Previous Page of 260Next Page

Pendekar Sakti Suling Pualam

spinner.gif

"Aku pernah dengar mengenai Kui Bin Pang itu, kira-kira
sudah hampir seratus tahun yang lalu," ujar Kou Hun Bijin.

"Tapi Kui Bin Pang itu cuma bergerak di luar perbatasan, tidak
pernah memasuki daerah Tionggoan."
"Benar." Tio Tay Seng manggut-manggut. "Pada waktu itu,
ayahku memperoleh informasi tentang Kui Bin Pang, maka
segera berangkat ke kota Giok Bun Kwan (Kota Perbatasan).
Namun ketika sampai di sebuah desa, ayahku justru malah
bertemu dengan ketua Kui Ban Pang."
"Oh?" Sam Gan Sin Kay tertarik. "Lalu apa yang terjadi?"
"Ternyata ketua Kui Bin Pang memasuki daerah Tionggoan
dengan maksud menyelidiki keadaan rimba persilatan
Tionggoan. Setelah itu, barulah ia akan membawa para
anggotanya untuk menyerbu ke rimba persilatan Tionggoan,"
ujar Tio Tay Seng memberitahukan. "Oleh karena itu, ayahku
menantangnya bertarung."
"Mereka berdua jadi bertarung?" tanya Kou iiun Bijin.
"Tentu jadi," jawab Tio Tay Seng dan melanjutkan. "Sebab
ketua Kui Bin Pang bersifat angkuh, maka terjadilah
pertarungan yang amat seru dan sengit. Beberapa ratus jurus
kemudian, ayahku berhasil memukulnya hingga jatuh ke
jurang. Namun dada ayahku juga tertendang oleh
tendangannya, sehingga membuat ayahku mengalami luka
dalam yang cukup parah. Beberapa bulan kemudian, barulah
ayahku bisa pulih.'
"Pantas sejak itu tiada kabar beritanya mengenai Kui Bin
Pang yang misteri itu!" ujar Kou Hun Bijin. 'Ternyata ayahmu
berhasil memukul ketua itu jatuh ke jurang!"
"Tio Tocu," tanya Kim Siauw Suseng. "Tentang kejadian itu
tiada seorang pun yang mengetahuinya?"
"Memang tidak," jawab Tio Tay Seng. "Bahkan para
anggota Kui Bin Pang pun tidak tahu tentang itu”
"Kalau begitu...." Tio Cie Hiong mengerutkan kening.
"Kenapa kini malah muncul para anggota Kui Bin Pang itu?"

"Aku pun tidak habis pikir," sahut Tio 'Im Seng sambil
menggeleng-gelengkan kepala, kemudian menambahkan.
"Para anggota Kui Bin Pang itu telah muncul, pertanda
perkumpulan itu sudah punya ketua. Karena itu...."
"Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa nyaring "Tio Tocu, engkau
khawatir perkumpulan itu akab ke mari menuntut balas?"
"Kalau terjadi itu, bukankah ketenangan Pulau Hong Hoang
To ini akan terusik?" sahut Tay Seng sambil menghela nafas
panjang. "Kita semua ingin hidup tenang dan damai di sini.'
"Paman," ujar Tio Cie Hiong. "Kui Bin Pang itu sama sekali
tidak tahu apa yang telah terjadi atas diri ketua yang dulu.
tentunya mereka tidak akan ke mari menuntut balas."
"Tapi biar bagaimanapun, kita harus berjaga-jaga,” sahut
Tio Tay Seng sungguh-sungguh.
"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak. ”Tio Tocu,
kalau Kui Bin Pang ke mari, kita habiskan saja mereka."
"Pengemis bau...." Tio Tay Seng menggeleng-geengkan
kepala. "Engkau harus tahu, para anggota Kui Bin Pang dan
ketuanya berkepandaian tinggi sekali. Terus terang,
kemungkinan besar aku bukan tandingan ketuanya."
"Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan. ”Tio Tocu,
kenapa engkau berubah menjadi pengecut?"
"Bijin!" Tio Tay Seng tersenyum getir. "Aku tidak berubah
menjadi pengecut, melainkan memikirkan ketenangan pulau
ini."
"Sudahlah!" tandas Kim Siauw Suseng. "Belum tentu
mereka itu para anggota Kui Bin Pang. kalaupun benar, kita
tidak usah takut."
"Tapi...." Tio Tay Seng menghela nafas panjang. "Apabila
Kui Bin Fang muncul di rimba persilatan, pasti akan terjadi
pula bencana di rimba persilatan."

"Paman," ujar Tio Cie Hiong. "Itu urusan rimba persilatan,
kita tidak usah mencampurinya."
"Ngmmm!" Tio Tay Seng manggut-manggut.
Sementara Lie Ai Ling diam saja dengan pikiran
menerawang. Apa yang mereka bicarakan bagaikan angin lalu,
sebab pikirannya terus mengarah pada Sie Keng Hauw yang
telah mencuri hatinya.
"Ai Ling!" Tio Hong Hoa menatapnya seraya bertanya,
"Kenapa engkau melamun. Apa yang engkau pikirkan?"
"Ibu...." Wajah Lie Ai Ling agak kemerah merahan.
"Yatsumi tidur di kamar mana?"
"Itu..." pikir Tio Hong Hoa sejenak. "Sekamar saja dengan
Hui San dan Bokyong Sian Hoa."
"Kalau begitu, aku akan mengantarnya ke kamar untuk
beristirahat," ujar Lie Ai Ling sambil menarik Yatsumi ke
dalam.
Perlahan-lahan Lie Ai Ling membuka pintu kamar itu,
dilihatnya Lu Hui San dan seorani gadis duduk di situ.
"Ai Ling” panggil Lu Hui San gembira.
"Hui San!" Lie Ai Ling menggenggam tangannya erat-erat.
"Engkau kok agak kurusan?"
"Aku...." Lu Hui San menghela nafas panjang "Oh ya, mari
kuperkenalkan! Ini adalah Bokyon Sian Hoa, berasal dari
Manchuria."
"Selamat bertemu, Sian Hoa!" ucap Lie ai Ling sambil
memberi hormat, lalu memperkenalkan Yatsumi. "Dia berasal
dari Jepang, namanya Yatsumi”
"Selamat bertemu Nona Hui San dan Non Sian Hoa!" ucap
Yatsumi sambil membungkuk badannya.

Previous Page of 260Next Page

Comments & Reviews (1)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended