Halaman sebelumnya of 282Halaman selanjutnya

pendekar binal

spinner.gif

Pendekar Binal 

Karya Khulung 

Disadur oleh : Gan KL 

Seri 1 : 

PENDEKAL BINAL 

Seri 1: Jilid 1-A. Pendekar Binal 

Kang Hong, setiap orang yang 

bertelinga di dunia Kangouw 

(kelana) niscaya pernah 

mendengar nama "si mahacakap" 

ini, begitu pula nama Yan Lamthian, 

si jago pedang nomor satu 

di dunia persilatan. 

Setiap insan persilatan yang 

bermata tentu juga berhasrat 

melihat wajah Kang Hong yang 

mahacakap serta ingin 

menyaksikan ilmu pedang Yan 

Lam-thian yang tiada 

bandingannya di kolong langit ini. 

Setiap orang pun tahu bahwa 

tiada seorang gadis di dunia ini 

yang sanggup menahan 

senyuman Kang Hong dan juga 

tiada jago silat yang mampu 

melawan pedang sakti Yan Lamthian. 

Semua orang percaya 

bahwa pedang Yan Lam-thian 

sanggup mencabut nyawa 

seorang panglima di tengah-tengah pasukannya dan dapat membelah seutas 

rambut menjadi dua, sedangkan senyuman Kang Hong mampu 

menghancurluluhkan hati setiap orang perempuan. 

Akan tetapi pada saat itulah lelaki yang paling cakap di dunia ini justru sedang 

lari terbirit-birit demi seorang perempuan. Dengan pakaian yang sederhana 

dan kumal Kang Hong sedang mengendarai sebuah kereta kuda rongsokan 

dan menyusuri sebuah jalan yang sudah lama telantar dan tidak terinjak kaki 

manusia. Dalam keadaan demikian, siapa pun takkan percaya bahwa dia 

inilah Kang Hong, si mahacakap, si rupawan yang romantis dan menggiurkan 

hati setiap gadis itu. 

Panas terik sinar sang surya dalam bulan tujuh menyengat kulit. Waktu itu 

sudah dekat senja, namun manusia dan kudanya masih kegerahan oleh hawa 

yang panas itu. Kang Hong ternyata tidak menghiraukan badannya yang 

sudah basah kuyup air keringat, ia masih terus mencambuki kudanya agar 

berlari terlebih kencang. 

Suasana sunyi senyap, hanya terdengar berdetaknya kuda lari dan gemertuk 

roda kereta diseling menggeletarnya cambuk. Tiba-tiba suara ayam berkokok 

memecah kesepian. 

Sungguh aneh, dari mana datangnya ayam berkokok di jalan telantar 

menjelang senja ini? 

Berubah air muka Kang Hong, sorot matanya yang tajam memancar jauh ke 

depan sana, terlihat seekor ayam jantan besar menongkrong di atas dahan 

pohon reyot di tepi jalan tanpa bergerak sedikit pun. 

Jenggernya yang merah indah kereng serta bulunya yang beraneka warna itu 

tampak berkilau-kilau. Mata ayam jantan itu pun seakan-akan memancarkan 

sinar yang jahat dan mengerikan. 

Muka Kang Hong bertambah pucat, mendadak ia menarik tali kendalinya. 

Kuda itu meringkik panjang dan kereta pun berhenti. 

"Ada apa?" tanya sebuah suara lembut dan manis dari dalam kereta. 

Kang Hong ragu-ragu sejenak, jawabnya kemudian dengan menyeringai, "Ah, 

tidak apa-apa, tampaknya kita kesasar." Segera ia memutar balik keretanya 

dan dikaburkan ke arah datangnya tadi. Terdengar ayam jantan berkokok 

pula seakan-akan lagi mengejeknya. 

Dengan gelisah Kang Hong mencambuk kudanya sehingga berlari lebih 

cepat. Akan tetapi, belum lagi seberapa jauh, sekonyong-konyong ia 

menghentikan keretanya, sebab di tengah jalan melintang sesosok tubuh 

gemuk besar. Bukan tubuh manusia melainkan tubuh babi raksasa. Sungguh 

aneh, dari mana datangnya babi sebesar ini di jalan telantar dan lama tak 

terinjak manusia ini? Padahal baru saja keretanya lalu di sini tanpa kelihatan 

secuil daging babi, tapi sekarang seekor babi besar, benar-benar seekor 

bulat, melintang di situ. 

"Engkau kesasar lagi bukan?" terdengar pula suara lembut tadi dari dalam 

kereta yang jendelanya dan pintunya tertutup rapat itu. 

"Aku ... aku ...." Kang Hong tergegap dengan butiran keringat memenuhi 

dahinya. 

"Untuk apa kau dustaiku?" ujar suara lembut manis itu dengan menghela 

napas perlahan. "Sudah sejak tadi kutahu." 

"Kau tahu?" Kang Hong menegas dengan tersipu-sipu. 

"Ketika mendengar kokok ayam tadi, sudah kuduga pasti orang 'Cap-ji-sheshio' 

hendak merecoki kita. Supaya aku tidak khawatir, maka kau dustai aku, 

betul tidak?" 

"Sungguh aneh," kata Kang Hong dengan gegetun. "Padahal perjalanan kita 

ini sedemikian rahasia, mengapa mereka bisa tahu? ... Tapi ... tapi engkau 

jangan khawatir, urusan apa pun akan kuhadapi." 

"Kau salah lagi," kata orang di dalam kereta dengan suara halus, "sejak hari 

itu aku sudah ... sudah bertekad sehidup semati denganmu, bahaya apa pun 

yang akan terjadi juga harus kita hadapi bersama." 

"Tapi keadaanmu sekarang ...." 

"Tidak menjadi soal, aku merasa baik-baik saja." 

"Baiklah, dapatkah engkau turun dan berjalan? Kedua arah jalan ini sudah 

diberi tanda peringatan, tampaknya terpaksa kita harus meninggalkan kereta

Halaman sebelumnya of 282Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan (2)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Siapa yang Membaca

Disarankan