Previous Page of 316Next Page

Rahasia Hiolo Kumala

spinner.gif

<P>Rahasia Hiolo Kumala</P>

<P>Serial Bara Maharani (3)<BR>Lanjutan TIGA MAHA BESAR<BR>Karya : Khu Lung<BR>Diterjemahkan oleh Tjan Ing Djoe</P>

<P>Bagaian II</P>

<P><BR>678<BR>Hoa In-liong bertindak cepat, tangannya segera berputar<BR>kedepan mencekal ujung bajunya. "Tootiang, engkau akan<BR>kemana?" Tegurnya gelisah.<BR>Karena ditarik ujung bajunya, terpaksa Bu-jian tootiang<BR>membatalkan niatnya. "Seng-sut-pay telah membakar habis<BR>kuil pinto, maka pinto juga akan menghancurkan lumatkan<BR>Hay-sim-san sarang mereka"<BR>"Tapi.... Tapi.... Kau cuma sendirian, mana mungkin niatmu<BR>bisa terwujud? "seru Hoa In-liong agak ragu-ragu.<BR>"Hoa kongcu, apakah engkau anggap pinto benar-benar<BR>seorang imam tua yang tak berguna?" tiba-tiba Bu-jian<BR>tootiang balik bertanya, suaranya sangat hambar.<BR>"Aku tahu, tootiang adalah seorang tokoh persilatan yang<BR>selama ini menyembunyikan diri dalam too-koan!"<BR>Bu-jian tootiang tertawa ewa. "Kongcu keliru besar. Guru<BR>pinto yang sebenarnya tak lain adalah Tong Thian-kaucu<BR>dimasa lalu, dia adalah seorang gembong iblis yang betulbetul<BR>pantas disebut iblis"<BR>Setelah ucapan tersebut diutarakan keluar, semua orang<BR>yang berada dalam gelanggang jadi terbelalak lebar. Tak<BR>seorangpun sanggup mengucapkan sepatah kata pun.<BR>Terdengar Bu-jian tootiang berkata lagi, "Saudara-saudara<BR>sekalian tak usah kuatir. Anak murid dari Thian Ek-cu untuk<BR>selanjutnya tak ada yang menjadi iblis sesat lagi"<BR>Hoa In-liong merasa serba salah. Iapun tak sanggup<BR>mengatakan apa-apa lagi. Maka apa yang bisa ia lakukan</P>

<P>679<BR>hanya menarik tangan Bu-jian tootiang erat-erat tanpa dilepas<BR>kembali.<BR>Bu-jian tootiang kembali berkata, "Tempo dulu pinto<BR>pernah berjumpa muka dengan ayahmu. Watak kongcu persis<BR>seperti watak ayahmu, bunyak manfaat yang telah pinto tarik<BR>dan pelajaran ini."<BR>Yang dia maksudkan adalah kebaikan serta kegagahan<BR>keluarga Hoa. Apa mau dikata Hoa In-liong adalah seorang<BR>pemuda yang keras kepala, segera teriaknya, "Aku tak ambil<BR>peduli! Sekalipun kau berbicara sampai lidahmu membusuk<BR>juga percuma. Pokoknya aku tak nanti akan membiarkan<BR>engkau menempuh bahaya seorang diri."<BR>"Kalan memang begitu, pinto terpaksa harus menyalahi<BR>dirimu!"<BR>Seraya berkata demikian, Bu-jian tootiang segera putar<BR>telapak tangannya dan menghantam kepada Hoa In-liong.<BR>Serangan tersebut tak dapat diketahui arah asalnya, tapi<BR>kecepatannya luar biasa sekali.<BR>Padahal Hoa In-liong sama sekali tidak bersiap sedia<BR>terhadap datangnya ancaman tersebut, tampaknya serangan<BR>itu segera akan bersarang telak di atas tubuhnya.<BR>Berada dalam keadaan seperti ini, untuk memberi<BR>pertolongan jelas sudah tak mungkin lagi. Semua orang jadi<BR>terperanjat, bahkan ada pula diantara mereka yang menjerit<BR>kaget.<BR>Disaat yang amat kritis itulah, semua orang hanya merasa<BR>pandangan matanya jadi kabur dan sesosok bayangan<BR>manusia tahu tahu sudah terlempar ketengah udara.</P>

<P>680<BR>Menyusul kemudian, terdengar suara Hoa In-liong yang<BR>sedang minta maaf berkumandang, "Maaf....! Maaf....! Aku....<BR>Aku.... Sebenarnya tidak sengaja!"<BR>Ketika semua orang memandang kearah gelanggang<BR>dengan lebih cermat, maka terlihatlah orang yang terlempar<BR>dari gelanggang itu ternyata adalah Bu-jian tootiang.<BR>Sementara itu Bu-jian tootiang tergeletak diatas tanah<BR>sambil meringis menahan sakit. "Pinto....Pinto....Aaai!"<BR>Ditengah helaan nafasnya, ia gelengkan kepalanya<BR>berulang kali. Agaknya bandingan itu cukup keras sehingga<BR>mengakibatkan tubuhnya terasa amat sakit.<BR>Dengan wajah penuh rasa menyesal dan permintaan maaf<BR>Hoa In-liong membimbingnya bangun berdiri, katanya,<BR>"Tootiang, harap engkau suka memberi maaf atas<BR>kecerobohan serta kekasaranku!"<BR>Bu-jian tootiang tertawa getir. "Hal ini tak dapat<BR>menyalahkan diri kongcu. Kalau ingin nenyalahkan maka harus<BR>salahkan diri pinto sendiri yang tak tahu diri serta menilai<BR>dirimu terlampau rendah"<BR>"Tidak! Tootiang terlalu baik hati dan ramah, lagipula<BR>engkaunpun tidak menggunakan tenaga sepenuhnya.<BR>Andaikata tootiang menggunakan tenaga yang lebih besar lagi<BR>maka yang roboh sudah pasti adalah diriku sendiri. Aku tahu,<BR>tujuan dari tootiang dengan serangan itu adalah bermaksud<BR>untuk memaksa aku lepas tangan. Akulah yang salah karena<BR>tak dapat menguasahi diri sehingga sungguh-sungguh<BR>membanting tootiang sampai terjungkal"</P>

Previous Page of 316Next Page

Comments & Reviews (2)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended