Satu

320K 12.1K 267
                                    

“Copettttt ….”
Wanita paruh baya itu berteriak ketika dompetnya dicopet oleh berandal yang ada di dekat pasar. Beberapa orang ikut berteriak, beberapa lagi memilih diam karena itu bukan urusan mereka. Sedangkan si korban pencopetan kini sibuk mengejar copet yang berlari ke arah jalan besar, menuju pemberhentian bus tak jauh dari pasar. Asap-asap kendaraan menjelma menjadi asap dupa yang membumbung pada langit yang membentuk sebidang aquarel, memenuhi pagi yang dipenuhi orang-orang berlalu lalang. Ada yang sibuk menghitung laba dagangan, ada yang sibuk berjualan, ada yang sibuk mencari penumpang ada pula seorang cewek yang sibuk membersihkan sepatu convers jenis chuck taylor all star ’70 tri-nya yang sebagian sisi putihnya telah dicat hitam dengan cat acrylic—untuk mengelabuhi konselor di sekolahnya—dari kotoran. Dari kejauhan cewek itu melihat dua orang yang sedang kejar-kejaran menuju arahnya.
Brughh
Sebuah kaki sengaja menyandung pencopet itu membuat si pencopet jatuh terguling di atas aspal. Seorang cewek yang tadi menjegal si pencopet itu  memungut dompet yang terjatuh tak jauh dari posisi si pencopet. Ara—cewek itu tersenyum miring sambil melihat pencopet yang tampak kesakitan karena Ara sengaja menjegal kakinya. Ara mengibaskan kakinya yang memakai sepatu converse bercat hitam dengan bangga.
“Makanya kalau mau uang itu ya kerja jangan nyopet. Makan tuh!” maki Ara, sedangkan pencopet laki-laki berusia sekitar dua puluhan itu masih mengaduh menahan dengkulnya yang memar.
“Dompet saya, hosh hosh…” teriak wanita tadi yang masih tertinggal di belakang. Ara melihatnya sekilas.
“Copetttt, ada copet!” teriak Ara membuat orang-orang segera berkumpul mengerubungi pencopet itu, hendak memukul mereka sebelum seorang pria tua melerai. Beberapa orang melontarkan makian pada pencopet malang itu sedangkan seorang yang lainnya sibuk menghubungi pihak keamanan. Ara berjalan menghampiri sosok ibu-ibu yang tadi sempat dilihatnya dari jauh sedang berlari mengejar pencopet. Pagi yang ricuh.
“Ini dompet Ibu?”
“Iya, Nak. Terima kasih.”
Wanita dengan rambut yang disanggul itu menerima dompet miliknya dari Ara, napas wanita itu masih belum teratur. Berlari di usia yang tak lagi muda membuat tubuhnya dilanda lelah luar biasa.
“Nama kamu siapa, Nak?”
“Ara, Bu.”
“Saya Dira, terima kasih, ya.”
Ara mengangguk, ia melempar senyum tipis dan berpamitan pada Dira untuk segera pergi sebelum terlambat sekolah, beberapa menit lagi gerbang sekolahnya akan ditutup. Bayangan telat sudah berkelebatan dalam kepalanya.
***
Napas Ara tersengal-sengal. Tinggal dua langkah lagi sebelum gerbang ditutup oleh satpam, tapi cewek itu rasanya tak lagi mampu berlari, mengingat dirinya sudah berlari sejauh lima ratus meter dari halte bus terdekat. Ini gila, dalam satu bulan ini dirinya sudah tiga kali telat masuk sekolah. Ara yakin, untuk kali ini, pasti Guru BK di sekolahnya akan memanggilnya untuk menghadap. Dan itu memang sudah menjadi kebiasaannya setiap semester.
Cewek itu berjongkok di depan gerbang yang sudah sempurna ditutup, lengkap dengan Pak Beno—satpam berkumis tebal yang menjaga gerbang, yang bahkan kini sudah menatapnya sengit. Maklum Ara adalah salah satu siswa yang menjadi langganan telat masuk sekolah disertai catatan-catatan kriminal lainnya yang dia buat. Pak Beno bahkan pernah mendapat surat peringatan dari kepala sekolah karena kecolongan membiarkan Ara kabur dari sekolah, sejak saat itu Pak Beno menjadi antipati dengan Ara.
Ara nyengir ke arah Pak Beno, cewek itu mengangkat kedua jarinya membentuk tanda perdamaian. Pak Beno yang sudah kenal dengan tabiat Ara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda tak sudi membuka gerbang.
“Ayolah Pak ganteng, satu kali ini aja deh.”
“Tidak, tidak. Tidak bisa!”
“Nanti saya trakir deh, Pak.”
“Tidak mempan.”
Ara memendang Pak Beno dengan muka pias, hingga selintas ide muncul di kepalanya. “Saya traktir ditambah uang tiga ratus ribu, gimana, Pak? Boleh ya, ya masuk?”
Pak Beno menyisir kumis hitam tebalnya, laki-laki dengan perut buncit dan bibir hitam karena terlalu sering menghisap rokok itu menatap Ara tidak yakin.
“Nih!”
Ara mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan menyerahkannya pada Pak Beno yang terlihat semringah. Ara barjalan mendekati gerbang, sudah sangat yakin Pak Beno akan membukakan pintu gerbang. Biarlah pagi ini Ara merelakan tiga ratus ribunya—uang sakunya selama satu minggu, asal sekali ini bisa masuk kelas. Urusan jajan, Ara bisa memalak Gumay untuk membelikannya makanan di kantin.
“Ingat ya Arang terakhir kalinya saya biarkan kamu masuk!”
“Ara kali Pak, kok Arang sih?”
“Suka-suka saya dong, sudah sana masuk!”
Ara mendengkus, Pak Beno seenaknya saja mengganti namanya. Arang? Pak Beno pikir dirinya cewek berkulit hitam dekil yang tidak mandi puluhan tahun hingga harus dipanggil Arang?
***
Arayana Mandy—17 tahun, biang onar di SMA 39. Jangan pernah tertipu dengan wajahnya yang terlihat kalem, Ara adalah cewek yang bisa dikatakan bar-bar di sekolahnya. Membolos adalah hobinya, melabrak adik kelas kadangkala menjadi kesibukannya, telat adalah kebiasaannya dan remidi pelajaran yang berbau hitung menghitung adalah pekerjaan wajibnya. Kelakuannya seperti preman pangkalan. Semua orang yang belum pernah mengenalnya pasti mengira Ara adalah cewek yang alim dan lemah, tapi bagi mereka yang mengenalnya, anggapan itu sudah lama dibuang dalam tong sampah. Kenyataannya, wajah dan kelakuannya sangat berbading terbalik. Wajahnya memang kalem dan terlihat seperti cewek lugu, tapi kadang kelakukannya yang beringas membuat sebagian orang heran dengannya.
Ara tiba di kelasnya, untung saja Bu Rukmi belum datang pagi itu. Kalau sudah, bisa-bisa pagi ini Ara disuruh menghadap bendera seperti pagi yang sudah-sudah. Dan Ara tak akan sudi untuk melakukannya lagi, itu hanya akan membakar kulitnya, membuat beberapa bagian wajahnya menghitam karena paparan sinar matahari. Meski dia bukan tipe cewek yang suka berdandan, tetapi jika kulitnya menghitam karena paparan sinar matahari, dia juga akan bingung.
“Anjir ngupil lagi, Gumay edan!” ucap Ara sewaktu melewati bangku Gumay.
“Suka-sukalah, daripada elo suka telat. Jadi cewek kok nggak ada anggun-anggunya,” maki Gumay.
Ara menoyor kepala Gumay. “Mending gue telat, daripada elo, cowok kok hobi ngupil.”
