Previous Page of 247Next Page

Kesatria Baju Putih

spinner.gif

Kesatria Baju Putih I (Lanjutan Anak Naga)
Pek In Sin Hiap
Karya : Chin Yung

Bagian 01
PENDAHULUAN
Rimba persilatan menjadi gempar, karena kemunculan sebuah kotak pusaka yang berisi kitab
pelajaran ilmu silat tingkat tertinggi. Konon kotak pusaka tersebut adalah peninggalan Pak Kek
Siang Ong (Dewa Kutub Utara), yang berilmu sangat tinggi dua ratus tahun lampau.
Bagi siapa yang memperoleh kotak pusaka tersebut, dan mempelajari kitab ilmu silat yang di
dalamnya, maka orang itu akan menjadi jago yang tanpa tanding dalam rimba persilatan.
Oleh karena itu, semua kaum rimba persilatan dari berbagai golongan ingin merebut kotak
pusaka tersebut, termasuk tujuh partai besar rimba persilatan, yakni partai Siauw Lim, Bu Tong,
Hwa San, Kun Lun, Go Bie, Khong Tong dan partai Swat San.
Kemunculan kotak pusaka tersebut justru membawa maut dan bencana bagi rimba persilatan,
sebab kaum rimba persilatan saling membunuh demi memperoleh kotak pusaka itu, sehingga
menimbulkan banjir darah dalam rimba persilatan.
Orang pertama yang mendapatkan kotak pusaka itu, tak lama kemudian mati dikeroyok, begitu
pula orang kedua. Kini yang mendapatkan kotak pusaka itu adalah Hui Kiam Bu Tek (Pedang
Terbang Tanpa Tanding) Tio It Seng, istrinya adalah sin Pian Bijin (Wanita Cantik Cambuk Sakti) Lie
Hui Hong.
0o0
Malam yang gelap gulita, disertai hujan deras dan kilat pun terus menerus menyambar. Tiba-tiba
tampak sosok bayangan menerjang ke dalam sebuah rumah di kaki gunung, yang ternyata seorang

lelaki berusia lima puluhan. Rambut, wajah dan pakaiannya telah basah kuyup, bahkan pakaiannya
bernoda darah.
"Hui Hong" seru lelaki itu, yang tangan kirinya membawa sebuah kotak kecil bergemerlapan,
dan tangan kanannya menggenggam sebilah pedang.
"Kita harus cepat kabur"
"Apa yang telah terjadi, It seng?" tanya seorang wanita cantik dengan mata terbelalak-
Mereka adalah suami istri. Lelaki itu adalah Hui Kiam Bu Tek-Tio It seng, sedangkan wanita itu
adalah sin Pian Bi jin-Li Hui Hong.
Jangan banyak tanya" sahut Hui Kiam Bu Tek-Tio It seng.
"Di mana anak-anak kita?"
"Lagi tidur" sin Pian Bi jin-Lie Hui Hong memberitahukan.
"Tio sam?" tanya Tio It seng.
"Tuan besar...."
Tampak seorang tua berusia enam puluhan berlari-lari menghampirinya.
"Tio sam, keadaan sudah mendesak sekali," ujar Tio It seng.
"Engkau harus segera membawa putraku kabur ke arah barat, aku dan Hui Hong akan
membawa Suan-Suan ke arah timur Kalau terjadi sesuatu atas diri kami, engkau harus baik-baik
mengurusi putraku itu"
"It seng sebetulnya apa gerangan yang telah terjadi?" tanya Lie Hui Hong dengan wajah cemas.
"Dikarenakan ini." Tio It seng menunjuk kotak kecil yang dibawanya.
"Itu..." Lie Hui Hong terbelalak-
"Apakah itu kotak pusaka yang diperebutkan kaum persilatan?"
"Betul." Tio It seng mengangguk-
"Dari mana kau peroleh kotak pusaka itu?" tanya Lie Hui Hong dengan suara gemetar karena
tegang-
"Dalam perjalanan pulang dari Lembah Kesepian, aku melihat seseorang dikeroyok oleh para
pesilat dari golongan hitam, bahkan tampak pula para pesilat dari tujuh partai besar. Karena itu,
aku turun tangan menolong orang itu, yang telah terluka parah-sebelum menghembuskan napas
penghabisan, dia menyerahkan kotak pusaka ini kepadaku maka aku dikejar-kejar oleh para pesilat
dari golongan hitam dan tujuh partai besar itu"
"Celaka" keluh Lie Hui Hong.
"Mereka pasti akan membunuh kita demi merebut kotak pusaka ini."
"Kita harus seaera kabur. Engkau menggendong Suan-Suan".
Tio sam menggendong putra kita yang masih kecil itu kabur ke arah barat, kita melalui arah
timur."
Kemudian Hui Kiam Bu Tek-Tio It seng dan sin Pian Bi jin-Lie Hui Hong membawa putri mereka,
yang berusia sembilan tahun kabur melalui arah timur, sedangkan Tio sam membawa putra mereka
yang berusia tiga tahun kabur ke arah barat.
Akan tetapi, di tengah perjalanan Tio It seng dan Lie Hui Hong di hadang oleh para pesilat
golongan hitam dan tujuh partai besar itu sehingga terjadilah pertarungan yang amat dahsyat.
Mayat bergelimpangan, sedangkan Hui Kiam Bu Tek-Tio It seng dan sin Pian Bi jin telah terluka.
"omitohud omitohud—"

