Previous Page of 75Next Page

Pendekar Sakti Suling Pualam

spinner.gif

Pendekar Sakti Sulung Pualam
Giok Siauw Sin Hiap
Lanjutan Pek Ih Sin hiap
(Kesatria Berbaju Putih)
Karya : Chin Yung


Jilid : 1
PENDAHULUAN
Setelah Bu Lim Sam Mo mati di tangan Pek Ih Sin Hiap. Tio
Cie Hiong, maka para ketua tujuh partai besar dan kaum
rimba persilatan lainnya, yakin bahwa dunia persilatan pasti
aman, tentram dan damai.
Sedangkan Tio Cie Hiong, Lim Ceng im, Lie Man Chiu dan
Tio Hong Hoa melangsungkan pernikahan di pulau Hong
Hoang To.
Para ketua tujuh partai besar dan para jago silat lainnya
hadir semua dalam pesta pernikahan itu, sehingga pesta
pernikahan tersebut menjadi meriah dan semarak.Sejak itu,
Tio Cie Hiong sama sekali tidak mencampuri urusan rimba
persilatan lagi. ia hidup tenang, damai dan bahagia sepanjang
masa bersama Lim Ceng Im di pulau itu.
Bagaimana keadaan rimba persilatan setelah Tio Cie Hiong
menetap di pulau Hong Hoang To? Betulkah kematian Bu Lim
Sam Mo membawa kedamaian dalam rimba persilatan?
Justru sungguh di luar dugaan. Karena di saat Tao Cie
Hiong hidup tenang, damai dan bahagia di pulau itu, di rimba
persilatan telah muncui Hiat Ih Hwe (Perkumpulan Baju
Berdarah).
Siapa ketua perkumpulan itu tiada seorangpun yang
mengetahuinya, sebab perkumpulan tersebut sangat
misterius, lagi pula para anggotanya rata-rata berkepandaian
tinggi Dimana Hiat ih Huie muncul, di situ pasti banjir darah,
Semula Hiat Ih Huie cuma membantai para pembesar yang
jujur dan setia, juga membasmi para pemberontak- Akan

tetapi, lambat laun perkumpulan tersebut mulai mengarah
pada kaum rimba persilatan golongan putih-
Tak lama setetah itu, muncul pula Tiong Ngie Pay (Partai
Keadilan) dan Seng Huiee Kauw (Agama Api Suci), sebingga
timbul pula berbagai pertikaian dan bencana dalam rimba
persilatan.
---ooo0dw0ooo---
Bagian Kesatu
Penyakit Aneh yang mencemaskan
Pulau Hong Hoang To (Pulau Burung Phoenix) terletak di
Pak Hai (Laut Utara). Panorama di pulau tersebut sangat indah
menakjubkan, tampak pula belasan ekor burung phoenix
berterbangan, bunga-bunga liar pun memekar segar
menambah keindahan pulau tersebut,
Pagi ini, terlihat seorang bocah laki-laki sedang berlatih
ilmu pukulan dan ilmu pedang di tempat terbuka. Bocah lakilaki
itu berusia sepuluh tahun, bukan main tampannya, siapa
yang melihatnya pasti akan timbul rasa suka kepadanya.
Siapa bocah laki-laki itu? Ternyata putra Tio Cie Hiong dan
Lim Ceng Im bernama Tio Bun Yang. Sejak anak itu berusia
tiga tahun, Tio Cie Hiong mulai mengajarnya pan Yok Hian
Thian Sin Kang (Tenaga Sakti Pelindung Badan) dan Kan Kun
Taylo Sin Kang (Tenaga Sakti Alam Semesta).
Setelah Tio Bun Yang berusia tujuh tahun, mulailah Tio Cie
Hiong mengajarnya Tujuh Jurus Giok Siauui Bit Ciat Kang Khi
(Ilmu Suling Kumala Pemusnah Kepandaian), Tujuh Jurus Bit
Ciat Sin Ci (Ilmu Jan Sakti pemusnah Kepandaian) dan Kan
Kun Taylo Ciang Hoat (Ilmu Pukulan Alam Semesta).

Kini Tio Bun Yang telah menguasai semua ilmu itu, hanya
saja luieekangnya masih belum begitu tinggi. Sedangkan
monyet bulu putih pun tidak mau ketinggalan. Monyet sakti itu
juga mengajarnya berbagai ilmu pukulan, Di saat Tio Bun
Yang berlatih, monyet bulu putih terus memperhatikannya
bagaikan seorang guru.
Berselang beberapa saat, muncullah Tio Cie Hiong bersama
Lim Ceng Im. Mereka berdua lalu duduk di bawah sebuah
Pohon sambil memperhatikan latihan Putra mereka.
"Adik Im," Ujar Tio Cie hong sambil tersenyum, "Aku tidak
menyangka, Bun Yang baru berusia sepuluh tahun tapi telah
dapat menguasai semua ilmu yang kita turunkan kepadanya. ”
"Benar, memang sungguh di luar dugaan," sahut Lim Ceng
Im dengan tersenyum, namun kemudian wajahnya berubah
murung.
"Adik Im____" Tio Cie Hiong menatapnya seraya berkata,
"Engkau tidak perlu cemas.”
"Kakak Hioong...." Lim Ceng Im menghela nafas panjang,
"Dia mengidap penyakit. ”
"Tidak Perlu cemas," ujar Tio Cie Hiong. "Itu memang
Penyakit aneh, tapi engkau tidak Perlu cemas. ”
"Bagaimana mungkin aku tidak cemas?" Lim Ceng Im
menggeleng-gelengkan kepala "Penyakit itu mungkin akan
mempengaruhi dirinya.”
"Tidak mungkin," sahut Tio Cie Hiong "Aku mahir ilmu
Pengobatan, tentunya tahu jelas akan penyakit itu.”
”Kakak Hiong, kenapa dia bisa mengidap penyakit itu?”
"Yaaah" Tio Cie Hiong menghela nafas panjang, "Mungkin
sudah nasibnya.”
"Hingga saat ini engkau tidak mampu mengobatinya?”

Previous Page of 75Next Page

Comments & Reviews (5)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Media

Pendekar Sakti Suling Pualam I

Who's Reading

Recommended