Bara Maharani
Karya : Khu Lung
diterjemahkan oleh Tjan Ing Djoe
JILID KE 1
Membalas budi tuan penolong ayah bunda Malam telah kelam, suasana diseluruh jagad sunyi tak kedengaran sedikit suarapun, cahaya rembulan lapat2 muncul
dari balik awan yang gelap . . . angin malam berhembus sepoi-sepoi menggoyangkan daun dan ranting pepohonan disekeliling sana.
Jauh memandang kedepan yang nampak hanya hutan belantara, gonggongan srigala me nimbulkan suasana yang ngeri dimalam itu.....
Sebidang tanah kecil muncul ditengah hutan belantara, sebuah gubuk reyot berdiri disisi sebuah kuburan yang usang .
Dibawah sinar purnama tampak seorang pemuda berusia enam tujuh belas tahunanberlutut didepan kuburan itu, sebuah kuburan tak bernisan, wajahnya hitam pekat dengan alis yang tebal dan badan yang kekar.
Disisi pusara terletak sebuah kursi peyot, seorang perempuan cantik berwajah agung duduk dengan penuh kewibawaan disitu.
Angin berhembus makin kencang, kerlipan kunang2 seakan2 api setan yang muncul dari neraka...kecuali isak tangis yang lirih hanya bintang nun jauh disana
menemani jagad yang sunyi dan sepi. Tiba2 perempuan cantik itu menyeka air mata yang membasahi wajahnya, kemudian berkata : „Anak Seng, waktu sudah tidak pagi lagi, tenangkanlah hatimnu dan dengarkanlah pesan ibumu baik-baik !".
"Ibu, katakanlah ! ananda akan memperhatikannya dengan seksama!" buru2 pemuda itu putar badan seraya berlutut dihadapan ibunya.
„Aaai...!" helaan napas panjang membelah kesunyian yang mencekam seluruh jagad, "Situasi dalam dunia persilatan dewasa ini tidak aman, kejahatan merajalela.
suasana diliputi kegelapan bagaikan hutan belantara, kau harus ingat baik2 pesanku, setiap orang yang memiliki ilmu silat jauh lebih kuat darimu, sembilan bagian pastilah kaum durjana yang mengacau masyarakat...".
Sepasang alis pemuda itu menjungkit, diatas wajahnya yang hitam itu tiba2 terlintas cahaya yang tajam, sorot mata mengerikan memancar dari-balik kelopak matanya yang basah oleh air mata.
,,Anakku kau tak boleh bekerja menuruti angkara murka" ujar perempuan cantik itu sambil membelai rambut puteranya. "Dalam pertempuran berdarah yang berlangsung dalam pertempuran Pak Beng-Hwie sepuluh tahun berselang, seluruh kekuatan inti kaum lurus dan sesat telah bertemu satu sama lainnya sayang kaum
lurus berhasil ditumpas hingga ludas dan kaum sesat malah merebut kemenangan! aaai.... dunia telah berubah, badai darah melanda di-mana2".
la mendongak dan menghela napas panjang.
.,Anakku, kau harus ingat ! dalam perjalananmu didunia persilatan janganlah terlalu menuruti suara hati, jangan mendatangkan bencana bagi dirimu sehingga
menyia2kan pendidikan serta pelajaranku selama sepuluh tahun".
"Ananda akan ingat selalu pesan ibu'' sahut pemuda itu sambil menyeka air mata. „Kehormatan serta martabat pribadi adalah urusan kecil, melenyapkan kaum
durjana serta menolong umat manusia dalam dunia persilatan barulah pekerjaan yang maha besarl".
Perernpuan cantik itu mengangguk.,Sebelum kau berhasil menumpas kaum durjana lenyap dari permukaan bumi, janganlah sekali menikah dan punya istri, dari pada persoalan keluarga mengacauksn pikiran serta konsentrasimu dalam usaha untuk menumpas kaum iblis dari muka bumi dan menyelamatkan umat manusia dari lembah kehancuran."
Pemuda tersebut baru berusia enam tujuh belas tahun, tentu saja ia belum sampai memikirkan soal pacar, isteri apalagi menikah dan punya anak, sekalipun begitu ia tahu pesan ibunya pasti ada maksud tertentu maka ia mengangguk berulang sebagai pernyataan bahwa dia akan mengingatnya selalu didalam hati.
Perempuan cantik tadi merandek sejenak, kemudian seraya berpaling kearah kuburan disisi tubuhnya, ia berkata lagi dengan nada sesenggukan.
„Demi keadilan dan kebenaran, kau tak boleh bersipat pengecut dan mencari keselamatan diri sendiri..." .
Teringat akan situasi yang mencekam dalam dunia persilatan dewasa ini, perempuan itu tak dapat menahan lagi dan menangis terisak!
„Ibu legakanlah hatimu" buru2 sianak muda itu menghibur ibunya dengan suara halus. „Ananda pasti akan menjunjung tinggi semangat serta kebesaran jiwa
ayahku almarhum, aku pasti akan berjuang mati2an demi kebenaran dalam dunia persilatan".
Perempuan cantik itu mengangguk, demikianlah ibu dan anakpun saling berpandangan dengan air mata bercucuran, membuat hutan belantara itu seakan2
diliputi kabut hitam, menyirnakan cahaya rembulan dan menutupi seluruh jagad.