Luna Torashyngu
LOVASKET
Makasih banget untuk
Niken, Virsa, Amel, Farida (Rida), Stephanie,
dan semua teman sesama penulis TeenLit GPU
serta anggota milis CERITA KITA (termasuk Pak Atmo)
yang namanya dipinjem untuk novel ini,
baik sengaja atau nggak, sukarela atau
dipaksa hi… hi… hi…
GBU all ;-)
SATU
5… 4… 3… 2… 1…
Bersamaan dengan suara bel tanda berakhirnya pertandingan yang menggema di Gedung Basket Senayan, Jakarta, puluhan penonton langsung masuk lapangan. Sebagian besar penonton yang masuk ke lapangan itu adalah suporter tim basket cewek SMA Altavia yang baru memastikan diri sebagai yang terbaik dalam Turnamen Bola Basket Antar-SMA Se-Jawa-Bali, setelah di final berhasil mengalahkan juara tahun lalu, SM Ardhira, Jakarta, dengan skor yang sangat tipis, 77 – 76.
Kubu SMA Altavia pantas bergembira. Kemenangan ini diperoleh dengan perjuangan berat, dan merupakan prestasi tertinggi tim basket SMA Altavia setelah tahun sebelumnya hanya bisa bertahan hingga babak semifinal. Prestasi tim basket cewek ini jauh lebih baik daripada tim cowoknya yang bahkan udah keok di babak penyisihan grup.
“Vira… Vira…”
Panggilan itu terdengar di antara riuh kegembiraan tim SMA Altavia dan para suporternya. Nama yang dielu-elukan itu milik salah satu pemain SMA Altavia yang malam ini jadi bintang lapangan dengan menyumbang angka terbanyak bagi kemenangan timnya. Walau tubuhnya agak kurus dengan tinggi sekitar 170 sentimeter, Vira mampu bersaing melawan pemain-pemain SMA lain yang badannya lebih gede. Selama turnamen, dialah bintang SMA Altavia sekaligus calon pemain terbaik, atau lebih ngetop disebut Most Valuable Player (MVP) dan top scorer di turnamen ini.
“Ternyata kekhawatiran lo nggak terbukti, kan?” ujar Stella, teman setim Vira.
“Iya,” jawab Vira pendek.
“Berarti lo kalah taruhan…”
“Gue tau. Sampe di Bandung, lo dan yang lain boleh dugem sepuasnya. Gue yang bayarin,” sahut Vira sambil mengelap keringatnya untuk yang kesekian kali.
“Haruslah! Dan kayaknya nggak cukup itu aja…”
“Maksud lo?”
“Lo kan bakal terpilih jadi MVP dan top scorer, jadasti dapet duit tambahan. Parfum gue abis nih, dan gue pengin nyoba pake Calvin Klein, soalnya belum pernah.”
“Dasar matre lo!”
Stella cuma nyengir.
“Halah… sekali-sekali bagi-bagi rezeki kenapa sih, Non? Cuman buat gue kok! Nggak bakal gue kasih tau ke yang lain. Oke?”
“Liat ntar deh…”
DUA
HARI Seniiiin!!!
Ya, hari ini emang hari Senin, hari yang jadi awal kegiatan rutin sehari-hari, termasuk awal sekolah. Hari yang paling dibenci sebagian anak sekolah, nggak terkecuali Vira.
Vira malas banget bangun sepagi ini. Apalagi dia baru tidur jam dua pagi, sehabis clubbing di Fire.
Kenapa sih harus ada hari Senin? Kenapa harus ada upacara bendera yang bikin setiap siswa harus datang lebih pagi dari biasanya? Mau nggak mau, semua siswa harus datang lebih pagi kalau nggak ingin terpaksa ikut upacara bendera dari luar pagar sekolah. Soalnya kalau terlambat, selanjutnya bisa ditebak, mereka harus berhadapan dengan guru BP, dicatat nama dan kelasnya, dan diperingati untuk nggak terlambat lagi, atau hukuman yang lebih berat bakal menanti.
Dan kalau saja hari Senin ini nggak ada ulangan matematika, Vira lebih milih bolos. Ulangan matematika! Jam pertama, lagi! Kenapa sih harus ada pelajaran yang bikin kepala pusing seperti matematika, fisika, dan kawan-kawannya? Mana Vira nggak belajar tadi malam, lagi! (Iyalah, mana sempat dia belajar kalau dari pagi udah ngelayap bareng temen-temennya dan baru pulang jam dua dini hari?)
Suara HP Vira yang entah berada di mana membuatnya lebih membuka mata. Vira berhasil menemukan HP-nya yang ternyata berada di bawah bantal, hanya beberapa satu detik sebelum deringnya berhenti dan masuk mailbox.
“Halo…,” jawab Vira yang masih setengah sadar. “Iyaaa… Lo udah mandi? Iya… ntar gue jemput lo. Tunggu aja…,” katanya dengan suara mengantuk, lalu mengakhiri teleponnya. Vira melihat jam yang tertera di layar HP-nya. Jam setengah enam lewat. Dia harus cepat-cepat mandi kalau nggak mau terlambat sampai sekolah. Belum lagi melewati jalah-jalan di Bandung yang makin lama makin macet di pagi hari.
Add to your private library
PerpustakaankuAdd this story to your public reading lists