Previous Page of 503Next Page

SERIAL GENTO GUYON

spinner.gif

GENTO GUYON 

TABIB SETAN 

EDWIN HARTANTO 

Sang surya belum lagi menampakkan diri di ufuk timur. Udara dingin di pinggir telaga masih terasa menusuk tulang. Tapi kakek tua berambut dan berjanggut putih itu sudah terjaga dari tidurnya. Dia menggeliat sedangkan mulutnya menguap lebar. Seolah ingat akan sesuatu, begitu selesai menyampirkan kantong perbekalannya yang butut dia pun bangkit berdiri. Sepasang mata si kakek memandang liar kian ke mari. 

Setelah itu si kakek pun menyeringai ketika melihat benda yang dicari tergeletak tak jauh dari batu yang dijadikan alas tidurnya. Benda yang dicari si kakek ternyata hanya sebatang bambu sebesar lengan dengan panjang dua tombak di mana bagian ujungnya kecil. Bambu ini tidak beda dengan bambu yang sering dipergunakan orang untuk memancing. Dengan cepat si kakek menyambar bambu itu. Dari mulutnya terdengar dia berkata. "Jika bambu ini sampai hilang urusan bisa jadi repot." 

"Kau hendak menyiksaku dengan benda celaka itu tabib?" Tiba-tiba saja terdengar suatu suara menyahuti,

membuat si kakek tertawa tergelak-gelak. Dia lalu memandang ke atas. Di atas cabang pohon rendah, terlihat tergantung seorang bocah laki-laki berumur sekitar enam tahun. Bagian kepala menghadap ke bawah. Sedangkan kedua kakinya yang terikat di cantelkan ke cabang pohon. Sesekali tubuhnya tampak bergoyang-goyang bila bocah ini meronta. Nampaknya si bocah sangat tersiksa sekali. Sehingga dia kembali berkata dengan suara keras. "Tabib... cepat lepaskan ikatan di kakiku ini. Aku ingin bebas. Aku tak mau mengikutimu. Aku tak mau kau jadikan budak. Tabib, tabib gilaaa kau mendengar suaraku bukan?" 

Si kakek hentikan tawanya. Matanya melotot memandang pada bocah gondrong yang tergantung. "Anak edan mana mungkin aku melepaskanmu. Kalau ikatan kulepas kau pasti akan minggat jauh. Kau harus ingat, hidupmu sudah ditakdirkan menjadi seorang budak. Sejak dirimu masih menjadi angin tanda-tanda itu sudah ada. Di ubun-ubun, di puser bahkan di sekujur tubuhmu tanda-tanda kesialan itu sudah ada. Kau tak akan pernah menjadi orang besar. Tidak akan menjadi panglima atau patih, apalagi raja. Kalau pun mungkin kau pasti menjadi raja edan, raja cacing tanah dan paling tinggi raja para pengemis. Aku sudah melihat

semua itu. Hidup dan matimu sudah ditentukan oleh yang di atas. Dan kau tetap menjadi seorang budak. Kau akan menjadi budakku dari kecil sampai ubanan. Ha ha ha!" kata si tabib aneh disertai tawa panjang. 

Bocah itu meronta. Dia kepalkan tangannya yang bebas bergerak. Matanya yang jenaka namun tajam berkedip-kedip. "Tabib...!" kata si bocah. Karena si tabib diam saja si bocah berteriak. "Tabib setaaan... kau memang manusia setan. Lekas kau turunkan aku. Tubuhku terasa panas, aku ingin mandi!" kata si bocah sambil melirik ke arah telaga yang bening. 

Si kakek menimang-nimang batang bambu di tangannya. Dia menatap bocah itu sebentar. Setelah itu tertawa lagi. "Bocah edan, muslihat apa lagi yang ada dalam batok kepalamu? Aku tahu akal bulusmu? Jangan pernah mimpi aku membebaskanmu. Ha ha ha!" 

"Setan, aku bukan minta untuk dibebaskan. Buat apa aku mengharap belas kasihan darimu. Aku hanya mengatakan harap kan turunkan aku. Aku mau mandi." jawab si bocah. Lalu dia pun tiba-tiba ikut pula tertawa. Si kakek menjadi heran. 

"Kau... anak edan, apa yang kau tertawakan?" bentak si kakek yang sebenarnya memiliki nama asli Tabib Tapadara. Merasa heran tawa si bocah

makin menjadi-jadi. Beberapa saat kemudian ketika tawanya terhenti dia berkata. 

"Kakek tabib kurasa dalam hidup kau hanya tahu ilmu pengobatan saja. Kau urusi orang lain, tapi pada dirimu sendiri kau jadi kurang urus. Menurutku sebaiknya kita mandi bersama dalam telaga." jawab si bocah sambil tersenyum-senyum. 

Previous Page of 503Next Page

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended