Ring a round a rosie... a pocket full of possie... ashes..ashes... YOU ARE FALL DOWN....hihihihihihihihihi....
Johan membuka matanya perlahan. Dia mendengar suara nyanyian itu.
"Ahhh... malam begini Lilian masih belum tidur juga..?!" ucapnya heran dalam hati.
Johan mengalihkan pandangannya ke arah jam weker yang ada di atas meja. Jam itu menunjukan angka 2.30. Masih larut malam. Ia menggeliat sedikit dan meregangkan otot-ototnya. Dia mengalihkan pandangannya ke sisi lain tempat tidurnya. Istrinya, Anita, tidak ada disana. Pasti dia sudah bangun dari tadi akibat nyanyian Lilian. Johan berharap Lilian tidak sampai membangunkan adiknya Sarah. Kalau tidak... itu artinya malam ini dia harus bergadang.
“Ring around a rossie... a pocket full of possie... ashes.. ashes.. you are fall down...”
Kembali terdengar lagu itu berkumandang di rumah ini. Johan mengeluh dalam hati. Ini semua karena ulah gurunya Lilian yang sudah mengajarkan lagu ini pada Lilian... semenjak saat itu.. Lillian tiada hentinya menyanyikan lagu ini. Lain kali Johan akan menyempatkan dirinya untuk mengunjungi guru itu. Tekad Johan dalam hati.
Johan akhirnya bangkit dari tempat tidurnya bermaksud untuk menyusul istrinya. Pastilah saat ini istrinya itu sedang kesulitan menidurkan Lilian. Lilian bisa sangat keras kepala sekali bila diminta melakukan sesuatu yang tidak di sukainya.
Johan membuka pintu kamarnya.
“Anitaa..” panggilnya pelan.
“Ring Around a rossie.. a pocket full of possie.. ashes.. ashess.. you aree fall down...”
Kembali terdengar nyanyian itu dari arah dapur rumah ini.
Johan menatap kearah dapur yang ada di lantai satu dengan heran,
“Apa mereka ada di dapur..? Apa yang mereka lakukan malam-malam begini..?” tanya Johan penasaran.
Johan lalu bergerak menuruni tangga rumahnya yag terdiri atas dua lantai itu dan perlahan menuruni tangga rumahnya.
“Anita..” panggilnya lagi.
Masih tidak terdengar suara sahutan dari istrinya,
“Ring around a rosie.. a pocket full of possie... ashes... ashess.. you are fall down... hihihi..” sekarang lagu itu disertai suara tawa yang entah kenapa membuat bulu kuduk Johan tiba-tiba merinding.
Johan mendekati dapur rumahnya. Lampu dapur itu menyala. Perlahan dia mendekati dapur itu,
“Anitaa... kamu disana...?” panggilnya lagi.
Masih tidak terdengar suara sahutan.
Johan lalu membuka pintu dapur dan matanya segera tertumbuk pada sesosok tubuh yang terbaring di lantai dapur. Punggungnya menghadap ke arah Johan dan mukanya terkelungkup ke lantai. Johan tidak perlu membalik tubuh itu untuk tahu kalau itu adalah tubuh istrinya,
“Astaga Anitaaaa...” panggilnya dengan khawatir dan lansung mengangkat tubuh istrinya.
Tangannya terasa basah begitu mengangkat tubuh istrinya. Johan membalik tubuh itu hanya untuk menemukan darah segar tampak mengalir di seluruh tubuh istrinya itu.
“ANITAA..” panggil Johan tak percaya.
Tapi istrinya sudah tidak bernyawa lagi.
Johan mengguncang-guncang tubuh istrinya berkali-kali,
“Anitaa...! Anitaaa...” panggilnya sambil menangis.
“Ring around a rossie... a pocket full of possie.. ashes... ashes... you are fall down... hihihihi...” kembali suara itu terdengar dengan jelas sekarang ini.
Johan menatap ke arah meja dapur. Suara itu berasal dari balik sana.
Perlahan ia meletakan tubuh istrinya yang bersimbah darah di lantai dapur itu. Ia lalu berdiri dan perlahan dengan hati-hati mendekati meja dapur itu. Suara itu berasal dari balik meja dapur.
“Ring around a rossie.. a pocket full of possie... ashes... ashes... you are fall dowwnnn....”
Johan melongokan kepalanya menatap ke balik meja dapur... dan tiba-tiba...
“AAAAAAARRHHHHHGGGG...!!” Johan berteriak kesakitan sambil memegangi wajahnya. Dia tidak tahu apa yang mengenainya... tapi rasanya sangat menyakitkan.
Johan samar melihat sesosok bayangan menampakan diri dari balik meja dapur dan menatapnya. Johan... tidak bisa melihat jelas siapa itu..karena dia terlanjur jatuh dan terkapar...
***
Johan perlahan membuka matanya. Rasa sakit itu masih sangat menyerangnya. Dia mencoba mengingat-ingat dimana saat ini dia berada. Ah... ya... ini dapur rumahnya. Johan mencoba berdiri... namun entah kenapa dia tidak bisa. Ia perlahan menyadari kalau tangan dan kakinya diikat.
Add to your private library
PerpustakaankuAdd this story to your public reading lists