Halaman sebelumnya of 241Halaman selanjutnya

Pendekar Super Sakti

spinner.gif

Serial Bu Kek Siansu 7
Pendekar Super Sakti II

Betapa ingin mata memandang mesra
betapa ingin jari tangan membelai sa¬yang
betapa ingin hati menjeritkan cinta
namun Siansu berkata: bebaskan diri¬mu
daripada ikatan nafsu!
Mungkinkah pria dipisahkan dari wanita?
Tanpa adanya perpaduan Im dan Yang
dunia takkan pernah tercipta
betapapun juga,
cinta segi tiga tak membahagiakan
menyenangkan yang satu
menyusahkan yang lain
akibatnya hanya perpecahan dan permusuhan
ikatan persaudaraan dilupakan
akhirnya yang ada hanyalah duka dan sengsara.
Kesimpulannya, benarlah pesan Siansu bahwa sengsaralah buah daripada nafsu!
Ketika Han Han mengucapkan syair ini dengan suara lantang dan jelas, nenek itu memandangnya dengan bengong dan menggantungkan pandang mata pada bibir Han Han yang bergerak-gerak. Kemudian, setelah Han Han menghabiskan syair, keadaan menjadi sunyi dan nenek itu kembali menarik napas panjang.
“Ahhh, seolah-olah aku mendengar dia sendiri membacakan tulisan syairnya! Dialah yang menulis itu, Sie Han dan dapat kubayangkan betapa dia menulisnya dengan hati bercucuran darah. Kasihan Han Ki suheng!”
“Apakah yang terjadi di antara subo (Ibu Guru) bertiga?” Han Han yang makin terseret dan tertarik kini merasa dirinya dekat dengan nenek itu dan otomatis ia tidak lagi menyebut locianpwe melainkan menyebut subo!
“Apa yang terjadi? Telah tersurat dalam syair Koai-lojin Kam Han Ki tadi! Engkau tidak perlu tahu, muridku, urusan itu adalah urusan yang menyangkut kepribadian dan akan tetap menjadi rahasia kami.” (Baca:ISTANA PULAU ES).
“Ahhhh....!” Han Han tak dapat menahan seruan kecewa ini.
Nenek itu tersenyum dan makin jelaslah kini persamaan antara wajah keriputan ini dengan wajah cantik jelita dari patung di dalam Istana Pulau Es. “Asmara gagal hanya merupakan cerita sedih. Engau yang masih bersih dan hatimu belum disentuh tangan asmara yang jahil perlu apa tahu akan hal itu? Pendeknya, terjadi kekusutan dalam per¬talian saudara kami bertiga, atau lebih tepat, antara Maya Suci dan aku. Dari dua orang kakak beradik seperguruan yang saling mencinta, kami berubah men¬jadi dua orang musuh, seperti dua ekor harimau memperebutkan kelinci. Kami bertanding dan aku lengah, sebelah kakiku buntung....”
“Yang mana, subo? Teecu tidak dapat membedakan, yang kanan ataukah yang kiri?”
Kembali nenek itu tersenyum dan kini Han Han merasa yakin bahwa sesungguh¬nya nenek buntung yang mengaku bernama Khu Siauw Bwee ini sesungguhnya merupakan seorang yang amat halus budi dan peramah, hanya menjadi “beku” di luarnya, mungkin karena penderitaan batin yang hebat.
“Yang kiri, Sie Han. Kelak kalau engkau sudah mempelajari ilmu ciptaanku, engkau pun akan dapat mengubah kaki buntung menjadi kaki tunggal. Setelah kakiku buntung sebelah, Maya Suci men¬jadi menyesal seperti gila, lalu mem¬bunuh diri.”
“Membunuh diri?” Han Han terbelalak, teringat ia akari patung wanita yang luar biasa cantiknya, yang telah mendatangkan perasaan aneh di dadanya ketika memandang patung itu, perasaan cinta dan tergila-gila.
“Begitulah agaknya, dia melempar dirinya ke dalam jurang yang amat curam. Dan demikianlah, kami tiga murid Bu Kek Siansu yang tadinya rukun dan setia penuh kasih sayang, menjadi terpecah-pecah. Maya suci mungkin mati mungkin tidak, akan tetapi selama delapan puluh tahun aku tidak lagi mendengar tentang dia. Juga aku tidak pernah tentang mendengar tentang dia.... ah, surat-suratnya....” Sepasang mata itu menjadi basah akan tetapi mulutnya tersenyum bahagia.
Han Han termenung. Teringat ia akan segala penuturan Im-yang Seng-cu ten¬tang nenek-moyangnya. Dia adalah cucu Jai-hwa-sian Suma Hoat, Si Dewa Pe¬merkosa Wanita, manusia cabul dan se¬sat. Dalam darahnya mengalir darah Suma yang terkutuk dan jahat. Akan tetapi, juga mengalir darah keturunan keluarga Kam, keluarga pendekar sakti Suling Emas. Dan kini, penghuni Pulau Es yang merupakan manusia setengah dewa, manusia rahasia yang disebut oleh orang-orang kang-ouw dengan sebutan Koai-lojin (Orang Tua Aneh), ternyata bernama Kam Han Ki, keponakan Suling Emas, jadi ada hubungan darah dengan dia sendiri! Dorongan perasaan Han Han membuat ia menggerak-gerakkan bibir hendak memperkenalkan diri, akan tetapi ia teringat

Halaman sebelumnya of 241Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan (3)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Siapa yang Membaca

Disarankan