Previous Page of 142Next Page
title_pointer.png

Ayat Ayat Cinta

spinner.gif

Ayat Ayat Cinta 

Novel Pembangun Jiwa 

Karya 

Habiburrahman Saerozi 

Alumnus Universitas Al Azhar, Cairo 

AYAT AYAT CINTA 

Novel Pembangun Jiwa􀂲Habiburrahman Saerozi 

1. Gadis Mesir Itu Bernama Maria 

Tengah hari ini, kota Cairo seakan membara. Matahari berpijar di tengah 

petala langit. Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi. Tanah 

dan pasir menguapkan bau neraka. Hembusan angin sahara disertai debu yang 

bergulung-gulung menambah panas udara semakin tinggi dari detik ke detik. 

Penduduknya, banyak yang berlindung dalam flat yang ada dalam apartemenapartemen 

berbentuk kubus dengan pintu, jendela dan tirai tertutup rapat. 

Memang, istirahat di dalam flat sambil menghidupkan pendingin ruangan 

jauh lebih nyaman daripada berjalan ke luar rumah, meski sekadar untuk shalat 

berjamaah di masjid. Panggilan azan zhuhur dari ribuan menara yang bertebaran 

di seantero kota hanya mampu menggugah dan menggerakkan hati mereka yang 

benar-benar tebal imannya. Mereka yang memiliki tekad beribadah sesempurna 

mungkin dalam segala musim dan cuaca, seperti karang yang tegak berdiri dalam 

deburan ombak, terpaan badai, dan sengatan matahari. Ia tetap teguh berdiri 

seperti yang dititahkan Tuhan sambil bertasbih tak kenal kesah. Atau, seperti 

matahari yang telah jutaan tahun membakar tubuhnya untuk memberikan 

penerangan ke bumi dan seantero mayapada. Ia tiada pernah mengeluh, tiada 

pernah mengerang sedetik pun menjalankan titah Tuhan. 

Awal-awal Agustus memang puncak musim panas. 

Dalam kondisi sangat tidak nyaman seperti ini, aku sendiri sebenarnya 

sangat malas keluar. Ramalan cuaca mengumumkan: empat puluh satu derajat 

celcius! Apa tidak gila!? Mahasiswa Asia Tenggara yang tidak tahan panas, 

biasanya sudah mimisan, hidungnya mengeluarkan darah. Teman satu flat yang 

langganan mimisan di puncak musim panas adalah Saiful. Tiga hari ini, memasuki 

pukul sebelas siang sampai pukul tujuh petang, darah selalu merembes dari 

hidungnya. Padahal ia tidak keluar flat sama sekali. Ia hanya diam di dalam 

kamarnya sambil terus menyalakan kipas angin. Sesekali ia kungkum, 

mendinginkan badan di kamar mandi. 

AYAT AYAT CINTA 

Novel Pembangun Jiwa􀂲Habiburrahman Saerozi 

Dengan tekad bulat, setelah mengusir segala rasa aras-arasen1 aku bersiap 

untuk keluar. Tepat pukul dua siang aku harus sudah berada di Masjid Abu Bakar 

Ash-Shidiq yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara Cairo, untuk talaqqi2 

pada Syaikh Utsman Abdul Fattah. Pada ulama besar ini aku belajar qiraah 

sab􀂶ah3 dan ushul tafsir4. Beliau adalah murid Syaikh Mahmoud Khushari, ulama 

legendaris yang mendapat julukan Syaikhul Maqari􀂶 Wal Huffadh Fi Mashr atau 

Guru Besarnya Para Pembaca dan Penghafal Al-Qur􀂶an di Mesir. 

Jadwalku mengaji pada Syaikh yang terkenal sangat disiplin itu seminggu 

dua kali. Setiap Ahad dan Rabu. Beliau selalu datang tepat waktu. Tak kenal kata 

absen. Tak kenal cuaca dan musim. Selama tidak sakit dan tidak ada uzur yang 

teramat penting, beliau pasti datang. Sangat tidak enak jika aku absen hanya 

karena alasan panasnya suhu udara. Sebab beliau tidak sembarang menerima 

murid untuk talaqqi qiraah sab􀂶ah. Siapa saja yang ingin belajar qiraah sab􀂶ah 

terlebih dahulu akan beliau uji hafalan Al-Qur'an tiga puluh juz dengan qiraah 

bebas. Boleh Imam Warasy. Boleh Imam Hafsh. Atau lainnya. Tahun ini beliau 

hanya menerima sepuluh orang murid. Aku termasuk sepuluh orang yang 

beruntung itu. Lebih beruntung lagi, beliau sangat mengenalku. Itu karena, di 

samping sejak tahun pertama kuliah aku sudah menyetorkan hafalan Al-Qur'an 

pada beliau di serambi masjid Al Azhar, juga karena di antara sepuluh orang yang 

terpilih itu ternyata hanya diriku seorang yang bukan orang Mesir. Aku satusatunya 

orang asing, sekaligus satu-satunya yang dari Indonesia. Tak heran jika 

beliau meng-anakemas-kan diriku. Dan teman-teman dari Mesir tidak ada yang 

merasa iri dalam masalah ini. Mereka semua simpati padaku. Itulah sebabnya, jika 

aku absen pasti akan langsung ditelpon oleh Syaikh Utsman dan teman-teman. 

Mereka akan bertanya kenapa tidak datang? Apa sakit? Apa ada halangan dan lain 

sebagainya. Maka aku harus tetap berusaha datang selama masih mampu 

menempuh perjalanan sampai ke Shubra, meskipun panas membara dan badai 

debu bergulung-gulung di luar sana. Meskipun jarak yang ditempuh sekitar lima 

puluh kilo meter lebih jauhnya. 

1 Rasa malas melakukan sesuatu. 

2 Belajar langsung face to face dengan seorang syaikh atau ulama.

Previous Page of 142Next Page
sponsor

Comments & Reviews (3)

Login or Facebook Sign in with Twitter


Who's Reading

TomuroSussy ahmedbadriansyah Wirza110475
sponsor

Recommended

I Love You, Stupid!
I Love You, Stupid!

Inkania
votes 9 comments 10

Summer's Day
Summer's Day

nunnarhea
votes 31 comments 10

4 Tahun Kemudian--Silent Night
4 Tahun Kemudian--Silent Night

IreneFaye
votes 8 comments 8

sponsor