Previous Page of 353Next Page

NAGASASRA SABUK INTEN 3

spinner.gif

Tetapi gurunya itupun pernah berkata kepadanya, "Arya, ada beberapa tingkat dalam bercinta. Cinta kita kepada 

sesama, cinta antara pria dan wanita, cinta antara orang tua dan anak-anak, cinta antara manusia. Kemudian 

meningkatlah cinta kita kepada tanah kelahiran, kepada kampung halaman, kepada tanah air dan bangsa. Tanah 

yang diberikan oleh Tuhan kepada kita serta lingkungan hidup di atasnya. Dan tingkat yang tertinggi dari cinta kita 

adalah cinta kita kepada sumber cinta itu sendiri. Kepada yang memberi kita gairah atas sesama manusia, yang 

memberikan tanah tumpah darah dan lingkungan hidup di atasnya. Yaitu cinta kita kepada Tuhan itu sendiri. Cinta 

kita kepada Yang Maha Pencipta. Tak ada yang dapat dipertentangkan dengan cinta kita kepada Tuhan Yang Maha 

Esa. Cinta itu adalah cinta yang paling luhur. Tetapi kadang-kadang kita dihadapkan kepada persoalan yang seolah- 

olah merupakan pertentangan antara kedua pancarannya. Cinta kita kepada tanah tumpah darah, cinta kita kepada 

bangsa yang seolah-olah bertentangan kepentingan dengan cinta kita pada kemanusiaan dan manusia."

"Tidak," kata gurunya itu, "Kita bisa menempatkan kedua-duanya. Kita harus menempatkan cinta kita kepada tanah 

tumpah darah berdasarkan cinta kita kepada manusia. Kepada manusia yang akan kita lahirkan. Kepada manusia 

yang akan mewarisi hidup kita kelak, supaya mereka dapat menikmati hidup mereka. Supaya mereka dapat menikmati 

cinta yang kudus. Cinta kepada Tuhannya tanpa merasa takut dan cemas. Tanpa terganggu oleh persoalan-persoalan 

duniawi."

Arya menarik nafas dalam-dalam. Memang peperangan harus dicegah. Tetapi kalau ia harus pecah, maka hendaknya 

perang itu dilandaskan kepada kepentingan kemanusiaan. Bukan kepentingan diri dan keinginan-keinginan untuk diri 

sendiri. Demikianlah kalau peperangan antara laskarnya melawan laskar Pamingit. Perang ini memang dapat 

menimbulkan perlawanan atas rasa cinta, tetapi ia harus dilandaskan pada kecintaan dan pengabdian yang lebih luhur. 

Karena itulah maka Arya sadar, bahwa gurunya bukan bermaksud menganjurkan kepadanya untuk menerima nasibnya, 

nasib rakyatnya. Tetapi gurunya hanya mencoba mencegah timbulnya pertentangan apabila kemungkinan itu masih bisa 

dicapai.

Tiba-tiba tersentak dari lamunannya, ketika dengan tiba-tiba orang berkuda yang berjalan di mukanya itu mendadak 

berhenti.

"Ada apa?" ia bertanya. Orang itu menujuk ke depan. Di pojok desa tampaklah beberapa orang berdiri.

Kemudian terdengarlah salah seorang dari mereka berteriak, "Berhentilah di situ."

Arya kemudian mendorong kudanya, mengambil tempat terdepan. Ia masih maju beberapa langkah. Tetapi kemudian 

iapun terpaksa berhenti ketika sebuah tombak melayang dan menancap di tanah, hanya dua langkah dari kaki kudanya.

 

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 538

DEMIKIAN asyiknya Arya menganyam angan-angannya, sehingga ia tidak melihat sebelumnya, orang-orang yang 

menghadang perjalanannya itu.

Ia tahu betul isyarat yang diberikan oleh orang-orang itu. Kalau ia tidak berhenti, maka tombak yang kedua akan 

diarahkan kepadanya. Karena Arya tidak menghendaki bentrokan terjadi, maka iapun mematuhi isyarat itu.

Ketika rombongan kecil itu telah berhenti, majulah beberapa orang bersenjata mendekati mereka. Sementara itu Mahesa 

Jenar dan Kebo Kanigara telah berada dekat di belakang Arya Salaka. Sedang Wanamerta pun kemudian menempatkan 

dirinya di samping anak muda yang membawa tombak Kyai Bancak itu. Beberapa orang itu kemudian berdiri mengitari 

Arya Salaka dan rombongannya, seolah-olah mereka hendak mengepung rapat-rapat.

Salah seorang yang agaknya menjadi pemimpinnya maju selangkah, lalu dengan bertolak pinggang ia berkata, 

"Siapakah kalian? Kemana kalian akan pergi? Dan apakah maksud kalian?"

Sesaat kemudian Arya Salaka menjawab, "Ki Sanak, kami adalah orang-orang Banyubiru. Adakah Ki Sanak juga 

orang Banyubiru?"

"Ya," jawabnya singkat.

"Kalau begitu kalian seharusnya mengenal kami," sambung Arya.

Orang itu mengangkat alisnya. Tetapi tiba-tiba dari dalam rombongan itu meloncat seseorang sambil berteriak, "Kalian 

merasa diri kalian orang-orang Banyubiru?"

"Ya," jawab Arya.

"Aku orang Banyubiru sejak lahir," katanya lantang penuh kebanggaan.

"Aku percaya, Ira. Kau memang lahir di Banyubiru, dibesarkan di Banyubiru, dan dewasa di Banyubiru," sahut 

Wanamerta, "Dan agaknya kau sekarang sedang mencoba untuk membalas budi kepada tanah yang telah memberikan 

kepadanya makan, di saat lapar dan memberimu air di saat kau haus."

Previous Page of 353Next Page

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended