Previous Page of 223Next Page

Suling Naga 2 (Kho Ping Ho)

spinner.gif

***

Wanita itu menangis seorang diri, terisak-isak dan tersedu-sedan di dalam pondok tua di tepi jalan yang sunyi itu. Sudah berjam-jam ia menangis seo­rang diri, pundaknya terguncang-guncang dan kadang-kadang tangisnya terdengar menyedihkan.

Ia seorang wanita yang cantik, usianya tigapuluh dua tahun. Sebetulnya ia mengenakan pakaian yang indah, dari sutera yang mahal dan mewah, dengan hiasan-hiasan rambut dan tubuh terbuat dari pada emas permata. Akan tetapi pakaian yang indah itu kini kusut dan bahkan kotor karena beberapa hari tidak pernah diganti. Rambutnya yang panjang hitam itu terlepas dari sanggulnya, riap-riapan menutupi sebagian mukanya. Di dekatnya, terletak di atas lan­tai, nampak sebuah pedang dalam sarung pedang yang indah.

Ia bukan wanita sembarangan, melainkan seorang wanita yang memiliki ilmu silat tinggi. Jarang ada orang dapat menandinginya. Ia seorang wanita kosen dan lihai. Akan tetapi, sekarang ia berada dalam kedukaan dan ketika ia menangis seperti itu, nampak betapa bagaimanapun juga, ia hanya seorang perem­puan yang lemah tak berdaya dan membutuhkan per­lindungan!

Wanita itu adalah Ciong Siu Kwi atau yang dike­nal dengan julukan Bi-kwi (Iblis Cantik). Seperti telah kita ketahui, gerakan wanita ini dengan semua sekutunya telah mengalami kegagalan dan hanya berkat pengampunan yang diberikan oleh Bi Lan atau Siauw-kwi (Iblis Cilik) sajalah maka ia sendiri dapat keluar dari pertempuran itu dengan selamat. Sekutu­nya telah hancur, semua orang yang bekerja sama dengannya telah tewas dalam pertempuran melawan para pendekar. Guru-gurunya, Sam Kwi, tewas se­mua, juga Bhok Gun, kekasihnya yang terakhir, tewas. Demikian pula orang-orang sakti seperti Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nio-nio tewas di tangan para pendekar.

“Uuhhhh....hu-hu-huhhh....!” Ciong Siu Kwi menangis terisak-isak. Ia bukan menangisi mereka itu. Sama sekali tidak. Bagaimanapun juga, permainan cintanya dengan Bhok Gun hanya merupa­kan petualangannya saja. Tidak ada rasa cinta di dalam hatinya terhadap Bhok Gun atau siapapun juga ia, wanita ini belum pernah mencinta orang, arti kata yang sesungguhnya. Permainan cintanya dengan pria-pria seperti yang sudah-sudah, hanyalah merupakan pelampiasan nafsu belaka. Juga tidak ada rasa cinta terhadap Sam Kwi, tiga orang gurunya yang juga memperlakukan sebagai kekasih.

Cintakasih tidak mendatangkan duka. Cintakasih tidak membelenggu batin. Cintakasih itu bebas dan wajar, seperti sinar matahari yang menghidupkan se­gala yang berada dalam sentuhannya, menghidupkan dan membahagiakan, sama sekali tanpa pamrih untuk kepentingan atau kesenangan diri sendiri. Se­baliknya, nafsu berahi, seperti segala macam nafsu, menimbulkan ikatan, membelenggu. Dan tentu saja menimbulkan derita karena ikatan berarti ketergan­tungan. Kita menggantungkan kesenangan batin ter­hadap sesuatu atau seseorang dan kalau gantungan itu terlepas, tentu kita akan jatuh dan kita menderita duka. Ikatan itu dapat saja berupa ikatan terhadap kekasih, keluarga, harta benda, kedudukan, bahkan ikatan terhadap suatu cita-cita. Dan yang suka meng­gantungkan diri, mengikatkan diri adalah si aku, ciptaan pikiran. Pikiran menciptakan aku yang selalu ingin senang, pikiran menimbulkan ikatan terhadap segala sesuatu yang menyenangkan si aku, dan kalau terjadi kegagalan dan perpisahan sehingga terlepas ikatan itu, maka pikiran pula yang tenggelam ke da­lam duka. Si aku selalu condong untuk membesarkan iba diri, pementingan diri pribadi, karena dasarnya adalah pengejaran terhadap kesenangan pribadi dan pelarian terhadap hal-hal yang dianggap tidak menye­nangkan.­

Siu Kwi tidak menyedihi kematian orang-orang itu. Tidak ada ikatan dalam batinnya terhadap mere­ka. Guru-gurunya, Bhok Gun dan yang lain-lain itu baginya hanya berupa alat belaka, untuk mencapai idaman hatinya, cita-citanya. Kehilangan alat-alat itu tidak mendatangkan duka, karena dapat saja ia mencari alat-alat lain. Akan tetapi, yang menimbul­kan duka adalah hancurnya semua cita-citanya. Habislah segala-galanya. Gagal semuanya dan rasa kece­wa dan iba diri membuatnya berduka sehingga ia, seorang wanita perkasa yang biasanya amat keras hati, kini menangis dan air matanya mengalir deras tanpa dapat dibendungnya. Ia sudah tidak dapat menguasai dirinya lagi yang dicengkeram duka. Ia merasa ham­pa, kosong dan tidak ada artinya hidup ini baginya. Hatinya nelangsa dan terasa kesepian yang mengeri­kan mencekam hatinya.

Previous Page of 223Next Page

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended