Previous Page of 267Next Page

Pendekar Super Sakti

spinner.gif

Serial Bu Kek Siansu 7

Pendekar Super Sakti II

Betapa ingin mata memandang mesra

betapa ingin jari tangan membelai sa¬yang

betapa ingin hati menjeritkan cinta

namun Siansu berkata: bebaskan diri¬mu

daripada ikatan nafsu!

Mungkinkah pria dipisahkan dari wanita?

Tanpa adanya perpaduan Im dan Yang

dunia takkan pernah tercipta

betapapun juga,

cinta segi tiga tak membahagiakan

menyenangkan yang satu

menyusahkan yang lain

akibatnya hanya perpecahan dan permusuhan

ikatan persaudaraan dilupakan

akhirnya yang ada hanyalah duka dan sengsara.

Kesimpulannya, benarlah pesan Siansu bahwa sengsaralah buah daripada nafsu!

Ketika Han Han mengucapkan syair ini dengan suara lantang dan jelas, nenek itu memandangnya dengan bengong dan menggantungkan pandang mata pada bibir Han Han yang bergerak-gerak. Kemudian, setelah Han Han menghabiskan syair, keadaan menjadi sunyi dan nenek itu kembali menarik napas panjang.

“Ahhh, seolah-olah aku mendengar dia sendiri membacakan tulisan syairnya! Dialah yang menulis itu, Sie Han dan dapat kubayangkan betapa dia menulisnya dengan hati bercucuran darah. Kasihan Han Ki suheng!”

“Apakah yang terjadi di antara subo (Ibu Guru) bertiga?” Han Han yang makin terseret dan tertarik kini merasa dirinya dekat dengan nenek itu dan otomatis ia tidak lagi menyebut locianpwe melainkan menyebut subo!

“Apa yang terjadi? Telah tersurat dalam syair Koai-lojin Kam Han Ki tadi! Engkau tidak perlu tahu, muridku, urusan itu adalah urusan yang menyangkut kepribadian dan akan tetap menjadi rahasia kami.” (Baca:ISTANA PULAU ES).

“Ahhhh....!” Han Han tak dapat menahan seruan kecewa ini.

Nenek itu tersenyum dan makin jelaslah kini persamaan antara wajah keriputan ini dengan wajah cantik jelita dari patung di dalam Istana Pulau Es. “Asmara gagal hanya merupakan cerita sedih. Engau yang masih bersih dan hatimu belum disentuh tangan asmara yang jahil perlu apa tahu akan hal itu? Pendeknya, terjadi kekusutan dalam per¬talian saudara kami bertiga, atau lebih tepat, antara Maya Suci dan aku. Dari dua orang kakak beradik seperguruan yang saling mencinta, kami berubah men¬jadi dua orang musuh, seperti dua ekor harimau memperebutkan kelinci. Kami bertanding dan aku lengah, sebelah kakiku buntung....”

“Yang mana, subo? Teecu tidak dapat membedakan, yang kanan ataukah yang kiri?”

Kembali nenek itu tersenyum dan kini Han Han merasa yakin bahwa sesungguh¬nya nenek buntung yang mengaku bernama Khu Siauw Bwee ini sesungguhnya merupakan seorang yang amat halus budi dan peramah, hanya menjadi “beku” di luarnya, mungkin karena penderitaan batin yang hebat.

“Yang kiri, Sie Han. Kelak kalau engkau sudah mempelajari ilmu ciptaanku, engkau pun akan dapat mengubah kaki buntung menjadi kaki tunggal. Setelah kakiku buntung sebelah, Maya Suci men¬jadi menyesal seperti gila, lalu mem¬bunuh diri.”

“Membunuh diri?” Han Han terbelalak, teringat ia akari patung wanita yang luar biasa cantiknya, yang telah mendatangkan perasaan aneh di dadanya ketika memandang patung itu, perasaan cinta dan tergila-gila.

Previous Page of 267Next Page

Comments & Reviews (5)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended