Halaman sebelumnya of 43Halaman selanjutnya

wiro sableng Episode Perjanjian Dengan Roh (5 episode)

spinner.gif

BASTIAN TITO  

 

PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212  

 

 

 

 

 

 

PERJANJIAN  

DENGAN ROH

Sumber Kitab: Pendekar212  

Penyedia Cover: kelapalima  

E-Book: kiageng80  

WIRO SABLENG  

PERJANJIAN DENGAN ROH  

 

 

 

ALAM kegelapan dan dinginnya udara malam, Djaka  

Tua tambatkan kudanya di batang pohon kelapa.  

Debur ombak serta deru tiupan angin laut selatan  

terdengar sambung-menyambung tak berkeputusan. Lelaki  

berusia lebih setengah abad ini memandang dulu ke arah  

laut luas sebelum melangkah menuju gundukan batu  

membentuk bukit terjal setinggi sepuluh tombak dan  

panjang hampir tigaratus kaki di samping kirinya. Walau  

sebelumnya cuma satu kali datang ke tempat itu namun  

Djaka Tua masih ingat jalan yang harus diambil. Di malam  

gelap tidak mudah menyusuri lamping bukit batu terjal  

serta licin terkikis angin mengandung garam. Sesekali dia  

dikejutkan oleh suara kepak sayap kelelawar yang terbang  

rendah.  

Djaka Tua adalah pembantu di rumah seorang pejabat  

tinggi yang diam di pinggiran Kotaraja. Nama sebenarnya  

Akik Sukro namun karena sampai usia limapuluh tahun  

lebih dia belum beristri, teman-teman memanggilnya Djaka  

Tua. Tidak kawinnya Akik Sukro mungkin karena cacat yang  

dideritanya sejak kecil yaitu dia memiliki sebuah punuk di  

belakang leher sehingga tidak ada perempuan yang suka  

padanya walau sehari-hari dia adalah seorang lelaki baik  

budi pekerti dan tutur bicaranya.  

Langkah Djaka Tua terhenti ketika hidungnya mencium  

bau kemenyan. Ada rasa merinding namun juga rasa lega  

karena bau kemenyan itu menandakan tanda orang yang  

dicarinya berada di dalam goa di lamping bukit sebelah  

bawah. Untuk mencapai goa yang dikenal dengan nama  

Goa Girijati itu bukan hal yang mudah. Sekali kaki terpe– 

leset tak ampun lagi Djaka Tua akan jatuh dari lamping  

D  

bukit batu, ditunggu hamparan batu-batu cadas lancip di  

bawah sana.  

Bau kemenyan semakin santar. Sejarak duapuluh  

langkah di depannya Djaka Tua melihat satu cegukan di  

bukit batu. Di dalam cegukan samar-samar ada cahaya tak  

begitu terang, membersit keluar dari satu lobang besar  

yang merupakan mulut sebuah goa. Walaupun jaraknya  

cuma duapuluh langkah namun karena harus berhati-hati  

maka cukup lama Djaka Tua baru berhasil mencapai  

cegukan batu dan berdiri di hadapan mulut goa.  

Di dalam goa Djaka Tua melihat sebuah pedupaan,  

mengepulkan asap tipis menebar bau kemenyan. Benda  

merah menyala dalam pedupaan adalah sejenis batu bara  

langka yang dapat bertahan hidup sampai tujuhratus hari.  

Dua langkah di belakang pedupaan, duduk bersila seorang  

lelaki berpakaian dan ikat kepala hitam dengan wajah  

tertutup rambut panjang awut-awutan, kumis serta jenggot  

dan cambang bawuk meranggas lebat. Dua kelopak mata  

yang tertutup tampak merah seolah mata itu ada nyala api  

di sebelah dalam. Dua tangan bersilang di atas dada. Dari  

ubun-ubun, telinga kanan dan dua lobang hidung  

mengepul keluar asap tipis kehitaman.  

Untuk beberapa lamanya Djaka Tua tertegun di mulut  

goa. Enam bulan lalu dia mengantarkan orang itu ke goa.  

Kini keadaannya jauh berobah, kotor dan angker menggi– 

dikkan. Sementara berdiri Djaka Tua menjadi bingung.  

Bagaimana cara memberi tahu kehadirannya pada orang  

yang tengah bersemedi. Tadinya dia hendak berdehem  

atau batuk-batuk. Namun Djaka Tua sadar, mengganggu  

dan memutus semedi orang adalah merupakan satu  

pantangan besar. Agaknya tak ada jalan lain. Dia harus  

menunggu sampai orang itu menyelesaikan semedinya.  

Tapi berapa lama dia harus menunggu?  

Ternyata tiga hari tiga malam berada di tempat itu,  

orang di dalam goa jangankan menghentikan semedi,  

bergerak sedikitpun tidak. Djaka Tua mulai gelisah. Perse– 

diaan makanan yang dibawanya hampir habis. Pagi hari  

keempat bukan saja makanan sudah habis, malah Djaka  

Tua diserang demam. Tubuhnya menggigil panas dingin.  

Terhuyung-huyung Djaka Tua bangkit berdiri. Dia mengam– 

bil keputusan untuk segera saja meninggalkan tempat itu.  

Di dalam goa orang yang bersemedi masih tetap tak ber– 

gerak, sepasang mata masih terpejam.  

Tidak mau ambil perduli lagi, Djaka Tua segera melang– 

kah pergi.  

Baru menindak dua langkah, sekonyong-konyong dari  

dalam goa terdengar suara orang berucap. “Anak manusia  

bernama Djaka Tua, kembali! Cepat datang menghadap di  

depanku!”  

Langkah Djaka Tua tersurut. Dia tahu yang bicara itu

Halaman sebelumnya of 43Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Siapa yang Membaca

Disarankan