Previous Page of 194Next Page

Kisah Sepasang Rajawali

spinner.gif

Juga, biarpun dalam waktu singkat itu dia hanya menerima jurus-jurus baru yang tidak lebih

Bu Kek Sian Su (9)
Kisah Sepasang Rajawali II

dari belasan macam saja banyaknya, namun jurus-jurus ini sudah cukup untuk dipergunakan

melindungi diri dari ancaman lawan yang amat kuatpun!
Mereka sudah menyeberangi Sungai Huang-ho dan tiba di kota Ban-jun di sebelah barat kota

raja. Hari sudah siang ketika mereka memasuki kota itu dan karena kota raja sudah dekat dan

mereka telah melakukan perjalanan yang melelahkan sekali, Gak Bun Beng mencari sebu¬ah rumah

penginapan.
Akan tetapi baru saja mereka sampai di jalan perempatan, tiba-tiba terdengar suara

hiruk-pikuk dan tampak dari jauh mendatangi sebuah kereta yang ditarik oleh dua ekor kuda

besar dan dikusiri oleh seorang yang berpakaian tentara dan yang memegang golok. Dari

simpangan yang lain tampak belasan orang yang juga berpakaian tentara, dipimpin oleh seorang

perwira dan mereka ini memba-lapkan kuda mengejar kereta itu! Kemudian betapa kagetnya hati

Gak Bun Beng dan Syanti Dewi ketika melihat anak panah berapi menyambar ke arah kereta dan

dalam sekejap mata saja kereta itu terbakar!
“Ohhh....!” Syanti Dewi berseru, seruannya kabur di dalam seruan-seruan semua orang yang

melihat peristiwa itu dan yang segera lari cerai berai bersembunyi di balik-balik rumah

penduduk. “Kita harus menolong penumpang....!” kata pula puteri ini.
Gak Bun Beng memegang tangan dara itu mencegahnya bertindak lancang. Dia masih tidak tahu

siapa penumpang kere¬ta, siapa pula yang mengejar dan mele¬paskan anak panah berapi itu.

Sementara itu, perwira yang memimpin belasan orang perajurit sudah tiba di situ. Kusir

kereta itu bangkit berdiri dan berusaha melawan dengan goloknya, akan tetapi karena di

belakangnya ada api berkobar, dan gerakan perwira itu tangkas sekali, ketika kuda perwira

itu meloncat dekat dan pedang perwira itu menyambar, robohlah kusir itu dari atas kereta,

terjungkal di atas tanah jalan sedangkan dua ekor kuda yang panik karena “dike¬jar” api di

belakang mereka itu, terus membalap sambil meringkik-ringkik.
Kini Gak Bun Beng tidak dapat ting¬gal diam lagi. Apa dan siapapun yang bermusuhan, kusir

itu tewas dan penum¬pang kereta terancam maut. Dia harus menolongnya dulu dan baru kemudian

mendengar urusannya. Bagaikan tatit kilat tubuhnya melesat berkelebat dan angin menyambar

dan pendekar itu telah lenyap. Syanti Dewi kagum bukan main, akan tetapi juga khawatir

ketika melihat bayangan Gak Bun Beng melesat ke dalam kereta yang terbakar. Akan tetapi

hatinya lega ketika melihat pendekar itu melesat ke luar lagi memondong seorang pemuda yang

terluka ringan di pahanya.
 “Keparat, berani mencampuri urusan kami?” Perwira itu bersama belasan orang perajuritnya

sudah menerjang maju kepada Gak Bun Beng yang menurunkan pemuda itu di tepi jalan dekat

Syanti Dewi.
“Hemm, kalian terlalu kejam!” Gak Bun Beng berkata lalu menerjang ke depan karena dia tidak

ingin pemuda itu diserang. “Dewi, lindungi dia!” katanya dan begitu perwira itu sudah dekat,

dia menyambut pedang yang menusuknya dengan sentilan jari tangannya.
“Tringg.... krekkk!” Pedang itu patah menjadi dua!
Gak Bun Beng lalu berkelebat di antara mereka, dan ke manapun dia berkelebat, tentu senjata

seorang peraju¬rit penunggang kuda patah atau terlem¬par. Dua orang perajurit menghampiri

pemuda yang terluka itu dengan golok terangkat, akan tetapi Syanti Dewi yang sudah siap

dengan dua buah batu sebesar kepalan tangannya, menggerakkan tangan kanan dua kali.

Terdengar teriakan mengaduh dan dua batang golok terlepas dari tangan yang disambar batu

itu.
“Mundur....! Pergi....!” Perwira itu memberi aba-aba dan pasukan kecilnya yang telah

“dilucuti” senjatanya itu tidak menanti perintah kedua, terus membalik¬kan kuda dan

terjadilah lomba balap kuda yang ramai, meninggalkan debu mengebul tinggi.
Gak Bun Beng menarik napas panjang. Hatinya lega bahwa urusan itu dapat diselesaikan

sedemikian mudahnya. Akan tetapi betapa kagetnya ketika dia menoleh ke tempat Syanti Dewi

berada, dia hanya melihat dara ini saja sedangkan pemuda yang terluka ringan dan hampir mati

Previous Page of 194Next Page

Comments & Reviews (1)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended