"Pendekar Pemanah Rajawali"
Sia Tiauw Eng Hiong
Oleh : JIN YONG
Bagian I
Pengantar
Di luar gunung ada lagi gunung hijau,
di luar lauwteng ada pula lauwteng lainnya,
Nyanyian-nyanyian dan tari-tarian di Telaga Barat,
hingga kapankah itu akan berhenti?
Penghidupan mewah di Selatan telah membuat mabuk
kepada pelancong-pelancong tetamu,
Hingga kota Hangciu dianggapnya sebagai kota Pianciu!
Syair di atas adalah lukisan dari peristiwa pada delapan ratus tahun yang
lampau. Ketika itu kerajaan Song telah menjadi sedemikian lemahnya hingga
kedua kaisar Hwie Cong dan Kim Cong sudah kena ditawan bangsa Kim (Kin),
karena mana itu pangeran Kong Ong lalu menyeberang ke Selatan, menerima
tahta kerajaan di kota Lim-an, menjadi Kaisar Kho Cong. Dalam waktu sesulit
itu, selagi musuh mengancam di tapal batas, setelah separuh dari negara
berada di dalam tangan musuh itu, sudah selayaknya satu kaisar bangkit
bangun untuk membuat perlawanan, akan tetapi tidak demikian dengan Kaisar
kho cong ini. Dia justru jeri terhadap bangsa Kim itu yang dipandangnya
sebagai harimau saja, berbareng dengan itu dia pun khawatir kalau kedua
Kaisar Hwie Cong dan Kim Cong nanti kembali dari tawanan hingga dia tak
dapat terus bercokol di atas singasana naga. Maka dengan itu menurut
perkataannya dorna Cin Kwee4, dia titahkan membunuh Jenderal Gak Hui,
pendekar yang menentang musuh Kim itu, sesudah mana itu dengan merendahkan
martabat sendiri ia mengajukan permohonan damai dengan bangsa Kim.
Inilah pengharapan bangsa Kim yang disaat itu tengah gelisah sebab telah
berulangkali mereka memperoleh labrakan dari Jenderal Gak Hui, hingga
semangatnya terpukul hebat, sementara di wilayah Utara mereka terancam
pemberontakan tentera rakyat sukarela. Begitu di dalam bulan pertama tahun
kerajaan Ciauw-hin ke-12 (1138 masehi) perdamaian telah ditandatangani
dengan syarat tapal batas kedua negara Song dan Kim adalah aliran tengah
dari sungai Hoay-sui.
Perdamaian itu namanya saja perdamaian, kenyataannya adalah penaklukan dari
Kaisar Kho Cong itu (yang bernama Tio Kouw adalah putra ke-9 dari Kaisar
Hwie Cong). Sebab di dalam suratnya, Kho Cong menyatakan dan mengaku sudah
terima budi kebaikan dari raja Kim, karena mana turun temurun ia akan
menjadi "menteri yang setia" serta berjanji setiap hari lahirnya, "Kaisar"
demikian ia menyebut raja Kim itu - begitu juga setiap tahun, ia akan kirim
utusan guna memberi selamat sambil menghanturkan upeti uang perak duapuluh
lima laksa tail dan cita duapuluh lima laksa balok.
Demikian macam martabatnya seorang Kaisar, ia sungguh memalukan, maka ketika
tentera dan rakyat negeri mengetahui hal itu, semuanya menjadi murka dan
berbareng berduka. Lebih bersedih adalah rakyat di wilayah utara sungai
Hoay-sui itu, karena mereka menjadi tidak mempunyai harapan lagi akan
bangunnya negara. Dipihak lain, Kho Cong menganggap itu adalah jasa besar
dari dorna Cin Kwee, maka juga dorna yang sudah tinggi pangkatnya, yaitu
Siaupo Copoksia merangkap Kie-bit-su gelar Pangeran Louw-kokong, dinaiki
pula menjadi Taysu, hingga kedudukannya telah mencapai puncaknya kebesaran
suatu menteri!
Semenjak itu bangsa Kim menduduki separuh dari wilayah Tiongkok. Walaupun
demikian pemerintahan di Hangciu malah bertambah buruk, raja dan
menteri-menterinya, setiap hari berpelesiran saja, berpesta pora, tidak
memikirkan lagi kepentingan negara, sedang beberapa menteri atau perwira
yang setia, umumnya kalah pengaruh dan tidak berdaya, hingga mereka pada
menutup mata karena mereras.
Demikan syair di atas, gambaran dari kaisar yang lemah dan buruk tapi
pecandu pelisir!
-------------------------------
1) Telaga Barat - See Ouw (Si Hu)
2) Piancu - Kaifeng (Kayhong), ibukota propinsi Honan. Bekas kotaraja.
3) Lim-an - Hangciu (Hangchow), ibukota Chekiang, inilah yang dimaksud
dengan Selatan (Kanglam)
4) Dorna Cin Kwee - Di Hangciu telah dibuat patungnya sebagai tanda
peringatan dari khianatnya terhadap negara dan ada satu waktu yang patungnya
itu telah diperhina dengan ludah maupun kotoran manusia.