Previous Page of 216Next Page

serial pendekar sakti - Kho Ping Hoo

spinner.gif

AUTHOR: Kho Ping Hoo (bag1) 

TITLE: Pendekar Bodoh

 

Di sebelah barat kota Tiang-an, di luar tembok kota dekat hutan pohon 

cemara, terdapat sebuah kuil tua yang temboknya sudah banyak yang rusak dan 

warna tembok itu tidak karuan lagi. Tapi huruf-huruf yang ditulis di dinding dan 

bermaksud sebagai puja-puji kepada dewata berbunyi“Lam Bu 0 Mi To Hud” masih 

dapat terbaca, demikian pula merk bio (kuil) itu yang dipasang di depan pintu 

luar dan berbunyi“Ban Hok Tong” atau“Kuil Selaksa Rejeki.” 

Pada siang hari yang sunyi itu terdengarlah suara orang mengajar ilmu 

membaca dari dalam bio dan kadang-kadang terdengar suara pendeta membaca 

liamkeng (doa). Karena suara pendeta berliamkeng bukan merupakan hal aneh lagi, 

maka yang menarik perhatian adalah suara guru sastera yang tinggi parau itu, dan 

kadang-kadang dijawab oleh suara seorang kanak-kanak yang nyaring dan bening. 

“Su-hai-ci-lwe-kai-heng-te-ya...!” terdengar penuh kegemasan dan tidak 

sabar. 

“Tahu, tahu...” suara anak kecil itu cepat menjawab, “Artinya adalah, di 

empat penjuru samudera, semua adalah saudara!” 

“Bagus! Tapi, tahukah kau siapakah yang dimaksudkan saudara itu?” 

“Siapa, Sian-seng (Pak Guru)?? Tentu bukan kita, karena kau dan aku 

bukanlah saudara,” terdengar jawab ketolol-tololan hingga guru itu memukul meja. 

“Bodoh! Yang dimaksud dengan saudara bukanlah pertalian persaudaraan yang 

berdasar kekeluargaan, tapi adalah rasa persaudaraan berdasarkan  

perikemanusiaan, tahu?” 

Suara anak itu menandakan bahwa ia masih sangat kecil, mana bisa ia 

menikmati “makanan rohani” yang berat ini. Maka terdengar jawabannya 

takut-takut, “Hakseng (Murid) tidak mengerti, Sian-seng.” 

“Memang kau tolol, bodoh, dungu seperti kerbau! Mengajar kau tidak bisa 

dengan mulut saja, harus dengan tangan. Nah, kaurasakan ini supaya mengerti!” 

Lalu terdengarlah suara tamparan, tapi sedikit pun tidak terdengar pekik 

kesakitan walaupun kalau orang menjenguk ke dalam akan melihat betapa seorang 

anak laki-laki berusia paling banyak enam tahun telah ditampar sampai merah 

pipinya. Anak itu menggigit bibirnya. 

“Nah, sekarang kausebutkan ujar-ujar yang kemarin telah kuterangkan padamu. 

” “Ujar-ujar yang mana, Sian-seng? Kemarin kita mempelajari banyak sekali 

ujar-ujar,” jawab murid itu. 

“Ujar-ujar yang ke tiga.” 

Sunyi sebentar, lalu terdengar suara anak itu lantang, “Janganlah kau 

perbuat kepada lain orang sesuatu yang kau sendiri tak suka orang lain perbuat 

kepadamu!” 

“Bodoh, itu adalah ujar-ujar yang kita pelajari kemarin dulu, bukan 

kemarin. Kau selalu sebut ujar-ujar ini saja! Agaknya hanya ujar-ujar yang dapat 

memasuki batok kepalamu yang keras itu.” 

“Memang hak-seng paling suka kepada ujar-ujar ini, Sian-seng,” jawab anak 

itu yang tiba-tiba menjadi berani. 

“Mengapa begitu?” 

“Harap Sian-seng terangkan dulu apakah semua ujar-ujar Nabi Khong Hu Cu itu 

baik dan betul?” 

“Tentu saja, tolol! Kalau tidak baik dan betul tak nanti dipelajari orang 

sedunia.” 

“Kalau begitu, apakah Sian-seng suka kalau kutampar mukamu?” 

“Apa katamu? Kau... kau bangsat....” 

“Sian-seng tadi menampar pipiku, tapi tidak suka kalau kutampar, bukankah 

itu menyalahi ujar-ujar yang kita pelajari?” 

Untuk beberapa saat tak terdengar suara apa-apa seakan-akan guru itu 

tercengang, tapi kemudian terdengar ia memaki kalang kabut. Dan pada saat itu di 

luar kuil terjadilah hal-hal yang lebih hebat lagi. 

Seorang hwesio (pendeta) gundul yang bertubuh tinggi besar dengan sepasang 

mata bundar menakutkan dan lengan tangan yang besar berbulu, entah dari mana 

datangnya, berhenti di luar kuil dan ia menurunkan sebuah keranjang rotan besar 

sekali yang tadi dipanggulnya. Ia lalu duduk di atas keranjang itu sambil 

melihat ke arah pintu kuil dengan penuh perhatian. Tiba-tiba dari dalam pintu 

kuil itu keluarlah tiga orang-orang tua yang juga pendeta-pendeta penganut Agama 

To (Tosu) yang memelihara rambut dan rambut itu digelung ke atas dan diikat 

ditengah-tengah. Tiga orang tosu itu juga aneh karena yang seorang tinggi kurus 

bertongkat kayu cendana, yang ke dua pendek tapi gesit sekali gerak-geriknya, 

sedangkan yang seorang lagi tinggi besar dan bercambang bauk yang menyongot ke

Previous Page of 216Next Page

Comments & Reviews (2)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended