Halaman sebelumnya of 245Halaman selanjutnya

Rahasia Hiolo Kumala

spinner.gif

Rahasia Hiolo Kumala

Serial Bara Maharani (3)
Lanjutan TIGA MAHA BESAR
Karya : Khu Lung
diterjemahkan oleh Tjan Ing Djoe

Bagian I

Jilid 1
Di perkampungan Liok-soat san ceng yang letaknya dibukit In-tiong-san dalam bilangan propinsi San-se, hiduplah seorang pendekar besar yang namanya tersohor dimana-mana.

Pendekar besar itu she Hoa bernama Thian-hong, ilmu silatnya tinggi dan tiada tandingannya di kolong langit, orang persilatan menyebutnya dengan julukan Thian-cu-kiam, pedang raja langit.

Dua puluh tahun berselang, kaum iblis dan manusia jahat menguasai dunia persilatan waktu itu suasana dalam sungai telaga tak aman, kejahatan merajalela, banyak pertikaian dan perselisihan terjadi dimana-mana.

Seorang diri dengan kekuatan yang dimilikinya Hoa Thianhong telah tampilkan diri untuk menegakkan keadilan serta kebenaran.

Setelah berulangkali mengalami kejadian-kejadian besar yang mempertaruhkan jiwanya, hawa sesat dan hawa iblis dapat dilenyapkan dari muka bumi, dunia persilatan telah memasuki babak kehidupan baru.

Selama dua puluh tahun terakhir, dunia persilatan aman tenteram tak pernah terjadi peristiwa apapun, keamanan dan kedamaian tersebut boleh dibilang berkat kebijaksanaan serta kebesaran jiwa Hoa Thian hong.

Tahun ini Hoa Thian hong telah memasuki usia setengah baya, ilmu silatnya mencapai tingkatan yang lebih tinggi dan nama besarnya ibarat matahari ditengah awan, setiap umat persilatan memandangnya sebagai tulang punggung sungai telaga, malahan para  pekerja dan rakyat kecilpun mengenal siapakah Hoa Thian hong itu.

Tengah hari baru lewat, sebuah kereta kuda tiba-tiba muncul dari balik pepohonan dan dilarikan secepat cepatnya menuju tanah perbukitan In tiong san....
Di bawah terik sang surya yang menyengat badan, kusir itu sudah bermandi keringat, tapi tak mengenal lelah, cambuknya diayun berulang kali mengiringi hardikan-hardikan pendek, kudanya dilarikan amat kencang.

Selang sesaat, kereta itu sudah menembusi sebuah lembah yang dalam, dan perkampungan Liok-soat san ceng pun muncul di depan mata.
Kusir itu tidak mengurangi kecepatan lari keretanya, malahan ia mengayun cambuknya semakin gencar.

Derap kaki kuda, gelindingan roda kereta yang ramai memekikkan telinga, sehingga mengejutkan penghuni perkampungan itu, Tiong Liau pelayan tua perkampungan itu cepat memburu keluar dari halaman.

3 Ketika melihat sebuah kereta kuda menerjang masuk ke dalam perkampungan dengan kecepatan tinggi, cepat menjura sambil menyapa:
"Tahan! Tolong tanya tamu dari mana yang telah berkunjung.."
"Nona Suma dari kota Lam-yang!" sahut laki-laki kusir kereta itu dengan lantang.
Tiong Liau, pelayan tua itu tampak tertegun, sementara ia belum mengucapkan sesuatu, kereta kuda itu sudah menerjang tiba dengan cepatnya, terpaksa dia menyingkir ke samping.

Dengan disertai suara derap kuda dan gelindingan roda yang ramai, kereta itu lewat di sisinya dan menerjang masuk ke dalam perkampungan.
Sementara itu beberapa orang telah muncul di depan pintu gerbang dipaling depan adalah seorang laki-laki berperawakan tinggi tegap dengan memakai jubah berwarna hijau, dialah tuan rumah perkampungan ini atau lebih dikenal sebagai
pedang raja langit Hoa Thian-hong.

Di samping laki-laki itu menyusul putra sulungnya yang bernama Hoa Si, kemudian dipaling belakang adalah beberapa orang pelayan.

Sekejap mata kemudian kereta itu sudah tiba di depan pintu gerbang, ketika dilihatnya kusir kereta itu tak mampu mengendalikan lari kudanya, seorang pelayan segera melompat ke depan, sepasang telapak tangannya segera direntangkan dan serentak kedua ekor kuda itu mengangkat sepasang kaki depannya ke atas, Liong Liau si pelayan tua yang telah memburu datang, segera menarik tali les kuda itu dan keretapun tertahan secara paksa.

Setelah kereta berhenti, hordenpun tersingkap menyusul dua orang gadis berpakaian kabung meloncat turun sambil memayang seorang gadis berbaju putih blaco dengan sepasang mata yang merah membengkak kebanyakan menangis.
Mengetahui siapa yang datang, Hoa Thian-hong amat terperanjat, cepat ia maju menyongsong sambil menegur:
"Si-moay, apa yang telah terjadi....?"

Gadis berbaju putih blaco itu bernama Suma-Jin, dia adalah putri tunggal dari Suma Tiang-cing, seorang pendekar persilatan yang amat tersohor namanya dalam sungai telaga.

Suma Tiang-cing adalah saudara angkat ayah Hoa Thianhong, oleh sebab itu walaupun usia Suma Jin masih muda, ia berada satu tingkatan dengan Hoa Thian-hong, dan merekapun saling menyebut saudara dalam tingkat kedudukan
yang seimbang.
Bertemu dengan Hoa Thian-hong, gadis Suma Jin tak dapat mengendalikan rasa sedihnya lagi, ia menangis tersedu-sedu, sambil memberi hormat serunya dengan nada pilu: "0oh....toako..."

Halaman sebelumnya of 245Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Siapa yang Membaca

Disarankan