Sin Tiauw Tian Lam
PENGARANG : Sin Long
(Rajawali sakti dari langit selatan)
Lanjutan Sin Tiauw Hiap Lu
JILID 1
ANGIN Lamciu (Selatan) mendesir lembut,
Bunga rontok keindahan bumi,
Halimun lembut ringan sejuk,
Mega tersenyum memandang gadis cantik,
Baju merah, ikat pinggang kuning rambut disanggul,
Sepalu rumput tipis membungkus kaki yang kecil mungil,
Tali khim, (Kecapi) tergetar oleh jari-jari lentik,
Suara merdu mengiringi kicau burung,
Senyum gadis cantik mekarnya bunga,
Ciulong menangis haru, Sunglie tersenyum bahagia,
Dewa-dewi di-selatan.
Bahagia dan abadi . . . . ,
Syair diatas merupakan hasil sastra tulisan pujangga
terkenal diawal pemerintahan dinasti Song, yang namanya
dikagumi oleh rakyat Tionggoan karena keakhliannya untuk
melukiskan suasana dan peristiwa dengan penuh kelembutan.
Disamping terdapat selipan nada-nada yang mengandung
kegagahan dan keabadian. Pujangan itu berasal dari
keturunan keluarga Hoan dan bernama Lie Khie meninggal
tepat dihari ulang tahunnya yang ketujuh puluh empat.
Sejak peristiwa terbunuhnya Kaisar Mangu yang bergelar
Hian Cong oleh timpukan batu besar kepalan tangan oleh Yo
Ko dengan mempergunakan ilmu menimpuk "Tan Gie Sin
Thong" menyebabkan Kublai memimpin mundur tentaranya
kenegerinya. Dengan mundurnya tentara perang Mongolia itu,
bebaslah kota "Hapciu, Cung king dan Siangyang.
Telah tercatat dalam sejarah betapa Kaisar Hian Cong
mengepung kota" Siangyang selama puluhan tahun tanpa
berhasil untuk merebut kota tersebut, walaupun telah terjadi
pertempuran yang hebat sekali dimuka kota siangyang yang
dimulai pengepungannya oleh putera sulung Kaisar Yong Cong
(Tuli) dibulan dua, tahun ke-9, phiacu. Penyerangan dilancarkan keberbagai pintu kota mendaki tembok dan membunuh banyak tentara kerajaan Song Walaupun diserang
berulang-ulang. kota tersebut tidak dapat dirampas. Di tahun
kui-hay, disaat itulah Kaisar Mangu ( Hian Cong ) terbunuh
oleh Yo Ko, dan para menteri maupun Kublai telah membawa
jenasah Mangu pulang keutara, maka kota Siangyang bebas
dari pengepungan pasukan tentara perang Mongolia.
Rakyat menyelenggarakan pesta besar atas kemenangan
tersebut, dengan nama "Yo Ko yang disanjung-sanjung
sebagai Dewa Pembebasan yang maha sakti. Tetapi Yo Ko
menampik segala penghormatan seperti itu, dengan orangorang
gagah akhirnya Yo Ko pamitan kepada Lu Boan Hoan,
dan keberangkatan mereka itu dirahasiakan oleh Lu Boan
Hoan atas permintaan pendekar gagah tersebut, karena
rombongan orang-orang gagah tersebut tidak ingin diganggu
oleh rakyat dan pasukan tentara yang pasti akan menimbulkan
kerewelan oleh sanjungan-sanjungan mereka. Dan dengan
bebasnya kota Siangyang, suasana aman dan tenang kembali,
rakyat bisa hidup layak dan wajar, walaupun
Banyak puing-puing yang berserakan akibat dari
pertempuran yang pernah terjadi selama puluhan tahun itu.
Disaat rakyat berhasil hidup tenteram maka disaat seperti
itulah banyak syair-syair bernada lembut dan jauh dari nadanada
kekerasan maupun peperangan, telah bermunculan. Dan
yang terbanyak syair-syair lembut itu, adalah buah kalam dari
Hoan Lie Khe, pujangga besar itu. Dan seperti yang terdapat
dalam syair yang ditulis oleh pujangga besar itu; "Ciulong
menangis haru, Sunglie tersenyum bahagia. Dewa-dewi di
Selatan, bahagia dan abadi maka rakyat Siangyang pun
menghendaki kemenangan yang telah diperoleh tentara
kerajaan Song itu bahagia tenteram dan kekal-abadi. . .
Entah darimana asalnya, diluar kampung Wucuancung
tampak seorang tojin (imam) yang tengah duduk dibawah sebatang pohon yang tumbuh rindang disebelah kanan dari pintu kampung tersebut. Sebetulnya, tidaklah
luar biasa dengan adanya imam itu ditempat tersebut,
karena memang biasa jika seorang yang tengah
melakukan perjalanan dan beristirahat ditempat-tempat
sejuk. Namun yang agak luar biasa adalah keadaan
imam itu.
Sanggulnya yang digantung merupakan sebuah
sanggul kecil berbentuk bulat itu, tidak teratur rapi,
rambutnyapun tampak agak kusut tidak karuan. Yang
luar biasa adalah wajahnya imam ini tidak memelihara
jenggot, juga tidak memelihara kumis, dari kulit
wajahnya yang sudah keriput itu, mungkin dia berusia
empat puluh tahun lebih, raut wajahnya buruk sekali, karena
imam tersebut memiliki sepasang mata yang bulat dan bibir
yang lebar. Giginya tampak tumbuh tidak rata, disamping itu
agak menarik perhatian orang yang melihatnya adalah kulit
muka imam itu kuning pucat dan dingin tidak memantulkan
perasaan apapun juga. Matanya itu yang menatap lurus
kedepan tidak bersinar, bagaikan mata ikan yang telah mati.
Jubah pendeta itu juga telah buruk sekali, walaupun belum
ada yang robek atau pecah, namun jubah itu tampaknya telah
berusia sekitar tiga atau empat tahun dan jarang sekali dicuci.
Hudtim yang tercekal ditangan kirinya, tampak sudah agak
kusut bulu-bulunya dan sudah banyak yang rontok.
Diantara desir angin yang sejuk, terdengar imam itu
menggumam perlahan sekali; "telah sepuluh jiwa...... telah
sepuluh jiwa...... dan yang kesebelas akan tiba......"
Setiap kali mengucapkan kata-katanya seperti itu bibirnya
gemetar, bagaikan ada sesuatu yang ditakutinya, dan matanya