“Perlu lo tahu. Ngupil itu….nikmat.”
Gumay tergelak, Ara bergidik jijik. Teman sekelasnya itu memang jorok, tubuhnya tinggi dengan berat badan yang tak seimbang, kurus seperti tiang listrik, dan hobinya adalah ngupil meskipun Gumay termasuk kalangan “cogan” di sekolahnya, tapi Ara tak pernah tertarik dengan Gumay. Lihat saja, meskipun ganteng tetap saja Gumay itu suka mengupil dan di mata Ara, nilai kegantengan Gumay sudah turun drastis. Gumay  bahkan tak lagi punya nilai. Bayangkan, cowok ganteng tapi suka ngupil? Sangat tidak elit. Meski begitu, Gumay tipe teman yang menyenangkan dan satu-satunya teman cowok yang akrab dengannya. Dalam pertemanan, Ara bukan orang yang mudah bergaul, di SMA ini hanya ada 3 teman akrab yang dimilikinya, Lea, Nana dan Gumay.
“Jijik!”
Ara berlalu dari hadapan Gumay, berjalan ke meja paling belakang yang sudah dihuni oleh Lea dan Nana—dua sahabatnya yang sama gilanya dengan dirinya. Bedanya, Lea gila fashion dan Nana gila pada artis idolanya. Fangirl detected.
“Astaga, lo telat lagi sih, Ra?”
Ara mengangkat bahunya, menelengkupkan kepalanya di atas meja kelasnya. Rasa mengantuk tiba-tiba menyerang. Semalam Ara tidur pukul tiga pagi dan bangun pukul enam, kebiasaan lamanya menonton pertandingan sepak bola hingga larut malam membuat Ara cukup sering telat datang sekolah ditambah aksinya yang menolong seorang ibu-ibu yang sedang kecopetan tadi.
“Lo kok malah tidur?”
Lea berdecak, sementara Nana yang daritadi sibuk menanyai Ara hanya bisa menghela napasnya. Tak ada tanggapan dari cewek itu.
“Serah lo deh, nanti kalau Bu Rukmi datang mampus lo.”
Tak ada sahutan, Ara sudah terlanjur terjun ke alam mimpi. Lea dan Nana berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepala mereka, melihat kelakuan Ara yang semakin lama semakin parah, sikap tak acuhnya kian menjadi.
***
Ara masih sibuk tidur ketika seorang laki-laki bermata cokelat madu itu datang ke kelasnya, 12 IPS 4. Laki-laki itu  duduk di kursi guru, membuat beberapa siswi perempuan tertegun melihatnya. Berbagai pertanyaan melintas di kepala mereka, siapa kiranya cogan yang baru datang dan langsung duduk di kursi guru itu? Mengingat, saat ini adalah jamnya Bu Rukmi—guru pelajaran Ekonomi yang hobinya mendongeng. Usia Bu Rukmi memang sudah lewat kepala enam, sehingga membuat wanita itu selalu menceritakan pengalamannya selama empat puluh tahun mengajar dengan cerita yang sama terus diulang-ulang, itu membuat sebagian besar dari mereka mengalami bosan kronis.
Laki-laki itu berjalan ke tengah kelas setelah duduk sebentar untuk mengambil buku absensi, membuat siswi-siswi perempuan semakin kekurangan oksigen. Demi seluruh cogan di SMA 39, laki-laki yang saat ini berdiri di depan mereka adalah cogan paling tampan yang pernah mereka lihat. Tapi—jangan bayangkan laki-laki itu bertubuh athletis seperti atlet binaraga atau berwajah sempurna bak Dewa Yunani seperti kebanyakan penggambaran dalam novel. Laki-laki itu memang tampan, tapi masih tetap tak sesempurna apa yang biasanya tergambar dalam novel, tubuhnya cukup proposional tidak berlebihan, wajahnya juga bukan tipe aristrokat tapi sedap dipandang. Kalau dipeluk sudah pasti nyaman, tipe cewek jaman sekarang. Hugable? Mungkin seperti itu mereka menyebutknya.
