Previous Page of 289Next Page
title_pointer.png

Neraka Hitam

spinner.gif

NERAKA HITAM
SERI BARA MAHARANI (4)
Lanjutan Rahasia Hiolo Kumala
Karya : Khu Lung
Diceritakan oleh Tjan ID

Jilid 1
DALAM cerita yang berjudul Rahasia hiolo kumala,
dikisahkan bahwa Hoa In-liong sedang bercakap cakap
dengan Si Leng jin membicarakan rahasia yang meliputi
perkumpulan Hian-beng kau, sebuah batu kecil disambit ke
dalam jendela oleh seseorang.
Setelah dilakukan pengejaran yang amat ketat, akhirnya
dapat diketahui bahwa orang itu adalah seorang kakek
berbaju hijau.
Dalam suatu perdebatan sengit yang kemudian
berlangsung, Hoa In-liong bersikeras untuk menantang kakek
itu berduel.
Karena mendongkol dan jengkel setelah di desak terus
menerus, akhirnya kakek berbaju hijau itu berkata sambil
tertawa keras. "Bocah cilik! Tampaknya sebelum kau di beri
penjelasan yang setimpal, kelatahanmu kini hari akan kian
bertambah, baiklah! Akan kuterima tantanganmu itu."

2
Sinar keemasan emas tampak berkilauan di udara, tahutahu
di dalam pergelanggan tangan si kakek berbaju hijau itu
telah bertambah dengan dua buah gelang emas yang
besarnya seperti mangkuk dengan permukaan luarnya rata,
sedang permukaan dalamnya bergerigi.
Gelang itu tidak mirip gelang baja Liong hau kang-huan,
juga tidak mirip dengan gelang pelindung tangan lu jiu huan,
tapi yang jelas bentuk senjata tersebut merupakan suatu
bentuk senjata yang aneh dan istimewa sekali.
Diam-diam Hoa In-liong berpikir setelah menyaksikan
bentuk aneh senjata musuhnya
"Bila dilihat dari bentuk senjata itu tam pak gerigi dibalik
gelang khusus dipergunakan untuk mengunci pedang musuh,
Hmm... cuma kalau kau anggap ilmu pedang keluarga Hoa
kami dapat diatasi dengan cara semacam itu, maka keliru
besarlah penghitunganmu itu....."
Terdengar si kakek berjubah hijau berkata lagi, "Jurus
seranganku dalam mempergunakan senjata Jit gwat siang
huan (sepasang gelang mata hari dan rembulan) ku ini
mempunyai keistimewaan yang berbeda jauh dengan ke
adaan pada umumnya kau musti lebih berhati-hati......"
"Tak usah kuatir, cuma akupun berharap agar kau lebih
waspada pula sewaktu menghadapi ancaman pedangku."
Sekalipun nafsu membunuhnya sudah jauh berkurang anak
muda itu masih tidak sudi untuk melepaskan si kakek
musuhnya dengan begitu saja, maka setelah berpikir sebentar,
tubuhnya segera menubruk ke muka, pedang antiknya
langsung membabat ke pinggang lawan.

3
Jangan dianggap serangan itu amat sederhana dan biasa,
hakekatnya dibalik kesederhanaan tersebut justru tersimpan
suatu da ya kekuatan yang amat dahsyat.
Kakek berbaju hijau itu terperanjat, pikirnya, "Hebat betul
tenaga dalam yang dimiliki orang ini, tak malu kalau menjadi
putranya Thian cu kiam."
Sementara otaknya berputar, dengan cekatan ia berkelit ke
samping.
"Huuh.....semula kuanggap ilmu silatmu sudah lihay benar,
tak tahunya cuma manusia yang pandai berkelit" ejek Hoa Inliong
kemudian sambil tertawa.
Betapa gusarnya kakek berbaju hijau itu mendengar ejekan
tersebut, diam-diam ia menyumpah, "Sialan betul kau si bocah
latah, tampaknya aku harus memberi pelajaran yang setimpal
kepadamu."
Dalam hati ia berpikir demikian, diluar katanya, "Bagus
sekali! Bukankah kau akan menjadi pemimpin umat persilatan?
Ketahuilah jago-jago dalam Hian-beng-kau yang lebih li hay
dari diriku banyaknya tak terhitung, jika tak mampu
menangkan aku lebih baik enyah dari sini dan pulang saja ke
perkampungan Liok-soat sanceng."
Sambil berkata sinar emas berkilauan diangkasa, bagaikan
sebuah bukit emas, kedua buah senjata itu langsung
menghantam ke atas batok kepala si anak muda itu.
Terkejut juga Hoa In-liong menghadapi keganasan
serangan itu, tapi bukan berarti dia takut, pedangnya segera
diputar untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut.

4
"Traang......! Traang....!" benturan-benturan nyaring
menggelegar di udara menyebabkan percikan bunga api,
secara beruntun Hoa In-liong mundur tiga langkah ke
belakang, tangan kirinya menjadi kaku dan kesemutan, ini
semua membuat hatinya tergetar.
Ketika ia coba menengadah, tampaklah kakek berjubah
hijau itu sudah mundur beberapa tombak dengan wajah
terkejut pula, dia lantas berpikir, "Hmm......rupanya diapun
tidak berhasil mendapatkan apa-apa......
Sementara itu si kakek berjubah hijau ini sudah membentak
nyaring dengan perasaan terkejut.
Beradunya gelang emas menimbulkan suara tajam yang
memekikkan telinga, tiba-tiba maju lagi melancarkan
tubrukan, dengan sepasang gelang emasnya yang satu
digunakan untuk menyerang jalan darah Pen-hwe-hia
sementara yang lain dipakai untuk menyerang lambung.
Hoa In-liong tetap tegak sekokoh batu karang, "Sreet.....!"
secepat kilat dia tusuk dada musuh.
Kehebatan dari serangan ini justru terletak pada soal
"kecepatan" sekalipun menyerang belakangan tapi tiba duluan
sebelum ancaman dari kakek berjubah hijau itu mencapai
sasarannya, pedang itu sudah tiba lebih dulu di depan
dadanya.
Sungguh amat terperanjat kakek berjubah hijau itu
pikirnya.
"Tak kusangka kalau ilmu pedang dari bocah ini sudah
mencapai taraf setinggi ini."

Previous Page of 289Next Page
sponsor

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter

Who's Reading

gldd53
sponsor

Recommended

To Liong To
To Liong To

candyrine
votes 2 comments 4

Suling Emas
Suling Emas

candyrine
votes 3 comments 2

sponsor