Halaman sebelumnya of 254Halaman selanjutnya

Sia Tiauw Eng Hiong

Didedikasikan untuk
Yusransyah
spinner.gif

"Pendekar Pemanah Rajawali"
Sia Tiauw Eng Hiong
Oleh : JIN YONG

Bagian I

Pengantar

Di luar gunung ada lagi gunung hijau,
di luar lauwteng ada pula lauwteng lainnya,
Nyanyian-nyanyian dan tari-tarian di Telaga Barat,
hingga kapankah itu akan berhenti?
Penghidupan mewah di Selatan telah membuat mabuk
kepada pelancong-pelancong tetamu,
Hingga kota Hangciu dianggapnya sebagai kota Pianciu!

Syair di atas adalah lukisan dari peristiwa pada delapan ratus tahun yang

lampau. Ketika itu kerajaan Song telah menjadi sedemikian lemahnya hingga

kedua kaisar Hwie Cong dan Kim Cong sudah kena ditawan bangsa Kim (Kin),

karena mana itu pangeran Kong Ong lalu menyeberang ke Selatan, menerima

tahta kerajaan di kota Lim-an, menjadi Kaisar Kho Cong. Dalam waktu sesulit

itu, selagi musuh mengancam di tapal batas, setelah separuh dari negara

berada di dalam tangan musuh itu, sudah selayaknya satu kaisar bangkit

bangun untuk membuat perlawanan, akan tetapi tidak demikian dengan Kaisar

kho cong ini. Dia justru jeri terhadap bangsa Kim itu yang dipandangnya

sebagai harimau saja, berbareng dengan itu dia pun khawatir kalau kedua

Kaisar Hwie Cong dan Kim Cong nanti kembali dari tawanan hingga dia tak

dapat terus bercokol di atas singasana naga. Maka dengan itu menurut

perkataannya dorna Cin Kwee4, dia titahkan membunuh Jenderal Gak Hui,

pendekar yang menentang musuh Kim itu, sesudah mana itu dengan merendahkan

martabat sendiri ia mengajukan permohonan damai dengan bangsa Kim.

Inilah pengharapan bangsa Kim yang disaat itu tengah gelisah sebab telah

berulangkali mereka memperoleh labrakan dari Jenderal Gak Hui, hingga

semangatnya terpukul hebat, sementara di wilayah Utara mereka terancam

pemberontakan tentera rakyat sukarela. Begitu di dalam bulan pertama tahun

kerajaan Ciauw-hin ke-12 (1138 masehi) perdamaian telah ditandatangani

dengan syarat tapal batas kedua negara Song dan Kim adalah aliran tengah

dari sungai Hoay-sui.

Perdamaian itu namanya saja perdamaian, kenyataannya adalah penaklukan dari

Kaisar Kho Cong itu (yang bernama Tio Kouw adalah putra ke-9 dari Kaisar

Hwie Cong). Sebab di dalam suratnya, Kho Cong menyatakan dan mengaku sudah

terima budi kebaikan dari raja Kim, karena mana turun temurun ia akan

menjadi "menteri yang setia" serta berjanji setiap hari lahirnya, "Kaisar"

demikian ia menyebut raja Kim itu - begitu juga setiap tahun, ia akan kirim

utusan guna memberi selamat sambil menghanturkan upeti uang perak duapuluh

lima laksa tail dan cita duapuluh lima laksa balok.

Demikian macam martabatnya seorang Kaisar, ia sungguh memalukan, maka ketika

tentera dan rakyat negeri mengetahui hal itu, semuanya menjadi murka dan

berbareng berduka. Lebih bersedih adalah rakyat di wilayah utara sungai

Hoay-sui itu, karena mereka menjadi tidak mempunyai harapan lagi akan

bangunnya negara. Dipihak lain, Kho Cong menganggap itu adalah jasa besar

dari dorna Cin Kwee, maka juga dorna yang sudah tinggi pangkatnya, yaitu

Siaupo Copoksia merangkap Kie-bit-su gelar Pangeran Louw-kokong, dinaiki

pula menjadi Taysu, hingga kedudukannya telah mencapai puncaknya kebesaran

suatu menteri!

Semenjak itu bangsa Kim menduduki separuh dari wilayah Tiongkok. Walaupun

demikian pemerintahan di Hangciu malah bertambah buruk, raja dan

menteri-menterinya, setiap hari berpelesiran saja, berpesta pora, tidak

memikirkan lagi kepentingan negara, sedang beberapa menteri atau perwira

yang setia, umumnya kalah pengaruh dan tidak berdaya, hingga mereka pada

menutup mata karena mereras.

Demikan syair di atas, gambaran dari kaisar yang lemah dan buruk tapi

pecandu pelisir!

-------------------------------
1) Telaga Barat - See Ouw (Si Hu)
2) Piancu - Kaifeng (Kayhong), ibukota propinsi Honan. Bekas kotaraja.
3) Lim-an - Hangciu (Hangchow), ibukota Chekiang, inilah yang dimaksud

dengan Selatan (Kanglam)
4) Dorna Cin Kwee - Di Hangciu telah dibuat patungnya sebagai tanda

peringatan dari khianatnya terhadap negara dan ada satu waktu yang patungnya

itu telah diperhina dengan ludah maupun kotoran manusia.

Halaman sebelumnya of 254Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan (1)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Siapa yang Membaca

Disarankan