Su Kiam in Siu Lok
(Puteri Harum dan Kaisar)
Atau
pedang dan Kitab suci
Karya : Khu Lung
Jilid 1
DENGAN menunggang kuda, tampak seorang tua tengah mendatangi sambil
"bernyanti-nyanyi kecil. Dia berusia lebih kurang enam puluh tahun.
Rambutnya dan jengotnya masih kuat dan gagah kelihatannya. Diatas pelana
kuda, dia tampak makin keren.
Cuaca sudah hampir gelap. Pada jalan diluar perbatasan yang di laluinya itu,
selalu iring-iringan kereta dan pengiring-pengiringnya, hanya rombongan
burung gagak yang terbang kesarangnya. Orang-orang berjalan lainnya sudah
tak tampak lagi.
Setelah sesaat mengawasi alam sekelilingnya, orang tua itu terus memecut
kudanya untuk mengejar iring-iringan kereta disebelah depan, siapa gerang
dia itu ?
Untuk mengetahui sedikit riwayatnya, baiklah kita mundur dulu untuk menengok
kisah dibawah ini.
Pada musim rontok tahun ke-28 dari kerajaan Ceng (Kian Liong) karena berjasa
mengamankan daerah itu (Inkiang) maka pemerrintah Ceng. Adapun ciangkun-li
khik siu, telah dinaikkan pangkat dan dipindahkan ke Ciatkang.
Begitu menerima firman, khik siu segera berangkat lebih dulu dengan barisan
pengawalnya ke Ciatkang belakangan barulah keluarganya menyusul.
Di dalam ilmu perang Li Khik-siu sangatlah mahir. Maka tak heran kalau makin
lama kedudukannya menanjak, ibarat musim penghidupan khik siu adalah sedang
berada dalam musim semi yang gilang gemilang.
Tapi manusia tak luput dari kedudukan, orang dalam kedudukan seperti dia pun
masih ada juga hal yang disusahkan, yakni tak dapat keturunan laki-laki. Dia
hanya diberkahi seorang puteri yang kini berusia sembilan belas tahun. Untuk
memperingati tempat kelahirannya, maka puterinya itu dinamakan Li Wan Ci,
ketika anak itu lahir, Khik siu masih menjabat sebagai Hu-Ciangkun di
Siangse.
Walaupun begitu, Khik siu sangat sayang putrinya seperti mustika, meskipun
ayahnya seorang peperangan, tetapi putrinya adalah seorang gadis yang cantik
jelita. Makin remaja, Li-siocia bertambah nyata keelokannya. Siocia itu
wajahnya serupa sang ibu, sedang wtaknya turun dari ayahnya.
Jika ayahnya sedang berlatih memanah atau menunggang kuda, pasti Wan Ci
selalu ikut. Melihat putrinya gemar ilmu perang, khik-siu mengajarinya
beberapa macam ilmu golok dan tombak. Disamping itu, dia minta pada
perwira-perwira sebawahannya yang pandai untuk memberi pelajaran pada Wan
Ci. Sudah tentu perwira-perwira itu bersungguh-sungguh hati memberikan
kepandaiannya pada putri dari atasannya itu.
Dalam usia tiga belas atau empat belas tahun, kepandaian Wan Ci sudah boleh
juga, sepuluh atau dua puluh orang biasa, tak mudah dapat mendesak dia.
Malah dalam waktu latihan, tak jarang Wan Ci telah dapat menyampok jatuh
senjata dari orang-orang bawahan ayahnya. Dalam keadaan begitu dengan
tertawa Khik siu mendamprat orangnya itu yang dikatakan tak punya guna.
Disamping itu diam-diam dia gembira dalam hati melihat kemajuan putrinya
itu.
Hanya saja kegirangan itu lekas juga diganti dengan elahan nafas, dia merasa
getun, bahwa anak yang pandai dalam bun dan bu itu sayang lah bukan seorang
pria.
Ketika menanjak pada usia empat belas, mendadak sentak Wan Ci, tak mau
datang ke tempat latihan lagi. Sangka khik siu putrinya yang gundah
menginjak dewasa itu mungkin sungkan untuk gelang-gulung dengan lain kaum.
Dala hal itu, diapun tak dapat menjalahkan putrinya.
Tetapi hal yang sebenarnya bukanlah demikian, ternyata Wan Ci dengan
diam-diam telah belajar silat yang lebih tinggi. Hingga dalam lima belas
tahun lamanya, ia telah menjadi seorang ahli iwekang yang lihay, sungguh
bukan lain ialah Liok Hwi Cing, penunggang kuda yang telah dituturkan diatas
itu tadi.
Liok Hwi Cing adalah cianpwe angkatan tua yang termasuk dalam golongan atas
dari cabang Bu tong Pay. Mengapa dia bisa menjadi suhu dari Li Wan Ci itu
adalah karena suatu sebab yang terjadi secara kebetulan saja.
Pada musim panas Kian Liong tahun delapan belas genaplah Wan Ci berusia
empat belas tahun. Ketika ayah nya menjabat dinas di Shangse dia telah
mengundang seorang guru sekolah untuk memberi pelajaran surat pada putrinya,