Tiga maha besar
Serial Bara Maharani (2)
Karya : Khu Lung
Diceritakan oleh Tjan ID
Bagian I
Jilid 1
DITENGAH arena berdirilah seorang perempuan cantik berusia pertengahan yang berpakaian sederhana tapi bersih,wajahnya tenang tapi penuh berwibawa, seakan-akan baru saja melayang turun dari atas langit, berdiri dengan gagahnya ditengah gelanggang.
Dalam waktu yang sangat singkat itu pula Liong-bun Siangsat serta Yan-san It-koay yang merupakan gembong-gembong
iblis kalangan hitam, Jin Hian serta Yau Sut sekalian yang
merupakan jago-jago kangouw yang membunuh orang tanpa
berkedip, secara tiba-tiba berubah jadi jinak dan sama sekali
tak berani berkutik secara sembarangan.
Perempuan cantik berusia pertengahan itu bukan lain
adalah majikan muda dari perkampungan, atau Hoa Hujin
yang namanya pernah menggemparkan seluruh kolong langit
sejak belasan tahun berselang.
Dengan cepat Hoa Thian-hong alihkan pula sorot matanya
ke arah perempuan setengah baya itu, setelah mengetahui
bahwa orang yang merampas pedang bajanya bukan lain
adalah ibunya sendiri, ia jadi girang bercampur sedih,
jantungnya terasa berdebat amat keras.
Tampaklah ibunya berpakaian amat bersih dan rapi sekali,
seakan akan bukan muncul dari dalam goa yang kotor dan
gelap itu, untuk beberapa saat lamanya ia berdiri tertegun
sehingga rasa sakit akibat kambuhnya racun terataipun
terlupakan olehnya.
Dalam pada itu, air muka Cukat racun Yau Sut berubah jadi
pucat kehijau-hijauan, beberapa kali bibirnya bergerak seperti
mau mengucapkan sesuatu akan tetapi setiap kali maksudnya
itu diurungkan.
Liong-bun Siang-sat serta Yan-san It-koay berdiri kaku
seperti patung. Jin Hian tundukkan kepala memandang
kebawah, Pek Soh-gie berdiri dengan wajah penuh
Hoa Thian-hong dan Chin Wan-hong saling berpandangan
sekejap lalu tertawa, setelah perkawinan paras muka mereka
berdua meman-carkan cahaya berkilauan, cinta kasih yang
begitu hangat dan mesrah terkandung semua dibalik
senyuman tersebut membuat Biau-nia Sam-sian yang
menjumpai keadaan tersebut sama-sama terperangah
dibuatnya.
Tiba-tiba Li-hoa Siancu berteriak keras, "Bagus sekali!
setelah Hong ji punya suami, ia tak mau suhunya serta para
sunci nya lagi"
"Benar akupun merasakan juga akan hal ini" sambung Ci-wi
Siancu dari samping secara tiba-tiba, "aku merasa hubungan
siau sumoay dengan diriku jadi terpaut sekali"
Chin Wan-hong jadi sangat gelisah, ia berusaha hendak
membantah tapi mulutnya tergagap dan tak sepatah katapun
yang sanggup di utarakan keluar.
Melihat keadaan muridnya yang terkecil ini, Kiu-tok Sianci
segera tertawa dan menghentikan suara ribut-ribut semua
orang, dari sakunya diambil keluar sejilid kitab lalu berkata,
"Isi kitab isi merupakan kepandaian ilmu tusuk jarum guna
mengobati luka akibat keracunan, ambillah dan pelajari sendiri
dengan seksama, setengah tahun kemudian aku akan
berkunjung lagi keperkumpulan Liok Soat Sanceng guna
mewariskan kepandaian yang lain"
Ching Wan Hong menerima kitab tersebut dan
mengucapkan banyak terima kasih kepada suhunya, Kiu-tok
Sianci pun menggunakan kesempatan itu mohon diri kepada
semua orang.
Tiba-tiba Siang Tang Lay berseru, "Seng ji, bagaimanakah
ilmu silat yang dimiliki Kiu-im Kaucu menurut pendapatmu?!"
Hoa Thian-hong termenung dan berpikir beberapa saat
lamanya, kemudian menjawab, "Aku yang muda tak dapat
menerkanya!"
Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan.
"Tongkat kepala setan yang menjadi senjata andalannya itu
entah terbuat dari bahan apa? kalau didengar dari pantulan
suara ketika tongkat itu menyentuh tanah, mungkin beratnya
melebihi lima ratus kati...."
"Aaah! omong kosong, pandai benar engkau ngaco belo tak
karuan!" maki Lan-hoa Siancu.
Hoa Thian-hong tersenyum.
"Betul! tongkat itu berat sekali, mungkin enci tidak
perhatikan dengan seksama...."
"Aaaah! ngawur, omong kosong, aku lihat tongkat itu
dibawa olehnya dengan enteng sekali kami yang ada
didekatnyapun tak dengar sentuhan tongkat dengan tanah
maka engkau yang ada ditempat kejauhan malah mendengar
dengan jelas?"
"Suhu kau dengar atau tidak?" tanya Ci-wi Siancu.
Aku sih tidak mendengar jawab Kiu-tok Sianci sambil
tertawa, tapi aku percaya tongkat kepala setan itu bukan
benda sembarangan tongkat itu pasti berat sekali.
Kalau senjata itu benar-benar lima ratus kati beratnya tapi
ia bisa membawa dengan begitu enteng seolah-olah barang
kecil, dari sini dapat diketahui kalau ilmu silatnya pasti luar
biasa sekali!" teriak Lan-hoa Siancu.