Halaman sebelumnya of 4Halaman selanjutnya

WISHING ON A STAR (END Version)

spinner.gif

pernahkah aku bilang aku penulis yang tidak suka terlalu lama membiarkan pembaca setiaku menunggu...oh ayolah...dalam hati aku tau kalian begitu memuji kebaikkan hatiku...(eit...jangan muntah dulu sebelum baca chap satu ini) seseorang pernah berkata padaku, 'JIKA KAMU SENDIRI TIDAK YAKIN DENGAN APA YANG KAMU BUAT BAGAIMANA ORANG LAIN BISA MENGHARGAI SESUATU YANG KAMU BUAT TERSEBUT" sebenarnya itu perkataan salah satu dosen KILLER dikampusku, tapi anehnya semua kata"ny selalu terngiang di kepalaku....jadi dengan kepala di angkat aku ingin mengatakan AKU BANGGA DENGAN TULISANKU APAPUN BENTUKNYA tapi itu bukan suatu kesombongan hanya MENGHARGAI JERIPAYAHKU SENDIRI...dan tapi....bukan berarti aku tidak bisa menerima komentar, kritik atau saran justru sebaliknya aku mungkin salah satu orang yang merasa komentar orang itu baik atau buruk akan selalu menjadi motivasi dalam melakukan sesuatu...maaf...kali ini aku banyak cuap-cuap...hanya KARYA ku yang satu ini ternyata benar-benar merubah pikiranku tentang bakatku yg menyimpang dari jurusanku yang sebenarnya, aku anak Sistem Informasi yg kerjaannya berteman ma program komputer mulu, tiba-tiba punya bakat menyimpang yaitu penulis romance...hahahaha..banyak yg bilang aku salah jurusan, tapi aku membuktikan bahwa meskipun katanya SALAH JURUSAN  IPK ku tetep bagus kok (pamer)...apa kalian sudah mulai bosan dengan curhatku atau mengomel karna curhatnya sudah kelewat panjang...gak papalah...yang penting kan aku updatenya cepet...hehehe...mungkin WISHING ON A STAR ini akan menjadi novel terakhir yang aku buat, mengingat skripsiku yang harus membuat sebuah program akan menyita banyak waktuku habis lebaran ini, tapi jangan khawatir...aku orang yang KONSISTEN, jika aku sudah menulis...pantang bagiku berhenti di tengah jalan, jadi meskipun DOSEN akan membuatku stress dengan tuntutan skripsi...aku akan tetap men TAMATkan cerita ini...itu janjiku...so.....bagi yg sudah merasa (penulis stress) abaikan saja tulisan ini dan lanjut keceritanya...tapi VOTE KRITIK dan SARAN jangan di abaikan yc...alias...selalu tinggalkan jejak...OKAYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY????

_________________________________________________________________________

 

Mobil Devan dan motor Faldy datang hampir beriringan, dengan gerak cepat Devan lagi-lagi mengangkat tubuh yang terkulai tersebut. Baju laki-laki ini ada bercak darah dari Carissa, Mili juga berlari bersama Faldy dan menyusul Carissa yang sudah dilarikan para suster ke ruang UGD. Mili menatap sedih kearah suaminya yang kini duduk terpaku sambil mengkantup dua tangannya dan menopang dagunya. Mili hafal sikap suaminya ini sejak dulu, kalau khawatir dia tidak pernah mondar-mandir gak jelas kayak setrikaan tapi Devan akan lebih bersikap diam dengan tubuh yang kaku dan mengeras seperti menahan perasaan, selalu berusaha bersikap tenang. Tapi gadis ini juga tau, dalam hatinya Devan pasti merasa sangat khawatir dan cemas, dia bisa melihat dari sorot mata pria yang ada di hadapannya itu berharap bahwa gadis yang didalam sana akan selamat, akan terus hidup dan menemaninya.

“ Sshhh...” Mili tersentak dan mendesah saat Faldy menyentuh kakinya.

“ Astaga Mili...kakimu berlumuran darah!” Faldy panik dan jongkok mencoba menyingkap jeans Mili yang sudah sedikit sobek.

“ Apah !” Mili kaget dan melihat kekakinya dan baru ia merasakan perih yang teramat sangat. Devan tersentak dan melihat mereka berdua sebentar, menyaksikan Faldy memapah Mili untuk segera di obati, tapi ia hanya diam. Dia sedang tidak punya waktu untuk sekedar marah-marah atau melarang aksi kedekatan mereka berdua, ia kembali menatap pintu UGD sambil mnegepal ke dua tangannya.

***

Setelah di obati dengan jalan terpincang-pincang Mili dan Faldy kembali ke ruang UGD, sepertinya pemeriksaan dan pengobatan Carissa sudah selesai. Mili menengok dari kaca pintu dan melihat sudah tidak ada lagi orang. Salah seorang suster keluar dari ruang UGD.

“ Sus, pasien tadi di bawa kemana?”

“ Oh, keruang rawat mbak, klo mbak mau kesana mbak lurus aja, belok kiri kemudia mentok ruangan yang paling ujung.”

“ Oh...makasih sus.” Mili menganggukkan kepala..

“ Kamu belum makan kan Mil, aku belikan dulu..kamu mau tunggu di sini atau langsung ke ruangan itu.”

“ Aku kesana saja.”

“ Ya sudah, aku tidak akan lama.” Pamit Faldy dan melongos dengan cepat. Sementara Mili perlu tertatih-tatih untuk sampai di ruang rawat Carissa. Di sana ia melihat Devan duduk di pinggiran tanpa bergeming. Dengan mengumpulkan seluruh keberanian Mili mendekatinya.

Halaman sebelumnya of 4Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan (24)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Media

Pemain

Mandy Mooreas Mili
Shane West as Devan
Chad Michael Murrayas Refaldy

Siapa yang Membaca

Disarankan