Previous Page of 364Next Page

serial pendekar sakti - Kho Ping Hoo

spinner.gif

AUTHOR: Kho Ping Hoo (bag1)

TITLE: Pendekar Bodoh

Di sebelah barat kota Tiang-an, di luar tembok kota dekat hutan pohon

cemara, terdapat sebuah kuil tua yang temboknya sudah banyak yang rusak dan

warna tembok itu tidak karuan lagi. Tapi huruf-huruf yang ditulis di dinding dan

bermaksud sebagai puja-puji kepada dewata berbunyi“Lam Bu 0 Mi To Hud” masih

dapat terbaca, demikian pula merk bio (kuil) itu yang dipasang di depan pintu

luar dan berbunyi“Ban Hok Tong” atau“Kuil Selaksa Rejeki.”

Pada siang hari yang sunyi itu terdengarlah suara orang mengajar ilmu

membaca dari dalam bio dan kadang-kadang terdengar suara pendeta membaca

liamkeng (doa). Karena suara pendeta berliamkeng bukan merupakan hal aneh lagi,

maka yang menarik perhatian adalah suara guru sastera yang tinggi parau itu, dan

kadang-kadang dijawab oleh suara seorang kanak-kanak yang nyaring dan bening.

“Su-hai-ci-lwe-kai-heng-te-ya...!” terdengar penuh kegemasan dan tidak

sabar.

“Tahu, tahu...” suara anak kecil itu cepat menjawab, “Artinya adalah, di

empat penjuru samudera, semua adalah saudara!”

“Bagus! Tapi, tahukah kau siapakah yang dimaksudkan saudara itu?”

“Siapa, Sian-seng (Pak Guru)?? Tentu bukan kita, karena kau dan aku

bukanlah saudara,” terdengar jawab ketolol-tololan hingga guru itu memukul meja.

“Bodoh! Yang dimaksud dengan saudara bukanlah pertalian persaudaraan yang

berdasar kekeluargaan, tapi adalah rasa persaudaraan berdasarkan

perikemanusiaan, tahu?”

Suara anak itu menandakan bahwa ia masih sangat kecil, mana bisa ia

menikmati “makanan rohani” yang berat ini. Maka terdengar jawabannya

takut-takut, “Hakseng (Murid) tidak mengerti, Sian-seng.”

“Memang kau tolol, bodoh, dungu seperti kerbau! Mengajar kau tidak bisa

dengan mulut saja, harus dengan tangan. Nah, kaurasakan ini supaya mengerti!”

Lalu terdengarlah suara tamparan, tapi sedikit pun tidak terdengar pekik

kesakitan walaupun kalau orang menjenguk ke dalam akan melihat betapa seorang

anak laki-laki berusia paling banyak enam tahun telah ditampar sampai merah

pipinya. Anak itu menggigit bibirnya.

“Nah, sekarang kausebutkan ujar-ujar yang kemarin telah kuterangkan padamu.

” “Ujar-ujar yang mana, Sian-seng? Kemarin kita mempelajari banyak sekali

ujar-ujar,” jawab murid itu.

“Ujar-ujar yang ke tiga.”

Sunyi sebentar, lalu terdengar suara anak itu lantang, “Janganlah kau

Previous Page of 364Next Page

Comments & Reviews (2)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended