Previous Page of 9Next Page

BUKAN CINTA PANDANGAN PERTAMA

spinner.gif

Mila menyentuh keningnya, ah.. sakitnya belum hilang. Masih jelas warna biru lebam karena dilempar batu saat ia pergi kerumah Mpo Yasin dua hari lalu. Untunglah ia bersama Rizky. Pria itu melindunginya. Mereka tidak menyangka bahwa sepulangnya dari rumah Mpo Yasin, di lapangan tempat mereka memarkir mobil, telah menunggu dari balik rerimbunan pohon, dua orang  pria yang membawa batu dan tongkat. Gelapnya malam menyembunyikan keberadaan kedua orang dengan niat yang tidak baik itu.

Ia dan Rizky tidak mengetahui bahwa mereka diawasi sampai sebuah batu melayang tepat mengenai pelipis Mila. Membuat mereka sangat terkejut. Rizky dengan sigap segera menarik Mila berlari kearah mobil dan membukakan pintu, mendorong Mila yang masih shock masuk ke dalam mobil. Sementara batu kedua-ketiga dan seterusnya berlanjut melayang kearah mereka.

Rizky berlari kearah pintu pengemudi dengan beberapa lemparan batu mengenai punggung dan bahunya. Ia menyalakan mesin dan melarikan mobil secepatnya, tepat ketika suara benturan seperti sebuah benda yang dihantam pada bagian belakang mobil terdengar.

Rizki menoleh sekilas ke arah Mila yang memegang pelipis kanannya “Mba Mila, mba ngga apa-apa? Kita ke Rumah Sakit dulu ya mba?” Mila hanya mengangguk. Kepalanya terasa berdenyut-denyut, sakit dan pening.

Rizky membawa Mila ke Eka Hospital, rumah sakit terdekat. Disana Mila diberikan obat anti nyeri untuk meredam rasa sakitnya. Untung tidak ada cidera yang serius, baik dia maupun Rizky, hanya mobilnya yang penyok dan lampunya rusak pada bagian belakang. Entah dipukul dengan apa oleh kedua orang tak dikenal itu.

Namun, terlepas dari kecelakaan tersebut, Mila bersyukur karena hasil kedatangannya ketempat Mpo Yasin memberikan hasil positif. Mpo Yasin setuju menjual tanahnya kepada Mila. Wanita tua itu menyukai ide akan adanya sekolah yang akan memberikan bantuan pendidikan bagi mereka yang kurang mampu, terutama anak-anak yang berada disekitar lokasi sekolah. Dengan adanya sekolah itupun pasti akan menyerap tenaga kerja dan mengurangi pengangguran, dan.. sebenarnya ia juga memberikan dispensasi berupa potongan biaya pendidikan untuk beberapa orang cucu mpo Yasin yang masih kecil-kecil untuk bersekolah di sekolah tersebut.

Yah, walaupun dia harus mengorbankan mobilnya masuk bengkel dan dia sendiri masuk rumah sakit, dia mengambil hikmahnya saja. Hal itu tidak seberapa dibandingkan tanah yang dia sudah dapatkan. Sekarang kepastian project sudah seratus persen dapat direalisasikan.

Kring... Kring... Telepon kantornya berbunyi.

"Ya hallo?"

"Mila, kamu bisa kemari membawakan laporan project?" terdengar suara seseorang yang sudah seminggu ini ingin ia dengar.

"Ya, aku akan ketempatmu".

Ia menyambar laporan yang sudah disiapkan.

"Des, aku tadi dipanggil pak Dave. Langsung masuk ya?" Tanya Mila kepada Desy, yang dibalas dengan anggukan kepala.

Ia membuka pintu, melihat Dave sedang konsentrasi membaca laporan yang menumpuk dimejanya. Wajah pria itu sungguh tampan saat sedang serius. Terselip sedikit rasa rindu tidak melihatnya selama seminggu ini.

Seminggu setelah acara gathering.

Dave yang keesokan harinya langsung pergi untuk melakukan kunjungan cabang-cabang di luar pulau Jawa, tidak memberi kesempatan bagi Mila untuk mengucapkan terimakasih karena sudah diantar pulang saat dirinya mabuk malam itu. Ia sungguh berharap dirinya tidak melakukan hal yang memalukan ketika ia mabuk.

Menyadari ada yang mengawasinya,Dave melepas pandangan dari laporan yang dipelajarinya, dan melihat Mila sedang  memperhatikan dirinya.

Ia hendak menyapa menanyakan kabar pada wanita itu, tapi yang keluar dari mulutnya justru rasa cemas karena melihat pelipis Mila yang bengkak dan berwarna biru kehitaman "Mil, kenapa dengan wajahmu?".

Previous Page of 9Next Page

Comments & Reviews (56)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended