Previous Page of 211Next Page

Kisah Sepasang Rajawali

spinner.gif

Bu Kek Sian Su (9)

Kisah Sepasang Rajawali IV

“Ah keparat bermulut lancang!” Kian Bu sudah bergerak hendak menerjang Tek Hoat, akan tetapi

Milana memegang lengannya.

“Jangan terburu nafsu, Bu-te!”

Kian Bu teringat bahwa orang yang akan diserangnya itu masih lemah, dan memang amat lucu

untuk menyerang orang yang baru saja dia tolong dan sembuhkan! Akan tetapi, mendengar

kata-kata Tek Hoat tadi dia sudah marah sekali. “Ang Tek Hoat, engkau sungguh kurang ajar,

berani engkau memaki su¬hengku dan mengatakan bahwa sudah mati. Kalau tidak ingat bahwa

engkau belum sehat benar kuhancurkan mulut¬mu!”

Tek Hoat terbelalak memandang Kian Bu, Milana, dan Han Wi Kong. “Apa katamu? Dia.... dia....

masih hidup?” Tentu saja dia merasa heran sekali. Bukankah ibunya telah dengan jelas

bercerita kepa¬danya bahwa musuh besar yang bernama Gak Bun Beng itu telah mati terbunuh

ibunya?

“Engkau memang tukang membohong! Suheng Gak Bun Beng masih segar bugar, bahkan pernah engkau

bertemu dengan dia beberapa kali, sudah pernah mengadu tenaga pula. Dia adalah Suheng yang

melakukan perjalanan bernama aku, Lee-ko, dan Adik Syanti Dewi.”

Mata Tek Hoat makin terbelalak dan mukanya berubah. “Aihh.... dia....? Gak Bun Beng pembunuh

ayahku? Masih hi¬dup? Kalau begitu....” Dia diam saja teng¬gelam ke dalam pikirannya yang

berge-lombang. Memang tidak mungkin kalau ibunya dapat membunuh musuh dengan kepandaian

seperti itu! Bahkan laki-laki setengah tua gagah perkasa itu memiliki tenaga sakti Inti Bumi

yang amat kuat! Akan tetapi kenapa ibunya mengatakan bahwa dia telah membunuh Gak Bun Beng.

Apakah hanya namanya saja yang sama? Dia harus memecahkan rahasia ini. Dia harus menemui

laki-laki yang bernama Gak Bun Beng itu dan memak¬sanya untuk mengaku apa yang telah

ter¬jadi dengan ayahnya!

 “Ang Tek Hoat, benarkah ayahmu di¬bunuh oleh Gak Bun Beng?” Puteri Mila¬na bertanya sambil

memandang dengan tajam penuh selidik.

“Saya tidak perlu membohong. Ayah saya dibunuh oleh Gak Bun Beng dan karena saya kira dia

sudah mati maka saya sengaja memburukkan nama musuh besar saya itu,” jawabnya.

“Engkau melihat sendiri bahwa ayah¬mu dibunuh olehnya?” tanya lagi Puteri Milana dan

diam-diam dia mengingat-ingat karena wajah pemuda yang tampan ini mengingatkan dia akan

seseorang akan tetapi dia lupa lagi siapa. Mata itu, bibir itu, benar-benar tidak asing

bagi¬nya!

“Hal itu terjadi sebelum saya lahir. Ibu yang memberitahukan saya....”

“Ahhh....! Siapa ibumu? Dan siapa ayahmu?”

Tek Hoat menggeleng kepalanya. “Maaf, itu merupakan rahasia saya, dan tidak dapat saya

ceritakan kepada lain orang. Biarlah saya mencari Gak Bun Beng dan bicara sendiri dengan

Previous Page of 211Next Page

Comments & Reviews (1)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended