Halaman sebelumnya of 274Halaman selanjutnya

Rahasia Hiolo Kumala

spinner.gif

Rahasia Hiolo Kumala

Serial Bara Maharani (3)
Lanjutan TIGA MAHA BESAR
Karya : Khu Lung
Diterjemahkan oleh Tjan Ing Djoe

Bagaian II


678
Hoa In-liong bertindak cepat, tangannya segera berputar
kedepan mencekal ujung bajunya. "Tootiang, engkau akan
kemana?" Tegurnya gelisah.
Karena ditarik ujung bajunya, terpaksa Bu-jian tootiang
membatalkan niatnya. "Seng-sut-pay telah membakar habis
kuil pinto, maka pinto juga akan menghancurkan lumatkan
Hay-sim-san sarang mereka"
"Tapi.... Tapi.... Kau cuma sendirian, mana mungkin niatmu
bisa terwujud? "seru Hoa In-liong agak ragu-ragu.
"Hoa kongcu, apakah engkau anggap pinto benar-benar
seorang imam tua yang tak berguna?" tiba-tiba Bu-jian
tootiang balik bertanya, suaranya sangat hambar.
"Aku tahu, tootiang adalah seorang tokoh persilatan yang
selama ini menyembunyikan diri dalam too-koan!"
Bu-jian tootiang tertawa ewa. "Kongcu keliru besar. Guru
pinto yang sebenarnya tak lain adalah Tong Thian-kaucu
dimasa lalu, dia adalah seorang gembong iblis yang betulbetul
pantas disebut iblis"
Setelah ucapan tersebut diutarakan keluar, semua orang
yang berada dalam gelanggang jadi terbelalak lebar. Tak
seorangpun sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
Terdengar Bu-jian tootiang berkata lagi, "Saudara-saudara
sekalian tak usah kuatir. Anak murid dari Thian Ek-cu untuk
selanjutnya tak ada yang menjadi iblis sesat lagi"
Hoa In-liong merasa serba salah. Iapun tak sanggup
mengatakan apa-apa lagi. Maka apa yang bisa ia lakukan

679
hanya menarik tangan Bu-jian tootiang erat-erat tanpa dilepas
kembali.
Bu-jian tootiang kembali berkata, "Tempo dulu pinto
pernah berjumpa muka dengan ayahmu. Watak kongcu persis
seperti watak ayahmu, bunyak manfaat yang telah pinto tarik
dan pelajaran ini."
Yang dia maksudkan adalah kebaikan serta kegagahan
keluarga Hoa. Apa mau dikata Hoa In-liong adalah seorang
pemuda yang keras kepala, segera teriaknya, "Aku tak ambil
peduli! Sekalipun kau berbicara sampai lidahmu membusuk
juga percuma. Pokoknya aku tak nanti akan membiarkan
engkau menempuh bahaya seorang diri."
"Kalan memang begitu, pinto terpaksa harus menyalahi
dirimu!"
Seraya berkata demikian, Bu-jian tootiang segera putar
telapak tangannya dan menghantam kepada Hoa In-liong.
Serangan tersebut tak dapat diketahui arah asalnya, tapi
kecepatannya luar biasa sekali.
Padahal Hoa In-liong sama sekali tidak bersiap sedia
terhadap datangnya ancaman tersebut, tampaknya serangan
itu segera akan bersarang telak di atas tubuhnya.
Berada dalam keadaan seperti ini, untuk memberi
pertolongan jelas sudah tak mungkin lagi. Semua orang jadi
terperanjat, bahkan ada pula diantara mereka yang menjerit
kaget.
Disaat yang amat kritis itulah, semua orang hanya merasa
pandangan matanya jadi kabur dan sesosok bayangan
manusia tahu tahu sudah terlempar ketengah udara.

680
Menyusul kemudian, terdengar suara Hoa In-liong yang
sedang minta maaf berkumandang, "Maaf....! Maaf....! Aku....
Aku.... Sebenarnya tidak sengaja!"
Ketika semua orang memandang kearah gelanggang
dengan lebih cermat, maka terlihatlah orang yang terlempar
dari gelanggang itu ternyata adalah Bu-jian tootiang.
Sementara itu Bu-jian tootiang tergeletak diatas tanah
sambil meringis menahan sakit. "Pinto....Pinto....Aaai!"
Ditengah helaan nafasnya, ia gelengkan kepalanya
berulang kali. Agaknya bandingan itu cukup keras sehingga
mengakibatkan tubuhnya terasa amat sakit.
Dengan wajah penuh rasa menyesal dan permintaan maaf
Hoa In-liong membimbingnya bangun berdiri, katanya,
"Tootiang, harap engkau suka memberi maaf atas
kecerobohan serta kekasaranku!"
Bu-jian tootiang tertawa getir. "Hal ini tak dapat
menyalahkan diri kongcu. Kalau ingin nenyalahkan maka harus
salahkan diri pinto sendiri yang tak tahu diri serta menilai
dirimu terlampau rendah"
"Tidak! Tootiang terlalu baik hati dan ramah, lagipula
engkaunpun tidak menggunakan tenaga sepenuhnya.
Andaikata tootiang menggunakan tenaga yang lebih besar lagi
maka yang roboh sudah pasti adalah diriku sendiri. Aku tahu,
tujuan dari tootiang dengan serangan itu adalah bermaksud
untuk memaksa aku lepas tangan. Akulah yang salah karena
tak dapat menguasahi diri sehingga sungguh-sungguh
membanting tootiang sampai terjungkal"

681
Setelah pembicaraan itu berlangsung, semua orang baru
menyadari akan duduk persoalan yang sebenarnya, semua
orang lantas mengerumun maju ke depan.
Ternyata Bu-jian tootiang ingin terburu buru lepaskan diri
dari cekalan orang, maka ia gunakan telapak tangannya untuk
pura-pura melancarkan serargan. Dalam anggapannya gertak
sambal itu pasti akan berhasil dengan cemerlang. Dalam
keadaan tak terduga dan tergesa-gesa Hoa In-liong pasti akan
melepaskan cekalannya untuk mengundurkan diri kebelakang.
Asal cekalannya terlepas, maka dengan suatu gerakan yang
sama sekali tak terduga ia dapat kabur dari situ.
Siapa tahu Hoa In-liong memang berniat sungguh-sungguh
untuk mencegah imam itu menempuh bahaya seorang diri.
Sewaktu menyaksikan datangnya serangan secara tiba-tiba,
tentu saja cekalannya tidak dilepaskan dengan begitu saja.
Lantaran dia sendiripun tidak bermaksud mundur ke
belakang, maka bukannya mundur justru pemuda itu maju ke
muka, kaki kirinya maju selangkah. Sementara telapak
tangannya dari mencekal menjadi mencengkeram dan
ditangkapnya lengan kiri Bu jian tootiang erat-erat.
Ketika badannya dilengkungkan seperti busur dan lengan
kanannya digetarkan ke depan, ternyata tubuh Bu-jian
tootiang terangkat lewat punggungnya dan melayang ke
depan.
Ternyata di saat yang terakhir ia baru tahu jika Bu-jian
tootiang sama sekali tidak menggunakan tenaga penuh, tak
ampun lagi terpelantinglah si toosu setengah baya itu dengan
kepala menghadap ke atas.

Halaman sebelumnya of 274Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan (2)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Siapa yang Membaca

Disarankan