Halaman sebelumnya of 143Halaman selanjutnya

Kisah Sepasang Rajawali

spinner.gif

Bu Kek Sian Su (9)
Kisah Sepasang Rajawali IV

“Ah keparat bermulut lancang!” Kian Bu sudah bergerak hendak menerjang Tek Hoat, akan tetapi

Milana memegang lengannya.
“Jangan terburu nafsu, Bu-te!”
Kian Bu teringat bahwa orang yang akan diserangnya itu masih lemah, dan memang amat lucu

untuk menyerang orang yang baru saja dia tolong dan sembuhkan! Akan tetapi, mendengar

kata-kata Tek Hoat tadi dia sudah marah sekali. “Ang Tek Hoat, engkau sungguh kurang ajar,

berani engkau memaki su¬hengku dan mengatakan bahwa sudah mati. Kalau tidak ingat bahwa

engkau belum sehat benar kuhancurkan mulut¬mu!”
Tek Hoat terbelalak memandang Kian Bu, Milana, dan Han Wi Kong. “Apa katamu? Dia.... dia....

masih hidup?” Tentu saja dia merasa heran sekali. Bukankah ibunya telah dengan jelas

bercerita kepa¬danya bahwa musuh besar yang bernama Gak Bun Beng itu telah mati terbunuh

ibunya?
“Engkau memang tukang membohong! Suheng Gak Bun Beng masih segar bugar, bahkan pernah engkau

bertemu dengan dia beberapa kali, sudah pernah mengadu tenaga pula. Dia adalah Suheng yang

melakukan perjalanan bernama aku, Lee-ko, dan Adik Syanti Dewi.”
Mata Tek Hoat makin terbelalak dan mukanya berubah. “Aihh.... dia....? Gak Bun Beng pembunuh

ayahku? Masih hi¬dup? Kalau begitu....” Dia diam saja teng¬gelam ke dalam pikirannya yang

berge-lombang. Memang tidak mungkin kalau ibunya dapat membunuh musuh dengan kepandaian

seperti itu! Bahkan laki-laki setengah tua gagah perkasa itu memiliki tenaga sakti Inti Bumi

yang amat kuat! Akan tetapi kenapa ibunya mengatakan bahwa dia telah membunuh Gak Bun Beng.

Apakah hanya namanya saja yang sama? Dia harus memecahkan rahasia ini. Dia harus menemui

laki-laki yang bernama Gak Bun Beng itu dan memak¬sanya untuk mengaku apa yang telah

ter¬jadi dengan ayahnya!
 “Ang Tek Hoat, benarkah ayahmu di¬bunuh oleh Gak Bun Beng?” Puteri Mila¬na bertanya sambil

memandang dengan tajam penuh selidik.
“Saya tidak perlu membohong. Ayah saya dibunuh oleh Gak Bun Beng dan karena saya kira dia

sudah mati maka saya sengaja memburukkan nama musuh besar saya itu,” jawabnya.
“Engkau melihat sendiri bahwa ayah¬mu dibunuh olehnya?” tanya lagi Puteri Milana dan

diam-diam dia mengingat-ingat karena wajah pemuda yang tampan ini mengingatkan dia akan

seseorang akan tetapi dia lupa lagi siapa. Mata itu, bibir itu, benar-benar tidak asing

bagi¬nya!
“Hal itu terjadi sebelum saya lahir. Ibu yang memberitahukan saya....”
“Ahhh....! Siapa ibumu? Dan siapa ayahmu?”
Tek Hoat menggeleng kepalanya. “Maaf, itu merupakan rahasia saya, dan tidak dapat saya

ceritakan kepada lain orang. Biarlah saya mencari Gak Bun Beng dan bicara sendiri dengan

dia. Saya mohon kepada paduka agar suka memberi kesempatan kepada saya untuk berhadapan

dengan musuh besar saya itu, kecuali.... kecuali kalau paduka hendak menghukum saya karena

pemberontakan itu.... saya tidak akan dapat melawan....”
“Enci Milana, manusia ini berhati palsu dan curang, lagi jahat dan berbahaya sekali kalau

dia dibiarkan pergi begitu saja!” Kian Bu berkata dengan alis berkerut.
“Benar, sebaiknya dia ditahan dulu, sambil kita menanti kedatangan Gak-taihiap,” kata Han Wi

Kong.
Akan tetapi, ucapan suaminya itu di¬rasakan oleh Milana seperti ujung belati menusuk

jantungnya. Setiap kebaikan sikap suaminya mengenai diri Gak Bun Beng merupakan tusukan

baginya, makin baik sikap suaminya, makin tertusuk dia karena dia maklum bahwa dia telah

berdosa terhadap suaminya ini. Maka kata-kata suaminya itu membuat dia bangkit menentang.
“Tidak, biarkan dia pergi! Pertama, dia adalah murid Sai-cu Lo-mo, berarti masih orang

sendiri. Ke dua, dia memang pernah membantu pemberontak, akan tetapi kesesatan itu telah

ditebusnya de¬ngan membunuh Pangeran Liong Khi Ong dan tiga orang pengawalnya, juga dengan

menolong Syanti Dewi. Tentang urusannya dengan.... Gak-suheng, biarlah dia selesaikan

sendiri dengan yang ber-kepentingan. Ang Tek Hoat, kalau engkau ingin pergi, pergilah. Hanya

kuharap bah¬wa engkau akan selalu ingat bahwa kami tidak mempunyai niat buruk terhadap

Halaman sebelumnya of 143Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan (1)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Siapa yang Membaca

Disarankan