Previous Page of 184Next Page

Bu Kek Kang Sinkang

spinner.gif

Bu Kek Kang Sinkang

Udara siang hari cerah.

Langit biru bersih dari awan berpadu warna daun kuning kecoklatan yang berhamburan disekitar kuil siaulimsi. Pemandangan indah awal musim gugur, sejuknya angin lembut yang menghempas, biasanya mengandung kekuatan aneh, yang bisa menghanyutkan perasaan seseorang hingga lupa dari masalah.

Sayangnya, Pek Bin Siansu Hongtiang siaulimsi generasi kini, sedang berkonsentrasi terhadap urusan lain. Urusan yang dapat menimbulkan keangkeran ketua siaulimsi beserta 108 anggota LoHanTin yang melangkah perlahan dibelakangnya. Tidak seorangpun menghiraukan pemandangan indah disekelilingnya. Mereka seperti menanggung beban berat.

Ditilik dari usia mereka yang diatas 50 tahun, tentu berbekal kekuatan batin paling tidak hasil latihan puluhan tahun, namun mereka tetap tidak berhasil menghilangkan rasa kuatir, malu, geram yang jelas tertera di wajah mereka.

Jumlah mereka tidak sedikit, namun mereka berjalan tanpa menimbulkan suara, bergerak kearah belakang kuil dan berhenti didepan pondok mungil tapi terawat.

Pondok itu terbuat dari bambu, dengan sebuah pintu ditengah yang tertutup rapat. Sangat menyolok bedanya dengan bangunan siaulimsi yang lain yang dibuat dari batu yang kokoh.

Walau terawat, bagaimanapun juga pondok itu kelihatan sudah tua sekali, terlihat lapuknya batang bambu disana sini. Siapapun penghuninya, tentu usianya sudah tidak muda.

Sekitar sepuluh kaki dari pondok itu, Pek Bin Siansu menghentikan langkahnya.

"Siautit mohon maaf yang telah menganggu supek dari ketenanganya" lirih Pek Bin Siansu perlahan.

Hanya satu kali Pek Bin Siansu berseru.

Nampaknya tidak berminat untuk mengulangi ucapannya. Ia hanya diam mematung. Tidak seorangpun bergerak maupun bersuara. Hanya gerak jubah dan suara pakaian yang tertiup angin mengisi kekosongan yang mencekam. Waktu seakan berhenti, toh tetap tidak dapat mencegah turunnya matahari ke arah barat.

Sudahlimakentungan berbunyi, sore hari telah tiba. Pemandangan ratusan orang berdiri bagaikan patung tidak juga berubah. Seekor burung gagak hitam hinggap di pundak Pek Bin Siansu. Bertengger dengan tenang sambil menguak suaranya yang khas.

Apakah bayangan kematian mulai menghantui siaulimsi? Timbul perasaan yang sukar dijelaskan di hati kecil Pek Bin Siansu. Apakah ia mengambil keputusan yang tepat?

Burung gagak terbang terlonjak kaget ketika pintu pondok berderit terbuka dan sesosok tubuh berkelabat cepat didepan Pek Bin Siansu. Tubuh kurus dibungkus baju biru lusuh duduk bersila diatas sehelai ikat pinggang yang panjang menegak lurus kebawah menusuk batu keras di pelantaran siaulimsi. Tubuh kakek tua itu yang hanya ditopang kain yang mengeras, mengambang dan bergoyang mengikuti geraknya angin gunung. Sungguh mengagumkan kesempurnaan tenaga dalam kakek tua itu.

"Selamat atas keberhasilan supek yang telah melatih Siau Thian sinkang ketingkat yang sempurna" kata Pek Bin Siansu sambil menjura.

Goan Kim Taysu, supek Pek Bin Siansu, menghela nafas,

"Aaai... masih jauh dari berhasil, puluhan tahun kucoba, baru menyelesaikan tingkat tiga, setelah mencapai tingkat delapan baru ilmu ini sempurna. Sayang aku kurang berbakat".

Pek Bin Siansu mengangkat kepalanya dengan kaget. Goan Kim Taysu terkenal sebagai manusia yang paling berbakat di siaulimsi selama seratus tahun terakhir. Sepengetahuannya, sepanjang sejarah, dia lah satu satunya yang dapat menguasai 72 macam ilmu kepandaian siaulimsi sekaligus.

"Maaf supek, bukankah suhu dapat menyempurnakan Siau Thian Sinkang hanya dalam sepuluh tahun?".

Previous Page of 184Next Page

Comments & Reviews (4)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended