Previous Page of 5Next Page

My Story Book (One Shoot)

spinner.gif

Entah sejak kapan ini terjadi, mungkin sudah lebih lama dari yang kusadari ketika kelebihanku ini muncul untuk yang pertama kalinya sejak aku pernah berada dipintu gerbang kematian yang masih belum membolehkan aku masuk kedalamnya.

 

Aku tak dapat menatapnya secara langsung tanpa membuatnya merasa terhina.

Bagiku gadis ini terlalu mengerikan sekaligus menjijikkan, membuat aku tak tahan.

“Maaf” kataku sambil melihat arloji dipergelangan lengan kiriku “Aku harus pergi”

“Tapiii..”

“Dan jangan pernah berpikir untuk menemuiku lagi” aku menambahkan sambil menatap lurus kematanya untuk yang terakhir kali “Kau bukan tipeku.”

Lalu akupun berlalu dari hadapannya begitu saja.

 

Ponselku bergetar heboh ketika aku baru saja keluar dari lobi hotel tempatku bertemu dengan gadis tadi. Aku mengeluh dalam hati, aku tau pasti akan jadi begini, pasti.

Kurogoh ponsel itu dari saku celana jeans-ku.

“RAGA PUTRA HASYIM” suara itu berteriak nyaring “Kenapa kau kabur dari kencan yang kuatur itu HAH!”

“Memangnya aku harus ada disana selamanya?” aku balik bertanya pada saudari perempuanku, Ria. Dia bukan adik perempuan kandungku, tetapi dia tetap saja adik yang kusayangi.

“Apa lagi alasanmu kak?”

“Dia mengerikan.” Aku berbicara sambil melangkah menuruni anak tangga teras hotel menuju tempat dimana mobilku telah diparkir oleh petugas hotel.

“Oh yaaaaa!”

“Kau menyodorkan perempuan yang pernah melakukan aborsi dua kali pada kakakmu yang pada kenyataannya bisa melihat dengan jelas dosa-dosanya itu terus menghantuinya sampai sekarang, kau pikir aku sudi menikah dengannya dan ikut dihantui oleh arwah janin-janin yang dibunuhnya, seumur hidup?”

Ria terdiam diseberang sana “Akan aku selidiki itu nanti.”

“Dan berhentilah menjodoh-jodohkanku, Ria.”

“Mau bagaimana lagi, Ayah sangat mengkhawatirkanmu kak.”

“Aku tau.”

“Kalau begitu cepatlah menikah.”

Aku tertawa pelan mendengar kalimat perintahnya itu, menertawakan hal yang menurutku adalah kekonyolan dia tau dengan pasti kalau satu-satunya gadis yang ingin kunikahi sudah tak mungkin lagi kumiliki.

Aku membuka pintu mobilku dan segera masuk kedalamnya “Aku akan pikirkan itu nanti, sekarang aku mau pergi berburu.”

“Berburu wanita maksudmu?”

“Hssss...Riaaaaa.....itu tidak lucu”

Dia terkekeh “Maaf, aku tau masalah di restoran hotel membuat kakak pusing, kakak masih belum menemukan chef pastry yang sesuai dengan standar resto kita kan?”

Mesin mobil menyala begitu aku memutar kunci kontaknya “Pensiunnya Matheo membuatku pusing.”

“Kak!”

“Ya?”

“Aku dengar ada sebuah bistro kecil yang punya chef pastry luar biasa, dia membuat sendiri resep-resepnya dan aku juga memantau kalau dalam waktu setengah tahun sejak bistro itu berdiri, mereka sudah bisa membuka cabang sampai keluar Jawa dan Bali, dan ini sudah tahun ketiga mereka berdiri...kudengar cabangnya sudah merambah ke Kuala Lumpur dan Singapura.

Aku menyimak semuanya dengan serius sambil mengendarai mobil menjauh dari depan The Paradise Hotel, jaringan hotel milik keluargaku.

“Dimana dia bisa kutemui?”

“Aku tidak yakin tau dimana dia berada, chef Gemma sangat menghargai privasinya dan cenderung tertutup.”

Dahiku berkerut mendengar penjelasan Ria, chef dengan kelakuan aneh dan merasa dirinya bagaikan seorang seniman terkenal! Hmm...kurasa aku harus tau dulu sehebat apa pastry buatannya.

“Dimana letak bistro nya?”

“Yang terdekat dari hotel kita ya di Plaza Semanggi.”

“Namanya?”

“Pink Banana.”

Aku terdiam, karena merasa pernah mendengar nama itu sebelumnya. Benar-benar terasa familiar ditelingaku.

Seraut wajah tampan milik sahabat karib sepupuku, Wega Pattinusa muncul di benakku.

Oke! Kurasa aku tau harus bicara dengan siapa.

“Aku akan mengurusnya sekarang juga.”

 

Berbekal izin dari Revaldi Parameswara, teman Wega dan juga owner dari Pink Banana, aku akhirnya bisa masuk kedalam ruang eksperimen milik Chef andalan di bistronya, dan ini sudah minggu kedua aku menemui wanita itu dan dia masih juga tak mempan bujukanku untuk menjadi chef pastry di dapur restoranku.

Dia melihat kehadiranku dimuka pintu alumunium tebal dapurnya.

Previous Page of 5Next Page

Comments & Reviews (54)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended