Previous Page of 44Next Page

Pedang Keramat (ThianHongKiam)

spinner.gif

Koleksi Kang Zusi

 

Pedang Keramat Thian Hong Kiam 

Asmaraman S. Kho Ping Hoo tahun 1966 

1. Pencuri Pedang Kerajaan

Pada tahun 870 sampai 873 rakyat Tiongkok menderita hebat sekali  

karena buruknya pemerintah yang dipegang oleh Dinasti Tang. Pembesar- 

pembesar dari yang terkecil sampai yang terbesar, dari yang terendah  

sampai yang tertinggi, semua melakukan korupsi besar-besaran, hingga  

tenaga dan harta benda rakyat diperas habis-habisan.

Di antara sekalian pembesar-pembesar koruptor tinggi, kaum Thaikam  

(orang kebiri) yang paling hebat menjalankan peranan. Mereka ini tidak  

saja berpengaruh di dalam istana kaisar, tapi meluas sampai keluar hingga  

boleh dibilang, semua pembesar militer dan sipil berada dalam genggaman  

tangan mereka. Lebih dari setengah bagian dari pada seluruh tanah di  

ibukota dikuasai oleh para Thaikam ini.

Para petani, atau lebih tepat disebut buruh tani, bekerja di atas tanah  

tuan-tuan besar ini melebihi kerja seekor kerbau. Sedangkan para petani  

yang memiliki sedikit tanah, dikenakan pajak yang sangat tinggi. Untuk tiap  

mou sawah, seorang petani harus membayar pajak dari 50 sampai 100 kati  

gandum.

Tentu saja ini merupakan delapan bagian dari pada hasil tanah mereka.  

Apalagi ketika dalam tahun 873 di daerah Shantung dan Honan terserang  

musim kering yang hebat, sedangkan pajak yang telah ditetapkan itu sama  

sekali tidak berubah atau dikurangi. Celakalah nasib kaum tani. Siapa yang  

tidak kuat membayar pajak sebagaimana yang telah ditetapkan, dihukum  

berat.

Hukuman yang paling ringan adalah hukum cambuk lima puluh kali. Tapi  

hukuman yang disebut paling ringan inipun sering mengantar nyawa  

seseorang ke alam baka, karena siapakah yang kuat menahan pukulan  

cambuk besar sampai lima puluh kali, sedangkan tubuh yang dicambuk itu  

telah begitu kurus kering karena kurang makan?

Ada nasehat-nasehat kuno yang menyatakan bahwa rakyat jelata akan  

tunduk dan menurut apabila perut mereka kenyang, maka kenyangkanlah  

dulu rakyat jelata jika menghendaki Negara tenteram dan aman. Pada  

tahun 874, terbuktilah betapa tepatnya kata-kata itu. Koleksi Kang Zusi

 

Para petani yang terjepit dan menderita dengan perut kosong, tak dapat  

bertahan lagi dan menjadi nekad. Maka pecahlah pemberontakan pertama  

di Cang-yuang (Shantung) yang dipimpin oleh Ong Sien Ci, dan  

pemberontakan ini didukung oleh hampir seluruh rakyat kecil. Pada tahun  

berikutnya, rakyat di Coa-chau memberontak pula, dipimpin oleh seorang  

patriot bernama Oey Couw.

Empat tahun kemudian, Ong Sien Ci tewas dalam sebuah pertempuran  

melawan tentara kerajaan Tang di Hupeh. Akan tetapi dalam sesuatu  

revolusi suci, tewasnya seorang dua orang, bahkan ratusan atau ribuan  

orang, tak menjadi soal dan sama sekali takkan memadamkan api revolusi  

yang menggelora. Mati satu maju dua, gugur seratus maju seribu.

Demikianlah, setelah Ong Sien Ci tewas, Oey Couw segera menggantikan  

dan memegang pimpinan atas barisan pemberontak yang berjumlah tidak  

kurang dari enam puluh laksa orang. Oey Couw yang gagah perkasa  

menjalankan taktik gerilya di sepanjang propinsi Hupeh, Kiangsi, Cekiang  

dan An hwei lalu memutar dan kembali ke Honan, hingga dalam operasinya  

ini, Oey Couw telah melakukan semacam “long march” yang jauhnya sepuluh  

ribu li lebih.

Akhirnya, berkat semangat para tentara rakyat yang gigih melawan  

tentara Tang yang hanya pandai menerima suapan dan sogokan serta  

merampok harta benda dan mengganggu anak bini orang itu dapat dipukul  

hancur.

Kaisar Tang melarikan diri mengungsi ke Secuan dan pasukan petani  

memasuki ibukota Cang-an, disambut oleh penduduk dengan gembira dan  

penuh harapan.

****** 

Untuk beberapa hari semenjak tentara petani berhasil mengalahkan  

kerajaan Tang, di kampung-kampung dan dusun-dusun orang mengadakan  

perayaan dengan tari-tarian, hingga keadaannya di mana-mana meriah  

seperti di waktu orang merayakan hari tahun baru. Para petani kini bebas  

mengerjakan sawahnya tanpa kuatir membayar pajak yang tidak  

semestinya itu. Para buruh juga mendapat harapan baik, tenaga mereka  

tidak diperas seperti kerbau.

Pada suatu pagi, di antara banyak orang yang kesemuanya adalah orang  

biasa yang mengenakan pakaian petani dan pengemis, tanda dari buruk dan Koleksi Kang Zusi

 

miskinnya keadaan rakyat jelata pada waktu yang lalu, nampak dua orang  

keluar dari pintu gerbang ibukota Cang-an.

Seorang di antara mereka ini telah berusia lima puluh tahun lebih,

Previous Page of 44Next Page

Comments & Reviews (1)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended