dan mengetoknya!<BR>Kelima putera Kwee-ciangkun  semua berwajah tampan  dan gagah. Yang  sulung<BR>bernama Kwee Tiong, ke dua Kwee Sin, ke  tiga Kwee Bun, ke empat Kwee Siang,  ke<BR>lima Kwee An. Sedangkan anak ke  enam yang perempuan adalah seorang anak  mungil<BR>dan manis, bermuka bundar  dengan mulut kecil dan  mata lebar, namanya Kwee  Lin<BR>dan biasa disebut Lin Lin. Karena  hanya mempunyai seorang saja anak  perempuan,<BR>tak heran bila Kwee-ciangkun sangat cinta kepada Lin Lin dan diam-diam, di  luar<BR>tahu orang  lain,  setelah Lin  Lin  berusia  lima tahun,  ia  mulai  menurunkan<BR>kepandaian silat yang tinggi  kepada anak perempuannya  ini! Biarpun orang  luar<BR>tidak tahu,  namun Lin  Lin tentu  saja  sebagai seorang  anak kecil  tak  dapat<BR>menyimpan rahasia dan membocorkannya kepada saudara-saudaranya. Semua saudaranya<BR>merasa iri hati, tapi mereka tak  berani mengganggu Lin Lin, karena tahu  betapa<BR>sayangnya ayah mereka kepada anak yang bungsu lagi perempuan ini.<BR>Guru Cin  Hai  yang  kurus  kering itu  adalah  seorang  she  Kui.  Setelah<BR>mengalami peristiwa aneh yang menyeramkan di  luar kuil tempat ia mengajar  itu,<BR>ia lari ke gedung Kwee-ciangkun sambil menarik tangan muridnya bagaikan  dikejar<BR>setan. Ia tak mempedulikan celananya yang  telah menjadi basah karena tak  tahan<BR>lagi saking kagetnya ketika melihat orang-orang aneh itu bertempur, dan  melihat<BR>ular-ular yang mengerikan itu.<BR>Ketika memasuki pekarangan gedung keluarga Kwee, mereka bertemu dengan Kwee<BR>Tiong.<BR>"Eh, Kui-sianseng,  mengapa kau  lari-lari seperti  maling dikejar?"  tanya<BR>anak itu.<BR>"Twa-kongcu (Tuan  Muda Terbesar)...  celaka... ada...  ada...  siluman..."<BR>jawab kakek kurus kering itu gagap.<BR>Kwee Tiong terbelalak memandang. "Apa katamu? Siluman?"<BR>Cin Hai memotong, "Ya,  siluman menyeramkan sekali. Beginilah  macamnya..."<BR>ia lalu  menggunakan  kedua  tangan  untuk  menarik  mata  dan  mulutnya  sambil<BR>mengeluarkan suara "hii... hii... hi..."<BR>Kwee  Tiong  menggerakkan  hidungnya  ke  atas  mengejek,  "Ah,   betapapun<BR>buruknya, kukira siluman itu tidak lebih buruk daripada mukamu!"<BR>Cin Hai hanya tertawa ha-ha-hi-hi dan ia menurut saja ketika gurunya  terus<BR>menarik tangannya dibawa ke dalam gedung menghadap bibinya.<BR>Tentu saja  nona muda  itu terkejut  melihat kedatangan  mereka yang  tidak<BR>seperti biasanya,  apalagi  melihat muka  Kui-sianseng  itu pucat  dan  tubuhnya<BR>gemetar.<BR>"Eh, Kui-sianseng, mengapa  masih begini, siang  sudah pulang? Apakah  yang<BR>terjadi? Cin  Hai, apakah  kau berlaku  nakal tadi?"  Cin Hai  tersenyum  kepada<BR>bibinya dan menggelengkan kepala.<BR>"Maaf...  saya...  saya  tidak  sanggup  mengajar  di  kuil  itu...  ada...<BR>siluman..." Kui-sianseng itu masih saja gugup, bingung dan takut.<BR>"Sabarlah, Kui-sianseng, sebetulnya apakah yang telah terjadi?"<BR>Dengan  suara  terputus-putus,  sasterawan   tua  kurus  kering  itu   lalu<BR>menceritakan segala peristiwa yang dilihatnya tadi dengan ditambahi  bumbu-bumbu<BR>yang timbul dari khayalan  pikirannya yang penuh  kepercayaan tahyul hingga  Cin<BR>Hai tertawa geli.<BR>Akhirnya tanpa dapat  ditahan lagi,  guru yang hafal  segala ujar-ujar  dan<BR>filsafat semua  nabi  tapi  yang  satu pun  tak  pernah  terbukti  dalam  segala<BR>perbuatannya itu lalu  berpamit dan  minta berhenti, kemudian  pergi dari  situ.<BR>Kalau tidak takut  kepada bibinya,  tentu Cin  Hai bersorak  karena girang  hati<BR>bahwa akhirnya ia terlepas jua dari siksaan dan godaan guru she Kui yang memaksa<BR>ia "makan" segala ujar-ujar di dalam buku-buku tebal itu secara bulat-bulat!<BR>Nyonya muda itu  menghela napas.  "Cin Hai, mengapa  nasibmu begini  buruk?<BR>Agaknya tidak ada seorang guru yang suka mengajarmu, habis bagaimanakah dan  kau<BR>akan menjadi apakah kelak? Biarlah, mulai sekarang, aku sendiri akan  mengajarmu<BR>membaca dan menulis, tapi pengertianku dalam  hal ini juga tidak sangat  banyak.<BR>Apakah terpaksa aku harus memberi pelajaran menjahit dan menyulam padamu?"<BR>Cin Hai menggunakan tangan kiri  untuk menutup mulutnya agar tidak  tertawa<BR>geli. Ia belajar menyulam? Tapi ia menjawab,<BR>"Ie-ie, kalau memang kauanggap perlu,  boleh saja aku belajar menjahit  dan<BR>menyulam."<BR>Bibinya melerok. "Anak tolol, masak anak lelaki belajar menyulam?"<BR>"Ie-ie, mengapa  semua  orang  menyebutku bodoh  dan  tolol,  bahkan  ie-ie<BR>sendiri juga menyebutku tolol?  Apakah benar-benar aku  tolol? Ah... tentu  saja<BR>aku bodoh dan tolol, kalau tidak  masak semua guru membenciku." Bibinya  menjadi<BR>terharu dan menariknya dekat-dekat.<BR>"Tidak, Cin Hai, kau tidak bodoh,  asal saja kau mau rajin-rajin  belajar."<BR>Nyonya muda  yang  murah hati  itu  mengelus-elus  kepala Cin  Hai  yang  gundul<BR>plontos.<BR>"Itulah sukarnya, ie-ie, terus  terang saja, aku  lebih suka belajar  silat<BR>dan meniup suling."<BR>"Anak tolol..."<BR>Cin Hai mengangkat telunjuk ke atas.<BR>"Nah, nah, lagi-lagi aku disebut tolol!"<BR>"Sudahlah, aku lupa. Kau tidak boleh  berkata demikian, Cin Hai. Kau  harus<BR>belajar ilmu  surat agar  kelak  menjadi seorang  pandai yang  memegang  jabatan<BR>penting dan menjadi seorang pembesar. Alangkah akan bangga dan senangnya  hatiku<BR>kelak bila kau bisa  menjadi seorang pembesar yang  dihormati orang!" Sampai  di<BR>sini suara nyonya muda  itu terdengar parau karena  keharuan hatinya membuat  ia<BR>terisak.<BR>Cin Hai memegang tangan bibinya, "Hatimu mulia sekali, ie-ie. Baiklah,  aku<BR>akan belajar ilmu  membaca dan menulis  dari le-ie sendiri.  Tapi, sekarang  aku<BR>teringat bahwa sulingku telah lenyap dan aku harus membuat lagi sebuah. Di hutan<BR>sebelah utara kota  ada tumbuh bambu-bambu  kuning gading yang  kecil dan  dapat<BR>dibuat suling. Bolehkan aku ke sana, ie-ie?"<BR>"Baru saja datang mau pergi  lagi! Bagaimana kalau le-thiomu  sewaktu-waktu<BR>bertanya tentang kau?"<BR>"Kalau le-thio (Paman,  suami Bibi) bertanya  beritahukan saja, ie-ie,  dan<BR>lagi, untuk apa le-thio menanyakan aku? Belum pernah ia mempedulikan aku!"<BR>"Kau suka benar akan suling, Cin Hai?" tanya ie-ienya.<BR>"Ie-ie,  suling  adalah  satu-satunya   kawan  baikku.  Kalau  aku   hendak<BR>menyatakan segala perasaan  hatiku, aku  nyatakan kepada  seorang kawan  baikku,<BR>sedangkan aku tidak...  ya, kecuali  kau, aku  tidak mempunyai  kawan baik  lagi<BR>selain suling bambu yang dapat kutiup-tiup sesuka hatiku..."<BR>Nyonya muda itu menghela napas dan menggunakan saputangan untuk menahan air<BR>matanya. "Pergilah, Cin Hai. Buatlah sulingmu tapi jangan terlalu lama di hutan.<BR>"<BR>Cin Hai dengan girang hati lalu berlari-lari keluar.<BR>"Engko Hai. Kau mau ke mana?" tiba-tiba terdengar suara halus menegur  dari<BR>sebelah kiri dan seorang anak perempuan  muncul dengan rambutnya yang di  kuncir<BR>bergantungan di kanan-kiri lehernya.<BR>"Eh, Lin  Lin! Sampai  kaget aku.  Kau tahu,  setelah bertemu  dengan  para<BR>siluman dan setan itu, aku menjadi mudah kaget! Kukira kau siluman yang tadi!"<BR>Anak perempuan itu mencibirkan mulutnya yang kecil manis, tapi matanya yang<BR>lebar terbelalak, tanda bahwa ia tertarik sekali.<BR>"Apa? Kau tadi melihat  siluman? Di mana,  bagaimana?" tanyanya ingin  tahu<BR>sekali.<BR>"Ah, nanti saja lain kali kuceritakan. Sekarang aku mau pergi."<BR>"Engko Hai, kau mau ke manakah?"<BR>"Mau ke hutan di sebelah utara itu mencari bambu."<BR>"Aneh benar,  itu  di belakang  kan  banyak bambu,  mengapa  mesti  mencari<BR>jauh-jauh?"<BR>"Ah, kau tahu apa? Bambu yang kucari ini adalah bambu untuk suling."<BR>"Engko Hai, aku ikut! Nanti di jalan kau ceritakan tentang siluman itu."<BR>"Jangan!"<BR>"Aku mau! Aku tidak minta kaugendong, aku jalan dengan kaki sendiri!"  anak<BR>perempuan itu  berkeras  hingga dengan  muka  "apa  boleh buat",  Cin  Hai  lalu<BR>bertindak keluar, diikuti  oleh Lin  Lin yang sementara  itu telah  mengeluarkan<BR>topi kakeknya dan  memakainya hingga dari  belakang dan dari  jauh ia  kelihatan<BR>seperti seorang laki-laki.  Memang anak  dari Kwee-ciangkun  sangat dimanja  dan<BR>bebas hingga boleh pergi ke mana mereka suka tanpa ada yang berani mencegah.<BR>Kedua anak  itu  berjalan dengan  tindakan  yang pendek-pendek  tapi  cepat<BR>menuju ke jalan yang kecil. Jalan itu mengarah ke utara, menuju ke luar kota  di<BR>mana terdapat sebuah  hutan besar  juga. Di  sepanjang jalan  Cin Hai  bercerita<BR>tentang pengalamannya  siang  tadi,  dan  ia  menambahkan  betapa  dengan  suara<BR>sulingnya ia  mengusir semua  ular siluman!  Ia menambah-nambahi  ceritanya  dan<BR>menonjolkan diri sendiri sebagai jagoan hingga Lin Lin memandang padanya  dengan<BR>matanya yang bagus itu setengah percaya dan kagum!<BR>Memang di antara  anak-ahak Kwee-ciangkun, yang  tidak membenci kepada  Cin<BR>Hai hanya Lin Lin seorang. Ini bukan berarti Lin Lin suka kepada Cin Hai, karena<BR>kalau mereka berdua  dekat, sering  mereka berbantah dan  bercekcok membawa  mau<BR>sendiri, tapi tidak  sampai saling pukul  atau saling membenci.  Lin Lin  memang<BR>sejak kecil  telah  memiliki sifat  peramah  dan suka  bergaul  serta  mempunyai<BR>perangai yang halus. Pula anak ini sangat cerdas dan mempunyai bakat dalam  ilmu<BR>silat hingga pada saat itu biarpun usianya belum lebih dari lima tahun, ia telah<BR>mempelajari dasar-dasar ilmu silat.<BR>"Engko Hai, itu  yang kita  tuju sudah tampak.  Hayo kita  balapan lari  ke<BR>sana!"<BR>Cin Hai memandang Lin Lin dengan  senyum mencemooh. Tapi ia menjawab  juga,<BR>"Boleh, hayo kita mulai. Satu... dua... ti...ga!" Dan larilah ia secepatnya  untuk<BR>mendahului Lin Lin. Ia ingin meninggalkan Lin Lin jauh-jauh agar ia dapat sampai<BR>di hutan lebih dulu dan menanti anak perempuan itu sambil mentertawakannya!<BR>Tidak  tahunya  ketika  ia  menengok,  ternyata  Lin  Lin  telah  lari   di<BR>sebelahnya, bahkan perlahan-lahan tapi tentu mulai menyusulnya! Dan yang membuat<BR>ia heran adalah kedua kaki Lin Lin tampaknya begitu ringan dan langkahnya  lebar<BR>dan tinggi! Kini  Lin Lin telah  mendahuluinya dan anak  perempuan itu  menengok<BR>sambil tersenyum  manis tapi  yang  menyakiti hati  Cin Hai  karena  dianggapnya<BR>senyum itu  mengejeknya!  Ia  merapatkan gigi  dan  mempercepat  larinya  hingga<BR>benar-benar saja ia bisa menyusul lagi dan mereka lari berendeng.<BR>Akan tetapi, tidak seperti kelihatannya,  hutan yang di depan itu  bukanlah<BR>dekat, tidak kurang dari setengah li jauhnya hingga ketika mereka tiba di  hutan<BR>dengan berbareng  Cin Hai  membuka mulutnya  dan dadanya  turun naik  karena  ia<BR>terengah-engah bagaikan ikan dilempar di pasir panas! Sebaliknya, Lin Lin  hanya<BR>mengeluarkan peluh di leher dan di dahinya, tapi napasnya biasa saja! Ini  tidak<BR>mengherankan,  karena  anak  perempuan  itu  sejak  kecil  telah  dilatih   oleh<BR>Tan-kauwsu (Guru Silat  Tan) dan juga  telah diberi latihan  napas oleh  ayahnya<BR>sendiri! Sedangkan  Cin Hai  hanya lari  sekuatnya dan  mempergunakan  tenaganya<BR>tanpa disesuaikan  dengan jalan  napas, karena  ia tidak  pernah diberi  latihan<BR>dasar pelajaran silat.<BR>Biarpun merasa penasaran  tidak dapat  mengalahkan Lin Lin,  namun Cin  Hai<BR>terhindar dari rasa malu karena mereka tiba di hutan berbareng.<BR>"Tidak kusangka, Lin Lin, larimu secepat kelinci!" katanya setelah napasnya<BR>pulih kembali.<BR>Lin Lin tersenyum. "Dan larimu seperti kuda." Keduanya tertawa.<BR>"Di mana  tempat  bambu yang  kau  maksudkan  itu?" tanya  Lin  Lin  sambil<BR>memandang ke sekelilingnya takut-takut karena di hutan itu memang besar dan agak<BR>gelap karena matahari telah mulai turun.<BR>"Di sebelah kiri sana, hayo!" Cin Hai mengajak kawannya.<BR>Betul saja, tidak jauh dari situ  terdapat rumpun bambu kuning gading  yang<BR>bagus dan kecil-kecil  serta lurus  batangnya. Tapi tiba-tiba  Cin Hai  teringat<BR>bahwa ia tidak  membawa pisau  atau senjata  tajam lainnya!  Bagaimana ia  harus<BR>mengambil itu? Sementara itu karena  berada di bawah pohon-pohon besar,  keadaan<BR>makin gelap hingga mereka  menjadi cemas dan menyangka  bahwa senja telah  tiba.<BR>Cin Hai  tidak  berpikir panjang  lagi,  maju  dan memegang  batang  bambu  yang<BR>diinginkan lalu mencabut sekuat tenaganya.<BR>Tapi sia-sia saja, karena  bambu itu banyak sekali  akarnya dan kuat  pula.<BR>Jangankan tenaga  seorang  kanak-kanak  seperti Cin  Hai,  biar  seorang  dewasa<BR>sekalipun belum  tentu  akan  dapat  mencabut  sebatang  bambu  dari  rumpunnya.<BR>Betapapun juga, Cin Hai mempunyai kemauan  keras dan pantang mundur. Ia  mencoba<BR>dan mencoba lagi sampai akhirnya  ia berteriak kesakitan karena tangannya  penuh<BR>bulu bambu yang gatal!<BR>"Biarkan aku  mencobanya," kata  Lin Lin.  Ia ingat  ketika ayahnya  pernah<BR>memberi petunjuk  kepadanya  tentang  dasar-dasar melatih  sinkang  dan  ayahnya<BR>pernah mendemonstrasikan  gerakan sinkang  dan menendang  sebatang pohon  hingga<BR>pohon itu jebol berikut akar-akarnya.<BR>Karena tangannya sudah gatal-gatal, Cin  Hai mundur dan membiarkan Lin  Lin<BR>mencoba. Ia menyangka bahwa anak perempuan itu tentu akar mencoba untuk mencabut<BR>seperti yang dilakukannya tadi, maka ia berkata memperingatkan, "Hati-hati,  Lin<BR>Lin, banyak bulu-bulu gatal!"<BR>Tapi alangkah  herannya  ketika  Lit  Lin  tidak  mencabut,  tapi  memasang<BR>kuda-kuda, lalu dengan berseru, "Haih!" anak itu menggunakan kaki kanan  menyapu<BR>sebatang bambu! Batang bambu bergoyang-goyang dan dua helai daunnya rontok, tapi<BR>batangnya tidak dapat dijebolkan oleh tendangan Lin Lin tadi. Berkali-kali  anak<BR>itu mencoba dengan kedua kakinya, tapi sia-sia.<BR>Tiba-tiba terdengar seruan orang memuji, "Bagus betul!"<BR>Lin Lin dan Cin Hai terkejut  dan menengok. Ternyata tanpa mereka  ketahui,<BR>di belakang mereka telah berdiri  seorang tokouw (pendeta wanita) yang  berwajah<BR>buruk sekali.  Kulit  muka tokouw  itu  hitam seperti  pantat  kuali,  sedangkan<BR>pipinya telah  kisut berkerut-kerut  dan  mata sebelah  kanan buta.  Tokouw  itu<BR>pakaiannya panjang dan longgar  berwarna putih dan  di tangan kanannya  terdapat<BR>sebuah hudtim (kebutan  pertapa) yang  berbulu panjang berwarna  putih pula.  Di<BR>punggungnya tampak gagang sebilah pedang.<BR>Lin Lin dan Cin Hai terkejut melihat tokouw yang buruk rupa itu,  sedangkan<BR>Lin Lin merasa agak takut.<BR>"Bagus, anak yang manis. Siapakah yang mengajarmu menggunakan ilmu  Gerakan<BR>Menyapu Ribuan Tiang itu tadi?"<BR>Biarpun agak takut-takut Lin Lin menjawab juga, "Ayah yang mengajarku."<BR>"Bagus!  Sekarang  kaulihat  ini!"  Tokouw  itu  menggerakkan  hudtim  yang<BR>dipegangnya hingga ujung bulu hudtim yang hanya beberapa lembar itu, yaitu  bulu<BR>yang terpanjang membelit beberapa batang bambu.<BR>"Naik!" Tokouw itu  berseru dan  heran sekali, rumpun  bambu dengan  kurang<BR>lebih lima belas batang bambu itu dengan mengeluarkan suara keras jebol  berikut<BR>akar-akarnya. Tokouw  itu  mengerakkan  hudtimnya  lagi  dan  rumpun  bambu  itu<BR>bagaikan dilontarkan  oleh tenaga  yang kuat  sekali terlempar  beberapa  tombak<BR>jauhnya lalu roboh ke arah lain hingga daun-daunnya tidak menimpa mereka!<BR>Lin Lin melongo, dan  terheran-heran, sedangkan Cin  Hai tak dapat  ditahan<BR>lagi  bertepuk  tangan  dan  berseru,  "Bagus!  Bagus!"  Ia  tidak  saja  girang<BR>menyaksikan kehebatan tenaga ini, tapi juga girang karena bambu yang dikehendaki<BR>telah berada di situ, tinggal ambil saja!<BR>"Nah, anak baik, sekarang kauturutlah padaku dan menjadi muridku!"<BR>"Tidak mau,  aku  tidak  mau!"  Lin Lin  berkata  sambil  melangkah  mundur<BR>ketakutan.<BR>Tokouw itu mengedikkan kepalanya  dan mukanya yang  buruk itu makin  tampak<BR>mengerikan.<BR>"Dengarlah, anak manis.  Ribuan orang  akan berlutut  dan memohon-mohon  di<BR>depanku untuk minta menjadi muridku. Tapi kau menolak begitu saja!"<BR>Lin Lin sekali lagi memandang muka yang menyeramkan itu dan melihat  betapa<BR>rambut tokouw  itu  dikuncir panjang  dan  membelit-belit di  lehernya  bagaikan<BR>seekor ular  yang menambah  keburukan  rupanya, anak  itu melangkah  mundur  dan<BR>berkata lagi.<BR>"Tidak, aku tidak mau...!"<BR>Tapi tokouw itu tertawa ha-ha hi-hi lalu berkata lagi.<BR>"Kau berjodoh dengan aku, betapapun juga kau harus menjadi muridku!" dan ia<BR>bertindak maju hendak memegang lengan Lin Lin.<BR>Tapi pada saat  itu Cin Hai  membentak keras, "Jangan  kau paksa dia!  Cih,<BR>tidak tahu malu, orang tidak sudi menjadi muridnya, dipaksa-paksa!"<BR>Tokouw itu menggunakan mata kirinya  untuk memandang Cin Hai dengan  tajam,<BR>tapi mulutnya tetap  tersenyum dan berkata,  "Kau boleh juga  tapi tak  berjodoh<BR>dengan aku."<BR>Lin Lin yang merasa ketakutan  hendak ditangkap, berubah menjadi marah  dan<BR>ketika tokouw itu mendekat  dan mengulurkan tangan,  ia mengepal tangannya  yang<BR>kecil lalu memukul  tangan itu. Biarpun  Lin Lin masih  kecil, tapi ternyata  ia<BR>telah terlatih  baik dan  pukulannya  itu dilakukan  dengan gerakan  yang  baik.<BR>Tokouw buruk rupa itu tertawa ha-ha hi-hi dan berkata, "Anak baik, anak  baik...<BR>kau mau main-main? Boleh coba kau  serang terus padaku agar kuketahui sampai  di<BR>mana kau telah  mempelajari ilmu  pukulan!" Ia  lalu bergerak-gerak  menghindari<BR>pukulan-pukulan Lin Lin.<BR>Tiba-tiba Cin  Hai  membentak. "Tokouw  jahat,  kau menggangu  orang  saja,<BR>apakah itu baik?" Ia  lalu menyerang, tapi karena  Cin Hai belum pernah  belajar<BR>silat dengan baik, pukulannya ngawur  dan sekenanya saja! Melihat kenekatan  Cin<BR>Hai, tokouw  itu lalu  menangkap  tangan anak  itu,  tapi tiba-tiba  tokouw  itu<BR>meringis dan mendongkol  sekali karena  Cin Hai  tanpa dapat  diduga lebih  dulu<BR>telah menggunakan giginya menggigit tangan  itu! Dengan gerakan perlahan  tokouw<BR>itu telah  berhasil membanting  Cin  Hai hingga  anak itu  merasa  tulang-tulang<BR>punggungnya seperti  remuk dan  merayap bangun  sambil merintih-rintih.  Baiknya<BR>tokouw itu  hanya  ingin  melampiaskan kemendongkolan  hatinya  saja  dan  tidak<BR>membanting sesungguhnya,  hingga ia  hanya menderita  sakit di  luar saja.  Tapi<BR>dasar Cin  Hai  mempunyai  ketabahan  dan  kenekatan  luar  biasa,  sambil  maju<BR>terpincang-pincang ia menyerang lagi!<BR>Untuk kedua  kalinya  Cin Hai  terbanting  ke tanah  setelah  kena  ditowel<BR>pundaknya oleh jari telunjuk  tokouw itu, sementara itu  Lin Lin yang  menyerang<BR>sejak tadi  dan  selalu memukul  dan  menendang  angin, telah  mulai  lelah  dan<BR>berpeluh.<BR>Kebetulan sekali pada saat itu Tan Hok atau Tan-kauwsu (Guru Silat she Tan)<BR>lewat di situ, hendak kembali ke kota dari mengunjungi seorang kenalan. Ia kaget<BR>dan heran sekali melihat  betapa Lin Lin menyerang  seorang tokouw yang  bermuka<BR>seperti setan sedangkan Cin Hai merangkak-rangkak kesakitan.<BR>"Hai, tahan  dulu!" Tan-kauwsu  membentak pertapa  wanita itu  yang  segera<BR>menghadapinya. "Kau seorang pendeta mengapa main-main dengan anak kecil?"<BR>Tokouw itu  tersenyum  hingga  wajahnya makin  buruk  saja.  "Pinni  hendak<BR>membawa anak perempuan ini untuk dijadikan murid," katanya berterus terang.<BR>Tan-kauwsu terkejut dan bertanya, "Siankouw siapakah?"<BR>"Sicu (Tuan  yang gagah)  berdandan  sebagai guru  silat tapi  belum  kenal<BR>kepada pinni? Sungguh aneh! Ketahuilah Pinni she Biauw."<BR>Tan-kawsu makin terkejut  karena ia  teringat akan  seorang pertapa  wanita<BR>yang disebut Biauw Suthai dan yang namanya telah menggemparkan dunia persilatan,<BR>"ah, jadi siauwte berhadapan dengan Biauw Suthai yang terkenal itu?"<BR>"Ha, agaknya namaku  terdengar juga  sampai ke Tiang-an,"  kata tokouw  itu<BR>senang.<BR>Tan-kauwsu tak berani berkata kasar  lagi dan setelah menjura, ia  berkata,<BR>"Siankouw, tentang pemungutan  murid kepada anak  ini, kebetulan sekali  siauwte<BR>adalah guru yang diserahi tugas oleh ayah anak ini untuk mendidiknya. Tentu saja<BR>saya tidak merasa keberatan bila Siankouw  sudi memungut ia sebagai murid,  akan<BR>tetapi hal  ini  harus  dirundingkan  dulu  dengan  Ayahnya.  Karena  itu,  saya<BR>persilakan kepadamu untuk menjumpai Kwee-ciangkun dan merundingkan soal ini."<BR>"Sicu seperti tidak  tahu saja kebiasaan  kita orang-orang kang-ouw.  Kalau<BR>kita menghendaki sesuatu yang dirasa baik,  maka kita lakukan saja tanpa  banyak<BR>rewel dan pusing. Siapa yang  sudi mengadakan rundingan dengan segala  ciangkun?<BR>Aku hendak mengambil dia sebagai murid dan habis perkara!"<BR>"Kalau begitu, terpaksa siauwte berlaku lancang dan melindungi anak ini."<BR>"Ha, kau hendak menghalangi maksudku membawa anak ini?"<BR>"Biarlah kali ini siauwte melupakan kebodohan sendiri."<BR>TOKOUW yang buruk rupa itu tertawa panjang dan mata kirinya memandang penuh<BR>ejekan. Melihat sikap pendeta perempuan itu Tan-kauwsu lalu mencabut  pedangnya.<BR>Suara ketawa Biauw Suthai makin aneh  dan menyeramkan ketika ia melihat  gerakan<BR>Tan-kauwsu, lalu  tiba-tiba saja  kebutan di  tangannya menyambar  ke arah  guru<BR>silat itu! Tan-kauwsu maklum bahwa lawannya adalah seorang yang berilmu  tinggi,<BR>maka ia tidak berani berlaku sembrono. Cepat ia berkelit, tapi sebelum ia sempat<BR>membalas serangan, ternyata ujung kebutan tokauw itu telah menyambar kembali dan<BR>telah mengirim  serangan pula  yang lebih  berbahaya. Ujung  kebutan itu  selalu<BR>mengarah  jalan  darahnya,  merupakan  totokan  yang  lebih  berbahaya   sekali.<BR>Tan-kauwsu lalu menggunakan  pedangnya untuk menyabet  putus ujung hudtim,  tapi<BR>tiba-tiba hudtim itu  bagaikan bernyawa  tahu-tahu telah  melibat pedangnya  dan<BR>sekali tokouw  itu menggerakkan  tangannya, pedangnya  telah terampas  tanpa  ia<BR>dapat bertahan  pula!  Dan  pada  saat itu  juga,  kembali  ujung  hudtim  telah<BR>menyambar pundaknya. Tan-kauwsu merasa betapa tubuhnya menjadi kesemutan  karena<BR>urat darahnya tersentuh hingga tidak ampun lagi ia jatuh dengan tubuh lemas  tak<BR>bertenaga.<BR>Ketika ia merayap bangun lagi, ternyata tokouw itu telah lenyap,  begitupun<BR>Lin Lin telah  hilang pula! Biarpun  merasa benci kepada  tokouw berwajah  buruk<BR>itu, tapi melihat  betapa dalam beberapa  gebrakan saja guru  silat Tan Hok  itu<BR>jatuh bangun  dan pedangnya  terampas, Cin  Hai merasa  puas sekali.  Ia  memang<BR>sangat benci kepada  guru silat ini  yang tak pernah  mengajar silat  kepadanya,<BR>sebaliknya seringkali  memukul  dan mengadunya  dengan  Kwee Tiong  sehingga  ia<BR>sering  dipukul  matang  biru.  Maka  untuk  menyatakan  kepuasan  hatinya,   ia<BR>tersenyum-senyum dan berkata kepada Tan-kauwsu.<BR>"Tan-suhu, sakitkah engkau? Tokouw siluman itu hebat dan lihai sekali, ya?"<BR>Mendengar kata-kata  ini,  Tan-kauwsu  merasa makin  gemas  dan  mendongkol<BR>sekali. Segala perasaan ini dikumpulkan menjadi  satu di dalam dada dan  menjadi<BR>kemarahan besar yang kini seluruhnya ditujukan kepada Cin Hai.<BR>"Anak setan! Engkau sedang berbuat apa di sini dan mengapa kauajak Nona Lin<BR>Lin? Tahukah kau bahwa  kali ini engkau menimbulkan  bencana yang hebat  sekali?<BR>Nona Lin Lin diculik orang, dan  tahukah engkau apa artinya ini? Batok  kepalamu<BR>pasti akan diketok sampai pecah oleh Kwee-ciangkun!"<BR>"Bukan aku yang membawa Lin Lin, tapi dia sendiri yang memaksa untuk  ikut.<BR>Aku hendak mencari bambu ini untuk dibuat suling dan ia ikut padaku.  Salahkukah<BR>itu?"<BR>"Anak tolol, kalau bukan salahmu, lalu siapa lagi?"<BR>"Tan-suhu, aku sih bukan lawan tokouw siluman itu. Tapi engkau adalah  guru<BR>silat yang katanya memiliki kepandaian tinggi, mengapa kau biarkan saja Lin  Lin<BR>diculik olehnya? Mengapa baru satu gebrakan saja kau telah menyerah kalah?"<BR>Baru saja bicara sampai di sini, tangan Tan-kauwsu melayang dan kepala yang<BR>gundul itu ditempeleng hingga Cin Hai merasa matanya gelap dan kepalanya  terasa<BR>berputaran. Ia terhuyung-huyung  dan sebuah tendangan  membuat ia terlempar  dan<BR>tertelungkup di atas tanah sampai  mengeluarkan suara berdebuk. Malang  baginya,<BR>sebuah batu menyambut mulutnya hingga bibirnya berdarah.<BR>Anak ini marah  sekali di  dalam hati  dan rasa  sakit hatinya  melenyapkan<BR>segala rasa sakit di tubuhnya. Ia cepat merayap bangun dan berdiri dengan  tegak<BR>sedangkan sepasang matanya memandang tajam, sedikit pun tidak takut dan jerih.<BR>"Nah, kau baru tahu  adat sedikit sekarang setelah  kuhajar, ya?" kata  Tan<BR>Hok uring-uringan.<BR>"Tan-suhu memang  beraninya  hanya  kepada anak  kecil  yang  tak  berdaya.<BR>Alangkah baiknya kalau  kegagahanmu ini kauperlihatkan  ketika menghadapi  Biauw<BR>Suthai tadi, hingga Lin Lin tidak sampai terculik."<BR>"Bangsat kecil, kuhancurkan kepalamu!" Guru silat itu melangkah maju dengan<BR>sikap mengancam. Tetapi Cin Hai tidak mundur sedikit pun.<BR>"Boleh,  boleh!  Pukullah  aku  sampai  mati,  sayang  Bibiku  tak  melihat<BR>kelakuanmu ini."<BR>Teringatlah  Tan-kauwsu  bahwa  anak  ini  setidak-tidaknya  masih  menjadi<BR>kemenakan dari Kwee-hujin maka ia menahan tangannya yang telah terangkat di atas<BR>untuk menjatuhkan pukulan. Ia lalu meludahi  kepala anak yang gundul itu  sambil<BR>membentak,<BR>"Hayo pulang dan kau menjadi saksi utama betapa aku telah membela Nona  Lin<BR>Lin dengan mati-matian. Harus kau terangkan duduknya perkara yang sebenarnya  di<BR>hadapan Kwee-ciangkun!"<BR>Cin Hai tak menjawab, tapi segera  memungut sebatang bambu kuning. Tan  Hok<BR>menjadi marah dan  ia menyambar tangan  anak itu dan  diseretnya sambil  berlari<BR>cepat!<BR>Alangkah kaget  dan  marahnya Kwee  In  Liang mendengar  laporan  Tan  Hok.<BR>Mukanya sebentar merah sebentar pucat ketika Tan-kauwsu berkata,<BR>"Hamba sudah  melawan mati-matian  untuk  mencegah penculikan  itu,  tetapi<BR>ternyata Biauw Suthai sangat lihai  hingga akhirnya pedang hamba dapat  terampas<BR>dan hamba dibikin  tak berdaya. Sebelum  hamba dapat mencegahnya,  Nona Lin  Lin<BR>telah dibawa pergi cepat sekali."<BR>Karena marah dan sedih,  Kwee In Liang menggebrak  meja di depannya  sambil<BR>membentak kepada  Cin Hai,  "Cin Hai!  Mengapa kauajak  Lin Lin  ke hutan  tanpa<BR>memberi tahu siapa-siapa? Kau anak tolol lancang sekali!"<BR>Cin  Hai  merasa  hatinya  tertusuk.  Biasanya  pamannya  ini  baik  sekali<BR>terhadapnya, tak pernah memukul tak pernah memaki, bahkan jarang sekali  bertemu<BR>atau mengajaknya bicara.  Sekarang ie-thionya membentak  dan memakinya,  sungguh<BR>menyakitkan hati.<BR>"Ie-thio (Paman)," katanya dengan suara perlahan, "memang aku yang lancang.<BR>Biarlah aku pergi  mencari Adik  Lin Lin sampai  dapat..." Hampir  saja Cin  Hai<BR>mengeluarkan air mata karena kepiluan  hatinya. Ia meraba-raba kepala  gundulnya<BR>yang masih merah karena ditempeleng oleh Tan Hok tadi.<BR>Melihat betapa kepala anak itu merah dan bibirnya pecah-pecah, berkuranglah<BR>kemarahan Kwee In Liang, "Apakah engkau juga dilukai oleh tokouw siluman itu?"<BR>Sebelum Cin Hai menjawab, Tan Hok yang merasa khawatir kalau-kalau anak itu<BR>mengadu, cepat berkata,<BR>"Kalau tidak hamba  lekas-lekas datang, tentu  kemenakan Ciangkun ini  akan<BR>mendapat celaka pula."<BR>Cin Hai melirik kepada guru silat itu dengan pandangan mata mengejek.<BR>"Ya, ie-thio, sayang sekali bahwa baru maju segebrakan saja, Tan-suhu  yang<BR>lihai ini  telah terampas  pedangnya  dan ia  dibikin  jatuh bangun  oleh  ujung<BR>kebutan tokouw siluman itu!"<BR>"Begitu lihaikah dia?" tanya Kwee In Liang kepada Tan Hok.<BR>"Memang dia lihai  sekali, dan  hamba bukanlah lawannya."  Tan Hok  mengaku<BR>dengan muka merah karena malu dan kebenciannya terhadap Cin Hai bertambah.<BR>Karena kejadian itu, Kwee  In Liang merasa  sedih sekali. Kwee-hujin,  yang<BR>diberitahu oleh  pelayan akan  peristiwa itu  segera berlari  keluar dan  sambil<BR>menangis tersedu-sedu ia duduk di  sebelah Kwee-ciangkun. Loan Nio memang  cinta<BR>sekali kepada Lin Lin dan menganggap anak itu sebagai anak sendiri, maka  berita<BR>ini benar-benar menghancurkan hatinya.<BR>"Cin Hai, kau... kau  anak tolol! Bodoh dan  lancang! Mengapa kau  mengajak<BR>Lin Lin pergi ke hutan? Bukankah engkau berpamit padaku, engkau tidak menyatakan<BR>hendak pergi dengan Lin Lin?" Bibi ini menegur Cin Hai.<BR>"Ie-ie, sungguh aku menyesal sekali,  ie-ie... Bukan kusengaja membawa  dan<BR>mengajak Lin  Lin, tapi  ketika aku  hendak  keluar, Adik  Lin Lin  melihat  dan<BR>bertanya. Aku mengaku terus  terang bahwa hendak mencari  bambu kuning di  hutan<BR>dan ia memaksa hendak ikut."<BR>Sementara itu,  Tan  Hok  melihat  bahwa nyonya  muda  itu  keluar,  segera<BR>mengundurkan diri.  Kwee  In Liang  lalu  memerintahkan para  pengawalnya  untuk<BR>mengejar tokouw  itu, dan  ia sendiri  naik kuda  mencari sampai  jauh ke  dalam<BR>hutan.<BR>Biarpun  kepada  bibinya  sendiri,  Cin  Hai  tidak  menceritakan   tentang<BR>perlakuan Tan-kauwsu yang  sewenang-wenang padanya. Anak  ini memang tidak  suka<BR>mengadu dan  segala hal  yang menyakitkan  hati hanya  ia pendam  di dalam  dada<BR>sendiri saja. Ia selalu ingat akan ujar-ujar yang bermaksud : Balaslah  kebaikan<BR>dengan kebaikan pula dan kejahatan  dengan keadilan! Maka dia menganggap  kurang<BR>adil kalau  ia membalas  kejahatan Tan-kauwsu  dengan mengadukan  halnya  kepada<BR>ie-ie atau ie-thionya. Itu kurang adil dan kurang tepat karena ia yang dijahati,<BR>maka baru adil kalau  ia sendiri yang membalasnya!  Tidak dapat sekarang,  tentu<BR>kelak akan tiba  masanya ia membalas  segala perlakuan tak  pantas itu.  Hatinya<BR>telah merupakan buku catatan  di mana ia mencatatkan  segala perlakuan baik  dan<BR>buruk  yang  dijatuhkan  orang  kepadanya  dan  yang  ia  anggap  sudah  menjadi<BR>kewajibannya untuk membayar lunas semua perlakuan dan budi itu, baik yang  jahat<BR>maupun yang baik.<BR>Ketika Ie-thionya sedang sibuk  mencari-cari tokouw yang melarikan  anaknya<BR>itu dibantu puluhan pengawal dan anak buahnya, sedangkan bibinya menangisi nasib<BR>Lin Lin di  kamarnya, Cin Hai  menyeret bambu  kuning ke belakang.  Ia duduk  di<BR>kebun belakang sambil asyik menggosok bambu itu menghilangi bulu-bulu bambu  dan<BR>mencabut daun dan cabang-cabangnya.<BR>Tiba-tiba terdengar suara anak-anak  memasuki kebun itu.  "Nah, itu dia  Si<BR>Jahat!" terdengar seorang di antara mereka berkata. Yang masuk adalah lima orang<BR>anak-anak, yakni putera-putera  Kwee-ciangkun. Mereka ini  tampan wajah nya  dan<BR>indah-indah pakaiannya. Yang sulung bernama Kwee Tiong berusia sepuluh tahun, ke<BR>dua bernama Kwee Sin berusia sembilan tahun, ke tiga Kwee Bun delapan tahun.  Ke<BR>empat Kwee Siang  berusia tujuh tahun  dan ke  lima ialah Kwee  An berusia  enam<BR>tahun. Di antara mereka ini, hanya dengan  Kwee An saja Cin Hai sering  bergaul,<BR>karena selain Kwee An  mempunyai perangai yang baik  dan halus, juga mereka  ini<BR>sebaya, jadi lebih cocok.  Yang empat lainnya sudah  biasa menggoda dan  memukul<BR>atau memaki Cin Hai.<BR>Kini mendengar betapa adik perempuan mereka dibawa lari oleh karena tadinya<BR>ikut Cin Hai ke hutan, marahlah mereka. Bahkan Kwee An yang bersedih  kehilangan<BR>adiknya, juga marah. Mereka  mencari Cin Hai dan  melihat Cin Hai duduk  seorang<BR>diri membawa bambu kuning di dalam kebun, mereka segera menangkapnya! Kwee Tiong<BR>lalu mengambil tali dan menyeret Cin Hai ke sebatang pohon lalu mengikat Cin Hai<BR>di situ dengan tali tadi.<BR>Cin Hai tak  dapat melawan  karena ia  sudah lelah  sekali bahkan  tubuhnya<BR>masih sakit-sakit bekas bantingan  Biauw Suthai tadi  dan terutama bekas  tangan<BR>Tan-kauwsu. Sekarang  diperlakukan  kasar oleh  kelima  anak-anak itu,  ia  sama<BR>sekali tidak melawan, walaupun andaikata ia melawan juga takkan berguna.<BR>"Bangsat, mengakulah bahwa kau yang  menjadi gara-gara lenyapnya Lin  Lin!"<BR>Kwee Tiong membentak.<BR>"Bukan, bukan  aku!" jawab  Cin Hai  sambil membalas  pandangan Kwee  Tiong<BR>dengan berani.<BR>"Kepala anjing!" Kwee Tiong memaki  sambil menempeleng kepala Cin Hai  yang<BR>gundul itu.<BR>"Bukan aku!" Cin Hai tetap berkokoh menyangkal.<BR>Kelima saudara yang sedang marah itu berganti-ganti memukul dan menempeleng<BR>kepala Cin  Hai  yang gundut,  tetapi  biarpun merasa  kesakitan  dan  kepalanya<BR>pening, anak ini tetap berteriak-teriak, "Bukan aku... bukan aku!"<BR>Melihat betapa  keadaan Cin  Hai makin  lemas dan  suara teriakannya  makin<BR>parau dan lemah, Kwee An menjadi kasihan dan timbul sifat baiknya.<BR>"Koko sekalian, aku jadi  ingat akan perkataan Ayah  bahwa di dalam  segala<BR>hal kita harus berlaku gagah berani. Sekarang kita ikat Cin Hai dan  memukulinya<BR>tanpa ia dapat membalas, apakah ini adil? Kurasa ini bukan kelakuan gagah berani<BR>seperti yang dianjurkan  oleh Ayah, dan  kalau Ayah melihat  perbuatan kita  ini<BR>tentu kita mendapat marah."<BR>"Eh, pengecut, apakah kau hendak  membela dia?" Kwee Tiong membentak  marah<BR>kepada adiknya.<BR>"Bukan pengecut,  juga bukan  membelaku," Cin  Hai yang  sudah matang  biru<BR>mukanya dan lemas tubuhnya  itu mewakili Kwee An  menjawab, "tapi dia ini  telah<BR>banyak mempunyai kegagahan dari  pada kamu berempat  yang terhadap seorang  anak<BR>lebih kecil saja melakukan pengeroyokan secara pengecut."<BR>"Plok!!" tangan Kwee  Tiong terayun,  menampar mulut Cin  Hai hingga  bibir<BR>yang sudah  bengkak karena  jatuh terpukul  oleh Tan-kauwsu  tadi, kini  lukanya<BR>terbuka pula dan mengeluarkan darah baru.<BR>"Twako, kalau  memang kau  hendak main  pukulan dan  berkelahi,  lakukanlah<BR>secara ujur. Lepaskan dia lebih dulu dan berkelahi dengan adil!" Kwee An berkata<BR>marah melihat kekejaman kakaknya, lalu  ia sendiri maju membuka belenggu  tangan<BR>Cin Hai.<BR>"Baik, baik! Kaubukalah ikatannya, biar  ia coba menahan seranganku,"  kata<BR>Kwee Tiong gembira. Cin Hai merasa seluruh tubuhnya lemas dan tak bertenaga maka<BR>biarpun ia sudah dilepaskan dari ikatan, tetap saja ia tak berdaya.  Sebaliknya,<BR>Kwee Tiong yang bertubuh tegap dan  lebih besar darinya itu, lagi pula  memiliki<BR>kepandaian silat  yang  sudah lumayan,  segera  maju menyerang  dengan  sepasang<BR>kepalan dan tendangan  kakinya. Berkali-kali  Cin Hai dipukul  jatuh dan  selagi<BR>anak itu dengan mata  kabur hendak merayap bangun,  sebuah tendangan Kwee  Tiong<BR>tepat mengenai lambungnya hingga ia tersungkur lagi.<BR>"Nah, rasakan ini,  nah, ini lagi!  Kau anak celaka,  anak tolol, kau  yang<BR>menjadi  gara-gara  sehingga  Lin  Lin  terculik  orang!  Rasakan  ini!"  Sambil<BR>menunggangi tubuh Cin  Hai di  punggungnya, Kwee Tiong  menghujani pukulan  pada<BR>seluruh tubuh Cin Hai yang sudah tak berdaya. Karena rasa sakitnya, Cin Hai lalu<BR>meramkan mata  dan menggunakan  kedua tangannya  untuk balas  menyerang. Ia  tak<BR>dapat memukul, tapi menangkap apa saja yang dapat ditangkap. Karena  kebingungan<BR>dan putus asa dihujani  pukulan-pukulan keras oleh Kwee  Tiong, Cin Hai  menjadi<BR>nekad. Dengan  tenaga  terakhir  ia  dapat  membalikkan  tubuhnya  yang  tadinya<BR>tertelungkup itu sehingga menjadi miring.<BR>Tangan kanannya menyerang ke depan  dan mencengkeram dan seketika itu  juga<BR>terdengar Kwee Tiong memekik ngeri karena  tanpa disengaja tangan Cin Hai  dapat<BR>mencengkeram anggauta rahasia Kwee Tiong.<BR>Mendengar jerit ini  baru Cin Hai  tahu bahwa Kwee  Tiong kesakitan  hebat.<BR>Alangkah senang  hatinya mendengar  anak  itu menjerit-jerit  kesakitan.  Timbul<BR>niatnya untuk sekali  remas membikin hancur  anggauta tubuh yang  dicengkeramnya<BR>itu  agar  anak  jahat  yang  telah  cukup  banyak  menghina  dan  cukup  sering<BR>menyiksanya itu  mampus  seketika itu  juga.  Tetapi, entah  mengapa,  di  dalam<BR>pikirannya  yang  sudah  kabur  itu  tiba-tiba  terdengar  ujar-ujar  nabi  yang<BR>dipelajarinya. Betapa hebatnya  Kwee Tiong menyiksanya  dan menghinanya,  tetapi<BR>anak itu tidak sampai membunuhnya,  kalau sekarang ia membalas dengan  membunuh,<BR>itu tidak adil namanya. Pula, ada  ujar-ujar yang ia lupa lagi bunyinya,  tetapi<BR>yang ia  masih  ingat bahwa  orang  tak  boleh membunuh  sesamanya  hanya  untuk<BR>melampiaskan marah dan  memuaskan perasaan. Teringat  akan semua ini,  tiba-tiba<BR>cengkeraman tangannya mengendur.<BR>Tadinya  Kwee  Tiong   sudah  sambat,  bahkan   tanpa  malu-malu  lagi   ia<BR>mengeluarkan kata-kata, "Cin  Hai... lepaskan aku...  ampun, Cin Hai..."  tetapi<BR>yang agaknya tidak terdengar  oleh Cin Hai. Kini  merasa betapa cengkeraman  Cin<BR>Hai mengendur,  kesempatan ini  tak  disia-siakan oleh  Kwee Tiong  yang  segera<BR>merenggut tangan Cin Hai itu dan meloncat berdiri.<BR>"Bangsat!  Anjing!  Pengecut   hina,  kau  berlaku   curang!"  Kwee   Tiong<BR>memaki-maki sambil gunakan kedua kakinya  menendang-nendang tubuh Cin Hai.  Tapi<BR>anak gundul ini sama sekali tidak bergerak dan tidak mengeluh.<BR>"Tahan, Twako, ia... ia... mati!"  tiba-tiba Kwee An berseru sambil  loncat<BR>berlutut.<BR>"Hahh?? Mati...??" Kwee  Tiong terkejut sekali  dan wajahnya berubah  pucat<BR>seketika itu juga. Juga adik-adiknya yang tadi ikut memaki-maki menjadi terkejut<BR>sekali dan beramai-ramai mereka berlutut  untuk melihat dan memeriksa tubuh  Cin<BR>Hai.<BR>Sebetulnya Cin Hai  hanya pingsan  saja tetapi  karena banyak  mengeluarkan<BR>darah dan perutnya kosong, maka mukanya nampak pucat sekali seperti mayat.  Pada<BR>saat itu terdengar teriakan kaget dan semua anak-anak itu makin terkejut  karena<BR>yang datang bukan lain ialah Loan Nio bibi Cin Hai! Ketika datang ke situ,  Loan<BR>Nio menyangka bahwa kemenakannya  itu telah mati, maka  ia berteriak kaget.  Dua<BR>orang pelayan lalu diperintahkan untuk mengangkat tubuh anak itu ke dalam kamar,<BR>sedangkan Loan Nio memarahi kelima saudara Kwee.<BR>"An-ji, coba kauceritakan, apakah yang  telah terjadi tadi?" Loan Nio  atau<BR>Kwee-hujin itu sengaja bertanya kepada Kwee  An, karena dia yang telah  mengenal<BR>perangai semua anak-anak itu sejak kecil, tahu bahwa hanya Kwee An yang boleh ia<BR>percaya.<BR>"Cin Hai telah berkelahi dengan Eng-ko  Tiong," kata Kwee An terus  terang,<BR>lalu ia menceritakan tentang sebab-sebab  perkelahian, yakni bahwa mereka  marah<BR>sekali karena menganggap bahwa Cin Hai  yang menjadi biang keladi lenyapnya  Lin<BR>Lin.<BR>Loan Nio  menghela  napas, lalu  berkata  dengan suara  keren,  "Anak-anak,<BR>memang perbuatan Cin Hai mengajak Lin Lin ke hutan itu adalah sangat lancang dan<BR>tidak baik. Seharusnya ia memberi tahu dulu kepada orang tua. Tetapi kurasa  Cin<BR>Hai sudah cukup  terhukum apalagi  kalau diingat  bahwa dia  biarpun kecil  juga<BR>telah membela  Lin Lin  hingga terpukul  oleh penculik,  maka kalian  seharusnya<BR>dapat memaafkannya. Pula peristiwa  telah terjadi, Lin  Lin masih belum  ketemu,<BR>sekarang    kaliantambahikepusinganorang-orangtuadengan<BR>perkelahian-perkelahian itu. Sungguh tidak baik sekali!"<BR>Pada saat itu Kwee In Liang kembali dari pengejarannya kepada penculik itu.<BR>Wajahnya muram dan tampak lelah sekali.<BR>"Bagaimana, terdapatkah?" Kwee-hujin bertanya dengan muka cemas.<BR>Kwee-ciangkun menggeleng-geleng kepala dan menghela napas, nampaknya  susah<BR>sekali.  Kemudian  melihat  anak-anaknya  yang  berada  di  situ  seperti  orang<BR>ketakutan.<BR>"Anak-anak ini sedang bekerja  apa di sini? Mengapa  tidak berada di  kamar<BR>dan belajar?"<BR>Terpaksa Loan Nio yang  tak pernah membohong  segera menceritakan bahwa  ia<BR>baru saja menegur mereka karena berkelahi  dan mengeroyok Cin Hai sehingga  anak<BR>itu jatuh  pingsan.  Muka Kwee  In  Liang makin  muram  mendengar ini,  lalu  ia<BR>membentak mereka  supaya pergi  ke kamar  masing-masing. Melihat  kemarahan  dan<BR>kesedihan suaminya, dengan manis budi Loan Nio mencoba menghiburnya. Tetapi ayah<BR>yang kehilangan anak kesayangannya itu  hanya menggunakan kedua tangan  menutupi<BR>mukanya dan berkali-kali menghela napas.<BR>"Tadi aku mendengar bahwa Biauw Suthai yang menculik Lin Lin adalah seorang<BR>wanita gagah dan tokoh yang ternama sekali, maka kurasa pertapa wanita itu tidak<BR>mempunyai maksud buruk. Barangkali  dia memang benar-benar  suka kepada Lin  Lin<BR>dan hanya bermaksud  menurunkan ilmu  silatnya dan  segala kepandaiannya  kepada<BR>anak kita." Kwee hujin menghibur.<BR>Setelah  menghela  napas  berulang-ulang  Kwee  In  Liang  hanya   menjawab<BR>perlahan, "Mudah-mudahan begitu. Karena kalau  sampai siluman wanita itu  berani<BR>mengganggu selembar  rambut saja  dari anakku,  harus ia  ganti dengan  selembar<BR>jiwanya!" Dan  panglima gagah  ini  mengertak-ngertak gigi  dan  mengepal-ngepal<BR>tinju tangannya, sedangkan kedua matanya mengeluarkan sinar mengancam.<BR>Isterinya lalu menghiburnya  lagi dan mengajak  suaminya yang bersedih  itu<BR>masuk ke dalam gedung  karena di luar  telah mulai gelap.  Malam itu keadaan  di<BR>gedung keluarga  Kwee  sunyi saja.  Biasanya  pada malam  hari  terdengar  suara<BR>anak-anak  menghafal  sastera   mereka,  tetapi  malam   ini  sengaja   dilarang<BR>mengeluarkan suara keras. Sore-sore Kwee  Tiong dan keempat adiknya telah  pergi<BR>tidur sambil membicarakan Cin Hai dengan suara berbisik.<BR>Cin Hai sendiri  berbaring terlentang dengan  mata terbelalak memandang  ke<BR>langit-langit kamar dan  pikirannya melamun jauh  sekali. Tubuhnya masih  terasa<BR>sakit, tapi hatinya telah terhibur karena tadi bibinya datang dan  menghiburnya,<BR>serta  memerintahkan  pelayan  untuk  menyediakan  makan,  bahkan  dengan  kedua<BR>tangannya  sendiri  bibi   yang  baik  itu   membaluri  seluruh  tubuhnya   yang<BR>bengkak-bengkak dan matang biru dengan minyak gosok.<BR>Ketika tadi bibinya menggosok-gosok badannya dengan minyak gosok, ia merasa<BR>terharu dan diam-diam air matanya mengalir di kedua pipinya.<BR>"Ie-ie, sebenarnya di manakah kedua orang tuaku?" tanyanya perlahan.<BR>Tangan bibinya yang menggosok-gosok puggungnya itu tiba-tiba menggigil  dan<BR>untuk sesaat berhenti menggosok, tapi lalu terdengar jawabannya, "Anak,  mengapa<BR>kau berkali-kali tanyakan  hal ini?  Bukankah sudah  kuberitahukan padamu  bahwa<BR>kedua orang tuamu telah kembali ke alam baka?"<BR>"Tetapi di manakah makam mereka, ie-ie? Aku ingin sekali mengunjungi  makam<BR>orang tuaku."<BR>"Aku tidak tahu, Cin Hai."<BR>"Mengapa kau tidak tahu ie-ie, bukankah kau adik mendiang ibuku?"<BR>"Sudah berapa  kali kukatakan,  bahwa aku  tidak tahu,  Cin Hai!  Sudahlah,<BR>jangan kau  mendesak  terus. Kau  harus  mengaso,  aku akan  kembali  ke  kamar,<BR>ie-thiomu masih  sangat bersedih."  Nyonya muda  itu lalu  mengelus-elus  kepala<BR>kemenakannya, kemudian meninggalkan kamar itu. Tetapi sebelum melangkah ke  luar<BR>pintu, Cin Hai menegur,<BR>"Ie-ie yang  baik!" Nyonya  muda itu  berhenti lalu  menengok dan  Cin  Hai<BR>melihat betapa Ie-ienya telah mengalirkan air mata!<BR>"Setidak-tidaknya beritahukan padaku siapa nama dan she Ayahku!"<BR>"Kau she Kwee juga, bukankah sudah pernah kuberitahukan padamu?"<BR>"She... Kwee...? Ah, tak mungkin...  ah, mengapa kau membohongi Ie-ie  yang<BR>baik? Aku bukan she Kwee..."<BR>Tapi Ie-ienya telah  melangkah keluar dari  pintu dan Cin  I Hai  mendengar<BR>suara sandal bibinya itu makin menjauhi kamarnya.<BR>Demikianlah, setelah bibinya  pergi, sampai  jauh malam Cin  Hai tak  dapat<BR>meramkan matanya. Bibinya  telah membohong padanya  ketika menerangkan bahwa  ia<BR>she Kwee! Juga bibinya telah membohong  ketika bilang bahwa ia tidak  mengetahui<BR>makam kedua orang tuanya.<BR>Ia dapat merasakan kebohongan itu, karena setiap kali bibinya diajak bicara<BR>tentang hal kedua orang tuanya, selalu  nyonya muda itu tiba-tiba menjadi  sedih<BR>dan gelisah,  dan jawabannya  selalu ragu-ragu.  Aku harus  mencari kedua  orang<BR>tuaku, aku harus tahu siapa sebenarnya diriku ini.<BR>Cin Hai turun dari pembaringan dengan maksud hendak pergi ke kamar  bibinya<BR>dan mendesak  keterangan  dan  penjelasan-penjelasan.  Ia  sengaja  menanggalkan<BR>sepatu agar  tindakan  kakinya  tidak menerbitkan  suara  dan  mengagetkan  atau<BR>membangunkan orang lain  dari tidurnya.  Ketika sudah tiba  dekat kamar  bibinya<BR>tiba-tiba ia mendengar suara  bibinya terisak menangis  dan suara pamannya  yang<BR>besar itu seakan-akan sedang memarahi bibinya, Cin Hai bergerak hati-hati sekali<BR>ke arah  kamar yang  masih terang  karena lampu  di dalam  belum dipadamkan.  Ia<BR>mendekati jendela dan mengintai.<BR>Ternyata bibinya sedang  duduk di  pembaringan sambil  menutup muka  dengan<BR>selampai, menahan tangis. Pamannya berjalan mondar-mandir di dalam kamar itu.<BR>"Ayahnya yang berdosa,  dan Ayah  serta seluruh  keluarganya telah  menebus<BR>dosa itu dan  semua dihukum  penggal leher.  Sekarang janganlah  kauikut-ikutkan<BR>anaknya yang tak berdosa apa-apa." Nyonya muda itu berkata sambil menangis.<BR>"Kaukira aku  manusia berhati  sekejam  itu? Kalau  aku kejam,  apakah  aku<BR>memperbolehkan anak pemberontak  itu berdiam di  rumahku sampai  bertahun-tahun?<BR>Pemberontak she Sie  yang menjadi iparmu  itu telah dihukum  mati berikut  semua<BR>keluarganya, dan aku sama sekali tiada sangkut-paut dengan perkara itu."<BR>"Tiada sangkut-paut,  hanya engkaulah  yang menangkap  mereka semua,"  kata<BR>Loan Nio.<BR>"Apa salahnya? Bukanklah itu sudah menjadi kewajibanku? Jangankan orang she<BR>Sie itu yang tiada hubungan apa-apa dengan aku, biarpun andaikata adikku sendiri<BR>yang menjadi  pemberontak,  tentu aku  akan  menangkapnya. Inilah  jiwa  seorang<BR>gagah. Harus kau ingat  bahwa yang tiap  hari kita makan  dan pakaian yang  tiap<BR>hari kita pakai ini adalah hasilku mengabdi kepada raja. Apakah aku hanya  boleh<BR>menerima hasil saja  tanpa memenuhi kewajiban?  Pula, bukan aku  yang ingin  dia<BR>dihukum, tetapi  perintah atasan.  Tugas tetap  tugas, perasaan  pribadi  jangan<BR>dibawa-bawa!" Agaknya  panglima  itu  marah  betul  karena  terdorong  kesedihan<BR>hatinya kehilangan Lin Lin.<BR>Hening sejenak  kecuali isak  Loan  Nio dan  elahan  napas Kwee  In  Liang,<BR>kemudian terdengar nyonya muda itu berkata agak sabar,<BR>"Aku tahu semua itu, dan aku  tidak salahkan kau. Hanya mengenai anak  ini,<BR>Cin Hai yang malang... kau berlakulah murah hati sekali."<BR>"Istriku, betapapun  juga  kau  pertimbangkanlah  baik-baik.  Engkau  lebih<BR>sayang Cin Hai daripada suamimu? Aku benci Cin Hai, juga aku tidak menghubungkan<BR>dia dengan orang tuanya. Akan tetapi, semenjak Lin Lin hilang... (sampai di sini<BR>suaranya sember dan sedih)... aku tak tahan melihat muka Cin Hai lagi. Betapapun<BR>juga, Lin  Lin diculik  orang karena  ikut pergi  dengan Cin  Hai! Perasaan  ini<BR>takkan pernah hilang dari hatiku yang menuduh dan mempersalahkannya, maka  tidak<BR>baik kiranya kalau  anak itu  berada di depan  mataku. Tidak  baik untuknya  dan<BR>tidak baik  untukku  sendiri. Dia  harus  pergi dari  sini,  titipkanlah  kepada<BR>keluarga lain..."<BR>Semenjak tadi, di  luar Jendela  Cin Hai  mendengar dengan  air mata  turun<BR>bagaikan hujan membasahi kedua pipinya.<BR>Orang tuanya, semua keluarganya, mendapat hukuman penggal kepala!  Alangkah<BR>hebatnya! Ayahnya yang  she Sie  itu disebut-sebut  sebagai pemberontak!  Apakah<BR>pemberontak? Perasaannya yang  terasa perih  itu makin  hancur mendengar  betapa<BR>bibinya sampai  bertengkar dengan  Ie-thionya karena  dia! Pula,  hatinya  sakit<BR>sekali mendengar  betapa ie-thionya  membencinya karena  hilangnya Lin  Lin  dan<BR>ie-thionya telah mengambil keputusan supaya ia pergi dari situ!<BR>Cin Hai menggigit bibirnya yang tadinya mewek menangis itu. Timbul perasaan<BR>angkuh di dalam kepalanya yang gundul. Orang tak menghendaki dia di situ,  untuk<BR>apa menanti  lebih lama  lagi? Ia  tak perlu  minta-minta ampun  dan mohon  agar<BR>diperkenankan tinggal terus  di situ. Ia  harus pergi karena  ia bukan  keluarga<BR>Kwee! Hanya ie-ienyalah yang menahan ia  berada di tempat itu selama ini  karena<BR>ia amat mencinta ie-ienya yang berbudi baik itu.<BR>Dengan pikiran  kacau  balau, Cin  Hai  lalu  pergi dari  situ  dan  dengan<BR>hati-hati sekali ia  hendak keluar  dan minggat  dari gedung  keluarga Kwee.  Ia<BR>benci sekali kepada  Kwee In Liang,  karena dari mulut  pamannya itu sendiri  ia<BR>mendengar bahwa  yang menangkap  orang tuanya  adalah pamannya  itu sendiri.  Ia<BR>memasuki kamarnya dan mengambil semua-pakaiannya lalu dibuntal, tetapi tiba-tiba<BR>ia teringat akan  kata-kata pamannya  tadi yang menyatakan  bahwa semua  pakaian<BR>yang dipakai  adalah  hasil pengabdiannya  kepada  raja! Dan  karena  pengabdian<BR>kepada raja  itulah yang  memaksa pamannya  itu menangkap  dan membasmi  seluruh<BR>keluarga  Sie.  Tiba-tiba  timbullah  rasa  jijik  dan  bencinya  kepada   semua<BR>pakaiannya dan dilemparkannya buntalan itu  jauh-jauh dengan perasaan jijik.  Ia<BR>takkan membawa  pakaian pemberian  pamannya. Lalu  ia teringat  akan  pakaiannya<BR>sendiri,  yang  dipakainya  ini  pun  pakaian  pemberian  bibinya  yang  berarti<BR>pemberian pamannya pula! Dengan hati panas dan penuh marah ia lalu  menanggalkan<BR>semua pakaiannya itu dan dengan telanjang bulat ia lari keluar. Tetapi dari mana<BR>ia harus keluar dari  gedung itu? Pintu depan  telah tertutup dan terkunci.  Cin<BR>Hai yang gundul dan telanjang itu  lalu berlari ke belakang dan memasuki  kebun.<BR>Angin malam  yang  dingin  menyerang  kulitnya  sehingga  ia  menggigil.  Tetapi<BR>dikeraskan hatinya dan segera menuju ke dinding yang mengelilingi kebun.  Memang<BR>ia telah biasa memanjat dinding itu  waktu bermain-main, maka kini dengan  mudah<BR>saja ia  dapat memanjat  dinding menggunakan  lubang-lubang dan  pecahan-pecahan<BR>yang terdapat pada beberapa bagian dinding.<BR>"He, bangsat kecil, kau hendak berbuat apa lagi?"<BR>Itu adalah  suara  Tan-kauwsu! Cin  Hai  terkejut sekali  dan  ia  memegang<BR>sulingnya erat-erat di tangan kanan. Memang, anak gundul itu tidak membawa bekal<BR>apa-apa bahkan pakaiannya pun tidak, akan  tetapi suling buatan sendiri itu  tak<BR>ia lupakan. Ketika  Tan-kauwsu sudah  datang dekat  dan melihat  betapa Cin  Hai<BR>dengan bertelanjang bulat  berada di atas  dinding, ia merasa  heran sekali  dan<BR>untuk beberapa  lama  ia berdiri  bengong  memandang. Sudah  gilakah  anak  ini?<BR>Demikian  ia   berpikir,  kemudian   timbul  maksudnya   hendak  menangkap   dan<BR>menyerahkannya kepada Kwee-ciangkun  dalam keadaan demikian,  agar anak itu  dan<BR>juga bibinya merasa malu!<BR>"Bangsat tolol, turun kau!" bentaknya.<BR>Tapi dalam takut dan  bingungnya Cin Hai tak  mempedulikan bahaya lagi.  Ia<BR>meloncat di sebelah luar dan untung sekali ia jatuh ke dalam semak-semak  hingga<BR>kakinya tidak patah-patah, hanya tubuhnya  yang telanjang itu saja  lecet-lecet.<BR>Ia lalu berdiri dan lari dalam malam gelap secepat mungkin. Tan Hok, guru  silat<BR>yang membenci Cin  Hai itu menjadi  penagaran dan marah.  Sekali loncat saja  ia<BR>sudah berada di  atas dinding.  Tetapi malam itu  gelap sekali  sehingga ia  tak<BR>melihat Cin Hai.  Ia memanggil-manggil dan  memaki-maki. Tiba-tiba ia  mendengar<BR>suara keluhan, karena  pada saat  itu, Cin  Hai yang  sudah lari  agak jauh  itu<BR>tersandung akar pohon di dalam  gelap hingga tubuhnya terguling! Karena  dadanya<BR>yang telanjang  tertumbuk pada  akar, maka  tanpa disengaja  ia mengeluh  hingga<BR>terdengar oleh Tan Hok. Guru silat  ini meloncat turun dari tembok dan  mengejar<BR>ke arah suara itu sambil memaki,<BR>"Anak totol, apakah kau sudah gila?"<BR>Cin Hai makin takut  dan ia berdiri lagi  lalu memaksa kakinya yang  terasa<BR>sakit karena jatuh  itu untuk  berlari lagi. Saat  itu telah  lama lewat  tengah<BR>malam hingga  keadaan  gelap  sekali.  Tetapi  dari  suara  kaki  Cin  Hai  yang<BR>berlari-lari dapat juga Tan Hok mengejar ke mana anak itu berlari. Hanya keadaan<BR>yang sangat gelap itu membuat Tan-kauwsu tak mungkin dapat berlari cepat,  takut<BR>kalau-kalau ia akan menabrak pohon atau terjeblos dalam tanah berlubang.<BR>Sebaliknya, Cin Hai yang ketakutan dan bingung, tak mempedulikan semua  ini<BR>dan ia lari sekerasnya. Maksud  hatinya hendak lari secepat-cepatnya agar  dapat<BR>menghindarkan diri  dari  tangan guru  silat  yang  jahat dan  yang  pasti  akan<BR>membawanya kembali ke tempat yang tak disukainya itu. Oleh karena berlari dengan<BR>nekad membuta ini,  tiba-tiba ia  terjeblos ke  bawah! Cin  Hai terkejut  sekali<BR>tetapi  tak   berani  mengeluarkan   keluhan,  takut   kalau-kalau   pengejarnya<BR>mendengarnya.<BR>Ketika ia meraba-raba di  sekitar dirinya, ternyata  ia telah terjeblos  ke<BR>dalam tanah lumpur yang lembek  berair. Setelah berpikir-pikir sejenak  dapatlah<BR>ia menduga bahwa ia  tentu terjatuh ke dalam  kolam lumpur yang biasa  digunakan<BR>oleh para penggembala kerbau untuk membawa kerbau-kerbau mereka mandi lumpur  di<BR>situ. Anehnya, kalau  tadi ia merasa  tubuhnya dingin sekali  karena angin  yang<BR>meniup-niup tubuhnya, kini setelah masuk ke dalam lumpur itu, ia merasa  hangat!<BR>Agaknya seperti ada hawa yang aneh dan hangat keluar dari kolam lumpur itu.<BR>Akan tetapi, rasa girangnya hanya sebentar saja karena lagi-lagi  terdengar<BR>suara makian guru silat  yang masih tetap mencari-carinya  itu. Cin Hai  menjadi<BR>gemas sekali.  Kalau saja  ia kuasa  mengalahkan guru  silat itu  pasti ia  akan<BR>menghajar habis-habisan padanya! Ia memutar-mutar  otak di dalam kepalanya  yang<BR>gundul itu, mencari akal.<BR>Tan Hok  si guru  silat merasa  mendongkol sekali.  Biarpun ia  lari  tidak<BR>cepat, tetapi telah dua kali ia menabrak pohon hingga tabrakan yang ke dua  kali<BR>membuat hidungnya berdarah! Ia tidak menyesalkan hidungnya yang terlalu  panjang<BR>itu, tetapi menimpakan semua penyesalan, kemendongkolan, dan kemarahannya kepada<BR>Cin Hai.<BR>"Anak tolol, anak binatang rendah,  anak haram! Kalau kau sampai  terpegang<BR>olehku, tentu akan  kubeset kulit  kepalamu!" demikian ia  memaki-maki dan  maju<BR>terus, tetapi kini  dengan kedua tangan  di depan agar  jangan sampai  tertumbuk<BR>pada pohon lagi.<BR>Tiba-tiba ia  mendengar  suara  kaki  Cin Hai  berlari-lari  di  depan.  Ia<BR>mendengar  jelas  betapa  napas  anak  itu  terengah-engah  dan  beberapa   kali<BR>mengaduh-aduh. Girang hatinya mendengar ini.<BR>"Bangsat kecil,  kau  hendak  lari  ke mana  sekarang?"  bentaknya  dan  ia<BR>mempercepat larinya, karena ia pun mendengar  suara kaki anak itu berlari  makin<BR>cepat. Ia  maju dengan  langkah lebar,  tetapi setelah  berlari beberapa  tindak<BR>tiba-tiba ia  menjerit  dan  terdengar  betapa tubuhnya  yang  besar  itu  jatuh<BR>terjerambab di dalam kolam lumpur! Celakanya ia jatuh telungkup hingga  mukannya<BR>penuh tertutup lumpur.<BR>"Ha-ha-ha! Alangkah lucunya!"  terdengar Cin Hai  mentertawakan guru  silat<BR>itu. Ternyata tadi anak itu mendapat akal untuk menjebak pengejarnya. Ia berdiri<BR>di seberang kolam  lumpur, lalu  berlari di tempat  sambil sengaja  mengeluarkan<BR>suara napas terengah-engah. Tan kauwsu telungkup di dalam lumpur bagaikan seekor<BR>kerbau besar!  Setelah puas  memaki-maki dan  mengejek serta  mentertawakan  Tan<BR>Kauwsu, Cin Hai lalu berlari lagi ke depan dengan cepat. Kini malam telah hampir<BR>terganti fajar hingga samar-samar mata dapat menembus kegelapan yang dari  warna<BR>gelap hitam menjadi abu-abu.<BR>Sudah tentu  Tan Hok  meluap  rasa marahnya.  Untuk  beberapa lama  ia  tak<BR>berdaya karena selain merasa  pengap lubang hidungnya  tertutup lumpur, juga  ia<BR>merasa bingung bagaimana harus membersihkan  lumpur yang memasuki mata  kirinya!<BR>Akhirnya ia  dapat juga  ke luar  dari kolam  lumpur itu  dan dapat  menggunakan<BR>bajunya yang masih bersih, yakni yang berada di bagian belakang tubuhnya,  untuk<BR>membersihkan lumpur dari hidung, mulut  dan matanya. Biarpun mata kirinya  masih<BR>terasa pedas dan lamur,  tetapi dengan mata kanan  ia dapat memandang ke  depan.<BR>Tampaklah olehnya  sebuah lorong  kecil di  depan dan  tanpa membuang  waktu  ia<BR>segera lari mengejar.<BR>Fajar  telah  menyingsing   ketika  dari   jauh  Tan   Hok  dapat   melihat<BR>berkelebatnya tubuh Cin Hai di depan. Guru silat ini mengeluarkan seruan girang,<BR>karena ia sebentar lagi pasti akan  dapat memuaskan hati membalas dendam  kepada<BR>setan cilik itu! Ia memperkuat larinya dan sebentar saja jarak antara ia dan Cin<BR>Hai yang berlari sekuatnya itu tinggal beberapa tombak saja lagi!<BR>"Bocah tolol! Sekarang kau hendak lari ke mana? Bersiaplah untuk mampus  di<BR>tanganku!" teriak Tan  Hok dengan girang  sekali dan ia  sudah siap  mengulurkan<BR>tangan untuk menangkap.<BR>Cin Hai yang sudah  putus asa tidak mau  menerima nasib. Ia bahkan  berlari<BR>sekerasnya dan ia sudah mengambil keputusan tetap bahwa bilamana ia  tertangkap,<BR>sebelum mati ia hendak  melawan dulu sekuatnya,  hendak menggunakan kaki  tangan<BR>dan giginya untuk  melawan. Ia ingat  bunyi sebuah ujar-ujar  kuno yang  berkata<BR>bahwa lebih baik mati sebagai harimau daripada mati sebagai babi!<BR>Tetapi pada  saat itu,  ketika  ia sudah  mendengar  suara kaki  dan  napas<BR>Tan-kauwsu dekat sekali di belakangnya, tiba-tiba ia menabrak tubuh seorang yang<BR>berdiri di depannya! Dan tahu-tahu tubuh Cin Hai melayang ke atas lalu  terduduk<BR>di atas lengan  seorang tua  yang pendek. Cin  Hai menjadi  terkejut, heran  dan<BR>bingung sekali.  Mengapa  tahu-tahu  ada  seorang tua  pendek  di  depannya  dan<BR>bagaimana maka ia  tahu-tahu sudah  melayang ke atas  dan duduk  di atas  lengan<BR>kanan orang  tua itu  yang  bertubuh pendek,  dan mulutnya  selalu  menyeringai,<BR>memakai jubah hitam dan kopiah hitam pula. Maka teringatlah dia bahwa orang  ini<BR>bukan lain ialah  seorang di  antara tiga orang  yang belum  lama ini  bertempur<BR>melawan hwesio gundul pemelihara ular di depan Kelenteng Ban-hok-tong!<BR>Sementara itu, Tan Hok ketika melihat betapa seorang tosu pendek  tahu-tahu<BR>menangkap Cin Hai dan berdiri di depannya, menjadi kaget sekali. Sebaliknya tosu<BR>itu yang bukan lain ialah  Giok Keng Cu, orang  ke tiga dari Kang-lam  Sam-lojin<BR>(Tiga Orang Tua dari Kanglam) tidak  kurang terkejutnya melihat Cin Hai dan  Tan<BR>Hok. Ia tidak mengenal anak itu  karena bertelanjang bulat dan hanya  berpakaian<BR>lumpur yang telah mulai mengering dan heran juga melihat pengejar anak itu  yang<BR>juga penuh dengan  lumpur pada seluruh  tubuh bagian depan.  Ia hanya  memandang<BR>sambil menyeringai dan tertawa ha-ha-hi-hi.<BR>Tan-kauwsu ketika melihat bahwa tosu pendek itu hanya orang biasa saja yang<BR>berpakaian sebagai  seorang  pendeta menyangka  bahwa  tosu itu  kebetulan  saja<BR>berada di situ, maka  ia lalu membentak keras  karena hatinya masih panas  penuh<BR>kemarahan,<BR>"Totiang, kauberikan anak tolol itu kepadaku!"<BR>Mendengar kata-kata ini, Giok Keng Cu lalu bertanya.<BR>"Sicu (Orang Gagah), apakah kau ayah anak ini?"<BR>"Siapa sudi menjadi  ayah anak  haram ini?  Dia ini...  adalah bujang  dari<BR>keluarga Kwee yang  melarikan diri  dan aku mendapat  tugas menangkapnya!  Lekas<BR>lepaskan dia!"<BR>"Sabar dulu, Sicu, sabar dan tenanglah! Aku ingin sekali tahu, mengapa anak<BR>ini bertelanjang bulat dan penuh lumpur dan mengapa pula kau juga agaknya  mandi<BR>lumpur? Kalian ini orang-orang Tiang-an agaknya suka benar dengan lumpur."<BR>Tiba-tiba Cin Hai tertawa geli. Ia  menganggap tosu ini lucu dan ia  merasa<BR>senang mendengar betapa Tan  Hok dipermainkan. Ia pun  maklum bahwa tosu  pendek<BR>ini lihai sekali, maka hatinya menjadi tabah dan keberaniannya timbul.<BR>"Totiang, kau harus menonton ketika kerbau hitam ini kujerumuskan ke  dalam<BR>lumpur! Kerbau ini adalah  kerbau gila, Totiang, ia  mengejarku dari malam  tadi<BR>dengan maksud membunuhku, tetapi sayang aku terlalu cepat baginya."<BR>"Bangsat kecil!", Tan Hok meloncat maju  dan hendak menerkam Cin Hai  serta<BR>merampasnya dari tangan tosu itu  tetapi dengan sekali menggerakkan lengan  saja<BR>tubuh Cin Hai  dapat dilempar ke  atas hingga terhindar  dari serangan Tan  Hok,<BR>lalu ketika tubuh kecil itu turun, diterima lagi dengan lengannya!<BR>"Sabar dulu, Sicu. Biar  pinto dengar dulu penuturan  bocah ini. Hai,  anak<BR>bodoh, coba, kau ceritakan padaku hal yang sebenarnya telah terjadi."  Diam-diam<BR>tosu ini suka sekali  melihat keberanian Cin Hai,  hanya ia masih heran  mengapa<BR>bocah kecil yang membawa-bawa suling  ini bertelanjang bulat dan tubuhnya  penuh<BR>lumpur.<BR>Dengan singkat Cin Hai lalu menuturkan betapa ia melarikan diri dari gedung<BR>keluarga Kwee karena ia dibenci. Ia  sama gekali tidak mau menceritakan  tentang<BR>sebab-sebab yang  sebenarnya dari  kepergiannya itu.  Ia menceritakan  bahwa  ia<BR>sengaja meninggalkan pakaiannya karena tidak  mau pergi membawa sepotong  barang<BR>dari gedung itu, takut kalau-kalau disangka mencuri, dan betapa di tengah  jalan<BR>ia dikejar oleh Tan-kauwsu yang selamanya memang benci padanya.<BR>"Betul demikiankah, Sicu?" tanya Giok Keng Cu dengan tetap menyeringai.<BR>"Sudahlah, kau orang tua  jangan ikut campur  urusan ini. Ketahuilah,  anak<BR>ini ikut dengan keluarga Kwee-ciangkun dan aku adalah guru silat di gedung  itu.<BR>Jangan kau mencari penyakit!" Tan Hok membentak marah.<BR>Giok Keng Cu berpaling  kepada Cin Hai yang  masih duduk di atas  lengannya<BR>lalu bertanya  sambil tertawa,  "Anak  gundul, apakah  kau sering  dipukul  oleh<BR>Kauwsu ini?"<BR>"Bukan sering  lagi, kalau  ia diberi  kesempatan tentu  akan  dibunuhnya!"<BR>jawab Cin Hai terus terang.<BR>"Apakah kau berani melawannya kalau diberi kesempatan?"<BR>"Kalau aku mempunyai  kepandaian seperti  Totiang, tentu  kerbau hitam  ini<BR>akan kuhajar kepalanya sampai benjut!"<BR>"Anjing kecil, kau turunlah!" Tan Hok menantang.<BR>"Nah, kalau kau berani,  kau lawanlah dia sambil  duduk di atas  lenganku!"<BR>kata Giok Keng Cu sambil tertawa.<BR>Cin Hai  belum mengerti  benar maksud  tosu itu,  ia yakin  bahwa tosu  ini<BR>bermaksud membantunya, maka ia mengangguk-angguk dan berkata, "Baik, baik,  akan<BR>kupukul kepalanya sampai benjol dan benjut."<BR>"Pukullah!" kata Giok Keng Cu  sambil mengulurkan lengan yang diduduki  Cin<BR>Hai ke dekat  Tan Hok dan  benar-benar Cin Hai  mengayun kepalan tangannya  arah<BR>kepala guru silat itu. Mana Tan  Hok mandah saja dirinya dipukul, ia  mengangkat<BR>tangan kiri  menangkis  dan  tangan  kanannya memukul  ke  arah  muka  Cin  Hai,<BR>maksudnya hendak sekali  pukul menjatuhkan anak  itu dari atas  lengan Si  tosu.<BR>Tetapi Giok Keng Cu menggerakkan lengannya dan tahu-tahu Cin Hai sudah pindah ke<BR>lengan kiri!<BR>"Guru silat, kalau kau bisa menjatuhkan  anak ini dari lenganku, boleh  kau<BR>bawa dia!" Giok Keng Cu  mengejek. Tan Hok marah  sekali dan ia lalu  menyerang,<BR>tetapi ternyata Cin  Hai dibawa oleh  lengan tosu itu  dengan cepat  menghindari<BR>setiap serangannya, bahkan tangan anak itu balas menghantam!<BR>Tan Hok dengan geram  dan marah lalu maju  dan menyerang dengan gerak  tipu<BR>Cin-jip-houw-hiat (Terjang Masuk Gua Harimau), sebuah serangan yang hebat sekali<BR>karena dilakukan dengan  dua tangan. Kalau  kepala Cin Hai  yang gundul  terkena<BR>pukulan ini,  pasti otaknya  akan berceceran  keluar dari  batok kepalanya  yang<BR>pecah! Tetapi  dengan enak  dan tenang  Giok  Keng Cu  meloncat ke  pinggir  dan<BR>menggerakkan lengannya dengan  cepat sekali.  Tahu-tahu Cin  Hai merasa  dirinya<BR>terlempar ke  atas melalui  kepala  Tan Hok,  maka  cepat anak  itu  menggunakan<BR>kakinya menyepak ke arah kepala itu!  Tan Hok yang kena sepak kepalanya  menjadi<BR>marah sekali dan menggunakan tangan hendak  menerkam tubuh yang masih berada  di<BR>atasnya itu, tetapi tangan Giok Keng Cu lebih cepat lagi mendahuluinya menyangga<BR>tubuh Cin Hai dan dibawa turun lagi.<BR>Demikianlah, dengan gerakan-gerakan aneh dan cepat melebihi angin, Cin  Hai<BR>dapat dibawa  oleh lengan  Giok Keng  Cu mempermainkan  Tan Hok.  Beberapa  kali<BR>kepalan Cin Hai yang kecil  dapat memukul muka, kepala  dan dada guru silat  itu<BR>sekerasnya, tetapi  akibatnya  ia  sendiri yang  mengeluh  dan  mengaduh  karena<BR>anggauta tubuh guru silat yang terlatih  itu keras dan, kuat, sedangkan  kepalan<BR>tangannya lemah tak terlatih.<BR>"Totiang, tanganku sakit." Cin Hai berbisik.<BR>"Anak tolol, kaupukul daun telinganya!" Giok Keng Cu balas berbisik.<BR>Benar saja, semenjak saat itu, Cin Hai menujukan pukulannya kepada dua daun<BR>telinga Tan Hok hingga guru silat itu menjadi makin gemas, marah dan mendongkol.<BR>Ia rasakan daun telinganya pedas dan sakit, tetapi hatinya lebih perih dan sakit<BR>lagi. Bagian-bagian tubuh lain memang terlatih, tetapi daun telinganya tak dapat<BR>dilatih dan  terasa  sekali  hingga  biarpun pukulan  seorang  anak  kecil  juga<BR>mendatangkan rasa  sakit  dan  bahkan mendatangkan  bunyi  mendenging  di  dalam<BR>telinganya! Cin Hai merasa  gembira sekali karena  ia mendapat kesempatan  untuk<BR>membalas dendam. Kini  ia tidak  hanya memukul,  tetapi menjewer,  mencengkeram,<BR>menusuk lubang telinga dengan sulingnya dan lain-lain serangan yang membuat  Tan<BR>Hok merasa mata gelap dan kepala berputaran karena marah, gemas dan tak berdaya!<BR>Tan Hok sudah mendapat hajaran hebat ketika guru silat itu menyerang  lagi,<BR>Giok Keng Cu sengaja menangkis dengan tangan kirinya sambil membentak,<BR>"Masih belum cukupkah?"<BR>Tangkisan itu membuat  Tan Hok  hampir menjerit  kesakitan. Seluruh  lengan<BR>kanannya, dari ujung jari sampai ke  pundak, terasa seakan-akan dibakar api  dan<BR>sakit sekali, hingga sambil meringis-ringis ia melangkah mundur, lalu berkata,<BR>"Aku sudah  menerima  pengajaran dari  orang  pandai. Tidak  tahu  siapakah<BR>Totiang dan apa  hubungannya dengan  anak tolol ini  hingga Totiang  membantunya<BR>serta tak segan-segan memberi pukulan kepada siauwte."<BR>Pada saat itu, matahati  telah mulai bersinar hingga  wajah Cin Hai  dengan<BR>kepalanya yang gundul pelontos tampak nyata. Ketika mendengar ucapan guru  silat<BR>itu, Giok Keng Cu lalu memandang muka anak kecil yang ditolongnya.<BR>"Eh, kau?" tanyanya dan Cin Hai tersenyum mengangguk sambil berkata,<BR>"Ya, aku. Dan  bagaimana dengan  kedua Totiang yang  lain?" tanyanya.  Giok<BR>Keng Cu lalu berdongak  dan tertawa keras,  hingga suara ketawanya  menggetarkan<BR>daun-daun pohon.<BR>"Dengarlah, guru silat buruk adat! Kau berhadapan dengan Giok Keng Cu, atau<BR>kalau nama ini tidak kaukenal, boleh  juga kau ketahui bahwa pinto adalah  orang<BR>termuda dari Kanglam Sam-lojin. Adapun tentang  anak ini, dia ini adalah  in-jin<BR>(penolong) kami!"<BR>Bukan main kagetnya Tan  Hok mendengar bahwa  ia berhadapan dengan  seorang<BR>daripada  Kanglam  Sam-lojin   yang  sangat   tenar  namanya   dan  yang   sudah<BR>menggemparkan dunia kang-ouw dengan kelihaian dan kehebatan mereka. Tetapi lebih<BR>heran lagi  ketika mendengar  pengakuan orang  tua itu  bahwa Cin  Hai  dianggap<BR>sebagai in-jin  mereka! Sungguh  aneh  dan gila!  Cepat  ia mundur  dan  menjura<BR>dalam-dalam sambil berkata,<BR>"Maaf, siauwte yang tak mengenal  Gunung Thai-san menghalang di depan  mata<BR>(Orang Gagah  berdiri  di depan  mata)  dan berani  berlancang  tangan.  Biarlah<BR>siauwte memberi laporan  kepada Kwee-ciangkun  bahwa anak  tolol... (ia  menahan<BR>makiannya) anak ini telah ikut dengan Locianpwe."<BR>Tetapi Giok Keng  Cu yang  kegirangan lagi bertemu  dengan "tuan  penolong"<BR>itu, tak mempedulikan  lagi guru silat  dan sekali berkelebat,  ia telah  lenyap<BR>dari pandang mata Tan Hok, sedangkan  Cin Hai juga dibawanya pergi bersama.  Tan<BR>Hok menghela  napas  berulang-ulang  dan  hatinya  penasaran,  malu  dan  gemas.<BR>Berturut-turut dalam dua hari ia mengalami nasib sialan! Kemarin bertemu  dengan<BR>Biauw Suthai dan mendapat hajaran yang memalukan dan menjatuhkan namanya,  malam<BR>tadi dipermainkan oleh Cin Hai si setan kecil, sedangkan sekarang tiba-tiba saja<BR>berhadapan  dengan  seorang  dari  Kang-lam  Sam-lojin  yang  lihai!  Semua  ini<BR>gara-gara Cin Hai  si setan  kecil. Kemudian  ia pergi  ke gedung  Kwee-ciangkun<BR>untuk memberi laporan bahwa Cin Hai pergi bersama seorang tua jahat yang mungkin<BR>mengambilnya sebagai murid. Ia tentu  saja tidak mau menceritakan  pengalamannya<BR>memalukan itu, hanya  bercerita bahwa orang  tua yang membawa  Cin Hai itu  agak<BR>miring otaknya, sedangkan Cin Hai sendiri ketika ikut orang tua itu bertelanjang<BR>bulat seperti anak gila.<BR>Kwee In Liang  tidak sangat  memperdulikan peristiwa ini,  tetapi Loan  Nio<BR>lalu lari ke kamarnya dan setelah memeriksa kamar Cin Hai dan mendapatkan betapa<BR>anak itu pergi tanpa  membawa sedikit pun barang  atau sepotong pun pakaian,  ia<BR>menangis tersedu-sedu dengan hati merasa terharu dan iba sekali.<BR>Giok Keng Cu yang lari bagaikan terbang cepatnya sambil memondong  tubuhnya<BR>karena angin besar menderu-deru di  kedua telinganya hingga ia menutup  matanya,<BR>membawa Cin Hai ke sebuah kuil rusak yang jauhnya beberapa li dari situ.<BR>Baru saja tiba di pekarangan kuil, ia telah berteriak ke dalam.<BR>"Twa-suheng (Kakak  Seperguruan tertua)!  Ji-suheng (Kakak  Seperguruan  Ke<BR>Dua)! Coba keluar dan lihat siapa yang kubawa ini!"<BR>Baru saja ucapan itu habis dikatakan  dari dalam kuil rusak itu  berkelebat<BR>dua bayangan orang dan tampaklah Giok Im Cu si tinggi kurus, dan Giok Yang Cu si<BR>tinggi besar  brewokan.  Untuk sesaat  mereka  tak dapat  mengenali  anak  kecil<BR>berlumpur itu, tetapi  Giok Yang Cu  segera ingat akan  kepala gundul itu,  maka<BR>cepat ia berkata girang.<BR>"In-kongcu (tuan penolong muda)!"<BR>Cin Hai  segera turun  dari pondongan  Giok Keng  Cu dan  memandang  kepada<BR>ketiga tosu itu dengan muka bodoh. "Samwi-totiang (Ketiga Bapak Pendeta) mengapa<BR>menyebut  aku  penolong?  Apakah  memang  cara-cara  pendeta  memutar   balikkan<BR>kenyataan?  Sebenarnya  aku  telah  ditolong,  tapi  sebaliknya  malah   disebut<BR>penolong, bagaimanakah ini?"<BR>Ketiga tosu  ini  saling  pandang, lalu  ketiganya  berdongak  dan  tertawa<BR>bergelak.<BR>"Kau tidak tahu, anak baik. Ketika kami bertiga bertempur melawan Hai  Kong<BR>Hosiang di depan Kelenteng Ban-hok-tong, kami bertiga terdesak dan dikurung oleh<BR>ular-ularnya yang  berbahaya dan  lihai. Nah,  ketika itu  kalau tidak  ada  kau<BR>penolong kami yang membunyikan suling dan mengacaukan pertahanan ular-ular  itu,<BR>tentu sekarang sudah tidak ada lagi Kanglam Sam-lojin! Kepada Hai Kong si hwesio<BR>itu kami tidak gentar, tetapi barisan ular sungguh lihai!"<BR>Barulah Cin Hai mengerti ia disebut  tuan penolong, tetapi ia lalu  tertawa<BR>dan berkata.<BR>"Sungguh aku  girang sekali  telah dapat  menolong Sam-wi  Totiang,  tetapi<BR>sungguh mati ketika itu aku tidak sengaja menolong, hanya karena mendengar suara<BR>melengking dari  Hai Kong  Hosiang,  aku merasa  telingaku sakit  dan  kugunakan<BR>suling untuk melawan suara itu. Tidak  tahunya suara itu dapat menolong  Sam-wi,<BR>maka Sam-wi tak perlu berterima kasih kepadaku seharusnya kepada suling ini!" Ia<BR>lalu mengangkat dan mengangkat dan mengacung-acungkan suling barunya.<BR>"Anak baik, kata-katamu  betul juga,"  kata Giok  Im Cu,  tosu tertua  yang<BR>tinggi kurus,  lalu tiba-tiba  tosu ini  menyanyikan sebuah  syair dengan  suara<BR>tinggi nyaring,<BR>"Tun Hek Ki Jiak Phak, Kong He Ki Jiak Kak, Huk He Ki Jiak Tak!"<BR>Syair  ini  bukan  sembarangan  syair,  tetapi  adalah  syair  dari   kitab<BR>To-tek-keng yang  merupakan kitab  pelajaran  dari Nabi  Lo  Cu atau  nabi  para<BR>penganut agama To-kauw, yang mempunyai arti seperti berikut,<BR>Berlakulah sopan  jujur  seperti  balok, Berwataklah  sunyi  agung  seperti<BR>jurang dalam, Dan bersikaplah seperti air keruh!<BR>Cin Hai  semenjak  kecil  telah  dijejali  bermacam-macam  ujar-ujar,  dari<BR>ujar-ujar Kitab  Suci dari  Khong Cu  dan berbagai  kitab-kitab Nabi  Lo Cu  dan<BR>lain-lain kitab kuno lagi. Di kala  mempelajari segala ujar itu, ia hanya  hafal<BR>seperti burung  beo  saja, dapat  mengucap  tanpa mengerti  isi  dan  maksudnya.<BR>Jangankan baru seorang kanak-kanak sekecil Cin Hai, sedangkan orang-orang dewasa<BR>pun takkan mudah begitu saja menyelami arti ujar-ujar kuno yang biarpun  singkat<BR>jika dipecahkan dan  direnungkan panjang  tiada habisnya dan  makin dalam.  Oleh<BR>karena hafalan-hafalan ini, tiap  ada kalimat yang dipetik  dari buku dan  kitab<BR>ujar-ujar itu, Cin Hai dapat ingat sambungannya. Mendengar syair ujar-ujar  yang<BR>dinyanyikan oleh Giok  Im Cu,  ia tahu bahwa  ujar-ujar itu  diambil dari  kitab<BR>To-tek-keng, maka cepat dan otomatis ia pun lalu menyanyikan ujar-ujar sambungan<BR>atau lanjutan daripada ujar-ujar yang dinyanyikan tosu itu tadi.<BR>"Siok Ling Tok I Ci, Cing Ci Ji Jing, Siok Ling An I Kiu, Tong Ci Ji  Seng!<BR>(Siapa bisa  bersikap seperti  air keruh  lama-lama menjadi  jernih, siapa  bisa<BR>berlaku sabar, lambat laun memetik buahnya)"<BR>Maka terbelalaklah mata Giok Im Cu mendengar syair ini dinyanyikan oleh Cin<BR>Hai. Harus diketahui bahwa Giok Im Cu adalah seorang pendeta To-kauw yang sangat<BR>tekun mempelajari ujar- ujar Lo Cu, maka  tentu saja ia sangat pandai dan  hafal<BR>akan segala macam  ujar-ujar suci  itu. Kini mendengar  ujar-ujar itu  disambung<BR>dengan tepatnya oleh Cin Hai, ia menjadi kagum dan heran. Diangkatnya anak kecil<BR>itu dengan penuh kasih sayang dan tiada hentinya ia menyebut,<BR>"Siancai, siancai (damai, damai,) anak baik, anak baik!"<BR>Setelah cukup memuji-muji Cin Hai  ketiga tosu itu lalu berkata  kepadanya,<BR>"Anak baik, sebenarnya siapakah namamu dan kau she apa? Kau pernah apakah dengan<BR>pembesar she Kwee itu?"<BR>Cin Hai bermuka sedih ketika menjawab,  "Teecu (murid) she Sie bernama  Cin<BR>Hai. Kedua orang tua teecu telah terhukum mati oleh kaisar, entah apa  salahnya.<BR>Kwee-hujin adalah Ie-ie teecu, tetapi karena seluruh penghuni gedung itu kecuali<BR>Ie-ie tidak ada  yang suka kepada  teecu, teecu lalu  mengambil keputusan  pergi<BR>saja!" Juga  kepada  ketiga tosu  ini  Cin Hai  tidak  mau membuka  rahasia  dan<BR>menceritakan sebenarnya tentang keadaan Kwee-ciangkun dan apa yang telah terjadi<BR>baru-baru ini.<BR>"Tidak apa, tidak apa, Cin Hai. Karena kau yatim piatu dan pernah  menolong<BR>kami, sudah  selayaknya kalau  kami  membalas jasamu.  Kau ingin  menjadi  orang<BR>pandai? Bagaimana kau menjadi murid kami bertiga?"<BR>Girang sekali Cin Hai mendengar ini.  Memang semenjak dulu ia ingin  sekali<BR>belajar silat, hanya sayang tidak ada kesempatan baginya. Kini ketiga orang yang<BR>berilmu tinggi dan luar  biasa kepandaiannya itu  hendak mengangkat dia  sebagai<BR>murid, tentu saja hal  ini menggembirakan sekali.  Kedua matanya telah  bersinar<BR>dan mukanya berseri, tetapi tiba-tiba  ia teringat akan janjinya kepada  seorang<BR>jembel yang telah lebih dahulu  menjadi suhunya, yakni Bu  Pun Su Si Jembel  Tak<BR>Berkepandaian! Oleh karena ini, ia lalu menjura dan berkata,<BR>"Besar  sekali  rasa  terima  kasih  dan  kebanggaan  teecu  menerima  budi<BR>kecintaan Sam-wi  Totiang,  tetapi terpaksa  teecu  tidak berani  menjadi  murid<BR>Sam-wi."<BR>"Eh, mengapa?" Giok Yang Cu  yang tinggi besar memelototkan matanya  karena<BR>heran. Tosu  tinggi besar  ini adatnya  kaku  dan jujur.  "Apa kau  anggap  kami<BR>bertiga kurang berharga untuk menjadi gurumu?"<BR>"Bukan demikian, Totiang. Tetapi sesungguhnya teecu sudah mempunyai seorang<BR>guru. Dan seorang saja sudah cukuplah!"<BR>"Siapa? Siapa suhunya itu?" ketiga tosu itu serentak bertanya.<BR>Cin Hai  menundukkan kepala,  karena sesungguhnya  ia malu  untuk  mengaku.<BR>Tetapi keangkuhannya yang menentang  segala rasa rendah  itu bangkit membuat  ia<BR>mengangkat mukanya dan berkata gagah, "Guruku itu adalah seorang jembel tua yang<BR>tidak berkepandaian apa-apa!"<BR>Di luar  dugaannya, biarpun  ia  tidak menyebut  namanya, ketiga  tosu  itu<BR>tiba-tiba menjadi pucat  dan Giok Keng  Cu si pendek  kecil bahkan memandang  ke<BR>kanan kiri seakan-akan ada yang ditakutinya.<BR>"Gurumu adalah Bu Pun Su Sianjin? Celaka, Sute, kita selalu didahului  oleh<BR>orang tua aneh itu!"' kata Giok Im Cu menyesal.<BR>"Jadi, Samwi  Totiang sudah  kenal kepada  suhuku. Di  mana dia  sekarang?"<BR>tanya Cin Hai  dengan girang,  tetapi ketiga tosu  itu menggeleng-geleng  kepala<BR>menyatakan bahwa  mereka pun  tidak tahu.  Kemudian, karena  agaknya mereka  ini<BR>tidak suka membicarakan tentang  orang tua itu, Cin  Hai pun tidak mau  bertanya<BR>lebih jauh.<BR>"Dan sekarang, kalau kau tidak bisa menjadi murid kami, cobalah kau  ajukan<BR>sebuah permintaan, akan kami penuhi. Kau boleh ajukan semacam permintaan  kepada<BR>seorang di antara kami hingga jumlahnya tiga macam permintaan, ini adalah  untuk<BR>pembalas jasamu yang telah menolong kami."<BR>"Tetapi teecu tidak minta dibalas, Sam-wi, ujar-ujar yang mengatakan  bahwa<BR>pertolongan yang  dilakukan  sambil mengharapkan  balasan  bukanlah  pertolongan<BR>namanya, tetapi ialah utang-piutang! Dan teecu tidak suka menjadi tukang kredit!<BR>"<BR>Kembali Giok Im  Cu kagum dan  pada dugaannya tentu  anak ini memang  telah<BR>paham akan  ilmu batin,  padahal sebenarnya  Cin Hai  hanyalah banyak  menghafal<BR>belaka dan ia selalu menggunakan  ujar-ujar hafalannya itu untuk diucapkan  pada<BR>saat yang tepat dengan maksud dipakai sebagai pembela diri!<BR>"Biarpun kau tidak  merasa menghutangkan  kepada kami  bertiga, namun  kami<BR>akan selalu merasa  mempunyai utang  jika kau  belum minta  apa-apa dari  kami,"<BR>jawab Giok  Yang Cu.  Karena didesak-desak  akhirnya Cin  Hai mengajukan  ketiga<BR>permintaan.<BR>"Pertama," katanya, "teecu sudah  lapar sekali dan  belum makan sejak  sore<BR>kemarin!"<BR>Ketiga tosu tertawa bergelak, lalu Giok Yang Cu lari ke belakang kuil untuk<BR>mengambil kue  kering  dan  sepotong  daging yang  telah  digarami.  Tanpa  seji<BR>(sungkan) lagi Cin Hai lalu menyikat makanan itu dan karena lupa bahwa ia  tidak<BR>berpakaian ia menggunakan  lengan tangan menyapu-nyapu  mulutnya yang  berminyak<BR>setelah makanan itu habis. Perutnya sudah kenyang dan perasaannya enak.<BR>"Permintaan teecu yang ke dua ialah minta diberi seperangkat pakaian karena<BR>teecu semenjak malam kemarin bertelanjang bulat dan merasa dingin sekali."<BR>Sekali lagi ketiga  orang tosu  itu saling  pandang dan  sinar mata  mereka<BR>berubah ragu-ragu  karena  ternyata anak  ini  mengajukan permintaan  remeh  dan<BR>menyia-nyiakan ketika ada  kesempatan bagus.  Benar-benar tolol  dan bodoh  anak<BR>ini, pikir  mereka. Mengapa  tidak minta  harta atau  senjata pusaka  atau  ilmu<BR>kesaktian? Tetapi  karena  permintaan  Cin  Hai yang  ke  dua  sudah  diucapkan,<BR>terpaksa  mereka   mencarikan  pakaian.   Kini  giliran   Giok  Keng   Cu   yang<BR>mencarikannya. Ketiga tosu itu  tak pernah membekal pakaian,  maka Giok Keng  Cu<BR>lalu pergi mencari. Tak lama kemudian ia kembali dan membawa seperangkat pakaian<BR>warna putih. Ketika dengan girang Cin Hai mengenakan pakaian itu, ternyata  baik<BR>celana maupun jubahnya terlalu besar! Karena pakaian itu adalah pakaian  pendeta<BR>hwesio yang besar sekali  hingga tubuh Cin  Hai yang kecil  itu lenyap di  dalam<BR>lubang-lubang pakaian yang  longgar dan  besar itu.  Sambil tertawa-tawa  ketiga<BR>tosu itu lalu membantunya  dan mengikat yang  terlalu longgar. Akhirnya  pakaian<BR>itu dapat juga dipakai, walaupun potongannya sangat kebesaran dan lengan bajunya<BR>melompong terbuka  hingga terpaksa  dibelit-belitkan pada  lengannya!  Betapapun<BR>juga Cin Hai merasa senang sekali dengan pakaian itu. Ia sama sekali tidak  tahu<BR>bahwa Giok Keng  Cu mendapatkan  pakaian itu  dengan jalan  mencuri dari  sebuah<BR>kelenteng yang berdekatan karena hendak membeli, beli di mana?<BR>Setelah merasa  tubuhnya hangat  perutnya  kenyang hingga  matanya  menjadi<BR>mengantuk sekali, akhirnya Cin Hai mengemukakan permintaannya ke tiga,<BR>"Permintaan teecu yang  ketiga, jika Sam-wi  Totiang tidak keberatan  teecu<BR>mohon diperbolehkan ikut dan belajar silat dari Sam-wi!"<BR>Sekali ini ketiga  tosu itu tertawa  girang dan mereka  merasa puas  karena<BR>ternyata akhirnya bahwa anak ini bukannya gendeng dan tolol.<BR>"KALAU begitu,  sekarang juga  kau lekas  berlutut mengangkat  guru  kepada<BR>kami!" kata Giok Keng Cu.<BR>Tetapi ketiga orang tua itu kaget karena Cin Hai menggeleng-geleng  kepala.<BR>Kemudian anak itu berlutut tetapi tidak menyebut suhu, bahkan berkata,<BR>"Sam-wi Totiang, tadi sudah teecu katakan bahwa teecu tak dapat  mengangkat<BR>lain guru.  Teecu  hanya  ingin  ikut dan  belajar  silat,  tetapi  tidak  ingin<BR>mengangkat guru!"<BR>"He?? Mana bisa? Ini tak mungkin!" kata Giok Yang Cu.<BR>Cin Hai mengangkat  muka memandang, "Bukankah  tadi teecu sudah  mengatakan<BR>bahwa teecu tidak ingin  minta balasan dan tidak  ingin apa-apa? Mengapa  Sam-wi<BR>Totiang mendesak? Sekarang permintaan  teecu yang ke  tiga ternyata tidak  dapat<BR>dikabulkan, padahal  tak berapa  berat! Totiang,  pernahkah mendengar  ujar-ujar<BR>yang berkata bahwa  satu kali  orang gagah mengeluarkan  kata-kata, seribu  ekor<BR>kuda pun takkan mampu mengejar, iya?  Bukankah ujar-ujar ini berarti bahwa  satu<BR>kali seorang budiman berludah, takkan ia jilat kembali?"<BR>"Ha-ha-ha! Anak baik,  anak baik!  Kau telah  menjatuhkan ji-sute!  Biarlah<BR>kami mengaku  kalah. Semenjak  sekarang, kau  boleh ikut  kami ke  gua kami  dan<BR>belajar silat sampai kau menjadi bosan dan melepaskan diri sendiri!"<BR>Tapi pada saat itu Cin Hai  sudah tak kuat menahan kantuknya lagi.  Semalam<BR>suntuk ia tidak tidur dan berlari-larian  hingga ia sangat lelah dan  mengantuk.<BR>Kini menghadapi tiga  tosu yang  mengajak ia  berbantahan saja  itu, membuat  ia<BR>makin lelah dan makin mengantuk. Setelah mendengar betapa permintaannya yang  ke<BR>tiga lulus juga, ia menjadi begitu  girang dan lega hingga tiba-tiba saja  kedua<BR>matanya dimeramkan dan tak dapat dibuka lagi karena ia telah pulas sambil duduk!<BR>"Kasihan, anak yang baik!" kata Giok Im Cu, "Ji-sute, kaupondonglah dia dan<BR>mari kita berangkat."<BR>Sambil mengomel, "Anak yang tolol!" Giok  Yang Cu yang tinggi besar  segera<BR>memondong tubuh Cin Hai yang telah mendengkur itu, kemudian ketiga tosu itu lalu<BR>meninggalkan tempat itu dengan menggunakan Ilmu Lari Hui-heng-sut mereka. Karena<BR>tingginya  kepandaian  mereka,  maka  sepasang  kaki  mereka  seakan-akan  tidak<BR>menginjak tanah dan mereka seperti orang melayang terbang saja.<BR>Karena tidur nyenyak  dalam pondongan Giok  Yang Cu yang  tinggi besar  dan<BR>kuat, Cin Hai tidak tahu bahwa ia  telah dibawa lari puluhan li jauhnya.  Ketika<BR>ia sadar dan membuka matanya, ia merasa kepalanya yang gundul dingin sekali  dan<BR>karena kepalanya  berada  di  dekat dada  dan  perut  Giok Yang  Cu  yang  gemuk<BR>berdaging dan hangat,  tanpa disengaja  ia lalu menyusupkan  kepalanya ke  dalam<BR>jubah orang! Tetapi tiba-tiba ia merasa  betapa dirinya tidak dibawa lari  lagi.<BR>Cepat ia mengeluarkan  kepalanya yang gundul  dari balik jubah  pendeta itu  dan<BR>memandang keluar.<BR>Ternyata mereka telah tiba  di sebuah padang rumput  di lereng gunung  yang<BR>tinggi. Tak heran  bahwa hawa demikian  dinginnya. Tetapi yang  membuat Cin  Hai<BR>merasa heran ialah  ketiga tosu itu  berdiri diam dan  memandang ke satu  tempat<BR>dengan muka tegang.  Ia pun lalu  menengok dan tampak  olehnya dua orang  sedang<BR>bertempur seru!<BR>Karena kesukaannya melihat  orang bersilat  dan berkelahi,  segera Cin  Hai<BR>melorot turun  dari pondongan  Giok Yang  Cu dan  hendak menonton  lebih  dekat,<BR>tetapi tiba-tiba tangan Giok Im Cu memegang pundaknya.<BR>"Jangan mendekat!" Tosu tinggi kurus  itu berbisik dengan suara  menyatakan<BR>bahwa larangannya itu sungguh-sungguh.<BR>Cin Hai merasa heran akan tetapi ia tidak berani banyak ribut melihat sikap<BR>ketiga tosu demikian  tegang, maka  ia lalu duduk  di atas  rumput dan  menonton<BR>orang yang sedang bertempur.<BR>Ternyata yang  bertempur adalah  seorang wanita  dengan seorang  laki-laki.<BR>Yang wanita berbaju hijau bercelana  putih, mukanya cantik tapi kelihatan  galak<BR>dan kejam sedangkan  rambutnya yang  hitam bagus itu  beriap-riapan ke  belakang<BR>memenuhi punggungnya. Usianya paling  banyak tiga puluh  tahun tetapi karena  ia<BR>memang cantik,  orang  yang  baru  melihat pertama  kali  dan  tidak  mengetahui<BR>keadaannya pasti mengira dia seorang  dara berusia belasan tahun. Ilmu  silatnya<BR>hebat sekali karena gerakan-gerakannya cepat  dan lincah bagaikan seekor  burung<BR>kepinis. Laki-laki yang  menjadi lawannya juga  aneh, karena pakaiannya  seperti<BR>seorang siucai (pelajar  sastra) dan  mukanya cakap. Usianya  paling banyak  dua<BR>puluh lima tahun dari mukanya putih agak kepucat-pucatan.<BR>Kedua orang itu bersilat dengan tangan kosong, tetapi agaknya tidak  kurang<BR>hebat   daripada   kalau    orang   bertempur    bersenjata   tajam.    Buktinya<BR>serangan-serangan mereka hebat sekali dan  setiap pukulan atau tendangan  selalu<BR>merupakan serangan maut yang berbahaya  sekali. Kepandaian mereka berimbang  dan<BR>tiba-tiba laki-laki itu berseru  keras dan kedua  kakinya lalu bergerak  seperti<BR>kitiran angin! Kedua kakinya itu mengirim serangan berupa tendangan bertubi-tubi<BR>dan tiada hentinya karena kaki  kiri kanan bergantian bergerak menendang  saling<BR>susul sehingga agaknya sukar sekali untuk dihindarkan atau ditangkis!<BR>"Celaka, Totiang! Kouwnio  (Nona) itu tentu  kena tendang!" dengan  gembira<BR>tetapi cemas Cin Hai berkata sambil  memegang tangan Giok Im Cu, "Mengapa  tidak<BR>kautolong dia?"<BR>Tetapi Giok Im  Cu menekan  tangannya dan menjawab  perlahan, "Sst!  Jangan<BR>berisik, kaulihat saja!"<BR>Memang tadinya wanita baju hijau itu  tampak terdesak hebat dan agaknya  ia<BR>tentu akan tertendang roboh. Tetapi tiba-tiba ia tertawa, suara tawanya  nyaring<BR>dan  merdu,  bernada   menyeramkan  karena  setengah   merupakan  jerit   tangis<BR>mengharukan.<BR>"Hi-hi!  Kang  Ek  Sian!  Akhirnya  kau  tidak  tahan  juga  dan   terpaksa<BR>mengeluarkan  tendanganmu   yang   terkenal   lihai!   Inikah   ilmu   Tendangan<BR>Chit-seng-twie (Ilmu Tendangan Tujuh Bintang) yang kausohorkan itu? Hi-hi, orang<BR>she  Kang,   keluarkanlah   yang   lain  lagi,   yang   lebih   lihai!"   Sambil<BR>menyindir-nyindir, wanita  itu meloncat  tinggi  dan berkelit  ke sana  ke  mari<BR>dengan gerakan  yang  aneh  karena  bagaikan  sedang  menari-nari,  tetapi  tiap<BR>gerakannya selalu berkelit atau menghindari serangan kedua kaki lawan!<BR>Tiba-tiba wanita itu balas menyerang. Gerakannya masih seperti menari-nari,<BR>tetapi kalau tadi kedua lengannya bergerak-gerak ke atas dengan gaya yang  lemas<BR>sekali sambil mengelit serangan lawan, kini dia menggerakkan kedua tangannya  ke<BR>depan dan belakang,  jari-jari tangannya  masih bergerak  lemah gemulai,  tetapi<BR>sebenarnya ini merupakan serangan yang sangat lihai karena ujung sepuluh jarinya<BR>dapat digerakkan  untuk  menotok  jalan darah  lawan.  Akhirnya  laki-laki  yang<BR>dipanggil Kang Ek Sian itu tak tahan menghadapi lawannya dan main mundur saja.<BR>"Pengecut, rebahlah  kau!" Tiba-tiba  wanita itu  berseru dan  benar  saja,<BR>pundak  Kang  Ek  Sian  kena  tertepuk  oleh  tangan  wanita  itu  yang  biarpun<BR>kelihatannya dilakukan perlahan sekali, namun cukup membuat laki-laki itu roboh!<BR>Wanita yang rambutnya  riap-riapan itu lalu  menggeleng-gelengkan kepala  sambil<BR>tertawa ha-ha-hi-hi,  mukanya tampak  manis tetapi  suara ketawanya  menyeramkan<BR>perasaan. Tiba-tiba perempuan aneh itu  menengok dan memandang ketiga tosu  yang<BR>masih berdiri tak bergerak. Ia memandang dengan matanya yang bening dan bersinar<BR>tajam, lalu mengembangkan hidung dan mengedikkan kepalanya.<BR>"Baiknya tidak ada  yang lancang  tangan, kalau tidak  demikian, tentu  aku<BR>terpaksa merobohkan beberapa orang lagi!" Wanita itu berkata seakan-akan  kepada<BR>diri sendiri, tetapi cukup  keras sehingga terdengar oleh  Giok Im Cu dan  kedua<BR>kawannya.<BR>Giok Im Cu menjura  ke arah wanita itu  dan berkata perlahan, juga  seperti<BR>kepada diri  sendiri,  "Kami Sam-lojin  (Tiga  Orang Tua)  bukanlah  orang-orang<BR>usilan."<BR>Maka tertawalah wanita itu  dan kini suara  tawanya seperti mengejek.  Lalu<BR>pergilah ia turun  gunung dengan cepat  sekali sehingga bajunya  yang hijau  itu<BR>berkibar-kibar ke belakang di bawah rambutnya yang hitam dan juga berkibar-kibar<BR>tertiup angin di belakangnya. Dipandang  dari jauh, ia seperti seekor  kupu-kupu<BR>besar melayang-layang. Suara ketawanya lambat laun lenyap dari pendengaran.<BR>Giok Im Cu menghela napas. "Mengapa iblis wanita itu bisa berada di  sini?"<BR>katanya perlahan seakan-akan kepergian wanita itu membuat dadanya merasa lega.<BR>"Totiang, siapakah perempuan yang pandai menari itu?"<BR>Giok Yang  Cu tertawa  mendengar kata-kata  ini. "Dasar  kau tolol!  Sehari<BR>penuh tidur terus, dan  kini setelah bangun bicara  tidak karuan. Kauanggap  dia<BR>itu menari-nari? Ha-ha-ha!"<BR>Giok Im Cu berkata sambil menghela  napas lagi. "Mana kau tahu? Tarian  itu<BR>justru kepandaiannya yang membuat  ia ditakuti orang  dan sukar sekali  dilawan.<BR>Itulah ilmu silat yang disebut Tari Biang Iblis! Oleh karena kepandaian ini maka<BR>dia disebut Giok-gan Kuibo (Biang Iblis Bermata Intan) dan namanya menggemparkan<BR>seluruh permukaan bumi."<BR>"Tetapi mengapa Sam-wi takut kepada iblis itu?" tanya Cin Hai penasaran.<BR>"Takut sih tidak," jawab Giok Keng Cu yang semenjak tadi diam saja,  "hanya<BR>saja, kita  tidak tahu  seluk-beluk  urusan mereka,  mengapa harus  ikut  campur<BR>dengannya?"<BR>Tetapi pernyataan Cin Hai ini membuat ketiga tosu itu ingat akan  laki-laki<BR>yang masih rebah di  atas tanah, maka buru-buru  mereka lalu menghampiri.  Laki-<BR>laki yang  rebah terlentang  dengan wajahnya  yang telah  pucat itu  kini  makin<BR>kuning dan kedua matanya meram. Ketika  Giok Im Cu perlahan meraba pundak  orang<BR>itu, tahulah ia  bahwa orang  itu telah mendapat  luka dalam  yang cukup  hebat,<BR>walaupun tidak  dapat  dikatakan membahayakan  jiwanya.  Maka Giok  Im  Cu  lalu<BR>menggunakan kepandaiannya menotok dan mengurut  pundak yang terluka oleh  tangan<BR>Giok-gan Kuibo yang halus putih tetapi ganas lihai itu!<BR>Laki-laki itu siuman dan membuka matanya. Ia tersenyum pahit ketika melihat<BR>tiga orang tosu itu.<BR>"Kanglam Sam-lojin?" tanyanya perlahan.<BR>Giok Im Cu mengangguk. "Sicu  siapakah dan mengapa sampai bertempur  dengan<BR>dia?"<BR>Laki-laki itu kembali tersenyum lalu  duduk. "Siauwte Kang Ek Sian  sungguh<BR>tak mengukur kepandaian sendiri dan telah berani menempur Giok-gan Kouwnio (Nona<BR>Bermata Intan), sungguh tak tahu diri!" jawaban ini merupakan tangkisan terhadap<BR>pertanyaan Giok  Im  Cu,  maka  orang  tua  itu  maklum  bahwa  orang  tak  suka<BR>menceritakan sebab pertempurannya.<BR>"Untung bagimu ia masih berlaku murah hati dan tidak menjatuhkan maut,"  ia<BR>berkata singkat  lalu mengajak  kedua kawannya  dan Cin  Hai untuk  meninggalkan<BR>tempat itu.<BR>"Totiang, sebenarnya sampai di manakah kelihaian iblis wanita itu?  Kulihat<BR>ia hanya seorang perempuan cantik yang  lemah lembut, galak dan aneh  sikapnya,"<BR>kata Cin  Hai  yang sungguh-sungguh  tidak  mengerti mengapa  seorang  perempuan<BR>seperti itu ditakuti oleh tokoh-tokoh yang berilmu tinggi ini.<BR>"Ha-ha-ha, anak tolol,  dengarlah!" kata Giok  Yang Cu dan  Cin Hai  segera<BR>berjalan mendekatinya. Ia memang gemas  dan mendongkol sekali disebut tolol  dan<BR>bodoh oleh tosu tinggi besar ini tetapi sebaliknya ia senang karena Giok Yang Cu<BR>selalu berterus terang kepadanya.<BR>"Perempuan  yang  kauanggap  lemah-lembut  itu,  yang  disebut  orang-orang<BR>kang-ouw sebagai  Biang Iblis  Bermata  Intan, dengan  kedua tangan  kosong  dan<BR>seorang diri  saja  telah  naik  ke  Cin-liong-san  dan  mengobrak-abrik  sarang<BR>berandal The Kok, membinasakan lebih dari dua puluh tauwbak dan kepala  berandal<BR>dan membasmi  lebih dari  tiga  puluh liauwlo  (anak  buah perampok),  dan  yang<BR>seorang diri saja telah mendatangi hampir seluruh jagoan di daerah selatan untuk<BR>dicoba kepandaiannya. Dan tahukah kau, bahwa selama itu hanya baru beberapa kali<BR>saja ia tidak  dapat merobohkan orang?  Pendeknya, jarang ada  orang yang  dapat<BR>mengalahkan dan karena tangannya yang terkenal ganas, banyak orang merasa  segan<BR>untuk berurusan dengan dia!"<BR>"Dan lagi,"  sambung Giok  Keng  Cu si  Tosu  Pendek, "coba  kaulihat  yang<BR>seorang lagi. Lebih hebat lagi!" Dan tiba-tiba Si Pendek itu memperlihatkan muka<BR>jerih.<BR>"Yang satu lagi siapakah itu?" tanya Cin Hai dengan ingin sekali tahu.<BR>Kini Giok Yang  Cu yang  melanjutkan kata-kata  sutenya. "Yang  dimaksudkan<BR>oleh Sute tadi ialah seorang wanita  lain yang sifatnya sangat berlainan  dengan<BR>Piok-gan Kuibo. Wanita  ini adalah  Sumoinya (Adik  Perempuan Seperguruan)  yang<BR>berjuluk Ang I Niocu (Si Nona Baju Merah) dan yang selalu berpakaian merah. Nona<BR>ini masih muda dan kepandaiannya mungkin masih berada di atas kepandaian Sucinya<BR>(Kakak Perempuan Seperguruannya) itu!  Ang I Niocu pernah  seorang diri naik  ke<BR>Bu-tong-san dan menantang adu tenaga dengan semua tokoh Bu-tong-san dan ternyata<BR>ilmu pedangnya belum pernah dikalahkan orang!"<BR>Mendengar kelihaian-kelihaian  demikian hebatnya  itu, Cin  Hai  meleletkan<BR>lidah saking kagumnya. "Hebat sekali!" serunya kagum.<BR>Mereka lalu melanjutkan  perjalanan dan  Cin Hai  yang digandeng  tangannya<BR>oleh Gak Im Cu,  merasa tubuhnya tergantung dan  tak menginjak tanah, tetapi  ia<BR>maju cepat  sekali,  hingga  angin dingin  berkesiur  di  kanan-kiri  kepalanya.<BR>Jurang-jurang yang tidak berapa besar dilompati begitu saja oleh ketiga tosu itu<BR>hingga berkali-kali Cin  Hai terpaksa  meramkan mata karena  ngeri memandang  ke<BR>bawah. Ia diam-diam  berpikir bahwa di  dunia ini ternyata  banyak sekali  orang<BR>pandai yang luar biasa. Baru ketiga  tosu ini saja kepandaiannya sudah  demikian<BR>hebatnya,  apalagi  tadi  ia  mendengar  betapa  mereka  ini  masih  memuji-muji<BR>kepandaian  orang  lain,  maka  dapat  dibayangkan  betapa  hebatnya  kepandaian<BR>orang-orang yang  mereka puji  itu! Maka  timbullah keinginan  di dalam  hatinya<BR>untuk belajar keras  agar ia  pun bisa  memiliki kepandaian  itu sehingga  kelak<BR>tiada lagi orang di dunia ini yang berani memaki dan menghinanya.<BR>Di sepanjang jalan, orang-orang yang melihat Cin Hai tertawa geli karena di<BR>dalam pakaian yang besar dan longgar itu, Cin Hai yang gundul memang nampak lucu<BR>dan aneh sekali.<BR>"Mungkin anak gila," terdengar orang berkata.<BR>"Mungkin karena  tololnya maka  memakai  pakaian demikian  besarnya,"  kata<BR>orang lain.<BR>Ketiga tosu  merasa kasihan  dan berkata  kepada Cin  Hai untuk  membiarkan<BR>pakaiannya diubah, dikecilkan  dan dijahit  pula. Tetapi dengan  keras hati  dan<BR>bersungut-sungut Cin Hai menjawab.<BR>"Tidak, biarkan  sajalah! Biarkan  anjing-anjing itu  menggonggong,  mereka<BR>tidak akan menggigit!  Biarkanlah, teecu  tidak merasa  sakit dengan  gonggongan<BR>mereka!" Tiga orang tosu itu saling pandang dan mereka kagum akan kekerasan  dan<BR>ketabahan hati anak  ini. Dan  untuk memperlihatkan bahwa  ia benar-benar  tidak<BR>peduli kepada semua orang yang mentertawakannya itu, Cin Hai mengeluarkan suling<BR>bambunya dan sambil berjalan dengan para tosu itu, ia meniup sulingnya memainkan<BR>beberapa lagu merdu!<BR>Tiga hari kemudian sampailah mereka di daerah Kanglam.<BR>Dengan menggunakan ilmu lari cepat,  Kanglam Sam-lojin itu membawa Cin  Hai<BR>ke dalam sebuah  hutan yang sangat  liar dan luas.  Di tengah-tengah hutan  itu,<BR>berbeda dengan tempat  yang penuh  alang-alang, rumput dan  pohon-pohon tua  dan<BR>liar,  terdapat  sebuah  lapangan  rumput  bersih  dan  indah  permai.  Dan   di<BR>tengah-tengahnya terdapat sebuah gunung  kecil kecil yang ditumbuhi  pohon-pohon<BR>liu, sedangkan bunga-bunga berwarna tumbuh di  kaki gunung itu. Di sebelah  kiri<BR>terdapat  mulut  gua  yang  lebar  dan  gelap.  Inilah  tempat  tinggal  Kanglam<BR>Sam-lojin. Benar-benar tempat  yang indah menyenangkan.  Di dekat guha  terdapat<BR>sumber air  yang memancar  keluar dan  mengalir merupakan  beberapa anak  sungai<BR>kecil yang airnya berdendang tiada hentinya, bermain-main dengan batu-batu  yang<BR>hitam dan halus. Burung-burung memenuhi pohon-pohon dan tiada hentinya berkicau.<BR>Cin Hai merasa senang  sekali berada di tempat  itu. Biarpun mulut gua  itu<BR>tampak gelap, tetapi setelah masuk  ke dalam, terdapat penerangan matahari  yang<BR>masuk melalui beberapa lubang di kanan kiri yang menembus atas gunung.<BR>Semenjak hari itu, Cin Hai  mulai menerima latihan silat tingkat  permulaan<BR>dari ketiga tosu itu dengan bergantian. Sering sekali ketiga pendeta itu  keluar<BR>dari situ dan  pergi untuk berbulan-bulan  lamanya, kadang-kadang hanya  seorang<BR>yang pergi,  kadang-kadang berdua,  ada kalanya  bertiga dan  Cin Hai  ditinggal<BR>seorang diri.<BR>Kanglam Sam-lojin, tiga orang tua  dari Kanglam itu adalah  saudara-saudara<BR>seperguruan, maka kepandaian  mereka berasal dari  satu cabang persilatan  yakni<BR>cabang persilatan  Liong-san-pai. Hanya  saja ketiganya  mempunyai  keistimewaan<BR>khusus, yakni  seperti  telah  diketahui pada  permulaan  cerita  ketika  mereka<BR>bertempur menghadapi Hai Kong  Hosiang pendeta pemelihara ular  itu. Giok Im  Cu<BR>yang tinggi kurus adalah ahli lweekeh  (tenaga dalam) yang telah mencap  tingkat<BR>tinggi hingga pada waktu  bertempur, segala macam benda  jika terjatuh di  dalam<BR>tangannya berubah  menjadi  senjata  ampuh, hingga  karena  mengandalkan  tenaga<BR>lweekangnya, Giok Im Cu tak pernah memegang senjata. Dulupun di waktu menghadapi<BR>Hai Kong Hosiang ia cukup menggunakan sebatang ranting kayu. Sebaliknya daripada<BR>suhengnya Giok Yang  Cu adalah seorang  tosu tinggi besar  yang memiliki  tenaga<BR>luar (gwakang)  yang  luar biasa  dan  kulitnya telah  dilatih  sedemikian  rupa<BR>sehingga menjadi kebal  dan keras.  Di samping  itu, ia  mahir sekali  memainkan<BR>pedang yang digerakkan olehnya secara luar biasa cepat dan kerasnya. Tentu  saja<BR>ilmu  pedangnya  adalah  Liong-san-kiam-hoat  yang  memang  terkenal   mempunyai<BR>gerakan-gerakan yang cukup lihai.<BR>Tosu ke  tiga kalau  dipandang begitu  memang dapat  menimbulkan  pandangan<BR>rendah karena tubuhnya yang kecil itu kelihatan tak bertenaga. Tetapi  janganlah<BR>orang memandang rendah padanya, karena  tosu kate ini kepandaiannya tidak  kalah<BR>oleh kedua suhengnya! Keistimewaannya ialah melepas piauw (senjata rahasia) yang<BR>bersayap di kanan  kiri sehingga  disebut hui-piauw atau  piauw terbang!  Selain<BR>ini, ia memiliki ginkang yang paling sempurna di antara kedua suhengnya sehingga<BR>gerakannya lincah, cepat dan ringan sekali.<BR>Biarpun Cin Hai bukan  termasuk anak luar  biasa yang mempunyai  kecerdasan<BR>hebat, namun  ia  pun tidak  sangat  tumpul  otaknya, dan  baiknya  ia  memiliki<BR>ketekunan kepada  sesuatu  yang  disukainya.  Justeru ia  suka  ilmu  silat  dan<BR>semenjak dulu ia ingin sekali mempelajarinya. Apalagi ketika ia sering  menerima<BR>pukulan dan hinaan, keinginannya untuk  belajar silat lebih bernafsu lagi.  Kini<BR>sekaligus ia mendapat  didikan dari  tiga orang lihai  tentu saja  ia tidak  mau<BR>menyia-nyiakan kesempatan baik ini. Tanpa  mengenal lelah ia menerima  pelajaran<BR>dan berlatih siang malam hingga kadang-kadang lupa makan lupa tidur.<BR>Karena ketiga tosu itu  memang bukan ahli mendidik  dan pula karena  mereka<BR>memberi pelajaran kepada Cin Hai hanya semata-mata karena merasa berhutang  budi<BR>dan hendak  membalasnya bukan  berdasarkan kasih  sayang seorang  guru  terhadap<BR>murid, maka  mereka memberi  pelajaran tanpa  mengenal waktu  dan tanpa  memakai<BR>peraturan lagi! Mereka berganti-ganti memberi pelajaran silat Liong-san-kun-hoat<BR>dengan cepat  sekali, padahal  Ilmu Silat  Liong-san-pai ini  mempunyai  seratus<BR>delapan jurus dan setiap jurus mempunyai pecahan-pecahan sedikitnya tiga  macam,<BR>hingga seorang  anak-anak seperti  Cin Hai  yang menerima  pelajaran ini  secara<BR>bertubi-tubi mana  dapat  mengingatnya?  Selain itu,  Ilmu  Silat  Liong-san-pai<BR>bukanlah ilmu  silat sembarangan  yang dapat  digerakkan oleh  sembarang  orang.<BR>Untuk  mempelajari  satu  jurus  dengan  masak  dan  sempurna  saja  membutuhkan<BR>latihan-latihan keras berhari-hari. Memang ketiga tosu itu karena penolakan  Cin<BR>Hai yang tidak mau mengangkat mereka sebagai guru, membuat mereka menjadi kurang<BR>perhatian dan kurang mengacuhkan anak itu lagi. Mereka pikir bahwa jika anak itu<BR>diberi  kepandaian  aseli   sampai  sempurna,  padahal   ia  bukan  anak   murid<BR>Liong-san-pai maka  jika  kelak menodai  nama  Liong-san-pai mereka  tak  berhak<BR>melarangnya, karena ia bukan anak murid Liong-san-pai.<BR>Oleh karena tindakan ketiga tosu ini Cin Hai menjadi bingung sekali dan  ia<BR>tidak dapat berlatih dengan  baik. Baru saja ia  mempelajari beberapa jurus  dan<BR>sama sekali belum sempurna, lain  tosu telah memberi pelajaran pula  jurus-jurus<BR>berikutnya! Dengan  demikian, maka  jurus-jurus  pertama yang  belum  dihafalnya<BR>benar-benar telah terlupa lagi!<BR>Biarpun masih kecil, tetapi ternyata berkat ujar-ujar para cendekiawan  dan<BR>ahli filsafat yang dipelajarinya dulu, ia menjadi perasa sekali dan sikap ketiga<BR>tosu itu dapat juga ditangkap dan dirasainya. Ia lalu memutar otaknya dan segera<BR>melakukan hal yang  cerdik juga. Dengan  diam-diam ia menggunakan  kepandaiannya<BR>menulis dan menggambar untuk  mengumpulkan semua jurus-jurus yang  dipelajarinya<BR>itu di atas kertas! Tiap kali menerima pelajaran jurus baru, ia segera mengingat<BR>baik-baik dan malamnya ketika berada seorang diri dalam kamarnya di gua itu,  ia<BR>segera mencatat semua gerak tipu  dan menggambar gerakan-gerakan yang  dilakukan<BR>oleh tosu yang mengajarnya tadi!<BR>Demikianlah dua tahun telah lewat dan dari seratus delapan jurus Ilmu Silat<BR>Liong-san-pai itu  telah dapat  ditulis dan  dilukis sampai  lebih dari  delapan<BR>puluh jurus  oleh Cin  Hai.  Tetapi, sebenarnya  kalau disuruh  berlatih  silat,<BR>paling banyak ia  hanya bisa  mainkan dua puluh  jurus dengan  agak baik,  belum<BR>sempurna betul. Ketiga tosu melihat ketololan anak itu, diam-diam merasa  girang<BR>karena mereka tak perlu khawatir lagi, tetapi di luar mereka memperlihatkan muka<BR>tak senang  dan sering  memaki-maki  Cin Hai  yang  dikatakan tolol  dan  bodoh.<BR>Kelambatan ini  sebetulnya bukan  karena  Cin Hai  terlalu tolol  tetapi  adalah<BR>karena waktunya banyak  ia pergunakan untuk  memperbaiki catatan dan  lukisannya<BR>yang disimpannya baik-baik secara rahasia.<BR>Seperti semua anak-anak di dunia  ini, seorang kanak-kanak sekecil Cin  Hai<BR>masih haus  akan permainan  dan kesenangan.  Anak-anak lain  tentu akan  mencari<BR>kawan-kawan untuk bermain-main atau mencari segala macam barang permainan  untuk<BR>menyenangkan hati, tetapi  bagi Cin  Hai semua itu  tak mungkin.  Ia berdiam  di<BR>dalam gua dan  kalau ia keluar  dari gua,  yang ada hanya  hutan betantara  yang<BR>penuh pohon-pohon besar dan binatang-binatang buas.<BR>Pernah terjadi ketika ia pada beberapa bulan yang latu pergi agak jauh dari<BR>gua dan  memasuki hutan  yang agak  gelap tiba-tiba  seekor harimau  yang  besar<BR>menghadang jalan pulangnya! Cin  Hai terkejut sekali  dan kedua kakinya  gemetar<BR>dan dadanya berdebar-debar. Tetapi anak itu dapat menetapkan hatinya dan berlaku<BR>waspada. Sambil mengeluarkan gerengan hebat,  harimau itu loncat menerkam.  Pada<BR>waktu itu  Cin Hai  telah mempelajari  jurus Ilmu  Silat Liong-san-pai.  Melihat<BR>datangnya   terkaman   harimau   otomatis   kakinya   bergerak   dengan   tipuan<BR>Lo-wan-tong-ki atau  Monyet  Tua  Meloncati  Cabang  hingga  ia  terhindar  dari<BR>terkaman harimau. Setelah berhasil  berkelit, Cin Hai  segera lari hendak  pergi<BR>dari situ, tetapi terdengar auman keras dan harimau itu menubruk dari belakang!<BR>Biarpun matanya tidak  melihat, namun ternyata  latihan-latihan silat  yang<BR>dipelajarinya telah  membuat telinganya  dapat  menangkap angin  sambaran  tubuh<BR>harimau itu. Cepat ia  berkelit sambil meloncat ke  samping, dan dengan  gerakan<BR>membalik, ketika  harimau itu  lewat di  sampingnya, ia  memukul dengan  telapak<BR>tangan terbuka ke arah lambung harimau!<BR>Tetapi apakah  arti  pukulan  tangan seorang  kanak-kanak  yang  baru  saja<BR>berlatih silat kurang dari dua tahun? Harimau itu sedikit pun tidak merasa sakit<BR>dan begitu keempat kakinya menginjak tanah, cepat tubuhnya berbalik dan meloncat<BR>menubruk lagi!  Cin Hai  benar-benar terdesak  dan ia  hanya menggunakan  segala<BR>kepandaian yang dipelajarinya untuk bergerak ke sana-sini. Ia sama sekali  tidak<BR>menyangka  bahwa   biarpun   baru   mempelajari  beberapa   belas   jurus   dari<BR>Liong-san-kun-hoat, ia telah  dapat bertahan  dari seekor  harimau besar  sampai<BR>beberapa lama! Kalau ia tidak memiliki kepandaian silat itu, tentu sekali tubruk<BR>saja ia sudah menjadi mangsa binatang itu.<BR>Tiba-tiba Cin Hai  teringat akan  pelajaran meloncat  yang didapatnya  dari<BR>Giok Keng Cu. Tosu kate itu adalah  seorang yang suka dipuji-puji dan tahu  pula<BR>akan adatnya,  maka  Cin  Hai  sengaja memuji-mujinya  sehingga  tosu  itu  lalu<BR>menurunkan semacam kepandaian  loncat tinggi kepadanya!  Ilmu loncat ini  adalah<BR>pecahan dari ilmu  lari loncat jauh  yang disebut Liok-te-hui-teng-kang-hu  yang<BR>jika sudah dipelajari secara sempurna dapat digunakan untuk meloncat jauh sambil<BR>mempergunakan kedua  tangan sebagai  imbangan badan  sehingga tampaknya  seperti<BR>melayang! Tetapi tosu kate itu hanya  memberi pelajaran di bagian loncat  tinggi<BR>saja yakni tipu gerakan Cian-tiong-seng-thian (Naga Naik ke Langit).<BR>Demikianlah,  setelah  teringat  akan  pelajaran  meloncat  ini,  Cin   Hai<BR>perlahan-lahan lalu menggeser kakinya dan tiap kali berkelit ia sengaja meloncat<BR>mendekati sebatang  pohon  yang  mempunyai  cabang rendah  dan  berada  di  atas<BR>kepalanya. Ketika harimau itu meloncat lagi menubruknya untuk kesekian  kalinya,<BR>Cin Hai menerobos ke  bawah tubuh harimau yang  menyambar itu dan secepatnya  ia<BR>lalu   meloncat   ke   atas   cabang    pohon   di   atasnya   dengan    gerakan<BR>Cian-liong-seng-thian yang  sudah dipelajarinya  itu! Ia  berhasil dan  tubuhnya<BR>melayang ke atas cabang,  lalu cepat ia menggunakan  tenaga kaki mengenjot  diri<BR>pula dari  cabang itu  ke cabang  yang lebih  tinggi. Untung  sekali ia  berbuat<BR>demikian, karena baru  saja ia  meninggalkan cabang terendah  itu, tiba-tiba  si<BR>harimau yang tahu maksud calon mangsanya yang hendak lari, segera meloncat  pula<BR>ke atas cabang itu yang segera  patah sambil mengeluarkan bunyi keras!  Tubuhnya<BR>segera jatuh lagi ke atas tanah dan harimau itu lalu berdongak memandang ke arah<BR>Cin Hai yang telah berada di cabang tinggi dengan aman. Anak itu dengan geli dan<BR>senang mentertawakan harimau itu,  memaki-makinya, meludahinya dan  melemparinya<BR>dengan cabang-cabang kering yang  ia dapatkan di  atas pohon-pohon! Harimau  itu<BR>mengaum-ngaum dan  meraung-raung keras  sekali untuk  melampiaskan hatinya  yang<BR>marah dan kecewa.<BR>Untuk beberapa lamanya binatang itu mendekam di bawah pohon, menanti  calon<BR>mangsanya itu  sambil kadang-kadang  mendongakkan  kepalanya memandang  ke  atas<BR>dengan hidung kembang-kempis. Tetapi Cin  Hai tetap memaki-maki bahkan anak  itu<BR>lalu membuang air kencing di atas  kepala harimau itu! Entah karena jengkel  dan<BR>kesal menanti, atau karena tersiram air  kencing itu, si harimau segera  berdiri<BR>dan setelah berdongak sambil mengaum keras  dan panjang sekali lagi, lalu  pergi<BR>meninggalkan tempat itu dengan tindakan perlahan.<BR>Cin Hai  tidak berani  segera turun  karena takut  kalau-kalau harimau  itu<BR>masih bersembunyi di dekat  situ. Ia menanti lagi  sampai hampir setengah  hari,<BR>barulah ia berani turun dan lari pulang ke gua. Semenjak pengalamannya itu,  Cin<BR>Hai tahu akan kegunaan kepandaiannya maka ia mempergiat latihannya dan ia  tidak<BR>berani lagi meninggalkan gua terlalu jauh.<BR>Pada suatu hari, ia ditinggalkan oleh ketiga tosu itu. Seperti biasa,  jika<BR>merasa kesepian, Cin Hai lalu bermain-main dengan sulingnya. Ia berdiri di mulut<BR>gua lalu meniup sulingnya dengan asyik. Anak itu memang mempunyai bakat  bermain<BR>suling. Selama berdiam di  gua itu sampai dua  tahun, kepalanya selalu  digundul<BR>karena penyakit kudis itu selalu timbul tiap kali rambutnya tumbuh agak panjang.<BR>Juga pakaiannya masih yang dulu, yakni jubah hwesio yang terlalu besar itu!<BR>Ketika ia tengah asyik meniup suling, dari jauh datanglah setitik  bayangan<BR>merah yang  makin lama  makin  membesar. Tahu-tahu  bayangan itu  setelah  dekat<BR>merupakan seorang wanita berpakaian  serba merah. Ia berdiri  di depan gua,  tak<BR>jauh dari tempat  Cin Hai berdiri,  dan memandang dengan  mata tak berkedip  dan<BR>tubuh tak bergerak. Cin Hai juga  melihat kedatangan orang itu, tetapi ia  tetap<BR>saja menyuling  tanpa  ambil  peduli  sama sekali,  karena  yang  datang  adalah<BR>seorang. wanita asing. Wanita itu adalah  seorang gadis yang masih muda,  paling<BR>banyak berusia delapan belas tahun. Wajahnya luar biasa cantik jelitanya  dengan<BR>sepasang mata lebar bersinar-sinar  dan mulut yang  manis dengan sepasang  bibir<BR>yang berbentuk indah  dan berwarna  merah. Pakaiannya merah  dan bersih  sekali,<BR>juga sepatunya berkembang indah. Di punggungnya tampak gagang pedang.<BR>Dara baju merah itu agaknya tertarik sekali oleh tiupan suling Cin Hai  dan<BR>ia mendengarkan dengan penuh perhatian. Memang Cin Hai pandai meniup suling  dan<BR>ia tahu banyak akan lagu-lagu klasik  karena gurunya yang mengajar dulu,  yaitu,<BR>Kui-sianseng, memang ahli menyuling dan dengan mendengar gurunya itu  bersuling,<BR>dapatlah Cin Hai meniru lagunya. Makin lama makin merdu dan merayu suara  suling<BR>Cin Hai sehingga Dara Baju Merah  itu tanpa terasa pula lalu berjalan  mendekati<BR>dan duduk di atas sebuah batu karang hitam. Melihat gadis itu duduk di  dekatnya<BR>dan melihat pula pedang di punggung  gadis itu, Cin Hai menjadi tertarik  sekali<BR>dan menghentikan tiupan sulingnya.<BR>Dara muda  itu kecewa  dan berkata,  "Hwesio cilik!  Tiupan sulingmu  bagus<BR>sekali, mainkanlah lagi beberapa lagu untukku, nanti kuberi hadiah uang  perak."<BR>Suaranya halus dan merdu dan ketika bicara kedua matanya bergerak-gerak indah.<BR>Cin Hai merengut  ketika disebut  "hwesio cilik". Ia  menjawab tak  senang.<BR>"Kira-kira dong kalau memanggil orang! Aku bukan hwesio kecil."<BR>Melihat anak  itu marah,  Dara Baju  Merah itu  tersenyum geli.  Ia  memang<BR>merasa aneh dan ganjil bertemu dengan  seorang anak kecil berpakaian hwesio  dan<BR>kepalanya gundul berada di tengah-tengah hutan seorang diri, dan anak ini pandai<BR>bersuling pula! Kini melihat lagak Cin Hai ia makin tertarik.<BR>"Saudara kecil, kalau kau bukan seorang hwesio mengapa kepalamu gundul  dan<BR>pakaianmu jubah hwesio?"<BR>Baru kali ini Cin Hai merasa tidak senang ada orang menyebutnya gundul  dan<BR>mencela pakaiannya. "Aku  gundul kepalaku sendiri,  apa hubungannya dengan  kau?<BR>Kau cantik juga cantikmu sendiri, perlu apa kau mencela keburukan orang?"<BR>Biarpun kata-kata Cin  Hai itu  kasar, tetapi karena  anak itu  menyebutnya<BR>cantik, Dara  Baju Merah  itu  tidak marah,  bahkan memperlihatkan  senyum  yang<BR>agaknya akan membuat  hati Cin  Hai jungkir balik  kalau saja  ia sudah  dewasa.<BR>Tetapi senyum  nona itu  hanya membuat  Cin Hai  merasa senang  saja, karena  ia<BR>menganggap nona itu berhati sabar dan tidak mudah marah.<BR>"Engko cilik, kalau aku berkata  salah, kau maafkanlah. Sekarang aku  mohon<BR>padamu, tiuplah lagi sulingmu, aku suka sekali mendengarnya."<BR>"Boleh, asal saja kau suka menari menurut lagu sulingku."<BR>Tiba-tiba gadis itu meloncat bangun dan bertanya dengan suara kaget,  "Dari<BR>mana kautahu bahwa aku  pandai menari?" Pertanyaan  ini mengandung ancaman  agar<BR>Cin Hai mengaku.<BR>Cin Hai  merasa heran  dan  menjawab, "Siapa  yang  tahu kalau  kau  pandai<BR>menari? Hanya menurut pendapatku, seorang  wanita yang cantik jelita  seharusnya<BR>pandai menari."<BR>Maka tertawalah Gadis Baju  Merah itu. "Baiklah,  kautiup sulingmu dan  aku<BR>menari untukmu."<BR>Cin Hai girang  sekali. Ia berdiri  di tengah-tengah mulut  gua yang  gelap<BR>sehingga pakaiannya yang putih dan kepalanya  yang gundul nampak nyata di  depan<BR>latar belakang gua hitam gelap itu. Ia mulai meniup suling sebaik-baiknya. Gadis<BR>Baju merah yang cantik itu melolos pedangnya dan mulai menari pedang.<BR>Cin Hai sambil menyuling memandang gadis  itu dan ia bagaikan kena  pesona.<BR>Bukan main indah  tarian itu.  Gerakannya halus, lemah  gemulai dan  seakan-akan<BR>tarian seorang bidadari! Pedang di  tangannya itu menambah keindahan tarian  dan<BR>membuatnya nampak cantik dan gagah sekali!<BR>Dara Baju Merah itu memulai tariannya dengan perlahan dan halus gerakannya,<BR>dengan gerakan-gerakan leher  yang lemas,  diikuti gerakan  tubuhnya yang  indah<BR>menggairahkan. Tetapi makin  lama gerakannya makin  cepat menuruti irama  suling<BR>yang ditiup Cin Hai dan Cin Hai  meniup sulingnya dalam lagu perang, maka  tubuh<BR>Dara Baju Merah itu lenyap dan  yang tampak hanyalah gundukan sinar pedang  yang<BR>putih dengan sinar merah dari bajunya!<BR>Cin Hai kagum sekali dan setelah  merasa betapa lehernya kaku karena  tiada<BR>hentinya  meniup  suling,  baru  ia  berhenti  dan  Dara  Baju  Merah  itu   pun<BR>menghentikan tariannya yang luar biasa dan indah itu.<BR>"Hebat sekali permainan  sulingmu!" dengan  senyum manis  sekali gadis  itu<BR>memuji.<BR>"Lebih hebat  adalah  tarianmu!" Cin  Hai  memuji sambil  memandang  dengan<BR>matanya yang lebar.<BR>"Kau menyukai tarianku?" tanya gadis itu.<BR>"Suka sekali, jauh lebih  daripada sukamu kepada  suara sulingku" kata  Cin<BR>Hai cepat-cepat dan sejujurnya.<BR>Gadis itu tersenyum. "Engko kecil, siapakah namamu?"<BR>Cin Hai menjawab sambil tersenyum juga,  "Namaku Cin Hai, tetapi orang  tua<BR>itu lebih suka menyebutku Tolol atau Bodoh!"<BR>Gadis itu untuk  beberapa lama  menatap wajahnya  memandang kepalanya  yang<BR>gundul dan  besar  lalu ke  arah  pakaiannya  yang terlalu  besar  itu.  Setelah<BR>memandang, ia lalu menganggukkan kepalanya dan berkata pasti,<BR>"Memang kau kelihatan tolol dan bodoh!"<BR>Cin Hai mengangguk-angkuk  dan berkata seperti  lagak seorang tua,  "Memang<BR>aku tolol dan bodoh,  pula buruk rupa, sedangkan  kau pandai dan cantik.  Tetapi<BR>harus diingat, bodoh itu dasar kepintaran dan buruk itu tempat akhir kecantikan.<BR>"<BR>Si Nona mengerutkan alisnya yang kecil memanjang. "Apa maksudmu? Aku  tidak<BR>mengerti."<BR>"Bukankah sebelum pintar harus bodoh  dulu? Nah, karena itulah maka  pintar<BR>itu berdasar pada  bodoh. Dan  kecantikan macam  apakah yang  takkan lenyap  dan<BR>berakhir dengan keburukan? Lihat saja cahaya matahari berganti malam gelap  lagi<BR>buruk. Lihat saja kembang segar indah yang menjadi layu dan membusuk, lihat saja<BR>wajah nenek-nenek keriput  ompong padahal  tadinya mereka  itu nona-nona  cantik<BR>jelita."<BR>"Stop segala  omongan ini!"  Nona Baju  Merah itu  berseru ngeri  mendengar<BR>tentang nona cantik yang berubah menjadi  nenek keriput ompong, "kau anak  kecil<BR>bicara seperti pendeta, dari siapakah kau mempelajari semua ini?"<BR>Cin Hai tertawa. "Dari ujar-ujar para nabi dan orang cerdik pandai."<BR>"Jadi kau ini benar-benar murid pendeta yang tak makan daging?"<BR>Cin Hai cepat-cepat menggeleng kepalanya,  "Aku bukan pendeta, dan  tentang<BR>pakaian..." ia menundukkan  kepalanya dan memandang  pakaiannya, "apa daya,  hanya<BR>satu yang terpaksa kupakai."<BR>Dara Baju Merah  itu tertawa  geli, sepasang matanya  yang seperti  bintang<BR>pagi itu berseri-seri, karena ia suka  sekali kepada anak yang gundul, lucu  dan<BR>pandai bersuling ini.<BR>"Engko gundul, kau sebenarnya tinggal dengan siapakah di tempat liar ini?"<BR>"Aku dibawa oleh orang tua yang berjuluk Kang-lam Sam-lojin."<BR>"Ahh? Jadi mereka itu suhu-suhumu?"<BR>Cin Hai cepat menggeleng kepalanya, "Bukan, bukan guru, hanya kenalan saja.<BR>Dan kau ini  siapakah? Aku pernah  mendengar tentang wanita  berbaju merah  yang<BR>disebut Ang I Niocu..."<BR>Nona itu meloncat dengan kaget. "Siapa yang memberi tahu engkau tentang Ang<BR>I Niocu?"<BR>Cin Hai menghela napas. "Semua orang agaknya takut kepada Ang I Niocu,  dia<BR>itu orang macam  apakah? Bahkan kau  sendiri juga takut  agaknya. Aku  mendengar<BR>tosu-tosu itu bercerita."<BR>Gadis itu tersenyum pula. "Kau betul-betul suka akan tarianku tadi?"<BR>Cin Hai mengangguk.<BR>"Kalau begitu, mari kita  tukar saja. Kau kuberi  pelajaran menari dan  aku<BR>ingin sekali belajar menyuling."<BR>Cin Hai mengangkat mukanya  dan memandang wajah  yang berkulit halus  putih<BR>kemerah-merahan itu.  Sungguh wajah  yang luar  biasa cantiknya.  Maka anak  itu<BR>berseri-seri karena  mendengar  bahwa  orang  hendak  memberi  pelajaran  menari<BR>padanya. "Boleh, boleh!" katanya. "Tetapi siapakah namamu, Nona?"<BR>Sambil tersenyum gadis itu menjawab, "Akulah Ang I Niocu."<BR>Kini Cin Hai lah yang terkejut  dan mukanya berubah. Tetapi sambil  tertawa<BR>geli gadis itu berkata, "Mengapa? Takutkah  juga kau kepada Ang I Niocu?  Apakah<BR>mukaku begitu menyeramkan?"<BR>"Tidak, tidak!" Cin  Hai cepat-cepat  menjawab sambil  menggeleng-gelengkan<BR>kepala. "Mukamu halus dan cantik. Aku tidak takut kepadamu."<BR>"Dan tidak takut kepada Ang I Niocu?" dara itu menegaskan.<BR>"Dan tidak takut kepada Ang I Niocu!" Cin Hai berkata tetap.<BR>"Kalau begitu,  lekas  kaukumpulkan  barang-barangmu.  Sekarang  juga  kita<BR>pergi."<BR>Cin Hai  memandang kepada  wajah yang  halus cantik  dan mata  yang  bening<BR>bersinar tajam itu. Ia memandang dengan muka bodoh dan berkata,<BR>"Barang-barangku?" Ia memandang ke arah suling yang dipegangnya dan pakaian<BR>hwesio yang dipakainya. "Barangku hanya suling dan pakaian ini."<BR>Pandangan mata Ang I Niocu mengandung iba. "Jadi kau tidak berbohong ketika<BR>tadi berkata bahwa kau tidak mempunyai lain pakaian?"<BR>"Membohongi orang  lain berarti  membohongi diri  sendiri," jawab  Cin  Hai<BR>meniru bunyi sebuah ujar-ujar, "dan aku tidak mau membohongi diriku sendiri." Ia<BR>lalu mengosok-gosok kepalanya yang gundul.<BR>"Kalau begitu mari kita berangkat!"<BR>Cin Hai mengangguk.<BR>Tetapi pada saat itu, dari bawah gunung melayang naik tiga bayangan  orang.<BR>Gerakan mereka demikian  cepatnya sehingga  sebentar saja, sebelum  Cin Hai  dan<BR>Dara Baju Merah pergi  jauh, tiga bayangan  itu telah tiba  di situ. Mereka  ini<BR>bukan lain ialah  Kang-lam Sam-lojin  yang baru pulang  dari perantauan  mereka.<BR>Melihat bahwa  Cin  Hai  berjalan  pergi dengan  seorang  gadis,  mereka  segera<BR>memanggil dengan suara keras. Tetapi Cin  Hai hanya menoleh sambil tertawa  lalu<BR>melambaikan tangan sebagai salam berpisah! Tentu saja Kang-lam Sam-lojin  merasa<BR>penasaran dan segera  mengejar. Karena Ang  I Niocu dan  Cin Hai hanya  berjalan<BR>biasa saja, dengan beberapa loncatan mereka telah dapat menyusul.<BR>"Hai, Tolol, kau hendak  minggat ke mana?" tegur  Giok Yang Cu yang  brewok<BR>dan tinggi besar dengan suara mengguntur.<BR>"Ji-totiang, teecu hendak pergi belajar menari!"<BR>"Apa? Belajar menari?  Kepada siapa  dan di mana?"  tanya Giok  Keng Cu  si<BR>pendek dengan heran.<BR>"Belajar kepada Nona  ini, dia  pandai sekali  menari dan  belajar di  mana<BR>saja, di sepanjang jalan,  bukankah begitu, Nona?" Ang  I Niocu hanya  tersenyum<BR>manis dan mengangguk-anggukkan kepala. Ketiga tosu  itu memandang ke arah Ang  I<BR>Niocu dengan penuh perhatian. Tiba-tiba ketiganya saling berbisik dan Giok Im Cu<BR>lalu berkata dengan hati-hati.<BR>"Kami bertiga  pernah mendengar  nama  Ang I  Niocu, apakah  sekarang  kami<BR>berhadapan dengan Nona yang gagah itu?"<BR>"Sam-wi Totiang, kalian  memang mempunyai pandangan  yang tajam. Aku  betul<BR>Ang I Niocu."<BR>Kalau dilihat sungguh mengherankan, karena  tiga tokoh kang-ouw yang  telah<BR>berusia lanjut ini begitu  mendengar nama Ang I  Niocu lalu nyata sekali  tampak<BR>terkejut dan mereka dari jauh mengangkat tangan memberi hormat.<BR>"Sungguh pinto  merasa terhormat  sekali mendapat  kunjungan Lihiap.  Tidak<BR>tahu keperluan apakah  yang membawa  Lihiap sampai  datang di  tempat kami  yang<BR>sunyi ini?"<BR>Ang I Niocu tersenyum dan wajahnya  yang jelita menjadi makin manis  ketika<BR>sepasang lesung pipit menghias sepasang pipinya yang kemerahan. Ia lalu bersyair<BR>sambil memandang ke langit.<BR>Berkawan sebatang pedang, Menjelajah ribuan li tanah dan air Tanpa  maksud,<BR>tiada tujuan,  Hanya  mengandalkan kaki  dan  hati. Kau  masih  bertanya  maksud<BR>keperluan? Tanyalah kepada burung di  puncak pohon, Terbang ke sini  berkehendak<BR>apa?<BR>"Bagus, bagus sekali!" Cin Hai  bersorak girang. "Niocu, syairmu ini  bagus<BR>sekali, biar aku nanti buatkan lagunya yang merdu!"<BR>Ang I Niocu mengangguk-angguk  sambil tersenyum manis  kepada Cin Hai  lalu<BR>menjawab kepada tiga tosu itu,<BR>"Totiang, seperti kukatakan dalam syairku  tadi, aku hanya kebetulan  lewat<BR>saja di sini  dan bertemu dengan  engko cilik ini.  Kami telah bermufakat  untuk<BR>saling menukar kepandaian tari dan permainan suling!"<BR>Kang-lam Sam-lojin tidak senang mendengar keterangan ini, karena  betapapun<BR>juga, mereka telah menganggap Cin Hai sebagai murid yang tentu saja tidak  boleh<BR>diambil orang lain  sedemikian mudahnya  yang berarti  akan merendahkan  derajat<BR>mereka. Akan tetapi terhadap Ang I Niocu yang mempunyai nama besar, mereka masih<BR>ragu-ragu untuk menggunakan kekerasan. Akan tetapi, Giok Keng Cu si pendek gesit<BR>yang memang agak berwatak sombong, melihat  bahwa Ang I Niocu tak lain  hanyalah<BR>seorang dara muda cantik  jelita yang berkulit halus  dan bersikap lemah  lembut<BR>lalu memandang rendah sekali.<BR>"Eh, Ang I Niocu! Banyak orang bilang bahwa kau adalah seorang tokoh  dunia<BR>kang-ouw yang gagah dan namamu telah menggemparkan empat penjuru. Tidak  tahunya<BR>hanyalah seorang anak  muda yang  masih hijau  dan tidak  tahu aturan  kang-ouw!<BR>Ataukah kau sengaja tidak memandang mata kepada kami tiga orang tua dan  berbuat<BR>kurang ajar?"<BR>Sungguhpun Ang  I Niocu  tampaknya baru  berusia tujuh  belas atau  delapan<BR>belas tahun saja, tetapi sebenarnya ia telah berusia dua puluh tahun dan  selama<BR>lima tahun  lebih  namanya  telah  menggegerkan  dunia  kang-ouw  karena  selain<BR>kepandaiannya yang luar biasa, juga ia terkenal sebagai seorang dara yang berani<BR>dan dapat menyimpan  perasaannya. Kini mendengar  betapa orang memandang  rendah<BR>kepadanya, ia  hanya tersenyum  manis,  karena biarpun  Giok Keng  Cu  memandang<BR>rendah, namun persangkaan kakek pendek itu bahwa ia masih sangat muda  merupakan<BR>pujian baginya!  Wanita  mana di  dunia  ini yang  tak  ingin disebut  muda  dan<BR>ditaksir jauh lebih muda dari usianya yang sebetulnya.<BR>Karena inilah maka Ang I Niocu dengan suara tetap merdu dan sabar bertanya,<BR>"Totiang, bicaramu agak berlebihan.  Mengapa kauanggap aku tidak  memandang<BR>kalian orang tua dan berbuat kurang ajar?"<BR>"Anak tolol itu  adalah murid  kami, mengapa  kau tanpa  minta ijin  hendak<BR>menculiknya begitu saja?  Bukankah itu melanggar  aturan namanya?" berkata  Giok<BR>Ken Cu dengan marah.<BR>Sebelum Ang I  Niocu menjawab,  Ci Hai mendahuluinya  dengan suaranya  yang<BR>nyaring.<BR>"Eh, eh, sejak kapan  Totiang memungut teecu  sebagai murid? Harap  Totiang<BR>ingat bahwa  teecu bukanlah  murid  Totiang, maka  tidak baik  membohong  kepada<BR>Niocu!"<BR>Sementara itu, Ang I Niocu yang  tadinya menyangka bahwa Cin Hai yang  tadi<BR>membohonginya, kini melihat  betapa anak  gundul itu  berani berkata  sedemikian<BR>rupa  terhadap  tosu  itu,  menjadi  lega  karena  menganggap  bahwa  anak   ini<BR>benar-benar berhati tabah  dan jujur.  Maka ia tertawa  girang sambil  memandang<BR>muka Giok Keng Cu  yang menjadi kemerah-merahan karena  malu dan untuk  beberapa<BR>lama tidak dapat menjawab kata-kata Cin Hai.<BR>Melihat keadaan  sutenya yang  terdesak,  Giok Yang  Cu yang  tinggi  besar<BR>berkata keras,<BR>"Ang I Niocu! Betapapun juga, tidak boleh kau membawa anak itu begitu saja.<BR>Biarpun dia bukan murid kami, tetapi dia telah ikut kami dan tidak boleh diambil<BR>oleh orang lain tanpa ijin kami!"<BR>Giok Yang Cu sengaja berkata keras karena ia hendak menghilangkan rasa malu<BR>yang diderita oleh sutenya, apa  lagi memang ia tidak  puas melihat sikap Ang  I<BR>Niocu dan Cin Hai yang sama sekali tidak mengindahkan mereka bertiga!<BR>"Kalian ini orang-orang tua jangan bicara seenaknya saja," kata Ang I Niocu<BR>yang mulai  merasa sebal.  "Siapa yang  menculik anak  ini? Ia  hendak ikut  aku<BR>dengan suka rela dan aku pun tidak keberatan, habis kalian mau apa?"<BR>Kini Giok Im  Cu yang  menjawab setelah mengeluarkan  suara melalui  lubang<BR>hidungnya seperti biasa dikeluarkan orang yang hendak menghina lawan.<BR>"Hm, Ang I Niocu, melihat sikapmu maka benarlah kata para sahabat di  dunia<BR>kang-ouw bahwa  kau adalah  seorang  yang tinggi  hati  dan sombong.  Kalau  kau<BR>berkeras  hendak  membawa   anak  ini,  biarlah   kami  bertiga  menerima   dulu<BR>petunjuk-petunjuk darimu!" Ini  adalah kata-kata yang  maksudnya menantang  atau<BR>mengajak pibu (mengadu kepandaian).<BR>"Begini lebih bagus, tak membuang kata-kata dan obrolan kosong!" kata Ang I<BR>Niocu dengan senyum manis dan wajahnya berseri gembira ketika ia mencabut pedang<BR>dari pinggangnya.<BR>Ketiga pendeta tua itu pun lalu mencabut senjata masing-masing. Giok Im  Cu<BR>memungut sebatang ranting kayu bawah pohon, Giok Yang Cu mencabut pedangnya  dan<BR>Giok Keng Cu meloloskan goloknya. Melihat mereka hendak bertempur, Cin Hai  yang<BR>memang paling doyan melihat pertandingan silat, lalu duduk di bawah pohon besar.<BR>Ketika melihat betapa ketiga tosu semua mencabut senjata, ia segera berkata,<BR>"He,  Sam-wi  Totiang,  apakah  kalian  bertiga  hendak  maju  bersama  dan<BR>mengeroyok seorang gadis muda seperti Ang I Niocu? Aneh, sungguh aneh!"<BR>Ang I Niocu sambil tertawa berkata, "Hai-ji (Anak Hai), biarlah mereka maju<BR>bertiga sekaligus agar gembira kau menonton!"<BR>Sebetulnya ketiga  tosu tadi  merasa ragu-ragu.  Untuk maju  seorang  saja,<BR>mereka takut kalau-kalau tidak kuat melawan Nona Baju Merah yang sudah  tersohor<BR>kelihaiannya ini, tetapi maju mengeroyok pun mereka merasa sungkan sekali.  Kini<BR>mendengar kata-kata Cin  Hai, mereka  otomatis tidak berani  maju bersama.  Akan<BR>tetapi setelah mendengar kata-kata Ang I Niocu, kegembiraan mereka timbul karena<BR>jelas bahwa gadis itu sendiri yang  menantang mereka untuk maju bersama,  hingga<BR>mereka tak perlu sungkan-sungkan lagi!<BR>Akan tetapi, Giok Im Cu tetap berlaku sungkan dan berkata,<BR>"Ang I Niocu, benar-benarkah kau menantang kami untuk maju bertiga?  Apakah<BR>kau nanti  tidak akan  mengatakan kami  keterlaluan, tiga  orang tua  mengeroyok<BR>seorang muda?"<BR>"Totiang, kau majulah saja bertiga,  untuk apa berlaku seji-seji  (sungkan)<BR>segala?" kata Ang I Niocu sambil memalangkan pedang di dada.<BR>Kini marahlah ketiga  tosu itu  dan mereka maju  bersama mengeroyok  dengan<BR>serangan-serangan  mereka  yang  sangat   berbahaya!  Tetapi  begitu   pedangnya<BR>bergerak, sekaligus  tiga  senjata lawan  dapat  tertangkis oleh  Ang  I  Niocu.<BR>Melihat gerakan pedang yang luar biasa cepat dan anehnya ini, ketiga orang  tosu<BR>itu terkejut  sekali.  Mereka lalu  memainkan  senjata mereka  dengan  hati-hati<BR>sekali sambil mengerahkan  ilmu silat mereka  dari cabang Liong-san-pai.  Mereka<BR>sengaja mengurung nona itu dari tiga jurusan, merupakan kepungan segi tiga  yang<BR>sebentar-sebentar   berubah   gerakannya,    karena   mereka   bertiga    selalu<BR>berpindah-pindah tempat! Inilah keistimewaan Kang-lam Sam-lojin yang dapat  maju<BR>bersama dengan secara kompak sekali.<BR>Akan tetapi,  dengan tenang  dan senyum  manisnya tak  pernah  meninggalkan<BR>bibir, Ang I  Niocu menghadapi mereka  dengan pedangnya yang  luar biasa  sekali<BR>gerakannya. Gadis  ini  seakan-akan  tidak sedang  menghadapi  tiga  orang  yang<BR>mengeroyoknya dari  tiga  penjuru,  karena  ia  tak  pernah  mengubah  kedudukan<BR>tubuhnya yang menghadap  ke utara,  tetapi ujung  pedangnya bergerak  sedemikian<BR>rupa hingga tiap  kali senjata  lawan datang dari  arah mana  pun, selalu  dapat<BR>tertangkis.<BR>Bahkan ia masih  sempat mengirim tusukan  dan serangan-serangan  pembalasan<BR>yang tidak kalah hebatnya!<BR>Cin Hai  Yang  melihat  jalannya  pertempuran  itu,  menahan  napas  saking<BR>kagumnya. Ia melihat betapa tiga orang tosu itu berputar-putar dan tubuh  mereka<BR>tak tampak lagi merupakan  tiga bayangan orang  yang berkelebat menjadi  putaran<BR>cepat  sekali.  Tetapi  di  tengah  lingkaran   itu  ia  melihat  Ang  I   Niocu<BR>bergerak-gerak dengan tenang dan dengan gerakan indah, bahkan dalam pandangannya<BR>gadis cantik itu  tidak seperti  orang sedang bertempur,  karena ternyata  bahwa<BR>Nona Baju Merah itu sedang menari-nari! Tarian yang indah dengan gaya yang lemas<BR>dan sedap dipandang.<BR>Ia tidak  tahu bahwa  itulah limu  Pedang Tarian  Bidadari yang  tidak  ada<BR>keduanya di dunia  ini! Tarian  pedang ini  dilakukan dengan  gerakan halus  dan<BR>tampaknya lambat  karena memang  kecepatannya hanya  terdapat dari  tenaga  dan,<BR>kecepatan lawan saja hingga  Ang I Niocu sendiri  tak perlu mengeluarkan  tenaga<BR>dan kecepatan.<BR>Tiap kali serangan lawan yang datang dengan gerakan cepat sekali, cukup  ia<BR>sentuh sedikit  dengan ujung  pedang  dan senjata  lawan itu  tentu  menyeleweng<BR>arahnya, sedangkan  dengan pinjaman  tenaga kecepatan  senjata musuh,  pedangnya<BR>dapat dipentalkan dengan  luar biasa  cepatnya dalam serangan  balisan! Juga  ia<BR>melakukan tarian luar biasa ini dengan  tenaga lweekang yang tinggi hingga  tiap<BR>kali ujung pedangnya membentur senjata  lawan, maka lawannya akan merasa  betapa<BR>tangan mereka tergetar!<BR>Cin Hai menonton dengan mata terebelalak kagum dan mulut ternganga.  Karena<BR>asyiknya menonton  pertempuran luar  biasa itu,  ia tidak  merasa betapa  seekor<BR>lalat beterbangan menyambari mukanya.<BR>Pikiran anak ini terlalu  senang dan gembira  karena ia mendapat  kenyataan<BR>bahwa gadis  baju  merah yang  berlaku  manis kepadanya  itu  ternyata  memiliki<BR>kepandaian yang lebih hebat dan lihai dari pada Hai Kong Hosiang, hwesio  gundul<BR>yang memelihara ular itu.<BR>Ketika  Kong  Hosiang  dulu   dikeroyok  oleh  tiga   tosu  ini  di   depan<BR>Ban-hok-tong, hwesio itu  tidak kuat melawan  mereka sehingga akhirnya  terpaksa<BR>melepaskan ular-ularnya.<BR>Tetapi kini, biarpun  dikeroyok dengan  hebat, ternyata Ang  I Niocu  masih<BR>sempat menari-nari dengan bibir tersenyum. Tiba-tiba lalat yang beterbangan  dan<BR>menyambar-nyambar hidung Cin Hai itu tersesat dan salah masuk ke dalam mulut Cin<BR>Hai yang ternganga! Anak  itu baru sadar dan  dengan marah ia  menyumpah-nyumpah<BR>dan meludah-ludah  serta memaki-maki  lalat  itu. Lalu  ia ingat  akan  sesuatu.<BR>Tarian yang dilihatnya ketika gadis itu menari di depan gua. Sayang kalau tarian<BR>seindah ini tidak dihiasi dan diiringi nyanyian suling.<BR>Maka ia lalu meniup sulingnya meniup lagu yang merdu dan bernada tinggi.<BR>Benar saja, ketika mendengar suara suling,  Ang I Niocu tertawa senang  dan<BR>tiba-tiba gerakan pedangnya berubah makin  hebat! Apalagi ketika Cin Hai  meniup<BR>sulingnya dengan nada meninggi  dan irama cepat, maka  gadis itu bersilat  makin<BR>cepat lagi hingga sebentar saja orang dan pedang lenyap terganti gundukan  sinar<BR>putih dan di tengah-tengah gundukan sinar itu tampak warna merah pakaiannya!<BR>Tentu saja perubahan ini  membuat ketiga tosu  itu terkejut sekali.  Hampir<BR>saja ujung pedang gadis itu berhasil melukai mereka dengan cepat dan tak terduga<BR>serta dalam waktu yang bersamaan hingga ketiganya meloncat mundur!<BR>"Ang I  Niocu, kau  memang  lihai sekali!  Kini  kami mengakui  bahwa  ilmu<BR>pedangmu benar-benar lihai," kata Giok Yang Cu dengan jujur.<BR>"Kau memang cukup pantas menjadi guru anak tolol ini, Nona," kata Giok Keng<BR>Cu dengan suara mengandung ejekan.<BR>"Hem, Cin Hai,  kalau kau  baik-baik belajar silat  dari Ang  I Niocu,  kau<BR>tentu akan mencapai kemajuan hebat," kata Giok Im Cu.<BR>Tetapi Cin Hai tidak mempedulikan  semua omongan itu karena hatinya  sangat<BR>gembira melihat  betapa  Nona Baju  Merah  itu ternyata  benar-benar  lihai  dan<BR>berkepandaian jauh lebih tinggi dari pada tiga tosu itu digabung menjadi satu!<BR>Sementara itu, Ang I Niocu mendengar kata-kata ketiga pendeta, lalu berkata<BR>sambil tetap tersenyum,<BR>"Sam-wi Totiang, aku bukan guru engko cilik ini dan juga tidak akan menjadi<BR>gurunya."<BR>Mendengar kata-kata ini, Cin Hai mengangguk-anggukkan kepalanya yang gundul<BR>dan berkata cepat, "Betul, betul! Ada  nyanyian kuno menyatakan bahwa guru  yang<BR>terpandai berada di dalam diri sendiri! Nona perkasa ini belajar menyuling  dari<BR>aku, dan aku  sendiri belajar  menari darinya,  siapakah yang  disebut guru  dan<BR>siapa murid?" Ang I Niocu tertawa  manis mendengar ucapan ini dan keduanya  lalu<BR>menjura ke  arah  tiga tosu  yang  memandangnya dengan  bengong,  lalu  keduanya<BR>berjalan dengan perlahan meninggalkan tempat itu.<BR>Setelah beberapa bulan lamanya mengikuti Ang I Niocu, maka mengertilah  Cin<BR>Hai bahwa ketika dara baju merah itu dulu bersyair di depan Kang-lam  Sam-lojin,<BR>maka itu  adalah syair  yang memang  menggambarkan keadaan  hidupnya. Gadis  itu<BR>tidak mempunyai tempat tinggal yang  tetap, berkelana, merantau bagaikan  seekor<BR>burung, terbang ke sana ke mari, tanpa maksud atau tujuan tertentu dan pergi  ke<BR>mana saja mengandalkan kaki dan hati!<BR>Akan tetapi, karena Cin  Hai juga sebatangkara  dan tidak mempunyai  tujuan<BR>hidup tertentu, maka perantauan ini tidak menyusahkan hatinya. Bahkan ia  merasa<BR>bahagia sekali karena Ang I Niocu benar-benar baik sekali kepadanya. Wanita muda<BR>itu selain  pandai sekali  menari, juga  pandai bernyanyi  dengan suaranya  yang<BR>merdu. Setiap waktu bila  mereka singgah di tempat  yang baik dan  menyenangkan,<BR>Ang I Niocu  lalu meminjam  suling Cin Hai  dan mulai  belajar meniupnya  dengan<BR>memperhatikan petunjuk-petunjuk anak gundul  itu. Sebaliknya dengan gembira  Cin<BR>Hai mulai mempelajari  tari yang sebenarnya  bukan lain adalah  ilmu silat  luar<BR>biasa yang disebut Sianli-kun-hwat atau Ilmu Silat Bidadari. Tetapi mula-mula ia<BR>mengalami kesukaran karena betapapun juga, ia adalah seorang anak laki-laki  dan<BR>tubuhnya tidak  selemas  tubuh perempuan,  padahal  Sianli-kun-hwat  membutuhkan<BR>tubuh yang  lemas dan  gaya yang  lemah  lembut. Akan  tetapi dengan  sabar  dan<BR>telaten Ang I Niocu  melatih lweekang kepada Cin  Hai hingga tenaga anak  gundul<BR>ini bertambah cepat sekali, apalagi juga memberi latihan Ilmu Jui-kut-kang yaitu<BR>ilmu untuk melemaskan badan hingga Cin Hai dapat juga memainkan Sianli-kun-hwat,<BR>biarpun masih agak kaku. Sementara itu Cin Hai tidak lupa untuk mempelajari Ilmu<BR>Silat Liong-san-kun-hwat yang telah dicatat  dan dilukis sebanyak depalan  puluh<BR>jurus itu!<BR>Melihat bahwa Cin  Hai mempelajari  Liong-san-kun-hwat, Ang  I Niocu  hanya<BR>tersenyum dan berkata,<BR>"Jangankan baru kaupelajari  delapan puluh jurus,  biarpun kau  mempelajari<BR>sampai tamat yaitu  seratus delapan  jurus, tetap  ilmu silat  ini takkan  mampu<BR>mengalahkan Sianli-kun-hwat."<BR>Cin Hai juga  tersenyum. Ia  maklum bahwa  Ang I  Niocu takkan  melarangnya<BR>karena memang dara itu tak berhak  melarangnya. Ia bukan murid Gadis Baju  Merah<BR>itu! Dan  ia tetap  mempelajari Liong-san-kun-hwat  sampai hafal  semua  delapan<BR>puluh jurus yang telah dicatatnya.<BR>Telah lima tahun  Ang I  Niocu berkelana  seorang diri  dan selalu  bertemu<BR>dengan orang-orang  jahat dan  orang-orang yang  membuat ia  jemu. Hampir  semua<BR>laki-laki yang berjumpa  dengan dia  selalu memperlihatkan  pandangan mata  yang<BR>mengandung maksud  tidak baik,  hingga ia  benci melihat  orang laki-laki.  Akan<BR>tetapi perasaannya terhadap Cin Hai lain lagi. Pandangan mata anak ini  demikian<BR>jujur, demikian mesra dan  demikian menimbulkan perasaan  iba di dalam  hatinya,<BR>hingga ia tertarik dan suka sekali kepada Cin Hai. Oleh karena ini, maka biarpun<BR>ia tidak menganggap  Cin Hai  sebagai muridnya,  tetapi ia  dengan sungguh  hati<BR>hendak  menurunkan  Sianli-kun-hwat  yang  morupakan  tarian  indah  dan  sangat<BR>digemari oleh Cin Hai itu. Juga Ang I Niocu sangat tertarik akan kepandaian  Cin<BR>Hai meniup suling  dan bakatnya mencipta  lagu-lagu luar biasa.  Pula, ia  kagum<BR>akan pengertian  Cin Hai  tentang  sastera, tentang  sejarah kuno,  dan  tentang<BR>segala macam ujar-ujar yang sangat indah didengar. Apalagi nyanyian To-tik-khing<BR>sangat menarik hatinya hingga setiap  kali ada kesempatan tentu ia  menghapalkan<BR>sebuah ayat daripada kitab peninggalan Nabi Locu yang bijaksana itu.<BR>Sebaliknya, Cin Hai  merasa sangat berterima  kasih dan suka  kepada Ang  I<BR>Niocu, karena sikap gadis yang lemah lembut, kata-katanya yang halus merdu serta<BR>pandangan matanya yang  kadang-kadang sayu  itu mengingatkan ia  akan Loan  Nio,<BR>Ie-ienya (bibinya), yang  dianggap satu-satunya orang  yang cinta padanya.  Akan<BR>tetapi bibinya terikat  kepada keluarga Kwee-ciangkun  sehingga ia maklum  bahwa<BR>rasa suka di hati bibinya terhadap dia masih terbagi-bagi, sedangkan Ang I Niocu<BR>hidup sebatangkara seperti  dia. Oleh karena  inilah maka timbul  rasa suka  dan<BR>bakti yang besar sekali di  dalam hati Cin Hai. Kini  ia menganggap Ang I  Niocu<BR>sebagai satu-satunya orang  yang patut ia  sayangi, patut ia  bela dan patut  ia<BR>ikuti.<BR>Pernah pada suatu saat Dara Baju Merah itu bertanya tentang riwayatnya yang<BR>dijawab oleh Cin Hai dengan terus  terang akan tetapi karena pengaruh  ujar-ujar<BR>yang telah masuk ke dalam kepala, Cin Hai sama sekali tidak mau  menyebut-nyebut<BR>segala kejahatan  dan  siksaan yang  telah  dilempar orang  lain  kepadanya.  Ia<BR>teringat akan ujar-ujar  yang menyatakan  bahwa keburukan orang  lain tak  perlu<BR>disebut-sebut, sedangkan kesalahan sendiri harus selalu diingat dan  diperbaiki!<BR>Karena inilah, maka  ia tidak  pernah menceritakan  kepada Ang  I Niocu  tentang<BR>kenakalan-kenakalan Kwee Tiong  dan adik-adiknya,  tidak menceritakan  kebencian<BR>guru silat Tan Hok yang hampir saja membunuhnya.<BR>Akan tetapi ketika Cin Hai bertanya tentang riwayat Ang I Niocu, gadis  itu<BR>hanya tersenyum  sedih  dan untuk  beberapa  lama sinar  matanya  yang  biasanya<BR>berseri-seri itu tiba-tiba menjadi suram.<BR>"Ah, Niocu,  kalau  kau  tidak suka  mengenang  kembali  atau  menceritakan<BR>riwayat hidupmu padaku, sudahlah.  Lebih baik kita  berlatih saja, kau  berlatih<BR>meniup suling, sedangkan aku berlatih menari."<BR>Ang I Niocu kembali tersenyum dan lenyaplah kenang-kenangan sedih tadi.  Ia<BR>memandang Cin Hai dengan rasa terima kasih terkandung dalam sinar matanya,  lalu<BR>ia mengambil suling itu  dan mulai meniupnya. Cin  Hai juga segera meloncat  dan<BR>menggulung lengan  bajunya  serta  mengencangkan ikat  pinggangnya,  lalu  mulai<BR>bergerak menari!  Memang  berkat  kerja  sama  mereka,  maka  tarian  itu  dapat<BR>disesuaikan dan diselaraskan  dengan lagu tiupan  suling hingga dengan  demikian<BR>pelajaran menari menjadi lebih mudah diingat oleh Cin Hai. Biarpun pada saat itu<BR>ia telah mempelajari tari  lebih dari setengah tahun,  namun ia baru saja  dapat<BR>memainkan  beberapa  belas  jurus  tarian  dengan  baik,  sedangkan  selanjutnya<BR>gerakannya masih  sangat kaku  dan  tidak tepat!  Maka dapat  dimengerti  betapa<BR>sukarnya mempelajari Sianli-kun-hwat itu.<BR>JUGA karena sebagian besar dari tarian itu dilakukan dengan berdiri di atas<BR>ujung jari  kaki, maka  tentu  saja membutuhkan  tenaga  kaki yang  lebih  besar<BR>sehingga kalau orang  kurang latihan  tentu takkan  sanggup menarikannya  sampai<BR>lama.<BR>Sehabis latihan, Ang I Niocu berkata,<BR>"Gerakan yang ke  tiga dan ke  delapan masih kurang  sempurna. Hanya  jurus<BR>satu, dua, empat sampai tujuh dan sembiIan sampai lima belas yang sudah lumayan.<BR>Tetapi selebihnya,  dari jurus  ke enam  belas, masih  sangat jauh  untuk  dapat<BR>disebut  lumayan.   Gerak-gerakkanlah   jari  tanganmu   dengan   hidup   karena<BR>gerakan-gerakan jari  itu menghidupkan  jurus gerak  tipu Burung  Surga  Membuka<BR>Sayap.  Kau  harus  mengerti  bahwa  Burung  Surga  adalah  burung  yang   biasa<BR>ditungganggi  Bidadari,  maka  semua  gerakannya  mengandung  arti  dan   maksud<BR>tertentu. Jari-jari  kita dalam  gerakan ini  merupakan ujung-ujung  sayap  yang<BR>harus digerak-gerakkan  dalam menghadapi  lawan, maka  gerakan-gerakan jari  ini<BR>sangat penting karena dapat membingungkan lawan dan dapat menyembunyikan  maksud<BR>gerakan satu  serangan  kita yang  sesungguhnya.  Kau tentu  masih  ingat  bahwa<BR>sepuluh jari tangan kita dapat digunakan  untuk menotok jalan darah lawan  dalam<BR>berpuluh macam gerakan. Apakah kau masih hafal semua?"<BR>Demikianlah Ang I Niocu memberi petunjuk-petunjuk yang didengar dan diturut<BR>oleh Cin Hai  dengan penuh  perhatian. Dan  dari uraian  Ang I  Niocu itu  dapat<BR>diketahui betapa sulit dan lihainya limu Silat Sianli-kun-hwat itu, karena  satu<BR>jurus saja mempunyai pecahan demikian banyak dan hebat!<BR>Setelah berlatih,  mereka  beristirahat  di  bawah  pohon  besar  dan  pada<BR>kesempatan ini  Ang I  Niocu menuturkan  tentang tokoh-tokoh  besar yang  pernah<BR>dijumpai Cin Hai. Memang Cin Hai menceritakan pengalamannya ketika ia berada  di<BR>atas  genteng  Kuil  Ban-hok-tong   dan  melihat  Kanglam  Sam-lojin   berkelahi<BR>mati-matian melawan Hai Kong Hosiang!<BR>"Kau sungguh mujur dan beruntung sekali dapat terlepas dari tangan Hai Hong<BR>Hosiang. Ketahuilah, hwesio ini memang jahat sekali dan berwatak kejam,  biarpun<BR>ia bukanlah seorang penjahat  kecil yang suka  melakukan segala perbuatan  jahat<BR>yang tidak berarti. Kalau ia  melakukan sesuatu kejahatan, maka kejahatan  besar<BR>dan hebat  sekali. Dan  kau sungguh  boleh dibilang  lebih-lebih beruntung  lagi<BR>karena telah tertolong dan bahkan diterima menjadi murid oleh kakek yang mengaku<BR>bernama Bu Pun Su atau Tiada Kepandaian itu. Tahukah kau siapa adanya kakek itu?<BR>Dia adalah Su- siok-couwku (Kakek Paman Guru) sendiri!"<BR>Terkejutlah  Cin  Hai  mendengar  ini.  "Astaga!  Jembel  tua  itu   adalah<BR>Susiok-couwmu? Hebat, hebat dan tidak masuk akal. Kau yang berkepandaian  begini<BR>tinggi hanya  menjadi cucu  muridnya? Kalau  begitu, kepandaiannya  tentu  hebat<BR>sekali?"<BR>Ang I Niocu mengangguk-angguk. "Memang beliau adalah Susiok-couwku,  karena<BR>mendiang ayahku adalah murid keponakannya. Dan tentang kepandaiannya, ah,  sukar<BR>untuk diukur sampai  berapa tingginya.  Kalau tidak ada  Susiok-couw, maka  tiga<BR>gerobak emas  itu tentu  telah  dirampas oleh  Hai  Kong Hosiang  atau  Kang-lam<BR>Sam-lojin, atau  beberapa orang  gagah lain  yang mengingini  harta besar  itu!"<BR>"Tiga gerobak emas yang mana, milik siapa?" Cin Hai bertanya heran.<BR>"Emas sisa simpanan  ahala Beng yang  belum terampas oleh  Kaisar Boan  dan<BR>berhasil dilarikan oleh beberapa  orang patriot yang  gagah berani, disimpan  di<BR>sebelah kuil  kuno di  dekat  Tiang-an ternyata  hal  itu dapat  diketahui  oleh<BR>Pemerintah Boan  Yang segera  berusaha merampasnya.  Tetapi hal  ini sudah  lama<BR>diketahui oleh orang-orang gagah yang masih setia kepada Pemerintah Han sehingga<BR>mereka cepat mengambil  harta itu  dan berusaha mengungsikannya  ke utara  untuk<BR>digunakan bilamana saat pemberontakan tiba. Tetapi selain musuh-musuh dari pihak<BR>Kaisar, para  patriot itu  menghadapi  musuh yang  lebih berbahaya  lagi,  yaitu<BR>orang-orang kang-ouw seperti Hai Kong  Hosiang dan lain-lain, karena mereka  ini<BR>pun mempunyai telinga yang tajam hingga  mendengar pula tentang harta karun  itu<BR>dan berusaha  pula merampasnya!  Karena  inilah, maka  mereka ini  berkumpul  di<BR>Tiang-an dan kebetulan  sekali Hai  Kong Hosiang yang  pernah bermusuhan  dengan<BR>Kang-lam Sam-lojin bertemu di depan Kuil Ban-hok-tong dan bertempur  sebagaimana<BR>yang kaulihat itu.  Sedangkan semua  orang kang-ouw yang  hendak merampas  emas,<BR>semua takut dan lari ketika  melihat Bu Pun Su  yang sengaja turun gunung  untuk<BR>membantu para patriot mengungsikan emas itu. Secara kebetutan sekali, kau  dapat<BR>ditolong olehnya dan diaku sebagai muridnya, bukankah ini hal yang aneh sekali?"<BR>"Dia orang pandai dan suka mengaku murid kepadaku apakah anehnya?"<BR>Ang I  Niocu  tersenyum. "Mana  kau  tahu? Susiok-couw  adalah  orang  yang<BR>adatnya sangat  kukoai  (ganjil)  dan selama  hidupnya  belum  pernah  mempunyai<BR>seorang murid pun.  Menurut kata  Ayahku dulu, Susiok-couw  benci sekali  kepada<BR>orang-orang yang berkepandaian  silat, karena menurut  beliau, kepandaian  silat<BR>itu hanya mendatangkan malapetaka belaka! Agaknya orang tua itu sudah pikun  dan<BR>lupa bahwa  dia sendiri  adalah seorang  di antara  tokoh-tokoh yang  tingkatnya<BR>paling tinggi di  dunia ini! Dan  sekarang tiba-tiba saja  ia mengangkat  engkau<BR>sebagai muridnya. Bukankah ini aneh sekali?"<BR>"Tetapi aku tidak senang menjadi muridnya!" tiba-tiba Cin Hai berkata. "He,<BR>mengapa?" Ang I Niocu bertanya.<BR>"Entahlah, tetapi rasa hatiku, aku lebih suka belajar darimu daripada harus<BR>belajar dari kakek jembel yang aneh adatnya itu. Bukankah kalau belajar  padanya<BR>aku harus berpisah darimu?"<BR>Ucapan ini  dikatakan dengan  hati jujur  seorang anak-anak,  tetapi Ang  I<BR>Niocu mendengarkan dengan hati terharu sekali.<BR>"Berjanjilah, Niocu, kau takkan meninggalkan aku!" Cin Hai mendesak.<BR>Ang I Niocu mengangguk-angguk dan berkata lirih, "Jangan kuatir, aku takkan<BR>meninggalkan kau."<BR>Sebenarnya kurang pantas bagi  Cin Hai untuk memanggil  Ang I Niocu  dengan<BR>sebutan "Niocu" yang biarpun artinya "nona" namun biasanya hanya dilakukan  oleh<BR>seorang suami  atau  seorang  kekasih.  Akan  tetapi,  karena  nona  itu  memang<BR>mempunyai gelaran Ang  I Niocu,  maka Cin  Hai lalu  menyebutnya "niocu"  begitu<BR>saja, karena hatinya  yang jujur  tidak dapat  mencari lain  sebutan yang  lebih<BR>tepat. Sedangkan Ang I Niocu juga tidak peduli akan sebutan ini.<BR>Ketika Cin  Hai  yang  pernah mendengar  dari  Kang-lam  Sam-lojin  tentang<BR>Giok-gan Kui-bo  Si  Biang  Iblis  Mata  lntan  yang  pernah  dilihatnya  ketika<BR>bertempur melawan  seorang  yang berpakaian  sasterawan,  mengajukan  pertanyaan<BR>kepada Ang I Niocu. Kemudian Gadis Baju Merah itu menjawab,<BR>"Kanglam Sam-lojin berkata benar. Memang dia itu adalah ciciku, yaitu  Suci<BR>(Kakak Seperguruan), karena ia adalah murid  Ayahku." Tetapi Cin Hai juga  tidak<BR>mendesak lagi karena anak  ini selalu kuatir kalau-kalau  hati Ang I Niocu  akan<BR>menjadi sedih.  Dari pandangan  matanya  yang tajam,  anak yang  berusia  paling<BR>banyak sepuluh tahun ini  dapat melihat keadaan orang  dan seakan-akan ia  dapat<BR>membaca isi hati gadis yang gagah perkasa itu!<BR>Demikanlah Cin Hai diajak merantau ke selatan sampai ke daerah Lam-hu  yang<BR>panas. Ketika  mereka  memasuki  kota  Nam-tin, maka  dua  tahun  telah  berlalu<BR>semenjak Cin Hai ikut Ang I Niocu merantau. Anak ini sekarang tidak gundul lagi,<BR>rambutnya tumbuh  dengan subur,  tebal  dan hitam  sekali. Keningnya  lebar  dan<BR>tubuhnya makin tegap dan tinggi. Tadinya memang Cin Hai tidak berniat memelihara<BR>rambut, karena  setiap kali  rambutnya sudah  agak panjang,  selalu timbul  lagi<BR>kudis di kulit kepala.<BR>Akan tetapi ketika ia hendak mencukur rambutnya, Ang I Niocu melarangnya.<BR>"Kau bukan seorang  hwesio, mengapa  harus mencukur  rambutmu?" tanya  dara<BR>baju merah itu.<BR>"Siapa yang tidak suka  memelihara rambut yang hitam  dan panjang? Aku  pun<BR>tidak  suka  menjadi  hwesio  kecil,  tetapi  apa  daya,  setiap  kali  rambutku<BR>memanjang, timbullah penyakit kudis yang gatal sekali di kepalaku!"<BR>Dengan tertawa  geli  Ang  I  Niocu  berkata,  "Coba  kaupelihara  rambutmu<BR>baik-baik, kaucuci setiap hari sampai bersih, tentu penyakit gatal itu lenyap!"<BR>Dan benar  saja, setelah  mendapat rawatan  Ang I  Niocu yang  setiap  hari<BR>menyikat kulit kepala Cin Hai dengan air panas sampai bersih, penyakit gatal itu<BR>tidak mau  timbul  lagi!  Tentu  saja  Cin Hai  menjadi  girang  sekali  dan  ia<BR>memelihara rambutnya yang tumbuh  subur dan hitam. Juga  Ang I Niocu  mencarikan<BR>pakaian untuk  Cin Hai,  sebuah celana  putih dan  sepotong baju  biru.  Setelah<BR>mengenakan baju biru  dan memelihara rambutnya,  maka Cin Hai  tampak cakap  dan<BR>tampan sekati,  hanya sepasang  matanya yang  mengeluarkan sinar  kejujuran  itu<BR>membuat mukanya selalu nampak bodoh!<BR>Ketika mereka tiba di kota Nam-tin, Cin Hai telah berusia dua belas  tahun,<BR>tetapi karena tubuhnya memang  tinggi tegap, ia  seperti seorang pemuda  berusia<BR>lima belas tahun lebih. Hubungannya dengan Ang I Niocu makin mesra dan di  dalam<BR>hati mereka terjalin rasa  kasih murni yang putih  bersih, seperti kasih  sayang<BR>seorang ibu dan anak atau kakak beradik.<BR>Ketika mereka berdua  berjalan di  depan sebuah toko  obat-obatan di  dalam<BR>kota Nam-tin, tiba-tiba Cin Hai berbisik kepada Ang I Niocu.<BR>"Niocu lihat, itulah orangnya yang dulu dirobohkan Giok-gan Kui-bo!"<BR>Ang I Niocu menoleh  ke arah toko obat  itu dan melihat seorang  laki-laki,<BR>berusia tiga puluh  tahun sedang  berdiri di dalam  toko. Orang  itu tampan  dan<BR>berpakaian seperti seorang sasterawan.<BR>Tiba-tiba Ang I Niocu menarik tangan Cin Hai pergi dari situ hingga Cin Hai<BR>merasa heran melihat sikap  nona itu. "Eh, Niocu,  apakah kau kenal  kepadanya?"<BR>tanyanya.<BR>"Hai-ji,  tidak  salahkah   kau?  Benar-benarkah   orang  yang   berpakaian<BR>sasterawan tadi yang dirobohkan oleh Suciku?"<BR>"Benar, benar dia. Mana aku bisa salah lihat?"<BR>Ang I Niocu  meremas-remas tangannya  sendiri dan  berkata perlahan,  "Suci<BR>memang keterlaluan! Kasihan Kang Ek Sian, tentu saja ia bukan lawan Suci..."<BR>Melihat kegelisahan  Ang I  Niocu, Cin  Hai maklum  bahwa tentu  gadis  ini<BR>mengenal baik  sasterawan itu  dan ada  sesuatu yang  pernah terjadi  di  antara<BR>mereka. Tetapi karena ia maklum akan kekerasan hati Ang I Niocu dan bahwa  kalau<BR>tidak dikehendaki maka  gadis itu takkan  menuturkan sesuatu, ia  pun diam  saja<BR>tidak mau bertanya.<BR>Tiba-tiba Ang I Niocu memegang tangan Cin Hai sambil berkata,<BR>"Hai-ji, aku harus pergi ke sana menemui dia!"<BR>Tanpa menjawab,  Cin  Hai mengangguk  dan  mengikuti Nona  Baju  Merah  itu<BR>kembali ke toko obat tadi. Ternyata Kang Ek Sian tidak tampak pula di situ. Yang<BR>menjaga toko adalah seorang berpakaian pelayan.<BR>Melihat yang datang adalah seorang  gadis berpakaian merah yang cantik  dan<BR>gagah, pelayan itu dengan sikap hormat bertanya maksud kedatangan mereka.<BR>"Aku hendak bertemu dengan majikanmu," jawab Ang I Niocu singkat.<BR>"Apakah Nona maksudkan hendak berjumpa dengan Kang-taihiap?"<BR>Ang I Niocu agak tercengang mendengar betapa pelayan itu menyebut "taihiap"<BR>(tuan pendekar) kepada Kang Ek Sian yang biasanya berlaku sangat sederhana serta<BR>tidak suka mengaku sebagai  seorang pendekar silat.  Akan tetapi karena  menduga<BR>bahwa yang disebut Kang-taihiap tentu bukan lain Kang Ek ia mengangguk.<BR>"Silakan menanti sebentar, Nona, akan saya sampaikan kepada  Kang-taihiap."<BR>Pelayan itu masuk ke dalam dan tak lama kemudian keluar pula sambil menjura  dan<BR>memberitahukan bahwa Kang-taihiap mempersilakan kedua  tamu itu masuk ke  dalam.<BR>Ang I  Niocu tanpa  ragu-ragu lagi  lalu mengikuti  pelayan itu  masuk ke  ruang<BR>belakang dan Cin Hai juga tidak ketinggalan ikut pula memasuki rumah yang bagian<BR>depannya dipakai sebagai toko itu. Ternyata  rumah itu besar juga dan  mempunyai<BR>bagian belakang yang dua  kali lebih besar dan  lebar daripada bagian  depannya.<BR>Kedatangan mereka disambut oleh  seorang laki-taki setengah  tua yang kurus  dan<BR>mempunyai jenggot tipis kecil  panjang serta sepasang  kumis kecil panjang  pula<BR>berjuntai ke bawah. Sekarang anak laki-taki sebaya Cin Hai ikut pula  menyambut.<BR>Laki-laki berkumis panjang itu bersikap dingin, angkuh dan menyambut  kedatangan<BR>Ang I Niocu dengan pandangan mata tajam dan menyelidik. Juga anak laki-laki  itu<BR>memandang kepada Cin  Hai dengan  mata mengandung ejekan  sehingga baru  bertemu<BR>muka satu kali saja Cin Hai telah merasa tidak senang kepada mereka ini.  Tetapi<BR>Ang I Niocu dengan senyum manis di bibir segera memberi hormat dengan mengangkat<BR>kedua tangan dan menjura. Tuan rumah segera membalas hormatnya.<BR>"Maafkan kalau  kedatangan  kami  mengganggu. Maksud  kami  hendak  bertemu<BR>dengan Kang-enghiong sebentar," kata Ang I Niocu.<BR>"Orang she Kang adalah  aku sendiri, Nona,"  kata orang laki-laki  berkumis<BR>panjang itu.<BR>"Tuan salah sangka. Aku hendak bertemu  dengan Saudara Kang Ek Sian,"  kata<BR>Ang I Niocu lagi.<BR>Tuan rumah itu memandang tajam dan terutama ia memperhatikan pakaian Ang  I<BR>Niocu yang berwarna merah itu dan  gagang pedangnya yang tergantung di  pinggang<BR>kiri. Kemudian tiba-tiba  ia tersenyum  dan ketika ia  tersenyum, maka  wajahnya<BR>berubah tampan dan hampir sama dengan wajah Kang Ek Sian.<BR>"Oo, kau mencari Kang Ek  Sian? Dia adalah adikku  dan aku adalah Kang  Bok<BR>Sian." Ang I Niocu yang tadi hanya tunduk saja kini mengangkat muka memandang.<BR>Matanya tajam menyambar wajah orang itu dan ia berkata,<BR>"Ah, tidak tahunya aku , yang bodoh berhadapan dengan Kang-taihiap!"<BR>Mendengar pujian ini Kang Bok Sian tertawa tergelak dan ia berkata,<BR>"Lihiap sungguh berlaku  sungkan. Apakah  dikira bahwa  aku tidak  mengenal<BR>Gunung Thai-san? Lihiap tentu Ang I Niocu yang terkenal bukan?"<BR>Melihat sikap orang yang biarpun di mulut memuji tetapi sikap dan  bibirnya<BR>menyeringai seakan-akan orang memandang rendah itu, Cin Hai merasa mendongkol.<BR>Tetapi Ang I  Niocu biarpun  tak kurang  gemasnya di  dalam hatinya,  tetap<BR>tersenyum ketika berkata,  "Kang-taihiap, tolonglah kaupanggil  Saudara Kang  Ek<BR>Sian, karena ada sepatah dua patah kata yang hendak kusampaikan kepadanya."<BR>"Ah, mengapa terburu-buru benar, Li-hiap. Silakan duduk, silakan duduk. Kau<BR>juga, anak muda!"<BR>Kang Bok Sian dan anak laki-laki itu mendahului duduk di dekat sebuah  meja<BR>yang pendek sekali.  Mereka berdua tidak  duduk di atas  bangku karena meja  itu<BR>memang sangat rendah dan mereka hanya duduk bersila menghadapi meja!<BR>"Lihiap, silakan duduk!"  kata Kang Bok  Sian dan anak  itu lalu  mengambil<BR>empat buah cawan kosong dan sepoci air teh.<BR>Tetapi ketika Kang  Bok Sian menuang  isi poci itu,  ternyata bukanlah  teh<BR>yang keluar  tetapi arak  wangi! Bau  arak itu  memenuhi ruangan.  Dengan  cepat<BR>cawan-cawan diisi arak dan Kang Bok Sian memberi Cin Hai secawan, sedangkan anak<BR>laki-laki tuan rumah itu pun  mengambil secawan. Ketika hendak menyuguhkan  arak<BR>kepada Ang I Niocu, Kang Bok Sian berkata,<BR>"Ang I Lihiap, untuk menghormati kedatanganmu, silakan minum secawan arak!"<BR>Tetapi  Ang  I  Niocu  menggeleng-geleng  kepala  sambil  tersenyum.  "Kang<BR>Taihiap,  terima  kasih  atas   penghormatan  besar  ini.  Tetapi   sesungguhnya<BR>kedatanganku ini hanya untuk menemui Kang Ek Sian saja, bukan hendak minum arak!<BR>"<BR>Tiba-tiba muka Kang Bok Sian berubah merah. "Apakah kedatanganmu ini hendak<BR>menghina lagi kepada Adikku?"<BR>Ang I Niocu memandang heran. "Siapa yang menghina? Apa maksudmu?"<BR>Kang Bok  Sian tiba-tiba  tertawa menghina.  "Ah, jangan  kau  berpura-pura<BR>lagi. Bukankah kalau tidak kebetulan  bertemu dengan Kang-lam Sam-lojin,  adikku<BR>Kang Ek Sian itu telah mati dalam tangan Sucimu?"<BR>Kini mengertilah Ang I  Niocu mengapa sikap Kang  Bok Sian memusuhinya.  Ia<BR>lalu berkata perlahan,<BR>"Harap kau tidak  salah paham.  Kedatanganmu ini justru  hendak minta  maaf<BR>kepada Adikmu atas kelancangan tangan Suciku."<BR>Untuk   beberapa   lama   kedua   orang   itu   berpandang-pandangan   lalu<BR>perlahan-lahan wajah  Kang Bok  Sian  menjadi sabar  kembali, "Baik,  baik,  aku<BR>percaya kepadamu. Nah, marilah minum!"  Ia sendiri menenggak habis secawan  arak<BR>lalu memandang Cin  Hai. Melihat betapa  Cin Hai masih  saja berdiam diri  tidak<BR>hendak minum araknya, ia berkata,<BR>"He, anak muda, apakah kau tidak  biasa minum arak? Atau, apakah kau  takut<BR>minum racun? Kalau kau tidak mau minum arakku, mengapa kau masuki rumahku?"<BR>Mendengar ini anak laki-laki yang duduk  di depan Cin Hai tertawa  perlahan<BR>dan mengangkat cawan lalu mengangguk kepada Cin Hai sambil berkata, "Sobat, mari<BR>minum arakmu!"<BR>Terpaksa Cin Hai  memegang cawannya,  tetapi ia tidak  segera minum  karena<BR>melihat bahwa Ang I Niocu juga tidak mau minum!<BR>"Ang I  Niocu,  apakah benar-benar  kau  tidak mau  menerima  kebaikan  dan<BR>penghormatanku berupa secawan arak?" Kang  Bok Sian berkata dengan suara  keras,<BR>lalu tiba-tiba ia melontarkan  cawan arak yang tadinya  disuguhkan kepada Ang  I<BR>Niocu itu  ke atas  dan aneh!  Cawan itu  membentur langit-langit  yang  terbuat<BR>daripada papan dan menempel  di situ! Sambil duduk  bersila di dekat meja,  Kang<BR>Bok Sian mengangkat  kedua tangannya  seakan-akan menjaga agar  cawan itu  tidak<BR>jatuh.<BR>"Beginikah  caranya  menghormat  tamu?"  tiba-tiba  Ang  I  Niocu   berkata<BR>menyindir dan ia mengangkat tubuhnya  hingga setengah berdiri, lalu  menggunakan<BR>tangan kanannya memukul ke arah cawan yang menempel di atas itu. Ia  mengerahkan<BR>tenaga lweekangnya dan berseru,<BR>"Kang-taihiap, kauterimalah kembali arakmu!"<BR>Pertemuan tenaga yang keluar dari tangan kanan Ang I Niocu dan kedua tangan<BR>Kang Bok  Sian yang  sama-sama  mengerahkan tenaga  khikang ini  terjadi  dengan<BR>diam-diam tetapi tidak lama berlangsung karena tiba-tiba cawan yang berisi  arak<BR>itu bagaikan dilempar  dan melayang kembali  ke arah Kang  Bok Sian! Tuan  rumah<BR>berkumis panjang itu  segera menggunakan  tangan kanan  menyambut, tetapi  tetap<BR>saja ada beberapa  tetes arak  memercik ke  luar membasahi  lengan bajunya  yang<BR>lebar! Muka orang she Kang ini menjadi merah dan kedua matanya bercahaya,  tanda<BR>panas hatinya.<BR>"Hai-ji, mari kita pergi!" kata Ang I Niocu kepada Cin Hai yang masih duduk<BR>bersila sambil memegang  cawan arak di  tangan kirinya tanpa  meminum arak  itu,<BR>karena sejak  tadi ia  bengong  melihat pertempuran  tenaga khikang  yang  hebat<BR>menarik itu! Kini mendengar  suara Ang I Niocu  ia segera menaruh kembali  cawan<BR>araknya di atas  meja dan bangkit  berdiri, lalu mengikuti  Nona Baju Merah  itu<BR>bertindak keluar.<BR>"Ang I Niocu, tunggu dulu! Aku telah merasakan kelihaian tenagamu, sekarang<BR>berilah sedikit petunjuk padaku!"<BR>Tiba-tiba terasa sambaran angin  dan tahu-tahu tubuh  tuan rumah itu  telah<BR>mengejar dekat dan ia menggunakan tangan  kanannya hendak memegang lengan Ang  I<BR>Niocu. Kelihatannya seperti seorang yang hendak menahan kepergian gadis  perkasa<BR>itu, tetapi sebenarnya  ini adalah  sebuah serangan  berbahaya karena  jari-jari<BR>tangan Kang Bok  Sian bergerak  dengan Tenaga  Eng-jiauw-kang (Cengkeraman  Kuku<BR>Garuda) yang kalau sampai dapat menangkap  lengan tangan orang maka tentu  kulit<BR>lengan itu akan hancur berikut dagingnya!<BR>Tetapi tanpa menoleh sedikit  pun, Angi I Niocu  berkata, "Orang she  Kang,<BR>jangan banyak tingkah!" Tiba-tiba lengan tangannya yang dicengkeram itu bergerak<BR>cepat sekali  mengelit serangan  itu sehingga  cengkeraman Kang  Bok Sian  tidak<BR>mengenai sasaran.  Kang Bok  Sian penasaran  dan meneruskan  serangannya  dengan<BR>gerakannya Pek-ho-tok-hu (Bangau  Putih Menotol Ikan),  menotok ke arah  lambung<BR>Ang I Niocu. Tetapi Dara Baju Merah ini dengan tenang sekali mendahului  gerakan<BR>lawan dan sekali  menyentil dengan jari  tangannya, tangan kanan  Kang Bok  Sian<BR>menjadi lumpuh  dan ia  meringis kesakitan.  Ternyata sentilan  jari tangan  itu<BR>tepat sekali mengenai  jalan darah lengannya,  sehingga lengannya terasa  lumpuh<BR>tak bertenaga.  Maka  selain serangannya  gagal  sama sekali,  juga  ia  sendiri<BR>menderita kesakitan!<BR>Bagaikan tidak terjadi sesuatu hal, Ang I Niocu bertindak ke luar dari toko<BR>obat itu, diikuti oleh  Cin Hai yang diam-diam  menengok ke belakang melihat  ke<BR>arah tuan rumah yang masih meringis kesakitan dan puteranya yang berdiri bengong<BR>terheran-heran! Cin  Hai  tertawa geli  dan  cepat  menyusul Ang  I  Niocu  yang<BR>berjalan cepat meninggalkan tempat itu.<BR>"Niocu, mengapa Kang Bok  Sian itu bersikap  ganjil dan seakan-akan  hendak<BR>memusuhi kau?" tanyanya kepada Dara Baju Merah itu.<BR>Ang I  Niocu  menghela napas.  "Ini  semua gara-gara  Suciku  yang  terlalu<BR>gegabah.  Memang  telah  seringkali  terjadi  aku  dimusuhi  tanpa  sebab   oleh<BR>orang-orang yang pernah dijatuhkan dan dibuat sakit hati oleh Suci!"<BR>Gadis itu lalu mengajak Cin Hai  meninggalkan kota Nam-tin agar urusan  itu<BR>jangan sampai terulang lagi.  Tetapi pada saat mereka  hendak keluar dari  pintu<BR>gerbang kota, tiba-tiba terdengar suara orang berteriak.<BR>"Niocu, tunggu sebentar!"<BR>Ang I Niocu berhenti  dan memutar tubuhnya. Cin  Hai juga cepat  berpaling.<BR>Ternyata yang  datang berlari  cepat  itu adalah  Kang  Ek Sian  sendiri!  Wajah<BR>sastrawan ini berseri-seri dan matanya bersinar gembira.<BR>"Ah, Niocu. Sayang sekali kita  tidak bertemu ketika kau mengunjungi  rumah<BR>kami tadi," katanya setelah saling memberi hormat.<BR>"Tidak apa, sekarang  kita kan sudah  bertemu di sini,"  jawab Ang I  Niocu<BR>sederhana.<BR>"Niocu, kaumaafkan banyak-banyak Kakakku itu. Ia tidak tahu sampai di  mana<BR>kelihaianmu, maka hendak mencoba," kata Kang Ek Sian dengan suara halus dan  Cin<BR>Hai merasa suka kepada sastrawan yang bersikap sopan ini.<BR>"Tidak apa,  Kang-twako. Sebenarnya  akulah yang  hendak datang  menyatakan<BR>penyesalan dan maafku, karena  aku mendengar bahwa kau  telah dihina oleh  Suci.<BR>Sebetulnya mengapakah kau sampai bentrok dengan dia?"<BR>Kang Ek Sian  menghela napas.  "Memang aku yang  bernasib malang.  Giok-gan<BR>Kuibo, sucimu  itu marah  kepadaku karena  aku dianggap  terlalu lancang  karena<BR>berani... jatuh cinta  padamu! Ia  menganggap aku menghinamu  dan juga  menghina<BR>dia, karena... orang macam  aku tidak pantas dan  tidak boleh mencintai  seorang<BR>gadis seperti engkau. Ia menantangku dan terpaksa aku melayaninya."<BR>Ang I Niocu menghela napas dan memandang sastrawan itu dengan kasihan. "Ah,<BR>Suciku memang terlalu angkuh dan sembrono."<BR>"Sudahlah, jangan  kita  bicarakan  hal  yang sudah  lalu,"  Kang  Ek  Sian<BR>memotong, "mari kita bicarakan hal kita sendiri. Bagaimana, Niocu, apakah  sudah<BR>ada sedikit rasa kasihan dalam hatimu terhadap aku? Adakah harapan bagiku?"<BR>Ang I Niocu menggigit bibir dan menggeleng-geleng kepala.<BR>"Niocu, kasihanilah aku yang menderita bertahun-tahun karena kau!"<BR>"Siapa yang menyuruh kau menderita?  Kau sendiri yang... lemah! Sudah,  aku<BR>tak ingin lagi mendengar hal ini!" jawab Ang I Niocu.<BR>"Niocu, begitu kejamkah  hatimu terhadapku?"  Ang I  Niocu tidak  menjawab,<BR>tetapi memandang ke tempat jauh.<BR>"Niocu, apakah hatimu terbuat  dari pada batu karang?"  Tetapi Ang I  Niocu<BR>tetap  tak  mau  menjawab.  Tiba-tiba  gadis  ini  wajahnya  pucat  dan  matanya<BR>dilingkungi warna merah,  seakan-akan ia menahan  keharuan hatinya. Kemudian  ia<BR>lalu melihat Cin Hai  yang memandangnya dengan sepasang  matanya yang lebar  dan<BR>jernih. Maka perlahan-lahan timbullah senyuman di sepasang bibirnya yang  indah.<BR>Ia lalu memegang tangan Cin Hai dan berkata,<BR>"Hai-ji, marilah kita pergi."<BR>Mereka lalu saling bergandeng tangan dan meninggalkan Kang Ek Sian.<BR>"Niocu, begitu kejamkah kau?" terdengar suara sasterawan itu memilukan hati<BR>dan ia ikut  bertindak di belakang  Ang I  Niocu. Ketika gadis  itu tetap  tidak<BR>mempedulikannya dan  bahkan  mengajak  Cin  Hai  bicara  gembira,  Kang  Ek  Sia<BR>merayu-rayu dan membujuk-bujuknya sambil menyatakan perasaan hatinya yang hancur<BR>dan mencinta.<BR>Ang I  Niocu  bersikap seakan-akan  Kang  Ek Sian  tidak  ada di  situ  dan<BR>melangkah terus,  tetapi Cin  Hai tidak  kuat mendengar  terus. Ia  tidak  benci<BR>melihat sasterawan itu,  bahkan ada  perasaan kasihan di  dalam hatinya,  tetapi<BR>tidak puas melihat sikap  orang. Biarpun ia tidak  tahu akan duduknya  persoalan<BR>antara Ang I Niocu dan Kang Ek Sian namun ia dapat menduga bahwa dulu tentu  ada<BR>pertalian yang erat antara ke  dua orang ini. Hal  ini mudah diduga karena  dari<BR>panggilan mereka  kepada masing-masing  juga telah  menyatakan eratnya  hubungan<BR>mereka. Ia menganggap sasterawan itu terlalu lemah, dan tidak selayaknya seorang<BR>laki-laki selemah itu. Maka sambil berjalan ia lalu menyanyikan sebuah lagu yang<BR>kuno yang pernah dibacanya dari buku,<BR>"Lima macam rupa indah  membuat mata buta, Lima  macam suara merdu  membuat<BR>telinga tuli,  tetapi  seorang laki-laki  sejati,  Memiliki keteguhan  iman  dan<BR>kekuatan hati, untuk menentang godaan lima anggauta tubuhnya!"<BR>Mendengar nyanyian ini, Kang  Ek Sian merasa  tersindir dan juga  tertarik.<BR>Sejak tadi ia tidak memperhatikan anak muda yang tampaknya begitu erat dan mesra<BR>perhubungannya dengan Ang I  Niocu, karena tadinya ia  menyangka bahwa anak  itu<BR>adalah seorang pelayan atau seorang murid dari Dara Baju Merah itu. Tetapi  kini<BR>melihat sikap dan  mendengar lagu kuno  yang dinyanyikan Cin  Hai, ia kagum  dan<BR>memandang dengan penuh perhatian.<BR>Melihat betapa Kang Ek Sian menghentikan  bujuk rayunya kepada Ang I  Niocu<BR>dan kini  hanya  mengikuti mereka  sambil  memandangnya, Cin  Hai  maklum  bahwa<BR>nyanyian tadi mengenai sasaran dengan tepat, maka ia lalu mendongakkan kepala ke<BR>udara dan berkata kuat-kuat,<BR>"Sungguh tak dapat dibenarkan sikap Cou Han yang membunuh diri hanya karena<BR>gagal dalam  asmara! Padahal  ia memiliki  kepandaian bun  dan bu  (sastera  dan<BR>silat) dan  dapat menggunakan  sisa hidupnya  untuk mengabdi  kepada negara  dan<BR>bangsa! Sayang...  sayang... !"  Ucapan  ini adalah  ucapan  guru Cou  Han  yang<BR>menyayangkan muridnya itu membunuh diri karena gagal dalam asmara dan ini adalah<BR>sebuah cerita kuno yang terkenal di masa itu.<BR>Sekali lagi Kang  Ek Sian  mendengar ini karena  sebagai sasterawan,  tentu<BR>saja ia mengenal  baik nyanyian tadi  dan cerita ini,  ia merasa betapa  mukanya<BR>panas seakan-akan  mendapat  tamparan  keras  dan  tiba-tiba  insaflah  ia  dari<BR>kelemahannya. Pantas saja Ang I Niocu  menyebutnya lemah karena memang benar  ia<BR>bersikap lemah sekali dan memalukan benar!<BR>Kang Ek Sian lalu mengangkat dada dan berkata keras,<BR>"Terima kasih, anak muda! Siapa pun adanya engkau, ternyata kau lebih gagah<BR>dari padaku. Ang I Niocu, maafkan aku dan selamat berpisah!"<BR>Kini Ang I  Niocu tiba-tiba memutar  tubuhnya menghadapi Kang  Ek Sian  dan<BR>berkata dengan suara agak gemetar karena terharu,<BR>"Kang-twako, kita saling  memaafkan dan  selamat tinggal!"  Gadis ini  lalu<BR>memegang tangan  Cin Hai  dan  menariknya cepat-cepat  hingga Cin  Hai  terpaksa<BR>mengerahkan seluruh  kepandaiannya  berlari  cepat  agar  jangan  tertinggal  di<BR>belakang.<BR>"Hai-ji, tahukah kau bahwa baru saja kau telah menolong jiwa seorang gagah?<BR>"<BR>"Aku kasihan padanya, Niocu," jawab Cin Hai. "Ia seorang baik."<BR>Tiba-tiba Ang  I Niocu  menghentikan larinya  dan duduk  di bawah  sebatang<BR>pohon yang  tumbuh  di pinggir  jalan.  Ternyata  mereka telah  jauh  dari  kota<BR>Nan-tin, karena sebentar saja mereka telah lari dua puluh li lebih! Memang  tadi<BR>mereka telah lari cepat sekali  dan hal ini tidak  dirasakan oleh Cin Hai  yangi<BR>tidak sadar  akan  kemajuan kepandaiannya  yang  cepat sekali  dan  tak  terduga<BR>olehnya sendiri. Cin Hai juga ikut duduk di depan nona itu.<BR>"Hai-ji, kau berkata benar.  Memang Kang Ek  Sian adalah seorang  laki-laki<BR>gagah dan baik."<BR>"Kalau begitu...mengapa kau...sia-siakan  cintanya?" tanya  Cin Hai  dengan<BR>berani.<BR>Wajah Ang I  Niocu memerah.  "Ah, anak baik,  jangan kau  marah. Kau  tidak<BR>tolol, sama sekali tidak!"  Sambil berkata begini Nona  Baju Merah itu  memegang<BR>tangan Cin Hai yang terpaksa tertawa juga mendengar godaan ini.<BR>"Dengarlah, Hai-ji. Sekarang telah  tiba waktunya aku menceritakan  sedikit<BR>riwayatku kepadamu,  karena  aku  telah  mengetahui  betul  watakmu  yang  boleh<BR>kupercaya." Maka Ang  I Niocu dengan  singkat menceritakan riwayatnya.  Ternyata<BR>Gadis Baju Merah ini sebenarnya bernama  Kiang Im Giok, anak tunggal dari  Kiang<BR>Liat yang sangat termasyur karena kepandaian silatnya yang luar biasa tingginya.<BR>Kiang Liat ini  dijuluki Manusia Dewa  Tangan Seribu dan  menjadi seorang  tokoh<BR>besar dalam dunia persilatan. Ibu Im  Giok meninggal dunia ketika Im Giok  masih<BR>sangat kecil,  disebabkan  oleh serangan  penyakit  panas yang  hebat.  Semenjak<BR>kematian isterinya, Kiang Liat menjadi  berubah ingatan dan ia menjadi  setengah<BR>gila! Wataknya menjadi aneh sekali dan  ditakuti semua orang gagah. Akan  tetapi<BR>ia tidak lupa untuk menurunkan  kepandaian silatnya yang istimewa kepada  puteri<BR>tunggalnya. Im Giok mempunyai seorang kawan perempuan sekampung yang bernama Kim<BR>Lian dan  karena  eratnya bergaul  maka  Im Giok  mengajukan  permohonan  kepada<BR>ayahnya untuk  menerima Kim  Lian sebagai  murid pula.  Hal ini  disetujui  oleh<BR>ayahnya dan  Kim Lian  lalu menjadi  muridnya. Gadis  ini lebih  tua enam  tahun<BR>daripada Im Giok, akan tetapi Im Giok lebih cerdik dan semenjak kecil kepandaian<BR>Im Giok  lebih tinggi  daripada kepandaian  Kim Lian.  Setelah dewasa,  Im  Giok<BR>bertemu dengan seorang pemuda  tampan dan berbudi  halus. Pertemuan ini  terjadi<BR>ketika Im  Giok sedang  berjalan dalam  sebuah hutan  dan menolong  siucai  atau<BR>sasterawan muda itu dari serangan  perampok, dan semenjak itu mereka  berkenalan<BR>dan di dalam hati masing-masing terbit rasa cinta suci.<BR>Tetapi ketika Kiang Liat mendengar tentang perhubungan gadisnya ini,  orang<BR>tua yang  setengah gila  itu menjadi  marah sekali.  Ia mencari  pemuda itu  dan<BR>membunuhnya! Tentu saja Im Giok menjadi sakit hati dan gadis yang berwatak keras<BR>ini dengan terus terang menyatakan penyesalannya kepada ayahnya, bahkan ayah dan<BR>anak ini sampai saling menyerang! Akan tetapi, di tengah-tengah pertempuran,  Im<BR>Giok teringat  bahwa  ia tidak  boleh  melawan  ayahnya sendiri,  maka  ia  lalu<BR>melempar pedangnya dan memasang dadanya untuk ditusuk mati oleh ayahnya sendiri.<BR>Pada saat, itu, ayahnya  berteriak keras dan muntahkan  darah segar lalu  roboh!<BR>Ternyata orang  tua  itu  mendapat  serangan jantung  yang  cukup  hebat.  Tidak<BR>tahunya, semenjak ditinggal mati oleh ibunya, untuk bertahun-tahun lamanya yaitu<BR>sedari ia berusia empat tahun sampai tuujuh belas tahun, ayahnya telah menyimpan<BR>rasa kesedihan hebat di dalam dadanya yang membuat ia menjadi setengah gila  dan<BR>menderita sakit jantung!<BR>Perbuatan ayahnya  yang membunuh  pemuda kekasih  Im Giok  itu  berdasarkan<BR>kekhawatiran kalau-kalau  anaknya, satu-satunya  di dunia  ini yang  dicintainya<BR>semenjak isterinya  meninggal, akan  kawin dan  meninggalkan dia  seorang  diri!<BR>Karena pikiran tidak waras inilah maka  ia membunuh pemuda itu. Tetapi  kemudian<BR>ketika melihat betapa anak yang dicintanya itu melawannya, jantungnya  terserang<BR>kekecewaan dan kesedihan  demikian hebatnya  hingga ia muntah  darah dan  roboh!<BR>Ternyata hal ini  mengantarkannya ke lubang  kubur dan membuat  Im Giok  menjadi<BR>yatim piatu!<BR>Demikianlah Hai-ji, kau mengerti sekarang mengapa aku tidak dapat  menerima<BR>cinta Kang Ek Sian! Rasa cinta  dalam hatiku telah terbawa mati oleh  sasterawan<BR>itu dan oleh kematian Ayah yang menjadi seperti itu keadaanya karena ia  terlalu<BR>mencinta  lbu  sampai  berlebih-lebihan.  Sastrawan  itu  mati  terbunuh  karena<BR>cintanya kepadaku. Ah, cinta hanya mendatangkan kepahitan belaka."<BR>Cin Hai menjadi  terharu sekali  dan rasa  sayangnya terhadap  Ang I  Niocu<BR>makin besar.  Ketika  mengingat  akan  keadaan  diri  sendiri  yarg  juga  sudah<BR>sebatangkara dan yatim piatu, tak terasa pula matanya yang lebar menjadi basah.<BR>"Niocu, nasibmu sungguh buruk. Sungguh  Thian tidak adil, orang sebaik  kau<BR>bisa bernasib seburuk itu..." katanya sambil memandang wajah Ang I Niocu  dengan<BR>mesra. Gadis Baju Merah itu memegang tangan Cin Hai dengan terharu.<BR>"Hai-ji, kau juga baik  sekali, dan nasibmu  juga buruk..." Untuk  beberapa<BR>lama keadaannya diam-diam saja tak dapat berkata, hanya duduk melamun.<BR>Tiba-tiba Cin Hai  menepuk kepala  dan berkata, "Aih,  aih... mengapa  kita<BR>menjadi begini?  Ujar-ujar  kuno menyatakan  bahwa  melamun dan  bersedih  hanya<BR>diperbuat oleh orang-orang yang bodoh dan lemah. Dan kita bukanlah orang  bodoh,<BR>apalagi lemah!"<BR>Kata-kata ini pun menyadarkan Ang I  Niocu. Wajah manis yang tadinya  muram<BR>itu tiba-tiba bersinar dan berseri kembali dan senyumnya segera tampak membayang<BR>menambah kecantikannya.<BR>"Kau lagi-lagi  benar, Hai-ji.  Ah,  sungguh baik  kalau hafal  akan  semua<BR>ujar-ujar kuno seperti kau."<BR>"Niocu, tadi kau belum bercerita tentang  diri Kang Ek Sian. Bagaimana  kau<BR>bisa mengenalnya?"<BR>Kang  Ek  Sian  adalah  anak  murid  dari  Bu-tong-pai  dan   kepandaiannya<BR>sebetulnya juga  tidak  lemah, karena  ia  adalah  murid Lo  Beng  Hosiang  dari<BR>Bu-tong-san. Ketika empat tahun yang lalu orang-orang gagah mengadakan pertemuan<BR>di Puncak Thai-san, Bu-tong-pai mengutus wakil  dan di sanalah kami bertemu  dan<BR>berkenalan. Ia memang  seorang baik  dan kalau  saja hatiku  belum terluka  oleh<BR>asmara, mungkin aku akan dapat membalas perasaan hatinya itu,"<BR>"Niocu, kiranya sudah cukup kita  bicara tentang hal-hal yang  mendatangkan<BR>kenangan tidak menggembirakan. Tempat itu sunyi dan indah, bagaimana kalau  kita<BR>berlatih?"<BR>"Baik, coba kita berlatih gerakan ke sembilan belas, karena gerakanmu masih<BR>kaku," jawab Ang I Niocu yang lalu menerima suling Cin Hai dan mulai meniupnya.<BR>Sudah beberapa lama  Cin Hai menerima  latihan Ngo-lian-hwa-kiam-hoat  atau<BR>Tari Pedang Lima  Kembang Teratai. Ilmu  pedang ini adalah  pecahan dari  Sianli<BR>Utauw dan  digubah oleh  Ang I  Niocu sendiri  untuk disesuaikan  dengan  pemain<BR>laki-laki. Gerakannya tetap  indah bagaikan  orang menari,  tetapi tidak  begitu<BR>membutuhkan kelemasan tubuh. Ternyata bahwa ilmu silat ini lebih mudah  dipahami<BR>oleh Cin Hai dan ia mainkan pedang dengan bagus sekali.<BR>Pada saat mereka berlatih dengan gembira, tiba-tiba datang rombongan  orang<BR>lewat di jalan  itu. Karena sedang  asyik berlatih,  baik Cin Hai  maupun Ang  I<BR>Niocu tidak memperhatikan dan tidak  mempedulikan mereka. Rombongan itu  terdiri<BR>dari sembilan orang  yang berpakaian seragam  dan melihat di  pinggir jalan  ada<BR>seorang wanita cantik sedang meniup suling dan seorang anak muda tanggung sedang<BR>menari pedang, mereka ini berhenti dan menonton.<BR>Tiba-tiba seorang daripada mereka tertawa bergelak, "Eh, eh, sungguh  lucu.<BR>Apakah mereka ini sedang membarang tarian? Tetapi mengapa di tempat sunyi  tanpa<BR>ada penontonnya?"<BR>Cin Hai menghentikan permainannya dan Ang I Niocu menunda sulingnya. Ketika<BR>Ang I Niocu menengok, ia agak heran karena dari pakaian rombongan itu ia  maklum<BR>bahwa ia  sedang  berhadapan dengan  seregu  pasukan Sayap  Garuda,  yakni  para<BR>pengawal istana kaisar yang terkenal lihai dan ganas!<BR>Ang I Niocu  yang sudah  berpengalaman dan telah  mendengar akan  kekejaman<BR>pasukan Sayap Garuda, tidak mau mencari perkara dan berkata kepada Cin Hai,<BR>"Hai-ji, mari kita pergi dari sini."<BR>Cin Hai memandang rombongan orang itu dengan heran dan penuh perhatian.  Ia<BR>tidak tahu  siapakah mereka  itu,  karena biarpun  pakaian mereka  seragam  biru<BR>tetapi keadaan mereka sungguh bermacam-macam. Ada yang masih muda, ada pula yang<BR>sudah kakek-kakek.  Ikat kepala  mereka berupa  topi Boancu  yang dihias  dengan<BR>sayap burung garuda di  atasnya. Sebetulnya Cin Hai  ingin mencari tahu  tentang<BR>keadaan mereka.<BR>Tetapi mendengar ajakan Ang I Niocu untuk pergi dari situ, ia tidak  berani<BR>membantah dan tanpa berkata sesuatu ia mengikuti Dara Baju Merah itu.<BR>Akan tetapi  sebelum  mereka pergi,  tiba-tiba  terdengar desir  angin  dan<BR>tahu-tahu seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi kurus dan berusia kurang<BR>lebih empat puluh tahun telah meloncat dengan gerakan cepat sekali dan tahu-tahu<BR>telah berada di depan Ang I Niocu sambil memalangkan kedua lengan yang dipentang<BR>lebar. Kumis  tipisnya bergerak-gerak  ketika ia  tersenyum-senyum dengan  sikap<BR>yang menjemukan sekali.<BR>"Ah,  Nona  manis,  mengapa  hendak  pergi?  Bukankah  kau  memang   hendak<BR>mempertontonkan tarian? Menarilah  untuk kami,  tetapi jangan  suruh bujang  ini<BR>menari, lebih baik kau sendiri. Kami ingin sekali melihat tarianmu!"<BR>Ang I  Niocu  memandang dengan  mata  setengah terkatup  dan  pelupuk  mata<BR>gemetar sedikit hingga bulu mata yang lentik itu bergerak-gerak. Hal ini dilihat<BR>jelas oleh Cin Hai yang memperhatikannya dan  anak ini maklum bahwa Ang I  Niocu<BR>sedang menahan marahnya. Dulu ketika bertemu  di rumah Kang Bok Sian, pernah  ia<BR>melihat getaran bulu  mata ini,  maka ia kini  dapat mengetahui  perasaan Ang  I<BR>Niocu. Orang ini mencari penyakit sendiri, pikirnya.<BR>Pada saat  itu, delapan  orang yang  juga telah  mengelilingi Ang  I  Niocu<BR>seorang diantara mereka yang masih muda berkata pula sambil memandang wajah dara<BR>itu dengan kagum.<BR>"Nona, kau harus menari untuk kami. Biarlah, berapa saja upahnya akan  kami<BR>bayar!"<BR>Dengan tenang  dan gerakan  perlahan, Ang  I Niocu  memandang dan  menatapi<BR>wajah seorang demi seorang. Agaknya  gadis ini hendak melihat apakah  barangkali<BR>di antara mereka  itu ada yang  pernah dilihat dan  dikenalnya. Tetapi  ternyata<BR>mereka ini adalah wajah-wajah baru yang  belum pernah dijumpainya, maka ia  lalu<BR>tersenyum. Kesembilan  orang  itu,  termasuk seorang  di  antaranya  yang  sudah<BR>kakek-kakek tertawa gembira  melihat senyum  yang sangat  manis dan  menggiurkan<BR>hati ini. Alangkah jelitanya dan manisnya, pikir mereka.<BR>"Cuwi sekalian ingin melihat aku  menari?" tiba-tiba terdengar suara Ang  I<BR>Niocu, suara yang sangat  merdu bagaikan berlagu,  tetapi yang bagi  pendengaran<BR>Cin Hai  mengandung sindiran  yang  dingin. Baginya,  suara gadis  itu  biasanya<BR>hangat dan menyedapkan telinga, tetapi kali  ini, biarpun masih tetap halus  dan<BR>merdu, terdengar dingin menyeramkan. Ia dapat menduga bahwa sebentar lagi  pasti<BR>terjadi hal-hal hebat.<BR>"Ya, ya,  kami  ingin  sekali menikmati  tarianmu!"  kesembilan  orang  itu<BR>berkata denga suara riuh.<BR>"Boleh, tapi kalian harus menurut syarat-syaratku."<BR>"Apa syaratnya?"<BR>"Buatlah lingkungan  yang cukup  luas  dan kalian  duduklah di  atas  tanah<BR>sambil berlutut untuk menghormati kami berdua, baru aku mau menari."<BR>Tentu saja ke  sembilan pengawal raja  ini merasa heran  dan marah.  Terang<BR>sekali bahwa  gadis ini  hendak  mempermainkan mereka  dan bahkan  telah  berani<BR>menghina mereka.<BR>"Eh penari rendah!  Jangan kau kurang  ajar! Tak tahukah  bahwa kau  sedang<BR>berhadapan dengan pahlawan-pahlawan istana? Hayo lekas berlutut minta ampun  dan<BR>segera menari untuk kami!" bentak laki-laki tinggi kurus tadi.<BR>"Dan kau lekas  berlutut, anjing  kecil!" bentak pengawal  muda kepada  Cin<BR>Hai.<BR>"Anjing besar, kau harus berlutut lebih dulu!" Cin Hai balas memaki.<BR>Bukan main hebatnya akibat dari makian ini. Kesembilan orang itu  memandang<BR>kepada Cin Hai dengan  alis berdiri. Mereka ini  lebih banyak merasa  tercengang<BR>daripada marah, karena mana  ada seorang pemuda  tanggung berani memaki  seorang<BR>anggauta Sayap Garuda? Mereka menganggap bahwa anak ini tentu berotak miring.<BR>Akan tetapi pengawal muda  itu tak dapat menahan  marahnya lagi. Biar  gila<BR>maupun waras, pemuda  kecil ini  terlalu menghinanya dan  harus dipukul  mampus.<BR>Maka ia segera melangkah maju dan  mengayun tangan kanan memukul kepala Cin  Hai<BR>sambil membentak,<BR>"Bangsat kecil, mampuslah kau!"<BR>Pukulan ini adalah  gerakan Siok-lui-kik-ting atau  Petir Menyambar  Kepala<BR>dan dilakukan  dengan tenaga  mengeluarkan angin.  Hebatnya tidak  terkira,  dan<BR>kepala seekor kerbau mungkin akan terpukul pecah oleh pukulan ini, apalagi hanya<BR>kepala seorang pemuda yang  masih anak-anak! Pengawal  muda itu bermaksud  untuk<BR>menghancurkan kepala Cin Hai dengan sekali pukul!<BR>Tetapi dengan gerakan indah  dan lucu bagaikan  seorang sedang menari,  Cin<BR>Hai melejit ke samping sambil tertawa mengejek dan berkata, "Hei, bangsat besar,<BR>percuma kau hidup karena hidungmu terlalu besar!"<BR>Melihat betapa pukulannya yang dahsyat  itu dapat dikelit semudah itu  oleh<BR>Cin Hai dan mendengar sindiran anak itu, pengawal muda itu marah sekali dan  tak<BR>terasa pula  ia  menggunakan tangan  kiri  untuk memegang  hidungnya!  Hidungnya<BR>memang besar  dan  mancung  dan  selalu  menjadi  kebanggaannya,  tidak  tahunya<BR>sekarang digunakan sebagai bahan menyindir oleh anak-anak ini.<BR>"Anjing kecil, kalau hari  ini aku tidak  bisa menghancurkan kepalamu  yang<BR>besar, jangan panggil  aku Harimau  Kepala Besi lagi!"  Dan Tiat-thou-houw  atau<BR>Harimau  Kepala  Besi  itu  segera   maju  menyerang  lagi  dengan  gerak   tipu<BR>To-cu-kim-ciang atau Robohkan Lonceng Emas. Serangan ini lebih hebat lagi karena<BR>kedua tangannya bergerak menyerang ke arah dada dan kepala Cin Hai.<BR>"Anjing besar! Aku takkan  menyebut kau Harimau  Kepala Besi tetapi  Anjing<BR>Hidung  Panjang!"  Cin  Hai  mengejek  lagi  sambil  mengeluarkan  kepandaiannya<BR>Ngo-lian-hwa-kunhwat yang baru saja dipelajari beberapa bulan dari Ang I  Niocu!<BR>Dengan mudah  ia dapat  berkelit dari  serangan lawannya  karena tubuhnya  telah<BR>memiliki kelemasan dan kelincahan yang luar biasa berkat latihan-latihan  Tarian<BR>Bidadari. Kemudian ia  balas menyerang,  tetapi karena Ilmu  Silat Lima  Kembang<BR>Teratai belum lama  dipelajarinya, maka  ia tidak  dapat mempergunakannya  untuk<BR>menyerang, dan untuk  melakukan serangan  balasan ini  ia terpaksa  mengeluarkan<BR>Ilmu Silat Liong-san-kun-hwat  yang dia  pelajari dari  catatannya ketika  masih<BR>mempelajari ilmu silat dari Kanglam Sam-lojin!<BR>Biarpun Cin Hai belum mempunyai pengalaman dari pertempuran, tetapi  karena<BR>selama ini ia mempelajari ilmu-ilmu  silat tingkat tinggi dari orang-orang  yang<BR>tergolong tokoh persilatan kelas berat, maka gerakannya juga istimewa dan  tidak<BR>terduga. Maka  Tiat-thou-houw menjadi  terkejut sekali  melihat perubahan  lemah<BR>lembut bagaikan sedang  menari ketika mengelit  serangan-serangannya tadi,  kini<BR>dalam melakukan  serangan,  anak  muda  itu  bergerak  cepat  dan  kuat!  Karena<BR>tercengang, serangan Cin Hai dalam jurus  pertama itu berhasil baik dan  kepalan<BR>tangannya menumbuk dada lawan!<BR>Tiat-thou-houw mengeluh  dan tubuhnya  terhuyung  ke belakang.  Ia  tadinya<BR>tidak menyangka bahwa anak muda yang masih kecil itu akan berbahaya  pukulannya.<BR>Tentu saja ia tidak tahu bahwa Cin Hai telah dilatih lweekang yang cukup lumayan<BR>oleh Ang I Niocu sehingga ketika kepalan tangannya mengenai sasaran, maka  berat<BR>pukulannya tidak kurang dari seratus kali!<BR>Delapan orang pengawal  lainnya melihat  betapa dengan mudah  saja Cin  Hai<BR>dapat menggulingkan lawannya menjadi marah sekali. Terlihat cahaya  berkeredepan<BR>ketika mereka mencabut senjata masing-masing dari sarungnya!<BR>"Bangsat kecil, memang kau sudah bosan hidup!" pimpinan rombongan membentak<BR>marah.<BR>"Hai-ji,  kau  minggirlah.  Biarlah   layani  kaleng-kaleng  kosong   ini!"<BR>tiba-tiba Ang I  Niocu loncat menghadang  di depan Cin  Hai, rnenanti  datangnya<BR>delapan orang anggota Sayap Garuda yang maju mengancam.<BR>Cin Hai segera meloncat ke pinggir dan berdiri sambil menyiapkan sulingnya,<BR>lalu berkata keras kepada para pengawal itu,<BR>"He, bangsat-bangsat  besar.  Kau tadi  ingin  melihat tarian  indah?  Nah,<BR>sekarang  kaulihatlah!"  Ia   lalu  meniup  sulingnya   dengan  perlahan,   maka<BR>bergeraklah Ang I Niocu menarikan Tari Bidadari dengan pedangnya!<BR>Untuk sejenak delapan orang pengawal istana itu memandang tercengang kepada<BR>gadis itu dengan  kagum, karena benar-benar  indah tarian Dara  Baju Merah  itu.<BR>Tetapi mereka lalu teringat akan kawan yang telah dirobohkan, maka Pimpinan yang<BR>tinggi kurus berseru,<BR>"Serbu!" Dan menyeranglah delapan orang  itu bagaikan air pasang,  menyerbu<BR>Ang I Niocu yang tengah menari. Cin Hai mempercepat tiupannya dan sebentar  saja<BR>kalang-kabutlah delapan orang anggauta Sayap Garuda itu. Mereka telah kehilangan<BR>lawan karena tubuh Ang I Niocu  tak tampak lagi, tertutup oleh sinar  pedangnya,<BR>hanya bajunya saja yang merupakan cahaya merah berkelebat ke sana kemari!<BR>Delapan orang itu bukanlah orang lemah, dan mereka rata-rata memiliki  ilmu<BR>kepandaian yang  tinggi. Kini  mereka  maklum bahwa  yang mereka  hadapi  adalah<BR>seorang pendekar pedang yang  tak boleh dipandang  ringan. Maka lenyaplah  nafsu<BR>mereka untuk mempermainkan gadis jelita ini, dan mereka lalu mengerahkan  tenaga<BR>dan kepandaian dalam perlawanan sungguh-sungguh dan mati-matian!<BR>Sambil meniup sulingnya, Cin Hai kagum  sekali melihat sepak terjang Ang  I<BR>Niocu. Kini  benar-benar  ia  dapat menikmati  dan  mengagumi  kehebatan  Sianli<BR>Kiam-hoat yang  benar jarang  terlihat  dan tak  mungkin dicari  keduanya!  Dulu<BR>ketika menghadapi Kanglam  Sam-lojin, Ang I  Niocu tidak memperlihatkan  seluruh<BR>kepandaiannya.  Tetapi  sekarang,  menghadapi   delapan  orang  jagoan   istana,<BR>anggauta-anggauta Sayap  Garuda yang  terkenal berkepandaian  tinggi, Nona  Baju<BR>Merah itu mengeluarkan  dan memperlihatkan kepandaiannya  yang benar-benar  luar<BR>biasa!<BR>Tidak hanya  Cin Hai  yang merasa  kagum, bahkan  kedelapan anggauta  Sayap<BR>Garuda itu sendiri terkejut  dan terheran karena  selamanya mereka belum  pernah<BR>menghadapi lawan yang sehebat  dan selihai ini!  Mereka merasa menyesal  mengapa<BR>tadi telah berlaku  jail dan  sembrono hingga  kini terpaksa  harus menelan  pel<BR>pahit! Akan tetapi, tidak ada jalan  mundur lagi bagi mereka selain  mengerahkan<BR>tenaga dan mengepung makin rapat.<BR>Setelah pertempuran berlangsung lima puluh jurus lebih, barulah Ang I Niocu<BR>menurunkan tangan besi  dan sinar  pedangnya berubah  ganas. Sebentar  terdengar<BR>teriakan-teriakan mengaduh dan  pedang-pedang beterbangan  karena terlepas  dari<BR>pegangan tangan!  Dalam beberapa  jurus  saja Ang  I Niocu  berhasil  merobohkan<BR>delapan orang lawannya, masing-masing mendapat hadiah guratan pedang pada lengan<BR>tangan, pundak, muka dan  paha, hingga biarpun mereka  mandi darah dan roboh  di<BR>tanah, tak  seorang  pun  di  antara mereka  yang  menderita'  luka  berat  yang<BR>membahayakan keselamatan jiwa mereka!<BR>"Puaskah kalian melihat  tarianku?" Ang I  Niocu berkata sambil  memasukkan<BR>pedang di sarungnya dan tersenyum manis.<BR>Pemimpin rombongan Sayap Garuda itu  dengan muka merah dan mata  terbelalak<BR>bertanya dengan suara parau, "Lihiap ini siapakah...<BR>Tetapi Ang I Niocu tidak menjawab, hanya tersenyum dan berpaling  memandang<BR>Cin Hai yang menyimpan sulingnya,<BR>"Kalian belum tahu  siapakah pendekar  wanita yang gagah  perkasa ini?  Ah,<BR>sungguh percuma hidup di dunia  mempunyai mata seakan-akan buta!" Dengan  senyum<BR>sindir Cin Hai lalu menyanyikan syair Ang I Niocu,<BR>"Berkawan sebatang pedang dan suling,  Menjelajah ribuan li tanah dan  air,<BR>Tanpa maksud, tiada tujuan, Hanya mengandalkan kaki dan hati!"<BR>Memang Cin Hai telah  mengubah sebuah lagu yang  bernada gagah untuk  syair<BR>ini dan menambah  kata-kata "suling" di  belakang "pedang". Sehabis  menyanyikan<BR>syair itu, Cin Hai memandang wajah  mereka. Tetapi ternyata bahwa para  anggauta<BR>Sayap Garuda itu masih saja belum mengerti siapa adanya nona gagah perkasa  yang<BR>demikian lihai ilmu  silatnya itu. Karena  mendongkol melihat kebodohan  mereka,<BR>Cin Hai membentak, "Orang-orang macam kalian ini mana pantas mengenal dia?"<BR>Sementara itu, Ang I Niocu bertaka, "Hai-ji mari kita pergi"<BR>Keduanya lalu meninggalkan tempat itu dengan tenang seakan-akan tak  pernah<BR>terjadi sesuatu.  Kawanan  Sayap  Garuda  itu  merangkak-rangkak  bangun  sambil<BR>menyumpah-nyumpah dan saling  tolong. Untung bagi  mereka bahwa kekalahan  hebat<BR>ini tidak terlihat oleh orang lain. Sungguh peristiwa yang memalukan sekali  dan<BR>seandainya kelihatan oleh orang lain, nama mereka akan jatuh rendah sekali!<BR>Tiba-tiba pemimpin mereka berseru sambil menepuk-nepuk jidatnya, "Ah, siapa<BR>lagi kalau bukan dia!"<BR>Kawan-kawannya memandang heran dan ia lalu melanjutkan kata-katanya. "Tentu<BR>nona tadi Ang I Niocu! Kepandaiannya  hebat, pakaiannya merah, siapa lagi  kalau<BR>bukan Ang I Niocu?"<BR>"Tetapi ia  masih begitu  muda dan  cantik, paling  banyak berusia  delapan<BR>belas tahun. Sedangkan  Ang I Niocu  telah membuat nama  besar empat lima  tahun<BR>yang lalu!"<BR>Kawan-kawannya menganggap ucapan ini benar  juga, maka mereka hanya  saling<BR>pandang dengan heran dan menduga-duga sambil menggunakan robekan baju atau  ikat<BR>kepala untuk membalut luka masing-masing.<BR>Sementara itu, Ang I Niocu mengajak Cin Hai menggunakan Hui-heng-sut  (Ilmu<BR>Berlari Cepat) untuk menuju ke Pek-tiauw-san (Gunung Rajawali Putih). Ketika Cin<BR>Hai menanyakan maksud tujuannya pergi ke gunung itu, Ang I Niocu menjawab sambil<BR>tersenyum,<BR>"Di puncak Pek-tiauw-san terdapat sarang burung rajawali. Burung itu  hanya<BR>bertelur sekali dalam setahun. Sekarang kebetulan musim burung itu bertelur  dan<BR>aku perlu sekali mendapatkan satu atau dua butir telur rajawali putih."<BR>"Mencari telur mengapa begitu jauh, Niocu? Untuk apakah?"<BR>Ang I Niocu tertawa kecil. "Kau benar-benar masih tolol. Tidak tahu khasiat<BR>telur rajawali putih?"<BR>Benar-benar Cin  Hai  tidak mengerti  dan  memandangnya dengan  mata  bodoh<BR>hingga sekali lagi Ang  I Niocu tertawa. "Di  antara akar terdapat akar  jin-som<BR>yang mengandung obat mujizat,  dan di antara segala  macam telur terdapat  telur<BR>rajawali putih yang khasiatnya tidak kalah dari jin-som!"<BR>Cin Hai pernah melihat dan tahu  akan khasiat jin-som, akar yang  berbentuk<BR>anak orok itu, maka  ia heran mendengar bahwa  khasiat telur rajawali itu  lebih<BR>manjur daripada jin-som.<BR>"Benarkah itu,  Niocu?  Apakah telur  itu  dapat menguatkan  tubuh  seperti<BR>jin-som?"<BR>"Tidak hanya menguatkan tubuh, tetapi juga memperpanjang umur dan  mencegah<BR>orang menjadi tua. Makan sebutir saja kau akan menjadi lebih muda dua tahun!"<BR>"Begitukah? Hebat sekali. Sebutir telur  kecil bisa memudakan orang  sampai<BR>dua tahun!"<BR>Ang I Niocu tertawa  merdu. "Kecil katamu? Anak  tolol, telur itu  besarnya<BR>melebihi kepalamu!"<BR>Cin Hai melebarkan matanya dan wajahnya tampak bertambah bodoh hingga Ang I<BR>Niocu makin geli melihatnya.<BR>Demikianlah sambil  berlari  cepat, mereka  bercakap-cakap  dengan  gembira<BR>hingga waktu lewat tak terasa oleh mereka berdua.<BR>Gunung Pek-tiauw-san menjulang  tinggi menembus  awan. Di  kaki dan  lereng<BR>gunung penuh  dengan rimba  raya yang  kaya akan  pohon-pohon besar  yang  sudah<BR>ratusan tahun umurnya. Pohon-pohon itu ada yang demikian besar ukurannya  hingga<BR>untuk mengelilingi sebatang  saja, orang harus  berjalan sedikitnya empat  puluh<BR>langkah! Pohon sebesar ini mungkin sudah ada seribu tahun umurnya. Tinggi besar,<BR>kokoh kuat,  seakan-akan raksasa  berdiri  sambil bertolak  pinggang  memandangi<BR>segala yang berada di bawahnya!<BR>Berbeda dengan keadaan  kaki dan  lereng gunung yang  penuh tetumbuhan,  di<BR>puncak tidak ditumbuhi pohon, sebaliknya kaya akan batu-batu karang yang  tinggi<BR>dan meruncing  ke atas.  Ada  batu karang  yang  tingginya sampai  puluhan  kaki<BR>seakan-akan menyaingi pohon-pohon raksasa yang  tumbuh di sebelah bawah.  Tempat<BR>inilah yang dipilih oleh burung rajawali  untuk bertelur. Di puncak batu  karang<BR>yang tinggi, burung  raksasa itu  membuat sarang dan  bertelur serta  memelihara<BR>anaknya. Di seluruh  daratan Tiongkok,  hanya di puncak  Pek-tiauw-san ini  saja<BR>terdapat burung-burung  rajawali yang  berbulu putih  dan indah.  Karena  jumlah<BR>burung itu hanya beberapa puluh ekor  saja, maka jarang orang dapat  melihatnya,<BR>apalagi tempat di  mana mereka bersarang  adalah puncak gunung  yang tinggi  dan<BR>sangat sukar sekali didaki orang.<BR>Jangankan orang biasa  yang tidak  memiliki kepandaian,  sedangkan Cin  Hai<BR>yang telah memiliki  kepandaian yang  lumayan juga,  masih menderita  kesukaran,<BR>ketika Ang I Niocu membawanya naik  ke atas. Pendakian Gunung Pek-tiauw-san  ini<BR>benar  merupakan  ujian   baginya,  bahkan  merupakan   latihan  ginkang   (ilmu<BR>meringankan tubuh) yang baik sekali.  Seandainya ia diharuskan mendaki  sendiri,<BR>belum tentu ia dapat  mencapai puncak, karena  setelah melewati rimba  terakhir,<BR>jalan menjadi demikian  sukar, penuh  dengan jurang-jurang  yang curam,  melalui<BR>batu-batu karang yang tinggi dan bermuka tajam hingga dapat menembus sepatu!<BR>Akan tetapi Ang I Niocu nampak tenang dan enak saja. Gerakannya tetap gesit<BR>dan ringan hingga sekali  lagi Cin Hai mendapat  bukti akan kelihaian Dara  Baju<BR>Merah ini. Pada  saat melalui  tempat-tempat yang  berbahaya dan  sukar Cin  Hai<BR>tidak ragu-ragu lagi untuk  memegang tangan Ang I  Niocu, bahkan di waktu  harus<BR>meloncati jurang yang  curam dan  lebar, gadis itu  tidak sungkan-sungkan  untuk<BR>memondongnya dan membawanya melompat ke seberang jurang!<BR>Betapapun juga, setelah setengah hari melakukan perjalanan yang sukar  baru<BR>mereka tiba di puncak, memandang batu-batu karang yang menjulang tinggi menembus<BR>awan yang merupakan gumpalan-gumpalan halimun tipis.<BR>"Aku tidak melihat sarang burung di  puncak batu karang itu!" kata Cin  Hai<BR>sambil terengah-engah kelelahan dan duduk di atas sebuah batu hitam yang halus.<BR>"Apa kaukira mudah saja mendapatkan  sarangnya? Di antara batu-batu  karang<BR>yang ratusan banyaknya ini, paling untung  kita dapat menemukan empat atau  lima<BR>buah sarang!"<BR>Cin Hai menghela napas. Telah  payah dan penat-penat seluruh tubuhnya,  dan<BR>agaknya ia takkan  kuat harus  berjalan lagi mengelilingi  batu-batu karang  itu<BR>untuk mencapai sarang rajawali. Melihat keadaan  Cin Hai, Ang I Niocu juga  ikut<BR>duduk mengaso. "Biarlah kita beristirahat dulu melepaskan penat," katanya sambil<BR>menghibur Cin  Hai  dengan  senyumnya  yang  membesarkan  hati.  Pada  saat  itu<BR>terdengar suara yang keras dan dahsyat menggetarkan anak telinga!<BR>"Seekor Pek-tiauw  (Rajawali  Putih)!" kata  Ang  I Niocu  perlahan  seakan<BR>menjawab pertanyaan  yang ditujukan  oleh  Cin Hai  dengan matanya.  "Ia  sedang<BR>marah, entah mengapa?"<BR>Gadis itu dengan hati-hati lalu bangkit berdiri dan perlahan-lahan maju  ke<BR>arah  suara  tadi.  Cin  Hai  terpaksa  mengikutinya  dari  belakang.   Walaupun<BR>sebenarnya ia  merasa  takut. Baru  suaranya  saja sudah  sehebat  itu,  apalagi<BR>burungnya. Tentu besar dan liar!<BR>Makin dekat, makin  keras pekik  burung raksasa itu  dan terdengar  gerakan<BR>sayapnya mengebut-ngebut membuat batu-batu karang yang kecil menggelinding pergi<BR>dan angin bertiup  dari arah itu!  Dengan gerakan hati-hati  sekali Ang I  Niocu<BR>terus maju dan mengintai dari balik batu karang. Cin Hai juga ikut mengintai dan<BR>terkejutlah  ia  melihat   betapa  seekor  burung   yang  luar  biasa   besarnya<BR>menyambar-nyambar dan menerjang seorang kakek di depannya!<BR>Cin Hai  memandang dengan  melongo, mata  terbelalak dan  mulut  ternganga,<BR>karena kejadian yang  dilihatnya ini  memang luar  biasa sekali!  Kakek tua  itu<BR>berjenggot panjang berwarna putih,  juga rambutnya yang  digelung ke atas  telah<BR>putih semua.  Pakaiannya  sederhana  sekali,  lebih  pantas  disebut  kain  yang<BR>dililitkan pada tubuhnya dan terbuat dari  kain kasar berwarna putih yang  biasa<BR>dipakai oleh  petani-petani miskin  atau orang-orang  jembel. Tetapi  kakek  itu<BR>mengenakan sebuah rompi daripada bulu merak yang masih baru!<BR>Pada saat itu, burung  rajawali putih yang tampak  marah sekali itu  sedang<BR>menyerang dengan kedua cakarnya yang  berkuku tajam bagaikan kaitan-kaitan  baja<BR>dan paruhnya yang  besar melengkung  bagaikan sebuah catut  besar. Serangan  ini<BR>dibantu pula  oleh kedua  sayapnya  yang berkembang  dan siap  menyambar  dengan<BR>tenaga sedikitnya seribu kati! Tetapi kakek itu tidak jerih, bahkan terdengar ia<BR>tertawa terkekeh-kekeh, lalu ia pun mengembangkan sepasang lengan tangannya yang<BR>dibentang  ke  kanan  kiri  dengan  jari-jari  terbuka  merupakan  cakar  hingga<BR>seakan-akan ia telah siap untuk  main cakar-cakaran dengan burung itu.  Tubuhnya<BR>merendah dengan kaki kiri diulur ke depan, seakan-akan ia hendak  memperlihatkan<BR>kepada burung itu bahwa kakinya tidak lebih buruk daripada kaki burung  rajawali<BR>putih!<BR>"Ha, ha, ha, majulah,  tolol, majulah!" kakek itu  mengejek burung itu  dan<BR>tiba-tiba teringatlah Cin Hai bahwa kakek itu bukan lain adalah Bu Pun Su, kakek<BR>jembel yang  telah  ia  angkat  sebagai guru  ketika  mereka  berjumpa  di  atas<BR>Kelenteng Ban Hok Tong pada beberapa tahun yang lalu!<BR>PADA saat  itu  burung  rajawali  itu menerkam  dan  memukul  dengan  sayap<BR>kanannya. Tetapi dengan  ringan sekali  kakek itu  meloncat menghindari  kebutan<BR>sayap hingga sayap burung yang besar  itu menghantam batu karang di belakang  Bu<BR>Pun Su! Terdengar suara keras dan batu karang itu terpukul hancur dan  batu-batu<BR>kecil terbang berhamburan! Demikian hebat  pukulan itu hingga dapat  dibayangkan<BR>betapa kepala orang akan hancur lebur terkena pukulan sayap satu kali saja.<BR>Tetapi Bu  Pun Su  benar-benar luar  biasa lihainya.  Ia menghadapi  burung<BR>raksasa itu dengan  tenang, bahkan  mempermainkannya. Padahal pada  saat itu  ia<BR>berdiri di tempat yang sempit sekali. Di depan kakinya terbuka jurang yang curam<BR>sekali, sedangkan di belakangnya  menjulang tinggi batu  karang besar. Kalau  ia<BR>sampai terdorong oleh serangan burung  rajawali, maka nasibnya hanya dua  macam,<BR>kalau tidak  terpukul  hancur  terbentur  pada batu  karang  yang  keras,  tentu<BR>terguling ke dalam  jurang dan menemui  maut di dasar  jurang yang ratusan  kaki<BR>dalamnya!<BR>Pada saat Cin  Hai sedang berdiri  kagum dan heran,  tiba-tiba Ang I  Niocu<BR>memegang lengannya dan menariknya cepat-cepat pergi dari tempat itu.<BR>"Lekas kita  turun gunung  dan lari  dari Susiok-couw!"  kata Ang  I  Niocu<BR>dengan wajah pucat!<BR>"Eh, Niocu, kau mengapa? Kenapa begitu takut melihat dia?"<BR>"Anak tolol! Bukankah dia itu Bu Pun Su, Gurumu? Kalau melihatmu, tentu kau<BR>akan dibawanya dan berpisah dariku, lupakah kau?"<BR>Terkejutlah Cin Hai teringat akan hal ini. Ia lalu ikut berlari turun  dari<BR>puncak itu, sedangkan  hatinya makin suka  kepada Ang I  Niocu, karena  ternyata<BR>bahwa Gadis Baju Merah ini pun takut kalau-kalau harus berpisah darinya!<BR>Mereka berdua sambil bergandeng  tangan berlari-lari dengan cepat  bagaikan<BR>dikejar setan. Tetapi karena  Cin Hai telah lemah  sekali serta sepatunya  sudah<BR>banyak berlubang hingga telapak kakinya  terasa sakit tertusuk batu-batu  tajam,<BR>perjalanan mereka tidak secepat yang mereka inginkan.<BR>Ketika mereka telah lari jauh dan keduanya telah menarik napas lega  karena<BR>menduga bahwa Bu Pun Su tentu takkan dapat bertemu dengan mereka karena tadi pun<BR>orang tua itu sedang sibuk menghadapi pek-tiauw yang berbahaya, tiba-tiba mereka<BR>mendengar pukulan sayap burung di atas.  Ketika mereka memandang ke atas,  wajah<BR>mereka tiba-tiba menjadi pucat  sekali. Terutama Ang I  Niocu, wajah gadis  yang<BR>biasanya kemerah-merahan  itu kini  menjadi  pucat ketakutan!  Seekor  Pek-tiauw<BR>terbang di atas mereka, yaitu burung rajawali yang tadi bertempur melawan Bu Pun<BR>Su. Dan di  atas punggung  burung itu,  tampak Bu  Pun Su  sendiri duduk  sambil<BR>menggunakan tangan kanan memegang leher burung dan tangan kiri memegang ekor dan<BR>leher, kakek itu berhasil  memaksa burung rajawali  putih untuk terbang  menurut<BR>arah yang  ditunjuknya. Kalau  ia memutar  leher ke  kiri, terpaksa  burung  itu<BR>terbang ke kiri, dan demikian sebaliknya. Kini Bu Pun Su membetot-betot  ekornya<BR>dan membekuk lehernya ke bawah hingga burung rajawali putih yang besar itu dapat<BR>menangkap maksudnya bahwa ia harus turun!<BR>Setelah meloncat  dari punggung  burung  dengan ringan  sekali, Bu  Pun  Su<BR>membentak burung itu yang segera terbang pergi sambil mengeluarkan suara keluhan<BR>panjang tanda takluk terhadap kakek yang lihai itu!<BR>Ang I Niocu  segera menjatuhkan  diri berlutut di  depan Bu  Pun Su  sambil<BR>menyebut, "Susiok-couw!"  Juga  Cin Hai  tak  dapat berbuat  lain  kecuali  ikut<BR>berlutut di belakang Ang I Niocu tanpa berani mengangkat mukanya!<BR>"Hm, hm! Kau mencari telur Pek-tiauw?" tanyanya kepada Ang I Niocu.<BR>"Benar, Susiok-couw, harap maafkan jika teecu mengganggu Susiok-couw!" kata<BR>Ang I Niocu dengan hormat.<BR>"Siapa yang mengganggu?  Kau atau aku?"  kata Kakek itu  sambil melirik  ke<BR>arah Cin Hai. Kemudian ia bertanya  lagi, "Kaubawa-bawa anak ini untuk apa?  Apa<BR>ia muridmu?"<BR>Ang  I  Niocu  tak  berani  membohong  terhadap  kakek  gurunya,  maka   ia<BR>menggelengkan kepala menyangkal.<BR>Tetapi Bu  Pun  Su  agaknya  tidak  percaya.  "Kalau  bukan  murid  mengapa<BR>dibawa-bawa? Hai, anak muda, apakah Ang I Niocu mengajar silat kepadamu?"<BR>Terpaksa Cin Hai mengangguk karena ia memang tidak bisa membohong.<BR>"Kiang Im Giok!  Kau berani  membohong terhadap Susiok-couwmu?"  Bu Pun  Su<BR>menegur tetapi tidak marah karena mulutnya tersenyum.<BR>"Teecu mana berani membohong Susiok-couw?  Anak ini memang bukan  muridku,"<BR>jawab Ang I Niocu.<BR>"Tetapi kau mengajarkan ilmu silat cabang kita! Ah, apakah kebiasaanmu maka<BR>kau berani  mengajar silat  kepada orang  lain? Kau  lancang sekali.  Ketahuilah<BR>bahwa murid-muridlah yang biasanya merusak  nama baik cabang persilatan!  Apakah<BR>kau tahu benar  bahwa orang yang  kauberi pelajaran silat  itu orang  baik-baik?<BR>Bagaimana kalau kelak ia mengotori dan mencemarkan nama baik kita?"<BR>"Maafkan teecu, Susiok-couw," kata Ang  I Niocu sambil menundukkan  kepala.<BR>"Sudahlah, yang  sudah lewat  sudah saja.  Kau masih  anak-anak berani  menerima<BR>murid, sedangkan aku tua bangka yang hampir mati ini pun belum pernah  mempunyai<BR>murid. Pernah aku menerima seorang murid tolol, tetapi Si Gundul tolol itu telah<BR>pergi minggat entah ke mana?"<BR>Tadinya Cin  Hai hendak  mengaku bahwa  anak gundul  tolol itu  adalah  dia<BR>sendiri. Tetapi melihat betapa  kakek itu memarahi Ang  I Niocu, ia menjadi  tak<BR>senang dan diam saja sambil menundukkan  kepalanya yang kini sudah tidak  gundul<BR>lagi. Ternyata kakek tua itu lupa dan pangling.<BR>"Sekarang kaupergilah, Im Giok, dan kauwakili aku pergi ke Kun-lun-san.  Di<BR>sana sedang  timbul  pertikaian  hebat  antara  para  pemimpin  Kun-lun-pai  dan<BR>Go-bi-pai karena  salah  paham yang  ditimbulkan  oleh anak  murid  mereka,  kau<BR>pergilah ke sana dan atas namaku kaucoba damaikan mereka itu demi persatuan para<BR>hohan yang kelak akan diperlukan tenaganya oleh bangsa!"<BR>Ang I Niocu memberi hormat  dan berjanji mentaati perintah  Susiok-caouwnya<BR>itu. Tetapi dengan bingung ia  melirik ke arah Cin Hai.  Bu Pun Su yang  bermata<BR>tajam dapat melihat lirikan ini, maka ia lalu membentak,<BR>"Pergilah dan jangan pedulikan anak ini. Dia sudah belajar kepandaian, biar<BR>dia menggunakan kepandaiannya itu untuk turun gunung seorang diri!"<BR>Terpaksa Ang I Niocu  bangkit berdiri dan sambil  memandang kepada Cin  Hai<BR>dengan wajah pucat ia  hanya berkata, "Sampai bertemu  kembali!" Lalu gadis  itu<BR>melompat jauh hingga sebentar saja ia  hanya merupakan setitik warna merah  yang<BR>kemudian menghilang. Bu Pun  Su tertawa bergelak dan  ketika Cin Hai  mengangkat<BR>muka memandang dengan marah, kakek itu telah lenyap dari situ!<BR>Cin Hai berdiri dan membanting-banting kaki dengan gemas dan sedih. Hatinya<BR>terasa hancur  dan  pikirannya  bingung.  Ang  I  Niocu  telah  meninggalkannya.<BR>Satu-satunya orang yang dikasihinya di dunia ini telah pergi dan meninggalkan ia<BR>hidup seorang  diri,  sebatangkara  di  atas gunung  ini,  tanpa  tujuan,  tanpa<BR>mengetahui apa yang harus ia perbuat! Cin Hai tak dapat menahan sedihnya dan  ia<BR>menjatuhkan diri di atas rumput sambil menangis tersedu-sedu! Ia menangis  bukan<BR>karena takut menghadapi nasibnya, tetapi  karena merasa sedih ditinggalkan  oleh<BR>Ang I Niocu, kawan dan guru yang  dianggapnya sebagai orang yang paling baik  di<BR>atas dunia ini!<BR>Setelah menangis  beberapa  lama  sampai  air  matanya  kering  dan  habis,<BR>akhirnya ia  dapat menetapkan  hatinya  dan dengan  tubuh  limbung dan  lesu  ia<BR>menuruni bukit itu. Senja telah datang ketika ia tiba di kaki bukit dan perutnya<BR>terasa lapar sekali. Biasanya, ketika ia masih merantau bersama-sama dengan  Ang<BR>I Niocu, yang memikirkan kebutuhan makan mereka berdua adalah gadis itu.  Pandai<BR>sekali gadis itu mencari makan untuk  mereka berdua, baik dengan jalan  membeli,<BR>mencari buah-buahan, maupun kadang-kadang memasak sendiri!<BR>Kini perutnya terasa  lapar, uang ia  tidak punya dan  ia berada di  tengah<BR>belukar. Apa daya? Kembali air matanya turun membasahi kedua pipinya.<BR>Tiba-tiba ia teringat akan  nyanyian dalam kitab  kuno, yaitu kata-kata  Ci<BR>Kui yang menasihati puteranya ketika sedang bersedih.<BR>"Air mata adalah mahal dan tak layak keluar dari mata seorang jantan Simpan<BR>air matamu  dan  gantilah  dengan  cucuran  peluhmu!  Demikianlah  sifat  jantan<BR>(Pahlawan) sejati!"<BR>Teringat akan nyanyian ini, Cin Hai merasa jengah dan malu terhadap dirinya<BR>sendiri. Ia lalu  menggunakan lengan  bajunya menghapus kering  segala sisa  air<BR>mata di pipinya, lalu ia mulai mencari buah-buahan di dalam hutan itu.  Akhirnya<BR>dapat juga ia menemukan  buah-buahan yang telah masak  dan lezat. Ia lalu  makan<BR>buah itu dan beristirahat  di atas dahan pohon  yang besar. Karena sudah  biasa,<BR>maka ia berani tidur di atas cabang tanpa kuatir jatuh selagi tidur.<BR>Hawa malam di hutan  itu dingin sekali sehingga  Cin Hai harus  mengerahkan<BR>hawa dalam tubuhnya dan dialirkan cepat  untuk menahan dingin. Baiknya ia  telah<BR>sering berlatih  khikang sehingga  ia tidak  sangat menderita  kedinginan.  Yang<BR>sangat ia derita ialah kenangan akan Ang  I Niocu. Biasanya kalau tidur di  atas<BR>pohon berdua, gadis itu tentu mengajak ia bercakap-cakap atau mempelajari tiupan<BR>suling hingga ia tak  pernah merasa sunyi. Bahkan  dulu ketika khikangnya  belum<BR>begitu maju dan ia sangat menderita kedinginan, Ang I Niocu menanggalkan  mantel<BR>dan diselimutkan  kepadanya, dan  ketika  itu masih  belum dapat  mengusir  hawa<BR>dingin yang  menyusup  ke  tulang-tulang,  Dara Baju  Merah  itu  lalu  memegang<BR>tangannya dan menyalurkan hawa  hangat yang luar  biasa melalui telapak  tangan,<BR>hingga hawa hangat itu menjalar ke dalam tubuhnya dan mengusir hawa dingin.  Ah,<BR>alangkah baik  dan  mulia hati  gadis  itu. Dalam  diri  Ang I  Niocu,  Cin  Hai<BR>seakan-akan menemukan seorang kawan dan guru,  bahkan seorang ibu dan ayah  yang<BR>sangat mengasihinya! Kini gadis itu pergi meninggalkan dia dan tidak tahu sampai<BR>kapan dapat bersua kembali!<BR>Semalam penuh Cin  Hai tak  dapat memejamkan matanya  dan pikirannya  penuh<BR>dengan Ang  I  Niocu.  Berkali-kali  terdengar  helaan  napasnya  dan  bisiknya,<BR>"Niocu... Niocu..." ia menyebut-nyebut nama gadis itu dengan perasaan rindu yang<BR>menekan dadanya.<BR>Pada keesokan  harinya,  mulailah  ia merantau  seorang  diri  dengan  hati<BR>tertekan dan  pikiran bingung.  Karena tidak  tahu bagaimana  harus  mendapatkan<BR>makan untuk  isi  perutnya sehari-hari  terpaksa  ia minta  makanan  dari  orang<BR>kampung yang  dilewatinya  dan menjadi  seorang  pengemis! Ia  terpaksa  menjadi<BR>seorang pengemis karena  ia ingat  akan ujar-ujar yang  menyatakan bahwa  seribu<BR>kali lebih baik  menjadi seorang  pengemis daripada seorang  pencuri, tidak  ada<BR>lain jalan lagi.<BR>Beberapa bulan telah berlalu  dan keadaan Cin  Hai makin buruk.  Pakaiannya<BR>kotor dan compang-camping. Dulu  ketika ia merantau dengan  Ang I Niocu,  paling<BR>lama tiga hari sekali  ia tentu disuruh mencuci  pakaiannya, bahkan setiap  kali<BR>bertemu dengan anak sungai, ia  diharuskan mandi dan membersihkan tubuhnya  oleh<BR>Ang I Niocu. Tetapi sekarang, ia menjadi malas untuk mencuci pakaian atau  mandi<BR>sehingga selain pakaiannya kotor, tubuhnya juga kotor, penuh debu! Bahkan  kudis<BR>yang gatal di  kepalanya mulai  timbul lagi  sehingga ia  lalu mencari  pinjaman<BR>pisau dan mencukur rambutnya  yang tadinya hitam, tebal  dan bagus itu!  Sungguh<BR>mengherankan betapa  dalam beberapa  bulan saja,  keadaan Cin  Hai yang  tadinya<BR>hidup penuh kegembiraan dan kebahagiaan, kini berubah menjadi penuh  penderitaan<BR>dan kesengsaraan. Ini semua karena Ang I Niocu, Dara Baju Merah yang cantik  dan<BR>berkepandaian tinggi itu!<BR>Kurang lebih setahun kemudian Cin Hai tiba di kota Kibun. Ia telah  berubah<BR>menjadi seorang pengemis muda. Tubuhnya kurus hingga tulang-tulangnya tampak  di<BR>balik kulitnya  yang  kotor.  Rambutnya  yang  tumbuh  lagi  tidak  teratur  dan<BR>awut-awutan tidak karuan.  Kakinya telanjang tidak  bersepatu dan wajahnya  yang<BR>kurus tampak muram tetapi sepasang matanya bersinar lebih tajam dari pada  dulu.<BR>Pengalaman-pengalaman hidup yang pahit membuat ia masak dan terbukalah kini mata<BR>hatinya akan kesengsaraan  hidup miskin.  Karena menderita, maka  kini ia  dapat<BR>merasakan pula penderitaan rakyat miskin  di sekelilingnya, dan timbul rasa  iba<BR>di dalam hatinya yang tadinya hanya mengenal kegembiraan belaka.<BR>Biarpun menjadi  pengemis,  tetapi Cin  Hai  hanya mengemis  makanan  kalau<BR>perutnya sudah  lapar benar  dan tubuhnya  sudah menjadi  lemas karenanya.  Oleh<BR>karena ini, maka belum tentu sekali  sehari dia makan. Kadang-kadang sampai  dua<BR>hari ia tidak  mengisi perut dengan  makanan dan hanya  minum air untuk  menahan<BR>lapar. Juga ia tidak sembarangan  mengemis asal minta-minta saja. Hatinya  tidak<BR>merasa sedap kalau untuk semangkuk yang diberikan orang kepadanya tidak ia  beli<BR>dengan bantuan tenaganya kepada pemberinya itu. Terlebih dulu ia akan  melakukan<BR>sesuatu untuk pemberinya,  misalnya memikul air,  menyapu lantai, membelah  kayu<BR>dan lain-lain  pekerjaan  kasar  lagi.  Memang Cin  Hai  seorang  pengemis  muda<BR>istimewa.<BR>Kota Ki-bun menarik hatinya dan menimbulkan rasa senang dan betah  padanya.<BR>Kota ini cukup  ramai dan hawanya  yang nyaman membuat  kota itu nampak  bersih.<BR>Orang-orangnya peramah dan perdagangan di situ kelihatan ramai dan hidup  karena<BR>tanah di sekeliling  daerah itu  memang cukup  subur. Rupanya  anak sungai  yang<BR>mengalir di tengah-tengah  kota mendatangkan keadaan  makmur ini, karena  selain<BR>air  sungai  dapat  menyuburkan  tanah  dan  sawah,  juga  sungai  itu  ternyata<BR>mengandung banyak ikan.<BR>Ketika ia berjalan-jalan seenaknya mengelilingi kota dan melihat-lihat, Cin<BR>Hai tertarik oleh sebuah bangunan yang dikelilingi tembok tebal. Di depan  pintu<BR>gedung kuno itu terdapat tulisan yang  menyatakan bahwa rumah itu adalah  sebuah<BR>bukoan (tempat belajar silat) dari seorang  guru silat she Louw. Papan nama  itu<BR>terbuat daripada sepotong papan  dan tulisannya bergaya  kuat dan indah.  Sayang<BR>sekali papan  nama  itu agaknya  tak  terawat  hingga tampak  kotor  dan  bahkan<BR>memasangnya juga miring.<BR>Cin Hai memang suka akan keindahan.  Ia kagum sekali melihat corak  tulisan<BR>pada papan nama itu dan menyayangkan mengapa tulisan seindah itu dituliskan pada<BR>papan yang  kotor dan  dipasangnya  miring pula.  Tanpa dapat  menahan  perasaan<BR>hatinya, ia lalu mengambil sebuah bangku yang terdapat di luar pintu dan  sambil<BR>berdiri di atas bangku itu ia menurunkan papan nama itu dari gantungannya.  Lalu<BR>ia membersihkan dan menggosok-gosok papan  itu dengan ujung lengan bajunya  yang<BR>sudah kotor. Ia menggosok-gosok sambil memandangi tulisan itu dengan hati senang<BR>sekali. Tiba-tiba  timbul  sebuah  pikiran  dalam  kepalanya.  Inilah  yang  dia<BR>cari-cari selama ini! Pekerjaan! Ia terlampau lama menganggur. Tiada suatu  yang<BR>dapat dikerjakan,  dan  karena tidak  mempunyai  kewajiban apa  pun  yang  harus<BR>dikerjakan, maka ia menjadi malas dan menderita. Dalam menggosok-gosok papan ini<BR>ia merasakan kesenangan. Ah, bekerja!<BR>Setelah papan itu  bersih hingga  tulisannya tampak nyata  dan makin  indah<BR>dipandang, ia  lalu menggantungkan  papan itu  baik-baik, tidak  miring  seperti<BR>tadi. Segera ia turun dari bangkunya  dan sambil berdiri menjauhi, ia  memandang<BR>papan nama itu dengan gembira. Ia  melihat hasil daripada pekerjaannya tadi  dan<BR>tampak jelas hasil itu. Ia membayangkan betapa papan itu sebelum digosoknya tadi<BR>tampak buruk dan kotor, kini bersih dan seakan-akan benda itu kini  berseri-seri<BR>gembira, tidak seperti tadi yang kotor dan muram!<BR>Cin Hai lalu mendorong perlahan dan ternyata daun pintu tidak terkunci  dan<BR>mudah saja terbuka. Ia masuk ke dalam. Ternyata bukoan itu terdiri dari dua buah<BR>rumah kecil dan sebuah lagi rumah  besar agak di belakang. Di depannya  terdapat<BR>pelataran yang luas tak ditumbuhi rumput. Di sudut kiri tampak sebuah rak tempat<BR>menyimpan senjata dan di sudut kanan  tampak batu-batu dan besi-besi yang  biasa<BR>digunakan orang untuk belajar  olah raga dan berlatih  kekuatan. Cin Hai  senang<BR>sekali melihat semua ini. Ia melihat betapa tempat yang menyenangkan hatinya itu<BR>kotor sekali, maka ia memandang ke sana-sini, mencari-cari. Tiba-tiba ia melihat<BR>benda yang dicari-cari itu bersandar ke  dinding. Cepat diambilnya sapu itu  dan<BR>ia mulai menyapu pelataran tempat berlatih silat.<BR>Karena asyiknya menyapu, Cin Hai tidak melihat kedatangan seorang laki-laki<BR>setengah tua  yang  masuk  dari  luar.  Orang  itu  bertubuh  tinggi  besar  dan<BR>berpakaian sebagai seorang kauwsu  (guru silat). Memang dia  adalah Louw Sun  Bi<BR>guru silat  yang  mengajar  di bukoan  itu.  Guru  silat ini  baru  pulang  dari<BR>bepergian  dan  ia  heran  melihat  seorang  pemuda  tanggung  yang   berpakaian<BR>compang-camping sedang menyapu pelataran bukoannya dengan asyik sekali. Tadi pun<BR>ia telah merasa heran melihat papan nama yang tergantung di atas pintu  demikian<BR>bersih seakan-akan baru saja  ada yang membersihkannya.  Kini ia mengerti  bahwa<BR>yang membersihkan papan nama tentu anak itu juga.<BR>"He, anak muda! Siapa yang menyuruhmu membersihkan tempat ini?" tegurnya.<BR>"Tidak... tidak ada yang menyuruh. Aku  melihat tempat ini begitu kotor  dan...<BR>dan sudah sepatutnya dibersihkan."<BR>Louw Sun  Bi adalah  guru silat  yang berwatak  jujur dan  baik.  Mendengar<BR>jawaban Cin  Hai, ia  dapat menduga  bahwa  anak muda  itu tentu  bukan  seorang<BR>pengemis sembarangan, maka  ia lalu  bertanya, "He,  anak muda.  Apakah kau  mau<BR>bekerja di sini?"<BR>Wajah Cin Hai yang  tadinya muram berubah dan  berseri. "Suka sekali,  suka<BR>sekali!" Memang  tadi ia  telah sadar  bahwa kebutuhan  yang dirindukan  olehnya<BR>ialah pekerjaan, maka sekarang begitu ada orang menawarkan pekerjaan, tentu saja<BR>ia merasa senang.<BR>"Kau tak berumah dan sebatang kara?"  kembali guru silat itu bertanya,  dan<BR>dugaannya yang tepat ini  bukanlah karena ia orang  waspada, tetapi karena  pada<BR>masa itu  banyak  sekali  terdapat  orang-orang  berkeliaran  seperti  Cin  Hai,<BR>orang-orang yang hidupnya merantau dan  mengemis tanpa mempunyai tempat  tinggal<BR>yang tetap dan kebanyakan  adalah orang-orang yang telah  yatim piatu dan  hidup<BR>sebatang kara.<BR>Cin Hai mengangguk-angguk membenarkan kata-kata kauwsu itu.<BR>"Kalau begitu, mulai sekarang kau bekerjalah di sini, lalu melayani  segala<BR>keperluan murid-murid bukoan."<BR>"Baik, baik Loya," jawab Cin Hai dengan gembira sekali.<BR>Pada saat itu dari luar  terdengar orang bercakap-cakap sambil tertawa  dan<BR>tak lama  kemudian dari  pintu gerbang  itu masuklah  seorang laki-laki  berusia<BR>kurang lebih  tiga puluh  tahun  yang berbadan  pendek gemuk  tetapi  gerakannya<BR>gesit, diikuti oleh belasan  anak-anak berusia rata-rata  lima belas atau  empat<BR>belas tahun.<BR>Mereka yang  baru datang  ini  semua memberi  hormat  kepada Louw  Sun  Bi.<BR>Anak-anak muda itu menyebut "suhu" dan Si Gemuk Pendek menyebut Louw-twako.<BR>Louw-kauwsu lalu memperkenalkan  orang-orang itu kepada  Cin Hai.  Ternyata<BR>bahwa orang yang gemuk pendek itu adalah wakil kauwsu yang pekerjaannya mewakili<BR>Louw-kauwsu mengajar  sekalian murid-murid  itu,  sedangkan anak-anak  muda  itu<BR>adalah murid-murid bukoan, putera-putera penduduk  kota itu yang belajar  silat.<BR>Sambil tersenyum  Louw-kauwsu  menuturkan kepada  mereka  betapa Cin  Hai  telah<BR>membersihkan pelataran itu dan betapa ia  telah menerima Cin Hai menjadi  bujang<BR>di situ.<BR>Pada seorang pengemis muda seperti Cin Hai, tentu saja mereka tidak menaruh<BR>perhatian dan  anak-anak  murid itu  memulai  latihan-latihan mereka.  Ada  yang<BR>angkat besi, atau batu untuk melatih otot-otot lengan. Mereka yang terkuat  lalu<BR>berdemonstrasi, seakan-akan  sengaja  hendak  memamerkan  tenaga  mereka  kepada<BR>bujang kecil itu!<BR>Wakil kauwsu itu adalah seorang yang biarpun bertubuh gemuk pendek,  tetapi<BR>berwajah  tampan  juga.  Namanya  Ting  Sun  dan  ia  adalah  anak  murid   dari<BR>Bu-tong-pai, secabang dengan Louw Sun  Bi, hanya lebih rendah tingkatnya.  Watak<BR>Ting Sun tekebur sekali dan ia sombong akan kepandaian silatnya. Karena Cin  Hai<BR>diterima oleh Lauw Sun Bi, maka tidak berani berkata apa-apa, hanya bertanya,<BR>"Eh, siapa namamu?"<BR>"Nama saya Cin Hai," jawab Cin Hai.<BR>"Ini adalah Ji-kauwsu (Guru Silat  Ke Dua) kau boleh menyebutnya  Ji-suhu,"<BR>kata Louw Sun Bi tertawa. Kemudian  guru silat itu meninggalkan mereka pergi  ke<BR>dalam.<BR>"Eh, jembel! Aku tidak  mempunyai murid seperti  macammu, jangan sebut  aku<BR>Suhu!"<BR>"Harus menyebut bagaimana?" tanya Cin Hai, terkejut melihat perubahan sikap<BR>orang.<BR>"Harus sebut aku Siauwya (Tuan Muda), mengerti!"<BR>Dalam hatinya  Cin Hai  tertawa geli  melihat kecongkakan  akan guru  silat<BR>gemuk pendek itu, tetapi mulutnya menjawab, "Baik, Siauwya."<BR>Kemudian Cin  Hai melanjutkan  pekerjaannya menyapu  lantai sampai  bersih.<BR>Sementara itu, Ting Sun melatih murid-muridnya.<BR>Ketika Cin Hai membersihkan pekarangan di dekat gedung belakang,  tiba-tiba<BR>Louw Sun Bi keluar  dan memanggilnya. Cin Hai  segera menghadap. Guru silat  itu<BR>diiringi oleh seorang  gadis berusia  kira-kira delapan belas  tahun. Gadis  itu<BR>bertubuh tinggi  besar seperti  ayahnya, karena  ia adalah  Louw Bin  Nio,  anak<BR>tunggal Louw Sun Bi. Wajah Bin Nio tidak cantik, tetapi cukup manis dan sikapnya<BR>gagah, hingga  dapat  diduga bahwa  gadis  ini  pun pandai  ilmu  silat  seperti<BR>ayahnya.<BR>"Kau  tentu  belum  makan,"  kata  guru  silat  itu  dengan  suara   ramah,<BR>"kaumakanlah dulu dan gantilah pakaianmu itu setelah kaubersihkan tubuhmu."<BR>Cin Hai  merasa  berterima  kasih  sekali  dan  ia  memberi  hormat  sambil<BR>berlutut.  Ia  merasa  terharu   karena  baru  sekarang   ada  orang  yang   mau<BR>memperhatikan keadaan dirinya. Bin Nio  lalu mengantarnya ke ruang belakang  dan<BR>memerintahkan pelayan-pelayan lain untuk memberi makan kepada Cin Hai, sedangkan<BR>seorang pelayan lain mengambil satu stel pakaian tua dari Louw-kauwsu.<BR>Semenjak hari itu,  berubah pulalah keadaan  hidup Cin Hai.  Ia tidak  usah<BR>menderita lapar dan dingin lagi, dan  setiap hari ia bekerja dengan gembira  dan<BR>bersemangat. Akan tetapi, di samping pekerjaan yang memuaskan hatinya dan  sikap<BR>Louw Sun Bi  yang sangat baik  terhadapnya, ia mengalami  penderitaan lain  yang<BR>timbul dari sikap Ting Sun dan sikap Louw Bin Nio kepadanya. Entah mengapa, Ting<BR>Sun Si  Guru  Silat  gemuk  pendek  itu  tidak  suka  kepadanya  dan  seringkali<BR>menghinanya. Pernah ia berdiri melihat latihan silat pada suatu senja, tiba-tiba<BR>Ting Sun memanggilnya.<BR>"Lihatlah kalian baik-baik. Untuk menjalankan tiamhoat (ilmu menotok  jalan<BR>darah), dua jari telunjuk dan tengah  harus diluruskan seperti ini." Ia  memberi<BR>contoh dengan dua  jari tangan. "Dan  biarlah Si Jembel  ini kita totok,  kalian<BR>lihat bagian leher ini!"<BR>Ia lalu meraba-raba leher Cin Hai yang tidak berani membantah dan diam saja<BR>berdiri bagaikan patung. "Nah, untuk menotok  jalan darah harus tepat di  bagian<BR>ini!"<BR>Sambil berkata demikian, jari tangannya benar-benar menotok leher Cin  Hai.<BR>Anak itu  terkejut  sekali  dan hendak  mengerahkan  lweekangnya  untuk  melawan<BR>totokan, tetapi  cepat berpikir  bahwa kalau  ia melakukan  hal ini  tentu  akan<BR>terbukalah rahasianya.  Maka  ia  lalu  mengendorkan  semua  uratnya  dan  tidak<BR>melawan. Ketika totokan tiba di lehernya, ia merasa leher itu sakit dan tubuhnya<BR>menjadi lemas hingga ia roboh tanpa daya!<BR>"Lihat, beginilah  lihainya totokan  Bu-tong-pai!" guru  silat itu  tertawa<BR>puas dan bangga, sedangkan belasan anak  murid itu lalu memeriksa tubuh Cin  Hai<BR>yang sudah lemas. Ia dapat melihat dan mendengar, tetapi tak mampu  menggerakkan<BR>tubuh karena segala urat di tubuhnya seakan-akan berhenti bekerja! Juga lehernya<BR>terasa sakit sekali hingga ia tidak berani menggerakkan leher itu.<BR>Sementara  itu,  tanpa  mempedulikan  Cin   Hai,  Ting  Sun  lalu   memberi<BR>petunjuk-petunjuk terlebih  jauh kepada  murid-muridnya. Cin  Hai dalam  keadaan<BR>menyedihkan itu harus  menderita sampai  dua jam  lebih, barulah  perlahan-lahan<BR>jalan darahnya terbuka dan darahnya mengalir kembali hingga ia dapat cepat-cepat<BR>menggunakan tenaga dalamnya memulihkan  kesehatannya. Akan tetapi, ia  pura-pura<BR>masih lemah dan sakit hingga berdiri sambil terhuyung-huyung.<BR>"Nah, nah, kalian lihat. Setelah beberapa lama, totokan di leher itu  buyar<BR>sendiri dan dia dapat bergerak kembali. Yang tadi itu adalah pelajaran  pertama.<BR>Masih  banyak  lagi   jalan-jalan  darah  yang   dapat  ditotok,  di   antaranya<BR>tai-hwi-hiat yang letaknya di punggung. Kalau aku totok tai-hwi-hiat jembel ini,<BR>maka ia roboh dengan lemas dan  selamanya takkan dapat berdiri kembali,  kecuali<BR>kalau totokan itu  kubebaskan dengan  tepukan-tepukan tertentu.  Tetapi hal  ini<BR>akan kalian pelajari kelak kalau sudah sempurna gerakan tangan kalian."<BR>Semua murid memandang  kagum dan  dengan langkah  terhuyung-huyung Cin  Hai<BR>meninggalkan tempat itu, di dalam hatinya ia mengutuk guru silat itu. Kalau saja<BR>Louw-loya tidak demikian baik hati kepadaku, hm... akan kuhajar kau! Demikian ia<BR>berpikir dengan hati mendongkol sekali.<BR>Selain gangguan-gangguan dari  Ting Sun  yang sangat  menghinanya, Cin  Hai<BR>juga harus menderita penghinaan dari Louw Bin Nio. Gadis ini ternyata centil dan<BR>genit dan dalam  hal menyombongkan  kepandaian silatnya, tidak  kalah dari  Ting<BR>Sun. Alangkah jauh bedanya perangai gadis ini dengan ayahnya.<BR>Pernah pada suatu malam terang bulan Cin Hai duduk di bawah pohon di  dekat<BR>tembok itu sambil  melamun. Ia teringat  akan Ang  I Niocu dan  ia merasa  rindu<BR>sekali kepada Dara Baju Merah itu. Di  manakah gerangan nona itu pada saat  ini?<BR>Cin Hai termenung sambil memandang  bulan yang agaknya sedang berjalan-jalan  di<BR>angkasa mencari-cari sesuatu yang telah pergi meninggalkannya!<BR>Tiba-tiba ia mendengar suara Bin Nio memanggilnya, dan ia cepat menghampiri<BR>gadis itu yang telah berdiri di tengah tempat berlatih silat.<BR>"Cin Hai, kau pergi ke dalam ambilkan pedangku!" Gadis itu memerintah.<BR>Cin Hai cepat lari ke belakang dan kepada pelayan gadis itu ia menyampaikan<BR>pesan Bin Nio. Setelah menerima pedang dari  Cin Hai, gadis itu lalu main  silat<BR>dengan pedangnya. Cin Hai berdiri di pinggir sambil menonton gadis itu  bersilat<BR>pedang. Alangkah  jauh bedanya  dengan  permainan pedang  Ang  I Niocu!  Ia  tak<BR>menganggap permainan  Bin Nio  ini  bagus, tetapi  tentu  saja ia  tidak  berani<BR>menyatakan itu,  bahkan setelah  gadis  itu selesai  bermain pedang,  ia  memuji<BR>dengan suara kagum.<BR>Bin Nio duduk di atas sebuah bangku.<BR>"Ah, kau mana mengerti ilmu pedang  bagus atau tidak? Tahumu hanya  menyapu<BR>lantai sampai bersih, menyiram kembang dan mengampak kayu, Ah, sayang pada malam<BR>yang begini indah hanya ada kau, anak tolol. Hayo kaubersihkan sepatu ini!"<BR>Cin Hai tak berani membantah  dan menggunakan ujung bajunya untuk  menyusut<BR>sepatu gadis itu yang kotor terkena debu ketika bersilat tadi.<BR>"Ilmu pedang  Siocia memang  bagus sekali,"  ia berkata  lagi memuji  untuk<BR>menyenangkan hati puteri majikannya ini.<BR>"Tentu saja bagi kau yang tolol  tak mengerti apa-apa memang bagus  sekali,<BR>tetapi cobalah kau lihat Ting-kauwsu  bermain pedang!" gadis itu menghela  napas<BR>dengan rasa kagum. "Tahukah kau? Ilmu pedang yang kumiliki adalah buah pelajaran<BR>darinya!"<BR>Cin Hai merasa heran. "Bukankah Loya sendiri yang memberi pelajaran padamu,<BR>Siocia?" tanyanya.<BR>"Ah, Ayah tak  begitu suka  melihat aku  pandai bermain  pedang. Ia  bahkan<BR>ingin sekali  melihat aku  mengganti pedangku  dengan jarum  sulam! Baiknya  ada<BR>Ting-kawsu yang mengajarku di waktu malam. Sayang, sekarang tidak  diperbolehkan<BR>lagi oleh Ayah!" Gadis itu nampak kecewa  sekali dan Cin Hai yang sudah  selesai<BR>membersihkan sepatunya lalu mundur.<BR>Tetapi tiba-tiba Bin Nio memanggil dengan suara perlahan.<BR>"Eh, Cin Hai, maukah kau membantu aku?"<BR>Cin Hai menjawab perlahan, "Tentu saja, Siocia. Membantu apakah?"<BR>"Kau berikan suratku kepada Ting-kauwsu tetapi jangan sampai terlihat  oleh<BR>orang lain, terutama jangan sekali-kali terlihat oleh Ayah. Bagaimana?"<BR>"Tentu saja aku mau memberikan surat itu, Nona. Tetapi mengapa tidak  boleh<BR>terlihat oleh orang lain?"<BR>"Anak goblok! Tak perlu kau tahu sebab-sebabnya. Kau turuti saja perintahku<BR>dan habis perkara.  Nah, ini  suratnya. Besok pagi-pagi  kau berikan  kepadanya.<BR>Tetapi awas, kalau  sampai ketahuan  oleh Ayah, kepalamu  akan kupenggal  dengan<BR>pedang ini!" Bin Nio lalu menempelkan mata pedangnya pada leher Cin Hai. Cin Hai<BR>pura-pura ketakutan dan berkata,<BR>"Baik, baik... Nona, tentu akan kukerjakan baik-baik!"<BR>Setelah menerima surat  bersampul itu  berikut pesan  berkali-kali agar  ia<BR>berlaku hati-hati untuk menyampaikan "surat rahasia" itu, Cin Hai lalu pergi  ke<BR>kamarnya di tempat  pelayan. Malam itu  ia tak dapat  tidur, seluruh  pikirannya<BR>terganggu oleh tugas yang diserahkan oleh Bin Nio kepadanya.<BR>Pada waktu itu, ia  telah dua tahun bekerja  sebagai bujang di Bukoan  Louw<BR>Sun Bi, dan usianya telah hampir empat belas tahun. Karena telah mendekati  masa<BR>dewasa, ia dapat menduga  bahwa di antara  Louw Bin Nio dan  Ting Sun pasti  ada<BR>hubungan yang tidak sebenarnya. Hal ini harus diberantas, pikirnya. Louw Sun  Bi<BR>telah melepas budi  kepadanya, dan  guru silat  tua itu  hendak dicemarkan  oleh<BR>anaknya sendiri  dan  oleh pembantunya.  Ia  harus menghalangi  hal  ini.  Sudah<BR>menjadi kewajibannya untuk membela nama baik Louw-kauwsu! Dengan pikiran ini Cin<BR>Hai lalu membuka surat gadis itu dengan hati-hati sekali dan membacanya. Ia tahu<BR>bahwa perbuatannya ini tidak layak  dan tidak seharusnya dilakukan oleh  seorang<BR>laki-laki, tetapi demi untuk membela dan membalas kebaikan Louw Sun Bi, ia  rela<BR>melakukan hal yang tidak patut ini!  Dengan cepat dibacanya surat Bin Nio  untuk<BR>Ting Sun itu dan benar sebagaimana dugaannya, gadis itu berjanji hendak menunggu<BR>kedatangan guru silat pendek gemuk itu besok malam di pekarangan tempat berlatih<BR>silat! Waktu yang dijanjikan adalah tengan malam!<BR>Cin Hai merasa gemas sekali. Sungguh manusia-manusia tidak tahu malu.  Ting<BR>Sun adalah  pembantu  Louw  Sun  Bi  dan  masih  murid  seperguruan  dan  bahkan<BR>mengangkat saudara hingga Ting Sun menyebut twako kepada Louw-kauwsu, sebaliknya<BR>guru silat she  Louw itu  menyebut Ting Sun  dengan sebutan  adik, hingga  boleh<BR>dibilang bahwa Bin Nio  adalah keponakan Ting Sun  sendiri! Tetapi ternyata  dua<BR>orang itu telah  saling mencinta  bagaikan dua  orang kekasih.  Cin Hai  memutar<BR>otaknya, mencari jalan untuk menggagalkan pertemuan ini.<BR>Semalam penuh Cin Hai tidak dapat  tidur dan pada keesokan harinya,  dengan<BR>diam-diam setelah Ting Sun yang tinggal  di luar bukoan itu datang, ia  berhasil<BR>memberikan surat Bin  Nio kepada  guru-silat itu.  Ting Sun  menerima surat  dan<BR>membacanya dengan wajah  gembira. Berbeda  daripada biasanya,  ia berlaku  manis<BR>terhadap Cin Hai dan bahkan memberi persen uang sepuluh chie. Ia menganggap anak<BR>itu kini dapat merupakan jembatan bagi perhubungannya dengan Bin Nio.<BR>Sesudah memberikan surat itu kepada Ting  Sun, Cin Hai lalu menjumpai  Louw<BR>Sun Bi di kamarnya. Guru silat yang  berhati sabar itu heran melihat betapa  Cin<BR>Hai datang-datang berlutut di depannya dan menangis!<BR>Ia cepat memegang  pundak anak  itu dan  menyuruhnya duduk  di atas  sebuah<BR>bangku.<BR>"Cin Hai kau kenapakah?  Siapa yang telah  mengganggumu? Kau pucat  sekali,<BR>apakah kau sakit?"<BR>"Loya, saya  hendak menyampaikan  sesuatu yang  mungkin akan  membuat  Loya<BR>marah dan sedih sekali!"<BR>Louw Sun Bi  memandang heran.  Ia suka sekali  kepada Cin  Hai yang  jujur,<BR>rajin dan tidak banyak cerewet ini.<BR>"Katakanlah, jangan takut-takut!"<BR>"Sebelumnya saya  harap  Loya suka  siap  sedia menerima  pukulan  ini  dan<BR>terlebih dulu saya  mohon maaf  sebanyak-banyaknya karena setelah  hal ini  saya<BR>ceritakan kepada Loya, saya hendak mohon diri dan hendak melanjutkan  perantauan<BR>saya."<BR>Kini terkejutlah  Louw-kauwsu.  "Apa?  Peristiwa hebat  apakah  yang  telah<BR>terjadi hingga kau hendak keluar dari sini? Ceritakanlah!"<BR>Dengan perlahan Cin Hai lalu menceritakan  tentang surat Bin Nio dan  bahwa<BR>malam  nanti  kedua  orang  itu  akan  mengadakan  pertemuan.  Cin  Hai  menutup<BR>pembicaraannya  dengan  berkata  sedih,  "Saya  sangat  bersedih  dengan  adanya<BR>peristiwa ini, Loya. Loya  adalah seorang yang berbudi  mulia dan telah  berlaku<BR>begitu baik kepada saya. Sekarang melihat Loya baik hati tertimpa kejadian macam<BR>ini, ah..." Cin  Hai menundukkan kepala  karena ia tidak  berani memandang  muka<BR>Louw Sun Bi yang makin pucat itu.<BR>Guru silat  itu  mendengar  penuturan  Cin Hai  dengan  dada  panas  hampir<BR>meledak. Penasaran, marah, malu, kecewa membuat ia bisu tak dapat  berkata-kata.<BR>Ia telah tahu  akan perhubungan  puterinya dengan Ting  Sun dan  dulu ia  bahkan<BR>telah melarang anaknya itu belajar ilmu  pedang dari Ting Sun karena  dilihatnya<BR>gejala-gejala yang  kurang sehat  timbul di  antara mereka  berdua. Tetapi  sama<BR>sekali tak diduganya bahwa anaknya berani menulis surat kepada Ting Sun.<BR>Melihat betapa Louw-kauwsu  duduk diam tak  bergerak bagaikan patung  batu,<BR>Cin Hai terharu sekali, lalu ia berkata,<BR>"Loya, harap Loya  sebagai orang  tua dapat menenangkan  hati dan  pikiran.<BR>Socia tergoda oleh  nafsu dan hal  ini tidak aneh,  karena manusia manakah  yang<BR>tidak khilaf? Saya  teringat akan  bunyi ujar-ujar yang  menyatakan bahwa  lebih<BR>baik Loya  menjaga  datangnya  penyakit daripada  mengobatinya  setelah  datang!<BR>Karena itu, maka daripada ribut-ribut dan marah hingga semua orang mendengar hal<BR>yang belum terjadi ini, lebih baik  Loya menjaganya agar jangan sampai  terjadi.<BR>Pertemuan itu belum belum berlangsung, maka tak perlu dibuat sedih dan menyesal!<BR>"<BR>Terhiburlah hati Louw  Sun Bi  mendengar ini.  Ia memandang  wajah Cin  Hai<BR>dengan heran, karena hampir tak percaya  bahwa kata-kata tadi keluar dari  mulut<BR>anak itu!<BR>"Cin Hai, kau  seorang anak yang  luar biasa dan  baik. Peristiwa ini  sama<BR>sekali tidak menyangkut  dirimu, mengapa  kau tadi mengatakan  bahwa kau  hendak<BR>keluar dari sini?"<BR>"Loya, Siocia telah mempercayakan kepada saya untuk menyerahkan surat  itu.<BR>Tetapi dengan  lancang  dan tidak  tahu  malu  saya telah  membuka  dan  membaca<BR>suratnya itu. Hal ini  membuat saya malu untuk  bertemu muka dengan Siocia  lagi<BR>maka lebih baik saya pergi melanjutkan perantauan."<BR>Louw Sun Bi menghela napas dan sekali  lagi ia terheran akan sikap Cin  Hai<BR>yang polos dan bersifat gagah ini.<BR>"Kau mundurlah,  dan tentang  keluar itu  lebih baik  kita bicarakan  besok<BR>setelah peristiwa ini kubereskan."<BR>"Loya, kalau boleh, saya hendak pergi hari ini juga."<BR>Louw Sun Bi memandangnya tajam. "Apa? Kau takut kepada Ting Sun? Jangan kau<BR>takut akan pembalasannya, ada aku di sini!"<BR>Mendengar ini,  terbangun semangat  Cin Hai.  "Loya, biarpun  saya  seorang<BR>bodoh dan lemah,  tetapi saya  tidak takut menghadapi  kebenaran! Baiklah,  saya<BR>akan menunggu sampai besok dan jika  besok terjadi sesuatu antara Ji-kauwsu  dan<BR>saya, saya  harap Loya  jangan  ikut-ikut!" Setelah  berkata demikian,  ia  lalu<BR>bertindak keluar.<BR>Malam hari itu bulan bersinar  penuh. Pada menjelang tengah malam,  sesosok<BR>bayangan hitam dengan  gesit sekali  melompat ke atas  tembok yang  mengelilingi<BR>bukoan. Bayangan itu bukan  lain Ting Sun yang  hendak menjumpai kekasihnya.  Ia<BR>langsung  meloncat  ke  pelataran  tempat  berlatih  silat  dan  begitu  kakinya<BR>menginjak tanah, ia berdiri diam bagaikan patung!<BR>Di sana di  bawah pohon  dekat tembok, duduk  di atas  bangku dengan  kedua<BR>lengan di atas dada, Louw Sun Bi sedang memandangnya dengan kedua mata  bersinar<BR>tajam!<BR>"Ting Sun, tengah malam buta kau datang ada keperluan apakah? Lagipula, kau<BR>datang bukan sebagai tamu tetapi sebagai seorang pencuri!"<BR>Ting Sun  terkejut  sekali  dan  merasa  seakan-akan  ada  petir  menyambar<BR>kepadanya. Tubuhnya gemetar dan ia tak kuasa mengucapkan sepatah kata pun!<BR>"Orang she Ting, aku  telah mengetahui maksudmu  yang buruk. Semenjak  saat<BR>ini kita tidak  ada hubungan  apa-apa lagi.  Besok kau  boleh mengatakan  kepada<BR>semua murid  bahwa  kau  hendak  pergi  jauh  dan  tak  kembali  lagi,  sehingga<BR>kepergianmu dari kota ini takkan menimbulkan kecurigaan. Selanjutnya, jangan kau<BR>berani-berani memperlihatkan mukamu di sini!"<BR>Setelah berkata demikian, Louw Sun Bi lalu meninggalkan Ting Sun yang masih<BR>berdiri bagaikan patung. Otak guru silat ini berputar. Celaka sekali! Orang  tua<BR>itu telah mengetahui sebelumnya bahwa malam ini ia datang ke situ hingga sengaja<BR>menanti di  bawah pohon!  Dan ini  tentu gara-gara  bujang tolol  itu! Ting  Sun<BR>mengertak giginya dengan gemas  sekali. Ia akan  pergi meninggalkan tempat  ini,<BR>tetapi  setelah  lebih  dulu  menghancurkan  kepala  Cin  Hai  yang  membocorkan<BR>rahasianya!<BR>Pada keesokan  harinya, setelah  semua  anak murid  berkumpul Louw  Sun  Bi<BR>sengaja mengajak Bin Nio untuk hadir di situ dan mendengarkan serta  menyaksikan<BR>Ting Sun berpamit. Sengaja Louw Sun Bi mengajak Bin Nio untuk memberi  pelajaran<BR>kepada  anak  gadisnya  bahwa  sebagai  seorang  gadis  ia  harus  tahu  menjaga<BR>kehormatan nama keluarganya, dan tidak mudah menyerah kepada godaan dari luar.<BR>Melihat betapa  Louw-kauwsu pagi-pagi  benar telah  berada di  situ,  semua<BR>murid yang berjumah  delapan belas  orang itu saling  berbisik dan  menduga-duga<BR>bahwa tentu akan terjadi hal yang penting. Bagaikan tak terjadi sesuatu dan  tak<BR>pernah berani  menentang pandangan  mata Bin  Nio, Cin  Hai melakukan  pekerjaan<BR>seperti biasa,  yakni pagi-pagi  sekali  ia menyapu  lantai yang  dikotori  oleh<BR>daun-daun kering yang malam tadi rontok dari pohon.<BR>Akhirnya orang yang dinanti-nanti, Ting Sun, datang dari pintu luar. Dengan<BR>tindakan gagah dan dada  terangkat, guru silat itu  memasuki pelataran itu  lalu<BR>menjura kepada Louw  Sun Bi. Kemudian  ia melihat  ke arah Cin  Hai yang  sedang<BR>menyapu lantai dan matanya berkilat menahan napas. Akhirnya ia menghadapi  semua<BR>murid dan berkata,<BR>"Anak-anak sekalian, aku membawa berita penting sekali untuk kalian.  Mulai<BR>hari ini, kalian akan dilatih oleh Louw-kauwsu sendiri, karena hari ini aku akan<BR>berangkat meninggalkan Ki-bun."<BR>"Hendak pergi ke mana, Suhu?" tanya seorang murid.<BR>"Pergi jauh mengerjakan sebuah tugas penting. Belum tentu aku akan  kembali<BR>ke sini. Tetapi kalian  tak usah kuatir, karena  di bawah pimpinan  Louw-kauwsu,<BR>kepandaianmu akan  lebih  maju.  Sekarang aku  datang  hanya  untuk  mengucapkan<BR>selamat berpisah kepadamu  sekalian. Sebelum aku  pergi, aku hendak  menerangkan<BR>pada kalian  tentang ilmu  tiam-hoat yang  paling penting,  yakni untuk  menotok<BR>jalan darah tai-twi-hiat. He, bujang tolol, kau ke sinilah!"<BR>Cin Hai maklum bahwa saat yang dikuatirkan telah tiba. Ia menghampiri  guru<BR>silat itu dengan  tenang dan  pura-pura tidak  melihat pandang  mata yang  penuh<BR>kebencian dan marah itu.<BR>"Nah, anak-anak, seperti biasa agar lebih jelas terlihat olehmu, aku hendak<BR>menggunakan jembel  busuk  ini sebagai  contoh!"  Memang sudah  biasa  Ting  Sun<BR>memanggil dan menyebut Cin Hai dengan segala sebutan menghina. "Lihatlah,  untuk<BR>menotok jalan darah tai-twi-hiat kedudukan jari harus begini."<BR>Ia menyusun  telunjuk  dan jari  tengah  disatukan dan  yang  tiga  lainnya<BR>ditekuk ke dalam.<BR>"Perhatikan  tempat  yang  akan   kutotok!"  Sambil  berkata  demikian   ia<BR>menggerakkan jarinya itu menotok punggung Cin Hai.<BR>Tetapi sambil  berpura-pura  ketakutan,  Cin  Hai  melompat  mundur  hingga<BR>totokan itu tidak mengenai sasaran.<BR>"Jangan, Siauwya,  jangan...!" Cin  Hai berkata  sambil  menggoyang-goyangkan<BR>tangannya mencegah serangan Ting Sun. Tetapi guru silat itu marah sekali melihat<BR>betapa totokannya dikelit.<BR>"Bangsat rendah! Kau berani melawanku?" bentaknya dan ia mengirim tendangan<BR>ke arah lambung  Cin Hai. Tendangan  iin gebat sekali  dan kalau terkena,  pasti<BR>nyawa anak itu akan melayang ke akhirat.<BR>Louw Sun Bi  terkejut dan  marah. Pada saat  ia bangun  berdiri dan  hendak<BR>loncat menolong,  tiba-tiba  ia terheran-heran  dan  duduk kembali  dengan  mata<BR>terbelalak. Ternyata sambil terhuyung-huyung mundur ketakutan, ketika kaki  Ting<BR>Sun menyambar ke arah lambungnya, Cin  Hai berkelit ke samping hingga  tendangan<BR>itu tidak mengenai sasaran.<BR>Dengan terus berpura-pura ketakutan, Cin Hai berdiri lagi dan  berlari-lari<BR>memutari pelataran berlatih silat itu. Tetapi anehnya, kalau dikatakan takut dan<BR>melarikan diri, anak  itu tidak  mau lari keluar  dari kalangan!  Ting Sun  yang<BR>tidak mengenal gelagat, biarpun dua kali serangannya telah dapat dikelit,  masih<BR>terus mengirim serangan-serangan bertubi-tubi. Kalau dibicarakan memang  sungguh<BR>aneh, tetapi benar-benar terjadi. Cin  Hai terhuyung-huyung dan bahkan  sekarang<BR>mulai menari-nari! Semua murid bukoan itu, termasuk Bin Nio bukan main  herannya<BR>melihat sikap Cin Hai. Mereka menganggap  anak itu tiba-tiba menjadi gila.  Mana<BR>ada orang  diserang oleh  lawan  tidak berkelit  atau menangkis,  tetapi  bahkan<BR>menari-nari?<BR>Dalam pandangan mata anak-anak murid dan  Bin Nio, disangka bahwa Ting  Sun<BR>merasa kasihan kepada Cin  Hai dan tidak  menyerang sungguh-sungguh hanya  untuk<BR>menakut-nakuti saja, maka  setiap pukulan  dan tendangan  selalu tidak  mengenai<BR>sasaran dan hanya menyerempet  sedikit pakaian Cin Hai!  Mereka ini sama  sekali<BR>tidak pernah  menyangka  bahwa  pada  saat itu  Ting  Sun  merasa  terkejut  dan<BR>terheran-heran sekali  karena sudah  lebih  dari dua  puluh jurus  ia  menyerang<BR>sambil mengeluarkan  pukulan-pukulan maut  yang paling  berbahaya, namun  selalu<BR>pukulannya itu meleset dan tidak pernah dapat mengenai tubuh Cin Hai! Pada  saat<BR>pukulan hampir mengenai sasaran, tiba-tiba tubuh atau bagian tubuh anak muda itu<BR>bergerak mengelak dengan cara yang luar biasa dan aneh sekali!<BR>Yang dapat mengetahui  hal yang  sebenarnya hanyalah Louw  Sun Bi  seorang.<BR>Guru silat tua  ini duduk  bengong dengan  mulut ternganga  dan mata  terbelalak<BR>heran. Ia tahu bahwa Cin Hai sedang  memainkan semacam ilmu silat yang aneh  dan<BR>yang belum pernah dilihat seumur hidupnya, tetapi yang kelihatannya  betul-betul<BR>mengherankan. Ia tidak tahu  bahwa Cin Hai sedang  memainkan Tari Bidadari  yang<BR>dipelajarinya dari  Ang I  Niocu. Biarpun  belum banyak  mempelajari ilmu  silat<BR>mujijat ini, namun mana seorang kasar seperti Ting Sun dapat melawannya?<BR>Makin cepat Ting Sun menyerang, makin lincah pula gerakan Cin Hai dan makin<BR>indah gerak tarinya. Setelah merasa cukup mempermainkan Ting Sun dengan  kelitan<BR>dan loncatan,  Cin Hai  menganggap  sudah tiba  waktunya untuk  memberi  hajaran<BR>kepada guru sombong itu. Pada saat Ting Sun menendang, cepat ia menggeser  tubuh<BR>ke samping dan tanpa dapat diduga  lebih dulu kaki kirinya bergerak dan  menotok<BR>urat pergelangan kaki Ting  Sun yang berdiri, maka  tidak ampun lagi guru  silat<BR>itu roboh terguling-guling!<BR>Ting Sun loncat berdiri dengan marah sekali, tetapi berkali-kali ia dibikin<BR>jatuh bangun oleh Cin  Hai yang kini menggunakan  limu Silat Liong-san  Kun-hwat<BR>yang ganas! Setelah memainkan ilmu  silat ini barulah Ting  Sun dan Louw Sun  Bi<BR>tahu bahwa Cin Hai memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa tingginya!<BR>Tetapi karena  sudah  merasa terlanjur  dan  malu untuk  mundur,  Ting  Sun<BR>berlaku nekat sekali  dan mengeluarkan seluruh  kepandaiannya. Tetapi dia  hanya<BR>merupakan makanan  yang lunak  bagi  Cin Hai.  Dengan gerakan  Hong-tan-ci  atau<BR>Burung Hong  Mementang  Sayap ia  berhasil  menotok  iga Ting  Sun  yang  merasa<BR>tubuhnya tiba-tiba menjadi lemas dan roboh di atas tanah!<BR>"He, Siauwya,  kau mengapakah?"  Cin Hai  mengejek sambil  mengoyang-goyang<BR>tubuh Ting Sun yang rebah di atas tanah. Dalam gerakan mengoyang-goyang ini, Cin<BR>Hai sengaja memusnahkan totokannya  hingga Ting Sun  dapat bergerak kembali  dan<BR>pada saat guru silat itu meloncat  berdiri Cin Hai mendahuluinya dengan  totokan<BR>lain yang membuat guru silat itu  berdiri kaku bagaikan sebuah patung! "Eh,  eh,<BR>Siauwya! Mengapa kau berdiri seperti patung?" kata Cin Hai lagi.<BR>Murid-murid bukoan  yang melihat  betapa Cin  Hai mempermainkan  Ting  Sun,<BR>menjadi heran sekali dan pada saat itu Louw Sun Bi meloncat di dekat Cin Hai dan<BR>tertawa bergelak-gelak.<BR>"Anak-anak  semua.  Lihatlah,  ini  namanya  tiam-hoat  yang  tepat  sekali<BR>mengenai jalan darah tai-hwi-hiat hingga Ting-kauwsu menjadi kaku. Kalian  sudah<BR>melihat baik-baik? Contohlah  anak inil, sebenarnya  ia seorang berilmu  tinggi,<BR>tetapi  yang   dapat  bertahan   menyembunyikan   rahasianya  di   sini   sampai<BR>bertahun-tahun hingga jangankan kalian, bahkan aku sendiri tidak tahu bahwa  dia<BR>adalah murid seorang ahli!"<BR>Sambil berkata begini,  Louw Sun  Bi menepuk  pundak Ting  Sun yang  segera<BR>dapat bergerak kembali. Guru silat ini sekarang maklum bahwa ilmu kepandaian Cin<BR>Hai lihai sekali, maka dengan muka merah  karena malu ia lalu lari ke luar  dari<BR>bukoan tanpa berani menengok lagi! Louw Sun Bi mengiringnya dengan suara tertawa<BR>bergelak-gelak. Guru silat ini  benar-benar kagum kepada Cin  Hai, maka ia  lalu<BR>bertanya, "He,  anak muda!  Engkau keterlaluan  sekali, sampai-sampai  kau  tega<BR>menipu aku orang tua! Sebenarnya engkai  ini murid siapakah. Bukankah kau  murid<BR>dari Liong-san-pai?"<BR>Cin Hai dengan sikap hormat dan merendah menjura. "Bukan. Loya, saya  bukan<BR>murid siapa-siapa." Memang ia tidak membohong karena ia baru belajar silat  dari<BR>Kang-lam  Sam-lojin  dan  Ang  I  Niocu,  sedangkan  mereka  ini  memang   bukan<BR>guru-gurunya.  Ia  boleh  mengaku  bahwa  gurunya  adalah  Bu  Pun  Su,   tetapi<BR>kenyataannya, ia belum pernah belajar silat satu jurus pun dari gurunya itu.<BR>Louw Sun Bi  menyangka bahwa  Cin Hai  adalah seorang  pendekar kecil  yang<BR>telah dipesan oleh  gurunya untuk menyembunyikan  nama guru itu,  maka ia  tidak<BR>berani mendesak,  hanya menyatakan  kagumnya.  Tetapi Cin  Hai lalu  minta  maaf<BR>banyak-banyak  serta  menghaturkan  terima   kasih  atas  kebaikan   Louw-kauwsu<BR>terhadapnya sampai dua tahun lebih itu.<BR>Terpaksa Louw-kauwsu  tak dapat  menahan Cin  Hai yang  hendak  melanjutkan<BR>perantauannya, tetapi guru silat  ini memaksanya untuk  menerima bekal uang  dan<BR>pakaian sebagai pengganti jasanya yang telah bekerja beberapa tahun itu. Cin Hai<BR>menerimanya dengan ucapan  terima kasih. Kemudian  setelah memberi hormat  lagi,<BR>Cin Hai  pergi  meninggalkan tempat  itu.  Ia  tak lupa  memberi  hormat  sambil<BR>berkata, "Siocia, mohon beribu maaf atas segala kesalahanku selama aku berada di<BR>sini dan  jagalah dirimu  baik-baik!" Bin  Nio hanya  menundukkan muka  dan  air<BR>matanya mengalir turun. Ia insaf betapa ia telah salah mengenal orang.<BR>Cin Hai merantau lagi  dan hidup sebatang kara  menjelajah ribuan li  tanpa<BR>tujuan tertentu. Ia telah  berusia hampir lima belas  tahun dan karena  tubuhnya<BR>terpelihara baik-baik semenjak  tinggal di  bukoan dari  Louw Sun  Bi, ia  telah<BR>merupakan seorang pemuda yang tampan  dan gagah. Tubuhnya tinggi tegap,  matanya<BR>lebar dan mukanya bulat membayangkan kejujuran dan ketinggian pribadi.<BR>Setelah mengalami banyak derita, matanya terbuka lebar dan ia maklum  bahwa<BR>tugasnya sebagai seorang  berkepandaian ialah harus  menolong sesama hidup  yang<BR>membutuhkan pertolongannya.  Kalau  dulu  ia  sering  bersedih  mengingat  bahwa<BR>hidupnya tak bersanak kadang,  kini perasaan itu lenyap.  Ia kini mengerti  akan<BR>maksud ujar-ujar Nabi Khong  Hu Cu bahwa "Di  empat penjuru lautan, semua  orang<BR>adalah saudara!" Dulu ia seringkali  menggoda guru sastera dengan ujar-ujar  ini<BR>yang dianggapnya kosong dan  bohong. Tetapi sekarang,  ia mengerti betapa  tepat<BR>dan mulianya ujar-ujar ini.  Ujar-ujar ini harus  digunakan secara aktip,  tidak<BR>boleh secara pasip, yaitu seharusnya kitalah yang bertindak terhadap semua orang<BR>seperti  terhadap  saudara  sendiri,  hingga  sudah  sepatutnya  kita   menolong<BR>saudara-saudara itu bila  mereka di  dalam kesukaran.  Janganlah kita  memandang<BR>ujar-ujar itu sebagai dorongan yang  bersifat ingin senang sendiri dan  menuntut<BR>supaya orang berlaku baik kepada kita bagaikan layaknya saudara-saudara  berlaku<BR>kepada kita. Memang  segala apa di  dunia ini, sesuatu  yang baik dapat  menjadi<BR>buruk, dan yang  buruk dapat  menjadi baik, semua  tergantung sepenuhnya  kepada<BR>yang mengganggapnya. Bila kita dijauhi  hendak hidup sendiri atau hendak  senang<BR>sendiri maka akan terbukalah  mata kita bahwa hidup  ini tidak hanya asal  makan<BR>dan tidur saja, bahwa di samping kedua kebutuhan hidup itu, masih banyak  sekali<BR>terdapat tugas-tugas kewajiban yang luhur  dan suci, di antaranya  memperhatikan<BR>keadaan orang lain atau "saudara" kita yang hidup menderita kesusahan.<BR>Setelah menanjak  dewasa,  sedikit demi  sedikit  Cin Hai  dapat  menangkap<BR>intisari segala ujar-ujar  yang dulu  ketika masih kecil  dihafalkannya di  luar<BR>kepala bagaikan seekor burung beo saja. Kini ia dapat mengerti dan tahu apa yang<BR>dimaksudkan dan dikehendaki oleh para nabi itu dalam ujar-ujar mereka.<BR>Dengan kepandaiannya,  walaupun  ia  baru saja  mempelajari  tiga  perempat<BR>bagian dari Liong-san-kun-hoat dan setengah bagian dari  Ngo-lian-hwa-kiam-hwat,<BR>namun sudahlah  cukup untuk  membuat namanya  menjadi terkenal.  Orang-orang  di<BR>kalangan kang-ouw  menyebutnya  "Pendekar  Bodoh" karena  wajahnya  yang  tampan<BR>dengan mata  yang lebar  itu memang  tampaknya bodoh.  Pada suatu  hari,  ketika<BR>memasuki dusun, ia mendengar  suara tangis seorang  wanita. Karena tertarik,  ia<BR>mempercepat tindakan  kakinya dan  alangkah  marahnya melihat  seorang  anggauta<BR>Sayap Garuda  tengah  menculik seorang  perawan  desa yang  meronta-ronta  dalam<BR>pelukannya. Orang itu sambil memondong  korbannya, meloncat ke atas seekor  kuda<BR>besar dan hendak kabur.  Tetapi sekali loncat saja  Cin Hai sudah menghadang  di<BR>depannya dan membentak, "Bangsat rendah! Lepaskan Nona itu!"<BR>Anggauta Sayap Garuda itu marah sekali dan tangan kanannya terayun ke  arah<BR>Cin Hai. Sebatang piauw (senjata rahasia) melayang dan menyambar leher Cin  Hai,<BR>tetapi anak muda itu dengan mudah  dapat menangkap dengan menjepitnya di  antara<BR>kedua jari tangan. Melihat  kelihaian Cin Hai, orang  itu lalu membedal  kudanya<BR>dan kabur dari  situ. Tetapi Cin  Hai secepat kilat  menggerakkan tangannya  dan<BR>mengembalikan piauw tadi yang tepat menancap pundak anggauta Sayap Garuda itu.<BR>Si Penculik  menjerit kesakitan,  tetapi ternyata  ia adalah  seorang  yang<BR>bertubuh kuat, karena biarpun telah terluka,  ia tetap masih dapat kabur  sambil<BR>membawa gadis yang diculiknya itu!<BR>Cin Hai sudah banyak mendengar akan kekejaman gerombolan Sayap Garuda  yang<BR>merupakan barisan pengawal istana  yang tersebar di  mana-mana dan berlaku  keji<BR>dan hina mengandalkan pengaruh  dan kekuasaan mereka.  Maka kini melihat  dengan<BR>mata sendiri  betapa  seorang anggauta  gerombolan  itu menculik  seorang  gadis<BR>dusun, ia menjadi marah sekali. Ia cepat lari mengejar untuk menolong gadis itu.<BR>Setelah berkejar-kejaran sejauh  lima li  lebih dan  hampir dapat  menyusul<BR>kuda besar yang  lari cepat itu,  tiba-tiba dari depan  datang pula  serombongan<BR>anggauta Sayap Garuda yang dikepalai oleh seorang hwesio gundul. Melihat  betapa<BR>Cin Hai mengejar seorang anggauta mereka,  rombongan itu lalu mengepung Cin  Hai<BR>dan sebentar saja terjadilah pertempuran yang hebat!<BR>Selama dalam perantauannya,  Cin Hai  tak pernah  menggunakan senjata  lain<BR>kecuali sulingnya! Dengan suling bambunya itu, ia telah banyak menjatuhkan lawan<BR>yang bersenjata tajam, karena gerakan sulingnya yang hebat dapat digunakan untuk<BR>menotok jalan darah lawan. Akan tetapi kali ini, menghadapi keroyokan gerombolan<BR>Sayap Garuda yang rata-rata  memiliki kepandaian tinggi,  ia terdesak dan  sibuk<BR>juga. Akan  tetapi  berkat  kegesitan  tubuhnya untuk  beberapa  lama  ia  dapat<BR>mempertahankan diri dan dia mengelak ke sana ke mari.<BR>Tiba-tiba hwesio gundul Yang gemuk dan tadi mengepalai rombongan berseru,<BR>"Semua mundur! Biar pinceng tangkap  bangsat kecil ini!" Hwesio itu  merasa<BR>penasaran sekali  betapa kawan-kawannya  yang  berjumlah delapan  orang  agaknya<BR>tidak mudah merobohkan Cin Hai.<BR>Semua pengeroyok Cin Hai mundur dan kini hwesio gundul yang maju menghadapi<BR>Cin Hai. Anak  muda itu maklum  bahwa lawannya ini  tentu berkepandaian  tinggi,<BR>maka ia mendahuluinya  dan mengirim  serangan dengan suling  yang ditotokkan  ke<BR>arah leher lawan.<BR>Tetapi sungguh aneh,  lawannya tidak berkelit  maupun menangkis dan  ketika<BR>sulingnya tepat  mengenai leher,  tangan hwesio  itu sudah  terulur maju  hendak<BR>menangkap pundaknya dengan gerakan Eng-jiauw-kang yang lihai sekali! Dan biarpun<BR>ujung suling tepat menotok jalan darah di leher hwesio itu, namun pendeta gundul<BR>itu agaknya tidak merasa apa-apa!<BR>Cin Hai terkejut sekali dan  terpaksa ia melepaskan sulingnya dan  membuang<BR>diri ke  belakang untuk  menghindari cengkeraman  lawannya! Hwesio  itu  tertawa<BR>bergelak-gelak  melihat  betapa  Cin  Hai   menggelinding  di  atas  tanah   dan<BR>menjauhinya.<BR>"Ha, ha, ha! Anak kecil, kau  baru tahu kelihaian pinceng, ya?" Dan  dengan<BR>tindakan kaki lebar, ia menghampiri Cin Hai yang sudah bertangan kosong!<BR>Tetapi pada saat itu terdengar bentakan keras,<BR>"Biauw Leng-sute! Bagus sekali perbuatanmu, kau telah berani mengotori diri<BR>dan bergaul dengan segala kaki anjing?" Sebutan kaki anjing adalah sebutan untuk<BR>menghina kaum pembela Kaisar seperti barisan  Sayap Garuda itu. Entah dari  mana<BR>datangnya, tiba-tiba  di situ  telah berdiri  seorang wanita  tua yang  berwajah<BR>buruk sekali! Mukanya hitam  seperti pantat kuali,  pipinya keriput dan  matanya<BR>yang  sebelah  kanan  buta!  Nenek-nenek  ini  memegang  sebuah  hudtim  dan  di<BR>punggungnya tampak gagang pedang.<BR>Ketika Cin Hai memandang, ia mengenal nenek-nenek ini sebagai Biauw Suthai,<BR>wanita aneh yang dulu menculik Lin Lin puteri dari Kwee-ciangkun! Hampir saja ia<BR>berteriak dan menanyakan  hal Lin Lin,  tetapi pada saat  itu terdengar  jawaban<BR>Biauw Leng Hosiang, "Biauw suci, mengapa kau turut mencampuri urusanku?" "Tetapi<BR>kalau kau merendahkan  diri dan  membantu kaki  anjing aku  takkan tinggal  diam<BR>saja. Kau tidak boleh mencemarkan perguruan kita dengan kerendahan ini!"<BR>Hwesio itu menghela napas. "Baiklah, baiklah... memang kau selalu jail  dan<BR>menghalang-halangi Sutemu  yang  hendak  menikmati  sedikit  kesenangan  dunia!"<BR>Setelah berkata  demikian, Biauw  Leng  Hosiang lalu  meloncat pergi  dan  Biauw<BR>Suthai juga menggerakkan tubuh dan lenyap dari situ!<BR>Cin Hai kagum sekali akan kegagahan kedua orang itu, tetapi ia tidak diberi<BR>kesempatan untuk melamun terlebih jauh karena dengan marah sekali kawanan  Sayap<BR>Garuda menumpahkan kegemasan mereka yang ditinggal pergi oleh hwesio itu, kepada<BR>Cin Hai. Ia terpaksa melawan, tetapi kali ini karena ia tidak bersenjata lagi ia<BR>sangat terdesak dan keadaannya berbahaya sekali.<BR>Tiba-tiba tampak  berkelebat sinar  putih  yang gemilang  dibarengi  dengan<BR>sinar merah,  dan begitu  bayangan itu  bergerak seorang  anggauta Sayap  Garuda<BR>roboh mandi darah!<BR>"Niocu!!"   Tiba-tiba   Cin   Hai   berseru   keras   dan   kedua   matanya<BR>dikejap-kejapkan seolah-olah ia tidak percaya kepada pandangan matanya  sendiri.<BR>Setelah jelas bahwa yang menolong dirinya  dan mengamuk itu adalah Ang I  Niocu,<BR>tak terasa pula mata Cin Hai basah oleh air mata.<BR>"Niocu... !" sekali lagi ia berseru dengan lirih dan mesra.<BR>"Hai-ji..." Ang I Niocu menjawab dan menjatuhkan lagi dua orang pengeroyok.<BR>Di antara kawanan Sayap Garuda itu terdapat seorang yang telah mengenal Ang<BR>I Niocu, maka ia berteriak keras,<BR>"Ang I Niocu  yang datang,  lekas lari!" Dan  ia mendahului  kawan-kawannya<BR>lari secepatnya dari gadis  yang kosen itu! Sebentar  saja kawanan Sayap  Garuda<BR>itu lari dan meninggalkan gadis tawanan yang diculik tadi. Melihat bahwa  kurban<BR>mereka telah ditinggalkan, Ang I Niocu tidak mengejar.<BR>NIOCU...! Sekali lagi  Cin Hai  berseru girang dan  gadis itu  memandangnya<BR>dengan matanya yang bagus. Untuk beberapa lama mereka saling pandang dan melihat<BR>betapa Cin Hai  kini telah  menjadi seorang pemuda  yang tampan  dan gagah,  tak<BR>terasa pula Ang I Niocu mencucurkan air mata karena girang dan terharu. Ia  lalu<BR>memegang tangan Cin Hai erat-erat dan berkata.<BR>"Hai-ji, kau baik-baik saja, bukan?"<BR>"Niocu... Niocu... jangan  kautinggalkan aku lagi!"  Mendengar ucapan  yang<BR>masih bersifat  kanak-kanak  ini,  mau  tidak mau  Ang  I  Niocu  tersenyum  dan<BR>menggeleng-gelengkan kepala.<BR>Mereka berdua  lalu  mengantar gadis  yang  diculik itu  pulang  ke  dusun.<BR>Kemudian Ang I Niocu mengajak Cin Hai pergi dari situ.<BR>Di sepanjang jalan tiada  hentinya Ang I  Niocu bertanya tentag  pengalaman<BR>Cin Hai sambil  memandang wajah pemuda  yang tampan itu  dengan senang. Cin  Hai<BR>tanpa menyembunyikan  sesuatu  lalu menuturkan  pengalaman-pengalamannya  hingga<BR>ketika mendengar betapa  anak itu menderita  karena ia tinggalkan,  Ang I  Niocu<BR>menagis tersedu-sedu sambil memegang lengan Cin Hai.<BR>"Dan bagaimana dengan pengalamanmu, Niocu?" tanya Cin Hai sambil  memandang<BR>wajah yang masih tetap cantik jelita, bahkan kini makin manis itu. Melihat gadis<BR>itu dan pakaian merahnya, ia merasa seakan-akan baru kemarin mereka berpisah.<BR>"Jangan menanyakan hal  ini sekarang,  Hai-ji. Aku  mempuyai tugas  penting<BR>sekali. Aku sedang  menyelidiki sebuah  gua rahasia yang  disebut Gua  Tengkorak<BR>Raksasa. Menurut peta  yang kudapat,  ternyata bahwa  gua itu  berada di  puncak<BR>bukit yang tampak dari sini itu! Karena itu kebetulan saja aku lewat di sini dan<BR>dapat bertemu  dengan engkau  kembali! Kalau  sengaja dicari-cari,  belum  tentu<BR>dapat bertemu."<BR>Dengan singkat Ang I Niocu menceritakan betapa ia telah menurutkan jalan di<BR>petanya sampai sebulan lebih dan akhirnya petanya itu membawanya ke daerah itu.<BR>"Bukit itu namanya  Bukit Tengkorak  Raksasa," katanya  sambil menunjuk  ke<BR>arah bukit yang menjulang  tinggi tidak jauh dari  situ, "dan sekarang juga  aku<BR>harus dapat mencari gua itu di sana. Ketahuilah, bahwa selain aku, masih  banyak<BR>orang-orang pandai hendak  mendahuluiku mendapatkan  gua itu.  Maka marilah  kau<BR>ikut aku, kita jangan menyia-nyiakan waktu lebih lama lagi!"<BR>Melihat bahwa  urusan  itu  agaknya  penting sekali,  Cin  Hai  tak  berani<BR>membantah dan dengan hati  luar biasa gembiranya  karena dapat berjalan  bersama<BR>dengan Ang I  Niocu lagi, ia  mengikuti nona itu  dan mereka secepatnya  mendaki<BR>Bukit Tengkorak Raksasa.<BR>Dengan bantuan petanya, akhirnya Ang  I Niocu berhasil mendapatkan gua  itu<BR>yang tertutup oleh  tumpukan batu  yang ratusan banyaknya.  Dengan tak  mengenal<BR>lelah, mereka  berdua  membongkar semua  batu-batu  itu dan  akhirnya  tampaklah<BR>sebuah guha  yang luar  biasa besarnya  dan  gelap! Mereka  masuk ke  dalam  dan<BR>setelah berjalan  dengan hati-hati  dan merayap  beberapa lamanya,  ternyata  di<BR>sebelah dalam gua itu terdapat penerangan yang turun dari sebuah lubang di atas.<BR>Mereka terus maju ke dalam  dan akhirnya tiba di  depan sebuah pintu besar  yang<BR>tertutup. Karena pintu itu berat  sekali, maka mereka terpaksa mendorong  dengan<BR>tenaga dan akhirnya berhasil juga mereka membuka pintu raksasa itu. Dengan  hati<BR>berdebar keduanya masuk, Ang I Niocu lebih dulu dan Cin Hai di belakangnya.<BR>Ketika mereka memasuki ruang di balik pintu itu, mereka terkejut sekali dan<BR>Cin Hai merasa  ngeri dan  takut. Ternyata di  sepanjang dinding  di kanan  kiri<BR>ruang yang luas  dan tinggi  itu, tampak tengkorak-tengkorak  yang tinggi  besar<BR>berdiri  berderet-deret  dengan  mulut  mereka  yang  dahsyat  itu   menyeringai<BR>memperlihatkan gigi  besar-besar.  Tinggi  tengkorak itu  sedikitnya  tiga  kali<BR>tinggi manusia  biasa  hingga  dapat dibayangkan  betapa  hebat  dan  mengerikan<BR>pemandangan dalam ruangan besar itu.<BR>Keduanya berdiri termangu-mangu dengan bulu tengkuk berdiri. Tiba-tiba  Ang<BR>I Niocu yang dapat menenangkan hati lebih dulu, berkata perlahan,<BR>"Hai-ji, lihat di sana itu. Bukankah aneh sekali?"<BR>Cin Hai bagaikan baru sadar dari mimpi dan ia memandang ke arah depan.  Dan<BR>benar saja, di  ujung ruangan itu  tampak sebuah pintu  lagi yang daun  pintunya<BR>terpentang lebar. Daun pintu itu terbuat daripada batu yang sangat tebal dan  di<BR>dalamnya terdapat ruang atau kamar lain yang gelap hitam. Di tengah-tengah kamar<BR>itu tampak sebuah hio-louw (periuk tempat hio) tertutup dan dari dalam  hio-louw<BR>keluar asap bergulung-gulung naik memenuhi kamar! Ruang yang luar biasa  luasnya<BR>ini dihias raksasa mengerikan, dan di sana ada hio-louw besar sekali yang  masih<BR>mengebulkan asap putih, sungguh pemandangan yang bisa membuat seseorang  menjadi<BR>mati ketakutan!<BR>"Aneh," kata  Cin Hai  dengan suara  gemetar, "Mengapa  hio-louw itu  masih<BR>mengebulkan asap?"<BR>"Itulah yang kupikirkan," jawab Ang I Niocu, "Tak mungkin selama ini api di<BR>dalam hio-louw  tak pernah  padam!  Tentu ada  orang  yang mendahului  kita  dan<BR>membakar dupa di dalam hio-louw itu."<BR>Cin Hai menganggap kata-kata Ang I Niocu itu benar, karena tercium  olehnya<BR>bau dupa yang harum sekali. Tetapi  siapakah yang dapat memasuki tempat  seperti<BR>ini! Tadi pun  gua masih tertutup  oleh banyak  batu dan pintu  kamar ini  masih<BR>tertutup rapat, dari mana orang dapat masuk?<BR>Ang I Niocu lalu bertindak perlahan menuju ke kamar tempat hio-louw itu. Ia<BR>berjalan perlahan sambil memandang  ke kanan kiri dengan  mata tajam dan  tangan<BR>kanannya siap  di  gagang pedangnya  yang  tergantung di  pinggangnya.  Cin  Hai<BR>mengikuti di belakangnya dengan hati dak-dik-duk dan mulut terasa kering.  Belum<BR>pernah selama hidupnya ia menghadapi pengalaman sehebat dan sengeri ini.<BR>Seperti halnya Ang I Niocu, Cin Hai juga memandang ke sana ke mari, dan  ia<BR>merasa seakan-akan sekalian tengkorak  raksasa yang berdiri itu  bergerak-gerak!<BR>Seakan-akan  sepasang  mata  yang  bolong   itu  melirik-lirik  dan  gigi   yang<BR>besar-besar itu berkeretakan!  Ia merasa betapa  bulu tengkuknya berdiri  saking<BR>ngeri dan takutnya.<BR>Tiba-tiba Cin Hai melihat sesuatu dan  ia menjadi pucat sekali. Tak  terasa<BR>lagi ia memegang tangan  kiri Ang I Niocu  dengan tangan menggigil. Matanya  tak<BR>lepas memandang kepada sebuah tengkorak yang berdiri tak jauh dari situ.<BR>"Niocu..." katanya terengah-engah, "lihat..."<BR>Ang I Niocu  cepat berpaling  dan apa  yang dilihatnya  membuat ia  menjadi<BR>terkejut dan  ngeri. Gadis  yang gagah  perkasa dan  belum pernah  merasa  takut<BR>menghadapi lawan  yang betapa  tangguh  pun ini,  sekarang merasa  betapa  kedua<BR>kakinya menggigil sedikit! Ternyata  tengkorak yang dipandang  oleh Cin Hai  dan<BR>yang kedua lengannya tergantung di kanan kiri itu kini bergerak-gerak  sedangkan<BR>kepalanya bergerak ke kanan-kiri!<BR>Ang I  Niocu cepat  mencabut  pedangnya dan  siap sedia  menghadapi  segala<BR>kemungkinan. Cin Hai  meloncat di belakang  gadis itu dan  bingung karena  tidak<BR>membawa senjata. Sulingnya telah terinjak patah oleh Biauw Leng Hosiang,  hingga<BR>ia kini bertangan kosong. Di sudut  kamar itu ia melihat setumpuk  tulang-tulang<BR>manusia yang  besar-besar, maka  tanpa berpikir  panjang lagi  ia lalu  memungut<BR>sepotong tulang kaki  raksasa yang  besar dan siap  sedia membantu  Ang I  Niocu<BR>dengan senjata istimewa itu di tangannya!<BR>Tiba-tiba terdengar suara tertawa bergelak-gelak! Suara tertawa ini bergema<BR>hebat di dalam ruang itu dan terdengar menyeramkan sekali.<BR>"Hai-ji, kau berhati-hatilah. Benar-benar ada orang mendahului kita!"<BR>"Niocu... benar-benar orangkah yang tertawa itu?"<BR>"Hush..."<BR>"Kiang Im Giok! Bagus, kau dapat sampai ke sini lebih dulu dari orang lain!<BR>Lekas sembunyi di belakang tengkorak! Lekas!  He, kau gundul tolol! Kaukira  aku<BR>tidak mengenal mukamu?  Hayo, kau  juga sembunyi di  belakang tengkorak!  Cepat,<BR>mereka sudah mendatangi dan berada di luar gua!"<BR>Kini mereka tahu siapakah yang bersuara  itu. Bu Pun Su, kakek jembel  yang<BR>luar biasa, Susiok-couw dari Ang I  Niocu! Maka tanpa menyia-nyiakan waktu  lagi<BR>keduanya meloncat dan bersembunyi di belakang tengkorak-tengkorak raksasa.<BR>Baru saja Ang  I Niocu  dan Cin Hai  meloncat dan  bersembunyi di  belakang<BR>tengkorak-tengkorak  raksasa,  tiba-tiba   dari  luar   terdengar  suara   orang<BR>bercakap-cakap dan tiga  bayangan orang  cepat sekali menyambar  masuk. Cin  Hai<BR>heran sekali ketika  melihat bahwa  yang datang  itu bukan  lain ialah  Kang-lam<BR>Sam-lojin, tosu yang pernah mengajar silat kepadanya yakni Giok Im Cu dan  kedua<BR>sutenya! Akan tetapi  pada saat itu  ketiga tosu ini  nampak tegang dan  bersiap<BR>sedia untuk bertempur karena Giok Im  Cu telah memegang sebatang ranting  pohon.<BR>Giok Yang Cu yang  tinggi besar itu telah  meloloskan pedangnya, sedangkan  Giok<BR>Keng Cu yang  pendek gesit memegang  sebatang golok. Mereka  bertiga berdiri  di<BR>ruang itu sambil memandang ke kanan kiri.<BR>"Orang yang  berada di  dalam gua,  keluarlah untuk  bertemu dengan  kami!"<BR>terdengar Giok  Im Cu  berteriak dan  suaranya bergema  di dalam  gua besar  itu<BR>seakan-akan menjadi jawaban bagi teriakan itu.  Akan tetapi Ang I Niocu dan  Cin<BR>Hai tidak berani bergerak, karena mereka harus mentaati perintah Bu Pun Su  yang<BR>sangat ditakuti oleh  Ang I Niocu  itu. Diam-diam Cin  Hai merasa heran  mengapa<BR>kakek itu bersembunyi! Kalau  hanya menghadapi ketiga orang  tosu ini apa  harus<BR>bersembunyi? Ang I Niocu seorang diri pun akan sanggup menghadapinya!<BR>Akan tetapi pada saat itu dari luar gua terdengar suara orang dengan  suara<BR>yang parau menyeramkan,<BR>"Hai! Siapa yang berani mampus mendahului aku masuk gua ini?" Sebelum  gema<BR>suara ini lenyap orangnya  telah berkelebat masuk dan  kembali Cin Hai  terkejut<BR>sekali karena orang ini adalah Hai Kong Hosiang, hwesio gundul tinggi besar yang<BR>bermata besar  itu.  Jubahnya  yang merah  kotak-kotak  terbuka,  memperlihatkan<BR>dadanya yang berbulu, juga hwesio ini memegang senjata yang lihai yakni sebatang<BR>tongkat ular.  Ketika  melihat  Kanglam  Sam-lojin,  Hai  Kong  Hosiang  tertawa<BR>bergelak sambil berdongak ke atas. Suara ketawanya mendatangkan gema yang  riuh,<BR>seakan-akan semua tengkorak raksasa yang berdiri  di dalam gua itu ikut  tertawa<BR>hingga keadaan menyeramkan sekali!<BR>"Lagi-lagi orang-orang tua  bangka mau mampus  yang mendahuluiku.  Sekarang<BR>kalian takkan dapat melarikan diri lagi dan agaknya memang sudah menjadi nasibmu<BR>untuk binasa di dalam tanganku!"<BR>Giok Yang Cu  marah sekali. "Hai  Kong manusia sombong!  Kalau di  Tiang-an<BR>kami tak berhasil  membunuhmu, adalah  karena kau secara  pengecut dibantu  oleh<BR>ular-ularmu. Sekarang kami akan menebus kekalahan itu!"<BR>"Ha-ha-ha! Boleh, boleh! Majulah untuk menerima kematian!"<BR>Mereka lalu bertempur hebat, dan Ang I Niocu memegang tangan Cin Hai sambil<BR>berbisik, "Ah, kepandaian  hwesio gundul  ini telah maju  hebat sekali!  Kanglam<BR>Sam-lojin pasti akan kalah!"<BR>Memang benar kata-kata  Nona Baju  Merah ini. Kepandaian  Hai Kong  Hosiang<BR>dengan ilmu tongkatnya yang berdasarkan jian-coa-kun-hwat atau Ilmu Toya  Seribu<BR>Ular memang luar biasa sekali gerakan-gerakannya dan tongkatnya cepat dan  hebat<BR>hingga seakan-akan berubah menjadi ribuan  ular yang datang menyerang  lawannya.<BR>Hwesio itu agaknya telah melatih diri hingga ilmu tongkatnya makin hebat saja.<BR>Hal ini pun terasa  sekali oleh Kanglam Sam-lojin.  Ketiga tosu ini  segera<BR>mengeluarkan kepandaian mereka,  yakni Liong-san-kun-hwat yang  juga luar  biasa<BR>dan lihai. Akan  tetapi ketika  senjata mereka  beradu dengan  senjata Hai  Kong<BR>Hosiang, mereka terkejut  sekali karena  tenaga lweekang dari  hwesio itu  telah<BR>maju pesat  dan  kini berada  setingkat  lebih tinggi  daripada  tenaga  mereka!<BR>Percuma saja  mereka mengerahkan  seluruh tenaga  dan kepandaian  mereka  karena<BR>benar-benar permainan tongkat Hai Kong Hosiang hebat sekali dan mengurung mereka<BR>bertiga dengan ancaman-ancaman maut!<BR>Hai Kong  Hosiang  yang  melihat  betapa ia  dapat  mendesak  ketiga  orang<BR>lawannya, merasa girang sekali dan hwesio gundul ini tertawa ha-ha-hi-hi  sambil<BR>memperhebat serangannya. "Eh, tiga orang tua bangka! Menyerahlah untuk mampus!"<BR>Akan tetapi, biarpun ia sudah dapat mendesak ketiga lawannya, namun  karena<BR>ketiga tosu itu bukanlah sembarangan  tosu yang berkepandaian rendah dan  karena<BR>Liong-san-kun-hwat memang merupakan ilmu silat yang tinggi, masih tak mudah bagi<BR>Hai Kong Hosiang untuk dapat merobohkan ketiga lawannya itu dalam waktu pendek.<BR>"Niocu, benar hebat kepandaian hwesio  itu." kata Cin Hai sambil  memandang<BR>muka Ang I Niocu yang berada begitu dekat dengan mukanya sendiri, " dapatkah kau<BR>mengalahkannya?"<BR>Ang I Niocu membalas pandangan mata anak muda itu lalu bibirnya yang  manis<BR>dan merah tersenyum.<BR>"Agaknya takkan mudah mengalahkan dia, akan tetapi juga bukan tak mungkin!"<BR>Cin Hai telah bertahun-tahun berpisah dengan Ang I Niocu dan telah lama  ia<BR>merindukan Gadis  Baju  Merah ini.  Sekarang  dalam persembunyiannya  ia  berada<BR>begitu dekat Ang I  Niocu maka hatinya merasa  girang dan terharu sekali.  Tanpe<BR>terasa Cin Hai menggerakkan tangan dan  memegang tangan gadis itu erat-erat.  Ia<BR>merasa betapa  tangan  yang  berkulit  halus  dan  berjari  kecil  itu  membalas<BR>genggamannya dengan  tekanan  kuat,  akan  tetapi  tiba-tiba  tangan  gadis  itu<BR>mengendur, dan akhirnya ditarik  terlepas dari pegangan  Cin Hai. Ketika  pemuda<BR>itu memandang, Ang I Niocu memberi tanda dengan muka untuk menonton  pertempuran<BR>yang masih berlangsung hebat di dalam ruang tengkorak itu.<BR>Ketika  Cin  Hai  memandang,  ia  mendapat  kenyataan  bahwa  kini  Kanglam<BR>Sam-lojin benar-benar terdesak  dan keadaan mereka  berbahaya sekali,  sementara<BR>itu Hai Kong Hosiang makin gagah dan ganas saja.<BR>Pada saat itu, kembali terdengar suara  gaduh di luar gua, tetapi kali  ini<BR>dari suara tindakan kaki dapat diduga bahwa yang datang adalah serombongan orang<BR>yang besar jumlahnya, bahkan terdengar pula ringkik dan suara kaki kuda!<BR>"Hai Kong, bangsat  gundul! Ada  orang-orang datang, kami  tidak ada  waktu<BR>untuk melayanimu terlebih jauh," Giok Im Cu berseru. "Ha, ha, Kanglam Sam-lojin,<BR>hari ini sekali  lagi aku  ampuni jiwa kalian,  dan lekaslah  kalian pergi  dari<BR>tempat ini dan jangan mengganggu aku!"<BR>Kanglam Sam-lojin yang  menginsafi akan  kelihaian Hai  Kong Hosiang  tidak<BR>menjawab hinaan  ini, lalu  mereka menerobos  keluar untuk  meninggalkan  tempat<BR>berbahaya itu. Hai Kong Hosiang lalu melangkah maju ke arah balik pintu di  mana<BR>terdapat hiolouw yang masih mengebulkan asap  itu. Ia membuka tutup hiolouw  dan<BR>menjenguk ke  dalamnya. Asap  mengepul  makin banyak  ketika tutup  hiolouw  itu<BR>terbuka dan Hai Kong Hosiang buru-buru  mengembalikan tutup itu. Ia melongok  ke<BR>sana-sini seperti orang sedang mencari-cari,  kemudian ia mendekati hiolouw  itu<BR>dan  membaca   huruf-huruf   yang   terukir   di   hiolouw   raksasa   itu.   Ia<BR>mengangguk-angguk dan  segera memasang  kuda-kuda  dengan kedua  kaki  dipentang<BR>kuat-kuat. Ia lalu memegang kaki hiolouw  dengan tangan kanan dan mencoba  untuk<BR>mengangkatnya. Tetapi hiolouw  itu tidak dapat  terangkat. Jangankan  terangkat,<BR>bahkan bergoyang pun tidak!<BR>Hai Kong Hosiang memaki-maki dan Cin Hai terpaksa menggunakan tangan  untuk<BR>menutupi mulutnya  agar jangan  sampai tertawa.  Ia geli  sekali melihat  betapa<BR>hwesio itu tidak  kuat mengangkat  hiolouw dan kini  mendengar maki-makian  yang<BR>keluar dari mulut Hai Kong Hosiang,  ia merasa geli bercampur heran. Tak  pernah<BR>disangkanya bahwa mulut seorang hwesio dapat mengeluarkan makian-makian  sekotor<BR>itu! Juga Ang I Niocu memandang dengan mata menunjukkan kegelian hatinya.<BR>Kini Hai Kong Hosiang turun tangan dengan sungguh-sungguh. Ia mempergunakan<BR>tangannya  untuk  mengangkat  hiolouw  itu  dan  benda  yang  besar  itu   mulai<BR>bergerak-gerak! Akan tetapi, pada  saat itu dari luar  gua masuk seorang  hwesio<BR>lain yang  bertubuh gemuk  dan  berkepala gundul.  Cin  Hai makin  heran  ketika<BR>mengenal bahwa yang  masuk ini  adalah Biauw  Leng Hosiang,  hwesio yang  sangat<BR>lihai dan  yang menjadi  adik seperguruan  Biauw Suthai!  Mengapa banyak  sekali<BR>orang-orang lihai datang ke gua ini?<BR>Sementara itu, Hai Kong Hosiang ketika mendengar suara orang masuk ke dalam<BR>gua, lalu mengurungkan maksudnya  mengangkat hiolouw itu  dan ketika ia  berdiri<BR>memandang ke arah Biauw Leng Hosiang, wajahnya telah berubah merah, tanda  bahwa<BR>tadi ia telah menggunakan banyak  tenaga untuk mencoba mengangkat hiolouw  besar<BR>itu! Melihat bahwa yang datang adalah Biauw Leng Hosiang yang telah  dikenalnya,<BR>ia tersenyum menyindir,<BR>"Hm, agaknya Biauw Leng Hosiang  juga tak mau ketinggalan dan  mencari-cari<BR>pusaka ke dalam gua ini?"<BR>Biauw Leng Hosiang  membalas sindiran  ini dengan  suara memandang  rendah,<BR>"Hai Kong, bercerminlah dulu sebelum mencela  orang lain. Dan pinceng tidak  ada<BR>waktu untuk mengobrol denganmu pada saat ini. Harap kau suka mengalah dan keluar<BR>dari sini,  nanti  apabila pinceng  telah  selesai dengan  urusanku,  kau  boleh<BR>berdiam di tempat  ini sampai selama  hidupmu!" "Biauw Leng,  kau sungguh  tidak<BR>memandang orang!  Kepandaian apakah  yang kauandalkan  maka kau  berani  berkata<BR>semacam itu kepada orang seperti aku?"<BR>"Sudahlah jangan  banyak  cakap dan  keluarlah!"  Biauw Leng  Hosiang  yang<BR>berwatak keras itu berkata lagi.<BR>Kini Hai Kong Hosiang menjadi  marah sekali. Ia membanting-banting  kakinya<BR>dan menggunakan telunjuknya menuding sambil berkata keras,<BR>"Biauw Leng! Kau sungguh  tak mengerti aturan  kang-ouw! Bukankah aku  yang<BR>masuk di sini terlebih dulu? Mengapa kau mendesak supaya aku keluar dan mengalah<BR>kepada kau?  Ketahuilah, aku  masih  memandang muka  Sucimu, Biauw  Suthai  yang<BR>selain gagah  perkasa  juga  patut  dihargai  karena  memegang  teguh  peraturan<BR>kang-ouw. Jangan sampai aku lupa diri menggunakan kekerasan!"<BR>Kini tiba-tiba Biauw Leng Hosiang  tertawa, suara ketawanya tinggi  nyaring<BR>seperti suara ketawa seorang wanita.<BR>"Hai Kong! Sudah  kukatakan tadi,  sebelum memaki  orang, kau  bercerminlah<BR>dulu! Kaubilang bahwa kau datang lebih  dulu, akan tetapi, apakah kaukira  bahwa<BR>aku tidak melihat Kanglam  Sam-loji keluar dari sini?  Aku tidak melihat  mereka<BR>masuk, tetapi melihat keluarnya. Bukankah  ini berarti bahwa mereka masuk  lebih<BR>dulu dari padamu?"<BR>Hai Kong  Hosiang menjadi  malu dat  makin marah.  Tak perlu  kita  mengadu<BR>lidah!  Pendeknya,  kalau   kau  menghendaki   aku  keluar,   kau  harus   dapat<BR>mengantarkan!" Ini adalah tantangain berkelahi!<BR>"Hai Kong! Kaukira pinceng takkan dapat menyeretmu keluar dari sini?" Biauw<BR>Leng  Hosiang  membentak  dan  keduanya  telah  saling  berhadapan,  siap  untuk<BR>bertempur!<BR>Yang paling merasa senang adalah Cin Hai. Memang sejak kecil ia suka sekali<BR>menonton orang bertempur  mengadu kepandaian  silat, maka  kini, melihat  betapa<BR>beberapa kali terjadi pertempuran-pertempuran  di antara tokoh-tokoh  persilatan<BR>yang berilmu  tinggi,  tentu  saja  ia merasa  senang  sekali.  Ia  maklum  akan<BR>kelihaian Biauw Leng  Hosiang yang pernah  dilawannya, akan tetapi  ia pun  tahu<BR>bahwa Hai Kong Hosiang memiliki kepandaian tinggi juga.<BR>Sambil berseru keras Biauw Leng Hosiang yang berdarah panas itu sudah mulai<BR>menyerang dengan hebat. Hwesio ini menggunakan senjata sebuah kebutan di  tangan<BR>kiri dan sebuah pedang pendek di tangan kanan, gerakannya cepat dan berat, kedua<BR>senjatanya bergerak  bergantian!  Hai  Kong  Hosiang  tidak  mau  didahului  dan<BR>berbareng mengirim tangkisan berikut serangan balasan yang tidak kalah hebatnya!<BR>Cin Hai sambil mengintai berbisik kepada Ang I Niocu tanpa memandang  gadis<BR>itu karena ia mencurahkan seluruh perhatian ke arah pertempuran. "Niocu, kauduga<BR>siapa yang akan menang?"<BR>Ang I Niocu semenjak tadi melihat gerak-gerik Cin Hai. Entah bagaimana,  ia<BR>merasa sayang dan suka sekali  kepada anak muda ini.  Dulu ketika Cin Hai  masih<BR>kecil dan  berkepala  gundul, ia  merasa  suka  dan kasihan  sekali  dan  merasa<BR>seakan-akan anak itu menjadi adiknya sendiri,  kini Cin Hai telah hampir  dewasa<BR>dan melihat perawakannya, ia bahkan  sudah dewasa karena tubuhnya memang  tinggi<BR>tegap. Akan  tetapi, semenjak  tadi Ang  I Niocu  melihat betapa  anak muda  itu<BR>memandang pertempuran dengan mata  berkilat-kilat dan wajah berseri-seri,  mulut<BR>tersenyum kecil, tanda bahwa  hatinya senang sekali!  Hal ini menyatakan  betapa<BR>sebetulnya ia itu  masih seperti seorang  kanak-kanak saja. Ang  I Niocu  merasa<BR>heran dan tidak mengerti  mengapa hatinya seakan-akan  berbisik bahwa ia  takkan<BR>merasa senang dan bahagia hidupnya jika berada jauh dari Cin Hai!<BR>"Apa katamu?" ia  balas berbisik ketika  Cin Hai mengulangi  pertanyaannya,<BR>lalu ia  memandang  ke arah  pertempuran.  "Entahlah, siapa  yang  akan  menang,<BR>kepandaian mereka berimbang. Walaupun ilmu silat Biauw Leng Hosiang lebih tinggi<BR>dan lebih lihai geraknya, namun Hai Kong Hosiang agaknya lebih menang dalam  hal<BR>mempergunakan senjatanya yang  lihai, juga  Hai Kong  memiliki banyak  tipu-tipu<BR>curang dalam gerakannya. Mungkin akan berjalan lama pertempuran ini."<BR>Cin Hai memperhatikan baik-baik. Tiap pertempuran baginya adalah penambahan<BR>pengertiannya dalam  ilmu silat,  karena dari  gerakan-gerakan mereka  ia  dapat<BR>memetik beberapa pelajaran. Melihat gerakan-gerakan di dalam pertempuran  antara<BR>jago tua itu, ia  merasa betapa kepandaiannya  sendiri sebenarnya masih  dangkal<BR>sekali. Ia  merasa  bahwa  untuk  dapat memiliki  kepandaian  tinggi  dan  dapat<BR>menghadapi orang-orang  seperti Hai  Kong  dan yang  lain-lain, ia  masih  harus<BR>belajar banyak!<BR>Karena merasa jengkel tak  dapat segera menjatuhkan  Hai Kong Hosiang  yang<BR>ternyata memiliki kepandaian  lebih lihai  daripada yang semula  ia duga,  Biauw<BR>Leng Hosiang merasa  tak sabar  dan tiba-tiba ia  bersuit keras.  Dari luar  gua<BR>terdengar suitan-suitan balasan  dan tiba-tiba  dari luar  menerobos lima  orang<BR>yang berpakaian seragam. Mereka ini ternyata adalah perwira-perwira Sayap Garuda<BR>yang sudah tinggi pangkatnya. Begitu masuk kelima orang ini lalu maju mengeroyok<BR>Hai Kong Hosiang!<BR>Perlu diketahui bahwa  barisan Sayap Garuda  terdiri dari beberapa  tingkat<BR>perwira menurut tingkat  kepandaian mereka  masing-masing. Dan  lima orang  yang<BR>masuk ini tingkatnya sudah  ke tiga, maka mereka  memiliki ilmu kepandaian  yang<BR>sudah lumayan juga, dan senjata mereka  adalah pedang panjang. Sudah tentu  saja<BR>masuknya lima  orang yang  membantu  Biauw Leng  Hosiang  ini membuat  Hai  Kong<BR>Hosiang yang memang sudah terdesak, menjadi makin sibuk. Akhirnya sebuah totokan<BR>yang dilakukan dengan ujung kebutan di tangan kiri Biauw Leng Hosiang tak  dapat<BR>dihindarkan telah mengenai pundak Hai  Kong Hosiang hingga hwesio ini  berteriak<BR>keras sekali lalu roboh!<BR>Kalau orang  lain yang  terkena  totokan kebutan  Biauw Leng  Hosiang  yang<BR>dilakukan dengan tenaga lweekang yang kuat tentu melayang jiwanya.<BR>Hai Kong Hosiang bukan  orang lemah dan  tubuhnya sudah memiliki  kekebalan<BR>hingga ia  hanya menderita  luka  dalam yang  tidak membahayakan  jiwanya.  Akan<BR>tetapi, totokan itu cukup hebat untuk  merobohkannya dan untuk beberapa lama  ia<BR>hanya duduk bersila sambil mengatur napasnya untuk menyembuhkan atau  setidaknya<BR>meringankan luka pundak yang menembus dadanya.<BR>"Biauw Leng Sute, kau sungguh bandel sekali!" tiba-tiba terdengar  teriakan<BR>suara wanita dan tahu-tahu Biauw Suthai wanita pertapa dari Hoa-san yang bermuka<BR>seperti pantat kuali den matanya sebelah kanan buta ini, tahu-tahu telah  berada<BR>di ruangan itu, tangan  kiri memegang hudtim dan  tangan kanan memegang  pedang.<BR>Bukan main terkejutnya Biauw Leng Hosiang melihat sucinya telah berada di  situ!<BR>Hal ini sama sekali tidak pernah diduganya.<BR>Sebenarnya, setelah menegur adik seperguruannya yang sesat itu ketika Biauw<BR>Leng Hosiang menjatuhkan Cin Hai, Biauw Suthai lalu pergi. Akan tetapi ia  masih<BR>merasa curiga  kepada  adik  seperguruannya yang  telah  berkali-kali  melakukan<BR>pelanggaran perguruan  mereka  dan  berkali-kali  ia  tegur  karena  menjalankan<BR>kejahatan itu.  Maka  diam-diam  ia  lalu  mengikuti  adik  seperguruannya  itu.<BR>Alangkah marahnya ketika melihat betapa Biauw Leng Hosiang mengadakan  pertemuan<BR>lagi dengan  para  perwira  Sayap  Garuda, bahkan  bersama  lima  orang  perwira<BR>menyerbu ke Gua Tengkorak itu.<BR>Ia terus mengikuti ke mana mereka pergi dan setelah melihat betapa  sutenya<BR>mengeroyok dan merobohkan  Hai Kong Hosiang,  ia lalu menyerbu  masuk dan  telah<BR>mengambil keputusan tetap untuk menghajar sutenya yang tersesat.<BR>"Biauw-suci, kau lagi-tagi menghalang-halangi  maksud dan sepak  terjangku.<BR>Sebenarnya ada sangkut  paut apakah  segala perbuatanku dengan  kau orang  tua?"<BR>kata Biauw Leng  Hosiang yang  mulai memberontak  dan hendak  melawan karena  ia<BR>mengandalkan bantuan kelima perwira yang kosen itu.<BR>"Biauw Leng! Apakah kau telah melupakan sumpahmu kepada mendiang Suhu dulu?<BR>Percuma saja kau menjadi pendeta kalau  kau selalu melanggar pantangan kita  dan<BR>melakukan perbuatan-perbuatan  sesat.  Kau tentu  masih  ingat bahwa  di  antara<BR>segala pantangan, Suhu almarhum paling benci melihat orang membela kaisar  lalim<BR>dan menjadi anjing penjilat."<BR>"Telah  berkali-kali  kau  kuperingatkan  dan  selalu  aku  masih  bersabar<BR>mengingat hubungan  kita sebagai  saudara seperguruan.  Akan tetapi  kau  selalu<BR>tetap melanggar. Sekarang, mari  kau ikut aku untuk  mengadakan sumpah di  depan<BR>makam Suhu!"<BR>"Biauw-suci kau  sungguh terlalu!  Mengingat kau  dulu sering  melatih  dan<BR>memberi pelajaran kepadaku, maka aku selalu mengalah saja terhadapmu. Tetapi kau<BR>jangan terlalu mendesak! Ingat,  seekor semut pun  akan membalas dengan  gigitan<BR>dan akan melawan jika diinjak, apalagi aku sebagai manusia. Kau pulanglah,  Suci<BR>yang baik dan janganlah kau mempedulikan lagi diriku. Aku bukan anak kecil!"<BR>Wajah Biauw Suthai  yang sudah buruk  itu makin memburuk  dan matanya  yang<BR>tinggal satu di sebelah kiri itu mengeluarkan cahaya kilat tanda bahwa ia  marah<BR>sekali. Biauw Leng Hosiang maklum akan  hal ini dan sebenarnya ia menjadi  takut<BR>dan jerih juga, akan tetapi ia segera memberi tanda kepada kelima perwira itu.<BR>"Biauw Leng, lepaskan  senjatamu dan kau  berlutut!" perintah Biauw  Suthai<BR>yang tiba-tiba mengeluarkan sebuah hudtim berbulu merah dari pinggangnya.  Biauw<BR>Leng Hosiang terkejut  melihat ini,  karena ia  ingat bahwa  kebutan ini  adalah<BR>milik mendiang suhu mereka dan yang bila dikeluarkan, berarti bahwa hukuman mati<BR>akan dijatuhkan  kepada  seorang murid  yang  murtad! Kini  Biauw  Suthai  telah<BR>mengeluarkan kebutan merah ini  dan jika ia tidak  berlutut minta ampun, ia  pun<BR>tentu akan dihukum mati oleh sucinya sendiri!<BR>Akan tetapi,  Biauw  Leng  Hosiang dapat  menetapkan  hatinya  dan  setelah<BR>memberi tanda  kepada  kawan-kawannya, mereka  berenam  lalu maju  menyerbu  dan<BR>menyerang Biauw Suthai.<BR>Cin Hai pernah ditolong oleh Biauw Suthai, yaitu ketika ia dirobohkan  oleh<BR>Biauw Leng Hosiang, maka ia merasa  bersimpati kepada tokouw ini apa lagi  kalau<BR>ia ingat bahwa  tokouw yang buruk  rupa ini adalah  guru dari Lin  Lin, maka  ia<BR>tidak dapat  menahan hatinya  melihat  tokouw itu  dikeroyok enam!  Ia  memegang<BR>erat-erat  tulang  paha   manusia  yang  masih   dipegangnya  ketika  ia   pergi<BR>bersembunyi, lalu ia meloncat keluar sambil berteriak,<BR>"He, kawanan  Sayap  Garuda!  Jangan berlaku  pengecut  dan  curang  dengan<BR>keroyokan!"<BR>Ang I Niocu terkejut sekali melihat sepak terjang Cin Hai. Ia maklum  bahwa<BR>kepandaian Cin  Hai masih  terlampau lemah  untuk melayani  orang-orang  berilmu<BR>tinggi itu maka ia lupa  akan perintah Bu Pun Su  tadi dan meloncat keluar  pula<BR>mengejar Cin Hai sambil berseru,<BR>"Hai-ji, hati-hati!"<BR>Biauw Leng Hosiang terkejut melihat bahwa ternyata di ruangan itu telah ada<BR>orang yang  datang dan  bersembunyi, akan  tetapi ia  tak berdaya  karena  Biauw<BR>Suthai mendesaknya dengan hebat! Terpaksa ia melawan sekuat tenaga.<BR>Sementara itu, kelima perwira Sayap Garuda ketika melihat keluarnya seorang<BR>pemuda dengan tulang di tangan, untuk  sejenak tertegun. Kemudian setelah Ang  I<BR>Niocu keluar mereka maklum bahwa pihak musuh bertambah, maka dua orang di antara<BR>mereka lalu menyambut Cin Hai dan Ang I Niocu.<BR>Cin Hai melawan dengan tulang itu sambil mengeluarkan ilmu silat yang telah<BR>dipelajarinya. Oleh karena ternyata  bahwa lawannya cukup  tangguh maka ia  lalu<BR>mencampur-adukkan Ilmu Silat Liong san-kun-hwat! Dengan ilmu silat campuran  ini<BR>ternyata Cin Hai dapat mengimbangi kepandaian Perwira Sayap Garuda itu.<BR>Sedangkan perwira  yang  bertanding melawan  Ang  I Niocu,  dalam  beberapa<BR>gebrakan saja telah menjadi  sibuk dan dibingungkan oleh  ilmu pedang Dara  Baju<BR>Merah yang menari-nari di depannya itu! Melihat betapa perwira ini terancam oleh<BR>bahaya pedang di  tangan Ang I  Niocu yang  gagah, dua orang  perwira maju  pula<BR>mengeroyok Ang I Niocu yang masih  tetap gagah dan bahkan nampak gembira  sekali<BR>dikeroyok tiga!  Nona  ini  selain menghadapi  ketiga  lawannya,  juga  berusaha<BR>mendekati Cin  Hai hingga  dapat  siap sedia  membela  dan menolong  pemuda  itu<BR>apabila sampai terdesak dan berada dalam bahaya.<BR>Sementara itu, karena kini yang  mengeroyoknya hanya Biauw Leng Hosian  dan<BR>seorang perwira saja,  Biauw Suthai  dapat mendesak  adik seperguruannya  dengan<BR>hebat sekali dan pada suatu saat ia mengeluarkan seruan keras sekali dan kebutan<BR>merah yang dipegangnya  telah dipakai  menghantam dan tepat  mengenai dada  kiri<BR>Biauw Leng  Hosiang! Hwesio  ini  mengeluarkan jeritan  ngeri dan  roboh  sambil<BR>muntah darah dan tewas seketika itu juga!<BR>Semua perwira  merasa  terkejut dan  melompat  mundur dengan  wajah  pucat.<BR>Melihat betapa orang yang mereka andalkan telah tewas, maka mereka tidak  berani<BR>bertempur lagi.<BR>Biauw Suthai ketika  melihat sutenya rebah  di atas lantai  batu dan  telah<BR>binasa, tiba-tiba ia menubruk sambil menangis tersedu-sedu!<BR>"Sute...  Sute...  mengapa  kau  mencari  kematian  di  tanganku?"  Tokouw  iin<BR>berkeluh-kesah dengan  suara memilukan.  Kemudian Biauw  Suthai menghampiri  Hai<BR>Kong Hosiang yang masih duduk meramkan mata dan mengobati luka di dalam dadanya.<BR>Tokouw ini menggunakan tangannya  menepuk pundak Hai  Kong Hosiang yang  terluka<BR>hingga hwesio ini  merasa betapa totokan  Biauw Leng tadi  dapat dipunahkan  dan<BR>lukanya menjadi berkurang sakitnya.<BR>"Hai Kong  Hosiang, kaumaafkan  Suteku yang  telah menebus  dosanya  dengan<BR>jiwanya."<BR>Hai Kong Hosiang  hanya mengangguk, kemudian  hwesio ini lalu  meninggalkan<BR>tempat itu, Biauw Suthai lalu mengangkat sutenya dan sambil memondong tubuh yang<BR>tak bernyawa pula itu, ia hendak meninggalkan gua. Akan tetapi Cin Hai melangkah<BR>maju dan sambil memberi hormat ia bertanya,<BR>"Suthai yang mulia, mohon  tanya tentang keadaan  Adikku Lin Lin.  Bukankah<BR>dia muridmu?"<BR>Biauw Suthai memandang heran  kepada Cin Hai dan  bertanya, "Eh, anak  muda<BR>yang berani, kau siapakah?"<BR>"Suthai tentu telah lupa kepada anak kecil yang dulu bersama dengan Lin Lin<BR>ketika kau mencu... eh membawanya pergi!"<BR>Biauw Suthai teringat akan anak gundul itu, "Hm, ia baik... ia baik..."  Lalu<BR>ia pergi sambil memondong jenazah sutenya!<BR>Kelima Perwira  Sayap  Garuda  itu  pun pergi  dengan  cepat  karena  tanpa<BR>pembantu yang pandai, mereka merasa jerih menghadapi Ang I Niocu yang tadi telah<BR>mereka kenal kelihaiannya. Ang I Niocu juga tidak mau mengejar karena sebenarnya<BR>nona ini sedang merasa kuatir  sekali akan mendapat teguran dari  susiok-couwnya<BR>karena telah berani-berani keluar dari tempat persembunyiannya. Oleh karena ini,<BR>sebelum ia menerima teguran ia segera membetot tangan Cin Hai dan bersama pemuda<BR>itu segera menjatuhkan diri berlutut di situ sambil berkata,<BR>"Susiok-couw, mohon dimaafkan  kelancangan teecu berdua  dan kami  bersedia<BR>menerima hukuman!"<BR>Akan tetapi tidak terdengar jawaban apa-apa, sedangkan Cin Hai merasa tidak<BR>puas sekali melihat sikap nona itu yang  agaknya sangat takut kepada Bu Pun  Su.<BR>Pemuda ini lalu mengangkat  kepala dan bukan main  heran dan terkejutnya  ketika<BR>melihat yang berada di depannya, telah  berdiri seorang yang aneh sekali.  Orang<BR>ini bertubuh pendek sekali, barangkali sama tingginya dengan seorang kanak-kanak<BR>berusia sepuluh tahun. Kedua matanya bundar besar melirik ke sana ke mari  tiada<BR>hentinya seperti  mata  sebuah  boneka mainan,  kedua  telinganya  lebar  sekali<BR>seperti telinga  gajah, sedangkan  mulutnya. Berbibir  tebal. Ia  memakai  jubah<BR>panjang yang menggantung sampai ke tanah  dan yang mencolok sekali adalah  warna<BR>jubah ini yang hitam sekali.<BR>"Eh, siapa  orang kate  ini?" Tak  terasa pula  Cin Hai  bangun dari  tanah<BR>karena ia tidak sudi berlutut di depan orang kate itu. Ang I Niocu juga menengok<BR>dan terkejutlah dia, terkejut  karena mengingat betapa  lihainya orang ini  yang<BR>dapat datang ke  situ tanpa mengeluarkan  suara sedikit pun.  Bahkan ia  sendiri<BR>dalam berlutut tadi  tidak mendengar  suara kaki orang,  tetapi tahu-tahu  orang<BR>kate ini  telah  berdiri  di  depannya.  Ketika  ia  bangun  dan  memandang,  ia<BR>memperhatikan jubah  orang  kate  itu  maka  kagetlah  Ang  I  Niocu.  Ia  dapat<BR>mengetahui bahwa orang  aneh ini  tentulah Hek Moko  Si Iblis  Hitam yang  telah<BR>terkenal sekali sebagai seorang jago tua yang sukar dapat dicari tandingannya di<BR>dunia kang-ouw bagian barat!<BR>Ang I  Niocu  lalu mengangkat  kedua  tangan  di dada  dan  menjura  sambil<BR>berkata, "Locianpwe kami yang muda memberi hormat."<BR>Tiba-tiba Hek Moko tertawa dan suara ketawanya ini kalau didengar di  dalam<BR>gelap tanpa  terlihat orangnya,  tentu akan  disangka orang  suara setan.  Suara<BR>ketawanya  mula-mula   rendah   sekali   bagaikan  suara   kodok   besar,   lalu<BR>perlahan-lahan meninggi menjadi  nyaring dan kecil.  Tiba-tiba Hek Moko  menahan<BR>tawanya karena mendengar Cin Hai juga tertawa geli.<BR>"Pemuda tolol! Kau  siapakah? Kau apanya  Ang I Niocu?"  Hek Moko  bertanya<BR>dengan kata-kata kasar sedangkan kedua matanya berputar-putar.<BR>Cin Hai tidak menjawab tetapi bahkan  tertawa makin geli dan keras.  Ketika<BR>tadi melihat bentuk  dan rupa Hek  Moko, ia telah  merasa ngeri sekali,  apalagi<BR>melihat sepasang  telinganya. Ketika  Ang I  Niocu bicara  kepada Hek  Moko  dan<BR>menyebutnya locianpwe (orang tua  gagah), ia merasa  makin geli karena  alangkah<BR>ganjilnya menyebut seorang yang tingginya  hanya sama dengan tinggi  pinggangnya<BR>dengan sebutan locianpwe. Kemudian,  ketika Hek Moko  tertawa dengan suara  yang<BR>menyeramkan  dan  lucu  itu,   ia  melihat  betepa   telinga  gajah  itu   dapat<BR>bergerak-gerak bagaikan telinga gajah  yang benar.-benar digerak-gerakkan  untuk<BR>mengipas tubuh. Maka pemuda ini tak dapat lagi menahan geli hatinya dan  tertawa<BR>keras. Kini melihat  Hek Moko  mengajukan pertanyaan sambil  memuta mutar  kedua<BR>matanya, Cin Hai makin geli dan tertawanya makin keras pula.<BR>"Hai, tolol! Kenapa kau tertawa?" Hek Moko membentak dengan muka heran.<BR>"Kakek kate, aku tertawa mendengar kau tertawa!"<BR>Hek Moko  melengak dan  menggerakkan kepalanya  ke belakang.  Belum  pernah<BR>selama ia merantau ada orang berani mentertawakan suara tawanya!<BR>"Tolol! Hati-hatilah menjaga lidahmu. Mengapa kau tertawakan aku?"<BR>Melihat sikap  Hek  Moko, Cin  Hai  tahu bahwa  orang  ini marah,  maka  ia<BR>berkata,<BR>"Orang tua, orang baru tertawa kalau  berhati senang. Kau tadi tiada  hujan<BR>tiada angin  tertawa, tentu  berarti kau  senang bertemu  dengan kami.  Aku  pun<BR>menjadi senang dan tertawa juga, apa salahnya? Eh, kakek kate, tahukah kau  akan<BR>sebuah ujar-ujar tentang tertawa?"<BR>Kembali Hek  Moko tertegun.  Ia  kuatir kalau-kalau  anak muda  ini  sedang<BR>mempermainkannya, akan tetapi ia juga ingin sekali tahu apakah ujar-ujar tentang<BR>tertawa itu. "Coba  kauceritakan, aku  belum mendengar,"  jawabnya dengan  kedua<BR>mata tetap berputar-putar.<BR>Cin Hai lalu  mendongakkan kepala dan  dengan suara sungguh-sungguh  meniru<BR>suara dan lagak gurunya yang dulu mengajarnya sastera,<BR>"Mati di antar tangis, lahir  disambut tawa. Tapi bagaimanakah sikap  orang<BR>bijaksana? Kurangi tangis dan perbanyaklah tawa!"<BR>"Bagus, bagus, bagus!" Hek Moko memuji dan ia tertawa lagi. Lenyaplah  rasa<BR>marahnya yang tadi karena menyangka bahwa Cin Hai mempermainkannya.<BR>"Dan kenapakah kau tertawa,  orang tua yang aneh  dan lucu?" tanya Cin  Hai<BR>sedangkan  Ang  I   Niocu  terheran-heran  melihat   keberanian  Cin  Hai   yang<BR>bercakap-cakap  dengan  kakek  itu  bagaikan  dua  orang  sahabat  baik   sedang<BR>mengobrol!<BR>"Kenapa aku tertawa? Ha, ha! Siapa takkan tertawa melihat Bu Pun Su  jembel<BR>tua itu  begitu  malas! He,  Bu  Pun Su,  benar-benarkah  kau begitu  malas  dan<BR>memandang rendah kepadaku  hingga masih  terus mendengkur dan  tidak mau  keluar<BR>menyambut?" Tiba-tiba orang kate ini  mengebutkan jubahnya yang hitam dan  angin<BR>besar menyambar ke arah  sebuah tengkorak yang  dikebutnya hingga tengkorak  itu<BR>bergoyang-goyang seakan-akan hendak roboh!<BR>"Hek Moko, kau  jangan terlalu  seji (malu-malu). Suruhlah  Pek Moko  masuk<BR>juga!" Tiba-tiba terdengar  suara Bu  Pun Su,  akan tetapi  Cin Hai  benar-benar<BR>tidak tahu dari mana  datangnya suara itu, seakan-akan  ada beberapa orang  yang<BR>bicara dari berbagai penjuru! Ternyata dalam  kata-katanya ini, Bu Pun Su  telah<BR>mendemonstrasikan kehebatan  khikangnya yang  telah dapat  mengirim suaranya  ke<BR>berbagai tempat dan biarpun dia tidak meninggalkan gua itu, namun dia telah tahu<BR>bahwa Hek Moko datang bersama  Pek Moko. Hek Moko  diam-diam memuji dan ia  lalu<BR>mengeluarkan suara bersuit yang nyaring dan tajam menyakitkan anak telinga. Dari<BR>luar gua terdengar pula suara suitan  yang sama bunyinya dan sebelum gema  suara<BR>suitan itu lenyap,  dari luar gua  menyambar sinar putih  dan tahu-tahu Cin  Hai<BR>melihat seorang yang tidak kalah anehnya  berdiri di dekan Hek Moko! Orang  yang<BR>baru datang  itu adalah  Pek Moko  Si Iblis  Putih. Tubuhnya  tinggi besar  akan<BR>tetapi anggauta mukanya  kecil-kecil, bahkan matanya  hanya merupakan dua  garis<BR>melintang panjang sedangkan daun telinganya hampir tak tampak karena kecilnya!<BR>Hek Moko dan Pek Moko adalah sepasang saudara seperguruan yang telah sangat<BR>terkenal di dunia  kang-ouw, terutama di  daerah barat. Mereka  ini datang  dari<BR>sebelah selatan Tibet dan memiliki  kepandaian silat yang luar biasa  tingginya.<BR>Biarpun tubuhnya kate, tetapi Hek Moko adalah saudara tua dan Pek Moko  sutenya.<BR>Kalau Hek Moko selalu mengenakan jubah  warna hitam, Pek Moko selalu  mengenakan<BR>jubah warna putih bersih. Oleh karena warna jubahnya inilah maka mereka  disebut<BR>Iblis Hitam dan Iblis Putih, sedangkan nama aseli mereka sudah dilupakan orang.<BR>Berbareng dengan datangnya Pek Moko, maka Bu Pun Su juga muncul keluar dari<BR>balik  tengkorak.  Kakek   tua  ini  berjalan   dengan  tindakan  perlahan   dan<BR>bermalas-malasan.<BR>"Kalian Iblis Hitam  dan Putih,  setelah lebih  dari lima  belas tahun  tak<BR>bertemu, kepandaianmu makin meningkat saja.  Kalian jauh-jauh dari barat  menuju<BR>ke sini, apakah  juga silau oleh  gemerlapnya emas  dan perak?" kata  Bu Pun  Su<BR>setelah berhadapan dengan mereka.<BR>"Bu Pun Su  kakek jembel, kau  benar-benar panjang umur!  Tak kusangka  kau<BR>masih hidup. Apakah kali ini kau  pun hendak menjadi perintang bagi kami  berdua<BR>saudara?" tanya Hek Moko sambil memutar-mutar matanya.<BR>"Hek Moko, jangan seperti anak kecil.  Kau tahu betul bahwa aku jembel  tua<BR>bukan manusia  usilan. Asalkan  kau tidak  mengganggu orang,  mengapa takut  aku<BR>menjadi perintang? Berbuatlah apa yang kausuka, aku takkan peduli."<BR>Giranglah wajah Hek Moko  mendengar ucapan ini.  "Memang, semenjak tadi  ia<BR>telah dapat  melihat kakek  jembel yang  lihai itu  dan ia  merasa jerih  hingga<BR>diam-diam ia  menyuruh Pek  Moko menunggu  di luar  untuk berjaga-jaga.  Belasan<BR>tahun yang lalu, ia dan sutenya pernah bentrok dengan Bu Pun Su dan roboh  dalam<BR>tangan orang  tua lihai  itu,  hingga masih  merasa  jerih dan  ragu-ragu  untuk<BR>memusuhi orang tua itu.<BR>"Ha-ha, bagus, Bu Pun Su!" Kemudian  Hek Moko berpaling kepada Ang I  Niocu<BR>dan Cin Hai. "Hai,  kau Nona cantik  dan anak muda  yang aneh. Kalian  mendengar<BR>tadi kata-kata Bu Pun  Su si Kakek Jembel?  Nah, kalian menjadi saksi!"  Setelah<BR>berkata demikian, Hek Moko  lalu melangkah maju  menghampiri hiolouw besar  yang<BR>berdiri di tengah kamar di balik pintu itu. Ia membungkuk dan menggunakan tangan<BR>untuk menggeser hiolouw yang beratnya seribu kati itu. Hiolouw itu bergerak  dan<BR>tergeser dengan mudah! Di bawah hiolouw itu ternyata terdapat sebuah lubang yang<BR>cukup besar. Hek Moko  menjenguk dan ia  segera meloncat sambil  memperdengarkan<BR>suara ketawanya yang  aneh. Sementara  itu, Pek  Moko yang  juga ikut  menjenguk<BR>melihat keadaan lubang,  lalu membalikkan  tubuh memandang  ke arah  Bu Pun  Su.<BR>Kedua kakak beradik yang aneh itu berdiri bagaikan patung dan memandang ke  arah<BR>Bu Pun Su yang masih berdiri tak mengacuhkan sama sekali.<BR>"Bu Pun Su  tua bangka  menyebalkan! Kembali kau  mempermainkan kami!"  Pek<BR>Moko berseru dan suaranya  juga kecil dan tinggi,  tidak sesuai dengan  tubuhnya<BR>yang besar.<BR>"Biarlah sekali laqi  kami mencoba-coba kelihaianmu!"  teriak Hek Moko  dan<BR>tiba-tiba Iblis Hitam ini menggunakan kedua tangannya memegang kaki hiolouw  dan<BR>sekali ayun saja hiolouw itu melayang ke arah Bu Pun Su!<BR>Cin Hai merasa terkejut dan ngeri sekali. Ia dan Ang I Niocu berdiri  dekat<BR>Bu Pun Su hingga hiolouw itu tidak  saja mengancam Si Kakek Jembel, tetapi  juga<BR>sekaligus mengancam mereka  berdua! Hiolouw  raksasa itu  demikian berat  hingga<BR>sebelum datang, anginnya telah menyambar ke arah mereka. Benda kuno itu beratnya<BR>seribu  kati  lebih,  kini  dilontarkan  dengan  tenaga  raksasa  hingga   dapat<BR>dibayangkan betapa hebat jika tertimpa hiolouw terbang ini! Akan tetapi di depan<BR>Ang I Niocu dan  Bu Pun Su,  Cin Hai tidak mau  memperlihatkan sikap takut  atau<BR>ngeri, maka  ia tidak  meloncat  pergi untuk  menghindarkan diri  dari  serangan<BR>hiolouw, hanya  berdiri  dengan  urat-urat  seluruh  tubuhnya  tegang  dan  mata<BR>terbelalak.<BR>Ang I Niocu  biarpun telah  memiliki kepandaian tinggi,  namun ia  mengerti<BR>bahwa tenaganya masih  belum cukup  untuk menyambut datangnya  hiolouw, maka  ia<BR>hanya bersiap untuk menolak  benda itu ke samping  apabila jatuhnya menimpa  dia<BR>atau Cin Hai. Gadis ini tentu saja cukup tahu diri dan tidak bergerak karena  di<BR>situ terdapat kakek  gurunyat takut  kalau-kalau dianggap  lancang tangan.  Akan<BR>tetapi, alangkah heran dan  terkejutnya Cin Hai ketika  melihat bahwa Bu Pun  Su<BR>yang berdiri miring  agaknya sama  sekali tidak  mempedulikan datangnya  hiolouw<BR>yang menyambar  k arah  dirinya! Keringat  dingin mulai  keluar membasahi  jidat<BR>pemuda ini, karena  betapa tabah pun  hatinya, menghadapi bahaya  maut di  depan<BR>mata tanpa kuasa menghindarkannya membuat ia merasa cemas sekali.<BR>Ketika hiolouw  itu  menyambar  dekat  sekali  hingga  Ang  I  Niocu  telah<BR>mengangkat kedua tangan hendak menolak benda itu ke samping, tiba-tiba Bu Pun Su<BR>melangkah maju dua langkah dan ia menyambut hiolouw itu dengan kepalanya!  Heran<BR>sekali, ketika  kaki  hiolouw  itu  menimpa kepalanya  maka  kepala  Bu  Pun  Su<BR>seakan-akan besi sembrani yang menarik hiolouw itu hingga kaki hiolouw  menempel<BR>pada kulit kepala dan berdiri lurus tanpa bergoyang-goyang sedikit pun.  Hiolouw<BR>itu kini terletak di atas  kepala Bu Pun Su,  seakan-akan benda yang ringan  dan<BR>yang diletakkan dengan hati-hati di atas kepala!<BR>Tidak hanya Cin Hai yang terpaksa meleletkan lidah tanpa merasa lagi saking<BR>kagum dan herannya, tetapi juga Ang  I Niocu memandang dengan mata kagum  karena<BR>baru sekarang ia  menyaksikan sucouwnya  mendemonstrasikan kekuatan  lweekangnya<BR>yang tak terbatas tingginya itu. Kedua Iblis Hitam Putih juga tertegun.<BR>Terdengar kakek  tua itu  tertawa ha-ha  hi-hi, lalu  berkata dengan  suara<BR>lemah lembut, "Hek Pek Moko, hiolouw  adalah benda suci tempat orang memuja  dan<BR>bersembahyang maka  harus  dihormati. Apalagi  benda  ini umurnya  telah  ribuan<BR>tahun,  jauh  lebih  tua  daripada  kalian  atau  aku,  maka  tidak  boleh  kita<BR>merusakkannya.  Baiknya  kau  melemparkan  dengan  hati-hati  dan  tidak  sampai<BR>menumpahkan isinya. Kalau tidak, tentu aku takkan mengampunimu, Hek Moko!"<BR>Setelah berkata demikian, Bu  Pun Su dengan hiolouw  masih berdiri di  atas<BR>kepala lalu  berjalan  seenaknya menuju  ke  tempat  di mana  hiolouw  itu  tadi<BR>berdiri. Hek Moko  dan Pek  Moko melangkah  ke kanan  kiri dan  kedua iblis  ini<BR>segera bergerak cepat.  Mereka memang maklum  bahwa kepandaian Bu  Pun Su  masih<BR>jauh  lebih  tinggi  daripada  kepandaian  mereka  sendiri  dan  biarpun  mereka<BR>mengeroyoknya, belum tentu mereka akan berhasil merebut kemenangan. Akan tetapi,<BR>sekarang melihat bahwa kakek jembel yang lihai itu sedang berjalan dengan kepala<BR>membawa beban yang berat  sekali, mereka melihat  keuntungan bagus. Untuk  dapat<BR>menahan beban  seberat  itu  di  atas kepala,  orang  harus  mengerahkan  tenaga<BR>lweekangnya dan  kakek  itu  biarpun  tenaga  lweekangnya  sangat  hebat,  namun<BR>sedikitnya harus  mempergunakan  tenaga itu  tiga  perempat bagian  untuk  dapat<BR>membawa hiolouw di atas  kepala. Dan keadaan ini  tentu saja amat  menguntungkan<BR>mereka, maka mengapa tidak mempergunakan kesempatan baik ini?<BR>Biarpun mereka tidak menyatakan isyarat sesuatu, namun jalan pikiran mereka<BR>agaknya tak berbeda jauh karena ketika Bu Pun Su berjalan lewat di dekat mereka,<BR>tiba-tiba keduanya  lalu  mengayun tangan  mengirim  serangan dari  kanan  kiri!<BR>Serangan kedua iblis ini  lihai dan berbahaya sekali  karena mereka tidak  hanya<BR>bermaksud untuk main-main.<BR>Hek Moko dari kiri menyerang  dengan tangan kanan dimiringkan dan  menampar<BR>jalan darah di  leher, sedangkan  Pek Moko  dari kanan  menggunakan tangan  kiri<BR>menotok urat kematian di iga belakang!<BR>Ang I Niocu mengeluarkan jerit tertahan sedangkan Cin Hai berseru, "Sungguh<BR>curang!"<BR>Akan tetapi  dengan tenang  sekali  Bu Pun  Su menggerakkan  kepalanya  dan<BR>hiolouw itu terlempar  ke atas dan  pada saat  yang hanya sekejap  itu ia  telah<BR>mementang kedua lengannya  dengan jari  tangan terbuka  dan mendahului  mengirim<BR>totokan ke arah pergelangan tangan kedua iblis yang memukulnya!<BR>Bukan main kagetnya Hek Moko dan Pek Moko karena mereka tak menduga sedikit<BR>pun bahwa Bu  Pun Su  memiliki kecepatan  tangan sedemikian  rupa. Kalau  mereka<BR>meneruskan serangan mereka, maka sebelum pukulan tangan mereka mengenai sasaran,<BR>tentu terlebih  dahulu pergelangan  tangan mereka  akan tertotok.  Cepat  mereka<BR>menarik kembali  tangan  mereka  untuk  disusul  dengan  lain  serangan!  Mereka<BR>berpikir bahwa kali  ini Si  Jembel Tua  takkan dapat  menyelamatkan diri  lagi,<BR>karena serangan tidak hanya  datang dari mereka yang  menyerang dari kanan  kiri<BR>tetapi juga dari atas, karena hiolouw yang tadi terlempar ke atas kini  melayang<BR>turun lagi akan menimpa kepala Bu Pun Su!<BR>Kini Ang I Niocu tak terasa lagi berseru, "Celaka!" dan tubuhnya  merupakan<BR>bayangan merah berkelebat  ke arah  tempat pertempuran, sedangkan  Cin Hai  lalu<BR>membungkuk untuk  memungut  kembali  sepotong tulang  raksasa  yang  tadi  telah<BR>dilepaskan ke tanah!<BR>Kini Hek Moko menyerang dengan pukulan ke arah dada dan Pek Moko  menyerang<BR>dari atas ke arah kepala Bu Pun Su! Sementara itu, hiolouw yang berat itu  makin<BR>cepat meluncur ke bawah hendak menimpa  kepala kakek jembel itu hingga  anginnya<BR>telah membuat rambut kakek itu berkibar.<BR>Bu Pun Su  tidak saja lihai,  tetapi juga ingin  memegang teguh  ucapannya.<BR>Tadi ia telah mengatakan bahwa orang harus menghormat hiolouw itu, maka  biarpun<BR>berada dalam keadaan yang sangat berbahaya, sekali-kali ia tidak mau  membiarkan<BR>hiolouw itu jatuh terbanting ke tanah hingga tumpah isinya atau rusak. Kalau  ia<BR>tidak menyayangi  hilouw  itu, mudah  saja  baginya untuk  menangkis  dan  balas<BR>menyerang kepada kedua lawannya.  Dengan sekali lompatan  saja ia akan  berhasil<BR>mengelak dari serangan Hek  Moko dan Pek Moko.  Akan tetapi, kalau ia  melakukan<BR>ini, tentu hiolouw itu akan terbanting di atas lantai dan rusak.<BR>Akan tetapi tidak percuma  kakek jembel ini  pernah dijuluki orang  sebagai<BR>ahli silat terpandai  di kolong langit.  Memang ada jalan  ke dua baginya  untuk<BR>menyelamatkan diri  daripada serangan  kedua lawannya,  yakni dengan  membarengi<BR>mengirim pukulan  maut  sebagai serangan  balasan,  akan tetapi  ia  tidak  sudi<BR>menjatuhkan tangan besi dan  mengotorkan tangannya dengan pembunuhan.  Tiba-tiba<BR>saja ia  mengeluarkan seruan  keras sekali  hingga seluruh  ruangan itu  menjadi<BR>tergetar dan  tengkorak-tengkorak  raksasa  yang  berdiri  itu  bergoyang-goyang<BR>mengeluarkan suara berkelotekan karena tulang-tulang beradu. Kedua iblis itu pun<BR>menjadi terkejut dan  hawa yang keluar  dari tenaga khikang  ini membuat  mereka<BR>tertegun dan  memperlambat  datangnya  pukulan  mereka.  Kesempatan  yang  hanya<BR>beberapa detik ini  digunakan oleh  Bu Pun  Su dengan  baiknya karena  tiba-tiba<BR>saja, tanpa  dapat  terlihat  oleh  mata  bagaimana  ia  menggerakkan  tubuhnya,<BR>tahu-tahu tubuhnya  itu telah  rebah  terlentang di  atas lantai,  melintang  di<BR>antara kedua lawannya  dan sekaligus  ia terlepas daripada  kedua serangan  maut<BR>itu.<BR>Perhitungan Bu  Pun Su  memang tepat  sekali. Hiolouw  itu menyambar  turun<BR>makin cepat dan oleh karenanya hampir saja menimpa tangan Hek Moko dan Pek  Moko<BR>yang terulur ke  depan dalam  menjalankan pukulan mereka  tadi. Dengan  terkejut<BR>kedua iblis  itu  menarik  kembali  pukulannya  sambil  melompat  mundur,  takut<BR>kalau-kalau tertimpa hiolouw yang berat itu. Akan tetapi mereka bergirang  hati,<BR>kini Si Jembel tua telah rebah terlentang dan hiolouw itu dengan kecepatan  luar<BR>biasa melayang ke arah dadanya! Tentu akan remuk tubuh si Jembel tua yang mereka<BR>takuti itu.<BR>Akan tetapi kini mereka semua disuguhi pertunjukan yang benar-benar  hebat.<BR>Karena tiada kesempatan untuk melompat bangun dan menyelamatkan hiolouw itu,  Bu<BR>Pun Su sambil rebah  terlentang lalu mengangkat kedua  kakinya berdiri lurus  ke<BR>atas, kemudian  setelah  menyentuh hiolouw  yang  menyambar turun  dengan  cepat<BR>sekali, melebihi  kecepatan luncuran  hiolouw, kaki  itu bergerak  ke bawah  dan<BR>membuat gerakan  melengkung  sedemikian  rupa hingga  hiolouw  itu  terayun  dan<BR>kekuatan  hebat  yang  ditimbulkan  oleh   gaya  beratnya  dan  karena   tekanan<BR>luncurannya dibelokkan oleh ayunan ini. Arah tekanan yang mula-mula meluncur  ke<BR>bawah ini dengan indahnya telah dibelokkan ke samping oleh kedua kaki Bu Pun Su,<BR>kemudian kaki  itu menendang  sedikit hingga  luncuran kini  dibelokkan ke  atas<BR>kembali! Hiolouw itu bagaikan  kena ditendang dan meluncur  ke atas lagi  dengan<BR>tenaga yang sudah patah hingga tidak sangat laju jalannya. Sementara itu Bu  Pun<BR>Su telah meloncat berdiri dan kembali dengan kepalanya ia menerima hiolouw itu!<BR>"Aduh, hebat! Aduh...  hebat!!" Cin  Hai bersorak memuji,  sedangkan Ang  I<BR>Niocu menarik napas panjang  karena kecemasan yang  tadi memenuhi dadanya  telah<BR>lenyap.<BR>Hek  Moko  dan  Pek  Moko  hanya  saling  pandang  saja  dan  tidak  berani<BR>sembarangan bergerak ketika Bu Pun Su dengan tenang bagaikan tak pernah  terjadi<BR>sesuatu, berjalan terus  dan setelah tiba  di tempat hiolouw,  ia memegang  kaki<BR>hiolouw itu dengan kedua tangan dan dengan sikap hormat dan berhati-hati  sekali<BR>ia meletakkan  hiolouw itu  kembali  ke tempatnya.  Hiolouw itu  berdiri  dengan<BR>angker dan  angkuh  di tempatnya  dan  asap  putih masih  mengepul  keluar  dari<BR>renggangan tutupnya. Setelah itu barulah Bu Pun Su membalikkan tubuh  menghadapi<BR>Hek Moko,<BR>"Sungguh kalian dua iblis  tua sangat sembrono  hampir saja kalian  merusak<BR>hiolouw itu." Bu Pun Su menegur dengan suaranya yang halus.<BR>Cin Hai merasa terheran-heran.  Kakek tua itu  baru saja terlepas  daripada<BR>bahaya maut dan ia tidak menegur kedua iblis itu untuk penyerangan mereka tetapi<BR>hanya menegur karena mereka hampir merusak hiolouw. Agaknya kakek aneh ini lebih<BR>mementingkan hiolouw daripada tubuh dan nyawanya sendiri!<BR>Hek Moko dan Pek Moko yang sudah datang dari tempat yang ribuan li jauhnya,<BR>tentu saja  merasa  penasaran  dan  tidak  mau  tunduk  dengan  demikian  mudah.<BR>Berbareng mereka lalu mencabut  senjata mereka yang  luar biasa, yaitu  sebatang<BR>pedang yang bercabang di  ujungnya di tangan kanan  dan seikat tasbeh di  tangan<BR>kiri. Pedang di tangan  mereka itu lihai sekali  karena ujungnya yang  bercabang<BR>itu dapat digunakan untuk menjepit senjata lawan kemudian diputar hingga senjata<BR>lawan akan  terampas.  Akan  tetapi  tasbeh  di  tangan  kiri  itu  tidak  kalah<BR>berbahayanya. Tasbeh ini terbuat dari batu-batu hitam yang keras dan tidak dapat<BR>terputus oleh senjata tajam, sedangkan ikatannya dapat dilepas hingga  memanjang<BR>merupakan pian  dari batu  yang  lihai. Masih  ada lagi  keistimewaannya,  yaitu<BR>apabila batu-batu hitam itu dilepas dari untaiannya, ia dapat digunakan  sebagai<BR>senjata rahasia yang ampuh dan ganas!<BR>"Eh, eh, kalian masih mau main-main seperti anak-anak nakal? Boleh,  boleh.<BR>Kalian menghendaki pertempuran  dan hendak merusak  tubuhku, silakan. Asal  saja<BR>jangan kalian mencoba merusak hiolouw!"<BR>Mendengar kata-kata yang diucapkan dengan halus dan sabar ini, kedua  iblis<BR>itu berbesar hati. Masih  baik bagi mereka kalau  kakek jembel ini tidak  marah,<BR>akan tetapi kata-katanya membuat Pek Moko  merasa penasaran dan heran hingga  ia<BR>tidak dapat bertahan untuk tidak bertanya,<BR>"Eh, tua bangka. Agaknya  kau lebih menyayangi  hiolouw besar itu  daripada<BR>tubuhmu sendiri!"<BR>Kini jawaban Bu Pun Su terdengar sungguh-sungguh, "Tentu saja, tentu  saja!<BR>Tubuhku yang sudah  tua dan lapuk  ini apakah gunanya?  Kalau tubuhku ini  rusak<BR>binasa, tidak  akan ada  yang dirugikan,  dan  kalau masih  ada pun  takkan  ada<BR>gunanya bagi manusia.  Sebaliknya, hiolouw  ini telah ribuan  tahun umurnya  dan<BR>telah banyak  jasanya  bagi manusia,  dan  ratusan atau  ribuan  tahun  kemudian<BR>setelah tubuhku ini lenyap menjadi kerangka seperti yang berdiri  berderet-deret<BR>di tempat ini,  hiolouw itu  akan tetap berdiri  dan berguna  bagi manusia  yang<BR>masih hidup, karena ia  menjadi perantara dan saksi  akan kehendak manusia  yang<BR>hendak berhubungan dengan Tuhan."<BR>Cin  Hai  tertegun  mendengar  filsafat  yang  terdengar  sederhana  tetapi<BR>mengandung arti yang dalam ini,  dan diam-diam ia memutar-mutar otaknya  mencari<BR>ujar-ujar kuno yang sesuai dengan filsafat ini, akan tetapi tetap tidak dapat ia<BR>menemukan.<BR>Sementara itu, Bu  Pun Su lalu  melangkah ke tengah-tengah  ruangan dan  di<BR>situ kakek jembel ini lalu duduk bersila lalu berkata kepada Cin Hai,<BR>"He, gundul totol, muridku. Lemparkan  ke sini senjata keramat di  tanganmu<BR>itu!"<BR>Cin Hai terkejut. Apakah yang dimaksudkan oleh Bu Pun Su? Yang  dipegangnya<BR>hanyalah sepotong tulang besar, mungkin tulang bagian lengan atau kaki  raksasa,<BR>maka ia lalu melemparkan tulang itu ke arah Bu Pun Su yang menyambut dengan muka<BR>berseri. Kemudian dengan  memegang tulang itu  di tangan kanan,  Bu Pun Su  lalu<BR>meramkan mata dan tak mengacuhkan lagi keadaan di sekelilingnya! Cin Hai  merasa<BR>makin heran tetapi diam-diam ia girang juga karena ternyata kakek yang lihai itu<BR>tidak marah kepadanya. Hanya  ia mendongkol mengapa  sampai sekarang ia  disebut<BR>tolol! Ia lalu berpaling kepada Ang I Niocu yang sedang memandang kepadanya  dan<BR>alangkah herannya pemuda  itu kenapa  kedua mata Ang  I Niocu  basah dengan  air<BR>mata! Cepat ia melangkah  maju dan hendak memegang  tangan dara itu akan  tetapi<BR>Ang I  Niocu menggerakkan  tangan mengelak.  Baru teringat  oleh Cin  Hai  bahwa<BR>mereka tidak berada berdua saja di tempat itu dan bahwa di muka umum tak  pantas<BR>baginya memegang  tangan Ang  I  Niocu walaupun  dara  itu seorang  yang  sangat<BR>dikasihinya, bahkan satu-satunya orang di dunia ini yang disayangnya.<BR>"Niocu,  ada  apakah?"  bisiknya.  Tetapi  Ang  I  Niocu  dengan   perlahan<BR>menggeleng-geleng kepalanya yang cantik, lalu menundukkan mukanya.<BR>Pada saat itu terdengar suara Hek Moko yang keras dan parau,<BR>"Bu Pun Su, kau terlalu menghina kami! Ketahuilah, kami hendak mengadu ilmu<BR>dengan kau, tak peduli kau mau melayani kami atau tidak!"<BR>Akan tetapi Bu Pun Su tidak menjawab dan tetap duduk tak bergerak  bagaikan<BR>patung batu diam saja menyaingi diamnya tengkorak-tengkorak yang berdiri di situ<BR>merupakan saksi mati daripada segala peristiwa yang terjadi di ruangan itu.  Cin<BR>Hai dan  Ang I  Niocu  lalu berpaling  memandang  dengan kuatir  sekali,  mereka<BR>melihat betapa kedua  iblis itu  dengan senjata-senjata  mereka yang  mengerikan<BR>telah berdiri di depan dan belakang Bu Pun Su!<BR>"Niocu, mari kita turun tangan membantu Suhu..." bisik Cin Hai.<BR>Tetapi Dara Baju Merah itu tersenyum sedih dan menggeleng-gelengkan kepala.<BR>"Hai-ji, kau belum  mengenal Susiok-couw.  Diamlah dan  mari kita  menonton<BR>saja."<BR>"Bu Pun  Su, awas,  akan  kuhancurkan kepalamu!"  Pek Moko  berteriak  dari<BR>belakang kakek itu, lalu ia mengayun  tasbehnya memukul ke arah belakang  kepala<BR>Bu Pun Su!<BR>Dalam detik-detik  ketika  senjata hebat  itu  menyambar, jantung  Cin  Hai<BR>berhenti berdetak  karena kuatirnya  dan tanpa  terasa lagi  tangannya  memegang<BR>tangan Ang I Niocu dan jari-jari tangan mereka saling genggam dengan erat.  Akan<BR>tetapi, bagaikan  ada  mata  di  belakang kepalanya,  ketika  tasbeh  itu  telah<BR>menyambar dekat,  tiba-tiba  Bu Pun  Su  menundukkan kepala  hingga  tasbeh  itu<BR>memukul angin! Legalah dada Ang I Niocu dan Cin Hai dan teringatlah mereka bahwa<BR>mereka saling berpegang tangan, maka buru-buru mereka melepaskan tangan mereka.<BR>Ternyata Bu Pun Su  bukan sedang bersamadhi  sebagaimana yang mereka  semua<BR>kira. Kakek jembel ini sebetulnya hanya duduk memusatkan pikiran dan kini segala<BR>pikiran dan  perasaan  dipusatkan  menjadi  satu  hingga  tanpa  memandang  atau<BR>bergerak, ia  telah dapat  tahu akan  datangnya sebuah  serangan dari  mana  pun<BR>datangnya!<BR>Pek Moko dan Hek Moko menjadi marah sekali. Mereka merasa dipandang  rendah<BR>sekali oleh kakek  tua ini.  Dulu, lima belas  tahun yang  lalu, biarpun  mereka<BR>dirobohkan  oleh  Bu  Pun  Su,  akan  tetapi  mereka  dikalahkan  dalam   sebuah<BR>pertempuran yang hebat.  Sedangkan semenjak  kekalahan mereka  dulu itu,  mereka<BR>berdua melatih  diri dan  bahkan  mereka telah  menambah senjata  pedang  mereka<BR>dengan sebuah senjata tasbeh yang lihai.  Dan apakah yang dilakukan oleh Bu  Pun<BR>Su sekarang untuk  menghadapi mereka?  Hanya dengan duduk  diam sambil  meramkan<BR>mata dan memegang sebuah... tulang! Ini adalah penghinaan yang tiada taranya  bagi<BR>mereka, maka di dalam  kemarahannya, kedua iblis  itu mengambil keputusan  untuk<BR>berkelahi sampai  mati!  Hek Moko  segera  mengirim serangan  dengan  pedangnya,<BR>sedangkan Pek  Moko dari  belakang juga  mengirim serangan-serangan  kilat  yang<BR>mematikan.<BR>Betapapun  juga,  Cin  Hai  dan  Ang  I  Niocu  masih  merasa  kuatir  akan<BR>keselamatan Bu  Pun  Su, karena  mereka,  terutama  Ang I  Niocu,  maklum  bahwa<BR>kepandaian kedua iblis  ini cukup hebat  dan lihai, masih  lebih hebat  daripada<BR>kepandaian orang-orang gagah yang tadi datang  ke gua itu. Lebih tinggi  tingkat<BR>kepandaiannya daripada Hai  Kong Hosiang, atau  Kanglam Sam-lojin, bahkan  masih<BR>lebih lihai daripada Biauw Suthai sendiri! Dan Bu Pun Su hanya menghadapi mereka<BR>sambil duduk bersila dan meramkan mata dengan sepotong tulang di tangan.<BR>Akan tetapi, setelah melihat agak  lama tidak hanya lenyap perasaan  kuatir<BR>mereka, bahkan  mereka  menjadi  tertarik  sekali  berbareng  heran  dan  kagum!<BR>Ternyata bahwa dengan tangkisan tulang dan gerakan kepala mengelak serangan,  Bu<BR>Pun Su  dapat  membela  diri  dengan sangat  baiknya!  Kakek  jembel  ini  tidak<BR>melakukan banyak gerakan, hanya duduk diam tanpa bergerak. Setelah datang sebuah<BR>serangan, barulah  ia bergerak  sedikit, yaitu  untuk mengelak  atau  menangkis!<BR>Serangan yang  ditujukan ke  arah kepalanya,  dapat ia  kelit dengan  mudah  dan<BR>serangan yang  mengarah tubuhnya  tentu saja  tak dapat  ia elakkan,  maka  lalu<BR>ditangkisnya dengan tulang. Biarpun ada  empat buah senjata menyerang  berbareng<BR>dari empat jurusan, masih  dapat ia tangkis dengan  putaran tulang yang  berubah<BR>menjadi senjata yang lihai itu!<BR>Kedua iblis  itu makin  marah  dan penasaran.  Telah puluhan  jurus  mereka<BR>membacok, menusuk,  memukul dan  melakukan serangan  bermacam-macam akan  tetapi<BR>selalu sia-sia hasilnya. Benarkah mereka takkan berhasil mengalahkan seorang tua<BR>yang hanya melawan mereka dengan duduk  sambil meramkan mata dan tanpa  membalas<BR>sedikit pun! Ah, sungguh  memalukan! Mereka mengertak  gigi dan menyerang  lebih<BR>gencar dan hebat.<BR>Sementara itu, melihat betapa  Bu Pun Su  hanya mempertahankan dan  membela<BR>diri saja  tanpa mau  membalas sedikitpun  Ang  I Niocu  dan Cin  Hai  penasaran<BR>sekali. Akan tetapi, apakah  daya mereka? Untuk membantu,  Cin Hai merasa  bahwa<BR>kepandaiannya masih jauh daripada kuat untuk melawan kedua iblis yang lihai itu,<BR>sedangkan Ang I Niocu yang merasa sangat tunduk dan takut kepada susiok-couwnya,<BR>tidak berani turun tangan tanpa diperintah. Cin Hai berpikir, kalau suhunya  itu<BR>bertahan terus saja, apakah  ia tidak akan lelah  dan akhirnya terkena  serangan<BR>juga? Ia lalu memutar-mutar otaknya, dan tiba-tiba dengan suaranya yang  nyaring<BR>ia mengucapkan ujar-ujar yang dulu dipelajarinya,<BR>"Seorang budiman hanya mencabut pedang untuk mempertahankan kehormatan  dan<BR>nama. Mengadu senjata  untuk memperebutkan benda  dan kesenangan diri,  bukanlah<BR>perbuatan orang gagah, hanya dilakukan oleh anak-anak dan orang tolol!" Kemudian<BR>dengan suara yang lebih nyaring  lagi Cin Hai menambahkan kata-katanya  sendiri,<BR>"Aku masih bingung memilih nama untuk Hek Pek Moko, apakah mereka ini  anak-anak<BR>ataukah orang tolol??"<BR>Karena suasana di situ sunyi dan hanya terdengar suara senjata kedua  iblis<BR>itu yang kadang-kadang beradu dengan tulang di tangan Bu Pun Su, maka suara  Cin<BR>Hai terdengar jelas dan  nyaring, bahkan bergema di  dalam ruang yang luas  itu.<BR>Tentu saja kedua  iblis itu  mendengar sindiran  ini dan  wajah mereka  memerah.<BR>Biarpun hanya menduga-duga saja, ternyata kata-kata Cin Hai bahwa mereka  sedang<BR>"memperebutkan benda" adalah  tepat sekali.  Cin Hai memang  belum tahu  mengapa<BR>tokoh-tokoh kangouw itu berturut-turut menyerbu ke Gua Tengkorak, akan tetapi ia<BR>dapat menduga bahwa  mereka tentu sedang  menghendaki dan memperebutkan  sesuatu<BR>yang  amat  penting  dan  berharga.  Akan  tetapi,  mana  kedua  iblis  itu  mau<BR>mendengarkan nasihat-nasihat  yang  keluar  dari mulut  seorang  pemuda?  Mereka<BR>bahkan memperhebat serangan mereka karena merasa malu dan gemas.<BR>Cin Hai menjadi  bingung. Ia melihat  bahwa biarpun Bu  Pun Su masih  dapat<BR>membela diri dengan  baik, namun  kulit muka  gurunya itu  mulai memerah,  tanda<BR>bahwa kakek  itu telah  mempergunakan  tenaga untuk  melayani  serangan-serangan<BR>berbahaya dari  kedua lawannya  yang  tangguh. Maka  pemuda ini  lalu  berteriak<BR>kembali, kini lebih keras daripada tadi,<BR>"Nabi yang  agung  pernah  berkata  bahwa  kebaikan  harus  dibalas  dengan<BR>kebaikan pula,  akan  tetapi  kejahatan harus  dilawan  dengan  keadilan.  Orang<BR>menyerang secara jahat dan tak kenal kasihan, kalau didiamkan saja tanpa memberi<BR>hajaran kepada penyerang itu, apakah adil namanya?"<BR>Biarpun Cin Hai berteriak dengan keras,  namun Bu Pun Su tidak  terpengaruh<BR>oleh kata-katanya.  Cin Hai  tidak putus  asa, ia  mengulangi lagi  kata-katanya<BR>dengan suara makin keras sehingga lehernya menjadi kering dan sesak. Akan tetapi<BR>pada saat itu Bu Pun Su harus mencurahkan seluruh perhatiannya untuk  menghadapi<BR>serangan kedua lawannya. Kalau ia  membagi perhatiannya sedikit saja kepada  hal<BR>lain, maka kedudukannya  akan berbahaya  sekali dan  pertahanannya akan  menjadi<BR>lemah. Oleh karena itu, maka teriakan-teriakan Cin Hai hanya merupakan kegaduhan<BR>yang hanya terdengar sayup-sayup olehnya dan tidak menarik perhatiannya.<BR>Cin Hai menjadi makin  panik dan bingung. Juga  Ang I Niocu mulai  mendapat<BR>kenyataan bahwa  keadaan  suciok-couwnya berbahaya  sekali  dan  gerakan-gerakan<BR>orang tua itu makin lemah, sebaliknya  kedua iblis itu makin ganas dan  mendesak<BR>makin hebat!  Dara Baju  Merah ini  telah melolos  pedangnya dan  bersiap  sedia<BR>membantu Bu Pun Su. Kalau nanti kakek itu benar-benar berada dalam bahaya,  maka<BR>ia akan berlaku nekad dan membelanya,  biarpun untuk itu ia akan mendapat  marah<BR>sekalipun!<BR>Cin Hai lalu  berjalan ke  arah tumpukan tulang-tulang  yang berserakan  di<BR>sudut. Ia  memilih-milih dan  akhirnya mendapatkan  sepotong tulang  yang  tipis<BR>berlubang, agaknya tulang paha yang sudah lapuk. Setelah memeriksa baik-baik, ia<BR>lalu lari ke arah Ang I Niocu dan berbisik.<BR>"Niocu, lekas buatkan suling dari tulang ini untukku!"<BR>Biarpun merasa heran, akan tetapi Ang I Niocu tidak banyak bertanya, karena<BR>percaya penuh bahwa dalam  saat yang tegang itu  tentu Cin Hai mempunyai  alasan<BR>kuat  untuk  mendapat  sebatang  suling.  Dengan  ujung  pedang  ia  menggunakan<BR>lweekangnya untuk melubangi tulang itu dan sebentar saja jadilah-sebatang suling<BR>terbuat dari pada tulang itu. Sungguh merupakan sebuah suling yang istimewa  dan<BR>bentuknya sangat sederhana.<BR>Cin Hai merasa girang sekali dan melihat betapa keadaan Bu Pun Su pada saat<BR>itu telah  sangat  terdesak, ia  segera  meniup sulingnya.  Alangkah  heran  dan<BR>bingungnya ketika suling istimewa itu  mengeluarkan suara yang ganjil dan  sukar<BR>sekali diikuti  nadanya!  Akan  tetapi Cin  Hai  mengerahkan  kepandaiannya  dan<BR>mencurahkan seluruh perhatiannya  hingga bunyi  ganjil itu  dapat juga  berlagu!<BR>Maksudnya ialah hendak  menarik perhatian  Bu Pun Su  agar orang  tua itu  dapat<BR>mendengar kata-katanya.<BR>Maksudnya ternyata berhasil baik! Mendengar suara yang aneh sekali ini,  Bu<BR>Pun Su tak dapat bertahan lagi  untuk memusatkan perhatiannya dan mau tidak  mau<BR>ia terpaksa  menggunakan sedikit  perhatian  untuk mendengar  dan  memperhatikan<BR>suara suling yang nyaring ini! Dan sangat untung baginya karena tidak saja  dia,<BR>bahkan juga kedua orang lawannya tertarik oleh bunyi suling dan bahkan perhatian<BR>Hek Pek Moko setengah bagian terpengaruh oleh bunyi suling. Kalau tidak demikian<BR>halnya, maka akan celakalah Bu Pun Su yang sudah berkurang daya tahannya  karena<BR>perhatiannya  terbagi.  Akan  tetapi,  karena  kedua  iblis  itu  pun   terpecah<BR>perhatiannya, maka biarpun pertahanan  Bu Pun Su  mengendur semua ternyata  daya<BR>serang kedua itu pun banyak mengendur pula!<BR>Melihat betapa ketiga  orang itu kadang-kadang  melirik ke arahnya  tahulah<BR>Cin Hai  bahwa usahanya  berhasil  baik, maka  cepat  ia menunda  sulingnya  dan<BR>mengulangi kata-katanya tadi dengan suara nyaring dan keras sekali,<BR>"Nabi yang  agung  pernah  berkata  bahwa  kebaikan  harus  dibalas  dengan<BR>kebaikan pula,  akan  tetapi  kejahatan harus  dilawan  dengan  keadilan!  Orang<BR>menyerang secara  jahat dan  tidak  kenal kasihan,  kalau didiamkan  saja  tanpa<BR>memberi hajaran kepada penyerang itu, apakah ini dapat dinamakan adil?"<BR>Suara suling  tadi  memang  nyaring  dan  ganjil  hingga  ketika  tiupannya<BR>ditunda, maka  keadaan menjadi  hening  dan sunyi,  maka  suara ucapan  Cin  Hai<BR>terdengar terang dan  keras sekali hingga  Bu Pun Su  dapat mendengarnya  dengan<BR>baik. Tiba-tiba kakek jembel ini tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.<BR>"Hek Pek Moko," katanya dengan  suaranya yang halus sabar, "bicara  tentang<BR>kebijaksanaan, kau masih  belum ada sepersepuluhnya  juga daripada muridku  yang<BR>bodoh! Sekarang apakah kalian tidak mau lekas pergi dan menunggu aku seorang tua<BR>turun tangan?"<BR>Akan tetapi Hek Pek Moko yang tadi telah melihat betapa usaha mereka hampir<BR>berhasil, maka mana mereka mau mengundurkan diri. Mereka bahkan menyerang  lebih<BR>hebat lagi!<BR>"Siancai, siancai!" Bu  Pun menyebut  dan orang tua  itu kini  menggerakkan<BR>tangan kirinya yang sejak tadi hanya  terletak di atas pangkuannya saja.  Sekali<BR>tangan kirinya  bergerak,  maka  ia  berhasil menangkap  tasbeh  Pek  Moko  yang<BR>menyambar ke  arah  lehernya. Ia  menggunakan  tenaganya membetot  dan  putuslah<BR>tasbeh itu hingga biji-biji  batu hitam itu terlepas  dari untaiannya dan  jatuh<BR>berserakan! Bu Pun  Su lalu  memunguti batu-batu  kecil itu  dan tangan  kirinya<BR>bergerak pula menyambit.  Terdengar jeritan-jeritan karena  dengan tepat  sekali<BR>batu-batu itu mengenai  pergelangan tangan  Hek Pek Moko  yang memegang  senjata<BR>hingga pedang di tangan kanan Pek Moko, serta kedua senjata di tangan kanan kiri<BR>Hek Moko  terlepas  dari pegangan  mereka  dan jatuh  berdering-dering  ke  atas<BR>lantai!<BR>Bukan main terkejutnya Hek  Pek Moko menyaksikan kelihaian  Bu Pun Su  yang<BR>masih  duduk  bersila  sambil  tersenyum.  Kedua  iblis  ini  lalu  menjura  dan<BR>berkatalah Hek Moko  dengan suara parau  dan hampir menangis  karena kecewa  dan<BR>gemasnya,<BR>"Orang tua, kepandaianmu memang hebat dan kami sekali lagi mengaku kalah!"<BR>Bu Pun Su hanya tersenyum dan membiarkan kedua iblis itu mengambil  senjata<BR>mereka kembali dan  kemudian tanpa banyak  cakap lagi kedua  iblis itu  melompat<BR>keluar dari Gua Tengkorak dan melarikan diri.<BR>Ang I  Niocu  kagum dan  girang  sekali melihat  akal  Cin Hai  yang  telah<BR>berhasil menolong orang tua, maka ia lalu maju dan berlutut sambil menyebut,<BR>"Suhu..."<BR>"Susiok-couw,  ampunkan  teecu  yang  telah  lancang  keluar  dari   tempat<BR>persembunyian."<BR>"Sudahlah, sudahlah..." Bu Pun Su menghela napas. "Kalian orang-orang  muda<BR>memang paling doyan berkelahi!" Kemudian kakek ini memandang kepada Ang I  Niocu<BR>dan berkata dengan suara yang  halus akan tetapi terdengar jelas  penyesalannya.<BR>"Kiang Im Giok, sekarang kaupergilah ke timur dan mencari Sucimu di daerah  itu.<BR>Kalau sudah bertemu sampaikan teguranku karena kesembronoan dan keganasannya itu<BR>membikin malu saja. Beri peringatan kepadanya atau kalau ia masih belum  insyaf,<BR>bawa  ia  ke  mari.  Dan  kau  sendiri,  anak  baik,  berhati-hatilah   terhadap<BR>kelemahanmu sendiri!"<BR>Ang I  Niocu  mengangguk-anggukkan  kepala  dan  berkata  perlahan,  "Baik,<BR>Susiok-couw!" Kemudian  Dara Baju  Merah  itu mengerling  ke  arah Cin  Hai  dan<BR>berkata lagi, "Apakah teecu harus berangkat sekarang juga?"<BR>"Ya, pergilah sekarang juga. Mau tunggu apa lagi?"<BR>Ang I Niocu  memberi hormat lagi  lalu berdiri dan  hendak bertidak  pergi,<BR>tetapi Cin Hai tiba-tiba berkata,<BR>"Niocu, kau  pergi,  dan  bilakah  kita  akan  bertemu  kembali?"  suaranya<BR>terdengar pilu dan terharu,  hingga Ang I Niocu  menahan kakinya dan  berpaling.<BR>Ternyata wajah Dara Baju Merah itu pucat sekali!<BR>"Niocu!" Cin Hai berdiri dan memburu kepadanya tanpa mempedulikan suhunya!<BR>"Anak tolol, kau ternyata masih belum  dewasa!" Bu Pun Su menegur Cin  Hai.<BR>Kemudian kakek  ini  berdiri  lalu  berkata  kepada  Ang  I  Niocu  yang  hendak<BR>melanjutkan tindakan kakinya. "Im Giok, tunggu dulu. Aku masih ragu-ragu, apakah<BR>kalau  Sucimu   membangkang,  kau   cukup   kuat  untuk   menundukkannya.   Coba<BR>kauperlihatkan kepandaianmu,  hendak  kulihat  sampai di  mana  kekuatan  Sianli<BR>Kiam-hwat!"<BR>Ang I Niocu  tidak berani  membantah, lalu melolos  pedangnya. Kemudian  ia<BR>mulai menjalankan ilmu silat pedangnya yang lihai. Cin Hai merasa kecewa  sekali<BR>bahwa pada saat itu  ia tidak mempunyai suling  bambu yang baik untuk  mengiring<BR>tarian pedang Ang I  Niocu! Sementara itu, setelah  gerakan Ang I Niocu  menjadi<BR>cepat hingga tubuhnya lenyap tertutup sinar pedang, Bu Pun Su tiba-tiba berkata,<BR>"Tahan! Coba ulangi  gerakan-gerakanmu yang  ke tiga puluh  sampai ke  lima<BR>puluh, tetapi lambat saja. Kau mempunyai kelemahan-kelemahan di bagian itu!"<BR>Ang I Niocu merasa heran sekali  dan ia mengulangi gerakannya, akan  tetapi<BR>kini dengan lambat hingga ia seperti benar-benar sedang menari. Dan heranlah Cin<BR>Hai ketika melihat betapa Bu Pun Su juga menari bersama-sama Ang I Niocu  sambil<BR>berkata,<BR>"Coba kauserang aku dengan betul-betul, akan kuperlihatkan kelemahanmu!"<BR>Sungguh pemandangan yang indah ketika kakek  itu pun mulai menari di  dekat<BR>Ang I Niocu,  karena tarian kakek  itu ternyata sesuai  dan cocok sekali  dengan<BR>tarian  Ang  I  Niocu  hingga  mereka  merupakan  sepasang  penari  ulung   yang<BR>mendemonstrasikan  kepandaiannya!  Sayang  sekali  bahwa  penari  prianya  sudah<BR>kakek-kakek. Coba kalau  yang menari seperti  Bu Pun Su  itu seorang pria  muda,<BR>tentu akan indah dan cocok sekali!<BR>Cin Hai  tak melihat  kelemahan-kelemahan yang  disebutkan oleh  Bu Pun  Su<BR>tadi, akan tetapi,  setelah Bu  Pun Su  bersama-sama menari,  terkejutlah Ang  I<BR>Niocu. Benar saja, pada tiap gerakan, ternyata kakek yang lihai itu telah  dapat<BR>mencari dan dengan  gerakan tangannya  yang bagaikan  menari-nari itu  menyerang<BR>melalui  lubang-lubang  dan  kelemahan-kelemahan  yang  terbuka  pada  saat   ia<BR>bersilat! Ia maklum bahwa dalam pertandingan sungguh-sungguh, maka tangan  kakek<BR>itu tentu sudah berhasil merobohkannya dengan mudah!<BR>Tiba-tiba kakek itu berhenti  menari. "Nah, kau  sudah tahu kelemahan  dari<BR>gerakan-gerakanmu tadi?  Ingat, kau  terlalu menitik-beratkan  kepada  keindahan<BR>gerakanmu hingga  kau  lupa bahwa  dalam  setiap keindahan  itu  tentu  terdapat<BR>kelemahan  karena  perhatianmu   terganggu  oleh  rasa   bangga  dan   keinginan<BR>memperlihatkan kepandaian atau keindahan tarianmu! Kalau lawanmu terpesona  oleh<BR>keindahan gerak tarianmu tentu ia takkan dapat melihat kelemahan-kelemahan  itu,<BR>akan tetapi kalau waspada,  maka kau tentu akan  celaka. Nah, kau  perhatikanlah<BR>dan pada waktu kau bersilat dengan jurus ke tiga puluh sampai ke lima puluh, kau<BR>harus mengurangi gerakan menyerang dengan  pedang dan siku tangan yang  memegang<BR>pedang jangan terlampau  lebar terbuka,  sedangkan tangan  kirimu harus  membuat<BR>gerakan Bunga Sembunyi di Bawah Daun  atau Ikan Berenang di Bawah Permukaan  Air<BR>untuk menjaga agar jangan sampai kau dapat terserang pada tempat-tempat  terbuka<BR>yang diadakan oleh gerakan serangan pedangmu. Mengertikah kau?"<BR>Ang I Niocu  mengangguk-angguk dan menghaturkan  terima kasihnya.  Kemudian<BR>kakek itu menyuruhnya berangkat dengan segera.<BR>"Kalau tidak salah, Sucimu itu kini berada di kota Lok-bin-si. Pergilah kau<BR>ke sana. Cin Hai mulai saat ini akan tinggal di sini dengan aku!"<BR>Mendengar disebutnya nama pemuda itu,  tiba-tiba wajah Ang I Niocu  berubah<BR>merah. Agaknya kakek yang luar biasa ini  telah dapat menduga akan isi hati  dan<BR>perasaannya terhadap  pemuda itu!  Maka tanpa  berani memandang  kepada Cin  Hai<BR>lagi, Dara Baju Merah  itu lalu berlari cepat  meninggalkan tempat itu,  dilihat<BR>oleh Cin Hai dengan pandangan mata sedih.<BR>"Nah, anak  bodoh! Mulai  sekarang  kau harus  berlatih dan  belajar  silat<BR>dengan rajin. Ketahuilah, aku orang tua selamanya belum pernah mempunyai  murid,<BR>dan sekali aku mengambil murid maka ia harus belajar dengan baik-baik agar tidak<BR>akan memalukan  yang mengajarnya.  Dan kau  dulu sudah  berjanji hendak  menurut<BR>segala perintahku, bukan?"<BR>Cin Hai lalu berlutut  di depan suhunya untuk  memberi hormat. "Teecu  akan<BR>menurut segala perintah Suhu."<BR>"Bagus, sekarang  pertama-tama kau  harus menceritakan  semua  pengalamanmu<BR>semenjak kau meninggalkan rumah keluarga Kwee. Jangan ada yang kau sembunyikan!"<BR>Cin Hai dengan jelas lalu  menuturkan semua pengalamannya tanpa  mengurangi<BR>sedikit pun, akan tetapi setelah ia selesai bercerita, Bu Pun Su berkata,<BR>"Hanya satu hal yang kusayangkan,  yaitu pertemuan dan perkenalanmu  dengan<BR>Kiang Im Giok!"<BR>Cin Hai tertegun lalu memandang kepada suhunya dengan penasaran dan  heran.<BR>"Suhu, apakah sebabnya  maka hal  itu harus  disayangkan? Bukankah  Ang I  Niocu<BR>seorang yang berhati mulia dan berwatak gagah berani?"<BR>Bu Pun  Su menghela  napas.  "Itulah sebabnya  mengapa aku  merasa  sayang.<BR>Perhubungan itu dapat meracuni hati kalian berdua!"<BR>Cin Hai memang  mempunyali sifat  pemberani dan  pantang mundur  menghadapi<BR>siapa juga apabila ia merasa bahwa pihaknya benar, maka ia lalu berkata lagi,<BR>"Suhu,  apakah  yang  Suhu  maksudkan  dengan  racun  itu?  Menurut  teecu,<BR>perhubungan teecu  dengan An  I  Niocu itu,  hanya mendatangkan  perasaan  kasih<BR>sayang suci. Mengapa  tidak? Teecu  yang sebatang  kara dan  hampir semua  orang<BR>telah memperlakukan teecu dengan buruk dan  jahat dan hanya Ang I Niocu  seorang<BR>yang telah berlaku baik  sekali terhadap teecu!  Salahkah kalau teecu  mempunyai<BR>rasa kasih sayang yang besar kepadanya yang timbul karena perasaan terima kasih?<BR>Ujar-ujar pernah menyatakan kasih sayang  yang timbul karena hutang budi  adalah<BR>suci murni!"<BR>Melihat   betapa   pemuda   itu   bicara   dengan   bernafsu,   kakek   itu<BR>menggeleng-geleng kepala  dan  tersenyum, lalu  berkata  tenang, "Cin  Hai,  kau<BR>terlalu banyak menghafal  ujar-ujar kuno  hingga kepalamu yang  besar itu  penuh<BR>dijejali segala macam  ujar-ujar. Ketahuilah,  kenyataan hidup  ini jauh  sekali<BR>bedanya dengan keindahan kata-kata yang disebut ujar-ujar itu, dan bahkan segala<BR>macam ujar-ujar yang  indah itu  ternyata tak dapat  memperbaiki sifat  manusia,<BR>bahkan lebih rusak! Pernahkah kau melihat orang-orang yang mempergunakan  segala<BR>keindahan ujar-ujar untuk menutupi kesalahan dan kejahatannya?"<BR>Cin Hai tertegun dan  teringatlah ia kepada  gurunya yang dulu  mengajarnya<BR>kesusastraan. Memang, sifat gurunya itu ganjil sekali, dan apa yang keluar  dari<BR>mulutnya sama sekali tidak cocok dengan perbuatannya<BR>"Cin Hai, kau masih  terlalu muda untuk mengerti  semua. Memang bagimu  aku<BR>tidak merasa kuatir, akan  tetapi aku lebih kuatir  akan Kiang Im Giok.  Kasihan<BR>sekali kalau anak itu menjadi korban daripada kelemahan hatinya sendiri..."<BR>Cin Hai mengerutkan keningnya akan tetapi karena memang tubuhnya saja  yang<BR>telah nampak dewasa dan tinggi tegap akan tetapi sebenarnya batinnya masih lebih<BR>bersifat kanak-kanak, maka ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh  suhunya.<BR>Pada waktu  itu usianya  telah lima  belas  tahun lebih  akan tetapi  dalam  hal<BR>pengertian pergaulan pria wanita ia masih bodoh dan hijau.<BR>"Sekarang kau harus memperhatikan pelajaran  silat dan jangan pikirkan  hal<BR>lain lagi. Ketahuilah,  bahwa pikiran yang  bercabang takkan dapat  menghasilkan<BR>ilmu yang  baik.  Dan  kulihat  kau telah  mempelajari  Liong-san  Kun-hwat  dan<BR>Sianli-kun-hwat. Juga Ngo-lian-hwa  Kiam-hwat telah kau  pelajari dari Im  Giok.<BR>Ketahuilah bahwa segala macam  ilmu silat yang ada  di dunia ini, pada  dasarnya<BR>sama dan berpokok satu, yaitu menyerang dan membela diri. Betapapun tinggi  ilmu<BR>silat seseorang, namun apabila pokok dasarnya tidak kuat, ilmu silatnya itu akan<BR>sia-sia belaka. Segala  macam ilmu silat  yang dipelajari oleh  orang hanya  ada<BR>tiga ratus enam puluh gerakan yang dasarnya sama, hanya gaya dan kembangnya saja<BR>yang berbeda, sedangkan kaki hanya ada seratus delapan puluh. Jika engkau  dapat<BR>mempelajari dasar dan pokok semua gerakan  tangan dan kaki ini, maka  menghadapi<BR>ilmu silat dari cabang mana pun juga, kau akan dapat melawannya dengan mudah."<BR>Demikianlah, semenjak  hari itu,  Cin Hai  digembleng oleh  Bu Pun  Su  dan<BR>mempelajari sari dan pokok gerakan  silat. Dengan menerima pelajaran yang  hebat<BR>dan merupakan rahasia khusus dari pada semua ilmu silat, maka boleh dikata  sama<BR>halnya bagi Cin Hai dengan mempelajari semua  ilmu silat yang ada di dunia  ini!<BR>Kini ia mengerti  dan terbukalah  matanya bahwa Bu  Pun Su  boleh disebut  tokoh<BR>persilatan tertinggi yang mempunyai kepandaian maha hebat! Dengan  kepandaiannya<BR>yang telah  dapat memecahkan  semua  rahasia pergerakan  tangan dan  kaki,  maka<BR>menghadapi seorang lawan yang bersilat bagaimanapun juga, Bu Pun Su dapat meniru<BR>semua gerakan itu dengan sama baiknya, biarpun ia belum pernah mempelajari  ilmu<BR>silat ini, oleh karena ia telah tahu akan pokok-pokok gerakannya!<BR>Tentu saja, setelah dapat mengetahui  silat dan pokok gerakan lawan,  mudah<BR>saja untuk menghadapinya.  Akan tetapi,  pengertian saja  masih belum  merupakan<BR>syarat untuk mengalahkan lawan itu, masih ada dua hal yang terpenting yang harus<BR>dimilikinya, yaitu kecepatan dan tenaga! Oleh karena ini, di samping mempelajari<BR>pokok-pokok rahasia gerakan silat  Cin Hai juga  mendapat latihan ginkang  (ilmu<BR>meringankan tubuh) yang membuatnya dapat  bergerak gesit bagaikan seekor  burung<BR>walet dan latihan  lweekang dan  khikang yang membuatnya  memiliki tenaga  dalam<BR>yang hebat dan  dapat menghadapi kekuatan  lawan yang kasar  maupun halus.  Juga<BR>untuk latihan ginkang, lweekang ataupun khikang,  Bu Pun Su mempunyai cara  yang<BR>khusus dan istimewa,  karena ia  memberi pelajaran dasar  dan pokoknya.  Menurut<BR>kakek jembel  yang luar  biasa  dan aneh  ini, tenaga-tenaga  ginkang,  lweekang<BR>maupun khikang berpusat pada pusar di mana menjadi tempat tiantan yang  mengatur<BR>semua tenaga gaib  yang tersembunyi dalam  diri manusia. Oleh  karena ini,  maka<BR>latihan-latihan  yang  diberikan  kepada  muridnya  itu  hanya  ditujukan  untuk<BR>memperkuat daya tiantan ini dengan  jalan bersamadhi dan mempertebal iman.  Jika<BR>iman manusia kuat dan  tebal, dan batin yang  disebutnya "bunga api dari  Tuhan"<BR>menjadi bersih, seimbang dan tidak mudah  goyah, maka tenaga dalam akan  menjadi<BR>kuat dan  tidak  mudah terpengaruh  oleh  segala  macam nafsu  yang  hanya  akan<BR>melemahkan tubuh dan batin.<BR>Cin Hai  mempunyai  dasar-dasar dan  bakat  yang baik,  maka  tanpa  banyak<BR>mengalami kesukaran ia  dapat menangkap  pelajaran yang  diberikan oleh  suhunya<BR>hingga Bu Pun Su merasa girang sekali.<BR>Waktu berjalan cepat sekali  dan tanpa terasa lagi  Cin Hai telah  menerima<BR>gemblengan dan latihan selama tiga tahun! Usianya telah delapan belas tahun  dan<BR>ia telah menjadi  seorang pemuda dewasa  yang bertubuh tinggi  dan tegap  dengan<BR>wajah tampan dan  gagah. Akan  tetapi sinar matanya  yang jujur  itu masih  saja<BR>nampak bodoh dan mukanya yang lebar tidak mengurangi "tampang bodohnya"!<BR>"Cin Hai," kata gurunya  pada suatu hari, "kini  kau telah dapat  menangkap<BR>intisari daripada ilmu silat  dan agaknya kau tentu  akan dapat menghadapi  ilmu<BR>silat yang bagaimanapun juga. Akan tetapi, kau juga maklum bahwa ilmu ini  hanya<BR>dapat digunakan pada waktu menghadapi seorang lawan dan sama sekali tidak  dapat<BR>digunakan untuk memamerkan kepandaian. Kau hanya bisa menjatuhkan seorang  lawan<BR>apabila diserang. Karena  kau tidak  belajar cara melakukan  serangan. Ini  baik<BR>sekali, muridku, dan ketahuilah bahwa aku sendiri pun selama hidup belum  pernah<BR>menyerang orang. Aku hanya bergerak apabila diserang. Tahukah kau? Kau  mengerti<BR>dan hafal akan ujar-ujar yang baik, maka pakailah ujar-ujar itu sebagai  pedoman<BR>dan jangan kau menyombongkan kepandaianmu! Maka, julukan "Pendekar Bodoh"  harap<BR>kaupakai untuk selamanya. Bukankah ada ujar-ujar yang berkata bahwa  orang-orang<BR>yang sesungguhnya pintar adalah dia yang insyaf akan kebodohan sendiri?"<BR>Cin Hai mengerti dengan baik akan maksud suhunya ini dan semenjak  berlatih<BR>ilmu di dalam Gua  Tengkorak itu makin  terbukalah matanya akan  rahasia-rahasia<BR>hidup. Kini ia  tahu akan maksud  suhunya yang dulu  memperingatkan bahaya  yang<BR>akan ada dalam  perhubungannya dengan Ang  I Niocu. Ia  maklum bahwa bahaya  itu<BR>adalah "cinta" yaitu cinta dari  pihak Ang I Niocu  yang usianya jauh lebih  tua<BR>dari padanya. Kalau dara itu sampai tergoda cinta kepadanya sedangkan perjodohan<BR>di antara  mereka tidak  dapat dilangsungkan,  bukankah hal  ini akan  merupakan<BR>siksa dan derita bagi Ang I Niocu?<BR>Ia sendiri  masih merasa  suka dan  rindu kepada  Ang I  Niocu akan  tetapi<BR>perasaannya ini hanyalah perasaan kasih seorang adik kepada kakaknya, atau kalau<BR>mau disebut lebih lagi, seperti kasih  seorang anak kepada ibunya. Akan  tetapi,<BR>siapa tahu isi hati Dara Baju Merah itu? Ia diam-diam bergidik dan menaruh  hati<BR>iba terhadap Ang I Niocu.<BR>Pernah ia bertanya kepada suhunya akan segala peristiwa yang terjadi di Gua<BR>Tengkorak itu dan mengapa  banyak tokoh persilatan menyerbu  ke situ. Bu Pun  Su<BR>tersenyum dan menceritakan seperti berikut,<BR>"Gua ini dulu  dibuat oleh seorang  menteri Kerajaan Tang  yang bernama  Lu<BR>Pin. Ketika Raja Hian Tiong mengangkat seorang Tartar bernama An Lu San  menjadi<BR>panglima, hal  ini tidak  disetujui  oleh Menteri  Lu  Pin karena  menteri  yang<BR>waspada ini maklum akan bahayanya mengangkat seorang asing menjadi panglima yang<BR>menguasai  tentara.  Akan  tetapi  nasihatnya  tidak  dipedulikan  oleh  kaisar.<BR>Akhirnya, setelah Panglima Tartar ini menjadi  panglima di tiga kota timur  laut<BR>dan berkedudukan di Hopei, lalu  memberontak dengan sejumlah tentara lima  belas<BR>laksa  orang  dan  memukul  ke   selatan!  Kaisar  yang  tidak  becus   mengurus<BR>pemerintahan  ini  tak  berdaya  karena  semua  pejabat  dan  panglimanya  hanya<BR>mengutamakan kesenangan dan pelesiran saja, hingga dengan mudah barisan kerajaan<BR>dapat dimusnahkan oleh An  Lu San dan kaisar  sendiri lalu mengungsi ke  Secuan.<BR>Ibu kota lalu diduduki oleh An Lu San semenjak itu. Di mana-mana seluruh  rakyat<BR>bangkit melakukan perlawanan secara bergerilya.<BR>Lu Pin sendiri yang merasa sangat  menyesal dan kecewa lalu melarikan  diri<BR>karena ia dicari-cari oleh An Lu San untuk dibunuh. Seluruh keluarganya terbunuh<BR>dan hanya ia sendiri yang dapat melarikan diri ke daerah ini.<BR>Lu Pin adalah seorang  terpelajar yang memiliki  kepandaian seni ukir  yang<BR>tinggi. Setelah  menemukan  gua ini  dan  memperbaikinya hingga  menjadi  sebuah<BR>tempat tinggal yang besar dan aman, ia lalu mengumpulkan tulang-tulang  binatang<BR>besar yang banyak terdapat di gua ini, peninggalan dari jaman purba, lalu dengan<BR>kepandaiannya  ia  membuat  tulang-tulang   binatang  yang  besar  itu   menjadi<BR>tengkorak-tengkorak seperti yang berdiri berderet-deret itu! Jangan dikira bahwa<BR>itu benar-benar tengkorak-tengkorak  manusia, semua  itu hanyalah  tulang-tulang<BR>binatang yang  diukir dan  dibentuk sebagai  kerangka manusia!  Dari sini  dapat<BR>dibayangkan betapa hebatnya keahlian seni ukir menteri she Lu itu!<BR>Dalam pelariannya, Lu  Pin berhasil membawa  banyak barang-barang  berharga<BR>dari dalam istana, karena ia khawatir kalau-kalau barang-barang itu terjatuh  ke<BR>dalam tangan musuh. Dan karena ini  pulalah maka An Lu San mencari-cari  menteri<BR>yang setia itu. Akan tetapi ternyata, berkat pertolongan tengkorak-tengkorak ini<BR>yang dipasang di  depan dan  di dalam gua,  tidak ada  tentara pemberontak  yang<BR>berani memasuki gua dan Lu  Pin selamat dan tinggal  di sini sampai datang  hari<BR>ajalnya dan oleh kawan-kawan senasib ia dikubur dibawah hiolouw itu.<BR>Kemudian, hal ini akhirnya dapat  diketahui oleh tokoh kang-ouw dan  mereka<BR>menyerbu ke sini.  Akan tetapi  mereka tidak menyangka  bahwa di  dalam gua  ini<BR>terlebih dahulu telah  tinggal seorang  yang tidak  mereka sangka-sangka,  yaitu<BR>keturunan dari Lu Pin hingga usaha mereka gagal!"<BR>Cin Hai mendengarkan  cerita ini  dengan heran.  "Suhu, siapakah  keturunan<BR>dari Lu Pin yang bernasib malang itu?"<BR>Bu Pun Su tersenyum. "Masih belum  dapat mendugakah kau, anak bodoh?  Siapa<BR>lagi kalau bukan Suhumu sendiri?"<BR>Dengan terharu Cin Hai lalu berlutut di depan suhunya. Tidak tahunya  bahwa<BR>kakek jembel  ini adalah  keturunan seorang  menteri di  jaman ahala  Tang  yang<BR>bershe Lu?<BR>"Tetapi sebenarnya  usaha para  tokoh kang-ouw  itu sia-sia  belaka.  Harta<BR>benda itu telah lama tidak berada di  sini pula dan digunakan oleh Lu Pin  untuk<BR>membiayai usaha perjuangan para patriot yang melakukan perlawanan gigih terhadap<BR>pemberontakan An  Lu San.  Yang  tertinggal hanyalah  sebatang pedang  kuno  dan<BR>inilah barang itu!"<BR>Bu Pun  Su lalu  memberikan pedang  kuno  itu kepada  Cin Hai.  Pedang  itu<BR>biarpun buruk  rupanya dan  sudah tua  sekali, akan  tetapi masih  berkilau  dan<BR>sangat tajam. Di  dekat gagangnya terukir  dua huruf, yaitu  Liong Coan.  Inilah<BR>Liong-coan-kiam yang  termasyur  dan  yang dulu  pernah  menjadi  pedang  pusaka<BR>Kerajaan Tang itu.<BR>"Pedang ini kuberikan kepadamu, muridku."<BR>"Akan tetapi, Suhu. Untuk apakah  teecu diberi pedang ini? Bukankah  pedang<BR>ini hanya menjadi alat pembunuh dan melukai sesama manusia belaka? Bukankah dulu<BR>Suhu pernah berkata bahwa  pedang tak pantas berada  di tangan seorang  pendekar<BR>gagah dan hanya pantas dibawa-bawa oleh seorang algojo atau pembunuh?"<BR>Bu Pun Su tersenyum. "Bagus, Cin  Hai, kau ternyata masih ingat akan  semua<BR>nasihatku. Akan  tetapi, sebenarnya  bukan  pedanglah yang  harus  dipersalahkan<BR>dalam soal pembunuhan, akan tetapi orang yang memegangnya. Segala benda di dunia<BR>ini mempunyai  sifat  sama, dan  semuanya  sempurna. Buruk  atau  baik  hanyalah<BR>terjadi karena akibat daripada perbuatan orang dan hanyalah merupakan  pandangan<BR>seseorang terhadap benda itu. Kalau  pedang ini dipergunakan untuk maksud  baik,<BR>maka ia  menjadi pusaka  keramat, akan  tetapi kalau  dipergunakan untuk  maksud<BR>buruk, ia  berubah menjadi  senjata  laknat!" Setelah  Cin Hai  menerima  pedang<BR>Liong-coan-kiam itu, Bu Pun  Su lalu berkata  kembali, "Sekarang sudah  waktunya<BR>kau pergi meninggalkan gua  ini, Cin Hai. Ingat  baik-baik semua pelajaranmu  di<BR>sini dan pesanku terakhir :  Jangan sembarangan menjatuhkan tangan kejam  kepada<BR>sesama manusia.  Kalau  terpaksa  kau harus  membinasakan  seorang  lawan,  maka<BR>lawanmu itu haruslah seorang yang telah melanggar tiga pantangan besar,  pertama<BR>membunuh orang tak berdosa, ke dua melanggar kesusilaan dan mengganggu anak bini<BR>orang, dan  ke  tiga  pengkhianat-pengkhianat  yang  telah  mengkhianati  bangsa<BR>sendiri. Terhadap mereka ini pun kalau kiranya masih ada jalan lain, jangan  kau<BR>sembarangan membunuh karena mengambil nyawa bukanlah pekerjaan orang!"<BR>Cin Hai lalu berlutut dan menghaturkan terima kasih lalu pergi meninggalkan<BR>gua di mana telah  tiga tahun ia  tinggal dan mempelajari ilmu  dari Bu Pun  Su,<BR>kakek jembel yang lihai itu.<BR>Ketika meninggalkan Gua Tengkorak, suhunya telah memberinya sekantung  emas<BR>murni  hingga  Cin  Hai  tidak   kuatir  tentang  biaya  perjalanannya.   Tujuan<BR>perjalanannya hanya dua macam,  pertama mencari Ang I  Niocu, dan ke dua  hendak<BR>kembali ke Tiang-an  menemui ie-ienya.  Biarpun ia sama  sekali tidak  mempunyai<BR>niat hendak bertemu muka kembali  dengan ie-thionya, yaitu Kwee-ciangkun,  namun<BR>ia tidak dapat melupakan ie-ienya dan  ingin sekali ia menengok bibinya itu.  Di<BR>dalam dunia  ini,  selain  suhunya, hanya  ada  Ang  I Niocu  dan  bibinya  yang<BR>menempati hatinya dan merupakan orang-orang yang dikasihinya.<BR>Beberapa pekan kemudian tibalah ia di daerah utara Sungai Huang-ho dan pada<BR>suatu hari ketika ia  sedang berjalan dalam sebuah  hutan pohon pek yang  indah,<BR>tiba-tiba ia  mendengar  suara orang  bertempur.  Cin Hai  mempercepat  tindakan<BR>kakinya dan di  suatu tempat  terbuka ia  melihat empat  orang sedang  bertempur<BR>hebat sekali.<BR>Cin Hai  bersembunyi di  balik sebatang  pohon besar  sambil mengintai  dan<BR>ketika ia  memandang dengan  penuh  perhatian, terkejutlah  ia karena  ia  dapat<BR>mengenal muka seorang diantara mereka. Orang ini tak salah lagi tentu  pamannya,<BR>Kwee-ciangkun atau Kwee In Liang! Biarpun muka pamannya telah berubah kurus  dan<BR>rambutnya telah banyak uban, namun Cin  Hai tidak pangling melihat wajahnya.  Ia<BR>heran sekali mengapa pamannya mengenakan pakaian petani biasa!<BR>Kwee In Liang bertempur melawan  seorang perwira Sayap Garuda yang  berbaju<BR>putih, tanda pada pinggir pakaiannya menyatakan bahwa ia adalah seorang  tingkat<BR>tiga, hingga  lagi-lagi Cin  Hai  merasa terheran.  Mengapa pamannya  yang  juga<BR>serang panglima, bertempur melawan perwira istana kaisar? Aneh sekali!<BR>Kemudian ia memperhatikan orang yang  menjadi lawan pamannya dan yang  juga<BR>bertempur dengan  hebat.  Orang ini  adalah  seorang gadis  muda  yang  memiliki<BR>kepandaian sitat, gesit dan  hebat, bahkan sekali pandang  saja tahulah Cin  Hai<BR>bahwa kepandaian gadis muda ini jauh melebihi kepandaian Kwee-ciangkun  sendiri.<BR>Gadis ini mengenakan pakaian yang atasnya  berwarna hijau muda dan bagian  bawah<BR>bergaris-garis merah  dan  putih.  Tubuhnya kecil  ramping  dan  wajahnya  manis<BR>sekali. Rambutnya dikuncir dua dan rambut  itu panjang dan hitam, diikat  dengan<BR>sepasang pita merah. Kedua lengan tangannya yang telanjang karena lengan bajunya<BR>hanya sampai  di siku,  memakai  gelang emas  yang  berkilauan. Dara  manis  ini<BR>bertempur melawan seorang perwira Sayap  Garuda tingkat satu yang  berkepandaian<BR>hebat sekali!  Cin  Hai menduga-duga,  siapa  adanya dara  jelita  yang  biarpun<BR>berusia muda  tetapi berkepandaian  setinggi itu?  Ia lalu  memperhatikan  lawan<BR>gadis itu yang mengenakan baju merah kehitam-hitaman. Ia menjadi terkejut karena<BR>kepandaian  perwira  Sayap  Garuda  tingkat  satu  ini  benar-benar  lihai   dan<BR>barangkali tidak berada  di bawah  kepandaian Kanglam  Sam-lojin! Ilmu  silatnya<BR>model Mongol, yaitu ilmu pukulan yang  dicampur dengan ilmu gulat. Kedua  lengan<BR>tangan perwira  baju  merah ini  merupakan  cengkeraman harimau  yang  menyerang<BR>dengan buasnya. Gadis manis itu nampak terdesak hebat!<BR>Sebaliknya, Kwee-ciangkun dengan ilmu  silatnya dari cabang Kun-lun,  dapat<BR>mendesak lawannya yang hanya  menduduki tingkat tiga  di kalangan barisan  Sayap<BR>Garuda. Lambat tetapi  tentu ia mendesak  lawannya hingga pada  suatu saat  yang<BR>baik, ketika lawannya menggunakan gerakan nekad menubruk dan berhasil  menangkap<BR>lengan tangannya,  Kwee-ciangkun cepat  memutar lengan  dan tubuhnya  berada  di<BR>belakang  tubuh  perwira  itu.  Sekali  saja  ia  menggentakkan  lengannya  yang<BR>tertangkap,  maka   terlepaslah   cengkeraman  lawannya   hingga   perwira   itu<BR>terhuyung-huyung ke depan. Kwee-ciangkun  tak menyia-nyiakan kesempatan ini  dan<BR>ia lalu menangkap baju perwira itu di punggung dan siap melemparkannya!<BR>Pada saat Kwee-ciangkun berhasil menangkap lawannya, ternyata perwira  baju<BR>merah itu pun telah berhasil pula  mengalahkan dara itu! Ia menggunakan  gerakan<BR>Ular Menyambar dari Bawah Rumput dan berhasil menotok jalan darah dara muda  itu<BR>dengan tiam-hwa (ilmu totok) model Mongol akan tetal cukup lihai hingga berhasil<BR>membuat lawannya  tak berdaya!  Melihat betapa  kawannya telah  tertangkap  oleh<BR>Kwee-ciangkun, maka Perwira  Sayap Garuda  kelas satu itu  lalu memegang  pundak<BR>gadis tadi dan hendak dilarikannya!<BR>"Keparat she Boan,  jangan kauganggu anakku!"  Kwee-ciangkun membentak  dan<BR>melemparkan perwira yang telah dikalahkannya tadi, ia segera memburu.<BR>Cin Hai  yang  mengintai  di  balik pohon  ketika  mendengar  betapa  Kwee-<BR>ciangkun menyebut dara  itu sebagai  anaknya, menjadi  tercengang dan  memandang<BR>lebih memperhatikan.  Maka setelah  melihat wajah  manis itu  teringatlah  bahwa<BR>gadis itu bukan lain ia Kwee Lin  atau Lin Lin anak perempuan yang dulu  diculik<BR>oleh Biauw Suthai!  Hampir saja Cin  Hai berseru memanggil  nama Lin Lin  karena<BR>girangnya. Entah  mengapa  ketika melihat  wajah  Kwee-ciangkun tadi,  ia  tidak<BR>mempunyai niat untuk membantu atau  menjumpainya, akan tetapi kini setelah  tahu<BR>bahwa dara muda itu adalah Lin Lin,  anak perempuan yang dulu sangat jenaka  dan<BR>nakal itu, timbut kegembiraan luar biasa di dalam hatinya.<BR>Untung ia  dapat  menahan  lidahnya  dan kini  ia  memandang  dengan  penuh<BR>perhatian.  Perwira  baju  merah  itu  ketika  melihat  Kwee-ciangkun   bergerak<BR>menyerang untuk  menolong Lin  Lin, segera  mendahului dengan  serangan  kakinya<BR>hingga Kwee-ciangkun kena tersapu  oleh kaki itu  dan terlempar! Ternyata  bahwa<BR>Kwee-ciangkun bukanlah lawan perwira yang kosen ini.<BR>"Ha, ha, ha!  Orang she  Kwee, aku hendak  membawa puterimu,  kau mau  apa?<BR>Kautolak pinanganku yang kuajukan dengan  halus, baik! Sekarang aku  menggunakan<BR>cara kasar, lihat,  kau bisa  berbuat apa?"  Sehabis berkata  demikian, ia  lalu<BR>memondong tubuh Lin Lin hendak dibawa kabur!<BR>Akan tetapi tiba-tiba dari balik pohon  menyambar tiga buah benda kecil  ke<BR>arah perwira itu!  Orang she Boan  ini memang lihai,  maka ia mengelak  sambaran<BR>pertama yang mengarah lehernya itu dengan  miringkan tubuh ke kiri, akan  tetapi<BR>benda ke dua  cepat telah menyambar  tepat ke arah  pundak kirinya. Hampir  saja<BR>benda itu mengenai  sasaran akan  tetapi perwira ini  masih dapat  menyelamatkan<BR>diri dengan  merendahkan tubuh.  Sungguh tak  pernah diduganya  bahwa baru  saja<BR>tubuhnya merendah tanpa dapat dikelit pula, benda ke tiga telah menyambar pundak<BR>kanannya!<BR>Ia tidak merasa sakit karena benda yang menyambarnya itu lunak, akan tetapi<BR>karena yang disambar  adalah urat  penting di bagian  pundaknya, maka  lengannya<BR>menjadi lemas kesemutan hingga  terpaksa ia melepaskan tubuh  Lin Lin. Dan  pada<BR>saat yang sama, kembali melayang dua benda lunak itu ke arah pundak dan  lambung<BR>Lin Lin  dan  sekaligus Lin  Lin  terlepas dari  totokan  perwira itu  oleh  dua<BR>sambaran benda lunak  tadi. Lin Lin  yang merasa telah  bebas cepat melompat  ke<BR>samping dan menolong ayahnya yang ternyata  mendapat luka ringan di kaki  karena<BR>babatan kaki perwira she Boan itu tadi.<BR>Perwira itu ketika melihat bahwa  benda yang menyambarnya hanyalah  sebutir<BR>buah kecil bulat yang banyak bergantungan di pohon besar yang tumbuh di depannya<BR>itu merasa  kaget sekali,  dan ia  maklum bahwa  tentu ada  seorang pandai  yang<BR>mempermainkannya. Ia tahu bahwa penyerang itu tentu berada di balik pohon besar,<BR>maka sekali ini ia menggerakkan tubuh, ia telah meloncat ke belakang, pohon  itu<BR>mencari. Tetapi aneh,  di situ  tidak terdapat  seorang pun!  Ia celingukan  dan<BR>mencari-cari dengan matanya, tetapi sia-sia saja. Keadaan di hutan itu sunyi dan<BR>tak terdapat orang lain kecuali mereka berempat!<BR>"Orang she  Kwee!" kata  perwira itu  marah. "Kali  ini aku  ampunkan  kau,<BR>tetapi, tunggulah kedatanganku pada pesta ulang tahunmu untuk memberi selamat!"<BR>Kwee-ciangkun tidak tahu bahwa gadisnya telah tertolong oleh orang lain dan<BR>mengira bahwa  benar-benar  orang she  Boan  itu  berlaku murah,  maka  ia  lalu<BR>berkata,<BR>"Boan-enghiong, mengapa kau masih saja merasa penasaran? Ketahuilah,  bahwa<BR>anakku ini bukan jodohmu  dan semenjak kecil  telah kupertunangkan dengan  orang<BR>lain!"<BR>"Tak perlu merundingkan hal ini  sekarang," jawab perwira itu, "Nanti  saja<BR>di pesta ulang tahunmu. Kita berunding kembali dengan baik-baik."<BR>Setelah berkata demikian,  perwira itu  mengajak kawannya  pergi dari  situ<BR>dengan cepat. Kwee In Liang menghela napas dan berkata kepada Lin Lin,<BR>"Baiknya ia berlaku murah hati dan tidak mau mengganggu kita."<BR>Lin Lin memandang kepada ayahnya dan menjawab,<BR>"Ayah, kau tidak tahu.  Kalau tidak ada orang  pandai yang membantu,  entah<BR>bagaimana jadinya dengan kita.". Ia lalu menceritakan betapa ia telah dibebaskan<BR>dari totokan dengan sambitan dua butir  buah angcho, sedangkan perwira she  Boan<BR>itu pun telah kena diserang sambaran buah angcho yang lihai!<BR>"Sayang, orang  pandai itu  menolong dengan  sembunyi-sembunyi, agaknya  ia<BR>tidak mau berkenalan dengan kita," kata Lin Lin dengan kecewa, karena sebetulnya<BR>ia ingin sekali melihat siapa orangnya yang demikian lihai.<BR>Mendengar ucapan puterinya, Kwee  In Liang terkejut  dan segera ia  berseru<BR>dengan suara keras,<BR>"Enghiong  yang  telah  membantu  kami,  silakan  keluar  agar  kami  dapat<BR>menyatakan terima kasih kami!"<BR>Akan tetapi, biarpun telah berkali-kali ia berseru, tak seorang pun  muncul<BR>atau menjawab.<BR>"Sudahlah, Ayah. Agaknya ia benar-benar tidak mau bertemu muka dengan kita.<BR>Ayah, bangsat itu agaknya masih merasa penasaran dan ia telah menyatakan  hendak<BR>datang nanti pada hari ulang tahunmu. Kurasa ia tak mempunyai maksud baik.  Kita<BR>harus berhati-hati dan berjaga-jaga."<BR>Kwee In Liang menghela napas. "Kau  benar, memang Boan Sip itu kurang  ajar<BR>benar sekali. Tetapi aku masih ragu-ragu  apakah ia akan bersikap begitu  kurang<BR>ajar menimbulkan gara-gara dan mengacau dalam pestaku."<BR>"Orang macam itu  mungkin melakukan segala  perbuatan busuk, Ayah.  Baiknya<BR>aku pergi minta pertolongan Guruku.  Akan tetapi, Ayah... apa yang  kaumaksudkan<BR>dengan  kata-katamu  tadi  bahwa...   bahwa  aku  telah...   dipertunangkan...?"<BR>Tiba-tiba wajah gadis manis itu menjadi merah karena malu.<BR>Ayahnya tersenyum. Ia memang tahu bahwa anaknya ini selain manja juga  suka<BR>berkata terus terang hingga tidah malu-malu bertanya tentang hal pertunangan.<BR>"Tidak, Lin Lin, itu hanya alasan  kosong untuk mencegah ia mendesak  lebih<BR>jauh."<BR>"Ayah, mengapa kau menggunakan alasan  itu? Tak perlu kiranya kita  terlalu<BR>takut!" kata Lin Lin dengan gemas. "Kalau Guruku atau suciku bisa kuajak  datang<BR>membantu, aku akan mengajar adat kepada bangsat rendah itu!"<BR>Sambil bercakap-cakap mereka melanjutkan perjalanan keluar dari hutan  itu.<BR>Ketika mereka tiba  di luar hutan,  tiba-tiba dari jauh  mereka melihat  seorang<BR>pemuda berjalan mendatangi. Pemuda itu  berjalan perlahan sambil membawa  sebuah<BR>bungkusan pakaian  yang  terbuat  dari pada  kain  berwarna  kuning.  Pakaiannya<BR>sederhana seperti pakaian seorang petani dengan baju luar yang lebar dan  besar.<BR>Tubuhnya tinggi tegap dan rambutnya yang hitam tebal itu diikat dengan kain pita<BR>kuning. Jubahnya berwarna biru dan celananya putih.<BR>Kwee In  Liang memandang  pemuda  yang datang  itu dengan  penuh  perhatian<BR>karena ia seakan-akan  merasa sudah kenal  kepada pemuda ini  sedangkan Lin  Lin<BR>hanya mengerling sekali tanpa  perhatian. Akan tetapi,  ketika pemuda itu  telah<BR>berada di hadapan mereka, tiba-tiba pemuda itu tampak terkejut dan berdiri diam,<BR>lalu ia menjura di hadapan Kwee In Liang sambil berkata,<BR>"Maaf maaf! Bukankah aku sedang berhadapan dengan Kwee-ciangkun?"<BR>Kwee In  Liang  memandang tajam  dan  juga  Lin Lin  kini  memandang  penuh<BR>perhatian kepada pemuda ini.<BR>"Betul, aku adalah  Kwee In Liang,  dan siapakah Tuan  yang telah  mengenal<BR>padaku?"<BR>Tiba-tiba pemuda  itu melepaskan  buntalan  pakaiannya dan  memberi  hormat<BR>sambil menjura,<BR>"Ie-thio, terimalah hormatku. Aku yang rendah adalah Cin Hai!"<BR>"Cin Hai...  ?"  Kwee  In  Liang  berseru  terkejut,  akan  tetapi  matanya<BR>mengeluarkan sinar dingin.<BR>"Engko Hai...!" Lin Lin  berteriak girang sekali.  "Eh, kau sekarang  tidak<BR>gundul lagi!"<BR>Mendengar kata-kata yang  lucu ini, Cin  Hai memandang dan  ia tidak  dapat<BR>menahan geli hatinya  hingga ia  tertawa gembira,  juga Lin  Lin tertawa  senang<BR>sambil memandang  dengan sepasang  matanya yang  bening dan  indah seperti  mata<BR>burung Hong itu.<BR>"Engko Hai, bertahun-tahun ini kau pergi ke mana saja?" tanya Lin Lin.<BR>"Aku... aku hanya merantau tak tentu arah tujuan. Bagaimana Ie-thio, apakah<BR>selama ini  Ie-thio dan  seluruh  keluarga baik-baik  saja? Harap  Ie-thio  sudi<BR>memaafkan aku yang telah lama tidak dapat menghadap."<BR>"Tidak apa,  tidak apa,  Cin  Hai, kau  sekarang  sudah besar  dan  dewasa.<BR>Agaknya  kau  telah  mendapatkan  banyak  kemajuan,  syukurlah."  kata-kata  ini<BR>sederhana sekali hingga Cin Hai maklum bahwa pamannya ini masih saja tidak  suka<BR>kepadanya, maka ia pun tidak banyak bicara, hanya berkata singkat,<BR>"Sebenarnya, aku pun hendak pergi ke Tiang-an dan mengunjungi Ie-ie. Apakah<BR>ia baik-baik saja?"<BR>"Dia sehat dan selalu merindukanmu, Engko Hai. Tetapi, kami sekarang  tidak<BR>tinggal di Tiang-an lagi,  telah hampir tiga tahun  Ayah pindah ke  Sam-hwa-bun.<BR>Tahukah kau, Engko Hai? Ayah sekarang tidak menjabat pangkat lagi dan kami telah<BR>menjadi orang-orang biasa dan hidup sebagai petani!"<BR>Berita ini  benar-benar  tak terduga  oleh  Cin Hai.  Ia  memandang  kepada<BR>Ie-thionya dengan mata terbelalak dan mengandung penuh pertanyaan. Akan  tetapi,<BR>Kwee In Liang menegur puterinya.<BR>"Lin Lin, tak perlu kita bicarakan hal  itu di sini. Cin Hai, kau  sekarang<BR>hendak ke manakah?"<BR>Ucapan ini  bukanlah merupakan  sebuah undangan,  maka Cin  Hai juga  tidak<BR>hendak merendahkan diri hingga ia menjawab,<BR>"Aku hendak pergi ke Tiang-an, akan tetapi karena Ie-thio tidak tinggal  di<BR>sana lagi, aku... aku akan melanjutkan perantauanku..."<BR>"Eh, Hai-ko, kau harus mengunjungi kami. Alangkah akan girangnya hati lbu!"<BR>Memang anak-anak Kwee In Liang semua menyebut ibu kepada Loan Nio bibi Cin Hai.<BR>Karena tidak ada  ucapan dari  orang tua  itu yang  mengundangnya, Cin  Hai<BR>hanya menjawab  sederhana, "Baiklah,  Adik  Lin. Kalau  kebetulan aku  lewat  di<BR>Sam-hwa-bun tentu aku akan mampir."<BR>"Kebetulan? Ah, Engko Hai, apakah  kau benar-benar telah melupakan  Bibimu,<BR>melupakan kami? 0, ya!  Nanti pada hari  ke lima belas  bulan ini, jadi  sepuluh<BR>hari lagi kami  akan mengadakan  sedikit perayaan guna  memperingati hari  ulang<BR>tahun ayah yang ke enam puluh. Kau harus datang menghadiri pesta itu, Engko Hai!<BR>"<BR>"Apakah ini  merupakan sebuah  undangan?" tanya  Cin Hai  sambil  memandang<BR>kepada Kwee In Liang hingga terpaksa orang tua ini berkata,<BR>"Benar, Cin Hai,  kau datanglah.  Bibimu telah lama  mengenangmu. Lin  Lin,<BR>sudahlah jangan  kita  ganggu  Cin  Hai lebih  lama  lagi!  Ia  tentu  mempunyai<BR>keperluan penting. Hayo kita pergi!"<BR>Maka berpisahlah mereka, akan tetapi  sekali lagi Lin Lin berpaling  sambil<BR>berkata keras-keras, "Engko  Hai, jangan  lupa hari  ke lima  belas, dan...  kau<BR>masih pandai bersuling, bukan? Jangan lupa bawa serta sulingmu!"<BR>Setelah mereka pergi jauh, Cin Hai duduk di bawah pohon sambil mengenangkan<BR>kedua orang tadi. Jelas bahwa Kwee In Liang masih mempunyai perasaan tidak  suka<BR>kepadanya dan sikap orang  tua itu sungguh dingin  hingga ia segan sekali  untuk<BR>mengunjungi rumahnya. Akan  tetapi, Lin  Lin mendatangkan  perasaan gembira  dan<BR>hangat di  dalam dadanya.  Dara itu  sekarang sungguh  cantik jelita  dan  manis<BR>sekali! Dan  sikapnya  masih sama  seperti  dulu. Lincah,  jenaka  dan  gembira.<BR>Alangkah indahnya mata gadis  itu. Dan kepandaiannya  juga tidak rendah.  Pantas<BR>Lin Lin menjadi murid Biauw Suthai yang lihai. Diam-diam ia bersyukur dan girang<BR>sekali melihat bahwa gadis itu  telah mewarisi kepandaian yang tinggi.  Haruskah<BR>ia datang pada hari ke  lima belas nanti? Sikap  Kwee In Liang demikian  dingin,<BR>apalagi nanti sikap  Kwee Tiong  dan yang  lain-lain. Bagaimana  kalau ia  tidak<BR>dilayani dan dianggap sepi?<BR>Akan tetapi,  ia  harus  melihat  ie-ienya yang  telah  lama  ia  rindukan.<BR>Biarlah, biar mereka menghina atau menganggap rendah kepadanya, karena ia  tidak<BR>butuh dengan mereka. Di sana masih ada bibinya, dan juga ada Lin Lin yang  tentu<BR>akan menyambut kedatangannya  dengah tamah.  Dan yang lebih  penting pula,  pada<BR>hari ke lima  belas itu,  Lin Lin  terancam bahaya!  Perwira she  Boan itu  akan<BR>datang mengacau dan melihat kepandaian perwira  itu, agaknya sukar bagi Lin  Lin<BR>untuk menyelamatkan diri.  Ia harus  datang, dan akan  melihat-lihat saja  dulu,<BR>kalau Lin Lin berhasil memperoleh bantuan gurunya dan lain-lain orang pandai, ia<BR>hanya akan  menjadi penonton  saja. Akan  tetapi kalau  sampai gadis  manis  itu<BR>terancam bahaya, mau tidak mau ia terpaksa harus turun tangan!<BR>Cin Hai lalu berdiri dan melanjutkan perjalanannya. Ia merasa heran  sekali<BR>mengapa wajah Lin Lin yang manis  itu selalu membuat ia tersenyum gembira.  Akan<BR>tetapi, ketika ia  teringat akan  kata-kata Kwee In  Liang bahwa  Lin Lin  sudah<BR>dipertunangkan dengan pemuda lain, tiba-tiba ia merasa kecewa dan tidak  senang,<BR>heran sekali! Diam-diam  Cin Hai  menegur perasaannya sendiri  yang tidak  layak<BR>ini. Seharusnya ia ikut gembira mendengar  akan pertunangan Lin Lin, mengapa  ia<BR>harus merasa  tidak senang?  Ada hak  apakah dia?  Pikiran ini  membuat  hatinya<BR>menjadi dingin dan ia berusaha sekuatnya  untuk mengusir bayangan wajah Lin  Lin<BR>dari pikirannya, akan tetapi tidak berhasil!<BR>Ia lalu melayangkan  pikirannya kepada  Ang I  Niocu. Telah  tiga tahun  ia<BR>tidak bertemu dengan Dara  Baju Merah yang telah  berlaku baik sekali  kepadanya<BR>itu. Ia rindu kepada  Ang I Niocu  dan ingin sekali bertemu  kembali. Bu Pun  Su<BR>dulu menyuruh Ang  I Niocu mencari  sucinya, yaitu Kim  Lian atau yang  dijuluki<BR>Giok gan Kuibo Si Biang Iblis Bermata Intan.<BR>Hari ke lima belas masih sepuluh hari  lagi dan selama sepuluh hari itu  ia<BR>akan mencoba mencari Ang I Niocu. Ia masih ingat bahwa Ang I Niocu disuruh pergi<BR>ke Lok-bin-si, sebuah kota  yang letaknya tidak jauh  dari situ. Untuk pergi  ke<BR>sana pulang pergi,  paling lama  hanya membutuhkan  waktu lima  hari. Masih  ada<BR>waktu baginya, maka  dengan hati  tetap Cin Hai  lalu melanjutkan  perjalanannya<BR>menuju ke Lok-bin-si, sebuah kota di lereng pegunungan yang banyak hutannya.<BR>Setelah menerima perintah  dari Susiok-couwnya, Ang  I Niocu pergi  mencari<BR>sucinya ke Lok-bin-si. Akan tetapi, ketika  ia tiba di situ, ia mendengar  bahwa<BR>Giok-gan Kui-bo telah lama pergi  meninggalkan daerah itu dan kabarnya  merantau<BR>ke arah barat. Ang I Niocu sebetulnya ingin lekas-lekas kembali ke Gua Tengkorak<BR>karena semenjak meninggalkan tempat itu, hatinya tertinggal di sana bersama  Cin<BR>Hai, pemuda yang telah merebut seluruh isi hatinya itu.<BR>Akan tetapi  ia  tidak berani  kembali  dan bertemu  dengan  susiok-couwnya<BR>sebelum bertemu  dengan  sucinya.  Ia maklum  bahwa  susiok-couwnya  itu  sangat<BR>bengis, keras dalam hal memberi tugas.  Sebelum tugas itu diselesaikan, maka  ia<BR>tidak boleh kembali membuat laporan. Oleh karena ini, ia lalu menyusul ke barat,<BR>mencari sucinya.<BR>Daerah barat sangat luas  sehingga tidak mudah  mencari seorang yang  tidak<BR>diketahui jelas di mana tinggalnya,  walaupun orang itu begitu terkenal  seperti<BR>Giok-gan Kui-bo sekalipun! Oleh karena ini maka Ang I Niocu merantau sampai  dua<BR>tahun lebih belum juga dapat bertemu dengan Giok-gan Kui-bo. Hatinya bingung dan<BR>sedih sekali. Ia  merasa amat  rindu kepada Cin  Hai, akan  tetapi apa  dayanya?<BR>Pemuda itu sekarang berada dengan susiok-couwnya dan ia sekali-kali tidak berani<BR>menghadap Bu Pun Su sebelum tugasnya selesai.<BR>Oleh karena memang  berwatak baik,  di sepanjang  jalan Ang  I Niocu  tiada<BR>hentinya mengulurkan tangan menggunakan kepandaiannya untuk menolong mereka yang<BR>menderita, membela kaum  tertindas dan  membasmi para  penjahat yang  mengganas.<BR>Maka di daerah barat namanya pun menjadi terkenal sekali.<BR>Setelah ia tiba di sebuah kota yang disebut Bok-chiu, akhirnya ia  mendapat<BR>keterangan tentang nama sucinya.  Ternyata sucinya terkenal  sekali di kota  ini<BR>karena dengan seorang  diri saja Giok-gan  Kui-bo telah menghajar  habis-habisan<BR>kepada kawanan Piauwsu  Harimau Kuning  yang terkenal sekali  di kota  Bok-chiu.<BR>Pertempuran ini  terjadi  ketika  para piauwsu  itu  bermusuhan  dengan  seorang<BR>piauwsu baru  yang  belum lama  membuka  perusahaan piauwkiok  (kantor  pengirim<BR>barang) di kota itu. Memang  Oei-houw-piauwkiok terkenal mempunyai barisan  yang<BR>terdiri dari jago-jago  silat berkepandaian tinggi  dan karenanya ditakuti  oleh<BR>semua orang di kota itu, juga para penjahat dan perampok yang biasa mencegat  di<BR>hutan-hutan dan gunung-gunung apabila melihat bendera warna kuning dengan gambar<BR>kepala harimau, tidak ada yang berani mengganggu. Akan tetapi Oei-houw-piauwkiok<BR>memasang tarip terlalu tinggi untuk biaya pengiriman dan pengawalan barang. Oleh<BR>karena itu ketika  piauwsu yang  baru itu membuka  perusahaannya, para  saudagar<BR>yang mengirim barang  mulai mempercayakan barang-barangnya  kepada piauwsu  yang<BR>bernama Ong Hu  Lin itu. Hal  ini membuat para  piauwsu dari  Oei-houw-piauwkiok<BR>menjadi marah sekali dan terjadilah permusuhan.<BR>Ong Hu Lin adalah seorang piauwsu yang masih muda dan berwajah tampan. Ilmu<BR>silatnya lumayan juga dan  ia memiliki ilmu golok  yang lihai. Almarhum  ayahnya<BR>juga seorang piauwsu  yang ternama  di daerah  barat dan  ia hanya  menggantikan<BR>kedudukan ayahnya  oleh  karena  tidak  dapat  mencari  pekerjaan  lain.  Dengan<BR>mengandalkan kepandaiannya,  ia  mencari nafkah  dengan  mengawal  barang-barang<BR>berharga dan mendapat upah sekedarnya.<BR>Pada suatu hari, Ong  Hu Lin mendapat kepercayaan  dari hartawan Lui  untuk<BR>mengawal kiriman  segerobak  cita yang  mahal  harganya. Ketika  melalui  sebuah<BR>hutan, tiba-tiba ia  diganggu oleh  kawanan perampok yang  terdiri dari  belasan<BR>orang. Ong Hu Lin menghadapi kepala rampok itu dan berkata,<BR>"Sahabat, harap kalian  jangan mengganggu aku  yang sedang mencari  nafkah.<BR>Kalau kalian menghargai persahabatan, maka sepulangku dari tempat ke mana barang<BR>ini harus  kukirim, aku  akan  singgah untuk  memberi  hormat dan  akan  membawa<BR>sekedar barang hadiah sebagai tanda penghormatan."<BR>Akan tetapi Ong Hu Lin sama  sekali tidak tahu bahwa perampok-perampok  itu<BR>bukan lain adalah kaki  tangan para piauwsu  di Oei-houw-piauwkiok yang  sengaja<BR>menyewa tenaga mereka untuk mengganggu Ong Hu Lin. Maka tentu saja  kata-katanya<BR>itu ditertawakan saja  oleh kawanan  perampok, dan kepala  perampok yang  tinggi<BR>besar itu membentak,<BR>"Piauwsu hijau jangan  banyak cakap. Tinggalkan  barang-barang ini di  sini<BR>dan kau pergilah kalau kausayangi jiwamu.  Orang macam kau tidak pantas  menjadi<BR>piawsu, dan lebih baik kaututup saja perusahaanmu itu! Ha-ha-ha!"<BR>Ong Hu Lin marah  sekali. Dicabutnya golok  yang tergantung di  pinggangnya<BR>dan ia lalu dikeroyok. Akan tetapi, ternyata bahwa kepandaian Ong-piauwsu  cukup<BR>tangguh hingga tak lama  kemudian beberapa orang  anggauta perampok telah  roboh<BR>mandi darah. Dengan ilmu goloknya yang lihai ia dapat mendesak sekalian perampok<BR>itu.<BR>Pada saat  itu, tiba-tiba  muncul tiga  orang yang  membantu para  perampok<BR>mengeroyok  Ong-piauwsu  dan   mereka  ini  bukan   lain  adalah  para   piauwsu<BR>Oei-houw-piauwkiok! Ternyata kepandaian ketiga orang piauwsu ini lihai juga  dan<BR>sebentar saja Ong-piauwsu terdesak  hebat dan jiwanya  terancam. Pada saat  itu,<BR>terdengar suara wanita tertawa yang terdengar halus merdu tetapi mendirikan bulu<BR>tengkuk  karena  tidak  terlihat  orangnya  dan  tahu-tahu  berkelebat  bayangan<BR>menyambar para pengeroyok itu. Sebentar saja habislah para perampok berikut tiga<BR>orang piauwsu itu disapu  oleh seorang wanita  yang bergerak menari-nari  dengan<BR>cepat dan  ganas. Di  mana saja  tangan atau  kakinya menyambar,  tentu  seorang<BR>perampok terlempar dan  bergulingan sampai  jauh! Akhirnya  semua perampok  lari<BR>tunggang langgang sambil membawa kawan-kawan yang terluka.<BR>Ong Hu Lin berdiri  memandang dengan kedua  mata terbelalak. Ternyata  yang<BR>menolongnya dengan kepandaian luar biasa  itu adalah seorang wanita yang  cantik<BR>dengan sepasang  mata genit  dan  liar mengerling  kepadanya. Mulut  wanita  itu<BR>tersenyum manis. Rambutnya  hitam panjang dibiarkan  tergantung di  punggungnya,<BR>bajunya berwarna hijau dan celananya putih.<BR>ONG Hu Lin sadar dari keheranannya dan buru-buru ia menjura memberi hormat,<BR>"Lihiap yang  gagah  perkasa, siauwte  sungguh  berhutang budi  dan  tidak  tahu<BR>bagaimana harus membalasnya."<BR>"Ong-piauwsu,  janganlah  kau   terlalu  sungkan.   Bukankah  kita   adalah<BR>orang-orang sekaum di kalangan kang-ouw  dan sudah seharusnya saling  menolong?"<BR>Wanita itu menjawab dengan suaranya yang merdu.<BR>Ong Hu Lin terkejut. "Bagaimana Nona bisa mengetahui namaku?"<BR>"Bukankah kau Ong Hu Lin, piauwsu muda yang membuka perusahaan di Bokchiu?"<BR>kata wanita itu yang bukan lain adalah Giok-gan Kui-bo adanya. "Kebetulan sekali<BR>aku  bertemu  dengan  ketiga  orang  Piauwsu  dari  Oei-houw-piauwkiok  itu  dan<BR>mendengar mereka  membicarakan  engkau. Mana  bisa  aku membiarkan  saja  mereka<BR>berlaku sewenang-wenang?"<BR>"Terima kasih  banyak,  Lihiap.  Tetapi siapakah  nama  Lihiap  yang  lihai<BR>seperti bidadari ini?"<BR>Giok-gan Kui-bo mengerling dengan gaya  yang manis dan genit dan  memandang<BR>wajah yang tampan  itu dengan  tajam. "Namaku Kim  Lian dan  orang menyebut  aku<BR>Giok-gan Lihiap (Pendekar Wanita Bermata Intan)."<BR>Melihat gerak-gerik dan lagak wanita cantik  ini, tahulah Ong Hu Lin  bahwa<BR>ia berhadapan dengan seorang  wanita yang genit, maka  ia lalu berlancang  mulut<BR>berkata sambil tersenyum manis.<BR>"Sungguh nama  dan  julukan  yang  indah dan  manis,  sesuai  benar  dengan<BR>orangnya."<BR>Giok-gan Kui-bo  berpura-pura  marah  dan memandang  dengan  mata  melotot,<BR>tetapi bibirnya tetap tersenyum!<BR>"Lihiap, harap kaujangan kepalang menolong orang." kata Ong Hu Lin.<BR>"Apa maksudmu?"<BR>"Sudah jelas  bahwa  diriku yang  tiada  kawan ini  dimusuhi  oleh  kawanan<BR>Oei-houw-piauwkiok yang terdiri dari orang-orang pandai. Kalau tidak ada  engkau<BR>yang lihai,  Lihiap, tentu  aku telah  binasa. Maka  sudilah kau  mengawani  aku<BR>berjalan bersama-sama  sampai di  tempat  tujuan agar  mereka itu  tidak  berani<BR>mengganggu lagi."<BR>"Kalau aku mau  apakah upahnya?"  Kim Lian bertanya  sambil tertawa  genit.<BR>"Apa yang  kauminta, Lihiap,  biar jiwaku  sekalipun akan  kuberikan  kepadamu."<BR>jawab Ong Hu Lin yang ternyata pandai bermain kata-kata.<BR>Demikianlah semenjak saat itu mereka  berdua menjadi kawan baik yang  tidak<BR>berpisah lagi. Ketika  Ong Hu Lin  bersama Kim Lan  kembali ke Bok-chiu,  mereka<BR>ditunggu oleh kawanan piauwsu dari Oe-houw-piauwkiok dan dikeroyok, tetapi semua<BR>piauwsu itu  dengan mudah  saja  dapat dihajar  oleh Giok-gan  Kui-bo!  Akhirnya<BR>piauwsu-piauwsu itu menyatakan takluk dan semenjak itu, Ong Hu Lin yang  menjadi<BR>pemimpin piauwkiok itu.<BR>Sebaliknya Giok-gan  Kui-bo  tetap menjadi  kawan  baik Ong  Hu  Lin.  Akan<BR>tetapi, karena memang sudah  biasa merantau dan tidak  kerasan tinggal di  dalam<BR>sebuah rumah dan mengurus rumah tangga, Kim Lan lalu meninggalkan Ong Hu Lin dan<BR>membuat tempat tinggal sendiri di dalam  sebuah gua di gunung yang dekat  dengan<BR>kota Bok-chiu. Gua ini ia jadikan tempat beristirahat dan kadang-kadang saja  ia<BR>pergi menemui Ong Hu Lin di rumahnya.<BR>Giok-gan  Kui-bo  sama  sekali  tak  pernah  menyangka  bahwa  Ong  Hu  Lin<BR>sebetulnya telah mempunyai  seorang isteri! Dan  isterinya ini bukanlah  seorang<BR>sembarangan karena isterinya ini adalah Pek bin Moli Si Iblis Wanita Muka Putih,<BR>yaitu puteri tunggal  dari Pek  Moko! Ong  Hu Lin  bertemu dengan  Pek Moko  dan<BR>puterinya dan Pek-bin Moli jatuh  cinta kepadanya hingga akhirnya dipaksa  kawin<BR>dengan Pek-bin Moli. Sebetulnya kalau melihat orangnya, setiap pemuda pasti akan<BR>bersedia dengan senang hati  untuk menjadi suami Pek-bin  Moli yang selain  muda<BR>dan cantik, juga memiliki kepandaian  silat tinggi, karena dalam hal  kepandaian<BR>silat, selain  menerima pendidikan  dari  ayahnya, Pek  Moko, ia  juga  menerima<BR>pendidikan dari  supeknya, ialah  Hek Moko  yang lihai!  Akan tetapi  celakanya,<BR>Pek-bin Moli  yang cantik  jelita ini  berotak miring!  Gadis ini  menjadi  gila<BR>karena suatu  penyakit panas  hingga betapapun  cantiknya, akhirnya  Ong Hu  Lin<BR>tidak tahan melihat keadaan isterinya dan  menjadi jijik dan takut! Oleh  karena<BR>ini, maka pada suatu hari  Ong Hu Lin berhasil  melarikan diri dan minggat  dari<BR>isterinya yang gila ini  hingga sampai di Bok-chiu  dan bertemu dengan  Giok-gan<BR>Kui-bo yang  biarpun  kecantikannya tidak  melebihi  Pek-bin Moli,  akan  tetapi<BR>sikapnya menarik hati dan tidak gila!<BR>Suami yang meninggalkan isterinya  ini sama sekali  tak pernah mimpi  bahwa<BR>pada saat itu,  isterinya yang  gila telah menyusulnya  dan berhasil  mengetahui<BR>tempat tinggalnya!  Bahkan  isteri yang  gila  akan tetapi  mewarisi  kecerdikan<BR>ayahnya ini telah  mengetahui pula akan  perhubungannya dengan Giok-gan  Kui-bo!<BR>Kalau saja ia  tahu, tentu  ia akan  lari pergi  karena ia  takut setengah  mati<BR>kepada isterinya  ini dan  sudah  maklum akan  kepandaian isterinya  yang  lihai<BR>sekali.<BR>Pada suatu malam, ketika Ong Hu Lin dengan enaknya tidur di dalam kamarnya,<BR>tahu-tahu jendela kamarnya terbuka dari luar  dan suara yang sangat dikenal  dan<BR>ditakutinya memanggilnya. Ong Hu Lin membuka matanya dan ia menggosok-gosok mata<BR>karena mengira bahwa ia sedang bermimpi. Ternyata bahwa sambil  tersenyum-senyum<BR>manis tetapi dengan sepasang mata  bersinar menakutkan, di depan  pembaringannya<BR>telah berdiri  Pek-bin Moli,  isterinya yang  berotak miring  itu! Pek-bin  Moli<BR>memakai baju kotak-kotak lucu sekali dan celananya berwarna kuning gading.<BR>"Kau...?" Ong Hu Lin berseru.<BR>"Hi-hi, kau sudah rindu kepadaku, suamiku yang manis?" Pek-bin Moli tertawa<BR>dan  menghampiri  hingga  diam-diam  Ong  Hu  Lin  menggigil  ketakutan.   "Hayo<BR>kauberitahukan padaku di mana adanya sundal yang menjadi kekasihmu itu?"<BR>"Sia... siapa... yang kau... kaumaksudkan...?" Ong Hu Lin bertanya gagap.<BR>"Hi-hi, siapa lagi kalau  bukan Giok-gan Kui-bo? Hayo  kau lekas turun  dan<BR>antar aku  menemuinya. Atau  haruskah aku  menggunakan paksaan?"  Biarpun  suara<BR>isterinya terdengar merdu, akan tetapi sinar matanya mengeluarkan ancaman  hebat<BR>hingga mau tidak mau  Ong Hu Lin terpaksa  menyanggupi. Ia dapat  membujuk-bujuk<BR>isterinya yang gila itu  untuk menanti sampai besok  pagi, karena tidak  mungkin<BR>malam-malam yang gelap itu  mencari gua tempat  Giok-gan Kui-bo. Karena  Pek-bin<BR>Moli sangat mencinta suaminya, maka ia menurut dan malam itu Ong Hu Lin terpaksa<BR>menuturkan cerita bohong, dan mengatakan  bahwa ia pergi karena hendak  merantau<BR>dan meluaskan pengalaman.<BR>Setelah  malam  berganti  pagi,  maka  Ong  Hu  Lin  terpaksa  mengantarkan<BR>isterinya itu mengunjungi gua di mana  Giokgan Kui-bo tinggal! Semua piauwsu  di<BR>situ terheran-heran karena tidak tahu  bilamana datangnya seorang wanita  cantik<BR>yang bersikap dan berpakaian aneh itu dan tahu-tahu wanita itu telah keluar dari<BR>kamar bersama-sama Ong Hu Lin.  Setelah Ong-piauwsu memberitahukan bahwa  wanita<BR>itu adalah isterinya, semua orang terkejut sekali tak seorang pun berani  banyak<BR>bertanya.<BR>Kebetulan sekali  pada hari  itu juga  Ang  I Niocu  tiba di  Bok-chiu  dan<BR>mendengar tentang perhubungan sucinya dengan Ong Hu Lin. Ia pergi menyelidik dan<BR>mendengar semua peristiwa mengenai diri  Giok-gan Kui-bo yang sekarang  kabarnya<BR>tinggal di dalam sebuah gua di gunung yang berada tak berapa jauh dari kota itu.<BR>Maka ia pun lalu menyusul ke sana!<BR>Giok-gan Kui-bo sedang duduk seorang  diri di dalam gua tempat  tinggalnya,<BR>menanti mendidihnya air yang dimasak, ketika tiba-tiba tirai bambu yang dipasang<BR>di depan guanya itu terbuka. Seorang wanita muda yang cantik dan berpakaian aneh<BR>telah berada  di depannya  sambil tertawa  ha-ha-hi-hi. Kim  Lian  memperhatikan<BR>wanita ini. Ternyata  bahwa rambut  wanita ini pun  terurai ke  belakang dan  di<BR>atasnya diikat  dengan pita  hijau. Bajunya  kotak-kotak hitam  dan nampak  lucu<BR>sekali.<BR>"Siapa kau?" tanya Kim Lian tak acuh karena menyangka yang datang  hanyalah<BR>seorang gadis dusun yang ingin menemuinya.<BR>"Hi-hi-hi. Inikah  Giok-gan  Kui-bo?  Inikah  sundal  tak  tahu  malu  yang<BR>merampas suamiku? Ha, ha!"<BR>"Kau... kau  gila!"  Kim  Lian  memaki marah  sambil  berdiri  dari  tempat<BR>duduknya.<BR>"Kau yang gila! Kau, bukan aku!" tiba-tiba wanita itu menuding dengan  jari<BR>telunjuknya yang runcing. "Kau harus mampus!"<BR>Setelah berkata demikian  Pek-bin Moli  menampar dengan  tangannya ke  arah<BR>pipi Lim Lian. Giok-gan  Kui-bo marah sekali  dan menggerakkan tangannya  hendak<BR>menangkap tangan yang menampar itu, akan tetapi alangkah herannya ketika  tangan<BR>yang menampar itu dapat berkelit  dan melanjutkan tamparannya dari lain  jurusan<BR>dan "plak!" pipinya kena tampar!<BR>Bukan main marahnya Giok-gan Kuibo. Selama merantau di dunia kang-ouw belum<BR>pernah ada orang berani menghinanya, apalagi menamparnya!<BR>"Anjing betina! Siapakah kau berani main gila di depanku?" bentaknya dengan<BR>dada turun naik karena marahnya.<BR>"Hi, hi. Sakit ya?" kata Pek-bin Moli sambil tertawa. "Kau belum kenal aku?<BR>Kau belum pernah mendengar tentang Pek-bin Moli?"<BR>Terkejutlah Giok-gan Kui-bo mendengar nama  ini. "Kau yang disebut  Pek-bin<BR>Moli? Jadi  kau  ini puteri  Pek  Moko?  Mengapa kau  datang-datang  memaki  dan<BR>menamparku?" tanyanya heran hingga untuk sesaat ia melupakan kemarahannya.<BR>"Hi, hi, hi! Kau  main gila dengan suamiku  dan kau masih bertanya  mengapa<BR>aku menamparmu? Ha, ha, suami orang tidak bisa dibagi-bagi!"<BR>Giok-gan Kui-bo melirik keluar gua dan melihat bayangan Ong Hu Lin  berdiri<BR>dengan wajah pucat dan tubuh menggigil.<BR>"Hm, jadi orang she Ong itu suamimu? Tetapi ia tidak pernah bilang bahwa ia<BR>suamimu."<BR>"Ha, ha,  ha!  Ia  terlalu  cinta padaku,  mana  ia  mau  mengobral  namaku<BR>disebut-sebut kepada sembarang orang? Hi, hi, hi!"<BR>"Pek-bin Moli! Kau  sudah datang ke  sini dan jangan  kaukira aku  Giok-gan<BR>Kui-bo takut kepadamu. Sekarang kau mau apa?"<BR>"Eh, eh, kau mau melawan?  Baik, kau mampuslah!" Setelah berkata  demikian,<BR>Pek-bin Moli lalu menyerang dan keduanya lalu bertempur hebat di dalam gua  yang<BR>sempit itu! Kalau Giok-gan  Kui-bo lihai sekali  gerakan tangannya yang  seperti<BR>menari-nari dengan buasnya itu, adalah Pek-bin Moli yang bermuka putih halus itu<BR>luar biasa lihainya mempergunakan kedua kakinya! Harus diketahui bahwa di  dalam<BR>sepatu, tepat  di bawah  telapak kakinya,  tersembunyi besi  baja yang  menambah<BR>kelihaian tiap  tendangan  dan sepakan  wanita  ini. Selain  itu,  Pek-bin  Moli<BR>memiliki ginkang luar  biasa dan  tubuhnya seakan-akan  melayang-layang ke  atas<BR>sambil  mengirim  tendangan  bertubi-tubi  bagaikan  kedua  kakinya  tak  pernah<BR>menyentuh tanah.  Akan tetapi  Giok-gan Kui-bo  melawan dengan  sungguh-sungguh.<BR>Pertempuran itu sungguh menarik dan  hebat sekali. Tendangan dan pukulan  sampai<BR>menimbulkan angin mendesir dan suaranya keluar dari gua itu membuat tirai  bambu<BR>yang berada di luar bergoyang-goyang  seakan-akan terhembus angin besar. Ong  Hu<BR>Lin berdiri dengan muka pucat dan tubuh menggigil.<BR>Tiba-tiba dari jauh tampak oleh Ong Hu Lin setitik bayangan merah yang naik<BR>ke tempat  itu dengan  cepat sekali.  Ia  cepat menyelinap  ke samping  gua  dan<BR>bersembunyi karena maklum bahwa yang datang itu tentu seorang yang berkepandaian<BR>tinggi. Setelah dekat, ia  melihat bahwa yang datang  itu adalah seorang  wanita<BR>berbaju merah yang luar biasa cantiknya.<BR>"Ong-piauwsu,  kau  keluarlah,  tak  usah  bersembunyi  karena  aku   sudah<BR>melihatmu!"<BR>Kaget sekali Ong Hu Lin mendengar ini dan dengan muka makin pucat ia keluar<BR>dari tempat  persembunyiannya.  "Dimana adanya  Giok-gan  Kui-bo?" Ang  I  Niocu<BR>dengan suara keren.  Ong Hu Lin  makin heran. Siapakah  wanita ini yang  agaknya<BR>memiliki kepandaian hebat dan yang datang-datang menanyakan Giok-gan Kui-bo?"<BR>"Kau siapakah?" Ia memberanikan diri bertanya.<BR>"Tak usah kau tahu.  Lekas katakan di mana  adanya Giok-gan Kui-bo!" Ang  I<BR>Niocu membentak  marah  hingga Ong  Hu  Lin  merasa takut.  "Dia...  dia  sedang<BR>bertempur melawan isteriku... "<BR>"Isterimu? Siapakah dia?"<BR>"Pek-bin Moli..."<BR>Mendengar nama  ini,  Ang  I  Niocu memandang  ke  arah  tirai  bambu  yang<BR>tergantung di depan gua yang kini bergoyang-goyang karena sambaran angin pukulan<BR>dari dalam gua. Ia segera melompat dan menggunakan tangan kiri menyingkap  tirai<BR>itu.<BR>Pada saat  itu, dengan  Ilmu Tendangan  Siauw-ci-twi, Pek-bin  Moli  sedang<BR>mendesak hebat kepada  Giok-gan Kui-bo yang  berkelit ke sana  ke mari  mengelak<BR>tendangan maut yang datang bertubi-tubi itu. Tepat pada saat Ang I Niocu membuka<BR>tirai memandang, sebuah tendangan kaki kiri telah melanggar pundak kiri Giok-gan<BR>Kuibo yang mengeluarklan  seruan tertahan  dan tubuhnya  terhuyung ke  belakang.<BR>Pek-bin Moli  mengejar hendak  mengirim tendangan  maut, akan  tetapi  tiba-tiba<BR>berkelebat bayangan merah dan tahu-tahu tendangannya itu tertangkis oleh  sebuah<BR>lengan tangan yang kuat  sekali. Pek-bin Moli kaget  dan melompat mundur  sambil<BR>memandang Dara Baju Merah yang menghalang-halangi serangannya tadi.<BR>"Pek-bin Moli,  harap  kau suka  bersabar  dan tenang  sedikit.  Maafkanlah<BR>Suciku kalau ia bersalah. Kesalahannya tidak  sangat besar hingga kau tak  perlu<BR>menjatuhkan tangan maut!"<BR>"Siapa kau?" tanya Pek-bin Moli dengan mata berputar-putar hebat.<BR>"Aku Sumoinya."<BR>Setelah memutar  otaknya  dan melihat  pakaian  itu, agaknya  Pek-bin  Moli<BR>teringat. "Hi, hi, kau tentu Ang I Niocu bukan? Kau memang cantik jelita!"<BR>"Pek-bin Moli," kata Ang I Niocu  yang maklum bahwa wanita di depannya  itu<BR>memang berotak miring maka  percuma saja diajak  bicara panjang lebar  "sekarang<BR>aku putuskan. Kau  pergi dari sini  membawa suamimu sebelum  ia lari lagi,  atau<BR>kaubiarkan suamimu lari pergi dan kau bertempur melawan aku?"<BR>Kedua mata  Pek-bin Moli  terbelalak "Apa?  Suamiku lari  pergi lagi?  Mana<BR>dia...? He, Ong Hu Lin...! Tunggu...!" Dan wanita gila ini berlari keluar sambil<BR>berteriak-teriak memanggil  nama  suaminya. Setelah  bertemu  di luar,  ia  lalu<BR>menggandeng tangan suaminya itu dan diajak pulang. Ong Hu Lin hanya menurut saja<BR>seperti seekor kerbau ditarik tali hidungnya.<BR>Ang I  Niocu  menghampiri Giok-gan  Kui-bo  yang merintih-rintih.  Luka  di<BR>pundaknya walaupun tidak membahayakan jiwanya, tetapi terasa sakit sekali.<BR>"Suci, telah dua tahun  aku mencari-carimu di  mana-mana. Tidak tahunya  di<BR>sini kau memperebutkan seorang laki-laki dengan wanita gila itu!"<BR>Mendengar  kata-kata  keras  ini,  Giok-gan  Kui-bo  tidak  menjawab  hanya<BR>menundukkan  kepala.  Ang  I  Niocu  menghela  napas,  karena  tahu  bahwa  jika<BR>berhadapan dengannya, Kim Lian selalu  memperlihatkan sikap lemah dan  mengalah.<BR>Ia maklum bahwa sucinya  ini mempunyai kebiasaan buruk  dan genit hingga  banyak<BR>orang kang-ouw menganggap ia sebagai perempuan lacur, akan tetapi sebenarnya, di<BR>dalam hati ia tak begitu jahat.<BR>"Suci, kalau saja  kau berada di  pihak benar, belum  tentu kau kalah  oleh<BR>wanita gila  itu. Akan  tetapi kau  telah berlaku  sesat dan  membiarkan  dirimu<BR>dengan mudah saja tergoda oleh laki-laki,  maka sedikit luka itu anggaplah  saja<BR>sebagai hukuman. Aku datang atas perintah Susiok-couw!"<BR>Mendengar  disebutnya  susiok-couw   terkejutlah  Giok-gan  Kui-bo   hingga<BR>wajahnya berubah pucat.<BR>"Tidak, jangan kau takut. Susiok-couw belum menjatuhkan putusan pendek  dan<BR>tegas. Akan  tetapi beliau  minta supaya  aku memberi  peringatan kepadamu.  Kau<BR>telah  berkali-kali  melanggar  pantangan  sebagai  orang  gagah  dan  melakukan<BR>perbuatan-perbuatan rendah. Kau  mencuri, merampok,  menculik pemuda-pemuda  dan<BR>kau mencemarkan nama perguruan kita. Sekarang jawablah, bagaimana pikiranmu?"<BR>Dengan muka masih  tunduk Giok-gan  Kui-bo menjawab, "Im  Giok, memang  aku<BR>telah bersalah... tetapi apa dayaku? Aku sebatangkara, hidupku merana menderita.<BR>Kalau  aku  tidak  mencari  kesenangan  sendiri,  siapakah  yang  dapat  memberi<BR>kesenangan kepadaku? Apakah  aku harus  melewatkan hidupku  dalam kesunyian  dan<BR>mati dengan hati menderita?"<BR>Ang I  Niocu  merasa terharu  mendengar  ini, akan  tetapi  ia  mengeraskan<BR>suaranya ketika berkata dengan  tegas, "Suci, kau juga  tahu bahwa di dunia  ini<BR>ada dua  macam  kesenangan.  Kesenangan  yang  buruk  dan  jahat  dan  ada  pula<BR>kesenangan yang baik, bersih.  Mengapa kau menurutkan  nafsu hatimu yang  jahat?<BR>Apakah kau tidak mempunyai cukup tenaga untuk mengekang nafsu jahatmu dan apakah<BR>kau  tidak  memiliki  lagi  kebersihan  batin  seorang  wanita  yang  sopan  dan<BR>menjunjung tinggi kesusilaan?"<BR>"Sudahlah, sudahlah..." tiba-tiba Giok-gan  Kui-bo menjatuhkan diri  sambil<BR>menangis. "Kau mana tahu tentang kasih  sayang, mana tahu tentang cinta!  Selama<BR>hidupmu agaknya kau tidak pernah  menderita dan merasa bagaimana celakanya  hati<BR>yang tergoda  rasa  rindu.  Agaknya  hatimu terbuat  daripada  batu!"  Kim  Lian<BR>memandang sumoinya  dengan mata  basah. Ia  sama sekali  tidak pernah  menyangka<BR>bahwa kata-katanya itu bagaikan mata pedang tajam menusuk uluhati Im Giok hingga<BR>Ang I Niocu menundukkan kepala dengan wajah pucat. Dara Baju Merah ini  teringat<BR>akan perasaan hatinya  terhadap Cin Hai!  Ah, Suci, kalau  saja kau tahu  betapa<BR>berat rasa hatiku karena pemuda itu, pikirnya.<BR>"Im Giok, aku  memang telah bersalah.  Beritahukan saja kepada  Susiok-couw<BR>bahwa semenjak hari  ini aku Kim  Lian akan mencukur  rambut dan menjadi  nikouw<BR>(pendeta wanita) dan bertapa di gua ini. Aku takkan mencampuri urusan dunia lagi<BR>dan hanya ingin bertapa menebus dosa!"<BR>Ang I Niocu tidak tahan lagi menahan keharuan hatinya. Ia maju menubruk dan<BR>memeluk sucinya dan mereka berdua sama-sama menangis. Ang I Niocu merasa  girang<BR>mendengar akan  keinsyafan  sucinya ini,  akan  tetapi kata-kata  Ki  Lian  tadi<BR>benar-benar menusuk hatinya.<BR>"Im Giok, mudah-mudahan kau takkan  sampai tersesat seperti aku," kata  Kim<BR>Lian sambil mengusap-usap rambut sumoinya yang halus.<BR>"Suci... aku pun hanya seorang manusia biasa saja yang tidak terbebas  dari<BR>kesesatan..."<BR>Giok-gan  Kui-bo  dapat  menetapkan  hatinya  yang  terharu,  lalu   dengan<BR>tiba-tiba ia mencabut pedang yang tergantung di punggung Ang I Niocu. Gerakannya<BR>cepat  sekali  dan  tahu-tahu  rambutnya  yang  panjang  hitam  dan   tergantung<BR>riap-riapan di  punggungnya  itu telah  dipotongnya!  Ang I  Niocu  hanya  dapat<BR>memandang dengan hati  terharu sekali. Setelah  kedua kakak beradik  seperguruan<BR>itu bercakap-cakap melepaskan rindu, Ang I Niocu lalu meninggalkan Kim Lan.<BR>Dara Baju Merah ini  berjalan secepatnya karena ia  ingin segera sampai  di<BR>Gua Tengkorak dan  memberi laporan  kepada Bu Pun  Su tentang  tugas yang  telah<BR>diselesaikannya itu. Padahal sebetulnya karena  ingin segera bertemu dengan  Cin<BR>Hai, maka ia melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa itu!<BR>Ketika dengan hati berdebar-debar Ang  I Niocu memasuki Gua Tengkorak  itu,<BR>ia melihat Bu  Pun Su  duduk bersila  menghadapi hiolouw  yang mengepulkan  asap<BR>putih. Ia tidak  melihat Cin  Hai di  situ dan  diam-diam ia  merasa kecewa  dan<BR>kuatir.<BR>Segera ia menjatuhkan diri berlutut dan berkata,<BR>"Susiok-couw, teecu datang menghadap."<BR>"Bagus, Im Giok, kau  telah kembali. Bagaimana  dengan usahamu mencari  Kim<BR>Lian?"<BR>Dengan panjang lebar Ang I  Niocu menceritakan pengalamannya dan ketika  ia<BR>menceritakan keputusan  sucinya  yang  nekad dan  mencukur  rambut  untuk  masuk<BR>menjadi nikouw, tak tertahan pula ia mengucurkan air mata.<BR>Bu Pun Su mengangguk-angguk dan menghela napas.<BR>"Baik juga  keputusannya  itu. Betapapun  dosa  seseorang, asal  dia  dapat<BR>insyaf dan  kembali ke  jalan benar  untuk selanjutnya  menebus kekeliruan  yang<BR>sudah-sudah dengan  tindakan-tindakan sempurna,  maka ia  boleh disebut  seorang<BR>bijaksana." Kemudian, setelah berdiam untuk beberapa lama sambil memandang wajah<BR>gadis yang tunduk  itu dengan tajam,  tiba-tiba Bu Pun  Su berkata dengan  suara<BR>sungguh-sungguh,<BR>"Im Giok, kalau  aku tidak  salah sangka,  luka di  hatimu akibat  gagalnya<BR>perjodohanmu dengan  pemuda pilihanmu  dulu agaknya  sekarang telah  sembuh  dan<BR>kulihat kegembiraan hidupmu telah kembali. Anak, bagi seorang wanita, mendirikan<BR>rumah tangga  yang  baik  dan  penuh damai  adalah  jalan  yang  terutama  untuk<BR>membebaskan diri  dari pada  godaan  dunia dan  untuk memenuhi  tugas  kewajiban<BR>sebagai seorang  manusia.  Lihatlah  contohnya Sucimu  itu,  karena  ia  sebagai<BR>seorang gadis hidup seorang diri dan tidak mendirikan rumah tangga, maka  banyak<BR>penggoda menyesatkan jalan hidupnya.  Aku maklum bahwa  kau mempunyai iman  yang<BR>kuat dan batin yang bersih, akan tetapi, apa perlunya menyiksa diri dengan hidup<BR>menyendiri? Kau tidak mempunyai jodoh untuk menjadi seorang pendeta wanita  yang<BR>takkan kawin selama hidupnya!"<BR>Ang I  Niocu mendengarkan  kata-kata orang  tua itu  dengan hati  berdebar,<BR>karena kata-kata itu memang tepat  dan seakan-akan susiok-couwnya dapat  membaca<BR>isi hatinya. Akan tetapi karena merasa malu, ia tidak berani mengangkat muka dan<BR>tetap bertunduk.<BR>"Im Giok, baiklah  kita berterus  terang saja. Kau  perlu mendapat  seorang<BR>suami yang baik  sekali, dan aku  telah melihat seorang  pria yang agaknya  akan<BR>cocok untuk menjadi kawan hidupmu selamanya."<BR>Tiba-tiba wajah  Ang I  Niocu memerah  dan hatinya  makin berdebar.  Timbul<BR>harapan yang diliputi kekuatiran di dalam hatinya. Siapakah orang laki-laki yang<BR>dimaksudkan oleh susioknya  ini? Apakah  Cin Hai??  Ia tak  berani bertanya  dan<BR>masih tetap tunduk.<BR>"Kalau kau setuju,  aku bersedia  menjadi perantara, Im  Giok. Biarlah  aku<BR>akhiri masa hidupku untuk menjadi seorang comblang yang menghubungkan dua  orang<BR>manusia sehingga menjadi suami isteri yang hidup rukun dan penuh kebahagiaan."<BR>Terpaksa Ang I Niocu menjawab dengan suara hampir tak terdengar,<BR>"Susiok-couw,  bagaimana  teecu  dapat  menjawab  kalau  teecu  tidak  tahu<BR>siapa... orang yang dimaksudkan itu?"<BR>"Ha-ha, Im Giok. Bukan orang yang tidak kaukenal, bahkan hubunganmu  dengan<BR>dia akrab sekali!"<BR>Makin berdebarlah hati Im Giok dan ia mendengar dengan penuh perhatian.<BR>"Orang itu bukan lain ialah Kang  Ek Sian! Aku telah tahu benar-benar  akan<BR>perhubunganmu dengan dia  dan telah kuketahui  bahwa ia benar  seorang baik  dan<BR>patut dipuji. Bagaimana pendapatmu tentang hal ini, Im Giok?"<BR>Bukan main kecewa rasa hati Ang I Niocu.<BR>"Maaf, Susiok-couw,  teecu... tidak...  belum  ingin mengikat  diri  dengan<BR>perjodohan!"<BR>"Im Giok, jawabanmu ini sama  artinya dengan penolakan! Katakanlah!  Apakah<BR>Kang Ek Sian bukan seorang laki-laki yang baik?"<BR>"Dia memang seorang baik, Susiok-couw, akan tetapi... bagaimana teecu dapat<BR>menjadi isteri seorang yang tidak... teecu cinta... ?"<BR>"Aha, anak muda sekarang!" Bu Pun Su berseru. "Cinta membutakan mata, anak.<BR>Bukti-bukti  telah  menyatakan  bahwa   kerukunan  dan  saling  mengerti   dapat<BR>mendatangkan rasa cinta yang jauh lebih sempurna daripada cinta muda yang  hanya<BR>terdorong oleh nafsu semata! Aku maklum bahwa kau telah tertarik hatimu oleh Cin<BR>Hai. Betulkah?"<BR>Bukan main terkejutnya hati Ang I Niocu mendengar ini. Bagaimana kakek  ini<BR>dapat mengetahui segalanya? Dapat mengetahui tentang segala persoalannya  dengan<BR>Kang Ek Sian dan dapat tahu pula rahasia hatinya terhadap Cin Hai? Ia tak berani<BR>mengangkat muka dan hanya tunduk dengan muka sebentar pucat sebentar merah.<BR>"Im Giok, kau telah  mendekati jurang yang curam  dan berbahaya! Kau  boleh<BR>menaruh hati  sayang kepada  Cin Hai,  akan tetapi  bukan kasih  sayang  seorang<BR>wanita terhadap laki-laki. Seharusnya kasih  sayangmu itu kaudasarkan atas  rasa<BR>kasihan dan kecocokan tabiat. Ingatlah, berapa usiamu sekarang, dan berapa  usia<BR>Cin Hai? Harus  kuakui bahwa kau  memang masih nampak  muda sekali berkat  telur<BR>burung rajawali putih dan berkat  kecantikanmu, akan tetapi lewat sepuluh  tahun<BR>lagi saja, kau akan  menjadi tua dan  Cin Hai masih tetap  muda. Apakah hal  ini<BR>tidak akan  mendatangkan  kepincangan  sehingga akan  merupakan  gangguan  hebat<BR>terhadap kebahagiaanmu? Pikirlah masak-masak dan sekarang pergilah!"<BR>Mendengar kata-kata yang terus terang dan menusuk-nusuk hatinya ini, Ang  I<BR>Niocu menangis tersedu-sedu hingga tubuhnya berguncang-guncang. Ia tidak melihat<BR>betapa Bu Pun Su memandangnya dengan sinar mata penuh iba hati.<BR>"Im Giok,  kelak  kau  akan  ingat bahwa  aku  memberi  semua  nasihat  ini<BR>semata-mata untuk kebaikanmu sendiri dan kau akan mendapat kenyataan bahwa semua<BR>kata-kataku benar  belaka.  Sekarang  gunakanlah  imanmu  dan  kuasailah  hatimu<BR>kembali. Kau  boleh  pergi  dan  apa pun  yang  menjadi  keputusanmu  aku  tidak<BR>melarang. Aku takkan  mencampuri urusan orang  muda, tetapi sewaktu-waktu  kalau<BR>kau setuju dengan usulku tadi, kau boleh mencariku."<BR>Ang I  Niocu lalu  menghaturkan  terima kasih  dan mengundurkan  diri  lalu<BR>keluar dari gua itu diikuti pandangan  mata Bu Pun Su yang  menggeleng-gelengkan<BR>kepala, karena kakek ini diam-diam merasa kasihan sekali.<BR>"Nafsu, nafsu... kau memang kejam dan suka mempermainkan hati orang  muda!"<BR>katanya perlahan kepada asap putih yang mengepul di depannya.<BR>Setelah keluar dari gua itu,  diam-diam Ang I Niocu mengingat-ingat  segala<BR>ucapan Bu  Pun  Su  dan setelah  berada  di  tempat terbuka  hingga  hawa  sejuk<BR>mendinginkan kepalanya, ia merasa betapa  tepat dan betulnya nasihat kakek  itu.<BR>Biarpun ia tidak diberi tahu, akan tetapi  ia dapat menduga bahwa Cin Hai  tentu<BR>telah turun gunung. Tentu saja ia tidak berani bertanya kepada Bu Pun Su tentang<BR>anak muda itu, setelah Bu Pun  Su secara tepat dapat membongkar rahasia  hatinya<BR>terhadap Cin Hai.<BR>Ang I Niocu sama sekali tidak pernah menyangka bahwa Cin Hai baru  beberapa<BR>hari yang lalu meninggalkan Gua Tengkorak  itu. Ia hanya menyangka bahwa  pemuda<BR>itu tentu kembali ke rumah bibinya, yaitu di Tiang-an, karena pemuda itu  pernah<BR>menceritakan riwayatnya  kepadanya. Oleh  karena ini,  secepatnya ia  menuju  ke<BR>Tiang-an untuk menyusul Cin Hai. Betapapun  juga ia harus bertemu dengan  pemuda<BR>itu, karena ia tak dapat menahan rindu hatinya lagi.<BR>Setelah mencari Ang  I Niocu di  Liok-bin-si dengan sia-sia,  Cin Hai  lalu<BR>kembali ke Sam-hwa-bun untuk mengunjungi rumah keluarga Kwee In Liang.<BR>Dan sebuah hal yang tak terduga-duga terjadi! Ketika ia tiba di sebuah kaki<BR>gunung di jalan yang sunyi senyap,  tiba-tiba ia melihat titik merah  mendatangi<BR>dengan sangat cepat  dari depan!  Hatinya berdebar girang  karena hanya  seorang<BR>manusia berpakaian merah di dunia ini yang dapat bergerak seperti itu! Ia segera<BR>mengendurkan tindakan kakinya karena  ia tidak mau  memperlihatkan kepada Ang  I<BR>Niocu bahwa ia sekarang telah memiliki ilmu gin-kang yang hebat.<BR>Benar saja dugaannya, tak lama kemudian Ang I Niocu tiba di hadapannya. Ang<BR>I Niocu  tiba-tiba  berhenti bagaikan  ditahan  oleh tenaga  raksasa  ketika  ia<BR>melihat pemuda  yang  berdiri memandangnya  dengan  wajah berseri-seri  itu!  Ia<BR>hampir pangling melihat Cin Hai dan tak pernah disangkanya bahwa waktu yang tiga<BR>tahun lamanya  itu  telah mengubah  Cin  Hai dari  seorang  kanak-kanak  menjadi<BR>seorang pemuda yang cakap dan tegap!<BR>"Kau... kau... Hai-ji...?" bisiknya.<BR>"Niocu!" Cin  Hai tertawa  lebar, dan  maju memegang  tangan Ang  I  Niocu.<BR>Kegirangan besar membuat ia lupa akan kesopanan dan ia memegang tangan Dara Baju<BR>Merah  itu  dengan  erat  bagaikan  bertemu  dengan  seorang  yang  telah   lama<BR>dirindukannya. Sebenarnya  perasaan Cin  Hai  ketika itu  terhadap Ang  I  Niocu<BR>hanyalah perasaan kasih sayang  terhadap orang yang  dianggapnya paling baik  di<BR>dunia ini. Akan  tetapi sikapnya  telah dipandang salah  oleh gadis  itu. Ang  I<BR>Niocu mengira bahwa Cin Hai mempunyai perasaan yang sama terhadap dirinya,  maka<BR>kalau tadinya ia  merasa ragu-ragu  dan selalu kata-kata  Bu Pun  Su bergema  di<BR>dalam telinganya hingga  ia tidak ingin  memperlihatkan kesukaan hatinya  karena<BR>pertemuan ini,  maka sekarang  hatinya meluap-luap  karena girangnya.  Ia  balas<BR>memegang lengan tangan Cin Hai yang kuat itu dan berkali-kali berbisik,<BR>"Hai-ji... Hai-ji..."<BR>Mereka lalu  pergi duduk  di  pinggir jalan  sambil saling  pandang  dengan<BR>mesra.<BR>"Hai-ji, kau telah  tiga tahun belajar  kepandaian dari Susiok-couw,  tentu<BR>sekarang telah memiliki kepandaian tinggi."<BR>"Ah, Niocu, kepandaian apakah yang dapat kupelajari dengan baik? Suhu hanya<BR>memberi pelajaran menari!"  Sambil berkata demikian,  Cin Hai mencabut  sebatang<BR>suling dari pinggangnya dan mengangkat suling itu tinggi-tinggi sambil  tertawa.<BR>Ang I Niocu juga tertawa girang.<BR>"Kalau begitu, tentu  kau sekarang  telah dapat  menarikan Tari  Bidadari?"<BR>tanyanya sambil  memandang muka  yang  tampan dengan  hiasan rambut  yang  hitam<BR>bagus.<BR>"Barang kali  saja dapat.  Aku  pun telah  lama  ingin sekali  melihat  kau<BR>menari, Niocu.  Bagaimana  kalau  kita menari  bersama-sama?  Aku  akan  mencoba<BR>mengikuti gerakanmu."<BR>Dengan girang sekali Ang I Nioct berdiri, diikuti oleh Cin Hai yang  segera<BR>meniup sulingnya. Memang  pemuda ini selama  belajar silat pada  Bu Pun Su,  tak<BR>pernah lupa  untuk meniup  sulingnya yang  menjadi kesukaannya.  Bahkan  gurunya<BR>sendiri suka sekali mendengar tiupan sulingnya yang merdu.<BR>Maka terdengar tiupan suling yang indah dan merdu di kaki gunung itu. Ang I<BR>Niocu lalu menari dengan gerakan yang indah  dan gemulai dan Cin Hai yang  sudah<BR>mempelajari pokok-pokok  segala  silat, sekali  lihat  saja dengan  mudah  dapat<BR>mengimbangi tarian itu!  Memang Tarian  Bidadari bukanlah  sembarang tarian  dan<BR>pada hakekatnya adalah sebuah ilmu silat yang lihai.<BR>Sepasang pemuda-pemudi itu menari dengan indahnya di tempat yang sunyi itu,<BR>gerakan kaki mereka cocok sekali bagaikan memang diatur sebelumnya, hanya  kalau<BR>sepasang lengan tangan  Ang I  Niocu bergerak  dengan lincah  indah, maka  kedua<BR>tangan Cin Hai tidak digerakkan karena ia menggunakan untuk memegang suling yang<BR>ditiupnya untuk mengiringi tarian itu.<BR>Bukan main  senangnya hati  Ang I  Niocu dan  ia juga  merasa kagum  sekali<BR>karena gerakan kaki  Cin Hai  sungguh tepat dan  tidak ada  salahnya. Gadis  ini<BR>merasa  sangat  bahagia  dan  gembira  hatinya  hingga  ia  menari-nari   sambil<BR>tertawa-tawa girang dan  memandang wajah Cin  Hai dengan sinar  mata penuh  rasa<BR>cinta! Sebaliknya, Cin Hai juga gembira, akan tetapi ia menari dengan tenang dan<BR>wajahnya yang tampan itu tidak memperlihatkan perasaan apa-apa, hanya girang dan<BR>gembira.<BR>Setelah selesai menari, mereka kembali duduk di atas batu di pinggir jalan.<BR>"Hai-ji, kau hebat  sekali! Dalam tiga  tahun saja kau  telah dapat  meniru<BR>Tarian Bidadari demikian  sempurnanya! Kau  tentu telah  mempelajari ilmu  silat<BR>yang tinggi sekali dari Susiok-couw! Coba kauperlihatkan pelajaran ilmu  silatmu<BR>itu untuk kukagumi."<BR>"Sesungguhnya, Niocu. Aku  tidak mempelajari  apa-apa, hanya  tarian-tarian<BR>itu saja. Bahkan tarian itu pun baru dapat kulakukan jika kau menari  bersamaku,<BR>kalau aku disuruh menari seorang diri aku takkan sanggup melakukannya."<BR>Ang I Niocu  memandang heran, akan  tetapi ia percaya  bahwa Cin Hai  tidak<BR>berbohong. Ia  hanya  menyangka  bahwa  pemuda  ini  memang  agak  bodoh  hingga<BR>susiok-couwnya tidak memberi pelajaran lain ilmu silat yang tinggi.<BR>"Biarlah, kau  jangan  kecewa, Hai-ji.  Mulai  sekarang, aku  akan  memberi<BR>pelajaran silat kepadamu!"<BR>"Terima kasih, Niocu kau memang baik sekali."<BR>"Sekarang, kau  hendak ke  mana, Hai-ji?  Apakah kau  telah bertemu  dengan<BR>Bibimu dan keluarga Kwee?"<BR>"Aku sudah bertemu dengan Ie-thio, akan tetapi belum bertemu dengan  Ie-ie.<BR>Sebetulnya aku pun sedang menuju ke  sana untuk menghadiri pesta perayaan  ulang<BR>tahun Ie-thio." Cin Hai lalu menceritakan pengalamannya dan pertemuannya  dengan<BR>Kwee In Liang.<BR>Ang I Niocu mengerutkan alisnya  yang bagus. "Kalau begitu, keadaan  mereka<BR>berbahaya sekali. Aku mendengar bahwa perwira-perwira Sayap Garuda adalah  lihai<BR>sekali. Apakah kau hendak membantu mereka? Kalau begitu biarlah aku ikut  dengan<BR>kau untuk membantu mereka!"<BR>Cin  Hai   merasa  girang   sekali   mendengar  ini.   Demikianlah   mereka<BR>bercakap-cakap dengan gembira sekali dan Ang I Niocu telah lupa sama sekali akan<BR>pesan susiok-couwnya setelah bertemu dengan Cin Hai! Mereka mengambil  keputusan<BR>untuk datang di Sam-hwa-bun pada saat pesta dilangsungkan.<BR>Pada bulan itu juga tanggal lima belas,  di rumah Kwee In Liang yang  besar<BR>tetapi sederhana itu diadakan  perayaan untuk memperingati  hari ulang tahun  ke<BR>enam puluh dari Kwee In Liang. Sebenarnya orang she Kwee ini tidak hanya  khusus<BR>merayakan hari lahirnya untuk bersenang-senang  saja, akan tetapi ia  mengandung<BR>lain maksud. Puterinya Lin Lin,  semenjak kembali dari perguruan telah  memiliki<BR>kepandaian tinggi sekali dan telah  berusia tujuh belas tahun.  Putera-puteranya<BR>yang berjumlah lima orang itu telah  dipertunangkan, kecuali Kwee An yang  tetap<BR>tidak mau dicarikan jodoh. Kini Kwe In Liang mengadakan perayaan dan  mengundang<BR>orang-orang  gagah  yang  telah   dikenalnya,  dengan  maksud  sekalian   hendak<BR>mencari-cari seorang calon mantu yang cocok untuk Lin Lin.<BR>Mengapa Kwee-ciangkun meletakkan jabatan dan  menjadi orang biasa? Hal  ini<BR>juga terpengaruh oleh kembalinya Lin Lin. Memang Kwee-ciangkun tadinya  terkenal<BR>sebagai seorang  panglima  yang  setia  dan  gagah.  Ia  mematuhi  perintah  dan<BR>menunaikan kewajibannya tanpa ingat akan kepentingan dan perasaan sendiri.  Oleh<BR>karena ini jasanya besar  sekali dan ia mendapat  penghargaan dari kaisar.  Akan<BR>tetapi, ketika Lin Lin pulang dengan diantar oleh Biauw Suthai, wanita gagah ini<BR>dan muridnya lalu mengadakan percakapan dengan Kwee In Liang dan membujuk supaya<BR>Kwee-ciangkun tidak membantu lagi  kaisar yang sebenarnya  lalim dan tidak  adil<BR>itu. Dengan  alasan-alasan kuat  Lin Lin  membujuk ayahnya,  disertai  penuturan<BR>Biauw Suthai  tentang  pengalaman-pengalamannya yang  membongkar  semua  rahasia<BR>kejahatan kaki tangan kaisar, terutama barisan Sayap Garuda yang mengganggu  dan<BR>memeras rakyat.<BR>"Kalau Ayah  tidak mengundurkan  diri, aku  kuatir sekali  kelak kita  akan<BR>dimusuhi oleh  orang-orang  gagah  sedunia!" kata  Lin  Lin  dengan  bujukannya.<BR>Akhirnya Kwee In Liang menginsyafi kedudukannya yang berbahaya dan akan  keadaan<BR>di dunia luar.  Ia adalah  seorang yang berhati  tabah dan  pemberani, dan  sama<BR>sekali ia  tidak takut  akan  ancaman orang  kang-ouw karena  kedudukan  sebagai<BR>panglima. Yang ia takuti ialah bahwa  karena membantu dan berada di pihak  tidak<BR>benar, maka jangan-jangan namanya akan dikutuk orang dan akan meninggalkan  nama<BR>busuk setelah meninggal kelak. Kedua kalinya, ia ini telah tua dan sudah  merasa<BR>bosan dan capai  untuk memegang  pangkat. Oleh  karena ini,  ia lalu  mengajukan<BR>permohonan berhenti dari pekerjaannya dengan alasan sudah terlalu tua dan lemah.<BR>Atasannya menerima permohonannya dan ia  berhenti dengan hormat, lalu pindah  ke<BR>Sam-hwa-bun, membeli beberapa mou sawah dan hidup bertani.<BR>Pada hari itu, rumah keluarga  Kwee telah dihias dengan kertas  warna-warni<BR>dan kembang. Tampak  putera-putera keluarga  Kwee, yakni Kwee  Tiong, Kwee  Sin,<BR>Kwee Siang dan Kwee Bun. Yang seorang lagi yakni Kwee An, tidak tampak di antara<BR>mereka. Telah lebih dari empat tahun yang lalu, Kwee An pergi meninggalkan rumah<BR>ketika  ia  bertengkar  dan  berkelahi  dengan  Kwee  Tiong.  Pemuda  ini  hanya<BR>meninggalkan surat  dan  memberitahukan kepada  ayahnya  bahwa ia  hendak  pergi<BR>merantau.<BR>Keempat  putera  keluarga  Kwee  yang  hadir  di  situ  nampak  gagah   dan<BR>bersemangat. Terutama Kwee Tiong  yang nampak gagah  dan cakap dalam  pakaiannya<BR>yang indah mentereng.  Mereka ini oleh  ayah mereka dilatih  ilmu silat,  bahkan<BR>akhir-akhir ini  mereka berguru  kepada  seorang hwesio  yang bernama  Tong  Kak<BR>Hosiang dari Kelenteng  Ban-hok-tong di  luar tembok kota  Tiang-an. Hwesio  ini<BR>adalah seorang perantau  yang akhirnya bertempat  tinggal di Ban-hok-tong.  Oleh<BR>karena ini, maka  kepandaian keempat  putera Kwee  In Liang  ini boleh  dibilang<BR>tinggi juga, terutama Kwee Tiong yang memiliki tenaga besar. Hanya Kwee An  yang<BR>telah pergi  merantau  tiada  kabarnya  itu saja  yang  agaknya  tidak  mendapat<BR>kemajuan dalam  pelajaran  silat,  karena pemuda  itu  lebih  mengutamakan  ilmu<BR>kesusasteraan.<BR>Para tamu datang berbondong-bondong hingga tak lama kemudian penuhlah ruang<BR>yang disediakan untuk tempat  pesta. Kwee In Liang  sendiri bersama empat  orang<BR>puteranya duduk di ruang  depan dan menyambut datangnya  para tamu dengan  sikap<BR>ramah dan menghormat. Lin Lin sibuk membantu ibu tirinya di belakang dan setelah<BR>semua hadir,  baru mereka  berdua keluar  dan menyambuti  tamu-tamu wanita  yang<BR>banyak juga menghadiri pesta itu. Di antara tamu-tamu wanita terdapat pula Biauw<BR>Suthai yang diminta  datang oleh  Lin Lin untuk  mengharapkan bantuannya  karena<BR>mungkin sekali  akan... ada  bahaya mengancam  dari pihak  perwira Sayap  Garuda<BR>yaitu Boan Sip. Perwira she Boan ini adalah pengganti Kwee-ciangkun dan  menjadi<BR>kepala penjaga  keamanan kota  Tiang-an,  dan ia  adalah seorang  perwira  Sayap<BR>Garuda yang terkenal memiliki kepandaian  tinggi. Ketika melihat kecantikan  Lin<BR>Lin, orang she Boan itu mengajukan  lamaran tetapi yang ditolak keras oleh  Kwee<BR>In Liang dan  Lin Lin. Oleh  karena inilah  maka ia menaruh  hati dendam  hingga<BR>beberapa hari  yang lalu  ia sengaja  mengganggu Lin  Lin dan  ayahnya di  dalam<BR>hutan.<BR>Oleh karena ini maka  kedatangan Biauw Suthai dalam  pesta itu tidak  hanya<BR>menggirangkan hati Lin Lin, tetapi juga membuat Kwee In Liang bernapas lega.<BR>Selain Biauw  Suthai, di  situ nampak  juga seorang  wanita berusia  kurang<BR>lebih tiga puluh  tahun dan  berpakaian serba  putih. Sikapnya  pendiam dan  tak<BR>banyak bicara, akan tetapi sinar  matanya berpengaruh. Ini adalah murid  pertama<BR>dari Biauw Suthai  yang bernama Bwee  Leng dan yang  memiliki kepandaian  tinggi<BR>hingga terkenal dengan nama Pek I Toanio atau Nyonya Gagah Baju Putih. Bwee Leng<BR>adalah seorang wanita yang telah menjadi janda. Juga nyonya ini berhasil dibujuk<BR>oleh Lin Lin yang menjadi sumoinya.  Memang, baik Biauw Suthai maupun Bwee  Leng<BR>sangat sayang kepada Lin Lin.<BR>Perjamuan berjalan dengan gembira  diselingi oleh datangnya tamu-tamu  yang<BR>mengucapkan  selamat  kepada  tuan  rumah.  Arak  wangi  dan   hidangan-hidangan<BR>dikeluarkan oleh pelayan yang sibuk melayani para tamu.<BR>Tiba-tiba seorang  di  antara  para tamu,  seorang  kakek  yang  berpakaian<BR>sebagai seorang petani yang telah terkenal  di antara para tamu sebagai  seorang<BR>pendekar tua dari selatan  yang bernama Bhok Ki  Sun, berdiri dari tempat  duduk<BR>nya. Sambil menjura kepada tuan rumah yang duduk tak jauh dari situ, ia berkata,<BR>"Kwee-enghiong, aku orang tua  selain menghaturkan selamat kepadamu  dengan<BR>doa supaya  kau  diberkahi  panjang  umur,  juga  menyatakan  kegirangan  hatiku<BR>mendengar bahwa kau telah bertemu kembali dengan puterimu yang baru kembali dari<BR>belajar silat. Kau memang beruntung sekali, Kwee-enghiong, karena puterimu telah<BR>menjadi murid dari Biauw Suthai yang  terkenal lihai, dan yang kulihat hadir  di<BR>sini. Kuharap  Kwee-enghiong  suka berlaku  murah  dan memberi  kepuasan  kepada<BR>sepasang mataku yang tua ini  untuk menikmati keindahan ilmu silat  Kwee-siocia.<BR>Bagaimana Cuwi sekalian, apakah  usulku ini tidak  cukup baik?" tanyanya  kepada<BR>semua yang hadir.<BR>Di tempat  itu  hadir banyak  pemuda-pemuda  yang telah  mendengar  tentang<BR>puteri keluarga Kwee yang tersohor cantik jelita dan kabarnya telah  mempelajari<BR>ilmu silat tinggi, maka  tentu saja mereka merasa  gembira sekali dan  menyambut<BR>dengan tepuk sorak gembira.<BR>Sebetulnya di luar  tahunya semua orang,  Kwee In Liang  yang cerdik  telah<BR>minta bantuan Bhok Ki Sun yang menjadi kawan baiknya, untuk sengaja mengeluarkan<BR>usul ini  agar terbuka  jalan baginya  mencari seorang  mantu yang  cocok.  Maka<BR>sekarang, sambil tersenyum  lebar ia  berdiri dari tempat  duduknya dan  menjura<BR>kepada semua tamunya sambil berkata,<BR>"Cuwi sekalian, Bhok-enghiong terlalu  memuji, apakah kebisaan anakku  yang<BR>muda? Tetapi  karena di  pesta  ini tidak  ada  hiburan apa-apa,  sudah  menjadi<BR>kewajiban kami  untuk  mengadakan  sesuatu  yang  kiranya  dapat  menghibur  dan<BR>menggembirakan Cuwi  sekalian. Lin  Lin, kaupenuhilah  permintaan  Bhok-enghiong<BR>setelah mendapat perkenan dari Gurumu!"<BR>Lin Lin  adalah seorang  gadis  yang lincah  dan tabah.  Menghadapi  sekian<BR>banyak mata yang memandang ke arahnya, sedikit pun ia tidak merasa gugup. Dengan<BR>tenang  ia  minta   ijin  dari   gurunya  dan  setelah   Biauw  Suthai   memberi<BR>persetujuannya, dara ini dengan tabahnya  menuju ke tempat bersilat yang  memang<BR>sudah disediakan di tempat itu, tepat di tengah-tengah ruang yang luas itu.<BR>Setelah menjura sebagai pemberian hormat  kepada semua yang hadir, Lin  Lin<BR>lalu mulai bersilat dengan gayanya yang indah dan cepat. Ia memainkan ilmu Silat<BR>Pat-kwa-kun-hwat atau Ilmu  Silat Pat-kwa yang  mempunyai gerakan selain  indah,<BR>juga cepat sekali hingga  sebentar saja mata orang  yang tak begitu tinggi  ilmu<BR>silatnya menjadi kabur dan melihat  seakan-akan tubuh gadis itu berubah  menjadi<BR>tiga empat orang.<BR>Tepuk sorak terdengar riuh  rendah menyambut ilmu  silat yang memang  hebat<BR>ini. Tiba-tiba baru  saja Lin  Lin menghentikan ilmu  silatnya, terdengar  suara<BR>orang tertawa mengejek  dari luar.  Suara tertawa ini  terdengar nyaring  sekali<BR>hingga semua tamu menengok  keluar. Juga Kwee In  Liang memandang keluar dan  ia<BR>menjadi pucat karena yang datang adalah Boan Sip dan empat orang lain yang  juga<BR>memakai tanda Sayap Garuda pada topi mereka dan kesemuanya memakai jubah  merah,<BR>tanda bahwa  mereka ini  adalah perwira-perwira  kelas satu.  Yang menarik  hati<BR>ialah bahwa di  antara mereka ini  terdapat seorang perwira  yang usianya  telah<BR>lebih dari lima puluh tahun tetapi tampaknya masih gagah dan kuat.<BR>"Sungguh bagus,  orang-orang  bergembira  dan  berpesta  pora  sampai  lupa<BR>mengundang sahabat!"  Perwira  tua  itu  berkata  keras  dan  dialah  yang  tadi<BR>mengeluarkan suara ketawa itu.<BR>Kwee In Liang sudah kenal kepada perwira tua ini, karena dia ini adalah  Ma<BR>Ing, seorang yang terkenal sekali karena memiliki kepandaian tinggi dan  menjadi<BR>salah seorang di antara  para perwira terkemuka di  istana. Diam-diam orang  she<BR>Kwee ini merasa terkejut sekali karena  ia maklum bahwa pihak musuh sangat  kuat<BR>dengan  adanya  Ma  Ing  ini.  Akan  tetapi  ia  dapat  menetapkan  hatinya  dan<BR>cepat-cepat maju menyambut sambil menjura memberi hormat,<BR>"Ngo-wi yang mulia, silakan duduk di dalam."<BR>Boan  Sip  sambil  tertawa   menyeringai  mendahului  masuk  diikuti   oleh<BR>kawan-kawannya. Mereka berlima  masuk ke  ruang itu sambil  mengangkat dada  dan<BR>dengan tindakan kaki  lebar, sama  sekali tidak memandang  mata kepada  sekalian<BR>yang hadir. Boan Sip  langsung menghampiri Lin Lin  yang masih berdiri  ditengah<BR>ruang tempat bermain silat dan sambil menyeringai ia berkata,<BR>"Kwee-siocia, ilmu silatmu tadi  sungguh-sungguh indah dipandang dan  manis<BR>sekali!"<BR>Lin Lin memandang  dengan mata melotot  dan gadis ini  marah sekali  karena<BR>teringat betapa beberapa hari yang lalu ia telah tertangkap oleh orang she  Boan<BR>ini dan hampir saja  diculik pergi! Hampir saja  ia tak dapat menahan  kesabaran<BR>hatinya dan  memaki  atau menyerangnya  akan  tetapi  pada saat  itu  dari  luar<BR>terdengar suara yang nyaring,<BR>"Ie-ie!!" Lin Lin cepat menengok dan melihat Cin Hai, diikuti oleh  seorang<BR>gadis cantik jelita berbaju merah. Cin Hai langsung berlari menghampiri Loan Nio<BR>atau Nyonya  Kwee  yang  duduk  di  bagian tamu  wanita.  Loan  Nio  yang  belum<BR>diberitahu oleh suaminya tentang perjumpaannya dengan Cin Hai, berdiri memandang<BR>dengan mata  terbelalak  kepada  pemuda  tampan  yang  menghampirinya,  Cin  Hai<BR>menjatuhkan diri berlutut sambil berkata,<BR>"Ie-ie, aku Cin Hai menghadap. Apakah selama ini Ie-ie baik-baik saja?"<BR>"Cin Hai, kaukah ini?"  Loan Nio menubruk dan  mengangkat bangun anak  itu,<BR>sementara tak tertahan lagi air matanya mengucur keluar dari kedua matanya.<BR>Cin Hai juga mengeluarkan  air mata dari kedua  matanya karena terharu  dan<BR>girang. Kemudian ia memperkenalkan Ang I Niocu kepada ie-ienya.<BR>"Ie-ie, ini adalah Nona Kang Im  Giok yang sangat berbudi dan telah  banyak<BR>menolongku."<BR>Loan Nio memandang  Ang I Niocu  dengan kagum dan  mempersilakan gadis  itu<BR>duduk di bagian tamu wanita. Ketika bertemu dengan Biauw Suthai lalu berkata,<BR>"Eh, tidak tahunya  Ang I Niocu  yang datang. Silakan,  silakan, aku  masih<BR>ingat  akan  pertolonganmu  di  gua   dulu  itu!"  Dengan  ramah  Biauw   Suthai<BR>memperkenalkan Ang I Niocu kepada Pek I Toanio dan mereka segera  bercakap-cakap<BR>dengan gembira.  Sementara  itu,  Lin  Lin  juga  lari  menghampiri  mereka  dan<BR>diperkenalkan dengan Ang I Niocu, sedangkan Cin Hai lalu menghampiri  ie-thionya<BR>untuk memberi hormat dan mengnaturkan selamat.  Dengan ramah Kwee In Liang  lalu<BR>menyuruh pemuda itu duduk di tempat tamu.<BR>Sementara itu, Boan  Sip dan  kawan-kawannya melihat  kesibukan tuan  rumah<BR>karena datangnya seorang pemuda dan seorang gadis baju merah, menjadi tidak puas<BR>dan merasa betapa mereka dipandang ringan dan tidak dilayani seperti tamu agung.<BR>"Eh, eh apakah tuan rumah lebih mementingkan kedatangan budak itu dari pada<BR>kami?" Boan Sip dengan  sikap sombong berkata  sambil bertolak pinggang.  Ketika<BR>Kwee In Liang memandang ke arahnya, ia berkata,<BR>"Kwee Lo-enghiong, kau telah tahu  akan maksud kedatanganku. Maka  sekarang<BR>juga aku minta keputusanmu dan marilah kau memberi sedikit pengajaran  kepadaku,<BR>untuk melanjutkan main-main yang kita lakukan di dalam hutan beberapa hari  yang<BR>lalu. Aku telah berjanji akan datang, apakah kau tidak berani menyambutku?"<BR>Bukan main marahnya hati Kwee In Liang mendengar kata-kata orang yang tidak<BR>sopan dan sikap yang  kasar menantang ini. Ia  maklum bahwa kepandaiannya  masih<BR>kalah jika  dibandingkan dengan  perwira  muda ini,  akan  tetapi ia  tidak  mau<BR>memperlihatkan kelemahannya.<BR>"Orang she Boan! Agaknya kau  telah melupakan kesopanan dan sengaja  datang<BR>membawa kawan-kawanmu  untuk mengacau  pestaku!" orang  tua ini  lalu  bertindak<BR>maju.<BR>Akan tetapi, tiba-tiba Lin Lin  telah mendahului ayahnya dan dengan  sekali<BR>lompatan ia telah menghadapi Boan Sip.<BR>"Orang she Boan, engkau menjabat pangkat tetapi tidak mengenal aturan! Kami<BR>tidak mengundang akan tetapi engkau telah menebalkan muka untuk datang di  pesta<BR>kami. Apakah engkau tidak malu? Kalau hendak datang mengajak pibu, apakah engkau<BR>tidak dapat memilih lain hari?"<BR>"Ha, ha, ha!" Boan  Sip tertawa mengejek.  "Kalau mengadu kepandaian  hanya<BR>mengandalkan keberanian, tak perlu memilih waktu dan tempat. Sekarang  kebetulan<BR>sekali, banyak orang menjadi saksi, kalau pihak Tuan rumah mempunyai  kegagahan,<BR>silakan maju memperlihatkan kepandaian!"<BR>"Bangsat, apa  kaukira kami  takut kepadamu?"  Lin Lin  berseru dan  meraba<BR>punggung untuk mencabut senjatanya akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan<BR>putih yang datang dari pihak tamu wanita dibarengi bentakan,<BR>"Manusia sombong jangan jual banyak tingkah di sini!"<BR>Bayangan itu ternyata adalah Pek Toanio yang mewakili sumoinya dan langsung<BR>ia menyerang dengan tamparan keras ke arah  pipi Boan Sip. Akan tetapi Boan  Sip<BR>siang-siang sudah dapat memaklumi akan  kelihaian wanita ini karena  tamparannya<BR>mendatangkan angin pukulan  dahsyat dan gerakannya  ketika melompat tadi  ringan<BR>sekali. Ia mengangkat tangan  menangkis dan sepasang  lengan beradu keras.  Boan<BR>Sip terkejut  sekali karena  ia terdorong  ke samping  sampai  terhuyung-huyung!<BR>Sementara itu  Lin  Lin  mengundurkan  diri dan  duduk  di  dekat  gurunya  yang<BR>memandang dengan sikap tenang.<BR>Kwee Tiong dan  ketiga orang  adiknya ketika  melihat sikap  Boan Sip  yang<BR>sombong dan  sengaja  datang  mengacau  itu, menjadi  marah  sekali  dan  mereka<BR>berempat sambil mencabut  pedang lalu maju  menghampiri dengan sikap  mengancam.<BR>Akah tetapi  Kwee  In  Liang  yang maklum  bahwa  kepandaian  mereka  ini  masih<BR>terlampau rendah untuk  menghadapi Boan  Sip, segera  membentak, "Jangan  kurang<BR>ajar, kalian mundurlah dulu!" Kwee Tiong merasa penasaran sekali akan tetapi  ia<BR>tidak berani membantah ayahnya, maka bersama adiknya ia lalu berdiri dan bersiap<BR>sedia menghalau musuh yang kurang ajar itu.<BR>Boan Sip yang melihat  hal ini lalu tertawa  bergelak-gelak. "Ha, ha!  Kwee<BR>Lo-enghiong agaknya  tahu akan  kebodohan putra-putranya,  maka tak  mengijinkan<BR>anak-anaknya  maju,   bahkan   telah  mengumpulkan   orang-orang   gagah   untuk<BR>mewakilinya! Sungguh cerdik!" Kemudian  ia berkata kepada  Pek I Toanio,  "Tidak<BR>tahu siapakah Lihiap yang begitu baik hati mewakili tuan rumah menyambutku?"<BR>"Orang she Boan,  kalau sikapmu tidak  begini menjemukan dan  kesombonganmu<BR>tidak begitu besar, siapa  yang sudi melayanimu? Akan  tetapi engkau telah  lupa<BR>akan sopan santun dan tidak memandang  mata kepada tuan rumah dan para  tamunya.<BR>Apakah kau kira engkau seorang saja  yang memiliki kepandaian? Orang lain  boleh<BR>engkau hina, tetapi aku Pek I Toanio  tak sudi menerima hinaan dari orang  macam<BR>engkau!"<BR>Memang Pek I Toanio biarpun  pendiam, akan tetapi kalau sudah  mengeluarkan<BR>kata-kata, selalu tajam dan berterus terang. Boan Sip pernah mendengar nama  ini<BR>dan maklum akan kelihaiannya, akan tetapi ia tidak takut.<BR>"Hmm, apakah benar-benar engkau hendak mencoba kepandaianku?" tanyanya.<BR>"Siapa yang  sedang main-main  padamu?" jawab  Pek I  Toanio dengan  senyum<BR>mengejek hingga kemarahan Boan Sip makin meluap.<BR>"Kalau begitu kau  mencari penyakit  sendiri!" bentaknya dan  ia lalu  maju<BR>menyerang. Pek I Toanio  cepat berkelit dan  membalas menyerang hingga  sebentar<BR>saja mereka berdua bertempur dengan seru.<BR>Sementara itu,  Cin  Hai  semenjak  datang dan  duduk  di  kursi  terdepan,<BR>beberapa kali bertukar pandang  dengan Lin Lin dan  gadis yang sedang marah  itu<BR>apabila terbentur pandangan matanya dengan  Cin Hai, lalu tersenyum  seakan-akan<BR>minta maaf bahwa ia tidak  bisa menyambut sebagaimana mestinya karena  terganggu<BR>oleh para perwira kasar itu.<BR>Kebetulan sekali  Kwee Tiong  dan  ketiga orang  adiknya berdiri  di  dekat<BR>tempat ia duduk. Kwee Tiong hanya  mengerling kepadanya tanpa ambil peduli.  Cin<BR>Hai tahu akan hal ini, akan tetap ia tersenyum dan berdiri pula lalu menghampiri<BR>mereka.<BR>"Tiong-ko, bagaimana,  apakah  engkau mendapat  kemajuan  besar?"  tanyanya<BR>dengan manis.<BR>Kwee Tiong  memandang  ke  arahnya  dengan  acuh  tak  acuh,  tetapi  untuk<BR>kesopanan ia  menjawab  juga, "Biasa  saja,  dan engkau  sendiri  telah  belajar<BR>apakah?"<BR>Kebetulan sekali  Kwee Tiong  dan  ketiga orang  adiknya berdiri  di  dekat<BR>tempat ia duduk. Kwee Tiong hanya  mengerling kepadanya tanpa ambil peduli.  Cin<BR>Hai tahu akan hal ini, akan tetap ia tersenyum dan berdiri pula lalu menghampiri<BR>mereka.<BR>"Tiong-ko, bagaimana,  apakah  engkau mendapat  kemajuan  besar?"  tanyanya<BR>dengan manis.<BR>Kwee Tiong  memandang  ke  arahnya  dengan  acuh  tak  acuh,  tetapi  untuk<BR>kesopanan ia  menjawab  juga, "Biasa  saja,  dan engkau  sendiri  telah  belajar<BR>apakah?"<BR>Juga Kwee Sin, Kwee  Siang dan Kwee Bun  menghampiri Cin Hai untuk  melihat<BR>dan bertanya kepada anak muda ini. Sikap mereka tidak seangkuh Kwee Tiong,  akan<BR>tetapi rata-rata mereka memandang rendah kepada Cin Hai.<BR>"Aah, aku tidak belajar apa-apa," jawab Cin Hai sederhana.<BR>Ketika Cin Hai sedang  bercakap-cakap dengan Kwee  Bun, Kwee Tiong  menegur<BR>mereka, "Sudahlah, jangan banyak cakap. Sekarang bukan waktunya mengobrol. Lihat<BR>tamu kita bertempur untuk kita, tidak pantas kita hanya mengobrol saja!"<BR>Memang benar ucapan Kwee Tiong ini, karena pada saat itu pertempuran sedang<BR>berlangsung hebat. Boan Sip sungguh  lihai dan gerakan-gerakannya selain  cepat,<BR>juga  mantap  dan  keras  hingga   Pek  I  Toanio  harus  mengeluarkan   segenap<BR>kepandaiannya untuk melayani lawan yang kosen ini.<BR>Cin  Hai  hanya  memandang  sebentar  tetapi  ia  tidak  tertarik   melihat<BR>pertempuran itu. Sebaliknya ia celingukan ke sana ke mari mencari Kwee An dengan<BR>matanya. Mengapa ia tidak melihat Kwee An?  Ia lalu menowel lengan Kwee Bun  dan<BR>ketika pemuda ini berpaling, ia bertanya sambil berbisik,<BR>"Di manakah adanya Saudara Kwee An?"<BR>"Dia pergi merantau, sudah empat tahun belum kembali."<BR>Ketika Cin  Hai hendak  bertanya lagi,  Kwee Tiong  menengok kepada  mereka<BR>dengan pandangan  tak senang,  hingga Cin  Hai dan  Kwee Bun  tidak  melanjutkan<BR>percakapan mereka. Sebetulnya pada saat itu, perhatian Kwee Tiong tidak  tertuju<BR>sepenuhnya kepada  pertempuran yang  sedang  berlangsung dengan  hebatnya,  akan<BR>tetapi sebagian besar  tertuju kepada Dara  Baju Merah yang  duduk di dekat  ibu<BR>tirinya. Dalam pandangan  matanya, Ang I  Niocu nampak demikian  cantik dan  ayu<BR>hingga sepasang matanya  seakan-akan tertarik oleh  besi sembrani, ingin  sekali<BR>Kwee Tiong  memperlihatkan kegagahannya  dan melawan  musuh agar  dapat  menarik<BR>perhatian dan kekaguman  gadis jelita itu.  Ia merasa heran  sekali mengapa  Cin<BR>Hai, anak  tolol itu  dapat datang  bersama-sama dengan  seorang gadis  demikian<BR>cantiknya!<BR>Ang I Niocu ketika melihat jalannya pertempuran, di dalam hati juga  merasa<BR>terkejut. Baginya, kepandaian Pek I Toanio  cukup tinggi dan hebat, akan  tetapi<BR>ternyata bahwa  orang  she Boan  itu  lebih lihai  lagi  dan  gerakan-gerakannya<BR>diperhebat oleh  ilmu  cengkeraman dari  Mongol  yang sukar  diduga  gerakannya,<BR>hingga beberapa kali kalau tidak berlaku  cepat tentu lengan Pek I Toanio  sudah<BR>kena dicengkeram! Diam-diam Ang I Niocu menguatirkan keadaan paman dari Cin Hai,<BR>karena baru seorang  lawan saja  sudah begini tinggi  kepandaiannya, belum  lagi<BR>yang empat lainnya! Ia maklum bahwa di situ ada Biauw Suthai yang  berkepandaian<BR>tinggi, akan tetapi sampai  di manakah tingkat  kepandaian kawan-kawan Boan  Sip<BR>yang duduk dengan muka  tenang dan sombong  itu? Ia mengerling  ke arah Cin  Hai<BR>yang duduk  sambil  memandang ke  sana  ke  mari dan  yang  tidak  memperhatikan<BR>jalannya pertempuran,  dan pada  saat  Ang I  Niocu  memandang kepada  Cin  Hai,<BR>pandangan matanya terbentur dengan  pandangan mata Kwee  Tiong. Ia terkejut  dan<BR>cepat mengalihkan pandangan matanya dan hatinya merasa tak senang. Ia tahu bahwa<BR>pemuda tinggi tampan itu adalah putera dari Kwee In Liang karena tadi ia melihat<BR>betapa Kwee Tiong  dan adik-adiknya  hendak turun tangan  tetapi mereka  dicegah<BR>oleh Kwee  In  Liang.  Mengapa  pemuda itu  memandangnya  begitu  macam?  Apakah<BR>kebetulan saja? Sekali lagi Ang I Niocu mengerling ke arah Kwee Tiong dan  tetap<BR>saja ia melihat betapa pemuda itu  menatapnya dengan pandangan mata penuh  arti!<BR>Ang I Niocu merasa sebal dan marah, akan tetapi diam saja dan sama sekali  tidak<BR>mau memandang ke arah anak muda itu lagi.<BR>Pertempuran itu benar-benar berjalan  seru dan hebat.  Pek I Toanio  adalah<BR>murid pertama dari Biauw Suthai dan memiliki kepandaian tinggi dan sudah  hampir<BR>mewarisi kepandaian gurunya, maka dapat dibayangkan betapa lihainya. Akan tetapi<BR>Boan Sip  adalah seorang  Perwira  Sayap Garuda  kelas  satu hingga  tentu  saja<BR>kepandaiannya sudah cukup  tinggi, karena kalau  tidak berkepandaian tinggi,  ia<BR>yang masih  muda tidak  akan  dapat menduduki  pangkat  yang besar  itu,  Karena<BR>rata-rata Perwira Sayap Garuda kelas satu adalah orang-orang yang telah  berusia<BR>tinggi dan sedikitnya berusia hampir lima puluh tahun.<BR>Setelah bertempur beberapa  puluh jurus  dengan hebat,  tiba-tiba Boan  Sip<BR>merubah gerakannya dan  sekarang ia  mulai menyerang dengan  limu Golok  Keledai<BR>Gila Bergulingan. Tubuhnya berguling-guling ke arah lawan dan sambil bergulingan<BR>tubuhnya tertutup dan terlindung oleh perisai, sedangkan golok menyambar-nyambar<BR>ke arah kaki lawan! Ilmu gerakan ini benar-benar berbahaya dan cepat dan ke mana<BR>saja Pek  I Toanio  loncat menghindar,  selalu Boan  Sip dengan  cepat  mengejar<BR>sambil  bergulingan  dan   melancarkan  serangan  berbahaya.   Ia  tidak   hanya<BR>bergulingan sambil menyerang  kaki akan  tetapi secara tiba-tiba  ia bangun  dan<BR>menyerang dengan golok itu kemudian bergulingan pula!<BR>Diserang secara begini, Pek I Toanio menjadi gugup sekali dan tidak berdaya<BR>melancarkan serangan  balasan. Ia  menjadi gemas  dan penasaran  lalu  melakukan<BR>sebuah gerakan dan  serangan nekad.  Sambil berseru  nyaring Pek  I Toanio  lalu<BR>menjatuhkan diri  bergulingan dalam  gerak tipu  Daun Kering  Tertiup Angin!  Ia<BR>mengimbangi gerakan lawan  dan sambil bergulingan  ia membabat dengan  pedangnya<BR>dari samping dan karena serangannya ini hampir menempel lantai, maka tak mungkin<BR>tertangkis dengan perisai. Pada saat  itu terdengar teriakan kaget dan  ternyata<BR>bahwa Cin Hailah yang  berteriak itu. Seperti lakunya  seorang yang bingung  dan<BR>gugup pemuda ini menyambar  bangku yang didudukinya  dan melemparkan bangku  itu<BR>dengan sambaran ke arah mereka yang sedang bertempur sambil bergulingan!<BR>Kwee Tiong dan adik-adiknya serta orang-orang lain yang duduk dekat Cin Hai<BR>merasa heran sekali melihat perbuatan pemuda  ini. Sementara itu, pada saat  Cin<BR>Hai melemparkan bangkunya,  Pek I  Toanio setelah pedangnya  kena tangkis,  lalu<BR>bergulingan pergi menjauhi  Boan Sip  yang telah siap  untuk melempar  goloknya.<BR>Ketika  mendapat  kesempatan  baik  dan  pada  saat  tubuh  Pek  I  Toanio  yang<BR>bergulingan  pergi  membelakanginya,  ia  lalu  menyambitkan  goloknya  ke  arah<BR>punggung lawan! Akan tetapi, tepat pada saat itu, bangku yang dilempar oleh  Cin<BR>Hai telah tiba di  antara mereka hingga sebelum  golok itu terlepas dari  tangan<BR>Boan Sip,  ia  keburu menahan  gerakannya  kembali dan  tidak  jadi  melontarkan<BR>goloknya. Boan Sip melompat berdiri dengan marah sekali, sedangkan Pek I  Toanio<BR>juga  sudah  bangun  berdiri.  Boan  Sip  sambil  bertolak  pinggang   memandang<BR>sekeliling, lalu menegur dengan suara nyaring,<BR>"Tuan rumah  tidak  kenal  malu  dan  sengaja  membantu  secara  diam-diam!<BR>Siapakah yang begitu berani mati melempar bangku tadi?"<BR>Sementara itu, dengan marah  Kwee Tiong menegur Cin  Hai, "Cin Hai,  engkau<BR>bodoh dan lancang tangan! Apa maksudmu melemparkan bangku tadi?"<BR>Cin Hai  pura-pura gugup  dan  bingung. "Aku...  aku merasa  ngeri  melihat<BR>pertempuran itu  dan berusaha  memisahkannya!" semua  orang yang  mendengar  ini<BR>tertawa geli dan diam-diam  Kwee Tiong mentertawakan Cin  Hai. Mengapa ia  masih<BR>begini bodoh, pikirnya!<BR>Di antara  semua  orang  merasa  heran dan  mentertawakan  Cin  Hai  karena<BR>ketololannya, hanya Biauw Suthai  dan Pek I Toanio  saja yang mempunyai  pikiran<BR>lain.  Pek  I  Toanio  insyaf  akan  kesalahan  gerakannya  tadi  yang   membuka<BR>punggungnya ketika ia bergulingan dan hal  ini pun diketahui baik oleh  gurunya,<BR>dan mengapa secara kebetulan sekali pemuda itu melemparkan bangku pada saat yang<BR>demikian tepat hingga  jiwa Pek  I Toanio terbebas  dari ancaman?  Bahkan Ang  I<BR>Niocu sendiri tidak tahu akan hal ini karena ia tidak kenal gerakan-gerakan  Pek<BR>I Toanio, dan Gadis Baju Merah ini  pun merasa agak heran melihat perbuatan  Cin<BR>Hai.<BR>Sekali lagi Boan Sip  berseru, "Tuan rumah  berlaku curang! Hayo  keluarkan<BR>dia yang telah berani mengganggu," katanya dengan lagak sombong, sementara  itu,<BR>atas isyarat gurunya, Pek  I Toanio kembali ke  tempat duduknya setelah  menjura<BR>kepada  Kwee  In  Liang  dan  menyatakan  penyesalannya  karena  tidak  berhasil<BR>mengalahkan lawannya.<BR>Tiba tiba Kwee Tiong yang diikuti oleh ketiga orang adiknya meloncat dengan<BR>pedang di tangan sambil membentak, "Orang she Boan jangan sombong! Yang melempar<BR>bangku adalah adik keponakanku yang tolol  dan bodoh, tak perlu engkau  memusuhi<BR>dan  menantangnya.  Kalalu  engkau  memang  gagah,  aku  Kwee  Tiong  yang  akan<BR>melawanmu!"<BR>Boan Sip  memandang kepada  Kwee  Tiong dengan  senyum sindir.  Pemuda  ini<BR>mengeluarkan ucapan gagah, akan tetapi  ternyata sekali maju membawa tiga  orang<BR>adiknya. Melihat gerakan  mereka, Boan  Sip memandang sebelah  mata dan  berkata<BR>sambil tertawa,<BR>"Ha, ha, kalian ini putera-putera Kwee In Liang? Aneh, Harimau itu ternyata<BR>hanya mempunyai putera-putera berupa kucing yang hanya pandai mengeong!"<BR>Kwee In Liang  hendak memanggil  putera-puteranya, akan  tetapi Kwee  Tiong<BR>sudah tak dapat menahan lagi marahnya. Ia lalu berseru keras dan menubruk dengan<BR>pedangnya diikuti oleh  ketiga orang  adiknya yang  menyerang dengan  berbareng.<BR>Boan Sip mengeluarkan suara  di hidung dan  gerakkan goloknya menangkis.  Sekali<BR>tangkis saja, dua dari empat buah pedang saudara-saudara Kwee itu terlempar. Dan<BR>Boan Sip melanjutkan gerakannya dengan serangan pembalasan. Baiknya perwira muda<BR>ini masih ingat bahwa keempat anak muda ini adalah kakak-kakak dari Lin Lin yang<BR>ia rindukan, maka tidak  berniat mencelakakan mereka,  hanya ingin menggoda  dan<BR>memperlihatkan kegagahannya saja. Maka  serangan-serangannya hanya nampak  hebat<BR>mengerikan karena goloknya menyambar nyambar hebat, akan tetapi tidak digerakkan<BR>cepat hingga keempat anak muda itu masih  dapat berkelit ke sana ke mari  dengan<BR>wajah pucat.<BR>Tiba-tiba Cin Hai memegang sebuah  bangku yang ditinggalkan oleh dua  orang<BR>tamu yang berdiri karena tegangnya menonton pertempuran itu dan dengan bangku di<BR>tangan, Cin Hai lari  menuju ke tempat pertempuran.  Lalu ia menyerang Boan  Sip<BR>secara membabi buta sambil berseru berkali-kali, "Jangan membunuh kakak-kakakku,<BR>jangan mencelakakan kakak-kakakku!"<BR>Mendapat  serangan  kacau-balau   itu,  Boan  Sip   terkejut  dan   melihat<BR>penyerangnya. Karena ia  tujukan perhatiannya  kepada penyerang  baru ini,  maka<BR>keempat  saudara   Kwee   dapat   mundur,  sedangkan   Cin   Hai   masih   terus<BR>mengobat-abitkan bangkunya. Boan  Sip ketika  melihat bahwa  pemuda inilah  yang<BR>tadi menghalangi kemenangannya atas Pek I Toanio menjadi marah sekali.<BR>"Orang tolol, engkau  mencari mampus!"  bentaknya dan  ia lalu  menggunakan<BR>goloknya menyerang. Akan  tetapi Cin Hai  mengobat-abitkan bangkunya yang  cukup<BR>panjang hingga Boan Sip  menjadi bingung. Gerakan pemuda  ini tidak teratur  dan<BR>kacau balau,  bahkan seperti  gerakan orang  gila mengamuk,  akan tetapi  justru<BR>inilah yang membingungkan Boan Sip.  Gerakan silat dapat diduga karena  teratur,<BR>akan tetapi gerakan-gerakan  menggila ini sungguh  membingungkan dan sebelum  ia<BR>dapat menyerang,  sebuah  kaki daripada  bangku  yang diobat-abitkan  itu  telah<BR>mengenai tubuh belakangnya hingga terdengar  suara "buk!" karena bokongnya  kena<BR>dihajar kaki bangku.<BR>Semua orang tertawa geli  melihat tingkah laku Cin  Hai yang mereka  anggap<BR>sebagai  seorang  pemuda  tolol  itu,  akan  tetapi  karena  pemuda  itu   dalam<BR>ketololannya   berani   membela    keempat   pemuda    Kwee,   biarpun    mereka<BR>mentertawakannya,  akan  tetapi  di  dalam  hati  mereka  suka  kepadanya.  Maka<BR>bersoraklah para  tamu melihat  betapa  tanpa disengaja  kaki bangku  itu  dapat<BR>memukul bokong Boan Sip yang sombong.<BR>Sementara itu,  Cin Hai  sambil mengobat-abitkan  bangkunya berkata  kepada<BR>Kwee Tiong dan adik-adiknya, "Engko  Tiong, kauajaklah adik-adikmu mundur,  biar<BR>aku tahan mengamuknya babi hutan ini!"<BR>Kembali  terdengar  suara  orang-orang  tertawa  karena  pemuda  yang  dari<BR>gerak-geriknya ternyata  bahwa ia  tidak mengerti  ilmu silat  itu dengan  sikap<BR>gagah sekali membuka  mulut besar dan  hendak membela keempat  saudara Kwee  dan<BR>menghadapi Boan Sip yang lihai. Sungguh satu pemandangan yang lucu mengherankan!<BR>Akan  tetapi,  keadaan  ini  merupakan   tamparan  hebat  bagi  keangkuhan   dan<BR>kesombongan Boan Sip. Kembali ia menyerang sambil memaki-maki. Ketika bangku itu<BR>menyambar kembali, dengan gemas Boan  Sip membacok kaki bangku dengan  goloknya.<BR>Mana bisa kayu itu dapat menahan bacokan golok Boan Sip. Dengan mudah saja  kaki<BR>bangku itu terbabat putus. Akan tetapi sungguh malang bagi Boan Sip, yakni dalam<BR>pandangan semua  orang yang  menonton pertempuran  itu, ketika  kaki bangku  itu<BR>terbabat putus  ternyata  saking tajam  golok  yang membabat,  kaki  bangku  itu<BR>melayang dan  kebetulan sekali  dapat menampar  pipi Boan  Sip! Terdengar  suara<BR>"plok!" dan pipi Boan Sip yang  kena dilanggar potongan kaki bangku itu  menjadi<BR>merah kulitnya dan terasa pedas sekali!<BR>Hal ini terlihat jelas  oleh semua orang dan  kembali terdengar sorak  riuh<BR>rendah karena  ternyata biarpun  tolol dan  tidak mengerti  ilmu silat,  agaknya<BR>pemuda tolol  itu sedang  "hok-khi" (beruntung),  maka secara  kebetulan  sekali<BR>lawannya kena tamparan kaki bangku yang dipotongnya sendiri!<BR>Pada saat itu, di bagian tamu di  mana tadi Cin Hai duduk, terjadilah  lain<BR>hal yang menimbulkan  tertawa geli. Ternyata  dua orang tamu  yang tadi  berdiri<BR>melihat pertempuran seru antara Kwee Tiong  dibantu adiknya dan Boan Sip  hingga<BR>bangku mereka diambil oleh  Cin Hai di luar  tahu mereka, ketika melihat  betapa<BR>dua kali Boan Sip kena terpukul kaki bangku, mereka begitu gembira hingga sambil<BR>tertawa terkekeh-kekeh,  mereka  menjatuhkan diri  di  atas bangku  di  belakang<BR>mereka. Akan  tetapi suara  mereka segera  terganti seruan  kaget dan  kesakitan<BR>karena mereka berdua ternyata menjatuhkan diri ke belakang yang kosong dan tidak<BR>ada bangkunya  lagi,  maka tentu  saja  mereka terjengkang  dan  jatuh  tunggang<BR>langgang! Orang-orang di sekitarnya tertawa bergelak dan kedua orang itu berdiri<BR>sambil meringis kesakitan,  akan tetapi  ketika mereka  mengetahui bahwa  bangku<BR>yang berhasil menghajar  Boan Sip adalah  bangku yang tadi  mereka duduki,  maka<BR>berserilah wajah mereka!<BR>Boan Sip marah  sekali dan  ia menyerang  bagaikan kerbau  gila. Bangku  di<BR>tangan Cin Hai sudah tak karuan lagi macamnya bekas bacokan golok.<BR>"Eh, eh, tak tahu malu! Menyerang  orang yang tidak memegang senjata!"  Cin<BR>Hai memaki dengan suara mengejek. Kata-kata ini mengingatkan Boan Sip bahwa jika<BR>ia nanti membunuh anak muda tolol yang tak bersenjata ini dengan goloknya,  maka<BR>ia tentu akan dipandang rendah oleh orang-orang gagah. Pula untuk  menyingkirkan<BR>bangku dari  tangan pemuda  bodoh ini,  lebih mudah  menggunakah tangan  kosong.<BR>Maka, ia lalu membanting golok dan perisainya di atas lantai hingga mengeluarkan<BR>suara berkerontangan, lalu sambil mendelikkan mata ia memaki,<BR>"Baik, aku  telah  membuang  senjataku,  orang  gila!  Tunggulah  aku  akan<BR>mencekik lehermu!"<BR>"Mengapa bermain cekik-cekikan? Kita bukan sedang bermain adu gulat!" jawab<BR>Cin Hai dengan muka lucu hingga kembali semua orang tertawa.<BR>Sementara itu, Lin Lin  merasa heran sekali, dan  juga kagum. Ia heran  dan<BR>kecewa melihat bagaimana Cin Hai  setelah dewasa berubah menjadi seorang  pemuda<BR>tolol, akan tetapi ia juga merasa  kagum melihat betapa dalam ketololannya,  Cin<BR>Hai  ternyata  mempunyai  hati  yang  tabah,  bersemangat,  dan  berani  membela<BR>kakak-kakaknya! Juga, Kwee In Liang  menggeleng-gelengkan kepala karena ia  ikut<BR>merasa malu mempunyai seorang  keponakan setolol itu.  Bahkan Biauw Suthai  yang<BR>mempunyai pemandangan tajam dan pengalaman luas dapat pula dikelabuhi oleh  aksi<BR>Cin Hai  yang ketolol-tololan  hingga  diam-diam wanita  tua ini  bersiap  sedia<BR>menolong jiwa anak  muda yang tolol  tapi pemberani itu,  Loan Nio duduk  dengan<BR>wajah pucat, hendak mengeluarkan suara saking terperanjat, dan kuatirnya.<BR>Ketika Cin  Hai mengangkat  bangku menyerang  kembali, Boan  Sip  menyambut<BR>bangku itu  dengan  kedua  tangannya  dan ia  membetot.  Akan  tetapi,  alangkah<BR>terkejutnya ketika ternyata bahwa ia tidak mampu membetot bangku itu dari tangan<BR>Cin Hai! Ia terkejut dan heran sekali. Apakah mungkin pemuda tolol ini  memiliki<BR>tenaga sebesar  itu?  Ia membetot  kembali  dan Cin  Hai  mempertahankan  sambil<BR>mengeluarkan  suara  "uhh...  uh..."  dan  demikian  keduanya  saling   membetot<BR>mempertahankan, sedikit pun tak  mau mengalah! Bangku  itu sebentar terbetot  ke<BR>kanan, sebentar  terbetot, ke  kiri hingga  seakan-akan kedua  orang itu  sedang<BR>mengadu tenaga membetot-betot bangku hingga air muka keduanya berubah merah!<BR>Yang merasa  gembira  sekali adalah  para  penonton. Mereka  bersorak  riuh<BR>rendah dan lupa bahwa kedua orang itu sebenarnya sedang berkelahi dan lupa  pula<BR>bahwa Boan Sip  sedang marah  besar dan  dari kedua  matanya mengeluarkan  nafsu<BR>membunuh karena benci dan marahnya kepada pemuda tolol itu! Pada saat itu mereka<BR>merasa seakan-akan sedang menonton dua orang mengadu tenaga dengan menarik-narik<BR>bangku sebagai  gantinya  tambang  yang biasa  digunakan  untuk  mengadu  tenaga<BR>bertarik-tarikan! Maka  terdengarlah suara-suara  yang  memihak kepada  Cin  Hai<BR>sambil berteriak-teriak,<BR>"Hayo, tarik... tarik...! Keluarkan tenagamu..."<BR>Jika bangku itu terbetot ke arah Cin Hai, maka semua orang berseru gembira,<BR>"Hayo... lebih keras lagi... tarik...!" Akan tetapi apabila bangku itu  terbetot<BR>ke arah Boan Sip, terdengar  teriakan-teriakan lain yang mengandung  kekuatiran,<BR>"Awas... pertahankan... jangan sampai kalah...!"<BR>Untuk beberapa  lamanya kedua  orang  itu saling  tarik, saling  betot  dan<BR>saling keluarkan  tenaga, Boan  Sip makin  marah dan  penasaran saja.  Tenaganya<BR>untuk membetot bangku ini lebih dari pada tujuh ratus kati, akan tetapi  sungguh<BR>aneh sekali bahwa pemuda tolol  ini dapat mempertahankannya sedemikian rupa.  Ia<BR>lalu mengerahkan  seluruh tenaganya  dan dengan  tenaga yang  tidak kurang  dari<BR>seribu kati  kuatnya.  Dan tiba-tiba  Cin  Hai mengendurkan  pegangannya  hingga<BR>dengan cepat sekali bangku  itu terbetot ke arah  Boan Sip dan terbawa  tubuhnya<BR>yang terhuyung-huyung  ke belakang  ini. Akan  tetapi Cin  Hai tidak  melepaskan<BR>pegangannya hingga tubuhnya ikut  terbetot dengan bangku  itu. Tarikan Boan  Sip<BR>kian kerasnya  hingga karena  tenaga bertahan  dilepas secara  tiba-tiba,  tidak<BR>mampu lagi perwira itu  bertahan dan terlempar  ke belakang terhuyung-huyung  ke<BR>belakang dan akhirnya jatuh terjengkang dengan bangku dan tubuh Cin Hai  menimpa<BR>di atasnya.<BR>Orang-orang tertawa geli dan  berrak-sorak. Akan tetapi  pada saat itu  Lin<BR>Lin sudah melompat ke tempat itu karena  gadis ini yakin bahwa ketika tubuh  Cin<BR>Hai menimpa di atas tubuh Boan Sip, maka perwira itu dapat memberi pukulan  maut<BR>kepada pemuda itu. Dan alangah herannya Lin Lin ketika tanpa terlihat, tahu-tahu<BR>Ang I Niocu  juga berada  di situ  dan cepat sekali  Dara Baju  Merah ini  telah<BR>memegang tangan Cin Hai  dan membetotnya! Ternyata bahwa  Ang I Niocu juga  kena<BR>ditipu oleh ketololan Cin Hai dan menguatirkan keselamatan pemuda ini.<BR>Akan tetapi, ketika orang-orang melihat Boan Sip merangkak bangun, ternyata<BR>dari  mulut  perwira  muda   itu  mengalirkan  darah   dan  ia  berdiri   dengan<BR>terhuyung-huyung.  Karena  terlalu  menghabiskan  tenaga  dan  tiba-tiba  bangku<BR>dilepas, maka tenaganya membalik dan telah melukainya sendiri hingga ia mendapat<BR>luka dalam yang  hebat juga! Kawan-kawannya  segera menghampiri dan  menuntunnya<BR>duduk di atas  sebuah bangku. Ma  Ing segera mengetuk  pundak dan  mengurut-urut<BR>dadanya, dan memberinya sebuah pil untuk  ditelan. Boan Sip lalu duduk diam  dan<BR>mengatur napas untuk memulihkan tenaganya kembali.<BR>Lin Lin dan Ang I Niocu kembali  ke tempat duduk masing-masing dan Cin  Hai<BR>dengan mendapat sambutan tepuk tangan dan tertawa geli, dipanggil oleh ie-ienya,<BR>yakni di bagian  para tamu  wanita. Ketika  Biauw Suthai  memandang pemuda  itu,<BR>teringatlah wanita gagah ini, ia lalu berdiri dan menghadapi Cin Hai.<BR>"Bukankah kita pernah bertemu?" tanyanya mengingat-ingat.<BR>"Sudah, Suthai," jawab Cin Hai, "Sudah empat kali kita bertemu."<BR>"Empat kali?" Biauw Suthai mengingat-ingat.<BR>"Ya, empat kali. Pertama kali ketika  engkau menculik Adik Lin Lin. Ke  dua<BR>kalinya ketika  engkau  menolongku  dari serangan  Biauw  Leng  Hosiang,  ketiga<BR>kalinya di dalam Gua Tengkorak, dan ke empat kalinya... sekarang ini!"<BR>Biauw Suthai tertawa senang. "Ah, benar... pantas saja kalau begitu. Memang<BR>semenjak dulu engkau telah memiliki keberanian yang besar!"<BR>Lin Lin memandang kepada Cin Hai  dengan kagum, lalu berkata, "Hai-ko,  kau<BR>benar-benar gagah berani!"<BR>Dan aneh sekali, mendengar pujian dan melihat sinar mata gadis ini Cin  Hai<BR>merasa demikian girang hingga ia tersenyum dan tiba-tiba mukanya menjadi  merah.<BR>Ang I Niocu dari  tempat duduknya melayangkan pandang  tajam ke arah kedua  anak<BR>muda ini.<BR>Sementara itu,  Kwee Tiong  dan adik-adiknya  merasa iri  hati dan  jengkel<BR>melihat betapa Cin Hai yang tolol itu mendapat pujian dari orang-orang.<BR>"Sungguh menjemukan, sungguh menyebalkan...!" Kwee Tiong bersungut-sungut.<BR>Pada saat itu seorang perwira lain yang bertubuh pendek dan bermuka  hitam,<BR>meloncat masuk  ke  dalam arena.  Dengan  tertawa dingin  ia  menggulung  lengan<BR>bajunya ke atas hingga nampak sepasang tangannya yang pendek dan berkulit  halus<BR>putih, jauh berbeda dengan warna kulit  mukanya. Ia memandang ke sekeliling  dan<BR>berkata kepada Kwee In Liang,<BR>"Kwee-ciangkun..."<BR>"Aku bukan seorang pembesar lagi, jangan kau menyebutku ciangkun." Kwee  In<BR>Liang memotong. Perwira kate itu tertawa,<BR>"Kwee Lo-enghiong," katanya lagi.<BR>"Pertempuran antara Boan-sute dan Pek I Toanio, berakhir dengan seri karena<BR>kedatangnya gangguan dari  pemuda tolol tadi,  dan pertempuran antara  Boan-sute<BR>dan pemuda itu  tidak termasuk  hitungan karena itu  bukanlah pertempuran.  Jadi<BR>keadaan pihak kami masih  belum ada yang kalah  belum ada yang memang.  Sekarang<BR>kuharap kau suka maju, atau boleh kau mengajukan pemuda tolol setengah gila tadi<BR>untuk menghadapiku, dalam sebuah pertempurah sungguh-sungguh! Tetapi, tentu anak<BR>bodoh itu tidak berani!"<BR>"Siapa yang tidak  berani?" tiba-tiba Cin  Hai berteriak.  "Mentang-mentang<BR>mukanya hitam, jangan membuka mulut besar!" Terdengar orang-orang tertawa  keras<BR>karena geli mendengar ini. Muka perwira yang hitam itu menjadi lebih hitam  lagi<BR>karena darah mengalir ke mukanya.<BR>"Anjing tolol, jangan kau suka berbuat  kepada lain orang sesuatu yang  kau<BR>sendiri tak suka orang  lain berbuat kepadamu!  Kau datang-datang memaki  orang,<BR>mengapa kau tidak suka mendengar  disebut muka hitam?" Sambil berkata  demikian,<BR>Cin Hai bangun berdiri  hendak menyambut tantangan orang  itu, akan tetapi  Loan<BR>Nio yang duduk di dekatnya lalu memegang pundaknya dan mencegahnya membuat  onar<BR>lebih jauh.<BR>Tiba-tiba Ang I Niocu berdiri sambil tersenyum. Ia mengangguk kepada  Biauw<BR>Suthai, lalu menghampiri Kwee In Liang dan bertanya, "Kwee Lo-enghiong, bolehkah<BR>aku mewakili Saudara Cin Hai?" Kwee In Liang yang merasa bahwa ia sendiri  tidak<BR>berdaya, hanya menganggukkan  kepala dengan bingung.  Setelah mendapat  perkenan<BR>Kwee In Liang, dengan sekali gerakan kaki tubuhnya, melayang cepat dan tahu-tahu<BR>telah berdiri di  depan perwira muka  hitam tadi. Semua  orang memuji  keindahan<BR>gerakan ini  dan perwira  muka hitam  itu terkejut  sekali. Ia  maklum bahwa  ia<BR>menghadapi seorang lawan yang lihai dan tangguh, maka ia tidak berani  main-main<BR>dan segera menjura dengan hormat.<BR>"Tuan  rumah  telah  berhasil  mengumpulkan  pembela-pembela  yang  pandai.<BR>Bolehkah kiranya  aku mengetahui  nama  Lihiap dan  apa hubungan  Lihiap  dengan<BR>Kwee-enghiong?"<BR>Ang I Niocu tersenyum dan orang-orang heran mendengar betapa tiba-tiba  Ang<BR>I Niocu mengucapkan sajak,<BR>"Berkawan sebatang pedang Menjelajah ribuan li tanah dan air Tanpa  maksud,<BR>tiada tujuan, Hanya mengandalkan kaki dan hati.<BR>Kau hendak bertanya nama? Lihat pakaian dan pedang. Dan cari sendiri  siapa<BR>namaku!"<BR>Perwira itu memikir-mikir  sebentar sambil  memandang pakaian  Ang I  Niocu<BR>dengan penuh perhatian. Kemudian ia  berkata dengan kaget, "Ah, bukankah  Lihiap<BR>ini Ang I Niocu?"<BR>Ang I Niocu tersenyum  manis, dan sekalian orang  yang hadir, juga Kwee  In<BR>Liang, Kwee Tiong dan semua adiknya terkejut sekali. Telah lama nama ini  sangat<BR>tersohor akan tetepi tak seorang pun pernah menyangka bahwa orangnya  sedemikian<BR>muda dan cantiknya!<BR>"Apakah artinya nama bagi kita? Hal  itu tidak ada hubungannya sama  sekali<BR>dengan pibu yang kita hadapi. Dan tentang perhubungan dengan keluarga Kwee  yang<BR>kautanyakan tadi, terus terang saja aku pun hanya seorang tamu biasa bahkan tamu<BR>yang tak diundang  seperti juga kalian!  Akan tetapi, karena  maksudku baik  aku<BR>diterima dengan baik pula, tidak seperti kalian hanya datang mengacau!"<BR>"Maaf, maaf!  Tidak tahu  bahwa  Lihiap adalah  Ang  I Niocu  maka  berlaku<BR>hormat. Pertempuran ini tak dapat dilanjutkan!" kata Si Muka Hitam.<BR>"Bukan karena aku tidak menghormat  Lihiap, akan tetapi karena kami  datang<BR>khusus untuk mengadu kepandaian dengan keluarga  Kwee, maka aku Tan Song  takkan<BR>mau melayaninya!"<BR>Mendengar kata-kata ini, Ang I Niocu tak berdaya dan ia tak dapat  memaksa,<BR>maka ia lalu bertindak ke tempatnya semula setelah berkata, "Kalau begitu, masih<BR>kuharapkan lain  kali  kau suka  memperlihatkan  kepandaianmu yang  membuat  kau<BR>sombong ini, Tan-ciangkun!"<BR>Tan Siong merasa  malu dan  marah mendengar  sindiran ini,  akan tetapi  ia<BR>memang cerdik dan  pura-pura tak mendengar  sindiran yang disengaja  oleh Ang  I<BR>Niocu itu.<BR>"Hie, orang she  Kwee, bagaimanakah?  Apakah kau dan  kaum kerabatmu  tidak<BR>berani menghadapi aku? Mana pemuda gila yang menjadi keponakanmu tadi, suruh  ia<BR>keluar, jangan sembunyi di dalam pelukan ibunya saja!"<BR>Bukan main hebatnya hinaan ini dan Cin Hai sudah bermaksud hendak bertindak<BR>memperlihatkan kepandaian,  akan  tetapi  pada saat  itu  dari  luar  berkelebat<BR>bayangan  orang  dan  tahu-tahu   seorang  pemuda  berpakaian  seperti   seorang<BR>sasterawan telah berada di situ. Pemuda ini langsung menuding muka Tan Siong dan<BR>berkata,<BR>"Manusia sombong yang suka mengacau! Jangan kau menghina Ayahku, aku putera<BR>ke lima siap menghadapimu!"<BR>"An-ji..." Kwee In Liang dan Loan Nio berseru hampir berbareng, akan tetapi<BR>karena pada  saat  itu  Kwee  An sedang  menghadapi  musuh,  maka  mereka  hanya<BR>memandang dengan  girang  dan  juga  kuatir.  Apalagi  Kwee  An  hanya  memiliki<BR>kepandaian silat yang masih rendah saja.  Hanya saja cara melihat masuknya  Kwee<BR>An tadi timbul harapan baru dalam hatinya. Ia sendiri yang berkepandaian  cukup,<BR>hampir tak melihat  gerakan Kwee An  yang demikian cepat!  Cin Hai dengan  jelas<BR>dapat melihat bahwa ketika masuk tadi, Kwee Ang telah mempergunakan Ilmu  Loncat<BR>Naga Sakti Mengejar Mustika dan bahwa ilmu loncat ini hanya dapat dilakukan oleh<BR>orang yang mempelajari keng-sin-sut atau  ilmu berlari cepat dan telah  memiliki<BR>ginkang tinggi. Maka ia  tahu bahwa Kwee An  telah mempelajari silat dari  orang<BR>pandai. Juga Ang I Niocu, Biauw Suthai, Pek I Toanio, dan Lin Lin mengetahui hal<BR>ini hingga mereka menjadi girang.<BR>Akan tetapi,  Cin Hai  adalah  seorang yang  sangat teliti  dan  hati-hati.<BR>Biarpun maklum bahwa Kwee  An memiliki kepandaian tinggi,  akan tetapi ia  masih<BR>merasa  kuatir  dan  pada  saat  yang  tegang  itu,  tiba-tiba  ia  berlari-lari<BR>menghampiri Kwee An sambil berteriak,-teriak "Kwee An... Kwee An..."<BR>Kwee An cepat berpaling dan wajahnya yang cakap itu berseri girang  melihat<BR>Cin Hai. "Cin Hai,  engkau juga datang??" Mereka  lalu berpelukan karena  memang<BR>dengan Kwee Ang, semenjak dahulu Cin Hai mempunyai perhubungan yang akrab.<BR>Ketika mereka berpelukan, dengan perlahan sekali Cin Hai berbisik,<BR>"Dia mempunyai Pek-mo-jiu."<BR>Akan tetapi dengan suara  keras ia berkata, "Kwee  An, engkau begini  gagah<BR>perkasa! Ah, Si Muka Hitam ini sebentar lagi akan bermuka biru!" Setelah berkata<BR>demikian, Cin Hai lalu bertindak kembali ke tempat duduknya. Semua orang tertawa<BR>mendengar olok-oloknya kepada Muka Hitam. Diam-diam Kwee An heran melihat  sikap<BR>Cin Hai yang ketolol-tololan, padahal bisikan tadi menyatakan bahwa mata Cin Hai<BR>tajam sekali. Ia  sendiri kalau  tidak diberi  tahu tentu  tak akan  tnenyangka,<BR>karena memang seorang yang  memiliki Pek-mo-jiu, tidak  nampak dari luar,  tidak<BR>seperti halnya Hek-seejiu atau Ang-see-jiu, karena orang yang memiliki ilmu ini,<BR>tangannya hitam atau merah.  Pek-mo-jiu atau Tangan  Iblis Putih adalah  semacam<BR>ilmu  yang  dipelajari  dengan  melatih   tangan  dan  lengan  sedemikian   rupa<BR>menggunakan bubuk perak putih yang dicampur obat-obat kuat dan  digosok-gosokkan<BR>ke seluruh lengan tangan,  juga melatih dengan  memukul-mukul bubuk perak  kasar<BR>hingga kebal dan keras dan memiliki tenaga luar biasa!<BR>Pertempuran antara Kwee An dan Tan  Song segera dimulai dan dalam  beberapa<BR>gebrakan saja Cin Hai dapat tahu bahwa Kwee An telah mempelajari ilmu silat dari<BR>Kim-san-pai, sebuah  cabang  persilatan  dari Go-bi-san  yang  mempunyai  banyak<BR>cabang persilatan itu.  Pernah dulu  Bu Pun  Su memberi  tahu kepadanya  tentang<BR>cabang persilatan  ini yang  biarpun kurang  ternama, akan  tetapi  sesungguhnya<BR>memiliki ilmu silat yang tinggi. Dan sekarang Cin Hai membuktikan sendiri hingga<BR>ia merasa girang sekali karena Kwee An yang baik hati dan sederhana itu ternyata<BR>memiliki kepandaian silat yang tidak saja lebih tinggi dari Lin Lin, akan tetapi<BR>agaknya tak kalah dengan kepandaian Si Muka Hitam ini!<BR>Benar saja  seperti dugaan  Cin  Hai semula,  Tan  Song yang  maklum  bahwa<BR>lawannya yang masih muda ini memiliki kepandaian tinggi dan merupakan lawan yang<BR>tangguh, lalu  berusaha mencapai  kemenangan mengandalkan  kedua tangannya  yang<BR>memiliki tenaga  Pek-mo-jiu. Ia  mengerahkan tenaga  dan kepandaian  melancarkan<BR>seragan kilat yang  dapat membawa maut.  Akan tetapi Kwee  An berlaku  hati-hati<BR>sekali. Ginkang pemuda ini  sudah mencapai tingkat tinggi  dan ia memiliki  ilmu<BR>meringankan tubuh  yang lebih  tinggi daripada  lawannya maka  ia  mempergunakan<BR>ginkangnya untuk  bergerak ke  sana  ke mari  demikian cepatnya  laksana  seekor<BR>burung kepinis! Orang-orang  bersorak gembira melihat  pertunjukkan ini,  karena<BR>pertempuran mereka seakan-akan  seekor ular  yang mengejar  burung yang  terlalu<BR>gesit dan  cepat  untuk  dapat  dicaploknya. Kwee  An  mengeluarkan  ilmu  silat<BR>Kim-san-pai yang lihai dan balas  menyerang dengan totokan-totokan ke arah  urat<BR>dan jalan darah lawan.<BR>Pernah terjadi kelambatan pergerakan Kwee An yang hampir saja  mencelakakan<BR>anak muda ini karena Tan Song mempergunakan kesempatan itu untuk mengirim sebuah<BR>pukulan maut yang keras ke arah dada Kwee An. Semua orang terkejut, bahkan Ang I<BR>Niocu  mengeluarkan  seruan  tertahan.  Kwee  An  merasa  betapa  angin  pukulan<BR>Pek-mo-ciang ini mengiris  kulit dadanya,  akan tetapi  berkat kegesitannya,  ia<BR>segera melempar diri ke belakang  sambil menggerakan kedua kakinya menendang  ke<BR>depan bergantian.  Untung saja  ia mempergunakan  Ilmu Gerakan  Kera Jatuh  Dari<BR>Cabang ini,  karena kalau  saja ia  tidak mempergunakan  gerakan ini  dan  tidak<BR>menendangkan kedua  kakinya,  tentu lawannya  akan  menubruk maju  dan  mengirim<BR>serangan ke dua. Cepat  sekali Kwee An menggunakan  kedua tangan menekan  lantai<BR>hingga tubuhnya dapat mencelat ke atas  kembali dan kini ia menghadapi  lawannya<BR>yang tangguh dengan lebih hati-hati.<BR>Setelah bertempur seratus jurus lebih, lambat laun Tan Song mulai terdesak.<BR>Kwee An  yang muda  dan bertenaga  kuat itu  melancarkan serangan-serangan  yang<BR>terlihai dari Kim-san-pai  dan karena  cabang persilatan ini  memang tak  banyak<BR>dikenal orang, maka  Tan Song  menjadi bingung  menghadapi gerakan-gerakan  yang<BR>aneh ini.<BR>Cin  Hai  merasa  gembira  sekali  dan  ia  bersorak-sorak  gembira  sambil<BR>berseru-seru "Hayo, Kwee  An, hantam  terus... hantam  terus..." Semua  penonton<BR>melihat dan mendengar Cin Hai ikut merasa gembira karena mereka ini hampir semua<BR>berpihak kepada  tuan  rumah  dan membenci  perwira-perwira  Sayap  Garuda  yang<BR>terkenal jahat. Kwee In Liang merasa girang sekali melihat bahwa puteranya  yang<BR>tadinya disangka bodoh  dan paling lemah  di antara semua  puteranya yang  lain,<BR>ternyata kini datang-datang membawa pulang kepandaian yang sangat tinggi, bahkan<BR>mungkin lebih tinggi daripada Lin Lin!<BR>Ketika mendapat kesempatan baik, pada saat lawannya terhuyung mundur karena<BR>serangan yang  datang bertubi-tubi,  Kwee  An lalu  melangkah maju  dan  memukul<BR>dengan tangan kiri  ke arah mata  lawan. Tan Song  cepat mengelak tetapi  segera<BR>berteriak kaget karena tiba-tiba kaki kanan Kwee An melayang dan menendang lawan<BR>yang tidak menyangka dan  sedang berada dalam posisi  yang lemah itu. Tak  ampun<BR>lagi dada Tan Song berkenalan dengan ujung sepatu Kwee An dan perwira pendek itu<BR>berteriak kesakitan  lalu roboh  sambil memegangi  dadanya! Kawan-kawannya  lalu<BR>datang menolong dan mengangkatnya ke pinggir.<BR>Kwee In Liang lalu menghampiri Kwee An. Ayah dan anak ini berpelukan.  Lalu<BR>Kwee An digandeng oleh ayahnya  menuju ke tempat duduk  Loan Nio dimana Kwee  An<BR>disambut oleh Loan Nio dengan  terharu dan girang. Juga saudara-saudaranya  lalu<BR>datang menyerbu menghujani pertanyaan dalam  suasana gembira. Mereka ini  merasa<BR>bangga sekali akan kepandaian Kwee An.<BR>"Nah, inilah  baru  disebut  kepandaian  aseli,"  kata  Kwee  Tiong  sambil<BR>mengerling ke arah  Cin Hai,  "diam-diam engkau mengeluarkan  tenaga dan  dengan<BR>jujur engkau mengalahkan orang she Tan  yang tangguh itu. Engkau sungguh  hebat,<BR>An!" Kwee Tiong menepuk-nepuk pundak adiknya dengan wajah bangga sekali.<BR>Pada saat itu perwira ke tiga masuk  ke dalam arena adu silat. Perwira  ini<BR>bertubuh tinggi kurus dan gerak-geriknya  lambat tetapi penuh mengandung  tenaga<BR>sedangkan sepasang matanya tajam berpengaruh. Melihat sepintas lalu saja Cin Hai<BR>dapat mengetahui  bahwa orang  ini  adalah seorang  ahli lweekeh  yang  tangguh.<BR>Perwira ini  sebenarnya adalah  kakak Tan  Song dan  bernama Tan  Bu,  sedangkan<BR>kepandaian ilmu silatnya masih jauh lebih  tinggi daripada Tan Boan Sip.  Tetapi<BR>adatnya pendiam dan tidak sombong.<BR>Setelah berdiri di tengah-tengah arena, Tan Bu lalu menjura ke arah Kwee In<BR>Liang dan berkata dengan suaranya yang besar,<BR>"Kwee-enghiong, puteramu tadi  sungguh lihai, kalau  kiranya tidak  terlalu<BR>lelah dan sudi  memberi pelajaran kepdaku  yang bodoh, aku  akan merasa  gembira<BR>sekali!"<BR>Kwee An hendak maju lagi, tetapi ia ditahan oleh Kwee In Liang.<BR>"Kau terlalu lelah, baru saja datang sudah bertempur dengan musuh  tangguh.<BR>Kalau  sekarang  kau  maju  lagi,  maka  kau  akan  terlalu  letih.  Lebih  baik<BR>beristirahat dulu."<BR>"Habis siapa yang akan maju melayani perwira itu?" tanya Kwee An.<BR>Tiba-tiba Bhok Ki Sun yang menjadi kawan Kwee In Liang berdiri dan berkata,<BR>"Biariah aku yang tua ikut meramaikan  pesta ini dan mencoba-coba tenaga."  Muka<BR>Kwee In Liang  berseri. Ia maklum  bahwa kepandaian  Bhok Ki Sun  jago tua  dari<BR>selatan ini cukup lihai dan lebih tinggi daripada kepandaianya sendiri, maka  ia<BR>cepat menjura sambil  berkata, "Kalau  kau sudi membantu,  aku merasa  berhutang<BR>budi besar sekali."<BR>Bhok Ki  Sun lalu  bertindak maju  dan menghampiri  Tan Bu.  Jago tua  yang<BR>berpakaian seperti seorang petani sederhana ini lalu menjura dan berkata,<BR>"Belum tahu siapa nama Ciangkun  dan apakah pendirian Ciangkun sama  dengan<BR>pendirian Tan-ciangkun bahwa  orang luar  tidak boleh membantu  Tuan rumah?  Aku<BR>Bhok Ki Sun karena menjadi kawan baik  dari Kwee In Liang, maka mengajukan  diri<BR>untuk melayanimu."<BR>Berbeda dengan Tan Song,  Tan Bu ini mempunyai  pendirian yang lebih  adil,<BR>maka ia menjawab, "Aku bernama Tan Bu dan maafkan ucapan adikku yang  berpikiran<BR>pendek tadi.  Kalau Bhok  Lo-enghiong hendak  turun tangan,  aku merasa  gembira<BR>sekali dan marilah kita bermain-main sebentar!"<BR>Bhok Ki  Sun  adalah seorang  anak  murid  dari Kun-lun-pai,  maka  ia  pun<BR>memiliki tenaga  lweekang  yang cukup  sempurna.  Setelah keduanya  menjura  dan<BR>saling  memberi   hormat,   pertempuran  segera   dimulai.   Keduanya   bergerak<BR>lambat-lambatan dan lemas, seperti biasa ahli-ahli lweekeh bergerak. Akan tetapi<BR>setelah beberapa kali  beradu lengan  dan mendapat kenyataan  bahwa pihak  lawan<BR>sama  kuatnya,  mereka   lalu  mempercepat  gerakan   mereka  dan  tidak   hanya<BR>mengandalkan tenaga  lweekang semata.  Mereka  lalu mengeluarkan  kecepatan  dan<BR>kelihaian ilmu silat  masing-masing, maka pertempuran  segera berubah cepat  dan<BR>hebat. Dan beberapa puluh jurus kemudian ternyatalah bahwa Bhok Ki Sun  bukanlah<BR>lawan Tan Bu  karena orang  tua itu  segera terdesak  hebat. Ilmu  silat Tan  Bu<BR>benar-benar mengagumkan karena selain sukar  diduga, juga mempunyai pecahan  dan<BR>perubahan gerakan  yang banyak  sekali macamnya  dan yang  kesemuanya  dilakukan<BR>dengan gerak cepat.  Beberapa kali  Bhok Ki  Sun hampir  celaka karena  serangan<BR>lawan  hingga  akhirnya  ia  pikir  lebih  baik  mundur  sebelum  terluka  dalam<BR>pertempuran yang  sebetulnya  lebih  bersifat mengukur  kepandaian  ini.  Dengan<BR>gerakan  Ikan  Hiu  Menerjang  Ombak  Bhok  Ki  Sun  meloncat  ke  belakang  dan<BR>berjumpalitan hingga tubuhnya terpental jauh. Ia turun sambil merangkapkan kedua<BR>tangannya dan berkata,<BR>"Tan-ciangkun, kepandaianmu sungguh luar biasa dan aku Bhok Ki Sun  mengaku<BR>kalah!" Ia lalu menjura kepada Kwee  In Liang sebagai pernyataan maafnya  karena<BR>tak berhasil membela nama keluarga Kwee.<BR>Pek I  Toanio  tertarik sekali  melihat  kepandaian Tan  Bu,  maka  setelah<BR>mendapat perkenan dari gurunya, ia lalu maju menggantikan Bhok Ki Sun.<BR>"Ingin sekali aku merasai kelihaian Tan-ciangkun bermain senjata," kata Pek<BR>Toanio sambil  mencabut pedang  di  tangan kanan  dan mengeluarkan  juga  sebuah<BR>hudtim (kebutan) di tangan kiri. Nyonya baju putih ini memang pernah mempelajari<BR>ilmu memainkan hudtim dan pedang dari gurunya.<BR>"Baik, baik. Aku pun  telah melihat permainanmu yang  lihai tadi dan  ingin<BR>sekali mencobanya,"  jawab  Tan  Bu  yang  segera  mengambil  senjatanya,  yakni<BR>sebatang toya panjang yang ujungnya dipasangi kaitan.<BR>Setelah saling  memberi  hormat, maka  kedua  orang ini  lalu  menggerakkan<BR>senjata masing-masing dalam  pertempuran, yang  jauh lebih hebat  dan seru  dari<BR>pada ketika Tan  Bu bertempur melawan  Bhok Ki Sun  dengan tangan kosong.  Sinar<BR>pedang Pek I Toanio bergulung-gulung dibarengi menyambarnya hudtimnya yang cukup<BR>lihai, hingga permainannya  mendatangkan pemandangan yang  menarik sekali.  Akan<BR>tetapi permainan toya dari  Tan Bu juga  mengagumkan, dan berbareng  mengerikan.<BR>Toya itu sangat berat dan digerakkan dalam putaran yang demikian cepatnya hingga<BR>mendatangkan angin  berkesiur yang  dirasai oleh  semua penonton  yang duduk  di<BR>situ! Baru anginnya saja sudah memiliki tenaga hebat hingga menggerakkan pakaian<BR>dan rambut orang di  sekitarnya, apalagi jika terkena  kemplang toya yang  berat<BR>dan digerakkan cepat ini!<BR>Baru bertempur dalam beberapa belas jurus  saja, Pek I Toanio telah  maklum<BR>bahwa jika ia mengadu tenaga, maka ia tentu akan kalah. Maka ia lalu  berkelebat<BR>ke sana  ke  mari  menghindarkan  diri dari  sabetan  toya,  sambil  menggunakan<BR>kesempatan-kesempatan baik  untuk membalas  menusuk dengan  pedang atau  memukul<BR>jalan darah dengan ujung kebutan.<BR>Ketika Tan  Bu menggunakan  gerak  tipu Hing-sau-chian-kun  atau  Serampang<BR>Bersih Ribuan Tentara  dan tiba-tiba  memutarkan toyanya  ke arah  Pek I  Toanio<BR>sambil berseru keras, nyonya itu melompat ke atas melewati kepala lawannya. Akan<BR>tetapi cepat bagaikan kitiran  angin, toya Tan Bu  telah mengejar tubuh yang  di<BR>atas itu dan cepat menusuk ke arah  Pek I Toanio! Serangan ini berbahaya  sekali<BR>hingga semua orang menahan napas. Akan tetapi, Pek I Toanio benar-benar memiliki<BR>ginkang yang sempurna.  Melihat bahwa  serangan lawan ini  berbahaya sekali  dan<BR>baginya tiada waktu lagi untuk berkelit dan untuk menangkis ia akan kalah tenaga<BR>maka ia  segera  memperlihatkan kegesitannya.  Ketika  ujung toya  menyambar  ke<BR>arahnya, ia mementangkan kaki dan menggunakan ujung kaki kanannya ditotolkan  ke<BR>ujung toya itu  lalu ia mengikuti  gerakan toya yang  menyerangnya sambil  tidak<BR>lupa mengebutkan hudtimnya ke arah jalan  darah kin-hu-hiat di pundak kanan  Tan<BR>Bu!<BR>Gerakan ini luar biasa indah dan beraninya hingga Tan Bu sama sekali  tidak<BR>menduga dan pundaknya kena  terpukul tertotok oleh  ujung hudtim yang  tiba-tiba<BR>berubah keras,  sedangkan tubuh  Pek I  Toanio terbawa  oleh dorongan  toya  dan<BR>mencelat ke atas kepalanya hampir tebentur kepada tiang yang melintang di atas!<BR>Pek I Toanio tak kalah kagetnya.  Totokannya tadi telah mengenai tempat  di<BR>tubuh lawan  dengan  tepat sekali,  akan  tetapi  Tan Bu  kelihatan  biasa  saja<BR>seakan-akan tak pernah  terpukul, apa  lagi terluka! Cepat  nyonya ini  meluncur<BR>turun dan ia merasa bahwa melawan terus takkan ada gunanya, karena harus ia akui<BR>bahwa kepandaian  lawannya dalam  memainkan  senjata sungguh-sungguh  hebat  dan<BR>lebih tiggi daripada kepandaiannya sendiri. Maka ia lalu menjura dan berkata,<BR>"Terima kasih atas petunjuk Ciang-kun."<BR>Tepuk sorak  ramai terdengar  dari pihak  para perwira  yang merasa  senang<BR>sekali betapa  dalam  dua  pertempuran berturut-turut,  Tan  Bu  telah  berhasil<BR>mengalahkan lawan!  Dengan  dua kali  kemenangan  itu, sekaligus  Tan  Bu  telah<BR>membersihkan muka mereka dan menebus kekalahan Tan Song tadi.<BR>"He, Kwee In Liang, kalau kau sudah tidak mempunyai jago lain lagi, majukan<BR>saja pemuda tolol itu!" Tiba-tiba Boan Sip berseru keras dengan suara  menghina.<BR>Semua penonton memandang ke arah Kwee In Liang dengan cemas karena setelah kedua<BR>jago itu kalah, siapa lagi yang hendak maju?<BR>Kwee In Liang tidak berani minta tolong kepada Kwee An. "Sekarang kau,  Lin<BR>Lin, atau aku sendiri yang maju dan herternpur mati-matian, membela nama kita!"<BR>"Kwee-enghiong, sabar  dulu. Biarkan  pinni  maju menghajar  mereka,"  kata<BR>Biauw Suthai,  akan  tetapi tiba-tiba  Ang  I  Niocu yang  merasa  marah  sekali<BR>mendengar Cin Hai dimaki tolol,  segera berdiri dan setelah berkata  cepat-cepat<BR>tanpa menanti  jawaban,  "biarkan aku  saja  yang maju!"  lalu  sekali  melompat<BR>tubuhnya telah  berada di  hadapan  Tan Bu!  Orang  tidak melihat  bagaimana  ia<BR>mencabut pedangnya, akan tetapi tahu-tahu  tangan kanan nona itu telah  memegang<BR>sebatang pedang yang tajam berkilau.<BR>"Manusia  sombong  yang  membuka  mulut  besar,  kau  keluarlah  dan   mari<BR>kaurasakan tajamnya pedangku!" katanya sambil menggunakan telunjuk kiri menuding<BR>ke arah Boan Sip!<BR>Tan Bu maju selangkah dan mengangkat kedua tangan sambil berkata,<BR>"Bukankah engkau ini Ang I Niocu? Ah, sudah lama aku mendengar namamu  yang<BR>besar, maka alangkah beruntungnya hari ini dapat menyaksikan kelihaianmu. Jangan<BR>kauhiraukan Boan-sute yang memang berdarah panas, dan marilah kita  mencoba-coba<BR>kepandaian!"<BR>Ang I Niocu terpaksa menghadapi Tan Bu.<BR>"Orang  she  Tan!  Sungguh  harus  disesalkan  bahwa  orang  yang  memiliki<BR>kepandaian seperti engkau ini  telah berlaku sembrono  dan mengacau pesta  orang<BR>lain."<BR>"Ang I Niocu kita  sama-sama orang luar dan  peduli apa sama segala  urusan<BR>remeh? Yang terpenting bagi kita sekarang ialah mencoba kepandaian masing-masing<BR>pada kesempatan yang baik ini, untuk meluaskan pengetahuan."<BR>"Baiklah, kalau engkau  menghendaki demikian. Nah,  engkau majulah!" Ang  I<BR>Niocu lalu membuat gerakan yang indah dan lemah gemulai dengan pedangnya  hingga<BR>semua penonton bertepuk tangan kagum. Tan  Bu maklum akan kelihaian lawan,  maka<BR>ia segera mendahului,  dan mengirim  serangan kilat dengan  toyanya yang  hebat.<BR>Akan tetapi, dengan menari indah Ang I Niocu mudah saja menghindarkan diri  dari<BR>serangan dan menghadapi lawan tangguh ini dengan tenang dan dengan tarian  indah<BR>sekali hingga keduanya merupakan dua orang mahluk yang sangat berbeda.<BR>Para penonton merasa kagum sekali  dan belum pernah seumur hidupnya  mereka<BR>menyaksikan seorang  gadis cantik  menghadapi  ilmu silat  toya yang  ganas  itu<BR>dengan hanya menari-nari,  akan tetapi  sedikit pun tidak  kena terpukul!  Tidak<BR>hanya para penonton yang kurang paham ilmu silat, bahkan Lin Lin, Pek I  Toanio,<BR>Kwee An, dan  yang lain memandang  dengan melongo dan  kagum. Juga Biauw  Suthai<BR>nampak mengangguk-anggukkan kepala sambil menggunakan sebelah matanya  memandang<BR>dengan penuh perhatian.<BR>Akan tetapi kegembiraan mereka tercampur kekuatiran karena ilmu toya Tan Bu<BR>benar-benar hebat  dan  dahsyat.  Perwira  yang  kosen  ini  karena  tahu  bahwa<BR>kepandaian Ang I Niocu sangat tinggi  dan lihai, lalu mengeluarkan ilmu  toyanya<BR>yang paling hebat dan berbahaya, jauh lebih hebat dari pada ketika ia menghadapi<BR>Pek I Toanio tadi. Oleh  karena ini diam-diam Ang  I Niocu merasa terkejut  juga<BR>dan tak pernah disangkanya bahwa sebenarnya Tan Bu memiliki kepandaian ilmu toya<BR>setinggi ini. Ia bertempur dengan hati-hati  sekali dan selama itu belum  pernah<BR>membalas dengan  desakan, hanya  mempertahankan  diri sambil  memperhatikan  dan<BR>mempelajari gerakan lawan.<BR>Melihat keragu-raguan Ang I  Niocu ini, Cin Hai  merasa tidak puas  sekali.<BR>Dia yang telah mempunyai pengertian pokok rahasia segala macam ilmu silat, telah<BR>memiliki pemandangan tajam dan tahu bahwa gerakan-gerakan toya Tan Bu sebenarnya<BR>hanyalah ganas dan dahsyat karena toya itu selain berat, juga orang she Tan  itu<BR>memiliki tenaga besar dan kalau saja Ang I Niocu mengeluarkan kegesitannya, maka<BR>Nona Baju Merah itu tak akan  sukar mengalahkan lawannya. Oleh karena itu,  maka<BR>diam-diam Cin Hai lalu mengeluarkan sulingnya.<BR>Lin Lin yang duduk  tidak jauh dari Cin  Hai, dan semenjak tadi  seringkali<BR>mengerling ke arah  pemuda yang sangat  menarik hatinya itu,  menjadi kaget  dan<BR>heran, lalu  tak  dapat ditahan  lagi  mengajukan pertanyaan,  "Eh,  Engko  Hai,<BR>mengapa kaukeluarkan  sulingmu  pada  saat  seperti  ini?"  Ia  bertanya  sambil<BR>tersenyum geli.<BR>Cin Hai  juga  tersenyum dan  jawabannya  menghilangkan senyum  gadis  yang<BR>menjadi sangat terheran itu ketika mendengar Cin Hai berkata,<BR>"Aku meniup suling untuk mengiringi tarian Niocu."<BR>Sebelum Lin Lin  dapat bertanya lanjut,  Cin Hai telah  meniup suling  maka<BR>tiba-tiba terdengarlah  tiupan suling  yang merdu  di ruangan  itu. Semua  orang<BR>menjadi heran sekali dan  Kwee Tiong memandang kepada  Cin Hai dengan marah.  Ia<BR>anggap pemuda ini  benar-benar tolol  dan tidak pantas  menyuling! Ia  melangkah<BR>maju dan hendak melarang Cin Hai menyuling, akan tetapi Lin Lin memandang kepada<BR>Kwee Tiong dengan mata dilebarkan dan berkata,<BR>"Engko Tiong,  biarkan  saja dan  jangan  ganggu dia!"  Kwee  Tiong  merasa<BR>mendongkol sekali, akan  tetapi semenjak adik  perempuannya ini kembali  membawa<BR>kepandaian yang tinggi, ia tunduk dan  tidak berani melawan. Ia hanya  memandang<BR>dengan mata marah kepada Cin Hai yang masih menyuling dengan asyiknya.<BR>Akan tetapi, tiba-tiba ketika suara suling Cin Hai makin keras, nyaring dan<BR>meninggi, terdengar seruan-seruan  orang menyatakan terkejut  dan kagum.  Ketika<BR>Kwee Tiong memandang kepada mereka yang  bertempur, ia pun menjadi silau  karena<BR>ternyata tubuh Ang I Niocu telah lenyap dan kini gadis itu berubah bayang-bayang<BR>merah yang  berkelebat  ke  sana ke  mari  dengan  luar biasa  sekali!  Lin  Lin<BR>memandang kagum dan diam-diam ia memuji ilmu pedang yang tiada taranya dalam hal<BR>keindahan itu. Juga,  Biauw Suthai  merasa kagum  dan diam-diam  nenek tua  yang<BR>lihai ini mengerling  ke arah  Cin Hai.  Ia tahu  bahwa suara  suling itu  tepat<BR>sekali mengiringi semua gerakan Ang I Niocu dan seakan-akan suara suling  itulah<BR>yang menuntun dan  membuat gerakan  Dara Baju  Merah itu  menjadi demikian  luar<BR>biasa! Oleh  karena ini,  diam-diam nyonya  tua ini  memperhatikan Cin  Hai  dan<BR>timbul dugaan di dalam hatinya bahwa pemuda ini hanya berpura-pura tolol, tetapi<BR>sebetulnya berkepandaian tinggi!<BR>Memang sebetulnya  Ang  I  Niocu masih  melayani  lawannya  dengan  gerakan<BR>hati-hati sekali,  tiba-tiba ia  mendengar  suara suling  yang ditiup  Cin  Hai.<BR>Tiba-tiba hatinya  berdebar  girang dan  timbul  semangatnya. Suara  suling  itu<BR>baginya mempunyai  pengaruh seakan-akan  orang  yang minum  arak baik  dan  rasa<BR>hangat menjalar di seluruh tubuhnya  dan membuat semangatnya bernyala-nyala.  Ia<BR>lalu  tersenyum  manis  dan   tiba-tiba  gerakan  pedangnya  berubah.   Alangkah<BR>terkejutnya Tan  Bu ketika  melihat perubahan  ini karena  gerakan yang  tadinya<BR>halus dan lemah gemulai  dan hanya mengandalkan  kelincahan tubuh dan  kelemahan<BR>gerakan untuk  menghindari serangannya,  kini berubah  menjadi ganas  dan  cepat<BR>laksana kilat  menyambar!  Kini  Dara  Baju Merah  itu  dengan  sinar  pedangnya<BR>melakukan serangan  yang hebat,  dan ia  merasa betapa  sinar pedang  lawan  ini<BR>mengurungnya dari segala jurusan hingga  matanya menjadi kabur. Akan tetapi  Tan<BR>Bu bukanlah orang lemah, dan ia memutar toyanya sedemikian rupa hingga toya  ini<BR>merupakan benteng baja yang kuat dan yang melindungi seluruh tubuhnya!<BR>Suara suling yang  ditiup Cin Hai  makin meninggi dan  nyaring, maka  makin<BR>cepat pulalah gerakan pedang Ang I Niocu hingga pada suatu saat terdengar  suara<BR>kain terobek  dan tiba-tiba  Tan  Bu melompat  tinggi  dan jauh.  Bajunya  telah<BR>terobek ujung pedang dari dada sampai ke lengan, akan tetapi hanya mendapat luka<BR>kulit saja di bagian lengannya yang mengeluarkan darah dan terasa perih.<BR>"Ang I Niocu, sungguh  kau benar-benar gagah dan  nama besarmu bukan  omong<BR>kosong belaka!" Tan Bu memuji dan mengundurkan diri ke tempat kawan-kawannya  di<BR>mana ia membalut lukanya setelah memberi obat.<BR>Ang I Niocu setelah menyinipan kembali pedangnya, lalu dengan senyum  lebar<BR>kembali ke tempat duduknya, di mana ia disambut oleh keluarga Kwee dengan pujian<BR>dan ucapan terima kasih.<BR>"Niocu tarianmu hebat sekali!" kata Cin Hai tertawa-tawa.<BR>"Hai-ji, terima  kasih atas  doronganmu dengan  suling tadi,"  jawab Ang  I<BR>Niocu sambil memandang wajah Cin Hai dengan senyum mesra.<BR>Diam-diam Lin Lin memperhatikan mereka berdua ia heran sekali mengapa  dada<BR>kirinya merasa tidak enak melihat betapa mesra pandangan mata Ang I Niocu kepada<BR>Cin Hai dan  betapa akrab hubungan  mereka berdua. Akan  tetapi ia heran  sekali<BR>mendengar sebutan-sebutan mereka. Ang  I Niocu menyebut  Cin Hai dengan  sebutan<BR>Hai-ji atau anak Hai! Sebetulnya, sampai di manakah hubungan kedua orang ini? Ia<BR>belum mendapat kesempatan untuk bicara banyak dengan Cin Hai.<BR>Pada saat itu dari pihak perwira Sayap Garuda, perwira ke empat maju sambil<BR>mengangkat dada dan berkata,<BR>"Kami harus  mengakui  bahwa saudara  kami  Tan Bu  telah  dikalahkan  oleh<BR>kepandaian Ang I Niocu  yang benar-benar lihai. Sekarang  aku yang bodoh  hendak<BR>minta pengajaran dari  keluarga Kwee  yang gagah  perkasa, dan  kalau di  antara<BR>keluarga Kwee  tidak  ada  yang  berani  maju,  barulah  aku  terpaksa  melayani<BR>orang-orang luar yang membela Kwee-enghiong!"<BR>Perwira ke empat ini bernama Un  Kong Sian dan kepandaiannya sangat  tinggi<BR>karena sebenarnya ia adalah saudara termuda dari Santung Ngo-hiap atau Lima Jago<BR>Dari Santung yang  kesemuanya kini menjadi  perwira-perwira, kelas tertinggi  di<BR>kota raja! Un  Kong Sian ini  bertubuh tinggi besar  dan selain memiliki  tenaga<BR>ginkang dan  lweekang yang  mengagumkan, ia  juga memiliki  tenaga gwakang  yang<BR>mengagumkan. Di  kota raja  Un Kong  Sian dan  kakak-kakak seperguruan  mendapat<BR>tugas melatih para perwira lain, hingga beleh dibilang bahwa ia menjadi  seorang<BR>di antara  guru-guru para  perwira di  kota raja.  Oleh karena  ini, maka  dapat<BR>dibayangkan bahwa kepandaiannya tentu jauh lebih tinggi daripada yang lain-lain.<BR>Adapun Ma Ing,  perwira ke lima  yang menjadi suhengnya,  adalah orang ke  empat<BR>dari Santung  Ngo-hiap,  dan tentu  saja  kepandaian  Ma Ing  ini  lebih  tinggi<BR>daripada kepandaian Un Kong  Sian. Hanya ada sedikit  perbedaan di antara  kedua<BR>perwira tinggi ini. Un Kong Sian lebih memiliki kehebatan tenaga dan  kekebalan,<BR>sebaliknya Ma Ing terkenal memiliki ilmu silat tinggi, permainan sepasang pedang<BR>yang hebat, dan kepandaian mempergunakan senjata rahasia mahir sekali.<BR>Mendengar betapa Un Kong  Sian menantang keluarga Kwee,  Kwee An tak  dapat<BR>menahan sabarnya dan ia lalu melompat maju sebelum dapat didahului orang lain,<BR>"Biarlah aku yang muda dan tak  tahu diri melayanimu," kata Kwee An  dengan<BR>tenang.<BR>Un Kong Sian telah melihat kepandaian  Kwee An dan ia merasa sayang  kepada<BR>pemuda yang sopan  santun dan halus  budi bahasanya ini  maka ia berkata  sambil<BR>tertawa,<BR>"Anak muda, biarpun harus diakui bahwa engkau adalah murid seorang  pandai,<BR>akan tetapi  kepandaianmu  belum  matang dan  jangan  engkau  sia-siakan  jiwamu<BR>menghadapi aku."<BR>Un Kong Sian adalah orang yang mempunyai kebiasaan bicara terus terang  dan<BR>kasar maka  kata-katanya seringkali  menyakiti hati  orang. Kali  ini  ucapannya<BR>tentu saja membuat Kwee An menjadi merah telinganya. Ia dipandang ringan sekali,<BR>maka sambil tersenyum ia pun menjawab,<BR>"Terima kasih  atas rasa  sayangmu kepadaku,  akan tetapi  jiwaku yang  tak<BR>berharga ini memang telah kusediakan untuk membela nama Ayahku. Sudahlah,  kalau<BR>engkau memang  memiliki kepandaian  tinggi,  keluarkan kepandaianmu  itu  hendak<BR>kulihat bagaimana hebatnya!"<BR>"Ha, ha! Engkau pemberani, juga, anak muda. Akan tetapi kalau nanti  engkau<BR>terluka, jangan salahkan aku!"<BR>Sehabis berkata  demikian, Un  Kong Sian  lalu melempar  jubah luarnya  dan<BR>tampaklah kedua lengan tangan yang besar berurat dan yang berkekuatan luar biasa<BR>besarnya.<BR>"Nah, majulah, anak muda!"  kata Un Kong  Sian. "Biarlah engkau  berkenalan<BR>dengan kepandaian Un Kong Sian!"<BR>Mendengar nama  ini,  diam-diam  Biauw Suthai  terkejut  dan  memperhatikan<BR>karena ia kenal  nama ini sebagai  saudara termuda dari  Santung Ngo-hiap,  maka<BR>tentu saja kepandaian orang ini sangat tinggi. Diam-diam ia menguatirkan keadaan<BR>Kwee An dan tak terasa lagi ia  berkata kepada Cin Hai yang duduknya tidak  jauh<BR>dari tempatnya,<BR>"Un Kong Sian  itu adalah ahli  gwakang yang tinggi  ilmu silatnya!  Engkau<BR>carilah akal supaya Kwee-kongcu suka mengundurkan diri sebelum mendapat celaka!"<BR>Ternyata bahwa kalau lain-lain  orang yang memiliki  sepasang mata dapat  ditipu<BR>oleh Cin Hai  dan menganggap bahwa  pemuda itu betul-betul  tolol, adalah  Biauw<BR>Suthai yang hanya memiliki  sebuah mata saja segera  dapat mengetahui bahwa  Cin<BR>Hai adalah seorang  pemuda yang banyak  akalnya, maka sekarang  ia minta  kepada<BR>pemuda itu untuk mencegah Kwee An menghadapi Un Kong Sian!<BR>Tiba-tiba setelah  mendengar  ucapan  Biauw Suthai,  Cin  Hai  berlari-lari<BR>sambil memegang sulingnya ke  arah arena pertempuran dan  pada saat itu Un  Kong<BR>Sian dan Kwee An telah saling berhadapan dan hampir bergebrak.<BR>"Mengetahui kepandaian lawan lebih dahulu baru melayani bertempur  bukanlah<BR>tindakan gagah berani,  tetapi hanya  kelakuan seorang yang  licin dan  curang!"<BR>kata Cin Hai sambil menuding Un Kong  Sian dengan sulingnya. "Hanya Co Cho  saja<BR>yang mempunyai kelicinan dan kecurangan seperti itu!!" Co Cho yang dimaksud oleh<BR>Cin Hai itu adalah seorang tokoh cerita  Sam Kok yang terkenal curang dan  licin<BR>hingga banyak orang  membenci dan  menghinanya, walaupun Co  Cho adalah  seorang<BR>yang terlalu cerdik.<BR>Un Kong Sian  menunda niatnya hendak  menyerang Kwee An.  Memang ia  merasa<BR>benci dan mendongkol kepada Cin Hai karena gangguan tadi, maka ia lalu memandang<BR>dengan dipelototkan.<BR>"Pemuda tolol! Gangguan  apa lagi yang  hendak engkau lakukan  terhadapku?"<BR>bentaknya. "Lekas engkau menyingkir sebelum kepalamu kuhancurkan!"<BR>"Memang kau licin, lebih  licin daripada Co Cho!"  Cin Hai menyindir  lagi,<BR>sedangkan Kwee An memandang kepada Cin Hai dengan tidak mengerti dan heran.<BR>"Bangsat tolol, mengapa kau menyebut aku licin dan curang?" bentak Un  Kong<BR>Sian.<BR>"Engkau sudah melihat sampai di mana tingkat kepandaian Kwee An akan tetapi<BR>kami semua belum  melihat tingkat  kepandaianmu. Ini  berarti sebuah  kemenangan<BR>bagimu, karena kau dapat mengukur sampai  di mana kepandaian lawanmu. Kalau  kau<BR>memang gagah  dan adil  kau harus  memperlihatkan dulu  kegagahan dan  tenagamu.<BR>Kalau kau bisa meniru perbuatanku barulah  kau ada harga untuk melayani Kwee  An<BR>yang gagah  perkasa. Kalau  tidak bisa,  kau boleh  pulang saja  jangan  mencoba<BR>mencari penyakit!" Semua orang yang hadir kali ini dibikin tercengang dan  heran<BR>karena sungguh-sungguh mereka tidak mengerti maksud Cin Hai.<BR>"Anak bodoh! Kau  mempunyai kebisaan  apakah? Coba  perlihatkan, tentu  aku<BR>sanggup meniru dengan baik lagi!"<BR>Cin Hai lalu meniup sulingnya sebentar, lalu berkata, "Nah, kau bisa  tidak<BR>meniru kepandaianku tadi?"<BR>Semua orang tertawa  geli melihat  kebodohan yang tolol  ini, sedangkan  Un<BR>Kong Sian marah sekali sampai membanting-banting kaki.<BR>"Tolol! Kepandaian  meniup  suling  saja apakah  artinya?  Aku  tidak  sudi<BR>menirunya. Kalau kau memperlihatkan  demonstrasi atau ilmu  silat, baru aku  mau<BR>menirunya."<BR>"Ha, ha,  agaknya kau  bertenaga seperti  kerbau jantan!  Baik, baik,  coba<BR>keluarkan senjatamu!"<BR>Biarpun merasa  heran,  akan  tetapi  Un  Kon  Sian  lalu  pergi  mengambil<BR>senjatanya, yaitu  sebuah toya  yang beratnya  lebih dari  seratus kati.  Inilah<BR>senjata perwira she Un yang benar-benar hebat itu.<BR>"Nah, ini senjataku, kau mau apa?" bentaknya.<BR>"Aku akan mainkan senjata ini dan kau boleh mencoba untuk menirunya,"  kata<BR>Cin Hai dengan gagah, lalu dengan sikap dibikin-bikin ia menerima toya besar dan<BR>hebat itu, mengangkat dengan kedua tangan dan mempergunakan sikap seakan-akan ia<BR>hampir tidak kuat  mengangkat toya  itu. Semua orang  tertawa geli  dan Kwee  An<BR>memandang dengan wajah pucat. Tak ia sangka bahwa Cin Hai setolol ini.<BR>"Celaka, budak tolol  itu kali  ini benar-benar membikin  malu kita!"  kata<BR>Kwee Tiong  dengan mendongkol  sekali.  Tetapi Cin  Hai  lalu memutar  toya  itu<BR>beberapa kali dan aneh! Ketika ia memutar toya itu, terdengarlah suara  mengaung<BR>yang hebat.  Setelah  Cin Hai  menghentikan  putaran toya  dan  mengembalikannya<BR>kepada Un Kong Sian dengan napas terengah-engah, maka berhentilah suara mengaung<BR>itu.<BR>"Nah, coba kautiru perbuatanku tadi. Hendak kulihat apakah tenagamu sebesar<BR>tenagaku!" Kembali semua orang  tertawa, akan tetapi  mereka masih merasa  heran<BR>mengapa Cin Hai dapat memutar  toya sampai mengeluarkan suara mengaung,  padahal<BR>baru mengangkat saja sudah hampir  tidak kuat. Sebenarnya, dengan diam-diam  Cin<BR>Hai menyembunyikan sulingnya  di belakang  toya dan ketika  ia memutar  toyanya,<BR>dengan  khikang  yang  tinggi  ia  meniup  ke  arah  lubang  suling  itu  hingga<BR>menerbitkan suara mengaung.<BR>Un  Kong  Sian  menerima  toyanya   dan  memutarnya  begitu  cepat   hingga<BR>mendatangkan angin keras, akan tetapi mana bisa toya itu mengaung seperti suling<BR>ditiup! Paling hebat toya itu hanya mengeluarkan suara mengiuk saja.<BR>"Aha, engkau kurang kuat,  sobat! Engkau tidak  bisa memutar toyamu  sampai<BR>mengeluarkan angin mengaung!"<BR>"Bangsat tolol!"  Un Kong  Sian  marah sekali,  lalu ia  gunakan  tenaganya<BR>menancapkan toyanya  yang berat  itu ke  lantai, dan  toya itu  menancap  sampai<BR>setengahnya di lantai yang  keras itu! "Lihatlah tenagaku  dan siapa yang  dapat<BR>mencabut toya  ini, barulah  berharga  melayani aku!"  Kwee An  terkejut  sekali<BR>melihat kehebatan tenaga gwakang ini dan inilah yang dimaksudkan oleh Cin Hai.<BR>"Aha, benar-benar  engkau hebat,  Un-ciangkun. Engkau  seperti Thio  Hwie!"<BR>Thio Whie adalah seorang tokoh yang gagah dan kuat sekali dalam cerita Sam  Kok.<BR>"Di dalam ruangan  ini hanya satu  orang saja yang  dapat menandingi engkau  dan<BR>orang itu bukanlah Kwee An yang masih muda belia ini!"<BR>"Cin Hai, engkau mundurlah.  Biarpun Un-ciangkun kuat  dan gagah, aku  yang<BR>bodoh masih akan mencoba minta pelajarannya," kata Kwee An dengan berani  karena<BR>anak muda ini tentu saja tidak sudi memperlihatkan rasa jerih terhadap lawannya.<BR>"Nah, mundurlah pemuda tolol! Kwee-kongcu  ini jauh lebih berani dan  gagah<BR>daripada engkau yang hanya pandai bicara dan mengacau!" kata Un Kong Sian.<BR>"Eh, eh  mana bisa!  Engkau sudah  berkata bahwa  yang bisa  mencabut  toya<BR>inilah yang hendak engkau layani."<BR>"Akan kucoba untuk mencabutnya!"  Kata Kwee An  sambil melangkah maju.  Cin<BR>Hai menjadi bingung dan sibuk. Celaka, tak disangkanya bahwa Kwee An sekeras itu<BR>hatinya dan ia percaya Kwee An pasti  akan dapat mencabut toya itu. Maklum  akan<BR>peringatan Biauw Suthai dan tahu pula  betapa bahayanya bagi Kwee An  menghadapi<BR>orang she  Un ini,  karena orang  she Un  ini mempunyai  muka yang  membayangkan<BR>kekejaman, tanda  bahwa hatinya  telengas sekali,  maka jika  mereka  bertempur,<BR>banyak bahayanya Kwee An akan terluka atau terbunuh! Ia lalu melangkah maju  dan<BR>berkata,<BR>"Nanti dulu! Aku  tadi telah  berkali-kali dihinanya,  biarkan aku  mencoba<BR>dulu untuk mencabut toya ini! Apa sih susahnya mencabut kayu gapuk ini?"<BR>Dengan lagak dibuat-buat Cin  Hai menghampiri toya  itu, sedangkan Un  Kong<BR>Sian lalu melangkah mundur dan memandang  dengan mata menghina dan kedua  lengan<BR>tangan bersilang. Cin  Hai pura-pura mengerahkan  tenaga mencabut. Akan  tetapi,<BR>jangan kata tercabut, tergoyang  pun tidak toya itu.  Semua orang yang  menonton<BR>tertawa geli dan kini mereka mentertawakan  Cin Hai yang mukanya menjadi  pucat.<BR>Sebenarnya, Cin Hai  betul-betul telah  mengerahkan tenaga,  akan tetapi  tenaga<BR>lweekang yang disalurkan  di kedua tangannya,  hingga diam-diam tanpa  diketahui<BR>siapa pun ia telah dapat mematahkan ujung toya yang terpendam di lantai.<BR>Ia lalu  bangun dan  menjura  kepada Un  Kong Sian.  "Tenagamu  betul-betul<BR>hebat. Aku tidak kuat mencabut!" katanya sambil terengah-engah.<BR>Kwee An  merasa malu  sekali melihat  sikap Cin  Hai. Dengan  penasaran  ia<BR>hendak mencuci malu di pihaknya yang ditimbulkan oleh Cin Hai. Ia melangkah maju<BR>dan membetot toya itu.  Alangkah hebatnya ketika ia  dapat membetot keluar  toya<BR>itu tanpa banyak mengeluarkan tenaga.<BR>Tepuk sorak riuh menyambut kejadian ini dan semua orang memuji tenaga  Kwee<BR>An yang  dianggap luar  biasa dan  besar  sekali, sedangkan  Un Kong  Sian  juga<BR>memandang pucat. Tak  mungkin pemuda  itu memiliki  tenaga sedemikian  hebatnya.<BR>Juga Cin  Hai  bertepuk-tepuk  gembira  sambil tertawa  dan  sama  sekali  tidak<BR>menghiraukan pandangan  mata Kwee  An yang  menyelidik dan  ditujukan  kepadanya<BR>dengan penuh kecurigaan.<BR>Tiba-tiba Un  Kong Sian  mengangkat kedua  tangannya ke  atas dan  merampas<BR>toyanya lalu mengangkat tinggi-tinggi. "Cuwi sekalian lihatlah! Kwee-kongcu  ini<BR>tidak mencabut keluar toyaku, akan tetapi ia telah mematahkannya! Tentu saja hal<BR>ini tidak aneh."<BR>Kwee An tercengang lagi. Ia sama  sekali tidak mematahkan toya itu,  tetapi<BR>benar saja, ketika ia memandang, ternyata bahwa ujung toya itu telah patah. Kini<BR>ia dapat menduga bahwa sengaja Cin Hai mencegahnya bertempur melayani orang  she<BR>Un ini.  Akan  tetapi,  benarkah  Cin Hai  demikian  lihai,  dan  apa  maksudnya<BR>bertempur melawan Un Kong Sian?<BR>"Betul, betul!" kata  Cin Hai  dengan suara  keras. "Ujung  toya itu  telah<BR>patah. Terang bahwa  Kwee An tidak  dapat mencabut toya  itu, maka tidak  pantas<BR>melayanimu. Ada orang lain yang lebih tepat menghajarmu."<BR>Bukan main marahnya Un  Kong Sian karena toyanya  telah patah. "Siapa  dia?<BR>Suruh maju lekas!" bentaknya. "Sabarlah orang  she Un. Kalau kau mencari  lawan,<BR>pinni bersedia melayanimu!" Dan tahu-tahu Biauw Suthai telah berada di situ. Cin<BR>Hai cepat membetot tangan Kwee An dan dibawa pergi dari situ.<BR>"Aku hanya  melakukan  perintah  Biauw  Suthai."  bisik  Cin  Hai  menjawab<BR>pandangan mata Kwee An yang penasaran dan curiga kepadanya.<BR>Sementara itu,  ketika  melihat  seorang tokouw  yang  berwajah  buruk  dan<BR>mengerikan berdiri di depannya, Un Kong Sian lalu merangkapkan kedua tangan  dan<BR>bertanya,<BR>"Siapakah Toa-suthai yang hendak memberi pelajaran kepadaku?"<BR>"Orang-orang  memanggilku  Biauw  Suthai."  Diam-diam  hati  Un  Kong  Sian<BR>berdebar karena ia telah mendengar nama besar Biauw Suthai, akan tetapi ia  sama<BR>sekali tidak merasa jerih.<BR>"Kebetulan sekali. Telah lama aku mendengar nama Biauw Suthai yang tersohor<BR>dan ingin sekali merasai kelihaiannya. Tidak tahu Suthai hendak bertempur dengan<BR>tangan kosong atau dengan senjata?"<BR>"Toyamu telah  patah, maka  tidak  adil kalau  pinni mengajak  kau  bermain<BR>senjata."<BR>"Bagus, kalau begitu marilah kita menguji kepandaian tangan!" Tanpa  banyak<BR>cakap lagi Un  Kong Sian  lalu maju menyerang  dan kedua  tokoh persilatan  yang<BR>memiliki kepandaian tinggi itu segera bertempur dengan seru.<BR>Dalam hal ilmu silat, Biauw  Suthai memiliki kepandaian yang tinggi  sekali<BR>dan pengalaman pertempuran  yang luas, akan  tetapi terhadap Un  Kong Sian  yang<BR>memiliki tenaga hebat itu, ia telah bertemu dengan tandingannya. Gerakan pukulan<BR>kedua orang ini mendatangkan angin dan membuat para penonton menahan napas. Juga<BR>Cin Hai tidak  berani berjenaka lagi  karena ia maklum  betapa kepandaian  kedua<BR>orang itu  benar-benar  hebat  dan masing-masing  menghadapi  lawan  yang  berat<BR>sekali. Setelah bertempur puluhan jurus, Biauw Suthai yang lihai itu telah dapat<BR>memukul dua kali kepada pundak dan dada lawannya, akan tetapi kekuatan tubuh  Un<BR>Kong Sian demikian hebat hingga perwira itu hanya terhuyung saja dan terus nekad<BR>menyerang lagi. Cin Hai merasa terkejut  karena ia maklum bahwa biarpun di  luar<BR>tidak kelihatan  terluka  parah dikarenakan  kekebalan  orang itu,  akan  tetapi<BR>pukulan Biauw Suthai yang disertai tenaga lweekang ini tentu telah  mendatangkan<BR>luka di sebelah dalam.<BR>Juga  Biauw  Suthai  merasa  sangat  penasaran.  Ia  gemas  sekali  melihat<BR>kenekatan orang yang sudah  terang mendapat luka, maka  ia lalu menyerang  makin<BR>hebat. Pada suatu saat, ketika Biauw Suthai mendapat kesempatan baik, tokouw itu<BR>lalu menggunakan jari  tangannya menotok  ke arah iga  kiri Un  Kong Sian,  akan<BR>tetapi alangkah terkejutnya ketika lawannya itu sama sekali tidak menangkis atau<BR>berkelit, bahkan berbareng pada saat itu juga membalas menyerang dengan  pukulan<BR>Ular Putih Menyambar Burung! Pukulan tangan  kanan Un Kong Sian dengan  hebatnya<BR>mengarah leher Biauw Suthai.<BR>Gerakan kedua orang ini cepat  sekali hingga tak mungkin dihindarkan  lagi.<BR>Biauw Suthai  memiringkan tubuh  hingga totokannya  tidak mengenai  tepat,  juga<BR>pukulan Un Kong Sian meleset dan  mengenai pundaknya. Akan tetapi pukulan  kedua<BR>orang ini  cukup hebat  untuk membuat  keduanya terpental  mundur. Biauw  Suthai<BR>dapat berdiri tegak lagi dengan napas memburu dan wajah pucat, sedangkan Un Kong<BR>Sian terhuyung-huyung ke belakang sambil tertawa seram, kemudian ia roboh sambil<BR>memuntahkan darah.<BR>Kawan-kawan Un Kong Sian segera maju dan menggotong perwira ini,  sedangkan<BR>Lin Lin  cepat  meloncat menghampiri  dan  menuntun gurunya  kembali  ke  tempat<BR>duduknya. Tokouw ini lalu  mengeluarkan sebungkus obat  putih dari saku  bajunya<BR>dan minum  obat itu  dengan segelas  air.  Kemudian tokouw  yang baik  budi  ini<BR>mengeluarkan tiga butir pil merah dan menyuruh Cin Hai memberikan pil itu kepada<BR>Un Kong Sian.<BR>Akan tetapi pemberian obat itu ditolak  oleh Ma Ing yang sudah  menyediakan<BR>obatnya sendiri guna  sutenya, kemudian Ma  Ing dengan muka  merah karena  marah<BR>maju ke kalangan.<BR>"Di  pihak  kami  hanya  aku  seorang.  Hayo  kau  keluarkan   jago-jagomu,<BR>Kwee-enghiong, dan kita sudahi adu kepandaian ini!"<BR>Kwee In Liang menjadi bingung sekali. Ia maklum bahwa kepandaian Ma Ing ini<BR>tinggi sekali  dan setelah  Biauw  Suthai terluka,  siapa lagi  yang  diharapkan<BR>bantuannya untuk menghadapi Ma Ing? Ma Ing agaknya tahu pula pihak keluarga Kwee<BR>sudah kehabisan jago maka dengan sombongnya ia berkata,<BR>"Kalau di  pihak tuan  rumah  tidak ada  jago  yang berani  menghadapi  aku<BR>seorang diri, boleh  kamu semua maju  berbareng. Boleh kalian  lihat aku Ma  Ing<BR>seorang diri cukup untuk melayani kamu sekeluarga!"<BR>Biarpun kepandaian Kwee  Tiong dan adik-adiknya  belum tinggi, akan  tetapi<BR>mendengar  ucapan  sombong  ini,  sambil  berseru  keras  mereka  meloncat  maju<BR>berbareng! Kwee Tiong,  Kwee Sin, Kwee  Bun, Kwee Siang  sambil memegang  pedang<BR>maju dan serentak menyerang tanpa dapat dicegah lagi! Ma Ing mengeluarkan  suara<BR>menghina dan sekali tubuhnya bergerak, sepasang tangan dan kakinya menendang dan<BR>dalam beberapa  gebrakan saja  empat  batang pedang  di  tangan Kwee  Tiong  dan<BR>adik-adiknya terpental  ke  atas lantai!  Dengan  kaget sekali  Kwee  Tiong  dan<BR>adik-adiknya melompat mundur  sambil memegangi tangan  mereka yang kena  pukulan<BR>dan tendangan!<BR>"Ha-ha-ha-ha! Segala tikus  kecil berani  mengganggu kumis  macan?" Ma  Ing<BR>menyindir.<BR>Sikap dan kata-katanya  yang sombong ini  memanaskan hati Ang  I Niocu  dan<BR>Kwee An. Kedua orang ini tanpa berjanji lebih dulu, tahu-tahu meloncat berbareng<BR>dan dengan pedang di tangan mereka berdua menyerang Ma Ing! Ma Ing lalu mencabut<BR>pedangnya dan bertempurlah tiga orang ini. Menghadapi keroyokan Kwee An dan  Ang<BR>I Niocu yang  memiliki kiam-hoat bagus  itu, Ma Ing  tidak berani main-main  dan<BR>melayani dengan sengit dan sebentar saja ia dapat mendesak kedua anak muda!<BR>Kwee Tiong dan adik-adiknya kembali ke tempat semula dan Kwee Tiong  merasa<BR>marah dan sebal melihat betapa Cin  Hai memandannya dengan tersenyum dan  betapa<BR>pemuda itu  dengan enaknya  duduk memegang-megang  sulingnya! Orang  lain  sibuk<BR>melayani musuh, akan tetapi pemuda tolol itu hanya tersenyum mentertawakannya.<BR>"Kenapa kau tertawa?" tegurnya.<BR>"Aku kagum melihat kelihaian orang she  Ma itu yang dengan sekali  bergerak<BR>saja dapat merampas pedang kalian berempat!" jawab Cin Hai.<BR>Kwee Tiong  marah sekali  dan kalau  ia tidak  ingat bahwa  di situ  banyak<BR>orang, tentu ia sudah  mengirim kepalannya ke arah  Cin Hai. "Kau sendiri  orang<BR>tolol hanya duduk  diam dan kalau  bergerak hanya menimbulkan  malu, coba  lihat<BR>Kwee An.  Ia pantas  sekali bertempur  bersama Nona  itu melayani  musuh.  Tidak<BR>seperti engkau! Engkau tentulah menjadi pelayan dari Ang I Niocu, bukan?"<BR>"Tiong-ko, jangan  kau menghina  orang!" Lin  Lin menegur  kakaknya  sambil<BR>mendekati Cin Hai. "Engko Hai, Ang I Niocu dan Engko An terdesak, apa daya kita?<BR>"<BR>Cin Hai memandang kepada  Lin Lin dengan senyum  manis. "Adikku yang  baik,<BR>apakah kau ingin melayani orang she Ma itu?"<BR>Lin Lin mengerutkan alisnya  yang bagus. Ia  sungguh tidak segera  mengerti<BR>maksud kata-kata Cin  Hai ini.  "Ah, sedangkan  Ang I  Niocu dan  Engko An  yang<BR>memiliki  kepandaian  tinggi  masih  terdesak  olehnya,  apalagi  aku!   Kulihat<BR>kepandaian orang she Ma itu tidak di sebelah bawah guruku!"<BR>Cin Hai bangun dari  duduknya. "Lin-moi, kausiapkan  pedangmu dan mari  kau<BR>kuantar melawan orang  she Ma itu.  Kalau kau tidak  dapat merobohkannya  jangan<BR>kaupanggil aku Engko Hai lagi!" kata-katanya disertai senyum mesra kepada  gadis<BR>yang masih  memandangnya dengan  mata terbelalak.  "Lin Lin  benarkah kau  tidak<BR>percaya kepadaku?" tanya Cin Hai sungguh-sungguh.<BR>"Aku percaya kepadamu, Hai-ko. Mari kita maju!"<BR>Lin Lin dan Cin Hai lalu maju ke kalangan pertempuran.<BR>"Niocu!  Saudara  Kwee!  Kalian  mundurlah  biar  aku  dan  Adik  Lin   Lin<BR>menggantikanmu!"<BR>Mendengar  kata  ini,  Ma  Ing  menunda  serangannya  karena  heran  sekali<BR>mendengar bahwa pemuda tolol itu hendak maju. Dan kesempatan ini digunakan  oleh<BR>Ang I Niocu dan Kwee An untuk melompat mundur ke belakang.<BR>"Hai-ji, ia lihai sekali,  jangan kau main-main!" kata  Ang I Niocu  kepada<BR>Cin Hai.<BR>"Lin Lin dia bukan lawanmu!" kata Kwee An memperingatkan Lin Lin.<BR>Akan tetapi, baik Cin Hai maupun Lin Lin tidak mempedulikan peringatan ini.<BR>Lin  Lin  mencabut  pedangnya  dan  maju  bersama-sama  Cin  Hai  yang  memegang<BR>sulingnya.<BR>"Eh orang she Ma! Apa kau berani menghadapi aku dan Kwee-siocia ini?"<BR>"Ha, ha, ha! Orang  tolol! Kau agaknya sudah  bosan hidup! Ingat, kali  ini<BR>aku tidak  mau  mengampuni kau  pengacau  ini. Majulah!  Jangankan  baru  kalian<BR>berdua, biar kau tambah seratus orang lagi, aku Ma Ing takkan gentar."<BR>"Nah, kau bersiaplah!" kata  Cin Hai dan  ia menggerakkan sulingnya  dengan<BR>sembarangan menusuk ke  arah dada  Ma Ing! Ma  Ing segera  melangkah mundur  dan<BR>tertawa bergelak-gelak.<BR>"Kau bersenjata suling? Ha, ha! Ah, kau benar-benar sudah gila, anak  muda.<BR>Tukarkan senjatamu dengan pedang atau lain senjata tajam."<BR>"Tak  usah,  orang  sombong.  Aku  tak  akan  melukaimu  karena  yang  akan<BR>menyerangmu hanya Kwee-siocia  ini, aku hanya  menghalangi serbuanmu saja  untuk<BR>apa menggunakan senjata tajam?"<BR>Tidak  hanya  Ma  Ing,  akan  tetapi  semua  orang  yang  berada  di   situ<BR>menggeleng-gelengkan kepala  karena menyangka  bahwa benar-benar  Cin Hai  sudah<BR>gila!  Hanya  Biauw  Suthai  seorang   yang  berkata  kepada  Kwee  Tiong   yang<BR>membanting-banting kaki  melihat  lagak  Cin Hai,  "Kwee-kongcu,  kau  tenanglah<BR>karena sekarang  Ma Ing  benar-benar  akan kehilangan  muka!" Kwee  Tiong  heran<BR>sekali mendengar  kata-kata ini  akan tetapi  terhadap guru  Lin Lin  ini  tidak<BR>berani banyak cakap.<BR>"Cuwi sekalian, semua orang hendaknya  menjadi saksi bahwa pemuda gila  ini<BR>mencari matinya sendiri.  Aku takkan  mengganggu Kwee-siocia  akan tetapi  kalau<BR>hari ini aku tak dapat membunuh anak gila ini, janganlah orang memanggil  namaku<BR>Ma Ing lagi!" Setelah berkata demikian,  Ma Ing lalu menyerang dengan  pedangnya<BR>dan benar saja, ia  menujukan serangannya yang hebat  itu kepada Cin Hai  dengan<BR>sebuah tusukan kilat ke arah dada pemuda itu! Semua orang menjerit ngeri  karena<BR>telah terbayang di depan  mata betapa dada Cin  Hai akan tertembus pedang,  akan<BR>tetapi Cin Hai juga menjerit,  "Aya..." sambil menggunakan gerakan Monyet  Jatuh<BR>Dari Cabang, tubuhnya terhuyung ke belakang dengan gerakan canggung, akan tetapi<BR>tubuhnya terluput dari pada tusukan pedang. Sambil terhuyung-huyung ini Cin  Hai<BR>berkata,<BR>"Wah, galak... galak...! Lin-moi, lekas kau serang dia!"<BR>Lin Lin tak perlu diperintah lagi karena melihat desakan Ma Ing kepada Ciri<BR>Hai, ia  sudah  merasa  khawatir  sekali  dan  cepat  mengirim  serangan  dengan<BR>pedangnya. Ma  Ing  hendak  menangkis  akan  tetapi  tiba-tiba  Cin  Hai  meniru<BR>gerakannya tadi dan menusuk ke arah  punggungnya dengan suling itu. Terpaksa  Ma<BR>Ing mengelak dari serangan  Lin Lin dan cepat  memutar tubuh menghadapi Cin  Hai<BR>lagi dan hendak membacok suling itu dengan pedang, akan tetapi tiba-tiba  suling<BR>yang ditusukkan itu dirobah lagi dan kini  Cin Hai juga membacok ke arah  lengan<BR>tangan Ma  Ing  yang memegang  pedang.  Gerakan  pemuda ini  sama  betul  dengan<BR>gerakannya dan tiba-tiba tangan Ma Ing terpukul oleh suling yang dibacokkan itu.<BR>Ma Ing terkejut sekali karena biarpun suling itu hanya terbuat dari pada  bambu,<BR>akan tetapi  tangannya  merasa sakit  sekali.  Ia cepat  memutar  pedangnya  dan<BR>menyerang Cin Hai  dengan serangan  kilat, akan tetapi,  tiba-tiba ia  memandang<BR>dengan mata  terbelalak,  karena Cin  Hai  juga bersilat  persis  ilmu  silatnya<BR>sendiri.<BR>Orang-orang yang menonton menjadi  terheran-heran dan menganggap bahwa  Cin<BR>Hai hanya meniru-niru  gerakan Ma  Ing, akan tetapi  Ma Ing  sendiri hampir  tak<BR>dapat mempercayai matanya karena gerakan  Cin Hai malah lebih sempurna  daripada<BR>gerakannya sendiri. Maka ia cepat meloncat mundur dan berseru.<BR>"Tahan dulu!  Ehh, pemuda  tolol,  sebenarnya kau  ini murid  siapakah  dan<BR>darimana kau  dapat mainkan  Pek-coa-kiam-hoat?" Pek-coa-kiam-hoat  adalah  ilmu<BR>pedang yang dimainkan oleh Ma Ing tadi.<BR>Cin Hai  pura-pura  memandang  heran.  "Orang she  Ma,  mengapa  kau  masih<BR>bertanya lagi? Aku mempelajari ilmu pedang ini darimu sendiri!"<BR>"Bangsat penipu!  Kapan aku  memberi pelajaran  kepadamu?" Ma  Ing  berseru<BR>marah,<BR>"Bukankah baru saja  kau telah memperlihatkan  ilmu pedangmu?" jawaban  Cin<BR>Hai ini memang sebenarnya saja, karena ilmu silat apapun juga jika  dipergunakan<BR>untuk menyerangnya, maka otomatis ia akan dapat menirunya karena ia telah  kenal<BR>akan pokok-pokok dasar segala macam gerakan silat.<BR>"Anak muda, ternyata kau  hanya berpura-pura tolol  saja. Kalau kau  memang<BR>laki-laki, jangan  maju keroyokan.  Aku  kuatir kalau  sampai salah  tangan  dan<BR>melukai Kwee-siocia," kata Ma Ing.<BR>Cin Hai memandang kepada Lin Lin. "Mundurlah kau, Adik Lin, monyet tua  ini<BR>takut kepada pedangmu, biariah aku yang melayaninya sendiri!"<BR>"Tapi, Hai-ko..." kata Lin Lin ragu-ragu karena ia merasa kuatir sekali.<BR>Tiba-tiba Cin  Hai  mengejapkan  matanya  kepada  gadis  itu  dan  mulutnya<BR>tersenyum.  "Tidak  percaya  kau  kepadaku?"   Gadis  itu  tak  menjawab,   lalu<BR>mengangsurkan pedangnya.<BR>"Kaupakailah pedangku, Hai-ko!"<BR>"Tak usah, Adikku, cukup dengan suling  saja. Kalau perlu, aku sendiri  pun<BR>sudah mempunyai sebatang pedang."<BR>Lin Lin mengundurkan diri tetapi berdiri di pinggir kalangan untuk  menjaga<BR>kalau-kalau Cin Hai berada dalam bahaya.  Ma Ing lalu mengeluarkan seruan  keras<BR>dan tiba-tiba memutar  pedangnya bagaikan kitiran  cepatnya sehingga pedang  itu<BR>berubah menjadi segulungan sinar keputih-putihan yang menyerbu ke arah Cin Hai.<BR>"Bagus!" Cin Hai berseru dan ia lalu mengikuti gerakan lawan itu.  Tubuhnya<BR>mencelat ke sana  ke mari dan  suling diputar hingga  ketika ada angin  memasuki<BR>lubang suling itu, terdengarlah bunyi melengking yang aneh dan lucu.<BR>Baru sekarang semua penonton maklum bahwa pemuda ketololan ini sesungguhnya<BR>lihai sekali. Mereka bersorak-sorak karena  heran dan kagum dan keadaan  menjadi<BR>ramai dan riuh rendah sekali. Bahkan Kwee  In Liang, Pek I Toanio, Biauw  Suthai<BR>dan yang lain-lain  lalu berdiri dari  tempat duduk mereka  agar dapat  menonton<BR>lebih jelas! Sebaliknya, Kwee Tiong dan adik-adiknya lalu berdiri melongo  penuh<BR>keheranan. Kwee An mengangguk-anggukkan  kepala sambil berkata, "Ah,  kepandaian<BR>Cin Hai sepuluh kali lebih tinggi daripada kebisaanku."<BR>Ma Ing merasa pusing sekali karena ia tak berhasil mendesak kepada Cin Hai.<BR>Jangankan mendesak, menyerang pun sukar  baginya, karena pemuda itu dengan  aneh<BR>sekali telah mengetahui semua rahasia penyerangannya sebelum serangan itu sempat<BR>dilakukan. Tiap kali apabila pedangnya  berkelebat hendak menyerang, selalu  Cin<BR>Hai mendahuluinya dengan sulingnya ke arah pundak atau sambungan sikunya  hingga<BR>serangan-serangannya itu gagal sebelum dilancarkan. Sungguh aneh. Dan yang lebih<BR>gila, tiap serangan dibalas oleh Cin Hai dengan serangan yang sama pula.<BR>Ma Ing merasa  penasaran sekali.  Ia menganggap bahwa  pemuda ini  tentulah<BR>ahli dalam  ilmu Pedang  Pek-coa-kiam-hoat, maka  tiba-tiba ia  merubah  gerakan<BR>pedangnya dan memainkan limu  Pedang Pat-sian-kiam-hoat. Akan tetapi,  lagi-lagi<BR>ia kecele, karena  pemuda itu pun  telah kenal  baik ilmu pedang  ini dan  dapat<BR>melakukan ilmu  pedang ini  dengan sama  sempurna! Ia  mengubah-ubah terus  ilmu<BR>silatnya, dari ilmu  silat yang  terendah sampai  yang tertinggi  karena Ma  Ing<BR>memang memiliki  banyak  sekali ilmu  silat  yang  lihai, akan  tetapi  kini  ia<BR>benarbenar tidak mengerti, karena baru  saja ia mengganti gerakannya,  tiba-tiba<BR>pemuda itu pun mengganti ilmu silatnya yang sama dan sedikit pun tidak  berbeda.<BR>Masih seperti tadi, tiap-tiap serangannya tentu dibalas dengan serangan  semacam<BR>pula. Ma Ing merasa seakan-akan ia sedang bertempur melawan bayangannya  sendiri<BR>di dalam cermin. Dan yang lebih  celaka lagi, Cin Hai agaknya  mempermainkannya,<BR>karena telah beberapa  kali suling  itu berhasil memukulnya  dengan perlahan  di<BR>kepala, punggung, pundak, dan lain-lain  bagian tubuh lagi. Biarpun pukulan  ini<BR>perlahan sekali, akan  tetapi cukup  terasa pedas  dan yang  lebih terasa  perih<BR>adalah perasaan di dalam hatinya.<BR>"Orang she Ma, sudah beberapa  kali engkau kukemplang dengan suling,  masih<BR>belum mau  kalahkah  engkau?"  Cin  Hai  bertanya  dengan  ejekannya,  sedangkan<BR>sorak-sorai penonton makin  riuh karena sungguh-sungguh  mereka sama sekali  tak<BR>pernah menyangka  bahwa pemuda  tolol itu  benar-benar berkepandaian  sedemikian<BR>tingginya  hingga  berhasil  mempermainkan  Ma  Ing!  Juga  Biauw  Suthai   kini<BR>benar-benar kagum sekali dan menyatakan kekagumannya itu dengan kata-kata hingga<BR>terdengar oleh Ang I Niocu dan gadis itu berkata kepadanya.<BR>"Tidak heran bahwa ia demikian lihai,  karena ia adalah murid tunggal  dari<BR>Bu Pun Su Susiok-couw!" Mendengar ini,  terkejutlah Biauw Suthai dan tokouw  ini<BR>mengangguk-angguk maklum.<BR>Mendengar ejekan Cin Hai,  Ma Ing makin marah  dan menyerang dengan  nekad.<BR>Tiba-tiba Cin  Hai lalu  berkata,  "Ah, aku  sudah bosan,  Ma-ciangkun!  Biarlah<BR>engkau lelah sendiri, aku hendak mengaso!" Setelah berkata demikian Cin Hai lalu<BR>duduk bersila  di  tengah  kalangan  itu  sambil  meramkan  mata  seperti  orang<BR>bersamadhi! Semua  orang  merasa  heran  sekali  hingga  memandang  dengan  mata<BR>terbelalak tak pernah berkejap karena mereka tidak percaya bahwa Cin Hai  hendak<BR>menghadapi lawannya dengan duduk bersila sambil meramkan mata!<BR>Juga Ma Ing  merasa ragu-ragu,  akan tetapi  karena ia  telah merasa  lelah<BR>sekali dan hatinya  terasa sakit  dan mendongkol karena  telah dipermainkan,  ia<BR>menjadi mata gelap. Dengan mengertak gigi,  ia lalu membacok ke arah kepala  Cin<BR>Hai yang sedang duduk bersila sambil meramkan mata itu. Kwee An bergerak  hendak<BR>melompat dan menolong Cin Hai, akan tetapi ia ditahan oleh Biauw Suthai, dan Ang<BR>I Niocu yang telah mengetahui kelihaian Cin Hai. Juga Lin Lin telah siap  dengan<BR>pedangnya, akan tetapi tiba-tiba suling di tangan Cin Hai digerakkan dan  suling<BR>itu tidak menangkis pedang yang  menyambar kepalanya, bahkan mendahului  gerakan<BR>Ma Ing! Terpaksa  Ma Ing menahan  gerakannya dan membacok  dengan hebat ke  arah<BR>pundak Cin Hai.  Akan tetapi, dengan  mata masih meram,  sekali gerakkan  pundak<BR>saja pemuda itu  telah berhasil  mengelit bacokan itu  sambil berkata  perlahan,<BR>"Ah, Ma-ciangkun, engkau telah mendapat luka dalam, masih belum insafkah engkau?<BR>"<BR>Ma Ing kaget sekali dan menahan pedangnya. Ia memang merasa betapa di dalam<BR>dadanya terasa panas  dan yang membuatnya  tak enak sekali,  seperti orang  yang<BR>mual dan hendak muntah.<BR>"Rabalah iga kirimu dan engkau akan tahu!" kata Cin Hai lagi.<BR>Ma Ing seperti dalam mimpi lalu  menggunakan tangan kiri meraba iganya  dan<BR>terkejutlah ia karena iganya terasa sakit sekali dan ketika ia merobek  bajunya,<BR>ternyata di iga itu terdapat sebintik tanda merah sebesar jempol kaki! Ia maklum<BR>bahwa ia telah kena dilukai oleh Cin Hai, maka ia cepat menjura sambil  berkata,<BR>"Sungguh mataku seperti  buta dan  tidak melihat besarnya  Gunung Thai-san  yang<BR>menjulang di depan mata.  Sicu lihai sekali jadi  aku merasa takluk. Tidak  tahu<BR>siapakah sebenarnya Sicu ini, dan murid siapakah?"<BR>Cin Hai  lalu  menggunakan  kepandaiannya  hingga  dalam  keadaan  bersila,<BR>tahu-tahu tubuhnya dapat mumbul ke atas. Inilah demonstrasi tenaga khikang  yang<BR>jarang dipunyai oleh sembarang tokoh persilatan. Setelah berada di udara Cin Hai<BR>melepaskan kaki dan  berdiri. Ia membalas  pemberian hormat Ma  Ing dan  berkata<BR>sambil tersenyum,<BR>"Ma-ciangkun, siauwte bukanlah  orang yang ternama  besar. Siauwte  bername<BR>Cin Hai, she Sie dan orang memberi julukan kepada siauwte Pendekar Bodoh!"<BR>Orang-orang tertawa dan  memuji menyatakan heran  dan kagum karena  biarpun<BR>telah memiliki kepandaian  sehebat, itu,  namun ternyata Cin  Hai tidak  menjadi<BR>sombong bahkan merendahkan diri serta bersikap ketolol-tololan.<BR>"Kau sungguh pandai menyembunyikan  kepandaian, Sicu. Siapakah nama  Suhumu<BR>yang mulia?" tanya Ma Ing lagi yang  kini benar-benar telah mati kutu dan  tidak<BR>berani bersikap sombong.<BR>"Suhuku lebih bodoh lagi daripadaku,  ia tak memiliki kepandaian  apa-apa."<BR>Ma Ing menjadi pucat mendengar ini, karena guru pemuda ini tentu kakek jembel Bt<BR>Pun Su yang  berarti tidak punya  kepandaian! Ia lalu  menjura lagi dan  berkata<BR>"Terima kasih atas pengajaranmu, biarlah lain kali kalau ada jodoh kita  bertemu<BR>kembali." Ma Ing lalu mengajak kawan-kawannya pergi dari situ.<BR>Setelah lima  orang  perwira  itu  pergi, semua  orang  lalu  merubung  dan<BR>memuji-muji Cin Hai. Lebih-lebih  Lin Lin, gadis ini  tanpa malu-malu lagi  lalu<BR>memegang tangan Cin Hai dan menariknya ke arah ayahnya.<BR>"Ayah, coba lihat Engko  Hai ini! Sejak pertama  bertemu aku telah  menduga<BR>bahwa ia memiliki  kepandaian hebat!" kata  gadis itu dengan  wajah berseri  dan<BR>mata bersinar-sinar.  Kwee In  Liang hanya  mengangguk-angguk dan  dengan  suara<BR>terharu berkata,<BR>"Terima kasih, Hai-ji. Kau telah menyelamatkan kami sekeluarga."<BR>Loan Nio memeluk keponakannya dengan  girang dan terharu. Akan tetapi  pada<BR>saat itu, dari luar terdengar seruan-seruan kaget dan tiba-tiba terdengar  suara<BR>orang tertawa. Suara ini menyeramkan sekali dan Cin Hai juga merasa kaget sekali<BR>karena ia kenal  suara ini! Ia  cepat melepaskan diri  dari pelukan bibinya  dan<BR>melompat keluar.  Ternyata di  situ telah  berdiri Hek  Moko dan  Pek Moko  yang<BR>tertawa bagaikan dua orang gila!<BR>"Ha, ha! Anak  muda, kebetulan sekali  kita dapat bertemu  di sini.  Engkau<BR>ternyata telah  mewarisi kepandaian  Bu  Pun Su  Si  Kakek Gila.  Marilah,  kita<BR>main-main sebentar!"<BR>"Ji-wi Locianpwe," kata  Cin Hai  dengan sabar  dan suara  sungguh-sungguh.<BR>"Kita tak pernah bermusuhan, untuk apa  kita harus bermain-main yang hanya  akan<BR>menimbulkan  buah  tertawaan  orang  belaka?"  Suara  Cin  Hai  kini   terdengar<BR>berpengaruh tidak seperti tadi ketika ia mempermainkan para perwira itu. Lin Lin<BR>dan Ang I Niocu tahu-tahu sudah berdiri di kanan-kirinya.<BR>"Anak muda, tak perlu  banyak cerewet!" Pek  Moko membentak. "Gurumu  telah<BR>berhutang kepada kami dan sekarang kaulah yang harus membayar!" Setelah  berkata<BR>demikian, mereka berdua mencabut  keluar pedang mereka  yang mengerikan itu  dan<BR>juga mereka mengeluarkan senjata tasbeh lalu menyerang dengan hebat ke arah  Cin<BR>Hai!  Terpaksa  Cin   Hai  mencabut   pedang  pemberian   suhunya  dulu,   yaitu<BR>Liong-coan-kiam, dan  ia  lalu  menggerakkan  pedangnya  meniru  gerakan-gerakan<BR>lawannya itu! Tiga  orang ini bertempur  dengan hebat dan  sebentar saja  mereka<BR>bertiga lenyap  dari pandangan  mata dan  hanya nampak  debu mengepul  dan  tiga<BR>bayangan pedang  bercampur menjadi  satu! Melihat  pertempuran yang  luar  biasa<BR>hebatnya ini, baik Lin Lin maupun Ang I Niocu tak berdaya untuk membantu  karena<BR>kedua-duanya maklum bahwa  jika mereka  membantu, tidak  hanya sangat  berbahaya<BR>bagi mereka, bahkan itu takkan menolong Cin Hai, malah mungkin akan  mengacaukan<BR>pertahanannya.<BR>Ang I Niocu mengerling ke arah Lin Lin dan ia melihat betapa gadis muda ini<BR>meremas-remas kedua  tangannya dan  dengan wajah  pucat serta  kedua mata  basah<BR>dengan air mata memandang ke  arah bayangan-bayangan yang bergulung-gulung  itu!<BR>Ang I  Niocu merasa  betapa  hatinya tiba-tiba  menjadi perih  seperti  tertusuk<BR>pedang. Ia maklum bahwa gadis  muda yang manis ini  jatuh cinta kepada Cin  Hai!<BR>Keperihan hati ini membuat ia menjadi nekad. Dengan pedang di tangan ia menyerbu<BR>dan kini gulungan sinar pedang itu bertambah dengan sinar merah.<BR>"Niocu, kau  mundur!" Terdengar  seruan Cin  Hai yang  berpengaruh  sekali.<BR>Tiba-tiba bayangan merah itu terlempar ketika pedangnya beradu dengan tasbeh Pek<BR>Moko, hampir saja ia mendapat celaka.<BR>Setelah bertempur agak  lama lagi, tiba-tiba  terdengar teriakan ngeri  dan<BR>tahu-tahu gulungan  sinar pedang  Hek  Moko dan  Pek  Moko telah  mengendur  dan<BR>tiba-tiba kedua iblis itu sambil berteriak-teriak kesakitan lari dari situ!  Cin<BR>Hai berdiri dengan  wajah pucat dan  pedang di tangan  kanannya bergetar  karena<BR>tangan yang memegang itu menggigil!<BR>Ang I Niocu memburu, akan  tetapi ia kalah dulu  dengan Lin Lin. Gadis  ini<BR>memeluk  tubuh  Cin  Hai  yang  berdiri  bagaikan  patung  itu  sambil   berseru<BR>berkali-kali,<BR>"Engko Hai... Engko... Hai... kau kenapakah?"<BR>Cin Hai memandang Lin  Lin dengan tersenyum lalu  mengerling ke arah Ang  I<BR>Niocu yang juga telah mendekatinya, tapi tiba-tiba pemuda ini meringis kesakitan<BR>dan jatuh pingsan!  Untunglah Lin  Lin cepat  menyambarnya dan  gadis ini  tanpa<BR>malu-malu lagi lalu memondong tubuh Cin Hai dibawa masuk ke dalam rumah.<BR>Para tamu dan tuan rumah menjadi panik dan bingung. Cin Hai telah  mendapat<BR>luka di dalam  tubuh karena pukulan  tasbeh Hek Moko,  akan tetapi ujung  pedang<BR>Liong-coan-kiam juga terdapat tanda darah  yang menyatakan bahwa pemuda ini  pun<BR>telah berhasil melukai kedua lawannya yang tangguh!<BR>Kwee In  Liang lalu  minta maaf  kepada semua  tamunya dan  para tamu  lalu<BR>bubaran dan tiada habis-habisnya mereka membicarakan tentang Pendekar Bodoh yang<BR>luar biasa dan lihai itu! Dalam perjamuan itu, mereka benar-benar telah disuguhi<BR>pertunjukan silat yang luar biasa hebatnya!<BR>Cin Hai dibaringkan dalam sebuah kamar Lin Lin, dan Loan Nio duduk menangis<BR>di dekatnya, sedangkan  Ang I  Niocu juga berdiri  di situ  dengan wajah  pucat.<BR>Biauw Suthai yang pandai akan  ilmu pengobatan melakukan pemeriksaan pada  tubuh<BR>Cin Hai dan ternyata bahwa  Cin Hai telah kena  pukul tasbeh di pundak  kanannya<BR>hingga menderita luka dalam yang hebat juga.<BR>"Tak perlu kuatir," kata Biauw Suthai, "Kalau orang lain yang terkena  luka<BR>ini, tentu akan melayang  jiwanya. Akan tetapi anak  muda ini benar-benar  telah<BR>mendapat latihan  khikang  yang  tinggi  hingga  luka  ini  takkan  membahayakan<BR>jiwanya." Ia lalu mengeluarkan tiga belas butir pel putih dan memberikan pel itu<BR>kepada Lin Lin.  "Berikan pil ini  sehari tiga  butir dan jika  semua pil  telah<BR>ditelan habis tentu ia akan sembuh kembali!"<BR>Lin Lin cepat  menerima pel itu  dan dengan cekatan  sekali gadis ini  lalu<BR>pergi ke  dapur  mengambil  air  panas,  lalu  dengan  kedua  tangannya  sendiri<BR>memasukkan pel  itu ke  dalam mulut  Cin Hai  dan memberinya  minum air.  Dengan<BR>sangat mesra gadis ini lalu menggunakan saputangannya untuk menyusut peluh  yang<BR>berkumpul di jidat Cin Hai hingga  melihat gerakan-gerakan yang mesra ini,  Loan<BR>Nio tak  dapat menahan  keharuan  hatinya lagi.  Ia lalu  menangis  tersedu-sedu<BR>sambil memeluk pundak Lin Lin. Gadis ini merasa heran dan memandang muka bibinya<BR>dengan tidak mengerti, akan  tetapi ketika melihat  betapa semua mata  ditujukan<BR>kepadanya, ia  lalu menjadi  insyaf  bahwa telah  berlaku terlalu  mesra  hingga<BR>tiba-tiba air mukanya berubah kemerah-merahan karena jengah dan malu!<BR>Tiba-tiba Lin Lin  teringat kepada Ang  I Niocu karena  ia hendak  bertanya<BR>kepada Dara Baju  Merah ini tentang  riwayat Cin Hai  dan segala  pengalamannya,<BR>akan tetapi ketika ia  memandang, ternyata Dara Baju  Merah ini tidak berada  di<BR>dalam kamar lagi! Ia cepat mengejar ke luar, akan tetapi tidak terlihat bayangan<BR>Ang I Niocu! Lin Lin  bertemu dengan Kwee Tiong di  ruang depan dan ia  bertanya<BR>kepada kakaknya ini barangkali melihat Ang I Niocu.<BR>"Ia telah pergi dan  minta supaya aku menyampaikan  kepada Ayah dan  kepada<BR>semua orang. Agaknya ia sebal melihat  engkau yang begitu tidak tahu malu.  Atau<BR>barangkali ia  cemburu,  karena tidak  melihatkah  kau betapa  mesra  dan  akrab<BR>hubungan antara dia dengan Cin Hai?" Kwee Tiong yang mempunyai hati iri  melihat<BR>kegagahan Cin Hai, mulai menyebar  racun di hati Lin  Lin akan tetapi gadis  ini<BR>dengan muka merah dan pandangan mata bersinar menjawab,<BR>"Engko Tiong,  kau tidak  berhak  ikut campur  segala urusanku.  Engko  Hai<BR>adalah keluarga kita sendiri dan ia  dengan gagah berani telah berhasil  membela<BR>nama baik kita, tidak pantaskah kalau  aku berlaku baik kepadanya?" Dengan  muka<BR>cemberut gadis ini meninggalkan kakaknya dan kembali ke kamar Cin Hai.<BR>Biauw Suthai  dan Pek  I  Toanio serta  lain-lain  tamu lalu  berpamit  dan<BR>meninggalkan rumah keluarga Kwee. Lin Lin dengan telaten sekali menjaga Cin  Hai<BR>dan tidak menurut perintah ayahnya yang menyuruh ia mengaso. Melihat  kebandelan<BR>anaknya ini, Kwee In Liang hanya menggeleng kepala dan menghela napas saja, lalu<BR>ia meninggalkan kamar itu dengan muka muram.<BR>Benar seperti ucapan Biauw Suthai, setelah diberi makan obat pel itu,  pada<BR>keesokan harinya  Cin Hai  siuman  dari pingsannya.  Pemuda ini  merasa  terharu<BR>melihat kebaikan  Lin  Lin yang  sudah  memelihara dan  menjaganya  selama  itu.<BR>Diam-diam ia  merasa bersyukur  sekali dan  cinta kasih  yang bersemi  di  dalam<BR>hatinya terhadap Lin  Lin makin  mendalam dan berakar.  Bibinya juga  seringkali<BR>datang menengok,  sedangkan  pamannya biarpun  tiap  hari sedikitnya  satu  kali<BR>datang menjenguk, akan tetapi bersikap  dingin. Sedangkan Kwee Tiong, Kwee  Sin,<BR>Kwee Bun dan Kwee Siang  tak pernah datang menengok.  Hanya Kwee An yang  sering<BR>datang dan tiap kali  mereka bercakap-cakap, Kwee  An selalu memuji-mujinya  dan<BR>minta supaya kelak Cin Hai suka memberi petunjuk dalam ilmu silat kepadanya.<BR>Pada hari ke tiga, Cin Hai keluar  dari kamarnya dan mencari hawa sejuk  di<BR>belakang rumah yang mempunyai sebuah taman yang luas dan indah. Ia teringat akan<BR>Ang I Niocu dan memikir dengan heran mengapa gadis itu pergi tanpa pamit. Ketika<BR>diberitahu oleh Lin  Lin akan  kepergian Ang I  Niocu ia  hanya merasa  menyesal<BR>mengapa Gadis  Baju Merah  itu tidak  memberitahukan kepergiannya  sedangkan  ia<BR>masih pingsan.  Akan tetapi  ia tidak  kecewa. Ia  tidak mengerti  mengapa  kini<BR>setelah berkumpul dengan ie-ienya dan dengan Lin Lin, kerinduannya terhadap  Ang<BR>I Niocu  lenyap. Ia  tidak tahu  bahwa dulu  ia hidup  sebatang kara  dan  hanya<BR>mempunyai teman Ang I Niocu, tetapi sekarang ia telah berada di rumah Loan  Nio,<BR>bibinya yang sangat cinta kepadanya itu, dan di sini ada pula Lin Lin yang telah<BR>dapat merebut hatinya dengan diam-diam.<BR>Ketika  ia   sedang  duduk   melamun,  tiba-tiba   terdengar  suara   merdu<BR>memanggilnya, "Engko Hai... Engko Hai..."<BR>Cin Hai tersenyum.  Ia mengenal  baik suara Lin  Lin, akan  tetapi ia  diam<BR>saja, bahkan ia  lalu duduk di  bawah sebatang pohon  dalam taman itu.  Akhirnya<BR>suara panggilan Lin Lin terdengar penuh kekhawatiran, maka hati Cin Hai  menjadi<BR>tidak tega. Ia lalu menjawab, "Aku berada di sini!"<BR>Lin Lin berlari-lari menghampiri dan wajah gadis ini menjadi merah, matanya<BR>bersinar, akan tetapi mulutnya cemberut.<BR>"Engko Hai, engkau nakal sekali.  Mengapa engkau diam saja dan  bersembunyi<BR>di sini? Kukira engkau..."<BR>"Kaukira apa?"<BR>"Kukira engkau pergi  tanpa pamit,  seperti Ang  I Niocu..."  Lin Lin  lalu<BR>menjatuhkan diri duduk di dekat Cin Hai.<BR>"Kalau aku pergi, kenapakah?" "Kalau engkau pergi, aku... ahh... ah,  Engko<BR>Hai jangan menanyakan yang bukan-bukan. Kau  lupa belum menelan pil ini!"  Gadis<BR>itu lalu mengeluarkan  sebutir pil dari  sakunya dan memberikan  itu kepada  Cin<BR>Hai.<BR>Cin Hai  menerima  pil itu  dan  memandang wajah  Lin  Lin yang  berada  di<BR>dekatnya. "Lin Lin... kenapakah engkau... sebaik ini kepadaku...?" suara Cin Hai<BR>terdengar menggetar penuh perasaan.<BR>Lin Lin membalas memandang dan  ketika pandang mata bertemu dengan  pandang<BR>mata Cin Hai, ia lalu menundukkan mukanya dengan wajah merah.<BR>"Engkau jangan memandang aku seperti itu, Engko Hai..." katanya berbisik.<BR>Cin Hai  memegang  tangan  Lin  Lin  dan  merasa  betapa  tangan  dara  itu<BR>menggigil. "Lin  Lin, kenapakah?  Kaupandanglah  aku dan  jawablah  pertanyaanku<BR>tadi!"<BR>Tetapi Lin  Lin tidak  berani memandangnya  dan menyembunyikan  mukanya  di<BR>dada. "Aku... tidak berani, Hai-ko."<BR>"Lin Lin, kau aneh sekali. Mengapa tidak berani? Katakanlah..."<BR>Tiba-tiba Lin Lin  tertawa dan  mencoba untuk  merenggutkan tangannya  yang<BR>terpegang akan tetapi tidak dapat. "Sudah, Engko Hai, jangan membikin aku merasa<BR>malu sekali. Telanlah piI itu!"<BR>Lin Lin makin merasa malu dan kini tubuhnya menggigil. "Sudahlah, Engko Hai<BR>lepaskan tanganku dan telanlah pil itu!" katanya memohon.<BR>"Tidak, sebelum kau menjawab pertanyaanku. Cintakah kau padaku?"<BR>"Engkau nakal sekali, Engko Hai!"<BR>"Jawablah dulu!"<BR>Dengan tersenyum kemalu-maluan dan matanya yang indah mengerling tajam  Lin<BR>Lin mengangguk!<BR>Bukan main senangnya Cin  Hai melihat pengakuan gadis  ini. "Lin Lin,  kini<BR>hidup ini berarti bagiku. Alangkah indahnya dunia ini. Lihatlah pohon-pohon  itu<BR>menari-nari girang menyaksikan kebahagiaan kita!"<BR>"Ah, pohon itu bergerak karena tertiup angin!" bantah Lin Lin.<BR>"Dan daun-daun  itu, melambai-lambai  kepada  kita. Burung-burung  itu  pun<BR>bernyanyi karena hendak ikut menyatakan kebahagiaan mereka! Lin Lin, kau sungguh<BR>membuat aku berbahagia sekali. Adikku, aku... aku cinta kepadamu..."<BR>"Sudahlah,  kautelan  pil  itu!"  kata  Lin  Lin  cemberut,  tapi   hatinya<BR>berdebar-debar karena gembira dan bahagia.<BR>"Baiklah, akan kutelan. Tapi  kau jangan cemberut,  karena kalau kau  marah<BR>dan cemberut wajahmu menjadi makin manis dan aku takkan dapat menelan pil  pahit<BR>ini!"<BR>"Kau... kau memang nakal!"  Lin Lin berkata  sambil mencubit lengan  pemuda<BR>itu. Cin Hai lalu  menelan pil itu  dan merasa betapa  lukanya telah tak  terasa<BR>lagi sakitnya. Ia lalu mengeluarkan sulingnya.<BR>"Lin Lin aku akan melagukan sebuah nyanyian indah untukmu."<BR>Cin Hai lalu meniup sulingnya dan karena ia mencurahkan seluruh perasaannya<BR>yang mencinta di  dalam tiupan suling  itu maka terdengarlah  suara suling  yang<BR>indah merayu dan merdu sekali hingga  Lin Lin meramkan matanya, karena di  dalam<BR>suara suling  itu,  ia seakan-akan  mendengar  pernyataan cinta  kasih  Cin  Hai<BR>kepadanya!<BR>Setelah Cin  Hai  selesai  meniup  sulingnya, dengan  mata  basah  Lin  Lin<BR>berkata, "Terima kasih, Hai-ko, aku telah mendengar suara hatimu. Memang  engkau<BR>semenjak dulu baik  sekali kepadaku.  Ingatkah kau betapa  dulu kau  mati-matian<BR>melawan Guruku untuk  membelaku? Ah,  aku tidak dapat  melupakan semua  kejadian<BR>itu!"<BR>Cin Hai memandang wajah Lin Lin dengan tersenyum.<BR>"Ha, kau mengingatkan akan hal-hal dahulu. Dulu kau seorang anak  perempuan<BR>yang berkuncir dua, yang nakal, bengal, dan bandel!" Cin Hai tertawa dan matanya<BR>memandang penuh menggoda.<BR>Lin Lin cemberut. "Dan kau... kau... ah, lucu sekali..."<BR>"Aku kenapa...?" Cin Hai menuntut.<BR>"Engkau buruk rupa, kepalamu  gundul penuh kudis,  dan engkau bodoh...  dan<BR>nakal..." Lin Lin tertawa geli dan Cin Hai lalu berdiri menangkapnya, tetapi Lin<BR>Lin lebih cepat, karena  gadis ini telah berdiri  dan lari. Cin Hai  mengejarnya<BR>sambil berkata,<BR>"Awas, kalau kena tangkap, kucubit bibirmu yang nakal itu!" Lin Lin berlari<BR>memutari pohon  dan  kembang,  Cin  Hai  mengejar  dan  mereka  berkejar-kejaran<BR>bagaikan dua orang anak kecil, begitu  gembira, begitu mesra dan penuh  bahagia.<BR>Tiba-tiba Kwee Tiong muncul dari pintu  belakang dan dengan wajah tak senang  ia<BR>berkata, "Lin Lin Ayah memanggilmu!" Tanpa  menengok kepada Cin Hai, Kwee  Tiong<BR>lalu masuk kembali  ke dalam rumah.  Lin Lin memperlihatkan  wajah kecewa,  akan<BR>tetapi Cin Hai berkata,<BR>"Pergilah, Lin-moi! Ie-thio tentu ada hal penting maka ia memanggilmu."<BR>Lin Lin  lalu masuk  ke dalam  rumah dan  meninggalkan Cin  Hai yang  duduk<BR>melamun dengan penuh kebahagiaan.<BR>Ketika tiba di kamar ayahnya, Lin Lin melihatnya ayahnya duduk seorang diri<BR>dengan muka muram.  Begitu melihat  anak gadisnya  masuk, ayah  ini serta  merta<BR>menegur,<BR>"Lin Lin sikapmu sungguh tidak patut dan memalukan!"<BR>Lin Lin terkejut dan  memandang kepada ayahnya  dengan heran, "Ada  apakah,<BR>Ayah?"<BR>"Engkau bergaul terlalu dekat dengan Cin Hai, hal ini tidak patut sekali."<BR>Lin Lin tahu bahwa  ayahnya ini tentu  telah mendapat laporan-laporan  dari<BR>Kwee Tiong.<BR>"Ayah, apakah  salahnya kalau  aku bergaul  dengan Engko  Hai? Bukankah  ia<BR>keluarga kita sendiri dan bukankah ia  seorang pemuda yang baik dan gagah  serta<BR>telah menolong kita?" jawabnya dengan berani.<BR>"Betul, akan tetapi  engkau harus ingat  bahwa engkau telah  dewasa dan  ia<BR>seorang pemuda  dewasa pula.  Tidak  patut kalau  engkau berlaku  terlalu  manis<BR>dengan dia. Apa akan kata orang luar kalau melihat?"<BR>"Ayah, mengapa engkau  berkata demikian?"  Lin Lin  bertanya dengan  marah.<BR>"Engko Hai adalah seorang pemuda baik dan sopan. Aku... aku suka bergaul  dengan<BR>dia!" Memang semenjak dulu Lin Lin sangat dimanja oleh ayahnya hingga ia  berani<BR>bersikap bandel terhadap ayah ini.<BR>"Lin Lin." Kwee In Liang menghela napas. "Engkau harus taat kepadaku  dalam<BR>hal ini. Engkau sudah cukup  dewasa dan setiap saat  akan ada orang yang  datang<BR>melamarmu. Engkau harus memutuskan hubunganmu  dengan Cin Hai dan jangan  engkau<BR>bertemu dengan dia kalau tidak ada keperluan penting."<BR>"Ayah!" Gadis itu berseru.<BR>"Diam!! Engkau harus menurut, atau...  apakah engkau ingin menjadi  seorang<BR>anak yang puthauw (tidak berbakti)??"<BR>Dibentak seperti ini, Lin Lin menundukkan kepala dan menangis!<BR>"Ayah, kau... kau  kejam!" katanya  dan ia  lalu melarikan  diri menuju  ke<BR>kamarnya, di mana ia membantingkan  dirinya di atas pembaringan sambil  menangis<BR>tersedu-sedu.<BR>Tak lama kemudian, Loan Nio masuk ke kamar itu dengan tindakan perlahan. Ia<BR>memeluk tubuh gadis itu dan berbisik mesra,<BR>"Lin Lin, aku telah tahu akan kemarahan Ayahmu. Anakku, apakah... kau  suka<BR>kepada Cin Hai? Jawabnya  terus terang, anakku,  bagaimana kalau aku  mengajukan<BR>usul kepada Ayahmu agar kau dan Cin Hai... di... jodohkan? Setujukah kau?"<BR>Lin Lin tersentak bangun  dan menyusut air mata.  Ia memandang kepada  Loan<BR>Nio dengan  mata  terbelalak. Tak  pernah  terpikir olehnya  tentang  perjodohan<BR>dengan Cin Hai, maka pertanyaan yang tiba-tiba datangnya ini membuatnya  bingung<BR>dan malu. Kemudian, sambil terisak ia memeluk ibu tirinya dan menangis lagi.<BR>"Lin Lin." kata Loan Nio  sambil mengusap-usap rambut gadis itu,  "kepadaku<BR>tak perlu  kau menyimpan  rahasia hatimu.  Kalau kau  tidak setuju,  katakanlah!<BR>Kalau kau diam saja, maka akan kuanggap bahwa kau setuju, dan sekarang juga  aku<BR>akan bicara dengan Ayahmu." Lin  Lin diam saja, hanya tubuhnya  bergoyang-goyang<BR>karena menahan isak tangisnya!<BR>"Sudahlah, tenangkan hatimu dan  serahkan persoalan ini kepadaku."  Setelah<BR>menepuk-nepuk bahu Lin Lin,  nyonya yang baik hati  ini lalu meninggalkan  kamar<BR>Lin Lin dan menuju ke kamar suaminya.<BR>Lin Lin adalah  seorang gadis yang  berhati keras dan  bersemangat. Ia  tak<BR>dapat menahan  sabar  menanti  hasil daripada  pembicaraan  ibu  tirinya  dengan<BR>ayahnya, maka  setelah  menanti  sebentar,  lalu  ia  menggunakan  kepandaiannya<BR>meloncat keluar dari jendela kamarnya, lalu dengan hati-hati sekali ia mengintai<BR>di atas genteng dan  mengintai ke bawah, di  mana ayahnya sedang  bercakap-cakap<BR>dengan Loan Nio!<BR>Ketika Cin  Hai  dengan hati  girang  sekali  masuk ke  dalam  rumah  untuk<BR>memasuki kamarnya, tiba-tiba telinganya  yang tajam dapat menangkap  lapat-lapat<BR>suara Kwee In  Liang seperti orang  sedang marah. Maka  ia lalu mengambil  jalan<BR>memutar, keluar lagi  ke belakang  dan mempergunakan  kepandaiannya melompat  ke<BR>atas genteng. Alangkah herannya ketika  ia mendapatkan Lin Lin sedang  mengintai<BR>pula, maka diam-diam  ia menyelinap  ke tempat  lain dan  mengintai dari  bagian<BR>lain. Ia tidak perlu mengintai,  hanya mempergunakan ketajaman telinganya  untuk<BR>mendengarkan.<BR>"Tidak, tidak, sekali-kali tidak!" kata kata Kwee In Liang keras-keras  dan<BR>dengan suara marah.  "Memang ia seorang  yang cukup baik  dan cukup gagah,  akan<BR>tetapi orang  jaman dahulu  pernah  berkata bahwa  memilih mantu  harus  melihat<BR>keadaan orang tuanya. Dan apakah orang tua anak itu? Pemberontak! Apa kau  pikir<BR>aku harus berbesan dengan pemberontak?"<BR>"Tapi  ayahnya  telah  meninggal  dunia   dan  tidak  perlu  kiranya   kita<BR>membawa-bawa namanya!" terdengar Loan Nio membantah.<BR>"Hem, macan mati meninggalkan kulitnya, manusia mati meninggalkan  namanya!<BR>Dan nama apakah yang ditinggalkan oleh orang she Sie itu! Nama busuk pula!"<BR>"Pikirlah dengan tenang. Cin  Hai berbeda dengan  ayahnya, ia seorang  anak<BR>yang baik. Juga mereka berdua telah saling mencintai!"<BR>"Apa?" terdengar Kwee In Liang  berseru marah. "Saling cinta?  Bagaimanakau<BR>bisa tahu?"<BR>"Lin Lin sudah mengaku kepadaku!"<BR>"Anak keparat! Tidak, tidak boleh! Ia  harus meniadi mantu keluarga Gan  di<BR>See-tok, dan habis perkara!"<BR>Kedua suami isteri  yang sedang bertengkar  ini tidak tahu  betapa di  atas<BR>genteng terdapat dua orang  yang pada saat itu  berwajah pucat sekali. Air  mata<BR>mengalir turun membasahi pipi Lin Lin dan hatinya terasa bagaikan diremas-remas.<BR>Sedangkan Cin Hai  berdiri pucat  dan air  matanya mengalir  pula, tetapi  bukan<BR>karena  sedih,  hanya  sakit  hati  mendengar  betapa  ayahnya  dan  keluarganya<BR>dipandang hina dan  rendah sekali.  Sakit hatinya  yang dulu,  yang telah  dapat<BR>dipadamkan ketika ia  bertemu kembali  dengan ie-ienya dan  terutama dengan  Lin<BR>Lin, kini timbul kembali. Ayahnya sekeluarga telah ditangkap oleh Kwee In Liang,<BR>dan kini  bahkan dihinanya  lagi! Ayahnya  yang telah  menjadi tanah  itu  masih<BR>direndahkan!<BR>Timbul keangkuhan dan kemarahan di dalam hati Cin Hai. Kalau saja ia  tidak<BR>ingat kepada Lin Lin, tentu  ia telah meloncat turun  dan menyerbu Kwe In  Liang<BR>yang berani merendahkan ayahnya!<BR>Dengan hati  terluka,  Cin  Hai  meloncat  turun  dan  langsung  menuju  ke<BR>kamarnya, mengambil semua pakaiannya dan  segera keluar dari situ. Akan  tetapi,<BR>ketika keluar  dari  rumah itu,  Lin  Lin yang  berada  di atas  genteng  sambil<BR>menangis, dapat melihatnya.  Cepat gadis  ini meloncat turun  pula dan  mengejar<BR>sambil berseru,<BR>"Hai-ko... kau hendak ke mana...?"  Mendengar suara panggilan Lin Lin,  Cin<BR>Hai mengeraskan hatinya dan tanpa menengok lagi ia mempercepat larinya!<BR>Akan tetapi, karena serangan batin yang hebat itu dan karena nafsu marahnya<BR>menggelora, maka luka di dadanya yang belum sembuh betul itu lalu pecah  kembali<BR>dan tiba-tiba ia merasa betapa dadanya  sesak dan panas! Cin Hai  mempertahankan<BR>rasa sakit ini dan lari terus  sedangkan Lin Lin tetap mengejar sambil  menangis<BR>dan berteriak-teriak.<BR>"Engko Hai... tunggu... Engko Hai..."<BR>Setelah hampir dua  puluh li jauhnya,  Cin Hai merasa  tak kuat lagi.  Hari<BR>mulai gelap dan  kebetulan sekali ia  melihat sebuah kuil  di pinggir jalan.  Ia<BR>lalu membelok ke situ dan seorang hwesio tua menyambutnya.<BR>"Losuhu, tolonglah  beri  sebuah kamar  kepadaku.  Aku sedang  terluka  dan<BR>tolong kaucegah siapa saja yang memasuki kamarku."<BR>Hwesio yang baik hati ini membawa Cin Hai ke sebuah kamar di mana  terdapat<BR>sebuah pembaringan bambu sederhana. Cin Hai lalu menutup kamar itu dan duduk  di<BR>atas pembaringan lalu bersamadhi untuk melawan rasa sakit di dadanya.<BR>Lin Lin yang tidak tertinggal jauh  karena selain ia memiliki ilmu  berlari<BR>yang cukup cepat,  juga karena sakit  di dada  Cin Hai membuat  pemuda itu  agak<BR>lambat larinya, dapat cepat menyusul dan gadis ini girang sekali ketika  melihat<BR>bahwa Cin Hai memasuki kuil itu. Ia  juga masuk ke dalam kuil dan disambut  oleh<BR>hwesio tua tadi.<BR>"Losuhu, di manakah perginya orang tadi? Aku ingin bertemu dengan dia!"<BR>Hwesio itu dengan muka sabar berkata, "Duduklah dulu, Nona. Tuan tadi telah<BR>berpesan bahwa siapa pun tidak boleh bertemu dengan dia."<BR>Tetapi Lin Lin menjadi  tidak sabar. "Orang lain  tak boleh bertemu  dengan<BR>dia, tetapi aku harus  bicara dengan dia!"  kata-katanya ini dikeluarkan  dengan<BR>suara keras sekali.<BR>"Tak baik memaksa  orang yang tidak  mau bertemu muka,  Nona," kata  hwesio<BR>tadi dengan masih  sabar. Dan  kata-kata ini membangkitkan  keangkuhan Lin  Lin,<BR>maka ia berkata.<BR>"Kalau tidak mau bertemu, biarlah aku bicara dari luar kamarnya saja!"<BR>Karena gadis ini mendesak terus, akhirnya hwesio itu terpaksa  mengantarkan<BR>Lin Lin ke kamar Cin Hai.<BR>"Engko Hai...!" Suara Lin Lin mengandung isak ketika ia memanggil dari luar<BR>kamar.<BR>Semenjak Lin Lin datang, Cin Hai  sudah mendengar suaranya, dan pemuda  ini<BR>menahan gelora hatinya yang  ingin sekali keluar dan  bertemu dengan gadis  itu.<BR>Akan tetapi hatinya berbisik, "Ayahnya telah menghina Ayahku!"<BR>Maka ia lalu menjawab dari dalam,<BR>"Lin Lin, ada apakah kau  mengejarku? Bukankah kau sudah mendengar  sendiri<BR>kata-kata Ayahmu tadi?"<BR>Hwesio itu meninggalkan mereka karena ia maklum bahwa gadis ini benar-benar<BR>mempunyai hubungan dengan orang di dalam kamar.<BR>"Hai-ko, jangan  kausamakan Ayah  dengan aku!"  kata Lin  Lin dengan  suara<BR>memohon.<BR>"Sudahlah Lin-moi, kaupulanglah karena Ayahmu tentu akan marah sekali kalau<BR>tahu kau menyusul  ke sini. Pulanglah  dan biarkan aku  orang rendah ini  merana<BR>seorang diri. Lupakan  aku, aku  tidak berharga  di hadapan  keluarga Kwee  yang<BR>terhormat. Ingat, aku seorang keturunan pemberontak hina!"<BR>"Engko Hai...!" Lin Lin menangis sedih  dan dengan nekat ia lalu  mendorong<BR>daun pintu kamar Cin Hai. Ia melihat  betapa pemuda itu dengan muka pucat  rebah<BR>di pembaringan bambu dan  keadaannya menyedihkan sekali  karena pipi pemuda  itu<BR>basah oleh air mata!<BR>"Engko Hai...!" Lin Lin menubruk dan gadis ini menangis tersedu-sedu sambil<BR>mendekap kaki Cin Hai yang tertutup selimut.<BR>Melihat keadaan  gadis kekasihnya  yang benar-benar  menyatakan cinta  hati<BR>yang tulus kepadanya ini, hati Cin Hai melunak.<BR>"Lin-moi... Lin-moi... jangan kau  bersedih, Adikku yang manis..."  katanya<BR>dengan penuh kasih sayang.<BR>Lin Lin menyusut kering air matanya  dan di antara air mata yang  membasahi<BR>bulu mata yang  panjang dan bagus  ia tersenyum. Hatinya  girang lagi  mendengar<BR>suara Cin Hai yang penuh kasih sayang itu.<BR>"Kalau kau tidak ingin  aku menangis, janganlah  kau membenciku dan  jangan<BR>kau pergi meninggalkan aku, Engko Hai."<BR>Cin Hai merasa terharu sekali. "Adikku, percayalah, selama hayat  dikandung<BR>badan, aku takkan  sanggup membenci  kau. Aku akan  tetap mencintaimu,  mencinta<BR>dengan sepenuh hati dan nyawa."<BR>Lin Lin memandang dengan  sayu. "Hai-ko... kaumaafkanlah kata-kata  Ayahku.<BR>Dia memang kejam... ah,  akan kukatakan terus terang  kepadanya. Aku tidak  sudi<BR>dijodohkan dengan  orang lain,  lebih baik  aku mati  atau... atau...  aku  akan<BR>minggat dan pergi bersama kau, Engko Hai."<BR>Cin Hai tersenyum sedih.  "Jangan begitu, Lin Lin.  Tak baik seorang  gadis<BR>gagah dan berbudi seperti engkau melarikan diri."<BR>"Habis, bagaimanakah baiknya, Haiko? Ayah begitu keras hati dan kukuh."<BR>"Puterinya begini keras  hati dan  kukuh, mengapa ayahnya  tidak?" Cin  Hai<BR>menggoda. "Kita harus bersabar. Aku tahu bahwa ayahmu bukan seorang jahat,  maka<BR>biarlah kita menunggu sampai ia berubah pendirian dan tidak begitu membenciku."<BR>"Ayah tidak membencimu, tetapi agaknya membenci Ayahmu."<BR>Cin Hai  menghela  napas.  "Itulah! Aku  ingin  sekali  mengetahui  riwayat<BR>Ayahku. Sekarang kau  pulanglah agar  kemarahan Ayahmu  mereda. Percayalah,  Lin<BR>Lin, aku takkan  melupakanmu dan  pada suatu hari  baik, pasti  aku akan  datang<BR>kembali"<BR>Lin Lin mengangkat mukanya. "Kau akan pergi ke mana, Hai-ko?"<BR>"Aku hendak  pergi ke  kampung kelahiranku  dan hendak  mencari  keterangan<BR>tentang orang tuaku."<BR>"Tetapi... kau pasti akan kembali kepadaku, bukan?"<BR>"Tentu saja,  Lin-moi,  kaukira aku  akan  merasa senang  berjauhan  dengan<BR>engkau?"<BR>Lin Lin kembali  memeluk lutut  Cin Hai  yang masih  rebah di  pembaringan.<BR>"Hai-ko, kalau kau tidak  kembali, aku akan betul-betul  minggat dari rumah  dan<BR>akan mencarimu sampai dapat!"<BR>Akhirnya Lin  Lin  meninggalkan tempat  itu  setelah berkali-kali  Cin  Hai<BR>diharuskan berjanji bahwa pemuda itu betul-betul akan kembali. Akan tetapi belum<BR>lama gadis  itu pergi,  tiba-tiba ia  kembali lagi  dengan wajah  pucat  sekali.<BR>Dengan terengah-engah ia berkata setelah mendorong pintu kamar Cin Hai. "Celaka,<BR>Hai-ko, celaka...!" Gadis  itu tak  dapat melanjutkan  kata-katanya akan  tetapi<BR>lalu menangis dengan sedih.<BR>Cin Hai meloncat dari tempat tidurnya  dan cepat memegang kedua pundak  Lin<BR>Lin. "Lin-moi, tenanglah. Ada apakah yang terjadi?"<BR>Lama sekali Lin Lin menangis sedih, baru dia bisa berkata,<BR>"Celaka, Hai-ko! Rumah telah kedatangan musuh, perwira-perwira jahanam  itu<BR>datang dan mencelakakan serumah tanggaku! Semua terluka dan... dan Ayah..."<BR>Tanpa banyak cakap  lagi Cin  Hai lalu menarik  tangan Lin  Lin dan  diajak<BR>keluar dari kuil itu. Ia menggunakan kepandaiannya berlari cepat sambil  menarik<BR>tangan Lin Lin  hingga gadis  ini seakan-akan  terbang. Mereka  menuju ke  rumah<BR>keluarga Kwee dan dari jauh mereka telah mendengar suara tangis sedih.<BR>Ketika Lin Lin datang bersama Cin  Hai, Kwee Tiong dengan pedang di  tangan<BR>lalu menyerang Lin Lin dengan hebat. Akan tetapi, sekali layangkan kakinya,  Lin<BR>Lin telah  berhasil  menendang pergelangan  tangan  Kwee Tiong  dan  pedang  itu<BR>mencelat jauh.<BR>"Perempuan rendah! Sundal  tak tahu  malu!" teriak Kwee  Tiong dengan  mata<BR>beringas. "Engkau main gila di luar,  tak tahu di rumah ditimpa malapetaka!  Aku<BR>akan mencekik lehermu dengan tanganku sendiri!" Pemuda yang sudah kalap ini lalu<BR>menubruk maju,  akan tetapi  Cin  Hai lalu  mengulurkan jari  tangan  menotoknya<BR>hingga ia roboh dengan lemas, tak dapat berkutik maupun berteriak lagi.<BR>"Lebih baik begini, agar dia jangan  membuat gaduh lagi," kata Cin Hai  dan<BR>bersama Lin Lin ia lalu lari memasuki rumah.<BR>Pemandangan yang  nampak di  dalam rumah  itu membuat  kedua kaki  Cin  Hai<BR>terasa lemas dan memeluk tubuh Kwee In  Liang yang rebah di lantai mandi  darah!<BR>Di sudut masih  nampak banyak orang  lain rebah mandi  darah, di antaranya  Loan<BR>Nio, Kwee Sin, Kwee Bun, Kwee Siang, dan Kwee An!<BR>Cin Hai cepat melakukan pemeriksaan, Kwee In Liang menderita luka parah  di<BR>dadanya karena bacokan pedang dan jiwanya sukar ditolong lagi. Loan Nio ternyata<BR>telah tewas karena bacokan yang tepat mengenai lehernya. Juga Kwee Sin, Kwee Bun<BR>dan Kwee Siang  telah tewas.  Hanya Kwee An  yang masih  bisa diharapkan  karena<BR>biarpun ia menderita  luka parah di  pundak, akan tetapi  tubuh pemuda ini  jauh<BR>lebih  kuat  daripada  saudara-saudaranya.  Sungguh  peristiwa  yang  mengerikan<BR>sekali. Cin  Hai  tak  tahan  dan  ikut  mengucurkan  air  mata.  Ia  mengangkat<BR>jenazah-jenazah itu dengan baik-baik dan memanggil para pelayan untuk  membantu.<BR>Kemudian ia lalu menolong Kwee An dan Kwee In Liang. Setelah menotok jalan darah<BR>dan mengurut pundak Kwee An, pemuda ini siuman, akan tetapi sangat lemah  hingga<BR>setelah terbelalak memandang dengan  liar untuk mencari-cari musuh-musuhnya,  ia<BR>lalu rebah lagi dengan lemas dan meramkan mata.<BR>Kwee An lalu dirawat  oleh seorang pelayan yang  memberi obat dan  membalut<BR>luka pemuda itu, sedangkan Lin Lin dan  Cin Hai menolong Kwee In Liang.  Setelah<BR>diurut pundaknya  oleh Cin  Hai,  orang tua  ini  membuka kedua  matanya.  Untuk<BR>beberapa lama  kedua matanya  memandang sayu  seakan-akan tidak  dapat  mengenal<BR>keadaan di  sekelilingnya, akan  tetapi lambat  laun pemandangan  matanya  makin<BR>terang hingga ia dapat mengenal Cin Hai dan Lin Lin. Ia menggerak-gerakkan kedua<BR>tangan dan menyuruh  kedua anak  muda itu mendekat,  lalu ia  menggerak-gerakkan<BR>bibirnya.<BR>Lin Lin  dan  Cin  Hai  mendekatkan kepala  mereka  untuk  dapat  menangkap<BR>kata-kata orang tua ini.<BR>"Lin Lin kaujaga baik-baik dirimu... aku tidak kuat lagi... Cin Hai, kau...<BR>kau... balaskan sakit hati ini...  jangan kaukawini Lin Lin sebelum  kaubalaskan<BR>sakit hati ini"<BR>Cin Hai dan Lin  Lin mengangguk-angguk dan  Lin Lin menangis  terisak-isak.<BR>"Cin Hai... kau berjanjilah..." suara orang tua itu makin lemah.<BR>"Aku berjanji  Ie-thio!" kata  Cin Hai  dengan sungguh-sungguh,  karena  ia<BR>merasa bahwa sudah menjadi kewajibannya  untuk membalas sakit hati bibinya  yang<BR>terbunuh secara kejam.<BR>"Aku aku puas...  balaskanlah sakit  hati ini,  basmi anjing-anjing  itu...<BR>kalau sudah  berhasil  kau  betul-betul  mantuku  yang  baik..."  setelah  berkata<BR>demikian, orang tua ini menghembuskan  napas terakhir. Lin Lin menubruk  jenazah<BR>ayahnya dan jatuh pingsan!  Setelah sadar, ia menangis  dengan sedih sekali  dan<BR>menjambak-jambak rambutnya sendiri karena  merasa menyesal mengapa kejadian  itu<BR>terjadi di luar tahunya!<BR>"Sudahlah, Lin-moi, engkau bahkan harus bersukur bahwa engkau tidak  berada<BR>di rumah. Karena kalau  berada di rumah, tentu  engkau pun akan menjadi  korban.<BR>Kwee An yang begitu lihai pun  dapat dirobohkan. Kalau engkau dan semua  menjadi<BR>korban, siapakah yang akan dapat membalas dendam?"<BR>Karena hiburan-hiburan Cin Hai, Lin  Lin dapat menenteramkan hatinya.  Kwee<BR>Tiong lalu dibebaskan  totokannya dan  dengan kata-kata tajam  Cin Hai  berhasil<BR>mengusir kemurkaan  yang menggelora  di  dada pemuda  itu. Kemudian  Kwee  Tiong<BR>menuturkan peristiwa yang hebat itu.<BR>Ketika Cin Hai dan Lin  Lin sedang berkejar-kejaran, datanglah  serombongan<BR>perwira Sayap Garuda menuju ke rumah keluarga Kwee. Mereka ini adalah lima orang<BR>perwira yang dulu  mengganggu pesta  keluarga Kwee. Kini  mereka datang  bersama<BR>tiga orang tua, yakni dua orang perwira Sayap Garuda lain yang menjadi  anggauta<BR>daripada Santung Ngo-hiap,  yakni orang pertama  dan ke dua,  sedangkan yang  ke<BR>tiga adalah  seorang hwesio  gundul  yang bukan  lain  adalah Hai  Kong  Hosiang<BR>adanya!<BR>KEDATANGAN mereka  ini  sebenarnya hendak  mencari  Cin Hai  untuk  menebus<BR>kekalahan mereka yang  lalu, akan tetapi  karena Cin Hai  tidak berada di  situ,<BR>mereka lalu mengamuk membabi buta dan  membunuh semua keluarga Kwee! Tentu  saja<BR>Kwee In Liang dan putera-puteranya melawan dengan nekad, terutama Kwee An dengan<BR>gagah berani menahan serbuan mereka. Dengan pertempuran hebat ini, Kwee An dapat<BR>melukai beberapa  orang perwira,  akan  tetapi lawan  itu terlampau  banyak  dan<BR>terlampau  tangguh  terutama  Hai  Kong  Hosiang,  hingga  akhirnya  semua  kena<BR>dirobohkan! Hanya pelayan-pelayan  saja yang tidak  dibunuh, sedangkan Loan  Nio<BR>sendiri pun dengan nekad menyerbu hingga dirobohkan dengan bacokan pedang,  Kwee<BR>Tiong yang bersifat pengecut dan  licin, melihat kehebatan rombongan itu,  cepat<BR>melarikan diri dan bersembunyi hingga ia terhindar daripada kebinasaan!<BR>Mendengat  penuturan   Kwee  Tiong   yang   tiada  hentinya   mencela   dan<BR>mempersalahkan Cin Hai dan Lin Lin, gadis itu kembali menangis tersedu-sedu,<BR>"Sudahlah, Saudara Kwee Tiong, jangan kau mempersalahkan adikmu lebih jauh.<BR>Ketahuilah sebenarnya aku  pergi memang  dengan sengaja dan  tidak ada  maksudku<BR>untuk kembali lagi.  Sedangkan Adik  Lin Lin menyusulku  dengan maksud  membujuk<BR>supaya aku kembali lagi, jangan  kau menyangka yang tidak-tidak. Sekarang  lebih<BR>baik kita  urus pemakaman  jenazah-jenazah ini  dan nanti  kalau Kwee  An  sudah<BR>sadar, kita bisa mendengar penjelasan-penjelasan dari padanya.<BR>Karena ia hanya mengandalkan tenaga Cin Hai untuk membalas dendam  akhirnya<BR>Kwee Tiong tidak mengomel lagi  dan membantu merawat jenazah-jenazah itu  dengan<BR>sedih.<BR>Setelah sadar dari pingsan dan agak kuat bercakap-cakap, Kwee An dengan air<BR>mata berlinang dan gigi dikertak karena sakit hati, berkata kepada Cin Hai. "Aku<BR>bersumpah untuk membalas dendam ini! Mereka itu adalah kelima perwira yang  dulu<BR>mengacau di sini ditambah tiga orang lagi,  yakni orang pertama dan ke dua  dari<BR>Santung Ngo-hiap, dan yang ke tiga adalah Hai Kong Hosiangl!"<BR>"Hm, aku pernah bertemu dengan hwesio itu!" kata Cin Hai.  "Kautenangkanlah<BR>hatimu, Saudaraku. Besok aku berangkat dan demi kehormatanku, aku akan  berusaha<BR>untuk membasmi delapan orang bangsat kejam itu!"<BR>"Jangan Cin Hai! Kau jangan  berangkat besok, tidak boleh!" Tiba-tiba  Kwee<BR>An berkata penuh semangat.<BR>"Kenapa?"<BR>"Kaukira aku  akan  enak saja  tinggal  diam sedangkan  orang  lain  hendak<BR>mengadu jiwa untuk membalas dendam ini? Tidak, dendam ini harus kubalas sendiri!<BR>"<BR>Cin Hai tersenyum maklum. "Baiklah, aku akan menanti sampai sembuh dan kita<BR>akan pergi bersama!" Setelah  mendapat jawaban ini barulah  Kwee An merasa  lega<BR>dan ia lalu jatuh pulas.<BR>Dengan telaten Cin Hai dan Lin Lin menjaga dan melayani Kwee An dan Lin Lin<BR>bahkan minta bantuan  gurunya untuk  mengobati kakaknya ini.  Biauw Suthai  ikut<BR>merasa berduka dan  gemas serta  berjanji akan membantu  usaha pembalasan  sakit<BR>hati itu.<BR>Dua pekan  kemudian,  berkat pengobatan  Biauw  Suthai dan  perawatan  yang<BR>sangat telaten  dari Lin  Lin dan  Cin Hai,  Kwee An  sembuh kembali  dari  pada<BR>lukanya yang dideritanya. Setelah melihat bahwa Kwee An sembuh dan kuat kembali,<BR>barulah Cin Hai mengajak pemuda itu berangkat untuk mencari musuh-musuh mereka.<BR>Ketika mereka hendak  berangkat, Lin Lin  minta supaya ia  dibawa dan  ikut<BR>membalas dendam. Sebenarnya gadis ini merasa berat sekali untuk berpisah  dengan<BR>Cin Hai yang amat dicintainya dan ia  tidak rela melepas pemuda itu pergi  untuk<BR>menghadapi bahaya seorang diri. Akan tetapi ketika mereka berdua bicara di dalam<BR>ruang belakang Cin Hai berkata,<BR>"Lin Lin, kau sendiri tahu betapa pentingnya perjalanan yang akan kulakukan<BR>bersama Kwee  An ini.  Bukan  saja penting  akan  tetapi sangat  berbahaya  maka<BR>biarkanlah aku pergi berdua dengan Kwee An dan jangan kau ikut menghadapinya."<BR>Lin Lin  menyemberutkan  mulutnya,  "Justru karena  penting  dan  berbahaya<BR>inilah maka aku  harus ikut Engko  Hai. Urusan sakit  hati ini langsung  menjadi<BR>tugasku, mengapakah  aku  harus takut  menghadapi  bahaya karenanya?  Dan  kalau<BR>memang ada bahaya, apa kaukira aku dapat enak-enak saja berpeluk tangan  tinggal<BR>di rumah dan membiarkan engkau dan Engko An pergi menempuhnya? Ah, Hai-ko engkau<BR>tahu bahwa  aku akan  menderita  karena khawatir  dan cemas  memikirkan  nasibmu<BR>berdua. Biarkan aku ikut, Engko Hai!"<BR>Cin Hai menjadi serba salah. Ia memang harus membenarkan pendapat gadis ini<BR>akan tetapi  kepandaian gadis  ini  masih belum  cukup tinggi  untuk  menghadapi<BR>perwira-perwira Sayap Garuda yang lihai dan kejam itu. Kalau gadis ini dibiarkan<BR>ikut, bukan dapat membantu usaha pembalasan sakit hati, sebaliknya akan menambah<BR>beban saja, karena ia harus melindungi Lin Lin yang ia cinta.<BR>"Jangan engkau ikut, Adikku yang  manis. Tidak percayakah engkau  kepadaku?<BR>Engkau mendengar sendiri  pesan terakhir  Ayahmu, dan  biarkan tugas  pembalasan<BR>dendam itu menjadi syarat bagiku untuk dapat menjadi... suamimu!"<BR>Akan tetapi  dengan  sikap  bandel  Lin Lin  bahkan  lalu  menangis  sambil<BR>membanting-banting kaki dan berkata, "Tidak... tidak... aku mau ikut...!"<BR>Cin Hai  melihat sikap  Lin  Lin yang  seperti  seorang anak  kecil  hendak<BR>ditinggal pergi oleh ibunya ini, lalu tersenyum dan menyentuh pundaknya,<BR>"Sudahlah jangan engkau marah. Biar  kita merundingkan dulu dengan  kakakmu<BR>dan Gurumu, karena aku bermaksud berangkat  besok. Masih banyak waktu bagi  kita<BR>untuk merudingkan persoalan ini."<BR>Maka mereka lalu mengadakan  perundingan dengan Biauw  Suthai dan Kwee  An.<BR>Juga Pek I Toanio yang sering berkunjung ke situ ikut pula merundingkan hal ini.<BR>"Lin Lin, muridku, pendapat Sie Taihiap memang betul. Engkau tak usah  ikut<BR>pergi, karena kepandaianmu  belum cukup untuk  melakukan pembalasan dendam  ini.<BR>Ketahuilah, kepandaian musuh-musuhmu amat tinggi dan sama sekali bukan lawanmu."<BR>"Akan tetapi aku  sama sekali tidak  takut!" jawab Lin  Lin sambil  berdiri<BR>dengan kedua tangan dikepalkan dan kedua mata bernyala penuh semangat.<BR>Biauw Suthai dan  yang lain-lain  tersenyum melihat sikap  gadis ini.  "Aku<BR>percaya penuh akan  ketabahanmu," kata Biauw  Suthai, "akan tetapi,  ketahuilah,<BR>bukan soal takut dan  berani yang terpenting dalam  hal ini. Kalau engkau  ikut,<BR>maka tidak  saja  engkau takkan  membantu,  bahkan akan  menambah  beban  kepada<BR>Sie-taihiap dan kakakmu Kwee-kongcu."<BR>"Menambah beban?"  kata Lin  Lin penasaran  "Teecu tidak  minta  digendong,<BR>teecu sanggup berjalan sendiri, dan mereka  berdua ini tak usah pedulikan  teecu<BR>asal teecu boleh ikut."<BR>"Lin Lin, engkau  sungguh bodoh," kata  gurunya. "Bukan demikian  maksudku,<BR>akan tetapi apabila terjadi pertempuran, maka tentu engkau akan terancam dan hal<BR>ini merupakan tambahan  tugas yang  lebih berat bagi  kedua anak  muda ini  yang<BR>harus melindungimu.  Mengertikah  engkau?  Apakah  engkau  akan  senang  apabila<BR>pembalasan dendam ini sampai gagal hanya karena ikutmu?" .<BR>Mendengar alasan yang kuat ini, Lin  Lin diam saja dan tak dapat  menjawab,<BR>hanya mulutnya yang berbentuk manis itu cemberut menandakan kekecewaan  hatinya.<BR>Akhirnya  ia  dapat  dibujuk   oleh  Pek  I   Toanio  dan  gurunya   membatalkan<BR>keinginannya.<BR>Setelah mendapat pesan dari Biauw Suthai,  Pek I Toanio, Lin Lin, dan  juga<BR>Kwee Tiong yang mendengarkan perdebatan itu diam saja, maka berangkatlah Cin Hai<BR>dan Kwee An. Mereka berdua tahu ke mana harus mencari musuh-musuh mereka,  yakni<BR>ke kota  raja! Mereka  berdua  berangkat berjalan  kaki saja  dan  mempergunakan<BR>kepandaian mereka berlari cepat.<BR>Ketika Cin Hai  dan Kwee  An sudah  pergi Lin  Lin berlari  masuk ke  dalam<BR>kamarnya. Biauw  Suthai  menggeleng-gelengkan kepala  melihat  ini dan  ia  lalu<BR>berkata kepada Pek I Toanio,<BR>"Anak itu kecewa karena ditinggal pergi oleh Sie-taihiap! Benar-benar  anak<BR>panah asmara telah tertancap di hatinya, dan selain itu, ia pun merasa  bersedih<BR>karena merasa  sunyi ditinggal  seorang diri  oleh mereka  berdua.  Kaupergilah,<BR>hiburlah hatinya dan  katakan bahwa kami  akan tinggal di  sini untuk  sementara<BR>waktu dan menemaninya."<BR>Sambil tersenyum  maklum, Pek  I  Toanio lalu  mengejar  Lin Lin  ke  dalam<BR>kamarnya dan ia mendapatkan gadis itu sedang berbaring telungkup di atas  tempat<BR>tidur  dan  tubuhnya  bergoyang-goyang  karena  menahan  isak  tangisnya!  Kakak<BR>seperguruan yang  sangat  mencintai  sumoinya ini  lalu  memeluk  pundaknya  dan<BR>berkata menghibur,<BR>"Sumoi, seorang  gadis gagah  seperti engkau  tidak patut  bersikap  begini<BR>lemah."<BR>Lin Lin bangun  dan duduk di  dekat sucinya, "Suci  aku tidak sedih  karena<BR>tidak boleh ikut  pergi, akan  tetapi sedih  karena yang  menyebabkan aku  tidak<BR>dapat ikut adalah kedangkalan ilmu silatku."<BR>"Sumoi, kalau begitu,  mengapa sementara menanti  mereka kembali kau  tidak<BR>memperdalam ilmu  silatmu?  Ketahuilah, aku  dan  Suthai akan  tinggal  di  sini<BR>menemanimu untuk sementara waktu."<BR>Tiba-tiba wajah gadis yang muram itu berubah terang dan ia tersenyum! Pek I<BR>Toanio menjadi  geli  melihat gadis  yang  aneh  mudah berubah  ini.  Baru  saja<BR>menangis sekarang sudah tersenyum.<BR>Lin Lin lalu  menghadap kepada  gurunya dan  ia sendiri  mengatur dua  buah<BR>kamar di dalam rumah yang  besar itu untuk suci  dan gurunya. Kemudian ia  minta<BR>kepada gurunya untuk memberi petunjuk-petunjuk untuk memperdalam ilmu  silatnya.<BR>Ia berlatih giat  sekali karena ia  pikir bahwa untuk  mengimbangi Cin Hai  yang<BR>berilmu tinggi, ia harus mempertinggi kepandaiannya pula!<BR>Pada suatu  sore ia  berlatih  silat di  dalam pekarangan  belakang  sambil<BR>mendengarkan   petunjuk-petunjuk   Biauw    Suthai   yang   berdiri    memandang<BR>gerakan-gerakannya. Setelah selesai bersilat  Lin Lin lalu duduk  bercakap-cakap<BR>dengan Biauw Suthai.<BR>"Suthai, bagaimana pendapatmu tentang ilmu silat Engko Hai?"<BR>"Ilmu silat  Sie Taihiap  sudah mencapai  tingkat yang  tidak dapat  diukur<BR>tingginya, muridku. Ia telah mewarisi  kepandaian tunggal dari Gurunya yakni  Bu<BR>Pun Su yang  luar biasa.  Biarpun anak  muda itu  tidak memperlihatkannya,  akan<BR>tetapi sebenarnya ia  telah memiliki segala  inti sari ilmu  silat dan  mendapat<BR>gemblengan yang hebat secara aneh dari Bu Pun Su orang tua sakti itu."<BR>"Suthai, apakah teecu bisa mendapat kemajuan sampai setinggi tingkatnya?"<BR>Biauw Suthai tertawa dan wajahnya yang menyeramkan itu kini nampak gembira.<BR>"Muridku, kepandaian manusia tidak ada batasnya dan asalkan orang mau  berusaha,<BR>tentu ia akan mencapai  tujuannya. Akan tetapi  untuk dapat memiliki  kepandaian<BR>silat seperti Sie-taihiap orang harus memiliki bakat dan jodoh dengan guru  yang<BR>luar biasa seperti Bu Pun Su."<BR>"Dan sampai di  mana tingkat  kepandaian Ang  I Niocu?"  tiba-tiba Lin  Lin<BR>bertanya.<BR>"Dia? Ah, kepandaiannya pun  hebat, karena sesungguhnya ilmu  kepandaiannya<BR>dan ilmu kepandaian  Sie-taihiap adalah  secabang. Ketahuilah,  kalau aku  tidak<BR>salah, Ang I  Niocu adalah cucu  murid dari Bu  Pun Su karena  Kakek itu  adalah<BR>susiok-couwnya. Dalam hal ilmu silat, biarpun Ang I Niocu memiliki gerakan  yang<BR>indah dan lebih matang, akan tetapi ia masih kalah setingkat oleh Sietaihiap."<BR>"Suthai, teecu ingin sekali mencoba  kepandaian Ang I Niocu. Agaknya  teecu<BR>takkan kalah melawan dia," entah mengapa tiba-tiba suara Lin Lin terdengar marah<BR>dan sengit  karena  perasaan  cemburu telah  menyerang  hatinya.  Gurunya  heran<BR>mendengar ini,  dan  tiba-tiba  Biauw Suthai  yang  berkepandaian  tinggi  dapat<BR>mendengar suara tindakan kaki yang ringan sekali di belakang mereka ketika nenek<BR>ini  mengerling,  ternyata  Ang  I  Niocu  telah  berada  di  belakang   mereka,<BR>bersembunyi di balik sebatang pohon.<BR>"Wanita itu agaknya sombong dan sangat bangga akan kecantikannya. Coba saja<BR>Suthai ingat kembali betapa ia berlagak ketika memperlihatkan kepandaiannya dulu<BR>itu."<BR>"Lin Lin, kalau belum  tahu jelas, jangan  suka menyangka yang  tidak-tidak<BR>terhadap orang lain. Pula, bukankah ia telah membantu pihakmu dalam  pertempuran<BR>dulu itu?" kata Biauw Suthai yang merasa tidak enak sekali karena tentu saja Ang<BR>I Niocu dapat mendengar percakapan mereka.<BR>"Suthai, teecu tidak  menyangka yang tidak-tidak,  karena teecu juga  tidak<BR>mempunyai hubungan apa-apa dengan dia  kecuali... karena ia... kawan baik  Engko<BR>Hai, maka  ia pun  boleh kuanggap  sebagai kawan.  Akan tetapi,  kalau ia  tidak<BR>sombong, mengapa ia pergi diam-diam dan tanpa pamit? Ia menjadi kawan baik Engko<BR>Hai, akan  tetapi ketika  Engko  Hai terluka,  mengapa  ia tidak  peduli  bahkan<BR>meninggalkannya pergi?"<BR>"Sudahlah Lin Lin, kau  membicarakan seorang yang  berdiri tidak jauh  dari<BR>kita!" kata Biauw Suthai, lalu nenek ini berpaling dan berkata, "Niocu,  silakan<BR>duduk!"<BR>Ang I Niocu keluar dari  belakang pohon itu dan  Lin Lin cepat berdiri  dan<BR>memandang kepada Dara  Baju Merah itu  dengan mata terbelalak.  Ia merasa  heran<BR>sekali ketika melihat betapa wajah Ang I Niocu pucat sekali dan dari kedua  mata<BR>yang bagus itu keluar dua titik air mata yang masih menetes di atas pipinya.<BR>Akan tetapi, ketika pandangan matanya bertemu  dengan Lin Lin, bibir Ang  I<BR>Niocu mengeluarkan  senyum sedih.  "Adikku yang  baik, kata-katamu  semua  benar<BR>belaka. Memang aku seorang yang sombong  dan bodoh. Adikku, aku maklum akan  isi<BR>hatimu, jangan kau khawatir. Hai-ji dan aku hanya... hanya kawan baik dan  kawan<BR>senasib belaka..." Dara Baju Merah itu memejamkan mata seakan-akan menahan  rasa<BR>sakit yang menyerang dadanya, kemudian ia berkata lagi, kini suaranya  terdengar<BR>tegas, "Akan  tetapi, dalam  hal  kepandaian, agaknya  kau masih  harus  belajar<BR>banyak untuk dapat mengimbangi kepandaianku, apalagi kalau hendak menyamai  ilmu<BR>kepandaian Hai-ji. Kau tadi menyatakan keinginanmu hendak mencoba ilmu  silatku,<BR>bukan? Nah, marilah kita main-main sebentar!"<BR>Lin Lin memang berhati  tabah, sedikit pun ia  tidak menjadi jerih ia  lalu<BR>menarik keluar belati pendek  yang menjadi senjata  ampuh baginya. Biauw  Suthai<BR>hendak mencegah, akan tetapi Ang I Niocu menghadapi nenek ini sambil berkata dan<BR>menjura,<BR>"Suthai, aku bukan anak kecil lagi,  jangan Suthai salah sangka. Aku  hanya<BR>bermaksud menambah pengertiannya dan kepandaian Adik ini."<BR>Mendengar ucapan dan melihat sikap Ang I Niocu, Biauw Suthai menarik  napas<BR>lagi, ia hanya  menggerakkan tangannya  kepada Lin  Lin dan  berkata. "Lin  Lin,<BR>jangan kau berlaku kurang ajar kepada  tamu dan belajarlah baik-baik dari Ang  I<BR>Niocu!"<BR>Ang I Niocu lalu menghunus pedangnya dan berkata kepada Lin Lin,<BR>"Nah, kaumaju  dan seranglah,  Adikku  yang baik,  dan jangan  kau  berlaku<BR>sungkan-sungkan lagi."<BR>Lin Lin adalah  seorang gadis yang  masih muda sekali  dan belum  mempunyai<BR>banyak pengalaman. Hatinya masih keras  dan tabah, maka ketika mendengar  ucapan<BR>Ang I  Niocu, ia  merasa bahwa  ia  disindir dan  dipandang ringan.  Maka  tanpa<BR>mengeluarkan kata-kata  lagi ia  lalu menyerang  dengan belatinya.  Ang I  Niocu<BR>mengelak cepat dan  keduanya lalu bertempur  seru. Senjata Lin  Lin yang  berupa<BR>belati pendek  itu  membuat gerakan  tangannya  cepat sekali  jauh  lebih  cepat<BR>daripada gerakan pedang. Lagipula, gadis  ini telah mendapat didikan ilmu  silat<BR>semenjak kecil  oleh Biauw  Suthai yang  berilmu tinggi,  maka dapat  dimengerti<BR>bahwa gadis ini telah memiliki kepandaian yang lumayan dan tak mudah  dikalahkan<BR>oleh sembarang orang. Selain  memiliki ilmu silat  tinggi, juga tubuhnya  ringan<BR>sekali dan gerakannya gesit bagaikan seekor burung walet.<BR>Akan tetapi  sekarang  ia  menghadapi  Ang I  Niocu  yang  selain  memiliki<BR>kepandaian tinggi, juga telah memiliki  pengalaman luas daripada Lin Lin.  Juga,<BR>kalau Lin Lin bertempur dengan bernafsu sekali, adalah Ang I Niocu menghadapinya<BR>dengan tenang. Nona Baju Merah ini memainkan pedangnya sambil mengeluarkan  ilmu<BR>Pedang Tari Bidadari yang indah dan lihai. Tubuhnya bergerak-gerak perlahan  dan<BR>lemah gemulai, pedangnya  berkelebat cepat dan  dapat menangkis setiap  serangan<BR>Lin Lin yang  makin bernafsu  melancarkan serangan-serangan hebat.  Ang I  Niocu<BR>sengaja  berlaku  mengalah  dan   lebih  banyak  mempertahankan  diri   daripada<BR>menyerang. Ia  membiarkan  Lin Lin  melakukan  serangan bertubi-tubi  dan  hanya<BR>menggunakan sedikit  gerakan  untuk menangkis  atau  mengelak, hingga  ia  hanya<BR>sedikit mengeluarkan tenaga, sedangkan  Lin Lin bagaikan  seekor naga yang  muda<BR>dan ganas menyambar-nyambar dengan belatinya!<BR>Lama juga mereka saling mengeluarkan kepandaian. Lin Lin terus mengejar dan<BR>Ang I Niocu mengelak  dan mempertahankan diri. Peluh  telah membasahi wajah  Lin<BR>Lin yang menjadi kemerah-merahan dan kedua matanya yang indah itu bersinar-sinar<BR>galak, sedangkan Ang  I Niocu  tetap saja bermain  dengan tenang.  Rambut Ang  I<BR>Niocu yang diikat dengan saputangan merah  dan terurai ke belakang itu  berkibar<BR>dalam gerakannya, sedangkan rambut Lin Lin yang hitam dan panjang serta dikuncir<BR>dua menyabet ke sana ke mari bagaikan dua ekor ular hitam.<BR>Biauw Suthai berdiri menonton pertempuran itu dengan kagum. Karena asyiknya<BR>ia menonton,  Biauw  Suthai  tak terasa  lagi  kadang-kadang  menggerak-gerakkan<BR>tangan seakan-akan  ia sendiri  yang sedang  bertempur menghadapi  Ang I  Niocu.<BR>Kalau Lin  Lin  membuat  kesalahan  dalam  gerakannya,  ia  menjadi  kecewa  dan<BR>membanting-banting kakinya, sedangkan kalau  Lin Lin melepaskan kesempatan  baik<BR>dalam sebuah  penyerangan,  ia  menjadi  marah  dan  mengeluarkan  suara  dengan<BR>lidahnya. Orang  tua ini  benar  lupa diri  karena  asyik dan  kagumnya  melihat<BR>pertempuran itu.<BR>Sebetulnya Ang I Niocu hanya hendak mengukur saja sampai dimana  kepandaian<BR>gadis itu. Maka setelah puas melayani  Lin Lin, tiba-tiba ia merubah  gerakannya<BR>dan kini melancarkan serangan-serangan  hebat hingga pedangnya berkelebat  cepat<BR>dan bayangan  tubuhnya  bergulung-gulung  karena cepatnya  gerakannya.  Lin  Lin<BR>terkejut sekali dan terdesak hebat. Akan tetapi Ang I Niocu tidak mau  menyerang<BR>terus, bahkan lalu melompat ke belakang sambil berkata,<BR>"Adik, sudah cukup kita mengukur tenaga."<BR>Lin Lin merasa kagum sekali. Kini ia tahu bahwa kepandaian Ang I Niocu jauh<BR>lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri dan tahu pula bahwa Nona Baju  Merah<BR>itu tidak bermaksud buruk.  Maka buru-buru ia  simpan belatinya dan  menghampiri<BR>Ang I Niocu.<BR>"Cici,  kepandaianmu  lihai  sekali  dan  aku  mohon  engkau  sudi  memberi<BR>petunjuk."<BR>Ang I Niocu  ketika mendengar kata-kata  ini dan melihat  sikap yang  polos<BR>dari Lin Lin, timbul perasaan sukanya.  Ia memegang Lin Lin, dan berkata,  "Adik<BR>Lin Lin, engkau masih  harus belajar banyak  kalau ingin mengimbangi  kepandaian<BR>Hai-ji"<BR>Ketika melihat betapa wajah gadis ini tertutup oleh kedukaan, ia  bertanya,<BR>"Adik Lin  Lin,  mengapa wajahmu  nampak  murung? Bagaimana  dengan  keluargamu,<BR>baik-baik saja bukan?"<BR>Ternyata Ang  I Niocu  sama sekali  tidak tahu  akan peristiwa  hebat  yang<BR>menimpa keluarga Kwee,  oleh karena  ketika rasa  cemburu dan  iri hati  merusak<BR>hatinya hingga  membuat ia  angkat kaki  dan  pergi tanpa  pamit dulu,  ia  lalu<BR>menjauhkan diri  dari  dusun itu  dan  hendak melanjutkan  perantauannya.  Telah<BR>dicobanya dengan berkeras hati untuk melupakan Cin Hai, akan tetapi ternyata  ia<BR>gagal. Makin dilupa,  makin ia teringat  kepada pemuda itu  dan akhirnya ia  tak<BR>dapat menahan hatinya  lagi. Ia  teringat betapa Cin  Hai mendapat  luka dan  ia<BR>menjadi kuatir sekali. Inilah yang membuat ia kembali ke kampung itu dan  dengan<BR>diam-diam masuk pekarangan belakang hingga  mendengar percakapan antara Lin  Lin<BR>dan Biauw Suthai.<BR>Ketika mendapat  pertanyaan  dari  Ang I  Niocu  tentang  keluarganya,  tak<BR>tertahan lagi Lin Lin lalu memeluk Nona Baju Merah itu sambil menangis keras dan<BR>sedih. Ang I  Niocu menjadi  bingung, akan tetapi  ketika ia  memandang ke  arah<BR>Biauw  Suthai,  nenek  tua  ini  memberi  isyarat  kepadanya  hingga  ia   hanya<BR>mengelus-elus kepala Lin lin yang disandarkan di dadanya.<BR>"Adikku yang baik. Tenangkanlah hatimu  dan mari kita bicara dengan  baik."<BR>Ia lalu menuntun  Lin Lin  ke dalam rumah  menurut isyarat  yang diberikan  oleh<BR>Biauw Suthai.<BR>Kwee Tong  dan Pek  I Toanio  menyambut Ang  I Niocu  yang dalam  pandangan<BR>matanya tidak  beda seperti  seorang  bidadari! Maka  Kwee Tiong  lalu  menyuruh<BR>pelayan  mengeluarkan  hidangan  dan  ia  melayani  tamunya  dengan  hormat  dan<BR>bermuka-muka. Akan tetapi Ang  I Niocu yang telah  tahu akan sifat pemuda  macam<BR>Kwee Tiong ini, tidak ambil peduli kepadanya dan bersikap seolah-olah pemuda ini<BR>tidak ada.<BR>Ketika mendengar penuturan  Lin Lin tentang  bencana yang menimpa  keluarga<BR>Kwee, wajah Ang I Niocu menjadi merah karena ia merasa marah sekali.<BR>"Jahanam benar perwira-perwira itu! Dan Hai Kong Hosiang selalu ikut campur<BR>dalam urusan-urusan busuk. Pendeta palsu itu sudah seharusnya dibasmi dari  muka<BR>bumi!" Sambil mengepal-ngepal tangannya Ang I Niocu menyatakan perasaannya. "Dan<BR>bagaimana dengan luka kakakmu? Di mana adanya dia dan di mana Hai-ji?"  tanyanya<BR>kepada Lin Lin.<BR>"Mereka telah pergi lima hari yang lalu, untuk mencari musuh-musuh kami itu<BR>dan membalas dendam!"<BR>Ang I Niocu mengangguk. "Dan kau sendiri, Adik Lin, mengapa kau tidak  ikut<BR>pergi?" Pertanyaan  ini mengandung  dua maksud,  pertama-tama karena  ia  memang<BR>merasa heran mengapa Lin Lin tidak mau ikut membalaskan sakit hati orang tuanya.<BR>Kedua kalinya karena ia hendak memancing dan menyelidiki sampai di mana hubungan<BR>antara gadis ini dengan Cin Hai.<BR>Mendengar pertanyaan ini,  tiba-tiba Lin  Lin menjadi  marah dan  cemberut.<BR>"Inilah yang menyesalkan hatiku! Mereka  itu tidak mau membawaku serta!  Sungguh<BR>menggemaskan!"<BR>Pek I  Toanio ikut  bicara  dan membela  Cin  Hai, "Sie-taihiap  tidak  mau<BR>membawa Sumoi oleh karena  memang kalau Sumoi ikut,  maka usaha membalas  dendam<BR>itu akan lebih sukar lagi."<BR>"Kepandaian Lin Lin  belum cukup  tinggi menempuh bahaya  besar itu,"  Kata<BR>Biauw Suthai dengan sabar.  "Dan lagi, kalau Lin  Lin pergi, aku akan  ditinggal<BR>seorang diri di  rumah, bagaimana kalau  penjahat-penjahat itu datang  kembali?"<BR>kata Kwee  Tiong yang  tak  sadar bahwa  ucapan  ini menunjukkan  sifatnya  yang<BR>pengecut.<BR>Ang I Niocu  tersenyum memandang  Lin Lin.  "Kau benar,  Adikku. Tidak  ada<BR>bahaya bagi seorang anak yang hendak  membalaskan sakit hati orang tuanya."  Lin<BR>Lin memandangnya  dengan berterima  kasih karena  ternyata Nona  Baju Merah  ini<BR>membela dan membenarkannya. Pada saat ia hendak menyatakan kemenangannya  kepada<BR>guru dan sucinya, Ang I Niocu yang tidak mau berbantah dengan Biauw Suthai telah<BR>berkata pula,<BR>"Akan tetapi  betapapun  juga, kau  harus  tunduk kepada  nasihat  Gurumu."<BR>Ucapan ini membuat Lin Lin menunduk dan tidak jadi membuka mulut. Akan tetapi di<BR>dalam hati ia merasa tertarik dan suka sekali kepada Ang I Niocu. Dengan  sangat<BR>ia membujuk-bujuk agar  wanita itu  suka bermalam  di rumahnya.  Yang lain  ikut<BR>membujuk pula hingga  akhirnya Ang I  Niocu menyatakan setuju.  Lin Lin  gembira<BR>sekali dan  ia menarik  tangan Ang  I Niocu  ke kamarnya,  karena ia  tidak  mau<BR>berpisah dengan nona ini dan minta Ang I Niocu bermalam di dalam kamarnya saja.<BR>Dan pada keesokan  harinya, ternyata  Lin Lin  telah pergi  dari rumah  itu<BR>bersama Ang I Niocu. Gadis ini dengan sangat mernbujuk kepada Ang I Niocu  untuk<BR>membawanya  pergi  menyusul  Cin  Hai.  Biauw  Suthai  hanya   menggeleng-geleng<BR>kepalanya dan berkata kepada Pek I Toanio,<BR>"Muridku, biarpun keselamatan  Lin Lin  tak perlu  dikhawatirkan karena  ia<BR>pergi bersama Ang I Niocu, akan tetapi hatiku merasa tidak tenteram. Lebih  baik<BR>kita pergi mencari mereka itu untuk membantu apabila mereka berada dalam bahaya.<BR>"<BR>Keduanya lalu berpamit kepada Kwee  Tiong yang menjadi kecewa dan  khawatir<BR>sekali. "Kalau Lin  Lin pergi dan  jiwi pergi pula,  habis kalau sampai  terjadi<BR>apa-apa di rumah ini, aku harus berbuat apa?"<BR>Pek I Toanio mendongkol sekali melihat sikap pemuda yang penakut ini,  maka<BR>katanya dengan  ketus,  "Kongcu,  mengapa  memiliki  hati  sedemikian  kecilnya?<BR>Adik-adikmu pergi dengan nekad mencari musuh, akan tetapi engkau yang  ditinggal<BR>di rumah seorang diri saja merasa takut."<BR>Akan tetapi  Biauw Suthai  yang tak  mau banyak  bicara dengan  pemuda  ini<BR>berkata, "Kwee-kongcu, kalau  engkau merasa takut,  kaupergi saja kepada  Suhumu<BR>dan tinggal di rumah kuil." Kemudian guru dan murid ini meninggalkan Kwee  Tiong<BR>tanpa memberi kesempatan kepada  pemuda itu untuk  banyak membantah. Kwee  Tiong<BR>lalu menutup  pintu rumahnya,  menghentikan semua  pelayan yang  membantu  rumah<BR>keluarga Kwee dan  ia pergi  ke Tiang-an lalu  menemui gurunya,  yaitu Tong  Gak<BR>Hosiang di  kelenteng Ban-hok-tong,  di  mana ia  berlutut sambil  menangis  dan<BR>menceritakan segala hal ihwalnya kepada pendeta itu.<BR>Tong Gak Hosiang hanya  bisa menghela napas,  dia lalu menasihati  muridnya<BR>untuk berdiam saja untuk sementara waktu di kelenteng itu.<BR>Setelah melakukan perjalanan cepat tanpa berhenti, Cin Hai dan Kwee An tiba<BR>di kota raja. Di sepanjang perjalanan, kedua anak muda ini menuturkan pengalaman<BR>masing-masing dan Kwee An merasa kagum sekali akan hasil yang diperoleh Cin Hai,<BR>anak yang ketika  kecilnya gundul yang  selalu dihina orang  itu. Ia makin  suka<BR>kepada Cin Hai dan sepanjang perjalanan tiada hentinya ia minta petujuk-petunjuk<BR>dan nasihat-nasihat tentang persilatan. Dengan  melihat permainan silat Kwee  An<BR>saja, Cin  Hai dapat  melihat kekurangan-kekurangan  dan  kelemahan-kelemahannya<BR>hingga ia dapat memberi  petunjuk yang benar-benar sangat  berguna bagi Kwee  An<BR>dan berdasarkan petunjuk ini, ilmu silat Kwee An menjadi lebih sempurna lagi.<BR>Di kota raja mereka  berdua mencari keterangan  dan mendengar bahwa  asrama<BR>kaum perwira Sayap Garuda  adalah sebuah bangunan  besar merupakan benteng  yang<BR>disebut Eng-hiong-koan atau  Penginapan Para Pendekar.  Dengan tabah dan  berani<BR>sekali Cin Hai dan  Kwee An pada keesokan  harinya, pagi-pagi telah  mengunjungi<BR>Eng-hiong-koan dan memberitahukan kepada penjaga bahwa mereka ingin menemui para<BR>perwira Sayap Garuda.<BR>"Kami adalah kenalan-kenalan baik  dari Ma-ciangkun dan lain-lain  perwira,<BR>terutama kelima Santung Ngo-hiap."<BR>"Sayang sekali  bahwa sekarang  para  perwira sedang  mengadakan  pertemuan<BR>besar hingga kurasa tak sempat menjumpai kalian berdua," jawab penjaga itu.<BR>"Pertemuan apakah?" tanya Cin Hai.<BR>"Di dalam gedung sedang diadakan  pemilihan tiga orang perwira yang  hendak<BR>diangkat menjadi kepala  perwira istana  dan menjadi  pengawal pribadi  Kaisar,"<BR>jawab penjaga itu. Akan  tetapi penjaga kedua yang  tidak suka melihat  kawannya<BR>mengajak kedua pemuda itu mengobrol, lalu berkata,<BR>"Kamu berdua boleh datang lagi besok pagi saja. Pendeknya pada saat itu tak<BR>seorang pun boleh memasuki En-hiong-koan."<BR>Kwee An dan  Cin Hai merasa  mendongkol sekali. Mereka  saling pandang  dan<BR>saling memberi tanda  dengan kejapan  mata. Keduanya bergerak  cepat dan  hampir<BR>berbareng mereka mengulur  tangan menotok  kedua penjaga itu  yang segera  roboh<BR>dengan tubuh lemas karena tertotok jalan darah mereka oleh Cin Hai dan Kwee  An!<BR>Dengan tenang kedua pemuda  gagah ini lalu bertindak  masuk. Mereka langsung  ke<BR>ruang belakang di mana  terdengar suara orang bersorak  dan tanpa jerih  sedikit<BR>pun mereka lalu melangkah masuk dari sebuah pintu yang besar dan tinggi.<BR>Ternyata ruang  belakang  itu amat  luas  dan  di tengah  ruang  itu  telah<BR>terdapat sebuah panggung karena memang ruang ini merupakan ruang berlatih  silat<BR>atau lian-bu-thia.  Kurang  lebih  tiga  puluh  orang  perwira  duduk  mengitari<BR>panggung itu, dan di kepala panggung  duduk seorang hwesio gundul yang  bertubuh<BR>tinggi  kurus,  dan  di  sebelahnya  duduk  beberapa  orang  perwira  tua   yang<BR>kelihatannya merupakan perwira-perwira tingkat tinggi. Juga Ma Ing nampak  duduk<BR>di sebelah hwesio itu.<BR>Pada saat itu, memang sedang diadakan pertandingan adu silat di antara para<BR>perwira yang dicalonkan untuk menjadi pemimpin perwira penjaga istana. Pemilihan<BR>ini dilakukan atas perintah kaisar sendiri yang minta supaya tiga orang panglima<BR>yang berkepandaian  tinggi dan  lihai untuk  menjadi pengawal  pribadi di  dalam<BR>istana. Siapa orangnya yang tidak  mau mencoba peruntungannya dengan  kesempatan<BR>ini? Menjadi  pengawal pribadi  kaisar  adalah sebuah  pekerjaan yang  enak  dan<BR>mulia.<BR>Pemilihan ini  dilakukan dan  diawasi  oleh hwesio  tinggi kurus  itu  yang<BR>sebenarnya adalah hwesio kepala dalam  Kuil See-thian-tong yang menjadi kuil  di<BR>lingkungan istana dan  yang biasanya  dikunjungi kaisar.  Selain menjadi  kepala<BR>hwesio di kuil raja itu, juga hwesio yang bernama Beng Kong Hosiang ini diangkat<BR>pula  menjadi  penasihat  para  perwira,  ini  kedudukan  yang  tinggi,   karena<BR>sebenarnya hwesio ini bukan  lain ialah suheng atau  kakak seperguruan dari  Hai<BR>Kong Hosiang yang sudah terkenal kelihaiannya.<BR>Di bawah pengawasan Beng  Kong Hosiang, maka  telah diadakan pemilihan  dan<BR>para perwira itu mengadu kepandaian untuk  merebut kedudukan itu. Pada saat  Cin<BR>Hai dan Kwee  An memasuki  ruangan itu, dua  orang perwira  Sayap Garuda  sedang<BR>bergumul di  atas  panggung  dan  semua  perwira  yang  menonton  bersorak-sorak<BR>gembira, juga Beng Kong  Hosiang, Ma Ing dan  perwira lain yang dianggap  tertua<BR>dan terpandai, menikmati pertandingan itu  hingga mereka tidak melihat  masuknya<BR>pemuda ini.<BR>Cin Hai berbisik kepada Kwee An  dan keduanya lalu menggenjot tubuh  mereka<BR>melalui kepala para  perwira lalu melompat  ke atas panggung  di mana dua  orang<BR>perwira itu sedang mengadu kepandaian.<BR>Dengan gerakan ringan dan cepat, Cin Hai dan Kwee An masing-masing memegang<BR>seorang  perwira  pada  lehernya  dan  melemparkan  mereka  ke  bawah   panggung<BR>seakan-akan orang melempar ayam saja!<BR>Semua orang  terkejut, tak  terkecuali  Beng Kong  Hosiang. Ketika  Ma  Ing<BR>melihat siapa yang datang  mengacau, ia menjadi pucat  karena ia telah  mengenal<BR>Cin Hai yang telah dirasai kelihaiannya itu.<BR>Cin Hai  lalu memandang  ke sekeliling  dan keadaan  di situ  sunyi  senyap<BR>karena semua orang masih tercengang  melihat peristiwa yang tak  disangka-sangka<BR>itu. Siapakah orangnya yang  berani mati mengacau  di dalam Eng-hiong-koan  pada<BR>saat perwira-perwira mengadakan  pemilihan, bahkan pada  saat Beng Kong  Hosiang<BR>berada di situ?  Mungkin setan  pun berani  mengacau maka  tindakan kedua  orang<BR>pemuda itu sungguh-sungguh membuat mereka tercengang dan terheran!<BR>"Cuwi-ciangkun (para panglima yang terhormat), kedatangan kami berdua bukan<BR>sengaja hendak  mengacau  dan kami  sebenarnya  tidak mempunyai  urusan  sesuatu<BR>dengan Eng-hiong-koan ini. Akan tetapi  karena musuh-musuh kami berada di  sini,<BR>terpaksa kami datang juga. Kini kami minta supaya para musuh besar kami itu suka<BR>tampil ke muka dan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka yang biadab!"<BR>Semua orang  merasa  heran  mendengar ini  dan  mereka  tercengang  melihat<BR>ketenangan anak muda itu. Yang tidak  tahu akan persoalannya saling pandang  dan<BR>angkat pundak. Melihat keberanian ini, Beng Kong Hosiang tertawa  terkekeh-kekeh<BR>karena ia memandang rendah  sekali kepada kedua orang  itu, maka katanya  dengan<BR>suaranya yang tinggi nyaring,<BR>"Eh, anak-anak muda yang berani mati! Siapakah musuh-musuhmu itu?"<BR>Sekarang Kwee An yang menjawab dengan suaranya yang halus nyaring,<BR>"Musuh-musuh kami adalah si pengecut Boan  Sip, kedua saudara Tan Song  dan<BR>Tan Bu, kelima kawanan  yang disebut Santung  Ngohiap Ma Ing,  Un Kong Sian  dan<BR>tiga saudaranya yang lain, dan yang terakhir seorang hwesio keparat bernama  Hai<BR>Kong Hosiang. Manusia-manusia biadab yang namanya kusebutkan itu kalau berada di<BR>tempat ini harap maju untuk menerima kematian!"<BR>Semua orang terkejut, tak terkecuali Beng Kong Hosiang. Alangkah  beraninya<BR>kedua pemuda itu. Orang-orang yang  namanya mereka sebut adalah  perwira-perwira<BR>kelas tinggi, bahkan Ma Ing  dan Un Kong Sian  mendapat tempat duduk di  deretan<BR>Beng Kong Hosiang karena mereka  itu telah dianggap perwira-perwira yang  tinggi<BR>kedudukan dan kepandaiannya, demikian pula tiga orang saudara seperguruannya dan<BR>yang kesemuanya berjumlah  lima orang dan  disebut Santung Ngohiap.  Lebih-lebih<BR>lagi nama terakhir, yakni Hai Kong Hosiang, karena hwesio ini adalah sute  (adik<BR>sepergurunan) dari Beng Kong Hosiang sendiri!<BR>Musuh-musuh besar  yang  namanya  disebutkan tadi  semua  berada  di  situ,<BR>kecuali Boan Sip  dan Hai  Kong Hosiang.  Biarpun wajah  mereka menjadi  berubah<BR>ketika nama-nama  mereka disebut,  tetapi  karena berada  di rumah  sendiri  dan<BR>mempuyai banyak kawan-kawan, terutama adanya  Beng Kong Hosiang di situ  membuat<BR>mereka tabah dan berani. Secara  otomatis Tan Song dan  Tan Bu lalu berdiri  dan<BR>menghampiri kelima  saudara  Santung  Ngohiap  yang duduk  di  dekat  Beng  Kong<BR>Hosiang. Juga lima jago dari  Santung itu yakni Ma Ing,  Un Kong Sian, dan  tiga<BR>orang lain  yang belum  pernah dilihat  Cin Hai,  berdiri dari  kursinya  hingga<BR>ketujuh orang ini berkelompok untuk menghadapi kedua musuh itu.<BR>Sebetulnya nama Santung Ngohiap memang telah terkenal sekali. Urutan mereka<BR>adalah seperti berikut: yang pertama Lauw Tek, ke dua adalah adiknya Lauw  Houw.<BR>Kedua saudara inilah yana dulu ikut membasmi keluarga Kwee. Orang ke tiga adalah<BR>seorang tua yang  berwajah sabar  dan bernama  Ma Keng  In, dan  dia ini  adalah<BR>satu-satunya orang  dari kelima  jago dari  Santung yang  tidak pernah  memusuhi<BR>keluarga Kwee dulu, akan tetapi karena ia juga menjadi anggauta Santung Ngohiap,<BR>maka  otomatis  ia   pun  ikut  berdiri   dan  bersatu  dengan   saudara-saudara<BR>seperguruannya. Orang ke  empat dan  ke lima  adalah Ma  Ing dan  Un Kong  Sian.<BR>Melihat kepandaian  orang ke  empat  dan ke  lima  saja yang  demikian  hebatnya<BR>seperti terbukti ketika  Un Kong Sian  dan Ma Ing  memperlihatkan kepandaian  di<BR>rumah keluarga Kwee dulu, maka dapat dibayangkan betapa tingginya kepandaian  Ma<BR>Keng In, Lauw Houw dan Lauw Tek!<BR>Demikianlah, kelima Santung Ngohiap itu dan kedua saudara Tan Song dan  Tan<BR>Bu setelah berdiri merupakan satu kelompok, lalu Ma Ing membuka suara,<BR>"Eh, dua anjing  pemberontak muda! Kami  bertujuh ada di  sini, kalian  mau<BR>apa?"<BR>Sambil berkata demikian, ia bergerak  maju menuju ke panggung itu,  diikuti<BR>oleh enam orang lainnya. Sambil  maju, mereka meloloskan senjata  masing-masing.<BR>Juga para perwira  yang merasa marah  sekali melihat kedatangan  dua orang  muda<BR>yang mengacau ini, pada bergerak mendekati panggung hingga Cin Hai dan Kwee  Ang<BR>seakan-akan hendak dikeroyok oleh puluhan orang perwira Sayap Garuda itu!<BR>Cin Hai memandang  ke arah  mereka dengan  senyum sindir.  "Hem, hm,  tidak<BR>kusangka bahwa  selain  menjadi manusia-manusia  biadab  yang kejam,  juga  para<BR>perwira Sayap Garuda yang terkenal  ganas ternyata hanyalah sekumpulan  pengecut<BR>yang hanya  berani  main  keroyokan.  Ha-ha,  kalian  majulah!"  Sambil  berkata<BR>demikian, tangannya bergerak dan  tahu-tahu pedang pusaka Liong-coan-kiam  telah<BR>berada di tangannya! Juga Kwee An telah bersiap sedia dan ia mencabut  pedangnya<BR>yang juga  bukan  pedang sembarangan.  Mereka  telah mengambil  keputusan  untuk<BR>bertempur dengan nekad dan mengadu jiwa.<BR>Tiba-tiba terdengar  bentakan Beng  Kong  Hosiang, "Tahan!"  Dan  tahu-tahu<BR>hwesio yang tinggi  kurus ini telah  berada di atas  panggung, mendahului  semua<BR>perwira dan ia menghadapi kedua pemuda itu dengan sikap yang angkuh.<BR>"Tidak malukah kalian?" tegurnya kepada  semua perwira yang bergerak  maju.<BR>"Untuk menangkap dua ekor cacing  saja kalian hendak menggunakan tongkat  besar?<BR>Cuwi-ciangkun, jangan kau bikin malu kepada pinceng!"<BR>Memang ucapan Beng Kong Hosiang  ini beralasan sekali. Ia terkenal  sebagai<BR>penasihat para  perwira dan  terkenal  sebagai seorang  yang amat  disegani  dan<BR>ditakuti karena kepandaiannya yang tinggi. Sekarang tempat itu dikacau oleh  dua<BR>orang  pemuda,   masakan   para  perwira   hendak   mengeroyoknya,   seakan-akan<BR>kehadirannya itu tidak ada artinya sama  sekali! Ia telah melihat gerakan  kedua<BR>orang tadi ketika melompat ke atas panggung dan ia maklum bahwa di antara  kedua<BR>pemuda ini, yang harus diawasi adalah Cin Hai, sedangkan pemuda yang ke dua  itu<BR>tidak berbahaya.<BR>Mendengar bentakan Beng Kong Hosiang  semua perwira menahan gerakan  mereka<BR>dan hanya berdiri memandang kepada pemuda itu dengan mata mengancam.<BR>Beng Kong Hosiang tertawa. "Anak-anak  muda, kalian ini siapakah dan  murid<BR>siapa hingga berani sekali mengganggu tempat kediaman kami?"<BR>"Aku bernama sie  Cin Hai dan  ini adalah  Kwee An," jawab  Cin Hai  dengan<BR>suara tenang karena ia belum kenal siapa sebetulnya hwesio tua ini.  "Kedatangan<BR>kami ini  tidak ada  hubungannya  dengan orang  lain, kecuali  orang-orang  yang<BR>namanya telah  disebut  tadi. Mereka  itu  secara kejam  sekali  telah  membunuh<BR>keluarga Kwee dan kami sengaja datang untuk menuntut balas!"<BR>"Hem, mereka  itu  dibunuh  karena  mereka  telah  memberontak  dan  berani<BR>menghina perwira-perwira  kerajaan.  Kalian memiliki  kepandaian  apakah  berani<BR>mengacau di sini? Ketahuilah, anak-anak  muda, perbuatanmu ini saja sudah  cukup<BR>menjadi alasan untuk menghukum kalian!"<BR>"Kami hanya ingin  membasmi orang-orang yang  menjadi musuh-musuh kami  dan<BR>untuk itu kami  bersedia menghadapi siapa  saja!" berkata Kwee  An dengan  marah<BR>karena ia dapat  menduga bahwa  hwesio ini  tentulah orang  yang berpengaruh  di<BR>kalangan perwira Sayap Garuda.<BR>"Ha, ha, ha! Kau seperti anak-anak burung yang baru belajar terbang,  tidak<BR>tahu sampai  di mana  tingginya langit  dan luasnya  lautan! Lauw  Tek-ciangkun,<BR>marilah kau dan pinceng menghadapi dua ekor cacing-cacing tanah ini!" Beng  Kong<BR>Hosiang berlaku cerdik.  Dia tidak mau  kalau pihaknya disebut  curang dan  main<BR>keroyokan, akan tetapi  ia pun  tidak menghendaki  pihaknya mendapat  kekalahan,<BR>maka ia sengaja  memanggil Lauw Tek  yaitu saudara tertua  dari Santung  Ngohiap<BR>atau perwira yang pada saat itu hadir  di situ. Ia maklum bahwa kepandaian  Lauw<BR>Tek cukup tinggi untuk menghadapi Kwee  An, sedangkan untuk menghadapi Cin  Hai,<BR>dia sendiri hendak maju memperlihatkan kepandaiannya!<BR>Sambil tersenyum Lauw Tek menggerakkan tubuh dan melompat ke atas  panggung<BR>menghadapi Kwee An. Ia lalu menuding dan berkata kepada pemuda itu,<BR>"Dulu kau masih kuberi  ampun hingga jiwamu  tidak sampai melayang,  apakah<BR>karena itu kau merasa menyesal dan sekarang sengaja datang untuk mengantar jiwa?<BR>"<BR>Kwee An mengenal orang ini sebagai  seorang di antara mereka yang  menyerbu<BR>rumahnya, maka  tanpa  banyak cakap  lagi  ia lalu  menggerakkan  pedangnya  dan<BR>menusuk dengan gerakan Rajawali Mematuk Ikan sambil tersenyum menyindir Lauw Tek<BR>menggerakkan pedangnya menangkis dan mereka berdua lalu bertempur hebat.<BR>"Ha, ha,  anak muda,  sambutlah hidanganku  yang pertama!"  kata Beng  Kong<BR>Hosiang dan ia mengebut dengan ujung lengan baju yang lebar dan panjang ke  arah<BR>jalan darah kin-hun-hiat  di dada  Cin Hai. Sambaran  ini hebat  dan kuat,  akan<BR>tetapi dengan  tenang Cin  Hai lalu  miringkan tubuhnya  mengelak dan  tahu-tahu<BR>pedangnya membabat ke arah pergelangan tangan Beng Kong Hosiang ini! Hampir saja<BR>lengan tangan Beng Kong Hosiang terbabat putus oleh Liong-coan-kiam. Hwesio  ini<BR>terkejut sekali karena ia  tidak menyangka sama sekali  akan kehebatan Cin  Hai,<BR>maka tadi ia  berlaku lambat.  Harus diketahui bahwa  serangannya dalam  kebutan<BR>ujung lengan baju tadi  bukanlah serangan yang sembarangan  saja dan baru  angin<BR>pukulannya saja  sudah cukup  untuk  merobohkan seorang  lawan yang  kuat,  akan<BR>tetapi ternyata  penuda  ini  dengan  miringkan tubuhnya  ke  kiri  sudah  dapat<BR>mengelak serangannya.  Bagaimana  pemuda  ini tahu  bahwa  arah  kebutan  lengan<BR>bajunya memutar ke kanan hingga dengan mudah ia dapat berkelit ke kiri?<BR>Ia mengebut lagi, kini  dengan tipu Dewa Mabok  Menyiram Arak. Gerakan  ini<BR>dilakukan dengan  ujung lengan  baju kanan  dan mula-mula  langsung meluncur  ke<BR>depan ke  arah muka  lawan,  akan tetapi  gerakan  ini hanya  untuk  mengaburkan<BR>pandangan lawan belaka,  karena gerakan  yang sesungguhnya  ialah secepat  kilat<BR>ujung lengan baju  itu diputar ke  arah pergelangan orang  yang memegang  pedang<BR>untuk merampas  pedang lawan  itu!  Akan tetapi,  lagi-lagi ia  terkejut  bahkan<BR>mukanya menjadi berubah ketika  Cin Hai mendiamkan saja  ujung lengan baju  yang<BR>mengebut ke arah mukanya  karena ujung lengan baju  itu memang tidak  diteruskan<BR>dan kini  terputar cepat  ke arah  pergelangan tangannya.  Cin Hai  menggerakkan<BR>lengan tangannya dan  pedangnya menyabet ke  bawah hingga tak  ampun lagi  ujung<BR>lengan baju itu terbabat putus!<BR>Bukan main  terkejut dan  marahnya Beng  Kong Hosiang.  Tadinya ia  mengira<BR>bahwa dalam satu dua gebrakan saja ia akan dapat merobohkan lawan yang muda ini.<BR>Tidak tahunya, serangannya dalam dua jurus itu tidak menghasilkan sesuatu bahkan<BR>ia sendiri  menderita  rugi karena  ujung  lengan baju  yang  merupakan  senjata<BR>baginya itu telah  terbabat putus!  Dengan muka  terheran-heran ia  mengeluarkan<BR>senjata yang luar  biasa, yaitu  sebuah pacul  yang bergagang  bengkok dan  mata<BR>pacul itu tajam juga  lebar sekali. Akan tetapi  anehnya gagang pacul itu  dapal<BR>dilipat dua  dan  oleh karena  itu  setelah  dilipat menjadi  pendek  dan  dapat<BR>diselipkan di pinggangnya.<BR>Sambil membentak  hebat,  Beng  Kong  Hosiang  mengayunkan  pukulannya  dan<BR>menyerang dengan cepat. Gerakannya aneh sekali seperti seorang petani mencangkul<BR>tanah, akan tetapi  Cin Hai berlaku  tangkas dan cepat  melompat ke pinggir  dan<BR>balas menyerang dengan pedangnya.<BR>Di lain pihak, Kwee An  mengeluarkan seluruh ketangkasan dan  kepandaiannya<BR>untuk mempertahankan diri terhadap serangan Lauw Tek yang betul-betul lihai itu.<BR>Melihat permainan pedang Kwee An, Lauw Tek sambil menyerang berkata,<BR>"Eh, anak muda she Kwee, bukanlah kau murid Eng Yang Cu dari Kim- san-pai?"<BR>Kwee An merasa terkejut ketika  lawannya dapat mengenal ilmu pedangnya.  Ia<BR>menahan senjatanya dan  membentak, "Kalau  aku benar murid  Kim-san-pai kau  mau<BR>apakah?"<BR>Lauw Tek tertawa menghina. "Kebetulan  sekali, kau boleh mewakili Eng  Yang<BR>Cu dan mampus di  ujung senjataku!" Setelah berkata  demikian ia mendesak  makin<BR>hebat hinggga Kwee An  yang memang kalah  tinggi kepandaiannya menjadi  terdesak<BR>hebat.<BR>Tidak tahunya Lauw Tek memang pernah bentrok dengan Eng Yang Cu, salah satu<BR>tokoh dari Kim-san-pai. Hal ini terjadi belasan tahun yang lalu, sebelum Kwee An<BR>menjadi murid Eng Yang Cu. Ketika itu, Santung Ngohiap masih tinggal di  Santung<BR>dan menjadi  jago  yang  ditakuti  karena  selain  lihai  juga  terkenal  ganas.<BR>Kebetulan pada waktu itu Eng  Yang Cu yang sedang  merantau tiba di Santung  dan<BR>mendengar tentang keadaan  Santung Ngohiap, lalu  sengaja menantang pibu  kepada<BR>mereka. Pada waktu itu, Eng Yang Cu  masih berdarah panas hingga ia tidak  tahan<BR>mendengar betapa  di  Santung ada  Santung  Ngohiap yang  menjagoi  dan  berlaku<BR>sewenang-wenang. Di  dalam  pertandingan pibu  ini,  seorang demi  seorang  dari<BR>Santung Ngohiap  kena dikalahkan  oleh Eng  Yang Cu,  akan tetapi  secara  licik<BR>kelima jago Santung itu lalu mengeroyok hingga Eng Yang Cu menjadi terdesak  dan<BR>melarikan diri. Semenjak itu, Santung Ngohiap menaruh dendam kepada Eng Yang Cu.<BR>Karena pernah bertempur dengan  Eng Yang Cu, maka  Lauw Tek dapat  mengenal<BR>ilmu silat Kim-san-pai yang dimainkan oleh Kwee An dan karena melihat  kelihaian<BR>Kwee An, ia dapat menduga bahwa anak  muda ini tentulah murid dari Eng Yang  Cu.<BR>Dia menjadi girang  sekali karena  sekarang mendapat  kesempatan untuk  membalas<BR>dendamnya yang dulu kepada murid Eng Yang Cu ini.<BR>Oleh  karena  ini,   Lauw  Tek   lalu  mendesak   hebat  dan   mengeluarkan<BR>serangan-serangan maut yang berbahaya. Akan  tetapi, biarpun masih muda Kwee  An<BR>bersemangat baja dan ia berlaku nekad hingga gerakan pedangnya demikian  tangkas<BR>dan untuk berpuluh jurus ia masih dapat mempertahankan dirinya.<BR>Pada saat  itu, dari  luar berkelebat  bayangan putih  dan terdengar  suara<BR>orang berseru, "Lauw Tek, jangan kau  menghina anak kecil. Akulah lawanmu,  Kwee<BR>An, kau mundurlah!"<BR>Kwee An  merasa girang  sekali karena  ia mengenal  itu suara  Eng Yang  Cu<BR>gurunya. Ia lalu mundur dan membiarkan gurunya menghadapi Lauw Tek. Eng Yang  Cu<BR>adalah seorang tua berusia lima puluh  tahun lebih, jenggot dan rambutnya  sudah<BR>putih dan  pakaiannya  seperti seorang  tosu,  juga berwarna  putih.  Senjatanya<BR>adalah pedang panjang yang mengeluarkan cahaya berkeredepan.<BR>"Eng Yang Cu,  manusia sombong.  Bagus sekali kau  datang mengantar  jiwa!"<BR>Lauw Tek berseru dan  menyerang dengan ganas.  Para saudaranya seketika  melihat<BR>kedatangan musuh lama ini,  lalu datang menyerbu  hingga kini pertempuran  lebih<BR>hebat lagi. Tiga orang  dikeroyok oleh enam orang!  Kwee An yang melihat  betapa<BR>pihak lawan mengeroyok,  tidak mau  tinggal diam dan  ia menggerakkan  pedangnya<BR>lagi, bahkan  kini  permainannya lebih  hebat  karena ia  mendapat  hati  dengan<BR>kedatangan suhunya itu.<BR>Sementara itu,  dengan  ilmu  pedang  campuran  dari  Liong-san  Kiam-hoat,<BR>Ngo-lian  Kiam-hoat,   dan   Sianli-utau   yang   pernah   dipelajarinya,   juga<BR>kepandaiannya yang dipelajari dari  Bu Pun Su  yaitu mengenal dasar-dasar  semua<BR>gerakan lawannya,  Cin Hai  berhasil membuat  Beng Kong  Hosiang tidak  berdaya.<BR>Setiap gerakan  dan  serangan  hwesio  ini telah  dapat  diduga  oleh  Cin  Hai,<BR>sebaliknya ilmu pedang Cin Hai yang campur aduk telah membingungkan hwesio  itu.<BR>Hanya tenaga lweekang Beng Kong Hosiang yang tinggi saja yang masih  menolongnya<BR>hingga ia belum dijatuhkan oleh Cin Hai.<BR>Ketika melihat kedatangan suhu dari Kwee An dan melihat pula naiknya  semua<BR>lawan hingga  keadaan menjadi  berbahaya, Cin  Hai berseru  nyaring dan  gerakan<BR>pedangnya kini disertai tenaga  khikang yang luar  biasa. Inilah tenaga  khikang<BR>yang ia latih atas petunjuk Bu Pun Su, dan yang mempunyai daya tempur luar biasa<BR>sekali  karena  seluruh  tenaga  lweekang,  gwakang  dan  ginkang   dipersatukan<BR>merupakan pergerakan hebat hingga menimbulkan  angin besar. Khikang semacam  ini<BR>jarang dikeluarkan oleh Cin  Hai, karena tenaga  ini membutuhkan pemusatan  yang<BR>bulat hingga  sangat melelahkan  tubuh,  ia sendiri  akan mendapat  celaka  oleh<BR>karena kehabisan tenaga.  Oleh karena  inilah, maka jarang  sekali ia  keluarkan<BR>kepandaian ini. Untuk menggunakan tenaga khikang ini, paling lama ia hanya  kuat<BR>bersilat sampai tiga puluh jurus saja.<BR>Akan tetapi,  akibatnya hebat  sekali. Baru  saja ia  menyerang belum  lima<BR>jurus, kaki kirinya berhasil menendang dada Beng Kong Hosiang hingga hwesio  ini<BR>jatuh menggelinding ke bawah panggung dalam keadaan pingsan.<BR>Melihat kehebatan ini, para perwira  menjadi terkejut sekali dan  permainan<BR>Santung Ngohiap  menjadi kacau  balau  hingga Eng  Yang Cu  mendapat  kesempatan<BR>melukai Lauw  Tek dengan  pedangnya.  Keadaan menjadi  kalut dan  semua  perwira<BR>mencabut senjata  hendak mengeroyok.  Akan tetapi  karena jumlah  mereka  besar,<BR>sedangkan panggung itu sempit, maka gerakan mereka itu bahkan mengacaukan  kawan<BR>sendiri. Cin Hai dan  Kwee An yang mengambil  keputusan hendak membalas  dendam,<BR>lalu sengaja  menujukan  senjata mereka  kepada  keempat sisa  anggauta  Santung<BR>Ngohiap dan ketua saudara Tan Song dan Tan Bu. Eng Yang Cu yang tidak tahu  mana<BR>musuh-busuh besar muridnya,  hanya menggerakkan senjata  untuk melindungi  kedua<BR>pemuda itu. Pedang Kwee An berhasil merobohkan Tan Song dan Tan Bu dan  serangan<BR>pemuda ini disertai  kegemasan yang meluap  hingga kedua saudara  Tan itu  roboh<BR>tewas mandi  darah. Cin  Hai  yang mengamuk  hebat  bagaikan seekor  Naga  Sakti<BR>memperlihatkan diri, juga berhasil merobohkan Un  Kong Sian, Lauw Houw, Ma  Ing,<BR>dan Ma Keng In.  Akan tetapi karena ia  tahu bahwa Ma Keng  In tidak ikut  dalam<BR>penyerbuan ke rumah keluarga Kwee, ia  masih mengampuni orang tua ini dan  hanya<BR>menotoknya  roboh,  sedangkan  yang  lain-lain  telah  tewas  di  ujung   pedang<BR>Liong-koan-kiam!<BR>Melihat bahwa ketujuh musuh besar itu telah dapat dirobohkan, tiba-tiba Cin<BR>Hai melintangkan pedangnya yang masih berlumpuran darah dan ia berteriak.<BR>"Cuwi sekalian, tahan senjata! Kami bertiga tidak mau membunuh orang  tidak<BR>berdosa. Orang-orang yang  telah mengganas dan  membunuh keluarga Kwee  hanyalah<BR>enam orang yang telah tewas ini! Sedangkan Ma Keng In karena tidak ikut berdosa,<BR>ia hanya diberi  hajaran saja demikianpun  Beng Kong Hwesio  yang sombong  hanya<BR>diberi hajaran agar ia tidak memandang ringan kepada lain orang! Sekarang  harap<BR>Cuwi beritahukan di  mana adanya  Boan Sip dan  Hai Kong  Hosiang, karena  kedua<BR>orang jahat itu pun hendak kami basmi dari permukaan bumi!"<BR>Akan tetapi, di antara sekalian perwira itu, mana ada yang berani  menjawab<BR>dan membuka  rahasia kawan  sendiri? Mereka  hanya berdiri  diam sambil  bersiap<BR>sedia dengan senjata di tangan, walaupun  hati mereka telah dibikin gentar  oleh<BR>kehebatan ketiga orang itu!<BR>Karena tidak  ada  orang  yang  berani memberi  keterangan,  Cin  Hai  lalu<BR>mengajak kedua  kawannya pergi  dari  situ. Tiga  bayangan berkelebat  dan  para<BR>perwira baru sadar  bahwa ketiga lawan  mereka telah pergi  setelah tak  melihat<BR>mereka di atas panggung lagi. Mereka lalu menolong kawan-kawan yang terluka  dan<BR>sebagian orang  lalu  lari memberi  laporan  ke istana.  Keadaan  menjadi  kalut<BR>sekali, karena semenjak  Kanglam Chit-koai  mengamuk pada  beberapa puluh  tahun<BR>yang lalu  di  dalam  Eng-hiong-koan  ini, tak  pernah  ada  orang  yang  berani<BR>mengganggu mereka. Tak dinyana bahwa hari ini dua orang pemuda yang dibantu oleh<BR>seorang tosu tua  telah membuat  mereka kocar-kacir, bahkan  enam orang  perwira<BR>telah binasa!  Yang  lebih hebat  lagi,  Beng  Kong Hosiang  yang  belum  pernah<BR>dikalahkan orang itu, kini roboh dalam tangan seorang pemuda tanggung! Ini hebat<BR>sekali.<BR>Juga Kaisar menjadi terkejut mendengar huru-hara ini. Ia lalu memerintahkan<BR>barisan pengawal untuk mengejar  dan mengepung, akan tetapi  pada saat itu,  Cin<BR>Hai dan kawan-kawannya telah lari jauh  meninggalkan tembok kota raja dan  telah<BR>berhenti di dalam sebuah hutan.<BR>Cin Hai diperkenalkan oleh Kwee An kepada gurunya dan Eng Yang Cu memandang<BR>dengan kagum kepada Cin Hai.<BR>"Sie-taihiap,   kau   masih   begini   muda   akan   tetapi    kepandaianmu<BR>sungguh-sungguh membuat aku menjadi kagum sekali. Siapakah Suhumu yang mulia?"<BR>Sebagaimana biasa, Cin Hai merasa  segan untuk memberitahukan nama  suhunya<BR>karena maklum bahwa Bu Pun Su sama sekali tidak suka bahkan membenci segala nama<BR>besar yang dianggapnya kosong belaka. Maka melihat keraguan pemuda itu, Kwee  An<BR>lalu mewakilinya menjawab,<BR>"Guru Saudara Cin Hai ini adalah Bu Pun Su."<BR>"Ah!" Eng  Yang  Cu  terkejut  sekali mendengar  ini.  "Tak  heran  apabila<BR>kepandaiannya lihai sekali.  Pinto pernah mendengar  nama besar Suhumu  walaupun<BR>mataku belum mendapat  kemuliaan dan kehormatan  untuk bertemu dengan  Locianpwe<BR>itu, akan tetapi setelah melihat kepandaian muridnya, hatiku telah cukup puas."<BR>Kemudian Eng Yang Cu menceritakan bahwa dari seorang sahabatnya di kalangan<BR>kang-ouw ia mendengar tentang nasib buruk  yang menimpa keluarga Kwee An.  Kakek<BR>ini yang sangat  sayang kepada muridnya  itu, menjadi marah  sekali dan  seorang<BR>diri ia  berangkat  ke kota  raja  hendak  mencari Santung  Ngohiap  yang  telah<BR>membunuh keluarga muridnya  dan kebetulan sekali  ia datang di  saat yang  tepat<BR>hingga dapat membantu pembalasan sakit hati Kwee An dan Cin Hai.<BR>"Baiknya Totiang cepat-cepat datang, kalau tidak, aku tak berdaya  menolong<BR>Saudara Kwee An, karena  hwesio itu pun cukup  lihai hingga aku tidak  mempunyai<BR>kesempatan membelanya," kata Cin Hai terus terang.<BR>"Kwee An,  musuh-musuhmu  telah  terbalas  dan  semua  itu  berkat  bantuan<BR>Sie-taihiap ini, maka jangan  kau melupakan budi yang  besar itu." "Musuh  belum<BR>terbalas semua,  Suhu," kata  Kwee An.  Masih  ada dua  orang musuh  besar  yang<BR>memegang peranan penting dalam perbuatan biadab itu, yakni Hai Kong Hosiang yang<BR>lihai dan Boan Sip perwira yang tadinya hendak memaksa adikku menjadi isterinya.<BR>"<BR>Eng Yang Cu terkejut. "Hai Kong Hosiang ikut-ikut dalam perbuatan keji? Ah,<BR>memang benar kata-kata orang kang-ouw  bahwa setiap perbuatan jahat yang  sangat<BR>keji, tentu  Hai Kong  Hosiang ikut  campur! Biarpun  ilmu kepandaian  Hai  Kong<BR>Hosiang mungkin  tak lebih  hebat  daripada suhengnya,  akan tetapi  hwesio  itu<BR>terkenal cerdik  dan banyak  akalnya, lagi  curang sekali.  Namun pinto  percaya<BR>bahwa dengan  bantuan  seorang kawan  seperti  Sie-taihiap ini,  pasti  ia  akan<BR>terbalas!"<BR>Eng Yang Cu terkejut. "Hai Kong Hosiang ikut-ikut dalam perbuatan keji? Ah,<BR>memang benar kata-kata orang kang-ouw  bahwa setiap perbuatan jahat yang  sangat<BR>keji, tentu  Hai Kong  Hosiang ikut  campur! Biarpun  ilmu kepandaian  Hai  Kong<BR>Hosiang mungkin  tak lebih  hebat  daripada suhengnya,  akan tetapi  hwesio  itu<BR>terkenal cerdik  dan banyak  akalnya, lagi  curang sekali.  Namun pinto  percaya<BR>bahwa dengan  bantuan  seorang kawan  seperti  Sie-taihiap ini,  pasti  ia  akan<BR>terbalas!"<BR>Kemudian, setelah memberi nasihat dan pesanan kepada muridnya agar  berlaku<BR>hati-hati dan  agar  supaya suka  minta  petunjuk-petunjuk dari  Cin  Hai,  tosu<BR>pengembara ini lalu melanjutkan perjalanannya.<BR>"Kalau pinto kebetulan bertemu dengan Hai  Kong atau Boan Sip, tentu  pinto<BR>takkan tinggal diam dan mencoba untuk  melawan mereka," katanya. Kwee An  merasa<BR>terharu atas pembelaan  suhunya itu  dan menghaturkan terima  kasih dan  selamat<BR>berpisah. Juga Cin Hai merasa kagum sekali atas kebaikan guru Kwee An itu.<BR>"Suhumu itu  berhati mulia  sekali, Saudara  An," katanya  dan ia  teringat<BR>kepada suhunya sendiri Bu Pun Su, yang tiada kabar beritanya itu. Apakah suhunya<BR>itu masih berada di Gua Tengkorak?<BR>"Saudara Cin  Hai, ketika  kita hendak  pergi ke  kota raja  dan mampir  di<BR>Tiang-an mencari Boan Sip, ternyata ia telah meninggalkan tempat tinggalnya  itu<BR>dan kabarnya pergi ke kota  raja. Akan tetapi, di kota  raja pun ia tak ada.  Ke<BR>manakah ia pergi dan ke mana pula kita harus mencari dia dan Hai Kong Hosiang?"<BR>Setelah berpikir sebentar, Cin Hai menjawab, "Mungkin sekali Boan Sip  ikut<BR>pergi dengan  Hai Kong  Hosiang.  Biarlah kita  menyelidiki  lagi ke  kota  raja<BR>mencari jejak mereka. Akan  tetapi kita harus  berlaku sangat hati-hati,  karena<BR>tentu saja Kaisar takkan tinggal diam  karena perbuatan kita yang membunuh  para<BR>perwira."<BR>Mereka lalu menanti sampai sore, karena bermaksud hendak memasuki kota raja<BR>di waktu malam agar jangan terlalu banyak mengalami rintangan para penjaga  yang<BR>tentu berlaku waspada setelah terjadi kerusuhan demikian hebatnya.<BR>"Saudara Kwee An, kurasa satu-satunya  orang yang dapat memberi  keterangan<BR>tentang Hai Kong Hosiang  dan Boan Sip,  adalah Ma Keng  In. Perwira ini  adalah<BR>orang ke tiga dari Santung Ngohiap, dan dibanding dengan saudara-saudaranya,  ia<BR>agaknya paling baik.  Mungkin sekali dia  mau memberi tahu  kepada kita  tentang<BR>tempat tinggal Hai Kong Hosiang, mengingat  bahwa kita telah berlaku murah  hati<BR>dan tidak membunuhnya."<BR>Dengan mempergunakan kepandaian  ginkang mereka  yang tinggi,  Cin Hai  dan<BR>Kwee Ang dengan mudah dapat melompati  tembok kota di bagian yang tidak  terjaga<BR>dan karena malam itu  gelap, maka mereka dapat  menyelundup ke dalam kota  tanpa<BR>menemui rintangan.  Ketika  Cin Hai  mencari  keterangan di  kalangan  penduduk,<BR>dengan mudah mereka dapat mengetahui di mana rumah kediaman perwira she Ma  itu,<BR>yaitu di dalam sebuah gedung besar yang kuno.<BR>Segera mereka jalan di  atas genteng dan menuju  ke rumah itu. Akan  tetapi<BR>baru saja mereka tiba di atas wuwungan rumah perwira Ma Keng In, mereka  dicegat<BR>oleh seorang pemuda  berpakaian biru yang  telah berdiri di  situ dengan  tangan<BR>memegang sebatang pedang terhunus dan tajam berkilat!<BR>"Hm, kalian masih belum puas  dan hendak mengambil jiwa Ayahku?"  bentaknya<BR>sambil menggerakkan pedang. "Nah, majulah,  memang sejak tadi aku telah  menanti<BR>kedatanganmu berdua!"<BR>Pemuda baju biru itu menyerang Kwee  An dengan pedangnya dan Kwee An  cepat<BR>menangkis. Kedua pedang bertemu menerbitkan suara nyaring dan bunga api berpijar<BR>memercik keluar tanda  bahwa kedua  orang muda  ini seimbang!  Cin Hai  terkejut<BR>karena ternyata pemuda ini mempunyai gerakan cukup lihai.<BR>"Sobat, tahan dulu," katanya. "Kau siapakah dan mengapa tiba-tiba menyerang<BR>kami?"<BR>"Kalian diam-diam memasuki kotaraja dan mencari rumah kediaman  Ma-ciankun.<BR>Masih hendak bertanya mengapa aku menanti  dengan pedang di tangan di sini?  Aku<BR>adalah anak dari Ma-ciangkun. Siang tadi kau telah melukai Ayahku dan  mengganas<BR>di kota raja, sekarang sebelum kau hendak mencari Ayah, kauhadapi dulu anaknya!"<BR>Sebelum Cin Hai  dan Kwee  An menjawab,  pemuda itu  dengan ganasnya  telah<BR>menyerang lagi kepada Kwee An. Melihat pemuda yang tampan itu dan sikapnya  yang<BR>lemah lembut serta  pergerakan pedangnya  yang lihai, Cin  Hai menjadi  tertarik<BR>sekali,  maka  ia  diamkan  saja  dan  menonton  pertempuran  itu  dengan  penuh<BR>perhatian. Yang mengherankan hatinya ialah bahwa ilmu pedang pemuda itu  berbeda<BR>sekali dengan  ilmu  pedang Ma  Keng  In,  bahkan tidak  lebih  rendah  daripada<BR>kepandaian Ma-ciangkun itu! Juga gerakan  pemuda itu aneh sekali, karena  selalu<BR>menyerang sambil membalikkan  tubuh hingga gerakannya  seperti seekor naga  yang<BR>menyabet dengan  ekornya  yang  tajam.  Juga dalam  hal  tenaga  dan  kecepatan,<BR>ternyata pemuda yang lihai ini tidak kalah oleh Kwee An!<BR>JUGA Kwee An tidak kurang terkejutnya karena putera Ma Keng In ini ternyata<BR>merupakan seorang  lawan yang  tangguh  sekali dan  ia hanya  dapat  mengimbangi<BR>pemuda itu dan tak dapat mendesak!<BR>"Sobat, kita datang bukan bermaksud buruk!" Kwee An berkata sambil  menahan<BR>serangan orang akan  tetapi pemuda itu  tidak ambil peduli  dan terus  menyerang<BR>dengan ganasnya.<BR>Pada saat itu  terdengar suara Ma  Keng In yang  berat dari bawah  genteng,<BR>"Hoa-ji,jangan berlaku  kurang  ajar kepada  tamu.  Jiwi, kalian  turunlah  jika<BR>hendak bicara dengan aku!"<BR>Pemuda yang disebut  Hoa-ji oleh ayahnya  mengeluarkan seruan kecewa,  akan<BR>tetapi ia lalu melompat  ke bawah dengan  ringan, diikuti oleh  Kwee An dan  Cin<BR>Hai. Ma Keng In telah berdiri di situ dan menyambut mereka dengan wajah keren.<BR>"Jiwi yang  muda dan  gagah malam-malam  datang ke  pondokku ada  keperluan<BR>apakah?"<BR>Kwee An membalas hormatnya dan  berkata, "Harap Lo-enghiong suka  memaafkan<BR>kami. Sebenarnya kami berdua  tidak mempunyai permusuhan  dengan kau orang  tua,<BR>karena tidak ikut membasmi keluargaku. Kedatangan kami ini sengaja hendak  mohon<BR>pertolongan Lo-enghiong dan bertanya  di mana adanya Hai  Kong Hosiang dan  Boan<BR>Sip, kedua musuh besarku yang masih belum terbalas itu."<BR>Walah Ma  Keng In  memerah.  "Hm, kalian  otang-orang muda  memang  terlalu<BR>berani dan  tidak  memandang sebelah  mata  kepadaku! Kaukira  aku  ini  seorang<BR>pengkhianat yang sudi mencurangi  dan mengkhianati kawan-kawan sendiri?  Biarpun<BR>kalian akan membunuh dan memotong lidahku,  aku orang she Ma tidak serendah  itu<BR>untuk mengkhianati kawan-kawan sendiri."<BR>Kwee An tercengang dan tak dapat menjawab. Tapi Cin Hai lalu tertawa  aneh.<BR>Ma Keng In  memang semenjak tadi  memandang ke  arah Cin Hai  karena ia  sungguh<BR>mengagumi anak  muda  yang  telah  ia saksikan  kelihaiannya  siang  tadi.  Kini<BR>mendengar suara tertawa anak muda itu ia berkata,<BR>"Apakah kau demikian memandang rendah kepadaku hingga mentertawakan sikapku<BR>yang bodoh?"<BR>"Ah, tidak, tidak  sekali-kali, Ma-ciangkun!  Aku yang  muda bahkan  merasa<BR>teramat kagum melihat sifat kesatriaanmu. Yang kuanggap lucu adalah  keanehanmu.<BR>Kau begini  gagah perkasa  dan  berjiwa satria,  akan  tetapi mengapa  kau  sudi<BR>menjadi anggauta Sayap Garuda yang terkenal ganas menindas rakyat? Biarlah,  hal<BR>itu bukan  urusan  kami  dan  aku pun  tidak  akan  mengutik-utik.  Akan  tetapi<BR>pemandanganmu tadi keliru sekali! Ujar-ujar kuno menyatakan bahwa kebaikan harus<BR>dibalas dengan  kebaikan  pula,  akan  tetapi  kejahatan  harus  dibalas  dengan<BR>keadilan! Hai Kong Hosiang dan Boan Sip adalah orang-orang yang telah  melakukan<BR>keganasan dan kekejaman yang  termasuk kejahatan besar.  Kalau kau memberi  tahu<BR>tempat mereka kepada kami,  itu berarti bahwa kau  telah melakukan sesuatu  yang<BR>adil. Ingatlah bahwa  permusuhan ini  tiada sangkut  pautnya dengan  kedudukanmu<BR>atau kedudukan mereka sebagai anggauta  Sayap Garuda, akan tetapi adalah  urusan<BR>pribadi. Lagi pula mereka adalah orang-orang yang memiliki kepandaian, maka  apa<BR>perlunya  mereka   bersembunyi   daripada   kami?  Kalau   kau   menolak   untuk<BR>memberitahukan tempat tinggal mereka, itu  berarti bahwa kau bahkan  merendahkan<BR>mereka dan berarti kau takut kalau-kalau mereka itu akan kalah dan terbunuh oleh<BR>kami!"<BR>Ma Keng In mendengarkan ucapan panjang lebar ini dengan mata terbelalak dan<BR>ia makin heran  melihat pemuda  yang tidak  saja berkepandaian  lihai itu,  akan<BR>tetapi juga mempunyai  pemandangan yang  demikian dalam dan  halus. Ia  menghela<BR>napas dan berkata,<BR>"Alasan-alasanmu dapat diterima,  anak muda.  Memang Hai  Kong Suhu  adalah<BR>seorang yang  tinggi hati  dan kalau  ia tahu  bahwa aku  menolak untuk  memberi<BR>keterangan kepadamu tentang kepergiannya, tentu ia akan merasa kurang senang dan<BR>menganggap aku  merendahkannya.  Baiklah kalau  kau  dan kawanmu  memaksa,  akan<BR>tetapi kalau kalian tewas dan celaka di dalam tangannya janganlah kalian  merasa<BR>penasaran kepadaku. Hai  Kong Suhu  dan Boan-ciangkun  sedang menjalankan  tugas<BR>yang diperintahkan  oleh  Kaisar  untuk menghubungi  pasukan-pasukan  Mongol  di<BR>perbatasan utara. Lima  hari yang lalu  mereka dan beberapa  orang perwira  lain<BR>telah berangkat ke utara meninggalkan kota raja."<BR>Cin Hai menjura dan berkata, "Terima kasih banyak, Ma-ciangkun. Kau  memang<BR>benar-benar seorang tua gagah dan  berhati lurus. Mudah-mudahan bertemu  kembali<BR>dalam keadaan yang lebih menyenangkan."<BR>Kwee An juga menghaturkan terima kasih  dan keduanya lalu melompat ke  atas<BR>genteng untuk meninggalkan kota raja yang sebetulnya tidak aman bagi mereka itu.<BR>Akan tetapi,  belum  jauh mereka  pergi,  tiba-tiba terdengar  suara  orang<BR>menegur dari belakang. Mereka berhenti dan ternyata Ma Hoa, pemuda berbaju  biru<BR>yang menegur mereka tadi, telah mengejar mereka!<BR>"Eh, eh, kau mengejar mau apa? Apakah hendak melanjutkan pertandingan  yang<BR>tadi?" Kwee An menegur tidak senang.<BR>"Kalau hendak melanjutkan pertandingan, tak perlu aku banyak cakap!"  jawab<BR>pemuda itu  ketus. "Ayah  terlalu lemah,  maka kalau  kalian memang  orang-orang<BR>gagah, di dalam tiga hari aku akan  menanti kalian di lereng Pai-san di  sebelah<BR>utara!"<BR>Kwee An  merasa  mendongkol  dan penasaran.  "Mengapa  kami  tidak  berani?<BR>Baiklah, kalau kami menuju ke utara kami  akan mampir di tempat itu dan di  sana<BR>kita boleh bertempur sampai seribu jurus! Siapa takut dengan seorang kanak-kanak<BR>seperti kau?"<BR>Pemuda itu membanting-banting kaki dan berkata, "Aku akan menunggu di sana!<BR>" Kemudian ia lalu membalikkan tubuh dan lari meninggalkan mereka.<BR>"Ah, Saudara An, mengapa  kau mencari musuh baru?  Orang itu kulihat  lihai<BR>sekali, ilmu kepandaiannya  tidak kalah jika  dibandingkan dengan Ayahnya."  Cin<BR>Hai menegur dengan suara menyesal.<BR>"Siapa takut  dia?" jawab  Kwee  An yang  merasa mendongkol  dan  penasaran<BR>sekali karena tadi ia  benar-benar tidak dapat  mengalahkan pemuda itu.  Setelah<BR>pemuda itu menentangnya apakah ia harus  mundur? "Dan lagi kita hendak  melewati<BR>Pai-san. Kalau kita tidak menyambut tantangannya, bukankah kita akan  diterwakan<BR>oleh seorang kanak-kanak?"<BR>Cin Hai tersenyum dan maklum bahwa  Kwee An merasa penasaran sekali  karena<BR>tidak dapat mengalahkan seorang pemuda  yang sikapnya masih seperti  kanak-kanak<BR>itu!<BR>Setelah melakukan perjalanan sambil bertanya-tanya di jalan kepada penduduk<BR>dusun tentang rombongan Hai Kong Hosiang, tiga hari kemudian Cin Hai dan Kwee An<BR>tiba di lereng bukit Pai-san.<BR>Pemandangan di lereng bukit ini sungguh indah dan tanah di situ subur.  Hal<BR>ini adalah karena di lereng itu mengalir sebuah sungai yang menjadi sumber  atau<BR>mata air Sungai  Liong-kiang dan  yang menjadi  anak sungai  atau cabang  Sungai<BR>Huangho, karena sungai  Liong-kiang ini  akhirnya memuntahkan  airnya di  Sungai<BR>Kuning yang besar itu.<BR>Ketika Cin Hai dan Kwee  An sedang berdiri termangu-mangu sambil  memandang<BR>ke arah air sungai  yang mengalir sambil memperdengarkan  dendang riak air  yang<BR>menyedapkan telinga,  tiba-tiba  dari jauh  terlihat  sebuah perahu  kecil  yang<BR>bergerak maju melawan  arus air.  Setelah dekat,  ternyata yang  duduk di  dalam<BR>perahu itu adalah pemuda baju biru putera Ma Keng In dan seorang tua  berpakaian<BR>nelayan yang  bertubuh  kurus bagaikan  tengkorak  hidup dan  berwajah  gembira.<BR>Biarpun melawan  arus  air,  akan  tetapi  dengan  dayungnya  pemuda  itu  dapat<BR>menggerakkan  perahu  dengan  lajunya,  hingga  dapat  dibayangkan  betapa  kuat<BR>tenaganya.<BR>Tiba-tiba terdengar nelayan  tua itu  berdendang, suaranya  yang parau  itu<BR>diiringi bunyi riak air. "Di belakang pintu gerbang merah indah cemerlang anggur<BR>dan daging berlebih-lebihan hingga masam membusuk!<BR>Di luar pintu gerbang kotor  sunyi melengang berserakan tulang rangka  sisa<BR>korban dingin dan lapar!!"<BR>Cin Hai terkesiap.  Ia mengenal syair  yang diucapkan dalam  lagu ini.  Ini<BR>adalah syair yang ditulis oleh pujangga Tu Fu. Pada jaman dulu keadaan rakyat di<BR>bawah pemerintahan Raja Hsuan Tsung sangat menderita dan pada suatu hari  ketika<BR>lewat di  Pegunungan  Lisan,  Pujangga  itu  melihat  betapa  Raja  Hsuan  Tsung<BR>bersenang-senang dan  berpelesir dengan  para selir  di istananya  yang  disebut<BR>istana Hua Cin. Oleh karena merasa betapa janggalnya perbedaan ini, yaitu antara<BR>kehidupan raja  yang tahunya  hanya bersenang-senang  belaka tidak  mempedulikan<BR>keadaan rakyatnya yang sengsara dan  banyak yang mati kelaparan dan  kedinginan,<BR>maka jiwa patriot yang menggelora di hati pujangga Tu Fu menggerakkan  tangannya<BR>untuk membuat syair itu.<BR>Syair ini semenjak dulu dilarang  oleh semua kaisar yang memerintah  karena<BR>dianggap sangat menghina kaisar, dan bersifat memberontak, maka jarang ada orang<BR>mengenalnya lagi,  apalagi menyanyikannya,  karena apabila  terdengar oleh  kaki<BR>tangan kaisar, tak ampun lagi orang itu dapat ditangkap sebagai pemberontak  dan<BR>dijatuhi hukuman keras. Akan tetapi nelayan  tua yang duduk di dalam perahu  itu<BR>bahkan berani menyanyikannya  dengan lagu suara  yang bersemangat sekali.  Orang<BR>yang berani bernyanyi seperti itu di  tempat terbuka, tahulah seorang yang  luar<BR>biasa dan berilmu tinggi.<BR>"Bagus sekali  syair  itu, seakan-akan  kulihat  Tu Fu  menjelma  kembali."<BR>Dengan suara keras Cin Hai memuji.<BR>Ketika itu perahu  kecil tadi telah  tiba di depan  mereka dan nelayan  itu<BR>lalu memandang ke arah Cin Hai. Tiba-tiba tubuhnya bergerak dan tahu-tahu  tubuh<BR>yang seperti tengkorak itu telah melayang berdiri di depan Cin Hai.<BR>"Hi-hi, anak muda, kau kenal Tu Fu?" tanyanya.<BR>"Kenal? Dia  sahabat  baikku  di  alam mimpi!"  jawab  Cin  Hai  yang  lalu<BR>mengucapkan sebuah syair lain dari Tu Fu dengan suara nyaring.<BR>"Mungkinkah membangun  sebuah gedung  dengan  laksaan kamar  untuk  memberi<BR>tempat bagi para fakir miskin di seluruh dunia yang akan merasa bahagia  biarpun<BR>dalam hujan karena gedung kokoh kuat bagaikan bukit raksasa?<BR>Kalau saja aku dapat melihat ini tiba-tiba muncul di depan mataku,  biarlah<BR>gubukku ini hancur lebur, biarlah aku mati kedinginan, aku akan mati dengan mata<BR>meram dan jiwa tenteram!<BR>Nelayan itu melebarkan matanya  dan memandang kepada  Cin Hai dengan  wajah<BR>gembira sekali. Tiba-tiba dari  kedua matanya yang lebar  itu mengalir air  mata<BR>dan ia lalu memeluk leher Cin Hai dan menangis tersedu-sedu sambil  menyandarkan<BR>kepalanya di pundak pemuda itu.<BR>Kepala nelayan tua itu mengeluarkan bau  amis seperti bau ikan, dan  ketika<BR>ia memeluk Cin  Hai kedua  tangannya merangkul.  Cin Hai  merasa seakan-akan  ia<BR>ditindih oleh sebuah batu  besar yang beratnya ribuan  kati. Ia merasa  terkejut<BR>sekali dan tahu bahwa diam-diam kakek nelayan ini telah mencoba tenaganya.<BR>Maka ia lalu menahan  napas dan mengerahkan  tenaga dalamnya untuk  melawan<BR>tekanan yang  hebat ini.  Ia hampir  tidak kuat,  akan tetapi  berkat  keteguhan<BR>hatinya, ia tidak mengeluh atau memperlihatkan kelemahannya.<BR>Akhirnya kakek nelayan itu  melepaskan pelukannya dan  Cin Hai merasa  lega<BR>sekali. Keringat dingin telah keluar dari kulit mukanya dan ia menggunakan ujung<BR>lengan bajunya untuk menyusut peluh itu.<BR>Kakek nelayan itu setelah memandang tubuh  Cin Hai dari kepala sampai  kaki<BR>dengan mata berseri dan  wajah gembira, lalu berpaling  kepada pemuda baju  biru<BR>yang sementara itu telah  keluar dari perahu dan  menghampiri mereka. "Eh,  anak<BR>nakal, pemuda inikah yang  kaumaksudkan? Ah, Hoa-ji, kau  akan kalah! Kau  tentu<BR>kalah!"<BR>Pemuda yang bernama Ma  Hoa itu menggeleng kepalanya  dan menuding ke  arah<BR>Kwee An, "Bukan dia, Suhu, yang inilah!"<BR>Kwee An dan Cin Hai memandang ke arah pemuda itu. Mereka tercengang, karena<BR>setelah melihat pemuda itu di siang hari, ternyata bahwa pemuda ini  benar-benar<BR>berwajah tampan sekali  dan sikapnya pendiam  dan agung! Ma  Hoa lalu  melangkah<BR>rnenghadapi Kwee An dan berkata,<BR>"Hem, ternyata  kau mematuhi  janji.  Nah, mau  tunggu apa  lagi?  Cabutlah<BR>senjatamu dan coba  kau perlihatkan kepandaianmu!"  Sambil berkata demikian,  Ma<BR>Hoa lalu melolos  pedangnya dari  pinggang dan  bersiap sedia.  Kwee An  berdiri<BR>bingung karena ia merasa  jerih juga menghadapi pemuda  yang bersikap agung  dan<BR>tenang ini.  Ia berpaling  kepada Cin  Hai, akan  tetapi Cin  Hai sedang  saling<BR>pandang dengan nelayan tua itu sambil tersenyum-senyum, sedangkan kakek  nelayan<BR>itu lalu memegang tangan Cin Hai, ditarik untuk bersama duduk di bawah  sebatang<BR>pohon dan dengan tertawa haha-hihi ia berkata,<BR>"Mari, mari, sahabatku, kita  duduk di sini dan  menonton kedua anak  nakal<BR>itu!"<BR>Cin Hai maklum bahwa kakek nelayan luar biasa ini tak bermaksud jahat, maka<BR>ia tidak menguatirkan  keselamatan Kwee  An dan ia  lalu ikut  duduk di  sebelah<BR>kakek itu.<BR>Ma Hoa ketika melihat Kwee An berdiri bengong, lalu membentak,<BR>"Tidak lekas mengeluarkan senjatamu? Apakah kau takut?"<BR>Marahlah Kwee An melihat kecongkakan pemuda itu, maka dengan muka merah  ia<BR>mencabut senjatanya dan berkata, "Tenang, kawan. Siapa yang takut kepada engkau?<BR>"<BR>Ma Hoa lalu menyerang dengan hebat  dan tanpa sungkan-sungkan lagi Kwee  An<BR>dengan cepat menangkis dan membalas menyerang. Sebentar saja keduanya  bertempur<BR>seru sekali, saling  mengerahkan tenaga  dan kepandaian,  saling melepas  umpan,<BR>membuat gerak tipu dan mengeluarkan segala jurus yang saling berbahaya.<BR>Cin  Hai  duduk  dengan  bengong  karena  kagum.  Ia  tak  hanya  mengagumi<BR>kepandaian kedua  anak  muda  ini,  akan tetapi  ia  mengagumi  kenyataan  bahwa<BR>kepandaian kedua orang itu boleh dibilang sama tinggi dan sama pandai. Dan  yang<BR>lebih mengherankannya lagi, Ma Hoa biarpun sikapnya congkak sokali, akan  tetapi<BR>di dalam pertempuran itu agaknya  tidak mengandung hati ingin mencelakakan  Kwee<BR>An. Ini dapat dilihatnya dari gerakan  pemuda itu yang selalu terlambat  sedikit<BR>dari pada seharusnya dalam  mengirim serangan maut! Kwee  An tak pantas  disebut<BR>murid Kim-san-pai yang  lihai kalau ia  tidak mengetahui hal  ini. Mula-mula  ia<BR>merasa heran  dan menganggap  bahwa  lawannya memang  masih belum  matang  betul<BR>kepandaiannya, akan tetapi karena  berkali-kali Ma Hoa memperlambat  gerakannya,<BR>ia menjadi  maklum  dan  hatinya  girang sekali.  Ternyata  pemuda  ini  mencoba<BR>kepandaiannya saja. Oleh  karena itu,  ia lalu  mengeluarkan kepandaiannya  yang<BR>paling hebat  dan  memutar  pedangnya sedemikian  rupa  hingga  sinar  pedangnya<BR>bergulung-gulung, akan tetapi ia pun  menjaga-jaga jangan sampai melukai  pemuda<BR>lawannya itu. Sungguh suatu pertempuran yang hebat dan indah dipandang.<BR>Bukan main girang hati Cin Hai melihat keadaan itu, karena ia maklum  bahwa<BR>keduanya tidak mempunyai keinginan mencelakakan  lawan. Tadinya ia telah  merasa<BR>khawatir kalau-kalau harus bermusuhan dengan nelayan tua yang hebat ini,  karena<BR>kalau ia dan Kwee An sampai menjadi musuh nelayan ini, itu berarti bahwa  mereka<BR>telah menanam bibit permusuhan  yang berbahaya. Laginya,  ia merasa suka  sekali<BR>kepada kakek  nelayan  yang  bersemangat ini.  Kegirangan  hatinya  dan  keadaan<BR>tamasya alam yang  indah di situ  telah membuat hatinya  bahagia sekali dan  tak<BR>terasa pula  ia mengeluarkan  suling bambunya.  Kakek nelayan  itu  memandangnya<BR>dengan senang  sekali  hingga  Cin  Hai lalu  mulai  menyuling,  sambil  matanya<BR>memandang kepada dua orang muda yang masih bermain pedang.<BR>Cin Hai memang  pandai sekali  menyuling. Ketika  suara lengking  sulingnya<BR>melagukan sebuah lagu peperangan kuno yang bersemangat, maka Kwee An dan Ma  Hoa<BR>tak terasa pula terpengaruh  oleh nyanyian ini dan  mereka bermain pedang  makin<BR>hebat dan indah, seakan-akan dua orang penari yang mendengar suara gamelan merdu<BR>yang membuat tarian mereka lebih indah.<BR>Kakek nelayan itu menatap wajah Cin Hai dan aneh sekali. Kembali dari kedua<BR>matanya yang lebar  mengalir keluar air  mata. Ternyata hati  kakek nelayan  ini<BR>perasa sekali hingga membuat ia terkenal sebagai seorang yang cengeng atau mudah<BR>menangis. Oleh karena inilah, maka ia mendapat sebutan Nelayan Cengeng!<BR>Cin Hai juga dapat melihat bahwa kedua anak muda itu terpengaruh oleh suara<BR>sulingnya. Ia melihat betapa mereka berdua telah berpeluh karena pertempuran itu<BR>telah berjalan  dua ratus  jurus  lebih! Ia  menjadi  kasihan dan  tiba-tiba  ia<BR>menghentikan tiupan sulingnya.  Keadaan menjadi sunyi  setelah suara suling  itu<BR>terhenti dan  yang  terdengar  kini  hanya riak  air.  Keadaan  yang  sunyi  ini<BR>melenyapkan nafsu  dan semangat  kedua anak  muda itu  hingga dengan  sendirinya<BR>mereka lalu melompat mundur. Wajah kedua pemuda itu berpeluh dan berwarna merah,<BR>akan tetapi aneh  sekali. Sekarang  Kwee An tidak  mempunyai perasaan  penasaran<BR>karena tidak dapat mengalahkan pemuda itu bahkan ia memandang ke arah pemuda itu<BR>dengan sorot mata berterima kasih dan  ingin bersahabat karena timbul rasa  suka<BR>di dalam hatinya kepada pemuda itu.<BR>"Bagus,  bagus!"   tiba-tiba  nelayan   tua   itu  melompat   berdiri   dan<BR>berjingkrak-jingkrak seperti anak  kecil yang diberi  kembang gula. "Mereka  itu<BR>cocok dan  sesuai  sekali, bukan?"  katanya  kepada Cin  Hai  dan Cin  Hai  lalu<BR>mengangguk sambil tersenyum.<BR>"Cocok, sama tampan, sama tangkas, dan sama-sama keras hati! Sungguh, jodoh<BR>yang cocok! He, anak muda she Kwee, engkau adalah jodoh muridku, tak ada  pemuda<BR>lain yang lebih cocok untuk menjadi calon suami muridku, Ha, ha!" Kakek  nelayan<BR>yang luar biasa ini tertawa terkekeh-kekeh karena girangnya.<BR>Kwee An merasa bingung dan tidak mengerti. Ia memandang ke arah Cin Hai dan<BR>tiba-tiba Cin Hai berkejap dan menunjuk  dengan sulingnya ke arah Ma Hoat!  Kwee<BR>An tetap tidak mengerti dan ketika ia memandang kepada Ma Hoa, ia melihat pemuda<BR>itu berdiri  dengan kepala  tunduk dan  muka kemerah-merahan  dan  kadang-kadang<BR>sudut matanya mengerling dengan  malu-malu! Ini adalah  sikap seorang gadis  dan<BR>tiba-tiba ia menjadi  mengerti! Hampir  saja ia  menempeleng kepalanya  sendiri.<BR>Mengapa ia begitu bodoh? Ma Hoa bukan seorang pemuda, akan tetapi seorang gadis.<BR>Gadis yang cantik jelita dan berkepandaian tinggi pula!<BR>Mengingat hal  ini, tiba-tiba  saja wajah  Kwee An  menjadi merah  bagaikan<BR>kepiting  direbus  dan  ia  lalu  pergi  menghampiri  Cin  Hai  dan  tak  berani<BR>berkata-kata lagi.<BR>"Bukankah cocok sekali mereka?" lagi-lagi kakek nelayan itu bertanya kepada<BR>Cin Hai. "Aku yang akan menjadi comblangnya dan aku tanggung Ma-ciangkun  takkan<BR>mampu menolak seorang  calon mantu  yang begini baik!  Eh, anak  muda she  Kwee,<BR>mengapa kau diam saja?"<BR>Cin  Hai  mewakili  Kwee  An  dan  berdiri  sambil  menjura,   "Lo-cianpwe,<BR>maafkanlah kawanku  ini. Dia  masih  kurang pengalaman  dan pemalu  sekali,  dan<BR>tentang perjodohan ini tentu saja harus  ia tanyakan dulu kepada Suhunya  karena<BR>kedua orang tuanya telah tidak ada lagi."<BR>"Ah, jangan  banyak upacara  lagi!" kata  kakek nelayan.  "Orang she  Kwee,<BR>bukankah kau juga suka kepada Hoa-ji seperti ia suka kepadamu?"<BR>Kwee An  memandang wajah  kakek  itu dengan  heran. Mulutnya  tidak  berani<BR>bertanya, akan tetapi sinar matanya mengandung penuh pertanyaan, yaitu bagaimana<BR>kakek ini dapat menduga demikian?<BR>Agaknya kakek  nelayan  ini  dapat membaca  pikiran  orang  karena  setelah<BR>tertawa terkekeh-kekeh ia lalu berkata,<BR>"Dalam pertempuran kalian  tadi telah  jelas terlihat  sifat menyayang  dan<BR>suka dari  kalian berdua,  apakah kalian  dua orang  bodoh dapat  menipuku?  He,<BR>Hoa-ji bukankah kau suka kepada pemuda she Kwee ini?"<BR>Ma Hoa memang  telah kenal betul  akan sifat suhunya  yang selalu  bersikap<BR>terus terang dan jujur, akan tetapi  sebagai seorang gadis yang masih bodoh  dan<BR>pemalu, tentu saia ia merasa  malu sekali orang membicarakan tentang  perjodohan<BR>dan tentang hati suka secara  begitu blak-blakan tanpa tedeng aling-aling  lagi!<BR>Maka ia lalu menundukkan  muka dan melompat ke  dalam perahunya terus  mendayung<BR>perahu itu meninggalkan mereka!<BR>"Ha-ha-ha... hi-hi... lihatlah  dia telah menjawab  pertanyaanku. Dia  suka<BR>kepadamu! Kalau dia  tidak suka  tentu ia telah  marah dan  mengamuk. Kalau  dia<BR>pergi dan  berlari, itu  tandanya ia  setuju! Nah,  anak muda,  kau tidak  boleh<BR>menolak murid Si Nelayan Cengeng!"<BR>Cin Hai terkejut mendengar nama ini karena ia pernah mendengar dari Bu  Pun<BR>Su bahwa di  antara tokoh-tokoh  luar biasa  terdapat seorang  nelayan tua  yang<BR>disebut Nelayan Cengeng  dan yang menjadi  ahli silat di  darat maupun di  dalam<BR>air. Juga Kwee  An pernah mendengar  nama ini dari  suhunya, maka mereka  berdua<BR>lalu memperlihatkan sikap menghormat sekali.<BR>"Locianpwe, harap kau orang tua sudi maafkan teecu yang bodoh.  Sebagaimana<BR>dikatakan oleh  Saudara  Cin  Hai  tadi,  dalam  soal  perjodohan,  bukan  teecu<BR>menampik, akan tetapi harus teecu minta nasihat Suhu terlebih dahulu."<BR>"Eh, siapa Suhumu yang beradat kukuh dan kuno itu?" tanya Nelayan Cengeng.<BR>"Suhu adalah Eng Yang Cu."<BR>"Oh, tosu dari Kim-san  itu? Ha, ha, aku  suaah menduga bahwa engkau  tentu<BR>anak murid Kim-san-pai,  akan tetapi  tak kuduga bahwa  imam tua  itu masih  mau<BR>mencapaikan diri menerima seorang murid.  Bagus, bagus! Kau tak usah  menanyakan<BR>dia, karena kalau dia tahu bahwa engkau menjadi suami muridku, tentu dia  setuju<BR>sepuluh bagian!"<BR>"Teecu menghaturkan banyak terima kasih atas budi kebaikan Lo-cianpwe, akan<BR>tetapi  sungguh,  teecu  pada  waktu  ini  belum  berani  mengikat  diri  dengan<BR>perjodohan!"<BR>Si Nelayan  Cengeng yang  sebenarnya  bernama Kong  Hwat Lojin  ini  memang<BR>mempunyai perasaan  yang mudah  sekali tersinggung,  maka mendengar  ucapan  dan<BR>penolakan Kwee An, ia lalu membanting-banting kakinya dan tanah di mana  kakinya<BR>terbanting menjadi berlubang setengah kaki lebih!<BR>"Apa katamu? Kau  menolak? Baik,  akan tetapi kau  harus mengajukan  alasan<BR>yang kuat dan dapat  diterima, kalau tidak jangan  harap kau dapat  meninggalkan<BR>tempat ini!"<BR>Kini Cin Hai  buru-buru berdiri dan  mewakili Kwee An  menjawab, karena  ia<BR>cukup mengenal adat Kwee An yang biarpun pendiam akan tetapi keras hati dan  tak<BR>kenal takut. Ia  khawatir kalau-kalau Kwee  An akan menjadi  nekad dan  membikin<BR>marah orang tua itu.<BR>"Locianpwe, sesungguhnya  Saudara Kwee  An sama  sekali tidak  menolak  dan<BR>bahkan merasa  bahagia  sekali  karena mendapat  kehormatan  besar  dan  dipilih<BR>sebagai jodoh muridmu  yang lihai.  Akan tetapi ketahuilah  bahwa saudaraku  ini<BR>berada dalam keadaan berkabung dan  sekarang sedang melakukan perjalanan  dengan<BR>teecu untuk mencari  musuh besarnya  dan membalaskan  sakit hati  orang tua  dan<BR>keluarganya yang terbunuh oleh musuh besar itu."<BR>Cin Hai  lalu  dengan singkat  menuturkan  pengalaman Kwee  An  dan  betapa<BR>keluarga pemuda itu  terbasmi oleh musuh-musuhnya.  Mendengar tentang  peristiwa<BR>yang menyedihkan ini, tak  tertahan lagi Kong  Hwat Lojin menangis  tersedu-sedu<BR>hingga Kwee An merasa  sangat terharu dan tak  dapat menahan lagi keluarnya  air<BR>mata yang membasahi pipinya.<BR>"Jadi musuh-musuh  yang belum  terbalas  itu adalah  Hai Kong  Hosiang  dan<BR>seorang perwira? Ah, Hai Kong, engkau  memang jahat sekali. Kalau kau  kebetulan<BR>bertemu dengan aku,  tentu kau akan  kurendam dalam air  sampai perutmu  menjadi<BR>kembung!" katanya dengan marah.  Kemudian ia teringat  akan sesuatu dan  berkata<BR>kepada Cin Hai,<BR>"Kepandaian Hai Kong  Hosiang kabarnya  telah maju pesat  karena ia  selalu<BR>melatih diri dengan ilmu-ilmu  silat baru. Tunangan Hoa-ji  ini tentu tak  dapat<BR>melawannya. Mungkin  kau dapat  menandingi hwesio  itu, akan  tetapi  ketahuilah<BR>bahwa hwesio itu selain pandai ilmu silat, juga licin dan cerdik sekali.  Apakah<BR>engkau mengerti ilmu dalam air?"<BR>Cin Hai menggeleng kepalanya, juga Kwee An menyatakan bahwa ia hanya  dapat<BR>berenang sedikit saja.<BR>"Ah, kalau  begitu,  kalian  harus  berlatih  dulu  hingga  kau  akan  siap<BR>menghadapi hwesio itu, baik di darat maupun di air!"<BR>Cin Hai dan Kwee An merasa girang sekali dan semenjak hari itu, selama  dua<BR>minggu mereka  menerima  latihan-latihan  dari  Nelayan  Cengeng  itu.  Kwee  An<BR>mendapat latihan ilmu pedang yang  disebut Hai-liong-kiam-hwat atau Ilmu  Pedang<BR>Naga  Laut  dan  latihan  napas  untuk   dapat  bertahan  di  dalam  air   serta<BR>gerakan-gerakan renang, sedangkan untuk Cin Hai, nelayan itu mengatakan bahwa ia<BR>tidak berani memberi pelajaran ilmu pukulan karena kepandaian pemuda itu katanya<BR>sudah melebihi kepandaiannya sendiri. Maka Cin Hai lalu mendapat latihan bermain<BR>di dalam air.  Karena Cin  Hai memang telah  memiliki lweekang  yang tinggi  dan<BR>dapat menahan napas sampai lama, maka sebentar saja ia dapat menguasai ilmu  itu<BR>dan dapat bermain di air bagaikan seekor ikan saja.<BR>Tentu saja kedua pemuda itu merasa girang sekali. Selama dua minggu itu, Ma<BR>Hoa tidak muncul, akan tetapi pada saat Cin Hai dan Kwee An hendak  meninggalkan<BR>Nelayan Cengeng dan melanjutkan  perjalanan ke utara  mencari Hai Kong  Hosiang,<BR>tiba-tiba gadis  itu mendatangi  dengan  naik perahu  dari  jauh. Cin  Hai  lalu<BR>menunda keberangkatannya dan  menanti kedatangan  gadis itu,  sedangkan Kwee  An<BR>tidak berani mengangkat muka dan menunduk kemalu-maluan!<BR>Ketika gadis  itu  meloncat  ketuar  dari  perahu  dan  kebetulan  Kwee  An<BR>mengangkat muka  memandang,  ia menjadi  tercengang  dan tak  kuasa  mengalihkan<BR>pandangan matanya lagi dari gadis itu. Ternyata bahwa kali ini Ma Hoa mengenakan<BR>pakaian wanita dan ia  telah merubah diri menjadi  seorang dara yang luar  biasa<BR>cantiknya. Bajunya  berwarna  merah  jambon,  celananya  sutera  biru  dan  ikat<BR>pinggangnya  serta  pengikat  rambutnya  berwarna  merah  darah,  berkibar-kibar<BR>tertiup angin  gunung.  Gagang  pedang  yang  tergantung  di  pinggang  menambah<BR>kegagahan dan kecantikannya. Diam-diam Cin Hai merasa girang sekali karena gadis<BR>ini memang pantas sekali menjadi jodoh Kwee An.<BR>Nelayan Cengeng melebarkan  kedua matanya ketika  melihat pakaian  muridnya<BR>itu. "Aduh,  sudah  bertahun-tahun  aku tidak  melihat  kau  mengenakan  pakaian<BR>seperti ini! Bagus muridku, bagus sekali. Kebetulan kau datang karena tunanganmu<BR>hendak pergi melanjutkan perjalanan."<BR>Memang orang tua ini terlalu sekali. kejujurannya yang luar biasa hingga ia<BR>menyebut Kwee An sebagai tunangan muridnya itu telah membuat kedua anak muda itu<BR>menjadi jengah dan malu sekali.<BR>"Ma Hoa, kita  adalah orang-orang sendiri  dan bukanlah orang-orang  lemah,<BR>apa artinya segala sikap malu-malu kucing? Kesinikan pedangmu!" Biarpun ia keras<BR>hati, akan tetapi  Ma Hoa  tunduk dan  takut kepada  suhunya yang  menganggapnya<BR>sebagai  anak  sendiri,  maka  sambil  menundukkan  kepala  ia  bertindak  maju.<BR>Langkahnya lemah gemulai  dan menarik  hati sekali. Dengan  perlahan dan  tangan<BR>gemetar ia melolos  pedangnya dan  diberikan kepada  suhunya tanpa  mengeluarkan<BR>sepatah kata pun karena ia tahu bahwa jika ia mengeluarkan suara, maka  suaranya<BR>akan terdengar menggigil. Nelayan Cengeng  gembira, lalu ia berkata kepada  Kwee<BR>An dengan suara memerintah,<BR>"Kwee An, terimalah pedang  ini dan sebagai  gantinya kau harus  memberikan<BR>pedangmu kepada tunanganmu!"<BR>Dengah sikap menghormat, Kwee An menerima pedang itu, kemudian ia  mencabut<BR>pedangnya sendiri dan hendak diberikan kepada kakek itu. Akan tetapi,  tiba-tiba<BR>Cin Hai yang sedang bergirang hati, berkata,<BR>"Saudaraku,  engkau  tidak   boleh  memberikan   kepada  Locianpwe.   Harus<BR>kauberikan sendiri kepada tunanganmu! Bukankah begitu, Locianpwe?"<BR>Nelayan Cengeng  itu memandang  dengan heran  kepada Cin  Hai, akan  tetapi<BR>hanya sebentar saja karena ia tertawa  bergelak dan berkata, "Benar, benar!  Cin<BR>Hai berkata betul sekali!  Kau harus memberikan  sendiri kepada tunanganmu  agar<BR>kalian jangan terus bersikap malu-malu kucing!"<BR>Dapat dibayangkan betapa malunya  kedua anak muda  itu karena godaan  kedua<BR>orang ini. Dengan hati berdebar-debar Kwee An menghampiri Ma Hoa dan mengasurkan<BR>pedang itu. Akan tetapi, karena dara  itu sedang menunduk dan sama sekali  tidak<BR>berani mengangkat muka dan tidak melihat ia mengangsurkan pedang, maka gadis itu<BR>tidak menerima  pedang yang  diberikan kepadanya.  Kwee An  menjadi bingung  dan<BR>serba salah, terpaksa ia menggerakkan bibirnya memanggil,<BR>"Moi... eh... Siocia, kauterimalah pedang ini!"<BR>Barulah Ma Hoa mengangkat mukanya. Dua pasang mata bertemu dengan mesra dan<BR>cepat sekali Ma Hoa menyambar pedang itu lalu dimasukkan ke dalam sarung  pedang<BR>dan ia lalu tertunduk kembali!<BR>"Ah, salah... salah...!"  Cin Hai  menggoda terus. "Saudara  An, kau  harus<BR>memanggil moi-moi, dan Ma Hoa harus memanggil koko, ini baru benar!"<BR>Bukan  main   girangnya  Nelayan   Cengeng  itu.   Ia  bersorak-sorak   dan<BR>meloncat-loncat sambil bertepuk-tepuk tangan. "Benar, benar...! Bagus..."<BR>Ma Hoa tak dapat menahan lagi jengah dan malunya. Setelah mengerling sekali<BR>lagi ke arah Kwee  An dan melempar  senyum yang mesra dan  penuh arti, dara  ini<BR>lalu lari ke perahunya mendayung pergi  secepatnya! Cin Hai dan Nelayan  Cengeng<BR>tertawa terbahak-bahak.<BR>"Nah, kalian pergilah, pergilah! Cepat pergi dan lekas kembali!" kata  Kong<BR>Hwat Lojin sambil bertindak pergi.<BR>Kwee An dengan mulut  cemberut lalu berkata kepada  Cin Hai, "Cin Hai,  kau<BR>sungguh terlalu!  Menggoda orang  sampai hampir  mati karena  malu. Awas,  kalau<BR>kelak bertemu kembali dengan Lin Lin, pasti akan kubalas sepuas hatiku!"<BR>Mendengar nama  ini, tiba-tiba  Cin Hai  termenung. Ia  lalu teringat  akan<BR>gadis kekasihnya  itu dan  merasa  sedih sekali.  Akan  tetapi, cepat  ia  dapat<BR>menekan perasaannya  dan berkata,  "Aah, bukankah  godaan-godaan tadi  diam-diam<BR>membikin engkau berbahagia sekali?"<BR>Kwee An  tak dapat  menjawab, hanya  tersenyum dan  memukul bahu  Cin  Hai.<BR>Keduanya lalu melanjutkan  perjalanan ke  utara, akan  tetapi seperempat  bagian<BR>dari hati dan perasaan Kwee An tersangkut  pada duri bunga Botan yang tumbuh  di<BR>pinggir Sungai Liong-kiang itu!<BR>Beberapa pekan  kemudian, Cin  Hai dan  Kwee An  telah tiba  di  perbatasan<BR>Tiongkok Utara di  mana bertemu  dengan suku-suku  Mongol dan  Mancu yang  hidup<BR>secara berkelompok. Pada  suatu hari  mereka tiba  di sebuah  sungai yang  cukup<BR>besar dan melihat sebuah perahu yang dihias mewah sekali di tengah itu.<BR>Orang-orang Mongol  dari suku  Jungar  hilir mudik  naik turun  perahu  itu<BR>mengangkut kantong-kantong yang agaknya berat.  Di antara suku-suku Jungar  ini,<BR>banyak yang sering merantau ke pedalaman Tiongkok hingga mereka dapat  berbicara<BR>dalam bahasa Han, yang  biarpun kaku akan tetapi  cukup dimengerti oleh Cin  Hai<BR>dan Kwee An. Dari mereka ini kedua pemuda itu mengetahui bahwa perahu itu adalah<BR>milik seorang Pangeran Mongol bernama  Vayami. Pangeran ini telah bertukar  nama<BR>karena ia telah memeluk Agama Buddha Merah, dan bahkan menjadi pemuka dari  pada<BR>Agama Sakya Buddha ini. Barang-barang yang  diangkut ke dalam perahu itu  adalah<BR>sumbangan-sumbangan dari pada  para pemeluk Agama  Buddha yang diberikan  kepada<BR>Pangeran Vayami.<BR>Ketika Cin Hai  dan Kwee  An sedang  melihat di  pinggir sungai,  tiba-tiba<BR>mereka melihat Hai  Kong Hosiang di  atas perahu itu.  Hwesio ini dapat  dikenal<BR>dengan mudah karena jubahnya yang berwarna kotak-kotak merah putih dan kepalanya<BR>yang gundul licin.<BR>Pada saat  itu, perahu  telah bergerak  ke tengah  dan hendak  meninggalkan<BR>tempat itu, sedangkan para  pemeluk agama yang berdiri  di tepi sungai  berlutut<BR>memberi hormat yang terakhir kepada Pangeran Vayami.<BR>Cin Hai  dan Kwee  An lalu  menggenjot tubuh  mereka dan  meloncat ke  atas<BR>perahu hingga mereka yang melihat perbuatan kedua pemuda Han ini berseru  marah.<BR>Hai Kong Hosiang dengan mata terbelalak dan tindakan lebar menyambut  kedatangan<BR>pemuda itu dengan bentakan,<BR>"Dua ekor anjing rendah  dari manakah berani memperlihatkan  kekurangajaran<BR>di sini?"<BR>"Hai Kong Hosiang, pendeta keparat! Ajalmu sudah berada di depan mata,  kau<BR>masih banyak bertingkah lagi?" Kwee An balas membentak dan memaki.<BR>Hai Kong Hosiang memandang anak muda itu dan ia lalu teringat dan  mengenal<BR>wajah Kwee An,  "Eh, kau masih  belum mampus bersama  Ayahmu?" Tiba-tiba  tangan<BR>kanannya mencabut keluar tongkat ularnya yang lihai sambil berkata. "Baik, kalau<BR>begitu biarlah ini hari kuselesaikan pekerjaan dulu yang agaknya kurang sempurna<BR>agar kau tidak menjadi penasaran!"<BR>Sambil berkata demikian,  ia maju ke  arah Kwee An,  akan tetapi pada  saat<BR>itu, pintu kamar yang terdapat di  perahu itu terbuka dan muncul seorang  pemuda<BR>yang berwajah tampan dan berpakaian  pendeta jubah merah. Pendeta ini  membentak<BR>dengan suaranya yang halus,<BR>"Hai Kong bengyu, tahan dulu!" Kemudian ia keluar dengan tindakan kaki yang<BR>halus, dan  anehnya, Hai  Kong Hosiang  nampak hormat  sekali kepadanya,  karena<BR>pendeta gundul ini lalu menahan senjata dan menjura. Pemuda ini bukan lain ialah<BR>seorang pangeran yaitu Pangeran Vayami sendiri.<BR>Vayami memandang kepada Kwee An dan Cin Hai, lalu merangkap kedua tangannya<BR>dan berkata dalam bahasa Han yang fasih,<BR>"Jiwi-enghiong (Kedua  Tuan yang  Gagah Perkasa)  telah memberi  kehormatan<BR>kepadaku dan mengunjungi perahu ini, tidak tahu hendak memberi pelajaran apakah?<BR>"<BR>Kwee An  dan  Cin  Hai  tercengang  melihat  Pangeran  Mongol  yang  pandai<BR>berbahasa Han dan yang halus tutur sapanya ini, juga mereka merasa heran melihat<BR>bahwa kopala agama ini  ternyata masih muda sekali  takkan lebih dari dua  puluh<BR>lima tahun usianya!  Cin Hai lalu  merangkapkan kedua tangan  pula dan  membalas<BR>hormat, diikuti oleh Kwee An.<BR>"Maafkan kami berdua yang tidak tahu adat. Oleh karena melihat hwesio jahat<BR>ini berada di atas perahu, kami menjadi lupa diri dan dengan lancang melompat ke<BR>atas perahumu. Akan tetapi, kami berdua sama sekali tak hendak mengganggu kepada<BR>Tuan, dan urusan kami hanyalah dengan hwesio yang bernama Hai Kong Hosiang  ini,<BR>karena dia adalah pembunuh keluarga kami dan kami sengaja datang hendak  mengadu<BR>jiwa dengannya."<BR>Pangeran Vayami tersenyum halus, akan tetapi sepasang matanya  mengeluarkan<BR>sinar tajam yang membuat Cin Hai  terkejut sekali karena ia dapat menduga  bahwa<BR>selain memiliki tenaga lweekang  yang tinggi juga  pangeran ini berpengaruh  dan<BR>cerdik.<BR>"Jiwi-enghiong yang muda dan gagah!  Kiranya Jiwi pun mengerti akan  aturan<BR>tuan rumah dan tamunya. Hai Kong Hosiang Suhu adalah menjadi tamu kami dan  oleh<BR>karenanya, selama dia berada  di atas perahuku,  aku harus melindunginya  dengan<BR>segala tenaga, bahkan dengan jiwaku sekalipun. Maka, kuharap Jiwi suka memandang<BR>mukaku dan tidak mengganggunya selama dia masih berada di sini!" Setelah berkata<BR>demikian, pangeran itu  menggerakkan kedua  tangannya dan  bertepuk tangan  tiga<BR>kali. Tiba-tiba  dari  segala sudut  keluarlah  lima orang  pendeta  Sakya  yang<BR>berjubah merah dan nampak kuat serta pandai ilmu silat.<BR>Cin Hai dapat merasai kebenaran ucapan pangeran itu, maka ia lalu  menuding<BR>kepada Hai Kong Hosiang, "Hai Kong!  Kau tentu masih cukup gagah untuk  mengakui<BR>kedosaan dan  perbuatanmu  dan  tentu  tidak begitu  pengecut  untuk  lari  dari<BR>tuntutan balas kami.  Kalau kau  memang laki-laki maka  harap kau  mau turun  ke<BR>darat dan  marilah kita  bertanding mengadu  jiwa, menentukan  siapa yang  lebih<BR>pandai!"<BR>Hai Kong Hosiang  tadi telah  melihat gerakan  Cin Hai  ketika melompat  ke<BR>dalam perahu, maka ia maklum bahwa anak muda ini jauh lebih lihai daripada  Kwee<BR>An, maka ia berkata,<BR>"Jangan kau mengacau dan  membuka mulut sembarangan.  Aku Hai Kong  Hosiang<BR>tak pernah lari  dari musuh-musuhku.  Akan tetapi yang  kubunuh adalah  keluarga<BR>pemuda ini, dan kau tidak mempunyai sangkut paut dengan urusan itu, mengapa  kau<BR>ikut campur?"<BR>"Ha-ha-ha, hwesio  gundul  yang  palsu! Kau  juga  telah  mempunyai  hutang<BR>padaku. Ingatkah  kau dahulu  ketika kau  bertemu melawan  Kanglam Sam-lojin  di<BR>depan Kuil Ban-hok-tong  di Tiang-an?  Anak kecil  yang meniup  suling dan  yang<BR>hendak kaubunuh dulu itu siapa? Lihat mukaku baik-baik, dan kau tentu akan ingat<BR>bahwa kau sekarang berhadapan dengan anak itu yang kini hendak membalas kebaikan<BR>budimu dulu!"<BR>Hai Kong Hosiang terkejut. Ia ingat bahwa anak ini ia lihat bersama  dengan<BR>Ang I Niocu di  dalam gua Tengkorak  itu, maka diam-diam  ia merasa agak  jerih.<BR>Akan  tetapi,  Hai   Kong  Hosiang   adalah  seorang  gagah   yang  telah   lama<BR>malang-melintang di dunia kang-ouw dan  jarang bertemu tanding, maka tentu  saja<BR>ia sama sekali tidak takut menghadapi dua orang anak muda yang masih hijau itu.<BR>"Bagus, kalau  begitu, kebetulan  sekali. Engkau  pun rupanya  sudah  bosan<BR>hidup?"<BR>"Hwesio keparat kau turunlah ke darat!" Kwee An membentak marah.<BR>"Ha, ha! Siapa sudi menurut perintah dua ekor anjing cilik! Aku akan  turun<BR>kalau aku  suka dan  sekarang aku  belum ada  ingatan untuk  turun dan  melayani<BR>kalian." Cin  Hai  menjura kepada  Pangeran  Vayami. "Maaf,  karena  hwesio  ini<BR>membandel, terpaksa kami berlaku kurang ajar dan bertindak di sini!"<BR>Pangeran Vayami  sambil tersenyum  berkata.  "Cobalah kalau  engkau  dapat,<BR>karena aku tak mungkin  tinggal diam melihat tamuku  diganggu." Ia lalu  memberi<BR>tanda dan kelima orang  pendeta Sakya itu lalu  maju dengan sikap mengancam  dan<BR>mengurung Cin Hai serta Kwee An!<BR>"Saudara An, kaulawanlah lima  boneka merah itu  dan aku akan  membinasakan<BR>kera tua ini!"<BR>Bukan main marahnya Hai Kong  Hosiang mendengar dirinya dimaki "kera  tua"!<BR>Ia lalu berseru nyaring dan senjatanya yang luar biasa, yaitu seekor ular kering<BR>itu meluncur dan menyerang  ke arah tenggorokan Cin  Hai. Cin Hai berlaku  gesit<BR>dan waspada, ia lalu mengelak mundur sambil mencabut Liong-coan-kiam.<BR>Kelima pendeta Sakya itu bersenjata tongkat dan mereka lalu mengeroyok Kwee<BR>An yang memutar pedangnya dengan hebat. Ternyata bahwa kelima pendeta Mongol itu<BR>hanya memiliki  tenaga  hebat  dan  kuat bagaikan  kerbau  jantan,  akan  tetapi<BR>kepandaian silat mereka tak seberapa tinggi, hingga Kwee An tak sampai  terdesak<BR>oleh mereka. Akan  tetapi, bagi  pemuda itu  pun tidak  mudah merobohkan  mereka<BR>karena ia harus berlaku hati-hati sekali. Biarpun serangan lawan-lawannya  tidak<BR>cukup gesit dan berbahaya, namun karena tenaga mereka besar sekali, maka  sekali<BR>saja terkena pukul tongkat mereka, ia pasti akan celaka! Maka ia berlaku  tenang<BR>dan hati-hati dan  menjaga diri dengan  kuatnya, sedikit pun  tak memberi  waktu<BR>kepada mereka untuk dapat memukulnya.<BR>Yang hebat adalah pertarungan antara Cin Hai dan Hai Kong Hosiang.  Pendeta<BR>ini benar-benar telah mendapat banyak kemajuan dalam ilmu silatnya seperti  yang<BR>pernah dikatakan  oleh  Nelayan  Cengeng.  Karena  berkali-kali  bertemu  dengan<BR>lawan-lawan yang tangguh seperti  Bu Pun Su, Biauw  Suthai, dan yang  lain-lain,<BR>dan semenjak kena dikalahkan oleh Biauw  Leng Hosiang, pendeta ini lalu  melatih<BR>diri dan mempelajari ilmu silat  lain yang tinggi untuk menambah  kepandaiannya.<BR>Bahkan dalam perjalanannya ke utara, ia sengaja mengunjungi tokoh-tokoh  ternama<BR>untuk bertukar  ilmu silat  dan mempelajari  kepandaian mereka  itu. Maka  dalam<BR>pertempuran Cin Hai  kali ini, pemuda  itu pun harus  mengakui bahwa ilmu  silat<BR>pendeta ini  jauh  lebih  hebat  daripada  ketika  ia  bertempur  di  dalam  Gua<BR>Tengkorak.  Terutama  tongkatnya  yang  hebat  itu,  yang  di  dalam   tangannya<BR>seakan-akan  berubah  menjadi  seeor  ular  berbisa  yang  masih  hidup,  sangat<BR>berbahaya sekali.  Biarpun  Cin  Hai  sudah dapat  menduga  gerakan  dalam  tiap<BR>serangan yang  hendak  dilancarkan,  akan tetapi  karena  senjata  lawannya  ini<BR>berbahaya dan  berbisa, ia  menjadi sibuk  juga dan  terpaksa berlaku  hati-hati<BR>sekali. Ia lalu  mengeluarkan limu Silat  Sian-li Utauw pelajaran  Ang I  Niocu,<BR>karena dengan  ilmu  silat ini  ia  dapat  bergerak gesit  sekali  dan  tubuhnya<BR>berkelebat ke sana ke mari menolak serangan lawan dan melakukan serangan balasan<BR>yang tak kalah hebatnya.<BR>Melihat pertempuran-pertempuran itu,  terutama pertempuran  antara Cin  Hai<BR>dan Hai Kong  Hosiang, Pangeran Vayami  merasa kagum sekali.  Pangeran muda  ini<BR>berdiri di  depan pintu  kamarnya dan  menonton dengan  mata berseri.  Ia  kagum<BR>sekali melihat permainan silat Cin Hai karena ia maklum bahwa terhadap Hai  Kong<BR>Hosiang, pemuda ini hanya kalah pengalaman dan kalah senjata saja. Namun, betapa<BR>herannya ketika ia  melihat bahwa pemuda  itu makin lama  makin hebat  permainan<BR>silatnya dan  beberapa  kali  gerakan  pemuda  itu  berubah-ubah.  Memang  untuk<BR>mengacaukan permainan lawannya yang tangguh, Cin Hai sengaja mencampur permainan<BR>silatnya  dengan   ilmu  silat   lain.  Kadang-kadang   ia  mengeluarkan   jurus<BR>Liong-san-kiam-hoat,  Ngolian-kiam-hoat,   bahkan  seringkali   ia   mengimbangi<BR>permainan   ilmu   tongkat   Hai   Kong   Hosiang,   yaitu   yang    berdasarkan<BR>jian-coa-kiam-sut atau Ilmu Pedang Seribu Ular. Hai Kong Hosiang tercengang  dan<BR>heran sekali hingga ia  menunda serangannya dan  membentak, "Bangsat dan  maling<BR>rendah! Dari mana kaucuri ilmu pedangku?"<BR>"Ha, ba, gundul tua berbatin kotor!  Siapa sudi mencuri ilmu pedangmu  yang<BR>tak berguna? Lihatlah, aku mempunyai ilmu pedang yang menjadi nenek moyang  ilmu<BR>pedangmu itu!" Setelah berkata demikian, Cin Hai lalu menyerang dengan pedangnya<BR>dan Hai Kong Hosiang  hampir berseru karena heran  dan terkejut, karena Cin  Hai<BR>benar-benar menyerangnya dengan Ilmu Pedang Jian-coa-kiam-sut, akan tetapi  jauh<BR>lebih sempurna.<BR>Padahal sebetulnya Cin Hai hanya meniru-niru serangan Hai Kong tadi,  hanya<BR>saja karena  ia telah  dapat  memecahkan rahasia  dasar  ilmu silat  yang  telah<BR>dimainkan itu,  ia dapat  mencari pula  ciri-cirinya dan  dapat  memperbaikinya.<BR>Tentu saja gerakannya ini  belum matang karena tak  pernah dilatih, akan  tetapi<BR>cukup membuat Hai Kong Hosiang terkejut dan jerih. Tak disangkanya bahwa  pemuda<BR>ini demikian hebat  kepandaiannya. Kehebatan  meniru ilmu  silat-ilmu silat  ini<BR>mengingatkan ia akan Bu  Pun Su karena pernah  pula ia dipermainkan oleh  jembel<BR>tua itu, maka tentu  saja ia menjadi khawatir  dan jerih. Namun, karena  melihat<BR>bahwa Cin Hai hanya seorang pemuda  yang baru dewasa, ia memperkuat hatinya  dan<BR>sambil membentak keras ia  menyerang lagi. Kini  tangan kirinya mencabut  keluar<BR>sebatang sabuk ular yang  penuh bisa. Jangankan sampai  terpukul oleh sabuk  ini<BR>bahkan baru  keserempet  sedikit saja,  racun  ular yang  mengenai  kulit  dapat<BR>menimbulkan rasa gatal yang  hebat dan cepat sekali  racun itu dapat meresap  ke<BR>dalam daging dan  meracuni darah  hingga membahayakan jiwa  lawannya. Baru  saja<BR>sabuk ular itu tercabut keluar, Cin Hai  telah mencium bau yang amat amis,  maka<BR>tahulah dia akan bahaya dan lihainya  senjata istimewa ini. Ia lalu  menggunakan<BR>tangan kirinya  mencabut  keluar  sulingnya  dan  untuk  mengimbangi  lawan,  ia<BR>mempergunakan dua macam senjata pula di tangan kanan pedang Liong-coan-kiam,  di<BR>tangan kiri suling bambunya!<BR>Melihat suling ini, Hai Kong Hosiang menjadi marah karena ia teringat  akan<BR>peristiwa dulu  ketika Cin  Hai masih  kecil dan  dengan suling  bambunya  telah<BR>menggagalkannya untuk mengalahkan Kanglam  Sam-lojin, bahkan yang  mengakibatkan<BR>matinya kelima ularnya karena Bu Pun  Su menjatuhkan tangan kejam! Maka ia  lalu<BR>menyerang sambil berteriak,<BR>"Anak setan, kali ini kalau belum menghancurkan kepalamu, aku takkan puas!"<BR>Cin Hai diam-diam merasa girang melihat kemarahan Hai Kong Hosiang ini, dan<BR>ia melayani  serbuan  hwesio  itu  dengan  tenang,  akan  tetapi  kegesitan  dan<BR>kehebatan ilmu pedangnya  yang dicampur dengan  gerakan-gerakan sulingnya  tidak<BR>dikurangi kecepatannya. Kedua  orang ini bertempur  mati-matian hingga  bayangan<BR>kedua orang ini tak tampak lagi, tertutup oleh sinar senjata masing-masing.<BR>Sementara itu,  Kwee An  yang  mengamuk dengan  Kim-san-kiam-hoatnya  telah<BR>berhasil merobohkan  dua  orang  pengeroyoknya hingga  Pangeran  Vayami  menjadi<BR>terkejut sekali. Pangeran  yang cerdik  ini maklum  bahwa kedua  anak muda  yang<BR>mengacau di atas  perahunya adalah  orang-orang tangguh dan  jika dilawan  terus<BR>akan membahayakan  keselamatannya, maka  ia lalu  memberi aba-aba  dalam  bahasa<BR>Mongol. Beberapa  orang  pelayan yang  berkepandaian  rendah dan  karenanya  tak<BR>berani membantu lalu menurunkan dua buah  perahu kecil ke atas air. Vayami  lalu<BR>menyalakan api dan membakar layar yang tergantung ke bawah hingga sebentar  saja<BR>api menyala hebat di atas perahu itu. Ia lalu melompat dan hendak turun ke dalam<BR>perahu-perahu kecil  yang  telah  dilepas  ke atas  air.  Akan  tetapi,  melihat<BR>kecurangan pangeran  ini,  Kwee  An meninggalkan  ketiga  pengeroyoknya  dan  ia<BR>mengejar pangeran itu sambil berteriak,<BR>"Jangan kau berlaku  curang!" Akan tetapi,  ketika ia telah  tiba di  depan<BR>pangeran itu, tiba-tiba Vayami menyerangnya dengan obor yang masih menyala. Kwee<BR>An terkejut karena serangan ini hebat  juga dan diserangkan ke arah  pakaiannya.<BR>Cepat ia  mengelak dan  tahu-tahu obor  di tangan  Vayami yang  lihai itu  telah<BR>diserangkan pula ke arah mukanya! Kwee An miringkan kepala dan selagi ia  hendak<BR>membalas menyerang,  tahu-tahu kaki  Vayami telah  berhasil menendang  lututnya.<BR>Biarpun ia dapat miringkan kakinya hingga yang tertendang hanya di atas lututnya<BR>dan karena ia  mengerahkan tenaga  dalamnya maka pahanya  tidak sampai  terluka,<BR>akan tetapi  karena tendangan  itu  keras, dan  juga  karena mereka  berdiri  di<BR>pinggir perahu, maka tak ampun lagi tubuh Kwee An terpelanting keluar perahu dan<BR>jatuh tercebur ke dalam air!<BR>Cin Hai terkejut sekali  akan tetapi ia tidak  berdaya menolong karena  Hai<BR>Kong Hosiang mendesaknya dengan hebat.<BR>Ia melihat betapa semua pengikut  Vayami dan pangeran itu sendiri  melompat<BR>ke dalam perahu-perahu kecil dan terdengar Vayami berseru,<BR>"Hai Kong  Bengyu, lekas  kau  melompat ke  sini!"  Akan tetapi,  Hai  Kong<BR>Hosiang mana dapat meninggalkan Cin Hai begitu saja. Anak muda ini maklum  bahwa<BR>jika hwesio itu dapat melompat ke dalam perahu, maka selain musuh besar ini  tak<BR>dapat dirobohkan, juga keadaannya berada dalam bahaya. Api di atas perahu  telah<BR>mulai membesar dan bahkan kini telah memakan tiang besar di tengah perahu!  Oleh<BR>karena ini, maka  Cin Hai  mengambil keputusan nekad  dan menyerang  mati-matian<BR>hingga hwesio itu sama  sekali tidak mempunyai  kesempatan untuk lari.  Terpaksa<BR>Hai Kong Hosiang kertak gigi dan melayani dengan sama sengitnya.<BR>Masih terdengar beberapa kali suara Vayami memanggil Hai Kong Hosiang  akan<BR>tetapi  karena  hwesio   itu  tak   dapat  ikut  pergi,   terpaksa  Vayami   dan<BR>orang-orangnya mendayung perahu mereka melawan  arus yang besar dan kuat  karena<BR>perahu besar dimana Cin Hai dan Hai Kong Hosiang bertempur mati-matian itu telah<BR>hanyut ke tengah dan telah tiba di tempat yang airnya mengalir kencang. Kwee  An<BR>yang tercebur ke dalam air  pun tak kuasa menahan  bantingan air yang hebat  dan<BR>terpaksa ia membiarkan  dirinya terbawa  hanyut sampai jauh.  Baiknya ia  pernah<BR>berlatih berenang pada  Nelayan Cengeng, kalau  tidak, mungkin ia  akan mati  di<BR>dalam permainan arus amat kuat itu! Ia tak kuasa berenang ke pinggir karena arus<BR>amat  deras  dan  sungai   itu  sangat  lebar,   maka  ia  hanya   mempergunakan<BR>kepandaiannya  untuk  menghindarkan   tabrakan  dengan   batu-batu  karang   dan<BR>membiarkan dirinya hanyut di permukaan air. Sebentar saja ia terbawa hanyut jauh<BR>sekali dan setelah melalui sebuah tikungan, perahu besar di mana Cin Hai dan Hai<BR>Kong Hosiang bertempur  telah lenyap  dari pandangan matanya.  Ia masih  melihat<BR>betapa perahu itu mulai berkobar, maka diam-diam Kwee An sangat  mengkhawatirkan<BR>keselamatan Cin Hai.<BR>Ilmu kepandaian Hai Kong Hosiang memang  hebat. Ini terasa sekali oleh  Cin<BR>Hai, karena  sungguhpun  pemuda  ini  telah  mengerahkan  semua  kepandaian  dan<BR>tenaganya, namun ia tetap tak dapat merobohkan Hai Kong Hosiang. Padahal  mereka<BR>telah bertempur lebih dari dua ratus  jurus. Sungguh harus ia akui bahwa  inilah<BR>lawan yang paling  tangguh yang pernah  ia jumpai, kecuali  Hek Pek Moko.  Kalau<BR>dibanding dengan  Beng Kong  Hosiang, yaitu  suheng atau  kakak seperguruan  Hai<BR>Kong, hwesio  ini  bahkan jauh  lebih  tangguh.  Apalagi sabuk  ular  di  tangan<BR>kirinya, sungguh-sungguh sukar dilawan karena berbahaya sekali.<BR>Sebetulnya, ilmu kepandaian  yang diwarisi  oleh Cin  Hai dari  Bu Pun  Su,<BR>boleh dibilang  menjadi  raja ilmu  silat,  karena  ilmu ini  membuat  ia  dapat<BR>mengetahui semua rahasia  segala macam ilmu  silat yang ada.  Akan tetapi,  oleh<BR>karena sebelum mempelajari  ilmu kepandaian  hebat ini Cin  Hai belum  mempunyai<BR>dasar-dasar ilmu silat lain,  maka sekarang ia hanya  mempunyai daya tahan  yang<BR>sangat kuat saja, dan  kurang kuat dalam hal  menyerang atau boleh juga  disebut<BR>kurang agresip. Memang, daya tahannya luar biasa kuatnya dan tak sembarang  tipu<BR>gerakan yang dapat  merobohkannya, akan tetapi  sebaliknya daya serangnya  lemah<BR>sekali oleh karena untuk dapat menyerang ia hanya dapat memetik dari jurus-jurus<BR>Ilmu Silat Liong-san yang dipelajarinya  dari Kanglam Sam-lojin atau Ilmu  Silat<BR>Lima Teratai dan Tarian Bidadari yang dipelajarinya dari Ang I Niocu.<BR>Paling banyak ia hanya dapat meniru gerakan lawan untuk membalas menyerang,<BR>akan tetapi sudah tentu saja gerakannya kurang mahir, dan pula, apa artinya ilmu<BR>silat lawan  digunakan untuk  menyerang? Sudah  tentu lawan  itu sudah  mengenal<BR>serangan ini dan amat mudah mengelak atau menangkisnya.<BR>Maka biarpun Cin  Hai dapat menghadapi  Hai Kong Hosiang  dengan baik  akan<BR>tetapi  juga  amat  sukar  baginya  untuk  menjatuhkan  lawan  yang  luar  biasa<BR>tangguhnya ini. Memang dengan Tarian  Bidadari, beberapa kali ia telah  berhasil<BR>menghantam pundak  dan lengan  Hai Kong  Hosiang dengan  sulingnya, akan  tetapi<BR>hwesio ini mempunyai tubuh kebal karena  ia telah mempelajari dan memiliki  ilmu<BR>kebal yang  disebut Kim-kang-san  atau  Pakaian Baju  Emas. Juga  ilmu  lweekang<BR>hwesio ini sudah cukup  tinggi hingga sering kali  kalau suling Cin Hai  menotok<BR>jalan darahnya,  ia  tidak mengelak,  akan  tetapi menggunakan  tenaganya  untuk<BR>menutup jalan darahnya  itu dan mengerahkan  Kim-kang-san untuk menolak  pukulan<BR>itu! Diam-diam Cin Hai merasa kagum sekali dan ia tidak menyangka bahwa juga Hai<BR>Kong Hosiang merasa  kagum kepadanya karena  hwesio ini mengakui  di dalam  hati<BR>bahwa apabila  pemuda  ini telah  matang  latihannya, tentu  ia  takkan  sanggup<BR>menghadapinya lebih lama daripada seratus jurus!<BR>Sementara itu,  kini  seluruh permukaan  perahu  telah mulai  berkobar  dan<BR>bahkan api telah menjalar mendekati mereka yang sedang bertempur! Tiang besar di<BR>dekat mereka juga telah terbakar dan hawanya menjadi panas bukan main! Pada saat<BR>itu, Hai  Kong Hosiang  tanpa  disengaja menginjak  sebuah papan  yang  terbakar<BR>hingga sepatunya menginjak api panas, sedangkan  pedang di tangan Cin Hai  telah<BR>disabetkan dengan hebat  ke arah  pinggangnya! Hwesio itu  berteriak kaget  akan<BR>tetapi masih sempat menjatuhkan diri ke belakang hingga papan yang terbakar  itu<BR>kena tertindih tubuhnya  dan padam. Dalam  kemurkaannya, hwesio itu  menggunakan<BR>kakinya menyapu tiang besar yang terbakar dan terdengar suara keras ketika tiang<BR>yang telah terbakar itu tidak tahan tertendang kaki Hai Kong Hosiang dan menjadi<BR>roboh! Dengan mengeluarkan suara hiruk-pikuk, tiang yang terbakar dan layar yang<BR>masih menggantung di atasnya itu tumbang menimpa mereka berdua!<BR>Cin Hai  cepat melompat  pergi ke  kepala perahu  dan terhindar  dari  pada<BR>bahaya tertimpa  tiang  yang besar  dan  berat.  Hai Kong  Hosiang  juga  hendak<BR>melompat akan tetapi celaka baginya.  Kakinya yang tadi digunakan untuk  menyapu<BR>tiang secara kebetulan sekali terlibat oleh tali tambang yang besar, yaitu  tali<BR>penarik layar  yang  bergantungan di  tiang  itu. Oleh  karena  ini,  gerakannya<BR>melompat membawa tiang itu dan layar di  atas roboh ke arah dirinya! Ia  mencoba<BR>mengelak akan tetapi tali itu seperti tangan yang kuat memegangi kakinya  hingga<BR>kakinya tertimpa tiang itu dan layar yang lebar dan tebal menyelimuti tubuhnya!<BR>Dengan kekuatan  Kim-kang-san  yang  dimilikinya, Hai  Kong  Hosiang  dapat<BR>menyelamatkan kakinya dan kaki itu  tidak menjadi patah walaupun tertimpa  tiang<BR>sebesar itu,  akan  tetapi ia  menjadi  sibuk  karena sukar  untuk  keluar  dari<BR>selimutan layar  yang besar  itu, sedangkan  layar itu  pun mulai  berkobar  dan<BR>termakan api! Hai Kong  Hosiang meronta-ronta, akan tetapi  layar dan tiang  itu<BR>sukar sekali dilepaskan dan ia menjadi gugup dan panik. Asap api telah masuk  ke<BR>dalam selubungan layar dan  membuat napasnya menjadi sesak.  Dan pada saat  itu,<BR>Hai Kong  Hosiang tiba-tiba  merasa  takut! Ia  merasa  ngeri dan  takut  sekali<BR>menghadapi bahaya maut berupa api yang hendak membakar dirinya. Oleh karena ini,<BR>tak terasa pula ia memekik-mekik. "Tolong... tolonglah jiwaku..."<BR>Pada saat itu, Cin Hai telah berdiri di kepala perahu dan telah siap  untuk<BR>terjun ke air, meninggalkan perahu yang telah terbakar itu. Ia memandang ke arah<BR>Hai Kong Hosiang  yang tertimpa tiang  dan tertutup layar  dan ia merasa  girang<BR>karena musuh besar ini pasti akan mampus terpanggang. Tadinya ia bersiap  sedia,<BR>karena kalau hwesio  itu dapat melepaskan  diri dari tindihan  layar, ia  hendak<BR>mengirim serangan tiba-tiba  untuk menamatkan  riwayat musuh  yang tangguh  itu.<BR>Akan tetapi  ia  menjadi  lega  ketika melihat  bahwa  hwesio  itu  tidak  mampu<BR>melepaskan diri daripada kurungan layar dan tiang! Cin Hai tersenyum, memasukkan<BR>pedang ke dalam sarung pedang, menyelipkan suling ke ikat pinggangnya dan hendak<BR>mengayunkan tubuhnya  terjun  ke air.  Akan  tetapi, pada  saat  itu  telinganya<BR>mendengar jeritan Hai Kong Hosiang yang minta tolong!<BR>Cin Hai berdiri termangu-mangu dan ragu-ragu. Mendengar pekik minta  tolong<BR>itu, lenyaplah perasaannya  bermusuh terhadap Hai  Kong Hosiang. Yang  terlintas<BR>dalam pikirannya pada saat itu hanyalah  adanya orang yang terancam bahaya  maut<BR>dan ia kuasa  menolongnya, maka  bagaimana ia  dapat berlaku  kejam dan  tinggal<BR>berpeluk tangan melihat orang  dimakan api? Ah, hatinya  tak sekejam itu dan  ia<BR>menjadi tidak tega  sungguhpun di waktu  bertempur, dengan senang  hati ia  akan<BR>menancapkan pedangnya di uluhati hwesio itu!<BR>Tanpa banyak pikir  lagi, Cin Hai  lalu melompat ke  dekat layar dan  tiang<BR>yang masih  mengurung  Hai Kong  Hosiang  dan dengan  menggunakan  sepatunya  ia<BR>menginjak-injak api yang mulai membakar layar  itu dari tubuh Hai Kong  Hosiang.<BR>Ternyata keadaan hwesio itu telah mulai  payah karena selain api telah ada  yang<BR>menjilat tubuhnya, juga ia telah dibuat tak berdaya oleh asap. Pertolongan  yang<BR>datang tiba-tiba ini membuat ia dapat bernapas lagi dan ia duduk  terengah-engah<BR>sambil terbatuk-batuk  sedangkan kakinya  masih  tertindih tiang!  Melihat  muka<BR>hwesio yang telah  menjadi hitam  karena asap dan  api, Cin  Hai lalu  menendang<BR>pergi tiang yang  menindihnya dan  tanpa banyak  cakap lagi  ia lalu  mengangkat<BR>tubuh Hai  Kong Hwesio  dari kurungan  api. Ia  melompat ke  pinggir perahu  dan<BR>selagi ia hendak menurunkan tubuh musuh itu, tiba-tiba ia merasa pundak  kirinya<BR>sakit sekali dan mendengar suara Hai Kong Hosiang tertawa!<BR>Ternyata bahwa  Hai Kong  Hosiang telah  menggunakan kesempatan  ketika  ia<BR>digendong oleh  Cin  Hai  itu menotok  pundak  Cin  Hai di  bagian  jalan  darah<BR>swan-hong-hiat! Totokan  ini  sebenarnya  hebat sekali  dan  dapat  mendatangkan<BR>kematian bagi  Cin  Hai,  akan  tetapi karena  tenaga  Hai  Kong  Hosiang  telah<BR>berkurang sedangkan Cin Hai  masih sempat menutup  jalan darahnya walaupun  agak<BR>terlambat, maka pemuda itu hanya menderita luka dalam yang cukup hebat hingga ia<BR>merasa betapa setengah badannya sebelah kiri telah menjadi lumpuh. Cepat Cin Hai<BR>menggunakan tenaga terakhir untuk melempar dirinya dan Hai Kong Hosiang ke dalam<BR>air. Terdengar  suara  keras  dan  air memercik  tinggi  ketika  dua  tubuh  itu<BR>terbanting di  air  yang mengalir  cepat  itu.  Hai Kong  Hosiang  jatuh  dengan<BR>terlentang hingga  untuk beberapa  saat ia  gelagapan. Akan  tetapi, hwesio  ini<BR>telah mempelajari ilmu di  dalam air, maka cepat  ia dapat membalikkan diri  dan<BR>dengan matanya yang telah menjadi pedas  dan kabur akibat serangan api tadi,  ia<BR>mencari-cari mangsanya. Akan tetapi Cin Hai tidak nampak di situ dan selagi  Hai<BR>Kong Hosiang  mencari-cari dengan  heran, tiba-tiba  dari bawah  permukaan  air,<BR>sebuah lengan  tangan  menyerangnya  dengan kekuatan  yang  luar  biasa.  Inilah<BR>Pukulan Petir Menyambar  Awan yang  dilakukan oleh  Cin Hai  dengan hati  gemas.<BR>Walaupun sebelah tubuhnya telah menjadi lumpuh, namun Cin Hai dengan mengeraskan<BR>hati dan mengumpulkan tenaga di tangan kanannya dapat melancarkan pukulan  hebat<BR>itu yang  tepat menghantam  punggung  Hai Kong  Hosiang. Pukulan  ini  dilakukan<BR>dengan tangan kanan dan jari-jari terbuka dan hebatnya luar biasa, hingga tenaga<BR>Cin Hai tinggal setengah bagian saja dan walaupun dilakukan dari dalam air namun<BR>tubuh Hai Kong  Hosiang yang besar  itu sampai  terpental ke atas  air. Cin  Hai<BR>tidak kelihatan  kepala  dan tubuhnya  dan  hanya tangan  kanannya  saja  nampak<BR>memukul dari dalam air, sedangkan tangan kirinya telah tak berdaya sama sekali.<BR>Hai Kong Hosiang mengeluarkan jeritan ngeri dan merasa seakan-akan nyawanya<BR>telah melayang  meninggalkan  tubuhnya,  kepalanya pusing  dan  matanya  menjadi<BR>gelap. Ia terbanting lagi ke dalam air dan tubuhnya hanyut terbawa air karena ia<BR>telah pingsan terkena  Pukulan Petir  Menyambar Awan  itu. Adapun  Cin Hai  yang<BR>lelah sekali dan  tubuhnya lumpuh  sebelah, setelah  melakukan serangan  balasan<BR>yang hebat ini pun  lalu menjadi pingsan dan  tubuhnya hanyut di belakang  tubuh<BR>Hai Kong Hosiang.  Dalam keadaan  pingsan Cin Hai  tidak merasa  bahwa ia  telah<BR>ditolong oleh kaki tangan Pangeran Vayami.  Juga Hai Kong Hosiang ditolong  oleh<BR>pangeran itu. Keduanya  lalu dibawa ke  utara dan dibawa  masuk ke dalam  sebuah<BR>tempat kediaman pangeran itu yang memiliki banyak sekali gedung di daerah  utara<BR>yang dibangun model gedung bangsa Han.<BR>Berkat tubuhnya yang  luar biasa kuatnya,  setelah mendapat perawatan  dari<BR>seorang tabib Mongol, luka  yang diderita oleh Hai  Kong Hosiang akibat  pukulan<BR>Cin Hai telah  dapat disembuhkan lagi  dalam beberapa hari.  Juga Cin Hai  telah<BR>sadar dari pingsannya,  akan tetapi ia  merasa tubuhnya masih  lemah sekali.  Ia<BR>merasa heran  mengapa ia  mendapat perawatan  sedemikian baiknya  dari  Pangeran<BR>Vayami dan diam-diam ia merasa bersyukur dan berterima kasih.<BR>Ketika Hai Kong  Hosiang sadar dan  melihat bahwa Cin  Hai masih hidup  dan<BR>berada di tempat itu  pula, ia serentak bangun  dan hendak membunuh pemuda  itu,<BR>akan tetapi  Vayami mencegahnya.  Hai  Kong Hosiang  adalah utusan  kaisar  yang<BR>ditugaskan menghubungi Pangeran Vayami yang berpengaruh, bahkan ia diberi  tugas<BR>membawa surat  undangan  kepada  pangeran  itu, maka  hwesio  ini  maklum  bahwa<BR>Pangeran Vayami adalah seorang yang terhormat dan yang harus ditaati perintahnya<BR>karena pangeran ini adalah calon tamu agung yang diundang ke istana kaisar.<BR>"Hai Kong  Beng-yu, jangan  salah paham,"  kata pangeran  ini dengan  wajah<BR>berseri dan senyumnya  yang manis.  "Bukan aku  sengaja membela  dia karena  aku<BR>membenarkan  dia  dan  memusuhimu,  akan  tetapi  aku  membutuhkan  tenaga   dan<BR>kepandaiannya. Ketahuilah  bahwa  ia  telah terkena  pengaruh  madu  merah  dari<BR>tabibku dan sebentar lagi ia akan menjadi alat kita yang boleh dipercaya."<BR>Hai Kong Hosiang mengangguk-angguk dan ia batalkan niatnya hendak  membunuh<BR>pemuda tangguh  yang  hampir saja  menewaskannya  itu. Ia  merasa  gembira  akan<BR>muslihat Pangeran  Vayami  yang  cerdik  dan licin.  Ternyata  di  daerah  utara<BR>terdapat banyak sekali obat-obatan yang sangat manjur dan ramuan obat yang  luar<BR>biasa jahatnya dan yang  sama sekali tak pernah  dikenal oleh penduduk  Tiongkok<BR>pedalaman. Pangeran Vayami mempunyai tabib  tua yang ahli dalam hal  obat-obatan<BR>bangsa Mongol dan di antara obat-obat yang mengandung racun luar biasa  terdapai<BR>semacam obat yang  disebut madu merah.  Madu merah ini  memang madu dari  bangsa<BR>tawon yang langka terdapat di lain bagian di dunia, dan hanya terdapat di daerah<BR>salju di utara. Madu  merah ini bukanlah racun  yang berbahaya bagi tubuh,  akan<BR>tetapi mempunyai khasiat memabokkan  dan yang dapat  membuat orang menjadi  lupa<BR>akan keadaan dirinya dan yang diberi  minum madu merah ini akan menjadi  manusia<BR>penurut yang tak dapat menguasai  pikiran sendiri dan tahunya hanya  menjalankan<BR>perintah orang lain yang mempengaruhinya. Kalau sekarang mungkin orang macam ini<BR>akan disebut manusia-manusia robot! Pangeran  yang cerdik ini merasa kagum  akan<BR>kepandaian Cin  Hai,  maka  diam-diam  ia menggunakan  obat  mujijat  ini  untuk<BR>mencengkeram Cin Hai, dan memperalatnya!<BR>Cin  Hai  mendapat  perawatan  yang  luar  biasa  telaten  dari  tabib  tua<BR>kepercayaan Vayami hingga dengan mudah saja  pemuda itu dapat diberi minum  madu<BR>merah yang manis rasanya  dengan alasan bahwa itu  adalah obat untuk  menguatkan<BR>tubuhnya. Memang  benar, tubuh  Cin Hai  menjadi kuat  kembali dan  luka  akibat<BR>totokan Hai Kong Hosiang  telah sembuh, akan tetapi  ia merasa makin hari  makin<BR>malas dan semua hal yang telah terjadi berangsur-angsur terlupa olehnya.  Bahkan<BR>ketika telah diperbolehkan keluar kamar dan  melihat Hai Kong Hosiang, ia  tidak<BR>mengenal lagi hwesio ini! Cin Hai hanya merasa senang luar biasa tinggal di situ<BR>dan tidak mempunyai  kehendak lain.  Biarpun pikirannya  telah dipengaruhi  obat<BR>mujijat  itu,  namun   tenaga  dan  kepandaiannya   masih  ada  padanya.   Hanya<BR>kepandaiannya dan julukannya saja yang ia masih ingat, yaitu "Pendekar Bodoh"!<BR>Demikianlah,  dengan  secara  keji  sekali,  Pangeran  Vayami  telah  dapat<BR>menaklukkan Cin Hai yang semenjak itu telah menjadi seorang hambanya yang  setia<BR>dan yang menurut akan segala perintahnya. Ini tidak mengherankan karena pangeran<BR>itu selalu bersikap manis dan baik kepadanya, dan dengan pengaruh sihirnya  yang<BR>cukup kuat ia dapat merampas pikiran Cin Hai dan dapat mempengaruhi pemuda  itu.<BR>Selain Pangeran Vayami, tak ada orang  lain yang mampu mempengaruhi pemuda  ini,<BR>karena betapapun juga pemuda ini mempunyai batin dan dasar pelajaran yang kuat!<BR>Setelah tubuh Cin  Hai dan  Hai Kong  Hosiang sembuh  kembali, Vayami  lalu<BR>membawa rombongannya itu menuju ke  selatan, karena ia hendak memenuhi  undangan<BR>kaisar yang hendak bersekutu dengannya.<BR>Rombongan ini setelah menyeberang sungai lalu melanjutkan perjalanan dengan<BR>naik kuda. Pangeran Vayami memiliki seekor kuda putih yang tinggi besar dan yang<BR>mempunyai tenaga  luar biasa  dan  nampaknya liar.  Kuda ini  bukanlah  binatang<BR>sembarangan dan dinamakan  "Pek-gin-ma" atau  Kuda Perak Putih  yang dapat  lari<BR>seribu li dalam  sehari tanpa  berhenti! Pangeran  yang cakap  ini nampak  gagah<BR>sekali naik kuda  yang berbulu putih  itu, hingga jubahnya  yang berwarna  merah<BR>darah nampak  mencolok  sekali. Di  sepanjang  jalan pangeran  yang  tampan  ini<BR>bersikap gembira dan  menyambut penghormatan para  rombongan orang-orang  Mongol<BR>dengan sikap ramah dan  agung. Memang hatinya sangat  gembira dan girang  karena<BR>kini ia  telah  mempunyai seorang  penjaga  pribadi yang  juga  menunggang  kuda<BR>bagaikan sebuah patung  hidup di sebelahnya,  yaitu Cin Hai!  Wajah pemuda  yang<BR>memang sudah kelihatan  bodoh itu  kini benar-benar nampak  bodoh sekali  karena<BR>tidak menunjukkan perasaan apa-apa  bagaikan seorang sedang  duduk di atas  kuda<BR>sambil mimpi!<BR>Pada suatu hari, rombongan  Pangeran Vayami tiba  di sebuah kampung  padang<BR>rumput dan mereka lalu  memasang tenda di padang  rumput, agak di luar  kampung.<BR>Pada malam harinya,  penduduk kampung  yang berpenduduk  campuran antara  bangsa<BR>Han, Mongol  dan Mancu,  keluar menyambut  Pangeran Vayami  untuk  menghiburnya.<BR>Pangeran ini namanya telah terkenal  sekali dan banyak orang  mendewa-dewakannya<BR>seperti seorang Buddha  hidup dan banyak  orang percaya bahwa  siapa yang  dapat<BR>menyenangkan hatinya atau memancing keluar senyum bibirnya yang manis, orang itu<BR>akan mendapat hadiah Nirwana  atau Surga ke tujuh!  Oleh karena itu, maka  semua<BR>penduduk,  tua  muda,  laki-laki  dan  perempuan,  bahkan  gadis  kampung  tidak<BR>ketinggalan menyerbu ke tempat pemberhentian rombongan itu. Mereka menghidangkan<BR>hidangan yang lezat-lezat  dari daging  domba, bahkan  serombongan pemain  musik<BR>memainkan perkakas mereka dan memainkan lagu rakyat. Gadis-gadis bergembira  ria<BR>dan menari  di depan  Pangeran  Vayami yang  memandang  semua itu  dengan  wajah<BR>menyatakan bosan. Memang ia tidak tertarik menonton tari-tarian itu, oleh karena<BR>gadis-gadis di kampung utara memang rata-rata berwajah kasar bagaikan  laki-laki<BR>dan kulit kehitam-hitaman.<BR>Tiba-tiba, ketika gadis-gadis  itu masih  menari-nari, berkelebat  bayangan<BR>merah dan  tahu-tahu di  tengah-tengah  kalangan gadis  yang sedang  menari  itu<BR>nampak seorang wanita berbaju merah yang menari-nari pula. Akan tetapi tariannya<BR>berbeda dengan tarian para gadis kampung  itu, dan wanita ini wajahnya  demikian<BR>cantik jelita hingga  Pangeran Vayami  memandang dengan  kedua mata  terbelalak.<BR>Gadis ini tidak saja kulitnya begitu halus dan putih laksana sutera, akan tetapi<BR>juga mempunyai potongan tubuh yang menggiurkan dan gerak-geriknya lemah  gemulai<BR>menarik hati! Tidak hanya para pemusik yang menjadi kagum dan saking  gembiranya<BR>mereka lalu mainkan  tetabuhan mereka lebih  ramai lagi, akan  tetapi juga  para<BR>gadis  yang  tengah  menari-nari  itu  menjadi  demikian  kagum  hingga   mereka<BR>menghentikan tarian  mereka  dan kini  berdiri  merupakan sederet  barisan  yang<BR>bertepuk-tepuk tangan sambil tertawa-tawa mengikuti irama lagu sambil  menikmati<BR>tarian Gadis Baju Merah itu.<BR>Tiba-tiba Hai  Kong  Hosiang berseru  di  antara sinar  obor  yang  membuat<BR>wajahnya nampak menyeramkan,  "Ang I  Niocu...!" Dan ia  segera mencabut  keluar<BR>senjatanya yang mengerikan itu, akan tetapi Vayami yang duduk di dekatnya segera<BR>mengangkat tangan dan berkata,<BR>"Hai Kong Bengyu, jangan sembarangan bergerak. Biarkan bidadari itu menari!<BR>" Ucapan  ini merupakan  perintah  karena pangeran  itu benar-benar  tidak  suka<BR>melihat gangguan Hai Kong Hosiang.  Oleh karena ini, sambil menggigit  bibirnya,<BR>Hai Kong Hosiang berdiri saja sambil menatap Ang I Niocu dengan mata merah.<BR>Memang benar, yang datang itu adalah  Ang I Niocu sendiri! Dara Baju  Merah<BR>ini telah dapat  melihat Cin Hai  berada dalam rombongan  Pangeran Vayami,  akan<BR>tetapi karena  sikap Cin  Hai  mencurigakan, ia  lalu sengaja  memancing  dengan<BR>tariannya. Sambil menari  ia mengerling  ke arah  Cin Hai  akan tetapi  alangkah<BR>heran, terkejut dan mendongkolnya ketika ia melihat wajah Cin Hai yang  tersorot<BR>sinar obor  itu menunjukkan  seakan-akan pemuda  itu tidak  kenal kepadanya  dan<BR>seakan-akan tariannya yang  indah itu  dalam pandangan Cin  Hai hanyalah  tarian<BR>seekor kodok meloncat-loncat yang tak ada harganya dipandang.<BR>Dalam kemendongkolannya, Ang  I Niocu  hendak marah,  akan tetapi  perasaan<BR>wanitanya yang halus  itu dapat  menduga adanya bahaya  yang mengancam.  Apalagi<BR>ketika ia  melihat  wajah  Hai Kong  Hosiang  yang  berada di  situ  pula!  Aneh<BR>pikirnya, tentu telah terjadi sesuatu atas diri Hai-ji! Oleh karena ini,  ketika<BR>ia melihat  betapa  sepasang mata  pangeran  muda itu  tertuju  kepadanya  penuh<BR>kekaguman dan gairah, dan melihat pula betapa besar pengaruh pangeran itu hingga<BR>berani membentak Hai Kong Hosiang, ia lalu menari lebih indah pula untuk membuat<BR>pangeran itu benar-benar mabok!<BR>Pangeran Vayami memang mempunyai  kelemahan terhadap wanita cantik.  Setiap<BR>hari dia melihat wanita-wanita yang buruk rupa, maka sekali ini Ang I Niocu yang<BR>demikian cantik  jelita  dan demikian  indah  tariannya, tak  heran  apabila  ia<BR>menjadi tergila-gila! Setelah Ang I  Niocu menghentikan tariannya, pangeran  itu<BR>bertepuk-tepuk tangan dan memuji,<BR>"Bagus, bagus! Hebat sekali! Eh, nona yang cantik seperti bidadari, silakan<BR>kau datang ke mari!"<BR>Dengan tindakan kaki yang menarik-narik kalbu Pangeran Vayami, Ang I  Niocu<BR>menghampiri pangeran  itu,  sedangkan  Hai  Kong  Hosiang  berdiri  di  belakang<BR>pangeran itu bersiap sedia dengan hati curiga.<BR>Ang I  Niocu menjura  dan memberi  hormat dengan  senyum manis  bermain  di<BR>bibirnya yang merah,<BR>"Nona, kau  yang  luar  biasa  ini siapakah  namamu?  Dan  di  mana  tempat<BR>tinggalmu?"<BR>"Sudah kukatakan tadi, dia ini adalah  Ang I Niocu yang tersohor  namanya!"<BR>kata Hai Kong Hosiang. "Gadis ini berbahaya sekali!"<BR>Akan tetapi  baik Pangeran  Vayami maupun  Ang I  Niocu tidak  mempedulikan<BR>ucapan pendeta itu, dan Ang I Niocu menjawab dengan suaranya yang merdu,  "Hamba<BR>bernama Kiang Im  Giok dan tempat  tinggal hamba tidak  tentu karena  sebenarnya<BR>hamba adalah seorang perantau."<BR>"Ah, kau  membawa-bawa  pedang,  tentu kau  seorang  kang-ouw  juga  bukan?<BR>Kebetulan sekali, aku  pun suka  kepada orang-orang  gagah dan  maukah kau  ikut<BR>dengan rombonganku?"<BR>"Pangeran sungguh berbudi mulia dan hamba hanya mohon berkah dari  Pangeran<BR>yang suci ini."<BR>Mendengar ucapan ini  Hai Kong  Hosiang menjadi  ragu-ragu. Benarkah  gadis<BR>yang gagah ini pun percaya dan tunduk kepada pangeran ini? Sementara itu, Ang  I<BR>Niocu mengerling ke arah  Cin Hai akan tetapi  alangkah kagetnya ketika  melihat<BR>wajah Cin Hai yang  seperti mayat itu. Maka  dengan hati berdebar-debar ia  lalu<BR>berkata pula,<BR>"Hamba telah kenal dengan Hai Kong Hosiang yang berdiri di belakang  Paduka<BR>itu, bahkan hamba pernah kenal dengan  pemuda ini. Mengapa mereka berdua  berada<BR>dalam rombongan Paduka?"  tanyanya dengan hati-hati  sambil menunjuk kepada  Cin<BR>Hai yang sama sekali tidak memperhatikan percakapan itu.<BR>"Ha, ha, ha! Tak heran kau  kenal mereka, karena mereka adalah tokoh  besar<BR>di  kalangan  kang-ouw.  Hai  Kong  Hosiang  tuan  rumahku  yang  mengantar  aku<BR>berkunjung ke kerajaan, sedangkan  pemuda itu adalah  penjagaku yang setia.  Ha,<BR>ha, marilah kita bicara di dalam, Nona, tak perlu kita membicarakan  orang-orang<BR>ini."<BR>"Hamba hanya menurut kehendak Paduka," kata Ang I Niocu sambil tersenyum.<BR>Dengan suara  lantang  Pangeran Vayami  lalu  membubarkan semua  orang  dan<BR>memberi berkah  dengan kedua  tangan dilambai-lambaikan  kemudian dengan  berani<BR>sekali ia memegang tangan Ang I Niocu yang halus lemas dan menggandeng gadis itu<BR>menuju ke kemahnya, pangeran ini lalu memerintahkan kepada para pelayannya untuk<BR>menyediakan meja perjamuan dan ia lalu  mengajak Ang I Niocu makan minum  dengan<BR>gembira.<BR>Dengan menggunakan senyum  dan kerlingnya  yang menawan hati,  Ang I  Niocu<BR>berhasil memancing  Pangeran  Vayami  untuk  menceritakan  pengalaman  Cin  Hai.<BR>Pengaruh arak telah membuat lidah pangeran itu menjadi fasih dan ia menceritakan<BR>sambil diseling kata-kata memuji-muji kecantikan Ang I Niocu.<BR>Bukan main marahnya  Gadis Baju  Merah ini  mendengar bahwa  Cin Hai  telah<BR>berada dalam pangaruh  madu merah  yang berbahaya. Tiba-tiba  ia menendang  meja<BR>yang berada  di depannya  dan  sekali ia  bergerak,  ia telah  menangkap  tangan<BR>Pangeran Vayami dan menempelkan pedangnya di leher pangeran itu. Pangeran Vayami<BR>menjadi pucat sekali dan tubuhnya gemetar, kedua kakinya menjadi lemas.<BR>"Ang I Niocu penjahat perempuan! Sudah kuduga engkau mempunyai niat buruk!"<BR>tiba-tiba terdengar bentakan di luar tenda.<BR>"Mundur, atau leher pangeran  cabul ini akan kupenggal  lebih dulu!" Ang  I<BR>Niocu membentak. Terpaksa sambil  memaki-maki Hai Kong  Hosiang mundur lagi  dan<BR>keluar dari kemah.<BR>"Lekas kau perintahkan supaya kuda Pek-gin-ma dibawa ke sini!" Ang I  Niocu<BR>memerintah sambil memutar lengan Pangeran Vayami. Pangeran ini merasa  kesakitan<BR>dan  dengan  suara  megap-megap  ia  perintahkan  orangnya  untuk  membawa  kuda<BR>Pek-gin-ma ke situ. Setelah kuda putih  yang indah itu didatangkan, Ang I  Niocu<BR>memerintah pula,<BR>"Sekarang kaupanggil Cin Hai ke sini!"<BR>Cin Hai takkan  mau datang kalau  lain orang yang  memanggil, maka  setelah<BR>Pangeran Vayami  memberitahukan hal  ini  kepada Ang  I  Niocu, gadis  itu  lalu<BR>memaksa dan mendorongnya keluar untuk mencari Cin Hai. Kebetulan sekali, Cin Hai<BR>tidak berada  jauh di  situ dan  pemuda ini  duduk di  dekat api  unggun  sambil<BR>termenung,<BR>"Cin Hai,  kau ke  sini!" Pangeran  Vayami memerintah  dan bagaikan  sebuah<BR>robot, pemuda itu  bangun berdiri dan  menghampiri Pangeran Vayami.  Hati Ang  I<BR>Niocu perih sekali melihat keadaan Cin Hai demikian rupa.<BR>Sementara itu dengan  bantuan sinar  obor dan api  unggun, Pangeran  Vayami<BR>memandang dan menatap  mata Cin Hai  dengan tajam dan  diam-diam ia  mengerahkan<BR>tenaga sihirnya hingga  pada saat  itu Cin  Hai menjadi  tunduk betul-betul  dan<BR>berada di bawah pengaruhnya sama sekali.<BR>Melihat Hai Kong Hosiang mendekat, Ang I Niocu membentak, "Kau berdiri jauh<BR>di sana,  kalau  tidak aku  takkan  ampunkan Pangeranmu  ini!"  Terpaksa  dengan<BR>mendongkol sekali Hai  Kong Hosiang  lalu mundur  dan berdiri  agak jauh  sambil<BR>memandang dengan mata tajam.  Ia maklum bahwa kepandaian  Ang I Niocu tak  boleh<BR>dibuat gegabah dan bahwa bukan hal yang mudah untuk menolong jiwa pangeran  yang<BR>telah berada di bawah ancaman pedang.<BR>Dengan tangan kanan masih memegang  pedang dan ditodongkan kepada  Pangeran<BR>Vayami, Ang I Niocu melepaskan pegangan  tangan kirinya dan kini ia  menggunakan<BR>tangannya untuk memegang lengan Cin Hai. Akan tetapi, Cin Hai sama sekati  tidak<BR>mempedulikannya dan  tetap  memandang  kepada Pangeran  Vayami  bagaikan  seekor<BR>anjing memandang  kepada  tuannya,  siap menanti  perintah.  Tiba-tiba  Pangeran<BR>Vayami berkata dalam bahasa Mongol yang artinya, "Tangkap wanita ini!" Memang ia<BR>telah mengajar Cin  Hai mengerti perintahnya  dalam bahasa Mongol.  Ang I  Niocu<BR>sama sekali tidak mengerti bahasa itu.<BR>Mendengar perintah ini, tiba-tiba Cin  Hai bergerak dan tahu-tahu ia  telah<BR>memeluk Ang I Niocu dan sebelah tangannya memegang pergelangan tangan gadis  itu<BR>yang memegang pedang. Ang I Niocu tak dapat berkutik dalam pelukan Cin Hai  yang<BR>keras ini, maka gadis ini hanya dapat mengeluh,<BR>"Hai-ji... aduh, Hai-ji..."<BR>Aneh sekali, panggilan yang dikeluarkan oleh suara Ang I Niocu ini  menusuk<BR>telinga dan menembus  hati Cin Hai.  Pada saat itu  ia merasa seperti  mendengar<BR>suara dari  surga yang  amat dikenalnya,  suara yang  membangunkannya dari  alam<BR>mimpi membuat ia  merasa bahwa  hanya suara  inilah yang  harus ditaatinya.  Ini<BR>tidak aneh,  karena dulu  ketika ia  masih kecil,  memang suara  panggilan  yang<BR>keluar dari mulut Ang  I Niocu dan  yang biasa menyebut  "Hai-ji" atau anak  Hai<BR>inilah yang selalu berkumandang di dalam telinganya dan yang selalu  dikenangnya<BR>sebagai panggilan yang  paling mesra dan  menyenangkan hati di  dunia ini.  Maka<BR>kenangan lama yang sudah menggores dalam-dalam di hatinya ini tak mudah terhapus<BR>oleh pengaruh baru yang mempengaruhi pikirannya.<BR>Tiba-tiba ia melepaskan pelukannya dan memandang kepada Ang I Niocu  dengan<BR>bingung, tak tahu harus berbuat apa.<BR>"Cin Hai tangkaplah wanita ini!" Sekali lagi Pangeran Vayami berseru,  akan<BR>tetapi Ang I Niocu segera berkata,<BR>"Hai-ji, mari kau ikut aku!"<BR>Ternyata suara Ang  I Niocu  lebih kuat  mempengaruhi jiwa  Cin Hai  hingga<BR>sekarang ia  betul-betul berada  di bawah  pengaruh Ang  I Niocu!  Dengan  wajah<BR>membayangkan kegembiraan,  pemuda  itu mengikuti  Ang  I Niocu.  Tiba-tiba  dari<BR>belakang terdengar suara angin menyambar, dan Ang I Niocu berteriak,<BR>"Hai-ji, mari kita binasakan hwesio binatang ini!"<BR>Oleh karena tadinya  pemuda ini  taat sekali kepada  Pangeran Vayami,  maka<BR>Pangeran Vayami tidak merampas pedang Liong-coan-kiam dari tangan Cin Hai.  Maka<BR>kini mendengar perintah Ang I Niocu,  Cin Hai mencabut senjatanya dan  menangkis<BR>serbuan Hai Kong  Hosiang! Ang I  Niocu membantu dan  terpaksa Hai Kong  Hosiang<BR>berkelahi sambil mundur  karena menghadapi  keroyokan dua orang  ini, ia  merasa<BR>jerih! Ia maklum sepenuhnya bahwa jika dilanjutkan, ia takkan menang  menghadapi<BR>Cin Hai dan Ang I Niocu.<BR>Kesempatan ini digunakan oleh Ang I Niocu untuk membetot tangan Cin Hai  ke<BR>arah kuda Pek-gin-ma  yang masih berdiri  di situ dan  kendalinya dipegang  oleh<BR>seorang pelayan  pangeran.  Pangeran Vayami  tak  berani menghalangi  karena  ia<BR>maklum kalau Hai Kong  Hosiang tidak berani menghadapi  dua orang ini, apa  lagi<BR>dia!<BR>"Hai-ji, kau naik di belakang dan kau mempertahankan setiap serangan!" kata<BR>lagi Ang I Niocu yang lalu melompat ke atas kuda itu. Cin Hai pun hanya  menurut<BR>dan naik di belakang Ang I Niocu! Gadis itu menggunakan kakinya untuk  menendang<BR>roboh pelayan yang memegang kendali dan ia lalu menarik kendali kuda  Pek-gin-ma<BR>itu yang segera meringkik  keras, mengangkat kedua  kaki depan tinggi-tinggi  ke<BR>atas, lalu  berlari secepat  angin! Hai  Kong Hosiang  sambil  menyumpah-nyumpah<BR>mengayunkan tiga batang piauw beracun ke arah mereka, akan tetapi dengan kebutan<BR>lengan bajunya, Cin Hai berhasil menyampok ketiga batang piauw itu ke tanah.<BR>Malam itu terang bulan dan kuda  Pek-gin-ma yang berbulu putih itu  berlari<BR>cepat. Bulunya mengkilap  tertimpa sinar bulan  hingga ia benar-benar  merupakan<BR>kuda  yang  mempunyai  bulu   bagaikan  perak  tulen!   Ang  I  Niocu   mencabut<BR>saputangannya yang digulung  merupakan cambuk  dan ia  membujuk kuda  Pek-gin-ma<BR>dengan mencambuk perlahan pada kuncungnya  agar dapat berlari lebih cepat  lagi.<BR>Kuda itu  meringkik gembira  dan ia  benar-benar lari  keras sekali  seakan-akan<BR>keempat kakinya yang  putih itu tidak  menyentuh tanah! Sementara  itu, Cin  Hai<BR>duduk di belakang Ang  I Niocu dengan anteng  bagaikan sebuah boneka besar  yang<BR>duduk diam sambil berdongak ke atas memandangi bulan!<BR>"Hai-ji... Hai-ji... kau kenapakah...?"  berkali-kali Ang I Niocu  bertanya<BR>sambil menoleh dan  khawatir melihat sikap  Cin Hai yang  sudah berubah  menjadi<BR>manusia robot itu!<BR>Akan tetapi  Cin  Hai tidak  menjawab  apa-apa, hanya  termenung  memandang<BR>bulan. Tiba-tiba ia menjawab juga,<BR>"Aku Pendekar Bodoh dan kau...  kau... sahabatku yang harus kubela!"  Hanya<BR>demikian ia menjawab dan selanjutnya ia tak dapat memikir apa-apa lagi.<BR>Sebetulnya bagaimanakah maka Ang I Niocu,  atau Dara Baju Merah yang  gagah<BR>perkasa itu dapat  tiba-tiba muncul  di daerah  utara ini  dan kebetulan  sekali<BR>dapat menolong Cin Hai?  Untuk dapat mengetahui hal  ini, baiklah kita  menengok<BR>sebentar pengalamannya semenjak ia melarikan  diri dengan Lin Lin dari  keluarga<BR>Kwee.<BR>Semenjak Ang I Niocu datang ke  rumahnya, Lin Lin merasa tertarik dan  suka<BR>sekali kepada  Nona Baju  Merah ini  hingga ia  mengajak Ang  I Niocu  tidur  di<BR>kamarnya. Dan  di  dalam  kamarnya,  dengan terus  terang  ia  mengeluarkan  isi<BR>hatinya, dan  menuturkan  betapa  ia  dan Cin  Hai  telah  saling  mencinta.  Ia<BR>menceritakan pengalamannya dengan Cin Hai tanpa malu-malu lagi, tidak tahu  sama<BR>sekali betapa kata-katanya semua itu  merupakan sebuah senjata yang lebih  tajam<BR>daripada sebuah pedang pusaka yang menusuk-nusuk hati dan perasaan Ang I Niocu.<BR>Akhirnya Lin Lin berkata sambil merangkul Ang I Niocu dan menangis,<BR>"Cici yang  baik, bayangkan  betapa  sedih hatiku  ketika Engko  Hai  pergi<BR>meninggalkanku untuk membalas dendam ini.  Selain merasa kecewa, aku pun  merasa<BR>khawatir sekali akan keselamatannya. Bagaimana  kalau ia sampai menemui  bahaya?<BR>Kalau aku  boleh  ikut, biar  kami  berdua  menghadapi bahaya  maut  dan  sampai<BR>terbinasa sekalipun, aku merasa puas dan dapat mati dengan mata meram!"<BR>Ketika Lin  Lin tidak  mendengar Ang  I Niocu  menjawab, ia  memandang  dan<BR>melihat bahwa  Nona Baju  Merah itu  pun menangis  dengan sedihnya  sehingga  ia<BR>terisak-isak, Lin Lin menyangka bahwa Nona Baju Merah ini ikut merasa sedih  dan<BR>terharu, maka ia lalu berbalik menghibur.<BR>"Cici, kalau engkau  sudi membawaku mengejar  Hai-ko dan An-ko!  Setidaknya<BR>kita akan dapat membantu mereka bukan? Apalagi dengan adanya kau yang lihai, aku<BR>takkan takut menghadapi siapapun juga."<BR>Karena bujukan-bujukan ini, akhirnya Ang I Niocu tak kuasa menahan lagi dan<BR>demikianlah, dengan diam-diam  mereka pada  malam hari itu  juga melarikan  diri<BR>untuk menyusul Cin Hai dan Kwee An! Ang I Niocu dapat melihat bahwa cinta  gadis<BR>ini terhadap Cin Hai besar sekali, dan  kalau pemuda itu pun membalas cinta  Lin<BR>Lin, sudah menjadi tugasnya untuk menemukan mereka kembali. Bukankah ia mencinta<BR>kepada Cin  Hai dengan  sepenuh jiwanya?  Cintanya bukan  terdorong nafsu,  akan<BR>tetapi ia betul-betul ingin melihat pemuda  itu hidup bahagia di samping  wanita<BR>yang dicintainya, dan menurut pandangannya,  Lin Lin cukup pantas menjadi  gadis<BR>pilihan Cin Hai.<BR>Ang I Niocu yang telah berpengalaman  itu dengan mudah dapat menduga  bahwa<BR>Cin Hai dan Kwee An  tentu menuju ke kota  raja untuk mencari musuh-musuh  besar<BR>itu, maka ia pun  langsung mengajak Lin  Lin menuju ke  kota raja. Di  sepanjang<BR>jalan tiada  bosannya ia  memberi petunjuk  ilmu silat  kepada Lin  Lin,  bahkan<BR>memberi tahu tentang rahasia latihan lweekang yang lebih tinggi.<BR>Ketika mereka tiba di kota raja,  Ang I Niocu mendengar tentang  penyerbuan<BR>Cin Hai dan Kwee  An, dan tentang terbunuhnya  empat orang dari Santung  Ngohiap<BR>dan dua orang perwira  lain. Lin Lin mengucurkan  air mata karena merasa  girang<BR>dan terharu. Ketika  mendengar bahwa dua  orang musuh besarnya,  yaitu Hai  Kong<BR>Hosiang dan Boan Sip masih belum  terbalas dan kedua pemuda itu mengejar  mereka<BR>ke utara, Lin Lin lalu minta kepada Ang  I Niocu untuk mengejar ke utara. Ang  I<BR>Niocu menyetujui  pula  dan begitulah  mereka  pada keesokan  harinya  melakukan<BR>pengejaran ke utara. Mereka tertinggal tujuh hari oleh Kwee An dan Cin Hai.<BR>Pada suatu hari mereka tiba di  pinggir Sungai Liong-kiang dan melihat  dua<BR>orang sedang dikeroyok  oleh sekumpulan  perwira kerajaan. Dua  orang ini  bukan<BR>lain ialah Nelayan Cengeng dan muridnya, yaitu Ma Hoa atau gadis puteri Ma  Keng<BR>In yang berpakaian  laki-laki. Yang  mengeroyok adalah tujuh  orang perwira  dan<BR>seorang hwesio yang gagah perkasa, karena hwesio ini bukan lain ialah Beng  Kong<BR>Hosiang, suheng dari Hai Kong Hosiang yang pernah roboh di tangan Cin Hai.<BR>Beng Kong Hosiang  dan tujuh orang  perwira itu mendapat  tahu bahwa  kedua<BR>orang pemuda yang mengacau di Enghiong-koan telah mengejar ke utara, maka mereka<BR>merasa kuatir akan keselamatan Hai Kong Hosiang lalu melakukan pengejaran  pula.<BR>Di pinggir Sungai Liong-kiang mereka melihat  sebuah perahu kecil di mana  duduk<BR>seorang tua  yang berpakaian  nelayan dan  seorang pemuda  tampan. Biarpun  para<BR>perwira itu mengenal  Ma Keng  In sebagai  seorang perwira,  akan tetapi  mereka<BR>tidak mengenal  Ma Hoa  yang berpakaian  laki-laki, dan  mereka menyangka  bahwa<BR>pemuda ini tentulah seorang nelayan pula.<BR>Beng Kong Hosiang melihat sikap nelayan  yang memandang acuh tak acuh  itu,<BR>dapat menduga bahwa orang tua itu tentulah seorang kang-ouw yang  berkepandaian,<BR>maka setelah menjura ia berkata,<BR>"He, kawan  nelayan  tua,  tolonglah kami  menyeberang  sungai  ini  dengan<BR>perahumu, berapa saja upahnya yang kauminta, tentu pinceng bayar lunas!"<BR>Nelayan Cengeng tertawa  haha-hihi mendengar ucapan  ini, kemudian  menatap<BR>mereka baik-baik, ia lalu menjawab,<BR>"Hwesio yang bercampur  gaul dengan segala  perwira kerajaan,  permintaanmu<BR>ini pantas sekali. Akan tetapi jawablah  dulu. Kalian delapan orang dari  istana<BR>ini hendak menuju ke manakah?"<BR>Melihat sikap pelayan yang sama  sekali tidak menghormati mereka, Ben  Kong<BR>Hosiang yang  menyangka bahwa  nelayan itu  tentu tidak  tahu sedang  berhadapan<BR>dengan siapa, maka  ia lalu  menjawab, "Nelayan tua,  ketahuilah, bahwa  pinceng<BR>adalah Beng Kong Hosiang  yang menjadi kepala penjaga  dari kelenteng di  istana<BR>dan menjadi penasehat dari  kaisar sendiri. Maka  janganlah kau banyak  bertanya<BR>dan seberangkanlah pinceng bersama semua ciangkun ini."<BR>Mendengar nama ini, terkesiaplah  hati Nelayan Cengeng  dan Ma Hoa.  Mereka<BR>telah mendengar  dari Kwee  An bahwa  hwesio  ini adalah  suheng dari  Hai  Kong<BR>Hosiang yang pernah bertempur dengan kedua pemuda itu, maka mereka dapat menduga<BR>bahwa rombongan ini tentulah mengejar Cin Hai dan Kwee An yang telah melanjutkan<BR>perjalanan pada beberapa hari yang lalu.<BR>"Beng Kong  Hosiang, kalau  kau tidak  memberi tahu  maksud kepergianmu  ke<BR>utara ini, terpaksa aku menolak untuk menyeberangkan kalian."<BR>Seorang perwira yang berangasan menjadi marah dan membentak,<BR>"He, tua  bangka! Tidak  tahukah  kau bahwa  kau sedang  berhadapan  dengan<BR>perwira-perwira kaisar? Apa kau ingin mampus? Hayo, seberangkan kami dan  jangan<BR>banyak tingkah lagi!"<BR>Nelayan Cengeng tertawa bergelak mendengar kekasaran ini, lalu menjawab,<BR>"Perahu ini adalah perahuku, dan  hanya aku yang berhak menentukan,  apakah<BR>kalian boleh atau tidak memakai perahu ini. Sekarang aku katakan tidak boleh dan<BR>kalau kalian hendak menyeberang, gunakan saja lain perahu!"<BR>Melihat sikap ini, Beng  Kong Hosiang dapat menduga  bahwa nelayan tua  itu<BR>tentu bukan orang sembarangan. Kalau saja di situ terdapat lain perahu tentu  ia<BR>tidak akan melayani lagi, akan tetapi di  situ tidak ada lain perahu dan  perahu<BR>kecil nelayan itu hanyalah  satu-satunya yang ada. Maka  ia lalu berkata  dengan<BR>suara halus,<BR>"Sahabat, mungkin  karena  kita  belum  berkenalan,  maka  kau  tidak  sudi<BR>menolong. Bolehkah pinceng mengetahui namamu yang mulia?"<BR>Melihat sikap pendeta  ini, tiba-tiba Nelayan  Cengeng tertawa geli  sekali<BR>hingga kedua matanya keluar air mata.<BR>"Ha, ha,  ha!  Ternyata Beng  Kong  Hosiang dapat  juga  merendahkan  diri.<BR>Sungguh lucu! Ketahuilah  aku adalah seorang  nelayan tua yang  malang-melintang<BR>disungai ini untuk mencari ikan. Aku lebih suka berdekatan dengan ikan-ikan dari<BR>pada dengan segala perwira  tukang pukul dan aku  lebih tidak suka pula  melihat<BR>hwesio-hwesio yang bergelandangan dengan tukang-tukang pukul itu, karena  hwesio<BR>demikian ini tentu bukan hwesio baik-baik!"<BR>Bukan main marahnya ketujuh perwira  itu mendengar makian ini, akan  tetapi<BR>Beng Kong Hosiang dapat mengendalikan perasaannya dan ia segera bertanya  dengan<BR>heran, "Apakah kau ini Si Nelayan Cengeng?"<BR>"Ha, ha,  aku  tertawa  atau  menangis menurut  keadaan  dan  waktuku,  apa<BR>sangkutannya dengan kau?" jawab Nelayan  Cengeng itu. Jawaban yang tidak  karuan<BR>ini menguatkan dugaan Beng Kong Hosiang karena ia pernah mendengar bahwa Nelayan<BR>Cengeng adalah seorang  aneh yang  kadang-kadang membawa  tingkah seperti  orang<BR>gila.<BR>Sementara itu, ketujuh perwira yang  telah mencabut senjata, lalu  mendekat<BR>ke pinggir perahu  dan membentak, "Orang  tua kau lekas  keluar dari perahu  dan<BR>berikan perahurnu kepada kami untuk dipakai menyeberang dan jangan banyak  cakap<BR>lagi!"<BR>Ma Hoa semenjak  tadi menahan marahnya,  kini ia pun  melompat keluar  dari<BR>perahu ke darat dan menghunus pedangnya. Ketujuh perwira itu menyerbu kepada  Ma<BR>Hoa dan segera pemuda itu terkurung rapat. Nelayan Cengeng tertawa bergelak  dan<BR>sekali tubuhnya berkelebat, ia telah  menghadapi Beng Kong Hosiang. Pendeta  ini<BR>tidak mau memperlihatkan kelemahannya dan ia segera menerjang dengan  senjatanya<BR>yang aneh yaitu  sebatang pacul.  Nelayan Cengeng  mengeluarkan senjatanya  yang<BR>tidak kalah hebatnya, yaitu sebatang dayung yang terbuat daripada kayu hitam dan<BR>keras.<BR>Kepandaian Nelayan Cengeng memang sangat  tinggi dan tenaganya besar,  maka<BR>sebentar saja  Beng  Kong  Hosiang  sangat terdesak  oleh  gerakan  dayung  yang<BR>mengamuk bagaikan seekor naga sakti menyambar-nyambar itu. Melihat hal ini, maka<BR>dua orang  perwira  lalu  membantunya  dan  yang  lima  orang  lain  masih  saja<BR>mengeroyok Ma Hoa segera terdesak hebat dan keadaannya berbahaya sekali. Nelayan<BR>Cengeng biarpun tidak  terdesak akan tetapi  ilmu pacul Beng  Kong Hosiang  yang<BR>cukup hebat itu  disertai bantuan dua  orang perwira yang  terpandai membuat  ia<BR>tidak dapat membantu muridnya yang terdesak.<BR>Dan pada saat itulah Ang I Niocu dan Lin Lin tiba di tempat itu. Ketika Ang<BR>I Niocu melihat bahwa  yang mengeroyok nelayan tua  dan pemuda cakap itu  adalah<BR>rombongan perwira  istana dan  seorang hwesio  yang tangguh,  tanpa bertanya  ia<BR>telah dapat  memilih pihaknya.  Ia lalu  berbisik kepada  Lin Lin,  "Kaubantulah<BR>pemuda itu!"  Kemudian  sambil mencabut  pedangnya,  Ang I  Niocu  melompat  dan<BR>menjadi sebuah sinar merah yang cepat  sekali menggempur Beng Kong Hosiang  dari<BR>samping sambil  dibarengi  teriakannya,  "Hwesio  penjilat  kaisar,  jangan  kau<BR>menjual kesombongan di sini!" Pedang Ang I Niocu berkelebat-kelebat membuat Beng<BR>Kong Hosiang terkejut sekali.<BR>Baik Beng Kong Hosiang, maupun Nelayan Cengeng pernah mendengar nama Ang  I<BR>Niocu, maka  kini melihat  seorang wanita  cantik jelita  yang berpakaian  merah<BR>datang menyerbu  dengan kepandaian  yang demikian  tinggi dan  indah  gerakannya<BR>segera mereka dapat menduga siapa adanya gadis ini. Beng Kong Hosiang  mengertak<BR>gigi dan memperkuat gerakannya karena maklum bahwa ia menghadapi bantuan seorang<BR>yang tangguh, sedangkan  Nelayan Cengeng lalu  tertawa bergelak-gelak. "Ha,  ha,<BR>ha, Beng Kong Hosiang! Agaknya ketika engkau berangkat dari kelentengmu,  engkau<BR>belum mencuci tubuh  hingga tertimpa  kesialan! Sekarang  pergilah mandi  dulu!"<BR>Sambil berkata demikian ia mendesak hebat dengan dayungnya!<BR>Ilmu pedang  Ang I  Niocu memang  sudah hebat  sekali. Apalagi  kalau  yang<BR>menghadapinya belum pernah melihat atau mengenal ilmu pedangnya, maka  kehebatan<BR>itu akan menjadi  makin mengerikan.  Baru beberapa  puluh jurus  saja, ia  dapat<BR>mendesak dua orang perwira yang  mengeroyok Nelayan Cengeng dan akhirnya  dengan<BR>tipu gerakan Bidadari Menyebar  Bunga ia berhasil  melukai tangan mereka  hingga<BR>senjata mereka  berdua  terlepas  dari pegangan!  Kedua  perwira  ini  berteriak<BR>kesakitan dan melompat  mundur. Dan  pada saat  itu juga,  Nelayan Cengeng  juga<BR>telah berhasil menghantamkan  dayungnya yang  mengenai paha  Beng Kong  Hosiang.<BR>Hwesio itu  terhuyung-huyung dan  Nelayan Cengeng  sambil tertawa-tawa  mendupak<BR>pantatnya hingga hwesio itu menggelundung dan masuk ke dalam sungai!<BR>"Ha, ha, mandilah!  Mandilah biar bersih!"  Nelayan Cengeng berkata  sambil<BR>tertawa geli!<BR>Lin Lin juga tidak  mau tinggal diam. Dara  muda ini ketika melihat  betapa<BR>pemuda yang tampan dan memiliki ilmu  pedang lumayan juga sedang dikeroyok  oleh<BR>lima orang  perwira yang  berkepandaian tinggi  hingga keadaannya  terdesak  dan<BR>berbahaya  sekali,   lalu   menyerbu   dengan  pedang   pendeknya   yang   lihai<BR>berputar-putar di tangannya! Tadinya memang  Lin Lin telah memiliki ilmu  pedang<BR>yang baik,  maka  ditambah dengan  petunjuk  dari  Ang I  Niocu  yang  diberikan<BR>kepadanya, kini  kepandaiannya telah  maju pesat  dan gerakan  pedang  pendeknya<BR>lihai dan  dahsyat.  Sebentar  saja  ia  telah  merobohkan  seorang  pengeroyok.<BR>Sebaliknya Ma Hoa ketika melihat  seorang gadis manis menyerbu dan  membantunya,<BR>menjadi girang sekali dan sekarang timbullah semangatnya. Gadis yang  berpakaian<BR>sebagai laki-laki ini lalu membentak nyaring dan pedangnya membuat gerakan kilat<BR>hingga kembali seorang perwira kena dirobohkan!<BR>"Adikku yang  manis!  Terima kasih  atas  bantuanmu!" Ma  Hoa  berseru  dar<BR>mengerling ke arah  Lin Lin sambil  memutar pedangnya menyerang  terus. Lin  Lin<BR>kaget dan marah mendengar ini, karena  ia menganggap bahwa "pemuda" ini  sungguh<BR>kurang ajar hingga mukanya berubah merah karena malu dan marah.<BR>Sementara itu, para perwira ketika melihat datangnya dua orang gadis  kosen<BR>ini dan melihat betapa Beng Kong Hosiang telah dikalahkan, dan dilempar ke dalam<BR>sungai, menjadi takut  dan jerih.  Mereka lalu membalikkan  tubuh dan  melarikan<BR>diri secepatnya, mengejar Beng Kong Hosiang yang melarikan diri terlebih dulu!<BR>Nelayan Cengeng  tertawa terkekeh-kekeh  dan membiarkan  semua perwira  itu<BR>lari, bahkan  yang  terluka  lalu merangkak-rangkak  dan  pergi  tanpa  diganggu<BR>sedikit pun.<BR>"Ha, ha, Beng Kong  Hosiang! Baru sekarang kau  tahu lihainya dayung  butut<BR>Nelayan Cengeng!!"  berseru nelayan  tua itu  dengan tertawa  geli sampai  kedua<BR>matanya mengeluarkan air mata.<BR>Mendengar nama ini, Ang  I Niocu terkejut sekali  dan ia buru-buru  memberi<BR>hormat. "Ah, tidak tahunya  Cianpwe adalah Kong Hwat  Lojin Si Nelayan  Cengeng!<BR>Terimalah hormat dari aku yang muda!"<BR>Kembali Nelayan Cengeng tertawa senang. "Bagus, bagus! Ang I Niocu,  namamu<BR>bukan kosong belaka. Ilmu  pedangmu sungguh membuat aku  orang tua merasa  kagum<BR>sekali!"<BR>Sementara itu melihat  betapa Lin  Lin memandangnya dengan  mata tajam  dan<BR>mulut cemberut, Ma  Hoa tertawa dan  berkata kepadanya, "Adik  yang manis,  ilmu<BR>pedangmu pun hebat sekali! Siapakah namamu?"<BR>Kini Lin Lin tak  dapat menahan marahnya lagi  karena ia menganggap  pemuda<BR>ini terlalu kurang ajar! Ia belum pernah mendengar nama Nelayan Cengeng maka  ia<BR>tidak  berapa  menaruh  perhatian  pada   kakek  itu,  dan  sambil   menudingkan<BR>telunjuknya ke arah hidung Ma Hoa, ia berkata,<BR>"Kau janganlah membuka mulut sembarangan dan berlaku kurang ajar! Kau  kira<BR>aku ini siapakah maka kau berani bertanya sembarangan saja?"<BR>Lin Lin menjadi makin terheran dan marah ketika melihat "pemuda" itu  tidak<BR>marah, bahkan tertawa bergelak dan nyaring. Akan tetapi anehnya, ketika  tertawa<BR>"pemuda" ini menggunakan ujung lengan bajunya untuk menutupi mulutnya, sedangkan<BR>suaranya juga nyaring dan merdu seperti  suara ketawa seorang wanita! Selagi  ia<BR>berdiri memandang dengan mata heran  tercampur marah, tiba-tiba Nelayan  Cengeng<BR>juga tertawa dan berkata,<BR>"Nona, dia ini  adalah muridku dan  bernama Ma Hoa!  Memang seorang  pemuda<BR>ceriwis yang layak dipukul! Ha, ha, ha!"<BR>"Suhu, jangan membikin Nona ini  menjadi makin marah! Lihat, mukanya  sudah<BR>menjadi merah dan  mulutnya cemberut menambah  manisnya!" kata Ma  Hoa. Lin  Lin<BR>menjadi gemas sekali,  akan tetapi  sebelum ia menggerakkan  tangan yang  hendak<BR>menampar mulut "pemuda"  itu, tiba-tiba Ang  I Niocu yang  bermata tajam  sambil<BR>tersenyum berkata kepadanya,<BR>"Adik Lin Lin, mengapa kau begitu bodoh? Pemuda ini adalah seorang  wanita!<BR>Apakah kau tak dapat menduganya?"<BR>Lin  Lin  terkejut  dan  memandang  dengan  tajam  sedangkan  Ma  Hoa  lalu<BR>melepaskan kupiahnya  hingga rambutnya  yang hitam  dan panjang  itu terurai  ke<BR>bawah menutupi pundaknya. Kini "pemuda"  itu berubah menjadi seorang gadis  yang<BR>cantik jelita dan yang sedang tertawa manis kepadanya. Lin Lin juga tertawa  dan<BR>mukanya menjadi  makin  merah karena  malu  akan kebodohannya  sendiri.  Ma  Hoa<BR>menghampiri dan memeluk pundak Lin Lin.<BR>"Adikku yang manis, maafkanlah aku yang menggodamu. Entah mengapa,  melihat<BR>kau semanis ini,  aku menjadi suka  sekali! Siapakah namamu,  Adik yang  manis?"<BR>tanyanya.<BR>"Enci, kau  benar-benar nakal  sekali! Siapa  yang menyangka  engkau  bukan<BR>seorang pemuda aseli? Namaku adalah Kwee Lin."<BR>Sepasang mata Ma Hoa yang jeli itu bersinar mendengar ini. "Apa? Engkau she<BR>Kwee? Eh, Adik, kenalkah engkau kepada seorang pemuda bernama... Kwee An?"<BR>Lin Lin menangkap tangan  Ma Hoa dan memegang  tangan itu erat-erat.  "Enci<BR>Hoa, apakah  engkau bertemu  dia? Dia  adalah kakakku  dan sekarang  aku  sedang<BR>mencari dia!"<BR>"Ha, ha, ha!" Si Nelayan  Cengeng tertawa bergelak. "Ini namanya  kebetulan<BR>sekali. Nona  Kwee Lin,  kau tadi  tidak membantu  orang lain  oleh karena  yang<BR>kaubantu itu adalah calon Soso (Kakak iparmu) sendiri!"<BR>Lin Lin  tercengang  dan  memandang  kepada  wajah  Ma  Hoa  yang  menunduk<BR>kemalu-maluan. "Betulkah ini, Enci Hoa?"<BR>Ma Hoa tak  dapat menjawab, hanya  tertunduk sambil memegang-megang  pedang<BR>yang tergantung di pinggangnya. Tiba-tiba Lin  Lin mengenali pedang Kwee An  dan<BR>ia segera memeluk Ma Hoa dengan girang sekali. "Ah, benar engkau telah  menerima<BR>pedang Engko An!  Ah, aku girang  sekali! Eh, calon  ensoku yaqg baik,  sekarang<BR>beritahukanlah kepadaku di mana adanya calon suamimu itu?"<BR>Ma Hoa mengerling  dan cemberut.  "Kau nakal  sekali, Adik  Lin! Kalau  kau<BR>tidak mau berhenti menggodaku aku takkan mau memberitahukan di mana dia sekarang<BR>berada!"<BR>Sementara itu,  Ang  I Niocu  juga  merasa girang  sekali  mendengar  bahwa<BR>benar-benar Cin Hai dan Kwee An telah di sini dan bahkan Kwee An telah  mengikat<BR>perjodohan dengan gadis murid Nelayan Cengeng yang cantik dan gagah itu.<BR>Nelayan Cengeng  lalu  menuturkan kepada  Ang  I  Niocu dan  Lin  Lin  akan<BR>pengalaman mereka dan pertemuan mereka dengan Cin Hai dan Kwee An beberapa waktu<BR>yang lalu. Mereka  memberitahukan bahwa  kedua anak muda  itu telah  melanjutkan<BR>perjalanan mereka ke  utara dalam  usaha mereka  mencari dan  mengejar Hai  Kong<BR>Hosiang.<BR>Dalam kegembiraan mereka  karena pertemuan  ini, baik  Nelayan Cengeng  dan<BR>muridnya, maupun Ang I Niocu dan Lin Lin telah kurang hati-hati dan mereka tidak<BR>tahu bahwa di pinggir sungai masih ada seorang perwira yang tadi terpelanting ke<BR>dalam sungai dan kini bersembunyi di  dalam air sambil mengeluarkan kepala  dari<BR>permukaan air  yang  disembunyikan  di bawah  rumput  alang-alang.  Perwira  ini<BR>mendengar semua percakapan mereka dan alangkah kaget, heran dan marahnya  ketika<BR>mendapat kenyataan bahwa "pemuda" itu adalah Ma Hoa, puteri dari perwira Ma Keng<BR>In yang ia kenal baik!<BR>Ang I Niocu dan Lin Lin tidak menunda perjalanan mereka dan segera berpamit<BR>untuk melanjutkan  penyusulan mereka  kepada kedua  pemuda kita.  Sebetulnya  di<BR>dalam hatinya Ma Hoa hendak ikut, akan  tetapi ia malu untuk menyatakan hal  ini<BR>dan pula ia khawatir kalau-kalau ia  dikenal oleh para perwira hingga  kedudukan<BR>ayahnya sebagai seorang perwira akan  terancam. Maka terpaksa mereka  melepaskan<BR>kedua orang gadis pendekar itu pergi dengan hati berat.<BR>Setelah semua  orang pergi,  perwira yang  bersembunyi itu  lalu  merangkak<BR>keluar dan segera lari menuju kembali  ke kota raja untuk membuat laporan.  Beng<BR>Kong Hosiang  yang  merasa  malu  dan marah  sekali  karena  kekalahannya,  lalu<BR>mengumpulkan sejumlah besar perwira dan segera mengejar terus ke utara!<BR>Pertemuan dengan Nelayan Cengeng dan Ma Hoa itu membuat Ang I Niocu dan Lin<BR>Lin merasa girang sekali, oleh karena  tidak saja mereka girang mendengar  bahwa<BR>Kwee An telah mendapat  jodoh seorang gadis yang  cantik dan gagah, juga  mereka<BR>kini telah dapat mengikuti jejak kedua pemuda itu dan mendapat kesempatan  untuk<BR>ikut membalas dendam kepada Hai Kong Hosiang!<BR>Dua hari kemudian, ketika dua orang  gadis pendekar ini sedang berjalan  di<BR>tempat yang sunyi dari depan mereka melihat dua orang berjalan cepat mendatangi.<BR>Gerakan kedua orang dari depan itu demikian cepat hingga Ang I Niocu dan Lin Lin<BR>maklum bahwa mereka tentulah orang-orang berkepandaian tinggi. Dan setelah dekat<BR>ternyata bahwa dua orang itu adalah Boan Sip, perwira musuh besar keluarga  Kwee<BR>dan seorang tua yang  kelihatan pucat dan berjubah  hitam, dan sepasang  matanya<BR>mengeluarkan sinar kejam.<BR>Ternyata bahwa Boan  Sip adalah  seorang perwira yang  selain cerdik,  juga<BR>berwatak pengecut sekali. Ketika ia  mendengar bahwa kawan-kawannya telah  tewas<BR>di dalam  tangan anak-anak  muda yang  membalas dendam  keluarga Kwee,  ia  lalu<BR>cepat-cepat pergi mengunjungi suhunya, yaitu Bo Lang Hwesio. Dengan pandai  Boan<BR>Sip dapat membujuk  suhunya untuk membela  dirinya dari ancaman  musuh-musuhnya.<BR>Dan kebetulan sekali,  ketika mereka  sedang berjalan  menuju ke  kota raja,  di<BR>tengah jalan mereka bertemu dengan Ang I Niocu dan Lin Lin.<BR>Melihat Lin Lin, tentu saja Boan  Sip menjadi girang sekali dan  sebaliknya<BR>Lin Lin juga girang oleh karena  tak disangka-sangkanya ia dapat bertemu  dengan<BR>musuh besarnya di tempat itu.<BR>"Bangsat rendah, akhirnya dapat juga aku membalas dendamku!" teriak Lin Lin<BR>sambil mencabut keluar  pedangnya dan  melompat lalu menyerang  Boan Sip  dengan<BR>sengitnya. Boan Sip tertawa besar  dan menggunakan pedangnya menangkis  sehingga<BR>sebentar saja mereka bertempur dengan seru dan hebat.<BR>Sementara itu, karena menyangka bahwa hwesio ini bukan lain tentulah  kawan<BR>Boan Sip, Ang I  Niocu segera mencabut pedangnya  dan menyerang Bo Lang  Hwesio.<BR>Akan tetapi, Dara Baju Merah ini  terkejut sekali ketika pedangnya dengan  mudah<BR>ditangkis oleh ujung lengan  baju hwesio itu! Ia  berlaku hati-hati sekali  oleh<BR>karena maklum bahwa hwesio ini berkepandaian tinggi. Sebaliknya melihat  gerakan<BR>pedang Ang I Niocu yang lain daripada  pedang biasa, Bo Lang Hwesio juga  merasa<BR>kagum dan membentak,<BR>"Nona yang gagah siapakah namamu?"<BR>Akan tetapi  Ang  I  Niocu  mana sudi  memberitahukan  namanya  dan  sambil<BR>menyerang terus  ia  berseru,  "Hwesio  jahat tak  usah  menanya  nama!  Awaslah<BR>pedangku akan menyambar lehermu!"<BR>Boan Sip yang mendengar ini lalu  berkata kepada suhunya, "Suhu, Nona  Baju<BR>Merah itu adalah Ang I Niocu yang sombong!"<BR>Bo Lang Hwesio pernah mendengar nama besar Ang I Niocu, maka sambil tertawa<BR>ia berkata,  "Bagus! Ang  I Niocu,  pinceng  Bo Lang  Hwesio memang  sudah  lama<BR>mendengar nama  besarmu.  Nah, kauperlihatkanlah  kepandaianmu,  hendak  kulihat<BR>sampai di mana tingginya!"<BR>Sehabis berkata demikian, Bo Lang Hwesio lalu menghadapi Ang I Niocu dengan<BR>tangan kosong, akan tetapi  setelah berkelahi dua  puluh jurus lebih,  diam-diam<BR>Ang I Niocu terkejut  dan mengeluh. Ternyata kepandaian  hwesio jubah hitam  ini<BR>benar-benar tinggi dan setingkat lebih tinggi dari kepandaiannya sendiri! Ang  I<BR>Niocu mengigit bibir  dan memutar pedangnya  secepatnya untuk menghadapi  hwesio<BR>yang amat tangguh ini.<BR>Sebaliknya,  biarpun  sudah  mendapat  petunjuk   dari  Ang  I  Niocu   dan<BR>kepandaiannya sudah  banyak maju,  namun  Lin Lin  masih belum  dapat  mengatasi<BR>kepandaian Boan  Sip  yang  kosen.  Makin lama,  pedang  Boan  Sip  makin  rapat<BR>mengurung dirinya hingga Lin Lin menjadi bingung dan terdesak sekali keadaannya!<BR>Ketika ia mengerling  Ang I Niocu,  ia menjadi makin  gugup oleh karena  melihat<BR>betapa Ang  I Niocu  juga sangat  didesak oleh  hwesio itu.  Karena bingung  dan<BR>gugup, gerakannya  menjadi  lambat  dan  tiba-tiba  sebuah  tendangan  Boan  Sip<BR>mengenai pergelangan tangannya  membuat pedang pendeknya  terlempar ke atas  dan<BR>disambut cepat oleh Boan Sip yang tertawa bergelak-gelak. Perwira muda itu  lalu<BR>menyerang terus  dan memutar-mutar  pedangnya sehingga  Lin Lin  terpaksa  harus<BR>mengelak sambil  berloncatan ke  sana ke  mari menghindarkan  diri dari  tusukan<BR>pedang lawan! Ia tidak  berdaya oleh karena pedangnya  telah terampas lawan  dan<BR>pada saat ia sudah amat terdesak, tiba-tiba ia kena ditotok pundaknya oleh  Boan<BR>Sip hingga roboh terguling dengan tubuh lemas tak berdaya!<BR>Boan Sip tertawa lagi.  "Ha, ha, ha! Hanya  sebegini saja kepandaianmu  dan<BR>kau mencari  aku  untuk  membalas  dendam?  Nah,  terimalah  hadiahku  ini!"  Ia<BR>mengangkat pedangnya ke  atas, akan  tetapi ketika  ia memandang  wajah Lin  Lin<BR>perasaan cintanya  yang dulu  timbul kembali  dan hatinya  tidak tega.  Ia  lalu<BR>membungkuk dan menyambar tubuh Lin Lin yang terus dikempit dan dibawa lari!<BR>"Bangsat hina dina, lepaskan adikku!" Ang I Niocu meloncat hendak mengejar,<BR>akan tetapi Bo Lang Hwesio mencegahnya dengan serangan berbahaya hingga terpaksa<BR>Ang I Niocu  melayani hwesio  kosen ini  lagi! Hati  Dara Baju  Merah ini  tidak<BR>karuan rasanya dan  permainan pedangnya  menjadi kalut. Setelah  mendesak Ang  I<BR>Niocu dengan hebatnya akan  tetapi ternyata pertahanan  pedang Gadis Baju  Merah<BR>itu pun amat kuat hingga setelah  bertempur lama belum juga ia dapat  merobohkan<BR>gadis itu, tiba-tiba Bo Lang Hwesio meloncat pergi sambil berkata,<BR>"Cukup, Ang I Niocu, sudah cukup  kita bermain-main. Lain waktu kita  boleh<BR>bertemu kembali!"<BR>Ang I Niocu hendak mengejar, akan tetapi gerakan hwesio yang gesit itu  dan<BR>juga oleh  karena  merasa bahwa  ia  kalah  tinggi kepandaiannya,  Ang  I  Niocu<BR>mengurungkan maksudnya  mengejar.  Apa gunanya  mengejar  kalau ia  tidak  dapat<BR>menangkap hwesio ini dan tidak dapat  mengejar Boan Sip yang menculik pergi  Lin<BR>Lin? Yang perlu adalah menolong Lin  Lin, maka ia lalu mengendurkan larinya  dan<BR>bermaksud untuk mengikuti hwesio  itu dengan diam-diam  agar mengetahui ke  mana<BR>mereka membawa Lin Lin.<BR>Akan tetapi ternyata bahwa  waktu yang lama  tadi telah memberi  kesempatan<BR>kepada Boan Sip lari jauh sekali! Dan juga Bo Lang Hwesio yang cerdik tidak  mau<BR>diikuti olehnya hingga hwesio itu lari secepatnya menyusul muridnya. Ang I Niocu<BR>kehilangan jejak mereka, maka Gadis Baju  Merah ini dengan sedih dan marah  lalu<BR>berkeliaran di sekitar daerah itu mencari-cari jejak Boan Sip. Akan tetapi, oleh<BR>karena ia masih  asing dengan daerah  utara, maka usahanya  ini sia-sia  belaka,<BR>bahkan ia lalu tersesat  jalan dan tanpa disengaja,  akhirnya ia bertemu  dengan<BR>rombongan Pangeran Vayami dan kemudian dengan tipu dayanya menarik hati pangeran<BR>yang mata keranjang  itu, ia  berhasil menolong dan  membawa lari  Cin Hai  yang<BR>keadaannya telah menjadi seperti boneka hidup itu.<BR>Dapat dibayangkan betapa bingung dan sedihnya hati Ang I Niocu.  Memikirkan<BR>keadaan Lin Lin  yang terculik oleh  Boan Sip, perwira  jahat itu saja,  hatinya<BR>sudah menjadi bingung dan sedih sekali.  Apalagi sekarang ia bertemu dengan  Cin<BR>Hai dalam keadaan seperti itu, maka hatinya menjadi makin bingung dan sedih.<BR>Cin Hai,  satu-satunya  orang  yang dikasihinya,  satu-satunya  orang  yang<BR>diharapkan tenaga  bantuan  untuk  mencari  Lin Lin  dan  membasmi  musuh  besar<BR>keluarga Kwee, telah hilang ingatan menjadi orang tolol setolol-tololnya. Celaka<BR>betul!<BR>Sambil melarikan kudanya keras-keras, kepala Ang I Niocu berputar-putar dan<BR>ia merasa jengkel  sekali mendengar betapa  yang diingat oleh  Cin Hai  hanyalah<BR>bahwa pemuda itu adalah "Pendekar Bodoh"!  Ketika angin malam yang sejuk  meniup<BR>mukanya dan muka Cin  Hai yang duduk di  belakangnya, pemuda itu tertawa  senang<BR>dan berkata,<BR>"Angin sejuk! Angin enak!"<BR>Mendengar ini, Ang I Niocu menahan dan menghentikan kudanya, lalu  melompat<BR>turun. Juga Cin Hai meniru perbuatannya dan melompat turun.<BR>"Hawa sejuk, angin dingin! Sungguh nyaman!" kata Cin Hai.<BR>Timbul harapan Ang I Niocu mendengar seruan dan melihat kegembiraan ini. Ia<BR>segera memegang tangan Cin Hai dan berkata,<BR>"Hai-ji! Ingatkah kau sekarang? Tahukah kau siapa aku?"<BR>"Kau adalah sahabat baik, dan aku... aku Pendekar Bodoh!"<BR>"Bukan bodoh,  tetapi  tolol! Tolol  sekali!"  Ang I  Niocu  membentak  dan<BR>tiba-tiba gadis itu menjatuhkan dirinya duduk  di atas sebuah batu hitam  sambil<BR>menangis. Hatinya sedih dan bingung, dan baru kali ini selama hidupnya ia merasa<BR>amat sengsara.  Ia sedih  dan bingung  memikirkan  nasib Lin  Lin dan  ia  gemas<BR>melihat Cin  Hai yang  hanya  tolal-tolol seperti  boneka  itu. Apakah  yang  ia<BR>perbuat? "Sahabatku? Mengapa  engkau menangis? Apakah  engkau lapar?" tanya  Cin<BR>Hai dengan penuh perhatian.  Agaknya dalam ingatannya yang  kosong ini, Cin  Hai<BR>teringat ketika ia masih kecil dan  ketika ia merantau dan menderita  kelaparan.<BR>Maka melihat orang menangis,  otomatis ia teringat  akan sengsaranya orang  yang<BR>menderita kelaparan!<BR>Ang I Niocu menjadi mendongkol dan  gemas sekali. Ia menjadi makin  bingung<BR>ketika ia  teringat  kepada Kwee  An.  Di  manakah adanya  pemuda  itu?  Hatinya<BR>terpukul dan dengan penuh kekhawatiran ia  menduga bahwa tak salah lagi Kwee  An<BR>tentu telah mengalami kecelakaan. Pemuda itu tadinya bersama Cin Hai,  sedangkan<BR>Cin Hai tertawan musuh dan keadaannya begini macam, tentu sekali keadaan Kwee An<BR>juga tak dapat diharapkan selamat.<BR>"Hai-ji... Hai-ji, kaucobalah untuk mengingat-ingat! Di manakah adanya Kwee<BR>An? Putarlah otakmu dan gunakan ingatanmu!" katanya gemas.<BR>"Kwee An?  Siapakah  dia? Aku  tak  kenal,  tidak tahu...  aku  tidak  tahu<BR>apa-apa!"<BR>Ang I Niocu menghela  napas, akan tetapi ia  dapat menenangkan hatinya.  Ia<BR>pikir dalam keadaan  seperti ini,  ia harus menggunakan  ketenangan dan  mencari<BR>akal. Kalau ia  bingung dan  sedih, hal ini  takkan menolong  bahkan akan  makin<BR>mengacaukan urusan. Ia harus lebih  dulu mencarikan obat memulihkan ingatan  Cin<BR>Hai yang telah lupa akan segala apa ini.<BR>Demikianlah dengan penuh kesabaran Ang I Niocu mengajak Cin Hai melanjutkan<BR>perjalanan sambil mencari-cari  jejak Boan  Sip dan gurunya  yang melarikan  Lin<BR>Lin. Setiap saat,  tiada bosannya Ang  I Niocu mengajak  Cin Hai  bercakap-cakap<BR>tentang hal-hal  dahulu  untuk mengembalikan  ingatan  pemuda itu,  akan  tetapi<BR>pengaruh madu merah memang mujijat sekali. Cin Hai biarpun merasa senang  sekali<BR>mendengar penuturan  Ang I  Niocu dan  tiap-tiap kali  gadis itu  bercerita,  ia<BR>memandang wajahnya  dengan mata  berseri, akan  tetapi, sama  sekali pemuda  itu<BR>tidak dapat mengingat hal yang terjadi di masa lalu!<BR>Sampai tiga hari mereka berkeliaran di daerah utara tanpa berhasil mendapat<BR>jejak Boan Sip penculik Lin  Lin hingga makin hari  makin gelisahlah hati Ang  I<BR>Niocu. Dalam tiga hari ini, Gadis Baju Merah itu menjadi kurus dan pucat!<BR>Pada malam ke  tiga, di waktu  bulan bersinar penuh  dan sebulatnya  hingga<BR>malam itu  amat indah  dan romantis  sekali, Ang  I Niocu  sambil menuntun  kuda<BR>culikannya berjalan dengan perlahan, Cin Hai berjalan di sebelahnya dan keduanya<BR>tak bercakap-cakap, melamun dalam  pikiran masing-masing. Ketika mereka  melalui<BR>daerah yang banyak terdapat batu-batu karang besar dan hitam hingga  menyeramkan<BR>tampaknya di  bawah sinar  bulan  itu, tiba-tiba  Ang  I Niocu  mendengar  suara<BR>tertawa yang aneh dan menyeramkan dari tempat jauh!<BR>"Setan dan iblis juga turut menggodaku!" gadis itu menggerutu dengan marah,<BR>karena siapakah orangnya yang akan  tertawa seperti itu di tengah-tengah  padang<BR>yang luas dan sunyi ini kecuali setan dan iblis?<BR>"Bukan setan dan iblis, itu suara orang ketawa," tiba-tiba Cin Hai berkata,<BR>oleh karena biarpun telah kehilangan ingatannya, namun kepandaian dan  ketajaman<BR>telinga Cin Hai tak menjadi berkurang  karenanya. Kalau telinga Ang I Niocu  tak<BR>dapat menangkap suara  ketawa itu dengan  jelas oleh karena  suara itu  diliputi<BR>gema yang keras, adalah Cin Hai dapat menangkap suara itu dengan jelas dan  tahu<BR>bahwa yang tertawa  adalah manusia  biasa, akan tetapi  yang menggunakan  tenaga<BR>khikang di dalam  suara ketawanya  hingga terdengar  dari tempat  jauh dan  amat<BR>menyeramkan.<BR>Bagaikan tertarik oleh tenaga gaib, Cin Hai lalu menujukan tindakan kakinya<BR>ke arah suara ketawa tadi  dan Ang I Niocu  juga berjalan mengikuti pemuda  itu.<BR>Setelah melewati beberapa  gunduk batu  karang, akhirnya mereka  tiba di  tempat<BR>terbuka di mana tanahnya rata dan luas merupakan satu tempat terbuka yang kering<BR>dan berumput serta  terang karena  mendapat sinar bulan  dengan sepenuhnya.  Dan<BR>ketika mereka keluar dari  belakang sebuah gunung karang,  Cin Hai berdiri  diam<BR>dan Ang  I Niocu  juga berhenti  bertindak dan  berdiri di  belakang pemuda  itu<BR>dengan hati terasa ngeri dan seram ketika melihat pemandangan yang dilihatnya di<BR>tempat itu.<BR>Di   tempat   terbuka   itu,   di   atas   tanah,   melihat   dua    tumpuk<BR>tengkorak-tengkorak manusia merupakan gundukan  tinggi seperti batu-batu  bundar<BR>dan putih, dan tumpukan tengkorak itu terpisah kira-kira dua tombak jauhnya.  Di<BR>atas tiap tumpukan tengkorak terlihat dua orang dalam keadaan aneh, yang seorang<BR>berjongkok sambil  meluruskan  kedua tangan  ke  depan, dan  yang  seorang  lagi<BR>berdiri di atas puncak  gundukan itu dengan  kepala di bawah  dan kedua kaki  di<BR>atas! Kedua  orang ini  saling berhadapan  dan saling  menggerak-gerakkan  kedua<BR>tangan seakan-akan sedang  melakukan pukulan-pukulan  dan nampaknya  menyeramkan<BR>sekali. Apalagi ketika Ang I Niocu melihat orang yang berjongkok itu,  diam-diam<BR>ia bergidik oleh karena orang itu  dapat disebut seorang rangka hidup! Muka  itu<BR>tua dan kurus  sekali, mukanya  tak berdaging sedikitpun  juga hingga  merupakan<BR>tengkorak terbungkus  kulit. Rambutnya  yang hanya  sedikit di  atas kepala  itu<BR>diikat dengan sehelai kain dan pakaiannya seperti pakaian pendeta.<BR>Orang ke dua yang berdiri dengan kepala di bawah di atas tumpukan tengkorak<BR>itu adalah seorang hwesio tinggi besar dan bermuka menyeramkan dan ketika Ang  I<BR>Niocu memandang dengan  penuh perhatian,  ternyata bahwa hwesio  ini bukan  lain<BR>ialah Hai Kong Hosiang! Berdebarlah hati  Ang I Niocu melihat hwesio kosen  ini,<BR>akan tetapi oleh  karena di situ  ada Cin Hai,  ia tidak takut  sama sekali.  Ia<BR>maklum bahwa  Hai Kong  Hosiang dan  kakek  tua renta  yang seperti  rangka  itu<BR>menguji tenaga khikang secara aneh dan menyeramkan sekali. Harus diketahui bahwa<BR>tumpukan tengkorak  itu licin  dan mudah  sekali runtuh,  maka baru  berdiri  di<BR>puncak tumpukan saja  membutuhkan kepandaian ginkang  yang amat tinggi,  apalagi<BR>kalau harus  mengerahkan tenaga  mengadu khikang!  Lebih-lebih kalau  berdirinya<BR>dengan kepala di bawah  dan kaki di  atas seperti yang  dilakukan oleh Hai  Kong<BR>Hosiang, maka diam-diam Ang I Niocu merasa kagum dan ngeri melihat kemajuan  dan<BR>kehebatan Hai  Kong Hosiang.  Pada  saat itu,  biarpun  Hai Kong  Hosiang  telah<BR>mengerahkan tenaga  di kedua  tangannya  mendorong dan  memukul ke  depan,  akan<BR>tetapi kakek tua renta yang berjongkok  di puncak tumpukan tengkorak ke dua  itu<BR>tak bergerak  sedikitpun juga,  sedangkan ketika  kakek tua  renta itu  mengayun<BR>kedua tangannya, biarpun  hanya dengan  gerakan perlahan saja,  namun tubuh  Hai<BR>Kong Hosiang telah bergerak-gerak  dan terayun-ayun seakan-akan  didorong-dorong<BR>dan hendak roboh! Dari  sini dapat diduga bahwa  tenaga khikang kakek itu  lebih<BR>tinggi daripada tenaga Hai Kong Hosiang!<BR>Ketika Hai Kong Hosiang yang  berdiri jungkir balik itu melihat  kedatangan<BR>Cin Hai dan Ang I Niocu, hwesio ini lalu berseru keras,<BR>"Hai, bagus sekali kalian datang  mengantar kematian!" Dan ia lalu  memberi<BR>tanda dengan kedua  tangannya yang menggerak-gerakkan  jari-jari tangan ke  arah<BR>kakek tua renta itu. Kakek ini lalu memutar tubuhnya menghadapi Ang I Niocu  dan<BR>Cin Hai dengan gerakan  ringan sekali dan dari  atas tumpukkan tengkorak itu  ia<BR>mengirim pukulan dengan kedua tangannya ke arah Cin Hai dan Ang I Niocu!<BR>Sungguh hebat tenaga pukulan kakek  itu yang dilancarkan dari tempat  jauh.<BR>Ang I  Niocu merasa  betapa angin  tenaga raksasa  mendorongnya dan  cepat-cepat<BR>gadis ini meloncat  ke samping agar  jangan sampai terluka  oleh tenaga  pukulan<BR>maut ini. Sebaliknya,  Cin Hai yang  dapat juga merasai  datangnya tenaga  hebat<BR>ini, segera menggunakan kedua tangannya untuk mendorong ke depan dan mengerahkan<BR>tenaga khikangnya! Dua tenaga  raksasa bertemu dari dorongan  dua orang ini  dan<BR>Cin Hai  lalu  terhuyung  mundur  sampai  empat  langkah!  Sedangkan  kakek  itu<BR>kedudukannya menjadi miring, tanda bahwa ia pun kena dorong oleh tenaga Cin  Hai<BR>yang tidak lemah!<BR>Ang I Niocu terkejut  karena maklum bahwa adu  tenaga ini menyatakan  bahwa<BR>kakek tua renta ini masih lebih kuat  dan lebih lihai daripada Cin Hai. Hal  ini<BR>belum seberapa, akan tetapi  kenyataan bahwa kakek  ini mentaati permintaan  Hai<BR>Kong Hosiang  yang dilakukan  dengan  gerak tangan  menandakan bahwa  kakek  ini<BR>berdiri di pihak Hai  Kong Hosiang! Hal ini  berbahaya sekali oleh karena  dapat<BR>diduga betapa tingginya kepandaian kakek itu!<BR>Akan tetapi pada saat itu, kakek  tua renta dan Hai Kong Hosiang  tiba-tiba<BR>berseru keras sekali. Kemudian  keduanya lalu bergerak  dan meloncat turun  dari<BR>tumpukan tengkorak bagaikan orang ketakutan!  Ketika Ang I Niocu  memperhatikan,<BR>ia pun merasa  terkejut sekali dan  hampir saja ia  menjerit. Ternyata bahwa  di<BR>antara sekian  banyaknya tengkorak  yang  ditumpuk, di  tengah-tengah  tumpukan,<BR>tengkorak yang dinaiki Hai Kong Hosiang  tadi terdapat sebuah kepala yang  bukan<BR>tengkorak, oleh karena kepala ini mempunyai sepasang mata yang dapat melirik  ke<BR>sana ke  mari  dan  masih  berambut  sungguhpun  rambutnya  telah  putih  semua!<BR>Sedangkan di tengah tengah tumpukan tengkorak yang dinaiki kakek tua renta  tadi<BR>pun terdapat sebuah kepala yang  kini mengeluarkan suara tertawa  terkekeh-kekeh<BR>menyeramkan. Akan tetapi,  tiba-tiba rasa ngeri  dan takut di  dalam hati Ang  I<BR>Niocu berubah rasa  girang oleh  karena ia  segera dapat  mengenal suara  ketawa<BR>terkekeh ini. Bu  Pun Su, kakek  gurunya orang luar  biasa itu, entah  bagaimana<BR>telah bersembunyi di dalam tumpukan tengkorak yang diinjak oleh kakek tua  renta<BR>itu.<BR>Memang benar,  ketika  tiba-tiba di  dalam  tumpukan terjadi  gerakan  yang<BR>membuat semua tengkorak menggelinding ke sana ke mari, muncullah Bu Pun Su  dari<BR>tumpukan itu sambil berseri  mukanya dan mulutnya  tertawa geli. Dengan  gerakan<BR>sebelah tangannya, Bu Pun Su membuat tumpukan yang satu lagi menjadi runtuh  dan<BR>dari dalam tumpukan  itu muncullah  seorang suku  bangsa Jungar  yang sudah  tua<BR>sekali dan yang sama sekali tidak dikenal  oleh Ang I Niocu. Ternyata orang  tua<BR>bangsa Mongol ini adalah  dukun atau ahli pengobatan  yang ikut dalam  rombongan<BR>Pangeran Vayami dan yang telah diculik oleh  Bu Pun Su dan dibawa ke situ  serta<BR>dipaksa masuk dan bersembunyi di dalam tumpukan tengkorak.<BR>Hai Kong Hosiang menjadi pucat sekali  ketika melihat Bu Pun Su. Ia  maklum<BR>akan kelihaian kakek jembel ini, akan tetapi oleh karena ia ditemani oleh  kakek<BR>tua renta yang  bukan lain  adalah supeknya (uwa  gurunya) yang  bernama Kam  Ki<BR>Sianjin, orang yang sudah tua usianya  hingga telah gagu tak dapat bicara  pula,<BR>maka Hai Kong Hosiang berbesar hati  dan mengandalkan tenaga supeknya ini  untuk<BR>melawan Bu Pun Su.<BR>"Supek, inilah Bu Pun Su si manusia jahil yang telah berkali-kali menggangu<BR>teecu!" Hai Kong Hosiang berkata  sambil menuding ke arah  Bu Pun Su yang  masih<BR>berdiri sambil tertawa. Kam Ki Sianjin masih dapat menggunakan telinganya  untuk<BR>mendengar, bahkan ia memiliki ketajaman pendengaran yang luar biasa, akan tetapi<BR>lidahnya telah membeku  dan ia tak  dapat berbicara lagi.  Maka ia lalu  menatap<BR>wajah Bu Pun Su dan tiba-tiba menepuk  kedua tangan sekali, menunjuk ke arah  Bu<BR>Pun Su  dengan tangan  kiri dan  arah  diri sendiri  dengan tangan  kanan,  lalu<BR>mengangkat kedua tangan  itu ke atas  kepala dengan jari-jari  ke atas dan  sama<BR>tingginya. Ia hendak menyatakan  bahwa dia dan Bu  Pun Su boleh mengadakan  pibu<BR>karena tingkat kepandaian mereka sama tingginya.<BR>Bu Pun Su tertawa  lagi dengan hati geli,  kemudian ia pun menepuk  tangan,<BR>menuding ke arah tengkorak-tengkorak  yang bergelimpangan di  bawah dan ke  arah<BR>Kam Ki Sianjin,  lalu menurunkan kedua  tangannya ke bawah,  sama rendahnya.  Ia<BR>hendak menyatakan bahwa  Kam Ki  Sianjin mempunyai tingkat  yang sama  rendahnya<BR>dengan tengkorak-tengkorak  itu!  Ini  bukan  semata-mata  penghinaan  yang  tak<BR>berdasar oleh  karena Bu  Pun Su  tahu bahwa  kakek tua  renta itu  berjuluk  Si<BR>Tengkorak Hidup.<BR>Kam Ki Sianjin menjadi marah sekali  dan segera melompat maju menyerang  Bu<BR>Pun Su. Gerakannya cepat bagaikan menyambarnya kilat hingga Ang I Niocu terkejut<BR>sekali oleh karena belum pernah ia menyaksikan ginkang demikian tingginya,  lalu<BR>menepuk pundak  Cin Hai  yang  memandang semua  itu  dengan bengong  tapi  nyata<BR>kelihatan tertarik sekali. Ketika ia menengok  ke arah Ang I Niocu yang  menepuk<BR>pundaknya, Ang I Niocu berkata,<BR>"Hai-ji, hwesio tinggi  besar itu  adalah Hai  Kong Hosiang  dan ia  adalah<BR>musuh besarmu. Hayo kita serang dia!"<BR>"Aku tidak punya  musuh. Apakah  engkau bermusuhan dengan  dia?" tanya  Cin<BR>Hai. Ang I Niocu menjadi gemas dan ia berkata keras,<BR>"Ya, ya, dia musuh besarku, hayo kita serang dia!"<BR>"Baik! Kalau dia musuhmu,  aku, akan menyerang dia!"  Ia lalu melompat  dan<BR>menyerang Hai Kong Hosiang yang melayaninya sambil memaki-maki.<BR>"Ang I Niocu! Perempuan rendah, perempuan curang!"<BR>"Bangsat gundul, hari ini kau harus mampus!" Ang I Niocu berseru marah  dan<BR>mencabut pedangnya, terus membantu Cin Hai mengeroyok hwesio itu.<BR>Demikianlah, disaksikan oleh puluhan tengkorak yang bergelimpangan di  atas<BR>tanah dan oleh  dukun tua berbangsa  Mongol yang berdiri  tak bergerak  bagaikan<BR>hantu malam, di  tempat yang  mengerikan itu terjadi  perkelahian hebat  sekali.<BR>Yang paling hebat adalah perkelahian  yang terjadi antara Bu  Pun Su dan Kam  Ki<BR>Sianjin, oleh karena di tempat mereka bertempur itu tidak kelihatan apa-apa sama<BR>sekali, yang ada hanyalah dua bayangan yang berkelebat ke sana ke mari  bagaikan<BR>dua iblis sedang bertempur.<BR>Tak terdengar suara tangan atau kaki mereka, akan tetapi di sekitar  tempat<BR>mereka bertempur itu bertiup angin  keras yang membuat tengkorak-tengkorak  yang<BR>tadi menggelinding dekat, kini menggelinding lagi menjauhi seakan-akan tengkorak<BR>itu takut dan ngeri menyaksikan pertandingan yang dahsyat itu dari dekat!<BR>Sementara itu, dikeroyok dua oleh Cin Hai dan Ang I Niocu, Hai Kong Hosiang<BR>merasa sibuk sekali. Baru menghadapi seorang di antara mereka saja, terutama Cin<BR>Hai, ia takkan dapat menang, apalagi  kini dikeroyok dua! Ia telah  mengeluarkan<BR>seluruh kepandaiannya, bahkan ia telah  memainkan tongkat ularnya dengan  ganas,<BR>akan tetapi tetap saja terdesak hebat oleh pedang Ang I Niocu dan kepalan tangan<BR>Cin Hai!<BR>Sebetulnya, selama beberapa hari ini, kepandaian Hai Kong Hosiang, terutama<BR>lweekang dan  khikangnya,  telah naik  dan  maju  pesat sekali  oleh  karena  ia<BR>mendapat latihan lweekang dengan  berjungkir balik dari  supeknya, yaitu Kam  Ki<BR>Sianjin! Akan  tetapi  oleh  karena  latihannya belum  masak  benar,  maka  kini<BR>menghadapi dua orang muda yang tangguh  itu, ia tak berdaya dan terdesak  hebat.<BR>Keringat dingin mengucur dari jidatnya  dan setiap saat jiwanya terancam  bahaya<BR>maut.<BR>Tiba-tiba terdengar suara  Bu Pun Su  tertawa bergelak dan  dari tempat  ia<BR>bertempur,  nampak  bayangan  Kam  Ki  Sianjin  melesat  keluar  dari   kalangan<BR>pertempuran, dan kakek tua renta ini langsung menyambar ke arah Hai Kong Hosiang<BR>dan tahu-tahu ia telah dikempit dengan gerakan cepat sekali!<BR>Ternyata bahwa Kam  Ki Sianjin tak  kuat melawan  Bu Pun Su  dan ketika  ia<BR>hendak kabur, ia melihat betapa Hai Kong Hosiang terdesak, maka ia mempergunakan<BR>kecepatan untuk menolong murid keponakannya itu dan membawa lari dari situ!<BR>Bu Pun  Su masih  tertawa  bergelak ketika  Ang  I Niocu  menjatuhkan  diri<BR>berlutut di depannya. Akan  tetapi Cin Hai yang  tidak ingat siapa adanya  kakek<BR>tua kosen ini,  hanya berdiri  dengan bingung  dan memandang  dengan sinar  mata<BR>kosong.<BR>"Bagus, Im Giok. Kau telah  dapat menolongnya sebelum terlambat. Dan  orang<BR>Mongol inilah yang akan menyembuhkannya!" Bu Pun Su lalu memanggil dukun tua itu<BR>mendekat, lalu ia menunjuk  kepada Cin Hai sambil  berkata dalam bahasa  Mongol,<BR>"Obatmu yang  membuat  dia  menjadi  seperti itu  dan  obatmu  pula  yang  harus<BR>menyembuhkannya!"<BR>Dukun  tua  bangsa  Mongol  itu  mengangguk-angguk  dan  dengan  tenang  ia<BR>mengeluarkan sebuah guci tanah kecil dari kantung dalam.<BR>"Cin Hai,  kaumajulah  dan  terimalah pengobatan  dari  dukun  sihir  ini!"<BR>berkata Bu Pun  Su dengan suara  memerintah kepada Cin  Hai yang tidak  mengenal<BR>nama sendiri dan tidak mengenal pula kakek lihai itu.<BR>"Anak tolol!!" Bu Pun Su mencela dan tiba-tiba kakek ini berkelebat ke arah<BR>muridnya dan menyerang dengan sebuah totokan. Akan tetapi Cin Hai cepat mengelak<BR>dan setelah tujuh kali menyerang dengan gagal, barulah ke delapan kalinya Bu Pun<BR>Su berhasil menotok Cin  Hai hingga pemuda  itu roboh tak  ingat orang! Di  sini<BR>dapat diukur  kepandaian  Bu Pun  Su  dan kelihaian  Cin  Hai pula  oleh  karena<BR>biasanya tiap kali menyerang orang, jarang ada yang dapat mengelak dari serangan<BR>kakek jembel ini!<BR>Setelah Cin Hai dibikin tidak berdaya,  dukun itu lalu menuangkan isi  guci<BR>yang berbau harum ke mulut Cin Hai, kemudian ia memijit-mijit dan  mengurut-urut<BR>kepala pemuda itu. Agaknya dukun itu bekerja dengan sepenuh tenaga dan  semangat<BR>oleh karena ternyata bahwa seluruh mukanya berpeluh, padahal malam itu hawa amat<BR>dingin! Akhirnya,  setelah beberapa  lama ia  mengurut-urut kepala  Cin Hai,  ia<BR>berdiri sambil mengangguk-anggukkan kepalanya kepada  Bu Pun Su. Kakek ini  lalu<BR>maju dan menepuk pundak Cin Hai yang segera sadar,<BR>Pemuda ini seakan-akan baru sadar dari sebuah mimpi buruk. Ia memandang dan<BR>ketika melihat  Ang I  Niocu, ia  tersenyum. Sebaliknya  ketika melihat  suhunya<BR>berada di situ pula, ia cepat menjatuhkan diri berlutut sambil berkata,<BR>"Maafkan teecu, suhu.  Teecu tidak tahu  bahwa Suhu datang  di sini  dan...<BR>dan... sebenarnya teecu berada di manakah?"<BR>Bu Pun Su tertawa terkekeh-kekeh, tanda bahwa hatinya girang sekali melihat<BR>betapa muridnya  telah  sembuh kembali.  Juga  Ang  I Niocu  tak  dapat  menahan<BR>keharuan hatinya hingga dua titik air mata melompat keluar dari pelupuk matanya.<BR>Ang I Niocu lalu menuturkan betapa  ia mendapatkan pemuda itu berada  dalam<BR>rombongan Pangeran Vayami  dalam keadaan linglung  dan hilang ingatan.  Kemudian<BR>dukun bangsa  Mongol itu  melanjutkan cerita  Ang I  Niocu, menceritakan  betapa<BR>rombongan pangeran itu menolong Cin Hai  dari dalam air dan memberi madu  merah.<BR>Maka teringatlah Cin Hai  bahwa ketika itu ia  berkelahi mati-matian dengan  Hai<BR>Kong Hosiang dan akhirnya ia hanyut dalam sungai dalam keadaan pingsan. Cin  Hai<BR>berlutut lagi di depan suhunya dan berkata,<BR>"Baiknya Suhu datang dan membawa dukun ini untuk menyembuhkan teecu.  Kalau<BR>tidak, entah bagaimana dengan keadaan teecu."<BR>"Ha, ha, kalau  aku tidak  mendengar tentang keadaanmu,  tentu saja  sampai<BR>sekarang kau masih menjadi pendekar tolol  dan Im Giok masih bingung dan  sedih.<BR>Hai, Im Giok, setelah Cin Hai sembuh, mengapa kau masih saja berduka?" tanya  Bu<BR>Pun Su kepada Ang I Niocu.<BR>Mendengar pertanyaan ini, Gadis Baju Merah  itu menahan air matanya dan  ia<BR>pun lalu bertutut sambil berkata, "Susiok-couw, bagaimana teecu takkan bersedih?<BR>Adik Lin Lin telah terculik oleh Boan Sip dan suhunya yang lihai, yaitu Bo  Lang<BR>Hwesio!" Cin Hai  terkejut sekali  dan menjadi pucat  mendengar ini,  dan Ang  I<BR>Niocu lalu menuturkan pengalamannya. Tak  tertahan lagi kesedihan hati Cin  Hai,<BR>ia lalu berdiri dan membanting-banting kakinya.<BR>"Boan Sip, kalau kau sampai mengganggu Lin Lin, aku Cin Hai akan mengejarmu<BR>biar kau lari sampai ke  neraka sekalipun!" Pemuda ini mengepal-ngepal  tinjunya<BR>dan  matanya  menyinarkan  kemarahan   besar.  Bu  Pun   Su  melihat  ini   lalu<BR>mengangguk-angguk maklum.<BR>"Jadi Nona Lin Lin adalah puteri Kwee ciangkun? Bagus, bagus, Im Giok, kali<BR>ini  kau  benar-benar  harus  dipuji!"  Sehabis  mengeluarkan  ucapan  yang  tak<BR>dimengerti oleh Cin Hai akan  tetapi dapat dimengerti oleh  Ang I Niocu itu,  Bu<BR>Pun Su lalu mengempit tubuh dukun bangsa Mongol yang tadi menolong Cin Hai, lalu<BR>berkata,<BR>"Biarlah aku Si Tua  Bangka melakukan sebuah tugas  lagi. Akulah yang  akan<BR>mencari tunanganmu, Cin Hai!"<BR>Cin Hai  dan  Ang I  Niocu  cepat-cepat menjatuhkan  diri  berlutut  sambil<BR>menghaturkan terima kasih, akan tetapi ketika mereka mengangkat muka  memandang,<BR>ternyata kakek jembel itu telah lenyap dari situ.<BR>Setelah suhunya pergi,  mereka berdua dapat  bercakap-cakap dengan  leluasa<BR>dan kembali Ang I Niocu menuturkan pengalamannya dengan lebih jelas dan  panjang<BR>lebar. Kemudian Ang I Niocu bertanya,<BR>"Dan di  manakah  adanya Kwee  An?  Aku telah  bertemu  dengan Ma  Hoa  dan<BR>mendengar akan perjodohan anak muda itu."<BR>Dengan sedih  Cin  Hai  menuturkan  pengalamannya  dengan  Kwee  An  ketika<BR>bertempur dengah Hai Kong Hosiang dan pengawal-pengawal Pangeran Vayami,  hingga<BR>Kwee An tercebur ke dalam air sungai yang deras.<BR>"Entah bagaimana dengan nasib  Kwee An," Cin  Hai menutup ceritanya  dengan<BR>penuh hati kuatir, "mari kita mencarinya  dan sekalian mencari Hai Kong  Hosiang<BR>si keparat itu!"<BR>Keduanya lalu meninggalkan tempat itu dan  ketika Ang I Niocu mencari  kuda<BR>putihnya, ternyata  kuda  itu  telah  lenyap dan  di  atas  tanah  dapat  dibaca<BR>coret-coretan di atas tanah yang berbunyi,  "Kuda dan dukun yang dipinjam  harus<BR>dikembalikan kepada pemiliknya!"<BR>Kedua anak  muda  itu maklum  bahwa  ini tentu  perbuatan  Bu Pun  Su  yang<BR>berwatak aneh  dan  penuh rahasia.  Maka  mereka melanjutkan  perjalanan  dengan<BR>berjalan kaki sambil bercakap-cakap dengan asyik.<BR>Kita ikuti Lin Lin  yang ditangkap dan dibawa  lari oleh Boan Sip,  perwira<BR>yang lihai itu. Biarpun Boan Sip  mempergunakan ilmu larinya yang cukup  tinggi,<BR>akan tetapi  tak lama  kemudian ia  dapat tersusul  oleh gurunya  yaitu Bo  Lang<BR>Hwesio. Mereka berdua lalu membawa Lin Lin ke sebuah rumah yang telah disediakan<BR>oleh Boan  Sip  untuk  tempat  tinggal sementara  ia  bersembunyi  dari  kejaran<BR>musuhnya.<BR>Menurut kehendak Boan Sip ia hendak membunuh gadis itu, akan tetapi Bo Lang<BR>Hwesio melarangnya,  dan adanya  hwesio  ini menyelamatkan  jiwa Lin  Lin,  oleh<BR>karena Boan Sip sama sekali tidak berani mengganggu atau mencelakainya.<BR>"Kau bermusuhan  dengan  keluarga  Kwee  hanya  oleh  karena  engkau  ingin<BR>mengawini gadis ini. Sekarang keluarga Kwee  telah terbasmi dan gadis ini  telah<BR>kautawan, kalau engkau membunuhnya pula, maka hal ini adalah keterlaluan sekali.<BR>Boan Sip, aku tidak peduli akan  segala perbuatanmu yang kau lakukan  menghadapi<BR>urusan-urusan pribadi,  akan  tetapi  aku merasa  malu  kalau  engkau  melakukan<BR>gangguan terhadap seorang gadis di depan mataku. Selama engkau minta pembelaanku<BR>dan aku berada  di sini, aku  takkan mengizinkan engkau  berlaku sesuka  hatimu,<BR>kecuali kalau engkau sudah tidak membutuhkan tenaga bantuanku lagi!"<BR>Tentu saja  Boan Sip  tak berdaya.  Ia merasakan  perlunya Bo  Lang  Hwesio<BR>mengawaninya, oleh karena  selama Cin Hai  dan Kwee An  masih belum dibunuh  dan<BR>berkeliaran mencarinya, ia  merasa tidak  aman kalau berada  jauh dari  gurunya.<BR>Oleh karena ini maka ia terpaksa menurutinya hingga Lin Lin hanya dikurung dalam<BR>sebuah kamar saja dengan tak berdaya  melarikan diri oleh karena jalan  darahnya<BR>telah ditotok hingga ia tak dapat mempergunakan tenaganya!<BR>Pada beberapa  hari  kemudian,  di  waktu  malam,  di  atas  genteng  rumah<BR>persembunyian Boan Sip nampak berkelebat  bayangan hitam yang tak dapat  diikuti<BR>dengan pandangan mata  hingga kalau  kebetulan ada orang  yang melihat  bayangan<BR>itu, ia takkan tahu apakah bayangan itu bayang-bayang burung yang sedang terbang<BR>atau bayangan apa.<BR>Akan tetapi Bo Lang Hwesio yang sedang duduk bersamadhi di dalam  kamarnya,<BR>dapat mendengar desir  angin yang  lain daripada  desir angin  biasa. Selagi  ia<BR>masih berada dalam  keadaan curiga  dan ragu-ragu, tiba-tiba  dari atas  genteng<BR>terdengar orang berkata,<BR>"Bo Lang! Percuma  saja engkau  bersamadhi kalau  perbuatanmu tidak  sesuai<BR>dengan jubah pendetamu!"<BR>Bo Lang Hwesio terkejut sekali. Bagaimana ada orang yang begitu tinggi ilmu<BR>ginkangnya hingga suara kakinya sama sekali tak dapat terdengar olehnya? Padahal<BR>Bo Lang  Hwesio memiliki  ketajaman  pendengaran yang  luar biasa  dan  terlatih<BR>puluhan tahun  lamanya.  Belum pernah  ia  bertemu dengan  orang  yang  memiliki<BR>kepandaian meringankan tubuh sedemikian sempurnanya hingga biarpun sedang  dalam<BR>samadhi, ia sama sekali tak mendengarnya!<BR>"Sahabat yang berilmu tinggi, jangan bicara seperti setan tak berujud,  kau<BR>masuklah memperlihatkan muka!" kata  Bo Lang Hwesio, akan  tetapi orang di  atas<BR>genteng terkekeh--kekeh dan menjawab,<BR>"Bo Lang Hwesio aku datang  untuk minta kembali Kwee-siocia yang  kautawan,<BR>apakah engkau tetap tidak  mau keluar? Aku tidak  mau bertindak sebagai  maling,<BR>lebih baik kuminta terang-terangan!"<BR>Bo Lang Hwesio merasa mendongkol juga mendengar orang berlaku begitu berani<BR>dan menantang,  maka  tiba-tiba ia  menggerakkan  tubuhnya dan  bagaikan  seekor<BR>burung besar, hwesio  ini sudah melayang  keluar jendela, terus  menuju ke  atas<BR>genteng.<BR>Ternyata bahwa di atas genteng itu telah berdiri seorang kakek dengan sikap<BR>tenang dan ketika Bo Lang Hwesio melihat  kakek ini, tak terasa pula ia  berseru<BR>keras, "Ah... Bu Pun  Su! Apakah kehendakmu dengan  malam-malam datang di  sini?<BR>Apakah kau hendak mengganggu pinceng pula?"<BR>"Ha, ha, Bo  Lang, hwesio gundul!  Kau kira aku  memang mengganggu  manusia<BR>tanpa alasan? Dulu aku mengganggumu di Thian-san oleh karena kau hendak  merusak<BR>persahabatan dengan tokoh  Thian-san-pai. Sekarang  aku datang  oleh karena  kau<BR>telah mengumbar nafsu dan membela seorang perwira yang berlaku sewenang-wenang!"<BR>"Bu Pun Su, pinceng tahu bahwa kau memang memiliki kepandaian tinggi,  tapi<BR>jangan kira pinceng  takut kepadamu. Bo  Lang Hwesio dulu  bukan Bo Lang  Hwesio<BR>sekarang!"<BR>"Benar, benar! Bo  Lang Hwesio dulu  nafsunya sendiri yang  bernyala-nyala,<BR>sedangkan Bo  Lang  Hwesio  sekarang  karena sudah  tua  bangka  maka  mengumbar<BR>nafsunya dengan membela muridnya yang murtad!"<BR>"Bu Pun  Su, jembel  tua! Jangan  sembarang menuduh.  Seorang guru  membela<BR>muridnya yang terancam bahaya oleh musuh-musuhnya, bukankah hal itu  sewajarnya?<BR>Boan Sip dikejar-kejar musuh-musuhnya  yang lihai dan  kalau bukan pinceng  yang<BR>membela, habis  siapa lagi?  Tentang  Nona Kwee  yang tertawan  kami  perlakukan<BR>baik-baik dan adalah salah Nona itu sendiri mengapa kurang tinggi  kepandaiannya<BR>hingga kalah oleh muridku!"<BR>"Ha, ha, alasan anak kecil! Sudahlah, Bo Lang Hwesio, kalau kau menyerahkan<BR>Lin Lin Siocia  dengan baik-baik aku  si tua  bangka pun tak  mau membuat  ribut<BR>lagi. Akan tetapi kalau kau menolak biarlah kita main-main sebentar!"<BR>"Kau sombong!" teriak  Bo Lang  Hwesio yang lalu  menyerang dengan  pukulan<BR>tangan terbuka.  Pukulannya  ini  luar biasa  hebatnya  hingga  biarpun  gerakan<BR>tangannya masih jauh jaraknya dari tubuh Bu Pun Su, namun baju dan rambut  kakek<BR>jembel itu telah berkibar tertiup angin pukulan!<BR>"Bagus, lweekangmu sudah banyak maju!" jawab  Bu Pun Su yang lalu  mengelak<BR>dan membalas memukul dengan lima jari tangan kanan terbuka. Pukulan ini  tertuju<BR>kepada pundak kanan Bo Lang Hwesio dan untuk menilai kehebatan pukulan ini dapat<BR>diukur dari suara genteng pecah, dan ternyata genteng di belakang Bo Lang Hwesio<BR>yang cepat berkelit  itu menjadi  terdorong oleh angin  pukulan Bu  Pun Su  yang<BR>menggunakan gerak tipu Burung Merak  Mengulur Cakar ini tidak mengenai  sasaran.<BR>Bo Lang Hwesio lalu mengeluarkan  seluruh kepandaiannya yang lihai dan  sebentar<BR>saja kedua orang tua  yang gagah itu telah  bergerak-gerak pergi datang di  atas<BR>genteng itu.<BR>Bo Lang Hwesio memang lihai  sekali dan tingkat kepandaiannya lebih  tinggi<BR>setingkat daripada kepandaian Hek Pek Moko, akan tetapi menghadapi Bu Pun Su, ia<BR>tak dapat  berbuat  banyak.  Setelah  bertempur sengit  dua  puluh  jurus  lebih<BR>akhirnya Bo Lang  Hwesio tak kuat  menghadapi kakek jembel  itu lebih lama  lagi<BR>oleh karena gerakan  Bu Pun  Su benar-benar cepat  hingga bagi  Bo Lang  Hwesio,<BR>tubuh lawannya seolah-olah berubah menjadi puluhan banyaknya yang menyerang  dan<BR>mengeroyoknya dari seluruh jurusan. Kalau orang lain yang menghadapi Bu Pun  Su,<BR>tentu akan mengira bahwa kakek aneh ini mempergunakan ilmu sihir, akan tetapi Bo<BR>Lang Hwesio maklum bahwa ginkang kakek ini sudah sampai di puncak  kesempurnaan,<BR>sedangkan tenaga lweekangnya sudah jauh lebih tinggi daripada tenaganya sendiri.<BR>Bu Pun Su memang tidak mau  mencelakakan atau melukai Bo Lang Hwesio,  maka<BR>kakek  itu  hanya  mempermainkannya  saja  dengan  gerakannya  yang  cepat   dan<BR>kadang-kadang menowel pundak atau perut Si Hwesio. Bo Lang Hwesio menjadi  jerih<BR>dan berseru,<BR>"Bu Pun Su, benar-benar kau lihai dan aku tidak malu untuk mengaku  kalah!"<BR>Setelah berseru demikian, Bo Lang Hwesio lalu melompat ke belakang dengan  cepat<BR>sekali dan alangkah heran  dan kagetnya ketika ia  merasa betapa dadanya  dingin<BR>tertiup angin dan ketika ia memandang, mukanya menjadi pucat sekali oleh  karena<BR>jubahnya di bagian dada telah robek  dan bolong. Ia bergidik oleh karena  maklum<BR>bahwa kalau Bu Pun Su memang bermaksud jahat, tentu jiwanya telah melayang sejak<BR>tadi. Ia  menghela napas  dan menggeleng-geleng  kepala saking  kagumnya dan  ia<BR>tidak berani mengejar ketika  melihat tubuh kakek jembel  itu melayang turun  ke<BR>dalam rumah. Ia harapkan saja kakek itu tidak akan mencelakakan Boan Sip.<BR>Akan tetapi, tak  lama kemudian  nampak Bu Pun  Su melayang  naik lagi  dan<BR>tahu-tahu telah berada di hadapannya sambil membentak,<BR>"Bo Lang Hwesio! Jangan kau mempermainkan aku! Di mana adanya Nona Kwee dan<BR>di mana pula sembunyinya muridmu yang jahat itu?"<BR>Bo Lang Hwesio memandang  heran. "Bu Pun Su,  jangan kau sembarang  menuduh<BR>aku. Biarpun dengan bersumpah, pinceng berani menerangkan bahwa kedua orang  itu<BR>masih berada di dalam rumah!"<BR>"Hm, kalau begitu kau bersumpah!"<BR>Mendengar bahwa benar-benar ia  tidak dipercaya Bu Pun  Su, Bo Lang  Hwesio<BR>marah sekali, akan tetapi ia tidak  berdaya untuk membantah, apalagi ia  sendiri<BR>yang sanggup untuk mengangkat sumpah. Maka ia merangkapkan kedua tangan di  dada<BR>dan bersumpah, "Kalau  keteranganku tadi  tidak betul biarlah  Buddha yang  suci<BR>akan mengutukku!"<BR>"Bagus, kau  benar-benar tidak  bohong!" setelah  berkata demikian,  sekali<BR>berkelebat, tubuh kakek jembel itu telah lenyap.<BR>"Bu Pun Su,  lain kali kutebus  hinaan ini!" Bo  Lang Hwesio berseru,  akan<BR>tetapi kakek pendekar yang luar biasa itu telah pergi jauh.<BR>Memang sebenarnya Bo Lang  Hwesio tidak membohong  ketika ia katakan  bahwa<BR>sebelum ia bertempur  dengan Bu Pun  Su, Boan  Sip masih berada  di dalam  rumah<BR>demikian pula Lin Lin masih dikeram  di dalam kamar tahanannya. Hwesio ini  sama<BR>sekali tidak mengira bahwa muridnya yang licin telah membawa Lin Lin pergi  dari<BR>tempat itu!<BR>Oleh karena maklum bahwa  yang datang menolong Lin  Lin adalah seorang  tua<BR>yang sakti maka Boan Sip tidak berani menunda-nunda larinya. Ia mengempit  tubuh<BR>Lin Lin sambil berlari secepatnya di  malam gelap, menuju ke sebuah anak  sungai<BR>yang berada kurang lebih dua  puluh li dari tempat itu.  Ketika ia tiba di  tepi<BR>sungai, di situ  telah menanti  sebuah perahu yang  cukup besar  dan tiga  orang<BR>kelihatan  berdiri  di  kepala  perahu.  Seorang  di  antaranya  adalah  seorang<BR>berpakaian asing dan ternyata bahwa ia adalah seorang Turki yang berkulit  hitam<BR>dan bermata lebar. Usianya kurang lebih  empat puluh tahun dan jubahnya  panjang<BR>dan lebar, terbuat daripada kain berbulu yang indah.<BR>"Eh, eh, Boan-ciangkun, mengapa malam-malam datang tergesa-gesa?"<BR>"Yo-suhu (nama  aselinya Yousuf),  lekas  jalankan perahu.  Cepat!"  Sambil<BR>berkata demikian Boan Sip melompat ke dalam perahu pula.<BR>Yousuf tersenyum  dan ia  tetap tenang  akan tetapi  ia lalu  memerintahkan<BR>kepada dua  orang  anak buahnya  untuk  menjalankan perahunya  sebagaimana  yang<BR>diminta oleh Boan Sip.<BR>"Heran  sekali,   siapakah  adanya   orang   yang  begitu   ditakuti   oleh<BR>Boan-ciangkun?" tanyanya.<BR>"Yo-suhu, kau tidak tahu. Seorang kakek  luar biasa yang bernama Bu Pun  Su<BR>dan yang  kepandaiannya seratus  kali lebih  tinggi dari  kepandaianku  sendiri,<BR>sedang mengejarku, dan celakalah kalau ia dapat menyusulku!"<BR>"Aah, Saudara Boan  benar-benar tidak memandang  aku. Bukankah aku  sahabat<BR>baikmu?"<BR>Boan Sip teringat bahwa Yousuf adalah seorang berilmu tinggi pula, maka  ia<BR>segera menjura, "Maaf, Yo-suhu. Bukan maksudku hendak merendahkanmu, akan tetapi<BR>Bu Pun Su ini benar-benar lihai  dan namanya sudah cukup membikin gemetar  semua<BR>orang."<BR>Kemudian Yusuf menunjuk ke arah Lin Lin yang masih terduduk di dalam perahu<BR>dan yang kini tangannya telah diikat  olah Boan Sip, lalu bertanya dengan  suara<BR>kurang senang,<BR>"Dan Nona ini siapakah, Saudara Boan?"<BR>"Dia ini adalah  musuh besarku  yang hendak membunuhku,  akan tetapi  dapat<BR>kutawan. Tadinya  hendak  kubinasakan, tetapi  Suhu  melarangku dan...  dan  aku<BR>sayang kepadanya."<BR>Yousuf menggeleng-gelengkan  kepalanya, "Memang  Suhumu benar.  Tak  pantas<BR>membunuh seorang gadis yang tak  berdaya." Sambil berkata demikian, orang  Turki<BR>itu lalu menghampiri Lin  Lin yang menjadi kuatir  dan takut, akan tetapi  orang<BR>Turki ini lalu  menggerakkan tangan ke  arah belenggu yang  mengikat tangan  Lin<BR>Lin. Sekali ia menggerakkan tenaga, belenggu itu terlepas dengan mudahnya!<BR>Boan Sip  terkejut sekali  oleh karena  ia tahu  bahwa Lin  Lin kini  telah<BR>terlepas daripada  pengaruh  totokan,  dan inilah  yang  memaksanya  tadi  untuk<BR>mengikat kedua tangan nona ini.<BR>"You-suhu, kalau ia dilepas, ia berbahaya sekali!"<BR>Akan tetapi  Yousuf  hanya tersenyum  menyindir  seakan-akan  mentertawakan<BR>sikap Boan Sip yang begitu ketakutan.<BR>Sebaliknya, Lin Lin ketika merasa bahwa kedua lengan tangannya telah bebas,<BR>merasa terkejut sekali. Tadi  ia telah mengerahkan  tenaganya, akan tetapi  tali<BR>yang mengikat tangannya bukan tali biasa,  terbuat dari semacam kain yang  dapat<BR>mulur hingga tak  mudah diputuskan  dengan tenaga lweekang.  Akan tetapi,  orang<BR>asing ini hanya meraba  saja dan ikatan  itu telah terlepas!  Ia tak tahu  bahwa<BR>Yousuf adalah seorang  ahli sulap  yang berdasarkan ilmu  sihir, maka  jangankan<BR>baru belenggu biasa saja,  biar belenggu baja sekalipun,  orang Turki ini  pasti<BR>akan dapat membukanya dengan mudah!<BR>Lin Lin yang merasa gemas dan  marah sekali kepada Boan Sip, ketika  merasa<BR>dirinya telah  bebas  segera meloncat  maju  dan menyerang  perwira  itu  sambil<BR>berseru,<BR>"Manusia rendah, saat ini aku hendak mengadu jiwa dengan kau!" Lin Lin lalu<BR>menyerang dengan  pukulan  yang paling  berbahaya  dan ketika  Boan  Sip  hendak<BR>menangkis, tiba-tiba perahu itu miring  hingga Boan Sip kehilangan  keseimbangan<BR>tubuhnya! Lin Lin menjadi  girang sekali karena merasa  yakin bahwa kali ini  ia<BR>tentu akan dapat memukul mampus musuh  besarnya ini, akan tetapi tiba-tiba  dari<BR>samping meluncur sehelai sabuk sutera hijau yang panjang dan lemas dan tahu-tahu<BR>sabuk itu  telah  melingkar pergelangan  tangan  yang melakukan  pukulan  hingga<BR>sekarang  menjadi  gagal.  Ketika  ia  hendak  melepaskan  sabuk  yang   melibat<BR>pergelangan  tangan  lengannya,  tiba  tiba  Yousuf  menarik  ujung  sabuk  yang<BR>dipegangnya dan tubuh Lin Lin menjadi limbung dan hampir jatuh!<BR>"Nona, sabar  dan tenanglah.  Kini kau  berada di  dalam perahuku  dan  aku<BR>berhak melarang semua orang yang berada  di sini untuk sembarangan bergerak  dan<BR>membikin goncang  perahuku! Apakah  kau ingin  perahuku ini  terguling dan  kita<BR>semua tenggelam?"<BR>Lin Lin ketika  merasa betapa  tarikan sabuk  itu amat  kuat, maklum  bahwa<BR>orang  Turki  ini  memiliki  kepandaian  tinggi,  maka  untuk  sejenak   menjadi<BR>ragu-ragu. Apalagi ketika mendengar bahwa perahu itu mungkin tenggelam di tengah<BR>sungai, ia lalu berdiri dengan bingung dan tak tahu harus berbuat apa.<BR>Sebaliknya Boan Sip yang hampir saja menjadi korban pukulan Lin Lin menjadi<BR>marah sekali. Ia  menuding ke  arah muka  Lin Lin  sambil membentak,  "Perempuan<BR>rendah! Aku  telah berlaku  baik  dengan menawan  dan menjagamu  baik-baik,  tak<BR>pernah mengganggumu, oleh karena aku  sayang padamu. Akan tetapi sekarang,  baru<BR>saja  kau  terlepas   dari  belenggu,  gerakanmu   pertama  kali  adalah   untuk<BR>membinasakan aku!  Benar-benar  kau tak  boleh  diberi kesempatan  hidup  lagi!"<BR>Sambil berkata  demikian,  Boan  Sip  lalu  mencabut  golok  besarnya  dan  maju<BR>menyerang Lin Lin dengan muka buas!<BR>Lin Lin bukanlah  seorang gadis lemah  dengan cepat ia  dapat mengelak  dan<BR>balas menyerang dengan kepalan tangannya.<BR>"Hai, tahan, tahan!" teriak  Yousuf, akan tetapi  dalam marahnya, Boan  Sip<BR>tidak mempedulikan teriakan  ini. Tiba-tiba  sebuah sinar  hijau berkelebat  dan<BR>tahu-tahu golok di  tangan Boan Sip  telah terlepas dari  pegangan dan  ternyata<BR>gagangnya telah tergulung oleh sutera hijau yang dilepas oleh Yousuf.<BR>"Yo-suhu! Apa maksudmu menyerangku?" tanya Boan Sip dengan muka merah.<BR>"Saudara Boan!  Kau berada  di dalam  perahuku dan  siapa pun  adanya  kau,<BR>orang-orang di dalam perahuku harus tunduk kepadaku! Nona, kau masuklah ke dalam<BR>bilik kecil  dan beristirahatlah,  selama  ada aku  di  sini, jangan  kau  takut<BR>diganggu orang! Saudara Boan, tidak ingatkah kau sedang berhadapan dengan siapa,<BR>maka kau  berani memperlihatkan  kekerasanmu?" Suara  orang Turki  ini  sekarang<BR>terdengar amat berpengaruh dan  Lin Lin mulai  menaruh kepercayaan kepada  orang<BR>asing yang aneh dan lihai ini, maka  oleh karena ia memang merasa lelah  sekali,<BR>ia lalu masuk  ke dalam bilik  itu dan memasang  palang pintunya. Karena  merasa<BR>aman dan lega bahwa dirinya terhindar dari kekuasaan Boan Sip, gadis yang  telah<BR>beberapa lama tak dapat  tidur dengan hati tenteram,  kini segera pulas di  atas<BR>sebuah pembaringan bambu yang kasar!<BR>Sebaliknya, di  luar bilik,  sambil  duduk di  lantai perahu,  Yousuf  lalu<BR>memberi teguran dan nasihat kepada Boan Sip yang mendengarkan dengan muka  merah<BR>dan kepala ditundukkan.<BR>Siapakah adanya  orang  Turki  yang  berpengaruh dan  lihai  ini?  Dia  ini<BR>sebenarnya adalah seorang penyelidik dari Angkatan Perang Turki yang telah  siap<BR>di perbatasan  Tiongkok dan  hendak menyerbu.  Yousuf sebenarnya  masih  seorang<BR>bangsawan keturunan pangeran dan oleh  karena kepandaiannya yang tinggi maka  ia<BR>telah terpilih untuk menjadi pemimpin mata-mata dan diam-diam mengadakan  kontak<BR>dengan para perwira bangsa Han yang dapat dibujuk untuk bersekutu dengan tentara<BR>Turki dan untuk  bersama-sama menjatuhkan  pemerintah yang  sekarang. Di  antara<BR>perwira-perwira yang  mengadakan  hubungan  dengannya, terdapat  Boan  Sip  yang<BR>diam-diam juga melakukan  pengkhianatan oleh karena  pengaruh harta, hadiah  dan<BR>janji-janji yang muluk dari Yousuf. Sesungguhnya, tentara Turki ini  sekali-kali<BR>tidak ingin menjajah Tiongkok, akan tetapi mereka ini mempunyai tujuan tertentu,<BR>yaitu untuk menguasai sebuah  pulau kecil di pantai  Laut Tiongkok, oleh  karena<BR>menurut penyelidik mereka yang terdiri  dari Yousuf dan beberapa orang  kawannya<BR>di pulau kecil itu  terdapat sumber emas yang  besar, bahkan menurut  keterangan<BR>mereka ini, di situ terdapat sebuah bukit penuh dengan logam berharga ini.<BR>Boan  Sip  yang  menjadi  pengkhianat  negara  itu  telah  lama  mengadakan<BR>perhubungan dengan  Yousuf  bahkan  hari ini  telah  berjanji  untuk  mengadakan<BR>pertemuan di sungai itu, hingga bukan tidak disengaja bahwa Yousuf telah menanti<BR>di sungai dengan perahunya. Akan tetapi,  adanya Lin Lin di situ adalah  terjadi<BR>di luar rencana  Yousuf. Boan  Sip yang mewakili  kawan-kawannya atau  rombongan<BR>perwira dan pejabat  tinggi yang  bersekutu dengan pihak  Turki, mendapat  tugas<BR>untuk membuktikan cerita pihak Turki  tentang pulau emas, oleh karena  rombongan<BR>perwira pengkhianat  ini  belum  percaya akan  keterangan  yang  diberikan  oleh<BR>orang-orang Turki.<BR>Demikianlah, maka  perahu Yousuf  yang membawa  Boan Sip  dan Lin  Lin  itu<BR>meluncur cepat menurut aliran Sungai menuju ke laut.<BR>"Saudara Boan,"  kata Yousuf  dalam  pelayaran itu,  "tugas kita  kali  ini<BR>adalah tugas  penting dan  besar maka  janganlah urusan  pribadi mengacau  tugas<BR>penting ini. Kalau kiranya engkau tidak sanggup mentaati aku yang dalam hal  ini<BR>lebih berkuasa daripada kau, maka kau boleh turun dan meninggalkan perahu ini."<BR>Boan Sip mendengar kata-kata orang Turki ini dengan tunduk. Ia maklum  akai<BR>kelihaian dan kekuasaan Yousuf maka ia tidak berani membantah.<BR>"Akan tetapi, bagaimanakah dengan gadis ini?" tanyanya. "Apakah tidak lebih<BR>baik dia disingkirkan agar jangan menjadikan penghalang bagi pekerjaan kita?<BR>Yousuf menggeleng kepala dengan keras. "Tidak bisa, tidak bisa, tidak bisa!<BR>Mengapa engkau tidak  bisa memikir dengan  lebih luas dan  hati-hati? Gadis  itu<BR>telah melihat perahuku, dan yang lebih  panting lagi, ia telah melihat aku!  Hal<BR>ini berbahaya sekali oleh karena ia tentu merasa heran melihat seorang asing  di<BR>sini dan  kalau hal  ini  ia ceritakan  di  luaran, bukankah  akan  mendatangkan<BR>kecurigaan dan menjadi  berbahaya sekali?  Apalagi ia telah  melihat bahwa  kita<BR>saling kenal?"<BR>"Nah, mengapa kau tidak membinasakan dia  saja? Lemparkan dia ke dalam  air<BR>sungai dan habis  perkara! Kau  takkan terancam  bahaya sedangkan  aku pun  akan<BR>dapat melenyapkan seorang musuh besar!" kata Boan Sip lebih lanjut.<BR>Kembali Yousuf  menggeleng-geleng  kepala dan  menggunakan  tangan  kirinya<BR>untuk membikin beres sorbannya yang terbuat daripada kain kuning.<BR>"Ini lebih-lebih  tidak  boleh lagi!  Kami  bangsa Turki  mempunyai  sebuah<BR>kepercayaan suci  yang kami  pegang  teguh. Kepercayaan-kepercayaan  ini  banyak<BR>sekali macamnya dan di antaranya ialah bahwa dalam melakukan sebuah tugas  mulia<BR>dan  besar,  sekali-kali  kami  tidak  boleh  menurunkan  tangan  jahat   kepada<BR>orang-orang wanita!"<BR>Boan Sip mengangguk-angguk maklum dan  ia sama sekali tidak pernah  mengira<BR>bahwa orang Turki  yang cerdik  ini sebetulnya hanya  menggunakan alasan  kosong<BR>belaka dan bahwa pada hakekatnya Yousuf merasa kasihan dan suka kepada Lin Lin!<BR>Demikianlah, perahu itu  meluncur terus  makin cepat membawa  Lin Lin  yang<BR>masih tertidur di dalam bilik perahu, dan makin lama sungai yang dilalui  perahu<BR>makin lebar, tanda bahwa mereka telah tiba dekat laut.<BR>Tiba-tiba para penumpang perahu itu terkejut sekali oleh karena perahu  itu<BR>telah tertumbuk oleh sebuah perahu lain dengan keras! Yousuf dan Boan Sip segera<BR>memandang dan  mereka melihat  sebuah  perahu kecil  melintang di  depan  perahu<BR>mereka dan di dalam perahu itu duduk  dua orang yang memegang dayung. Dua  orang<BR>ini bukan lain Si  Nelayan Cengeng Kong  Hwat Lojin dan  muridnya Ma Hoa,  gadis<BR>yang berpakaian sebagai seorang pemuda itu!<BR>Bagaimana mendadak Nelayan Cengen dan Ma  Hoa dapat muncul di sungai  itu??<BR>Ini adalah akibat daripada  malapetaka yang menimpa keluarga  Ma Hoa yang  perlu<BR>dituturkan lebih dulu agar jalan cerita dapat diikuti dengan lancar. Sebagaimana<BR>diketahui, ketika Nelayan Cengeng bersama muridnya, dibantu oleh Ang I Niocu dan<BR>Lin Lin, melabrak para perwira yang dipimpin oleh Beng Kong Hosiang, suheng dari<BR>Hai Kong Hosiang,  maka seorang  perwira dapat mendengar  percakapan mereka  dan<BR>dapat mengetahui rahasia Ma Hoa bahwa "pemuda" itu adalah gadis atau puteri dari<BR>Ma Keng In, perwira Sayap Garuda! Hal ini tentu saja dibongkar oleh perwira  itu<BR>dan pada suatu hari Ma Keng In ditangkap oleh para perwira atas perintah kaisar!<BR>Tidak saja Ma Keng In yang ditangkap, akan tetapi juga seluruh keluarganya,  dan<BR>mereka ini  semua dijatuhi  hukuman  mati sebagai  pemberontak-pemberontak  atau<BR>pengkhianat!<BR>Untung sekali bahwa Ma Hoa dapat melarikan diri. Di depan sidang pengadilan<BR>yang memeriksa perkaranya, Ma Keng In yang jujur secara gagah mengakui bahwa  Ma<BR>Hoa adalah anaknya, bahkan dengan suara lantang, perwira ini berkata,<BR>"Memang Ma Hoa  adalah anakku,  dan aku  merasa menyesal  dan bosan  dengan<BR>kedudukan dan pekerjaan sebagai Perwira Sayap  Garuda, dan aku merasa sebal  dan<BR>benci melihat sepak terjang kawan-kawan sejawatku, yang menjadi perwira kerajaan<BR>tidak untuk menjaga  keamanan rakyat bahkan  sebaliknya berlaku  sewenang-wenang<BR>dan mengandalkan pengaruh untuk menindas dan mencekik orang-orang lemah! Aku  Ma<BR>Keng In, merasa berbabagia bahwa anakku yang tunggal itu tidak mengikuti jejakku<BR>yang sesat, dan benar-benar menjadi seorang pelindung rakyat yahg gagah perkasa!<BR>Aku kutuk  perbuatan-perbuatan  kawan  sejawatku di  bawah  pimpinan  Beng  Kong<BR>Hosiang dan Hai Kong Hosiang, pendeta-pendeta palsu yang kejam dan jahat!"<BR>Tentu saja  ucapannya  ini  merupakan keputusan  terakhir  dan  ia  beserta<BR>keluarganya semua mendapat hukuman mati! Ketika Ma Hoa mendengar malapetaka yang<BR>dialami oleh seluruh keluarganya itu ia jatuh pingsan di bawah kaki gurunya,  Si<BR>Nelayan Cengeng! Ketika ia siuman  kembali ia menangis tersedu-sedu dan  gurunya<BR>menangis pula  bahkan  lebih keras  dan  lebih hebat  daripada  tangis  muridnya<BR>sendiri.<BR>Tiba-tiba Ma Hoa berdiri dan mencabut pedangnya. "Suhu, saksikanlah  sumpah<BR>teecu! Aku bersumpah  untuk membasmi para  perwira durna penjahat-penjahat  liar<BR>yang mempergunakan kedudukan dan pangkat untuk menjadi kedok kejahatan mereka!"<BR>Nelayan Cengeng menghiburnya dan kemudian ia membawa muridnya yang bersedih<BR>itu untuk melakukan  perjalanan hingga mereka  tiba di sungai  yang mengalir  di<BR>sebelah utara. Di  dalam perjalanan  mereka, Nelayan  Cengeng dan  Ma Hoa  tiada<BR>hentinya memusuhi para  perwira yang  bertugas dan dari  seorang perwira  mereka<BR>dapat mendengar  tentang  pengkhianatan  beberapa orang  rombongan  mereka  yang<BR>mengadakan hubungan dengan para  mata-mata bangsa Turki  dan mereka yang  dengan<BR>diam-diam mengadakan persekutuan dengan orang-orang Mongol!<BR>Makin bencilah Nelayan Cengeng dan muridnya terhadap perwira-perwira  Sayap<BR>Garuda yang palsu ini. Selain memusuhi  para perwira yang bertemu dengan  mereka<BR>juga kedua orang  ini sekalian  mencari-cari jejak Cin  Hai dan  Kwee An,  serta<BR>mengharapkan untuk bertemu dan menggabung dengah Ang I Niocu dan Lin Lin.<BR>Dan kebetulan sekali, pada pagi hari ketika mereka berdua mendayung  perahu<BR>ke mudik, mereka  melihat sebuah perahu  besar bergerak ke  hilir. Mata  Nelayan<BR>Cengeng yang tajam segera melihat  adanya seorang yang berpakaian perwira  Sayap<BR>Garuda di dalam  perahu itu,  dan melihat pula  seorang Turki.  Maka sengaja  ia<BR>menabrakkan perahunya yang kecil kepada perahu depan itu hingga mengejutkan para<BR>penumpang perahu di depan itu!<BR>Dua orang pendayung perahu Yousuf  marah sekali dan mereka lalu  mendamprat<BR>kepada nelayan tua itu,<BR>"Eh, tua bangka kurang ajar! Apakah matamu telah buta?"<BR>Nelayan Cengeng tertawa  bergelak mendengar  makian ini. "Ha,  ha, ha,  ha!<BR>Kalau mataku  buta,  bagaimana  aku  bisa  menumbuk  perahumu?"  Sambil  berkata<BR>demikian, ia  mengangkat dayungnya  dan memukul  ke badan  perahu di  depan  itu<BR>sekerasnya. Perahu  itu bergoncang  hebat dan  bolong! Nelayan  Cengeng  sengaja<BR>memukul di bagian yang berada di  bawah permukaan air, hingga sebentar saja  air<BR>sungai mengalir masuk ke dalam perahu Yousuf!<BR>Bukan  main  marah  dan  terkejutnya  kedua  orang  pendayung  itu.  Mereka<BR>berteriak-teriak, "Celaka!  Perahu bocor!  Perahu  bocor! Celaka,  kita  bertemu<BR>dengan orang gila!"<BR>Memang hebat pukulan dayung  yang dilakukan oleh  Nelayan Cengeng itu  oleh<BR>karena bagian  yang  pecah  demikian  besarnya hingga  sebentar  saja  air  yang<BR>mengalir masuk sudah demikian banyaknya sukar dibendung lagi!<BR>"Kurang ajar!" terdengar Yousuf berseru dan tubuhnya lalu meloncat, diikuti<BR>oleh Boan Sip yang merasa kuatir sekali melihat betapa perahu yang ditumpanginya<BR>mulai tenggelam  dan miring!  Kedua pendayung  itu pun  tidak berdaya  lagi  dan<BR>mereka keduanya lalu menceburkan diri ke dalam air!<BR>Terdengar Nelayan Cengeng tertawa bergelak-gelak, seakan-akan kejadian  itu<BR>merupakan suatu hal  yang lucu  sekali, bahkan  Ma Hoa  dalam kesedihannya  ikut<BR>tersenyum melihat perbuatan gurunya yang nakal.<BR>"Hayo kita  kejar  mereka, Suhu!"  serunya  ketika melihat  Boan  Sip  yang<BR>berpakaian perwira.<BR>"Memang aku hendak  mengejar mereka!"  kata suhunya  lalu mendayung  perahu<BR>kecil ke pinggir.<BR>Pada saat itu terdengar suara memanggil yang keluar dari perahu Yousuf yang<BR>sudah hampir tenggelam,<BR>"Cici Hoa! Lo-cianpwe!!"<BR>"Eh, itu Lin Lin!" kata Ma Hoa dengan girang sekali dan Lin Lin yang  telah<BR>membuka  pintu  bilik  dan  melihat  bahwa  perahu  yang  ditumpanginya   hampir<BR>tenggelam, segera menggenjot tubuhnya yang melayang ke perahu Ma Hoa!<BR>"Lin Lin! Bagaimana  kau bisa berada  di perahu itu?"  tanya Ma Hoa  dengan<BR>heran.<BR>"Cici! Tangkap  penjahat besar  itu!  Perwira itu  adalah Boan  Sip,  musuh<BR>besarku! Mereka tadi menawanku di dalam perahu!"<BR>Bukan main marahnya Ma  Hoa mendengar ini. Ia  dan gurunya sudah sampai  di<BR>pinggir dan di situ Boan Sip bersama Yousuf telah menanti dengan muka marah!<BR>Lin Lin tak membuang  waktu lagi, ia melompat  dan menerjang Boan Sip  yang<BR>menangkis sambil tersenyum mengejek.  "Sekarang terpaksa aku harus  membunuhmu!"<BR>katanya. Akan tetapi pada  saat itu, dari samping  berkelebat sinar pedang  yang<BR>cepat gerakannya hingga ia menjadi terkejut  sekali. Tidak tahunya, Ma Hoa  yang<BR>sudah tiba di situ lalu  menyerang dengan pedangnya. Melihat datangnya  serangan<BR>yang lihai ini, Boan Sip lalu  melompat ke pinggir sambil mencabut goloknya  dan<BR>bertempurlah mereka dengan hebat  dan seru, Lin Lin  yang tidak bersenjata  lalu<BR>menghampiri perahu Ma Hoa dan mengambil keluar sebuah dayung. Dengan dayung  ini<BR>ia lalu mengeroyok Boan Sip lagi dengan melancarkan pukulan-pukulan sengit.<BR>Sementara  itu,  Nelayan  Cengeng  berhadapan  dengan  Yousuf  yang   masih<BR>kelihatan tenang-tenang saja. Ketika  orang tua ini  telah datang dekat,  Yousuf<BR>berkata dalam bahasa Han yang cukup lancar,<BR>"Nelayan tua,  apakah  tiba-tiba  setan  yang  berkeliaran  di  sungai  ini<BR>memasuki tubuhmu  hingga tanpa  sebab kau  memukul pecah  perahuku? Kalau  betul<BR>demikian halnya, jangan  kuatir, aku  sudah biasa mengusir  iblis yang  memasuki<BR>tubuh manusia!"<BR>Ucapan ini  dikeluarkan oleh  Yousuf setengah  bersungguh-sungguh  setengah<BR>mengejek  oleh  karena  betapapun  juga  ia  merasa  mendongkol  sekali  melihat<BR>perahunya dirusak orang  tanpa sebab.  Untuk sesaat  Nelayan Cengeng  tercengang<BR>mendengar ini, kemudian ia  tertawa bergelak sampai  mengeluarkan air mata  dari<BR>kedua matanya.  Yousuf  tidak tahu  akan  keanehan  orang tua  ini  yang  selalu<BR>mengeluarkan air mata, ia menjadi curiga.<BR>"Ah, benar-benar ada setan memasuki tubuhmu!" Yousuf tangannya dilempangkan<BR>ke depan menuju ke arah dada  dan kepala Nelayan Cengeng, kemudian ia  membentak<BR>keras sambil mendorongkan kedua tangannya ke depan,<BR>"Setan penasaran, keluarlah kamu dari tubuh orang tua ini!"<BR>Tiba-tiba suara tertawa Nelayan Cengeng terhenti oleh karena orang tua  ini<BR>menjadi kaget sekali. Dorongan orang Turki ini mengeluarkan angin yang aneh  dan<BR>ia merasa seakan-akan semangatnya hendak didorong keluar dari tubuhnya. Ia tidak<BR>tahu bahwa benar-benar Yousuf mengeluarkan  aji kesaktiannya untuk mengusir  roh<BR>jahat yang disangka bersembunyi di  dalam tubuhnya. Cepat-cepat Nelayan  Cengeng<BR>mengerahkan lweekangnya untuk memukul kembali  tenaga dorongan yang dahsyat  ini<BR>hingga Yousuf berseru,<BR>"Aha, setan dari  manakah berani melawan  tenagaku? Apakah benar-benar  kau<BR>tidak mau keluar dari tubuh orang tua ini?"<BR>Sikap Nelayan  Cengeng menjadi  sungguh-sungguh,  oleh karena  ia  mengerti<BR>bahwa orang Turki ini bukan sedang main-main dan menyangka betul-betul ia sedang<BR>kemasukan setan sungai. Maka ia segera menjura dan berkata,<BR>"Tuan, kau sungguh lihai dan baik, bahkan kau terlampau baik terhadap  kami<BR>orang-orang Han, terutama  terhadap perwira  itu yang  bersama-sama denganmu  di<BR>dalam perahu.  Kebaikan itu  selalu mengandung  maksud tersembunyi  yang  kurang<BR>sempurna. Salahkah dugaan ini?"<BR>Terkejut hati Yousuf mendengar ini, dan ia berlaku hati-hati.<BR>"Ah, jadi aku telah salah sangka? Maaf, maaf. Perwira yang sedang bertempur<BR>itu memang  kenalanku, akan  tetapi  apakah salahnya  berkenalan di  antara  dua<BR>bangsa? Nelayan tua, tenagamu hebat sekali, dan apakah maksudmu merusak perahuku<BR>dan mengganggu perjalananku?"<BR>"Kalau Tuan tidak  bersama dengan perwira  itu, aku orang  tua tidak  nanti<BR>berani berlaku  kurang ajar.  Akan tetapi  ketahuilah, bahwa  perwira itu  telah<BR>melakukan kejahatan besar dan bahwa ia  telah berani menawan seorang gadis  yang<BR>menjadi sahabat muridku! Agaknya Tuan juga melindungi perwira itu!"<BR>"Hem, siapa yang  hendak melindungi  dia?" kata Yousuf  yang percaya  penuh<BR>akan kegagahan Boan Sip.  Akan tetapi ketika ia  menengok dan memandang ke  arah<BR>pertempuran, ia menjadi terkejut sekali. Biarpun Boan Sip berkepandaian  tinggi,<BR>akan tetapi oleh karena dikeroyok oleh Lin Lin dan Ma Hoa yang tidak rendah ilmu<BR>pedangnya, perwira ini menjadi terdesak hebat. Terutama dayung di tangan Lin Lin<BR>yang mengamuk hebat amat mendesaknya hingga kini Boan Sip hanya dapat  menangkis<BR>sambil main mundur  saja. Yousuf  merasa terkejut dan  khawatir. Betapapun  juga<BR>Boan Sip  adalah seorang  utusan pihak  perwira kerajaan  untuk menyaksikan  dan<BR>membuktikan adanya  pulau emas  itu.  Kalau Boan  Sip  sampai kalah  dan  tewas,<BR>bagaimanakah pekerjaan yang sedang dikerjakan ini dapat menjadi beres? Ia memang<BR>tidak suka  kepada Boan  Sip,  akan tetapi  demi  tugas pekerjaannya,  ia  harus<BR>membantu. Yousuf membuat  gerakan dan  hendak melompat membantu  Boan Sip,  akan<BR>tetapi tiba-tiba ia  melihat bayangan berkelebat  dan tahu-tahu Nelayan  Cengeng<BR>telah berdiri di depannya sambil bertolak pinggang.<BR>"Biarlah yang muda  bertempur melawan  yang muda  pula. Kita  tua sama  tua<BR>boleh main-main, kalau kau  kehendaki. Dengarlah, orang  asing, aku sama  sekali<BR>tidak hendak mengganggumu kalau  saja engkau tidak  turun tangan terlebih  dulu.<BR>Biarkan perwira keparat itu berkelahi  melawan muridku dan musuhnya, dan  takkan<BR>mengganggu sedikit pun!"<BR>Kini Yousuf maklum bahwa  pertempuran tak dapat  dihindarkan lagi, maka  ia<BR>lalu memandang kepada nelayan tua itu  dengan penuh perhatian. Ia melihat  bahwa<BR>nelayan ini  biarpun  kelihatan  seperti seorang  biasa  akan  tetapi  mempunyai<BR>sepasang mata yang bersinar-sinar  aneh, maka ia dapat  menduga bahwa orang  ini<BR>tentulah seorang ahli lweekeng yang tinggi ilmu kepandaiannya.<BR>"Kakek Nelayan,  engkau tidak  tahu sedang  berhadapan dengan  siapa,  maka<BR>engkau berani main-main. Ketahuilah aku  bernama Yousuf, dan di dalam  negeriku,<BR>aku disebut Malaikat Pengusir Iblis! Kauminggirlah dan percayalah bahwa aku  pun<BR>tak hendak mengganggu kedua anak muda  itu. Aku hanya ingin mencegah  terjadinya<BR>pertumpahan darah di antara mereka dan sahabatku!"<BR>Mendengar kata-kata ini, Nelayan Cengeng dapat mempercayai omongannya, oleh<BR>karena semenjak tadi pun  ia maklum bahwa orang  asing ini bukanlah orang  jahat<BR>atau curang. Akan tetapi, setelah muridnya  Lin Lin berhasil mendesak Boan  Sip,<BR>mana ia memperbolehkan lain orang menolong perwira jahat itu?<BR>"Tidak bisa,  Saudara  You  Se  Fei (lidahnya  tidak  dapat  menyebut  nama<BR>Yousuf). Kalau kau bergerak, aku Khong Hwat Lojin pun terpaksa bergerak juga!"<BR>"Bagus! Marilah  kita mencoba-coba  kepandaian!" Sambil  berkata  demikian,<BR>Yousuf menarik keluar sebatang pedang hitam yang ujungnya melengkung ke atas dan<BR>kelihatannya tajam sekali! Pedang ini memang luar biasa indah, oleh karena  pada<BR>gagangnya nampak  dihias  emas permata  yang  berkilauan! Nelayan  Cengeng  juga<BR>bersiap sedia dengan dayung yang sejak tadi terpegang di tangannya.<BR>"Lihat pedang!" Yousuf berseru sambil  menubruk maju. Gerakannya gesit  dan<BR>cepat, sedangkan kedua kakinya berdiri di  atas ujung jari kaki, tanda bahwa  ia<BR>sedang mempergunakan ilmu ginkangnya yang aneh dan lihai. Cara berdiri macam ini<BR>membuat ia cepat sekali dapat bergerak dan mengubah kedudukan. Melihat  serangan<BR>ini, tahulah Khong Hwat  Lojin bahwa ia berhadapan  dengan orang pandai maka  ia<BR>pun segera menggerakkan dayungnya dan mereka berdua lalu bertempur dengan hebat.<BR>Pedang di tangan Yousuf mengeluarkan angin dan menimbulkan bunyi bagaikan suling<BR>sedangkan dayung di tangan  Nelayan Cengeng berputar  seperti kitiran angin  dan<BR>membuat debu mengepul ke atas!<BR>Demikianlah, di pagi hari yang cerah  sunyi di tepi sungai itu,  terjadilah<BR>pertempuran yang  amat hebat  dan dahsyat,  sehigga dua  orang pendayung  perahu<BR>Yousuf yang  telah berenang  ke tepi,  kini ke  duanya berjongkok  dengan  tubuh<BR>menggigil karena ketakutan.<BR>Kepandaian Nelayan  Cengeng  untuk daerah  utara  sudah amat  terkenal  dan<BR>jarang ada jago dapat menandinginya, akan tetapi kini ia bertemu dengan  seorang<BR>jago dari bangsa lain yang memiliki silat tinggi dan sama sekali asing  baginya.<BR>Demikianpun Yousuf, baginya ilmu silat kakek  nelayan ini hebat dan aneh  hingga<BR>keduanya berlaku  hati-hati sekali  oleh  karena tak  dapat menduga  lebih  dulu<BR>perkembangan gerakan lawan.<BR>Sementara itu, Boan Sip sudah lelah sekali. Keringatnya mengucur  membasahi<BR>seluruh tubuhnya  dan wajahnya  menjadi pucat  oleh karena  ia harus  menghadapi<BR>serangan dua  singa betina  yang sedang  mengamuk hebat!  Sambil bertempur,  Lin<BR>berkata, "Cici,  kita harus  buat mampus  anjing ini.  Dia inilah  biang  keladi<BR>malapetaka yang  menimpa keluarga  Kwee! Engko  An tentu  akan sangat  berterima<BR>kasih kepadamu apabila engkau dapat membunuh anjing penjilat ini."<BR>Mendengar ucapan ini,  tentu saja  Ma Hoa menjadi  makin bersemangat  untuk<BR>segera  merobohkan  Boan  Sip,  untuk  membuktikan  setia  dan  cintanya  kepada<BR>tunangannya yang selalu terbayang  di depan matanya itu!  Ia mengertak gigi  dan<BR>mainkan pedangnya dalam serangan yang  paling berbahaya, sedangkan Lin Lin  juga<BR>menggunakan dayung di  tangannya untuk  menyerang kalang kabut  hingga Boan  Sip<BR>makin terdesak saja.  Ketika Boan  Sip sedang melangkah  mundur dengan  bingung,<BR>tiba-tiba ia menginjak sebuah batu yang  bundar licin hingga ia tergelincir  dan<BR>terhuyung lalu terjatuh di atas tanah. Lin Lin dan Ma Hoa menubruk dan pedang Ma<BR>Hoa yang menusuk dadanya serta dayung Lin Lin yang menghantam kepalanya  membuat<BR>nyawa Boan Sip melayang pada saat itu juga!<BR>Melihat betapa musuh besarnya telah menggeletak di atas tanah dalam  keadan<BR>tak bernyawa, Lin Lin tiba-tiba merasa girang dan terharu sekali. Girang  bahkan<BR>ia berhasil membunuh manusia yang amat dibencinya ini dengan tangan sendiri, dan<BR>terharu oleh karena teringat kepada orang tuanya. Tiba-tiba ia menjatuhkan  diri<BR>berlutut dan berkata perlahan,<BR>"Ayah, anak yang puthau (tak berbakti) baru berhasil membalas dendam kepada<BR>anjing terkutuk ini!"  Kemudian ia menangis  terisak-isak ingat kepada  ayahnya,<BR>ibu tirinya,  dan  saudara-saudaranya  yang  terbunuh mati  oleh  Boan  Sip  dan<BR>kawan-kawannya. Ma Hoa juga  ikut merasa terharu dan  sambil memeluk pundak  Lin<BR>Lin, Ma Hoa lalu menangis pula.<BR>Sementara itu,  pertempuran  yang terjadi  antara  Si Nelayan  Cengeng  dan<BR>Yousuf, masih berlangsung  dengan ramai sekali.  Akan tetapi, setelah  bertempur<BR>hampir seratus jurus, Yousuf akhirnya harus mengakui keunggulan lawan. Dayung Si<BR>Nelayan Cengeng sungguh-sungguh  hebat dan  lihai sekali.  Perlahan tapi  tentu,<BR>orang Turki  itu terdesak  mundur dan  terpaksa mempergunakan  ginkangnya  untuk<BR>menghindarkan diri dari sambaran dayung!<BR>Pada saat  Yousuf  sudah  terdesak  sekali,  tiba-tiba  terdengar  Lin  Lin<BR>berseru, "Kong Hwat Locianpwe! Jangan mencelakai dia! Dia adalah penolongku!"<BR>Mendengar seruan ini, Nelayan Cengeng  cepat melirik dan ketika ia  melihat<BR>bahwa Boan Sip sudah  dibinasakan ia lalu tertawa  bergelak dan melompat  mundur<BR>menahan gerakan dayungnya.<BR>Yousuf menjura sangat dalam sampai  sorbannya hampir menyentuh tanah.  "Kau<BR>orang tua sungguh hebat sekali dan patut menjadi guruku!"<BR>"Ah, jangan kau terlalu memuji, Saudara  Yo Se Fei! Kepandaianmu pun  hebat<BR>dan mengagumkan!" jawab Si Nelayan Cengeng.<BR>Kemudian Yousuf  memandang ke  arah  Lin Lin  dan senyumnya  melebar  serta<BR>pandangan matanya  melembut. "Nona,  kau  benar-benar seorang  berbudi  tinggi."<BR>Ketika pandangan matanya melihat mayat Boan  Sip yang menggeletak di atas  tanah<BR>ia menghela napas dan berkata,<BR>"Memang hukum alam adil sekali. Dia memang orang jahat dan sudah sepatutnya<BR>mati di ujung senjata!"<BR>Melihat sikap orang asing ini, Nelayan Cengeng menjadi tertarik hatinya. Ia<BR>memegang tangan orang itu dan berkata,  "Sahabat, kita adalah sama orang  gagah,<BR>biarpun kita berkebangsaan lain! Marilah kita bersahabat dan menuturkan  riwayat<BR>masing-masing."<BR>"Apakah kau terpengaruh pula oleh keadaan negara dan politiknya, orang tua?<BR>"<BR>Nelayan Cengeng  tertawa  terkekeh  hingga kembali  air  matanya  mengalir.<BR>"Siapa sudi  memperhatikan keadaan  politik yang  jahat? Tidak,  bagiku  politik<BR>hanya satu yaitu yang jahat harus dibasmi dan yang baik dibela! Kau orang  asing<BR>asal saja jangan  mengganggu tanah air  dan bangsaku, aku  akan menjadi  sahabat<BR>baikmu!"<BR>Kembali Yousuf  menghela napas.  "Kalian orang-orang  Han memang  aneh  dan<BR>patut dikagumi! Kalian berjiwa patriot dan  mencinta tanah air dan bangsa,  akan<BR>tetapi  kalian  tidak  mau  terlibat  dalam  urusan  ketatanegaraan  dan  segala<BR>politiknya yang serba berbelit-belit!  Sebenarnya, mengapakah kalian  bermusuhan<BR>dengan perwira itu?"<BR>Lin Lin maju dan memberi penjelasan. "Perwira itu adalah seorang jahat yang<BR>oleh  karena  ditolak  lamarannya  oleh  Ayah  terhadap  diriku,  lalu  mengajak<BR>kawan-kawannya untuk membasmi keluargaku. Ayah serta kakak-kakak dan juga  Ibuku<BR>telah dia bunuh habis. Tinggal aku dan seorang kakakku yang masih hidup.  Ketika<BR>aku bertemu dengan dia  dan bertempur, atas bantuan  gurunya yang juga jahat  ia<BR>berhasil menawanku dan membawaku ke  sebuah tempat tahanan. Kemudian ia  membawa<BR>aku lari dan bertemu dengan kau."<BR>"Hm, pantas,  pantas! Pantas  kau membunuhnya,  memang hutang  nyawa  harus<BR>dibayar jiwa pula!"<BR>"Dan kau hendak pergi ke  manakah Saudara? Aku mendengar dari  percakapanmu<BR>bahwa kau hendak pergi ke sebuah pulau dengan perwira itu," kata pula Lin Lin.<BR>Yousuf termenung sejenak. Tiba-tiba ia mendapat pikiran yang tak disengaja.<BR>Telah lama ia mempunyai sebuah  cita-cita untuk dapat menduduki tahta  kerajaan.<BR>Ketika ia dan beberapa orang kawannya yang merantau mendapatkan pulau emas  itu,<BR>telah timbul dalam hatinya cita-cita  ini. Dengan memiliki semua harta  kekayaan<BR>itu, mudah saja  baginya untuk merebut  kekuasaan Raja Turki  yang sekarang  dan<BR>menggantikannya.  Memang  masih  ada  darah  pangeran  dalam  tubuh  Yousuf  dan<BR>sayangnya ia adalah seorang miskin. Kalau saja pulau itu dapat terjatuh ke dalam<BR>tangannya! Kini, melihat Lin Lin, ia merasa sangat tertarik dan suka. Ia  merasa<BR>yakin bahwa di dalam  kehidupannya yang dulu tentu  ada hubungan sesuatu  antara<BR>dia dan Lin  Lin, oleh  karena entah  mengapa, ia  merasa suka  sekali dan  rela<BR>membela gadis itu, biar dengan jiwanya sekalipun. Perasaan inilah yang merupakan<BR>cita-cita ke dua baginya, dan timbul setelah ia bertemu dengan Lin Lin. Ia  juga<BR>ingin mendapatkan harta di Pulau Emas itu, mengangkat diri sendiri menjadi  raja<BR>dan membujuk Lin Lin  agar suka menjadi  permaisurinya. Inilah cita-citanya  dan<BR>inilah pikiran yang pada  saat itu mengaduk hati  dan otaknya. Ia telah  melihat<BR>kegagahan Nelayan Cengeng dan muridnya  yang ternyata seorang gadis pula,  telah<BR>menyaksikan pula kegagahan Lin Lin yang  tidak lemah. Kalau ditambah dengan  dia<BR>sendiri menjadi empat orang, dan bukankah empat orang gagah yang tangguh,  kuat,<BR>akan sanggup mengusir musuh yang manapun juga?<BR>Untuk menjawab pertanyaan Lin  Lin ia mengangguk,  "Memang benar, Nona  Lin<BR>Lin, aku hendak pergi  menuju ke sebuah Pulau  Emas. Sayang sekali perahu  telah<BR>rusak dan tenggelam."<BR>Mendengar disebutnya Pulau  Emas, Nelayan  Cengeng tertarik  sekali dan  ia<BR>lalu berkata, "Saudara Yo Se Fei! Benar-benar adakah pulau dongeng itu? Semenjak<BR>aku masih kecil, seringkali aku mendengar dongeng tentang Pulau Emas, dan  dalam<BR>beberapa hari ini, telah dua kali aku mendengar pula tentang Pulau Emas ini."<BR>Yousuf memandangnya tajam. "Telah dua kali? Lo-enghiong, dari siapa pulakah<BR>kau mendengar tentang Pulau Emas ini?"<BR>Nelayan Cengeng  lalu menceritakan  bahwa beberapa  hari yang  lalu,  dalam<BR>perantauannya dengan Ma Hoa,  ia bertemu dengan seorang  bangsa Mongol tua  yang<BR>juga menyebut  akan  adanya  Pulau  Emas itu,  bahkan  orang  Mongol  itu  dalam<BR>mengobrol telah membuka  rahasia bahwa  Pangeran Vayami,  pemimpin Agama  Buddha<BR>Merah itu, juga hendak mencari pulau ini.<BR>Yousuf terkejut sekali  mendengar ini. "Ah,  sudah kusangka bahwa  Pangeran<BR>Vayami tentu  mempunyai maksud  tertentu dengan  kunjungannya ke  pedalaman  dan<BR>hendak menghadap Kaisar Tiongkok! Tidak tahunya, ia juga menghendaki pulau  itu.<BR>Ah, kita harus cepat ke sana, jangan sampai didahului orang!"<BR>Melihat bahwa orang Turki ini  pucat dan bingung, Nelayan Cengeng  bertanya<BR>lagi, "Saudara  yang  baik, sebetulnya  pulau  itu dimanakah  letaknya  dan  apa<BR>namanya?"<BR>Yousuf telah  habis  sabar, akan  tetapi  oleh karena  maklum  bahwa  kakek<BR>nelayan yang gagah ini merupakan tenaga  bantuan yang amat berguna, ia  bersabar<BR>dan menerangkan  dengan singkat,  "Pulau itu  bernama Kim-san-to  (Pulau  Gunung<BR>Emas) dan berada di  sebelah timur pantai Tiongkok.  Kalau belum tahu  jalannya,<BR>memang sukar sekali  rnencari pulau  yang berada di  antara puluhan  pulau-pulau<BR>kecil lain itu."<BR>Nelayan Cengeng  menjadi sangat  tertarik  hatinya dan  demikianlah,  kedua<BR>orang  ini  bercakap-cakap  dan  Yousuf  dengan  amat  sabarnya  menjawab   tiap<BR>pertanyaan Nelayan Cengeng sehingga kakek  nelayan ini akhirnya terbangkit  pula<BR>keinginan tahunya  dan  ia ingin  sekali  melihat dan  menyaksikan  dengan  mata<BR>sendiri keadaan pulau yang telah dikenal dalam dongeng itu.<BR>Sementara itu,  Lin  Lin lalu  menceritakan  kepada Ma  Hoa  tentang  semua<BR>pengalamannya dan  ketika  Ma  Hoa bertanya  di  mana  adanya Ang  I  Niocu,  ia<BR>menjawab, "Siapa  yang dapat  mengetahui dimana  adanya dia  sekarang." Lin  Lin<BR>menghela napas khawatir. "Sungguh  sial sekali, belum  juga kami bertemu  dengan<BR>Hai-ko, sekarang Cici Im Giok sudah  harus berpisah lagi denganku! Ah,  sekarang<BR>menjadi makin ruwet,  karena selain  harus mencari  Hai-ko dan  Ang-ko, aku  pun<BR>harus mencari Cici Im  Giok! Eh, Enci  Hoa, semenjak tadi  aku saja yang  banyak<BR>mengobrol  sedangkan  kau   hanya  menjadi   pendengar  saja.   Kauceritakanlah,<BR>bagaimanan kau bisa sampai di sini dan menolong aku?"<BR>Memang Ma Hoa orangnya agak pendiam  dan tak banyak bicara. Kini  mendengar<BR>pertanyaan Lin Lin,  tiba-tiba kedua  matanya menjadi merah  dan ia  mengeraskan<BR>hati untuk  menahan  keluarnya  air  matanya.  Lin  Lin  terkejut  dan  memegang<BR>lengannya. "Enci Ma Hoa, apakah yang telah terjadi? Kau nampak pucat sekali!"<BR>Dengan mengeraskan hati, Ma Hoa  lalu menceritakan malapetaka yang  menimpa<BR>keluarganya, akan tetapi ketika melihat betapa sepasang mata Lin Lin yang  lebar<BR>itu  memandangnya  dengan  terbelalak  dan  dari  kedua  matanya  itu   mengalir<BR>butiran-butiran air mata karena  terharu dan kasihan, Ma  Hoa tak dapat  menahan<BR>lagi kesedihannya.  Ia  mengakhiri  penuturannya  dengan  kata-kata  yang  sukar<BR>keluarnya, "Adik Lin,  habislah seluruh keluargaku,  mereka telah binasa  semua,<BR>tinggal aku seorang diri... sebatangkara...!"<BR>Lin Lin memeluk gadis itu dan keduanya lalu bertangis-tangisan oleh  karena<BR>memang terdapat banyak persamaan antara mereka berdua, oleh karena seperti  juga<BR>Ma Hoa, keluarga Lin Lin juga habis binasa.<BR>"Enci Hoa, jangan  kau khawatir, bukankah  kau masih mempunyai  kawan-kawan<BR>baik seperti Suhumu  itu dan  aku dan  Engko An? Juga  Hai-ko dan  Enci Im  Giok<BR>adalah kawan-kawan  yang baik  dan yang  senantiasa bersiap  sedia membantu  dan<BR>menolongmu!"<BR>Mendengar hiburan ini, agak redalah kesedihan yang menekan hati Ma Hoa  dan<BR>mereka berdua lalu  memandang ke  arah Yousuf yang  masih bercakap-cakap  dengan<BR>Nelayan Cengeng. Sebuah permufakatan telah  dicapai oleh kedua orang ini,  yaitu<BR>Nelayan Cengeng telah mengambil keputusan untuk ikut Yousuf mencari Pulau Emas!<BR>"Hai, Ma Hoa dan Lin Lin, ke marilah! Jangan hanya bertangis-tangisan saja,<BR>ada kabar baik yang harus dibicarakan  bersama!" Si Nelayan Cengeng berkata  dan<BR>kedua orang gadis itu  lalu menghampiri mereka sambil  menyusut air mata  dengan<BR>saputangan.<BR>Nelayan Cengeng lalu memberitahukan bahwa  mereka bertiga akan ikut  Yousuf<BR>mencari Pulau Emas itu.<BR>"Akan tetapi,  Locianpwe,  bagaimana  dengan usahaku  mencari  saudara  dan<BR>kawan-kawanku?"<BR>Nelayan Cengeng tersenyum.  "Dengarlah, Lin  Lin. Kita tidak  tahu ke  mana<BR>perginya mereka itu dan tanpa petunjuk yang tepat, ke manakah kita harus mencari<BR>mereka! Pula,  dari Saudara  Yo Se  Fei  ini aku  mendengar bahwa  besar  sekali<BR>kemungkinan Pangeran Vayami juga akan pergi mencari Pulau Emas ini hingga  bukan<BR>tak mungkin bahwa Hai Kong Hosiang akan menemani rombongan Pangeran Vayami  itu.<BR>Sudah terang bahwa Cin Hai, Kwee  An, maupun Ang I Niocu mengejar-ngejar  hwesio<BR>itu dan apabila hwesio itu berada dalam rombongan Pangeran Vayami, tentu  mereka<BR>akan menuju  ke pulau  itu pula!  Nah,  bukankah ini  lebih baik  daripada  kita<BR>berkeliaran tidak karuan tanpa tujuan tertentu?"<BR>Lin Lin menganggap alasan ini cukup kuat,  oleh karena ia tahu bahwa Ang  I<BR>Niocu sedang mencari Cin Hai dan Kwee  An, sedang kedua pemuda itu mengejar  Hai<BR>Kong Hosiang, maka kalau benar hwesio itu pergi juga mencari pulau emas,  memang<BR>bukan tak mungkin  mereka semua  menuju ke tempat  yang sama!  Maka akhirnya  ia<BR>berkata,<BR>"Terserah kepada Locianpwe saja, aku yang muda dan bodoh hanya menurut  dan<BR>percaya penuh kepadamu, orang tua!"<BR>Mendengar persetujuan  yang keluar  dari mulut  gadis ini,  Yousuf  menjadi<BR>girang sekali, akan tetapi ia menyembunyikan perasaannya ini dan berkata,<BR>"Nah, kita berempat  bisa berangkat  sekarang juga,  akan tetapi,  perahumu<BR>begitu kecil. Sayang sekali perahuku telah tenggelam!"<BR>Nelayan Cengeng biarpun  sudah tua,  akan tetapi  pandangan matanya  tajam.<BR>Melihat  wajah  orang   Turki  itu  berseri-seri   ketika  mendengar   kata-kata<BR>persetujuan yang diucapkan oleh Lin Lin, di dalam hatinya timbul kecurigaan yang<BR>membuatnya menjadi hati-hati. Akan tetapi, sambil tertawa ia menjawab pertanyaan<BR>Yousuf, "Apakah  susahnya  untuk  mendapatkan perahu  yang  tenggelam?"  Setelah<BR>berkata demikian, kakek nelayan ini  lalu memperlihatkan kepandaiannya di  dalam<BR>air yang benar-benar hebat.<BR>Ia menanggalkan jubah luarnya dan  dengan pakaian ringkas lalu meloncat  ke<BR>dalam  air.  Tubuhnya  yang  kurus  itu  terjun  ke  dalam  air  tanpa  bersuara<BR>seakan-akan sebatang anak panah dilepas ke dalam air saja. Agak lama semua orang<BR>menanti dengan hati berdebar, kecuali Ma  Hoa yang sudah maklum akan  kepandaian<BR>gurunya. Kemudian  air itu  bergelombang hebat  dan dari  bawah muncullah  tubuh<BR>perahu Yousuf yang tadi tenggelam! Ternyata Si Nelayan Cengeng telah mendapatkan<BR>tubuh perahu  itu dan  menariknya ke  atas permukaan  air dalam  keadaan  miring<BR>hingga tidak ada air yang memasuki tubuh perahu itu. Kemudian Si Nelayan Cengeng<BR>berenang cepat ke pinggir  dan sekali ia menggerakkan  tangan, perahu besar  itu<BR>dapat didorongnya  ke pinggir  hingga  meluncur cepat  dan mendarat  di  pinggir<BR>sungai! Yousuf segera menarik perahu itu ke atas dan tiada hentinya memuji.<BR>"Ah, kau  betul-betul gagah  luar biasa.  Di darat  kau telah  membuat  aku<BR>kagum, akan  tetapi kepandaianmu  di air  ini betul-betul  membuat aku  tunduk!"<BR>Sambil berkata demikian Yousuf lalu menjura di depan Kong Hwat Lojin yang  telah<BR>melompat  ke  darat.  Akan  tetapi  kakek  nelayan  itu  hanya  tertawa   sambil<BR>mengeringkan tubuhnya dengan jubah luarnya yang tadi ditanggalkan, lalu berkata,<BR>"Sudahlah di antara kawan sendiri  mana ada aturan puji-memuji? Lebih  baik<BR>kita sekarang memperbaiki perahumu ini agar dapat segera berangkat!"<BR>Kedua orang itu  lalu memperbaiki  badan perahu yang  tadi pecah  berlubang<BR>karena pukulan dayung Si Nelayan Cengeng dan sebentar saja perahu itu telah baik<BR>kembali. Yousuf lalu memerintahkan kedua orang pembantunya untuk pergi dari situ<BR>oleh karena ia  tak memerlukan  tenaga mereka  lagi. Ia  merogoh kantongnya  dan<BR>memberi empat potong  uang emas  kepada dua  orang itu  yang menerimanya  dengan<BR>girang.<BR>Setelah itu, maka berangkatlah Yousuf  bersama Si Nelayan Cengeng, Ma  Hoa,<BR>dan Lin Lin. Perahu mereka meluncur cepat oleh karena selain terbawa hanyut oleh<BR>aliran sungai yahg  deras, juga dibantu  oleh tenaga dayung  Si Nelayan  Cengeng<BR>yang kuat sekali. Sebelum senja hari, perahu mereka telah sampai di mulut sungai<BR>dan memasuki laut yang luas!<BR>Baik kita tinggalkan  dulu Lin  Lin bersama kawan-kawannya  yang menuju  ke<BR>Pulau Kim-san-to itu, dan kita mengikuti pengalaman Kwee An!<BR>Ketika terjadi  perkelahian  bebas  di  atas  perahu  Pangeran  Vayami  dan<BR>menerima tendangan di betisnya yang dilakukan oleh Pangeran Mongol itu hingga ia<BR>terjatuh ke dalam sungai,  Kwee An telah mencoba  tenaga dan kepandaiannya  yang<BR>dipelajari dari Nelayan Cengeng untuk  berenang ke pinggir. Akan tetapi,  aliran<BR>air sungai itu  amat deras dan  kuatnya, hingga usahanya  gagal bahkan  tubuhnya<BR>hanyut dengan cepatnya!<BR>Baiknya Kwee An telah mendapat  latihan dari Nelayan Cengeng, kalau  tidak,<BR>pasti ia  akan tenggelam  atau  tubuhnya akan  hancur terbentur  pada  batu-batu<BR>karang yang banyak menonjol di permukaan air. Ia lalu mengeluarkan kepandaiannya<BR>dan menggunakan  gerakan Ular  Air Menyeberang  Laut berenang  sambil  mengikuti<BR>aliran air dalam cara berlenggang-lenggok  bagaikan seekor ular hingga ia  dapat<BR>menghindarkan diri daripada  tubrukan dengan  batu-batu karang.  Ia masih  dapat<BR>melihat betapa perahu  di mana  Cin Hai masih  bertempur seru  melawan Hai  Kong<BR>Hosiang itu terbakar  hebat, hingga diam-diam  ia menjadi gelisah,  menguatirkan<BR>keselamatan kawannya itu. Akan tetapi, sungai itu mengalir dalam sebuah tikungan<BR>yang tajam sekali hingga ia harus mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menjaga<BR>keselamatan dirinya sendiri.<BR>Setelah hanyut jauh sekali, sedikitnya terpisah lima li dari tempat di mana<BR>ia terjatuh, aliran air mulai lemah dan  dengan hati girang Kwee An berenang  ke<BR>pinggir dengan maksud setelah dapat mendarat akan segera lari kembali ke  tempat<BR>tadi dan membantu  Cin Hai. Akan  tetapi, tiba-tiba ia  menjadi terkejut  sekali<BR>oleh karena melihat beberapa  ekor binatang aneh yang  berenang cepat menuju  ke<BR>arah dirinya. Kwee An cepat berenang  ke tepi, akan tetapi, kembali ia  terkejut<BR>oleh karena binatang-binatang seperti yang sedang berenang di tengah sungai itu,<BR>terdapat pula di darat dan memenuhi tepi sungai. Agaknya mereka sedang  berjemur<BR>diri di pantai itu dan jumlah yang berada di pantai bahkan ada seratus lebih.<BR>Binatang-binatang yang terlihat oleh Kwee  An ini adalah binatang  sebangsa<BR>buaya, akan  tetapi  lebih menyerupai  cecak  besar dan  panjangnya  sampai  ada<BR>sepuluh kaki  dan mulutnya  terbuka lebar.  Ketika Kwee  An tiba  di tepi,  maka<BR>binatang-binatang yang  berada  di  pantai  itu  pun  lalu  maju  merangkak  dan<BR>menyerbu.<BR>Kwee An menjadi bingung.  Untuk naik ke darat,  puluhan ekor binatang  buas<BR>ini telah siap menanti sedangkan untuk  tinggal di dalam air, dari tengah  telah<BR>berenang beberapa  belas  ekor  yang  menuju kepadanya.  Ia  pikir,  lebih  baik<BR>menghadapi puluhan  ekor di  darat daripada  belasan ekor  di air,  oleh  karena<BR>binatang itu dapat berenang  cepat sekali sedangkan  kepandaiannya di dalam  air<BR>masih rendah. Ia  lalu terus berenang  ke pinggir dan  ketika air telah  menjadi<BR>dangkal hingga sampai ke paha, dari tepi telah turun lima ekor yang terbesar dan<BR>cepat menyerbunya dengan mulut ternganga lebar. Kwee An lalu menggenjot tubuhnya<BR>melompat hingga kedua kakinya melewati permukaan  air dan ketika dua ekor  buaya<BR>itu menyambar dengan mulut mereka yang runcing, ia lalu menendangkan kaki  kanan<BR>ke arah kepala binatang itu dan  mempergunakan kepala itu sebagai batu  lonpatan<BR>ke darat.<BR>Akan tetapi jumlah binatang-binatang itu terlalu banyak hingga ke mana saja<BR>ia melompat, ia selalu disambut oleh beberapa ekor buaya yang menyerbunya dengan<BR>dahsyat dan liar.  Kwee An  lalu mempergunakan kecepatan  dan seluruh  tenaganya<BR>untuk melawan.  Ia menendang,  memukul, menangkap  ekor dan  membanting,  hingga<BR>sebentar saja puluhan ekor  binatang kena dibinasakan.  Akan tetapi yang  datang<BR>makin banyak saja hingga Kwee An  kehabisan tenaga dan menjadi ngeri dan  jijik.<BR>Binatang-binatang yang masih  hidup segera menerkam  dan menyerang yang  terluka<BR>dan makan daging  kawan-kawannya sendiri,  sedangkan yang  lain-lain masih  saja<BR>menyerbu dengan hebat. Oleh karena merasa ngeri melihat banyaknya binatang  yang<BR>mengeroyoknya, dan oleh  karena tenaganya  tadi memang  telah banyak  dihabiskan<BR>untuk melawan air hingga  ia menjadi lelah sekali,  maka Kwee An berlaku  kurang<BR>cepat hingga tiba-tiba  ia merasa  kaki kirinya  sakit sekali.  Ia menengok  dan<BR>melihat bahwa seekor buaya  telah berhasil menggigit  betis kaki kirinya.  Cepat<BR>Kwee An berjongkok dan sekali tangannya  bergerak, maka dua buah jari  tangannya<BR>berhasil memasuki  rongga mata  buaya yang  menggigit itu!  Binatang itu  merasa<BR>kesakitan dan tak terasa pula mulut yang menggigit betis mengendor hingga dengan<BR>cepat melepaskan kakinya! Darah mengucur membasahi kaus kaki dan celananya,  dan<BR>dengan muka meringis kesakitan, pemuda itu  menjadi begitu marah hingga ia  lalu<BR>mengamuk hebat! Ia mencabut pedangnya dan dengan senjata ini ia menghajar  semua<BR>buaya yang berani mendekat hingga mayat binatang itu sampai bertumpuk-tumpuk dan<BR>malang melintang di sekitarnya.<BR>Tiba-tiba terdengar suara  suitan keras  dan aneh!  Buaya-buaya yang  masih<BR>hidup dan  belum terluka,  lalu nampak  terkejut dan  buru-buru mereka  lari  ke<BR>sungai!  Kwee  An  sudah  terlalu  lemah,  maka  kepalanya  menjadi  pening  dan<BR>pemandangan matanya berkunang-kunang.<BR>Ia melihat seorang gemuk  tetapi pendek sekali  berdiri di depannya  dengan<BR>sebuah cambuk panjang di  tangan dan suara orang  itu terdengar keras dan  besar<BR>ketika menegur,<BR>"Pemuda kurang  ajar  dari manakah  berani  mengganggu dan  membunuh  hewan<BR>ternakku?"<BR>Kwee An yang  sudah lelah  dan pusing  itu, merasa  seperti bertemu  dengan<BR>iblis sungai,  oleh karena  siapakah orangnya  yang menganggap  buaya-buaya  itu<BR>sebagai hewan  ternaknya selain  iblis sungai?  Pemuda itu  tak dapat  menguasai<BR>dirinya lagi oleh karena lapar, lelah, dan lemas kehilangan banyak darah.<BR>"Aku... aku... lelah..." katanya dan  ia lalu roboh terguling dan  pingsan.<BR>Tubuhnya roboh di atas mayat-mayat binatang yang tadi diamuknya!<BR>Ketika ia sadar  kembali, Kwee  An mendapatkan dirinya  telah berbaring  di<BR>atas balai-balai bambu dalam sebuah kamar  yang terbuat daripada bambu pula.  Ia<BR>segera bangun dan  mengeluh oleh  karena kaki  kirinya terasa  sakit dan  perih.<BR>Ketika ia  teringat akan  luka di  kakinya  oleh gigitan  buaya itu,  ia  segera<BR>menengok ke arah betisnya dan ternyata bahwa kakinya telah dibalut erat-erat. Ia<BR>dapat menduga bahwa orang  pendek yang disangkanya iblis  sungai itu tentu  yang<BR>telah menolongnya, maka ia merasa berterima kasih sekali.<BR>Biarpun keluhan  suaranya  perlahan  sekali,  akan  tetapi  ternyata  telah<BR>didengar orang, oleh karena dari luar pintu kamar segera terdengar suara  orang,<BR>"Eh, anak muda, kau sudah bangun?"<BR>Ketika Kwee An memandang, ternyata penolongnya yang pendek itu muncul  dari<BR>pintu dengan sepiring masakan yang masih  mengepul berada di tangan kirinya.  Si<BR>Kate  memasuki  bilik  itu  dan  berkata  sambil  tertawa,  "Nah,   kaumakanlah.<BR>Kesehatanmu tentu akan pulih lagi seperti sediakala!"<BR>Ketika Kwee An hendak bangkit untuk menghaturkan terima kasih, tiba-tiba ia<BR>merasa lehernya seakan-akan tercekik dan dadanya berdebar keras. Wajahnya  tentu<BR>akan terlihat menjadi pucat sekali kalau  saja kulit mukanya tidak memang  sudah<BR>pucat sekali hingga tidak nampak perubahan itu. Pada saat itu ia telah  mengenal<BR>orang pendek ini yang bukan lain adalah Hek Moko, Si Iblis Hitam yang lihai  dan<BR>yang dulu pernah bertempur  dengan Cin Hai di  depan rumahnya! Kwee An  berpikir<BR>cepat dan ia segera  memaksa mulutnya bersenyum. Sambil  menerima piring itu  ia<BR>berkata dengan pura-pura masih lemas tak bertenaga,<BR>"Terima kasih,  Lopek.  Kau baik  sekali  dan atas  pertolonganmu  ini  aku<BR>mengucapkan banyak-banyak terima kasih." Kwee An sengaja berbuat seakan-akan  ia<BR>tidak kenal kepada Si Iblis Hitam ini. Ia maklum bahwa iblis ini pun tidak  tahu<BR>siapa adanya dia dan kalau iblis ini  tahu bahwa Cin Hai berada dekat, tentu  ia<BR>akan pergi mengejarnya!<BR>"Kau makanlah yang enak. Aku hendak mengurus hewan ternakku lebih dulu! Kau<BR>gagah sekali dan telah berhasil membunuh dua puluh empat ekor hewanku hingga aku<BR>menderita  rugi  bukan   sedikit!"  katanya  lalu   keluar  dari  pintu   dengan<BR>langkah-langkahnya yang pendek tetapi cepat.<BR>Kwee An menarik  napas lega. Ternyata  iblis itu tidak  mengenal dan  tidak<BR>mencurigainya, hingga untuk  sementara waktu  ia akan selamat.  Ia maklum  bahwa<BR>Iblis Hitam ini lihai  sekali apalagi kalau  di situ ada  pula Iblis Putih  yang<BR>tinggi besar oleh karena menurut penuturan Cin Hai, kedua Iblis Hitam Putih atau<BR>Hek Pek Moko ini jarang sekali berpisah.<BR>Sambil memikirkan jalan  untuk melarikan  diri dari  tempat berbahaya  ini,<BR>Kwee An  yang telah  merasa lapar  sekali, lalu  makan daging  yang masih  panas<BR>mengepul di  atas piring  itu. Ia  tidak tahu  masakan daging  apakah ini,  akan<BR>tetapi oleh  karena perutnya  lapar sekali,  ia tidak  peduli dan  segera  makan<BR>daging itu. Di luar dugaannya semula,  daging ini rasanya manis dan harum  serta<BR>gurih sekali hingga sebentar saja sepiring besar daging itu telah habis memasuki<BR>perutnya! Kemudian  ia turun  dari pembaringan  dan mencoba  berjalan. Ia  dapat<BR>berjalan, akan tetapi dengan pincang dan tak mungkin untuk melarikan diri,  oleh<BR>karena ia belum dapat mempergunakan ilmu lari cepat. Kwee An menjadi bingung dan<BR>ia amat menguatirkan nasib Cin Hai  yang masih bertempur di atas perahu  melawan<BR>Hai Kong Hosiang yang  lihai itu, karena perahunya  telah dibakar oleh  Pangeran<BR>Vayami!<BR>Tak lama kemudian, Hek Moko masuk  ke dalam kamar itu sambil  tertawa-tawa.<BR>Jubahnya yang hitam itu melambai-lambai di belakangnya.<BR>"Ha, kau sudah makan! Bagaimana, enakkah hidanganku itu?"<BR>KweeAn tersenyum. "Enak  sekali, entah  daging apakah  yang Lopek  suguhkan<BR>tadi?"<BR>Tiba-tiba Hek Moko tertawa bergelak-gelak dan suara ketawanya membuat  bulu<BR>tengkuk KweeAn berdiri oleh  karena memang suara  ini amat menyeramkan.  "Ha-ha,<BR>anak muda. Memang kaupantas merasakan masakan daging luar biasa itu. Ketahuilah,<BR>daging yang kau makan itu adalah daging hewan ternakku!"<BR>Kwee An tercengang dan sama sekali tidak pernah menduga bahwa daging  buaya<BR>yang liar  itu  demikian enaknya.  Kini  ia  mengerti mengapa  Iblis  Hitam  ini<BR>memelihara hewan ternak yang luar biasa ini.<BR>"Apakah memang pekerjaan Lopek memelihara hewan ternak yang luar biasa ini?<BR>"<BR>Hek Moko mengangguk-angguk. "Memang inilah pekerjaanku sejak dulu!  Tadinya<BR>buaya ini  hanya ada  beberapa  belas pasang  saja  akan tetapi  sekarang  telah<BR>menjadi beratus-ratus pasang banyaknya!  Dan hanya orang  gagah dan orang  besar<BR>saja yang mendapat  kesempatan merasakan kenikmatan  daging hewan ternakku  ini.<BR>Tahukah kau bahwa untuk  daging seekor saja kaisar  berani membayar dengan  tiga<BR>puluh potong uang emas? Ha, ha, ha!"<BR>"Lopek,  kau  benar-benar  orang  luar  biasa  dan  baik  hati.  Aku  telah<BR>berlancang tangan membunuh banyak  hewan ternakmu, akan  tetapi kau tidak  marah<BR>kepadaku, sebaliknya kau  telah menolong  dan merawatku.  Sungguh aku  berhutang<BR>budi kepadamu!"<BR>"Hush! Jangan  kau  berkata begitu.  Di  antara  ayah dan  anak  tidak  ada<BR>perhitungan budi!"<BR>Kwee An  terkejut  dan  heran  sekali, oleh  karena  ia  benar-benar  tidak<BR>mengerti akan maksud  kata-kata Iblis Hitam  ini. Di antara  ayah dan anak?  Apa<BR>maksudnya?<BR>Kembali Si Iblis Hitam tertawa bergelak-gelak, "Ya, di antara ayah dan anak<BR>tidak ada perhitungan budi dan kau akan menjadi anakku yang baik!"<BR>Bukan main  terkejutnya Kwee  An.  Ia pikir  bahwa  Iblis Hitam  ini  telah<BR>menjadi gila  dan  mengaku dia  sebagai  anaknya.  Akan tetapi  ia  maklum  akan<BR>kelihaian iblis  ini,  maka  ia  pikir  untuk  sementara  waktu  baik  ia  tidak<BR>membantahnya dan tinggal diam saja.<BR>"Eh, anak muda yang gagah. Kau bernama siapa dan mengapa kau bisa hanyut di<BR>sungai ini?" Sambil  bertanya demikian,  Iblis Hitam itu  memandang dengan  mata<BR>tajam dan pandang mata menyelidiki.<BR>"Namaku Kwee An," jawab pemuda itu dan tiba-tiba ia mendapat sebuah pikiran<BR>baik. Ia maklum bahwa  iblis ini lihai sekali  dan kepandaiannya mungkin  sekali<BR>lebih tinggi daripada  kepandaian Hai  Kong Hosiang, maka  ia lalu  melanjutkan,<BR>"Dan aku hanyut karena perbuatan seorang hwesio bernama Hai Kong Hosiang."<BR>Benar saja, disebutnya nama  hwesio ini membuat  Hek Moko memandang  heran.<BR>"Hai Kong? Bagaimana kau bertemu dengan hwesio itu?"<BR>"Aku adalah seorang perantau dan ketika aku hendak menyeberang sungai  ini,<BR>aku bertemu dengan  Hai Kong Hosiang.  Kami berebut perahu  dan kami  berkelahi.<BR>Akan tetapi aku kalah dan ia melemparku ke dalam sungai."<BR>"Ha, ha, ha! Kau  benar-benar patut menjadi  puteraku! Kau telah  bertempur<BR>melawan Hai Kong dan kau tidak mendapat luka! Bagus, bagus! Aku tidak suka  akan<BR>namamu dan mulai sekarang kau bernama Siauw Moko (Iblis Kecil)."<BR>Kwee An merasa mendongkol sekali, akan  tetapi ia tidak begitu bodoh  untuk<BR>memperlihatkan perasaan ini. Ia hanya berkata,<BR>"Lopek, aku telah berhutang budi kepadamu maka tentu saja aku tidak  berani<BR>membantah kehendakmu.  Akan tetapi,  nama yang  kauberikan kepadaku  itu  kurang<BR>sedap didengar!"<BR>Hek Moko memandangnya  dengan mata  melotot. "Apa?  Kurang sedap  didengar?<BR>Hai, anak muda, sampai  di manakah kepandaianmu hingga  kau merasa kurang  patut<BR>bernama Siauw Moko? Ketahuilah,  aku yang bernama  Hek Moko memiliki  kepandaian<BR>yang jauh lebih tinggi darimu. Kau harus menurut segala kata-kataku oleh  karena<BR>kau adalah anakku Siauw Moko yang dulu telah meninggal, akan tetapi sekarang kau<BR>hidup kembali. Anakku  yang baik, jangan  kuatir, aku akan  melatihmu dan  dalam<BR>beberapa bulan saja  jangan kata baru  seorang Hai Kong  Hosiang, biar ada  tiga<BR>orang Hai Kong, engkau tak usah merasa takut lagi!!"<BR>Setelah berkata demikian, Hek Moko lalu maju memeluk dan menciumi muka Kwee<BR>An sebagai seorang ayah menciumi anaknya dengan penuh kasih sayang!<BR>Kwee An merasa terkejut, takut, dan  juga terharu sekali. Ia dapat  menduga<BR>bahwa dulu  tentu  Iblis Hitam  ini  mempunyai  seorang putera  dan  putera  itu<BR>meninggal dunia.  Dan ketika  melihatnya, iblis  ini teringat  kepada  puteranya<BR>hingga tiba-tiba saja mengakui ia sebagai anaknya! Akan tetapi diam-diam Kwee An<BR>merasa girang juga oleh karena ia akan menerima pelajaran silat dari kakek iblis<BR>yang berbahaya dan lihai ini!<BR>Memang dugaan Kwee An  itu tepat. Dulu, Hek  Moko mempunyai seorang  putera<BR>yang wajahnya hampir  sama dengan  wajah Kwee  An. Dan  puteranya ini  meninggal<BR>dunia karena terserang semacam penyakit berbahaya. Padahal ia telah  menunangkan<BR>puteranya itu dengan puteri Pek Moko, yaitu Pek Bin Moli yang cantik jelita  dan<BR>berotak miring. Tentu saia kematian puteranya ini membuat Hek Moko menjadi sedih<BR>dan membuat ia menjadi makin jahat, liar dan gila! Bersama Pek Moko yang menjadi<BR>sutenya, ia  merupakan sepasang  hantu yang  menjagoi seluruh  daerah Tibet  dan<BR>mendengar namanya saja, semua orang telah ketakutan setengah mati.<BR>Tempat tinggal Hek Pek Moko memang tidak tentu dan mereka ini merantau dari<BR>satu ke lain jurusan.  Akan tetapi, kebanyakan mereka  selalu berdua dan  jarang<BR>nampak mereka berpisah. Kali  ini Pek Moko tidak  nampak bersama suhengnya  oleh<BR>karena Iblis Putih  ini sedang pergi  mencari anak perempuannya,  yaitu Pek  Bin<BR>Moli yang telah lama minggat dan mencari suaminya, yaitu Ong Hu Lin yang menjadi<BR>piauwsu dan mengadakan perhubungan dengan Giok-gan Kui-bo kakak seperguruan  Ang<BR>I Niocu sehingga timbul perkelahian antara Giok-gan Kui-bo dan Pek Bin Moli  dan<BR>akhirnya Pek Bin Moli dapat menemukan kembali suaminya itu yang dibawanya pergi!<BR>Sejahat-jahatnya manusia,  ia masih  mempunyai perasaan  kasih sayang  yang<BR>bersifat suci murni terhadap anaknya. Demikian pun Hek Moko biarpun manusia  ini<BR>telah terkenal sebagai  iblis yang  jahat dan  kejam, akan  tetapi kini  setelah<BR>bertemu kembali dengan puteranya,  ia memperlakukan Kwee  An dengan baik  sekali<BR>hingga diam-diam  Kwee An  menjadi  terharu dan  timbul  rasa kasihan  di  dalam<BR>hatinya terhadap iblis tua ini. Kwee An memang telah kehilangan ayahnya dan dulu<BR>ia telah lama meninggalkan ayahnya, yaitu ketika merantau mempelajari ilmu, maka<BR>kini biarpun  maklum  akan kejahatan  dan  kekejaman Hek  Moko,  namun  mendapat<BR>perlakuan yang demikian penuh perhatian dan baik, serta menerima latihan-latihan<BR>silat dengan penuh keikhlasan,  timbul juga rasa  sayang dalam hatinya  terhadap<BR>Iblis Hitam ini!<BR>Atas paksaan Hek Moko, Kwee An menyebut ayah kepada iblis pendek yang  luar<BR>biasa ini, sedangkan Hek  Moko menyebutnya Siauw-moi atau  Setan Kecil. Kwee  An<BR>belajar dengan tekun dan rajin dan biarpun ia merasa girang menerim latihan ilmu<BR>silat yang amat  tinggi dan lihai  dari ayah angkatnya  ini, namun diam-diam  ia<BR>bergidik menyaksikan betapa ilmu silat  yang dipelajarinya ini benar-benar  keji<BR>dan ganas! Akan tetapi baru satu bulan saja mendapat kemajuan pesat sekali, oleh<BR>karena memang  ia  telah  mempunyai  dasar ilmu  silat  tinggi  hingga  tambahan<BR>pelajaran ini, mudah saja  diterima olehnya dan tentu  saja Moko menjadi  girang<BR>sekali. Ketika merasa bahwa ilmu silat yang diajarkan sudah cukup, Hek Moko lalu<BR>berkata,<BR>"Siauw-mo anakku, sekarang kau takkan kalah menghadapi Hai Kong!"<BR>Kwee An menghaturkan terima kasih  dengan sepenuh hatinya. "Ayah,  sekarang<BR>juga anakmu mau pergi mencari Kong  untuk membalas dendam karena kekalahan  yang<BR>lalu!"<BR>"Bagus, bagus! Tidak ada orang di dunia ini yang boleh menghina anakku! Aku<BR>akan pergi bersamamu dan menghajar hwesio gundul itu!"<BR>Kwee An  terkejut, karena  ia  ingin mencari  Cin  Hai, bagaimana  ia  bisa<BR>nembawa serta ayah angkatnya ini? Ia lalu mencari akal dan berkata,<BR>"Ayah, apakah Ayah mau membikin aku menjadi malu? Kalau Ayah ikut, Hai Kong<BR>akan menganggap bahwa aku  takut kepadanya dan sengaja  mengajak kau orang  tua!<BR>Untuk menghadapi  Hai Kong  saja, aku  yang telah  menerima kepandaianmu,  sudah<BR>cukup. Untuk  apa  Ayah  harus  mencapaikan  diri  dan  mengotori  tangan  untuk<BR>menghukum dia. Dan pula, bagaimana dengan  hewan ternak di sini kalau Ayah  ikut<BR>pergi?"<BR>Hek Moko terdiam dan tak dapat menjawab, ia memikir bahwa anaknya ini benar<BR>juga dan  pantas alasan-alasannya,  maka ia  lalu mengurungkan  maksudya  hendak<BR>ikut. "Baiklah,  kau pergi  dan hajarlah  hwesio itu.  Aku menunggumu  di  sini!<BR>Tetapi kau  harus  lekas  kembali, dan  jangan  meninggalkan  Ayahmu  lama-lama,<BR>Siauw-mo. Ingat, aku sudah  tua sekali dan mungkin  hidupku di dunia ini  takkan<BR>lama lagi!"<BR>Ucapan ini  menusuk perasaan  Kwee An  dan menyentuh  sanubarinya. Ia  lalu<BR>menjatuhkan diri berlutut di depan Iblis Hitam itu dan berkata,<BR>"Ayah, aku takkan melupakan kau selama hidupku!" Setelah berkata  demikian,<BR>Kwee An lalu meninggalkan tempat  itu. Ia segera menuju  ke tempat di mana  dulu<BR>dia dan Cin Hai bertemu dengan Pangeran Vayami, akan tetapi di situ telah  sunyi<BR>dan tidak  terlihat sedikit  pun bekas-bekas  adanya Cin  Hai. Kwee  An  berdiri<BR>termenung di  tepi sungai  dengan hati  bingung dan  sedih. Tiba-tiba  terdengar<BR>gerakan perlahan  di belakangnya  dan ia  tahu bahwa  itu adalah  Hek Moko  yang<BR>datang! Benar saja, suara  Hek Moko segera terdengar  dan Iblis Hitam itu  telah<BR>berada di belakangnya.<BR>Kwee An segera menengok dan melihat  bahwa ayah angkatnya itu telah  datang<BR>beserta Pek Moko  yang kelihatan  menyeramkan sekali oleh  karena wajahnya  yang<BR>buruk itu kini  nampak muram dan  marah, sedangkan rambutnya  telah putih  semua<BR>yang membuat ia  nampak tua  sekali! Iblis putih  ini memandang  kepada Kwee  An<BR>dengan tajam dan ia mengangguk-angguk sambil berkata,<BR>"Anak pungutmu  ini  terlalu cakap,  Suheng,  tapi ia  cukup  baik  menjadi<BR>anakmu!"<BR>Hek Moko tertawa  senang dan berkata  kepada Kwee An,  "Anakku, ini  adalah<BR>Susiokmu yang bernama Pek Moko. Kau cukup menyebutnya Pek-susiok saja!"<BR>Kwee An berpura-pura  belum pernah melihat  Pek Moko dan  ia lalu  berlutut<BR>memberi hormat, "Pek-susiok, terimalah hormat teecu."<BR>Pek Moko  mengeluarkan  suara  jengekan  dari  hidungnya.  "Jangan  terlalu<BR>menghormat, Siauw-mo, aku tidak biasa dihormati orang seperti ini!"<BR>Kwee An terkejut, akan tetapi Hek Moko hanya tertawa senang.<BR>"Siauw-mo, kau takkan dapat mencari Hai  Kong oleh karena hwesio itu  telah<BR>pergi mencari Pulau Emas! Bahkan aku dan  Susiokmu ini pun hendak pergi ke  sana<BR>pula. Hayo kau ikut  kami dan tentu  di sana kau akan  dapat bertemu dengan  Hai<BR>Kong Hosiang!"<BR>Kwee An menjadi girang, akan tetapi sebetulnya ia tidak senang harus  pergi<BR>bersama sepasang iblis ini. "Bagaimana Ayah  bisa tahu bahwa dia pergi ke  Pulau<BR>Emas dan dimanakah letak pulau itu?" tanyanya.<BR>Hek Moko  lalu  menceritakan pengalaman  Pek  Moko. Ternyata  bahwa  ketika<BR>mencari anak perempuannya,  yaitu Pek Bin  Moli, Pek Moko  dapat menemukan  anak<BR>perempuannya itu dalam keadaan mati! Ong Hu Lin, mantunya yang menjadi suami Pek<BR>Bin Moli dalam keadaan  terpaksa itu, setelah dibawa  pergi oleh isterinya  yang<BR>gila, di tengah jalan  lalu mencari akal dan  akhirnya pada suatu malam,  ketika<BR>isterinya yang berotak  miring itu  sedang tidur  pulas, ia  dengan kejam  telah<BR>membunuh isterinya ini! Ketika Pek Moko mendengar tentang hal ini, lalu  mencari<BR>Ong Hu Lin dan setelah bertemu, ia menyiksa dan membunuh Ong Hu Lin dengan penuh<BR>kemarahan hingga tubuh Ong Hu Lin dihancurkan sampai tidak karuan macamnya lagi!<BR>Peristiwa ini membuat Pek Moko  berduka sekali hingga seluruh rambutnya  memutih<BR>dan wajahnya menjadi  kejam dan  muram selalu. Kemudian  dengan kebetulan  Iblis<BR>Putih ini mendengar tentang adanya Pulau  Emas yang kini sedang dicari-cari  dan<BR>agaknya dijadikan rebutan antara orang-orang Turki, suku bangsa Mongol, dan oleh<BR>Pemerintah Kaisar sendiri!  Ia segera  mencari kakak  seperguruannya, yaitu  Hek<BR>Moko dan setelah ia menceritakan semua ini, Hek Moko lalu mengajak menyusul Kwee<BR>An yang baru saja pergi dari situ untuk diajak bersama-sama pergi mencari  Pulau<BR>Emas.<BR>Kwee An yang  mendengar semua cerita  ini, lalu berpikir  pula bahwa  besar<BR>kemungkinan Hai Kong Hosiang juga pergi  mencari pulau itu dan apabila Hai  Kong<BR>pergi ke sana, maka jika Cin Hai masih hidup, tentu pemuda itu mengejar juga  ke<BR>sana! Oleh  karena ini,  tanpa ragu-ragu  pula ia  lalu menyatakan  kesediaannya<BR>untuk ikut dengan Hek  Moko ini. Berbeda dengan  rombongan Nelayan Cengeng,  Hek<BR>Pek Moko menuju ke laut melalui jalan darat dan mengikuti sepanjang tepi sungai.<BR>Cin Hai yang tertolong oleh Bu Pun  Su dan telah sembuh dari pengaruh  madu<BR>merah yang mujijat dan setelah pikirannya pulih kembali seperti biasa dan  dapat<BR>mengingat semua kejadian  telah lalu,  merasa berduka sekali  oleh karena  tidak<BR>tahu bagaimana keadaan Kwee  An dan Lin Lin.  Terutama sekali ia merasa  gelisah<BR>dan bingung jika  teringat akan nasib  Lin Lin yang  tertawan oleh perwira  Boan<BR>Sip! Ingin sekali ia  segera bertemu dengan Boan  Sip untuk membuat  perhitungan<BR>dan menumpahkan rasa  dendam dan  marahnya, akan  tetapi ke  mana harus  mencari<BR>orang she Boan itu?<BR>Ang I Niocu maklum akan kesedihan Cin  Hai ini, akan tetapi ia sendiri  pun<BR>tidak berdaya dan hanya mengucapkan  kata-kata hiburan di sepaniang  perjalanan.<BR>Untuk menghibur hati  pemuda yang  gelisah ini, Ang  I Niocu  lalu bertanya  dan<BR>minta ia mengutarakan tentang pertempuran dengan Hai Kong Hosiang.<BR>"Hwesio itu benar-benar telah mendapat kemajuan dalam ilmu silatnya,"  kata<BR>Cin  Hai.  "Sukar  sekali  bagiku   untuk  merobohkannya,  walaupun  aku   dapat<BR>mengimbangi semua serangannya. Ia  agaknya sudah kenal baik  serangan-seranganku<BR>yang berdasarkan Liong-san-kun-hwat dan Ngo-lian-hwat, hingga dapat berjaga diri<BR>dengan baik. Juga dalam ilmu kepandaian lweekang, hwesio itu kini amat kuat  dan<BR>jauh lebih kuat daripada dulu."<BR>Ang I Niocu mendengarkan dengan  penuh perhatian ketika Cin Hai  menuturkan<BR>jalannya pertempuran.  Kemudian Gadis  Baju Merah  yang telah  banyak  mengalami<BR>pertempuran-pertempuran ini, lalu berkata,<BR>"Hai-ji, cabutlah pedangmu dan mari coba kuuji sampai di mana kepandaianmu!<BR>"<BR>Cin Hai terkejut, akan tetapi ketika ia melihat sinar mata Ang I Niocu,  ia<BR>maklum bahwa Dara  Baju Merah  ini hendak  memberi petunjuk-petunjuk  kepadanya,<BR>maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu mencabut pedangnya Liong-coan-kiam,  sedangkan<BR>Ang I Niocu juga sudah mencabut keluar pedangnya.<BR>"Awas serangan!" kata  Ang I  Niocu yang lalu  menyerang dengan  pedangnya.<BR>Sebagaimana biasa, sekali pandang  saja secara otomatis  Cin Hai dapat  mengenal<BR>dasar gerakan serangan  ini, maka dengan  mudah ia pun  lalu mengelak dan  balas<BR>menyerang. Ang  I Niocu  terus menyerang  dan mengeluarkan  ilmu pedangnya  yang<BR>paling lihai,  yakni Sian-li  Kiam-sut  yang mempunyai  gerakan indah  dan  daya<BR>serang luar biasa dahsyatnya. Akan tetapi Cin Hai dengan amat mudahnya  mengetak<BR>dan menangkis serangan ini dengan tepat dan sempurna.<BR>"Kaubalaslah menyerang,  jangan  menahan diri  saja,"  teriak Ang  I  Niocu<BR>sambil mengirim tusukan. Cin Hai lalu  balas menyerang dan oleh karena ia  tidak<BR>mengenal lain ilmu  pedang maka ia  pun lalu menyerang  dengan Sian-li  Kiam-sut<BR>yang ditirunya dari Ang I Niocu.<BR>Tentu saja serangan  ini amat  mudah dikenal dan  diketahui perubahan  atau<BR>perkembangannya oleh Ang  I- Niocu  hingga gadis  ini mudah  saja mengelak  atau<BR>menangkis.<BR>"Jangan menyerang dengan Sian-li Kiam-sut, tidak ada gunanya! Pakailah ilmu<BR>pedang lain!" Ang I Niocu berseru lagi sambil terus menyerang lagi.<BR>Cin Hai tahu kekeliruannya oleh  karena menghadapi gadis yang menjadi  ahli<BR>Silat Bidadari itu, sungguh  tolol kalau mempergunakan  ilmu pedangnya dan  kini<BR>memainkan Ilmu  Pedang  Liong-san  Kiam-hwat  yang  dipelajarinya  dari  Kanglam<BR>Sam-lojin. Ia  sekarang telah  memiliki ilmu  ginkang dan  lweekang yang  sangat<BR>tinggi oleh  karena  menerima latihan  dari  Bu  Pun Su  secara  istimewa  yakni<BR>mempelajari  dasar-dasarnya  hingga  boleh  dibilang  Cin  Hai  telah   memiliki<BR>kepandaian pokok yang  mutlak. Akan  tetapi oleh  karena pengetahuannya  tentang<BR>ilmu silat hanya dangkal saja, yaitu terbatas pada ilmu silat dari Liong-san-pai<BR>dan ilmu silat yang ia pelajari dari An I Niocu, maka daya tempurnya amat lemah.<BR>Memang kalau  menghadapi orang  yang belum  matang betul  dalam hal  ilmu  silat<BR>tinggi, dengan mudah saja Cin Hai akan dapat mengalahkannya, akan tetapi apabila<BR>menghadapi tokoh persilatan yang  tinggi dan matang  ilmu pedangnya, pemuda  ini<BR>hanya dapat bertahan  saja dengan  luar biasa  uletnya, akan  tetapi juga  sukar<BR>untuk melancarkan serangan-serangan  lain kecuali  kedua macam  ilmu silat  yang<BR>telah dipelajarinya itu,  hingga menghadapi tokoh-tokoh  tinggi seperti Hek  Pek<BR>Moko atau Hai Kong Hosiang, juga menghadapi Ang I Niocu pemuda ini menjadi pihak<BR>yang selalu didesak dan diserang,  sungguhpun harus diakui bahwa semua  serangan<BR>itu dapat ditangkis  atau dielakkannya dengan  amat mudah oleh  karena ia  telah<BR>tahu betul akan perkembangan selanjutnya dari tiap serangan!<BR>Ang I Niocu  menghabiskan seluruh kepandaiannya  untuk digunakan  menyerang<BR>anak  muda  itu,  akan  tetapi  tak  sedikit  pun  ia  dapat  mempengaruhi  atau<BR>mengacaukan Cin Hai yang istimewa. Diam-diam gadis ini merasa kagum sekali  oleh<BR>karena boleh dibilang  di dunia ini  tidak ada keduanya  bila dicari orang  yang<BR>dapat mempertahankan diri sedemikian baiknya terhadap serangan-serangannya  yang<BR>dilakukan sampai  semua  jurus  Sianli Kiam-sut  habis  dimainkan  tanpa  nampak<BR>terdesak sedikit pun! Akan tetapi  biarpun serangan-serangan Cin Hai luar  biasa<BR>dahsyatnya,  namun   baginya  serangan-serangan   itu  kurang   berbahaya,   dan<BR>kelihaiannya hanya terdorong oleh  tenaga lweekang dan  gerakan yang hebat  dari<BR>anak muda itu dan sama sekali bukan karena ilmu pedangnya yang hebat.<BR>"Benar seperti yang kuduga!"  Ang I Niocu  berseru sambil melompat  mundur.<BR>Cin Hai menahan pedangnya. "Memang benar, Susiok-couw hanya memberi  pokok-pokok<BR>dasar ilmu  silat  kepadamu, tanpa  memberi  pelajaran penting  untuk  melakukan<BR>penyerangan. Mengapa engkau dulu tidak mau minta supaya orang tua yang aneh  itu<BR>menurunkan satu atau dua macam ilmu silat agar dapat kaugunakan untuk  menyerang<BR>lawan?"<BR>Dengan tersenyum Cin Hai berkata, "Niocu, apakah kau masih belum kenal adat<BR>Suhu yang kukoai (aneh)?  Kalau dia sendiri  tidak menghendaki, biarpun  diminta<BR>sampai menangis pun takkan ia berikan!"<BR>Ang I Niocu memang  sungguh-sungguh sayang kepada Cin  Hai, maka pada  saat<BR>itu gadis ini memutar-mutar otaknya demi  kebaikan anak muda itu. Ia tahu  bahwa<BR>dengan kepandaiannya yang sekarang ini, Cin  Hai tak usah merasa takut  terhadap<BR>seorang lawan yang mana pun juga,  akan tetapi, tanpa memiliki daya serang  yang<BR>lihai, bagaimana  ia akan  dapat  menjatuhkan musuh-musuhnya?  Apalagi  sekarang<BR>masih ada seorang musuh yang amat  tangguh, yaitu Hai Kong Hosiang yahg  agaknya<BR>dibantu oleh pendeta tua renta yang gagu dan lihai sekali itu. Kalau pemuda  ini<BR>tidak memiliki ilmu  serangan yang dahsyat,  banyak kemungkinan mendapat  celaka<BR>dari tangan Hai Kong Hosiang.<BR>Cin Hai yang melihat betapa Ang I Niocu termenung, lalu meninggalkan  gadis<BR>itu untuk mengumpulkan  kayu kering. Mereka  telah tiba dalam  sebuah hutan  dan<BR>hari telah mulai gelap, sedangkan di tempat itu banyak nyamuk dan hawa dingin.<BR>Tiba-tiba Ang I Niocu melompat ke  atas dan berkata dengan girang.  "Benar,<BR>benar! Kau harus melakukan itu," katanya kepada Cin Hai hingga pemuda ini  tentu<BR>saja menjadi terheran-heran oleh karena  tidak mengerti apakah yang  dimaksudkan<BR>oleh gadis itu yang nampak demikian gembira.<BR>"Hai-ji, kau harus  menciptakan ilmu  pedang sendiri!"  katanya kepada  Cin<BR>Hai.<BR>Cin Hai terkejut  dan mukanya menjadi  merah. "Ah, Niocu,  kau ini  ada-ada<BR>saja! Aku yang  bodoh dan tolol  ini mana bisa  menciptakan ilmu pedang?  Jangan<BR>mentertawakan aku, Niocu!"<BR>"Anak bodoh! Merendahkan diri di depan orang lain memang baik, akan  tetapi<BR>memandang rendah kesanggupan sendiri hanya dilakukan oleh orang-orang malas  dan<BR>kurang semangat. Kau dapat melihat dasar-dasar segala ilmu silat, maka kalau kau<BR>memang mau, mengapa kau  tidak bisa menggabungkan semua  ilmu silat itu  menjadi<BR>satu dan menciptakan sendiri gerakan-gerakan  serangan yang kauanggap tepat  dan<BR>lihai?"<BR>Cin Hai  memandang  dengan  sinar  mata  bodoh  oleh  karena  memang  belum<BR>mengerti. "Niocu, tolong kauberi tahu kepadaku, bagaimana caranya!"<BR>Ang I  Niocu lalu  memberi penjelasan  dengan sabar  dan telaten.  "Hai-ji,<BR>terus terang saja kuberitahukan kepadamu bahwa Sianli Utauw atau Tarian Bidadari<BR>itu pun aku sendiri yang menciptakan. Maka kalau kau memang tekun, kau pun pasti<BR>akan dapat mencipta ilmu  pedang yang tidak ada  keduanya di dunia ini.  Caranya<BR>begini. Kauperhatikan dan ingat  semua ilmu silat yang  telah kaulihat dan  lalu<BR>kaupilih gerakan-gerakan  serangan musuh  yang dilancarkan  kepadamu. Mana  yang<BR>kauanggap lihai  dan baik,  boleh kaupilih.  Kemudian gerakan-gerakan  ini  lalu<BR>kaurangkai menjadi  semacam  ilmu  pedang  yang  lihai.  Tentu  saja  kau  harus<BR>merubahnya sedikit  agar  tidak sama  dengan  aselinya lagi,  dan  bahkan  harus<BR>diperbaiki mana  yang kurang  tepat. Hanya  kau dan  Susiok-couw yang  mempunyai<BR>kemampuan seperti ini."<BR>Mendengar ucapan  Ang I  Niocu, diam-diam  Cin Hai  lalu tertarik  hatinya.<BR>Mengapa tidak ia coba?  Memang tidak enak  kalau selalu mempertahankan  serangan<BR>orang, dan  pula memang  memang memalukan  kalau menghadapi  seorang lawan  lalu<BR>menyerang lawan itu  dengan ilmu silat  yang ditirunya dari  lawan itu  sendiri.<BR>Alangkah senangnya kalau ia memiliki ilmu pedang sendiri yang dapat dibanggakan.<BR>Cin Hai lalu duduk  termenung dan ia  lalu bersamadhi mengumpulkan  seluruh<BR>perhatian dan  perasaannya.  Ia  bayangkan  semua  ilmu-ilmu  silat  yang  telah<BR>dilihatnya. Oleh karena ia telah mempunyai dasar batin yang kuat dan  pikirannya<BR>telah jernih oleh latihan-latihan napas dan samadhi, maka sebentar saja di dalam<BR>otaknya terlintas semua  gerakan ilmu  silat yang pernah  dilihatnya. Di  antara<BR>semua ilmu silat, gerakan-gerakan  Hek Pek Moko yang  paling dahsyat dan  kejam,<BR>sedangkan ilmu silat dan gerakan-gerakan Ang I Niocu yang ia anggap paling indah<BR>dan  baik.  Ia  lalu  mengumpulkan   ingatannya  dan  mencatat  di  dalam   hati<BR>gerakan-gerakan yang dianggapnya paling lihai, kemudian dengan mata masih  meram<BR>dan membayangkan gerakan-gerakan itu,  tubuhnya lalu berdiri dan  bergerak-gerak<BR>menurut gambaran gerakan yang masih tampak di dalam matanya yang meram itu.<BR>Ang I Niocu mengikuti gerakan pemuda ini dengan heran dan kagum. Ia melihat<BR>betapa Cin  Hai memainkan  ilmu-ilmu silat  yang aneh-aneh  dan  bermacam-macam,<BR>bahkan di situ ia lihat pula Cin Hai memainkan Sianli Utauw, dan juga  Liong-san<BR>Kun-hwat. Ia  tahu bahwa  pemuda itu  sedang memilih-milih,  maka ia  tidak  mau<BR>mengganggu, hanya mencari tambahan kayu kering  dan menjaga agar api unggun  itu<BR>tidak padam. Setengah  malam lebih Cin  Hai tiada hentinya  bergerak ke sana  ke<BR>mari sambil memejamkan mata. Ia tidak merasa bahwa ia telah bersilat selama itu,<BR>sedangkan Ang I Niocu masih tetap duduk di dekat api dengan setia. Ia sedikitpun<BR>tidak mau mengganggu Cin Hai dan  hanya mernandang pemuda yang disayanginya  itu<BR>dengan penuh harapan.<BR>Setelah   lewat    tengah   malam    tiba-tiba   Cin    Hai    menghentikan<BR>gerakan-gerakannya dan mukanya  menjadi agak  pucat. Ia memandang  kepada Ang  I<BR>Niocu dan  berkata,  "Niocu, terima  kasih  atas petunjuk  dan  nasihatmu  tadi.<BR>Agaknya aku telah mendapatkan semacam ilmu silat ciptaanku sendiri."<BR>Ang I  Niocu girang  sekali dan  berkata, "Coba  kau sempurnakan  ilmu  itu<BR>dengan pedang, Hai-ji!"<BR>Cin Hai lalu mencabut pedangnya dan berkata lagi,<BR>"Ketika aku  bersilat  dan  mengumpulkan  tipu-tipu  gerakan  semua  cabang<BR>persilatan yang pernah kulihat,  tiba-tiba aku melihat  bahwa memang selama  ini<BR>aku terlalu lemah dan  tidak mempunyai pikiran  untuk membalas menyerang  lawan.<BR>Aku tidak ingat bahwa tak perlu aku kerahkan seluruh perhatian untuk pertahanan,<BR>karena sebetulnya aku  telah memiliki  daya tahan  yang otomatis  dan tak  perlu<BR>menggunakan seluruh perhatian  lagi. Oleh  karena kesalahan itu,  maka dulu  aku<BR>tidak melihat lowongan-lowongan dan kesempatan-kesempatan yang sebenarnya  dapat<BR>kumasuki untuk  merobohkan  lawan."  Setelah berkata  demikian,  ia  menghampiri<BR>serumpun bambu dan tetumbuhan  lain yang tumbuh dengan  suburnya di dekat  situ.<BR>Tetumbuhan itu penuh dengan daun-daun hingga batang-batangnya yang kecil  hampir<BR>tak tampak dari luar dan oleh karena angin malam pada saat itu bertiup  kencang,<BR>maka semua  daun-daun  itu  yang  berbentuk  runcing  bagaikan  ratusan  senjata<BR>menyerang ke depan dan melindungi batang-batang mereka yang kecil.<BR>Cin Hai lalu  membayangkan bahwa  ratusan daun  itu adalah  senjata-senjata<BR>musuh yang  melindungi  tubuh  musuh,  dan bahwa  ia  harus  berusaha  menyerang<BR>tubuh-tubuh musuh yang  kini dilindungi oleh  ratusan pisau yang  bergerak-gerak<BR>itu. Ia lalu menggerakkan Liong-coan-kiam di tangan kanannya dan mulai  bersilat<BR>dengan gerakan aneh. Gerakannya mula-mula lambat dan mengintai rumpun itu,  akan<BR>tetapi makin  lama  makin cepat.  Ia  berusaha untuk  melukai  tubuh-tubuh  yang<BR>bersembunyi di balik ratusan senjata itu tanpa mengadu pedangnya dengan  senjata<BR>itu! Hal  ini  tentu  saja  sukar  bukan  main  oleh  karena  ratusan  daun  itu<BR>bergerak-gerak cepat dan tidak menentu  karena tertiup angin hingga  tubuh-tubuh<BR>atau batang-batang itu hanya nampak sekelebat dan sekilat saja! Akan tetapi, Cin<BR>Hai berlaku  cepat  dan hati-hati  dan  tiap  kali daun-daun  itu  bergerak  dan<BR>sebatang pohon kecil nampak, biarpun hanya sekilas, namun dengan pedangnya telah<BR>memasuki lowongan  itu  dan  tepat  ujung pedangnya  menusuk  batang  itu  tanpa<BR>mematahkannya!<BR>Gerakan-gerakan pedangnya ini  luar biasa  sekali hingga Ang  I Niocu  yang<BR>masih duduk di  dekat api, ketika  melihat ini menjadi  kagum sekali. Ia  merasa<BR>begitu bergembira,  hingga  diam-diam  ia  pun  menggerakkan  kedua  tangan  dan<BR>bersilat meniru-niru dan mengimbangi gerakan  pedang Cin Hai! Ia melihat  betapa<BR>gerakan-gerakan anak muda itu masih nampak kaku, maka sambil menggerakkan  kedua<BR>tangannya, ia berkali-kali menyerukan bahwa tangan kiri pemuda itu harus  begini<BR>dan sikap  tubuhnya  harus begitu!  Pendeknya,  Cin  Hai pada  saat  itu  sedang<BR>menciptakan semacam ilmu pedang bersama-sama Ang I Niocu. Cin Hai mencipta  ilmu<BR>pedangnya, sedangkan Gadis Baju Merah itu memperbaiki gerak gayanya!<BR>Setelah Cin Hai selesai bersilat, Ang I Niocu lalu menghampiri rumpun bambu<BR>dan ketika ia  membuka daun-daun  yang menutupnya,  ternyata batang-batang  yang<BR>puluhan jumlahnya itu semua telah berlubang  bekas tusukan ujung pedang Ci  Hai!<BR>Ang I Niocu bersorak girang dan menari-nari bagaikan anak kecil!<BR>Cin Hai juga merasa girang sekali dan  ia tidak menolak ketika Ang I  Niocu<BR>mengajak ia sekali  lagi bertanding  dan ia harus  mempergunakan ilmu  pedangnya<BR>yang baru saja  diciptakannya itu!  Dan hasilnya benar-benar  hebat! Tiap  jurus<BR>apabila Cin Hai menyerang selalu serangannya  ini membingungkan Ang I Niocu  dan<BR>kalau saja pemuda itu menyerang dengan sungguh-sungguh, dalam sepuluh jurus saja<BR>Pendekar Wanita Baju Merah  ini pasti akan roboh!  Ternyata bahwa Cin Hai  telah<BR>menciptakan sebuah ilmu  pedang yang  benar-benar luar biasa,  oleh karena  ilmu<BR>pedangnya ini didasarkan atas kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan ilmu<BR>silat lain  yang  telah  dilihatnya. Ia  menggunakan  kesempatan  untuk  mengisi<BR>lowongan-lowongan dan  menyerbu bagian-bagian  yang lemah  dari  gerakan-gerakan<BR>aneh, bahkan kadang-kadang kedudukan kaki atau tangannya berbalik dan  merupakah<BR>kebalikan daripada gerakan ilmu silat biasa!<BR>Ang I Niocu  merasa girang sekali  dan minta Cin  Hai bersilat pedang  lagi<BR>seorang diri. Pada gerakan yang kaku,  gadis yang memang ahli tari dan  memiliki<BR>gerak gaya indah ini lalu memperbaiki tanpa merusak gerakan aseli.<BR>Sampai fajar  menyingsing, kedua  orang ini  tiada hentinya  melatih,  atau<BR>lebih tepat  lagi  Cin Hai  melatih  diri dan  Ang  I Niocu  membantunya  dengan<BR>nasihat-nasihat mengenai  keindahan  gerakannya.  Semalam  suntuk  mereka  tidak<BR>beristirahat.<BR>Pada keesokan harinya mereka hanya  beristirahat sebentar kemudian Cin  Hai<BR>kembali melatih diri  dengan ilmu  silat pedangnya yang  baru itu.  Ang I  Niocu<BR>melihat dari  samping memberi  petunjuk di  bagian yang  masih kaku  gerakannya.<BR>Walaupun ilmu pedang ini dapat dilihat dan ditiru oleh Ang I Niocu, akan  tetapi<BR>oleh karena  untuk  mempergunakan  ilmu pedang  ini  harus  sebelumnya  dimiliki<BR>kepandaian dan pengertian  pokok tentang segala  gerakan ilmu silat  sebagaimana<BR>yang telah dimiliki Cin Hai,  maka ilmu pedang ini  tidak akan ada gunanya  bagi<BR>Ang I Niocu.  Pendeknya, tanpa  pengetahuan dasar  yang diajarkan  oleh Pun  Su,<BR>orang lain tidak mungkin mempergunakan ilmu ini dalam menghadapi lawan!<BR>Demikianlah, setelah berlatih  terus-menerus selama tiga  hari tiga  malam,<BR>akhirnya ilmu pedang ini dapat dimainkan dengan baik sekali oleh Cin Hai  hingga<BR>Ang I Niocu menjadi puas dan girang. Ketika ia mencoba untuk melawan ilmu pedang<BR>ini dengan ilmu  pedangnya, maka  dalam tiga  jurus saja  pedangnya telah  dapat<BR>dirampas oleh Cin Hai.<BR>"Aduh Hai-ji! Ilmu pedangmu  ini benar-benar luar  biasa dan jangankan  Hai<BR>Kong Hosiang biarpun Hek Pek Moko sendiri tentu akan roboh di tanganmu! Kionghi,<BR>kionghi! (Selamat)."<BR>Tiba-tiba terdengar suara orang berkata dengan suara nyaring, "Ya, kionghi,<BR>kionghi! Akan tetapi hati-hatilah kau, Cin Hai agar ilmu jahat ini tidak merusak<BR>hatimu menjadi jahat dan kejam pula!"<BR>Cin Hai dan  Ang I  Niocu terkejut  sekali dan  tahu-tahu Bu  Pun Su  telah<BR>berdiri di dekat mereka!<BR>"Cin Hai, ilmu pedang tadi memang baik sekali dan tidak kusangka bahwa  kau<BR>yang bodoh ini dapat mencipta ilmu  pedang seperti itu! Akan tetapi oleh  karena<BR>kau melatih  dengan  melukai batang-batang  bambu  dengan ujung  pedangmu,  maka<BR>apabila menghadapi lawan, kau baru akan dapat merobohkan dia dengan tusukan yang<BR>melukainya pula! Ini jahat sekali, muridku!"<BR>Cin Hai merasa bingung dan terkejut sekali oleh karena memang betul seperti<BR>yang dikatakan oleh gurunya ini. Tadi ia berhasil merampas pedang Ang Niocu oleh<BR>karena  gadis  pendekar  itu  terlalu   terdesak  oleh  ilmu  pedangnya   hingga<BR>memungkinkan ia  menyambar  dan  merampas  pedang  gadis  itu,  sedangkan  kalau<BR>bertempur dengan lawan  yang melawan  mati-matian, maka  untuk merobohkannya  ia<BR>harus mempergunakan pedangnya yang mengirim serangan-serangan maut itu!<BR>"Mohon ampun,  Suhu,  dan  sudi memberi  petunjuk-petunjuk  kepada  teecu,"<BR>katanya.<BR>Bu Pun Su tersenyum dan tiba-tiba dengan suara sungguh-sungguh ia  berkata,<BR>"Coba cabutlah pedangmu itu dan seranglah aku!"<BR>Cin Hai tidak ragu-ragu  untuk melakukan hal ini  oleh karena ia  mempunyai<BR>kepercayaan penuh akan  kesaktian suhunya,  maka setelah  memberi hormat  sekali<BR>lagi, ia lalu mencabut Liong-coan-kiam dan menyerangnya dengan hebat.  Pedangnya<BR>berkelebat merupakan sinar  yang melenggang-lenggok dan  ia telah  mempergunakan<BR>jurus ke lima yang dianggapnya cukup berbahaya. Ia maklum bahwa suhunya memiliki<BR>mata tajam  sekali  dan telah  hafal  sekali  akan segala  gerakan  pundak  yang<BR>mendahului semua  gerakan pukulan  tangan dan  juga telah  tahu akan  pergerakan<BR>lutut yang mendahului  semua gerakan  kaki, maka ia  lalu mengeluarkan  serangan<BR>jurus ke  lima  ini. Memang  dalam  menciptakan  ilmu pedangnya,  Cin  Hai  juga<BR>memikirkan  kemungkinan  apabila   menghadapi  seorang   yang  telah   mempunyai<BR>kepandaian melihat gerakan orang  seperti yang sudah  dipelajarinya dari Bu  Pun<BR>Su, maka dalam beberapa gerakan ia sengaja membuat ilmu serangan yang  dilakukan<BR>dengan  gerakan-gerakan  terbalik!  Menurut  gerakan  ilmu  silat  biasa,   jika<BR>pundaknya bergerak itu tentu menjadi tanda bahwa pedang di tangan kanannya  akan<BR>ditusukkan ke depan,  akan tetapi  belum juga pedangnya  menusuk, secepat  kilat<BR>gerakan itu telah dibalik dan menjadi sabetan pada kedua kaki lawan dan  sebelum<BR>sabetan ini  diteruskan,  telah  dibalikkan pula  dan  menjadi  sebuah  serangan<BR>memutar ke arah leher!<BR>"Ganas sekali!" Bu Pun Su berseru  sambil meloncat ke belakang oleh  karena<BR>guru yang  lihai  ini  benar-benar tercengang  dan  terkejut  melihat  kehebatan<BR>serangan muridnya. "Hayo kauserang terus dan keluarkan semua ilmu pedangmu  yang<BR>liar ini!" katanya dan  Cin Hai tak berani  membantah dan segera maju  menyerang<BR>terus.<BR>Akan tetapi, ilmu meringankan tubuh dari Bu Pun Su sudah sampai di  tingkat<BR>tertinggi hingga  boleh  dibilang  tubuhnya  seperti  sehelai  bulu  yang  dapat<BR>bergerak pergi tiap kali  angin pedang menyambar hingga  biarpun pedang Cin  Hai<BR>hampir  menyerempet  pakaian  kakek  itu,  namun  tetap  pedang  itu  tak  dapat<BR>melukainya! Namun benar-benar kali ini Bu Pun Su menghadapi semacam ilmu  pedang<BR>yang luar biasa  dan hanya dengan  mengerahkan seluruh ginkangnya  saja maka  ia<BR>dapat mengelak bagaikan seekor burung beterbangan di antara sambaran pedang! Ang<BR>I Niocu memandang demonstrasi yang dilakukan oleh guru dan murid ini dengan mata<BR>terbelalak saking kagum dan  herannya. Selama hidupnya  belum pernah ia  melihat<BR>kelihaian seperti ini dan hatinya  diam-diam girang sekali memikirkan bahwa  Cin<BR>Hai kini telah menjadi seorang jago pedang tingkat tinggi!<BR>Ilmu pedang Cin Hai semuanya ada tiga puluh sembilan dan setelah  dimainkan<BR>semua, akhirnya  pemuda ini  meloncat ke  belakang sambil  berkata dengan  napas<BR>terengah-engah, "Sudahlah, Suhu, teecu tak  kuat lagi!" Ia lalu berlutut  dengan<BR>muka merah karena hatinya kecewa betapa dengan mudahnya kakek itu dapat mengelak<BR>serangannya. Ia anggap ilmu pedangnya ini tiada gunanya sama sekali dan bahwa ia<BR>telah menyia-nyiakan waktu tiga hari tiga malam!<BR>"Ha, ha ha." Bu Pun Su  tertawa terkekeh-kekeh karena kakek ini maklum  dan<BR>dapat membaca isi hati  Cin Hai dari  muka pemuda itu,  "Jangan kau kecewa,  Cin<BR>Hai. Ketahuilah, ilmu pedang  yang baru saja kau  mainkan ini kehebatannya  jauh<BR>melebihi dugaanku semula!"<BR>"Mohon Suhu jangan mentertawakan kebodohan teecu," kata Cin Hai.<BR>"Siapa mentertawakan kau? Anak bodoh,  dengan ilmu pedangmu ini, kau  boleh<BR>menjelajah  di   seluruh  negeri   dan  mengharapkan   kemenangan  dari   setiap<BR>pertempuran! Akan  tetapi,  jangan kira  bahwa  aku merasa  senang  atau  bangga<BR>melihat ilmu pedangmu ini!  Kaukira aku tidak percaya  atau tidak suka  kepadamu<BR>maka aku tak pernah menurunkan  ilmu kepandaian menyerang kepadamu?  Ketahuilah,<BR>dan kau  juga  Im Giok,  aku  memang  sengaja tidak  mengajarkan  ilmu  serangan<BR>kepadamu, oleh karena apakah baiknya menyerang orang? Akan tetapi, memang segala<BR>apa sudah  ditentukan  oleh  takdir  hingga  kau  yang  tidak  mempelajari  ilmu<BR>menyerang,  ternyata  kini  menghadapi  banyak  musuh  yang  lihai.  Dan  jangan<BR>kauanggap bahwa  ilmu pedangmu  ini saja  akan cukup  kuat untuk  menghadapi  Si<BR>Rangka Hidup Kam Ki Sianjin,  supek dari Hai Kong  Hosiang itu! Ah, kau  terlalu<BR>mengunggulkan diri kalau  kau mempunyai  pikiran demikian! Di  dunia ini  banyak<BR>sekali terdapat  orang-orang pandai  dan mungkin  kalau sewaktu-waktu  kau  akan<BR>menemui musuh yang  lebih lihai  lagi! Sekarang kau  telah berhasil  menciptakan<BR>semacam ilmu menyerang, maka biarlah agar jangan kepalang tanggung, kau pelajari<BR>juga Ilmu Pek-in-hoat-sut (Ilmu Sihir Awan  Putih) dan Ilmu Silat Tangan  Kosong<BR>Kong-ciak-sin-na."<BR>Bukan main girang rasa hati Cin Hai dan segera mengangguk-anggukkan  kepala<BR>menghaturkan terima kasih.<BR>"Juga kau yang  telah banyak membuat  jasa boleh mempelajari  ilmu ini,  Im<BR>Giok." Ang I Niocu lalu berlutut dan mengucapkan terima kasih pula.<BR>Demikianlah, selama dua pekan, Bu Pun  Su memberi pelajaran dua macam  ilmu<BR>silat itu kepada Cin Hai dan Ang I Niocu yang dipelajari dengan penuh  perhatian<BR>oleh kedua pendekar muda itu. Pek-in-hoat-sut adalah ilmu sihir yang  sebetulnya<BR>hanya sebutannya saja ilmu sihir, oleh  karena ilmu ini gerakan ilmu silat  yang<BR>sepenuhnya digerakkan oleh tenaga khikang hingga dari kedua kepalan tangan  yang<BR>memainkannya keluar  uap putih  bagaikan  awan yang  dapat menolak  setiap  hawa<BR>serangan yang bagaimana jahat pun dari lawan! Uap ini terjadi dari keringat yang<BR>berubah menjadi uap sebagai akibat dari  dorongan tenaga khikang yang panas  dan<BR>disalurkan ke arah kedua lengan dalam setiap serangan. Biarpun lawan menggunakan<BR>ilmu hitam  atau pukulan  keji seperti  Ang-see-ciang (Tangan  Pasir Merah)  dan<BR>lain-lain, apabila bertemu dengan  orang yang mempergunakan Pek-in-hoat-sut  ini<BR>akan mati kutunya,  tenaga serangan  mereka yang buyar  dengan sendirinya.  Oleh<BR>karena tenaga hebat inilah maka ilmu ini disebut ilmu sihir!<BR>Ilmu ke  dua adalah  Ilmu Silat  Tangan Kosong  Kong-ciak-sin-na atau  Ilmu<BR>Silat Tangan Kosong Burung Merak. Gerakan-gerakan ilmu silat ini selain memukul,<BR>juga menggunakan jari-jari tangan untuk mencengkeram dan merampas senjata  musuh<BR>hingga tepat sekali dipergunakan dengan  tangan kosong apabila menghadapi  lawan<BR>yang bersenjata.<BR>Setelah kedua  orang  itu  mempelajari  dua macam  ilmu  silat  itu  dengan<BR>sempurna, Bu Pun Su lalu berkata,<BR>"Cin Hai dan Im Giok! Biarpun kalian tidak bertanya, akan tetapi aku maklum<BR>bahwa kalian ingin sekali mendengarkan tentang nasib Lin Lin."<BR>Cin Hai mendengarkan  dengan wajah  tiba-tiba berubah pucat,  sedang Ang  I<BR>Niocu juga mendengarkan dengan hati berdebar khawatir.<BR>"Kalian jangan khawatir, menurut dugaanku  Lin Lin telah selamat dan  kalau<BR>tidak keliru ia  sedang melakukan perjalanan  dengan kawan-kawan baik.  Sekarang<BR>ada hal yang lebih penting lagi. Orang-orang Turki dan orang-orang Mongol sedang<BR>berlomba untuk merebut sebuah pulau di  laut timur dan apabila pulau ini  sampai<BR>terjatuh ke dalam tangan mereka, maka bahaya besar mengancam seluruh negeri! Aku<BR>menyaksikan dengan mata  sendiri, betapa  ratusan orang-orang  Turki dan  Mongol<BR>dengan diam-diam dipimpin  oleh orang-orang  berilmu dari kedua  bangsa itu  dan<BR>secara bersembunyi  mereka menyerbu  ke daerah  timur untuk  berlomba  menemukan<BR>pulau itu. Oleh  karena ini,  kalian berdua  segera berangkatlah  ke laut  timur<BR>melalui sungai yang  mengalir di sebelah  utara ini, oleh  karena hanya di  sana<BR>saja, maka  kalian akan  dapat  bertemu dengan  Lin  Lin, bahkan  mungkin  dapat<BR>bertemu dengan musuh besarmu  yang bernama Hai Kong  Hosiang itu. Nah,  sekarang<BR>aku hendak pergi!"<BR>Cin Hai dan  Ang I Niocu  maklum akan sikap  aneh dari orang  tua ini  yang<BR>bicaranya selalu  mengandung rahasia.  Mereka maklum  pula bahwa  mereka  secara<BR>membuta mereka harus menurut petunjuk ini, oleh karena petunjuk ini pasti  betul<BR>dan biarpun tidak jelas, namun kalau  tidak nyata takkan dikeluarkan dari  mulut<BR>kakek luar biasa itu.<BR>Tanpa menunda lagi, Cin Hai dan Ang I Niocu berlari cepat ke utara dan  tak<BR>lama kemudian mereka bertemu dengan sungai  yang melintang dan mengalir ke  arah<BR>timur itu.  Di situ  tidak terlihat  perahu dan  keadaannya sunyi  sekali,  maka<BR>keduanya lalu mempergunakan ilmu lari  cepat dan mengikuti aliran sungai  menuju<BR>ke timur. Akan tetapi,  jalan di tepi  sungai itu sukar  sekali, penuh rawa  dan<BR>hutan-hutan berbahaya, juga  amat sukar dilalui.  Setelah mereka berlari  selama<BR>dua hari, akhirnya mereka melihat sebuah  dusun kecil dan mereka menjadi  girang<BR>ketika melihat beberapa  buah perahu diikat  di pinggir sungai.  Segera Cin  Hai<BR>mencari pemilik perahu untuk disewa atau dibelinya. Dua orang menghampiri mereka<BR>dan bertanya, "Jiwi membutuhkan perahu?"<BR>"Betul," kata  Cin Hai  dengan  girang. "Kami  berdua hendak  menyewa  atau<BR>membeli sebuah perahu."<BR>"Membeli?" kedua orang itu  saling pandang "Ah, Kongcu.  Di sini tidak  ada<BR>yang mau menjual perahunya. Pernah kau mendengar ada orang menjual isterinya?"<BR>"Apa katamu?" Cin Hai bertanya heran, dan tak senang, oleh karena menyangka<BR>bahwa nelayan itu hendak mempermainkannya.<BR>"Kongcu hendak membeli perahu, sedangkan  sebuah perahu adalah sama  dengan<BR>seorang isteri  bagi seorang  nelayan.  Siapakah yang  mau menjual  perahu  atau<BR>isterinya? Tidak, Kongcu, kalau kalian berdua hendak menyewa, boleh kalian pakai<BR>perahuku ini. Biarpun kecil, tetapi kuat dan laju!"<BR>Cin Hai tersenyum geli. "Boleh, aku hendak menyewa perahumu ini."<BR>"Jiwi hendak ke manakah?" tanya nelayan yang seorang lagi.<BR>Ang i  Niocu  tidak senang  melihat  ada  orang lain  ikut  bicara,  bahkan<BR>bertanya tentang maksud kepergian mereka.<BR>"Apa perlunya kau  ikut campur  dan bertanya  ke mana  kami hendak  pergi?"<BR>tanyanya tak senang.<BR>Orang itu berkata sambil mengangkat  dadanya, "Aku berhak penuh untuk  ikut<BR>campur, oleh karena perahu ini adalah milik kami berdua!"<BR>Cin Hai tertawa. "Aha, kalau begitu isterimu ini mempunyai dua orang suami?<BR>"<BR>Kedua orang nelayan itu tertawa.  "Kongcu, kami adalah orang-orang  miskin,<BR>dan dua orang memiliki sebuah perahu saja."<BR>"Kami berdua hendak menuju ke laut dan hendak mencari sebuah pulau."<BR>Kedua orang itu nampak terkejut sekali. "Apa? Hendak mencari pulau?  Apakah<BR>Pulau Emas?"<BR>Cin Hai  dan Ang  I  Niocu tercengang,  akan  tetapi mereka  memang  hendak<BR>menyelidiki pulau yang belum pernah meraka ketahui ini sedangkan Bu Pun Su  juga<BR>tidak memberi penjelasan, maka Cin  Hai lalu tersenyum dan  mengangguk-anggukkan<BR>kepalanya. "Ya, kami mencari Pulau Emas!"<BR>Tiba-tiba seorang di  antara kedua  nelayan itu menjadi  pucat dan  berkata<BR>kepada kawannya,  "Twako, marilah  kita pergi  dan jangan  melayani mereka  ini.<BR>Agaknya mereka ini pun  sudah kegilaan emas dan  mungkin akan timbul  malapetaka<BR>lagi apabila kita membawa mereka seperti hal kita tempo hari itu!"<BR>Cin Hai menjadi tertarik, dan Ang I Niocu segera membentak,<BR>"Apakah yang terjadi? Apa ada orang lain yang juga mencari Pulau Emas itu?"<BR>Kedua  nelayan  itu  saling  pandang  dan  keduanya  lalu  berdiri   hendak<BR>meninggalkan tempat itu,  sama sekali tidak  berani menjawab. Ang  I Niocu  lalu<BR>meloncat dan sekali tangannya bergerak, maka pedang yang tajam telah  dicabutnya<BR>dari pedang itu kini menempel di leher seorang nelayan,<BR>"Ke mana engkau hendak pergi? Jangan main-main, sebelum kalian menceritakan<BR>hal itu kepada  kami, jangan harap  akan dapat pergi  dengan kepala menempel  di<BR>lehermu!"<BR>Nelayan itu menghela napas. "Apa kataku, Twako? Benar-benar Pulau Emas  itu<BR>pulau berhantu dan setan-setan saja  yang berani mengunjungi pulau itu!  Toanio,<BR>harap kau  berlaku murah  dan jangan  begini galak.  Kami hanya  nelayan-nelayan<BR>biasa saja dan kalau Toanio menghendaki, baiklah kami tuturkan pengalaman  kami.<BR>Beberapa hari yang lalu,  kami kedatangan seorang asing  yang sangat murah  hati<BR>dan royal dengan hadiah-hadiahnya. Ia  minta kami suka mendayung perahunya  yang<BR>besar, oleh karena ia berkata bahwa ia tidak kenal daerah sini. Ia hendak  pergi<BR>ke laut dan  mencari Pulau  Emas seperti kalian  pula. Akan  tetapi, pada  suatu<BR>malam, perahu orang asing bangsa Turki ini kedatangan seorang perwira yang galak<BR>dan gagah, sedangkan  perwira ini ketika  datangnya saja sudah  sangat aneh  dan<BR>menakutkan yaitu ia mengempit tubuh seorang gadis muda yang cantik jelita!"<BR>Berdebarlah hati Cin Hai dan Ang  I Niocu. Bukankah gadis yang  dimaksudkan<BR>ini Lin  Lin adanya?  Akan tetapi  Cin Hai  lalu mendesak,  "Teruskan,  teruskan<BR>ceritamu!"<BR>"Setelah perwira galak ini naik ke dalam perahu kami, maka kami berdua lalu<BR>mendapat perintah untuk mendayung perahu dan sepanjang yang kami dengar, perwira<BR>itu tadinya  hendak  membunuh  gadis  yang  ditawannya,  akan  tetapi  maksudnya<BR>dihalangi oleh  orang  asing  itu,  dan agaknya  Si  Perwira  takut  dan  tunduk<BR>kepadanya. Gadis itu lalu ditahan di dalam kamar perahu dan tidak diganggu. Akan<BR>tetapi, memang setan berkeliaran di atas sungai ini! Tiba-tiba perahu yang  kami<BR>dayung itu bertumbuk dengan sebuah perahu  lain yang biarpun kecil, akan  tetapi<BR>maju dengan kuat hingga perahu kami terhalang. Dan yang lebih hebat lagi, ketika<BR>kami menegur nelayan tua yang berada di  perahu kecil itu, ia menjadi marah  dan<BR>sekali pukulkan dayungnya yang besar, perahu yang kami dayung menjadi pecah  dan<BR>bocor hingga tenggelam!"<BR>"Nelayan Cengeng!" tak terasa lagi Cin Hai berseru. Nelayan yang  bercerita<BR>itu menjadi  kaget karena  menyangka  bahwa dialah  yang dimaki  cengeng  tetapi<BR>sebelum ia  sempat  bertanya,  Cin Hai  sudah  mendesaknya  lagi.  "Teruskanlah,<BR>teruskanlah!"<BR>"Penumpang-penumpang kami orang Turki yang aneh dan perwira yang galak  itu<BR>menjadi marah dan melompat ke darat, sedangkan gadis cantik yang ditawan itu pun<BR>tak tersangka-sangka lihai  juga dan dapat  melompat ke darat!  Kami berdua  tak<BR>dapat melompat  sejauh itu  maka kami  lalu menceburkan  diri ke  dalam air  dan<BR>berenang ke tepi. Ternyata  di tepi itu terjadi  pertempuran hebat! Orang  Turki<BR>bertempur melawan nelayan  tua yang  memegang dayung dan  yang telah  memecahkan<BR>perahu kami, sedangkan Si  Perwira dikeroyok oleh  gadis tawanannya dan  seorang<BR>pemuda tampan kawan nelayan tua itu."<BR>"Ma Hoa!" kata Ang I Niocu  dan kembali nelayan itu memandang heran  karena<BR>tidak tahu maksud Dara  Baju Merah yang berseru  karena amat tertarik  mendengar<BR>penuturan ini.<BR>"Dan bagaimana hasil pertempuran itu?"  Cin Hai mendesak dengan tak  sabar,<BR>karena ia telah merasa pasti bahwa yang mengeroyok perwira itu tentu Lin Lin dan<BR>Ma Hoa dan yang bertempur melawan orang Turki tentu Si Nelayan Cengeng.<BR>"Kesudahannya mengerikan  sekali..."  nelayan  yang  pandai  bercerita  itu<BR>sengaja berhenti sebentar untuk  membikin pendengar-pendengarnya makin  bernafsu<BR>dan ceritanya makin menarik, "perwira yang galak dan gagah itu tewas.  Kepalanya<BR>remuk dipukul  oleh dayung  yang dipegang  gadis tawanannya,  sedangkan  dadanya<BR>bolong-bolong tertembus pedang Si Pemuda tampan!"<BR>Baik Cin Hai maupun Ang I Niocu menghela napas lega. "Mampuslah si keparat!<BR>" seru Cin  Hai dengan gembira,  kemudian ia menegaskan,  "Bukankah perwira  itu<BR>masih muda, kira-kira tiga puluh tahun, dan bibirnya tebal?"<BR>Nelayan itu memandangnya heran, "Betul sekali, apakah Kongcu kenal padanya?<BR>"<BR>Akan tetapi Cin  Hai tidak  menjawab pertanyaan ini,  hanya bertanya  lagi,<BR>"Dan bagaimana hasil pertempuran orang Turki melawan nelayan tua itu?"<BR>"Mereka bertempur secara luar biasa  sekali hingga kami berdua tidak  dapat<BR>melihat siapa  menang  siapa  kalah. Tiba-tiba  mereka  berhenti  bertempur  dan<BR>agaknya lalu mengikat persahabatan. Si Nelayan Tua itu benar-benar setan air! Ia<BR>menyelam ke  dalam air  dan berhasil  mencari dan  mengambil perahu  yang  telah<BR>tenggelam itu. Bukan main! Selama hidupku  belum pernah aku melihat orang  dapat<BR>melakukan hal semacam itu. Tentu ia iblis air sungai itu!"<BR>"Hush! Jangan membuka mulut sembarangan  saja. Sekali lagi kau memaki  dia,<BR>kutampar mulutmu!" kata Cin  Hai sambil mendelikkan  matanya hingga nelayan  itu<BR>terkejut dan takut. "Teruskan ceritamu, bagaimana selanjutnya dengan mereka itu?<BR>"<BR>"Selanjutnya? Tidak ada apa-apa  lagi. Mereka berempat setelah  memperbaiki<BR>perahu lalu berangkat pergi  dan kami ditinggalkan dengan  perahu kecil ini  dan<BR>hadiah uang!"<BR>"Jadi perahu kecil ini adalah perahu kepunyaan nelayan tua itu?" tanya  Cin<BR>Hai dengan girang. Kedua nelayan itu menjadi pucat karena mereka telah kelepasan<BR>omong.<BR>"Kalau begitu  kami hendak  memakai  perahu ini,"  kata  Ang I  Niocu  yang<BR>merogoh keluar dua potong  uang perak dari sakunya.  "Nih, kalian ambil  seorang<BR>satu! Perahu ini kami ambil!"<BR>Melihat bahwa perahu itu hanya diganti dengan dua potong uang perak,  kedua<BR>nelayan itu menjadi bingung,  "Eh, Siocia, eh...  Toanio, nanti dulu,  perahu...<BR>perahu kami ini harganya lebih dari lima potong uang perak!"<BR>Ang I Niocu mengangkat tangan  mengancam. "Perahu ini bukan perahu  kalian!<BR>Memberi dua potong perak  sudah terlalu banyak untukmu  dan itu pun bukan  untuk<BR>membeli perahu ini, akan tetapi sebagai upah kalian bercerita tadi!"<BR>Cin Hai dan Ang I Niocu lalu melompat ke dalam perahu dan mendayung  perahu<BR>itu ke tengah  sungai. Kedua  nelayan itu  tidak berani  berbuat sesuatu,  hanya<BR>melihat perahu itu pergi makin jauh  dengan hati memaki-maki kalang kabut,  akan<BR>tetapi mulut tidak berani bersuara!<BR>Dua hari kemudian ketika perahu melalui  sebuah hutan, Ang I Niocu  melihat<BR>pohon-pohon buah lenci di dekat pantai.<BR>Melihat buah yang bergantungan dan sudah masak itu, timbul seleranya dan ia<BR>mengusulkan untuk berhenti  dan beristirahat sebentar  sambil mencari dan  makan<BR>buah. Cin Hai  setuju, oleh karena  ia pun  merasa ingin makan  buah yang  segar<BR>nampaknya itu. Mereka lalu mendayung perahu ke pinggir dan menarik perahu  kecil<BR>itu ke darat. Kemudian, oleh karena  melihat tempat itu sunyi dan indah  sekali,<BR>timbul kegembiraan mereka dan  keduanya lalu melompat ke  atas cabang pohon  dan<BR>memilih buah sesuka hati mereka.<BR>Akan tetapi tiba-tiba Cin  Hai berseru kaget dan  cepat melompat turun  dan<BR>ketika Ang I  Niocu memandang  ke arah perahu  mereka, ia  pun terkejut  sekali.<BR>Seorang tosu (pendeta penganut Agama Tao)  sedang menarik perahu mereka ke  arah<BR>air, dan agaknya  ia hendak  mempergunakan kesempatan itu  untuk mencuri  perahu<BR>mereka! Ang I Niocu menjadi  marah sekali dan ia  pun cepat melompat turun  dari<BR>atas pohon.<BR>Ketika Cin Hai  dan Ang I  Niocu berlari ke  arah perahu mereka,  tiba-tiba<BR>dari balik batang pohon besar  melompat keluar seorang hwesio (pendeta  penganut<BR>Agama Buddha) yang bertubuh pendek tapi gemuk sekali. Hwesio ini kelihatan  lucu<BR>sekali, mukanya seperti muka anak kecil yang gemuk, dan jika dilihat, ia  persis<BR>seperti boneka besar atau Jilaihud yang berwajah baik dan peramah. Mukanya  yang<BR>bulat itu selalu  tersenyum ramah,  tubuhnya bagian  atas yang  serba bulat  dan<BR>gemuk hanya menutup kedua pundak dan lengannya saja, sedangkan tubuh atas bagian<BR>depan terbuka  sama  sekali!  Dadanya  yang bergajih  dan  pusarnya  yang  besar<BR>kelihatan menambah kelucuannya.<BR>Ia menghadang Cin Hai dan Ang I Niocu sambil tertawa dan berkata, "Ai,  ai,<BR>kalian sepasang burung dara yang bahagia! Mengapa melayang turun dari pohon  dan<BR>berlari-lari. Bukankah lebih senang bermain-main di atas pohon?"<BR>Bukan main marahnya  Cin Hai mendengar  ini, sedangkan Ang  I Niocu  dengan<BR>muka merah  lalu  membentak, "Bangsat  gundul  kurang ajar!  Tutup  mulutmu  dan<BR>minggirlah!"<BR>Akan tetapi hwesio tadi memandang heran dan tertawa lagi, "Eh, eh,  mengapa<BR>marah-marah? Apakah aku mengganggu kalian?"<BR>"Hwesio gemuk, jangan  kau menghadang  di depan  kami!" kata  Cin Hai  yang<BR>lebih sabar, "Kami akan mengejar pencuri perahu itu!"<BR>Si Hwesio tertawa terus  dan berkata, "Pencuri  perahu? Kau maksudkan  tosu<BR>itu? Ah, dia adalah saudaraku! Kami hanya ingin pinjam sebentar perahumu itu!"<BR>"Bagus, hwesio maling!"  kata Ang  I Niocu  yang segera  melompat maju  dan<BR>mengayun kepalan tangan menghantam dada hwesio yang gemuk itu. Akan tetapi Ang I<BR>Niocu terkejut  sekali karena  tidak menyangka  bahwa hwesio  segemuk ini  dapat<BR>bergerak gesit sekali ketika ia mengelak dari pukulan Ang I Niocu.<BR>"Waduh,  ganas...  ganas...!"  seru  hwesio  gendut  itu  yang  masih  saja<BR>tertawa-tawa sungguhpun Ang I Niocu menyerang bertubi-tubi dengan pukulan  cepat<BR>hingga ia harus mengelak ke sana ke mari dengan repot sekali.<BR>Sementara itu, tosu yang hendak mencuri perahu tadi, ketika melihat  betapa<BR>saudaranya diserang oleh Ang I Niocu dan terdesak sekali, segera menarik kembali<BR>perahu itu ke darat dan berlari-lari ke arah tempat pertempuran.<BR>"Jangan kau memukul Adikku!"  teriaknya dan segera  menyerang Ang I  Niocu.<BR>Melihat serangan  ini hebat  juga datangnya,  Cin Hai  lalu maju  menangkis  dan<BR>keduanya lalu  bertempur ramai!  Keadaan  tosu ini  sama sekali  berbeda  dengan<BR>hwesio itu. Kalau hwesio itu gemuk dan pendek bermuka ramah dan mulutnya  selalu<BR>tersenyum, adalah Si Tosu ini mukanya seperti orang mewek dan menangis,  matanya<BR>yang sipit itu  seakan-akan memandang  dengan sedih hingga  membikin sedih  pula<BR>kepada orang yang melihatnya.<BR>Ang I Niocu  biarpun sedang marah,  akan tetapi melihat  betapa hwesio  itu<BR>biarpun terdesak sekali masih  saja tertawa-tawa dengan  muka sama sekali  tidak<BR>memperlihatkan ketakutan, menjadi  tidak tega hati  untuk melukainya, dan  hanya<BR>mendesak dengan ilmu silat  yang baru dipelajarinya dari  Bu Pun Su, yaitu  ilmu<BR>Silat Kong-ciak-sin-na  hingga  hwesio  itu tak  dapat  membalas  menyerang  dan<BR>dipermainkan oleh Ang I Niocu bagaikan seekor kucing. Ang I Niocu memang sengaja<BR>menggunakan hwesio itu sebagai ujian bagi ilmu silatnya yang baru dan ia  merasa<BR>girang sekali mendapat kenyataan bahwa ilmu silat yang dipelajarinya dari Bu Pun<BR>Su ini memang betul-betul luar biasa.<BR>Sebaliknya dengan  mudah Cin  Hai  pun dapat  mendesak Si  Tosu.  Kemudian,<BR>sebelah  kakinya   berhasil   menggaet  kaki   tosu   itu  yang   segera   jatuh<BR>terguling-guling dan mengeluh kesakitan.<BR>"Nah, biar kau  kapok mendapat hajaran  sedikit!" kata Cin  Hai. "Dan  agar<BR>lain kali tidak berani mencoba untuk mencuri perahu lain orang."<BR>Si Tosu itu dengan muka seperti orang menangis menoleh ke arah hwesio  yang<BR>masih diserang kalang-kabut  oleh Ang  I Niocu.  Ia mengeluh  lagi dan  berseru.<BR>"Ceng Tek,  sudahlah  baik  kita  menyerah.  Mereka  ini  bukan  makanan  kita!"<BR>Mendengar kata-kata  ini, hwesio  gemuk  itu lalu  melompat mundur  dan  berkata<BR>sambil tertawa, "Sudahlah Nona, pinceng mengaku kalah!" Ang I Niocu menjadi geli<BR>hatinya dan ia pun tidak tega untuk menyerbu terus.<BR>"Kalian dua orang tua ini siapakah dan mengapa hendak mencuri perahu kami?"<BR>tanyanya.<BR>Kedua pendeta  itu saling  pandang dan  sambil menjura,  tosu itu  berkata.<BR>"Kami dua kakak beradik adalah pendeta-pendeta perantau. Adikku ini bernama Ceng<BR>Tek Hwesio  dan pinto  sendiri bernama  Ceng To  Tosu. Tadinya  kami kira  bahwa<BR>kalian berdua adalah sepasang  orang muda yang hendak  berpelesir di sini,  maka<BR>kami berani mengganggu dan hendak meminjam perahu kalian. Tidak tahunya, melihat<BR>pakaian dan  kepandaian Nona  ini, kami  tidak akan  heran apabila  kau  mengaku<BR>wanita yang berjuluk Ang I Niocu!"<BR>Ang I Niocu tersenyum. "Memang  dugaanmu tepat sekali, Totiang. Aku  adalah<BR>Ang I Niocu dan saudaraku ini adalah Pendekar Bodoh!"<BR>Kedua mata  Ceng To  Tosu  yang sipit  itu  dipentang lebar.  "Apa?  Dengan<BR>kepandaiannya seperti itu, ia masih disebut Pendekar Bodoh? Ah, kalau yang bodoh<BR>saja  kepandaiannya  setinggi  ini,  apalagi  yang  pintar?"  Biarpun  tosu  ini<BR>mengucapkan kata-kata yang  mengandung kelakar, namun  tetap saja mukanya  mewek<BR>seperti mau menangis! Dan  hwesio pendek gemuk itu  tetap tersenyum dengan  muka<BR>sesenang-senangnya!<BR>Cin Hai tertarik  sekali melihat dua  saudara yang aneh  ini, maka ia  lalu<BR>bertanya. "Harap kau dua orang suci  suka berkata terus terang saja.  Sebetulnya<BR>mau meminjam perahu kami hendak pergi ke manakah?"<BR>Kini hwesio gemuk itu  yang menjawab dan  ucapannya penuh kejujuran.  "Kami<BR>hendak pergi ke laut dan mencari sebuah pulau."<BR>"Pulau Emas?" Cin Hai cepat menyambung dan kedua pendeta itu tercengang.<BR>"Kau... sudah tahu?"<BR>"Tentu saja! Kami hendak pergi ke sana!"<BR>"Aha! Sungguh kebetulan sekali. Sudahkah kalian dua anak muda tahu di  mana<BR>letaknya Kim-san-to (Pulau Gunung Emas)?"<BR>Terus terang saja  Cin Hai menyatakan  belum tahu. Kedua  pendeta itu  lalu<BR>saling pandang dan akhirnya Si Tosu berkata,<BR>"Baiklah, sekarang  diatur  begini  saja.  Perahu  ini  cukup  lebar  untuk<BR>ditumpangi empat  orang.  Kami berdua  membonceng  kalian dan  sekalian  menjadi<BR>penunjuk jalan. Kalian mempunyai perahu akan tetapi tidak kenal jalan, sedangkan<BR>kami berdua yang kenal jalan tidak mempunyai perahu! Bukankah kita dapat  saling<BR>menolong?"<BR>Cin Hai  dan Ang  I Niocu  kini saling  berpandangan dan  akhirnya Cin  Hai<BR>mengangguk dan berkata,<BR>"Kata-katamu ini pantas juga. Biarlah kita sama-sama mencari pulau itu  dan<BR>kalian berdua menjadi petunjuk jalan!"<BR>"Akan tetapi perahu  kita kecil dan  hwesio gemuk ini  tentu berat  sekali!<BR>Asal saja  kau  tidak banyak  bergerak  hingga jangan-jangan  perahu  kita  akan<BR>terguling dan  tenggelam!"  kata Ang  I  Niocu sambil  tertawa  sehingga  mereka<BR>berempat sama-sama tertawa gembira. Cin Hai  dan Ang I Niocu merasa suka  kepada<BR>dua orang  aneh itu  dan mereka  dapat menduga  bahwa kedua  orang ini  tentulah<BR>orang-orang kang-ouw yang berwatak baik.<BR>Beberapa hari kemudian, keempat orang  dalam perahu kecil itu telah  sampai<BR>di samudera  dan  mulai dengan  usaha  mereka mencari  Pulau  Kim-san-tho.  Atas<BR>petunjuk kedua pendeta  itu, perahu  didayung ke  kiri dan  melalui pantai  yang<BR>curam dan batu-batu karang yang tinggi.<BR>Ketika perahu mereka bergerak perlahan di tepi batu karang yang tinggi  dan<BR>hitam,  tiba-tiba  dari  atas  menyambar   turun  bayangan  yang  cepat   sekali<BR>gerakannya! Bayangan ini menyambar ke arah  dada dan perut Ceng Tek Hwesio  yang<BR>telanjang.<BR>Kaget sekali empat  orang di  dalam perahu  itu ketika  melihat bahwa  yang<BR>menyambar adalah  seekor burung  rajawali yang  besar dan  buas sekali!  Agaknya<BR>burung ini tertarik oleh kegemukan dada dan perut Ceng Tek Hwesio yang  bergajih<BR>dan montok itu, hingga ia menyambar turun hendak mencengkeram daging gemuk itu!<BR>Ceng Tek  Hwesio kaget  dan  hendak berkelit,  akan tetapi  berat  badannya<BR>membuat perahu berguncang!<BR>"Hai, jangan bergerak!"  Ang I Niocu  mencegah dan gadis  ini dengan  cepat<BR>lalu menendang ke  arah burung yang  menyambar turun itu  dan alangkah  kagetnya<BR>ketika burung itu dengan cepat dapat mengelak tendangannya dan melayang ke  atas<BR>lagi!<BR>Cin Hai yang berdiri di kepala  perahu dan memandang tajam, juga ia  merasa<BR>kagum melihat ketangkasan dan kecepatan burung yang besar itu. Sedangkan  hwesio<BR>pendek gemuk itu,  melihat bahwa  dirinya diserang oleh  burung rajawali,  hanya<BR>tersenyum-senyum dan  tertawa ha-ha-hi-hi  saja,  dan biarpun  hatinya  berdebar<BR>ngeri, akan tetapi mukanya tetap tersenyum. Sebaliknya, muka Ceng To Tosu  makin<BR>nampak sedih dan  mewek bagaikan benar-benar  hendak menangis tersedu-sedu  oleh<BR>karena ia merasa kuatir dan juga marah kepada burung pemakan manusia itu.<BR>Kini burung rajawali menyambar turun dari atas dengan cepatnya. Ang I Niocu<BR>yang merasa mendongkol melihat tendangannya tadi dapat dikelit oleh burung besar<BR>itu, berkata kepada kawan-kawannya,<BR>"Jangan bergerak dan biarkan  aku bikin mampus  burung celaka itu!"  Ketika<BR>burung itu mengulur cakarnya dan kembali hendak menyerang hwesio gendut itu, Ang<BR>I Niocu cepat menghantam dengan tangan kanannya sekerasnya! Kembali ia  tertegun<BR>oleh karena  burung  itu dapat  miringkan  tubuh dan  mengibas  dengan  sayapnya<BR>seakan-akan menangkis  pukulan Ang  I Niocu!  Akan tetapi  pukulan itu  bukanlah<BR>pukulan biasa dan  dilakukan dengan  tenaga lweekang hingga  biarpun burung  itu<BR>menangkis dengan sayap, namun  tubuh burung itu terlempar  jauh dan oleh  karena<BR>sakitnya, tiba-tiba  sambil memekik  keras  burung yang  terlempar ke  atas  itu<BR>mengeluarkan kotoran  yang jatuh  menimpa berhamburan  ke arah  perahu  bagaikan<BR>hujan. Kebetulan sekali kotoran itu  jatuh tepat ke arah  Ceng To Tosu dan  Ceng<BR>Tek Hosiang hingga muka  dan baju kedua pendeta  itu menjadi kotor kena  kotoran<BR>burung itu.<BR>Ang I Niocu makin gemas dan  marah karena burung itu agaknya tidak  terluka<BR>dan hanya terpental dan kaget saja.  Juga burung itu kini terbang berputaran  di<BR>atas perahu  sambil mengeluarkan  suara  nyaring. Ang  I Niocu  mencabut  keluar<BR>pedangnya dan dengan muka merah karena gemas ia berkata,<BR>"Burung keparat, turunlah kalau kau berani!"<BR>Seakan-akan mengerti  dan  dapat  mendengar  tantangan  gadis  itu,  burung<BR>rajawali yang berbulu  kuning emas dan  berparuh merah itu  memekik panjang  dan<BR>kembali menyerang  turun dan  kini bukan  menyerang kepada  hwesio gendut,  akan<BR>tetapi langsung  menyerang Ang  I Niocu,  oleh karena  agaknya ia  marah  sekali<BR>kepada Dara Baju Merah yang telah dua kali menyerangnya itu.<BR>Burung ini adalah semacam Kim-tiauw atau Rajawali Emas yang jarang terdapat<BR>dan yang disebut  raja segala  burung. Ketika ia  menyerang Ang  I Niocu,  gerak<BR>tubuhnya cepat dan  tak terduga  oleh karena  ia bukan  menyerang langsung  dari<BR>atas, akan tetapi turun sambil bergerak-gerak ke kanan kiri dengan cepatnya. Ang<BR>I Niocu bukanlah sembarangan gadis yang  takut akan segala macam burung.  Dengan<BR>seruan keras,  sebelum  burung  itu  menyambar, Ang  I  Niocu  sudah  mendahului<BR>melompat ke atas sambil menyambar dengan pedangnya. Burung Kim-tiauw itu kembali<BR>secara aneh dapat  mengelak dan mumbul  lagi ke atas,  kemudian berkali-kali  ia<BR>menyerang turun. Terjadilah  pertempuran yang hebat  dan indah dipandang  antara<BR>Ang I Niocu di atas perahu dan burung rajawali yang menyambar-nyambar dari atas.<BR>Beberapa kali pedang Ang I Niocu  yang hampir dapat memenggal leher burung  itu,<BR>tiba-tiba dapat disampok dengan sayap atau cakar dengan kuku burung itu,  hingga<BR>Ang I Niocu menjadi makin  marah dan penasaran saja.  Biarpun Ang I Niocu  belum<BR>berhasil membunuh Kim-tiauw,  akan tetapi  banyak bulu burung  itu telah  rontok<BR>ketika sayapnya  menyampok  pedang,  sedangkan  burung  itu  sama  sekali  tidak<BR>mendapat kesempatan menyerang gadis perkasa itu.<BR>Sebenarnya kalau ia  berada di atas  tanah keras, tentu  Ang I Niocu  sudah<BR>berhasil membunuh  Kim-tiauw itu,  akan tetapi  ia berada  di atas  perahu  yang<BR>bergerak-gerak  hingga  membuat   gerakannya  tidak   leluasa  sekali.   Setelah<BR>berkali-kali gagal serangannya, bahkan hampir saja pedang tajam menembus dadanya<BR>dan memenggal leher,  akhirnya Kim-tiauw  itu agaknya mengakui  kelihaian Ang  I<BR>Niocu dan sambil mengibaskan sayapnya yang lebar dan kuat dan mengeluarkan bunyi<BR>seperti orang mengeluh panjang, ia lalu terbang pergi dengar cepat sekali hingga<BR>sebentar saja tubuhnya hanya merupakan titik kuning emas di langit biru.<BR>Ang I Niocu  menyimpan kembali  pedangnya dan duduk  dengan muka  merengut,<BR>hatinya tidak puas sekali  karena kegagalannya membunuh  burung besar itu,  akan<BR>tetapi Ceng To Tosu lalu ber kata sambil menghela napas panjang,<BR>"Baiknya kau tidak membunuhnya Lihiap."<BR>"Eh, mengapa, kau berkata baik sedangkan hatiku kecewa sekali karena  tidak<BR>berhasil membunuhnya?" kata Ang I Niocu sambil memandang heran.<BR>Burung itu adalah  burung Kim-sin-tiauw atau  Rajawali Sakti Berbulu  Emas,<BR>dan burung itu  di daerah ini  terkenal burung pembawa  rezeki dan  kebahagiaan.<BR>Kita telah bertemu  dengan dia  dan memusuhi kita,  hal ini  tidak baik  sekali,<BR>apalagi kalau kau tadi sampai salah tangan dan membunuhnya!"<BR>Diam-diam Cin Hai terkejut  sekali mendengar ini, akan  tetapi Ang I  Niocu<BR>berkata, "Burung jahat itu mana bisa membawa kebahagiaan?" Biarpun Cin Hai tidak<BR>setuju mendengar ucapan gadis ini akan tetapi oleh karena ia telah maklum  bahwa<BR>gadis ini  tidak  takut  apa  pun  juga,  ia  diam  saja  dan  tidak  menyatakan<BR>kekuatirannya, hanya berkata memuji,<BR>"Kim-sin-tiauw itu lihai sekali dan gerakannya tangkas dan cepat."<BR>"Kalau di darat  ada harimau menjadi  raja dan  di laut ada  naga, maka  di<BR>udara Kim-sin-tiauw boleh  dibilang menjadi  raja udara!" kata  Ceng Tek  Hwesio<BR>yang  masih  tersenyum-senyum   seakan-akan  kejadian  tadi   adalah  hal   yang<BR>menyenangkan hatinya!<BR>"Dan raja udara itu hampir saja berpesta pora menikmati kelezatan  dagingmu<BR>yang gemuk!" kata Cin  Hai dan semua  orang tertawa geli,  kecuali Ceng To  Tosu<BR>yang agaknya selama hidup tak pernah tertawa, dan ia hanya mengutarakan kegelian<BR>hatinya dengan mewek makin menyedihkan!<BR>Kita tinggalkan  dulu perahu  kecil yang  dinaiki empat  orang yang  sedang<BR>mencari Pulau Emas  itu, pulau yang  aneh dan mengandung  rahasia dan yang  pada<BR>waktu itu menjadikan sebab terjadinya hal-hal yang hebat oleh karena tiga bangsa<BR>sedang berusaha merampasnya!<BR>Kerajaan Turki di waktu itu yang telah mendengar tentang adanya Pulau  Emas<BR>di laut timur Negara Tiongkok telah mengirim dan menyebar para penyelidiknya, di<BR>antaranya Yousuf yang cerdik  dan yang menjadi  orang pertama mendapatkan  pulau<BR>itu. Di samping menyebar mata-mata, Kerajaan Turki lalu mengirim sejumlah  besar<BR>tentaranya untuk menyerbu  ke daerah  ini. Mereka tidak  berani melalui  daratan<BR>Tiongkok, oleh  karena maklum  bahwa apabila  mereka melalui  daratan  pedalaman<BR>Tiongkok, mereka  akan menghadapi  rintangan-rintangan besar  yang  memungkinkan<BR>gagalnya usaha mereka, oleh  karena Tiongkok selain  mempunyai daerah luas  yang<BR>berbahaya, juga memiliki  banyak orang  pandai yang tentu  akan melawan  tentara<BR>Turki yang menjelajah negaranya.  Oleh karena ini,  barisan Turki itu  mengambil<BR>jalan memutar dari utara, bergerak ke timur melalui sepanjang perbatasan  Negara<BR>Tiongkok dan masuk di daerah  Mongol dan mereka ini  pun tidak tinggal diam  dan<BR>melawan barisan asing  yang tanahnya.  Akan tetapi  oleh karena  pada waktu  itu<BR>bangsa Mongol  masih  belum kuat  dan  hidupnya berkelompok-kelompok  ini  dapat<BR>dihalau oleh barisan Turki yang kuat.<BR>Barisan Turki ini dipimpin oleh orang-orang pandai, bahkan di dalam barisan<BR>terdapat seorang pemimpin  aneh yang  merupakan seorang  pendeta bertubuh  besar<BR>sekali bagaikan seorang raksasa akan  tetapi agak pendek. Pendeta ini  berkepala<BR>botak, berjenggot hitam dan  kaku bagaikan kawat dan  yang menyongot ke sana  ke<BR>mari tidak terawat. Tubuhnya yang gemuk  besar itu mengenakan pakaian yang  aneh<BR>pula, oleh  karena pakaian  ini  terbuat dari  banyak  macam kain  kembang  yang<BR>ditambal-tambal. Dilihat  dari  keadaan  pakaiannya, pendeta  ini  lebih  pantas<BR>disebut seorang pengemis jembel!<BR>Pendeta ini  lihai dan  sakti sekali  dan  ia menjadi  jago nomor  satu  di<BR>seluruh Kerajaan Turki.  Namanya di  Turki terkenal  sebagai Balutin,  sedangkan<BR>pendeta yang telah seringkali merantau  di pedalaman Tiongkok ini disebut  dalam<BR>bahasa Tiongkok sebagai Pouw Lojin. Oleh karena sering masuk di daerah Tiongkok,<BR>maka Balutin pandai bicara dalam bahasa Tionghoa.<BR>Dengan adanya pendeta ini, maka ekspedisi Turki ini tidak mengalami  banyak<BR>rintangan, oleh  karena  setiap  penghalang  yang  kuat  selalu  hancur  apabila<BR>berhadapan dengan Balutin yang lihai. Selain ilmu silatnya yang tinggi,  Balutin<BR>juga mahir  dalam  ilmu sihir,  dan  lweekang serta  khikangnya  sudah  mencapai<BR>tingkat tinggi sekali.<BR>Oleh karena adanya gerakan tentara Turki inilah yang membuat bangsa  Mongol<BR>gelisah sekali. Mereka  ini merasa  pun akhirnya  dapat juga  mencari tahu  akan<BR>rahasia Kerajaan  Turki  dan dapat  mengetahui  bahwa bangsa  Turki  ini  hendak<BR>mencari sebuah Pulau Emas di Laut Tiongkok. Maka, bangsa Mongol lalu menguasakan<BR>kepada Pangeran Vayami yang  cerdik dan untuk  menghubungi Kaisar Tiongkok.  Ini<BR>pulalah sebabnya  maka Hai  Kong  Hosiang diutus  oleh kaisar  untuk  mengundang<BR>Pangeran Vayami datang ke  istana kaisar. Setelah  Vayami bertemu dengan  kaisar<BR>secara cerdik sekali Vayami lalu menghasut dan memberi tahu bahwa tentara  Turki<BR>bermaksud mengurung ibu kota Tiongkok dan merampas sebuah pulau di Laut Tiongkok<BR>yang mengandung banyak emas! Secara cerdik sekali Pangeran Vayami menghasut  dan<BR>hendak mengadudombakan tentara Turki  dan tentara Tiongkok, sedangkan  diam-diam<BR>pangeran yang  cerdik dan  licin ini  telah mempersiapkan  kaki tangannya  untuk<BR>secara mendadak menyerbu  pulau itu.  Ia mengambil siasat  "Membiarkan Dua  Ekor<BR>Anjing Berebut  Tulang"  dan  kemudian  diam-diam  membawa  tulang  itu  berlari<BR>sementara kedua anjing itu masih bergumul!<BR>Akan tetapi, Kaisar  Tiongkok pun  bukan seorang bodoh,  dan seandainya  ia<BR>sendiri bodoh,  namun  para  penasehatnya adalah  orang-orang  cendekiawan  yang<BR>berpemandangan  luas.  Oleh  karena  ini   biarpun  kaisar  telah  masuk   dalam<BR>perangkapnya dan mengirimkan barisan besar yang dikepalai oleh Beng Kong Hosiang<BR>dan beberapa  orang perwira  tertinggi kepandaiannya  bahkan kepala  bayangkari,<BR>seorang perwira kekasih kaisar  yang amat tinggi  kepandaiannya dan bernama  Lui<BR>Siok In, mendapat tugas khusus untuk memimpin barisan itu bersama-sama Beng Kong<BR>Hosiang dan lain-lain perwira, bergerak menuju  ke pantai laut di sebelah  utara<BR>dekat tapal batas Tiongkok, di  mana menurut keterangan Pangeran Vayami  tentara<BR>Turki itu berkumpul. Sementara itu, kaisar memerintahkan Hai Kong Hosiang  untuk<BR>tetap menemani Pangeran Vayami dengan  alasan melindungi keselamatan tamu  agung<BR>itu dalam perjalanannya  kembali ke negerinya,  sedangkan sebetulnya kaisar  ini<BR>bukan hendak menjaga keselamatan orang,  akan tetapi bahkan ingin mengawasi  dan<BR>mengikuti gerak-geriknya,  dan  membatasi usaha-usaha  kecurangan  yang  mungkin<BR>hendak dilakukan oleh  Pangeran Vayami yang  cerdik. Oleh karena  ini, Hai  Kong<BR>Hosiang mendapat tugas istimewa dan hwesio ini pun lalu mengajak supeknya, yaitu<BR>Kiam Ki Sianjin yang telah pikun dan gagu, akan tetapi masih lihai sekali itu.<BR>Pangeran Vayami lalu keluar dari istana  bersama Hai Kong Hosiang dan  Kiam<BR>Ki Sianjin, dan pangeran ini langsung  menuju ke utara pula dan memberi  tahukan<BR>kepada Hai Kong Hosiang tentang adanya Pulau Emas itu. Hai Kong Hosiang walaupun<BR>seorang pendeta, namun hatinya tertarik dan ingin sekali mendapatkan gunung emas<BR>itu, maka ia pun lalu menyetujui ajakan Pangeran Vayami untuk menyaksikan  pulau<BR>itu dari dekat dan kalau mungkin mendarat di pulau itu. Hal ini menurut Hai Kong<BR>Hosiang tidak ada salahnya, oleh karena tugasnya yang didapat dari kaisar  hanya<BR>mengawasi dan  menjaga agar  pangeran  ini jangan  melakukan sesuatu  yang  akan<BR>merugikan, pendeknya  kaisar mencurigai  Pangeran Vayami  dan Hai  Kong  Hosiang<BR>bertugas mengawasinya.<BR>Ketika tentara Turki yang dipimpin dan dilindungi oleh Balutin itu tiba  di<BR>tepi pantai  laut, mereka  berhenti dan  memasang kemah.  Sementara itu,  bagian<BR>perlengkapan lalu  sibuk  membuat  perahu-perahu  untuk  keperluan  menyeberang.<BR>Biarpun mereka  telah  lebih dulu  menyediakan  segala keperluan  untuk  membuat<BR>perahu-perahu  ini,  akan  tetapi  oleh   karena  jumlah  tentara  yang   hendak<BR>diseberangkan ini  tidak kurang  dari seribu  orang, maka  pembuatan perahu  itu<BR>makan waktu berhari-hari.<BR>Dan pada waktu mereka sedang sibuk membuat persiapan menyeberang, datanglah<BR>tentara Kerajaan Tiongkok yang dipimpin oleh Lui Siok In, Beng Kong Hosiang  dan<BR>perwira-perwira lain! Tentara Tiogkok lebih  banyak jumlahnya dan karena  mereka<BR>datang di  waktu  hari telah  menjadi  gelap,  maka tentara  Tiongkok  di  bawah<BR>pimpinan Lui Siok In  yang pandai, lalu  diam-diam mengurung perkemahan  tentara<BR>Turki. Kemudian, serentak  tentara Tiongkok, yang  sudah mengurung ini  memasang<BR>obor hingga keadaan menjadi terang sekali bagaikan siang hari!<BR>Tentu saja,  ketika  tiba-tiba  melihat ribuan  obor  menyala  mengelilingi<BR>tempat  mereka,  tentara  Turki  menjadi  panik.  Akan  tetapi,  Balutin  dengan<BR>senyumnya yang selalu menghias mukanya  yang bulat dan gemuk, berhasil  menyuruh<BR>anak buahnya berlaku  tenang. Mereka diperintahkan  untuk memasang dan  memegang<BR>obor pula,  kemudian ia  lalu  berdiri di  depan barisannya  menanti  kedatangan<BR>musuh.<BR>Lui Siok In  dengan tindakan  gagah, pedang  di pinggang  dan sayap  garuda<BR>menghias topinya, tanda  bahwa ia  adalah seorang perwira  Sayap Garuda  tingkat<BR>tertinggi, diikuti  oleh  perwira-perwira  lain  dan  Beng  Kong  Hosiang,  maju<BR>menghampiri Balutin dan berkata dengan suara lantang,<BR>"Hai, tentara  Turki!  Kalian  telah  melanggar  wilayah  kami  dan  karena<BR>sekarang kamu telah dikurung dan tak berdaya, maka lebih baik kamu menyerah saja<BR>agar menjadi orang-orang tawanan yang akan kami perlakukan dengan baik-baik!"<BR>Di bawah penerangan obor  di sekeliling mereka  yang dipegang oleh  tentara<BR>kedua belah fihak,  Balutin kelihatan  seperti seorang  raksasa pendek.  Pendeta<BR>Turki ini lalu melangkah maju dan sambil tertawa ia menuding ke arah Lui Siok In<BR>dan berkata, "Hai, Perwira muda! Siapakah yang menjadi pemimpin besar  barisanmu<BR>ini? Suruhlah dia sendiri  maju, dan jangan majukan  segala perwira hijau  untuk<BR>bicara dengan aku!"<BR>Mendengar dirinya disebut "perwira hijau"  oleh pengemis jembel yang  gemuk<BR>sekali ini, tentu saja Lui Siok In menjadi marah.<BR>"Bangsat jembel, siapakah kamu?"<BR>Balutin tertawa  bergelak  sambil memegangi  perutnya.  "Kau mau  tahu  aku<BR>siapa? Akulah  pemimpin besar  barisan  Turki! Akulah  Balutin atau  boleh  juga<BR>kausebut Pouw Lojin! Anak  muda, panggillah keluar  pemimpin besarmu agar  dapat<BR>bicara dengan aku!"<BR>Lui Siok  In terkejut  mendengar  bahwa yang  berdiri di  depannya  seperti<BR>seorang pengemis jembel  ini adalah  Balutin sendiri, tokoh  yang amat  terkenal<BR>semenjak  tentara  Turki  menyerbu  melalui  Mongol.  Nama  Balutin  ini  pernah<BR>disebut-sebut oleh  kaisar  sendiri  ketika  memberi  perintah  kepadanya  untuk<BR>memimpin barisan, oleh karena  kaisar pun telah  mendengar dari Pangeran  Vayami<BR>yang sangat memuji-muji Balutin sebagai orang gagah dan pemimpin besar. Lui Siok<BR>In tidak sudi memperlihatkan kelemahan dan kejerihannya, maka sambil tertawa  ia<BR>berkata,<BR>"Aha, tidak tahunya pemimpin besar  tentara Turki yang bernama Balutin  dan<BR>yang disohorkan sangat gagah perkasa  itu hanyalah seorang pengemis jembel  yang<BR>terlantar. Ha-ha-ha! Ketahuilah, Jembel gemuk,  akulah pemimpin barisar ini  dan<BR>namaku Lui Siok In.  Lebih baik kau  menyerah saja agar  kau dapat diberi  makan<BR>enak dan tak usah mampus di ujung senjata!"<BR>Balutin memandang heran dan hampir tak percaya bahwa panglima besar tentara<BR>Tiongkok hanyalah seorang perwira muda ini. Ia lalu berkata menghina,<BR>"Agaknya Tiongkok sudah kehabisan orang gagah, maka terpaksa memajukan  kau<BR>sebagai panglima. Mari, hendak kulihat sampai di mana kepandaianmu!'<BR>Sambil berkata  demikian, Balutin  menengok ke  arah pohon  yang tumbuh  di<BR>dekat situ. Daun-daun pohon itu bergantungan di atasnya dan ia lalu menggerakkan<BR>kedua tangannya menampar ke  arah daun-daun pohon itu.  Angin besar keluar  dari<BR>kedua lengannya yang dipenuhi tenaga khikang  itu dan beberapa helai dauh  pohon<BR>itu lalu rontok dan  melayang ke bawah!  Balutin masih menggerak-gerakkan  kedua<BR>tangannya dan daun-daun pohon yang melayang ke bawah itu bergerak-gerak di udara<BR>dan tak dapat melayang  turun, seakan-akan tertahan oleh  tiupan dari bawah  dan<BR>kini bermain-main di udara bagaikan hidup!<BR>Lui  Siok  In  terkejut  sekali  dan  ia  mengerti  bahwa  Balutin   sedang<BR>mempergunakan kepandaian  khikang yang  disebut  Mempermainkan Daun  Rontok!  Ia<BR>maklum bahwa daun-daun ini biarpun  ringan, akan tetapi dapat digerakkan  dengan<BR>tenaga khikang dan dapat dipakai menyerang lawan bagaikan senjata-senjata  hasia<BR>hebat! Di Tiongkok  juga terdapat  ilmu ini yang  dipelajari sambil  menggunakan<BR>tenaga khikang dan  angin gerakan  tangan dapat diarahkan  kepada daun-daun  itu<BR>hingga daun-daun itu dapat digerakkan ke mana saja menurut kehendak orang.<BR>Benar saja sebagaimana dugaan Lui  Siok In. Tiba-tiba Balutin lalu  membuat<BR>gerakan dengan  kedua  telapak  tangannya  dan  daun-daun  itu  dari  atas  lalu<BR>menyambar turun hendak menyerang tubuh Lui Siok In. Perwira muda ini bukan orang<BR>sembarangan dan ia juga memiliki kepandaian  tinggi. Kalau ia tidak lihai,  mana<BR>ia bisa diterima menjadi kepala pengawal  pribadi kaisar. Ia lalu berseru  keras<BR>dan membuat gerakan  dengan jari-jari tangannya  pula yang ditelentangkan.  Dari<BR>kedua telapak tangannya ini keluarlah tenaga  khikang yang hebat pula dan  aneh.<BR>Daun-daun yang tadinya  dari atas  melayang naik kembali  dan terapung-apung  di<BR>tengah udara. Pertempuran hebat dan adu tenaga khikang ini berlangsung lama  dan<BR>menegangkan hingga semua tentara yang memegang obor dan menyaksikan pertandingan<BR>hebat ini  menahan  napas. Kedua  panglima  itu berhadapan  dengan  mata  saling<BR>pandang dan  kedua tangan  bergerak-gerak dan  diulur ke  depan seakan-akan  dua<BR>orang pengemis sedang minta sedekah, sedangkan daun-daun itu melayang-layang  di<BR>tengah udara, sebentar menyambar turun, sebentar melayang naik kembali.<BR>Akan tetapi, akhirnya ternyata bahwa Lui Siok In kalah tinggi kepandaiannya<BR>dan tenaga  khikangnya  masih  kalah  setingkat oleh  Balutin  yang  lihai  itu.<BR>Beberapa kali  kedua orang  itu berseru  mengerahkan tenaga,  dan perlahan  tapi<BR>tentu, kedua tangan Lui Siok In mulai gemetar, sedangkan pada mukanya yang pucat<BR>itu mengucur peluh membasahi jidat dan pipinya. Daun-daun yang bergerak-gerak di<BR>udara itu mulai mendesak turun dan makin mendekati kepala Lui Sok In.<BR>Perwira she  Lui  itu maklum  bahwa  apabila adu  kh