“Perkenalkan, nama saya Adeo Deryan Pradikta, kalian bisa memanggil saya Pak Deo. Saya di sini menggantikan  Ibu Rukmi yang hari ini resmi pensiun.”
“Huaaaaa….”
Terdengar riuh dari kelas 12 IPS 4. Lea dan Nana memandang Deo tanpa berkedip, sementara Ara masih tetap tertidur pulas dan Gumay yang sibuk membatin keruntuhan pesonanya sebagai cogan di SMA 39 karena kedatangan guru baru itu. Sedangkan sebagian dari mereka bingung mengapa Bu Rukmi pensiun tetapi tidak pamit terlebih dahulu?
“Hari ini saya akan membebaskan kalian dari pelajaran, kita gunakan untuk jam perkenalan. Sebelumnya, ada yang ingin bertanya pada saya?”
Semua siswi mengangkat tangannya, Deo memandang mereka dengan wajah datar. Laki-laki itu menghela napasnya, entah sudah helaan yang keberapa kali, semenjak masuk kelas ini Deo sudah berkali-kali menghela napas. Menurut konselor di SMA 39, kelas IPS 4 adalah sarangnya para penyamun yang hobi membuat perkara di sekolah.
“Ya, kamu yang paling depan. Ingin bertanya apa?”
“Umurnya berapa Pak, udah nikah belum. Mau dong Pak dilamar.”
“Huuuuu…..”
Alika—cewek yang tadi bertanya hanya mengerucutkan bibirnya ketika teman-teman kelasnya menyoraki dirinya.
“Umur saya dua puluh dua tahun, saya baru saja lulus dari universitas. Sudah mari kita lanjutkan, saya tidak akan membuka sesi tanya jawab lagi.”
Cewek-cewek yang tadinya bersemangat mengangkat tangan, kini berganti dengan wajah lesu, sementara Gumay bersorak—entah untuk alasan apa—yang membuatnya menjadi pusat perhatian teman-teman satu kelasnya.
“Saya akan mengabsen kalian satu persatu, tolong sebuatkan nama panggilan kalian.”
Deo mengambil jurnal absensi di atas meja, laki-laki itu memindai satu per satu nama yang tertera pada jurnal absen.
“Arayana Mandy?”
Tak ada jawaban, semua diam, Deo mengangkat satu alisnya mencari si pemilik nama. “Di mana Arayana Mandy?”
“Tidur, Pak!” celutuk sebuah suara dari arah belakang—Nana.
Deo menghampiri Nana, dan menemukan seorang muridnya yang sedang tertidur dengan pulas di atas mejanya tepat berada di sisi kanan Nana, suara dengkuran halusnya bahkan terdengar oleh Deo. Laki-laki itu menatap Ara tajam, menurut informasi dari konselor sekolah, muridnya yang bernama Arayana Mandy ini adalah biang onar di SMA 39.
“Bangun!”
Ara hanya bergerak sedikit, masih menutup kedua matanya, tidurnya justru semakin pulas. 
“Ikut saya ke kantor!”
Deo menarik telinga Ara, membuat cewek itu berjingkat dan mengaduh kesakitan.
“Woiii, siapa sih ini. Sakit tahu, lepas sih. Kurang ajar banget!” teriak Ara membuat semua teman-temannya menatapnya horror.
“Aduh gue mau dibawa ke mana sih? Lea, Nana, Gumay woi tolongin.”
Gumay, Nana dan Lea kompak mengangkat kedua tangan mereka, membuat Ara yang masih setengah sadar semakin berontak tak terkendali. Sebenarnya siapa yang saat ini menjewer telinganya dan menyeretnya ke luar seperti ini?

Arayana & AdeoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang