Halaman sebelumnya of 332Halaman selanjutnya

Pendekar Negeri Tayli

spinner.gif

PENDEKAR-PENDEKAR NEGERI TAYLI (TIAN LONG BA BU)
YIN YONG Saduran Gan KL

Bagian II

001
kemudian baru berkata, "Jika demikian, silakan panggil
keluar majikanmu, nanti akan kuberi tahukan maksud
kedatanganku."
"Majikanku sedang bepergian," sahut A Cu. "Tuan ada
keperluan apa, katakan padaku juga sama saja.
Siapakah nama tuan yang terhormat, apakah tidak dapat
memberi tahu?"
"Ehm, aku Yau-cecu dari Cin-keh-ce di Hunciu,
namaku Yau Pek-tong adanya," sahut si kakek.
"O, kiranya Yau-loyacu, kagum, sudah lama kagum!"
ujar A Cu.
"Haha, seorang nona cilik seperti dirimu bisa tahu
apa?" kata Yau Pek-tong dengan tertawa.
Di luar dugaan Ong Giok-yan lantas menyambung,
"Cin-keh-ce di Hunciu terkenal karena 'Ngo-hou-toanbun-
to'. Dahulu Yau Kong-bang menciptakan 64 jurus
Toan-bun-to itu, namun keturunannya telah melupakan
lima jurus di antaranya dan kabarnya tinggal 59 jurus
saja yang masih turun-temurun diajarkan anak muridnya.
Yau-cecu, engkau sendiri sudah mahir sampai jurus
keberapa?"
Sungguh kejut Yau Pek-tong tak terkatakan, tanpa
terasa tercetus jawabannya, "Ngo-hou-toan-bun-to dari
Cin-keh-ce kami memang aslinya ada 64 jurus, dari
mana engkau dapat tahu!"
"Begitulah apa yang tertulis dalam buku, tentunya
tidak salah bukan?" sahut Giok-yan dengan tawar. "Dan

002
kelima jurus yang kurang itu masing-masing adalah Pekhou-
tiau-kang (harimau putih melompat parit), 'It-siuhong-
sing' (sekali bersuit keluarlah angin), 'Cian-bok-cuju'
(memotong dan menubruk dengan bebas), 'Hiong-pakun-
san' (merajai di antara gunung-gunung) dan jurus
terakhir adalah 'Hong-siang-seng-say' (taklukkan gajah
dan kalahkan singa), betul tidak?"
Yau Pek-tong mengelus jenggotnya dengan heran.
Tentang kekurangan lima jurus paling bagus dari ilmu
golok perguruan sendiri itu diketahuinya memang sejak
dulu tidak diajarkan lagi, dan tentang kelima jurus apa
yang hilang itu pun tiada seorang yang tahu. Tapi kini
nona ini dapat menguraikan secara lancar dan tepat,
keruan Yau Pek-tong terkejut dan curiga, pertanyaan
Giok-yan itu pun tak bisa dijawabnya.
Segera seorang laki-laki setengah umur di antara
rombongan jago-jago Sujoan yang aneh itu berkata
dengan suara yang banci, "Ngo-hou-toan-bun-to dari Cinkeh-
ce sangat disegani di daerah Hosiok, baik lebih lima
jurus ataupun kurang lima jurus juga tidak menjadi soal.
Numpang tanya ada hubungan apakah nona ini dengan
Buyung Hok Buyung-siansing?"
"Buyung-loyacu adalah aku punya Kuku, dan siapa
nama tuan yang terhormat?" sahut Giok-yan.
"Nona berasal dari keluarga terpelajar, sekali melihat
lantas dapat mengatakan asal usul ilmu silat Yau-cecu,"
kata laki-laki itu dengan dingin. "Maka tentang asal-usul
kami, ingin kuminta nona juga coba-coba menerkanya."

003
"Untuk itu coba mengunjuk sejurus-dua lebih dulu,"
sahut Giok-yan. "Kalau cuma berdasarkan beberapa
patah kata saja aku tidak sanggup menerkanya."
"Benar," ujar laki-laki itu sambil mengangguk. Habis
itu ia lantas masukkan tangan kanan ke dalam lengan
baju kiri dan tangan kiri menyusup ke dalam lengan baju
kanan hingga mirip orang yang kedinginan. Tapi ketika
kemudian kedua tangan dilolos keluar, tahu-tahu setiap
tangan sudah bertambah dengan semacam senjata yang
aneh bentuknya.
Senjata yang dipegang tangan kiri adalah sebatang
Thi-cui (gurdi) sepanjang belasan senti, bagian ujungnya
yang runcing itu melengkung-lengkung seperti keris.
Sedangkan tangan kanan memegang senjata sebatang
palu kecil, palu itu berbentuk astakona atau segi delapan,
panjangnya kurang lebih 30 senti. Senjata-senjata yang
kecil mungil itu lebih mirip mainan kanak-kanak,
tampaknya kurang berguna dipakai sebagai alat
bertempur.
Karena itu segera beberapa laki-laki kekar dari
rombongan sebelah timur sana lantas bergelak tertawa.
Kata mereka di antaranya, "Hahaha, mainan anak kecil
juga dikeluarkan di sini!"
Tapi Giok-yan lantas berkata, "Ehm, senjatamu ini
adalah 'Lui-kong-hong' (beledek menyambar), agaknya
tuan ini mahir menggunakan Am-gi dan Ginkang.
Menurut catatan di dalam buku, 'Lui-kong-hong' adalah
senjata tunggal dari Jing-sia-pay dari Sujoan. 'Jing'
meliputi 18 macam senjata dan 'Sia' mencakup 36 tipu

004
serangan. Caranya sangat aneh dan hebat. Besar
kemungkinan tuan she Suma, bukan?"
Wajah laki-laki itu sebenarnya selalu membeku tanpa
perasaan, tapi demi mendengar uraian Giok-yan itu,
seketika wajahnya berubah, ia saling pandang dengan
kedua pembantu di kanan-kirinya. Selang sejenak baru ia
berkata pula, "Betapa luas pengetahuan ilmu silat dari
Buyung-si di Koh-soh, nyata memang bukan omong
kosong belaka. Cayhe memang she Suma dan bernama
Lim. Numpang tanya sekalian pada nona, apa benarbenar
istilah 'Jing' meliputi 18 macam senjata dan 'Sia'
mencakup 36 tipu serangan?"
"Pertanyaanmu ini sangat kebetulan," sahut Giok-yan.
"Aku justru merasa 'Jing' itu meliputi 19 jenis senjata,
sebab di antaranya Po-te-ci (biji tasbih) dan Thi-lian-ci
(biji teratai) tidak dapat dipersamakan, bentuknya
memang hampir mirip, tapi cara menggunakannya
berbeda. Sedang mengenai 'Sia' yang mencakup 36 tipu
serangan itu, kukira tiga serangan 'Boh-kah'
(memecahkan perisai), 'Boh-tun' (memecahkan tameng),
dan 'Boh-pay' (memecahkan utar-utar) satu-sama-lain
tidak banyak bedanya, maka lebih baik dihapuskan,
hingga tinggal 33 jurus saja, supaya lebih sempurna."
Suma Lim terlongong-longong mendengarkan cerita
Ong Giok-yan itu. Padahal dalam ilmu silat perguruannya
itu, sebagian belum pernah lengkap dipelajarinya, dan
bagian lain justru sangat diandalkan olehnya. Tapi kini
gadis semuda ini berani memberi komentar tentang ilmu
silat perguruannya itu, keruan ia menjadi gusar dan
menyangka orang keluarga Buyung sengaja hendak
menghina padanya.

Halaman sebelumnya of 332Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Siapa yang Membaca

Disarankan