Hui Khong Taysu terus-menerus menyebut nama Sang Budha. Hweeshio tua itu adalah ketua
partai siauw Lim.
"Bu Liang siu Hud"
It Hian Tejin, kedua partai Bu Tong juga menyebut sambil menggeleng-gelengkan kepala-
Mendadak pada saat itu, berkelebatan tiga sosok bayangan hitam, dan diiringi suara tawa yang
sangat menyeramkan.
Begitu melihat tiga sosok bayangan hitam itu, para ketua tujuh partai besaHerkejut bukan main,
dan wajah mereka tampak pucat pias.
Ternyata yang baru muncul itu adalah Bu Lim sam Mo (Tiga iblis Rimba Persilatan, yakni Tang
Hai Lo Mo (iblis Tua Laut Timur), Thian mo (iblis Kahyangan) dan Te mo (iblis Neraka).
Bu Lim sam Mo berkepandaian sangat tinggi, setingkat dengan Bu Lim It Ceng (satu Padri sakti
Rimba Persilatan) dan Bu Lim ji Khie (Dua orang Aneh Rimba Persilatan).
Hui Kiam Bu Tek-Tio It seng dan sin FianBi jin-Lie Hui Hong mati secara mengenaskan di tangan
Tiga iblis itu, sedangkan putri mereka bernama Tio Suan-Suan tergelincir ke dalam jurang.
siapa pun tidak tahu, kotak pusaka itu jatuh ke tangan Tang Hai Lo Mo, Thian mo atau Te mo?
Dan juga tiada seorang pun yang tahu, ke mana putra Tia It seng yang masih kecil itu, sehingga
hal-hal tersebut merupakan suatu teka teki di dalam rimba persilatan.
Bagian 1
Di dalam sebuah goa, tampak seorang tua berbaring di ranjang. Badan orang itu kurus kering,
rambutnya putih semua, dan terus-menerus batuk.
"Paman!" ujar seorang anak berusia sekitar tiga belas tahun. "Apakah Paman mau makan obat
lagi?"
"Ti... tidak usah, Nak." Orang tua itu menatapnya sambil menarik nafas panjang.
"Aaaakh...!" "Kenapa Paman setiap hari menarik nafas?" tanya anak itu heran.
"Paman... Paman sangat kasihan akan nasibmu, Nak," sahut orang tua itu lemah.
"Memangnya kenapa?" Anak itu tidak mengerti.
"Cie Hiong, seandainya sepuluh tahun lalu kedua orang tuamu tidak mati, engkau tidak usah ikut
paman hidup menderita di dalam goa ini," ujar orang tua sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Paman! Jadi sepuluh tahun lalu Cie Hiong punya ayah dan ibu?" tanya anak itu.
"Ng!" Orang itu mengangguk. "Tapi..."
"Kenapa, Paman?"
"Aaakh! Kedua orang tuamu telah mati..."
"Paman, kenapa kedua orang tua Cie Hiong bisa mati? Apakah karena sakit?"
"Bukan. Mereka berdua..."
"Kenapa kedua orang tua Cie Hiong? Paman, beritahukanlah!"
"Nak!" Sepasang mata orang tua itu bersimbah air. "Belum waktunya paman memberitahukan."
"Kapan Paman akan memberitahukan pada Cie Hiong?"
"Setelah kau memiliki ilmu silat tinggi."
"Paman!" Tio Cie Hiong mengerutkan kening. "Kenapa harus menungu sampai Cie Hiong
memiliki ilmu silat tinggi? Padahal sesungguhnya, Cie Hiong sama sekali tidak berniat belajar ilmu
silat."
"Kenapa?" Orang tua itu menatapnya heran.

Previous Page of 247Next Page

Comments & Reviews (4)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Media

Kesatria Baju Putih I

Who's Reading

Recommended