Previous Page of 269Next Page
title_pointer.png

Pedang dan Kitab Suci

spinner.gif

Su Kiam in Siu Lok
(Puteri Harum dan Kaisar)
Atau
pedang dan Kitab suci
Karya : Khu Lung


Jilid 1
DENGAN menunggang kuda, tampak seorang tua tengah mendatangi sambil

"bernyanti-nyanyi kecil. Dia berusia lebih kurang enam puluh tahun.

Rambutnya dan jengotnya masih kuat dan gagah kelihatannya. Diatas pelana

kuda, dia tampak makin keren.
Cuaca sudah hampir gelap. Pada jalan diluar perbatasan yang di laluinya itu,

selalu iring-iringan kereta dan pengiring-pengiringnya, hanya rombongan

burung gagak yang terbang kesarangnya. Orang-orang berjalan lainnya sudah

tak tampak lagi.
Setelah sesaat mengawasi alam sekelilingnya, orang tua itu terus memecut

kudanya untuk mengejar iring-iringan kereta disebelah depan, siapa gerang

dia itu ?
Untuk mengetahui sedikit riwayatnya, baiklah kita mundur dulu untuk menengok

kisah dibawah ini.
Pada musim rontok tahun ke-28 dari kerajaan Ceng (Kian Liong) karena berjasa

mengamankan daerah itu (Inkiang) maka pemerrintah Ceng. Adapun ciangkun-li

khik siu, telah dinaikkan pangkat dan dipindahkan ke Ciatkang.
Begitu menerima firman, khik siu segera berangkat lebih dulu dengan barisan

pengawalnya ke Ciatkang belakangan barulah keluarganya menyusul.
Di dalam ilmu perang Li Khik-siu sangatlah mahir. Maka tak heran kalau makin

lama kedudukannya menanjak, ibarat musim penghidupan khik siu adalah sedang

berada dalam musim semi yang gilang gemilang.
Tapi manusia tak luput dari kedudukan, orang dalam kedudukan seperti dia pun

masih ada juga hal yang disusahkan, yakni tak dapat keturunan laki-laki. Dia

hanya diberkahi seorang puteri yang kini berusia sembilan belas tahun. Untuk

memperingati tempat kelahirannya, maka puterinya itu dinamakan Li Wan Ci,

ketika anak itu lahir, Khik siu masih menjabat sebagai Hu-Ciangkun di

Siangse.
Walaupun begitu, Khik siu sangat sayang putrinya seperti mustika, meskipun

ayahnya seorang peperangan, tetapi putrinya adalah seorang gadis yang cantik

jelita. Makin remaja, Li-siocia bertambah nyata keelokannya. Siocia itu

wajahnya serupa sang ibu, sedang wtaknya turun dari ayahnya.
Jika ayahnya sedang berlatih memanah atau menunggang kuda, pasti Wan Ci

selalu ikut. Melihat putrinya gemar ilmu perang, khik-siu mengajarinya

beberapa macam ilmu golok dan tombak. Disamping itu, dia minta pada

perwira-perwira sebawahannya yang pandai untuk memberi pelajaran pada Wan

Ci. Sudah tentu perwira-perwira itu bersungguh-sungguh hati memberikan

kepandaiannya pada putri dari atasannya itu.
Dalam usia tiga belas atau empat belas tahun, kepandaian Wan Ci sudah boleh

juga, sepuluh atau dua puluh orang biasa, tak mudah dapat mendesak dia.

Malah dalam waktu latihan, tak jarang Wan Ci telah dapat menyampok jatuh

senjata dari orang-orang bawahan ayahnya. Dalam keadaan begitu dengan

tertawa Khik siu mendamprat orangnya itu yang dikatakan tak punya guna.

Disamping itu diam-diam dia gembira dalam hati melihat kemajuan putrinya

itu.
Hanya saja kegirangan itu lekas juga diganti dengan elahan nafas, dia merasa

getun, bahwa anak yang pandai dalam bun dan bu itu sayang lah bukan seorang

pria.
Ketika menanjak pada usia empat belas, mendadak sentak Wan Ci, tak mau

datang ke tempat latihan lagi. Sangka khik siu putrinya yang gundah

menginjak dewasa itu mungkin sungkan untuk gelang-gulung dengan lain kaum.

Dala hal itu, diapun tak dapat menjalahkan putrinya.
Tetapi hal yang sebenarnya bukanlah demikian, ternyata Wan Ci dengan

diam-diam telah belajar silat yang lebih tinggi. Hingga dalam lima belas

tahun lamanya, ia telah menjadi seorang ahli iwekang yang lihay, sungguh

bukan lain ialah Liok Hwi Cing, penunggang kuda yang telah dituturkan diatas

itu tadi.
Liok Hwi Cing adalah cianpwe angkatan tua yang termasuk dalam golongan atas

dari cabang Bu tong Pay. Mengapa dia bisa menjadi suhu dari Li Wan Ci itu

adalah karena suatu sebab yang terjadi secara kebetulan saja.
Pada musim panas Kian Liong tahun delapan belas genaplah Wan Ci berusia

empat belas tahun. Ketika ayah nya menjabat dinas di Shangse dia telah

mengundang seorang guru sekolah untuk memberi pelajaran surat pada putrinya,

Previous Page of 269Next Page
sponsor

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter

Who's Reading

gldd53 FianPrasetyo nhajeeb
sponsor

Recommended

Suling Emas
Suling Emas

candyrine
votes 3 comments 2

To Liong To
To Liong To

candyrine
votes 2 comments 4

sponsor