Previous Page of 251Next Page
title_pointer.png

Sin Tiaw Hiap Lu

spinner.gif

Kembalinya Sang Pendekar Rajawali
Judul Asli : Sin Tiaw Hiap Lu
Oleh Chin Yung

Bagian I
 
Musim rontok, nona Kanglam petik teratai di pinggir sungai,Lengan baju sempit, kun-nya enteng melambai-lambai,Sepasang gelang emas, lapat-lapat kelihatan.
Bayangan muka (atas air), memetik bunga, bunga laksana muka,Hati tergoncang ibarat getaran tali tetabuan tjeng,Di tikungan Sungai Keecio, gelombang badai datangnya terlambat,
Halimun tebal, asap enteng berterbangan,Tapi si dia yang ditunggu, tak juga muncul kelihatan.
Suara nyanyian lapat-lapat membikin ingat 'tu kejadian.
Ketika di gili-gili Kanglam dengan sedih berpisahan.

Demikianlah sajak "Kupu-kupu rindukan bunga" yang dibuat oleh penyair kenamaan zaman Pak Song (Song Utara), Ouwyang Siu. Ia lukiskan pemandangan selagi seorang gadis Kanglam memetik teratai, dengan hanya menggunakan enam puluh huruf Tionghoa. Akan tetapi, dengan enam puluh huruf itu, ia berhasil melukiskan musimnya, tempatnya, pemandangannya, parasnya sang nona, pakaiannya, perhiasannya dan perasaannya, semuanya dilukiskan dengan indah sekali seperti cuma dapat dilukiskan oleh seorang penyair besar.

Ouwyang Siu tinggal lama di Kanglam, sehingga ia mengetahui benar keadaan di daerah itu. Musim semi dengan pohon yangliu-nya, musim panas dengan buah engtoh-nya dan musim rontok dengan gadis-gadisnya yang memetik buah teratai, adalah pemandangan istimewa dari Kanglam yang indah permai.

I. TAMU ANEH DITENGAH MALAM.

Zaman pemerintahan Song-li-cong pada dinasti Song, di daerah Oh-ciu, daerah Kanglam, ada sebuah kota kecil, namanya Leng-oh-tin.
Waktu itu dekat pertengahan musim rontok, daun teratai mulai kering, teratai padat. Di sungai kecil pinggir kota kecil itu lima gadis cilik berada di sebuah
perahu kecil sedang bernyanyi dan bersenda gurau dengan asyiknya sambil mendayung perahu untuk memetik biji terataiDi antara kelima gadis cilik itu usia tiga orang kurang lebih lima belasan, dua
orang lagi hanya berusia delapan atau sembilan tahun saja. Kedua dara cilik itu adalah saudara misan, Piauci (kakak misan) bernama Thia Eng, sedangkan Piaumoay
(adik misan) she Liok bernama Bu-siang, timur keduanya hanya selisih setengah  tahun saja, tapi Thia Eng lebih pendiam dan lemah lembut, sebaliknya Liok
Bu-siang sangat lincah, perangai keduanya sama sekali berbeda.
Ketiga gadis yang lebih tua-an masih terus bernyanyi sambil mendayung perahu menyusun semak daun teratai itu.
"Eh Piaumoay, lihatlah, paman aneh itu berada di situ!" seru Thia Eng sambil menuding seorang yang berduduk di bawah pohon tepi sungai sana.
Orang yang dimaksud itu berambut kusut masai tapi kaku, kumis dan jenggotnya juga semrawut dan kaku seperti duri landak, namun baik rambut maupun jenggot dan
kumisnya masih hitam mengkilap, mestinya usianya belum begitu lanjut, namun mukanya penuh keriput dan cekung sehingga tampaknya seperti kakek berusia 70-80
tahun.
Yang paling aneh dan lucu adalah pakaian-nya, bajunya yang menyerupai kaos oblong adalah sebuah karung goni yang sudah compang-camping, sedangkan celananya
terbuat dari satin dan masih baru, malahan bagian bawah bersulamkan kupu-kupu yang berwarna warni, Tangan kakek itu memegang sebuah kelentungan (kelontong)
mainan kanak-kanak, kelentungan itu tiada hentinya di putar sehingga menimbulkan bunyi kelentang-keluntung, tapi kedua mata kakek itu menatap kaku ke depan
seperti orang kehilangan ingatan,"Orang gila ini sudah berduduk selama tiga hari di sini, mengapa dia tidak lapar?" kata Liok Bu-siang.
"He, jangan panggil dia orang gila, kalau dengar nanti dia marah," ujar Thia Eng.
"Kalau dia marah akan tambah menarik," kata Liok Bu-siang sambil menjemput sebuah ubi teratai terus dilemparkan ke arah kakek aneh itu.
Jarak antara perahu kecil itu dengan si kakek aneh ada belasan meter jauhnya, tapi tenaga Bu-siang ternyata tidak lemah meski usianya masih kecil. Lemparannya
itupun sangat jitu, ubi teratai itu langsung menyamber ke muka si kakek aneh "Jangan, Piaumoay !" Thia Eng berseru men cegah, namun sudah terlambat, ubi
teratai itu sudah terlanjur menyambar ke sana.
Akan tetapi keajaiban segera terjadi, tiba-tiba kakek aneh itu menengadah, dengan tepat ubi teratai itu tergigit olehnya. iapun tidak menggunakan tangan,
hanya lidahnya yang bekerja, ubi teratai itu digeragotinya dengan lahap.
Padahal biji teratai mentah itu rasanya pahit, apalagi kulitnya juga

Previous Page of 251Next Page
sponsor

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter

Who's Reading

HariyadiHari RhDianIsa bonifaisal fitriani gldd53
sponsor

Recommended

Suling Emas
Suling Emas

candyrine
votes 3 comments 2

To Liong To
To Liong To

candyrine
votes 2 comments 4

sponsor