Previous Page of 49Next Page

MAHESA WULUNG SNG 1

spinner.gif

SERI NAGA GENI 

MAHESA WULUNG 

PERAHU yang ditumpanginya kini makin mendekati bandar Asemarang. Beberapa burung camar meliuk, dan terbang mendekati perahu, membuat Mahesa Wulung tersenyum. Ditariknya nafas dalam-dalam untuk menghirup udara pantai yang dikenalnya sejak ia masih bocah yang hampir setiap hari dijelajahi untuk berlatih renang, mengemudikan perahu, dan kadang-kadang di pantai itulah ia dilatih pamannya dalam tata perkelahian yang cukup berat. 

Berbagai kesibukkan tampak dari perahunya, orang-orang yang bersenjata pedang dan tombak tampak mondar mandir di bandar itu. Begitu perahu merapat, bandar segera dua orang bersenjata tadi mendekati. Mahesa Wulung mula-mula menaruh curiga dengan gelagat ini, tapi segera lenyaplah kecurigaannya, ketika ia melihat orang itu berikat, pinggang merah, satu ciri penjaga keamanan bandara semarang. 

Dengan ramahnya, mereka mendapatkan Mahesa Wulung yang kini sudah naik ke darat. 

Selamat Siang, kisanak. Sapa mereka. 

Dapatlah kami mengetahui tentang diri kisanak? Sambil tersenyum Mahesa 

Wulung meraba lehernya dan melepaskan untaian kalung yang tersembunyi dibalik bajunya lalu diacungkan kepada kedua pengawal itu sambil memperkenalkan dirinya. 

Perkenalkanlah, saya Mahesa Wulung dari Demak. Kedua pengawal itu bukan main terkejutnya melihat medali kalung yang dipegang oleh tamunya berbentuk seperti cakra bergigi empat, seperti penunjuk arah mata angin. Itulah tanda buat seorang perwira laut Kerajaan Demak. 

Oh, maaf Tuan, kami tidak mengira Tuan datang dari Demak. Seru keduanya sambil menundukkan kepala memberi hormat. 

Ah bapak berdua, tidak apalah sebab saya memang tidak secara resmi datang ke sini. Sayapun hanya menumpang perahu dagang saja. Balas Mahesa Wulung sambil memberi hormat kepada kedua pengawal itu. 

Kalau begitu apakah kami dapat membantu Tuan dalam kunjungan ke Asemarang? 

Terima kasih bapak, saya bermaksud berlibur di kota ini, selama beberapa bulan dan tinggal dengan paman saya Ki Sorengrana. 

Jadi Tuankah Mahesa Wulung yang sering disebut-sebut Ki Sorengrana. Beliau sering menceriterakan Tuan kepada kami dalam saat-saat istirahat 

sehabis latihan keprajuritan. Kalau begitu sampaikan pula salam kami kepada Ki Sorengrana jika Tuan telah tiba di sana. Pakailah kuda kami yang tertambat itu, Tuan akan lekas sampai di sana. 

Terima kasih bapak. Segera Mahesa Wulung melepaskan seekor kuda yang berwarna hitam dan dengan satu gerakan yang sukar diikuti mata, tahu-tahu Mahesa Wulung telah ada di punggung sikuda hitam dan segera dipacunya ke arah selatan masuk ke daerah yang berhutan pohon asam. 

Kedua pengawal tadi cuma menggeleng-gelengkan kepala sambil mengguman. 

Hmm, pantaslah kalau dia kemenakan Ki Sorengrana, dari caranya berkuda saja orang mengenalnya. 

Setelah melewati pohon randu yang besar Mahesa Wulung segera membelokkan kudanya ke arah barat dan dari kejauhan tampaklah perkampungan kecil, sedang rumah pamannya segera dapat dikenal dari pohon beringin yang tumbuh subur di depan rumahnya. Tapi rumah pamannya tampak sepi-sepi saja. 

Seperti ada sesuatu yang tidak beres dengan kampung ini, semua pintu-pintu dan jendela-jendela ditutup rapat. Pikir Mahesa Wulung sambil meloncat turun dari kuda. Begitu kakinya menginjak tanah dari arah 

belakang terasa ada angin dingin yang bertiup hebat bersama satu bayangan yang berkelebat dari atas pohon beringin. 

Previous Page of 49Next Page

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended